Apa yang Kupelajari dari Penangkapan dan Pemenjaraan Ibuku

10 Juni 2026

Oleh Xiao Yuxin, Tiongkok

Pada bulan Agustus 2023, ibuku ditangkap oleh PKT saat sedang melaksanakan tugasnya. Saat itu, aku dan saudara-saudari sama sekali tidak tahu. Kami tidak mendengar kabar apa pun tentangnya sampai bulan September 2024, ketika dia mengirim surat dari penjara. Dari situlah kami tahu dia telah dijatuhi hukuman empat tahun. Berita itu membuat seluruh tubuhku terasa lemas. Hatiku sangat hancur, dan aku berpikir, "Ibu pernah ditahan sebelumnya karena memberitakan Injil. Setelah dibebaskan, dia terus melaksanakan tugasnya jauh dari rumah. Selama bertahun-tahun, polisi selalu datang ke rumah kami, ingin mengetahui keberadaannya. Sekarang dia jatuh ke tangan mereka lagi. Aku tak bisa membayangkan bagaimana mereka akan menyiksanya. Kehidupan di penjara itu sangat berat. Bisakah dia tetap teguh?" Seorang saudari kemudian bersekutu denganku. Dia memberitahuku bahwa lingkungan yang kita alami dan penderitaan yang kita tanggung dalam hidup, semuanya telah ditakdirkan Tuhan. Dia bilang aku harus menyerahkan ibuku ke dalam tangan Tuhan dan tunduk pada kedaulatan serta pengaturan-Nya. Aku tahu aku harus tunduk, tetapi saat teringat betapa kejamnya PKT memperlakukan orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa, dan bagaimana ibuku pasti akan sangat menderita, pikiranku menjadi kacau, dan aku hampir tak bisa mencerna perkataannya. Setelah itu, aku tetap melaksanakan tugasku, tetapi setiap kali ada waktu luang atau tak bisa tidur di malam hari, pikiranku dipenuhi bayangan saudara-saudari yang ditangkap, disiksa secara brutal oleh polisi atau dianiaya oleh narapidana lain, dan aku menjadi sangat mengkhawatirkan ibuku. "Bagaimana keadaannya di penjara?" Tanyaku dalam hati. "Masih ada begitu banyak hari dan malam yang harus dilalui dalam hukuman empat tahunnya. Bagaimana dia bisa melewatinya? Beberapa orang tak tahan dengan siksaan setelah ditangkap, jadi mereka menjadi Yudas. Yang lain menandatangani Tiga Pernyataan dan mengkhianati Tuhan. Bagaimana jika Ibu tidak bisa tetap teguh dalam kesaksiannya dan mengkhianati Tuhan? Bukankah semua penderitaan yang telah dia tanggung akan sia-sia?" Lalu aku teringat cerita seorang saudari beberapa bulan lalu, bahwa suaminya dijatuhi hukuman lima setengah tahun karena imannya. Dia hampir dibebaskan di akhir masa hukumannya, tetapi karena menolak untuk mengkhianati gereja atau menyangkal Tuhan, polisi malah memukulinya sampai mati. Mereka bahkan memutarbalikkan fakta dan mengklaim dia bunuh diri. Seorang saudara lain juga disiksa sampai mati setahun setelah penangkapannya. Memikirkan hal ini membuatku makin khawatir. Jika polisi menyiksa ibuku sampai mati, bagaimana dia bisa diselamatkan oleh Tuhan? Aku benar-benar tak bisa memahaminya. Aku merasa bingung, "Setelah Ibu percaya kepada Tuhan, dia melaksanakan tugasnya dengan rajin. Dia tidak pernah mengkhianati gereja atau siapa pun saat terakhir kali dia ditangkap. Setelah itu, dia selalu melaksanakan tugasnya jauh dari rumah untuk menghindari penangkapan. Tuhan telah menjaga dan melindunginya selama bertahun-tahun, jadi mengapa Dia tidak melindunginya kali ini? Mengapa Tuhan mengizinkan PKT menangkap dan menganiaya kita? Seandainya semua penganiayaan ini tidak ada, kita bisa percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugas kita dengan tenang, dan Ibu tak perlu menderita di penjara." Selama hari-hari itu, perasaanku sangat berat dan tertekan. Dalam doaku, aku tak tahu harus berkata apa kepada Tuhan, dan aku tak bisa menenangkan hatiku saat melaksanakan tugasku. Aku terus saja memikirkan keadaan ibuku, dan batinku sangat menderita. Aku tahu keadaanku salah, dan aku telah memiliki gagasan tentang Tuhan. Lalu, aku teringat satu bagian dari firman-Nya: "Gagasan adalah sebuah masalah besar. Gagasan yang manusia miliki tentang Tuhan adalah seperti tembok yang berdiri di antara mereka dan Tuhan, yang menghentikan mereka untuk melihat wajah Tuhan yang sesungguhnya, yang menghentikan mereka untuk melihat watak dan esensi Tuhan yang sesungguhnya. Mengapa begitu? Karena manusia hidup di antara gagasan dan imajinasi mereka, serta menggunakan gagasan mereka untuk menentukan apakah Tuhan itu benar atau salah, dan untuk menilai, menghakimi, dan mengutuk semua yang Tuhan lakukan. Keadaan seperti apa yang sering dialami manusia dengan melakukan hal ini? Bisakah manusia benar-benar tunduk kepada Tuhan ketika mereka hidup di antara gagasan mereka? Bisakah mereka memiliki iman yang sejati kepada Tuhan? (Tidak, tidak bisa.) Sekalipun orang-orang sedikit tunduk kepada Tuhan, mereka melakukannya menurut gagasan dan imajinasi mereka sendiri. Ketika seseorang bersandar pada gagasan dan imajinasi mereka, itu menjadi tercemar dengan hal-hal pribadi yang berasal