Sekarang Aku Bisa Memperlakukan Orang Sesuai Prinsip

11 Maret 2026

Pada bulan Juni 2023, aku terpilih menjadi pengawas pekerjaan tulis-menulis. Melalui interaksi dengan saudara-saudari, aku mendapati bahwa keterampilan profesional dan kemampuan kerja mereka relatif lemah, jadi aku dengan sabar membimbing dan membantu mereka, dan aku bersekutu dengan mereka untuk menyelesaikan kesulitan apa pun yang mereka hadapi. Namun, ketika kesibukan meningkat, aku kehilangan kesabaran dan mulai memandang rendah mereka. Pada bulan Juli, gereja menghadapi penangkapan gila-gilaan oleh PKT. Aku tidak bisa menghubungi banyak pekerja tulis-menulis, dan hasil pekerjaan kami mulai menurun. Saudara-saudari dari sebuah tim ingin aku mendiskusikan cara melanjutkan pekerjaan mendatang. Saat itu, aku sedang menangani tugas lain, jadi aku berkorespondensi singkat dengan mereka tentang arahan umum cara melakukan pekerjaan itu, menganggap mereka seharusnya tahu cara menerapkannya. Namun, pemimpin tim itu tetap membalas surat, mengatakan bahwa mereka menghadapi beberapa kesulitan. Aku berpikir dalam hati, "Ketika gereja pertama kali menghadapi penangkapan, aku juga tidak tahu harus berbuat apa, tetapi aku bisa menemukan beberapa jalan melalui doa dan pencarian. Mengapa kau tidak tahu cara menemukan jalan untuk dirimu sendiri? Yang kau tahu hanyalah mengeluh tentang kesulitan. Kau hanya tidak mencurahkan segenap hatimu dalam tugasmu; kau hanya menunggu solusi yang sudah jadi. Kau adalah pemimpin tim; ketika kau mengeluh tentang kesulitan, itu akan berdampak negatif pada orang lain." Dalam sebuah pertemuan, aku berkata dengan nada menuduh, "Sudahkah kalian mendiskusikan solusi untuk kesulitan-kesulitan ini? Apa yang sebenarnya kalian lakukan setiap hari? Mengapa kalian tidak mencoba menemukan jalan untuk diri kalian sendiri?" Aku melihat saudari itu tampak kesal, dan aku menyadari nadaku tidak benar. Namun, kemudian aku berpikir bahwa apa yang kukatakan itu benar, dan bahwa aku mencoba membimbingnya untuk lebih mengandalkan Tuhan saat menghadapi kesulitan alih-alih hanya mengeluhkannya. Aku berkata pada diriku sendiri bahwa itu demi kebaikannya sendiri. Terkadang, ketika aku mengajukan pertanyaan kepada Saudari Liu, karena aku berbicara cepat, dia tidak langsung bereaksi dan jawabannya agak berputar-putar. Aku memandang rendah dia dan berpikir, "Kau bahkan tidak menjawab pertanyaanku. Tidak bisakah kau menjawab langsung dan tepat sasaran? Mengapa kau harus berbelit-belit?" Kemudian aku berkata dengan nada mencela, "Jangan berbelit-belit. Jawab saja pertanyaan yang diajukan, atau tidak akan ada yang bisa memahamimu!" Setelah aku mengatakan ini, dia merasa agak terkekang. Pada suatu kesempatan, Saudari Zhang membagikan keadaannya, mengatakan bahwa terkadang ketika aku menanyakan sesuatu padanya, dia tidak langsung menangkap maksudku. Ketika jawabannya tidak tepat sasaran, aku memarahinya, dan kemudian dia tidak berani mengatakan apa-apa lagi, takut dia akan dipangkas karena tidak menjawab tepat sasaran. Ketika aku mendengar Saudari Zhang mengatakan ini, aku tetap tidak merenungkan diriku sendiri. Sebaliknya, aku berpikir dia terlalu menjaga citra. Aku berpikir, "Bukankah aku menunjukkan masalahmu demi kebaikanmu sendiri? Mengapa kau malah merasa terkekang? Kau terlalu rapuh!" Setelah beberapa saat, para saudari itu menjadi agak menjauh dariku. Terkadang, aku mendengar mereka mengobrol dan tertawa di kantor, tetapi menjadi diam begitu aku masuk. Aku menyadari bahwa jika ini terus berlanjut, mereka semua akan menghindariku—bagaimana mungkin kami bisa bekerja sama untuk melaksanakan tugas kami? Jadi, aku menemukan beberapa firman Tuhan yang menelaah watak congkak dan berusaha melihat bagaimana itu berlaku bagiku. Aku juga menahan diri dari luarnya, dan berusaha lebih banyak berbicara kepada mereka dengan nada lebih lembut, atau menceritakan lelucon untuk mencairkan suasana.

