Aku Tidak Lagi Merasa Terkekang oleh Kualitas yang Buruk

25 Juli 2026

Pada bulan April 2023, karena aku memiliki beberapa kelebihan dalam membuat video, pemimpin mengatur agar aku mengulas video buatan orang lain. Aku sangat senang bisa melaksanakan tugas ini, aku menghargai kesempatan itu dan ingin melaksanakan tugasku dengan baik. Awalnya, aku secara aktif mempelajari prinsip-prinsipnya dan dapat mengidentifikasi beberapa masalah ketika mengulas video-video itu. Namun setelah beberapa saat, aku mendapati bahwa saudari yang bekerja bersamaku memiliki kualitas dan wawasan yang baik, dan bisa menemukan masalah dalam sebuah video dengan cepat, sedangkan aku membutuhkan waktu yang lama untuk menemukan sedikit masalah dan jauh lebih buruk daripada dia. Aku merasa malu. Kemudian, aku memeriksa prinsip-prinsip yang sesuai, tetapi setelah beberapa waktu, hanya ada sedikit perbaikan. Aku menjadi sangat putus asa, dan berpikir, "Sepertinya aku benar-benar tidak memiliki kualitas untuk melaksanakan tugas ini, mengapa Tuhan tidak memberiku kualitas yang baik? Tanpa kualitas yang baik, bagaimana aku bisa melaksanakan tugas ini dengan baik? Kalau aku diberhentikan atau tugasku dialihkan, bukankah itu akan sangat memalukan?" Aku tahu aku tidak boleh menuntut atau mengeluh kepada Tuhan, tetapi aku tetap merasa sangat putus asa, tidak memiliki motivasi untuk melaksanakan tugasku, dan tidak berusaha memperbaikinya. Khususnya ketika menangani beberapa video yang rumit, aku khawatir tidak dapat menemukan masalahnya dengan tepat, jadi aku menyerahkan video-video itu kepada orang lain untuk diulas. Terkadang, saudari rekan kerjaku masih menemukan beberapa masalah ketika mengulas video yang telah kuperiksa, dan dia harus mempersekutukannya denganku. Itu membuatku makin merasa bahwa aku tidak berkualitas, menghambat kemajuan pekerjaan, dan cepat atau lambat, aku akan diberhentikan atau dipindahtugaskan. Aku merasa lebih baik mengundurkan diri secara sukarela agar terlihat pantas. Ketika pikiran seperti ini muncul, aku merasa sangat bingung, dan aku tahu bahwa berpikir seperti ini artinya menghindari tugas, tetapi aku tidak tahu bagaimana menerapkannya dengan benar, jadi aku datang kepada Tuhan dan berdoa, "Tuhan, aku merasa bahwa kualitasku buruk, aku tidak dapat melaksanakan tugas ini dengan baik, dan ingin menghindarinya. Aku juga tahu ini tidak sesuai dengan maksud-Mu, maka aku mohon kepada-Mu untuk mencerahkan dan membimbingku agar aku mengenali masalahku dan menemukan jalan penerapan."

Setelah itu, aku membaca bagian firman Tuhan ini: "Ada orang-orang yang merasa kualitas mereka terlalu rendah dan mereka tidak memiliki kemampuan untuk memahami, jadi mereka membatasi diri mereka sendiri, dan merasa sekeras apa pun mereka mengejar kebenaran, mereka tidak akan mampu memenuhi tuntutan Tuhan. Mereka pikir sekeras apa pun mereka berusaha, itu tidak berguna, sesederhana itu, jadi mereka selalu negatif, dan akibatnya, bahkan setelah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, mereka belum memperoleh kebenaran sedikit pun. Tanpa berusaha keras mengejar kebenaran, engkau berkata bahwa kualitasmu terlalu rendah, engkau menganggap dirimu tidak ada harapan, dan engkau selalu hidup dalam keadaan negatif. Akibatnya, kebenaran yang seharusnya kaupahami tidak berhasil kaupahami, dan kebenaran yang seharusnya mampu kauterapkan juga tidak berhasil kauterapkan—bukankah itu berarti engkau sendirilah yang menghalangi dirimu? Jika engkau selalu berkata bahwa kualitasmu tidak cukup baik, bukankah ini berarti mengelak dan melalaikan tanggung jawab? Jika engkau mampu menderita, membayar harga, dan mendapatkan pekerjaan Roh Kudus, engkau pasti akan mampu memahami beberapa kebenaran dan masuk ke dalam beberapa kenyataan. Jika engkau tidak mencari atau mengandalkan Tuhan, dan