Pelajaran yang Kupetik dari Penganiayaan dan Kesengsaraan yang Kualami
Pada tahun 2022, aku menyirami orang percaya baru di gereja. Pada awal Agustus, aku mengetahui bahwa para pemimpin distrik kami semuanya...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Aku dilahirkan dalam keluarga miskin di pedesaan. Saat duduk di bangku SMA, orang tuaku tidak mampu membayar uang sekolah, sehingga mereka mencoba meminjam uang dari pamanku. Namun, bibiku takut kami tidak akan bisa mengembalikannya, jadi dia enggan meminjamkan uang kepada kami. Aku pun berpikir dalam hati, "Aku harus berusaha masuk ke perguruan tinggi supaya orang-orang di sekitarku mengagumi keluargaku." Saat di bangku sekolah, aku hanya makan panekuk yang kubawa dari rumah demi menghemat uang. Proses belajarku pun terpengaruh karena suplai darah ke otakku tidak mencukupi akibat malnutrisi jangka panjang, dan akhirnya, aku gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi. Aku menangis tersedu-sedu dan mengeluh bahwa nasibku sangat malang. Namun, aku tidak rela menerima nasib ini begitu saja. Demi mendapatkan gelar tinggi dan menonjol di antara orang banyak, aku juga mendaftar ujian belajar mandiri untuk dewasa, kursus pelatihan akuntansi, serta ujian pegawai negeri. Namun, meski telah berusaha keras, pada akhirnya aku tetap gagal. Oleh karena itu, aku pergi bekerja di sebuah pabrik. Agar bisa menjadi ahli statistik di bengkel dan dikagumi orang lain, ketika orang lain sedang beristirahat, aku lembur dan begadang untuk mempelajari tugas ahli statistik. Aku memaksakan diri bekerja lebih dari sepuluh jam setiap hari, ditambah lembur dan begadang setiap hari. Aku sering merasa pusing dan mengalami kelelahan akibat bekerja terlalu keras, bahkan ketiduran saat bekerja. Akibatnya, aku salah menghitung statistik jumlah produk dan hampir menyebabkan kerugian besar bagi pabrik. Pemimpin tim menegurku di depan semua karyawan bengkel. Saat itu, rasanya aku ingin sekali masuk ke lubang di tanah untuk bersembunyi. Kepalaku berdengung, lalu aku pingsan di situ, saat itu juga. Sejak saat itu, saraf pendengaranku rusak dan aku tidak boleh terkena rangsangan apa pun. Setiap kali menghadapi tekanan kerja yang berat, aku merasa pusing dan telingaku berdenging. Suntikan dan obat tidak dapat menyembuhkannya, dan aku pun tidak bisa bekerja lagi. Pada waktu itu, hatiku sangat menderita, dan aku mengeluh mengapa nasibku begitu buruk. Aku sering mengurung diri di kamar sambil menangis, aku terpikir untuk mengakhiri hidup. Karena terlalu lama hidup dalam tekanan dan penderitaan, gangguan pendengaranku makin parah.
Pada tahun 2013, mertuaku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa dari akhir zaman. Mereka juga memberitakan Injil kepadaku. Aku merasa sangat bebas dan lega ketika membaca firman Tuhan serta menjalani kehidupan di gereja bersama saudara-saudari. Perlahan-lahan, suasana hatiku membaik dan harapan hidupku kembali muncul. Kemudian, aku dipilih menjadi pemimpin di gereja. Aku berpikir di dalam hati, "Aku telah membayar harga begitu mahal di tengah masyarakat, tetapi semuanya sia-sia. Sekarang, meskipun baru saja bergabung dengan rumah Tuhan, aku sudah bisa melaksanakan tugas sebagai pemimpin. Percaya kepada Tuhan itu lebih baik. Aku harus bekerja keras, siapa tahu nanti jabatanku bisa naik lagi dan aku bisa dikagumi oleh lebih banyak orang di masa depan." Maka aku menjadi lebih giat dalam melaksanakan tugasku. Aku sibuk memimpin pertemuan kelompok sepanjang hari, baik saat hujan maupun panas. Saudara-saudari juga memujiku karena memiliki rasa terbeban dalam tugasku. Kemudian aku dipilih menjadi pengkhotbah, dan keinginanku akan status pun terpenuhi. Tepat ketika aku sedang menikmati saat dikagumi saudara-saudari, sebuah insiden keracunan gas membuat gangguan pendengaranku makin parah. Sejak saat itu, pendengaranku makin buruk. Ketika menghadiri pertemuan, aku tidak bisa mendengar saudara-saudari dengan jelas jika suara mereka pelan, aku sering merasa terkekang oleh gangguan pendengaranku, dan hidup dalam keadaan negatif. Pada akhirnya, aku tidak bisa melakukan pekerjaan nyata dan diberhentikan dari tugasku. Ketika memikirkan bahwa aku tidak lagi bisa melaksanakan tugas sebagai pemimpin dan dikagumi orang lain, aku makin mengeluh tentang betapa buruknya nasibku. Setelah itu, aku tidak bisa bangkit lagi dan kehilangan iman kepada Tuhan. Setelah menjalani pengobatan, pendengaranku agak pulih, dan para pemimpin mengatur agar aku melaksanakan tugas penyiraman. Aku pun berpikir dalam hati, "Kalau aku bisa membuahkan hasil dalam tugas penyiraman, saudara-saudari akan tetap mengagumiku." Jadi, setiap hari aku membaca prinsip-prinsip yang berkaitan dan membekali diri dengan kebenaran, sering terjaga sampai jam 11 atau 12 malam. Perlahan-lahan, hasil yang kucapai dalam tugasku pun membaik, dan aku juga dipromosikan untuk bertanggung jawab atas lingkup kerja yang lebih luas. Ketika membayangkan bahwa aku akan kembali dikagumi saudara-saudari, aku sangat gembira. Aku berpikir, "Usaha keras tak akan mengkhianati hasil. Kalau aku bekerja lebih keras lagi, mungkin aku akan dipromosikan lebih tinggi lagi. Dengan begitu, akan ada lebih banyak orang yang mengagumiku." Namun kemudian, radang sendi leherku kambuh, dan gangguan pendengaranku makin parah hingga aku tak bisa lagi berkomunikasi dengan normal tentang pekerjaan. Para pemimpin pun mengaturku untuk kembali ke gereja setempat agar bisa menjalani pengobatan sambil tetap melaksanakan tugas semampuku. Aku merasa sangat putus asa. Aku memikirkan betapa mahal harga yang telah kubayar demi meraih rasa kagum orang lain dengan susah payah. Namun, karena penyakitku, aku tidak bisa lagi melaksanakan tugas itu. Mengapa nasibku begitu buruk? Kemudian, karena pendengaranku yang buruk, terlalu sulit bagiku untuk berkomunikasi dengan orang lain. Aku hanya bisa melakukan beberapa pekerjaan urusan umum. Hatiku sangat tersiksa karenanya, dan aku berpikir dalam hati, "Kalau saja aku tidak tuli, aku pasti sudah punya kesempatan untuk memberitakan Injil dan menyirami pendatang baru. Namun, sekarang aku hanya bisa melakukan pekerjaan urusan umum. Jika aku tidak berada di posisi yang menonjol, siapa yang akan mengagumiku? Mengapa nasibku begitu buruk? Sudahlah, nasibku memang begini, jadi aku akan menjalani hidupku seadanya saja. Hari demi hari, ya begini saja!" Setelah itu, meskipun aku tidak meninggalkan tugasku, aku terus-menerus hidup dalam keadaan putus asa dan tidak fokus saat melaksanakan tugasku. Aku selalu lupa hal ini atau hal itu, dan sering membuat kesalahan dalam tugas, sehingga menghambat pekerjaan gereja.
