Kurangnya Karunia dan Bakat Tidak Lagi Meresahkanku
Oleh Emilia, Italia Selama beberapa tahun terakhir, aku melaksanakan tugas sebagai aktor, membuat video kesaksian pengalaman. Kemudian,...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Beberapa waktu yang lalu, para pemimpin mengaturku untuk berlatih melafalkan firman Tuhan. Aku sangat senang mendengar kabar ini, merasa bahwa kesempatan ini sulit didapat. Namun, saat mengingat kembali ketika aku berlatih melafalkan beberapa tahun sebelumnya, dalam aspek mengekspresikan nada, serta kecepatan, ungkapan, dan penekananku, aku mengalami kesulitan dalam tingkat yang berbeda-beda. Pada waktu itu, aku merasa bahwa permasalahan ini sulit diselesaikan, dan aku telah hidup dalam kesulitan, selalu menggambarkan diriku tidak mampu, dan berpikir aku tidak cocok untuk melafalkan. Apalagi, setiap hari selama aku berlatih, kekuranganku terus terungkap, dan saudara-saudari telah menunjukkan permasalahanku. Jadi, aku merasa bahwa melaksanakan tugas ini telah membuatku terlihat sangat tidak kompeten, sehingga hatiku menjadi makin negatif serta pasif. Aku tidak berniat untuk berusaha menyelesaikan permasalahan ini, melainkan hanya berlatih dengan sikap asal-asalan. Akibatnya, setelah berlatih selama lebih dari setengah tahun, aku tidak membuat kemajuan yang berarti, dan akhirnya, aku dialihkan ke tugas lain. Ketika memikirkan tentang menghadapi permasalahan ini lagi, aku merasa kewalahan. Bukan hanya dagingku yang harus menderita, tetapi juga tidak ada kepastian apakah kemampuanku akhirnya dapat meningkat. Aku menjadi gelisah memikirkan hal ini. Seorang saudari bersekutu denganku, "Justru karena kita memiliki kekurangan dan kelemahan sehingga kita perlu meningkatkan pelatihan kita. Ada kebutuhan mendesak bagi orang-orang untuk melakukan pekerjaan ini. Pengucapanmu cukup bagus, dan suaramu juga memiliki warna suara yang menyenangkan. Kau harus menghargai keadaan dan kesempatan seperti itu!" Setelah mendengarkan persekutuan saudari itu, hatiku sedikit tersentuh, kupikir, "Ya, aku memiliki suara yang bagus—ini adalah kasih karunia Tuhan. Sekarang waktunya untuk melakukan bagianku. Aku tidak boleh hidup dalam kesulitan; aku harus berjuang untuk maju dan berusaha keras untuk meningkatkan diri secepat mungkin, agar aku dapat melaksanakan tugas ini!"
Sejak saat itu, aku dengan aktif mencurahkan diri untuk berlatih. Saudari Zoe, sang pengawas, mendengarkan sepotong pelafalan yang telah kurekam dan memberiku bimbingan serta bantuan tentang hal itu. Dia berkata, "Pemenggalan kalimat dan penekananmu di beberapa bagian bacaan masih kurang tepat. Apakah selama ini kau berlatih terlalu singkat? Selain itu, pernapasanmu juga tidak stabil, dan suaramu terdengar goyah. Kau perlu lebih banyak latihan pernapasan." Dia juga menunjukkan beberapa rincian masalah. Setelah mendengarkan perkataannya, aku merasa sedikit kesal, kupikir, "Banyak sekali masalah dengan pelafalanku; ini sangat buruk. Pernapasan juga bukanlah sesuatu yang dapat ditingkatkan dengan cepat. Hal itu membutuhkan proses latihan dan akumulasi yang lama!" Saat memikirkan rincian masalah teknis yang telah dia disebutkan, aku merasa tidak memiliki kelebihan apa pun, dan wajahku memerah. Kupikir, "Jika aku seburuk ini, mengapa aku harus membaca? Berapa lama aku harus berlatih untuk memperbaiki begitu banyak masalah? Saudari-saudari yang lain membaca dengan cukup baik. Tidak peduli sebanyak apa pun aku berlatih, aku tidak dapat menyamai mereka. Bahkan jika nantinya aku dapat melaksanakan tugas ini, aku akan hidup dalam bayang-bayang orang lain, dan aku akan selalu menjadi 'murid yang inferior,' tanpa mampu membuat keberadaanku dirasakan sama sekali." Saat memikirkan tentang hal-hal ini, aku kehilangan hasrat untuk melaksanakan tugas ini. Kebetulan, selama beberapa hari berikutnya aku punya pekerjaan lain, jadi aku pun tidak berlatih, dan setiap kali memiliki waktu luang, aku hanya beristirahat sebentar.
