Pelajaran Pahit dari Memamerkan Diri
Pada bulan Agustus 2016, aku bertanggung jawab atas pekerjaan penginjilan di gereja. Karena aku kurang berpengalaman dan memiliki pemahaman...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Setelah aku menikah, tugasku menjadi cukup padat, jadi aku berpikir bahwa jika aku hamil dan memiliki anak, aku harus memusatkan hari-hariku pada mereka dan tidak akan punya waktu atau energi untuk melaksanakan tugasku dan berkorban bagi Tuhan, maka aku memutuskan untuk menunda memiliki anak untuk sementara waktu dan memprioritaskan tugasku. Beberapa tahun kemudian, orang tuaku jatuh sakit, dan aku sibuk merawat mereka sampai keduanya meninggal dunia. Setelah kematian mereka, tiba-tiba aku memiliki kekhawatiran yang sebelumnya tidak pernah kumiliki. Aku teringat bagaimana orang tuaku memilikiku untuk merawat mereka saat sakit, tetapi aku bertanya-tanya siapa yang bersedia merawatku di masa tuaku atau ketika aku jatuh sakit jika aku tidak memiliki anak. Namun, pikiran ini hanya muncul sesekali dan tidak benar-benar memengaruhi tugasku, jadi aku tidak begitu memperhatikannya.
Setelah beberapa waktu, tiba-tiba aku mengalami nyeri haid yang sangat parah. Nyerinya begitu parah sampai membuatku muntah. Sekian tahun aku mengalami nyeri haid, tetapi tidak pernah sesakit ini. Aku pergi ke rumah sakit untuk memeriksakannya, dan aku didiagnosis menderita adenomiosis dan miom, dan miom itu sudah tumbuh hingga lima sentimeter. Dokter berkata bahwa kondisi ini sulit diobati, makin lama nyerinya akan makin parah, bahkan bisa menjadi begitu menyakitkan hingga aku ingin mati saja, dan pada akhirnya, rahimku harus diangkat. Ketika dokter mengetahui bahwa aku belum memiliki anak, dia mendesakku untuk segera memilikinya, dan dia berkata bahwa jika setelah itu aku tidak ingin memiliki anak lagi, aku bisa menjalani operasi pengangkatan rahim. Saat itu, aku tidak terlalu memikirkannya, dan aku mengira dokter hanya terlalu serius. Setiba di rumah, aku mencari banyak informasi tentang penyakit ini secara daring, dan merogoh kocek untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis di Beijing. Aku tidak menyangka bahwa ini adalah kondisi yang rumit, dan aku mendapati bahwa penyakit ini memang sulit diobati. Entah aku harus rutin mengonsumsi hormon untuk mengendalikan kondisinya dan mencegahnya cepat memburuk, atau aku harus menjalani operasi pengangkatan rahim. Dalam beberapa hari berikutnya, kondisiku makin memburuk. Aku merasakan ketakutan dan kesedihan yang tidak bisa dijelaskan, aku berpikir dalam hati, "Penyakit ini pasti akan makin parah dan lebih menyakitkan seiring waktu. Jika aku menjalani operasi pengangkatan rahim, aku tidak akan pernah bisa punya anak meskipun usiaku masih di awal tiga puluhan. Namun saat ini, aku masih punya tugas, dan aku sangat sibuk setiap hari. Bagaimana aku bisa menemukan waktu atau tenaga untuk memiliki dan membesarkan anak? Selain itu, Tuhan Yesus berkata: 'Celakalah mereka yang sedang mengandung dan mereka yang sedang menyusui' (Matius 24:19). Pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia hampir selesai, dan malapetaka dahsyat pun telah tiba. Apa yang akan terjadi jika aku merusak kesempatanku untuk mengejar kebenaran dan diselamatkan hanya karena aku punya anak? Namun jika aku tidak punya anak sekarang, setelah rahimku diangkat, aku tidak akan bisa punya anak lagi. Lalu siapa yang akan merawatku saat aku tua nanti?" Aku hidup dalam tekanan dan kecemasan, karena khawatir kondisiku makin memburuk dan harus menjalani pengangkatan rahim. Aku tertekan dan tidak punya semangat melaksanakan tugas-tugasku. Hatiku berada dalam keadaan yang sangat tersiksa. Aku berdoa dan mencari petunjuk dari Tuhan tentang kesulitanku. Bagaimana aku bisa menerapkan perilaku yang sesuai dengan maksud Tuhan?
