Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (8)

Bab Delapan: Segera Melaporkan dan Mencari Tahu Cara untuk Menyelesaikan Kebingungan dan Kesulitan yang Dihadapi dalam Pekerjaan (Bagian Dua)

Dalam pertemuan terakhir, kita mempersekutukan bab delapan tentang tanggung jawab pemimpin dan pekerja: "Segera melaporkan dan mencari tahu cara untuk menyelesaikan kebingungan dan kesulitan yang dihadapi dalam pekerjaan." Meskipun bab delapan hanya terdiri dari satu kalimat, dan pada dasarnya hanya menuntut satu hal dari pemimpin dan pekerja terkait tanggung jawabnya, yang sangat sederhana, kita menghabiskan satu pertemuan untuk mempersekutukan topik ini. Aspek apa sajakah dari topik tersebut yang kita persekutukan secara khusus terakhir kali? Apa tanggung jawab utama dari pemimpin dan pekerja yang terkait dengan bab ini? (Tanggung jawabnya adalah mereka harus berkumpul dan bersekutu ketika menghadapi kebingungan dan kesulitan. Jika setelah mempersekutukannya masih belum memperoleh kejelasan, mereka harus segera mencari cara untuk menyelesaikannya serta melaporkannya kepada Yang di Atas.) Tanggung jawab utama pemimpin dan pekerja yang terkait dengan bab ini adalah berpartisipasi dalam pekerjaan, dan melibatkan diri dalam berbagai bidang pekerjaan nyata agar dapat menemukan berbagai masalah yang dihadapi dalam pekerjaan, serta menyelesaikannya tepat waktu. Jika berbagai cara telah dicoba, tetapi masalah tersebut tetap tidak dapat sepenuhnya diselesaikan, dan masalah tersebut masih ada serta menjadi kebingungan dan kesulitan, pemimpin dan pekerja hendaknya tidak membiarkan kebingungan dan kesulitan tersebut menumpuk atau mengesampingkannya serta mengabaikannya, tetapi harus segera memikirkan cara untuk menyelesaikannya. Cara terbaik untuk menyelesaikannya, tentu saja adalah dengan mencari solusi dan bersekutu bersama saudara-saudari serta bersama pemimpin dan pekerja di berbagai jenjang untuk mencapai penyelesaian masalah tersebut. Jika masalah tidak dapat dipecahkan, pemimpin dan pekerja hendaknya tidak berusaha membuat masalah besar tampak seperti masalah kecil, kemudian membuat masalah kecil tersebut tampak tidak bermasalah, atau mengesampingkannya serta mengabaikannya begitu saja, tetapi harus segera melaporkannya kepada Yang di Atas dan mencari solusi dari Yang di Atas agar masalah tersebut dapat diselesaikan. Dengan demikian, pekerjaan akan berjalan dengan lancar, tanpa kesulitan dan hambatan.

Pemimpin dan Pekerja Harus Segera Melaporkan dan Menyelesaikan Kebingungan serta Kesulitan yang Dihadapi dalam Pekerjaan

I. Definisi "Segera"

Dalam bab delapan tentang tanggung jawab pemimpin dan pekerja disebutkan bahwa kebingungan dan kesulitan yang dihadapi dalam pekerjaan harus segera dilaporkan—ini sangat penting. Jika suatu masalah ditemukan hari ini, tetapi penyelesaian masalah itu tertunda selama delapan atau sepuluh hari, atau bahkan selama enam bulan atau setahun, apakah itu dapat disebut "segera"? (Tidak.) Jadi, apa yang dimaksud dengan "segera"? (Itu berarti menangani masalah secepatnya, tanpa penundaan, dan langsung dilakukan.) Bukankah ini terdengar agak berlebihan? Jika kita menggunakan kosakata yang berkaitan dengan waktu untuk menjelaskannya, menyelesaikan masalah secepatnya, tanpa penundaan, dan pada saat itu juga adalah definisi dari "segera". Namun, jika melihat makna harfiah dari kata-kata tersebut, hal ini sulit dicapai oleh manusia dan tidak realistis. Jadi, bagaimana kita seharusnya mendefinisikan kata "segera" dengan akurat? Jika masalahnya tidak besar tetapi masih menjadi kendala dalam pekerjaan, dan jika itu dapat diselesaikan dalam beberapa jam, itu harus diselesaikan dalam beberapa jam—apakah ini dapat dianggap "segera"? (Ya.) Misalkan masalahnya agak rumit dan sulit, dan dapat diselesaikan dalam dua atau tiga hari, tetapi seseorang berusaha mencari kebenaran, mencari informasi lebih banyak, dan berusaha menyelesaikannya dalam satu hari—bukankah itu akan lebih bermanfaat bagi pekerjaan? Katakanlah ada masalah yang tidak dapat dipahami sekarang, dan itu memerlukan penyelidikan serta penelitian, yang membutuhkan waktu. Masalah khusus ini akan memakan waktu paling lama tiga hari untuk diselesaikan. Jika lebih dari tiga hari, akan timbul kecurigaan bahwa penyelesaiannya sengaja ditunda, dan itu berarti waktu telah terbuang. Jadi, masalah tersebut harus dilaporkan, dicari solusinya, dan diselesaikan dalam waktu tiga hari. Inilah yang dimaksud dengan "segera". Jika penyelesaian masalah memerlukan komunikasi dan penyelidikan tingkat demi tingkat, serta pengumpulan informasi secara bertahap, dan seterusnya—meskipun berbagai proses tersebut sangat rumit—tetap tidak boleh berlarut-larut hingga satu bulan. Misalkan masalah tersebut dapat diselesaikan dalam waktu satu minggu jika pemimpin dan pekerja bergegas, bekerja lebih cepat, juga memilih serta memakai orang-orang yang tepat, dalam situasi ini, "segera" berarti membatasi penyelesaian masalah dalam waktu satu minggu. Mengambil waktu lebih dari satu minggu untuk menyelesaikan masalah tidaklah tepat—itu bukanlah segera. Ini adalah batas waktu untuk menangani masalah-masalah yang relatif rumit. Berdasarkan apakah skala waktu tersebut? Ini ditentukan berdasarkan ukuran masalah dan tingkat kesulitannya. Akan tetapi, sebagian besar masalah, seperti masalah yang terkait dengan keterampilan profesional atau perihal prinsip yang tidak dipahami orang-orang, dapat diselesaikan dengan beberapa kalimat—berapa lama waktu penyelesaian masalah ini harus dibatasi agar dapat dianggap "segera"? Jika kita mendefinisikan "segera" berdasarkan ukuran masalah dan tingkat kesulitannya, sebagian besar permasalahan dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari setengah hari, dengan sebagian kecil di antaranya mungkin memerlukan waktu paling lama satu minggu untuk diselesaikan; jika muncul masalah baru, itu masalah lain. Oleh karena itu, jika kita mendefinisikan "segera" sebagai secepatnya, tanpa penundaan, dan saat ini juga, hal tersebut tampak seperti tuntutan yang berlebihan bagi orang-orang jika dilihat dari makna harfiah dari kata-kata itu. Namun, jika dilihat dari batas waktu, sebagian besar masalah dapat diselesaikan dalam setengah hari atau paling lama satu hari jika orang-orang segera melaporkannya dan mencari cara untuk menyelesaikannya. Apakah ini dapat dianggap sulit dalam hal waktu? (Tidak.) Jika tidak sulit dari segi waktu, hal ini seharusnya menjadi persyaratan yang mudah dipenuhi oleh pemimpin dan pekerja untuk segera melaporkan dan mencari tahu cara untuk menyelesaikan kebingungan dan kesulitan yang dihadapi dalam pekerjaan. Kebingungan serta kesulitan ini tidak boleh terus-menerus ada dan tidak terselesaikan, apalagi dibiarkan menumpuk dalam pekerjaan untuk jangka waktu yang lama. Sekarang, engkau semua seharusnya sudah mengetahui konsep waktu dari "segera"—ini adalah masalah tentang bagaimana pemimpin dan pekerja mengukur skala waktu ketika menangani kebingungan dan kesulitan yang dihadapi dalam pekerjaan. Singkatnya, definisi paling akurat dari "segera" adalah bertindak secepat mungkin—yaitu, jika suatu masalah dapat dilaporkan, dicari solusinya, dan diselesaikan dalam waktu setengah hari, itu harus diselesaikan dalam setengah hari, dan jika dapat diselesaikan dalam waktu satu hari, itu juga harus diselesaikan dalam satu hari—dan berusaha untuk tidak menyebabkan penundaan dan tidak membiarkan pekerjaan terpengaruh. Inilah tanggung jawab pemimpin dan pekerja. Ketika menghadapi atau menemukan masalah-masalah dalam pekerjaan, pemimpin dan pekerja harus segera bersekutu dan menyelesaikannya. Jika mereka tidak mampu menyelesaikannya, mereka harus melaporkannya dan mencari cara untuk menyelesaikannya dari Yang di Atas secepat mungkin, bukannya mengesampingkan, mengabaikan, dan tidak menanggapinya dengan serius. Ketika permasalahan muncul, pemimpin dan pekerja harus segera menyelesaikannya, bukan menunda-nunda, menunggu, atau bergantung pada orang lain—pemimpin dan pekerja hendaklah tidak memperlihatkan perwujudan-perwujudan tersebut.

II. Konsekuensi Tidak Segera Menyelesaikan Masalah

Prinsip utama dalam menyelesaikan masalah adalah persoalan tersebut harus segera diselesaikan. Mengapa harus segera diselesaikan? Jika banyak masalah muncul dan kemudian tidak dapat segera diselesaikan, di satu sisi, orang-orang akan terjebak dalam keadaan bingung dan tidak tahu bagaimana harus bertindak, dan di sisi lain, jika orang-orang terus bekerja dengan cara yang salah, lalu nantinya harus mengulang dan memperbaiki pekerjaan yang telah mereka lakukan, apa akibatnya? Sejumlah besar tenaga kerja, sumber daya finansial, dan sumber daya materiel akan terbuang dan terkuras—ini adalah kerugian. Jika masalah muncul dalam pekerjaan, dan pemimpin serta pekerja buta dan tidak dapat menemukan serta menyelesaikan masalah tersebut dengan segera, banyak orang akan terus bekerja berdasarkan cara yang salah. Ketika orang-orang menemukan masalah ini dan ingin menyelesaikan serta memperbaikinya, masalah tersebut telah menyebabkan kerugian bagi pekerjaan gereja. Bukankah semua tenaga kerja, sumber daya finansial, dan sumber daya materiel tersebut menjadi sia-sia? Apakah kerugian seperti itu ada hubungannya dengan pemimpin dan pekerja yang tidak segera menyelesaikan masalah? (Ya.) Jika pemimpin dan pekerja mampu menindaklanjuti, mengawasi, memeriksa, dan memberikan instruksi untuk pekerjaan, mereka pasti akan mampu menemukan dan menyelesaikan masalah dengan segera. Jika pemimpin dan pekerja bersikap asal-asalan, tidak menindaklanjuti, mengawasi, memeriksa, dan memberikan arahan dalam pekerjaan, mereka sangat pasif dalam hal ini, menunggu begitu banyak masalah sehingga tidak terkendali, dan barulah mereka berpikir untuk menyelesaikannya, untuk melaporkannya kepada Yang di Atas dan mencari solusi dari Yang di Atas, apakah pemimpin dan pekerja tersebut telah memenuhi tanggung jawabnya? (Tidak.) Ini adalah pengabaian tanggung jawab yang serius; pemimpin dan pekerja semacam itu bukan hanya gagal menyelesaikan masalah, melainkan juga menyebabkan kerugian bagi tenaga kerja dan sumber daya materiel rumah Tuhan, serta menciptakan hambatan yang sangat besar bagi pekerjaan gereja. Akibat dari pengabaian tanggung jawab, kelalaian, kebebalan, kebodohan dari para pemimpin dan pekerja, serta ketidakmampuan mereka untuk segera menemukan dan menyelesaikan banyak masalah yang muncul dalam pekerjaan, bahkan tidak dapat segera melaporkannya kepada Yang di Atas dan mencari solusi dari Yang di Atas, banyak tugas yang harus dikerjakan ulang, dan setelah diulang, lebih banyak masalah muncul karena ketidakmampuan menemukan prinsip-prinsipnya. Ketika situasi ini terus berlanjut, tanggal penyelesaian pekerjaan menjadi sangat tertunda, dan pekerjaan yang seharusnya selesai dalam satu bulan, memakan waktu tiga bulan untuk diselesaikan, dan pekerjaan yang seharusnya selesai dalam tiga bulan, memakan waktu delapan atau sembilan bulan—hal ini berkaitan langsung dengan pemimpin dan pekerja yang tidak melakukan pekerjaan nyata. Kegagalan pemimpin dan pekerja dalam memikul tanggung jawab atas pekerjaannya—yaitu, mereka tidak dapat segera menemukan dan memperbaiki masalah yang muncul—berbagai bidang pekerjaan terus gagal mencapai hasil dan tetap berada dalam keadaan lumpuh. Lalu, siapakah yang secara langsung bertanggung jawab atas masalah ini? (Pemimpin dan pekerja.) Oleh karena itu, sangat penting bagi pemimpin dan pekerja untuk melakukan pekerjaan nyata, dan juga sangat penting bagi mereka untuk menemukan masalah ketika mereka melakukan pekerjaan nyata. Terkadang, pemimpin dan pekerja akan menemukan masalah, tetapi tidak tahu bagaimana menyelesaikannya. Namun, mereka dapat segera melaporkannya kepada Yang di Atas dan mencari solusi dari Yang di Atas untuk menyelesaikannya, itu bahkan lebih penting. Banyak pemimpin dan pekerja berpikir, "Kami punya cara sendiri dalam bekerja. Yang di Atas hanya perlu memberi tahu kami prinsip-prinsipnya, dan kami akan menangani sendiri pekerjaan nyata yang tersisa. Jika kami menghadapi kesulitan, cukup bagi kami untuk bersekutu dan berdoa bersama di bawah." Adapun intensitas dalam menyelesaikan masalah, atau apakah solusi mereka menyeluruh atau efektif, mereka sama sekali tidak peduli atau bertanya tentang hal-hal tersebut. Sikap tidak bertanggung jawab inilah yang mereka miliki ketika bekerja, dan akhirnya hal ini menyebabkan semua bagian pekerjaan di gereja tidak dapat berjalan lancar, dan mengandung masalah serius yang tidak terselesaikan. Hal ini merupakan konsekuensi yang ditimbulkan oleh kualitas pemimpin dan pekerja yang sangat buruk, atau karena mereka tidak bertanggung jawab dan tidak melakukan pekerjaan nyata.

Menelaah Beberapa Tipe Pemimpin Palsu Berdasarkan Tanggung Jawab Kedelapan

I. Pemimpin Palsu yang Memiliki Kerohanian Palsu

Dalam pertemuan terakhir, kita bersekutu tentang apa itu kebingungan dan kesulitan, dan mendefinisikan masalah-masalah tertentu yang harus segera dilaporkan dan solusinya harus segera dicari. Pada dasarnya, ada dua jenis masalah utama. Jenis yang pertama adalah masalah dalam pekerjaan yang membuat orang tidak yakin atau tidak dapat memahami sepenuhnya. Mengenai masalah-masalah tersebut, orang-orang merasa sangat sulit untuk memahami prinsip-prinsipnya. Meskipun mereka mungkin memahami prinsip-prinsip tersebut dalam istilah doktrin, mereka tidak tahu bagaimana melakukan atau menerapkannya. Masalah-masalah ini berkaitan dengan kebingungan. Jenis yang kedua adalah kesulitan dan masalah nyata yang orang tidak tahu bagaimana menyelesaikannya. Jenis ini agak lebih serius dibandingkan dengan kebingungan, dan itu adalah masalah yang juga harus dilaporkan dan dicari solusinya oleh pemimpin dan pekerja. Terakhir kali, kita terutama bersekutu tentang tanggung jawab pemimpin dan pekerja, yaitu untuk melaporkan dan mencari cara untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam pekerjaan, dan kita bersekutu dari sudut pandang positif tentang hal-hal tertentu yang harus dilakukan dan diperhatikan oleh pemimpin dan pekerja. Hari ini, kita akan menganalisis perwujudan apa yang dimiliki pemimpin palsu berkenaan dengan bab delapan, dan apakah mereka melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh pemimpin dan memenuhi tanggung jawab yang seharusnya diemban oleh pemimpin. Terkait penyelesaian masalah yang dihadapi dalam pekerjaan, pemimpin palsu tentunya tidak kompeten dalam hal ini; mereka gagal melakukan aspek pekerjaan ini dan gagal memenuhi tanggung jawab tersebut. Ada tipe pemimpin palsu yang memiliki gagasan tertentu ketika bekerja, dengan berpikir, "Aku tidak terlibat dalam formalitas-formalitas itu ketika bekerja, aku juga tidak memperhatikan hal-hal seperti pengetahuan, pembelajaran, keterampilan, atau dogma. Aku hanya memastikan bahwa aku mempersekutukan kebenaran firman Tuhan dengan jelas di pertemuan-pertemuan, dan itu sudah cukup. Setiap minggu aku mengadakan dua pertemuan untuk kelompok-kelompok kecil, setiap dua minggu aku mengadakan satu pertemuan untuk para pemimpin dan pekerja, dan setiap bulan aku mengadakan pertemuan besar untuk semua saudara-saudari. Itu sudah cukup, aku mengatur semua jenis pertemuan ini dengan baik." Ini adalah dasar dan cara mereka dalam bekerja. Tipe pemimpin dan pekerja seperti ini hanya terus-menerus berlatih dalam berkhotbah, dan mereka mengerahkan banyak upaya untuk membekali diri dengan kata-kata dan doktrin—mereka menyiapkan kerangka, isi, contoh, dan kebenaran untuk dipersekutukan dalam setiap pertemuan, dan mereka juga menyiapkan beberapa rencana untuk menyelesaikan keadaan dan masalah orang-orang tertentu. Mereka beranggapan bahwa sebagai pemimpin atau pekerja, mereka hanya perlu berkhotbah dengan baik, dan itu sudah memenuhi tanggung jawabnya. Mereka beranggapan tidak perlu memikirkan hal-hal lain, seperti apakah cara Injil diberitakan sudah tepat atau belum, atau bagaimana personel gereja ditugaskan, atau apakah personel yang melakukan berbagai jenis pekerjaan profesional kompeten dan memenuhi standar—mereka meyakini bahwa cukup membiarkan para pengawas untuk menanganinya. Oleh karena itu, di mana pun tipe orang seperti ini berada, mereka berfokus pada pertemuan dan berkhotbah, serta apa pun jenis pertemuan yang diadakan, mereka selalu berkhotbah. Di luarnya, mereka terlihat memimpin orang-orang dalam membaca firman Tuhan dan belajar menyanyikan lagu-lagu pujian, dan sesekali mereka berbicara tentang pekerjaan. Tipe orang seperti ini tahu tentang masalah-masalah yang sering dipersekutukan, seperti firman Tuhan mana yang harus digunakan untuk membandingkan dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh berbagai macam orang, juga mengapa orang merasa lemah dan keadaan apa yang telah muncul dalam diri mereka, dan kebenaran-kebenaran firman Tuhan mana yang harus dipersekutukan untuk menyelesaikan hal-hal tersebut. Singkatnya, khotbah-khotbah dan persekutuan mereka membahas banyak aspek kebenaran dan penerapan; ada yang berhubungan dengan pemangkasan, beberapa terkait dengan ujian dan pemurnian, ada yang terkait dengan mendoa-bacakan firman Tuhan, ada lagi yang berkaitan dengan bagaimana mengalami penghakiman dan hajaran, dan seterusnya—mereka dapat mempersekutukan sedikit berbagai aspek kebenaran. Ketika bertemu dengan orang-orang percaya baru, mereka berkhotbah untuk orang-orang percaya baru, dan ketika bertemu dengan orang-orang yang telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, mereka dapat menyampaikan beberapa khotbah tentang jalan masuk kehidupan. Namun, ketika menyangkut pekerjaan yang berkaitan dengan keterampilan profesional, mereka tidak pernah menanyakan pekerjaan itu atau mempelajari hal-hal terkait pekerjaan tersebut, apalagi menindaklanjuti, berpartisipasi, atau mendalami setiap bidang pekerjaan untuk menyelesaikan masalah. Dalam pandangan mereka, dengan berkhotbah, membaca firman Tuhan, dan belajar lagu pujian, mereka sedang melakukan pekerjaan, dan itulah tanggung jawab pemimpin dan pekerja. Selain itu, semua pekerjaan lain dianggap tidak penting, hanya urusan orang lain, dan tidak ada hubungannya dengan mereka. Selama mereka dapat berkhotbah dengan baik, mereka merasa bisa tenang. Apa artinya "merasa tenang"? Artinya, menyelesaikan sebuah pertemuan dianggap sama dengan menyelesaikan pekerjaan mereka, dan ketika tiba waktunya untuk beristirahat, mereka beristirahat. Apa pun masalah yang muncul dalam pekerjaan gereja, mereka mengabaikannya, dan ketika orang-orang mencari mereka untuk menyelesaikan masalah, mereka sangat sulit ditemukan. Sesibuk apa pun dirinya dalam pekerjaan itu, mereka harus tidur siang. Mereka menikmati kenyamanan, sementara orang lain dapat menanggung penderitaan dan membayar harga. Mereka berpikir, "Aku sudah selesai berkhotbah, pertemuan sudah selesai, dan aku sudah menyampaikan semua yang seharusnya kusampaikan kepada engkau semua. Apa lagi yang kauharapkan dariku? Pekerjaanku sudah selesai. Sisanya adalah tugas engkau semua. Aku sudah menyampaikan firman Tuhan kepada engkau semua, jadi bertindaklah berdasarkan prinsip. Adapun masalah yang muncul, itu urusan engkau semua, dan tidak ada hubungannya denganku. Engkau semua harus datang ke hadirat Tuhan sendiri, berdoa, berkumpul, dan bersekutu untuk menyelesaikan masalah. Jangan datang mencari aku." Seusai pertemuan, mereka tidak pernah memberikan kesempatan kepada siapa pun untuk mengajukan pertanyaan, mereka tidak pernah ingin menyelesaikan masalah, apalagi mampu menemukan masalah. Seusai pertemuan, mereka menganggap pekerjaannya sudah selesai, dan mereka tidur, makan, dan bersantai sesuai dengan rutinitasnya. Bukankah mereka pemimpin palsu yang sama sekali tidak melakukan pekerjaan nyata? (Ya, benar.)

