Aku Tidak Lagi Terlalu Berhati-hati dalam Tugasku

02 Juni 2026

Oleh Zhao Ziwen, Tiongkok

Pada bulan Mei 2024, aku menerima sebuah surat laporan. Surat itu tentang Saudari Wang Yi, rekan kerjaku sebelumnya. Hasil verifikasi menunjukkan bahwa selama menjadi pemimpin, Wang Yi bersikap congkak dan merasa diri benar. Dia telah mempromosikan dan memakai beberapa orang jahat dan pengikut yang bukan orang percaya untuk pekerjaan gereja, dan dia tidak mau mendengarkan nasihat orang lain yang melarangnya, sehingga sangat merugikan pekerjaan gereja. Pada akhirnya, dia diberhentikan dan diisolasi untuk merenungkan dirinya sendiri. Melihat apa yang terjadi pada Wang Yi, aku sangat tidak tenang. Aku merasa menjadi pemimpin itu benar-benar berbahaya; kita tidak pernah tahu kapan kita mungkin berbuat jahat lalu tersingkap dan disingkirkan. Pada akhir September, aku menerima surat dari para pemimpinku yang memintaku untuk sementara bekerja di gereja yang sebelumnya menjadi tanggung jawab Wang Yi. Dalam hati aku berpikir, "Jalan masuk kehidupanku buruk, dan watakku juga cukup congkak. Jika aku tidak melakukan pekerjaan dengan baik, akankah aku juga disingkapkan dan disingkirkan?" Aku tahu tugas ini datang kepadaku atas izin Tuhan, dan menolaknya tidak akan sejalan dengan maksud Tuhan. Namun, jika aku menerimanya, aku takut akan disingkapkan. Aku merasa sangat bimbang, tetapi pada akhirnya, aku dengan enggan setuju.

Setelah itu, aku pergi bekerja di gereja ini. Setelah beberapa waktu, aku mendapati seorang pengawas teknis tidak terbeban dalam tugasnya, selalu malas dan tidak bertanggung jawab, dan harus segera diberhentikan. Saat itu, aku mempertimbangkan untuk mempromosikan Xincheng agar dilatih melaksanakan tugas sebagai pengawas. Berdasarkan evaluasi dari saudara-saudari, aku bisa melihat bahwa Xincheng terbeban dalam tugasnya dan memiliki keterampilan di bidang tersebut, jadi dia bisa menjalani masa percobaan untuk sementara waktu. Namun, rekan kerjaku, Saudari Lin Hui, mengatakan bahwa keluarga Xincheng menganiayanya karena kepercayaannya kepada Tuhan, dan dia khawatir menjadikannya pengawas akan menimbulkan risiko. Setelah menyelidiki situasinya, aku mengetahui bahwa ketika Xincheng pertama kali mulai percaya kepada Tuhan, dia pun dianiaya suaminya, tetapi beberapa tahun telah berlalu dan sekarang suaminya tidak mengatakan apa-apa. Jadi aku memberi tahu Lin Hui bahwa saat ini tidak ada orang lain yang cocok, dan Xincheng bisa melakukan pekerjaan itu sambil kami mengamatinya, tetapi Lin Hui tetap tidak setuju. Aku berpikir dalam hati, "Aku baru saja tiba di sini untuk melaksanakan tugas ini, jadi aku tidak mengenal anggota gereja sebaik Lin Hui. Ditambah lagi, sikapnya cukup tegas. Jika aku bersikeras memakai Xincheng, bagaimana jika suaminya menganiayanya dan membawa bahaya bagi gereja? Bukankah aku yang harus memikul tanggung jawabnya? Bukankah saudara-saudari kemudian akan mengatakan aku congkak dan merasa diri benar karena tidak mendengarkan pendapat orang lain? Itu akan membuatku berbuat jahat." Memikirkan hal ini, aku tidak mengatakan apa-apa lagi. Akibatnya, kemajuan pekerjaan tertunda karena pengawas teknis itu tidak segera diberhentikan. Selain itu, dalam pekerjaan membina orang, aku melihat bahwa pengkhotbah Li Yan memiliki kualitas dan dapat menerima kebenaran. Namun, jalan masuk kehidupannya dangkal dan dia tidak memahami berbagai prinsip. Tetap saja, aku merasa dia bisa melakukan pekerjaan nyata begitu dia memahaminya, jadi aku berencana untuk membinanya. Namun setelah itu, beberapa orang berkomentar bahwa Li Yan agak licik, mereka bilang dia tidak melaporkan pekerjaan yang perlu dilaporkan dan bahkan mengaku tidak tahu caranya. Setelah bertemu dengannya untuk memahami situasinya, aku menyadari bahwa dia bukannya tidak melaporkan pekerjaan, dia juga tidak licik; hanya saja pengalamannya dangkal dan dia tidak tahu bagaimana melakukan pekerjaan itu. Saat itu, aku berpikir, "Saudara-saudari tidak memperlakukan Li Yan dengan benar; mereka hanya menilai dari penampilan luar. Aku harus bersekutu dengan mereka tentang prinsip-prinsip memperlakukan orang dengan benar." Namun kemudian, aku berpikir lain, "Karena semua saudara-saudari telah mengatakan ini, jika aku masih bersikeras pada pandanganku sendiri, bukankah mereka akan mengatakan aku sama seperti Wang Yi—bahwa aku tidak mendengarkan saran orang lain dan bertindak sewenang-wenang dalam membina orang? Lebih baik aku cari aman saja. Untuk sementara akan kuamati saja dan melihat apa yang terjadi." Setelah mempertimbangkannya, aku tidak jadi membina Li Yan. Ketika para pemimpinku menulis surat untuk menanyakan tentang situasi pembinaan orang, aku berpikir, "Jika aku merekomendasikan Li Yan, bagaimana jika dia tersingkap nantinya? Bukankah para pemimpin akan mengatakan watakku congkak dan tidak menerima pendapat yang berbeda dari saudara-saudari? Namun, jika aku tidak membina siapa pun, para pemimpin akan mengatakan aku tidak melakukan pekerjaan nyata. Lebih baik aku beri tahu para pemimpin bahwa aku belum bisa menilainya dengan jelas. Dengan demikian, sekalipun Li Yan nanti disingkapkan, itu bukan tanggung jawabku saja." Jadi, ketika aku membalas surat para pemimpin, kadang aku mengatakan Li Yan bisa dibina, dan di saat lain aku mengatakan aku belum bisa menilainya dengan jelas, tidak menyatakan sikap yang tegas. Setelah itu, aku tetap tidak membina Li Yan. Karena aku selalu terlalu berhati-hati saat melaksanakan tugasku, takut harus memikul tanggung jawab jika penyesuaian personel tidak tepat, aku terus menunda dan tidak berani membuat keputusan akhir. Akibatnya, beberapa pekerjaan berjalan lambat karena kekurangan personel. Aku menyadari keadaanku salah, jadi aku berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, aku sangat pasif saat melaksanakan tugasku sekarang, dan aku selalu terlalu berhati-hati. Hatiku sangat menderita. Aku mohon agar Engkau membimbingku untuk memahami masalahku sendiri."