Kemudian, aku membaca firman Tuhan: "Katakan kepada-Ku, bukankah sudah ditakdirkan kapan seseorang akan menderita suatu penyakit, akan seperti apa kesehatan mereka pada usia tertentu, dan apakah mereka akan menderita penyakit parah atau penyakit serius? Kuberitahukan kepadamu, bahwa hal itu sudah ditentukan. Sekarang, kita tidak akan membahas tentang bagaimana Tuhan menentukan segala sesuatunya bagimu dari sejak semula; penampilan orang, bentuk wajah, bentuk tubuh, dan tanggal kelahiran mereka, semua orang tahu dengan jelas bahwa semua itu sudah ditentukan. Para peramal, ahli nujum, para pembaca rasi bintang, dan mereka yang dapat membaca telapak tangan yang adalah orang-orang tidak percaya, dapat mengetahui kapan orang akan mengalami bencana, dan kapan orang akan mengalami kemalangan, dari telapak tangan, wajah, dan tanggal lahir orang tersebut—hal-hal ini telah ditentukan sejak semua. ... akan seperti apakah kesehatan seseorang pada usia tertentu dan apakah orang akan mengalami penyakit yang berat atau tidak, semua itu diatur oleh Tuhan. Orang-orang tidak percaya, mereka tidak percaya kepada Tuhan dan mencari seseorang untuk melihat hal-hal ini di telapak tangan, di tanggal kelahiran, dan di wajah mereka, dan mereka memercayai hal-hal ini. Engkau percaya kepada Tuhan dan sering kali mendengarkan khotbah dan persekutuan tentang kebenaran, jadi, jika engkau tidak percaya bahwa segala sesuatu diatur oleh Tuhan, berarti engkau adalah pengikut yang bukan orang percaya. Jika engkau benar-benar percaya bahwa segala sesuatu berada di tangan Tuhan, engkau harus percaya bahwa hal-hal ini—penyakit serius, penyakit berat, penyakit ringan, dan kesehatan—semuanya berada di bawah kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Kemunculan penyakit serius dan akan seperti apa kesehatan seseorang pada usia tertentu, itu bukanlah hal yang terjadi secara kebetulan, dan memahami hal ini berarti memiliki pemahaman yang positif dan akurat" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (4)"). Dengan membaca firman Tuhan, aku memahami bahwa kelahiran, penuaan, penyakit, dan kematian seseorang semuanya telah ditetapkan oleh Tuhan. Seberapa banyak penderitaan yang dialami seseorang dalam hidupnya, penyakit dan kesulitan apa yang mereka alami, serta berapa banyak berkat yang dinikmatinya, semua itu telah ditetapkan sebelumnya oleh Tuhan, dan tidak ada seorang pun yang dapat menghindarinya. Aku selalu khawatir apakah penyakitku akan makin parah, akankah rasa sakitnya menjadi begitu tak tertahankan sehingga aku harus menjalani operasi pengangkatan rahim, dan penderitaan seperti apa yang akan kuhadapi jika nantinya aku tidak memiliki anak. Sebenarnya, semua kekhawatiran ini tidaklah diperlukan. Jika aku benar-benar harus mengangkat rahimku dan tidak memiliki anak, maka inilah takdirku. Ini bukanlah sesuatu yang bisa diatasi dengan aku khawatir dan tertekan. Bagaimana kondisiku sekarang dan bagaimana masa depanku kelak—semua ini berada di tangan Tuhan. Aku harus menghadapinya dengan tenang dan tunduk pada kedaulatan serta pengaturan Tuhan. Selain itu, penyakitku tidak mengancam nyawaku, jadi aku tidak perlu menghabiskan hari-hariku dengan merasa tertekan dan cemas karenanya. Hal yang paling penting adalah mengejar kebenaran, mencari maksud Tuhan dalam situasi ini dan belajar tunduk pada kedaulatan serta pengaturan-Nya. Ketika memikirkan hal ini, aku menjadi merasa tidak terlalu tertekan. Namun terkadang aku masih bertanya-tanya, "Bagaimana jika aku kehilangan kemampuan untuk punya anak dan tidak punya anak sama sekali? Lalu apa yang akan kulakukan ketika aku tua atau sakit? Haruskah aku punya anak sekarang? Namun apakah punya anak akan memengaruhi pengejaranku akan kebenaran dan keselamatanku?"
