Rasa Sakit yang Tak Kunjung Hilang

10 Juni 2026

Oleh Liu Yan, Tiongkok

Pada bulan Mei 2004, aku dan Wu ditangkap dalam perjalanan pulang dari pertemuan karena kami telah dikhianati oleh seorang Yudas. Di kantor polisi, polisi terus menginterogasiku, menuntut untuk mengetahui siapa pemimpin gereja dan di mana uang persembahan disimpan. Ketika aku menolak bicara, empat atau lima petugas mengepungku, mendorong dan memukuliku. Seorang petugas dengan kejam memukuli seluruh tubuhku dengan sebatang bambu yang panjangnya lebih dari satu meter dan setebal ibu jari, sambil berulang kali menginjak-injak pahaku. Seorang polwan menampar wajahku dengan keras. Mereka memborgol tanganku di belakang punggung dan menyentakkannya ke belakang. Aku hampir tidak bisa bernapas karena siksaan itu—rasanya seperti tercekik. Keringat mengalir di wajahku, dan mereka terus bergantian antara memukuli dan menginterogasiku. Seluruh tubuhku kesakitan. Aku bahkan tidak bisa menurunkan celanaku sendiri untuk buang air; seorang polwan harus menariknya untukku. Aku melihat memar-memar besar di paha dan sisi bokongku, warnanya seperti terong ungu tua. Rasanya sangat sakit sampai aku bahkan tidak bisa jongkok. Malam itu, melihat aku masih tidak mau bicara, mereka menyuruhku duduk di lantai yang sedingin es dan terus menginterogasiku secara bergiliran. Mereka tidak mengizinkanku bergerak atau tidur. Pinggang dan kakiku menjadi mati rasa dan bengkak karena kedinginan. Kepalaku pusing dan berdenyut sakit. Setiap kali aku memejamkan mata, seorang petugas meneriakiku. Aku merasa tidak tahan lagi, seolah-olah aku akan mati. Aku berpikir, "Kalau aku tidak mengatakan sesuatu, mereka tidak akan melepaskanku. Entah siksaan macam apa lagi yang akan mereka gunakan nanti. Apa aku bisa menahannya? Kalau aku disiksa sampai mati, bukankah imanku akan sia-sia? Bagaimana aku bisa diselamatkan jika aku mati?" Jadi, aku mengarang cerita, berharap bisa mengelabui mereka, tetapi mereka sama sekali tidak memercayaiku dan terus menginterogasiku.

Keesokan sorenya sekitar pukul lima atau enam, para petugas dari Biro Keamanan Publik Kota dan Brigade Keamanan Nasional membawa aku dan Wu ke sebuah hotel untuk melanjutkan interogasi. Tirai gelap menutupi jendela, dan polisi bersenjata berjaga. Melihat ini, aku merinding. Aku sangat ketakutan, tidak tahu bagaimana mereka akan menyiksaku selanjutnya. Aku terus-menerus berdoa kepada Tuhan dalam hatiku. Polisi memisahkanku dari Wu dan menginterogasi kami secara bergiliran, 24 jam sehari. Mereka menyuruhku duduk di kursi dan tidak mengizinkanku bergerak atau tidur. Jika aku memejamkan mata, mereka membentakku. Aku pusing dan linglung karena siksaan itu. Dua hari kemudian, Wu mengkhianatiku. Dia memberi tahu mereka bahwa aku bertanggung jawab untuk memindahkan uang persembahan. Dia juga mengkhianati beberapa pemimpin wilayah, keluarga tuan rumah, dan keluarga penyimpan barang. Sambil memegang pengakuan Wu, seorang petugas berkata kepadaku dengan mengancam, "Percuma saja kau tidak bicara. Dia sudah memberitahukan semuanya kepada kami. Ke mana kau memindahkan uang persembahan itu? Kami akan menemukan uang itu sekalipun kami harus menggalinya. Kami akan tetap menghukummu sekalipun kau tidak bicara! Gereja Tuhan Yang Mahakuasa adalah target utama penumpasan oleh negara. Percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa mengganggu ketertiban sosial. Itu ilegal. Bahkan jika kami membunuhmu, kami tidak akan mendapat masalah! Kami memukulimu seperti ini, kenapa Tuhanmu tidak datang dan menyelamatkanmu? Tidak ada Tuhan!" Kemudian mereka mencoba memaksaku untuk mengatakan hal-hal yang menghujat Tuhan. Ketika aku menolak, dia menampar wajahku dengan keras. Dia menggeram dengan ganas, "Kami punya banyak cara untuk membereskanmu! Jika kau tidak bicara, kami akan menyayat wajahmu dengan pisau dan membuatmu cacat, lalu memasukkanmu ke dalam karung dan melemparkanmu ke Sungai Huangpu untuk memberi makan ikan!" Aku berpikir, "Polisi-polisi jahat ini mampu melakukan apa saja. Kalau mereka benar-benar melemparku ke sungai, tidak akan ada yang tahu bahwa aku mati. Aku tidak mau mati sekarang. Jika aku mati, bukankah imanku akan sia-sia? Lalu bagaimana aku bisa diselamatkan? Mungkin aku sebaiknya mengatakan sesuatu saja.... Lagi pula, Wu sudah bicara. Tidak ada