Beberapa hari kemudian, pemimpin bertanya padaku apakah aku telah berlatih melafalkan. Aku berkata dengan tegas, "Beberapa hari belakangan aku cukup sibuk dengan tugasku dan tidak punya waktu untuk berlatih." Pemimpin bertanya padaku, "Kalau begitu, apakah kau berencana untuk berlatih? Tugas ini mendesak. Jika kau tidak berusaha menyediakan waktu untuk berlatih, kapan kau akan bisa menanggung tugas ini?" Aku terdiam dan hatiku juga terasa tertusuk. Saat memikirkan tentang hal itu, walaupun aku sedikit sibuk dengan tugasku beberapa hari terakhir, aku bukannya tidak bisa meluangkan waktu sama sekali. Persoalan utamanya adalah aku merasa bahwa masalah pelafalanku terlalu sulit untuk diselesaikan. Bahkan jika aku rela menanggung kesulitan dan membayar harga, belum tentu aku mencapai hasil yang bagus, dan aku masih harus dikoreksi oleh orang lain. Aku tidak mau menghadapinya, jadi sebisa mungkin aku menghindarinya. Pertanyaan pemimpin menusukku, dan aku merasa sedikit kesal, aku menyadari bahwa aku terlalu menganggap remeh dan tidak bertanggung jawab dalam memperlakukan tugas ini. Jadi, aku diam-diam mengingkatkan diriku sendiri untuk mengubah sikapku dalam melaksanakan tugas ini. Oleh karena itu, aku segera mengatur waktu untuk berlatih.
Setelah beberapa hari, aku merasa bahwa pelafalanku telah sedikit meningkat, jadi aku membuat sebuah rekaman audio dan memberikannya kepada Zoe. Kupikir dia akan mengatakan kalau aku telah membuat kemajuan, tetapi ternyata, dia menunjukkan lagi beberapa masalah: pernapasan yang tidak stabil, kalimat yang terputus-putus, dan lain sebagainya. Dia dengan sabar menganalisis masalah-masalah itu untukku, membuatku berlatih di tempat, dan mengoreksiku. Ketika aku tidak dapat memperbaiki permasalahan setelah beberapa kali mencoba, aku menjadi tidak sabar dan bahkan merasa sedikit kecewa, kupikir, "Aku telah berlatih selama beberapa hari, dan masih memiliki begitu banyak masalah. Mungkin secara alamiah aku tidak memiliki pemahaman dan kualitas untuk hal ini. Aku tidak bisa melaksanakan tugas ini. Aku tidak boleh mempermalukan diriku lebih lagi, lebih baik aku mengambil tugas lain!" Aku mulai berpikir untuk melarikan diri dan tidak ingin lagi terus berlatih melafalkan, tetapi aku tidak berani mengutarakannya, takut orang lain akan berkata bahwa aku menolak tugasku. Jadi, aku menjadi negatif dan malas-malasan, tidak berusaha keras untuk berlatih, kupikir jika setelah beberapa waktu aku tidak juga mengalami kemajuan, pemimpin mungkin tidak akan mengizinkanku terus berlatih.
