Aku Tidak LagiMerasa Rendah Diri

08 Agustus 2026

Sejak kecil, aku memang pemalu dan lamban berpikir. Semua anggota keluargaku mengatakan bahwa aku tidak cerdas, bahwa aku lamban. Selain itu, kemampuan bahasaku buruk, jadi aku mudah gugup ketika berbicara di depan banyak orang. Begitu aku gugup, pikiranku menjadi kosong, sehingga aku sering diam. Saat aku masih bersekolah, ketika guru mengajukan pertanyaan, semua teman sekelasku menjawab dengan antusias, tetapi aku tidak berani mengajukan diri untuk menjawab meskipun aku tahu jawabannya. Aku hanya menunggu secara pasif sampai guru memanggilku, atau menjawab dalam hati. Semua anggota keluarga dan temanku mengatakan bahwa aku lamban berpikir dan tidak pandai bicara. Ayahku juga sering menceritakan sebuah kisah tentang bagaimana burung yang lebih lambat harus mulai terbang sebelum yang lain untuk menutupi kekurangan kemampuannya. Seiring berjalannya waktu, aku juga mulai merasa bahwa aku agak lamban, dan merasa bahwa apa pun yang kulakukan tidak cukup baik untuk ditunjukkan kepada orang lain. Oleh karena itu, aku menjadi cukup tertutup. Setelah aku mulai percaya kepada Tuhan, aku melihat betapa baiknya saudara-saudariku, dan aku merasa mereka seperti keluargaku. Aku juga membuka diri dan berbincang dengan saudara-saudariku tentang keadaan dan kesulitanku. Semua orang membantu dan menyemangatiku, dan aku menjadi tidak terlalu terkekang; hatiku terasa bebas dan penuh sukacita. Namun, aku masih merasa sangat terkekang saat berbicara di depan banyak orang. Ada beberapa pertemuan yang dihadiri banyak orang, dan ketika tiba giliranku untuk bersekutu, aku menjadi sangat gugup hingga mulai gemetar. Pikiranku menjadi kacau, dan aku terbata-bata saat berbicara. Beberapa saudari mengangkat kepala mereka untuk melihatku, dan aku tersenyum malu. Saat itu, wajahku terasa panas karena malu, dan aku sangat berharap agar tanah di bawahku terbuka dan menelanku. Aku mulai berpikir: "Apa yang saudara-saudariku pikirkan tentangku? Apakah mereka pikir aku begitu tidak berguna? Sepertinya aku harus bicara lebih sedikit di masa depan dan membiarkan saudara-saudari yang berkualitas baik lebih banyak bersekutu." Di pertemuan-pertemuan setelahnya, ketika ada banyak orang, aku selalu menjadi orang terakhir yang bersekutu; terkadang aku tidak bersekutu sama sekali. Aku hanya berani bersekutu secara sederhana ketika tidak banyak orang yang hadir, atau di depan saudara-saudari yang kukenal baik. Terkadang, aku mencapai beberapa hasil dalam melaksanakan tugasku, dan pengawas memintaku untuk mendiskusikan cara dan metode yang baik agar semua orang bisa belajar darinya dan menggunakannya sebagai referensi. Namun, begitu aku membayangkan harus mendiskusikan berbagai hal di depan banyak saudara-saudari, aku menjadi sangat ketakutan. Aku khawatir bahwa ketika saatnya tiba, aku akan gugup dan mengatakan hal yang tidak ada hubungannya—betapa memalukannya itu! Aku menolak berulang kali dengan alasan bahwa aku tidak punya metode khusus sama sekali. Kemudian, aku merenung, mengapa aku menjadi takut dan mundur setiap kali aku harus berbicara di depan banyak orang?

