Kepribadian yang Tertutup Tidak Lagi Membuatku Negatif

31 Desember 2025

Sejak kecil, aku punya kepribadian tertutup, bahkan di sekolah tidak semua teman sekelasku aku kenal. Aku tidak punya banyak teman, juga tidak mau banyak bersosialisasi dengan yang lain, karena aku merasa bahwa tidak ada yang perlu diobrolkan Lambat laun, aku menjadi sangat takut berkomunikasi dengan orang asing. Ketika ada banyak orang, aku menjadi sangat gugup dan bahkan enggan bicara, karena takut akan salah bicara dan mempermalukan diriku sendiri di hadapan orang lain.

Saat masih duduk di bangku sekolah menengah, aku dan keluargaku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa di akhir zaman. Kemudian, aku berlatih mengerjakan desain grafis di gereja, Tugas ini sebagian besar dilaksanakan dengan duduk di depan komputer. Paling-paling, aku berbicara tentang keadaanku sendiri selama pertemuan, tetapi aku tidak perlu terlalu banyak berinteraksi dengan orang lain, sehingga aku tidak terlalu terkekang oleh kepribadianku yang tertutup. Di tahun 2022, aku melaksanakan tugas penyiraman. Awalnya, aku dan Saudari Jiayin berkumpul bersama para anggota baru. Jiayin sama sekali bukan pemalu. Sebaliknya, dia sangat pandai mengobrol dengan para anggota baru. Selama mengobrol, dia mampu memahami keadaan dan masalah para anggota baru, lalu dia menemukan bagian firman Tuhan yang relevan untuk dipersekutukan kepada mereka. Para anggota baru sangat menyukainya dan mau berkomunikasi dengannya. Setiap kali melihat ini, aku merasa sangat iri. Aku berharap bisa bersikap terbuka seperti dia dan berbicara kepada orang lain dengan begitu mudahnya. Ini sangat sulit bagiku, dan aku bertanya-tanya mengapa saudariku itu bisa melakukannya dengan sangat mudah. Dari kejauhan, aku melihat mereka asyik mengobrol, dan aku selalu merasa tidak cocok dengan mereka. Ini membuatku sangat sedih. Terkadang, Jiayin memintaku bicara. Aku dapat sedikit mempersekutukan pertanyaan para anggota baru, tetapi begitu berbicara, aku tergagap dan terus mengulang-ulang perkataanku. Aku tidak pernah bisa mengungkapkan dengan sangat baik apa yang ingin kukatakan. Aku merasa bahwa kualitasku sangat buruk hingga bahkan aku tidak bisa berbicara dengan lancar. Aku pun berpikir apa yang akan kukatakan pada para anggota baru jika saudariku memercayakan mereka padaku. Membayangkan bahwa aku harus menghadiri pertemuan dengan para anggota baru seorang diri saja membuatku gugup, karena takut jika aku tidak bisa berbicara dengan baik, mereka tidak akan menyukaiku dan tidak mau mengikuti pertemuan lagi. Aku makin takut bahwa kesulitanku dalam berkomunikasi ini akan membuatku tidak bisa melaksanakan tugasku dengan baik. Mengingat bahwa menyirami anggota baru dan memberitakan Injil mengharuskanku berkomunikasi dengan orang lain, dan karena aku tidak punya keterampilan ini, aku merasa jika tidak bisa menyirami anggota baru, aku juga tidak akan bisa melaksanakan tugas yang lain. Ini membuatku berpikir, "Jika tidak ada tugas yang bisa kulaksanakan, bagaimana aku bisa diselamatkan? Seperti apa tempat tujuan dan masa depanku nanti?" Karena aku telah melaksanakan tugas ini, aku harus menemukan cara untuk mengatasi kesulitan ini. Kemudian, aku mulai menyimak bagaimana saudariku mengobrol dengan yang lainnya, bagaimana kata pembukanya, bagaimana dia memahami kesulitan para anggota baru, dan sebagainya. Aku menghafalkannya di benakku, agar aku tahu harus berkata apa ketika bertemu anggota baru. Namun ketika aku benar-benar sendiri saat mengadakan pertemuan dengan para anggota baru, aku sangat gugup. Otakku tak bisa diajak bekerja sama, dan aku lupa sebagian besar yang telah kuhafalkan. Aku mengumpulkan keberanian dan memaksa diriku untuk bicara, meniru apa yang dikatakan saudariku, tetapi perkataanku terasa sangat hambar. Bahkan pertanyaan sederhana seperti "Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?" tidak terdengar alami