Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (26)

Bab Empat Belas: Dengan Segera Mengenali, Mengeluarkan, dan Mengusir Berbagai Macam Orang Jahat dan Antikristus (Bagian Lima)

Sikap yang Harus Dimiliki Para Pemimpin dan Pekerja terhadap Pekerjaan Pembersihan Gereja

Tahun ini, kita telah terus-menerus bersekutu tentang tanggung jawab para pemimpin dan pekerja, serta perwujudan dari segala jenis orang yang terlibat. Topik-topik persekutuan telah menjadi makin terperinci dan spesifik, yang mencakup berbagai masalah dari segala jenis orang, dan persekutuan tentang perwujudan spesifik orang-orang ini, dan mereka harus dibagi menjadi berapa kategori juga telah sangat spesifik dan jelas. Makin spesifik dan jelas masalah-masalah terperinci ini dipersekutukan, makin banyak bantuan dan bimbingan positif yang akan diberikan bagi jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan, dan makin banyak bimbingan serta bantuan yang akan diberikan bagi para pemimpin dan pekerja untuk bekerja dan melaksanakan tugas-tugas mereka. Namun, seperti apa pun cara persekutuan itu dilakukan, seberapa spesifiknya pun persekutuan itu, beberapa pemimpin dan pekerja masih belum jelas tentang bagaimana cara menangani dan menyingkirkan berbagai jenis orang dan masalah-masalah di dalam gereja. Masalah-masalah segala jenis orang dipersekutukan dengan begitu jelas, tetapi beberapa pemimpin dan pekerja masih belum mampu memahami bagaimana cara membedakan dan memperlakukan berbagai jenis orang. Mereka masih belum dapat bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, mereka juga tidak mampu menggunakan kebenaran untuk menangani berbagai jenis orang dan masalah-masalah di dalam gereja. Apa alasannya? Orang-orang semacam itu tidak memiliki kenyataan kebenaran. Dengan mempersekutukan perwujudan dari segala jenis orang, orang seharusnya memiliki pemahaman mendasar dan membuat pengaturan yang masuk akal bagi orang di dalam gereja yang melaksanakan tugasnya dan yang tidak, bagi orang yang mengejar kebenaran dan yang tidak, bagi orang yang taat dan tunduk, serta bagi orang yang menyebabkan gangguan dan kekacauan. Namun, dilihat dari keadaan segala jenis orang di gereja, hanya orang-orang yang jelas-jelas jahat yang telah dikeluarkan; banyak pengikut yang bukan orang percaya yang belum sepenuhnya dikeluarkan. Dalam pekerjaan pembersihan gereja, para pemimpin dan pekerja harus bekerja sama dengan pekerjaan Tuhan untuk mengeluarkan orang-orang jahat dan pengikut yang bukan orang percaya sesegera mungkin, daripada memperlakukannya secara pasif, bertindak sebagai penyenang orang, atau menganggap bahwa hanya dengan mengeluarkan orang-orang yang jelas-jelas jahat berarti semuanya beres dan baik-baik saja. Para pemimpin dan pekerja seharusnya secara aktif memeriksa pekerjaan masing-masing tim, memastikan keadaan setiap anggota tim, apakah ada pengikut yang bukan orang percaya di sana yang hanya untuk memenuhi kuota, atau apakah ada pengikut yang bukan orang percaya yang menyebarkan kenegatifan dan gagasan-gagasan untuk mengganggu pekerjaan gereja, dan begitu ditemukan, orang-orang ini harus sepenuhnya disingkapkan dan dikeluarkan. Inilah pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh para pemimpin dan pekerja; mereka seharusnya tidak bersikap pasif, tidak menunggu perintah dan desakan dari Yang di Atas untuk bertindak, dan mereka juga seharusnya tidak hanya sedikit melakukan sesuatu ketika semua saudara-saudari memintanya. Dalam pekerjaan mereka, para pemimpin dan pekerja harus memperhatikan maksud-maksud Tuhan dan setia kepada-Nya. Tindakan terbaik yang harus mereka lakukan adalah secara proaktif mengenali berbagai masalah dan menyelesaikannya. Mereka tidak boleh tetap pasif, terutama karena mereka memiliki firman dan persekutuan yang ada sekarang ini yang berlaku sebagai dasar. Mereka harus berinisiatif untuk mengatasi masalah dan kesulitan nyata secara menyeluruh dengan cara mempersekutukan kebenaran, dan melakukan pekerjaan mereka dengan tepat seperti yang seharusnya mereka lakukan. Mereka harus dengan segera dan proaktif menindaklanjuti kemajuan pekerjaannya; mereka tidak boleh selalu menunggu perintah dan desakan dari Yang di Atas sebelum mereka bertindak dengan enggan. Jika para pemimpin dan pekerja selalu negatif dan pasif, serta tidak melakukan pekerjaan nyata, mereka tidak layak melayani sebagai pemimpin dan pekerja, dan harus diberhentikan dan dipindahtugaskan. Sekarang ini, ada banyak pemimpin dan pekerja yang sangat pasif dalam pekerjaan mereka. Mereka hanya melakukan sedikit pekerjaan setelah Yang di Atas memberi perintah dan mendorong mereka; jika tidak, mereka mengendur dan menunda-nunda. Pekerjaan di beberapa gereja sangat kacau, ada orang-orang yang yang melaksanakan tugas di sana sangat bermalas-malasan dan bersikap asal-asalan, serta tidak memperoleh hasil yang nyata sedikit pun. Masalah-masalah ini pada dasarnya sudah sangat parah dan sangat buruk, tetapi para pemimpin dan pekerja di gereja-gereja itu tetap bertindak seperti pejabat dan penguasa. Mereka bukan saja tak mampu melakukan pekerjaan nyata, mereka juga tak mampu mengenali masalahnya ataupun menyelesaikannya. Ini melumpuhkan pekerjaan gereja dan menyebabkannya menjadi stagnan. Di mana pun pekerjaan gereja sedang dalam keadaan berantakan dan tidak ada tanda-tanda ketertiban, pasti ada seorang pemimpin palsu atau antikristus yang berkuasa. Di setiap gereja yang dikuasai oleh seorang pemimpin palsu, semua pekerjaan gerejakacau dan berantakan—hal ini tidak diragukan lagi. Sebagai contoh, Aku telah mendengar dan melihat sendiri banyak masalah di gereja-gereja Amerika. Sebagian besar masalah yang telah Kulihat diselesaikan saat itu juga; untuk beberapa masalah lainnya, Aku sudah meminta para pemimpin gereja-gereja Amerika untuk menyelesaikannya. Namun, sebagian besar pekerjaan para pemimpin dan pekerja dilakukan dengan sangat pasif, dengan tindak lanjut yang terlalu lambat dan efisiensi yang terlalu rendah, dengan sebagian besar tugas sehari-hari mereka dilaksanakan hanya setelah mendapat pesan dan desakan dari Yang di Atas. Setelah Yang di Atas mengatur pekerjaan, mereka akan sibuk untuk sementara waktu, tetapi begitu sedikit pekerjaan itu selesai, mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya karena mereka tidak mengerti tugas apa yang harus mereka laksanakan. Mereka tidak pernah jelas tentang pekerjaan yang termasuk dalam lingkup tanggung jawab para pemimpin dan pekerja, tugas mana yang harus dilaksanakan; di mata mereka, tidak ada pekerjaan yang perlu dilakukan. Apa yang sedang terjadi ketika orang-orang tidak berpikir bahwa ada pekerjaan yang harus dilakukan? (Mereka tidak terbeban.) Tepatnya, mereka tidak terbeban; mereka juga sangat malas dan mendambakan kenyamanan, dan sesering mungkin beristirahat kapan pun mereka bisa, dan berusaha menghindari tugas ekstra. Orang-orang malas ini sering kali berpikir, "Untuk apa aku terlalu khawatir? Terlalu banyak khawatir hanya akan membuatku cepat tua. Untuk apa aku khawatir, dan untuk apa aku menyibukkan diri dan melelahkan diriku sendiri? Apa yang akan terjadi jika aku kelelahan dan jatuh sakit? Aku tak punya uang untuk biaya pengobatan. Dan siapa yang akan merawatku saat aku tua?" Orang-orang malas ini pasif dan terbelakang. Mereka sama sekali tidak memiliki kebenaran, dan tak mampu memahami apa pun dengan jelas. Mereka jelas adalah sekelompok orang-orang yang kacau, bukan? Mereka semua bingung; mereka tidak memahami kebenaran dan tidak tertarik akan kebenaran, jadi bagaimana mungkin mereka diselamatkan? Mengapa orang-orang selalu tidak disiplin dan malas, seolah-olah mereka adalah mayat hidup? Ini berkaitan dengan masalah natur mereka. Ada semacam kemalasan dalam natur manusia. Tugas apa pun yang mereka lakukan, mereka selalu membutuhkan seseorang untuk mengawasi dan mendesak mereka. Terkadang, orang-orang mempertimbangkan daging mereka, begitu mendambakan kenyamanan daging, dan selalu menyimpan sesuatu untuk diri mereka sendiri; orang-orang seperti ini penuh dengan niat setan dan rencana licik; mereka sama sekali tidak baik. Tugas penting apa pun yang mereka laksanakan, mereka selalu tidak berupaya sebaik mungkin. Ini berarti tidak bertanggung jawab dan tidak setia. Aku telah mengatakan hal-hal ini sekarang untuk mengingatkanmu agar tidak pasif dalam bekerja. Engkau semua harus mampu mengikuti apa pun yang Kukatakan. Jika Aku pergi ke berbagai gereja dan mendapati atau melihat bahwa engkau semua telah melakukan banyak pekerjaan, bahwa engkau telah bekerja dengan sangat efisien, dan bahwa pekerjaan itu mengalami kemajuan dengan sangat cepat, bahwa pekerjaan itu telah mencapai tingkat yang memuaskan, dan semua orang telah berupaya sebaik mungkin, Aku akan sangat senang. Jika Aku pergi ke berbagai gereja dan melihat bahwa kemajuan pekerjaan dalam semua aspek lambat, yang membuktikan bahwa engkau semua belum melaksanakan tugasmu dengan baik dan belum mengikuti kecepatan normal pemberitaan Injil, menurutmu, bagaimana suasana hati-Ku saat itu? Akankah Aku masih senang bertemu dengan engkau semua? (Tidak.) Aku tidak akan senang. Pekerjaan ini telah dipercayakan kepadamu, dan Aku telah mengatakan semua yang perlu dikatakan; prinsip-prinsip penerapan spesifik dan jalannya juga telah diberitahukan kepadamu. Namun, engkau semua tidak bertindak, tidak bekerja, hanya menunggu-Ku untuk mengawasi dan mendesakmu secara pribadi, untuk memangkasmu atau bahkan memerintahkanmu untuk bertindak. Apa masalahnya di sini? Bukankah ini harus ditelaah? Ketika engkau tidak sedang melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan dan tidak mampu memikulnya, bisakah Aku bersikap baik terhadapmu? (Tidak.) Mengapa Aku tidak dapat bersikap baik terhadapmu? (Kami sangat tidak bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas kami.) Karena engkau semua tidak melaksanakan tugas dengan segenap hati dan tenagamu, tetapi hanya melaksanakannya dengan sikap asal-asalan. Orang yang setia terhadap tugasnya setidaknya harus mengerahkan seluruh tenaganya, tetapi engkau semua bahkan tidak mampu melakukannya; engkau semua sangat jauh dari mencapainya! Bukan karena kualitas engkau semua tidak memadai; tetapi karena mentalitasmu tidak benar dan engkau semua tidak bertanggung jawab. Ada beberapa hal yang tidak masuk akal di dalam hati engkau semua yang menghalangimu dari melaksanakan tugasmu. Selain itu, pola pikir sebagai penyenang orang menghalangi engkau semua dari melaksanakan pekerjaan pembersihan gereja. Tahukah engkau semua, apa makna penting dari pembersihan gereja? Mengapa Tuhan ingin membersihkan gereja? Apa akibat dari tidak membersihkan gereja? Engkau semua tidak jelas tentang hal-hal ini dan tidak mencari kebenaran, yang membuktikan bahwa engkau semua tidak memperhatikan maksud-maksud Tuhan. Engkau semua hanya bersedia melakukan sedikit pekerjaan biasa dan rutin dari peranmu dan menghindari tugas-tugas khusus, terutama tugas-tugas yang mungkin menyinggung orang lain. Engkau lebih suka menyerahkan tugas-tugas ini kepada orang lain. Bukankah ini cara berpikir engkau semua? Bukankah ini masalah yang harus ditangani? Engkau semua selalu berkata, "Kualitasku buruk, pemahamanku tentang kebenaran terbatas, dan aku tidak memiliki cukup pengalaman kerja. Aku belum pernah menjadi pemimpin gereja, aku juga tidak pernah melakukan pekerjaan pembersihan gereja." Bukankah ini mencari-cari alasan? Pekerjaan pembersihan gereja telah dipersekutukan dengan sangat jelas. Mengeluarkan antikristus, orang jahat, dan pengikut yang bukan percaya adalah masalah yang sangat sederhana. Apakah beberapa prinsip itu sebegitu sulitnya untuk dipahami? Jika masalah yang sesederhana itu dijelaskan dengan sangat gamblang dan orang-orang tetap tidak mengerti, itu artinya apa? Itu artinya kualitas mereka terlalu buruk untuk memahami bahasa manusia, atau mereka hanyalah para bajingan yang tidak berfokus pada tugas mereka yang semestinya. Di antara para pemimpin dan pekerja, pasti ada beberapa orang yang kualitasnya buruk, dan pasti ada beberapa penyenang orang yang tidak mau melakukan pekerjaan nyata; pasti ada juga beberapa bajingan yang mengabaikan tugas yang semestinya dan melakukan kesalahan secara ceroboh—semua keadaan ini memang ada. Pertama-tama, para bajingan yang mengabaikan tugas yang semestinya harus dikeluarkan. Siapa pun yang mampu melakukan pekerjaan nyata harus digunakan, para penyenang orang yang bertindak sebagai pemimpin tentu saja harus diberhentikan, dan orang-orang yang berkualitas buruk yang dapat memahami bahasa manusia dan mampu melakukan pekerjaan nyata harus dipertahankan. Masalah-masalah itu harus diselesaikan dengan cara ini. Jika setelah Tuhan bersekutu engkau dapat melihat dengan jelas masalah-masalah dalam pekerjaan gereja yang harus diselesaikan oleh para pemimpin dan pekerja, engkau harus segera menanganinya tanpa terus menunda-nunda. Engkau harus dapat mengambil inisiatif untuk bertindak tanpa perlu menunggu Yang di Atas untuk secara pribadi memberikan tugas atau mengeluarkan perintah. Masalah apa pun yang muncul, itu harus diselesaikan sebelum memengaruhi pekerjaan. Bahkan sebelum Yang di Atas mulai menyelidiki masalah-masalah itu, engkau seharusnya telah melaporkan pemahaman dan solusimu terhadap masalah-masalah itu, prinsip-prinsip untuk menanganinya, dan hasil penanganannya. Itu akan sangat bagus! Mungkinkah Yang di Atas masih tidak puas denganmu saat itu? Sebagai seorang pemimpin atau pekerja, jika engkau selalu gagal melihat pekerjaan dalam lingkup tanggung jawabmu sendiri, atau sekalipun engkau memiliki kesadaran atau ide, tetapi terus menunda-nunda dan tidak bertindak, selalu menunggu Yang di Atas untuk mengatur tugas untukmu, bukankah itu berarti pengabaian tanggung jawab? (Ya.) Ini adalah pengabaian tanggung jawab yang serius! Engkau telah kehilangan sikap dan tanggung jawab yang seharusnya dimiliki seorang pemimpin atau pekerja dalam melaksanakan tugas. Dalam pekerjaan mereka, para pemimpin dan pekerja harus mengikuti tuntutan dari Yang di Atas dengan saksama; apa pun yang telah dipersekutukan oleh Yang di Atas, itulah yang harus kaulaksanakan, segeralah bertindak dan laksanakan setelah engkau memahaminya. Menyelesaikan masalah dengan kebenaran adalah tanggung jawab terpenting para pemimpin dan pekerja, dan engkau tidak boleh secara pasif menunggu Yang di Atas untuk mengatur pekerjaan sebelum melakukan apa pun. Jika engkau selalu menunggu dengan pasif, itu berarti engkau tidak layak menjadi pemimpin atau pekerja, engkau tidak mampu memikul pekerjaan ini, serta mengakui tanggung jawab dan mengundurkan diri adalah satu-satunya hal yang masuk akal untuk dilakukan.

Perwujudan dan Kesudahan Tiga Jenis Orang yang Percaya kepada Tuhan

I. Orang-Orang yang Berjerih Payah

Seluruhnya ada lima belas tanggung jawab pemimpin dan pekerja, dan kita telah mempersekutukannya hingga yang keempat belas. Masalah-masalah dalam gereja yang perlu diselesaikan oleh para pemimpin dan pekerja, serta berbagai masalah dari segala macam orang yang terlibat dalam masalah-masalah ini, telah dipersekutukan hingga sekitar delapan puluh sampai sembilan puluh persen. Semua ini adalah tugas-tugas yang perlu dilaksanakan oleh para pemimpin dan pekerja serta problem-problem yang perlu mereka selesaikan. Ini melibatkan banyak masalah. Di satu sisi, ini ada kaitannya dengan tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh para pemimpin dan pekerja; di sisi lain, ini juga ada kaitannya dengan berbagai masalah dari segala macam orang di gereja. Meskipun tema persekutuan kita selama periode ini adalah tanggung jawab para pemimpin dan pekerja serta penyingkapan para pemimpin palsu, kita juga telah banyak mempersekutukan tentang masalah dari segala macam orang—dan keadaan serta esensi dari berbagai macam orang—yang disinggung dalam tema ini. Tentu saja, pembahasan spesifik ini memiliki dampak yang berbeda pada segala macam orang yang mengikuti Tuhan di gereja. Di antara mereka, ada satu jenis orang yang, bahkan setelah mendengar semua persekutuan ini, masih berpegang pada sikap "Aku memiliki kemanusiaan yang baik, aku benar-benar percaya kepada Tuhan, aku bersedia meninggalkan segala sesuatu dalam imanku kepada Tuhan, dan aku bersedia membayar harga dan menanggung kesukaran untuk melaksanakan tugasku". Mereka tidak peduli dengan berbagai keadaan dari segala jenis orang, kebenaran yang berkaitan dengan berbagai keadaan, atau prinsip-prinsip kebenaran yang harus dipahami orang, yang dipersekutukan selama periode ini. Bukankah ini satu jenis orang? Bukankah jenis orang ini sangat mewakili? (Ya.) Jenis orang ini selalu memegang sudut pandang tertentu. Sudut pandang ini terdiri dari apa? Itu terdiri dari tiga hal yang baru saja Kusebutkan: Pertama, mereka meyakini bahwa kemanusiaan mereka tidak buruk, dan bahkan meyakini bahwa kemanusiaannya baik. Kedua, mereka mengira bahwa mereka benar-benar percaya kepada Tuhan, artinya mereka sungguh-sungguh percaya pada keberadaan Tuhan dan kedaulatan Tuhan atas segala sesuatu, meyakini bahwa takdir manusia dikendalikan oleh Tuhan, bahwa itu berada di bawah kedaulatan Tuhan, yang merupakan penafsiran luas dari "benar-benar percaya kepada Tuhan". Ketiga, mereka meyakini bahwa mereka mampu meninggalkan segala sesuatu dalam iman mereka kepada Tuhan dan menanggung kesukaran serta membayar harga untuk melaksanakan tugas mereka. Dapat dikatakan, ketiga hal ini adalah unsur yang paling mendasar, utama, dan inti yang dipegang teguh orang-orang ini dalam iman mereka kepada Tuhan. Tentu saja, hal-hal ini juga dapat dianggap sebagai modal mereka dalam kepercayaan kepada Tuhan, serta tujuan yang mereka kejar, dan motivasi serta arahan mereka dalam bertindak. Mereka meyakini bahwa memiliki ketiga hal ini membuat mereka memenuhi syarat tiga kondisi dasar untuk diselamatkan, menjadikan mereka orang-orang yang dikasihi dan diterima oleh Tuhan. Ini adalah kesalahan besar; memiliki ketiga hal ini hanya menunjukkan sedikit kemanusiaan. Dapatkah hanya dengan memiliki sedikit kemanusiaan mendapatkan perkenan Tuhan? Sama sekali tidak; Tuhan memperkenan mereka yang takut akan Dia dan menjauhi kejahatan. Ketiga hal ini tidak memenuhi standar kenyataan kebenaran; itu hanyalah tiga standar untuk menjadi orang yang berjerih payah. Selanjutnya, Aku akan mempersekutukan rincian dari ketiga hal ini untuk membuat engkau semua memahami dengan jelas. Hal pertama adalah memiliki kemanusiaan yang baik. Mereka meyakini bahwa tidak melakukan kejahatan, tidak menyebabkan kekacauan dan gangguan, serta tidak menyebabkan kerugian bagi kepentingan rumah Tuhan sudah cukup, dan bahwa ini berarti mereka dapat memenuhi maksud Tuhan dan bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip. Hal kedua adalah "benar-benar percaya kepada Tuhan". Bagi mereka, apa yang mereka sebut sebagai "benar-benar percaya kepada Tuhan" berarti tidak pernah meragukan keberadaan Tuhan atau fakta tentang kedaulatan-Nya atas segala sesuatu, dan meyakini bahwa takdir manusia berada di tangan Tuhan, mereka menganggap ini akan membantu mereka mengikuti Tuhan sampai akhir. Mereka meyakini bahwa asalkan mereka benar-benar percaya kepada Tuhan, mereka akan memperoleh perkenan-Nya. Oleh karena itu, seperti apa pun cara Tuhan memimpin atau bertindak, atau masalah apa pun yang mereka hadapi, mereka berkata, "Kasihi saja Tuhan, ikuti Tuhan, tunduk kepada Tuhan." Metode mereka dalam menyelesaikan masalah terlalu sederhana; dapatkah kata-kata yang digeneralisasi seperti itu menyelesaikan masalah apa pun? Hal ketiga adalah mampu meninggalkan segala sesuatu dalam iman mereka kepada Tuhan, dan mampu menanggung kesukaran serta membayar harga untuk melaksanakan tugas mereka. Bagaimana cara mereka menerapkannya? Karena mereka benar-benar percaya kepada Tuhan, ketika ada kebutuhan dalam pekerjaan gereja atau ketika mereka merasakan maksud Tuhan yang mendesak, mereka dapat secara proaktif meninggalkan keluarga, pernikahan, dan karier mereka, mengesampingkan prospek duniawi mereka, dan mengikuti Tuhan serta melaksanakan tugas mereka dengan tekad yang teguh, tanpa pernah ada penyesalan sedikit pun. Mereka mampu menanggung kesukaran dan membayar harga untuk tugas apa pun yang diatur rumah Tuhan bagi mereka, sekalipun itu berarti makan lebih sedikit dan lebih jarang tidur. Sekeras apa pun kondisi kehidupan, atau bahkan dalam beberapa lingkungan yang buruk, mereka tetap mampu bertahan untuk melaksanakan tugas mereka. Selain ketiga hal ini, penerapan semua aspek lain yang ada kaitannya dengan kebenaran tampaknya tidak ada hubungannya dengan mereka. Mereka melakukan apa yang tampaknya baik atau benar bagi mereka. Mengenai berbagai prinsip penerapan yang telah diberitahukan Tuhan kepada manusia, serta keadaan, perwujudan, dan esensi berbagai watak rusak manusia yang telah Tuhan ungkapkan, mereka merasa bahwa tidak masalah bagi mereka untuk tahu sedikit atau tidak tahu sama sekali; mereka merasa tidak perlu secara spesifik dan cermat mencari berbagai prinsip untuk memeriksa kerusakan mereka sendiri dan melengkapi kekurangan mereka, atau tidak perlu sering menghadiri pertemuan untuk mendengar orang lain mempersekutukan berbagai kesaksian pengalaman mereka, dan kemudian mencapai perubahan diri, dan sebagainya. Mereka merasa percaya kepada Tuhan dengan cara seperti ini terlalu merepotkan, itu tidak perlu. Mereka mengikuti Tuhan dan melaksanakan tugas mereka dengan pemahaman yang dangkal tentang iman kepada Tuhan dan perubahan watak, serta berbagai gagasan dan imajinasi tentang pekerjaan Tuhan. Bukankah jenis orang seperti ini cukup mewakili? (Ya.) Mereka menetapkan persyaratan yang paling mendasar bagi diri mereka sendiri, dan memiliki sikap yang paling mendasar terhadap kepercayaan kepada Tuhan. Di luar ini, mereka mengabaikan kebenaran, penghakiman, dan penyingkapan Tuhan, pemangkasan, serta berbagai watak rusak manusia dan berbagai keadaan, perwujudan, dan sebagainya. Mereka tidak pernah merenungkan atau memikirkan masalah-masalah ini. Artinya, orang-orang ini menganggap diri mereka memiliki kemanusiaan yang baik, menjadi orang baik, dan benar-benar percaya kepada Tuhan; mereka mengakui bahwa manusia memiliki watak yang rusak sambil mengabaikan keadaan dan perwujudan spesifik berbagai watak rusak manusia yang disingkapkan oleh Tuhan, tidak sedikit pun berupaya menyelidiki hal-hal ini. Bukankah ini satu jenis orang? Bukankah pandangan dan perwujudan spesifik dari jenis orang ini dalam iman mereka kepada Tuhan cukup mewakili? (Ya.) Mengingat sudut pandang orang-orang ini tentang kepercayaan kepada Tuhan, pemahaman mereka tentang diselamatkan, dan sikap mereka terhadap firman Tuhan yang menyingkapkan berbagai watak manusia yang rusak, ke dalam kategori manakah orang-orang ini seharusnya ditempatkan? (Mereka yang imannya kacau, yang tidak mengejar kebenaran.) Ini hanyalah penampakan dari luar; sebenarnya bagaimana seharusnya orang-orang ini dikategorikan? Apakah ada banyak orang seperti itu di gereja? (Ada.) Setiap kali masalah-masalah spesifik dibahas dan kebenaran yang berkaitan dipersekutukan, mereka mulai mengantuk, tertidur, atau menjadi bingung, tidak menunjukkan minat. Jika mereka diberi pekerjaan atau tugas apa pun, mereka menyingsingkan lengan baju dan mengerjakannya, tidak menghindari kesukaran atau kelelahan. Mereka menganggap bahwa akan sangat bagus jika percaya kepada Tuhan adalah seperti melakukan pekerjaan semacam ini—barulah mereka akan termotivasi. Ketika tiba saatnya untuk menanggung kesukaran, membayar harga, dan mengerahkan upaya dalam pekerjaan, mereka menunjukkan kesungguhan yang sejati. Namun, apakah kesungguhan dan antusiasme yang tulus ini sama seperti bersikap setia? Apakah itu perwujudan yang seharusnya orang miliki setelah memahami prinsip-prinsip kebenaran? (Bukan.) Melalui persekutuan-Ku, dapatkah engkau semua melihat, ke dalam kategori manakah orang-orang ini seharusnya digolongkan? (Orang yang berjerih payah.) Benar. Orang-orang ini adalah orang yang berjerih payah, dan seperti inilah cara orang yang berjerih payah percaya kepada Tuhan.

