Pemimpin Gereja Bukanlah Pejabat
Oleh Saudara Matthew, PrancisAku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman tiga tahun yang lalu. Aku terpilih sebagai...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Pada tahun 2020, pekerjaan penginjilan gereja kami tidak terlalu berbuah, sehingga sang diaken penginjilan diberhentikan, dan aku dipilih menjadi penggantinya. Saat mendengar hal ini, aku merasa cemas dan senang secara bersamaan, dan aku berpikir, "Karena saudara-saudari memilihku, itu artinya aku punya potensi. Aku sudah mengabarkan Injil selama beberapa tahun, tetapi belum pernah menjadi diaken penginjilan. Sekarang aku mendapatkan kesempatan ini, aku harus bekerja keras dan menunjukkan kemampuanku pada semua orang." Dalam beberapa hari berikutnya, aku bekerja sama dengan saudara-saudari untuk mengabarkan Injil, terus meringkas dan mengoreksi penyimpangan dalam pekerjaan sebelumnya, dan aku sering meminta orang lain untuk bersekutu tentang hal-hal yang tidak kumengerti. Setelah beberapa saat, pekerjaan penginjilan mengalami peningkatan yang signifikan. Para pemimpin mendorong kami untuk terus mempertahankan hasil kerja yang baik ini dan saudara-saudari memujiku karena cerdik dan punya kualitas yang baik. Aku merasa begitu jemawa. Aku berpikir, "Akulah yang memperbaiki pekerjaan penginjilan ini, tampaknya kualitasku memang jauh lebih baik dari diaken penginjilan sebelumnya." Aku merasa bangga dengan diriku sendiri, seolah-olah akulah yang menjadi tulang punggung pekerjaan penginjilan di gereja, dan aku tak tergantikan. Makin lama, aku menjadi makin congkak, mengabaikan saran dari saudara-saudari dan mengambil keputusan sendiri. Saat membicarakan pekerjaan, sering kali sebuah keputusan sudah disetujui semua orang, tetapi macet saat sampai kepadaku. Aku selalu menganggap pendapatku adalah yang paling benar, dan aku selalu menolak pandangan mereka sambil berkeras dengan pandanganku sendiri. Sekali waktu, kami memberitakan Injil kepada seorang pendeta dari sebuah denominasi agama, dan saat diaken penginjilan sebelumnya mendengar hal ini, dia memperingatkanku bahwa orang ini memiliki watak congkak dan pemahamannya cukup menyimpang, sehingga dia sulit menerima jalan yang benar, dan dia menyarankanku untuk memberitakan kepada orang lain terlebih dahulu. Namun aku menolak mendengarkan, sambil berpikir, "Pendeta ini sudah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun dan memiliki banyak gagasan agama, sehingga sudah sewajarnya ia tidak akan langsung menerima kebenaran. Selain itu, kau sudah diberhentikan, itu membuktikan kau tidak semampu aku dalam melaksanakan tugas. Sekarang akulah diaken penginjilannya dan aku punya pengalaman berkhotbah yang lumayan, Aku yakin kali ini aku akan berhasil!" Tanpa diduga, setelah beberapa hari bersekutu, pendeta itu masih memiliki banyak gagasan. Di titik ini, pemimpin dan saudara-saudari yang bekerja sama denganku memberi saran, "Lebih baik kau berhenti dan minta bantuan, serta memberitakan kepada calon penerima Injil lainnya terlebih dahulu." Aku kesal saat mendengar hal ini, pikirku, "Bukankah ini berarti mempertanyakan kemampuan kerjaku? Bukankah aku akan tampak payah jika memberitakan kepada yang lainnya terlebih dahulu?" Aku juga mengabaikan saran pemimpin, sambil berpikir, "Meskipun kau adalah pemimpin dan sudah melaksanakan tugasmu lebih lama dariku, dalam hal kemampuan profesional dan pengalaman nyata, aku masih lebih baik. Lagipula, saranmu belum tentu sesuai." Jadi aku terus bersekutu dengan pendeta itu. Pada akhirnya, pendeta itu tidak hanya menolak Injil, tetapi juga menutup akses ke gerejanya dan menghalangi orang percaya untuk menyelidiki jalan yang benar. Aku sangat terkejut. Aku tidak berani membantah saat disingkapkan dan dipangkas oleh pemimpin, dan hanya dengan taat mengakui bahwa aku memang terlalu congkak, aku juga telah menghambat dan mengacaukan pekerjaan penginjilan. Namun, kemunduran ini belum juga menyadarkanku, dan di dalam lubuk hatiku, aku merasa ini hanya kesalahan kecil, dan bukan cerminan dari kemampuan kerjaku, jadi aku hanya menjaga sikapku selama beberapa hari, dan setelah itu, aku kembali bersikap seperti sebelumnya, tidak mau bekerja sama dengan orang lain dalam melaksanakan tugas. Saat orang lain tidak mengikuti saranku dalam diskusi mengenai pekerjaan, aku tidak senang dan sering menunjukkan sikap buruk. Seiring waktu, semua orang terpengaruh olehku dan merasa tertekan. Hasil dari tugas kami juga terus menurun. Pemimpin berulang kali memangkasku karena watak congkakku, dan dengan keras menelaah serta menyingkapkanku, tetapi setiap kali aku dipangkas, aku hanya dapat mengendalikan diri selama beberapa saat, dan seiring waktu, kebiasaan lamaku kembali. Kemudian, pemimpin melihat bahwa watakku terlalu congkak, aku bersikap semaunya dalam melaksakan tugasku, tidak menerima saat dipangkas, dan aku menghambat pekerjaan gereja, sehingga mereka memberhentikanku.