Suatu kali, aku membaca firman Tuhan: "Ada seseorang yang ketika masih anak-anak, berpenampilan biasa-biasa saja, tidak fasih bicara, dan tidak terlalu cerdas, menyebabkan orang lain di keluarganya dan di lingkungan sosialnya memberikan penilaian yang kurang baik tentang dirinya, mengatakan hal-hal seperti: 'Anak ini bodoh, lamban, dan kikuk dalam berbicara. Lihatlah anak orang lain, yang begitu fasih bicara sehingga membuat orang-orang di sekitarnya tertarik dan menuruti semua perkataannya. Sedangkan anak ini hanya cemberut sepanjang hari. Dia tidak tahu harus berkata apa saat bertemu orang, tidak tahu cara membela atau membenarkan dirinya sendiri setelah melakukan kesalahan, dan tak mampu menyenangkan hati orang. Anak ini sangat bodoh.' Orang tuanya mengatakan hal ini, kerabat dan teman-temannya mengatakan hal ini, dan guru-gurunya pun mengatakan hal ini. Lingkungan seperti ini memberikan tekanan tertentu yang tak terlihat pada individu seperti ini. Setelah mengalami lingkungan ini, tanpa sadar orang ini mengembangkan pola pikir tertentu. Pola pikir seperti apa? Dia menganggap dirinya buruk rupa, tidak terlalu disukai, dan orang lain tak pernah merasa senang bertemu dengannya. Dia yakin bahwa dirinya tidak terlalu pandai di sekolah, lamban dalam menangkap pelajaran, dan selalu merasa malu untuk berbicara di depan orang lain. Dia terlalu malu untuk mengucapkan terima kasih ketika orang memberinya sesuatu, berpikir, 'Mengapa lidahku selalu kelu? Mengapa orang lain begitu fasih bicara? Aku ini benar-benar bodoh!' Tanpa sadar, dia menganggap dirinya tidak berharga, tetapi dia masih tak mau mengakui bahwa dirinya tidak berharga, bahwa dirinya sebodoh itu. Di dalam hatinya, dia bertanya pada dirinya sendiri, 'Apakah aku benar-benar sebodoh itu? Apakah aku benar-benar tidak menyenangkan?' Orang tuanya tidak menyukai dirinya, saudara-saudarinya, guru-guru atau teman sekelasnya pun tidak menyukainya. Dan terkadang, anggota keluarga, kerabat dan teman-temannya membicarakan dirinya, 'Dia pendek, matanya sipit dan hidungnya pesek, dan dengan penampilan seperti itu, dia tidak akan sukses saat dewasa.' Jadi, saat becermin, dia melihat matanya memang sipit. Dalam situasi seperti ini, penentangan, ketidakpuasan, ketidakrelaan, dan penolakan di lubuk hatinya secara berangsur berubah menjadi penerimaan dan pengakuan atas kekurangan, kelemahan, dan masalah dirinya tersebut. Meskipun dia dapat menerima kenyataan ini, emosi yang terus melekat muncul di lubuk hatinya. Disebut apakah emosi ini? Emosi ini disebut perasaan rendah diri. Orang yang merasa rendah diri tidak mengetahui kelebihan mereka. Mereka hanya menganggap diri mereka tidak disukai, selalu merasa bodoh, dan tidak tahu bagaimana menangani segala sesuatu. Singkatnya, mereka merasa tak mampu melakukan apa pun, merasa tidak menarik, tidak pandai, dan lambat dalam bereaksi. Mereka biasa-biasa saja dibandingkan orang lain dan tidak mendapatkan nilai bagus dalam studi mereka. Setelah bertumbuh dalam lingkungan ini, pola pikir perasaan rendah diri ini berangsur-angsur mengambil alih. Itu berubah menjadi semacam emosi yang melekat yang menguasai hatimu dan memenuhi pikiranmu. Sekalipun engkau telah bertumbuh dewasa, telah hidup di tengah masyarakat, menikah dan mapan dalam kariermu, dan apa pun status sosialmu, perasaan rendah diri yang ditanamkan dalam dirimu oleh lingkungan tempatmu dibesarkan tidak mungkin dihilangkan" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (1)"). Firman Tuhan sangat relevan dengan keadaanku. Sejak aku kecil, orang-orang di sekitarku menyebutku tidak pandai bicara dan lamban berpikir; keluargaku juga sering berkata, "Lihat betapa pintarnya kakak perempuanmu. Tapi caramu seperti itu, kau tidak akan pernah cocok di mana pun ..." Perlahan-lahan, aku makin merasa seolah-olah aku kurang pintar dibandingkan yang lainnya, dan mengembangkan rasa rendah diri. Sejak kecil hingga dewasa, aku tidak pernah berpikir bahwa aku punya kelebihan: Aku tidak pandai bicara, dan ketahanan psikologisku juga buruk, sehingga aku menjadi gugup ketika berbicara di depan banyak orang. dan, selain itu, aku lamban berpikir, jadi aku tidak terlalu sering bicara dan tidak ikut serta dalam banyak hal. Setelah aku mulai percaya kepada Tuhan, aku sering takut saudara-saudariku akan memandang rendah diriku karena aku tidak memiliki kemampuan berekspresi yang baik, dan aku mencoba untuk berbicara sesedikit mungkin untuk mempermalukan diri sendiri. Aku sangat pasif ketika bersekutu selama pertemuan, tak mau membahas apa yang telah kuperoleh dari pelaksanaan tugasku, dan terus-menerus memilih untuk mundur. Dipengaruhi oleh perasaan rendah diri, aku kehilangan banyak kesempatan untuk memperoleh kebenaran, dan bahkan aku tidak bisa melaksanakan tugas yang mampu kulakukan. Aku merasa bahwa hidupku menyedihkan, jadi aku ingin mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah ini.