Ada beberapa kasus di mana seorang pemimpin atau pekerja telah menjabat selama enam bulan, dan selain dari orang-orang yang dekat dengannya, yang dapat sering melihatnya, sebagian besar saudara-saudari tidak dapat bertemu langsung dengannya. Mereka hanya sering mendengar pemimpin atau pekerja tersebut berkhotbah secara daring, tetapi ketika ada masalah, pemimpin atau pekerja itu tidak menyelesaikannya. Sebagian saudara-saudari mengalami kesulitan dalam tugasnya dan tidak tahu bagaimana menyelesaikannya, dan mereka menjadi sangat cemas sehingga mereka tidak dapat duduk tenang, dan ketika mereka mencari pemimpinnya, mereka tidak dapat menemukannya. Apakah pemimpin seperti ini dapat melakukan pekerjaan dengan baik? Saudara-saudari tidak tahu apa yang membuat pemimpin mereka begitu sibuk setiap hari, ada banyak masalah dan kesulitan yang menumpuk, dan mereka tidak tahu kapan pemimpin mereka akan datang untuk menyelesaikannya. Semua orang dengan penuh harap menunggu pemimpin datang untuk membantu, tetapi selama apa pun mereka menunggu, pemimpin tersebut tidak pernah muncul. Pemimpin dan pekerja semacam itu sangat sulit ditemukan, dan mereka pandai menyembunyikan diri! Mereka berkhotbah dengan sangat baik, dan setelah berkhotbah, mereka berdandan dan berpakaian rapi, serta tidak mengerjakan apa-apa, menyembunyikan diri di suatu tempat untuk menikmati kenyamanan. Meskipun demikian, mereka masih beranggapan bahwa mereka bekerja dengan sangat baik dan benar. Pemimpin tersebut beranggapan bahwa mereka tidak sedang bermalas-malasan, mereka telah berkhotbah, mengadakan pertemuan, mengatakan semua yang seharusnya mereka katakan, dan menjelaskan semua yang seharusnya mereka jelaskan. Pemimpin itu tidak pernah mau terlibat secara mendalam dengan saudara-saudari untuk menindaklanjuti dan berpartisipasi dalam pekerjaan, tidak membantu saudara-saudari dengan melakukan pemeriksaan, dan tidak membantu mereka menangani serta menyelesaikan masalah dengan segera. Jika pemimpin tersebut menemukan masalah yang tidak mampu diselesaikan, mereka juga tidak tahu untuk melaporkannya kepada Yang di Atas dan tidak mencari solusi dari Yang di Atas. Pemimpin itu juga tidak memikirkan dalam benaknya, "Apakah saudara-saudari bisa berpegang pada prinsip-prinsip setelah mendengarkan mereka dalam persekutuan? Ketika mereka menghadapi kesulitan dan kebingungan lagi dalam pekerjaan, apakah mereka mampu berpegang pada kebenaran dan menangani masalah berdasarkan prinsip? Selain itu, siapa yang memainkan peran positif dalam pekerjaan itu? Siapa yang memainkan peran negatif? Apakah ada orang yang menyebabkan kekacauan dan gangguan, atau orang yang merusak sesuatu, atau orang yang tidak masuk akal yang selalu muncul dengan ide-ide buruk? Bagaimana perkembangan pekerjaan akhir-akhir ini?" Pemimpin tersebut sama sekali tidak memedulikan atau menanyakan masalah-masalah seperti itu. Orang-orang semacam ini, di permukaan tampaknya sedang melakukan pekerjaan—mereka berkhotbah, mengadakan pertemuan, menyiapkan draf khotbah dan kerangka khotbah, bahkan menulis laporan pekerjaan. Sebagian pemimpin juga sering menulis khotbah tentang pengalaman hidupnya; mereka mendekam di dalam kamarnya dan menulis selama tiga atau lima hari berturut-turut, bahkan membutuhkan seseorang untuk menuangkan air dan membawakannya makanan, dan tidak ada orang lain yang dapat melihatnya. Jika engkau mengatakan bahwa pemimpin itu tidak melakukan pekerjaan nyata, mereka merasa disalahkan: "Bagaimana aku tidak melakukan pekerjaan nyata? Aku tinggal bersama saudara-saudari dan aku selalu mengadakan pertemuan serta berkhotbah. Aku berkhotbah sampai mulutku kering, bahkan terkadang aku tidak tidur hingga larut malam." Mereka tampak dari luar sangat sibuk dan tidak menganggur—mereka banyak berkhotbah, dan mengerahkan banyak upaya untuk berbicara serta menulis, mereka secara rutin menyampaikan pesan dan surat, serta menyampaikan prinsip-prinsip yang disyaratkan oleh Yang di Atas, dan mereka juga dengan sungguh-sungguh serta sabar bersekutu dan menyoroti pembahasan selama pertemuan—mereka memang banyak berbicara, tetapi tidak pernah berpartisipasi dalam pekerjaan tertentu, tidak pernah menindaklanjuti pekerjaan, dan mereka tidak pernah menghadapi masalah apa pun bersama saudara-saudari. Jika engkau bertanya kepada mereka tentang bagaimana perkembangan pekerjaan tertentu, atau bagaimana hasil pekerjaan tersebut, mereka tidak tahu dan harus bertanya kepada seseorang terlebih dahulu. Jika engkau bertanya kepada mereka apakah masalah sebelumnya sudah diselesaikan, mereka mengatakan bahwa mereka telah mengadakan pertemuan dan mempersekutukan prinsip-prinsip tersebut. Misalkan engkau kemudian bertanya kepada mereka, "Apakah saudara-saudari benar-benar mengerti setelah engkau mempersekutukan prinsip-prinsip kebenaran? Apakah masih mungkin bagi mereka untuk tersesat? Siapa di antara mereka yang memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai prinsip-prinsip tersebut, siapa yang lebih cakap dalam keterampilan profesional, dan siapa yang memiliki kualitas yang lebih baik dan layak untuk dibina?" Pemimpin itu tidak tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut; mereka tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Setiap kali engkau bertanya kepada pemimpin tersebut tentang status pekerjaan, mereka berkata, "Aku telah mempersekutukan prinsip-prinsipnya, aku baru saja selesai mengadakan pertemuan, dan aku baru saja memangkas saudara-saudari. Mereka telah menyatakan komitmennya, dan mereka bertekad untuk melakukan pekerjaan ini dengan baik." Namun, ketika menyangkut bagaimana pekerjaan selanjutnya berlangsung, pemimpin itu tidak tahu. Dapatkah mereka dianggap memenuhi standar sebagai pemimpin dan pekerja? (Tidak.) Cara kerja pemimpin dan pekerja seperti ini adalah hanya membaca firman Tuhan dan mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin kepada orang-orang, tetapi mereka tidak memperhatikan penyelesaian masalah nyata, dan bahkan takut untuk melaporkannya kepada Yang di Atas serta mencari solusi dari Yang di Atas—mereka sangat takut jika Yang di Atas mengetahui situasi mereka yang sebenarnya. Apa natur dari tindakan seperti itu? Orang macam apakah mereka dari segi esensinya? Tepatnya, orang-orang semacam itu adalah tipikal orang Farisi. Perwujudan-perwujudan orang Farisi adalah sebagai berikut: Mereka bertindak dengan cara yang bermartabat, mereka berbicara dan berperilaku dengan cara yang elegan, mereka mendasarkan semua perkataan dan tindakan mereka pada Alkitab, dan ketika mereka bertemu serta berbicara dengan orang-orang, mereka mengutip kata-kata dari Alkitab, dan mereka dapat mengulang begitu banyak ayat dari Alkitab di luar kepala. Pemimpin palsu sama saja dengan orang Farisi—dari segi penampilan, engkau tidak dapat menemukan kesalahan pada dirinya, dan mereka terlihat sangat rohani. Dari segi ucapan, tindakan, dan perilakunya, tidak ada masalah yang bisa ditemukan. Namun, mereka tidak mampu menyelesaikan banyak masalah yang ada dalam pekerjaan gereja. Jadi, apa yang dimaksud dengan "rohani" ini? Lebih tepatnya, ini adalah kerohanian palsu. Orang-orang yang memiliki kerohanian palsu seperti ini membuat dirinya begitu sibuk setiap hari, berpindah-pindah antara kelompok besar dan kecil, mengkhotbahkan firman Tuhan di mana pun mereka berada. Dari luarnya, mereka tampak lebih mencintai firman Tuhan dibandingkan siapa pun, lebih berupaya dalam firman Tuhan daripada siapa pun, lebih berpengetahuan tentang firman Tuhan dibandingkan orang lain, dan mereka dapat menyebutkan nomor halaman dari setiap bagian penting firman Tuhan di luar kepala. Jika seseorang menghadapi masalah, mereka memberikan nomor halaman dari bagian yang relevan dalam firman Tuhan dan menyuruhnya untuk membacanya. Di permukaan, mereka tampaknya menjadikan firman Tuhan sebagai tolok ukur dalam segala hal, memberikan kesaksian tentang firman Tuhan ketika sesuatu terjadi, dan tampaknya tak ada masalah dengan mereka. Namun, ketika engkau mencermati pekerjaan yang mereka lakukan, apakah mereka mampu menemukan dan menyelesaikan masalah ketika mereka mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin tersebut? Jika dengan mempersekutukan kebenaran, mereka menemukan masalah yang belum pernah ditemukan sebelumnya dalam suatu pekerjaan, dan menyelesaikan masalah yang tidak dapat diselesaikan orang lain, ini menunjukkan bahwa mereka memahami firman Tuhan dan mempersekutukan kebenaran dengan jelas. Orang-orang yang memiliki kerohanian palsu justru sebaliknya. Mereka menghafal firman Tuhan dan mengkhotbahkannya di mana-mana, dan pikiran serta hati mereka dipenuhi dengan firman Tuhan. Akan tetapi, sebesar atau sekecil apa pun masalah yang muncul dalam pekerjaan, mereka tidak dapat melihatnya atau menemukannya. Di akhir pertemuan, yang paling mereka takutkan adalah seseorang mengemukakan masalah nyata dan meminta mereka untuk menyelesaikannya, dan itulah sebabnya mereka segera pergi seusai pertemuan dengan berpikir, "Jika seseorang mengajukan pertanyaan kepadaku dan aku tidak dapat menjawabnya, betapa canggung dan memalukannya!" Inilah tingkat pertumbuhan dan keadaan mereka yang sebenarnya.

Pikirkan tentang pemimpin dan pekerja di sekitarmu yang pandai mempersekutukan kebenaran untuk menyelesaikan masalah, dan mampu berintegrasi dengan saudara-saudari serta memulai pekerjaan bersama mereka ketika melaksanakan tugasnya—mereka adalah pemimpin dan pekerja yang mampu memenuhi tanggung jawabnya. Pikirkan tentang pemimpin dan pekerja di sekitarmu yang pandai menemukan dan menyelesaikan masalah, dan lebih banyak fokus dalam melakukan pekerjaan nyata dan memperoleh hasil terbaik dalam pekerjaannya—pemimpin dan pekerja seperti ini adalah orang-orang yang setia yang sangat bertanggung jawab, dan bersungguh-sungguh. Sebaliknya, jika seorang pemimpin sangat pandai dalam mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin, serta berkhotbah dengan cara yang logis dan teratur, dengan poin utama dan isi, serta dengan cara yang terstruktur, dan orang-orang antusias dengan khotbah mereka, tetapi mereka selalu menghindari saudara-saudari, selalu takut saudara-saudari akan mengajukan pertanyaan, dan takut untuk menyelesaikan serta menangani masalah bersama dengan saudara-saudari, pemimpin tersebut memiliki kerohanian palsu, dan mereka adalah pemimpin palsu. Orang-orang seperti apa yang menjadi pemimpin dan pengawas di sekitar engkau semua? Biasanya, selain menghadiri pertemuan dan berkhotbah, apakah mereka menindaklanjuti dan berpartisipasi dalam pekerjaan, apakah mereka mampu sering menemukan dan menyelesaikan masalah dalam pekerjaan, atau apakah mereka menghilang begitu saja setelah muncul di pertemuan? Pemimpin palsu yang kerohaniannya palsu selalu takut tidak punya apa-apa untuk dikhotbahkan, dan tidak punya apa-apa untuk dikatakan ketika mereka bertemu dengan saudara-saudari, jadi mereka berlatih menghafal firman Tuhan dan cara berkhotbah di kamarnya. Mereka meyakini bahwa berkhotbah adalah sesuatu yang dapat dipelajari dan sesuatu yang dapat dicapai melalui hafalan, seperti memperoleh pengetahuan atau mengikuti kuliah, dan mereka harus mewujudkan semangat belajar mati-matian tanpa kenal lelah. Bukankah pemahaman yang dimiliki pemimpin palsu ini menyimpang? (Ya, benar.) Orang-orang semacam ini mengkhotbahkan doktrin dari kedudukan mereka yang tinggi, dan menyibukkan diri dengan beberapa hal yang tidak relevan, dan kemudian berpikir mereka sedang melaksanakan pekerjaan kepemimpinan. Mereka tidak pernah pergi ke tempat kerja untuk mengarahkan pekerjaan atau menyelesaikan masalah, tetapi justru sering duduk di kamarnya, "mengasingkan diri untuk fokus pada pembinaan dirinya," membekali dirinya dengan firman Tuhan—apakah ini perlu? Dalam keadaan seperti apa pemimpin dan pekerja dapat mengesampingkan pekerjaan gereja dan saudara-saudari untuk sementara waktu, lalu membekali dirinya dengan kebenaran? Ketika pekerjaan tidak lagi menyita waktu, semua masalah yang harus diselesaikan telah terselesaikan, semua hal yang memerlukan perhatian dan prinsip-prinsip yang harus dijelaskan telah dijelaskan, saudara-saudari tidak memiliki pertanyaan atau kesulitan, juga tidak ada yang mengganggu dan mengacaukan, serta pekerjaan dapat berjalan dengan lancar tanpa hambatan, maka pemimpin dan pekerja dapat membaca firman Tuhan dan membekali dirinya dengan kebenaran—hanya ini yang disebut melakukan pekerjaan nyata. Pemimpin palsu tidak bekerja seperti ini; mereka selalu fokus untuk menonjolkan diri, dan hanya melakukan pekerjaan yang sangat kentara, yang dapat dilihat orang lain untuk dipamerkan. Jika mereka dapat menemukan pencerahan baru ketika membaca firman Tuhan atau mendengarkan khotbah, mereka merasa telah memperoleh sesuatu, mereka memiliki kenyataan kebenaran, dan kemudian mereka bergegas mencari kesempatan untuk berkhotbah kepada orang lain. Mereka mengkhotbahkan doktrin secara sistematis, logis, dan sangat teratur, dengan poin utama dan isi, serta dengan cara yang lebih kuat dan mendalam daripada pidato seorang selebritas atau kuliah akademis, dan mereka merasa cukup puas dengan hal tersebut. Namun, di dalam hati mereka bertanya, "Apa yang akan kukhotbahkan selanjutnya setelah khotbah ini selesai? Aku tidak punya hal yang lain." Lalu, mereka pun bergegas pergi dan "mengasingkan diri untuk fokus pada pembinaan dirinya" lagi, mencari doktrin yang mendalam. Mereka tidak pernah terlihat di tempat pekerjaan gereja, dan ketika orang-orang mengalami kesulitan dan menunggunya untuk menyelesaikan, pemimpin palsu ini tidak dapat ditemukan di mana pun. Bukankah pemimpin palsu ini merasa gelisah dan tidak percaya diri? Pemimpin palsu tersebut tidak mampu menyelesaikan masalah nyata, tetapi tetap ingin berkhotbah yang muluk-muluk untuk memamerkan diri. Orang-orang semacam ini tidak punya rasa malu.

Semua pemimpin palsu mampu mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin, mereka semua memiliki kerohanian yang palsu, mereka tidak mampu melakukan pekerjaan nyata apa pun, dan mereka tidak memahami kebenaran meskipun telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun—dapat dikatakan bahwa mereka tidak memiliki pemahaman rohani. Mereka mengira menjadi pemimpin gereja berarti mereka hanya perlu mengkhotbahkan beberapa kata dan doktrin, meneriakkan beberapa slogan, dan menjelaskan sedikit firman Tuhan, dan kemudian orang-orang akan memahami kebenaran. Mereka tidak tahu apa artinya melakukan pekerjaan, mereka tidak tahu apa sebenarnya tanggung jawab para pemimpin dan pekerja, mereka tidak tahu mengapa sebenarnya rumah Tuhan memilih seseorang untuk menjadi pemimpin atau pekerja, atau masalah apa sebenarnya yang ingin diselesaikan. Jadi, seperti apa pun cara rumah Tuhan menyampaikan persekutuan bahwa para pemimpin dan pekerja harus menindaklanjuti pekerjaan, memeriksa pekerjaan, dan mengawasi pekerjaan, bahwa mereka harus dengan segera menemukan dan menyelesaikan masalah dalam pekerjaan, dan sebagainya, mereka sama sekali tidak menerimanya dan tidak memahaminya. Mereka tidak mampu mencapai atau memenuhi tuntutan yang ditetapkan rumah Tuhan bagi para pemimpin dan pekerja, dan mereka tidak mampu memahami masalah yang berkaitan dengan keterampilan profesional yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas, serta masalah prinsip untuk memilih pengawas, dan sebagainya, dan sekalipun mereka tahu tentang masalah ini, mereka tetap tidak dapat mengatasinya. Oleh karena itu, di bawah kepemimpinan para pemimpin palsu seperti itu, segala jenis masalah yang muncul dalam pekerjaan gereja tidak dapat diselesaikan. Bukan saja masalah yang berkaitan dengan keterampilan profesional yang dihadapi umat pilihan Tuhan ketika melaksanakan tugas mereka, tetapi juga kesulitan dalam jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan, semua itu tidak dapat diselesaikan untuk waktu yang lama, dan ketika beberapa pemimpin dan pekerja atau pengawas berbagai bagian pekerjaan tidak mampu melakukan pekerjaan nyata, mereka tidak segera diberhentikan atau dipindahkan, dan sebagainya. Tak satu pun dari masalah ini diselesaikan dengan segera, dan akibatnya efisiensi berbagai bidang pekerjaan di gereja terus menurun, dan efektivitas kerja menjadi makin memburuk. Dalam hal para personel, mereka yang agak berbakat dan fasih berbicara menjadi pemimpin dan pekerja, sedangkan mereka yang mencintai kebenaran, yang mampu memusatkan seluruh perhatian mereka pada pekerjaan, dan bekerja tanpa lelah tanpa mengeluh, tidak dipromosikan dan tidak dibina, serta diperlakukan seperti orang yang berjerih payah, dan berbagai personel teknis yang memiliki kelebihan tertentu tidak dimanfaatkan dengan semestinya. Selain itu, ada orang-orang yang melakukan tugas mereka dengan sungguh-sungguh tidak menerima perbekalan hidup, sehingga mereka tenggelam ke dalam kenegatifan dan kelemahan. Terlebih dari itu, sebanyak apa pun kejahatan yang dilakukan antikristus dan orang-orang jahat, sepertinya para pemimpin palsu tidak melihatnya. Jika seseorang menyingkapkan orang jahat atau antikristus, pemimpin palsu bahkan akan berkata kepadanya bahwa dia seharusnya memperlakukan orang itu dengan kasih dan memberinya kesempatan untuk bertobat. Dengan berbuat seperti itu, mereka membiarkan orang jahat dan antikristus melakukan kejahatan dan menyebabkan gangguan di gereja, dan ini menyebabkan penundaan yang lama dalam mengeluarkan atau mengusir orang-orang jahat, para pengikut yang bukan orang percaya, dan antikristus ini, dan mereka dibiarkan terus melakukan kejahatan di gereja dan mengganggu pekerjaan gereja. Para pemimpin palsu tidak mampu menangani dan menyelesaikan semua masalah ini; mereka tidak mampu memperlakukan orang secara adil atau mengatur pekerjaan dengan cara yang masuk akal, tetapi sebaliknya mereka bertindak secara serampangan, dan hanya melakukan beberapa pekerjaan yang tidak berguna, sehingga mereka menimbulkan kekisruhan dan kekacauan dalam pekerjaan gereja. Seperti apa pun cara rumah Tuhan mempersekutukan kebenaran atau seperti apa pun rumah Tuhan menekankan prinsip-prinsip yang harus dipatuhi ketika melaksanakan pekerjaan gereja—yakni membatasi mereka yang harus dibatasi dan mengeluarkan mereka yang harus dikeluarkan dari antara berbagai jenis pelaku kejahatan dan pengikut yang bukan orang percaya, serta mempromosikan dan membina orang-orang dengan kualitas dan kemampuan memahami yang baik, dan orang-orang yang mampu mengejar kebenaran, yang seharusnya dipromosikan dan dibina—meskipun hal-hal ini dipersekutukan berkali-kali, para pemimpin palsu tidak mengerti atau tidak memahaminya dan terus-menerus berpegang teguh pada pandangan kerohanian palsu mereka serta pendekatan "penuh kasih" mereka. Para pemimpin palsu yakin bahwa di bawah bimbingan mereka yang sungguh-sungguh dan sabar, semua tipe orang menjalankan peran mereka masing-masing, dengan tertib, tanpa kekacauan, dan semua orang yang memiliki iman yang cukup besar, bersedia melaksanakan tugas mereka, tidak takut masuk penjara dan menghadapi bahaya, dan semua orang memiliki tekad untuk menanggung penderitaan dan tidak mau menjadi Yudas. Mereka yakin bahwa memiliki suasana yang baik dalam kehidupan bergereja berarti mereka sedang melakukan pekerjaan dengan baik. Sekalipun peristiwa orang-orang jahat menyebabkan gangguan, atau para pengikut yang bukan orang percaya menyebarkan kesesatan dan kekeliruan muncul di gereja, mereka tidak menganggap hal-hal ini sebagai masalah, dan mereka merasa tidak perlu untuk menyelesaikannya. Terhadap orang yang kepadanya mereka percayakan pekerjaan, yang bertindak ceroboh berdasarkan keinginan mereka sendiri dan mengganggu pekerjaan penginjilan, para pemimpin palsu jauh lebih buta. Mereka berkata, "Aku telah menjelaskan prinsip-prinsip pekerjaan yang seharusnya kujelaskan, dan aku telah berulang kali memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan. Jika ada masalah lagi yang muncul, itu tidak ada hubungannya denganku." Namun, mereka tidak tahu apakah orang itu adalah orang yang tepat, mereka tidak memedulikannya, dan mereka tidak tahu apakah hal yang mereka katakan ketika menjelaskan dan memberi tahu orang itu tentang apa yang harus dilakukan dapat mencapai hasil yang positif atau tidak, atau konsekuensi apa yang akan ditimbulkannya. Setiap kali pemimpin palsu mengadakan pertemuan, mereka mengucapkan kata-kata dan doktrin yang tak ada habisnya, tetapi ternyata mereka tidak mampu menyelesaikan masalah apa pun. Namun, mereka tetap yakin bahwa mereka sedang melakukan pekerjaan yang besar, mereka tetap merasa puas akan diri mereka sendiri dan mengira bahwa mereka luar biasa. Sebenarnya, kata-kata dan doktrin yang mereka ucapkan hanya dapat mengelabui orang dungu yang tidak mengerti apa pun, orang bingung yang berkualitas buruk, serta orang yang bodoh. Setelah orang-orang ini mendengar kata-kata tersebut, mereka menjadi bingung dan yakin bahwa apa yang dikatakan pemimpin palsu itu sangat benar, bahwa yang dikatakan pemimpin palsu tersebut tidak ada yang salah. Pemimpin palsu hanya dapat memuaskan orang-orang yang bingung ini dan pada dasarnya tidak mampu menyelesaikan masalah nyata. Tentu saja, pemimpin palsu bahkan lebih tidak mampu menangani masalah yang berkaitan dengan keterampilan profesional, dan pengetahuan—mereka sama sekali tidak berdaya dalam hal-hal ini. Pekerjaan tulis-menulis di rumah Tuhan, misalnya. Ini adalah pekerjaan yang paling memusingkan para pemimpin palsu. Mereka tidak dapat mengidentifikasi dengan pasti orang mana yang memiliki pemahaman rohani, kualitas yang baik, dan yang sesuai untuk melakukan pekerjaan tulis-menulis, dan mereka menganggap siapa pun yang mengenakan kacamata dan berpendidikan tinggi memiliki kualitas dan pemahaman rohani yang baik, jadi mereka mengatur agar orang-orang itu yang melakukannya, berkata kepada mereka, "Kalian semua berbakat dalam melakukan pekerjaan tulis-menulis. Aku tidak mengerti pekerjaan ini, jadi pekerjaan ini bergantung pada kalian. Rumah Tuhan tidak menuntut hal lain dari kalian, selain bahwa kalian harus menggunakan kelebihan kalian, tidak menahan apa pun, dan menyumbangkan semua yang telah kalian pelajari. Kalian harus tahu bahwa kalian harus bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan karena telah mengangkat kalian." Setelah pemimpin palsu itu mengucapkan banyak perkataan yang tidak efektif dan dangkal ini, mereka merasa bahwa pekerjaan itu telah diatur, dan bahwa mereka telah melakukan semua yang perlu mereka lakukan. Mereka tidak tahu apakah orang-orang yang telah mereka atur untuk melakukan pekerjaan ini sesuai atau tidak, mereka juga tidak tahu apa kekurangan orang-orang ini dalam hal pengetahuan profesional, atau bagaimana mereka harus membantu orang-orang ini untuk mengatasinya. Mereka tidak tahu bagaimana cara memandang dan membedakan orang, mereka tidak memahami masalah profesional, dan mereka juga tidak memahami pengetahuan yang berkaitan dengan tulis-menulis—mereka sama sekali tidak tahu tentang hal-hal ini. Mereka berkata bahwa mereka tidak mengerti atau memahami hal-hal ini, tetapi dalam hatinya, mereka berpikir, "Bukankah kalian sedikit lebih berpendidikan dan berpengetahuan lebih luas daripadaku? Meskipun aku tidak dapat membimbing kalian dalam pekerjaan ini, aku lebih rohani daripada kalian, aku lebih ahli dalam berkhotbah daripada kalian, dan aku memahami firman Tuhan lebih baik daripada kalian. Akulah yang memimpin kalian, akulah atasan kalian. Akulah yang mengatur kalian, dan kalian harus melakukan apa yang kukatakan." Pemimpin palsu menganggap diri mereka unggul, tetapi mereka tidak mampu memberikan saran yang bermanfaat mengenai jenis pekerjaan apa pun yang berkaitan dengan keterampilan profesional, dan mereka juga tidak mampu memberikan bimbingan apa pun. Paling-paling, mereka mampu mengatur personel dengan baik; mereka tidak mampu melakukan pekerjaan selanjutnya. Mereka tidak berusaha untuk mempelajari pengetahuan profesional, dan mereka tidak menindaklanjuti pekerjaan tersebut. Semua pemimpin palsu adalah orang-orang yang memiliki kerohanian palsu; yang dapat mereka lakukan hanyalah mengkhotbahkan beberapa kata dan doktrin dan kemudian mengira bahwa mereka memahami kebenaran dan selalu pamer di hadapan umat pilihan Tuhan. Di setiap pertemuan, mereka berkhotbah selama beberapa jam, dan ternyata mereka sama sekali tidak mampu menyelesaikan masalah apa pun. Mereka sama sekali tidak mengerti tentang masalah yang berkaitan dengan pengetahuan profesional dalam tugas orang-orang; mereka jelas adalah orang awam, tetapi mereka berpura-pura rohani, mengarahkan pekerjaan para profesional—bagaimana mereka dapat bekerja dengan baik dengan cara seperti ini? Pemimpin palsu yang tidak berusaha untuk belajar pengetahuan profesional dan tidak mampu melakukan pekerjaan nyata apa pun telah membuat orang-orang merasa jijik, dan selain itu, mereka berpura-pura sebagai orang yang rohani dan memamerkan perkataan rohani mereka, yang sangat tidak bernalar! Ini tidak ada bedanya dengan orang Farisi. Bagi orang Farisi, hal yang paling tidak bernalar adalah bahwa Tuhan membenci mereka, tetapi mereka sama sekali tidak menyadari hal ini dan tetap menganggap diri mereka sangat baik dan sangat rohani. Pemimpin palsu tidak memiliki kesadaran diri; jelaslah bahwa mereka tidak mampu melakukan pekerjaan nyata apa pun, tetapi mereka berpura-pura rohani, mereka menjadi orang Farisi yang munafik. Merekalah tepatnya orang-orang yang dibenci dan ditolak serta disingkirkan oleh Tuhan.