Aku sangat sadar bahwa diberhentikan adalah tanda watak benar Tuhan turun ke atasku, dan bahwa aku harus menerima serta menaatinya, tetapi aku merasa agak putus asa. Saat memikirkan bahwa meski enam bulan terakhir ini aku telah berkali-kali dipangkas, watakku yang rusak tetap tidak banyak berubah, aku menyimpulkan bahwa aku bukanlah orang yang mengejar kebenaran, dan watakku yang rusak mungkin tidak akan pernah bisa berubah. Suatu hari, saat sedang makan, aku bertemu dengan dua orang saudara. Mereka mengetahui bahwa aku telah diberhentikan, sehingga mereka membagikan pengalamannya untuk mendukung dan menolongku. Mereka berkata bahwa dahulu mereka juga congkak, merasa diri benar, dan bersikap semaunya dalam melaksanakan tugas, dan baru setelah diberhentikan, mereka menghadap Tuhan untuk merenungkan dirinya sendiri dan mendapatkan pemahaman tentang kebenaran atas kerusakan mereka. Mereka benar-benar bertobat dan benci pada dirinya sendiri, serta tidak ingin lagi hidup menuruti watak Iblis dalam dirinya. Setelah pengalaman tersebut, mereka menyadari bahwa tanpa penghakiman, hajaran, didikan, dan pendisiplinan dari Tuhan, mereka tidak akan memahami cara mengenali diri sendiri atau bertobat kepada Tuhan. Persekutuan yang tak terencana bersama para saudara ini sungguh menyentuh hatiku, dan aku tahu inilah cara Tuhan mendorong dan menolongku melalui para saudara. Aku tidak boleh lagi menjadi negatif. Aku harus merenungkan diriku sendiri dan berusaha mengubah watak.
Sejak saat itu, aku membaca lebih banyak firman Tuhan dan merenungkan tindakan serta perilakuku. Aku membaca dua bagian firman Tuhan: "Sebagian orang tidak pernah mencari kebenaran ketika melaksanakan tugas-tugas mereka. Mereka hanya melakukannya sesuka hati mereka, bertindak menurut imajinasi mereka sendiri, dan selalu bersikap semaunya dan gegabah. Mereka sama sekali tidak menempuh jalan menerapkan kebenaran. Apa maksudnya 'bersikap semaunya dan gegabah'? Maksudnya, bertindak dengan cara apa pun yang kau rasa cocok ketika menghadapi suatu masalah, tanpa proses berpikir atau mencari apa pun. Tidak ada yang dikatakan orang lain yang dapat menyentuh hatimu ataupun mengubah pikiranmu. Engkau bahkan tidak dapat menerimanya ketika kebenaran dipersekutukan kepadamu, engkau tetap pada pendapatmu sendiri, tidak mendengarkan ketika orang lain mengatakan sesuatu yang benar, menganggap dirimu yang benar, dan berpegang teguh pada gagasanmu sendiri. Meskipun pemikiranmu itu benar, engkau juga harus mempertimbangkan pendapat orang lain. Dan jika engkau sama sekali tidak mempertimbangkannya, bukankah ini berarti engkau sangat merasa dirimu benar? Tidak mudah bagi orang yang sangat merasa dirinya benar dan keras kepala untuk menerima kebenaran. Jika engkau melakukan sesuatu yang salah dan orang lain mengkritikmu dengan berkata, 'Engkau tidak melakukan hal ini sesuai dengan kebenaran!' engkau menjawab, 'Meskipun aku tidak melakukannya sesuai dengan kebenaran, aku tetap akan melakukannya dengan cara seperti ini,' dan engkau kemudian menemukan beberapa alasan untuk membuat mereka berpikir bahwa ini benar. Jika mereka menegurmu dengan berkata, 'Bertindak seperti ini artinya mengacau, dan itu akan merugikan pekerjaan gereja,' engkau bukan saja tidak mau mendengarnya, tetapi engkau juga terus beralasan: 'Menurutku inilah cara yang benar, jadi aku akan melakukannya dengan cara ini.' Watak apakah ini? (Kecongkakan.) Kecongkakan. Natur yang congkak membuatmu keras kepala. Jika engkau memiliki natur yang congkak, engkau akan berperilaku semaunya dan gegabah, mengabaikan apa pun yang orang lain katakan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). "Aku melihat banyak orang menjadi sangat sombong ketika mereka memperlihatkan sedikit bakat dalam tugas mereka. Setelah memperlihatkan sedikit kemampuan, mereka menganggap diri mereka sangat mengesankan, dan kemudian mereka merasa cukup