Kemudian, para pemimpinku menulis surat untuk bertanya, "Mengapa kemajuan dalam membina orang begitu lambat? Kami melihatmu sangat pasif dalam melaksanakan tugas, dan kami tidak tahu alasannya." Aku memberi tahu para pemimpinku tentang keadaanku, dan mereka mengirimiku satu bagian firman Tuhan: "Ada orang-orang yang telah percaya kepada Tuhan selama beberapa tahun tetapi tidak sedikit pun memahami kebenaran. Pandangan mereka tentang segala sesuatu tetap sama dengan pandangan orang tidak percaya. Ketika mereka melihat pemimpin palsu atau antikristus disingkapkan dan disingkirkan, mereka berpikir, 'Sebagai orang percaya dan pengikut Tuhan, hidup di hadapan Tuhan seperti berjalan di atas es tipis! Itu bagaikan telur di ujung tanduk!' Ada yang berkata, 'Menjadi pemimpin atau pekerja dan melayani Tuhan sangatlah berisiko. Seperti dikatakan dalam pepatah, "Berada di dekat raja sama berbahayanya dengan berbaring di samping harimau." Jika kita melakukan atau mengatakan sesuatu yang salah, kita akan menyinggung watak Tuhan, dan kita akan disingkirkan dan dihukum!' Benarkah pernyataan ini? 'Berjalan di atas es tipis' dan 'bagaikan telur di ujung tanduk'—apa arti perkataan ini? Perkataan ini berarti bahwa suatu situasi sangatlah berbahaya—bahwa setiap saat orang akan menghadapi bahaya besar, dan kecerobohan sedikit saja akan membuat orang tersandung. 'Berada di dekat raja sama berbahayanya dengan berbaring di samping harimau' adalah pepatah umum di kalangan orang tidak percaya. Itu berarti berbahaya hidup di hadapan raja setan. Jika orang menerapkan pepatah ini dalam melayani Tuhan, di mana letak kesalahannya? Membandingkan raja setan dengan Tuhan, dengan Sang Pencipta—bukankah ini penghujatan terhadap Tuhan? Ini adalah masalah serius. Tuhan adalah Tuhan yang benar dan kudus; sudah sepenuhnya wajar dan dapat dibenarkan jika manusia dihukum karena menentang Tuhan dan memusuhi-Nya. Iblis dan para setan sama sekali tidak memiliki kebenaran; mereka najis dan jahat, mereka membunuh orang-orang tidak bersalah, dan menelan orang-orang baik. Bagaimana bisa mereka disamakan dengan Tuhan? Mengapa orang memutarbalikkan fakta dan memfitnah Tuhan? Ini adalah penghujatan yang luar biasa terhadap Tuhan! Ketika beberapa orang yang sering kali negatif dan tidak melaksanakan tugas mereka dengan sungguh-sungguh dipangkas, mereka khawatir akan disingkirkan, dan mereka sering berpikir dalam hati mereka, 'Percaya kepada Tuhan benar-benar seperti berjalan di atas es tipis! Begitu kau melakukan sesuatu yang salah, kau akan dipangkas; begitu kau digolongkan sebagai pemimpin palsu atau antikristus, kau akan diberhentikan dan disingkirkan. Di rumah Tuhan, adalah hal yang lazim bagi Tuhan untuk marah, dan ketika orang telah melakukan beberapa hal buruk, mereka disingkirkan dengan sepatah kata. Mereka bahkan tidak diberi kesempatan untuk bertobat.' Benarkah perkataan ini? Apakah rumah Tuhan benar-benar tidak memberi orang kesempatan untuk bertobat? (Itu salah.) Orang-orang yang jahat dan antikristus hanya disingkirkan karena mereka telah melakukan beragam kejahatan dan telah dipangkas, tetapi meskipun telah diperingatkan berulang-ulang, mereka tidak mengubah jalan mereka. Apa masalahnya dengan orang-orang yang berpikir seperti ini? Mereka dengan munafik membenarkan diri mereka sendiri. Mereka tidak mengejar kebenaran, juga tidak berjerih payah dengan semestinya, dan karena mereka takut dikeluarkan dan disingkirkan, mereka mengeluh dengan getir dan menyebarkan gagasan mereka. Jelaslah bahwa mereka memiliki kemanusiaan yang buruk, dan mereka sering bersikap asal-asalan, mereka negatif dan bermalas-malasan dalam pekerjaan mereka. Mereka takut disingkapkan dan disingkirkan, jadi mereka menyalahkan gereja dan Tuhan. Natur macam apa ini? Ini menghakimi Tuhan, mengeluh tentang Dia, dan menentang-Nya. Pernyataan ini adalah kekeliruan yang paling jelas dan pernyataan yang paling tidak masuk