seperti saat saudariku yang mengatakannya, dan setelah mengucapkan beberapa kata, suasananya menjadi hening dan canggung. Aku mengejek diriku sendiri, dan berpikir, "Mengapa cara bicaraku sangat canggung? Bahkan mengucapkan kata-kata yang biasa saja aku tak bisa!" Aku sungguh ingin mengubah kepribadianku yang tertutup ini, karena kurasa hanya dengan mengubah kepribadianku, barulah aku lebih layak melaksanakan tugas penyiraman, dan dengan demikian, barulah masa depan dan tempat tujuanku terjamin. Aku berpikir bahwa mungkin aku belum cukup berlatih, jadi sejak saat itu, setiap kali ada pertemuan, aku berusaha sebaik mungkin untuk mengobrol dengan para anggota baru, tetapi aku tidak bisa. Kemudian aku berpikir untuk lebih banyak berdoa kepada Tuhan, dan mungkin jika Tuhan membimbingku, aku akan menjadi lebih terbuka dan mampu berkomunikasi. Namun, setelah beberapa kali berdoa, aku tetap merasa gugup saat bertemu orang lain, dan lama-lama aku menjadi berkecil hati, berpikir, "Aku sudah berlatih begitu lama, tetapi mengapa belum terlihat ada perubahan? Aku ingin melaksanakan tugas ini dengan baik, tetapi kepribadianku ini benar-benar tidak cocok untuk tugas ini. Mengapa Tuhan tidak membuatku sedikit lebih terbuka? Jika aku bisa berkomunikasi seperti Jiayin, aku akan mampu melaksanakan tugas ini dengan baik, kan? Jika aku terus kesulitan berkomunikasi, akankah para anggota baru menganggapku sangat aneh? Apakah mereka akan tetap mau berkumpul denganku nantinya? Bagaimana jika aku diberhentikan karena tidak melaksanakan tugasku dengan baik?"

Suatu ketika, seorang anggota baru memiliki beberapa gagasan, dan pemimpin gereja memintaku untuk mendukungnya. Setibanya di rumah, aku bergegas mencari kebenaran yang relevan. Aku meninjaunya beberapa kali dan bahkan menghafalkannya, tetapi setibanya di rumah anggota baru tersebut, aku masih sangat gugup hingga jantungku berdebar-debar, dan tanganku berkeringat karena menggenggam terlalu erat. Anggota baru itu juga menyebutkan beberapa gagasan lainnya, dan meskipun aku memiliki beberapa pemikiran tentang cara mengatasinya, aku sangat gugup hingga pikiranku kosong, dan setelah mengucapkan beberapa kalimat, aku lupa apa yang ingin kukatakan. Respons anggota baru itu sangat acuh tak acuh. Setelah pergi, aku berpikir, "Aku sangat payah dalam hal ini! Jelas-jelas aku sudah mempersiapkan dengan baik sejak awal, tetapi di saat yang genting, aku tak bisa mengekspresikan diri dengan jelas. Tugas ini benar-benar tidak cocok untuk orang sepertiku, yang tidak pandai berkata-kata, tidak bisa." Makin aku memikirkannya, makin aku merasa negatif.

Setelah beberapa waktu, para pemimpin mengirimkan sepucuk surat. Surat itu mengatakan bahwa aku adalah pribadi yang tertutup, tidak mampu berkomunikasi dengan orang lain, dan tidak memiliki rasa terbeban dalam tugasku. Setelah menimbang-nimbang, mereka memutuskan untuk mengalihkanku ke tugas lain. Aku merasakan emosi yang bercampur aduk, "Orang sepertiku, yang tidak pandai berkata-kata, bahkan tidak bisa menyirami para anggota baru, apalagi memberitakan Injil. Aku tidak punya bakat lain, jadi tugas apa lagi yang bisa kulaksanakan? Pekerjaan Tuhan akan segera berakhir, dan aku tidak memiliki tugas apa pun; bukankah ini berarti aku akan disingkirkan?" Makin aku memikirkannya, makin aku merasa menyedihkan. Aku juga sangat negatif sampai-sampai mengeluh tentang Tuhan. Aku berpikir, "Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk berubah, tetapi aku tetap tak bisa berkomunikasi dengan baik. Mengapa Tuhan memberiku kepribadian seperti ini? Seharusnya Tuhan membuatku lebih terbuka, mampu berkomunikasi dengan orang lain. Dengan begitu, aku akan mampu melaksanakan tugasku dengan baik." Saat berpikir seperti ini, tiba-tiba aku menjadi agak takut, "Bukankah aku sedang mengeluh tentang Tuhan?" Aku tak berani berpikir seperti ini lagi, tetapi aku merasa tak bersemangat melaksanakan