Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (27)
Hari ini kita akan melanjutkan persekutuan tentang topik tanggung jawab pemimpin dan pekerja. Sebelumnya, kita telah mempersekutukan sampai tanggung jawab yang keempat belas, dan masih ada beberapa subtopik di bawah tanggung jawab ini yang belum dipersekutukan. Sebelum kita bersekutu, mari kita tinjau terlebih dahulu ada berapa banyak tanggung jawab pemimpin dan pekerja. (Ada lima belas.) Bacakanlah.
(Tanggung jawab para pemimpin dan pekerja:
1. Memimpin orang untuk makan dan minum firman Tuhan serta memahaminya, dan untuk masuk ke dalam kenyataan firman Tuhan.
2. Memahami keadaan setiap jenis orang dan menyelesaikan berbagai kesulitan yang berkaitan dengan jalan masuk kehidupan yang mereka hadapi dalam kehidupan nyata mereka.
3. Mempersekutukan prinsip-prinsip kebenaran yang seharusnya dipahami agar dapat melaksanakan setiap tugas dengan baik.
4. Terus mengikuti perkembangan keadaan para pengawas dari berbagai pekerjaan dan personel yang bertanggung jawab atas berbagai pekerjaan penting, dan dengan segera memindahtugaskan atau memberhentikan mereka bila diperlukan, untuk mencegah atau mengurangi kerugian karena menggunakan orang-orang yang tidak tepat, dan menjamin efisiensi serta kelancaran kemajuan pekerjaan.
5. Terus mendapatkan pemahaman terkini tentang status dan kemajuan setiap bagian dari pekerjaan, dan mampu dengan segera menyelesaikan masalah, mengoreksi penyimpangan, dan memperbaiki kekurangan dalam pekerjaan sehingga itu akan berkembang dengan lancar.
6. Mempromosikan dan membina berbagai jenis personel yang memenuhi syarat sehingga semua orang yang mengejar kebenaran dapat memiliki kesempatan untuk berlatih dan masuk ke dalam kebenaran kenyataan sesegera mungkin.
7. Mengalokasikan dan memakai berbagai jenis orang dengan sepatutnya, berdasarkan kemanusiaan dan kelebihan mereka sehingga setiap dari mereka dapat dipakai sebaik mungkin.
8. Segera melaporkan dan mencari tahu cara untuk menyelesaikan kebingungan dan kesulitan yang dihadapi dalam pekerjaan.
9. Menyampaikan, mengeluarkan, dan melaksanakan secara akurat berbagai pengaturan kerja rumah Tuhan sesuai dengan tuntutannya, memberikan bimbingan, pengawasan, dan dorongan, serta memeriksa dan menindaklanjuti status pelaksanaannya.
10. Menjaga dengan baik dan mendistribusikan secara bijaksana berbagai barang milik rumah Tuhan (buku, berbagai peralatan, bahan pangan, dan sebagainya), serta melakukan pemeriksaan, pemeliharaan, dan perbaikan secara berkala untuk meminimalkan kerusakan dan pemborosan; serta menghalangi orang-orang jahat agar tidak menguasainya.
11. Memilih orang-orang yang dapat diandalkan yang kemanusiaannya memenuhi standar, khususnya untuk tugas pencatatan, perhitungan, dan pengamanan uang persembahan secara sistematis; secara berkala meninjau serta memeriksa pemasukan dan pengeluaran agar kasus pemborosan atau penghamburan, serta pengeluaran yang tidak masuk akal dapat segera diidentifikasi—menghentikan hal-hal semacam itu dan meminta penggantian yang wajar; selain itu, dengan cara apa pun, menghalangi uang persembahan agar tidak jatuh ke tangan orang jahat dan dikuasai oleh mereka.
12. Dengan segera dan akurat mengidentifikasi berbagai orang, peristiwa, dan hal-hal yang mengacaukan dan mengganggu pekerjaan Tuhan serta tatanan normal gereja; menghentikan dan membatasi hal-hal tersebut, serta membalikkan keadaan; selain itu, mempersekutukan kebenaran agar umat pilihan Tuhan memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi melalui hal-hal semacam itu dan belajar darinya.
13. Melindungi umat pilihan Tuhan agar tidak diganggu, disesatkan, dikendalikan, dan sangat dirugikan oleh antikristus, serta memungkinkan mereka untuk mengidentifikasi antikristus dan menolaknya dari dalam hati mereka.
14. Dengan segera mengidentifikasi, dan kemudian mengeluarkan atau mengusir berbagai macam orang jahat dan antikristus.
15. Melindungi berbagai macam personel kerja yang penting, melindungi mereka dari gangguan dunia luar, dan menjaga mereka tetap aman untuk memastikan berbagai pekerjaan penting dapat berjalan dengan tertib..)
Apakah semua orang sudah mendengar kelima belas tanggung jawab ini dengan jelas? (Ya.) Tanggung jawab pemimpin dan pekerja yang keempat belas adalah "Dengan segera mengenali, mengeluarkan, dan mengusir berbagai macam orang jahat dan antikristus". Jadi, bagaimana engkau dapat mengenali berbagai jenis orang jahat? Kriteria pertama didasarkan pada tujuan mereka percaya kepada Tuhan. Kita telah membagi tujuan orang percaya kepada Tuhan ke dalam berapa poin? Kita telah membaginya ke dalam sembilan poin: Poin pertama adalah untuk memuaskan keinginan untuk menjadi pejabat; yang kedua adalah untuk mencari lawan jenis; yang ketiga adalah untuk menghindari bencana; yang keempat adalah untuk memanfaatkan kesempatan; yang kelima adalah untuk hidup bergantung dari gereja; yang keenam adalah untuk mencari perlindungan; yang ketujuh adalah untuk mencari pendukung; yang kedelapan adalah untuk mengejar tujuan politik; dan yang kesembilan adalah untuk mengawasi gereja. Kriteria pertama adalah untuk membedakan esensi berbagai macam orang berdasarkan niat dan tujuan mereka percaya kepada Tuhan. Kriteria kedua untuk membedakan berbagai macam orang yang perlu dikeluarkan atau diusir didasarkan pada perwujudan esensi kemanusiaan mereka dalam berbagai aspek. Ada berapa banyak perwujudan yang terdapat dalam kriteria ini? Pertama, suka memutarbalikkan fakta dan kebohongan; kedua, suka mengambil keuntungan; ketiga, bersikap kurang ajar dan tidak terkendali; keempat, cenderung membalas dendam; kelima, tidak mampu menjaga lidah; keenam, tidak bernalar dan suka membuat masalah, tak ada yang berani memprovokasi mereka; ketujuh, terus-menerus melakukan percabulan; kedelapan, mampu melakukan pengkhianatan kapan saja; kesembilan, mampu meninggalkan kapan saja; kesepuluh, bimbang; kesebelas, menjadi pengecut dan curiga; kedua belas, cenderung mencari masalah; ketiga belas, memiliki latar belakang yang rumit. Seluruhnya ada tiga belas perwujudan. Tanggung jawab para pemimpin dan pekerja yang keempat belas adalah "Dengan segera mengenali, mengeluarkan, dan mengusir berbagai macam orang jahat dan antikristus". Masalah-masalah yang ada kaitannya dengan kriteria pertama—tujuan seseorang percaya kepada Tuhan—telah dipersekutukan. Kita juga telah mempersekutukan tujuh masalah pertama dari kemanusiaan mereka, yang merupakan kriteria kedua. Hari ini, kita akan mulai bersekutu dari perwujudan kemanusiaan mereka yang kedelapan: "Mampu melakukan pengkhianatan kapan saja."
Bab Empat Belas: Dengan Segera Mengidentifikasi, Mengeluarkan, dan Mengusir Berbagai Macam Orang Jahat dan Antikristus (Bagian Enam)
Standar dan Dasar untuk Mengidentifikasi Berbagai Macam Orang Jahat
II. Berdasarkan Kemanusiaan Seseorang
H. Mampu Melakukan Pengkhianatan Kapan Saja
Engkau semua mampu mengenali jenis orang yang jelas-jelas mampu mengkhianati gereja kapan saja, bukan? Apakah masalah dengan orang-orang ini sangat serius? (Ya.) Ada orang-orang yang mengkhianati gereja karena mereka pengecut, sedangkan orang lainnya melakukannya karena kemanusiaan mereka yang jahat atau masalah-masalah lainnya. Apa pun alasannya, fakta bahwa orang-orang semacam ini mampu mengkhianati saudara-saudari dan mengkhianati Tuhan kapan saja menunjukkan bahwa mereka tidak dapat diandalkan. Jika mereka memahami beberapa informasi penting tentang gereja atau informasi pribadi tentang saudara-saudari, seperti di mana saudara-saudari tinggal, siapa pemimpin gereja, pekerjaan apa yang dilakukan gereja, atau siapa yang melakukan pekerjaan dan tugas penting apa, mereka dapat membocorkan informasi ini ketika bahaya muncul atau dalam keadaan khusus tertentu, mengkhianati gereja dan saudara-saudari. Di satu sisi, mereka melakukan hal ini untuk melindungi diri mereka sendiri dan menjamin keselamatan mereka sendiri. Di sisi lain, mereka mungkin tidak sengaja bertindak seperti ini, tidak menganggap serius informasi ini dan mampu mengungkapkannya serta berkhianat kapan saja demi keuntungan pribadi. Contohnya, beberapa orang ditangkap oleh si naga merah yang sangat besar, dan selama interogasi, si naga merah yang sangat besar mengancam, membujuk, atau bahkan menggunakan penyiksaan untuk memaksa orang-orang ini mengaku, memberi tahu mereka bahwa jika mereka mau buka mulut, mereka akan dibebaskan, jadi mereka membocorkan semua informasi yang mereka ketahui tentang saudara-saudari dan gereja sebagai ganti kebebasan mereka sendiri. Jenis orang ini adalah contoh klasik Yudas. Katakan kepada-Ku, bagaimana seharusnya cara memperlakukan dan menangani jenis orang-orang yang adalah contoh klasik Yudas ini? (Orang-orang semacam ini harus segera diusir dan juga dikutuk.) Biasanya, contoh klasik Yudas ini—entah sengaja atau tidak sengaja—menanyakan atau mendapat informasi mengenai situasi tertentu tentang gereja dan mengingatnya. Kemudian, setelah beberapa keadaan menimpa mereka dan mereka ditangkap, mereka mengungkapkan informasi ini. Di luarnya, pertanyaan dan pengetahuan mereka tentang hal-hal khusus ini mungkin tampaknya bukan bertujuan untuk dengan sengaja mengungkapkan informasi tersebut kepada si naga merah yang sangat besar, tetapi ketika mereka ditangkap, mereka tidak mampu menahan diri. Akibatnya, pengakuan mereka membawa beberapa konsekuensi buruk bagi gereja. Dengan demikian, natur dari pertanyaan-pertanyaan biasa yang mereka ajukan dan pengetahuan mereka tentang hal-hal khusus ini bukanlah perbincangan santai atau obrolan kosong; melainkan, mereka melakukannya dengan sengaja dan dengan tujuan. Ini mempersiapkan kondisi bagi mereka untuk menjadi Yudas di kemudian hari. Dapatkah masalah orang-orang yang dengan seenaknya membocorkan informasi orang lain diselesaikan dengan metode seperti mempersekutukan kebenaran atau memberi mereka peringatan? (Tidak.) Mengapa tidak? (Karena jenis orang ini tidak memiliki hati nurani dan tidak bernalar, serta tidak akan menerima kebenaran, dan mempersekutukan kebenaran dengan mereka tidak ada gunanya.) Bagaimana seharusnya cara menangani orang jahat seperti ini yang dapat dengan seenaknya merugikan orang lain? Hanya ada satu solusi, yaitu mengeluarkan mereka, karena apa yang telah mereka lakukan bukan hanya merugikan saudara-saudari, melainkan juga mengganggu pekerjaan gereja. Perilaku seperti ini dapat digolongkan sebagai mengkhianati saudara-saudari dan mengkhianati gereja, jadi jenis orang ini harus dikeluarkan atau diusir. Meskipun jenis orang ini tidak bisa digolongkan sebagai antikristus, ada dasar yang cukup kuat untuk menggolongkan mereka sebagai orang jahat yang mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja. Oleh karena itu, mengeluarkan jenis orang ini sepenuhnya sesuai dengan prinsip. Orang-orang ini tidak tertarik akan kebenaran; mereka hanya suka ke sana kemari menanyakan hal-hal khusus tentang para pemimpin dan pekerja, juga tentang hal-hal khusus saudara-saudari tertentu. Mereka telah percaya kepada Tuhan selama beberapa tahun dan belum memahami banyak kebenaran—tetapi mereka telah mengumpulkan cukup banyak informasi tentang keluarga para pemimpin dan pekerja serta saudara-saudari. Saudara atau saudari mana pun yang disinggung, mereka dapat memberitahukan beberapa hal khusus tentang mereka, yang cukup mengejutkan bagi orang lain. Meskipun mereka bukan pemimpin atau pekerja, mereka selalu sangat ingin bertanya tentang masalah internal gereja tertentu, seperti pekerjaan administrasi, kepala dari berbagai struktur, dan beberapa pekerjaan yang ada kaitannya dengan hal-hal eksternal. Mereka sering bertanya siapa yang telah pergi ke mana untuk melaksanakan tugas mereka dan kapan mereka pergi, siapa yang telah dipromosikan, siapa yang telah diberhentikan, dan bagaimana perkembangan aspek-aspek tertentu dari pekerjaan gereja. Setelah menanyakan hal-hal ini, mereka menyebarkan informasi tersebut ke mana-mana. Yang jauh lebih menjijikkan adalah bahwa beberapa orang bahkan menuliskan informasi yang telah mereka kumpulkan setelah menanyakannya. Bukankah ini menunjukkan bahwa mereka memiliki motif tersembunyi? (Ya.) Ketika mencatat urusan mereka sendiri di negeri si naga merah yang sangat besar, mereka tahu cara menggunakan kode atau bahasa rahasia, tetapi ketika mencatat informasi orang lain, mereka tidak menggunakan metode yang menunjukkan hikmat sedikit pun, sebaliknya mereka menuliskan begitu saja nama asli, penampilan, usia, nomor telepon, dan detail lainnya tentang saudara-saudari. Bukankah mereka bermaksud untuk berkhianat? Mereka memiliki niat buruk, dan memang berniat untuk berkhianat. Begitu sesuatu yang berbahaya terjadi dan polisi menyita informasi yang telah mereka catat, polisi hanya perlu mengancam dan mengintimidasi mereka bahkan tanpa menggunakan penyiksaan, dan mereka langsung mengakui semuanya secara terperinci, tanpa menyembunyikan apa pun. Mereka bahkan memeras otak untuk mengingat hal-hal yang telah mereka lupakan, dan segera setelah mereka mengingat sesuatu, mereka segera memberitahukannya kepada polisi. Mereka bahkan membawa polisi ke rumah saudara-saudari, ke rumah para pemimpin dan pekerja, dan ke tempat tinggal orang-orang yang melaksanakan tugas-tugas penting, untuk menangkap mereka. Bukankah menurutmu jenis orang ini sangat hina? (Ya.) Sebelum mereka mengkhianati orang lain, perilaku mereka tidak tampak seperti orang jahat, apalagi tampak seperti antikristus—mungkin itu hanya perwujudan dari manusia biasa yang rusak—tetapi begitu mereka ditangkap, mereka dapat dengan mudah mengkhianati saudara-saudari mana pun. Satu perwujudan ini saja membuat mereka jauh lebih hina daripada orang jahat dan antikristus. Bukan karena mereka tidak mampu menahan diri untuk tidak membocorkan sedikit informasi yang tidak penting di bawah paksaan, siksaan, dan penganiayaan yang kejam bukan karena daging mereka terlalu lemah dan mereka tidak dapat lagi menanggungnya, melainkan mereka dengan proaktif dan sembrono mengungkapkan semua informasi yang mereka ketahui, tanpa memedulikan keselamatan saudara-saudari, apalagi memedulikan pekerjaan gereja. Ini sangat hina! Inilah salah satu perwujudan dari jenis orang yang adalah Yudas.
Ada jenis orang lain, yang berusaha melaporkan gereja dan saudara-saudari hanya karena provokasi yang sangat kecil. Contohnya, ketika mereka menghadapi bencana alam, penyakit, atau pencurian, mereka mengeluh tentang Tuhan dan mereka juga mengeluh bahwa saudara-saudari tidak memiliki kasih dan tidak membantu mereka menyelesaikan masalah mereka. Ini membuat mereka ingin mengkhianati gereja dan saudara-saudari. Beberapa orang melakukan kesalahan yang ceroboh dan dipangkas, dan saudara-saudari pun menjauhkan diri dari mereka; ini membuat mereka merasa bahwa rumah Tuhan tidak memiliki kasih, jadi mereka berkata, "Kalian semua tidak menyukaiku, bukan? Kalian semua memandang rendah diriku, bukan? Memangnya aku masih dapat memperoleh berkat dari percaya kepada Tuhan? Jika aku tidak memperoleh berkat, aku akan melaporkan kalian semua!" Ini adalah pernyataan paling "klasik" dari orang-orang semacam itu. Mengapa Kukatakan bahwa pernyataan ini—"Jika aku tidak memperoleh berkat, aku akan melaporkan kalian semua"—adalah pernyataan "klasik" mereka? Itu karena pernyataan ini merepresentasikan kemanusiaan mereka. Ungkapan ini bukanlah sesuatu yang mereka katakan hanya untuk melampiaskan kebencian mereka setelah menghadapi banyak situasi yang tidak memuaskan atau karena kebencian yang mendalam, dan ini juga bukan luapan emosi sesaat. Sebaliknya, itu adalah sesuatu yang telah memenuhi hati mereka dan dapat terungkap kapan saja. Itu adalah sesuatu yang sudah lama ada di dalam hati mereka dan dapat meledak kapan saja. Ini merepresentasikan kemanusiaan mereka. Kemanusiaan mereka sudah sehina ini—jika ada yang memprovokasi atau menyakiti mereka, mereka mampu mengkhianati orang itu kapan saja. Jika mereka melanggar pengaturan atau prinsip kerja saat melaksanakan tugas dan para pemimpin dan pekerja atau saudara-saudari sedikit memangkas mereka, mereka menjadi kesal, marah, dan tidak puas, kemudian mengatakan hal-hal seperti, "Aku akan melaporkan kalian! Aku tahu di mana kalian tinggal, aku tahu nama dan marga kalian!" Jika engkau tidak menenangkan orang-orang semacam ini, mungkin mereka benar-benar akan mengkhianatimu. Mereka tidak mencoba menakut-nakuti siapa pun, mereka juga tidak mengatakannya karena sedang marah; jika seseorang benar-benar menyinggung mereka atau membuat mereka marah, mereka sangat mampu mengkhianati orang tersebut. Ada orang-orang yang berkata, "Untuk apa takut kepada mereka?" Bukannya kita takut kepada mereka. Kita tidak akan takut dikhianati mereka jika ini terjadi di negara yang demokratis dan bebas. Namun, di negeri si naga merah yang sangat besar, jika mereka benar-benar berkhianat, hal itu dapat menimbulkan masalah bagi saudara-saudari dan memengaruhi pekerjaan gereja. Jika saudara-saudari benar-benar ditangkap, si naga merah yang sangat besar akan sangat mempermasalahkannya. Begitu mereka menemukan sebuah pelanggaran, mereka akan terus menangkap orang-orang tanpa henti. Dengan demikian, kehidupan bergereja sejumlah orang akan terpengaruh, dan pelaksanaan tugas normal sejumlah orang akan terpengaruh. Bukankah ini konsekuensi yang sangat berat? Engkau harus mempertimbangkan hal-hal ini! Orang-orang semacam ini selalu mengamuk saat berinteraksi dengan orang lain. Jika seseorang mengatakan sesuatu yang membuat mereka tidak senang, atau menyingkapkan masalah mereka dan membuat mereka marah, mereka menjadi kesal terhadap orang itu dan bahkan mungkin tidak mau berbicara dengannya selama beberapa hari, dan ketika engkau mencari mereka dan meminta mereka untuk melaksanakan tugasnya, mereka mengabaikan permintaan tersebut. Mustahil untuk bergaul dengan orang-orang semacam ini. Bukankah mereka orang-orang jahat? Di tengah orang banyak, engkau sering mendengar orang-orang jahat mengatakan hal-hal seperti, "Jika ada yang menentangku, aku tidak akan membiarkannya! Aku tahu persis di mana kalian tinggal, aku bahkan tahu warna gorden jendela kalian. Aku tahu betul di mana kalian berkumpul dan di mana para pemimpin dan pekerja tinggal!" Akankah engkau semua berkata bahwa orang-orang semacam ini adalah orang yang berbahaya? (Ya.) Mereka adalah contoh klasik Yudas. Bahkan ketika segala sesuatunya normal, mereka mungkin tetap berusaha sekeras mungkin untuk berkhianat. Jika sesuatu yang buruk terjadi, mereka akan menjadi orang pertama yang melompat keluar dan berubah menjadi Yudas. Jadi, jika jenis orang ini ditemukan di dalam gereja, mereka harus dikeluarkan atau diusir sedini mungkin. Perwujudan lain apa lagi yang dimiliki jenis orang ini? Contohnya, selama pertemuan, karena saudara-saudari bertemu secara berkala, tidak perlu saling berbasa-basi. Ketika sudah waktunya, mereka memulai pertemuan, membaca firman Tuhan dan mempersekutukan kebenaran. Namun, orang-orang yang suka mengamuk mulai marah ketika melihat tak ada seorang pun yang memperhatikan atau menyapa mereka. Mereka berkata, "Apakah kalian semua memandang rendah diriku? Huh! Tak ada seorang pun dari kalian yang menyambutku—baiklah, tidak apa-apa; aku punya cara untuk menangani kalian. Aku tahu di mana para pemimpin gereja tinggal, aku tahu siapa di antara kalian yang sedang melaksanakan tugas, di mana dan pekerjaan apa yang kalian lakukan, aku tahu siapa yang menerima para pemimpin dan pekerja di rumahnya, siapa yang menjaga persembahan, siapa yang menangani pencetakan buku, dan siapa yang bertanggung jawab untuk mengangkutnya. Aku akan melaporkan kalian semua! Aku akan melaporkan semua tentang gereja ke polisi!" Jika orang-orang memperlakukan mereka dengan rasa hormat yang paling tinggi, semuanya baik-baik saja. Namun, begitu seseorang memicu atau memprovokasi mereka, itu menjadi masalah—mereka akan membalas dendam dan berkhianat. Setiap kali mereka menghadapi sesuatu yang membuat mereka merasa tidak senang atau tidak puas, mereka melontarkan ancaman keras terhadap saudara-saudari dan para pemimpin gereja. Menurut engkau semua, apakah jenis orang ini menakutkan dan berbahaya? (Mereka berbahaya.) Jenis orang ini adalah Yudas yang mampu melakukan pengkhianatan kapan saja; mereka adalah orang-orang yang berbahaya.