Kemudian, seorang rekan kerja, Saudara Wang, mengetahui bahwa beberapa anggota tim merasa terkekang olehku, dan menunjukkan masalahku. Dia membacakan banyak firman Tuhan untukku, dan satu bagian secara khusus meninggalkan kesan mendalam. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Dapatkah engkau membantu orang memahami kebenaran dan masuk ke dalam kenyataan jika engkau hanya mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin untuk menceramahi dan memangkas mereka? Jika apa yang engkau persekutukan tidak nyata, dan jika itu hanyalah kata-kata dan doktrin, sebanyak apa pun engkau memangkas dan menceramahi mereka, itu tidak akan ada gunanya. Apakah kaupikir orang yang agak takut kepadamu, melakukan apa yang kausuruh, dan tidak berani menolak, artinya mereka memahami kebenaran dan tunduk? Ini benar-benar salah. Jalan masuk kehidupan tidak sesederhana itu. Beberapa orang yang menjadi pemimpin bertindak seperti manajer baru yang ingin meninggalkan kesan yang kuat; mereka mulai dengan mencoba menegaskan wewenang baru mereka pada umat pilihan Tuhan dan membuat semua orang mematuhi mereka. Mereka berpikir ini akan membuat pekerjaannya lebih mudah. Jika engkau tidak memiliki kenyataan kebenaran, tidak lama lagi, tingkat pertumbuhanmu yang sebenarnya akan tersingkap, sifat aslimu akan terungkap, dan engkau bisa saja disingkirkan. Dalam beberapa pekerjaan administratif, sedikit pemangkasan dan pendisiplinan adalah hal yang wajar. Namun, jika engkau tidak mampu bersekutu tentang kebenaran, pada akhirnya, engkau tetap tidak akan dapat menyelesaikan masalah, dan itu akan memengaruhi hasil pekerjaan. Jika, engkau selalu menceramahi dan menyalahkan orang saat muncul masalah apa pun di gereja, dan jika semua yang pernah kaulakukan hanyalah bersikap angkuh kepada orang lain, itu adalah watak rusakmu yang sedang memperlihatkan dirinya, dan engkau telah menunjukkan wajah buruk dari kerusakanmu. Jika engkau selalu menempatkan dirimu di atas orang lain dan menceramahinya seperti ini, seiring berjalannya waktu, orang tidak akan dapat menerima perbekalan hidup darimu, mereka tidak akan mendapatkan apa pun yang nyata, dan sebaliknya mereka akan membencimu dan muak terhadapmu. Selain itu, karena terpengaruh olehmu akibat kurangnya kemampuan untuk membedakan, akan ada beberapa orang yang akan belajar untuk menceramahi dan memangkas orang lain; mereka juga akan menjadi marah dan kehilangan kesabaran. Engkau bukan hanya tidak akan dapat menyelesaikan masalah orang—engkau juga akan memupuk watak rusak mereka. Dan bukankah itu menuntun orang ke jalan menuju kebinasaan? Bukankah itu perbuatan jahat? Seharusnya, seorang pemimpin terutama memimpin dengan bersekutu tentang kebenaran dan menyediakan perbekalan hidup. Jika engkau selalu menempatkan dirimu di atas orang lain dan menceramahi mereka, akankah mereka dapat memahami kebenaran? Jika engkau bekerja dengan cara ini untuk waktu yang lama, dan orang-orang akhirnya melihat dirimu yang sebenarnya dengan jelas, mereka akan menolakmu. Dapatkah engkau membawa orang ke hadapan Tuhan dengan cara kerja seperti ini? Sama sekali tidak. Engkau hanya akan mengacaukan pekerjaan gereja dan membuat umat pilihan Tuhan membenci dan menolakmu" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Saat aku merenungkan firman Tuhan, firman itu benar-benar menusuk hatiku. Apa yang Tuhan singkapkan persis dengan keadaanku. Aku adalah seorang pengawas, tetapi ketika melihat saudara-saudari menghadapi kesulitan