Kemudian, saudari yang bekerja sama denganku menasihatiku bahwa hidup dalam keadaan seperti ini sangat berbahaya, dan aku harus segera mencari kebenaran untuk mengatasi emosi negatifku. Berkat pengingat saudari itu, aku pun menghampiri hadirat Tuhan dan berdoa, "Tuhan, aku tidak mau terus hidup dalam keputusasaan. Hidup seperti ini sangat menyedihkan. Kiranya Engkau menuntunku agar aku memahami masalahku sendiri dan keluar dari keadaan yang salah ini." Suatu hari, dalam saat teduhku, aku membaca dua bagian firman Tuhan yang langsung menyentuh hatiku. Tuhan berfirman: "Sumber penyebab munculnya emosi negatif perasaan putus asa berbeda pada setiap orang. Salah satu jenis emosi perasaan putus asa yang di alami seseorang mungkin timbul karena keyakinan mereka yang terus-menerus akan nasib buruk mereka sendiri. Bukankah ini adalah salah satu penyebabnya? (Ya.) Ketika masih kecil, mereka tinggal di pedesaan atau di daerah miskin, keluarga mereka miskin, dan selain beberapa perabotan sederhana, tidak ada apa pun yang berharga di rumah mereka. Mereka mungkin memiliki satu atau dua setel pakaian yang harus mereka kenakan sekalipun pakaian tersebut sudah berlubang, dan mereka tak pernah mampu membeli makanan berkualitas baik, melainkan harus menunggu Tahun Baru atau hari-hari besar untuk bisa makan daging. Terkadang mereka kelaparan dan tidak memiliki pakaian yang cukup untuk membuat tubuh mereka tetap hangat dan makan semangkuk besar daging hanyalah angan-angan, dan bahkan menemukan sepotong buah untuk dimakan pun sulit bagi mereka. Tinggal di lingkungan seperti itu, mereka merasa berbeda dari orang lain yang tinggal di kota besar, yang orang tuanya berkecukupan, yang dapat makan makanan apa pun yang mereka inginkan, dan mengenakan pakaian apa pun yang mereka inginkan, yang mendapatkan semua yang mereka inginkan pada saat itu juga, dan yang berpengetahuan luas dalam berbagai hal. Mereka selalu berpikir, 'Nasib mereka begitu baik, mengapa nasibku begitu buruk?' Mereka selalu ingin terlihat menonjol dan mengubah nasib mereka. Namun, orang tidak dapat semudah itu mengubah nasibnya. Ketika orang dilahirkan dalam keadaan seperti itu, meskipun mereka berusaha, sebanyak apakah mereka dapat mengubah nasib mereka, dan sebaik apakah mereka dapat mengubahnya? Setelah mereka dewasa, mereka dihadang oleh rintangan di tengah masyarakat mana pun, mereka ditindas di mana pun mereka berada, sehingga mereka selalu merasa sangat tidak beruntung. Mereka berpikir, 'Mengapa aku sangat sial? Mengapa aku selalu bertemu dengan orang-orang jahat? Hidupku sulit ketika aku masih kecil, dan nasibku memang seburuk itu. Kini, setelah aku dewasa, nasibku tetap sangat buruk. Aku selalu ingin menunjukkan apa yang mampu kulakukan, tetapi aku tak pernah mendapat kesempatan. ...' ... Begitu dia mulai percaya kepada Tuhan, dia bertekad untuk melaksanakan tugasnya di rumah Tuhan dengan baik, dia menjadi mampu menanggung kesukaran dan bekerja keras, mampu menanggung lebih daripada siapa pun dalam hal apa pun, dan dia berusaha keras mendapatkan penerimaan dan penghargaan dari sebagian besar orang. Dia bahkan mengira bahwa dia mungkin akan dipilih menjadi pemimpin gereja, penanggung jawab, atau pemimpin tim, dan bukankah itu berarti dia membawa kehormatan bagi leluhur dan keluarganya? Bukankah dengan demikian dia telah mengubah nasibnya? Namun, kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan harapannya dan dia menjadi sedih, dan berpikir, 'Aku telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun dan aku sangat akrab dengan saudara-saudariku, tetapi mengapa setiap kali tiba waktunya untuk memilih pemimpin, penanggung jawab, atau pemimpin tim, aku tidak pernah mendapat giliran? Apakah karena penampilanku sangat sederhana, atau karena kinerjaku kurang baik, sehingga tak seorang pun melihatku? Setiap kali diadakan pemungutan suara, kupikir mungkin ada secercah harapan bagiku, dan aku bahkan akan merasa senang jika terpilih sebagai pemimpin tim. Aku begitu penuh semangat untuk membalas kasih Tuhan, tetapi akhirnya aku malah kecewa setiap kali diadakan pemungutan suara karena aku selalu tidak terpilih. Mengapa aku selalu tidak terpilih? Mungkinkah karena aku hanya mampu menjadi orang yang