Apakah Mengejar Berkat Sesuai dengan Kehendak Tuhan?
Oleh Saudara Claude Inggris Pada tahun 2018, aku mendapat keberuntungan menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman. Aku...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Aku bertanggung jawab atas pekerjaan penyiraman di gereja. Karena makin banyak orang menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa di akhir zaman, gereja kami dibagi menjadi tiga gereja yang berbeda, dan aku ditugaskan untuk memimpin salah satunya. Setelah pembagian gereja, ternyata banyak petobat baru yang tidak rutin menghadiri pertemuan ditugaskan ke gerejaku. Pikirku, karena kami kekurangan staf penyiraman, mendukung semua orang yang tidak rutin menghadiri pertemuan akan membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Jika mereka mengundurkan diri karena tidak disirami dengan baik, saudara-saudari mungkin akan menganggapku tidak mampu dan berkualitas buruk. Itu akan sangat memalukan. Lalu, aku mungkin akan dipangkas atau diminta untuk bertanggung jawab atas kepergian mereka. Jika aku bukan penanggung jawab, melainkan hanya sebagai staf penyiraman, aku tak perlu memikul tanggung jawab itu. Aku merasakan banyak tekanan, seperti menanggung beban besar. Hatiku pun terasa berat. Pemimpin ingin kami membina lebih banyak orang untuk mengatasi kurangnya staf penyiraman. Namun, melihat banyaknya petobat baru yang jarang menghadiri pertemuan, aku sudah merasa terbebani oleh kesulitan itu. Kupikir aku tak akan mampu melatih orang dalam waktu dekat. Aku pun merasa kecil hati. Setelah itu, aku menjadi sangat pasif dalam pekerjaanku. Aku tidak melatih atau menyirami dengan baik para petobat baru yang seharusnya kulatih dan kusirami, sehingga merugikan pekerjaan kami. Merasa sangat sedih dan sedikit bersalah, aku berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, tingkat pertumbuhanku kurang. Melihat banyaknya kesulitan dan masalah di gereja baru ini, aku ingin pergi. Aku tahu itu bukan maksud-Mu. Mohon bimbing aku untuk merenungkan diri dan mengubah keadaanku yang salah agar aku bisa melakukan pekerjaan ini."
Aku membaca suatu bagian firman Tuhan di saat teduhku. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Ada orang-orang yang takut memikul tanggung jawab saat melaksanakan tugas mereka. Jika gereja memberi mereka tugas, pertama-tama mereka akan mempertimbangkan apakah pekerjaan itu menuntut mereka untuk memikul tanggung jawab atau tidak, dan jika ya, mereka tidak akan menerima tugas itu. Syarat mereka untuk melaksanakan tugas adalah, pertama, tugas itu harus ringan; kedua, tugas itu tidak menyibukkan atau melelahkan; dan ketiga, apa pun yang mereka lakukan, mereka tidak harus memikul tanggung jawab apa pun. Hanya tugas semacam itulah yang mau mereka lakukan. Orang macam apakah ini? Bukankah ini orang yang licin dan licik? Mereka tidak mau memikul tanggung jawab sekecil apa pun. Mereka bahkan takut dedaunan akan menghancurkan tengkorak mereka saat berguguran dari pohon. Tugas apa yang mampu dilaksanakan oleh orang semacam ini? Apa gunanya mereka berada di rumah Tuhan? Pekerjaan rumah Tuhan ada kaitannya dengan pekerjaan melawan Iblis dan penyebaran Injil Kerajaan. Tugas apa yang tidak memerlukan tanggung jawab? Apakah menurutmu menjadi seorang pemimpin mengandung tanggung jawab? Bukankah tanggung jawab mereka lebih besar, dan bukankah mereka harus memikul tanggung jawab yang lebih besar? Entah engkau menyebarkan Injil, bersaksi, membuat video, dan sebagainya—pekerjaan apa pun yang kaulakukan—selama itu berkaitan dengan