Kurangnya Karunia dan Bakat Tidak Lagi Meresahkanku

10 Juni 2026

Oleh Emilia, Italia

Selama beberapa tahun terakhir, aku melaksanakan tugas sebagai aktor, membuat video kesaksian pengalaman. Kemudian, beberapa saudara-saudari yang melaksanakan tugas yang sama denganku mulai berlatih menyanyi dan menari selain tampil dalam video kesaksian pengalaman. Aku sangat iri melihat betapa serbabisanya mereka, dan aku berpikir, "Enak sekali, ya, punya begitu banyak karunia dan bakat. Bisa tampil di segala macam video dan dikagumi serta dipuji oleh lebih banyak saudara-saudari. Orang-orang selalu membicarakan mereka yang punya banyak bakat dengan rasa iri dan kagum." Aku mulai berharap suatu hari nanti aku juga bisa tampil di video lain dan dikagumi oleh saudara-saudariku. Hidup seperti itu kelihatannya mengesankan. Beberapa waktu lalu, aku melihat pemimpin mengatur dua saudari untuk merekam demo lagu pujian bahasa asing, dan aku berpikir, "Aku pernah belajar bahasa asing, jadi seharusnya aku bisa menyanyikannya juga, kan? Kenapa pemimpin tidak memintaku untuk mencobanya?" Melihat para saudari itu berlatih membuatku merasa sedikit kecewa, dan berpikir, "Betapa mengesankannya kalau aku bisa naik ke panggung untuk bernyanyi! Saudara-saudari akan sangat mengagumiku." Lalu aku mendengar bahwa ada tiga saudara-saudari lain yang akan menyanyikan lagu pujian bahasa asing. Aku kembali merasa kecewa dan sedih, dan aku bahkan sedikit mengeluh, "Aku tidak punya bakat lain, jadi aku hanya bisa tampil dalam video kesaksian pengalaman. Aku tidak akan pernah bisa beranjak dari situasi ini. Apa yang akan orang lain pikirkan tentangku? Aku yakin aku tidak terlalu dianggap penting di hati saudara-saudari." Lalu aku melihat saudara-saudari yang bisa menyanyi dan menari, mereka tampak mengesankan dan menonjol di atas panggung. Semua orang sangat mengagumi dan memperhatikan mereka. Hatiku terasa sangat masam, dan aku sangat mendambakan hari di mana aku juga bisa bertugas menyanyi atau menari.

Pada suatu hari, akhirnya kesempatanku datang. Seorang saudari memintaku merekam demo nyanyian untuk melihat apakah aku bisa melaksanakan tugas di bidang itu. Aku sangat gembira. Aku berpikir, "Aku harus benar-benar memanfaatkan kesempatan ini. Kalau aku terpilih, aku juga bisa menyanyi di atas panggung. Sungguh mengesankan! Saudara-saudari pasti akan kagum dan iri padaku." Namun, ketika aku benar-benar mencoba bernyanyi, aku baru sadar ternyata kemampuanku masih jauh. Terkadang nadaku fals, dan jangkauan suaraku sempit. Aku mengirimkan demo yang sudah selesai kepada saudari itu, sambil menyimpan secercah harapan bahwa aku akan mendapat pesan bahwa aku bisa menyanyi paruh waktu. Namun, pada akhirnya, tidak ada kelanjutannya; aku tidak pernah mendapat kabar lagi.

Tidak lama kemudian, pemimpin memintaku dan seorang saudari lain untuk merekam demo tarian solo, katanya mereka berencana merekam program tari Yangge berikutnya. Aku berpikir, "Tari Yangge adalah tarian rakyat dari kampung halamanku. Meskipun aku belum pernah mempelajarinya secara profesional, aku sering menarikannya waktu kecil. Alangkah baiknya jika aku bisa terpilih untuk tarian itu." Namun, ketika aku benar-benar menari, aku sulit menjaga keseimbangan, gerakan tubuhku tidak terkoordinasi, gerakan serta gesturku pun tidak sesuai standar. Setelah dua sesi latihan, baru aku bisa sedikit menguasainya, tetapi tarianku tidak bagus, dan di beberapa bagian, tangan dan kakiku bergerak di sisi yang sama. Kemudian, saudari yang merekam demo bersamaku terpilih. Saudari ini tidak hanya bisa tampil dalam video kesaksian pengalaman, tetapi juga bisa bekerja sebagai sutradara. Dulu, dia sering menampilkan dialog komedi, dia pandai bernyanyi, dan bahkan pernah belajar alat musik. Lalu sekarang, dia mulai menari. Dia benar-benar multitalenta! Orang lain punya begitu banyak bakat! Selama waktu