Konsekuensi dari Melaksanakan Tugas Secara Tidak Bertanggung Jawab

08 Agustus 2026

Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Merupakan kehormatan untuk melaksanakan tugasmu dalam pekerjaan pengelolaan Tuhan selama enam ribu tahun. Ini adalah kehormatan bagi semua orang. Ini bukan suatu penghinaan; hal terpenting adalah bagaimana engkau memperlakukan dan membalas kehormatan yang kauterima dari Tuhan ini. Tuhan telah meninggikanmu; engkau harus menghargai kebaikan-Nya. Engkau harus tahu bagaimana membalas kasih karunia Tuhan. Bagaimana engkau harus membalasnya? Tuhan tidak menginginkan uangmu atau nyawamu, dan Dia tidak menginginkan harta warisan yang ditinggalkan oleh keluargamu. Apa yang Tuhan inginkan? Tuhan menginginkan ketulusan dan kesetiaanmu" (Firman, Jilid 5, Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (19)"). Setelah membaca bagian firman Tuhan ini, aku teringat pengalamanku sendiri beberapa waktu lalu, ketika aku tidak bertanggung jawab dalam tugas dan dipangkas. Tuhan telah mengangkatku ke tugas seorang pemimpin, tetapi aku tidak menghargainya dan memperlakukan tugas itu sebagai beban dan gangguan, yang membuat pekerjaan tertunda dan membuatku berutang dan menyesal.

Pada April 2023, pemimpin tingkat atas menugaskan pekerjaan video dan pekerjaan khotbah kepadaku dan dua saudari mitraku sebagai tanggung jawab kami. Awalnya, aku penuh tekad, memindahtugaskan pemimpin tim dan pengawas yang tidak cocok dengan kedua saudari mitraku itu, menindaklanjuti kemajuan pekerjaan setiap tim, mengidentifikasi penyimpangan dalam pekerjaan, merencanakan pekerjaan, dan sebagainya. Meskipun beban kerjanya berat dan membuatku sibuk, aku merasa cukup puas. Belakangan, pemimpin tingkat atas mengatur agar aku fokus menindaklanjuti pekerjaan penulisan naskah. Pekerjaan ini sangat menantang bagiku, dan aku merasa bahwa meskipun aku sudah berusaha sebaik mungkin, aku mungkin tidak dapat melakukannya dengan baik. Namun karena telah ditugaskan langsung oleh pemimpin tingkat atas, aku tidak berani mengabaikan tugas ini, jadi aku mencurahkan hampir seluruh tenagaku untuk pekerjaan penulisan naskah. Ketika saudara-saudari dari tim lain mengajukan pertanyaan kepadaku, aku menangani pertanyaan yang mudah dengan cepat, tetapi apa pun yang memerlukan pemikiran atau waktu dan upaya untuk mempertimbangkannya, aku pura-pura tidak melihat, atau langsung meneruskannya kepada kedua saudari mitraku untuk menanganinya. Aku bahkan mengatur banyak pesan sebagai "belum terbaca" setelah melihatnya. Pada saat ini, kedua saudari mitraku juga mengingatkanku agar menindaklanjuti pekerjaan tim lain. Aku selalu menyetujui secara lisan, tetapi kemudian hanya melakukan beberapa pekerjaan biasa, dan setelah beberapa hari, aku merasa itu menyusahkan dan tidak mau repot-repot menanganinya. Terkadang aku memiliki sedikit waktu luang, dan berpikir mungkin aku bisa menindaklanjuti pekerjaan lain, tetapi kemudian kupikir, "Keterampilan profesionalku masih sangat kurang, dan akan lebih baik bila menggunakan waktu ini untuk mempelajari lebih banyak pengetahuan profesional, sehingga aku dapat meningkatkan kemampuan secepat mungkin dan menangani pekerjaan penulisan naskah dengan lebih baik. Ini bukan berarti mengabaikan pekerjaanku yang sebenarnya; kedua saudari mitraku seharusnya mengerti." Dengan cara ini, sedikit rasa bersalah di hatiku pun sirna.

Suatu hari, aku mendapati bahwa kemajuan pengerjaan video berjalan lambat dan mengirim pesan kepada pemimpin tim agar memahami situasinya. Pemimpin tim itu mengirimiku banyak sekali alasan. Yang kulihat hanyalah dia membantah, jadi aku ingin memahami detailnya, tetapi kemudian kupikir, "Memahami detailnya akan membutuhkan lebih banyak waktu, dan karena pekerjaan ini sebagian besar merupakan tanggung jawab saudari mitraku, dia juga akan menindaklanjutinya, jadi aku tidak perlu terlalu khawatir untuk menghindari tertundanya pekerjaanku sendiri." Tak lama kemudian, pemimpin tingkat atas mengetahui bahwa lambatnya kemajuan pengerjaan video telah sangat menunda pekerjaan, jadi dia menegur kami dengan keras karena tidak bertanggung jawab, dan memberhentikan saudari yang bertanggung jawab atas pekerjaan ini. Setelah itu, pemimpin menginterogasiku dan bertanya, "Apakah menurutmu hanya karena kau ditugaskan untuk menangani pekerjaan penulisan naskah, bahwa selama kau melaksanakan pekerjaan itu dengan baik, masalah-masalah dalam pekerjaan lain tidak ada hubungannya denganmu, seberapa besarnya pun masalah itu? Apakah kau takut mengalami kesulitan? Kau sangat tidak bertanggung jawab, menduduki jabatan tanpa melakukan pekerjaan nyata. Kau hanyalah seorang pemimpin palsu, tidak layak dipercaya atau dibina!" Perkataan pemimpin tingkat atas itu membuatku sangat sedih. Aku tahu bahwa aku tidak menindaklanjuti banyak tugas akhir-akhir ini, dan apa yang dikatakan pemimpin ketika memangkasku itu benar, tetapi setelah itu, aku juga merasa agak kesal, pikirku, "Tidak benar kalau aku sama sekali tidak melakukan pekerjaan nyata. Aku hanya ingin memfokuskan tenagaku pada pekerjaan penulisan naskah. Itu bukan masalah besar, kan?" Jadi, aku mencari firman Tuhan yang relevan mengenai keadaanku, dan aku membaca firman Tuhan ini: "Antikristus tidak memiliki hati nurani, nalar, ataupun kemanusiaan. Mereka bukan saja tidak tahu malu, tetapi mereka juga memiliki ciri lain: mereka