82. Penderitaan karena Berbohong

Oleh Ronald, Myanmar

Pada bulan Oktober 2019, aku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman. Di pertemuan, aku melihat saudara-saudari mampu mempersekutukan pengalaman dan pengetahuan berdasarkan pengalaman mereka. Mereka mampu membuka diri tentang semua kerusakan dan kekurangan mereka tanpa rasa ragu, dan aku sangat iri. Aku juga ingin menjadi orang yang jujur dan mudah membuka diri seperti mereka, tetapi saat kesempatan itu tiba, aku tak mampu berbicara jujur. Suatu ketika, saudara-saudariku bertanya kepadaku, "Kau masih muda, apakah kau masih pelajar?" Sebenarnya aku sudah cukup lama tak bersekolah, dan hanya memasak serta bersih-bersih di restoran, tetapi aku takut orang lain akan memandang rendah diriku begitu mereka mengetahui hal ini, jadi aku memberi tahu mereka bahwa aku masih pelajar. Setelah mengatakan itu, aku tak terlalu memikirkannya, dan hanya terus bekerja. Suatu hari, aku melihat satu bagian firman Tuhan dalam video kesaksian pengalaman yang membuatku merenungkan diriku sendiri. Firman Tuhan mengatakan: "Engkau semua harus tahu bahwa Tuhan menyukai orang yang jujur. Tuhan memiliki esensi kesetiaan, jadi firman-Nya selalu bisa dipercaya; terlebih lagi, tindakan-Nya tidak bercela dan tidak dapat diragukan. Inilah sebabnya Tuhan menyukai mereka yang sepenuhnya jujur kepada-Nya. Kejujuran berarti memberikan hatimu kepada Tuhan, tidak bersikap palsu terhadap Tuhan dalam hal apa pun, terbuka kepada-Nya dalam segala hal, tidak pernah menyembunyikan fakta, tidak berusaha menipu orang-orang di atasmu dan menyembunyikan sesuatu dari orang-orang di bawahmu, dan tidak melakukan sesuatu hanya demi menjilat Tuhan. Singkatnya, jujur berarti murni dalam tindakan dan perkataanmu, dan tidak menipu Tuhan maupun manusia" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Tiga Peringatan"). Setelah membaca firman Tuhan, aku memahami bahwa Tuhan menyukai orang yang jujur, bahwa orang yang jujur mampu dengan mudah membuka diri kepada Tuhan, tegas dalam segala yang mereka lakukan serta katakan, dan mereka tak berusaha menipu Tuhan atau orang lain. Sedangkan aku, ketika orang lain bertanya kepadaku "Apakah kau masih pelajar?" Aku bahkan tak mampu berkata jujur, apalagi menjadi orang yang jujur di hadapan Tuhan. Aku sama sekali tidak jujur! Jadi, aku ingin membuka diri kepada orang lain, tetapi aku takut mereka akan mengejekku, tetapi, pada saat yang sama, tak berkata jujur membuatku merasa sangat gelisah. Jadi, aku berdoa kepada Tuhan, memohon kepada-Nya untuk membantuku berlatih mengatakan yang sebenarnya dan menjadi orang yang jujur. Di pertemuan berikutnya, aku membuka diri tentang kerusakanku dan mengungkapkan niatku untuk berbohong dan menipu. Saudara-saudari yang lain bukan hanya tak memandang rendah diriku, mereka juga mengirimiku pesan yang berkata bahwa pengalamanku bagus. Hal ini membuatku makin percaya diri untuk menjadi orang yang jujur. Meskipun telah berlatih menjadi orang yang jujur dan mengatakan yang sebenarnya pada kesempatan ini, aku masih belum menyadari watak Iblis dalam diriku, dan jika berkenaan dengan hal-hal yang menyangkut reputasi serta kepentinganku, aku tetap menyamarkan diri.