menganggap dirimu tidak ada harapan tanpa berupaya atau membayar harga, dan menyerah begitu saja, maka engkau adalah orang yang tidak berguna, dan tidak memiliki sedikit pun hati nurani dan nalar. Entah kualitasmu rendah atau luar biasa, jika engkau memiliki sedikit hati nurani dan nalar, engkau seharusnya melakukan dengan baik apa yang harus kaulakukan dan apa yang menjadi misimu; menjadi seorang yang mangkir adalah hal yang buruk dan pengkhianatan terhadap Tuhan. Ini tidak dapat diubah. Mengejar kebenaran membutuhkan kemauan yang kuat, dan orang yang terlalu negatif atau lemah tidak akan mencapai apa pun. Mereka tidak akan mampu percaya kepada Tuhan hingga akhir, dan jika mereka ingin memperoleh kebenaran dan mencapai perubahan watak, harapan mereka akan sangat kecil. Hanya mereka yang memiliki tekad dan mengejar kebenaranlah yang bisa memperoleh kebenaran dan disempurnakan oleh Tuhan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Firman Tuhan itu membuatku merasa bersalah dan sedih. Karena kualitasku yang buruk, aku menyimpulkan bahwa sekeras apa pun aku berusaha, aku tidak akan dapat melaksanakan tugasku dengan baik, dan dibandingkan dengan saudari-saudari yang kualitasnya baik, aku akan selalu menjadi yang terburuk, karena itu aku hidup dalam keadaan negatif, tidak punya motivasi untuk melaksanakan tugasku, tidak punya keinginan untuk berkembang, bahkan berpikir untuk mengundurkan diri. Dengan melakukannya, kupikir aku tidak akan diberhentikan atau dipermalukan. Aku sadar betapa aku belum berusaha keras, dan ketika melihat diriku tidak membuat banyak kemajuan, aku tidak ingin melanjutkan. Aku benar-benar tidak berguna! Orang yang benar-benar memiliki hati nurani dan nalar tidak akan menjadi negatif setelah menerima tugas, sekalipun mereka merasa kualitasnya tidak memenuhi tuntutan Tuhan. Justru sebaliknya mereka akan berdoa, mengandalkan Tuhan, berjuang dengan sekuat tenaga, dan tidak akan begitu gampang menyerah terhadap tugasnya. Namun saat melihat diriku sendiri, ketika kualitasku lebih rendah dari saudari rekan kerjaku, dan ketika ditunjukkan adanya beberapa masalah dalam tugasku, aku menjadi negatif dan ogah-ogahan, menyerahkan video-video yang rumit untuk diulas orang lain, dan tidak dapat menangani masalah yang ditunjukkan oleh orang lain dengan benar, malah makin membatasi diri karena merasa memiliki kualitas yang buruk, menjadi negatif dan pasif dalam tugasku, bahkan tidak mampu melakukan tugasku yang semula. Ketika menghadapi kesulitan dan masalah ini, aku tidak berpikir bagaimana mencari kebenaran untuk menyelesaikannya, tetapi justru menggunakan kualitasku yang buruk sebagai alasan untuk menghindari tugasku sehingga aku tidak akan dipermalukan. Aku sangat egois! Aku telah menikmati semua yang Tuhan sediakan tetapi tidak dapat melaksanakan tugasku, Aku benar-benar tidak memiliki hati nurani dan nalar! Aku pun memikirkan bagian firman Tuhan ini: "Jika engkau tidak memperlakukan amanat Tuhan dengan serius, artinya engkau sedang mengkhianati Dia dengan cara yang paling serius. Dalam hal ini, engkau lebih menyedihkan daripada Yudas dan harus dikutuk" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Cara Mengenal Natur Manusia"). Sebuah tugas adalah amanat dari Tuhan. Kesempatan untuk melaksanakan tugas yang Tuhan berikan adalah supaya aku bisa memperoleh lebih banyak penerapan dan mengalami kemajuan dalam berbagai aspek kebenaran. Ini adalah kasih karunia Tuhan, tetapi aku gagal menghargai hal yang baik ini, dan karena kualitasku yang buruk, aku ingin meninggalkan tugasku. Perilaku seperti ini adalah pengkhianatan terhadap Tuhan! Ketika menyadari hal ini, aku merasa bersalah dan sedih, dan aku tidak ingin bersikap seperti ini lagi terhadap tugasku. Aku ingin berjuang dengan sekuat tenaga dan tidak lagi menjadi pembelot.