Kita memulai dengan bersekutu tentang esensi natur, dan berbagai perwujudan antikristus, serta berbagai perwujudan dari mereka yang memiliki watak antikristus, tetapi sebenarnya bukan antikristus. Sekarang, kita sedang mempersekutukan perwujudan dari berbagai jenis orang yang disinggung dalam tanggung jawab para pemimpin dan pekerja. Meskipun topik yang dipersekutukan adalah tentang antikristus dan pemimpin palsu, masalah dan perwujudan spesifik yang disinggung dalam setiap poin ada kaitannya dengan watak rusak umat manusia yang rusak, serta ada kaitannya dengan berbagai keadaan dan perwujudan yang dihasilkan di bawah kekuasaan watak yang rusak. Meskipun pemimpin palsu dan antikristus hanya minoritas, watak pemimpin palsu dan antikristus, serta berbagai keadaan dan perwujudannya, ada di dalam diri setiap orang hingga taraf yang berbeda-beda. Sekarang setelah masalah-masalah ini dipersekutukan dengan sangat rinci, mereka yang mengejar kebenaran selanjutnya akan memiliki lebih banyak jalan dan arah, serta tujuan yang makin jelas dalam mengejar kebenaran, menerapkan kebenaran, memahami prinsip-prinsip kebenaran, dan masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Ini adalah hal yang baik bagi mereka dan membawa sukacita. Dengan kata lain, mereka sedang memulai tonggak pencapaian baru dalam iman mereka kepada Tuhan. Mereka tidak lagi hidup di bawah aturan, ritual keagamaan, atau kata-kata dan doktrin, serta slogan. Sebaliknya, mereka memiliki arah dan tujuan yang lebih konkret untuk diterapkan, dan tentu saja, memiliki prinsip-prinsip yang lebih spesifik untuk diikuti. Bagaimana cara melakukan penerapan dalam keadaan tertentu dan apa saja prinsip-prinsip kebenaran yang berkaitan, atau keadaan dan kerusakan apa yang orang-orang miliki dan bagaimana mereka harus diperlakukan, serta cara mencari kebenaran untuk menyelesaikannya—pembahasan ini sebagian besar disinggung pada kedua topik persekutuan utama tentang antikristus dan pemimpin palsu. Bagi mereka yang mengejar kebenaran, makin spesifik kebenaran dipersekutukan, makin mereka memiliki jalan untuk melakukan penerapan. Makin spesifik kebenaran dipersekutukan, makin cerah dan jernih hati orang-orang, makin mereka mampu mengetahui dan mengenal diri mereka sendiri, serta makin mereka menyadari apa yang harus mereka masuki selanjutnya dan masalah apa yang perlu mereka selesaikan selanjutnya. Mengenai jenis orang yang disebutkan sebagai orang yang berjerih payah tadi, setelah kita bersekutu secara ekstensif tentang berbagai keadaan yang dihasilkan oleh watak rusak umat manusia dan berbagai masalah kerusakan yang perlu diselesaikan, tetap saja, mereka masih tidak tergerak. Apa artinya masih tidak tergerak? Itu berarti bahwa mereka masih tidak jelas dan tidak mampu memahami pengejaran kebenaran dan jalan keselamatan yang dibicarakan oleh Tuhan. Yang lebih parah lagi, setelah begitu banyak perwujudan dan masalah-masalah penting dipersekutukan, mereka tetap berpikir, "Aku memiliki kemanusiaan yang baik, aku benar-benar percaya kepada Tuhan, aku bersedia meninggalkan segala sesuatu dalam imanku kepada Tuhan, dan aku bersedia membayar harga dan menanggung kesukaran untuk melaksanakan tugasku; ini sudah cukup." Ketika menghadapi berbagai keadaan, mereka tidak memeriksa diri mereka sendiri atau membandingkan diri mereka dengan firman Tuhan, tetapi malah berusaha menyelesaikan masalah hanya berdasarkan kebaikan manusia mereka sendiri atau sedikit hati nurani dan nalar yang mereka miliki. Tentu saja, beberapa orang mengandalkan pengendalian diri dan kesabaran, berulang kali bertahan, sedangkan orang lain mengandalkan falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain, membuat masalah besar tampak seperti masalah kecil, kemudian membuat masalah kecil seakan tidak bermasalah. Tujuan yang mereka kejar adalah: "Pada hari pekerjaan Tuhan berakhir, jika aku masih berada di gereja melaksanakan tugasku dan belum dikeluarkan, itu sudah cukup. Entah aku mengenali diriku sendiri dengan benar atau tidak, entah watak rusakku telah diatasi atau belum, entah aku memiliki ketundukan sejati kepada Tuhan atau tidak, entah aku adalah orang yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan atau tidak—semua itu adalah masalah kecil, tidak pantas disebutkan. Kau hanya membesar-besarkan masalah, mempersekutukan kebenaran dengan sangat rinci, terus-menerus mengangkat bahkan masalah terkecil untuk dipersekutukan, selalu meminta kami untuk membedakan; aku sama sekali tidak mau mendengar persekutuan tentang kebenaran ini, aku sama sekali tidak tertarik. Ketika hari Tuhan tiba, betapa indahnya jika kita bisa langsung masuk saja ke dalam Kerajaan!" Memang benar bahwa kesabaran setiap orang ada batasnya, tetapi kesabaran orang-orang semacam itu tidak terbatas. Mengapa? Karena mereka meyakini bahwa mereka memiliki kemanusiaan yang baik, benar-benar percaya kepada Tuhan, memiliki kemampuan untuk meninggalkan segala sesuatu sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, dan memiliki kesediaan untuk membayar harga serta menanggung kesukaran demi melaksanakan tugas mereka; ketika dihadapkan dengan apa pun, mereka memiliki solusinya sendiri, pada akhirnya tetap mampu dengan teguh melaksanakan tugas mereka dan berdiri teguh. Namun, seperti apa pun cara mereka bertahan dalam melaksanakan tugas mereka, atau dengan cara apa mereka bertahan sampai akhir, apa pun motivasi mereka, satu hal yang pasti: Mereka tidak memiliki ketundukan sejati kepada Tuhan, dan mereka tidak pernah memahami watak rusak mereka sendiri. Lebih tepatnya, orang-orang ini tidak mengakui bahwa mereka memiliki kerusakan, dan mereka juga tidak mengakui berbagai keadaan serta masalah yang disebabkan oleh watak rusak manusia yang disingkapkan oleh Tuhan. Sekalipun mereka terkadang menyamakan diri mereka dengan keadaan dan masalah ini, mereka menanggapinya dengan cara yang dingin dan berkata, "Semua orang sama-sama rusak. Esensi natur semua orang adalah esensi natur setan dan Iblis; kita semua adalah musuh Tuhan. Ini adalah fakta yang tidak dapat diubah oleh siapa pun. Namun, asalkan orang bertahan melaksanakan tugas mereka, Tuhan pasti akan berkenan, dan mereka yang bertahan sampai akhir akan menjadi pemenang." Dinilai dari sudut pandangnya, mereka sangat bersemangat dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan, tetapi ketika harus menyampaikan kesaksian pengalaman, mereka terdiam, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Ketika tiba saatnya untuk mempersekutukan kebenaran di pertemuan, mereka merasa mengantuk dan tidak mampu menyerapnya. Jika engkau bertanya kepada mereka, "Bagaimana caramu mengalami firman Tuhan dalam tugasmu setiap hari?" mereka menjawab, "Apa pun yang diatur gereja untuk kulakukan, aku lakukan. Apakah aku perlu mengalaminya?" Mereka tampaknya tidak mengerti. Jika engkau kemudian bertanya kepada mereka, "Adakah kerusakan yang tersingkap dalam dirimu? Bagaimana caramu mengenal dirimu sendiri?" mereka menjawab, "Aku hanya tunduk kepada Tuhan dan mengasihi Tuhan; apa ada masalah dengan hal itu?" Sesederhana itulah pemikiran mereka. Inilah pandangan mereka: "Percaya kepada Tuhan seharusnya seperti ini. Untuk apa direpotkan dengan begitu banyak hal sepele? Kalian membuat segala sesuatunya terlalu rumit!" Oleh karena itu, ketika melakukan pekerjaan dan melaksanakan tugas, mereka tidak pernah mencari prinsip-prinsip kebenaran, tetapi bertindak berdasarkan niat baik dan antusiasme. Lebih tepatnya, mereka bertindak di bawah kendali hati nurani dan nalar, mereka berpikir: "Aku telah menderita dan membayar harga yang sangat mahal; aku telah menerapkan kebenaran dan memuaskan Tuhan hingga taraf tertentu; jangan meminta lebih dariku. Aku baik-baik saja seperti ini, aku orang yang baik, dan aku benar-benar percaya kepada Tuhan." Tentu saja, ada kalanya orang-orang ini tak mampu menahan diri untuk tidak melampiaskan amarah, dan kemudian diri mereka yang sebenarnya tersingkap. Mereka mampu melontarkan banyak kata dan doktrin, tetapi tidak sedikit pun memiliki tingkat pertumbuhan yang nyata; dengan kata lain, mereka tidak memiliki kehidupan. Secara spesifik, apa artinya tidak memiliki kehidupan? (Artinya mereka tidak memiliki kebenaran.) Apa sebabnya mereka tidak memiliki kebenaran? (Karena mereka tidak mengasihi kebenaran dan tidak mengejarnya.) Ini bahkan bukan masalah apakah mereka mengasihi kebenaran atau tidak; tepatnya, mereka tidak menerima kebenaran. Ada orang-orang yang mungkin berkata, "Bagaimana bisa Engkau mengatakan mereka tidak menerima kebenaran? Mereka menanggung begitu banyak kesukaran dan membayar harga yang sangat mahal untuk melaksanakan tugas mereka, bekerja keras setiap hari dari fajar hingga senja; bagaimana bisa Engkau mengatakan mereka tidak memiliki kebenaran?" Apakah mengatakan hal ini tidak adil bagi mereka? Namun, jika engkau melihat orang-orang ini, di balik penderitaan mereka dan harga yang mereka bayar, apakah semua yang mereka lakukan berada dalam lingkup prinsip-prinsip kebenaran? Apakah mereka mencari prinsip dalam semua yang mereka lakukan? Apakah mereka datang ke hadirat Tuhan dengan hati yang takut akan Tuhan, dan melakukan segala sesuatu berdasarkan firman Tuhan dan prinsip-prinsip yang dituntut oleh rumah Tuhan? Tidak, semua itu adalah perbuatan manusia, pengekangan diri manusia. Apa perwujudan utama mereka saat tidak menerima kebenaran? Yaitu, sebelum melakukan sesuatu, mereka tidak pernah secara aktif mencari kebenaran, dan mereka juga tidak pernah dengan serius merenungkan apa arti prinsip-prinsip kebenaran, kemudian melakukan penerapan berdasarkan firman Tuhan dengan ketat. Apakah mereka memendam pemikiran dan sikap seperti itu? Bagaimana sikap mereka terhadap berbagai perwujudan watak rusak umat manusia yang disingkapkan oleh Tuhan? Apakah mereka menerima firman ini? Apakah mereka mengakui bahwa firman ini faktual? Apakah mereka mengakui bahwa perwujudan spesifik ini adalah penyingkapan dari kerusakan? Dari luar, mereka mungkin mengangguk setuju atau mengakuinya, tetapi dalam hatinya, mereka tidak menerimanya; mereka mengabaikannya. Apa artinya mengabaikannya? Secara spesifik, itu berarti tidak menerima, tidak memiliki sikap yang jelas, dan tidak ada penentangan atau perlawanan yang jelas, tetapi bersikap dingin terhadap firman yang diucapkan oleh Tuhan ini. Mengatakan bahwa mereka "bersikap dingin" agak abstrak; secara spesifik, mereka berpikir, "Engkau berkata bahwa orang-orang congkak dan licik, tetapi siapa yang tidak licik? Siapa yang tidak memiliki sedikit kelicikan? Siapa yang tidak memperlihatkan sedikit kecongkakan atau kesombongan? Apa masalahnya? Selama orang mampu menanggung kesukaran dan membayar harga, itu sudah cukup." Bukankah ini sikap dan perwujudan spesifik dari penolakan? (Ya.) Ini berarti tidak menerima kebenaran. Sikap mereka terhadap firman penghakiman dan penyingkapan Tuhan adalah sikap mengabaikan dan menolak. Jadi, dalam hal penilaian dan peringatan yang diberikan saudara-saudari kepada mereka, dan bahkan bimbingan dan bantuan yang diberikan saudara-saudari untuk watak rusak mereka, dapatkah mereka menerima hal-hal itu? (Tidak.) Kalau begitu, katakan kepada-Ku, apa sajakah perwujudan spesifik mereka? Mengapa mereka tidak dapat menerima hal-hal ini? Apa bukti yang mendasari perkataanmu? Contohnya, ketika engkau berkata kepada mereka, "Kau tidak boleh melaksanakan tugasmu dengan cara yang ceroboh seperti itu; itu adalah sikap yang asal-asalan," apa perwujudan mereka yang membuktikan bahwa mereka tidak menerima kebenaran? (Mereka akan berkata, "Aku telah melakukannya dengan sungguh-sungguh. Aku telah menderita dan membayar harga. Bagaimana bisa kau berkata aku sedang bersikap asal-asalan?") Ini artinya mereka sedang membenarkan diri mereka sendiri. Akankah mereka terkadang mencari-cari alasan? Sekalipun mereka mengakuinya dalam hati, mereka tetap berpikir, "Aku bersikap asal-asalan, memangnya kenapa? Siapa yang tidak pernah memiliki hari yang buruk? Siapa yang tidak mengalami emosi yang normal? Namun, aku tidak boleh mengakui bahwa aku sedang bersikap asal-asalan; aku perlu mencari alasan untuk menutupinya. Aku tidak boleh kehilangan muka." Jadi, mereka mencari banyak alasan dan dalih untuk membela diri mereka sendiri dengan cara yang licik, tidak mengakui fakta bahwa mereka sedang bersikap asal-asalan, tidak mengakui masalah mereka sendiri dalam hal ini, dan tidak menerima nasihat dari orang lain. Inilah perwujudan spesifik dari tidak menerima kebenaran. Ketika tidak dihadapkan dengan keadaan yang sebenarnya, mereka menganggap diri mereka sebagai "orang baik, yang benar-benar percaya kepada Tuhan". Ketika dihadapkan dengan berbagai keadaan, meskipun mereka tidak dapat lagi menggunakannya untuk membela diri, mereka tetap menemukan alasan yang cukup untuk membenarkan dan membela diri mereka sendiri, membuat masalah terlihat sepele, menganggapnya selesai, dan kemudian terus memandang diri mereka sebagai "orang yang baik, dengan kemanusiaan yang baik, yang benar-benar percaya kepada Tuhan, dan memiliki kemampuan untuk meninggalkan, serta kemampuan untuk menanggung kesukaran dan membayar harga dalam melaksanakan tugas mereka." Tepatnya, perwujudan dan esensi dari orang-orang semacam itu adalah perwujudan dan esensi orang yang berjerih payah. Kelompok ini adalah kelompok yang sangat besar proporsinya di dalam gereja. Sebesar apa pun proporsinya, pada akhirnya, jika orang-orang ini benar-benar mampu menderita dan membayar harga, serta bertahan dan tekun sampai akhir tanpa melakukan pelanggaran besar apa pun, tanpa melanggar ketetapan administratif Tuhan atau menyinggung watak-Nya, itu berarti mereka adalah orang yang berjerih payah yang setia, orang yang berjerih payah yang dapat bertahan. Ini adalah berkat yang sangat besar! Mereka tidak mengejar kebenaran, dan mereka juga tidak dapat mengikuti kehendak Tuhan, bersaksi tentang Tuhan, atau bertindak sebagai saksi bagi firman dan pekerjaan Tuhan—menerima berkat ini sudah cukup baik. Tanpa mengejar kebenaran, apa yang dapat orang harapkan untuk diperoleh? Sudah bagus menjadi orang yang berjerih payah yang setia. Ada orang-orang yang bertanya, "Apakah mungkin orang-orang ini bisa menjadi umat Tuhan?" Ya, mungkin saja. Satu-satunya kemungkinan adalah jika orang-orang ini, atas dasar mampu meninggalkan dan menderita, mampu menerima kebenaran, mengakui dan menghadapi kerusakan mereka sendiri dengan benar, dan kemudian mencari kebenaran untuk menyelesaikannya, tidak bertindak berdasarkan kebaikan manusia atau pengekangan diri, kesabaran, dan ketekunan manusia, tetapi melakukan penerapan berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, sehingga pada akhirnya, watak mereka dapat mengalami sedikit perubahan, dengan demikian mereka memiliki sejumlah kemungkinan untuk menjadi umat Tuhan. Namun, jika tindakan dan perilaku mereka tidak ada kaitannya dengan perubahan watak, tidak ada kaitannya dengan menerima kebenaran dan diselamatkan, kemungkinan mereka untuk menjadi umat Tuhan adalah nol; inilah faktanya. Apa prinsip untuk memperlakukan orang yang berjerih payah yang setia? Yaitu berupaya sebaik mungkin untuk membantu orang-orang ini menjadi berpikir jernih. Apa tujuan membuat mereka berpikir jernih? Agar mereka tidak berkhayal. Ada orang-orang yang mungkin bertanya, "Apa yang dimaksud dengan 'berkhayal'?" Itu adalah ketika orang-orang menganggap diri mereka "memiliki kemanusiaan yang baik, benar-benar percaya kepada Tuhan, dan memiliki kemampuan untuk meninggalkan dan kesediaan untuk membayar harga" dan kemudian berharap untuk diselamatkan oleh Tuhan, yang mana itu tidak mungkin. Harus dijelaskan kepada mereka bahwa memegang pandangan bahwa "memiliki kemanusiaan yang baik, benar-benar percaya kepada Tuhan, dan memiliki kemampuan untuk meninggalkan dan kesediaan untuk membayar harga dapat membantumu menerima keselamatan dari Tuhan" adalah pandangan yang salah dan bodoh. Harus dijelaskan kepada mereka bahwa memiliki kualitas-kualitas ini bukan berarti orang telah membuang wataknya yang rusak, dan memiliki sedikit perilaku yang baik bukan berarti orang dapat diselamatkan, dan terlebih lagi, itu bukan berarti bahwa orang telah memperoleh kebenaran, dan bahwa sudut pandang mereka tidak masuk akal, menggelikan, dan tidak konsisten serta sama sekali tidak sesuai dengan kebenaran yang diungkapkan oleh Tuhan. Bagi orang-orang yang dengan keras kepala berpegang teguh pada gagasan-gagasan agama ini, mereka harus dibantu; bacakanlah firman Tuhan dan persekutukanlah kebenaran kepada mereka. Jika mereka tetap tidak mampu menerima kebenaran, dan seperti apa pun caramu mempersekutukan kebenaran, mereka tetap tidak dicerahkan dan tidak menunjukkan niat untuk mencari, engkau tidak perlu memaksa mereka. Mereka hanya dapat melayani sebagai orang yang berjerih payah sampai akhir.

