Pelajaran yang Kupetik dari Tiga Kali Ditangkap

11 Maret 2026

Pada bulan Mei 2011, ibuku memberitakan Injil Tuhan pada akhir zaman kepadaku. Setelah membaca firman Tuhan, aku jadi bahwa langit dan bumi dan segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan, bahwa umat manusia juga diciptakan oleh Tuhan, dan bahwa sepenuhnya wajar dan dapat dibenarkan bagi orang-orang untuk percaya kepada Tuhan dan menyembah-Nya. Setelah menyelidiki selama beberapa waktu, aku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman. Karena PKT menangkap dan menganiaya orang-orang yang percaya kepada Tuhan, ayah, kakek, dan nenekku takut terkena imbasnya, sehingga mereka selalu menentang dan menganiaya ibuku karena beriman, jadi aku tidak berani memberi tahu keluargaku tentang kepercayaanku sendiri kepada Tuhan.

Pada akhir tahun 2012, aku ditangkap karena memberitakan Injil; aku berusia 19 tahun saat itu. Meskipun polisi tidak menemukan bukti bahwa aku beriman, mereka tetap menahanku secara ilegal selama 32 jam. Setelah keluargaku menggunakan koneksi, barulah aku dibebaskan. Kakek dan pamanku datang menjemputku. Di jalan, pamanku berkata, "Kakek dan nenekmu telah bersusah payah membesarkanmu, dan mereka masih harus mengkhawatirkanmu setiap saat bahkan di usia ini. Begitu nenekmu mendengar kau ditangkap, dia sangat cemas sampai tidak bisa tidur." Melihat rambut putih kakekku, aku merasakan kepedihan di hatiku. Sesampainya di rumah, aku melihat nenek dan bibi-bibiku duduk di halaman. Nenekku menunjuk dengan jari gemetar ke arahku dan berkata, "Katakan, apa kau mengikuti ibumu percaya kepada Tuhan?" Bibiku berkata dengan nada mengejek, "Bisakah kau tidak menyusahkan kami dan berhenti membuat kami khawatir? Polisi datang ke rumahmu. Biarpun kau tidak malu, aku malu karenamu! Sekarang kau telah mempermalukan seluruh keluarga. Bagaimana bisa kau begitu tidak memikirkan kami?" Nenekku berkata dengan suara gemetar, "Kali ini, bibi dan pamanmu harus menggunakan koneksi untuk mengeluarkanmu. Kalau tidak, polisi sudah memasukkanmu ke penjara. Kau tidak boleh percaya kepada Tuhan lagi!" Bibi-bibiku juga mengatakan beberapa hal yang menghujat dan menghakimi Tuhan. Mendengarkan mereka memarahiku, aku merasa seperti telah melakukan kesalahan besar dan tidak berani menatap mata mereka. Aku juga merasa diperlakukan sangat tidak adil. Percaya kepada Tuhan jelas merupakan hal yang baik, tetapi mereka memarahiku seolah-olah aku telah melakukan kejahatan besar. Tak henti-hentinya aku berdoa kepada Tuhan, meminta Dia menjaga hatiku. Kemudian aku teringat akan firman Tuhan: "Sebagai anggota umat manusia dan orang Kristen yang taat, adalah tanggung jawab dan kewajiban kita semua untuk mempersembahkan pikiran dan tubuh kita untuk memenuhi amanat Tuhan, karena seluruh keberadaan kita berasal dari Tuhan dan ada berkat kedaulatan-Nya. Apabila pikiran dan tubuh kita tidak didedikasikan untuk amanat Tuhan dan pekerjaan yang adil bagi umat manusia, maka jiwa kita akan merasa malu di hadapan orang-orang yang telah menjadi martir demi amanat Tuhan, dan lebih malu lagi di hadapan Tuhan, yang telah menyediakan segalanya untuk kita" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Lampiran 2: Tuhan Berdaulat Atas Nasib Seluruh Umat Manusia"). Aku berpikir, "Benar, hidupku berasal dari Tuhan. Memberitakan Injil dan bersaksi tentang firman Tuhan kepada lebih banyak orang agar mereka dapat menerima keselamatan dari Tuhan, ini adalah hal yang paling adil! Namun, karena aku ditangkap akibat beriman dan membuat keluargaku khawatir dan repot, aku merasa telah membuat mereka cemas dan malu, seolah-olah aku telah melakukan kesalahan. Aku sama sekali tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah! Percaya kepada Tuhan dan memberitakan Injil adalah hal yang paling adil untuk dilakukan. Aku harus memiliki pendirianku sendiri dalam hal iman." Ketika aku memikirkan hal ini, aku tidak lagi terkekang.

