Pelajaran yang Kudapatkan dari Mengalihkan Tugas Personel

02 Juni 2026

Oleh Yixin, Tiongkok

Pada bulan Maret 2019, aku sedang melaksanakan tugasku sebagai pengawas pekerjaan tulis-menulis gereja, yang juga melibatkan penyaringan artikel. Saat itu, karena ada beberapa penyesuaian personel, anggota tim berpengalaman yang tersisa hanyalah Chang Li dan Li Lin. Aku berada di satu kelompok dengan Chang Li, sementara Li Lin berada di kelompok lain bersama dua anggota baru di tim itu. Pada bulan Juni, para pemimpin menyurati kami, mengatakan bahwa mereka ingin mempromosikan Chang Li untuk melaksanakan tugas di tim pengoreksi di rumah Tuhan, dan menanyakan apakah dia bersedia. Membaca surat itu, aku tak kuasa menahan rasa gelisah, "Tim ini sudah kekurangan orang, jadi mengapa sekarang mereka memindahkan Chang Li? Dia adalah tulang punggung tim kami. Dia punya kualitas dan pemahaman yang baik tentang prinsip-prinsip. Jika dia pergi, aku harus menanggung beban kerja sendirian. Belum lagi betapa berat dan melelahkannya jika aku tidak bisa memilih artikel yang bagus, bukankah para pemimpin akan mengatakan bahwa kemampuan kerjaku terlalu buruk dan aku tidak cocok melaksanakan tugas sebagai pengawas? Bukankah aku akan benar-benar kehilangan muka?" Meskipun aku tahu mempromosikan Chang Li akan menguntungkan pekerjaan gereja dan aku tidak boleh hanya memikirkan kepentinganku sendiri, aku tetap merasa kesal membayangkan dia pergi, jadi aku ingin menjajaki perasaannya dan mengetahui apa yang dia pikirkan. Chang Li berkata, "Kekuranganku terlalu banyak dan jika pergi aku takut tidak akan bisa mengikuti. Akan sangat memalukan jika aku tidak bisa melaksanakan tugasku dengan baik. Aku masih mampu melaksanakan tugas di sini, jadi aku tidak mau pergi." Mendengar dia mengatakan ini, diam-diam aku merasa senang, dan rasanya seperti beban berat telah terangkat dari pundakku. Meskipun aku juga mencari beberapa firman Tuhan untuk dipersekutukan dengannya, di dalam hatiku, aku sangat berharap dia tidak pergi, karena itu akan membuat pekerjaanku lebih mudah. Tiga hari berlalu, dan Chang Li masih belum membalas surat para pemimpin. Aku mulai tidak sabar, jadi aku menjajakinya lagi, bertanya, "Aku lihat kau masih belum membalas surat para pemimpin. Apa rencanamu?" Dia bilang dia masih belum memutuskan. Lalu aku berkata dengan tidak tulus, "Untuk melaksanakan tugas di tim pengoreksi di rumah Tuhan, kau harus memahami beberapa prinsip dan memiliki keterampilan profesional serta kemampuan kerja tertentu. Jika tidak, kau benar-benar tidak akan bisa melakukannya dengan baik. Namun, kau akan mendapatkan lebih banyak pelatihan, dan keterampilan profesionalmu akan meningkat dengan cepat di sana." Chang Li berkata dia akan mencari lagi. Melihat Chang Li masih belum menyatakan sikap yang jelas, aku terus merasa gelisah, dan berpikir, "Haruskah aku bersekutu dengannya lagi, dan mendorongnya untuk memikirkan maksud Tuhan serta tunduk pada pengaturan gereja?" Namun, aku lalu punya pikiran lain: "Jika dia benar-benar pergi setelah aku bersekutu dengannya, aku harus mengambil alih semua pekerjaan ini. Kinerjaku pasti akan kurang efisien, dan jika hasilnya menurun, apa yang akan para pemimpin pikirkan tentangku?" Setelah memikirkannya berulang kali, akhirnya aku tidak bersekutu dengannya. Meskipun aku merasa sedikit menyesali diri, pikiran tentang semua pekerjaan yang menumpuk di sini membuat jantungku berdebar kencang. Aku sangat takut dia akan setuju untuk pergi melaksanakan tugasnya di tempat lain. "Tidak," pikirku, "Aku harus menyurati para pemimpin dan menjelaskan situasi kami yang sebenarnya agar mereka tetap mempertahankan Chang Li di sini." Namun, kemudian aku berpikir lagi, "Jika aku melakukan itu, bukankah para pemimpin akan mengatakan bahwa aku terlalu egois, bahwa aku tidak memikirkan maksud Tuhan, dan bahwa aku menghalangi rumah Tuhan dalam mempromosikan dan membina orang?" Setelah memikirkannya berulang kali, aku menghapus surat yang mulai kutulis itu. Selama beberapa hari, masalah ini membebani pikiranku. Dua hari lagi berlalu, dan aku memperhatikan bahwa ekspresi Chang Li berbeda dari biasanya. Rautnya tampak santai, dan sepertinya dia sudah mulai menulis balasannya. Begitu Chang Li menyelesaikan balasannya, dengan penuh semangat aku menanyakan apa yang telah dia putuskan. Ketika kudengar dia setuju untuk pergi, aku merasa sedikit kecewa. Dengan kepergiannya, aku akan kehilangan asisten yang cakap, jadi aku benar-benar enggan melepaskannya. Namun, karena keputusan sudah dibuat, aku hanya bisa tunduk. Aku hanya bisa menghibur diri, "Aku hanya perlu mencari orang lain yang tepat dari gereja. Setidaknya Li Lin masih mengemban pekerjaan di kelompok lain. Aku sendiri hanya perlu melakukan lebih banyak. Ini mungkin tidak akan terlalu menghambat kemajuan pekerjaan."