Setelah itu, aku membaca bagian firman Tuhan lainnya: "Tuhan tidak akan menghargaimu karena kualitasmu yang baik, dan Dia juga tidak akan memandang rendah atau membencimu karena kualitasmu yang buruk. Apa yang Tuhan benci? Yang Tuhan benci adalah orang yang tidak mencintai atau menerima kebenaran, orang yang memahami kebenaran tetapi tidak menerapkannya, orang yang tidak melakukan apa yang mampu mereka lakukan, orang yang tidak mampu mengerahkan segenap kemampuan mereka dalam tugas mereka tetapi selalu memiliki keinginan yang berlebihan, selalu menginginkan status, selalu bersaing untuk mendapatkan kedudukan, dan selalu mengajukan tuntutan terhadap-Nya. Inilah yang Tuhan anggap memuakkan dan menjijikkan. Sejak awal, engkau memiliki kualitas yang buruk atau tidak berkualitas, tidak mampu melakukan pekerjaan apa pun, tetapi engkau masih selalu ingin untuk menjadi pemimpin; engkau selalu bersaing untuk mendapatkan kedudukan dan kekuasaan, serta selalu ingin Tuhan memberimu jawaban yang pasti, mengatakan kepadamu bahwa di masa depan engkau dapat masuk ke dalam kerajaan, menerima berkat, dan memiliki tempat tujuan yang baik. Tuhan memilihmu, itu sudah merupakan peninggian yang luar biasa, tetapi engkau masih meminta ampela setelah diberi hati. Tuhan telah memberimu apa yang seharusnya kauterima, dan engkau sudah memperoleh banyak dari Tuhan, tetapi engkau masih mengajukan tuntutan yang tidak masuk akal. Inilah yang Tuhan benci. Kualitasmu sangat buruk atau engkau bahkan tidak mencapai kecerdasan manusia, tetapi Tuhan tidak memperlakukanmu seperti binatang melainkan masih memperlakukanmu sebagai manusia. Oleh karena itu, engkau harus melakukan apa yang seharusnya manusia lakukan, mengatakan apa yang seharusnya manusia katakan, dan menerima segala sesuatu yang telah Tuhan berikan kepadamu sebagai hal yang berasal dari Dia. Tugas apa pun yang mampu kaulakukan, lakukanlah itu. Jangan mengecewakan Tuhan. Jangan menginginkan ampela setelah diberi hati karena Tuhan memperlakukanmu sebagai manusia, dengan berkata, 'Karena Tuhan memperlakukanku sebagai manusia, Dia seharusnya memberiku kualitas yang lebih baik, membiarkanku menjadi ketua tim, pengawas, atau pemimpin. Yang terbaik adalah jika Dia membuatku tidak perlu melakukan pekerjaan yang melelahkan, membuat rumah Tuhan menyediakan kebutuhanku secara cuma-cuma, dan membuatku tidak perlu mengerahkan upaya atau menderita kelelahan, sehingga aku dapat melakukan apa pun yang kuinginkan.' Semua ini adalah tuntutan yang tidak masuk akal. Ini bukanlah perwujudan atau permintaan yang seharusnya dimiliki atau diajukan oleh makhluk ciptaan. Tuhan tidak memperlakukanmu sesuai dengan kualitasmu yang buruk, sebaliknya malah telah memilihmu dan memberimu kesempatan untuk melaksanakan tugasmu. Ini adalah peninggian Tuhan. Engkau seharusnya tidak menginginkan ampela setelah diberi hati dan mengajukan tuntutan yang tidak masuk akal terhadap Tuhan. Sebaliknya, engkau seharusnya bersyukur kepada Tuhan, dan melaksanakan tugasmu dengan baik untuk membalas kasih Tuhan. Inilah tuntutan Tuhan terhadapmu. Kualitasmu buruk, tetapi Tuhan tidak menuntutmu berdasarkan standar bagi mereka yang berkualitas baik. Engkau tidak memiliki kualitas dan kecerdasan, tetapi Tuhan tidak menuntutmu untuk mencapai standar yang mampu dicapai oleh orang-orang yang berkualitas baik. Apa pun yang mampu kaulakukan, lakukan saja itu. Tuhan tidak memaksa ikan hidup di darat. Hanya saja, engkau sendirilah yang selalu memiliki keinginan yang berlebihan, dan selalu enggan untuk menjadi orang biasa, orang rata-rata yang berkualitas buruk; engkau sendirilah yang tidak mau melaksanakan tugas-tugas yang melelahkan yang tidak membuatmu menjadi pusat perhatian, dan dalam melaksanakan tugasmu, engkau selalu membenci kesukaran dan menghindari kelelahan, selalu memilah dan memilih apa yang mau kaulakukan; engkau selalu seenaknya dan selalu memiliki rencana dan preferensimu sendiri—ini bukanlah Tuhan telah memperlakukanmu secara tidak adil. Jadi, dengan cara apa orang seharusnya memperlakukan kualitas mereka sendiri dengan benar? Di satu sisi, kualitas seperti apa pun yang Tuhan berikan kepadamu, engkau harus menerima bahwa hal itu adalah dari Tuhan, serta tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Ini