Ada perwujudan lain dari orang-orang yang mampu melakukan pengkhianatan kapan saja. Contohnya, di negeri si naga merah yang sangat besar, jumlah gereja yang didirikan di berbagai provinsi dan kota, berapa banyak orang yang menjadi anggota setiap gereja, siapa pemimpinnya, dan pekerjaan apa yang dilakukan gereja—hal-hal ini harus dijaga kerahasiaannya secara ketat. Bahkan anggota keluarga dan kerabat yang tidak percaya harus diwaspadai, dan informasi ini tidak boleh dibocorkan untuk mencegah masalah bagi gereja di kemudian hari. Namun, orang-orang berbahaya yang memendam motif tersembunyi ini selalu berusaha menanyakan hal-hal semacam itu. Jika saudara-saudari menolak memberitahukannya, mereka merasa, "Mengapa kalian semua mengetahui hal-hal ini, sedangkan aku satu-satunya orang yang tidak tahu? Mengapa aku tidak diberitahu? Apakah kalian memperlakukanku seperti orang luar, bukan sebagai salah satu saudara-saudari? Baiklah kalau begitu, aku akan melaporkan kalian!" Engkau dapat melihat bahwa dalam situasi apa pun, mereka mampu melaporkan gereja dan saudara-saudari. Tak ada seorang pun yang menyinggung mereka, tetapi bahkan ketidakpuasan terkecil pun membuat mereka terdorong untuk melaporkan gereja. Contohnya, ketika buku-buku firman Tuhan dibagikan kepada saudara-saudari, setiap orang dengan bersemangat mulai melihat berapa banyak bab firman Tuhan yang terdapat dalam buku tersebut, berapa banyak halamannya, dan kualitas cetakannya. Mereka semua senang dan bersemangat memegang sendiri buku itu. Namun di sisi lain, jenis orang yang seperti Yudas berpikir, "Di mana buku ini dicetak? Berapa biaya mencetak satu eksemplar? Siapa yang bertanggung jawab atas pencetakannya? Setelah dicetak, siapa yang menangani pengangkutannya? Bagaimana buku-buku ini dikirim ke gereja kita? Di mana buku-buku itu disimpan? Siapa yang bertanggung jawab untuk menjaganya?" Topik-topik ini pada dasarnya sensitif. Umumnya, mereka yang memiliki rasionalitas dan mereka yang memiliki kemanusiaan tidak akan menanyakan hal-hal semacam itu, tetapi orang-orang berbahaya yang mampu berkhianat ini sangat ingin menanyakannya. Jadi, bagaimana menurutmu—haruskah engkau memberi tahu mereka ketika mereka terus bertanya tentang hal-hal ini, atau tidak? (Kami seharusnya tidak memberi tahu mereka.) Jika engkau memberi tahu mereka, mereka akan mampu membeberkan informasi ini dan berkhianat. Jika engkau tidak memberitahunya, mereka akan ingin mengatakan sesuatu: "Mengapa aku tidak tahu tentang hal ini? Rumah tuhan tidak adil! Aku adalah bagian dari rumah tuhan, aku berhak untuk diberitahu tentang segala hal! Kalian memperlakukanku seperti orang luar. Baiklah, aku akan melaporkan kalian!" Sekali lagi, mereka ingin melaporkan gereja. Bukankah mereka adalah orang-orang jahat? Jika mereka benar-benar melaporkan gereja ke polisi, apa akibatnya? Bukankah saudara-saudari akan menghadapi bahaya yang mengancam nyawa jika mereka ditangkap? Selain itu, setelah polisi melakukan penangkapan, ini akan menimbulkan begitu banyak kesulitan bagi saudara-saudari dan pekerjaan gereja. Hal itu juga akan memengaruhi jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan hingga berbagai taraf—mereka yang tidak tahu cara mencari kebenaran dapat bersikap negatif, dan bahkan mungkin berhenti menghadiri pertemuan sama sekali. Mereka sama sekali tidak mempertimbangkan semua ini. Jadi, apakah mereka memiliki hati nurani dan nalar? Pekerjaan apa pun yang dilakukan gereja, mereka selalu ingin menjadi orang pertama yang mengetahuinya. Mereka baru merasa senang jika mereka mengetahui segala sesuatu yang terjadi di dalam gereja. Jika ada satu hal saja yang tidak diberitahukan kepadanya, mereka tidak dapat melupakannya dan ingin pergi dan melaporkan gereja, di mana ini dapat menyebabkan masalah besar. Orang terkutuk macam apa mereka ini? Mereka adalah setan! Jika setan selalu sangat menaruh perhatian pada sesuatu di gereja, itu pasti akan menimbulkan masalah. Contohnya, jika ada saudara-saudari yang kaya dan memberi persembahan dalam jumlah besar, mereka tidak pernah berhenti memikirkan hal ini dan bertanya kepada orang tersebut, "Berapa banyak yang kauberikan?" Orang itu menjawab, "Mana boleh aku memberitahumu tentang hal itu? Apa yang dilakukan tangan kiri tidak boleh diketahui tangan kanan. Aku tidak bisa memberitahumu—itu rahasia!" Mereka menjawab, "Itu pun rahasia? Kau tidak memercayaiku. Kau tidak memperlakukanku sebagai salah satu dari saudara-saudari!" Dalam hatinya, mereka membenci orang tersebut dan berpikir, "Huh, kau pikir kau sangat hebat dengan persembahan besarmu! Kau tidak mau memberitahuku berapa banyak yang kaupersembahkan. Aku tahu keluargamu memiliki bisnis. Jika kau memprovokasiku, aku akan melaporkanmu karena percaya kepada tuhan, dan bisnismu akan gagal! Lalu kau tidak akan mampu memberikan satu sen pun!" Engkau dapat melihat bahwa mereka ingin melaporkan orang lagi. Setiap kali ada hal kecil yang tidak diberitahukan kepada mereka, mereka ingin melaporkan gereja dan saudara-saudari. Tempat tinggal orang-orang tertentu yang melaksanakan tugas penting hanya diketahui oleh segelintir orang. Ini bukan tentang sengaja menyembunyikan sesuatu dari siapa pun atau melakukan sesuatu yang mencurigakan di belakang orang lain; itu karena lingkungannya terlalu berbahaya, dan untuk alasan keamanan, pengaturan seperti itu diperlukan. Ketika pengkhianat ini, Yudas ini, mendengar bahwa sebuah keluarga sedang menerima beberapa saudara-saudari yang bepergian di rumahnya, mereka menganggap bahwa hal ini adalah sesuatu yang layak dilaporkan—bahkan mungkin polisi akan memberi mereka hadiah! Mereka mengintai di balik pintu sambil menguping, dan setelah mendengar sesuatu, mereka menjadi marah: "Kalian membicarakan hal-hal tentang gereja di belakangku tanpa memberitahuku. Kalian takut aku akan mengkhianati kalian, jadi kalian waspada terhadapku dan menyembunyikan segala sesuatu dariku, tidak memperlakukanku sebagai bagian dari rumah tuhan. Baiklah, aku akan melaporkan kalian!" Sekali lagi, engkau dapat melihat bahwa mereka ingin melaporkan orang lain. Apakah menurutmu orang ini adalah masalah besar? (Ya.) Mereka menganggap bahwa semua situasi yang melibatkan saudara-saudari atau gereja harus diberitahukan kepada semua orang, dan bahwa semua orang berhak untuk diberi tahu—terutama diri mereka sendiri. Jika ada satu hal pun yang tidak diberitahukan kepadanya, mereka mengancam akan melaporkan orang-orang. Mereka selalu menggunakan tindakan pelaporan untuk mengancam saudara-saudari dan para pemimpin gereja, selalu menggunakannya untuk mencapai tujuan mereka sendiri. Orang-orang semacam ini merupakan bahaya laten yang besar di dalam gereja, bagaikan bom waktu yang berdetik. Kapan saja, mereka dapat mendatangkan bahaya dan bencana bagi saudara-saudari serta pekerjaan gereja. Ketika orang-orang semacam itu ditemukan, mereka harus dikeluarkan—mereka tidak boleh dibiarkan begitu saja.
Di dalam gereja, ada juga orang-orang yang adalah Yudas, dan mereka selalu berusaha mencari tahu berapa banyak uang yang dimiliki rumah Tuhan dan siapa yang memberikan persembahan terbesar di gereja. Orang-orang lain berkata kepada mereka, "Hal ini tidak boleh diberitahukan kepadamu. Mengetahuinya tidak akan menguntungkan bagimu, lagi pula, hal ini bukanlah sesuatu yang seharusnya kautanyakan." Setelah mendengar jawaban ini, mereka menjadi bermusuhan dan berkata, "Kalian semua waspada terhadapku, memandang rendah diriku, tidak memperlakukanku sebagai salah satu saudara-saudari; kalian memperlakukanku seperti orang luar. Aku tahu di rumah siapa uang gereja disimpan. Aku akan melaporkan kalian, dan membiarkan polisi menyita semuanya—lalu akan kucari tahu ada berapa banyak uang di sana!" Setiap kali sesuatu terjadi, mereka ingin mengkhianati atau melaporkan orang lain; tetapi jika menyangkut gangguan yang disebabkan oleh para pemimpin palsu, antikristus, dan orang-orang jahat di dalam gereja, mereka tidak pernah melaporkan apa pun. Atau, bahkan ketika mereka melihat para pemimpin palsu dan antikristus mencuri atau merampas persembahan, mereka tidak pernah menyingkapkan atau melaporkan tindakan-tindakan ini, dan mereka juga tidak memberi tahu rumah Tuhan. Mereka tidak peduli dengan hal-hal semacam itu. Namun, jika ada saudara atau saudari yang memprovokasi, menyinggung, atau menghinanya, mereka akan pergi dan melaporkan saudara atau saudari tersebut. Atau, jika beberapa pengaturan kerja rumah Tuhan tidak sesuai dengan gagasan mereka, membuat mereka merasa malu atau menempatkan mereka dalam posisi yang sulit, mereka mulai berpikir: "Aku akan melaporkanmu! Akan kupastikan kau kehilangan kedudukanmu sebagai pemimpin gereja, akan kupastikan pekerjaan gereja gagal, akan kupastikan gereja hancur!" Lihat? Mereka ingin melaporkan pemimpin gereja bahkan karena hal ini. Beberapa gereja telah memilih orang-orang yang sesuai untuk melaksanakan tugas di luar negeri—keluarga dan keadaan pribadi mereka mengizinkannya, mereka memenuhi persyaratan rumah Tuhan, dan semua saudara-saudari setuju. Ketika orang-orang seperti Yudas melihat hal ini, mereka berpikir, "Hal-hal baik seperti itu tidak pernah terjadi padaku. Aku harus melaporkan kalian! Aku akan memberi tahu polisi bahwa orang-orang tertentu di gereja kita akan pergi ke luar negeri untuk melaksanakan tugas mereka. Akan kupastikan kalian tidak bisa meninggalkan negara ini. Aku akan membuat si naga merah yang sangat besar menangkap kalian, atau membuat pemerintah mengawasi kalian, agar kalian bahkan tidak dapat pulang ke rumah kalian!" Selama saudara-saudari tidak bisa pergi ke luar negeri, mereka merasa puas. Bagaimana menurut engkau semua—bukankah natur tindakan orang-orang semacam itu lebih parah daripada mereka yang terkadang mengacaukan dan mengganggu? (Ya.) Orang semacam ini adalah masalah besar. Mereka tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan, dan mereka sama sekali tidak takut kepada Tuhan. Apa pun situasi atau alasannya, selama keadaan tidak berjalan sesuai dengan keinginannya, mereka ingin melaporkan gereja dan mengkhianati saudara-saudari—mereka adalah setan-setan! Ketika gereja menemukan orang-orang semacam itu, mereka harus dikeluarkan atau diusir sedini mungkin untuk mencegah masalah di kemudian hari. Jika lingkungan saat ini belum memungkinkan agar mereka dikeluarkan atau kondisi-kondisinya belum matang, mereka harus dimonitor dan diawasi secara ketat, serta diwaspadai. Ketika kondisinya sudah memungkinkan, orang-orang berbahaya seperti ini sama sekali tidak boleh ditoleransi—keluarkan mereka atau usir mereka sedini dan secepat mungkin. Jangan menunggu sampai mereka mengkhianati gereja dan menimbulkan konsekuensi dahulu sebelum mengambil tindakan. Begitu mereka berkhianat dan ini mengarah pada konsekuensi nyata, kerugiannya akan menjadi signifikan. Siapa yang tahu berapa banyak saudara-saudari yang akan kehilangan tempat tinggal mereka, atau bahkan ditangkap dan dipenjara. Banyak saudara-saudari mungkin tidak lagi dapat melaksanakan tugas mereka atau menjalani kehidupan bergereja. Konsekuensinya tidak akan terbayangkan. Oleh karena itu, jika, sebagai pemimpin dan pekerja, engkau menemukan orang-orang yang adalah Yudas di dalam gereja, engkau harus mengeluarkan atau mengusir mereka secara tepat waktu. Jika, sebagai salah satu dari saudara-saudari, engkau menemukan orang-orang semacam itu, engkau harus melaporkannya kepada para pemimpin dan pekerja gereja sedini mungkin. Hal ini berkaitan dengan keselamatan saudara-saudari di gereja, serta keselamatanmu sendiri. Jangan berpikir, "Mereka belum benar-benar melakukan pengkhianatan apa pun, jadi itu bukan masalah besar; mereka hanya berkata seperti itu karena kemarahan sesaat." Semua orang bisa marah—ada orang-orang yang ketika marah, paling-paling hanya mengucapkan beberapa kata yang kasar, sedikit mengamuk, atau bersikap negatif selama beberapa hari, tetapi selama mereka memiliki hati yang takut akan Tuhan, takut kepada Tuhan dalam hati mereka, memiliki hati nurani, nalar, serta batasan-batasan dasar dalam cara mereka berperilaku, apa pun yang terjadi, mereka tidak akan pernah melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. Namun, lain halnya bagi mereka yang adalah contoh klasik Yudas. Mereka dapat segera melaporkan gereja dan saudara-saudari tanpa pikir panjang, selalu ingin menggunakan kekuatan Iblis untuk mengancam saudara-saudari dan gereja untuk mencapai tujuan mereka. Orang-orang ini bersekutu dengan setan-setan—mereka tidak memiliki batasan-batasan dasar dalam cara mereka berperilaku. Oleh karena itu, baik pemimpin gereja maupun saudara-saudari harus sangat waspada terhadap mereka yang dapat segera melaporkan gereja tanpa pikir panjang. Jika ada yang menemukan orang-orang semacam itu yang tidak bernalar, suka membuat masalah, dan tidak bisa diajak berpikir, mereka harus segera melaporkannya kepada para pemimpin dan pekerja, kemudian mengamati dan mengawasi mereka. Jika pemimpin gereja menemukan orang-orang semacam itu, mereka harus membuat rencana untuk menangani dan menyelesaikan situasi tersebut sedini mungkin. Mereka harus melindungi saudara-saudari, dan melindungi kehidupan bergereja serta pekerjaan gereja agar tidak dirusak dan diganggu oleh orang-orang semacam itu. Jangan berasumsi bahwa ketika orang-orang semacam itu mengatakan bahwa mereka akan melaporkan gereja atau saudara-saudari, itu hanya sesuatu yang dikatakan dalam kemarahan sesaat, dan dengan demikian menurunkan kewaspadaanmu. Sebenarnya, fakta bahwa mereka sering mengatakan hal-hal semacam itu membuktikan bahwa ide ini sudah ada dalam pikiran mereka. Jika mereka berpikir seperti ini, mereka mampu melakukannya. Terkadang, setelah berkata "Aku akan melaporkanmu", mereka mungkin tidak melakukannya, tetapi siapa yang tahu kapan mereka akan benar-benar melakukannya. Begitu mereka melakukannya, konsekuensinya tidak akan terbayangkan. Jadi, jika engkau selalu menganggap perkataan mereka, "Aku akan melaporkanmu", sekadar sesuatu yang dikatakan saat sedang marah, engkau sedang bersikap bebal dan bodoh. Engkau telah gagal memahami natur kemanusiaan mereka yang sebenarnya melalui perkataan ini, dan ini adalah sebuah kesalahan. Mereka bisa berkata "Aku akan melaporkanmu" untuk mengancam orang lain dengan segera dan tanpa ragu—ini sama sekali bukan sekadar perkataan yang diucapkan saat sedang marah; ini memperlihatkan bahwa mereka memiliki natur Yudas dan mereka tidak memiliki batasan dasar dalam cara mereka berperilaku. Orang hina macam apa yang tidak memiliki batasan dasar dalam hal cara mereka berperilaku? Itu adalah jenis orang yang tidak memiliki hati nurani dan rasionalitas. Tanpa hati nurani, mereka mampu melakukan perbuatan jahat apa pun, dan tanpa rasionalitas, mereka mampu bertindak melampaui batas rasionalitas, melakukan segala macam hal yang bodoh. Setelah melaporkan gereja dan melihat saudara-saudari ditangkap dan pekerjaan gereja hancur, mereka mungkin saja menangis dan mengungkapkan penyesalan. Namun, orang-orang yang tidak bernalar dan suka membuat masalah ini bertindak tanpa rasionalitas; ketika dihadapkan dengan situasi yang sama di kemudian hari, mereka tetap akan melaporkan gereja. Bukankah ini menunjukkan adanya masalah dengan natur mereka? Inilah tepatnya esensi natur mereka. Beberapa pemimpin gereja tetap menganggap bahwa apa yang mereka katakan hanyalah sesuatu yang diucapkan di saat marah, dan bahwa natur mereka tidak buruk. Mereka menganggap ini bukan perwujudan alami kemanusiaan mereka dan ini tidak merepresentasikan kemanusiaan mereka. Apakah sudut pandang ini salah? (Ya.) Sekalipun mereka biasanya tidak memperlihatkan perilaku yang menunjukkan karakter yang hina, fakta bahwa mereka sering berkata akan melaporkan saudara-saudari, dan bahwa hal sekecil apa pun yang tidak menyenangkan mereka dapat membuat mereka berpikir untuk melaporkannya, itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa karakter mereka hina dan keji, dan bahwa mereka tidak dapat dipercaya. Orang-orang semacam itu tidak memiliki hati nurani atau bernalar. Mereka berperilaku sekehedak hati mereka, melakukan apa pun yang mereka inginkan berdasarkan kepentingan dan preferensi mereka sendiri, tanpa batasan hati nurani sedikit pun. Orang-orang semacam itu harus ditangani dengan cara dikeluarkan, dan tidak perlu diberikan kelonggaran, karena mereka bukan anak-anak; mereka adalah orang-orang dewasa dan seharusnya tahu konsekuensi dari melaporkan saudara-saudari dan gereja. Mereka tahu betul bahwa ini adalah tindakan yang paling kejam, tindakan yang paling efektif. Mereka memandangnya sebagai kartu truf mereka, cara terbaik untuk membalas dendam kepada saudara-saudari dan gereja. Katakan kepada-Ku, bukankah orang-orang semacam itu adalah setan-setan? (Ya.) Jadi, untuk apa memberikan kelonggaran kepada setan-setan? Apakah engkau harus menunggu sampai engkau melihat mereka terang-terangan menyerahkan saudara-saudari dan keluarga-keluarga yang menjadi tuan rumah kepada si naga merah yang sangat besar sebelum engkau mengakui bahwa mereka adalah Yudas? Pada saat engkau melihat fakta-fakta ini dan menggolongkan mereka sebagai orang-orang jahat, itu sudah sangat terlambat. Sebenarnya, esensi natur mereka sudah tersingkap ketika mereka mulai berteriak-teriak tentang melaporkan gereja saat mereka menghadapi beberapa masalah. Jangan menunggu sampai mereka mengambil tindakan dahulu baru engkau mengenali dan mengeluarkan mereka—itu pasti sudah terlambat. Jika tak seorang pun—baik pemimpin gereja atau saudara-saudari—telah mendengar mereka berbicara tentang melaporkan saudara-saudari dan tak seorang pun mengenal mereka dengan baik, dan ketika mereka diprovokasi atau disinggung oleh seseorang, mereka melaporkan orang tersebut, sehingga saudara-saudari tidak punya pilihan selain bersembunyi dan menghindari bahaya, serta beberapa orang yang sedang melaksanakan tugas mereka harus segera pindah, maka dalam skenario seperti itu, engkau tidak boleh menyalahkan saudara-saudari karena bersikap bodoh dan tidak dapat mengetahui diri orang-orang itu yang sebenarnya. Namun, jika mereka sering berkata bahwa mereka akan melaporkan saudara-saudari dan orang-orang tetap tidak menganggapnya serius, itu baru benar-benar bodoh. Setelah mendengar begitu banyak kebenaran, mereka tetap tidak dapat membedakan orang—bukankah mereka bingung? (Ya.) Mengenai mereka yang dapat menjadi Yudas kapan saja, jangan mengira bahwa pengkhianatan mereka itu karena mereka hanya sedikit memahami kebenaran, atau karena mereka baru sebentar percaya kepada Tuhan, atau karena beberapa alasan lain. Tak satu pun dari hal-hal ini adalah penyebabnya. Kesimpulannya, itu karena karakter mereka hina; di dalam dirinya, esensi mereka adalah orang-orang yang jahat. Mengenali dan menggolongkan mereka dengan cara seperti ini kemudian mengeluarkan atau mengusir mereka sebagai orang jahat, sepenuhnya benar. Melakukan hal ini melindungi saudara-saudari, dan sekaligus melindungi pekerjaan gereja juga agar tidak dirugikan. Ini adalah tanggung jawab para pemimpin dan pekerja gereja. Oleh karena itu, para pemimpin dan pekerja harus segera mewaspadai dan mengawasi orang-orang semacam itu, dan kemudian mereka harus bersekutu dengan saudara-saudari sehingga semua orang dapat mengenali mereka. Mereka harus berusaha mengeluarkan orang-orang semacam itu sebelum rencana licik mereka berhasil, agar tidak menimbulkan masalah apa pun bagi saudara-saudari atau gereja. Ini adalah kemampuan untuk membedakan dan prinsip-prinsip untuk menangani masalah yang harus dimiliki para pemimpin dan pekerja ketika dihadapkan dengan orang-orang semacam itu, dan seharusnya itulah cara mereka melakukan penerapan dalam situasi seperti itu. Apakah jelas? (Ya.) Tentu saja, yang terbaik adalah menangani orang-orang semacam itu dengan cara yang bijaksana, memastikan bahwa mengeluarkan mereka tidak membawa masalah bagi gereja di kemudian hari. Jika menangani satu ancaman tersembunyi membawa lebih banyak masalah di kemudian hari, itu berarti pemimpin gereja yang melakukannya sangat tidak cakap dan jauh dari standar; mereka tidak tahu bagaimana melakukan pekerjaan, dan mereka tidak berhikmat. Sebaliknya, jika seorang pemimpin gereja mampu menangani ancaman tersembunyi sedemikian rupa sehingga terhindar dari akibat yang merugikan, menguntungkan pekerjaan gereja, juga membantu kemampuan membedakan saudara-saudari bertumbuh, itulah yang disebut benar-benar mengetahui bagaimana cara melakukan pekerjaan. Hanya pemimpin atau pekerja seperti inilah yang memenuhi standar.