sangat egois dan tercela. Arti harfiah dari 'keegoisan dan kecelaan' mereka tidak sulit untuk dipahami: mereka buta terhadap apa pun kecuali kepentingan mereka sendiri. Apa pun yang menyangkut kepentingan mereka sendiri mendapat perhatian penuh, dan mereka rela menderita karenanya, membayar harga, mengerahkan perhatian ke dalamnya, dan mengabdikan diri mereka untuk hal itu. Apa pun yang tidak berkaitan dengan kepentingan diri mereka sendiri, mereka akan berpura-pura tidak tahu dan tidak memperhatikan; orang lain dapat melakukan apa pun sesuka hati mereka—antikristus tidak peduli jika ada orang yang mengacaukan atau mengganggu, dan bagi mereka, ini tidak ada kaitannya dengan mereka. Bahasa halusnya, mereka tidak pernah ikut campur urusan orang lain. Namun, adalah lebih tepat untuk mengatakan bahwa orang semacam ini keji, hina, dan kotor; kita mendefinisikan mereka sebagai 'egois dan tercela'. ... Pekerjaan apa pun yang mereka lakukan, antikristus tidak pernah memikirkan kepentingan rumah Tuhan. Mereka hanya mempertimbangkan apakah kepentingan mereka sendiri akan terpengaruh, hanya memikirkan sedikit pekerjaan di depan mereka yang menguntungkan mereka. Bagi mereka, pekerjaan utama gereja hanyalah sesuatu yang mereka lakukan di waktu luang mereka. Mereka sama sekali tidak menganggapnya serius. Mereka hanya bergerak jika mereka didorong untuk bertindak, hanya melakukan apa yang mereka suka, dan hanya melakukan pekerjaan demi mempertahankan status dan kekuasaan mereka sendiri. Di mata mereka, pekerjaan apa pun yang diatur oleh rumah Tuhan, pekerjaan menyebarkan Injil, dan jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan, semua itu tidak penting. Apa pun kesulitan yang orang lain hadapi dalam pekerjaan mereka, masalah apa pun yang mereka identifikasi dan laporkan kepada mereka, setulus apa pun perkataan mereka, antikristus mengabaikannya, mereka tidak mau terlibat, seolah-olah hal ini tidak ada hubungannya dengan mereka. Sebesar apa pun masalah yang muncul dalam pekerjaan gereja, mereka sama sekali tidak peduli. Sekalipun suatu masalah berada tepat di hadapan mereka, mereka hanya menanganinya dengan asal-asalan. Hanya jika mereka langsung dipangkas oleh Yang di Atas dan diperintahkan untuk menyelesaikan masalah, barulah mereka akan dengan enggan melakukan sedikit pekerjaan nyata dan memberi kepada Yang di Atas sesuatu untuk dilihat; segera setelah itu, mereka akan melanjutkan urusan mereka sendiri. Mengenai pekerjaan gereja dan hal-hal penting dengan konteks yang lebih luas, mereka tidak peduli dan mengabaikan hal-hal ini. Mereka bahkan mengabaikan masalah yang mereka temukan, dan memberikan jawaban yang asal-asalan atau sekadarnya ketika ditanyakan tentang masalah, hanya menanggapinya dengan sangat enggan. Ini adalah perwujudan dari keegoisan dan kecelaan, bukan?" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Lampiran Empat (Bagian Satu)). Setelah membaca firman Tuhan, aku merasa benar-benar malu. Beginilah caraku melaksanakan tugasku. Awalnya aku bersemangat dan bertekad untuk melakukan pekerjaan itu, karena aku tahu bahwa jika ada masalah dengan tugas ini, aku dan kedua saudari mitraku akan harus memikul tanggung jawab itu. Jadi, aku berusaha sebaik mungkin untuk bekerja sama, karena jika pekerjaan itu dilakukan dengan baik, aku pun akan mendapat manfaat. Belakangan, pemimpin tingkat atas menugaskanku untuk menindaklanjuti tugas penulisan naskah dan aku khawatir jika tidak melaksanakannya dengan baik, itu akan memperlihatkan kualitasku yang buruk dan ketidakmampuanku untuk melakukan pekerjaan nyata, jadi aku mencurahkan seluruh perhatianku pada tugas penulisan naskah, berusaha untuk memperhatikan pekerjaan tim, studi profesional mereka, dan keadaan anggota tim sebanyak mungkin. Meskipun mengerahkan lebih banyak upaya dalam pekerjaan penulisan naskah itu bagus, kemudian, meskipun aku jelas punya waktu dan tenaga untuk menindaklanjuti pekerjaan lain, aku tidak mau repot-repot melakukannya. Terkadang, demi menyelamatkan muka, aku dengan enggan melakukan beberapa pekerjaan dangkal, bersikap asal-asalan, berpikir bahwa beberapa pekerjaan bukan tanggung jawabku secara langsung, dan bahwa jika masalah muncul, pemimpin tidak akan meminta pertanggungjawaban langsung kepadaku. Kupikir jika aku makin tidak berupaya keras, itu tidak akan banyak memengaruhiku, dan akan lebih baik untuk menggunakan waktu dengan mempelajari lebih banyak keterampilan profesional, jadi, seperti yang tampaknya logis, aku menyerahkan pekerjaan itu kepada orang lain, menjadi manajer yang lepas tangan. Aku menyadari bahwa keadaan tentang caraku melaksanakan tugasku itu persis seperti keadaan seorang antikristus, bersikap penuh perhitungan dan teliti dalam mengerjakan berbagai hal. Aku mempertimbangkan masak-masak dan bersedia menderita serta membayar harga atas apa pun yang akan menguntungkan reputasi dan statusku sementara mengabaikan apa pun yang tidak menguntungkanku, hanya mengambil tindakan ketika terdesak dan tidak peduli ketika melihat masalah muncul. Dengan caraku melaksanakan tugas, aku sama seperti seorang yang berjerih payah atau seorang tidak percaya. Aku telah menikmati penyiraman dari begitu banyak firman Tuhan tetapi tidak berpikir untuk melaksanakan tugasku dengan baik, dan yang kupikirkan hanyalah tentang reputasi dan statusku sendiri. Aku benar-benar egois dan hina!