Kemudian, tiga anggota baru dipindahkan ke kelompok kami. Setelah sebulan, ketiga anggota baru itu telah memahami beberapa prinsip. Saat itulah, aku menerima surat dari para pemimpin, yang mengatakan bahwa mereka akan memindahkan pemimpin kelompok, Li Lin, ke tim penulis lagu untuk menjadi pengawasnya. Begitu aku mendengarnya, aku merasa tidak rela. Aku berpikir, "Tim ini sudah kekurangan orang, dan Li Lin punya kualitas yang baik dan membantu dalam berbagi banyak beban kerjaku. Jika dia dipindahkan, aku tidak akan punya waktu untuk seorang diri mengawasi pekerjaan dua kelompok! Jika aku tidak bisa memilih artikel yang memenuhi standar, apa yang akan para pemimpin pikirkan tentangku nanti? Bukankah mereka akan mengatakan aku tidak punya kemampuan kerja? Jika pekerjaan tidak membuahkan hasil dan aku diberhentikan, bukankah aku akan benar-benar kehilangan muka? Tidak, kali ini aku harus menyurati para pemimpin. Aku harus mempertahankan Li Lin di sini bagaimanapun caranya. Aku tidak bisa membiarkannya pergi." Jadi aku menyurati para pemimpin, mengatakan, "Anggota baru masih perlu dibina. Bisakah kita menunggu sampai mereka benar-benar mahir sebelum memindahkan Li Lin?" Kenyataannya, dua orang di kelompok Li Lin sudah dibina selama tiga atau empat bulan dan bisa menangani sebagian pekerjaan. Namun, demi mempertahankan hasil yang stabil, aku tetap ingin mempertahankan Li Lin. Dengan begitu, aku tidak akan terlalu repot, dan jika hasil pekerjaan meningkat, aku bahkan bisa dikagumi para pemimpin. Namun, para pemimpin mengatakan bahwa pekerjaan tim penulis lagu sudah terpengaruh karena tidak adanya pengawas, dan memintaku untuk lebih mengandalkan Tuhan dan mengemban tugas itu. Setelah membaca surat itu, aku tidak bisa tenang sama sekali. Aku berpikir dalam hati, "Para pemimpin ini! Mereka semua tahu situasi sebenarnya di tim kami, tetapi tetap memindahkan satu demi satu orang. Bukankah tim kami akan berantakan? Aku akan bertanggung jawab atas pekerjaan dua kelompok. Bukan hanya beban kerjanya bertambah, hasilnya pun pasti akan menurun." Selama hari-hari itu, aku kehilangan motivasi dalam tugasku dan merasa kehilangan arah dalam melakukan apa pun. Aku bahkan tidak tahu harus berkata apa kepada Tuhan dalam doaku, dan aku tidak bisa meresapi firman Tuhan saat membacanya. Pada malam hari, aku hanya berguling-guling dan tidak bisa tidur, benakku dipenuhi pikiran, "Bagaimana bisa aku membina anggota baru dari dua kelompok seorang diri? Tugas ini terlalu berat!" Dalam kepedihanku, aku berdoa kepada Tuhan, "Oh Tuhan, sejak Chang Li dan kemudian Li Lin dipindahkan, aku khawatir anggota baru tidak memahami prinsip-prinsip dan tidak akan bisa memilih artikel yang memenuhi standar, dan jika pekerjaan tidak membuahkan hasil, aku akan dipandang rendah oleh para pemimpin. Aku tahu bahwa para pemimpin mengalihkan tugas personel berdasarkan kebutuhan pekerjaan, tetapi hatiku tidak bisa tunduk. Kiranya Engkau menuntunku untuk mengenal diriku sendiri dan memahami maksud-Mu."

