Sekarang Aku Bisa Menghadapi Kekuranganku dengan Benar

25 Juli 2026

Waktu aku masih kecil, orang-orang dewasa sering mengejekku ketika aku berbicara. Di usiaku yang masih begitu muda, aku tidak mengerti apa yang terjadi dan setelah dewasa, barulah aku menyadari kalau ternyata aku gagap. Aku sudah mencoba memperbaikinya, tetapi tidak bisa, jadi itu benar-benar menggangguku. Karena kekurangan ini, aku sering diolok-olok dan dicemooh oleh orang lain, dan lama-kelamaan, aku jadi tidak banyak bicara serta tidak mau bertemu orang-orang, lebih suka menyendiri. Saat masih duduk di bangku sekolah, aku tidak pernah pergi ke pesta teman sekelasku, dan selama liburan musim dingin dan musim panas, aku tidak mau keluar atau mengunjungi kerabat. Aku menjadi sangat pendiam dan merasa sangat rendah diri. Di rumah, adakalanya ibuku mengomeliku ketika mendengarku gagap, "Tidak bisakah kau bicara lebih pelan? Jangan buru-buru! Jika kau terus seperti ini, kau bahkan tidak akan bisa menemukan istri saat dewasa nanti!" Setelah aku mulai bekerja, seorang rekan kerjaku pernah sekali mendengarku gagap dan mengejekku, katanya, "Kenapa kau gagap? Kau benar-benar lucu!" Meskipun itu hanya candaan, wajahku merah padam karena malu, dan aku membenci diriku sendiri karena tidak dapat mengatasi kesulitanku dalam berbicara.

Pada bulan September 2008, aku menerima pekerjaan Tuhan yang baru. Ketika saudara-saudari menyadari bahwa aku gagap, alih-alih mengejek atau meremehkanku, mereka justru menyemangati dan membantuku. Terkadang, ketika aku bertemu dengan saudara-saudari yang tidak kukenal di pertemuan, aku menjadi gugup. Ketika aku terbata-bata saat membaca firman Tuhan, saudara-saudari ikut membaca bersamaku, dan mereka menyemangatiku supaya tidak merasa terkekang. Aku merasakan kehangatan yang luar biasa di rumah Tuhan. Tiga tahun kemudian, saudara-saudari memilihku sebagai pemimpin gereja, dan aku tahu bahwa itu artinya Tuhan sedang mengangkatku. Namun, untuk melaksanakan tugas sebagai pemimpin, aku harus mempersekutukan kebenaran dan menyelesaikan masalah, serta sering berkumpul dengan saudara-saudari, dan khususnya dalam pertemuan besar, aku akan merasa sangat terkekang oleh kegagapanku dan menjadi sangat gugup, takut jika aku terbata-bata saat bersekutu, aku akan mempermalukan diriku sendiri dan saudara-saudari akan menertawakanku. Aku ingat pada suatu pertemuan, aku melihat seorang saudari yang tidak begitu kukenal, dan aku khawatir tentang pandangannya terhadapku jika aku tidak bersekutu dengan baik. Alhasil, aku menjadi sangat gagap saat membaca firman Tuhan. Saudari itu tidak dapat menahan diri dan tertawa terbahak-bahak. Ini merupakan pukulan telak bagi harga diriku. Meskipun saudari itu sudah meminta maaf kepadaku dengan tulus, aku masih merasa sangat sakit hati Aku selalu merasa rendah diri, jadi aku sering mengeluh, "Kenapa aku punya kekurangan ini? Kenapa aku tidak dapat memperbaikinya?" Kemudian, ketika berinteraksi dengan saudara-saudari, aku menjadi sangat sensitif, dan setiap kali selesai membaca firman Tuhan atau bersekutu, aku akan memperhatikan dengan saksama ekspresi wajah saudara-saudari itu, dan ketika melihat gerakan yang tidak wajar, aku akan berpikir, "Apakah mereka menertawakanku?" Ini membuatku makin gugup dan terkadang aku menjadi sangat gugup hingga telapak tanganku berkeringat. Akhirnya aku menjadi takut menghadiri pertemuan, dan khususnya dalam pertemuan besar, aku akan menyerahkan tanggung jawab kepada saudara yang menjadi rekan kerjaku. Sudah begitu lama aku hidup dalam kondisi yang menyakitkan dan tertekan ini, dan akhirnya aku tidak kuasa menahan tekanan itu lagi, jadi aku mengundurkan diri. Setelah mengundurkan diri, aku mengemban tugas tulis-menulis, menghabiskan hari-hariku dengan memilah-milah artikel dan tidak harus berbicara atau berinteraksi dengan orang lain, sehingga aku tidak lagi merasa terkekang karena gagap.

