30. Apakah Sikap Ramah adalah Kriteria yang Tepat untuk Kemanusiaan yang Baik?

Oleh Saudara Frank, Filipina

Saat masih kecil, aku selalu dibilang berakal sehat, bersikap baik; singkatnya, anak baik. Aku jarang marah kepada orang lain dan tak pernah membuat masalah. Setelah beriman, aku juga ramah dengan saudara-saudari lain. Aku toleran, sabar, dan penuh kasih. Aku ingat masa-masa ketika aku mengajari anggota senior cara menggunakan komputer. Dengan sabar kuajari mereka berulang kali. Meski kadang mereka lambat mengerti dan aku jadi kesal, aku berusaha keras untuk terlihat sabar karena takut aku akan dicap tak punya cinta kasih. Jadi, saudara-saudari sering bilang aku punya kemanusiaan yang baik dan pemimpin menugasiku untuk menyirami orang percaya baru. Dia bilang, hanya orang baik dan sabar yang dapat melaksanakan tugas itu dengan baik. Ketika mendengar itu, aku puas pada diriku, bahkan makin yakin, bersikap ramah dan menyenangkan itu pertanda kemanusiaan yang baik.

Lalu, aku dan Saudara Li Ming menjadi rekan sebagai pemimpin di gereja. Setelah cukup lama bekerja sama, kuperhatikan Li Ming ingin melakukan segala hal semaunya, dan dia temperamental. Dia sering marah jika ada hal yang tak sesuai kemauannya. Dia juga tak terbuka dalam pekerjaannya dan sering menipu. Dia tak bertindak sesuai prinsip dan tak melindungi pekerjaan gereja. Selama beberapa waktu, dia terus memakai ponselnya untuk menghubungi saudara-saudari. Aku tahu ini bisa membuat polisi memantau mereka dan itu akan membahayakan gereja. Aku sering berpikir untuk menghentikannya, tapi saat hendak angkat bicara, aku menahan diri. Aku pikir jika aku menunjukkan masalahnya secara langsung, dia mungkin akan berpikir meski di luarnya aku bertindak seperti orang yang menyenangkan, ucapan dan tindakanku tak kenal belas kasih sehingga aku sulit diajak bergaul. Usai merenung, kuputuskan untuk berkompromi dan hanya menanyakan apakah dia memakai ponselnya atau untuk menghubungi saudara-saudari yang lain atau tidak. Saat dia tak mau mengaku, aku tahu dia berbohong, tapi aku tak menyingkap dan menghentikannya, takut itu akan membuat hubungan kami retak dan membuat dia meremehkanku. Lalu, aku tahu masalah Li Ming makin serius. Suatu kali, beberapa saudara-saudari mengatakan istrinya selalu membicarakan kata-kata dan doktrin untuk pamer di pertemuan, tak menyelesaikan masalah nyata, dan memberi tahu orang lain betapa menderitanya dia dalam tugas hanya supaya mereka mengaguminya. Setelah investigasi, diputuskan bahwa dia tak cocok menjadi pemimpin dan harus diberhentikan. Saat kuberitahu ini, Li Ming jadi sangat kesal. Dia bilang, evaluasi saudara-saudari keliru dan tak adil untuk istrinya. Dia bahkan menanyakan mengapa kami tak menginvestigasi mereka yang melaporkan masalah dan hanya menginvestigasi istrinya. Aku terkejut—tak menyangka Li Ming punya sikap buruk seperti itu. Untuk mencoba mencairkan suasana, aku bilang, "Tenangkan hatimu dan cari maksud Tuhan dalam masalah ini. Jangan biarkan emosi mengontrolmu." Namun, dia tak mendengarkanku dan terus bersikeras. Karena Li Ming sengaja menghalangi, masalah istrinya tetap tak teratasi. Lalu, Li Ming juga menegur saudara-saudari di pertemuan hingga membuat seorang saudari menangis dengan ceramahnya. Aku merasa bahwa masalah Li Ming jadi makin serius. Orang lain telah mengevaluasi istrinya secara adil dan objektif, hanya mengungkap fakta, tapi karena ini mengancam kepentingannya, dia marah dan mengamuk. Kemanusiaannya buruk! Aku ingin melaporkan masalahnya ke pemimpin atas, tapi aku berpikir, "Bukankan ini hanya mengadu dan menusuk dia dari belakang? Selain itu, pemimpin pasti akan mengajak dia bersekutu jika aku melaporkannya—jika tahu aku yang melaporkannya, dia akan menganggapku apa? Akankah dia bilang aku menjelekkan dia dari belakang dan kemanusiaanku buruk?" Setelah menyadari ini, aku tak jadi melaporkannya, tapi aku merasa tertekan dan sedih.