dari Iblis dan dunia, dan itu bertentangan dengan kebenaran. Masalah gagasan manusia tentang Tuhan adalah masalah yang serius; ini adalah masalah besar antara manusia dan Tuhan yang harus segera diselesaikan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Menyelesaikan Gagasannya Orang Dapat Memasuki Jalur yang Benar dalam Kepercayaan kepada Tuhan (1)"). Dari firman Tuhan, aku menyadari betapa berbahayanya memiliki gagasan tentang Dia. Gagasan itu menciptakan kesalahpahaman dan penghalang antara manusia dan Tuhan. Jika seseorang tidak memahami maksud Tuhan di balik hal-hal yang terjadi, mereka tidak dapat tunduk pada pengaturan dan penataan-Nya. Tepat seperti itulah keadaanku saat itu. Sejak tahu ibuku dipenjara, setiap kali memikirkan penderitaannya dan bertanya-tanya apakah dia bisa keluar hidup-hidup, aku mulai memiliki gagasan tentang Tuhan. Aku tak mengerti mengapa Dia mengizinkan si naga merah yang sangat besar menangkap dan menganiaya orang-orang percaya, aku mengeluh karena Dia tidak melindungi ibuku, dan hatiku tidak fokus pada tugasku. Jika aku terus hidup dalam gagasanku dan tidak mencari kebenaran, makin lama penghalang antara aku dan Tuhan akan membesar. Jadi aku berdoa, "Ya Tuhan, aku belum bisa membuat diriku tunduk mengenai penangkapan Ibu, dan aku memiliki gagasan tentang-Mu. Aku tak ingin terus memberontak. Mohon bimbinglah aku agar aku bisa memahami maksud-Mu."

Selama saat teduhku, aku membaca satu bagian firman Tuhan yang sangat membantuku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Orang-orang harus sering memeriksa apa pun di dalam hati mereka yang tidak sesuai dengan Tuhan, atau yang merupakan kesalahpahaman tentang Dia. Bagaimana kesalahpahaman bisa terjadi? Mengapa orang-orang salah memahami Tuhan? (Karena kepentingan pribadi mereka terpengaruh.) Setelah orang-orang melihat fakta tentang pembuangan orang Yahudi dari Yudea, mereka merasa sakit hati, dan berkata, 'Awalnya, Tuhan sangat mengasihi bangsa Israel. Dia memimpin mereka keluar dari Mesir dan melewati Laut Merah, memberi mereka manna dari surga dan mata air untuk diminum, lalu Dia sendiri memberi mereka hukum Taurat untuk memimpin mereka, dan mengajari mereka cara hidup. Kasih Tuhan bagi manusia begitu melimpah—orang-orang yang hidup pada masa itu sangat diberkati! Bagaimana sikap Tuhan terhadap mereka bisa berubah total dalam sekejap mata? Ke mana perginya semua kasih-Nya itu?' Perasaan manusia tidak mampu menerima hal ini, dan mereka mulai ragu, berkata, 'Apakah Tuhan itu kasih atau bukan? Mengapa sikap-Nya yang semula terhadap bangsa Israel tidak terlihat lagi? Kasih-Nya telah hilang tanpa jejak. Apakah Dia sebenarnya memiliki kasih?' Di sinilah mulai muncul kesalahpahaman orang. Dalam konteks apakah orang memiliki kesalahpahaman? Mungkinkah karena tindakan Tuhan tidak sesuai dengan gagasan dan imajinasi manusia? Apakah fakta ini yang menyebabkan orang salah memahami Tuhan? Bukankah alasan orang-orang salah memahami Tuhan adalah karena mereka membatasi kasih-Nya? Mereka berpikir, 'Tuhan adalah kasih. Jadi, sudah seharusnya Dia menjaga dan melindungi manusia, dan mencurahkan kasih karunia dan berkat-Nya kepada mereka. Inilah yang dimaksud dengan kasih Tuhan! Aku suka kalau Tuhan mengasihi orang-orang dengan cara seperti ini. Aku terutama dapat melihat betapa Tuhan sangat mengasihi orang-orang ketika Dia memimpin mereka melewati Laut Merah. Orang-orang pada zaman itu sangat diberkati! Andaikan aku bisa menjadi salah seorang dari mereka!' Ketika engkau terpikat dengan kisah ini, engkau akan menganggap kasih yang Tuhan perlihatkan pada saat itu sebagai kebenaran tertinggi, dan satu-satunya penanda esensi Tuhan. Engkau membatasi Tuhan di dalam hatimu, dan menetapkan penilaian bahwa semua yang Tuhan lakukan pada saat itu sebagai kebenaran tertinggi. Engkau mengira bahwa hal ini adalah sisi Tuhan yang paling indah, dan sisi yang paling membuat manusia menghormati dan takut kepada-Nya, dan inilah kasih Tuhan. Sebenarnya, tindakan Tuhan itu sendiri adalah hal yang positif, tetapi karena engkau membatasi, tindakan Tuhan menjadi gagasan tertentu dalam pikiranmu, dan menjadi dasar yang kaugunakan untuk menetapkan penilaian atas Tuhan. Tindakan itu membuatmu salah memahami kasih Tuhan, seolah-olah tidak ada hal lain dalam kasih Tuhan selain belas kasihan, kepedulian, perlindungan, bimbingan, kasih karunia, dan berkat, seolah-olah semua itu adalah kasih Tuhan. Mengapa engkau sangat menghargai aspek-aspek kasih ini? Apakah karena itu berkaitan dengan kepentinganmu sendiri? (Ya.) Kepentingan pribadi mana yang berkaitan dengan hal itu? (Kesenangan daging dan kehidupan yang nyaman.) Ketika orang-orang percaya kepada Tuhan, mereka ingin mendapatkan hal-hal seperti ini dari-Nya, bukan hal-hal yang lain. Orang-orang tidak mau berpikir tentang