Jika seorang pemimpin atau pekerja bertemu dengan orang-orang yang mampu mengkhianati gereja tetapi tidak mampu mengenali mereka, atau merasakan kemanusiaan seperti apa yang mereka miliki atau masalah seperti apa yang mungkin mereka bawa ke dalam gereja dan kepada saudara-saudari, hatinya tidak jelas tentang semua hal ini, dan dia tidak tahu bagaimana harus memperlakukan atau menangani orang-orang semacam itu, bagaimana melakukan pekerjaan ini, atau bahkan tidak tahu bahwa ini adalah pekerjaan yang harus dilakukan oleh para pemimpin dan pekerja—atau, sekalipun dia tahu bagaimana cara memperlakukan atau menangani orang-orang semacam itu, tetapi dia tidak mau menyinggung mereka dan hanya berpura-pura tidak melihat masalah tersebut, tidak mengeluarkan atau mengusir mereka—pemimpin atau pekerja macam apakah itu? (Pemimpin atau pekerja palsu.) Dia tidak memenuhi standar sebagai pemimpin atau pekerja. Di satu sisi, dia dengan bodohnya berusaha membantu semua orang, menunjukkan kasih dan kesabaran kepada semua orang, dan memperlakukan mereka semua sebagai saudara-saudari. Ini adalah orang yang bingung, seorang pemimpin palsu atau pekerja palsu. Di sisi lain, ketika dia menemukan orang-orang yang adalah Yudas di dalam gereja, dia tidak melakukan apa pun untuk segera menangani atau menyelesaikan masalah tersebut. Sebaliknya, dia berpura-pura tidak melihat, berpura-pura tidak menyadari apa pun. Dalam hatinya, dia berpikir, "Asalkan statusku sendiri tidak terancam, itu tidak masalah. Aku tidak peduli dengan pekerjaan gereja, keselamatan saudara-saudari, atau kepentingan rumah tuhan. Asalkan aku menduduki jabatan ini dan bisa menikmati kesenangan setiap hari, itu saja yang kubutuhkan." Dia tidak melakukan pekerjaan nyata apa pun, dan ketika dia melihat masalah, dia tidak menyelesaikannya; dia hanya menikmati manfaat dari statusnya. Apakah ini adalah pemimpin palsu? (Ya.) Contohnya, katakanlah seseorang yang mampu berkhianat kapan saja telah bertindak sewenang-wenang di dalam gereja untuk waktu yang lama, selalu mengancam akan melaporkan gereja dan saudara-saudari. Beberapa pemimpin palsu melihat hal ini tetapi tidak melakukan apa pun. Bahkan ketika seseorang melaporkan orang ini dan para pemimpin tingkat atas menangani orang tersebut dengan mengeluarkannya, para pemimpin palsu tetap tidak menganggapnya serius atau memikirkannya. Mereka berpikir, "Biarkan mereka melaporkan siapa pun yang mereka inginkan. Selama mereka tidak melaporkanku atau memengaruhi peranku sebagai pemimpin gereja, itu tidak masalah." Apakah pemimpin atau pekerja seperti ini adalah pemimpin atau pekerja palsu? (Ya.) Mereka hanya menduduki jabatannya untuk menikmati manfaatnya tanpa melakukan pekerjaan nyata apa pun, sadar akan seseorang yang mampu mengkhianati saudara-saudari kapan saja, tetapi gagal mengeluarkan atau mengusir mereka—mereka adalah pemimpin palsu dan harus segera diberhentikan dari perannya. Beberapa pemimpin palsu tetap menentang setelah diberhentikan. Mereka berkata, "Apa hak kalian memberhentikanku? Apa itu hanya karena aku tidak mengeluarkan orang itu? Bukankah masalahnya akan selesai jika kalian sendiri yang mengeluarkannya? Lagi pula, orang itu hanya mengatakan bahwa dia akan melaporkan saudara-saudari, tetapi dia tidak benar-benar melapor. Dia juga tidak menimbulkan masalah apa pun bagi gereja. Untuk apa menangani dia?" Mereka bahkan merasa sangat diperlakukan tidak adil. Mereka tidak melakukan pekerjaan nyata apa pun; mereka hanya menikmati manfaat dari status mereka, dan ketika orang yang jelas-jelas Yudas muncul di dalam gereja, mereka tidak menangani atau mengeluarkannya. Beberapa saudara-saudari selalu merasa takut, berkata, "Ada seorang Yudas di antara kita, yang selalu mengancam akan melaporkan saudara-saudari—ini sangat berbahaya! Kapan orang ini akan dikeluarkan?" Mereka memberi tahu pemimpin gereja tentang masalah ini beberapa kali, tetapi pemimpin itu tidak menanganinya, malah berkata, "Itu hal yang biasa. Itu hanya perselisihan pribadi, tidak ada kaitannya dengan pekerjaan gereja atau keselamatan saudara-saudari." Dia tidak menangani masalah tersebut. Apa satu-satunya pekerjaan yang dia lakukan? Salah satu jenisnya adalah pekerjaan yang ditugaskan kepadanya oleh para pemimpin tingkat atas, yang harus dia dilakukan. Jenis pekerjaan lainnya adalah pekerjaan yang akan memengaruhi atau membahayakan statusnya jika tidak dikerjakan, maka dia dengan enggan melakukan beberapa tugas yang membuatnya terlihat baik. Namun, jika statusnya tidak terpengaruh, dia menghindari pekerjaan kapan pun dia bisa. Apakah ini adalah pemimpin yang palsu? (Ya.) Ketika benar-benar dihadapkan dengan lingkungan tertentu atau ditangkap, dia adalah orang pertama yang melarikan diri untuk mencari perlindungan, hanya peduli akan keselamatannya sendiri, tidak memedulikan apakah saudara-saudari aman atau tidak, dan dia tidak melindungi pekerjaan gereja atau kepentingan rumah Tuhan. Apa pun yang dia lakukan, semua itu untuk mempertahankan statusnya sendiri. Selama Yang di Atas tidak memberhentikannya, dan selama saudara-saudari tetap memilihnya dalam pemilihan berikutnya dan dia bisa tetap menjadi pemimpin, dia akan melakukan beberapa pekerjaan dengan enggan. Jika sesuatu yang dia lakukan dapat memengaruhi cara pandang Yang di Atas padanya, yang berpotensi menyebabkan Yang di Atas memberhentikannya, atau jika tindakan dan perwujudannya dapat menyebabkan saudara-saudari memiliki kesan yang buruk tentang dirinya dan tidak lagi memilihnya, dia akan berusaha menyelamatkan citranya dengan melakukan setidaknya beberapa pekerjaan yang ada di depannya. Dengan demikian, dia dapat memberi penjelasan kepada mereka yang di atas dan di bawahnya—hanya kepada Tuhan dia tidak dapat memberi penjelasan. Semua yang dia lakukan hanyalah untuk dilihat orang. Selama para pemimpin tingkat atas tidak memberhentikannya, dan saudara-saudari terus mendukungnya, dia merasa puas. Selama masa jabatannya sebagai pemimpin gereja, dia tidak melakukan kejahatan besar, dan di luarnya, dia selalu tampak sibuk dengan pekerjaan, tetapi dia tidak melakukan pekerjaan nyata apa pun. Khususnya ketika dia melihat orang-orang jahat mengganggu gereja, dia tidak melakukan apa pun. Dia takut menyinggung orang-orang jahat ini, jadi dia berusaha menenangkan dan bernegosiasi dengan mereka sebisa mungkin, hanya berusaha menjaga keharmonisan. Dia tidak mau menyinggung siapa pun; sekalipun orang-orang ini mengganggu pekerjaan gereja atau mengancam keselamatan saudara-saudari, dia tidak melakukan apa pun. Inilah pemimpin palsu dalam arti yang sesungguhnya.
Mengenai para pemimpin palsu yang tidak melakukan pekerjaan nyata, jika saudara-saudari mengingatkan mereka berulang kali, meminta mereka untuk menyelesaikan masalah, dan mereka tetap tidak melakukan pekerjaan nyata, tidak menyelesaikan masalah nyata, dan tidak mengoreksi kesalahan, maka engkau semua harus melaporkannya kepada atasan. Jika para pemimpin dan pekerja yang tingkatnya lebih tinggi tidak menangani masalah tersebut, engkau semua harus memikirkan cara apa pun yang mungkin untuk memberhentikan para pemimpin palsu ini. Aku sebenarnya telah mengucapkan perkataan ini selama bertahun-tahun, tetapi sebagian besar orang-orang di bawah ini adalah budak yang lebih suka dirinya sendiri dirugikan dan menanggung sejumlah kerugian daripada menyinggung orang lain. Apa pun keadaannya, mereka selalu mengambil jalan tengah dan bertindak sebagai penyenang orang, tidak pernah menyinggung siapa pun. Apa yang harus dikorbankan agar tidak menyinggung orang? Itu mengorbankan pekerjaan dan kepentingan rumah Tuhan, merugikan kepentingan rumah Tuhan dan mengganggu saudara-saudari. Jika orang-orang jahat tidak ditangani, itu akan memengaruhi banyak orang yang melaksanakan tugas mereka. Bukankah ini sama saja dengan memengaruhi pekerjaan rumah Tuhan? (Ya.) Ketika pekerjaan rumah Tuhan terpengaruh, tak seorang pun merasa cemas atau khawatir, itulah sebabnya Kukatakan bahwa kebanyakan orang mengorbankan pekerjaan dan kepentingan rumah Tuhan demi menjaga keharmonisan dan keramahan dengan orang lain. Mereka berusaha tidak menyinggung para pemimpin dan saudara-saudari; mereka tidak menyinggung seorang pun. Semua orang bertindak sebagai penyenang orang. Pola pikir mereka adalah: "Kau baik, aku baik, semua orang baik—bagaimanapun juga, kita selalu bertemu." Apa hasilnya? Hal ini memungkinkan orang-orang jahat untuk memanfaatkan situasi; mereka berulang kali bertindak dengan sewenang-wenang, melakukan apa pun yang mereka inginkan. Jadi, jika para pemimpin gereja tidak dapat diandalkan dan tidak mengeluarkan orang jahat, saudara-saudari harus memikirkan cara apa pun yang memungkinkan untuk melindungi diri mereka sendiri; mereka harus menghindari, menjauhi, dan mengisolasi orang-orang jahat ketika melihatnya. Ada orang-orang yang berkata, "Jika kami mengisolasi orang-orang jahat dan mereka marah, bukankah mereka akan melaporkan kami lagi?" Jika mereka benar-benar melaporkanmu, akankah engkau takut? (Tidak. Ini akan menyingkapkan mereka sebagai orang jahat.) Jika mereka melaporkanmu lagi, itu hanya makin membuktikan bahwa mereka adalah contoh klasik Yudas, setan-setan. Engkau tidak perlu takut kepada mereka. Jika para pemimpin dan pekerja buta dan tidak mampu memahami yang sebenarnya mengenai berbagai hal dengan jelas, bingung, dan tidak berguna, atau jika mereka tidak tegas, tidak pernah menyinggung siapa pun, hanya menikmati keuntungan dari status mereka tanpa melakukan pekerjaan nyata, saudara-saudari seharusnya tidak lagi menaruh harapan apa pun terhadap mereka. Mereka harus bersatu untuk menangani orang-orang jahat dan menyingkirkan para Yudas berdasarkan prinsip. Mereka mungkin perlu mengubah lokasi pertemuan atau menggunakan metode yang bijaksana untuk mengeluarkan orang-orang itu agar tidak diganggu. Memastikan berfungsinya kehidupan bergereja secara normal dan kemajuan normal semua pekerjaan gereja adalah hal yang terpenting. Jika seorang pemimpin gereja melakukan pekerjaan yang nyata, memiliki kualitas yang cukup, dan kemanusiaannya juga cukup baik, selama dia melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan pengaturan kerja, semua orang harus mematuhinya. Jika dia tidak melakukan pekerjaan nyata, dia tidak boleh diperhatikan atau diandalkan. Pada saat itu, masalah harus diselesaikan berdasarkan firman Tuhan dan prinsip-prinsip kebenaran. Jika pemimpin tersebut perlu diberhentikan, dia harus diberhentikan; jika pemilihan ulang diperlukan, maka adakanlah. Jika pemimpin palsu ini tidak melindungi kepentingan rumah Tuhan, tidak melindungi lingkungan tempat saudara-saudari melaksanakan tugas mereka, dan tidak peduli dengan keselamatan saudara-saudari, itu berarti dia tidak memenuhi standar; dia tidak cakap, dia hanya sampah yang tidak memiliki fungsi nyata—saudara-saudari seharusnya tidak mendengarkannya atau dikekang olehnya. Siapa pun pemimpin dan pekerja yang tidak mampu mengeluarkan para Yudas setiap kali dibutuhkan adalah para pemimpin dan pekerja palsu; pemimpin dan pekerja palsu semacam itu harus ditangani dengan cara yang telah dijelaskan di atas. Jika mereka tidak ditangani dengan segera, semua saudara-saudari akan dikhianati oleh para Yudas, dan gereja tidak akan ada lagi. Ini mengakhiri persekutuan kita tentang perwujudan yang kedelapan: "Mampu melakukan pengkhianatan kapan saja."
