Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (5)

Pada pertemuan terakhir, kita mempersekutukan bab 5 tentang tanggung jawab para pemimpin dan pekerja. Dalam persekutuan tersebut, kita menganalisis sejumlah perwujudan dan tindakan para pemimpin palsu, dan kita telah selesai mempersekutukan bab ini. Sekarang, kita akan mempersekutukan bab 6 dan bab 7 tentang tanggung jawab para pemimpin dan pekerja. Apa isi spesifik dari kedua bab tersebut? (Bab 6: Mempromosikan dan membina berbagai jenis orang berbakat yang memenuhi syarat sehingga semua orang yang mengejar kebenaran dapat memiliki kesempatan untuk berlatih dan masuk ke dalam kenyataan kebenaran sesegera mungkin. Bab 7: Mengalokasikan dan memakai berbagai jenis orang dengan sepatutnya, berdasarkan kemanusiaan dan kelebihan mereka sehingga setiap dari mereka dapat dipakai sebaik mungkin.) Mari kita menganalisis berbagai tindakan dan perwujudan pemimpin palsu sehubungan dengan dua bab tersebut. Kedua bab ini termasuk dalam kategori yang sama, yang menyangkut promosi, pembinaan, dan memakai segala jenis orang di gereja. Mari kita terlebih dahulu mempersekutukan prinsip-prinsip rumah Tuhan dalam mempromosikan dan membina segala macam orang berbakat yang memenuhi syarat. Dengan begitu, bukankah pada dasarnya engkau akan mampu memahami beberapa prinsip yang harus dipatuhi oleh para pemimpin dan pekerja ketika melakukan pekerjaan ini? Engkau semua mungkin berpikir, "Sebagai pemimpin dan pekerja, kami sering berurusan dengan masalah ini, kami sudah terbiasa dengan pekerjaan ini dan memiliki beberapa pengalaman tentangnya, jadi meskipun Engkau tidak mengatakan apa-apa lagi, kami sudah memahaminya, dan Engkau tidak perlu secara khusus mempersekutukan hal tersebut lebih jauh." Jika demikian, apakah tidak perlu mempersekutukannya? (Kami membutuhkan persekutuan-Mu tentang hal ini. Kami masih belum memahami prinsip-prinsipnya, dan ada sebagian orang yang berbakat yang masih belum kami kenali.) Sebagian besar pemimpin dan pekerja masih sangat bingung tentang bagaimana melakukan pekerjaan ini. Mereka masih dalam proses mencoba-coba dan belum mampu memahami prinsip-prinsip yang tepat. Oleh karena itu, kita tetap perlu mempersekutukan detailnya.

Bab Enam: Mempromosikan dan Membina Berbagai Jenis Orang Berbakat yang Memenuhi Syarat sehingga Semua Orang yang Mengejar Kebenaran Dapat Memiliki Kesempatan untuk Berlatih dan Masuk ke dalam Kenyataan Kebenaran Sesegera Mungkin

Pentingnya Rumah Tuhan Mempromosikan dan Membina Segala Macam Orang Berbakat

Mengapa rumah Tuhan mempromosikan dan membina segala macam orang yang berbakat? Apakah mempromosikan dan membina segala macam orang yang berbakat bertujuan untuk terlibat dalam ilmu pengetahuan, pendidikan, dan sastra? Semua umat pilihan Tuhan seharusnya sudah tahu bahwa ketika rumah Tuhan mempromosikan dan membina segala macam orang yang berbakat, ini bukan dilakukan untuk menciptakan produk berteknologi tinggi atau menciptakan keajaiban, bukan pula untuk meneliti sejarah perkembangan manusia, apalagi untuk merencanakan masa depan umat manusia. Lalu, mengapa rumah Tuhan mempromosikan dan membina segala macam orang yang berbakat? Apakah engkau semua memahami hal ini atau tidak? (Alasannya adalah untuk menyebarkan Injil Kerajaan.) Untuk menyebarkan Injil Kerajaan—ini adalah salah satu alasannya. Ada alasan lain? (Agar setiap orang yang mengejar kebenaran dapat memiliki kesempatan untuk dilatih.) Benar, jawaban ini cukup masuk akal dan tepat sasaran. Tujuannya adalah agar lebih banyak orang yang mengejar kebenaran memiliki kesempatan untuk dilatih dan sesegera mungkin memasuki kenyataan kebenaran. Kedua jawaban yang baru saja engkau semua berikan benar dan akurat. Di satu sisi, promosi dan pembinaan segala macam orang yang berbakat oleh rumah Tuhan berkaitan dengan pengabaran Injil Kerajaan dan pekerjaan Tuhan, dan di sisi lain, berkaitan dengan pengejaran dan jalan masuk pribadi. Inilah dua aspek utamanya. Secara spesifik, apa pentingnya rumah Tuhan mempromosikan dan membina segala macam orang yang berbakat? Pekerjaan apa yang dilakukan secara khusus oleh orang-orang yang dipromosikan dan dibina ini di gereja? Ketika rumah Tuhan mempromosikan dan membina orang untuk menjadi pemimpin tim, penanggung jawab, atau pemimpin maupun pekerja gereja, apakah itu berarti mereka diangkat menjadi pejabat? (Tidak.) Rumah Tuhan mempromosikan dan membina orang-orang agar mereka dapat bertanggung jawab atas proyek atau pekerjaan tertentu dalam berbagai jenis pekerjaan gereja, seperti pekerjaan penginjilan, pekerjaan tulis-menulis, pekerjaan pembuatan film, pekerjaan penyiraman, beberapa urusan umum, dan sebagainya. Lalu, bagaimana mereka melaksanakan pekerjaan-pekerjaan khusus tersebut? Dengan melaksanakan berbagai jenis pekerjaan gereja sesuai dengan tuntutan Tuhan, prinsip kebenaran dalam firman Tuhan, dan pengaturan kerja rumah Tuhan. Dengan demikian, mereka melaksanakan tugasnya sesuai dengan tuntutan Tuhan dan bertindak berdasarkan prinsip kebenaran. Jelaslah bahwa dipromosikan dan dibina untuk melakukan pekerjaan bukanlah tentang memiliki gelar atau status resmi yang memungkinkan mereka untuk melakukan pekerjaan dengan baik, melainkan mereka harus memiliki kualitas tertentu untuk melakukan pekerjaan tertentu, yaitu, memikul apa yang telah Tuhan percayakan kepada mereka, atau dengan kata lain, tugas dan kewajiban yang membawa tanggung jawab. Inilah makna spesifik dan definisi dari mempromosikan dan membina segala macam orang berbakat sebagaimana disebutkan dalam bab keenam tentang tanggung jawab para pemimpin dan pekerja. Oleh karena itu, dalam mempromosikan dan membina orang, tujuan rumah Tuhan adalah membina segala macam orang yang berbakat untuk melakukan berbagai pekerjaan gereja dengan baik sesuai dengan tuntutan Tuhan dan pengaturan kerja rumah Tuhan; artinya memungkinkan orang-orang ini untuk memikul berbagai tugas khusus gereja. Pada saat yang sama, rumah Tuhan membina dan melatih mereka untuk belajar bagaimana merenungkan firman Tuhan, mempersekutukan kebenaran, bertindak berdasarkan prinsip, memimpin orang untuk menerapkan kebenaran, hidup berdasarkan firman Tuhan, dan masuk ke dalam kenyataan kebenaran sehingga mereka dapat memiliki pengalaman dan kesaksian nyata. Dengan demikian, mereka dapat memimpin, menyirami, dan membekali orang lain, serta melakukan berbagai bidang pekerjaan gereja dengan baik. Pada saat yang sama, ini juga memungkinkan umat pilihan Tuhan untuk tunduk kepada Tuhan, menjadi saksi bagi-Nya, dan melaksanakan tugasnya dengan baik untuk memberitakan Injil. Di satu sisi, metode penerapan untuk mempromosikan dan membina segala macam orang yang berbakat adalah memimpin orang dalam menerapkan dan mengalami firman Tuhan, mengenal dirinya sendiri, membuang wataknya yang rusak, dan memasuki kenyataan kebenaran; di sisi lain, para pemimpin dan pekerja harus menggunakan pengalaman nyata mereka sendiri berupa kesetiaan dan ketundukan untuk memimpin dan membina orang dalam melaksanakan tugasnya dan memberikan kesaksian yang berkumandang bagi Tuhan. Inilah dua jalan penerapan utama untuk membina segala macam orang yang berbakat. Keduanya adalah pekerjaan khusus yang terlibat dalam mempromosikan dan membina segala macam orang yang berbakat sekaligus merupakan makna sebenarnya dari mempromosikan dan membina mereka.

Kriteria yang Harus Dimiliki oleh Berbagai Macam Orang Berbakat yang Dipromosikan dan Dibina oleh Rumah Tuhan

I. Kriteria yang Harus Dimiliki oleh Pemimpin, Pekerja, dan Pengawas Berbagai Jenis Pekerjaan

Siapa sajakah yang dimaksud dengan "segala macam orang yang berbakat yang dipromosikan dan dibina oleh gereja"? Apa saja yang tercakup di dalamnya? Pertama adalah tipe orang yang dapat menjadi pengawas berbagai jenis pekerjaan. Apa saja standar yang diperlukan untuk menjadi pengawas berbagai jenis pekerjaan? Ada tiga kriteria utama. Pertama, mereka harus memiliki kemampuan untuk memahami kebenaran. Hanya orang-orang yang dapat memahami kebenaran dengan murni tanpa menyimpang dan menarik kesimpulan yang tepat, itulah yang disebut orang yang berkualitas baik. Orang-orang yang berkualitas setidaknya harus memiliki pemahaman rohani dan mampu makan dan minum firman Tuhan secara mandiri. Selama proses makan dan minum firman Tuhan, mereka harus mampu secara mandiri menerima penghakiman, hajaran, dan pemangkasan firman Tuhan, dan mencari kebenaran untuk membereskan gagasan dan imajinasinya sendiri, niatnya yang tercampur, dan wataknya yang rusak—jika mereka memenuhi standar ini, berarti mereka tahu bagaimana mengalami pekerjaan Tuhan, dan ini merupakan sebuah perwujudan kualitas yang baik. Kedua, mereka harus memiliki beban untuk pekerjaan gereja. Orang-orang yang benar-benar memikul beban bukan hanya bersemangat, melainkan juga memiliki pengalaman hidup yang nyata, memahami sejumlah kebenaran, dan mampu mengetahui yang sebenarnya tentang beberapa permasalahan. Mereka melihat bahwa dalam pekerjaan gereja dan umat pilihan Tuhan ada banyak kesulitan dan masalah yang perlu diselesaikan. Mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri dan merasa khawatir dalam hatinya—inilah yang dimaksud memikul beban untuk pekerjaan gereja. Jika seseorang hanya memiliki kualitas yang baik dan mampu memahami kebenaran, tetapi malas, menginginkan kenyamanan daging, tidak bersedia melakukan pekerjaan nyata, dan hanya melakukan sedikit pekerjaan ketika Yang di Atas memberinya tenggat waktu untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut dan mereka tidak dapat menghindarinya, ini adalah orang yang tidak memikul beban. Orang-orang yang tidak memikul beban adalah mereka yang tidak mengejar kebenaran, tidak memiliki rasa keadilan, dan merupakan orang yang tidak berguna yang menghabiskan sepanjang hari tanpa memikirkan hal-hal yang penting. Ketiga, mereka harus memiliki kemampuan kerja. Apa yang dimaksud dengan "kemampuan kerja"? Secara sederhana, itu berarti bahwa mereka tidak hanya dapat menugaskan pekerjaan dan memberi orang instruksi, tetapi mereka juga mampu mengidentifikasi dan memecahkan masalah—inilah artinya memiliki kemampuan kerja. Selain itu, mereka juga membutuhkan keterampilan mengorganisasi. Orang-orang yang memiliki keterampilan mengorganisasi sangat mahir dalam menyatukan orang, mengatur dan merencanakan pekerjaan, serta menyelesaikan masalah, dan ketika mengatur pekerjaan dan menyelesaikan masalah, mereka dapat meyakinkan orang lain sepenuhnya dan membuatnya patuh—inilah artinya memiliki keterampilan mengorganisasi. Mereka yang sungguh-sungguh memiliki kemampuan kerja dapat menjalankan pekerjaan-pekerjaan tertentu yang diatur oleh rumah Tuhan, melakukannya dengan cepat dan tegas tanpa kecerobohan, dan lebih dari itu, mereka dapat melakukan berbagai pekerjaan dengan baik. Ini adalah tiga standar rumah Tuhan untuk membina para pemimpin dan pekerja. Jika orang memenuhi ketiga standar ini, mereka adalah individu berbakat yang langka dan harus segera dipromosikan, dibina, dan dilatih. Setelah menjalani latihan selama beberapa waktu, mereka kemudian dapat melakukan pekerjaan itu. Siapa pun yang memiliki kualitas, memikul beban, dan memiliki kemampuan kerja tidak menuntut orang lain untuk selalu mengkhawatirkan, mengawasi, dan mendesaknya dalam pekerjaan. Mereka proaktif, mereka tahu pekerjaan mana yang harus dilakukan pada waktu tertentu, pekerjaan mana yang perlu diinspeksi dan diawasi, dan pekerjaan mana yang perlu diperiksa atau diamati dengan ketat. Mereka sangat sadar akan hal tersebut. Orang-orang seperti ini relatif dapat diandalkan dan dapat dipercaya dalam pekerjaannya, dan tidak akan ada masalah besar yang terjadi. Sekalipun masalah terjadi, itu akan menjadi masalah sepele yang tidak memengaruhi gambaran besar, dan Tuhan tidak perlu khawatir tentang pekerjaan yang mereka lakukan. Hanya orang-orang yang benar-benar dapat mandiri dalam pekerjaannya yang benar-benar memiliki kemampuan kerja. Mereka yang tidak dapat mandiri dan selalu membutuhkan orang lain untuk mengkhawatirkannya, memperhatikan, mengawasi, dan bahkan mengajarinya langkah demi langkah adalah tipe orang yang memiliki kualitas yang sangat buruk. Hasil pekerjaan orang-orang dengan kualitas rata-rata, pasti biasa-biasa saja, dan mereka membutuhkan pengawasan dan perhatian dari orang lain sebelum melakukan sesuatu. Sebaliknya, orang-orang yang berkualitas baik mampu mandiri setelah mereka dilatih selama kurun waktu tertentu, dan setiap kali Yang di Atas memberi mereka petunjuk untuk suatu tugas dan mempersekutukan sejumlah prinsip, mereka mampu memahami prinsip-prinsip tersebut, melaksanakan pekerjaan sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut, dan pada dasarnya mengikuti jalan yang benar tanpa penyimpangan atau kekurangan yang terlalu besar, serta mencapai hasil yang seharusnya—inilah yang dimaksud dengan memiliki kemampuan kerja. Sebagai contoh, rumah Tuhan mengharuskan gereja untuk dibersihkan, antikristus serta orang-orang jahat harus diidentifikasi dan diusir dari gereja. Ketika melakukan pekerjaan ini, orang yang memiliki kemampuan kerja pada dasarnya tidak akan menyimpang. Begitu seorang antikristus muncul, dibutuhkan waktu setidaknya sekitar setengah tahun baginya untuk disingkapkan dan dikeluarkan. Selama waktu ini, mereka yang memiliki kemampuan kerja dapat mengidentifikasi antikristus, mempersekutukan kebenaran untuk menganalisis perwujudan antikristus, dan membantu saudara-saudari memperoleh kemampuan untuk mengidentifikasi mereka dan tidak disesatkan, dengan demikian, memungkinkan mereka untuk bangkit bersama menyingkapkan dan mengusir antikristus. Ketika antikristus atau orang jahat muncul dalam lingkup pekerjaan orang-orang yang memiliki kemampuan kerja, pada dasarnya, sebagian besar saudara-saudari tidak akan disesatkan atau terpengaruh. Hanya sebagian orang yang bingung dan yang kualitasnya sangat buruk yang akan disesatkan, dan ini adalah fenomena yang normal. Orang-orang yang memiliki kualitas baik dan kemampuan kerja dapat mencapai hasil ini dalam pekerjaannya, dan orang-orang seperti ini memiliki kenyataan kebenaran serta memenuhi standar sebagai pemimpin dan pekerja.

Di antara segala macam orang yang berbakat yang baru saja Aku sebutkan, tipe pertama adalah mereka yang dapat menjadi pengawas untuk berbagai jenis pekerjaan. Syarat pertama bagi mereka adalah memiliki kemampuan dan kualitas untuk memahami kebenaran. Ini adalah persyaratan minimal. Syarat kedua adalah mereka memikul beban—ini sangat diperlukan. Sebagian orang memahami kebenaran lebih cepat daripada orang biasa, memiliki pemahaman rohani, memiliki kualitas yang baik, memiliki kemampuan kerja, dan setelah berlatih selama beberapa waktu, mereka benar-benar mampu mandiri. Namun, ada masalah serius dengan orang-orang semacam ini—mereka tidak memikul beban. Mereka suka makan, minum, bersenang-senang, dan suka bepergian ke mana-mana. Mereka sangat tertarik pada semua hal ini, tetapi ketika diminta untuk melakukan pekerjaan tertentu yang mengharuskan mereka menanggung kesulitan, membayar harga, dan sedikit menahan diri, mereka menjadi lesu, dan mengaku memiliki penyakit atau mengalami penderitaan, dan merasa tidak nyaman di seluruh tubuhnya. Mereka tidak terkendali dan tidak disiplin, santai, keras kepala, dan tidak bermoral. Mereka makan, tidur, dan bersenang-senang kapan pun mereka mau, dan hanya melakukan beberapa pekerjaan ketika suasana hatinya mendukung. Jika pekerjaan itu agak berat atau melelahkan, mereka kehilangan minat dan tidak lagi ingin melaksanakan tugasnya. Apakah ini berarti memikul beban? (Tidak.) Orang-orang yang malas dan mendambakan kenyamanan daging bukanlah orang-orang yang seharusnya dipromosikan dan dibina. Ada juga orang-orang yang kualitasnya lebih dari cukup untuk suatu pekerjaan, tetapi sayangnya mereka tidak memikul beban, mereka tidak suka memikul tanggung jawab, tidak suka masalah, dan tidak suka khawatir. Mereka buta terhadap pekerjaan yang perlu dilakukan, dan meskipun mereka melihatnya, mereka tidak ingin mengurusnya. Apakah orang-orang seperti ini calon yang layak untuk dipromosikan dan dibina? Sama sekali tidak; seseorang harus memikul beban agar dapat dipromosikan dan dibina. Memikul beban juga dapat digambarkan sebagai memiliki rasa tanggung jawab. Memiliki rasa tanggung jawab lebih berkaitan dengan kemanusiaan; memikul beban berhubungan dengan salah satu standar yang digunakan rumah Tuhan untuk menilai seseorang. Mereka yang memikul beban sekaligus memiliki dua hal lainnya—kemampuan dan kualitas untuk memahami kebenaran, serta kemampuan kerja—adalah tipe orang yang dapat dipromosikan dan dibina. Tipe orang seperti ini mampu menjadi pengawas untuk berbagai jenis pekerjaan. Ini adalah standar yang dibutuhkan untuk mempromosikan dan membina orang untuk menjadi pengawas berbagai jenis pekerjaan, dan orang yang memenuhi standar ini adalah calon yang layak untuk dipromosikan dan dibina.

II. Kriteria yang Harus Dimiliki oleh Orang-orang Berbakat dengan Bakat atau Karunia Khusus dalam Berbagai Profesi

Selain tipe orang yang dapat menjadi pengawas untuk berbagai jenis pekerjaan, tipe lain yang dapat dipromosikan dan dibina adalah mereka yang memiliki bakat atau karunia khusus atau telah menguasai keterampilan profesional tertentu. Apa standar yang dituntut oleh rumah Tuhan untuk membina orang-orang seperti ini menjadi pemimpin tim? Pertama-tama, lihatlah kemanusiaannya—selama mereka relatif mencintai hal-hal positif dan bukan orang jahat, itu sudah cukup. Sebagian orang mungkin bertanya, "Mengapa mereka tidak dituntut untuk menjadi orang yang mengejar kebenaran?" Karena pemimpin tim bukanlah pemimpin atau pekerja gereja, mereka juga bukan penyiram. Jadi, menuntut orang-orang ini untuk memenuhi standar mengejar kebenaran akan terlalu berlebihan dan tidak terjangkau bagi sebagian besar dari mereka. Hal ini tidak diwajibkan bagi orang-orang yang melakukan pekerjaan urusan umum atau jenis pekerjaan profesional tertentu; jika itu diwajibkan, hanya sedikit saja yang akan memenuhi syarat, jadi standar harus diturunkan. Selama orang-orang ini memahami profesinya, mampu memikul pekerjaan, dan tidak melakukan kejahatan atau menyebabkan gangguan, maka itu sudah cukup. Bagi orang-orang ini, yang memiliki keahlian dalam beberapa keterampilan dan profesi, serta memiliki beberapa kelebihan, jika mereka akan melakukan pekerjaan yang memerlukan keterampilan tertentu yang berhubungan dengan profesinya di rumah Tuhan, selama mereka relatif jujur dan baik dalam hal karakter mereka, tidak jahat, tidak menyimpang dalam pemahaman mereka, mampu menanggung kesulitan, dan bersedia membayar harga, maka itu sudah cukup. Jadi, persyaratan pertama untuk membina orang-orang seperti itu menjadi pemimpin tim adalah bahwa mereka harus relatif mencintai hal-hal positif, dan selain itu, mereka harus mampu menanggung kesulitan dan membayar harga. Apa lagi persyaratannya? (Mereka harus memiliki karakter yang jujur dan lurus, tidak jahat, dan tidak menyimpang dalam pemahamannya.) Karakternya harus relatif jujur dan lurus, mereka bukan orang jahat, dan tidak boleh menyimpang dalam pemahamannya. Sebagian orang mungkin bertanya, "Jadi, apakah kemampuan mereka untuk memahami kebenaran dapat dianggap tinggi? Setelah mendengar kebenaran, dapatkah mereka menyadari kenyataan kebenaran, dan memasuki kenyataan kebenaran?" Tidak perlu menuntut semua itu; cukuplah mensyaratkan agar orang-orang ini tidak menyimpang dalam pemahamannya. Ketika orang-orang yang tidak menyimpang dalam pemahaman mereka melakukan pekerjaannya, salah satu manfaatnya adalah mereka tidak mungkin menyebabkan kekacauan atau melakukan sesuatu yang konyol. Sebagai contoh, rumah Tuhan telah berulang kali mempersekutukan prinsip-prinsip mengenai warna kostum para aktor, yang seharusnya bermartabat dan sopan, dan berwarna-warni, bukan kusam. Namun, masih ada orang-orang yang sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan kepada mereka, tidak memahami apa yang mereka dengar, tidak mampu memahami, dan tidak mampu mengidentifikasi prinsip-prinsip dalam tuntutan rumah Tuhan ini, dan mereka akhirnya memilih kostum yang semuanya berwarna abu-abu—bukankah ini pemahaman yang menyimpang? (Ya.) Inilah yang dimaksud dengan memiliki pemahaman yang menyimpang. Apa sebenarnya arti dari relatif mencintai hal-hal positif? (Mampu menerima kebenaran.) Tepat sekali. Artinya mampu menerima kata-kata dan hal-hal yang sesuai dengan kebenaran, dan mampu menerima serta tunduk pada firman Tuhan dan semua aspek kebenaran. Entah orang-orang seperti itu dapat menerapkannya atau tidak, paling tidak di lubuk hatinya, mereka tidak boleh menentang atau merasa jijik terhadap hal-hal tersebut. Orang-orang seperti itu adalah orang baik, dan dalam bahasa sehari-hari dapat dikatakan bahwa mereka adalah orang yang baik. Apa sajakah ciri-ciri orang yang baik? Mereka merasa jijik, muak, dan benci terhadap tindakan-tindakan jahat yang suka dilakukan oleh orang-orang tidak percaya, serta terhadap tren jahat yang diikuti oleh orang-orang tidak percaya. Misalnya, tren di dunia orang tidak percaya yang mengagungkan kekuatan jahat, dan banyak wanita berambisi untuk menikah dengan orang kaya atau menjadi istri simpanan. Bukankah ini jahat? Orang-orang yang mencintai kebenaran menganggap hal ini sangat menjijikkan, dan ada yang berkata, "Sekalipun aku tidak dapat menemukan seseorang untuk dinikahi, atau aku sedang sekarat karena kemiskinan sekalipun, aku tidak akan pernah bertindak seperti orang-orang itu," dengan kata lain, mereka merendahkan dan menghina orang-orang semacam itu. Salah satu ciri orang yang baik adalah merasa jijik dan muak terhadap tren jahat, dan merendahkan mereka yang telah terjerat oleh tren jahat tersebut. Orang-orang ini cukup jujur dan lurus; ketika disebutkan tentang percaya kepada Tuhan dan menjadi orang baik, menempuh jalan yang benar, menyembah Tuhan dan menjauhi kejahatan, menjauhi arus jahat, dan menjauhi semua perilaku jahat di dunia, di lubuk hatinya, mereka merasa bahwa ini adalah hal-hal yang baik. Apakah mereka mampu atau tidak untuk mencapai semua itu, dan seberapa pun besar aspirasinya untuk percaya kepada Tuhan dan menempuh jalan yang benar, pada akhirnya, di lubuk hatinya, mereka ingin hidup dalam terang dan ingin berada di tempat di mana kebenaran berkuasa. Orang-orang baik seperti ini adalah tipe orang yang cukup mencintai hal-hal positif. Mereka yang akan dipromosikan dan dibina oleh rumah Tuhan setidaknya harus memiliki karakter kemanusiaan yang jujur dan lurus serta mencintai hal-hal positif. Ini juga merupakan standar pertama yang diperlukan untuk mempromosikan tipe orang berbakat yang memiliki keterampilan profesional dan kelebihan. Standar kedua adalah bahwa orang semacam itu harus mampu menderita kesulitan dan membayar harga. Artinya, jika berkenaan dengan tujuan atau pekerjaan yang mereka sukai, mereka dapat mengesampingkan keinginan mereka sendiri, mengesampingkan kenikmatan daging atau gaya hidup yang nyaman, dan bahkan meninggalkan prospek masa depan mereka sendiri. Selain itu, sedikit kesulitan atau merasa sedikit lelah bukanlah masalah besar bagi mereka; asalkan mereka sedang melakukan sesuatu yang bermakna dan yang mereka yakini benar, maka mereka dengan senang hati meninggalkan kenikmatan daging dan keuntungan fisik—atau, setidaknya, memiliki aspirasi dan keinginan untuk melakukannya. Beberapa orang berkata, "Terkadang orang itu masih mendambakan kenyamanan daging: terkadang mereka ingin tidur lebih lama, atau makan makanan yang enak, dan terkadang mereka ingin pergi jalan-jalan atau bermain—tetapi sering kali, mereka mampu menderita kesulitan dan membayar harga; hanya saja terkadang suasana hati mereka membawa mereka ke pemikiran semacam itu. Akankah ini dianggap sebagai masalah?" Tidak. Kecuali dalam keadaan tertentu, menuntut agar mereka mengesampingkan sepenuhnya kenikmatan daging akan terlalu keras. Pada umumnya, ketika engkau menugaskan pekerjaan kepada orang-orang seperti itu, entah itu pekerjaan besar atau kecil, dan entah itu sesuatu yang mereka sukai atau tidak, dan sesulit apa pun pekerjaan itu, atau sebesar apa pun kesulitan yang harus mereka tanggung, atau berapa pun harga yang harus mereka bayar, selama engkau menugaskan pekerjaan tersebut kepadanya, mereka pasti akan melakukannya sebaik mungkin tanpa engkau perlu mengawasi atau mengarahkannya. Orang-orang seperti ini mampu menanggung kesulitan dan membayar harga, dan ini adalah perwujudan lain dari orang yang baik. Apa artinya mampu menanggung kesulitan dan membayar harga? Itu berarti menjadi teliti, sangat setia dan penuh perhatian, bersedia menanggung segala kesulitan, dan membayar harga berapa pun demi menyelesaikan sesuatu dengan benar. Dalam hal menyelesaikan sesuatu, orang-orang seperti ini menepati janjinya dan dapat diandalkan, tidak seperti orang yang rakus dan malas, mencari kenyamanan dan membenci kerja keras, dan mengutamakan keuntungan di atas segalanya. Orang-orang semacam ini mengingkari janjinya, selalu mengucapkan kata-kata palsu untuk menipu dan membujuk orang lain, serta tidak ragu-ragu untuk berbohong dan bersumpah palsu demi mencapai tujuannya—Tuhan tidak akan menyelamatkan orang-orang semacam ini. Tuhan menyukai orang-orang yang jujur. Hanya orang-orang jujurlah yang menepati janjinya dan setia pada tugasnya, dan hanya mereka yang mampu menanggung kesulitan dan membayar harga untuk memenuhi amanat-Nya yang dapat diselamatkan oleh Tuhan. Mampu menanggung kesulitan dan membayar harga adalah ciri dan perwujudan kedua yang harus dimiliki seseorang untuk dipromosikan dan dibina oleh rumah Tuhan. Standar ketiga adalah tidak memiliki pemahaman yang menyimpang. Artinya, setelah mendengarkan firman Tuhan, mereka setidaknya mampu memahami apa yang dimaksud dengan firman itu, mereka dapat memahami apa yang Tuhan ucapkan, dan pemahaman mereka tidak menyimpang atau tak masuk akal. Misalnya, jika engkau berbicara tentang warna biru, mereka tidak akan salah mengartikannya sebagai warna hitam, dan jika engkau berbicara tentang warna abu-abu, mereka tidak akan salah mengartikannya sebagai warna ungu. Ini adalah batas minimal. Meskipun terkadang pemahamannya menyimpang, ketika orang lain menunjukkan hal tersebut, mereka dapat menerimanya, dan jika mereka melihat orang lain memiliki pemahaman yang lebih murni dibandingkan dirinya, mereka dapat dengan mudah menerimanya—tipe orang ini memiliki pemahaman yang murni. Keempat, mereka tidak boleh menjadi orang jahat. Apakah ini mudah untuk dipahami? Tidak menjadi orang jahat berarti setidaknya harus melakukan satu hal, yaitu setelah gagal memenuhi apa yang diminta oleh rumah Tuhan, atau setelah melanggar prinsip dan melakukan sesuatu yang salah, mereka harus mampu menerima dan tunduk ketika dipangkas, tanpa perlawanan dan tanpa menyebarkan kenegatifan atau gagasan. Selain itu, di kelompok mana pun mereka berada, mereka dapat bergaul dengan sebagian besar orang dan berinteraksi dengan harmonis. Bahkan ketika seseorang menyakitinya dengan mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan, mereka dapat menoleransinya tanpa menyimpan dendam, dan jika ada yang merundungnya, mereka tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi sebaliknya mereka hanya memakai cara-cara yang bijaksana untuk menjaga jarak dan menghindar. Meskipun individu semacam ini belum mencapai tingkat sebagai orang yang benar-benar jujur, setidaknya mereka cukup tulus dan tidak melakukan kejahatan, dan jika ada yang menyinggungnya, mereka tidak akan membalas atau menyiksa orang lain, atau menindasnya. Selain itu, orang-orang seperti itu tidak mencoba untuk mendirikan kerajaan independen, tidak bertindak menentang rumah Tuhan, tidak menyebarkan gagasan tentang Tuhan, tidak berusaha untuk menghakimi-Nya, atau tidak melakukan sesuatu yang mengganggu atau menimbulkan kekacauan. Keempat poin di atas adalah kriteria dasar untuk mempromosikan dan membina orang yang berbakat yang memiliki sejumlah kelebihan dan yang memahami beberapa keterampilan profesional. Selama mereka memenuhi keempat kriteria ini, pada dasarnya mereka dapat mengemban tugas tertentu dan melakukan pekerjaan tertentu dengan cara yang benar.