akal. Fakta bahwa orang-orang ini mampu mengatakan hal-hal semacam itu adalah bukti bahwa meskipun mereka percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, mereka sama sekali tidak pernah mengejar kebenaran. Hanya inilah yang akan menyebabkan mereka jatuh sampai ke taraf menghakimi Tuhan, menentang-Nya, dan menghujat-Nya" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Kebebasan dan Kelepasan Hanya Dapat Diperoleh dengan Menyingkirkan Watak yang Rusak"). Penyingkapan Tuhan yang tegas menusuk hatiku dan terasa menyakitkan. Aku teringat kembali saat melihat Wang Yi diberhentikan karena congkak, bersikeras pada pandangannya sendiri, memilih orang-orang dengan melanggar prinsip, serta mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja. Itu membuatku menganggap bahwa melaksanakan tugas sebagai pemimpin telah membuatnya melakukan perbuatan-perbuatan jahat tersebut. Aku berpikir bahwa kelak aku tidak akan mau menjadi pemimpin; jika berbuat jahat, aku tidak akan punya kesempatan untuk diselamatkan. Ketika para pemimpin tingkat atas memintaku untuk bertanggung jawab atas pekerjaan gereja, di luarnya aku setuju, tetapi di dalam hatiku, aku merasa waspada. Aku merasa menjadi pemimpin adalah pekerjaan berbahaya dan aku takut akan membuat kesalahan lalu disingkapkan dan diberhentikan. Aku bisa melihat dengan jelas bahwa pengawas teknis itu tidak bertanggung jawab dalam tugasnya dan harus segera diberhentikan. Setelah mempertimbangkannya, aku merasa Xincheng adalah kandidat yang cocok dan aku ingin mempromosikan serta membinanya. Namun, ketika mendengar rekan kerjaku tidak setuju memakai Xincheng, aku tidak berusaha membahasnya lebih lanjut, karena takut dia akan mengatakan aku bersikeras pada pandanganku sendiri. Aku juga takut suami Xincheng akan menganiayanya lagi, dan jika ini membawa masalah bagi gereja, akulah yang harus bertanggung jawab. Jadi, aku tidak segera mengganti pengawas itu, yang menunda kemajuan pekerjaan. Selain itu, aku ingin membina Li Yan, tetapi ketika mendengar bahwa beberapa saudara-saudari memiliki evaluasi yang buruk tentangnya, meskipun aku tahu aku harus bersekutu dengan mereka tentang prinsip-prinsip memperlakukan orang dengan adil, aku takut mereka akan menyebutku congkak dan tidak mau mendengarkan orang lain, jadi aku tidak berani bersikeras. Karena aku begitu takut dan ragu-ragu saat melaksanakan tugasku dan tidak berani mengambil sikap, personel tidak dibina tepat waktu, yang menghambat pekerjaan gereja. Dari firman Tuhan, aku melihat bahwa semua pemikiranku ini adalah bentuk kewaspadaanku terhadap Tuhan. Raja-raja duniawi tidaklah adil atau benar; begitu mereka mendapati seseorang telah melakukan kesalahan atau sedikit tidak menyenangkan mereka, mereka akan menyiksanya. Aku telah menganggap Tuhan sama seperti raja duniawi, yang akan menuntut pertanggungjawaban orang-orang lalu memberhentikan dan menyingkirkan mereka begitu mereka membuat kesalahan. Ini adalah penghujatan besar terhadap Tuhan! Kalau dipikir-pikir, kegagalan Wang Yi terutama karena wataknya yang congkak. Dia bertindak sewenang-wenang dalam tugasnya, tidak mau mendengarkan bahkan ketika saudara-saudari menasihatinya, dan sangat bersikeras pada pandangannya sendiri. Ini membawa kerugian bagi pekerjaan, itulah sebabnya dia diberhentikan. Dia bukan disingkirkan karena membuat satu kesalahan. Aku tidak melihat konteks atau rangkaian peristiwanya, melainkan hanya menilai dari yang terlihat dari luar, menganggapnya disingkapkan karena melaksanakan tugas sebagai pemimpin. Aku benar-benar memutarbalikkan fakta dan tidak bisa membedakan yang benar dari yang salah! Aku segera berdoa, "Ya Tuhan, karena aku tidak mengenal watak benar-Mu, aku selalu curiga dan waspada saat melaksanakan tugasku. Pikiran dan perwujudanku menghujat-Mu, dan itu juga telah menghambat pekerjaan gereja. Ya Tuhan, aku mohon agar Engkau membimbingku untuk mengenal watak rusakku sendiri."

