Hari-hari Mengejar Ketenaran dan Kekayaan

19 Juni 2020

"Dalam hidupnya, jika manusia ingin ditahirkan dan mencapai perubahan dalam wataknya, jika ia ingin menjalani kehidupan yang bermakna dan memenuhi kewajibannya sebagai makhluk ciptaan, ia harus menerima hajaran dan penghakiman Tuhan dan tidak membiarkan disiplin Tuhan dan pukulan-Nya menjauh darinya. Dengan demikian, ia dapat membebaskan diri dari manipulasi dan pengaruh Iblis dan hidup dalam terang Tuhan. Ketahuilah bahwa hajaran dan penghakiman Tuhan adalah terang, terang keselamatan manusia, dan tidak ada berkat, kasih karunia, atau perlindungan yang lebih baik bagi manusia. Ketahuilah bahwa hajaran dan penghakiman Tuhan adalah terang, terang keselamatan manusia, dan tidak ada berkat, kasih karunia, atau perlindungan yang lebih baik bagi manusia" ("Hajaran dan Penghakiman Tuhan adalah Terang Keselamatan Manusia" dalam "Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru"). Menyanyikan lagu pujian firman Tuhan ini sangat mengharukan bagiku. Aku dahulu hidup menurut racun Iblis seperti "Menonjolkan diri dan membawa kehormatan bagi nenek moyangnya," dan "Manusia bergelut ke atas; air mengalir ke bawah." Aku terus-menerus mencari ketenaran dan status, ditipu dan dirusak oleh Iblis, memikirkan untung dan rugi untuk menjadi terkenal. Itu adalah cara hidup yang menyakitkan. Setelah aku mengalami penghakiman, hajaran, dan pendisiplinan firman Tuhan aku mulai mengerti sedikit tentang naturku yang rusak dan memperoleh beberapa kejelasan tentang esensi dan akibat dari mengejar ketenaran dan status. Akhirnya aku mulai sadar dan merasakan penyesalan. Aku tidak mau lagi hidup seperti itu. Sekarang aku hanya ingin mengejar kebenaran dan melakukan tugasku dengan baik untuk memuaskan Tuhan.

Aku teringat, pada bulan September 2016 aku bergabung dengan tim penggubah musik untuk memenuhi tugasku. Segera setelah itu, pemimpin kami menemui kami untuk mendiskusikan pemilihan pemimpin tim. Aku sangat senang saat mendengarnya dan mulai membayangkan para calonnya di benakku. Saudara-saudari lainnya dalam timku masih terlalu muda atau tidak cukup terampil. Hanya ada Saudara Li—persekutuannya tentang kebenaran cukup praktis, dan dia memahami beberapa hal dari pekerjaan tersebut. Ditambah lagi, dia memiliki sikap yang tenang. Aku merasa ada kemungkinan besar dia yang akan terpilih, tetapi persekutuanku juga lumayan, dan aku adalah orang yang sangat baik dalam belajar dan cukup cepat dalam menangkap hal-hal baru. Aku juga pandai melihat gambaran secara keseluruhan. Jadi, kurasa peluangku untuk terpilih seharusnya lebih baik daripada dia. Namun semua orang di tim itu masih baru dalam tugas tersebut dan kami belum lama bekerja bersama, jadi belum terlalu mengenal satu sama lain. Sulit diketahui apakah mereka akan memilihku. Jadi, aku menyarankan kepada pemimpin agar dia memperhitungkan tugas yang telah diselesaikan oleh masing-masing dari kami, kemudian setelah itu menunjuk seseorang untuk memimpin tim untuk sementara waktu. Semua orang setuju. Diam-diam aku merasa senang; aku merasa memiliki rekam jejak yang cukup baik dalam melakukan tugas, jadi kemungkinan besar aku akan terpilih. Keesokan harinya, aku pergi ke pertemuan itu dengan penuh percaya diri. Namun di luar dugaanku, Saudara Li-lah yang akhirnya terpilih. Aku sangat kecewa pada saat itu, tetapi untuk menutupi rasa maluku, aku berpura-pura tenang dan berkata, "Syukur kepada Tuhan. Mulai sekarang, mari kita semua bekerja sama untuk memenuhi tugas-tugas kita." Namun, jauh di lubuk hatiku, aku sama sekali tidak bisa menerimanya. Aku merasa lemas dalam perjalanan pulang. Aku benar-benar tak habis pikir. Apa yang Saudara Li miliki yang aku tidak punya? Aku sama sekali tidak bisa menerimanya. Aku merasa memiliki banyak bakat, jadi dengan tidak memilihku, bukankah semua bakatku jadi sia-sia? Karena