Kemudian, karena orang lain melaporkannya, Li Ming akhirnya diberhentikan. Lalu, pemimpin atas menyingkapku dan berkata, "Dari luar kau terlihat sangat akrab dengan semua orang, tapi kau tak sungguh setia pada Tuhan. Kenapa kau tak menyingkap dan menghentikan Li Ming saat tahu masalahnya? Bagaimana mungkin kau tak melaporkan masalah sepenting itu? Kau ingin melindungi pekerjaan gereja atau tidak?" Setelah dipangkas oleh pemimpinku, barulah aku sadar dan mulai berdoa serta merenung. Kutemukan kutipan firman Tuhan yang berbunyi: "Harus ada standar untuk memiliki kemanusiaan yang baik. Ini bukan masalah mengambil jalan yang biasa-biasa saja, bukan masalah berpegang pada prinsip-prinsip, berusaha keras untuk tidak menyinggung siapa pun, menyanjung semua orang ke mana pun engkau pergi, menjadi licin dan licik dengan siapa pun yang kaujumpai, dan membuat semua orang berbicara baik tentangmu. Ini bukanlah standarnya. Jadi, apa standarnya? Standarnya adalah mampu tunduk kepada Tuhan dan kebenaran. Standarnya adalah orang harus memperlakukan tugasnya dan segala macam orang, peristiwa, dan hal-hal sesuai prinsip dan dengan rasa tanggung jawab. Ini jelas untuk dilihat semua orang; semua orang jelas tentang hal ini di dalam hati mereka. Selain itu, Tuhan memeriksa hati orang dan mengetahui situasi mereka, masing-masing dan setiap orang; siapa pun mereka, tak seorang pun yang bisa membodohi Tuhan. Sebagian orang selalu membual bahwa mereka memiliki kemanusiaan yang baik, bahwa mereka tidak pernah menjelek-jelekkan orang lain, tidak pernah merugikan kepentingan orang lain, dan mereka mengaku tidak pernah mengingini milik orang lain. Ketika terjadi konflik kepentingan, mereka bahkan lebih memilih menderita kerugian daripada memanfaatkan orang lain, dan semua orang menganggap mereka orang yang baik. Namun, ketika melakukan tugas-tugas mereka di rumah Tuhan, mereka licik dan licin, selalu membuat rencana kotor bagi diri mereka sendiri. Mereka tidak pernah memikirkan kepentingan rumah Tuhan, mereka tidak pernah menganggap mendesak apa yang Tuhan anggap mendesak atau memikirkan apa yang Tuhan pikirkan, dan mereka tidak pernah bisa menyingkirkan kepentingan diri mereka sendiri untuk melakukan tugas mereka. Mereka tidak pernah meninggalkan kepentingan diri mereka sendiri. Bahkan ketika mereka melihat orang jahat melakukan kejahatan, mereka tidak menyingkapkannya; mereka sama sekali tidak memiliki prinsip. Kemanusiaan macam apa ini? Ini bukanlah kemanusiaan yang baik. Jangan perhatikan apa yang dikatakan orang-orang semacam itu; engkau harus melihat apa yang mereka jalani, apa yang mereka singkapkan, dan bagaimana sikap mereka ketika mereka melaksanakan tugas, seperti apa keadaan batin mereka dan apa yang mereka cintai. Jika mereka mencintai ketenaran dan keuntungan mereka sendiri melebihi kesetiaan mereka kepada Tuhan, jika mereka mencintai ketenaran dan kekayaan mereka sendiri melebihi kepentingan rumah Tuhan, atau jika mereka mencintai ketenaran dan kekayaan mereka sendiri melebihi perhatian yang mereka tunjukkan kepada Tuhan, maka apakah orang-orang semacam itu memiliki kemanusiaan? Mereka bukanlah orang yang memiliki kemanusiaan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Dengan Menyerahkan Hatinya kepada Tuhan, Orang Dapat Memperoleh Kebenaran"). Dari firman Tuhan, aku sadar kemanusiaan seseorang tak bisa dinilai berdasarkan karakteristik luar seperti apakah dia bertemperamen lembut atau dapat bergaul dengan orang lain secara harmonis, tetapi berdasarkan sikapnya terhadap Tuhan dan kebenaran, apakah dia bertanggung jawab dalam tugasnya, dan apakah dia berpihak pada Tuhan dan bertindak sesuai prinsip kebenaran saat menghadapi masalah. Dahulu, kupikir aku punya kemanusiaan yang baik. Dari luar aku baik dan berkepribadian menyenangkan, tapi saat aku tahu Li Ming menggunakan ponselnya untuk menghubungi saudara-saudari, yang berisiko bagi keamanan gereja, aku khawatir menanyakannya secara langsung dapat merusak hubungan kami. Jadi, aku hanya memberi peringatan tak langsung. Saat dia tak mengakui perilakunya, aku tak menyingkap atau menghentikannya. Aku pikir, "Jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan, jangan bilang aku tak mengingatkannya." Aku pikir