Beberapa hari kemudian, PKT mulai menyebarkan rumor-rumor yang tidak berdasar dan kekeliruan di TV, di berbagai media utama, dan secara daring untuk memfitnah Gereja Tuhan Yang Mahakuasa, dan mereka mulai menangkap orang-orang Kristen dari Gereja secara besar-besaran. Setelah mendengar rumor-rumor yang tidak berdasar ini, keluargaku mulai memantauku. Mereka sering meneleponku untuk memeriksa keberadaanku dan sering mencoba membujukku agar berhenti percaya. Kakekku berkata, "Tahukah kau berapa banyak dari mereka yang ditangkap kali ini telah dijatuhi hukuman? Beberapa telah dihukum lebih dari sepuluh tahun, dan itu bahkan berdampak pada keluarga mereka; orang tua kehilangan tunjangan, dan anak-anak tidak bisa bersekolah. Apa bagusnya percaya kepada Tuhan? Mereka akan menangkap dan menghukummu tidak peduli berapa usiamu. Di sebelah utara sini, seseorang seusiamu dijatuhi hukuman tiga tahun. Kita semua mengira pembunuhan adalah kejahatan terburuk dan hukumannya paling berat, tetapi hukuman untuk percaya kepada Tuhan lebih berat daripada untuk pembunuhan!" Kemudian, setiap kali aku pergi ke rumah kakekku, terkadang dia memberitahuku, "Kau tidak boleh percaya kepada Tuhan, dengar? Apa kau tidak lihat di TV? Kata mereka, ketika seseorang percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa, tiga generasi keluarganya akan menderita karenanya. Pekerjaan bibi dan pamanmu semuanya akan terpengaruh, dan itu akan menimbulkan masalah bagi adik laki-laki dan perempuanmu ketika mereka mencoba masuk universitas. Bagaimana mungkin mereka tidak marah padamu? Aku memberitahumu ini demi kebaikanmu sendiri!" Aku ingat bibiku pernah berkata kepadaku, "Kau tidak tahu betapa sulitnya merawatmu waktu kecil. Kau sakit beberapa kali dan hampir mati. Nenekmulah yang selalu ada di sisimu, merawatmu siang dan malam. Dia mencurahkan segenap hati dan usahanya untukmu. Waktu itu kau menderita anemia parah dan stok di bank darah kosong. Kakekmulah yang mendonorkan darahnya untukmu. Sekarang setelah kau dewasa, apa kau masih akan membuat mereka khawatir?" Hatiku terasa pedih. Kakek dan nenekkulah yang telah membesarkanku; mereka merawatku dan berkorban untukku. Sekarang aku sudah dewasa, tetapi aku masih membuat mereka khawatir. Aku merasa sangat tidak berhati nurani. Di lain waktu, ketika aku pulang, kakekku berkata kepadaku, "'Tubuhmu diberikan kepadamu oleh orang tuamu.' Biarpun kau tidak memikirkan dirimu sendiri, kau harus memikirkan keluargamu. Jika suatu hari kau ditangkap karena imanmu dan harus menderita di penjara, bagaimana mungkin hati kami tidak hancur dan sedih?" Mendengar kakekku berkata begitu, perasaanku campur aduk. Aku merasa seperti membuat mereka sangat khawatir dan begitu tidak memikirkan perasaan mereka, seolah-olah semua upaya mereka membesarkanku sia-sia. Aku merasa sangat lemah, jadi aku berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, makin keluargaku mengkhawatirkanku, makin aku merasa berutang budi kepada mereka. Aku tahu percaya kepada-Mu itu baik, tetapi hatiku masih sangat menderita. Mohon, tuntunlah aku!" Setelah berdoa, aku teringat akan firman Tuhan ini: "Tuhan menciptakan dunia ini dan menghadirkan manusia di dalamnya, yakni makhluk hidup yang kepadanya Dia menganugerahkan kehidupan. Pada gilirannya, manusia memiliki orang tua dan kerabat dan tidak sendirian lagi. Sejak pertama kali manusia melihat dunia lahiriah ini, mereka telah ditakdirkan untuk bertahan hidup dalam penentuan Tuhan. Napas kehidupan dari Tuhanlah yang menyokong setiap makhluk hidup sepanjang masa pertumbuhannya hingga dewasa. Selama proses ini, tak seorang pun merasa bahwa manusia ada dan bertumbuh di bawah pemeliharaan Tuhan; sebaliknya mereka yakin bahwa manusia bertumbuh karena jasa pengasuhan orang tua, dan bahwa naluri kehidupan mereka sendirilah yang mendorong proses pertumbuhan mereka. Ini karena manusia tidak mengetahui siapa yang menganugerahkan kehidupan mereka dan dari mana kehidupan itu berasal, apalagi cara naluri kehidupan menciptakan keajaiban. Mereka hanya tahu bahwa makanan adalah dasar keberlanjutan hidup mereka, bahwa kegigihan adalah sumber keberadaan hidupnya, dan bahwa keyakinan dalam benak mereka adalah modal yang menjadi sandaran kelangsungan hidup mereka. Tentang kasih karunia dan perbekalan Tuhan, manusia sama sekali tidak menyadarinya, dan dengan cara inilah manusia menyia-nyiakan kehidupan yang dianugerahkan kepada mereka oleh Tuhan .... Tak seorang pun, yang dijaga Tuhan siang dan malam, mengambil inisiatif untuk menyembah-Nya. Tuhan hanya melakukan pekerjaan dalam diri manusia, yang darinya tidak ada yang bisa diharapkan, sebagaimana yang telah direncanakan-Nya. Dia berbuat demikian dengan harapan bahwa, suatu hari, manusia akan terjaga dari mimpi mereka dan tiba-tiba memahami nilai dan makna kehidupan, harga yang Tuhan bayar untuk semua yang telah diberikan-Nya kepada manusia, dan kerinduan Tuhan yang sangat mendesak dan mendalam agar manusia kembali kepada-Nya" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Tuhan adalah Sumber Kehidupan Manusia"). Dari firman Tuhan, aku menyadari bahwa hidupku berasal dari Tuhan. Meskipun kakek dan nenekku membesarkanku, di balik itu, Tuhanlah yang selalu menjaga dan melindungiku. Waktu kecil, aku pernah tidak sengaja makan racun tikus. Keluargaku membawaku ke tiga rumah sakit, tetapi tidak ada yang mau merawatku; mereka hanya menyuruh keluargaku mempersiapkan pemakamanku. Kakekku seorang dokter, tetapi dia pun tidak berdaya. Akhirnya, satu rumah sakit dengan enggan setuju untuk mencoba menyelamatkanku, dan setelah mereka memberiku perawatan darurat, secara ajaib aku selamat. Di lain waktu, aku menderita penyumbatan usus akut. Dokter menyarankan untuk tidak memijatnya, katanya itu hanya akan memperparah penyumbatan. Aku hampir harus dioperasi, tetapi nenekku memijat perutku dan benar-benar berhasil mengurai penyumbatan itu. Aku masih hidup dan sehat hari ini sepenuhnya karena perlindungan ajaib Tuhan. Aku seharusnya bersyukur atas keselamatan dari Tuhan, bukannya menganggap itu semua jasa kakek-nenekku. Setelah memahami ini, aku tidak lagi merasa berutang budi kepada mereka. Sebulan kemudian, aku mengetahui bahwa gereja membutuhkan orang untuk bekerja sama dalam pekerjaan penginjilan, jadi aku berhenti dari pekerjaanku dan terjun ke penginjilan.