biasa-biasa saja, orang pada umumnya, orang yang tidak menonjol seumur hidupku? Jika kuingat kembali masa kecilku, masa mudaku, dan usia paruh bayaku, jalan yang selama ini kutempuh selalu sangat biasa-biasa saja dan aku belum pernah melakukan sesuatu yang penting. Bukan karena aku tidak memiliki ambisi, atau karena kualitasku terlalu rendah, dan bukan karena aku kurang berusaha atau karena aku tak sanggup menanggung kesukaran. Aku memiliki tekad dan tujuan, dan bahkan aku dapat dikatakan memiliki ambisi. Jadi, mengapa aku tak pernah terlihat paling menonjol? Kesimpulannya, aku benar-benar memiliki nasib yang buruk dan aku ditakdirkan untuk menderita, dan beginilah cara Tuhan mengatur segala sesuatu untukku.' Makin memikirkannya, makin dia menganggap dirinya bernasib buruk" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (2)"). "Orang-orang semacam ini, yang selalu menganggap diri mereka bernasib buruk, selalu merasa hati mereka seperti sedang diremukkan oleh batu raksasa. Karena selalu yakin bahwa segala sesuatu yang mereka alami terjadi karena nasib buruk mereka, apa pun yang terjadi pada diri mereka, mereka merasa tidak dapat mengubah apa pun. Jadi, apa yang mereka lakukan? Mereka hanya merasa negatif, mengendur, dan pasrah dengan kemalangan mereka" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (2)"). Apa yang diungkapkan firman Tuhan persis menggambarkan keadaanku. Alasan mengapa aku terus hidup dalam emosi negatif dan keputusasaan adalah karena aku selalu percaya bahwa nasibku buruk. Sejak kecil, keluargaku miskin dan orang-orang meremehkan kami, sehingga aku mengeluh bahwa nasibku buruk. Aku percaya bahwa hanya dengan hidup unggul, barulah seseorang bisa dikagumi orang lain dan bernasib baik. Untuk mengubah nasibku, aku giat belajar, tetapi pada akhirnya aku gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi karena suplai darah ke otakku tidak mencukupi akibat malnutrisi. Namun, aku tidak mau menerima nasibku begitu saja, jadi aku pergi bekerja di pabrik untuk mencari uang. Agar bisa menjadi petugas statistik, duduk di kantor, dan dikagumi orang lain, aku lembur untuk mempelajari keterampilan tersebut. Pada akhirnya, aku membuat kesalahan statistik yang mengejutkanku, hingga akibatnya aku mengalami kerusakan saraf pendengaran. Aku makin yakin bahwa semua ini terjadi karena nasibku yang buruk, aku pun hidup dalam penderitaan, kehilangan harapan hidup. Setelah mulai percaya kepada Tuhan, aku mengira dengan menjalankan tugasku dengan baik lalu diangkat menjadi pemimpin, aku akan dikagumi oleh saudara-saudari dan nasibku akan berubah. Namun, akibat keracunan gas gangguan pendengaranku makin parah, sehingga aku tidak bisa menjalankan tugasku dengan normal. Ini memengaruhi pekerjaan dan aku dicopot dari tugasku. Kemudian, ketika mulai melaksanakan tugas penyiraman, aku membayar harga dalam tugas itu, berharap aku bisa meraih hasil yang akan membuat orang lain mengagumiku. Ketika aku dipromosikan, kukira nasibku telah berubah menjadi lebih baik dan akhirnya aku memiliki kesempatan untuk bersinar. Namun, aku gelisah dan terlalu ingin cepat sukses, sehingga gangguan pendengaranku makin parah. Aku tidak mampu lagi berkomunikasi dengan normal, yang memengaruhi tugasku. Aku pun tak punya pilihan selain kembali ke gereja setempat untuk melaksanakan tugas urusan umum di sana. Karena keinginanku akan reputasi dan status tidak terpenuhi, aku menyalahkan Tuhan karena telah mengatur nasib buruk untukku. Aku percaya bahwa nasibku di hidup ini hanyalah untuk bekerja keras dan bersusah payah, sehingga aku pun hidup dalam keadaan putus asa dan berhenti berusaha. Aku tidak memikul beban dalam tugasku, dan terus-menerus membuat kesalahan, yang memengaruhi pekerjaan. Aku sudah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun dan sudah membaca begitu banyak firman-Nya, tetapi ketika sesuatu menimpaku, aku tidak menghampiri hadirat Tuhan untuk mencari kebenaran, dan ketika berbagai hal tidak berjalan sesuai dengan keinginanku, aku mengeluh bahwa Dia telah mengatur nasib buruk untukku. Bahkan aku menjadi negatif dan bersikap menentang. Ini adalah sudut pandang pengikut yang bukan orang percaya, dan aku sama sekali tidak menunjukkan ketundukan kepada Tuhan.
