Apa yang Kuperoleh dari Membina Orang Lain?

31 Desember 2025

Aku dan Yang Chen mengawasi pekerjaan tulis-menulis di Gereja Yingguang. Pada pertengahan September 2024, para pemimpin mengirim surat yang mengatakan bahwa Saudari Zhao Xue dari Gereja Chenxin baru saja terpilih sebagai pengawas untuk pekerjaan tulis-menulis di gerejanya, tetapi dia masih belum terbiasa dengan berbagai aspek pekerjaan tersebut dan belum memahami prinsip-prinsip dalam meninjau khotbah. Jadi, mereka bertanya apakah kami bisa meluangkan waktu untuk membantu membimbingnya, berkata bahwa jika dia bisa segera dibina, hal itu akan bermanfaat bagi pekerjaan gereja. Aku berpikir dalam hati, "Kami sudah cukup sibuk dengan pekerjaan utama kami, kalau sekarang harus membimbing Zhao Xue juga di samping semua ini, bukankah itu akan makin menyita waktu kami? Kalau efektivitas pekerjaan kami menurun, bukankah para pemimpin akan berkata kami tidak melaksanakan tugas dengan baik? Selain itu, membimbingnya bukan pekerjaan utamaku. Meskipun hasil pekerjaannya nanti baik, pemimpin tingkat atas tidak akan memuji kami." Aku merasa bahwa ini adalah pekerjaan yang tidak akan dihargai, jadi aku tidak mau menerimanya. Namun jika aku menolak, bukankah para pemimpin akan berkata bahwa aku tidak punya belas kasih? Setelah memikirkannya dengan matang, aku akhirnya menyetujui.

Awalnya, Zhao Xue meminta saran kami melalui surat, lalu kami berusaha membalas secepat mungkin. Pada tanggal 25 September, Zhao Xue mengirimkan sebuah khotbah untuk ditinjau. Setelah aku dan Yang Chen meninjaunya, kami menemukan banyak masalah dalam khotbah tersebut dan harus mendiskusikannya cukup lama sebelum menemukan titik terang. Setelah aku menanggapi masalah-masalah itu, aku masih belum yakin tentang beberapa hal dan khawatir mungkin ada penyimpangan dalam bimbinganku, jadi aku mengirimkan khotbah tersebut untuk dilihat saudara-saudari, lalu mereka pun memberikan beberapa saran. Aku merasa bahwa membantu membimbing Zhao Xue menyita banyak waktu. Itu bukan hanya menunda pekerjaan kami sendiri, tetapi kadang juga menyita waktu anggota kelompok lain. Pekerjaan penyaringan khotbah itu sendiri sudah merupakan tugas besar. Kalau hal ini terus berlanjut, bukankah pekerjaan kami sendiri akan terpengaruh? Setelah itu, Zhao Xue terus mengirimkan khotbah kepada kami, mencari jawaban untuk berbagai masalah. Beberapa di antaranya cukup sulit untuk dipahami secara mendalam, jadi kami harus meluangkan waktu untuk memikirkannya dan mendiskusikannya. Oleh karena itu, waktuku untuk menindaklanjuti pekerjaan khotbah di gereja kami menjadi lebih sedikit dan beberapa hal pun akhirnya tertunda. Pada tanggal 20 Oktober, para pemimpin mengirim surat yang menanyakan kepada kami, "Mengapa kalian belum memberikan umpan balik tentang kelompok yang seharusnya kalian laporkan beberapa hari lalu?" Saat itu aku baru sadar bahwa aku lupa membalas. Aku pun berpikir, "Para pemimpin pasti mengira aku menunda-nunda dan tidak melaksanakan tugas dengan rasa memikul beban. Kalau hasil pekerjaan kami menurun, para pemimpin pasti akan berkata bahwa aku belum melaksanakan tugasku dengan baik." Beberapa hari kemudian, aku