Aku Mengalami Bahwa Penghakiman Tuhan Adalah Keselamatan Terbesar

10 Juni 2026

Oleh Zhang Xin, Tiongkok

Pada tahun 1995, aku percaya kepada Tuhan Yesus. Saat itu, seorang pengkhotbah menggunakan nubuat dalam Kitab Wahyu untuk memberi tahu kami betapa indahnya kota suci itu. Dia juga berkata bahwa Tuhan Yesus akan segera datang untuk membawa kita ke rumah surgawi kita, dan bahwa hanya dengan meninggalkan segalanya serta mengorbankan diri untuk Tuhan, kelak kita bisa masuk ke kota suci. Aku sangat senang saat mendengarnya. Setelah itu, aku dengan bersemangat mulai menghadiri pertemuan dan memberikan persembahan. Bagaimanapun suamiku, atau kakak laki-lakiku dan istrinya, berusaha menghentikanku, tidak ada yang bisa menggoyahkan tekadku untuk mengikut Tuhan Yesus. Tiga tahun kemudian, suamiku meminta cerai karena aku tetap teguh pada imanku kepada Tuhan. Aku pun setuju. Setelah itu, aku mempersembahkan semua hartaku ke gereja dan dengan teguh meninggalkan rumah untuk berkhotbah dan bekerja untuk Tuhan. Dua bulan kemudian, aku menjadi rekan sekerja, yang bertanggung jawab atas lebih dari tujuh puluh gereja. Pada tahun 2000, seorang pemimpin memberi tahu kami di pertemuan rekan sekerja, "Sebuah denominasi bernama 'Kilat dari Timur' kini telah muncul. Mereka mengatakan bahwa Tuhan telah datang kembali dalam daging sebagai Tuhan Yang Mahakuasa, dan sedang melakukan tahap pekerjaan yang baru. Itu mustahil! Mereka bahkan tidak membaca Alkitab lagi. Semua firman Tuhan ada di dalam Alkitab; tidak ada firman Tuhan di luar Alkitab. Meninggalkan Alkitab berarti tidak lagi percaya kepada Tuhan! Mereka berkhotbah di mana-mana dan telah mencuri banyak domba yang baik dari semua denominasi. Kita harus menjadi hamba Tuhan yang setia dan melindungi saudara-saudari kita, agar kelak kita bisa mempertanggungjawabkan diri kita kepada Tuhan! Kalian sama sekali tidak boleh percaya pada jalan Kilat dari Timur. Begitu kalian melakukannya, berarti kalian telah meninggalkan jalan Tuhan dan akan ditinggalkan oleh-Nya!" Mendengar pemimpin mengatakan ini, aku membatin, "Aku harus berhati-hati, berpegang teguh pada jalan Tuhan, dan melindungi kawanan domba." Setelah itu, aku mulai menutup akses gereja. Di setiap tempat pertemuan yang menjadi tanggung jawabku, berulang kali kutekankan untuk tidak menerima orang asing dan tidak ada yang boleh percaya pada jalan Kilat dari Timur. Setelah mendengar ini, semua orang percaya mulai waspada terhadap orang-orang dari Kilat dari Timur. Tak lama setelah itu, kudengar dua saudari telah menerima Tuhan Yang Mahakuasa. Aku segera bergegas ke rumah mereka untuk membujuk mereka agar kembali. Mereka tidak mau mendengarkanku dan bersikeras untuk percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Aku sangat marah, dan aku mengawasi saudara-saudari lainnya dengan lebih ketat lagi. Kemudian, aku mengetahui bahwa ada sepasang suami istri yang juga telah menerima Tuhan Yang Mahakuasa. Aku bergegas ke rumah mereka dan membawa mereka kembali. Saat itu, aku benar-benar percaya bahwa aku akhirnya telah menyelamatkan domba-domba Tuhan, dan bahwa Tuhan pasti akan berkenan dengan apa yang telah kulakukan.

Pada bulan Februari 2002, seorang saudari mengajakku ke rumahnya untuk membahas Alkitab bersama kerabatnya. Mereka membahas semuanya, dari penciptaan dunia oleh Tuhan hingga pekerjaan Tuhan Yahweh di Zaman Hukum Taurat, dan berlanjut ke pekerjaan Tuhan Yesus di Zaman Kasih Karunia. Mereka menerangkan dengan jelas latar belakang dan titik balik dari setiap tahap pekerjaan. Mereka juga bersekutu tentang orang macam apa yang Tuhan berkati dan orang macam apa yang Dia kutuk. Persekutuan mereka sangat menerangi, dan belum pernah kudengar sebelumnya. Kurasa khotbah mereka sangat bagus. Setelah itu, mereka bersaksi kepadaku tentang pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa di akhir zaman. Dengan membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa dan mendengarkan persekutuan saudara-saudari, aku menjadi paham bahwa Alkitab hanya mencatat pekerjaan Tuhan di Zaman Hukum Taurat dan Zaman Kasih Karunia. Itu adalah buku sejarah dan tidak dapat mewakili seluruh pekerjaan Tuhan. Tuhan selalu baru dan tidak pernah usang, dan pekerjaan-Nya selalu bergerak maju. Ketika Tuhan datang kembali di akhir zaman, Dia akan melakukan pekerjaan baru yang melampaui Alkitab. Pada tahap ini, Dia akan melakukan pekerjaan penghakiman dan penyucian, yang dibangun di atas dasar pekerjaan penebusan oleh Tuhan Yesus, untuk sepenuhnya menyelamatkan umat manusia dari dosa dan membawa orang-orang ke tempat tujuan yang indah. Tuhan Yang Mahakuasa mengungkapkan kebenaran untuk melakukan pekerjaan penghakiman-Nya di akhir zaman, ini menggenapi nubuat Tuhan Yesus: "Dia yang menolak Aku dan tidak menerima firman-Ku, sudah ada yang menghakiminya: Firman yang Aku nyatakan, itulah yang akan menghakiminya di akhir zaman" (Yohanes 12:48). "Masih ada banyak hal lain yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi engkau tidak dapat menanggungnya saat ini. Namun, ketika Dia, Roh kebenaran itu, datang, Dia akan menuntun engkau sekalian ke dalam seluruh kebenaran" (Yohanes 16:12-13). Khususnya, ketika kulihat bahwa Tuhan Yang Mahakuasa telah membukakan semua misteri Alkitab, bahwa Firman Menampakkan Diri