I. Mampu Meninggalkan Kapan Saja
Perwujudan yang kesembilan adalah: "Mampu meninggalkan kapan saja". Jenis orang yang mampu meninggalkan rumah Tuhan kapan saja bukanlah orang yang hanya pergi saat mereka menghadapi situasi khusus, atau saat menghadapi bencana besar yang melampaui apa yang mampu ditanggung kebanyakan orang, melampui batas mereka. Melainkan, mereka juga mampu meninggalkan rumah Tuhan kapan saja—bahkan masalah kecil pun dapat menyebabkan mereka pergi; bahkan masalah kecil pun dapat menyebabkan mereka tidak mau lagi melaksanakan tugasnya, tidak mau lagi percaya kepada Tuhan, dan mau meninggalkan rumah Tuhan. Jenis orang ini juga sangat menyusahkan. Di luarnya, mereka mungkin tampak sedikit lebih baik daripada orang-orang yang adalah Yudas, tetapi mereka mampu meninggalkan rumah Tuhan kapan saja dan di mana saja. Entah mereka mampu mengkhianati saudara-saudari atau tidak, itu tidaklah pasti. Apakah menurut engkau semua orang seperti ini dapat diandalkan? (Tidak.) Jadi, apakah mereka memiliki prinsip dalam cara mereka berperilaku? Apakah mereka memiliki dasar dalam percaya kepada Tuhan? (Tidak.) Apakah mereka menunjukkan tanda apa pun bahwa mereka benar-benar percaya? (Tidak.) Kalau begitu, orang macam apakah mereka? (Pengikut yang bukan orang percaya.) Mereka percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugas mereka seolah-olah semua itu adalah lelucon. Mereka seperti orang yang harus pergi membeli kecap, tetapi tidak mengerjakan tugasnya dengan sepatutnya, mereka melihat sirkus atau pengamen di jalan yang memeriahkan suasana, lalu terhanyut dalam kegembiraan itu dan lupa membeli kecap, sehingga akhirnya menunda hal-hal yang semestinya. Orang-orang semacam ini tidak bertahan lama dalam melakukan apa pun; mereka setengah hati dan plin-plan. Kepercayaan mereka kepada Tuhan juga didasarkan pada kepentingan mereka—mereka merasa bahwa percaya kepada Tuhan itu sangat menyenangkan, tetapi pada suatu saat, ketika mereka kehilangan minat, mereka akan segera pergi tanpa ragu sedikit pun. Ada yang setelah pergi langsung berbisnis, ada yang mengejar karier sebagai pejabat, ada yang mencari kekasih dan mempersiapkan pernikahan, dan beberapa orang yang ingin cepat menjadi kaya langsung pergi ke kasino. Orang-orang berkata bahwa setelah tiga hari tidak bertemu seseorang, dia harus dipandang dengan cara yang berbeda. Bagi seseorang yang mampu meninggalkan rumah Tuhan kapan saja, jika engkau tidak melihatnya satu hari saja, ketika engkau bertemu lagi dengannya, dia seperti orang yang sama sekali berbeda. Kemarin, dia masih berpakaian dengan sopan dan pantas, tampak berperilaku baik dan rapi. Dia bahkan berdoa kepada Tuhan dengan air mata mengalir di wajahnya, berkata bahwa dia ingin mempersembahkan masa mudanya dan menumpahkan darahnya untuk Tuhan, mati demi Tuhan, setia sampai mati, dan masuk ke dalam Kerajaan. Dia menyerukan slogan-slogan yang begitu agung, tetapi tak lama kemudian, dia pergi ke kasino. Kemarin, dia dengan senang hati melaksanakan tugasnya, dan selama pertemuan, dia membaca firman Tuhan dengan wajah berseri-seri dan sangat bersemangat, dia terharu sampai menangis tersedu-sedu. Lalu, bagaimana bisa dia lari ke kasino hari ini? Dia berjudi hingga larut malam dan tidak mau pulang, bersenang-senang dan sangat bersemangat. Kemarin, dia masih menghadiri pertemuan, tetapi hari ini dia sudah pergi ke kasino—jadi, perwujudan manakah yang merupakan dirinya yang sebenarnya? (Perwujudan kedua adalah dirinya yang sebenarnya.) Jika orang tidak memahami kebenaran, mereka benar-benar tidak dapat mengetahui siapa sebenarnya orang ini. Dua perwujudan ini, baik yang pertama maupun yang kedua, sebenarnya diperlihatkan oleh orang yang sama—jadi mengapa kedua perwujudan tersebut tampaknya diperlihatkan oleh dua orang yang berbeda? Orang semacam ini tidak dapat dipahami oleh kebanyakan orang. Engkau melihat bahwa sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, dia sering menghadiri pertemuan, tidak melakukan kejahatan, dan cukup mampu menanggung kesukaran dan membayar harga ketika melaksanakan tugasnya. Ketika duduk di depan komputer, dia fokus dan tekun, bekerja keras dan berusaha dengan sepenuh hati. Engkau akan menganggap bahwa sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, dia seharusnya tidak bermain Mahyong, bukan? Namun, baru saja satu hari tidak melihatnya, dia sudah pergi ke aula Mahyong atau kasino untuk berjudi. Dia pun adalah pemain Mahyong terbaik—dia sama sekali tidak terlihat seperti orang yang percaya kepada Tuhan! Dia benar-benar membuatmu tak habis pikir—apakah dia orang yang percaya kepada Tuhan, ataukah orang tidak percaya yang bermain Mahyong? Bagaimana dia bisa berganti peran begitu cepat? Ketika dia percaya kepada Tuhan, apakah dia memiliki Tuhan di dalam hatinya? (Tidak.) Dia percaya kepada Tuhan hanya untuk bersenang-senang dan menghabiskan waktu, untuk melihat apa sebenarnya arti percaya kepada Tuhan dan apakah itu dapat membawa kebahagiaan dalam hidupnya. Jika dia tidak senang, dia mampu meninggalkannya kapan saja. Dia tidak pernah berencana untuk percaya di sepanjang hidupnya, dan dia pasti tidak pernah berencana untuk melaksanakan tugasnya dan mengikuti Tuhan sepanjang hidupnya. Jadi, apa yang telah direncanakannya? Dalam pikirannya, jika dia benar-benar percaya kepada Tuhan, setidaknya itu tidak boleh menghalanginya untuk bersenang-senang, tidak boleh melibatkan pekerjaan apa pun, dan itu tetap harus menjamin bahwa dia dapat menjalani kehidupan yang bahagia. Jika dia harus membaca firman Tuhan dan mempersekutukan kebenaran setiap hari, dia tidak akan tertarik atau merasa senang. Begitu dia merasa bosan, dia akan meninggalkan gereja dan kembali ke dunia. Dia berpikir, "Hidup itu tidak mudah, jadi orang-orang tidak boleh menyiksa diri mereka sendiri. Kita harus menjadi tuan atas nasib kita sendiri dan tidak memperlakukan daging kita dengan buruk. Kita harus memastikan bahwa kita merasa senang setiap hari—itulah satu-satunya cara untuk hidup dengan bebas. Percaya kepada Tuhan tidak boleh dilakukan dengan keras kepala. Lihat betapa santainya diriku—di mana pun ada kebahagiaan, ke sanalah aku pergi. Jika aku tidak merasa senang, aku akan pergi. Mengapa aku harus membuat diriku merasa tidak nyaman? Mampu meninggalkan gereja kapan saja adalah keyakinan utamaku dalam caraku berperilaku, menjadi 'orang percaya yang berjiwa bebas'—hidup seperti ini sangat nyaman dan penuh kebebasan!" Lagu macam apa yang sering dinyanyikan orang-orang semacam ini? "Jangan tanya dari mana aku berasal, kampung halamanku sangat jauh". Jika bukan lagu ini, lagu apa lagi yang mereka nyanyikan? "Mengapa tidak hidup dengan bebas sekali saja?" Ketika mereka merasa itu membosankan atau tidak menyenangkan lagi, mereka langsung pergi dan berpikir, "Untuk apa tetap tinggal di satu tempat padahal ada begitu banyak hal yang bisa dilihat di dunia?" Apa pepatah terkenal lainnya yang mereka gunakan? "Mengapa harus merelakan seluruh hutan demi satu pohon?" Bagaimana menurut engkau semua—apakah orang-orang semacam ini memiliki kepercayaan sejati? (Tidak, mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya.) Mengenai pengikut yang bukan orang percaya, karena kita sedang membahas bagaimana semua masalah mereka adalah masalah kemanusiaan, lalu apa tepatnya yang salah dengan kemanusiaan orang-orang semacam itu? Menurutmu, apakah orang-orang semacam ini pernah memikirkan pertanyaan seperti bagaimana seharusnya cara mereka berperilaku, jalan apa yang seharusnya orang tempuh, atau pandangan hidup dan nilai-nilai seperti apa yang seharusnya orang-orang miliki saat mereka hidup? (Tidak.) Jadi, ada masalah kemanusiaan apa pada orang semacam ini? (Orang semacam ini tidak memiliki hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal; mereka tidak memikirkan pertanyaan-pertanyaan semacam itu.) Itu sudah pasti. Selain itu, lebih tepatnya, orang semacam ini tidak memiliki jiwa; mereka hanyalah mayat hidup. Mereka tidak memiliki tuntutan terhadap diri mereka sendiri tentang bagaimana seharusnya mereka berperilaku atau jalan apa yang seharusnya orang tempuh, dan mereka juga tidak memikirkan hal-hal ini. Alasan mereka tidak memikirkan hal-hal ini adalah karena, meskipun di luarnya penampilan mereka seperti manusia, esensi mereka sebenarnya adalah mayat hidup, sebuah cangkang kosong. Dalam hal kehidupan dan kelangsungan hidup manusia, sikap orang semacam ini hanyalah menjalani hidup dengan pasrah. Secara spesifiknya, "menjalani hidup dengan pasrah" berarti hanya hidup dengan bingung dan menunggu kematian, tidak belajar dan tetap bodoh, menghabiskan hari-hari mereka dengan makan, minum, dan bersenang-senang. Mereka pergi ke tempat di mana ada kebahagiaan, dan apa pun yang membuat mereka merasa senang, gembira, serta membuat daging mereka nyaman, itulah yang akan mereka lakukan. Namun, mereka akan menghindari dan menjauhi apa pun yang menyebabkan daging mereka menderita atau menimbulkan rasa sakit di hati; mereka sama sekali tidak ingin daging mereka menanggung kesukaran. Namun, ada orang-orang yang menjalani kehidupan dengan menanggung kesukaran. Atau, dengan menjalani dan mengalami berbagai hal, mereka melakukannya agar hidup mereka tidak hampa dan mereka dapat memperoleh sesuatu darinya. Pada akhirnya, mereka sampai pada kesimpulan tentang jalan apa yang seharusnya mereka tempuh dan mereka seharusnya menjadi orang seperti apa. Melalui pengalaman hidup, mereka memperoleh banyak hal. Di satu sisi, mereka mampu mengetahui yang sebenarnya mengenai orang-orang tertentu; selain itu, mereka mampu menyimpulkan prinsip dan metode apa yang harus seseorang gunakan untuk memperlakukan berbagai orang, peristiwa, dan hal-hal, serta bagaimana seseorang harus menjalani seluruh hidupnya. Entah kesimpulan akhir mereka sesuai dengan kebenaran atau bertentangan dengannya, setidak-tidaknya, mereka telah memikirkannya. Di sisi lain, mereka yang mampu meninggalkan rumah Tuhan kapan saja tidak berminat untuk mengejar kebenaran atau melaksanakan tugas mereka dalam kepercayaan kepada Tuhan. Mereka selalu mencari kesempatan untuk memuaskan hasrat hawa nafsu dan preferensi mereka sendiri, serta tidak pernah mau mempelajari keterampilan profesional dengan tekun ketika melaksanakan tugas mereka, melaksanakan tugas mereka dengan baik, atau menjalani kehidupan yang bermakna. Mereka hanya ingin menjadi seperti orang-orang tidak percaya, merasa senang dan gembira setiap hari. Jadi, ke mana pun mereka pergi, mereka mencari kesenangan dan hiburan, hanya untuk memuaskan minat dan keingintahuan mereka sendiri. Jika mereka harus terus melaksanakan sebuah tugas, mereka kehilangan minat dan tidak lagi memiliki motivasi untuk terus melakukannya. Bagi orang-orang semacam ini, sikap mereka terhadap kehidupan hanyalah untuk hidup tanpa tujuan. Dari luar, mereka tampaknya hidup dengan sangat bebas dan santai, tidak mempermasalahkan orang lain. Mereka tampak ceria dan riang setiap hari, mampu beradaptasi dengan keadaan di mana pun mereka berada. Ada orang-orang yang bahkan tampak tidak terpengaruh dan tidak terkekang oleh adat istiadat duniawi atau norma hubungan antarmanusia, dan dari luar, mereka kelihatannya luar biasa dan superior. Namun sebenarnya, esensi mereka adalah mayat hidup, makhluk yang tidak berjiwa. Mereka yang percaya kepada Tuhan, tetapi mampu meninggalkan gereja kapan saja tidak akan pernah bertahan lama dengan apa pun yang mereka lakukan—mereka hanya mampu mempertahankan antusiasme yang sementara. Namun, orang-orang yang memiliki hati nurani dan nalar berbeda. Tugas apa pun yang mereka laksanakan, mereka mempelajarinya dengan sungguh-sungguh dan berusaha melaksanakannya dengan baik. Mereka mampu mencapai sesuatu dan menciptakan nilai tertentu. Di satu sisi, mereka mampu memperoleh pengakuan dari orang-orang di sekitar mereka, dan pada saat yang sama, mereka dapat merasa percaya diri di dalam hatinya, menyadari bahwa mereka mampu melakukan sesuatu dan merupakan orang yang berguna, bukan orang yang tidak berguna. Ini adalah batas minimal yang dapat dicapai oleh seseorang yang memiliki hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal. Namun, bagi mereka yang terombang-ambing dalam menjalani kehidupan, mereka tidak pernah memikirkan hal-hal ini. Ke mana pun mereka pergi, yang mereka lakukan hanyalah makan, minum, dan bersenang-senang. Dari luar, mereka mungkin tampak hidup sangat bebas dan tenang, tetapi sebenarnya tidak ada pemikiran apa pun di benak orang-orang semacam itu. Mereka tidak pernah serius dalam segala sesuatu yang mereka lakukan; mereka selalu terburu-buru dan termotivasi oleh antusiasme yang sementara, tidak pernah mencapai apa pun. Mereka ingin hidup tanpa tujuan sepanjang hidupnya, dan ke mana pun mereka pergi, mereka membawa sikap yang sama—kepercayaan mereka kepada Tuhan pun tak terkecuali. Engkau mungkin melihat bahwa selama periode tertentu, mereka tampak sangat serius dalam melaksanakan tugas mereka, mampu menanggung kesukaran dan membayar harga, tetapi siapa pun yang menunjukkan masalah dalam diri mereka atau memberi tahu mereka cara melakukan sesuatu, mereka tidak pernah menganggapnya serius dan sama sekali tidak menerima kebenaran. Mereka hanya melakukan segala sesuatu sekehendak hati mereka—asalkan mereka merasa senang, itu tidak masalah bagi mereka. Jika mereka tidak merasa senang, mereka pergi untuk bersenang-senang, tidak mendengarkan nasihat siapa pun. Dalam hatinya, mereka berpikir, "Lagi pula aku tidak pernah berencana untuk percaya kepada tuhan dalam jangka panjang." Jika seseorang memangkas mereka, mereka dapat segera pergi meninggalkan gereja. Inilah salah satu perwujudan orang yang mampu meninggalkan gereja kapan saja.
Mereka yang mampu meninggalkan gereja kapan saja memiliki jenis perwujudan lainnya. Ada orang-orang yang—berapa tahun pun mereka telah percaya kepada Tuhan, entah mereka tampak memiliki dasar atau tidak, dan tugas apa pun yang mungkin telah mereka laksanakan sebelumnya—begitu mereka menghadapi keadaan khusus yang melibatkan kepentingan pribadi mereka sendiri, dapat pergi dan menghilang begitu saja. Kapan saja, orang-orang lain mungkin kehilangan kontak dengan mereka, tidak lagi melihat mereka di dalam gereja, dan tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan mereka. Ada orang-orang yang ketika bertemu dengan lawan jenis yang berusaha merayu mereka, berhenti melaksanakan tugas mereka dan pergi berkencan, sama sekali tidak dapat dihubungi. Ada juga orang-orang lain yang anak-anaknya telah mencapai usia pernikahan, dan mereka menjadi sibuk mengatur pernikahan anak-anak mereka, berhenti melaksanakan tugas mereka dan tidak lagi berpartisipasi dalam pertemuan. Siapa pun yang mencari mereka, selalu ditolak di pintu. Ada orang-orang yang, ketika orang tua atau pasangan mereka sakit dan dirawat di rumah sakit, atau ketika sesuatu yang besar terjadi atau bencana yang tidak terduga terjadi di rumah—jika mereka adalah orang percaya sejati—akan memberikan penjelasan, dengan berkata, "Ada beberapa masalah di rumah yang baru-baru ini perlu kuurus, jadi aku tidak bisa menghadiri pertemuan. Aku minta izin tidak hadir, dan jika kalian dapat menemukan seseorang yang cocok, mintalah agar dia dengan segera mengambil alih tugasku untuk sementara." Setidak-tidaknya, mereka akan memberikan sedikit pemberitahuan dan penjelasan. Namun, mereka yang mampu meninggalkan gereja kapan saja memutuskan kontak dengan gereja tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dan seperti apa pun usaha saudara-saudari untuk menghubunginya, mereka tidak dapat dihubungi. Bukannya mereka tidak memiliki sarana untuk dihubungi—metode apa pun dapat menghubungi mereka—tetapi mereka sama sekali tidak ingin menghubungi atau merespons saudara-saudari. Mereka berkata, "Untuk apa aku harus dihubungi olehmu? Aku melaksanakan tugasku secara sukarela; aku tidak dibayar untuk itu. Jika aku ingin pergi, aku akan pergi! Jika ada sesuatu yang terjadi di rumah, itu adalah urusan pribadiku. Aku tidak berkewajiban untuk memberitahumu, dan kau tidak punya hak untuk tahu!" Ada orang-orang yang pergi selama satu atau dua bulan kemudian kembali untuk melapor, bahkan tanpa merasa malu, bertindak seolah-olah tidak ada yang terjadi. Orang-orang lain pergi selama dua atau tiga tahun dan sama sekali tidak bisa dihubungi. Orang-orang di gereja yang tidak mengetahui situasinya mengira bahwa karena orang ini telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, tidak mungkin dia akan meninggalkan gereja. Mereka berasumsi sesuatu yang tidak terduga pasti telah terjadi dan khawatir orang itu telah ditangkap oleh PKT. Sebenarnya, orang tersebut hanya tidak ingin lagi percaya kepada Tuhan dan pergi tanpa memberi tahu saudara-saudari. Ada orang-orang yang pergi selama sekitar sepuluh hari dan kemudian kembali; ini bukan berarti mereka telah berhenti percaya. Ada orang-orang yang pergi dan kemudian menghilang selama dua atau tiga tahun—akankah engkau semua mengatakan mereka telah berhenti percaya? (Ya.) Mereka memang telah berhenti percaya, dan mereka harus dicoret dari daftar. Ini bukanlah kepergian biasa; mereka telah berhenti percaya. Dari perspektif manusia, ini disebut tidak lagi percaya. Bagaimana Tuhan memandang hal ini? Di mata Tuhan, ini disebut menyangkal Tuhan, tidak mengikuti Tuhan, dan itu berarti menolak Tuhan. Namun, dari perspektif orang itu, mereka berpikir, "Aku tidak menolak Tuhan; aku tetap percaya kepada Tuhan di dalam hatiku!" Lihatlah! Mereka hanya menganggapnya hal yang biasa. Ada juga orang-orang lain yang berhenti menghadiri pertemuan dan berhenti melaksanakan tugas mereka hanya karena suasana hati mereka sedang buruk atau hati mereka sedang kesal, karena mereka merasa bahwa melaksanakan tugas mereka terlalu sulit dan melelahkan, atau karena mereka sedikit dipangkas. Mereka pergi bahkan tanpa menjelaskan apa pun tentang pekerjaan yang sedang mereka lakukan, dengan berkata, "Tak seorang pun menghubungiku. Aku tidak senang, dan aku tidak mau percaya lagi!" Ketika mereka marah, amarahnya bisa bertahan selama setahun atau lebih. Amarah mereka sungguh luar biasa—mereka tidak bisa berhenti marah selama setahun atau lebih! Ada orang-orang yang melakukan pekerjaan para pemimpin dan pekerja di gereja, tetapi mereka bukan hanya gagal melakukan pekerjaan dengan baik, melainkan mereka juga dengan ceroboh melakukan perbuatan salah, yang menyebabkan gangguan dan kekacauan pada pekerjaan gereja. Kemudian, saudara-saudari tidak memilih mereka, serta membedakan dan menyingkapkan mereka dalam persekutuan. Jadi, mereka mulai berpikir, "Apakah ini sesi kritik terhadapku? Aku hanya tidak melakukan pekerjaan dengan baik, apakah masalahnya sebesar itu? Mengapa mereka bersekutu dan menyingkapkanku seperti ini? Selama bertahun-tahun, aku tidak pernah menderita sepedih ini! Sebelum aku percaya kepada tuhan, akulah orang yang selalu mencerca orang lain; tak seorang pun pernah mencercaku. Kapan aku pernah menanggung kesukaran seperti itu sebelumnya? Kalian semua menindasku, membuatku merasa dipermalukan. Aku tidak akan percaya lagi!" Dia berhenti percaya begitu saja. Mereka yang mengatakan ini bukan hanya orang-orang muda—beberapa di antaranya adalah mereka yang telah percaya kepada Tuhan selama delapan atau sepuluh tahun dan berusia empat puluhan atau lima puluhan, tetapi mereka juga dapat mengatakan hal-hal semacam itu ketika mereka tidak merasa senang. Apakah ada tempat bagi Tuhan di hati orang-orang semacam itu? Apakah mereka menganggap kepercayaan kepada Tuhan sebagai hal terpenting dalam hidup? Adalah normal untuk merasa sedikit negatif dan lemah ketika dipangkas atau ketika menghadapi bencana atau rintangan, tetapi hal-hal ini seharusnya tidak membuat seseorang menjadi tidak percaya kepada Tuhan. Orang-orang semacam itu bukanlah orang-orang percaya sejati. Orang-orang percaya sejati mampu tetap bertahan dalam kepercayaan mereka sekalipun mereka ditangkap dan dianiaya—hanya merekalah orang-orang yang memiliki kesaksian. Ada orang-orang yang ketika menghadapi sedikit bencana alam, jika saudara-saudari tidak mengetahuinya, atau agak terlambat mengetahuinya dan tidak membantu mereka tepat waktu, mulai berpikir, "Aku sedang menghadapi kesulitan dan tak seorang pun memperhatikanku. Jadi, mereka memandang rendah diriku! Percaya kepada Tuhan tidak ada gunanya. Aku tidak akan percaya lagi!" Hanya karena masalah kecil seperti itu, mereka bisa berhenti percaya kepada Tuhan. Inilah salah satu perwujudan orang yang mampu meninggalkan gereja kapan saja.
Ada situasi lain bagi mereka yang mampu meninggalkan gereja kapan saja. Agar dapat menarik mereka ke pihaknya, PKT menawarkan mereka pekerjaan yang bagus, dengan berkata kepada mereka, "Kau tidak mendapatkan apa pun dengan percaya kepada tuhan. Prospek apa yang mungkin dapat kaumiliki? Kami telah menemukan untukmu sebuah kedudukan di perusahaan asing dengan gaji bulanan yang tinggi, tunjangan yang baik, dan asuransi tenaga kerja. Tidak ada masa depan bagimu jika kau percaya kepada tuhan; lebih baik bekerja, mendapatkan uang, dan menjalani kehidupan yang baik." Pada akhirnya, mereka meninggalkan gereja dan pergi bekerja. Seseorang berkata, "Kemarin orang ini masih melaksanakan tugasnya di gereja. Mengapa dia mengemasi barang-barangnya dan pergi hari ini?" Mereka akan pergi bekerja dan mendapatkan uang; mereka tidak lagi percaya kepada Tuhan. Mereka pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dan sejak saat itu, mereka berpisah dari saudara-saudari, menjadi orang yang jalannya berbeda. Mereka ingin mengejar ketenaran dan keuntungan, meraih posisi tinggi dan menonjol, serta tidak lagi percaya kepada Tuhan. Ada juga orang-orang yang, ketika memberitakan Injil, bertemu dengan orang yang mereka sukai, berhubungan dengan mereka, dan pergi untuk menjalani hari-hari mereka bersama. Mereka bukan hanya berhenti melaksanakan tugasnya, melainkan mereka bahkan berhenti percaya kepada Tuhan. Orang tua mereka di rumah masih tidak menyadarinya, mengira bahwa mereka sedang melaksanakan tugas di rumah Tuhan. Sebenarnya, mereka sudah lama menghilang—siapa yang tahu, mereka mungkin sudah memiliki anak sekarang. Melaksanakan tugas sangatlah penting, tetapi mereka bahkan mampu meninggalkan pekerjaan penting seperti memberitakan Injil. Ketika mereka bertemu dengan orang yang mereka sukai, atau orang yang menyukai mereka, beberapa kata-kata sederhana yang menggoda dan memikat dari orang itu sudah cukup untuk membuat mereka pergi. Mereka begitu sembrono dan santai, mampu meninggalkan Tuhan dan mengkhianati Tuhan kapan saja dan di mana saja. Berapa tahun pun orang-orang semacam itu telah percaya kepada Tuhan atau sebanyak apa pun khotbah yang telah mereka dengar, mereka tetap tidak memahami kebenaran sedikit pun. Bagi mereka, percaya kepada Tuhan sama sekali tidak penting, dan melaksanakan tugas mereka juga tidaklah penting—demi memperoleh berkat, mereka merasa bahwa mereka tidak punya pilihan selain melakukan hal-hal tersebut. Begitu ada masalah pribadi atau masalah keluarga, mereka dapat pergi begitu saja. Ketika mereka mengalami sedikit bencana alam, mereka dapat langsung berhenti percaya begitu saja. Apa pun dapat mengganggu kepercayaan mereka kepada Tuhan; hal apa pun dapat menyebabkan mereka menjadi negatif dan melepaskan tugas mereka. Orang macam apakah mereka? Pertanyaan ini benar-benar layak untuk direnungkan secara mendalam!