Setelah itu, aku merenung. Watak rusak apa yang menyebabkanku waspada terhadap Tuhan dengan cara seperti ini? Suatu hari, aku membaca satu bagian firman Tuhan: "Orang harus memperlakukan tugas mereka dan Tuhan dengan hati yang jujur. Mereka yang takut akan Tuhan seharusnya mampu melakukannya. Sikap macam apakah yang dimiliki orang-orang dengan hati yang jujur terhadap Tuhan? Setidaknya, mereka memiliki hati yang takut akan Tuhan. Mereka memiliki hati yang tunduk kepada Tuhan dalam segala hal; artinya, mereka tidak bertanya tentang berkat atau malapetaka, mereka tidak mengajukan syarat, dan mereka menyerahkan diri mereka sepenuhnya tunduk pada pengaturan Tuhan. Inilah orang-orang dengan hati yang jujur. Mereka yang selalu meragukan Tuhan, selalu meneliti-Nya, selalu berusaha membuat kesepakatan dengan-Nya—apakah mereka orang-orang yang berhati jujur? (Tidak.) Apa yang bersemayam di dalam hati orang-orang seperti itu? Kelicikan dan kejahatan; mereka selalu meneliti. Apa yang mereka teliti? (Sikap Tuhan terhadap manusia.) Mereka selalu meneliti bagaimana sikap Tuhan terhadap manusia. Masalah apa ini? Mengapa mereka meneliti hal ini? Karena ini menyangkut kepentingan vital mereka. Dalam hatinya, mereka berpikir, 'Tuhan mengatur keadaan ini untukku, Dia menyebabkan ini terjadi padaku. Mengapa Dia melakukan itu? Ini tidak terjadi pada orang lain—mengapa itu harus terjadi padaku? Lalu apa konsekuensinya setelah ini?' Inilah hal-hal yang mereka teliti; mereka meneliti untung dan rugi, berkat dan malapetaka. Lalu sementara meneliti hal-hal ini, apakah mereka mampu menerapkan kebenaran? Apakah mereka mampu tunduk kepada Tuhan? Tidak. Apa natur dari hal-hal yang mereka pikirkan dalam hati mereka? Semuanya berpusat pada kepentingan mereka sendiri, dan pada memperoleh keuntungan bagi diri mereka sendiri. ... Apa yang terjadi ketika orang hanya mempertimbangkan masa depan, nasib, dan kepentingan mereka sendiri? Tidak akan mudah bagi mereka untuk tunduk kepada Tuhan; sekalipun mereka ingin, mereka tidak akan mampu. Siapa pun yang sangat mementingkan masa depan, nasib, dan kepentingan mereka sendiri selalu meneliti apakah pekerjaan Tuhan menguntungkan bagi masa depan mereka, bagi nasib mereka, dan bagi mereka untuk memperoleh berkat. Pada akhirnya, apa akibat dari semua penelitian mereka? Itu hanya bisa berupa, karena pekerjaan Tuhan tidak sesuai dengan gagasan mereka, mereka sering mengeluh tentang Tuhan, memberontak terhadap Tuhan, dan menentang Tuhan. Sekalipun mereka masih bisa bertahan dalam melaksanakan tugasnya, mereka melaksanakannya dengan asal-asalan dan dengan kenegatifan; di dalam hatinya, mereka terus berpikir tentang bagaimana mencari keuntungan dan tidak menderita kerugian apa pun. Melaksanakan tugas dengan niat seperti itu sama dengan berusaha membuat kesepakatan dengan Tuhan. Watak apa yang ditunjukkan hal ini? Itu adalah kelicikan, itu adalah watak yang jahat. Ini bukan watak rusak yang biasa—ini telah meningkat menjadi kejahatan. Menyimpan watak jahat semacam ini di dalam hati berarti melawan Tuhan! Engkau harus memahami masalah ini dengan jelas. Jika orang selalu meneliti Tuhan dan melaksanakan tugas mereka dengan mentalitas bertransaksi, akankah mereka mampu memenuhi tugas mereka? Sama sekali tidak. Mereka tidak menyembah Tuhan dengan hati mereka dan dengan kejujuran, dan mereka tidak memperlakukan tugas mereka dengan jujur. Saat mereka melaksanakan tugasnya, mereka hanya melihat dan mengamati, selalu menahan diri. Apa akibat dari hal ini? Tuhan tidak bekerja di dalam diri mereka—mereka bingung dan kacau, mereka tidak memahami apa prinsip-prinsip kebenaran itu, dan mereka selalu bertindak menurut kehendak mereka sendiri, terus-menerus melakukan kesalahan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Mencari Prinsip Kebenaran Orang Dapat Melaksanakan Tugasnya dengan Baik"). Penyingkapan firman Tuhan menunjukkan kepadaku betapa egois dan tercelanya aku. Aku teringat bagaimana, sejak dari aku menangani surat laporan terhadap Wang Yi, hatiku telah menyimpan gagasan terhadap Tuhan, dan menganggap bahwa disingkapkannya Wang Yi semata karena tugasnya sebagai pemimpin. Dengan sudut pandang yang keliru ini, aku menjadi takut dan ragu-ragu saat melaksanakan tugasku. Aku bisa melihat dengan jelas bahwa personel yang tidak cocok harus segera diberhentikan, dan aku juga telah menemukan orang-orang yang bisa dibina. Namun, ketika mendengar pendapat yang berbeda, aku khawatir harus memikul tanggung jawab jika aku membuat keputusan yang salah. Jadi aku menunda untuk mengambil sikap, lebih memilih membiarkan pekerjaan gereja terhambat daripada segera mengalihtugaskan personel, dan aku menahan kemajuan pekerjaan. Yang kuperhatikan hanyalah kesudahan dan tempat tujuanku sendiri, tanpa memikirkan pekerjaan gereja sama sekali. Tuhan meninggikanku dengan memberiku tugas yang begitu penting agar aku bisa memimpin saudara-saudari untuk mengalami firman-Nya dan menerapkan kebenaran, serta menemukan orang-orang yang cocok untuk melaksanakan berbagai tugas. Namun, aku hanya memikirkan kepentinganku sendiri, penuh kecurigaan terhadap Tuhan, dan terlalu berhati-hati sehingga tidak berani mengungkapkan pandanganku. Aku sama sekali tidak memenuhi tanggung jawabku. Orang yang berhati jujur memperlakukan tugasnya dengan hati yang tulus. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana melindungi kepentingan rumah Tuhan, dan mereka bisa mendapatkan tuntunan Tuhan dalam tugas mereka. Namun, saat melihat diriku sendiri, aku selalu khawatir bahwa memakai orang yang salah akan membuatku disingkapkan dan disingkirkan. Yang kupikirkan hanyalah bagaimana melindungi kepentinganku sendiri. Membawa pola pikir seperti itu ke dalam tugasku membuatku mustahil untuk menerima pimpinan dan berkat Tuhan.