bedanya lagi aku mengaku atau tidak." Polisi kemudian memberitahuku alamat keluarga tuan rumah dan keluarga penyimpan barang yang telah disebutkan Wu, beserta deskripsi dan nama para saudari. Aku diam-diam mengakui hal-hal itu. Namun, petugas itu berkata, "Dia sudah mengakui semuanya dan langsung dipulangkan. Kau hanya mengonfirmasi apa yang sudah dia katakan kepada kami. Kau belum menyebutkan satu orang atau rumah pun. Jika tidak, kami akan tetap mengirimmu ke penjara. Itu salahmu sendiri karena bersikap buruk dan tidak kooperatif!" Kupikir jika aku bicara sedikit lagi, mungkin mereka akan melepaskanku, atau memberiku hukuman yang lebih ringan. Jadi, aku memberi mereka alamat seorang saudari tuan rumah yang lain. Saat aku mengkhianati saudariku, aku merasa seperti jatuh ke dalam neraka. Aku tidak bisa menggambarkan perasaan itu. Tenagaku benar-benar terkuras habis. Aku ambruk ke lantai, menangis tak terkendali. Aku mencoba meraih kabel listrik untuk bunuh diri, tetapi seorang petugas menginjak tanganku. Aku dipenuhi penyesalan karena telah mengkhianati saudariku, dan dalam hatiku, aku terus-menerus mengutuk diriku sendiri, mengatakan bahwa aku pantas mati dan binasa. Aku teringat akan firman Tuhan: "Terhadap mereka yang tidak menunjukkan kepada-Ku sedikit pun kesetiaan selama masa-masa kesengsaraan, Aku tidak akan lagi berbelas kasihan, karena belas kasihan-Ku hanya sampai sejauh ini. Lagi pula, Aku tidak suka siapa pun yang pernah mengkhianati Aku, terlebih lagi, Aku tidak suka bergaul dengan mereka yang mengkhianati kepentingan teman-temannya. Inilah watak-Ku, terlepas dari siapa pun orangnya. Aku harus memberi tahu engkau semua hal ini: Siapa pun yang benar-benar menghancurkan hati-Ku tidak akan menerima pengampunan dari-Ku untuk kedua kalinya ..." (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Persiapkan Perbuatan Baik yang Cukup demi Tempat Tujuanmu"). Firman Tuhan membuatku sangat ketakutan. Aku merasa bahwa watak benar Tuhan tidak dapat disinggung. Aku telah mengkhianati saudariku dan mengkhianati Tuhan. Aku telah menyinggung watak Tuhan, dan Tuhan tidak akan menginginkanku lagi. Hidupku sebagai orang percaya telah benar-benar berakhir. Pada saat itu, kematian terasa lebih baik daripada hidup.

Namun, polisi tetap tidak melepaskanku. Mereka terus menginterogasiku untuk mendapatkan informasi tentang gereja. Mereka memaksaku duduk di kursi, 24 jam sehari, tanpa mengizinkanku bergerak atau tidur. Mereka menyiksaku dengan tidak membiarkanku tidur selama sekitar seminggu. Aku begitu tersiksa sampai tidak bisa makan. Melihat aku hampir pingsan, polisi membawaku ke rumah sakit untuk diinfus. Setelah kami kembali, mereka terus menginterogasiku secara bergiliran dan menunjukkan foto-foto saudara-saudari, menyuruhku untuk mengidentifikasi mereka. Aku berkata pada diriku sendiri, "Aku sudah menyinggung watak Tuhan dan menjadi Yudas yang memalukan. Aku tidak boleh mengkhianati Tuhan lagi." Jadi, tidak peduli bagaimana mereka menginterogasiku, aku tidak mengatakan apa-apa. Sebulan kemudian, mereka menjatuhiku hukuman dua tahun di kamp kerja paksa karena "mengganggu ketertiban sosial". Saat polisi membawa aku dan Wu ke kamp kerja paksa, Wu memberitahuku bahwa saudari tuan rumah yang kukhianati telah ditangkap. Dia dibebaskan setelah keluarganya menggunakan koneksi, tetapi dia terus diawasi. Mendengar ini, jantungku terasa seperti ditusuk jarum. Aku membenci diriku sendiri karena begitu takut mati, dan karena telah mengkhianati saudariku dan membuatnya tidak mungkin lagi untuk menghadiri pertemuan atau melaksanakan tugasnya. Berkali-kali, aku menangis dan berdoa kepada Tuhan, memohon agar Dia mengatur lingkungan lain untuk memberiku satu kesempatan lagi. Aku bersumpah bahwa sekalipun polisi menyiksaku sampai mati, aku tidak akan pernah mengkhianati saudara-saudariku lagi. Selama dua tahun di kamp kerja paksa, setiap kali aku teringat firman Tuhan: "Terlebih lagi, Aku tidak suka bergaul dengan mereka yang mengkhianati kepentingan teman-temannya," aku merasa tidak akan pernah punya kesempatan lagi untuk diselamatkan dan akan berakhir di neraka, menderita hukuman. Pikiran itu membuatku menjadi sangat negatif. Penderitaan itu lebih buruk daripada kematian. Aku bahkan merasa bahwa kematian akan menjadi kelegaan dari siksaan batinku.