dalam Daging adalah "gulungan kitab kecil yang dibuka oleh Anak Domba" yang dinubuatkan dalam Wahyu, dan bahwa itulah yang diucapkan Roh Kudus kepada gereja-gereja, aku menyadari bahwa "Kilat dari Timur" yang selama ini terus kutolak sebenarnya adalah penampakan dan pekerjaan Tuhan Yesus di akhir zaman. Hatiku merasakan kepedihan yang tak terlukiskan. Aku teringat bagaimana sejak aku percaya kepada Tuhan, aku telah mengatasi penganiayaan suamiku dan telah memberikan persembahan seperti si janda miskin. Aku telah meninggalkan segalanya untuk bekerja bagi Tuhan. Kukira aku teguh di jalan Tuhan, menjaga kawanan domba-Nya dengan penuh pengabdian. Tak pernah kubayangkan bahwa aku sama sekali tidak mencari ketika Tuhan datang kembali. Aku secara membabi buta berpegang teguh pada gagasan dan imajinasiku sendiri, percaya bahwa Tuhan tidak mungkin datang dalam daging, bahwa pekerjaan-Nya tidak mungkin melampaui Alkitab, dan sebagainya. Dengan congkak, aku mengutuk dan menentang pekerjaan Tuhan di akhir zaman, menutup akses gereja untuk mencegah saudara-saudari menyelidiki jalan yang benar, dan bahkan membawa sepasang suami istri yang telah menerima pekerjaan Tuhan di akhir zaman kembali ke denominasiku sebelumnya. Tuhan Yesus mengecam orang-orang Farisi, dengan berkata: "Celakalah engkau, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, orang munafik! Karena engkau menutup kerajaan surga terhadap manusia: padahal engkau sendiri tidak pernah pergi ke sana, tetapi engkau menghalangi orang-orang yang berusaha masuk ke sana" (Matius 23:13). Bukankah tindakanku sama seperti orang-orang Farisi? Aku sendiri tidak menerima pekerjaan Tuhan di akhir zaman, dan aku juga berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan orang percaya lain agar tidak menerimanya. Bukankah itu sama saja dengan menyeret mereka ke neraka? Aku telah melakukan begitu banyak kejahatan—bukankah aku juga ditakdirkan untuk celaka? Hatiku dipenuhi dengan penyesalan. Namun, kemudian aku berpikir, bisa menerima pekerjaan Tuhan di akhir zaman adalah kasih karunia dan belas kasihan Tuhan kepadaku. Aku harus memberitakan Injil untuk menebus pelanggaranku. Mungkin jika aku lebih banyak memberitakan Injil, Tuhan tidak akan mengingat pelanggaranku. Kemudian, aku mengajak seorang saudari untuk memberitakan Injil kepada pasangan yang telah kutarik kembali itu. Tak kusangka, mereka tak mau mendengarkan apa pun yang kami katakan. Mereka bahkan melontarkan balik kata-kata yang pernah kugunakan saat menutup akses gereja. Hatiku terasa makin hancur dan penuh penyesalan. Untuk menebus pelanggaranku, aku makin banyak memberitakan Injil. Aku menanggung banyak penderitaan selama waktu itu tetapi tidak pernah mundur. Pikirku, "Mungkin jika Tuhan melihatku penuh pengabdian dan pertobatan, Dia tidak akan memperhitungkan pelanggaranku dan masih akan memberiku kesempatan untuk diselamatkan."

Suatu hari di tahun 2004, selama saat teduhku, aku membaca firman Tuhan ini: "Aku tidak dapat menunjukkan kelonggaran kepada mereka yang telah menganiaya Aku, mereka yang tidak mengenal Aku (termasuk sebelum nama-Ku disaksikan), yang percaya bahwa Aku adalah manusia, atau mereka yang telah menghujat-Ku serta memfitnah-Ku di masa silam. Bahkan jika mereka memberikan kesaksian yang paling meyakinkan bagi-Ku saat ini, itu tidak akan berpengaruh. Menganiaya Aku di masa lalu adalah cara untuk melakukan pelayanan bagi-Ku, dan jika orang-orang itu memberikan kesaksian bagi-Ku saat ini, mereka akan tetap menjadi alat-Ku" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perkataan Kristus pada Mulanya, Bab 85"). Setelah membaca firman Tuhan, aku terpaku di tempat. Pikiranku benar-benar kosong, dan butuh waktu lama bagiku untuk tersadar. Dari firman Tuhan, aku melihat bahwa Tuhan tidak menunjukkan kelonggaran kepada siapa pun yang telah menganiaya dan memfitnah-Nya. Sekalipun saat ini mereka bersaksi tentang Tuhan, mereka tetap tidak dapat menerima kelonggaran-Nya; mereka hanya dapat melakukan pelayanan bagi-Nya. Aku teringat bagaimana sebelumnya aku telah berpegang teguh pada gagasan serta imajinasiku dan tidak mencari atau menyelidiki pekerjaan Tuhan di akhir zaman sama sekali. Aku justru memfitnah dan menentang Tuhan, menutup akses gereja untuk mencegah orang percaya menyelidiki jalan yang benar, dan bahkan membawa orang-orang yang telah menerima pekerjaan Tuhan di akhir zaman kembali ke denominasiku sebelumnya. Aku telah melakukan kejahatan yang begitu besar; pastilah Tuhan tidak akan pernah mengampuniku. Bukankah aku sudah tamat? Adakah kesudahan baik yang mungkin kumiliki? Namun, aku masih berpegang pada secercah harapan. "Mungkinkah pemahamanku salah? Ketika Tuhan berkata Dia 'tidak dapat menunjukkan kelonggaran', apakah Dia berbicara tentang orang-orang yang menghujat dan memfitnah-Nya setelah mendengar firman-Nya dan mengenali pekerjaan-Nya?" Dengan penuh semangat, aku membaca lagi firman Tuhan, kata demi kata. Tuhan telah berfirman dengan sangat jelas. Orang-orang yang Dia bicarakan juga termasuk mereka yang menghujat dan memfitnah Tuhan Yang Mahakuasa tanpa pernah mendengar firman-Nya atau mengenal-Nya. Baru pada saat itulah aku yakin bahwa aku termasuk salah satu dari mereka yang tidak diberi kelonggaran oleh Tuhan. Firman Tuhan yang tegas