Suatu hari, aku membaca firman Tuhan: "Dalam hal pernikahan, engkau harus melepaskan beban yang sudah seharusnya kaulepaskan. Memilih untuk melajang adalah kebebasanmu, memilih untuk menikah juga adalah kebebasanmu, dan memilih untuk punya banyak anak pun adalah kebebasanmu. Apa pun pilihanmu, itu adalah kebebasanmu. Di satu sisi, memilih untuk menikah bukan berarti engkau telah membalas kebaikan orang tuamu atau memenuhi tanggung jawabmu untuk berbakti; tentu saja, memilih untuk melajang juga bukan berarti engkau sedang menentang orang tuamu. Di sisi lain, memilih untuk menikah atau memiliki banyak anak bukan berarti engkau tidak menaati Tuhan, juga bukan berarti engkau memberontak terhadap-Nya. Engkau tidak akan dihukum karenanya. Memilih untuk melajang juga tidak akan menjadi alasan bagi Tuhan untuk memberimu keselamatan pada akhirnya. Singkatnya, apakah engkau melajang, menikah, atau memiliki banyak anak, Tuhan tidak akan menentukan apakah engkau pada akhirnya dapat diselamatkan atau tidak berdasarkan faktor-faktor ini. Tuhan tidak melihat latar belakang pernikahanmu atau status pernikahanmu; Dia hanya melihat apakah engkau mengejar kebenaran atau tidak; bagaimana sikapmu terhadap pelaksanaan tugasmu, berapa banyak kebenaran yang telah kauterima dan tunduk padanya, dan apakah engkau bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran atau tidak. Pada akhirnya, Tuhan juga akan mengesampingkan status pernikahanmu ketika memeriksa jalan hidup yang kautempuh, prinsip apa kaujadikan landasan hidupmu, dan aturan hidup apa yang kaupilih dalam bertahan hidup untuk menentukan apakah engkau akan diselamatkan atau tidak. ... Sedangkan mengenai berapa banyak anak yang kaumiliki setelah menikah, ini telah ditentukan Tuhan dari sejak semula, tetapi engkau juga boleh menentukan pilihanmu sendiri berdasarkan keadaan nyatamu dan pengejaranmu. Tuhan tidak akan memaksakan aturan terhadapmu. Misalkan engkau adalah seorang jutawan, multijutawan, atau miliarder, dan menurutmu, 'Memiliki delapan atau sepuluh anak tidak masalah bagiku. Membesarkan banyak anak tidak akan mengurangi tenagaku untuk melaksanakan tugasku.' Jika engkau tidak takut menghadapi kerepotan seperti itu, silakan saja punya banyak anak; Tuhan tidak akan menghukummu. Tuhan tidak akan mengubah sikap-Nya terhadap keselamatanmu karena sikapmu terhadap pernikahan. Seperti itulah sikap Tuhan. Apakah engkau mengerti? (Ya.)" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (16)"). Dengan membaca firman Tuhan, aku tiba-tiba memahami bahwa pernikahan dan memiliki anak adalah kebebasan yang diberikan Tuhan kepada manusia. Tuhan tidak mengutuk manusia hanya karena mereka menikah atau memiliki anak. Tuhan menghakimi seseorang dapat diselamatkan atau tidak terutama dari sikap mereka terhadap tugasnya, dan apakah mereka mengejar kebenaran dan tunduk pada kebenaran. Sekalipun seseorang tidak menikah atau memiliki anak, jika dia tidak mengejar kebenaran dan belum memperbaiki watak rusaknya, pada akhirnya, dia tetap tidak akan diselamatkan. Pada kenyataannya, Tuhan tidak melihat pengorbanan atau tindakan kasat mata seseorang. Manusia bisa memilih untuk memiliki anak atau melajang, dan apa pun pilihan yang mereka buat dalam hal ini, Tuhan tidak menghukum mereka. Ini adalah kebebasan dan hak mereka. Namun, hal-hal seperti ini harus didasarkan pada situasi nyata seseorang. Jika menikah dan memiliki anak akan memengaruhi pengejaran seseorang akan kebenaran dan tugasnya, maka mereka harus mengesampingkan hal-hal ini dan memprioritaskan tugas mereka. Saat ini adalah masa-masa genting dalam pekerjaan Tuhan menyelamatkan umat manusia, dan hanya dengan melaksanakan tugasku dengan baik serta mengejar kebenaran, barulah aku punya kesempatan untuk diselamatkan. Jika aku memiliki anak agar nantinya ada yang merawatku, dan aku menghabiskan seluruh tenagaku untuk membesarkan anakku, maka ini akan memengaruhi baik pengejaranku akan kebenaran maupun tugasku. Tuhan memberikan orang kebebasan dan hak untuk memiliki anak, tetapi aku harus bisa membedakan mana yang lebih penting, dan saat ini, mengejar dan memperoleh kebenaran adalah hal yang terpenting. Ketika memikirkan hal ini, perasaan merdeka menyelimuti hatiku, dan aku tahu bagaimana menyikapi masalah terkait pernikahan dan memiliki anak ini.