Pada bulan September 2020, sekali lagi aku terpilih sebagai pemimpin gereja, tetapi karena tekanan pekerjaan yang tinggi dan seringnya berinteraksi dengan saudara-saudari yang tidak kukenal, aku menjadi makin gagap. Ketika tiba saatnya untuk pertemuan, aku sangat khawatir tentang bagaimana pandangan orang lain terhadapku, dan aku merasa sangat terkekang sehingga aku merasa sangat merindukan hari-hari ketika aku melaksanakan tugas tulis-menulis, di mana aku tidak harus berinteraksi dengan terlalu banyak orang, dan tekanannya lebih rendah. Aku berharap bisa kembali melaksanakan tugas tulis-menulis. Tanpa diduga, pada bulan Juli 2021, saudara-saudari mencalonkanku sebagai pengkhotbah. Aku berpikir, "Bagaimana ini bisa terjadi? Menjadi pemimpin gereja saja sudah cukup membuatku tertekan; aku tidak berani berharap untuk dipromosikan lagi." Namun, karena alasan nalar, aku tetap ikut serta dalam pemilihan. Selama pertemuan pemilihan, aku berpikir tentang bagaimana seorang pengkhotbah berinteraksi dengan banyak orang dan bertanggung jawab atas banyak gereja, dan bagaimana pekerjaan mereka bergantung pada persekutuan kebenaran untuk memecahkan masalah. Aku bertanya-tanya: Karena aku begitu gagap, dapatkah aku bersekutu dengan jelas? Jika saudara-saudari menertawakanku lagi, bukankah aku akan benar-benar kehilangan muka? Pada akhirnya, aku mengundurkan diri. Setelah ini, diadakan beberapa pemilihan lagi. Aku tahu bahwa setelah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, aku harus mempertimbangkan maksud-Nya dan mengemban lebih banyak tanggung jawab. Namun, aku mundur begitu memikirkan kesulitanku dalam berbicara, selalu mengundurkan diri.

Pada bulan Desember 2023, aku menerima surat dari pimpinan, yang mengatakan bahwa saudara-saudari telah merekomendasikanku sebagai pemimpin wilayah dan ingin aku berpartisipasi dalam pemilihan. Aku berpikir, "Mengingat kekuranganku, aku sama sekali tidak cocok untuk berpartisipasi, dan bahkan jika terpilih, aku tidak akan mampu memikul tanggung jawab tersebut. Apa yang harus kulakukan?" Jika aku mengundurkan diri, aku khawatir tidak bisa mendukung pekerjaan gereja, tetapi jika berpartisipasi, aku merasa tidak memenuhi syarat. Aku merasa sangat bimbang. Dalam salah satu waktu teduh, aku membaca dua bagian dari firman Tuhan: "Tentang gagap dan berbicara tersendat-sendat—masalah macam apakah ini? (Kondisi bawaan.) Ini adalah kondisi bawaan dan juga sejenis cacat fisik. Tentu saja, bentuk gagap itu berbeda-beda. Ada orang gagap yang memperpanjang satu suku kata, ada yang terus mengulang satu suku kata, menghabiskan waktu seharian tanpa mampu mengucapkan kalimat lengkap. Singkatnya, ini adalah kondisi bawaan dan tentu saja, ini juga adalah sejenis cacat fisik. Apakah ini ada kaitannya dengan watak yang rusak? (Tidak.) Ini tidak ada kaitannya dengan watak yang rusak. Jika seseorang berkata, 'Kau gagap saat berbicara; kau pasti licik!' atau, 'Kau bahkan gagap saat berbicara; bagaimana kau bisa begitu congkak?'—apakah pernyataan seperti itu tepat? (Tidak.) Gagap, sebagai cacat atau kekurangan, tidak ada hubungannya dengan aspek apa pun dari watak rusak yang orang miliki. Oleh karena itu, gagap adalah kondisi bawaan dan sejenis cacat fisik. Jelas, itu tidak ada kaitannya dengan watak rusak seseorang dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan watak rusak mereka" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (9)"). "Dalam situasi tertentu, ada masalah yang tak mampu kauatasi, seperti mudah merasa gugup saat berbicara kepada orang lain. Engkau mungkin memiliki ide atau sudut pandangmu sendiri saat menghadapi situasi tertentu, tetapi engkau tidak mampu mengungkapkannya dengan jelas. Engkau merasa sangat gugup ketika ada banyak orang yang hadir; bicaramu tidak jelas dan bibirmu gemetar. Beberapa orang di antaramu bahkan menjadi gagap; ada juga orang yang menjadi tak mampu berkata-kata saat ada lawan jenis, sama sekali tidak tahu apa yang harus mereka katakan dan lakukan. Apakah situasi seperti itu mudah diatasi? (Tidak.) Setidaknya dalam jangka pendek, tidak mudah bagimu untuk mengatasi masalah ini karena ini merupakan bagian dari kondisi bawaanmu. ... Jadi, jika engkau tidak mampu mengatasi masalah ini dalam jangka pendek, tidak perlu memusingkannya, jangan