Selama saat teduhku, aku membaca satu bagian dari firman Tuhan dan merasakan penyesalan mendalam. Tuhan berfirman: "Di rumah Tuhan, semua orang yang mengejar kebenaran bersatu di hadapan Tuhan, tidak terpecah belah. Mereka semua bekerja untuk mencapai tujuan yang sama: melaksanakan tugas mereka dengan baik, melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab mereka dengan baik, bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, melakukan apa yang Tuhan tuntut, dan memenuhi maksud-Nya. Jika tujuanmu bukan demi hal ini, melainkan demi dirimu sendiri, demi memuaskan hasrat egoismu, maka itu adalah perwujudan watak rusak Iblis. Di rumah Tuhan, tugas dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, sedangkan tindakan orang tidak percaya dikendalikan oleh watak Iblis dalam diri mereka. Ini adalah dua jalan yang sangat berbeda. Orang-orang tidak percaya memendam rancangan mereka sendiri, setiap orang memiliki tujuan dan rencananya masing-masing, dan setiap orang hidup demi kepentingannya sendiri. Itulah sebabnya mereka semua berjuang untuk memperoleh setiap keuntungan yang diperoleh dan tidak mau menyerah bahkan sedikit pun. Mereka terpecah belah, tidak bersatu, karena mereka tidak memiliki tujuan yang sama. Niat dan natur di balik apa yang mereka lakukan adalah sama. Mereka semua bertindak demi diri sendiri. Kebenaran tidak berkuasa dalam hal ini; apa yang berkuasa dan memegang kendali dalam semua ini adalah watak rusak Iblis mereka. Mereka dikendalikan oleh watak rusak Iblis mereka dan tidak mampu mengendalikan diri mereka sendiri, sehingga mereka jatuh makin dalam ke dalam dosa. Di rumah Tuhan, jika dorongan, motivasi, prinsip, dan metode dari tindakan engkau semua tidak ada bedanya dengan tindakan orang tidak percaya, jika engkau juga dimanipulasi, dikendalikan, dan didominasi oleh watak rusak Iblismu, dan jika dorongan dari tindakanmu adalah kepentingan, reputasi, harga diri, dan statusmu sendiri, maka cara engkau semua melaksanakan tugas tidak akan ada bedanya dengan cara orang tidak percaya melakukan segala sesuatu" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Setelah membaca firman Tuhan, aku merenungkan diriku sendiri. Ketika para pemimpin menyurati bahwa mereka ingin memindahkan Chang Li, aku khawatir jika dia pergi, penurunan hasil pekerjaan kami akan memengaruhi citraku di mata para pemimpin, jadi aku tidak ingin melepaskannya. Saat mendengar Chang Li berkata dia tidak mau pergi untuk melatih diri di tim pengoreksi di rumah Tuhan, diam-diam aku merasa senang. Dari luarnya, aku mempersekutukan maksud Tuhan dengannya, tetapi kenyataannya, aku mencoba menjajaki pikirannya, berharap dia akan tetap tinggal dan membina anggota kelompok yang baru serta menjalankan pekerjaan itu, demi memuaskan keinginanku akan status dan reputasi. Ketika melihat dia masih belum menyatakan sikapnya dengan jelas, aku bukan saja tidak mempersekutukan maksud Tuhan, melainkan malah sangat berharap dia tidak akan pergi. Aku bahkan berpikir untuk menulis surat kepada para pemimpin guna menekankan kesulitan tim, agar dia tetap di sini. Setelah Chang Li dipindahkan, kupikir Li Lin bisa membina anggota kelompok yang baru dan pekerjaan tidak akan terlalu terpengaruh. Namun tanpa diduga, para pemimpin kemudian ingin memindahkan Li Lin juga. Hatiku tiba-tiba dipenuhi dengan keluhan dan penentangan, dan aku tidak bisa tunduk. Aku merasa para pemimpin tidak mempertimbangkan kesulitan kami yang sebenarnya, dan aku bahkan menulis surat kepada para pemimpin untuk meminta mereka agar tidak memindahkan Li Lin, karena khawatir menurunnya hasil pekerjaan akan membuatku kehilangan citra baik di mata para pemimpin. Aku terus-menerus memikirkan kepentinganku sendiri dan bukan pekerjaan gereja. Aku begitu egois dan tercela! Para pemimpin sudah menjelaskan bahwa pekerjaan tim penulis lagu telah tertunda karena mereka tidak punya pengawas, dan bahwa mereka memindahkan Li Lin demi pekerjaan gereja. Namun, demi melindungi reputasi dan statusku sendiri, aku tidak ingin melepaskan Li Lin, bahkan saat melihat pekerjaan gereja terganggu. Aku sama sekali tidak punya kemanusiaan yang normal! Orang tidak percaya berkelahi dan memperebutkan setiap hal kecil demi kepentingan pribadi; agar pekerjaan artikel yang aku awasi menjadi efektif, aku mengabaikan pekerjaan tim lain dan mencoba mempertahankan Li Lin demi harga diri dan statusku sendiri. Tindakanku tidak ada bedanya dengan orang tidak percaya. Aku benar-benar sangat egois dan tercela! Memikirkan hal ini, aku merasa sangat menyesal dan berdoa kepada Tuhan, bersedia untuk bertobat.