Ketika aku bersedia tunduk, suatu hari seorang kerabat tiba-tiba menghubungiku, mengatakan ada tempat yang menawarkan terapi tubuh gratis, dan dia bertanya apakah aku mau mendatanginya. Kebetulan saat itu aku tidak terlalu sibuk dengan tugasku, jadi aku memutuskan untuk datang dan melihat. Beberapa bulan kemudian, kondisiku membaik secara tak terduga. Aku pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan, dan hasilnya menunjukkan bahwa miomnya menyusut menjadi tiga sentimeter. Aku tidak pernah menyangka kondisiku akan membaik tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Aku bersyukur kepada Tuhan dari lubuk hatiku. Saat menjalani terapi tubuh, aku melihat bahwa kebanyakan orang di sana adalah pria dan wanita lanjut usia, dan aku bertanya kepada mereka apakah mereka memiliki anak yang merawat mereka. Beberapa orang berkata bahwa bukan hanya anak-anak mereka tidak merawat, tetapi uang pensiun mereka pun harus digunakan untuk menyokong hidup anak-anak mereka. Beberapa orang, yang hampir berusia tujuh puluh tahun, masih harus merawat cucu mereka, mengantar dan menjemput mereka dari sekolah. Mereka takut sakit karena khawatir anak-anaknya akan memarahi mereka, sehingga mereka rajin datang untuk terapi. Aku tiba-tiba tersadar bahwa memiliki anak tidak selalu berarti kita akan dirawat, dan kenyataannya, ketika seseorang menua, mereka mungkin akhirnya harus merawat anak-anak dan cucu-cucu mereka. Hatiku sangat tersentuh.
Suatu hari, aku membaca lebih banyak firman Tuhan: "Apa gunanya membesarkan anak-anak? Ini bukan demi tujuanmu sendiri, melainkan tanggung jawab dan kewajiban yang telah Tuhan berikan kepadamu. Di satu sisi, membesarkan anak-anak merupakan bagian dari naluri manusia, sedangkan di sisi lain, itu adalah bagian dari tanggung jawab manusia. Engkau memilih untuk melahirkan anak-anak karena naluri dan tanggung jawab, bukan demi mempersiapkan hari tua dan agar dirawat ketika engkau sudah tua. Bukankah pandangan ini benar? (Ya.) Dapatkah orang yang tidak memiliki anak menghindarkan diri mereka agar tidak menjadi tua? Apakah menjadi tua berarti bahwa orang akan menderita? Belum tentu, bukan? Orang yang tidak memiliki anak tetap bisa hidup sampai tua, dan bahkan ada yang sehat, menikmati tahun-tahun terakhir mereka, dan mati dengan damai. Dapatkah dipastikan bahwa orang-orang yang memiliki anak akan menikmati tahun-tahun terakhir mereka dalam kebahagiaan dan kondisi sehat? (Belum tentu.) Jadi, kesehatan, kebahagiaan, dan keadaan hidup orang tua yang mencapai usia lanjut, serta kualitas hidup materiel mereka, sebenarnya tidak ada hubungannya dengan rasa bakti anak-anak mereka kepada mereka, dan tidak ada hubungan langsung di antara keduanya. Situasi kehidupan, kualitas hidup, dan kondisi fisikmu di usia lanjut berkaitan dengan apa yang telah Tuhan takdirkan bagimu serta lingkungan hidup yang Dia atur bagimu, dan semua itu tidak ada hubungan langsung dengan apakah anak-anakmu berbakti atau tidak. Anak-anakmu tidak berkewajiban untuk memikul tanggung jawab atas situasi hidupmu di tahun-tahun terakhir. Bukankah benar demikian? (Ya.) ... Engkau seharusnya memikul tanggung jawab serta menanggung beban hidup dan kelangsungan hidupmu sendiri sebatas kemampuanmu, dan engkau tidak boleh membebankannya kepada orang lain, terutama anak-anakmu. Engkau harus menghadapi kehidupan secara proaktif dan benar tanpa didampingi atau menerima bantuan dari anak-anakmu, dan