Cara Mengejar Kebenaran (23)

Selama beberapa waktu ini, kita telah mempersekutukan topik tentang cara mengejar kebenaran. Kita belum selesai mempersekutukannya; ini adalah topik yang sangat besar, dan sesungguhnya ada begitu banyak masalah yang berkaitan dengan mengejar kebenaran, bukan? (Ya.) Mengenai topik tentang cara mengejar kebenaran, kita telah mempersekutukan dua aspek penerapan: Satu aspek penerapan adalah melepaskan, dan aspek penerapan lainnya adalah mengabdikan diri. Sebelumnya, kita telah banyak mempersekutukan topik tentang "melepaskan". Hal yang telah kita persekutukan baru-baru ini adalah "melepaskan penghalang di antara dirinya dan Tuhan serta permusuhannya terhadap Tuhan", yang dibagi menjadi beberapa aspek: gagasan dan imajinasi, tuntutan yang tidak masuk akal, sikap waspada dan kecurigaan, dan meneliti dan mengintai. Bukankah kita telah cukup banyak mempersekutukan aspek yang pertama, yaitu gagasan dan imajinasi? Di dalam aspek gagasan dan imajinasi, konten yang berkaitan dengan gagasan dan imajinasi orang tentang Tuhan terdiri dari gagasan mereka tentang pekerjaan Tuhan, esensi watak Tuhan, dan Tuhan yang berinkarnasi. Sebelumnya, kita terutama mempersekutukan gagasan orang tentang pekerjaan Tuhan. Meskipun kita tidak mempersekutukan gagasan orang tentang esensi watak Tuhan secara eksplisit dan terarah, kita telah mempersekutukan beberapa masalah yang berkaitan dengan berbagai aspek umat manusia. Setelah mempersekutukan hal-hal ini, bukankah seharusnya orang memahami sikap Tuhan terhadap berbagai masalah umat manusia? Bukankah dengan demikian orang seharusnya memahami cara Tuhan memperlakukan kondisi bawaan, watak rusak, dan kemanusiaan mereka? (Ya.) Setelah memahami hal-hal ini, gagasan orang tentang pekerjaan Tuhan dan esensi watak Tuhan seharusnya sudah dibereskan. Baru-baru ini, kita telah mempersekutukan golongan berbagai macam orang. Katakan kepada-Ku, menurutmu mengapa kita mempersekutukan topik ini? (Mempersekutukan golongan berbagai macam orang, di satu sisi, adalah untuk membantu kami belajar membedakan segala macam orang, yaitu siapa yang bereinkarnasi dari manusia, siapa yang bereinkarnasi dari binatang, dan siapa yang bereinkarnasi dari setan. Begitu kami memiliki kemampuan membedakan, kami akan memiliki prinsip dalam cara kami memperlakukan orang. Di sisi lain, hal ini memungkinkan kami untuk memiliki suatu pemahaman tentang kebenaran mengenai orang macam apa tepatnya yang Tuhan selamatkan, sehingga kami tidak akan menyikapi pekerjaan Tuhan berdasarkan gagasan dan imajinasi kami.) Singkatnya, mempersekutukan hal-hal ini memungkinkan orang untuk memahami cara Tuhan memandang berbagai macam orang, cara Dia memperlakukan mereka, dan cara Dia menangani mereka. Dengan memahami esensi dari berbagai macam orang, atau dengan memahami berbagai masalah umat manusia—baik yang orang miliki secara bawaan maupun yang berkembang di kemudian hari—orang pada dasarnya mampu memiliki pengenalan yang akurat tentang apa prinsip-prinsip Tuhan dalam menangani berbagai masalah umat manusia. Begitu orang mengetahui hal-hal ini, gagasan dan imajinasi mereka yang berkaitan dengan pekerjaan Tuhan dan esensi watak Tuhan sebagian besar sudah dibereskan. Kita telah selesai mempersekutukan masalah-masalah yang berkaitan dengan pekerjaan Tuhan dan esensi watak Tuhan di bawah topik gagasan dan imajinasi orang. Engkau semua seharusnya perlahan-lahan mengalami dan menghayati sendiri apa yang telah dipersekutukan, dan seiring berjalannya waktu, engkau semua akan memperoleh pengenalan akan Tuhan. Ketika menghadapi masalah semacam ini dalam kehidupan, engkau seharusnya mengambil firman ini dan mencocokkannya dengan masalah tersebut, lebih banyak mencari dan mendoa-bacakan, lalu menyelesaikan masalah yang engkau hadapi dalam kehidupan nyata berdasarkan prinsip atau isi yang telah dipersekutukan.

Mengenai gagasan dan imajinasi orang, masih ada satu poin terakhir yang belum kita persekutukan, yaitu gagasan dan imajinasi orang tentang Tuhan yang berinkarnasi. Apakah perlu mempersekutukan masalah ini? (Ya.) Gagasan dan imajinasi apa yang engkau semua miliki mengenai Tuhan yang berinkarnasi, identitas yang istimewa ini? Tahukah engkau semua apa tepatnya masalah atau kesulitan terbesarmu mengenai Tuhan yang berinkarnasi? Bagi kebanyakan orang, hubungan langsung dengan Tuhan yang berinkarnasi tidak lebih dari mendengarkan khotbah dan persekutuan selama pertemuan. Hanya segelintir orang yang benar-benar berhubungan secara tatap muka dengan Tuhan yang berinkarnasi, atau bahkan memiliki beberapa interaksi yang terbatas dengan-Nya dalam kehidupan. Lalu, ketika mendengarkan persekutuan selama pertemuan, atau ketika berhubungan dan berinteraksi dengan-Nya dalam pekerjaan atau dalam kehidupan, apa gagasan dan imajinasimu tentang Tuhan yang berinkarnasi? Apa masalah dan kesulitan nyatamu? Orang pasti memiliki gagasan dan imajinasi tentang Tuhan yang berinkarnasi; mustahil bagi mereka untuk tidak memilikinya. Orang tidak hidup dalam ruang hampa, mereka juga tidak seperti robot yang tak bisa berpikir. Jika engkau bisa berpikir, engkau memiliki pikiran yang aktif, dan jika engkau memiliki pikiran yang aktif, engkau pasti akan memiliki pemikiran ketika berhubungan dengan Tuhan yang berinkarnasi. Pemikiran ini sering kali merupakan gagasan dan imajinasi orang; semua itu tidak ada kaitannya dengan kebenaran, juga tidak sejalan dengan kebenaran. Hanya saja kebanyakan orang, setelah percaya kepada Tuhan selama tiga sampai lima tahun, pada dasarnya memiliki taraf pengakuan dan penerimaan tertentu terhadap Tuhan yang berinkarnasi. Oleh karena itu, sekalipun mereka memiliki beberapa gagasan, karena mereka telah mendengar banyak kebenaran, ketika menghadapi hal-hal ini, mereka mampu membereskannya sendiri dengan menggunakan prinsip dasar atau metode unik mereka sendiri—mungkin dengan membaca firman Tuhan, atau memangkas diri mereka sendiri, atau berdoa—dan sering kali, gagasan dan imajinasi mereka tentang Tuhan dapat dibereskan. Lalu, apakah semua itu dibereskan karena orang telah memahami kebenaran, atau karena mereka untuk sementara waktu telah meredakannya dengan menggunakan metode dan cara manusia? (Semua itu diredakan untuk sementara waktu.) Artinya, masalah ini tetap belum terselesaikan. Di luarnya, segala sesuatu tampak tenang dan tenteram dalam diri mereka, dan untuk sementara waktu mereka tidak memiliki gagasan, tetapi akar dari masalah ini masih tersembunyi di dalam diri mereka dan belum dicabut sampai ke akarnya. Katakan kepada-Ku, apakah baik jika masalah ini belum dicabut sampai ke akarnya? (Tidak.) Mengapa itu tidak baik? Dampak apa yang akan ditimbulkannya pada orang-orang? (Orang memiliki gagasan dan imajinasi tentang Tuhan yang berinkarnasi, dan begitu situasinya mendukung, hal itu akan meledak. Sebagai contoh, ketika menghadapi hal-hal yang tidak berjalan sesuai harapan mereka, mereka akan salah paham dan mengeluh tentang Tuhan, atau mereka akan memberontak terhadap Tuhan dan menentang-Nya.) Ini adalah masalah nyata. Jika gagasan dan imajinasi tentang Tuhan yang berinkarnasi tidak dapat dibereskan sampai ke akarnya, hal itu akan selalu ada di dalam dirimu sebagai suatu masalah dan akan berdampak padamu. Ketika engkau tidak menghadapi situasi tertentu apa pun, dan engkau hanya membaca firman Tuhan dan, di dalam hatimu, percaya pada identitas dan esensi Tuhan, serta watak-Nya, maka masalah ini belum berdampak apa pun pada dirimu. Jika, ketika Tuhan yang berinkarnasi berinteraksi denganmu, berbicara denganmu, atau menugaskan pekerjaan kepadamu, engkau mengalami pemangkasan atau hal-hal yang tidak berjalan sesuai harapanmu, maka gagasan dan imajinasimu dapat menimbulkan beberapa efek negatif di dalam dirimu. Jika gagasan dan imajinasimu tentang Tuhan yang berinkarnasi dibereskan, ketika menghadapi hal-hal ini, engkau mungkin masih merasa sakit dan tidak nyaman, dan dalam kasus yang lebih serius bahkan mungkin muncul pemberontakan di dalam dirimu, tetapi engkau akan secara proaktif datang ke hadapan Tuhan untuk mencari kebenaran guna menyelesaikan masalah-masalah ini, alih-alih memperlakukan Tuhan yang berinkarnasi sebagai orang biasa, atau memberontak terhadap-Nya, menentang-Nya, dan memosisikan diri melawan-Nya.