menusuk hatiku. Aku sangat ketakutan, dan seluruh tubuhku menjadi lemas. "Sepertinya aku bahkan tidak punya kesempatan untuk bertobat," pikirku. "Betapa pun aku tunduk dalam tugasku, betapa pun banyaknya penderitaan yang kutanggung, dan sekalipun aku memberikan kesaksian yang paling berkumandang, aku tetap tidak akan menerima kelonggaran dari Tuhan. Harapanku untuk diselamatkan telah sepenuhnya sirna." Selama waktu itu, meskipun aku masih memberitakan Injil, begitu teringat bahwa Tuhan tidak akan menyelamatkanku, aku merasa sangat putus asa, dan aku tidak seaktif sebelumnya dalam memberitakan Injil. Suatu kali, aku sedang menuntun sepedaku di jalan, memperhatikan kerumunan orang. Aku membatin, "Mereka semua punya rumahnya sendiri. Namun, bagaimana denganku? Ketika pertama kali mulai percaya kepada Tuhan, aku menganggap gereja sebagai rumahku. Tak pernah terpikirkan olehku bahwa karena tidak mengenali kedatangan Tuhan kembali, aku menentang-Nya, melakukan pelanggaran yang tak terampuni, dan tidak mendapat bagian di rumah yang telah Tuhan siapkan bagi umat manusia—kerajaan Tuhan." Saat itu, aku merasa sangat pilu.

Suatu hari, aku membaca firman Tuhan dan sangat tersentuh, dan keadaanku yang putus asa pun sedikit membaik. Tuhan berfirman: "Sebagai makhluk ciptaan, engkau harus melakukan tugas makhluk ciptaan. Jangan melakukan hal-hal yang melawan hati nuranimu; apa yang harus engkau lakukan adalah mengabdikan dirimu kepada Tuhan segala ciptaan" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Makna Penting Menyelamatkan Keturunan Moab"). Aku adalah makhluk ciptaan; sudah menjadi tugasku untuk memberitakan Injil dan bersaksi tentang Tuhan. Aku tidak boleh berhenti melaksanakan tugasku dengan sungguh-sungguh hanya karena tidak akan memiliki kesudahan yang baik. Bukankah itu berarti tidak memiliki hati nurani dan nalar? Setelah itu, aku terus memberitakan Injil. Aku senang ketika mendapatkan hasil, tetapi jauh di lubuk hatiku, aku selalu merasa ada beban. Aku teringat bagaimana aku telah melakukan pelanggaran dan berbeda dari yang lain—ketika mereka memberitakan Injil, mereka bisa mendapatkan perkenanan Tuhan dan memiliki harapan untuk diselamatkan, tetapi sebanyak apa pun aku memberitakan Injil, aku tidak akan pernah diampuni oleh Tuhan. Terkadang aku merasa putus asa.

Kemudian, aku membaca firman Tuhan dan mendapatkan sedikit pemahaman tentang keadaanku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Banyak orang yang mengikut Tuhan hanya peduli dengan bagaimana memperoleh berkat atau menghindari bencana. Begitu pekerjaan dan pengelolaan Tuhan disebut, mereka terdiam dan sama sekali tidak tertarik. Mereka berpikir bahwa memahami perkara yang membosankan semacam itu tidak akan membantu kehidupan mereka untuk bertumbuh atau memberikan manfaat apa pun. Akibatnya, walaupun mereka telah mendengar informasi tentang pengelolaan Tuhan, mereka menyikapinya dengan tidak serius. Mereka tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang berharga untuk diterima, apalagi memahaminya sebagai bagian dari kehidupan mereka. Tujuan orang-orang ini mengikuti Tuhan sangat sederhana, dan itu untuk satu tujuan: untuk diberkati. Orang-orang ini tidak mau repot-repot memperhatikan hal lain apa pun yang tidak ada hubungannya dengan tujuan ini. Bagi mereka, tidak ada tujuan percaya kepada Tuhan yang lebih sah daripada memperoleh berkat—inilah nilai sebenarnya dari iman mereka. Jika sesuatu tidak berkontribusi untuk tujuan ini, apa pun itu, mereka tetap tidak tergerak olehnya. Inilah yang terjadi dengan kebanyakan orang yang percaya kepada Tuhan pada masa kini. Tujuan dan niat mereka kelihatannya dapat dibenarkan, karena bersamaan dengan percaya kepada Tuhan, mereka juga mengorbankan diri untuk Tuhan, mengabdikan diri mereka kepada Tuhan, dan melaksanakan tugas mereka. Mereka mengorbankan masa muda mereka, meninggalkan keluarga dan karier, dan bahkan menghabiskan bertahun-tahun jauh dari rumah sibuk ke sana kemari. Demi tujuan akhir mereka, mereka mengubah minat mereka, pandangan hidup mereka, dan bahkan mengubah arah yang mereka kejar, tetapi mereka tidak dapat mengubah tujuan kepercayaan mereka kepada Tuhan. Mereka sibuk ke sana kemari untuk mengelola aspirasi mereka sendiri; sejauh apa pun jalannya, dan sebanyak apa pun kesukaran, bahaya, dan rintangan yang ada di sepanjang jalan, mereka tetap tekun dan tidak takut mati. Kekuatan apa yang mendorong mereka untuk terus mendedikasikan diri mereka seperti ini? Apakah hati nurani mereka? Apakah integritas mereka yang agung dan mulia itu? Apakah tekad mereka untuk melawan kekuatan jahat sampai pada akhirnya? Apakah iman mereka untuk memberikan kesaksian tentang Tuhan tanpa mencari upah? Apakah pengabdian mereka yang rela menyerahkan segalanya untuk menyelesaikan kehendak Tuhan? Atau apakah semangat penuh dedikasi mereka untuk selalu meninggalkan tuntutan pribadi mereka yang berlebihan? Bagi seseorang yang tidak pernah memahami pekerjaan pengelolaan Tuhan, tetap mengorbankan begitu banyak hati dan usaha, benar-benar suatu mukjizat! Untuk saat ini, kita tidak perlu membahas berapa banyak yang telah diberikan oleh orang-orang ini. Meskipun demikian, perilaku mereka sangat layak untuk dianalisis. Selain dari keuntungan yang berhubungan sangat erat