Pada bulan September 2021, karena kebutuhan pekerjaan, dibentuklah sebuah tim khotbah baru di gereja. Aku bertanggung jawab atas artikel kesaksian pengalaman hidup, sementara saudara yang bekerja sama denganku bertanggung jawab atas pekerjaan khotbah. Para pemimpin menyurati kami, meminta kami untuk memperluas cakupan kami guna menyaring orang-orang yang bisa menulis khotbah, dan juga untuk melakukan penyesuaian penugasan tugas yang wajar berdasarkan kekuatan dan hasil setiap orang di tim pengoreksi. Setelah penyesuaian personel tersebut, jumlah orang yang menulis khotbah menjadi lebih sedikit, yang menghambat kemajuan pekerjaan. Saudara yang bekerja sama denganku kemudian mendiskusikan tentang memindahkan Saudari Zhou Li dari wilayah tanggung jawabku ke tim khotbah. Begitu mendengarnya, aku merasa tidak rela. Aku berpikir, "Zhou Li punya kualitas baik, telah memahami beberapa prinsip, dan membuahkan hasil dalam memilih artikel. Jika dia dipindahkan, bukankah hasil pekerjaan akan menurun?" Setelah mempertimbangkan hal ini, aku menolak. Apa pun yang dikatakan saudara itu, aku tidak akan menyetujui pemindahan Zhou Li. Sebenarnya, dalam hati, aku tahu jelas di bahwa Zhou Li bukan saja telah memahami prinsip-prinsip memilih artikel, tetapi dia juga memiliki wawasan dan cocok untuk menulis khotbah. Sekarang, lebih banyak orang dibutuhkan untuk menulis khotbah guna memberitakan Injil dan bersaksi tentang Tuhan, jadi memindahkannya akan bermanfaat bagi pekerjaan. Bukankah dengan mempertahankannya, berarti aku terlalu egois? Memikirkan hal ini, aku merasa sedikit menyalahkan diri sendiri. Namun, kemudian aku berpikir bahwa jika dia dipindahkan, pekerjaan artikel akan terpengaruh, dan jika hasil pekerjaan menurun, para pemimpin pasti akan mengatakan bahwa hasil sebelumnya dicapai karena kerja sama saudara di tim tersebut. Bukankah itu membuatku tampak tidak berguna? Aku berada dalam dilema dan tidak tahu harus berbuat apa, dan aku kehilangan motivasi dalam tugasku. Aku menyadari keadaanku tidak benar, jadi aku berdoa dan mencari: "Mengapa setiap kali seseorang dengan kualitas yang baik dipindahkan dariku, aku merasa menentang, tidak mampu tunduk, dan bahkan kehilangan motivasi dalam tugasku?" Kemudian, aku membaca firman Tuhan: "Jika seseorang berkualitas baik yang berada di bawah kepemimpinan antikristus dipindahkan untuk melakukan tugas lain, antikristus dengan keras hati menentang dan menolak di dalam hatinya, ingin berhenti melaksanakan tugas, dan tidak lagi memiliki semangat untuk menjadi pemimpin atau ketua tim. Masalah apakah ini? Mengapa mereka tidak memiliki ketaatan terhadap pengaturan gereja? Mereka menganggap pemindahan 'tangan kanan' mereka akan berdampak pada hasil dan kemajuan pekerjaan mereka, dan sebagai akibatnya status dan reputasi mereka akan terpengaruh, yang akan memaksa mereka untuk bekerja lebih keras dan lebih menderita untuk menjamin hasilnya—yang merupakan hal yang paling tidak mereka inginkan. Mereka telah terbiasa dengan kenyamanan, dan tidak ingin bekerja sedikit lebih banyak atau sedikit lebih menderita, jadi mereka tidak mau mengizinkan orang itu pergi. Jika bagaimanapun juga rumah Tuhan tetap memindahkan orang itu, mereka banyak mengeluh dan bahkan ingin melepaskan pekerjaan mereka. Bukankah ini egois dan tercela? Umat pilihan Tuhan harus dialokasikan secara terpusat oleh rumah Tuhan. Ini tidak ada kaitannya dengan pemimpin, ketua tim, atau individu mana pun. Semua orang harus bertindak berdasarkan prinsip; ini adalah aturan rumah Tuhan. Antikristus tidak bertindak berdasarkan prinsip-prinsip rumah Tuhan; mereka selalu bersiasat demi status dan kepentingan mereka sendiri, berharap memanfaatkan saudara-saudari yang berkualitas baik untuk melayani mereka agar memperkuat kekuasaan dan status mereka. Bukankah ini egois dan tercela? Di luarnya, mempertahankan orang-orang yang berkualitas baik di sisi mereka dan tidak membiarkan orang-orang itu dipindahkan oleh rumah Tuhan terlihat seolah-olah