itu, aku merasa benar-benar harus membuktikan diriku, dan menunjukkan kemampuanku kepada yang lain. Meskipun secara lahiriah aku terlihat tenang setelah itu, secara diam-diam aku bersaing melawan Saudara Li. Aku berusaha keras untuk meningkatkan keterampilanku sehingga aku bisa mengalahkannya. Diam-diam aku senang ketika melihat bahwa dia ternyata seorang yang lambat dalam belajar, dan berpikir, "Oh cuma begitu saja kemampuanmu! Ternyata kau tidak terlalu hebat! Nanti juga semua saudara-saudari kita akan melihat siapa yang lebih baik." Aku menikmati setiap kesalahan kecil yang dibuatnya, berpikir dalam hati, "Memangnya kau punya kemampuan yang dibutuhkan? Sekarang mereka akan melihat dirimu yang sesungguhnya!" Menyaksikan Saudara Li menyelesaikan masalah orang lain membuatku iri. Aku merasa bahwa aku juga memiliki pengalaman praktis seperti itu, dan seandainya aku adalah pemimpin tim, aku juga pasti ahli dalam menyampaikan persekutuan. Khususnya ketika kami sedang mendiskusikan pekerjaan, apa pun yang disarankan Saudara Li, aku segera mengatakan sesuatu yang lebih lengkap dan berwawasan.

Aku ingat dalam satu pertemuan, sementara kami sedang mendiskusikan gagasan untuk sebuah lagu pujian, Saudara Li memberikan saran yang sangat bagus. Namun kupikir jika aku menerima saran itu, bukankah itu akan membuatnya terlihat lebih baik daripadaku? Lalu bagaimana aku bisa bangga pada diriku sendiri? Aku langsung saja memberikan bantahanku dan menyampaikan saran yang berbeda, tetapi kelompok itu akhirnya memilih idenya. Itu seperti tamparan di wajahku. Melihat saudara-saudari mendiskusikannya dengan penuh semangat, aku merasa semakin menentang Saudara Li, dan aku tidak lagi berminat mendengarkan lebih lanjut. Aku teringat tugas sebelumnya yang telah kuselesaikan; lagipula, aku menjadi pemimpin tim waktu itu, dan saudara-saudari semuanya mengagumiku. Namun sekarang, aku bukan pemimpin tim lagi, dan dia terlihat lebih baik daripadaku di setiap kesempatan. Seandainya aku tahu ini akan terjadi, aku tidak akan datang ke sini untuk memenuhi tugasku. Setelah pertemuan itu, aku merasa pusing, dan hatiku terasa gelap. Samar-samar aku menyadari bahwa aku tidak berada dalam kondisi yang benar, aku berdoa kepada Tuhan, dan bagian dari firman-Nya ini muncul di benakku: "Namun Aku memiliki pengetahuan mendalam tentang ketidakmurnian dalam hati setiap makhluk ciptaan Dan sebelum Aku menciptakanmu, Aku sudah tahu ketidakbenaran yang ada di kedalaman hati manusia dan Aku tahu semua tipu daya dan kebengkokan dalam hati manusia. Jadi, meskipun tidak ada jejak sama sekali tentang manusia yang melakukan ketidakbenaran, Aku tetap tahu bahwa ketidakbenaran yang tersimpan dalam hatimu melampaui kekayaan segala sesuatu yang Aku ciptakan. Masing-masing dari antaramu telah naik ke tempat tertinggi di antara orang banyak; engkau telah naik sehingga menjadi nenek moyang orang banyak. Engkau bersikap sangat seenaknya dan berlari liar di antara semua belatung mencari tempat yang tenang dan berusaha memangsa belatung yang lebih kecil daripadamu. Engkau jahat dan kejam dalam hatimu, melebihi hantu-hantu yang telah tenggelam ke dasar laut. Engkau hidup di dasar tumpukan sampah, mengganggu belatung-belatung dari atas sampai ke dasar sampai mereka tidak merasakan kedamaian, saling berkelahi satu sama lain sebentar dan kemudian tenang. Engkau tidak tahu tempatmu, tetapi engkau tetap berkelahi dengan sesamamu di tumpukan sampah. Apa yang bisa engkau dapatkan dari pergumulan seperti itu? Jika engkau semua benar-benar memiliki sikap yang menghormati Aku dalam hatimu, bagaimana engkau bisa berkelahi dengan sesamamu di belakang-Ku? Seberapa pun tingginya statusmu, bukankah engkau sebenarnya adalah cacing kecil yang bau di tumpukan sampah? Akankah engkau mampu menumbuhkan sayap dan menjadi burung merpati di langit?" ("Ketika Daun-daun