tugasku. Pada saat itu, ada seorang anggota baru yang berada dalam keadaan buruk, dan aku tak mau datang bersekutu serta mengatasi masalahnya. Aku pikir, lagi pula aku akan menyerahkan anggota baru tersebut ke saudari lain untuk disirami, jadi biar saudari itu saja yang menangani masalahnya. Saat memikirkan ini, aku merasa agak bersalah dan menyadari bahwa ini tidak benar. Aku teringat akan firman Tuhan: "Tuhan menganugerahkan hidup ini kepada kita, jadi kita harus melaksanakan tugas kita dengan baik; untuk setiap hari kita hidup, kita harus melaksanakan tugas hari itu dengan baik. Kita harus menjadikan apa yang Tuhan percayakan kepada kita sebagai misi utama kita, mengutamakan pelaksanaan tugas kita dalam hidup kita agar dapat menyelesaikannya dengan baik. Meskipun kita tidak mengejar kesempurnaan, kita dapat berusaha untuk memperoleh kebenaran, dan bertindak berdasarkan firman Tuhan dan prinsip kebenaran, sehingga kita mampu memuaskan Tuhan, mempermalukan Iblis, dan tidak memiliki penyesalan apa pun. Inilah sikap yang harus dimiliki oleh orang yang percaya kepada Tuhan terhadap tugas mereka" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Lima Syarat yang Harus Dimiliki untuk Masuk ke Jalur yang Benar dalam Kepercayaan kepada Tuhan"). Firman Tuhan membuatku memahami bahwa Tuhan melihat sikap orang terhadap tugas mereka, dan apakah mereka berdedikasi serta berusaha semaksimal mungkin, dan ini adalah hal terpenting. Aku berpikir bahwa karena berkepribadian tertutup dan tidak bisa berkomunikasi dengan baik, aku tidak melaksanakan tugasku dengan sepenuh hati, dan aku tidak mau berupaya mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah anggota baru tersebut. Aku sama sekali tidak memikirkan hidup anggota baru itu. Dengan sikap seperti ini, berarti aku tidak memiliki rasa tanggung jawab, jadi bagaimana mungkin Tuhan berkenan kepadaku? Meskipun aku telah dialihkan ke tugas baru, masih ada beberapa pekerjaan yang harus dilaksanakan sebelum masa serah terima. Aku tidak boleh melaksanakannya dengan asal-asalan. Aku harus segera menyelesaikan masalah anggota baru tersebut dan menuntaskan tanggung jawabku hingga akhir. Kemudian, aku mencari cara untuk menyelesaikan masalah anggota baru tersebut, dan tak kusangka, aku menemukan artikel berdasarkan pengalaman yang sangat berguna serta dapat mengatasi masalahnya. Kemudian aku mempersekutukan pengalaman penulis artikel itu kepada anggota baru tersebut, dan meskipun bicaraku tidak terlalu lancar, masalahnya akhirnya teratasi.

Kemudian, karena tahu aku telah menulis beberapa artikel kesaksian pengalaman, para pemimpin mengaturku untuk melaksanakan tugas tulis menulis. Tiga bulan kemudian, para pemimpin memintaku untuk menyampaikan prinsip-prinsip penulisan khotbah kepada beberapa saudara-saudari. Karena mengingat kepribadian dan ketidakmampuanku dalam berkomunikasi, apalagi menyampaikan prinsip-prinsip, aku bertanya-tanya bagaimana mungkin aku mampu mempersekutukan hal-hal ini dengan jelas kepada orang lain. Jadi, aku berkata dengan nada ketus, "Kalian memaksaku untuk melakukan sesuatu yang tak bisa kulakukan! Bisa-bisa aku menghambat kemajuan orang lain!" Tidak peduli bagaimana para pemimpin bersekutu denganku, aku merasa tidak mampu dan menentang. Setelah para pemimpin pergi, aku mulai tenang dan merasa agak menyesal serta menyalahkan diri sendiri. Aku menyadari bahwa semua tugas yang diberikan kepadaku adalah bagian dari kedaulatan serta pengaturan Tuhan, dan menolak tugasku seperti ini tidak sesuai dengan maksud Tuhan. Setelah itu, aku setuju untuk melaksanakan tugas tersebut. Namun, aku masih terkekang oleh kepribadianku yang tertutup, dan merasa putus asa terhadap semua hal yang kulakukan. Aku berpikir, "Lagi pula, pengejaranku tidak akan bisa berhasil, jadi aku akan menjadi orang yang berjerih payah saja." Meskipun aku tahu bahwa pola pikir ini salah, aku tidak tahu bagaimana mengubahnya.