Orang macam apakah mereka yang mampu meninggalkan gereja kapan saja? Salah satu jenisnya adalah orang-orang bingung yang tidak bernalar dan bodoh, serta tidak tahu mengapa mereka percaya kepada Tuhan, berapa tahun pun mereka telah percaya. Mereka tidak tahu apa sebenarnya arti percaya kepada Tuhan. Jenis lainnya adalah pengikut yang bukan orang percaya yang sama sekali tidak percaya akan keberadaan Tuhan dan tidak mengerti arti atau nilai dari kepercayaan kepada Tuhan. Bagi mereka, mendengar khotbah dan membaca firman Tuhan seperti mempelajari teologi atau mempelajari beberapa pengetahuan profesional—begitu mereka mengerti dan dapat membicarakannya, mereka menganggapnya sudah selesai. Mereka tidak pernah menerapkannya. Bagi mereka, firman Tuhan hanyalah sejenis teori, slogan, dan itu tidak akan pernah bisa menjadi kehidupan mereka. Jadi, bagi orang-orang ini, apa pun yang ada kaitannya dengan kepercayaan kepada Tuhan tidak menarik. Hal-hal seperti melaksanakan tugas, mengejar kebenaran, menerapkan firman Tuhan, berkumpul dengan saudara-saudari dan menjalani kehidupan bergereja bersama-sama, dan sebagainya, tidak menarik sedikit pun bagi mereka, dan tak satu pun dari hal-hal itu mendatangkan kebahagiaan dan antusiasme seperti halnya makan, minum, dan bersenang-senang. Di sisi lain, orang-orang percaya sejati merasa bahwa mempersekutukan kebenaran atau menjalani kehidupan bergereja bersama-sama saudara-saudari selalu dapat mendatangkan manfaat dan keuntungan bagi mereka. Meskipun terkadang mereka menghadapi bahaya dan penganiayaan, atau mengambil risiko ketika memberitakan Injil dan menanggung beberapa kesukaran ketika melaksanakan tugas mereka, apa pun yang terjadi, mereka memperoleh pemahaman tentang kebenaran dan memperoleh hasil dari mengenal Tuhan melalui menanggung kesukaran dan membayar harga, dan kesukaran serta harga ini menghasilkan perubahan dalam watak hidup mereka. Setelah menimbang dan mengevaluasi semua ini, mereka merasa bahwa percaya kepada Tuhan itu baik, dan bahwa mampu memahami kebenaran itu sangat berharga. Hati mereka menjadi sangat terikat pada gereja, dan mereka tidak pernah berpikir untuk meninggalkan kehidupan bergereja. Jika mereka melihat beberapa orang dikirim ke Kelompok B atau diisolasi, atau dikeluarkan oleh gereja karena mengganggu pekerjaan gereja, mereka yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan merasakan sedikit kesedihan di dalam hatinya. Mereka berpikir, "Aku harus melaksanakan tugasku dengan tekun. Aku sama sekali tidak boleh dikeluarkan. Dikeluarkan sama saja dengan dihukum, yang berarti kesudahannya adalah masuk neraka! Kalau begitu, apa gunanya hidup?" Kebanyakan orang takut meninggalkan gereja; mereka merasa bahwa begitu mereka meninggalkan gereja dan meninggalkan Tuhan, mereka tidak akan mampu melanjutkan hidup dan semuanya akan berakhir. Namun, mereka yang mampu meninggalkan gereja kapan saja memandang bahwa meninggalkan gereja adalah hal yang wajar, sama seperti berhenti dari pekerjaan untuk mencari pekerjaan lain. Mereka tidak pernah merasa tertekan atau menderita sakit hati sedikit pun. Bagaimana menurut engkau semua—apakah mereka yang mampu meninggalkan gereja kapan saja memiliki sedikit pun hati nurani atau nalar? Orang-orang semacam itu benar-benar keterlaluan! Beberapa pelaksanaan tugas orang-orang tidak memenuhi standar, dan mereka selalu melakukan kesalahan secara ceroboh, sehingga mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja. Gereja kemudian menghentikan mereka dari melaksanakan tugasnya dan mengirim mereka ke gereja biasa. Jadi, apa yang terjadi sebagai akibatnya? Keesokan harinya, mereka bertindak seperti orang yang sama sekali berbeda, memulai hidup yang benar-benar baru. Ada yang mulai berpacaran dan menikah, ada yang mulai mencari pekerjaan, yang lainnya masuk perguruan tinggi, dan yang lainnya lagi berhubungan kembali dengan teman-teman lama, membangun koneksi, dan mencari peluang untuk menjadi kaya. Orang-orang ini dengan cepat membaur dengan dunia yang luas, lenyap ke dalam lautan manusia—ini terjadi secepat itu. Beberapa saudara-saudari mengalami masa kesedihan yang mendalam setelah dikirim ke gereja biasa karena hasil pelaksanaan tugas mereka, tetapi mampu merenungkan diri dan mengenali masalahnya sendiri, menunjukkan sejumlah sikap mengubah diri. Namun, begitu mereka yang mampu meninggalkan gereja kapan saja menghadapi beberapa kesulitan, mereka tidak mau lagi melaksanakan tugasnya dan meninggalkan gereja keesokan harinya, kembali ke kehidupan sebagai orang tidak percaya. Mereka sama sekali tidak merasa menderita dan bahkan berpikir, "Apa bagusnya percaya kepada tuhan? Kau selalu diejek dan difitnah oleh orang lain, dan bahkan kemungkinan besar kau akan ditangkap dan dipenjara. Jika si naga merah yang sangat besar itu memukuliku sampai mati, bukankah hidupku akan sia-sia? Aku telah menanggung begitu banyak kesukaran karena percaya kepada tuhan selama bertahun-tahun ini, tetapi apa yang telah kuperoleh? Seandainya aku tidak percaya kepada tuhan, aku pasti telah menjadi pejabat, menghasilkan uang, dan menjalani kehidupan yang bergengsi sekarang! Setelah percaya kepada tuhan sampai sekarang, aku bahkan merasa menyesal—seandainya aku tahu akan menjadi seperti ini, aku pasti telah pergi sejak lama! Apa gunanya memahami kebenaran? Dapatkah pemahaman itu memberimu makanan atau membayar tagihan?" Lihat? Mereka bukan hanya tidak menyesal, mereka juga bahkan merasa beruntung dapat meninggalkan gereja. Bukankah sifat asli mereka sebagai pengikut yang bukan orang percaya ini sedang disingkapkan? (Ya.)
Ada orang yang terbiasa bersikap asal-asalan dan melakukan kesalahan yang ceroboh dalam melaksanakan tugasnya. Setelah dikeluarkan oleh gereja, ketika dia melihat saudara-saudari, dia memandang saudara-saudari seolah-olah mereka adalah musuh. Bahkan ketika saudara-saudari dengan ramah berusaha berbicara dengannya, dia mengabaikan saudara-saudari dan memandang mereka dengan penuh kebencian, dengan berkata, "Kalianlah yang telah mengeluarkanku dari gereja. Lihatlah aku sekarang! Aku lebih baik daripada kalian! Sekarang aku mengenakan perhiasan dari emas dan perak, aku adalah orang penting! Aku menjalani hidup di dunia dengan sangat nyaman, dan lihatlah betapa lusuh dan lelahnya kalian dalam memercayai tuhan! Kalian semua selalu mengejar untuk memperoleh kebenaran, tetapi kurasa kalian tidak lebih cerdas daripada aku! Apa bagusnya memperoleh kebenaran? Bisakah itu dimakan seperti makanan atau digunakan seperti uang? Bahkan tanpa mengejar kebenaran, aku tetap hidup dengan cukup baik, bukan? Kalian mengeluarkanku adalah keberuntunganku—karenanya aku seharusnya berterima kasih kepada kalian!" Dari perkataannya, jelaslah bahwa dia adalah pengikut yang bukan orang percaya, dan melaksanakan tugasnya menyingkapkan dia. Dapatkah orang tidak percaya yang hanya percaya kepada Tuhan di bibir saja melaksanakan tugasnya dengan sukarela? Melaksanakan tugas berarti memenuhi tanggung jawab dan kewajiban tanpa mendapatkan upah atau menghasilkan uang. Dia memandang hal ini sebagai kerugian, jadi dia tidak bersedia melaksanakan tugasnya. Dengan demikian, tersingkaplah dirinya yang sebenarnya sebagai pengikut yang bukan orang percaya; ini adalah cara pekerjaan Tuhan menyingkapkan dan menyingkirkan pengikut yang bukan orang percaya. Ada orang-orang yang selalu bersikap asal-asalan ketika melaksanakan tugas mereka, hanya hidup tanpa tujuan hari demi hari. Saat mereka mendapat kesempatan untuk menghasilkan uang atau mendapatkan promosi di dunia, mereka meninggalkan gereja kapan saja—mereka selalu memiliki niat seperti ini dalam pikiran mereka. Jika mereka dipindahkan ke gereja biasa karena mereka terbiasa bersikap asal-asalan dan melakukan kesalahan yang ceroboh saat melaksanakan tugasnya, bukan hanya tidak akan merenungkan diri mereka sendiri, mereka juga akan berpikir, "Kau mengeluarkanku dari gereja tugas penuh waktu adalah kerugian bagimu dan keuntungan bagiku." Mereka bahkan merasa sangat bangga akan diri mereka sendiri. Bukankah orang-orang semacam itu adalah pengikut yang bukan orang percaya? Katakan kepada-Ku, mengenai pengikut yang bukan orang percaya yang dikeluarkan karena mereka mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja dengan parah melalui kesalahan mereka yang ceroboh, apakah mengeluarkan mereka seperti ini sesuai dengan prinsip-prinsip rumah Tuhan? (Ya.) Itu sepenuhnya sesuai dengan prinsip-prinsip; tindakan ini sama sekali bukan perlakuan yang tidak adil terhadap mereka. Sikap mereka terhadap Tuhan dan terhadap pelaksanaan tugas mereka adalah mereka mampu meninggalkan dan mengkhianatinya kapan saja. Ini cukup untuk membuktikan bahwa di dalam hatinya, mereka sama sekali tidak berminat akan hal-hal yang positif. Mereka telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun dan telah mendengarkan begitu banyak khotbah, tetapi tak ada satu pun kebenaran tentang percaya kepada Tuhan atau kesaksian pengalaman umat pilihan Tuhan yang dapat mempertahankan hati mereka. Tak ada satu pun dari hal-hal ini yang menarik minat mereka, menyentuh mereka, atau membuat mereka merasa terikat. Inilah esensi kemanusiaan mereka, yaitu bahwa mereka sama sekali tidak tertarik akan hal-hal yang positif. Jadi, mereka tertarik akan apa? Mereka tertarik pada makan, minum, dan bersenang-senang, pada kenikmatan daging, pada tren jahat, dan akan falsafah Iblis. Mereka terutama tertarik akan semua hal negatif di masyarakat; mereka hanya tidak tertarik pada kebenaran dan firman Tuhan yang tidak mereka minati. Itulah sebabnya mereka mampu meninggalkan rumah Tuhan kapan saja. Mereka sama sekali tidak tertarik untuk sering membaca firman Tuhan atau sering mempersekutukan kebenaran selama pertemuan di rumah Tuhan. Mereka terutama merasa muak dengan melaksanakan tugas dan bahkan menganggap bahwa semua yang melaksanakan tugasnya adalah orang bodoh. Mentalitas macam apa dan kemanusiaan macam apa ini? Mereka tidak tertarik akan kebenaran atau akan keselamatan dari Tuhan bagi manusia, dan mereka sama sekali tidak merasakan adanya keterikatan dengan kehidupan bergereja. Meskipun mereka tidak secara terang-terangan menghakimi atau mengutuk firman Tuhan, mereka telah mendengarkan khotbah selama beberapa tahun tanpa memahami sedikit pun kebenaran—ini jelas-jelas menunjukkan adanya masalah. Tak ada seorang pun yang tidak menyukai hal-hal positif dan hal-hal negatif pada saat yang bersamaan. Selama engkau tidak menyukai hal-hal positif, engkau akan sangat tertarik pada hal-hal negatif. Jika engkau sangat tertarik pada hal-hal negatif, engkau pasti tidak akan tertarik pada hal-hal positif. Jenis orang seperti ini sama sekali tidak tertarik akan hal-hal positif, jadi mereka tidak merasa terikat pada hal apa pun di rumah Tuhan, tidak ada apa pun yang mereka sukai atau dambakan. Tren-tren jahat dunia, uang, ketenaran dan keuntungan, dunia pejabat, menjadi kaya, dan berbagai ajaran sesat serta kekeliruan yang populer adalah apa yang paling mereka minati. Hati mereka tertuju pada dunia, bukan pada rumah Tuhan, itulah sebabnya mereka mampu meninggalkannya kapan saja. Meninggalkan rumah Tuhan dan meninggalkan kehidupan bergereja tidak mendatangkan penyesalan, penderitaan, atau rasa sakit bagi mereka, tetapi kelegaan total. Mereka berpikir, "Akhirnya aku tidak perlu lagi mendengarkan khotbah atau mempersekutukan kebenaran setiap hari, aku tidak perlu lagi dikekang oleh hal-hal ini. Sekarang aku dapat dengan berani mengejar ketenaran dan keuntungan, mengejar uang, mengejar wanita cantik, dan mengejar prospek pribadiku. Akhirnya, aku dapat dengan berani berbohong dan menipu orang lain, menjalankan rencana licik dan tipuan, serta menjalankan segala macam taktik jahat tanpa khawatir. Aku dapat menggunakan cara apa pun untuk berinteraksi dengan orang lain!" Mendengarkan khotbah dan mempersekutukan kebenaran di rumah Tuhan terasa menyakitkan bagi mereka, dan meninggalkan rumah Tuhan terasa seperti kelegaan. Ini berarti bahwa hal-hal positif ini bukanlah yang hati mereka butuhkan. Yang mereka butuhkan adalah semua hal yang berasal dari dunia dan masyarakat. Dari sini, jelaslah bahwa alasan mereka meninggalkan gereja berkaitan langsung dengan pengejaran dan preferensi mereka.
Apa esensi natur orang-orang yang mampu meninggalkan rumah Tuhan kapan saja? Apakah engkau semua melihatnya sekarang? (Ya. Jenis mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya. Kebanyakan dari orang-orang ini adalah binatang buas yang bereinkarnasi, mereka semua adalah orang-orang bingung yang tak punya otak atau pemikiran.) Benar. Mereka tidak memahami hal-hal tentang iman. Mereka tidak memahami apa sebenarnya arti kehidupan manusia, jalan apa yang harus orang tempuh, hal-hal apa yang paling bermakna untuk dilakukan, prinsip-prinsip penerapan apa yang harus dipatuhi dalam hal cara berperilaku, dan seterusnya, dan mereka juga tidak ingin mencari kebenaran untuk mengetahuinya. Mereka suka mengejar apa? Sepanjang hari pikiran mereka berkisar pada apa yang dapat mereka lakukan untuk mendapatkan keuntungan dan menikmati kehidupan yang unggul daripada orang lain. Ada orang-orang yang mulai percaya kepada Tuhan saat mereka bekerja di dunia luar. Namun, begitu mereka dipromosikan menjadi supervisor atau manajer, atau menjadi bos, mereka berhenti percaya. Ketika saudara-saudari menghubunginya, mereka berkata, "Sekarang aku adalah orang yang memiliki status, reputasi, dan status sosial. Percaya kepada tuhan bersama kalian terlalu memalukan. Kalian semua harus menjauh dariku, dan jangan mencariku lagi! Kalian dapat mencoretku dari daftar atau mengeluarkanku jika kalian mau. Bagaimanapun juga, perjalanan kepercayaanku kepada tuhan telah berakhir, dan aku tidak ada lagi hubungannya dengan kalian!" Lihat apa yang mereka katakan? Orang macam apakah mereka? Akankah engkau semua masih menghubungi mereka? (Tidak.) Mereka telah mengatakan ini dengan terus terang, tetapi beberapa pemimpin gereja masih merasa menyesal ketika melihat mereka pergi dan menghubungi mereka beberapa kali untuk membujuk mereka, "Kau memiliki kualitas yang baik, dan kau bahkan pernah menjadi pemimpin dan pekerja. Hanya karena kau tidak mengejar kebenaranlah maka kau diberhentikan. Jika kau mengejar kebenaran dengan tekun, kau pasti akan diselamatkan, dan di kemudian hari, kau pasti akan menjadi sokoguru, tiang utama dalam rumah Tuhan!" Makin pemimpin mengatakan hal-hal ini, makin hal itu membuat mereka menjauh. Beberapa pemimpin gereja bingung dan tidak memiliki kemampuan untuk membedakan; orang ini dipromosikan di dunia, tetapi para pemimpin ini tetap merasa iri terhadap mereka dan ingin menjalin hubungan dengan mereka—bukankah ini menunjukkan kurangnya harga diri? Orang-orang yang memahami kebenaran dapat melihat hal ini dengan jelas: Mendapatkan promosi di masyarakat bukanlah pertanda baik; itu bukanlah jalan yang benar untuk ditempuh! Ada orang-orang yang berhenti percaya kepada Tuhan begitu mereka mendapatkan sedikit status di masyarakat—ini hanya menyingkapkan mereka dan membuktikan bahwa mereka bukanlah orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan atau mencintai kebenaran. Jika mereka adalah orang percaya sejati, sekalipun mereka dipromosikan dan memiliki masa depan yang menjanjikan di masyarakat, mereka tetap tidak akan meninggalkan Tuhan. Sekarang setelah mereka mengkhianati Tuhan, perlukah gereja menghubungi dan berusaha membujuk mereka? Tidak perlu, karena mereka sudah disingkapkan sebagai pengikut yang bukan orang percaya. Dengan tidak percaya kepada Tuhan, merekalah yang rugi—mereka sama sekali tidak memiliki berkat ini. Mereka hanyalah makhluk yang hina; jika engkau tetap bersikeras menarik mereka untuk percaya kepada Tuhan, bukankah itu bodoh? Makin engkau berusaha menarik mereka seperti ini, makin mereka memandang rendah dirimu. Mereka menganggap bahwa semua orang yang percaya kepada Tuhan adalah orang-orang yang status sosialnya rendah dan tidak berkualitas. Itulah sebabnya mereka sangat congkak dan merasa diri benar, memandang hina semua orang. Jika ada orang yang menunjukkan perhatian atau kepedulian terhadap mereka, mereka melihatnya sebagai upaya untuk menjilat mereka. Mentalitas macam apa ini? Tidak mampu memandang saudara-saudari dengan benar. Apakah mereka adalah orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan? Ketika bertemu dengan jenis orang seperti ini, engkau harus menolaknya. Begitu dia berkata, "Sekarang aku adalah seorang supervisor senior. Jangan datang untuk mencariku lagi. Jika kalian terus menghubungiku, aku akan bersikap kasar terhadap kalian! Khususnya jangan datang ke perusahaanku dan mempermalukanku—aku tidak ada hubungannya dengan orang-orang yang percaya kepada tuhan!"—begitu dia mengucapkan perkataan ini, engkau semua harus segera pergi, mencoret namanya dari daftar, dan jangan pernah lagi berhubungan dengan orang semacam itu. Dia takut kita akan memanfaatkan kesuksesannya; jadi kita perlu memiliki sedikit kesadaran diri. Dia sedang maju pesat dan naik ke level yang lebih tinggi; dia berada di luar jangkauan kita. Kita hanyalah orang biasa, orang-orang di lapisan masyarakat terbawah. Kita seharusnya tidak mencoba menjalin hubungan dengannya—jangan merendahkan dirimu seperti itu! Ada pula orang-orang yang sudah lanjut usia dan dibelikan rumah mewah di daerah perkotaan oleh anak-anaknya. Setelah pindah ke sana, mereka mengucapkan perpisahan dengan saudara-saudari, dengan berkata, "Jangan mencariku lagi. Kalian semua berasal dari daerah pedesaan. Jika kalian datang mencariku, orang-orang akan mengira aku pun berasal dari daerah pedesaan, bahwa aku memiliki kerabat dari daerah pedesaan. Itu akan sangat memalukan! Tahukah kalian orang seperti apa anakku itu? Dia adalah orang yang kaya raya, orang yang berada, orang yang tersohor! Jika kalian tetap berhubungan denganku, bukankah itu akan memalukan bagi anakku? Jadi, jangan mencariku lagi di kemudian hari!" Begitu mereka mengucapkan perkataan ini, jawab saja, "Karena sikapmu seperti ini, kami mengerti. Kalau begitu kami doakan agar kau bahagia dan sukacita!" Pada saat itu, jika engkau mengucapkan satu kata lagi, engkau akan dianggap bodoh dan hina. Segera pergi meninggalkannya adalah tindakan yang benar. Jangan sekali-kali berusaha untuk meyakinkan pengikut yang bukan orang percaya dengan paksa—itu hanyalah perilaku yang bodoh. Apakah engkau mengerti? (Ya.) Seberapa bodohnya beberapa orang? Mereka berkata, "Putra orang itu adalah orang yang berada, orang kaya raya yang memiliki status di tengah masyarakat. Dia bahkan berteman dengan pejabat pemerintah. Jika kita membujuknya untuk terus percaya kepada Tuhan, keluarganya bahkan dapat menerima saudara-saudari di rumahnya!" Bagaimana kedengarannya ide ini? Jika engkau memikirkannya dari perspektif memikirkan pekerjaan gereja, memikirkan saudara-saudari, dan memikirkan keamanan, itu sangat sesuai. Namun, engkau harus melihat apakah dia sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan atau tidak. Jika dia tidak mau percaya kepada Tuhan dan tidak suka berhubungan dengan saudara-saudari, tetapi engkau tetap ingin membujuknya untuk percaya kepada Tuhan, bukankah itu bodoh? Jangan melakukan hal-hal yang menunjukkan kurangnya harga diri. Kita memiliki perlindungan Tuhan dan bimbingan Tuhan dalam kepercayaan kepada Tuhan. Di lingkungan mana pun kita tinggal, semuanya berada di bawah kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Penderitaan apa pun yang kita tanggung, kita harus hidup dengan bermartabat. Ada orang-orang yang bahkan merasa iri terhadap orang yang meninggalkan rumah Tuhan ini, berkata bahwa orang itu cakap—apakah pandangan ini benar? Bagaimana seharusnya kita memandang hal ini? Begitu dia pindah ke rumah yang besar, dia tidak lagi percaya kepada Tuhan. Di tengah masyarakat, dia memiliki status dan kedudukan, serta dalam hatinya, dia memandang rendah saudara-saudari, memandang mereka sebagai orang-orang yang ada di lapisan masyarakat terbawah yang tidak layak berinteraksi dengannya. Jadi, kita harus memiliki kesadaran diri dan jangan berusaha untuk menjalin hubungan dengan orang-orang semacam itu atau mendekati mereka, bukan? (Ya.)