Pada sore hari tanggal 22 Oktober 2013, aku dilaporkan oleh orang jahat saat menghadiri pertemuan dan ditangkap lagi. Aku ditahan selama 15 hari dan didenda seribu yuan. Ayahku datang menjemputku. Dalam perjalanan pulang, wajahnya suram, dan dia diam seribu bahasa. Makin dia diam, makin aku takut; rasanya seperti ketenangan sebelum badai. Aku berdoa dalam hati, "Tuhan, aku tidak tahu apa yang akan kuhadapi. Mohon lindungi aku. Tidak peduli bagaimana keluargaku menyerangku, aku harus tetap teguh dalam kesaksianku bagi-Mu!" Setelah kami sampai di rumah kakek-nenekku, ayahku membentakku, "Polisi memberitahuku, yang kau percayai itu hanyalah manusia biasa! Kalian semua telah ditipu, tetapi kau masih begitu terobsesi!" Aku sangat marah mendengarnya berkata begitu, jadi aku membalas, "Ayah dulu percaya kepada Tuhan Yesus. Secara lahiriah, bukankah Dia juga manusia biasa? Namun, Dia memiliki esensi ilahi dan dapat melakukan pekerjaan Tuhan." Ayahku menudingku dan berkata, "Terobsesi! Benar-benar terobsesi! Polisi bilang kalian adalah organisasi ..." Aku memotong perkataannya, bertanya, "Apa itu organisasi? Organisasi diciptakan oleh manusia; itu adalah kelompok yang bertransaksi demi tujuan dan kepentingannya sendiri. Gereja Tuhan Yang Mahakuasa terbentuk melalui pekerjaan Tuhan. Kami hanya berkumpul untuk membaca firman Tuhan, menyembah Tuhan, berbicara tentang mengenal diri sendiri, dan bersekutu tentang maksud Tuhan. Itu tidak ada hubungannya dengan organisasi. Menyebut gereja Tuhan sebagai organisasi hanyalah mencampuradukkan konsep. Itu yang akan dikatakan orang yang bingung. Orang pintar akan menyelidikinya sendiri dan tidak memercayai omong kosong ini begitu saja." Namun tak disangka, kakekku juga menudingku dan berkata, "Lihat sekeliling desa ini! Adakah orang lain sepertimu? Percaya kepada Tuhan di usia semuda ini! Kau benar-benar telah mempermalukan kami!" Nenek dan pamanku ikut menimpali, memarahiku juga. Ayahku menuntut, "Sepertinya kau tahu banyak. Sudah berapa lama kau percaya? Di mana pertemuanmu?" Aku mengira keluargaku akan cemas setengah mati memikirkanku setelah aku dikurung selama setengah bulan, tetapi pemandangan di hadapanku membuat hatiku menjadi dingin. Bagaimana kerabatku yang dulu penyayang menjadi seperti ini? Rumah itu terasa sedingin es seperti penjara. Hanya karena kepercayaanku kepada Tuhan, keluargaku sendiri mengucilkan dan memojokkan aku. Tidak ada yang memahami aku, dan tidak ada yang peduli bagaimana perasaanku. Aku merasa jalan iman itu terlalu sulit, dan aku menjadi sangat negatif dan lemah. Karena malu akan diriku, ayahku mengurungku di kamar setiap hari. Ketika orang-orang di desa tahu aku ditangkap karena imanku, beberapa dari mereka berdiri di luar rumah kami untuk mengejek dan bergosip. Beberapa anak nakal bahkan berteriak, "Apakah orang percaya itu ada di rumah? Polisi datang!" Suatu malam, ayahku mulai memarahiku lagi, mengatakan seluruh keluarga tidak punya muka untuk bertemu orang lain karenaku. Setelah itu, dia hanya duduk di kamar, merokok sambil membisu dengan wajah muram. Sesaat kemudian, aku mendengar isak tangisnya yang tertahan. Aku belum pernah mendengar ayahku menangis seumur hidupku, dan mendengarnya menangis membuatku menangis juga. Aku berpikir, "Imanku telah membawa dampak negatif yang begitu besar pada keluargaku. Kakek dan nenekku sudah begitu tua, dan mereka masih harus mengkhawatirkanku. Ditambah lagi, ini kedua kalinya aku ditangkap. Jika aku terus bersikeras percaya dan ditangkap lagi, bagaimana mungkin keluargaku sanggup menanggungnya? Mungkin sebaiknya aku berhenti percaya, mencari pekerjaan dan fokus mencari uang saja, dan setidaknya membuat hati mereka tenang." Setelah memikirkan itu, hatiku terasa sakit luar biasa, dan aku berdoa, "Tuhan, aku ingin percaya kepada-Mu, tetapi keluargaku tidak berhenti menganiaya dan menghalangiku, dan aku merasa sangat lemah. Tuhan, mohon, tuntunlah aku!" Setelah berdoa, aku membaca firman Tuhan: "Engkau harus tahu bahwa segala sesuatu yang terjadi pada dirimu adalah ujian yang besar dan itulah saatnya Tuhan membutuhkanmu untuk memberi kesaksian. Meskipun dari luar semua itu kelihatannya tidak penting, ketika hal-hal ini terjadi, semua ini menunjukkan apakah engkau mengasihi Tuhan atau tidak. Jika engkau mengasihi-Nya, engkau akan mampu tetap teguh dalam kesaksianmu bagi-Nya, dan jika engkau belum menerapkan kasih kepada-Nya, ini menunjukkan bahwa engkau bukan orang yang menerapkan kebenaran, bahwa engkau tidak memiliki kebenaran, dan tidak memiliki hidup. Engkau hanyalah sekam!" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Hanya Mengasihi Tuhan yang Berarti Sungguh-Sungguh Percaya kepada Tuhan"). Setelah merenungkan firman Tuhan, aku mengerti bahwa hal-hal ini menimpaku atas izin Tuhan. Itu adalah ujian-Nya bagiku, untuk melihat apakah aku akan berpegang erat pada imanku dan tetap teguh dalam kesaksianku, atau berkompromi dengan Iblis. Dalam menghadapi serangan keluargaku dan gosip tetangga, dan terutama ketika aku mendengar ayahku menangis, aku menyalahkan imanku karena membuat keluargaku dicemooh dan mengkhawatirkanku. Aku kemudian berpikir untuk berhenti beriman; bukankah itu berkompromi dengan Iblis? Jika keluargaku benar-benar khawatir aku memercayai hal yang salah, mereka seharusnya membantuku memeriksanya dan menyelidiki apakah yang kupercayai adalah jalan yang benar. Namun, mereka hanya menyerangku tanpa pandang bulu. Sebenarnya, mereka hanya takut imanku akan menyeret mereka dan merugikan kepentingan mereka sendiri. Aku tidak melihat motif mereka yang sebenarnya dan tertipu oleh apa yang mereka sebut kepedulian terhadapku. Aku hampir jatuh ke dalam tipu muslihat Iblis dan mengkhianati Tuhan. Itu sangat berbahaya! Tidak peduli bagaimana keluargaku menganiayaku di masa depan, aku harus tetap teguh dalam kesaksianku bagi Tuhan dan tidak menyerah pada serangan keluargaku.