mereka memikirkan pekerjaan gereja, padahal sebenarnya mereka hanya memikirkan kekuasaan dan status mereka sendiri, dan sama sekali tidak memikirkan pekerjaan gereja. Mereka takut mereka akan melaksanakan pekerjaan gereja dengan buruk dan karenanya diberhentikan, yang akan membuat mereka kehilangan status mereka. Antikristus tidak memikirkan pekerjaan rumah Tuhan secara keseluruhan, hanya memikirkan status mereka sendiri, melindungi status mereka sendiri dengan tidak segan-segan mengorbankan kepentingan rumah Tuhan, dan mempertahankan status dan kepentingan mereka sendiri dengan merugikan pekerjaan gereja. Ini egois dan tercela. ... Orang-orang seperti inilah para antikristus itu. Mereka selalu memperlakukan pekerjaan gereja, saudara-saudari, dan bahkan semua harta benda rumah Tuhan yang berada dalam lingkup tanggung jawab mereka, sebagai milik pribadi mereka sendiri. Mereka yakin bahwa terserah mereka bagaimana hal-hal ini didistribusikan, dipindahkan, dan digunakan, dan bahwa rumah Tuhan tidak boleh ikut campur. Begitu semua itu berada di tangan mereka, seolah-olah telah dikuasai Iblis, tak seorang pun yang boleh menyentuh mereka. Merekalah preman lokal, pemimpin bandit, dan siapa pun yang masuk ke wilayah mereka harus menaati perintah dan pengaturan mereka dengan berperilaku baik dan patuh, serta memperhatikan apa yang mereka inginkan dari ekspresi wajah mereka. Ini adalah perwujudan keegoisan dan kecelaan dalam karakter antikristus. Mereka sama sekali tidak memikirkan pekerjaan rumah Tuhan, mereka tidak mengikuti prinsip sedikit pun, dan hanya memikirkan kepentingan dan status mereka sendiri—dan semua ini adalah ciri khas keegoisan dan kecelaan antikristus" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Lampiran Empat (Bagian Satu)). Dari firman Tuhan, aku melihat bahwa natur para antikristus itu sangat egois dan tercela. Saat melaksanakan tugas, mereka sama sekali tidak memikirkan maksud Tuhan. Apa pun yang mereka lakukan, mereka hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri. Demi melindungi reputasi dan status mereka sendiri, mereka mengendalikan dengan ketat orang-orang yang punya kualitas baik, tidak membiarkan mereka dialihtugaskan oleh rumah Tuhan. Bukankah perwujudanku sama seperti seorang antikristus? Saat Chang Li dipindahkan, aku sangat tidak rela karena takut penurunan hasil pekerjaan akan memengaruhi reputasi dan statusku. Saat mendengar para pemimpin ingin memindahkan asistenku yang cakap, Li Lin, hatiku lebih menentang lagi. Aku bahkan menulis surat kepada para pemimpin karena watak rusakku, berusaha mencegah mereka memindahkan Li Lin. Melihat keinginanku tidak terpenuhi, aku menjadi negatif dan bermalas-malasan dalam tugasku. Setelah tim khotbah dibentuk, saudara yang bekerja sama denganku menyampaikan bahwa Zhou Li memiliki wawasan dan cocok untuk menulis khotbah. Aku juga tahu bahwa memindahkannya akan bermanfaat bagi pekerjaan khotbah, tetapi demi melindungi reputasi dan statusku sendiri, aku menolak melepaskannya, meskipun rekanku sudah mendiskusikannya berkali-kali, yang akhirnya menghambat kemajuan pekerjaan khotbah. Aku selalu ingin mempertahankan anggota tim yang punya kualitas baik di sisiku untuk kepentinganku sendiri. Bukankah aku memperlakukan saudara-saudariku sebagai alat untuk mengejar reputasi dan status? Aku jelas tahu bahwa pekerjaan tim lain sudah terpengaruh dan mereka lebih membutuhkan orang daripada tim kami, tetapi aku tetap menolak melepaskannya. Aku lebih suka melihat pekerjaan gereja terganggu daripada berhenti melindungi kepentinganku sendiri. Aku benar-benar sangat egois dan tercela! Bukankah natur tindakanku sama dengan natur para orang penting dan bos besar yang Tuhan singkapkan? Aku tidak membiarkan siapa pun memindahkan orang-orang yang bermanfaat bagi reputasi dan statusku, dan aku selalu ingin mengendalikan mereka dengan ketat. Aku sedang menempuh jalan antikristus. Jika terus begini, aku pasti akan dibenci dan ditolak serta disingkirkan oleh Tuhan.