Apa ciri utama pemimpin palsu yang berpura-pura sebagai orang yang rohani? Cirinya adalah mereka pandai berkhotbah. "Khotbah-khotbah" ini bukanlah khotbah yang benar. Khotbah-khotbah ini tidak mempersekutukan kebenaran, juga tidak mengandung kenyataan kebenaran. Sebaliknya, ini adalah khotbah kata-kata dan doktrin; khotbah rohani yang palsu, khotbah orang Farisi. Pemimpin palsu sangat pandai berusaha keras dalam kata-kata dan frasa-frasa firman Tuhan, mereka mencurahkan perhatian khusus untuk mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin, tetapi mereka tidak pernah mencari kebenaran di dalam firman Tuhan dan tidak pernah merenungkan bagaimana mereka harus masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Mereka puas hanya dengan mampu mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin; setelah mereka mengkhotbahkan doktrin dengan jelas dan logis, mereka menganggap itu sudah cukup baik dan mereka memiliki kenyataan kebenaran, sehingga mereka dapat berdiri di hadapan orang lain dan menyuruh-nyuruh orang seenaknya, serta menguliahi orang dari posisi mereka yang tinggi. Di luarnya, yang mereka katakan dan lakukan tampaknya berkaitan dengan kebenaran, mereka tampaknya tidak menyebabkan kekacauan atau gangguan, dan tampaknya tidak menganjurkan pepatah yang keliru atau memicu praktik-praktik yang keliru. Namun, ada satu masalah, yaitu bahwa mereka tidak mampu memikul pekerjaan nyata apa pun, atau memenuhi tanggung jawab mereka sedikit pun, yang akhirnya menyebabkan mereka tidak mampu menemukan masalah apa pun dalam pekerjaan. Cara mereka bekerja seperti orang buta yang meraba-raba: Mereka selalu mengikuti perasaan dan imajinasinya untuk secara membabi buta menerapkan aturan pada masalah apa pun, sepenuhnya tidak mampu melihat esensi masalahnya dengan jelas, tetapi mereka masih berbicara omong kosong tentangnya—mereka sama sekali tidak mampu menyelesaikan masalah nyata. Jika seorang pemimpin palsu benar-benar memahami kebenaran, dia tentu saja akan mampu menemukan masalah dan mencari kebenaran untuk menyelesaikannya. Namun, para pemimpin palsu jelas-jelas tidak memahami kebenaran, tetapi mereka berpura-pura menjadi rohani, menganggap diri mereka mampu melakukan pekerjaan gereja, dengan tidak bermoral berani menikmati manfaat dari status mereka. Bukankah ini menjijikkan? Mereka mengira bahwa mereka memiliki keterampilan yang sejati—bahwa mereka bisa berkhotbah. Padahal mereka benar-benar tak mampu melakukan pekerjaan nyata. Kata-kata dan doktrin yang diketahui dan dikhotbahkan pemimpin palsu tak dapat membantu mereka melakukan pekerjaan mereka dengan baik, juga tak dapat membantu mereka menemukan masalah dalam pekerjaan, apalagi membantu mereka menyelesaikan semua masalah yang mereka hadapi. Setelah bekerja selama beberapa waktu, mereka tetap tak mampu berbicara tentang kesaksian apa pun berdasarkan pengalaman. Apakah pemimpin atau pekerja semacam itu memenuhi standar? Sangat jelas bahwa mereka tidak memenuhi syarat. Dan bagaimana seharusnya pemimpin palsu yang tidak memenuhi standar ditangani? Mereka bukan saja harus diberhentikan dan disingkirkan, tetapi jika mereka tidak bertobat, mereka tidak dapat dipilih kembali untuk melayani sebagai pemimpin atau pekerja pada saat diadakan pemilihan. Jika seseorang memilih seorang pemimpin palsu atau pekerja palsu yang telah disingkirkan, mereka sedang secara sadar mengganggu dan merusak pekerjaan gereja dan itu memperlihatkan bahwa pemilih tersebut adalah pemuja dan pengikut pemimpin palsu tersebut, dan bukan seseorang yang benar-benar percaya kepada Tuhan. Pernahkah engkau semua memilih seorang pemimpin palsu yang memiliki kerohanian palsu? (Pernah.) Kurasa engkau semua pernah memilih cukup banyak dari mereka. Engkau mengira siapa pun yang telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, yang telah membaca banyak firman Tuhan dan mendengar banyak khotbah, yang memiliki banyak pengalaman berkhotbah dan bekerja, yang dapat berkhotbah selama berjam-jam, pasti mampu melakukan pekerjaan. Kemudian, setelah engkau memilih mereka sebagai pemimpin, engkau menemukan masalah serius: saudara-saudari tidak pernah bisa melihat mereka, dan mereka tidak pernah dapat menemukan mereka ketika ada masalah. Tak seorang pun tahu di mana mereka bersembunyi, dan mereka bersembunyi di suatu tempat serta tidak akan membiarkan siapa pun untuk mengganggu mereka. Itu adalah masalah. Mereka selalu bermain petak umpet pada saat-saat penting dalam pekerjaan dan saudara-saudari tidak pernah bisa menemukan mereka ketika mereka dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu masalah—bukankah mereka sedang melalaikan tugas mereka yang seharusnya? Mengapa beberapa orang tidak berani menghadapi saudara-saudari setelah mereka menjadi seorang pemimpin? Mengapa mereka tidak bisa ditemukan? Apa sebenarnya yang membuat mereka sibuk? Mengapa mereka tidak menyelesaikan masalah nyata? Apa pun yang mereka lakukan untuk menyibukkan diri, tentang hal ini, engkau dapat yakin: jika mereka pergi selama beberapa waktu tanpa melakukan pekerjaan nyata, mereka adalah pemimpin palsu, dan mereka harus segera diberhentikan, dan seseorang yang lain harus dipilih. Akankah kelak engkau semua memilih pemimpin palsu semacam ini? (Tidak.) Mengapa tidak? Menurutmu, apa akibatnya jika engkau memilih orang buta sebagai pembimbingmu? Orang itu sendiri adalah buta, jadi dapatkah mereka membimbing orang lain ke jalan yang benar? Sebagaimana firman Tuhan katakan dalam Alkitab, "Jika orang buta memimpin orang buta, keduanya akan terperosok ke dalam parit" (Matius 15:14). Orang buta berjalan tanpa arah atau tujuan; bagaimana mereka bisa memimpin orang lain? Jika seseorang memilih orang buta sebagai pembimbingnya, artinya dia jauh lebih buta. Ada pepatah di antara orang tidak percaya: "menanyakan jalan kepada orang buta". Memilih seorang pemimpin palsu untuk melayani sebagai pemimpin gereja artinya menanyakan jalan kepada orang buta. Ini tidak masuk akal, bukan? Semua orang yang memilih pemimpin palsu adalah orang buta yang memilih orang buta, dan tak seorang pun dari mereka yang memahami kebenaran.

Ketika sebagian orang memilih seorang yang memiliki kerohanian palsu untuk menjadi pemimpin, mereka merasa sangat senang dengan berpikir, "Sekarang, kami punya seorang pemimpin yang hebat. Pemimpin kami sangat pandai berkhotbah, menyampaikannya dengan cara yang sangat logis dan teratur, khotbahnya pun sangat masuk akal." Orang-orang yang tidak memiliki kemampuan dalam mengenali bahkan sampai tersentuh hingga meneteskan air mata, mereka merasakan keterikatan yang mendalam dengan pemimpin itu, sampai-sampai enggan untuk pergi melaksanakan tugas. Mereka memahami segala sesuatunya dengan cukup jelas ketika mendengarkan persekutuan, tetapi ketika menemukan masalah dalam melaksanakan tugas, mereka tidak tahu bagaimana menyelesaikannya dan merasa bingung, berpikir, "Rasanya aku memahami segalanya ketika mendengarkan persekutuan pemimpin, lalu mengapa aku tidak bisa menyelesaikan kesulitan yang kuhadapi dalam pekerjaanku?" Apa masalahnya di sini? Semua yang dikhotbahkan oleh pemimpin palsu semacam ini adalah kata-kata dan doktrin, frasa-frasa yang tak bermakna, slogan, dan omong kosong. Yang mereka khotbahkan tidak menyelesaikan masalahmu yang nyata; mereka telah menipumu. Mereka memberimu ilusi, mengatakan beberapa slogan untuk membuatmu secara keliru percaya bahwa masalah telah diselesaikan, padahal sebenarnya mereka tidak mempersekutukan prinsip-prinsip kebenaran yang berkaitan dengan masalahmu. Bagaimana permasalahan dapat diselesaikan dengan cara bersekutu seperti ini? Doktrin yang mereka khotbahkan tidak ada hubungannya dengan masalah-masalah nyata; mereka hanya menghindari esensi dari semua masalah dan berbicara tentang teori dengan cara yang tak bermakna. Mereka hanya mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin, serta teori rohani. Mereka tidak tahu apa itu kenyataan kebenaran, dan ketika masalah muncul, mereka menjadi bingung. Khotbah yang mereka sampaikan tidak dapat menyelesaikan masalah nyata, itu hanyalah semacam teori, semacam pengetahuan dan doktrin. Pemimpin palsu seperti ini mengkhotbahkan firman Tuhan dan kebenaran seolah-olah itu hanyalah kata-kata, doktrin, dan slogan. Mereka menghindari semua masalah yang sebenarnya dan hanya mengkhotbahkan kata-kata yang tak bermakna dan tidak nyata. Apa yang akan terjadi pada akhirnya? Berapa pun lama mereka berkhotbah, dampak terbesar dari khotbah mereka hanyalah menyemangati dan menasihati orang, membuat mereka sedikit lebih bersemangat dan memberikan energi sesaat, tetapi mereka sedikit pun tidak mampu menyelesaikan masalah lainnya. Kebenaran tidak terputus dari kenyataan, tetapi justru terkait dengan kenyataan dan dengan semua jenis masalah yang benar-benar ada. Jadi, apakah sekarang engkau akan mampu mengidentifikasi pemimpin palsu yang memiliki kerohanian palsu ketika engkau semua bertemu mereka lagi? Jika engkau tidak mampu mengidentifikasinya, ketika engkau semua ingin memilih seseorang untuk menjadi pemimpin, pertama-tama mintalah orang tersebut untuk menyelesaikan beberapa masalah. Jika orang itu menyelesaikannya berdasarkan prinsip, mencapai hasil yang cukup baik, dan menggunakan kenyataan kebenaran untuk menyelesaikannya, engkau semua dapat memilihnya; jika orang itu menghindar dan tidak berbicara tentang esensi masalah serta situasi yang sebenarnya, dan yang dapat dilakukannya hanyalah mengkhotbahkan doktrin dengan cara yang tak bermakna, meneriakkan slogan-slogan, serta mematuhi aturan-aturan, engkau tidak boleh memilihnya. Mengapa engkau tidak boleh memilihnya? (Karena orang tersebut tidak mampu menyelesaikan masalah nyata.) Lalu, orang macam apa yang tidak mampu menyelesaikan masalah nyata? Seseorang yang hanya dapat mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin—mereka adalah orang Farisi yang munafik dan memiliki kerohanian palsu. Mereka tidak memiliki kualitas yang diperlukan untuk memahami kebenaran, tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan, tidak mampu menyelesaikan masalah, jadi jika engkau memilihnya untuk menjadi pemimpin, mereka pasti menjadi pemimpin palsu. Mereka tidak mampu melakukan pekerjaan seorang pemimpin atau memenuhi tanggung jawab seorang pemimpin. Jadi, bukankah engkau akan merugikan orang tersebut jika engkau memilihnya? Ada yang berkata, "Bagaimana itu bisa merugikannya? Kami bermaksud baik dengan memilihnya. Orang itu memiliki kualitas tertentu, dan jika kami memilihnya, bukankah kami akan memiliki seseorang yang dapat bertanggung jawab atas pekerjaan itu?" Tentu saja memiliki seseorang yang bertanggung jawab merupakan hal yang baik, tetapi orang semacam ini tidak mampu memikul tanggung jawab tersebut. Yang dapat dilakukannya hanyalah berbicara tentang teori-teori dengan cara yang tak bermakna tanpa mempertimbangkan situasi nyata, dan orang tersebut tidak membantu dalam memecahkan masalah. Jadi, dengan memilihnya, bukankah engkau memberinya kesempatan untuk melakukan kejahatan? Bukankah engkau memaksanya untuk menempuh jalan seorang pemimpin palsu? Oleh karena itu, engkau tidak boleh memilih orang semacam itu untuk menjadi pemimpin.

Apakah engkau semua mampu mengidentifikasi siapa di antara orang-orang di sekitarmu—engkau sering berkomunikasi dan cukup kaukenal—yang hanya mampu berbicara tentang doktrin dengan cara yang tak bermakna dan tak mampu menyelesaikan masalah nyata? Siapa yang selalu mengkhotbahkan teori yang muluk-muluk dan mengusulkan rencana-rencana baru dan unik yang belum pernah didengar siapa pun sebelumnya, tetapi justru menjadi bingung dan tidak bisa berkata-kata ketika ditanya bagaimana menerapkan dan mengimplementasikan rencana operasionalnya secara spesifik serta perincian konkretnya? Yang mereka katakan sangat tak bermakna dan sama sekali tidak realistis, tidak relevan atau tidak sesuai dengan situasi nyata, dengan lingkungan yang sebenarnya, apa yang benar-benar dapat dicapai oleh orang-orang, tingkat pertumbuhan mereka, dan tingkat keterampilan profesionalnya. Terlebih lagi, yang mereka katakan tidak sesuai dengan tuntutan rumah Tuhan; mereka hanya berbicara omong kosong, berkhayal, dan seenaknya melontarkan apa pun yang terlintas dalam benaknya. Mereka mengira tidak perlu bertanggung jawab atas apa pun yang mereka katakan, bahkan ketika mereka membual dan menyombongkan diri. Dengan sikap seperti ini, mereka mengungkapkan pandangan dan mengemukakan ide-idenya—bukankah mereka adalah orang-orang yang memiliki kerohanian palsu? (Ya.) Sebagian orang meyakini bahwa membual, menyombongkan diri, atau melontarkan ide yang muluk-muluk tidak pernah dianggap serius, jadi mereka menggunakannya sebagai kesempatan untuk menunjukkan betapa hebatnya dirinya. Mereka mengira bahwa jika mereka melakukan kesalahan, mereka tidak perlu bertanggung jawab atas hal tersebut, dan jika mereka melakukan sesuatu dengan benar, semua orang akan menghormatinya, sehingga mereka mengatakan apa pun yang mereka inginkan dan membuat semuanya menjadi sangat mudah. Mereka memiliki banyak ide, tetapi tak satu pun dari ide-ide tersebut disertai dengan rencana penerapan yang spesifik dan dapat dilaksanakan dengan baik. Mereka tidak menganggap serius pandangan yang mereka kemukakan, baik yang murni maupun yang menyimpang. Hari ini mereka berbicara begini, besok mereka berbicara begitu, dan meskipun pandangan, teori, dan dasar yang mereka bicarakan semuanya sangat muluk-muluk, itu tak bermakna dan tidak nyata. Terkadang, mereka berbicara tentang rencana yang bermakna atau tidak menyimpang, tetapi ketika ditanya bagaimana rencana tersebut secara spesifik akan dilaksanakan, mereka tidak dapat menjelaskannya. Mereka sangat antusias dan proaktif ketika meneriakkan slogan, mengucapkan perkataan yang muluk-muluk, dan mengungkapkan pandangannya. Namun, ketika harus melakukan pekerjaan secara spesifik dan melaksanakan rencana tertentu, mereka menghilang tanpa jejak, mereka menyembunyikan diri, dan tidak lagi memiliki pandangan. Bisakah orang-orang semacam ini menjadi pemimpin? (Tidak bisa.) Jadi, apa akibatnya jika orang-orang tersebut menjadi pemimpin? Bukankah mereka akan merugikan dirinya sendiri dan orang lain? Mereka akan menyebabkan penundaan terhadap pekerjaan gereja, selain itu, mereka akan menyebabkan kerugian besar pada dirinya sendiri. Doktrin yang dikhotbahkannya hanyalah hal-hal yang terbatas, dan ketika selesai mengkhotbahkannya, mereka tidak memiliki hal lain untuk disampaikan sehingga mereka harus selalu bersembunyi dan "mengasingkan diri untuk berfokus pada pembinaan dirinya." Bukankah ini akan menyulitkan mereka? Begitu menjadi seorang pemimpin, orang-orang tersebut akan merasa seolah-olah ada tiga gunung besar yang menindih kepalanya, merasa lelah setiap hari, dan merasa sangat tertekan—apa gunanya mereka menderita seperti ini? Orang-orang tersebut tidak memiliki kualitas untuk menjadi pemimpin, dan ketika menghadapi masalah, mereka hanya menerapkan peraturan secara acak sesuai dengan imajinasinya dan tidak mampu menyelesaikan masalah nyata—orang seperti ini tidak dapat menjadi pemimpin. Mereka tidak mampu melakukan pekerjaan nyata, yang menjadikannya pemimpin palsu, dan tetap merasa dirinya cukup hebat meskipun menyebabkan penundaan dalam jalan masuk kehidupan saudara-saudari. Jika engkau semua dapat menemukan dan memahami kualitas dan karakter orang-orang yang memiliki kerohanian palsu ini, apakah engkau tetap akan memilihnya menjadi pemimpin? Jika engkau sendiri adalah orang semacam ini dan ada seseorang ingin memilihmu, apa yang akan kaulakukan? (Aku memiliki kesadaran diri dan menyatakan bahwa aku tidak cocok untuk menjadi seorang pemimpin.) Setelah engkau membuat pernyataan tersebut, jika semua orang tetap menganggap bahwa engkau baik dan bersikeras untuk memilihmu, apa yang harus kaulakukan? Katakan kepada mereka, "Aku tidak dapat melaksanakan pekerjaan kepemimpinan, aku tidak dapat memikul pekerjaan itu. Di luarnya, aku terlihat memiliki kualitas tertentu, dan terkadang aku punya ide-ide yang bagus dan memberikan sedikit pencerahan, tetapi sebagian besar yang aku khotbahkan hanyalah kata-kata dan doktrin. Aku benar-benar tidak bisa menjadi seorang pemimpin atau pekerja. Aku tidak lebih baik dari engkau semua. Apa pun yang engkau semua lakukan, tolong jangan pilih aku. Sekalipun aku memperoleh suara terbanyak, aku tetap tidak bisa menjadi pemimpin. Aku tidak ingin merugikan siapa pun! Aku sudah pernah menjadi pemimpin, tetapi selalu gagal dan akhirnya diberhentikan. Setiap kali aku diberhentikan, itu karena kualitasku buruk, aku tidak memiliki kemampuan kerja dan tidak mampu melakukan pekerjaan nyata. Yang dapat kulakukan hanyalah mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin, dan selain itu, aku tidak dapat bekerja dengan baik atau memenuhi satu pun tanggung jawab yang seharusnya dipenuhi oleh pemimpin. Aku adalah pemimpin palsu." Inilah yang disebut memiliki kesadaran diri, bukan sekadar mengatakan beberapa patah kata tentang tidak cocok menjadi pemimpin dan kemudian selesai begitu saja. Ada yang berpikir, "Aku telah melaksanakan tugasku dalam kelompok ini selama bertahun-tahun, dan bagaimanapun juga, aku seharusnya dianggap sebagai anggota senior. Walaupun aku tidak pernah memberikan kontribusi, aku telah bekerja keras, jadi mengapa tidak ada yang menemukan kelebihanku? Aku juga memiliki potensi untuk menjadi seorang pemimpin. Aku sering mengemukakan pemikiran, ide, dan saran yang cukup berharga dan yang memberikan manfaat nyata. Terlepas dari apakah pemimpin menggunakannya atau tidak, dalam hal apa pun, aku adalah seseorang yang memiliki sikap, ide, dan pandangan. Mengapa tidak ada yang memilih aku?" Jika ini adalah cara berpikirmu, engkau dapat mengevaluasi dirimu seperti ini: Apakah pemikiran, ide, dan saran yang kaumiliki sekadar pernyataan, atau apakah itu benar-benar memberikan manfaat nyata? Apakah engkau mampu menemukan dan menyelesaikan segala macam kesulitan yang dihadapi dalam pekerjaan? Apakah pemikiran dan idemu dapat digunakan? Apakah engkau mampu memikul tanggung jawab atas pekerjaan itu? Jika pemikiran dan pandanganmu hanya sebatas kata-kata dan doktrin, sama sekali tidak memberikan manfaat nyata, dan yang lebih penting, sama sekali tidak sesuai dengan prinsip-prinsip pekerjaan rumah Tuhan, seperti apakah sebenarnya kualitasmu? Ketika engkau dipilih menjadi seorang pemimpin, apakah engkau kemudian mampu memenuhi tanggung jawab sebagai pemimpin dan pekerja? Apakah engkau ingin menjadi seorang pemimpin karena ambisi, atau karena merasa memiliki beban? Jika engkau benar-benar memiliki kemampuan kerja, kemampuan untuk menyelesaikan masalah, merasa cemas ketika melihat pemimpin dan pekerja tertentu melaksanakan pekerjaan dengan sangat buruk dan tidak mampu menyelesaikan masalah apa pun, engkau memberikan saran kepadanya, tetapi tidak didengarkan, mereka tidak mampu menyelesaikan masalah, tetapi tidak melaporkannya kepada Yang di Atas, engkau merasa khawatir serta cemas terhadap pekerjaan rumah Tuhan, dan engkau merasa sangat kesal ketika melihat pemimpin palsu menyebabkan penundaan terhadap pekerjaan gereja, ini menunjukkan bahwa engkau memiliki rasa beban. Namun, jika engkau ingin mendapatkan persetujuan semua orang, mendapatkan lebih banyak pendengar, membuat lebih banyak orang mendengarkan khotbah serta ceramahmu, hanya karena engkau memiliki sejumlah ide, dan jika engkau ingin menonjol dari orang banyak, ini bukanlah merasa memiliki beban—ini adalah ambisi. Orang yang ambisius hanya dapat mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin, dan sedikit ide yang mereka miliki pun hanyalah kata-kata dan doktrin tak bermakna. Ketika orang semacam ini menjadi pemimpin, mereka pasti akan menjadi pemimpin palsu, dan jika mereka adalah orang jahat, mereka adalah antikristus. Jika ide-idemu tetap pada level kata-kata tak bermakna, begitu menjadi seorang pemimpin, engkau pasti akan sama saja dengan semua pemimpin palsu yang memiliki kerohanian palsu. Engkau akan selalu pergi "mengasingkan diri untuk berfokus pada pembinaan dirimu," jika tidak, engkau akan merasakan krisis dan tidak memiliki apa pun untuk dikhotbahkan. Jika engkau sama seperti mereka, berdiri dengan angkuh dan berkhotbah dengan sikap superior, tetapi tidak mampu menemukan masalah yang ada dalam pekerjaan, dan tentu saja, juga tidak mampu menyelesaikan masalah apa pun, engkau pasti akan menjadi pemimpin palsu. Apa yang terjadi pada pemimpin palsu pada akhirnya? Mereka diberhentikan dari jabatannya karena tidak mampu melakukan pekerjaan nyata—pemimpin palsu pasti akan menempuh jalan ini.