Mari kita bersekutu tentang bagaimana orang seharusnya membereskan gagasan dan imajinasi mereka tentang Tuhan yang berinkarnasi. Sebenarnya, masalah ini lebih mudah diselesaikan daripada gagasan dan imajinasi orang yang berkaitan dengan pekerjaan Tuhan dan esensi watak Tuhan, yang telah kita persekutukan sebelumnya. Pekerjaan Tuhan sangat luas lingkupnya, dan mencakup banyak isi, serta banyak kebenaran yang perlu orang ketahui dan pahami. Selain itu, esensi watak Tuhan terlebih lagi adalah kebenaran yang paling mendalam di antara semua kebenaran yang harus dipahami oleh orang yang percaya kepada Tuhan, dan itu juga merupakan hal yang paling sulit untuk dipahami manusia. Namun, dibandingkan dengan kedua aspek kebenaran tersebut, kebenaran mengenai Tuhan yang berinkarnasi lebih bersifat langsung bagi manusia, sehingga gagasan dan imajinasi yang berkaitan dengan Tuhan yang berinkarnasi juga lebih mudah untuk dibereskan. Ini karena, dibandingkan dengan pekerjaan Tuhan dan esensi watak Tuhan, Tuhan yang berinkarnasi, bagaimanapun juga, sepenuhnya nyata. Dia dapat dilihat dan disentuh oleh manusia. Dia tidak abstrak; sebaliknya, Dia memiliki suara yang spesifik dan dapat mengungkapkan diri-Nya secara lisan, serta memiliki penampilan luar, rupa, watak, dan kepribadian yang spesifik yang dapat dihubungi manusia, selain berbagai aspek kebenaran yang Dia ungkapkan. Oleh karena itu, dibandingkan dengan gagasan dan imajinasi orang tentang pekerjaan Tuhan dan esensi watak Tuhan, gagasan dan imajinasi orang tentang Tuhan yang berinkarnasi lebih konkret. Makin konkret sesuatu itu, makin mudah bagi orang untuk mengetahuinya, makin mudah bagi mereka untuk mencocokkan diri mereka dengannya, dan makin mudah bagi mereka untuk membereskannya. Begitulah cara kerjanya secara teori, tetapi secara spesifik, bagaimana seharusnya gagasan dan imajinasi orang tentang Tuhan yang berinkarnasi dibereskan? Ada dua jalan penerapan, yang artinya, ada dua prinsip penerapan mengenai sikap yang benar yang seharusnya orang ambil terhadap Tuhan yang berinkarnasi. Pertama adalah tidak membandingkan-Nya dengan Tuhan yang di surga. Kedua, yang juga sangat penting adalah tidak menyamakan-Nya dengan umat manusia yang rusak. Jika engkau mampu melakukan kedua hal ini, gagasan dan imajinasimu tentang Tuhan yang berinkarnasi pada dasarnya akan dianggap telah dibereskan sampai ke akarnya. Lihat, apakah jalan penerapan berdasarkan kedua prinsip ini benar? (Ya.) Mengapa kedua jalan ini adalah cara untuk membereskan gagasan dan imajinasi orang tentang Tuhan yang berinkarnasi? (Karena orang paling cenderung melakukan kedua kesalahan ini. Ketika Tuhan menjadi daging, orang membayangkan Tuhan yang berinkarnasi sangatlah samar, berpikir bahwa Dia dapat mengadakan tanda dan keajaiban seperti Tuhan di surga, dan sebagainya. Orang juga cenderung menyamakan Tuhan yang berinkarnasi dengan umat manusia yang rusak, dan hal ini dengan mudahnya menyinggung watak Tuhan.) Engkau melihat masalah ini dengan jelas, bukan? (Ya.) Alasan mengapa kedua hal ini membentuk jalan dan prinsip untuk membereskan gagasan dan imajinasi orang tentang Tuhan yang berinkarnasi adalah karena gagasan dan imajinasi yang orang kembangkan tentang Tuhan yang berinkarnasi terutama terdiri dari dua aspek ini. Di satu sisi, mengenai Tuhan yang berinkarnasi, jika orang meyakini dengan pasti bahwa Dia adalah Tuhan yang datang dari surga, bahwa Dia memiliki Roh Tuhan yang berdiam di dalam-Nya sebagai hidup-Nya, dan bahwa Dia adalah Roh Tuhan yang diwujudkan di dalam daging, dan jika mereka meyakini dengan pasti bahwa identitas-Nya istimewa dan bahwa Dia adalah pengungkapan Tuhan yang di surga, maka mereka akan membandingkan-Nya dengan Tuhan yang di surga. Di sisi lain, karena secara lahiriah Tuhan yang berinkarnasi terlihat tidak berbeda dari manusia dan hanyalah orang biasa, orang mau tak mau memperlakukan-Nya sebagai bagian dari umat manusia yang rusak. Orang sangat suka membandingkan-Nya atau menyamakan-Nya dengan umat manusia yang rusak, dan bahkan menganggap Tuhan yang berinkarnasi sebagai bagian dari umat manusia yang tidak berbeda dari manusia yang rusak. Kedua aspek ini adalah asal mula gagasan dan imajinasi yang orang kembangkan tentang Tuhan yang berinkarnasi. Kedua aspek ini juga merupakan akar penyebab kesalahan yang sering orang lakukan dalam perlakuan mereka terhadap Tuhan yang berinkarnasi, dan berbagai masalah pemberontakan, penentangan, dan perlawanan yang muncul dalam perlakuan mereka terhadap Tuhan yang berinkarnasi. Oleh karena itu, jika kedua masalah ini diselesaikan, gagasan dan imajinasi, serta pemberontakan dan perlawanan, yang engkau kembangkan mengenai Tuhan yang berinkarnasi juga akan berangsur-angsur dibereskan. Karena kedua jalan penerapan ini sangat penting, mari kita bersekutu tentang perinciannya satu per satu.

Untuk meluruskan gagasan dan imajinasi orang tentang Tuhan yang berinkarnasi, prinsip penerapan yang pertama adalah tidak membandingkan-Nya dengan Tuhan yang di surga. Tuhan yang di surga adalah tubuh rohani, dan Tuhan yang di bumi adalah daging. Tidak membandingkan-Nya dengan Tuhan yang di surga tentu saja berarti tidak mencoba menyejajarkan Tuhan yang di surga dan Tuhan yang berinkarnasi. Karena identitas dan esensi Tuhan yang berinkarnasi, serta pekerjaan yang Dia lakukan, semuanya merepresentasikan Tuhan yang di surga, wajar jika orang sering menyandingkan Tuhan yang berinkarnasi dan Tuhan yang di surga untuk membandingkan keduanya. Lalu, apa salahnya membandingkan Mereka? Mengapa Mereka tidak dapat dibandingkan? Pertama, lihatlah apa yang umumnya orang bandingkan, dan kemudian engkau akan tahu apakah benar bagi orang untuk membandingkan Mereka dengan cara ini. Jadi, apa yang dibandingkan orang ketika mereka membandingkan Tuhan yang berinkarnasi dengan Tuhan yang di surga? Orang membandingkan kuasa Mereka, otoritas Mereka, dan watak Mereka, dan orang bahkan membandingkan dengan lebih spesifik, tentang apakah Mereka mengadakan tanda dan mukjizat, kuasa firman Mereka, dan hasil yang dicapai oleh firman Mereka. Apa lagi yang orang bandingkan? (Tuhan yang di surga berbicara seperti guntur, membuat semua orang merasa takut, sedangkan Tuhan yang berinkarnasi berbicara dengan cara yang biasa, normal, dan sangat nyata. Orang juga membandingkan hal ini.) Artinya, mereka membandingkan banyak kemampuan supernatural. Tuhan yang di surga menciptakan segala sesuatu; Tuhan yang di surga berfirman seperti guntur; Tuhan yang di surga mampu menghidupkan kembali orang mati; Tuhan yang di surga melihat dari awal hingga saat ini; Tuhan yang di surga berfirman, dan firman-Nya terjadi; Dia memberi perintah, dan itu terlaksana; Tuhan yang di surga mampu mengubah yang ada menjadi tidak ada, dan yang tidak ada menjadi ada; Tuhan yang di surga mampu mengadakan berbagai tanda dan mukjizar, dan sebagainya. Orang membandingkan semua hal ini: apa yang dilakukan dan difirmankan Tuhan yang di surga, kuasa, otoritas, kemahakuasaan, dan watak yang Dia perlihatkan, serta supremasi dan kuasa-Nya yang tak terbatas. Apa lagi? Tuhan yang di surga berdaulat atas segala sesuatu dan mengatur segala sesuatu, dan Dia juga mengatur dan berdaulat atas nasib manusia; Tuhan yang di surga mengatur berbagai macam lingkungan bagi manusia; Dia memeriksa segala sesuatu, memeriksa seluruh bumi, dan memeriksa setiap gerak-gerik serta setiap perkataan dan perbuatan manusia, mengetahui apa yang dipikirkan dan dirasakan setiap orang. Entah semua hal semacam itu ada dalam gagasan orang atau merupakan hal-hal yang telah mereka rasakan secara mendalam, pada akhirnya, semuanya adalah bagian dari esensi yang dimiliki oleh Tuhan yang di surga dan sejumlah fenomena nyata yang dapat Dia perlihatkan, yang dapat orang bayangkan dalam batas kemampuan mereka untuk memahami. Ini adalah perwujudan dari cara Tuhan yang di surga bertindak; secara spesifik, inilah hal-hal yang dapat dilakukan Roh Tuhan. Beberapa dari aspek ini selaras dan berkaitan