Setelah beberapa waktu, aku dipilih untuk menjadi pengkhotbah dan bertanggung jawab atas pekerjaan tiga gereja. Selama pertemuan rekan kerja, seorang pemimpin ingin mengetahui secara spesifik cara anggota baru disirami di setiap gereja, dan bertanya kepada kami mengapa beberapa petobat baru tak didukung dengan baik. Aku mulai agak bingung, karena aku hanya tahu keadaan di salah satu gereja dan tidak di dua gereja lainnya. Jadi, apa yang harus kukatakan? Jika aku mengatakan yang sebenarnya, apa pendapat semua orang tentang diriku? Akankah mereka bertanya-tanya apakah aku mampu menjadi pengkhotbah jika aku bahkan tak bisa memahami hal ini? Atau akankah mereka berkata bahwa aku tak melakukan pekerjaan nyata dan tak mampu melaksanakan tugas ini? Akan sangat memalukan jika aku diberhentikan atau dialihtugaskan! Aku hanya ingin melarikan diri, tetapi jika aku keluar lebih awal, aku takut akan ketahuan. Jadi, aku tak punya pilihan selain duduk diam dan mendengarkan ketika pengkhotbah lain berbicara tentang pekerjaan yang menjadi tanggung jawab mereka. Aku sangat gelisah dan tak tahu harus berbuat apa. Ketika pemimpin memanggil namaku, aku sangat gugup, dan berpura-pura tak mendengarnya, dan bertanya, "Apa yang kaukatakan?" Pemimpin berkata, "Kami baru saja berbicara tentang penyiraman para anggota baru, dan kau telah mendengar apa yang baru saja semua orang katakan. Bisakah kau ceritakan kepada kami tentang anggota barumu?" Hatiku sangat bergejolak. Aku tak punya pilihan selain berbicara tentang satu gereja yang kuketahui terlebih dahulu, tetapi tak mau membicarakan dua gereja lainnya. Namun, aku khawatir semua orang akan tahu bahwa aku belum menindaklanjuti pekerjaan, jadi aku memaksakan diriku untuk bicara dan berbohong, "Banyak anggota baru di gereja kedua yang tak didukung dengan baik, dan karena pandemi, kami tak bisa menghubungi mereka. Aku tak tahu terlalu banyak tentang keadaan di gereja ketiga karena selama ini aku hanya menindaklanjuti pekerjaan dua gereja lainnya." Aku merasa sangat gelisah setelah mengatakan hal ini, dan aku sangat takut semua orang mengetahui kebohonganku, yang pasti jauh lebih memalukan. Aku merasa tegang di sepanjang pertemuan dan baru bisa bernapas lega setelah pertemuan selesai. Di luar dugaanku, pemimpin itu lalu bertanya kepadaku secara pribadi, "Mengenai para anggota baru yang tak didukung dengan baik karena pandemi, sudahkah kau meminta para penyiram untuk menelepon dan memeriksa keadaan mereka?" Aku bingung dengan pertanyaan pemimpin itu. Aku tak tahu keadaannya secara spesifik. Jika aku mengatakan yang sebenarnya, bukankah pemimpin akan menyadari bahwa aku telah berbohong? Aku tak boleh berkata bahwa aku tak tahu. Jadi, aku terus berbohong, "Aku sudah berbicara dengan mereka tentang hal itu, tetapi beberapa anggota baru tak menjawab telepon mereka." Pemimpin kemudian bertanya, "Anggota baru yang mana?" Aku berpikir dalam hati, "Apakah pemimpin terus menanyaiku karena dia tahu bahwa aku berbohong?" Aku buru-buru menjawab, "Sepertinya beberapa dari mereka yang baru saja menerima pekerjaan Tuhan." Ketika melihat aku tak mampu menerangkan dengan jelas, pemimpin berkata dengan pasrah, "Baiklah, jika kau sudah tahu, beri tahu aku." Setelah menutup telepon, aku merasa sangat bersalah. Aku kembali berbohong dan menipu. Sekali aku berbohong, aku harus menggunakan beberapa kebohongan lagi untuk menutupinya. Sungguh melelahkan harus menutupi kebohongan dengan kebohongan lainnya. Saat mengingat kembali pertemuan itu, seorang pengkhotbah berkata bahwa dari tiga gereja yang menjadi tanggung jawabnya, dia belum memeriksa salah satunya. Dia bisa mengatakan yang sebenarnya, jadi mengapa aku sama sekali tak mampu berkata jujur? Aku telah berbohong, menipu, dan memberi kesan palsu tentang diriku seperti ini, tetapi aku tak bisa menipu Tuhan, karena Tuhan memeriksa semuanya. Aku bersikap sangat asal-asalan dalam tugasku, dan cepat atau lambat, aku akan tersingkap. Jadi aku berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, dalam pertemuan hari ini, ketika pemimpin menanyakan pekerjaan, aku tak mengatakan yang sebenarnya. Aku takut semua orang akan memandang rendah diriku dan berkata bahwa aku tak melakukan pekerjaan nyata jika mereka mengetahui yang sebenarnya. Tuhan, kumohon bimbinglah aku untuk mengenal diriku sendiri dan menyingkirkan watakku yang rusak."