prinsip kebenaran, itu mengandung tanggung jawab. Jika engkau melaksanakan tugasmu tanpa prinsip, itu akan memengaruhi pekerjaan rumah Tuhan, dan jika engkau takut memikul tanggung jawab, berarti engkau tidak mampu melaksanakan tugas apa pun. Apakah orang yang takut memikul tanggung jawab dalam pelaksanaan tugasnya adalah pengecut, atau apakah ada masalah dengan watak mereka? Engkau harus bisa membedakannya. Sebenarnya ini bukan masalah kepengecutan. Jika orang itu mengejar kekayaan atau melakukan sesuatu untuk kepentingannya sendiri, mengapa dia bisa begitu berani? Dia mau mengambil risiko apa pun. Namun, ketika dia melakukan sesuatu untuk gereja, untuk rumah Tuhan, dia sama sekali tak mau mengambil risiko. Orang-orang semacam itu egois dan tercela, yang paling curang dari semuanya. Siapa pun yang tidak memikul tanggung jawab dalam pelaksanaan tugasnya berarti tidak sedikit pun tulus kepada Tuhan, apalagi memiliki kesetiaan. Orang macam apa yang berani memikul tanggung jawab? Orang macam apa yang memiliki keberanian untuk menanggung beban yang berat? Orang yang bertindak sebagai pemimpin dan maju dengan berani pada saat paling genting dalam pekerjaan rumah Tuhan, yang tidak takut memikul tanggung jawab yang berat dan menanggung kesukaran besar, ketika mereka melihat pekerjaan yang paling penting dan krusial. Seperti itulah orang yang setia kepada Tuhan, prajurit Kristus yang baik. Apakah dalam hal ini semua orang yang takut memikul tanggung jawab dalam tugas mereka bersikap seperti itu karena mereka tidak memahami kebenaran? Tidak; itu adalah masalah dalam kemanusiaan mereka. Mereka tidak memiliki rasa keadilan atau tanggung jawab, mereka adalah orang-orang yang egois dan tercela, bukan orang-orang yang percaya kepada Tuhan dengan hati yang tulus, dan mereka tidak menerima kebenaran sedikit pun. Karena alasan inilah, mereka tidak dapat diselamatkan. Orang-orang yang percaya kepada Tuhan harus banyak membayar harga untuk memperoleh kebenaran, dan mereka akan menemui banyak rintangan ketika menerapkan kebenaran. Mereka harus meninggalkan sesuatu, meninggalkan keinginan daging mereka dan menanggung sedikit penderitaan. Hanya dengan cara demikian, mereka akan mampu menerapkan kebenaran. Jadi, dapatkah orang yang takut memikul tanggung jawab menerapkan kebenaran? Mereka pasti tidak mampu menerapkan kebenaran, apalagi memperolehnya. Mereka takut menerapkan kebenaran, takut menimbulkan kerugian bagi kepentingan mereka; mereka takut dihina, difitnah, dan dikritik, dan mereka tidak berani menerapkan kebenaran. Akibatnya, mereka tidak mampu memperolehnya, dan seberapa pun lamanya mereka percaya kepada Tuhan, mereka tidak dapat memperoleh keselamatan-Nya" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Delapan (Bagian Satu)). Apa yang disingkapkan dalam firman Tuhan bagaikan tamparan bagiku. Tuhan berkata bahwa mereka yang takut mengemban tanggung jawab dalam tugas adalah yang paling egois, hina, dan licik. Mereka tak bisa menerapkan kebenaran dan tak akan mungkin bisa memperoleh keselamatan. Aku bertindak seperti itu. Saat melihat banyaknya petobat baru yang tidak rutin menghadiri pertemuan dan sedikit orang yang bisa dilatih, aku tidak memikirkan cara untuk memperhatikan maksud Tuhan, membina para kandidat yang cakap dan menyirami orang percaya baru dengan baik agar mereka bisa segera mengakar di jalan yang benar. Aku menganggap mereka beban. Aku memikirkan banyaknya waktu dan tenaga yang diperlukan untuk mendukung mereka, dan orang lain akan memandang rendah akan diriku jika aku tidak mengerjakannya