Ada orang-orang yang mungkin bertanya, "Mengapa kriteria yang harus dipenuhi orang berbakat agar dapat dipromosikan dan dibina tidak mencakup pemahaman akan kebenaran, memiliki kenyataan kebenaran, dan mampu takut akan Tuhan, serta menjauhi kejahatan? Mengapa kriteria itu tidak mencakup kemampuan mengenal Tuhan, kemampuan untuk tunduk kepada-Nya, setia kepada-Nya, dan menjadi makhluk ciptaan yang memenuhi standar? Apakah hal-hal ini telah ditinggalkan?" Katakan kepada-Ku, jika seseorang memahami kebenaran dan telah memasuki kenyataan kebenaran, mampu tunduk kepada Tuhan, setia kepada Tuhan, memiliki hati yang takut akan Tuhan, dan terlebih lagi, mengenal Tuhan, tidak akan menentang-Nya, dan merupakan makhluk ciptaan yang memenuhi standar, apakah orang seperti itu masih perlu dibina? Jika mereka benar-benar telah mencapai semua hal ini, bukankah itu berarti hasil dari pembinaan telah tercapai? (Ya.) Oleh karena itu, persyaratan bagi orang yang berbakat untuk dipromosikan dan dibina tidak mencakup kriteria ini. Karena para kandidat dipromosikan dan dibina dari kalangan manusia yang tidak memahami kebenaran dan penuh dengan watak yang rusak, mustahil bagi para kandidat yang dipromosikan dan dibina ini untuk memiliki kenyataan kebenaran, atau untuk sepenuhnya tunduk kepada Tuhan, apalagi mutlak setia kepada-Nya. Terlebih lagi, mereka tentu masih jauh dari mengenal Tuhan atau memiliki hati yang takut akan Tuhan. Kriteria terpenting yang harus dipenuhi oleh segala macam orang berbakat untuk dapat dipromosikan dan dibina adalah yang baru saja kita sebutkan—inilah yang paling realistis dan spesifik. Ada pemimpin-pemimpin palsu yang berkata, "Kita tidak memiliki orang yang berbakat di sini yang dapat dipromosikan dan dibina. Si polan tidak memahami kebenaran, si polan melakukan sesuatu tanpa hati yang takut akan Tuhan, si polan tidak dapat menerima pemangkasan, si polan tidak memiliki kesetiaan ..." dan seterusnya, menyebutkan berbagai kekurangannya. Apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh para pemimpin palsu ini dengan perkataan mereka? Seolah-olah orang-orang itu tidak dapat dipromosikan dan dibina karena mereka tidak memahami kebenaran, tidak mengalami pekerjaan Tuhan, dan belum memiliki kenyataan kebenaran, dan seterusnya, sedangkan para pemimpin itu sendiri mampu menjadi pemimpin karena mereka sudah memiliki sejumlah pengalaman nyata dan memiliki kenyataan kebenaran. Bukankah ini yang dimaksud oleh para pemimpin palsu tersebut? Dalam pandangannya, tidak ada yang lebih baik darinya, dan tidak ada seorang pun yang pantas menjadi pemimpin selain dirinya. Inilah watak congkak dari para pemimpin palsu; mereka penuh dengan gagasan dan imajinasi dalam hal promosi dan pembinaan orang-orang oleh rumah Tuhan.

III. Kriteria yang Harus Dimiliki oleh Personel Kerja Urusan Umum

Aku baru saja menyebutkan dua tipe orang yang menjadi fokus pembinaan rumah Tuhan. Tipe yang pertama adalah orang yang dapat menjadi pemimpin dan pekerja, dan tipe yang kedua adalah orang yang dapat melakukan berbagai pekerjaan profesional. Ada juga tipe lainnya, yaitu orang yang tidak bisa dikatakan memiliki kelebihan atau keterampilan profesional tertentu, pekerjaannya tidak melibatkan teknik yang tinggi. Orang-orang ini hanya melakukan pekerjaan urusan umum tertentu di gereja, mereka menangani beberapa hal yang di luar pekerjaan substantif gereja. Mereka adalah tipe orang yang melakukan pekerjaan urusan umum. Apa saja persyaratan utama rumah Tuhan bagi orang-orang seperti ini? Persyaratan yang paling penting adalah mereka mampu membela kepentingan rumah Tuhan, tidak membantu orang luar dengan mengorbankan rumah Tuhan, dan tidak mengkhianati kepentingan rumah Tuhan hanya untuk menyenangkan Iblis. Itu saja. Terlepas dari apakah mereka adalah komunikator yang berbakat, elite masyarakat, atau memiliki bakat khusus, mereka harus mampu membela kepentingan rumah Tuhan saat menangani urusan eksternal untuk rumah Tuhan. Apa sajakah yang termasuk dalam kepentingan rumah Tuhan? Uang, materi, reputasi rumah Tuhan dan gereja, serta keselamatan saudara-saudari—setiap aspek ini sangat penting. Siapa pun yang mampu membela kepentingan rumah Tuhan memiliki kemanusiaan yang normal, cukup jujur, dan seseorang yang bersedia menerapkan kebenaran. Sebagian orang yang tidak memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi, berkata, "Ada orang dengan kemanusiaan yang jahat, tetapi mereka dapat mempertahankan pekerjaan rumah Tuhan." Apakah itu mungkin? (Tidak, tidak mungkin.) Bagaimana mungkin orang jahat bisa mempertahankan pekerjaan rumah Tuhan? Mereka hanya bisa membela kepentingannya sendiri. Jadi, jika seseorang benar-benar mampu membela kepentingan rumah Tuhan, mereka tentu memiliki karakter dan kemanusiaan yang baik; ini tidak mungkin salah. Jika seseorang membantu orang luar dengan mengorbankan rumah Tuhan ketika melakukan sesuatu untuk rumah Tuhan, mengkhianati kepentingan rumah Tuhan, dan tidak hanya menyebabkan kerugian ekonomi dan materiel yang besar bagi rumah Tuhan, tetapi juga mendatangkan kerusakan besar pada reputasi rumah Tuhan dan gereja, apakah mereka orang baik? Orang-orang semacam itu tentu saja bukan orang yang baik. Mereka tidak peduli seberapa besar kerugian materiel dan finansial yang dialami rumah Tuhan; yang paling penting bagi mereka adalah meraup keuntungan untuk diri sendiri dan menyenangkan hati orang-orang tidak percaya; mereka tidak hanya memberikan hadiah kepada orang-orang tidak percaya, tetapi juga terus-menerus melakukan kompromi dengan orang-orang tidak percaya tersebut selama negosiasi—tanpa pernah berpikir untuk memperjuangkan kepentingan rumah Tuhan. Mereka bahkan menipu rumah Tuhan, mengatakan bagaimana mereka menyelesaikan pekerjaan, dan mempertahankan kepentingan rumah Tuhan—padahal kenyataannya, pekerjaan gereja telah mengalami kerugian dan rumah Tuhan telah dieksploitasi oleh orang-orang tidak percaya. Jika seseorang dalam segala hal mampu membela kepentingan rumah Tuhan ketika menangani masalah-masalah eksternal, apakah ini orang yang baik? (Ya.) Jadi, jika orang semacam ini tidak mampu melakukan pekerjaan lain di rumah Tuhan, dan hanya cocok untuk jenis pekerjaan urusan umum ini, apakah rumah Tuhan akan mempromosikannya? (Ya.) Selain memiliki kemampuan kerja dan mampu melaksanakan pekerjaannya berdasarkan prinsip-prinsip yang dituntut oleh rumah Tuhan, mereka juga mampu mempertahankan kepentingan rumah Tuhan. Ini sudah memenuhi standar dan orang seperti itu harus dipromosikan. Sebaliknya, mereka yang terus-menerus merugikan kepentingan rumah Tuhan, yang terus-menerus menyebabkan potensi risiko bagi keselamatan saudara-saudari, dan terus-menerus membawa pengaruh dan konsekuensi yang buruk bagi reputasi rumah Tuhan dan gereja—orang-orang semacam itu tidak boleh dipromosikan atau dibina; jika mereka dipromosikan dan dipakai, mereka harus segera diberhentikan. Ada pula orang yang selalu terlibat masalah ketika melaksanakan tugasnya, seperti mengalami kecelakaan ketika mengemudi, mengacaukan urusan yang sedang mereka tangani, atau menimbulkan konflik yang berujung pada keluhan terus-menerus, dan jika ada kekurangan, mereka tidak tahu bagaimana memperbaikinya. Orang semacam ini adalah orang bodoh, pembawa sial, dan pemboros. Jika orang semacam ini menjadi pemimpin tim, pengawas, pemimpin, atau pekerja, mereka tidak hanya harus segera diberhentikan, tetapi juga harus dikeluarkan dari gereja karena orang-orang seperti ini adalah sumber malapetaka dan pembawa sial. Selama masih ada satu atau dua orang semacam ini di gereja, tidak akan ada kedamaian di dalam gereja. Orang-orang semacam itu tampaknya memiliki roh jahat di dalam dirinya atau penyakit menular. Siapa pun yang berinteraksi dengannya akan mengalami kemalangan, jadi orang seperti ini harus segera dibasmi sampai ke akar-akarnya. Bahkan ciri wajahnya pun tidak menyenangkan, penuh dengan ekspresi licik, jahat, atau sangat mengerikan, dan siapa pun yang berinteraksi dengannya akan merasa seolah-olah sesuatu yang buruk akan terjadi. Orang-orang semacam ini harus diberhentikan dan dikeluarkan, dan baru setelah itu, gereja akan dapat berjalan dengan baik. Mempromosikan dan membina berbagai orang di gereja harus berpegang pada prinsip-prinsip dan kemampuan untuk mengidentifikasi agar dapat bertindak berdasarkan prinsip-prinsip tersebut. Di antara berbagai tipe orang yang dipromosikan dan dibina, ada yang melayani sebagai pemimpin dan pekerja gereja, ada yang bertanggung jawab atas berbagai profesi di gereja, dan ada juga yang menangani urusan umum untuk gereja. Berbagai kriteria yang harus dipenuhi oleh beberapa tipe orang berbakat ini juga telah dipersekutukan dengan jelas. Ketika engkau memahami dengan jelas prinsip-prinsip tentang cara memilih pemimpin dan pekerja, serta cara mempromosikan dan membina orang-orang, maka semua pekerjaan gereja akan berjalan di jalur yang benar.

Sebagian orang mungkin bertanya, "Mengapa orang-orang yang dipromosikan dan dibina oleh rumah Tuhan ini disebut orang berbakat?" Orang berbakat yang kita bicarakan mengacu kepada kandidat yang akan dipromosikan dan dibina. Ada berbagai persyaratan bagi orang-orang yang dapat melaksanakan berbagai tugas, dan karena mereka sedang dalam proses promosi dan pembinaan, orang yang disebut berbakat ini hanya perlu memenuhi kriteria yang baru saja kita sebutkan. Mengharapkan orang-orang ini untuk memiliki kenyataan kebenaran, mampu tunduk, setia, dan takut akan Tuhan adalah sesuatu yang tidak realistis. Oleh karena itu, orang berbakat yang kita bicarakan hanyalah mereka yang memiliki sejumlah kualitas dan integritas yang seharusnya dimiliki oleh kemanusiaan normal, serta kualitas untuk memahami kebenaran—dengan demikian, mereka dianggap memenuhi syarat. Hal ini bukan berarti bahwa mereka telah memahami kebenaran dan memasuki kenyataan kebenaran, juga bukan berarti bahwa mereka telah mencapai keadaan yang sepenuhnya tunduk kepada Tuhan setelah menerima penghakiman serta hajaran-Nya, dan hal-hal seperti itu. Tentu saja, istilah "orang berbakat" bukan merujuk pada mereka yang memiliki gelar sarjana atau meraih gelar Doktor, atau orang yang memiliki latar belakang keluarga istimewa, status sosial tinggi, atau orang yang memiliki kemampuan atau karunia khusus—istilah tersebut bukan merujuk pada orang-orang ini. Karena mereka harus dipromosikan dan dibina, ada sebagian orang yang akan melakukan pekerjaan profesional mungkin belum pernah melakukan atau mempelajari pekerjaan ini sebelumnya, tetapi selama mereka memenuhi sejumlah kriteria tersebut untuk dipromosikan dan dibina, dan bersedia belajar dan pandai mempelajari profesi tertentu, maka rumah Tuhan dapat mempromosikan dan membina mereka. Apa yang Kumaksudkan dengan ini? Yang Aku maksud bukanlah seseorang dapat dipromosikan dan dibina hanya jika mereka secara alami unggul dalam profesi tertentu. Sebaliknya, jika mereka memiliki kemauan untuk belajar dan memenuhi persyaratan, atau meskipun mereka hanya memiliki sejumlah dasar dalam profesi tersebut, mereka dapat dipromosikan dan dibina—inilah prinsipnya. Demikianlah persekutuan kita tentang kriteria yang harus dimiliki oleh segala macam orang berbakat yang ingin dipromosikan dan dibina oleh rumah Tuhan.

Tujuan Rumah Tuhan dalam Mempromosikan dan Membina Segala Tipe Orang Berbakat

Selanjutnya kita akan bersekutu tentang mengapa rumah Tuhan mempromosikan dan membina segala tipe orang berbakat. Sebagian orang tidak begitu memahami hal ini, dan berpikir, "Bukankah sudah cukup bagi rumah Tuhan untuk langsung mempromosikan dan memakai berbagai orang berbakat? Mengapa perlu membina dan melatih mereka selama kurun waktu tertentu?" Apakah engkau semua memahami hal ini atau tidak? Mari kita bahas terlebih dahulu tentang tipe orang yang menjadi pemimpin dan pekerja. Mengapa rumah Tuhan mempromosikan dan membina mereka yang memiliki kemampuan memahami, yang memikul beban bagi gereja, dan yang memiliki kemampuan kerja? Itu karena meskipun mereka memenuhi syarat dalam hal kualitas dan memenuhi kriteria, mereka belum memiliki pengalaman nyata dan tidak memahami kebenaran, apalagi mengetahui bagaimana menerapkan kebenaran dan melakukan segala sesuatu berdasarkan prinsip. Mereka harus dilatih selama kurun waktu tertentu dan diberi pengarahan, dan hanya setelah mereka menguasai prinsip-prinsip dalam melaksanakan tugasnya dan memiliki pengalaman nyata, barulah mereka dapat dipakai secara resmi. Jika mereka seperti saudara-saudari di gereja, makan dan minum firman Tuhan, mendengarkan khotbah, menjalani kehidupan bergereja, dan berlatih dalam melaksanakan tugas, dan baru dipromosikan dan dibina setelah kehidupan mereka bertumbuh, kemajuan mereka akan sangat lambat. Dalam hal tersebut, berapa tahun yang dibutuhkan agar mereka layak dipakai oleh Tuhan? Bukankah hal ini akan memengaruhi pekerjaan gereja? Oleh karena itu, selama seseorang memiliki kemampuan untuk memahami kebenaran, memiliki kemampuan kerja, dan merasakan beban, mereka harus dipromosikan dan dibina serta diminta untuk berlatih dalam melaksanakan tugas seorang pemimpin atau pekerja, serta diberi beban. Di satu sisi, itu membuat mereka memanfaatkan kekuatan mereka sebaik mungkin. Di sisi lain, ketika mereka menghadapi situasi khusus, perlu untuk mempersekutukan kebenaran bersama mereka untuk membereskan kesulitannya. Terkadang mereka juga harus dipangkas, dan jika perlu, mereka juga harus didisiplinkan dan harus menjalani berbagai ujian dan pemurnian, serta menanggung banyak penderitaan. Hanya dengan menjalani pelatihan praktis seperti itu, mereka dapat membuat kemajuan nyata, selangkah demi selangkah memahami kebenaran dan menguasai prinsip-prinsip, kemudian memikul pekerjaan para pemimpin dan pekerja sesegera mungkin. Membina dan melatih para pemimpin dan pekerja dengan cara seperti ini akan membawa hasil yang lebih baik dan lebih cepat, yang bermanfaat bagi pekerjaan rumah Tuhan dan lebih bermanfaat bagi jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan. Ini karena para pemimpin dan pekerja yang memiliki pengalaman nyata dapat secara langsung menyirami dan membekali umat pilihan Tuhan. Ketika rumah Tuhan mempromosikan dan membina orang untuk menjadi pemimpin, rumah Tuhan memberi mereka beban yang lebih besar untuk melatih mereka, membuat mereka bergantung pada Tuhan, dan membuat mereka berjuang untuk memperoleh kebenaran; hanya dengan cara demikianlah tingkat pertumbuhan mereka akan bertumbuh secepat mungkin. Semakin besar beban yang ditempatkan pada diri mereka, semakin besar tekanan yang mereka terima, dan semakin mereka dipaksa untuk mencari kebenaran dan bergantung pada Tuhan. Pada akhirnya, mereka akan mampu melakukan pekerjaan mereka dengan benar dan mengikuti kehendak Tuhan, dan dengan demikian mereka pun telah menempuh jalan yang benar untuk diselamatkan dan disempurnakan—ini merupakan hasil yang diperoleh ketika rumah Tuhan mempromosikan dan membina orang. Tanpa melaksanakan tugas spesifik ini, mereka tidak akan tahu apa yang kurang dari mereka, mereka tidak akan tahu bagaimana melakukan segala sesuatu berdasarkan prinsip-prinsip, dan mereka tidak akan tahu apa artinya memiliki kenyataan kebenaran. Jadi, melakukan pekerjaan spesifik membantu mereka menemukan kekurangan mereka dan menyadari bahwa selain dari karunia yang mereka miliki, mereka tidak memiliki kenyataan kebenaran; membantu mereka merasakan betapa miskin dan menyedihkannya diri mereka, sehingga membuat mereka menyadari bahwa jika mereka tidak bergantung pada Tuhan dan mencari kebenaran, mereka tidak akan mampu melakukan pekerjaan apa pun; itu membuat mereka benar-benar mengenal diri mereka sendiri dan melihat dengan jelas bahwa jika mereka tidak mengejar kebenaran dan perubahan watak, tidak mungkin mereka layak untuk dipakai oleh Tuhan. Semua ini merupakan hasil yang harus dicapai ketika pemimpin dan pekerja dibina dan dilatih. Hanya dengan memahami aspek-aspek ini, orang dapat mengejar kebenaran dengan cara yang realistis, berperilaku rendah hati, memastikan untuk tidak akan lagi menyombongkan diri ketika melakukan pekerjaannya, secara konsisten meninggikan Tuhan dan memberikan kesaksian bagi Tuhan dalam melaksanakan tugasnya, dan masuk selangkah demi selangkah ke dalam kenyataan kebenaran. Ketika seseorang dipromosikan dan dibina untuk menjadi seorang pemimpin, mereka dimungkinkan untuk belajar bagaimana mengenali situasi berbagai orang, berlatih mencari kebenaran untuk menyelesaikan kesulitan yang dihadapi orang lain, mendukung, membekali, dan memimpin orang lain ke dalam kenyataan kebenaran. Pada saat yang sama, mereka juga harus berlatih menyelesaikan berbagai masalah dan kesulitan yang dihadapi selama bekerja, dan belajar bagaimana cara membedakan dan menangani berbagai tipe antikristus, orang jahat, dan pengikut yang bukan orang percaya, serta bagaimana melakukan pekerjaan pembersihan gereja. Dengan demikian, dibandingkan dengan orang lain, mereka dapat mengalami lebih banyak orang, peristiwa, dan hal-hal, serta lebih banyak lingkungan yang diatur oleh Tuhan, makan dan minum lebih banyak firman Tuhan, dan masuk lebih banyak ke dalam kenyataan kebenaran. Bukankah ini kesempatan untuk melatih diri? Makin banyak kesempatan untuk berlatih, makin banyak pengalaman yang dimiliki seseorang, makin luas wawasannya, dan makin cepat mereka akan bertumbuh. Namun, jika orang tidak melakukan pekerjaan kepemimpinan, mereka hanya akan menghadapi dan mengalami kehidupan dan pengalaman pribadi, hanya mengenali watak rusaknya sendiri, serta berbagai keadaan pribadi—semuanya hanya berhubungan dengan dirinya sendiri. Begitu mereka menjadi pemimpin, mereka menghadapi lebih banyak orang, lebih banyak peristiwa, dan lebih banyak lingkungan yang mendorong mereka untuk sering datang ke hadirat Tuhan untuk mencari prinsip-prinsip kebenaran. Bagi mereka, orang, peristiwa, dan hal-hal ini tanpa disadari membentuk beban, dan secara alami juga menciptakan kondisi yang sangat menguntungkan bagi jalan masuk mereka ke dalam kenyataan kebenaran, dan ini merupakan hal yang baik. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki kualitas, memikul beban, dan memiliki kemampuan kerja akan masuk secara perlahan sebagai orang percaya biasa, tetapi akan masuk lebih cepat sebagai seorang pemimpin atau pekerja. Bagi orang-orang, apakah lebih baik masuk ke dalam kenyataan kebenaran dengan cepat atau perlahan? (Dengan cepat.) Oleh karena itu, bagi orang-orang yang memiliki kualitas, memikul beban, dan memiliki kemampuan kerja, rumah Tuhan membuat pengecualian untuk mempromosikan orang-orang tersebut, kecuali mereka bukanlah orang yang mengejar kebenaran dan tidak berusaha untuk memperoleh kebenaran, dalam hal ini, rumah Tuhan tidak akan memaksa mereka. Selama seseorang memiliki dasar iman kepada Tuhan, memenuhi kriteria untuk menjadi pemimpin atau pekerja, dan bersedia mengejar kebenaran dan dipakai oleh Tuhan, maka tidak diragukan lagi bahwa rumah Tuhan akan mempromosikan dan membina mereka, memberinya kesempatan untuk berlatih menjadi pemimpin atau pekerja, dan memungkinkan mereka untuk belajar melakukan pekerjaan gereja, belajar mengenali orang, belajar menangani berbagai masalah di gereja, dan belajar melaksanakan berbagai pekerjaan sesuai dengan pengaturan kerja. Selama masa pelatihan, jika seseorang dapat menerima kebenaran dan menerima pemangkasan, dapat tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan, dapat mencari kebenaran untuk menyelesaikan berbagai masalah, dan belajar memperlakukan segala tipe orang serta membedakan dan menanganinya sesuai dengan firman Tuhan, maka mereka dapat memahami prinsip-prinsip kebenaran yang relevan, dan mulai memahami kebenaran dan memasuki kenyataan—ini adalah hal-hal yang tidak dapat dialami atau diperoleh oleh orang-orang percaya biasa. Jadi, dari sudut pandang ini, apakah hal yang baik atau buruk bagi rumah Tuhan untuk mempromosikan dan membina seseorang? Apakah hal itu bermanfaat bagi mereka, atau apakah itu kesulitan yang dipaksakan kepada mereka? Itu bermanfaat bagi mereka. Tentu saja, ketika sebagian orang baru saja dipromosikan, mereka tidak tahu tugas apa yang harus dilaksanakan atau bagaimana melaksanakannya, dan mereka sedikit bingung. Ini adalah hal yang wajar; siapa yang sejak lahir sudah mampu melakukan segalanya? Jika engkau mampu melakukan segalanya, engkau pasti akan menjadi orang yang paling congkak dan sombong, dan tidak akan menyerah kepada siapa pun—jika demikian, masihkah engkau dapat menerima kebenaran? Jika engkau dapat melakukan segalanya, apakah engkau masih akan bergantung pada Tuhan dan memandang-Nya? Apakah engkau masih akan mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah kerusakanmu sendiri? Tentu saja tidak. Sebaliknya, engkau akan menjadi congkak dan sombong serta menempuh jalan antikristus, engkau akan berjuang untuk mendapatkan kekuasaan dan status, serta tidak akan mengalah kepada siapa pun, dan engkau akan menyesatkan dan menjerat orang, serta mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja—jika demikian, apakah engkau masih dapat dipakai oleh rumah Tuhan? Jika engkau tahu bahwa engkau memiliki banyak kekurangan, engkau harus belajar untuk taat dan tunduk, serta melaksanakan berbagai tugas dengan baik sesuai dengan tuntutan rumah Tuhan; ini akan memungkinkanmu untuk secara perlahan mencapai tahap di mana engkau dapat melaksanakan tugasmu dengan cara yang memenuhi standar. Namun, sebagian besar orang tidak dapat melakukan sesuatu yang sederhana seperti taat dan tunduk, jadi jangan salahkan rumah Tuhan jika tidak mempromosikan dan membina mereka. Karena engkau tidak mampu taat, karena bahkan untuk taat pun engkau tidak bisa melakukannya, apakah rumah Tuhan berani mempromosikan dan membinamu? (Tidak.) Mengapa tidak berani? Jika engkau dipakai, itu akan sangat berisiko, terlalu merepotkan, dan terlalu mengkhawatirkan! Karena jika rumah Tuhan memakaimu, engkau mungkin akan mengendalikan orang, dan memimpin mereka ke jalan kejahatan—itulah sebabnya ini sangat berisiko. Jika engkau dipakai, engkau mungkin akan bertindak semaumu melakukan pelanggaran dan membuat pekerjaan menjadi sangat kacau, dan rumah Tuhan harus memberhentikanmu dan membereskan semua kekacauan yang kaubuat—itulah sebabnya ini terlalu merepotkan. Jika engkau dipakai, engkau tidak akan tahu bagaimana melakukan pekerjaan apa pun, dan engkau sama sekali tidak akan mencapai hasil dalam pekerjaanmu; dalam semua pekerjaan yang kaulakukan, engkau harus didorong, diawasi, dan diikuti oleh Yang di Atas, yang harus turun tangan dalam segala hal—lalu untuk apa engkau dipakai? Engkau terlalu mengkhawatirkan! Orang semacam ini sama sekali tidak dapat dipakai. Sekalipun mereka dibina, itu tidak akan ada gunanya, dan justru akan menyebabkan banyak masalah dan juga berdampak pada pembinaan orang lain; bukankah kerugiannya akan lebih banyak daripada manfaatnya? (Ya.)