Pada tanggal 14 November 2013, ayahku memaksaku pergi ke tempat kerjanya dan menjadikanku tahanan rumah. Ketika dia pergi bekerja, dia mengurungku di dalam rumah dengan dua kunci. Aku mencoba segala cara yang terpikirkan untuk melarikan diri, tetapi tidak ada yang berhasil. Suatu hari, ayahku kembali, duduk di tepi tempat tidur, dan memarahiku, "Lihat dirimu! Masih begitu muda dan sudah ditangkap dua kali! Apa kau tidak malu?" Aku berkata, "Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, aku hanya membaca firman Tuhan. Aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Apa yang memalukan?" Tak kusangka, kemudian ayahku begitu marah. Dia melompat, mencengkeram leherku, dan mulai menampar wajahku berulang kali, sambil berteriak, "Kau ingin percaya? Aku akan memukulmu sampai kau kapok percaya!" Darah mengucur deras dari hidungku, tetapi ayahku tak juga berhenti sampai seorang tetangga mengetuk pintu. Dia memelototiku dan menggeram, "Jika kau terus percaya, aku akan terus memukulmu! Aku akan memukulmu sampai kau tunduk!" Hidungku tidak berhenti berdarah saat itu. Saat aku melihat tempat sampah penuh dengan tisu berdarah, rasa sakit yang luar biasa memenuhi hatiku. "Ayahku sendiri bersikap sebrutal ini hanya karena aku percaya kepada Tuhan. Bagaimana mungkin ini ayahku? Dia adalah Iblis!" Aku tengkurap di tempat tidur dan menangis tersedu-sedu untuk waktu yang lama, merasa bahwa percaya kepada Tuhan terlalu sulit. Aku berpikir, "Jika aku terus percaya, apakah penganiayaan ini tidak pernah berakhir? Mungkin sebaiknya aku bilang saja padanya bahwa aku sudah tidak lagi beriman. Aku bisa mencari pekerjaan di sini dan percaya secara diam-diam. Dengan begitu, dia akan berhenti memukulku." Aku berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, mohon cerahkan dan tuntun aku agar aku bisa memahami maksud-Mu."