Kemudian, aku membaca lebih banyak firman Tuhan dan mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang konsep nasib baik dan nasib buruk. Tuhan berfirman: "Pengaturan Tuhan tentang bagaimana nasib seseorang, entah itu baik atau buruk, tidak boleh dipandang atau diukur dengan menggunakan mata manusia atau mata seorang peramal, juga tidak boleh diukur berdasarkan seberapa banyak kekayaan dan kejayaan yang orang itu nikmati sepanjang hidupnya, atau seberapa banyak penderitaan yang dia alami, atau seberapa berhasil dirinya dalam mengejar prospek, ketenaran, dan keuntungan. Namun, justru inilah kesalahan serius yang dilakukan oleh mereka yang menganggap dirinya bernasib buruk, dan inilah cara mengukur nasib yang digunakan oleh kebanyakan orang. Bagaimana kebanyakan orang mengukur nasib mereka sendiri? Bagaimana orang dunia mengukur apakah nasib seseorang itu baik atau buruk? Mereka terutama mengukurnya berdasarkan apakah kehidupan seseorang itu berjalan lancar atau tidak, apakah dia mampu menikmati kekayaan dan kejayaan atau tidak, apakah dia mampu memiliki gaya hidup yang lebih unggul atau tidak daripada orang lain, seberapa banyak dia menderita dan seberapa banyak yang dia nikmati sepanjang hidupnya, berapa lama dia hidup, karier apa yang dia miliki, apakah kehidupannya dipenuhi kerja keras ataukah nyaman dan mudah—hal-hal ini dan banyak hal lainnya inilah yang mereka gunakan untuk mengukur apakah nasib seseorang itu baik atau buruk. Bukankah engkau semua juga mengukurnya dengan cara seperti ini? (Ya.) Jadi, sebagian besar dari antaramu, ketika menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginanmu, ketika mengalami masa-masa yang sulit, atau ketika engkau tak mampu menikmati gaya hidup yang unggul, engkau juga akan menganggap dirimu bernasib buruk, dan engkau akan tenggelam dalam perasaan putus asa. Mereka yang menganggap dirinya bernasib buruk belum tentu benar-benar bernasib buruk, dan mereka yang menganggap dirinya bernasib baik belum tentu bernasib baik. Bagaimana sebenarnya cara mengukur apakah nasib seseorang itu baik atau buruk? ... Katakan kepada-Ku, apakah seorang janda bernasib baik? Bagi orang-orang dunia, para janda itu bernasib buruk. Jika mereka menjadi janda pada usia tiga puluhan atau empat puluhan, mereka benar-benar bernasib buruk, ini sangat berat bagi mereka! Namun, jika seorang janda yang sangat menderita karena kehilangan pasangannya, lalu mulai percaya kepada Tuhan, apakah dia bernasib buruk? (Tidak.) Jika seseorang yang belum menjanda, karena dia hidup bahagia, segala sesuatunya baik-baik saja, dia mendapat banyak nafkah, sandang dan pangan, keluarganya dipenuhi anak dan cucu, dia menjalani kehidupan yang nyaman, tanpa kesukaran apa pun atau tanpa merasakan kebutuhan rohani apa pun, maka dia tidak percaya kepada Tuhan dan dia tidak akan percaya kepada-Nya bagaimanapun engkau berusaha mengabarkan Injil kepadanya. Jadi, siapa di antara keduanya yang bernasib baik? (Janda itu bernasib baik karena dia telah percaya kepada Tuhan.) Jadi, karena orang-orang dunia menganggap janda itu bernasib buruk, dan dia sangat menderita, dia kemudian mengubah arah hidupnya dan mulai mengikuti jalan yang berbeda, dan dia percaya kepada Tuhan dan mengikuti Tuhan—apakah ini berarti dia sekarang bernasib baik dan hidup bahagia? (Ya.) Nasib buruknya telah berubah menjadi nasib baik. Jika menurutmu dia bernasib buruk, maka nasibnya dalam hidup ini seharusnya selalu buruk dan dia tak mampu mengubahnya; lalu, mengapa nasibnya bisa berubah? Apakah nasibnya berubah ketika dia mulai percaya kepada Tuhan? (Tidak, itu karena caranya dalam memandang segala sesuatu telah berubah.) Karena caranya dalam memandang segala sesuatu telah berubah. Apakah fakta objektif dari nasibnya sendiri telah berubah? (Tidak.) ... Sebenarnya, apakah kehidupannya benar-benar menjadi baik karena dia percaya kepada Tuhan? Belum tentu. Hanya saja, sekarang dia percaya kepada Tuhan, dia memiliki harapan, dia merasakan kepuasan di dalam hatinya, tujuan yang dikejarnya telah berubah, pandangannya berbeda, sehingga lingkungan hidupnya saat ini membuatnya merasa bahagia, puas, sukacita, dan damai. Dia merasa nasibnya sekarang sangat baik, jauh lebih baik daripada nasib wanita yang belum menjanda itu. Baru sekaranglah dia sadar bahwa pandangannya sebelumnya, yakni meyakini dirinya bernasib buruk, adalah keliru. Apa yang dapat kaupahami dari hal ini? Apakah ada yang namanya 'nasib baik' dan 'nasib buruk'? (Tidak.) Tidak ada" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (2)"). Firman Tuhan yang kubaca menerangi hatiku. Baik buruknya nasib seseorang tidak dapat diukur berdasarkan gagasan dan bayangan kita, juga tidak dapat ditimbang dengan pandangan orang duniawi. Orang-orang yang tidak percaya berpikir bahwa makan enak, berpakaian bagus, serta dikagumi dan didukung orang lain berarti bernasib baik. Sebaliknya, mereka berpikir bahwa jika seseorang miskin dan terbelakang seumur hidupnya, hidup di lapisan bawah masyarakat dan direndahkan orang lain, atau jika dia tersiksa karena penyakit, atau menghadapi ujian dan penderitaan berat, berarti dia bernasib buruk. Nyatanya, di hadapan Tuhan, tidak ada yang namanya nasib baik atau nasib buruk. Ini sama seperti contoh yang diceritakan Tuhan tentang seorang janda. Janda itu awalnya berpikir bahwa nasibnya buruk, tetapi kemudian dia berpikir bahwa nasibnya baik. Meskipun lingkungan hidupnya secara lahiriah tidak berubah, sudut pandangnya tentang segala sesuatu telah berubah. Dari firman Tuhan, dia mengerti bahwa meskipun orang yang keluarganya bahagia dan hidupnya nyaman menikmati hidupnya, jika dia tidak dapat