menerima surat lagi dari Zhao Xue yang meminta bantuanku. Aku merasa agak tidak senang dengan hal itu serta merasa bahwa membimbingnya akan memengaruhi pekerjaan utamaku, tidak sepadan, dan itu membuatku merasa terganggu. Namun, kemudian aku menyadari bahwa pola pikirku tidak benar, jadi aku berdoa kepada Tuhan, memohon agar Dia membimbingku untuk menyesuaikan pola pikirku. Lalu aku membaca firman Tuhan: "Hanya mereka yang mencintai kebenaran dan memiliki kenyataan kebenaran, yang mampu muncul ke depan ketika dibutuhkan oleh pekerjaan rumah Tuhan dan oleh umat pilihan Tuhan, hanya merekalah yang mampu mengambil sikap, yang berani dan merasa wajib untuk bersaksi bagi Tuhan dan mempersekutukan kebenaran, memimpin umat pilihan Tuhan ke jalan yang benar, memungkinkan mereka untuk mencapai ketundukan pada pekerjaan Tuhan. Hanya inilah sikap yang bertanggung jawab dan perwujudan yang memperhatikan maksud-maksud Tuhan. Jika engkau semua tidak bersikap seperti ini, dan justru bersikap ceroboh dalam menangani sesuatu dan engkau berpikir, 'Aku akan melakukan hal-hal dalam lingkup tugasku, tetapi aku tidak peduli akan hal lainnya. Jika kau menanyakan sesuatu, aku akan menjawabmu—jika suasana hatiku sedang baik. Jika tidak, aku tidak akan menjawabmu. Seperti inilah sikapku,' maka ini adalah sejenis watak yang rusak, bukan? Hanya melindungi status, reputasi, dan gengsinya sendiri, dan hanya melindungi hal-hal yang berkaitan dengan kepentingannya sendiri—inikah sikap yang melindungi hal yang adil? Inikah sikap yang melindungi kepentingan rumah Tuhan? Di balik motif yang picik dan egois ini terdapat watak yang muak akan kebenaran" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Dari firman Tuhan, aku melihat bahwa orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan dan mengasihi kebenaran memiliki rasa memikul beban dan tanggung jawab terhadap tugas mereka. Orang seperti itu sanggup menunaikan tanggung jawabnya, baik itu kebutuhan pekerjaan gereja maupun saudara-saudari yang memerlukan bantuan. Namun, jika seseorang hanya memedulikan pekerjaannya sendiri dan tidak mau mengulurkan tangan ketika orang lain menghadapi kesulitan serta membutuhkan bantuan, ini menunjukkan watak yang egois, tercela, dan muak akan kebenaran. Aku pun memikirkan bagaimana Zhao Xue baru saja terpilih sebagai pengawas. Dia belum terbiasa dengan pekerjaan ini dan belum memahami prinsip-prinsip dengan baik. Karena dia mengajukan pertanyaan kepada kami, dia pasti telah menghadapi kesulitan dalam pekerjaan dan seharusnya aku berusaha semaksimal mungkin untuk membimbing serta menolongnya. Namun, aku hanya ingin mengurus pekerjaanku sendiri. Aku tidak mau meluangkan waktu dan membayar harga dalam membimbing Zhao Xue. Bukankah sikapku ini egois dan tercela? Setelah menyadari hal ini, pola pikirku terhadap pembinaan orang lain sedikit berubah. Ketika Zhao Xue kembali menulis surat untuk mengajukan beberapa pertanyaan, aku pun berinisiatif untuk membalas dengan sepenuh hati. Namun, aku belum memiliki banyak pengetahuan tentang natur rusak yang egois dan tercela dalam diriku dan aku tetap saja tak bisa menahan diri untuk tidak memperlihatkan kerusakan.