Kemudian aku membaca satu bagian firman Tuhan: "Dalam kehidupan mereka sehari-hari, orang sering kali mengatakan hal-hal kosong, berbohong, dan mengatakan hal-hal yang dungu, bodoh, dan penuh pembelaan diri. Kebanyakan dari hal-hal tersebut diucapkan demi kesombongan dan harga diri, untuk memuaskan ego mereka sendiri. Mengucapkan kebohongan semacam itu adalah penyingkapan watak yang rusak. Jika engkau membereskan unsur-unsur rusak ini, hatimu akan disucikan, dan engkau akan berangsur-angsur menjadi makin murni dan makin jujur. Sebenarnya, semua orang tahu mengapa mereka berbohong. Mereka mencoba bersaing dengan orang lain dan berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan diri mereka semata-mata demi keuntungan pribadi, demi kesombongan dan harga diri, serta demi reputasi dan status. Namun, kebohongan mereka akhirnya terungkap dan disingkapkan oleh orang lain, dan mereka akhirnya kehilangan muka, serta kehilangan martabat dan integritas mereka. Semua ini disebabkan karena kebohongan yang berlebihan. Kebohonganmu terlalu banyak. Setiap kata yang kauucapkan tercemar dan bohong, serta tak satu pun yang dapat dianggap benar atau jujur. Meskipun engkau merasa bahwa engkau menghindarkan dirimu dari kehilangan muka ketika berbohong, di lubuk hatimu, engkau merasa hina. Hati nuranimu menegurmu, dan di dalam batinmu, engkau meremehkan dan memandang rendah dirimu sendiri, berpikir, 'Mengapa aku menjalani kehidupan yang begitu menyedihkan? Apakah begitu sulit untuk mengatakan yang sebenarnya? Haruskah aku berbohong demi harga diriku? Mengapa kehidupanku begitu melelahkan?' Engkau tidak perlu menjalani kehidupan yang sedemikian melelahkan. Jika engkau mampu menerapkan untuk menjadi orang yang jujur, engkau akan mampu menjalani kehidupan yang rileks, bebas, dan merdeka. Namun, engkau telah memilih jalan untuk mempertahankan harga diri dan kesombonganmu dengan berbohong. Akibatnya, engkau menjalani kehidupan yang melelahkan dan menderita. Semua ini adalah akibat ulahmu sendiri. Orang mungkin mempertahankan harga dirinya dengan berbohong, tetapi apa arti harga diri itu? Itu hanyalah sesuatu yang kosong, dan sama sekali tidak berharga. Berbohong berarti orang sedang mengkhianati integritas dan martabatnya. Berbohong membuat orang kehilangan martabat mereka dan integritas mereka. Tuhan sangat tidak menyukai dan membenci hal ini. Apakah ini sepadan? Tidak. Apakah ini jalan yang benar? (Bukan.) Orang yang sering berbohong hidup berdasarkan watak Iblis dalam diri mereka; mereka hidup di bawah kuasa Iblis. Mereka tidak hidup dalam terang, juga tidak hidup dalam hadirat Tuhan. Engkau selalu memikirkan cara berbohong dan kemudian setelah berbohong, engkau harus memikirkan cara menutupi kebohongan tersebut. Lalu ketika engkau tidak menutupi kebohongan itu dengan cukup baik, kebohongan itu akan terbongkar, dan engkau harus memeras otak untuk mengarang lebih banyak kebohongan guna menutupinya. Bukankah hidup dengan cara seperti ini melelahkan? Semua ini terlalu melelahkan. Lalu apakah itu sepadan? Tidak, itu benar-benar tidak sepadan. Memeras otak untuk berbohong lalu menutupinya, semua demi harga diri, kesombongan, dan status, apa gunanya semua itu? Akhirnya, engkau merenung dan berpikir, 'Apa gunanya? Terlalu melelahkan untuk berbohong dan harus menutupinya. Berperilaku dengan cara seperti ini tidak dapat berhasil; akan lebih mudah jika aku menjadi orang yang jujur.' Engkau ingin menjadi orang yang jujur, tetapi engkau tidak mampu melepaskan harga diri, kesombongan, dan kepentingan pribadimu. Engkau hanya bisa berbohong, menggunakan kebohongan untuk melindungi hal-hal ini. ... Jika menurutmu