Setelah dua tahun di penjara, aku dibebaskan dan kembali ke rumah, tetapi aku terlalu malu untuk bertemu dengan saudara-saudariku. Aku membenci diriku sendiri karena menjadi Yudas yang memalukan yang telah mengkhianati seorang saudari. Aku mengalami penderitaan batin yang luar biasa, yakin bahwa Tuhan tidak akan pernah menyelamatkanku dan bahwa aku ditakdirkan untuk dikutuk dan dihukum. Aku menjadi kecil hati, kehilangan semua harapan, dan ingin mati agar semuanya berakhir. Suatu hari, aku teringat akan firman Tuhan: "1. Jika engkau benar-benar seorang pelaku pelayanan, dapatkah engkau memberikan pelayanan kepada-Ku dengan penuh pengabdian, tanpa disertai sedikit pun unsur sikap asal-asalan atau kenegatifan? ... 10. Dapatkah engkau menjadi pengikut-Ku yang setia, bersedia menderita bagi-Ku seumur hidupmu, meskipun engkau tidak menerima apa pun?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Masalah yang Sangat Serius: Pengkhianatan (2)"). Firman Tuhan bagaikan seberkas cahaya yang menembus kegelapan di dalam hatiku, memberiku keberanian untuk terus hidup. Itu benar. Merupakan kasih karunia Tuhan bahwa aku bisa melakukan pelayanan untuk-Nya dalam imanku. Bahkan jika pada akhirnya Tuhan tidak menyelamatkanku, aku seharusnya tetap melakukan pelayanan untuk-Nya. Setelah merenungkan firman-Nya, aku mulai mendapatkan sedikit iman kembali. Aku merindukan hari di mana aku bisa membaca firman Tuhan, berkumpul, dan melaksanakan tugas bersama saudara-saudariku lagi. Terkadang, para saudari datang ke rumah ibuku untuk pertemuan, dan aku iri pada mereka karena bisa membaca firman Tuhan bersama. Memikirkan betapa besar utangku kepada Tuhan, aku ingin melakukan apa yang kubisa untuk gereja. Ketika para saudari datang untuk berkumpul, aku berjaga di luar untuk mereka, mengawasi keadaan sekitar. Terkadang aku menabung sedikit uang untuk diberikan sebagai persembahan. Hanya dengan cara itulah hatiku bisa menemukan sedikit kelegaan.

Pada musim semi tahun 2011, seorang saudari menemuiku dan bertanya, "Apakah kau bersedia menghadiri pertemuan?" Saat itu, aku sangat terharu hingga berlinang air mata. Aku tahu ini adalah belas kasihan Tuhan, dan Dia memberiku kesempatan lagi. Kemudian, gereja mengatur agar aku menyirami orang-orang percaya baru. Aku tidak pernah absen satu hari pun, baik hujan maupun cerah. Aku hanya ingin melakukan pelayanan dengan sungguh-sungguh untuk menebus pelanggaranku. Setiap kali aku membaca firman Tuhan yang berisi nasihat, penghiburan, atau dorongan semangat, aku merasa Tuhan seperti seorang ibu yang penuh kasih yang memahami kelemahan kita dan berbelas kasihan pada ketidakdewasaan kita, menyelamatkan kita semaksimal mungkin, dan air mata akan mengalir di wajahku. Namun, begitu aku teringat bahwa aku telah menjadi Yudas dan mengkhianati Tuhan, aku merasa firman itu bukan untukku. Tuhan tidak akan menyelamatkan orang sepertiku. Aku tidak memenuhi syarat untuk menerima janji-janji-Nya atau keselamatan dari-Nya. Setiap kali memikirkan hal ini, aku tenggelam dalam keputusasaan dan penderitaan.

Pada tahun 2016, aku mulai melaksanakan tugas tulis-menulis. Suatu kali, aku membaca sebuah kesaksian pengalaman yang ditulis oleh seorang saudara. Dia telah disiksa secara brutal oleh polisi tetapi lebih memilih mati daripada menjadi Yudas. Aku merasa sangat malu. Kami sama-sama ditangkap, tetapi dia tetap teguh dalam kesaksiannya, sementara aku telah mengkhianati Tuhan dan melakukan pelanggaran. Seandainya dulu aku tidak menyayangi dagingku, bukankah aku akan tetap teguh dalam kesaksianku sama seperti dia? Bukankah aku akan terhindar dari siksaan batin selama bertahun-tahun ini? Selama pertemuan, ketika aku mendengar para saudari bersekutu tentang pengenalan akan kerusakan mereka dalam aspek tertentu, aku berpikir, "Mereka hanya menyingkapkan beberapa watak rusak. Aku berbeda. Aku mengkhianati saudara-saudariku. Aku menjadi Yudas. Aku telah melakukan pelanggaran serius, dan itu tidak akan pernah bisa dihapus. Tuhan tidak akan menyelamatkanku." Setelah itu, setiap kali aku melihat materi tentang mengeluarkan para Yudas, aku akan merasa putus asa dan menderita, takut suatu hari nanti aku juga akan dikeluarkan. Pada musim dingin tahun 2022, dua orang yang pernah bekerja denganku, Liu Jing dan Chen Hong, ditangkap. Mereka mengkhianati saudara-saudari dan keluarga tuan rumah mereka bahkan sebelum polisi mulai menyiksa mereka. Chen Hong bahkan mengkhianati uang persembahan. Setelah itu, mereka tidak menunjukkan penyesalan sama sekali dan secara berturut-turut dikeluarkan dari gereja. Saat berpikir bahwa aku, seperti mereka, juga pernah menjadi Yudas dan mungkin akan dikeluarkan suatu hari nanti, aku menjadi sangat putus asa.