meskipun engkau jauh dari anak-anakmu, engkau tetap mampu menghadapi sendiri apa pun yang terjadi dalam hidupmu" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (19)"). "Seberapa banyak orang tua dan anak-anak mereka ditakdirkan untuk bersama, dan seberapa banyak yang dapat mereka peroleh dari anak-anak mereka, orang tidak percaya menyebutnya 'menerima bantuan' atau 'tidak menerima bantuan'. Kita tidak tahu apa maksudnya. Pada akhirnya, entah orang dapat mengandalkan anak-anak mereka atau tidak, sederhananya, itu sudah ditentukan dari semula dan ditakdirkan oleh Tuhan. Tidak semua hal berjalan tepat sesuai dengan keinginanmu. Tentu saja, semua orang ingin segalanya berjalan dengan baik dan mendapat manfaat dari anak-anak mereka. Namun, mengapa engkau tidak pernah memikirkan apakah engkau ditakdirkan untuk itu atau tidak, apakah itu tertulis dalam takdirmu atau tidak? Berapa lama ikatan antara dirimu dan anak-anakmu akan bertahan, apakah pekerjaan apa pun yang kaulakukan dalam hidup akan ada hubungannya dengan anak-anakmu atau tidak, apakah Tuhan telah mengatur agar anak-anakmu terlibat dalam peristiwa-peristiwa penting dalam hidupmu atau tidak, dan apakah anak-anakmu termasuk di antara mereka yang terlibat ketika engkau mengalami peristiwa besar dalam hidup atau tidak, semua ini bergantung pada takdir Tuhan. Jika Tuhan belum menakdirkannya, setelah engkau membesarkan anak-anakmu hingga dewasa, sekalipun engkau tidak mengusir mereka dari rumah, jika saatnya tiba, mereka akan pergi dengan sendirinya. Ini adalah sesuatu yang harus orang pahami. Jika engkau tidak mampu memahami hal ini, engkau akan selalu berpegang pada keinginan dan tuntutan pribadi, serta menetapkan berbagai aturan dan menerima berbagai ideologi demi kesenangan fisikmu sendiri. Apa yang akan terjadi pada akhirnya? Engkau akan mengetahuinya ketika engkau mati. Engkau telah melakukan banyak hal bodoh dalam hidupmu, dan engkau telah memikirkan banyak hal yang tidak realistis yang tidak sesuai dengan fakta atau takdir Tuhan" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (19)"). Firman Tuhan membuatku mengerti bahwa memiliki anak adalah naluri sekaligus sebuah tanggung jawab manusia, dan seseorang tidak seharusnya mengandalkan anak-anaknya untuk merawatnya di usia tua mereka. Bagaimana masa tua seseorang nantinya, apakah akan lebih banyak penderitaan atau kesehatan dan kebahagiaan, tidak ditentukan oleh apakah seseorang memiliki anak, tetapi oleh ketetapan Tuhan. Orang perlu bertanggung jawab atas masa tuanya sesuai kemampuannya sendiri, menghadapi tantangan hidup secara mandiri, dan tidak bergantung pada anak-anaknya untuk hal-hal ini. Ketika merenungkan diriku, aku menyadari bahwa aku khawatir tentang bagaimana aku tidak akan bisa memiliki anak jika kondisiku makin parah dan rahimku harus diangkat. Aku juga khawatir siapa yang akan merawatku saat aku tua atau jatuh sakit nantinya. Jadi, aku pun hidup dalam keadaan cemas dan tertekan. Hal yang kuyakini adalah gagasan tradisional tentang "Membesarkan anak-anakmu untuk merawatmu di masa tua," di mana tujuanku memiliki anak adalah demi memastikan kestabilan di masa tuaku, dan agar ada yang merawatku saat aku sudah tua. Fokusku hanya pada keuntunganku sendiri, dengan tujuan untuk menuntut mereka. Ini adalah sudut pandang yang benar-benar egois. Selain itu, bagaimana setiap orang menghabiskan masa tuanya sudah ditetapkan oleh Tuhan, dan itu tidak ada