Suatu hari, aku membaca firman Tuhan: "Hatimu dipenuhi perasaan rendah diri ini dan perasaan ini telah ada sejak lama, bukan perasaan yang sementara. Sebaliknya, perasaan ini dengan ketat mengendalikan pemikiranmu dari dalam jiwamu, perasaan ini dengan erat menutup bibirmu, sehingga seberapa pun benarnya engkau memahami sesuatu, atau apa pun pandangan dan pendapatmu tentang orang, peristiwa, dan hal-hal, engkau hanya berani memikirkan dan merenungkannya berulang kali di dalam hatimu sendiri, tak pernah berani mengucapkannya. Entah orang lain mungkin menyetujui apa yang kaukatakan, atau mengoreksi dan mengkritikmu, engkau tidak akan berani menghadapi atau melihat hasil seperti itu. Mengapa demikian? Karena perasaan rendah diri yang ada dalam dirimu berkata kepadamu, 'Jangan lakukan itu, engkau tak punya kemampuan untuk mengatakannya. Engkau tidak memiliki kualitas seperti itu, engkau tidak memiliki kenyataan seperti itu, engkau tak boleh melakukan itu, itu bukan dirimu. Jangan lakukan apa pun atau pikirkan apa pun sekarang. Engkau hanya akan menjadi dirimu yang sebenarnya dengan hidup dalam perasaan rendah diri. Engkau tidak memenuhi syarat untuk mengejar kebenaran atau membuka hatimu dan mengatakan apa yang kauinginkan serta terhubung dengan orang lain seperti yang orang lain lakukan. Dan ini karena engkau tidak baik, engkau tidak sebaik mereka.' Perasaan rendah diri ini memandu cara pikir orang dalam pikiran mereka; itu menghalangi mereka agar tidak memenuhi kewajiban yang seharusnya orang normal lakukan, agar tidak menjalani kehidupan kemanusiaan yang normal yang seharusnya mereka jalani, dan perasaan ini juga mengarahkan cara dan sarana, serta arah dan tujuan dalam cara mereka memandang orang dan hal-hal, dalam cara mereka berperilaku dan bertindak. ... Kita dapat melihat dari apa yang secara spesifik orang wujudkan dan perlihatkan begitu emosi negatif ini—perasaan rendah diri ini—mulai berpengaruh dan telah mengakar di lubuk hati orang, sehingga, kecuali mereka mengejar kebenaran, akan sangat sulit bagi mereka untuk mencabutnya dan melepaskan diri dari kekangannya, dan mereka akan dikekang olehnya dalam semua yang mereka lakukan. Meskipun perasaan ini tidak dapat dikatakan sebagai watak yang rusak, perasaan ini telah menimbulkan dampak yang sangat negatif; perasaan ini sangat merusak kemanusiaan mereka dan menimbulkan dampak yang sangat negatif pada berbagai emosi, ucapan, dan tindakan kemanusiaan normal mereka, dengan konsekuensi yang sangat serius. Pengaruh kecilnya adalah memengaruhi karakter, kesukaan dan ambisi mereka; pengaruh utamanya adalah memengaruhi tujuan dan arah hidup mereka. Dari penyebab perasaan rendah diri ini, dari prosesnya dan dari konsekuensi yang ditimbulkannya terhadap manusia, dari aspek apa pun engkau memandangnya, bukankah perasaan ini adalah sesuatu yang harus orang lepaskan? (Ya.)" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (1)"). Ketika aku membandingkan diriku dengan firman Tuhan, aku menyadari bahaya hidup dalam perasaan rendah diri. Rendah diri bukanlah emosi yang sederhana, tetapi secara langsung mempengaruhi perilaku dan tindakanmu; itu mengikat dan membelenggumu. Sejak aku kecil, semua orang di sekitarku mengatakan bahwa aku lamban berpikir dan tidak pandai bicara; ayahku juga sering menceritakan sebuah kisah tentang bagaimana burung yang lebih lambat harus mulai