Kemudian, aku menemukan satu bagian firman Tuhan, yang sangat membantuku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Ada beberapa masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh orang. Misalnya, engkau mungkin cenderung menjadi gugup ketika berbicara dengan orang lain; ketika menghadapi situasi tertentu, engkau mungkin memiliki ide dan sudut pandangmu sendiri, tetapi tidak mampu mengutarakannya dengan jelas. Engkau merasa sangat gugup ketika ada banyak orang yang hadir; bicaramu kacau dan tidak runtut, dan mulutmu bergetar. Ada orang-orang yang bahkan terbata-bata; bagi yang lainnya, jika ada lawan jenis yang hadir, perkataan mereka bahkan kurang dapat dipahami, sama sekali tidak tahu apa yang harus dikatakan dan dilakukan. Apakah hal ini mudah untuk diatasi? (Tidak.) Setidaknya dalam jangka pendek, tidak mudah bagimu untuk mengatasi kekurangan ini karena ini adalah bagian dari kondisi bawaanmu. ... jika engkau mampu mengatasi cacat ini, kekurangan ini, dalam jangka pendek, maka lakukanlah itu. Jika itu sulit untuk diatasi, tidak perlu memusingkannya, jangan berjuang melawannya, dan jangan menantang dirimu sendiri. Tentu saja, jika engkau tidak mampu mengatasinya, engkau tidak seharusnya merasa negatif. Sekalipun engkau tidak pernah mampu mengatasinya seumur hidupmu, Tuhan tidak akan mengutukmu, karena ini bukanlah watak rusakmu. Demam panggungmu, kegugupan dan ketakutanmu—perwujudan ini tidak mencerminkan watak rusakmu; entah itu adalah bawaanmu atau disebabkan oleh lingkungan setelah engkau lahir, paling-paling itu merupakan cacat, kekurangan dalam kemanusiaanmu. Jika engkau tidak mampu mengubahnya dalam jangka panjang, atau bahkan selama masa hidupmu, jangan terus memikirkannya, jangan biarkan hal itu mengekangmu, dan engkau juga tidak seharusnya menjadi negatif karenanya, karena ini bukanlah watak rusakmu; tidak ada gunanya berusaha mengubahnya atau berusaha melawannya. Jika engkau tidak dapat mengubahnya, terimalah, biarkan itu ada, dan perlakukan hal itu dengan benar, karena engkau dapat hidup berdampingan dengan cacat ini, dengan kekurangan ini—memilikinya tidak akan memengaruhimu dalam mengikuti Tuhan dan melaksanakan tugasmu. Asalkan engkau mampu menerima kebenaran, dan melaksanakan tugasmu dengan sebaik mungkin, engkau tetap dapat diselamatkan; itu tidak akan memengaruhi penerimaanmu akan kebenaran dan tidak akan memengaruhimu dalam memperoleh keselamatan. Oleh karena itu, engkau tidak seharusnya sering dikekang oleh cacat atau kekurangan tertentu dalam kemanusiaanmu, juga tidak seharusnya sering menjadi negatif dan berkecil hati, atau bahkan meninggalkan tugasmu dan berhenti mengejar kebenaran, kehilangan kesempatanmu untuk diselamatkan, untuk alasan yang sama. Itu benar-benar tidak sepadan; itulah yang akan dilakukan orang yang bodoh dan tidak berpengertian" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (3)"). Firman Tuhan seperti hujan yang membasahi hatiku yang kering di waktu yang tepat. Firman Tuhan memberiku harapan dan motivasi yang kuperlukan untuk mengejar kebenaran. Aku memahami bahwa masalah yang selama ini tidak pernah bisa kuatasi itu terkait dengan sifat manusia yang melekat dalam diriku. Semua ini telah ditentukan oleh Tuhan, ada di dalam diriku sejak aku lahir, dan meskipun manusia memiliki kekurangan, Tuhan tidak mengutuk mereka karena itu bukanlah watak rusak. Aku memikirkan bagaimana aku selalu takut bersosialisasi karena kepribadianku yang tertutup. Saat menghadapi orang asing dan di situasi yang ramai, aku menjadi gugup dan tidak bisa bicara dengan jelas, dan aku merasa canggung saat