kebohongan dapat mempertahankan reputasi, status, kesombongan, dan harga diri yang kaudambakan, engkau sepenuhnya salah. Sebenarnya, dengan berbohong, engkau bukan saja gagal mempertahankan kesombongan dan harga dirimu, serta martabat dan integritasmu, melainkan yang jauh lebih buruk adalah engkau juga kehilangan kesempatan untuk menerapkan kebenaran dan menjadi orang yang jujur. Sekalipun engkau berhasil mempertahankan reputasi, status, kesombongan, dan harga dirimu pada saat itu, engkau telah membuang kebenaran dan mengkhianati Tuhan. Ini berarti engkau telah sepenuhnya kehilangan kesempatan untuk diselamatkan dan disempurnakan oleh-Nya, yang merupakan kerugian terbesar dan penyesalan abadi. Orang-orang yang licik tidak akan pernah mengetahui yang sebenarnya tentang hal ini" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Menjadi Orang Jujur, Seseorang Dapat Hidup dalam Keserupaan dengan Manusia Sejati"). Yang firman Tuhan ungkapkan persis dengan keadaanku. Pemimpin ingin tahu tentang keadaan penyiraman di setiap gereja, yang jelas adalah hal sederhana, dan sebenarnya tak masalah jika mengatakan yang sebenarnya, tetapi bagiku itu sangatlah sulit. Aku begitu khawatir dan takut jika setelah pemimpin dan pengkhotbah lain mengetahui yang sebenarnya, mereka akan berkata bahwa aku tidak melakukan pekerjaan nyata, dan bahkan tak mampu mengatasi masalah sederhana ini. Jika aku diberhentikan, itu akan memalukan! Untuk melindungi reputasi, status, dan kesan baik orang lain terhadapku, aku berbohong bahwa aku telah memeriksa keadaan dua gereja, padahal aku hanya memahami keadaan satu gereja. Aku bahkan menjelaskan gereja kedua dengan rinci, berkata bahwa para anggota baru di sana tak didukung dengan baik karena pandemi. Bukankah ini hanyalah kebohongan yang tak tahu malu? Ketika pemimpin bertanya kepadaku apakah aku telah meminta para penyiram untuk menelepon anggota baru, aku takut pemimpin mengetahui kebohongan yang baru saja kukatakan, jadi aku kembali berbohong untuk menutupi kebohongan yang pertama, dan mengarang alasan untuk mengelabuinya. Untuk melindungi nama dan statusku, aku kembali berbohong untuk menutupi kebohongan lainnya. Aku benar-benar licik! Aku teringat akan percakapan antara Tuhan dan Iblis yang tercatat dalam Alkitab. Tuhan bertanya kepada Iblis dari mana asalnya, dan Iblis menjawab, "Dari berkeliling ke sana ke mari di bumi, dan dari menjelajahinya ke atas ke bawah" (Ayub 1:7). Iblis itu sangat licik. Dia tak menjawab pertanyaan Tuhan secara langsung dan berbicara dengan bertele-tele. Tak mungkin bisa mengetahui dari mana Iblis berasal. Mulutnya hanya dipenuhi kebohongan, tak pernah bicara dengan jujur, dan hanya berbicara secara samar-samar dan ambigu. Dengan kebohongan dan tipu dayaku, bukankah aku sama seperti Iblis si setan? Meskipun aku menjawab pertanyaan pemimpin, semua itu samar-samar dan tidak jelas, penuh dengan kebohongan dan kelicikan. Setelah mendengar jawabanku, pemimpin masih belum memahami seperti apa tepatnya keadaan pekerjaan penyiraman yang menjadi tanggung jawabku, dan dia tak bisa menilai apakah aku menindaklanjuti dengan benar atau tidak. Sebenarnya, kebohongan dan tipu dayaku seperti ini hanya melindungi reputasi dan statusku untuk sementara, tetapi sebenarnya aku kehilangan integritas, martabat, dan kepercayaan dari orang lain. Jika aku terus seperti ini, cepat atau lambat, semua orang akan melihat bahwa aku bukanlah orang yang jujur dan aku tak dapat dipercaya. Tak seorang pun akan percaya kepadaku, dan terlebih lagi, Tuhan tak akan memercayaiku. Bukankah aku akan kehilangan integritas dan martabat sepenuhnya? Bukankah aku bodoh?