puas dengan kemampuan yang mereka miliki dan tidak mendorong diri mereka lebih jauh. Mereka tidak mendengarkan orang lain apa pun yang mereka katakan, menganggap hal-hal kecil yang mereka miliki ini adalah kebenaran, dan menganggapnya sebagai hal yang tertinggi. Watak apakah ini? Ini adalah watak yang congkak. Mereka sama sekali tidak bernalar. Mampukah orang melaksanakan tugas mereka dengan baik jika mereka memiliki watak yang congkak? Mampukah mereka tunduk kepada Tuhan dan mengikuti Tuhan sampai akhir? Ini akan jauh lebih sulit. ... Ada orang yang selalu pamer. Karena orang lain menganggap sikapnya itu tidak menyenangkan, mereka mengkritiknya sebagai orang yang congkak. Namun, dia tidak menerimanya; dia tetap menganggap dirinya berbakat dan terampil. Watak apakah ini? Orang itu sangat congkak dan merasa diri benar. Mampukah orang-orang yang congkak dan merasa dirinya benar merasa haus akan kebenaran? Mampukah mereka mengejar kebenaran? Jika mereka tak pernah mampu mengenal diri mereka sendiri, dan tidak membuang watak rusak mereka, mampukah mereka melaksanakan tugas mereka dengan baik? Tentu saja tidak" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Mengetahui Watak Orang adalah Landasan untuk Mengubahnya"). Setelah membaca firman Tuhan, aku merasa seolah hatiku tertusuk. Firman Tuhan mengungkapkan keadaanku yang sebenarnya. Aku telah begitu congkak dan degil, melaksanakan tugasku tanpa mencari kebenaran, dan melakukan segala hal berdasarkan bayangan serta keinginanku sendiri, bertindak sesuka hatiku. Hanya karena aku punya pengalaman memberitakan Injil sejak lama dan telah memberikan hasil, Aku menjadi berpuas diri dan memperlakukannya sebagai modal pribadiku, berpikir bahwa kualitasku adalah yang terbaik di kelompok dan penilaianku lebih tepat dibandingkan yang lain, sehingga aku bertindak menurut kemauanku sendiri, dan apa pun yang dikatakan orang lain, aku selalu memiliki dasar teoritis untuk membantah mereka, seolah akulah satu-satunya yang punya gagasan, sementara orang lain hanyalah orang biasa yang bodoh dan tidak berpengetahuan. Di mana nalarku sebagai orang yang normal? Saat mengingat kembali ketika aku memberitakan Injil kepada pendeta agama tersebut, pemimpin dan saudara-saudari yang menjadi mitraku memberi saran, mengatakan bahwa orang ini congkak dan pemahamannya menyimpang, sehingga sulit baginya untuk menerima kebenaran, dan mereka menyarankanku untuk memberitakan kepada orang lain terlebih dahulu. Namun aku merasa bahwa aku punya pengalaman dan dapat menilai orang secara akurat, sehingga aku bersikap degil. Pada akhirnya, kenyataan membuktikan bahwa aku tidak memiliki pengenalan akan orang lain dan tidak mengikuti prinsip-prinsip dalam memberitakan Injil, yang sangat memengaruhi pekerjaan penginjilan. Namun bahkan setelah mengalami kegagalan sejelas itu, aku masih tidak merenungkan diri sendiri dengan benar, dan menganggapnya hanya kesalahan sementara. Aku menjadi begitu mati rasa! Kini, setelah membaca firman Tuhan, aku mulai dapat melihat masalahku dengan lebih jelas. Kesalahanku adalah terlalu congkak dan merasa diri benar, serta memandang diriku terlalu tinggi. Jika saja aku memiliki sedikit nalar dan pemahaman diri, serta mencari kebenaran, mendengarkan saran dari saudara-saudari, sambil bekerja sama dengan semua orang, Aku tidak akan melakukan kesalahan yang mengacaukan dan mengganggu pekerjaan penginjilan ini. Makin aku memikirkan hal tersebut, makin aku membenci diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku menjadi terlalu percaya diri? Aku membaca bahwa firman Tuhan mengatakan: "Mampukah orang-orang yang congkak dan merasa dirinya benar merasa haus akan kebenaran? Mampukah mereka mengejar kebenaran? Jika mereka tak pernah mampu mengenal diri mereka sendiri, dan tidak membuang watak rusak mereka, mampukah mereka melaksanakan tugas mereka dengan baik? Tentu saja tidak." Aku