menghampiri hadirat Tuhan dan menerima keselamatan-Nya, pada akhirnya dia tetap akan masuk ke neraka. Karena penderitaan yang dialaminya, dia justru menerima pekerjaan Tuhan dan mendapat kesempatan untuk memahami kebenaran serta diselamatkan. Dialah sebenarnya orang yang paling diberkati. Meskipun lingkungan hidup janda itu secara lahiriah tidak berubah, standar yang digunakannya untuk menilai apakah seseorang bernasib baik atau buruk berubah, dan tujuan yang dikejarnya pun berubah. Namun, karena aku tidak memahami kebenaran dan menganggap bahwa memiliki ketenaran, keuntungan, serta dikagumi orang lain berarti memiliki nasib yang baik, yang kukejar dalam tugasku adalah terlihat menonjol di antara semua orang. Aku menganggap bahwa dipromosikan dan bisa melaksanakan tugas sebagai pemimpin berarti bernasib baik, dan setiap kali tugasku diubah, aku mengeluh bahwa nasibku buruk. Aku menyadari bahwa aku tidak memahami kebenaran dan sudut pandangku tentang segala sesuatu sangat tidak masuk akal serta tak bernalar. Sebenarnya, di rumah Tuhan, tugas seseorang diubah sesuai dengan kebutuhan pekerjaan, dan perubahan itu dipertimbangkan berdasarkan kondisi serta kualitas orang itu. Tugas yang dilakukan seseorang sama sekali tidak ada hubungannya dengan baik atau buruknya nasib yang dimilikinya. Sekalipun tugasku tidak diubah, jika aku tidak mengejar kebenaran, aku tetap akan disingkapkan dan disingkirkan. Meskipun aku hanya melaksanakan tugas urusan umum, selama aku mengejar kebenaran dan perubahan watak, aku tetap dapat diselamatkan. Contohnya, dahulu ada seorang pemberita Injil yang melaksanakan tugas bersamaku. Secara lahiriah, kualitasnya baik, dan kemudian dia dipilih menjadi pemimpin distrik. Namun, dia selalu mengejar reputasi dan status, serta melakukan banyak hal yang mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja demi membuat orang mengaguminya. Akhirnya, dia dikeluarkan dari gereja dan kehilangan kesempatan untuk diselamatkan. Dari sini kita bisa melihat bahwa jika seseorang percaya kepada Tuhan, tetapi tidak mengejar kebenaran dan tidak berusaha mengubah wataknya, hanya mengejar reputasi serta status, meskipun dia menjadi pemimpin, dia tetap akan disingkapkan dan disingkirkan oleh Tuhan. Dari contoh ini, jelas aku menganggap bahwa menikmati kekayaan, ketenaran, dan keuntungan seumur hidup berarti bernasib baik, dan jika percaya kepada Tuhan lalu dipromosikan serta diberi tanggung jawab besar, itu berarti bernasib baik. Sebaliknya, jika hanya melaksanakan tugas biasa dan memiliki kehidupan yang biasa saja, itu berarti bernasib buruk. Pandangan ini sangat menyimpang dan sama sekali tidak sesuai dengan kebenaran. Tuhan mengatur keadaan hidup tiap-tiap orang sesuai dengan kebutuhan mereka. Ada maksud baik Tuhan di dalam segala sesuatu yang dialami orang dalam hidupnya. Aku lahir di keluarga miskin dan meskipun belajar dengan giat, aku tetap tidak bisa menonjol di antara orang-orang. Dari luar, aku tampaknya bernasib buruk, tetapi justru karena berbagai kemunduran inilah aku bisa menghampiri hadirat Tuhan dan menerima keselamatan-Nya. Aku merenung lebih dalam lagi: aku memiliki keinginan yang kuat akan nama dan status, dan jika aku menjalani hidup dengan kekayaan serta kedudukan, aku pasti akan makin mengejar ketenaran dan keuntungan. Pada akhirnya, aku akan terseret oleh tren jahat. Hanya setelah mengalami begitu banyak kemunduran dan kegagalan, barulah aku dapat kembali kepada Tuhan, menerima penyiraman dan pemeliharaan firman Tuhan, serta memahami sejumlah kebenaran. Ini adalah berkat yang paling besar. Hal ini jauh lebih bermakna daripada memperoleh ketenaran dan keuntungan serta menikmati kekayaan dan kemewahan dunia. Setelah mulai percaya kepada Tuhan, aku ditugaskan untuk melaksanakan tugas urusan umum karena gangguan pendengaranku. Ini juga merupakan perlindungan Tuhan terhadap diriku. Karena keinginanku akan nama dan status terlalu kuat, setiap kali ada kesempatan untuk menyombongkan diri, aku tidak bisa menahan diri dan akhirnya bekerja demi reputasi dan status. Sangat mudah bagiku untuk menapaki jalan antikristus, lalu disingkapkan dan disingkirkan. Meskipun aku memiliki gangguan pendengaran, rumah Tuhan tidak mencabut kesempatan bagiku untuk melaksanakan tugas. Sebaliknya, aku justru diberi tugas yang sesuai dengan kondisi fisikku. Meskipun ini tugas di balik layar dan mungkin tidak dianggap penting oleh orang lain, itu tidak menghalangiku untuk mengejar kebenaran, dan melalui tugas ini, sebagian kerusakanku pun terlihat. Kadang-kadang aku melaksanakan tugas dengan sikap asal-asalan dan tidak berhati-hati, menikmati kenyamanan daging dan enggan membayar harga. Dengan makan dan minum firman Tuhan, aku mendapatkan pemahaman tentang watak rusakku sendiri, dan setelah itu, ketika bertindak, aku bisa memberontak terhadap daging, mencurahkan hati dalam tugasku, dan bersungguh-sungguh. Pada saat yang sama, aku juga belajar mencari prinsip kebenaran dalam segala hal, untuk bersungguh-sungguh dan teliti bahkan dalam perkara kecil maupun yang tampak sepele. Setelah mengalami ini, aku sadar bahwa tidak soal apakah kau seorang pemimpin atau hanya melaksanakan tugas urusan umum di rumah Tuhan, selama kau mengejar kebenaran, kau tetap memiliki kesempatan untuk diselamatkan. Tuhan mengatur nasib hidupku sesuai dengan kebutuhanku, semua itu bermanfaat bagiku. Masalahnya adalah aku merasa tidak puas, selalu memiliki ambisi dan keinginan sendiri, serta tidak tunduk pada kedaulatan Tuhan. Akibatnya, bukan hanya aku sangat menderita, tetapi aku juga menghambat tugasku. Setelah sudut pandangku berubah, aku tidak lagi merasa begitu menderita.