terbang sebelum yang lain untuk menutupi kekurangan kemampuannya. Perlahan-lahan, aku mulai berpikir bahwa aku memang terlahir lebih lamban dari orang lain, sehingga aku sering diam, dan bahkan tidak berani mengambil inisiatif untuk melakukan hal-hal yang mampu kulakukan. Berkumpulnya saudara-saudari untuk bersekutu tentang pemahaman dan pengertian mereka tentang firman Tuhan seharusnya adalah hal yang positif, tetapi aku terus-menerus merasa bahwa aku tidak pandai berbicara, dan takut jika aku tidak berbicara dengan baik, aku akan dipandang rendah oleh saudara-saudariku, jadi aku tidak berani berbicara dan bersekutu tanpa ragu. Terkadang, aku bahkan tidak berani bersekutu meskipun aku memiliki terang dan pemahaman mengenai firman Tuhan. Sebenarnya, jika kau mencapai beberapa hasil dalam melaksanakan tugasmu, ini karena pencerahan dan bimbingan Roh Kudus, dan kau harus mengkomunikasikan hal ini agar lebih banyak saudara-saudari dapat memperoleh manfaat darinya. Namun, aku terpengaruh oleh perasaan rendah diri dan khawatir jika aku gugup dan tidak bisa berbicara dengan baik, aku akan malu; aku justru memilih untuk melarikan diri, kehilangan kesempatan untuk berlatih. Perasaan rendah diri membelengguku, membuatku merasa terkekang dalam segala hal yang kulakukan atau katakan; aku tidak bisa secara proaktif mengajukan diri untuk memikul beban, dan aku tidak membuat kemajuan dalam jalan masuk kehidupanku. Ketika aku menyadari bahayanya hidup dalam perasaan rendah diri, aku berdoa kepada Tuhan: "Ya Tuhan, perasaan rendah diri terus-menerus membelengguku sejak kecil hingga dewasa. Setelah aku mulai percaya kepada Tuhan, aku masih terkekang olehnya dan tidak dapat melaksanakan tugasku sendiri dengan baik. Aku tidak ingin terus hidup dalam perasaan rendah diri; aku ingin mengubahnya. Semoga Engkau membantuku menyingkirkan belenggu emosi negatif ini."

Kemudian, aku membaca firman Tuhan: "Jadi, bagaimana engkau dapat secara akurat menilai dan mengenal dirimu sendiri, dan melepaskan diri dari perasaan rendah diri? Engkau harus menjadikan firman Tuhan sebagai landasan untuk memperoleh pengenalan akan dirimu sendiri, untuk mengetahui seperti apa kemanusiaan, kualitas dan bakatmu, dan apa kelebihan yang kaumiliki. Sebagai contoh, engkau sebelumnya suka bernyanyi dan melakukannya dengan baik, tetapi ada orang-orang tertentu yang terus mengkritikmu dan merendahkanmu, berkata bahwa engkau buta nada dan suaramu sumbang, jadi sekarang engkau merasa tak mampu bernyanyi dengan baik dan tidak berani lagi melakukannya di depan orang lain. Karena kelompok orang-orang duniawi, orang-orang yang bingung dan orang-orang yang berkemampuan rata-rata itu membuat penilaian dan kritik yang tidak akurat tentang dirimu, hak asasi kemanusiaanmu telah dibatasi, dan bakatmu telah dilumpuhkan. Akibatnya, engkau tidak berani bernyanyi bahkan satu lagu pun, dan engkau hanya cukup berani membebaskan dirimu untuk bernyanyi dengan suara lantang saat tak ada seorang pun yang berada di sekitarmu atau saat engkau hanya seorang diri. Karena biasanya engkau merasa sangat tertekan, saat engkau tidak sedang sendirian, engkau tidak berani bernyanyi; engkau berani bernyanyi hanya ketika engkau sedang sendirian, menikmati waktu saat engkau dapat bernyanyi dengan suara lantang, dan merasakan betapa indah dan membebaskannya waktu tersebut! Bukankah benar demikian? Karena