dan masalah dalam tugas mereka, aku bukan saja gagal bersekutu dan membantu mereka, aku malah terus menganggap diriku lebih tinggi dan menceramahi serta mengkritik mereka. Hal ini menyebabkan semua orang menghindari dan takut kepadaku. Keadaan mereka menjadi buruk, dan memengaruhi kemampuan mereka dalam melaksanakan tugasnya. Memperlakukan orang berdasarkan watak rusakku benar-benar menjijikkan bagi Tuhan dan memuakkan bagi orang lain. Beberapa waktu lalu, gereja menghadapi penangkapan massal, banyak pekerja tulis-menulis tidak bisa dihubungi, dan kemajuan pekerjaan tulis-menulis melambat. Saudara-saudari hidup dalam kesulitan, tidak tahu bagaimana mengalaminya. Itu adalah waktunya mereka membutuhkanku untuk memberikan persekutuan dan bantuan, untuk menemukan jalan ke depan bersama mereka serta menyelesaikan berbagai kesulitan dan masalah yang mereka hadapi. Namun, alih-alih menawarkan persekutuan dan bantuan nyata, aku memandang rendah dan menceramahi para saudari itu. Akibatnya, mereka bukannya menerima bantuan, melainkan terus-menerus terkekang olehku. Ini sama sekali bukan melaksanakan tugasku! Bukankah aku hanya melakukan kejahatan? Aku terutama merasakan hal ini ketika aku melihat firman Tuhan ini: "Jika engkau selalu menempatkan dirimu di atas orang lain dan menceramahinya seperti ini, seiring berjalannya waktu, orang tidak akan dapat menerima perbekalan hidup darimu, mereka tidak akan mendapatkan apa pun yang nyata, dan sebaliknya mereka akan membencimu dan muak terhadapmu." Sebagai seorang pengawas, dengan menganggap diri lebih tinggi serta menceramahi dan mengekang orang lain, aku bukan hanya mengacaukan pekerjaan, tetapi jika saudara-saudari tidak bisa mendapatkan bantuan dariku, mereka akan menolakku. Sekarang hasil pekerjaan kami telah menurun, keadaan saudara-saudari buruk, dan aku sedang dipangkas serta disingkapkan dengan cara ini. Bukankah Tuhan ini sedang mendidikku? Menyadari hal ini, aku merasa sangat sedih dan bersalah. Aku hanya ingin menenangkan hatiku dan mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalahku.

Kemudian, aku membaca bagian lain dari firman Tuhan, yang sangat menyentuh hatiku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Aku telah mendapati bahwa banyak pemimpin hanya mampu menceramahi orang dan berkhotbah dari posisi yang lebih tinggi daripada orang lain, dan mereka tak mampu berkomunikasi dengan orang lain pada posisi yang setara dengan mereka. Mereka tak mampu berinteraksi dengan orang secara normal. Sebagian orang, ketika berbicara, selalu saja seakan-akan mereka sedang berpidato atau memberi laporan. Perkataan mereka hanya diarahkan pada keadaan orang lain, tetapi mereka sendiri tidak pernah membuka diri. Mereka tidak pernah menganalisis watak rusak mereka sendiri, melainkan hanya menganalisis masalah orang lain, lalu menggunakannya sebagai contoh untuk memberikan pengetahuan kepada semua orang. Mengapa mereka melakukan hal ini? Mengapa mereka berkhotbah seperti itu dan mengatakan hal-hal seperti itu? Ini membuktikan bahwa mereka sama sekali tidak mengenal diri mereka sendiri, bahwa mereka sangat tidak bernalar, dan bahwa mereka sangat congkak dan merasa diri benar. Mereka menganggap kemampuan mereka untuk mengenali watak rusak orang lain membuktikan bahwa mereka lebih unggul daripada yang lain, lebih baik daripada yang lain dalam memahami orang dan hal-hal, dan bahwa mereka lebih tidak rusak dibandingkan orang lain. Mereka mampu menganalisis dan menceramahi orang