Ada banyak orang yang selalu merasa geram dan siap untuk bertindak dalam hatinya, dan setiap kali tiba saatnya untuk memilih seorang pemimpin atau pengawas, mereka selalu ingin menjadi orang yang dipilih. Sebagian orang merasa dirinyalah yang paling lama percaya kepada Tuhan, paling banyak menanggung kesulitan, paling lama melaksanakan tugas, paling setia, dan paling memenuhi syarat untuk menjadi seorang pemimpin, sehingga mereka ingin orang lain memilihnya. Apa yang mampu kaulakukan jika orang lain memilihmu? Apakah engkau akan mampu menghindari mendapatkan gelar sebagai pemimpin palsu? Apakah engkau mampu memenuhi tanggung jawab sebagai pemimpin dan pekerja? Semua ini adalah masalah nyata, tetapi tidak ada yang mempertimbangkan hal-hal tersebut. Di tengah orang-orang ini, sebagiannya memiliki kualitas yang cukup baik. Mereka dapat mencari kebenaran ketika ada masalah dalam tugasnya, dan ketika memahami kebenaran dan mampu menangani masalah berdasarkan prinsip, mereka dapat memenuhi standar. Asalkan orang-orang ini memahami kebenaran, mencintai kebenaran, dan dapat mengejar kebenaran, serta memiliki kemanusiaan yang relatif baik, tidak akan ada masalah bagi mereka untuk menjadi pemimpin dan pekerja yang memenuhi standar—itu tidak akan terlalu sulit bagi mereka. Sebagian orang selalu mengeluh bahwa pekerjaan yang dilakukannya sulit, mereka tidak mau berusaha atau membayar harga ketika menyangkut kebenaran, dan mereka menggerutu ketika dipangkas. Dapatkah orang-orang semacam itu menjadi pemimpin dan pekerja yang memenuhi standar? Niat dan sikapnya sudah salah, mereka bukanlah orang yang mengejar kebenaran, dan apa pun yang Tuhan tuntut darinya, mereka tetap mempertahankan sikap negatif. Orang-orang semacam ini tidak layak menjadi pemimpin dan pekerja. Mereka tidak merasa memiliki beban di hatinya, dan sejelas atau segamblang apa pun pengaturan kerja rumah Tuhan, mereka tetap tidak mau bekerja keras untuk melakukan pekerjaan dengan baik. Sebenarnya, tidaklah sulit untuk melakukan pekerjaan dengan baik. Mengapa tidak sulit? Pertama, rumah Tuhan memiliki pengaturan kerja yang spesifik untuk semua pekerjaan gereja, dan Yang di Atas telah membuat ketentuan khusus untuk itu. Jadi, engkau semua tidak diharuskan untuk berinovasi dalam bidang pekerjaan apa pun, atau menyelesaikannya secara mandiri. Yang di Atas telah memberimu ruang lingkup dan arahan, memberimu prinsip, dan memberimu standar minimum; dalam melakukan pekerjaanmu, engkau tidak sedang membuang garam ke laut atau tanpa arahan apa pun. Kedua, dengan setiap bidang pekerjaan, siapa pun pengawasnya, dan entah itu fokus pekerjaannya di luar negeri entah di dalam negeri, hal yang paling utama adalah saudara Yang di Atas secara khusus menindaklanjuti, membimbing, mengawasi, memeriksa, menyaring pekerjaan tersebut, dan sering menanyakannya. Seberapa spesifik tindakan-tindakan ini? Saudara Yang di Atas terlibat langsung di dalamnya dan menindaklanjuti setiap naskah, setiap film, setiap program, setiap lagu pujian, dan seterusnya. Aku juga terlibat dalam beberapa pekerjaan, memberi engkau semua arahan umum dan kerangka kerja. Ketiga, untuk setiap aspek pekerjaan yang berkaitan dengan prinsip-prinsip kebenaran, Yang di Atas juga sering bersekutu kepada engkau semua tentang prinsip-prinsip kebenaran dan membimbing pekerjaanmu; Yang di Atas juga memangkasmu, melakukan pemeriksaan untuk engkau semua, dan setiap saat, Yang di Atas akan mengoreksi penyimpanganmu. Keempat, dalam hal personel dan pekerjaan administratif penting, Yang di Atas akan langsung membantumu dengan melakukan pemeriksaan dan membuat keputusan. Faktanya adalah apa pun pekerjaan yang engkau semua lakukan, engkau tidak menyelesaikannya secara mandiri; semuanya diatur, dipimpin, diarahkan, dan disaring oleh Yang di Atas. Jadi, apa yang engkau semua lakukan? Engkau semua hanya menikmati hal-hal yang sudah jadi—engkau semua sangat diberkati! Engkau tidak perlu khawatir tentang apa pun; engkau hanya perlu mulai bekerja dengan tangan dan kakimu. Ini adalah pekerjaan yang menjadi tanggung jawab engkau semua. Apakah engkau semua pernah membayar harga tambahan? (Tidak.) Yang di Atas telah melakukan semua pekerjaan besar dan penting ini; oleh karena itu, pekerjaan yang engkau semua lakukan semuanya sangat mudah dan tidak ada kesulitan besar sama sekali. Dalam keadaan seperti itu, jika orang-orang tetap tidak melakukan pekerjaannya dengan baik, itu tidak dapat dimaafkan, dan membuktikan bahwa mereka sama sekali tidak sepenuh hati dan tidak mengerahkan upayanya dalam pekerjaannya atau memenuhi tanggung jawabnya. Sebagian orang berkata, "Siapa yang tidak memiliki kekurangan saat melakukan pekerjaan? Apakah orang tidak boleh punya masalah?" Engkau semua tidak diharuskan untuk mencapai nilai sempurna dalam pekerjaanmu; engkau semua hanya diharuskan untuk mencapai nilai lulus, dan jika demikian, engkau akan dianggap telah memenuhi tanggung jawab pemimpin dan pekerja. Apakah ini terlalu menuntut? (Tidak.) Dengan arahan dan penyaringan dari Yang di Atas, mencapai nilai lulus tersebut mudah; itu hanya tergantung apakah orang tersebut sungguh-sungguh mengejar kebenaran. Jika mereka tidak berusaha ketika menyangkut kebenaran, selalu ingin bersikap asal-asalan, merasa puas hanya dengan menjalani formalitas ketika bekerja, tidak melakukan hal buruk, tidak menimbulkan gangguan atau kekacauan, dan tidak ada yang mengganggu hati nuraninya, mereka tidak dapat mencapai nilai lulus. Sebagian besar pemimpin dan pekerja memiliki sikap seperti ini ketika bekerja; mereka melakukan sedikit pekerjaan tetapi tidak mau terlalu lelah, mereka merasa puas dengan hanya menjadi biasa-biasa saja, dan mengenai seperti apa hasil pekerjaannya, mereka menganggap bahwa itu adalah urusan Tuhan dan itu tidak ada hubungannya dengan mereka. Apakah sikap seperti ini dapat diterima? Jika engkau memiliki sikap seperti itu, pekerjaan yang dapat kaulakukan sangat terbatas dan engkau tidak mengerahkan seluruh tenagamu untuk itu, yang menunjukkan bahwa engkau tidak mampu melakukan pekerjaan nyata atau tidak melakukan pekerjaan nyata sehingga engkau seharusnya didefinisikan sebagai pemimpin palsu—hal ini sepenuhnya tepat dan adil. Sebagian orang selalu berkata, "Tuntutan-Mu terhadap kami terlalu tinggi. Jika kami tidak melakukan pekerjaan ini, berarti kami adalah pemimpin palsu, dan jika kami tidak memenuhi tuntutan itu, berarti kami juga pemimpin palsu. Apa anggapan-Mu terhadap kami? Kami bukan robot, kami tidak sempurna. Kami hanya orang biasa, kami hanyalah manusia biasa. Engkau memberi tahu kami untuk menjadi orang biasa, orang pada umumnya, jadi mengapa Engkau memiliki tuntutan yang begitu tinggi terhadap kami sebagai pemimpin?" Sebenarnya, tuntutan-Ku terhadap engkau semua tidaklah tinggi. Aku hanya memintamu untuk memenuhi tanggung jawab yang seharusnya dipenuhi oleh manusia. Ini adalah sesuatu yang harus dan wajib kaulakukan, dan itu adalah sesuatu yang mampu kaucapai sebagai pemimpin dan pekerja. Namun, jika engkau tidak berusaha keras dalam kebenaran, dan selalu takut menderita kesulitan dan selalu mendambakan kenyamanan, apa pun alasan atau dalihmu, engkau pasti akan menjadi pemimpin palsu. Ini seperti hal-hal yang seharusnya dicapai oleh orang-orang dengan kemanusiaan yang normal dan yang seharusnya diperhatikan oleh orang dewasa, seperti jam berapa orang dewasa harus bangun pagi, berapa kali mereka harus makan, berapa jam mereka harus bekerja dalam sehari, kapan mereka harus mencuci pakaian kotor—semua ini harus kautangani sendiri, dan tidak perlu menanyakannya kepada orang lain. Jika engkau bertanya kepada orang lain tentang segala hal dan engkau tidak mengerti apa-apa, bukankah ini berarti engkau kurang cerdas dan orang yang bodoh? Bukankah itu berarti engkau tidak mampu mengurus dirimu sendiri? Bisakah orang-orang seperti ini menjadi pemimpin? Bukankah mereka adalah pemimpin palsu? Orang semacam itu harus diberhentikan. Orang seperti ini tetap ingin mempertahankan posisinya dan tidak mau turun dari jabatannya, serta mereka tetap ingin menjadi pemimpin! Setelah beberapa pemimpin palsu diberhentikan, mereka merasa telah diperlakukan secara tak adil dan tidak berhenti menangis karenanya. Mereka menangis sampai mata mereka bengkak. Mengapa mereka menangis? Karena mereka tidak tahu seperti apa dirinya sebenarnya. Ketika Aku berkata bahwa tuntutan-Ku terhadap orang-orang tidaklah tinggi, yang Kumaksudkan adalah apa yang diminta kepadamu adalah hal-hal yang dapat kaucapai; jalannya sudah dipersiapkan untukmu dan ruang lingkupnya telah ditetapkan, serta keputusan telah dibuat, dan engkau hanya perlu bertindak. Itu sama seperti makan: Biji-bijian, sayuran, semua jenis bumbu, dan panci juga kompor telah disiapkan untukmu, yang perlu kaulakukan hanyalah belajar cara memasak; inilah yang seharusnya dilakukan dan dicapai oleh orang dewasa. Jika engkau tak mampu mencapai hal tersebut, engkau adalah orang bodoh, dan engkau tidak bisa terhitung dalam jajaran kecerdasan orang dewasa normal. Sejumlah pemimpin tidak mampu melakukan pekerjaan nyata ini, jadi mereka harus diberhentikan. Jadi, bagaimana kita dapat mendefinisikan dan menentukan apakah seseorang mampu melakukan jenis pekerjaan ini? Jika engkau memiliki kecerdasan dan kualitas seperti orang dewasa, dan engkau memiliki kesadaran dan rasa tanggung jawab yang seharusnya dimiliki orang dewasa, engkau seharusnya mampu melakukan pekerjaan semacam ini. Jika engkau tidak mampu, atau engkau tidak melakukannya, berarti engkau adalah pemimpin palsu. Begitulah cara menentukannya, dan penentuan tersebut akurat. Ini bukanlah kutukan atau penghakiman terhadap seseorang, jadi apakah ini terlalu keras? Semua fakta telah dipaparkan, dan ini sama sekali tidak keras.

II. Pemimpin Palsu yang Memiliki Kualitas Buruk

Kita baru saja mempersekutukan perwujudan yang dimiliki oleh satu tipe pemimpin palsu mengenai segera melaporkan dan mencari tahu cara untuk menyelesaikan kebingungan dan kesulitan yang dihadapi dalam pekerjaan, beserta alasan mengapa orang-orang seperti ini tidak dapat memenuhi tanggung jawab sebagai pemimpin dan pekerja. Mereka ini adalah orang-orang yang memiliki kerohanian palsu; mereka tidak dapat memenuhi tanggung jawab tersebut karena tidak dapat menemukan kebingungan dan kesulitan dalam pekerjaan. Ini adalah salah satu tipe orang. Ada tipe lainnya: Mereka sama dengan orang-orang yang memiliki kerohanian palsu—tipe orang ini juga tidak mampu menemukan masalah yang ada dalam pekerjaan, dan itulah sebabnya mereka juga tidak dapat segera melaporkannya kepada Yang di Atas dan mencari solusi dari Yang di Atas. Orang-orang seperti itu juga sibuk dengan pekerjaan, mereka menyibukkan diri sepanjang hari tanpa ada waktu untuk beristirahat. Mereka sibuk berkhotbah, sibuk mengunjungi saudara-saudari di berbagai tempat, sibuk mengatur pekerjaan, dan bahkan sibuk membeli segala macam barang untuk pekerjaan gereja. Ketika ada yang sakit, mereka membantu mencari dokter; jika ada yang mengalami kesulitan di rumah, mereka membantu dengan mengatur bantuan keuangan; ketika ada yang dalam keadaan buruk, mereka berinisiatif untuk mendukungnya dan secara aktif membantu menyelesaikan masalahnya. Singkatnya, mereka selalu sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan urusan umum. Mereka tidak peduli terhadap pekerjaan gereja yang sebenarnya, pekerjaan penginjilan, dan masalah dalam kehidupan bergereja. Setiap hari, mereka menghabiskan energi dengan sibuk ke sana kemari, menangani dan menyelesaikan urusan gereja dan persoalan-persoalan pribadi saudara-saudari. Mereka mengira bahwa sebagai pemimpin, mereka harus melaksanakan tugas-tugas tersebut, tetapi mereka tidak pernah menyadari apa pekerjaan substansial seorang pemimpin. Sekeras apa pun mereka bekerja, mereka tetap tidak dapat menemukan permasalahan yang sebenarnya dan persoalan penting yang ada di gereja. Akibatnya, ketika gangguan dan hambatan muncul dalam kehidupan bergereja, atau ketika umat pilihan Tuhan menghadapi kesulitan dalam jalan masuk kehidupan, para pemimpin ini tidak mampu segera menyelesaikan persoalan tersebut. Meskipun mereka sibuk dengan pekerjaan setiap hari tanpa ada waktu untuk beristirahat, apa yang sebenarnya dapat mereka capai dengan kesibukan tersebut? Ada banyak masalah yang muncul dalam pekerjaan gereja, tetapi mereka tidak dapat menemukannya. Di luarnya, pemimpin seperti ini terlihat tekun, teliti, dan tidak menganggur, tetapi satu per satu masalah muncul dalam pekerjaan, dan mereka sibuk menutupi celah, sibuk menyelesaikan berbagai "masalah yang rumit dan sulit" dan menangani segala macam orang jahat serta orang-orang yang menyebabkan gangguan dan kekacauan yang muncul di gereja. Mereka sibuk dengan pekerjaan seperti ini, tetapi tidak mampu mengidentifikasi bahkan masalah yang paling mendasar sekalipun. Pemimpin tersebut tidak mampu dengan jelas membedakan antara kemanusiaan yang baik dan kemanusiaan yang buruk, apa itu kualitas yang baik dan apa itu kualitas yang buruk, apa itu memiliki bakat dan pengetahuan yang sesungguhnya, dan apa itu memiliki karunia. Mereka juga tidak dapat memahami orang seperti apa yang dibina oleh rumah Tuhan dan orang seperti apa yang disingkirkan, siapa yang mengejar kebenaran dan siapa yang tidak, siapa yang dengan sukarela melaksanakan tugasnya dan siapa yang tidak melaksanakan tugasnya, siapa yang dapat disempurnakan menjadi umat Tuhan, serta siapa yang merupakan orang yang berjerih payah, dan sebagainya. Pemimpin tersebut justru memperlakukan orang-orang yang pandai membuat pernyataan yang muluk-muluk dan melontarkan teori-teori yang tak bermakna, tetapi tidak mampu melakukan pekerjaan nyata sebagai target utama untuk dibina, serta menugaskan dan memercayakan orang-orang tersebut dengan pekerjaan penting. Sementara itu, mereka menunda promosi dan pembinaan orang-orang yang memiliki pemahaman yang murni, kualitas yang baik, dan kemampuan untuk memahami kebenaran hanya karena orang-orang tersebut belum lama percaya kepada Tuhan atau pernah memperlihatkan watak yang congkak. Masalah-masalah seperti ini sering muncul di gereja dan ini berdampak pada kemajuan pekerjaan gereja. Inilah permasalahan yang sebenarnya, tetapi tipe pemimpin seperti ini tidak mampu melihat atau menemukannya, dan bahkan sama sekali tidak menyadarinya. Ketika orang-orang jahat menimbulkan gangguan dan kekacauan, pemimpin tersebut memberinya kesempatan untuk menjalani pengamatan dan merenungkan diri. Sebaliknya, ketika orang lain yang bukan orang jahat sesekali melakukan kesalahan kecil karena mereka masih muda, kurang pengetahuan, dan bertindak tanpa prinsip—kesalahan yang bukan merupakan masalah prinsip—tipe pemimpin semacam ini justru menganggapnya sebagai dosa yang tidak terampuni dan menyuruh orang tersebut pulang. Pemimpin palsu semacam ini sibuk dengan pekerjaannya setiap hari, dan di luarnya, mereka terlihat sedang berusaha keras dan menghabiskan banyak waktu, tetapi bagaimanapun mereka bekerja, tak ada seorang pun yang benar-benar memperoleh perbekalan hidup dari usahanya. Apa pun masalah dan kesulitan yang dialami umat pilihan Tuhan, pemimpin palsu seperti ini tidak mampu menyelesaikannya dengan mempersekutukan kebenaran. Yang dapat mereka lakukan hanyalah menasihati dengan hati yang penuh kasih, serta mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin untuk menyemangati umat pilihan Tuhan. Oleh karena itu, di bawah kepemimpinan orang-orang semacam itu, umat pilihan Tuhan tidak menerima perbekalan hidup, mereka hanya percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugasnya dengan penuh semangat, tetapi belum mencapai jalan masuk kehidupan—berapa lama mereka bisa bertahan seperti ini? Akibatnya, ada orang-orang yang sering kali bersikap negatif dan lemah, serta selalu merindukan datangnya hari Tuhan, dan visi mereka makin tidak jelas. Ketika menghadapi masalah, mereka mulai memiliki gagasan dan kesalahpahaman tentang Tuhan, lalu ada yang bahkan mulai meragukan Tuhan dan bersikap waspada terhadap-Nya. Ketika dihadapkan dengan persoalan seperti ini, pemimpin palsu sama sekali tidak mampu menyelesaikannya, dan yang mereka lakukan hanyalah menghindarinya. Mereka tidak pernah membaca firman Tuhan atau berdoa kepada-Nya bersama umat pilihan Tuhan untuk mencari kebenaran dan menyelesaikan persoalan—mereka tidak pernah melaksanakan pekerjaan ini. Setiap hari, mereka hanya disibukkan dengan pekerjaan urusan umum dan persoalan-persoalan eksternal tertentu, hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan jalan masuk kehidupan atau kebenaran. Pemimpin seperti ini beranggapan bahwa selama mereka sibuk melakukan sesuatu, itu berarti mereka sedang melaksanakan tugas dan memenuhi tanggung jawabnya, dan mereka tidak mungkin menjadi pemimpin palsu. Padahal, kesibukannya dengan urusan-urusan umum ini sama sekali tidak membantu saudara-saudari untuk mengalami perkembangan dalam hidup, apalagi memungkinkan umat pilihan Tuhan untuk masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Katakan kepada-Ku, bukankah kualitas tipe pemimpin palsu seperti ini bermasalah? Mereka tidak dapat memahami apa pun, dan mereka beranggapan bahwa selama mereka sibuk bekerja, semua masalah akan hilang begitu saja, dan terselesaikan secara tidak langsung. Bukankah orang-orang semacam ini sangat bingung? Bukankah kualitas mereka sangat buruk? Mereka tidak dapat memahami apa pun, sama sekali tidak mampu melakukan pekerjaan nyata, dan ini menjadikannya pemimpin palsu serta pekerja palsu yang sesungguhnya. Ini adalah hal yang paling mudah untuk diidentifikasi.