berjuang melawannya, dan jangan menantang dirimu sendiri. Tentu saja, meskipun engkau tidak mampu mengatasinya, engkau tidak boleh menjadi negatif. Sekalipun engkau tidak pernah mampu mengatasinya seumur hidupmu, Tuhan tidak akan menghukummu, karena ini bukanlah perwujudan dari watak rusakmu. Demam panggungmu, kegugupan dan ketakutanmu, semua perwujudan ini tidak mencerminkan watak rusakmu; entah itu adalah bawaanmu atau disebabkan oleh lingkungan di kemudian hari dalam hidupmu, paling-paling itu merupakan cacat, kekurangan dalam kemanusiaanmu. Jika engkau tidak mampu mengubahnya dalam jangka panjang, atau bahkan seumur hidupmu, jangan terus memikirkannya, jangan biarkan hal itu mengekangmu, dan engkau juga tidak boleh menjadi negatif karenanya, karena ini bukanlah watak rusakmu; tidak ada gunanya berusaha mengubahnya atau berusaha melawannya, biarkan itu ada, dan perlakukan hal itu dengan benar, karena engkau dapat hidup berdampingan dengan cacat ini, dengan kekurangan ini; memiliki cacat atau kekurangan ini tidak akan memengaruhimu dalam percaya kepada Tuhan, dalam mengikut Tuhan. Asalkan engkau mampu menerima kebenaran, engkau tetap dapat hidup secara normal, tetap dapat diselamatkan; itu tidak akan memengaruhimu dalam menerima kebenaran dan tidak akan memengaruhi keselamatanmu. Oleh karena itu, engkau tidak boleh sering dikekang oleh cacat atau kekurangan tertentu dalam kemanusiaanmu, juga tidak boleh sering menjadi negatif dan berkecil hati, atau bahkan melepaskan tugasmu dan tidak lagi mengejar kebenaran, kehilangan kesempatanmu untuk diselamatkan, untuk alasan yang sama. Itu benar-benar tidak sepadan; itulah yang akan dilakukan orang yang bodoh dan tidak mengerti" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (3)"). Dari firman Tuhan, aku memahami, bahwa gagap dan terbata-bata adalah kondisi bawaan, kekurangan fisik, dan bukan watak yang rusak atau sesuatu yang dikutuk Tuhan. Itu tidak memengaruhi pengejaranku akan kebenaran atau pengejaranku akan keselamatan. Aku seharusnya tidak terkekang oleh kekuranganku. Jika karena kekurangan fisik, aku menyerah dalam mengejar kebenaran, dan kesempatan untuk dipromosikan serta dibina, yang menunda hal penting dari keselamatan, bukankah itu artinya aku akan mengorbankan yang lebih besar untuk hal yang lebih kecil? Bukankah itu benar-benar bodoh dan tidak layak? Setelah membaca firman Tuhan ini, aku merasa sangat terhibur. Kalau dipikir-pikir lagi, sejak kecil, aku selalu sangat memperhatikan kesulitanku dalam berbicara, memercayai bahwa hal itu sering kali mengganggu dan memengaruhiku dalam kehidupan, pekerjaan, dan tugasku, membuatku tidak komunikatif dan sangat penyendiri, serta membuatku rendah diri, yang berarti aku tidak memiliki kepercayaan diri atau motivasi dalam apa pun yang kulakukan. Selama pertemuan, ketika saudara-saudari secara terbuka mempersekutukan pemahaman pengalaman mereka satu sama lain, itu seharusnya membebaskan dan memerdekakan, dan juga memudahkan untuk menerima pekerjaan Roh Kudus melalui persekutuan, tetapi karena aku gagap, aku merasa tertekan dan tidak bisa merasa lepas dalam pertemuan, bahkan sangat takut dan menghindarinya sebisa mungkin, yang berarti aku kehilangan banyak kesempatan untuk memperoleh kebenaran. Ketika dihadapkan dengan pemilihan gereja, aku selalu melepaskan kesempatan untuk berpartisipasi, dan ketika pekerjaan gereja sangat membutuhkan orang-orang untuk bekerja sama, aku tidak dapat memikul tanggung jawab dan tidak mempertimbangkan maksud Tuhan. Aku menyadari bagaimana aku sering terikat dan terkekang oleh kegagapanku, hidup dalam keadaan yang pedih dan tertekan, dan semua ini disebabkan oleh ketidakmampuanku untuk melihat kekuranganku dengan benar. Aku tidak memahami kebenaran, dan tidak tahu bagaimana memandang orang dan masalah berdasarkan firman Tuhan. Hal ini tidak hanya mengikat dan mengekangku, tetapi juga menyebabkan aku berulang kali menolak tugasku. Aku bahkan membatasi diriku sendiri, percaya bahwa karena aku gagap, aku tidak cocok untuk menjadi seorang pemimpin, sehingga aku salah paham dan menjauhkan diri dari Tuhan; betapa bodohnya aku! Aku tidak boleh bersikap negatif lagi, aku harus memperlakukan kekuranganku dengan benar dan menghadapi pemilihan ini dengan tenang.