mulai memahami bahwa orang congkak benar-benar tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Karena aku tidak merindukan kebenaran di dalam hatiku, maka saat menghadapi berbagai hal, aku tidak mungkin untuk aktif mencari kebenaran. Bahkan meskipun aku dapat melakukan beberapa pekerjaan selama beberapa waktu, tanpa mengubah watak Iblisku, tanpa sadar aku hanya akan memberontak terhadap Tuhan dan menolak Tuhan. Meskipun pemahamanku akan diri sendiri sangat dangkal, aku masih merasa sangat bersyukur. Sebelum aku diberhentikan, ini adalah sesuatu yang tidak kusadari, dan dengan tulus aku berterima kasih kepada Tuhan atas pencerahan, bimbingan, didikan, dan pendisiplinan-Nya.
Pada hari-hari berikutnya, aku mulai berfokus untuk bekerja sama dengan saudara-saudari dalam melaksanakan tugasku, dan makin masuk ke dalam prinsip-prinsip. Namun secara tak terduga, seiring waktu aku mulai kembali jatuh dalam masalah lamaku. Khususnya, saat aku begitu yakin bahwa diriku benar, dan saat saudara-saudari tidak menerima saranku, Aku akan meledak dalam sikap gampang marah dan tidak segan untuk berdebat dengan mereka, Aku selalu ingin meyakinkan semua orang untuk melakukan segalanya dengan caraku, dan apabila tidak, aku akan merajuk. Kemudian, aku melihat bahwa sudut pandang lain juga ada benarnya, dan aku merasa sangat menyesal. Terus hidup dalam keterikatan dengan watak yang rusak, membuatku sangat tertekan. Aku berdoa kepada Tuhan tentang hal ini, meminta Dia untuk mencerahkan dan membimbingku. Setelah itu, aku menemukan dan makan minum firman Tuhan yang mengungkapkan natur dari kecongkakan manusia. Firman Tuhan mengatakan: "Watak congkak dan merasa diri benar adalah watak Iblis dalam diri manusia yang paling mencolok, dan jika orang tidak menerima kebenaran, mereka sama sekali tidak akan mampu membereskannya. Semua orang memiliki watak yang congkak dan merasa diri benar, dan mereka selalu sombong. Apa pun yang mereka pikirkan, apa pun yang mereka katakan, atau bagaimana cara mereka memandang sesuatu, mereka selalu menganggap sudut pandang mereka sendiri dan sikap mereka sendirilah yang benar, dan menganggap apa yang orang lain katakan tidak sebaik atau sebenar apa yang mereka katakan. Mereka selalu berpaut pada pendapat mereka sendiri, siapa pun yang berbicara, mereka tidak mau mendengarkannya. Sekalipun apa yang orang lain katakan itu benar, atau sesuai dengan kebenaran, mereka tidak akan menerimanya; mereka hanya kelihatannya saja mendengarkan tetapi mereka tidak akan benar-benar menerima ide tersebut, dan ketika tiba saatnya untuk bertindak, mereka akan tetap melakukan hal-hal menurut cara mereka sendiri, selalu menganggap perkataan merekalah yang benar dan masuk akal. Mungkin saja apa yang engkau katakan memang benar dan masuk akal, atau apa yang telah kaulakukan benar dan tak bercacat, tetapi watak seperti apakah yang telah kauperlihatkan? Bukankah watak yang congkak dan merasa diri benar? Jika engkau tidak membuang watak congkak dan merasa diri benar ini, bukankah itu akan memengaruhi pelaksanaan tugasmu? Bukankah itu akan memengaruhimu dalam menerapkan kebenaran? Jika engkau tidak membereskan watakmu yang congkak dan merasa diri benar, bukankah kelak itu akan membuatmu mengalami kemunduran yang serius? Engkau pasti akan mengalami kemunduran, ini tak bisa dihindari. Katakan kepada-Ku, mampukah Tuhan melihat tingkah laku manusia yang seperti itu? Tuhan lebih dari mampu melihatnya! Tuhan tidak hanya memeriksa lubuk hati manusia, Dia juga mengamati setiap perkataan dan perbuatan mereka setiap saat dan di segala tempat. Apa yang akan Tuhan katakan ketika Dia melihat tingkah lakumu ini? Tuhan akan berkata: 'Engkau keras kepala! Dapat dimengerti jika engkau mungkin berpaut pada gagasanmu sendiri saat engkau tidak tahu bahwa engkau salah, tetapi saat engkau tahu dengan jelas bahwa engkau salah dan engkau tetap berpaut