Terhadap orang-orang yang mampu meninggalkan rumah Tuhan kapan saja, baik mereka pengikut yang bukan orang percaya maupun hanya para pemalas, baik mereka percaya kepada Tuhan untuk memperoleh berkat maupun untuk menghindari bencana—apa pun situasinya—selama mereka mampu meninggalkan rumah Tuhan kapan saja, dan setelah meninggalkannya, mereka muak oleh saudara-saudari yang menghubungi mereka, bahkan lebih muak lagi oleh bantuan dan dukungan saudara-saudari, memperlihatkan permusuhan terhadap siapa pun yang mempersekutukan kebenaran dengan mereka, tidak perlu memperhatikan orang-orang semacam itu. Jika pengikut yang bukan orang percaya semacam ini ditemukan, mereka harus disingkapkan dan dikeluarkan tepat waktu. Ada orang-orang yang mungkin tidak mencintai kebenaran, tetapi mereka suka menjadi orang yang baik dan menikmati hidup bersama saudara-saudari; itu membuat mereka berada dalam suasana hati yang senang, dan selain itu, mereka tidak akan diperlakukan dengan buruk. Dalam hatinya, mereka tahu bahwa mereka percaya kepada Tuhan yang benar dan bersedia untuk berjerih payah dengan rajin. Jika mereka benar-benar memiliki sikap seperti ini, apakah menurut engkau semua mereka harus diizinkan untuk terus melaksanakan tugas mereka? (Ya.) Jika mereka bersedia untuk berjerih payah, dan tidak mengganggu atau mengacaukan, mereka dapat terus berjerih payah. Namun, jika suatu hari mereka tidak lagi bersedia untuk berjerih payah dan ingin meninggalkan rumah Tuhan, lalu berkata, "Aku akan keluar untuk mencoba peruntunganku di dunia. Aku tidak akan lagi percaya kepada tuhan bersama kalian. Di sini tidak menyenangkan, dan terkadang ketika aku bersikap asal-asalan saat melaksanakan tugasku, aku dipangkas. Tinggal di sini benar-benar berat; aku ingin pergi"—haruskah orang semacam itu dibujuk untuk tinggal? (Tidak.) Kita dapat mengajukan satu pertanyaan saja kepadanya, "Sudahkah kau mempertimbangkannya masak-masak?" Jika dia berkata, "Aku sudah memikirkannya sejak lama," engkau dapat berkata, "Kalau begitu, kami mendoakan yang terbaik untukmu. Jaga dirimu baik-baik, dan selamat tinggal!" Apakah pendekatan ini bagus? (Ya.) Menurut engkau semua, orang macam apakah mereka ini? Mereka adalah orang-orang yang merasa dirinya lebih dari orang biasa, dan yang membenci dunia dan jalan-jalannya, sering kali mengucapkan puisi dari orang-orang terkenal, seperti, "Aku melambaikan lengan bajuku, bahkan sehelai awan pun tidak akan kuambil." Mereka merasa bahwa mereka telah menjaga diri mereka tetap murni dan tidak cocok dengan dunia ini, dan mereka ingin menemukan sedikit penghiburan melalui kepercayaan kepada Tuhan. Mereka selalu memandang diri mereka sebagai orang yang luar biasa, tetapi sebenarnya, mereka adalah orang-orang yang paling biasa, hidup hanya untuk makan, minum, dan bersenang-senang. Mereka tidak memiliki pemikiran yang nyata dan tidak memiliki pengejaran yang nyata. Mereka memandang diri mereka sebagai seseorang yang agung, seolah-olah tak ada seorang pun yang mampu memahami pemikiran mereka atau menyamai cara berpikir mereka. Mereka menganggap wawasan mental mereka sendiri lebih tinggi daripada orang kebanyakan, mereka mengatakan hal-hal seperti, "Kalian semua adalah orang-orang biasa, tetapi lihatlah diriku—aku berbeda. Jika kau bertanya dari mana aku berasal, aku akan memberitahumu bahwa kampung halamanku jauh." Apakah mereka memberitahumu dari mana mereka berasal? Apakah engkau tahu di mana tempat yang katanya "jauh" ini? Orang-orang yang mampu meninggalkan gereja kapan saja sebenarnya adalah orang jenis ini. Mereka merasa bahwa tidak ada tempat yang dapat memuaskan mereka dan mereka selalu memikirkan hal-hal yang tidak nyata, samar, dan khayalan. Mereka tidak berfokus pada kenyataan dan tidak memahami apa arti kehidupan manusia atau jalan apa yang harus orang pilih. Mereka tidak memahami hal-hal ini—mereka hanyalah orang-orang aneh. Jika jenis orang ini telah memutuskan untuk meninggalkan gereja dan mengatakan bahwa mereka telah mempertimbangkannya masak-masak untuk waktu yang lama, tidak perlu membujuk mereka untuk tetap tinggal. Jangan katakan sepatah kata pun lagi—coret saja mereka dari daftar, dan selesai. Beginilah seharusnya cara menangani orang-orang semacam itu; ini sesuai dengan prinsip-prinsip tentang cara memperlakukan orang. Ini mengakhiri persekutuan tentang mereka yang mampu meninggalkan gereja kapan saja.
J. Bimbang
Perwujudan yang kesepuluh adalah: "Bimbang". Perwujudan spesifik apa yang diperlihatkan oleh orang yang bimbang? Pertama-tama, keraguan terbesar yang dimiliki orang-orang ini tentang kepercayaan kepada Tuhan adalah: "Apakah tuhan itu benar-benar ada? Apakah alam roh itu ada? Apakah neraka itu ada? Apakah firman yang diucapkan oleh tuhan ini adalah kebenaran? Orang-orang berkata bahwa orang ini adalah tuhan yang berinkarnasi, tetapi aku belum pernah melihat aspek apa pun yang membuatnya tampak seperti tuhan yang berinkarnasi! Jadi, di manakah tepatnya roh tuhan? Apakah tuhan itu benar-benar ada atau tidak?" Mereka tidak pernah dapat memahami pertanyaan-pertanyaan ini dengan jelas. Mereka melihat bahwa ada banyak orang yang percaya kepada Tuhan dan berpikir, "Tuhan itu pasti ada. Dia mungkin memang ada. Kuharap dia ada. Percaya kepada tuhan tidak pernah menyebabkan kerugian apa pun bagiku; tak ada seorang pun yang memperlakukanku dengan buruk. Aku pernah mendengar bahwa melaksanakan tugas dapat mendatangkan berkat dan tempat tujuan yang baik, serta akan menjagaku agar tidak mati di masa depan. Jadi, kurasa aku akan ikut-ikutan saja dan percaya." Setelah percaya selama beberapa waktu, mereka melihat bahwa ada orang-orang yang menghadapi ujian dan kesulitan, dan mereka mulai berpikir, "Bukankah percaya kepada tuhan seharusnya mendatangkan berkat? Ada orang-orang yang sakit parah dan meninggal, beberapa ditangkap dan dianiaya hingga mati oleh si naga merah yang sangat besar, dan yang lainnya jatuh sakit, atau keluarganya tertimpa bencana saat mereka sedang melaksanakan tugas. Mengapa tuhan tidak melindungi mereka? Jadi, tuhan itu benar-benar ada, atau tidak? Jika dia ada, hal-hal ini seharusnya tidak terjadi!" Ada orang-orang baik yang mempersekutukan kebenaran dengan mereka dan berkata, "Tuhan berdaulat atas segala sesuatu, dan nasib manusia diatur oleh tangan Tuhan. Manusia harus menerima bahwa hal-hal ini adalah dari Tuhan dan menyerahkan diri mereka pada pengaturan Tuhan. Segala sesuatu yang Tuhan lakukan itu baik." Maka, orang-orang bimbang ini pun berkata, "Aku tidak melihat ada yang baik tentang hal itu! Apakah mengalami bencana itu hal bagus? Apakah mengidap penyakit parah atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan itu hal bagus? Kematian bahkan jauh lebih buruk. Tuhan itu ada, atau tidak? Aku tidak tahu." Mereka selalu dipenuhi dengan keraguan tentang Tuhan. Ketika mereka melihat banyak orang melaksanakan tugas, pekerjaan rumah Tuhan makin berkembang, dan gereja berkembang pesat dari hari ke hari, mereka merasa bahwa Tuhan itu pasti ada. Khususnya ketika mereka mendengar saudara-saudari memberi kesaksian tentang tanda-tanda dan mukjizat yang telah Tuhan perlihatkan dan kasih karunia yang telah mereka terima dari Tuhan, orang-orang yang bimbang ini makin merasa bahwa: "Tuhan itu pasti ada! Meskipun orang-orang tidak dapat melihat roh tuhan, firman yang diucapkan oleh tuhan yang berinkarnasi telah didengar oleh orang-orang, dan aku pun telah mendengar ada begitu banyak orang yang mempersekutukan firman tuhan dan mengalami firman tuhan. Jadi, tuhan itu pasti ada!" Ketika gereja sedang berkembang pesat, semuanya berjalan lancar, maju pesat, dan pekerjaan gereja makin berkembang, dan terutama ketika saudara-saudari mengalami beberapa keadaan khusus dan masalah khusus serta melihat perlindungan, kedaulatan, dan kepemimpinan Tuhan melalui hal-hal ini, mereka merasa bahwa Tuhan itu ada dan bahwa Tuhan benar-benar baik. Namun, setelah beberapa waktu, mereka mungkin mengalami frustrasi dan masa-masa sulit, beberapa orang mungkin mengalami kegagalan dan kemunduran, atau rumah Tuhan mungkin menyingkirkan beberapa orang; hal-hal ini, khususnya yang terakhir, sangat bertentangan dengan gagasan mereka dan berada di luar ekspektasi mereka. Mereka merasa, "Jika tuhan itu ada, bagaimana mungkin hal-hal seperti ini terjadi? Itu seharusnya tidak terjadi! Wajar jika hal-hal seperti ini terjadi di antara orang-orang tidak percaya, tetapi bagaimana mungkin hal-hal seperti itu juga terjadi di rumah tuhan? Jika tuhan itu ada, dia seharusnya menyelesaikan masalah-masalah ini dan mencegah agar hal-hal ini tidak terjadi, karena dia mahakuasa, memiliki otoritas dan kuasa! Apakah tuhan itu benar-benar ada, atau tidak? Orang-orang tidak dapat melihat roh tuhan. Mengenai firman yang diucapkan oleh tuhan yang berinkarnasi, semua orang berkata bahwa firman adalah kebenaran, jalan, dan dapat menjadi kehidupan manusia. Namun, mengapa aku tidak merasa bahwa firman adalah kebenaran? Aku telah mendengarkan khotbah untuk waktu yang lama, tetapi hidupku sama sekali tidak berubah! Aku telah menderita begitu banyak—apa yang telah kuperoleh?" Mereka mulai meragukan Tuhan, dan antusiasme mereka untuk melaksanakan tugas pun berkurang dan tidak sekuat sebelumnya. Mereka kemudian berpikir untuk meninggalkan rumah Tuhan demi bekerja dan menghasilkan uang agar dapat menjalani kehidupan yang layak—pemikiran-pemikiran aktif ini mulai bermunculan. Mereka berpikir, "Jika tuhan yang kupercaya bukanlah tuhan yang sejati, tidak bekerja atau memperoleh uang selama bertahun-tahun ketika percaya kepada tuhan akan menjadi kerugian yang sangat besar! Tidak, pemikiran seperti ini salah. Aku tetap harus percaya dengan sungguh-sungguh. Aku pernah mendengar orang berkata bahwa membaca lebih banyak firman tuhan akan membuat seseorang mampu memahami kebenaran, menyelesaikan semua masalah, dan tidak lagi menjadi lemah. Namun, aku sudah membaca firman tuhan dan tetap belum memahami kebenaran. Mengapa aku tetap merasa negatif? Mengapa aku selalu merasa tidak memiliki tenaga untuk melaksanakan tugasku? Tuhan tidak bekerja dalam diriku! Aku memiliki begitu banyak kesulitan, tetapi tuhan belum membuka jalan keluar bagiku. Jadi, tuhan itu benar-benar ada atau tidak? Jika ini adalah jalan yang benar, tuhan seharusnya memberkati orang-orang yang melaksanakan tugas mereka dengan kedamaian, kelancaran, dan kenormalan. Jadi, mengapa masih ada kesulitan yang sangat besar dalam memberitakan Injil dan melaksanakan tugas? Meskipun aku tahu bahwa dunia keagamaan telah jauh tertinggal, dan percaya kepada tuhan yang mahakuasa artinya memasuki Zaman Kerajaan, mengapa aku belum melihat bagaimana roh kudus bekerja?" Orang macam apakah mereka ini? Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki pemahaman rohani. Mereka membaca firman Tuhan tetapi tidak memahami kebenaran. Sebanyak apa pun kebenaran dipersekutukan, mereka tidak mampu memahami maknanya. Mereka selalu memandang segala sesuatu berdasarkan gagasan dan imajinasi mereka, serta selalu dipenuhi dengan keraguan tentang Tuhan. Bagaimana mungkin orang seperti itu memahami kebenaran? Ada orang-orang yang melihat bahwa memberitakan Injil itu sulit, jadi mereka berpikir: "Jika ini adalah jalan yang benar, roh kudus pasti bekerja dengan dahsyat. Ke mana pun saudara-saudari pergi memberitakan Injil, pasti akan lancar dan tidak ada halangan. Bahkan terlebih lagi, pejabat pemerintah pun mulai percaya dan memberikan lampu hijau untuk semuanya. Inilah perbuatan dari tuhan yang sejati. Namun sekarang, dilihat dari faktanya, itu sama sekali tidak terjadi. Presiden dan pejabat di berbagai negara di dunia bukan hanya tidak percaya kepada tuhan, melainkan mereka juga tidak mendukung kepercayaan kepada tuhan. Di beberapa negara, pemerintah bahkan menganiaya orang-orang percaya dan menghalangi orang-orang untuk percaya kepada tuhan. Jadi, apakah tuhan yang kita percayai itu benar-benar adalah tuhan yang benar? Aku tidak tahu; sulit untuk dikatakan." Selalu ada tanda tanya besar di hati mereka. Setiap kali mereka mendengar suatu berita, itu terasa bagi mereka seperti "gempa bumi" yang dampaknya tidak besar maupun tidak terlihat, menyebabkan mereka bimbang. Ada orang-orang yang berkata, "Apakah mereka selalu bimbang karena mereka baru sebentar percaya kepada Tuhan?" Bukan itu masalahnya—ada orang-orang yang telah percaya selama tiga tahun, lima tahun, atau bahkan lebih dari sepuluh tahun. Apakah itu dianggap sebagai waktu yang singkat? Jika seseorang telah percaya selama tiga atau lima tahun selama pekerjaan Zaman Kasih Karunia, itu tidak akan dianggap lama, karena mereka belum mendengar perkataan dan firman Tuhan pada akhir zaman; mereka hanya memahami sedikit pengetahuan alkitab dan teori-teori rohani dari Alkitab serta dari khotbah-khotbah orang. Itu terlalu sedikit untuk memperoleh pemahaman. Lain halnya ketika seseorang menerima pekerjaan di tahap saat ini—selama mereka melaksanakan tugas mereka dan mengikuti Tuhan selama tiga tahun, apa yang mereka alami, pahami, dan peroleh melampaui apa yang dapat diperoleh seseorang dari percaya kepada Tuhan selama dua puluh atau tiga puluh tahun, atau bahkan selama seumur hidup pada Zaman Kasih Karunia. Namun, orang-orang yang bimbang ini, bahkan setelah percaya selama tiga, lima, atau bahkan lebih dari sepuluh tahun, masih belum bisa memastikan apakah tahap pekerjaan ini dilakukan oleh Tuhan atau bukan, dan mereka bahkan meragukan keberadaan Tuhan. Apakah menurutmu orang-orang semacam itu sangat menyusahkan? Apakah mereka memiliki kemampuan untuk memahami kebenaran? (Tidak.) Apakah mereka memiliki cara berpikir kemanusiaan yang normal? (Tidak.) Mereka tidak mampu memahami kebenaran. Situasi apa pun yang muncul di gereja, itu selalu dapat membuat mereka bimbang—tanda tanya di hati mereka selalu memicu "gempa bumi" bagi mereka. Jika antikristus menyebabkan kekacauan di dalam gereja dan beberapa orang disesatkan, atau jika seseorang yang mereka puja melakukan sesuatu yang tidak mereka sangka—seperti mencuri persembahan atau melakukan percabulan—dan dikeluarkan, hal itu membuat hati mereka bimbang, dan mereka mulai meragukan Tuhan, "Bukankah ini aliran pekerjaan tuhan? Lalu bagaimana mungkin hal-hal yang melanggar hukum seperti itu terjadi di dalam gereja? Bagaimana mungkin tuhan mengizinkan antikristus dan orang jahat muncul? Apakah ini benar-benar jalan yang benar?" Segala sesuatu yang terjadi di dalam gereja yang bertentangan dengan gagasan mereka membuat mereka mengembangkan keraguan dan mulai mempertanyakan apakah ini jalan yang benar, apakah ini pekerjaan Tuhan, dan apakah Tuhan itu benar-benar ada atau tidak. Mereka sama sekali tidak mencari kebenaran untuk memandang hal ini dengan benar. Ini saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa dari awal hingga akhir, pada dasarnya mereka tidak pernah percaya bahwa tahap pekerjaan ini dilakukan oleh Tuhan. Dari awal hingga akhir, mereka tidak pernah tahu apa arti kebenaran, atau mengapa Tuhan mengungkapkan kebenaran. Tuhan telah mengucapkan begitu banyak firman dan melakukan begitu banyak pekerjaan—semua ini adalah perbuatan Tuhan. Begitu banyak orang telah memastikan dan menjadi yakin tentang hal itu, tetapi mereka tidak mau memandang masalah-masalah berdasarkan hal-hal ini. Mereka selalu menggunakan perspektif manusia dan pemikiran manusia untuk membuat penilaian—mereka terlalu percaya pada diri mereka sendiri. Ketika ada beberapa celah atau penyimpangan dalam pekerjaan gereja atau dalam kehidupan bergereja, atau ketika gereja ditekan dan dianiaya oleh pemerintah, mereka mulai kembali bertanya, "Apakah ini benar-benar jalan yang benar?" Ketika antikristus dan pemimpin palsu muncul di dalam gereja, mereka juga mulai bertanya. Mereka berkata, "Lihatlah para pendeta dan penatua di gereja-gereja agama itu—mereka benar-benar mengasihi tuhan, dan tidak ada insiden antikristus di gereja-gereja mereka. Itu baru jalan yang benar. Jika apa yang kalian miliki di sini adalah jalan yang benar, mengapa hal-hal ini masih terjadi?" Beginilah cara mereka membuat perbandingan. Lalu bagaimana cara beberapa orang bodoh lainnya membuat perbandingan? Mereka berkata, "Lihatlah orang-orang yang percaya kepada tuhan di Gereja Tiga Pendirian—mereka memiliki persetujuan negara, dan negara bahkan mengeluarkan sertifikat kepada mereka dan memberi mereka tanah untuk membangun gereja. Semuanya sah dan legal. Apakah kalian memiliki gereja umum? Apakah gerejamu terdaftar? Negara bahkan menugaskan para pendeta ke gereja Tiga Pendirian, dan para pendeta tersebut memiliki lisensi. Apakah para pemimpin dan pekerjamu memiliki lisensi? Negara tidak mengizinkan kalian untuk percaya kepada tuhan; mereka menangkap dan menganiaya kalian. Kalian bahkan tidak memiliki tempat tetap untuk berkumpul; kalian selalu berkumpul secara rahasia. Apakah ini benar-benar jalan yang benar? Jika ini jalan yang benar, mengapa kalian selalu berkumpul dan melaksanakan tugas secara rahasia seperti itu?" Mereka bahkan tidak mampu memahami yang sebenarnya mengenai hal ini. Situasi apa pun dapat menyebabkan mereka bimbang dan mengembangkan keraguan tentang Tuhan. Katakan kepada-Ku, dapatkah orang seperti ini tetap teguh? (Tidak.) Meskipun secara lahiriah mereka belum meninggalkan gereja, hati mereka sudah berada di ambang bahaya. Mereka tidak pernah yakin tentang pekerjaan Tuhan dan kebenaran yang diungkapkan oleh Tuhan, serta selalu setengah percaya, setengah ragu; ini membuat mereka tidak mungkin untuk memiliki iman yang sejati. Mereka tidak dapat melihat bahwa semua penganiayaan, penindasan, dan penangkapan yang telah terjadi selama bertahun-tahun pekerjaan Tuhan, semuanya berada di bawah kedaulatan Tuhan, dan semuanya berada di bawah pengaturan dan penataan Tuhan. Oleh karena itu, mereka memiliki gagasan dan mampu mempertanyakan apakah Tuhan dapat berdaulat atas segala sesuatu. Mereka selalu beranggapan bahwa semua pekerjaan rumah Tuhan dilakukan oleh manusia, karena mereka tidak dapat melihat sedikit pun tanda-tanda perbuatan Tuhan. Bukankah mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya? Jika orang semacam itu baru percaya selama enam bulan atau setahun dan belum memahami berbagai kebenaran dengan jelas, wajar jika mereka memiliki keraguan dan bimbang ketika melihat hal-hal yang bertentangan dengan gagasan mereka. Namun, ada orang-orang yang telah percaya kepada Tuhan selama beberapa tahun, telah mendengarkan banyak khotbah, dan kebenaran telah dipersekutukan kepada mereka saat menghadapi kesulitan. Pada saat itu, mereka memahami apa yang mereka dengar secara doktrinal. Namun setelah itu, ketika dihadapkan pada masalah-masalah lagi, mereka tetap mempertanyakan Tuhan dan pekerjaan Tuhan. Ini menunjukkan bahwa orang-orang semacam itu tidak memiliki kemampuan untuk memahami kebenaran, tidak memiliki pemikiran kemanusiaan yang normal, dan tidak memenuhi standar sebagai manusia.