Pada akhir Oktober, Zhao Xue kembali mengirimkan sebuah khotbah kepada kami, meminta agar kami memeriksa apakah ada masalah di dalamnya. Aku tahu mereka membutuhkan khotbah ini secepatnya, tetapi kemudian aku melihat bahwa khotbah itu sangat panjang. Akan butuh waktu lama untuk membaca semuanya dan mengirimkan balasan. Aku pun berpikir dalam hati, "Khotbah ini tidak termasuk dalam lingkup tanggung jawabku. Meskipun kami menyuntingnya, kami tidak akan mendapat penghargaan apa pun. Ini benar-benar tugas yang tidak akan diapresiasi!" Jadi aku tidak langsung membalas. Keesokan sorenya, pekerjaanku sedang tidak banyak, jadi Yang Chen mengingatkanku untuk memeriksanya, barulah setelah itu aku membuka surat itu untuk ditinjau. Aku menemukan banyak masalah dalam khotbah itu. Setelah mendiskusikannya dengan Yang Chen, aku pun menulis surat kepada Zhao Xue dan bersekutu dengannya tentang hal-hal tersebut, dan itu cukup memakan waktu. Setelah itu, aku berpikir bahwa menanggapi khotbah seperti ini menyita terlalu banyak waktuku. Jika aku menghabiska waktu serta energiku untuk menindaklanjuti pekerjaan di lingkup tanggung jawabku sendiri, itu akan bermanfaat bagi pekerjaan khotbah kami. Bukan hanya hasil pekerjaan yang akan meningkat, tetapi kami juga bisa dihormati oleh para pemimpin. Namun sekarang, aku harus menghabiskan waktu dan tenaga untuk membimbing pekerjaan orang lain. Sekalipun membuahkan hasil, pekerjaan itu tidak akan dihitung sebagai pencapaian kami, jadi aku berpikir, alangkah baiknya jika aku tidak perlu lagi membimbing pekerjaan Zhao Xue. Namun, Zhao Xue masih belum mampu melakukan pekerjaan itu secara mandiri, jadi tidak mudah bagiku untuk begitu saja menolaknya. Aku tahu bahwa aku masih harus terus membimbing Zhao Xue, tetapi aku selalu merasa tidak bersemangat dan tidak ingin membayar harga ini.

Kemudian, aku membaca firman Tuhan yang menyingkapkan karakter antikristus, lalu aku pun makin memahami masalahku sendiri. Tuhan berfirman: "Antikristus tidak memiliki hati nurani, nalar, ataupun kemanusiaan. Mereka bukan saja tidak tahu malu, tetapi mereka juga memiliki ciri lain: mereka sangat egois dan tercela. Arti harfiah dari 'keegoisan dan kecelaan' mereka tidak sulit untuk dipahami: mereka buta terhadap apa pun kecuali kepentingan mereka sendiri. Apa pun yang menyangkut kepentingan mereka sendiri mendapat perhatian penuh, dan mereka rela menderita karenanya, membayar harga, mengerahkan perhatian ke dalamnya, dan mengabdikan diri mereka untuk hal itu. Apa pun yang tidak berkaitan dengan kepentingan diri mereka sendiri, mereka akan berpura-pura tidak tahu dan tidak memperhatikan; orang lain dapat melakukan apa pun sesuka hati mereka—antikristus tidak peduli jika ada orang yang mengacaukan atau mengganggu, dan bagi mereka, ini tidak ada kaitannya dengan mereka. Bahasa halusnya, mereka tidak pernah ikut campur urusan orang lain. Namun, adalah lebih tepat untuk mengatakan bahwa orang semacam ini keji, hina, dan kotor; kita menggolongkan mereka sebagai 'egois dan tercela'. ... Pekerjaan apa pun yang mereka lakukan, antikristus tidak pernah memikirkan kepentingan rumah Tuhan. Mereka hanya mempertimbangkan apakah kepentingan mereka sendiri akan terpengaruh, hanya memikirkan sedikit pekerjaan di depan mereka yang menguntungkan mereka. Bagi mereka, pekerjaan utama gereja hanyalah sesuatu yang mereka lakukan di waktu luang mereka. Mereka sama sekali tidak menganggapnya serius. Mereka hanya bergerak jika mereka didorong untuk bertindak, hanya melakukan apa yang mereka suka, dan hanya melakukan pekerjaan demi mempertahankan status dan kekuasaan mereka sendiri. Di mata mereka, pekerjaan apa pun yang diatur oleh rumah Tuhan, pekerjaan menyebarkan Injil, dan jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan, semua itu tidak penting. Apa pun kesulitan yang orang lain hadapi dalam pekerjaan mereka, masalah apa pun yang mereka