Belakangan, aku juga mempertimbangkan bahwa alasan aku tidak terlalu merasa bersalah ketika mengabaikan pekerjaan lain, adalah karena aku merasa bahwa pekerjaan penulisan naskah yang baru saja kulakukan itu menantang dan membutuhkan lebih banyak perhatianku, jadi meskipun aku mengabaikan pekerjaan lain, semua orang akan mengerti, dan itu bukan berarti aku tidak melakukan pekerjaan nyata sama sekali. Namun, mengapa pemimpin tingkat atas menyebutku pemimpin palsu? Aku mencari firman Tuhan mengenai tanggung jawab pemimpin dan pekerja, lalu membacanya. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Sebagai pemimpin, engkau bertanggung jawab atas semua pekerjaan, bukan hanya satu tugas. Jika engkau melihat bahwa tugas tertentu sangat penting, engkau dapat mengawasi tugas tersebut, tetapi engkau juga perlu meluangkan waktu untuk memeriksa, mengarahkan, dan menindaklanjuti tugas lainnya. Jika engkau merasa puas hanya dengan melakukan satu tugas dengan baik, lalu menganggap segala sesuatunya sudah selesai, dan memberikan tugas lainnya kepada orang lain tanpa memedulikan atau menanyakannya, ini adalah perilaku yang tidak bertanggung jawab dan suatu pengabaian tanggung jawab. Jika engkau seorang pemimpin, maka sebanyak apa pun tugas yang menjadi tanggung jawabmu, sudah menjadi tanggung jawabmu untuk selalu mengajukan pertanyaan mengenainya, mencari tahu, dan pada saat yang sama juga untuk memeriksa segala sesuatu dan menyelesaikan masalah segera setelah masalah itu muncul. Inilah pekerjaanmu. Jadi, entah engkau seorang pemimpin daerah, pemimpin distrik, pemimpin gereja, atau pemimpin tim atau pengawas, setelah engkau mengetahui ruang lingkup tanggung jawabmu, engkau harus sering memeriksa apakah engkau sedang melakukan pekerjaan nyata, apakah engkau telah memenuhi tanggung jawab yang seharusnya dipenuhi oleh seorang pemimpin atau pekerja, serta tugas mana, dari beberapa tugas yang dipercayakan kepadamu, yang belum engkau lakukan, tugas mana yang tidak ingin engkau lakukan, mana yang memberikan hasil yang buruk, dan mana yang telah gagal kaupahami prinsipnya. Semua ini adalah hal-hal yang harus sering engkau periksa. Pada saat yang sama, engkau harus belajar untuk bersekutu dengan orang lain dan mengajukan pertanyaan kepada mereka, serta harus belajar bagaimana menemukan rencana, prinsip, dan jalan untuk penerapan dari dalam firman Tuhan dan pengaturan kerja. Terhadap pengaturan kerja apa pun, entah itu berkaitan dengan administrasi, personel, kehidupan bergereja, atau pekerjaan profesional apa pun, jika itu melibatkan tanggung jawab para pemimpin dan pekerja, maka itu adalah tanggung jawab yang seharusnya dipenuhi para pemimpin dan pekerja, dan berada dalam lingkup tanggung jawab para pemimpin dan pekerja. Ini adalah tugas-tugas yang harus engkau selesaikan. Tentu saja, prioritas harus diatur berdasarkan keadaan; tidak ada pekerjaan yang boleh tertunda. Sebagian pemimpin dan pekerja berkata, 'Aku tidak memiliki tiga kepala dan enam lengan. Ada begitu banyak tugas dalam pengaturan kerja; aku benar-benar tidak mampu jika aku diminta bertanggung jawab mengelola semuanya.' Jika ada beberapa tugas yang tidak melibatkanmu secara pribadi, maka sudahkah engkau mengatur agar orang lain yang melakukannya? Setelah membuat pengaturan ini, apakah engkau menindaklanjuti dan mencari tahu? Apakah engkau memeriksa pekerjaan mereka? Pasti engkau punya waktu untuk mencari tahu dan melakukan pemeriksaan? Engkau pasti punya waktu untuk melakukannya! Beberapa pemimpin dan pekerja berkata, 'Aku hanya mampu melakukan pekerjaan satu per satu. Jika engkau memintaku untuk melakukan pemeriksaan, aku hanya mampu memeriksa tugas satu per satu; lebih dari itu sungguh mustahil.' Jika engkau seperti itu, engkau benar-benar tidak berguna, kualitasmu sangat buruk, engkau tidak memiliki kemampuan kerja, engkau tidak cocok untuk menjadi pemimpin atau pekerja, dan engkau harus mundur. Lakukan saja pekerjaan yang cocok untukmu—jangan menyebabkan tertundanya pekerjaan gereja dan tertundanya pertumbuhan kehidupan umat pilihan Tuhan karena kualitasmu yang terlalu buruk untuk melakukan pekerjaan; jika engkau tidak memiliki nalar ini, itu artinya engkau egois dan hina. Jika engkau memiliki kualitas biasa tetapi mampu memperhatikan maksud Tuhan, engkau bersedia untuk berlatih, dan engkau merasa tidak yakin bahwa engkau dapat melakukan pekerjaan dengan baik, maka engkau harus mencari beberapa orang yang berkualitas baik untuk untuk bekerja sama denganmu dalam pekerjaan itu. Ini adalah pendekatan yang baik, dan bisa dianggap memiliki nalar" (Firman, Jilid 5, Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (10)"). Kalimat pertama firman Tuhan menepis gagasanku. Tuhan berkata bahwa para pemimpin bertanggung jawab atas keseluruhan pekerjaan, dan mereka harus memiliki pemahaman terperinci tentang setiap tugas dalam lingkup tanggung jawab mereka. Ketika menindaklanjuti pekerjaan, mereka dapat memprioritaskan berdasarkan urgensi, berfokus pada menindaklanjuti tugas-tugas yang sangat penting, dan mendelegasikan tugas-tugas lain kepada saudara-saudari lain jika mereka kewalahan, tetapi mereka tidak boleh menjadi manajer yang lepas tangan, menyerahkan tugas-tugas kepada orang lain dan kemudian mengabaikannya. Mereka harus tetap menanyakan dan memeriksa hal-hal ini secara berkala, dan segera menyelesaikan masalah apa pun. Orang tidak boleh mengandalkan imajinasinya sendiri, dan hanya menindaklanjuti tugas-tugas yang mereka anggap penting, sementara mengabaikan tugas-tugas lain; ini adalah pengabaian terhadap tugas. Kupikir dengan membenamkan diri setiap hari dalam pekerjaan penulisan naskah, berkolaborasi dalam penulisan naskah dan mendiskusikan berbagai isu dengan semua orang, aku sedang melaksanakan pekerjaan nyata. Aku tidak memandang segala sesuatu berdasarkan firman Tuhan, tetapi melaksanakan