Sekarang ini, pemimpin palsu dan pekerja palsu ada di gereja di mana-mana. Mereka hanya mengandalkan semangatnya untuk bekerja dan sama sekali tidak memahami kebenaran. Mereka tidak tahu apa pekerjaan seorang pemimpin atau pekerja, mereka juga tidak dapat mempersekutukan kebenaran untuk menyelesaikan masalah—mereka hanya menghabiskan sepanjang hari sibuk dengan pekerjaan urusan umum yang tidak jelas. Misalnya, katakanlah gereja perlu membeli suatu barang. Ini bukanlah tugas besar; cukup atur seseorang yang paham bidang tersebut untuk membelinya. Akan tetapi, seorang pemimpin palsu takut menghabiskan terlalu banyak uang, jadi mereka mengatur agar seseorang mengunjungi beberapa tempat untuk membeli barang yang paling murah. Hasilnya adalah mereka membeli barang murah yang langsung rusak hanya beberapa hari setelah digunakan, dan akibatnya, barang tersebut harus dibeli lagi. Pemimpin ini bukan saja tidak menghemat uang, melainkan justru mengeluarkan lebih banyak uang. Apakah ini cara yang tepat untuk menangani tugas tersebut? Ketika melakukan pembelian, tidak perlu membeli merek terkenal, tetapi hal yang tepat untuk dilakukan adalah setidaknya membeli sesuatu yang berkualitas dan dapat digunakan. Pemimpin palsu sangat memperhatikan pekerjaan urusan umum, dan tidak ada yang salah dengan itu. Akan tetapi, mereka tidak menganggap serius pekerjaan penting di rumah Tuhan, dan ini adalah kesalahan besar; ini berarti mereka tidak melakukan pekerjaan yang substansial. Pekerjaan-pekerjaan seperti penginjilan, pembuatan film, tulis-menulis, video kesaksian pengalaman, dan membuat penyesuaian terhadap personel pemimpin dan pekerja, semuanya itu sangat penting, tetapi pemimpin palsu tidak menganggapnya demikian. Mereka mengesampingkan pekerjaan-pekerjaan ini dan mengabaikannya. Mereka tidak memiliki kualitas yang cukup dan tidak tahu bagaimana melakukannya, tetapi mereka juga tidak berusaha untuk belajar, justru berpikir, "Selama ada seseorang yang bertanggung jawab atas pekerjaan ini, maka itu sudah cukup. Bukankah aku tidak perlu ikut campur juga? Aku menangani pekerjaan-pekerjaan penting. Ini hanyalah urusan kecil yang tidak perlu kupikirkan. Setelah aku memberitahukan prinsip-prinsipnya, maka pekerjaanku sudah selesai." Pemimpin palsu sepintas tampaknya sangat sibuk, tetapi jika diperhatikan, tidak satu pun dari pekerjaan yang dilakukan merupakan bagian penting dari pekerjaan gereja, tidak ada yang memberikan perbekalan hidup bagi orang-orang, dan tidak ada yang melibatkan penggunaan kebenaran untuk menyelesaikan masalah. Hal-hal yang mereka sibukkan sama sekali tidak bernilai, dan pemimpin palsu ini sebenarnya hanya sibuk tanpa arah. Mereka tidak tahu pekerjaan apa yang seharusnya dilakukan pemimpin dan pekerja agar selaras dengan maksud Tuhan; mereka hanya mengandalkan semangatnya untuk sibuk dengan tugas-tugas yang disukai. Mereka menanyakan secara mendetail hal-hal sepele yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan gereja, seperti pakaian yang dikenakan saudara-saudari, gaya rambutnya, bagaimana mereka berinteraksi dengan orang lain, dan bagaimana mereka berbicara dan berperilaku. Pemimpin palsu menganggap ini adalah cara untuk menunjukkan bahwa mereka ramah dan mudah didekati, serta menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyata orang-orang adalah sesuatu yang harus dilakukan seorang pemimpin, sesuatu yang seharusnya dimiliki dalam kemanusiaan yang normal. Namun, mereka tidak menganggap serius pekerjaan penting seperti pekerjaan penginjilan, pembuatan film, lagu pujian, tulis-menulis, administrasi, pekerjaan menyirami orang percaya baru, pendirian gereja, mempromosikan dan membina orang-orang, dan sebagainya. Mereka tidak berpartisipasi dalam pekerjaan ini dan tidak menindaklanjutinya; seolah-olah pekerjaan ini tidak ada hubungannya dengan mereka. Pemimpin palsu ini tidak menyelesaikan banyak masalah yang menumpuk di gereja, mereka tidak memberhentikan pemimpin palsu yang seharusnya diberhentikan, tidak membatasi atau menangani orang jahat yang melakukan kejahatan dan bertindak semena-mena melakukan hal-hal buruk, serta mereka tidak mempersekutukan kebenaran untuk menyelesaikan masalah orang-orang yang bersikap asal-asalan, tidak terkendali, tidak disiplin, serta menunda-nunda dalam melaksanakan tugasnya. Apa masalahnya di sini? Mereka tidak mencari kebenaran untuk menyelesaikan permasalahan yang sesungguhnya—apakah mereka orang-orang yang melakukan pekerjaan nyata? Dalam hatinya, tugas-tugas sepele dan tidak relevan yang dilaksanakannya terasa krusial dan penting baginya. Pemimpin palsu tersebut disibukkan dengan hal-hal yang tidak berguna sepanjang hari, meyakini bahwa mereka sedang memenuhi tanggung jawabnya dan bersikap setia, tetapi mereka tidak melakukan satu pun pekerjaan yang substansial yang telah dipercayakan Tuhan kepadanya—bukankah orang semacam ini adalah pemimpin palsu? Mereka setara dengan kepala kantor kecamatan di masyarakat, mereka hanyalah orang yang sibuk mencampuri urusan tetangga—apakah mereka masih bisa disebut pemimpin dan pekerja di rumah Tuhan? Mereka adalah pemimpin palsu dan pekerja palsu yang sesungguhnya. Mengapa orang-orang ini digolongkan sebagai pemimpin palsu dan pekerja palsu? (Karena kualitas mereka sangat buruk, mereka tidak bisa melakukan pekerjaan nyata, dan yang bisa mereka lakukan hanyalah menangani urusan-urusan sepele.) Inilah alasan spesifiknya. Kualitas orang-orang ini sangat buruk; berapa pun banyak khotbah yang mereka dengarkan, berapa pun banyak pengaturan kerja yang dibaca, berapa pun lama mereka melaksanakan tugas di rumah Tuhan, atau berapa pun lama mereka menjadi pemimpin, mereka tidak pernah tahu apa yang mereka lakukan, apakah yang dilakukannya itu benar atau salah, atau apakah mereka memenuhi tanggung jawab yang seharusnya dipenuhi. Definisinya tentang label dan gelar pemimpin serta pekerja adalah selama mereka sibuk, itu sudah cukup. Seperti keledai yang memutar batu kilangan, mereka terus menarik sampai tidak bisa bergerak lagi, dan mereka menganggap hal ini sebagai pemenuhan tanggung jawabnya. Ke arah mana pun mereka menarik, dan terlepas dari apakah kekuatan yang dikerahkan untuk menarik itu benar atau tidak, baginya itu sudah memenuhi tanggung jawabnya. Ada banyak masalah yang tidak dapat mereka pahami, dan mereka tidak berusaha menyelesaikannya atau melaporkannya kepada Yang di Atas dan mencari solusi dari Yang di Atas. Berapa pun lama mereka bekerja atau berinteraksi dengan orang lain, mereka bahkan tidak tahu apakah perwujudan seseorang adalah perwujudan orang percaya baru yang memiliki landasan iman yang dangkal dan tidak memahami kebenaran, atau apakah itu merupakan perwujudan pengikut yang bukan orang percaya. Mereka juga tidak tahu bagaimana mereka harus mengidentifikasi atau menggolongkannya. Ketika ada dua orang yang sama-sama dalam keadaan negatif, pemimpin palsu tidak tahu mana yang layak dibina dan mana yang tidak; ketika dua orang sedikit bersikap asal-asalan dalam melaksanakan tugasnya, pemimpin palsu tidak dapat membedakan mana orang yang mengejar kebenaran dan mana yang hanya seorang yang berjerih payah, mana yang mampu masuk ke dalam kenyataan kebenaran dan mana yang tidak memiliki kenyataan kebenaran. Pemimpin palsu tidak tahu siapa yang berpotensi menempuh jalan antikristus begitu menjadi pemimpin, sekalipun mereka telah bergaul dengan orang-orang ini selama bertahun-tahun. Berapa pun banyak aktivitas tak berguna yang mereka lakukan atau pekerjaan sia-sia yang dilakukannya, atau berapa pun banyak masalah yang ada di sekitarnya, pemimpin palsu tidak menyadarinya dan tidak menganggapnya sebagai persoalan. Orang-orang seperti ini memiliki kualitas yang buruk, pikiran yang kacau, dan tidak mampu melakukan pekerjaan sehingga sangat sulit bagi mereka untuk memenuhi tanggung jawab sebagai pemimpin atau pekerja. Selain menangani pekerjaan urusan umum yang sederhana, pemimpin dan pekerja ini tidak mampu melakukan apa pun yang berkaitan dengan pekerjaan substansial gereja. Mereka juga sama sekali tidak mampu melihat maupun menyelesaikan masalah nyata dalam pekerjaan. Apakah pemimpin dengan kualitas seperti ini layak dibina? Mereka bahkan tidak tahu apa itu kebingungan atau kesulitan, apalagi menanganinya sesuai dengan prinsip. Sekalipun masalah-masalah yang dihadapi dalam pekerjaan gereja adalah persoalan yang sangat umum, mereka tetap tidak bisa menyimpulkan dan mengelompokkannya, mereka juga tidak tahu bagaimana mempersekutukan kebenaran untuk menyelesaikannya—tipe pemimpin palsu seperti ini sama sekali tidak mampu menangani atau menyelesaikan masalah-masalah yang sering muncul di gereja. Persoalan terbesar mereka bukanlah karena mereka tidak bersedia membayar harga atau takut menjadi sibuk dan merasa lelah, melainkan karena kualitasnya yang buruk, berpikiran tidak jernih, dan tidak mampu melakukan pekerjaan penting serta pekerjaan nyata di gereja. Sebaliknya mereka hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan urusan umum atau senang menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak relevan, dan kemudian ingin berperan sebagai pemimpin dan pekerja—bukankah mereka orang-orang yang bingung dengan ambisi dan keinginan yang terlalu besar? Pemimpin yang kualitasnya buruk sama sekali tidak mampu melakukan pekerjaan utama gereja, yaitu pekerjaan yang berkaitan dengan prinsip-prinsip kebenaran, atau pekerjaan profesional yang rumit, seperti pekerjaan menyebarkan Injil, pekerjaan penyiraman orang percaya baru di gereja, pekerjaan pembuatan film, pekerjaan tulis-menulis, dan pekerjaan personel yang melibatkan pemimpin dan pekerja di berbagai tingkatan. Mengapa mereka tidak mampu melakukan pekerjaan ini? Itu karena kualitas mereka sangat buruk dan mereka tidak mampu memahami prinsip-prinsip; pemimpin tersebut secara keseluruhan tidak mampu melakukan semua pekerjaan ini dan tidak mampu belajar bagaimana melakukannya. Misalnya, katakanlah lima orang diberikan kepadanya dan pemimpin tersebut diminta untuk mendistribusikan pekerjaan kepada kelima orang ini berdasarkan tingkat pendidikan, kualitas, kelebihan, dan karakternya. Apakah ini tugas yang mudah dilakukan? Apakah ini ada hubungannya dengan kualitas pemimpin dan pekerja? (Ya.) Pemimpin dan pekerja yang memiliki kualitas rata-rata akan mendistribusikan pekerjaan dengan cukup akurat setelah menghabiskan waktu untuk mengamati, berinteraksi, dan mengenal kelima orang tersebut. Pemimpin dan pekerja yang memiliki kualitas yang buruk akan merasa jumlah lima orang itu terlalu banyak; jika ada terlalu banyak orang, pemimpin tersebut menjadi bingung dan tidak tahu bagaimana membagi pekerjaan kepada orang-orang itu. Bahkan, sekalipun mereka mendistribusikannya, di dalam hatinya mereka tidak yakin apakah itu tepat atau tidak. Ini dalam hal aspek personel. Dalam hal menangani masalah, misalnya, jika mereka perlu menangani dan menyelesaikan dua atau tiga permasalahan sekaligus, mereka tidak akan tahu bagaimana menilai dan membedakan hubungan antara masalah-masalah ini, mereka juga tidak akan mampu menimbang persoalan mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu, dan mana yang dapat diselesaikan kemudian tanpa menimbulkan penundaan. Artinya, mereka tidak tahu bagaimana mempertimbangkan untung ruginya, tidak tahu bagaimana memprioritaskan tugas berdasarkan tingkat kepentingan dan urgensinya, dan tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah. Akan tetapi, karena mereka adalah pemimpin dan pekerja, meskipun mereka tidak mengerti sesuatu, mereka harus berpura-pura mengerti, meskipun mereka tidak memahami sesuatu, mereka harus berpura-pura paham, dan tidak ada yang dapat mereka lakukan selain bertahan dan mengkhotbahkan beberapa doktrin untuk mengatasinya, serta mengucapkan beberapa patah kata yang terdengar menyenangkan, lalu bergegas menyelesaikan semuanya. Mereka sangat sadar apakah yang mereka katakan akurat atau tidak, apakah itu sesuai dengan prinsip atau tidak, apakah itu dapat menyelesaikan masalah atau tidak, tetapi mereka hanya ingin menghadapinya. Pemimpin tersebut tahu betul bahwa dia tidak akan mampu menyelesaikan masalah dengan apa yang dilakukannya, tetapi tetap tidak melaporkan masalah tersebut kepada Yang di Atas, yang akhirnya menyebabkan penundaan dalam pekerjaan, dan pemimpin itu pun diberhentikan. Katakan kepada-Ku, bukankah orang-orang ini bodoh? Ketika sebagian pemimpin dan pekerja melaporkan masalah, mereka menceritakan semua kejadian lama yang tidak penting yang telah berlalu hingga saat ini, dan setelah mereka mengatakan banyak hal, engkau masih harus membantunya menganalisis dan menilai masalah apa yang ada. Mereka bahkan tidak mengerti bagaimana mengemukakan sebuah masalah, dan mereka dapat berbicara selama berjam-jam tanpa menjelaskan dengan gamblang apa fokus dan esensi dari persoalan tersebut. Semua yang mereka katakan hanyalah berhubungan dengan hal-hal yang dangkal dan omong kosong belaka! Bukankah ini menunjukkan kualitasnya yang sangat buruk dan kurangnya akal? Apakah orang-orang dengan kualitas yang baik mau mendengarkan hal-hal seperti ini? Orang yang mereka ajak bicara hanya ingin tahu seperti apa situasi dan perwujudan dari orang yang mereka laporkan saat ini, situasi apa yang membingungkan dan tidak dapat diselesaikannya. Namun, orang-orang ini selalu berbicara tentang pekerjaan yang dilakukan orang tersebut di masa lalu, dan mereka tidak membicarakan situasi orang tersebut saat ini, atau mengatakan kebingungan dan masalah apa yang mereka sendiri hadapi. Pemimpin tersebut mengatakan banyak hal, tetapi tidak ada yang bisa mengerti dengan jelas apa yang dibicarakannya. Bahkan, jika ingin mengajukan pertanyaan, mereka tidak tahu harus mulai dari mana, mereka tidak tahu bagaimana mengungkapkannya dengan cara yang efektif agar orang bisa memahaminya—mereka bahkan tidak memiliki kemampuan untuk mengatur bahasanya. Bukankah ini perwujudan dari kualitas yang sangat buruk? Sejumlah pemimpin palsu memiliki kualitas yang buruk, dan ketika melaporkan suatu masalah, mereka mengatakan banyak hal yang tidak masuk akal dan tidak dapat dipahami, lalu berpikir, "Aku telah memberimu cukup banyak informasi, bukan? Aku bahkan telah memberitahumu segala hal tentang masalah ini, baik yang lalu maupun yang sekarang, jadi bukankah saat ini engkau tahu pertanyaan yang ingin kuajukan?" Apa pun yang kautanyakan, atau bagaimanapun engkau membimbingnya, pemimpin tersebut tidak tahu harus berkata apa dan tidak pernah mampu mengungkapkan inti dari masalah tersebut. Ini bukan karena mereka kekurangan kata-kata untuk mengekspresikan dirinya, atau karena tingkat pendidikannya yang rendah, melainkan karena kualitasnya yang buruk dan otaknya yang kosong. Jadi, mereka tidak tahu bagaimana mengungkapkan semua hal ini, pikirannya kacau, dan mereka tidak mampu mengekspresikan dirinya dengan jelas agar orang lain dapat memahaminya. Mereka merasa memiliki beban, dan seiring berjalannya waktu, mereka mulai memiliki kesadaran akan masalah tertentu, tetapi mereka tidak tahu bagaimana mengungkapkannya, mereka tidak mampu memahami apa esensi dari masalah tersebut, apalagi menyimpulkannya. Apakah orang-orang yang kualitasnya buruk ini bisa bekerja? Apakah mereka bisa memenuhi tanggung jawab sebagai pemimpin dan pekerja? Tidak, mereka tidak bisa. Sekalipun engkau memberinya waktu dan kesempatan serta mengizinkannya untuk melaporkan dan menjelaskan masalah tersebut, mereka tidak mampu melakukannya, jadi apakah engkau masih dapat berbicara dengan orang-orang seperti itu? Apakah mereka masih bisa dipakai? (Tidak bisa.) Mengapa mereka tidak bisa dipakai? Mereka bahkan tidak mampu berbicara dengan jelas, dan mereka bahkan tidak memiliki naluri dasar sebagai manusia untuk menggunakan bahasa dalam mengungkapkan pemikiran, gagasan, dan sikapnya, jadi pekerjaan apa yang bisa mereka lakukan? Meskipun mereka mungkin memiliki sedikit kekuatan, semangat yang tulus, sedikit rasa tanggung jawab, dan hati yang lurus, kualitasnya sangat buruk, bagaimanapun engkau mengajarinya, mereka tetap tidak bisa mempelajarinya, dan sekalipun engkau mengajari mereka bagaimana berbicara, mereka tak akan mampu menguasainya, dan itu akan membuatmu kesal dan marah. Ketika mereka berbicara, mereka mengacaukannya, membuatmu bingung; mereka tak bisa mengatakan apa pun dengan jelas, dan apa yang mereka katakan hanyalah omong kosong. Hal yang paling menyedihkan tentang pemimpin tersebut adalah mereka tidak memahami perkataan orang lain, tetapi tetap bertindak semaunya sendiri, mereka tetap menganggap dirinya mampu, dan mereka menantang ketika engkau memangkasnya. Bagaimana mereka dapat melaksanakan pekerjaan kepemimpinan dengan baik? Ketika kualitas seorang pemimpin atau pekerja begitu buruk sehingga mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengekspresikan dirinya melalui bahasa, apakah mereka tetap bisa kompeten dalam pekerjaan tersebut? (Tidak.) Apa yang dimaksud dengan tidak kompeten dalam pekerjaan mereka? Itu berarti mereka tidak mampu segera menemukan kesulitan dan masalah yang dihadapi dalam pekerjaan. Tentu saja, itu juga berarti bahwa apa pun masalah yang muncul dalam pekerjaan, pemimpin itu tak akan pernah mampu menyelesaikannya dengan segera, mereka juga tidak mampu segera melaporkannya kepada Yang di Atas dan mencari solusi dari Yang di Atas—ini terlalu sulit bagi pemimpin tersebut, dan mereka tidak mampu melakukannya. Bagi orang-orang yang memiliki kualitas buruk semacam ini, pekerjaan ini sangat sulit; itu bagaikan ikan yang dipaksa untuk hidup di daratan atau babi yang dipaksa untuk terbang—melaksanakan pekerjaan ini sangat melelahkan bagi mereka.

Ada yang berkata, "Aku merasa kasihan kepada orang-orang itu. Mereka sangat sibuk menangani segala macam tugas, tetapi akhirnya justru digolongkan sebagai pemimpin palsu karena kualitasnya yang buruk. Jadi, apakah itu berarti penderitaan yang mereka tanggung selama ini sia-sia? Bukankah itu sama saja dengan memperlakukan orang-orang dengan tak adil?" Memberhentikan pemimpin palsu berarti bertanggung jawab atas umat pilihan Tuhan dan atas pekerjaan gereja, jadi bagaimana mungkin itu dianggap memperlakukan orang dengan tidak adil? Jika engkau bersikeras membiarkan pemimpin palsu melanjutkan perannya sebagai pemimpin, bukankah itu justru merugikan umat pilihan Tuhan? Apakah engkau bermaksud mengatakan bahwa merugikan umat pilihan Tuhan bukanlah memperlakukan orang dengan tidak adil? Dengan memberhentikan seorang pemimpin palsu, rumah Tuhan bukan sedang mengutuknya atau mengirimnya ke neraka, melainkan memberi orang tersebut kesempatan untuk memperoleh keselamatan. Dapatkah mereka memperoleh keselamatan jika mereka terus menjadi pemimpin palsu? Apa hasil akhir mereka kelak? Mengapa engkau tidak mempertimbangkan masalah ini dengan sudut pandang tersebut? Selain itu, apa tujuan percaya kepada Tuhan? Apakah menjadi pemimpin adalah satu-satunya jalan untuk maju? Apakah tidak ada tugas lain yang harus dilaksanakan jika seseorang bukan pemimpin? Apakah tidak ada jalan untuk bertahan hidup bagi mereka yang bukan pemimpin dan memiliki kualitas yang buruk? (Tidak, itu tidak benar.) Jadi, apa jalan penerapannya? Yang sedang kita analisis sekarang adalah perwujudan dan masalah yang ada dalam diri pemimpin palsu yang memiliki kualitas yang buruk ini; kita bukan sedang mengutuk atau menghakiminya, kita hanya menganalisis mereka. Tujuan menganalisis mereka adalah orang-orang semacam ini mengenal dan menempatkan dirinya dengan tepat, mengetahui batas kemampuannya, dan memahami dengan tepat apa itu pemimpin dan pekerja, pekerjaan apa yang seharusnya dilakukan oleh pemimpin dan pekerja, dan kemudian membandingkan semua hal ini dengan dirinya sendiri untuk melihat apakah mereka pantas menjadi pemimpin atau pekerja. Jika kualitasmu memang sangat buruk, begitu buruknya sehingga engkau tidak mampu mengungkapkan diri dalam bahasa, tidak mampu mengungkapkan pemikiran dan pandanganmu, atau tidak mampu menemukan masalah, engkau tidak pantas menjadi seorang pemimpin atau pekerja, dan engkau tidak kompeten untuk melaksanakan tugas seorang pemimpin atau pekerja, serta tidak mampu melakukan pekerjaan seorang pemimpin atau pekerja. Engkau memiliki kualitas yang buruk, maka engkau harus memiliki kesadaran diri seperti ini. Ada yang berkata, "Kualitasku buruk—lalu apa masalahnya? Aku memiliki kemanusiaan yang baik, jadi aku harus menjadi seorang pemimpin." Apakah ini prinsipnya? Ada juga yang berkata, "Selain memiliki kemanusiaan yang baik, aku juga bersedia menanggung penderitaan dan membayar harga, aku dapat berkhotbah, aku memiliki dasar dalam imanku, dan aku pernah dipenjara karena kepercayaanku kepada Tuhan. Bukankah semua ini merupakan modal bagiku untuk menjadi seorang pemimpin atau pekerja?" Apakah merupakan kebenaran bahwa seseorang harus memiliki modal untuk menjadi seorang pemimpin atau pekerja? (Bukan.) Yang sedang kita bahas sekarang adalah tanggung jawab pemimpin dan pekerja, serta dalam topik ini, kita membahas masalah kualitas. Jika kualitasmu buruk dan engkau tidak dapat memenuhi tanggung jawab ini, kesadaran diri yang harus kaumiliki adalah: "Aku tidak memiliki kualitas ini dan aku tidak bisa menjadi pemimpin atau pekerja. Apa pun modal yang kumiliki, itu tidak ada gunanya." Engkau mengatakan bahwa engkau memiliki kemanusiaan yang baik, engkau dapat diandalkan, engkau memiliki tekad untuk menanggung penderitaan, dan engkau bersedia membayar harga—apakah rumah Tuhan pernah memperlakukanmu dengan tidak adil? Rumah Tuhan memakai orang dengan cara yang memastikan setiap orang dapat dipakai sebaik mungkin, menyesuaikan peran sesuai dengan kemampuan masing-masing, dan melakukannya dengan cara yang sangat tepat. Jika engkau memiliki kemanusiaan yang baik tetapi kualitasmu buruk, engkau harus melaksanakan tugasmu dengan baik dengan segenap hati dan kekuatanmu; itu bukan berarti engkau harus menjadi pemimpin atau pekerja agar diperkenan oleh Tuhan. Sekalipun engkau bersedia untuk merepotkan diri, jika engkau tidak mampu merepotkan diri sebagaimana seharusnya seorang pemimpin, dan engkau tidak memiliki kualitas yang seharusnya untuk menjadi seorang pemimpin, dan engkau tidak mampu melakukannya, apa yang dapat kaulakukan? Jangan memaksakan diri atau mempersulit diri sendiri; jika engkau bisa mengangkat beban 25 kilo, angkatlah 25 kilo tersebut. Jangan mencoba pamer dengan memaksakan diri melampaui batasmu, dengan berkata, "25 kilo tidak cukup. Aku ingin mengangkat beban yang lebih berat lagi. Aku ingin mengangkat 50 kilo. Aku siap melakukannya sekalipun aku mati karena kelelahan!" Engkau tidak mampu menjadi pemimpin atau pekerja, tetapi jika engkau tetap memaksakan diri melampaui batas untuk pamer, meskipun engkau tidak akan kelelahan, engkau akan menyebabkan penundaan pada pekerjaan gereja, memengaruhi kemajuan dan efisiensi pekerjaan, serta menghambat kemajuan hidup banyak orang—ini bukanlah tanggung jawab yang dapat kaupikul. Mengingat kualitasmu yang tidak memadai, jika engkau memiliki kesadaran diri, engkau seharusnya mengambil inisiatif untuk mengundurkan diri dan merekomendasikan seseorang yang memiliki kualitas yang baik, yang mencintai kebenaran, dan yang lebih bertanggung jawab dari dirimu untuk menjadi pemimpin atau pekerja. Ini adalah tindakan yang bijaksana, dan hanya dengan melakukan ini engkau akan menjadi orang yang benar-benar memiliki kemanusiaan dan nalar, serta orang yang sungguh-sungguh memahami dan menerapkan kebenaran. Jika engkau mengundurkan diri dari jabatanmu karena tidak mampu melaksanakan pekerjaan kepemimpinan, dan kemudian engkau memilih tugas yang sesuai denganmu dan mempersembahkan kesetiaanmu agar mendapatkan perkenanan Tuhan, engkau adalah orang yang sangat cerdas. Engkau selalu berpikir, "Meskipun aku memiliki kualitas yang buruk, aku memiliki kemanusiaan yang baik, aku bersedia merepotkan diri, menanggung penderitaan, dan membayar harga, aku memiliki tekad, aku lebih tangguh daripada engkau semua dalam segala hal yang kulakukan, dan aku berpikiran luas dan tidak takut dipangkas atau diuji. Meskipun kualitasku sedikit buruk, aku tetap bisa menjadi seorang pemimpin." Memiliki kualitas yang buruk bukanlah sebuah masalah. Ini bukan dimaksudkan untuk mengutukmu, melainkan hanya untuk mengelompokkan dan membantumu memahami dengan jelas apa sesungguhnya yang dapat kaulakukan dan jenis tugas apa yang sesuai untukmu. Namun, masalahnya sekarang adalah kualitasmu buruk dan engkau tidak mampu menjadi seorang pemimpin atau pekerja. Meskipun engkau telah dipilih menjadi pemimpin atau pekerja, engkau tidak dapat melakukan pekerjaan ini dengan baik, dan yang dapat kaulakukan hanyalah mengacaukan pekerjaan. Jika engkau memiliki kemanusiaan yang baik, jika engkau memiliki hati nurani dan nalar, serta engkau bersedia merepotkan diri dan membayar harga, akan ada pekerjaan yang cocok untukmu dan tugas yang seharusnya kaulaksanakan, serta rumah Tuhan akan membuat pengaturan yang wajar untukmu. Tidak mengizinkanmu menjadi pemimpin didasarkan pada peraturan dan prinsip rumah Tuhan. Akan tetapi, rumah Tuhan sama sekali tidak akan mengingkari hakmu untuk melaksanakan tugas atau hakmu untuk percaya dan mengikuti Tuhan hanya karena engkau memiliki kualitas yang buruk. Bukankah ini sudah tepat? (Ya, sudah tepat.) Apakah kita perlu mempersekutukan masalah ini lebih rinci? Orang-orang yang memiliki kualitas yang buruk mendengar ini dan merenung, "Jangan persekutukan hal ini lagi. Aku merasa terlalu malu untuk menghadapi siapa pun. Aku tahu aku memiliki kualitas yang buruk, dan aku tidak akan lagi menjadi pemimpin gereja atau pekerja. Aku hanya akan menjadi ketua tim atau pengawas, atau aku akan mengerjakan pekerjaan serabutan, memasak atau membersihkan. Apa pun itu tidak menjadi masalah. Aku akan menanggung kesulitan dalam tugasku tanpa mengeluh, tunduk pada pengaturan rumah Tuhan, dan tunduk pada penataan-Nya. Kualitasku yang buruk adalah karena kasih karunia Tuhan, dan di dalamnya terkandung maksud baik-Nya. Segala sesuatu yang Tuhan lakukan adalah benar." Jika engkau dapat melihat segala sesuatu dengan cara seperti ini, itu bagus, dan itu berarti engkau memiliki sedikit kesadaran diri. Aku tidak akan mempersekutukan masalah ini panjang lebar. Singkatnya, terkait dengan orang-orang yang memiliki kualitas yang buruk ini, kita hanya sedang menganalisis masalah dan mengungkapkan kebenaran dari fakta-fakta tersebut agar lebih banyak orang memiliki sikap dan pandangan yang benar mengenai orang-orang ini, dan agar orang-orang ini memiliki sikap dan pandangan yang benar mengenai masalah kualitas buruknya sendiri, dan kemudian dapat dengan tepat menempatkan dirinya, menemukan posisi dan tugas yang sesuai dengan dirinya, yang memungkinkan ketekunannya dalam membayar harga dan tekadnya untuk menanggung penderitaan dapat dipakai dan diterapkan secara wajar. Ini tidak akan memengaruhi pemahamanmu akan kebenaran dan penerapan kebenaran, juga tidak akan memengaruhi citramu di rumah Tuhan.

III Pemimpin Palsu Yang Malas dan Menikmati Kenyamanan

Kita baru saja mempersekutukan dua tipe pemimpin palsu. Ada tipe pemimpin palsu lainnya yang sering kita bicarakan ketika mempersekutukan topik "tanggung jawab pemimpin dan pekerja". Tipe pemimpin palsu ini memiliki kualitas tertentu, mereka tidak bodoh, dalam pekerjaannya, mereka memiliki cara dan metode, serta rencana untuk menyelesaikan masalah, dan ketika diberi suatu pekerjaan, mereka dapat melakukannya dengan standar yang mendekati harapan. Mereka mampu menemukan masalah yang muncul dalam pekerjaan dan juga mampu menyelesaikan beberapa di antaranya; ketika mendengar masalah yang dilaporkan sejumlah orang, atau mengamati perilaku, perwujudan, ucapan, dan tindakan sebagian orang, mereka bereaksi terhadapnya dalam hati dan memiliki pendapat dan sikapnya sendiri. Tentu saja, jika orang-orang ini mengejar kebenaran dan merasa memiliki beban, semua persoalan tersebut dapat diselesaikan. Namun, tanpa diduga, masalah dalam pekerjaan yang menjadi tanggung jawab tipe orang yang sedang kita bahas hari ini justru tetap tidak terselesaikan. Mengapa demikian? Itu karena orang-orang tersebut tidak melakukan pekerjaan nyata. Pemimpin seperti ini menyukai kenyamanan dan membenci kerja keras, mereka hanya bekerja secara asal-asalan tanpa upaya yang nyata, suka bermalas-malasan dan menikmati keuntungan dari status, suka memerintah orang, sekadar menggerakkan mulut dan memberikan sedikit saran, lalu menganggap pekerjaannya sudah selesai. Mereka tidak peduli dengan pekerjaan nyata gereja atau pekerjaan penting yang Tuhan percayakan kepadanya—mereka tidak merasa memiliki beban ini. Bahkan, ketika rumah Tuhan berulang kali menekankan hal tersebut, mereka tetap tidak mengindahkannya. Misalnya, mereka tidak ingin campur tangan atau bertanya tentang pekerjaan pembuatan film atau pekerjaan tulis-menulis di rumah Tuhan, mereka juga tidak ingin mengetahui bagaimana perkembangan pekerjaan-pekerjaan ini dan hasil apa yang dicapainya. Pemimpin tersebut hanya menanyakan secara tidak langsung, dan begitu mengetahui bahwa orang-orang sibuk dengan pekerjaan ini dan sedang mengerjakannya, mereka tidak lagi memedulikannya. Bahkan, sekalipun mereka tahu betul bahwa ada masalah dalam pekerjaan, mereka tetap tidak mau mempersekutukan dan menyelesaikannya, juga tidak menanyakan atau menyelidiki bagaimana orang-orang melaksanakan tugasnya. Mengapa pemimpin itu tidak menanyakan atau menyelidikinya? Karena menurutnya, jika mereka menyelidikinya, akan ada banyak masalah yang harus mereka selesaikan, dan itu akan sangat merepotkan. Hidup akan sangat melelahkan jika mereka harus terus-menerus menyelesaikan masalah! Jika mereka terlalu banyak memikirkan hal tersebut, makanan tidak akan terasa enak lagi baginya, dan mereka tidak akan bisa tidur nyenyak, tubuhnya akan terasa lelah, dan kemudian hidup akan menjadi sengsara. Itulah sebabnya, ketika mereka melihat adanya masalah, mereka menghindarinya dan mengabaikannya jika memungkinkan. Apa masalah dari tipe orang seperti ini? (Mereka terlalu malas.) Katakan pada-Ku, siapa yang punya masalah serius: orang malas, atau orang berkualitas buruk? (Orang malas.) Mengapa orang malas punya masalah yang serius? (Orang berkualitas buruk tidak bisa menjadi pemimpin atau pekerja, tetapi mereka bisa menjadi sedikit efektif ketika melaksanakan tugas yang sesuai dengan kemampuan mereka. Namun, orang yang malas tidak dapat melakukan apa pun; meskipun mereka berkualitas, itu tidak berpengaruh.) Orang malas tidak bisa melakukan apa pun. Untuk meringkasnya dalam dua kata, mereka adalah orang yang tidak berguna; mereka memiliki kecacatan kelas dua. Sehebat apa pun kualitas yang dimiliki oleh para pemalas, itu tidak lebih dari sekadar riasan luar; meskipun mereka memiliki kualitas yang bagus, tetapi tidak ada gunanya. Mereka terlalu malas—mereka tahu apa yang harus mereka lakukan, tetapi mereka tidak melakukannya, dan bahkan sekalipun mereka tahu ada sesuatu yang menjadi masalah, mereka tidak mencari kebenaran untuk menyelesaikannya, dan meskipun mereka tahu kesulitan apa yang harus mereka tanggung agar pekerjaan menjadi efektif, mereka tidak mau menanggung kesulitan yang berharga ini, jadi mereka tidak memperoleh kebenaran apa pun, dan mereka tidak dapat melakukan pekerjaan nyata apa pun. Mereka tidak ingin menanggung kesukaran yang seharusnya orang alami; mereka hanya tahu memanjakan diri dengan kenyamanan, menikmati saat bersenang-senang dan bersantai, serta kenikmatan hidup yang bebas dan santai. Bukankah mereka tidak berguna? Orang yang tidak mampu menanggung kesukaran tidak layak untuk hidup. Mereka yang selalu menjalani hidup sebagai parasit adalah orang-orang yang tidak berhati nurani atau tidak bernalar; mereka adalah binatang buas, dan orang-orang seperti itu bahkan tidak layak untuk berjerih payah. Karena mereka tidak mampu menanggung kesukaran, bahkan ketika mereka berjerih payah, mereka tidak mampu melakukannya dengan benar, dan jika mereka ingin memperoleh kebenaran, bahkan harapan untuk itu makin kecil. Seseorang yang tidak mampu menderita dan tidak mencintai kebenaran adalah orang yang tidak berguna; mereka tidak memenuhi syarat bahkan untuk berjerih payah. Mereka adalah binatang buas, tanpa sedikit pun kemanusiaan. Orang-orang seperti itu harus disingkirkan; hanya ini yang sesuai dengan maksud Tuhan.