dengan mereka, mungkinkah ada alasan lain mengapa orang-orang yang tidak pernah memahami Tuhan akan membayar harga yang begitu mahal bagi-Nya? Di sini, kita menemukan masalah yang sebelumnya tidak teridentifikasi oleh manusia: Hubungan manusia dengan Tuhan hanyalah hubungan yang didasarkan pada kepentingan pribadi yang terang-terangan. Hubungan ini adalah hubungan antara penerima dan pemberi berkat. Sederhananya, ini adalah hubungan antara pekerja dan majikan. Pekerja bekerja keras hanya untuk menerima upah yang diberikan oleh majikannya. Tidak ada kasih sayang kekeluargaan dalam hubungan yang didasarkan pada kepentingan pribadi semacam ini, hanya ada transaksi. Tidak ada mengasihi dan dikasihi, hanya derma dan belas kasihan. Tidak ada pengertian, hanya keterpaksaan menahan amarah dan penipuan. Tidak ada keintiman, hanya jurang yang tak terjembatani. Sekarang setelah segala sesuatunya telah sampai pada titik ini, siapa yang mampu membalikkan tendensi semacam ini? Dan berapa banyakkah orang yang benar-benar mampu memahami betapa gentingnya hubungan ini? Aku yakin bahwa ketika orang membenamkan diri dalam suasana penuh sukacita karena diberkati, tak seorang pun yang dapat membayangkan betapa canggung dan buruknya hubungan dengan Tuhan yang seperti ini" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Lampiran 3: Manusia Hanya Dapat Diselamatkan di Tengah Pengelolaan Tuhan"). Setelah membaca firman Tuhan, aku merasa tercerahkan sekaligus malu. Hubunganku dengan Tuhan persis seperti yang telah Dia singkapkan: semata-mata demi kepentingan diri sendiri. Ketika aku percaya kepada Tuhan, aku menanggung penganiayaan dan meninggalkan keluargaku untuk mendapatkan berkat dan masuk ke kerajaan surga. Meski melewati dingin yang menusuk dan panas terik, serta betapapun banyaknya penderitaan, dengan tekun aku memimpin gereja-gereja dan memberitakan Injil. Namun, ketika dihadapkan pada pekerjaan Tuhan di akhir zaman, aku bukan saja tidak mencari atau menyelidikinya sendiri, melainkan juga mengutuk dan menentangnya, bahkan menutup akses gereja untuk mencegah orang percaya menerima Tuhan Yang Mahakuasa. Setelah menerima pekerjaan Tuhan di akhir zaman, aku menyadari bahwa aku telah melakukan kejahatan dan menentang Tuhan. Pikiran pertamaku bukanlah bagaimana bertobat kepada Tuhan, melainkan bagaimana aku bisa lebih banyak memberitakan Injil untuk menebus pelanggaranku dan menukarnya dengan belas kasihan Tuhan, sehingga Dia akan memberiku kesempatan untuk masuk ke kerajaan surga. Ketika kubaca bahwa Tuhan "tidak dapat menunjukkan kelonggaran" terhadap mereka yang telah menghujat dan memfitnah-Nya, aku percaya bahwa betapapun kerasnya usahaku dalam tugas, aku tidak akan pernah menerima kelonggaran Tuhan, dan harapanku untuk diselamatkan telah sirna. Aku kemudian menjadi negatif dan pasif dalam melaksanakan tugasku. Dari awal hingga akhir, yang kupedulikan hanyalah menerima berkat. Aku meninggalkan segalanya, mengorbankan diri, bekerja keras, dan berusaha bukan demi mengejar kebenaran atau pengenalan akan Tuhan, melainkan untuk menukarnya dengan berkat masuk ke kerajaan surga. Bukankah ini persis seperti yang Tuhan singkapkan sebagai "Hanya keterpaksaan menahan amarah dan penipuan"? Selama bertahun-tahun aku percaya kepada Tuhan, aku tidak pernah mencari maksud Tuhan. Aku tidak pernah memikirkan Tuhan ingin aku mengejar apa, Dia menuntutku apa, bagaimana aku harus memperhatikan maksud-Nya dan memuaskan-Nya, atau bagaimana aku harus mengejar kebenaran untuk mencapai perubahan dalam watakku. Dalam benakku, mengejar kebenaran dalam imanku terasa seperti sesuatu yang sekadar tambahan, dan mengejar berkat terasa paling realistis. Selama ini aku benar-benar telah dibutakan oleh keinginan akan berkat dan telah menempuh jalan yang salah. Aku teringat pada Paulus. Dia tidak mendengarkan atau mencari ketika Tuhan Yesus sedang bekerja; sebaliknya, dia mengutuk dan menentang Tuhan Yesus, memburu dan membunuh murid-murid-Nya, serta melakukan banyak perbuatan jahat. Setelah dijatuhkan oleh Tuhan, dia sama sekali tidak merenungkan tindakan dan esensinya di masa lalu yang menentang Tuhan. Dia juga tidak mengejar pengenalan akan Tuhan, tetapi hanya ingin memberitakan Injil dan mendapatkan lebih banyak orang untuk menebus dosa-dosanya. Setelah melakukan banyak pekerjaan, dia dengan tidak tahu malu menuntut mahkota dari Tuhan, dengan berkata: "Aku sudah melakukan pertandingan yang baik. Aku sudah menyelesaikan perlombaanku, aku sudah menjaga imanku: Mulai dari sekarang sudah tersedia bagiku mahkota kebenaran" (2 Timotius 4:7-8). Aku meninggalkan segalanya, mengorbankan diri, dan melaksanakan tugasku untuk menuntut berkat dari Tuhan; aku sedang menempuh jalan Paulus. Menyadari hal ini, aku dipenuhi dengan penyesalan dan menyalahkan diri sendiri, lalu aku menangis dan berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, sekarang aku mengerti betapa hina dan buruknya diriku. Meskipun aku telah memberitakan Injil dan melaksanakan tugasku selama bertahun-tahun, aku sebenarnya hanya menggunakan tugasku untuk mencapai tujuanku mendapatkan berkat. Aku benar-benar tidak layak untuk hidup di hadapan-Mu. Ya Tuhan, aku berdoa agar Engkau menuntunku untuk mengejar perubahan dalam watakku dan mengejar pengenalan akan Engkau."