kejahatan yang orang lakukan terhadapmu, engkau tidak tahu atau tak mampu melihat dengan jelas apa yang sebenarnya mampu kaulakukan, apa yang mahir kaulakukan, dan apa yang kurang mahir kaulakukan. Dalam situasi seperti ini, engkau harus membuat penilaian yang benar dan mengukur dirimu dengan benar berdasarkan firman Tuhan. Engkau harus memastikan apa yang telah kaupelajari dan di mana letak kelebihanmu, dan lakukanlah apa pun yang mampu kaulakukan; sedangkan mengenai hal-hal yang tak mampu kaulakukan, kekurangan dan kelemahanmu, engkau harus merenungkannya dan mengenalinya, dan engkau harus menilai dan mengetahui secara tepat seperti apa kualitasmu, dan apakah kualitasmu itu baik atau buruk. Jika engkau tak mampu memahami atau memperoleh pengetahuan yang jelas tentang masalahmu sendiri, bertanyalah kepada orang-orang yang berpengertian di sekitarmu untuk menilai dirimu. Entah yang mereka katakan itu tepat atau tidak, setidaknya itu akan memberimu sesuatu untuk kaujadikan acuan dan akan memungkinkanmu untuk menilai atau menggolongkan dirimu sendiri. Dengan cara demikian, engkau akan mampu membereskan masalah esensial emosi negatif seperti perasaan rendah diri, dan secara berangsur melepaskan dirimu darinya. Perasaan rendah diri mudah dibereskan jika orang mampu mengenalinya, menyadarinya, dan mencari kebenaran" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (1)"). Dari firman Tuhan, aku menemukan jalan penerapan. Aku harus menimbang dan menilai diriku sendiri sesuai dengan firman Tuhan, dan tidak terpengaruh oleh penilaian orang lain yang tidak akurat atau membiarkan mereka mempengaruhi persepsi dan penilaianku terhadap diriku sendiri. Aku ingat bagaimana Tuhan mengatakan bahwa aku bisa bertanya kepada saudara-saudari yang kukenal baik tentang penilaian mereka terhadapku, dan kemudian menilai diriku sendiri secara objektif sesuai dengan firman Tuhan. Oleh karena itu, aku bertanya kepada beberapa saudari yang mengenalku dengan baik. Mereka berkata, "Sebenarnya, kau tidak seburuk yang kaukatakan. Biasanya, kau memang memiliki pemahamanmu sendiri tentang prinsip-prinsip yang berkaitan dengan tugasmu, dan dapat mendiskusikan beberapa pemahaman tentang firman Tuhan. Terkadang kau juga bisa membantu saudara-saudarimu. Kau harus memperlakukan dirimu sendiri dengan benar." Ketika aku mendengar penilaian saudariku tentangku, aku menyadari bahwa aku tidak seburuk yang kupikirkan. Aku tidak boleh terus hidup berdasarkan penilaian orang lain yang keliru tentangku dan menilai diriku sendiri secara negatif. Sebenarnya, bukannya aku tidak punya kelebihan sama sekali; meskipun kepribadianku agak tertutup dan aku kurang mampu mengekspresikan diri dibandingkan orang lain, sering kali, aku mampu menjelaskan beberapa hal dengan jelas, dapat menemukan beberapa jalan penerapan yang baik dalam melaksanakan tugasku, dan dapat memainkan peran tertentu. Aku harus memperlakukan kekuranganku secara rasional. Setelah itu, ketika aku kembali memiliki pikiran negatif tentang diriku sendiri, aku berpikir, "Kemampuan bahasa seseorang ditetapkan oleh Tuhan. Aku tidak boleh merasa rendah diri terhadap orang lain karena kekuranganku dalam hal ini dan akhirnya terkekang di setiap kesempatan. Aku harus menetapkan mentalitas yang benar dan memperlakukannya dengan benar, berusaha sebaik mungkin untuk melakukan hal-hal yang dapat kulakukan dengan baik."