tugasku berdasarkan imajinasiku sendiri, yang berarti bahwa, banyak tugas, yang hanya kutanyakan sesekali, yang kemudian terabaikan tanpa aku merasa bersalah, dan ketika pemimpin tingkat atas menegurku karena mengabaikan tugasku, aku bahkan merasa tersinggung. Aku benar-benar mati rasa! Sebenarnya, sekalipun aku sibuk dengan satu tugas selama jangka waktu tertentu, ini bukan alasan bagiku untuk tidak menindaklanjuti pekerjaan lain. Sebagaimana Tuhan berfirman: "Jika ada beberapa tugas yang tidak melibatkanmu secara pribadi, maka sudahkah engkau mengatur agar orang lain yang melakukannya? Setelah membuat pengaturan ini, apakah engkau menindaklanjuti dan mencari tahu? Apakah engkau memeriksa pekerjaan mereka? Pasti engkau punya waktu untuk mencari tahu dan melakukan pemeriksaan? Engkau pasti punya waktu untuk melakukannya!" Selama waktu ini, aku lebih banyak berfokus pada penulisan naskah, tetapi jika aku punya hati, aku juga seharusnya terbeban untuk pekerjaan lain dan berusaha menyeimbangkannya sebanyak mungkin. Jika aku kehabisan tenaga, aku dapat menyampaikannya secara gamblang dengan kedua saudari mitraku, dan meminta mereka agar lebih banyak menindaklanjuti tugas, dan jika timbul masalah, kami dapat mendiskusikan dan menyelesaikannya bersama-sama. Jika aku bertanggung jawab atas banyak tugas dan kualitasku kurang, aku dapat melapor kepada pemimpin tingkat atas, agar tidak menunda pekerjaan. Masalah utamanya bukanlah aku tidak punya waktu sama sekali, tetapi aku tidak mau meluangkan waktu. Inilah yang disebut kurang bertanggung jawab, dan tanda menjadi pemimpin palsu. Aku berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, aku telah sangat tidak bertanggung jawab dalam tugas-tugasku dan benar-benar tidak layak menjadi seorang pemimpin. Aku tidak bersyukur atas banyaknya kesempatan pelatihan yang diberikan rumah Tuhan kepadaku, dan memperlakukan tugas-tugasku sebagai beban dan gangguan. Aku benar-benar tidak punya hati nurani atau kemanusiaan! Mengingat bahwa rumah Tuhan tidak memberhentikanku, aku bersedia bertobat dan menghargai kesempatan ini, dan kelak akan dengan tekun melaksanakan tugasku dengan sebaik-baiknya."

Kemudian, pemimpin tingkat atas menugaskanku agar bertanggung jawab atas pekerjaan pembuatan film kesaksian berdasarkan pengalaman. Aku merasa sangat bersyukur, pikirku, "Kali ini aku akan benar-benar bertobat dan memikul lebih banyak tanggung jawab dalam tugasku." Sejak saat itu, hari-hariku menjadi padat, dan aku sering sibuk hingga larut malam. Aku bekerja hingga larut malam selama jangka waktu tertentu, dan ketika kulihat beberapa peningkatan dalam hasil pekerjaan, aku merasa sangat gembira, berpikir bahwa aku telah melaksanakan beberapa pekerjaan nyata kali ini, dan pemimpin tingkat atas seharusnya dapat melihat pertobatanku. Belakangan, aku menemukan seorang pengawas untuk menindaklanjuti pembuatan film kesaksian berdasarkan pengalaman, dan jadwalku pun menjadi relatif santai, dan aku punya waktu untuk mengurus pekerjaan gereja lainnya. Namun, apa yang terjadi kemudian kembali menyingkapkanku. Pada saat itu, gereja perlu membeli sesuatu, dan karena itu melibatkan keuangan gereja, salah seorang saudari mitraku meminta untuk membahasnya denganku. Awalnya, aku dapat turut serta dalam diskusi, tetapi setelah beberapa kali, aku merasa itu merepotkan, berpikir bahwa membahas masalah ini akan menyita banyak waktu, dan terutama karena ini merupakan tanggung jawab saudari mitraku, dan jika dilakukan dengan baik, pemimpin tingkat atas tidak akan tahu apakah aku telah berpartisipasi. Kupikir akan lebih baik bila aku menggunakan waktu merekam lebih banyak video kesaksian berdasarkan pengalaman, karena itu akan memberikan hasil yang nyata. Namun, ketika aku berpikir bahwa hal ini juga termasuk dalam lingkup tanggung jawabku, aku harus turut serta dalam diskusi dengan sikap asal-asalan untuk menyelamatkan muka. Ada juga beberapa video yang dikerjakan untuk tim lain dan aku hanya sesekali mengirim pesan untuk menanyakannya. Terkadang aku merasa tidak enak, tetapi kemudian pikirku, "Belakangan ini tidak ada masalah, jadi aku akan memfokuskan waktuku pada pekerjaan yang sedang difokuskan oleh pemimpin tingkat atas, karena jika muncul masalah dalam tugas-tugas ini, aku akan bertanggung jawab langsung untuk itu." Jadi, aku lalai untuk menindaklanjuti rincian video yang dikerjakan tim ini hingga suatu hari, pemimpin tingkat atas tiba-tiba menghubungi kami, mengatakan bahwa ada lebih dari sepuluh video yang menumpuk yang belum diproses, dan dia bertanya apakah kami mengetahui hal ini. Mendengar ini, jantungku berdegup kencang, dan pikirku, "Tamatlah riwayatku. Pekerjaan ini adalah tanggung jawabku secara langsung. Bukankah masalah besar ini terjadi karena aku mengabaikan tugasku?" Setelah itu, pemimpin tingkat atas itu menegurku, berkata, "Masalahmu baru saja ditangani terakhir kali, dan sekarang kau sudah tidak bertanggung jawab lagi! Ketika kau ditugaskan menulis naskah, kau hanya mengurusi hal itu, dan sekarang ketika kau ditugaskan untuk membuat video kesaksian berdasarkan pengalaman, kau hanya mengurusi hal ini. Apakah menurutmu sebagai seorang pemimpin kau hanya harus berfokus pada tugasmu dan mengabaikan yang lain? Kau takut akan kesukaran, tidak memiliki rasa terbeban, dan tidak mengejar kebenaran! Bagaimana mungkin seseorang sepertimu bertanggung jawab atas banyak tugas?" Setelah itu, aku dibebaskan dari beberapa tanggung jawab. Dipindahtugaskan seperti ini benar-benar membuatku kesal, dan kupikir, "Aku sangat egois, hina, dan tidak memiliki kemanusiaan. Mungkin aku benar-benar tidak dapat diselamatkan." Namun setelah itu, aku juga merasa agak kesal, pikirku, "Aku benar-benar telah berusaha keras akhir-akhir ini, jadi mengapa aku dipangkas lagi karena tidak bertanggung jawab? Apakah sebenarnya aku sama sekali belum berubah?"