Karena tidak pernah dipromosikan atau dipakai oleh rumah Tuhan, ada orang-orang yang mulai memiliki berbagai ide di benaknya dan berkata, "Mengapa Yang di Atas tidak pernah memperhatikanku? Mengapa rumah Tuhan tidak pernah mempromosikan dan membinaku? Itu tidak adil!" Pertama-tama, engkau seharusnya mempertimbangkan apakah engkau mampu taat, dan apakah engkau mampu tunduk pada pengaturan rumah Tuhan. Kedua, engkau harus mempertimbangkan apakah engkau memenuhi tiga kriteria yang dibutuhkan agar rumah Tuhan dapat mempromosikan dan membina orang untuk menjadi pemimpin dan pekerja—mampu memahami kebenaran, memikul beban, dan memiliki kemampuan kerja. Jika engkau memenuhi kriteria ini, cepat atau lambat engkau akan memiliki kesempatan untuk dipromosikan, dibina, dan dipakai. Agar rumah Tuhan dapat mempromosikan dirimu, ada hal-hal yang diminta darimu. Apa sajakah hal tersebut? Engkau diharuskan untuk bertindak berdasarkan prinsip-prinsip dan tuntutan rumah Tuhan; engkau harus melakukan apa yang diminta dan dengan cara yang diminta, dengan demikian, engkau dibina untuk terlebih dahulu belajar bertindak dengan cara yang berprinsip, dan belajar mencari kebenaran dan tunduk pada kebenaran, serta belajar bekerja sama secara harmonis. Selama masa engkau dibina, rumah Tuhan terkadang akan memangkasmu; terkadang akan menegurmu dengan keras; terkadang rumah Tuhan akan menanyakan kemajuan pekerjaanmu; terkadang rumah Tuhan akan bertanya bagaimana tepatnya pekerjaan itu berjalan, dan akan memeriksa pekerjaanmu; dan terkadang rumah Tuhan juga akan menguji sudut pandangmu terhadap hal tertentu. Tujuan dari ujian-ujian ini bukanlah untuk mempersulit dirimu, melainkan untuk membuatmu memahami semua hal tersebut, apa maksud Tuhan, dan sikap serta prinsip apa yang seharusnya kaumiliki. Rumah Tuhan melakukan ini untuk melatihmu dan membuatmu melakukan penerapan. Lalu apa tujuan dan sasaran melatih orang-orang? Yaitu untuk memungkinkan mereka memahami kebenaran. Tujuan memahami kebenaran adalah agar orang dapat tunduk pada kebenaran dan bertindak berdasarkan prinsip, untuk tetap pada posisinya dan dengan setia melaksanakan tugas, dan selama proses pelaksanaan tugas, memasuki berbagai kenyataan kebenaran dan mencapai perubahan dalam wataknya. Rumah Tuhan melatih para pemimpin dan pekerja dengan cara seperti ini. Selama para pemimpin dan pekerja memahami kebenaran, ada harapan bagi mereka memimpin umat pilihan Tuhan untuk memahami kebenaran. Berapa pun kebenaran yang dipahami oleh pemimpin dan pekerja, sebanyak itu pula kebenaran yang diharapkan dapat dipahami oleh orang-orang yang mereka pimpin. Ketika para pemimpin dan pekerja memahami prinsip-prinsip kebenaran dalam pekerjaannya, orang-orang yang mereka pimpin juga dapat memahami prinsip-prinsip tersebut dan memasuki kenyataan kebenaran dalam pekerjaannya. Oleh karena itu, para pemimpin dan pekerja yang menjalani pelatihan harus memiliki kualitas yang lebih baik daripada orang lain. Mereka diberi kemampuan untuk memahami prinsip-prinsip kebenaran terlebih dahulu dan memasuki kenyataan kebenaran terlebih dahulu, kemudian mereka memimpin lebih banyak orang untuk memasuki kenyataan kebenaran dan memahami prinsip-prinsip kebenaran. Bagaimana pendapatmu tentang cara seperti ini? (Bagus.) Orang-orang seperti ini mungkin tidak berpendidikan tinggi atau tidak pandai berbicara, atau tidak banyak memahami tentang teknologi atau urusan terkini dan politik. Mereka bahkan mungkin tidak begitu terampil dalam profesi tertentu. Namun, mereka mampu memahami kebenaran, dan setelah mendengar firman Tuhan, mereka mampu menerapkan dan mengalaminya, dan mampu menemukan prinsip-prinsip kebenaran, serta mampu memimpin lebih banyak orang untuk memasuki kenyataan firman Tuhan dan mematuhi prinsip-prinsip kebenaran. Inilah yang kita sebut dengan orang yang berbakat yang dipromosikan dan dibina untuk melayani sebagai pemimpin. Apakah ini abstrak? (Tidak.) Sebagian orang mungkin bertanya, "Engkau berbicara tentang orang yang berbakat, lalu apakah mereka orang terbaik di masyarakat? Apakah mereka pasti telah menjalankan semacam bisnis, atau menjadi semacam CEO atau pengusaha di masyarakat? Apakah mereka negarawan yang memiliki latar belakang politik, atau bakat bisnis, atau bakat dalam bidang seni dan sastra? Apakah mereka orang yang memiliki karunia yang luar biasa besar?" Orang berbakat yang dibahas di rumah Tuhan berbeda dari orang berbakat di dunia. Apa yang dimaksud dengan istilah "orang berbakat" yang kita bahas ini? Orang berbakat adalah orang yang mampu memahami kebenaran, mampu memimpin orang ke dalam kenyataan kebenaran, mengetahui bagaimana mengidentifikasi berbagai tipe orang, bagaimana menyelesaikan berbagai keadaan dan kesulitan yang dialami orang lain, memiliki pandangan dan sikap yang benar ketika menghadapi masalah, serta memiliki pandangan dan sikap yang seharusnya dimiliki orang yang percaya kepada Tuhan dan mengikuti-Nya. Ini tidak merujuk kepada orang yang tidak memiliki pemahaman rohani, orang munafik, atau orang yang mengatakan hal-hal yang muluk-muluk dan melontarkan retorika, tetapi pada orang yang memiliki kenyataan kebenaran. Inilah yang dimaksud dengan "orang berbakat." Apakah ini pembahasan yang hampa? (Tidak.) Bukankah kriteria yang dituntut oleh rumah Tuhan dari orang-orang berbakat yang dipromosikan dan dibina untuk menjadi pemimpin dan pekerja ini sangat praktis? (Ya.) Sangat praktis! Kandidat seperti ini tidak diharuskan memiliki kualifikasi akademis yang tinggi, tetapi setidaknya, mereka harus memiliki kualitas untuk memahami kebenaran. Sebagian orang mungkin berkata, "Jika mereka tidak diharuskan memiliki kualifikasi akademis yang tinggi, apakah tidak apa-apa jika mereka buta huruf?" Tanpa pendidikan tertentu, mustahil untuk membaca firman Tuhan. Mereka perlu memahami firman tertulis, tetapi mereka tidak memerlukan kualifikasi akademis yang tinggi. Mereka yang dipromosikan di rumah Tuhan ada yang lulusan SMA, ada yang sarjana, dan Doktor, jadi tidak ada batasan dalam hal tingkat pendidikan. Selain itu, tidak ada batasan terkait status sosial seseorang juga. Dari petani dan intelektual, hingga pebisnis dan ibu rumah tangga—semua tipe orang diterima. Selain tidak ada batasan tingkat pendidikan dan status sosial, kriteria yang dibutuhkan adalah beberapa di antaranya yang sudah Kubahas. Apakah itu masuk akal? (Ya.) Sangat masuk akal! Sekarang apakah engkau sedikit lebih memahami apa yang Aku maksud dengan "orang berbakat yang dipromosikan dan dibina oleh rumah Tuhan"? (Ya.) Orang yang memenuhi sejumlah kriteria ini, yaitu mampu memahami kebenaran, memikul beban, dan memiliki kemampuan kerja adalah kandidat untuk dipromosikan dan dibina oleh rumah Tuhan. Jika mereka memenuhi kriteria ini, mereka memenuhi syarat. Adapun hal-hal lain seperti pendidikan, latar belakang keluarga, status sosial, penampilan, dan sebagainya, persyaratannya tidak terlalu tinggi. Ini adalah tentang mempromosikan dan membina orang untuk menjadi pemimpin dan pekerja.

Kita baru saja membahas beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh orang-orang berbakat yang memiliki keterampilan atau profesi tertentu agar dapat dipromosikan dan dibina, yaitu mereka harus mencintai hal-hal positif, mampu menerima kebenaran, tidak menyimpang dalam pemahamannya, mampu dengan setia melaksanakan tugasnya, menanggung kesulitan dan membayar harga tanpa mengeluh, serta sekurang-kurangnya, tidak melakukan kejahatan—sejumlah kriteria ini penting bagi mereka. Jadi, apa tujuan mempromosikan dan membina orang-orang ini? Tujuannya adalah agar ketika mereka menghadapi masalah dalam melaksanakan tugasnya dan melakukan pekerjaan tertentu, mereka dapat mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah, dan bertindak sesuai dengan prinsip. Selama proses penerapan jalan masuk, mereka tanpa sadar sedang dilatih dan diatur, serta melakukan penerapan dalam melepaskan keinginan pribadi, mengoreksi pandangan yang keliru dan tidak masuk akal dari orang-orang duniawi, melepaskan sejumlah pemikiran yang kekanak-kanakan, dan melepaskan prasangka, gagasan, dan imajinasi tentang iman kepada Tuhan, dan hal-hal semacam itu. Tentu saja, apa pun bentuknya, proses penerapan ini dimaksudkan untuk memungkinkan orang-orang secara bertahap memahami kebenaran, belajar untuk tunduk, dan belajar untuk memasuki berbagai kenyataan kebenaran. Dalam proses pembelajaran, mereka secara bertahap menguasai prinsip-prinsip kebenaran, memahami apa artinya percaya kepada Tuhan, apa artinya menerapkan kebenaran, apa artinya melaksanakan tugas, dan akhirnya, mereka secara bertahap memahami apa yang harus mereka lakukan untuk melaksanakan tugasnya sesuai standar, bagaimana mereka seharusnya melakukan segala sesuatu seperti yang dilakukan oleh orang percaya, dan sebagainya—semua ini adalah hal-hal yang secara bertahap dimasuki setelah orang-orang dipromosikan dan dibina. Proses jalan masuk orang secara bertahap adalah proses pembinaan, dan proses pembinaan sebenarnya adalah proses seseorang melakukan penerapan untuk masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Akan tetapi, jika engkau belum dipromosikan dan dibina, dan engkau hanya bertindak sebagai orang percaya biasa yang menghadiri pertemuan, membaca firman Tuhan, mempersekutukan kebenaran, atau belajar lagu pujian, maka dengan cara percaya kepada Tuhan seperti ini, engkau tidak benar-benar melaksanakan tugasmu sebagai makhluk ciptaan. Dengan demikian, engkau masih jauh dari melaksanakan tugasmu dengan cara yang memenuhi standar. Engkau bahkan tidak mengetahui dengan jelas prinsip apa yang harus kaupahami dalam melaksanakan tugasmu, dan hanya dapat mengucapkan beberapa doktrin dan slogan; oleh karena itu, engkau belum memasuki kenyataan kebenaran, dan jalan masukmu ke dalam kehidupan berjalan lambat. Demikian pula, tujuan dan sasaran mempromosikan dan membina orang-orang yang terlibat dalam tugas-tugas profesional adalah agar mereka memasuki kenyataan kebenaran dengan lebih cepat dan memperoleh pemahaman yang lebih baik dan lebih akurat tentang prinsip-prinsip kebenaran. Mereka yang dapat memahami prinsip-prinsip kebenaran dan memasuki kenyataan kebenaran—inilah orang-orang berbakat yang dipromosikan dan dibina oleh rumah Tuhan. Merujuk kepada siapakah orang-orang berbakat seperti ini? Merujuk kepada mereka—yang atas dasar mencintai hal-hal positif, mampu menanggung kesukaran dan membayar harga, tidak menyimpang dalam pemahamannya, dan bukan orang jahat—telah memperoleh pemahaman tentang prinsip-prinsip kebenaran dan memasuki kenyataan kebenaran, mampu tunduk kepada Tuhan dan pengaturan rumah Tuhan, serta memiliki sedikit hati yang takut akan Tuhan. Ini adalah tipe orang berbakat kedua yang Aku maksudkan. Persyaratan bagi mereka juga nyata, cukup spesifik, dan tidak abstrak. Jadi, apakah orang-orang berbakat semacam ini diharuskan menjadi kaum elite di masyarakat, berpengalaman secara sosial, memiliki kualifikasi akademis tertentu, atau status sosial tertentu? (Tidak.) Rumah Tuhan tidak pernah mengharuskan orang untuk memiliki status sosial, ketenaran, kualifikasi akademik, atau tingkat pengetahuan yang tinggi—semua hal ini tidak pernah menjadi persyaratan. Ketika mempromosikan dan membina seseorang, rumah Tuhan tidak melihat penampilan fisiknya, apakah mereka tampak menarik atau tidak. Selain tidak mempromosikan mereka yang tampak seperti orang-orang tidak percaya, atau yang penampilannya mengerikan atau jahat, kriteria lainnya adalah yang baru saja Aku sebutkan—ini adalah yang paling nyata. Ketika orang tidak percaya mempromosikan seseorang, yang pertama-tama mereka lihat adalah penampilannya; pria harus tampan seperti pejabat, dan wanita harus cantik seperti bidadari. Selain itu, mereka juga membandingkan kualifikasi akademik, status sosial, latar belakang keluarga, dan kepandaian seseorang. Jika engkau memiliki kualifikasi akademis tinggi, tetapi tidak memiliki kepandaian, itu pun tidak cukup, engkau tidak akan pernah dipromosikan dan tidak ada yang akan menghormatimu. Jika engkau memiliki kualifikasi akademik tinggi dan bakat nyata, tetapi tidak terlalu menarik, dan bertubuh pendek, dan tidak tahu bagaimana menyanjung atau mendekati atasanmu, engkau tidak akan pernah dipromosikan atau dibina sepanjang hidupmu, dan tak ada yang akan memperhatikanmu. Oleh karena itu, orang-orang tidak percaya memiliki pepatah yang berbunyi, "Ada banyak kuda yang cepat, tetapi sedikit yang mampu mengenalinya." Apakah ini berlaku di rumah Tuhan? (Tidak, tidak berlaku.) Jadi, apakah ungkapan "Emas sejati ditakdirkan untuk berkilau pada akhirnya" berlaku? Apakah itu masuk akal? (Tidak.) Orang-orang yang sinis dan tidak menyerah pada siapa pun sering berkata demikian. Selalu ingin bersinar—ini adalah ambisi manusia. Segala macam orang berbakat yang dipromosikan dan dibina oleh rumah Tuhan bukanlah emas, mereka hanyalah orang biasa. Promosi dan pembinaan yang kita bicarakan hanyalah cara berbicara; sebenarnya, ini mengacu kepada peninggian oleh Tuhan. Apakah engkau, sebagai makhluk ciptaan, adalah emas di hadapan Sang Pencipta? Engkau hanyalah debu, engkau bahkan bukan tembaga atau besi. Mengapa Kukatakan bahwa engkau adalah debu dan bukan emas? Tidak ada yang patut dipuji dalam diri manusia. Sebagian orang mungkin bertanya, "Bukankah apa yang Engkau katakan bertentangan? Bukankah Engkau baru saja mengatakan bahwa seseorang dapat dipromosikan jika mereka memenuhi kriteria mencintai hal-hal positif?" Sebagai seorang manusia, bukankah seharusnya engkau mencintai hal-hal positif? Jika engkau mencintai sejumlah hal positif, apakah itu membuatmu menjadi emas? Apakah itu membuatmu bersinar? Jika engkau mencintai sejumlah hal positif, apakah itu berarti engkau memiliki kebenaran? Hanya dengan memiliki kebenaranlah seseorang akan bersinar. Jika engkau tidak memiliki kebenaran, bagaimana bisa dikatakan bahwa engkau bersinar? Faktanya adalah bahwa makhluk ciptaan tidak memahami kebenaran apa pun. Memiliki sedikit kemanusiaan dan sedikit kemampuan dan kualitas untuk memahami kebenaran tidak berarti bahwa seseorang secara alami memiliki kebenaran. Manusia tidak memiliki kebenaran, dan sekalipun kemanusiaan mereka lurus atau baik, itu bukan kebenaran, melainkan hanyalah kualitas yang seharusnya dimiliki oleh kemanusiaan normal. Oleh karena itu, jangan bicara tentang bersinar. Lalu, kapan seseorang bisa sedikit bersinar? Ketika mereka dapat mengucapkan perkataan Ayub, "Yahweh yang memberi, Yahweh juga yang mengambil; terpujilah nama Yahweh" (Ayub 1:21), saat itulah mereka dapat dikatakan sedikit bersinar dan hidup dalam terang. Ketika engkau dapat menggunakan kenyataan kebenaran yang kaumiliki dan kebenaran yang kaupahami untuk membekali, mendukung, dan memimpin orang lain sehingga mereka dapat dibawa ke hadirat Tuhan dan masuk ke dalam kenyataan kebenaran, tunduk kepada Tuhan, dan menyembah-Nya, hanya dengan begitu barulah engkau dapat sedikit bersinar.

Segala macam orang berbakat yang dibina oleh rumah Tuhan bukanlah orang yang memiliki bakat supernatural, melainkan hanya orang biasa yang rusak. Selama mereka dapat menerima kebenaran, taat dan tunduk, dan memiliki kualitas tertentu, maka rumah Tuhan akan membuat pengecualian dengan mempromosikan dan membina mereka. Ketika Aku berbicara tentang membuat pengecualian untuk mempromosikan dan membina orang, ini tentang peninggian oleh Tuhan, ini tentang memberimu kesempatan untuk datang ke hadirat Tuhan dan menerima bimbingan-Nya, serta menerima pembinaan dan pelatihan Tuhan atas dirimu agar selama periode ini engkau dapat memasuki kenyataan kebenaran sesegera mungkin dan mampu memahami prinsip-prinsip kebenaran dengan akurat, melaksanakan tugasmu dengan cara yang memenuhi standar, dan hidup dalam keserupaan dengan manusia. Inilah yang dimaksud dengan istilah "orang berbakat" di rumah Tuhan. Orang-orang seperti ini bukanlah orang yang luar biasa atau mengesankan, mereka hanyalah orang yang memahami kebenaran dan memiliki kenyataan kebenaran, melaksanakan tugasnya dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab, memiliki sedikit ketulusan, mampu membayar sedikit harga, serta tidak bertindak ceroboh berdasarkan gagasan dan imajinasinya. Dengan membuat pengecualian untuk mempromosikan dan membina orang-orang yang memenuhi kriteria ini serta melatih mereka, apakah ini pantas untuk dilakukan oleh rumah Tuhan? Apakah itu bermanfaat bagi orang-orang? Ini sangat bermanfaat bagi orang! Sama seperti orang percaya lainnya, mereka yang dipromosikan dan dibina juga percaya kepada Tuhan, membaca firman Tuhan, mendengarkan khotbah, dan melaksanakan tugasnya. Namun, dibandingkan dengan orang percaya lainnya, mereka akan bertumbuh lebih cepat dan memperoleh lebih banyak. Apakah engkau semua ingin memperoleh lebih banyak, atau memperoleh sedikit saja? (Memperoleh lebih banyak.) Sebagian besar orang memiliki keinginan ini, yang menunjukkan bahwa mereka mencintai hal-hal positif. Terkadang Aku bersekutu bersama beberapa tim tentang jalan masuk kehidupan, dan cukup banyak orang yang ikut mendengarkan, yang menunjukkan bahwa sebagian besar orang memiliki keinginan yang sangat besar untuk kebenaran, ingin lebih memahami kebenaran, dan juga ingin memasuki kenyataan kebenaran. Pada awalnya, Aku bersekutu bersama beberapa orang dan mereka benar-benar mati rasa. Aku berbicara lama tetapi mereka tidak menanggapi, bahkan tidak menunjukkan sedikit pun senyuman. Setelah Aku berinteraksi dengan mereka selama satu atau dua tahun, ekspresi wajah sebagian besar dari mereka menjadi lebih alami dan mulai memberikan respons. Seiring waktu, respons mereka menjadi lebih cepat. Artinya, mereka berubah dari orang mati menjadi orang hidup, dan roh mereka terbangun. Bagaimana ini tercapai? Jika seseorang tidak memahami kebenaran, sebesar apa pun mereka mencintai hal-hal positif, atau betapa pun pintar atau cerdasnya dirinya, mereka tetaplah seperti orang mati. Ada orang-orang yang awalnya bodoh dan lamban, tidak dihormati oleh siapa pun di dunia, mereka tidak terlalu berpendidikan dan wawasan mereka tidak terlalu luas. Namun, setelah percaya kepada Tuhan, mereka dapat memahami banyak kebenaran dan melihat banyak hal dengan jelas, dan kemudian hidup dalam keserupaan dengan manusia sehingga mereka menjadi orang hidup. Apa yang dimaksud dengan "orang hidup"? Itu bukan tentang apakah tubuh fisikmu hidup atau mati, atau apakah tubuhmu dapat bergerak atau bernapas, melainkan tentang apakah rohmu sadar dan peka terhadap firman Tuhan dan kebenaran. Orang hidup menanggapi kebenaran dan firman Tuhan. Setelah mendengar firman Tuhan, mereka memiliki kesadaran, jalan, rencana, dan tujuan. Orang mati tidak memiliki perwujudan tersebut. Oleh karena itu, jika rumah Tuhan mempromosikan dan membina seseorang, orang tersebut akan memperoleh relatif lebih banyak. Jadi, bagaimana orang yang tidak memenuhi kriteria ini dan tidak dipromosikan atau dibina dapat memperoleh cukup banyak? Bagaimana mereka dapat masuk dengan cepat ke dalam kenyataan kebenaran? Mereka harus belajar untuk menerapkan dan mengalami firman Tuhan, memperoleh pemahaman tentang banyak kebenaran, dan juga mampu menerapkan kebenaran untuk mengenali orang dan menyelesaikan masalah—dengan begitu, mereka dapat masuk ke dalam kenyataan kebenaran.