Suatu malam, tiba-tiba aku melihat satu pesan dari pemimpin, yang berbunyi, "Kamu tidak perlu lagi berlatih melafalkan." Setelah melihat pesan ini, mendadak hatiku terasa kosong, bersama dengan perasaan tidak nyaman yang tidak dapat dijelaskan. Kehilangan tugas ini tidak membuatku merasa lega atau puas seperti yang telah kubayangkan; malah, aku merasa sangat kecewa dan sedih. Pada saat itu, aku memikirkan dua bagian dalam firman Tuhan dan langsung mencari dan membacanya. Tuhan berfirman: "Ini karena hal yang paling jelas mencerminkan ikatan yang menghubungkanmu dengan Tuhan adalah caramu memperlakukan hal-hal yang Tuhan percayakan kepada-Mu dan tugas yang Dia berikan kepada-Mu, serta sikap yang kaumiliki. Hal yang paling terlihat dan paling nyata adalah masalah ini. Tuhan sedang menunggu; Dia ingin melihat bagaimana sikapmu. Pada saat yang penting ini, engkau harus bergegas dan memberitahu Tuhan bagaimana engkau akan bersikap, menerima amanat-Nya, dan melaksanakan tugasmu dengan baik. Setelah engkau memahami hal yang penting ini dan memenuhi amanat yang Tuhan berikan kepada-Mu, hubunganmu dengan Tuhan akan menjadi normal. Jika, ketika Tuhan memercayakan tugas kepada-Mu atau menyuruhmu untuk melaksanakan tugas tertentu, sikapmu adalah acuh tak acuh dan apatis, dan engkau tidak menganggapnya serius, bukankah sikapmu ini justru adalah kebalikan dari mencurahkan segenap hati dan kekuatanmu? Mampukah engkau melaksanakan tugasmu dengan baik dengan cara seperti ini? Tentu saja tidak. Engkau tidak akan melaksanakan tugasmu dengan baik. Jadi, sikapmu saat melaksanakan tugasmu adalah hal yang sangat penting, sama seperti metode dan jalan yang kaupilih. Sekalipun orang telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, mereka yang tak mampu melaksanakan tugas mereka dengan baik akan disingkirkan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). "Ada orang-orang yang sama sekali tidak mau menderita dalam tugas mereka, yang selalu mengeluh setiap kali menghadapi masalah dan tidak mau membayar harga. Sikap macam apa ini? Ini adalah sikap yang asal-asalan. Jika engkau melaksanakan tugasmu dengan asal-asalan, dan memperlakukannya dengan sikap yang tidak menghargai, akan seperti apa hasilnya? Engkau akan melaksanakan tugasmu dengan buruk, meskipun engkau mampu melaksanakannya dengan baik—pelaksanaan tugasmu tidak akan memenuhi standar, dan Tuhan akan sangat tidak puas dengan sikapmu terhadap tugasmu. Jika engkau telah mampu berdoa kepada Tuhan, mencari kebenaran, dan mencurahkan segenap hati dan pikiranmu ke dalamnya, jika engkau telah mampu bekerja sama dengan cara seperti ini, Tuhan akan mempersiapkan segalanya untukmu terlebih dahulu, sehingga ketika engkau menangani masalah, segala sesuatunya akan berjalan lancar dan mendapatkan hasil yang baik. Engkau tidak perlu mengerahkan banyak tenaga; ketika engkau berusaha sebaik mungkin untuk bekerja sama, Tuhan sudah mengatur segala sesuatunya untukmu. Jika engkau licik dan malas, jika engkau tidak melaksanakan tugasmu dengan baik, dan selalu menempuh jalan yang salah, Tuhan tidak akan bekerja di dalam dirimu; engkau akan kehilangan kesempatan ini, dan Tuhan akan berkata, 'Engkau tidak berguna; Aku tidak dapat memakaimu. Menyingkirlah. Engkau suka bersikap licik dan bermalas-malasan, bukan? Engkau suka bermalasan dan bersantai, bukan? Kalau begitu, bersantailah untuk selamanya!' Tuhan akan memberikan anugerah dan kesempatan ini kepada orang lain. Bagaimana menurutmu: Apakah ini kerugian atau keuntungan? (Kerugian.) Ini adalah kerugian yang sangat besar!" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Setelah membaca firman Tuhan, aku merasa watak benar Tuhan datang padaku, terutama ketika aku membaca firman Tuhan ini: "Engkau tidak berguna; Aku tidak dapat memakaimu. Menyingkirlah. Engkau suka bersikap licik dan bermalas-malasan, bukan? Engkau suka bermalasan dan bersantai, bukan? Kalau begitu, bersantailah untuk selamanya!" Aku merasa bahwa Tuhan sedang memeriksa ucapan, tindakan, dan pikiranku. Walaupun aku belum secara gamblang mengungkapkan keenggananku untuk melaksanakan tugas pelafalan, aku sudah menunjukkan sikap menganggap remeh, tidak berusaha untuk berkembang, dan aku dengan pasif menunggu pemimpin berkata agar aku berhenti melakukannya. Tuhan menghendaki orang-orang untuk melaksanakan tugasnya dengan sepenuh hati dan tenaga, tetapi Dia tidak pernah memaksa siapa pun. Karena aku sendiri telah memilih untuk menghindari tugasku, maka Tuhan memperlakukanku sesuai pilihanku. Akibatnya, aku telah kehilangan tugas ini, dan gereja telah mengatur orang lain untuk berlatih dalam tugas ini, yang berarti bahwa Tuhan memberikan kesempatan melaksanakan tugas ini kepada orang lain. Bisa dibilang harapanku untuk dibebaskan dari tugas ini telah tercapai, tetapi mengapa hatiku tidak merasa lega? Baru saat itu aku menyadari bahwa dengan memilih untuk melarikan diri dari hal ini, aku telah menjadi bahan tertawaan Iblis, dan telah jatuh ke dalam kegelapan. Kupikir, "Apakah tugas ini memang sesulit itu? Apakah permasalahan ini benar-benar tidak dapat diselesaikan?" Tuhan mengatakan bahwa ketika orang mencurahkan segenap hati dan tenaga mereka, Dia akan membuka jalan untuk menuntun mereka, dan membantu mereka menyelesaikan kesulitan. Tuhan tidak mempersulit orang atau memberi mereka beban yang tidak dapat mereka tanggung. Selama seseorang memiliki kualitas dan kondisi dasar untuk melaksanakan tugas dan berusaha untuk maju sesuai ketentuan Tuhan, permasalahan itu dapat diselesaikan. Saudara-saudari telah berulang kali mempersekutukan akan pentingnya tugas ini, mendesakku agar lebih berusaha dalam melakukannya. Namun, begitu menghadapi suatu masalah, aku akan terjebak dalam kesulitannya, tidak mau berusaha untuk menyelesaikannya, dan bahkan menjadi tidak bersemangat dan malas-malasan, menunggu pemimpin untuk membebaskanku dari tugas itu. Selama ini aku telah memberontak! Saat memikirkan tentang hal ini, aku merasa sangat menyesal dan bersalah.
Ketika bersaat teduh, aku membaca firman Tuhan ini: "Jika, ketika kesulitan khusus menimpamu atau engkau menghadapi lingkungan tertentu, sikapmu adalah selalu menghindarinya atau melarikan diri darinya, mati-matian berusaha untuk menolak dan menyingkirkannya—jika engkau tidak ingin tunduk pada pengaturan Tuhan, tidak mau tunduk pada pengaturan dan penataan-Nya, dan tidak ingin membiarkan kebenaran menguasai dirimu—jika engkau selalu ingin menjadi penentu keputusan dan mengendalikan segala sesuatu tentangmu berdasarkan watak Iblis dalam dirimu, maka akibatnya adalah, cepat atau lambat, Tuhan pasti akan mengesampingkan atau menyerahkanmu kepada Iblis. Jika orang memahami masalah ini, mereka harus segera berubah dan menempuh jalan hidup mereka berdasarkan jalan yang benar yang Tuhan kehendaki. Jalan ini adalah jalan yang benar, dan karena jalan ini benar, berarti arahnya benar. Mungkin ada hambatan dan kesulitan selama periode ini, mereka mungkin tersandung atau terkadang menjadi sedikit tidak puas dan menjadi negatif selama beberapa hari. Selama mereka dapat bertahan untuk terus melaksanakan tugas mereka dan tidak menunda-nunda, semua masalah ini tidak akan berarti, tetapi mereka harus segera merenungkan diri mereka sendiri, mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah-masalah ini, dan mereka sama sekali tidak