Beberapa hari kemudian, aku mengetahui bahwa dua saudari tidak dapat berpartisipasi dalam pemilihan karena alasan tertentu. Aku berpikir, "Kedua saudari ini adalah yang paling mungkin terpilih, jadi jika mereka tidak dapat berpartisipasi, bukankah peluangku untuk terpilih akan lebih besar?" Ketika memikirkan kesulitanku dalam berbicara, aku langsung merasakan sangat tertekan. Tidak apa-apa jika aku kehilangan muka di gereja, tetapi jika aku menjadi pemimpin wilayah, aib seperti itu akan lebih besar lagi. Aku menyampaikan keadaanku kepada seorang saudari, dan dia menunjukkan bahwa aku terlalu memikirkan pandangan orang lain terhadapku, dan terlalu menekankan kesombongan serta keangkuhan. Setelah mendengar pengingat dari saudari itu, aku membaca lebih banyak firman Tuhan: "Semua orang memiliki beberapa keadaan yang salah dalam diri mereka, seperti kenegatifan, kelemahan, keputusasaan, dan kerapuhan; atau mereka memiliki niat yang hina; atau mereka selalu diganggu oleh kesombongan, keinginan yang egois, dan kepentingan diri sendiri; atau mereka menganggap diri mereka berkualitas buruk, dan mereka mengalami beberapa keadaan negatif. Akan sangat sulit bagimu untuk mendapatkan pekerjaan Roh Kudus jika engkau selalu hidup dalam keadaan-keadaan ini. Jika sulit bagimu untuk mendapatkan pekerjaan Roh Kudus, maka unsur-unsur aktif dalam dirimu akan sedikit, dan unsur-unsur negatif akan muncul dan mengganggumu. Orang selalu mengandalkan kemauan mereka sendiri untuk menekan keadaan negatif dan merugikan tersebut, tetapi seperti apa pun mereka menekannya, mereka tak mampu melepaskan keadaan negatif dan merugikan tersebut. Alasan utamanya adalah karena orang tidak dapat sepenuhnya mengenali hal-hal yang negatif dan merugikan ini; mereka tidak mampu melihat esensinya dengan jelas. Hal ini membuat mereka sangat kesulitan untuk memberontak terhadap daging dan Iblis. Selain itu, orang selalu terjebak dalam keadaan yang negatif, sedih, dan merosot ini, dan mereka tidak berdoa ataupun mencari Tuhan, sebaliknya mereka hanya melakukannya dengan asal-asalan. Akibatnya, Roh Kudus tidak bekerja dalam diri mereka, dan akibatnya, mereka tak mampu memahami kebenaran, mereka tidak memiliki jalan dalam segala sesuatu yang mereka lakukan, dan mereka tidak mampu melihat masalah apa pun dengan jelas. Ada terlalu banyak hal-hal yang negatif dan merugikan di dalam dirimu, dan semua itu telah memenuhi hatimu, sehingga engkau sering kali negatif, sedih dalam rohmu, dan engkau makin menjauh dari Tuhan, dan menjadi makin lemah. Jika engkau tidak dapat memperoleh pencerahan dan pekerjaan Roh Kudus, engkau tak akan mampu melepaskan diri dari keadaan-keadaan ini, dan keadaan negatifmu tidak akan berubah, karena jika Roh Kudus tidak bekerja di dalam dirimu, engkau tidak dapat menemukan jalan. Karena dua alasan ini, sangat sulit bagimu untuk menyingkirkan keadaan negatifmu dan masuk ke dalam keadaan yang normal. Meskipun saat engkau melaksanakan tugasmu sekarang, engkau mampu menanggung kesukaran, bekerja keras, mengerahkan banyak upaya, dan mampu meninggalkan keluarga dan kariermu, serta melepaskan segalanya, keadaan negatif dalam dirimu masih belum benar-benar berubah. Ada terlalu banyak keterikatan yang mengikatmu sehingga engkau tidak mengejar dan menerapkan kebenaran, seperti gagasan, imajinasi, pengetahuan, falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain, keinginan egois, dan watak rusakmu. Hal-hal merugikan ini telah memenuhi hatimu" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Kebebasan dan Kemerdekaan Hanya Dapat Diperoleh dengan Menyingkirkan Watak yang Rusak"). Dari firman Tuhan, aku memahami bahwa aku selalu bersikap pasif dalam pemilihan, bukan hanya karena merasa terkekang oleh kesulitanku dalam berbicara, melainkan juga karena belenggu kesombongan dan keangkuhan. Aku berpikir, "Makin banyak tanggung jawab yang kupikul, aku harus berinteraksi dengan makin banyak saudara-saudari, dan sebagai seorang pemimpin, aku perlu bersekutu tentang kebenaran untuk memecahkan masalah dan jika aku gagap selama persekutuan di pertemuan, lebih banyak orang akan mengetahui bahwa aku gagap. Bukankah itu akan mencoreng nama baikku?" Setelah memikirkan ini, aku menjadi takut untuk berpartisipasi dalam pemilihan umum, dan aku tidak ingin dipromosikan atau dibina. Aku hidup berdasarkan racun Iblis, yaitu "Manusia membutuhkan harga dirinya seperti pohon membutuhkan kulitnya" dan selalu berusaha sebaik mungkin untuk menutupi