penghakiman, hajaran, ujian, pemurnian, menderita demi Tuhan, menyerahkan segala sesuatu dan mengorbankan diri mereka, atau bahkan mengorbankan nyawa mereka sendiri. Mereka hanya ingin menikmati kasih, pemeliharaan, perlindungan, dan bimbingan Tuhan, sehingga mereka menetapkan penilaian bahwa kasih Tuhan adalah satu-satunya ciri dari esensi-Nya, dan satu-satunya esensi diri-Nya. Bukankah hal-hal yang Tuhan lakukan saat memimpin bangsa Israel menyeberangi Laut Merah menjadi sumber gagasan orang? (Ya.) Hal inilah yang membentuk konteks di mana orang-orang mengembangkan gagasan mereka sendiri tentang Tuhan. Jika mereka mengembangkan gagasan sendiri tentang Tuhan, mampukah mereka memperoleh pemahaman yang benar tentang pekerjaan dan watak Tuhan? Jelas bahwa mereka tidak hanya tidak mengerti, tetapi mereka juga akan salah menafsirkannya dan mengembangkan gagasan mereka sendiri tentangnya. Hal ini membuktikan bahwa pemahaman manusia terlalu sempit, dan bukanlah pemahaman yang benar. Karena pemahaman itu bukanlah kebenaran, melainkan sejenis kasih dan pemahaman yang orang analisis dan tafsirkan dari Tuhan berdasarkan gagasan, imajinasi, dan keinginan egoistis mereka sendiri; hal itu tidak sesuai dengan esensi sejati Tuhan. Dengan cara apa lagikah Tuhan mengasihi manusia selain dengan memberi mereka belas kasihan, keselamatan, pemeliharaan, perlindungan, dan dengan mendengarkan doa-doa mereka? (Dengan mendidik, mendisiplinkan, memangkas, menghakimi, menghajar, menguji, dan memurnikan.) Itu benar. Tuhan menunjukkan kasih-Nya dalam banyak cara: dengan memukul, mendisiplinkan, menegur, dan dengan menghakimi, menghajar, menguji, memurnikan, dan sebagainya. Semua ini adalah aspek-aspek dari kasih Tuhan. Hanya sudut pandang inilah yang komprehensif dan sesuai dengan kebenaran. Jika engkau memahami hal ini, ketika engkau memeriksa dirimu sendiri dan menyadari bahwa engkau memiliki kesalahpahaman tentang Tuhan, bukankah engkau akan mampu mengenali penyimpanganmu, dan merenungkan dengan baik di mana letak kesalahanmu? Bukankah hal ini dapat membantumu membereskan kesalahpahamanmu tentang Tuhan? (Ya.) Untuk mencapai hal ini, engkau harus mencari kebenaran. Selama orang-orang mencari kebenaran, mereka akan mampu menghilangkan kesalahpahaman mereka tentang Tuhan, dan setelah mereka menghilangkan kesalahpahaman mereka tentang Tuhan, mereka akan mampu tunduk pada semua pengaturan Tuhan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Memahami Kebenaran, Orang Bisa Mengetahui Perbuatan Tuhan"). Setelah membaca firman Tuhan, aku menyadari bahwa aku tak bisa memahami tindakan-Nya karena aku telah membatasi kasih-Nya dengan cara tertentu. Aku percaya kasih Tuhan berarti Dia harus menjaga dan melindungi manusia, memberi mereka kasih karunia dan berkat, dan tak pernah membiarkan mereka menghadapi penderitaan atau kesengsaraan. Ketika tindakan Tuhan tidak sesuai dengan gagasanku, aku tak bisa menerima atau tunduk. Ini semua karena aku tidak benar-benar mengenal pekerjaan-Nya. Aku ingat saat masih kecil, ibuku sering bercerita tentang bagaimana Tuhan menciptakan umat manusia dan menyediakan segalanya bagi kita. Pada Zaman Hukum Taurat, Dia memakai Musa untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir dan menyeberangi Laut Merah, mengirimi mereka burung puyuh dan manna di padang belantara, serta membimbing mereka ke tanah Kanaan yang baik. Pada Zaman Kasih Karunia, Tuhan Yesus menyembuhkan orang sakit, mengusir setan-setan, dan disalibkan untuk menebus umat manusia. Jadi dalam pikiranku, kasih Tuhan hanyalah tentang pemeliharaan dan perlindungan, serta penganugerahan kasih karunia dan berkat. Setelah aku percaya kepada Tuhan, aku melihat Dia menjaga kami tetap aman dan sehat, dan kami menikmati kasih karunia serta berkat-Nya dalam hidup kami, yang membuatku makin merasa bahwa Dia sangat mengasihi kami. Namun kali ini, dengan ditangkap dan dipenjarakannya ibuku, dagingnya pasti akan sangat menderita. Aku khawatir jika dia tidak bisa tetap teguh dalam kesaksiannya atau disiksa sampai mati oleh polisi, dia akan kehilangan kesempatannya untuk diselamatkan. Jadi aku mengeluhkan tentang Tuhan karena tidak melindunginya. Aku bahkan mencoba berdebat dengan-Nya, menunjukkan betapa rajinnya ibuku melaksanakan tugasnya dan bagaimana saat ditangkap dia tak pernah mengkhianati gereja atau siapa pun. Aku benar-benar tidak bernalar! Aku mengukur kasih Tuhan berdasarkan apakah daging memperoleh manfaat dan berkat, yang sama sekali tidak selaras dengan kebenaran. Kasih Tuhan bukan sekadar kasih karunia dan berkat; itu juga mencakup penghakiman, hajaran, ujian, dan pemurnian. Ketika Tuhan menganugerahkan kasih karunia dan berkat kepada manusia, itu adalah kasih-Nya; tetapi ketika Dia mengatur lingkungan untuk menguji dan memurnikan manusia, itu justru merupakan