boleh menunda-nunda, membuang pekerjaan mereka, atau meninggalkan tugas mereka. Ini sangat penting. ... Ketika engkau diminta untuk melaksanakan tugas tertentu, dan tugas itu dipercayakan kepadamu, jangan berpikir tentang bagaimana menghindari kesulitan; jika ada sesuatu yang sulit kautangani, jangan mengesampingkan dan mengabaikannya. Engkau harus menghadapinya secara langsung. Engkau harus selalu ingat bahwa Tuhan menyertai manusia, bahwa setiap kali mereka memiliki kesulitan apa pun, mereka hanya perlu berdoa dan mencari jawaban dari Tuhan, dan bahwa bersama Tuhan, tidak ada yang sukar. Engkau harus memiliki keyakinan ini. Karena engkau percaya bahwa Tuhan adalah Yang Berdaulat atas segala sesuatu, mengapa engkau masih merasa takut ketika sesuatu menimpamu, dan merasa tidak memiliki apa pun yang dapat kauandalkan? Ini membuktikan bahwa engkau tidak mengandalkan Tuhan. Jika engkau tidak menjadikan Dia sebagai penopangmu dan sebagai Tuhanmu, maka Dia bukanlah Tuhanmu" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Ketika menghadapi kesulitan, aku tidak datang ke hadapan Tuhan untuk mencari maksud-Nya, tetapi selalu hidup dalam gagasan dan imajinasiku untuk membatasi diriku sendiri. Terutama ketika permasalahan pada pelafalan menjadi banyak dan sulit, dan aku tidak melihat hasil yang bagus setelah bekerja keras selama dua hari, aku memutuskan bahwa permasalahan ini sama sekali tidak dapat diselesaikan, dan usaha lebih lanjut tidak akan ada gunanya. Jadi, walaupun aku berlatih, aku melakukannya secara sembrono sekadar memenuhi kewajiban, dan tidak menggunakan hati untuk bekerja sama. Aku memikirkan Saudari Zoe. Dia mulai berlatih bahkan lebih lambat dariku dan juga memiliki beberapa masalah, dan aku bahkan berpikir dia tidak sebaik diriku dalam beberapa hal. Aku tidak menghormatinya, tetapi saudari itu sangat bersungguh-sungguh dalam tugasnya, secara aktif menghadapi ketidakmampuannya, dan berusaha untuk berlatih. Melalui latihan yang terus-menerus, dia berkembang dengan cepat, dan hasil pelafalannya cukup bagus. Saat memikirkan hal ini, aku menyadari bahwa jika aku bergantung pada Tuhan dan berusaha untuk berlatih dengan giat dalam menghadapi kesulitan, permasalahan itu dapat diselesaikan. Sejauh mana orang bekerja sama, Tuhan akan menyempurnakannya. Saat mengingat beberapa-tahun ini, aku telah benar-benar membuang waktuku. Aku mengikuti Tuhan tetapi tidak percaya pada-Nya, dan dalam menghadapi segala hal, aku tidak bergantung pada Tuhan atau mencari maksud-Nya, malah mempertahankan pandanganku sendiri. Akibatnya, orang lain membuat kemajuan sedangkan aku tetap jalan di tempat. Aku benar-benar bodoh!
Kemudian, aku terus merenung. Di masa lalu, aku menghadapi banyak kesulitan baik dalam pendidikan maupun kehidupanku sehari-hari, tetapi aku tidak pernah dengan mudahnya menyimpulkan kalau aku tidak mampu, aku juga tidak menyerah bahkan sebelum mencoba. Sama seperti ketika aku pernah bercita-cita menjadi seorang pengacara, meraih ketenaran dan kekayaan, pada waktu itu, tingkat kelulusan untuk ujian hukum nasional hanya sekitar 7%, dan prestasi akademisku tidak begitu bagus, tetapi aku tidak mundur hanya karena itu sulit. Untuk mencapai cita-citaku, aku mengasingkan diri selama lebih dari dua bulan, dan belajar dengan giat setiap hari tanpa menganggap hal itu menyiksa. Bayangan untuk memperoleh ketenaran dan kekayaan serta dikagumi orang begitu memotivasiku. Pada akhirnya, aku benar-benar lulus ujian. Saat memikirkan kembali tentang mengapa aku merasa tidak bisa menyelesaikan permasalahan dalam tugas pelafalan dan selalu ingin melarikan diri dan mundur, itu karena aku terlalu egois. Aku mau