“Membesarkan Anak untuk Merawatmu di Masa Tua”—Apakah Pandangan Ini Benar?

11 Februari 2026

Waktu aku masih kecil, aku sering mendengar ayahku berkata, "Paman keduamu tidak berbakti dan tidak menafkahi kakekmu. Aku dan ibumulah yang menafkahi kakekmu. Tujuan membesarkan anak adalah agar mereka merawatmu di masa tua. Kelak, kau harus merawat dan mendampingi kami sampai akhir hayat kami!" Setelah dewasa, aku merawat orang tuaku sampai mereka meninggal. Aku juga berharap putriku akan bisa merawatku di masa tuaku. Begitu putriku bisa bicara, aku bertanya kepadanya, "Untuk siapa kau akan memakai uangmu saat besar nanti?" Putriku berkata, "Saat aku dewasa, aku akan mencari uang yang sangat banyak untuk dipakai Ibu dan Ayah." Aku berkata dengan gembira, "Putriku sayang, ibumu tidak sia-sia membesarkanmu!" Putriku sangat cerdas. Dia bisa mempelajari apa pun dengan cepat dan selalu mendapat peringkat teratas dalam ujiannya. Aku sangat senang dan berpikir dalam hati, "Putriku begitu cerdas, dan dia pasti akan memiliki masa depan yang cerah. Sekalipun aku tidak punya uang, aku harus membiayai pendidikannya, supaya dia bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus setelah lulus kuliah. Dengan begitu, dia tidak akan kesulitan merawat kami saat tua."

Pada bulan April 2003, aku ditangkap karena percaya kepada Tuhan dan memberitakan Injil, dan ditahan selama 25 hari. Untuk menghindari ditangkap polisi lagi, aku meninggalkan rumah pada bulan November untuk melaksanakan tugasku di tempat lain. Aku sangat bimbang saat itu, "Putriku akan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi enam bulan lagi. Jika aku pergi saat ini, apakah studi putriku akan terganggu? Jika itu memengaruhi ujian masuk perguruan tingginya dan menghambat masa depannya, apakah dia akhirnya akan membenciku? Apakah dia tidak akan mau lagi mengakuiku sebagai ibunya? Aku hanya punya satu putri, dan jika dia tidak lagi menginginkanku sebagai ibunya, kepada siapa aku akan bergantung di masa tuaku? Namun jika aku tidak pergi, dan aku ditangkap lagi, putriku pasti akan ikut dilibatkan dan masa depannya hancur total. Aku juga akan dijatuhi hukuman, dan kemudian tidak bisa melaksanakan tugasku." Setelah berpikir panjang, aku tetap memutuskan untuk meninggalkan rumah. Karena polisi terus mencariku, aku tidak berani pulang.

Seiring bertambahnya usiaku, energi dan kekuatan fisikku mulai menurun, dan tekanan darahku agak tinggi. Penglihatanku menjadi kabur, dan telingaku sering berdengung serta pendengaranku berkurang. Jantungku juga mulai berdebar kencang setiap kali aku melakukan pekerjaan fisik, jadi aku harus berbaring dan beristirahat sebentar. Aku berpikir dalam hati, "Apakah aku sudah tua sekarang? Siapa yang akan merawatku di masa tuaku?" Saat itu, aku sangat merindukan putriku, dan berpikir, "Aku masih berharap untuk menggantungkan hidupku padanya saat sudah tua!" Pada tahun 2021, aku kembali ke rumah kakak perempuanku untuk memberitakan Injil dan mengetahui bahwa putriku bekerja jauh dari rumah, dan sangat berbakti kepada bibi-bibinya. Aku berpikir bahwa kalau begitu dia pasti akan bersikap baik kepadaku, dan aku sangat menantikan untuk bertemu putriku suatu hari nanti. Pada akhir Agustus tahun berikutnya, aku sedang memberitakan Injil di luar daerah ketika kakakku mengabari bahwa putriku telah kembali selama beberapa hari. Aku