Meskipun aku telah melaksanakan tugasku selama bertahun-tahun, hatiku terus-menerus menderita dan putus asa karena pelanggaranku dan tidak dapat menemukan kelegaan. Aku tidak pernah mencari kebenaran untuk mengatasi keadaan negatifku, merasa bahwa cukuplah bagi orang sepertiku untuk sekadar melakukan pelayanan dengan sungguh-sungguh. Ini berlanjut sampai aku membaca firman Tuhan selama saat teduhku: "Ada juga akar penyebab lain orang tenggelam dalam perasaan putus asa, yaitu karena beberapa hal tertentu yang terjadi pada mereka sebelum mereka berusia dewasa atau setelah mereka dewasa, yaitu mereka melakukan pelanggaran tertentu, atau melakukan hal yang idiot, hal yang tolol, dan hal yang bodoh. Mereka tenggelam dalam perasaan putus asa karena pelanggaran ini, karena hal-hal idiot dan bodoh yang pernah mereka lakukan. Perasaan putus asa semacam ini menjadi penghukuman terhadap diri mereka sendiri, dan itu juga menjadi semacam penggolongan atas orang seperti apa diri mereka. ... orang yang pernah melakukan hal-hal ini sering kali merasakan kegelisahan yang tiba-tiba muncul, saat hal khusus tertentu terjadi, atau saat berada di lingkungan dan konteks tertentu. Perasaan gelisah ini membuat mereka tanpa sadar terjerumus ke dalam perasaan putus asa yang mendalam, dan mereka menjadi dibelenggu dan dikekang oleh perasaan putus asa mereka. Setiap kali mereka mendengarkan khotbah atau persekutuan tentang kebenaran, perasaan putus asa ini menyusup perlahan-lahan ke dalam pikiran dan lubuk hati mereka, membuat mereka bertanya tanpa henti kepada diri mereka sendiri, 'Dapatkah aku melakukan hal ini? Mampukah aku mengejar kebenaran? Dapatkah aku memperoleh keselamatan? Orang seperti apakah aku ini? Aku pernah melakukan hal itu, aku dahulu adalah orang yang seperti itu. Apakah aku tidak dapat diselamatkan? Apakah Tuhan masih akan menyelamatkanku?' Ada orang-orang yang terkadang mampu melepaskan perasaan putus asa ini dan meninggalkannya. Mereka mengerahkan ketulusan mereka dan seluruh tenaga yang dapat mereka kumpulkan untuk melaksanakan tugas, kewajiban, dan tanggung jawab mereka, dan bahkan mencurahkan segenap hati dan pikiran mereka untuk mengejar kebenaran dan merenungkan firman Tuhan, dan untuk mencurahkan upaya pada firman Tuhan. Namun, begitu situasi atau keadaan tertentu terjadi, perasaan putus asa kembali menguasai mereka dan membuat mereka merasa tertuduh lagi di lubuk hatinya. Mereka berpikir, 'Kau pernah melakukan hal itu sebelumnya, dan kau memang orang seperti itu. Dapatkah kau memperoleh keselamatan? Apakah ada gunanya menerapkan kebenaran? Apa yang akan Tuhan pikirkan tentang hal yang pernah kaulakukan ini? Akankah Tuhan mengampunimu atas apa yang pernah kaulakukan? Dapatkah membayar harga seperti ini sekarang menutupi pelanggaran tersebut?' Mereka sering menyalahkan diri sendiri dan merasa tertuduh di lubuk hatinya, dan mereka sering meragukan diri sendiri dan mencecar diri mereka sendiri dengan berbagai pertanyaan. Mereka tidak pernah mampu membuang perasaan putus asa ini, dan di dalam hatinya, mereka merasakan kegelisahan yang terus-menerus tentang hal memalukan yang telah mereka lakukan. Jadi, mereka telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun dan tampaknya tidak mendengar apa pun yang telah Tuhan firmankan, mereka juga tampaknya tidak memahami apa pun dari firman tersebut. Mereka seolah-olah tidak tahu apakah memperoleh keselamatan ada kaitannya dengan mereka, apakah mereka dapat diampuni dan ditebus, atau apakah mereka memenuhi syarat untuk menerima penghakiman dan hajaran Tuhan serta keselamatan-Nya. Mereka tidak mengetahui semua ini. Di lubuk hatinya, karena mereka tidak menerima jawaban apa pun dan karena mereka tidak mendapatkan kesimpulan yang akurat, mereka selalu merasa putus asa. Di lubuk hatinya, mereka berulang kali mengingat apa yang pernah mereka lakukan, mereka mengulanginya di pikiran mereka berulang kali, mengingat bagaimana semua itu dimulai dan bagaimana itu berakhir, mengingat apa yang terjadi sebelumnya dan apa yang terjadi setelahnya. Seperti apa pun mereka mengingat semua itu, mereka selalu merasa berdosa, sehingga mereka selalu merasa putus asa tentang hal ini selama bertahun-tahun. Bahkan saat mereka sedang melaksanakan tugas, bahkan saat mereka melayani sebagai pengawas untuk pekerjaan tertentu, mereka tetap merasa sepertinya tidak ada harapan bagi mereka untuk diselamatkan" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (2)"). Firman Tuhan menyingkapkan persis keadaanku. Sejak aku ditangkap dan mengkhianati saudariku, melakukan pelanggaran itu, aku telah hidup dalam emosi keputusasaan. Aku merasa telah menyinggung watak Tuhan, bahwa Dia pasti membenciku, dan tidak peduli bagaimana aku mengejar, Dia tidak akan pernah menyelamatkanku. Ketika aku melihat firman Tuhan yang berisi dorongan semangat dan nasihat, aku merasa itu bukan untukku, tetapi untuk saudara-saudari yang tidak pernah melakukan pelanggaran. Setiap kali aku melihat materi tentang mengeluarkan para Yudas, hatiku terasa cemas dan gelisah. Aku merasa karena aku pernah menjadi Yudas sama seperti mereka, mungkin suatu hari nanti aku juga akan dikeluarkan. Meskipun aku melaksanakan tugas di gereja, hatiku selalu tertutup bagi Tuhan, dan aku tidak bisa mengerahkan energi sama sekali untuk mengejar kebenaran. Aku merasa puas hanya dengan melakukan pelayanan dengan sungguh-sungguh. Meskipun aku telah melakukan pelanggaran dengan mengkhianati seorang saudari, Tuhan tetap berbelas kasihan padaku dan memberiku kesempatan untuk melaksanakan tugas. Di saat aku paling menderita dan lemah, Tuhan menggunakan firman-Nya untuk membimbingku keluar dari kenegatifanku dan membantuku menemukan jalan penerapan. Tuhan selalu menyediakan kebenaran dan hidup bagiku, tetapi aku tidak tahu apa yang baik untukku. Aku tidak dengan sungguh-sungguh mengejar kebenaran untuk membalas kasih Tuhan. Sebaliknya, aku salah memahami Tuhan dan waspada terhadap-Nya, hidup dalam perasaan putus asa. Aku benar-benar tidak punya hati nurani atau nalar. Aku terlalu banyak berutang kepada Tuhan dan tidak layak menerima keselamatan dari-Nya! Dari firman Tuhan, aku memahami bahwa Tuhan tidak ingin aku hidup dalam perasaan putus asa karena pelanggaranku. Dia ingin aku bebas dari kekangan pelanggaran itu dan dengan sungguh-sungguh mengejar kebenaran, menapaki jalan keselamatan. Aku tahu aku harus lebih banyak makan dan minum firman Tuhan dan mencari kebenaran untuk mengatasi watak rusakku; aku tidak boleh terus hidup di tengah kekangan pelanggaranku dan mundur dalam kenegatifan.