itu, aku sering berkhayal memiliki banyak karunia dan bakat yang berbeda-beda; tidak hanya bisa menyanyi dan menari, tetapi juga bisa memainkan berbagai alat musik, terlihat sangat mengesankan di atas panggung. Suatu hari, saat sedang menyajikan makanan di dapur, aku mendengar seorang saudari berkata dengan antusias kepada salah seorang penari, "Kau akan segera naik panggung dan menari, hebat sekali! Sudah coba kostumnya, belum? ..." Mendengar perhatiannya pada saudari itu, hatiku terasa cemburu bercampur kecewa. Aku merasa sedikit canggung saat berdiri di sana, kupikir, "Orang yang punya banyak bakat selalu mendapat semua perhatian. Dibandingkan dengan mereka, aku tidak bisa menyanyi atau menari. Yang bisa kulakukan hanyalah tampil dalam video kesaksian pengalaman, yang sangat biasa-biasa saja!" Hatiku terasa sangat tidak enak. Perlahan-lahan, aku makin meremehkan tugasku untuk tampil dalam video kesaksian pengalaman. Aku tidak lagi sepenuh hati mengandalkan Tuhan untuk menyampaikan kesaksian dengan baik dan hanya merekamnya secara mekanis. Aku juga menjadi enggan banyak bicara dengan saudara-saudari yang bisa menyanyi dan menari. Aku merasa ada penghalang di antara kami di dalam hatiku, aku merasa lebih rendah dari mereka; aku juga iri dan cemburu pada mereka. Suatu hari, aku teringat akan suatu bagian dari kitab suci: "Akankah yang dibentuk berkata kepada dia yang membentuknya, Mengapa engkau menjadikan aku seperti ini? Tidakkah pembuat tembikar memiliki kuasa atas tanah liat, untuk membentuk dari gumpalan yang sama, satu wadah untuk tujuan mulia, dan wadah lainnya untuk tujuan yang hina?" (Roma 9:20-21). Bagian ini benar-benar menyentuhku, dan aku sadar bahwa aku terlalu tidak bernalar. Semua karunia dan bakatku telah ditakdirkan oleh Tuhan; aku seharusnya tidak memiliki tuntutan yang tidak masuk akal atau keinginan yang berlebihan. Selalu tidak puas dengan kemampuanku sendiri adalah bentuk penentangan dan pemberontakan terhadap Tuhan! Selama waktu itu, aku sering berdoa kepada Tuhan, ingin menyelesaikan masalahku.

Suatu hari, aku membaca firman Tuhan dan memperoleh sedikit pemahaman tentang pandangan di balik pengejaranku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Banyak orang yang tidak memahami kebenaran atau mengejar kebenaran. Seperti apa mereka memperlakukan pelaksanaan tugas? Mereka memperlakukannya seperti sebuah pekerjaan, hobi, atau investasi yang mereka minati. Mereka tidak memperlakukannya seperti sebuah misi atau tugas yang diberikan oleh Tuhan, atau tanggung jawab yang harus mereka penuhi. Bahkan, mereka tidak berusaha memahami kebenaran atau maksud Tuhan dalam melaksanakan tugas mereka, agar mereka dapat melaksanakan tugas mereka dengan baik dan menyelesaikan amanat Tuhan. ... Dapatkah orang-orang seperti ini memperoleh kebenaran? Mereka tidak mendedikasikan upaya dalam kebenaran dan mereka tidak menerapkan kebenaran dalam melaksanakan tugas mereka. Bagi mereka, rumput tetangga selalu lebih hijau. Hari ini mereka ingin melakukan ini, besok ingin melakukan itu, dan mereka berpikir bahwa tugas orang lain lebih baik dan lebih mudah daripada tugas mereka sendiri. Namun, mereka tidak berusaha dalam hal kebenaran. Mereka tidak memikirkan masalah apa yang ada dengan ide-ide mereka ini dan mereka tidak mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah. Pikiran mereka selalu berfokus pada kapan mimpi mereka akan terwujud, siapa yang menjadi pusat perhatian, siapa yang mendapatkan pengakuan dari Yang di Atas, siapa yang melaksanakan pekerjaan tanpa dipangkas dan dipromosikan. Pikiran mereka dipenuhi dengan hal-hal ini. Dapatkah orang-orang yang selalu memikirkan hal-hal ini melaksanakan tugasnya dengan cara yang memenuhi standar? Mereka tidak akan pernah dapat mencapai hal ini. Jadi, orang seperti apa yang melaksanakan tugasnya dengan cara ini? Apakah mereka orang-orang yang