Suatu kali, beberapa persekutuan Tuhan tentang topik melaksanakan tugas sangat menyentuh hatiku, dan akhirnya aku mulai memperoleh sedikit pemahaman tentang masalahku. Tuhan berfirman: "Katakan kepada-Ku, bagaimana seharusnya orang melakukan perbuatan yang adil, dan harus dalam keadaan dan kondisi apa mereka melakukan hal ini, agar dapat dianggap mempersiapkan perbuatan baik? Setidaknya, mereka harus memiliki sikap yang positif dan proaktif, dan, ketika melaksanakan tugas, mereka harus setia, mampu bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, dan melindungi kepentingan rumah Tuhan. Bersikap positif dan proaktif adalah kuncinya. Jika engkau selalu pasif, ini adalah masalah. Engkau seolah-olah bukan anggota rumah Tuhan, dan engkau bukan sedang melaksanakan tugasmu, melainkan engkau tidak punya pilihan selain melaksanakan tugas atas perintah majikan demi mendapatkan gaji; engkau tidak melaksanakannya secara sukarela. Sekalipun engkau melaksanakan sedikit dari tugas itu, engkau melaksanakannya karena terpaksa, dan engkau melaksanakannya secara pasif. Jika kepentinganmu tidak terlibat, engkau sama sekali tidak akan melaksanakannya, atau jika tidak seorang pun mengawasimu, engkau sama sekali tidak akan melaksanakannya. Tindakan yang negatif dan pasif semacam itu bukanlah perbuatan baik. Oleh karena itu, orang semacam ini sangatlah bodoh. Mereka sangat pasif dalam melakukan hal-hal positif dan melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Mereka tidak melakukan hal-hal yang dapat mereka pikirkan, mereka juga tidak melakukan hal-hal yang mampu mereka lakukan yang membutuhkan waktu dan tenaga, mereka hanya menunggu dan menonton, berpikir bahwa yang terbaik adalah jika orang lain yang melaksanakannya. Ini merepotkan, dan sangat sulit bagi mereka untuk melaksanakan tugas mereka dengan baik. Pertama, bukan karena kualitasmu kurang; kedua, bukan karena pengalamanmu tidak cukup; ketiga, bukan karena engkau tidak mempunyai kondisi yang tepat untuk melakukannya. Engkau mempunyai kualitas untuk melaksanakan pekerjaan ini, dan jika engkau meluangkan waktu serta tenaga, engkau akan mampu melakukannya, tetapi engkau tidak melakukannya, engkau tidak mempersiapkan perbuatan baik. Hal ini sangat disayangkan. Mengapa Aku katakan disayangkan? Karena jika setelah bertahun-tahun kemudian engkau menengoknya kembali, engkau akan merasa menyesal, dan jika engkau ingin kembali ke tahun, bulan, dan hari itu, untuk melakukan pekerjaan itu, segala sesuatu sudah berubah dan waktu sudah berlalu. Kesempatan kedua seperti itu tidak akan engkau dapatkan lagi; ketika kesempatan itu berlalu, itu akan berlalu, ketika hilang, hilanglah sudah. Jika engkau kehilangan kenikmatan daging seperti makan makanan enak atau mengenakan pakaian bagus, hal itu tidak terlalu menjadi soal, karena hal-hal itu hampa, dan tidak berdampak apa-apa terhadap jalan masuk kehidupan atau persiapan perbuatan baikmu, ataupun pada tempat tujuanmu. Namun, jika itu berkaitan dengan sikap Tuhan dan penilaian-Nya terhadapmu, atau bahkan dengan jalan yang engkau tempuh serta tempat tujuanmu, maka kehilangan kesempatan untuk melakukannya sangatlah disayangkan. Karena ini akan meninggalkan noda dan menimbulkan penyesalan di jalan kelangsungan hidupmu di masa depan, dan seumur hidup engkau tidak akan pernah memperoleh kesempatan lain untuk menebusnya. Bukankah ini sangat disayangkan? Jika kualitasmu terlalu rendah sehingga engkau tidak mampu menjalankan pekerjaan ini, maka itu bukan hal yang disayangkan—rumah Tuhan bisa mengatur orang lain untuk melakukannya. Jika engkau mampu melakukan pekerjaan ini dengan baik, tetapi engkau tidak melakukannya, maka hal itu benar-benar disayangkan. Ini adalah kesempatan yang diberikan Tuhan kepadamu, tetapi engkau tidak menanggapinya dengan serius, engkau tidak meraih kesempatan ini, dan engkau membiarkannya lepas dari genggamanmu—ini sangat disayangkan! Bagimu, ini disayangkan; bagi Tuhan, ini mengecewakan. Tuhan telah memberimu kualitas yang memadai dan kondisi yang unggul, yang memungkinkanmu untuk melihat beberapa hal dengan jelas dan cakap untuk pekerjaan ini. Namun, engkau tidak memiliki sikap yang benar terhadap tugasmu, engkau tidak memiliki ketulusan, apalagi pengabdian, dan engkau tidak mau berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakannya dengan baik. Ini sangat mengecewakan Tuhan. ... Misalkan sikapmu terhadap kebenaran dan tugasmu selalu asal-asalan, dan di luarnya, engkau menyatakan janji tetapi di balik layar, engkau tidak menerapkannya, dan engkau berlambat-lambat serta menunda-nunda, dan tidak memiliki sikap positif yang memperhatikan maksud-maksud Tuhan. Sekalipun di luarnya, engkau tidak menyebabkan kekacauan dan gangguan, tidak berbuat jahat, tidak bertindak semena-mena dan gegabah dan tidak merajalela melakukan kejahatan, dan engkau terlihat sebagai orang yang taat aturan dan berperilaku cukup baik, engkau tidak secara positif dan proaktif melakukan apa yang Tuhan tuntut terhadapmu, tetapi sebaliknya engkau licik dan bermalas-malasan, serta menghindar agar tidak perlu melakukan pekerjaan nyata. Dalam hal itu, jalan apakah yang sebenarnya sedang kautempuh? Sekalipun itu bukan jalan antikristus, setidaknya, itu adalah jalan pemimpin palsu" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (11)"). Setelah membaca bagian firman Tuhan ini, aku mulai merenungkan diriku sendiri. Sejak terakhir kali aku dipangkas oleh pemimpin tingkat atas, aku tahu bahwa aku telah tidak bertanggung jawab dalam tugas-tugasku dan ingin bertobat secepat mungkin. Awalnya, aku