berbicara serta tidak dapat berkomunikasi dengan orang lain. Aku menganggap orang yang tertutup tidak akan bisa melaksanakan tugasnya dengan efektif seperti mereka yang terbuka, jadi aku terus berusaha mengubah kepribadianku yang tertutup ini. Aku percaya bahwa jika aku mengubah kepribadianku, aku bisa melaksanakan tugasku dengan baik dan memiliki harapan untuk diselamatkan. Karena itu, aku berusaha belajar berbicara seperti orang lain dan bahkan berdoa kepada Tuhan agar membuatku sedikit lebih terbuka. Saat seluruh upayaku untuk berubah gagal, aku menyimpulkan bahwa aku tak cocok untuk melaksanakan tugas ini. Aku begitu terpuruk dalam emosi negatif serta perasaan putus asa, dan aku menjadi makin negatif. Setelah melaksanakan tugas tulis menulis, para pemimpin memintaku mempersekutukan prinsip-prinsip kepada saudara-saudari, tetapi aku menentang dan tidak mau melakukannya, karena aku merasa bahwa dengan kepribadianku yang tertutup, aku tidak akan pernah bisa bersekutu dengan baik. Aku cukup puas menjadi orang yang berjerih payah, melakukan apa pun yang aku bisa. Karena aku tidak memahami kebenaran, aku tidak bisa mengatasi kelemahan dan kekuranganku dengan benar. Aku sangat terpuruk dalam emosi negatif dan perasaan putus asa, serta menetapkan diriku sendiri. Aku sangat bersyukur karena firman Tuhan telah membantuku di waktu yang tepat. Firman Tuhan membuatku memahami bahwa berkepribadian tertutup bukanlah watak rusak, melainkan kelemahan dalam kemanusiaan seseorang. Ini adalah sifat manusia yang melekat, dan Tuhan tidak menuntutku untuk mengubahnya, tetapi aku harus belajar hidup berdampingan dengannya. Karena itu, seharusnya aku tidak melawannya atau terikat olehnya. Bahkan dengan kelemahan ini, selama aku mengejar kebenaran dan mengubah watak rusakku, aku masih bisa diselamatkan. Aku sangat bodoh karena menyerah dalam mengejar kebenaran hanya karena memiliki kelemahan!

Kemudian, aku menemukan bagian lain dari firman Tuhan yang membetulkan sudut pandangku yang salah, membuatku memahami bahwa kepribadian manusia tidak ada hubungannya dengan keselamatan mereka. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Apa pun masalah, cacat, atau kelemahanmu, tak satu pun dari semua ini merupakan masalah di mata Tuhan. Tuhan hanya melihat bagaimana engkau mencari kebenaran, menerapkan kebenaran, bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, dan mengikuti jalan Tuhan di bawah kondisi bawaan dari kemanusiaan yang normal—hal-hal inilah yang Tuhan lihat. Oleh karena itu, dalam hal yang berkaitan dengan prinsip-prinsip kebenaran, jangan biarkan kondisi-kondisi dasar kemanusiaan yang normal, seperti kualitas, naluri, kepribadian, kebiasaan, dan pola hidup, membatasi dirimu. Tentu saja, engkau tidak boleh menginvestasikan tenaga dan waktumu untuk berusaha mengatasi kondisi-kondisi dasar tersebut, ataupun berusaha untuk mengubahnya. ... Ini adalah sesuatu yang dimiliki setiap manusia ciptaan sejak lahir. Ini tidak ada hubungannya dengan watak yang rusak atau esensi kemanusiaan yang orang miliki; ini hanyalah keadaan yang dapat dilihat orang dari luar, dan cara orang dalam menyikapi orang, peristiwa, dan hal-hal. Ada orang-orang yang pandai mengungkapkan dirinya, ada yang tidak; ada yang suka menggambarkan segala sesuatu, ada yang tidak; ada yang suka menyimpan pemikirannya sendiri, ada yang tidak suka menyimpan pemikirannya di dalam hati, tetapi ingin mengungkapkannya dengan lantang agar semua orang dapat mendengarnya, dan baru setelah itulah mereka merasa bahagia. Ini adalah berbagai cara orang dalam menghadapi kehidupan, serta orang, peristiwa, dan