mengejar kebenaran? Pertama-tama, satu hal yang pasti: Orang-orang seperti ini tidak mengejar kebenaran. Mereka berusaha menikmati sejumlah berkat, menjadi terkenal, dan menjadi sorotan di rumah Tuhan, sama seperti ketika mereka bertahan hidup di masyarakat. Dari segi esensi, orang-orang seperti apakah mereka? Mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya. Pengikut yang bukan orang percaya melaksanakan tugas mereka di rumah Tuhan seperti halnya mereka melaksanakan pekerjaan di dunia luar. Mereka peduli tentang siapa yang dipromosikan, siapa yang menjadi pemimpin tim, siapa yang menjadi pemimpin gereja, siapa yang dipuji oleh semua orang karena pekerjaannya, siapa yang ditinggikan dan disebut-sebut. Mereka peduli tentang hal-hal ini. Hal ini sama seperti di sebuah perusahaan: Siapa yang dipromosikan, siapa yang mendapat kenaikan gaji, siapa yang menerima pujian dari pemimpin, dan siapa yang menjadi akrab dengan pemimpin—orang-orang peduli tentang hal-hal ini. Jika mereka juga mengejar hal-hal ini di rumah Tuhan, dan disibukkan dengan hal-hal ini sepanjang hari, bukankah mereka sama saja dengan orang-orang tidak percaya? Pada esensinya, mereka adalah orang-orang tidak percaya; mereka adalah contoh khas dari pengikut yang bukan orang percaya. Apa pun tugas yang mereka laksanakan, mereka hanya akan berjerih payah dan bertindak dengan cara yang asal-asalan. Apa pun khotbah yang mereka dengar, mereka tetap tidak akan menerima kebenaran, dan terlebih lagi, mereka tidak akan menerapkan kebenaran. Mereka telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun tanpa mengalami perubahan apa pun, dan entah selama berapa tahun pun mereka melaksanakan tugas mereka, mereka tidak akan mampu mempersembahkan kesetiaan mereka. Mereka tidak memiliki iman sejati kepada Tuhan, mereka tidak memiliki kesetiaan, mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Delapan (Bagian Satu)). Penyingkapan dalam firman Tuhan membuatku merasa sangat malu. Orang-orang tidak percaya di masyarakat selalu mengejar pengakuan dari atasan atau rasa kagum dari orang lain. Namun aku, yang sudah bertahun-tahun menjadi orang percaya, masih mengejar hal-hal ini sama seperti orang tidak percaya. Perspektifku terhadap pengejaran tidak berubah sama sekali. Aku selalu fokus pada siapa yang bisa menyanyi, siapa yang bisa menari, atau siapa yang punya bakat tertentu yang membuat saudara-saudari mengagumi dan memuji mereka. Aku fokus pada hal-hal ini setiap hari. Melihat saudara-saudari di sekitarku memiliki banyak bakat, mampu bekerja sama dalam melaksanakan berbagai tugas, aku pun menjadi sangat iri. Aku sangat ingin memiliki karunia dan bakat ini juga, agar aku bisa tampil di panggung dan menonjolkan diri. Ketika aku kemudian diminta untuk merekam demo menyanyi dan menari, aku merasa kecewa dan tertekan karena aku tidak punya bakat itu dan tidak bisa melaksanakan tugas-tugas itu. Aku mengeluh mengapa Tuhan tidak memberiku karunia dan bakat itu dan bertanya-tanya mengapa aku lebih rendah dari orang lain. Aku bahkan mulai menyepelekan tugasku saat ini. Aku terus-menerus mengejar berbagai karunia dan bakat untuk memuaskan ambisi dan keinginanku untuk menonjol dan diperhatikan. Aku mengabaikan pekerjaanku yang semestinya dan tidak menempuh jalan yang benar. Sebenarnya, tidak peduli bakat apa yang kau gunakan dalam tugas apa pun, semuanya bertujuan untuk memberitakan Injil dan bersaksi tentang Tuhan, agar lebih banyak orang dapat kembali ke hadapan Tuhan dan menerima keselamatan dari-Nya. Inilah maksud Tuhan, dan ini tidak ada hubungannya dengan reputasi atau status. Namun, aku selalu merasa bahwa aku hanya bisa dikagumi lebih banyak orang dengan memiliki berbagai macam bakat, pandai menyanyi dan menari, dan menjadi orang yang multitalenta. Perspektifku sama seperti orang tidak percaya, yaitu perspektif pengikut yang bukan orang percaya!