bergegas kembali ke rumah kakakku malam itu juga, tetapi putriku tidak mau menemuiku. Perasaanku hancur, tetapi aku bisa memahami perasaan putriku. Bagaimanapun juga, aku tidak merawatnya selama tujuh belas tahun, jadi wajar jika dia marah. Kemudian, ketika aku melihat putriku, aku begitu bahagia hingga ingin memeluknya, tetapi dia duduk jauh dariku, dan rasa kecewa menyelimuti hatiku. Setelah beberapa saat, aku berkata kepadanya, "Ibu mengkhawatirkanmu selama bertahun-tahun ini. Ibu takut polisi akan menangkap Ibu dan kau akan dilibatkan, jadi Ibu tidak berani pulang. Kau telah menderita selama bertahun-tahun ini." Dia berkata dengan getir, "Aku tidak menderita. Aku sudah dewasa sekarang. Aku tidak menderita!" Setelah mengatakan ini, dia memalingkan muka dan pergi setelah tidak sampai setengah jam singgah. Aku sangat kecewa, "Aku bekerja begitu keras untuk membesarkanmu dan merawatmu dengan sangat baik. Setelah kau bersekolah, demi membantumu mempelajari keterampilan dan memiliki masa depan yang baik, aku menghabiskan tiga ribu yuan terakhir yang dimiliki keluarga kita untuk membelikanmu kibor elektronik. Aku sudah mencurahkan segenap hati dan usahaku untukmu, tetapi sekarang kau malah tidak mau mengakuiku? Sungguh sia-sia aku membesarkanmu!" Aku berpikir, "Status kependudukanku sudah dicabut oleh pemerintah Komunis Tiongkok, suamiku sudah menceraikanku, dan putriku malah tidak mau mengakuiku lagi. Sekarang umurku sudah enam puluh tahun, dan kesehatanku makin memburuk dari tahun ke tahun. Apa yang harus kulakukan saat aku tua nanti? Siapa yang akan merawatku saat aku sakit? Siapa yang akan mengurusku di masa tuaku dan mendampingiku di saat-saat terakhirku?" Di malam hari, aku berbaring di tempat tidur sambil gelisah membolak-balikkan badan, tidak bisa tidur. Saat memikirkan bagaimana putriku bahkan tidak memanggilku "Ibu", aku menyadari bahwa tidak ada harapan untuk bergantung padanya agar merawatku di masa tua. Aku merasa begitu sengsara, hatiku rasanya seperti remuk. Selama hari-hari itu, pikiranku sangat kacau, aku tidak bersemangat melaksanakan tugasku, dan aku hanya bersikap asal-asalan saat memberitakan Injil.

Pada bulan Februari 2023, aku mendengar bahwa Saudari Sun Jing jatuh sakit, tetapi suaminya merawatnya dengan sangat cermat dan penuh perhatian. Aku berpikir dalam hati, "Saat saudariku itu sakit, suaminya merawatnya. Apa yang harus kulakukan jika aku sakit? Putriku sudah tidak mau mengakuiku, dan jika akhirnya aku tidak bisa bergerak, akan sangat memalukan jika saudari-saudari gereja yang harus merawatku. Aku tidak boleh menjadi beban bagi saudara-saudari! Lagi pula, aku tinggal sendirian, jadi jika terjadi sesuatu padaku, tidak ada yang akan tahu. Bagaimana jika aku tidak sempat pergi ke rumah sakit dan akhirnya meninggal di rumah?" Aku tak tahan untuk terus merasa cemas dan khawatir karena tidak ada orang yang akan merawatku di masa tua dan mengurusku di saat-saat terakhir. Suatu hari saat melakukan saat teduh, aku membaca firman Tuhan, dan mendapatkan sedikit pemahaman tentang keadaanku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Sebagai orang tua, salahkah jika engkau menaruh harapan pada anak-anakmu dengan berharap bahwa mereka akan berbakti dan mampu menafkahimu ketika mereka sudah dewasa? Itu tidak salah, dan itu bukanlah permintaan yang terlalu banyak. Jadi, apa masalahnya