hal-hal; ini adalah kepribadian yang orang miliki. Kepribadianmu adalah sesuatu yang kaumiliki sejak lahir. Jika engkau gagal mengubahnya bahkan setelah berkali-kali mencoba, biar Kuberitahukan kepadamu, engkau dapat beristirahat sekarang; tidak perlu terlalu melelahkan dirimu. Itu tidak dapat diubah, jadi jangan berusaha mengubahnya. Apa pun kepribadian aslimu, itu tetaplah kepribadianmu. Jangan berusaha mengubah kepribadianmu demi memperoleh keselamatan; ini adalah ide yang keliru—apa pun kepribadian yang kaumiliki, itu adalah fakta objektif, dan engkau tidak dapat mengubahnya. Dalam hal alasan objektif untuk hal ini, hasil yang ingin Tuhan capai dalam pekerjaan-Nya tidak ada kaitannya dengan kepribadianmu. Dapat atau tidaknya engkau memperoleh keselamatan juga tidak ada kaitannya dengan kepribadianmu. Selain itu, apakah engkau adalah orang yang menerapkan kebenaran dan memiliki kenyataan kebenaran atau tidak, itu tidak ada kaitannya dengan kepribadianmu. Oleh karena itu, jangan berusaha mengubah kepribadianmu karena engkau sedang melaksanakan tugas tertentu atau sedang melayani sebagai pengawas atas bagian dari pekerjaan tertentu—ini adalah ide yang keliru. Lalu, apa yang seharusnya kaulakukan? Apa pun kepribadian atau kondisi bawaanmu, engkau harus menaati dan menerapkan prinsip-prinsip kebenaran. Pada akhirnya, Tuhan tidak mengukur apakah engkau mengikuti jalan-Nya atau dapat memperoleh keselamatan berdasarkan kepribadianmu, ataupun berdasarkan apa kualitas, keterampilan, kemampuan, karunia, atau bakat bawaan yang kaumiliki, dan tentu saja Dia juga tidak melihat seberapa banyak engkau telah mengendalikan naluri dan kebutuhan jasmanimu. Sebaliknya, Tuhan melihat apakah saat mengikuti Tuhan dan melaksanakan tugasmu, engkau menerapkan dan mengalami firman-Nya, apakah engkau memiliki kesediaan dan tekad untuk mengejar kebenaran, dan pada akhirnya, apakah engkau telah mencapai penerapan akan kebenaran dan mengikuti jalan Tuhan. Inilah yang Tuhan lihat" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (3)"). Tuhan telah berfirman dengan sangat jelas. Keselamatan manusia tidak ada hubungannya dengan kepribadian mereka. Tuhan tidak menilai apakah seseorang bisa diselamatkan atau tidak berdasarkan kepribadian yang melekat dalam dirinya, atau berdasarkan kualitas, kemampuan, atau bakat mereka, tetapi berdasarkan apakah mereka bisa menerapkan kebenaran dan mengikuti jalan Tuhan. Aku telah melaksanakan tugasku dengan sudut pandang yang salah. Aku selalu berpikir bahwa sebagai seorang penyiram, aku tidak bisa melaksanakan tugasku dengan baik jika tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain, dan aku pasti tidak bisa diselamatkan di masa depan. Aku berpikir bahwa hanya dengan mengubah kepribadian dan kelemahanku, barulah aku bisa melaksanakan tugasku dengan baik dan diselamatkan di masa depan. Jadi, aku terus berusaha mengubah kepribadianku, tetapi pada akhirnya, aku tidak bisa mengubahnya, dan aku hanya menjadi negatif. Aku bahkan mengeluhkan Tuhan karena tidak memberiku kepribadian yang terbuka. Aku terus berupaya mengubah kepribadianku, tetapi ini salah, karena perubahan kepribadian hanyalah perubahan dari luar. Sekalipun aku dapat mengubah kelemahanku, menjadi berkepribadian terbuka dan mampu berkomunikasi dengan orang lain, jika aku tidak mengatasi watak rusakku, selalu bersikap asal-asalan dalam tugasku tanpa mencurahkan segenap raga dan hatiku, tidak mencari kebenaran saat menghadapi tantangan, dan bahkan berbantah dengan Tuhan atau mengeluhkan-Nya, Tuhan tidak akan berkenan kepadaku, dan pada akhirnya, aku akan disingkirkan.