dengan baik. Aku bahkan akan dipangkas dan diminta untuk bertanggung jawab jika masalahnya serius. Ini seperti pekerjaan berat yang mungkin tak membuahkan hasil. Aku pun merasa menentang. Meski memaksakan diri untuk melakukannya, aku bersikap pasif. Karena aku tidak bertanggung jawab, orang-orang yang seharusnya dilatih akhirnya tidak dilatih, dan sebagian lainnya tak menghadiri pertemuan dengan rutin. Injil Tuhan di akhir zaman kini tengah berkembang pesat, dan makin banyak orang yang berpaling kepada Tuhan. Tuhan bermaksud agar para petobat baru segera disirami dan didukung dengan baik, tetapi aku hanya memikirkan kepentinganku sendiri, tidak memikirkan maksud Tuhan. Aku pun tak mempertimbangkan jalan masuk kehidupan petobat baru. Aku sangat egois dan membuat Tuhan sangat kecewa! Di gereja-gereja baru lainnya, kulihat orang lain bisa menegakkan pekerjaan gereja tanpa memikirkan keuntungan atau kerugian pribadi. Mereka berusaha yang terbaik untuk menyirami para petobat baru tak peduli betapa sulitnya itu. Mereka adalah orang percaya sejati yang setia pada tugas mereka. Aku merasa malu dan hina. Aku tak boleh lagi memikirkan kepentinganku sendiri dan menunda pekerjaan gereja. Aku harus memikul tanggung jawab ini dan melakukan yang terbaik untuk menyirami para petobat baru dengan baik. Setelah itu, aku mulai aktif bekerja sama dan mengerahkan upaya untuk menyirami beberapa orang yang bisa dibina. Setelah memahami maksud Tuhan, mereka pun menjadi aktif dalam tugas mereka. Kami melakukan pekerjaan dan mendukung petobat baru bersama-sama. Setelah beberapa waktu, cukup banyak petobat menghadiri pertemuan dengan rutin. Aku sangat bahagia dan bersyukur kepada Tuhan.
Namun, tak lama kemudian, aku mengalami situasi yang sama lagi. Suatu hari, pemimpin memberitahuku, "Gereja Chenguang baru saja didirikan. Beberapa orang percaya baru tidak menghadiri pertemuan dengan teratur dan mereka kekurangan staf penyiraman yang baik. Pekerjaan berjalan lambat. Kau saja yang bertanggung jawab atas gereja itu." Saat pemimpin mengatakan ini, aku menyadari bahwa ada maksud Tuhan di balik situasi ini. Terakhir kali gereja dibagi, aku takut mengambil tanggung jawab, sehingga pekerjaan gereja tertunda. Kali ini aku harus tunduk dan melaksanakan tugasku dengan benar. Namun, saat melihat lagi keadaan Gereja Chenguang saat ini, aku merasa bimbang. Gereja yang kupimpin baru mulai membaik dan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Memimpin gereja lain akan butuh banyak waktu dan tenaga. Jika aku tak bisa mendukung Gereja Chenguang dengan memadai dan tak bisa mengurus pekerjaan di gerejaku saat ini, apa anggapan orang lain tentang diriku? Jika hanya memimpin satu gereja, aku tak akan terlalu sibuk, dan aku bisa memfokuskan upayaku untuk melakukan pekerjaan dengan baik. Semua orang pun akan memandangku dengan kagum, dan mungkin aku bisa mendapat promosi. Oleh karena itu, aku merasa akan kewalahan jika harus memimpin Gereja Chenguang. Bagaimanapun juga, itu tidak akan bermanfaat bagiku, dan aku tak mau menerimanya. Namun, jika aku menolaknya dan tak ada yang menerimanya, pekerjaan gereja akan terkena dampaknya. Hatiku jadi bimbang. Pemimpin melihat seperti apa keadaanku dan membagikan kutipan firman Tuhan: "Jika engkau cukup mahir di bidang tertentu dan telah bekerja di bidang tersebut lebih lama daripada kebanyakan orang, engkau harus ditugaskan untuk melakukan pekerjaan yang lebih sulit. Engkau harus menerima bahwa tugas ini adalah dari Tuhan dan tunduk. Jangan pilih-pilih dan mengeluh sembari berkata, 'Mengapa aku ditindas? Mereka memberikan tugas-tugas yang mudah kepada orang lain dan memberiku tugas-tugas yang sulit. Apakah mereka sedang berusaha mempersulit hidupku?' 