Kemudian aku membaca lebih banyak firman Tuhan dan mulai sedikit memahami tentang maksud-Nya untuk menyelamatkan manusia. Tuhan berfirman: "Hari ini Tuhan menghakimi, menghajar dan menghukum engkau semua, tetapi engkau seharusnya tahu bahwa tujuan penghukumanmu adalah agar engkau mengenal dirimu sendiri. Dia menghukum, mengutuk, menghakimi, dan menghajar agar engkau dapat mengenal dirimu sendiri, agar watakmu dapat berubah, dan terlebih lagi, agar engkau dapat mengetahui nilaimu dan melihat bahwa semua tindakan Tuhan adalah benar dan sesuai dengan watak-Nya serta kebutuhan pekerjaan-Nya, bahwa Dia bekerja sesuai dengan rencana-Nya untuk menyelamatkan manusia, dan bahwa Dia adalah Tuhan yang benar, yang mengasihi dan menyelamatkan manusia, dan yang juga menghakimi dan menghajar manusia. Jika engkau hanya tahu bahwa statusmu rendah, bahwa engkau rusak dan memberontak, tetapi tidak tahu bahwa Tuhan ingin menyatakan keselamatan-Nya dengan jelas melalui penghakiman dan hajaran yang Dia lakukan dalam dirimu sekarang ini, engkau tidak dapat mengalaminya, apalagi mampu untuk terus maju. Tuhan tidak datang untuk membunuh atau menghancurkan manusia, tetapi untuk menghakimi, mengutuk, menghajar, dan menyelamatkan mereka. Sampai rencana pengelolaan-Nya selama 6.000 tahun berakhir—sebelum Dia menyingkapkan kesudahan setiap golongan manusia—pekerjaan Tuhan di bumi adalah demi keselamatan; tujuannya semata-mata adalah untuk melengkapi mereka yang mengasihi Dia secara menyeluruh dan membawa mereka untuk berserah di bawah kekuasaan-Nya. ... Tuhan telah datang untuk bekerja di bumi untuk menyelamatkan umat manusia yang rusak; tidak ada kepalsuan dalam hal ini. Jika ada kepalsuan, Dia pasti tidak akan datang untuk melakukan pekerjaan-Nya secara pribadi. Di masa lalu, cara Dia menyelamatkan adalah dengan menunjukkan belas kasihan dan kasih setia yang terbesar, sampai-sampai Dia menyerahkan segala milik-Nya kepada Iblis untuk ditukar dengan seluruh umat manusia. Masa kini berbeda dengan masa lalu: Keselamatan yang dianugerahkan kepada engkau semua hari ini terjadi pada saat akhir zaman, ketika setiap orang digolongkan menurut jenisnya; cara menyelamatkan engkau semua bukanlah dengan belas kasihan atau kasih setia, melainkan melalui hajaran dan penghakiman agar manusia dapat diselamatkan secara lebih menyeluruh. Karena itu, yang engkau semua terima hanyalah hajaran, penghakiman, dan pukulan tak berbelas kasihan, tetapi ketahuilah ini: Dalam pukulan yang tak berbelas kasihan ini tidak ada sedikit pun hukuman. Sekeras apa pun firman-Ku, yang menimpa engkau semua hanyalah beberapa perkataan yang mungkin kelihatannya sama sekali tanpa belas kasihan bagimu, dan semarah apa pun Aku, yang menimpa engkau semua tetaplah perkataan teguran, dan Aku tidak bermaksud menyakitimu ataupun membunuhmu. Bukankah semua ini fakta? Ketahuilah bahwa sekarang ini, entah itu penghakiman yang adil atau pemurnian dan hajaran yang tidak berperasaan, semuanya demi keselamatan. Entah pada hari ini setiap orang akan digolongkan menurut jenisnya atau entah segala jenis orang akan disingkapkan, tujuan dari semua firman dan pekerjaan Tuhan adalah untuk menyelamatkan mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Penghakiman yang adil dilakukan untuk menyucikan manusia, dan pemurnian yang keras dilakukan untuk mentahirkan mereka; perkataan maupun didikan yang keras dilakukan untuk menyucikan dan demi keselamatan" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Engkau Harus Mengesampingkan Manfaat dari Status dan Memahami Maksud Tuhan untuk Memberikan Keselamatan kepada Manusia"). "Tuhan datang kali ini tidak untuk membunuh manusia, tetapi untuk menyelamatkan manusia semaksimal mungkin. Tak ada seorang pun yang tanpa kesalahan, jika semua orang dibunuh, apakah itu disebut keselamatan? Beberapa pelanggaran dilakukan dengan sengaja, sementara yang lainnya dilakukan tanpa disengaja. Jika engkau dapat berubah setelah engkau mengenalinya, apakah Tuhan akan membunuhmu sebelum engkau berubah? Akankah Tuhan menyelamatkan manusia dengan cara itu? Itu bukan cara Dia bekerja! Apakah engkau memiliki watak pemberontak atau apakah engkau telah bertindak di luar kehendakmu, ingatlah ini: Engkau