adalah pemikiran dan sudut pandang paling mendasar yang harus orang miliki. Sudut pandang ini benar, dan ini berlaku dalam situasi apa pun. Ini adalah prinsip kebenaran yang tetap tidak berubah sekalipun segala sesuatu berubah" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (7)"). Setelah membaca firman Tuhan, aku malu dan merasa bersalah. Tuhan tidak memberikan beban yang berlebihan kepada manusia, dan tuntutan Tuhan selalu dapat dicapai oleh manusia. Tuhan mengharapkan agar kita mau tunduk pada kedaulatan dan pengaturan-Nya serta melaksanakan tugas kita dengan patuh dan konsisten. Namun aku tidak memahami maksud Tuhan serta tidak mau tunduk pada kedaulatan dan pengaturan-Nya. Ketika aku melihat bahwa kualitasku tidak sebaik orang lain, aku menjadi negatif dan bermalas-malasan, dan mengeluh Tuhan tidak memberiku kualitas yang baik. Setelah itu, aku ingin bekerja keras untuk meningkatkan kemampuan teknisku, tetapi ketika aku tidak dapat melakukannya, aku menjadi negatif, menyimpan kesalahpahaman, dan menghindari tugasku. Ini benar-benar sikap suka memberontak! Kualitasku agak rendah, dan aku tidak se-efisien saudara-saudari lainnya, tetapi gereja tetap memberiku kesempatan untuk melakukan penerapan, dan saudara-saudari tidak merendahkanku, mereka justru mendorong dan membantuku. Namun aku sama sekali tidak menyadarinya sebagai hal yang baik, bahkan demi harga diriku, aku ingin meninggalkan tugasku. Ini sungguh egois dan hina! Nyatanya, Tuhan menghargai hati seseorang, dan meskipun kualitasnya agak kurang, asalkan dia berusaha untuk memenuhi tuntutan Tuhan, Tuhan akan mencerahkan dan membimbingnya, dan dia masih bisa berhasil dalam tugasnya. Sama seperti ketika aku pertama kali mulai mengulas video, dengan berdoa dan mengandalkan Tuhan, serta bekerja sama sebaik mungkin, aku mampu menyelesaikan beberapa pekerjaan. Namun setelah itu, karena aku terlalu memikirkan harga diri, dan hatiku tidak terfokus pada tugasku, aku tidak bisa memperoleh pekerjaan Roh Kudus, sehingga semua yang kulakukan menjadi sulit dan berat. Maka aku pun bertobat kepada Tuhan, ingin tunduk pada penataan dan pengaturan-Nya serta berusaha sebaik mungkin dengan segenap kemampuanku, dan tidak lagi berpikir untuk meninggalkan tugasku.

Setelah itu, aku juga bertanya-tanya dalam hati, "Mengapa aku menjadi negatif dan mundur ketika mengetahui kualitasku lebih rendah dari saudari rekan kerjaku? Apa akar masalahnya?" Dalam pencarianku, aku membaca firman Tuhan ini: "Bukannya mencari kebenaran, kebanyakan orang memiliki agenda picik mereka sendiri. Kepentingan, reputasi, dan tempat atau kedudukan mereka di benak orang lain sangatlah penting bagi mereka. Hanya hal-hal inilah yang mereka hargai. Mereka menggenggam erat hal-hal ini dan menganggapnya sebagai hidup mereka. Dan bagaimana hal-hal ini dipandang atau diperlakukan oleh Tuhan, itu dianggap kurang penting; untuk saat ini, mereka mengabaikan hal itu; untuk saat ini, mereka hanya memikirkan apakah mereka adalah pemimpin kelompok atau bukan, apakah orang lain menghormati mereka, apakah perkataan mereka berbobot. Perhatian utama mereka adalah menduduki posisi tersebut. Ketika berada dalam kelompok, hampir semua orang mencari kedudukan dan peluang seperti ini. Jika mereka sangat berbakat, tentu saja mereka ingin menjadi yang terbaik; jika mereka memiliki kemampuan yang biasa-biasa saja, mereka tetap ingin memiliki kedudukan yang lebih tinggi dalam kelompok tersebut; dan jika mereka memiliki kedudukan yang rendah dalam kelompok, karena memiliki kualitas dan kemampuan rata-rata, mereka juga ingin orang lain menghormati mereka, mereka tidak mau orang lain memandang rendah diri mereka. Reputasi dan martabat orang-orang ini adalah batas minimum yang harus mereka miliki: mereka harus memegang erat hal-hal ini. Mereka boleh saja tidak memiliki integritas dan tidak mendapatkan perkenanan atau penerimaan Tuhan, tetapi mereka sama sekali tidak boleh kehilangan rasa hormat, status, atau harga diri yang telah mereka bangun di benak orang-orang—yang merupakan watak Iblis" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Setelah membaca firman Tuhan, aku mengerti bahwa ketika aku melihat kualitasku lebih rendah dari saudari rekan kerjaku, aku menjadi negatif, dan akar masalahnya adalah