Kemudian, aku menemukan satu bagian lain dari firman Tuhan: "Atribut bawaan orang sejak lahir serta naluri daging mereka bukanlah target pekerjaan Tuhan, dan bahwa pekerjaan-Nya menargetkan watak rusak orang, dan hal-hal dalam diri orang yang memberontak terhadap Tuhan dan tidak sesuai dengan Tuhan. Jika orang membayangkan bahwa pekerjaan Tuhan bertujuan untuk mengubah kualitas mereka, naluri mereka, dan bahkan kepribadian, kebiasaan, pola hidup mereka, dan sebagainya, maka setiap aspek penerapan mereka dalam kehidupan sehari-hari akan dipengaruhi dan dikendalikan oleh gagasan dan imajinasi mereka sendiri, dan pasti akan ada banyak bagian yang menyimpang atau hal-hal yang ekstrem. Bagian-bagian yang menyimpang dan hal-hal yang ekstrem ini tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran dan akan menyebabkan orang menyimpang dari hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal, serta terlepas dari jalur kemanusiaan yang normal. Misalnya, katakanlah bahwa dalam gagasan dan imajinasimu, engkau yakin bahwa Tuhan ingin mengubah kualitas dan kemampuan orang, dan bahkan naluri mereka; jika menurutmu hal-hal inilah yang ingin Tuhan ubah, pengejaran seperti apa yang akan kaulakukan? Engkau akan melakukan pengejaran yang menyimpang dan dipegang erat—engkau akan ingin mengejar kualitas yang unggul, dan engkau akan berfokus mempelajari berbagai jenis keterampilan serta menguasai berbagai jenis pengetahuan agar engkau memiliki kualitas yang unggul dan kemampuan yang unggul, serta wawasan dan pembinaan diri yang unggul, dan bahkan beberapa kemampuan yang lebih unggul daripada kemampuan orang biasa—dengan demikian, engkau akan menaruh perhatian pada kemampuan dan bakat lahiriah. Lalu, apa akibat pengejaran semacam itu bagi orang-orang? Mereka bukan hanya akan gagal menempuh jalan mengejar kebenaran, melainkan mereka justru akan menempuh jalan orang Farisi. Mereka akan bersaing satu sama lain untuk melihat siapa yang kualitasnya, karunianya, dan pengetahuannya lebih unggul, siapa yang kemampuannya lebih hebat, siapa yang kelebihannya lebih banyak, siapa yang prestisenya lebih tinggi di antara orang-orang serta siapa yang dihormati dan dijunjung tinggi oleh orang lain. Dengan demikian, mereka bukan saja tidak akan mampu menerapkan kebenaran dan bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, melainkan justru akan menempuh jalan yang menjauhkan mereka dari kebenaran" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (3)"). Setelah membaca bagian firman Tuhan ini, aku merenung dan berpikir. Pekerjaan Tuhan di akhir zaman adalah menanamkan prinsip-prinsip kebenaran dalam diri kita, dan membersihkan serta mengubah watak rusak kita, beserta segala yang ada dalam diri kita yang memberontak terhadap Tuhan dan menentang-Nya, bukan mengubah hal-hal seperti kualitas, naluri, dan kepribadian bawaan kita. Aku tidak memahami pekerjaan Tuhan dan hidup dengan perspektif yang salah. Aku terus meminta Tuhan untuk menjadikanku orang yang terbuka, fasih bicara, dan berkualitas baik, tetapi ini bertentangan dengan tuntutan Tuhan. Aku teringat akan Paulus. Dari luarnya, kelihatannya dia memiliki karunia yang luar biasa, fasih berbicara, dan mendapatkan banyak orang dengan memberitakan Injil, tetapi dia tidak pernah berupaya mendapatkan kebenaran atau fokus pada jalan masuk kehidupan, dan watak rusaknya tidak pernah berubah. Dia juga selalu meninggikan dirinya sendiri karena semua pekerjaan yang telah dia lakukan, dan pada akhirnya, dia mengucapkan perkataan yang begitu congkak seperti "Bagiku, hidup adalah kristus". Ini menyinggung watak Tuhan dan menyebabkan Tuhan menghukumnya. Aku juga mengenal seseorang yang punya kepribadian yang begitu terbuka dan fasih bicara, tetapi dia hanya fokus memperlengkapi dirinya sendiri dengan kata-kata dan doktrin, dan dia tidak pernah menerapkan kebenaran atau mengenal dirinya sendiri melalui perenungan. Pada akhirnya, dia disingkapkan sebagai pengikut yang bukan orang percaya dan disingkirkan. Aku menyadari bahwa tidak mengejar kebenaran dan tidak fokus mengubah watak seseorang dalam imannya sangatlah berbahaya, dan pada akhirnya, ini bisa membuat orang itu menempuh jalan yang salah dan disingkirkan oleh Tuhan.