harus merenungkan dan mengenal dirimu sendiri. Segeralah berbalik dan kejarlah kebenaran dengan segenap kekuatanmu—dan, apa pun yang terjadi, jangan berputus asa. Pekerjaan yang sedang Tuhan lakukan adalah pekerjaan penyelamatan manusia, dan Dia tidak akan dengan sewenang-wenang membunuh manusia yang ingin Dia selamatkan. Ini pasti" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Aku sangat tersentuh oleh firman Tuhan. Entah firman yang Tuhan ucapkan kepada manusia itu berupa penghakiman, penghukuman, atau kutukan, semuanya demi menyelamatkan manusia—agar melalui firman-Nya, manusia mengetahui watak rusak mereka sendiri dan ketidakmurnian dalam iman mereka, mengetahui esensi mereka yang menentang Tuhan, serta mengenal watak Tuhan yang benar, megah, dan tidak dapat disinggung, sehingga mereka memiliki hati yang takut akan Tuhan. Dengan begitu, mereka dapat melepaskan niat kelirunya, membuang watak rusak Iblis di diri mereka, serta memperoleh keselamatan Tuhan. Aku percaya kepada Tuhan tetapi tidak mengenal Dia atau pekerjaan-Nya. Aku menentang Tuhan dengan watakku yang congkak. Ketika Injil Kerajaan Tuhan diberitakan ke denominasiku sebelumnya, aku tidak mencari atau menyelidikinya, dan bahkan mengganggu orang percaya lainnya serta menghalangi mereka untuk melakukannya. Penghakiman dan penghukuman Tuhan atas tindakanku telah sepenuhnya menyingkapkan watak-Nya yang benar. Namun, ketika Tuhan menghakimi dan menghukumku dengan firman-Nya, Dia tidak sedang menentukan kesudahanku, apalagi menyerahkanku pada maut. Tujuan Tuhan adalah agar aku mengetahui watak-Nya yang benar, megah, dan tidak dapat disinggung, sehingga aku dapat memiliki hati yang takut akan Tuhan. Tujuan-Nya juga agar aku memahami natur dari tindakanku, merenungkan akar penyebab kegagalanku, serta mampu bertobat dan berubah. Beginilah cara Tuhan menyucikan dan menyelamatkanku. Apa pun yang Tuhan katakan, harapan-Nya adalah agar aku merenungkan dan memahami watak Iblisku yang memberontak serta menentang Tuhan, sehingga aku bisa bertobat dan berubah. Seperti yang Tuhan firmankan: "Pekerjaan yang sedang Tuhan lakukan adalah pekerjaan penyelamatan manusia, dan Dia tidak akan dengan sewenang-wenang membunuh manusia yang ingin Dia selamatkan. Ini pasti." Aku telah membatasi pekerjaan Tuhan hanya di Alkitab, mengutuk dan menentang pekerjaan-Nya di akhir zaman, dan bahkan mencegah orang percaya untuk menerimanya. Aku melihat bahwa meskipun percaya kepada Tuhan, aku sama sekali tidak memiliki pengenalan akan Dia. Watakku sangat congkak, dan aku tidak memiliki sedikit pun hati yang takut akan Tuhan maupun kerendahan hati. Aku telah melakukan begitu banyak perbuatan jahat sehingga aku seharusnya dikutuk dan dihukum oleh Tuhan. Namun, Tuhan tidak memperlakukanku menurut perbuatan jahatku. Sebaliknya, Dia membawaku ke hadapan-Nya melalui Injil yang diberitakan oleh saudara-saudariku dan mengizinkanku untuk merenungkan dan mengenal diriku sendiri melalui penghakiman, penghukuman, dan penyingkapan firman-Nya. Seandainya bukan karena penghakiman Tuhan, aku akan seumur hidup percaya kepada-Nya tanpa pernah merenungkan atau mengenal diriku sendiri. Aku tidak akan mengenali naturku yang congkak atau menyadari bahwa semua upaya dan pengorbananku adalah demi menerima berkat. Aku hanya akan terus menyusuri jalan yang salah, memberontak terhadap Tuhan, menentang-Nya, menyinggung watak-Nya, dan pada akhirnya dibenci dan ditolak serta disingkirkan oleh-Nya. Penghakiman keras dari Tuhanlah yang menyelamatkanku, memberiku kesempatan untuk mengenal diriku sendiri dan bertobat kepada-Nya. Tuhan hanya menghakimiku dengan firman-Nya; Dia tidak menghukumku, tetapi malah mengizinkanku menikmati begitu banyak perbekalan firman-Nya serta menuntunku untuk memahami banyak kebenaran. Aku telah menerima begitu banyak dari Tuhan. Bahkan hanya menjadi pelaku pelayanan adalah tindakan kasih karunia Tuhan dan peninggian-Nya. Sekalipun aku kelak tidak memiliki kesudahan dan tempat tujuan yang baik, aku harus tetap melaksanakan tugasku dengan baik. Aku sangat beruntung telah datang ke hadapan Sang Pencipta dan mendengar suara-Nya. Hidupku tidak sia-sia. Apa pun kesudahanku kelak, aku bersyukur dan memuji Tuhan!