II. Umat Tuhan

Setelah mempersekutukan perwujudan orang yang berjerih payah dengan setia, mari kita membahas tentang perwujudan dari jenis orang lainnya. Jika dibandingkan, setelah mendengar berbagai penyingkapan dan penghakiman Tuhan atas watak rusak dari semua jenis orang, orang-orang ini lebih banyak berpikir tentang berbagai perwujudan watak rusak dan berbagai sikap mereka terhadap Tuhan di masa lalu serta kebenaran yang muncul di bawah kendali watak rusak mereka—mereka mulai merenungkan dan memahami berbagai perwujudan mereka, membandingkan diri mereka sendiri terhadap firman Tuhan, memeriksa sikap mereka terhadap tugas mereka, dan memeriksa berbagai kerusakan yang mereka perlihatkan saat melaksanakan tugas mereka dan di tengah orang, peristiwa, dan berbagai hal yang diatur oleh Tuhan. Mereka memeriksa dan mengenal diri mereka sendiri dari setiap rincian sembari berusaha menerima penghakiman, penyingkapan, dan pendisiplinan Tuhan. Dalam hal apa orang-orang ini lebih baik daripada orang yang berjerih payah? Mereka dapat secara proaktif dan positif menerima kebenaran, firman Tuhan, dan setiap watak rusak yang disingkapkan oleh Tuhan. Meskipun terkadang mereka mungkin bersikap negatif, menghindar, atau bahkan berpikir untuk menyerah, apa pun yang terjadi, mereka tetap memiliki dorongan untuk menerima kebenaran. Dorongan apa ini? Dorongannya adalah: "Firman Tuhan dapat mengubah orang. Asalkan orang menerima kebenaran, semua masalah dan watak rusak ini dapat diatasi, dan orang kemudian dapat diselamatkan. Jika aku ingin diselamatkan, aku harus bekerja sama dengan pekerjaan Tuhan dan menerima kebenaran." Sebagai contoh, setelah mendengar kebenaran tentang menjadi orang yang jujur, ada orang-orang yang mulai merenungkan diri mereka sendiri dan melihat kelicikan serta tipu muslihat yang mereka lakukan dengan lebih jelas, serta aspek-aspek mereka yang licik dan jahat. Mereka teringat akan kebohongan dan cara-cara curang mereka di masa lalu yang masih ada di dalam hati atau akan kesan-kesan mereka, yang dimainkan terus-menerus dalam pikiran mereka seperti adegan-adegan dari sebuah film, membuat mereka makin merasa malu, menderita, dan sedih. Setelah terus-menerus memeriksa diri sendiri dan merenungkan diri sendiri, mereka merasa seperti penjahat, tubuh mereka langsung lemas total dan mereka tidak mampu berdiri. Mereka merasa bahwa mereka bukanlah orang yang baik, melainkan orang jahat, dan merasa bahwa mereka beruntung karena belum secara langsung menentang Tuhan, yang memang merupakan suatu keberuntungan! Kemudian mereka mulai sadar, tidak mau gagal seperti itu sebagai manusia, dan bertekad: "Aku harus memulai dari awal dan menjadi orang yang jujur, jika tidak, aku tidak dapat diselamatkan oleh Tuhan. Agar diselamatkan, aku harus menjadi orang yang jujur. Aku sama sekali tidak boleh menyerah sekarang!" Entah orang-orang ini menerima kebenaran lebih awal atau belakangan, dan entah pemahaman mereka tentang firman Tuhan itu dalam atau dangkal, sikap mereka terhadap firman Tuhan bukanlah sikap yang meremehkan, dan terlebih lagi, itu bukan sikap yang muak dan menentang. Sebaliknya, mereka secara aktif mengakui dan menerima firman Tuhan, kemudian mereka selalu siap menerapkannya. Ketika mereka bertindak atau melaksanakan tugasnya, mereka berusaha sekuat tenaga untuk mencari prinsip-prinsip dalam firman Tuhan, kemudian secara sadar bertindak berdasarkan prinsip-prinsip ini. Sekalipun terkadang mereka tidak dapat menemukan prinsip-prinsip tertentu atau memahami arahannya, niat mereka adalah untuk melaksanakan tugas mereka dengan baik, melaksanakannya sesuai dengan maksud-maksud Tuhan dan sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Kemanusiaan orang-orang ini dan kemanusiaan orang yang berjerih payah pada dasarnya sama; tidak ada perbedaan antara yang tinggi dan yang rendah, atau yang mulia dan yang hina. Tentu saja, banyak di antara jenis orang ini memandang diri mereka sebagai orang yang "memiliki kemanusiaan yang baik, benar-benar percaya kepada Tuhan, dan mampu meninggalkan sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, serta kesediaan membayar harga dan menanggung kesukaran untuk melaksanakan tugas". Namun, apa perbedaan antara orang-orang ini dan orang yang berjerih payah? Setelah orang-orang ini mendengar firman Tuhan tentang penghakiman dan penyingkapan orang-orang, sikap mereka bukanlah mengabaikan atau menghindar, tetapi menerima secara aktif dan sungguh-sungguh. Sekalipun mereka merasa tertekan dan hatinya remuk setelah mendengar firman ini, bahkan mengungkapkan kemarahan terhadap kerusakan mereka sendiri yang tersingkap, pada akhirnya, mereka tetap mampu menghadapinya dengan benar, secara aktif menerima, dan secara proaktif menerapkan serta memasukinya. Bukankah ini juga merupakan satu jenis orang? (Ya.) Bukankah orang-orang ini mewakili sampai taraf tertentu? (Ya.) Apakah ada banyak orang-orang yang seperti ini? (Tidak banyak.) Meskipun jumlahnya tidak banyak sekarang, ada harapan bahwa jumlah mereka akan bertambah. Jadi, ke dalam kategori apakah orang-orang ini harus digolongkan? Dapatkah perwujudan-perwujudan spesifik ini menunjukkan bahwa orang-orang ini mencintai kebenaran dan mampu menerima kebenaran? (Ya.) Ya, dapat. Meskipun ada orang-orang yang kemampuan memahaminya buruk yang lebih lambat dalam menerima kebenaran, di lubuk hatinya, mereka menerima kebenaran dan memiliki pola pikir untuk secara aktif memasukinya. Setiap kali seseorang mempersekutukan terang yang baru atau jalan untuk penerapan yang sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, mata mereka berbinar, hati mereka tercerahkan, dan mereka merasa senang. Mereka berpikir, "Akhirnya, seseorang telah mempersekutukan terang ini. Inilah yang kurang dariku." Mereka selalu mampu memahami apa yang kurang dalam diri mereka, selalu mendapatkan terang dan pencerahan yang sangat mereka butuhkan dan yang kurang dalam diri mereka, serta selalu menemukan prinsip-prinsip kebenaran yang mereka butuhkan dari pemahaman dan pengalaman nyata yang dipersekutukan oleh saudara-saudari mereka. Berdasarkan perwujudan spesifik ini, bukankah hati mereka merindukan kebenaran? (Ya.) Jika kita mengatakan bahwa orang-orang ini mencintai kebenaran, pernyataan ini tidak terlalu objektif atau akurat. Namun, berdasarkan perwujudan spesifik mereka, orang-orang ini memang merindukan kebenaran. Berasal dari manakah kerinduan ini? Itu berasal dari harapan mereka untuk mengatasi watak rusak mereka, dari harapan mereka untuk menyelesaikan berbagai masalah dan kesulitan yang mereka hadapi dalam jalan masuk kehidupan mereka, dan dari harapan mereka untuk membuat kemajuan dalam kebenaran, untuk masuk lebih dalam, serta dari harapan mereka untuk dapat benar-benar bertindak berdasarkan prinsip, menerapkan dengan sebuah jalan, untuk mengenali dengan lebih akurat apa esensi dari watak rusak mereka dari perwujudan watak rusak mereka, dan bagaimana mengatasinya serta membuangnya. Meskipun orang-orang ini sering hidup dalam watak yang rusak, seperti bersaing untuk mengejar status, bersikeras menggunakan cara mereka sendiri dengan keras kepala, dan merasa diri benar, congkak, licik, atau bahkan keras kepala, dengan terus-menerus makan dan minum firman Tuhan serta mengalami pekerjaan Tuhan, masalah-masalah nyata ini secara berangsur akan diperiksa dan diidentifikasi. Kemudian, mereka akan dapat mengenali hal-hal ini sebagai masalah, sebagai perwujudan watak rusak yang tidak sesuai dengan kebenaran dan dibenci oleh Tuhan. Setelah menyadari watak rusaknya, mereka makin ingin mengatasi dan membuangnya. Inilah salah satu sumber dari kerinduan mereka akan kebenaran. Dengan kata lain, mereka memiliki kebutuhan untuk mengatasi watak rusak mereka, mentalitas yang mendesak untuk membuang watak rusak mereka. Pada saat yang sama, setelah menemukan berbagai keadaan, masalah, dan kesulitan yang diperlihatkan oleh watak rusaknya, mereka makin ingin memahami apa tepatnya firman dan tuntutan Tuhan untuk masalah-masalah ini, dan kebenaran atau firman Tuhan manakah yang dapat membereskannya. Perwujudan spesifik dan sumber dari kerinduan mereka akan kebenaran adalah hal-hal ini. Apakah ini pernyataan yang objektif? (Ya.) Orang-orang ini tidak dapat dikatakan mencintai kebenaran. Jika mereka mencintai kebenaran, mereka akan menjadi sangat proaktif, dan berbagai perwujudan mereka akan makin positif. Namun, berdasarkan berbagai perwujudan orang-orang ini dan tingkat pertumbuhan mereka yang sebenarnya, mereka belum mencapai titik mencintai kebenaran, tetapi hanya merindukannya. Pernyataan ini sudah cukup objektif. Jadi, dilihat dari berbagai perwujudan orang-orang ini, ke dalam kategori manakah mereka harus digolongkan? Tepatnya, orang-orang ini termasuk dalam kategori umat Tuhan. Pernyataan ini memiliki dasar. Apa dasarnya? Watak rusak orang-orang ini sama dengan watak rusak orang lain. Dalam hal kemanusiaan, tidak dapat dikatakan bahwa kemanusiaan mereka baik, juga tidak dapat dikatakan bahwa mereka sempurna di mata Tuhan; kebanyakan dari mereka memiliki kemanusiaan rata-rata. Apa yang dimaksud dengan "rata-rata" di sini? Itu berarti memiliki tingkat hati nurani dan nalar tertentu. Namun, ini bukanlah aspek yang terpenting. Apa aspek yang terpenting? Itu berarti setelah mendengar firman Tuhan dan tuntutan Tuhan, setelah mendengar tentang watak rusak dari semua jenis orang yang disingkapkan oleh firman Tuhan, mereka tidak masa bodoh, tetapi tergerak dan akan mengambil tindakan. Apa artinya mengambil tindakan? Itu berarti setelah mendengar firman Tuhan dan kebenaran ini, mereka tidak mau lagi hidup dalam watak rusak dan tidak mau melanjutkan cara hidup mereka yang sebelumnya. Sebaliknya, mereka berusaha mengubah berbagai pemikiran, sudut pandang, dan cara bertahan hidup serta gaya hidup yang sebelumnya mereka andalkan. Pada saat yang sama, mereka secara aktif mencari kebenaran ketika melaksanakan tugas mereka dan dalam berbagai keadaan yang diatur oleh Tuhan, menggunakan firman Tuhan sebagai dasar dan prinsip untuk melakukan penerapan, bukannya bersikap sembrono dan keras kepala. Dari kemanusiaan mereka, kualitas, sikap dan pandangan mereka terhadap firman Tuhan, pekerjaan Tuhan, tuntutan-Nya, dan sebagainya, orang-orang inilah yang tepatnya ingin Tuhan selamatkan. Mereka memiliki harapan yang lebih besar untuk membuang watak rusak mereka dan diselamatkan daripada orang yang berjerih payah. Hanya mereka yang menerima kebenaran dan mampu membuang watak rusak mereka untuk diselamatkan yang dianggap sebagai umat Tuhan. Bukankah definisi ini cukup tepat? (Ya.) Itulah definisi yang paling tepat. Diselamatkan bukan hanya tentang mengerahkan sedikit upaya dan membayar sedikit harga untuk dapat bertahan hidup, dan kemudian semuanya beres. Apa status mereka yang dapat diselamatkan? Itu adalah status di mana, melalui menerima serta mengalami firman dan pekerjaan Tuhan, watak rusak mereka dibereskan. Dalam proses ini, mereka mulai mengenal Tuhan, memahami watak rusak mereka sendiri, dan memiliki pengalaman nyata dan konkret dengan firman Tuhan serta mengalami firman Tuhan, dengan demikian mampu bersaksi bagi Tuhan—mereka mampu memberi kesaksian tentang Tuhan. Aspek tentang Tuhan apa yang mereka persaksikan? Mereka memberi kesaksian tentang maksud-maksud Tuhan, watak Tuhan, apa yang dimiliki Tuhan dan siapa Dia, identitas Tuhan, dan bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta. Inilah yang dapat diwujudkan dalam diri seseorang setelah memperoleh keselamatan. Mengapa orang-orang dapat memperoleh hasil-hasil ini setelah diselamatkan? Mereka memperoleh hasil-hasil ini bukan karena mereka menganggap dirinya sebagai orang yang "memiliki kemanusiaan yang baik, benar-benar percaya kepada Tuhan, dan mampu meninggalkan sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, serta kesediaan membayar harga dan menanggung kesukaran untuk melaksanakan tugas". Satu-satunya alasan—dan hal yang terpenting—adalah bahwa mereka dapat menerima firman Tuhan sebagai kehidupan mereka, mampu menerapkan kebenaran untuk membuang watak rusak mereka, mengesampingkan cara hidup dan sudut pandang hidup mereka yang lama dan mula-mula, serta menerima firman Tuhan sebagai kehidupan mereka yang baru. Mereka menggunakan firman Tuhan sebagai dasar untuk cara mereka berperilaku, melakukan segala sesuatu, mengikuti Tuhan, tunduk kepada Tuhan, dan memuaskan Tuhan. Inilah hasil yang dapat diperoleh dalam diri orang-orang semacam itu. Apa aspek yang terpenting untuk memperoleh keselamatan? (Mampu menerima kebenaran.) Benar. Mampu menerima kebenaran adalah kuncinya.

Ada orang-orang yang berkata, "Jika aku mengorbankan diriku untuk Tuhan sampai akhir, apakah Tuhan akan memberkatiku dengan berkat yang sangat besar?" Jika engkau tidak menerima kebenaran, tetapi tetap tekun dalam mengikuti Tuhan sampai akhir, berjerih payah sampai akhir, di mana selama itu tidak ada pelanggaran besar dan engkau tidak menyinggung watak Tuhan, maka dalam keadaan seperti itu, Tuhan akan menganggapmu sebagai orang berjerih payah yang setia yang boleh tetap hidup. Ada orang-orang yang bertanya, "Berkat macam apa boleh tetap hidup itu?" Itu bukanlah berkat yang kecil! Jika ada kesempatan dan kemungkinan, engkau dapat melihat wujud Tuhan yang sebenarnya, dan ini tergantung pada apa yang Tuhan lakukan pada zaman berikutnya. Jika ada kesempatan untuk tetap hidup selama beberapa puluh tahun lagi, berkat tersebut sangat signifikan. Bagaimana berkat ini bisa diperoleh? Itu diperoleh melalui berjerih payah dengan setia sembari berpegang teguh pada sudut pandang bahwa "Aku memiliki kemanusiaan yang baik, aku benar-benar percaya kepada Tuhan, aku mampu meninggalkan, dan aku bersedia membayar harga serta mampu menanggung kesukaran untuk melaksanakan tugasku." Bukankah seharusnya orang yang berjerih payah tahu cara menjadi puas? (Ya.) Mereka seharusnya puas dengan memperoleh berkat ini. Engkau bahkan tidak menerima firman Tuhan, tetapi karena Tuhan melihat kesetiaan dan kemampuanmu untuk berjerih payah sampai akhir, tanpa meninggalkan pekerjaan selama masa ini, tanpa menyinggung watak Tuhan atau melanggar ketetapan administratif-Nya, tanpa melakukan pelanggaran besar, Dia menganugerahkan berkat dan kasih karunia ini kepadamu—sejak penciptaan umat manusia, ini adalah anugerah terbesar yang Tuhan berikan kepada manusia yang rusak yang hanya berjerih payah dengan setia, tetapi tidak memperoleh keselamatan. Engkau hanya mengerahkan sedikit upaya, dan engkau bahkan tidak menerima firman Tuhan—dapat menerima berkat sebesar itu sudah cukup baik; ini adalah kasih karunia Tuhan yang sangat besar. Kategori lainnya adalah umat Tuhan, yang baru saja kita bahas. Berkat yang diterima oleh umat Tuhan tentu saja lebih besar daripada yang diterima oleh orang yang berjerih payah. Jadi, apa berkat umat Tuhan itu? Tentu saja, itu tidak sesederhana sekadar dapat tetap hidup atau memiliki kesempatan untuk melihat wujud Tuhan yang sebenarnya. Ada berkat yang jauh lebih besar, tetapi kita tidak akan membahasnya di sini. Membahas hal itu tidaklah realistis, dan selain itu, sekalipun Aku memberitahumuz, engkau semua tidak akan mengerti atau memperolehnya sekarang. Umat Tuhan adalah orang-orang yang ingin Tuhan selamatkan, dan di antara seluruh umat manusia, mereka menerima berkat-berkat terbesar; ini sama sekali tidak berlebihan. Mengapa demikian? Karena dalam pekerjaan Tuhan, dalam pekerjaan rencana pengelolaan Tuhan selama enam ribu tahun untuk menyelamatkan umat manusia, umat Tuhan, dengan mampu menerima firman Tuhan, dengan mampu memperlakukan firman Tuhan sebagai kebenaran dan sebagai prinsip-prinsip bagi kelangsungan hidup mereka, dan dengan menjadikan firman Tuhan sebagai kehidupannya, mereka telah membuang watak rusak Iblis dan hidup dalam firman Tuhan, memberikan kesaksian yang kuat dan berkumandang bagi Tuhan. Mereka mampu menggunakan apa yang mereka jalani, hidup mereka, untuk menyerang balik Iblis dan mempermalukannya, mampu menjadi kesaksian bagi Tuhan di antara umat manusia, dengan demikian membawa kemuliaan bagi Tuhan. Oleh karena itu, umat Tuhan adalah orang-orang yang ingin Tuhan selamatkan, dan orang-orang yang menerima keselamatan. Ada orang-orang yang berkata, "Karena orang-orang ini dapat menjadikan firman Tuhan sebagai kehidupan mereka, hidup dalam firman Tuhan, dan menjadi kesaksian bagi Tuhan, apakah itu menjadikan mereka anak-anak yang dikasihi Tuhan, orang-orang yang diperkenan Tuhan?" Engkau terlalu banyak berpikir; menjadi salah satu dari umat Tuhan sudah cukup baik. Jika Tuhan menyebutmu sebagai putra-Nya, anak-Nya, atau putra-Nya yang terkasih, itu adalah urusan Tuhan, tetapi kapan pun itu, jangan pernah engkau mengaku sebagai putra yang dikasihi Tuhan, putra Tuhan, atau anak kesayangan Tuhan. Jangan membuat pengakuan seperti itu tentang dirimu sendiri, dan jangan menganggap dirimu demikian; engkau adalah makhluk ciptaan—inilah yang benar. Sekalipun suatu hari engkau dipanggil di antara umat Tuhan, atau engkau telah mulai menempuh jalan keselamatan, engkau tetaplah hanya seorang makhluk ciptaan. Jika engkau berpikir seperti ini, itu membuktikan bahwa jalan yang kautempuh adalah jalan yang benar. Jika engkau selalu berusaha untuk menjadi putra yang dikasihi Tuhan, untuk dikasihi oleh Tuhan, untuk diperkenan oleh Tuhan, itu berarti jalan yang kautempuh adalah jalan yang salah; jalan ini tidak membawamu ke mana pun, dan engkau seharusnya tidak memiliki angan-angan semacam itu. Entah Tuhan pernah mengucapkan firman semacam itu, atau memberikan janji semacam itu kepada manusia, engkau seharusnya tidak memandang dirimu dengan cara ini; itu bukanlah apa yang seharusnya berusaha kauperoleh. Menjadi salah satu dari umat Tuhan sudah cukup bagus; umat Tuhan telah memenuhi standar sebagai makhluk ciptaan—hanya saja disayangkan bahwa engkau belum menjadi salah satunya. Jadi, jangan mengejar hal-hal yang samar, bersifat ilusi, dan kosong. Mampu mengejar untuk diselamatkan artinya, hingga taraf tertentu, telah mulai menempuh jalan untuk diselamatkan. Ciri utama umat Tuhan adalah mereka mampu menerima kebenaran dan menunjukkan kasih terhadap kebenaran. Dalam proses mengalami pekerjaan Tuhan dan mengejar keselamatan, watak rusak, pemikiran lama, dan berbagai keadaan serta perwujudan negatif yang ada kaitannya dengan watak rusak mereka dapat diatasi, dibuang, dan diubah hingga taraf yang berbeda. Setelah itu, barulah mereka dapat hidup mengikuti tuntutan Tuhan untuk menjadi orang yang jujur, orang yang memahami prinsip-prinsip kebenaran, orang yang memiliki kesetiaan dan ketundukan, dan orang yang dapat takut akan Tuhan serta menjauhi kejahatan. Mengenai bagaimana menjadi orang yang memenuhi standar dan memenuhi tolok ukur Tuhan, kita tidak akan menjelaskannya di sini; itu bukan topik persekutuan kita hari ini.