dengan Roh Tuhan, sedangkan yang lainnya bercampur dengan gagasan dan imajinasi orang. Namun, entah itu gagasan dan imajinasi orang atau hal yang benar tentang Roh Tuhan, pada akhirnya, semuaini adalah bagian dari perwujudan hidup, atau esensi dan penyingkapan, yang dimiliki dan disandang oleh Tuhan yang di surga, dan yang dapat diwujudkan-Nya. Justru karena semua ini adalah esensi, watak, atau kuasa yang dimiliki dan disandang oleh Tuhan yang di surga, perwujudan dan penyingkapan ini hanya berkaitan dengan Roh Tuhan; yakni, berkaitan dengan identitas dan esensi yang melekat pada diri Tuhan. Esensi, watak, atau kuasa yang dimiliki dan disandang oleh Tuhan yang di surga yang dapat dibayangkan, dirasakan, atau diketahui manusia, luar biasa dan hebat dibandingkan dengan umat manusia ciptaan, dan semua itu bahkan jauh melampaui jangkauan manusia mana pun yang memiliki sifat sebagai makhluk ciptaan; Dia melampaui semua makhluk ciptaan dan makhluk bukan ciptaan. Esensi dan kuasa yang dimiliki dan disandang atau disingkapkan oleh Tuhan yang berinkarnasi itu sendiri semuanya melekat pada diri Tuhan; semua itu adalah bagian dari watak Tuhan atau esensi Tuhan yang melampaui apa yang dapat dibayangkan, diketahui, atau dipahami oleh semua makhluk ciptaan dan makhluk bukan ciptaan. Mengenai seberapa hebat tepatnya Tuhan itu, seberapa besar tepatnya kuasa yang Dia miliki, dan sejauh mana tepatnya Dia melampaui segala sesuatu, bagi umat manusia ciptaan, ini akan selalu menjadi misteri yang tak terpecahkan. Manusia mustahil dapat mengenal Tuhan sepenuhnya; apa yang mereka lihat benar-benar sangat terbatas. Mengesampingkan bagian mengenai gagasan dan imajinasi orang yang tidak realistis tentang Tuhan, dan hanya membahas kuasa, otoritas, serta esensi sejati yang Tuhan miliki, apa yang dapat dilakukan, dihidupi, serta diperlihatkan oleh Tuhan yang berinkarnasi sungguh sangat terbatas. Jika digambarkan dengan metafora manusia yang kurang tepat, mungkin apa yang dihidupi, diperlihatkan, dan dapat dilakukan oleh Tuhan yang berinkarnasi hanyalah setetes air di lautan atau puncak gunung es dari identitas dan esensi yang melekat pada diri Tuhan, tidak lebih dari itu. Artinya, apa yang dapat dihidupi dan diperlihatkan Tuhan yang berinkarnasi dari identitas Tuhan, esensi watak Tuhan, dan kuasa Tuhan sangatlah terbatas. Karena Tuhan yang berinkarnasi adalah Tuhan yang hidup di antara manusia dalam wujud seorang manusia ciptaan, apa yang dapat Dia lakukan, serta naluri dan natur bawaan yang dapat dihidupi-Nya, sangatlah terbatas. Meskipun Dia adalah Roh Tuhan yang diwujudkan di dalam daging dan memiliki Roh Tuhan yang berdiam di dalam diri-Nya, karena daging ini berada dalam wujud seorang manusia ciptaan, esensi Tuhan dan watak Tuhan yang dapat dihidupi, disingkapkan, dan diperlihatkan-Nya sangatlah terbatas. Ini adalah salah satu alasannya. Di sisi lain, setiap kali Tuhan menjadi daging, itu adalah hasil yang tak terelakkan dari kebutuhan pekerjaan Tuhan, yakni, kebutuhan yang tak terelakkan dari suatu tahap pekerjaan Tuhan. Dengan kata lain, tahap pekerjaan ini mengharuskan Tuhan untuk menjadi daging, yang berarti Tuhan harus menjadi daging untuk melakukan tahap pekerjaan ini. Karena Tuhan perlu menjadi daging, Dia melakukan tahap pekerjaan ini melalui inkarnasi-Nya, dan ada berbagai aspek dari watak, esensi, dan kuasa Tuhan yang hendak Tuhan ungkapkan dan yang dibutuhkan untuk tahap pekerjaan ini. Aspek watak, esensi, dan kuasa apa pun yang Tuhan butuhkan dalam tahap pekerjaan ini, ketika menjadi daging, Dia mewujudkan watak, esensi, dan kuasa Tuhan yang berkaitan dengan kebutuhan tahap pekerjaan ini di dalam daging ini. Sederhananya, daging ini dapat melaksanakan pekerjaan apa pun yang dibutuhkan oleh tahap pekerjaan inkarnasi Tuhan ini. Sebagai contoh, tahap pekerjaan pada akhir zaman ini mengharuskan dilakukannya pekerjaan hajaran dan penghakiman. Tuhan yang berinkarnasi kemudian dapat mengungkapkan murka Tuhan, keagungan-Nya, dan watak benar Tuhan; Dia dapat mengungkapkan watak semacam ini dan juga dapat melakukan pekerjaan semacam ini. Selama inkarnasi Tuhan kali ini, apa yang orang lihat dan alami mencakup hajaran dan penghakiman Tuhan, murka Tuhan, keagungan Tuhan, dan watak benar Tuhan. Ketika pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan yang berinkarnasi adalah pekerjaan penebusan, menganugerahkan kasih karunia dan berkat kepada umat manusia serta mengampuni dosa-dosa manusia, gambar Tuhan yang direpresentasikan oleh Tuhan yang berinkarnasi adalah gambar yang penuh belas kasihan dan kasih setia, penuh kesabaran dan kelapangan hati, serta penuh kasih, dan Dia juga menganugerahkan kasih karunia yang melimpah kepada manusia. Seperti itulah ciri-ciri yang jelas dari watak dan esensi Tuhan pada tahap pekerjaan tersebut. Oleh karena itu, inkarnasi Tuhan yang mana pun itu, mustahil manusia dapat melihat atau mengenal watak dan esensi Tuhan yang di surga secara menyeluruh. Sebagai contoh, salah satu ciri Tuhan Yesus yang dilihat oleh orang-orang percaya pada Zaman Kasih Karunia adalah bahwa kelapangan hati, kesabaran, dan pengampunan-Nya terhadap manusia begitu besar, serta belas kasihan dan kasih setia-Nya melimpah. Oleh karena itu, beberapa orang yang percaya kepada Tuhan dapat mengalami kesabaran, kelapangan hati, dan kasih yang tak terbatas dan tak terukur yang berasal dari Tuhan, yaitu belas kasihan dan kasih setia yang berasal dari Tuhan. Pada Zaman Kasih Karunia, ciri utama dari Tuhan yang berinkarnasi saat melakukan pekerjaan penebusan adalah belas kasihan dan kasih setia. Namun, dalam tahap pekerjaan pada akhir zaman ini, karena Tuhan yang berinkarnasi hendak mengatasi watak rusak orang, bukan mengampuni dosa manusia, apa yang manusia alami dari Tuhan yang berinkarnasi dalam tahap pekerjaan ini adalah keagungan, murka, penghakiman, dan hajaran dari Tuhan. Manusia bahkan melihat sisi Tuhan yang tidak memberi kelonggaran, mereka melihat-Nya menghakimi dan menyingkapkan manusia tanpa memberi kelonggaran. Hampir setiap kali Dia berfirman, isi pokok firman-Nya adalah penyingkapan berbagai watak rusak, perwujudan kerusakan, dan keadaan rusak dalam diri manusia secara terus-menerus, tanpa lelah dan tanpa henti. Yang manusia lihat dalam diri Tuhan yang berinkarnasi kali ini adalah keagungan dan murka Tuhan, sifat Tuhan yang tidak menoleransi pelanggaran, dan watak benar Tuhan; yang mereka alami adalah hajaran dan penghakiman Tuhan, serta ujian dan pemurnian. Dalam segala sesuatu yang Tuhan firmankan, manusia mengalami kebenaran, keagungan, dan sifat Tuhan yang tidak menoleransi pelanggaran, dan mereka juga sering merasakan amarah, kebencian, kemuakan, dan penolakan Tuhan terhadap umat manusia, dan bahkan kutukan serta penghukuman-Nya. Meskipun Tuhan yang berinkarnasi sepenuhnya mampu merepresentasikan Tuhan itu sendiri, merepresentasikan identitas Tuhan, watak Tuhan, dan esensi Tuhan, karena wujud daging inkarnasi Tuhan ini berbeda dari wujud identitas yang melekat pada diri Tuhan, Dia dibatasi oleh wujud daging ini dan oleh naluri pada wujud ini. Esensi Tuhan, watak Tuhan, dan kuasa Tuhan yang dapat dilihat manusia dalam diri Tuhan yang berinkarnasi terbatas jika dibandingkan dengan identitas dan esensi yang melekat pada diri Tuhan. Ini sangat wajar. Manusia seharusnya memahami hal ini, dan tidak boleh secara membabi buta membandingkan Tuhan yang berinkarnasi dengan Tuhan yang di surga, lalu, ketika tidak dapat mencocokkan keduanya, mereka menjadi sangat kecewa, menghakimi dan mengutuk-Nya, menolak Tuhan, dan menyangkal identitas Tuhan, pekerjaan Tuhan, atau esensi Tuhan. Ada orang-orang yang bahkan memiliki gagasan karena satu hal, berusaha mencocokkan Tuhan yang berinkarnasi dengan Tuhan yang di surga, dan ketika tidak berhasil mencocokkan keduanya, mereka menjadi negatif dan lemah, bahkan ada yang berniat untuk meninggalkan kepercayaan mereka. Ini adalah perwujudan yang sangat bodoh, dan juga sangat tidak berpengertian.