Tiga hari kemudian, aku menemukan ponsel lama, mengeluarkan kartu memori berisi firman Tuhan yang telah kusembunyikan, dan memasukkannya. Aku menyalakan ponsel itu dan membaca firman Tuhan: "Sementara mengalami ujian, adalah normal bagi orang untuk merasa lemah, merasa negatif di dalam hatinya, tidak memahami maksud-maksud Tuhan, atau tidak memiliki kejelasan tentang jalan penerapan. Namun bagaimanapun juga, engkau harus memiliki iman dalam pekerjaan Tuhan, dan seperti Ayub, tidak menyangkal Tuhan. Walaupun Ayub lemah dan mengutuki hari kelahirannya, dia tidak menyangkal bahwa segala sesuatu yang manusia miliki setelah mereka dilahirkan dikaruniakan oleh Yahweh dan Dia jugalah yang mengambil semua itu. Apa pun ujian yang dihadapinya, dia tetap mempertahankan keyakinannya ini. ... Apa yang dimaksud dengan iman? Iman adalah kepercayaan yang sejati dan hati yang tulus yang harus manusia miliki ketika mereka tidak bisa melihat atau menyentuh sesuatu, ketika pekerjaan Tuhan tidak sesuai dengan gagasan manusia, atau ketika itu di luar jangkauan manusia. Inilah iman yang Aku maksudkan. Orang perlu memiliki iman selama masa-masa penderitaan dan selama masa-masa pemurnian, dan ketika mereka memiliki iman, mereka kemudian menghadapi pemurnian—pemurnian dan iman tidak bisa terpisahkan. Jika, bagaimanapun cara Tuhan bekerja, dan apa pun lingkunganmu, engkau mampu mengejar kehidupan, mencari kebenaran, mengejar pengetahuan akan pekerjaan Tuhan, serta memahami perbuatan-Nya, dan mampu bertindak sesuai kebenaran, inilah yang disebut memiliki iman sejati, dan ini membuktikan bahwa engkau belum kehilangan iman kepada Tuhan" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Mereka yang Akan Disempurnakan Harus Mengalami Pemurnian"). "Bagaimanapun tingkat pertumbuhanmu yang sebenarnya, engkau harus terlebih dahulu memiliki tekad untuk menderita dan iman yang sejati ini, dan engkau juga harus memiliki tekad untuk memberontak terhadap daging. Engkau harus rela menderita secara pribadi dan mengalami kerugian pada kepentingan pribadimu untuk memenuhi maksud Tuhan. Engkau juga harus memiliki hati yang menyesali diri sendiri: Pada masa lalu, engkau tidak mampu memuaskan Tuhan dan sekarang, engkau dapat menyesali dirimu. Engkau tidak boleh kekurangan satu pun dari hal-hal ini—melalui hal-hal inilah Tuhan akan menyempurnakanmu. Jika engkau tidak dapat memenuhi kriteria ini, engkau tidak bisa disempurnakan" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Mereka yang Akan Disempurnakan Harus Mengalami Pemurnian"). "Pernahkah engkau semua menerima berkat-berkat yang dipersiapkan bagimu? Pernahkah engkau semua mengejar janji-janji yang dibuat untukmu? Di bawah bimbingan terang-Ku, engkau semua pasti akan menerobos cengkeraman kekuatan kegelapan. Engkau semua pasti tidak akan kehilangan bimbingan dari terang-Ku di tengah kegelapan. Engkau semua pasti akan menjadi penguasa atas segala sesuatu. Engkau semua pasti akan menjadi pemenang di hadapan Iblis. Saat runtuhnya negara si naga merah yang sangat besar, engkau semua pasti akan berdiri di tengah-tengah orang banyak sebagai bukti kemenangan-Ku. Engkau semua pasti akan tetap teguh dan tak tergoyahkan di tanah Sinim. Karena penderitaan yang engkau semua tanggung, engkau semua akan mewarisi berkat-berkat-Ku, dan engkau semua pasti akan memancarkan cahaya kemuliaan-Ku di seluruh alam semesta" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta, Bab 19"). Aku membaca bagian-bagian ini berulang kali. Aku teringat akan Ayub. Selama ujiannya, dia kehilangan semua kekayaannya dan anak-anaknya, tubuhnya dipenuhi bisul yang menyakitkan, dan dia bahkan diserang oleh istri dan teman-temannya. Namun, Ayub tidak pernah menyangkal nama Tuhan. Sebaliknya, dia tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan, memuji nama Yahweh, dan tetap teguh dalam kesaksiannya di tengah ujiannya, mempermalukan Iblis. Padahal yang kutanggung hanyalah dikurung dan dipukuli oleh ayahku—hanya sedikit penderitaan fisik—tetapi aku sudah merasa bahwa percaya kepada Tuhan itu terlalu sulit dan menyakitkan, dan bahkan berpikir untuk berhenti beriman. Bukankah ini mengkhianati Tuhan dan tunduk kepada Iblis? Imanku kepada Tuhan begitu kecil! Aktif menghadiri pertemuan dan melaksanakan tugasku di lingkungan yang nyaman tidak berarti aku memiliki iman yang sejati. Iman sejati adalah mampu mengikuti Tuhan bahkan ketika menderita di lingkungan yang buruk. Ayahku telah membawaku ke tempat asing ini, memutus hubunganku dengan saudara-saudari, dan memukuliku—semuanya atas izin Tuhan. Tuhan menggunakan ini untuk menyempurnakan imanku dan tekadku dalam menanggung penderitaan. Ini adalah berkat-Nya! Ketika aku memahami maksud Tuhan, aku berdoa, meminta Tuhan menuntunku agar aku bisa tetap teguh dalam kesaksianku. Selama lebih dari dua puluh hari ditahan ayahku, aku membaca firman Tuhan setiap kali dia pergi bekerja. Hatiku makin dekat dengan Tuhan, dan aku tidak lagi merasa menderita.

Sedikit lebih dari dua puluh hari kemudian, polisi dari kampung halamanku datang dan membawaku kembali ke pusat penahanan. Pada akhir Mei 2014, PKT mendakwaku dengan tuduhan "menggunakan organisasi xie jiao untuk menghalangi pelaksanaan hukum" dan menjatuhkan hukuman tiga tahun penjara, dengan masa percobaan selama empat tahun. Keluargaku harus membayar polisi lebih dari seratus ribu yuan untuk menjamin pembebasanku. Selama masa percobaanku, aku harus melapor ke kantor kehakiman setempat setiap minggu dan harus bisa dihubungi setiap saat. Jika mereka tidak bisa menghubungiku, aku akan mendapat peringatan; jika tiga kali tidak mengangkat panggilan, dan aku akan langsung dikirim kembali ke penjara. Meskipun aku telah dibebaskan, aku tidak memiliki kebebasan pribadi sama sekali. Pamanku telah menggunakan pekerjaannya sebagai jaminan untuk pembebasanku, dan keluargaku menganiayaku lebih parah lagi setelah itu. Aku harus melaporkan setiap gerak-gerikku kepada mereka. Suatu kali, aku keluar selama sekitar tiga jam saja, tetapi ada 14 panggilan tak terjawab dari bibiku. Di malam hari, jika aku tidur sedikit lebih awal, nenekku masuk untuk memeriksa apakah aku sedang berdoa dan bahkan tidak membiarkanku menutup pintu saat aku tidur. Dia bahkan mengikutiku ke toko bibiku saat aku pergi bekerja di sana. Menghadapi pengawasan sepanjang waktu seperti ini, aku merasa sangat lemah dan tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Aku sering berdoa, meminta Tuhan membukakan jalan bagiku. Suatu hari, dalam perjalanan ke kantor kehakiman, aku bertemu dengan seorang saudari. Dia memberitahuku bahwa semua saudara-saudari sedang mendoakanku dan bahwa aku harus lebih banyak berdoa, dan Tuhan akan membimbingku. Perkataannya membuat hatiku sangat tergerak. Dia juga diam-diam menyelipkan pemutar MP5 dan kartu memori berisi video firman Tuhan kepadaku. Setelah itu, aku membaca firman Tuhan: "Engkau harus memiliki keberanian-Ku di dalam dirimu, dan engkau harus memiliki prinsip dalam hal menghadapi kerabat yang tidak percaya. Namun demi Aku, engkau juga tidak boleh menyerah dalam menghadapi kekuatan gelap apa pun. Engkau harus mengandalkan hikmat-Ku untuk menempuh jalan yang sempurna, dan tidak membiarkan konspirasi Iblis apa pun berhasil" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perkataan Kristus pada Mulanya, Bab 10"). Dari firman Tuhan, aku memahami bahwa Dia menggunakan lingkungan ini untuk membangun keberanian dan imanku, untuk membantuku melihat kejahatan Iblis dengan jelas agar aku tidak menyerah pada pengaruhnya tetapi dapat menggunakan hikmat untuk mengalahkannya. Mereka bisa mengendalikan tubuhku, tetapi mereka tidak bisa mengendalikan hatiku. Mereka mengawasiku terus-menerus agar aku tidak berdoa, tetapi aku masih bisa merenungkan firman Tuhan di dalam hatiku dan menenangkan diri di hadapan Tuhan untuk mendekat kepada-Nya. Lambat laun, hatiku tidak lagi merasa putus asa.