Kemudian, aku membaca firman Tuhan: "Pemikiran dan pandangan orang yang selalu menganggap dirinya bernasib buruk itu benar atau salah? (Salah.) Yang jelas, orang-orang ini mengalami emosi perasaan putus asa karena mereka terperosok dalam keekstreman. Karena memiliki pemikiran dan pandangan yang ekstrem ini, mereka memiliki emosi perasaan putus asa yang ekstrem, sehingga membuat mereka tak mampu menghadapi hal-hal yang terjadi dalam hidup dengan benar, mereka tak mampu secara normal menjalankan fungsi yang seharusnya mampu manusia lakukan, mereka juga tak mampu melaksanakan tugas, tanggung jawab atau kewajiban sebagai makhluk ciptaan. ... Mereka memandang masalah dan orang-orang dari sudut pandang yang ekstrem dan keliru ini, sehingga mereka berulang kali hidup, memandang orang dan hal-hal, serta berperilaku dan bertindak di bawah dampak dan pengaruh emosi negatif ini. Pada akhirnya, bagaimanapun cara mereka menjalani hidup, mereka terlihat begitu lelah sampai-sampai tak mampu membangkitkan semangat mereka dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan dan dalam mengejar kebenaran. Pilihan apa pun yang mereka ambil tentang cara mereka menjalani hidup, mereka tak mampu melaksanakan tugas mereka dengan positif dan aktif, dan sekalipun mereka telah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, mereka tak pernah berfokus melaksanakan tugas mereka dengan segenap hati dan jiwa mereka atau melaksanakan tugas mereka dengan memuaskan, dan tentu saja, mereka terlebih lagi tak pernah berfokus mengejar kebenaran, atau melakukan penerapan sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Mengapa? Kesimpulannya, itu karena mereka selalu menganggap diri mereka bernasib buruk, dan ini membuat mereka mengalami emosi putus asa yang mendalam. Mereka menjadi sangat putus asa, tak berdaya, bagaikan mayat hidup, tanpa daya hidup, tidak memperlihatkan perilaku yang positif atau optimistis, dan terutama tidak memiliki tekad atau stamina untuk mengabdikan kesetiaan yang seharusnya mampu mereka curahkan dalam tugas, tanggung jawab dan kewajiban mereka. Sebaliknya, mereka berjuang dengan enggan dari hari ke hari dengan sikap yang asal-asalan, tanpa tujuan, dan kacau, bahkan tanpa sadar menjalani setiap harinya begitu saja. Mereka tidak tahu berapa lama mereka akan terus kacau seperti itu. Pada akhirnya, tidak ada jalan lain bagi mereka selain menegur diri mereka sendiri, dengan berkata, 'Oh, aku hanya akan terus kacau seperti ini selama aku bisa! Jika suatu hari aku tak sanggup lagi, dan gereja ingin mengusirku dan menyingkirkanku, biarlah mereka menyingkirkanku. Itu karena aku bernasib buruk!' Lihatlah, bahkan apa yang mereka katakan pun begitu mengecewakan. Emosi perasaan putus asa ini bukan sekadar suasana hati yang sederhana, tetapi yang terlebih penting adalah, emosi ini berdampak buruk pada pemikiran, hati, dan pengejaran orang. Jika engkau tak mampu membalikkan emosi perasaan putus asamu secara cepat dan tepat waktu, itu bukan saja akan memengaruhi seluruh hidupmu, tetapi itu juga akan menghancurkan hidupmu dan membawamu menuju kematian. Sekalipun engkau benar-benar percaya kepada Tuhan, engkau tak akan mampu memperoleh kebenaran dan keselamatan, dan pada akhirnya, engkau akan binasa" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (2)"). Usai membaca bagian firman Tuhan ini, aku menyadari bahwa keadaanku yang terus hidup dalam perasaan putus asa dan mengeluh tentang nasib burukku sangat berbahaya. Ini adalah pemikiran yang ekstrem, dan jika tidak kuubah, aku akan kehilangan kesempatan untuk diselamatkan. Awalnya, kupikir ketika aku hidup dalam keputusasaan dan mengeluhkan nasib burukku, itu hanya karena aku sedang sedih, dan karena aku belum meninggalkan tugasku, aku tidak menganggapnya sebagai perbuatan jahat. Baru sekarang aku menyadari bahwa esensi dari hidup dalam perasaan putus asa adalah ketidakpuasan terhadap kedaulatan Tuhan; ini tindakan melawan dan menentang kepada Tuhan. Jika aku tidak pernah bertobat, pada akhirnya aku akan dibenci dan ditolak oleh Tuhan, serta menempuh jalan menuju kebinasaan. Akibatnya akan sangat mengerikan! Aku teringat bagaimana sebelum percaya Tuhan, aku tidak puas dengan nasib yang diatur Tuhan bagiku karena aku selalu gagal di dunia. Setelah mulai percaya kepada Tuhan pun, yang masih kukejar adalah dikagumi orang lain. Ketika tidak bisa menonjol dalam tugasku, aku merasa sangat menderita. Aku mengeluhkan nasibku yang buruk serta hidup dalam keadaan negatif dan terpuruk. Meskipun tampaknya aku masih melaksanakan tugas, aku tidak punya motivasi. Aku pasif dan lalai dalam menangani tugasku, dan aku berhenti berusaha. Karena aku dengan keras kepala terus memegang pandangan sesat bahwa nasibku buruk, aku menjadi suam-suam kuku dan asal-asalan dalam menangani tugasku, sehingga menghambat pekerjaan gereja dan merusak jalan masuk kehidupanku sendiri. Jika aku tidak mengubah keadaan ini, aku akan kehilangan pekerjaan Roh Kudus, tugasku, dan akhirnya kehilangan kesempatan untuk diselamatkan. Setelah memahami hal ini, aku merasakan ketakutan yang tak kunjung hilang, maka aku dengan sungguh-sungguh berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, selama bertahun-tahun aku sudah keras kepala dan menolak kebenaran. Aku terus-menerus mengeluhkan nasibku yang buruk, dan tidak mampu keluar dari emosi yang ekstrem. Baru sekarang aku menyadari bahwa sudut pandang di balik pengejaranku selama ini ternyata salah. Aku bersedia bertobat kepada-Mu, mengejar kebenaran dengan sungguh-sungguh, dan melaksanakan tugasku dengan baik."