Kemudian, aku membaca satu bagian lain dari firman Tuhan: "Bahwa Tuhan menuntut orang untuk jujur membuktikan bahwa Dia benar-benar membenci orang yang licik dan tidak menyukai mereka. Ketidaksukaan Tuhan terhadap orang yang licik adalah ketidaksukaan terhadap cara mereka dalam melakukan segala sesuatu, watak mereka, dan juga niat mereka, serta cara-cara mereka dalam melakukan tipu muslihat; Tuhan tidak menyukai semua hal ini. Jika orang yang licik mampu menerima kebenaran, mengakui watak mereka yang licik, dan bersedia menerima keselamatan dari Tuhan dan menerapkan kebenaran untuk menjadi orang yang jujur, maka mereka juga memiliki harapan untuk diselamatkan, karena Tuhan, sebagaimana juga kebenaran, tidak pilih kasih terhadap siapa pun. Karena itu, jika kita ingin menjadi orang-orang yang menyenangkan Tuhan, kita harus terlebih dahulu mengubah prinsip kita dalam cara kita berperilaku, tidak lagi hidup berdasarkan falsafah Iblis, tidak lagi mengandalkan kebohongan dan tipu muslihat dalam menjalani hidup kita, dan membuang semua kebohongan kita serta berusaha untuk menjadi orang yang jujur. Dengan demikian, pandangan Tuhan terhadap kita akan berubah. Sebelumnya, orang selalu mengandalkan kebohongan, tipu daya, dan kepura-puraan, ketika hidup di antara orang-orang, dan cara mereka berperilaku adalah dengan menjadikan falsafah Iblis sebagai dasar keberadaan mereka, sebagai hidup mereka, dan sebagai landasan mereka. Ini adalah sesuatu yang Tuhan benci. Di antara orang tidak percaya, jika engkau berusaha menjadi orang yang jujur dan mengatakan yang sebenarnya, engkau akan difitnah, dihakimi, dan ditolak. Jadi, engkau mengikuti tren duniawi dan hidup berdasarkan falsafah Iblis; engkau menjadi makin ahli dalam berbohong, dan makin licik. Engkau juga menggunakan cara-cara yang licik dan jahat untuk mencapai tujuanmu dan dengan cara itu melindungi dirimu sendiri. Engkau menjadi makin makmur di dunia Iblis, dan sebagai akibatnya, engkau jatuh makin dalam ke dalam dosa dan tidak mampu melepaskan dirimu sendiri. Di rumah Tuhan justru sebaliknya. Makin engkau mahir berbohong dan penuh tipu muslihat, makin umat pilihan Tuhan akan muak terhadapmu dan menolakmu. Jika engkau tidak mau bertobat dan tetap berpaut pada falsafah dan logika Iblis, dan engkau juga menggunakan siasat, rencana licik, dan taktik lihai untuk menyamarkan dirimu dan memoles diri, kemungkinan besar engkau akan disingkapkan dan disingkirkan. Ini karena Tuhan membenci orang yang licik. Hanya orang jujur yang mampu diberkati dan berhasil di rumah Tuhan, dan semua orang yang licik pada akhirnya akan ditolak dan disingkirkan. Ini sudah sejak lama ditakdirkan oleh Tuhan. Hanya orang-orang jujur yang dapat memperoleh bagian dalam kerajaan surga. Jika engkau tidak berusaha menjadi orang yang jujur, dan jika engkau tidak mengalami dan menerapkan ke arah mengejar kebenaran, jika engkau tidak menyingkapkan keburukanmu sendiri, dan jika engkau tidak memberitahukan tentang dirimu yang sebenarnya, engkau tidak akan pernah mampu menerima pekerjaan Roh Kudus dan mendapatkan perkenanan