Mengapa Aku Terus Menghindar dari Kesulitan?
Pada bulan Mei 2022, aku dipilih sebagai pemimpin gereja. Aku sangat bersyukur atas kasih karunia dan peninggian Tuhan kepadaku, serta...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Tugasku di gereja adalah membina para pekerja penginjilan untuk memberi kesaksian. Ketika pertama kali memulainya, aku sering berdoa saat menghadapi kesulitan, dan meminta bantuan kepada saudara-saudari yang berpengalaman. Aku juga secara nyata membekali diriku dengan kebenaran dan menonton film serta video Injil. Setelah beberapa waktu, aku memahami beberapa prinsip untuk memberitakan Injil, dan tugasku membuahkan beberapa hasil. Aku berpikir, "Meskipun aku bukan yang terbaik di tim, aku lebih baik daripada kebanyakan orang. Jika aku terus seperti ini, itu sudah cukup baik." Aku hidup dalam keadaan berpuas diri dan terlena. Pengawas berulang kali mengingatkan kami untuk lebih banyak membekali diri dengan kebenaran. Dia berkata bahwa hanya dengan cara itulah kami dapat membereskan gagasan orang-orang agamawi dan jika kami puas dengan situasi saat ini, kami tidak akan dapat mencapai hasil yang baik dalam tugas kami. Dari luar, aku setuju, tetapi dalam hatiku, aku berpikir, "Untuk mendapatkan hasil yang baik dalam tugasku, aku tidak hanya harus membekali diriku dengan lebih banyak kebenaran, tetapi juga menemukan bahan-bahan yang relevan. Untuk gagasan orang-orang agamawi yang tidak dapat kubereskan, aku juga harus menanyakannya kepada orang lain. Aku harus membayar harga yang mahal dan mencurahkan banyak energi mental! Aku sudah mempelajari beberapa prinsip untuk memberitakan Injil dan memperoleh beberapa hasil dalam tugasku. Mempertahankan kondisi seperti ini saja juga tidak apa-apa. Sangat melelahkan jika harus bekerja begitu keras setiap hari! Selain itu, kesehatanku sudah tidak sebaik dulu sejak aku sakit selama pandemi. Bagaimana jika aku kelelahan?" Karena berpikir seperti ini, aku menjadi makin enggan mencurahkan energi mental untuk membekali diriku dengan kebenaran. Suatu kali, aku sedang memeriksa kondisi para pekerja penginjilan dan mendapati mereka belum bersekutu untuk membereskan gagasan seorang calon penerima Injil. Akibatnya, calon penerima Injil itu berhenti menghadiri pertemuan. Belakangan aku mengetahui bahwa hal ini terjadi karena para pekerja tidak tahu cara membereskan gagasan calon penerima Injil tersebut. Aku menyadari bahwa masih ada banyak kekurangan dalam cara mereka memberitakan Injil dan mereka membutuhkan lebih banyak pertemuan serta persekutuan. Namun, kemudian aku berpikir bahwa aku juga memiliki kekurangan dalam bidang ini. Untuk bersekutu dengan mereka, aku perlu bertanya kepada saudara-saudari yang berpengalaman, mencari bahan, dan menonton klip film yang relevan. Itu akan memakan begitu banyak waktu dan tenaga. Betapa melelahkannya itu! Jadi, aku hanya mencari satu klip film yang relevan, mengirimkannya kepada para pekerja penginjilan, dan menyuruh mereka menyelesaikannya sendiri. Aku tahu bahwa hasilnya akan terbatas, tetapi aku tetap menunda penyelesaian masalah itu. Kemudian, beberapa calon penerima Injil lainnya menolak untuk bergabung dengan Gereja karena gagasan yang sejenis. Selama rapat evaluasi pekerjaan, pengawas memangkasku karena melaksanakan tugasku secara mekanis. Dia berkata aku merasa puas selama aku menyibukkan diri, dan aku tidak berusaha untuk mencapai hasil. Singkatnya, aku bersikap asal-asalan dan tidak sepenuh hati dalam melaksanakan tugasku. Mendengar dia mengatakan ini, hatiku tertohok. Wajahku langsung memerah karena malu, dan aku berharap bisa ditelan bumi. Namun, aku tahu memang benar bahwa akhir-akhir ini aku tidak memberikan yang terbaik dalam tugasku dan hasilnya memang menurun. Aku harus menerimanya, dan merenungkan serta mengenal diriku sendiri. Aku teringat akan sebuah lagu pujian firman Tuhan yang kudengar beberapa hari sebelumnya: "Sekalipun engkau tidak menyukai sesuatu, atau jika engkau menderita karenanya, atau jika itu menantang dan menekan martabat dan harga dirimu, selama itu adalah sesuatu yang harus kaualami, sesuatu yang telah Tuhan atur dan tata untukmu, engkau harus tunduk pada hal itu, dan engkau tidak dapat membuat pilihan apa pun" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (2)"). Semua orang, peristiwa, dan hal yang kuhadapi setiap hari atas izin Tuhan. Aku seharusnya menerimanya dari Tuhan dan memetik pelajaran. Jadi aku berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, aku tahu pemangkasan ini tidak terjadi kepadaku secara kebetulan, tetapi aku tidak tahu apa maksud-Mu. Tolong pimpin aku agar aku dapat memetik pelajaranku."