kekuranganku agar orang lain tidak melihat kelemahanku. Aku tidak mempertimbangkan kebutuhan pekerjaan gereja, dan berulang kali melepaskan kesempatan untuk mencalonkan diri dalam pemilihan umum. Bahkan ketika pekerjaan gereja sangat membutuhkan kerja sama orang-orang, aku tetap hanya melihat dan menyerah. Aku benar-benar egois dan hina! Gereja telah menyirami dan membinaku selama bertahun-tahun, dan aku seharusnya memikul pekerjaan gereja. Ini juga merupakan tanggung jawabku sebagai makhluk ciptaan, dan aku seharusnya menerima dan tunduk pada hal itu tanpa syarat. Namun, demi menyelamatkan muka, aku menghindar dan menolak untuk mencalonkan diri dalam pemilihan, tidak ingin memikul beban untuk rumah Tuhan, dan sama sekali tidak mengakui kehormatan ini. Ini adalah sesuatu yang dibenci Tuhan dan membuat-Nya jijik. Saat itulah aku baru mengerti, bahwa aku hidup dengan penuh tekanan dan penderitaan karena terlalu fokus pada kesombongan dan keangkuhan, serta terlalu memperhatikan pendapat orang lain. Di saat yang sama, aku merasakan maksud Tuhan yang sungguh-sungguh. Tuhan tidak meremehkanku karena kekuranganku, tetapi justru memberiku kesempatan untuk dipromosikan dan dibina berulang kali. Ketika aku terkekang dan terbelenggu oleh kekurangan dan watakku yang rusak, menjadi putus asa dan mundur, Tuhan menggunakan firman-Nya untuk mencerahkan dan menerangiku, membantuku untuk memahami kebenaran dan melepaskan diri dari belenggu emosi negatif. Aku melihat bahwa kasih Tuhan begitu nyata, dan aku tahu bahwa aku tidak boleh terus bersikap pasif dan putus asa, tetapi aku harus melepaskan niatku yang keliru dan bekerja sama serta berpartisipasi dengan benar dalam pemilihan.

Belakangan, aku membaca lebih banyak firman Tuhan: "Jika nalar kemanusiaanmu normal, engkau harus menerima dirimu memiliki cacat dan kekurangan; menerimanya berarti mengampuni dirimu dan juga memberi dirimu sendiri kesempatan. Menerimanya bukan berarti dikekang olehnya, juga bukan berarti engkau sering menjadi negatif karenanya, sebaliknya menerimanya berarti engkau tidak dikekang olehnya, menyadari bahwa engkau hanyalah salah seorang dari manusia rusak biasa, yang memiliki cacat dan kekuranganmu sendiri, tidak ada yang dapat kausombongkan. Tuhanlah yang mengangkat manusia untuk melaksanakan tugas mereka; Tuhanlah yang mengangkat manusia, yang bermaksud mengerjakan firman dan hidup-Nya dalam diri mereka, agar mereka memperoleh keselamatan; Tuhanlah yang mengangkat manusia, yang bermaksud menyelamatkan manusia dari pengaruh Iblis. Setiap orang memiliki kekurangan dan cacat; engkau harus menerima kekurangan dan cacatmu itu untuk hidup berdampingan dengan dirimu, tidak menghindarinya, tidak menutupinya, dan tidak sering merasa tertekan dalam hatimu, atau bahkan selalu merasa rendah diri. Engkau tidak rendah; jika engkau mampu melaksanakan tugasmu dengan segenap hati, segenap kekuatan, dan segenap pikiranmu, dengan segenap kemampuanmu, dan engkau memiliki hati yang tulus, maka engkau sama berharganya dengan emas di hadirat Tuhan. Jika engkau tidak mampu membayar harga dalam melaksanakan tugasmu, dan engkau tidak setia, maka sekalipun engkau lebih baik daripada kebanyakan orang, engkau tidak berharga di hadirat Tuhan, engkau bahkan tidak seberharga sebutir pasir" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (3)"). Dari firman Tuhan, aku memahami bahwa Tuhan tidak menuntut manusia secara berlebihan, tetapi memerintahkan agar manusia bertindak sesuai dengan kemampuan mereka. Ketika manusia bertindak sesuai dengan kualitas dan kemampuan kerja mereka, memanfaatkan potensi mereka sepenuhnya berdasarkan kondisi bawaan mereka, dan bekerja sama dengan-Nya dengan sepenuh hati dan dengan semaksimal mungkin, Tuhan akan senang. Tuhan tidak ingin manusia berpura-pura, tetapi lebih suka jika mereka melaksanakan tugas dengan hati yang jujur. Aku merenungkan bagaimana kegagapanku menyebabkanku merasa rendah diri dan membuatku putus asa, sensitif, dan rapuh, dan betapa aku sangat peduli dengan pendapat orang lain, dan alhasil, aku terus menolak untuk berpartisipasi dalam pemilihan, dan tidak mau memikul tanggung jawab yang berat. Sekarang aku memahami bahwa kegagapanku adalah kelemahan yang sulit diatasi, dan bahwa aku harus belajar menerimanya dan memandangnya dengan benar. Jika perlu, aku harus membuka diri tentang kekuranganku kepada saudara-saudari, tanpa menyamarkan atau menutupinya. Inilah sikap yang seharusnya kumiliki terhadap kekuranganku.