Bagaimana seharusnya cara menangani orang-orang yang bimbang? Dalam hal kemanusiaan, orang-orang ini tidak termasuk orang jahat, tetapi mereka memang jenis orang yang menyusahkan karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk memahami kebenaran dan tidak memiliki pemikiran kemanusiaan yang normal. Yang terpenting, mereka bahkan tidak mampu memastikan banyak kebenaran yang telah Tuhan ungkapkan, dan mereka juga tidak tahu apakah firman ini adalah kebenaran, atau apakah itu adalah pengungkapan Tuhan dan pekerjaan Tuhan. Dinilai dari kemampuan mereka untuk memahami, orang macam apakah mereka? Memang benar jika dikatakan bahwa mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya, dan benar juga jika dikatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang bingung. Meskipun orang-orang semacam ini tidak melakukan kejahatan yang nyata dan tidak termasuk orang jahat, karena mereka sudah bingung sampai sejauh ini dan dapat melakukan banyak hal yang mengacaukan dan mengganggu, bukankah mereka adalah orang-orang yang tidak berguna? (Ya.) Seberapa lamanya pun mereka telah percaya kepada Tuhan atau berapa pun banyaknya khotbah yang telah mereka dengar, mereka tidak akan pernah mampu memahami kebenaran. Mereka bahkan tidak dapat memastikan keberadaan Tuhan atau kedaulatan Tuhan. Kualitas macam apakah ini? Orang-orang ini sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk memahami kebenaran. Mereka adalah orang-orang yang kualitasnya sangat buruk; atau dapat dikatakan mereka sama sekali tidak memiliki kualitas—mereka adalah orang-orang tidak berguna yang tidak punya otak. Katakan kepada-Ku, tugas apa yang mampu dilaksanakan oleh orang-orang yang tidak berguna? (Mereka tidak mampu melaksanakan tugas apa pun.) Mereka tidak mampu melaksanakan tugas apa pun dan selalu ragu-ragu serta bimbang. Jadi, bagaimana seharusnya cara memperlakukan dan menangani orang-orang semacam ini? Cara yang paling tepat untuk menangani orang-orang semacam itu adalah dengan tidak mengizinkan mereka melaksanakan tugas apa pun. Sekalipun mereka meminta untuk melaksanakan tugas, mereka tidak boleh diizinkan. Mengapa tidak boleh? Karena begitu orang-orang semacam ini mulai melaksanakan tugas, khususnya ketika mereka telah menanggung kesukaran dan membayar sedikit harga, cepat atau lambat mereka akan ingin membuat perhitungan dengan rumah Tuhan. Jika mereka ditangkap atau menghadapi bencana alam atau bencana yang disebabkan manusia, mereka akan menyesal telah mengorbankan diri mereka untuk Tuhan; mereka akan mengeluh dengan getir, dan mulai menyebarkan pernyataan seperti, "Aku sudah sangat menderita demi pekerjaan gereja dan demi melaksanakan tugasku. Aku makan sangat sedikit, tidur sangat sebentar, dan penghasilan yang kuperoleh sangat sedikit. Seandainya aku tidak melaksanakan tugas, aku pasti sudah menyimpan uang yang kuhasilkan di bank, dan itu akan menghasilkan bunga! Aku sudah mengambil begitu banyak risiko—berapa nilai setiap risiko per jamnya? Berapa biaya tenaga kerjanya?" Mereka akan berusaha membuat perhitungan dengan rumah Tuhan dalam hal finansial dan bahkan mengancam bahwa jika rumah Tuhan tidak memberi kompensasi kepadanya, mereka akan melaporkan rumah Tuhan. Bukankah membiarkan orang-orang seperti ini melaksanakan tugas akan mendatangkan masalah yang tak ada habisnya? Berurusan dengan orang-orang rendahan semacam itu akan mengarah pada kerumitan yang mustahil untuk dibereskan. Berapa pun banyaknya hal yang mereka tangani untuk gereja, mereka menyimpan buku catatan kecil di hati mereka, mencatat setiap perhitungan dengan jelas. Apa pun yang mereka lakukan untuk gereja, mereka tidak pernah melakukannya dengan rela. Mereka ingin membuat perhitungan karena mereka melakukannya dengan terpaksa. Mengapa demikian? Itu karena, di dalam hatinya, mereka tidak mengakui keberadaan Tuhan atau percaya pada keberadaan Tuhan. Mereka tidak mengakui bahwa firman Tuhan adalah kebenaran atau bahwa pekerjaan Tuhan dapat menyelamatkan manusia. Jadi, imbalan seperti apa yang diperlukan agar mereka merasa puas membayar sedikit harga, sedikit menderita, melaksanakan beberapa tugas, dan mengorbankan sejumlah sumber daya manusia dan materi untuk sesuatu yang disebut tuhan yang mereka bayangkan dalam pikiran mereka? Jika mereka tidak menerima imbalan apa pun, akankah mereka merasa puas? Jika suatu hari mereka telah menyadari bahwa mereka telah disingkirkan karena tidak mengejar kebenaran, apa yang akan menjadi konsekuensinya? Mereka akan menganggap bahwa rumah Tuhan telah menipu mereka, bahwa para pemimpin dan pekerja telah menipu mereka, dan bahwa mereka sengaja tidak diberi tahu tentang hal-hal yang seharusnya mereka ketahui dan menjadi korban penipuan. Kemudian, mereka akan bertengkar dengan rumah Tuhan dan menuntut ganti rugi, memperpanjang urusannya tanpa henti. Apakah menurutmu rumah Tuhan ingin terlibat dengan orang semacam itu? Rumah Tuhan sama sekali tidak akan melakukan sesuatu yang begitu bodoh! Umat pilihan Tuhan melaksanakan tugas mereka untuk memenuhi tanggung jawab sebagai makhluk ciptaan—itu sepenuhnya pilihan mereka sendiri, sesuatu yang mereka bersedia lakukan. Rumah Tuhan tidak pernah memaksa atau mendorong siapa pun. Namun, begitu pengikut yang bukan orang percaya mulai melaksanakan tugas, hanya masalah waktu sebelum problem muncul. Ketika suasana hati mereka sedang tidak baik, mereka pasti akan mulai menggerutu dan mengeluh, berkata kepada orang-orang lain, "Kalian semua mengatakan hal-hal yang baik kepadaku dan menipuku, kalian berkata dengan percaya kepada tuhan aku akan memperoleh kebenaran dan hidup yang kekal. Namun, tak seorang pun dari kalian yang menyebutkan bahwa akan ada antikristus di dalam gereja yang menyesatkan orang, orang jahat yang mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja, atau bahwa gereja akan mengeluarkan atau mengusir orang. Kalian tidak pernah memberitahuku bahwa semua ini akan terjadi di dalam gereja!" Mereka bahkan bisa berbalik dan menuduhmu dengan berkata, "Kalian tidak pernah menjelaskan hal-hal ini dengan gamblang kepadaku. Aku hanya mengikuti kalian dalam memercayai tuhan dan melaksanakan tugasku. Akibatnya, sekarang aku tidak memiliki prospek di dunia; kalian telah menghalangiku untuk menghasilkan banyak uang. Kalian harus mengganti kerugianku!" Tidakkah engkau merasa jijik ketika mereka mulai melakukan perhitungan denganmu? Apakah engkau mau terlibat dengan mereka? (Tidak.) Siapa yang mungkin bisa menjelaskan hal-hal ini kepada orang-orang seperti ini? Mereka tidak menerima kebenaran, mereka tidak dapat melihat keberadaan Tuhan, dan mereka tidak dapat merasakan keberadaan Tuhan melalui pengalaman mereka. Katakan kepada-Ku, siapa yang bisa menjejalkan fakta ini ke dalam pikiran mereka? Tak ada seorang pun yang bisa. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk menerima kebenaran, jadi meminta mereka untuk mengejar kebenaran akan membuat segalanya menjadi sangat sulit bagi mereka, itu akan menempatkan mereka pada posisi yang sulit—melakukan hal itu sama sekali tidak realistis. Mereka percaya kepada Tuhan hanya untuk menerima berkat. Selama mereka melakukan sedikit tugas, mereka menuntut imbalan. Jika mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka mulai melontarkan caci maki, "Aku telah ditipu dan dicurangi! Kalian semua penipu!" Katakan kepada-Ku, akankah engkau semua ingin menanggung makian itu? (Tidak.) Siapa yang telah menipu mereka? Bukankah mereka sendirilah yang memiliki ambisi dan keinginan serta yang ingin menerima berkat? Bukankah mereka percaya kepada Tuhan justru untuk menerima berkat? Mereka belum menerima berkat sekarang, tetapi bukankah itu karena mereka tidak mengejar kebenaran? Bukankah itu masalah mereka sendiri? Mereka bahkan tidak percaya kepada Tuhan, tetapi mereka masih ingin menerima berkat dari Tuhan—bagaimana mungkin semudah itu untuk menerima berkat? Bukankah hal-hal ini telah dijelaskan kepada mereka dengan gamblang jauh sebelum mereka mulai melaksanakan tugas? (Ya.) Namun, dapatkah engkau bernalar dengan mereka? Tidak—mereka hanya akan mengatakan bahwa engkau telah menipu mereka. Katakan kepada-Ku, di rumah Tuhan, seberapa lamanya pun saudara-saudari telah percaya kepada Tuhan, siapa di antara mereka yang tidak melaksanakan tugas dengan sukarela? Meskipun ada kasus yang jarang terjadi di mana anak-anak tidak percaya kepada Tuhan dan dipaksa untuk percaya serta melaksanakan tugas oleh orang tua atau kerabat mereka, kasus ini masih sangat sedikit. Sekalipun orang tuamu memaksamu untuk percaya, itu adalah untuk kebaikanmu sendiri—engkau harus mengerti hal itu. Namun, keluargamulah yang memaksamu—saudara-saudari di rumah Tuhan tidak menarikmu atau memaksamu. Percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugas sepenuhnya bersifat sukarela. Saat ini, siapa pun yang ingin pergi silakan pergi; pintu rumah Tuhan selalu terbuka. Namun, begitu engkau pergi, kembali lagi tidak akan semudah itu. Mereka yang melaksanakan tugas penuh waktu di rumah Tuhan dipilih dengan hati-hati—orang yang diterima bukan sembarang orang. Ada standar yang dituntut dan prinsip-prinsip, serta hanya mereka yang memenuhi syarat yang dapat tinggal di gereja tugas penuh waktu. Orang-orang yang bimbang berpikir, "Kalian tidak menjelaskan hal sepenting itu dengan gamblang kepadaku. Pada saat itu, aku hanya melaksanakan tugas karena aku bingung." Apanya yang tidak dijelaskan dengan gamblang? Saudara-saudari mempersekutukan kebenaran bersama-sama setiap hari sembari melaksanakan tugas—jika orang-orang ini tidak mengerti, itu karena mereka bingung dan buta. Mereka tidak boleh menyalahkan orang lain atas hal itu. Namun, mereka tidak akan bernalar denganmu tentang hal ini; mereka hanya merasa telah menderita kerugian besar dan ingin melakukan perhitungan serta berdebat dengan rumah Tuhan. Bukankah orang-orang semacam itu tidak bernalar dan sangat menjijikkan? Jadi, begitu engkau semua mengetahui sifat asli orang-orang semacam itu dan melihat dengan jelas bahwa mereka bingung, sama sekali tidak berguna, tidak mampu melaksanakan tugas apa pun, dan selalu berfokus pada menerima berkat, memiliki hati yang dipenuhi oleh pemikiran untuk memperoleh berkat, dan bahwa semua yang mereka ketahui hanyalah bahwa melaksanakan tugas dapat mendatangkan berkat, keselamatan, masuk ke dalam Kerajaan, dan kekekalan, serta mereka hanya mengetahui beberapa ungkapan ini tanpa memahami hal lainnya—tidak mengetahui arti kebenaran, cara menerapkan kebenaran, atau bagaimana caranya tunduk kepada Tuhan—maka, sekalipun mereka ingin melaksanakan tugas atau meminta untuk melaksanakan tugas, bolehkah diatur agar mereka melakukan tugas? (Tidak.)
Sebenarnya, orang-orang yang bimbang memiliki keraguan dan selalu mengamati, bahkan ketika mereka aman dan baik-baik saja. Begitu mereka menghadapi penganiayaan dan ditangkap, mereka mulai bimbang. Ini menunjukkan bahwa, dalam kepercayaan mereka yang biasa kepada Tuhan, mereka tidak memiliki iman yang sejati. Ketika sesuatu terjadi, mereka tersingkap. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak pernah yakin tentang pekerjaan Tuhan dan selalu mempertanyakan dan mengamati. Mengapa mereka belum meninggalkan gereja? Mereka berpikir, "Aku telah percaya kepada tuhan selama bertahun-tahun dan menderita begitu banyak kesukaran. Jika aku pergi sekarang tanpa mendapatkan keuntungan apa pun, bukankah itu akan menjadi kerugian? Bukankah semua penderitaan itu akan sia-sia?" Inilah yang mereka pikirkan. Engkau mungkin berpikir mereka yakin, bahwa mereka memiliki iman, bahwa mereka memahami kebenaran, padahal sebenarnya tidak. Mereka tetap meragu, tetap mengamati. Dalam hatinya, mereka hanya ingin melihat apakah pekerjaan rumah Tuhan benar-benar berkembang atau tidak, apakah setiap bagian dari pekerjaan membuahkan hasil, dan apakah itu telah memberikan dampak yang besar bagi dunia. Yang terutama ingin mereka ketahui adalah hal-hal berikut ini: Bagaimana cara gereja-gereja di berbagai negara menyebarluaskan Injil? Apakah penyebarluasannya berskala dan berpengaruh? Apakah ada pengakuan internasional terhadap aliran ini? Adakah orang terkenal atau tokoh berpengaruh yang sudah menerima tahap pekerjaan ini? Apakah Gereja Tuhan Yang Mahakuasa telah diakui atau disetujui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa? Apakah Gereja Tuhan Yang Mahakuasa mendapatkan dukungan dari pemerintah di berbagai negara? Apakah permohonan suaka politik saudara-saudari di berbagai negara sudah disetujui? Hal-hal seperti inilah yang selalu diperhatikan oleh orang-orang semacam itu, dan inilah perwujudan yang jelas dari kebimbangan mereka. Begitu mereka melihat bahwa rumah Tuhan telah memperoleh kuasa dan pekerjaan Injil telah tersebar luas, mereka merasa beruntung bahwa mereka tidak meninggalkan rumah Tuhan, dan mereka tidak lagi meragukan Tuhan. Namun, begitu mereka melihat bahwa pekerjaan rumah Tuhan sedang diganggu, dihalangi, atau dirugikan, bahwa pelaksanaan tugas saudara-saudari juga terpengaruh, dan bahwa gereja sedang dikucilkan dan ditolak oleh dunia, mereka mulai berpikir untuk meninggalkan rumah Tuhan. Mereka selalu bertanya, "Apakah tuhan benar-benar berdaulat atas semua ini? Mengapa aku tidak dapat melihat kemahakuasaan tuhan? Apakah firman tuhan benar-benar adalah kebenaran? Apakah firman Tuhan benar-benar dapat mentahirkan dan menyelamatkan manusia?" Mereka tidak pernah mampu memahami yang sebenarnya mengenai hal-hal ini dan terus mempertanyakannya karena mereka tidak memiliki pemahaman rohani dan tidak mampu memahami firman Tuhan. Sebanyak apa pun khotbah yang mereka dengar, mereka tidak dapat menarik kesimpulan tentang semua ini. Akibatnya, mereka selalu bertanya-tanya, berharap mereka dapat memiliki telinga yang dapat mendengar hal-hal yang sangat jauh dan mata yang dapat melihat ribuan mil jauhnya, sehingga mereka dapat mengetahui dan mendapatkan berita tentang apa yang sedang terjadi di tempat yang jauh. Kemudian barulah mereka dapat memutuskan sejak awal apakah mereka harus tinggal atau pergi. Bukankah orang-orang semacam itu bodoh? (Ya.) Bukankah orang-orang semacam ini sedang menjalani kehidupan yang melelahkan? (Ya.) Mereka tidak memiliki pemikiran kemanusiaan yang normal, dan mereka juga tidak memahami kebenaran. Makin banyak hal yang terjadi, makin resah dan bingung mereka jadinya. Mereka tidak tahu bagaimana membedakan hal-hal ini atau bagaimana menggolongkannya; dan mereka pasti tidak tahu bagaimana membedakan yang benar dari yang salah dalam hal-hal ini atau memetik pelajaran darinya, dan kemudian menemukan prinsip-prinsip penerapan dalam firman Tuhan. Mereka tidak tahu bagaimana melakukan hal-hal ini. Jadi, apa yang mereka lakukan? Contohnya, ketika antikristus dan orang-orang jahat muncul di dalam gereja dan menyesatkan orang-orang, mereka mulai bertanya-tanya, "Sebenarnya siapa yang benar dan siapa yang salah? Apakah jalan ini benar-benar jalan yang benar? Akankah aku diberkati jika aku terus percaya sampai akhir? Sekarang aku telah melaksanakan tugasku selama beberapa tahun—apakah penderitaan ini sepadan? Haruskah aku terus melaksanakan tugasku?" Mereka mempertimbangkan semuanya dari perspektif kepentingan mereka sendiri dan tidak dapat memahami orang, peristiwa, dan hal-hal apa pun di hadapannya, mereka tampak sangat kikuk. Mereka tidak memiliki pemikiran dan sudut pandang yang benar, serta ingin mengamati dari jauh, melihat bagaimana keadaan berkembang. Melihat mereka, engkau merasa bahwa mereka menyedihkan dan menggelikan. Ketika tidak terjadi apa-apa, mereka berperilaku cukup normal, tetapi begitu sesuatu yang besar terjadi, mereka tidak tahu dari sudut pandang mana mereka harus memandang masalah itu, dan perkataan mereka mencerminkan pemikiran dan sudut pandang orang-orang tidak percaya. Setelah semuanya berakhir, orang tidak dapat melihat apa yang sudah mereka peroleh darinya. Bukankah orang-orang semacam itu sangat bodoh? (Ya.) Seperti itulah tepatnya cara orang-orang bodoh berperilaku. Jadi, apa prinsip-prinsip untuk menangani orang-orang semacam ini? Berdasarkan perwujudannya, mereka tidak dapat dianggap sebagai orang yang sangat licik dan jahat. Namun, orang-orang ini memiliki kekurangan yang fatal, yaitu mereka tidak memiliki pemikiran, tidak memiliki jiwa, dan tidak mampu memahami yang sebenarnya mengenai apa pun. Apa pun yang terjadi di sekitar mereka membuat mereka bingung, tidak tahu siapa yang harus dipercaya, siapa yang harus diandalkan, atau bagaimana harus memandang masalah atau harus mulai menyelesaikannya dari mana—mereka hanya panik. Setelah panik, mereka mungkin mengembangkan keraguan, atau mereka mungkin tenang untuk sementara waktu, tetapi kebiasaan mereka yang suka bimbang tidak berubah. Dari perwujudannya, karena mereka tidak dapat digolongkan sebagai orang jahat, jika saat ini mereka mampu melaksanakan sedikit tugas dan dengan rela berjerih payah, mereka mungkin diizinkan untuk terus melaksanakan tugas mereka. Namun, hal ini berdasar pada pemikiran bahwa tugas mereka setidaknya membuahkan beberapa hasil. Jika mereka melaksanakan tugas mereka tanpa sama sekali menerima kebenaran dan selalu bersikap asal-asalan, mereka harus dipulangkan. Namun, jika mereka bersedia untuk memperbaiki kesalahannya, mereka harus diizinkan untuk tinggal di rumah Tuhan dan terus melaksanakan tugas mereka. Mereka harus diberi tugas apa pun yang sesuai dengan mereka. Jika mereka tidak mampu melaksanakan tugas apa pun, dan mereka sama sekali tidak berguna, mereka harus dikirim ke suatu tempat yang cocok untuk mereka. Dalam hal ini, itu tidak lagi dapat bergantung pada apakah mereka siap dan bersedia untuk berjerih payah atau tidak. Bukankah cara menangani hal-hal seperti ini sederhana? (Ya.)