lain, tetapi tak mampu membuka diri, tidak menyingkapkan atau menganalisis watak rusak mereka sendiri, tidak memperlihatkan diri mereka yang sebenarnya, tidak mengatakan apa pun tentang motif mereka sendiri. Mereka hanya menceramahi orang lain karena berperilaku tidak pantas. Inilah yang dimaksud dengan membesar-besarkan dan meninggikan diri sendiri. Bagaimana engkau bisa menjadi pemimpin tetapi sangat suka membuat masalah tanpa alasan? Mengapa, setelah diangkat menjadi pemimpin gereja, engkau begitu gampangnya menegur orang lain, bersikap semena-mena, dan bertindak semaumu? Mengapa engkau tidak pernah memikirkan akibat dari perkataanmu, tidak pernah memikirkan identitasmu sendiri? Mengapa engkau bertindak seperti ini? Ini karena meskipun engkau seorang pemimpin, engkau tidak tahu status dan identitasmu sendiri. Mengaturmu untuk menjadi pemimpin adalah semata-mata untuk mengangkatmu dan memberimu kesempatan untuk berlatih. Ini bukan karena engkau memiliki lebih banyak kenyataan dibandingkan orang lain atau karena engkau lebih baik daripada orang lain. Sebenarnya, engkau sama dengan yang lain. Tidak seorang pun di antaramu memiliki kenyataan, dan dalam beberapa hal, engkau bahkan lebih rusak daripada orang lain. Jadi, mengapa engkau dengan semena-mena menimbulkan masalah, menceramahi, memarahi, dan mengekang orang lain? Mengapa memaksa orang lain menuruti perkataanmu, sekalipun engkau salah? Ini membuktikan apa? Ini membuktikan bahwa engkau berada di posisi yang salah. Engkau tidak bekerja dari posisi seorang manusia, engkau melakukan pekerjaanmu dari posisi Tuhan, dari posisi di atas orang lain" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Tentang Ketetapan Administratif Tuhan pada Zaman Kerajaan"). Membaca firman Tuhan menusuk hatiku. Bukankah aku jenis orang yang Tuhan bicarakan? Keterampilan profesional dan kemampuan kerja para saudari relatif lemah, dan ketika pekerjaan mereka terhambat oleh lingkungan penangkapan massal, mereka membutuhkanku untuk membantu mereka menemukan jalan menuju solusi. Namun, aku bukan saja tidak sepenuh hati membantu mereka, aku juga menceramahi mereka dengan menganggap diriku lebih tinggi. Karena aku berbicara cepat, jika seorang saudari tidak mengerti maksudku, dia akan kumarahi. Yang kubawa kepada orang lain hanyalah rasa sakit dan kerugian, dan aku juga memengaruhi pekerjaan. Tidak adakah sedikit pun kemanusiaan di situ? Aku teringat antikristus, Ye, yang diusir beberapa waktu lalu. Ketika dia melihat beberapa penyimpangan atau masalah dalam tugas saudara-saudari, dia akan menceramahi, memangkas, dan menyiksa mereka tanpa mempertimbangkan konteks atau memahami kesulitan mereka yang sebenarnya. Hal ini menyebabkan saudara-saudari takut ketika melihatnya dan hidup dalam keadaan waspada, yang memengaruhi tugas mereka. Kemudian aku melihat diriku sendiri. Meskipun aku tidak menceramahi dan menyiksa orang separah Ye, para saudari hidup dengan waspada karena aku memandang rendah dan menceramahi anggota tim. Mereka hanya memikirkan cara memuaskanku agar tidak dimaki, yang memengaruhi keadaan mereka maupun pekerjaan. Aku menyadari natur dan konsekuensi tindakanku yang mengekang orang lain ini sangat serius, dan jika aku tidak membalikkan keadaan, aku akan berakhir di jalan antikristus dan disingkirkan, sama seperti Ye. Aku merasa takut sekaligus bersalah, jadi aku berdoa kepada Tuhan untuk bertobat, memohon kepada-Nya untuk membimbingku agar lebih merenungkan dan mengenal diriku sendiri.