Beberapa hari kemudian, hasil pemilihan diumumkan, dan aku terpilih sebagai pemimpin wilayah. Aku sangat tersentuh, dan berdoa dalam hati kepada Tuhan, "Tuhan, terpilih sebagai pemimpin adalah peninggian-Mu. Aku akan menghargai kesempatan ini untuk melaksanakan tugasku dan aku bersedia berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakannya dengan baik demi membalas kasih-Mu." Setelah itu, aku bertanya-tanya, "Bagaimana aku dapat melaksanakan tugasku dengan baik meskipun aku memiliki kekurangan?" Suatu hari, aku membaca dua bagian firman Tuhan yang sangat menyentuh hatiku, dan menunjukkan jalan penerapan bagiku. Tuhan berfirman: "Jangan berusaha mengubah kepribadianmu karena engkau sedang melaksanakan suatu tugas atau sedang memimpin suatu tugas—ini adalah gagasan yang keliru. Lalu, apa yang seharusnya kaulakukan? Apa pun kepribadian atau kondisi bawaanmu, engkau harus menaati dan menerapkan prinsip-prinsip kebenaran. Pada akhirnya, Tuhan tidak menilai apakah engkau mengikuti jalan-Nya atau mampukah engkau memperoleh keselamatan berdasarkan kepribadianmu. Tuhan tidak mempertimbangkan apa kualitas, kemampuan, bakat, karunia, atau keterampilan bawaan yang kaumiliki, dan Dia juga tidak menilai seberapa banyak engkau telah mengekang naluri dan kebutuhan jasmanimu. Sebaliknya, Tuhan melihat apakah engkau menerapkan firman-Nya saat mengikuti Dia dan melaksanakan tugasmu, apakah engkau berniat dan berkeinginan untuk mengejar kebenaran, dan pada akhirnya, Dia melihat apakah engkau telah berhasil menerapkan kebenaran dan mengikuti jalan Tuhan. Inilah yang Tuhan lihat" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (3)"). "Mengejar kebenaran adalah hal yang terpenting, dari perspektif mana pun engkau memandangnya. Engkau bisa menghindar dari kelemahan dan kekurangan dalam kemanusiaanmu, tetapi engkau tidak akan pernah bisa menghindari jalan mengejar kebenaran. Sesempurna atau seluhur apa pun kemanusiaanmu, atau sekalipun engkau memiliki lebih sedikit kekurangan dan keterbatasan, serta memiliki lebih banyak kelebihan, dibandingkan orang lain, ini tidak menandakan bahwa engkau memahami kebenaran, dan ini juga tidak dapat menggantikan pengejaranmu akan kebenaran. Sebaliknya, jika engkau mengejar kebenaran, memahami banyak kebenaran, dan memiliki pemahaman yang cukup mendalam dan nyata akan kebenaran, ini akan melengkapi banyak kelemahan dan masalah dalam kemanusiaanmu. Misalnya, katakanlah engkau pemalu dan introver, bicaramu terbata-bata, dan kurang berpendidikan—yang berarti, engkau memiliki banyak keterbatasan dan kekurangan—tetapi engkau memiliki pengalaman nyata, dan meskipun engkau terbata-bata ketika berbicara, engkau mampu mempersekutukan kebenaran dengan jelas, dan persekutuan ini mendidik kerohanian setiap orang ketika mereka mendengarnya, menyelesaikan masalah, memungkinkan orang untuk keluar dari kenegatifan, dan menghilangkan keluhan serta kesalahpahaman mereka tentang Tuhan. Lihat, meskipun engkau berbicara dengan terbata-bata, perkataanmu dapat menyelesaikan masalah—betapa pentingnya perkataan ini! Ketika orang awam mendengarnya, mereka mengatakan bahwa engkau adalah orang yang tidak berpendidikan, dan engkau tidak mengikuti kaidah tata bahasa ketika berbicara, dan terkadang kata-kata yang kaugunakan juga tidak benar-benar tepat. Mungkin engkau menggunakan bahasa daerah, atau bahasa sehari-hari, dan kata-katamu kurang berkelas dan bergaya seperti kata-kata orang berpendidikan tinggi yang berbicara dengan sangat fasih. Namun, persekutuanmu mengandung kenyataan kebenaran, yang dapat menyelesaikan kesulitan orang, dan setelah orang mendengarnya, semua awan gelap di sekitar mereka lenyap, dan semua masalah mereka terselesaikan. Engkau lihat, bukankah memahami kebenaran itu penting? (Ya.) Katakanlah engkau tidak memahami