Suatu hari, aku membaca sebuah bagian dari firman Tuhan dan mulai memahami masalahku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Para pemimpin palsu tidak melakukan pekerjaan nyata, tetapi mereka tahu bagaimana bertindak seperti pejabat. Apa hal pertama yang mereka lakukan setelah menjadi pemimpin? Yaitu membeli hati orang. Mereka mengambil pendekatan 'Pejabat baru sangat ingin tampil mengesankan di depan semua orang', yaitu dengan terlebih dahulu melakukan beberapa hal untuk menjilat orang dan menangani beberapa hal yang meningkatkan kesejahteraan sehari-hari semua orang. Mereka terlebih dahulu berusaha agar orang memiliki kesan yang baik tentang mereka, untuk menunjukkan kepada semua orang bahwa mereka sangat memahami dan peduli terhadap keinginan orang banyak, agar semua orang memuji mereka dan berkata, 'Pemimpin ini bertindak seperti orang tua terhadap kami!' Setelah melakukan itu mereka pun secara resmi mengambil alih. Mereka merasa bahwa sekarang mereka mendapat dukungan orang banyak dan bahwa kedudukan mereka telah aman; kemudian mereka mulai menikmati manfaat dari status mereka seakan-akan itu sudah menjadi hak mereka. Moto mereka adalah, 'Hidup hanyalah tentang makan enak dan berpakaian bagus,' 'Hidup ini singkat, jadi nikmatilah selagi bisa,' dan 'Nikmatilah kesenangan sekarang pada hari ini, dan khawatirkan hari esok pada hari selanjutnya.' Mereka menikmati setiap hari yang datang, mereka bersenang-senang selagi mereka bisa, dan mereka tidak memikirkan masa depan, apalagi memikirkan tanggung jawab apa yang seharusnya dipenuhi seorang pemimpin dan tugas apa yang seharusnya mereka lakukan. Mereka mengkhotbahkan beberapa kata dan doktrin dan melakukan sedikit tugas remeh demi penampilan semata-mata sebagai rutinitas—mereka tidak melakukan pekerjaan nyata apa pun. Mereka tidak menyelidiki masalah nyata di gereja dan menyelesaikannya dengan tuntas, jadi apa gunanya mereka melakukan tugas dangkal seperti itu? Bukankah ini menipu? Bisakah tugas penting dipercayakan kepada pemimpin palsu semacam ini? Apakah mereka sesuai dengan prinsip dan persyaratan rumah Tuhan untuk memilih pemimpin dan pekerja? (Tidak.) Orang-orang ini tidak berhati nurani atau tidak bernalar, mereka tidak punya rasa tanggung jawab, tetapi mereka tetap ingin memiliki jabatan resmi sebagai pemimpin gereja, di gereja—mengapa mereka begitu tak tahu malu? Ada orang-orang yang memiliki rasa tanggung jawab, tetapi jika kualitas kemampuan mereka buruk, mereka tidak dapat menjadi pemimpin—apalagi orang tidak berguna yang tidak punya rasa tanggung jawab sama sekali; mereka jauh lebih tidak memenuhi syarat untuk menjadi pemimpin. Seberapa malasnya pemimpin palsu yang rakus dan pemalas itu? Bahkan ketika mereka menemukan masalah, dan mereka sadar bahwa ini adalah masalah, mereka tidak menganggapnya serius dan tidak memedulikannya. Mereka sangat tidak bertanggung jawab! Meskipun mereka orang yang fasih berbicara dan tampak memiliki sedikit kualitas, mereka tidak mampu menyelesaikan berbagai masalah dalam pekerjaan gereja, sehingga menyebabkan pekerjaan gereja menjadi terhenti; masalah makin bertumpuk, tetapi para pemimpin ini tidak memedulikannya, dan bersikeras hanya melakukan tugas-tugas yang bersifat permukaan sebagai rutinitas. Lalu apa hasil akhirnya? Bukankah mereka merusak pekerjaan gereja, bukankah mereka mengacaukannya? Bukankah mereka menyebabkan kekacauan dan kurangnya persatuan di dalam gereja? Ini adalah hasil yang tak terhindarkan" (Firman, Jilid 5, Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja (8)"). Tuhan menyingkapkan bahwa ketika pemimpin palsu pertama kali dipilih, mereka akan melakukan pekerjaan demi pencitraan untuk mendapatkan kekaguman dan merebut hati orang-orang. Begitu