identifikasi dan laporkan kepada mereka, setulus apa pun perkataan mereka, antikristus mengabaikannya, mereka tidak mau terlibat, seolah-olah hal ini tidak ada hubungannya dengan mereka. Sebesar apa pun masalah yang muncul dalam pekerjaan gereja, mereka sama sekali tidak peduli. Sekalipun suatu masalah berada tepat di hadapan mereka, mereka hanya menanganinya dengan asal-asalan. Hanya jika mereka langsung dipangkas oleh Yang di Atas dan diperintahkan untuk menyelesaikan masalah, barulah mereka akan dengan enggan melakukan sedikit pekerjaan nyata dan memberi kepada Yang di Atas sesuatu untuk dilihat; segera setelah itu, mereka akan melanjutkan urusan mereka sendiri. Mengenai pekerjaan gereja dan hal-hal penting dengan konteks yang lebih luas, mereka tidak peduli dan mengabaikan hal-hal ini. Mereka bahkan mengabaikan masalah yang mereka temukan, dan memberikan jawaban yang asal-asalan atau sekadarnya ketika ditanyakan tentang masalah, hanya menanggapinya dengan sangat enggan. Ini adalah perwujudan dari keegoisan dan kecelaan, bukan? Selain itu, apa pun tugas yang para antikristus laksanakan, yang mereka pikirkan hanyalah apakah itu akan memungkinkan mereka untuk menjadi pusat perhatian; selama itu akan meningkatkan reputasinya, mereka memeras otak agar menemukan cara untuk belajar bagaimana melakukannya, bagaimana melaksanakannya; satu-satunya yang mereka pedulikan adalah apakah hal itu akan membuat mereka menonjol atau tidak. Apa pun yang mereka lakukan atau pikirkan, mereka hanya peduli dengan ketenaran, keuntungan, dan status mereka sendiri. Apa pun tugas yang sedang mereka laksanakan, mereka hanya bersaing untuk memperebutkan siapa yang lebih tinggi atau lebih rendah, siapa yang menang dan siapa yang kalah, siapa yang memiliki reputasi lebih besar. Mereka hanya peduli tentang berapa banyak orang yang memuja dan menghormati mereka, berapa banyak orang yang menaati mereka, dan berapa banyak pengikut yang mereka miliki. Mereka tidak pernah mempersekutukan kebenaran atau menyelesaikan masalah nyata. Mereka tidak pernah memikirkan bagaimana melakukan segala sesuatu berdasarkan prinsip ketika melaksanakan tugas mereka, mereka juga tidak merenungkan apakah mereka telah setia, telah memenuhi tanggung jawab mereka, apakah ada penyimpangan atau kelalaian dalam pekerjaan mereka, atau apakah ada masalah, dan terlebih dari itu, mereka tidak memikirkan apa yang Tuhan tuntut, dan apa maksud-maksud Tuhan. Mereka sama sekali tidak memperhatikan semua hal ini. Mereka hanya bekerja keras dan melakukan segala sesuatu demi ketenaran, keuntungan, dan status, untuk memuaskan ambisi dan keinginan mereka sendiri. Ini adalah perwujudan dari keegoisan dan kecelaan, bukan? Ini sepenuhnya menyingkapkan betapa hati mereka dipenuhi dengan ambisi, keinginan, dan tuntutan yang tidak masuk akal; segala sesuatu yang mereka lakukan dikendalikan oleh ambisi dan keinginan mereka. Apa pun yang mereka lakukan, motivasi dan sumbernya adalah ambisi, keinginan, dan tuntutan mereka sendiri yang tidak masuk akal. Inilah perwujudan khas dari keegoisan dan kecelaan" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Lampiran Empat (Bagian Satu)). Dari firman Tuhan, aku melihat bahwa antikristus sangat egois dan tercela, serta hanya melakukan hal-hal yang menguntungkan reputasi dan status mereka sendiri. Mereka menganggap hal-hal yang tidak menguntungkan reputasi dan status pribadi mereka sendiri hanya sebagai tugas sampingan serta tidak mau menderita atau membayar harga untuk hal tersebut, bahkan sampai mengabaikan dan tidak menggubrisnya. Mereka harus melindungi reputasi dan status mereka, sekalipun itu berarti pekerjaan gereja mengalami kerugian. Jalan yang mereka tempuh adalah jalan yang menentang Tuhan. Beginilah tepatnya sikapku terhadap pekerjaan membimbing Zhao Xue. Aku merasa itu tidak termasuk lingkup tanggung jawabku. Aku tahu bahwa membimbing dia dengan