Dalam hal identitas dan esensi-Nya, Tuhan yang berinkarnasi berkaitan dengan Tuhan; Dia memiliki identitas dan esensi Tuhan. Namun, karena wujud daging-Nya dan sifat-sifat dari daging itu sendiri berkaitan dengan naluri umat manusia ciptaan dan terbatas pada lingkup naluri ini, pekerjaan apa pun yang dilakukan oleh Tuhan yang berinkarnasi kali ini, hal yang dapat Dia lakukan, hal yang dapat Dia capai, serta identitas dan esensi Tuhan yang dapat Dia representasikan, semua itu hanya berkaitan dengan pekerjaan dan pelayanan-Nya dalam inkarnasi ini. Dia dapat merepresentasikan identitas dan esensi Tuhan apa pun yang sesuai dengan pelayanan dan pekerjaan-Nya kali ini. Pekerjaan yang harus dilakukan kali ini merepresentasikan identitas dan esensi Tuhan, dan merepresentasikan watak Tuhan. Watak Tuhan apa pun yang harus Dia representasikan, watak Tuhan apa pun yang harus Dia ungkapkan, dan pekerjaan Tuhan apa pun yang harus Dia lakukan, Dia akan merepresentasikan watak Tuhan yang relevan; Dia akan mampu merepresentasikan watak Tuhan yang relevan dan melakukan pekerjaan relevan yang hendak Tuhan lakukan, tetapi mustahil bagi-Nya untuk merepresentasikan semuanya. Pekerjaan yang dilakukan dalam inkarnasi Tuhan yang mana pun cukup untuk merepresentasikan watak yang hendak Tuhan ungkapkan dalam inkarnasi tersebut, dan juga cukup untuk mengungkapkan pekerjaan yang hendak Tuhan lakukan dalam inkarnasi tersebut. Selain itu, watak yang Tuhan ungkapkan dan esensi yang Dia perlihatkan sama sekali tidak bertentangan dengan identitas dan esensi yang melekat pada diri Tuhan, dan Dia juga tidak membuat kesalahan apa pun dalam hal ini. Karena identitas dan esensi Tuhan yang berinkarnasi sepenuhnya sama dengan esensi yang melekat pada diri Tuhan atau esensi Tuhan yang di surga, baik dalam hal firman-Nya, kehidupan yang Dia jalani, maupun pekerjaan-Nya, atau dalam hal watak, esensi Tuhan, dan aspek-aspek lain yang dapat orang lihat, Tuhan yang berinkarnasi identik dengan Tuhan yang di surga; Mereka sama. Entah Dia dapat merepresentasikan Tuhan secara keseluruhan, dan entah orang mampu melihat Tuhan secara keseluruhan, singkatnya, identitas dan esensi-Nya berasal dari Tuhan yang di surga. Sekalipun, dalam pandanganmu, Tuhan yang berinkarnasi tidak dapat merepresentasikan Tuhan yang di surga secara keseluruhan, identitas dan esensi-Nya tetaplah identitas dan esensi Tuhan itu sendiri. Sekalipun, setelah membandingkan Mereka selama bertahun-tahun, engkau masih tidak dapat menemukan hubungan apa pun antara Tuhan yang berinkarnasi dan Tuhan yang di surga yang kaukenal, identitas dan esensi Tuhan yang berinkarnasi tetap tidak berubah, karena ini adalah fakta. Apakah fakta ini? Faktanya adalah bahwa esensi Tuhan yang berinkarnasi adalah esensi Tuhan yang di surga, dan identitas-Nya tidak pernah berubah karena esensi-Nya—itu adalah identitas Tuhan. Mungkin tiga puluh tahun yang lalu, kebanyakan orang tidak akan memercayai-Ku jika Aku mengatakan hal ini, tetapi setelah tiga puluh tahun, menurut-Ku Aku memenuhi syarat untuk mengatakan hal ini. Mengapa Kukatakan demikian? Jika pekerjaan selama tiga puluh tahun ini tidak dilakukan, dan jika kebenaran-kebenaran ini tidak diungkapkan, akan sedikit terlalu dini untuk mengatakan bahwa "Tuhan yang berinkarnasi merepresentasikan Tuhan itu sendiri." Ini karena tanpa pengungkapan firman Tuhan, pengungkapan watak Tuhan, dan pengungkapan identitas serta esensi Tuhan, jika kaukatakan "Tuhan yang berinkarnasi merepresentasikan Tuhan itu sendiri", orang akan berpikir engkau tidak normal, atau mereka akan berpikir engkau sangat memberontak. Namun, dengan begitu banyaknya pengungkapan firman Tuhan, dan begitu banyaknya pengungkapan esensi watak Tuhan serta identitas yang melekat pada diri Tuhan, apakah engkau semua berpikir terlalu berlebihan untuk mengatakan "Tuhan yang berinkarnasi merepresentasikan Tuhan itu sendiri"? (Tidak.) Apakah ini berlebihan? Apakah ini tidak pantas? (Tidak.) Ini bukan bualan. Oleh karena itu, apakah Tuhan yang berinkarnasi dapat merepresentasikan Tuhan yang di surga, apakah Dia memiliki watak dan esensi Tuhan yang di surga, dan apakah Dia memiliki identitas Tuhan yang di surga, semua itu tidak dapat dinilai dari penampilan luar-Nya. Mungkin penampilan luar-Nya sangat tidak mencolok, dan Dia terlihat sangat biasa dan normal, bahkan diremehkan oleh beberapa orang; mungkin Dia tidak memiliki sifat di atas rata-rata, ataupun perwujudan supernatural apa pun, apalagi apa yang disebut ciri khas di mata umat manusia yang rusak, atau segala sesuatu yang dikagumi dan dipandang sebagai panutan oleh umat manusia yang rusak, atau membuat mereka takjub. Namun, karena pekerjaan yang Dia lakukan, esensi-Nya, dan watak-Nya mampu mengungkapkan watak dan esensi Tuhan yang di surga, maka dapat dipastikan bahwa identitas-Nya adalah Tuhan yang berinkarnasi, yaitu Tuhan itu sendiri.

Selanjutnya, mari kita mempersekutukan topik tentang tidak membandingkan Tuhan yang berinkarnasi dengan Tuhan yang di surga. Kita baru saja menyebutkan bahwa ketika kebanyakan orang berinteraksi dengan Tuhan yang berinkarnasi, mereka suka membandingkan-Nya dengan Tuhan yang di surga. Setelah bersekutu sampai di sini, katakan kepada-Ku, pantaskah membandingkan Mereka seperti ini? (Tidak.) Bukankah ini melakukan kesalahan yang sangat besar? (Ya.) Bodohkah melakukan kesalahan ini? Apakah ada akibat buruknya? (Ya.) Apa saja itu? (Ketika orang membatasi Tuhan berdasarkan gagasan dan imajinasi mereka, mereka cenderung memberontak terhadap Tuhan dan menentang-Nya, dan mereka juga cenderung tidak menerima pekerjaan Tuhan atau keselamatan dari Tuhan; akibatnya sangat serius.) Engkau harus memperlakukan Tuhan yang berinkarnasi secara rasional. Jadi, apa yang harus kaulakukan agar menjadi rasional? Engkau harus merenungkan: Apa artinya Tuhan yang di surga sekarang telah menjadi daging untuk melakukan pekerjaan-Nya? Saat ini, Tuhan yang berinkarnasilah yang menjadi penentu keputusan. Dia dapat merepresentasikan Tuhan yang di surga dengan otoritas penuh untuk melakukan pekerjaan penghakiman pada akhir zaman. Oleh karena itu, jika engkau memiliki masalah atau persoalan apa pun, engkau harus mencari dari Tuhan yang berinkarnasi. Karena Dia dapat merepresentasikan Tuhan yang di surga, Dia dapat menyelesaikan masalahmu; Dia dapat merepresentasikan Tuhan yang di surga dalam menyelesaikan masalah di hidupmu, masalah dalam kepercayaanmu kepada Tuhan, masalah mengenai keselamatanmu, dan masalah mengenai tempat tujuan serta nasibmu di masa depan. Di sisi lain, jika engkau berdoa kepada Tuhan yang di surga dan mencari dari-Nya, tetapi mengabaikan Tuhan yang di bumi ini, dan mengabaikan Tuhan yang berinkarnasi, silakan lihat saja apakah engkau masih dapat menerima instruksi yang jelas, pencerahan dan terang yang jelas, serta jalan penerapan yang jelas. Jika engkau dapat memperoleh hal-hal ini dengan berdoa kepada Tuhan yang di surga dan mengandalkan-Nya, itu sebenarnya cukup baik, dan engkau tidak akan perlu mencari dari Tuhan yang berinkarnasi. Namun jika, setelah berdoa kepada Tuhan yang di surga, mencari dari-Nya, dan mengandalkan-Nya untuk waktu yang lama, engkau masih belum menerima terang yang jelas, jalan penerapan, atau solusi yang jelas, apa yang seharusnya kaulakukan? (Mencari prinsip-prinsip kebenaran di dalam firman Tuhan.) Maka tidak ada cara lain; engkau hanya dapat mencari firman yang diucapkan dan pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan yang berinkarnasi. Singkirkan keangkuhanmu; sikapmu yang merasa diri penting tidak dapat menyelamatkanmu, itu hanya dapat mencelakaimu. Tuhan yang di surga itu mahakuasa, luhur, besar, luar biasa, dan transenden, tetapi umat manusia tidak dapat menjangkau-Nya. Ketika Dia berfirman, engkau tidak dapat memahami ataupun mendengar-Nya. Jika Tuhan benar-benar berfirman kepadamu, daging fanamu sama sekali tidak akan mampu menanggungnya ataupun menahannya. Jadi, apa yang seharusnya kaulakukan? Engkau harus mencari dari Tuhan yang berinkarnasi, dan melihat firman apa yang telah diucapkan Tuhan yang berinkarnasi serta pekerjaan apa yang telah Dia lakukan di bumi, dan apa saja berbagai tuntutan-Nya terhadapmu. Memahami hal-hal ini adalah yang paling penting. Jangan selalu berdoa kepada Tuhan yang di surga dan memandang-Nya, selalu menunggu Tuhan yang di surga memberimu pewahyuan. Jika engkau melakukan ini, Tuhan yang di surga akan mengabaikanmu. Tuhan di surga telah berfirman, "Aku sekarang sedang melakukan pekerjaan di bumi, menyampaikan perkataan dan berfirman. Engkau dapat mendengar dan memahami firman yang Kuucapkan, dan firman ini dapat menyelesaikan masalah dalam penerapanmu serta membereskan watak rusakmu." Jadi, apa yang seharusnya kaulakukan? Engkau tidak boleh selalu menunggu Tuhan yang di surga berfirman kepadamu secara pribadi. Engkau harus "merendahkan diri" untuk datang ke hadapan Tuhan yang berinkarnasi dan datang ke hadapan firman-Nya untuk mencari kebenaran, agar engkau dapat memperoleh perbekalan dan bantuan. Ini disebut memiliki rasionalitas; ini adalah memperlakukan Tuhan yang berinkarnasi secara rasional. Di satu sisi, ketika engkau melihat penampilan lahiriah dan rupa Tuhan yang berinkarnasi atau mendengar-Nya berfirman, jangan membandingkan-Nya dengan Tuhan yang di surga; perlakukan saja Dia sebagai orang yang biasa, normal, dan nyata yang dapat merepresentasikan Tuhan. Di sisi lain, engkau tidak perlu mengambil firman yang Dia ucapkan, tuntutan-Nya terhadapmu, dan instruksi-Nya kepadamu dan meneliti, memusingkan, memverifikasi, mendiskusikan semua itu, atau memprosesnya. Terapkan dan laksanakan saja semua itu secara langsung, dan tunduk secara langsung; tidak perlu berdoa kepada Tuhan yang di surga, mencari dari-Nya, atau memverifikasi semua itu dengan-Nya di belakang Tuhan yang berinkarnasi. Jika engkau bersikeras mendapatkan peneguhan agar di dalam hatimu engkau merasa tenang dan bersedia sebelum engkau menerapkan, melaksanakan, dan tunduk, bukankah ini sangat merepotkan? (Ya.) Adakah orang yang melakukan hal ini? Kebanyakan orang yang telah percaya kepada Tuhan selama delapan atau sepuluh tahun dan di dalam hatinya telah menjadi sepenuhnya yakin tentang Tuhan, tidak melakukan hal ini; mereka menganggapnya terlalu merepotkan. Selalu saja orang-orang yang telah percaya selama kurang dari tiga tahun yang cenderung melakukan hal ini. Bagaimana mereka berdoa kepada Tuhan yang di surga? Mereka berkata, "Tuhan, tolonglah aku untuk tunduk kepada daging inkarnasi-Mu. Tuhan, tolonglah aku untuk tunduk pada firman yang Engkau ucapkan di bumi. Tuhan, tolonglah aku untuk tunduk pada apa yang Engkau ungkapkan di bumi. Tuhan, tolonglah aku untuk melepaskan gagasan yang kumiliki tentang daging inkarnasi-Mu." Ketika mereka berdoa seperti ini, kepada siapa mereka berdoa? (Tuhan yang di surga.) Katakan kepada-Ku, apakah orang yang biasanya berdoa seperti ini memiliki gerakan Roh Kudus? Apakah mereka memiliki hadirat Tuhan? (Tidak.) Mereka tidak memilikinya, dan tidak mudah bagi mereka untuk memperolehnya. Apakah Tuhan memedulikan orang-orang semacam itu? (Tidak.)