yang Berguguran Kembali ke Akarnya, Engkau Akan Menyesali Semua Kejahatan yang Telah Engkau Perbuat" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman Tuhan menyingkapkan semua keburukanku yang berjuang demi reputasi dan kekayaan. Sejak bergabung dengan tim penggubah musik, aku dipenuhi dengan ambisi, ingin sekali mencapai prestasi sehingga semua saudara-saudari dan pemimpin akan memujiku dan aku bisa mendapatkan posisi yang kuat di tim tersebut. Selama proses seleksi, aku telah mencoba menggunakan akalku demi keuntungan pribadiku, membuat pemimpin mengadakan pemilihan sementara berdasarkan tugas yang telah kami penuhi di masa lalu. Aku menjadi iri ketika Saudara Li terpilih, dan menyimpan sikap bersaing terhadapnya. Ketika aku melihat beberapa masalah dalam pekerjaannya, aku tidak menjunjung tinggi kepentingan gereja atau berusaha membantunya, melainkan hanya ingin dia digantikan karena ketidakmampuannya, yang akan memberiku kesempatan untuk memperoleh pekerjaan itu. Aku terperosok ke dalam tipu daya watak yang jahat, dan mengejar ketenaran dan kekayaan, dan tindakanku itu sama sekali tidak memiliki hati nurani atau nalar. Sungguh tercela dan beracun. Aku sangat kesal dan benar-benar mencela diriku sendiri ketika menyadari hal ini. Aku berdoa kepada Tuhan dan memohon kepada-Nya untuk membimbingku mengamalkan kebenaran sehingga aku tidak lagi bisa diikat dan dikekang oleh watakku yang jahat dan rusak.

Suatu hari, aku membaca bagian firman Tuhan ini: "Bagi masing-masing darimu yang sedang melaksanakan tugasmu, tidak peduli sedalam apa pun engkau memahami kebenaran, jika engkau ingin memasuki realitas kebenaran, cara paling sederhana untuk melakukannya adalah dengan memikirkan kepentingan rumah Tuhan dalam segala sesuatu yang kaulakukan, serta melepaskan keinginanmu yang egois, maksud, motif, reputasi, dan statusmu sendiri. Prioritaskan kepentingan rumah Tuhan—inilah setidaknya yang harus kaulakukan. Jika seseorang yang sedang melakukan tugasnya tidak bisa berbuat sebanyak ini saja, lalu bagaimana mungkin ia bisa disebut menunaikan tugasnya? Ini bukanlah menunaikan tugas" ("Engkau Dapat Memperoleh Kebenaran Setelah Menyerahkan Hatimu yang Sejati kepada Tuhan" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). Firman Tuhan menunjukkan kepadaku prinsip dan arah yang harus kutempuh dalam melaksanakan tugasku, yaitu bahwa aku harus melepaskan keinginanku untuk mengejar ketenaran dan status, dan mengutamakan pekerjaan gereja, apa pun yang terjadi, dan melaksanakan tugasku dengan kemampuan terbaikku. Baru setelah itulah aku dapat memenuhi tugas sebagai makhluk ciptaan, dan memiliki sedikit keserupaan dengan manusia. Jika aku mengejar ketenaran dan status dan mengabaikan pekerjaan utamaku, itu artinya aku tidak memenuhi tugasku; aku pasti menentang Tuhan dan melakukan kejahatan. Setelah itu, aku membuka diri kepada saudara-saudariku tentang semua ini dalam sebuah pertemuan dan menyingkapkan kerusakanku sendiri. Mereka tidak memandang rendah diriku, dan tembok di antaraku dan Saudara Li lenyap. Setelah itu aku secara aktif membagikan persekutuan selama pertemuan yang dia pimpin, dan aku tidak tertawa mengejek ketika melihat kekurangan dalam pekerjaannya. Sebaliknya, aku memberikan saran dan dukungan, dan setiap kali aku melihatnya membantu saudara-saudari menyelesaikan masalah mereka, aku tidak menjadi iri seperti sebelumnya, tetapi merasa bahwa di rumah Tuhan, hanya peran kita yang berbeda, bukan posisi kita. Aku hanya ingin bekerja bersama untuk melakukan tugas kami dengan baik. Aku merasa jauh lebih nyaman ketika aku melakukan kebenaran, dan kemudian aku melihat berkat Tuhan. Meskipun tim kami sebelumnya memiliki fondasi musik terburuk, tidak butuh waktu lama sebelum kami menghasilkan lagu berbahasa Spanyol pertama, dan itu diterima dengan baik oleh saudara-saudari lainnya.