Kemudian, aku membaca dua bagian firman Tuhan dan memperoleh sedikit pemahaman tentang akar penyebab dari pengejaranku yang terus-menerus akan karunia dan bakat. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Penghargaan antikristus akan reputasi dan status mereka melampaui orang biasa, dan merupakan sesuatu yang ada dalam esensi watak mereka; itu bukanlah kesukaan pribadi yang sifatnya sementara ataupun efek sementara dari lingkungan mereka—itu adalah sesuatu yang ada dalam hidup mereka, meresap dalam tulang mereka, dan dengan demikian, itulah esensi mereka. Dengan kata lain, dalam segala sesuatu yang antikristus lakukan, pertimbangan pertama mereka adalah reputasi dan status mereka sendiri, tidak ada yang lain. Bagi antikristus, reputasi dan status adalah hidup mereka, dan tujuan yang mereka kejar sepanjang hidup mereka. ... Dapat dikatakan bahwa bagi antikristus, reputasi dan status bukanlah tuntutan tambahan, apalagi hal-hal lahiriah bagi mereka yang dapat mereka abaikan. Reputasi dan status adalah bagian dari natur para antikristus, kedua hal tersebut ada di dalam tulang mereka, dalam darah mereka, yang sudah menjadi bawaan lahiriah mereka. Para antikristus tidak acuh tak acuh apakah mereka memiliki reputasi dan status atau tidak; ini bukanlah sikap mereka. Lantas, apa sikap mereka terhadap kedua hal ini? Reputasi dan status berkaitan erat dengan kehidupan mereka sehari-hari, dengan keadaan mereka sehari-hari, dengan apa yang mereka kejar setiap hari. Bagi antikristus, status dan reputasi adalah hidup mereka. Bagaimanapun cara mereka hidup, di lingkungan mana pun mereka tinggal, pekerjaan apa pun yang mereka lakukan, apa pun yang mereka kejar, apa pun tujuan mereka, apa pun arah hidup mereka, semuanya berpusat pada memiliki reputasi yang baik dan status yang tinggi. Dan tujuan ini tidak berubah; mereka tak pernah mampu melepaskan hal-hal semacam ini" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Sembilan (Bagian Tiga)). "Mengapa engkau begitu menghargai status? Apa manfaat yang dapat kauperoleh dari status? Jika status mengakibatkanmu mengalami bencana, kesulitan, rasa malu, dan penderitaan, akankah engkau tetap menghargainya? (Tidak.) Ada begitu banyak manfaat yang berasal dari memiliki status, misalnya orang akan iri terhadapmu, menghormatimu, menghargaimu, dan menyanjungmu, engkau juga akan menerima kekaguman dan penghormatan mereka. Ada juga perasaan memiliki superioritas dan hak istimewa yang diberikan statusmu, yang memberimu kebanggaan dan rasa layak dihargai. Selain itu, engkau juga bisa menikmati hal-hal yang orang lain tidak dapat menikmatinya, seperti manfaat dari statusmu dan perlakuan istimewa. Ini adalah hal-hal yang bahkan tidak berani kaupikirkan, dan yang sudah lama kaurindukan dalam mimpimu. Apakah engkau menghargai hal-hal ini? Jika status hanyalah hal yang hampa, tanpa makna nyata, dan mempertahankannya tidak memiliki tujuan nyata, bukankah bodoh untuk menghargainya? Jika engkau mampu melepaskan hal-hal seperti kepentingan dan kesenangan daging, ketenaran, keuntungan, dan status tidak akan lagi mengikatmu" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Delapan (Bagian Dua)). Tuhan menyingkapkan bahwa antikristus sangat menghargai reputasi dan status. Apa pun yang mereka katakan atau lakukan, semuanya untuk mendapatkan rasa kagum dan dukungan orang lain, dan untuk menikmati rasa lebih unggul yang menyertai reputasi dan status. Setelah merenungkan diri, aku menyadari bahwa aku sedang menempuh jalan antikristus. Aku telah hidup berdasarkan racun-racun Iblis "Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang" dan "Manusia bergelut ke atas; air mengalir ke bawah". Aku menganggap reputasi dan status sangat penting, dan selalu ingin dikagumi di tengah banyak orang, percaya bahwa hanya inilah cara menjalani hidup yang bermakna. Dalam beberapa tahun terakhir, aku telah tampil dalam banyak video kesaksian pengalaman. Beberapa saudara-saudari yang baru pertama kali bertemu denganku berkata seperti, "Aku sering melihatmu di video," atau "Aku menonton video yang kau bintangi saat aku pertama kali percaya kepada Tuhan." Setiap kali mendengar kata-kata seperti itu, aku merasa sangat senang dan benar-benar menikmati saat diperhatikan dan dikagumi orang lain. Aku merasa sangat kecewa dan tertekan ketika melihat semua saudara-saudari di sekitarku bernyanyi dan menari, terlihat begitu mengesankan dan menikmati menjadi pusat perhatian, sementara sebaliknya, aku tidak bisa menyanyi atau menari dan hanya bisa tampil dalam video kesaksian pengalaman, yang