Suatu kali, aku memberi tahu seorang saudari tentang keadaanku. Dia mengatakan bahwa masalah utamaku adalah bahwa aku terlalu mementingkan harga diri, dan terlalu peduli tentang apa yang dipikirkan orang lain tentangku. Aku mencari firman Tuhan yang berkaitan dengan penyelesaian keadaan seperti ini untuk dibaca. Firman Tuhan berkata: "Ketika orang-orang yang lebih tua di keluargamu sering berkata kepadamu, 'Manusia membutuhkan harga dirinya seperti pohon membutuhkan kulitnya', tujuan mereka adalah agar engkau mementingkan reputasi yang baik, menjalani kehidupan yang membanggakan, dan tidak melakukan hal-hal yang akan menjadi aib bagimu. Lalu, apakah pepatah ini membimbing orang dengan cara yang positif atau negatif? Dapatkah pepatah ini menuntunmu pada kebenaran? Dapatkah pepatah ini menuntunmu untuk memahami kebenaran? (Tidak.) Dapat dikatakan dengan pasti bahwa jawabannya adalah 'Tidak!' Coba renungkan, Tuhan berfirman bahwa manusia itu harus berperilaku jujur. Setelah engkau melanggar, atau melakukan sesuatu yang salah, atau melakukan sesuatu yang memberontak terhadap Tuhan dan menentang kebenaran, engkau harus mengakui kesalahanmu, mengenal dirimu sendiri, dan terus menganalisis dirimu sendiri agar engkau mengalami pertobatan sejati, dan setelah itu, engkau harus bertindak berdasarkan firman Tuhan. Jadi, jika orang berperilaku jujur, apakah tindakan itu bertentangan dengan pepatah 'Manusia membutuhkan harga dirinya seperti pohon membutuhkan kulitnya'? (Ya.) Mengapa bertentangan? Pepatah 'Manusia membutuhkan harga dirinya seperti pohon membutuhkan kulitnya' dimaksudkan agar orang mementingkan untuk menghidupi sisi yang cerah dan berwarna serta melakukan lebih banyak hal yang akan membuat mereka terlihat baik—alih-alih melakukan hal-hal buruk dan tidak terhormat, atau mengungkapkan sisi buruk mereka—dan menghindarkan diri mereka agar tidak menjalani kehidupan yang tidak memiliki harga diri atau tidak bermartabat. Demi reputasi, demi harga diri dan kehormatannya, orang tidak boleh mengatakan apa pun yang buruk mengenai diri mereka sendiri, apalagi memberi tahu orang lain tentang sisi gelap dan aspek-aspek memalukan dalam dirinya, karena orang haruslah hidup dengan memiliki harga diri dan martabat. Agar memiliki martabat, orang harus memiliki reputasi yang baik, dan untuk memiliki reputasi yang baik, orang harus berpura-pura dan 'mengemas' dirinya. Bukankah ini bertentangan dengan sikap sebagai orang yang jujur? (Ya.) Ketika engkau bersikap sebagai orang yang jujur, yang kaulakukan itu sepenuhnya bertentangan dengan pepatah 'Manusia membutuhkan harga dirinya seperti pohon membutuhkan kulitnya'. Jika engkau ingin bersikap sebagai orang yang jujur, jangan menganggap penting harga dirimu; harga diri manusia sama sekali tidak berharga. Diperhadapkan dengan kebenaran, orang harus menyingkapkan dirinya, tidak berpura-pura atau menciptakan citra diri yang palsu. Orang harus mengungkapkan kepada Tuhan pemikirannya yang sebenarnya, kesalahan yang pernah dilakukannya, aspek-aspek dirinya yang melanggar prinsip-prinsip kebenaran, dan sebagainya, dan juga mengungkapkan hal-hal ini secara terbuka kepada saudara-saudari. Orang tidak boleh hidup demi reputasinya, tetapi harus hidup demi dapat bersikap sebagai orang yang jujur, hidup demi mengejar kebenaran, hidup demi menjadi makhluk ciptaan sejati, dan hidup demi memuaskan Tuhan dan diselamatkan. Namun, jika engkau tidak memahami kebenaran ini, dan tidak memahami maksud Tuhan, pembelajaran dan pembiasaan yang keluarga tanamkan dalam dirimu akan cenderung mengendalikanmu. Jadi, ketika engkau melakukan sesuatu yang salah, engkau menutupinya dan berpura-pura, berpikir, 'Aku tidak boleh mengatakan apa pun tentang hal