baik akan memakan banyak waktu dan tenaga, bahwa meskipun pekerjaannya membuahkan hasil, itu tidak akan dihitung sebagai pencapaianku, dan bahwa aku juga tidak akan mendapat pujian dari siapa pun, jadi aku pun tidak bersedia membayar harga itu. Aku berpikir, daripada melakukan hal itu, lebih baik aku menghabiskan waktu untuk menindaklanjuti pekerjaan yang ada dalam lingkup tanggung jawabku. Dengan demikian, hasil pekerjaan tidak hanya akan makin baik, tetapi aku juga bisa dihormati oleh para pemimpin. Karena itu, aku pun tidak bersemangat ketika harus membimbing Zhao Xue. Bahkan saat menjawab pertanyaannya, aku melakukannya sekadarnya saja dan menunda-nunda. Aku tahu betul bahwa Zhao Xue baru saja mulai melaksanakan tugas sebagai pengawas dan belum terbiasa dengan pekerjaannya serta belum memahami prinsip-prinsip dengan baik, tetapi aku tidak mau membayar harga untuk menolong dan mendukungnya. Aku benar-benar egois dan tercela! Aku hidup menurut racun Iblis seperti "Jangan pernah bangun pagi kecuali ada untungnya" dan "Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya." Setiap kali melakukan sesuatu, aku selalu mempertimbangkan apakah hal itu memberiku manfaat secara pribadi. Aku baru bersedia meluangkan waktu dan membayar harga jika ada sesuatu yang bisa kudapatkan dari hal tersebut. Aku melihat bahwa aku tidak benar-benar melaksanakan tugas dengan baik untuk menyenangkan Tuhan, melainkan bertindak demi reputasi dan statusku sendiri. Di mata Tuhan, aku bukan sedang benar-benar melaksanakan tugasku, melainkan sedang mengurus kepentingan pribadiku serta sedang menempuh jalan antikristus. Pada akhirnya, bukan saja aku tidak akan menerima perkenan Tuhan, tetapi aku juga akan dibenci dan disingkirkan oleh-Nya. Setelah menyadari hal ini, aku ingin segera bertobat kepada Tuhan. Aku tidak lagi mau hidup menurut watak rusakku yang egois dan tercela.

Suatu hari, dalam saat teduhku, aku membaca satu bagian firman Tuhan yang menjelaskan bagaimana cara melaksanakan tugas dengan baik. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Bagaimana seharusnya orang melakukan perbuatan yang adil, dan harus dalam keadaan dan kondisi apa mereka melakukan hal ini, agar dapat dianggap mempersiapkan perbuatan baik? Setidaknya, mereka harus memiliki sikap yang positif dan proaktif, dan, ketika melaksanakan tugas, mereka harus setia, mampu bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, dan melindungi kepentingan rumah Tuhan. Bersikap positif dan proaktif adalah kuncinya; jika engkau selalu pasif, ini bermasalah. Seolah-olah engkau bukanlah anggota rumah Tuhan dan engkau tidak sedang melaksanakan tugasmu, seolah-olah engkau tidak punya pilihan selain melakukannya untuk mendapatkan gaji karena majikan menuntutmu untuk melakukannya—engkau tidak melakukannya dengan sukarela, tetapi dengan sangat pasif. Jika bukan karena hal ini berkaitan dengan kepentinganmu, engkau tidak akan melakukannya sama sekali. Atau jika tak seorang pun memintamu untuk melakukannya, engkau sama sekali tidak akan melakukannya. Oleh karena itu, melakukan segala sesuatu dengan pendekatan seperti ini bukanlah melakukan perbuatan yang baik. Jadi, orang-orang semacam ini sangat bodoh; mereka bersikap pasif dalam segala sesuatu yang mereka lakukan. Mereka tidak melakukan apa yang terpikirkan di benak mereka, juga tidak melakukan apa yang mampu mereka capai dengan waktu dan energi. Mereka hanya menunggu dan mengamati. Ini menyusahkan dan sangat menyedihkan. ... Tuhan telah memberimu kualitas yang memadai dan kondisi yang unggul, yang memungkinkanmu untuk melihat sesuatu dengan jelas dan cakap untuk pekerjaan ini. Namun, engkau tidak memiliki sikap yang benar, engkau tidak memiliki kesetiaan atau ketulusan, serta tidak mau berusaha semaksimal mungkin untuk melakukannya dengan baik. Ini sangat mengecewakan Tuhan. Jadi, jika engkau malas dan selalu merasa bahwa pekerjaan yang