Kemudian, aku merenung, "Mengapa aku hidup dalam keputusasaan ketika aku merasa tidak punya harapan untuk diselamatkan? Watak rusak apa yang mengendalikanku?" Aku membaca firman Tuhan: "Apa yang orang kejar dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan adalah untuk memperoleh berkat bagi masa depan; inilah tujuan mereka dalam kepercayaan mereka. Semua orang memiliki niat dan harapan ini, tetapi kerusakan dalam natur mereka harus dibereskan melalui ujian dan pemurnian. Dalam aspek mana pun orang tidak disucikan dan masih memperlihatkan kerusakan, ini adalah aspek-aspek di mana mereka harus dimurnikan—ini adalah pengaturan Tuhan. Tuhan mengatur lingkungan bagimu, memaksamu untuk mengalami pemurnian di dalamnya supaya engkau dapat mengenal kerusakanmu sendiri. Pada akhirnya, engkau mencapai titik di mana engkau bersedia melepaskan rencana dan keinginanmu serta tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan sekalipun itu berarti kematian. Karena itu, jika orang tidak mengalami pemurnian selama beberapa tahun, jika mereka tidak menanggung sejumlah penderitaan tertentu, mereka tidak akan mampu membebaskan diri dari kekangan kerusakan daging dalam pemikiran dan hati mereka. Dalam aspek mana pun orang masih tunduk pada kekangan dari natur Iblis dalam diri mereka, dan dalam aspek mana pun mereka masih memiliki keinginan dan tuntutan mereka sendiri, dalam aspek-aspek inilah mereka harus menderita. Hanya melalui penderitaan, barulah orang-orang dapat memetik pelajaran, yang berarti mereka mampu memperoleh kebenaran dan memahami maksud-maksud Tuhan. Sebenarnya, banyak kebenaran dapat dipahami dengan mengalami penderitaan dan ujian. Tak seorang pun mampu memahami maksud Tuhan, mengenal kemahakuasaan dan hikmat Tuhan atau menghayati watak benar Tuhan ketika berada di lingkungan yang nyaman dan mudah, atau ketika keadaan sedang baik. Itu tidak mungkin!" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Ternyata selama itu aku hidup dalam keputusasaan karena keinginanku untuk mendapatkan berkat telah hancur. Sejak awal, aku percaya kepada Tuhan demi mendapatkan berkat. Itulah sebabnya aku aktif dalam pertemuan dan antusias dalam tugasku. Aku bahkan tidak terkekang ketika suamiku yang tidak percaya menghalangi, memaki, dan memukuliku. Tidak lama setelah aku percaya kepada Tuhan, aku meninggalkan rumah untuk melaksanakan tugas. Aku meninggalkan segalanya agar bisa diselamatkan, bertahan hidup, dan memperoleh tempat tujuan yang indah yang telah Tuhan siapkan bagi manusia. Begitu aku ditangkap dan menjadi Yudas, aku percaya Tuhan tidak akan lagi menyelamatkanku. Melihat harapanku untuk mendapatkan berkat hancur, aku hidup dalam keadaan negatif yang terus-menerus dan tidak lagi bersedia mengejar kebenaran. Aku menyadari bahwa niatku dalam percaya kepada Tuhan tidaklah benar. Bukan untuk mengejar kebenaran, tetapi untuk memperoleh berkat. Aku tidak berbeda dengan orang-orang di Zaman Kasih Karunia yang berusaha untuk makan roti hingga kenyang. Dalam imanku kepada Tuhan, yang kupikirkan hanyalah bagaimana mendapatkan berkat dan keuntungan dari-Nya. Aku tidak pernah berpikir tentang bagaimana mengejar kebenaran untuk mengatasi pelanggaranku, atau bagaimana membalas Tuhan atas kasih dan keselamatan dari-Nya. Aku benar-benar tidak memiliki kemanusiaan! Melalui mengalami penyingkapan ini, akhirnya aku menyadari adanya upaya tawar-menawar dan ketidakmurnian dalam imanku. Hal-hal ini benar-benar memuakkan dan menjijikkan bagi Tuhan!