tidak terlalu menarik perhatian. Terlebih lagi, ketika aku mendengar saudari lain dengan hangat menyapa seorang penari sementara aku hanya berdiri di sana tanpa ada yang memperhatikan, hatiku terasa makin tidak enak. Rasanya aku tidak dianggap ada. Aku mulai berharap memiliki berbagai macam karunia dan bakat, agar aku juga bisa tampil di berbagai video dan mendapat rasa kagum serta perlakuan istimewa dari orang-orang di sekitarku, sama seperti saudara-saudari lainnya. Kemudian, gereja memang memberiku kesempatan untuk merekam demo menyanyi dan menari, tetapi fakta membuktikan bahwa aku tidak pandai dalam hal-hal itu. Ini membuatku makin putus asa untuk bisa tampil menonjol suatu saat, dan aku menjadi kecewa serta tertekan karenanya. Aku pun mulai meremehkan tugas tampil dalam video kesaksian pengalaman, dan aku bahkan mengeluh bahwa aku lahir dalam keluarga miskin di pedesaan, dan tidak pernah belajar menyanyi, menari, atau memainkan alat musik apa pun. Sebenarnya, keluhan dan ketidakpuasanku terhadap keadaanku saat ini pada dasarnya adalah keluhan dan ketidakpuasan terhadap Tuhan. Bisa tampil dalam video kesaksian pengalaman saja sudah merupakan kasih karunia yang besar dari Tuhan, tetapi aku tidak puas. Aku selalu membandingkan diriku dengan orang lain, tanpa henti mengejar reputasi dan status, serta menyalahkan Tuhan ketika aku tidak bisa mendapatkannya. Aku benar-benar sangat memberontak! Setelah menyadari hal ini, aku memperoleh sedikit pemahaman tentang perspektif keliru di balik pengejaranku, dan aku juga memahami bahwa Tuhan memberi orang karunia dan bakat untuk membantu mereka melaksanakan tugas dengan lebih baik. Namun, aku selalu ingin menggunakan bakat dan karuniaku untuk mengejar kekaguman dan dukungan orang lain, dan untuk mengejar status di hati mereka. Ini adalah tindakan menentang Tuhan, sesuatu yang Tuhan benci dan muakkan, dan jika aku terus menempuh jalan ini, aku akan dikutuk dan dihukum oleh Tuhan. Aku merasa sedikit takut dan bersedia mengubah keadaanku yang salah.

Kemudian, aku membaca firman Tuhan dan memahami maksud-Nya. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Jika Tuhan menciptakanmu bodoh, maka ada makna dalam kebodohanmu; jika Dia menciptakanmu cerdas, maka ada makna dalam kecerdasanmu. Apa pun kelebihan yang Tuhan berikan kepadamu, apa pun keahlianmu, setinggi apa pun IQ-mu, Tuhan memiliki tujuan-Nya dalam menciptakannya demikian. Semua hal ini telah ditakdirkan sejak semula oleh Tuhan. Peran yang kaumainkan dalam hidupmu dan tugas yang mampu kaulaksanakan juga telah lama ditakdirkan oleh Tuhan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Prinsip-Prinsip yang Seharusnya Menuntun Cara Berperilaku Orang"). "Jika Tuhan memberimu kualitas rata-rata, engkau tidak dapat melakukan pekerjaan yang sangat besar, jadi engkau tidak akan bisa bersikap congkak. Ini adalah perlindungan bagimu. Dengan kualitas rata-rata yang diberikan kepadamu, engkau tidak memiliki modal untuk kausombongkan, dan engkau juga tidak dapat memberikan kontribusi yang menggemparkan. Engkau harus selalu berpikir, 'Kualitasku rata-rata; aku tidak bagus di bidang ini, maupun di bidang itu. Aku harus berhati-hati dan mencari prinsip-prinsip kebenaran dalam melaksanakan tugasku.' Ketika engkau merasa bahwa engkau kurang dalam semua aspek, engkau akan jauh lebih berperilaku baik, jauh lebih menaati aturan, dan jauh lebih rendah hati. Sebagai contoh, apa pun pekerjaan yang engkau semua lakukan, entah engkau adalah pengawas atau anggota biasa, jika selama kurun waktu tertentu, pekerjaanmu berjalan dengan cukup lancar, membuahkan beberapa hasil, dan pencapaianmu cukup menonjol, dan engkau menerima penegasan dari Yang di Atas, akan seperti apa pola pikirmu? (Kami akan menjadi sombong, merasa diri kami hebat, dan tidak akan lagi mudah mencari kebenaran.) Akan menjadi sulit bagimu untuk mengikuti aturan serta tetap bersikap praktis dan realistis dalam caramu berperilaku. Ini adalah pencobaan yang sangat berbahaya bagimu; ini bukanlah pertanda yang baik" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (7)"). Dari firman Tuhan, aku memahami bahwa karunia dan bakat apa yang dimiliki setiap orang dan tugas apa yang bisa mereka laksanakan semuanya ditakdirkan oleh Tuhan. Aku seharusnya memiliki sedikit nalar, berdiri di posisi sebagai makhluk ciptaan, dan mengetahui posisiku saat melaksanakan tugasku sendiri dengan baik. Hanya ini yang sesuai dengan maksud Tuhan. Selain itu, Tuhan berfirman: "Ini adalah perlindungan bagimu." Merenungkan firman ini, aku merasa sangat