bekerja sampai larut malam setiap hari, dan tugas-tugasku membuahkan beberapa hasil, jadi kupikir aku telah menunjukkan pertobatan, tetapi kemudian, jika pekerjaan itu tidak menjadi fokus pemimpin tingkat atas, aku merasa itu menyusahkan dan tidak mau repot-repot mengerjakannya. Aku menyadari bahwa, "inisiatif" dan sikap "proaktif" yang kutunjukkan itu licik dan tidak murni. Karena takut dipindahtugaskan atau diberhentikan setelah dipangkas, demi mempertahankan kesombongan dan statusku, aku menanggung kesukaran dan mengorbankan diriku untuk sementara waktu, tetapi perilaku ini ternyata hanyalah upaya mempertahankan diri. Seperti yang Tuhan firmankan tentang pekerja upahan yang hanya melakukan apa yang diminta oleh majikannya demi mendapatkan upah, apa yang mereka kerjakan tidak berasal dari hati. Dengan sikap seperti ini, pelaksanaan tugasku tidak dapat dianggap sebagai perbuatan baik. Pelaksanaan tugas yang sejati adalah proaktif dan mengandung rasa terbeban. Ini melibatkan kesetiaan terhadap tugas dan mencari prinsip kebenaran untuk memastikan pekerjaan dilakukan dengan baik. Aku merenungkan kinerjaku baru-baru ini: Ketika pemimpin menugaskanku untuk membuat video kesaksian berdasarkan pengalaman, aku hanya berfokus pada pekerjaan ini, tetapi untuk pekerjaan lainnya, selama itu tidak melibatkan kepentinganku, sikapku sama sekali tidak peduli, dan aku memperlakukan pekerjaan lain sebagai beban dan gangguan. Masalah penumpukan video merupakan penyingkapan bagiku, dan aku menyadari bahwa aku sama sekali tidak bertobat. Sedikit perilaku baik yang kutunjukkan, hanyalah upaya untuk mempertahankan status dan memulihkan reputasiku, dan sikapku terhadap tugas-tugasku masih belum berubah. Aku hanya melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh pemimpin tingkat atas dan yang berhubungan dengan reputasi dan statusku. Ini bukanlah pelaksanaan tugas yang sejati. Sebenarnya, menjadi seorang pemimpin menuntut seseorang untuk lebih memiliki perhatian daripada saudara-saudari lainnya. Jika tidak mau bertanggung jawab, aku seharusnya secara aktif memberi tahu pemimpin tingkat atas, dan membiarkan orang lain yang menangani peran tersebut, daripada menduduki suatu posisi tanpa melakukan pekerjaan nyata. Ini merugikan rumah Tuhan. Bukankah itu berarti aku hanya menjadi pemimpin palsu yang menikmati manfaat dari suatu posisi tanpa melakukan pekerjaan nyata? Aku teringat tentang bagaimana pemimpin tingkat atas menilaiku sebagai orang yang "tidak layak dipercaya atau dibina!" Seperti inilah tepatnya diriku. Aku telah mengabaikan pekerjaan gereja secara keseluruhan, dan memang tidak layak dipercaya. Pekerjaan yang menjadi tanggung jawabku berkurang sedikit demi sedikit, dan ketika benar-benar kehilangannya, aku benar-benar menyesalinya. Kupikir selama aku tetap melakukan pekerjaan yang ditugaskan langsung kepadaku oleh pemimpin, aku dapat mempertahankan statusku, tetapi yang kudapatkan sebagai balasannya adalah kehilangan tugas-tugasku dan hilangnya kesempatan untuk mempersiapkan perbuatan baik dan memperoleh kebenaran. Ini adalah kerugian terbesarku. Jika aku terus bersikap seperti ini dalam tugas-tugasku, aku pasti akan dievaluasi sebagai "orang yang selalu tidak bertanggung jawab dan bersikap asal-asalan" dan integritas pribadiku akan hancur total. Dengan melakukannya, aku menghancurkan kesempatan untuk melaksanakan tugas-tugas dan merusak kesempatanku untuk diselamatkan!

Setelah itu, aku sering memikirkan hal ini, merasa bahwa aku telah begitu egois, hanya memikirkan kepentinganku sendiri dalam tugas-tugasku. Kemudian, aku teringat beberapa firman Tuhan yang relevan, jadi aku mencari dan membacanya. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Sebelum manusia mengalami pekerjaan Tuhan dan memahami kebenaran, natur Iblislah yang mengendalikan dan menguasai mereka dari dalam. Secara spesifik, apa yang terkandung dalam natur tersebut? Misalnya, mengapa engkau egois? Mengapa engkau mempertahankan posisimu? Mengapa engkau memiliki perasaan yang begitu kuat? Mengapa engkau menikmati hal-hal yang tidak benar? Mengapa engkau menyukai kejahatan? Apakah dasar kesukaanmu akan hal-hal seperti itu? Dari manakah asal hal-hal ini? Mengapa engkau begitu senang menerimanya? Saat ini, engkau semua telah memahami bahwa alasan utama di balik semua hal ini adalah karena racun Iblis ada di dalam diri manusia. Jadi, apakah racun Iblis itu? Bagaimana racun Iblis dapat disingkapkan? Misalnya, jika engkau bertanya, 'Bagaimana seharusnya orang hidup? Untuk apa seharusnya orang hidup?' Orang akan menjawab: 'Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya.' Satu frasa ini mengungkapkan sumber penyebab masalahnya. Falsafah dan logika Iblis telah menjadi kehidupan manusia. Apa pun yang orang kejar, mereka melakukannya demi diri mereka sendiri—oleh karena itu, mereka hidup hanya demi diri mereka sendiri. 'Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya'—ini adalah falsafah hidup manusia dan ini juga mewakili natur manusia. Perkataan ini telah menjadi natur manusia yang rusak dan perkataan ini adalah gambaran sebenarnya dari natur Iblis manusia yang rusak. Natur Iblis ini telah menjadi dasar bagi keberadaan manusia yang rusak. Selama ribuan tahun, manusia yang rusak telah hidup berdasarkan racun Iblis ini, hingga hari ini" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Cara Menempuh Jalan Petrus"). Aku membaca bagian ini berulang-ulang. Tuhan berfirman bahwa sebelum manusia mengalami pekerjaan-Nya dan mulai memahami kebenaran, berbagai racun dan aturan