di sini? Dia selalu ingin menjalani kehidupan yang berkecukupan dengan mengandalkan anak-anaknya, dan menghabiskan sisa hidupnya dengan bergantung pada anak-anaknya, dan dia selalu berharap dapat menikmati berbagai hal dari anak-anaknya. Apa pandangan yang keliru dari tindakannya ini? Mengapa dia memiliki gagasan seperti ini? Apa yang menjadi sumber pandangan yang dipegangnya? Orang selalu berharap secara berlebihan untuk memiliki gaya hidup dan standar hidup tertentu. Dengan kata lain, bahkan sebelum manusia mengetahui bagaimana Tuhan telah menentukan hidup mereka atau apa takdir mereka dari sejak semula, mereka sudah merencanakan harus seperti apa standar hidup mereka, yaitu mereka harus bahagia, damai, penuh sukacita, kaya, berkecukupan, serta memiliki orang-orang yang bisa membantu dan diandalkan. Manusia telah merencanakan jalan hidup mereka sendiri, tujuan hidup mereka, tempat tujuan akhir hidup mereka, dan segala hal lainnya. ... Mengingat bahwa dia selalu memiliki keinginan dan rencana ini, apakah dia memiliki Tuhan di dalam hatinya? (Tidak.) Jadi, hingga taraf tertentu, apa penyebab penderitaan yang timbul dari semua pergumulannya? (Itu disebabkan oleh keinginannya.) Itu benar sekali. Jadi, bagaimana keinginannya muncul? (Keinginannya muncul karena tidak memercayai kedaulatan Tuhan atau pengaturan dan penataan-Nya.) Benar. Dia tidak memahami bagaimana munculnya takdir manusia, dia juga tidak memahami cara kerja kedaulatan Tuhan. Inilah sumber masalahnya" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Menyelesaikan Gagasannya Orang Dapat Memasuki Jalur yang Benar dalam Kepercayaan kepada Tuhan (2)"). Apa yang Tuhan singkapkan persis seperti keadaanku. Aku baru berusia empat puluh tahun lebih saat meninggalkan rumah untuk melaksanakan tugasku, dan karena waktu itu aku masih muda dan kuat, aku tidak memikirkan apa yang akan kulakukan saat tua nanti. Sekarang setelah aku makin tua, kesehatanku makin memburuk dari tahun ke tahun, dan banyak kekhawatiran tentang masa depan pun muncul. Aku khawatir jika aku jatuh sakit dan tidak bisa mengurus diri sendiri, tidak akan ada orang yang merawatku—apa yang harus kulakukan? Selama tahun-tahun aku pergi dari rumah, status kependudukanku dicabut dan suamiku menceraikanku. Awalnya aku mengira karena putriku sangat berbakti kepada bibi-bibinya, dia pasti akan bersikap baik kepadaku. Namun, aku tidak menyangka putriku malah tidak mau mengakuiku dan sama sekali tidak ada harapan dia akan merawatku di masa tua. Aku melihat bahwa aku tidak bisa bergantung pada putriku, jadi aku khawatir tidak akan ada orang yang merawatku jika aku sakit kelak, dan bahwa aku akan meninggal di rumah tanpa ada yang tahu. Terutama saat mendengar bahwa Sun Jing sakit dan suaminya merawatnya, aku makin merasa kesepian dan menyedihkan, dan saat memikirkan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menjadi tempatku menggantungkan hidupku nanti, aku merasa sedih dan sengsara. Aku berkata bahwa Tuhan berdaulat atas segala sesuatu, tetapi kenyataannya, aku tidak memiliki pemahaman apa pun tentang kedaulatan Tuhan dan tidak ada tempat bagi Tuhan di hatiku. Aku selalu memikirkan cara mempersiapkan jalan keluar bagi diriku sendiri, dan bahkan menganggap putriku sebagai sandaranku. Aku tidak punya iman kepada Tuhan. Keadaan ini akan sangat berbahaya jika tidak segera kuatasi.