mereka mencapai tujuan, mereka mulai menikmati kenyamanan daging, bersikap asal-asalan, dan melaksanakan tugas mereka hanya sebagai formalitas. Bahkan ketika mereka pergi ke pertemuan, mereka hanya mengucapkan beberapa kata dan doktrin tanpa menyelesaikan masalah nyata apa pun. Hal ini menyebabkan pekerjaan gereja menjadi kacau, dan tidak ada satu pun poin pekerjaan yang membuahkan hasil. Tuhan sangat membenci para pemimpin palsu. Aku teringat bagaimana ketika pertama kali memulai tugas ini, aku bersedia menderita dan membayar harga untuk mendapatkan kekaguman semua orang. Namun, setelah beberapa waktu, ketika pekerjaan menunjukkan sedikit peningkatan, aku tidak mau lagi mengerahkan lebih banyak upaya mental atau menanggung lebih banyak kelelahan untuk membekali diriku dengan kebenaran dan mengatasi kesulitan serta masalah yang dihadapi oleh saudara-saudari dalam memberitakan Injil. Sebaliknya, aku melakukan apa pun yang tidak merepotkan. Terkadang, aku hanya mengirimkan klip film yang relevan kepada para pekerja penginjilan dan menyuruh mereka membereskan sendiri gagasan calon penerima Injil. Aku persis seperti pemimpin palsu yang Tuhan katakan, yang hanya melakukan pekerjaan demi pencitraan. Aku hidup menurut racun Iblis seperti "Hidup hanyalah tentang makan enak dan berpakaian bagus", "Nikmatilah kesenangan sekarang pada hari ini, dan khawatirkan hari esok pada hari selanjutnya", dan "Perlakukan dirimu sendiri dengan baik". Aku percaya bahwa dalam hidup, orang seharusnya tahu cara menikmati diri sendiri, hidup untuk hari ini, dan berbahagia untuk saat ini. Aku pikir akan merugikan diriku sendiri jika harus menderita setiap hari, bahwa hidup seperti itu tidak sepadan. Karena dikendalikan oleh pemikiran dan pandangan ini, aku menjadi merosot dan bejat, serta sangat mudah berpuas diri dan terlena. Aku ingin hidup mengandalkan pencapaian masa laluku, sekecil apa pun itu, dan tidak membiarkan dagingku menderita sedikit pun. Aku teringat akan masa-masa sekolahku. Awalnya, aku bersedia membayar sedikit harga untuk masuk ke universitas yang bagus. Namun, begitu nilaiku sedikit membaik, aku merasa puas. Aku tidak mau lagi mencurahkan upaya saat belajar, jadi aku mulai bangun siang dan tidak mengerjakan pekerjaan rumahku dengan serius. Pada akhirnya, aku bahkan tidak masuk ke universitas biasa. Setelah percaya kepada Tuhan, aku masih sama saja. Begitu tugasku menunjukkan hasil, aku berhenti berusaha untuk maju. Aku merasa prinsip-prinsip kebenaran yang kupahami sudah cukup, dan ketika aku punya waktu luang, aku tidak mau belajar lebih banyak. Ketika para pekerja penginjilan menghadapi kesulitan dan masalah yang perlu diselesaikan, aku hanya mencoba menyelesaikannya dengan cepat, dan bersikap asal-asalan kapan pun aku bisa. Aku begitu malas dan licik, hidup tanpa integritas atau martabat sama sekali. Aku hanyalah orang yang tidak berguna! Sekarang, hasil tugasku menurun; ini adalah Tuhan yang menyembunyikan wajah-Nya dariku. Jika aku tidak berbalik, pada akhirnya aku akan disingkapkan dan disingkirkan. Tuhan meninggikanku dengan membiarkanku melaksanakan tugas ini. Maksud-Nya adalah agar aku membekali diriku dengan lebih banyak kebenaran dan membawa lebih banyak orang ke hadapan-Nya. Ini adalah kesempatan bagiku untuk mempersiapkan perbuatan baik dalam tugasku. Namun, aku tidak tahu apa yang baik untukku dan hanya memikirkan dagingku. Aku bahkan tidak memenuhi tanggung jawabku yang paling dasar. Aku hidup dengan begitu menyedihkan! Aku ingin menampar diriku sendiri. Lalu aku berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, aku telah dirusak oleh Iblis begitu dalam. Aku tidak mau lagi hidup menurut pandangan Iblis. Tolong bimbing aku untuk memberontak terhadap dagingku."