pada gagasanmu, dan lebih memilih mati daripada bertobat, engkau benar-benar orang bodoh yang keras kepala, dan engkau berada dalam masalah. Jika, terhadap siapa pun yang memberimu saran, engkau selalu bersikap negatif, menentang, dan tidak menerima bahkan sedikit pun kebenaran, dan jika hatimu sama sekali menolak, tertutup, dan meremehkan, maka engkau sangat konyol, engkau adalah orang yang tidak masuk akal! Engkau terlalu sulit untuk ditangani!' Dalam hal apa engkau sulit ditangani? Engkau sulit ditangani karena apa yang kauperlihatkan bukanlah pendekatan yang salah, ataupun tingkah laku yang salah, melainkan penyingkapan dari watakmu. Watak apa yang kausingkapkan? Watak yang muak akan kebenaran, dan membenci kebenaran. Begitu engkau dinyatakan sebagai orang yang membenci kebenaran, di mata Tuhan engkau berada dalam masalah, dan Dia akan membenci, menolak, dan mengabaikanmu" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Sering Hidup di Hadapan Tuhanlah Orang Dapat Memiliki Hubungan yang Normal dengan-Nya"). Setelah membaca firman Tuhan, hatiku merasa sungguh tersentuh, aku merasa diriku sangat keras kepala, sulit menerima masukan, dan congkak sebagaimana Tuhan katakan. Orang dengan nalar yang normal akan lebih menahan diri setelah beberapa kali kesalahannya terungkap, dan saat dihadapkan dengan berbagai hal, mereka akan berpikir dan mencari tahu lebih dulu, dan tidak berani terlalu mempertahankan pendapat mereka. Namun orang yang congkak, merasa dirinya benar, dan tidak memiliki nalar, tak peduli seberapa besar kegagalan yang dihadapinya, hal-hal demikian tidak akan masuk ke dalam hatinya, dan jauh di dalam hatinya, mereka masih menganggap dirinya benar. Mereka tidak dapat membuka diri untuk mendengar pendapat orang lain, dan meskipun mereka mengetahui orang lain benar, mereka masih akan bertahan dengan pandangan mereka sendiri. Aku adalah orang yang seperti itu. Mengingat saat aku masih menjadi diaken penginjilan, jika aku merasa yakin tentang sesuatu, tiada satu pun yang dapat mengubah pandanganku, dan meskipun adakalanya aku mengakui orang lain benar, sangat sulit bagiku untuk segera tunduk. Aku selalu berpikir, "Kamu memang benar, tetapi aku lebih benar. Nalarku lebih masuk akal dari nalarmu, dan pandanganku lebih tepat dan benar. Kenapa aku harus mendengarkanmu?" Jadi aku sering kali bertengkar dengan semua orang; terlepas dari apakah orang lain benar atau salah, selama pandangan mereka tidak sesuai dengan pendapatku, aku tidak bisa menerimanya. Bukankah aku sedang memegahkan diriku sendiri? Aku selalu ingin orang tunduk padaku dan mendengarkanku, dan aku memandang diriku sendiri terhormat dan hebat. Bukankah aku sedang menganggap pendapatku sebagai kebenaran? Sebelumnya, aku baru mengakui bahwa aku tidak mencintai atau mengejar kebenaran, tetapi sekarang, setelah membaca firman Tuhan, mengenai orang yang selalu keras kepala, sulit menerima masukan, dan congkak, tidak pernah menerima kata-kata orang lain, Aku menjadi sadar bahwa orang-orang seperti itu muak akan kebenaran. Pada saat itu, aku menyadari bahwa masalahku benar-benar serius. Saran yang diberikan saudara-saudari kepadaku dibuat dengan rasa tanggung jawab atas pekerjaan rumah Tuhan, dan jika saja aku bisa menerimanya dan bersama-sama mencari kebenaran bersama semua orang, itu akan menguntungkan diriku dan pekerjaan gereja. Tetapi aku tidak mengetahui benar dan salah, jadi aku tidak saja menolak hal tersebut, tetapi juga menekankan pendapatku sendiri, dan memaksa semua orang mendengarkanku, seolah-olah menerima saran orang lain akan membuatku terlihat tidak kompeten, bodoh, dan tidak berharga. Aku menyadari bahwa aku tidak menyukai hal-hal positif atau menerima kebenaran. Dengan bertahan pada diri sendiri seperti ini, aku tidak dapat bekerja sama dengan orang lain. Bukankah pada akhirnya aku akan disingkirkan Tuhan dan ditolak oleh semua orang?