Ada orang-orang yang berkata, "Jika rumah Tuhan mempromosikan dan membina segala macam orang berbakat dan memungkinkan mereka untuk dengan cepat memasuki kenyataan kebenaran, bukankah ini berarti orang yang tidak berbakat tidak dapat masuk ke dalam kenyataan kebenaran?" Apakah pernyataan ini benar? (Tidak benar.) Jadi, setelah mempersekutukan topik ini, apakah hal ini membuat sebagian orang bersemangat, sementara sebagian lainnya merasa putus asa dan kecewa? Seseorang harus melihatnya seperti ini: mereka yang telah dipromosikan dan dibina tidak boleh sombong. Engkau tidak memiliki apa pun untuk dibanggakan, ini adalah kasih karunia dan berkat Tuhan. Ketika Tuhan memberimu lebih banyak, Dia juga memintamu untuk memberi lebih banyak dari dirimu. Jika rumah Tuhan membuat pengecualian dengan mempromosikan dan membinamu, itu berarti engkau perlu membayar harga yang lebih tinggi. Jika engkau dapat menanggung kesulitan ini, tentu saja engkau akan memperoleh lebih banyak. Jika engkau berkata, "Aku tidak mau menanggung kesulitan ini," berarti engkau tidak akan memperoleh kebenaran, juga tidak akan memperoleh berkat Tuhan. Sebagian orang berkata, "Aku ingin memperoleh hal tersebut, tetapi aku rasa aku tidak bisa karena rumah Tuhan tidak akan membuat pengecualian dengan mempromosikan dan membinaku. Aku tidak memenuhi kriteria." Tidak menjadi masalah jika engkau tidak memenuhi kriteria. Selama engkau mengejar kebenaran dan berusaha keras untuk memperolehnya, Tuhan tidak akan memperlakukanmu dengan tidak adil. Orang-orang yang dipromosikan dan dibina ini dapat lebih dahulu memasuki kenyataan kebenaran, itu hanyalah karena kualitas dan karena berbagai kondisi mereka. Akan tetapi, lebih dahulu masuk bukan berarti bahwa mereka adalah satu-satunya orang yang dapat masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Mereka hanya mendapat kesempatan lebih awal untuk memperoleh sedikit lebih banyak, dan memasuki kenyataan kebenaran sedikit lebih cepat. Orang-orang yang belum dipromosikan akan tertinggal sedikit dibanding mereka, tetapi ini bukan berarti mereka tidak dapat memasuki kenyataan kebenaran. Bisa atau tidaknya seseorang memasuki kenyataan kebenaran tergantung pada pengejarannya. Orang-orang yang dipromosikan dan dibina ini dapat memahami prinsip-prinsip kebenaran dengan lebih cepat dan memasuki kenyataan kebenaran dengan lebih cepat selama proses pembinaan, yang bermanfaat bagi pekerjaan rumah Tuhan. Oleh karena itu, mempromosikan dan membina orang-orang yang terbukti memiliki kualitas yang baik dan mencintai kebenaran adalah hal yang benar. Jika seseorang dapat menemukan orang-orang ini dan mempromosikan serta membina mereka tanpa merasa iri atau merendahkannya, tetapi justru memberikan perhatian, itu berarti orang tersebut sedang memikirkan maksud Tuhan. Sebaliknya, jika sebagian orang merasa iri dan khawatir bahwa orang-orang ini lebih baik dan mengungguli mereka, sehingga mereka mengucilkan dan merendahkan orang-orang tersebut, ini jelas merupakan tindakan jahat dan sesuatu yang sering dilakukan oleh antikristus. Hanya orang-orang jahat dan antikristus yang dapat menyerang dan mengucilkan saudara-saudari.

Pemahaman dan Sikap yang Harus Dimiliki Seseorang Terkait dengan Promosi dan Pembinaan Umat oleh Rumah Tuhan

Apa yang baru saja kita persekutukan adalah tujuan rumah Tuhan dalam mempromosikan dan membina semua jenis orang berbakat. Apa pun jenis pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang dipilih untuk dipromosikan dan dibina—baik itu pekerjaan teknis, pekerjaan biasa, atau urusan umum gereja—singkatnya, semua itu dilakukan untuk memungkinkan mereka memahami prinsip-prinsip kebenaran dan memasuki kenyataan kebenaran agar mereka dapat melaksanakan tugasnya dengan cara yang memenuhi standar secepat mungkin untuk memenuhi maksud Tuhan—inilah yang Tuhan tuntut dari manusia, dan tentu saja, ini juga yang dibutuhkan untuk pekerjaan gereja. Apakah engkau sekarang memahami pentingnya rumah Tuhan mempromosikan dan membina semua jenis orang yang berbakat? Apakah masih ada kesalahpahaman? (Tidak ada.) Ada orang-orang yang berkata, "Sekarang orang ini telah dipromosikan menjadi pemimpin dan memiliki status, dia bukan lagi orang biasa." Apakah pernyataan ini benar atau salah? (Salah.) Yang lain mungkin berkata, "Mereka yang menjadi pemimpin memiliki status, tetapi berada di atas mendatangkan kesepian. Makin tinggi engkau mendaki, makin keras engkau jatuh!" Apakah pernyataan ini benar atau salah? Jelas salah. Ungkapan "Makin tinggi engkau mendaki, makin keras engkau jatuh" ditujukan kepada orang-orang seperti apa? Ungkapan itu ditujukan kepada orang-orang yang memiliki ambisi dan keinginan, itu ditujukan kepada antikristus. Ketika mereka yang mengejar kebenaran menjadi pemimpin, itu bukanlah mendaki tinggi—itu adalah Tuhan yang membuat pengecualian dengan meninggikan mereka, dan itu adalah berkat Tuhan yang menempatkan beban tersebut pada mereka, dan memungkinkan mereka melaksanakan pekerjaan kepemimpinan. "Makin tinggi engkau mendaki, makin keras engkau jatuh" adalah kesimpulan yang diambil oleh orang tidak percaya, dan menggambarkan konsekuensi dari orang tidak percaya yang mengejar karier jabatan publik. Pengikut yang bukan orang percaya ini tidak memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi dan menerapkan ungkapan ini kepada orang yang positif, yang merupakan kesalahan besar. Yang lain mungkin berkata, "Dia lahir di daerah pedesaan, dan sekarang dia telah menjadi pemimpin gereja—seperti burung phoenix yang terbang tinggi dari awal yang rendah." Apakah pernyataan ini benar atau salah? Ini adalah perkataan setan dari orang-orang tidak percaya dan tidak bisa diterapkan pada umat pilihan Tuhan. Di rumah-Nya, Tuhan memberkati orang-orang yang mengejar kebenaran, mereka yang jujur, yang baik hati, dan mereka yang mempertahankan pekerjaan rumah Tuhan. Begitu orang-orang ini memahami kebenaran dan mencapai sedikit tingkat pertumbuhan, cepat atau lambat mereka akan dipromosikan untuk pembinaan dan pelatihan menggantikan orang yang merupakan pemimpin palsu dan antikristus. Di rumah Tuhan, orang-orang yang positif yang telah menjalani banyak ujian dan pengujian serta yang secara konsisten mempertahankan pekerjaan rumah Tuhan adalah mereka yang mendapat perkenanan Tuhan, dan tidaklah pantas jika perkataan setan dari orang tidak percaya digunakan untuk menggambarkan orang-orang ini. Oleh karena itu, mereka yang selalu menggunakan perkataan setan dari orang tidak percaya untuk menggambarkan hal-hal di rumah Tuhan, dan untuk mengungkapkan pandangannya sendiri adalah orang-orang yang tidak memahami kebenaran dan yang memiliki pandangan yang tidak masuk akal tentang berbagai hal. Pandangan mereka tentang segala sesuatu sama sekali tidak berubah, dan masih merupakan pandangan orang tidak percaya. Mereka telah percaya kepada Tuhan selama beberapa tahun, tetapi masih belum memperoleh kebenaran sama sekali, dan tetap tidak dapat melihat segala sesuatu berdasarkan firman Tuhan. Jadi, mereka ini adalah pengikut yang bukan orang percaya dan orang tidak percaya. Ketika orang dipromosikan untuk melayani sebagai pemimpin atau pekerja, atau mereka dibina untuk menjadi pengawas atas pekerjaan teknis tertentu, ini tidak lebih dari rumah Tuhan sedang memercayakan suatu beban kepada mereka. Ini adalah amanat, tanggung jawab, dan tentu saja, ini juga tugas khusus, kesempatan istimewa, dan ini adalah peninggian yang luar biasa—tidak ada sesuatu apa pun yang patut dipuji tentang mereka. Ketika orang dipromosikan dan dibina di rumah Tuhan, itu bukan berarti mereka memiliki kedudukan atau status khusus di rumah Tuhan sehingga mereka dapat menikmati perlakuan dan kebaikan khusus. Sebaliknya, setelah mereka sangat ditinggikan oleh rumah Tuhan, mereka diberi keadaan yang unggul untuk menerima pelatihan dari rumah Tuhan, untuk berlatih melaksanakan beberapa pekerjaan gereja yang penting, dan rumah Tuhan sekaligus akan memiliki standar yang lebih tinggi untuk dipenuhi orang tersebut, yang sangat bermanfaat bagi jalan masuk kehidupannya. Ketika orang dipromosikan dan dibina di rumah Tuhan, itu berarti mereka akan ditempatkan di bawah tuntutan yang ketat dan diawasi dengan ketat. Rumah Tuhan akan secara ketat memeriksa, mengawasi, dan mendorong pekerjaan yang mereka lakukan, dan akan berusaha memahami dan memberikan perhatian pada jalan masuk kehidupan mereka. Dari sudut pandang ini, apakah orang-orang yang dipromosikan dan dibina oleh rumah Tuhan menikmati perlakuan khusus, status khusus, dan kedudukan khusus? Sama sekali tidak, dan lebih-lebih lagi mereka tidak menikmati jabatan istimewa. Bagi orang-orang yang telah dipromosikan dan dibina, jika mereka merasa memiliki modal sebagai hasil terlaksananya tugasnya dengan agak efektif, sehingga mereka menjadi stagnan dan berhenti mengejar kebenaran, maka mereka akan berada dalam bahaya ketika menghadapi ujian dan kesengsaraan. Jika tingkat pertumbuhan orang terlalu kecil, kemungkinan besar mereka tak akan mampu berdiri teguh. Ada yang berkata, "Ketika orang dipromosikan dan dibina sebagai pemimpin, itu berarti mereka memiliki jabatan. Meskipun mereka bukan salah seorang dari anak-anak sulung, setidaknya mereka memiliki harapan untuk menjadi salah seorang dari umat Tuhan. Aku tidak pernah dipromosikan atau dibina, jadi tidakkah aku memiliki harapan untuk menjadi salah seorang umat Tuhan?" Berpikir seperti ini keliru. Untuk menjadi salah seorang umat Tuhan, engkau harus memiliki pengalaman hidup, dan engkau harus menjadi orang yang tunduk kepada Tuhan. Entah engkau seorang pemimpin, pekerja, atau pengikut biasa, siapa pun yang memiliki kenyataan kebenaran, dia adalah salah seorang dari umat Tuhan. Sekalipun engkau adalah pemimpin atau pekerja, jika engkau tidak memiliki kenyataan kebenaran, engkau tetap hanyalah orang yang berjerih payah. Sebenarnya, tidak ada yang istimewa tentang orang-orang yang dipromosikan dan dibina. Satu-satunya hal yang berbeda dari yang lain adalah bahwa mereka memiliki lingkungan yang lebih baik, kesempatan yang lebih baik, dan kondisi yang lebih baik untuk melakukan pekerjaan tertentu yang melibatkan prinsip-prinsip kebenaran. Sekalipun sebagian besar pekerjaan yang kaulakukan berkaitan dengan profesi tertentu, jika tidak ada prinsip-prinsip kebenaran yang digunakan untuk mengatur dan memeriksanya, itu berarti tugas yang kaulakukan tidak akan sesuai dengan prinsip, dan engkau hanyalah berjerih payah, dan engkau pasti tidak akan menerima perkenanan Tuhan. Apa sajakah persyaratan rumah Tuhan bagi berbagai orang berbakat yang dipromosikan dan dibina? Untuk dipromosikan dan dibina oleh rumah Tuhan, setidaknya mereka harus menjadi orang yang memiliki hati nurani dan nalar, orang yang dapat menerima kebenaran, orang yang dengan setia melaksanakan tugasnya, dan orang yang dapat tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan, dan setidaknya mereka harus dapat menerima dan tunduk ketika menghadapi pemangkasan. Hasil yang ingin dicapai oleh orang-orang yang menjalani pembinaan dan pelatihan di rumah Tuhan bukanlah agar mereka dapat menjadi pejabat atau bos, atau memimpin kelompok, dan bukan pula agar mereka dapat menasihati orang lain tentang cara berpikir mereka, dan tentunya, bukan juga untuk memiliki keterampilan profesional yang lebih baik atau tingkat pendidikan yang lebih tinggi, reputasi yang lebih besar, atau agar dapat disebut-sebut setara dengan orang-orang yang terkenal di dunia karena keterampilan profesional atau prestasi politiknya. Sebaliknya, tujuan yang ingin dicapai adalah agar mereka memahami kebenaran, menghidupi firman Tuhan, menjadi orang yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Seiring pelatihannya, mereka mampu memahami kebenaran dan memahami prinsip-prinsip kebenaran, dan mengetahui dengan lebih baik apa sebenarnya iman kepada Tuhan dan bagaimana mengikuti Tuhan—ini sangat bermanfaat bagi mereka yang mengejar kebenaran untuk mencapai kesempurnaan. Ini adalah hasil dan standar yang ingin dicapai oleh rumah Tuhan dalam mempromosikan dan membina semua jenis orang yang berbakat, dan ini juga merupakan hasil terbesar yang dipetik oleh orang-orang yang dipromosikan dan dipakai.

Ada orang-orang yang relatif bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya dan diperkenankan oleh umat pilihan Tuhan sehingga mereka dibina oleh gereja untuk menjadi pemimpin atau pekerja. Setelah memperoleh status, mereka mulai merasa lebih menonjol di antara orang banyak dan berpikir, "Mengapa rumah Tuhan memilihku? Bukankah karena aku lebih baik daripada engkau semua?" Bukankah ini terdengar seperti sesuatu yang biasa dikatakan anak kecil? Perkataan ini kekanak-kanakan, menggelikan, dan naif. Sebenarnya, kau tidak sedikit pun lebih baik daripada orang lain. Hanya saja kau memenuhi kriteria untuk dibina oleh rumah Tuhan. Mengenai apakah kau mampu memikul tanggung jawab ini, melaksanakan tugas ini dengan baik atau menyelesaikan amanat ini atau tidak, ini hal yang berbeda. Ketika seseorang dipilih untuk menjadi pemimpin oleh saudara-saudari, atau dipromosikan oleh rumah Tuhan untuk melakukan pekerjaan tertentu atau melaksanakan tugas tertentu, ini bukan berarti bahwa mereka memiliki status atau jabatan khusus, atau bahwa kebenaran yang mereka pahami lebih dalam dan lebih banyak daripada kebenaran yang dipahami orang lain—terlebih lagi, bukan berarti bahwa orang ini mampu tunduk kepada Tuhan dan tidak akan mengkhianati-Nya. Tentu saja, itu juga bukan berarti bahwa mereka mengenal Tuhan dan merupakan orang yang takut akan Tuhan. Sebenarnya, mereka belum mencapai semua ini. Promosi dan pembinaan hanya merupakan promosi dan pembinaan dalam arti yang sederhana, dan tidak berarti mereka telah ditakdirkan dan diperkenan oleh Tuhan. Promosi dan pembinaan mereka hanya berarti mereka telah dipromosikan dan menunggu pembinaan. Dan hasil akhir dari pembinaan ini tergantung pada apakah orang ini mengejar kebenaran atau tidak, dan apakah mereka mampu memilih jalan mengejar kebenaran atau tidak. Jadi, ketika seseorang di gereja dipromosikan dan dibina untuk menjadi pemimpin, mereka hanya dipromosikan dan dibina dalam arti yang sederhana; itu bukan berarti bahwa mereka telah memenuhi standar dan kompeten sebagai pemimpin, bukan berarti bahwa mereka sudah mampu melakukan pekerjaan kepemimpinan, dan dapat melakukan pekerjaan nyata—itu tidak benar. Kebanyakan orang tidak mampu mengetahui yang sebenarnya tentang hal-hal ini, dan berdasarkan imajinasi mereka sendiri, mereka mengagumi orang-orang yang telah dipromosikan. Ini adalah kesalahan. Sekalipun orang sudah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, apakah mereka yang dipromosikan benar-benar memiliki kenyataan kebenaran? Belum tentu. Mampukah mereka menerapkan pengaturan kerja rumah Tuhan? Belum tentu. Apakah mereka memiliki rasa tanggung jawab? Apakah mereka setia? Apakah mereka mampu tunduk? Ketika menghadapi masalah, apakah mereka mampu mencari kebenaran? Semua ini tidak diketahui. Apakah orang-orang ini memiliki hati yang takut akan Tuhan? Dan seberapa besarkah hati yang takut akan Tuhan yang mereka miliki? Apakah mereka mampu untuk tidak mengikuti keinginan mereka sendiri ketika mereka melakukan sesuatu? Apakah mereka mampu mencari Tuhan? Selama mereka melakukan pekerjaan kepemimpinan, apakah mereka mampu sering datang ke hadapan Tuhan untuk mencari maksud Tuhan? Apakah mereka mampu memimpin orang-orang untuk masuk ke dalam kenyataan kebenaran? Mereka tentu saja tidak mampu melakukan hal-hal semacam itu. Mereka belum menerima pelatihan dan mereka belum memiliki cukup pengalaman sehingga mereka tidak mampu melakukan hal-hal ini. Inilah sebabnya mengapa mempromosikan dan membina orang bukan berarti mereka telah memahami kebenaran, juga tidak bisa dikatakan bahwa mereka sudah mampu untuk melaksanakan tugasnya dengan cara yang memenuhi standar. Jadi apa tujuan dan makna mempromosikan dan membina seseorang? Itu adalah agar orang ini, sebagai individu, dipromosikan agar dia dapat melakukan penerapan, dan agar dia dapat disiram dan dilatih secara khusus, dengan demikian memungkinkannya memahami prinsip-prinsip kebenaran, dan prinsip, sarana, dan metode-metode untuk melakukan berbagai hal dan memecahkan berbagai masalah, serta bagaimana menghadapi dan menangani berbagai jenis lingkungan dan orang-orang yang dia jumpai sesuai dengan maksud-maksud Tuhan, dan dengan cara yang melindungi kepentingan rumah Tuhan. Dengan menilai berdasarkan poin-poin ini, apakah orang-orang berbakat yang dipromosikan dan dibina oleh rumah Tuhan cukup mampu melakukan pekerjaan dan melaksanakan tugasnya dengan baik selama masa promosi dan pembinaan atau sebelum promosi dan pembinaan? Tentu saja tidak. Dengan demikian, tidak dapat dihindari bahwa selama masa pembinaan, orang-orang ini akan mengalami pemangkasan, penghakiman dan hajaran, penyingkapan dan bahkan pemberhentian; ini adalah hal yang normal, dan ini adalah pelatihan dan pembinaan. Orang tidak boleh memiliki harapan apa pun yang tinggi atau tuntutan yang tidak realistis terhadap orang yang dipromosikan dan dibina tersebut; itu tidak masuk akal dan tidak adil bagi mereka. Engkau semua dapat mengawasi pekerjaan mereka. Jika engkau menemukan masalah atau hal-hal yang melanggar prinsip dalam proses pekerjaan mereka, engkau dapat mengangkat masalah itu dan mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah-masalah ini. Yang tidak boleh kaulakukan adalah mengkritik, menghukum, menyerang, atau mengucilkan mereka, karena mereka baru saja berada dalam masa pembinaan dan tidak boleh dipandang sebagai orang yang telah disempurnakan, apalagi sebagai orang yang tidak bercela, atau sebagai orang yang memiliki kenyataan kebenaran. Sama seperti engkau semua, mereka hanya dalam masa pelatihan. Perbedaannya adalah mereka melakukan lebih banyak pekerjaan dan tanggung jawab daripada orang biasa. Mereka memiliki tanggung jawab dan kewajiban untuk melakukan lebih banyak pekerjaan; mereka harus membayar harga yang lebih mahal, menderita lebih banyak kesulitan, mengerahkan lebih banyak upaya mental, memecahkan lebih banyak masalah, menoleransi lebih banyak celaan dari orang-orang, dan tentu saja mereka juga harus mengerahkan upaya yang lebih besar, dan—dibandingkan dengan orang-orang biasa yang melaksanakan tugasnya—mereka harus tidur lebih sedikit, menikmati lebih sedikit hal-hal yang baik, dan tidak mengobrol terlalu banyak. Inilah apa yang khusus tentang mereka; selain dari ini, mereka sama dengan orang lain. Apa maksud-Ku mengatakan hal ini? Ini untuk memberitahukan kepada semua orang bahwa mereka harus dengan benar memperlakukan berbagai jenis orang yang berbakat yang dipromosikan dan dibina di rumah Tuhan, sehingga mereka tidak boleh bersikap keras dalam tuntutan mereka terhadap orang-orang ini, dan, tentu saja, sehingga mereka juga harus bersikap realistis dalam memberikan pendapat mereka tentang orang-orang tersebut. Adalah bodoh untuk berlebihan mengagumi dan menghormati mereka; tidaklah manusiawi atau realistis untuk membuat tuntutan yang terlalu keras terhadap mereka. Jadi, apa cara paling masuk akal untuk memperlakukan mereka? Anggaplah mereka sebagai orang biasa dan, ketika engkau perlu mencari seseorang untuk menyelesaikan masalah, bersekutulah dengan mereka dan belajarlah dari kekuatan satu sama lain serta saling melengkapi. Selain itu, merupakan tanggung jawab semua orang untuk mengawasi apakah para pemimpin dan pekerja sedang melakukan pekerjaan nyata atau tidak, apakah mereka mampu menggunakan kebenaran untuk menyelesaikan masalah atau tidak; ini adalah standar dan prinsip untuk menilai apakah seorang pemimpin atau pekerja memenuhi standar. Jika pemimpin atau pekerja mampu menangani dan menyelesaikan masalah umum, artinya mereka cakap. Namun, jika mereka bahkan tak mampu menangani dan menyelesaikan masalah biasa, mereka tidak layak untuk menjadi pemimpin atau pekerja, dan harus segera disingkirkan dari jabatan mereka. Orang lain haruslah dipilih, dan pekerjaan rumah Tuhan tidak boleh ditunda. Menunda pekerjaan rumah Tuhan berarti sedang merugikan diri sendiri dan orang lain, itu tidak baik untuk siapa pun.