Karena Tuhan yang berinkarnasi adalah daging, Dia adalah Anak manusia yang biasa dan normal. Mengenai Anak manusia yang biasa dan normal, itu berarti Dia memiliki naluri dan kondisi bawaan orang yang biasa dan normal, serta kepribadian, rentang emosi, cara berekspresi, dan gaya bicara kemanusiaan yang normal. Apa lagi? Cara berpikir, gaya hidup, dan kebiasaan hidup, serta berbagai pilihan dari kemanusiaan yang normal mengenai semua aspek kehidupan. Apa saja yang termasuk dalam pilihan-pilihan ini? Misalnya, lingkungan tempat tinggal yang disukai, warna favorit, dan beberapa preferensi serta pilihan mengenai kebutuhan pokok. Dengan penampilan lahiriah ini, naluri ini, dan kondisi bawaan dari kemanusiaan yang normal ini, serta berbagai perwujudan yang berada dalam lingkup kehidupan manusia normal, dapat dikatakan dengan pasti bahwa Tuhan yang berinkarnasi adalah orang yang sepenuhnya standar dan normal, seorang anggota biasa dari umat manusia ciptaan. Dalam hal atribut dan wujud keberadaan-Nya, Tuhan yang berinkarnasi sama sekali berbeda dari Tuhan yang di surga, yaitu dari Roh Tuhan; penampilan lahiriah-Nya juga sama sekali berbeda dari Roh Tuhan. Selama masa pekerjaan Tuhan yang berinkarnasi, apa yang Dia singkapkan dan mampu Dia lakukan adalah sesuatu yang dapat dilihat oleh mata manusia dan dapat dipahami oleh pikiran manusia. Namun, pengetahuan orang tentang watak Tuhan, esensi Tuhan, dan identitas yang melekat pada diri Tuhan sangatlah terbatas. Ditambah dengan fakta bahwa manusia sendiri menyimpan banyak gagasan dan imajinasi tentang Tuhan, berbagai perwujudan kemanusiaan Tuhan yang berinkarnasi menimbulkan beberapa kesulitan bagi manusia. Sebagai contoh, kata-kata yang Kugunakan saat Aku berbicara adalah bahasa sehari-hari, dan Aku juga sering menggunakan beberapa bahasa percakapan serta bahasa daerah. Orang kemudian akan membandingkan-Ku dengan Tuhan yang di surga, dengan berkata, "Tuhan yang di surga seharusnya berbicara dengan fasih dan menggunakan kata-kata yang elegan. Mengapa kata-kata yang digunakan orang ini tidak elegan? Dia bahkan menggunakan beberapa bahasa percakapan dan bahasa daerah, dan terkadang menggunakan kosakata serta ungkapan yang berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari." Sebagai contoh, Aku menyukai warna tertentu, dan seseorang berkata, "Bagaimana mungkin Engkau menyukai warna ini? Warna ini tidak terlihat murni atau kudus! Bukankah Tuhan seharusnya menyukai warna putih? Bukankah Tuhan seharusnya menyukai warna biru langit atau hijau? Bagaimana mungkin Engkau menyukai warna ini? Warna ini tidak merepresentasikan identitas dan esensi Tuhan!" Kemudian timbul gagasan di dalam hati mereka. Namun, Kukatakan bahwa Aku benar-benar menyukai warna ini. Bagaimana seharusnya engkau menyikapinya? (Kami seharusnya menyikapinya dengan benar.) Tuhan yang berinkarnasi memiliki kemanusiaan yang normal. Hidup dalam kemanusiaan yang normal, Dia harus bersentuhan dengan segala macam hal yang berada dalam lingkup kehidupan manusia normal. Jadi, mengenai kebutuhan pokok, Dia memiliki preferensi pribadi-Nya. Preferensi ini mungkin selaras dengan preferensi Tuhan dalam gagasan dan imajinasimu, atau mungkin juga tidak. Bagaimana jika preferensi tersebut tidak sejalan? Apakah engkau yang salah, atau Aku yang salah? Menurut-Ku Aku tidak salah, karena Aku berhak memilih hal-hal yang Kusukai. Aku tidak memaksakannya kepadamu, Aku juga tidak mengatakan bahwa hal-hal itu adalah kebenaran dan engkau harus menerimanya. Engkau juga memiliki hakmu, dan Aku tidak pernah mencampurinya. Aku tidak pernah menghakimimu karena menyukai warna putih atau biru, jadi engkau juga tidak seharusnya menghakimi-Ku karena menyukai warna lain, bukan? Ada orang-orang yang berkata, "Tidak bisa begitu. Apa yang Kaurepresentasikan berbeda dari apa yang kurepresentasikan. Aku merepresentasikan manusia yang rusak, dan Engkau merepresentasikan Tuhan yang di surga. Bagaimana mungkin itu sama?" Aku memang merepresentasikan Tuhan yang di surga, tetapi Tuhan yang di surga tidak menghakimi warna-warna yang Kusukai. Menurutmu warna putih itu kudus, tetapi lihatlah semua hal yang diciptakan oleh Tuhan yang di surga. Semuanya hadir dalam berbagai warna. Bunga-bunga yang Tuhan ciptakan hadir dalam beragam warna. Terkadang bahkan ada awan gelap di antara awan-awan lainnya di langit, dan awan gelap itu berwarna abu-abu. Di musim panas ketika cuaca terlalu panas, begitu awan gelap menghalangi matahari, engkau merasa sejuk dan nyaman, dan engkau bersyukur kepada Tuhan atas kasih karunia-Nya. Bukankah ini hal yang baik? (Ya.) Ada juga orang-orang yang berkata, "Hijau itu bagus; warna hijau yang diciptakan oleh Tuhan merepresentasikan kehidupan." Ini tidak benar. Lihatlah biji-bijian yang Tuhan ciptakan. Sebagai contoh, bukankah jagung hadir dalam banyak warna? Ada jagung kuning, putih, ungu, dan hitam. Dapatkah kaukatakan bahwa jagung tidak merepresentasikan kehidupan? Jagung diciptakan oleh Tuhan. Jagung dapat berakar, bertunas, berbunga, dan berbuah. Jagung itu organik, dan juga merepresentasikan kehidupan. Selain itu, apakah semua daun pohon berwarna hijau? (Tidak, ada juga daun berwarna ungu, kuning, dan merah.) Semua ini adalah warna-warna daun; bukankah warna-warna itu merepresentasikan kehidupan? (Ya.) Jadi, ketika ada orang-orang yang berkata "hijau merepresentasikan kehidupan", bukankah mereka salah? (Ya.) Lalu, pantaskah bagi sebagian orang untuk mengatakan "putih merepresentasikan kemurnian"? Bukankah ini omong kosong? Warna putih hanya terlihat sedikit lebih bersih dan lebih terang; warna putih tidak merepresentasikan kemurnian. Sekalipun engkau mengenakan pakaian putih seumur hidupmu, tidak berarti engkau murni; engkau tetaplah manusia yang rusak. Oleh karena itu, tidak ada peraturan dalam hal memilih warna. Itu hanya didasarkan pada warna kulit, preferensi pribadi, dan kepribadian seseorang, dan tentu saja pada musim, iklim, serta suhu. Putih hanyalah sebuah warna; itu tidak merepresentasikan apa pun. Bagaimana dengan warna hitam? Ada orang-orang yang berkata, "Hitam merepresentasikan kegelapan, kematian, dan setan, jadi hitam itu buruk!" Katakan kepada-Ku, apakah baik mengutuk warna hitam? (Tidak.) Terkadang Aku juga mengenakan pakaian hitam, seperti mantel wol, jaket tahan angin, sweter, atau celana panjang berwarna hitam, dan pada musim dingin, Aku terkadang mengenakan syal hitam dan sarung tangan hitam. Ada orang-orang yang berkata, "Bukankah hitam merepresentasikan kegelapan dan Iblis? Bagaimana mungkin Engkau mengenakan pakaian hitam? Bukankah Engkau merepresentasikan Tuhan? Jika Engkau mengenakan pakaian hitam saat merepresentasikan Tuhan, bukankah itu salah dalam merepresentasikan Dia? Tuhan yang di surga pasti tidak menyukai warna hitam." Kukatakan engkau salah. Bagaimana engkau tahu bahwa Tuhan yang di surga tidak menyukai warna hitam? Kapan engkau mendengar Tuhan berfirman bahwa Dia tidak menyukai warna hitam? Apakah itu tercatat di dalam Alkitab, ataukah seorang utusan menyampaikannya kepadamu? Lihatlah makanan berwarna hitam di antara biji-bijian dan kacang-kacangan, seperti kacang hitam, beras hitam, dan biji wijen hitam. Bukankah semua itu diciptakan oleh Tuhan? (Ya.) Orang suka memakan makanan berwarna hitam ini, dan makanan tersebut konon menyehatkan tubuh. Selain itu, ayam silkie sepenuhnya berwarna hitam, dan nilai gizinya lebih besar daripada ayam biasa. Ada juga ikan gabus di antara ikan-ikan, beruang hitam di antara mamalia, dan burung gagak di antara burung-burung. Bukankah semua itu berwarna hitam? (Ya.) Ada batu hitam, orang-orang berambut hitam, dan orang-orang berkulit hitam. Ketika orang memiliki rambut hitam yang berkilau, mereka selalu memamerkannya di depan orang lain, dengan berkata, "Lihat betapa hitamnya rambutku; sangat indah!" Ketika uban bertambah, mereka mulai khawatir, merasa bahwa mereka telah menua. Lalu, apa yang direpresentasikan oleh warna putih? (Penuaan.) Warna putih merepresentasikan penuaan, penurunan fungsi tubuh, dan bahkan langkah menuju kematian. Makin banyak uban yang orang miliki, makin mereka menjadi muram, putus asa, dan sedih, dan mereka