ditugaskan kepadamu merepotkan dan tidak ingin melakukannya, dan di dalam hatimu, engkau menggerutu, 'Mengapa aku diminta untuk melakukannya dan bukan orang lain?' maka ini adalah pemikiran yang bodoh. Ketika suatu tugas diberikan kepadamu, itu bukanlah peristiwa yang malang, itu adalah kehormatan, dan engkau seharusnya menerimanya dengan senang hati; engkau tidak akan membuat dirimu sangat kelelahan dengan melaksanakan tugas yang seharusnya kaulaksanakan. Sebaliknya, jika engkau melaksanakan tugasmu dengan baik, memahami kebenaran, dan menyelesaikan masalah, di dalam hatimu, engkau akan merasa damai serta aman dan tenang, dan engkau tidak akan mengecewakan Tuhan. Di hadapan Tuhan, engkau akan memiliki iman dan mampu berperilaku dengan cara yang bermatabat dan berintegritas. Jika engkau tidak melaksanakan tugasmu dengan baik dan selalu bersikap asal-asalan, maka sekalipun engkau tidak menyebabkan kerugian apa pun, pelanggaran ini akan meninggalkan penyesalan seumur hidup di dalam hatimu. Pelanggaran ini akan seperti lubang hitam yang tak berdasar; setiap kali memikirkannya, engkau akan merasa sakit dan gelisah, suatu penderitaan yang menusuk hati. Engkau bukan saja tidak akan memiliki kedamaian atau sukacita, tetapi sebaliknya, rasa sakit karena penyesalan dan siksaan akan menyertaimu seumur hidupmu dan tak pernah dapat dihapuskan. Bukankah ini adalah penyesalan yang kekal? Lalu, bagaimana dari perspektif Tuhan? Tuhan menggunakan prinsip-prinsip kebenaran untuk menggolongkan hal ini, jadi natur dari hal ini jauh lebih serius daripada yang kaurasakan" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (11)"). Dari firman Tuhan, aku menyadari bahwa hanya dengan mengikuti tuntutan Tuhan untuk melaksanakan tugas dengan positif dan proaktif, memedulikan maksud Tuhan, dan menjaga pekerjaan gereja, seseorang baru benar-benar dapat melaksanakan tugasnya dan mempersiapkan perbuatan baik. Jika aku tidak dengan proaktif melakukan apa yang terpikir olehku, atau sekalipun melakukannya tetapi dengan sikap negatif, pasif, dan setengah hati, itu berarti aku tidak memiliki kesetiaan dalam melaksanakan tugas dan ini akan membuat Tuhan benci dan jijik. Aku memikirkan bahwa aku telah menjalani pelatihan sebagai pengawas lebih lama dan telah cukup memahami beberapa prinsip jadi aku bisa melihat beberapa masalah dalam khotbah-khotbah yang dikirimkan Zhao Xue kepadaku. Meskipun ada beberapa masalah yang lebih rumit dan memerlukan waktu lebih banyak, hal-hal itu tetap bisa diperjelas melalui diskusi. Namun, aku menyadari bahwa menangani persoalan-persoalan ini menyita banyak waktuku dan menunda tindak lanjut pekerjaan dalam lingkup tanggung jawabku sendiri. Hal ini menyebabkan kemajuan pekerjaan di gerejaku menjadi lambat. Saat itu aku khawatir jika hal ini terus berlanjut, efektivitas pekerjaan kami akan menurun dan akan memengaruhi reputasi dan statusku. Oleh karena itu, aku tidak bersedia terus membimbing Zhao Xue. Aku melihat bahwa dalam melaksanakan tugasku, aku hanya memikirkan harga diri dan statusku sendiri, tidak mengambil inisiatif dalam membina orang lain, selalu membuat perhitungan demi kepentingan pribadi, serta tidak mempertimbangkan pekerjaan gereja secara keseluruhan ataupun memedulikan maksud Tuhan. Dalam apa yang kulakukan dan bagaimana aku bertindak, aku tidak benar-benar melaksanakan tugasku. Aku sudah cukup lama melaksanakan tugas ini dan telah memperoleh pemahaman tentang keterampilan dan prinsip-prinsip yang diperlukan, maka ketika gereja memercayakan lebih banyak pekerjaan kepadaku, itu menunjukkan bahwa gereja memercayaiku. Namun, aku bersikap egois dan tercela, serta hanya melakukan hal-hal yang menguntungkan reputasi dan statusku. Aku hanya mempertimbangkan kepentingan pribadi dan mengabaikan kesulitan orang lain. Bukankah ini sama seperti yang dilakukan oleh orang tidak percaya? Aku sungguh telah mengecewakan Tuhan!