Beberapa orang dipromosikan dan dibina oleh gereja menerima kesempatan yang baik untuk dilatih. Ini adalah sesuatu yang baik. Dapat dikatakan bahwa mereka telah ditinggikan dan dianugerahi kasih karunia oleh Tuhan. Lalu, bagaimana seharusnya mereka melaksanakan tugas mereka? Prinsip pertama yang harus mereka patuhi adalah memahami kebenaran—ketika mereka tidak memahami kebenaran, mereka harus mencari kebenaran, dan jika setelah mencari sendiri, mereka tetap tidak memahami kebenaran, mereka dapat menemukan seseorang yang benar-benar memahami kebenaran untuk diajak bersekutu dan mencari, yang akan membuat pemecahan masalah menjadi lebih cepat dan tepat waktu. Jika engkau hanya berfokus menghabiskan lebih banyak waktu membaca firman Tuhan sendiri, dan menghabiskan lebih banyak waktu merenungkan firman ini untuk mencapai pemahaman tentang kebenaran dan memecahkan masalah, ini terlalu lambat; seperti kata pepatah, "Air yang jauh tidak akan memuaskan dahaga yang mendesak." Jika, dalam hal kebenaran, engkau ingin mengalami kemajuan yang cepat, engkau harus belajar bagaimana bekerja secara harmonis dengan orang lain, dan mengajukan lebih banyak pertanyaan dan mencari lebih banyak. Hanya dengan melakukannya, hidupmu akan bertumbuh dengan cepat, dan engkau akan dapat menyelesaikan masalah tepat waktu, juga tanpa penundaan. Karena engkau baru saja dipromosikan dan masih dalam masa percobaan, dan tidak benar-benar memahami kebenaran atau memiliki kenyataan kebenaran—karena engkau masih kurang memiliki tingkat pertumbuhan ini—jangan mengira karena engkau dipromosikan, itu berarti engkau memiliki kenyataan kebenaran; itu tidak benar. Hanya karena engkau merasa terbeban terhadap pekerjaan itu dan memiliki kualitas seorang pemimpin, maka engkau dipilih untuk dipromosikan dan dibina. Engkau harus memiliki nalar ini. Jika, setelah dipromosikan dan menjadi seorang pemimpin atau pekerja, engkau mulai menegaskan statusmu dan meyakini bahwa engkau adalah seseorang yang mengejar kebenaran dan memiliki kenyataan kebenaran—dan jika, apa pun masalah yang saudara-saudari hadapi, engkau berpura-pura mengerti, dan bahwa engkau adalah orang yang rohani—ini adalah cara yang bodoh, dan ini adalah cara yang sama dengan cara orang-orang Farisi yang munafik. Engkau harus berbicara dan bertindak dengan jujur. Jika tidak mengerti, engkau bisa bertanya kepada orang lain atau mencari persekutuan dari Yang di Atas—tidak perlu malu tentang hal ini. Sekalipun engkau tidak bertanya, Yang di Atas akan tetap mengetahui tingkat pertumbuhanmu yang sebenarnya, dan akan mengetahui bahwa kenyataan kebenaran tidak ada dalam dirimu. Mencari dan bersekutu adalah hal yang harus kaulakukan; inilah nalar yang harus ditemukan dalam kemanusiaan yang normal, dan prinsip yang harus dipatuhi oleh para pemimpin dan pekerja. Itu bukan sesuatu yang memalukan. Jika engkau mengira begitu engkau menjadi seorang pemimpin, akan memalukan karena tidak memahami prinsip-prinsip, atau selalu mengajukan pertanyaan kepada orang lain atau Yang di Atas, dan engkau takut bahwa orang lain akan memandangmu rendah, dan kemudian sebagai akibatnya engkau menutup-nutupi, berpura-pura bahwa engkau memahami segalanya, bahwa engkau mengetahui segalanya, bahwa engkau memiliki kemampuan kerja, bahwa engkau mampu melakukan pekerjaan gereja apa pun, dan tidak memerlukan siapa pun untuk mengingatkanmu atau bersekutu denganmu, atau siapa pun untuk membekali atau mendukungmu, maka ini berbahaya, dan engkau terlalu congkak dan merasa benar sendiri, sangat tidak bernalar. Engkau bahkan tidak mengetahui tentang dirimu sendiri—bukankah ini membuatmu menjadi orang yang bingung? Orang-orang seperti itu sebenarnya tidak memenuhi kriteria untuk dipromosikan dan dibina oleh rumah Tuhan, dan cepat atau lambat mereka akan diberhentikan dan disingkirkan. Jadi, setiap pemimpin atau pekerja yang baru saja dipromosikan harus tahu dengan jelas bahwa mereka tidak memiliki kenyataan kebenaran, mereka harus memiliki kesadaran diri ini. Engkau sekarang menjadi pemimpin atau pekerja bukan karena engkau ditunjuk oleh Tuhan, melainkan karena engkau dipromosikan menjadi pemimpin atau pekerja oleh para pemimpin dan pekerja lainnya, atau dipilih oleh umat pilihan Tuhan; ini tidak berarti engkau memiliki kenyataan kebenaran dan benar-benar memiliki tingkat pertumbuhan. Setelah engkau memahami hal ini, engkau akan menjadi sedikit bernalar, yang merupakan nalar yang harus dimiliki oleh para pemimpin dan pekerja. Apakah engkau paham sekarang? (Ya.) Jadi, bagaimana tepatnya engkau semua harus melakukan pekerjaan? Bagaimana seharusnya engkau menerapkan kerja sama yang harmonis? Bagaimana seharusnya engkau mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah setiap kali engkau menghadapinya? Hal-hal ini harus dipahami. Jika watak yang rusak tersingkap, carilah kebenaran dan bereskan secepatnya. Jika watak yang rusak tidak dibereskan tepat pada waktunya dan berdampak pada pekerjaanmu, ini adalah masalah. Jika engkau belum terbiasa dengan suatu profesi, engkau juga harus segera belajar. Karena tugas-tugas tertentu berkaitan dengan pengetahuan profesional, jika engkau hanya memahami kebenaran tanpa memahami pengetahuan profesional apa pun, itu juga akan memengaruhi hasil kerjamu. Setidaknya, engkau harus memahami dan menguasai beberapa pengetahuan profesional dasar, sehingga engkau dapat secara efektif menindaklanjuti dan mengarahkan pekerjaan orang-orang. Jika engkau hanya ahli dalam suatu profesi tetapi tidak memahami kebenaran, juga akan ada kekurangan dalam pekerjaanmu, jadi engkau juga perlu mengejar kebenaran dan bekerja sama dengan orang-orang yang memahami kebenaran agar dapat melaksanakan tugasmu dengan semestinya. Hanya karena engkau memiliki kemahiran dalam keterampilan profesional atau bidang pengetahuan tertentu, bukan berarti engkau mampu melakukan segala sesuatunya berdasarkan prinsip, jadi penting untuk berusaha bersekutu dengan orang-orang yang memahami kebenaran—ini adalah prinsip yang harus engkau semua patuhi. Apa pun yang engkau lakukan, engkau tidak boleh berpura-pura. Engkau sedang berada dalam masa pelatihan dan pembinaan, engkau memiliki watak yang rusak, dan engkau sama sekali tidak memahami kebenaran. Katakan kepada-Ku, apakah Tuhan mengetahui hal-hal ini? (Ya.) Jadi, jika engkau berpura-pura, bukankah engkau akan terlihat bodoh? Apakah engkau semua ingin menjadi orang bodoh? (Tidak.) Jika engkau tidak ingin menjadi orang bodoh, engkau harus menjadi orang seperti apa? Jadilah orang yang bernalar, orang yang dapat dengan rendah hati mencari kebenaran dan yang dapat menerima kebenaran. Jangan berpura-pura, jangan menjadi seperti orang Farisi yang munafik. Apa yang kauketahui hanyalah beberapa pengetahuan profesional, itu bukanlah prinsip-prinsip kebenaran. Engkau harus menemukan cara untuk memanfaatkan kekuatan profesionalmu dengan tepat dan memanfaatkan pengetahuan dan pembelajaran yang kauperoleh berdasarkan pemahamanmu akan prinsip-prinsip kebenaran. Bukankah ini sebuah prinsip? Bukankah ini adalah jalan penerapannya? Setelah engkau belajar melakukan hal ini, engkau akan memiliki jalan untuk kautempuh dan engkau akan dapat masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Apa pun yang kaulakukan, jangan keras kepala, dan jangan berpura-pura. Bersikap keras kepala dan berpura-pura bukanlah cara bertindak yang rasional. Sebaliknya, itu adalah cara bertindak yang paling bodoh. Orang yang hidup berdasarkan watak rusaknya adalah orang yang paling bodoh. Hanya orang yang mencari kebenaran dan menangani masalah berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran yang merupakan orang yang paling cerdas.

Melalui persekutuan ini, apakah engkau semua sekarang memiliki pemahaman dan pandangan yang benar mengenai promosi dan pembinaan berbagai jenis orang berbakat di rumah Tuhan? (Ya.) Setelah engkau memiliki pandangan yang benar mengenai hal tersebut, dapatkah engkau menyikapi orang-orang ini dengan benar? Engkau harus menyikapi kelebihan mereka dengan benar, begitu pula kekurangan dan kelemahannya dalam hal kemanusiaan, pekerjaan, profesi, dan berbagai aspek lainnya—semua hal tersebut harus disikapi dengan benar. Selain itu, baik yang dipromosikan dan dibina menjadi pemimpin atau pekerja, maupun mereka yang berbakat dalam berbagai profesi, engkau semua adalah orang biasa, engkau semua telah dirusak oleh Iblis, dan tidak ada yang memahami kebenaran. Jadi, tidak seorang pun boleh berpura-pura atau menutupi dirinya; sebaliknya engkau harus belajar untuk membuka diri selama persekutuan. Jika engkau tidak mengerti, akuilah bahwa engkau memang tidak mengerti. Jika engkau tidak tahu bagaimana melakukan sesuatu, akuilah bahwa engkau memang tidak tahu bagaimana melakukannya. Apa pun masalah atau kesulitan yang muncul, setiap orang harus bersekutu dan mencari kebenaran bersama-sama untuk menemukan solusinya. Di hadapan kebenaran, setiap orang seperti bayi, setiap orang itu miskin, menyedihkan, dan tidak memiliki apa pun. Yang perlu dilakukan orang adalah tunduk di hadapan kebenaran, rendah hati, penuh kerinduan, mencari dan menerima kebenaran, lalu menerapkan kebenaran dan mencapai ketundukan kepada Tuhan. Dengan melakukannya, seseorang dapat memasuki kenyataan kebenaran firman Tuhan ketika melaksanakan tugasnya dan dalam kehidupannya yang nyata. Semua orang setara di hadapan kebenaran. Mereka yang dipromosikan dan dibina tidak jauh lebih baik daripada yang lain. Semua orang telah mengalami pekerjaan Tuhan untuk waktu yang hampir bersamaan. Mereka yang belum dipromosikan atau dibina juga harus mengejar kebenaran saat melaksanakan tugasnya. Tak seorang pun boleh merampas hak orang lain untuk mengejar kebenaran. Beberapa orang lebih bersemangat dalam mengejar kebenaran dan memiliki kualitas tertentu, sehingga mereka dipromosikan dan dibina. Ini karena kebutuhan yang dituntut oleh pekerjaan rumah Tuhan. Jadi, mengapa rumah Tuhan memiliki prinsip semacam itu untuk mempromosikan dan memakai orang? Karena ada perbedaan dalam kualitas dan karakter orang, dan setiap orang memilih jalan berbeda, ini mengarah pada hasil yang berbeda dalam iman orang kepada Tuhan. Mereka yang mengejar kebenaran akan diselamatkan dan menjadi umat Kerajaan, sedangkan mereka yang sama sekali tidak menerima kebenaran, yang tidak setia dalam melaksanakan tugasnya, akan disingkirkan. Rumah Tuhan membina dan memakai orang berdasarkan apakah mereka mengejar kebenaran atau tidak, dan apakah mereka setia dalam melaksanakan tugasnya atau tidak. Apakah ada perbedaan dalam hierarki berbagai orang di rumah Tuhan? Untuk saat ini, tidak ada hierarki dalam kaitannya dengan berbagai jabatan, nilai, status, atau kedudukan orang. Setidaknya selama kurun waktu ketika Tuhan bekerja untuk menyelamatkan dan membimbing manusia, tidak ada perbedaan antara berbagai pangkat, jabatan, nilai, atau status orang. Satu-satunya yang berbeda adalah dalam hal pembagian kerja dan peran tugas yang dijalankan. Tentu saja, selama kurun waktu ini, ada pengecualian, yakni beberapa orang dipromosikan dan dibina untuk melakukan beberapa pekerjaan khusus, sementara beberapa orang tidak menerima kesempatan seperti itu karena berbagai alasan seperti adanya masalah dengan kualitas atau lingkungan keluarga mereka. Namun, apakah Tuhan tidak menyelamatkan mereka yang belum menerima kesempatan seperti itu? Tidak seperti itu. Apakah nilai dan kedudukan mereka lebih rendah daripada orang lain? Tidak. Setiap orang sama di hadapan kebenaran, setiap orang memiliki kesempatan untuk mengejar dan mendapatkan kebenaran, dan Tuhan memperlakukan setiap orang secara adil dan sewajarnya. Kapan ada perbedaan yang jelas dalam posisi, nilai, dan status seseorang? Itu terjadi ketika seseorang sampai pada akhir jalannya, ketika pekerjaan Tuhan telah selesai, dan ketika suatu kesimpulan akhirnya terbentuk berdasarkan sikap dan pandangan yang diperlihatkan setiap orang selama proses mengejar keselamatan dan melaksanakan tugasnya, serta berbagai perwujudan dan sikapnya terhadap Tuhan—yaitu, ketika ada catatan lengkap dalam buku catatan Tuhan—pada saat itu, karena hasil akhir dan tempat tujuan setiap orang akan berbeda, nilai, jabatan, dan statusnya juga akan berbeda. Hanya pada saat itulah semua hal ini bisa sedikit terlihat dan diperkirakan, sedangkan untuk saat ini, semua orang tampak sama. Apakah engkau sudah paham? Apakah engkau semua menantikan hari itu? Apakah engkau menantikannya sekaligus merasa takut? Yang kaunantikan adalah pada hari itu, akhirnya akan ada hasil, dan engkau akhirnya akan mencapai hari itu meskipun mengalami semua kesulitan; dan yang kautakutkan adalah engkau tidak akan menempuh jalan itu dengan benar, engkau akan jatuh di tengah jalan dan gagal, dan hasil akhirnya akan tidak memuaskan, lebih buruk daripada yang kaubayangkan dan harapkan—betapa menyedihkan, betapa menyakitkan, dan betapa mengecewakannya hal itu! Jangan berpikir terlalu jauh ke depan, itu tidak praktis. Pertama-tama, lihatlah apa yang ada di depan matamu, tempuhlah jalan di bawah kakimu dengan benar, lakukan pekerjaan yang ada dengan baik, dan penuhi tugas dan tanggung jawab yang telah Tuhan percayakan kepadamu. Inilah hal yang paling mendesak dan paling penting. Pahami kebenaran dan prinsip-prinsip untuk melaksanakan tugasmu yang seharusnya dipahami saat ini, dan persekutukanlah hal tersebut sampai benar-benar jelas sehingga engkau memahaminya dengan baik, dan engkau mengetahui dengan jelas serta akurat apa prinsip-prinsip yang ada dalam segala hal yang kaulakukan—dan pastikan bahwa engkau tidak melanggar prinsip-prinsip tersebut, tidak menyimpang darinya, tidak menyebabkan gangguan atau kekacauan, atau tidak melakukan apa pun yang merugikan kepentingan rumah Tuhan—semua ini adalah apa yang engkau semua harus masuki saat ini. Tidak perlu kita untuk membicarakan sesuatu yang terlalu jauh ke depan, dan juga tidak perlu engkau semua bertanya atau memikirkannya. Berpikir terlalu jauh ke depan itu tidak ada gunanya—itu bukanlah yang seharusnya kaupikirkan. Sebagian orang mungkin bertanya, "Mengapa kita tidak boleh memikirkannya? Keadaan bencana sudah begitu besar sekarang, bukankah sudah waktunya kita memikirkan hal-hal seperti itu?" Apakah ini waktunya? Apakah kenyataan bahwa bencana yang sangat besar itu memengaruhi jalan masukmu ke dalam kebenaran? (Tidak.) Keadaan bencana sudah begitu besar, tetapi kapan Aku pernah mengadakan pertemuan atau menyampaikan khotbah yang khusus membahas bencana? Aku tidak pernah berfokus pada masalah bencana, Aku hanya berbicara tentang kebenaran agar engkau semua dapat memahami kebenaran dan memahami maksud Tuhan, dan agar engkau semua memahami bagaimana melaksanakan tugasmu dengan baik dan bagaimana memasuki kenyataan kebenaran. Saat ini, sebagian orang bahkan tidak memahami apa itu kenyataan kebenaran dan apa itu doktrin. Mereka hanya mengulang-ulang beberapa kata dan doktrin, serta pembicaraan tak bermakna yang sama setiap hari, tetapi mereka merasa telah masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Aku mengkhawatirkan mereka, tetapi mereka tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri. Mereka masih memikirkan hal-hal yang jauh di masa depan—memikirkan hal-hal tersebut tidaklah nyata.

Tujuan mempromosikan dan membina semua jenis orang berbakat bukanlah untuk menjadikan mereka sebagai orang yang aktif, atau merencanakan agar mereka menjadi semacam andalan di masa depan, melainkan untuk memberikan kesempatan kepada sejumlah orang yang secara relatif lebih mengejar kebenaran, dan yang memenuhi syarat untuk dipromosikan dan dibina agar dapat berlatih di lingkungan yang sesuai dan dalam kondisi yang lebih menguntungkan. Yang terpenting adalah mereka mampu memahami firman Tuhan, memahami kebenaran dan memasuki kenyataan kebenaran. Bukankah ini yang seharusnya dicapai seseorang dengan percaya kepada Tuhan? Bukankah ini yang seharusnya diperoleh seseorang dengan percaya kepada-Nya? Untuk memasuki kenyataan kebenaran, apa hal utama yang harus engkau semua kejar saat ini? Apakah engkau memiliki rencana atau langkah-langkah untuk melakukannya? Aku akan memberi tahu engkau semua sebuah kiat yang sederhana, mudah dan cepat. Secara sederhana, memasuki kenyataan kebenaran sebenarnya adalah menerapkan kebenaran. Untuk menerapkan kebenaran, pertama-tama perlu untuk membereskan watak rusak seseorang. Dari mana memulai untuk membereskan watak rusak seseorang dengan cara tercepat? Bagi engkau semua, cara yang paling sederhana, paling cepat, dan paling mudah adalah dengan terlebih dahulu menyelesaikan masalah sikap asal-asalan dalam melaksanakan tugasmu, dan menyelesaikan watakmu yang rusak, langkah demi langkah. Berapa lama waktu yang engkau semua perlukan untuk menyelesaikannya? Apakah engkau memiliki rencana? Sebagian besar orang tidak memiliki rencana, mereka hanya terus memikirkannya di benaknya, tanpa tahu kapan harus benar-benar memulainya. Meskipun mereka tahu bahwa mereka bersikap asal-asalan, mereka tidak mau membereskannya dan tidak punya solusi yang pasti. Malas dalam menjalankan tugas, tidak teliti, tidak bertanggung jawab, dan tidak serius—semua ini adalah perwujudan dari sikap asal-asalan. Langkah pertama adalah menyelesaikan masalah sikap asal-asalan. Langkah kedua adalah menyelesaikan masalah bertindak sesuka hati. Adapun hal-hal lain seperti terkadang berbicara tidak jujur, atau memperlihatkan watak yang licik atau congkak, untuk sementara tidak perlu dikhawatirkan. Bukankah lebih praktis dan efektif untuk terlebih dahulu menangani masalah bersikap asal-asalan dan bertindak sesuka hati? Bukankah kedua masalah ini yang paling mudah dikenali? Bukankah ini lebih mudah diselesaikan? (Ya.) Ketika bersikap asal-asalan, apakah engkau menyadarinya? Ketika berpikir untuk bermalas-malasan, apakah engkau menyadarinya? Ketika berniat licik, berusaha mengelabui, atau menggunakan tipu daya demi kepentinganmu sendiri, apakah engkau sadar? (Ya.) Jika engkau benar-benar menyadarinya, itu mudah untuk diselesaikan. Mulailah dengan menyelesaikan masalah yang dapat kauidentifikasi dengan mudah dan yang kausadari jauh di lubuk hati. Bersikap asal-asalan dalam tugas adalah masalah yang sangat jelas dan umum, tetapi juga merupakan masalah yang sudah mengakar kuat dan sangat sulit untuk diselesaikan. Ketika melaksanakan tugas, seseorang harus belajar menjadi serius, teliti, cermat, dan bertanggung jawab, serta bekerja dengan sungguh-sungguh, langkah demi langkah. Seseorang harus berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan tugas itu dengan baik, sampai mereka merasa puas dengan cara mereka melakukannya. Jika seseorang tidak memahami kebenaran, mereka harus mencari prinsip-prinsipnya, lalu bertindak berdasarkan prinsip-prinsip tersebut dan berdasarkan tuntutan Tuhan; mereka harus rela mengerahkan lebih banyak upaya untuk menjalankan tugasnya dengan baik, dan tidak pernah melakukannya dengan cara yang asal-asalan. Hanya dengan menerapkan cara ini, barulah seseorang dapat merasakan kedamaian di hatinya, tanpa dihantui perasaan bersalah. Apakah sikap asal-asalan mudah diselesaikan? Selama engkau memiliki hati nurani dan nalar, engkau mampu menyelesaikannya. Pertama-tama, engkau harus berdoa kepada-Nya, dan bermohon, "Tuhan, aku sedang memulai tugasku. Jika aku bersikap asal-asalan, aku mohon agar Engkau mendisiplinkanku dan menegurku dalam hatiku. Aku juga mohon agar Engkau menuntunku untuk melaksanakan tugasku dengan baik dan tidak bersikap asal-asalan." Terapkanlah dengan cara ini setiap hari dan lihatlah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah sikapmu yang asal-asalan, untuk mengurangi keadaanmu yang asal-asalan, untuk mengurangi kompromi dalam tugasmu, dan untuk meningkatkan hasil yang nyata serta meningkatkan efisiensimu dalam pelaksanaan tugasmu. Melaksanakan tugasmu tanpa bersikap asal-asalan—apakah ini sesuatu yang dapat kaucapai dengan mengandalkan dirimu sendiri? Ketika engkau bersikap asal-asalan, mampukah engkau mengendalikannya? (Itu tidak mudah.) Kalau begitu, itu adalah tantangan. Jika benar-benar sulit bagimu untuk mengendalikannya, berarti engkau semua memiliki masalah yang besar! Lalu, hal apa sajakah yang mampu engkau semua lakukan tanpa bersikap asal-asalan? Sebagian orang sangat teliti tentang apa yang mereka makan; jika makanan tidak sesuai dengan seleranya, suasana hatinya akan buruk sepanjang hari. Sejumlah wanita suka berdandan dan merias diri; tidak ada sehelai rambut pun yang luput dari perhatian mereka. Sebagian orang pandai berbisnis; mereka menghitung dengan cermat setiap sen. Jika engkau semua bertindak dengan sikap hati-hati seperti ini, engkau akan dapat menghindari bersikap asal-asalan. Pertama-tama, selesaikan masalah bersikap asal-asalan, kemudian selesaikan masalah bertindak sekehendak hatimu. Bertindak sekehendak hati merupakan masalah yang umum, dan ini juga mudah disadari oleh seseorang. Dengan sedikit refleksi diri, seseorang dapat mengenali bahwa dirinya bertindak sekehendak hati, dan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Masalah yang dapat dikenali orang mudah untuk diatasi. Berusahalah terlebih dahulu untuk menyelesaikan dua masalah ini, yang pertama adalah masalah bersikap asal-asalan dan yang kedua adalah masalah bertindak sesuka hati. Usahakan dalam satu atau dua tahun bisa mencapai hasil untuk tidak bersikap asal-asalan, tidak bertindak sekehendak hatimu, atau berkompromi terhadap kemauanmu sendiri dalam segala hal yang kaulakukan. Setelah kedua masalah ini terselesaikan, engkau semua sudah hampir melaksanakan tugasmu dengan cara yang memenuhi standar. Namun, jika engkau semua tidak bisa menyelesaikannya, berarti engkau masih jauh dari tunduk kepada Tuhan atau memikirkan maksud-Nya—engkau bahkan belum mulai mendekatinya.

Kita baru saja mempersekutukan kriteria dan tujuan mempromosikan dan membina berbagai jenis orang berbakat yang memenuhi syarat, serta pemahaman dan pandangan yang harus dimiliki seseorang terkait dengan promosi dan pembinaan berbagai tipe orang berbakat di rumah Tuhan. Aspek lainnya adalah sikap dan cara yang harus dimiliki terhadap berbagai jenis orang berbakat yang dipromosikan dan dibina. Ini adalah sejumlah masalah yang harus dipersekutukan dalam bab 6. Jadi selanjutnya, khususnya terkait dengan bab 6, mari kita ungkap dan analisis bagaimana pemimpin palsu melakukan pekerjaan mempromosikan dan membina berbagai jenis orang berbakat. Ini adalah topik utama yang akan kita persekutukan.