tersentuh. Kelemahan utama dan watak rusak setiap orang berbeda-beda. Beberapa orang, yang melaksanakan tugas sama sepertiku, memiliki banyak karunia dan bakat, dan mereka tetap bisa berjalan di jalan yang benar, mengejar kebenaran, dan melaksanakan tugas mereka dengan baik dan membumi. Namun, keinginanku akan reputasi dan status sangat kuat, dan selama bertahun-tahun aku selalu mengejar agar bisa menonjol dan dikagumi. Jika aku benar-benar punya banyak karunia dan bakat, mungkin aku sudah lama tersesat dan disingkapkan serta disingkirkan oleh Tuhan. Aku teringat bagaimana dua tahun lalu, aku menjadi congkak dan tidak tahu tempatku di alam semesta karena aku sudah lama berlatih untuk tampil di video kesaksian pengalaman. Aku berlagak dalam tugasku dan tidak mau menerima bimbingan serta bantuan dari saudara-saudari. Pada akhirnya, aku disingkapkan dan dipangkas dengan keras, serta diperingatkan bahwa jika aku tidak bertobat, aku akan diberhentikan. Baru setelah itu aku segera berbalik dan merenungkan diriku. Kegagalan itu masih jelas dalam benakku sampai hari ini, dan itu karena aku terlalu mementingkan karunia dan bakat serta perasaan superioritas yang terus-menerus. Setelah memikirkan hal ini, aku memahami bahwa jika aku punya terlalu banyak bakat, itu hanya akan menyulut watak congkakku, dan aku akan mengejar reputasi dan status dengan lebih gigih lagi. Hanya dengan tidak memiliki karunia dan bakat itulah aku bisa melaksanakan tugasku di satu bidang ini dengan taat dan menghindari jalan menuju kehancuran. Ini adalah sebuah bentuk perlindungan bagiku. Menyadari hal ini membuat hatiku dipenuhi rasa syukur. Berapa pun yang Tuhan anugerahkan kepadaku, di dalamnya terkandung pemikiran yang tekun dan maksud baik-Nya.

Setelah itu, aku membaca firman Tuhan dan hatiku menjadi terang. Tuhan berfirman: "Tuhan telah mengaruniakan kepada setiap orang kelebihan dan karunia yang berbeda. Ada yang memiliki kelebihan dalam dua atau tiga bidang, ada yang dalam satu bidang, dan ada yang sama sekali tidak memiliki kelebihan—jika engkau semua dapat memperlakukan hal-hal ini dengan benar, berarti engkau memiliki nalar. Orang yang bernalar akan mampu menemukan tempat mereka, berperilaku menurut posisi mereka dan melaksanakan tugas mereka dengan baik. Orang yang tidak pernah dapat menemukan tempatnya adalah orang yang selalu memiliki ambisi. Di dalam hatinya, mereka selalu mengejar status dan keuntungan. Mereka tidak pernah puas dengan apa yang mereka miliki. Untuk mendapatkan lebih banyak keuntungan, mereka dengan rakus bertindak berlebihan; mereka selalu ingin memuaskan keinginan mereka yang berlebihan. Menurut mereka jika orang memiliki karunia dan berkualitas baik, mereka seharusnya menikmati lebih banyak kasih karunia Tuhan, dan memiliki beberapa keinginan yang berlebihan bukanlah suatu kesalahan. Apakah orang seperti ini memiliki nalar? Bukankah selalu memiliki keinginan yang berlebihan itu tidak tahu malu? Orang yang memiliki hati nurani dan nalar dapat merasakan bahwa itu tidak tahu malu, dan mereka mampu mencari kebenaran untuk melepaskan keinginan mereka yang berlebihan. Jika orang memahami kebenaran, mereka tidak akan melakukan hal-hal bodoh ini. Jika engkau berharap untuk melaksanakan tugasmu dengan penuh pengabdian agar dapat membalas kasih Tuhan, ini bukanlah keinginan yang berlebihan. Ini sesuai dengan hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal. Ini menyenangkan Tuhan. Jika engkau benar-benar ingin melaksanakan tugasmu dengan baik, engkau harus terlebih dahulu berdiri di tempatmu yang semestinya, dan kemudian melakukan apa yang mampu kaulakukan dengan segenap hatimu, dengan segenap akal budimu, dengan segenap kekuatanmu, dan melakukan yang terbaik—ini memenuhi standar, dan ada pengabdian dalam melaksanakan tugas dengan cara seperti ini. Inilah yang seharusnya dilakukan oleh makhluk ciptaan sejati. ... Di gereja, ada orang-orang yang dapat bermain gitar, ada yang dapat bermain erhu, dan ada yang dapat bermain drum. Jika engkau memiliki minat dalam salah satu bidang ini, engkau boleh mempelajarinya. Apa pun itu keterampilan atau teknologi spesifiknya, asalkan engkau senang belajar dan memiliki kecakapan, engkau boleh mempelajarinya. Setelah engkau mempelajari keterampilan baru, engkau dapat menggunakannya untuk melaksanakan tugas tambahan, yang tidak hanya menyenangkan manusia, tetapi juga menyenangkan Tuhan. Merupakan hal yang paling diberkati untuk memperoleh lebih banyak keterampilan dan berkontribusi lebih banyak untuk pekerjaan rumah Tuhan. Tidak ada salahnya mempelajari