Setelah itu, aku mencari bahan-bahan yang relevan dan berdiskusi dengan para pekerja penginjilan tentang cara bersekutu langkah demi langkah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan calon penerima Injil. Pada akhirnya, gagasan mereka terselesaikan, dan mereka menerima pekerjaan Tuhan pada akhir zaman. Dengan bekerja sama seperti ini, aku merasa damai dan tenang di hatiku. Rasanya seperti benar-benar melaksanakan tugasku. Bukan hanya hasil tugasku yang meningkat, tetapi yang lebih penting, dengan benar-benar mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah ini, aku merasakan bimbingan Tuhan. Aku mulai memahami cara bersekutu tentang gagasan-gagasan yang sebelumnya tidak kuketahui cara membereskannya.
Kemudian, aku membaca sebuah bagian lain dari firman Tuhan, dan aku memperoleh pemahaman yang lebih jelas tentang konsekuensi dari tidak berusaha untuk maju dalam tugasku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Tuhan telah memberimu kualitas yang memadai dan kondisi yang unggul, yang memungkinkanmu untuk melihat beberapa hal dengan jelas dan cakap untuk pekerjaan ini. Namun, engkau tidak memiliki sikap yang benar terhadap tugasmu, engkau tidak memiliki ketulusan, apalagi pengabdian, dan engkau tidak mau berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakannya dengan baik. Ini sangat mengecewakan Tuhan. Jadi, jika engkau malas dan selalu merasa bahwa pekerjaan yang ditugaskan kepadamu merepotkan dan tidak ingin melaksanakannya, dan di dalam hatimu, engkau menggerutu, 'Mengapa aku diminta untuk melaksanakannya dan bukan orang lain?' maka ini adalah pemikiran yang bodoh. Ketika suatu tugas diberikan kepadamu, itu bukanlah peristiwa yang malang, itu adalah kehormatan, dan itu adalah peninggian Tuhan. Engkau seharusnya menerimanya dengan gembira dan melaksanakan tugas yang seharusnya kaulaksanakan; itu tidak akan membuatmu kelelahan. Sebaliknya, jika engkau melaksanakan tugasmu dengan baik, memahami kebenaran, dan menyelesaikan masalah, di dalam hatimu, engkau akan merasa damai serta aman dan tenang, dan engkau tidak akan mengecewakan Tuhan. Di hadapan Tuhan, engkau akan memiliki iman dan mampu berperilaku dengan cara yang bermartabat dan berintegritas. Jika engkau tidak melaksanakan tugasmu dengan baik dan selalu bersikap asal-asalan, ini adalah pelanggaran, dan sekalipun engkau tidak menyebabkan kerugian apa pun, pelanggaran ini akan meninggalkan penyesalan seumur hidup di dalam hatimu. Pelanggaran ini akan seperti lubang hitam yang tak berdasar; setiap kali memikirkannya, engkau akan merasa sakit dan gelisah, suatu penderitaan yang menusuk hati. Engkau bukan saja tidak akan memiliki kedamaian atau sukacita, tetapi sebaliknya, rasa sakit karena penyesalan dan siksaan akan menyertaimu seumur hidupmu dan tak pernah dapat dihapuskan. Bukankah ini adalah penyesalan yang kekal? Lalu, bagaimana dari perspektif Tuhan? Tuhan menggunakan prinsip-prinsip kebenaran untuk menggolongkan hal ini, jadi natur dari hal ini jauh lebih serius daripada yang kaurasakan. ... Ada orang-orang yang terlihat tunduk dalam melaksanakan tugas mereka, mengerjakan apa pun yang diatur oleh Yang di Atas. Namun ketika ditanya, 'Apakah kau melaksanakan tugasmu dengan sikap asal-asalan? Apakah kau melaksanakannya berdasarkan prinsip?' mereka tidak dapat memberikan jawaban yang pasti, dan hanya berkata, 'Aku melakukan seperti yang diperintahkan oleh Yang di Atas dan tidak berani bertindak sembarangan dengan berbuat buruk.' Ketika ditanya apakah mereka telah memenuhi tanggung jawabnya, mereka berkata, 'Pokoknya, aku melakukan apa yang seharusnya kulakukan.' Lihat? Mereka