'Berusaha mempersulit hidupmu'? Apa maksud perkataanmu itu? Pengaturan kerja disesuaikan untuk masing-masing orang; mereka yang lebih mampu mengerjakan lebih banyak. Jika engkau telah banyak belajar dan telah banyak diberi oleh Tuhan, sudah seharusnya engkau diberi beban yang lebih berat—bukan untuk mempersulit hidupmu, melainkan karena tugas itulah yang paling cocok untukmu. Itu adalah tugasmu, jadi jangan berusaha pilih-pilih, atau berkata tidak, atau berusaha untuk meninggalkan tugasmu. Mengapa menurutmu tugas itu sulit? Sebenarnya, jika engkau melaksanakannya dengan segenap hatimu, engkau akan sepenuhnya mampu melaksanakan tugas tersebut. Engkau menganggapnya sulit, menganggap dirimu diperlakukan dengan berat sebelah, menganggap dirimu sengaja ditindas—itu adalah perwujudan watak rusakmu. Itu berarti engkau menolak tugasmu, tidak menerima bahwa tugas ini berasal dari Tuhan. Itu berarti engkau tidak menerapkan kebenaran. Ketika engkau pilih-pilih dalam pelaksanaan tugasmu, melakukan apa pun yang ringan dan mudah, hanya melakukan apa yang membuatmu terlihat baik, itu adalah watak rusak Iblis dalam dirimu. Engkau tidak mau menerima tugasmu atau tunduk membuktikan bahwa engkau masih memberontak terhadap Tuhan, bahwa engkau sedang menentang, menolak, dan menghindari-Nya. Ini adalah watak yang rusak" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Bagian ini menyentuh hatiku. Pemimpin memintaku untuk memimpin gereja lain bukan untuk mempersulitku. Aku sudah cukup lama melakukan pekerjaan penyiraman, jadi seharusnya aku mampu melakukannya jika aku berkorban sedikit lebih banyak. Namun, aku terlalu egois, hanya memikirkan kepentinganku sendiri dan tak mau berkorban lebih banyak. Aku juga takut akan terlihat buruk jika tak bekerja dengan baik, jadi aku tak mau menerimanya, tetapi justru menolaknya. Aku tidak tunduk sama sekali. Gereja memercayakan kepadaku tugas penting seperti menyirami orang percaya baru; itu adalah kasih karunia dan peninggian dari Tuhan. Aku harus tunduk padanya tanpa syarat dan melakukan yang terbaik. Itulah yang akan dilakukan orang yang memiliki hati nurani dan nalar. Dengan mengandalkan Tuhan dan benar-benar bekerja sama dengan-Nya, aku tahu bahwa Tuhan akan membimbingku untuk melakukan pekerjaan dengan baik. Lalu aku berdoa kepada Tuhan dalam hati, siap untuk melepas kekhawatiranku dan mengambil tanggung jawab itu.
Lalu, aku merenung dan mencari. Mengapa aku selalu ingin menolak tugas dan tak pernah memikul beban? Aku membaca firman Tuhan: "Apa pun yang mereka lakukan, para antikristus terlebih dahulu memikirkan kepentingan mereka sendiri, dan mereka hanya bertindak setelah mereka memikirkan semuanya; mereka tidak menaati kebenaran dengan sungguh-sungguh, dengan tulus, tunduk dengan mutlak pada kebenaran tanpa berkompromi, tetapi melakukannya secara selektif dan bersyarat. Lalu apa syaratnya? Syaratnya status dan reputasi mereka harus terlindungi, dan tidak boleh sedikit pun dirugikan. Hanya setelah syarat ini dipenuhi, barulah mereka akan memutuskan dan memilih apa yang harus dilakukan. Artinya, antikristus memikirkan dengan serius bagaimana cara memperlakukan prinsip-prinsip kebenaran, amanat Tuhan, dan pekerjaan rumah Tuhan, atau bagaimana menangani hal-hal yang mereka hadapi. Mereka tidak memikirkan bagaimana cara memenuhi maksud-maksud Tuhan, bagaimana menjaga agar tidak merugikan kepentingan