III. Pekerja Upahan

Selain orang yang berjerih payah dan umat Tuhan, ada satu jenis orang lagi, yang paling menyedihkan di antara mereka yang dipilih oleh Tuhan. Setelah mendengar berbagai kebenaran yang diungkapkan oleh Tuhan dan berbagai firman-Nya yang menyingkapkan umat manusia, perilaku mereka, apa yang mereka jalani, dan pengejaran mereka sama sekali tidak menunjukkan perubahan. Seperti apa pun caramu mempersekutukan kebenaran dengan mereka, mereka tetap masa bodoh: "Aku tidak mau berubah. Aku akan hidup menurut cara yang kuinginkan, dan tak seorang pun dapat mengendalikanku. Lakukan saja apa pun yang kauinginkan, aku tidak peduli! Suasana hatiku sedang buruk saat ini, jadi tak seorang pun dari kalian boleh memprovokasiku. Jika kau melakukannya, aku akan bersikap kasar padamu!" Mereka tidak memandang diri mereka dengan sikap atau sudut pandang yang tegas seperti "Aku memiliki kemanusiaan yang baik, aku benar-benar percaya kepada Tuhan, aku mampu meninggalkan, dan aku bersedia membayar harga serta mampu menanggung kesukaran untuk melaksanakan tugasku", tetapi mereka menunjukkan sikap yang lebih jelas di antara saudara-saudari. Sikap apa ini? Yaitu, "Aku akan bertindak sekehendak hatiku, melakukan apa pun yang kuinginkan. Tak seorang pun boleh mendesakku untuk menerima kebenaran, tak seorang pun boleh berusaha untuk mengubahku. Siapa pun yang berusaha mendesakku untuk menerima kebenaran hanya mencari masalah, dan jika ada yang berusaha untuk memangkasku, langkahi dulu mayatku!" Mereka sama sekali tidak tertarik pada kalimat apa pun yang diucapkan oleh Tuhan, ataupun pada pekerjaan yang Tuhan lakukan. Tentu saja, mengenai watak rusak manusia dan prinsip-prinsip dalam melakukan segala sesuatu, serta sikap yang seharusnya orang-orang miliki terhadap Tuhan dan prinsip-prinsip yang harus dipatuhi dalam interaksi antarpribadi—yang disinggung oleh saudara-saudari selama pertemuan atau saat melaksanakan tugas mereka—mereka memandangnya dengan sikap meremehkan. Ada orang-orang yang melaksanakan tugas, tetapi mereka sama sekali mengabaikan prinsip-prinsip yang dituntut oleh rumah Tuhan, melakukan segala sesuatunya sesuai dengan yang telah mereka rencanakan. Tepat setelah engkau selesai mempersekutukan prinsip-prinsip dengan mereka, mereka menyetujuinya di hadapanmu tetapi kemudian berbalik dan mulai bertindak secara serampangan dan sewenang-wenang, menunjukkan sisi iblis mereka. Ada juga orang-orang yang dari luar kelihatannya seperti manusia yang baik, tetapi ketika engkau berbicara atau mengobrol dengan mereka, pandangan mereka salah, nada bicara mereka salah, dan yang lebih parah lagi adalah, watak mereka salah, sehingga mustahil untuk berbicara dengan mereka. Ketika engkau bertanya kepada mereka, "Apakah ada Tuhan di dunia ini?" mereka menjawab, "Aku tidak tahu." Engkau berkata, "Ini seharusnya dilakukan dengan cara seperti ini, itulah maksud Tuhan." Mereka menjawab, "Apakah kau tidak menyukaiku? Apakah kau ingin memberiku masalah? Apakah kau berusaha untuk mengusirku?" Engkau berkata, "Dengan bertindak seperti ini, kau sedang menyebarkan gagasan dan melupakan perasaan negatif, itu dapat membuat beberapa orang yang baru percaya tersandung. Kita harus mematuhi aturan-aturan rumah Tuhan, dan kita harus jelas tentang prinsip-prinsip yang harus diikuti dalam interaksi dan hubungan dengan orang-orang. Jika apa yang dikatakan dan dilakukan tidak dapat membangun atau membantu orang lain, setidaknya, itu tidak boleh memengaruhi orang lain secara negatif. Inilah nalar yang seharusnya dimiliki oleh seseorang dengan kemanusiaan yang normal. Mereka berkata, "Berbicara kepadaku tentang kemanusiaan yang normal, menceramahiku tentang aturan, memangnya kau itu siapa? Apa salahnya meluapkan perasaan negatif? Tersandungnya satu orang percaya baru berarti satu orang percaya baru yang berkurang—itu meringankan bebanku untuk menemui mereka!" Sia-sia membahas aturan dengan mereka, sia-sia pula membahas kemanusiaan. Bagaimana dengan mempersekutukan kebenaran, mempersekutukan firman Tuhan? Mereka juga tidak mendengarkan persekutuan firman Tuhan. Tak seorang pun berani mengkritik mereka, tak seorang pun berani mengganggu atau memprovokasi mereka. Adakah orang-orang semacam itu di gereja? (Ada.) Di antara mereka yang telah dikeluarkan, memang ada orang-orang semacam itu. Apakah orang-orang ini orang yang berjerih payah, umat Tuhan, atau apa? (Mereka adalah orang-orang yang disingkirkan.) Mengapa mereka disingkirkan? (Karena tidak menerima kebenaran; karena muak akan kebenaran.) Inilah esensi masalahnya. Lalu mengapa mereka tidak menerima kebenaran? Mengapa mereka muak akan kebenaran? Apa sumber penyebabnya? (Esensi orang-orang ini adalah esensi pengikut yang bukan orang percaya.) Benar, esensi mereka adalah esensi pengikut yang bukan orang percaya. Ada cukup banyak pengikut yang bukan orang percaya di gereja, tetapi apakah semua pengikut yang bukan orang percaya seperti ini? (Tidak.) Orang-orang ini, yang bahkan tidak memiliki moral dan didikan manusia yang paling mendasar—apakah mereka disingkirkan hanya karena mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya? Mengapa mereka disingkirkan? Sebenarnya, ini adalah masalah kemanusiaan; orang-orang ini memiliki kemanusiaan yang buruk dan kejam. Tepatnya, mereka tidak memiliki kemanusiaan. Karena mereka tidak memiliki kemanusiaan, siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang yang memiliki natur setan. Bagaimana orang-orang yang memiliki natur setan dibandingkan dengan binatang buas? Kurasa mereka jauh lebih buruk daripada binatang buas; beberapa binatang buas dapat menjadi patuh dan tidak melakukan kesalahan. Contohnya, anjing dapat menjadi sangat baik; beberapa anjing benar-benar menjadi hewan peliharaan yang baik, hidup sangat rukun dengan manusia! Mereka sangat patuh dan cerdas, memahami semua yang orang-orang katakan, dan mereka cocok untuk dipelihara di dalam rumah. Anjing-anjing semacam itu jauh lebih baik daripada manusia yang tidak patuh. Ada banyak orang yang jauh lebih buruk daripada anjing yang baik. Lalu, apakah mereka masih manusia? Tidak, mereka bukan manusia; mereka adalah orang yang tidak manusiawi. Banyak orang tidak mengerti bahasa manusia; mustahil untuk berkomunikasi dengan mereka. Mereka tidak menerima kebenaran seperti apa pun caranya itu dipersekutukan, mereka mengeluh ketika dipangkas, dan ketika disingkirkan, mereka menjadi sangat murka, sama sekali tidak menunjukkan perubahan sekalipun mereka telah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan. Apakah orang-orang semacam itu tetap diizinkan untuk tinggal di rumah Tuhan? (Tidak.) Mereka tidak boleh diizinkan untuk tinggal. Ke dalam kategori manakah orang-orang semacam itu seharusnya digolongkan? Pertama, haruskah orang-orang ini dikategorikan sebagai umat pilihan Tuhan? (Tidak.) Jika mereka bukan umat pilihan Tuhan, mereka seharusnya digolongkan ke dalam kategori mana? Bagaimana cara kita menafsirkan pernyataan bahwa mereka bukan umat pilihan Tuhan? Itu berarti bahwa dari perspektif kemanusiaan yang mereka perlihatkan dan jalani, ini bukanlah masalah sederhana tentang menjadi pengikut yang bukan orang percaya; esensi mereka bukanlah manusia. Ada banyak orang yang adalah pengikut yang bukan orang percaya—apakah mereka semua seburuk dan sejahat orang-orang ini? Tidak. Bahkan di antara orang-orang tidak percaya, tidak semua orang seburuk itu; ada orang-orang yang memiliki standar moral yang paling mendasar. Lalu, bagaimana dengan orang-orang ini? Mereka bahkan tidak memiliki standar moral dan didikan yang paling mendasar yang dimiliki orang-orang tidak percaya; tepatnya, perwujudan mereka dan kehidupan yang mereka jalani tidak memenuhi standar moralitas manusia. Esensi orang-orang ini adalah esensi setan. Dari perspektif esensi mereka, apakah Tuhan menyelamatkan mereka? (Tidak.) Tuhan tidak menyelamatkan mereka. Mengapa demikian? Karena kemanusiaan mereka buruk dan jahat, milik natur setan, dan dengan demikian mereka muak akan kebenaran dan menentangnya. Sebenarnya, mengatakannya seperti ini terlalu berlebihan; tepatnya, orang-orang ini muak dan membenci hal-hal positif, tidak sampai taraf muak akan kebenaran dan tidak menerimanya. Mereka muak, membenci, dan menentang bahkan hal-hal positif yang paling mendasar; mereka muak dengan aturan-aturan dan didikan yang seharusnya diikuti dan dimiliki oleh seseorang dengan kemanusiaan yang normal. Mampukah mereka menerima kebenaran? (Mereka gagal dalam hal itu.) Benar, mereka gagal dalam hal itu; mereka bahkan bukan orang yang berjerih payah. Ada orang-orang yang berkata, "Karena mereka bahkan bukan orang yang berjerih payah, mereka dianggap sebagai apa di dalam rumah Tuhan? Bagaimana mereka bisa masuk ke dalam rumah Tuhan?" Tepatnya, jika kita mendefinisikan mereka, menggolongkan mereka ke dalam sebuah kategori, orang-orang ini adalah seperti pekerja upahan atau pekerja sementara yang direkrut dari antara orang-orang tidak percaya. Apakah maknanya jelas? Inilah kategori mereka, serta peran yang mereka mainkan dalam rumah Tuhan. Mereka bahkan bukan orang yang berjerih payah; Aku tidak menganggap mereka sebagai orang yang berjerih payah, mereka tidak layak dianggap seperti itu! Orang yang berjerih payah memiliki ciri-ciri seperti memiliki kemanusiaan yang baik, benar-benar percaya kepada Tuhan, dan memiliki kesediaan untuk membayar harga, serta kemampuan untuk menanggung kesukaran, dan mereka menjalani hal-hal ini. Orang-orang ini bahkan tidak memiliki kualitas-kualitas ini, jadi menggolongkan mereka sebagai pekerja upahan sudah menunjukkan kebaikan yang sangat besar dan sikap yang sangat sopan kepada mereka. Apa artinya menjadi pekerja upahan atau pekerja sementara? Itu artinya, karena kebutuhan khusus selama periode tertentu, rumah Tuhan merekrut beberapa orang yang tidak ada hubungannya dengan keselamatan untuk menyelesaikan tugas-tugas tertentu. Setelah tugas-tugas ini selesai, diri orang-orang ini yang sebenarnya tersingkap. Umat pilihan Tuhan sudah cukup menderita karena berinteraksi dengan mereka, muak dengan mereka hingga taraf yang tak tertahankan, dan juga telah cukup mengenali mereka. Dalam keadaan seperti itu, orang-orang ini harus dikeluarkan; ini adalah waktu yang paling tepat untuk melakukan tindakan semacam itu. Apakah barusan sudah dijelaskan dengan gamblang bagaimana kemunculan orang-orang ini? (Ya.) Mereka adalah pekerja upahan yang tidak kaitannya dengan diselamatkan, yang direkrut selama periode khusus pekerjaan gereja. Setelah melakukan pekerjaan serabutan dan melakukan pelayanan selama beberapa waktu, orang-orang ini melakukan kesalahan yang sembrono di dalam rumah Tuhan, yang menyebabkan banyak kekacauan dan gangguan. Peran yang mereka mainkan adalah tokoh-tokoh antagonis. Mereka sepenuhnya mencerminkan sifat asli Iblis dan setan-setan, mengganggu pekerjaan gereja, serta merusak tatanan kehidupan bergereja. Lebih konkretnya, dapat dikatakan bahwa orang-orang ini merugikan kepentingan rumah Tuhan secara signifikan, seperti merusak sebagian besar peralatan, mesin, barang-barang berharga milik rumah Tuhan, dan sebagainya. Dapat dikatakan bahwa tindakan dan perilaku orang-orang ini telah menimbulkan kemarahan yang meluas. Tentu saja, mereka juga telah memungkinkan lebih banyak orang memetik pelajaran dan memperoleh kebijaksanaan, untuk mengetahui apa itu setan dan apa artinya tidak memiliki kemanusiaan, serta untuk melihat dengan jelas sifat asli pengikut yang bukan orang percaya; mereka telah membantu orang melihat dengan cara yang lebih jelas dan lebih nyata tentang apa pemikiran dan sudut pandang pengikut yang bukan orang percaya, apa yang mereka kejar, apa yang mereka dambakan di lubuk hati mereka, sikap apa yang mereka miliki terhadap Tuhan dan kebenaran, serta sikap apa yang mereka miliki terhadap tugas-tugas mereka dan hal-hal positif, dan bahkan sikap-sikap orang-orang ini terhadap aturan-aturan tertentu yang dibuat oleh rumah Tuhan, dan sebagainya. Ketika hal ini menjadi sespesifik ini, bagaimana cara orang-orang ini menjalani kemanusiaan mereka, esensi kemanusiaan mereka, dan apa yang mereka kejar, semuanya tersingkap sepenuhnya. Mempertahankan orang-orang ini di gereja kelihatannya mubazir; itu akan menyebabkan kerugian besar bagi umat pilihan Tuhan dan sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka. Inilah saatnya bagi orang-orang ini untuk pergi. Jadi, jika kita berkata bahwa rumah Tuhan telah memberi mereka cukup waktu dan kesempatan untuk menerima kebenaran dan menyembah Tuhan, apakah pernyataan ini benar? (Tidak.) Lalu bagaimana seharusnya itu dikatakan? Rumah Tuhan telah memberi mereka banyak kesempatan dan cukup waktu bagi mereka untuk berubah, tetapi hasil akhirnya mengungkapkan sebuah fakta: setan tetaplah setan dan tidak akan pernah berubah. Ini adalah faktanya. Mungkinkah membuat si naga merah yang sangat besar mengakui status dan identitas Tuhan? Apakah mungkin membuat orang-orang dengan natur iblis ini berubah dan mengikuti beberapa aturan? (Tidak.) Tidak. Kesempatan yang diberikan kepada mereka bukanlah kesempatan agar mereka menerima kebenaran, mengakui pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan, atau bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, melainkan kesempatan untuk berubah. Jika ada sedikit saja tanda bahwa mereka telah berubah, kesudahan akhir mereka mungkin berubah. Namun, orang-orang ini tidak tahu apa yang baik bagi diri mereka; natur iblis akan tetap menjadi natur iblis. Sebanyak apa pun waktu atau sebanyak apa pun kesempatan yang diberikan kepada mereka, kehidupan yang mereka jalani dan esensi mereka tidak akan berubah; ini adalah fakta. Oleh karena itu, cara terakhir untuk menangani orang-orang seperti ini adalah dengan memberhentikan mereka dari tugas-tugasnya, membuat mereka meninggalkan gereja, dan memastikan mereka tidak lagi memiliki ikatan atau hubungan dengan rumah Tuhan. Adakah orang-orang yang akan enggan melihat mereka pergi dan mengasihani mereka, dengan berkata, "Orang-orang ini masih sangat muda; seiring waktu, mereka akan menjadi unggul. Mereka memiliki kualitas yang sangat baik, mereka sangat berkarunia dan berbakat—betapa luar biasanya jika mereka mampu menerima kebenaran! Jika rumah Tuhan bisa lebih penuh kasih dan toleran, serta memberi mereka lebih banyak kesempatan untuk bertobat, ketika mereka bertambah dewasa, mungkin segala sesuatunya akan berbeda"? Orang macam apa yang berpikir seperti ini? (Orang yang bodoh, orang yang bingung.) Benar. Mereka semua adalah orang bodoh yang bingung—hanya para bajingan! Tuhan tidak menyelamatkan orang-orang semacam itu, dan rumah Tuhan tidak mengizinkan mereka untuk tinggal—apa yang perlu dikasihani dari mereka? Tuhan berkata Dia tidak akan menyelamatkan orang-orang semacam itu, tetapi engkau menyarankan agar mereka diberi kesempatan untuk bertobat. Dapatkah engkau menyelamatkan orang? Bukankah ini menentang Tuhan? Apakah engkau sedang berusaha untuk membuat orang lain menganggap bahwa engkau lebih pengasih daripada Tuhan? Apakah engkau memiliki kenyataan kebenaran? Dapatkah engkau mengetahui esensi seseorang yang sebenarnya? Siapakah yang dapat menyelamatkan manusia, Tuhan ataukah engkau? Berani menentang Tuhan—ini jauh terlalu congkak, merasa diri benar, dan tidak bernalar, bukan? Bukankah ini pemberontakan besar? Bukankah ini adalah Iblis dan roh-roh jahat yang bereinkarnasi, yang selalu senang menentang Tuhan? Baru saja disebutkan bahwa pengikut yang bukan orang percaya lebih rendah daripada binatang buas. Seperti apa pun cara orang mempersekutukan kebenaran kepada mereka, itu tidak ada gunanya; bahkan memangkas mereka pun sia-sia. Dapat dikatakan bahwa mereka memiliki natur Iblis dan tidak akan pernah berubah. Jika seseorang ingin memberi kesempatan kepada setan semacam ini untuk bertobat, biarkan dia membekali orang-orang semacam itu; kita lihat saja apakah mereka benar-benar memiliki kasih. Pengikut yang bukan orang percaya yang sama sekali tidak menerima kebenaran itu adalah orang-orang yang terburuk di dalam gereja; mereka semua seperti binatang buas, tidak bernalar dan tidak dapat diselamatkan. Baik di masa lalu maupun sekarang, perlakuan gereja terhadap mereka sudah sangat tepat; gereja telah menunjukkan kesabaran dan toleransi yang sangat besar kepada mereka, dan telah memberi mereka cukup banyak kesempatan. Namun sampai sekarang, mereka sama sekali belum berubah, bahkan cara-cara mereka makin intens. Pada mulanya, ketika orang-orang ini mulai percaya kepada Tuhan dengan gagasan, imajinasi, dan keinginan mereka untuk memperoleh berkat, mereka dapat sedikit mengekang diri, melaksanakan tugas mereka dengan sedikit antusias dan semangat. Namun akhirnya, ketika mereka menyadari bahwa "percaya kepada Tuhan berarti mengejar kebenaran, memahami pekerjaan Tuhan, serta tunduk kepada Tuhan, dan hanya itu", sikap mereka terhadap Tuhan dan kebenaran, serta diri mereka yang sebenarnya, tersingkap sepenuhnya. Apa yang tersingkap? Mereka bukan hanya tidak memiliki kemanusiaan, hati nurani, dan nalar, melainkan mereka juga sangat kejam, jahat, dan kasar. Mereka meremehkan Tuhan dan kebenaran, dan bahkan memandang tuntuan dan aturan rumah Tuhan—serta ketetapan administratif Tuhan—dengan permusuhan dan pembangkangan. Perwujudan mereka ini telah meningkatkan rasa muak dan jijik umat pilihan Tuhan terhadap mereka, dan juga mempercepat rumah Tuhan untuk mengeluarkan mereka, yang pada akhirnya dengan cepat menentukan apakah mereka akan tinggal atau pergi, menentukan kesudahan dan takdir mereka. Kesudahan dan takdir mereka disebabkan oleh diri mereka sendiri, bukan disebabkan oleh dorongan atau hasutan siapa pun, atau karena seseorang memaksa atau menggoda orang-orang ini, dan itu tentu saja bukan disebabkan oleh keadaan-keadaan objektif; kesudahan dan takdir mereka adalah akibat dari perbuatan mereka sendiri, itu disebabkan oleh pilihan mereka sendiri, dan ditentukan oleh esensi natur mereka serta jalan yang telah mereka tempuh. Kesudahan dan takdir orang-orang ini telah ditetapkan; begitu mereka dikeluarkan dari jajaran orang-orang yang melaksanakan tugas mereka, itu berarti mereka bahkan bukan lagi orang yang berjerih payah. Engkau dapat membayangkan dengan baik takdir seperti apa yang akan mereka miliki—tidak perlu disebutkan di sini, karena mereka tidak layak.