hal-hal baru saat orang masih muda dan masih memiliki ingatan yang baik. Hanya ada manfaat dalam hal ini dan itu tidak ada ruginya. Itu bermanfaat untuk pelaksanaan tugas dan pekerjaan rumah Tuhan. Dengan berfokus dalam mempelajari berbagai hal baru sambil melaksanakan tugas mereka, itu artinya mereka rajin dan bertanggung jawab; mereka jauh lebih baik daripada orang yang tidak berkomitmen pada pekerjaan mereka. Namun, jika setelah engkau mempelajari sesuatu selama beberapa waktu, engkau tetap tidak memahaminya, itu menunjukkan bahwa engkau tidak memiliki kualitas di bidang itu. Ini sama seperti ada orang yang bisa menari dengan baik, tetapi menyanyi dengan nada sumbang dan tidak peka terhadap nada; ini hal bawaan dan tidak dapat diubah. Situasi seperti itu harus disikapi dengan benar. Jika engkau bisa menari, menarilah dengan baik. Jika engkau memiliki hati yang memuji Tuhan, sekalipun engkau menyanyi dengan nada sumbang, Tuhan tidak akan mempermasalahkannya. Selama ada sukacita di dalam hatimu, itu sudah cukup. Apa pun kelebihan pribadimu, adalah hal yang baik jika engkau dapat memanfaatkannya. Melaksanakan dengan baik dan sungguh-sungguh tugas yang seharusnya kaulaksanakan, inilah artinya berperilaku sesuai posisimu yang semestinya" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Prinsip-Prinsip yang Seharusnya Menuntun Cara Berperilaku Orang"). Setelah membaca firman Tuhan, aku memahami bahwa sebanyak apa pun karunia atau bakat yang dimiliki seseorang, atau sebaik atau seburuk apa pun kualitasnya, perbedaannya hanya terletak pada tugas dan fungsi yang mereka penuhi; di dalam tugas, tidak ada perbedaan tinggi atau rendah, mulia atau hina. Selain itu, Tuhan memiliki tuntutan yang berbeda untuk setiap orang berdasarkan karunia dan bakat berbeda yang Dia berikan kepada mereka. Selama kita bisa memberikan yang terbaik dan melaksanakan tugas kita dengan baik dan sepenuh hati, Tuhan akan puas. Jika aku selalu tidak dapat menempatkan diri sebagaimana mestinya, selalu mendambakan apa yang dimiliki orang lain, dan terus-menerus hidup dalam watak rusakku sambil mengejar reputasi dan status, cepat atau lambat aku akan disingkapkan dan disingkirkan oleh Tuhan. Aku teringat akan saudara-saudari yang menulis artikel kesaksian pengalaman. Beberapa dari mereka melaksanakan tugas menjadi tuan rumah, beberapa melaksanakan tugas urusan umum, dan beberapa sudah lanjut usia. Mereka tidak punya karunia atau bakat apa pun, tetapi mereka tulus dan praktis dalam sikap mereka terhadap tugas. Mereka sangat berhati-hati untuk melaksanakan tugas mereka dengan baik, fokus mengejar kebenaran, dan telah menulis artikel kesaksian pengalaman hidup. Tuhan menyukai orang-orang seperti ini. Aku tidak punya banyak bakat dan hanya bisa tampil dalam video kesaksian pengalaman. Ini telah ditakdirkan oleh Tuhan, dan ini adalah sesuatu yang bisa kulakukan. Jika aku mencurahkan hatiku ke dalamnya, aku bisa melakukannya dengan lebih baik lagi, tetapi jika aku tidak membumi, bahkan tugas ini pun mungkin tidak mampu kulaksanakan dengan baik. Jadi aku berdoa kepada Tuhan, bersedia mengubah pengejaranku yang keliru dan menghargai tugasku saat ini. Aku berpikir tentang bagaimana setiap artikel kesaksian pengalaman adalah kesaksian pengalaman seorang saudara atau saudari akan pekerjaan Tuhan. Dengan mencurahkan hatiku untuk menyampaikan kesaksian-kesaksian pengalaman ini dengan baik, di satu sisi aku memberi kesaksian tentang Tuhan, dan di sisi lain, membuat banyak orang mendapat manfaat dan dididik kerohaniannya oleh kesaksian-kesaksian ini. Ini adalah tugas yang sangat penting dan bermakna! Setelah itu, saat aku berperan dalam video kesaksian pengalaman, aku menyesuaikan pola pikirku, fokus untuk mencoba memahami psikologi penulis guna mendalami karakter, dan teliti dalam setiap detail. Meskipun video yang sudah selesai masih memiliki kekurangan dan kelemahan, hatiku merasa tenang dan menikmati prosesnya. Aku juga menyadari bahwa tugas apa pun yang kulaksanakan, selama aku menggunakan apa yang kumiliki dan melakukan yang terbaik, aku sedang berdiri di tempatku yang semestinya. Pada saat yang sama, aku seharusnya fokus mengejar kebenaran untuk mengatasi watak rusakku dalam proses melaksanakan tugas. Dalam tugasku, aku tidak boleh mengandalkan karunia dan bakatku sendiri, tetapi harus mengandalkan Tuhan untuk memperoleh bimbingan Roh Kudus, serta meningkatkan keterampilan profesionalku sesuai kualitasku sendiri dan mencurahkan hatiku untuk melaksanakan tugasku dengan baik. Inilah yang sejalan dengan maksud Tuhan.