ini, dan aku juga tidak akan membiarkan siapa pun yang tahu tentang hal ini mengatakan apa pun. Jika ada di antaramu yang mengatakannya, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Reputasiku adalah yang utama. Hidup tidak ada gunanya jika bukan demi reputasi, karena reputasi lebih penting daripada apa pun. Jika orang kehilangan reputasinya, berarti dia telah kehilangan seluruh martabatnya. Jadi, kita tidak boleh mengatakan yang sebenarnya, kita harus berpura-pura, kita harus menutupi semuanya, karena jika tidak, kita akan kehilangan reputasi serta martabat kita, dan hidup kita akan menjadi tidak berharga. Jika tak seorang pun menghormati kita, berarti kita hanyalah orang yang tidak berharga, hanya sampah.' Mungkinkah engkau bersikap sebagai orang yang jujur jika engkau bertindak dengan cara seperti ini? Mungkinkah engkau mampu sepenuhnya terbuka dan menganalisis dirimu sendiri? (Tidak.) Jelaslah bahwa dengan melakukan hal ini, engkau sedang mematuhi pepatah 'Manusia membutuhkan harga dirinya seperti pohon membutuhkan kulitnya' yang telah keluargamu tanamkan dalam dirimu. Namun, jika engkau melepaskan pepatah ini demi mengejar serta menerapkan kebenaran, pepatah ini tidak akan lagi memengaruhimu, dan tidak akan lagi menjadi semboyanmu atau prinsipmu dalam melakukan segala sesuatu, dan sebaliknya, apa yang kaulakukan justru akan berkebalikan dengan pepatah 'Manusia membutuhkan harga dirinya seperti pohon membutuhkan kulitnya'. Engkau tidak akan hidup demi reputasimu, atau demi martabatmu, sebaliknya, engkau akan hidup demi mengejar kebenaran, demi dapat berperilaku jujur, dan engkau akan berusaha memuaskan Tuhan serta hidup sebagai makhluk ciptaan yang sejati. Jika engkau mematuhi prinsip ini, engkau akan mampu melepaskan pengaruh pembelajaran dan pembiasaan yang keluarga tanamkan dalam dirimu" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (12)"). Ketika aku membandingkan diriku dengan firman Tuhan, aku memahami mengapa aku tidak pernah berani membuka diri, atau mengungkapkan pendapatku sendiri. Masalah utamanya, aku telah terpengaruh oleh racun-racun Iblis seperti "Manusia membutuhkan harga dirinya seperti pohon membutuhkan kulitnya" dan "Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang". Aku menganggap harga diriku lebih penting daripada apa pun, dan berpikir bahwa jika seseorang kehilangan muka, dia juga kehilangan martabatnya. Aku lamban berpikir dan kemampuan bahasaku tidak bagus, jadi aku merasa bahwa aku setengah dari orang lain: Aku merasa sangat rendah diri. Aku cenderung gugup ketika berbicara di depan banyak orang, takut jika aku tidak bisa mengekspresikan diri dengan baik, saudara-saudariku akan memandang rendah diriku, jadi aku lebih memilih diam saja. Ketika aku memiliki cara dan metode yang baik dalam melaksanakan tugasku, aku harus mengomunikasikannya kepada saudara-saudariku, tidak hanya untuk membantu saudara-saudariku, tetapi juga untuk meningkatkan hasil dan efisiensi mereka dalam melaksanakan tugas mereka. Namun, demi menjaga mukaku sendiri, aku menolak dan membuat alasan berkali-kali; aku menyadari bahwa aku terlalu mementingkan harga diriku dan mempertimbangkan diriku sendiri di setiap kesempatan. Aku benar-benar terlalu egois dan hina! Maksud Tuhan adalah agar manusia bersikap jujur dan belajar bagaimana membuka diri, bahkan menyingkapkan kekurangan dan kelemahan mereka sendiri; mereka tidak boleh menutupi sesuatu dan berpura-pura. Ketika aku telah memahami niat dan tuntutan Tuhan, aku berdoa kepada Tuhan: "Ya Tuhan. Aku tak mau terbelenggu dan terkekang oleh harga diriku sepanjang waktu. Aku ingin meninggalkan emosi negatifku yang rendah diri. Semoga Engkau menuntunku agar aku mampu menerapkan kebenaran."