Kemudian, aku merenung, "Mengapa aku begitu memikirkan apakah ada orang yang akan merawatku di masa tua dan mendampingiku saat aku meninggal? Apa masalahnya?" Aku membaca firman Tuhan: "Ada orang-orang yang berpaut pada gagasan yang buruk dan ketinggalan zaman, berkata, 'Entah orang memiliki anak-anak yang berbakti kepada mereka atau tidak, dan entah anak-anak mereka berbakti atau tidak saat mereka masih hidup, ketika mereka mati, anak-anak mereka harus membawa jenazah mereka di dalam peti mati. Jika anak-anak mereka tidak mendampingi mereka, tak ada seorang pun yang akan tahu kapan mereka mati, dan tubuh mereka akan membusuk di dalam rumah mereka.' Memangnya kenapa jika tak ada seorang pun yang tahu? Ketika engkau mati, engkau sudah mati, dan engkau tidak lagi sadar akan apa pun. Ketika tubuhmu mati, jiwamu segera meninggalkannya. Di mana pun tubuh tersebut berada atau seperti apa pun rupanya setelah kematian, bukankah dia sudah mati? Sekalipun jenazahnya dibawa dalam peti mati pada upacara pemakaman akbar dan dikubur di dalam tanah, jenazah tersebut akan tetap membusuk, bukan? Orang-orang berpikir, 'Memiliki anak-anak di sisimu untuk memasukkanmu ke dalam peti mati, memakaikan pakaian pemakaman untukmu, merias wajahmu, dan mengadakan pemakaman akbar adalah hal yang mulia. Jika engkau mati tanpa ada yang mengadakan pemakamanmu atau melepaskan kepergianmu, rasanya seluruh hidupmu tidak memiliki akhir yang baik.' Apakah gagasan ini benar? (Tidak.) Sekarang ini, kaum muda tidak terlalu memperhatikan hal-hal ini, tetapi masih ada orang-orang di daerah terpencil dan orang-orang lanjut usia yang kurang wawasan yang memiliki pemikiran serta sudut pandang yang tertanam sangat dalam di hati mereka bahwa anak-anak harus merawat orang tua mereka di hari tua dan melepaskan kepergian mereka. Seperti apa pun engkau bersekutu tentang kebenaran, mereka tidak menerimanya. Apa konsekuensi akhir dari hal ini? Konsekuensinya adalah, mereka sangat menderita. 'Tumor' ini telah lama tersembunyi di dalam diri mereka, dan mereka akan diracuni olehnya. Setelah mereka menggali dan membuangnya, mereka tidak akan lagi diracuni olehnya, dan hidup mereka akan bebas. Setiap tindakan yang salah disebabkan oleh pemikiran yang salah. Jika mereka takut mati dan membusuk di rumahnya, mereka akan selalu berpikir, 'Aku harus membesarkan seorang anak. Saat anakku besar nanti, aku tidak boleh membiarkannya pergi terlalu jauh. Bagaimana jika dia tidak ada di sisiku saat aku mati? Tidak memiliki seseorang yang akan merawatku di hari tua dan melepaskan kepergianku akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidupku! Jika aku memiliki seseorang yang merawatku dan melepaskan kepergianku, hidupku tidak akan sia-sia. Ini akan menjadi kehidupan yang sempurna. Apa pun yang terjadi, aku tidak boleh dijadikan bahan cemoohan oleh tetanggaku.' Bukankah ini sebuah ideologi yang buruk? (Ya, benar.) Ini artinya berpikiran sempit dan bobrok, terlalu mementingkan tubuh fisik! Sebenarnya, tubuh fisik tidaklah berharga: setelah mengalami kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian, tidak ada lagi yang tersisa. Hanya jika manusia telah memperoleh kebenaran semasa hidup, ketika mereka diselamatkan, barulah mereka akan hidup selamanya. Jika engkau belum memperoleh kebenaran, ketika tubuhmu mati dan membusuk, tidak akan ada lagi yang tersisa; betapa pun berbaktinya anak-anakmu kepadamu, engkau tidak akan bisa menikmatinya. Ketika seseorang mati dan anak-anaknya memasukkannya ke dalam peti mati lalu menguburkannya, dapatkah tubuh tua itu merasakan sesuatu? Dapatkah dia merasakan sesuatu? (Tidak.) Dia sama sekali tidak merasakan apa pun. Namun dalam kehidupan, orang-orang sangat mementingkan hal ini, menuntut banyak dari anak-anak mereka dalam hal apakah anak-anak mereka dapat melepaskan kepergian mereka atau tidak. Itu bodoh, bukan? ... jika engkau mengejar kebenaran, sebagai orang tua, yang terpenting dan terutama, engkau harus melepaskan pemikiran serta sudut pandang tradisional yang buruk dan bobrok tentang apakah anak-anak berbakti, merawatmu di hari tua, dan melepaskan kepergianmu dengan penguburan, serta menangani hal ini dengan benar. Jika