Suatu kali, aku memberi tahu keluargaku bahwa aku ingin mengikuti ujian belajar mandiri dan pindah kembali ke rumah lamaku untuk tinggal sendirian. Begitulah aku akhirnya lolos dari pengawasan mereka. Karena aku telah ditangkap tiga kali karena imanku, orang-orang di desaku menjaga jarak dariku. Terkadang, jika ada sekelompok orang yang sedang mengobrol di jalan, mereka langsung bubar begitu aku lewat. Yang lain menatapku dari jauh seolah-olah aku ini orang aneh, berbisik-bisik dan menunjuk-nunjuk di belakang punggungku. Karena malu akan diriku, keluargaku tidak mau berjalan bersamaku di depan umum. Aku merasa seperti orang buangan sepenuhnya, ditolak oleh semua orang, dan aku merasa diperlakukan sangat tidak adil. Berkali-kali aku berseru dalam hatiku, "Yang kulakukan hanyalah percaya kepada Tuhan dan menyembah-Nya, mengejar untuk menjadi orang yang memiliki hati nurani dan nalar. Apa salahku? Mengapa aku bahkan tidak memiliki hak asasi manusia yang mendasar? Mengapa aku harus menanggung penolakan dari keluargaku dan diskriminasi dari tetanggaku?" Aku merasa sangat tertekan dan menderita. Selama waktu itu, aku sering berdoa dan mencari tahu bagaimana seharusnya aku mengalami lingkungan ini.

Kemudian, aku membaca firman Tuhan dan sangat terdorong. Aku tahu bagaimana cara mengalaminya. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Tiga puluh tiga setengah tahun Tuhan di bumi dalam daging itu sendiri merupakan penderitaan yang amat berat, dan tak seorang pun dapat memahami-Nya. ... Penderitaan utama yang Dia tanggung adalah hidup bersama manusia yang rusak hingga tingkat paling parah, menanggung ejekan, hinaan, penghakiman, dan kutukan dari segala macam orang, dikejar oleh setan-setan yang jahat dan ditolak serta dimusuhi oleh dunia keagamaan, yang menciptakan luka dalam jiwa-Nya yang tak seorang pun dapat menebusnya. Itu adalah hal yang menyakitkan. Dia menyelamatkan manusia yang rusak dengan kesabaran yang sangat besar, terlepas dari luka-Nya, Dia mengasihi manusia. Ini adalah pekerjaan yang sangat menyakitkan. Penentangan yang kejam, kutukan dan fitnah, tuduhan palsu, penganiayaan serta pengejaran dan pembunuhan yang dilakukan manusia membuat daging Tuhan melakukan pekerjaan ini dengan menghadapi risiko yang sangat besar. Siapa yang dapat memahami Dia saat Dia menderita rasa sakit ini, dan siapa yang dapat menghibur-Nya?" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Esensi Kristus adalah Kasih"). Aku memikirkan Tuhan Yesus, yang dianiaya oleh pemerintah sejak saat kelahiran-Nya. Ketika Dia memulai pekerjaan-Nya, Dia diejek, dikutuk, dan dihujat, dan akhirnya disalibkan oleh orang-orang Farisi dan pemerintah Romawi. Pada akhir zaman, Tuhan Yang Mahakuasa telah datang untuk bekerja dan menyelamatkan umat manusia, dan Dia juga dikutuk dan menjadi buronan pemerintah PKT. Tuhan sangat menderita untuk menyelamatkan kita, tetapi tidak ada yang memikirkan Dia atau memahami Dia. Bagaimana perasaan-Nya? Aku juga memikirkan Nuh. Tuhan memanggilnya untuk membangun bahtera. Dia mencurahkan seluruh hartanya untuk membangun bahtera sambil juga menyampaikan maksud Tuhan Yahweh, memberi tahu orang-orang untuk naik ke bahtera. Tindakannya disambut dengan ejekan, tetapi Nuh tidak menjadi lemah atau mengeluh karenanya. Dia tetap teguh dalam mengikuti kehendak Tuhan. Namun, di sini aku menjadi begitu negatif dan menderita hanya karena menghadapi sedikit diskriminasi dan ejekan karena mengikuti Tuhan. Aku begitu rapuh. Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Nuh! Aku juga teringat akan apa yang dikatakan Tuhan Yesus: "Masuklah ke pintu gerbang yang sempit itu: karena pintu gerbang yang lebar dan jalan yang luas itu menuju kepada kebinasaan dan banyak orang yang masuk melaluinya: karena pintu gerbang yang sempit dan jalan yang sempit menuju kepada kehidupan, dan hanya sedikit orang yang akan menemukannya" (Matius 7:13-14). Tuhan Yesus sudah lama berkata bahwa ada dua jalan yang bisa ditempuh seseorang. Yang satu melalui pintu yang lebar, jalan mengejar dunia, mencari manfaat yang terlihat seperti kenikmatan daging, ketenaran, keuntungan, dan uang; banyak orang menempuh jalan ini. Yang lain melalui pintu yang sempit, jalan percaya kepada dan mengikuti Tuhan. Ini adalah jalan penderitaan, di mana kau akan menghadapi cemoohan, ejekan, dan bahkan fitnah serta cacian, menghadapi rintangan demi rintangan. Sangat sedikit orang yang mampu menempuh jalan ini. Aku terlalu memedulikan gengsi, reputasi, dan status; ini semua adalah beban di jalan imanku. Aku tahu aku harus melepaskan semua ini dan berpegang teguh pada iman sejati kepada Tuhan untuk terus berjalan dan akhirnya memperoleh hidup. Lagi pula, mendapatkan persetujuan dari orang-orang tidak percaya ini sama sekali tidak ada artinya dan tidak bernilai. Dalam imanku, aku seharusnya mengejar untuk mendapatkan kebenaran dan dihargai oleh Tuhan. Tidak peduli bagaimana orang lain melihatku, aku harus bersikeras percaya kepada Tuhan dan mengikuti-Nya. Setelah memikirkan hal ini, aku tidak lagi terkekang.