Suatu kali, karena aku mencapai beberapa hasil dalam melaksanakan tugasku, ketika kami merangkum pekerjaan, pengawas memintaku untuk membicarakannya. Begitu aku membayangkan harus bersekutu di depan orang sebanyak itu, aku merasa agak takut. Saat aku hendak menolak, tiba-tiba aku menyadari bahwa situasi yang menimpaku setiap hari semuanya terjadi atas izin Tuhan. Ini kesempatan yang Tuhan berikan kepadaku untuk menerapkan kebenaran, dan aku harus menghadapinya. Aku teringat satu bagian dari firman Tuhan: "Jika engkau membiarkan keterbatasan dan kekuranganmu hidup berdampingan denganmu, maka biarkanlah itu tetap ada, dan sekalipun orang lain melihat kekuranganmu, ini bahkan mungkin bermanfaat bagimu, dan juga merupakan perlindungan yang akan mencegahmu menjadi congkak dan sombong. Tentu saja, bagi banyak orang, dibutuhkan keberanian untuk memperlihatkan keterbatasan dan kekurangan mereka sendiri. Ada orang-orang yang berkata, 'Setiap orang memperlihatkan keunggulan dan kelebihannya masing-masing. Siapa yang dengan sengaja memperlihatkan kelemahan dan kekurangannya sendiri?' Bukan berarti engkau sengaja memperlihatkannya, tetapi engkau membiarkan itu terlihat. Misalnya, jika engkau pemalu dan sering merasa gugup saat berbicara di depan banyak orang, engkau dapat berinisiatif untuk memberi tahu orang lain, 'Aku mudah gugup saat berbicara; aku hanya meminta agar semua orang bersikap pengertian dan tidak mencari-cari kesalahanku.' Engkau berinisiatif untuk memperlihatkan keterbatasan dan kekuranganmu kepada semua orang, agar mereka bersikap pengertian dan menoleransi dirimu, dan agar semua orang mengenalmu. Makin semua orang mengenalmu, makin hatimu akan merasa tenang, dan makin engkau tidak akan dikekang oleh keterbatasan dan kekuranganmu. Ini justru akan bermanfaat dan membantumu. Selalu menutupi keterbatasan dan kekuranganmu membuktikan bahwa engkau tidak ingin hidup berdampingan dengannya. Jika engkau membiarkan keterbatasan dan kekuranganmu hidup berdampingan denganmu, engkau harus memperlihatkannya; jangan merasa malu atau berkecil hati, dan jangan merasa lebih rendah daripada orang lain, atau menganggap dirimu tidak baik dan tidak memiliki harapan untuk diselamatkan. Selama engkau mampu mengejar kebenaran, dan mampu melaksanakan tugasmu dengan segenap hati, segenap kekuatan, dan segenap pikiranmu berdasarkan prinsip, serta hatimu tulus, dan engkau tidak bersikap asal-asalan terhadap Tuhan, berarti ada harapan bagimu untuk diselamatkan" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (3)"). Dari firman Tuhan, aku melihat bahwa jika seseorang memiliki beberapa kekurangan dan masalah, Tuhan tidak menghukumnya, dan itu bukan berarti bahwa orang ini lebih rendah dari yang lain. Tuhan berharap agar kita dapat memperlakukan kekurangan kita sendiri dengan benar, dan membiarkannya hidup berdampingan dengan kita. Jika kita menutupi kekurangan kita karena takut dipandang rendah oleh orang lain, berarti kita berpura-pura dan melakukan tipu daya, dan kita akan terkekang di setiap kesempatan, bahkan tidak dapat melakukan hal-hal yang dapat kita lakukan dengan semaksimal mungkin. Pada dasarnya aku adalah orang yang tertutup dan mudah gugup ketika berada di sekitar banyak orang; kemampuanku untuk mengekspresikan diri juga buruk. Ini telah ditetapkan oleh Tuhan. Aku tidak seharusnya terus-menerus memikirkan cara agar tidak gugup ketika berbicara atau apa yang harus dilakukan untuk mengatasi kelemahanku dalam mengekspresikan diri. Aku harus menghadap Tuhan dan berlatih menjadi orang jujur, mengatakan bagaimana aku bekerja dan apa pengalamanku sesuai dengan kenyataannya. Selama aku berusaha sebaik mungkin untuk melakukannya dengan baik, itu sudah cukup. Dalam hati, aku berdoa kepada Tuhan: "Ya Tuhan, aku tidak ingin mempertimbangkan harga diriku. Aku hanya ingin memperlakukan diskusi ini sebagai kesempatan untuk menerapkan kebenaran dan menjadi orang jujur. Semoga Engkau menuntunku!" Oleh karena itu, aku berbicara kepada semua orang tentang pengalamanku selama periode waktu ini dan keuntungan yang telah kuperoleh dalam melaksanakan tugasku. Meskipun terkadang aku gugup dan bicaraku tidak begitu lancar, aku tidak terkekang oleh hal ini, dan hatiku merasa bebas. Firman Tuhan membuatku merenungkan dan memahami diriku sendiri, dan perlahan-lahan melepaskan ikatan dan kekangan perasaan rendah diri sehingga aku dapat melaksanakan tugasku dengan sikap proaktif dan positif. Syukur kepada Tuhan!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Melaporkan atau Tidak

Oleh Saudari Yang Yi, TiongkokTuhan Yang Mahakuasa berkata: "Demi nasibmu, engkau semua harus mencari perkenanan Tuhan. Dengan kata lain,...

Pengalaman Membagikan Injil

Aku mulai membagikan Injil setelah menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman. Aku diam-diam memutuskan akan melakukan...

Tinggalkan Balasan

Hubungi kami via WhatsApp