Tuhan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Penerapan Paling Mendasar untuk Menjadi Orang Jujur"). Setelah merenungkan firman Tuhan, aku menyadari bahwa Tuhan tak menyukai orang yang licik, dan Dia tidak menyelamatkan mereka. Karena mereka berasal dari Iblis, orang-orang licik menggunakan kelicikan dan tipu daya dalam segala sesuatu yang mereka lakukan, dan mulutnya penuh dengan kebohongan untuk melindungi reputasi, status, serta kepentingan mereka. Niat yang dipendam orang-orang ini dan metode yang mereka gunakan itu membuat Tuhan sangat benci dan jijik. Meskipun aku percaya kepada Tuhan, aku belum memperoleh kebenaran sedikit pun dan masih hidup berdasarkan falsafah Iblis seperti "Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya" dan "Manusia membutuhkan harga dirinya seperti pohon membutuhkan kulitnya". Falsafah Iblis ini telah berakar dalam hatiku, menyesatkan dan merusakku, serta membuatku menempuh jalan mengejar ketenaran, keuntungan, dan status. Aku menganggap bahwa orang harus hidup untuk diri mereka sendiri, menonjol di antara orang lain, dan memperoleh ketenaran serta keuntungan, dan hanya dengan begitu, orang tak akan dipandang rendah. Kupikir jika orang hanya mengatakan yang sebenarnya dan tak pernah berbohong, berarti orang itu bodoh. Karena itu, aku selalu menipu, dan mengarang rangkaian kebohongan demi kepentinganku sendiri, menjadi makin licik, munafik, dan tak memiliki keserupaan dengan manusia normal. Aku selalu memandang reputasi dan status lebih penting daripada kebenaran, dan rela berbohong serta menentang kebenaran untuk melindungi reputasi dan statusku. Iblis adalah penipu, jadi ketika aku berbohong dan menipu seperti ini, bukankah aku sama dengannya? Di dunia yang jahat ini, menjadi orang yang jujur dan polos tidak akan berhasil. Namun, di rumah Tuhan justru sebaliknya. Di rumah Tuhan, keadilan dan kebenaranlah yang berkuasa, dan makin orang menipu, makin besar kemungkinan mereka akan jatuh, dan akhirnya, semua orang licik akan disingkapkan dan disingkirkan oleh Tuhan. Tuhan berfirman: "Jika orang ingin diselamatkan, mereka harus memulainya dengan menjadi orang yang jujur" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Enam Indikator Pertumbuhan dalam Hidup"). "Hanya orang-orang jujur yang dapat memperoleh bagian dalam kerajaan surga" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Penerapan Paling Mendasar untuk Menjadi Orang Jujur"). Tuhan itu kudus, dan orang yang najis tak diizinkan masuk ke dalam kerajaan surga. Ketika menyadari hal ini, aku merasa bahwa watak Tuhan yang kudus dan benar tidak menoleransi pelanggaran, dan aku benar-benar menyesal telah berbohong kepada saudara-saudariku. Aku benar-benar membenci diriku sendiri dan tak pernah mau berbohong atau menipu lagi. Aku ingin menerapkan kebenaran, menjadi orang yang jujur, dan berkata jujur kepada semua orang. Aku ingin menarik kebohongan dari mulutku dan kelicikan dari hatiku. Hanya dengan demikian, aku akan layak mendapatkan perkenanan Tuhan dan memiliki kesempatan untuk memperoleh kebenaran serta diselamatkan.