Setelahnya, aku membaca lebih banyak firman Tuhan: "Mungkin engkau adalah orang yang paling berpengetahuan tentang profesimu dan unggul dalam hal keterampilan, tetapi ini adalah karunia yang Tuhan berikan kepadamu, dan engkau harus menggunakannya untuk melaksanakan tugasmu dan memanfaatkan kekuatanmu. Betapa pun terampil atau berbakatnya dirimu, engkau tidak mampu melakukan pekerjaan itu seorang diri; suatu tugas akan dilaksanakan dengan lebih efektif jika setiap orang mampu menguasai keterampilan dan memiliki pengetahuan akan suatu profesi. Seperti kata pepatah, manusia yang cakap membutuhkan dukungan tiga orang lainnya. Secakap apa pun seseorang, tanpa bantuan orang lain, itu tidak cukup. Oleh karena itu, tak seorang pun boleh bersikap congkak dan tak seorang pun boleh bertindak sewenang-wenang dan sepihak. Orang harus memberontak terhadap daging, mengesampingkan gagasan dan pendapatnya sendiri, dan bekerja secara harmonis dengan semua orang lain" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Penyelesaian Tugas yang Benar Membutuhkan Kerja Sama yang Harmonis"). Dari firman Tuhan tersebut, aku menyadari bahwa setiap pengalaman, pemahaman, dan wawasan pribadi kita sesungguhnya amat terbatas. Tuhan menginginkan kita untuk mengerahkan bagian diri yang kita miliki, bukannya berusaha menjadi orang yang hebat atau sempurna, yang dapat memikul semua pekerjaan sendiri. Entah sehebat apa pun seseorang, kemampuan mereka masih terbatas, dan terkadang, mereka dapat cenderung melakukan kehendaknya sendiri dan mengacaukan pekerjaan gereja. Hanya ketika saudara-saudari bekerja sama dalam satu hati dan pikiran, bahu membahu dengan rukun, mengandalkan Tuhan untuk mencari kebenaran dan mendapatkan pencerahan dan bimbingan Roh Kudus, dengan setiap orang mengerahkan kekuatannya, maka tugas akan dapat dilaksanakan dengan meraih hasil yang lebih baik. Setelah menyadari hal ini, Aku mulai berfokus untuk mendengarkan pendapat orang lain dan belajar dari kelebihan mereka. Saat aku mengubah pola pikirku, aku melihat bahwa saudara-saudari di sekitarku masing-masing memiliki kelebihan yang tak kumiliki. Sebagian saudara-saudari berfokus kepada memahami maksud Tuhan dan mencari kebenaran ketika menghadapi berbagai masalah, memetik pelajaran dari situasi yang baik maupun buruk; sebagian lainnya sangat bersungguh-sungguh dan bertanggung jawab dalam tugasnya, serta berfokus pada upaya untuk menerapkan prinsip-prinsip; yang lain mungkin hanya punya kualitas rata-rata, tetapi mereka rendah hati dan mau belajar dari orang lain, serta dapat menerima bimbingan dan bantuan dari orang lain, sehingga, mereka dapat membuat kemajuan dari waktu ke waktu. Sebaliknya, meskipun aku memiliki karunia dan kualitas kemampuan, saat menghadapi berbagai masalah aku tidak berfokus untuk berdoa kepada Tuhan atau mencari prinsip-prinsip kebenaran, dan aku hanya berfokus untuk mengerahkan usaha dalam pekerjaanku. Aku mengandalkan kecerdasan serta pengetahuanku untuk menganalisis mana yang benar dan salah, bekerja dengan berdasarkan karunia dan kualitas kemampuanku, sehingga aku jarang dapat melihat bimbingan Tuhan. Saat mengandalkan karunia yang kumiliki, aku memang berhasil menjangkau sejumlah orang dalam penginjilan, tetapi aku tidak memberikan kemuliaan itu kepada Tuhan. Alih-alih demikian, aku meletakkan mahkota itu di atas kepalaku sendiri, menganggap bahwa ini semua karena kemampuan dan kualitasku. Alhasil, watakku menjadi makin congkak, dan aku mengabaikan orang lain serta tidak memberikan ruang bagi Tuhan di dalam hatiku. Setiap hari, aku tampak sibuk, tetapi aku tidak memahami watak rusakku sendiri, dan aku tidak mengalami kemajuan dalam jalan masuk kehidupan, dan pada akhirnya, aku kehilangan berkat dan bimbingan Tuhan dalam melaksanakan tugasku. Aku melihat bahwa, tidak mau tunduk kepada kebenaran dan selalu bersikap congkak serta keras kepala adalah sebuah kerugian besar!