Kemudian, dari firman Tuhan, aku memahami bahwa ada niat yang tekun ketika Dia meletakkan beban pada orang-orang. Tuhan berfirman: "Makin engkau peduli terhadap maksud Tuhan, makin besar beban yang kautanggung, dan makin besar beban yang kautanggung, makin kaya pula pengalamanmu. Saat engkau peduli terhadap maksud Tuhan, Dia akan memberikan beban kepadamu, kemudian mencerahkanmu tentang tugas-tugas yang telah dipercayakan-Nya kepadamu. Ketika Tuhan memberimu beban ini, engkau akan memperhatikan kebenaran-kebenaran yang terkait dengannya saat makan dan minum firman Tuhan. Jika engkau memiliki beban yang berhubungan dengan keadaan kehidupan saudara-saudarimu, inilah beban yang telah dipercayakan Tuhan kepadamu, dan engkau akan senantiasa memikul beban ini dalam doa harianmu. Hal yang Tuhan lakukan telah dipikulkan kepadamu, dan engkau mau menjalankan apa yang ingin Tuhan lakukan; itulah artinya mengambil beban Tuhan sebagai bebanmu sendiri. Pada titik ini, dalam makan dan minummu akan firman Tuhan, engkau akan berfokus pada jenis persoalan ini, dan engkau akan berpikir: Bagaimana caraku memecahkan masalah ini? Bagaimana aku bisa membantu saudara-saudariku untuk mencapai kelepasan dan menemukan sukacita rohani? Engkau juga akan berfokus pada memecahkan masalah-masalah ini saat menyampaikan persekutuan, dan ketika makan dan minum firman Tuhan, engkau akan berfokus pada makan dan minum firman Tuhan yang berhubungan dengan masalah-masalah ini. Engkau juga memanggul beban ini saat makan dan minum firman-Nya. Begitu engkau memahami tuntutan Tuhan, engkau akan memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang jalan mana yang harus dilalui. Inilah pencerahan dan penerangan Roh Kudus yang didatangkan oleh bebanmu, dan ini juga merupakan bimbingan Tuhan yang telah dianugerahkan kepadamu. Mengapa Aku berkata demikian? Jika engkau tidak memiliki beban, engkau tidak akan memberi perhatian saat makan dan minum firman Tuhan; ketika engkau makan dan minum firman Tuhan saat tengah memikul beban, engkau dapat memahami esensinya, menemukan jalanmu, dan memikirkan maksud Tuhan. Oleh karena itu, engkau harus berdoa agar Tuhan menaruh lebih banyak beban padamu dan memercayakan tugas-tugas yang lebih besar lagi, sehingga di depanmu, engkau akan lebih memiliki jalan untuk penerapan; sehingga makan dan minummu akan firman Tuhan mendatangkan dampak yang lebih besar; sehingga engkau semakin mampu memahami esensi firman-Nya; dan agar engkau lebih mampu digerakkan oleh Roh Kudus" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pikirkan Maksud Tuhan Agar Dapat Mencapai Kesempurnaan"). Setelah membaca firman Tuhan, aku menyadari bahwa beban adalah berkat dari Tuhan. Melalui beban yang Tuhan berikan kepada kita, kita terdorong untuk datang ke hadapan Tuhan dan mencari prinsip-prinsip kebenaran, sehingga kita memperoleh pencerahan dan bimbingan dari Tuhan serta pemahaman yang lebih baik akan kebenaran. Dengan cara inilah kita dapat bertumbuh dengan lebih cepat dalam kehidupan. Para ara pemimpin mengatur agar kami membimbing dan membina Zhao Xue demi menjaga kelancaran pekerjaan gereja secara keseluruhan; hal ini juga membuat kami bisa lebih banyak berlatih. Kesulitan