Ketika bersaat teduh, aku membaca satu bagian firman Tuhan: "Penerapan menjadi orang jujur mencakup banyak aspek. Dengan kata lain, standar untuk menjadi orang jujur tidak dicapai hanya dengan berfokus pada satu aspek; engkau harus memenuhi standar dalam banyak aspek sebelum engkau bisa menjadi jujur. Ada orang-orang yang selalu berpikir bahwa hanya dengan tidak berbohong sudah membuat mereka menjadi orang jujur. Apakah pandangan ini benar? Apakah menjadi jujur hanya mencakup masalah tidak berbohong? Tidak—itu juga mencakup beberapa aspek lainnya. Pertama, apa pun yang kauhadapi, entah itu sesuatu yang telah kaulihat dengan mata kepalamu sendiri atau sesuatu yang telah orang lain katakan kepadamu, baik berinteraksi dengan orang lain maupun menyelesaikan masalah, baik tugas yang harus kaulaksanakan maupun sesuatu yang telah Tuhan percayakan langsung kepadamu, engkau harus selalu menghadapinya dengan hati yang jujur. Bagaimana cara menerapkan pendekatan dengan hati yang jujur terhadap segala sesuatu? Katakanlah apa yang kaupikirkan dan bicaralah dengan jujur; jangan berbicara omong kosong, dibuat-buat, atau mengucapkan kata-kata yang terdengar menyenangkan, jangan mengatakan hal-hal yang menyanjung atau munafik, tetapi ucapkanlah kata-kata yang ada di dalam hatimu. Inilah arti menjadi orang yang jujur. Mengungkapkan pemikiran dan pandangan sebenarnya yang ada di dalam hatimu—inilah yang seharusnya dilakukan oleh orang yang jujur. Jika engkau tidak pernah mengatakan apa yang kaupikirkan, dan kata-kata itu tetap terkubur di dalam hatimu, dan apa yang kaukatakan selalu bertentangan dengan apa yang kaupikirkan, itu bukanlah apa yang dilakukan oleh orang yang jujur" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Menjadi Orang Jujur, Seseorang Dapat Hidup dalam Keserupaan dengan Manusia Sejati"). Firman Tuhan memberiku jalan penerapan. Entah itu berinteraksi dengan orang lain atau melaksanakan tugasku, aku harus memiliki hati yang jujur dalam pendekatanku. Karena aku belum melakukan pekerjaan tindak lanjut, seharusnya aku mengatakannya dan jujur tentang hal itu. Aku tak boleh memikirkan apakah reputasiku akan dirugikan atau tidak. Berlatih menjadi orang yang jujur sangatlah penting. Di pertemuan rekan kerja berikutnya, aku ingin berinisiatif mengungkapkan kerusakanku, tetapi aku khawatir tentang apa pendapat semua orang tentang diriku. Aku menyadari bahwa aku ingin melindungi reputasi dan statusku lagi, jadi aku berdoa dalam hati kepada Tuhan, memohon kepada-Nya untuk membimbingku, memberiku kekuatan, dan memberiku keberanian untuk mengungkapkan kerusakanku, menerapkan kebenaran, dan menjadi orang yang jujur. Aku teringat akan satu bagian firman Tuhan yang pernah kubaca sebelumnya: "Jika engkau tidak menerapkan berdasarkan firman Tuhan, dan engkau juga tidak pernah terbuka dan mempersekutukan kepada orang lain tentang rahasia dan kesulitanmu, juga tidak mempersekutukan, tidak menelaah, dan tidak menyingkapkan kerusakan dan kelemahanmu yang mematikan bersama mereka, engkau tidak akan mampu menyingkirkan watak rusakmu ataupun memperoleh keselamatan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Penerapan Paling Mendasar untuk Menjadi Orang Jujur"). Aku menyadari jika aku bukan orang yang jujur, terus menutupi kerusakan dan kekuranganku, tak membuka diri, menyingkapkan, atau menganalisis diriku sendiri, maka aku tak akan pernah bisa menyingkirkan watakku yang rusak, dan aku tak akan pernah bisa diselamatkan. Aku berdoa lagi kepada Tuhan di dalam hati, "Tuhan! Kumohon berilah aku kekuatan agar aku bisa dengan tulus membuka diri dan menjadi orang yang jujur." Setelah berdoa, aku berinisiatif untuk berterus terang kepada saudara-saudari, berkata bahwa aku telah berbohong dan menipu semua orang di pertemuan terakhir ketika pemimpin menanyakan penyiraman para anggota baru .... Setelah aku mengatakan ini, mereka tak menegur atau memandang rendah diriku. Sebaliknya, mereka berkata bahwa bagus jika aku mampu sepenuhnya membuka diri dan menjadi orang yang jujur. Setelah menerapkan seperti ini, aku merasa jauh lebih tenteram dan tenang.