Kemudian, aku mengetahui bahwa ayah dan nenekku telah pergi ke tempat kerjaku tanpa sepengetahuanku lebih dari sekali untuk memeriksa apakah aku masuk kerja seperti biasa. Aku merasa tidak punya privasi atau hak asasi manusia sama sekali. Suatu kali, aku membaca firman Tuhan dan mampu membedakan keluargaku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Orang-orang yang memiliki hati nurani yang baik tetapi tidak menerima jalan yang benar adalah setan-setan; esensi mereka esensi yang menentang Tuhan. Mereka yang tidak menerima jalan yang benar adalah mereka yang menentang Tuhan, dan sekalipun orang-orang ini menanggung banyak kesukaran, mereka tetap akan dimusnahkan. Semua orang yang tidak mau melepaskan dunia, yang tidak tahan berpisah dengan orang tua mereka, dan yang tidak sanggup melepaskan diri dari kenikmatan daging mereka sendiri adalah orang-orang yang memberontak terhadap Tuhan, dan mereka semua akan menjadi objek pemusnahan. Siapa pun yang tidak percaya kepada Tuhan yang berinkarnasi adalah orang jahat dan, terlebih lagi, akan dimusnahkan. Mereka yang beriman tetapi tidak melakukan kebenaran, mereka yang tidak percaya kepada Tuhan yang berinkarnasi, dan mereka yang sama sekali tidak percaya pada keberadaan Tuhan juga akan menjadi objek pemusnahan. Semua orang yang diizinkan untuk tetap hidup adalah orang-orang yang telah mengalami penderitaan dari pemurnian dan berdiri teguh; inilah orang yang sudah benar-benar bertahan menghadapi ujian. Siapa pun yang tidak mengakui Tuhan adalah musuh; artinya, siapa pun yang tidak mengakui Tuhan yang berinkarnasi—entah mereka berada di dalam, atau di luar aliran ini—mereka adalah antikristus! Siapakah Iblis, siapakah setan-setan, dan siapakah musuh Tuhan kalau bukan para penentang yang tidak percaya kepada Tuhan?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Tuhan dan Manusia akan Memasuki Istirahat Bersama-sama"). Membaca firman Tuhan membuatku teringat pada anggota keluargaku yang menghalangi imanku. Ibuku telah bersaksi kepada mereka tentang Injil Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman, tetapi tak seorang pun dari mereka mau mencari atau menyelidikinya. Begitu imanku memengaruhi kepentingan mereka, mereka menggunakan segala macam cara untuk menganiayaku dan menghalangi kepercayaanku kepada Tuhan, memarahiku dengan dalih "demi kebaikanku sendiri". Mereka menjadikanku tahanan rumah dan memukuliku untuk memaksaku mengkhianati Tuhan, dan sampai hari itu, mereka masih membuntuti dan memantauku. Aku melihat bahwa esensi natur mereka adalah membenci dan menentang Tuhan. Aku teringat akan Ayub, yang diserang oleh istrinya selama ujiannya. Dia tidak tertipu oleh hal itu ataupun menjadi negatif; sebaliknya, dia menegur istrinya sebagai perempuan bodoh. Ayub memiliki prinsip dalam cara dia memperlakukan keluarganya dan berpegang teguh pada imannya. Aku harus meneladani dia, menolak anggota keluargaku yang menentang Tuhan, dan membuat batasan yang jelas antara aku dan mereka.