Aku kemudian merenungkan mengapa aku selalu terlalu berhati-hati saat melaksanakan tugasku, takut bahwa mengungkapkan pendapat yang berbeda akan membuat orang mengatakan aku congkak dan merasa diri benar. Lalu, apa bedanya bersikap congkak dan merasa diri benar dengan sikap menjaga prinsip? Dalam pencarianku, aku membaca firman Tuhan: "Ada orang-orang yang sering melanggar prinsip ketika mereka bertindak dan tidak menerima diri mereka dipangkas. Di dalam hatinya, mereka jelas tahu bahwa hal-hal yang orang lain katakan sesuai dengan kebenaran, tetapi mereka tidak menerimanya. Orang-orang semacam itu sangat congkak dan merasa diri benar! Mengapa Kukatakan mereka congkak? Dalam penolakan mereka untuk menerima pemangkasan, mereka menentang, dan bukankah sikap menentang adalah kecongkakan? Mereka mengira sedang melakukan hal yang baik dan tidak melakukan kesalahan apa pun, yang berarti bahwa mereka tidak mengenal diri mereka sendiri dan congkak" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Natur Congkak Manusia adalah Sumber Penentangannya terhadap Tuhan"). "Jadi, jika tiba saatnya dalam pelaksanaan tugasmu semua orang memiliki perbedaan pendapat, bagaimana seharusnya penerapanmu? Apakah terus-menerus memperdebatkannya akan menyelesaikan masalah? (Tidak.) Lalu, bagaimana engkau harus menyelesaikan masalah tersebut? Dalam situasi ini, orang yang memahami kebenaran harus maju untuk menyelesaikan masalah, dengan terlebih dahulu mengemukakan masalahnya dengan jelas dan membiarkan kedua belah pihak mengutarakan pendapat mereka. Kemudian, semua orang harus mencari kebenaran bersama-sama, dan setelah berdoa kepada Tuhan, mempersekutukan kebenaran firman Tuhan yang relevan. Setelah mereka mempersekutukan prinsip-prinsip kebenaran dan memperoleh kejelasan, kedua belah pihak akan mampu tunduk. Semua orang harus belajar untuk tunduk pada kebenaran. ... Memiliki sikap yang tidak mau mengalah dan teguh saat melindungi kepentingan rumah Tuhan adalah perwujudan dari memiliki pendirian yang teguh dan berpegang teguh pada prinsip, dan Tuhan berkenan akan hal itu. Sekalipun orang lain merasa ada masalah dengan cara berbicara atau sikap orang semacam itu, sebenarnya, ini bukanlah masalah; ini adalah perwujudan dari memiliki kenyataan kebenaran. Beberapa orang yang tidak memiliki pemahaman rohani dan memiliki niat tersembunyi akan mencoba memanfaatkan hal ini, tetapi ini sama sekali tidak berkaitan dengan perwujudan watak yang rusak. Ingatlah, menaati prinsip-prinsip kebenaran adalah hal yang paling penting. Jika orang tidak menaati prinsip-prinsip kebenaran, maka betapa pun manisnya perkataan yang mereka ucapkan, mereka adalah orang munafik" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Menerapkan Kebenaran adalah Satu-satunya Cara untuk Memperoleh Jalan Masuk Kehidupan"). Firman Tuhan membantuku memahami bedanya bersikap congkak dan merasa diri benar dengan sikap menjaga prinsip: Kecongkakan dan sikap merasa diri benar berarti bahwa ketika tindakanmu jelas-jelas melanggar prinsip, tetapi kau masih bersikeras pada pandanganmu sendiri dan menolak menerima ketika orang lain menunjukkan masalahmu atau memangkasmu, dan justru menganggap dirimulah yang benar. Namun, bersikeras melakukan sesuatu setelah mencari dan memastikannya sejalan dengan prinsip—itulah menjaga prinsip, dan itu sejalan dengan maksud Tuhan. Aku melihat bahwa Xincheng terbeban dengan tugasnya dan memahami sisi teknisnya, membuatnya cocok menjadi pengawas teknis. Rekan kerjaku khawatir tentang lingkungan di rumah Xincheng dan tidak ingin mempromosikannya. Aku seharusnya mencari kebenaran dengan rekan kerjaku untuk memastikan kami mempromosikan dan memakai orang sesuai dengan prinsip, sehingga pekerjaan gereja tidak akan terpengaruh. Aku melihat bahwa Li Yan bisa dibina dan dilatih, tetapi karena saudara-saudari tidak memahami prinsip-prinsipnya, mereka menilainya berdasarkan penampilan luar dan evaluasi mereka terhadapnya tidak objektif. Aku seharusnya membimbing mereka untuk memandang orang sesuai dengan firman Tuhan, tetapi aku takut mereka akan menyebutku congkak dan bersikeras pada pandanganku sendiri, jadi aku tidak jadi membinanya. Aku melihat betapa konyolnya pemahamanku; aku bahkan tidak bisa membedakan bersikap congkak dan merasa diri benar dengan sikap menjaga prinsip. Aku menganggap menangani masalah sesuai dengan prinsip sebagai kecongkakan, dan akibatnya, aku tidak berani mengungkapkan pandanganku atau berpegang pada prinsip, yang menghambat pekerjaan gereja. Pada saat yang sama, aku juga menemukan jalan penerapan dalam firman Tuhan: Ketika dihadapkan dengan pandangan atau pendapat yang berbeda saat melaksanakan tugasku, aku harus mengangkat masalah itu secara terbuka agar semua orang bisa bersama-sama mencari kebenaran untuk menyelesaikannya. Menyadari hal ini, aku langsung merasa lega.