Mengenai jenis-jenis orang yang disingkapkan dan harus disingkirkan, perwujudan dari banyak sekali perbuatan jahat mereka, serta kata-kata dan ucapan jahat yang mereka ucapkan dalam kehidupan sehari-hari, semua itu terlihat jelas—tetapi, beberapa pemimpin dan pekerja tak mampu mengenali individu-individu jahat ini atau mengenali natur dan esensi mereka yang sebenarnya. Mereka tampaknya tidak menyadari bahwa orang-orang jahat ini adalah orang-orang tidak percaya, dan karena itu mereka tidak berencana untuk mengeluarkan mereka dari gereja, atau menangani mereka sebagaimana seharusnya. Ini adalah pengabaian tanggung jawab yang serius di pihak mereka sebagai pemimpin dan pekerja. Mereka melihat, dengan mata terbuka lebar, saat individu-individu jahat ini tidak mematuhi aturan rumah Tuhan, saat mereka membuat kerusuhan, dan seenaknya merugikan dan mengganggu pekerjaan rumah Tuhan dan tatanan normal kehidupan bergereja; mereka bahkan menerimanya begitu saja ketika orang-orang ini dengan begitu berani dan sembarangan merugikan kepentingan rumah Tuhan sembari menyatakan bahwa mereka sedang melaksanakan tugas mereka. Merugikan kepentingan rumah Tuhan meliputi banyak hal: merusak mesin dan berbagai perlengkapan rumah Tuhan, merusak berbagai peralatan dan perlengkapan kantor rumah Tuhan, bahkan menghambur-hamburkan persembahan Tuhan, dan sebagainya. Yang lebih serius lagi adalah dengan seenaknya menyebarkan pernyataan yang jahat dan keliru, mengganggu umat pilihan Tuhan dan menghentikan mereka agar tidak melaksanakan tugas dengan damai, mengganggu orang-orang yang lemah dan pasif dan menyebabkan mereka mengabaikan tugas dan kehilangan iman mereka dalam mengikut Tuhan. Mereka melakukan semua hal buruk ini, melakukan semua perbuatan jahat ini yang mengganggu dan mengacaukan pekerjaan gereja serta merugikan saudara-saudari, tetapi para pemimpin dan pekerja itu menutup mata, menutup telinga; beberapa dari mereka bahkan mengatakan, "Aku tidak tahu, tidak ada yang pernah memberitahuku." Gerombolan binatang buas dan setan-setan itu telah menimbulkan bencana dan membuat kekacauan di dalam gereja, tetapi para pemimpin dan pekerja sama sekali tidak mengetahui dan tidak menyadarinya! Bukankah mereka adalah sampah? Di manakah hati mereka? Apa yang sedang mereka lakukan? Bukankah mereka hanya bicara omong kosong? Bukankah mereka sedang mengabaikan tugas mereka yang semestinya? Setiap hari para pemimpin palsu semacam itu bekerja, segala macam orang jahat pun akan mengganggu gereja secara serampangan dan merugikan umat pilihan Tuhan. Karena para pemimpin palsu itu tidak memenuhi tanggung jawab mereka, itu membuat gerombolan binatang buas tersebut bermalas-malasan sepanjang hari, tidak melaksanakan tugas apa pun atau mengikuti aturan apa pun, mendompleng di rumah Tuhan, dengan bebas menikmati berbagai keuntungan materi dan manfaat dari rumah Tuhan—mereka bahkan dengan sengaja mengganggu pekerjaan gereja, merusak mesin dan peralatan milik rumah Tuhan. Beginilah cara mereka bertindak, tetapi mereka tetap berharap hidup santai dan melakukan apa pun yang mereka inginkan di rumah Tuhan, dan tak seorang pun boleh mengganggu atau memprovokasi mereka. Ini adalah masalah yang sangat menyedihkan, tetapi para pemimpin dan pekerja mengabaikannya, tidak menyelesaikannya meskipun sudah dilaporkan oleh orang lain—bukankah mereka adalah sampah yang tidak melakukan pekerjaan nyata? Bukankah ini adalah pengabaian tanggung jawab yang serius? (Ya.) Ada yang mengatakan, "Aku tidak menyelesaikan masalah karena sibuk dengan pekerjaan lain, aku tidak punya waktu." Apakah kata-kata ini masuk akal? Apa sebenarnya yang membuatmu begitu sibuk, sampai-sampai engkau tak mampu memecahkan masalah yang sedemikian seriusnya? Bernilaikah hal-hal yang kausibukkan itu? Apakah engkau mampu memprioritaskan pekerjaanmu? Sesibuk apa pun engkau dengan pekerjaanmu, apakah menyelesaikan masalah tidak bisa kauutamakan? Terus mendapatkan informasi terbaru dan menangani berbagai jenis orang yang suka ikut campur dan mengganggu adalah tugas para pemimpin dan pekerja. Jika engkau mengesampingkan masalah nyata dan menyibukkan dirimu dengan hal-hal lain, apakah ini disebut melakukan pekerjaan nyata? Jika engkau menemukan masalah atau seseorang melaporkan suatu masalah kepadamu, engkau harus mengesampingkan tugas yang ada dan segera pergi dan melihat apa sumber masalahnya. Jika ada orang jahat yang mengganggu dan mengacaukan pekerjaan, engkau harus terlebih dahulu menangani orang jahat ini, baru setelah itu menyelesaikan segala sesuatu yang lain akan menjadi mudah. Jika engkau menemukan masalah dan tidak memperbaikinya, menyatakan bahwa engkau terlalu sibuk, bukankah engkau sebenarnya sedang melakukan upaya tanpa mencapai hasil apa pun? Apa tujuanmu terburu-buru seperti itu? Apakah engkau sedang menyibukkan diri dengan pekerjaan nyata? Bisakah engkau menerangkan dengan jelas? Apakah alasan dan dalihmu itu masuk akal? Mengapa engkau memperlakukan pemecahan masalah sebagai hal yang tidak penting? Mengapa engkau tidak segera menyelesaikan masalah? Mengapa engkau berdalih untuk menundanya, mengatakan engkau terlalu sibuk untuk mengurusnya? Bukankah ini berarti tidak bertanggung jawab? Sebagai pemimpin di gereja, tidak mengutamakan penyelesaian masalah, menyibukkan diri dengan berbagai hal sepele, tidak mengenali adanya masalah-masalah yang penting, tidak mampu membedakan mana yang penting dan urgen dalam pekerjaan, serta tidak mampu memahami hal-hal yang krusial—inilah perwujudan dari kualitas yang sangat buruk, dan orang semacam itu adalah orang yang bingung. Sekalipun engkau sudah bertahun-tahun menjadi pemimpin, engkau tidak mampu melaksanakan pekerjaan gereja dengan baik. Engkau harus bertanggung jawab dan mengundurkan diri. Jika seorang pemimpin memiliki kualitas yang sangat buruk, pelatihan apa pun tidak ada gunanya; mereka pasti tidak akan mampu menyelesaikan pekerjaan apa pun—mereka adalah pemimpin palsu, yang harus diberhentikan dan dipindahtugaskan. Ketika pemimpin palsu bekerja, apa konsekuensinya? Secara objektif, segala sesuatu yang dilakukan pemimpin palsu mendatangkan kerugian bagi gereja dalam berbagai aspek. Di satu sisi, pekerjaan penting gereja tidak dilaksanakan dengan baik, yang secara langsung menghambat efektivitas berbagai aspek pekerjaan gereja. Pada saat yang sama, hal itu juga merugikan dan memengaruhi jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan. Yang terpenting, hal itu memengaruhi penyebarluasan Injil Kerajaan. Semua akibat ini berkaitan langsung dengan pemimpin palsu yang tidak melakukan pekerjaan nyata. Lebih jelasnya, semua ini disebabkan oleh para pemimpin palsu yang tidak melakukan pekerjaan nyata. Jika para pemimpin dan pekerja lainnya mampu secara aktif melakukan beberapa pekerjaan nyata, mempercepat laju pekerjaan dan menyelesaikan masalah lebih cepat, bukankah berbagai kerugian yang disebabkan oleh para pemimpin palsu di rumah Tuhan akan sedikit berkurang? Setidaknya, kerugian itu dapat dikurangi. Sekalipun rumah Tuhan tidak mengharuskanmu untuk segera menangani masalah saat masalah itu muncul, setidaknya, begitu masalah-masalah dilaporkan, engkau harus segera menanganinya: Tanyakan situasi tersebut pada saudara-saudari, dan diskusikan serta persekutukan cara menyelesaikan masalah-masalah tersebut dengan para pemimpin dan pekerja lainnya. Jika masalahnya serius dan engkau tidak tahu cara menyelesaikannya, engkau harus segera melaporkannya kepada atasan dan mencari solusinya. Inilah yang seharusnya dilakukan oleh semua pemimpin dan pekerja. Namun, masalahnya saat ini adalah sekalipun para pemimpin dan pekerja ini tidak mampu menyelesaikan masalah, mereka tidak melapor kepada atasan. Mereka sangat takut melapor kepada atasan karena takut memperlihatkan ketidakcakapan mereka sendiri, kualitas mereka yang sangat buruk, dan ketidakmampuan untuk melakukan pekerjaan nyata; mereka khawatir akan diberhentikan. Namun, mereka tidak mengambil inisiatif untuk bekerja; mereka bodoh dan mati rasa, serta lamban dalam bertindak. Tanpa jalan untuk menyelesaikan masalah, mereka hanya bertindak sekadarnya saja, akibatnya terlalu banyak masalah yang menumpuk dan tidak terselesaikan, sehingga orang-orang jahat mendapat kesempatan untuk mengambil keuntungan. Pada saat ini, melihat bahwa para pemimpin palsu adalah orang-orang yang tidak berguna, orang-orang jahat dan berambisi itu memanfaatkan kesempatan untuk dengan sembrono melakukan perbuatan jahat, menjerumuskan gereja ke dalam kekacauan dan ketidakteraturan, melumpuhkan semua aspek pekerjaan. Meskipun yang terutama bertanggung jawab seharusnya adalah para pemimpin palsu, para pemimpin dan pekerja lainnya juga tidak memenuhi tanggung jawab mereka. Bukankah ini adalah pengabaian tanggung jawab yang serius oleh para pemimpin dan pekerja? Sebenarnya, sebagian besar masalah yang muncul di gereja secara langsung berkaitan dengan gangguan yang disebabkan oleh orang-orang jahat dan pengikut yang bukan orang percaya. Jika para pemimpin dan pekerja tidak dapat dengan segera mengidentifikasi sumber masalahnya, tidak dapat menemukan pelaku utama yang menyebabkan masalah tersebut, dan selalu mencari penyebabnya di tempat lain, mereka tidak akan dapat menyelesaikan masalah sampai ke sumbernya, dan masalah akan terus bermunculan di kemudian hari. Jika para pembuat onar atau mereka yang membuat masalah di balik layar tertangkap dan diminta pertanggungjawaban secara langsung, inilah cara menangani masalah yang paling efektif. Setidak-tidaknya, ini memastikan bahwa pengikut yang bukan orang percaya dan orang-orang jahat tidak berani terus merajalela dan menyebabkan kekacauan serta gangguan. Bukankah ini yang seharusnya dilakukan oleh para pemimpin dan pekerja? (Ya.) Dapat dikatakan secara pasti bahwa alasan utama mengapa masalah gereja makin bertambah dan tidak terselesaikan tepat pada waktunya adalah karena tidak bertanggung jawabnya para pemimpin dan pekerja, atau karena para pemimpin palsu tidak memiliki kenyataan kebenaran dan tidak mampu melakukan pekerjaan nyata. Jika para pemimpin dan pekerja tidak mampu menyelesaikan berbagai masalah yang muncul di dalam gereja, mereka pasti tidak akan mampu melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan jabatan mereka. Ada beberapa situasi dan alasan yang harus dipahami dengan jelas di sini: Jika para pemimpin dan pekerja adalah para pemula yang tidak berpengalaman, mereka harus dibantu dengan sabar, dibimbing untuk menyelesaikan masalah, dan dalam proses menyelesaikan masalah, mempelajari beberapa hal dan memahami prinsip-prinsip kebenaran. Dengan demikian, secara berangsur mereka akan belajar menyelesaikan masalah. Jika para pemimpin dan pekerja bukanlah orang yang tepat, sama sekali menolak untuk menerima kebenaran dan malah menggunakan sudut pandang dan metode orang-orang tidak percaya untuk menyelesaikan masalah, ini tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Orang-orang semacam itu tidak layak untuk menjadi pemimpin dan pekerja dan harus diberhentikan serta disingkirkan secara tepat waktu; setelah itu, pemilihan ulang harus diadakan untuk memilih pemimpin dan pekerja yang cocok. Hanya pendekatan inilah yang dapat menyelesaikan masalah secara tuntas. Menjadi pemimpin gereja bukanlah tugas yang mudah, dan tidak dapat dihindari bahwa beberapa masalah tidak dapat ditangani. Namun, ketika dihadapkan dengan masalah yang tidak dapat diselesaikan, orang yang memiliki nalar seharusnya tidak menyembunyikan atau mendiamkan masalah tersebut dan mengabaikannya. Sebaliknya, orang itu harus berkonsultasi dengan beberapa orang yang yang memahami kebenaran untuk menemukan solusinya bersama-sama, yang mungkin dapat menyelesaikan tujuh puluh hingga delapan puluh persen masalah itu, setidaknya mencegah agar masalah besar tidak muncul untuk sementara waktu. Inilah jalan yang dapat dilakukan. Jika masalah benar-benar tidak dapat diselesaikan, orang harus mencari solusi dari Yang di Atas, yang merupakan pilihan yang bijaksana. Jika, karena engkau takut kehilangan muka atau takut bahwa Yang di Atas akan memangkasmu karena ketidakcakapanmu, engkau merahasiakan dan tidak melaporkan masalah tersebut, ini artinya sepenuhnya bersikap pasif. Jika engkau bertindak seperti orang bodoh yang lamban berpikir, tidak tahu apa yang harus dilakukan, ini akan menunda berbagai hal. Situasi semacam itu dengan mudah memberikan kesempatan bagi orang jahat dan antikristus, memungkinkan mereka untuk memanfaatkan kekacauan tersebut untuk bertindak. Mengapa dikatakan mereka memanfaatkan kekacauan tersebut untuk bertindak? Karena mereka justru sedang menunggu kesempatan ini. Ketika para pemimpin dan pekerja tidak mampu menangani masalah apa pun, dan umat pilihan Tuhan merasa cemas, gelisah, serta telah hilang kepercayaan kepada mereka, orang-orang jahat dan antikristus akan berusaha untuk memanfaatkan celah ini. Mereka mengira bahwa gereja sedang berada dalam keadaan tidak adanya kepemimpinan atau manajemen. Mereka ingin mengambil kesempatan ini untuk memamerkan kemampuan mereka agar umat pilihan Tuhan menghormati mereka, mendukung mereka, dan menganggap bahwa dibandingkan dengan para pemimpin dan pekerja, kualitas mereka lebih baik, mereka lebih mampu menyelesaikan masalah dan memimpin ke jalan keluar, serta mampu membalikkan keadaan di tengah kekacauan dengan lebih baik. Bukankah ini yang paling ingin dilakukan oleh orang-orang jahat dan antikristus? Pada saat ini, ketika para pemimpin dan pekerja sedang tidak berdaya, dan orang-orang jahat serta antikristus bangkit dan menyelesaikan masalah, bahkan memimpin ke jalan keluar, kepada siapakah umat pilihan Tuhan akan percaya? Tentu saja, mereka akan percaya kepada orang-orang jahat dan kekuatan antikristus. Apa yang ditunjukkan oleh hal ini? Hal ini menunjukkan bahwa para pemimpin dan pekerja tidak berguna dan tidak mencapai apa pun, gagal pada saat-saat yang penting. Apakah orang-orang semacam itu masih layak menjadi pemimpin dan pekerja? Meskipun antikristus tidak memiliki kenyataan kebenaran dan tidak mampu melakukan pekerjaan nyata, mereka semua memiliki beberapa karunia pada taraf yang berbeda-beda dan relatif lebih bijaksana dalam urusan eksternal, yang justru menjadi keuntungan mereka dan merupakan cara mereka menyesatkan orang-orang. Namun, jika mereka menjadi pemimpin dan pekerja, dapatkah mereka benar-benar menggunakan kebenaran untuk menyelesaikan masalah umat pilihan Tuhan? Dapatkah mereka benar-benar menuntun umat pilihan Tuhan untuk makan dan minum firman Tuhan, memahami kebenaran, serta masuk ke dalam kenyataan kebenaran? Sama sekali tidak. Meskipun mereka memiliki beberapa karunia dan fasih bicara, mereka sama sekali tidak memiliki kenyataan kebenaran. Apakah mereka layak untuk menjadi pemimpin dan pekerja gereja? Sama sekali tidak! Ini adalah sesuatu yang harus dipahami oleh umat pilihan Tuhan; mereka tidak boleh disesatkan atau ditipu oleh orang-orang jahat dan antikristus. Pengikut yang bukan orang percaya, orang-orang jahat, dan antikristus sama sekali tidak mengejar kebenaran dan bahkan tidak memiliki sedikit pun kenyataan kebenaran. Jadi, katakan kepada-Ku, bolehkah mereka mengatakan sesuatu dengan hati nurani dan nalar, seperti, "Meskipun sekarang tidak ada seorang pun yang bertanggung jawab di gereja, kita harus bertindak atas inisiatif kita sendiri. Aturan rumah Tuhan tidak boleh dilanggar, prinsip-prinsip yang dituntut oleh rumah Tuhan tidak boleh diubah. Kita harus melakukan apa yang seharusnya kita lakukan; semua orang harus melaksanakan tugas yang seharusnya mereka laksanakan, memenuhi tanggung jawab mereka, dan tidak mengganggu ketertiban"? Bolehkah mereka mengatakan sesuatu seperti ini? (Tidak.) Sama sekali tidak! Apa yang akan dilakukan pengikut yang bukan orang percaya dan orang-orang jahat ini? Tanpa pengawasan dan supervisi, mereka bahkan tidak melaksanakan tugasnya, hanya sibuk makan, minum, bermain, dan bergembira, mengobrol, bercanda, dan bahkan menggoda lawan jenis. Ada yang menghabiskan sepanjang malam menonton video dari dunia orang tidak percaya, kemudian menggunakan dalih bahwa mereka begadang untuk melaksanakan tugasnya agar dapat bermalas-malasan dan tidur berlebihan. Ini adalah perbuatan orang-orang jahat, mereka yang termasuk golongan setan. Ketika mereka melakukan perbuatan-perbuatan buruk itu, apakah mereka merasa bersalah sedikit pun? Akankah tiba-tiba hati nurani mereka tersadar dan mereka berinisiatif untuk memenuhi beberapa tanggung jawab manusia dan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi rumah Tuhan, gereja, dan saudara-saudari? Sama sekali tidak. Ketika ada yang mengawasi, mereka dengan enggan melakukan beberapa pekerjaan yang membuat mereka terlihat baik, hanya agar memiliki cukup uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Itulah satu-satunya hal yang dapat mereka lakukan; selain itu, orang-orang ini tidak memiliki sedikit pun kualitas untuk dapat diselamatkan. Jadi, adakah gunanya orang-orang tersebut tinggal di rumah Tuhan? Sama sekali tidak ada gunanya. Orang-orang semacam itu tidak berguna dan harus dikeluarkan.

Bagaimana caramu mengukur apakah seseorang mencintai kebenaran atau tidak? Biar Kuberitahukan kepada engkau semua sebuah contoh agar engkau mengerti. Ada orang-orang yang menekuni sebuah profesi, dan makin mereka belajar, makin mereka meningkat dalam studi mereka, makin mereka mengerti, kemudian makin mereka bersedia untuk terlibat di dalamnya dan makin kecil keinginan mereka untuk meninggalkan profesi tersebut. Perwujudan macam apakah ini? Apakah ini berarti bahwa mereka benar-benar menyukai profesi ini? (Ya.) Sebanyak apa pun kesukaran yang mereka tanggung, berapa pun harganya, sebanyak apa pun upaya yang mereka kerahkan, mereka terus menekuni profesi tersebut tanpa merasa menyesal dan tidak goyah. Inilah kecintaan yang sejati, rasa suka yang dalam dan sepenuh hati. Misalkan ada seseorang yang mengaku bahwa dia menyukai pekerjaan tertentu, tetapi tidak mau menanggung kesukaran atau membayar harganya selama proses mempelajari keterampilan profesional, dan ketika banyak masalah muncul di tempat kerja, dia tidak mencari solusi, takut terhadap masalah, dan bahkan sering merasa bahwa menekuni profesi ini merepotkan atau membebani. Namun, berganti profesi tidaklah mudah, dan dengan mempertimbangkan keuntungan materi yang dapat diperoleh dari profesi ini, orang tersebut dengan berat hati menekuninya, tetapi dia tidak akan pernah menjadi orang yang menonjol dalam profesi ini. Jadi, apakah dia benar-benar menyukai profesi ini? (Tidak.) Jelas sekali tidak. Ada jenis orang lainnya, yaitu orang yang secara lisan mengungkapkan rasa sukanya pada suatu profesi dan menekuninya, tetapi tidak pernah menanggung kesukaran atau membayar harga untuk mempelajari keterampilan profesional dengan baik. Dia bahkan mungkin mulai merasa muak atau benci terhadap profesi tersebut selama proses belajar, makin tidak mau belajar. Ketika rasa muaknya mencapai taraf tertentu, dia berganti karier, dan setelah itu tidak mau menyebutkan proses, cerita-cerita atau hal lain apa pun dari saat dia sedang menekuni profesi tersebut. Apakah orang-orang semacam itu benar-benar menyukai profesi tersebut? (Tidak.) Mereka tidak menyukainya. Mereka dapat dengan mudah meninggalkan profesi tersebut, dan merasa jijik serta bahkan berganti karier, yang membuktikan bahwa mereka tidak benar-benar menyukai profesi tersebut. Alasan mereka meninggalkan profesi tersebut adalah karena setelah menginvestasikan banyak waktu, tenaga, dan biaya, profesi tersebut tidak memungkinkan mereka untuk menjalani kehidupan yang makmur seperti yang mereka inginkan atau mendapatkan kenikmatan materi. Mereka menjadi muak dan mengutuk profesi tersebut dalam hatinya, bahkan melarang orang lain untuk menyebutnya, dan mereka sendiri tidak menyebutnya lagi, dan bahkan merasa malu karena sebelumnya telah menekuni profesi ini dan menganggapnya sebagai aspirasi dan tujuan tertinggi yang harus dikejar dalam hidup. Mengingat sejauh mana mereka bisa muak terhadap profesi tersebut, apakah pada awalnya mereka benar-benar menyukai profesi tersebut? (Tidak.) Hanya ada satu jenis orang yang benar-benar menyukai profesi tersebut—entah profesi tersebut memberi mereka kehidupan materi yang baik atau keuntungan yang besar, dan sebanyak apa pun kesulitan yang mereka hadapi, atau sebanyak apa pun penderitaan yang mereka tanggung dalam profesi ini, mereka dapat bertahan di dalamnya tanpa goyah, sampai akhir. Inilah kecintaan sejati. Hal yang sama berlaku untuk apakah seseorang mencintai kebenaran atau tidak. Jika engkau benar-benar mencintai hal-hal yang positif, bertumbuh dari mencintai hal-hal positif menjadi mencintai kebenaran, apa pun situasi yang kauhadapi, engkau akan tekun mencari dan mengejar kebenaran, tanpa mengubah tujuan hidupmu. Jika engkau dapat dengan begitu saja meninggalkan kepercayaan kepada Tuhan dan meninggalkan jalan menuju keselamatan, engkau tidak benar-benar mencintai kebenaran. Adapun mereka yang tidak mengejar kebenaran tetapi juga tidak meninggalkannya, hanya ada satu alasan yang membuat mereka tekun: Mereka mengira bahwa selama ada secercah harapan untuk memperoleh kesudahan dan tempat tujuan yang baik, masa depan yang baik, itu layak untuk dipertaruhkan, dan mereka harus bertekun sampai akhir. Mereka yakin bahwa ketekunan ini diperlukan; nyatanya bencana makin dahsyat dan tidak ada tempat lain untuk dituju, jadi lebih baik mereka bertahan di sini sambil mencoba peruntungan mereka. Apakah orang-orang semacam itu memiliki sedikit saja cinta akan kebenaran di dalam hati mereka? (Tidak.) Mereka tidak memilikinya. Ketika mereka pertama kali mulai percaya kepada Tuhan, orang-orang ini juga berbicara tentang membenci dunia, membenci Iblis, membenci hal-hal negatif, mencintai hal-hal positif, dan mendambakan terang. Namun, apa perilaku mereka ketika mereka masuk ke dalam ke rumah Tuhan, ke dalam gereja? Bagaimana sikap mereka ketika mereka mendapati bahwa mereka adalah orang yang berjerih payah, ketika mereka menyadari bahwa tindakan, perilaku, dan natur mereka tidak diperkenan Tuhan? Perilaku macam apa yang mereka perlihatkan? Dapat dikatakan bahwa ketika mereka merasakan atau menganggap bahwa mereka tidak lagi disukai di rumah Tuhan, bahwa mereka harus disingkirkan, ada orang-orang yang memilih untuk pergi. Orang-orang lainnya, meskipun mereka dengan enggan tinggal di dalam gereja, membiarkan diri mereka sepenuhnya dikuasai dengan keputusasaan, dan akhirnya terpaksa pergi. Orang-orang semacam itu sama sekali tidak mencintai kebenaran; ketika hasrat mereka untuk memperoleh berkat hancur, mereka dapat mengkhianati Tuhan dan berpaling dari-Nya. Berbagai perwujudan ini menunjukkan sikap berbagai orang terhadap kebenaran.