penerapan dengan cara ini tak merusak citraku dan membebaskanku dari tanggung jawab jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Aku hanya memikirkan kepentingan, status, dan citraku, tak ambil pusing dengan pekerjaan gereja atau keselamatan saudara-saudari. Aku sangat egois dan licik! Saat kulihat Li Ming, yang karena kasih sayangnya kepada istrinya, ia mengamuk ke orang lain tentang masalah istrinya, seharusnya aku segera melaporkan ini ke pemimpin atas, tetapi aku takut dia akan mengira aku menusuknya dari belakang. Jadi, aku hanya diam. Aku mundur dan membiarkan Li Ming mengamuk, yang berdampak negatif pada pekerjaan gereja dan menyebabkan serangan dan bahaya bagi saudara-saudari. Di mana kemanusiaanku? Ketika memikirkan tindakanku dalam terang penghakiman dan penyingkapan firman Tuhan, aku merasa sangat bersalah. Aku selalu berpikir kemanusiaanku baik, tetapi melalui penyingkapan firman Tuhan dan pengungkapan fakta-fakta, persepsiku tentang diriku berubah drastis. Dari luar aku baik, tetapi di balik kebaikanku ada maksud tercela. Aku hanya memedulikan kepentingan pribadiku dan sama sekali tak melindungi pekerjaan gereja. Aku memamerkan kebaikan palsu dan mencoba menyenangkan semua orang. Aku orang munafik dan licik. Aku tak lagi berani menggambarkan diriku sebagai orang yang berkemanusiaan baik. Lalu, kutemukan kutipan firman Tuhan yang lain: "Esensi di balik perilaku baik, seperti rendah hati dan mudah bergaul dan bersikap ramah dan mudah didekati, dapat digambarkan dengan satu kata: kepura-puraan. Perilaku baik seperti itu bukan dihasilkan dari firman Tuhan, juga bukan hasil dari menerapkan kebenaran atau bertindak berdasarkan prinsip. Dihasilkan dari apakah perilaku baik ini? Ini berasal dari motif dan rencana licik manusia, dari sikap mereka yang berpura-pura, menipu, dan licik. Ketika orang berpegang teguh pada perilaku baik ini, tujuannya adalah untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan; jika tidak, mereka tidak akan pernah menyusahkan dirinya dengan cara seperti ini, dan hidup bertentangan dengan keinginan mereka sendiri. Apa artinya hidup bertentangan dengan keinginan mereka sendiri? Itu artinya natur mereka yang sebenarnya tidaklah sebaik, sejujur, selembut, seluhur, dan sebajik yang orang bayangkan. Mereka tidak hidup sesuai dengan hati nurani dan akal mereka; sebaliknya mereka hidup untuk mencapai tujuan atau tuntutan tertentu. Seperti apa sebenarnya natur manusia itu? Natur manusia sebenarnya kacau dan bodoh. Tanpa adanya hukum dan perintah yang Tuhan karuniakan, orang tidak akan tahu apa artinya dosa. Bukankah manusia dahulu seperti ini? Hanya setelah Tuhan mengeluarkan hukum dan perintah, barulah orang memiliki sedikit pemahaman tentang dosa. Namun mereka tetap tidak memahami apa yang salah dan apa yang benar, atau apa yang positif dan apa yang negatif. Dan, jika mereka tidak memahami hal-hal ini, bisakah mereka tahu apa prinsip yang tepat untuk berbicara dan bertindak? Bisakah mereka tahu cara bertindak seperti apa, perilaku baik seperti apa, yang seharusnya ditemukan dalam diri kemanusiaan yang normal? Bisakah mereka tahu apa yang mampu menghasilkan perilaku yang benar-benar baik, cara seperti apa yang harus mereka ikuti agar hidup dalam keserupaan dengan manusia? Mereka tidak bisa. Karena natur Iblis dalam diri manusia, karena naluri mereka, mereka hanya bisa berpura-pura dan menyamarkan diri untuk hidup terhormat dan bermartabat—dan inilah yang memunculkan perilaku yang menipu seperti terpelajar dan santun, bersikap lembut dan sopan, elegan dan sopan, menghormati orang yang lanjut usia dan mengasihi orang muda, bersikap ramah dan mudah didekati, rendah hati dan mudah bergaul; demikianlah munculnya tipu muslihat dan cara-cara yang menipu ini. Dan begitu itu muncul, orang pun memilih untuk berpegang teguh pada satu atau beberapa dari cara-cara yang menipu ini. Ada yang memilih bersikap ramah dan mudah didekati, rendah hati dan mudah bergaul, ada yang memilih bersikap terpelajar dan santun, bersikap lembut dan sopan, ada yang memilih bersikap elegan dan sopan, menghormati orang yang lanjut usia dan mengasihi orang muda, ada yang memilih semua sikap ini. Namun, Aku mendefinisikan orang-orang yang berperilaku baik seperti itu dengan satu istilah. Istilah apa itu? 