Sekitar setengah tahun berlalu dan aku menjadi lebih familier dengan pekerjaan itu. Saudara-saudari cenderung menerima gagasanku ketika kami sedang mendiskusikan pekerjaan. Dan aku biasanya memimpin pertemuan pertukaran tim kerja setiap bulan. Aku merasa kebutuhanku akan ketenaran dan status sebagian besar telah dipuaskan. Juga, sekitar saat itu, pemimpin kami memintaku terlibat lebih banyak untuk mendorong pekerjaan di tim kami. Dipandang tinggi oleh pemimpinku seperti itu membuatku semakin merasa bahwa aku dianggap memiliki bakat yang berharga. Pada satu titik, kami membutuhkan seseorang untuk melakukan tugas tambahan, dan meskipun tugas itu sangat cocok dengan kemampuanku, aku memutar otak: pekerjaan itu tidak akan membuatku menjadi pusat perhatian, dan akan menyita waktuku. Jadi jika aku mengerjakannya, aku mungkin akan kehilangan sebagian perhatian kepadaku. Namun jika Saudara Li yang mengerjakannya, aku dapat membangun peran yang unik di tim tersebut ... aku mencari berbagai alasan yang mungkin untuk menolak pekerjaan itu, dan merekomendasikan agar Saudara Li yang mengerjakannya. Sebenarnya aku merasa bersalah dan tidak tenang pada saat itu, tetapi aku tetap keras kepala, ingin melindungi posisiku. Saudara Li mengambil tugas baru yang tidak terlalu diketahuinya tersebut. Dia menjadi negatif setelah menghadapi beberapa kesulitan, yang pada akhirnya berdampak pada pekerjaannya. Setelah mendengar tentang ini, aku tetap tidak merenungkan diriku sendiri. Saudara Li sering kali tidak dapat terlibat dalam pekerjaan yang dilakukan oleh tim kami, jadi sebagian besar masalah, besar dan kecil, jatuh ke tanganku. Akibatnya, keinginanku akan ketenaran dan status semakin meningkat. Aku melihat ada beberapa penyimpangan dan kekurangan dalam pekerjaan saudara-saudari yang menghambat kemajuan kami, dan ini membuatku merasa sangat gelisah. Aku bertanggung jawab atas pekerjaan ini, jadi jika ada yang tidak beres, aku tidak tahu apa yang akan dipikirkan pemimpin tentang diriku. Apakah aku akan dianggap tidak kompeten? Aku tidak mampu menahan diri untuk kehilangan kesabaran dan memarahi saudara-saudari, "Apa ini yang disebut melakukan tugas kalian? Tidak bisakah kalian fokus? Bisakah kalian berhenti membuat kesalahan?" Mereka semua akhirnya merasa sangat terkekang olehku. Di lain waktu, aku pergi selama beberapa hari untuk memenuhi tugasku, dan ketika aku kembali, aku melihat seorang saudari membuat rencana kerja tanpa terlebih dahulu membahasnya denganku. Ini membuatku sangat marah. Kupikir, "Ini keterlaluan! Kau sama sekali tidak menghormatiku." Aku mengomelinya habis-habisan. Sementara itu, masalah mulai muncul satu per satu di tim tersebut. Gagasanku tidak disetujui oleh saudara-saudari, dan mereka bahkan memberiku beberapa saran. Aku benar-benar merasa itu suatu penghinaan, dan emosiku memuncak. "Karena kalian semua tidak sepakat denganku, lakukan saja sesuai keinginan kalian! Dan jika nanti ada masalah, kalian semua harus mempertanggungjawabkannya!" Setelah selesai marah, aku merasakan kepanikan yang tak bisa kujelaskan dan sedikit mencela diriku