Belakangan, aku membaca lebih banyak firman Tuhan dan makin memahami seriusnya natur tindakanku. Tuhan berfirman: "Standar apa yang digunakan untuk menilai apakah tindakan dan perbuatan seseorang itu baik atau jahat? Lihatlah apakah mereka, dalam pemikiran, penyingkapan, dan tindakan mereka, memiliki kesaksian dalam hal menerapkan kebenaran dan menghidupi kenyataan kebenaran atau tidak. Jika engkau tidak memiliki kenyataan ini atau tidak hidup di dalamnya, maka tidak diragukan lagi, engkau adalah seorang pelaku kejahatan. Bagaimana Tuhan memandang pelaku kejahatan? Bagi Tuhan, pemikiran dan tindakan lahiriahmu tidak memberi kesaksian bagi-Nya, juga tidak mempermalukan atau mengalahkan Iblis; sebaliknya, pemikiran dan tindakan lahiriahmu membawa penghinaan terhadap Dia, dan penuh dengan tanda-tanda yang membawa cela bagi-Nya. Engkau tidak sedang bersaksi tentang Tuhan, engkau tidak sedang mengorbankan dirimu untuk Tuhan, engkau juga tidak sedang memenuhi tanggung jawab dan kewajibanmu demi Tuhan; sebaliknya, engkau sedang bertindak demi dirimu sendiri. Apakah sebenarnya arti 'demi dirimu sendiri'? Tepatnya, itu berarti demi Iblis. Karena itu, pada akhirnya, Tuhan akan berkata, 'Pergilah daripada-Ku, engkau yang melakukan kejahatan.' Di mata Tuhan, tindakanmu tidak akan dianggap perbuatan baik, tetapi akan dianggap perbuatan jahat. Tindakan-tindakan itu bukan saja gagal mendapatkan perkenan Tuhan, tindakan itu akan dikutuk. Apa yang orang harapkan untuk diperoleh dari kepercayaan seperti itu kepada Tuhan? Bukankah kepercayaan seperti itu pada akhirnya akan sia-sia?" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Kebebasan dan Kelepasan Hanya Dapat Diperoleh dengan Menyingkirkan Watak yang Rusak"). Dari firman Tuhan, aku mengerti bahwa Tuhan mengukur tindakan seseorang itu baik atau jahat berdasarkan niat atau titik awalnya—apakah mereka memelihara kepentingan rumah Tuhan atau kepentingan pribadi mereka sendiri. Ketika membandingkan diriku dengan firman Tuhan, aku merenungkan bahwa dalam pengalihan tugas personel ini, aku tidak memikirkan bagaimana memuaskan Tuhan, tetapi senantiasa memikirkan reputasi dan statusku sendiri. Demi melindungi reputasi dan statusku, aku mencoba mencegah para pemimpin memindahkan saudari-saudariku. Bahkan saat aku menyalahkan diri sendiri, aku tetap bersikeras mencoba mempertahankan mereka. Saat keinginanku tidak terpenuhi, aku menjadi negatif dan kehilangan motivasi dalam tugasku. Dalam pikiran dan perwujudanku, aku tidak menerapkan kebenaran untuk memuaskan Tuhan; ini adalah kejahatan di mata Tuhan dan mendatangkan rasa muak serta benci bagi-Nya. Aku teringat saat Tuhan Yesus bekerja. Para imam kepala dan orang Farisi di Yudaisme tidak menerima pekerjaan Tuhan Yesus, bahkan menentang dan mengutuk-Nya. Demi melindungi status dan penghidupan mereka sendiri, mereka mengendalikan para orang percaya dengan ketat, dan bahkan dengan tidak tahu malu mengatakan bahwa orang-orang percaya itu milik mereka. Para pendeta dan penatua di dunia agamawi di masa ini juga sama. Demi melindungi status mereka sendiri, mereka mencegah orang-orang percaya menyelidiki jalan yang benar, mengklaim domba-domba Tuhan sebagai milik mereka sendiri, menentang Tuhan, dan bersaing dengan-Nya untuk mendapatkan orang. Mereka telah menjadi hamba yang jahat dan antikristus yang diungkapkan oleh Tuhan. Apa bedanya natur tindakanku dengan para orang Farisi atau pendeta serta penatua di dunia agamawi? Demi melindungi reputasi dan status pribadiku, aku menghalangi pemindahan orang yang berbakat, sehingga menghambat kemajuan pekerjaan khotbah. Ini adalah pelanggaran terhadap watak Tuhan! Menyadari hal ini, aku merasa ngeri. Jika aku tidak bertobat, kesudahanku akan sama dengan kesudahan orang Farisi serta para pendeta dan penatua di dunia agamawi—aku pasti akan dikutuk dan dihukum oleh Tuhan. Setelah menyadari seriusnya masalah ini, aku ingin menyelesaikan masalahku.