aku terlalu menjunjung tinggi harga diri serta statusku. Ketika aku melihat saudara-saudari lain memiliki kualitas yang baik dan efisien dalam tugasnya, aku merasa iri dan ingin meningkatkan efisiensi kerjaku. Namun, meskipun sudah berusaha, aku masih di bawah yang lain, dan ketika merasa harga diri dan statusku tidak terpuaskan, aku menjadi negatif dan pasif, bahkan berpikir untuk berhenti dan mengkhianati Tuhan. Aku lebih mementingkan harga diri dan status daripada tugasku. Aku menyadari bahwa racun Iblis yaitu "Manusia membutuhkan harga dirinya seperti pohon membutuhkan kulitnya" telah berakar dalam diriku. Itu membuatku terus-menerus terobsesi dengan pendapat orang lain tentang diriku. Aku tidak lagi memikirkan maksud atau tuntutan Tuhan, dan tidak melindungi pekerjaan gereja sama sekali. Lalu aku menyadari bahwa ada maksud Tuhan yang begitu besar dalam mengizinkanku melaksanakan tugas ini. Tuhan tahu kekuranganku, juga fokusku pada harga diri dan status, serta bahwa aku membutuhkan lingkungan seperti ini untuk dimurnikan dan diubah. Ketika Tuhan mengatur agar aku bekerja sama dengan saudari yang berkualitas baik, aku tidak bisa pamer sehingga harga diri dan statusku tidak terpuaskan, itu membuat batinku merasa sakit dan tersiksa, serta memaksaku untuk datang kepada Tuhan dan merenungkan diri, juga memahami kerugian dan akibat dari mengejar reputasi dan status, dengan begitu aku akan meninggalkan pengejaranku yang salah dan memperbaiki sikapku terhadap tugasku. Selain itu, bekerja sama dengan saudari-saudari yang berkualitas baik dan menerima bantuan orang lain dalam tugasku, membuatku memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang prinsip-prinsip, yang kebetulan juga menutupi kekuranganku. Ini adalah kasih Tuhan! Ketika merenungkan hal ini, aku merasa sangat menyesal, dan tidak ingin lagi hidup untuk mengejar harga diri yang tak ada gunanya.

Lalu aku menemukan bagian firman Tuhan lainnya, yang memberiku pemahaman yang lebih dalam tentang maksud Tuhan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Tuhan tidak memberi orang kualitas yang terlampau baik. Di satu sisi, ini adalah agar orang, dengan memiliki kondisi dasar ini, bisa mengetahui tempatnya, dan di atas dasar merasa bahwa mereka adalah orang biasa, orang rata-rata, orang yang memiliki watak yang rusak, mereka dapat dengan rela menerima pekerjaan Tuhan dan keselamatan dari Tuhan. Hanya dengan cara inilah, orang memiliki kondisi dasar untuk menerima firman Tuhan. Di sisi lain, jika orang memiliki kualitas yang sangat baik atau pikiran yang luar biasa cerdas, memiliki kemampuan yang sangat kuat di segala aspek, mereka semua adalah orang-orang luar biasa, semuanya berjalan lancar bagi mereka di dunia—menghasilkan banyak uang dalam bisnis, memiliki karier politik yang sangat lancar, bertindak dengan mudahnya di segala situasi, merasa bagaikan ikan di air—orang-orang semacam itu tidak dapat dengan mudah datang ke hadapan Tuhan dan menerima keselamatan dari Tuhan, bukan? (Ya.) Kebanyakan dari mereka yang Tuhan selamatkan tidak memiliki kedudukan tinggi di dunia atau di antara orang-orang di tengah masyarakat. Karena kualitas dan kemampuan mereka rata-rata atau bahkan buruk, dan mereka mengalami kesulitan untuk memperoleh popularitas atau keberhasilan di dunia, selalu merasa dunia ini suram dan tidak adil, mereka memiliki kebutuhan untuk beriman, dan pada akhirnya mereka datang ke hadapan Tuhan dan masuk ke dalam rumah Tuhan. Inilah kondisi dasar yang Tuhan berikan kepada manusia dalam memilih mereka. Hanya dengan memiliki kebutuhan ini, barulah engkau bisa memiliki keinginan untuk menerima keselamatan dari Tuhan. Jika keadaanmu dalam segala aspek sangat baik dan sesuai untuk berjuang di dunia ini, dan engkau selalu ingin terkenal dan dihormati, engkau tidak akan memiliki keinginan untuk menerima keselamatan dari Tuhan, dan engkau bahkan tidak akan memiliki kesempatan untuk menerima keselamatan dari Tuhan" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (7)"). Setelah membaca firman Tuhan, hatiku menjadi diterangi. Kenyataan bahwa aku tidak diberikan Tuhan kualitas yang baik adalah bagian dari kehendak baik-Nya, dan di situ terdapat maksud-Nya yang saksama dan penuh perhatian. Ketika merenungkan para antikristus yang