mengenang betapa menyenangkannya memiliki rambut hitam ketika masih muda. Pada saat ini, mereka menyadari betapa bodohnya mereka ketika mengatakan "putih merepresentasikan kekudusan", dan mereka tidak lagi mengatakan bahwa hitam merepresentasikan kegelapan, setan, dan Iblis; mereka tidak lagi berbicara secara membabi buta berdasarkan gagasan mereka. Orang akan memahami hal-hal ini setelah melewati beberapa pengalaman, tetapi ada orang-orang yang tidak pernah memahaminya bahkan hingga mereka mencapai usia lanjut. Orang menyimpan gagasan di dalam hati mereka tentang banyak hal. Ketika mereka mendengar apa yang Kukatakan, atau melihat apa yang akan Kulakukan atau pilihan apa yang Kuambil, mereka tak bisa menahan diri untuk mencoba mencocokkan-Ku dengan Tuhan yang di surga, dan beberapa gagasan pun muncul dalam diri mereka. Mereka sering mengembangkan gagasan terutama mengenai hal-hal dalam kehidupan yang dapat mereka sentuh dan lihat. Engkau lihat, orang tak bisa menahan diri untuk mengembangkan gagasan tentang pilihan warna, dan mereka bahkan tidak mampu menyikapi hal kecil ini secara rasional dan membuat penilaian yang benar. Sebagai contoh, engkau melihat bahwa pakaian yang dikenakan oleh biksuni dan biksu Buddha berwarna abu-abu, jadi engkau berpikir warna abu-abu merepresentasikan biksuni dan biksu Buddha. Oleh karena itu, jika Aku memilihkan atasan abu-abu untukmu, engkau berpikir, "Bukankah kita orang Kristen? Bukankah Engkau adalah Tuhan yang berinkarnasi? Bagaimana mungkin Engkau masih memilih pakaian abu-abu? Hanya biksuni dan biksu Buddha yang mengenakan warna abu-abu! Bagaimana mungkin orang yang percaya kepada Tuhan mengenakan warna yang dikenakan oleh biksuni dan biksu Buddha? Bukankah ini menyamakan kita dengan agama Buddha? Engkau bahkan tidak menghindari pantangan ini!" Kukatakan, apa yang perlu dihindari? Semua warna diciptakan oleh Tuhan. Aku memiliki alasan-Ku sendiri untuk warna apa pun yang Kusukai, dan terlebih lagi, itu pasti baik untukmu dan bermanfaat bagimu. Engkau selalu menghubung-hubungkan biksu dan biksuni dengan warna abu-abu, atau dengan orang yang percaya kepada Tuhan, atau dengan dirimu sendiri. Itu adalah masalahmu. Aku tidak memikirkannya dengan cara serumit itu. Berpikir dengan cara seperti itu berarti engkau tidak rasional. Engkau memandang warna ini dari perspektif gagasan dan imajinasimu; engkau telah menambahkan maknamu sendiri pada warna ini, dan engkau telah menafsirkan warna ini dengan cara yang menyimpang. Pada akhirnya, engkau membatasi dirimu untuk hanya menyukai warna putih dan hanya mengenakan warna putih. Namun, ketika engkau melihat kepalamu penuh dengan uban, kulit dan rona wajahmu menjadi pucat, atau engkau menderita vitiligo, engkau menjadi tidak senang, dan engkau tidak lagi mengatakan bahwa engkau menyukai warna putih, engkau juga tidak mengatakan bahwa putih merepresentasikan kemurnian. Orang-orang bahkan dipenuhi dengan gagasan tentang warna apa yang disukai dan dipilih oleh Tuhan yang berinkarnasi. Katakan kepada-Ku, bukankah ini sangat merepotkan? Aku bertanya-tanya: Apakah orang-orang ini benar-benar telah memahami banyak kebenaran yang telah Kupersekutukan? Jika mereka bahkan tidak dapat memahami hal kecil ini, dapatkah mereka memahami kebenaran, yang begitu kompleks? Aku ragu apakah mereka benar-benar memahami kebenaran. Sulit untuk mengatakannya, bukan? (Ya.) Mereka hanya memahami beberapa doktrin tetapi tidak memahami kebenaran, tetapi mereka tetap secara membabi buta menerapkan peraturan dan menghakimi beberapa hal dalam kehidupan nyata. Bukankah ini adalah penyimpangan manusia? (Ya.)

Katakan kepada-Ku, bagaimana seharusnya orang memandang dan memahami berbagai warna? Lihatlah dunia manusia ini: Benda-benda dan makhluk hidup yang dapat dilihat orang dengan mata telanjang—baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak—hadir dalam berbagai macam warna, dan semuanya diciptakan oleh Tuhan. Ikan, burung, binatang buas, herbivora, unggas, dan ternak hadir dalam berbagai macam warna; buah-buahan yang tumbuh di pohon dan di tanah hadir dalam berbagai macam warna. Apa yang telah kaupahami dari warna-warna yang melimpah ini? Tuhan menciptakan warna-warna berbagai benda tidak bergerak untuk menyediakan lingkungan hidup yang sesuai bagi umat manusia ciptaan; warna-warna ini bermanfaat bagi mata dan indra manusia, serta bagi kelangsungan hidup seluruh tubuh mereka. Tuhan telah mempertimbangkan semua ini. Bagi Tuhan, ada alasan khusus untuk menggunakan warna tertentu, atau dalam merancang bentuk dan ukuran sesuatu, serta kebiasaan dan pola hidupnya; tidak ada peraturan bagi Tuhan. Tuhan bukan hanya tidak terikat oleh peraturan dalam menciptakan segala sesuatu, melainkan juga terdapat prinsip yang paling mendasar: Dinilai dari warna, bentuk, kebiasaan hidup, dan fungsinya, serta peran yang dimainkan masing-masing di antara segala sesuatu, semua itu membuat orang cocok untuk bertahan hidup di lingkungan seperti itu, dan memungkinkan orang untuk menyerap berbagai nutrisi yang mereka butuhkan dari berbagai makanan; semua itu diciptakan berdasarkan hal-hal ini. Karena manusia terlalu kecil dan apa yang dapat mereka lihat dengan mata telanjang sangat terbatas, di dalam lingkup apa yang dapat mereka lihat dengan mata telanjang itu, mereka membatasi Tuhan menjadi seperti ini atau seperti itu, dan berpikir bahwa Tuhan seharusnya bertindak dengan cara ini atau cara itu. Sebagai contoh, dalam imajinasi orang, Iblis umumnya muncul dari kegelapan, jadi orang berpikir, "Hitam itu buruk. Tuhan tidak menyukai warna hitam; Tuhan tidak menciptakan benda-benda berwarna hitam." Engkau salah berpikir seperti ini! Ada banyak benda berwarna hitam yang bermanfaat bagi manusia. Sebagai contoh, beberapa makanan, seperti kacang hitam dan biji wijen hitam, berwarna hitam, tetapi bermanfaat bagi tubuh manusia. Selain itu, beberapa burung dan binatang berwarna hitam, dan mereka bahkan merupakan beberapa spesies yang dilindungi negara. Oleh karena itu, salah jika engkau menentukan apakah sesuatu itu baik atau buruk berdasarkan warnanya. Pilihan Iblis atas warna hitam tidak membuktikan bahwa hitam itu buruk, juga tidak membuktikan bahwa hitam adalah sesuatu yang tidak disukai atau dikutuk oleh Tuhan. Lalu mengapa Iblis memilih warna hitam? Karena Iblis itu jahat dan kejam, ia tidak tahan terhadap terang, dan ia suka menyembunyikan dirinya di dalam kegelapan. Hanya dengan menyembunyikan dirinya di dalam kegelapan, barulah ia dapat menghindari agar tidak ditemukan oleh manusia. Ia memilih warna hitam agar lebih mudah untuk bersembunyi, menipu, melakukan hal-hal buruk, dan berbuat jahat. Namun, engkau tidak bisa mengutuk warna hitam hanya karena Iblis memilihnya. Dibandingkan dengan warna putih, warna hitam paling-paling hanya memudahkan Iblis untuk bersembunyi, dan itu dimanfaatkan oleh Iblis, sehingga Iblis lebih menyukai warna hitam. Karena Tuhan adalah terang, Dia sering berjalan di dalam terang, berfirman kepada orang-orang di dalam terang, dan menampakkan diri kepada orang-orang di dalam terang. Tuhan hidup di dalam terang, dan Tuhan selalu memilih warna terang putih. Jadi orang berpikir, "Tuhan tidak menyukai warna lain; Tuhan hanya menyukai warna putih." Bukankah sudut pandang ini salah? (Ya.) Lihatlah semua hal yang Tuhan ciptakan. Semuanya hadir dalam berbagai macam warna. Jadi, dari mana semua warna yang berbeda ini berasal? Semuanya berasal dari pemikiran Tuhan. Jika engkau mengutuk berbagai warna yang berasal dari pemikiran Tuhan, masalah macam apa ini? Bukankah ini pemberontakan? (Ya.) Ini terlalu bodoh! Jika engkau dapat bersentuhan, melihat, atau mendengar perwujudan kemanusiaan normal dari Tuhan yang berinkarnasi, engkau seharusnya menyikapinya dengan benar. Selama hal-hal itu tidak memengaruhi atau menghambatmu dalam menerima kebenaran, engkau tidak seharusnya membesar-besarkan hal-hal ini, meneliti dan menganalisisnya, lalu melebih-lebihkannya, dan pada akhirnya memunculkan gagasan, serta menghakimi, mengutuk, menentang, dan menolak Tuhan yang berinkarnasi. Itu akan sangat salah! Orang-orang semacam itu tidak berhati nurani dan tidak bernalar.