Dapatkah engkau semua mengenali orang-orang yang bimbang? Adakah orang-orang semacam itu di sekitar engkau semua? Ada orang-orang yang dikeluarkan dari gereja di masa lalu. Katakanlah salah seorang dari mereka berkata, "Aku telah berubah menjadi lebih baik. Aku tidak lagi bimbang. Dahulu aku selalu bimbang mengenai jalan yang benar karena ketika rumah tuhan baru saja memulai pekerjaannya di luar negeri, segala sesuatunya benar-benar sulit. Pada saat itu, sangat sulit bagi saudara-saudari di gereja untuk memberitakan Injil, dan hanya sedikit orang di luar negeri yang menerima jalan yang benar. Selain itu, tampaknya tidak ada prospek pada penyebarluasan pekerjaan penginjilan. Jadi, saat itu aku selalu ragu tentang pekerjaan tuhan. Sekarang setelah kulihat bahwa pekerjaan penginjilan rumah tuhan sedang tersebar luas, berbagai pos pekerjaan meningkat dan membuahkan hasil, dan gereja-gereja di berbagai negara berkembang pesat, aku tidak lagi memiliki keraguan atau bimbang. Kumohon izinkan aku melaksanakan tugasku. Jangan tempatkan aku di antara jajaran mereka yang telah dikeluarkan atau diusir!" Bolehkah orang semacam itu diberi kesempatan? (Tidak.) Mengapa tidak? (Perkataan mereka itu bohong. Mereka hanya ingin menempel pada gereja lagi karena mereka melihat bahwa pekerjaan rumah Tuhan sedang berkembang dan telah memperoleh kuasa. Namun, setiap kali sesuatu yang bertentangan dengan gagasannya terjadi, mereka akan kembali bimbang.) Sudahkah engkau memahami yang sebenarnya mengenai hal ini? (Ya.) Ada orang-orang yang terlahir sebagai orang yang bimbang. Hari ini angin bertiup ke satu arah dan mereka mengikuti arah ini; besok angin bertiup ke arah lain dan mereka mengikuti arah yang itu—bahkan ketika tidak ada angin, mereka masih bimbang sendiri. Orang-orang semacam itu tidak memiliki kemampuan berpikir yang seharusnya dimiliki manusia normal, jadi mereka tidak memenuhi standar sebagai manusia. Apakah ini benar? (Ya.) Jika seseorang memiliki kemampuan berpikir manusia normal dan memiliki kemampuan memahami yang seharusnya dimiliki manusia, mereka akan melihat bahwa Tuhan telah mengungkapkan begitu banyak kebenaran dan mereka dapat memastikan bahwa ini adalah pekerjaan Tuhan. Selain itu, ada begitu banyak orang yang percaya kepada Tuhan—mereka melihat pekerjaan Tuhan dan pekerjaan Roh Kudus setiap hari, serta perbuatan Tuhan yang luar biasa; iman mereka bertumbuh makin kuat dan tenaga mereka dalam melaksanakan tugas meningkat. Apakah hal-hal ini dapat dicapai oleh pekerjaan manusia? Segamblang apa pun engkau menjelaskan hal-hal ini kepada mereka yang tidak memiliki kemampuan berpikir seperti manusia, mereka tidak dapat memastikan bahwa ini adalah pekerjaan Tuhan. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk membuat penilaian itu. Sebesar apa pun pekerjaan yang sedang Tuhan lakukan sekarang, sebanyak apa pun Dia berfirman, sebanyak apa pun orang yang mengikuti-Nya, sebanyak apa pun orang yang yakin bahwa ini adalah pekerjaan Tuhan, atau sebanyak apa pun orang yang yakin bahwa nasib umat manusia berada di bawah kedaulatan dan pengaturan Tuhan, serta bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta, tak ada satu pun dari hal ini yang penting bagi mereka. Jadi, apa yang terpenting bagi mereka? Mereka perlu secara pribadi melihat Tuhan menampakkan diri dari surga kepada mereka, dan mereka juga perlu melihat Tuhan membuka mulut-Nya dan berfirman, melihat Dia secara pribadi menciptakan langit, bumi, dan segala sesuatu, serta melakukan tanda-tanda dan mukjizat, dan ketika Dia berbicara, firman-Nya harus terdengar seperti guntur. Hanya dengan begitu, barulah mereka akan percaya kepada Tuhan. Mereka sama seperti Tomas—sebanyak apa pun firman yang Tuhan Yesus ucapkan, sebanyak apa pun kebenaran yang Dia ungkapkan, atau sebanyak apa pun tanda dan mukjizat yang Dia lakukan selama waktu-Nya di bumi, tak ada satu pun dari hal itu yang penting bagi Tomas. Yang penting adalah apakah kebangkitan Tuhan Yesus setelah kematian itu nyata atau tidak. Bagaimana dia memastikan hal ini? Dia menuntut Tuhan Yesus, "Ulurkan tanganmu dan biarkan aku melihat bekas paku itu. Jika engkau benar-benar tuhan Yesus yang telah bangkit, akan ada bekas paku di tanganmu, dan barulah aku akan mengakuimu sebagai tuhan Yesus. Jika aku tidak dapat merasakan bekas paku di tanganmu, aku tidak akan mengakuimu sebagai tuhan Yesus, aku juga tidak akan mengakuimu sebagai tuhan." Bukankah dia orang bodoh? (Ya.) Orang-orang seperti ini hanya percaya pada fakta-fakta yang dapat mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri serta dalam imajinasi dan nalar mereka sendiri. Sekalipun mereka mendengar firman Tuhan, mengalami pekerjaan Tuhan, dan melihat kebangkitan, pertumbuhan, dan kemajuan pekerjaan Tuhan, mereka tetap tidak percaya bahwa ini adalah pekerjaan Tuhan. Mereka tidak dapat melihat kuasa Tuhan yang besar, mereka tidak dapat melihat otoritas Tuhan, dan mereka tidak dapat menyadari kuasa firman Tuhan atau hasil yang dapat mereka capai dalam diri orang-orang. Mereka tidak dapat melihat atau menyadari semua hal ini. Mereka hanya berharap untuk satu hal: "Engkau harus berfirman dari surga dengan suara yang menggelegar, menyatakan bahwa engkaulah sang pencipta. Engkau juga perlu mengadakan tanda-tanda dan mukjizat, serta secara pribadi menciptakan langit, bumi, dan segala sesuatu untuk memperlihatkan kuasamu yang besar. Kemudian barulah aku akan percaya bahwa engkau adalah tuhan, aku akan mengakuimu sebagai tuhan." Apakah Tuhan menghargai pengakuan semacam itu? Apakah Dia menghargai kepercayaan semacam itu? (Tidak.) Apakah Tuhan memerlukan pengakuanmu untuk menjadi Tuhan? Apakah Dia memerlukan persetujuanmu? Tuhan telah mengungkapkan begitu banyak kebenaran, begitu banyak orang telah menerima pekerjaan Tuhan, dan ada begitu banyak kesaksian pengalaman—kesaksian yang melampaui kesaksian dari generasi sebelumnya—tetapi engkau tetap tidak dapat memastikan apakah itu penampakan dan pekerjaan Tuhan atau bukan. Engkau tidak percaya atau mengakui fakta bahwa Tuhan telah menyelesaikan dan menggenapi janji-janji Tuhan. Jadi, makhluk macam apakah engkau? Engkau bahkan bukan manusia—engkau adalah orang bodoh! Namun, engkau tetap ingin menerima berkat dari Tuhan—tidak mungkin! Engkau hanya bermimpi! Engkau selalu meragukan dan menyangkal Tuhan, selalu ingin mentertawakan kemalangan rumah Tuhan. Engkau tidak pernah mengakui atau percaya akan keberadaan Tuhan, dan engkau juga tidak pernah mengakui, percaya, atau menerima firman dan pekerjaan Tuhan. Oleh karena itu, janji-janji Tuhan sama sekali tidak ada hubungannya denganmu, dan engkau tidak akan memperoleh apa pun. Ada orang-orang yang berkata, "Namun, mereka tetap melaksanakan tugas mereka. Bagaimana mungkin mereka tidak memperoleh apa pun?" Jika demikian, kita harus jelas tentang apa tujuan mereka melaksanakan tugas, untuk siapa mereka melakukannya, dan prinsip-prinsip apa yang mereka ikuti ketika melaksanakan tugas. Jika engkau tidak menerima firman Tuhan, sekalipun engkau melaksanakan tugasmu, engkau hanya berjerih payah—itu bukanlah ketundukan yang sejati. Tuhan tidak mengakui apa yang kaulakukan sebagai pelaksanaan tugasmu. Di mata Tuhan, engkau tidak lebih dari orang mati yang tidak memiliki roh. Orang mati masih berharap untuk memperoleh berkat, bukankah itu hanya angan-angan? Engkau bahkan berhasil melaksanakan sedikit tugas itu karena engkau didorong oleh niatmu untuk memperoleh berkat. Engkau selalu ragu, dan di dalam hatimu, engkau selalu menghakimi, mengutuk, menyangkal Tuhan, juga menghakimi serta menyangkal firman dan pekerjaan Tuhan. Ini membuatmu menjadi seseorang yang adalah musuh Tuhan. Dapatkah seseorang yang adalah musuh Tuhan memenuhi standar sebagai makhluk ciptaan? (Tidak.) Engkau menjadikan dirimu sebagai musuh Tuhan di setiap kesempatan, diam-diam mengamati Dia dan pekerjaan-Nya dari bayang-bayang, diam-diam berteriak menentang Tuhan di dalam hatimu, menghakimi dan mengutuk-Nya, serta menghakimi dan mengutuk firman dan pekerjaan-Nya. Jika ini bukan menjadi musuh Tuhan, lalu apa? Ini secara terang-terangan menjadi musuh Tuhan. Dan engkau tidak sedang menjadi musuh Tuhan di dalam dunia orang tidak percaya—engkau sedang menjadi musuh Tuhan di dalam rumah Tuhan. Ini bahkan lebih tidak dapat diampuni!
Orang-orang yang bimbang ini, entah kita melihat substansi kemanusiaan mereka atau perwujudan mereka, tidak menerima kebenaran serta tidak menerima firman dan pekerjaan Tuhan. Mereka hanya peduli tentang apakah mereka dapat menerima berkat atau tidak. Mereka tidak pernah yakin tentang Tuhan atau pekerjaan-Nya, selalu mengamati di balik layar, selalu bimbang dan ragu. Mereka mengikuti Tuhan sambil mengamati, berjalan lalu berhenti, berhenti lalu berjalan. Orang-orang ini sangat menyusahkan! Khususnya sekarang, dengan gereja yang sering mengeluarkan orang-orang, mereka selalu gelisah dan berpikir, "Aku selalu bimbang. Mungkin suatu hari seseorang akan menyadarinya, dan aku akan dikeluarkan dari gereja. Aku tidak boleh membiarkan keraguan di dalam hatiku tentang tuhan terungkap. Aku tidak boleh menyinggung hal ini kepada siapa pun." Jadi, mereka secara diam-diam mengamati dari balik layar; dan mereka tidak takut disingkapkan oleh Tuhan, karena mereka tidak percaya pada keberadaan Tuhan, apalagi pada pemeriksaan Tuhan. Orang-orang ini sering mendengar saudara-saudari bersekutu tentang bagaimana Tuhan telah membimbing mereka, bagaimana Dia telah mendisiplinkan mereka, bagaimana Dia telah menyingkapkan orang-orang, bagaimana Dia telah menyelamatkan orang-orang, bagaimana Tuhan telah menganugerahkan kasih karunia dan berkat kepada mereka, dan bagaimana, dalam proses mengikuti Tuhan, mereka telah mengalami pekerjaan-Nya, dan apa yang telah mereka rasakan, lihat, atau hargai, dan sebagainya. Ketika mereka mendengar saudara-saudari bersekutu tentang pemahaman berdasarkan pengalaman, mereka berpikir, "Apakah pengalaman-pengalaman yang sedang kalian bicarakan itu hanyalah imajinasi kalian? Apakah ini hanyalah perasaan manusia? Mengapa aku belum merasakan hal-hal itu? Khususnya mereka yang menulis artikel kesaksian berdasarkan pengalaman—aku tidak mengenal mereka, dan aku belum pernah melihat bagaimana mereka mencapai hal-hal itu melalui pengalaman-pengalaman ini. Apakah mereka benar-benar memiliki kenyataan kebenaran atau tidak masih belum pasti!" Ada orang-orang bodoh yang tetap mengamati dan mempertanyakan pekerjaan rumah Tuhan, tidak mampu melihat kenyataan kebenaran manakah yang terkandung dalam artikel kesaksian berdasarkan pengalaman yang ditulis oleh umat pilihan Tuhan, berusaha mencari alasan dan dasar bagi kebimbangan dan kurangnya iman mereka sendiri. Mereka beranggapan bahwa karena mereka bimbang, orang lain juga pasti bimbang. Jika seseorang tidak pernah bimbang, tidak memiliki keraguan, dan selalu mempersekutukan kebenaran dengan sangat praktis, dan masalah apa pun yang dia hadapi, dia mampu mencari kebenaran untuk menyelesaikannya, orang-orang bodoh ini merasakan ketidakseimbangan dan ketidaknyamanan di dalam hati mereka. Ketika mereka merasa tidak nyaman, bagaimana cara mereka menemukan kelegaan? Mereka mencari seseorang yang sama seperti mereka, berusaha menemukan belahan jiwa. Ketika mereka melihat seseorang merasa negatif dan lemah, mereka memberi isyarat tentang pemikiran mereka sendiri untuk menguji keadaan, dengan berkata, "Terkadang aku juga merasa negatif. Ketika aku merasa negatif, aku tahu aku seharusnya tidak seperti itu, tetapi terkadang aku ragu apakah tuhan itu benar-benar ada." Jika orang lain tersebut tidak merespons mereka dan mereka melihat bahwa orang tersebut hanya negatif dan lemah, tetapi tidak memiliki keraguan tentang Tuhan, mereka akan mengatakan sesuatu yang tidak tulus untuk pergi dan menguji orang lain: "Menurutmu, ada apa denganku? Aku percaya kepada tuhan dengan baik, tetapi mengapa aku selalu memiliki keraguan tentang dia? Bukankah itu adalah pemberontakan? Seharusnya tidak seperti ini!" Mereka mengatakan hal ini semata-mata untuk mengambil hati orang lain dan menguji orang itu. Mereka sangat berharap agar orang lain mempertanyakan Tuhan sama seperti mereka—itu akan membuat mereka merasa senang! Jika mereka menemukan orang lain yang selalu ragu tentang Tuhan dan selalu memiliki gagasan tentang-Nya, mereka merasa beruntung telah menemukan belahan jiwa. Keduanya, yang memiliki pola pikir yang sama, sering saling mencurahkan isi hatinya. Makin mereka mengobrol, makin mereka menjauh dari Tuhan. Makin mereka mengobrol, makin mereka tidak mau melaksanakan tugas mereka, dan makin mereka tidak mau membaca firman Tuhan, dan mereka bahkan ingin berhenti berpartisipasi dalam kehidupan bergereja. Lambat laun, akhirnya keduanya pergi ke dunia untuk bekerja, saling berpaut seperti pasangan yang tak terpisahkan, saling bergandengan saat mereka berangkat bersama. Ketika mereka pergi, mereka bahkan tidak membawa satu pun buku firman Tuhan bersama mereka. Seseorang bertanya kepada mereka, "Apakah kalian sudah berhenti percaya kepada Tuhan?" dan mereka menjawab, "Tidak, kami percaya." Mereka tetap dengan keras kepala menyangkalnya. Orang itu bertanya, "Lalu mengapa kalian tidak membawa buku-buku firman Tuhan bersama kalian?" dan mereka menjawab, "Bukunya terlalu berat, dan kami tidak punya tempat untuk menaruhnya." Semua yang mereka katakan hanyalah untuk mengelabui orang lain. Sebenarnya, mereka hanya sedang bersiap-siap untuk kembali ke dunia, mencari pekerjaan, dan menjalani hidup mereka. Kukatakan yang sebenarnya kepada engkau semua: Orang-orang semacam ini adalah pengikut yang bukan orang percaya, dan ini akan menjadi kesudahan akhir mereka—seperti inilah diri mereka yang sebenarnya. Kepercayaan mereka kepada Tuhan tidak akan bertahan lama. Begitu mereka menemukan seseorang yang mereka sukai, seseorang yang dapat mereka ajak berbagi pemikiran mereka yang terdalam, mereka berpikir, "Akhirnya, aku menemukan seseorang yang mendukungku, seseorang yang dapat diandalkan. Ayo kita pergi! Percaya kepada tuhan sangat membosankan. Lagi pula tidak ada tuhan di dunia ini. Terlalu berat untuk memperlakukan sesuatu yang tidak ada sebagai sesuatu yang nyata. Tahun-tahun belakangan ini begitu sulit!" Mereka pergi dan berhenti percaya, dan bahkan memberi tahu saudara-saudari agar tidak mencari mereka, dengan berkata, "Kami sudah pergi untuk bekerja. Jangan hubungi kami lagi, atau kami akan memberi tahu polisi!" Kedua orang bodoh ini, sepasang keledai bodoh ini, pergi begitu saja. Baguslah, kata-Ku—ini membuat rumah Tuhan tidak perlu repot-repot mengusir atau mengeluarkan mereka. Katakan kepada-Ku, apakah perlu mempersekutukan kebenaran dengan orang-orang semacam ini untuk mendukung dan membantu mereka? Apakah perlu mencoba bernalar dan membujuk mereka? (Tidak.) Jika engkau semua mencoba membujuk mereka, engkau sedang bersikap sangat bodoh. Orang-orang semacam ini benar-benar adalah pengikut yang bukan orang percaya—mereka adalah mayat hidup dan orang-orang bodoh yang tak berotak. Jika engkau mencoba untuk membujuk mereka, itu berarti engkau juga bodoh. Engkau harus segera mengucapkan selamat tinggal kepada orang-orang semacam ini—dan tidak perlu mencari mereka setelah itu. Mereka telah berkata dengan jelas bahwa mereka tidak akan lagi percaya kepada Tuhan, dan bahwa jika engkau menghubungi mereka lagi, mereka akan melaporkanmu ke polisi. Jika engkau masih berusaha menghubungi mereka, bukankah engkau hanya sedang mengundang masalah? Jika mereka benar-benar menelepon polisi dan menuduhmu telah mengganggu mereka, akankah itu menciptakan reputasi yang baik jika beritanya tersebar? (Tidak.) Engkau sama sekali tidak boleh melakukan sesuatu yang begitu bodoh! Biarkan mereka mengurus diri mereka sendiri dan pergilah dengan tenang—ini adalah cara yang jauh lebih baik! Setiap orang mengikuti jalannya sendiri; jalan setiap orang ditentukan oleh siapa diri mereka. Mereka tidak diberkati, kehidupan mereka hanyalah kehidupan yang busuk dan tidak berharga. Mewarisi atau menikmatinya berkat sebesar itu di luar kemampuan mereka—mereka sama sekali tidak memiliki keberuntungan untuk menerimanya. Menerima perbekalan firman Tuhan dan menerima kebenaran sebagai kehidupan adalah berkat terbesar di seluruh alam semesta dan di antara seluruh umat manusia. Siapa pun yang mampu menerima kebenaran adalah orang yang diberkati, dan siapa pun yang tidak mampu menerima kebenaran sama sekali tidak memiliki berkat ini. Suatu hari, mereka yang telah menerima kebenaran akan selamat melewati malapetaka besar dan sangat diberkati, sedangkan mereka yang belum menerima kebenaran akan binasa dalam malapetaka dan mengalami malapetaka. Saat itu terjadi, sudah terlambat untuk menyesal. Sekalipun sekarang engkau mengakui bahwa firman Tuhan adalah kebenaran dan bahwa pekerjaan Tuhan dilakukan oleh Tuhan sendiri, jika engkau tidak mengejar kebenaran, tidak menerima kebenaran, dan tidak masuk ke dalam kebenaran, engkau tetap tidak akan memperoleh berkat seperti itu! Apakah menurutmu berkat ini dapat diperoleh dengan mudah? Ini adalah berkat yang belum pernah ada sejak permulaan zaman dan tidak akan pernah ada lagi—bagaimana mungkin engkau diizinkan untuk memperolehnya dengan mudah? Tuhan telah menjanjikan berkat seperti itu kepada umat manusia, tetapi itu bukanlah sesuatu yang dapat diperoleh orang biasa. Berkat ini diperuntukkan bagi mereka yang dipilih oleh Tuhan, dan tidak mungkin keledai bodoh, mayat hidup, bajingan, atau orang jahat dipilih. Tuhan melakukan tiga tahap pekerjaan untuk menyelamatkan umat manusia, dan pada akhirnya, Dia akan membentuk sekelompok pemenang, membuat orang-orang ini mampu menjadi penguasa atas segala sesuatu dan menjadi umat manusia yang baru. Alangkah besarnya berkat ini bagi umat manusia! Sudah berapa tahun tahap pekerjaan penghakiman pada akhir zaman ini berlangsung? (Lebih dari tiga puluh tahun.) Hanya dengan melihat tiga puluh tahun lebih ini, dapat terlihat betapa besar harga yang telah Tuhan bayar dan betapa banyak pekerjaan yang telah Dia lakukan, jadi jelaslah betapa sangat berharga dan betapa sangat mulianya umat manusia yang akhirnya akan Tuhan dapatkan, dan bahwa umat manusia sangat berharga dan sangat penting di mata Tuhan! Kalau begitu, alangkah beruntungnya engkau semua; ini adalah berkat yang sangat besar untukmu! Oleh karena itu, bagi beberapa orang yang masih bimbang pada saat ini, mereka benar-benar tidak diberkati! Sekalipun mereka tidak bimbang dan berkomitmen penuh untuk mengikuti, jika mereka tidak mengejar kebenaran, mereka tetap tidak akan memperoleh berkat ini. Jadi, mereka yang memperoleh berkat ini pada akhirnya bukanlah orang-orang biasa—mereka adalah orang-orang yang telah disaring dan dipilih dengan saksama oleh Tuhan, secara ketat dan berulang kali; merekalah orang-orang yang pada akhirnya bisa didapatkan oleh Tuhan.
Perwujudan utama dari mereka yang bimbang justru adalah masalah-masalah ini. Apa pun kemungkinan kesudahan akhir mereka, bagaimanapun juga, begitu orang-orang semacam itu diidentifikasi di dalam gereja, mereka harus ditangani berdasarkan prinsip-prinsip. Mereka tidak boleh diperlakukan sebagai saudara atau saudari. Jika mereka memiliki perasaan yang positif terhadap kepercayaan kepada Tuhan atau mereka mampu mengerahkan sejumlah upaya dan bersedia berjerih payah, paling-paling mereka adalah teman gereja, dan tidak dapat dianggap sebagai saudara atau saudari. Jadi, sekalipun mereka memiliki nama baru, seperti "Ketundukan" atau "Ketulusan", engkau tetap tidak boleh memanggil mereka saudara atau saudari—memanggil mereka dengan nama baru mereka sudah cukup. Mengapa demikian? Karena orang-orang semacam itu tidak memenuhi syarat untuk menjadi saudara atau saudari. Apakah engkau mengerti sekarang? (Ya.) Jadi, sekarang engkau memiliki prinsip-prinsip untuk menangani orang-orang semacam ini, bukan? (Ya.) Mari kita akhiri persekutuan hari ini. Sampai jumpa!
29 Juni 2024