Kemudian, aku membaca dua bagian lagi dari firman Tuhan, memahami bagaimana cara menyikapi pelanggaran, dan menemukan jalan untuk mengatasinya. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Ada orang-orang yang telah melakukan pelanggaran kecil berspekulasi: 'Apakah Tuhan telah menyingkapkan dan menyingkirkanku? Apakah Dia akan membunuhku?' Tuhan datang kali ini tidak untuk membunuh manusia, tetapi untuk menyelamatkan manusia semaksimal mungkin. Tak ada seorang pun yang tanpa kesalahan, jika semua orang dibunuh, apakah itu disebut keselamatan? Beberapa pelanggaran dilakukan dengan sengaja, sementara yang lainnya dilakukan tanpa disengaja. Jika engkau dapat berubah setelah engkau mengenalinya, apakah Tuhan akan membunuhmu sebelum engkau berubah? Akankah Tuhan menyelamatkan manusia dengan cara itu? Itu bukan cara Dia bekerja! Apakah engkau memiliki watak pemberontak atau apakah engkau telah bertindak di luar kehendakmu, ingatlah ini: Engkau harus merenungkan dan mengenal dirimu sendiri. Segeralah berbalik dan kejarlah kebenaran dengan segenap kekuatanmu—dan, apa pun yang terjadi, jangan berputus asa. Pekerjaan yang sedang Tuhan lakukan adalah pekerjaan penyelamatan manusia, dan Dia tidak akan dengan sewenang-wenang membunuh manusia yang ingin Dia selamatkan. Ini pasti. Sekalipun benar-benar ada orang yang percaya kepada Tuhan yang pada akhirnya dibunuh-Nya, apa yang Tuhan lakukan itu pasti benar. Pada saatnya, Dia akan memberitahumu alasan Dia membunuh orang itu, sehingga engkau akan benar-benar diyakinkan. Saat ini, berjuanglah untuk mengejar kebenaran, berfokuslah pada jalan masuk kehidupan, dan kejarlah pelaksanaan tugasmu dengan baik. Tidak ada kesalahan dalam hal ini! Entah bagaimana Tuhan menanganimu pada akhirnya, itu dijamin benar; engkau tidak boleh meragukan hal ini dan tidak perlu khawatir. Sekalipun engkau tidak dapat memahami kebenaran Tuhan saat ini, akan tiba waktunya engkau akan diyakinkan. Tuhan bekerja dengan adil dan terhormat; Dia secara terbuka menyingkapkan semuanya. Jika engkau semua merenungkan hal ini dengan cermat, engkau akan sampai pada kesimpulan yang tulus bahwa pekerjaan Tuhan adalah menyelamatkan manusia dan mengubah watak rusak mereka" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). "Dan bagaimana engkau dapat dinyatakan tidak bersalah dan diampuni oleh Tuhan? Ini tergantung pada hatimu. Jika engkau dengan tulus mengaku, sungguh-sungguh menyadari kesalahan dan masalahmu, menyadari apa yang telah kaulakukan—baik itu pelanggaran maupun dosa—mengambil sikap pengakuan yang sejati, merasakan kebencian yang sesunggguhnya atas apa yang telah kaulakukan, dan sungguh-sungguh mengubah dirimu, dan engkau tidak pernah melakukan kesalahan itu lagi, pada akhirnya akan tiba saatnya di mana engkau akan menerima pengampunan Tuhan, yang berarti, Tuhan tidak akan lagi menentukan kesudahanmu berdasarkan hal bodoh, konyol, dan kotor yang telah kaulakukan sebelumnya. Setelah engkau mencapai taraf ini, Tuhan akan melupakan masalah ini sepenuhnya; engkau akan menjadi sama seperti orang normal lainnya, tanpa sedikit pun perbedaan. Namun, syaratnya adalah engkau harus tulus dan memiliki sikap yang sungguh-sungguh bertobat, seperti Daud. Berapa banyakkah air mata yang Daud curahkan karena pelanggaran yang telah dilakukannya? Air matanya tak terbendung. Berapa kali dia menangis? Tak terhitung banyaknya. Air mata yang dicurahkannya dapat digambarkan dengan perkataan ini: 'Setiap malam, kubanjiri tempat tidurku dengan air mata.' Aku tidak tahu seberapa serius pelanggaranmu. Jika pelanggaran tersebut sangat serius, engkau mungkin perlu membanjiri tempat tidurmu dengan air matamu—engkau mungkin harus mengaku dan bertobat hingga mencapai taraf itu sebelum engkau dapat menerima pengampunan Tuhan. Jika engkau tidak melakukan hal ini, Aku khawatir pelanggaranmu akan menjadi dosa di mata Tuhan, dan engkau tidak akan diampuni atas pelanggaran tersebut. Kemudian engkau akan mendapat masalah dan tidak ada gunanya mengatakan apa-apa lagi mengenai hal ini. ... Jika engkau ingin menerima pengampunan Tuhan, engkau harus terlebih dahulu bersikap tulus: di satu sisi, engkau harus memiliki sikap yang sungguh-sungguh bertobat, dan di sisi lain, engkau harus menunjukkan ketulusanmu dan melaksanakan tugasmu dengan baik, jika tidak, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Jika engkau mampu melakukan kedua hal ini, jika engkau dapat menggerakkan hati Tuhan dengan ketulusan dan itikad baikmu sehingga Dia mengampuni dosa-dosamu, engkau akan menjadi sama seperti orang lain. Tuhan akan memandangmu dengan cara yang sama seperti cara-Nya memandang orang lain, Dia akan memperlakukanmu dengan cara yang sama seperti cara-Nya memperlakukan orang lain, dan Dia akan menghakimi dan menghajarmu, menguji dan memurnikanmu sama seperti yang dilakukan-Nya kepada orang lain—engkau tidak akan diperlakukan secara berbeda. Dengan cara ini, engkau bukan saja akan memiliki tekad dan keinginan untuk mengejar kebenaran, tetapi Tuhan juga akan mencerahkanmu, membimbingmu, dan membekalimu dengan cara yang sama dalam pengejaranmu akan kebenaran. Tentu saja, karena engkau sekarang memiliki keinginan yang tulus dan murni dan sikap yang sungguh-sungguh, Tuhan akan memperlakukanmu dengan cara yang sama seperti terhadap orang lain dan, sama seperti orang lain, engkau akan memiliki kesempatan untuk memperoleh keselamatan. Engkau memahami hal ini, bukan? (Ya.)" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (2)"). Dari firman Tuhan, aku melihat bahwa Dia bertindak sesuai dengan prinsip. Dia tidak hanya menghukum orang secara permanen karena satu pelanggaran tanpa memberi mereka kesempatan untuk bertobat. Tuhan melihat apakah kita bisa benar-benar bertobat setelah kita melakukan pelanggaran dan tidak pernah melakukan pelanggaran lagi. Aku teringat akan Daud, yang menggunakan kekuasaannya untuk mengambil istri Uria. Ketika dia menyadari bahwa dia telah berdosa dan menimbulkan kebencian Tuhan, dia benar-benar bertobat kepada Tuhan dan tidak pernah melakukan dosa itu lagi. Di usia tuanya, dia bahkan tidak mau menyentuh gadis muda yang dibawa untuk menghangatkan tempat tidurnya. Pertobatannya bukan hanya kata-kata; dia membuktikannya dengan tindakan nyata, sehingga dia menerima belas kasihan dan toleransi Tuhan. Lalu aku teringat Liu Jing dan Chen Hong, yang menjadi Yudas bahkan tanpa disiksa. Chen Hong bahkan membocorkan lokasi penyimpanan uang persembahan senilai lebih dari satu juta yuan. Setelah itu, tak satu pun dari mereka menunjukkan penyesalan sama sekali. Mengeluarkan mereka dari gereja sepenuhnya menyingkapkan kebenaran Tuhan. Gereja menerimaku kembali sebab aku telah mengkhianati saudariku karena lemah sesaat, tidak mampu menahan siksaan. Setelah itu, aku sangat menyesal dan menyalahkan diri sendiri, dan aku melaksanakan tugasku dengan kemampuan terbaikku, sehingga rumah Tuhan memberiku kesempatan lagi. Watak Tuhan benar dan baik, dan Dia memperlakukan setiap orang sesuai dengan prinsip. Aku membaca firman Tuhan: "Tak ada seorang pun yang tanpa kesalahan, jika semua orang dibunuh, apakah itu disebut keselamatan?" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Terutama firman ini membuatku merasa bahwa Tuhan seperti seorang ibu yang penuh kasih, menggunakan firman-Nya untuk mengajar seorang anak yang melakukan kesalahan, mengingatkan dan menasihatinya agar tidak menyerah pada diri sendiri. Di sela-sela firman Tuhan, aku merasakan niat-Nya yang tekun, serta toleransi dan belas kasihan-Nya bagi umat manusia. Aku tahu aku harus benar-benar bertobat. Aku tidak boleh lagi terikat oleh pelanggaranku, menghakimi diriku sendiri dan menyerah karenanya. Aku harus melaksanakan tugasku dengan segenap hatiku, lebih banyak mencari kebenaran ketika berbagai hal terjadi padaku, fokus untuk bertindak sesuai dengan prinsip, dan menggunakan tindakan nyata untuk menebus pelanggaranku.

Kemudian, aku merenung dan menyadari bahwa akar penyebab kegagalanku adalah karena aku menyayangi nyawaku dan takut akan kematian. Jadi, bagaimana aku bisa menyelesaikan masalah ini? Suatu hari, aku membaca satu bagian dari firman Tuhan dan memahami bagaimana cara menghadapi kematian. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Bagaimanakah kematian para murid Tuhan Yesus? Di antara para murid, ada yang dirajam, diseret di belakang kuda, disalibkan terbalik, dikoyak-koyakkan oleh lima ekor kuda—berbagai bentuk kematian menimpa mereka. Apakah alasan kematian mereka? Apakah karena mereka melakukan pelanggaran dan kemudian ditindak oleh hukum? Tidak. Mereka menyebarluaskan Injil Tuhan, tetapi orang-orang dunia tidak menerimanya, sebaliknya mereka justru mengutuk, memukul, mencaci maki mereka, dan bahkan membunuh mereka—dengan cara seperti itulah mereka menjadi martir. Mari kita tidak usah membicarakan kesudahan akhir dari para martir itu, atau ketentuan Tuhan tentang perbuatan mereka, tetapi tanyakanlah ini: Ketika para martir itu tiba di akhir hidup mereka, apakah cara mereka meninggal sesuai dengan gagasan manusia? (Tidak.) Dari perspektif gagasan manusia, para martir itu membayar harga yang begitu besar untuk menyebarluaskan pekerjaan Tuhan, tetapi pada akhirnya dianiaya sampai mati dengan kejam oleh Iblis. Ini tidak sesuai dengan gagasan manusia. Namun, hal-hal itulah yang justru menimpa mereka—inilah yang Tuhan izinkan. Kebenaran apa yang bisa dicari dalam hal ini? Apakah Tuhan membiarkan mereka mati dengan cara ini merupakan kutukan dan penghukuman-Nya, atau merupakan pengaturan dan berkat-Nya? Bukan keduanya. Lalu merupakan apa hal ini? Orang merasa pedih saat memikirkan kematian para martir itu, tetapi ini memang merupakan fakta. Penjelasan apa yang harus