Suatu kali, polisi meneleponku, tetapi aku tidak mendengarnya. Beberapa hari kemudian, kakekku datang kepadaku dan berkata, "Kenapa kau tidak mengangkat telepon polisi? Jangan lupa angkat teleponmu!" Aku merasakan gelombang kemarahan. Kemudian, aku membaca satu bagian firman Tuhan dan mampu membedakan esensi jahat PKT yang menentang Tuhan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Selama ribuan tahun, negeri ini telah menjadi negeri yang najis. Negeri ini tak tertahankan kotornya, penuh kesengsaraan, hantu merajalela di mana-mana, menipu dan menyesatkan, membuat tuduhan tak berdasar, dengan buas dan kejam, menginjak-injak kota hantu ini, dan meninggalkannya penuh dengan mayat; bau busuk menyelimuti negeri ini dan memenuhi udara dengan pekatnya, dan tempat ini dijaga ketat. Siapa yang bisa melihat dunia di balik langit? Iblis mengikat erat seluruh tubuh manusia, ia menutupi kedua matanya dan membungkam mulutnya rapat-rapat. Raja iblis telah mengamuk selama beberapa ribu tahun sampai sekarang, di mana ia terus mengawasi kota hantu ini dengan saksama, seakan-akan ini adalah istana setan yang tak bisa ditembus; sementara itu, gerombolan anjing penjaga ini menatap dengan mata liar, penuh ketakutan kalau-kalau Tuhan akan menangkap mereka saat tidak waspada dan memusnahkan mereka semua, sehingga mereka tidak lagi memiliki tempat untuk merasakan kedamaian dan kebahagiaan. Bagaimana mungkin penduduk kota hantu seperti ini pernah melihat Tuhan? Pernahkah mereka menikmati keindahan dan kasih Tuhan? Bagaimana mereka bisa memahami hal-hal dunia manusia? Siapakah di antara mereka yang mampu memahami maksud-maksud Tuhan yang penuh cemas? Maka, tidaklah mengherankan bahwa inkarnasi Tuhan tetap sepenuhnya tersembunyi: di tengah masyarakat yang gelap seperti ini, di mana setan begitu kejam dan tidak manusiawi, bagaimana mungkin raja iblis, yang menghabisi orang-orang tanpa mengedipkan matanya, menoleransi keberadaan Tuhan yang indah, baik, dan juga kudus? Bagaimana mungkin dia bertepuk tangan dan bersorak atas kedatangan Tuhan? Para antek ini! Mereka membalas kebaikan dengan kebencian, sejak dahulu mereka mulai memperlakukan Tuhan sebagai musuh, mereka menyiksa Tuhan, mereka luar biasa buas, mereka sama sekali tidak menghormati Tuhan, mereka menyerang dan merampok, mereka sudah sama sekali kehilangan hati nurani, mereka sepenuhnya melawan hati nurani, dan mereka menggoda orang tidak bersalah menjadi koma. Nenek moyang dari zaman kuno? Pemimpin yang dikasihi? Mereka semuanya menentang Tuhan! Campur tangan mereka membuat segala sesuatu di kolong langit ini menjadi gelap dan kacau! Kebebasan beragama? Hak dan kepentingan yang sah bagi warga negara? Semua itu hanya tipu muslihat untuk menutupi kejahatan!" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pekerjaan dan Jalan Masuk (8)"). Dari firman Tuhan, aku melihat dengan lebih jelas esensi setan PKT, yang memusuhi Tuhan. Dari luar, mereka mengibarkan slogan kebebasan beragama, tetapi kenyataannya, mereka memutarbalikkan benar dan salah serta menyebarkan segala jenis ajaran sesat dan kekeliruan untuk menyesatkan orang-orang yang tidak tahu apa-apa agar memihak kepada mereka untuk menyerang dan menentang Tuhan, serta menganiaya orang-orang Kristen. Ia bertujuan membuat semua orang bergabung dengannya dalam menentang Tuhan dan menuju kebinasaan. PKT adalah setan di bumi, musuh Tuhan; mereka sangat tercela dan jahat! Hanya dalam tiga tahun percaya kepada Tuhan, aku telah ditangkap tiga kali. Bahkan setelah dibebaskan, aku tidak memiliki kebebasan pribadi. Untuk menghasut keluargaku agar menghalangi imanku, PKT mengancam bahwa pekerjaan dan tunjangan tiga generasi anggota keluargaku akan terpengaruh. Demi kepentingan mereka sendiri, keluargaku menganiaya aku secara membabi buta, menghakimi dan menghujat Tuhan, serta terus membuntuti dan memantauku. Penduduk desa juga menjauhiku dan mendiskriminasi aku karena aku pernah ditangkap. Semua ini adalah akibat dari penganiayaan PKT. PKT menggunakan segala cara untuk menghalangi imanku, tetapi mereka tidak pernah membayangkan bahwa aksinya itu tidak hanya membuatku bisa membedakan esensi mereka yang menentang Tuhan, tetapi juga esensi natur keluargaku. Hal itu justru memperkuat imanku untuk mengikuti Tuhan. PKT bisa mengendalikan tubuhku, tetapi mereka tidak bisa mengendalikan hatiku. Aku tidak akan melepaskan imanku ataupun tugasku.

Pada akhir Mei 2015, aku memanfaatkan kesempatan saat mengantar adik perempuanku ke tempat kerja barunya untuk akhirnya meninggalkan rumah dan melaksanakan tugasku. Saat aku melangkah keluar rumah, aku merasa seolah-olah telah terbebas dari belenggu; tubuh dan jiwaku sepenuhnya bebas. Tanpa firman Tuhan yang memberiku iman dan mencerahkanku untuk memahami kebenaran, aku tidak akan pernah bisa mengatasi serangan keluargaku yang tak ada hentinya. Tuhanlah yang menuntunku untuk terbebas dari belenggu "keluarga", memberiku kesempatan untuk akhirnya melaksanakan tugasku. Syukur kepada Tuhan!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Hidup di Ambang Kematian

Oleh Saudari Wang Fang, TiongkokPada tahun 2008, aku bertanggung jawab untuk mengangkut buku-buku gereja. Ini adalah jenis tugas yang...

Setelah Tertangkapnya Aku

Suatu siang di bulan November 2002, aku sedang menyiapkan makanan di rumah, tetapi tiba-tiba aku mendengar serangkaian ketukan cepat di...

Hubungi kami via WhatsApp