IV. Kesudahan yang Berbeda dari Ketiga Jenis Orang Ini

Kita baru saja bersekutu tentang ciri dari tiga jenis orang: orang yang berjerih payah, pekerja upahan, dan umat Tuhan. Dari ciri mereka, jelaslah bahwa kesudahan akhir mereka bukan ditentukan oleh lingkungan atau kondisi objektif, melainkan ditentukan oleh pengejaran dan natur esensi mereka. Tentu saja, secara objektif, Tuhanlah yang menentukan nasib manusia, tetapi Tuhan menentukannya berdasarkan pada apakah manusia mencintai kebenaran dan apakah mereka mampu menerima kebenaran atau tidak. Orang-orang yang berjerih payah juga berkata bahwa mereka mencintai kebenaran dan hal-hal positif, tetapi pada akhirnya, ketika pekerjaan Tuhan berakhir, gagasan dan imajinasi mereka tentang Tuhan, tuntutan mereka yang berlebihan terhadap Tuhan, dan pengkhianatan mereka terhadap Tuhan tetap tidak berubah. Ini karena selama periode pekerjaan Tuhan, mereka tidak pernah membereskan watak rusak mereka selama mengikuti Tuhan dan melaksanakan tugasnya. Sumber penyebab tidak dibereskannya watak rusak mereka adalah karena pada dasarnya mereka tidak menerima kebenaran. Meskipun mereka memiliki keinginan untuk tunduk kepada Tuhan, yang sebenarnya mereka wujudkan hanyalah kemampuan untuk meninggalkan dan kesediaan untuk membayar harga, tanpa pernah mencari prinsip-prinsip kebenaran atau caranya tunduk kepada Tuhan. Kesudahan akhirnya adalah meskipun mengerahkan banyak upaya, mereka tidak memiliki sedikit pun pengenalan akan Tuhan. Mereka masih mampu mengkhianati Tuhan dan menyuarakan gagasan dan imajinasi mereka tentang-Nya dan tuntutan mereka yang tidak masuk akal terhadap-Nya di hadapan orang lain dan Iblis. Ketika pekerjaan Tuhan berakhir, mereka tetap menganggap diri mereka sebagai orang yang "memiliki kemanusiaan yang baik, benar-benar percaya kepada Tuhan, dan mampu meninggalkan, serta menanggung kesukaran, dan pasti dapat diselamatkan," dan karenanya, mereka merasa tenang. Sebenarnya, mereka selalu menempuh jalan orang yang berjerih payah, tanpa sama sekali mengejar kebenaran; dengan demikian, mereka selalu mempertahankan identitas dari orang yang berjerih payah. Mengenai kategori orang lainnya, yaitu pekerja upahan, kita tidak akan membahasnya. Kategori lainnya lagi adalah umat Tuhan, yang baru saja kita sebutkan. Dalam perjalanan mengikuti Tuhan, mereka seperti orang yang berjerih payah, mengorbankan diri mereka untuk-Nya, mengabdikan waktu dan tenaga mereka, bahkan masa muda mereka, dan mengalami banyak penderitaan serta membayar harga yang mahal. Ini sama seperti orang yang berjerih payah. Lalu, apa bedanya? Perbedaannya adalah, ketika pekerjaan Tuhan berakhir, gagasan, imajinasi, dan tuntutan mereka yang banyak dan berlebihan terhadap Tuhan telah diluruskan. Perwujudan, keadaan, dan perwujudan kerusakan yang jelas-jelas menentang Tuhan di dalam watak rusak mereka telah disingkirkan. Sisanya yang belum dibereskan akan hilang saat mereka secara berangsur-angsur memahami kebenaran melalui pengalaman. Meskipun watak rusak mereka belum sepenuhnya dibuang, watak hidup mereka telah mengalami sejumlah perubahan. Seringkali, mereka akan mampu melakukan penerapan berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran yang mereka pahami, dan perwujudan watak rusak mereka akan berkurang secara signifikan. Meskipun itu bukan berarti bahwa mereka tidak akan memperlihatkannya di lingkungan mana pun, orang-orang ini telah memenuhi satu tuntutan mendasar: Mereka telah memenuhi tuntutan Tuhan bahwa mereka harus bersikap jujur; pada dasarnya mereka akan menjadi orang-orang yang jujur. Selain itu, ketika orang-orang ini memperlihatkan watak yang rusak, atau melakukan pelanggaran, atau memendam gagasan dan pemberontakan terhadap Tuhan, di lingkungan seperti apa pun mereka melakukannya, mereka akan memiliki sikap yang bertobat. Ada satu hal lagi yang terpenting: Apa pun tindakan spesifik yang Tuhan lakukan dan seperti apa pun cara Dia bertindak dalam pekerjaan penghakiman pada akhir zaman, apa pun yang ingin Dia lakukan di masa depan, seperti apa pun Dia akan mengatur nasib umat manusia, dan seperti apa pun cara mereka sendiri akan hidup dalam lingkungan yang Dia atur, mereka semua akan memiliki hati yang tunduk dan sikap yang tunduk, tidak memiliki pilihan pribadi dan tidak memiliki rencana serta rancangan pribadi. Karena berbagai perwujudan yang proaktif dan positif ini, mereka telah menjadi jenis orang yang Tuhan tuntut, orang yang mengikuti jalan Tuhan, yaitu yang takut akan Dia dan menjauhi kejahatan. Meskipun mereka masih jauh dari standar "takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, serta menjadi manusia yang sempurna" yang benar, seperti yang dinyatakan oleh Tuhan, ketika ujian Tuhan datang menimpanya, mereka akan mampu mencari dan tunduk, ini sudah cukup. Mereka tidak akan mengeluh; mereka hanya akan menanti dan tunduk. Meskipun situasi engkau semua saat ini mungkin masih sangat jauh dari hasil seperti itu, dan bagi sebagian orang, hal itu mungkin tampak sangat jauh dan tidak dapat dicapai, jika engkau mampu menerima kebenaran dan memperlakukan firman Tuhan sebagai prinsip dan landasan dari keberadaanmu, percayalah bahwa suatu hari, engkau, atau engkau semua, tidak akan lagi jauh dari menjadi umat Tuhan yang sejati, yang Dia kasihi—percayalah bahwa hari itu sudah di depan mata. Apakah hari itu saat ini sedang dinubuatkan atau sudah dekat, hasil akhirnya bukanlah khayalan dalam kedua kasus tersebut, melainkan fakta yang akan segera terwujud dan terpenuhi. Kepada siapa tepatnya fakta ini akan terpenuhi, kepada orang-orang mana saja fakta ini akan terpenuhi, tergantung pada bagaimana sebenarnya engkau semua mengejar kebenaran. Dengan kata lain, apakah engkau benar-benar mencintai kebenaran hingga taraf engkau mampu mengejar dan menerapkannya, atau engkau hanya sedikit mencintai kebenaran, tetapi tidak mampu sepenuhnya menerima dan menerapkannya, hasil akhirnya yang akan memberikan jawabannya kepadamu. Baiklah, kita akan mengakhiri persekutuan kita tentang topik ini di sini.

Standar dan Dasar untuk Membedakan Berbagai Macam Orang Jahat

II. Berdasarkan Kemanusiaan Orang

Berikutnya, kita akan lanjutkan persekutuan kita tentang tanggung jawab pemimpin dan pekerja yang keempat belas: "Dengan segera mengenali, mengeluarkan, dan mengusir berbagai macam orang jahat dan antikristus." Standar untuk membedakan berbagai macam orang jahat dibagi menjadi tiga kategori utama. Sebelumnya, kita telah bersekutu tentang tujuan orang percaya kepada Tuhan, dan kemudian bersekutu tentang kemanusiaan mereka. Dalam hal kemanusiaan orang, kita juga telah mengkategorikannya ke dalam berbagai perwujudannya. Apa sajakah beberapa perwujudan yang telah kita persekutukan? Bacakanlah. (Poin kedua untuk membedakan berbagai macam orang jahat adalah kemanusiaan orang. 1. Suka memutarbalikkan fakta dan kebohongan; 2. Suka memanfaatkan orang; 3. Bermoral bejat dan tidak terkendali; 4. Cenderung membalas dendam; 5. Tidak mampu menjaga lidah.) Kita telah bersekutu sampai poin kelima tentang tidak mampu menjaga lidah. Entah kita mempersekutukan perwujudan spesifik dari kemanusiaan atau hal-hal lain, seperti yang telah Kukatakan, hal itu akan memiliki efek yang berbeda pada berbagai jenis orang. Setelah mendengarkan, mereka yang mengejar kebenaran akan berfokus memeriksa diri mereka sendiri; mereka akan membandingkan diri mereka terhadap persekutuan-Ku dan memiliki jalan masuk yang proaktif dan positif. Namun, mereka yang tidak mengejar kebenaran, seperti orang yang berjerih payah, hanya akan mendengarkan, dan itu saja. Mereka tidak memasukkannya ke dalam hati atau memberikan perhatian sepenuh hati dalam mendengarkan. Terkadang, mereka bahkan tertidur saat mendengarkan khotbah. Mereka tidak dapat menyerapnya, dan bahkan berpikir, "Apa gunanya mendengarkan hal-hal sepele seperti ini? Buang-buang waktu saja—aku bahkan belum menyelesaikan pekerjaan yang sedang kukerjakan!" Mereka selalu menaruh perhatian pada pekerjaan yang membutuhkan kerja keras. Mereka sangat antusias dan berdedikasi dalam bekerja keras, menunjukkan kesetiaan, tetapi mereka sama sekali tidak mampu mengerahkan tenaga untuk hal-hal yang ada kaitannya dengan kebenaran. Ini dengan jelas menunjukkan bahwa orang-orang semacam itu tidak tertarik akan kebenaran; mereka sudah puas dengan sekadar bekerja keras. Ada sekelompok orang lagi yang mempertahankan sikap yang sama seperti apa cara rumah Tuhan mempersekutukan kebenaran: "Aku hanya menentang dan enggan menerima. Sekalipun kau menunjukkan masalahku dan menyingkapkan perilaku, perwujudan, dan watakku, aku tetap tidak akan memperhatikan atau menganggapnya serius. Memangnya kenapa jika orang lain tahu aku sedang disingkapkan?" Mereka tanpa tahu malu hanya terus menentang dan melawan, ini tidak ada gunanya. Bagaimanapun juga, perwujudan dari berbagai jenis orang dapat dibedakan. Kebenaran—baik bagi mereka yang mengejarnya, mereka yang bersedia bekerja keras tetapi tidak menyukainya, maupun bagi mereka yang jijik dan muak akan kebenaran—bertindak sebagai pedang bermata dua dan batu ujian. Itu dapat menilai sikap orang terhadap kebenaran dan juga jalan yang sedang mereka tempuh.

F. Tidak Bernalar dan Suka Membuat Masalah, Tak Ada yang Berani Memprovokasi Mereka

Sebelumnya, kita telah bersekutu tentang membedakan lima perwujudan dari berbagai orang jahat. Hari ini, kita akan lanjutkan dengan mempersekutukan yang keenam. Yang keenam juga merupakan perwujudan dari sejenis orang jahat, atau lebih tepatnya, sekalipun orang-orang tidak menganggap jenis orang ini jahat, semua orang tetap tidak menyukai mereka. Mengapa demikian? Itu karena orang-orang ini tidak memiliki hati nurani dan tidak bernalar, tidak memiliki kemanusiaan yang normal, dan interaksi dengan mereka sangat menyusahkan dan sulit, menimbulkan rasa jijik. Apa saja perwujudan spesifik dari orang-orang ini? Tidak bernalar dan suka membuat masalah, tak ada yang berani memprovokasi mereka. Adakah orang-orang semacam itu di gereja? Meskipun tidak banyak, mereka pasti ada. Apa saja perwujudan spesifik mereka? Dalam keadaan biasa, orang-orang ini mampu melaksanakan tugas mereka secara normal dan berinteraksi dengan orang lain secara cukup normal; engkau tidak akan melihat watak yang kejam dalam diri mereka. Namun, ketika tindakan mereka bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran dan mereka dipangkas, mereka akan meledak dengan amarah, menolak kebenaran sepenuhnya sembari membuat alasan yang tidak masuk akal untuk diri mereka sendiri. Tiba-tiba, engkau menyadari bahwa mereka seperti landak yang penuh dengan duri, harimau yang tidak dapat disentuh. Engkau berpikir, "Aku telah berinteraksi dengan orang ini begitu lama, kukira mereka memiliki kemanusiaan yang baik, pengertian, dan mudah diajak bicara, menganggap bahwa mereka mampu menerima kebenaran. Aku tak menyangka bahwa mereka adalah orang yang tidak bernalar dan suka membuat masalah. Aku harus lebih berhati-hati ketika berinteraksi dengan mereka di kemudian hari, meminimalkan kontak kecuali diperlukan, dan menjaga jarak agar tidak memprovokasi mereka." Pernahkah engkau melihat orang-orang semacam itu yang tidak bernalar dan suka membuat masalah? Biasanya, orang-orang yang memahami mereka tahu betapa hebatnya mereka dan berbicara kepada mereka dengan sangat sopan dan hati-hati. Khususnya, ketika engkau berbicara dengan mereka, engkau sama sekali tidak boleh menyakiti mereka, atau itu akan mengakibatkan masalah yang tiada habisnya dengan mereka. Ada orang-orang yang berkata, "Siapa sebenarnya orang-orang yang kasar ini? Kami belum pernah bertemu dengan mereka." Jika demikian, kita benar-benar perlu membahasnya. Sebagai contoh, ketika saudara-saudari mempersekutukan pengalaman mereka, ketika beberapa orang menyinggung keadaan mereka yang rusak atau kesulitan pribadi mereka, orang lain sudah pasti akan berempati karena mengalami atau merasakan hal yang sama. Ini sangat normal. Setelah mendengarkan, orang mungkin berpikir, "Aku juga pernah mengalami hal yang sama, jadi mari kita mempersekutukan topik ini bersama-sama. Aku ingin mendengar bagaimana engkau melaluinya. Jika persekutuanmu memiliki terang dan ada kaitannya dengan masalah yang kumiliki, aku akan menerimanya dan melakukan penerapan berdasarkan pengalaman dan jalanmu untuk melihat seperti apa hasilnya nanti." Hanya ada satu jenis orang yang setelah mendengar orang lain bersekutu tentang mengenal diri mereka sendiri dan menyingkapkan kerusakan dan keburukan mereka sendiri, beranggapan bahwa ini secara tidak langsung menyingkapkan dan menghakiminya, dan tidak mampu menahan diri untuk tidak memukul meja dan meledak dengan amarah: "Siapa yang tidak memiliki kerusakan? Siapa yang hidup seorang diri? Menurutku, kerusakanmu jauh lebih buruk daripada kerusakanku! Apa dasar kalian yang membuat kalian layak untuk menargetkanku dan menyingkapkanku? Menurutku, kalian hanya ingin mempersulit hidupku dan mengucilkanku! Bukankah itu hanya karena aku berasal dari daerah pedesaan dan tidak dapat mengucapkan kata-kata yang manis untuk menyanjung kalian? Bukankah itu karena pendidikanku tidak setinggi pendidikan kalian? Tuhan bahkan tidak memandang rendah diriku, jadi apa yang membuat kalian berhak untuk memandang rendah diriku!" Orang lain berkata, "Ini adalah persekutuan biasa, ini tidak ditujukan kepadamu. Bukankah watak rusak semua orang sama? Ketika seseorang mempersekutukan topik tertentu dan menyebutkan keadaan rusaknya sendiri, orang lain sudah pasti akan mendapati bahwa keadaan mereka sama. Jika kau merasa bahwa keadaanmu sama, kau juga dapat bersekutu tentang pengalamanmu." Lalu dia menjawab, "Benarkah? Aku bisa menoleransi persekutuan semacam itu dari satu orang, tetapi mengapa kalian berdua atau bertiga berkumpul untuk merundungku? Apa kaupikir aku mudah untuk ditindas?" Makin dia berbicara, bukankah perkataannya makin keterlaluan? (Ya.) Apakah orang-orang semacam itu memiliki alasan untuk mengucapkan perkataan ini? (Tidak.) Jika engkau benar-benar menganggap bahwa topik persekutuan orang lain itu ditujukan kepadamu, engkau dapat membahas atau mempersekutukan topik ini; tanyakan secara langsung apakah persekutuan itu ditujukan kepadamu atau bukan, bukannya mengungkit latar belakangmu sebagai petani, tingkat pendidikanmu yang rendah, atau orang-orang yang memandang rendah dirimu. Apa gunanya mengatakan hal-hal itu? Bukankah itu adalah omong kosong tentang yang benar dan yang salah? Bukankah itu tidak bernalar dan suka membuat masalah? (Ya.) Bukankah menurutmu orang-orang semacam itu mengerikan? (Ya.) Setelah dia membuat keributan seperti itu, semua orang tahu orang macam apa dia, dan ketika bersekutu di pertemuan-pertemuan berikutnya, mereka selalu harus berbicara dengan hati-hati dan mempelajari ekspresinya. Jika ekspresinya berubah suram, orang lain menjadi ragu untuk berbicara, dan semua orang merasa terkekang selama bersekutu di pertemuan itu. Bukankah ini adalah kekangan dan gangguan yang disebabkan oleh sikapnya yang tidak bernalar dan suka membuat masalah? (Ya.) Mereka yang tidak bernalar dan suka membuat masalah semuanya berada di luar nalar; orang-orang semacam itu tidak akan menerima kebenaran dan tidak mungkin diselamatkan.

Jenis orang yang tidak bernalar dan suka membuat masalah ini memiliki perwujudan lainnya. Ada orang-orang yang selalu berkata selama pertemuan, "Aku tidak boleh lagi bertindak dengan sikap asal-asalan. Aku harus berfokus menerapkan kebenaran; aku harus mengejar kesempurnaan. Aku secara alami berusaha untuk unggul. Apa pun yang kulakukan, itu harus dilakukan dengan baik." Mereka hanya omong besar, tetapi sebenarnya, mereka tetap bertindak dengan sikap asal-asalan ketika melaksanakan tugas mereka, dan tugas yang mereka laksanakan memiliki banyak masalah, jauh dari mencapai efek sebagai kesaksian bagi Tuhan. Ketika para pemimpin menunjukkan masalah dalam pelaksanaan tugas mereka dan memangkasnya, mereka langsung menjadi marah, berkata, "Sudah kuduga. Kalian semua menghakimiku di belakangku, berkata bahwa keterampilan profesionalku buruk. Bukankah kalian semua benar-benar memandang rendah diriku? Itu hanya kesalahan kecil. Apakah perlu untuk memangkasku seperti ini? Selain itu, siapa yang tidak melakukan kesalahan? Mengatakan bahwa aku bertindak dengan sikap asal-asalan—bukankah kau juga bersikap asal-asalan dalam pekerjaanmu sebelumnya? Apakah kau memenuhi syarat untuk mengkritikku? Tanpa kerja samaku, siapa di antara kalian yang dapat memikul pekerjaan ini?" Apa pendapatmu tentang orang-orang semacam itu? Dalam apa pun yang mereka lakukan, mereka tidak mengizinkan orang lain untuk menunjukkan kekurangan mereka atau memberikan saran; mereka bahkan tidak menerima pemangkasan yang sudah sepatutnya. Siapa pun yang angkat bicara, mereka akan menentang dan melawan mereka, mengucapkan perkataan yang tidak masuk akal, bahkan berkata bahwa mereka dipandang rendah, atau mereka ditindas karena sendirian dan tidak berdaya, atau hal-hal semacam itu. Bukankah ini tidak terkendali, tidak bernalar dan suka membuat masalah? Bahkan ada orang-orang yang, setelah dipangkas, meninggalkan tugas mereka: "Aku tidak mau lagi melakukan pekerjaan ini. Jika kalian bisa melakukannya, silakan saja. Kemudian akan kulihat apakah kalian tetap bisa melanjutkan pekerjaan ini tanpaku!" Saudara-saudari berusaha membujuk mereka, tetapi mereka tidak mendengarkan. Bahkan ketika para pemimpin dan pekerja mempersekutukan kebenaran kepada mereka, mereka tidak mau menerimanya; mereka mulai bersikap seolah lebih baik daripada orang lain dan meninggalkan tugas mereka. Selama pertemuan, mereka merajuk, tidak membaca firman Tuhan dan tidak bersekutu, selalu menjadi yang terakhir datang dan yang pertama pulang. Ketika mereka pergi, mereka menghentak-hentakkan kaki dan membanting pintu, dan kebanyakan orang bingung bagaimana cara menangani mereka. Ketika sesuatu terjadi pada orang-orang semacam itu, mereka melontarkan argumen yang tidak masuk akal dan omong kosong; mereka menjadi tidak terkendali dan bahkan melempar barang-barang, sama sekali tidak bernalar. Beberapa orang bahkan memiliki perwujudan yang jauh lebih parah—jika saudara-saudari tidak menyapa mereka, mereka menjadi tidak senang dan mengambil kesempatan selama pertemuan untuk meratap: "Aku tahu kalian semua memandang rendah diriku. Selama pertemuan, kalian semua hanya berfokus mempersekutukan firman tuhan dan mendiskusikan pemahaman berdasarkan pengalaman kalian sendiri. Tak ada seorang pun yang peduli padaku, tak ada seorang pun yang tersenyum padaku, dan tak ada seorang pun yang mengantarku keluar saat aku pulang. Orang percaya macam apa kalian ini? Kalian benar-benar tidak punya kemanusiaan!" Mereka mengamuk seperti ini di gereja. Mereka menjadi marah bahkan karena hal-hal sepele, melampiaskan semua keluhan mereka yang telah memuncak. Jelaslah bahwa mereka sedang memperlihatkan watak rusak mereka sendiri, tetapi mereka tidak merenungkan diri mereka sendiri atau mengenal diri mereka sendiri, dan mereka tidak memiliki keinginan untuk mengejar perubahan atau kebenaran. Sebaliknya, mereka mencari masalah dalam diri orang lain, menemukan berbagai alasan untuk menyeimbangkan jiwa mereka sendiri—dan saat mereka melakukannya, mereka mencari kesempatan untuk melampiaskan keluhan mereka. Yang lebih penting lagi, mereka bertujuan untuk membuat lebih banyak orang melihat mereka dan takut kepada mereka, agar dapat memperoleh sejumlah prestise dan perhatian di antara orang-orang. Orang-orang seperti ini sangat menyusahkan! Apa pun yang mereka katakan, tak seorang pun berani berkata "tidak"; tak seorang pun berani menilai mereka dengan enteng; dan tak seorang pun berani membuka diri dan bersekutu dengan mereka. Sekalipun beberapa kekurangan dan watak rusak terlihat dalam diri mereka, tak ada seorang pun yang berani menunjukkannya. Selama pertemuan, ketika semua orang bersekutu tentang pengalaman pribadi dan pemahaman mereka tentang firman Tuhan, mereka dengan hati-hati menghindari "sarang tawon", yaitu orang ini, takut memprovokasinya dan menyebabkan masalah. Ada orang-orang yang melampiaskan kemarahan mereka selama pertemuan setelah merasa diperlakukan dengan buruk atau menghadapi hal yang tidak menyenangkan di rumah atau di tempat kerja. Jelaslah bahwa mereka sedang menjadikan saudara-saudari sebagai pelampiasan dan sasaran kemarahan mereka. Ketika mereka sedang kesal, mereka mengucapkan argumen yang tidak masuk akal, menangis, dan mengamuk. Lalu siapa yang berani mempersekutukan kebenaran dengan mereka? Jika engkau bersekutu dengan mereka dan ada perkataan yang kebetulan menyinggung hal-hal yang sensitif bagi mereka, mereka mengancam akan bunuh diri. Itu akan jauh lebih merepotkan. Dengan orang-orang semacam itu, persekutuan yang normal tidak dapat diterima, percakapan yang normal tidak dapat diterima, bersikap terlalu hangat atau terlalu dingin juga tidak dapat diterima, menghindari mereka tidak dapat diterima, terlalu dekat tidak dapat diterima, dan jika saudara-saudari tidak mengungkapkan kebahagiaan yang sama dengan kebahagiaan mereka, itu tidak dapat diterima, dan ketika orang-orang ini menghadapi kesulitan, jika saudara-saudari tidak dapat menyamai kesulitan mereka, itu juga tidak dapat diterima. Tidak ada yang dapat diterima oleh mereka. Apa pun yang dilakukan dapat menjengkelkan dan membuat mereka marah. Seperti apa pun cara mereka diperlakukan, mereka tidak pernah merasa puas. Bahkan khotbah dan persekutuan-Ku tentang keadaan orang-orang tertentu dapat memprovokasi mereka. Bagaimana itu bisa memprovokasi mereka? Mereka berpikir, "Bukankah ini sedang menyingkapkanku? Engkau bahkan belum pernah berinteraksi denganku, dan aku belum pernah memberitahukan kepadamu apa pun tentang apa yang telah kulakukan secara diam-diam. Bagaimana engkau bisa tahu? Pasti ada seseorang yang mengadukannya. Aku perlu mencari tahu siapa yang telah berhubungan denganmu, siapa yang telah mengadu, siapa yang telah melaporkanku; aku tidak akan membiarkannya begitu saja!" Jenis orang yang tidak bernalar dan suka membuat masalah ini dapat memutarbalikkan pemikiran tentang apa pun, dan tidak mampu memperlakukan apa pun dengan benar. Mereka ini di luar nalar! Rasionalitas mereka benar-benar tidak ada, dan terlebih lagi, mereka tidak mampu menerima kebenaran. Keberadaan mereka di gereja malah merugikan, bukan menguntungkan. Mereka hanyalah gangguan, beban yang harus cepat-cepat dibuang; mereka harus segera dikeluarkan!