rumah Tuhan, bagaimana memuaskan Tuhan, atau bagaimana memberi manfaat bagi saudara-saudari; semua ini bukanlah hal-hal yang mereka pikirkan. Apa yang antikristus pikirkan? Mereka memikirkan apakah status dan reputasi mereka sendiri akan terpengaruh, dan apakah gengsi mereka akan menurun atau tidak. Jika melakukan sesuatu sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran bermanfaat bagi pekerjaan gereja dan saudara-saudari, tetapi akan menyebabkan reputasi mereka sendiri dirugikan dan menyebabkan banyak orang menyadari tingkat pertumbuhan mereka yang sebenarnya serta mengetahui esensi natur seperti apa yang mereka miliki, mereka pasti tidak akan bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Jika melakukan beberapa pekerjaan nyata akan membuat lebih banyak orang mengagumi, menghormati, dan memuja mereka, memungkinkan mereka memperoleh martabat yang lebih besar atau memungkinkan perkataan mereka menjadi berotoritas dan membuat lebih banyak orang tunduk kepada mereka, maka mereka akan memilih untuk melakukannya dengan cara itu; jika tidak, mereka tidak akan pernah memilih untuk mengabaikan kepentingan mereka sendiri karena memikirkan kepentingan rumah Tuhan atau saudara-saudari. Inilah esensi dari natur antikristus. Bukankah ini egois dan hina?" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Sembilan (Bagian Tiga)). "Sebelum manusia mengalami pekerjaan Tuhan dan memahami kebenaran, natur Iblislah yang mengendalikan dan menguasai mereka dari dalam. Secara spesifik, apa yang terkandung dalam natur tersebut? Misalnya, mengapa engkau egois? Mengapa engkau mempertahankan posisimu? Mengapa engkau memiliki perasaan yang begitu kuat? Mengapa engkau menikmati hal-hal yang tidak benar? Mengapa engkau menyukai kejahatan? Apakah dasar kesukaanmu akan hal-hal seperti itu? Dari manakah asal hal-hal ini? Mengapa engkau begitu senang menerimanya? Saat ini, engkau semua telah memahami bahwa alasan utama di balik semua hal ini adalah karena racun Iblis ada di dalam diri manusia. Jadi, apakah racun Iblis itu? Bagaimana racun Iblis dapat disingkapkan? Misalnya, jika engkau bertanya, 'Bagaimana seharusnya orang hidup? Untuk apa seharusnya orang hidup?' Orang akan menjawab: 'Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya.' Satu frasa ini mengungkapkan sumber penyebab masalahnya. Falsafah dan logika Iblis telah menjadi kehidupan manusia. Apa pun yang orang kejar, mereka melakukannya demi diri mereka sendiri—oleh karena itu, mereka hidup hanya demi diri mereka sendiri. 'Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya'—ini adalah falsafah hidup manusia dan ini juga mewakili natur manusia. Perkataan ini telah menjadi natur manusia yang rusak dan perkataan ini adalah gambaran sebenarnya dari natur Iblis manusia yang rusak. Natur Iblis ini telah menjadi dasar bagi keberadaan manusia yang rusak. Selama ribuan tahun, manusia yang rusak telah hidup berdasarkan racun Iblis ini, hingga hari ini" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Cara Menempuh Jalan Petrus"). Aku menemukan jawabannya di firman Tuhan. Alasan utama aku tak mau memikul beban berat adalah karena aku hidup berdasarkan watak antikristus, bertindak egois dan licik. Semua hal yang kulakukan hanya demi kepentinganku, asalkan kepentingan pribadiku tidak dirugikan. Aku tidak memikirkan maksud Tuhan atau menjaga pekerjaan gereja. Saat melihat banyak orang percaya baru di gereja baruku tidak menghadiri pertemuan dengan rutin, aku takut efektivitas tugasku akan terpengaruh, sehingga akan merusak reputasiku. Saat