anak-anakmu benar-benar berbakti kepadamu, terimalah itu dengan benar. Namun, jika anak-anakmu tidak memiliki kondisi, tenaga, atau keinginan untuk berbakti kepadamu, dan ketika engkau makin tua, mereka tidak dapat berada di sisimu untuk merawatmu atau melepas kepergianmu, engkau tidak perlu menuntutnya atau merasa sedih. Semuanya berada di tangan Tuhan. Kelahiran ada waktunya, kematian ada tempatnya, dan Tuhan telah menakdirkan di mana orang akan dilahirkan dan di mana mereka akan mati" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (19)"). Apa yang disingkapkan firman Tuhan persis seperti keadaanku. Aku selalu khawatir tidak ada yang merawatku saat tua atau mendampingiku di saat-saat terakhirku, dan tentang apa yang akan terjadi jika aku meninggal dan tak ada yang menyadarinya, tubuhku membusuk di rumah. Saat memikirkan hal ini, aku menjadi negatif dan lemah, serta hidup dalam penderitaan dan kecemasan. Sebenarnya, waktu kelahiranku, waktu kematianku, dan tempat kematianku, semuanya sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Apakah putriku bisa ada di sana pada akhir hayatku bergantung pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Aku hidup dalam kekhawatiran dan penderitaan karena aku terlalu menyayangi dagingku, dan aku tidak bisa melihat apa sebenarnya arti di balik kematian daging. Tuhan berfirman: "Sebenarnya, tubuh fisik tidaklah berharga: setelah mengalami kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian, tidak ada lagi yang tersisa." Saat mati, daging tidak memiliki kesadaran. Bahkan jika ada orang yang mengurus jenazahmu dan menguburkanmu dalam peti mati, bukankah dagingmu akan tetap membusuk? Jadi, bagaimana jika anak-anakmu ada di sana untuk mengantarmu ke liang lahat? Apakah engkau akan menyadarinya? Namun, aku menganggap hal ini sangat penting. Bukankah ini sangat konyol? Faktanya, jika orang tidak memperoleh kebenaran, maka sekalipun mereka memiliki pemakaman yang megah, jiwa mereka tidak dapat diselamatkan, dan mereka bahkan akan masuk neraka. Tuhan berfirman: "Hanya jika manusia telah memperoleh kebenaran semasa hidup, ketika mereka diselamatkan, barulah mereka akan hidup selamanya." Hanya dengan memperoleh kebenaran, membuang watak rusak Iblis kita, dan melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan dengan baik, barulah kita bisa mendapatkan hidup kekal dan menerima keselamatan, dibawa oleh Tuhan ke tempat tujuan yang indah.

Aku membaca bagian lain dari firman Tuhan, dan mendapatkan sedikit pemahaman tentang kedaulatan Tuhan. Penderitaan dan kecemasanku pun lumayan berkurang. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Seberapa banyak orang tua dan anak-anak mereka ditakdirkan untuk bersama, dan seberapa banyak yang dapat mereka peroleh dari anak-anak mereka, orang tidak percaya menyebutnya 'menerima bantuan' atau 'tidak menerima bantuan'. Kita tidak tahu apa maksudnya. Pada akhirnya, entah orang dapat mengandalkan anak-anak mereka atau tidak, sederhananya, itu sudah ditentukan dari semula dan ditakdirkan oleh Tuhan. Tidak semua hal berjalan tepat sesuai dengan keinginanmu. Tentu saja, semua orang ingin segalanya berjalan dengan baik dan mendapat manfaat dari anak-anak mereka. Namun, mengapa engkau tidak pernah memikirkan apakah engkau ditakdirkan untuk itu atau tidak, apakah itu tertulis dalam takdirmu atau tidak? Berapa lama ikatan antara dirimu dan anak-anakmu akan bertahan, apakah pekerjaan apa pun yang kaulakukan dalam hidup akan ada hubungannya dengan anak-anakmu atau tidak, apakah Tuhan telah mengatur agar anak-anakmu terlibat dalam peristiwa-peristiwa penting dalam hidupmu atau tidak, dan apakah anak-anakmu termasuk di antara mereka yang terlibat ketika engkau mengalami peristiwa besar dalam hidup atau tidak, semua ini bergantung pada takdir Tuhan. Jika Tuhan belum menakdirkannya, setelah engkau membesarkan anak-anakmu hingga dewasa, sekalipun engkau tidak mengusir mereka dari rumah, jika saatnya tiba, mereka akan pergi dengan sendirinya. Ini adalah sesuatu yang harus orang pahami. Jika engkau tidak mampu memahami hal ini, engkau akan selalu berpegang pada keinginan dan tuntutan pribadi, serta menetapkan berbagai aturan dan menerima