selalu memiliki sikap seperti ini ketika melaksanakan tugasnya. Mereka tidak tergesa-gesa, melakukan segala sesuatunya dengan lambat, dan setengah hati. Engkau benar-benar tidak dapat menemukan kesalahan pada diri mereka, tetapi jika engkau mengukur pelaksanaan tugas mereka berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, pelaksanaan tugas mereka tidak efisien dan tidak memenuhi standar. Namun, mereka tidak peduli, mereka terus bertindak seperti sebelumnya, dan mereka tetap tidak berinisiatif melakukan hal-hal yang seharusnya mereka lakukan—mereka tidak berubah sama sekali. Bukankah mereka bersikap keras kepala dengan tidak tahu malu? Mereka selalu mempertahankan sikap ini: 'Engkau mungkin punya seribu rencana cemerlang, tetapi aku punya seperangkat aturanku sendiri. Beginilah aku. Lihat saja apa yang bisa kaulakukan terhadapku! Inilah sikapku!' Mereka belum melakukan apa pun yang sangat licik atau jahat, tetapi perbuatan baik yang mereka lakukan juga tidak banyak. Menurutmu, jalan apa yang sedang mereka tempuh? Apakah sikap seperti ini terhadap kepercayaan kepada Tuhan dan tugas mereka adalah sikap yang baik? (Tidak.) Dalam Alkitab, Tuhan berkata: 'Jadi karena engkau suam-suam kuku dan tidak panas atau dingin, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku' (Wahyu 3:16). Menjadi suam-suam kuku, tidak panas atau dingin—apakah ini sikap yang baik? (Tidak.) Ada orang-orang yang berpikir, 'Jika aku melakukan kejahatan dan menyebabkan kekacauan, aku akan segera dikutuk. Namun, jika aku melakukan segala sesuatu secara positif dan proaktif, aku akan menjadi lelah, dan jika aku melakukan kesalahan ketika melakukan sesuatu, aku mungkin akan dipangkas, atau bahkan mungkin aku akan diberhentikan, dan itu akan sangat memalukan! Jadi, aku tetap bersikap suam-suam kuku, tidak panas atau dingin. Apa pun yang kauminta untuk kulakukan, aku akan melakukannya. Namun, jika kau tidak memintaku untuk melakukan sesuatu, aku tidak akan ikut campur. Dengan demikian, aku tidak akan menjadi lelah, dan terlebih lagi, orang-orang tidak akan dapat menemukan kesalahan pada diriku. Pendekatan ini hebat!' Apakah cara berperilaku seperti ini baik? (Tidak.) Engkau tahu bahwa itu tidak baik, jadi bagaimana seharusnya penerapanmu berubah? Jika engkau tidak pernah berusaha menempuh jalan mengejar kebenaran dan tetap bersikeras hidup berdasarkan falsafah Iblis, dapat dipastikan tidak ada harapan bagimu untuk memperoleh keselamatan" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (11)"). Setelah membaca firman Tuhan, khususnya firman ini, "Jadi karena engkau suam-suam kuku dan tidak panas atau dingin, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku," "dapat dipastikan tidak ada harapan bagimu untuk memperoleh keselamatan," hatiku sakit seolah tertusuk jarum. Aku merasa bahwa watak Tuhan tidak dapat disinggung. Jika kita tidak secara aktif memberikan yang terbaik dalam tugas kita, dan justru selalu menahan diri, tak mau mencurahkan upaya ketika harus membayar harga, dan selalu memikirkan daging kita sendiri, maka kita tidak tulus atau tidak melakukan pekerjaan nyata. Ini hanya akan merugikan pekerjaan dan membuat kita melakukan pelanggaran di hadapan Tuhan. Ini adalah perbuatan jahat! Jika aku tidak bertobat, tidak ada harapan untuk diselamatkan. Memikirkan sikapku terhadap tugasku selama waktu itu membuat hatiku gelisah. Aku selalu takut menderita dan lelah, jadi aku tidak fokus membekali diriku dengan prinsip-prinsip kebenaran. Aku hanya mengandalkan apa yang telah kulakukan sebelumnya, puas dengan hasil apa pun yang kucapai. Meskipun itu mudah bagi dagingku, hasil tugasku