Sebagian orang bertanggung jawab atas pekerjaan pertanian. Mereka sangat tekun dan memiliki rencana dalam benaknya. Mereka tahu pekerjaan apa yang harus dilakukan di setiap musim. Ketika tiba saatnya untuk menggarap ladang, mereka pergi ke setiap petak lahan dan memeriksanya. Mereka membandingkan apa yang telah mereka rencanakan untuk ditanam di setiap petak lahan dengan keadaan sebenarnya dari petak itu sendiri, dan melihat apakah rencananya sesuai, serta apakah cocok dengan situasi yang sebenarnya. Selain itu, mereka melihat kadar kelembapan tanah tahun ini, pupuk apa yang dibutuhkan, dan apa yang cocok untuk ditanam. Setelah mereka memeriksa dan memahami semua hal tersebut, mereka segera menanyakan apakah bibit telah dibudidayakan dan berapa banyak yang telah dibudidayakan, kemudian mereka pergi ke rumah kaca untuk memeriksanya dan melihat apakah orang yang membudidayakan bibit dapat diandalkan ataukah akan merusak bibit tersebut. Jika satu orang tidak cukup untuk melakukan pekerjaan ini, mereka menugaskan orang lain untuk bekerja dengannya, dan keduanya saling mengawasi. Apakah orang malas akan melakukan ini? Tidak, mereka tidak akan melakukannya. Jika tidak ada yang mengawasi dan mendesaknya, mereka sama sekali tidak akan datang sendiri ke lokasi pekerjaan itu; jika rumah Tuhan tidak menanyakan perkembangan suatu pekerjaan, mereka sama sekali tidak akan berinisiatif untuk memeriksa situasi sebenarnya dari pekerjaan tersebut. Bagi orang-orang yang berkualitas buruk, apa pun yang sedang mereka lakukan, mereka selalu melakukannya sendiri, tetapi mereka tidak mampu membedakan mana yang mendesak serta penting, dan mana yang tidak, serta mereka hanya bertindak tanpa pertimbangan. Padahal orang-orang malas ini cukup pintar, dan apa pun yang mereka lakukan, mereka hanya suka bicara dan menyuruh orang lain untuk melakukan pekerjaan tersebut; mereka tidak pernah melakukan apa pun sendiri, mereka juga tidak dapat melakukan pekerjaan nyata. Mereka berpikir, "Aku hanya perlu menelepon atau mengirim pesan untuk menanyakan beberapa hal, dan pekerjaanku selesai, masalahnya teratasi. Ini sangat menghemat waktuku! Lihatlah seperti apa kualitasku sebagai seorang pemimpin. Aku dapat menyelesaikan pekerjaan hanya dengan beberapa patah kata—bukankah ini juga merupakan pemenuhan tanggung jawabku? Aku tidak lalai dalam tanggung jawabku. Jika Yang di Atas bertanya kepadaku tentang hal ini, aku dapat menjawabnya dengan sangat lancar dan menjelaskannya secara gamblang. Apa gunanya pergi ke lokasi pekerjaan dan melihat-lihat? Aku harus menanggung kesulitan dan penderitaan, dan kulitku akan menghitam karena terpapar sinar matahari. Tidak perlu melalui formalitas seperti itu. Jika aku dapat menghemat waktu, itulah yang akan kulakukan. Tidak perlu menyulitkan diri sendiri." Bukankah mereka cukup "pintar"? Ketika tipe orang seperti ini bekerja, mereka sangat pandai dalam memotong jalan untuk mencapai tujuannya dan mencari jalan pintas, serta mereka memiliki cara dan metodenya sendiri. Mereka tidak melakukan apa-apa sendiri, juga tidak ikut serta dalam apa pun. Mereka hanya menelepon untuk bertanya, sekadar menjalankan formalitas, dan begitu menutup telepon, mereka langsung tidur atau pijat dan mulai memanjakan diri. Tipe orang seperti ini benar-benar tahu cara "bekerja", bagaimana mencari kesempatan untuk bermalas-malasan, dan tahu bagaimana menjalani formalitas dan menipu orang-orang! Apa gunanya mereka memiliki sedikit kualitas seperti itu? Mereka sama seperti para pejabat di negara Partai Komunis, yang hanya minum teh dan membaca koran setelah mereka tiba di tempat kerja, lalu mulai berpikir tentang apa yang akan mereka makan dan ke mana mereka akan pergi untuk bersenang-senang, bahkan sebelum waktu kerja hari itu selesai, hidup mereka benar-benar nyaman. Prinsip inilah yang dianut oleh tipe pemimpin palsu ini dalam pekerjaannya; mereka tidak menderita kesukaran, mereka tidak mengalami kelelahan, tetapi mereka tetap bertindak sebagai pejabat dan menikmati keuntungan dari status, dan sebagian besar saudara-saudari tidak dapat menyadari bahwa ini adalah masalah. Beginilah cara pemimpin palsu semacam ini bekerja, mereka tidak melakukan pekerjaan nyata, tidak pergi ke lokasi untuk menindaklanjuti serta memeriksa pekerjaan, jadi apakah mereka bisa menemukan masalah dengan pekerjaan tersebut? (Tidak.) Pemimpin palsu yang memiliki kerohanian palsu dan pemimpin palsu yang berkualitas buruk itu buta meskipun matanya terbuka lebar, dan mereka tidak dapat melihat masalah, jadi bagaimana dengan orang yang tidak berguna seperti ini? Mereka berkata, "Aku tidak ikut serta dalam pekerjaan nyata, dan aku tidak pergi ke lokasi untuk berbaur dengan orang-orang yang bekerja di sana, jadi jika timbul masalah, engkau tidak bisa mengatakan bahwa aku buta meskipun mataku terbuka lebar. Aku tidak pergi ke lokasi, aku tidak melihat masalahnya, lalu apa hubungannya denganku jika timbul masalah? Engkau seharusnya mencari orang-orang yang terlibat." Bukankah orang-orang ini sangat licik? Mereka merasa yang perlu mereka lakukan hanyalah memberi perintah dan mengatur orang-orang dengan baik, itu saja, dan kemudian tanggung jawabnya telah terpenuhi, dan dengan begitu, mereka dapat menikmati waktu luang dan hiburannya tanpa rasa malu. Apa pun masalah yang ada di bawah, mereka tidak melakukan penyelidikan, dan mereka hanya bergegas untuk menangani masalah jika seseorang melaporkannya kepada Yang di Atas. Yang mereka fokuskan setiap hari hanyalah menikmati keuntungan dari status, berjalan santai ke mana-mana, berpura-pura memeriksa pekerjaan, padahal mereka tidak pernah pergi ke tempat yang benar-benar bermasalah dan tidak pernah memeriksa pekerjaan yang penting—bukankah ini seperti pejabat Partai Komunis yang hanya melakukan upaya yang dangkal dan melakukan pekerjaan yang membuat mereka terlihat baik? Pemimpin tersebut membuat janji-janji manis untuk melakukan pekerjaan yang diberikan kepadanya, tetapi mereka tidak menindaklanjutinya atau mengawasinya, dan sekalipun mereka benar-benar pergi ke lokasi, mereka hanya menjalani formalitas. Mereka sama sekali tidak mau bekerja sendiri atau menyelesaikan masalah sendiri. Mereka berpikir, "Tidak perlu aku menderita dan membayar harga untuk melakukan semua ini. Yang penting ada orang di sana yang mengerjakannya. Lagi pula, aku tidak dibayar, jadi tidak menjadi masalah kalau aku sekadar menjalaninya." Dapatkah mereka melakukan pekerjaannya dengan baik jika mereka memiliki pola pikir seperti ini? Mereka memiliki sedikit rencana dalam benaknya, dengan berpikir, "Aku akan bekerja hanya sebatas apa yang kudapatkan untuk makan, dan aku akan asal kerja saja, yang penting jalan." Namun, mereka tidak pernah melakukan pekerjaan tertentu dan tidak pernah terlihat di lokasi kerja. Lalu, di manakah orang-orang ini? Mereka bersenang-senang di tempat yang indah dan aman di mana mereka dapat makan dan minum dengan baik, serta tidur dengan nyenyak, mereka hidup seperti seorang pangeran—mandi secara teratur, melakukan pijat secara rutin, dan sering berganti pakaian—dan sama sekali tidak menanggung penderitaan. Mereka tidak pernah merenungkan tentang pekerjaan nyata yang dapat mereka lakukan, masalah nyata yang dapat diselesaikan, kontribusi apa yang telah diberikan untuk pekerjaan rumah Tuhan, dan bagaimana mereka memenuhi syarat untuk menikmati semua kenyamanan ini—mereka tidak pernah memikirkan semua itu. Tipe orang seperti apakah mereka ini? Orang-orang hina ini tidak memiliki kesadaran diri dan makhluk yang tidak tahu malu. Orang-orang ini tidak pantas menjadi pemimpin dan pekerja gereja.

Semua pemimpin palsu tidak pernah melakukan pekerjaan nyata. Mereka bertindak seolah-olah peran kepemimpinan mereka adalah sebuah jabatan resmi, menikmati manfaat dari status mereka, dan mereka memperlakukan tugas yang seharusnya dilaksanakan dan pekerjaan yang seharusnya dilakukan sebagai pemimpin seperti beban, sebagai gangguan. Di dalam hatinya, mereka penuh dengan penentangan terhadap pekerjaan gereja: ketika mereka diminta untuk mengawasi pekerjaan dan mengetahui apa masalah yang ada dalam pekerjaan tersebut yang perlu ditindaklanjuti dan diselesaikan, mereka akan melakukannya dengan penuh keengganan. Ini adalah pekerjaan yang sudah seharusnya dilakukan oleh para pemimpin dan pekerja, ini adalah pekerjaan mereka. Jika engkau tidak melakukannya dan engkau tidak bersedia melakukannya, lalu mengapa engkau masih ingin menjadi pemimpin atau pekerja? Apakah engkau melaksanakan tugasmu agar mereka memikirkan maksud-maksud Tuhan, atau agar engkau menjadi seorang pejabat dan menikmati manfaat dari statusmu tersebut? Jika engkau menjadi seorang pemimpin hanya agar engkau bisa ingin memiliki jabatan resmi, bukankah itu sedikit memalukan? Orang-orang seperti ini memiliki karakter terendah, tidak punya harga diri, dan tidak memili rasa malu. Jika engkau ingin menikmati kenyamanan daging, engkau harus segera kembali ke dunia dan bersaing, mengambil dengan paksa, merebut semampumu, dan tak seorang pun yang akan ikut campur. Rumah Tuhan adalah tempat bagi umat pilihan Tuhan untuk menjalankan tugas mereka dan menyembah-Nya; itu adalah tempat bagi orang-orang untuk mengejar kebenaran dan memperoleh keselamatan. Rumah Tuhan bukanlah tempat bagi siapa pun untuk menikmati kenyamanan daging, dan terlebih lagi, rumah Tuhan bukanlah tempat yang memungkinkan orang untuk hidup seperti pangeran. Pemimpin palsu itu tidak tahu malu, mereka mati rasa, dan tak bernalar. Apa pun pekerjaan spesifik yang ditugaskan kepada mereka, mereka tidak menganggapnya serius, mereka tidak memikirkannya lagi; meskipun mereka menanggapi dengan sangat baik dalam kata-kata, mereka tidak melakukan sesuatu yang nyata. Bukankah ini tidak bermoral? Mereka bukan saja tidak melakukan pekerjaan nyata, tetapi mereka juga ingin memiliki kekuasaan tunggal—untuk menjadikan diri mereka sendiri orang yang berkuasa penuh atas keuangan, personel, dan semua hal lainnya, serta membuat orang-orang melapor kepada mereka setiap hari. Mereka sebenarnya sangat tekun ketika menyangkut hal-hal ini. Ketika tiba waktunya bagi mereka untuk membuat laporan tentang pekerjaan kepada Yang di Atas, mereka mengaitkan hasil-hasil dari semua pekerjaan yang dilakukan oleh saudara-saudari kepada diri mereka sendiri sehingga Yang di Atas secara keliru menganggap bahwa mereka telah bekerja dengan sangat baik, padahal sebenarnya semuanya itu dilakukan oleh orang lain. Berapa banyak orang yang telah didapatkan melalui pemberitaan Injil, siapa sajakah orang yang telah dipromosikan dan telah dibina, siapa sajakah orang-orang yang telah diberhentikan dari jabatan mereka, siapa sajakah orang-orang yang telah dikeluarkan, dan sebagainya—tak satu pun dari tugas-tugas spesifik ini yang dilakukan oleh mereka, tetapi mereka berani melaporkannya demikian. Bukankah orang-orang ini tidak tahu malu? Bukankah mereka sedang melakukan penipuan? Orang-orang seperti ini sangat licik dan lihai! Mereka pikir diri mereka pintar—tetapi sebenarnya mereka menjadi korban dari tipu muslihat mereka sendiri, dan pada akhirnya mereka sendirilah yang membuat diri mereka tersingkap dan disingkirkan. Ada orang-orang yang tidak mampu mengerjakan pekerjaan atau tugas apa pun yang mereka laksanakan, mereka tidak kompeten di dalamnya, mereka tidak mampu memikulnya, dan mereka tidak mampu memenuhi kewajiban atau tanggung jawab apa pun yang seharusnya orang lakukan. Bukankah mereka itu sampah? Apakah mereka masih layak disebut manusia? Kecuali orang-orang bodoh, orang-orang yang tidak kompeten secara mental, dan mereka yang menderita berbagai gangguan fisik, adakah orang hidup yang tidak diharuskan melaksanakan tugas dan tanggung jawab mereka? Namun, orang seperti ini selalu licik dan bermalas-malasan, dan tidak ingin memenuhi tanggung jawab mereka; kesimpulannya mereka tidak ingin menjadi manusia yang semestinya. Tuhan memberi mereka kesempatan untuk menjadi manusia, dan Dia memberi mereka kualitas dan karunia, tetapi mereka tidak mampu memanfaatkan semua ini dalam melaksanakan tugas mereka. Mereka tidak melakukan apa pun, tetapi ingin menikmati kenikmatan di setiap kesempatan. Apakah orang seperti itu pantas disebut manusia? Pekerjaan apa pun yang diberikan kepada mereka—entah itu penting atau biasa, sulit atau sederhana—mereka selalu asal-asalan dan licik, serta bermalas-malasan. Ketika muncul masalah, mereka mencoba melemparkan tanggung jawab mereka kepada orang lain; tidak mau memikul tanggung jawab, dan mereka ingin tetap menjalani kehidupan parasit mereka. Bukankah mereka sampah yang tidak berguna? Di tengah masyarakat, siapa yang tidak perlu bergantung pada diri mereka sendiri untuk mencari nafkah? Ketika seseorang sudah dewasa, mereka harus mencukupi kebutuhan mereka sendiri. Orang tua mereka telah memenuhi tanggung jawab mereka. Meskipun orang tua mereka bersedia mendukung mereka, mereka akan merasa tidak nyaman akan hal itu. Mereka seharusnya dapat menyadari bahwa orang tua mereka telah menyelesaikan misi mereka dalam membesarkan mereka, dan mereka adalah orang dewasa yang sehat jasmani dan harus bisa hidup mandiri. Bukankah ini nalar minimum yang harus orang dewasa miliki? Jika orang benar-benar bernalar, mereka tidak mungkin terus merengek kepada orang tua mereka; mereka pasti takut ditertawakan orang lain, takut kehilangan muka. Jadi, apakah orang yang menyukai kemudahan dan benci bekerja memiliki nalar? (Tidak.) Mereka selalu menginginkan sesuatu tanpa usaha; mereka tidak ingin memikul tanggung jawab apa pun, ingin ada permen yang jatuh dari langit dan langsung masuk ke mulut mereka; mereka selalu ingin makan tiga kali sehari, ingin ada orang yang melayani mereka, dan senang makan dan minum enak tanpa sedikit pun bekerja. Bukankah ini pola pikir parasit? Dan apakah orang yang adalah parasit memiliki hati nurani dan nalar? Apakah mereka memiliki integritas dan martabat? Sama sekali tidak. Mereka semua para pendompleng yang tidak berguna, mereka semua binatang buas yang tidak berhati nurani ataupun bernalar. Tak seorang pun dari mereka layak untuk tetap berada di rumah Tuhan.

Misalkan gereja mengatur pekerjaan untukmu, dan engkau berkata, "Entah pekerjaan itu akan memungkinkanku untuk mendapatkan perhatian atau tidak—karena pekerjaan itu diberikan kepadaku, aku akan melakukannya dengan baik dan menerima tanggung jawab ini. Jika aku diatur untuk menjadi tuan rumah, aku akan mengerahkan segenap kemampuanku untuk melakukannya dengan baik; aku akan melayani saudara-saudari dengan baik, dan berusaha sebaik mungkin memastikan keselamatan semua orang. Jika aku diatur untuk memberitakan Injil, aku akan memperlengkapi diriku dengan kebenaran dan memberitakan Injil dengan baik dan penuh kasih serta melaksanakan tugasku. Jika aku diatur untuk belajar bahasa asing, aku akan mempelajarinya dengan sepenuh hati dan berupaya keras, serta berusaha menguasainya secepat mungkin, dalam waktu satu atau dua tahun agar aku dapat bersaksi tentang Tuhan kepada orang asing. Jika aku diminta untuk menulis artikel kesaksian, aku akan melatih diriku dengan sungguh-sungguh untuk melakukannya, memandang segala sesuatu berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, dan belajar tentang bahasa. Meskipun aku mungkin tak mampu menulis artikel dengan prosa yang indah, setidaknya aku akan dapat menyampaikan kesaksian pengalamanku dengan jelas, mempersekutukan kebenaran dengan jelas, dan memberikan kesaksian yang nyata bagi Tuhan, sampai sedemikian rupa hingga orang terdidik dalam kerohanian mereka dan memperoleh manfaat ketika membaca artikelku. Pekerjaan apa pun yang gereja tugaskan kepadaku, aku akan melaksanakannya dengan segenap hati dan kekuatanku. Jika ada sesuatu yang tidak kupahami atau muncul masalah, aku akan berdoa kepada Tuhan, mencari kebenaran, menyelesaikan masalah berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, dan melaksanakan pekerjaan itu dengan baik. Apa pun tugasku, aku akan berupaya sebaik mungkin untuk melaksanakannya dengan baik dan memuaskan Tuhan. Untuk apa pun yang dapat kucapai, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk memikul semua tanggung jawab yang harus kutanggung, dan setidaknya, aku tidak akan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani dan nalarku, atau bersikap asal-asalan, atau bersikap licin dan bermalas-malasan, atau menikmati hasil jerih payah orang lain. Semua yang kulakukan akan memenuhi standar hati nurani." Ini adalah standar minimum dalam berperilaku, dan orang yang melaksanakan tugas mereka dengan cara seperti itu dapat dianggap sebagai orang yang berhati nurani dan bernalar. Engkau setidaknya harus memiliki hati nurani yang bersih dalam melaksanakan tugasmu, dan engkau setidaknya harus layak dengan makanan tiga kali sehari dan bukan mendapatkannya tanpa mengerjakan apa pun. Ini disebut memiliki rasa tanggung jawab. Entah kualitasmu tinggi atau rendah, dan entah engkau memahami kebenaran atau tidak, apa pun itu, engkau harus memiliki sikap ini: "Karena pekerjaan ini diberikan kepadaku untuk kulaksanakan, aku harus memperlakukannya dengan serius, aku harus menganggapnya penting, dan harus dengan segenap hati dan kekuatan melaksanakannya dengan baik. Tentang apakah aku dapat melaksanakannya dengan sempurna atau tidak, aku tidak bisa memberikan jaminan, tetapi sikapku adalah, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk melaksanakannya dengan baik, dan aku pasti tidak akan bersikap asal-asalan terhadap pekerjaan itu. Jika muncul masalah dalam pekerjaan, aku harus bertanggung jawab, dan memastikan aku memetik pelajaran darinya dan melaksanakan tugasku dengan baik." Inilah sikap yang benar. Apakah engkau semua memiliki sikap seperti itu? Ada orang yang berkata, "Aku tidak selalu perlu melaksanakan pekerjaan yang ditugaskan kepadaku dengan baik. Aku hanya akan melakukannya semampuku dan hasil akhirnya bagaimana nanti. Aku tak perlu terlalu menguras tenaga, atau menjadi cemas jika melakukan sesuatu yang salah, dan tak perlu terlalu stres. Apa gunanya terlalu melelahkan diriku? Lagi pula, aku selalu bekerja dan aku tidak mendompleng." Sikap terhadap tugas yang seperti ini tidak bertanggung jawab. "Jika aku sedang ingin bekerja, aku hanya akan melakukan beberapa pekerjaan. Aku akan melakukannya semampuku dan hasil akhirnya bagaimana nanti. Tak perlu terlalu serius menanggapinya." Orang-orang semacam itu tidak memiliki sikap yang bertanggung jawab terhadap tugas mereka dan tidak memiliki rasa tanggung jawab. Orang seperti apakah dirimu? Jika engkau adalah orang jenis pertama, berarti engkau adalah orang yang memiliki nalar dan kemanusiaan. Jika engkau adalah orang jenis kedua, berarti engkau tidak ada bedanya dengan jenis pemimpin palsu yang baru saja Kuanalisis. Engkau hanya menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan. "Aku akan menghindari kelelahan dan kesukaran dan hanya menikmati hidupku. Meskipun suatu hari nanti aku diberhentikan, aku tidak akan kehilangan apa pun. Setidaknya, aku telah menikmati manfaat dari statusku selama beberapa hari, itu tidak akan merugikanku. Jika aku terpilih sebagai pemimpin, begitulah caraku dalam bertindak." Bagaimana menurutmu tentang pola pikir orang semacam itu? Orang-orang seperti ini adalah pengikut yang bukan orang percaya yang sama sekali tidak mengejar kebenaran. Jika engkau benar-benar memiliki rasa tanggung jawab, maka itu memperlihatkan bahwa engkau memiliki hati nurani dan bernalar. Sebesar atau sekecil apa pun tugas itu, siapa pun yang memberimu tugas itu, entah rumah Tuhan yang memercayakan pekerjaan itu atau pemimpin gereja atau pekerja yang menugaskannya kepadamu, sikapmu haruslah: "Karena tugas ini telah diberikan kepadaku ini, maka ini adalah peninggian dan kasih karunia Tuhan. Aku harus melaksanakannya dengan baik berdasarkan prinsip kebenaran. Meskipun kualitasku rata-rata, aku bersedia mengambil tanggung jawab ini dan berusaha keras untuk melaksanakannya dengan baik. Jika hasilnya buruk, aku harus bertanggung jawab, dan jika hasilnya baik, pujian itu bukan untukku. Inilah yang seharusnya kulakukan." Mengapa Kukatakan bahwa cara seseorang memperlakukan tugasnya adalah masalah prinsip? Jika engkau benar-benar memiliki rasa tanggung jawab dan merupakan orang yang bertanggung jawab, engkau akan mampu memikul pekerjaan gereja dan melaksanakan tugas yang seharusnya kaulaksanakan. Jika engkau menganggap tugasmu sepele, maka pandanganmu tentang kepercayaan kepada Tuhan tidak benar, dan ada yang salah dengan sikapmu terhadap Tuhan dan tugasmu. Pandanganmu dalam melaksanakan tugasmu adalah melakukannya dengan asal-asalan dan sekadar formalitas, entah itu sesuatu yang ingin kaulakukan entah tidak, sesuatu yang mampu kaulakukan atau tidak, engkau selalu melakukannya dengan sikap asal-asalan, jadi engkau tidak pantas menjadi pemimpin atau pekerja dan engkau tidak layak melakukan pekerjaan gereja. Terlebih lagi, terus terang saja, orang-orang seperti engkau tidak berguna, ditakdirkan untuk tidak mencapai apa-apa, dan hanya orang-orang yang tidak berguna. Orang macam apakah yang tidak berguna? Orang yang bingung, orang yang menyia-nyiakan hari-harinya. Orang semacam ini tidak bertanggung jawab atas apa pun yang mereka lakukan, mereka juga tidak menganggapnya serius; mereka mengacaukan segalanya. Mereka tidak mengindahkan perkataanmu bagaimanapun engkau mempersekutukan kebenaran. Mereka berpikir, "Aku akan terus hanyut tanpa tujuan jika aku mau. Katakan apa yang kau mau! Bagaimanapun, aku melaksanakan tugasku dan memiliki makanan untuk dimakan saat ini, itu sudah cukup. Setidaknya aku tak harus menjadi pengemis. Jika suatu hari aku tak punya apa pun untuk dimakan, aku akan memikirkannya nanti. Surga akan selalu memberikan jalan keluar bagi manusia. Kau mengatakan aku tak memiliki hati nurani atau nalar, dan bahwa aku bingung, memangnya kenapa? Aku tidak melanggar hukum. Paling-paling, aku hanya sedikit kurang berkarakter, tetapi itu tidak merugikanku. Asalkan aku punya makanan untuk dimakan, itu sudah cukup." Apa pendapatmu tentang cara pandang ini? Kukatakan kepadamu, orang bingung seperti ini yang menyia-nyiakan hari-harinya ditakdirkan untuk disingkirkan, dan tidak mungkin mereka dapat memperoleh keselamatan. Semua orang yang telah percaya kepada Tuhan selama beberapa tahun tetapi tidak pernah tidak menerima kebenaran apa pun dan tidak memiliki kesaksian pengalaman akan disingkirkan. Tak seorang pun akan selamat. Sampah dan orang yang tidak berguna semuanya adalah para pendompleng dan mereka ditakdirkan untuk disingkirkan. Jika para pemimpin dan pekerja hanya pengangguran, mereka terlebih lagi harus diberhentikan dan disingkirkan. Orang bingung seperti ini tetap ingin menjadi pemimpin dan pekerja; mereka tidak layak! Mereka tidak melakukan pekerjaan nyata, tetapi mereka ingin menjadi pemimpin. Mereka benar-benar tidak tahu malu!