Setelah itu, aku membaca beberapa firman Tuhan, dan mendapatkan pemahaman tentang masalahku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Jika, di dalam hatimu, engkau benar-benar memahami kebenaran, engkau akan tahu bagaimana menerapkan kebenaran dan tunduk kepada Tuhan, dan secara alami engkau akan mampu memulai jalan mengejar kebenaran. Jika jalan yang kautempuh adalah jalan yang benar dan sesuai dengan maksud Tuhan, maka pekerjaan Roh Kudus tidak akan meninggalkanmu—dan dengan demikian akan semakin kecil kemungkinan engkau mengkhianati Tuhan. Tanpa kebenaran, akan mudah bagimu untuk melakukan kejahatan, dan engkau akan melakukannya meskipun engkau sendiri tidak mau. Sebagai contoh, jika engkau memiliki watak yang congkak dan sombong, maka diberi tahu untuk tidak menentang Tuhan tidak akan ada gunanya, karena engkau tidak akan mampu mengendalikan dirimu sendiri—ini akan menjadi sesuatu yang di luar kehendakmu. Engkau tidak akan melakukannya dengan sengaja; engkau akan melakukannya di bawah kendali naturmu yang congkak dan sombong. Kecongkakan dan kesombonganmu akan membuatmu memandang hina terhadap Tuhan dan mengabaikan-Nya; hal-hal itu akan membuatmu cenderung meninggikan diri, dan menyebabkanmu memamerkan diri di setiap kesempatan; hal-hal itu akan membuatmu memandang rendah orang lain, dan tidak menyisakan siapa pun di hatimu selain dirimu sendiri; hal-hal itu akan merampas tempat Tuhan di hatimu, dan pada akhirnya menyebabkanmu duduk di posisi Tuhan dan menuntut agar orang-orang tunduk kepadamu, dan membuatmu mengagungkan ide, pemikiran, dan gagasanmu sendiri sebagai kebenaran. Begitu banyak kejahatan yang dilakukan manusia di bawah dominasi natur mereka yang congkak dan sombong!" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Mengejar Kebenaran Orang Dapat Mencapai Perubahan dalam Wataknya"). Dari firman Tuhan, aku mengerti bahwa alasan utamaku memandang rendah dan mengekang orang adalah karena naturku terlalu congkak. Ketika para saudari mengalami kesulitan dan tidak tahu cara menyelesaikannya, mereka membutuhkan bantuan nyataku. Namun, aku menganggap mereka seharusnya bisa menemukan beberapa jalan ke depan dengan berdoa dan mencari sendiri, dan jika aku menjelaskan secara sederhana saja, mereka seharusnya bisa menangkap maksudku. Ketika mereka masih mengalami kesulitan, aku mulai memandang rendah mereka, dan memangkas mereka begitu saja tanpa benar-benar bertanya di mana tepatnya mereka mengalami kebuntuan. Sebenarnya, ketika aku menghadapi kesulitan di masa lalu, aku sering tersesat dan tidak tahu cara menyelesaikannya, dan terkadang aku bahkan menangis diam-diam. Namun, aku menganggap diriku lebih baik daripada anggota tim, meninggikan diriku sendiri dan meremehkan mereka dalam hatiku. Aku begitu congkak dan tidak memiliki nalar sedikit pun! Dengan memperlakukan para saudari berdasarkan watakku yang congkak, aku mengekang mereka dan membawa kekacauan serta gangguan pada tugas kami. Bukankah ini menentang Tuhan? Makin aku memikirkannya, makin aku merasa bahwa jika watak congkakku tidak diatasi, aku benar-benar bisa tanpa sadar melakukan kejahatan. Aku ingin membalikkan keadaan dan berubah, serta memperlakukan para saudari sesuai dengan firman Tuhan.