hubungannya dengan apakah seseorang memiliki anak atau tidak. Beberapa lansia bertubuh sehat dan memiliki uang pensiun, tetapi anak-anak mereka terlilit utang, jadi mereka bukan hanya tidak butuh dirawat oleh anak-anaknya, melainkan justru membantu menyokong anak-anaknya. Sementara sebagian orang setelah tua lalu jatuh sakit, dan anak-anaknya tidak memiliki kemanusiaan serta enggan merawat mereka, dan ketika mereka jatuh sakit, justru kerabat lainlah yang membantu merawat mereka. Aku menyadari bahwa memiliki anak tidak menjamin keamanan. Bagaimana seseorang menjalani masa tuanya, dan apakah dia ditemani atau dirawat oleh anak-anaknya, semuanya bergantung pada ketetapan awal Tuhan. Ketika teringat bagaimana suamiku bekerja di tempat lain, dan aku melaksanakan tugasku, meskipun tidak ada yang menemani atau merawatku, aku belajar untuk mengandalkan Tuhan saat sakit dan kesulitan. Firman Tuhanlah yang membimbingku melewati kesulitanku. Kesehatanku meningkat pesat. Semua ini adalah kasih karunia dan belas kasih Tuhan. Meski kelak aku tidak memiliki anak, aku masih bisa hidup dengan baik dengan mengandalkan Tuhan. Namun dahulu aku selalu khawatir tentang apa yang akan kulakukan jika kelak tidak ada anak yang merawatku, yang membuatku hidup dalam kecemasan serta tekanan, dan aku bahkan tidak bisa memotivasi diriku untuk melaksanakan tugasku. Bukankah aku hanya menyakiti diriku sendiri dan tidak mempercayai kedaulatan Tuhan? Aku percaya kepada Tuhan, tetapi tidak mengandalkan-Nya dan memahami kedaulatan-Nya. Aku hidup menurut budaya tradisional Iblis. Bukankah pandanganku sama seperti pengikut yang bukan orang percaya? Setelah memahami hal-hal ini, aku merasa lega. Aku tidak seharusnya khawatir tentang masa depan, dan aku harus memercayakan diriku di tangan Tuhan. Seperti apa pun masa senjaku, aku akan tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Dapat melaksanakan tugasku untuk menyenangkan Tuhan dan mengejar keselamatan adalah yang terpenting, dan juga paling realistis.
Kemudian, aku membaca satu bagian lain dari firman Tuhan: "Jika engkau menghabiskan tahun-tahun terbaikmu untuk berpikir tentang mencari pekerjaan yang baik atau mencari pasangan, berharap untuk percaya kepada Tuhan sambil menikmati kehidupan daging, dan melakukan kedua hal itu pada waktu yang bersamaan, maka setelah beberapa tahun, engkau mungkin mendapatkan pasangan, menikah, mempunyai anak, serta membangun rumah tangga dan karier, tetapi engkau tidak akan mendapatkan apa pun dari kepercayaanmu kepada Tuhan selama bertahun-tahun, engkau tidak akan memperoleh kebenaran apa pun, hatimu akan terasa kosong, dan tahun-tahun terbaikmu akan berlalu begitu saja. Ketika engkau melihat kembali pada usia empat puluh tahun, engkau akan memiliki keluarga, engkau akan memiliki anak-anak, dan engkau tidak akan sendirian, tetapi engkau harus menafkahi keluargamu. Itu adalah belenggu yang tidak dapat kaulepaskan. Jika engkau ingin melaksanakan tugasmu, engkau harus melakukannya sembari terbelenggu oleh keluargamu. Meskipun engkau memiliki jiwa yang sangat besar, engkau tidak akan dapat melakukan keduanya—engkau tidak akan mampu mengikuti Tuhan dengan sepenuh hati dan melakukan tugasmu dengan baik. Ada banyak orang yang meninggalkan keluarga dan perkara-perkara duniawi, tetapi setelah percaya kepada Tuhan selama beberapa tahun, mereka tetap hanya mengejar ketenaran, keuntungan, dan status. Mereka belum memperoleh