Sikap dan Perwujudan Pemimpin Palsu Terkait dengan Mempromosikan dan Membina Berbagai Jenis Orang Berbakat

Pemimpin palsu tidak memahami kebenaran dan tidak mencari kebenaran. Oleh karena itu, jika menyangkut pekerjaan penting untuk mempromosikan dan membina semua jenis orang berbakat yang memenuhi syarat di rumah Tuhan, mereka juga mengacaukannya, benar-benar merusaknya, dan sama sekali gagal memenuhi tuntutan rumah Tuhan. Karena mereka tidak memahami kriteria, apalagi maksud Tuhan, berkaitan dengan promosi dan pembinaan berbagai jenis orang berbakat yang memenuhi syarat, dan mereka juga tidak memahami pentingnya mempromosikan dan membina berbagai jenis orang berbakat yang memenuhi syarat, sangat sulit bagi mereka untuk melakukan pekerjaan ini dengan cara yang memenuhi standar dan berprinsip. Berbagai jenis orang "berbakat" yang dibina oleh pemimpin palsu dalam melakukan pekerjaannya adalah perpaduan yang sangat buruk. Bukannya mempromosikan dan membina orang berbakat yang memenuhi syarat, pemimpin palsu justru mempromosikan orang-orang yang sama sekali tidak pantas dipromosikan dan dibina untuk melayani sebagai pemimpin atau pekerja, dan membiarkan orang-orang ini memanfaatkan gereja untuk memperoleh penghidupan dan menghambur-hamburkan persembahan Tuhan. Semua pemimpin palsu melakukan hal-hal seperti ini, yang menyebabkan sebagian orang yang mengejar kebenaran dan memiliki rasa keadilan diinjak-injak dan tidak dipromosikan dan tidak dipakai. Sebaliknya, mereka yang tidak berguna menjadi apa yang disebut sebagai orang yang berbakat di mata para pemimpin palsu ini, dan dipromosikan oleh mereka dan dibina. Jadi, apa sajakah perwujudan pemimpin palsu ketika melakukan pekerjaan ini? Mari kita asumsikan, misalnya, karena kebutuhan pekerjaan, rumah Tuhan harus mencari beberapa orang untuk menangani urusan-urusan di luar. Lalu, orang seperti apa yang seharusnya dicari? Aku baru saja mencantumkan sejumlah kriteria, yaitu memiliki kemampuan kerja, mampu melaksanakan tugasnya berdasarkan prinsip-prinsip yang dituntut oleh rumah Tuhan, dan mampu membela kepentingan rumah Tuhan. Apakah pemimpin palsu mengetahui prinsip-prinsip tersebut? Jelas mereka tidak tahu, jadi bagaimana pemimpin palsu mencari orang untuk menangani urusan-urusan eksternal? Dalam hatinya, mereka berpikir, "Siapa yang bisa menangani urusan-urusan eksternal? Ada seorang saudari yang cerdas, cepat tanggap, pandai bicara, dan tahu cara menangani orang. Matanya bergerak cepat dan penuh perhitungan ketika dia berbicara, dan kebanyakan orang tidak dapat memahaminya. Dia mungkin kurang cocok menjadi pemimpin gereja, tetapi dia akan sangat pandai menangani urusan-urusan eksternal, jadi aku akan memilihnya. Namun, dengan tingkat pendidikannya yang agak rendah, aku khawatir orang tidak percaya akan memandang rendah dirinya, jadi aku akan mencari seorang lulusan universitas—yang pernah menjadi ketua organisasi kemahasiswaan—untuk bekerja sama dengannya. Orang ini cukup cerdas tetapi memiliki pengalaman yang relatif sedikit dalam masyarakat dan belum banyak melihat dunia, jadi dia dapat belajar dari partnernya. Dari kedua orang ini, yang satu memiliki tingkat pendidikan yang rendah dan yang lainnya berpendidikan tinggi, yang satu berpengalaman di masyarakat dan yang lainnya tidak—mereka menjadi partner yang cocok, bukan?" Yang satu fasih dan pandai bicara, cerdas, dan sangat pandai bersosialisasi; setiap kali dia berinteraksi dengan orang tidak percaya, mereka tidak tahu bahwa dia adalah seorang yang percaya. Yang lainnya berpendidikan tinggi dan memiliki status sosial; kapan pun dia berinteraksi dengan orang tidak percaya, mereka tidak merendahkannya. Apa pendapatmu tentang kedua prinsip yang digunakan oleh pemimpin palsu dalam memilih orang? Pemimpin palsu yakin bahwa selama seseorang memiliki karunia berbicara, kecerdasan yang tajam, dan tanggap, mereka dapat menangani urusan-urusan umum untuk rumah Tuhan. Apakah ini cara yang tepat untuk memilih orang? (Tidak.) Mengapa tidak tepat? (Orang semacam itu sering kali cukup cerdik; meskipun mereka dapat terlibat dalam falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain dan tahu cara menangani orang, mereka mungkin belum tentu mampu membela kepentingan rumah Tuhan.) Itu benar. Yang terpenting adalah apa pun urusan yang ditangani seseorang untuk rumah Tuhan, setidaknya mereka harus jujur dan mampu membela kepentingan rumah Tuhan. Apakah menjadi orang yang fasih bicara yang mampu menghidupkan orang mati berarti mereka mampu membela kepentingan rumah Tuhan? Apakah menjadi orang yang cerdas, fasih, dan pandai bicara berarti mereka dapat membela kepentingan rumah Tuhan? (Tidak.) Sekalipun mereka bersumpah, itu tidak ada gunanya, demikian juga, menuntutnya pun tidak ada gunanya—mereka harus memiliki karakter itu. Namun, pemimpin palsu tidak menyelidiki hal-hal tersebut, mereka hanya melihat siapa yang berpengalaman di masyarakat, siapa yang cerdik, cerdas, fasih, pandai bicara, tahu bagaimana bersikap sesuai situasi, dan siapa yang seperti bunglon, dan pandai bersosialisasi. Mereka beranggapan bahwa orang-orang semacam itu dapat menangani urusan umum di rumah Tuhan. Bukankah ini suatu kesalahan? Ini adalah kesalahan dalam hal prinsip dan standar untuk memilih orang. Faktanya adalah bahwa orang semacam ini sangat pandai bicara: siapa pun yang mereka hadapi, semua yang mereka katakan adalah kebohongan, sebanyak apa pun mereka bersumpah, mereka tidak akan berubah. Ketika melakukan sesuatu, mereka hanya membela kepentingannya sendiri, terutama ketika menghadapi bahaya, mereka terlebih dahulu melindungi dirinya sendiri dan tidak pernah memikirkan kepentingan rumah Tuhan. Selama mereka memiliki hubungan yang baik dengan orang-orang tidak percaya, itu sudah cukup bagi mereka; mengenai apakah kepentingan rumah Tuhan dirugikan atau tidak, mereka tidak peduli. Keselamatan saudara-saudari pun bukanlah sesuatu yang mereka pertimbangkan, mereka juga tidak peduli apakah nama Tuhan dicemarkan; mereka hanya memperhatikan dirinya sendiri. Pemimpin palsu tidak dapat mengetahui yang sebenarnya tentang orang semacam ini dan menganggap bahwa mereka adalah yang paling cocok untuk menangani urusan-urusan eksternal untuk rumah Tuhan. Bukankah ini bodoh? Mereka mengkhianati kepentingan rumah Tuhan, tetapi pemimpin palsu tersebut bahkan tidak mengetahuinya dan tetap memercayakan tugas-tugas penting kepada mereka, serta mengandalkan mereka dalam segala hal. Bukankah ini puncak kebodohan? Apakah orang yang fasih, pandai bicara, dan cerdas adalah orang yang memiliki maksud yang tulus? Jika engkau belum pernah berurusan dengan mereka atau mengamatinya dengan saksama, engkau tidak akan tahu. Ketika engkau berurusan dan bekerja sama dengan mereka, perhatikan saja apakah perkataannya sesuai dengan perbuatannya. Ini dapat diuji melalui satu kejadian. Misalnya, engkau sedang memindahkan barang. Mereka tidak akan membantumu meskipun mereka melihatnya. Begitu engkau menyelesaikan pekerjaan, barulah mereka datang dan berkata, "Bagaimana engkau bisa melakukan pekerjaan yang melelahkan ini sendiri? Kalau saja engkau meminta, aku akan membantu sesibuk apa pun aku. Engkau terlihat lelah. Nanti aku masak untukmu, engkau tidak usah masak hari ini." Setelah berkata begitu, mereka pun menghilang. Engkau sudah benar-benar kelelahan, tetapi masih juga harus memasak. Setelah selesai memasak, mereka datang untuk makan dan berkata, "Mengapa engkau tidak memanggilku ketika mau mulai masak? Engkau sudah sangat capek, tetapi masih saja masak untukku—apa itu pantas? Karena engkau sudah terlanjur masak, aku makan saja. Aku yang akan masak berikutnya, beri tahu aku kalau nanti ada pekerjaan yang perlu dilakukan." Kejadian ini saja sudah cukup untuk mengetahui diri mereka yang sebenarnya. Mereka sangat pandai bicara, cerdas, dan tahu apa yang harus dikatakan. Mereka tahu bagaimana bersikap sesuai situasi, dan yang mereka lakukan hanyalah mengatakan hal-hal yang enak didengar, tanpa pernah melakukan satu pun pekerjaan nyata. Apakah orang semacam itu dapat diandalkan? Jika engkau meminta mereka untuk menangani urusan umum rumah Tuhan, mampukah mereka membela kepentingan rumah Tuhan? Mampukah mereka menjaga reputasi gereja dan melindungi keselamatan saudara-saudari? (Tidak.) Apakah harta benda milik rumah Tuhan dan semua kepentingannya menjadi prioritas utama mereka? Tentu saja tidak. Mata dan pikiran pemimpin palsu buta terhadap masalah-masalah yang mudah dideteksi seperti itu, mereka sama sekali tidak dapat melihatnya. Sebaliknya, pemimpin palsu hanya bisa mengucapkan kata-kata dan doktrin. Siapa yang dikasihi oleh Tuhan dan siapa yang tidak dikasihi-Nya, siapa yang mencintai kebenaran dan siapa yang tidak mencintai kebenaran, apa artinya memiliki dasar dalam iman kepada Tuhan dan orang seperti apa yang tidak memiliki dasar, orang seperti apa yang setia dalam melaksanakan tugasnya dan orang seperti apa yang tidak setia dalam melaksanakan tugasnya—pemimpin palsu berbicara tentang semua hal ini dengan cara yang masuk akal dan logis, seolah-olah mereka benar-benar memahaminya, tetapi itu semua hanya omong kosong dan doktrin. Setiap kali mereka diminta untuk mengenali orang, mata dan pikiran mereka buta; mereka tidak tahu bagaimana menilai orang lain. Berapa pun lamanya pemimpin palsu berinteraksi dengan orang seperti ini, mereka tetap tidak dapat mengetahui yang sebenarnya tentang orang tersebut, dan justru memercayakan tugas-tugas penting kepadanya.

Memakai orang yang salah sudah merupakan hal yang sangat buruk bagi pemimpin palsu, tetapi mereka justru menambah kesalahan ini dengan melakukan hal-hal yang lebih buruk lagi. Misalnya, seorang pemimpin palsu memakai orang yang salah. Orang ini sama sekali tidak pantas untuk menjadi seorang pengawas dan tidak memenuhi kriteria rumah Tuhan untuk dipromosikan dan dibina. Namun, pemimpin palsu itu tetap bersikeras memakai orang tersebut dan tidak pernah memeriksa pekerjaannya, dengan berpikir, "Seseorang seharusnya tidak meragukan mereka yang dipakai dan tidak memakai mereka yang diragukan. Karena aku telah memilihmu dan mempromosikanmu, engkau akan mampu melakukan pekerjaan ini dengan baik, jadi lanjutkan dan lakukan saja pekerjaan itu dengan cara yang kauanggap tepat. Aku akan mendukungmu apa pun yang kaulakukan, dan keberatan dari orang lain tidak ada gunanya!" Pemimpin palsu memakai orang yang salah, tetapi mereka membiarkan kesalahannya berlanjut sampai akhir—begitulah besarnya kepercayaan mereka pada dirinya sendiri. Pemimpin palsu itu semuanya buta. Mereka tidak bisa melihat masalah apa pun, tidak bisa membedakan mana orang jahat dan mana pengikut yang bukan orang percaya, siapa pun yang mengganggu dan mengacaukan pekerjaan gereja, mereka tidak menyadarinya. Bahkan, mereka memberikan tugas-tugas penting kepada orang-orang yang bingung. Pemimpin palsu sangat memercayai siapa pun yang mereka promosikan, dan dengan enteng memercayakan pekerjaan penting kepada orang tersebut. Akibatnya, orang-orang itu mengacaukan pekerjaan gereja, yang secara serius memengaruhi penyebaran Injil dan merugikan kepentingan rumah Tuhan. Pemimpin palsu bahkan berpura-pura tidak tahu apa pun tentang hal ini. Yang di Atas bertanya kepada mereka, "Bagaimana orang yang kaupromosikan itu dalam melakukan pekerjaannya? Apakah dia layak untuk melakukan pekerjaan itu? Apakah dia membela pekerjaan gereja dan kepentingan rumah Tuhan? Pada saat-saat kritis, apakah dia akan melindungi dirinya sendiri, atau membela pekerjaan gereja?" Pemimpin palsu ini menjawab, "Dia telah bersumpah untuk mempertahankan pekerjaan gereja. Selain itu, dia telah percaya kepada Tuhan selama 20 tahun. Bagaimana mungkin dia melindungi dirinya sendiri dan mengkhianati kepentingan rumah Tuhan? Dia mungkin akan membela kepentingan rumah Tuhan." Yang di Atas menjawab, "Apakah yang kaukatakan itu akurat? Apakah engkau sudah memeriksa pekerjaannya?" Pemimpin palsu ini menjawab, "Aku belum memeriksa pekerjaannya, tetapi aku sudah memberitahukan kepadanya untuk tidak memikirkan kepentingannya sendiri dan harus membela pekerjaan gereja, dan dia sudah berjanji kepadaku akan melakukannya." Apa gunanya dia berjanji kepadamu? Dia bahkan tidak bisa memenuhi sumpah yang dia ucapkan di hadirat Tuhan. Apa kaukira hanya karena dia berjanji kepadamu, maka dia dapat dipercaya? Apakah dia pasti akan menepati janjinya? Karena engkau tidak memeriksa pekerjaannya, bagaimana engkau tahu apakah dia adalah seseorang yang membela kepentingan rumah Tuhan? Mengapa engkau begitu percaya pada dirimu sendiri? Bukankah pemimpin palsu semacam ini adalah bajingan? Dengan memakai orang yang salah, mereka telah membuat kesalahan besar, dan kemudian mereka memperparah kesalahannya dengan tidak pernah menanyakan, menyelidiki, atau memeriksa pekerjaan orang tersebut, juga tidak mengawasi atau mengamatinya. Mereka hanya terus membiarkan orang ini bertindak sembarangan dan melakukan kesalahan. Beginilah cara pemimpin palsu bekerja. Setiap kali ada pekerjaan yang kekurangan orang, pemimpin palsu dengan entengnya menunjuk seseorang untuk bertanggung jawab atas pekerjaan itu, lalu menganggap masalah selesai; mereka tidak pernah memeriksa pekerjaan itu, atau benar-benar datang ke lokasi untuk berinteraksi dengan orang itu, mengamatinya, dan mencoba mencari tahu lebih banyak tentangnya. Di beberapa tempat, lingkungan tidak memungkinkan untuk bertemu langsung dan menghabiskan waktu dengan orang tersebut, tetapi engkau harus bertanya tentang pekerjaannya, dan mencari tahu secara tidak langsung tentang apa yang telah dilakukannya, serta bagaimana dia melakukannya—engkau dapat bertanya kepada saudara-saudari atau seseorang yang dekat dengannya. Bukankah ini dapat dilakukan? Namun, pemimpin palsu bahkan tidak mau repot-repot mengajukan pertanyaan apa pun, betapa percaya dirinya mereka. Dalam pekerjaannya, mereka hanya mengadakan pertemuan dan mengkhotbahkan doktrin, dan ketika pertemuan selesai dan pekerjaan telah diatur, mereka tidak melakukan apa-apa lagi; mereka tidak melanjutkan untuk menindaklanjuti atau mencari tahu apakah orang yang mereka pilih mampu melakukan pekerjaan nyata. Pada awalnya, engkau tidak memahami orang itu, tetapi berdasarkan kualitas dan perwujudan luar serta antusiasmenya yang terlihat, engkau merasa bahwa orang itu cocok untuk pekerjaan ini dan karenanya engkau memakainya—tidak ada yang salah dengan ini, karena tidak ada yang tahu bagaimana seseorang akan berkembang. Namun, setelah mempromosikannya, bukankah engkau seharusnya menindaklanjuti dan memeriksa apakah orang itu benar-benar melakukan pekerjaan nyata, bagaimana orang itu bekerja, apakah orang tersebut telah bersikap asal-asalan, licik, atau bermalas-malasan? Inilah pekerjaan yang seharusnya kaulakukan, tetapi engkau sama sekali tidak melakukannya, engkau sama sekali tidak bertanggung jawab. Engkau adalah pemimpin palsu, dan engkau harus diberhentikan dan disingkirkan.

Pemimpin palsu melakukan kesalahan serius, yaitu setelah mempromosikan orang, mereka menjelaskan pekerjaan kepada orang tersebut, lalu mengucapkan sedikit doktrin, memberikan beberapa kata penyemangat dan berhenti begitu saja, tanpa pernah menindaklanjuti atau terlibat dalam tugas-tugas tertentu. Jika engkau mengatakan bahwa engkau memiliki kualitas yang buruk dan kurang wawasan tentang orang lain, engkau dapat menindaklanjuti dan mencari tahu bagaimana perkembangan tugas-tugas spesifik tersebut dan engkau dapat sepenuhnya memahami situasinya. Namun, pemimpin palsu sama sekali tidak menindaklanjuti dan mencari tahu bagaimana pekerjaan berjalan. Contohnya mencetak buku, yang merupakan sejenis pekerjaan spesifik. Seorang pemimpin palsu menugaskan seseorang untuk bertanggung jawab atas pekerjaan ini, tetapi dalam setengah tahun, sekali pun mereka tidak pernah memeriksanya. Akibatnya, setelah enam bulan, semua buku yang dicetak ternyata bercacat—benar-benar berantakan! Seperti inilah pemimpin palsu—mereka tidak melakukan pekerjaan spesifik sedikit pun. Jika engkau ingin mencetak sebuah buku, apa yang seharusnya kaulakukan? Engkau harus terlebih dahulu menunjuk seorang pengawas yang tepat, lalu mengawasi dan memeriksa seberapa baik mereka mengerjakan tugas tersebut, dan memastikan mereka tidak akan mengacaukannya. Engkau harus mengawasi dan menindaklanjuti pekerjaan tersebut, dan langsung menyelesaikan masalah jika ditemukan—hanya dengan cara ini engkau dapat memastikan tidak adanya masalah. Namun, pemimpin palsu tidak melakukan hal tersebut. Mereka mengira bahwa tanggung jawabnya hanyalah mengkhotbahkan doktrin kepada orang-orang, membuat mereka memahaminya, dan selama orang-orang memahami doktrin, masalahnya selesai. Oleh karena itu, pemimpin palsu hanya berfokus untuk mengkhotbahkan doktrin dan meneriakkan slogan, tanpa terlibat dalam tugas-tugas tertentu. Bagi pemimpin palsu, mereka mengira bahwa terlibat dalam tugas-tugas tertentu bukanlah urusannya, melainkan urusan bawahannya. Lalu, apa yang mereka sendiri lakukan? Mereka mengendalikan situasi secara keseluruhan dari atas dan menjadi pejabat yang tidak efektif. Apa pun pekerjaannya, pemimpin palsu tidak hadir atau terlibat di dalamnya. Setelah memberi tahu orang-orang prinsip-prinsipnya, jika ada yang bertanya tentang perincian masalah atau langkah spesifiknya, mereka akan berkata, "Pekerjaan spesifik itu terserah engkau semua, aku tidak mengerti hal seperti ini." Oleh karena itu, pemimpin palsu tidak tahu bagaimana bawahannya melakukan pekerjaan tersebut. Mengenai apakah pengawas itu kompeten dan mampu melaksanakan tugasnya, seperti apa kemanusiaannya, apakah mereka orang yang mengejar kebenaran, bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya, apakah mereka bekerja asal-asalan, atau bertindak semaunya melakukan hal-hal buruk, apakah mereka menunda-nunda pekerjaan, dan sebagainya—pemimpin palsu tidak mengetahui semua itu, mereka hanya berkeliling seperti pejabat dari dunia orang tidak percaya yang hanya sibuk dengan administrasi tanpa melakukan pekerjaan nyata. Di gereja-gereja tempat mereka bekerja, pemimpin palsu tidak tahu jika ada sejumlah pengawas yang telah melumpuhkan pekerjaan, ada sejumlah pengawas membangun kerajaan independen, atau ada pengawas yang tidak melaksanakan tugasnya dengan baik, yang hanya menghabiskan hari-harinya dengan makan, minum, bersenang-senang, dan bahkan pemimpin palsu menutup mata terhadap pengawas memiliki kualitas yang sangat buruk, pemahaman yang menyimpang, dan sama sekali tidak bisa melakukan pekerjaan. Pemimpin palsu seperti ini hanyalah cangkang kosong, mereka pemimpin di atas kertas saja, dan mereka tidak melakukan pekerjaan substantif apa pun sebagai seorang pemimpin. Sekilas, pemimpin palsu ini terlihat berperilaku cukup baik. Mereka menugaskan pengawas untuk setiap jenis pekerjaan, mengumpulkan orang-orang ini untuk mengadakan pertemuan sesekali, dan menghabiskan sisa waktu mereka di satu tempat dengan terlibat dalam saat teduh, berdoa, membaca firman Tuhan, mendengarkan khotbah, belajar lagu pujian, dan menulis khotbahnya sendiri. Ada sejumlah pemimpin palsu yang bahkan tidak meninggalkan kamarnya sepanjang minggu. Ada pula pemimpin palsu yang tidak melakukan apa pun kecuali mengadakan pertemuan secara daring, tanpa pernah pergi ke tempat kerja untuk memahami situasinya. Saudara-saudari tidak bertemu langsung dengan mereka dalam waktu yang lama, dan tidak tahu seperti apa pengalaman hidup atau tingkat pertumbuhan pemimpin palsu tersebut. Selama pertemuan, pemimpin palsu hanya menangani sejumlah urusan umum, tetapi mengenai apa yang secara spesifik dilakukan oleh setiap pengawas, apakah orang yang mereka promosikan dan bina cocok untuk pekerjaan yang diberikan, atau bagaimana sikap orang-orang ini dalam melaksanakan tugasnya, apakah mereka perhatian dan teliti dalam pekerjaannya, apakah mereka bersikap negatif dan asal-asalan, apakah orang-orang ini mengikuti jalan yang benar, atau apakah mereka adalah orang yang tepat, pemimpin palsu tidak peduli atau tidak menanyakan semua hal tersebut, dan juga tidak ingin mengetahuinya. Bukankah natur masalah ini serius? (Ya.)

Rumah Tuhan membutuhkan orang yang berbakat yang memahami bidang profesional tertentu dan memiliki keterampilan tertentu, dan akan membina orang-orang ini untuk mempelajari profesi tersebut agar mereka dapat melaksanakan tugas di rumah Tuhan. Menurut engkau semua, orang-orang seperti apa yang dicari oleh pemimpin palsu? Mereka mengumpulkan semua anak muda yang sudah lulus kuliah dan mengikuti orang tuanya untuk percaya kepada Tuhan, dan mereka melihat siapa yang pandai bicara dan siapa yang suka menjadi pusat perhatian, lalu berkata kepada orang-orang itu, "Rumah Tuhan ingin membina engkau semua; engkau semua adalah pasukan cadangan dan kekuatan baru." Kemudian, mereka menugaskan orang-orang ini untuk melaksanakan tugas. Padahal kenyataannya, orang-orang tersebut tidak pernah melaksanakan tugas, tidak memiliki berbagai pengalaman dan sama sekali tidak memahami kebenaran. Namun, pemimpin palsu lebih menyukai dan tertarik padanya, jadi mereka mulai membina orang-orang ini. Mereka menugaskan orang-orang ini untuk melaksanakan tugas berdasarkan keahliannya yang membuat mereka cocok untuk mempelajarinya; ada yang ditugaskan untuk melakukan pekerjaan tulis-menulis, ada yang ditugaskan untuk pekerjaan pembuatan film, ada yang ditugaskan untuk membuat video, dan ada yang ditugaskan untuk menjadi aktor. Bagi pemimpin palsu, selama orang-orang ini memiliki tugas untuk dilaksanakan, itu sudah cukup. Pemimpin palsu tidak menyelidiki apakah orang-orang ini mencintai kebenaran atau apakah mereka dapat menerima kebenaran, mereka juga tidak melihat apa yang sebenarnya dikejar oleh orang-orang ini atau apa tujuan mereka. Pada akhirnya, apa yang terjadi? Sebagian dari orang-orang itu disingkirkan. Hal ini karena mereka tak bermoral dan tak terkendali, mereka mengejar tren duniawi, menghabiskan hari-harinya dengan berdandan serta bergaul sembarangan dengan orang lain, sama sekali tidak memahami aturan atau tidak memiliki sopan santun—jelaslah bahwa mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya dan orang-orang tidak percaya. Mereka mengabaikan pekerjaan mereka yang seharusnya ketika melaksanakan tugas, melakukan semuanya secara asal-asalan, tetapi pemimpin palsu sama sekali tidak dapat melihat ini. Bukankah pemimpin palsu itu buta mata? (Ya.) Apa yang menyebabkan mereka menjadi buta mata? Bukankah itu karena pemimpin palsu itu juga buta hati? Buta mata dan buta hati adalah dua ciri dari pemimpin palsu. Meskipun matanya terbuka lebar, pemimpin palsu tidak dapat memahami apa pun atau mengetahui yang sebenarnya tentang seseorang—dengan kata lain, mata mereka buta. Dalam hati, pemimpin palsu tidak memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi atau sama sekali tidak memiliki pandangan tentang siapa pun atau apa pun, tidak memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah dalam segala hal yang dilihatnya, tidak memiliki sikap, pendapat, dan definisi—ini adalah kasus kebutaan hati yang serius. Pemimpin palsu adalah orang-orang yang telah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan dan sering mendengarkan khotbah, jadi mengapa mereka tidak mampu mengidentifikasi pengikut yang bukan orang percaya itu? Ini makin membuktikan bahwa pemimpin palsu memiliki kualitas yang sangat buruk, mereka tidak mampu memahami kebenaran, sebanyak apa pun kebenaran yang mereka dengar, itu tidak ada gunanya, mereka tidak memahaminya. Pemimpin palsu itu buta mata dan buta hati, serta sama sekali tidak mampu mengenali orang. Bagaimana mungkin mereka pantas menjadi pemimpin atau pekerja di gereja? Mereka menganggap orang yang pandai bicara adalah orang berbakat, orang yang mampu bernyanyi dan menari juga dianggap orang berbakat; ketika melihat orang yang berkacamata atau pernah kuliah, mereka menganggapnya juga orang berbakat, dan ketika melihat orang yang memiliki kedudukan dalam masyarakat, yang kaya, tahu cara berbisnis dan melakukan penipuan, serta orang yang melakukan pekerjaan penting di masyarakat, pemimpin palsu menganggapnya orang berbakat. Pemimpin palsu meyakini bahwa rumah Tuhan seharusnya membina orang-orang semacam ini. Mereka tidak melihat karakter orang-orang ini atau tidak melihat apakah orang-orang tersebut memiliki landasan iman kepada Tuhan, apalagi melihat sikap orang-orang ini terhadap Tuhan dan kebenaran. Mereka hanya melihat status sosial dan latar belakang seseorang. Bukankah tidak masuk akal jika pemimpin palsu memandang orang dan hal-hal dengan cara seperti ini? Pemimpin palsu memandang orang dan semua hal dengan cara yang sama seperti orang tidak percaya—pandangan mereka adalah pandangan yang dimiliki orang-orang tidak percaya terhadap segala hal. Ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa pemimpin palsu bukanlah orang yang mencintai dan memahami kebenaran, mereka sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi apa pun. Bukankah pemimpin palsu itu sangat dangkal? Mereka benar-benar buta—sangat buta!