Karena Tuhan yang berinkarnasi adalah orang yang biasa dan normal, Dia memiliki lingkup kehidupan, kebiasaan hidup, dan bahkan pola hidup yang tetap dan normal, serta berbagai pilihan, pertimbangan, dan rentang emosi yang tercakup dalam kehidupan manusia. Mengenai kemanusiaan normal dari Tuhan yang berinkarnasi, di satu sisi, orang seharusnya menyikapinya dengan benar dari sudut pandang yang rasional; di sisi lain, mereka seharusnya memiliki pemahaman yang benar tentang hal itu. Jika engkau menimbulkan gagasan karena engkau melihat, mendengar, atau bersentuhan dengan apa yang dilakukan oleh Tuhan yang berinkarnasi mengenai kehidupan-Nya dan kemanusiaan normal-Nya, cara paling sederhana untuk memastikan bahwa hal ini tidak memengaruhi jalan masuk kehidupanmu atau penerimaanmu akan firman Tuhan adalah dengan tidak mencoba mencocokkan Tuhan yang berinkarnasi dengan Tuhan yang di surga. Tuhan yang berinkarnasi hidup dalam kemanusiaan yang normal; Dia memiliki kebebasan-Nya, Dia memiliki pelayanan yang harus Dia laksanakan, dan Dia juga memiliki kehidupan manusia yang normal. Engkau seharusnya menyikapi hal ini dengan benar. Engkau lihat, tahap ketiga pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan manusia mengharuskan diungkapkannya banyak kebenaran. Ketika mempersekutukan berbagai aspek kebenaran, Dia menggunakan bahasa sehari-hari, sering kali memasukkan bahasa percakapan, bahasa daerah, dan dialek lokal, dan terkadang menggunakan cara-cara pengungkapan khusus. Selama semua firman yang diucapkan adalah kebenaran, dan semuanya merupakan kebenaran yang seharusnya kaupahami dan kaumasuki, maka engkau seharusnya tunduk; dengan cara ini, engkau dapat memperoleh keselamatan. Jika engkau selalu mencari-cari kesalahan, selalu meneliti, dan selalu memiliki keraguan, engkau tidak akan memperoleh kebenaran, dan engkau akan melewatkan kesempatan berharga, yaitu penyelamatan manusia oleh Tuhan yang berinkarnasi. Jadi, bagaimana seharusnya engkau menyikapi pekerjaan Tuhan yang berinkarnasi dengan benar? Pertama, engkau harus memiliki nalar, engkau harus belajar untuk tunduk pada pekerjaan Tuhan, engkau harus berfokus pada pekerjaanmu yang semestinya dan menempuh jalan mengejar kebenaran, dan engkau harus fokus membereskan watak rusakmu demi memperoleh keselamatan. Ini adalah hal yang paling penting. Engkau tidak perlu meneliti Tuhan sepanjang hari. Sebanyak apa pun gagasan dan imajinasi yang kaumiliki, semua itu bukanlah kebenaran. Engkau bisa berpaut pada gagasanmu seumur hidup dan tetap tidak memperoleh kebenaran, dan pada akhirnya tetap harus masuk neraka. Begitu engkau mengetahui yang sebenarnya tentang masalah-masalah ini, engkau akan mampu memasuki jalur yang benar dalam percaya kepada Tuhan, dan engkau akan mampu melepaskan gagasan dan imajinasimu saat membaca firman Tuhan. Pertama, lihat apakah ada kebenaran yang bisa dicari di dalam firman ini. Jika firman ini mengandung kebenaran dan maksud-maksud Tuhan, dan firman ini dapat memungkinkanmu untuk memahami suatu aspek dari prinsip-prinsip kebenaran, maka bukalah pikiranmu dengan lebih luas; jangan mempermasalahkan setiap perincian, jangan berpikiran sempit, dan jangan terpaku padanya. Apa yang seharusnya kaupikirkan di dalam hatimu? "Meskipun Tuhan yang berinkarnasi adalah orang biasa dengan kemanusiaan yang normal, Dia dapat mengungkapkan kebenaran, dan Dia dapat merepresentasikan Tuhan. Sekalipun kami memiliki sedikit pengetahuan dan dapat berbicara dengan fasih, kami tidak dapat mengungkapkan kebenaran, kami juga tidak dapat mengungkapkan watak Tuhan dan apa yang Tuhan miliki dan siapa Tuhan, kami juga tidak dapat mempersekutukan prinsip-prinsip kebenaran dengan jelas. Sebanyak apa pun pengetahuan yang kami miliki atau setinggi apa pun status kami, itu tidak berarti kami memiliki kebenaran, kami juga tidak dapat merepresentasikan Tuhan. Meskipun Tuhan yang berinkarnasi berfirman dalam bahasa sehari-hari yang sederhana dan mudah dipahami, semua firman yang Dia ucapkan adalah kebenaran. Dia juga mampu mempersekutukan prinsip-prinsip kebenaran secara menyeluruh dan membereskan berbagai masalah orang. Ini sudah cukup. Bukankah orang percaya kepada Tuhan untuk memperoleh kebenaran? Aku tidak seharusnya selalu mencari-cari kesalahan dan mencoba menemukan cela; itu berarti mengabaikan pekerjaanku yang semestinya." Jika engkau memiliki sikap ini, engkau akan mampu memahami kebenaran ketika membaca firman Tuhan, dan engkau akan mampu mengejar kebenaran. Jika engkau tidak memiliki sikap ini, dan tidak mencari kebenaran serta selalu mencari-cari kesalahan dalam kata-kata khotbah yang kaudengarkan, dan engkau selalu memiliki gagasan tentang firman serta pekerjaan Tuhan yang berinkarnasi, ini akan memengaruhi pemahamanmu akan kebenaran. Ada orang-orang yang selalu membandingkan Tuhan yang berinkarnasi dengan Tuhan yang di surga, selalu bertanya, "Mengapa Tuhan yang berinkarnasi bukan tubuh rohani? Mengapa daging tidak berbicara dengan suara guntur seperti Tuhan yang di surga?" Mereka juga percaya bahwa mustahil Tuhan yang berinkarnasi adalah Tuhan yang benar yang menyampaikan perkataan dan berfirman. Mereka percaya bahwa tindakan Tuhan yang benar pasti melampaui imajinasi orang. Jika Dia berbicara sama seperti orang normal, bagaimana mungkin itu adalah penampakan dan pekerjaan Tuhan? Mereka benar-benar tidak merenungkan, "Mampukah manusia mengungkapkan kebenaran? Tuhan yang berinkarnasi mampu mengungkapkan begitu banyak kebenaran; apakah ini sesuatu yang dapat dicapai oleh manusia? Tidak banyak orang yang dapat melihat hal ini dengan jelas. Fakta bahwa Tuhan mengungkapkan begitu banyak kebenaran adalah hal terbesar yang telah Tuhan lakukan di antara umat manusia, dan itu adalah sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh manusia mana pun." Agar orang dapat memahaminya, ketika Aku mempersekutukan kebenaran, Aku harus mempersekutukannya dengan cara yang gamblang dan mudah dipahami; Aku harus berbicara secara terperinci, mengatakan hal-hal berulang kali, dan juga memberikan contoh. Hal ini menyebabkan banyak orang memunculkan gagasan. Jika Aku benar-benar bersekutu secara garis besar, berapa banyak orang yang akan mampu memahami apa yang Kukatakan? Tak seorang pun akan mampu memahaminya, terutama karena tingkat pertumbuhan engkau semua terlalu kecil. Aku menjelaskan hal-hal dengan sangat terperinci, sedemikian terperincinya sampai-sampai itu menjadi bertele-tele, dan bahkan Aku sendiri merasa muak dan tidak ingin terus membicarakannya, tetapi ada orang-orang yang tetap tidak mengerti apa yang Kukatakan, dan berpikir, "Mengapa tidak menambahkan beberapa contoh lagi?" Aku telah berbicara sampai-sampai merasa muak dan tidak ingin melanjutkannya, jadi bagaimana mungkin engkau masih tidak mengerti? Itu membuktikan bahwa engkau tidak memiliki otak manusia, engkau tidak memiliki kemampuan memahami kebenaran, dan sedetail apa pun Aku menjelaskannya, engkau tetap tidak akan memahaminya. Mempersekutukan seperti ini, berusaha keras untuk memastikan bahwa siapa pun yang memiliki sedikit kemampuan memahami dapat mengerti dan memiliki jalan penerapan, mau tidak mau akan sedikit bertele-tele. Selain itu, tenaga dan aspek-aspek lain dari kemanusiaan yang normal itu terbatas. Terutama ketika mempersekutukan kebenaran, ada hal-hal yang sangat sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, dan bahasa manusia terlalu terbatas. Oleh karena itu, terkadang sangat sulit untuk menemukan kata yang tepat dalam dua atau tiga detik, dan Aku hanya dapat menggunakan kata yang kurang lebih setara untuk mencapai sedikit hasil, dan itu sudah cukup. Namun, setiap kali Aku bersekutu, Aku berusaha keras untuk memastikan bahwa firman yang Kupersekutukan dapat berpusat pada satu topik, agar engkau semua dapat memiliki pemahaman tentang aspek kebenaran ini, dan pada akhirnya memiliki jalan untuk diikuti ketika engkau semua menghadapi segala macam hal dalam pengalaman nyatamu. Ini sangat bermanfaat bagi pengalaman hidupmu. Meskipun berbicara dengan sangat terperinci membuat-Ku tampak bertele-tele, ketika engkau semua menghadapi masalah-masalah semacam ini, engkau semua tidak akan merasa tersesat. Engkau semua akan memiliki jalan untuk diikuti. Engkau semua tidak akan lagi hidup di tengah-tengah kata-kata dan doktrin, tetapi memiliki jalan yang nyata, dasar yang nyata, dan prinsip-prinsip kebenaran yang nyata yang dapat kaucocokkan dengan situasi yang kauhadapi untuk membereskan masalah-masalahmu. Oleh karena itu, dengan sebaik mungkin Aku melakukan apa yang dapat dicapai oleh kemanusiaan yang normal dari Tuhan yang berinkarnasi, dan dengan sebaik mungkin Aku mengatakan semua yang dapat Kupikirkan. Ketika Aku berbicara hingga engkau semua berkata telah memahaminya dan Aku tidak perlu lagi bersekutu, maka Aku akan berhenti berbicara; Aku benar-benar tidak ingin terus berbicara panjang lebar seperti ini.