berbagai ideologi demi kesenangan fisikmu sendiri. Apa yang akan terjadi pada akhirnya? Engkau akan mengetahuinya ketika engkau mati. Engkau telah melakukan banyak hal bodoh dalam hidupmu, dan engkau telah memikirkan banyak hal yang tidak realistis yang tidak sesuai dengan fakta atau takdir Tuhan" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (19)"). Firman Tuhan sangat jelas. Apakah putriku berbakti dan apakah dia bisa merawatku di masa tuaku atau tidak, itu bergantung pada apakah takdirku memang seperti itu. Jika Tuhan tidak menakdirkan putriku untuk merawatku di masa tua, maka seindah apa pun imajinasiku tentang hal itu, semuanya akan sia-sia. Sekalipun putriku berjanji untuk merawatku di masa tua, karena dia bekerja dan tinggal ribuan kilometer jauhnya, dia mungkin tetap tidak bisa berada di sisiku saat aku sakit dan meninggal. Aku tidak bisa memahami hal ini dengan benar, dan hidup dalam kesengsaraan karena putriku mengabaikanku dan tidak ada harapan dia akan merawatku di masa tua. Aku telah membodohi diriku sendiri, dan membuang-buang waktuku untuk hal yang sia-sia. Aku teringat ada seorang wanita tua di desa tetangga kami. Saat usianya delapan puluhan, dia tidak bisa lagi mengurus dirinya sendiri, tetapi tidak satu pun dari ketiga putranya yang merawatnya. Wanita tua itu meninggal karena kelaparan, dan tidak ada orang yang mengantarnya ke peristirahatan terakhir. Aku juga teringat seorang saudari lanjut usia yang putrinya pergi tinggal di luar negeri dan tidak pernah kembali. Sekarang saudari itu dan suaminya sama-sama berusia tujuh puluhan. Setiap kali mereka jatuh sakit, keponakan mereka mengantar mereka ke rumah sakit untuk pemeriksaan, dan mereka masih menjalani kehidupan yang cukup baik. Hidup setiap orang sudah ditakdirkan dan diatur oleh Tuhan. Aku harus memercayakan segala sesuatu tentang diriku kepada Tuhan dan tunduk pada pengaturan-Nya. Aku tidak boleh lagi khawatir tentang masa tuaku.

Aku terus mencari, dan membaca lebih banyak firman Tuhan: "Membesarkan anak itu sendiri merupakan tanggung jawab dan kewajiban manusia. Pada mulanya, itu adalah naluri manusia, kemudian itu menjadi suatu kewajiban dan tanggung jawab. Anak-anak tidak perlu berbakti kepada orang tua mereka atau menafkahi orang tua mereka di masa tua mereka, dan itu bukan berarti seolah-olah orang baru boleh memiliki anak hanya jika mereka berbakti. Sumber dari tujuan ini sendiri tidak murni, sehingga pada akhirnya membuat orang menyuarakan pemikiran dan sudut pandang yang keliru seperti ini: 'Oh, apa pun yang terjadi, jangan membesarkan anak.' Karena tujuannya tidak murni, pemikiran dan sudut pandang yang dihasilkannya juga keliru. Jadi, bukankah semua itu harus dikoreksi dan dilepaskan? (Ya.) Bagaimana seharusnya orang melepaskan dan mengoreksinya? Tujuan murni seperti apa yang harus dimiliki? Pemikiran dan sudut pandang seperti apa yang benar? Dengan kata lain, bagaimana cara yang benar untuk menangani hubungan orang dengan anak-anak mereka? Pertama-tama, membesarkan anak adalah pilihanmu, engkau bersedia melahirkan mereka, dan mereka pasif saat dilahirkan. Selain tugas dan tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk melahirkan keturunan, dan selain takdir Tuhan, bagi mereka yang merupakan orang tua, alasan subjektif dan titik awalnya adalah mereka bersedia melahirkan anak-anak mereka. Jika engkau bersedia untuk melahirkan anak, engkau harus membesarkan dan mengasuh mereka hingga dewasa, sampai mereka menjadi mandiri. Engkau bersedia untuk melahirkan anak, dan engkau telah memetik banyak pelajaran dari membesarkan mereka. Engkau telah memperoleh banyak manfaat. Pertama-tama, engkau telah menikmati saat-saat yang menyenangkan hidup bersama anak-anakmu, dan engkau juga telah menikmati proses membesarkan mereka. Meskipun proses ini ada suka dukanya, sebagian besar dipenuhi dengan kebahagiaan mendampingi anak-anakmu dan didampingi oleh mereka, yang merupakan proses yang diperlukan bagi manusia. Engkau telah menikmati hal-hal ini, dan engkau telah memetik banyak pelajaran dari anak-anakmu, bukankah benar demikian? Anak-anak membawa kebahagiaan serta kebersamaan bagi orang tua mereka, dan orang tualah yang, dengan