'Batu halus.' Apa yang dimaksud dengan batu halus? Itu adalah batu berpermukaan halus di sungai yang permukaan kasarnya telah digosok dan dipoles oleh air mengalir selama bertahun-tahun. Meskipun jika diinjak batu-batu itu tidak terasa menyakitkan, tetapi jika tidak berhati-hati orang bisa terpeleset ketika menginjaknya. Permukaan dan bentuk batu-batu ini sangat indah, tetapi begitu engkau membawanya ke rumah, batu-batu itu sama sekali tidak berguna. Engkau merasa sayang membuangnya, tetapi menyimpannya juga tidak ada gunanya—inilah yang dimaksud dengan 'batu halus'. Bagi-Ku, orang yang memiliki perilaku yang tampak baik ini adalah orang yang suam-suam kuku. Mereka berpura-pura baik di luarnya, tetapi sama sekali tidak menerima kebenaran, mereka mengatakan hal-hal yang terdengar menyenangkan, tetapi tidak melakukan hal nyata apa pun. Mereka itulah batu-batu yang halus itu. Jika engkau menyampaikan persekutuan kepada mereka tentang kebenaran dan prinsip, mereka akan berbicara kepadamu tentang bersikap lembut dan sopan, dan elegan dan sopan. Jika engkau berbicara kepada mereka tentang mengenali antikristus, mereka akan berbicara kepadamu tentang menghormati orang yang lanjut usia dan mengasihi orang muda, serta bersikap terpelajar dan santun. Jika engkau memberi tahu mereka bahwa orang harus memiliki prinsip dalam perilakunya, bahwa orang harus mencari prinsip dalam tugasnya dan tidak bertindak dengan sesuka hati, apa yang akan menjadi sikap mereka? Mereka akan berkata, 'Bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran adalah masalah lain. Aku hanya ingin bersikap terpelajar dan santun, dan agar orang lain menyetujui tindakanku. Asalkan aku menghormati orang yang lanjut usia dan mengasihi orang muda, dan mendapat persetujuan orang lain, itu sudah cukup.' Mereka hanya peduli pada perilaku yang baik, mereka tidak berfokus pada kebenaran" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Apa yang Dimaksud dengan Mengejar Kebenaran (3)"). Melalui firman Tuhan, aku sadar sikap ramah dan mudah didekati, yang dalam budaya tradisional dianggap baik, pada dasarnya hanyalah kepura-puraan. Orang yang bersikap seperti ini hanya mengemas diri mereka sendiri, memakai kedok agar dikagumi orang lain, dan menipu mereka supaya dihormati dan dipuji. Ini semua konspirasi dan muslihat dan bersikap demikian membuat mereka menjadi penipu. Aku juga sadar bahwa alasan aku masih egois dan licik, meskipun telah berusaha untuk memiliki perilaku yang baik selama ini, adalah karena ada maksud jahat di baliknya. Aku ingin terlihat baik di mata orang lain agar mereka menghormati dan memujiku. Dari kecil, aku dididik dan dipengaruhi oleh budaya tradisional untuk menghargai perilaku baik. Aku pikir berperilaku baik akan membuatku dipuji orang-orang di sekitarku. Setelah beriman, aku terus mencoba jadi orang ramah dan mudah didekati, menjaga status dan citra baik di tengah saudara-saudari, terutama saat aku menjadi rekan Li Ming. Aku lihat dia sering memakai ponselnya untuk menghubungi saudara-saudari, melanggar prinsip, membahayakan saudara-saudari, dan mengabaikan kepentingan gereja, dan seharusnya aku menyingkap dan menghentikannya, tetapi aku takut kesannya terhadapku jadi buruk. Jadi, aku hanya membiarkannya. Aku jelas tahu Li Ming melindungi istrinya dan bahkan membuat saudara-saudari tertekan. Ini bukan kasus kerusakan sederhana, kemanusiaannya buruk, dia tak cocok jadi pemimpin, dan seharusnya dia langsung dilaporkan. Namun, aku kembali memilih diam untuk melindungi status dan citraku. Demi melindungi citraku, aku membalas air susu dengan air tuba. Aku tak melindungi kepentingan gereja. Aku jadi sangat sadar bahwa berusaha bersikap ramah dan mudah didekati tak membantuku mengubah watak rusakku dan justru membuatku makin egois dan licik. Aku mengincar perilaku baik, bukannya menerapkan kebenaran, memakai kedok untuk menyembunyikan maksud tercelaku dan membuat semua orang mengira aku punya kenyataan kebenaran, penuh kasih dan baik, menipu mereka agar memercayai, menghargai dan menerimaku. Aku menempuh jalan orang Farisi yang munafik dan menentang Tuhan. Jika terus begini, aku akan dikutuk dan disingkirkan Tuhan.