Dahulu, Aku pernah bertemu dengan seorang pemimpin palsu. Ketika Aku berbicara dengannya, dia berbicara dan tersenyum, tetapi begitu Aku menanyakan tentang pekerjaan, dia hanya menatap kosong dengan ekspresi linglung dan mati rasa, tidak menanggapi apa pun yang Kukatakan padanya. Orang ini memiliki kualitas yang sangat buruk dan tidak layak untuk dipakai. Tak mengherankan jika dia tidak memahami apa pun yang Kukatakan dan tidak dapat melakukannya. Apa pun yang Kutanyakan, dia terus menjawab, "Aku sudah mengadakan pertemuan dan aku memeriksa pekerjaan beberapa hari yang lalu." Aku bertanya, "Apakah engkau tidak punya pekerjaan lain selain mengadakan pertemuan? Ada begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan di gereja, mengapa engkau tidak mencari hal lain untuk dilakukan?" Dia berkata, "Bukankah tugas seorang pemimpin atau pekerja hanya mengadakan pertemuan? Tidak ada hal lain yang harus dilakukan selain mengadakan pertemuan, aku juga tidak tahu cara melakukan hal yang lain!" Ini menunjukkan bahwa dia memang sudah ditakdirkan menjadi pemimpin palsu sejak menduduki posisi itu. Dia sama sekali tidak bisa melakukan pekerjaan nyata karena kualitasnya sangat buruk! Kualitas yang sangat buruk menyebabkan buta mata dan buta hati. Apa artinya buta mata? Artinya, apa pun masalah yang dilihat seseorang, mereka tidak mampu menemukan detail masalahnya sehingga matanya tidak berguna. Apa artinya buta hati? Artinya, apa pun yang terjadi, seseorang tidak menyadari dan gagal memahami masalah yang ada, dan mereka tidak mampu melihat di mana inti permasalahannya—inilah yang disebut buta hati. Kalau seseorang buta hatinya, selesailah semuanya. Pemimpin palsu seperti ini, buta mata dan buta hati. Menurut engkau semua, apakah pemimpin palsu merasa kesal ketika mereka mendengar perkataan ini? Mereka berpikir, "Mataku cukup besar, tetapi Dia mengatakan aku buta mata; dan aku punya niat yang baik di hati, tetapi Dia mengatakan aku buta hati—definisi-Nya tidak terlalu akurat, bukan? Mengapa tidak langsung saja menyebutku pemimpin palsu? Mengapa harus ditambah dengan buta mata dan buta hati?" Jika Aku tidak mengungkapkannya seperti ini, dilihat dari kualitas pemimpin palsu, apakah mereka bisa menyadari bahwa kualitasnya buruk? (Tidak.) Dengan mengatakan bahwa pemimpin palsu itu buta mata dan buta hati, bukankah ini menjelaskan masalahnya dengan sempurna? Misalnya, seorang antikristus sedang membangun kerajaannya sendiri di gereja. Namun, pemimpin palsu malah berkata, "Orang ini sangat cakap, pernah menjadi dosen, dan bicaranya jelas, terstruktur, dan teratur dan fasih. Terlebih lagi, orang ini tidak pernah mengalami demam panggung meskipun berbicara di depan banyak orang." Jelas sekali bahwa orang yang mereka bicarakan adalah orang Farisi yang sedang membangun kerajaannya sendiri, tetapi pemimpin palsu itu masih saja memujinya. Bukankah ini berarti mereka buta mata? (Ya.) Jika seseorang bernyanyi dengan nada sumbang dan engkau tidak menyadarinya, apakah ini bisa dianggap buta mata? (Tidak.) Itu adalah masalah keahlian, bukan masalah kualitas. Namun, setelah mendengarkan begitu banyak kebenaran, pemimpin palsu tetap tidak bisa mengidentifikasi antikristus, tidak bisa membedakan apakah kemanusiaan seseorang baik atau buruk, atau apakah seseorang merupakan kandidat yang layak untuk dipromosikan dan dibina oleh rumah Tuhan, atau apakah seseorang adalah pengikut yang bukan orang percaya atau apakah orang tersebut dengan tulus percaya kepada Tuhan, dan mereka tidak dapat membedakan apakah seseorang setia dalam melaksanakan tugasnya—lalu, apa yang diperoleh pemimpin palsu setelah bertahun-tahun mendengarkan khotbah? Mereka belum memperoleh kebenaran apa pun, yang berarti bahwa mereka adalah orang-orang bodoh yang buta; begitulah betapa butanya pemimpin palsu. Mereka menganggap bahwa tugas utama seorang pemimpin adalah mampu menyampaikan khotbah, serta berkhotbah selama dua atau tiga jam, dan selama mereka dapat menyampaikan kata-kata dan doktrin, meneriakkan slogan, dan membangkitkan semangat orang lain, berarti mereka memenuhi standar sebagai pemimpin, mereka mampu memikul pekerjaan tersebut, mereka memiliki kenyataan kebenaran, dan Tuhan puas dengan mereka. Logika macam apa ini? Pemimpin palsu tidak memahami kebenaran dan memiliki kualitas yang sangat buruk, serta buta mata dan buta hati sehingga mereka sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi berbagai jenis orang, dan tidak mampu mengetahui yang sebenarnya tentang berbagai tipe orang. Lalu, apakah mereka bisa memakai berbagai tipe orang secara wajar? (Tidak.) Pemimpin palsu hanya memiliki satu cara: Orang yang pernah menjadi guru ditugaskan untuk berkhotbah, mereka yang pernah terlibat dalam perdagangan luar negeri ditugaskan untuk menangani urusan umum, orang yang dapat berbicara bahasa Inggris ditugaskan untuk menjadi penerjemah, dan siapa pun yang pandai bicara dan tebal muka ditugaskan untuk memberitakan Injil; orang yang pemalu ditugaskan untuk menulis artikel kesaksian pengalaman di rumah, mereka yang berani dan suka tampil ditunjuk sebagai aktor, dan orang yang ingin menjadi pejabat ditunjuk sebagai pemimpin atau direktur. Beginilah cara pemimpin palsu memakai orang, tanpa prinsip apa pun.

Dalam lingkup pekerjaan yang menjadi tanggung jawab para pemimpin palsu, sering kali ada orang-orang yang terhambat padahal mereka benar-benar mengejar kebenaran dan memenuhi kriteria untuk dipromosikan dan dibina. Ada dari antara orang-orang ini yang memberitakan Injil, dan ada yang ditugaskan untuk menjadi tuan rumah. Sebenarnya, mereka semua memiliki kualitas, memahami beberapa kebenaran, dan layak untuk dibina sebagai pemimpin dan pekerja, hanya saja mereka tidak suka memamerkan diri atau menjadi pusat perhatian. Namun, para pemimpin palsu sama sekali tidak memperhatikan orang-orang tersebut. Mereka tidak berhubungan dengan mereka atau bertanya tentang mereka, dan tidak pernah membina orang-orang yang berbakat untuk rumah Tuhan. Mereka hanya berfokus menjerat orang-orang yang menjilat mereka, untuk memuaskan keinginan egoistis mereka sendiri. Akibatnya, orang-orang yang sungguh-sungguh mengejar kebenaran tidak mendapatkan kesempatan untuk dipromosikan dan dibina, sedangkan mereka yang suka menjadi pusat perhatian, yang pandai berbicara, yang tahu bagaimana menjilat orang, dan yang menyukai ketenaran, keuntungan, dan status—mereka semua dipromosikan, dan bahkan mereka yang pernah menjadi pejabat, CEO perusahaan, atau yang pernah belajar manajemen perusahaan di tengah masyarakat, ditugaskan untuk memegang jabatan-jabatan penting. Terlepas dari apakah orang-orang itu benar-benar orang-orang percaya atau tidak, atau apakah mereka orang yang mengejar kebenaran atau tidak, bagaimanapun juga, mereka adalah orang-orang yang dipromosikan dan dipakai dalam lingkup pekerjaan yang menjadi tanggung jawab para pemimpin palsu. Apakah memakai orang dengan cara seperti ini sesuai dengan prinsip? Bukankah bahwa pemimpin palsu hanya mempromosikan orang-orang seperti itu adalah persis seperti yang dilakukan di tengah masyarakat orang tidak percaya? Selama periode pemimpin palsu bekerja, orang-orang yang mampu melakukan pekerjaan praktis dalam pelaksanaan tugas mereka, yang memiliki rasa keadilan, dan yang mencintai kebenaran dan hal-hal positif—mereka tidak mendapat kesempatan untuk dipromosikan atau dibina, dan sulit bagi mereka untuk mendapatkan kesempatan untuk dilatih. Sebaliknya, mereka yang pandai berbicara, yang suka memamerkan diri dan yang tahu bagaimana menjilat orang, serta mereka yang menyukai ketenaran, keuntungan, dan status, merekalah yang ditugaskan untuk memegang jabatan-jabatan penting. Orang-orang itu terlihat cukup pintar, tetapi mereka sebenarnya tidak memiliki kemampuan memahami, memiliki kualitas yang sangat buruk dan kemanusiaan yang buruk, tidak benar-benar terbeban dengan tugas mereka, dan sama sekali tidak layak untuk dibina. Akan tetapi, merekalah yang menduduki jabatan pemimpin dan pekerja di gereja. Akibatnya, banyak pekerjaan gereja tidak dapat berjalan dengan lancar dan cepat, atau kemajuannya lambat, dan pengaturan kerja rumah Tuhan memakan waktu terlalu lama untuk dilaksanakan. Itulah dampak dan akibat yang ditimbulkan terhadap pekerjaan gereja karena pemimpin palsu memakai orang-orang dengan cara yang tidak semestinya.

Sebagian besar pemimpin palsu memiliki kualitas yang buruk. Meskipun di luarnya mereka terdengar pandai berbicara, mereka sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk memahami kebenaran, sampai-sampai mereka tidak memiliki pemahaman rohani. Mata dan pikiran mereka buta, mereka tidak mampu mengetahui yang sebenarnya tentang hal apa pun dan sama sekali tidak memahami kebenaran, dan hal ini sendiri sudah merupakan masalah yang sangat serius. Mereka memiliki masalah lain yang jauh lebih serius, yaitu setelah mereka memahami dan menguasai beberapa kata dan doktrin serta mampu meneriakkan beberapa slogan, mereka mengira bahwa mereka memiliki kenyataan kebenaran. Jadi, pekerjaan apa pun yang mereka lakukan dan siapa pun yang mereka pilih untuk dipakai, mereka tidak mencari prinsip-prinsip kebenaran, mereka tidak bersekutu bersama orang lain, dan terlebih dari itu, mereka lebih tidak mematuhi pengaturan kerja dan prinsip-prinsip rumah Tuhan. Mereka sangat percaya diri, selalu yakin bahwa ide-ide mereka benar dan berbuat sekehendak hati mereka. Akibatnya, ketika mereka menghadapi beberapa kesulitan atau keadaan luar biasa, mereka menjadi bingung. Selain itu, mereka sering kali keliru menyangka bahwa, karena mereka telah bertahun-tahun bekerja di rumah Tuhan dan memiliki cukup pengalaman melayani sebagai pemimpin di sana, mereka tahu bagaimana membuat pekerjaan gereja dapat berjalan dan berkembang. Mereka kelihatannya telah memahami hal-hal ini, padahal sebenarnya, mereka sama sekali tidak tahu bagaimana melakukan pekerjaan apa pun. Mereka melakukan pekerjaan gereja dengan cara apa pun yang mereka inginkan, mengikuti gagasan dan imajinasi mereka, pengalaman dan rutinitas mereka, serta peraturan mereka sendiri. Hal ini membuat berbagai bagian dalam pekerjaan gereja menjadi berantakan dan kacau dan membuat semua itu tidak membuahkan hasil nyata apa pun. Jika ada satu atau dua orang dalam tim yang memahami kebenaran dan mampu melakukan sedikit pekerjaan nyata, mereka dapat mempertahankan keadaan normal dalam pekerjaan tim tersebut. Namun, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pemimpin palsu mereka. Alasan pekerjaan dapat dilakukan dengan baik adalah karena ada sedikit orang baik dalam tim yang mampu melakukan sedikit pekerjaan nyata dan menjaga pekerjaan tetap pada jalurnya; itu tidak berarti bahwa pemimpin palsu mereka telah melakukan pekerjaan nyata. Tidak ada pekerjaan yang dapat dilakukan tanpa adanya sedikit orang baik seperti ini yang bertanggung jawab. Para pemimpin palsu tidak mampu melakukan tugasnya, dan mereka tidak berfungsi dalam hal apa pun. Mengapa pemimpin palsu mengacaukan pekerjaan gereja? Alasan pertama karena pemimpin palsu tidak memahami kebenaran, mereka tidak mampu mempersekutukan kebenaran untuk menyelesaikan masalah, dan mereka tidak mencari cara untuk menyelesaikan masalah, yang mengakibatkan masalah menjadi bertumpuk dan pekerjaan gereja menjadi terhenti. Alasan kedua karena para pemimpin palsu itu buta, dan mereka tidak mampu mengidentifikasi individu-individu berbakat. Mereka tidak mampu melakukan penyesuaian terhadap personel pengawas tim dengan semestinya yang mengakibatkan beberapa pekerjaan tidak memiliki orang yang sesuai untuk menjadi penanggung jawab, membuat pekerjaan menjadi terhenti. Alasan ketiga karena pemimpin palsu bertindak terlalu seperti pejabat. Mereka tidak mengawasi atau mengarahkan pekerjaan, dan jika ada mata rantai yang lemah dalam pekerjaan, mereka tidak berpartisipasi secara proaktif atau memberikan bimbingan dalam hal-hal spesifik pekerjaan. Misalnya, katakanlah dalam suatu pekerjaan tertentu, sejumlah orang yang melakukan pekerjaan itu adalah orang-orang yang baru percaya yang belum memiliki dasar yang kuat, mereka tidak memahami kebenaran, tidak begitu mengenal bidang pekerjaan itu, dan belum sepenuhnya memahami prinsip-prinsip pekerjaan itu. Karena buta, seorang pemimpin palsu tidak dapat melihat masalah-masalah ini. Dia yakin asalkan ada orang yang melakukan pekerjaan, itu tidak apa-apa; tidak menjadi masalah apakah pekerjaan itu dilakukan dengan baik atau buruk. Dia tidak tahu bahwa di mana pun ada mata rantai yang lemah dalam pekerjaan gereja, dia harus menindaklanjutinya, melakukan inspeksi, dan memberi pengarahan, bahwa dia harus secara pribadi berpartisipasi dalam menyelesaikan masalah dan mendukung mereka yang sedang melaksanakan tugas sampai mereka memahami kebenaran, mampu bertindak berdasarkan prinsip, dan masuk ke jalur yang benar. Hanya setelah inilah, dia tidak perlu merasa terlalu khawatir. Para pemimpin palsu tidak bekerja dengan cara seperti ini. Ketika mereka melihat bahwa ada seseorang yang dapat melakukan pekerjaan, mereka tidak lagi memedulikannya. Mereka tidak bertanya, tidak peduli bagaimana pekerjaan itu berjalan. Di mana ada mata rantai yang lemah dalam pekerjaan, atau ada pengawas yang memiliki kualitas rendah, mereka tidak secara pribadi memberikan bimbingan tentang pekerjaan itu, dan mereka sendiri tidak berpartisipasi dalam pekerjaan itu. Dan ketika ada seorang pengawas yang mampu memikul pekerjaan itu, pemimpin palsu itu terlebih lagi tidak secara pribadi memeriksa berbagai hal atau tidak memberi pengarahan; mereka hanya bersikap santai, dan sekalipun seseorang melaporkan suatu masalah, mereka tidak bertanya tentang masalah itu—mereka pikir itu tidak perlu. Para pemimpin palsu tidak melakukan pekerjaan khusus ini. Singkatnya, para pemimpin palsu adalah orang-orang bejat yang tidak melakukan sedikit pun pekerjaan nyata. Mereka yakin bahwa untuk pekerjaan apa pun, selama ada seseorang yang menjadi penanggung jawab dan semua orang siap untuk mengerjakannya, tidak ada lagi yang perlu dilakukan. Mereka mengira bahwa satu-satunya yang harus mereka lakukan hanyalah mengadakan pertemuan sesekali, dan mengajukan pertanyaan jika timbul masalah. Meskipun bekerja dengan cara seperti ini, para pemimpin palsu tetap yakin bahwa mereka melakukan pekerjaan dengan baik dan cukup puas dengan diri mereka sendiri. Mereka berpikir, "Tidak ada masalah dengan bagian apa pun dari pekerjaan ini. Semua personel sudah diatur dengan baik, dan sudah ada pengawas untuk pekerjaan ini. Aku sangat ahli dalam pekerjaan ini, betapa berbakatnya diriku!" Bukankah ini tidak tahu malu? Mata dan pikiran mereka begitu buta sehingga mereka tidak dapat melihat tugas apa pun yang harus dilaksanakan dan tidak dapat menemukan masalah apa pun. Di beberapa tempat, pekerjaan terhenti, tetapi mereka tetap puas, berpikir, "Saudara-saudari semuanya masih muda, mereka semua adalah darah muda. Mereka menangani tugas mereka seperti dinamo manusia; mereka pasti dapat melakukan pekerjaan dengan baik." Sebenarnya, orang-orang muda ini adalah para pemula, tanpa pemahaman tentang keterampilan profesional apa pun. Mereka harus belajar sambil bekerja. Wajar jika dikatakan bahwa mereka belum tahu cara melakukan pekerjaan apa pun: sebagian orang mungkin memahami sedikit, tetapi mereka bukan ahli, dan mereka tidak memahami prinsip-prinsipnya, dan setelah mereka melaksanakan suatu tugas, tugas itu perlu berulang kali dikoreksi atau bahkan sering kali harus dikerjakan ulang. Ada pula sebagian anak muda yang tidak terlatih dan belum pernah mengalami pemangkasan. Mereka sangat berengsek dan malas, serta rakus akan kenyamanan; mereka tidak menerima bahkan sedikit pun kebenaran, dan ketika mereka sedikit menderita, mereka menggerutu tanpa henti. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang bejat yang bersikap asal-asalan dan yang mendambakan kenyamanan. Terhadap orang-orang muda seperti ini, engkau benar-benar harus sering mempersekutukan kebenaran kepada mereka, dan terlebih lagi engkau harus memangkas mereka. Orang-orang muda ini harus memiliki seseorang yang menjadi penanggung jawab atas mereka dan mengawasi mereka. Harus ada seorang pemimpin atau pekerja yang memikul tanggung jawab pribadi atas pekerjaan mereka dan yang memberikan pengawasan dan pengarahan pribadi terhadap mereka. Hanya dengan begitu, barulah pekerjaan mereka dapat membuahkan sedikit hasil. Jika pemimpin atau pekerja meninggalkan tempat kerja dan tidak memperhatikan pekerjaan atau menanyakannya, orang-orang ini akan terpecah belah dan pelaksanaan tugas mereka sama sekali tidak akan membuahkan hasil. Namun, para pemimpin palsu tidak memiliki wawasan tentang hal ini. Mereka melihat semua orang sebagai saudara-saudari, sebagai orang yang taat dan tunduk, sehingga mereka sangat percaya kepada orang-orang itu, dan menugaskan pekerjaan kepada mereka lalu tidak lagi memedulikannya—inilah bukti paling jelas dari butanya mata dan pikiran para pemimpin palsu. Para pemimpin palsu sama sekali tidak memahami kebenaran, tidak dapat melihat masalah dengan jelas, dan tidak mampu menyadari masalah apa pun, tetapi menganggap diri mereka baik-baik saja. Apa yang mereka pikirkan sepanjang hari? Mereka memikirkan bagaimana bertindak seperti pejabat dan menikmati keuntungan dari status. Para pemimpin palsu, sama seperti orang-orang yang tidak punya pikiran, tidak sedikit pun memikirkan maksud-maksud Tuhan. Mereka tidak melakukan pekerjaan nyata, tetapi mereka menunggu rumah Tuhan memuji dan mempromosikan mereka. Mereka benar-benar tidak tahu malu!

Para pemimpin palsu sama sekali tidak berguna dalam melakukan pekerjaannya dan tidak ada satu pun hal yang patut dipuji dari mereka. Prinsip-prinsip dalam gambaran besar saja tidak bisa mereka pahami, apalagi dalam pekerjaan yang lebih spesifik dan mendetail. Misalnya, ada orang yang memiliki kemampuan profesional yang kuat, tetapi kemanusiaannya sangat buruk, ada pula yang tidak memiliki masalah dalam hal kemanusiaannya, tetapi memiliki kualitas dan kemampuan profesional yang buruk. Ketika menyangkut bagaimana orang-orang ini seharusnya dipakai dan ditugaskan secara wajar, pemimpin palsu justru makin tidak memahami persoalan-persoalan yang lebih spesifik dan terperinci seperti ini. Jadi, setiap kali pemimpin palsu ditanya apakah mereka telah menemukan seseorang dengan kualitas yang cukup baik yang dapat dibina, mereka selalu mengatakan belum menemukannya. Pemimpin palsu itu benar-benar buta—bagaimana mungkin mereka bisa menemukan seseorang? Jika engkau bertanya kepadanya tentang Saudari Polan, pemimpin palsu itu akan mengatakan bahwa saudari itu hanya mendambakan kenyamanan daging; jika engkau bertanya tentang Saudara Polan, mereka akan mengatakan bahwa dia sering bersikap negatif; jika engkau bertanya tentang orang lain, pemimpin palsu itu akan mengatakan bahwa orang tersebut belum lama percaya kepada Tuhan dan tidak memiliki dasar yang kuat. Di mata pemimpin palsu, tak ada seorang pun yang memenuhi syarat. Mereka hanya melihat kesalahan, kekurangan, dan pelanggaran orang lain; mereka tidak mampu melihat apakah seseorang sesuai dengan prinsip-prinsip rumah Tuhan untuk dipromosikan dan dibina, atau apakah mereka kandidat yang baik untuk dipromosikan dan dibina. Pemimpin palsu tidak bisa menentukan siapa yang benar-benar layak untuk dipromosikan dan dibina, tetapi orang-orang yang tidak memenuhi persyaratan dan prinsip rumah Tuhan, justru mereka promosikan dengan sangat antusias dan cepat. Pemimpin palsu mempromosikan semua wanita kaya, pria kaya, dan anak-anak dari keluarga kaya di gereja, yang pernah memiliki jabatan duniawi, orang yang pandai bicara, dan mereka yang tahu cara menipu dan memperdaya—intinya, siapa pun yang terkenal, terpandang, dan yang suka menjadi pusat perhatian, pemimpin palsu akan mempromosikannya. Mereka menganggap orang-orang seperti inilah yang berbakat, tetapi mereka tidak memperhatikan atau mempromosikan satu pun orang yang benar-benar memiliki kemampuan memahami dan dapat menerima kebenaran. Bagi seorang pemimpin palsu, menyediakan satu orang yang benar-benar memenuhi syarat bagi rumah Tuhan lebih sulit daripada mereka pergi ke bulan. Contohnya, rumah Tuhan saat ini membutuhkan seseorang yang berbakat untuk pekerjaan tulis-menulis—ada orang seperti ini di gereja yang dipimpinnya, tetapi pemimpin palsu itu tidak mengajukan nama orang tersebut. Ketika ditanya mengapa mereka tidak mempromosikan atau membina orang itu, pemimpin palsu tersebut berkata, "Orang itu pernah melakukan dua kali perzinaan selama berkuliah, tetapi sejak menikah, mereka tidak melakukannya lagi. Aku tidak tahu apakah orang ini harus dipromosikan atau tidak." Pernyataan macam apa ini? Apakah engkau bisa menjamin bahwa orang-orang kaya dan berkuasa yang kaupromosikan itu tidak pernah melakukan perzinaan? Bukankah orang-orang semacam itu justru lebih sering melakukannya? Mengapa engkau tidak bisa melihatnya? Pemimpin palsu benar-benar memiliki kerohanian yang juga palsu, berpura-pura memahami sejumlah prinsip, dan mencari alasan pembenaran untuk tidak mempromosikan orang-orang yang seharusnya dipromosikan dan dibina. Dalam pandangannya, semua orang lebih rendah daripada dirinya. Apa yang terjadi pada akhirnya? Apakah "kaum elite" dan "orang berbakat" yang dipromosikan oleh pemimpin palsu itu bisa tetap teguh? Kita tidak mengatakan bahwa orang-orang ini jelas bukan orang yang baik. Yang terutama kita ungkapkan adalah bahwa prinsip pemimpin palsu dalam memperlakukan orang adalah dengan menggunakan gagasan manusia sebagai ukurannya, bukan kebenaran. Prinsip mereka dalam mempromosikan dan membina seseorang didasarkan pada gagasan, imajinasi, dan preferensinya sendiri, sepenuhnya menggunakan sudut pandang orang tidak percaya, bukan menggunakan standar yang dituntut oleh rumah Tuhan sebagai ukurannya. Mengapa pemimpin palsu bisa melakukan ini? Karena mereka tidak memahami kebenaran atau maksud Tuhan, mereka mampu mempromosikan orang-orang yang sama sekali tidak memenuhi persyaratan rumah Tuhan, berfokus untuk membinanya, dan membiarkan orang-orang tersebut menangani pekerjaan penting di rumah Tuhan. Begitulah pekerjaan yang dilakukan pemimpin palsu. Lihatlah pemimpin palsu di sekitarmu; bukankah ini cara mereka bekerja dan memperlakukan orang?