kebenaran, dan mereka bahkan tidak memiliki kesaksian pengalaman yang nyata. Ini sama saja dengan membuang-buang waktu mereka. Saat mereka melaksanakan tugas mereka sekarang, mereka bahkan tidak memahami sedikit pun kebenaran, dan ketika sesuatu terjadi pada diri mereka, mereka tidak tahu cara menghadapinya—sehingga mereka mulai menangis tersedu-sedu, dan dipenuhi dengan penyesalan yang besar. Ketika merenungkan kembali masa-masa awal mereka, ketika memikirkan semua orang muda yang menjalani kehidupan bergereja bersama-sama, melaksanakan tugas mereka, menyanyikan lagu pujian dan memuji Tuhan bersama-sama, mereka berpikir betapa indahnya hari-hari itu, dan betapa mereka ingin kembali ke masa itu! Sayangnya, di dunia ini tidak ada obat untuk penyesalan. Tak seorang pun bisa memutar kembali waktu, sekalipun mereka menginginkannya. Tidak ada cara untuk kembali ke awal dan menjalani hidup sekali lagi. Itulah sebabnya, ketika sebuah kesempatan telah berlalu, kesempatan itu tidak akan datang lagi. Kehidupan seseorang hanya berlangsung selama beberapa dasawarsa, jika engkau melewatkan waktu terbaik untuk mengejar kebenaran, penyesalanmu akan sia-sia. ... Sekarang ini, engkau semua berada pada waktu yang tepat untuk momen yang luar biasa ini—Tuhan sedang melakukan pekerjaan penghakiman pada akhir zaman. Inilah satu-satunya kesempatan sekali bagi manusia untuk diselamatkan dan disempurnakan oleh Tuhan. Engkau semua sedang melaksanakan tugasmu pada momen penting penyebaran Injil Kerajaan Tuhan ini. Ini berarti Tuhan benar-benar sangat meninggikanmu. Apa pun bidang yang kaupelajari, atau apa pun bidang pengetahuan yang kaumiliki, atau apa pun talenta atau keahlian yang kaumiliki, apa pun itu, Tuhan sedang menunjukkan anugerah-Nya kepadamu dengan mengizinkanmu menggunakan keahlian ini untuk melakukan tugas di rumah-Nya. Itu adalah sebuah kesempatan yang sulit didapat" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Membayar Harga untuk Memperoleh Kebenaran Sangatlah Penting"). Keselamatan manusia oleh Tuhan di akhir zaman adalah kesempatan terakhir. Tidak akan ada kesempatan kedua atau ketiga. Saat ini, khususnya, adalah saat yang penting bagi Tuhan untuk menyatakan kebenaran demi menyelamatkan dan menyempurnakan manusia. Fakta bahwa aku bisa menerima pekerjaan Tuhan di akhir zaman pada usia yang baik dalam hidupku, bahwa aku dapat mencurahkan diriku sepenuhnya pada tugasku tanpa beban atau keterikatan apapun, dan bahwa aku juga bisa mengejar kebenaran serta perubahan watak dalam tugasku, adalah benar-benar kasih karunia Tuhan. Aku harus mencurahkan waktu dan tenagaku sebaik mungkin untuk memberitakan Injil serta mengejar kebenaran dan keselamatan. Jika aku memiliki anak, mengingat orang tuaku sudah meninggal, dan mertua serta suamiku tidak percaya kepada Tuhan, tidak ada yang bisa membantuku merawat anak itu, dan aku harus merawatnya sendiri. Pikiranku akan dikuasai oleh anakku, dan hal ini akan memberi lebih banyak beban dan keterikatan dalam diriku. Aku akan memiliki sangat sedikit waktu dan tenaga untuk mengejar kebenaran atau melaksanakan tugasku. Jika aku menghabiskan seluruh waktu dan tenaga terbaikku untuk memiliki anak, aku akan kehilangan kesempatan terbaik untuk disempurnakan Tuhan ini. Pada akhirnya, aku tidak akan memperoleh kebenaran atau melaksanakan tugasku, aku akan merusak kesempatanku untuk diselamatkan, dan pada saat itu, akan terlambat untuk menyesalinya.