membayar harga dan mengerahkan waktu serta tenaga mereka, dapat menyaksikan kehidupan kecil ini secara berangsur-angsur bertumbuh menjadi orang dewasa. Dimulai dari kehidupan yang masih kecil dan tidak tahu apa-apa, lambat laun anak-anak mereka belajar bicara, memperoleh kemampuan merangkai kata-kata, belajar dan membedakan berbagai jenis ilmu, bercakap-cakap serta berkomunikasi dengan orang tua mereka, dan melihat permasalahan dari sudut pandang yang setara. Proses seperti inilah yang dijalani orang tua. Bagi mereka, proses ini tidak dapat digantikan oleh peristiwa ataupun peran lainnya. Para orang tua telah menikmati dan memperoleh hal-hal ini dari anak-anak mereka, yang merupakan penghiburan dan upah yang besar bagi mereka" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (19)"). "Untuk sekarang ini, kita tidak akan membahas hal ini dari sudut pandang anak-anak, tetapi membahasnya hanya dari sudut pandang orang tua. Orang tua tidak boleh menuntut agar anak-anak mereka harus berbakti, harus merawat mereka di hari tua, dan harus menanggung beban hidup orang tua mereka di tahun-tahun terakhir. Tidak perlu melakukan hal itu. Di satu sisi, ini adalah sikap yang harus dimiliki orang tua terhadap anak-anak mereka, dan di sisi lain, itu adalah martabat yang orang tua harus miliki. Tentu saja, ada juga aspek yang lebih penting, yaitu prinsip yang harus dipatuhi oleh orang tua sebagai makhluk ciptaan dalam memperlakukan anak-anak mereka. Jika anak-anakmu penuh perhatian, berbakti, dan mau merawatmu, engkau tidak perlu menolak mereka; jika mereka tidak mau melakukannya, engkau tidak perlu berkeluh kesah sepanjang hari, merasa tidak nyaman atau tidak puas dalam hatimu, atau menyimpan dendam terhadap anak-anakmu. Engkau seharusnya memikul tanggung jawab serta menanggung beban hidup dan kelangsungan hidupmu sendiri sebatas kemampuanmu, dan engkau tidak boleh membebankannya kepada orang lain, terutama anak-anakmu. Engkau harus menghadapi kehidupan secara proaktif dan benar tanpa didampingi atau menerima bantuan dari anak-anakmu, dan meskipun engkau jauh dari anak-anakmu, engkau tetap mampu menghadapi sendiri apa pun yang terjadi dalam hidupmu" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (19)"). Firman Tuhan sangat jelas. Merupakan naluri manusia serta tanggung jawab dan kewajiban manusia bagi orang tua untuk membesarkan anak-anak mereka. Orang tua memilih untuk melahirkan anak-anak mereka, dan tidak peduli seberapa besar penderitaan yang harus ditanggung atau harga yang harus mereka bayar untuk membesarkan mereka, memang itulah yang seharusnya mereka lakukan. Namun, aku telah terpengaruh oleh gagasan tradisional bahwa engkau harus "membesarkan anak-anak untuk merawatmu di hari tua," dan menuntut agar putriku merawatku di masa tua. Aku percaya karena aku telah membesarkannya sejak kecil, maka adalah sepenuhnya wajar dan dapat dibenarkan bahwa dia harus merawatku saat aku tua. Pandangan ini tidak sejalan dengan kebenaran. Membesarkan putriku adalah tanggung jawab dan kewajibanku. Itu memang yang seharusnya kulakukan. Namun, aku menggunakan harga yang kubayar untuk membesarkan putriku sebagai alat tawar-menawar agar dia merawatku di masa tua. Saat keinginanku tidak terpenuhi, aku menjadi marah dan sedih. Aku benar-benar terlalu egois dan hina! Sebenarnya, meskipun kami ibu dan anak, di hadapan Tuhan kami sama-sama makhluk ciptaan, dan memiliki status yang setara. Putriku bukan budakku, dan tidak masuk akal bagiku untuk memintanya merawatku di masa tua. Aku sudah menerima apa yang menjadi hakku dari membesarkan putriku. Sejak putriku lahir hingga dia bisa memanggil kami ibu dan ayah, lalu hingga dia tumbuh dewasa, dia membawa banyak sukacita bagi keluarga kami. Dalam proses membesarkan putriku, pemikiranku menjadi matang dan aku memperoleh banyak pengalaman hidup. Inilah upah yang kudapatkan dari membesarkan seorang putri. Aku tidak boleh marah jika kelak putriku tidak mau merawatku. Aku harus bertanggung jawab atas hidupku sendiri sampai batas kemampuanku, dan tidak bergantung pada putriku, melainkan tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan. Saat memahami hal ini, hatiku terasa jauh lebih lega.