sendiri. Aku berpikir tentang bagaimana aku telah hidup dalam watak yang congkak, selalu kehilangan kesabaran terhadap saudara-saudariku. Apakah Tuhan akan berkenan? Namun kemudian aku berpikir, bukankah aku melakukan itu demi tugasku? Dan siapa di antara kami yang tidak pernah menyingkapkan sedikit kerusakan? Aku sama sekali tidak merenungkan diriku sendiri. Keesokan harinya, pergelangan kakiku terkilir saat bermain basket; kakiku membengkak seperti balon dan menjadi sangat nyeri. Aku tidak bisa berjalan atau melaksanakan tugasku. Aku benar-benar menyadari bahwa ini adalah disiplin Tuhan, dan baru setelah itu aku mulai merenungkan diriku. Selama ini, aku mengejar ketenaran dan status, bersikap congkak, dan memarahi saudara-saudariku. Itu ditampilkan dalam pikiranku, adegan demi adegan, seperti film. Aku membenci diriku sendiri dan heran: Mengapa aku tidak pernah berubah? Mengapa aku tidak mampu menahan diri untuk tidak memberontak dan menentang Tuhan?

Beberapa hari kemudian, beberapa saudara-saudari datang mengunjungiku dan bersekutu denganku tentang kehendak Tuhan. Mereka juga membacakan bagian dari firman-Nya yang secara khusus membahas keadaanku: "Jika mereka melihat seseorang yang lebih baik daripada mereka, mereka menekannya, mulai membuat desas-desus tentang dirinya, atau menggunakan beberapa cara yang jahat sehingga orang lain tidak memandang tinggi dirinya, dan bahwa tidak ada seorang pun yang lebih baik daripada orang lain. Maka, inilah watak rusak berupa kecongkakan dan sikap merasa diri benar, serta kebengkokan, kelicikan dan hati yang busuk, dan tidak sesuatu pun dapat menghentikan orang-orang ini untuk mencapai tujuan mereka. Mereka hidup seperti ini tetapi tetap berpikir bahwa mereka hebat dan bahwa mereka adalah orang baik. Namun, apakah mereka memiliki hati yang takut akan Tuhan? Pertama-tama, berbicara dari sudut pandang natur dari persoalan ini, bukankah orang-orang yang bertindak dengan cara seperti ini hanya berbuat sesuka hati mereka? Apakah mereka mempertimbangkan kepentingan keluarga Tuhan? Mereka hanya memikirkan perasaan mereka sendiri dan mereka hanya ingin mencapai tujuan mereka sendiri, terlepas dari kerugian yang ditanggung oleh pekerjaan keluarga Tuhan. Orang-orang semacam ini bukan saja congkak dan merasa diri benar, mereka juga egois dan hina; mereka sama sekali tidak mempertimbangkan maksud Tuhan, dan orang-orang seperti ini, tanpa diragukan lagi, tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan. Inilah sebabnya mereka melakukan apa pun yang mereka inginkan dan bertindak ceroboh, tanpa rasa bersalah, tanpa rasa takut, tanpa kekhawatiran atau kecemasan, dan tanpa mempertimbangkan konsekuensinya. Mereka tidak takut akan Tuhan, mereka percaya diri merekalah yang terpenting, dan mereka menganggap setiap aspek dari diri mereka lebih tinggi daripada Tuhan dan lebih tinggi daripada kebenaran. Dalam hati mereka, Tuhan adalah yang paling tidak layak disebutkan dan paling tidak penting, dan Tuhan tidak memiliki kedudukan dalam hati mereka sama sekali. ... Apakah mereka yang tidak memiliki tempat bagi Tuhan di dalam