Di Tiongkok, percaya kepada Tuhan mengakibatkan penindasan dan penganiayaan oleh si naga merah yang sangat besar, dan ada begitu banyak orang yang diburu dan tidak bisa pulang ke rumah. Namun, ada orang-orang yang ketika dianiaya dan tidak dapat pulang ke rumah, meyakini bahwa mereka telah memperoleh pahala atau kualifikasi. Mereka tinggal dengan keluarga yang menerima mereka di rumahnya, dan bukan hanya ada orang-orang yang melayani mereka—jika ada sesuatu yang sedikit bertentangan dengan keinginan mereka atau mereka mulai merindukan rumah, mereka mulai membuat keributan, dan orang lain harus membujuk dan menoleransi mereka. Bukankah orang-orang semacam itu tidak bernalar dan suka membuat masalah? Ada begitu banyak orang yang dianiaya, dan tidak banyak keluarga yang menjadi tuan rumah. Karena kasihlah saudara-saudari menerima orang-orang yang tidak dapat pulang ke rumah itu di rumah mereka. Mereka menampung orang-orang tersebut dan mengizinkannya tinggal di rumah mereka. Bukankah ini kasih karunia Tuhan? Namun, ada orang-orang yang bukan hanya gagal menghargai kasih karunia Tuhan, melainkan juga gagal melihat kasih saudara-saudari. Mereka malah merasa dirugikan, dan bahkan akan mengeluh dan sukar dikendalikan. Kondisi kehidupan di rumah saudara-saudari sebetulnya agak lebih baik daripada di rumah mereka sendiri. Khususnya dalam hal percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugas, tinggal di rumah saudara-saudari jauh lebih baik daripada tinggal di rumah mereka sendiri. Memiliki saudara-saudari yang dapat diajak bekerja sama secara harmonis selalu jauh lebih baik daripada sendirian. Sekalipun kondisi kehidupan di beberapa daerah agak kurang baik, mereka masih memiliki standar kehidupan rata-rata. Yang terpenting adalah mereka dapat hidup bersama saudara-saudari, sering berkumpul dan makan serta minum firman Tuhan, memahami lebih banyak kebenaran, dan mengetahui apa tujuan pengejaran mereka. Jadi, mereka yang mengejar kebenaran mampu membayar harga itu dan menjalani penderitaan itu. Kebanyakan orang memiliki sikap yang benar terhadap hal ini; mereka mampu menerima bahwa itu adalah dari Tuhan, dengan mengetahui bahwa penderitaan itu bermanfaat, dan bahwa itu adalah penderitaan mereka yang harus dijalani. Mereka dapat memandangnya dengan benar. Namun, ada orang-orang yang tidak bernalar dan suka membuat masalah serta tidak terkendali yang sama sekali tidak dapat memahami berbagai hal dengan cara seperti ini. Mereka mungkin hampir tidak tahan jika tidak bisa pulang ke rumah selama seminggu, tetapi setelah dua minggu, mereka menjadi murung, dan setelah satu atau dua bulan, mereka menjadi tidak terkendali. Mereka berkata, "Mengapa keluarga kalian bisa hidup bahagia bersama dan aku tidak bisa pulang ke keluargaku? Mengapa aku tidak memiliki kebebasan, sedangkan kalian bisa datang dan pergi sesuka hati?" Orang lain menjawab, "Bukankah itu disebabkan oleh penganiayaan dari si naga merah yang sangat besar? Bukankah sebagai pengikut Tuhan, sudah sepatutnya kita menanggung penderitaan seperti itu? Apa masalahnya mengalami sedikit penderitaan ini? Mengingat keadaannya, apa yang perlu dipermasalahkan? Jika orang lain mampu menanggung penderitaan ini, mengapa kau tidak mampu?" Mereka yang tidak bernalar dan suka membuat masalah sama sekali tidak ingin menderita. Jika mereka tertangkap dan dijebloskan ke dalam penjara, mereka pasti akan menjadi Yudas. Memangnya sebesar apa penderitaannya hidup bersama keluarga yang menerima kita di rumahnya? Pertama, makanannya tetap makanan manusia; kedua, tidak ada yang mempersulit dirimu; dan ketiga, tak ada seorang pun yang menindasmu. Hanya saja engkau tidak bisa pulang dan bersatu kembali dengan keluargamu, dan sedikit penderitaan itu sama sekali tidak dapat diterima oleh orang-orang yang tidak bernalar dan suka membuat masalah. Ketika orang lain mempersekutukan kebenaran kepada mereka, mereka tidak mau menerimanya, tetapi mengatakan hal-hal seperti, "Jangan menceramahiku tentang doktrin-doktrin yang tinggi itu. Aku memahaminya sebanyak yang kaupahami; aku tahu semua ini! Katakan saja kepadaku, kapan aku bisa pulang? Kapan si naga merah yang sangat besar itu akan berhenti mengawasi rumahku? Kapan aku bisa pulang tanpa ditangkap oleh si naga merah yang sangat besar itu? Jika aku tidak tahu kapan aku bisa pulang, lebih baik aku mati!" Mereka kembali membuat keributan, dan saat mereka melakukannya, mereka duduk di lantai, menendang-nendangkan kaki mereka, dan makin mereka menendangkannya, makin marah mereka, dan tangis mereka pun meledak dengan ratapan yang meluap-luap. Orang lain berkata, "Pelankan suaramu. Jika kau terus seperti ini dan tetangga mendengarnya, mendapati ada orang luar yang tinggal di sini, kita akan ketahuan, bukan?" Mereka menjawab, "Aku tidak peduli, aku hanya ingin membuat keributan! Kalian semua bisa pulang, tetapi aku tidak bisa. Itu tidak adil! Aku akan membuat keributan besar sehingga kalian juga tidak akan bisa pulang, sama seperti aku!" Ledakan amarah mereka yang tak terkendali tidak mereda, dan niat jahat mereka muncul; tak ada seorang pun yang bisa menghentikan mereka, tak ada seorang pun yang bisa membujuk mereka. Ketika suasana hati mereka sedikit membaik, mereka menjadi tenang dan berhenti membuat keributan. Namun, siapa tahu—suatu hari, mereka mungkin kembali menjadi tidak terkendali dan membuat keributan: Mereka hanya akan keluar untuk berjalan-jalan dan menjadi bebas, serta berbicara dengan keras di dalam rumah; mereka akan terus-menerus berencana untuk pulang. Saudara-saudari memperingatkan mereka, "Pulang ke rumah terlalu berisiko, ada polisi yang mengintai dan mengawasi tempat itu." Mereka menjawab, "Aku tidak peduli, aku ingin pulang! Jika mereka menangkapku, tangkap saja aku! Apa masalahnya? Seburuk-buruknya, aku hanya akan menjadi Yudas!" Bukankah ini gila? (Ya.) Mereka secara terang-terangan berkata bahwa mereka ingin menjadi Yudas. Siapa yang akan berani menerima orang-orang itu di rumah mereka? Adakah yang mau menerima seorang Yudas di rumahnya? (Tidak ada.) Apakah orang semacam itu adalah orang yang percaya kepada Tuhan? Saudara-saudari menerima orang-orang itu di rumah mereka sebagai orang yang percaya kepada Tuhan. Jika kemanusiaan mereka agak kurang, itu dapat ditoleransi; tidak mengejar kebenaran juga dapat ditoleransi. Namun, mereka dapat merugikan saudara-saudari dengan mengkhianati gereja dan menjadi Yudas, dan dengan demikian membuat banyak orang tidak dapat pulang ke rumah mereka atau melaksanakan tugas mereka secara normal—siapa yang sanggup menanggung kesalahan atas konsekuensi ini? Beranikah engkau menerima musuh semacam ini di rumahmu? Bukankah menerima mereka di rumahmu hanya akan mengundang masalah bagi dirimu sendiri?

Orang-orang yang tidak bernalar dan suka membuat masalah hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri saat bertindak, berbuat sekehendak hati mereka. Perkataan mereka hanyalah kesesatan dan argumen yang tak masuk akal, dan mereka tidak bernalar. Watak mereka yang kejam meluap-luap. Tak seorang pun berani berhubungan dengan mereka, dan tak seorang pun mau menyampaikan persekutuan tentang kebenaran kepada mereka, karena takut mendatangkan bencana kepada diri mereka sendiri. Orang-orang merasa gelisah setiap kali menyampaikan pemikirannya kepada mereka, takut jika mengatakan satu kata yang tidak mereka sukai atau tidak sesuai dengan keinginan mereka, mereka akan memanfaatkannya dan membuat tuduhan yang memalukan. Bukankah orang-orang semacam itu jahat? Bukankah mereka adalah setan-setan hidup? Semua orang-orang yang memiliki watak jahat dan tak bernalar adalah setan hidup. Dan ketika seseorang berinteraksi dengan setan hidup, mereka dapat mendatangkan malapetaka kepada diri mereka sendiri hanya karena kecerobohan sesaat. Bukankah akan menimbulkan masalah besar jika setan hidup semacam itu ada di dalam gereja? (Ya.) Setelah setan hidup ini meluapkan dan melampiaskan kemarahan mereka, mereka mungkin berbicara seperti manusia selama beberapa waktu dan meminta maaf, tetapi mereka tidak akan berubah sesudahnya. Siapa yang tahu kapan suasana hati mereka akan buruk dan mereka akan kembali meluapkan kemarahan, melontarkan argumen mereka yang tak masuk akal. Target dari luapan amarah dan pelampiasan mereka selalu berbeda, sama seperti sumber dan latar belakang pelampiasan mereka. Artinya, apa pun bisa memicu kemarahan mereka, apa pun bisa membuat mereka merasa tidak puas, dan apa pun bisa membuat mereka bereaksi dengan amukan dan perilaku yang sukar dikendalikan. Betapa buruk! Betapa menyusahkan! Orang-orang jahat yang gila ini dapat kehilangan akal kapan saja; tak seorang pun tahu apa yang mampu mereka lakukan. Aku paling membenci orang-orang semacam itu. Mereka semua harus diusir—mereka semua harus dikeluarkan. Aku tidak mau berhubungan dengan mereka. Pemikiran mereka kacau dan watak mereka kasar, mereka dipenuhi dengan argumen dan perkataan setan yang tak masuk akal, dan ketika sesuatu menimpa mereka, mereka melampiaskannya dengan cara yang terburu nafsu. Beberapa dari mereka menangis ketika melampiaskan amarah, yang lain berteriak-teriak, yang lain menghentak-hentakkan kaki mereka, dan bahkan ada yang menggeleng-gelengkan kepala dan menunjuk-nunjuk dengan jari mereka. Mereka hanyalah binatang buas, bukan manusia. Beberapa juru masak melemparkan panci dan piring begitu mereka marah; yang lain, yang memelihara babi atau anjing, menendang dan memukuli binatang-binatang ini begitu mereka marah, melampiaskan semua amarah mereka terhadap binatang-binatang tersebut. Apa pun yang terjadi, orang-orang ini selalu bereaksi dengan amarah; mereka tidak menenangkan diri untuk merenung atau menerima bahwa itu adalah dari Tuhan. Mereka tidak berdoa atau mencari kebenaran, mereka juga tidak mencari persekutuan dengan orang lain. Ketika mereka tidak punya pilihan, mereka bertahan; ketika mereka tidak mau bertahan, mereka mengamuk, mengucapkan argumen yang tidak masuk akal, menuduh dan mengutuk orang lain. Mereka sering mengatakan hal-hal seperti, "Aku tahu kalian semua terpelajar dan memandang rendah diriku"; "Aku tahu keluarga kalian kaya, dan kalian meremehkanku karena miskin"; atau "Aku tahu kalian meremehkanku karena aku tidak memiliki landasan dalam imanku, dan kalian meremehkanku karena aku tidak mengejar kebenaran." Meskipun mereka tahu betul bahwa mereka memiliki banyak masalah, mereka tidak pernah mencari kebenaran untuk menyelesaikannya, mereka juga tidak membahas tentang mengenal diri mereka sendiri dalam persekutuan mereka dengan orang lain. Ketika masalah mereka sendiri disinggung, mereka mengelak dan membuat tuduhan balasan palsu, melemparkan semua masalah dan tanggung jawab kepada orang lain, dan bahkan mengeluh bahwa mereka berperilaku demikian karena orang lain memperlakukan mereka dengan buruk. Seolah-olah luapan kemarahan dan keributan mereka yang tak masuk akal disebabkan oleh orang lain, seolah-olah semua orang lain yang salah, mereka tidak memiliki pilihan selain bertindak seperti ini. Mereka membela diri mereka sendiri secara sah. Setiap kali mereka tidak puas, mereka mulai melampiaskan kemarahan mereka dan bicara omong kosong, bersikeras pada argumen mereka yang tidak masuk akal seolah-olah semua orang lain salah, bahwa hanya mereka orang baik dan semua orang lainnya jahat. Sebanyak apa pun mereka meluapkan kemarahan atau mengucapkan argumen yang tidak masuk akal, mereka menuntut agar orang-orang berkata bahwa mereka adalah orang yang baik. Bahkan ketika mereka berbuat salah, mereka melarang orang lain untuk menyingkapkan atau mengkritik mereka. Jika engkau menunjukkan bahkan satu masalah kecilnya, mereka akan melibatkanmu dalam perselisihan yang tak berujung, dan jangan harap engkau bisa hidup dengan tenang saat itu. Orang macam apa ini? Ini adalah seseorang yang tidak bernalar dan suka membuat masalah, dan mereka yang melakukannya dianggap sebagai orang-orang jahat.

Orang-orang yang tidak bernalar dan suka membuat masalah umumnya mungkin tidak melakukan perbuatan yang sangat jahat atau berbahaya, tetapi begitu terjadi sesuatu yang merugikan kepentingan, reputasi, atau martabat mereka, mereka langsung meledak marah, mengamuk, bertindak dengan cara yang tak terkendali, dan bahkan mengancam akan bunuh diri. Katakan kepada-Ku, jika di sebuah keluarga terdapat orang yang tak masuk akal, tidak rasional dan beradab seperti itu, bukankah seluruh keluarga akan menderita? Rumah tangga itu kemudian akan dilanda kekacauan, dipenuhi tangisan dan raungan, membuat hidup menjadi tak tertahankan untuk dijalani. Ada gereja-gereja yang di dalamnya terdapat orang-orang semacam itu, meskipun tidak terlihat jelas ketika segala sesuatunya berjalan normal, engkau tidak pernah tahu kapan mereka akan meledak dan menyingkapkan diri mereka sendiri. Perwujudan utama orang-orang semacam itu antara lain mengamuk, melontarkan pernyataan yang tidak masuk akal, dan mengumpat di depan umum. Sekalipun perilaku ini hanya muncul sebulan sekali atau setengah tahun sekali, perilaku itu menyebabkan kesedihan dan kesulitan yang besar, menimbulkan berbagai tingkat gangguan terhadap kehidupan bergereja kebanyakan orang. Jika seseorang benar-benar dapat dipastikan termasuk dalam kategori ini, orang itu harus segera ditangani dan dikeluarkan dari gereja. Ada orang-orang yang mungkin berkata, "Orang ini tidak melakukan kejahatan apa pun. Dia tidak dapat dianggap orang jahat, kita harus bersikap toleran dan sabar terhadap mereka." Katakan kepada-Ku, bolehkah tidak menangani orang-orang semacam itu? (Tidak.) Mengapa tidak? (Karena tindakan mereka menyebabkan masalah dan gangguan besar terhadap kebanyakan orang, dan juga menyebabkan gangguan terhadap kehidupan bergereja.) Berdasarkan hasil akhir ini, jelaslah bahwa orang-orang yang mengganggu kehidupan bergereja, sekalipun mereka bukan orang jahat atau antikristus, mereka tidak boleh tetap berada di dalam gereja. Itu karena orang-orang semacam itu tidak mencintai kebenaran melainkan muak akan kebenaran, dan sekalipun mereka sudah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan atau sekalipun mereka sudah mendengar banyak khotbah, mereka tidak akan menerima kebenaran. Begitu mereka melakukan sesuatu yang buruk lalu dipangkas, mereka akan mengamuk dan melontarkan omong kosong. Sekalipun seseorang mempersekutukan kebenaran kepada mereka, mereka tidak menerimanya. Tak seorang pun dapat memberi penjelasan kepada mereka. Bahkan sekalipun Aku yang mempersekutukan kebenaran kepada mereka, di luarnya mereka terlihat diam saja, tetapi di lubuk hatinya, mereka tidak menerimanya. Ketika menghadapi situasi nyata, mereka tetap bertindak sebagaimana biasanya. Mereka tidak mendengarkan firman-Ku, jadi nasihatmu, terlebih lagi, tidak akan mereka terima. Meskipun orang-orang ini mungkin tidak melakukan tindakan kejahatan yang besar, mereka sama sekali tidak menerima kebenaran. Dilihat dari esensi natur mereka, mereka bukan saja tidak memiliki hati nurani dan nalar, tetapi mereka juga tidak masuk akal, suka membuat masalah, dan tidak masuk akal. Dapatkah orang-orang semacam itu memperoleh keselamatan dari Tuhan? Sama sekali tidak! Mereka yang sama sekali tidak menerima kebenaran adalah para pengikut yang bukan orang percaya, mereka adalah pelayan Iblis. Ketika segala sesuatu tidak berjalan sesuai dengan keinginan mereka, mereka mengamuk, terus-menerus melontarkan pernyataan yang konyol, dan tidak mendengarkan kebenaran seperti apa pun caranya kebenaran itu dipersekutukan. Orang-orang semacam itu tidak bernalar dan suka membuat masalah, mereka sepenuhnya setan dan roh-roh jahat; mereka lebih buruk daripada binatang buas! Mereka adalah orang sakit jiwa yang tidak memiliki nalar yang sehat, dan tidak pernah mampu benar-benar bertobat. Makin lama mereka berada dalam gereja, makin banyak gagasan yang mereka miliki tentang Tuhan, makin tidak masuk akal tuntutan mereka terhadap rumah Tuhan, dan makin besar gangguan dan kerugian yang mereka timbulkan terhadap kehidupan bergereja. Ini memengaruhi jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan dan kemajuan normal pekerjaan gereja. Kerugian yang mereka sebabkan terhadap pekerjaan gereja sama besarnya dengan kerugian yang disebabkan oleh orang jahat; mereka harus dikeluarkan dari gereja sejak dini. Ada orang-orang yang berkata, "Bukankah mereka hanya sedikit sukar dikendalikan? Mereka belum mencapai titik menjadi orang jahat, jadi bukankah akan lebih baik untuk memperlakukan mereka dengan kasih? Jika kita mempertahankan mereka, mereka mungkin dapat berubah dan diselamatkan." Kuberitahukan kepadamu, itu tidak mungkin! Tidak ada "mungkin" mengenai hal ini—orang-orang ini sama sekali tidak dapat diselamatkan. Itu karena mereka tidak mampu memahami kebenaran, apalagi menerimanya; mereka tidak berhati nurani dan tidak bernalar, proses berpikir mereka tidak normal, dan mereka bahkan tidak memiliki akal sehat paling dasar yang diperlukan bagi cara orang berperilaku. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki nalar yang sehat. Tuhan sama sekali tidak menyelamatkan orang-orang semacam itu. Bahkan mereka yang cara berpikirnya sedikit lebih normal dan memiliki kualitas yang lebih baik tidak dapat diselamatkan jika mereka sama sekali tidak menerima kebenaran, apalagi mereka yang tidak memiliki nalar yang sehat. Dengan tetap memperlakukan orang-orang semacam itu dengan kasih dan terus berharap terhadap mereka, bukankah itu terlalu bodoh dan bebal? Biar Kuberitahukan kepadamu sekarang: Mengeluarkan mereka yang tidak bernalar, suka membuat masalah, dan tidak bisa diajak berpikir dari gereja adalah tindakan yang benar-benar tepat. Ini pada dasarnya menghentikan gangguan mereka terhadap gereja dan umat pilihan Tuhan. Ini adalah tanggung jawab para pemimpin dan pekerja. Jika ada orang yang tidak bernalar semacam itu di gereja mana pun, umat pilihan Tuhan harus melaporkannya, dan begitu para pemimpin dan pekerja menerima laporan semacam itu, mereka harus segera menanganinya. Inilah prinsip untuk menangani jenis orang keenam—mereka yang tidak bernalar dan suka membuat masalah.