perwujudan kasih-Nya yang lebih besar. Ambil contoh penangkapan ibuku. Dari sudut pandang daging, aku melihatnya sebagai hal yang buruk dan membatasinya sebagai bukan kasih Tuhan. Sebenarnya, pemahamanku terlalu sepihak. Seandainya ini tidak terjadi, aku takkan pernah menyadari bahwa aku telah membatasi Tuhan, memiliki gagasan dan kesalahpahaman tentang-Nya, atau bahwa aku tidak memiliki pengenalan sejati akan pekerjaan dan kasih-Nya. Demikian pula, meskipun ibuku menderita secara fisik karena ditangkap dan dipenjara, jika dia bisa berdoa dan mengandalkan Tuhan serta mencari maksud-Nya di tengah kesulitannya, dia bisa memahami kebenaran, bertumbuh dalam hidupnya, dan imannya kepada Tuhan juga bisa bertambah. Itu akan menjadi hal yang baik baginya. Banyak pekerjaan Tuhan tidak sesuai dengan gagasan kita atau menguntungkan daging kita, tetapi itu bermanfaat bagi kehidupan kita, yang justru makin menunjukkan kasih-Nya. Merenungkan hal ini, hatiku menjadi jauh lebih terang.

Kemudian, aku merenung lagi: Mengapa aku tidak bisa tunduk mengenai penangkapan ibuku? Lalu aku membaca firman Tuhan: "Aku tidak akan memberi kesempatan kepada manusia untuk mengungkapkan perasaan mereka, karena Aku tidak memiliki perasaan daging, dan Aku telah membenci perasaan manusia sampai tingkat yang ekstrem. Karena perasaan di antara manusia, Aku telah dikesampingkan dan karena itulah Aku menjadi 'pihak ketiga' di mata mereka; karena perasaan di antara manusia, Aku telah dilupakan; karena perasaan manusia, ia mengambil kesempatan untuk memungut 'hati nuraninya'; karena perasaan manusia, ia selalu muak akan hajaran-Ku; karena perasaan manusia, ia selalu menyebut-Ku tidak adil, dan mengatakan bahwa Aku tidak menghiraukan perasaan manusia dalam menangani segala sesuatu. Memangnya Aku juga punya kerabat di bumi? Siapa yang seperti Aku, bekerja siang dan malam, tanpa memikirkan makanan atau tidur, demi seluruh rencana pengelolaan-Ku? Bagaimana bisa manusia dibandingkan dengan Tuhan? Bagaimana mungkin manusia menjadi sesuai dengan Tuhan?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta, Bab 28"). "Seluruh umat manusia hidup dalam keadaan perasaan sehingga Tuhan tidak menghindarkan seorang pun dari antara mereka, dan menyingkapkan rahasia yang tersembunyi dalam hati seluruh umat manusia. Mengapa begitu sulit bagi orang untuk melepaskan perasaan mereka? Apakah melakukan hal ini melampaui standar hati nurani? Bisakah hati nurani memenuhi kehendak Tuhan? Bisakah perasaan membantu manusia mengatasi kesulitan? Di mata Tuhan, perasaan adalah musuh-Nya—bukankah ini sudah dinyatakan dengan jelas dalam firman Tuhan?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pewahyuan dari Misteri 'Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta', Bab 28"). Aku merenung dan menyadari aku tidak bisa tunduk karena hidup dalam perasaan daging. Secara doktrin, aku tahu bahwa orang, peristiwa, dan berbagai hal yang menimpa kita setiap hari, entah baik atau buruk, diizinkan oleh Tuhan dan harus diterima bahwa hal itu adalah dari-Nya. Namun, ketika aku tahu ibuku dipenjara, aku tidak bisa menerima bahwa hal itu adalah dari Tuhan, apalagi mencari maksud-Nya. Membayangkan rasa sakit dan siksaan fisik serta mentalnya di penjara saja sudah menghancurkan hatiku. Aku tidak ingin dia menderita. Aku juga takut dia akan gagal untuk tetap teguh dalam kesaksiannya, menjadi Yudas dan dengan demikian tidak diselamatkan, atau polisi akan menyiksanya sampai mati di penjara dan aku akan kehilangan ibuku. Aku memihak pada perasaan dagingku dan berdebat dengan Tuhan, mengeluh bahwa Dia tidak melindunginya. Segala yang kupikirkan menentang Tuhan. Aku menempatkan diriku melawan Tuhan dan menentang-Nya. Aku teringat Ayub selama ujiannya. Dia kehilangan seluruh ternaknya, seluruh harta miliknya, dan kesepuluh anaknya, serta tubuhnya dipenuhi barah yang menyakitkan. Namun, Ayub tidak pernah mengeluh. Dia percaya bahwa segalanya ada di tangan Tuhan dan bahkan kemalangan pun datang atas seizin Tuhan, dan dia tetap tunduk kepada Tuhan serta memuji nama-Nya. Aku melihat bahwa Ayub memiliki hati yang takut akan Tuhan. Aku sangat jauh tertinggal darinya! Ketika mendengar ibuku ditangkap dan dipenjara, aku sama sekali tidak bisa menerimanya. Aku sepenuhnya hidup dalam kasih sayang. Meskipun aku tahu ini atas seizin Tuhan, aku tidak bisa tunduk. Aku berdebat dengan Tuhan dan menentang-Nya di dalam hati. Di mana hati yang takut akan Tuhan dalam diriku? Jelas-jelas si naga merah yang sangat besarlah yang membenci Tuhan serta menangkap dan menganiaya orang-orang percaya, dan itulah sebabnya ibuku sangat menderita setelah penangkapannya. Namun, alih-alih membenci PKT, aku malah mengeluh tentang Tuhan. Semua yang kupahami benar-benar terbalik dan aku tidak bisa membedakan yang benar dari yang salah!