melakukan hal-hal yang menguntungkan diriku dan menghindari yang tidak. Ketika bersaat teduh, aku membaca satu bagian firman Tuhan dan memperoleh pemahaman tentang masalahku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Antikristus tidak memiliki hati nurani, nalar, ataupun kemanusiaan. Mereka bukan saja tidak tahu malu, tetapi mereka juga memiliki ciri lain: mereka sangat egois dan tercela. Arti harfiah dari 'keegoisan dan kecelaan' mereka tidak sulit untuk dipahami: mereka buta terhadap apa pun kecuali kepentingan mereka sendiri. Apa pun yang menyangkut kepentingan mereka sendiri mendapat perhatian penuh, dan mereka rela menderita karenanya, membayar harga, mengerahkan perhatian ke dalamnya, dan mengabdikan diri mereka untuk hal itu. Apa pun yang tidak berkaitan dengan kepentingan diri mereka sendiri, mereka akan berpura-pura tidak tahu dan tidak memperhatikan; orang lain dapat melakukan apa pun sesuka hati mereka—antikristus tidak peduli jika ada orang yang mengacaukan atau mengganggu, dan bagi mereka, ini tidak ada kaitannya dengan mereka. Bahasa halusnya, mereka tidak pernah ikut campur urusan orang lain. Namun, adalah lebih tepat untuk mengatakan bahwa orang semacam ini keji, hina, dan kotor; kita mendefinisikan mereka sebagai 'egois dan tercela'. Bagaimana keegoisan dan kecelaan antikristus terwujud dengan sendirinya? ... apa pun tugas yang para antikristus laksanakan, yang mereka pikirkan hanyalah apakah itu akan memungkinkan mereka untuk menjadi pusat perhatian; selama itu akan meningkatkan reputasinya, mereka memeras otak agar menemukan cara untuk belajar bagaimana melakukannya, bagaimana melaksanakannya; satu-satunya yang mereka pedulikan adalah apakah hal itu akan membuat mereka menonjol atau tidak. Apa pun yang mereka lakukan atau pikirkan, mereka hanya peduli dengan ketenaran, keuntungan, dan status mereka sendiri. Apa pun tugas yang sedang mereka laksanakan, mereka hanya bersaing untuk memperebutkan siapa yang lebih tinggi atau lebih rendah, siapa yang menang dan siapa yang kalah, siapa yang memiliki reputasi lebih besar. Mereka hanya peduli tentang berapa banyak orang yang memuja dan menghormati mereka, berapa banyak orang yang menaati mereka, dan berapa banyak pengikut yang mereka miliki. Mereka tidak pernah mempersekutukan kebenaran atau menyelesaikan masalah nyata. Mereka tidak pernah memikirkan bagaimana melakukan segala sesuatu berdasarkan prinsip ketika melaksanakan tugas mereka, mereka juga tidak merenungkan apakah mereka telah setia, telah memenuhi tanggung jawab mereka, apakah ada penyimpangan atau kelalaian dalam pekerjaan mereka, atau apakah ada masalah, dan terlebih dari itu, mereka tidak memikirkan apa yang Tuhan tuntut, dan apa maksud-maksud Tuhan. Mereka sama sekali tidak memperhatikan semua hal ini. Mereka hanya bekerja keras dan melakukan segala sesuatu demi ketenaran, keuntungan, dan status, untuk memuaskan ambisi dan keinginan mereka sendiri. Ini adalah perwujudan dari keegoisan dan kecelaan, bukan? Ini sepenuhnya menyingkapkan betapa hati mereka dipenuhi dengan ambisi, keinginan, dan tuntutan mereka yang tidak masuk akal; segala sesuatu yang mereka lakukan dikendalikan oleh ambisi dan keinginan mereka. Apa pun yang mereka lakukan, motivasi dan sumbernya adalah ambisi, keinginan, dan tuntutan mereka sendiri yang tidak masuk akal. Inilah perwujudan khas dari keegoisan dan kecelaan" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Lampiran Empat (Bagian Satu)). Setelah membaca firman Tuhan, aku menyadari bahwa maksud dan titik awalku dalam melakukan segala hal benar-benar salah, sama seperti yang dimiliki antikristus. Apa pun yang kulakukan didorong oleh