pemimpin memintaku untuk mengawasi Gereja Chenguang, aku tahu jika orang percaya petobat baru di sana tak segera disirami, mereka bisa dikacaukan oleh para pendeta agama dan akhirnya keluar. Namun, aku tak mau menerima pekerjaan penyiraman di sana. Aku menimbang untung ruginya bagi diriku, hanya memikirkan cara menyelesaikan pekerjaan yang sudah menjadi tanggung jawabku. Dengan begitu, aku tak akan merasa terlalu stres dan tak perlu terlalu menderita. Jika aku mencapai sesuatu, pada akhirnya orang-orang lain akan berkenan kepadaku dan meninggalkan kesan yang baik. Aku hidup berdasarkan racun Iblis, "Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya." Saat menghadapi sesuatu, aku terlebih dahulu memikirkan apakah itu akan berdampak baik bagi reputasiku. Jika kepentinganku akan dirugikan, sekalipun itu akan berdampak baik bagi pekerjaan gereja, aku tak akan mau melakukannya. Dalam hatiku, aku akan menentang dan menolak, sama sekali tidak tulus atau tunduk kepada Tuhan. Mereka yang baru menerima pekerjaan Tuhan di akhir zaman belum mengetahui kebenaran. Mereka rentan terkena gangguan pendeta yang bisa menyesatkan dan membuat mereka pergi, jadi gereja menugaskanku untuk menyirami dan mendukung mereka. Dihadapkan pada tugas yang begitu penting, aku tidak menerima tanggung jawab itu dan melaksanakan tugasku, tetapi takut reputasiku akan rusak jika aku tak melakukan pekerjaan dengan baik. Watak semacam itu sama seperti antikristus: egois, hina, dan mementingkan diri sendiri. Aku sangat menyesal dan merasa bersalah. Aku merasa benar-benar berutang budi kepada Tuhan dan ingin bertobat kepada-Nya.
Setelah itu, aku membaca lebih banyak firman Tuhan: "Standar apa yang digunakan untuk menilai apakah tindakan dan perbuatan seseorang itu baik atau jahat? Lihatlah apakah mereka, dalam pemikiran, penyingkapan, dan tindakan mereka, memiliki kesaksian dalam hal menerapkan kebenaran dan hidup dalam kenyataan kebenaran atau tidak. Jika engkau tidak memiliki kenyataan ini atau tidak hidup di dalamnya, maka tidak diragukan lagi, engkau adalah seorang pelaku kejahatan. Bagaimana Tuhan memandang pelaku kejahatan? Bagi Tuhan, pemikiran dan tindakan lahiriahmu tidak menjadi kesaksian bagi-Nya, juga tidak mempermalukan atau mengalahkan Iblis; sebaliknya, pemikiran dan tindakan lahiriahmu mempermalukan Dia, dan penuh dengan tanda-tanda yang memperlihatkan bahwa engkau tidak menghormati Dia. Engkau tidak bersaksi bagi Tuhan, engkau tidak mengorbankan dirimu untuk Tuhan, engkau juga tidak memenuhi tanggung jawab dan kewajibanmu kepada Tuhan; sebaliknya, engkau bertindak demi kepentinganmu sendiri. Apakah sebenarnya arti 'demi kepentinganmu sendiri'? Tepatnya, itu berarti demi Iblis. Karena itu, pada akhirnya, Tuhan akan berkata, 'Pergilah daripada-Ku, engkau yang melakukan kejahatan.' Di mata Tuhan, tindakanmu tidak akan dianggap perbuatan baik, tetapi akan dianggap perbuatan jahat. Mereka bukan saja gagal mendapatkan perkenan Tuhan, mereka akan dikutuk. Apa yang orang harapkan untuk diperoleh dari kepercayaan seperti itu kepada Tuhan? Bukankah kepercayaan seperti itu pada akhirnya akan sia-sia?" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Kebebasan dan Kemerdekaan Hanya Dapat Diperoleh dengan Menyingkirkan Watak yang Rusak"). Firman Tuhan sangatlah jelas. Tuhan tidak melihat seberapa banyak penderitaan kita, tetapi melihat isi hati kita dan apa yang kita perlihatkan saat melaksanakan tugas, dan apakah kita memiliki kesaksian tentang menerapkan kebenaran. Jika motif orang dalam melaksanakan tugas bukanlah untuk memuaskan Tuhan, dan jika mereka tidak menerapkan kebenaran, tak peduli berapa banyak yang mereka berikan, Tuhan menganggap mereka melakukan kejahatan dan melawan-Nya. Jika mengingat kembali pola pikirku pada saat itu, aku selalu memikirkan dan membuat rencana dengan mempertimbangkan kepentinganku sendiri, dan ingin menghindari tugasku. Meski dengan enggan menerimanya, aku tidak bertanggung jawab. Aku tak melatih mereka yang seharusnya kulatih, dan sebagian orang percaya baru tidak menghadiri pertemuan dengan rutin karena aku tidak menyirami mereka tepat waktu. Motif dan perilakuku menjijikkan bagi Tuhan. Di mata Tuhan, aku melakukan kejahatan dan menentang-Nya. Sudah bertahun-tahun aku menjadi orang percaya dan menikmati begitu banyak kebenaran yang Tuhan berikan, tetapi tak pernah aku berpikir untuk membalas kasih Tuhan. Saat pekerjaan gereja sangat membutuhkan dukungan, aku tak mau memikul beban berat. Aku tidak melaksanakan tugasku dan memuaskan Tuhan. Aku sungguh tak punya hati nurani atau kemanusiaan. Aku berdoa dalam hati, "Ya Tuhan, dalam melaksanakan tugas, aku telah mengejar nama dan status tanpa melindungi pekerjaan gereja sama sekali. Aku sangat egois. Aku belum melaksanakan tugas dengan baik, dan aku sangat berutang budi kepada-Mu. Tuhan, terima kasih telah memberiku kesempatan lagi. Aku ingin bertobat, memikul beban ini, dan berusaha yang terbaik dalam tugasku demi menebus pelanggaranku di masa lalu."
Lalu, aku membaca bagian firman Tuhan yang memberiku jalan penerapan. Tuhan berfirman: "Bagi semua orang yang melaksanakan tugas, sedalam atau sedangkal apa pun pemahaman mereka akan kebenaran, cara paling sederhana untuk masuk ke dalam kenyataan kebenaran adalah dengan memikirkan kepentingan rumah Tuhan dalam segala sesuatu, dan melepaskan keinginan mereka yang egois, niat pribadi, motif, kesombongan, dan status mereka. Prioritaskan kepentingan rumah Tuhan—inilah setidaknya yang harus orang lakukan. Jika seseorang yang melaksanakan tugas bahkan tak mampu berbuat sebanyak ini, lalu bagaimana mungkin dia bisa disebut melaksanakan tugasnya? Itu bukanlah melaksanakan tugas. Engkau harus terlebih dahulu memikirkan kepentingan rumah Tuhan, memikirkan maksud-maksud Tuhan, dan memikirkan pekerjaan gereja. Menempatkan hal-hal ini sebagai yang pertama dan terutama; baru setelah itulah engkau dapat memikirkan tentang stabilitas statusmu atau tentang bagaimana orang lain memandangmu. Bukankah engkau semua akan merasa bahwa akan menjadi sedikit lebih mudah apabila engkau membaginya menjadi kedua langkah ini dan melakukan beberapa kompromi? Jika engkau menerapkan hal ini selama beberapa waktu, engkau akan mulai merasa bahwa memuaskan Tuhan bukanlah hal yang sesulit itu. Selain itu, engkau harus mampu memenuhi tanggung jawabmu, melaksanakan kewajiban dan tugasmu, serta mengesampingkan keinginan, niat dan motifmu yang egois; engkau harus terlebih dahulu memikirkan maksud-maksud Tuhan, kepentingan rumah Tuhan, pekerjaan gereja, dan tugas yang harus kaulaksanakan. Setelah mengalami hal ini selama beberapa waktu, engkau akan merasa bahwa ini adalah cara berperilaku yang baik. Ini berarti menjalani hidup dengan jujur dan tulus, serta tidak menjadi orang yang hina dan jahat; ini berarti hidup secara adil dan terhormat, bukan hidup dengan tercela, hina dan tidak berguna. Engkau akan merasa bahwa inilah cara orang seharusnya bertindak dan citra diri yang seharusnya mereka jalani. Lambat laun, keinginanmu untuk memuaskan kepentinganmu sendiri akan berkurang" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Kebebasan