Suatu hari, aku membaca firman Tuhan, yang sangat menggerakkan hatiku dan memberiku tekad untuk menerapkan kebenaran. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Karena Aku melihatmu mati rasa dan tidak mencintai kebenaran, serta tidak mengejar kebenaran, dan kualitasmu juga buruk, maka Aku harus berbicara secara terperinci. Aku harus mengeja semuanya, dan memilahnya menjadi beberapa bagian dalam khotbah-Ku, dan berbicara tentang segala sesuatu dari setiap sudut pandang, dan dengan segala cara. Hanya dengan begitu, engkau semua akan mengerti sedikit. Jika Aku asal-asalan denganmu, dan berbicara sedikit tentang topik apa pun, kapan pun Aku mau, tidak memikirkannya dengan hati-hati atau tanpa bersusah payah, tanpa hati-Ku di dalamnya, tidak berbicara ketika Aku tidak menginginkannya, apa yang bisa kaudapatkan? Dengan kualitas seperti yang kaumiliki, engkau tidak akan memahami kebenaran. Engkau tidak akan mendapatkan apa pun, apalagi mendapatkan keselamatan. Namun, Aku tidak bisa melakukannya, sebaliknya Aku harus berbicara secara mendetail. Aku harus terus berbicara secara mendetail dan memberikan contoh mengenai keadaan setiap jenis orang, sikap yang orang miliki terhadap kebenaran, dan setiap jenis watak yang rusak; hanya dengan cara demikian, engkau akan memahami apa yang Kukatakan, dan mengerti apa yang kaudengarkan. Aspek kebenaran apa pun yang Kupersekutukan, Aku berbicara melalui berbagai cara, dengan gaya persekutuan untuk orang dewasa maupun anak-anak, juga dalam bentuk penalaran dan cerita, menggunakan teori dan praktik, dan berbicara tentang pengalaman, agar orang dapat memahami kebenaran dan masuk ke dalam kenyataan. Dengan cara ini, orang yang memiliki kualitas dan punya hati akan memiliki kesempatan untuk memahami dan menerima kebenaran serta diselamatkan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Untuk Melaksanakan Tugas dengan Baik, Orang Setidaknya Harus Memiliki Hati Nurani dan Nalar"). Aku berpikir tentang bagaimana natur rusak kita berakar begitu dalam di diri kita semua. Karena kita kurang memahami pekerjaan Tuhan, kita sering mengembangkan gagasan dan kesalahpahaman tentang Dia, dan satu demi satu muncullah segala jenis watak rusak. Sering kali, bahkan ketika kita memahami sedikit kebenaran, kita tidak bisa menerapkannya. Namun, Tuhan tidak pernah menyerah dengan kita. Dia terus-menerus mengungkapkan firman untuk membekali dan membantu kita. Sebagian adalah firman penghiburan dan nasihat, sementara yang lain adalah penghakiman dan penyingkapan. Terkadang, untuk membantu kita memahami dengan lebih baik, Dia juga menggunakan contoh, perumpamaan, dan cerita. Tuhan melakukan segala yang Dia bisa untuk membuat kita memahami kebenaran, sehingga kita bisa merenungkan dan mengenali masalah kita sendiri serta menemukan jalan penerapan. Aku melihat bahwa hati Tuhan begitu indah dan baik, dan semua yang Dia bawa kepada kita bermanfaat. Namun, aku lalu teringat bagaimana aku memperlakukan saudara-saudari tanpa kesabaran atau kasih sama sekali. Ketika para saudari menghadapi kesulitan, aku akan membantu mereka sekali atau dua kali dan kemudian mulai memandang rendah mereka. Aku bukan saja sama sekali gagal memberi mereka manfaat, aku malah memberi kekangan dan kerugian pada mereka. Aku begitu tidak memiliki kemanusiaan! Setelah itu, aku membuka diri kepada anggota tim, menyingkapkan kerusakanku sendiri, dan meminta maaf kepada mereka.