Aku membaca satu bagian lain dari firman Tuhan dan menemukan sebuah jalan penerapan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Sesempurna atau seluhur apa pun kemanusiaanmu, atau sekalipun engkau memiliki lebih sedikit kekurangan dan cacat, serta memiliki lebih banyak kelebihan, dibandingkan orang lain, ini tidak menandakan bahwa engkau memahami kebenaran, dan ini juga tidak dapat menggantikan pengejaranmu akan kebenaran. Sebaliknya, jika engkau mengejar kebenaran, memahami banyak kebenaran, dan memiliki pemahaman yang cukup mendalam dan nyata akan kebenaran, ini akan menutupi banyak cacat dan masalah dalam kemanusiaanmu. Misalnya, katakanlah engkau pemalu dan introver, bicaramu terbata-bata, dan kurang berpendidikan—yang berarti, engkau memiliki banyak cacat dan kekurangan—tetapi engkau memiliki pengalaman nyata, dan meskipun engkau terbata-bata ketika berbicara, engkau mampu mempersekutukan kebenaran dengan jelas, dan persekutuan ini mendidik kerohanian setiap orang ketika mereka mendengarnya, menyelesaikan masalah, memungkinkan orang untuk keluar dari kenegatifan, dan menghilangkan keluhan serta kesalahpahaman mereka tentang Tuhan. Lihat, meskipun engkau berbicara dengan terbata-bata, perkataanmu dapat menyelesaikan masalah—betapa pentingnya perkataan ini! Ketika orang awam mendengarnya, mereka mengatakan bahwa engkau adalah orang yang tidak berpendidikan, dan engkau tidak mengikuti kaidah tata bahasa ketika berbicara, dan terkadang kata-kata yang kaugunakan juga tidak benar-benar tepat. Mungkin engkau menggunakan bahasa daerah, atau bahasa sehari-hari, dan kata-katamu kurang berkelas dan bergaya seperti kata-kata orang berpendidikan tinggi yang berbicara dengan sangat fasih. Namun, persekutuanmu mengandung kenyataan kebenaran, yang dapat menyelesaikan kesulitan orang, dan setelah orang mendengarnya, semua awan gelap di sekitar mereka lenyap, dan semua masalah mereka terselesaikan. Engkau lihat, bukankah memahami kebenaran itu penting? (Ya.)" (Firman, Jilid 7, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (3)"). Firman Tuhan memberiku jalan penerapan yang jelas. Yang harus menjadi fokusku adalah mengejar kebenaran. Meski aku memiliki beberapa kelemahan dalam kepribadianku, selama aku memahami kebenaran, aku bisa mengatasi beberapa masalah itu. Jika diingat kembali, sejak melaksanakan tugas penyiraman, aku selalu berpikir bahwa aku gagal melaksanakan tugasku karena kepribadianku yang tertutup dan ketidakmampuanku untuk berkomunikasi dengan para anggota baru. Karena itu, aku terus berusaha mengubah kelemahan dalam kepribadianku. Alih-alih berupaya mencari kebenaran, aku mencurahkan seluruh upayaku untuk mengatasi kelemahanku. Sebenarnya ini salah. Waktu itu, saat aku mendukung para anggota baru, meski terkekang oleh kepribadianku dan tidak tahu harus berkata apa saat menghadapi gagasan mereka, sebenarnya masalah utamanya adalah aku tidak sepenuhnya memahami cara mengatasi gagasan mereka. Sebenarnya, kegagalanku dalam melaksanakan tugasku dengan baik bukan sepenuhnya masalah kepribadian, dan masalah utamanya adalah karena aku tidak memahami kebenaran. Sejak saat itu, aku harus fokus berupaya mencari prinsip-prinsip kebenaran, dan jika aku memahami kebenaran dengan jelas, akhirnya aku bisa berbicara dengan jelas. Jika sewaktu-waktu aku menjadi gugup dan lupa akan berkata apa, aku dapat lebih banyak berdoa kepada Tuhan untuk menenangkan hatiku, dan aku dapat beberapa kali memikirkan apa yang ingin kukatakan terlebih dahulu lalu bicara secara perlahan. Jika aku tetap tidak bisa menerangkan sesuatu dengan jelas, aku dapat mencari bagian firman Tuhan yang relevan atau mencari dari saudara-saudari. Inilah cara yang semestinya kuterapkan.

Kini, aku tidak lagi menjadi negatif karena kepribadianku yang tertutup, dan saat bersekutu di pertemuan, aku berlatih menenangkan hatiku dan mampu berkomunikasi dengan orang lain. Aku tidak lagi gelisah tentang cara berkomunikasi dengan orang lain, dan aku tidak lagi merasa sesak karena tertekan. Aku sungguh merasa bahwa kebenaran dapat mengatasi semua kesulitan manusia, dan firman Tuhanlah yang membawaku keluar dari sikap negatif. Aku tidak lagi terikat atau terkekang oleh kelemahan dalam kepribadianku.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Kerugian Akibat Iri Hati

Oleh Saudari Yi Ning, Tiongkok Belum lama ini, aku terpilih sebagai pemimpin gereja, memimpin pekerjaan beberapa gereja. Tak lama kemudian,...

Hubungi kami via WhatsApp