Belakangan, aku membaca dua bagian dari firman Tuhan dan menemukan jalan penerapan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Jika engkau selalu hanya melakukan sesuatu supaya dilihat orang lain, dan selalu ingin mendapatkan pujian dan kekaguman orang lain, dan engkau tidak mau menerima pemeriksaan Tuhan, apakah Tuhan masih ada di dalam hatimu? Orang-orang semacam itu tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan. Jangan selalu melakukan segala sesuatu demi dirimu sendiri dan jangan selalu memikirkan kepentinganmu sendiri; jangan memikirkan harga diri, reputasi, dan statusmu sendiri, dan jangan memikirkan kepentingan pribadimu. Engkau terutama harus memikirkan kepentingan rumah Tuhan, dan menjadikannya prioritasmu. Engkau harus memperhatikan maksud-maksud Tuhan dan terutama merenungkan apakah ada ketidakmurnian dalam pelaksanaan tugasmu, apakah engkau selama ini sepenuh hati, memenuhi tanggung jawabmu, dan mengerahkan segenap kemampuanmu atau tidak, dan apakah engkau selama ini memikirkan tugasmu dan pekerjaan gereja dengan segenap hatimu atau tidak. Engkau harus memikirkan hal-hal ini. Jika engkau sering memikirkannya dan bisa memahaminya dengan jelas, akan menjadi lebih mudah bagimu untuk melaksanakan tugasmu dengan baik. Satu-satunya pengecualian adalah jika kualitasmu buruk, atau pengalamanmu dangkal, atau engkau tidak cukup ahli dalam pekerjaan profesionalmu, dan ini menyebabkan munculnya beberapa kesalahan atau kekurangan dalam pekerjaanmu, serta menghalangimu sehingga engkau tidak memperoleh hasil yang baik, tetapi engkau sudah berusaha sebaik mungkin. Engkau tidak bertindak untuk memenuhi keinginan egoismu maupun preferensimu sendiri. Sebaliknya, dalam segala hal engkau memikirkan pekerjaan gereja dan kepentingan rumah Tuhan. Meskipun engkau mungkin tidak memperoleh hasil yang baik dalam tugasmu, hatimu telah diluruskan; jika, selain itu, engkau juga mampu mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam tugasmu, engkau akan memenuhi standar dalam pelaksanaan tugasmu, dan pada saat yang sama, engkau akan masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Itu berarti, engkau akan memiliki kesaksian" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Kebebasan dan Kelepasan Hanya Dapat Diperoleh dengan Menyingkirkan Watak yang Rusak"). "Bagi semua orang yang melaksanakan tugas, sedalam atau sedangkal apa pun pemahaman mereka tentang kebenaran, penerapan paling sederhana untuk masuk ke dalam kenyataan kebenaran adalah memikirkan kepentingan rumah Tuhan di setiap kesempatan, melepaskan keinginan egois, niat pribadi, motif, harga diri, dan status mereka, serta mengutamakan kepentingan rumah Tuhan—inilah setidaknya yang harus mereka lakukan. Jika orang yang melaksanakan tugas bahkan tak mampu melakukan hal ini, lalu bagaimana bisa dikatakan bahwa mereka sedang melaksanakan tugas? Itu bukanlah melaksanakan tugas. Engkau harus terlebih dahulu memikirkan kepentingan rumah Tuhan, memikirkan maksud-maksud Tuhan, dan mempertimbangkan pekerjaan gereja. Menempatkan hal-hal ini sebagai yang pertama dan terutama; baru setelah itulah engkau dapat memikirkan tentang stabilitas statusmu atau tentang bagaimana orang lain memandangmu. Bagilah itu menjadi dua langkah, dengan sedikit berkompromi—bukankah engkau semua merasa ini membuat segalanya sedikit lebih mudah? Jika engkau menerapkan seperti ini selama beberapa waktu, engkau akan merasa bahwa memuaskan Tuhan bukanlah hal yang sulit. Terlebih lagi, jika engkau mampu memenuhi tanggung jawabmu, melaksanakan kewajiban dan tugasmu, mengesampingkan keinginan egois, niat, dan motifmu, memikirkan maksud-maksud Tuhan, dan mengutamakan kepentingan rumah Tuhan, pekerjaan gereja, dan tugas yang seharusnya kaulaksanakan, maka, setelah mengalami seperti ini selama beberapa waktu, engkau akan merasa bahwa cara berperilaku seperti ini baik, bahwa orang harus hidup secara jujur dan terang-terangan, dan bahwa mereka tidak seharusnya menjalani kehidupan yang pengecut, bejat, dan hina, melainkan mereka harus lurus dan adil. Engkau akan merasa bahwa inilah gambar yang seharusnya orang hidupi. Lambat laun, keinginanmu untuk memuaskan kepentinganmu sendiri akan berkurang" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Kebebasan dan Kelepasan Hanya Dapat Diperoleh dengan Menyingkirkan Watak yang Rusak"). Dari firman Tuhan, aku mulai memahami maksud dan tuntutan Tuhan. Apa pun yang kulakukan, aku harus meluruskan niatku dan menerima pemeriksaan Tuhan, tidak memikirkan gengsi atau statusku sendiri, mengutamakan kepentingan rumah Tuhan, serta melaksanakan tugas dan tanggung jawabku dengan baik. Terutama karena aku adalah seorang pengawas, aku seharusnya aktif membina orang-orang yang berbakat, serta mempromosikan dan membina semua saudara-saudari di wilayah tanggung jawabku yang memiliki kelebihan, sehingga mereka bisa menjalankan peran mereka dalam tugas-tugas yang sesuai. Setelah memahami maksud Tuhan, aku bersedia melepaskan kepentinganku sendiri dan menerapkannya sesuai dengan firman Tuhan. Aku harus mengutamakan pekerjaan gereja dan berhenti bersikap begitu egois. Di luar dugaanku, setelah masa pelatihan, ketiga anggota kelompok yang baru mengalami kemajuan pesat dalam memilih artikel dan segera mampu memikul pekerjaan kelompok tersebut.