Kemudian, aku merenungkan diriku lagi dan menyadari ada alasan lain mengapa aku mengekang orang: Aku tidak tahu cara memperlakukan orang sesuai prinsip. Aku tidak mempertimbangkan kesulitan dan keadaan para saudari yang sebenarnya; aku hanya menggunakan pendekatan pukul rata. Kenyataannya, mereka juga ingin melaksanakan tugasnya dengan baik, tetapi kualitas mereka hanya rata-rata dan kemampuan kerja mereka kurang. Ini menuntutku untuk lebih keras berusaha dan lebih banyak menghabiskan waktu serta tenaga untuk membantu mereka. Aku kemudian membaca firman Tuhan ini: "Bagaimana engkau seharusnya memperlakukan beberapa pemimpin dan pekerja yang kualitasnya buruk dan kurang memiliki kemampuan kerja? ... Engkau harus secara spesifik memberi tahu mereka cara melakukan dan melaksanakan pekerjaan tersebut. Engkau harus memberi tahu mereka siapa yang harus ditunjuk dan bertanggung jawab atas tugas ini, dan orang-orang mana yang harus dipilih untuk bekerja sama dalam pelaksanaannya. Jelaskan semua detail ini kepada mereka dan biarkan mereka melakukannya. Mengapa harus dilakukan dengan cara ini? Karena anggota gereja setempat umumnya hanya memiliki pengalaman yang sangat dangkal dan kemampuan kerja yang kurang, sehingga tidak mungkin untuk memilih pemimpin dan pekerja yang sesuai. Hanya dengan bekerja seperti ini, pengaturan kerja dapat dilaksanakan. Jika engkau tidak bekerja seperti ini dan memperlakukan orang-orang tersebut sama seperti para pemimpin dan pekerja lainnya, hanya memberi tahu mereka tentang prinsip dan rencana spesifik, dan bersikap tidak pandang bulu, pengaturan kerja tidak akan terlaksana. Jika engkau tidak memperhatikan hal ini, bukankah itu adalah pengabaian terhadap tanggung jawab? (Ya.) Ini adalah tanggung jawab para pemimpin dan pekerja. Beberapa pemimpin dan pekerja berkata, 'Orang lain tahu cara melaksanakan pengaturan kerja dan menerapkan; mengapa orang ini tidak? Jika mereka tidak tahu, aku tidak akan memedulikan mereka. Itu bukan tanggung jawabku. Bagaimanapun juga, aku telah melakukan bagianku.' Apakah alasan ini dapat diterima? (Tidak.) Sebagai contoh, katakanlah seorang ibu memiliki tiga orang anak, dan salah satu dari mereka lemah, sering sakit-sakitan, dan tidak mau makan. Jika sang ibu membiarkannya tidak makan, anak itu mungkin tidak akan berumur panjang. Apa yang harus dia lakukan? Sebagai ibu, dia harus memberikan perhatian khusus kepada anak yang lemah itu. Misalkan sang ibu berkata, 'Aku sudah cukup baik memperlakukan anak-anakku dengan adil. Aku melahirkan anak ini dan menyiapkan makanan untuknya. Aku telah memenuhi tanggung jawabku. Aku tidak peduli dia makan atau tidak. Jika dia tidak makan, biarkan dia lapar, dan kalau sudah benar-benar lapar, dia akan makan.' Apa pendapatmu tentang ibu yang seperti ini? (Dia tidak bertanggung jawab.) Apakah ada ibu yang seperti ini? Hanya wanita bodoh atau ibu tiri yang seperti itu. Jika dia adalah ibu kandungnya dan tidak bodoh, dia tidak akan pernah memperlakukan anaknya sendiri seperti ini, bukan? (Benar.) Jika anak lemah, sering sakit-sakitan, dan tidak suka makan, sang ibu harus memberikan lebih banyak perhatian dan berusaha lebih keras. Dia harus mencari cara agar anak itu mau makan, memasak apa pun yang diinginkan oleh si anak, menyiapkan makanan khusus untuknya, dan saat anak itu tidak mau makan, dia harus membujuknya. Saat anak itu mencapai usia delapan belas atau sembilan belas tahun dan tubuhnya sehat seperti orang dewasa normal, sang ibu dapat merasa lega dan berhenti mengurus, dan tidak perlu lagi memberikan perhatian khusus. Jika seorang ibu dapat memperlakukan anak dengan keadaan khusus seperti ini dan memenuhi tanggung jawabnya, lalu bagaimana dengan seorang pemimpin atau pekerja? Jika engkau tidak memiliki kasih sayang seorang ibu kepada saudara-saudari, maka engkau benar-benar tidak bertanggung jawab. Engkau harus memenuhi tanggung jawab yang seharusnya engkau lakukan; engkau harus mempertimbangkan gereja-gereja dengan penanggung jawab yang relatif lemah dan memiliki kemampuan kerja yang cukup buruk. Dalam hal ini, para pemimpin dan pekerja harus memberikan perhatian dan bimbingan khusus. Apa yang dimaksud dengan bimbingan khusus? Selain mempersekutukan kebenaran, engkau juga harus memberikan arahan dan bantuan yang lebih spesifik dan mendetail, yang menuntut lebih banyak upaya dalam hal komunikasi. Jika engkau telah menjelaskan pekerjaan kepada mereka, dan mereka masih belum mengerti, dan tidak tahu cara melaksanakannya, atau sekalipun mereka memahaminya dari segi doktrin dan seolah-olah