dan Kemerdekaan Hanya Dapat Diperoleh dengan Menyingkirkan Watak yang Rusak"). Dari firman Tuhan, aku menemukan jalan penerapan, yaitu melepaskan kepentinganku sendiri dan mengutamakan kepentingan gereja saat terjadi sesuatu. Aku ingin melakukan apa yang firman Tuhan katakan, tak lagi memikirkan apakah kepentinganku sendiri akan dirugikan atau tidak, dan tak lagi memikirkan anggapan orang lain terhadapku. Aku harus memenuhi tanggung jawabku dan mengambil pekerjaan ini. Aku juga menyadari bahwa aku tak pernah mau melakukan pekerjaan yang menantang, takut akan dipandang rendah, atau dipangkas jika tidak melakukannya dengan baik. Aku tak memahami maksud baik Tuhan dalam menyelamatkan manusia: Memberiku pekerjaan yang lebih sulit adalah kasih karunia Tuhan. Tuhan menggunakan tantangan ini untuk membantuku belajar mengandalkan-Nya dan mencari kebenaran untuk mengatasi masalah. Dalam melaksanakan tugasku, memikul beban berat, menghadapi kesulitan, dan dipangkas atau disingkapkan, semua itu adalah hal baik. Itu memberiku kesempatan untuk melihat kesalahan dan kekuranganku dengan lebih jelas agar aku bisa lebih fokus dalam mencari dan memperlengkapi diri dengan kebenaran untuk menutupi kelemahanku. Itu bermanfaat bagi pemahamanku untuk memahami kebenaran dan berkembang dalam hidup. Itu adalah kasih Tuhan. Setelah memahami maksud Tuhan, sikapku terhadap tugas berubah. Aku menyadari bahwa untuk melaksanakan pekerjaan di dua gereja, aku tak bisa hanya mengandalkan kemampuanku sendiri. Apa yang bisa kulakukan itu terbatas, jadi aku harus fokus melatih orang-orang. Setelah lebih banyak saudara-saudari mengetahui maksud Tuhan, mereka bisa melaksanakan tugas. Itu akan membuat pekerjaan lebih mudah. Lalu, aku bisa memfokuskan tenagaku pada tugas-tugas penting. Jadi, aku berdiskusi dengan staf penyiraman dan menentukan orang-orang yang bisa dilatih, lalu bekerja untuk mengadakan pertemuan dan persekutuan tentang firman Tuhan untuk mengatasi kesulitan dan masalah mereka yang sebenarnya. Aku terkejut saat beberapa saudara-saudari memahami pekerjaan Tuhan, memperoleh iman, dan ingin melaksanakan tugas. Saat kami bekerja sama, aku menjadi jauh lebih efisien dalam tugasku, dan beberapa proyek selesai dalam waktu singkat. Mereka juga telah berlatih dan lebih bersemangat dalam melaksanakan tugas. Setelah disirami dan didukung selama beberapa waktu, banyak orang percaya baru telah memahami pekerjaan Tuhan, membangun landasan di jalan yang benar, dan secara aktif menghadiri pertemuan. Hatiku sungguh tersentuh melihat semua ini. Setelah aku melepaskan kepentinganku sendiri, memikul beban, dan berusaha melaksanakan tugas dengan semaksimal mungkin, tak kusangka, aku telah membuat kemajuan dan hasil dari tugasku juga jauh lebih baik daripada sebelumnya. Kini, aku tak lagi takut untuk mengambil tanggung jawab. Aku ingin menerapkan kebenaran dan melaksanakan tugasku demi memuaskan Tuhan.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Oleh Saudara Claude Inggris Pada tahun 2018, aku mendapat keberuntungan menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman. Aku...
Tahun 2012, aku ditangkap polisi saat sedang menginjil. Polisi menginterogasiku dengan kasar, menanyakan siapa saja pemimpin gereja dan di...
Oleh Saudari Jiang Ping, TiongkokSebelumnya, saat aku percaya kepada Tuhan Yesus, aku sering membaca Alkitab dan menyebarkan Injil Tuhan....
Oleh Saudari Lu Yang, TiongkokSejauh yang kuingat, orang tuaku tak pernah akur. Mereka selalu bertengkar, dan terkadang ayah akan memukul...