Pada tahun 2023, aku sedang melaksanakan tugasku sebagai pemimpin gereja, dan Saudari Yixun bertanggung jawab atas pekerjaan penginjilan. Dia terampil dalam memberitakan Injil, memiliki kualitas dan kemampuan kerja yang baik, serta mampu bekerja secara mandiri. Suatu hari di bulan Mei, para pemimpin tingkat atas meminta kami menulis evaluasi tentang Yixun, karena mereka bersiap untuk memindahkannya guna mengawasi pekerjaan penginjilan dengan wilayah tanggung jawab yang lebih luas. Mendengar kabar ini, aku terkejut, dan berpikir, "Pekerjaan penginjilan yang diawasi Yixun belakangan ini baru saja mulai menunjukkan peningkatan. Jika dia dipindahkan, aku harus mencari orang baru. Jika aku tidak bisa menemukan pekerja penginjilan yang tepat dan hasil pekerjaan penginjilan menurun, apa yang akan orang lain pikirkan tentangku?" Aku merasa agak menentang. Baru saja aku hendak mengeluh kepada saudari yang bekerja sama denganku, aku menyadari bahwa keadaanku tidak benar. Mengapa aku memikirkan kepentinganku sendiri lagi? Aku teringat firman Tuhan: "Ketika dibutuhkan oleh pekerjaan rumah Tuhan, siapa pun mereka, setiap orang harus tunduk pada koordinasi dan pengaturan rumah Tuhan, dan sama sekali tidak boleh dikendalikan oleh pemimpin atau pekerja perseorangan seolah-olah orang-orang itu adalah milik mereka atau tunduk pada keputusan mereka. Ketaatan umat pilihan Tuhan pada pengaturan rumah Tuhan yang terpusat adalah hal yang sepenuhnya wajar dan dapat dibenarkan, dan pengaturan ini tidak boleh ditentang oleh siapa pun, kecuali jika seorang pemimpin atau pekerja melakukan pemindahan yang sewenang-wenang, yang tidak sesuai dengan prinsip, maka dalam hal ini, pengaturan ini boleh untuk tidak dipatuhi. Jika pemindahan yang normal dilakukan berdasarkan prinsip, maka semua umat pilihan Tuhan harus menaatinya, dan tidak ada pemimpin atau pekerja yang memiliki hak atau alasan apa pun untuk berusaha mengendalikan siapa pun. Apakah menurutmu ada pekerjaan yang bukan pekerjaan rumah Tuhan? Apakah ada pekerjaan yang tidak melibatkan penyebaran injil Kerajaan Tuhan? Semua itu adalah pekerjaan rumah Tuhan, setiap pekerjaan adalah sama, dan tidak ada 'pekerjaanmu' dan 'pekerjaanku'. Jika pemindahan itu sesuai dengan prinsip dan dilakukan berdasarkan kebutuhan pekerjaan gereja, maka orang-orang ini harus pergi ke tempat di mana mereka paling dibutuhkan" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Lampiran Empat (Bagian Satu)). Dari firman Tuhan, aku mengerti bahwa pengaturan personel harus dilakukan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan rumah Tuhan, dan aku harus menerima serta tunduk pada semua perpindahan personel selama itu masuk akal. Aku tidak berhak menahan orang dan tidak melepaskan mereka. Aku tidak boleh selalu memikirkan kepentinganku sendiri. Ke mana pun saudara-saudariku dipindahkan untuk melaksanakan tugas mereka, itu semua demi menyebarluaskan Injil Kerajaan Tuhan. Membiarkan saudariku pergi ke tempat yang sesuai untuk melaksanakan tugasnya akan memungkinkannya menjalankan fungsinya dengan lebih baik dan akan bermanfaat bagi pekerjaan gereja. Setelah memahami maksud Tuhan, aku mengatur agar saudara-saudariku menulis evaluasi untuk Yixun, dan tak lama kemudian, dia pun dipindahkan. Kemudian, kami memilih pekerja penginjilan yang baru, dan setelah masa pelatihan, mereka juga mengemban pekerjaan tersebut. Pekerjaan penginjilan tidak terpengaruh.

Dahulu, aku selalu percaya bahwa hasil pekerjaan pasti akan menurun jika orang-orang yang berbakat dipindahkan, tetapi sekarang aku melihat bahwa pandangan itu keliru. Hal terpenting dalam melaksanakan tugas adalah apakah hati seseorang itu benar. Jika kau bisa memikirkan maksud Tuhan, melepaskan kepentingan pribadimu, mengutamakan kepentingan rumah Tuhan, dan menerapkannya sesuai dengan firman Tuhan, kau akan melihat kepemimpinan dan berkat Tuhan, dan kau akan melaksanakan tugasmu dengan makin baik. Seperti yang Tuhan katakan: "Segala sesuatu yang sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran membuahkan hasil yang makin positif, sedangkan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran menimbulkan akibat yang makin negatif, sekalipun itu sesuai dengan gagasan orang pada saat itu. Semua orang akan menerima penegasan akan hal ini" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Jalan untuk Membereskan Watak yang Rusak").

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Perenungan Setelah Tersesat

Oleh Saudari Xinzhi, TiongkokSuatu hari pada Agustus 2019, pemimpin mengirimiku surat yang memintaku untuk menjemput seorang saudari dari...

Hubungi kami via WhatsApp