menurun. Para pekerja penginjilan yang kubina tidak mengalami kemajuan, dan banyak calon penerima Injil tidak dapat datang ke hadapan Tuhan tepat waktu. Kerusakan yang kutimbulkan pada pekerjaan itu tidak akan pernah bisa kutebus. Setiap kali aku memikirkan hal ini, hatiku sakit. Namun, pelanggaran ini telah terjadi dan tidak dapat diubah kembali. Dulu aku berpikir bahwa selama tugasku membuahkan hasil dan aku tidak menyebabkan kekacauan atau gangguan, aku bisa melaksanakan tugasku tanpa membuat dagingku kelelahan dan tetap mendapatkan berkat pada akhirnya. Aku selama ini mencoba mendapatkan upah besar dengan harga kecil, mengambil jalan pintas. Aku begitu licin dan licik—aku adalah salah satu dari orang-orang keras kepala yang tidak tahu malu yang Tuhan bicarakan. Tuhan memeriksa lubuk hati manusia. Ketika orang tidak memberikan yang terbaik atau tidak tulus dalam tugas mereka, mereka tidak sedang mempersiapkan perbuatan baik, tetapi justru mengumpulkan murka Tuhan dan melakukan perbuatan jahat. Pada akhirnya, mereka hanya akan dibenci dan disingkirkan oleh Tuhan. Aku sangat ketakutan ketika memikirkan hal ini, jadi aku segera berdoa, "Tuhan, aku begitu licin dan licik, dan bersikap sangat asal-asalan dalam tugasku. Aku tidak mau terus seperti ini. Aku bersedia bertobat. Tolong bimbing aku untuk menemukan jalan penerapan."
Kemudian, selama saat teduhku, aku mendengar sebuah lagu pujian firman Tuhan, dan aku mulai memahami nilai dan makna hidup manusia.
Hanya dengan Melaksanakan Tugasmu dengan Baik Engkau dapat Hidup dalam Kehidupan Manusia yang Bernilai
1 Apa nilai hidup seseorang? Di satu sisi, ini adalah tentang melaksanakan tugas makhluk ciptaan dengan baik. Di sisi lain, selama masa hidupmu, engkau harus memenuhi misimu; inilah yang terpenting. Kita tidak akan berbicara tentang menyelesaikan misi, tugas, atau tanggung jawab yang sangat besar, tetapi setidaknya, engkau harus menyelesaikan sesuatu. Mari kita pertimbangkan keadaan di mana orang dihadapkan dengan tugas yang harus mereka lakukan atau yang bersedia mereka lakukan dalam hidup mereka. Setelah menemukan tempatnya, mereka berdiri teguh pada posisinya dan mempertahankan posisinya, mencurahkan hati dan usaha serta seluruh tenaga mereka, dan melakukan dengan baik serta menyelesaikan apa yang harus mereka kerjakan dan selesaikan. Ketika akhirnya mereka berdiri di hadapan Tuhan untuk memberikan pertanggungjawaban, mereka merasa relatif puas, tanpa merasa tertuduh atau tanpa penyesalan di hati mereka. Mereka merasa terhibur dan merasa bahwa mereka telah memperoleh sesuatu, merasa hidup mereka begitu bernilai.
2 Jadi, agar dapat menjalani kehidupan yang bernilai dan pada akhirnya memperoleh hasil seperti ini, layakkah bagi seseorang untuk sedikit menderita secara fisik dan sedikit membayar harga, sekalipun mereka menjadi sakit secara fisik karena kelelahan atau memiliki beberapa masalah kesehatan? Ketika seseorang dilahirkan ke dunia ini, itu bukan untuk kenikmatan daging, juga bukan untuk makan, minum, dan bersenang-senang. Orang seharusnya tidak hidup untuk hal-hal tersebut; itu bukanlah nilai hidup manusia, juga bukan jalan yang benar. Nilai hidup manusia dan jalan yang benar untuk ditempuh terletak pada mencapai sesuatu yang bernilai dan menyelesaikan satu atau beberapa pekerjaan yang bernilai. Ini tidak dapat disebut sebagai karier; ini disebut jalan yang benar, dan ini juga disebut tugas yang semestinya. Katakan kepada-Ku, apakah layak bagi seseorang untuk membayar harga demi menyelesaikan suatu pekerjaan yang bernilai, menjalani kehidupan yang bermakna dan bernilai, serta mengejar dan memperoleh kebenaran?