Beberapa hari kemudian, aku menemukan satu bagian dari persekutuan Tuhan, dan itu membuat segalanya makin jelas di hatiku. Tuhan berfirman: "Agar orang dapat mencapai pertumbuhan hidup yang terus-menerus dan memperoleh perubahan watak hidup, mereka harus mengalami penghakiman, hajaran, dan pemangkasan saat melaksanakan tugas mereka; begitu mereka mencapai titik di mana mereka benar-benar mengenal diri mereka sendiri, mereka mulai berubah. Bagaimana tepatnya hal ini seharusnya dialami? Pertama-tama, dengan memiliki mentalitas ketundukan dalam segala sesuatu yang terjadi padamu. Memiliki mentalitas ketundukan adalah rintangan pertama yang harus dilewati dan syarat pertama yang harus dipenuhi orang. Ini sangatlah penting. ... Meskipun orang percaya kepada Tuhan, pemahaman mereka tentang kebenaran terlalu dangkal, dan mereka masih belum menyadari bahwa ketika mereka datang ke hadapan Tuhan, mereka harus tahu posisi mereka. Apa yang tercakup dalam mengetahui posisi seseorang? Sepenting apa pun dirimu, setinggi apa pun kedudukanmu, atau sebesar apa pun kemampuanmu, selama engkau adalah makhluk ciptaan, prinsip pertama ketika datang ke hadapan Tuhan adalah tunduk kepada Tuhan, tunduk kepada Sang Pencipta. Ada orang-orang yang berkata, 'Aku telah memiliki jasa yang besar sebelumnya.' Lalu, haruskah engkau tunduk kepada Tuhan? Sekalipun engkau telah memiliki jasa yang besar, engkau tetaplah makhluk ciptaan. Tuhan adalah Sang Pencipta. Tanggung jawab utamamu adalah tunduk kepada Tuhan. Apa pun yang Tuhan katakan, engkau harus tunduk sepenuhnya, dan engkau tidak boleh memiliki pilihanmu sendiri. Apakah ini kebenaran tertinggi? Ini adalah kebenaran tertinggi, dan juga kebenaran yang paling mendasar. Namun, sebagian besar orang, bahkan setelah percaya kepada Tuhan selama sepuluh atau dua puluh tahun, masih belum memahami kebenaran yang mendasar tentang tunduk kepada Tuhan. Apa masalahnya di sini? Jika orang bahkan tidak memahami bahwa kebenaran terpenting dalam percaya kepada Tuhan adalah tunduk kepada Tuhan, kebenaran apa yang mungkin bisa mereka pahami? Engkau tahu siapa Sang Pencipta, dan engkau bersedia datang ke hadapan-Nya, tetapi engkau tidak tahu bahwa tunduk kepada Tuhan adalah tanggung jawabmu, kewajibanmu, dan tugasmu, bahwa itu adalah nalar dan naluri yang seharusnya kaumiliki sebagai manusia. Jika engkau bahkan tidak memahami kebenaran yang paling mendasar tentang percaya kepada Tuhan, bukankah omong kosong jika engkau mengatakan bahwa engkau memahami kebenaran? Yang kaupahami hanyalah doktrin kosong; itulah sebabnya engkau mampu meneliti Tuhan, memiliki gagasan dan kesalahpahaman tentang Tuhan, mencurigai, menghakimi, membantah, dan melawan Tuhan. Semua perwujudan kerusakan dan tindakan menentang Tuhan ini pun bermunculan. Jika orang tidak memahami kebenaran tentang tunduk kepada Tuhan, berbagai watak rusak yang mereka perlihatkan tidak dapat dibereskan" (Persekutuan Tuhan). Setelah merenungkan firman Tuhan, hatiku merasa sangat tersentuh. Kenyataannya, bukankah orang-orang, kejadian, dan berbagai hal yang tidak sesuai dengan kehendak kita setiap hari—termasuk opini dan saran yang berbeda dari saudara-saudari, saat dipangkas, dikritik, dan ditegur, serta setiap kesulitan, kemunduran, dan kegagalan dalam tugas kita, semuanya ada di bawah kedaulatan dan penataan