Setelah sejumlah pemimpin dan pekerja diberhentikan dari jabatannya, mereka berkata, "Sungguh melegakan tidak menjadi pemimpin atau pekerja. Aku tidak perlu terlalu cemas atau menyusahkan diriku. Menjadi saudara atau saudari biasa itu sangat menyenangkan. Mengapa aku harus menyusahkan diri dengan hal itu? Aku tidak memiliki kualitas hanya untuk melelahkan diriku." Seseorang bertanya kepadanya, "Apa yang akan kaulakukan sekarang karena engkau bukan pemimpin atau pekerja?" Mereka menjawab, "Aku bersedia melakukan apa pun, asalkan tidak terlalu melelahkan dan tidak menguras banyak tenaga—sesuatu yang berkaitan dengan berjalan-jalan dan melihat-lihat sesuatu, atau duduk dan berbicara, atau bekerja dengan komputer, serta tidak memerlukan jam kerja yang sangat panjang atau penderitaan fisik." Pembicaraan macam apakah ini? Jika engkau semua mendapati bahwa pemimpin atau pekerja yang kaupilih adalah orang semacam ini, bagaimana perasaanmu? Bukankah engkau akan merasa sangat menyesal? (Ya.) Lalu, apa yang akan kaupikirkan tentang ini? Engkau akan berkata, "Awalnya, aku melihat engkau punya sedikit kualitas dan aku ingin mempromosikan dan membinamu, memberimu kesempatan agar engkau dapat memahami lebih banyak kebenaran. Aku tidak pernah menyangka ternyata engkau orang yang tidak berguna. Aku menyesal telah menganggapmu sebagai manusia saat itu. Aku tidak pernah menyangka ternyata engkau memang bukan manusia. Engkau bahkan lebih rendah dari babi atau anjing, engkau adalah sampah. Engkau tidak pantas memakai kulit manusia ini, dan engkau tidak pantas menjadi manusia!" Apakah kata-kata ini terdengar kasar? (Tidak.) Bagi engkau semua, kata-kata tersebut tidak terdengar kasar, tetapi bukankah terdengar sangat kasar bagi sampah seperti ini? (Ya.) Apakah sampah seperti ini punya hati? (Tidak.) Jadi, apakah mereka bisa membedakan jika seseorang mengatakan hal-hal baik atau buruk tentang dirinya? Ketika orang-orang yang tidak punya hati menghadapi suatu persoalan, mereka tidak akan mengubah sikapnya yang menghabiskan hari-harinya dengan bermalas-malasan. Mereka menganggap itu tidak masalah selama mereka sendiri yang menerima manfaat, keuntungan dan merasa nyaman. Jadi, apa pun yang orang lain katakan, mereka tidak peduli. Ungkapan mereka yang terkenal adalah: "Apa pun yang kaukatakan, bagaimana pun engkau melihat atau menilaiku, menganggap atau memperlakukanku, aku tidak peduli!" Bukankah orang-orang seperti ini hanya sampah? Apa pun yang kaukatakan, mereka sama sekali tidak peduli dan tidak menganggapnya serius. Mengapa mereka tidak menganggapnya serius? Mereka hanya orang yang malas dan tidak punya hati. Orang-orang yang tak punya hati tidak punya martabat atau integritas, mereka sama sekali tidak peduli dengan apa yang kaukatakan, dan sekeras apa pun engkau berbicara kepadanya, mereka tidak akan merasa sakit hati. Hanya orang-orang yang bermartabat, berintegritas, dan bernalar yang akan merasa sakit hati dan merasa hatinya tertusuk ketika mendengar kata-kata seperti itu. Mereka akan berkata, "Itu adalah cara berperilaku yang memalukan, itu membuat orang-orang merendahkanku, dan aku kehilangan martabatku, jadi aku tidak akan lagi bertindak seperti itu. Aku ingin memulihkan martabatku dan tidak membuat orang-orang merendahkanku. Aku akan berusaha untuk memulihkan kehormatanku, dan aku akan melakukan apa pun untuk hidup bermartabat dan memuaskan Tuhan." Orang seperti ini bisa merasakan ketika menyangkut kata-kata yang melukai harga dirinya, menyakiti hatinya, dan melemahkan semangatnya—inilah orang-orang yang memiliki hati. Ketika orang-orang yang memiliki hati dan memiliki martabat mendengar pernyataan yang benar dan melihat hal-hal positif, serta membedakan antara yang benar dan yang salah, mereka memiliki tekad untuk berubah karena mereka memiliki martabat dan tidak ingin direndahkan orang lain. Sementara itu, orang yang malas dan tak berguna tidak memiliki martabat, jadi apa pun yang kaukatakan kepadanya, terlepas dari apakah pernyataanmu itu benar, akurat, atau sesuai dengan kebenaran, atau sepositif apa pun pernyataanmu, itu tidak akan berpengaruh pada orang-orang ini dan tidak akan menggerakkan mereka sedikit pun. Seseorang yang tak punya martabat sama sekali tidak memiliki kesadaran terhadap hal-hal positif, keputusan, atau pengungkapan apa pun, mereka juga tidak punya sikap yang benar terhadap jalan hidup seperti apa yang harus dipilih. Itulah sebabnya, apa pun yang kaukatakan kepadanya, bagaimanapun engkau mengungkapkan atau menggambarkannya, mereka sama sekali tidak akan pernah menerimanya dan tidak peduli. Jadi, apakah ada gunanya memberitakan kebenaran dan memberikan khotbah kepada orang-orang seperti ini? Apakah ada gunanya memangkas mereka? Apakah ada gunanya menghakimi dan menghajar mereka? Tidak ada! Orang-orang seperti itu sama sekali tidak berguna. Mereka hanya menjalani hari-harinya dengan sia-sia, dan mereka termasuk dalam kategori binatang—tepatnya, mereka bukan manusia. Mereka tidak pantas mendengar firman Tuhan. Jika orang-orang yang tidak berguna dan parasit ini menjadi pemimpin gereja, apakah mereka bisa menemukan masalah yang ada di gereja? Apakah mereka bisa menyelesaikan masalah? Tentu saja tidak. Jika umat pilihan Tuhan mengemukakan suatu masalah, dapatkah mereka menyelesaikannya? Tentu saja, mereka tidak dapat menyelesaikannya. Mereka sama sekali tidak mampu menyelesaikannya, jadi bagaimana mungkin mereka bisa melakukan pekerjaan kepemimpinan? Itu tidak terbayangkan! Sebagai pemimpin dan pekerja, seseorang setidaknya harus mampu menyelesaikan persoalan yang ada dalam pekerjaan gereja dan masalah yang ada dalam jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan. Jika mereka berlatih selama beberapa waktu dan mendapatkan sejumlah pengalaman, serta dapat mempersekutukan sedikit kebenaran dan berbicara tentang kesaksian tertentu berdasarkan pengalaman, mereka akan secara bertahap menjadi kompeten dalam pekerjaan kepemimpinan. Akan tetapi, jika mereka tidak mampu menemukan atau menyelesaikan masalah sama sekali, berarti mereka tidak mungkin mampu melakukan pekerjaan kepemimpinan. Orang-orang seperti ini adalah pemimpin palsu dan harus diberhentikan. Pemimpin baru harus dipilih.

Orang-orang yang melayani sebagai pemimpin setidaknya harus memahami sedikit kebenaran dan memiliki beberapa pengalaman nyata. Jika mereka sama sekali tidak memiliki pengalaman, sudah pasti mereka pun tidak memahami kebenaran sama sekali. Sebagian orang yang melayani sebagai pemimpin pandai mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin, serta mampu memperoleh persetujuan dan pujian dari sebagian besar orang. Meskipun tampaknya pemimpin palsu mampu menjawab pertanyaan, mereka tidak mampu mempersekutukan prinsip-prinsip kebenaran. Yang mereka khotbahkan hanyalah teori kosong, dan sama sekali tidak ada yang nyata di dalamnya. Ketika orang-orang mendengar khotbah pemimpin palsu, mereka merasa bahwa itu sesuai dengan selera mereka, dan orang-orang yang tidak memiliki pemahaman pun sangat menyetujuinya. Namun, setelah itu, mereka tetap tidak memiliki jalan penerapan dan tidak dapat menemukan prinsip-prinsip penerapan. Jika demikian, dapatkah ini dianggap telah menyelesaikan masalah? Bukankah ini berarti mereka bersikap asal-asalan? Apakah berusaha menyelesaikan masalah dengan cara seperti ini dapat dianggap sebagai melakukan pekerjaan nyata? Para pemimpin palsu tidak melakukan pekerjaan nyata, tetapi mereka tahu bagaimana bertindak seperti pejabat. Apa hal pertama yang mereka lakukan setelah menjadi pemimpin? Yaitu membeli hati orang. Mereka mengambil pendekatan "Pejabat baru sangat ingin memberikan kesan yang baik kepada semua orang", yaitu dengan terlebih dahulu melakukan beberapa hal untuk menjilat orang dan menangani beberapa hal yang meningkatkan kesejahteraan semua orang setiap hari. Mereka terlebih dahulu berusaha agar orang memiliki kesan yang baik tentang mereka, untuk menunjukkan kepada semua orang bahwa mereka selaras dengan orang banyak, agar semua orang memuji mereka dan berkata, "Pemimpin ini bertindak seperti orang tua terhadap kami!" Setelah melakukan itu mereka pun secara resmi mengambil alih. Mereka merasa bahwa sekarang mereka mendapat dukungan orang banyak dan bahwa kedudukan mereka telah aman; kemudian mereka mulai menikmati manfaat dari status mereka seakan-akan itu sudah menjadi hak mereka. Semboyan mereka adalah, "Hidup hanyalah tentang makan dan berpakaian," "Isi harimu dengan kesenangan karena hidup ini singkat," dan "Nikmatilah kesenangan sekarang pada hari ini, dan khawatirkan hari esok pada hari selanjutnya." Mereka menikmati setiap hari yang datang, mereka bersenang-senang selagi mereka bisa, dan mereka tidak memikirkan masa depan, apalagi memikirkan tanggung jawab apa yang seharusnya dipenuhi seorang pemimpin dan tugas apa yang seharusnya mereka lakukan. Mereka mengkhotbahkan beberapa kata dan doktrin dan melakukan sedikit tugas remeh demi penampilan semata-mata sebagai runititas—mereka tidak melakukan pekerjaan nyata apa pun. Mereka tidak menyelidiki masalah nyata di gereja dan menyelesaikannya dengan tuntas, jadi apa gunanya mereka melakukan tugas dangkal seperti itu? Bukankah ini menipu? Bisakah tugas penting dipercayakan kepada pemimpin palsu semacam ini? Apakah mereka sesuai dengan prinsip dan persyaratan rumah Tuhan untuk memilih pemimpin dan pekerja? (Tidak.) Orang-orang ini tidak berhati nurani atau tidak bernalar, mereka tidak punya rasa tanggung jawab, tetapi mereka tetap ingin memiliki jabatan resmi sebagai pemimpin gereja, di gereja—mengapa mereka begitu tak tahu malu? Ada orang-orang yang memiliki rasa tanggung jawab, tetapi jika kualitas kemampuan mereka buruk, mereka tidak dapat menjadi pemimpin—apalagi orang tidak berguna yang tidak punya rasa tanggung jawab sama sekali; mereka jauh lebih tidak memenuhi syarat untuk menjadi pemimpin. Seberapa malasnya pemimpin palsu yang rakus dan pemalas itu? Bahkan ketika mereka menemukan masalah, dan mereka sadar bahwa ini adalah masalah, mereka tidak menganggapnya serius dan tidak memedulikannya. Mereka sangat tidak bertanggung jawab! Meskipun mereka orang yang fasih berbicara dan tampak memiliki sedikit kualitas, mereka tidak mampu menyelesaikan berbagai masalah dalam pekerjaan gereja, sehingga menyebabkan pekerjaan gereja menjadi terhenti; masalah makin bertumpuk, tetapi para pemimpin ini tidak memedulikannya, dan bersikeras hanya melakukan beberapa tugas remeh sebagai rutinitas. Dan apa hasil akhirnya? Bukankah mereka merusak pekerjaan gereja, bukankah mereka mengacaukannya? Bukankah mereka menyebabkan kekacauan dan kurangnya persatuan di dalam gereja? Ini adalah hasil yang tak terhindarkan. Dalam situasi seperti ini, apakah pemimpin palsu akan membuat laporan kepada Yang di Atas? Tentu saja tidak. Jika seseorang di gereja ingin melaporkan masalah pemimpin palsu kepada Yang di Atas, apakah pemimpin palsu akan menyetujuinya? Mereka pasti akan menekan dan menghalangi orang tersebut, mereka tidak akan membiarkan siapa pun untuk melaporkan masalah kepada Yang di Atas, dan mereka akan membatasi, menekan, dan mengucilkan siapa pun yang melakukannya. Katakan kepada-Ku, bukankah pemimpin palsu ini sangat tercela? Sebesar apa pun kerugian yang ditimbulkannya terhadap pekerjaan gereja, mereka tetap tidak akan membiarkan Yang di Atas mengetahui hal ini, apalagi menyelesaikannya. Yang mereka pedulikan hanyalah menikmati keuntungan dari statusnya dan mempertahankan kesombongan dan harga dirinya—orang-orang seperti itu benar-benar tercela dan tidak tahu malu! Bukankah mereka sama sekali tidak memiliki hati nurani dan kemanusiaan? Ketika Yang di Atas bertanya tentang pekerjaan itu, pemimpin palsu tersebut dengan tegas mengatakan bahwa tidak ada masalah, dengan membohongi dan mengelabui Yang di Atas—dengan melakukan ini, bukankah mereka menipu Yang di Atas dan menyembunyikan hal-hal dari orang-orang di bawahnya? Masalah-masalah dalam pekerjaan gereja terus menumpuk, tetapi pemimpin palsu tidak dapat menyelesaikannya sendiri dan juga tidak melaporkannya kepada Yang di Atas. Dalam keadaan seperti ini, mereka bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja; mereka tetap menikmati kenyamanan, bermalas-malasan sepanjang hari, menghabiskan waktu dengan sia-sia tanpa sedikit pun merasa cemas. Ketika permasalahan itu terungkap dan Yang di Atas menyelidikinya, pemimpin palsu itu masih berkata, "Aku sudah mengatur orang-orang untuk melakukan pekerjaan ini. Aku telah memenuhi tanggung jawabku. Jika pekerjaan ini tidak dilakukan dengan baik, itu kesalahan orang lain. Apa hubungannya dengan aku?" Dengan beberapa kata ini, pemimpin plasu tersebut sepenuhnya melepaskan diri dari tanggung jawab. Seolah-olah mereka sama sekali tidak memiliki tanggung jawab atas masalah ini. Pemimpin palsu itu bukan saja tidak merenungkan diri, melainkan juga merasa benar dan merasa tenang, dengan berkata, "Bagaimanapun juga, aku tidak bermalas-malasan dalam tugasku; aku bukan pendompleng. Jika Yang di Atas tidak memberhentikanku, aku akan terus melayani sebagai pemimpin. Jika aku mengajukan pengunduran diri, bukankah itu berarti aku mengkhianati Tuhan? Bukankah itu menunjukkan ketidaksetiaan terhadap tugasku?" Jika engkau memangkasnya, pemimpin palsu itu akan dapat mengemukakan banyak alasan untuk membantahmu. Mereka tidak akan mengatakan bahwa dirinya bertanggung jawab atas persoalan tersebut, tidak akan menyebutkan apa tanggung jawabnya, dan tidak akan merenungkan apa natur dari ketidakmampuannya dalam menyelesaikan masalah dan tidak melakukan pekerjaan nyata. Bukankah orang-orang seperti itu sangat menjijikkan? Mereka menghentikan pekerjaan gereja dan merugikan umat pilihan Tuhan dalam waktu yang lama tanpa sedikit pun penyesalan di hatinya—apakah mereka masih bisa disebut manusia? Apakah mereka masih memiliki sedikit saja hati nurani atau nalar? Ada yang berkata, "Orang-orang seperti ini seharusnya tidak boleh dipilih menjadi pemimpin." Secara teoretis memang demikian; akan tetapi, kenyataannya ada orang-orang seperti ini di antara pemimpin dan pekerja yang terpilih; ini adalah fakta. Semua ini terjadi karena umat pilihan Tuhan tidak memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi, juga karena sebagian besar orang menyukai penyenang orang, dan akibatnya, memilih sejumlah pemimpin dan pekerja palsu. Oleh karena itu, sebelum pemilihan gereja, prinsip untuk memilih pemimpin dan pekerja harus lebih banyak dipersekutukan, demikian juga dengan prinsip untuk mengenali pemimpin dan pekerja palsu; ini akan memastikan bahwa lebih banyak orang memberikan suaranya sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut. Hanya dengan cara inilah hasil yang baik dapat diperoleh dari pemilihan gereja.

Katakan kepada-Ku, apakah orang-orang malas yang tercela dan tak tahu malu seperti ini bisa melakukan pekerjaan gereja dengan baik sebagai pemimpin dan pekerja? Dapatkah mereka menyelesaikan permasalahan yang ada di gereja atau kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh umat pilihan Tuhan? (Tidak.) Lalu, apa yang harus engkau semua lakukan ketika bertemu dengan pemimpin palsu seperti itu? Misalkan seseorang berkata, "Kualitas kami buruk dan kami tidak memiliki kemampuan dalam mengenali, jadi tidak ada yang dapat kami lakukan jika kami bertemu dengan seorang pemimpin palsu." Apakah pernyataan ini benar? Tentu saja tidak semua orang di gereja berkualitas buruk dan tidak memiliki pemahaman, bukan? Pasti ada sejumlah orang yang setidaknya cukup memahami kebenaran. Jadi, jika seseorang menemukan pemimpin palsu yang tidak dapat melakukan pekerjaan nyata atau sama kali tidak bisa menyelesaikan masalah, orang tersebut harus bersekutu bersama mereka yang memahami kebenaran dan meminta orang-orang yang memahami kebenaran tersebut untuk menggunakan kemampuannya dalam mengenali dan membuat keputusan. Apakah ini tepat? (Ya, itu tepat.) Mengapa ini tepat? Apa akibatnya jika seorang pemimpin gereja tidak dapat melakukan pekerjaan nyata? Siapakah yang akan menjadi korban? Bukankah korbannya adalah umat pilihan Tuhan di gereja? Jika seorang pemimpin palsu mengendalikan gereja selama tiga atau lima tahun, berapa banyak orang yang pemahamannya akan kebenaran dan jalan masuknya ke dalam kenyataan akan terpengaruh? Berapa banyak orang yang akan tertunda memperoleh keselamatan dari Tuhan? Akibat-akibat ini tidak bisa dianggap remeh. Jadi, ketika seorang pemimpin palsu didapati tidak melakukan pekerjaan nyata dan tidak mampu menyelesaikan masalah apa pun, ini adalah persoalan besar bagi setiap umat pilihan Tuhan, dan mereka harus segera menyingkapkan dan melaporkan pemimpin palsu tersebut untuk menghindari penundaan pekerjaan. Orang-orang yang dirugikan oleh pemimpin gereja yang tidak melakukan pekerjaan nyata adalah umat pilihan Tuhan. Jika tidak ada satu pun umat pilihan Tuhan yang menyingkapkan atau melaporkannya, dan mereka semua hanya bersikap acuh tak acuh dalam hal ini, tidak akan ada harapan bagi gereja tersebut. Misalkan dalam hatimu selalu terpendam pemikiran untuk tidak bertanggung jawab, dan berkata, "Bagaimanapun juga, engkau adalah pemimpin. Engkau tidak dapat melakukan pekerjaan nyata, tetapi engkau tidak melaporkan masalah kepada Yang di Atas—jika hal ini menunda pekerjaan gereja, Yang di Atas akan meminta pertanggungjawabanmu. Apa hubungannya dengan kami? Apa gunanya kami mengkhawatirkannya? Bukan kami yang bertanggung jawab. Engkaulah yang bertanggung jawab." Jika engkau selalu memiliki gagasan ini di hatimu, bukankah ini akan menunda segala sesuatu? Bukankah hal ini akan memengaruhi engkau semua dalam mengejar kebenaran, masuk ke dalam kenyataan, dan memperoleh keselamatan dari Tuhan? Jika tidak seorang pun di gereja yang bertanggung jawab, sulit untuk mengatakan apakah gereja ini dapat memberikan kesaksian bagi Tuhan dan menerima berkat-Nya, dan bahkan lebih sulit lagi untuk mengatakan berapa banyak orang yang akan memperoleh keselamatan di gereja tersebut. Jika setiap orang di gereja itu berpikir demikian dan memiliki pandangan ini, itu berarti gereja tersebut sama sekali tidak punya harapan. Bukankah tim produksi film menghadapi masalah ini sekarang? Ada di antara pemimpinmu yang tidak menangani masalah atau melaporkan masalah—mereka adalah pemimpin palsu. Apakah engkau semua dapat melihat hal ini? Para pemimpin tersebut tidak menyelesaikan masalah untuk engkau semua—apakah engkau semua tidak menyadari bahwa ini adalah masalah? Apakah engkau semua benar-benar merasa senang dengan hal tersebut? Engkau berpikir, "Pemimpin kami tidak melaporkan persoalan ini, jadi masalahnya tidak dapat diselesaikan, inilah waktu yang tepat bagi kami untuk beristirahat. Itu bagus! Lagi pula, Yang di Atas belum menanyakan persoalan itu secara langsung belakangan ini, jadi kami juga tidak perlu melaporkan masalah tersebut. Mengapa tidak menikmati sedikit waktu luang? Apakah kami harus melakukan pengambilan gambar dengan cepat dan menyelesaikannya tepat waktu? Perkembangan kami sudah cukup baik! Lalu, bagaimana jika kami belum selesai melakukan pengambilan gambar? Apakah kami akan dihukum karenanya?" Apakah ini sikap engkau semua? Apakah engkau semua berpikir bahwa pekerjaan rumah Tuhan tidak memiliki jadwal yang begitu ketat sehingga engkau dapat menundanya tanpa batas waktu, selama Yang di Atas tidak menanyakan atau menyelidiki hal tersebut, engkau semua tidak perlu khawatir atau merasa tertekan, engkau bisa menyelesaikan masalah yang engkau bisa, dan jika tidak bisa menyelesaikannya, biarkan saja? Seperti inikah sudut pandang engkau semua? (Tidak.) Lalu, mengapa engkau semua tidak melaporkan masalahnya ketika mengalaminya? Apakah pemimpin palsu ini telah mengendalikan engkau semua, atau mereka telah memberimu semacam ramuan ajaib yang membuat engkau semua linglung dan tidak dapat berbicara? Apa masalahnya di sini? Ketika ada permasalahan, apakah engkau semua mengetahuinya? Jika engkau mengatakan tidak tahu, engkau berbohong; jika engkau mengetahuinya, tetapi tidak melaporkannya, berarti engkau tak peduli dan sangat lalai dalam tanggung jawabmu, serta sama sekali tidak memiliki kesetiaan terhadap tugasmu. Sekalipun engkau bekerja di dunia untuk mendapatkan uang, engkau tetap harus menghargai upahmu yang sedikit itu. Apalagi hari ini, engkau sedang memakan makanan dari rumah Tuhan; engkau sedang mengejar keselamatan sambil melaksanakan tugasmu, dan dengan melakukannya, engkau sedang membuka jalan dan mempersiapkan tempat tujuanmu sendiri. Engkau melakukan ini bukan untuk rumah Tuhan, atau bukan untuk individu mana pun, apalagi untuk-Ku—engkau melakukannya untuk dirimu sendiri. Singkatnya, orang-orang melaksanakan tugasnya untuk memperoleh keselamatan, tetapi lebih tepatnya, mereka melakukannya untuk dirinya sendiri demi memperoleh berkat dan memiliki tempat tujuan yang baik. Engkau harus memahami hal ini dengan jelas; jangan jadi bodoh. Engkau melaksanakan tugasmu bukan untuk orang lain atau untuk orang tuamu, dan engkau melakukannya bukan untuk membawa kemuliaan bagi leluhurmu atau kehormatan bagi nama keluargamu—engkau melakukannya untuk dirimu sendiri. Tuhan menciptakanmu, dan sejak Dia menciptakan dunia, Dia telah menakdirkan bahwa engkau akan lahir di akhir zaman. Dia membawamu ke rumah-Nya, Dia membiarkanmu mendengar suara-Nya, Dia membiarkanmu makan dan minum firman-Nya setiap hari dan menerima bekal hidup, serta Dia memberimu kesempatan sehingga engkau dapat melaksanakan tugasmu di rumah Tuhan. Ini adalah kesempatan terbaikmu sebagai makhluk ciptaan untuk memperoleh keselamatan, dan ini juga merupakan satu-satunya kesempatanmu. Jika engkau menghancurkan kesempatan ini ketika melaksanakan tugasmu, terlepas dari apakah engkau menerima hukuman atau menangis dan menggertakkan gigimu ketika akhirnya jatuh ke dalam bencana, semua itu adalah perbuatanmu, engkau pantas mendapatkannya! Itu akan menjadi kesalahanmu sendiri. Orang lain tidak perlu memikul tanggung jawabmu, dan engkau tidak perlu memikul tanggung jawab orang lain. Hanya engkau yang dapat bertanggung jawab atas jalan yang kautempuh dan semua yang kaulakukan saat ini, dan hanya engkau yang dapat menanggung konsekuensi akhirnya. Yang dapat Kulakukan adalah membuat engkau semua memahami hal-hal yang harus Aku katakan dan yang harus Aku sampaikan kepadamu, dan membuka jalan bagimu agar engkau semua dapat menempuh jalan menuju keselamatan. Aku telah menjelaskan semuanya dengan gamblang, jadi bagaimana secara spesifiknya engkau bertindak, itu terserah engkau semua. Aku tidak ikut campur dengan urusan engkau semua; Aku hanya melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab-Ku, dan Aku tidak melakukan pekerjaan lebih dari itu. Bukankah faktanya engkau melaksanakan tugasmu demi tempat tujuanmu sendiri? Jika engkau berkata, "Ada begitu banyak masalah, tetapi pemimpinku tidak melaporkannya, jadi aku pun tidak akan melaporkannya," bukankah itu bodoh? Bukankah itu hitung-hitungan? Apa tanggung jawabmu ketika engkau melihat suatu masalah? Tanggung jawabmu adalah memanggil semua orang bersama-sama dan menenangkan dirimu untuk mencari dan mempersekutukan masalah tersebut, untuk melihat di mana masalah tersebut telah muncul, dan menemukan sumber permasalahannya. Jika setelah beberapa diskusi, sumber masalahnya ditemukan, tetapi engkau semua tidak mampu menyelesaikan masalah itu sendiri, engkau harus segera melaporkannya kepada Yang di Atas. Siapa yang harus melaporkannya? Engkau harus mengajukan diri dan berkata, "Aku akan melaporkannya. Jika itu tidak berhasil, kita dapat memilih beberapa perwakilan dan melaporkannya bersama." Ada yang berkata, "Bukankah kita punya pemimpin?" Engkau menjawab, "Dia bukan pemimpin! Dia sama sekali tidak memenuhi tanggung jawab manusia. Dia hanya binatang dalam wujud manusia, dan dia harus dibuang serta diberhentikan! Dia tidak melaporkan masalah tersebut, jadi kita harus melaporkannya sendiri—ini adalah tanggung jawab kita. Hanya setelah kita memenuhi tanggung jawab kita, Tuhan akan memperlakukan kita sebagai manusia. Jika kita tahu dengan jelas apa tanggung jawab kita, tetapi kita tidak memenuhinya, kita tidak layak menjadi manusia, dan Tuhan tidak mungkin akan menganggap kita seperti itu." Jika Tuhan tidak menganggapmu sebagai manusia, Dia menganggapmu sebagai apa? Dia menganggapmu sebagai babi atau anjing. Dengan begitu, apakah Tuhan masih akan menyelamatkanmu? Tidak mungkin. Jadi, jika engkau tidak memperoleh tempat tujuan yang baik, bukankah itu akibat dari tindakanmu sendiri? Bukankah engkau telah melaksanakan tugasmu dengan sia-sia? Terserah padamu untuk memilih jalanmu, dan terserah padamu untuk menempuhnya juga. Apa pun jalan yang kaupilih, atau apa pun konsekuensi akhirnya, engkaulah yang memikul tanggung jawab; tidak ada orang lain yang akan bertanggung jawab atas jalan yang kautempuh dan konsekuensi yang ditimbulkannya.