kebenaran, dan meskipun engkau memiliki pengetahuan akademis dan berbicara dengan fasih, ketika semua orang mendengarmu berbicara, mereka berpikir, 'Perkataanmu hanyalah doktrin, tidak ada sedikit pun kenyataan kebenaran di dalamnya, dan sama sekali tidak dapat menyelesaikan masalah nyata, jadi bukankah semua perkataanmu ini kosong? Engkau tidak memahami kebenaran. Bukankah engkau hanyalah orang Farisi?' Meskipun engkau membicarakan banyak doktrin, masalah tetap tidak terselesaikan, dan engkau berpikir, 'Aku berbicara dengan sangat tulus dan sungguh-sungguh. Mengapa kalian belum memahami apa yang kukatakan?' Engkau menyampaikan banyak sekali doktrin, tetapi mereka yang negatif tetap negatif, dan mereka yang memiliki kesalahpahaman tentang Tuhan tetap memiliki kesalahpahaman tersebut, dan tak satu pun kesulitan yang ada dalam pelaksanaan tugas mereka telah terselesaikan—ini berarti bahwa perkataan yang kauucapkan hanyalah omong kosong. Sebanyak apa pun keterbatasan dan kekurangan yang ada dalam kemanusiaanmu, jika perkataan yang kauucapkan mengandung kenyataan kebenaran, persekutuanmu akan dapat menyelesaikan masalah; jika perkataan yang kauucapkan adalah doktrin, dan tidak terdapat sedikit pun pengetahuan nyata, maka sebanyak apa pun engkau berbicara, engkau tidak akan dapat menyelesaikan masalah nyata yang orang miliki. Dengan cara apa pun orang memandangmu, selama hal-hal yang kaukatakan tidak sesuai dengan kebenaran, dan tidak sesuai keadaan orang, ataupun menyelesaikan kesulitan yang orang miliki, orang-orang tidak akan mau mendengarkanmu. Jadi, mana yang lebih penting: kebenaran atau kondisi orang-orang itu sendiri? (Kebenaran lebih penting.) Mengejar kebenaran dan memahami kebenaran adalah hal yang paling penting. Jadi, apa pun keterbatasan yang kaumiliki dalam hal kemanusiaanmu atau kondisi bawaanmu, engkau tidak boleh dikekang oleh hal-hal tersebut. Sebaliknya, engkau harus mengejar kebenaran, dan melengkapi berbagai keterbatasanmu dengan memahami kebenaran, dan jika engkau menemukan beberapa kekurangan dalam dirimu, engkau harus segera memperbaikinya. Ada orang-orang yang tidak berfokus mengejar kebenaran, dan sebaliknya selalu berfokus menyelesaikan kesulitan, kekurangan, dan keterbatasan dalam kemanusiaan mereka, serta memperbaiki masalah dalam kemanusiaan mereka, dan ternyata mereka telah berusaha keras selama bertahun-tahun tanpa mendapatkan hasil yang jelas, dan akibatnya mereka merasa kecewa dengan diri mereka sendiri, dan berpikir bahwa kemanusiaan mereka terlalu buruk dan bahwa mereka tidak dapat diselamatkan. Bukankah ini sangat bodoh?" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (3)"). Firman Tuhan sangat menyentuh hatiku, dan aku menyadari bahwa Tuhan benar-benar menunjukkan jalan kepada kita secara nyata. Dalam melaksanakan tugas, kita tidak boleh terkekang oleh kepribadian, kualitas, atau usia. Ukuran Tuhan tentang apakah seseorang melaksanakan tugasnya dengan cara yang sesuai standar tidak didasarkan pada apakah orang tersebut introver atau ekstrover, atau tingkat statusnya, atau pada kualitas atau usianya, atau pada apakah dia gagap atau memiliki kekurangan, tetapi pada apakah dia dapat menerapkan kebenaran serta melaksanakan tugasnya sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, dan pada apakah dia adalah seseorang yang mengikuti jalan Tuhan. Misalnya, dalam tugas kepemimpinan, sangat penting untuk memecahkan masalah dalam jalan masuk kehidupan dan tugas saudara-saudari. Selama aku berfokus untuk memperlengkapi diri dengan kebenaran dan menerapkannya, memiliki kenyataan, dan pencerahan serta penerangan Roh Kudus dalam persekutuanku tentang kebenaran, dan mampu memecahkan masalah saudara-saudari serta menunjukkan jalan penerapan, sekalipun aku kesulitan berkata-kata, saudara-saudari akan tetap mendapat