hati mereka, dan yang tidak menghormati Tuhan, telah mendapatkan jalan masuk ke dalam kebenaran? (Tidak.) Jadi, pada saat mereka biasanya menyibukkan diri ke sana kemari dengan gembira dan mengeluarkan banyak energi, apa yang sedang mereka lakukan? Orang-orang semacam itu bahkan mengklaim telah meninggalkan segala sesuatu untuk mengorbankan diri bagi Tuhan dan telah sangat menderita, tetapi sebenarnya, motif, prinsip, dan tujuan semua tindakan mereka adalah demi menguntungkan diri mereka sendiri; mereka hanya berusaha melindungi semua kepentingan mereka sendiri. Menurutmu apakah orang seperti ini baik atau tidak baik? Menurutmu, orang macam apa yang tidak menghormati Tuhan? Apakah dia congkak? Apakah orang seperti itu Iblis? Hal-hal apa saja yang tidak menghormati Tuhan? Selain binatang, mereka semua yang tidak menghormati Tuhan terdiri dari setan, Iblis, penghulu malaikat, dan orang-orang yang melawan Tuhan" ("Lima Keadaan Manusia Sebelum Mereka Memasuki Jalur yang Benar dalam Kepercayaan Mereka kepada Tuhan" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). Firman Tuhan yang keras benar-benar menegurku. Aku melihat diriku begitu congkak, egois, dan licik, sama sekali tidak memiliki rasa hormat terhadap Tuhan. Saat kerja sama diperlukan dalam pekerjaan gereja, aku tahu betul bahwa aku sangat cocok untuk itu, tetapi demi mempertahankan reputasi dan statusku sendiri, aku sama sekali tidak ragu-ragu untuk menggunakan strategi licik, yang mana ini mengganggu pekerjaan rumah Tuhan. Ketika aku melihat ada masalah dengan pekerjaan saudara-saudari yang menghambat kemajuan kami, aku tidak membantu mereka untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut; sebaliknya, aku merasa mereka sedang menarikku ke bawah dan memengaruhi kesempatanku untuk menonjol, jadi aku mengambil keuntungan dari posisiku untuk memarahi mereka, dan mereka semua merasa terkekang dan hidup dalam keadaan menderita. Aku juga tidak mau menerima saran mereka. Aku mengeluh, kehilangan kesabaran, dan menggunakan tugasku untuk melampiaskan ketidakpuasanku Tanpa sama sekali memikirkan dampaknya terhadap pekerjaan gereja. Sebenarnya, aku tidak memiliki bakat alami; yang kumiliki hanyalah sedikit minat terhadap musik dan semangat yang tinggi— tetapi Tuhan cukup bermurah hati memberiku kesempatan ini agar aku dapat mengalami kemajuan secara profesional dan dalam pengejaranku akan kebenaran. Namun, bukannya menghargainya, aku malah berusaha keras mengejar status dan gengsi. Dengan alasan melakukan tugasku, sebenarnya aku mengejar kepentinganku sendiri memanfaatkan saudara-saudariku sebagai sarana untuk membuatku menonjol. Aku sama sekali tidak memiliki keserupaan dengan manusia. Dalam semua tindakanku, aku melakukan kejahatan dan menyinggung watak Tuhan. Itu memuakkan dan menjijikkan bagi Tuhan! Menyadari hal itu membuatku takut dan aku sangat mencela diriku sendiri. Aku berdoa kepada Tuhan sambil berlinang air mata: "Ya Tuhan, aku telah salah besar! Aku tidak mau terus memberontak dan menentang-Mu, dan aku tidak ingin terus berjuang demi keuntungan pribadi. Aku siap bertobat."