Kemudian, aku merenung: Apa akar penyebab dari penderitaan dalam hidupku selama bertahun-tahun ini? Suatu hari, aku membaca firman Tuhan: "Apa yang Iblis gunakan untuk membuat manusia tetap berada dalam kendalinya? (Ketenaran dan keuntungan.) Iblis menggunakan ketenaran dan keuntungan untuk mengendalikan pemikiran orang-orang, membuat mereka hanya memikirkan kedua hal ini, dan membuat mereka berjuang demi ketenaran dan keuntungan, menderita kesukaran demi ketenaran dan keuntungan, menanggung penghinaan serta memikul beban berat demi ketenaran dan keuntungan, mengorbankan segala yang mereka miliki demi ketenaran dan keuntungan, dan membuat setiap penilaian atau keputusan adalah demi ketenaran dan keuntungan. Dengan cara inilah, Iblis mengenakan belenggu tak kasatmata pada orang-orang, dan dengan belenggu-belenggu ini, mereka tidak punya kemampuan ataupun keberanian untuk melepaskan diri. Tanpa sadar, mereka memikul belenggu berjalan selangkah demi selangkah, dengan begitu susah payah. Demi ketenaran dan keuntungan ini, umat manusia menjauhi serta mengkhianati Tuhan dan menjadi makin jahat. Dengan cara inilah, generasi demi generasi dihancurkan di tengah ketenaran dan keuntungan Iblis. Melihat tindakan Iblis sekarang, bukankah motif berbahaya Iblis sepenuhnya patut untuk dibenci? Mungkin sekarang ini engkau semua masih belum mampu mengetahui yang sebenarnya tentang motif berbahaya Iblis karena mengira bahwa tanpa ketenaran dan keuntungan, hidup itu tidak akan ada artinya, dan orang tidak akan mampu lagi melihat arah ke depan, tidak mampu lagi melihat tujuan mereka, serta masa depan mereka akan menjadi gelap, redup, dan suram. Namun, perlahan-lahan, suatu hari nanti engkau semua akan menyadari bahwa ketenaran dan keuntungan adalah belenggu besar yang Iblis kenakan pada manusia. Ketika hari itu tiba, engkau akan sepenuhnya menentang kendali Iblis dan sepenuhnya menentang belenggu yang dibawa kepadamu oleh Iblis. Ketika engkau ingin membebaskan diri dari semua hal yang telah Iblis tanamkan dalam dirimu ini, engkau kemudian akan sepenuhnya memutuskan hubungan dengan Iblis, dan engkau akan benar-benar membenci semua yang telah Iblis bawa kepadamu. Baru setelah itulah, engkau akan memiliki kasih dan kerinduan yang sejati kepada Tuhan" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VI"). Setelah membaca firman Tuhan, aku tiba-tiba menyadari bahwa semua penderitaan yang kutanggung selama bertahun-tahun ini disebabkan oleh Iblis. Iblis memikat dan merusakku dengan ketenaran dan keuntungan, membuatku berusaha untuk menonjol dan mengubah nasibku sejak kecil. Saat di bangku sekolah, para guru mengajariku bahwa, "Kau harus menanggung penderitaan yang sangat besar agar bisa unggul dari yang lain," "Manusia bergelut ke atas; air mengalir ke bawah," dan "Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang." Aku menerima aturan untuk bertahan hidup itu, dan dengan keliru percaya bahwa jika aku memiliki ketenaran dan keuntungan, aku akan memiliki segalanya, dan selama aku bekerja keras, lebih menderita, dan membayar harga lebih tinggi, masa depanku akan bagus dan aku bisa menikmati segala kekayaan serta kemakmuran di dunia. Aku giat belajar selama lebih dari sepuluh tahun demi memiliki nasib yang baik, dikagumi orang lain, serta mendapatkan ketenaran dan keuntungan, tetapi pada akhirnya, aku tetap gagal. Aku tidak mau menerima nasibku begitu saja, jadi aku mengambil lembur demi belajar, untuk mempelajari cara menjadi petugas statistik. Akhirnya, bukan hanya aku gagal mengubah nasibku, tetapi juga membuat kesalahan dalam pekerjaan karena terlalu memaksakan tubuhku. Aku mengalami guncangan yang mengakibatkan kerusakan saraf pendengaran. Setelah mulai percaya kepada Tuhan, aku tetap begadang untuk membekali diri dengan kebenaran, tidak memedulikan kesehatanku, agar tidak diremehkan orang lain. Pada akhirnya, gangguan pendengaranku semakin parah dan aku tidak bisa lagi berkomunikasi secara normal tentang pekerjaan dengan saudara-saudari. Aku hanya bisa melakukan pekerjaan urusan umum di balik layar, dan aku merasa sangat tersiksa karena tidak dikagumi orang lain. Ketenaran dan keuntungan bagaikan belenggu yang mengikat tubuhku, membuatku tidak dapat melepaskan diri. Aku memikirkan bagaimana orang-orang tidak percaya lebih mementingkan ketenaran dan keuntungan daripada hidup itu sendiri. Beberapa orang tidak tahan menerima kenyataan bahwa mereka gagal masuk perguruan tinggi atau gagal dalam karier, dan akhirnya mereka mengalami gangguan mental, bahkan bunuh diri dengan melompat dari gedung. Aku pun sama saja. Ketika tidak dapat meraih ambisi dan keinginanku untuk dikagumi orang lain, aku terus-menerus mengeluh bahwa Tuhan tidak mengatur nasib yang baik bagiku, hidup dalam keadaan putus asa, dan berhenti berusaha. Bahkan aku sempat terpikir untuk mengakhiri hidup. Jika bukan karena perlindungan Tuhan, mungkin aku sudah berakhir seperti orang-orang tidak percaya itu. Akhirnya aku benar-benar melihat dengan jelas bahwa aturan untuk bertahan hidup yang ditanamkan Iblis dalam diriku bukanlah hal yang positif. Aturan itu membuatku makin rusak, kehilangan nalar sebagai manusia normal. Tuhan menghendaki kita untuk tunduk pada kedaulatan dan pengaturan-Nya serta dengan setia memenuhi peran kita sebagai makhluk ciptaan. Namun, Iblis menggunakan ketenaran dan keuntungan untuk memikatku, membuatku memikirkan reputasi dan status, dan ketika aku tidak bisa mendapatkannya, aku menjauh dari Tuhan, mengkhianati-Nya, menentang-Nya, dan pada akhirnya terancam kehilangan kesempatan untuk diselamatkan. Ini adalah niat licik Iblis untuk merusak manusia. Jika aku terus seperti ini, cepat atau lambat aku akan disingkirkan. Aku menyesal karena telah begitu buta dan bodoh, hingga dirusak Iblis selama bertahun-tahun. Mulai sekarang, aku bertekad untuk memberontak sepenuhnya terhadap Iblis dan hidup berdasarkan firman Tuhan, tidak lagi mengejar reputasi dan status.