diusir oleh gereja, aku menyadari bahwa sebagian dari mereka memiliki kualitas dan kecerdasan yang baik, tetapi hati mereka tidak terfokus pada pelaksanaan tugasnya, melainkan untuk mengejar reputasi dan status. Karena mereka tidak mengikuti jalan yang benar, tindakan mereka mengganggu dan mengacaukan pekerjaan rumah Tuhan, dan meskipun telah berulang kali bersekutu, mereka tetap menolak untuk bertobat dan akhirnya diusir. Lalu aku memikirkan tentang bagaimana aku berfokus pada reputasi dan status, serta betapa dangkalnya pemahamanku tanpa kualitas yang baik, bahwa andai aku memiliki kualitas yang baik, aku mungkin menjadi sangat congkak, dan pasti telah menempuh jalan antikristus. Ketika aku memikirkan hal ini sekarang, Tuhan tidak memberiku kualitas yang baik justru merupakan perlindungan bagiku!

Setelah melalui pencarian, aku temukan bahwa aku memiliki pandangan yang keliru, yang percaya bahwa untuk mendapatkan hasil dalam tugasku, aku harus memiliki kualitas yang baik, dan jika tidak, aku tidak dapat melaksanakan tugasku dengan baik. Aku membaca satu bagian firman Tuhan mengenai masalah ini: "Orang tidak mengerti mengapa Tuhan memberi mereka kualitas yang sangat rata-rata. Sulit untuk menemukan pemimpin yang berkualitas baik, dan sangat sulit untuk melakukan pekerjaan gereja dengan baik. Orang-orang berpikir, 'Jika Tuhan memberi orang kualitas yang baik, bukankah akan lebih mudah untuk menemukan pemimpin? Bukankah pekerjaan gereja akan lebih mudah untuk dilakukan? Mengapa Tuhan tidak memberi orang kualitas yang baik?' Jika memandangnya dari perspektif pekerjaan rumah Tuhan secara keseluruhan, tentu saja, jika ada lebih banyak orang yang berkualitas baik, pekerjaan gereja memang akan menjadi lebih mudah. Namun, ada satu premis: Di rumah Tuhan, Tuhanlah yang sedang melakukan pekerjaan-Nya sendiri, dan manusia tidak memainkan peran yang menentukan. Oleh karena itu, entah kualitas yang orang miliki itu baik, rata-rata, atau buruk, itu tidak menentukan hasil dari pekerjaan Tuhan. Hasil akhir yang ingin dicapai, itulah yang dicapai oleh Tuhan. Segala sesuatu dipimpin oleh Tuhan; segala sesuatu adalah pekerjaan Roh Kudus" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (7)"). Setelah membaca firman Tuhan, aku memahami bahwa kunci untuk mencapai hasil yang baik dalam tugas adalah memperoleh bimbingan dan pekerjaan Roh Kudus. Sekalipun seseorang punya kualitas yang baik, jika niatnya salah dan mereka hanya bekerja demi ketenaran, keuntungan, atau status, serta hanya mengandalkan kualitas dan karunianya sendiri tanpa bimbingan dan pencerahan dari Tuhan, mereka tidak akan dapat mencapai hasil yang baik. Orang-orang yang berkualitas sedang, tetapi mencurahkan hatinya pada tugasnya, dan yang berdoa, mengandalkan Tuhan, serta mencari prinsip-prinsip kebenaran ketika menghadapi kesulitan, lebih besar kemungkinannya untuk menerima pekerjaan Roh Kudus dan mencapai hasil yang baik dalam tugasnya. Pandanganku benar-benar tidak masuk akal. Aku mengira bahwa melaksanakan tugas dengan baik serta mencapai hasil hanya bergantung pada kualitas manusia, dan menyangkal bahwa pekerjaan Roh Kuduslah yang menentukan segalanya. Ini adalah pandangan pengikut yang bukan orang percaya. Di dunia orang-orang tidak percaya, untuk mencapai hasil yang baik dalam pekerjaan, orang harus mengandalkan kecerdasan, kualitas, dan karunianya. Namun, rumah Tuhan sama sekali berbeda dengan dunia sekuler. Pekerjaan di rumah Tuhan diselesaikan melalui pekerjaan Roh Kudus, dan meskipun kerja sama manusia diperlukan dalam pekerjaan tersebut, itu bukan hal yang menentukan. Penyebaran Injil ke berbagai negara di seluruh dunia sepenuhnya dipimpin oleh Tuhan, langkah demi langkah. Tuhanlah yang melaksanakan pekerjaan-Nya, dan manusia hanya bekerja sama dengan-Nya. Tuhan tahu betul apa yang dapat kulakukan, apa tugas yang mampu kulaksanakan sesuai dengan kualitasku, dan hasil yang dapat kucapai dalam tugasku, dan asalkan aku bersungguh-sungguh serta bekerja keras, Tuhan akan mencerahkan dan membimbingku. Selain itu, aku memiliki saudari-saudari yang berkualitas baik di sekitarku yang dapat bekerja sama denganku, dan kami dapat saling melengkapi dalam kelebihan dan kekurangan kami, dan dengan cara ini, aku dapat mencapai hasil dalam tugasku.