Kemudian aku membaca firman dari Tuhan ini: "Apa yang Iblis gunakan untuk membuat manusia tetap berada dalam kendalinya? Jadi, Iblis menggunakan ketenaran dan keuntungan untuk mengendalikan pikiran manusia, sampai satu-satunya yang orang pikirkan adalah ketenaran dan keuntungan. Mereka berjuang demi ketenaran dan keuntungan, menderita kesukaran demi ketenaran dan keuntungan, menanggung penghinaan demi ketenaran dan keuntungan, mengorbankan semua yang mereka miliki demi ketenaran dan keuntungan, dan mereka akan melakukan penilaian atau mengambil keputusan demi ketenaran dan keuntungan. Dengan cara ini, Iblis mengikat orang dengan belenggu yang tak kasat mata, dan mereka tidak punya kekuatan ataupun keberanian untuk membuang belenggu tersebut. Mereka tanpa sadar menanggung belenggu ini dan berjalan maju dengan susah payah. Demi ketenaran dan keuntungan ini, umat manusia menjauhi Tuhan dan mengkhianati Dia dan menjadi semakin jahat. Jadi, dengan cara inilah, generasi demi generasi dihancurkan di tengah ketenaran dan keuntungan Iblis" ("Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VI" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Penyingkapan dari firman Tuhan ini memberiku beberapa pemahaman tentang strategi keji dan motif jahat Iblis yang memanfaatkan ketenaran dan kekayaan untuk merusak manusia. Itu mengikat dan membahayakan orang sedemikian rupa, membuat mereka mengkhianati dan menjauhkan diri dari Tuhan. Reputasi dan status adalah sarana yang Iblis pakai untuk membawa penderitaan. Aku telah dipengaruhi dan dididik oleh Iblis sejak aku masih kecil, dan dipengaruhi oleh falsafahnya seperti "Tiap orang memperjuangkan kepentingannya sendiri," "Menonjolkan diri dan membawa kehormatan bagi nenek moyangnya," dan "Manusia bergelut ke atas; air mengalir ke bawah." Aku telah menerimanya sebagai semboyan pribadiku. Aku menjadi semakin congkak, dan di kelompok mana pun, aku selalu bersaing untuk mendapatkan status sehingga orang lain selalu mengagumiku. Bahkan setelah menjadi orang percaya, aku selalu mengejar reputasi dan status karena aku tidak mengejar kebenaran. Aku menderita dan membayar harga dalam tugas-tugasku untuk pengejaran ini, bekerja keras untuk meningkatkan keterampilanku sendiri. Aku berlomba dan bersaing dengan yang lain, kupikir aku benar-benar hebat setiap kali aku mencapai sesuatu, aku dengan angkuh memarahi saudara-saudari. Aku benar-benar congkak dan sombong; aku tidak memiliki keserupaan dengan manusia dalam cara hidupku. Aku hidup dengan falsafah iblis, berusaha keras mendapatkan reputasi dan status. Aku tidak hanya menyakiti orang lain, tetapi aku melakukan begitu banyak hal lain yang menjijikkan bagi Tuhan. Aku juga memengaruhi pekerjaan gereja dengan pelanggaran dan perbuatan jahatku. Reputasi dan status telah banyak merugikanku. Baru setelah itulah aku memahami bahwa falsafah Iblis seperti, "Menonjolkan diri," dan "memiliki tingkat sosial yang lebih tinggi," semuanya salah, dan hidup menurut kebohongan ini hanya membawa pada kerusakan dan kejahatan lebih lanjut, menyebabkan orang memberontak dan menentang Tuhan dan, pada akhirnya, dihukum oleh-Nya. Ketika aku menyadari semua ini, aku merasa aku telah memperlakukan reputasi dan status seolah-olah itu adalah garis hidup yang harus kupegang, apa pun yang terjadi. Aku benar-benar buta dan bodoh. Aku juga melihat bahwa itu adalah jalan yang berlawanan dengan Tuhan. Aku berdoa dan bertobat di hadapan Tuhan. Setelah itu, setiap kali aku berpikir untuk mengejar hal-hal itu dalam tugasku, aku merasa sangat takut, jadi aku berdoa kepada Tuhan, dan meninggalkan daging. Selain itu, aku membuka diri kepada saudara-saudariku, menyingkapkan kerusakanku sendiri. Setelah beberapa waktu, aku merasa dorongan untuk mengejar reputasi dan status semakin berkurang, dan aku mulai memiliki perasaan damai di hatiku.