Setelah itu, aku membaca beberapa bagian firman Tuhan lagi dan mulai sedikit memahami makna dari alasan Tuhan mengizinkan penganiayaan dan kesengsaraan. Tuhan berfirman: "Di sepanjang pekerjaan-Nya, sejak awal, Tuhan telah menetapkan ujian untuk setiap orang—atau bisa engkau katakan untuk setiap orang yang mengikuti-Nya—dan ujian ini datang dalam bermacam-macam ukuran. Ada orang yang telah mengalami ujian ditolak oleh keluarga mereka, ada yang telah mengalami ujian berada dalam lingkungan berbahaya, ada yang mengalami ujian ditahan dan disiksa, ada yang telah mengalami ujian dihadapkan dengan sebuah pilihan; dan ada yang telah menghadapi ujian dalam bentuk uang dan status. Secara umum, engkau masing-masing telah menghadapi segala jenis ujian. Mengapa Tuhan bekerja seperti ini? Mengapa Dia memperlakukan setiap orang seperti ini? Hasil seperti apa yang dicari-Nya? Inilah poin yang ingin Kusampaikan kepadamu: Tuhan ingin melihat apakah orang ini adalah tipe orang yang takut akan Dia dan menjauhi kejahatan, atau tidak. Maksud dari ini adalah ketika Tuhan memberimu sebuah ujian dan menghadapkanmu pada beberapa keadaan atau yang lain, maksud-Nya adalah untuk menguji apakah engkau adalah orang yang takut akan Dia dan menjauhi kejahatan, atau bukan" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Bagaimana Mengenal Watak Tuhan dan Hasil yang Akan Dicapai Pekerjaan-Nya"). "Selama pekerjaan pembekalan dan sokongan Tuhan bagi manusia, Dia memberitahukan seluruh maksud dan tuntutan-Nya kepada manusia, dan memperlihatkan perbuatan, watak-Nya, serta apa yang dimiliki-Nya dan siapa Dia kepada manusia. Tujuannya adalah memperlengkapi manusia dengan tingkat pertumbuhan, dan untuk memungkinkan manusia memperoleh berbagai kebenaran dari Tuhan tatkala mengikut-Nya—kebenaran yang merupakan senjata yang diberikan kepada manusia oleh Tuhan untuk memerangi Iblis. Dengan diperlengkapi, manusia harus menghadapi ujian dari Tuhan. Tuhan memiliki banyak sarana dan jalan untuk menguji manusia, tetapi tiap-tiap sarana dan jalan itu memerlukan 'kerja sama' musuh Tuhan: Iblis. Dengan kata lain, setelah memberikan kepada manusia senjata kuat yang digunakannya untuk berperang melawan Iblis, Tuhan menyerahkan manusia kepada Iblis dan membiarkan Iblis 'menguji' tingkat pertumbuhan manusia. Jika manusia mampu melepaskan diri dari formasi perang yang telah diatur Iblis, jika manusia mampu meloloskan diri dari pengepungan Iblis dan tetap hidup, berarti dia lulus ujian. Namun, jika manusia gagal untuk meninggalkan formasi perang Iblis, dan ditaklukkan oleh Iblis, berarti dia tidak lulus ujian. Aspek manusia apa pun yang diuji oleh Tuhan, kriteria untuk ujian-Nya adalah apakah manusia tetap teguh atau tidak dalam kesaksiannya ketika diserang oleh Iblis, dan apakah dia meninggalkan Tuhan atau tidak serta menyerah kalah dan takluk kepada Iblis ketika dijerat oleh Iblis. Dapat dikatakan bahwa apakah manusia bisa diselamatkan atau tidak, itu tergantung pada apakah dia mampu menaklukkan dan mengalahkan Iblis, dan apakah dia mampu memperoleh kebebasan atau tidak, itu bergantung pada apakah dia mampu menggunakan, secara mandiri, senjata yang diberikan kepadanya oleh Tuhan untuk mengalahkan belenggu Iblis, membuat Iblis sepenuhnya menyerah dan melepaskannya. Jika Iblis menyerah dan melepaskan seseorang, ini berarti bahwa Iblis tidak akan pernah lagi mencoba untuk merampas orang ini dari Tuhan, tidak akan pernah lagi menuduh dan mengganggu orang ini, tidak akan pernah lagi dengan tak terkendali menyiksa atau menyerang mereka; hanya orang seperti inilah yang telah benar-benar didapatkan oleh Tuhan. Inilah seluruh proses bagaimana Tuhan mendapatkan seseorang" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri II"). "Mereka yang sungguh-sungguh mengikut Tuhan mampu bertahan dalam ujian atas pekerjaan mereka, sedangkan mereka yang tidak sungguh-sungguh mengikut Tuhan tidak sanggup bertahan dalam ujian apa pun dari Tuhan. Cepat atau lambat, mereka akan diusir, sedangkan para pemenang akan tetap tinggal di dalam Kerajaan. Apakah manusia sungguh-sungguh mencari Tuhan atau tidak, itu hanya dapat ditentukan