bertahan hidup ditanamkan oleh Iblis dan menjadi kehidupan manusia, sehingga manusia hidup dalam gambar Iblis, dan natur Iblis mengendalikan setiap perkataan dan tindakan manusia. Aku telah dirusak sedemikian dalam oleh Iblis, dan sangat egois sepanjang hidupku. Ketika keluarga atau teman meminta bantuanku, aku akan dengan senang hati setuju jika bisa mendapatkan keuntungan darinya, atau jika orang tersebut adalah seseorang yang ingin kusenangkan atau kudekati, aku juga bersedia membantu dengan segenap hati. Namun, jika sama sekali tidak bisa mendapatkan keuntungan, aku akan merasa itu menyusahkan dan bahkan tidak peduli dengan mereka. Ayahku akan berkata kepadaku, "Mengapa kau tidak punya perasaan?" Namun, aku tidak peduli dengan apa yang dikatakannya, dan kupikir orang-orang memang seperti itu! Ketika melaksanakan tugas-tugasku di gereja, aku masih memiliki agendaku sendiri, dan aku hanya akan berfokus pada tugas-tugas yang akan menguntungkanku, dan jarang memikirkan pekerjaan gereja. Misalnya, ketika beberapa saudara-saudari berada dalam keadaan yang buruk, jika aku bertanggung jawab langsung atas mereka, aku akan membantu dengan kasih, karena hal ini akan membantu membangun citraku sebagai pemimpin yang baik di mata mereka. Namun, jika mereka bukan tanggung jawabku secara langsung, sekalipun aku melihat mereka hidup dalam watak yang rusak, aku akan berpikir bahwa menolong mereka berarti mencari firman Tuhan dan menghabiskan tenaga serta upaya untuk merenungkannya, jadi aku akan merasa itu menyusahkan dan tidak ingin memedulikannya, atau aku hanya akan mengucapkan beberapa patah kata yang dangkal sebagai jawaban. Kupikir dengan melakukannya, aku sedang bersikap cerdas tetapi ketika aku merenungkannya, apa yang sebenarnya telah kudapatkan dari keegoisan? Sebenarnya, menindaklanjuti berbagai tugas melibatkan berbagai kebenaran tentang memandang berbagai hal dan orang serta berbagai prinsip dalam menangani masalah, dan dengan tidak berpartisipasi dalam beberapa pekerjaan, tanpa sadar aku kehilangan banyak kesempatan untuk memperoleh kebenaran. Selain itu, Tuhan telah menganugerahiku dengan kesempatan untuk melaksanakan tugas kepemimpinan, yang membuatku mampu untuk belajar menanggung kekhawatiran dan memiliki beban, dan secara bertahap memulihkan kemanusiaanku yang normal. Inilah keselamatan Tuhan bagiku, tetapi aku tidak mau memikul lebih banyak tanggung jawab atau masalah. Aku terus berkata bahwa aku bersyukur kepada Tuhan dan ingin membalas-Nya, tetapi yang sebenarnya kutunjukkan adalah kelicikan terhadap Tuhan. Kemanusiaanku benar-benar buruk! Jika aku tetap tidak mengejar perubahan, ketika pekerjaan Tuhan berakhir, jerih payahku akan berakhir dan aku akan dihukum.

Belakangan, aku membaca bagian lain firman Tuhan: "Jika engkau melakukan kesalahan lalu hanya berkata: 'Aku benar-benar benci diriku! Bagaimana mungkin aku melakukan hal sehina dan setercela ini? Aku benar-benar ingin menampari wajahku sendiri!' hanya membenci dirimu sendiri, itu tidak ada gunanya. Hal yang terpenting adalah ketika engkau melakukan kesalahan, engkau harus mampu membedakan mana yang salah, apa yang mendorongmu melakukannya, mengapa engkau tidak mampu menerapkan kebenaran, apa akar penyebabnya, serta apa dasar dan prinsip dari tindakanmu itu. Yang juga penting adalah apakah ketika menghadapi suatu hal, engkau secara sadar bertindak menurut firman Tuhan dan secara sadar memberontak terhadap pemikiran dan sudut pandang Iblismu, terhadap ambisi dan keinginanmu, serta terhadap niat dan rencanamu. Jika semua ini dengan sadar engkau lakukan, maka engkau telah mempersiapkan perbuatan baik, dan ini sangat baik, dan berarti engkau telah mendapatkan sesuatu. ... Tidak berbuat jahat tidak sama dengan mempersiapkan perbuatan baik. Tidak berbuat jahat dan mempersiapkan perbuatan baik adalah dua konsep yang berbeda. Melaksanakan tugas tanpa berbuat jahat adalah hal yang memang seharusnya dilakukan oleh makhluk ciptaan; itu adalah perwujudan yang memang seharusnya dimiliki oleh orang yang mempunyai hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal. Misalnya, ada orang berkata: 'Ada orang yang melakukan pembunuhan, tetapi aku tidak melakukannya; orang itu mencuri barang milik orang lain, tetapi aku tidak melakukannya. Itu berarti aku adalah orang baik.' Apakah hal itu pantas untuk dibanggakan? Apakah pernyataan mereka benar? (Tidak.) Ini berarti mencampuradukkan konsep. Tidak menjadi pencuri, tidak melakukan pembunuhan atau pembakaran, serta tidak terlibat dalam hubungan seksual terlarang, tidak sama dengan menjadi orang baik. Tidak berbuat jahat atau melanggar hukum adalah konsep yang berbeda dengan menjadi orang baik. Menjadi orang baik mempunyai standar tersendiri. Tidak berbuat jahat dan mempersiapkan perbuatan baik juga merupakan dua konsep yang terpisah. Melaksanakan tugasmu tanpa melakukan kejahatan adalah sesuatu yang harus dicapai sebagai manusia normal. Namun, mempersiapkan perbuatan baik berarti bahwa engkau harus secara proaktif dan positif menerapkan kebenaran dan melaksanakan tugasmu dengan baik berdasarkan tuntutan Tuhan dan prinsip-prinsip kebenaran. Engkau harus memiliki kesetiaan, bersedia menanggung kesukaran dan membayar harga, bersedia bertanggung jawab, serta mampu bertindak secara positif dan proaktif. Semua tindakan yang dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip ini pada dasarnya adalah perbuatan baik. Entah hal itu besar atau kecil, entah itu layak diingat orang atau tidak, entah itu begitu dihargai oleh orang-orang atau dianggap tidak penting, atau