Kemudian, aku merenungkan firman Tuhan, dan jalanku untuk mempromosikan dan membina orang menjadi lebih jelas. Tuhan berfirman: "Bagi individu-individu berbakat tertentu, dalam situasi di mana tidak ada yang bisa sepenuhnya melihat dengan jelas atau memahami mereka, maka mereka dapat dipromosikan dan dipakai terlebih dahulu sesuai dengan kebutuhan pekerjaan gereja—jangan menunda pekerjaan dan jangan menunda pembinaan orang; ini adalah hal yang penting. Ada yang bertanya, 'Bagaimana kalau mereka mengacaukan pekerjaan setelah dipakai? Siapa yang bertanggung jawab?' Ketika engkau memakai seseorang, apakah itu seperti engkau menempatkannya di pulau terpencil tanpa ada yang bisa menghubunginya? Bukankah sebenarnya ada banyak orang lain di sekitarnya yang sedang melaksanakan tugas tertentu? Ada cara untuk menyelesaikan semua masalah ini; yaitu dengan mengawasi, mengamati, dan memahami mereka, dan jika kondisinya memungkinkan, melalui kontak dekat. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kontak dekat? Itu berarti bekerja sama dengan mereka; proses bekerja adalah proses memahami mereka. Bukankah engkau akan perlahan-lahan memahami mereka melalui kontak seperti ini? Jika engkau memiliki kesempatan untuk melakukan kontak, tetapi tidak melakukannya, dan hanya menelepon untuk mengajukan beberapa pertanyaan lalu berhenti begitu saja, mustahil untuk memahami mereka. Engkau harus melakukan kontak dengan mereka yang bisa kauhubungi untuk menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, pemimpin dan pekerja tidak boleh malas dalam pekerjaannya. Jadi, jika engkau ingin mengamati dan memahami seseorang, bagaimana seharusnya engkau melakukannya? (Dengan melakukan kontak dengannya.) Benar? Yang terpenting adalah melakukannya dengan segenap hatimu!" (Firman, Jilid 5, Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja (7)"). Firman Tuhan membantuku memahami bahwa ketika memilih seseorang, tidak ada jaminan bahwa itu mutlak akurat. Selama pilihanmu sejalan dengan prinsip-prinsip saat ini, memenuhi syarat untuk dibina dan dipakai sesuai kebutuhan pekerjaan, dan menguntungkan pekerjaan, itu sudah cukup. Kemudian, setelah pengamatan selanjutnya, orang-orang yang cocok bisa melanjutkan peran mereka, sementara yang tidak cocok bisa dialihtugaskan atau diberhentikan. Menerapkan dengan cara ini bermanfaat bagi pekerjaan gereja. Jika seseorang yang dipromosikan dan dibina itu kemudian tersingkap bahwa dia tidak cocok, rumah Tuhan tidak akan meminta pertanggungjawabanmu; lagi pula, tidak ada yang bisa melihat esensi seseorang hanya dengan sekali pandang. Kemudian, aku berbicara dengan rekan kerjaku berdasarkan firman Tuhan, dan dia setuju untuk mengalihtugaskan Xincheng ke tugas pengawas teknis. Setelah Xincheng mengambil tugas itu, dia tidak membawa risiko keamanan apa pun bagi gereja. Aku juga bersekutu dengan Li Yan dan membantunya mengenai kekurangannya. Setelah beberapa waktu, Li Yan membuat beberapa kemajuan dan mulai berfokus pada bagaimana mencapai hasil dalam tugasnya. Dia kemudian terpilih sebagai pemimpin distrik. Ketika melihat semua personel telah dialihtugaskan dengan benar dan semuanya melaksanakan tugas dengan normal, aku merasa makin benci pada betapa egois dan tercelanya diriku di masa lalu. Aku hanya mempertimbangkan kepentinganku sendiri dan telah membawa hambatan yang begitu besar bagi pekerjaan gereja. Setelah itu, aku mengabdikan diriku pada tugasku. Ketika menghadapi masalah yang tidak bisa kulihat dengan jelas, aku akan mencari prinsip-prinsipnya bersama saudara-saudari. Setelah beberapa waktu, kami membuat kemajuan dalam berbagai jenis pekerjaan. Dari lubuk hati, aku bersyukur kepada Tuhan dan mengalami betapa santai dan menyenangkannya melaksanakan tugas sesuai dengan prinsip.