Kemudian, aku membaca satu bagian firman Tuhan, yang mencerahkan hatiku dan memberiku jalan untuk diikuti. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Ketika engkau merasakan penderitaan dan kesedihan yang paling mendalam, siapa yang sesungguhnya mampu menghibur hatimu? Siapa yang sesungguhnya mampu menyelesaikan kesulitanmu? (Tuhan.) Hanya Tuhan yang benar-benar mampu menyelesaikan kesulitan manusia. Ketika engkau sakit, dan anak-anakmu berada di sisimu, melayanimu, dan merawatmu, engkau akan merasa cukup senang, tetapi, seiring waktu anak-anakmu akan merasa jenuh dan tak seorang pun mau merawatmu. Pada saat seperti itu, engkau akan merasa benar-benar kesepian! Engkau berpikir tidak ada teman di sisimu sekarang, tetapi benarkah demikian? Sebenarnya tidak, karena Tuhan selalu ada di sisimu! Tuhan tidak meninggalkan manusia. Dia adalah Pribadi yang dapat mereka andalkan dan tempat mereka berlindung setiap saat, juga satu-satunya Pribadi kepercayaan mereka. Jadi, apa pun kesulitan dan penderitaan yang menimpamu, dan apa pun hal-hal yang membuatmu merasa dirugikan atau hal-hal yang membuatmu menjadi negatif dan lemah, engkau harus segera datang ke hadapan Tuhan dan berdoa, dan firman-Nya akan memberimu penghiburan, serta menyelesaikan kesulitanmu dan berbagai masalahmu. Di lingkungan seperti ini, kesepianmu akan menjadi kondisi dasar untuk mengalami firman Tuhan dan memperoleh kebenaran" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Tuhan adalah sandaran manusia setiap saat. Saat kita menderita, lemah, atau menghadapi kesulitan dan kesengsaraan, Tuhanlah yang selalu menyertai kita. Tuhan menggunakan firman-Nya untuk mencerahkan dan memimpin kita, serta menyelesaikan masalah kita, membantu kita melewati masa-masa sulit. Aku menderita vertigo sejak muda, dan penyakit ini telah menyiksaku selama lebih dari 30 tahun. Setiap kali penyakit itu kambuh, aku harus berbaring selama dua hari. Sekalipun putriku berbakti, dia hanya bisa membantuku menyiapkan makan dan minum; dia tidak akan bisa mengatasi rasa sakitku, apalagi menggantikanku menderita. Setelah aku mulai percaya kepada Tuhan, penyakitku sembuh tanpa kusadari, dan aku tidak lagi disiksa oleh penyakit itu. Tuhanlah yang menyingkirkan penyakitku. Sudah hampir 20 tahun aku meninggalkan rumah untuk melaksanakan tugasku, dan tubuhku selalu sehat. Pada tahun 2022, bahkan saat pandemi sedang parah-parahnya dan banyak orang terinfeksi, aku tidak pernah tertular Covid. Saat ini, aku tidak menderita penyakit serius apa pun, dan meskipun sesekali aku mengalami penyakit biasa, aku bisa sembuh hanya dengan menggunakan obat tradisional. Aku mengalami bagaimana Tuhan telah melindungiku selama bertahun-tahun ini, dan bahwa hanya Tuhanlah sandaranku. Saat memahami hal ini, aku tidak lagi merasa menderita dan cemas tentang tidak memiliki orang yang akan merawatku di masa tua serta mengantarkanku ke peristirahatan terakhir, hatiku pun terasa jauh lebih lega. Aku mengabdikan diriku sepenuhnya untuk memberitakan Injil, dan berangsur-angsur membuahkan hasil. Syukur kepada Tuhan atas pimpinan-Nya!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Hubungi kami via WhatsApp