dan persoalan nyata mendorongku untuk mencari prinsip-prinsip kebenaran, sehingga aku bisa memperoleh lebih banyak. Sesungguhnya, beberapa pertanyaan yang diajukan Zhao Xue tidak bisa kujawab dengan jelas dan ini menunjukkan bahwa aku sendiri belum sepenuhnya memahami kebenaran dalam aspek-aspek tersebut. Ketika aku mencari dan berdoa kepada Tuhan dengan rasa memikul beban ini, juga setelah membaca beberapa prinsip kebenaran, aku mampu memahami masalah-masalah itu dengan lebih jelas. Dalam hal membimbing Zhao Xue, meskipun aku meluangkan waktu dan tenaga, selama proses itu, aku lebih sering berdoa kepada Tuhan dan mencari prinsip-prinsip kebenaran. Tanpa disadari, aku memperoleh sesuatu dan juga menebus kekuranganku sendiri. Aku sungguh mengalami bahwa beban sesungguhnya merupakan berkat dari Tuhan. Aku pun menyadari bahwa aku tidak boleh lagi menganggap membina orang lain sebagai beban. Zhao Xue memiliki lingkup tanggung jawab yang luas, jadi jika dia bisa bekerja secara mandiri, hal ini akan menguntungkan pekerjaan gereja. Oleh karena itu, aku harus mengesampingkan kepentingan pribadiku dan bekerja sama dengan Zhao Xue untuk melakukan pekerjaan khotbah dengan baik.

Selanjutnya, aku mulai secara sadar mengesampingkan kepentingan pribadiku, menenangkan hati untuk merenungkan masalah-masalah dalam khotbah, dan berdiskusi dengan Zhao Xue tentang masalah-masalah di dalamnya. Lambat laun, dengan merenungkan dan menanggapi masalah dalam khotbah, aku memperoleh pemahaman yang lebih jelas mengenai prinsip-prinsip dalam mengevaluasi khotbah. Melalui khotbah-khotbah dari orang lain, pemikiranku makin luas. Ini benar-benar merupakan kasih karunia Tuhan! Setelah itu, aku berpikir apakah aku sebaiknya merangkum masalah-masalah yang muncul dalam khotbah-khotbah terakhir untuk Zhao Xue. Dengan begitu, dia dapat menyadari masalah tersebut dan menghindarinya di lain waktu. Hal ini tentu akan lebih bermanfaat untuk meningkatkan kualitas khotbah. Namun, kemudian aku berpikir, "Aku sudah menghabiskan banyak waktu untuk menyampaikan khotbah ini kepadanya. Jika aku juga merangkum pokok bahasannya dan menulis untuk menyampaikan detailnya, itu akan memakan waktu lebih lama lagi. Bukankah ini akan menunda pekerjaanku sendiri? Seharusnya ini sudah cukup bagus!" Aku menyadari bahwa aku sedang bersikap egois dan tercela, serta mencoba mengambil jalan pintas. Aku pun berdoa di dalam hati kepada Tuhan, memberontak terhadap diri sendiri, lalu aku menyampaikan masalah dan penyimpangan yang kami temukan kepada Zhao Xue. Dengan menerapkan hal itu, hatiku merasa sangat damai. Kemudian, selama membimbing Zhao Xue, aku juga meluangkan waktu untuk menindaklanjuti pekerjaan khotbah dalam lingkup tanggung jawabku. Namun, pada bulan November, jumlah khotbah yang diajukan gereja kami bahkan lebih banyak daripada bulan Oktober. Membantu Zhao Xue ternyata tidak menyebabkan efektivitas pekerjaan menurun. Syukur kepada Tuhan atas kasih karunia-Nya!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Tugasmu Bukan Kariermu

Oleh Saudari Kylie, PrancisPada 2020, aku bertanggung jawab atas pekerjaan dua gereja. Terkadang orang perlu dipindahkan dari gereja kami...

Hubungi kami via WhatsApp