3 Jika engkau benar-benar ingin mengejar pemahaman tentang kebenaran, menempuh jalan hidup yang benar, melaksanakan tugasmu dengan baik, dan menjalani kehidupan yang bernilai dan bermakna, maka engkau tidak akan ragu untuk memberikan seluruh tenagamu, membayar semua harga, dan memberikan seluruh waktumu dan sepanjang hidupmu. Jika engkau menderita sedikit penyakit selama masa ini, itu bukan apa-apa, itu tidak akan menghancurkanmu. Bukankah ini jauh lebih baik daripada menjalani hidup yang santai, bebas, dan bermalas-malasan seumur hidup, memelihara tubuh jasmani hingga memperoleh nutrisi yang baik dan sehat, dan pada akhirnya memperoleh umur panjang? Manakah di antara kedua pilihan ini yang merupakan kehidupan yang bernilai? Manakah yang dapat memberikan penghiburan dan yang tidak akan membuat orang menyesal saat mereka akhirnya menghadapi kematian? Menjalani kehidupan yang bermakna berarti engkau telah memperoleh kebenaran; di dalam hatimu, engkau akan dihiburkan dan memiliki sukacita.
—Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (6)"
Setelah mendengar lagu pujian itu, aku sangat terharu. Aku memahami bahwa sebagai makhluk ciptaan, hanya dengan melaksanakan tugasku dengan baik, aku dapat menemukan kedamaian dan ketenangan sejati dalam rohku. Itulah satu-satunya cara hidup yang bermakna dan berharga. Menikmati kenyamanan daging terasa menyenangkan pada saat itu, tetapi setelahnya, yang ada hanyalah kehampaan—itu sama sekali tidak ada artinya. Aku teringat bagaimana aku tidak mencurahkan energi mentalku pada tugasku—bagaimana aku takut menderita dan lelah serta tidak mau mencurahkan upaya untuk menyelesaikan masalah. Setelahnya, aku sering merasa gelisah, hati nuraniku menuduhku, dan Roh Kudus menyembunyikan wajah-Nya dariku. Aku tidak dapat merasakan kehadiran Tuhan, dan rohku diselimuti kegelapan dan penderitaan. Tuhan telah meninggikanku dengan memberiku tugas ini. Aku seharusnya mengerahkan segenap kemampuanku untuk mencapai hasil yang baik. Aku teringat akan Nuh yang membangun bahtera. Dia menghadapi banyak kesulitan, dan juga harus menghadapi kesalahpahaman dari keluarganya serta ejekan dan fitnah dari orang lain. Meskipun dagingnya lelah dan letih dan dia merasa lemah dalam hatinya, ketika dia mengingat bahwa ini adalah amanat Tuhan, dia tahu bahwa dia harus bertahan, tidak peduli seberapa menderita atau seberapa sulitnya itu, sehingga dia melakukannya dengan segenap hati dan kekuatannya. Pada akhirnya, dia menyelesaikan bahtera itu, menggenapi amanat Tuhan. Aku tidak bisa membandingkan diriku dengan Nuh, tetapi jika aku bisa mencurahkan segenap kemampuanku untuk membawa kembali domba-domba Tuhan ke rumah-Nya agar mereka dapat menerima keselamatan-Nya, betapa berartinya hal itu!