oleh ujian atas pekerjaannya, yaitu oleh ujian dari Tuhan, dan ini tidak ada kaitannya dengan apa yang disimpulkan oleh manusia itu sendiri. Tuhan tidak dengan sembarangan menolak siapa pun; semua yang Dia lakukan dapat meyakinkan manusia sepenuhnya. Dia tidak melakukan apa pun yang tidak terlihat oleh manusia, atau pekerjaan apa pun yang tidak dapat meyakinkan manusia. Apakah kepercayaan manusia itu benar atau palsu, itu dibuktikan oleh fakta dan tidak bisa ditentukan oleh manusia. Bahwa 'gandum tidak bisa diubah menjadi lalang dan lalang tidak bisa diubah menjadi gandum', itu tidak diragukan lagi. Semua orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan pada akhirnya akan tetap tinggal di dalam Kerajaan, dan Tuhan tidak akan memperlakukan siapa pun yang sungguh-sungguh mengasihi-Nya dengan buruk" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pekerjaan Tuhan dan Penerapan Manusia"). Dari firman Tuhan, aku mengerti bahwa Dia mengizinkan penganiayaan dan kesengsaraan menimpa manusia untuk menyempurnakan mereka dan membuat mereka setia serta tunduk kepada-Nya. Pada saat yang sama, Dia menyingkapkan dan menyingkirkan mereka yang tidak tulus kepada-Nya. Di akhir zaman, Tuhan mengungkapkan kebenaran untuk membekali kita dan memberi tahu kita semua tuntutan-Nya. Kemudian, Dia mengatur beberapa lingkungan nyata untuk menguji dan mencobai kita, untuk melihat apakah kita tulus dan tunduk kepada-Nya. Jika kita bisa menggunakan kebenaran sebagai senjata untuk melawan Iblis, tetap teguh dalam kesaksian kita bagi Tuhan selama ujian, dan benar-benar mempermalukan Iblis, maka kita menjadi orang-orang yang telah didapatkan oleh Tuhan. Ambil contoh penangkapan dan penganiayaan oleh PKT. Orang-orang percaya yang tulus, terlepas dari rasa sakit dan kelemahan mereka, tidak menyangkal atau mengkhianati Tuhan. Sebaliknya, melalui penganiayaan Iblis, mereka melihat wajah buruk setan dengan jelas. Di saat-saat lemah dan kesakitan, pencerahan dan bimbingan firman Tuhan memberi mereka iman yang lebih besar lagi, dan mereka rela mempertaruhkan nyawa demi tetap teguh dalam kesaksian mereka. Melalui lingkungan semacam ini, Tuhan mendapatkan hati manusia yang tulus dan menanamkan kebenaran ke dalam diri mereka. Sama seperti karakter utama dalam film Api Pemurnian. Untuk memaksanya mengkhianati Tuhan, polisi menelanjanginya dan menyetrum seluruh tubuhnya dengan tongkat listrik. Dia menanggung siksaan yang luar biasa, tetapi firman Tuhan memberinya iman. Dia lebih rela mati daripada mengkhianati atau menyangkal Tuhan. Dia memberikan kesaksian yang berkumandang bagi-Nya dan pada akhirnya mempermalukan Iblis. Aku melihat bahwa orang-orang percaya yang tulus, apa pun lingkungan yang mereka alami atau seberapa banyak pun penderitaan atau siksaan yang mereka tanggung, mereka dapat berpegang teguh pada kesetiaan kepada Tuhan. Bagi mereka, kesengsaraan dan penderitaan adalah cara untuk disempurnakan, dan juga merupakan berkat khusus dari Tuhan. Namun, mereka yang tidak tulus kepada Tuhan menyangkal dan mengkhianati Dia demi menyelamatkan diri sendiri ketika menghadapi siksaan fisik, rasa sakit, atau ancaman kematian. Orang-orang semacam itu adalah lalang yang disingkapkan, orang-orang yang akan Tuhan singkirkan. Tuhan menggunakan si naga merah yang sangat besar sebagai pelaku pelayanan untuk menyingkapkan sekaligus menyempurnakan manusia. Tuhan sungguh bijaksana! Aku teringat tekad yang dibuat ibuku setelah penangkapan terakhirnya: Sekalipun ditangkap lagi, dia akan berpegang teguh pada imannya dan tekun mengikuti Tuhan, serta takkan pernah mengkhianati Tuhan. Penangkapan ini adalah ujian Tuhan baginya. Jika dia mengkhianati Tuhan untuk melindungi dagingnya, dia akan disingkapkan. Namun, jika dia bisa berdoa dan mengandalkan Tuhan, serta tetap teguh dalam kesaksiannya bagi Tuhan, bagaimanapun Iblis menganiayanya, maka lingkungan ini akan menyempurnakannya, meningkatkan iman serta kasihnya. Ini juga merupakan kesempatan yang Tuhan berikan kepadanya untuk bersaksi—sebuah berkat khusus dari-Nya. Memahami hal ini, aku melepaskan sebagian kekhawatiranku terhadap ibuku di dalam hatiku.