kepentingan diri, dan untuk hal-hal yang dapat memuaskan hasratku akan ketenaran dan kekayaan, serta kekaguman dari orang lain, aku akan memutar otak dan melakukan segala cara untuk mencapainya, tidak gentar menghadapi penderitaan. Sebaliknya, untuk hal-hal yang tidak menguntungkan bagiku, bahkan sekalipun itu hal-hal yang penuh makna dan berharga, aku tidak mau melakukannya, apalagi berusaha atau menderita dan membayar harga demi mencapainya. Ketika mengikuti ujian hukum, aku memiliki tekad dengan "semangat juang," karena lulus ujian akan membuatku menjadi seorang pengacara yang dikagumi orang-orang, dan mendapatkan banyak uang, meraih ketenaran serta kekayaan. Motivasi ini mendorongku untuk tahan menghadapi kesulitan terbesar sekalipun dan untuk berjuang demi meraih sukses. Namun, sikapku terhadap tugas pelafalan sama sekali berbeda. Aku merasa bahwa melaksanakan tugas ini hanya akan membuatku tersingkap, bahwa itu tidak akan membuatku terkenal atau diakui serta tidak memberiku kesempatan untuk memamerkan nilai diriku. Jadi, aku tidak mau menderita atau membayar harga untuk tugas ini, dan bahkan enggan untuk melaksanakannya. Saudara-saudari telah berulang kali bersekutu tentang maksud Tuhan yang mendesak, di mana Tuhan berharap lebih banyak orang dapat mendengarkan firman-Nya dan menerima keselamatan-Nya. Mereka mendesakku untuk segera berlatih agar aku dapat menanggung tugas ini, tetapi aku hanya mempertimbangkan reputasi dan statusku. Aku sama sekali tidak mendengarkan saran dari saudara-saudari, mengabaikan maksud Tuhan, dan menutup mata tak peduli dengan seberapa pun mendesak dan pentingnya pekerjaan tersebut. Aku terlalu egois dan hina! Makin aku memikirkannya, makin aku tertekan. Aku pun datang ke hadapan Tuhan dan berdoa, "Tuhan, aku telah mengikuti-Mu selama bertahun-tahun tetapi aku tidak pernah tulus. Dalam segala hal yang kulakukan, aku lebih memikirkan kepentinganku sendiri dan merencanakan demi dagingku, sehingga meninggalkan banyak penyesalan dalam tugasku. Aku tidak ingin hidup seperti ini lagi; Aku ingin berubah. Kiranya Engkau memeriksaku!" Setelah berdoa, aku mulai merenungkan tentang bagaimana aku telah sembrono dan bersikap asal-asalan dalam tugasku saat ini, dan bagaimana aku dapat mengubah sikap ini dalam melaksanakan tugasku. Setelah setengah hari berlalu, aku tiba-tiba menerima sebuah pesan. Pemimpin mengatakan aku akan diberi kesempatan lain untuk meneruskan berlatih melafalkan. Saat membaca pesan itu, aku hampir tidak percaya atas apa yang kulihat. Aku menyadari dengan jelas bahwa ini adalah belas kasihan Tuhan, yang memberiku sebuah kesempatan untuk bertobat dan memberontak terhadap dagingku serta menerapkan kebenaran. Hatiku dipenuhi rasa syukur, dan aku tidak tahu harus berkata apa. Semua kata-kataku berubah menjadi satu ucapan—Terima kasih, Tuhan! Pada saat itu, aku mengingat firman Tuhan ini: "Watak Tuhan itu penting dan terlihat jelas, dan Dia mengubah pikiran dan sikap-Nya sesuai dengan bagaimana segala sesuatunya berkembang. Perubahan sikap-Nya terhadap penduduk Niniwe memberitahu umat manusia bahwa Dia memiliki pemikiran dan gagasan-Nya sendiri; Dia bukan robot atau boneka tanah liat, melainkan Tuhan yang hidup itu sendiri. Dia bisa marah kepada penduduk Niniwe, sama seperti Dia bisa mengampuni masa lalu mereka karena sikap mereka. Dia bisa memutuskan untuk mendatangkan bencana ke atas penduduk Niniwe, dan Dia juga bisa mengubah keputusan-Nya karena pertobatan mereka" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik II"). Aku menyadari bahwa Tuhan ada di sisiku melihat setiap ucapan dan tindakanku, dan ketika aku mau bertobat, Tuhan memberiku kesempatan lain.