Lalu, aku membaca dua bagian lain dari firman Tuhan yang mengatakan: "Dan apa akibatnya jika orang selalu memikirkan kepentingan dirinya sendiri, jika mereka selalu berusaha untuk melindungi harga diri dan kesombongan mereka, jika mereka memperlihatkan watak yang rusak, tetapi tidak mencari kebenaran untuk memperbaikinya? Akibatnya, mereka tidak memiliki jalan masuk kehidupan, akibatnya, mereka tidak memiliki kesaksian dari pengalaman nyata. Dan ini berbahaya, bukan? Jika engkau tidak pernah menerapkan kebenaran, jika engkau tidak memiliki kesaksian dari pengalamanmu, maka pada waktunya, engkau akan disingkapkan dan disingkirkan. Apakah orang yang tidak memiliki kesaksian dari pengalamannya berguna di rumah Tuhan? Mereka pasti akan melakukan tugas apa pun dengan buruk, dan tak mampu melakukan apa pun dengan benar. Bukankah mereka hanya sampah? Jika orang tidak pernah menerapkan kebenaran setelah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya; mereka orang-orang jahat. Jika engkau tidak pernah menerapkan kebenaran, dan jika pelanggaranmu makin banyak, maka kesudahanmu telah ditentukan. Jelaslah bahwa semua pelanggaranmu, jalan salah yang kautempuh, dan penolakanmu untuk bertobat—semua ini menambah sekumpulan besar perbuatan jahatmu; dengan demikian, kesudahanmu adalah engkau akan masuk neraka—engkau akan dihukum. Apakah menurutmu ini masalah sepele? Jika engkau belum dihukum, engkau tidak akan merasakan betapa mengerikannya hal ini. Ketika hari itu tiba, saat engkau benar-benar menghadapi bencana, dan engkau dihadapkan dengan kematian, akan terlambat bagimu untuk menyesal. Jika, dalam imanmu kepada Tuhan, engkau tidak menerima kebenaran, dan jika engkau telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, tetapi tidak ada perubahan dalam dirimu, konsekuensi akhirnya adalah engkau akan disingkirkan dan ditinggalkan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). "Hanya jika orang bertindak dan berperilaku sesuai dengan firman Tuhan, barulah mereka memiliki dasar yang benar. Jika mereka tidak berperilaku sesuai dengan firman Tuhan, dan hanya berfokus untuk berpura-pura berperilaku baik, dapatkah mereka menjadi orang yang baik sebagai hasilnya? Sama sekali tidak. Doktrin dan perilaku baik tidak mampu mengubah watak rusak manusia dan esensi manusia. Hanya kebenaran dan firman Tuhan yang mampu mengubah watak rusak, pemikiran, dan pendapat manusia, serta menjadi hidup mereka. ... Apa yang seharusnya menjadi dasar dari perkataan dan tindakan manusia? Firman Tuhan. Jadi, apa tuntutan dan standar Tuhan bagi perkataan dan tindakan mereka? (Perkataan itu harus membangun orang lain.) Benar. Yang paling mendasar, engkau harus mengatakan yang sebenarnya, berbicara jujur, dan bermanfaat bagi orang lain. Setidaknya, perkataanmu haruslah mendidik kerohanian orang lain, dan tidak menipu, menyesatkan, mengolok-olok, menyindir, menghina, mengejek, mempersulit mereka, mengungkapkan kelemahan, atau menyakiti mereka. Inilah yang diungkapkan oleh kemanusiaan yang normal. Inilah kebajikan kemanusiaan. ... Selain itu, dalam beberapa percakapan khusus, sangatlah penting untuk secara langsung menyingkapkan kesalahan dan memangkas mereka, sehingga mereka memperoleh pengetahuan tentang kebenaran dan ingin bertobat. Hanya dengan cara demikianlah, hasil yang diinginkan akan tercapai. Cara penerapan ini sangat bermanfaat bagi orang-orang. Ini adalah bantuan yang nyata bagi mereka, dan ini membangun mereka, bukan?" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Apa yang Dimaksud dengan Mengejar Kebenaran (3)"). Firman Tuhan membuatku gentar dan aku merasa takut. Jika seseorang memilih untuk menjunjung kepentingannya sendiri di segala situasi dan tak pernah menerapkan kebenaran, pelanggarannya makin bertumpuk, dan akhirnya, dia akan disingkapkan dan disingkirkan Tuhan. Aku pikir saat aku tahu keselamatan saudara-saudari terancam dan pekerjaan gereja terpengaruh, aku tak menjunjung prinsip dan melindungi pekerjaan gereja, tapi selalu berusaha menjadi apa yang disebut sebagai orang baik. Meski dihormati dan diterima oleh orang lain, aku adalah pelaku kejahatan di mata Tuhan dan akhirnya akan dibenci serta ditolak dan dihukum oleh-Nya. Aku takut saat menyadari konsekuensi ini dan siap memperbaiki pengejaran sesatku. Firman Tuhan juga menunjukkanku jalan penerapan yang benar. Hanya dengan bertindak dan berkata sesuai firman Tuhan, kita dapat menguntungkan dan membangun orang lain. Tak soal bagaimana kita berbicara, entah dengan suara keras atau lembut, atau sebijak apa pun perkataan kita. Yang terpenting, bicaralah dengan cara yang membangun bagi saudara-saudari. Selama itu orang yang tepat, yang dapat menerima kebenaran, kita harus membantunya dengan kasih. Jika dia tak memahami kebenaran dan merusak pekerjaan, kita bisa bersekutu dengannya untuk memberi bimbingan dan dukungan. Jika tak ada perbaikan nyata setelah persekutuan, kita bisa memangkas mereka, menyingkap esensi masalahnya. Meski terdengar kejam dan terlihat tak memedulikan perasaan mereka, cara bersikap seperti ini sungguh bisa menguntungkan dan mendukung mereka. Jika mereka antikristus atau orang jahat yang mengacaukan pekerjaan gereja, kita harus ambil posisi untuk menyingkapkan dan menghentikan mereka atau melapor ke atasan kita untuk menjunjung pekerjaan gereja dan melindungi saudara-saudari agar tak diganggu dan disesatkan. Hanya dengan begitu, kita sungguh menerapkan kebenaran, memperlihatkan kemanusiaan dan kebaikan sejati. Firman Tuhan juga memperbaiki pandanganku yang keliru. Aku pikir melaporkan seseorang yang melanggar prinsip sama dengan mengadu, menusuk dari belakang, atau tak setia. Ini pandangan yang keliru. Dengan melakukan itu sebenarnya melindungi pekerjaan gereja dan merupakan satu perbuatan baik. Li Ming memiliki masalah serius yang berdampak pada pekerjaan gereja dan mengekang serta merugikan saudara-saudari, dan ini adalah masalah prinsip yang merugikan pekerjaan gereja, seharusnya aku segera memberi tahu pemimpin atas atau bahkan melaporkan dia. Ini bukan menusuk dari belakang, tetapi melindungi pekerjaan gereja. Setelah kusadari ini, banyak kekhawatiranku lenyap dan aku jauh lebih tenang.