Saat aku terus mencari, aku menyadari bahwa aku memiliki pandangan keliru lainnya. Aku berpikir bahwa jika seseorang dianiaya sampai mati di penjara, mereka tidak bisa diselamatkan. Barulah setelah aku membaca satu bagian firman Tuhan, pandanganku diubahkan. Tuhan berfirman: "Mari kita tidak usah membicarakan kesudahan akhir dari para martir itu, atau ketentuan Tuhan tentang perbuatan mereka, tetapi tanyakanlah ini: Ketika para martir itu tiba di akhir hidup mereka, apakah cara mereka meninggal sesuai dengan gagasan manusia? (Tidak.) Dari perspektif gagasan manusia, para martir itu membayar harga yang begitu besar untuk menyebarluaskan pekerjaan Tuhan, tetapi pada akhirnya dianiaya sampai mati dengan kejam oleh Iblis. Ini tidak sesuai dengan gagasan manusia. Namun, hal-hal itulah yang justru menimpa mereka—inilah yang Tuhan izinkan. Kebenaran apa yang bisa dicari dalam hal ini? Apakah Tuhan membiarkan mereka mati dengan cara ini merupakan kutukan dan penghukuman-Nya, atau merupakan pengaturan dan berkat-Nya? Bukan keduanya. Lalu merupakan apa hal ini? Orang merasa pedih saat memikirkan kematian para martir itu, tetapi ini memang merupakan fakta. Penjelasan apa yang harus diberikan tentang meninggalnya orang yang percaya kepada Tuhan dengan cara ini? Ketika kita menyebutkan topik ini, engkau semua menempatkan diri di posisi mereka, jadi apakah di dalam hatimu, engkau semua merasa sedih dan merasakan sedikit kepedihan yang tersembunyi? Engkau berpikir, 'Orang-orang ini melaksanakan tugas mereka untuk menyebarluaskan Injil Tuhan dan seharusnya dianggap sebagai orang-orang baik, jadi bagaimana mereka bisa berakhir seperti itu dan mengalami kesudahan seperti itu?' Sesungguhnya, seperti inilah caranya tubuh mereka mati dan meninggal; inilah cara mereka meninggalkan dunia manusia, tetapi itu bukan berarti kesudahan mereka seperti itu. Bagaimanapun cara kematian dan kepergian mereka, atau bagaimanapun itu terjadi, itu bukanlah cara Tuhan menentukan kesudahan akhir dari hidup mereka, kesudahan akhir dari makhluk ciptaan tersebut. Ini adalah sesuatu yang harus kaulihat dengan jelas. Sebaliknya, justru dengan cara inilah mereka mengutuk dunia ini dan memberi kesaksian tentang perbuatan-perbuatan Tuhan. Makhluk ciptaan ini menggunakan hidup mereka yang paling berharga—mereka menggunakan saat-saat terakhir hidup mereka—untuk bersaksi tentang perbuatan-perbuatan Tuhan, untuk bersaksi tentang kuasa Tuhan yang sangat besar, dan untuk menyatakan kepada Iblis dan dunia bahwa perbuatan-perbuatan Tuhan benar, bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan, dan daging inkarnasi Tuhan. Bahkan hingga di saat terakhir hidupnya, mereka tidak pernah menyangkal nama Tuhan Yesus. Bukankah ini suatu bentuk penghakiman terhadap dunia ini? Mereka menggunakan nyawa mereka untuk menyatakan kepada dunia, untuk membuktikan kepada manusia bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan, bahwa Tuhan Yesus adalah Kristus, bahwa Dia adalah daging inkarnasi Tuhan, bahwa pekerjaan penebusan seluruh umat manusia yang Dia lakukan memungkinkan umat manusia ini untuk terus hidup—fakta ini tidak akan berubah selamanya. Sampai sejauh mana mereka yang menjadi martir karena menyebarluaskan Injil Tuhan Yesus melaksanakan tugas mereka? Apakah sampai ke taraf tertinggi? Bagaimana taraf tertinggi itu diwujudkan? (Mereka mempersembahkan nyawa mereka.) Benar, mereka membayar harga dengan nyawa mereka. Keluarga, kekayaan, dan hal-hal materiel dari kehidupan ini semuanya adalah hal-hal lahiriah; satu-satunya hal yang berkaitan dengan diri seseorang adalah nyawanya. Bagi setiap orang yang hidup, nyawa adalah hal yang paling bernilai untuk dihargai, hal yang paling berharga dan, yang terjadi adalah, orang-orang ini mampu mempersembahkan milik mereka yang paling berharga sebagai bukti dan kesaksian tentang kasih Tuhan bagi manusia. Sampai akhir hayatnya, mereka tidak menyangkal nama Tuhan, juga tidak menyangkal pekerjaan Tuhan, dan mereka menggunakan saat terakhir hidup mereka untuk memberi kesaksian tentang keberadaan fakta ini—bukankah ini bentuk kesaksian tertinggi? Inilah cara terbaik orang dalam melaksanakan tugasnya; inilah artinya orang memenuhi tanggung jawabnya" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Memberitakan Injil adalah Tugas yang Harus Dilaksanakan dengan Baik oleh Semua Orang Percaya"). Setelah membaca firman Tuhan, hatiku tercerahkan. Dahulu aku berpikir bahwa dianiaya sampai mati oleh polisi berarti kau tidak bisa diselamatkan oleh Tuhan, tetapi sama sekali bukan begitu cara Tuhan memandangnya. Tuhan Yesus berfirman: "Barangsiapa ingin menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangannya, tetapi barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan mendapatkannya" (Matius 16:25). Aku teringat pada mereka yang menjadi Yudas. Setelah ditangkap, karena ketakutan akan siksaan polisi, mereka mengkhianati para pemimpin dan pekerja, atau saudara-saudari mereka dan juga menandatangani Tiga Pernyataan. Mereka tidak menderita secara fisik dan dibebaskan—mereka masih hidup sampai sekarang—tetapi mereka telah selamanya kehilangan kesempatan untuk memperoleh keselamatan dan kelak akan menghadapi hukuman kekal. Namun, mereka yang menjadi martir karena dianiaya sampai mati oleh si naga merah yang sangat besar—meskipun mereka disiksa sampai mati, mereka tetap teguh dalam kesaksian mereka dengan mengorbankan nyawa mereka sendiri. Itu adalah hal yang paling bermakna dan berharga, dan itu diingat oleh Tuhan. Sama seperti para murid di Zaman Kasih Karunia yang menjadi martir karena menyerukan nama Tuhan Yesus. Mereka setia kepada Tuhan. Setelah mati, jiwa mereka kembali kepada Tuhan, dan Dia memiliki pengaturan yang tepat bagi mereka. Terlebih lagi, kematian mereka adalah bukti Iblis melakukan kejahatan dalam menganiaya umat pilihan Tuhan, dan itu adalah kesaksian yang penuh kemenangan tentang Tuhan yang mendapatkan kemuliaan dan mengalahkan Iblis. Nasib ibuku ada di tangan Tuhan. Segala sesuatu yang akan dialaminya berada di bawah kedaulatan dan pengaturan-Nya. Sekalipun dia dianiaya sampai mati, itu adalah demi kebenaran, dan itu akan menjadi hal yang mulia. Aku hanyalah makhluk ciptaan yang kecil; aku tidak berhak memberi tahu Tuhan apa yang harus dilakukan. Aku harus tunduk pada kedaulatan dan pengaturan-Nya. Menyadari hal ini, siksaan di hatiku mulai mereda.

Bulan Januari lalu, kakekku menulis surat yang mengatakan bahwa ibuku telah mengirim surat dari penjara. Dia bilang pekerjaannya sangat berat dan penglihatannya menjadi jauh lebih buruk. Mendengar itu membuatku sangat marah dan begitu terpukul. "Ibu sudah punya masalah mata," pikirku. "Melakukan pekerjaan seberat itu setiap hari—bagaimana jika dia menjadi buta? Masih ada begitu banyak sisa masa hukumannya. Hari-hari ke depan akan menjadi sangat berat baginya!" Lalu, aku teringat firman Tuhan: "Jalan yang ditempuh Tuhan dalam memimpin kita bukanlah jalan yang lurus, melainkan jalan berliku yang penuh lubang; lebih lanjut Tuhan mengatakan bahwa makin berbatu-batu suatu jalan, makin jalan itu dapat menyingkapkan hati kita yang penuh kasih. Namun tak seorang pun dari kita bisa membuka jalan seperti itu. Dalam pengalaman-Ku, Aku telah menempuh banyak jalan berbatu dan berbahaya, dan Aku telah menanggung penderitaan yang besar; terkadang Aku benar-benar dirundung kesedihan hingga Aku ingin menjerit, meskipun demikian Aku telah menempuh jalan ini sampai pada hari ini. Aku percaya bahwa ini adalah jalan yang dipimpin oleh Tuhan karena itu Aku menanggung siksaan dari semua penderitaan itu dan terus maju. Karena inilah yang telah Tuhan tetapkan, jadi siapakah yang dapat menghindarinya? Aku tidak meminta untuk menerima berkat apa pun; yang Kuminta hanyalah agar Aku bisa menempuh jalan yang seharusnya Kutempuh sesuai dengan maksud-maksud Tuhan. Aku tidak berusaha untuk meniru orang lain, menempuh jalan yang mereka tempuh; yang Kuusahakan hanyalah agar Aku bisa memenuhi pengabdian-Ku untuk menempuh jalan yang telah ditetapkan bagi-Ku sampai akhir. Aku tidak meminta bantuan orang lain; tetapi sejujurnya, Aku juga tidak bisa membantu orang lain. Sepertinya Aku sangat peka dalam perkara ini. Aku tidak tahu apa yang orang lain pikirkan. Ini karena Aku selalu percaya bahwa besarnya penderitaan yang harus ditanggung seseorang dan jarak yang harus mereka tempuh di jalan mereka ditakdirkan oleh Tuhan, dan tak seorang pun benar-benar dapat membantu orang lain" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Jalan ... (6)"). Setelah merenungkan firman Tuhan, aku mengerti bahwa jalan iman bukanlah jalan yang mulus; kita semua harus menanggung banyak penderitaan. Kesulitan yang akan dialami setiap orang telah ditakdirkan oleh Tuhan. Bagaimana polisi memperlakukan ibuku, seberapa banyak dia menderita di penjara, apakah dia akan menjadi buta—semua ini ada di tangan Tuhan. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah lebih banyak berdoa, menyerahkan ibuku ke dalam tangan Tuhan, dan meminta-Nya untuk memberinya iman dalam mengalami lingkungan ini. Sekarang, ketika aku teringat ibuku, meskipun aku masih merasa sedikit khawatir dan cemas, hal itu tidak lagi memengaruhi keadaanku. Aku bisa menenangkan hatiku dan mengabdikan diriku pada tugasku, karena aku mengerti bahwa segala sesuatu yang Tuhan lakukan adalah baik dan mengandung maksud baik-Nya.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Hubungi kami via WhatsApp