diberikan tentang meninggalnya orang yang percaya kepada Tuhan dengan cara ini? Ketika kita menyebutkan topik ini, engkau semua menempatkan diri di posisi mereka, jadi apakah di dalam hatimu, engkau semua merasa sedih dan merasakan sedikit kepedihan yang tersembunyi? Engkau berpikir, 'Orang-orang ini melaksanakan tugas mereka untuk menyebarluaskan Injil Tuhan dan seharusnya dianggap sebagai orang-orang baik, jadi bagaimana mereka bisa berakhir seperti itu dan mengalami kesudahan seperti itu?' Sesungguhnya, seperti inilah caranya tubuh mereka mati dan meninggal; inilah cara mereka meninggalkan dunia manusia, tetapi itu bukan berarti kesudahan mereka seperti itu. Bagaimanapun cara kematian dan kepergian mereka, atau bagaimanapun itu terjadi, itu bukanlah cara Tuhan menentukan kesudahan akhir dari hidup mereka, kesudahan akhir dari makhluk ciptaan tersebut. Ini adalah sesuatu yang harus kaulihat dengan jelas. Sebaliknya, justru dengan cara inilah mereka mengutuk dunia ini dan memberi kesaksian tentang perbuatan-perbuatan Tuhan. Makhluk ciptaan ini menggunakan hidup mereka yang paling berharga—mereka menggunakan saat-saat terakhir hidup mereka—untuk bersaksi tentang perbuatan-perbuatan Tuhan, untuk bersaksi tentang kuasa Tuhan yang sangat besar, dan untuk menyatakan kepada Iblis dan dunia bahwa perbuatan-perbuatan Tuhan benar, bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan, dan daging inkarnasi Tuhan. Bahkan hingga di saat terakhir hidupnya, mereka tidak pernah menyangkal nama Tuhan Yesus. Bukankah ini suatu bentuk penghakiman terhadap dunia ini? Mereka menggunakan nyawa mereka untuk menyatakan kepada dunia, untuk membuktikan kepada manusia bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan, bahwa Tuhan Yesus adalah Kristus, bahwa Dia adalah daging inkarnasi Tuhan, bahwa pekerjaan penebusan seluruh umat manusia yang Dia lakukan memungkinkan umat manusia ini untuk terus hidup—fakta ini tidak akan berubah selamanya. Sampai sejauh mana mereka yang menjadi martir karena menyebarluaskan Injil Tuhan Yesus melaksanakan tugas mereka? Apakah sampai ke taraf tertinggi? Bagaimana taraf tertinggi itu diwujudkan? (Mereka mempersembahkan nyawa mereka.) Benar, mereka membayar harga dengan nyawa mereka. ... Dengan cara apa pun seseorang itu mati, mereka tidak boleh mati di hadapan Iblis, mereka tidak boleh mati di tangannya. Jika orang akan mati, mereka harus mati di tangan Tuhan. Manusia berasal dari Tuhan, dan kepada Tuhan-lah mereka kembali—itulah nalar dan sikap yang harus dimiliki oleh makhluk ciptaan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Memberitakan Injil adalah Tugas yang Harus Dilaksanakan dengan Baik oleh Semua Orang Percaya"). Para murid yang mengikuti Tuhan Yesus dihukum dan dianiaya oleh dunia karena menyebarluaskan Injil-Nya, dan bahkan mati sebagai martir. Meskipun tubuh mereka mati, mereka memberi kesaksian yang kuat dan menggema di hadapan Iblis. Apa yang mereka lakukan diperkenan oleh Tuhan, dan jiwa mereka kembali kepada-Nya. Aku tidak bisa memahami ini dengan jelas. Aku takut disiksa sampai mati, jadi untuk menyelamatkan diriku, aku mengkhianati saudariku dan mengkhianati Tuhan. Dagingku terhindar dari penderitaan, tetapi celaan dari hati nuraniku dan siksaan batinku bagaikan duri di dalam hatiku. Rasanya lebih buruk daripada kematian! Penderitaan batin ini adalah sesuatu yang tidak bisa ditebus oleh materi apa pun. Menyadari akar kegagalanku, aku bersedia untuk lebih memperlengkapi diriku dengan kebenaran dalam aspek ini. Aku juga bertekad dalam hati bahwa jika aku ditangkap lagi, aku tidak akan mengkhianati saudara-saudariku atau kepentingan rumah Tuhan, bahkan jika aku dipukuli sampai mati. Aku akan tetap teguh dalam kesaksianku dengan mengandalkan firman Tuhan!

Selama bertahun-tahun ini, aku hidup dalam keputusasaan, tidak dapat menemukan kelegaan. Firman Tuhanlah yang melepaskan ikatan di hatiku, memungkinkanku untuk melepaskan kesalahpahamanku dan menghadapi pelanggaranku dengan benar, sehingga batinku dapat bebas dan lepas. Aku berdoa dalam hatiku, "Tuhan, aku tidak ingin memberontak terhadap-Mu lagi. Terlepas dari apakah aku memiliki kesudahan dan tempat tujuan yang baik di masa depan, aku tidak ingin lagi melaksanakan tugas demi mendapatkan berkat. Aku bersedia berdiri di tempat makhluk ciptaan dan melaksanakan tugasku dengan sungguh-sungguh. Tidak peduli bagaimana Engkau memperlakukanku di masa depan, dan bahkan jika Engkau menghukum dan mengutukku, itulah kebenaran-Mu." Setelah berdoa, hatiku terasa luar biasa tenang. Melalui pengalaman ini, aku benar-benar menyadari bahwa tidak peduli seberapa keras firman Tuhan tentang hajaran dan penghakiman, dan tidak peduli apakah itu kutukan atau hukuman, maksud Tuhan selalu untuk menyelamatkan manusia!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Hubungi kami via WhatsApp