Tuhan? Sebagai orang percaya, saat menghadapi berbagai hal, yang pertama harus kulakukan adalah tunduk dan mencari kebenaran untuk mendapatkan pelajaran dari hal-hal tersebut. Meskipun demikian, aku melihat hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendakku sebagai masalah dan rintangan, dan perasaanku pada awalnya adalah menolak, tidak sabar, dan tidak menerima, aku juga tidak mempertimbangkan mengapa orang lain tidak mendukung pandanganku, atau sudahkah pandanganku itu sesuai dengan kebenaran. Bahkan meskipun aku terkadang dengan enggan menerima saran orang lain, aku masih merasa seolah diriku dibungkam dan tidak diberi pilihan, sama sekali tidak punya sikap tunduk sedikit pun. Dalam melaksanakan tugasku, aku selalu bertindak dengan watak congkakku, bertindak sesuka hati dan mengambil keputusan sendiri, tidak menyisakan ruang bagi Tuhan di dalam hatiku dan tidak tunduk pada-Nya sama sekali. Apa bedanya aku dengan orang yang tidak percaya? Aku harus belajar tunduk pada Tuhan dan kebenaran-Nya dalam segala hal, dan mengesampingkan kehendakku sendiri selama proses penundukan itu sehingga watak congkakku dapat diubah.
Kemudian, saat bekerja dengan saudara-saudari, aku secara sadar berfokus untuk masuk ke dalam kebenaran tentang ketundukan kepada Tuhan dan bekerja sama secara harmonis dengan orang lain, juga dalam menghadapi masalah, terlepas dari apakah hal itu sesuai dengan kehendakku atau tidak, aku berlatih untuk menerimanya terlebih dahulu dari Tuhan dan menjaga sikap tunduk. Aku berhenti untuk buru-buru membuat penghakiman atas saran saudara-saudari, serta berdiskusi dan mencari saran dari setiap orang. Saat membicarakan pekerjaan, jika aku melihat bahwa saran dari saudara-saudari tidak sesuai dengan pandanganku sendiri, meskipun aku merasa terganggu, tetapi dengan berdoa kepada Tuhan dan meminta-Nya untuk terlebih dahulu menjagaku tetap dalam keadaan tunduk, aku dapat melihat kebaikan dalam saran-saran mereka. Meskipun saran tersebut belum tentu sempurna atau spesifik, kami terus membahas dan bersekutu tentang topik tersebut, dan saat setiap orang bergiliran bersekutu, hatiku menjadi makin jernih. Aku mengalami bahwa tunduk kepada kebenaran dan bertindak sesuai firman Tuhan dalam segala hal, benar-benar membuat seseorang melihat bimbingan dan perbuatan Tuhan, dan bahwa penerapan ini membawa kecerahan dan kenikmatan dalam hati, serta membantu dalam belajar dari kelebihan orang lain. Ini sangat berbeda dari sikapku sebelumnya yang keras kepala dan merasa diri benar. Perubahan kecil ini memberiku iman, dan aku tidak lagi menentukan dari diriku sendiri. Aku percaya bahwa selama aku bersedia membayar harga dan berjuang untuk kebenaran, watakku yang rusak pasti akan berubah. Terima kasih kepada Tuhan atas keselamatan-Nya!
Oleh Saudara Matthew, PrancisAku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman tiga tahun yang lalu. Aku terpilih sebagai...
Oleh Saudari Lynn, AustraliaAku terpilih sebagai pemimpin gereja pada April 2020 untuk bertanggung jawab terutama atas pekerjaan...
Oleh Saudari Joanne, Korea SelatanSuatu hari dua orang pemimpin gereja melaporkan masalah kepadaku. Mereka berkata, Isabella, yang memimpin...
Oleh Saudari Kylie, PrancisPada tahun 2020, aku ditugaskan untuk menyirami para petobat baru. Awalnya, aku mengelola dua gereja seorang...