Kemudian, aku membaca satu bagian lain dari firman Tuhan dan menemukan jalan penerapan. Tuhan berfirman: "Jika engkau benar-benar memiliki tingkat kualitas tertentu, benar-benar menguasai keterampilan profesional dalam lingkup tanggung jawabmu, dan bukan orang yang awam dalam profesimu, maka engkau hanya perlu mematuhi satu frasa, dan kemudian engkau akan mampu setia pada tugasmu. Apakah frasa tersebut? 'Lakukanlah dengan segenap hatimu.' Jika engkau melakukan segala sesuatu dengan segenap hatimu dan memperlakukan orang dengan segenap hatimu, engkau akan mampu setia dan bertanggung jawab dalam tugasmu. Apakah frasa ini mudah diterapkan? Bagaimana caramu menerapkannya? Itu bukan berarti menggunakan telingamu untuk mendengar, atau pikiranmu untuk berpikir; itu berarti menggunakan hatimu. Jika orang benar-benar mampu menggunakan hatinya, ketika matanya melihat seseorang melakukan sesuatu, bertindak dengan cara tertentu, atau memiliki semacam tanggapan terhadap sesuatu, atau ketika telinganya mendengar pendapat atau argumen seseorang, dengan menggunakan hatinya untuk memikirkan dan merenungkan hal-hal ini, beberapa ide, pandangan, dan sikap akan muncul di benaknya. Ide, pandangan, dan sikap ini akan membuatnya memiliki pemahaman yang mendalam, spesifik, dan benar tentang orang atau hal tersebut, dan pada saat yang sama, akan menghasilkan penilaian dan prinsip yang sesuai dan benar. Hanya ketika seseorang memiliki perwujudan seperti ini karena menggunakan hatinya, itu berarti bahwa dia setia terhadap tugasnya" (Firman, Jilid 5, Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja (7)"). Sebenarnya, Tuhan tidak banyak menuntut dari manusia. Yang Dia inginkan adalah hati kita yang tulus. Selama orang melaksanakan tugas dengan sepenuh hati, mereka dapat menemukan masalah yang ada dalam tugas mereka; dengan mencari dan merenungkan masalah-masalah ini, mereka dapat menemukan cara untuk menyelesaikannya, dan hasil pekerjaan mereka secara alami akan meningkat. Namun, jika orang tidak melaksanakan tugas dengan sepenuh hati, mereka bahkan tidak akan menyadari masalah yang ada tepat di depan mata. Bahkan meski mata terbuka, mereka tidak akan melihat apa-apa, dan hasil tugas mereka hanya akan memburuk. Melaksanakan tugas dengan sepenuh hati itu sangat penting! Aku teringat bagaimana aku memiliki begitu banyak kekurangan ketika pertama kali memulai tugas ini. Namun, aku sering berdoa, memasrahkan kesulitanku kepada Tuhan dan mengandalkan-Nya. Melalui bimbingan Tuhan, aku perlahan-lahan memahami beberapa prinsip dalam melaksanakan tugasku, dan pekerjaan itu mulai menunjukkan beberapa hasil. Namun, ketika aku menjadi puas dengan keadaan dan menjadi bersikap asal-asalan, tidak menyelesaikan masalah yang kutemukan, hasil tugasku terus menurun. Pada akhirnya, aku hanya bisa melihat satu per satu calon penerima Injil hilang. Aku menyadari bahwa tidak melaksanakan tugasku dengan sepenuh hati sungguh merugikan orang lain dan diriku sendiri!
Sejak saat itu, aku mulai menuliskan masalah-masalah dalam pekerjaanku satu per satu dan merenungkannya dengan sepenuh hati. Jika itu adalah masalah yang berkaitan dengan sikap seorang pekerja penginjilan terhadap tugasnya, aku mencari firman Tuhan yang relevan untuk dipersekutukan dengannya. Jika itu terkait penyelesaian gagasan seorang calon penerima Injil, aku mencari bahan-bahan yang relevan. Jika ada sesuatu yang tidak kupahami, aku bertanya kepada saudara-saudariku, dan kemudian bersekutu dengan para pekerja penginjilan untuk membahas cara mengatasi gagasan mereka. Dengan menerapkan cara ini, hatiku terasa sangat tenang. Meskipun mengalami pemangkasan ini memang memalukan pada saat itu, hal itu mendorongku untuk datang ke hadapan Tuhan dan merenungkan sikapku terhadap tugasku. Dengan makan dan minum firman Tuhan, aku memperoleh sedikit pemahaman tentang akar dari sikapku yang memanjakan daging, dan aku belajar bahwa hanya dengan melaksanakan tugasku dengan baik, aku dapat menemukan kedamaian dan sukacita sejati. Syukur kepada Tuhan!
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Pada bulan Mei 2022, aku dipilih sebagai pemimpin gereja. Aku sangat bersyukur atas kasih karunia dan peninggian Tuhan kepadaku, serta...
Oleh Saudari Xin Cheng, ItaliaTuhan Yang Mahakuasa berkata: "Melalui proses melakukan tugasnyalah manusia secara berangsur-ansur akan...
Oleh Martha, ItaliaPada bulan Juni 2021, aku bertanggung jawab atas pekerjaan video di gereja, dan karena beban kerja meningkat, gereja...
Oleh Saudari Xun Qiu, KoreaTuhan Yang Mahakuasa berkata: "Pelaksanaan tugas manusia sebenarnya adalah pencapaian dari semua yang melekat di...