Dua bulan kemudian, para pemimpin tingkat atas memintaku untuk menulis riwayat hidup dan mulai mengumpulkan evaluasi tentangku. Aku berpikir, "Apakah mereka akan mengalihkan tugasku lagi?" Ketika mengingat bagaimana dahulu aku dipenuhi dugaan dan keraguan terhadap pengalihan tugas, aku berdoa kepada Tuhan di dalam hatiku, menyatakan bahwa kali ini, aku bersedia untuk tunduk ke tugas mana pun aku dialihkan. Beberapa hari kemudian, para pemimpin menulis surat untuk mengatakan bahwa aku telah terpilih sebagai anggota kelompok pengambil keputusan. Ketika tahu bahwa itu adalah kelompok pengambil keputusan, aku masih sedikit terkejut dan gugup. "Melaksanakan tugas di kelompok pengambil keputusan menuntut tanggung jawab yang lebih besar. Banyak masalah memerlukan keputusan, dan jika membuat keputusan buruk yang merugikan pekerjaan gereja, aku akan disingkirkan dan kehilangan kesempatanku untuk diselamatkan." Aku merasa agak bimbang. Kemudian para pemimpin mengirimiku satu bagian firman Tuhan: "Ada prinsip-prinsip mengenai orang macam apa yang dipromosikan dan dipakai oleh rumah Tuhan, dan orang macam apa yang tidak dipakai, serta orang mana yang dibina oleh rumah Tuhan dan mana yang tidak; semua itu didasarkan pada kebutuhan pekerjaan rumah Tuhan. Siapa pun yang dipromosikan dan dipakai, tujuannya adalah untuk membina mereka agar mereka mampu melaksanakan tugas mereka dengan baik dan tahu bagaimana mengalami pekerjaan Tuhan, serta agar mereka mampu memikul pekerjaan dan bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Apa pun masalah yang sedang diselesaikan, tujuannya adalah untuk memungkinkan mereka memahami lebih banyak kebenaran, dan belajar cara memetik pelajaran dan memperoleh kemampuan untuk mengenali berbagai orang, peristiwa, dan hal-hal yang mereka temui. Dengan cara ini, akan lebih mudah bagi mereka untuk masuk ke dalam kenyataan kebenaran dalam segala aspek. Ini bukanlah tentang mengeksploitasi dirimu agar melakukan pelayanan, apalagi mengeksploitasi dirimu untuk mengisi posisi yang kosong karena orang yang cocok tidak dapat ditemukan, hanya untuk menendangmu keluar ketika muncul seseorang yang cocok. Bukan seperti itu. Sebenarnya, ini memberimu kesempatan untuk melatih dirimu. Jika engkau mengejar kebenaran, engkau akan tetap teguh; jika engkau tidak mengejar kebenaran, engkau tetap tidak akan mampu untuk tetap teguh. Sama sekali tidak benar bahwa karena rumah Tuhan menganggapmu tidak menyenangkan, maka mereka akan mencari kesalahan dan mencari kesempatan untuk menyingkirkanmu. Ketika rumah Tuhan berkata akan membina dan mempromosikan dirimu, mereka akan sungguh-sungguh membinamu. Yang penting adalah bagaimana engkau berusaha mengejar kebenaran. Jika engkau tidak sedikit pun menerima kebenaran, rumah Tuhan akan menganggapmu sudah tidak ada harapan dan tidak akan lagi membinamu. Setelah suatu masa pembinaan, ada orang-orang yang diberhentikan karena kualitas mereka buruk dan mereka tidak mampu melakukan pekerjaan nyata. Selama masa pembinaan mereka, ada orang-orang yang tidak sedikit pun menerima kebenaran, bertindak semaunya, mengacaukan serta mengganggu pekerjaan rumah Tuhan, dan diberhentikan. Ada juga orang yang sama sekali tidak mengejar kebenaran, menempuh jalan antikristus, selalu bekerja demi ketenaran, keuntungan, dan status, lalu diberhentikan dan disingkirkan. Semua situasi ini ditangani berdasarkan prinsip-prinsip rumah Tuhan dalam hal memakai orang. Rumah Tuhan akan tetap membina mereka yang mampu menerima kebenaran dan berusaha untuk mengejar kebenaran, sekalipun mereka melakukan pelanggaran dengan melakukan beberapa kesalahan. Jika seseorang bukanlah orang yang mampu menerima kebenaran, dan tidak menerima kebenaran ketika pemangkasan datang kepada mereka, mereka harus langsung diberhentikan dan disingkirkan. ... Apa pun situasinya, ketika rumah Tuhan mempromosikan orang-orang ini, tujuannya adalah selalu untuk membina dan menuntun mereka ke dalam kenyataan kebenaran, dengan harapan mereka mampu melakukan pekerjaan gereja dengan baik dan melaksanakan tugas yang seharusnya mereka laksanakan dengan baik. Sekalipun engkau tidak tahu cara melakukan suatu pekerjaan karena engkau bodoh dan kurang wawasan atau karena engkau berkualitas buruk, asalkan engkau berjuang untuk memenuhi standar prinsip-prinsip kebenaran, memiliki rasa tanggung jawab ini, bersedia melakukan pekerjaan ini dengan baik, dan mampu melindungi pekerjaan gereja, rumah Tuhan akan tetap membinamu sekalipun engkau pernah melakukan beberapa hal bodoh di masa lalu. Ada orang-orang yang meskipun berkualitas agak buruk, masih mampu melakukan beberapa pekerjaan sederhana. Meskipun persekutuan tentang kebenaran untuk menyelesaikan masalah yang mereka sampaikan