entah orang-orang menganggapnya layak diperhatikan atau tidak, di mata Tuhan, semuanya adalah perbuatan baik. Jika engkau telah mempersiapkan perbuatan baik, pada akhirnya hal itu akan mendatangkan berkat bagimu, bukan malapetaka. ... Jadi, bagaimana perbuatan baik pada akhirnya didefinisikan? Itu adalah ketika apa yang kaulakukan setidaknya bermanfaat bagi jalan masuk kehidupanmu sendiri dan saudara-saudari, serta bermanfaat bagi pekerjaan rumah Tuhan. Jika itu bermanfaat bagi dirimu sendiri, orang lain, dan rumah Tuhan, berarti kinerjamu di hadapan Tuhan itu efektif dan diperkenan oleh Tuhan. Tuhan akan memberimu nilai. Jadi, evaluasilah hal-hal ini: Berapa banyak perbuatan baik yang telah kaupersiapkan selama tahun-tahun ini? Dapatkah perbuatan-perbuatan baik ini mengimbangi pelanggaranmu? Setelah mengimbanginya, berapa banyak perbuatan baik yang tersisa? Engkau harus menilai dirimu sendiri dan memiliki pemahaman yang kuat tentang hal ini; engkau tidak boleh bingung tentang hal ini" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (11)"). Firman Tuhan memberiku jalan. Pertobatan tidak bisa hanya diucapkan. Sekadar mengatakan bahwa kau membenci dirimu sendiri bukan berarti ada perubahan yang nyata. Kuncinya adalah mengamati kehidupan seperti apa yang sebenarnya orang jalani dan sikap mereka terhadap tugas mereka, terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan gereja. Entah orang berpura-pura tidak melihat masalah dan tetap menjadi pengamat atau menjunjung tinggi kepentingan gereja, itulah yang mencerminkan karakter seseorang. Ketika membaca persekutuan Tuhan tentang perbedaan antara perbuatan baik dan perbuatan jahat, aku memahami bahwa tidak melakukan kejahatan atau menyebabkan kekacauan dan gangguan tidak menjadikan seseorang itu baik, dan paling-paling, dia akan dianggap sebagai orang yang jujur. Perbuatan baik mencakup unsur inisiatif dan proses mencari kebenaran. Itu melibatkan penanganan masalah berdasarkan prinsip-prinsip agar sesuai dengan maksud Tuhan. Penerapan seperti itu merupakan perbuatan baik yang sejati. Pada akhirnya, Tuhan menentukan kesudahan orang berdasarkan pada apakah mereka telah melakukan perbuatan baik atau tidak. Kalau dipikir-pikir lagi, sebagian besar pelaksanaan tugasku setelah mulai percaya kepada Tuhan adalah demi reputasi dan keuntungan, dan jarang bagiku untuk secara proaktif menerapkan kebenaran. Aku tidak secara aktif menyingkapkan atau melaporkan pemimpin palsu atau antikristus, dan aku hampir tidak pernah membantu saudara-saudari menyelesaikan kesulitan dan masalah mereka. Sering kali, aku hanya mengikuti aturan Iblis untuk bertahan hidup: "Setiap orang harus bertanggung jawab atas urusannya sendiri." Sebagai seorang pemimpin gereja, aku tidak bersedia melakukan banyak pekerjaan dalam lingkup tanggung jawabku, dan menjadi manajer yang lepas tangan telah menunda pekerjaan. Ini perbuatan jahat. Dilihat dari prinsip kebenaran, aku menyadari bahwa selama bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, aku hampir tidak mempersiapkan perbuatan baik apa pun, dan aku malah telah banyak melakukan perbuatan jahat. Aku merasa berada dalam bahaya besar, jadi aku berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, meskipun aku telah melaksanakan tugas di rumah Tuhan selama bertahun-tahun ini, aku belum memperlakukan diriku sebagai bagian dari rumah Tuhan, dan hampir tidak pernah proaktif dalam menjunjung tinggi pekerjaan gereja. Aku telah sangat egois dan hina! Tuhan, aku ingin bertobat. Kumohon tolonglah dan periksalah aku. Aku bersedia menerapkan kebenaran untuk memuaskan-Mu."

Setelah itu, aku mulai merencanakan waktu untuk tugas-tugasku, dan mengatur pekerjaan harianku dengan wajar serta selalu merencanakan pekerjaan esok harinya sebelum beristirahat setiap malam. Ini juga membantuku tetap fokus dan menyelesaikan lebih banyak pekerjaan, dan aku juga mampu terlibat dalam pekerjaan lain. Setelah menerapkan dengan cara ini selama beberapa waktu, aku mendapati bahwa perencanaan yang wajar meningkatkan efisiensi kerja dan memungkinkanku untuk melakukan lebih banyak pekerjaan dalam sehari. Adakalanya ketika saudara-saudari dari tim lain datang meminta bantuan kepadaku, aku juga menanggapi persoalan ini, dan berdoa kepada Tuhan dalam prosesnya untuk menerima pemeriksaan-Nya. Jika aku setuju untuk melakukan sesuatu, aku harus melakukannya dengan segenap hati dan tidak boleh hanya melakukannya dengan asal-asalan. Terkadang aku masih merasa kesulitan untuk menindaklanjuti pekerjaan lain, tetapi ketika menyadari hal ini, aku secara aktif memberontak terhadap diriku sendiri, dan berusaha memperhatikan detail pekerjaan itu dengan sebaik mungkin. Aku tahu natur Iblis dalam diriku telah berakar begitu dalam, dan dua kejadian pemangkasan ini tidak cukup untuk menyelesaikannya, jadi aku berdoa kepada Tuhan untuk memeriksa hatiku, agar Dia dapat mendidik dan mendisiplinkanku ketika aku tidak bertanggung jawab dalam tugas-tugasku, memungkinkanku hidup dalam kemanusiaan yang normal dan menjadi pribadi yang memiliki hati nurani dan kemanusiaan. Aku juga sangat bersyukur kepada Tuhan atas dua kejadian pemangkasan ini, yang memungkinkanku untuk menyadari konsekuensi serius karena tidak bertanggung jawab dalam tugas-tugasku, dan untuk bangkit dan berubah sedikit.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Di Tengah Bahaya

Oleh Saudari Li Xin, TiongkokPada Desember 2011, saudara-saudari dari beberapa gereja ditangkap satu per satu. Gereja kami mengatur agar...

Tinggalkan Balasan

Hubungi kami via WhatsApp