Setelah itu, aku membaca lebih banyak firman Tuhan. Aku mampu menghadapi pelanggaranku dengan benar, dan jalan penerapan menjadi lebih jelas bagiku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Selama saat ini engkau masih memiliki sedikit harapan, apakah Tuhan mengingat pelanggaran masa lalumu atau tidak, sikap mental apa yang harus engkau pertahankan? 'Aku harus mengupayakan perubahan dalam watakku, mengejar pengetahuan tentang Tuhan, tidak pernah lagi tertipu oleh Iblis, dan tidak pernah lagi melakukan apa pun yang akan mempermalukan nama Tuhan.' Manusia saat ini sangat rusak dan tidak berharga sama sekali. Apa saja faktor penting yang menentukan apakah mereka bisa diselamatkan dan memiliki harapan? Faktor-faktor penting tersebut adalah setelah mendengarkan khotbah, apakah engkau mampu memahami kebenaran, apakah engkau mampu menerapkan kebenaran, dan apakah engkau bisa berubah. Inilah faktor-faktor pentingnya. Jika engkau hanya merasa menyesal, dan ketika tiba waktunya untuk melakukan sesuatu, engkau hanya melakukan apa yang kauinginkan seperti kebiasaan lamamu, tidak mencari kebenaran, tetap berpegang pada pandangan, metode, dan peraturan lama, tidak merenungkan dan mencoba mengenal dirimu sendiri, tetapi justru makin buruk dan tetap bersikeras menempuh jalan lamamu, engkau akan kehilangan harapan dan tidak akan berguna lagi. Dengan pengetahuan yang lebih dalam tentang Tuhan dan kesadaran diri yang lebih besar, engkau akan lebih mampu menghentikan dirimu dari melakukan kejahatan dan dosa. Makin menyeluruh pengetahuanmu tentang watakmu, makin baik engkau mampu melindungi dirimu sendiri, dan setelah merangkum pengalaman serta pelajaranmu, engkau tidak akan gagal lagi" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). "Jika orang ingin meluruskan kesalahpahaman mereka tentang Tuhan, di satu sisi, mereka harus mengenali watak rusaknya sendiri dan menganalisis serta mengenali kesalahan yang telah mereka perbuat, jalan memutar yang telah mereka tempuh, dan pelanggaran serta kelalaian mereka. Hanya dengan cara ini mereka akan mampu melihat naturnya sendiri dengan jelas dan memperoleh pemahaman tentangnya. Selain itu, mereka harus memahami dengan jelas mengapa mereka mengambil jalan yang salah dan melakukan begitu banyak hal yang melanggar prinsip-prinsip kebenaran, dan apa natur dari tindakan-tindakan itu. Selain itu, mereka harus memahami apa tepatnya maksud dan tuntutan Tuhan bagi mereka, mengapa mereka selalu tidak mampu bertindak sesuai dengan tuntutan Tuhan, dan mengapa mereka selalu bertentangan dengan maksud-Nya dan melakukan apa yang mereka sukai. Bawalah semua ini ke hadapan Tuhan dan berdoalah, pahami dengan jelas, maka engkau akan mampu mengubah keadaanmu, mengubah pola pikirmu, dan menyelesaikan kesalahpahamanmu tentang Tuhan. Ada orang-orang yang selalu menyimpan maksud yang tidak pantas terlepas apa pun yang mereka lakukan, selalu memiliki ide jahat, dan tidak dapat memeriksa benar atau tidaknya keadaan batin mereka, atau membedakannya sesuai dengan firman Tuhan. Orang-orang ini bingung. Salah satu ciri paling jelas dari orang yang bingung adalah setelah melakukan sesuatu yang buruk, mereka tetap bersikap negatif ketika menghadapi pemangkasan, bahkan menyerah pada keputusasaan dan menyimpulkan bahwa hidup mereka telah tamat dan tidak bisa diselamatkan. Bukankah ini perilaku yang paling menyedihkan dari orang yang bingung? Mereka tidak mampu merenungkan diri mereka sesuai dengan firman Tuhan, dan tidak mampu mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah ketika menghadapi kesulitan. Bukankah ini bingung sekali? Apakah menyerah pada keputusasaan bisa menyelesaikan masalah? Apakah selalu bergulat dalam kenegatifan bisa menyelesaikan masalah? Orang harus memahami bahwa jika mereka berbuat salah atau menghadapi masalah, mereka harus mencari kebenaran untuk menyelesaikannya. Mereka perlu terlebih dahulu merenungkan dan memahami alasan melakukan kejahatan, apa niat dan titik awal mereka dalam melakukannya, mengapa mereka ingin melakukannya dan apa tujuannya, serta apakah ada seseorang yang mendorong, menghasut, atau menyesatkan mereka untuk melakukannya, atau apakah mereka melakukannya dengan sadar. Pertanyaan-pertanyaan ini harus direnungkan dan dipahami dengan jelas sehingga mereka mampu mengetahui kesalahan yang diperbuat dan memahami siapa diri mereka. Jika engkau tidak dapat mengenali esensi perbuatan jahatmu atau belajar dari kesalahan itu, masalah tersebut tidak dapat diselesaikan. Banyak orang melakukan hal-hal buruk dan tidak pernah merenungkan serta mengenal diri mereka sendiri, bisakah orang-orang seperti itu benar-benar bertobat? Adakah harapan bagi mereka untuk memperoleh keselamatan? Manusia adalah keturunan Iblis, dan terlepas mereka telah menyinggung watak Tuhan atau tidak, esensi natur mereka tetap sama. Mereka harus merenungkan dan mengenal diri mereka lebih baik, melihat dengan jelas sejauh mana mereka telah memberontak dan menentang Tuhan, dan apakah mereka masih dapat menerima dan menerapkan kebenaran. Jika mereka melihat hal ini