Kemudian, seorang saudari yang juga pernah berperan dalam video kesaksian pengalaman pergi untuk menyanyikan lagu pujian berbahasa asing. Aku merasa sedikit kecewa lagi, tetapi aku sadar pemikiranku salah. Dalam hati, aku berdoa kepada Tuhan untuk melindungiku agar tidak terganggu dan meminta-Nya menuntunku untuk melepaskan perspektif keliru di balik pengejaranku. Aku berpikir bahwa bakat yang dimiliki saudariku ini adalah takdir Tuhan, dan aku tidak seharusnya bersaing atau merasa kecewa. Di rumah Tuhan, setiap orang menjalankan fungsinya masing-masing dalam tugas mereka. Dengan berpikir seperti ini, aku bisa sedikit melepaskannya. Aku teringat akan firman Tuhan: "Perlakukan kualitasmu dengan benar. Jangan mengeluh. Sebanyak apa pun yang telah Tuhan berikan kepadamu, itulah yang akan Dia tuntut terhadapmu. Apa yang tidak Tuhan berikan kepadamu, Tuhan tidak akan menuntutnya darimu. Sebagai contoh, jika Tuhan telah memberimu kualitas rata-rata atau kualitas yang buruk, Dia tidak akan menuntutmu untuk menjadi pemimpin, ketua tim, atau pengawas. Namun, jika Tuhan telah memberimu kefasihan, kemampuan untuk mengungkapkan diri, atau karunia tertentu, dan menuntutmu untuk melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan karunia ini, engkau harus melakukannya dengan baik. Jangan menyia-nyiakan kondisi yang telah Tuhan berikan kepadamu. Engkau harus hidup sesuai dengan anugerah Tuhan, memanfaatkan hal itu sepenuhnya dan menerapkannya dengan baik, menerapkannya pada hal-hal positif dan membuahkan hasil pekerjaan yang berharga yang bermanfaat bagi umat manusia. Itu akan sangat baik" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (7)"). Firman Tuhan menghangatkan hatiku. Meskipun aku tidak bisa menyanyi atau menari, Tuhan telah memberiku karunia di bidang akting. Selama bertahun-tahun, rumah Tuhan telah mengizinkanku untuk berperan dalam video kesaksian pengalaman dan berpartisipasi dalam produksi film. Tuhan telah menunjukkan kasih karunia yang besar kepadaku. Aku seharusnya merasa puas dan tidak lagi melakukan hal-hal yang Tuhan benci. Aku berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, aku bersedia berusaha untuk mengejar kebenaran, melaksanakan tugasku dengan baik, menempuh jalan iman kepada Tuhan sesuai dengan tuntutan-Mu, dan memandang orang serta segala sesuatu sesuai dengan firman-Mu. Mohon tuntun dan bimbinglah aku." Setelah doa ini, hatiku menjadi jauh lebih tenang. Ketika aku melihat saudara-saudari lain pergi untuk menyanyi atau menari, aku tidak lagi terpengaruh atau terganggu. Aku bersyukur kepada Tuhan atas bimbingan-Nya, yang telah memberiku sedikit pemahaman tentang perspektif keliru di balik pengejaranku dan jalan yang kutempuh. Ke depannya, aku bersedia untuk tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan, dan melaksanakan tugasku dengan baik dengan segenap hatiku.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Perenungan Setelah Diisolasi

Pada bulan Maret 2023, distrik kami mengadakan pemilihan sela untuk memilih seorang pemimpin distrik. Aku berpikir, “Meskipun jalan masuk...

Hubungi kami via WhatsApp