Selama latihan setelah itu, saudari-saudari menunjukkan beberapa masalah. Awalnya, aku bisa menyikapinya dengan benar dan secara aktif mencari solusi, tetapi ketika kesulitannya mulai membesar, aku pun kembali jatuh dalam perasaan putus asa dan menyingkapkan pikiran ingin melarikan diri. Suatu waktu, setelah aku berlatih dengan giat, seorang saudari mengatakan bahwa pelafalanku terdengar kaku dan aku justru mengalami kemunduran alih-alih menunjukkan kemajuan. Aku sangat sedih menghadapi komentar seperti itu. Aku berharap bahwa latihanku akan membuahkan hasil yang lebih baik, tetapi sepertinya malah lebih buruk. Aku kehilangan semua motivasi untuk merekam, dan mulai berpikir, "Tugas ini terlalu sulit; aku tidak dapat melaksanakannya." Pada waktu itu, aku melihat firman Tuhan ini: "Saat ini, memberi kesaksian tentang pekerjaan Tuhan pada akhir zaman dan menyebarluaskan firman Tuhan adalah hal yang besar. Ini adalah tugas yang sangat penting, dan tak seorang pun di antaramu boleh meremehkannya. Bebanmu tidaklah ringan. Ini bukanlah hal yang kecil; ini bukan persoalan yang hanya berkaitan dengan pengalaman pribadi. Cakupan yang terlibat dalam hal ini sangatlah luas; ini berkaitan dengan keselamatan umat manusia dan penyebaran Injil Kerajaan. Jika engkau tidak melihat hal ini dengan jelas dan tidak merasakan pentingnya hal ini, dan masih bersikap merajuk, mengamuk seperti anak kecil, atau uring-uringan saat melaksanakan tugasmu, maka ini adalah masalah. Engkau tidak layak untuk melakukan pekerjaan ini. Tingkat keterampilan profesionalmu dan kemampuan kerjamu bergantung pada kualitasmu serta pengalaman kerjamu; ini bukanlah yang utama. Yang terpenting adalah memiliki hati yang lurus, mampu tunduk kepada Tuhan, serta bersedia membayar harga dan setia dalam melaksanakan tugasmu" (Persekutuan Tuhan). Firman Tuhan mengingkatkanku bahwa tugas yang sedang kulakukan bukanlah tugas sederhana. Tugas itu menyangkut menyebarkan firman Tuhan dan memberi kesaksian tentang pekerjaan Tuhan di akhir zaman, dan tidak dapat dianggap remeh menurut kehendakku sendiri. Saat memikirkan hal ini, aku merasa lebih bahagia dan bersemangat. Dari firman Tuhan, aku juga menemukan cara berlatih. Keterampilan dan kualitas itu nomor dua; hal yang paling penting adalah bahwa seseorang harus memiliki hati yang benar, setia, dan dapat menjaga tugas mereka—inilah yang ingin Tuhan lihat. Aku menenangkan diri dan berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, aku tidak ingin melaksanakan tugasku dengan watakku yang rusak. Aku harus berusaha dan membayar harga untuk tugas ini, menggunakan kesempatan yang telah Engkau berikan padaku untuk menanggung tugas ini. Tolonglah bimbing aku." Setelah berdoa, aku memikirkan cara mengatasi masalah yang dikemukakan oleh saudari tadi. Aku menyadari bahwa prinsip pelafalan adalah diam dalam firman Tuhan, membaca, memikirkan, dan memahami arti dari firman Tuhan dengan ketulusan, dan berdasarkan hal inilah pelafalan dilakukan, dan bukannya membaca teks dengan kaku. Jadi, aku menenangkan pikiranku dan membaca firman Tuhan, memahaminya dengan mengingat keadaanku sendiri. Setelah melafalkan dengan cara ini, saudari itu mengatakan efeknya jauh lebih baik. Aku menyadari ini adalah bimbingan Tuhan dan aku merasa sangat bahagia. Setelah berlatih selama beberapa waktu, aku menemukan cara meningkatkan hasil pelafalanku, dan permasalahan dalam pelafalanku sedikit membaik. Terima kasih Tuhan karena memberiku pengalaman ini!
Oleh Emilia, Italia Selama beberapa tahun terakhir, aku melaksanakan tugas sebagai aktor, membuat video kesaksian pengalaman. Kemudian,...
Aku telah bekerja sama dalam melakukan pekerjaan pembersihan di gereja. Setelah beberapa tahun berlatih, aku pun memahami sejumlah prinsip...
Oleh Lorraine, Amerika SerikatPada bulan Maret 2023, distrik kami mengadakan pemilihan sela untuk memilih seorang pemimpin distrik. Aku...
Oleh Derek, Korea SelatanPada tahun 2019, aku terpilih menjadi pemimpin gereja. Saat itu, aku lebih banyak mengawasi pekerjaan video....