Kemudian, ketika gereja memilih seorang pemimpin, keinginanku untuk memperoleh reputasi dan status kembali muncul selama pemungutan suara, dan peperangan dalam batinku kembali bergolak: "Haruskah aku memilih Saudara Li, ataukah diriku sendiri? Bagiku, kemampuanku menyelesaikan masalah melalui mempersekutukan kebenaran tidaklah sebaik dia. Adapun dia, jika dia menang, bagaimana orang lain akan memandangku?" Aku menyadari bahwa aku kembali sedang mencari ketenaran dan status, dan merasa bahwa pemikiran semacam itu benar-benar buruk. Aku berdoa kepada Tuhan, meninggalkan dan mengutuk pikiran-pikiran itu. Kemudian, satu bagian lain dari firman Tuhan muncul di benakku: "Jika hatimu dipenuhi dengan pemikiran tentang bagaimana mencapai posisi yang lebih tinggi, atau apa yang harus kaulakukan di hadapan orang lain untuk membuat mereka mengagumimu, engkau sedang berada di jalan yang salah. Itu berarti engkau sedang melakukan sesuatu untuk Iblis; engkau sedang memberikan pelayanan. Jika hatimu dipenuhi dengan pemikiran tentang bagaimana agar engkau berubah sehingga engkau semakin memiliki keserupaan dengan manusia, sehingga engkau sesuai dengan maksud Tuhan, bisa tunduk kepada-Nya, mampu menghormati-Nya, menunjukkan penguasaan diri dalam segala hal yang engkau lakukan, dan dapat sepenuhnya menerima pemeriksaan-Nya, maka keadaanmu semakin lama akan menjadi semakin baik. Inilah artinya menjadi orang yang hidup di hadapan Tuhan. Dengan demikian, ada dua jalan: jalan yang satu hanya menekankan perilaku, memenuhi ambisi, keinginan, niat, dan rencananya sendiri; ini artinya hidup di hadapan Iblis dan hidup di bawah wilayah kekuasaannya. Jalan lainnya menekankan bagaimana memuaskan kehendak Tuhan, memasuki kenyataan kebenaran, tunduk kepada Tuhan, tidak memiliki kesalahpahaman atau ketidaktaatan terhadap-Nya, semua bertujuan agar dapat memperoleh rasa hormat kepada Tuhan dan melaksanakan tugasnya dengan baik. Inilah artinya hidup di hadapan Tuhan" ("Hanya Jika Orang Melakukan Kebenaran, Mereka Dapat Memiliki Kemanusiaan yang Normal" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). Merenungkan firman Tuhan, aku mengerti bahwa yang Dia lihat adalah motif dan sudut pandang orang dalam tindakan mereka—ini sangat penting. Jika doronganku adalah reputasi dan status, dan keinginan untuk membuat orang lain menganggapku hebat, maka itu akan menjadi jalan yang menentang Tuhan dan itu tidak akan pernah menuntunku pada kebenaran, atau disempurnakan oleh Tuhan. Aku menjadi rela untuk memperbaiki motifku, dan entah aku akan terpilih menjadi pemimpin gereja atau tidak, aku siap untuk tunduk pada pengaturan Tuhan dan melaksanakan tugasku dengan baik. Kemudian, ketika tiba waktunya untuk memilih, aku memilih berdasarkan prinsip dan memilih Saudara Li. Akhirnya, dia terpilih untuk melayani sebagai pemimpin gereja. Aku tidak keberatan dengan itu. Meskipun aku belum menang, aku tidak menyesal, karena akhirnya aku melakukan kebenaran, dengan demikian membuang belenggu reputasi dan status. Aku juga merasakan kedamaian dan ketenangan batin dengan mengamalkan kebenaran dan memuaskan Tuhan, dan mengalami bahwa penghakiman dan hajaran Tuhan sungguh merupakan penyelamatan bagiku.

Sekarang bencana terjadi di mana-mana, dan Tuhan Yesus telah datang kembali! Inginkah saudara-saudari menyambut Tuhan dan dilindungi oleh Tuhan di tengah-tengah bencana? Bergabung dalam pertemuan online. Membawa saudara-saudari menemukan cara-cara untuk menyambut Tuhan Yesus. Selamat datang untuk menghubungi kami.

Konten Terkait

Setelah Kehilangan Statusku

Huimin Kota Jiaozuo, Propinsi Henan Setiap kali melihat atau mendengar posisi kepemimpinan seseorang diganti dan mereka merasa sedih,...