Suatu kali, seorang saudara dilaporkan karena dia terus bersikap ogah-ogahan dan menghindar dari kesulitan apa pun saat melaksanakan tugasnya, dan setelah orang lain menunjukkan ini dan berulang kali memangkasnya, dia masih tak mau menerima. Sesuai prinsip, kami memutuskan dia harus diberhentikan, dan kami harus menelaah masalahnya agar dia bisa merenungi diri. Saat itu, aku berpikir, "Menelaah masalah seseorang bisa menyinggungnya. Mungkin sebaiknya rekan kerjaku saja yang bersekutu dengannya dan aku bisa lepas tangan. Jika tidak, aku bisa memberinya kesan buruk." Lalu tiba-tiba aku sadar aku mencoba melindungi status dan citraku lagi. Aku ingat firman Tuhan yang berbunyi: "Bagi semua orang yang melaksanakan tugas, sedalam atau sedangkal apa pun pemahaman mereka akan kebenaran, cara paling sederhana untuk masuk ke dalam kenyataan kebenaran adalah dengan memikirkan kepentingan rumah Tuhan dalam segala sesuatu, dan melepaskan keinginan mereka yang egois, niat pribadi, motif, kesombongan, dan status mereka. Prioritaskan kepentingan rumah Tuhan—inilah setidaknya yang harus orang lakukan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Kebebasan dan Kemerdekaan Hanya Dapat Diperoleh dengan Menyingkirkan Watak yang Rusak"). Firman Tuhan menunjukkanku jalan penerapan. Saat menghadapi masalah, kita harus mengesampingkan keinginan dan reputasi kita, mengutamakan kepentingan gereja dan mempertimbangkan maksud Tuhan. Hanya inilah cara bertindak yang jujur dan akan dipuji Tuhan. Setelah memahami tuntutan Tuhan, aku merasa termotivasi. Jadi, aku menelaah perilaku saudara itu secara detail sesuai firman Tuhan. Aku jauh lebih tenang setelah menerapkan cara ini. Aku sadar hanya dengan menerapkan kebenaran, kita dapat mencapai kedamaian dan kebahagiaan sejati.

Setelah pengalaman ini, aku sangat bersyukur kepada Tuhan. Firman Tuhanlah yang membantuku melihat betapa konyolnya bersikap ramah dan mudah didekati yang disarankan oleh budaya tradisional serta bahaya yang ditimbulkannya pada orang-orang. Ini juga memungkinkanku mengalami kebebasan dan pelepasan dari kekangan dan belenggu budaya tradisional. Syukur kepada Tuhan atas keselamatan-Nya!

Sebelumnya: 29. Mengapa Aku Selalu Berpura-Pura?

Selanjutnya: 31. Aku Tidak Membutuhkan Pengawasanmu

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

73. Penyelamatan Tuhan

Oleh Saudari Yi Chen, TiongkokTuhan Yang Mahakuasa berkata: "Setiap langkah dari pekerjaan Tuhan—entah itu firman yang keras, atau...

Pengaturan

  • Teks
  • Tema

Warna Solid

Tema

Jenis Huruf

Ukuran Huruf

Spasi Baris

Spasi Baris

Lebar laman

Isi

Cari

  • Cari Teks Ini
  • Cari Buku Ini