manfaat darinya. Jika aku tidak bekerja keras dalam mengejar kebenaran, sekalipun aku berbicara dengan lancar dan fasih, jika aku tidak dapat mempersekutukan kebenaran atau memecahkan masalah nyata, aku tidak akan mampu melaksanakan pekerjaan kepemimpinan. Dahulu, aku selalu berpikir bahwa untuk melaksanakan tugas pemimpin, setidaknya seseorang harus memiliki keterampilan bertutur kata yang bagus dan pandai berbicara, dan seseorang sepertiku, yang gagap dan kesulitan berkata-kata, tidak cocok untuk melaksanakan tugas kepemimpinan, jadi aku terus menolak untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin. Namun standarku dalam memilih pemimpin ternyata salah. Pemilihan pemimpin di rumah Tuhan didasarkan pada prinsip-prinsip, bukan pada bagaimana penampilan seseorang, atau pada cacat bawaan apa yang mungkin dimiliki seseorang, tetapi apakah orang tersebut mengejar kebenaran, dan pada kemanusiaan serta kualitasnya. Makin aku memikirkannya, makin aku memahami bahwa kelemahan dan kekurangan bawaanku bukanlah hambatan atau halangan untuk melaksanakan tugasku, dan bahwa itu tidak dapat digunakan sebagai alasan untuk menolak tugasku. Memahami kebenaran dan menerapkan sesuai dengan tuntutan Tuhan adalah kunci bagi seseorang untuk melaksanakan tugasnya dengan baik! Aku telah memperoleh jalan penerapan untuk melangkah maju, dan meskipun aku gagap dan berbicara dengan tersendat-sendat, aku bersedia melaksanakan tugasku sesuai dengan tuntutan Tuhan, fokus memperlengkapi diri dengan prinsip-prinsip kebenaran, mengesampingkan kesombongan dan keangkuhanku, serta tetap rendah hati dan bersahaja dalam caraku berperilaku dan melakukan berbagai hal. Sekarang, ketika bersekutu dalam pertemuan atau membaca firman Tuhan, aku masih gagap, tetapi aku dapat mengatasinya dengan benar, dan pola pikirku menjadi jauh lebih tenang. Terkadang, aku secara sadar berupaya mengatasinya, dan aku ingat ketika saudara-saudari biasa mengingatkanku, berkata, "Kau bicara agak cepat, sehingga kau mudah gagap; jika kau berbicara sedikit lebih lambat, itu akan lebih baik," dan "Ketika kau buntu, kau dapat memanjangkan suku kata terakhir, dengan cara ini, mungkin kau tidak akan gagap." Ketika bersekutu dalam pertemuan, aku mencoba memperlambat bicaraku dan mengulur-ulur kata sesuai kebutuhan, secara sadar berusaha untuk bekerja sama. Aku tidak lagi merasa gugup, yang membuatku lebih bebas dalam pertemuan. Suatu kali, aku pergi menemui seorang pengawas pekerjaan tulis-menulis untuk membahas pekerjaan, tetapi aku agak khawatir, dan berpikir, "Dia lebih memahami prinsip-prinsip daripada aku. Bagaimana jika aku gugup dan gagap parah? Apa yang akan dia pikirkan tentangku?" Namun kemudian, aku berpikir tentang bagaimana pekerjaan itu telah menemui kesulitan, dan tentang bagaimana surat yang sebelumnya tidak mencapai hasil yang baik, jadi kami perlu bertemu langsung untuk membahas dan menyelesaikan masalah tersebut. Aku tidak boleh membiarkan kegagapanku menghentikan aku untuk menyelesaikan masalah karena hal itu akan menunda pekerjaan. Ketika berpikir seperti ini, aku tidak lagi merasa terkekang, jadi aku mengatur pertemuan dengan pengawas untuk membahas pekerjaan tersebut.

Saat merenungkan kembali bagaimana aku berulang kali menolak tugasku karena aku gagap, hingga akhirnya mampu menerima tugasku dengan tenang tanpa terkekang oleh kesulitanku dalam berbicara, aku menyadari bahwa aku telah dihibur, didorong, dan dibimbing oleh firman Tuhan selama seluruh perjalanan ini. Aku bersyukur kepada Tuhan dengan tulus dari lubuk hatiku!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Penyelamatan Tuhan

Oleh Saudari Yi Chen, Tiongkok Tuhan Yang Mahakuasa berkata: "Setiap langkah dari pekerjaan Tuhan—entah itu firman yang keras, atau...

Tinggalkan Balasan

Hubungi kami via WhatsApp