G. Terus-Menerus Melakukan Percabulan

Jenis ketujuh adalah mereka yang melakukan percabulan, kelompok yang sering disebut. Meskipun perwujudan kemanusiaan mereka tidak begitu jahat—bukan seperti menabur perselisihan, atau melakukan perbuatan jahat dan menyebabkan gangguan—mereka memiliki ciri yang sama, yaitu masalah dan peristiwa selalu muncul dalam hubungan mereka dengan lawan jenis. Entah ada kesempatan atau tidak, masalah semacam itu selalu terjadi pada mereka, dan jika tidak ada kesempatan, merekalah yang membuat kesempatan itu, sehingga "cerita-cerita" seperti itu akan tetap terjadi. Apa pun keadaannya, siapa pun orangnya, atau sejauh apa pun orang itu dari mereka, peristiwa-peristiwa semacam itu memang terjadi pada mereka dari waktu ke waktu. Peristiwa macam apa? Mereka berpacaran dengan seseorang, atau selalu ingin dekat dengan seseorang, atau mulai menyukai seseorang, atau mengincar seseorang, dan sebagainya. Mereka selalu gagal untuk hidup secara normal dan melaksanakan tugas mereka secara normal, selalu dipengaruhi oleh hasrat hawa nafsu. Artinya, dalam keadaan normal di mana orang biasa tidak akan terlibat dalam masalah semacam itu, mereka sering terlibat. Mereka tidak butuh keadaan khusus apa pun atau siapa pun untuk menciptakan kesempatan bagi mereka; peristiwa-peristiwa ini terjadi secara alami. Setelah peristiwa semacam itu terjadi, apa pun konsekuensinya, sekelompok orang atau orang tertentu selalu harus menanggung akibatnya. Apa akibatnya bagi mereka? Pelaksanaan tugas mereka terpengaruh; pekerjaan gereja tertunda dan terhambat; ada anak-anak muda yang terganggu dan jatuh ke dalam pencobaan, serta kehilangan minat untuk percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugas mereka; dan ada orang-orang yang bahkan kehilangan tugas mereka atau meninggalkannya. Orang-orang yang melakukan percabulan sangat menyusahkan. Di setiap kesempatan, jemaat yang lawan jenisnya berbeda mengerumuni mereka, mendekati mereka, menggoda mereka, dan bahkan saling bersenda gurau. Meskipun mungkin tidak terjadi masalah serius yang bersifat esensial, masalah-masalah tersebut sangat mengganggu keadaan normal umat pilihan Tuhan saat melaksanakan tugas mereka. Ke mana pun orang-orang ini pergi, mereka membawa masalah dan gangguan bagi orang lain, bagi pekerjaan, dan bagi gereja, bahkan menggoda jemaat yang berbeda lawan jenis yang menarik bagi mereka pada setiap kesempatan, dan menjalin hubungan dengan mereka. Ini sangat mengganggu. Begitu mereka jatuh cinta kepada seseorang, orang itu pasti akan mengalami kemalangan, tidak dapat lagi percaya kepada Tuhan atau melaksanakan tugas mereka secara normal. Akibatnya tak terbayangkan. Orang itu tidak bisa berhenti menghubungi atau menemui si penggoda, dan sementara dia sibuk melaksanakan tugasnya, dia tidak dapat menikah atau berumah tangga, dan hubungannya dengan si penggoda itu tetap tidak dapat diakhiri. Apa yang terjadi pada akhirnya? Dia mulai sangat menderita, rasa sakitnya luar biasa! Jika dia bertahan sampai dia dihukum dalam bencana, semuanya akan berakhir baginya, harapannya untuk diselamatkan pun pupus. Ada orang-orang yang melakukan pelanggaran sekali dan tidak bertobat ketika mereka dipangkas, tetapi malah melakukan pelanggaran untuk kedua atau bahkan ketiga kalinya, terlibat dalam tiga atau empat hubungan selama dua atau tiga tahun, yang menyebabkan gangguan bagi umat pilihan Tuhan dan kehidupan bergereja, dan itu membuat umat pilihan Tuhan membenci mereka. Ini meninggalkan noda dalam diri mereka yang mereka sesali selama sisa hidup mereka.

Ada orang-orang yang, karena mereka agak rupawan, cukup anggun, dan memiliki beberapa karunia dan bakat, atau telah melakukan beberapa pekerjaan penting, selalu ada jemaat lawan jenis yang menempel pada mereka seperti lalat dan mengerumuni mereka. Ada yang menyajikan makanan untuk mereka, ada yang merapikan tempat tidur mereka, ada yang mencuci pakaian mereka, ada yang membelikan mereka suplemen kesehatan dan kosmetik serta memberi mereka hadiah-hadiah kecil, dan sebagainya. Mereka menerima siapa pun yang datang, di dalam hati, mereka tahu bahwa perilaku seperti itu tidaklah pantas dilakukan, tetapi mereka tidak pernah menolaknya, menggoda beberapa jemaat lawan jenis sekaligus. Orang-orang itu bersaing satu sama lain demi mendapatkan kesempatan untuk melayani mereka, bersaing dan menjadi saling cemburu, sementara orang yang cabul tersebut menikmati perasaan itu, menganggap bahwa dirinya sangat menawan. Sebenarnya, masalah pria dan wanita dipahami dengan baik oleh orang-orang dewasa, dan bahkan beberapa anak di bawah umur pun memahaminya; hanya orang bodoh, orang dengan gangguan mental, atau orang sakit jiwa yang tidak memahaminya. Mengapa orang-orang ini bersaing dengan sangat sengit untuk melayani dan menyenangkan jemaat lawan jenis? Semua itu tentang keinginan untuk merayu, bukan? Itu tidak perlu dijelaskan; semua orang tahu apa yang sedang terjadi. Itu adalah sesuatu yang sangat orang-orang sadari, sesuatu yang jelas-jelas tidak pantas, tetapi orang tersebut tidak menolaknya, malah diam-diam menyetujuinya—disebut apakah itu? Itu disebut menggoda. Mereka tahu bahwa itu adalah tentang rayuan antara pria dan wanita, tetapi demi kesenangan yang dimunculkan dengan memuaskan hasrat hawa nafsu daging, mereka tidak ingin menolaknya. Mereka merasa bahwa sensasi ini adalah semacam kenikmatan, yang bahkan lebih nikmat daripada makanan lezat mana pun di dunia, jadi mereka tidak menolak. Ketika orang yang dimaksud tidak menolaknya, orang-orang yang merayunya malah lebih senang, menganggap diri disukai oleh orang tersebut, menikmati keadaan itu di dalam hati mereka. Orang itu pun beranggapan bahwa selama tidak ada hubungan serius yang terjadi, itu tidak dianggap sebagai sesuatu yang serius, bahwa percabulan di antara orang tidak percaya jauh lebih buruk, dan bahwa paling-paling ini dianggap sebagai rayuan, sama dengan berpacaran pada umumnya. Namun, apakah berpacaran memang harus seperti ini? Hari ini dengan satu orang, besok dengan orang lain, terus-menerus berpacaran secara sembarangan dan merayu siapa saja. Ke mana pun mereka pergi, orang-orang cabul seperti itu memprioritaskan pelampiasan nafsunya, suka pamer, dan merayu. Makin banyak orang yang mereka rayu, makin mereka merasa senang. Apa yang terjadi pada akhirnya? Setelah pamer berulang kali, beberapa saudara-saudari menilai perilaku mereka dan bersama-sama menulis surat kepada para pemimpin tingkat atas. Sebuah penyelidikan memastikan klaim mereka, dan orang yang cabul itu dikeluarkan dari gereja. Lihat apa yang terjadi? Bukankah jalan mereka untuk percaya kepada Tuhan berakhir di sana? Kesudahan mereka tersingkap. Tindakan dan perilaku mereka, yang orang anggap tidak dapat ditoleransi, jauh lebih menjijikkan bagi Tuhan. Perilaku yang diperlihatkan oleh orang-orang ini tidak merepresentasikan hubungan yang sepatutnya di antara orang-orang, juga tidak mencerminkan kebutuhan manusia yang normal. Tindakan mereka dapat digambarkan hanya dengan satu kata: "percabulan". Apa yang dimaksud dengan percabulan? Percabulan artinya terlibat dalam hubungan dengan lawan jenis secara serampangan, sesuka hati merayu orang lain tanpa bertanggung jawab, serta memikat dan melecehkan jemaat lawan jenis. Itu artinya bermain-main dengan nafsu, dan itu dilakukan tanpa mempertimbangkan akibat atau konsekuensinya. Jika akhirnya seseorang mengambil umpannya dan terlibat dalam godaan yang romantis dengan mereka, mereka kemudian tidak mau mengakuinya dan berkata, "Aku hanya bercanda. Apa kau menganggapnya serius? Sebenarnya aku tidak bersungguh-sungguh; kau salah mengartikan ucapanku." Bukankah ini setan yang sedang mencobai orang? Setelah mencobai satu orang, mereka mencari target berikutnya, merayu orang lain. Betapa buruk dan jahatnya mereka! Setelah merayu seseorang, mereka tidak mau mengakuinya. Jika seseorang disesatkan oleh orang semacam itu dan terjerat rayuannya, bukankah itu menjijikkan? (Ya.) Apakah orang yang merayu orang lain secara serampangan penuh kebencian? (Ya.) Rumah Tuhan telah menyatakan sejak awal bahwa jika seseorang mencapai usia untuk menikah dan sudah dewasa, rumah Tuhan tidak menentang mereka untuk berpacaran secara normal atau menikah dan menjalani hari-hari mereka bersama-sama dengan cara yang normal, dan bahwa rumah Tuhan mengizinkan mereka dan memberi mereka kebebasan untuk melakukannya. Namun, ada beberapa syarat: Melakukan percabulan tidak diperbolehkan; merayu dan menggoda secara serampangan, serta melecehkan lawan jenis sambil lalu, tidak diizinkan. Rumah Tuhan tidak membatasi berpacaran, tetapi tidak mengizinkan rayuan yang serampangan. Apa yang dimaksud dengan rayuan yang serampangan? Itu berarti melecehkan jemaat lawan jenis mana pun, dan setelah melakukannya, tidak mengakui bahwa mereka telah melakukannya. Orang-orang yang mereka lecehkan bukanlah cinta sejati mereka; mereka tidak bermaksud untuk membina hubungan jangka panjang atau menikah, tetapi hanya ingin merayu, mempermainkan orang lain, memperoleh kenikmatan dari mereka, mencari sensasi, berpacaran dengan beberapa orang, bertindak seperti orang cabul—ini disebut percabulan. Di dalam gereja, percabulan tidak diizinkan, dan jika itu terjadi, mereka yang melakukannya harus ditangani berdasarkan prinsip-prinsip untuk mengeluarkan orang. Tentu saja, dalam tim penginjilan, keadaan semacam itu tidak diizinkan terjadi bagi orang-orang yang memberitakan Injil, entah mereka dari gereja penuh waktu atau dari gereja-gereja biasa. Jika seseorang menggunakan kedok memberitakan Injil untuk merayu orang lain secara serampangan, hanya memilih untuk bekerja sama dengan jemaat lawan jenis, atau hanya memberitakan Injil kepada jemaat lawan jenis, dengan demikian mengambil kesempatan untuk melakukan hubungan yang tidak sepatutnya, ini mengacaukan dan mengganggu pekerjaan penginjilan Tuhan. Para pemimpin dan pekerja harus segera mengeluarkan orang-orang semacam itu.

Agar dapat menemukan jemaat lawan jenis dan melakukan percabulan dengan mereka, ada orang-orang yang tidak peduli dengan usia dan tidak memiliki batasan usia. Mereka hanya berusaha merayu sebanyak yang mereka bisa, tanpa sedikit pun rasa malu. Ada orang-orang yang tidak hanya memuaskan keinginan hawa nafsu daging mereka dengan merayu jemaat lawan jenis—mereka bahkan akan menuntut agar orang yang mereka rayu itu membayar biaya hidup mereka, membelikan mereka barang-barang, dan sebagainya. Jika engkau semua menemukan orang-orang semacam itu atau seseorang melaporkan peristiwa semacam itu, mereka harus segera ditangani. Satu-satunya solusi adalah mengeluarkan orang-orang ini, mengeluarkan mereka secara permanen. Ini karena bagi orang-orang yang memiliki masalah semacam itu, itu sama sekali bukan hanya masalah yang sementara. Ini khususnya terjadi pada mereka yang sudah menikah—meskipun memiliki pasangan di rumah, mereka masih menargetkan lawan jenis secara khusus dengan dalih memberitakan Injil. Mereka mencari siapa saja, kaya atau miskin, dan jika mereka menemukan seseorang yang mereka sukai, mereka bahkan mungkin akan kawin lari bersama orang itu, bahkan tidak lagi memberitakan Injil—sama sekali tidak lagi percaya kepada Tuhan. Jika orang-orang semacam itu dapat lebih cepat ditemukan, mereka harus segera dikeluarkan secara permanen dari jajaran orang-orang yang memberitakan Injil, tanpa memberi mereka kesempatan lagi, dan tanpa perlu pengamatan lebih lanjut. Apakah engkau mengerti? Ada orang-orang yang berkata, "Bagi beberapa orang, hidup itu sulit. Jika mereka merayu seorang lawan jenis untuk memulai sebuah keluarga, dan orang lain itu dapat percaya kepada Tuhan dan mendukung mereka, bukankah itu akan menjadi situasi yang menguntungkan keduanya?" Kuberitahukan kepadamu, orang-orang semacam itu harus dikeluarkan sesegera mungkin; mereka sama sekali tidak melakukannya untuk memulai kehidupan berkeluarga, tetapi untuk melakukan percabulan. Mengapa Aku begitu yakin? Jika mereka bukan jenis orang yang melakukan percabulan, setelah mulai percaya kepada Tuhan, mereka sama sekali tidak akan melanjutkan perilaku semacam itu dan akan menganggap perbuatan tersebut menjijikkan, khususnya jika mereka telah menikah. Tren-tren di seluruh dunia sekarang ini cabul dan jahat; orang-orang memuaskan nafsu mereka dan bersaing untuk melihat siapa yang dapat merayu lebih banyak lawan jenis tanpa perlu mengekang diri, karena masyarakat dan umat manusia ini tidak mengutuk atau mencemooh tindakan-tindakan ini. Jadi, orang-orang mengira bahwa jika mereka dapat menghasilkan uang dengan melakukan percabulan dan menjual tubuh mereka, itu disebut sebagai keterampilan atau kemampuan. Mereka memandangnya sebagai sesuatu yang dapat dibanggakan. Namun, setelah mulai percaya kepada Tuhan, pandangan orang-orang terhadap hal-hal ini berubah total. Mereka menemukan cara yang benar untuk mengatasi hasrat nafsu daging, yang terutama dan terpenting yaitu dengan mengekang diri. Bagaimana orang dapat berlatih mengekang diri? Orang-orang harus tahu rasa malu dan memiliki rasa malu. Itulah yang disebut kemanusiaan yang normal. Semua orang memiliki hasrat hawa nafsu, tetapi orang-orang perlu mengetahui cara mengekang diri mereka sendiri dan memiliki rasa malu. Sekalipun mereka memiliki pemikiran semacam ini, mereka harus mengekang diri karena mereka percaya kepada Tuhan serta memiliki hati nurani dan nalar. Mereka sama sekali tidak boleh mengikuti pemikiran-pemikiran yang tidak sepatutnya dalam benak mereka, apalagi memuaskannya. Mereka harus mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah-masalah ini. Sekalipun mereka adalah orang-orang yang baru percaya yang tidak memahami kebenaran, mereka tetap harus menilai diri mereka sendiri berdasarkan standar moralitas manusia yang paling mendasar. Jika engkau bahkan tidak dapat mengekang diri pada taraf ini, itu berarti engkau tidak memiliki kemanusiaan yang normal dan hati nurani serta tidak memiliki nalar kemanusiaan yang normal. Semua jenis binatang mematuhi tatanan tertentu dan mengikuti aturan dalam hal ini, tidak bertindak secara serampangan; sebagai manusia, orang-orang seharusnya jauh lebih tidak mungkin untuk bertindak secara serampangan dan lebih mampu mengekang diri. Jika engkau bahkan tidak dapat mengekang dan mengendalikan diri hingga taraf ini, bagaimana engkau dapat berharap untuk mencari dan menerapkan kebenaran? Jika engkau bahkan tidak mampu mengatasi nafsu jahatmu sendiri, bagaimana engkau mampu mengatasi watak rusakmu? Naturmu yang menentang dan mengkhianati Tuhan akan lebih mustahil untuk diatasi, bukan? (Ya.) Jika engkau bahkan tidak mampu menangani hasrat hawa nafsu daging, lalu bagaimana engkau dapat berharap untuk mengatasi watak rusakmu? Percuma saja engkau memikirkannya. Engkau tidak akan mampu mencapainya.

Ada orang-orang yang selalu mencari kesempatan untuk berpacaran sembari memberitakan Injil, dan peristiwa-peristiwa seperti itu sering terjadi. Mereka yang biasanya terlibat dalam hubungan romantis sembari mengabaikan tugas mereka yang semestinya telah dikeluarkan dan ditangani, sedangkan mereka yang terkadang melakukan pelanggaran diperingatkan. Begitu orang-orang yang memiliki watak yang jahat ini menemukan keadaan yang tepat dan bertemu dengan seseorang yang mereka anggap sebagai kekasih, mereka jatuh ke dalam pencobaan. Dengan demikian, niat mereka untuk menerima berkat dengan percaya kepada Tuhan lenyap di tengah nafsu jahat mereka. Begitu mereka masuk ke dalam hubungan romantis, mereka mengabaikan semua hal lainnya, bahkan meninggalkan niat mereka untuk diberkati, dan hanya mengejar kesenangan daging. Setelah satu atau dua kali melakukan pelanggaran, mereka mungkin sedikit menyalahkan diri dan merasa tertekan, tetapi setelah tiga atau empat kali, itu menjadi percabulan. Begitu percabulan itu terjadi, mereka tidak lagi merasa tertuduh atau tertekan karena rasa malu itu, yang merupakan garis batas kemanusiaan orang, telah dilanggar. Mereka tidak lagi menganggap percabulan sebagai sesuatu yang memalukan dan dengan demikian terus melakukannya. Mereka yang dapat terus melakukan percabulan sangat menuruti keinginan hawa nafsu mereka, tidak memperlihatkan pengekangan diri sedikit pun. Orang-orang semacam itu tidak diizinkan berada di dalam gereja, dan harus dikeluarkan; jangan membiarkan percabulan mereka atau mencari-cari alasan untuk mempertahankan mereka di gereja. Rumah Tuhan tidak kekurangan orang untuk memberitakan Injil; rumah Tuhan tidak membutuhkan orang-orang cabul seperti itu agar kursi di gereja terisi penuh, karena ini sangat mencemarkan nama Tuhan. Oleh karena itu, jika seseorang melaporkan atau jika engkau sendiri menemukan orang-orang semacam itu dalam tim penginjilan, engkau harus tahu apa yang harus dilakukan. Jika ada orang-orang yang baru percaya yang memiliki masalah ini, engkau semua harus terlebih dahulu mempersekutukan kebenaran mengenai masalah ini, memberi tahu semua orang tentang apa prinsip-prinsip dan sikap gereja terhadap mereka yang melakukan percabulan. Setidaknya, mereka harus diberi peringatan awal untuk mencegah mereka agar tidak jatuh ke dalamnya dan tidak menggunakan pemberitaan Injil sebagai kesempatan untuk berperilaku seperti itu, yang akhirnya menyalahkan mereka yang bertanggung jawab atau para pemimpin dan pekerja karena tidak mempersekutukan prinsip-prinsip kebenaran yang relevan sebelumnya. Oleh karena itu, sebelum peristiwa semacam itu terjadi, sebelum ada orang-orang yang mengetahui sikap rumah Tuhan terhadap orang-orang semacam itu dan masalah semacam itu, ketika orang-orang tidak jelas tentang masalah ini, para pemimpin dan pekerja harus secara tegas dan jelas mempersekutukan prinsip-prinsip ini kepada mereka sehingga mereka tahu perilaku dan natur seperti apa yang termasuk dalam hal-hal ini, dan apa sikap rumah Tuhan terhadap hal-hal dan orang-orang semacam itu. Setelah prinsip-prinsip ini dipersekutukan secara menyeluruh, jika mereka masih berpaut pada jalan mereka sendiri dan tetap bersikeras melakukannya meskipun mengetahui prinsip-prinsip ini, mereka harus ditangani dan disingkirkan, mereka harus dikeluarkan. Jika orang-orang semacam itu muncul di gereja, sering menyebabkan insiden dengan merayu orang lain atau sering melecehkan jemaat yang berbeda lawan jenis, mereka pasti memiliki masalah. Sekalipun tidak ada masalah substansial yang terjadi, para pemimpin dan pekerja harus memperingatkan dan menangani orang-orang ini, atau memberhentikan mereka dari tempat-orang-orang melaksanakan tugas mereka; dalam kasus-kasus yang parah, mereka harus langsung dikeluarkan. Ini mengakhiri persekutuan kita mengenai aspek ketujuh dari perwujudan kemanusiaan orang.

18 Desember 2021

Sebelumnya: Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (25)

Selanjutnya: Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (27)

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Pengaturan

  • Teks
  • Tema

Warna Solid

Tema

Jenis Huruf

Ukuran Huruf

Spasi Baris

Spasi Baris

Lebar laman

Isi

Cari

  • Cari Teks Ini
  • Cari Buku Ini