Tak lama kemudian, seorang pemimpin tingkat atas bertanya kepadaku, "Apakah saat ini kau telah memahami keadaan para pemimpin gereja?" Aku merasa sedikit tak percaya diri dengan pertanyaan ini, karena aku hanya mengetahui keadaan seorang pemimpin gereja, tetapi aku tidak mengetahui keadaan dua pemimpin lainnya. Aku berpikir, "Jika aku mengatakan yang sebenarnya, akankah pemimpin berkata bahwa aku belum melakukan pekerjaan nyata?" Jadi, aku ingin berkata bahwa aku telah memahami keadaan mereka. Lalu aku menyadari bahwa aku ingin berbohong lagi, sehingga aku berdoa kepada Tuhan. Kemudian aku mengatakan yang sebenarnya, "Aku hanya mengetahui keadaan seorang pemimpin gereja, dan tidak mengetahui keadaan dua pemimpin lainnya." Setelah mendengar jawabanku, pemimpin tak mengkritikku, dan malah memberiku beberapa saran, berkata bahwa aku harus lebih peduli tentang keadaan para pemimpin gereja, dan segera membantu mengatasi kesulitan mereka jika memang ada, dan pemimpin tersebut juga bersekutu denganku tentang beberapa jalan untuk melakukan pekerjaan. Aku mengalami bahwa ketika aku mengatakan yang sebenarnya, menjadi orang yang jujur, dan berani mengungkapkan kerusakan serta kekuranganku, aku bukan hanya dapat dibantu oleh saudara-saudariku dan memperoleh manfaat, melainkan itu juga bermanfaat bagi pekerjaan gereja dan pertumbuhan hidupku. Sebelumnya, aku berbohong dan bertindak licik untuk melindungi reputasi serta statusku, tetapi setelah aku berbohong, hatiku merasa terbebani dan hati nuraniku merasa tertuduh, dan yang terpenting, aku kehilangan integritas dan martabatku, dan Tuhan juga muak serta membenciku. Melalui pengalaman ini, aku mulai memahami bahwa orang yang jujur disukai oleh Tuhan serta manusia, dan makin kita jujur, makin harmonis hubungan kita dengan saudara-saudari yang lain, dan kita akan menjadi lebih tenang dan damai. Orang lain bukan hanya tak memandang rendah diri kita, melainkan kita juga akan dibantu oleh saudara-saudari kita. Menjadi orang yang jujur itu benar-benar bagus!

Sebelumnya: 81. Aku Tidak Lagi Memilih-milih Tugasku

Selanjutnya: 83. Mengapa Aku Tak Membagikan Semuanya saat Mengajari Orang Lain?

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

9. Kasih yang Berbeda

Oleh Chengxin, BrasiliaSebuah kesempatan yang tak terduga pada tahun 2011 memungkinkan aku untuk datang ke Brasilia dari Tiongkok. Ketika...

82. Penyiksaan Ruang Interogasi

Oleh Saudari Xiao Min, TiongkokPada 2012, saat mengabarkan Injil, aku ditangkap oleh Partai Komunis Tiongkok. Menjelang sore pada tanggal...

Pengaturan

  • Teks
  • Tema

Warna Solid

Tema

Jenis Huruf

Ukuran Huruf

Spasi Baris

Spasi Baris

Lebar laman

Isi

Cari

  • Cari Teks Ini
  • Cari Buku Ini

Hubungi kami via WhatsApp