Aku juga membaca bagian firman Tuhan yang memberiku jalan penerapan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Banyak orang menganggap bahwa kualitas kemampuan mereka rendah dan tak pernah mampu melaksanakan tugas mereka dengan baik atau memenuhi standar. Mereka berusaha sebaik mungkin dalam apa yang mereka lakukan, tetapi tak pernah memahami prinsip, dan masih tak mampu membuahkan hasil yang sangat baik. Pada akhirnya, yang bisa mereka lakukan hanyalah mengeluhkan kualitas kemampuan mereka yang sangat buruk, dan mereka menjadi negatif. Jadi, apakah tidak ada jalan keluar bagi orang yang kualitas kemampuannya buruk? Memiliki kualitas kemampuan yang buruk bukan berarti menderita penyakit mematikan, dan Tuhan tidak pernah berkata bahwa Dia tidak menyelamatkan orang yang kualitas kemampuannya buruk. Sebagaimana yang Tuhan firmankan sebelumnya, Tuhan berduka karena orang-orang yang jujur, tetapi tidak memiliki pemahaman. Apa maksudnya tidak memiliki pemahaman? Dalam banyak kasus, ketidakpahaman sering disebabkan oleh kualitas kemampuan yang buruk. Jika orang memiliki kualitas kemampuan yang buruk, mereka akan memiliki pemahaman yang dangkal tentang kebenaran. Pemahaman ini tidak cukup spesifik atau praktis, dan sering kali terbatas pada pemahaman dasar atau pemahaman harfiahnya—terbatas pada doktrin dan aturan. Itulah sebabnya mereka tak mampu menyadari banyak masalah dengan jelas, dan tak pernah mampu memahami prinsip saat melaksanakan tugas mereka, atau tak mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Apakah itu berarti Tuhan tidak menginginkan orang-orang yang kualitas kemampuannya buruk? (Dia menginginkan mereka.) Jalan dan arah apa yang Tuhan tunjukkan kepada manusia? (Jalan menuju menjadi orang yang jujur.) ... Jadi, bagaimanakah seharusnya perilaku orang jujur? Mereka harus tunduk pada pengaturan Tuhan, loyal melaksanakan tugas yang sudah seharusnya mereka laksanakan, dan berusaha memenuhi maksud Tuhan. Ini terwujud dengan sendirinya dalam beberapa tindakan: Pertama, engkau menerima tugasmu dengan hati yang jujur, tidak memikirkan kepentingan dagingmu, tidak setengah hati dalam melakukannya, dan tidak berencana licik demi keuntunganmu sendiri. Tindakan-tindakan tersebut adalah perwujudan kejujuran. Tindakan lainnya adalah engkau mengerahkan segenap hati dan kekuatanmu agar dapat melaksanakan tugasmu dengan baik, melakukan segala sesuatu dengan benar, dan mengerahkan hati dan kasihmu pada tugasmu agar dapat memuaskan Tuhan. Perwujudan inilah yang seharusnya ditunjukkan oleh orang jujur dalam melaksanakan tugas mereka" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Setelah membaca firman Tuhan, aku merasa dicerahkan. Kualitasku ditetapkan oleh Tuhan, dan faktanya kualitasku memang buruk. Tapi Tuhan tidak merendahkanku karena kualitasku yang buruk. Tuhan berharap agar aku dapat menyikapi tugasku dengan hati yang jujur, mengesampingkan harga diriku, serta melakukan semua yang aku bisa dengan baik, dengan segenap hati dan kekuatanku, mencari dan menerapkan kebenaran dalam segala hal. Inilah yang seharusnya aku lakukan. Beberapa saudari memiliki kualitas yang lebih baik dariku, dan mereka melihat masalah secara lebih menyeluruh, jadi ketika mereka menunjukkan penyimpangan dan masalah dalam tugasku, itu adalah hal yang baik, karena itu dapat mendorongku untuk merenungkan diri serta memberi gambaran tentang penyimpanganku, yang juga akan mengisi kekuranganku. Setelah itu, aku mengulas kembali prinsip-prinsip yang relevan berdasarkan kekuranganku, dan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang prinsip-prinsip ini. Tuhan benar-benar menunjukkan perkenanan yang istimewa kepadaku! Aku menyadari bahwa meskipun kualitasku buruk, Tuhan tetap menunjukkan kasih karunia-Nya kepadaku, yang membuatku dapat bekerja sama dengan saudari-saudari yang berkualitas baik dan aku menjadi lebih diperlengkapi. Aku harus menyikapi tugasku dengan hati yang bersyukur, berusaha lebih keras untuk memahami prinsip-prinsip kebenaran, lebih banyak mendengarkan saran orang lain, dan melaksanakan tugasku dengan baik. Aku datang kepada Tuhan untuk berdoa, "Tuhan, terima kasih atas pencerahan dan bimbingan-Mu yang telah menolongku untuk memahami maksud-Mu. Aku harus bekerja lebih keras lagi karena kualitasku yang buruk, berusaha untuk menjadi orang yang jujur dan melaksanakan tugasku dengan baik dan dengan segenap hati serta kekuatanku!"

Setelah itu, aku secara sadar mendoakan hal ini, dan dalam tugasku, aku menghindari membanding-bandingkan diriku dengan orang lain, sebaliknya aku fokus untuk melakukan segala sesuatu di hadapan Tuhan dan menerima pemeriksaan-Nya. Ketika menemukan hal-hal yang tidak dapat aku pahami saat memeriksa video, aku secara aktif meminta bantuan dari para saudari, dan sungguh-sungguh mencurahkan segenap hati pada tugasku. Ketika aku menerapkan hal ini, aku merasa hatiku tenang dan bebas. Suatu kali, pemimpin tim memintaku untuk memeriksa sebuah video bersamanya, dan aku berpikir, "Saudari ini memiliki kualitas yang baik, sedangkan aku tidak. Apa yang akan dia pikirkan tentang diriku kalau aku tidak bisa mengidentifikasi satu masalah pun?" Aku sadar bahwa aku kembali dikekang oleh harga diriku, jadi dalam hati aku berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, tolong tenangkan hatiku agar aku tidak dikekang oleh kualitasku yang buruk dan dapat menghasilkan yang terbaik. Saudari ini memiliki kualitas yang lebih baik dan dapat mengidentifikasi lebih banyak masalah, yang akan melengkapi kekuranganku." Setelah berdoa, aku menenangkan hatiku dan menonton video tersebut dengan teliti. Setelah menonton video tersebut, aku membahas masalah yang kulihat dan bagian-bagian yang membingungkanku, lalu saudari itu juga membagikan pandangan dan pendapatnya serta mempersekutukan sudut pandangnya mengenai bagian yang membingungkanku tersebut. Dari persekutuan saudari itu, aku menyadari bahwa aku melihat masalah dari sudut pandang yang lebih luas, sementara saudari itu memperhatikan masalah-masalah detail, yang tanpa disengaja melengkapi kekuranganku. Dengan bertukar pikiran, kebingunganku terselesaikan dan aku memiliki pemahaman yang lebih jelas tentang masalah-masalah dalam video tersebut. Ketika aku tidak peduli dengan tinggi atau rendahnya harga diriku dan mengabdikan diri dengan sepenuh hati pada tugasku, aku merasa sangat tenang, dan rasanya sangat menyenangkan melaksanakan tugasku dengan cara seperti ini!

Dari pengalaman ini, aku memiliki perasaan yang mendalam bahwa kunci untuk melaksanakan tugas dengan baik adalah berhati jujur, mengesampingkan harga diri dan kepentingan pribadi, tidak terkekang oleh kualitas yang buruk, mencurahkan hati pada tugas dan merenungkan bagaimana melaksanakannya dengan baik. Dengan cara ini, kita dapat dengan mudah menerima bimbingan dan pencerahan dari Tuhan serta mencapai hasil dalam tugas.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Setelah Gempa Bumi

Oleh Saudari Jane, Filipina Pada Juli 2019, aku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman. Kemudian, aku banyak membaca...

Tinggalkan Balasan

Hubungi kami via WhatsApp