tidak membuahkan hasil yang baik, mereka mampu melindungi pekerjaan gereja. Apa pun aspek kebenaran yang dipersekutukan di setiap pertemuan, mereka mampu menerimanya dan taat serta tunduk. Jika suatu pekerjaan tidak dilakukan dengan baik, mereka dapat memetik pelajaran darinya. Meskipun kualitas mereka agak buruk, hati mereka mampu berusaha untuk mengejar kebenaran. Setelah bekerja selama beberapa waktu, mereka mengalami kemajuan, dan hasil mereka menjadi makin baik. Di mata-Ku, orang-orang semacam itu memiliki harapan untuk memperoleh keselamatan. Kebanyakan orang yakin bahwa mereka yang berkualitas baik kemungkinan besar akan memperoleh keselamatan. Menurut-Ku, itu belum tentu. Kuncinya adalah orang harus mengejar kebenaran agar mereka dapat memperoleh pekerjaan Roh Kudus, membuang watak rusak mereka, dan memperoleh keselamatan. Ada orang-orang yang berkualitas rata-rata dan hasil dari tugas mereka juga rata-rata, tetapi setelah bertahun-tahun memperoleh penyiraman dan perbekalan dari rumah Tuhan, mereka mulai dengan segenap hati mengejar kebenaran, dan pada akhirnya mereka memang memahami beberapa kebenaran. Mereka juga memperoleh beberapa pengalaman nyata, mampu mengetahui yang sebenarnya tentang beberapa hal, dan mampu menyelesaikan beberapa masalah, makin mengalami kemajuan dalam pekerjaan gereja. Ini cukup baik; orang-orang semacam itu layak untuk dibina" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (26)"). Aku sangat tersentuh oleh firman Tuhan dan makin merasa betapa tercela dan jahatnya diriku, karena pola pikir picikku terus saja mencurigai Tuhan. Pada saat yang sama, dari firman Tuhan, aku juga memahami bahwa rumah Tuhan memiliki prinsip-prinsip untuk mempromosikan dan menyingkirkan orang. Ketika seseorang dipromosikan dan dipakai, itu dilakukan dengan niat tulus untuk membina mereka. Tuhan menyelamatkan dan menyempurnakan mereka yang mengejar kebenaran; Dia menyingkapkan dan menyingkirkan mereka yang tidak melakukannya. Meskipun mereka yang mengejar kebenaran mungkin memiliki penyimpangan dan kekurangan dalam tugas, selama mereka menerima kebenaran, mereka akan mencapai makin banyak kemajuan dan tidak akan disingkirkan. Mereka yang disingkirkan akhirnya baru diberhentikan karena mereka tidak mengejar kebenaran, tidak melaksanakan tugas dengan benar sebanyak apa pun mereka dibantu dan didukung, dan menghambat pekerjaan gereja. Aku kembali teringat bagaimana saat menjadi pemimpin dan pekerja aku juga telah memakai beberapa orang dengan tidak tepat, tetapi rumah Tuhan tidak menghukumku atau berhenti membinaku karena hal itu. Sebaliknya, mereka melihat konteks mengapa orang yang salah dipakai pada saat itu, dan karena melihat bahwa aku telah sedikit merenungkan dan memahami diriku sendiri, mereka memberiku kesempatan lagi untuk melatih diriku. Setelah menyadarinya, hatiku merasa tenang. Aku berdoa kepada Tuhan, bersedia untuk tunduk pada pengaturan gereja, dan kemudian menerima tugas itu.

Suatu kali, ketika memilih pengawas tim, kami sedang melihat evaluasi tentang seorang saudari. Sebagian besar orang menulis bahwa orang ini bisa menanggung penderitaan, mau tunduk pada tugas apa pun yang diberikan, dan sering berbicara tentang mengenal dirinya sendiri, jadi mereka setuju untuk memilihnya sebagai pengawas. Aku pernah berinteraksi dengan saudari ini sebelumnya. Berdasarkan pemahamanku tentangnya, dia terus-menerus tidak mengikuti prinsip-prinsip dalam tugasnya, bisa mengucapkan beberapa kata-kata dan doktrin tetapi tidak memiliki kenyataan kebenaran serta tidak bisa menyelesaikan masalah nyata, juga tidak mencapai hasil apa pun dalam tugasnya. Dia tidak cocok menjadi pengawas. Aku ingin mengungkapkan pandanganku sendiri, tetapi kemudian aku berpikir, "Karena semua rekan kerjaku telah setuju dia menjadi pengawas, jika hanya aku yang tidak setuju, akankah mereka mengatakan aku terlalu congkak?" Aku sedikit ragu. Pada saat itu, aku teringat perbedaan antara menjaga kebenaran dengan bersikap congkak dan merasa benar. Bertindak sesuai dengan prinsip bukanlah kecongkakan. Terlebih lagi, mereka tidak mengenal orang ini dengan baik. Aku harus menyatakan pandanganku sendiri dan menimbang masalah ini bersama semua orang sesuai dengan prinsip. Jadi, aku menyatakan pandanganku. Setelah mereka mendengarnya, mereka merasa orang ini tidak cocok untuk dipromosikan saat ini, dan di masa mendatang, perwujudannya perlu diamati. Dengan menerapkan cara ini, hatiku merasa sangat tenang. Syukur kepada Tuhan!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Membiarkan Diriku Lengah

Oleh Saudari Zhuanyi, Korea Beberapa waktu lalu, kami harus membuat sejumlah gambar untuk pembuatan film gereja. Rekanku, Saudara Simon,...

Hubungi kami via WhatsApp