Sebagai pemimpin dan pekerja, jika engkau semua mengabaikan masalah yang muncul dalam pelaksanaan tugas, dan engkau bahkan mencari berbagai dalih dan alasan untuk melalaikan tanggung jawab, dan engkau tidak menyelesaikan beberapa masalah yang mampu kauselesaikan, dan engkau tidak melaporkan masalah yang tidak mampu kauselesaikan kepada Yang di Atas, seolah-olah masalah-masalah itu tak ada kaitannya denganmu, bukankah ini adalah pengabaian terhadap tanggung jawab? Apakah memperlakukan pekerjaan gereja dengan cara seperti ini adalah hal yang pintar atau hal yang bodoh untuk dilakukan? (Itu adalah hal yang bodoh.) Bukankah pemimpin dan pekerja semacam itu adalah orang-orang yang licik? Bukankah mereka tidak memiliki rasa tanggung jawab? Ketika mereka menghadapi masalah, mereka mengabaikannya, bukankah mereka orang yang tidak memiliki hati nurani? Bukankah mereka orang yang curang? Orang yang curang adalah orang yang paling bodoh. Engkau harus menjadi orang yang jujur, engkau harus memiliki rasa tanggung jawab ketika menghadapi masalah, dan engkau harus berusaha semaksimal mungkin dan mencari kebenaran untuk menyelesaikannya. Engkau sama sekali tidak boleh menjadi orang yang curang. Jika engkau mementingkan diri sendiri dengan melalaikan tanggung jawab dan tidak mau terlibat ketika masalah muncul, engkau bahkan akan dikutuk karena berperilaku seperti ini di antara orang-orang tidak percaya, apalagi di rumah Tuhan! Perilaku ini pasti dihukum dan dikutuk oleh Tuhan, dan dibenci serta ditolak oleh umat pilihan Tuhan. Tuhan menyukai orang yang jujur, dan Dia membenci orang yang licik dan licin. Jika engkau adalah orang yang curang dan bertindak dengan cara licin, bukankah Tuhan akan membencimu? Akankah rumah Tuhan membiarkanmu lolos begitu saja? Cepat atau lambat, engkau akan dimintai pertanggungjawaban. Tuhan menyukai orang yang jujur dan tidak menyukai orang yang curang. Semua orang harus memahami hal ini dengan jelas, dan tidak lagi menjadi bingung dan melakukan hal-hal bodoh. Ketidaktahuan sementara dapat dimaafkan, tetapi jika orang sama sekali tidak menerima kebenaran berarti mereka sangat keras kepala. Orang yang jujur dapat memikul tanggung jawab. Mereka tidak memikirkan keuntungan dan kerugian mereka sendiri; mereka hanya melindungi pekerjaan dan kepentingan rumah Tuhan. Mereka memiliki hati yang baik dan jujur seperti mangkuk berisi air jernih yang dapat orang lihat dasarnya dalam sekilas pandang. Juga ada transparansi dalam tindakan mereka. Orang yang licik selalu bertindak dengan cara yang licin, selalu berpura-pura, menutupi dan menyembunyikan sesuatu, dan mengemas diri mereka dengan begitu rapat. Tak seorang pun mengetahui orang macam apa mereka yang sebenarnya. Orang tidak mampu mengetahui yang sebenarnya tentang pemikiran di dalam hatimu, tetapi Tuhan mampu memeriksa hal-hal terdalam di lubuk hatimu. Ketika Tuhan melihat bahwa engkau bukanlah orang yang jujur, bahwa engkau sesuatu yang licin, bahwa engkau tidak pernah menerima kebenaran, selalu berbuat licik terhadap-Nya, dan tidak pernah menyerahkan hatimu kepada-Nya, Dia tidak menyukaimu, dan Dia akan membenci dan meninggalkanmu. Orang-orang macam apakah mereka yang makmur di antara orang-orang tidak percaya, dan mereka yang fasih dalam berbicara dan lihai? Apakah hal ini jelas bagimu? Apa esensi mereka? Dapat dikatakan bahwa mereka semua luar biasa tak terpahami, mereka semua sangat licik dan curang, mereka adalah setan dan Iblis yang sesungguhnya. Mungkinkah Tuhan menyelamatkan orang-orang seperti ini? Tidak ada yang lebih Tuhan benci selain para setan—selain orang-orang yang licik dan curang—dan Dia pasti tidak akan menyelamatkan orang-orang seperti itu. Engkau semua tidak boleh menjadi orang semacam itu. Mereka yang selalu mengamati dan waspada ketika berbicara, yang licin dan licik dan memainkan peran yang sesuai dengan situasinya ketika mereka menangani masalah—Kuberitahukan kepadamu, Tuhan paling membenci orang-orang seperti ini, orang-orang seperti ini tidak dapat diselamatkan. Mengenai semua orang yang termasuk dalam kategori orang yang licik dan curang, betapa pun terdengar menyenangkannya perkataan mereka, semua itu adalah perkataan setan yang menipu. Makin perkataan mereka terdengar bagus, makin orang-orang ini adalah setan dan Iblis. Inilah jenis orang yang paling Tuhan benci. Ini sepenuhnya benar. Bagaimana menurutmu: dapatkah orang yang licik, orang yang sering berbohong, dan orang yang fasih dalam berbicara memperoleh pekerjaan Roh Kudus? Dapatkah mereka memperoleh pencerahan dan penerangan dari Roh Kudus? Sama sekali tidak. Bagaimana sikap Tuhan terhadap orang yang licik dan curang? Dia membenci dan menolak mereka, Dia mengesampingkan mereka, dan tidak mengindahkan mereka, Dia menganggap mereka sekelas dengan hewan. Di mata Tuhan, orang-orang seperti itu hanya mengenakan kulit manusia dan pada esensinya mereka adalah setan dan Iblis, mereka adalah mayat berjalan, dan Tuhan pasti tidak akan menyelamatkan mereka. Jadi, bagaimana keadaan orang-orang ini sekarang? Ada kegelapan di dalam hati mereka, mereka tidak memiliki iman yang sejati, dan apa pun yang terjadi pada mereka, mereka tidak pernah dicerahkan atau diterangi. Ketika menghadapi bencana dan kesengsaraan, mereka berdoa kepada Tuhan, tetapi Tuhan tidak menyertai mereka, dan mereka tidak memiliki apa pun yang benar-benar dapat mereka andalkan di dalam hati mereka. Agar memperoleh berkat, mereka juga ingin menunjukkan kinerja yang baik, tetapi mereka tak mampu menahan diri, karena mereka tidak berhati nurani dan tidak bernalar. Mereka tidak mampu menjadi orang baik meskipun mereka menginginkannya; sekalipun mereka ingin berhenti melakukan hal-hal buruk, mereka tidak akan mampu mengendalikan diri, itu tidak akan berhasil. Akankah mereka mampu mengenal diri mereka sendiri setelah mereka dikeluarkan dan disingkirkan? Meskipun mereka akan tahu bahwa mereka pantas menerima hal ini, mereka tidak akan mengakuinya kepada siapa pun, dan meskipun kelihatannya mereka mampu melaksanakan sedikit tugas, mereka akan tetap bertindak dengan cara yang licin, dan pekerjaan mereka tidak akan membuahkan hasil yang jelas. Jadi bagaimana menurutmu: apakah orang-orang ini mampu sungguh-sungguh bertobat? Sama sekali tidak. Ini karena mereka tidak memiliki hati nurani atau nalar dan mereka tidak mencintai kebenaran. Tuhan tidak menyelamatkan orang yang curang dan jahat seperti itu. Harapan apa yang dimiliki orang-orang semacam itu dalam kepercayaan kepada Tuhan? Kepercayaan mereka telah kehilangan makna penting, dan mereka pasti tidak akan mendapatkan apa pun darinya. Jika, selama kepercayaan mereka kepada Tuhan, orang tidak mengejar kebenaran, maka sekalipun mereka percaya selama bertahun-tahun, itu tidak akan berpengaruh; sekalipun mereka percaya sampai akhir, mereka tidak akan memperoleh apa pun. Untuk memperoleh Tuhan, orang harus memperoleh kebenaran. Hanya jika mereka memahami kebenaran, menerapkan kebenaran, dan masuk ke dalam kenyataan kebenaran, barulah mereka akan memperoleh kebenaran dan diselamatkan oleh Tuhan; dan hanya dengan cara demikianlah mereka akan memperoleh pengakuan dan berkat Tuhan; dan hanya inilah yang dimaksud dengan memperoleh Tuhan. Jika orang-orang ingin memperoleh kebenaran, langkah pertama yang harus diambil adalah belajar memenuhi tanggung jawabnya, yaitu harus melaksanakan tugasnya dengan baik—ini adalah hal yang paling mendasar. Orang-orang sama sekali tidak boleh belajar dari pemimpin palsu, yang hanya mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin tanpa melakukan pekerjaan nyata, tidak bertanggung jawab atas apa yang dilakukan, melakukan semuanya dengan asal-asalan, dan akhirnya disingkirkan. Melaksanakan tugas seseorang bukanlah perkara sepele; justru dalam melaksanakan tugasnya, seseorang paling banyak disingkapkan, dan Tuhan menentukan kesudahan seseorang berdasarkan kinerjanya yang konsisten ketika melaksanakan tugasnya. Apa artinya ketika seseorang tidak melaksanakan tugasnya dengan baik? Itu berarti mereka tidak menerima kebenaran atau tidak sungguh-sungguh bertobat, dan akan disingkirkan oleh Tuhan. Ketika pemimpin palsu dan pekerja palsu diberhentikan, apa yang ditunjukkan oleh hal tersebut? Itu adalah sikap rumah Tuhan terhadap orang-orang seperti itu, yang tentunya juga mencerminkan sikap Tuhan terhadap orang-orang tersebut. Jadi, bagaimana sikap Tuhan terhadap orang-orang yang tidak berguna ini? Tuhan membenci, menolak, mengutuk, dan menyingkirkan mereka. Jadi, apakah engkau semua masih ingin menikmati keuntungan dari status dan menjadi pemimpin palsu?

Setelah orang-orang mulai percaya kepada Tuhan, hal apa yang paling menyakitkan dan paling menyedihkan yang dapat terjadi kepada mereka? Hal terbesar tidak lebih daripada mengetahui bahwa mereka telah dikeluarkan atau diusir, dan bahwa mereka telah disingkapkan dan disingkirkan oleh Tuhan—ini adalah hal yang paling menyakitkan dan paling menyedihkan, dan tak seorang pun ingin hal ini terjadi kepada mereka setelah mereka percaya kepada Tuhan. Jadi, bagaimana orang dapat menghindarkan diri mereka mengalami hal ini? Setidaknya, mereka harus bertindak berdasarkan hati nurani mereka, yang berarti mereka harus terlebih dahulu belajar bagaimana memenuhi tanggung jawab mereka, mereka sama sekali tidak boleh bersikap asal-asalan, dan mereka tidak boleh menunda apa yang telah Tuhan percayakan kepada mereka. Karena engkau adalah seorang manusia, engkau harus merenungkan apa tanggung jawab seorang manusia. Tanggung jawab yang sangat dihargai oleh orang tidak percaya, seperti berbakti, menafkahi orang tua, dan membesarkan nama keluarga tidak perlu disebutkan. Semua ini hal yang hampa dan tidak memiliki makna nyata. Apa tanggung jawab paling minimum yang harus dipenuhi seseorang? Hal yang paling realistis adalah bagaimana engkau melaksanakan tugasmu dengan baik sekarang. Hanya puas dengan bersikap asal-asalan bukanlah memenuhi tanggung jawabmu, dan hanya mampu mengucapkan kata-kata dan doktrin bukanlah memenuhi tanggung jawabmu. Engkau memenuhi tanggung jawabmu hanya ketika engkau menerapkan kebenaran dan melakukan segala sesuatu berdasarkan prinsip. Hanya ketika penerapan kebenaranmu itu efektif dan bermanfaat bagi orang-orang, barulah engkau telah benar-benar memenuhi tanggung jawabmu. Tugas apa pun yang sedang engkau laksanakan, hanya jika engkau bertekun dalam bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran dalam segala hal, barulah engkau telah benar-benar memenuhi tanggung jawabmu. Melakukan sesuatu sekadar formalitas menurut cara manusia berarti bersikap asal-asalan; hanya menaati prinsip-prinsip kebenaranlah yang berarti melaksanakan tugasmu dan memenuhi tanggung jawabmu dengan semestinya. Dan ketika engkau memenuhi tanggung jawabmu, bukankah ini adalah wujud kesetiaan? Ini adalah wujud melaksanakan tugasmu dengan setia. Hanya jika engkau memiliki rasa tanggung jawab ini, tekad dan keinginan ini, serta wujud kesetiaan ini terhadap tugasmu, barulah Tuhan akan menganggapmu berkenan dan menyetujuimu. Jika engkau bahkan tidak memiliki rasa tanggung jawab ini, Tuhan akan memperlakukanmu sebagai orang pemalas, orang bodoh, dan akan memandang rendah dirimu. Dari sudut pandang manusia, itu berarti Tuhan tidak menghormatimu, tidak menganggapmu serius, dan memandang rendah dirimu. Ini sama seperti jika engkau telah berinteraksi dengan seseorang selama beberapa waktu, dan engkau melihatnya berbicara tentang hal-hal yang tidak masuk akal, hal-hal yang tidak nyata, dan mengoceh tentang hal-hal yang tidak realistis, dan engkau melihat bahwa dia suka menyombongkan diri dan membual, dan bahwa dia tidak dapat diandalkan—akankah engkau menghormati orang itu? Beranikah engkau memercayakan tugas apa pun kepadanya? Mungkin dia akan menunda tugas yang kaupercayakan kepadanya karena satu dan lain hal, sehingga engkau tidak akan berani memercayakan apa pun kepada orang-orang semacam itu. Engkau akan membenci mereka dari lubuk hatimu, dan engkau akan menyesal pernah berhubungan dengan mereka. Engkau akan merasa beruntung bahwa engkau tidak memercayakan apa pun kepada mereka, dan engkau berpikir jika engkau melakukannya, engkau pasti akan menyesalinya selama sisa hidupmu. Katakanlah engkau berinteraksi dengan seseorang dan melalui percakapan serta kontak dengannya, engkau menyadari bahwa dia bukan saja memiliki kemanusiaan yang baik, tetapi juga memiliki rasa tanggung jawab, dan ketika engkau memercayakan suatu tugas kepadanya, sekalipun engkau hanya mengatakan sesuatu dengan biasa-biasa saja kepadanya, dia akan mengingatnya di benaknya, dan dia akan memikirkan cara-cara untuk menangani tugas tersebut dengan baik untuk memuaskanmu, dan jika dia tidak menangani tugas yang kauberikan dengan baik, dia akan merasa malu untuk bertemu denganmu setelahnya—orang seperti ini memiliki rasa tanggung jawab. Setiap kali dia disuruh melakukan sesuatu atau sesuatu ditugaskan kepadanya—entah itu oleh seorang pemimpin, pekerja, atau Yang di Atas—orang yang memiliki rasa tanggung jawab akan selalu berpikir, "Baiklah, karena mereka begitu menghormatiku, aku harus menangani masalah ini dengan baik dan tidak mengecewakan mereka." Bukankah engkau akan merasa tenang memercayakan tugas kepada orang yang berhati nurani dan bernalar seperti itu? Orang yang dapat kaupercayakan tugas tentunya adalah orang yang kaupandang baik dan kaupercayai. Terutama, jika mereka telah menangani beberapa tugas untukmu dan melaksanakan semuanya dengan sangat hati-hati, dan memenuhi tuntutanmu sepenuhnya, engkau akan menganggap mereka orang yang dapat dipercaya. Di dalam hatimu, engkau akan sangat mengagumi dan menghormati mereka. Orang-orang bersedia berhubungan dengan jenis orang seperti ini, apalagi Tuhan. Apakah menurutmu Tuhan akan bersedia memercayakan pekerjaan gereja dan tugas yang wajib manusia lakukan kepada orang yang tidak dapat dipercaya? (Tidak.) Ketika Tuhan menugaskan seseorang untuk melaksanakan pekerjaan gereja tertentu, apa yang Tuhan harapkan dari mereka? Pertama, Tuhan berharap agar orang itu rajin dan bertanggung jawab, agar mereka memperlakukan tugas tersebut sebagai hal yang sangat penting, menanganinya sesuai yang diperintahkan, dan melaksanakannya dengan baik. Kedua, Tuhan berharap orang itu adalah orang yang layak dipercaya, bahwa berapa pun waktu yang dibutuhkannya untuk melakukan pekerjaan itu, dan bagaimanapun lingkungannya berubah, rasa tanggung jawabnya tidak goyah, dan mereka tetap berintegritas dalam menghadapi ujian. Jika orang itu adalah orang yang dapat dipercaya, Tuhan akan merasa tenang, dan Dia tidak akan lagi mengawasi atau menindaklanjuti masalah ini. Ini karena di dalam hati-Nya, Dia memercayai orang itu, dan dia pasti menyelesaikan tugas yang telah diberikan kepadanya tanpa kesalahan apa pun. Ketika Tuhan memercayakan tugas kepada seseorang, bukankah ini yang Dia harapkan? (Ya.) Jadi, setelah engkau memahami maksud Tuhan, engkau seharusnya tahu di dalam hatimu bagaimana bertindak agar memenuhi tuntutan Tuhan, bagaimana agar berkenan di mata Tuhan, dan membuat Tuhan memercayaimu. Jika engkau dapat melihat dengan jelas perwujudan dan perilakumu sendiri, serta bagaimana sikapmu sendiri dalam memperlakukan tugasmu, jika engkau mengenal dirimu sendiri, dan engkau tahu siapa dirimu, bukankah tidak masuk akal bagimu untuk menuntut agar Tuhan memperkenan dirimu dan menunjukkan kasih karunia-Nya kepadamu, atau memberimu perlakuan khusus? (Ya.) Bahkan engkau sendiri menganggap dirimu tidak berharga, bahkan engkau sendiri memandang rendah dirimu, tetapi engkau menuntut Tuhan untuk berkenan akan dirimu—ini tidak masuk akal. Dengan demikian, jika engkau ingin agar Tuhan berkenan akan engkau, engkau setidaknya harus membuat dirimu dapat dipercaya di mata orang lain. Jika engkau ingin orang lain memercayaimu, berkenan akan engkau, menghormatimu, engkau setidaknya harus bermartabat, memiliki rasa tanggung jawab, menepati janjimu, dan dapat dipercaya. Terlebih dari itu, engkau harus tekun, bertanggung jawab dan setia di hadapan Tuhan—maka engkau pada esensinya telah memenuhi tuntutan Tuhan terhadapmu. Maka ada harapan bagimu untuk mendapatkan perkenanan Tuhan, bukan? (Ya, akan ada harapan.) Apakah ini sulit dicapai? (Tidak.) Bahkan orang-orang pun ingin menemukan seseorang yang dapat diandalkan untuk menangani tugas dan berhubungan dengannya, jadi apakah berlebihan bagi Tuhan untuk meminta manusia agar melaksanakan tugas mereka dengan baik, dan bagi-Nya untuk memiliki tuntutan kecil ini terhadap mereka? (Tidak, itu tidak berlebihan.) Itu sama sekali tidak berlebihan. Ini bukanlah untuk mempersulit orang, tetapi ini justru adalah hal yang sangat benar. Hanya saja, orang tidak memiliki keinginan untuk melakukan hal ini, mereka tidak merenungkan pemikiran Tuhan atau tidak memahami maksud-maksud Tuhan. Yang dapat mereka lakukan hanyalah selalu menuntut Tuhan, dengan berkata, "Engkau harus memberkatiku! Engkau harus menunjukkan kasih karunia kepadaku! Engkau harus membimbingku!" Jadi, apa sebenarnya yang sedang kaulakukan? Dapatkah engkau benar-benar melaksanakan tugasmu berdasarkan hati nurani dan nalarmu? Dapatkah engkau benar-benar tekun, bertanggung jawab, dan setia? Ini adalah syarat paling minimal yang harus kaupenuhi agar Tuhan memperkenan dirimu. Bukankah ini arah yang harus orang-orang usahakan dengan sungguh-sungguh? Karena engkau percaya kepada Tuhan, engkau harus berjuang mengejar kebenaran dan memenuhi tuntutan Tuhan—inilah arah yang harus orang usahakan dengan sungguh-sungguh. Orang harus bekerja keras ke arah yang benar. Dengan demikian, usaha mereka untuk memuaskan Tuhan tidak akan lagi kosong.

Dalam hatinya, apakah pemimpin palsu memiliki konsep untuk memuaskan Tuhan dalam kepercayaan mereka kepada-Nya? Apakah mereka memiliki sikap? Jelas tidak. Mereka hanya memiliki sikap yang asal-asalan dalam hidup dan memperlakukan Tuhan dengan cara yang sama, dengan sikap yang sangat tidak menghargai dan sangat meremehkan. Sikap seperti ini merupakan penghinaan dan penghujatan yang serius terhadap Tuhan, dan Dia sangat membencinya. Tuhan telah memberikan mereka kehidupan dan segala sesuatu yang dimiliki oleh manusia, tetapi sikap mereka terhadap segala sesuatu yang telah Tuhan berikan kepada mereka, terhadap pengaturan yang Dia buat untuk hidupnya, terhadap amanat dan pekerjaan Tuhan, dan terhadap tugas-tugasnya sendiri adalah sikap yang penuh dengan penghinaan dan ketidakpedulian. Apa yang dimaksud dengan "ketidakpedulian"? Itu berarti ingin menjalani hidup dengan asal-asalan dan tidak serius dalam segala hal. Tuhan sangat membenci sikap seperti ini, dan itulah sebabnya, Dia sama sekali tidak akan menyelamatkan orang-orang seperti itu. Apa yang harus engkau semua pahami di sini? Engkau harus mengerti bahwa engkau tidak boleh menjadi orang seperti itu. Entah engkau seorang pemimpin entah bukan, entah engkau memiliki ambisi dan keinginan untuk menjadi pemimpin entah tidak, engkau harus terlebih dahulu belajar bagaimana berperilaku yang benar, jangan menjadi orang yang malas, orang yang tidak jelas, atau orang yang tidak bertanggung jawab. Dalam perilakumu, engkau harus memiliki sikap yang benar, memiliki martabat, dan rasa tanggung jawab—ini adalah hal yang paling dasar. Hanya di atas dasar inilah seseorang dapat memenuhi tuntutan Tuhan dan menyelesaikan amanat-Nya. Jika engkau tidak memiliki sedikit pun dasar ini, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.

3 April 2021

Sebelumnya: Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (7)

Selanjutnya: Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (9)

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Pengaturan

  • Teks
  • Tema

Warna Solid

Tema

Jenis Huruf

Ukuran Huruf

Spasi Baris

Spasi Baris

Lebar laman

Isi

Cari

  • Cari Teks Ini
  • Cari Buku Ini