Kemudian, aku membaca satu bagian lain dari firman Tuhan, dan hatiku sangat tersentuh. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Orang-orang tidak percaya tidak memahami hal paling berarti apakah yang dapat orang lakukan dalam hidup mereka, tetapi engkau semua memahami sesuatu tentang hal ini, bukan? (Ya.) Menerima apa yang telah Tuhan percayakan kepadamu dan melaksanakan misimu sendiri—ini adalah hal yang terpenting. Tugas yang kaulaksanakan sekarang sangat berharga! Engkau mungkin tidak melihat hasilnya sekarang ini, dan engkau mungkin tidak menerima dampak yang bagus dalam tugasmu sekarang ini, tetapi tak lama lagi tugasmu itu akan membuahkan hasil. Pada akhirnya, jika pekerjaan ini dilakukan dengan baik, kontribusinya bagi umat manusia tak dapat diukur dengan uang. Kesaksian yang benar seperti itu lebih berharga dan bernilai daripada apa pun, dan kesaksian itu akan bertahan selamanya. Ini adalah perbuatan baik yang dilakukan semua orang yang mengikuti Tuhan, dan perbuatan baik ini adalah sesuatu yang layak untuk diingat. Selain percaya kepada Tuhan, mengejar kebenaran, dan melaksanakan tugas mereka sebagai makhluk ciptaan, segala sesuatu dalam hidup manusia hampa dan tidak layak diingat. Meskipun engkau telah meraih prestasi yang paling menggemparkan; meskipun engkau sudah pulang pergi ke bulan; meskipun engkau sudah membuat terobosan ilmiah yang bermanfaat atau membantu manusia, semua itu sia-sia dan akan berlalu. Apakah satu-satunya hal yang tidak akan berlalu? (Firman Tuhan.) Hanya firman Tuhan, kesaksian bagi Tuhan, semua kesaksian dan pekerjaan yang menjadi kesaksian bagi Sang Pencipta, dan perbuatan baik manusia yang tidak akan berlalu. Hal-hal ini akan bertahan selamanya, dan hal-hal ini sangat berharga. Jadi, singkirkan semua hal yang merintangimu, laksanakan tugas luar biasa ini, dan jangan biarkan dirimu dikendalikan oleh orang, peristiwa, atau hal apa pun; korbankan dirimu dengan tulus bagi Tuhan, dan kerahkan segenap daya dan upayamu untuk melaksanakan tugasmu. Ini adalah hal yang paling Tuhan berkati, dan yang paling layak kaulakukan, sebanyak apa pun penderitaannya!" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Melaksanakan Tugas sebagai Makhluk Ciptaan dengan Baik, Barulah Hidup itu Menjadi Berharga"). Dari firman Tuhan, aku memahami bahwa melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan, mencurahkan tenaga untuk perluasan injil Kerajaan, dan membawa lebih banyak orang kepada Tuhan, adalah hal paling terhormat dan paling berkenan bagi Tuhan. Dengan memiliki kemampuan melaksanakan tugas tulis-menulis, dan memilih lebih banyak artikel kesaksian berdasarkan pengalaman yang baik untuk menjadi saksi atas hasil pekerjaan Tuhan pada manusia, sehingga lebih banyak orang dapat mengenal Tuhan dan kembali kepada-Nya, adalah kesaksian bagi Tuhan, sesuatu yang berkenan bagi Tuhan, dan apa pun penderitaan yang kualami dalam hal ini, adalah sepadan. Pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia hampir selesai, dan malapetaka dahsyat telah dimulai. Aku bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi besok atau kapan bencana akan melanda, tetapi aku masih merencanakan masa depan dan memikirkan tentang memiliki anak untuk merawatku saat tua nanti. Semua tekanan dan kekhawatiranku tentang masa depan itu tidaklah diperlukan. Sekarang aku bisa sepenuhnya mencurahkan diriku pada tugasku, tanpa beban atau keterikatan. Aku juga bisa mengejar kebenaran dan perubahan watak sambil melaksanakan tugasku. Semua ini adalah kasih karunia Tuhan. Aku harus menghargai kesempatan saat ini untuk mengejar kebenaran dan keselamatan, serta mencurahkan seluruh tenaga dan waktuku untuk melaksanakan tugas dan memberi kesaksian kepada Tuhan. Jika aku dapat memahami beberapa kebenaran dan diselamatkan oleh Tuhan, maka hidupku tidak akan sia-sia untuk dijalani. Setelah memahami hal-hal ini, aku melepaskan segala tekanan dan kekhawatiran dalam hatiku, dan aku memperoleh iman yang lebih besar untuk hidup demi melaksanakan tugasku dengan baik. Syukur kepada Tuhan!
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Pada bulan Agustus 2016, aku bertanggung jawab atas pekerjaan penginjilan di gereja. Karena aku kurang berpengalaman dan memiliki pemahaman...
Pada bulan Juni 2022, aku mengetahui bahwa lebih dari tiga puluh saudara-saudari telah ditangkap oleh polisi, termasuk beberapa pemimpin....
Oleh Saudari Chen Shi, TiongkokTuhan Yang Mahakuasa berkata: "Engkau harus tahu bahwa Tuhan menyukai mereka yang jujur. Secara hakikat,...
Oleh Saudari Xin Rui, Korea Tuhan Yang Mahakuasa berkata: "Melayani Tuhan bukan tugas yang sederhana. Mereka yang watak rusaknya tetap...