Ada pandangan tertentu yang sering kali terlihat pada pemimpin palsu: mereka beranggapan bahwa orang yang berpengetahuan, memiliki status, dan pernah memiliki jabatan di dunia semuanya adalah orang berbakat, dan orang-orang seperti itu harus dibina dan dipakai oleh rumah Tuhan setelah mereka mulai percaya kepada Tuhan. Pemimpin palsu sangat menghargai dan memuja orang-orang seperti itu—mereka bahkan memperlakukannya seperti kerabat dan anggota keluarga sendiri. Ketika pemimpin palsu memperkenalkan orang-orang tersebut kepada yang lain, mereka sering kali membicarakan bagaimana di dunia orang-orang tersebut pernah menjadi bos sebuah perusahaan, pemimpin departemen pemerintah, editor sebuah media, direktur di departemen keamanan publik, atau mereka membicarakan betapa kayanya orang-orang tersebut. Pemimpin palsu sangat menghargai orang-orang seperti ini. Bagaimana menurut engkau semua, apakah pemimpin palsu memiliki kualitas? Bukankah mereka memiliki kerohanian palsu dan tidak mampu melihat persoalan dengan jelas? Pemimpin palsu beranggapan bahwa karena orang-orang ini adalah orang yang berbakat di masyarakat, rumah Tuhan harus membina dan memberi mereka peran penting ketika mereka datang ke rumah Tuhan. Apakah pandangan ini benar? Apakah ini sejalan dengan prinsip-prinsip kebenaran? Jika orang-orang ini sama sekali tidak mencintai kebenaran dan tidak memiliki hati nurani serta nalar, dapatkah mereka dibina dan diberi peran penting oleh rumah Tuhan? Mereka tidak memenuhi syarat untuk dibina. Fakta bahwa mereka adalah orang yang berbakat di antara orang tidak percaya bukan berarti mereka adalah orang yang berbakat di rumah Tuhan. Akan tetapi, pemimpin palsu ini senang menjadi pejabat, dan sangat mengagumi orang yang pernah menjadi pejabat. Setiap kali mereka melihat orang-orang yang pernah menjadi pejabat atau memiliki status duniawi, pemimpin palsu ini membungkuk dan merendah dengan penghormatan yang berlebihan, seperti pelayan di hadapan majikannya, dan sangat ingin memanggilnya dengan sebutan ibu, ayah, kakak perempuan atau kakak laki-laki. Mereka juga ingin agar orang-orang ini dipromosikan menjadi pemimpin atau pekerja di gereja. Katakan kepada-Ku, apakah orang-orang ini mengejar kebenaran? Apakah mereka yang memiliki sedikit status dan sedikit ketenaran di dunia berarti mereka layak untuk melayani sebagai pemimpin atau pekerja di rumah Tuhan? Jika mereka tidak memahami kebenaran dan dipenuhi dengan watak yang congkak dan sombong, apakah mereka layak menjadi pemimpin atau pekerja di rumah Tuhan? Mempromosikan seseorang dengan hanya berfokus pada status dan ketenarannya, tetapi mengabaikan karakternya, apakah itu sesuai dengan prinsip? Apakah pemimpin palsu tahu orang seperti apa yang Tuhan sukai, orang seperti apa yang dipromosikan dan dipakai oleh-Nya? Pengaturan kerja rumah Tuhan telah berulang kali menekankan bahwa seseorang harus dipromosikan dan dibina berdasarkan tiga standar: pertama, mereka harus memiliki kemanusiaan, hati nurani, dan nalar; kedua, mereka harus menjadi orang yang mencintai kebenaran dan mampu menerima kebenaran; dan ketiga, mereka harus memiliki tingkat kualitas tertentu dan memiliki kemampuan kerja. Hanya orang-orang yang memenuhi ketiga standar inilah yang dapat dipromosikan dan dibina, serta memenuhi syarat untuk menjadi kandidat dan menjadi pemimpin atau pekerja. Sekadar memiliki kualitas dan bakat sama sekali tidak cukup. Karakter adalah yang paling utama, dan yang kedua adalah kemampuan untuk menerima kebenaran—kedua hal ini adalah standar yang paling penting. Jika orang jahat yang tidak mencintai kebenaran dipromosikan, konsekuensinya akan sangat serius. Oleh karena itu, orang yang sama sekali tidak memiliki kemanusiaan tidak boleh dipromosikan. Namun, pemimpin palsu mengabaikan persyaratan rumah Tuhan. Ketika memilih dan memakai orang, mereka selalu berfokus pada apakah orang tersebut memiliki status di masyarakat, apa latar belakang dan jabatannya, apakah orang tersebut telah menerima pendidikan tinggi, dan seberapa tinggi reputasinya di masyarakat—inilah aspek-aspek yang menjadi fokus pemimpin palsu ketika mempromosikan dan membina orang. Apakah ini sesuai dengan prinsip-prinsip yang ditetapkan oleh rumah Tuhan? Apakah ini sesuai dengan kebenaran firman Tuhan? Siapa orang-orang yang memiliki status di masyarakat itu sebenarnya? Dapat dikatakan bahwa mereka semua adalah orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan dan status, dan mereka termasuk dalam kategori milik Iblis. Jika mereka memegang kekuasaan di rumah Tuhan, apakah rumah Tuhan masih bisa disebut gereja milik Tuhan? Apa tujuan pemimpin palsu dalam mempromosikan orang-orang yang termasuk dalam kategori milik Iblis untuk menjadi pemimpin? Apakah tindakan demikian sesuai dengan prinsip-prinsip rumah Tuhan untuk membina dan memakai orang? Bukankah itu berarti secara terang-terangan mengganggu dan merusak pekerjaan gereja? Promosi dan pembinaan orang oleh pemimpin palsu tanpa memperhatikan prinsip adalah penyebab utama dari gangguan dan kekacauan terbesar dalam pekerjaan gereja, dan ini merupakan bentuk penentangan terhadap Tuhan.

Pemimpin palsu memiliki kualitas yang sangat buruk dan tidak memiliki kemampuan untuk memahami kebenaran. Sebanyak apa pun khotbah yang mereka dengarkan atau firman Tuhan yang dibaca, mereka tetap tidak bisa memahami dengan murni, mereka juga tidak memahami kebenaran. Bahkan, setelah bertahun-tahun mengkhotbahkan doktrin, mereka tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, semua yang mereka katakan hanyalah omong kosong, tidak masuk akal, dan mustahil untuk dipahami! Pemimpin palsu dapat mengingat dan mengkhotbahkan sedikit doktrin, jadi mereka menyangka mereka memiliki kenyataan kebenaran, tetapi apa pun yang mereka lakukan, tidak ada kaitannya dengan kebenaran—itulah ciri khas orang Farisi. Di luarnya, mereka terlihat sering berkhotbah kepada orang-orang dan mengatakan hal-hal yang enak didengar, seolah-olah mereka memahami kebenaran, tetapi apa yang mereka lakukan bertentangan dan bertolak belakang dengan kebenaran. Pemimpin palsu juga mengeklaim bahwa mereka melayani Tuhan dan melakukan pekerjaan gereja, padahal sebenarnya semua yang mereka lakukan sepenuhnya memusuhi Tuhan. Pemimpin palsu tidak pernah mempromosikan orang berbakat yang berguna bagi rumah Tuhan, dan mereka mengabaikan serta menutup mata terhadap orang yang relatif jujur yang sungguh-sungguh mengejar kebenaran. Sebaliknya, mereka mempromosikan dan membina orang yang suka menyanjung, curang, licik, serta mereka yang berambisi dan berkeinginan untuk bekerja di gereja. Akibatnya, setelah orang-orang ini bekerja selama beberapa waktu, berbagai aspek pekerjaan gereja terhenti, hampir lumpuh, dan pekerjaan gereja pun hancur di tangan pemimpin palsu ini. Bukankah orang-orang seperti pemimpin palsu ini menjijikkan? Apakah mereka harus diberhentikan? Mereka harus diberhentikan! Satu hari keterlambatan berdampak pada pekerjaan gereja selama sehari penuh. Sejumlah pemimpin palsu tidak mau mengundurkan diri secara sukarela meskipun mereka tahu bahwa dirinya tidak mampu melakukan pekerjaan nyata. Mereka tetap terobsesi dengan keuntungan dari status, bahkan rela merusak pekerjaan gereja. Apakah orang-orang ini masih memiliki sedikit nalar? Pemimpin palsu tidak memiliki kemampuan memahami, tidak memiliki bakat yang sesungguhnya dan pengetahuan yang nyata, mereka bukan orang yang mengejar kebenaran. Mereka juga mendambakan keuntungan dari status dan merupakan orang yang tidak tahu malu, maka mereka sama sekali tidak boleh dipromosikan dan dibina. Jika engkau berpikir bahwa kualitasmu sangat buruk, dan engkau tidak memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah, dan tidak memiliki kemampuan untuk memahami kebenaran, apa pun yang kaulakukan, jangan biarkan ambisi dan keinginanmu menguasai dirimu, dan jangan berusaha mengejar untuk menjadi pejabat di gereja—untuk menjadi pemimpin gereja—menjadi pemimpin tidaklah semudah itu. Jika engkau bukan orang yang jujur dan tidak mencintai kebenaran, begitu engkau menjadi pemimpin, engkau akan menjadi antikristus atau pemimpin palsu. Baik antikristus maupun pemimpin palsu adalah orang-orang yang tidak memiliki hati nurani dan nalar, dan orang yang mampu melakukan kejahatan serta mengganggu pekerjaan gereja. Memang benar bahwa antikristus adalah setan dan Iblis, tetapi pemimpin palsu juga bukan orang yang baik; setidaknya, mereka adalah orang yang tidak tahu malu, tidak punya hati nurani dan nalar. Apakah ada sesuatu yang membanggakan dalam menjadi pemimpin palsu dan kemudian diberhentikan? Itu memalukan, suatu noda, dan sama sekali bukan sesuatu yang patut dibanggakan. Jika engkau merasa terbeban dengan pekerjaan gereja, dan ingin terlibat di dalamnya, ini bagus; tetapi engkau harus merenungkan apakah engkau memahami kebenaran, apakah engkau mampu mempersekutukan kebenaran untuk menyelesaikan masalah, apakah engkau dapat benar-benar tunduk pada pekerjaan Tuhan, dan apakah engkau mampu melakukan pekerjaan gereja dengan benar, sesuai dengan pengaturan kerja. Jika engkau memenuhi kriteria ini, engkau dapat mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin atau pekerja. Yang Kumaksud dengan mengatakan ini adalah bahwa paling tidak, orang harus memiliki kesadaran akan dirinya. Pertama-tama lihatlah apakah engkau mampu mengidentifikasi berbagai jenis orang, apakah engkau mampu memahami kebenaran dan melakukan segala sesuatu sesuai prinsip. Jika engkau memenuhi persyaratan ini, engkau cocok untuk menjadi pemimpin atau pekerja. Jika engkau tidak mampu menilai dirimu sendiri, engkau dapat bertanya kepada orang-orang di sekitarmu yang akrab denganmu atau dekat denganmu. Jika mereka semua mengatakan bahwa engkau tidak memiliki kualitas yang cukup untuk menjadi seorang pemimpin, dan bahwa hanya melakukan pekerjaanmu saat ini dengan baik sudah cukup baik, maka engkau harus segera mengenal dirimu sendiri. Karena engkau berkualitas buruk, jangan habiskan seluruh waktumu selalu ingin menjadi pemimpin—lakukan saja apa yang bisa kaulakukan, laksanakan tugasmu dengan benar, dengan sikap rendah hati, sehingga pikiranmu bisa menjadi tenang. Ini juga bagus. Dan jika engkau mampu menjadi seorang pemimpin, jika engkau benar-benar memiliki kualitas dan bakat seperti itu, jika engkau memiliki kemampuan kerja, dan memiliki perasaan terbeban, maka engkau adalah jenis orang berbakat yang diperlukan di rumah Tuhan, dan engkau pasti akan dipromosikan dan dibina; tapi ada waktu Tuhan dalam segala hal. Keinginan ini—keinginan untuk dipromosikan—bukanlah ambisi, tetapi engkau harus memiliki kualitas, dan memenuhi kriteria, untuk menjadi pemimpin. Jika engkau berkualitas buruk tetapi masih menghabiskan seluruh waktumu untuk selalu ingin menjadi pemimpin, atau mengambil tugas penting tertentu, atau bertanggung jawab atas pekerjaan secara keseluruhan, atau melakukan sesuatu yang memungkinkanmu untuk menonjolkan diri, maka Kuberitahukan kepadamu: ini adalah ambisi. Ambisi dapat mendatangkan malapetaka, jadi engkau harus berwaspada terhadapnya. Semua orang berkeinginan untuk maju dan semua orang mau berusaha untuk mencapai kebenaran, dan ini bukan suatu masalah. Sebagian orang memiliki kualitas, memenuhi kriteria untuk menjadi pemimpin, dan mampu berusaha untuk mencapai kebenaran, dan ini adalah hal yang baik. Yang lain tidak berkualitas, jadi mereka harus mempertahankan tugas mereka sendiri, melaksanakan tugas yang ada di depan mereka dengan benar dan melaksanakannya berdasarkan prinsip, dan sesuai dengan persyaratan rumah Tuhan; bagi mereka, itu lebih baik, lebih aman, dan lebih realistis.

Mereka yang dipilih menjadi pemimpin dan pekerja, atau yang dipromosikan dan dibina hendaknya tidak terjebak dalam pemikiran yang penuh angan-angan, dengan berpikir, "Aku dipilih oleh saudara-saudari dari sekian banyak orang, rumah Tuhan mempromosikanku, jadi aku memang memiliki bakat tertentu, dan aku lebih baik daripada orang biasa; emas sejati ditakdirkan untuk berkilau pada akhirnya." Apakah pemikiran seperti ini baik? Bukankah itu penyingkapan watak yang rusak? (Ya.) Dipromosikan dan dibina merupakan hal yang baik dan kesempatan yang baik, tetapi apakah engkau mampu menempuh jalan ini dengan baik atau tidak, tergantung bagaimana engkau memperlakukan kesempatan tersebut dan apakah engkau dapat menghargainya. Tuhan telah memberimu kesempatan ini, tetapi itu tidak berarti engkau benar-benar lebih baik daripada orang lain; mungkin kualitasmu sedikit lebih baik dibanding yang lain atau engkau memiliki sedikit karunia, tetapi sulit untuk mengatakan seperti apa jalan masuk kehidupanmu dan apakah engkau memiliki kenyataan kebenaran—karena watak rusak setiap orang adalah sama, dan engkau juga merupakan bagian dari umat manusia yang rusak. Jika engkau dapat menyadari hal ini, engkau akan dapat menyikapi promosi dan pembinaan rumah Tuhan terhadapmu dengan benar. Engkau hendaknya tidak menganggap dirimu sebagai orang berbakat, juga tidak berpikir bahwa engkau memiliki kenyataan kebenaran. Engkau hanya memiliki sedikit kualitas dan kemampuan untuk mencapai kebenaran sehingga engkau diberi kesempatan untuk melatih diri. Ini adalah masa percobaan, dan belum pasti apakah engkau seseorang yang sungguh-sungguh mengejar kebenaran, atau apakah engkau layak dibina. Sulit untuk mengatakan apakah engkau akan mampu tetap teguh setelah diuji dalam periode ini. Mungkin engkau akan dipertahankan untuk terus dibina, atau mungkin engkau akan disingkirkan—semuanya bergantung pada seberapa besar usaha yang kaulakukan. Inilah yang dimaksudkan dengan mempromosikan orang untuk menjadi pemimpin dan pekerja, dan engkau harus memahaminya. Tidak ada gunanya jika engkau sendiri menganggap dirimu orang berbakat. Jika rumah Tuhan tidak mempromosikan dan membinamu, engkau bukanlah siapa-siapa. Jika engkau tidak mengejar kebenaran dan tidak bersedia dipakai oleh rumah Tuhan, engkau tidak akan dapat mencapai apa pun. Jika kemudian engkau berkata, "Rumah Tuhan tidak memakaiku, aku akan terjun ke masyarakat," maka terjunlah ke masyarakat dan cobalah, lihat siapa yang mempromosikanmu, dan lihat apa yang dapat kaucapai. Maksud-Ku mengatakan hal ini adalah agar engkau memahami dan menyikapi promosi dan pembinaanmu oleh rumah Tuhan dengan benar. Bagi mereka yang memiliki kualitas yang buruk atau kualitasnya biasa saja, dan tidak memenuhi standar yang dibutuhkan untuk dipromosikan dan dibina di rumah Tuhan, cukup laksanakan tugasnya dengan patuh dan teguh. Selama engkau melaksanakan tugasmu dengan segenap hati dan pikiranmu, Tuhan tidak akan memperlakukanmu dengan tidak adil. Oleh karena itu, jangan berebut masalah promosi dan pembinaan, tetapi jangan pula menolaknya, biarkan semuanya berjalan secara alami; di satu sisi, engkau harus menaati pengaturan rumah Tuhan, dan di sisi lain, engkau harus memiliki hati yang tunduk kepada-Nya—inilah jalan yang benar. Apakah ini mudah untuk dilakukan? (Ya, mudah.) Apakah ada manfaatnya jika seseorang dengan kualitas buruk menjadi pemimpin? Pada akhirnya, ketika mereka digolongkan sebagai pemimpin palsu dan disingkirkan, bagaimana perasaan mereka tentang hal ini? Apakah itu yang engkau semua inginkan? (Tidak.) Engkau akan membawa gelar "pemimpin palsu" di atas kepalamu, dan di mana pun engkau berada, orang-orang akan mengatakan, "Orang ini pernah menjadi pemimpin palsu." Apakah itu hal yang baik atau buruk? Itu bukan hal yang baik dan bukan sesuatu yang terhormat. Orang harus memiliki pemahaman dan sikap yang benar terhadap promosi dan pembinaan; dalam hal ini, mereka harus mencari kebenaran, dan tidak mengikuti keinginan mereka sendiri, atau memiliki ambisi dan keinginan. Jika engkau merasa bahwa engkau memiliki kualitas yang baik tetapi rumah Tuhan tidak pernah mempromosikanmu, juga tidak berencana untuk membinamu, maka jangan merasa frustrasi atau mulai mengeluh, fokuskan saja dirimu untuk mengejar kebenaran dan berusaha maju. Ketika engkau memiliki tingkat pertumbuhan tertentu dan mampu melakukan pekerjaan nyata, umat pilihan Tuhan tentu saja akan memilihmu untuk menjadi pemimpin. Dan jika engkau merasa kualitasmu buruk, merasa tidak punya kesempatan untuk dipromosikan atau dibina, dan merasa ambisimu itu tidak mungkin tercapai, bukankah ini sesuatu yang baik? Ini akan melindungimu! Karena kualitasmu buruk, jika engkau bertemu sekelompok orang bingung yang buta yang memilihmu menjadi pemimpin mereka, bukankah engkau sedang berjalan di atas bara api yang panas? Engkau tak mampu melakukan pekerjaan apa pun dan mata serta hatimu buta. Semua yang engkau lakukan adalah kekacauan; setiap gerakanmu adalah kejahatan. Akan jauh lebih baik bagimu untuk mengerjakan tugasmu saat ini dengan baik; setidaknya engkau tidak akan mempermalukan dirimu sendiri, dan itu lebih baik daripada menjadi pemimpin palsu dan menjadi sasaran kritik di belakang. Sebagai seorang manusia, engkau harus mengenal dirimu yang sebenarnya, engkau harus memiliki sedikit kesadaran diri; jika demikian, engkau akan mampu menghindarkan dirimu menempuh jalan yang salah dan melakukan kesalahan serius.

Apakah engkau semua ingin menjadi pemimpin palsu atau pengikut biasa? (Pengikut biasa.) Jika saudara-saudari memilihmu, cobalah; mungkin pandangan mereka terhadapmu lebih akurat daripada perasaanmu sendiri tentang dirimu. Jika saudara-saudari berpikir engkau dapat melakukannya, engkau harus mengerahkan segenap kekuatanmu. Jika engkau telah benar-benar mengupayakan yang terbaik, tetapi masih gagal dalam pekerjaanmu, dan hatimu dipenuhi dengan kecemasan, sehingga engkau tidak bisa makan dan tidak bisa tidur karenanya, dan engkau benar-benar tidak tahu bagaimana melakukan pekerjaan tersebut dengan benar, maka berhentilah menjadi seorang pemimpin atau pekerja—pekerjaan itu terlalu berat bagimu. Jika engkau melanjutkan pekerjaan itu, kemungkinan besar engkau akan menjadi pemimpin palsu, jadi engkau harus segera menulis surat pengunduran diri, yang menyatakan, "Karena kualitasku buruk dan aku tidak mampu melakukan pekerjaan nyata, jika aku terus menjadi seorang pemimpin, lama-kelamaan aku pasti berakhir menjadi pemimpin palsu, jadi aku mohon untuk mengundurkan diri, dan dengan rela melepaskan jabatanku." Ini adalah tindakan yang paling bijaksana, dan hal yang paling tepat untuk dilakukan! Tindakan ini rasional dan lebih baik daripada menduduki posisi tersebut dan menjadi pemimpin palsu. Jika engkau tahu betul bahwa kualitasmu buruk dan tidak mampu menjadi pemimpin, tetapi tidak rela untuk melepaskan status, dan berkata dalam hati, "Mengapa aku tidak bisa melakukan ini? Siapa yang bisa memberiku bantuan? Alangkah hebatnya jika aku bisa mempertahankan statusku sebagai pemimpin dengan orang lain yang merancang semua rencana dan strategi untukku! Saat ini, tak ada seorang pun yang cocok untuk menggantikanku, jadi aku hanya bisa terus menjadi pemimpin dan menikmati setiap hari dalam pekerjaanku; sekalipun aku tidak mampu melakukan pekerjaan tersebut, aku tetap pemimpinnya, dan menjadi pemimpin adalah lebih baik daripada menjadi saudara-saudari biasa. Jika rumah Tuhan tidak memberhentikanku dan aku tidak disingkirkan oleh saudara-saudari, aku tidak akan mengundurkan diri." Apakah ini pantas? (Tidak.) Mengapa itu tidak pantas? (Itu tidak masuk akal; jika aku tidak mampu melakukan pekerjaan nyata, tetapi aku tidak mengundurkan diri, ini hanya akan menunda pekerjaan gereja.) Bertindak demikian menunda pekerjaan gereja—tindakan tersebut menyakiti orang lain dan menyakiti dirimu sendiri. Tahukah engkau apa arti menjadi seorang pemimpin? Itu berarti engkau memiliki hubungan langsung dengan banyak jalan masuk orang ke dalam kehidupan, dan kepemimpinanmu memiliki hubungan langsung dengan bagaimana mereka menempuh jalan di depan mereka. Jika engkau memimpin dengan baik dan memimpin mereka di jalan yang benar, mereka akan mampu menapaki jalan yang benar. Jika engkau memimpin dengan buruk dan memimpin mereka ke dalam selokan, sehingga mereka menjadi orang Farisi seperti dirimu, maka dosamu sangat besar! Dan setelah engkau melakukan dosa yang sangat besar ini, akankah itu menjadi akhir dari segalanya? Itu akan dicatat oleh Tuhan! Engkau tahu betul bahwa kualitasmu buruk, bahwa engkau adalah pemimpin palsu dan tidak mampu melakukan pekerjaan nyata, tetapi engkau tidak mengakui kesalahanmu dan mengundurkan diri, sebaliknya dengan berani memegang erat posisimu dan tidak menyerahkannya kepada orang lain. Ini adalah dosa dan Tuhan akan memperhitungkannya. Dan apakah perhitungan-Nya akan baik atau buruk bagimu di masa depan? Engkau akan berada dalam masalah! Kukatakan sejujurnya kepadamu: Tuhan mencatat hal-hal semacam itu terhadap setiap orang, dan setiap hal ditulis dengan jelas. Jika sesuatu yang begitu parah terjadi pada jalanmu menuju keselamatan, maka dampaknya terhadap dirimu akan sangat besar! Apa pun yang kaulakukan, jangan menempuh jalan ini, dan jangan menjadi orang semacam ini.

Secara singkat kita telah mempersekutukan beberapa tindakan dan perwujudan para pemimpin palsu dalam hal mempromosikan dan membina berbagai tipe orang yang berbakat. Singkatnya, tipe orang yang merupakan pemimpin palsu tidak melakukan pekerjaan nyata dan tidak mampu melakukan pekerjaan nyata. Kualitas mereka buruk, mata dan pikiran mereka pun buta, mereka tidak mampu menemukan masalah, dan tidak mampu mengetahui yang sebenarnya mengenai berbagai macam orang, sehingga mereka tidak mampu memikul pekerjaan penting untuk mempromosikan dan membina berbagai macam orang yang berbakat. Dengan demikian, mereka tidak mungkin melakukan pekerjaan gereja dengan baik, dan akan menyebabkan banyak kesulitan bagi umat pilihan Tuhan dalam jalan masuk kehidupan mereka. Berdasarkan faktor-faktor ini, jelas bahwa para pemimpin palsu tidak layak untuk menjadi pemimpin gereja. Ada para pemimpin palsu lainnya yang tidak melakukan pekerjaan spesifik di gereja dan tidak menghubungi para pengawas dari pekerjaan tertentu, sehingga mereka tidak tahu orang-orang berbakat mana yang mampu melakukan pekerjaan apa, siapa yang cocok untuk jenis pekerjaan yang mana, atau apakah cara kerja mereka sesuai dengan prinsip-prinsip, atau tidak. Oleh karena itu, mereka tidak mampu mempromosikan dan membina orang-orang yang berbakat. Jika demikian, bagaimana mungkin orang-orang semacam itu melakukan pekerjaan gereja dengan baik? Alasan utama mengapa para pemimpin palsu tidak mampu melakukan pekerjaan nyata adalah karena kualitas mereka buruk; mereka tidak memiliki wawasan tentang apa pun dan tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan pekerjaan nyata. Hal ini menyebabkan seringnya terjadi kemandekan atau kelumpuhan dalam pekerjaan gereja. Hal-hal ini berhubungan langsung dengan kegagalan para pemimpin palsu dalam melakukan pekerjaan nyata. Selama beberapa tahun terakhir, rumah Tuhan telah berulang kali menekankan bahwa orang-orang yang jahat dan para pengikut yang bukan orang percaya harus dikeluarkan dan para pemimpin palsu serta pekerja palsu harus diberhentikan. Mengapa berbagai orang yang jahat dan para pengikut yang bukan orang percaya harus dikeluarkan? Karena setelah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, orang-orang ini tetap sama sekali tidak menerima kebenaran, dan telah mencapai tahap di mana mereka tidak memiliki harapan untuk diselamatkan. Dan mengapa semua pemimpin palsu dan pekerja palsu harus diberhentikan? Karena mereka tidak melakukan pekerjaan nyata, dan tidak pernah mempromosikan atau membina orang-orang yang mengejar kebenaran; sebaliknya, mereka hanya melakukan upaya yang sia-sia. Hal ini menyebabkan pekerjaan gereja menjadi kacau dan lumpuh, dengan masalah-masalah yang ada terus berlanjut dan tidak terselesaikan, dan ini juga memperlambat jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan. Jika semua pemimpin dan pekerja palsu ini diberhentikan, dan jika semua orang yang jahat serta para pengikut yang bukan orang percaya yang mengganggu gereja dikeluarkan, pekerjaan gereja akan dengan sendirinya berjalan dengan lancar, kehidupan bergereja akan dengan sendirinya bertumbuh jauh lebih baik, dan umat pilihan Tuhan akan dapat makan dan minum firman Tuhan serta melaksanakan tugas mereka dengan normal, dan masuk ke jalan yang benar dalam iman kepada Tuhan. Inilah yang Tuhan ingin lihat.

27 Februari 2021

Sebelumnya: Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (4)

Selanjutnya: Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (6)

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Pengaturan

  • Teks
  • Tema

Warna Solid

Tema

Jenis Huruf

Ukuran Huruf

Spasi Baris

Spasi Baris

Lebar laman

Isi

Cari

  • Cari Teks Ini
  • Cari Buku Ini