tahu cara melaksanakannya, tetapi engkau masih belum merasa yakin dan sedikit khawatir tentang bagaimana pelaksanaan nyatanya akan berjalan, apa yang harus engkau lakukan? Engkau perlu mendatangi langsung gereja setempat untuk membimbing dan melaksanakan tugas tersebut bersama mereka. Beri tahu mereka tentang prinsip-prinsip dan buat pengaturan khusus mengenai tugas-tugas yang perlu dilakukan sesuai dengan tuntutan pengaturan kerja, seperti apa yang harus dilakukan terlebih dahulu dan apa yang harus dilakukan selanjutnya, serta bagaimana cara mengalokasikan orang dengan benar—atur semua hal ini dengan baik. Ini secara nyata membimbing mereka dalam pekerjaannya, bukan hanya meneriakkan slogan-slogan atau memberikan perintah sembarangan, dan menceramahi mereka dengan beberapa doktrin, dan kemudian menganggap pekerjaanmu sudah selesai—itu bukanlah perwujudan dari melakukan pekerjaan spesifik, dan meneriakkan slogan-slogan serta memerintah orang lain bukanlah tanggung jawab para pemimpin dan pekerja. Setelah para pemimpin atau pengawas gereja setempat dapat mengemban pekerjaan, dan pekerjaan itu telah berada di jalur yang benar, dan pada dasarnya tidak ada masalah yang berarti, barulah pemimpin atau pekerja itu dapat pergi" (Firman, Jilid 5, Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja (10)"). "Untuk menyelesaikan banyak kesulitan yang orang alami, engkau harus terlebih dahulu memahami dinamika pekerjaan Roh Kudus; engkau harus memahami cara Roh Kudus melakukan pekerjaan dalam diri orang yang berbeda, engkau harus memiliki pemahaman tentang berbagai kesulitan yang orang hadapi dan kekurangan mereka, dan engkau harus memahami pokok permasalahan yang sebenarnya dan mengetahui sumber masalahnya, tanpa penyimpangan atau melakukan kesalahan apa pun. Hanya orang semacam ini yang memenuhi syarat untuk berkoordinasi dalam melayani Tuhan" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Hal yang Harus Dimiliki Gembala yang Layak Dipakai"). Setelah membaca firman Tuhan, aku mengerti bahwa orang dengan kualitas buruk membutuhkan lebih banyak bimbingan dan bantuan, dan bahwa kita tidak bisa menggunakan pendekatan pukul rata. Ini seperti seorang ibu yang memiliki beberapa anak, dan salah satunya lemah dan sakit-sakitan. Sang ibu harus memberi anak ini lebih banyak perhatian daripada yang lain agar dia bisa tumbuh sehat. Namun, seorang ibu yang tidak bertanggung jawab, saat melihat anaknya lemah, tidak merawatnya dan malah menyalahkan anak itu karena tidak cukup kuat. Bagaimana seorang anak bisa tumbuh sehat dengan cara itu? Tuhan tidak memaksa orang untuk melakukan apa yang di luar kemampuan mereka; tuntutan-Nya bagi orang-orang didasarkan pada kualitas yang melekat di diri mereka. Aku juga harus memperlakukan saudara-saudariku sesuai dengan firman Tuhan, menawarkan mereka lebih banyak bimbingan dan bantuan. Setelah itu, ketika aku melihat saudariku menghadapi kesulitan dalam pekerjaan mereka, aku akan dengan sabar mendengarkan mereka menggambarkan masalah dan kesulitan mereka, dan aku akan memusatkan perhatian pada masalah mereka dan kemudian bersekutu untuk membantu mereka. Dengan menerapkan cara ini, para saudari tidak lagi merasa terkekang olehku seperti sebelumnya. Ketika mereka menghadapi masalah dalam tugas mereka yang tidak bisa mereka lihat dengan jelas, mereka juga secara proaktif bertanya kepadaku tentang hal itu. Kami kemudian akan bersama-sama mencari kebenaran untuk menyelesaikannya, dan hasil pekerjaan kami pun meningkat.

Melalui pengalaman ini, aku pun melihat dengan jelas bahwa memperlakukan orang berdasarkan watak rusak hanya akan membawa kekangan dan kerugian bagi mereka, dan membawa kerusakan pada pekerjaan. Memperlakukan saudara-saudari kita sesuai dengan prinsip kebenaran dan firman Tuhan serta memenuhi tanggung jawab kita adalah hal yang bermanfaat bagi pekerjaan; itu juga membangun orang lain.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Tinggalkan Balasan

Hubungi kami via WhatsApp