Suatu hari, aku membaca firman Tuhan ini: "Bagaimana seharusnya sikap orang terhadap nasib? Engkau harus mematuhi pengaturan Sang Pencipta, secara aktif dan sungguh-sungguh mencari tujuan dan maksud Sang Pencipta dalam pengaturan-Nya atas semua hal ini dan memperoleh pemahaman akan kebenaran, menjalankan fungsimu semaksimal mungkin dalam kehidupan yang telah Tuhan atur bagimu, melaksanakan tugas, tanggung jawab, dan kewajiban sebagai makhluk ciptaan, dan menjadikan hidupmu lebih bermakna dan lebih bernilai, sampai akhirnya Sang Pencipta berkenan akan engkau dan mengingatmu. Tentu saja, yang jauh lebih baik adalah engkau akan memperoleh keselamatan melalui pencarian dan upayamu yang sungguh-sungguh—ini tentunya adalah hasil yang terbaik. Bagaimanapun juga, dalam hal nasib, sikap paling tepat yang harus manusia ciptaan miliki bukanlah sikap yang menghakimi dan mendefinisikan secara sembarangan, atau menggunakan cara-cara ekstrem untuk menanganinya. Tentu saja, terlebih dari itu, orang tidak boleh berusaha menentang, memilih, atau mengubah nasibnya, melainkan mereka harus menggunakan hati mereka untuk menghargainya, serta mencari, mengeksplorasi dan mematuhinya, sebelum menghadapinya secara positif. Akhirnya, di lingkungan dan perjalanan hidup yang Tuhan tetapkan bagimu dalam kehidupan ini, engkau harus mencari cara berperilaku yang Tuhan ajarkan kepadamu, mencari jalan yang Tuhan tuntut untuk kautempuh, dan mengalami nasib yang telah Tuhan atur bagimu dengan cara ini, dan pada akhirnya, engkau akan diberkati" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (2)"). Aku menemukan sebuah jalan dari firman Tuhan. Tuhan menghendaki aku untuk tetap pada posisiku sebagau makhluk ciptaan dan melaksanakan tugasku dengan sikap yang membumi. Jika dipikirkan, ada maksud baik Tuhan di balik tugas apa pun yang kulaksanakan, dan aku harus menerima bahwa itu adalah dari Tuhan. Tugas apa pun yang kulaksanakan, atau entah aku bisa dikagumi orang lain atau tidak, aku hanyalah makhluk ciptaan yang kecil, dan dengan memenuhi fungsiku sebagai makhluk ciptaan, itu sudah cukup bagiku. Dari lubuk hatiku, aku bersedia tunduk pada nasib yang telah Tuhan atur bagiku. Sekarang, aku bisa tunduk dengan rela dan belajar mencurahkan hati dalam melaksanakan tugasku serta bersungguh-sungguh saat mengerjakannya. Jika ada yang tidak kupahami, aku bersekutu dengan saudara-saudari. Jika aku membuat kesalahan dalam tugasku, aku segera mencari letak penyimpangannya dan merangkum penyebabnya, merenungkan watak rusakku, dan memperbaiki kesalahanku sesegera mungkin. Ketika menerapkan dengan cara ini, hatiku merasa damai dan tenteram.
Melalui pengalamanku, aku menyadari bahwa tugas apa pun yang kita laksanakan, kita tetap bisa mengejar kebenaran. Dengan melaksanakan tugas urusan umum, aku belajar untuk tenang di hadapan Tuhan, berlatih mencari prinsip kebenaran dalam segala hal, dan melaksanakan tugasku sesuai dengan tuntutan Tuhan. Aku merasa damai dan tenteram. Perlahan-lahan, aku tidak lagi terbelenggu oleh pandangan bahwa nasibku buruk, dan makin lama keadaanku makin membaik. Semua ini adalah hasil firman Tuhan yang ada dalam diriku. Syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa!
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Pada tahun 2022, aku menyirami orang percaya baru di gereja. Pada awal Agustus, aku mengetahui bahwa para pemimpin distrik kami semuanya...
Oleh Saudari Li Zhi, TiongkokBulan April tahun ini, tiba-tiba seorang pemimpin memberitahuku bahwa seorang pendeta tua, yang telah beriman...
Oleh Saudara Zhang Lin, JepangPada bulan September 2012, aku bertanggung jawab atas pekerjaan gereja saat bertemu dengan pemimpinku, Yan...
Aku sangat pemalu saat masih kecil, dan setiap kali tamu datang, aku akan bersembunyi di belakang orang tuaku, dan ketika orang tuaku...