dengan jelas, mereka akan tahu seberapa besar bahaya yang mereka hadapi. Sebenarnya, berdasarkan esensi natur mereka, semua manusia yang rusak berada dalam bahaya; diperlukan upaya besar bagi mereka untuk menerima kebenaran dan ini tidak mudah bagi mereka. Ada yang telah melakukan kejahatan dan mengungkap esensi naturnya, sementara ada yang belum pernah melakukan kejahatan tetapi tidak jauh lebih baik dari orang lain—mereka hanya belum memiliki situasi atau kesempatan untuk melakukannya. Karena engkau memiliki pelanggaran-pelanggaran ini, engkau harus jelas di dalam hatimu tentang sikap apa yang harus kaumiliki sekarang, apa yang harus engkau pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, dan apa yang ingin Dia lihat. Engkau harus memahami hal-hal ini dengan jelas melalui doa dan pencarian; maka engkau akan tahu bagaimana harus mengejar di kemudian hari, dan tidak lagi dipengaruhi atau dikekang oleh kesalahan yang kauperbuat di masa lalu. Engkau harus menempuh jalan di depan sebagaimana seharusnya dan melaksanakan tugasmu sebagaimana seharusnya, dan tidak lagi menyerahkan dirimu pada keputusasaan; engkau harus sepenuhnya keluar dari kenegatifan dan kesalahpahaman. Di satu sisi, melaksanakan tugasmu sekarang adalah untuk menebus pelanggaran dan kelalaianmu di masa lalu; ini adalah cara yang negatif dan tidak begitu diinginkan, tetapi inilah pola pikir yang setidaknya harus kaumiliki. Di sisi lain, engkau harus bekerja sama secara positif dan proaktif, berupaya sebaik mungkin untuk melaksanakan tugas yang seharusnya kaulaksanakan dengan baik, serta memenuhi tanggung jawab dan kewajibanmu. Inilah yang seharusnya dilakukan makhluk ciptaan. Entah engkau memiliki gagasan apa pun tentang Tuhan, atau engkau memperlihatkan kerusakan, atau engkau menyinggung watak-Nya, engkau harus mengatasi semua ini dengan merenungkan diri dan mencari kebenaran. Engkau harus belajar dari kegagalanmu dan keluar sepenuhnya dari bayang-bayang kenegatifan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Mengejar Kebenaran Orang Bisa Meluruskan Gagasan dan Kesalahpahaman Mereka tentang Tuhan"). Dari firman Tuhan, aku mengerti bahwa entah Tuhan mengingat atau mengampuni pelanggaranku, selama masih ada secercah harapan untuk keselamatan, aku tidak boleh menyerah. Aku hanya perlu berfokus pada mengejar kebenaran dan perubahan dalam watakku. Itulah jalan yang benar. Faktanya, aku telah melakukan pelanggaran, tetapi sekarang, Tuhan belum menyerahkanku kepada Iblis, Dia juga belum mengambil kelayakanku dalam melaksanakan tugasku. Aku bisa membaca firman Tuhan, melaksanakan tugasku, dan masih memiliki kesempatan untuk mengejar kebenaran serta perubahan watak, jadi aku tidak boleh menyerah. Entah Tuhan mengingat atau mengampuni pelanggaranku, itu terserah Tuhan; aku tidak perlu menebak-nebaknya. Yang perlu kulakukan hanyalah mengejar kebenaran. Tuhan tidak ingin aku terjebak oleh pelanggaranku, melakukan tugasku dalam keadaan negatif. Maksud-Nya adalah agar aku memahami penyebab kegagalanku sehingga aku bisa bertobat dan berubah. Dia ingin aku berhenti membatasi-Nya dengan gagasan dan imajinasiku sendiri, serta berhenti memperlakukan kerja kerasku untuk dimanfaatkan guna mendapatkan berkat. Apa pun yang kuhadapi, besar atau kecil, aku harus memandangnya menurut firman-Nya dan menerapkan firman-Nya. Firman Tuhan juga mengoreksi pandanganku yang salah. Dahulu, kupikir aku berbeda dari yang lain—bahwa dengan melaksanakan tugas, mereka memiliki harapan atas keselamatan, tetapi karena pelanggaranku, aku hanya bisa menjadi pelaku pelayanan dan tidak akan pernah bisa diselamatkan betapapun kerasnya pengejaranku. Itulah menyalahpahami Tuhan. Setelah membaca firman-Nya, aku mengerti bahwa kita semua adalah manusia yang dirusak oleh Iblis, dan kita semua sama-sama memiliki esensi yang menentang Tuhan. Hanya saja aku menyinggung watak Tuhan, yang membuat masalahku lebih serius. Itu adalah fakta. Waktu tidak bisa diputar kembali. Apa yang Tuhan ingin lihat adalah sikap pertobatanku dan perwujudan nyataku. Aku berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, aku mengerti maksud-Mu sekarang. Dalam hidupku, setiap hari aku akan mengejar kebenaran, mengejar perubahan dalam watakku, dan melaksanakan tugasku dengan baik. Entah Engkau mengampuniku atau tidak, aku adalah makhluk ciptaan. Sekalipun Engkau menjadikanku pelaku pelayanan, aku tetaplah makhluk ciptaan. Aku bersedia melaksanakan tugasku dengan baik dan membumi." Setelah memahami hal ini, hatiku jauh lebih tenang. Sekarang setelah Tuhan memberi tahu kita semua aspek kebenaran, aku melihat bahwa mengejar kebenaran adalah yang paling penting. Apa pun kesudahanku kelak atau bagaimanapun Tuhan memperlakukanku, aku akan berfokus pada mengejar kebenaran sambil melaksanakan tugasku serta mengizinkan firman Tuhan menjadi hidupku. Inilah yang harus kukejar. Setelah melewati pengalaman ini, aku benar-benar merasa bahwa penghakiman Tuhan adalah keselamatan terbaik bagiku. Syukur kepada Tuhan!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Hubungi kami via WhatsApp