Engkau lihat, Tuhan yang di surga berfirman dengan sederhana. Sebagai contoh, Tuhan Yahweh berfirman kepada Musa, "Musa, kemarilah, ada sesuatu yang ingin Kukatakan kepadamu." Musa segera berlutut, Tuhan memberi tahu Musa beberapa hal untuk disampaikan olehnya, dan Musa menyampaikannya sesuai dengan instruksi Tuhan Yahweh. Sekarang ini, jika Tuhan yang berinkarnasi memberitahumu beberapa hal dan memintamu untuk melaksanakannya, selama penerapanmu, engkau akan memperlihatkan berbagai macam watak yang rusak. Pada saat ini, mampukah engkau memiliki prinsip-prinsip penerapan dan jalan penerapan? (Tidak.) Engkau tidak akan mampu. Jadi, engkau melihat bahwa Roh Tuhan berfirman dengan sederhana, tetapi ketika Roh Tuhan bekerja dan mengucapkan firman, Dia tak punya pilihan selain melakukannya hanya ketika menangani hal-hal khusus yang unik pada kesempatan yang khusus dan dalam konteks yang khusus pula. Namun, pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan yang berinkarnasi itu konkret dan menyeluruh. Ini tidak seperti Roh Tuhan menyampaikan beberapa hal untuk memberi orang pewahyuan, atau mengucapkan beberapa hal untuk mengeluarkan perintah atau mengungkapkan nubuat, lalu menyudahinya begitu saja setelah melakukan satu bagian pekerjaan yang sederhana ini. Pekerjaan Tuhan yang berinkarnasi adalah berfirman dalam jangka waktu yang lama. Perubahan watak orang dan penyingkiran watak rusak mereka bukanlah hal yang dapat diwujudkan hanya dengan mengucapkan beberapa hal saja. Karena umat manusia telah dirusak sedemikian dalamnya, dan berbagai racun serta watak Iblis telah tertanam sedemikian kuatnya dalam diri manusia, untuk sepenuhnya membersihkan kerusakan manusia, Tuhan yang berinkarnasi harus melakukan pekerjaan nyata, menyampaikan firman yang nyata, dan mengungkapkan berbagai aspek kebenaran yang diperlukan manusia untuk memperoleh keselamatan. Dengan bekerja seperti ini dalam jangka waktu yang sedemikian lama, firman yang Dia sampaikan dan pekerjaan yang Dia laksanakan tampak sangat nyata, dan bahkan mungkin—di mata manusia—terasa sangat bertele-tele dan berlarut-larut. Berdasarkan gagasan mereka, orang berpikir, "Oh, Tuhan yang berinkarnasi tidak secepat kilat dalam pekerjaan-Nya, Dia juga tidak menyelesaikan berbagai hal dengan cepat. Dia berfirman dengan terlalu terperinci dan berbicara terlalu banyak; Dia agak bertele-tele. Dia memperlakukan orang seperti anak berusia tiga tahun!" Mengingat tingkat pertumbuhanmu, menurut-Ku engkau bahkan tidak berada di tingkat anak berusia tiga tahun. Mungkin engkau berada di tingkat anak berusia satu atau dua tahun, atau bahkan mungkin di tingkat bayi. Memperlakukanmu sebagai anak berusia tiga tahun sebenarnya meninggikan dirimu. Ketika Tuhan berfirman seperti guntur dari langit untuk memberitahukan sesuatu kepada orang-orang, kepada orang seperti apa Dia berbicara? Dia berbicara kepada para utusan-Nya dan orang-orang yang dipakai oleh-Nya. Kelompok orang apa yang sekarang dihadapi oleh Tuhan yang berinkarnasi? Dia sedang menghadapi umat manusia yang rusak, umat manusia yang hendak Dia selamatkan, alih-alih berfirman dan bekerja dalam diri individu-individu tertentu. Natur dari pekerjaan yang dilakukan oleh Roh Tuhan dan yang dilakukan oleh Tuhan yang berinkarnasi sepenuhnya berbeda. Roh Tuhan tidak akan pernah bisa hidup bersama umat manusia yang rusak. Hanya Tuhan yang berinkarnasi yang dapat hidup bersama manusia, dan tanpa kenal lelah terus berfirman dan bekerja dalam diri umat manusia yang rusak seperti ini. Tuhan yang berinkarnasi datang ke tengah-tengah manusia dan hidup bersama mereka. Karena Dia hidup bersama mereka, Dia mengawasi segala sesuatu. Apa yang dimaksud dengan mengawasi segala sesuatu? Artinya, masalah yang berkaitan dengan cara orang berperilaku, hidup, bekerja, melaksanakan tugas mereka, dan jalan yang mereka tempuh, serta masalah yang berkaitan dengan keselamatan manusia, bagaimana orang memperlakukan Tuhan, dan bagaimana orang mengenal Tuhan, semuanya harus diselesaikan. Terakhir kali Tuhan menjadi daging, itu adalah untuk disalibkan guna menebus manusia dari dosa. Kali ini, Tuhan telah menjadi daging untuk membereskan natur berdosa manusia hingga ke akarnya. Jadi, tahap pekerjaan ini mengharuskan Tuhan untuk mengucapkan banyak firman dan mengungkapkan banyak kebenaran, dan durasi pekerjaan Tuhan juga harus diperpanjang dalam rentang waktu yang jauh lebih lama. Roh Tuhan tidak dapat hidup bersama umat manusia, karena atribut umat manusia berbeda dari atribut Roh Tuhan dan identitas yang melekat pada diri Tuhan. Tidak mungkin bagi mereka untuk hidup bersama. Jadi, menggunakan ungkapan yang agak kurang pas, engkau memandang kepada Tuhan yang di surga, tetapi Tuhan yang di surga adalah tubuh rohani, dan Dia tidak dapat selalu menyertai umat manusia. Hanya ketika Tuhan menjadi daging dan menjadi orang biasa, barulah Dia dapat menyertai umat manusia dengan cara ini. Mudah dipahami jika diungkapkan dengan cara ini, bukan? (Ya.) Tuhan yang berinkarnasi hidup bersama umat manusia, tanpa kenal lelah berfirman dan bekerja seperti ini dari tahun ke tahun. Tuhan yang berinkarnasi hidup bersama manusia, dan mereka di sekitar-Nya yang dapat berinteraksi dengan-Nya mungkin telah mengalami beberapa hal: Dia telah menyelesaikan semua masalah mengenai kebutuhan dasar yang perlu diselesaikan bagi manusia, dan Dia juga telah melakukan banyak hal di luar pekerjaan yang seharusnya Dia lakukan, termasuk membuat film, merevisi naskah, menyutradarai video, menulis dialog, menulis naskah wawancara, dan merevisi artikel-artikel penting. Aku telah melakukan semua pekerjaan yang pada awalnya tidak seharusnya Kulakukan ini. Melakukan pekerjaan tambahan ini menguras tenaga-Ku secara fisik dan mental, telah membuat-Ku tidak dapat beristirahat, dan bahkan telah menunda penyampaian khotbah-Ku. Banyak orang melihat hal-hal ini tetapi tidak memiliki kesadaran akan semua itu. Aku berfirman dan bekerja tanpa kenal lelah, tetapi kebanyakan orang belum mampu menjangkaunya dan tidak begitu memahaminya. Aku melihat bahwa umat manusia ini sungguh menyedihkan, sungguh tidak berarti, dan sungguh tidak berpengertian. Apa pun jenis kelamin atau berapa pun usia mereka, manusia itu bukan apa-apa. Jika Kukatakan hal ini sebelum Aku melakukan pekerjaan ini, engkau mungkin berpikir, "Bukankah Engkau bertindak sok berkuasa? Engkau memandang rendah kami." Namun, setelah berinteraksi dengan orang-orang ini selama bertahun-tahun, di lubuk hati-Ku, Aku menghela napas, "Engkau semua benar-benar telah membuat-Ku bersusah payah demi engkau semua! Kualitasmu buruk, dan pemberontakanmu sangat besar. Aku sama sekali tidak sedang memandang rendah engkau semua." Aku adalah yang paling tidak mencolok dan paling tidak terlihat di antara engkau semua, dan entah dalam hal tutur kata, penampilan, tinggi badan, atau pengetahuan, engkau semua menganggap-Ku lebih rendah daripada engkau semua, tetapi melalui kontak dan interaksi-Ku secara nyata dengan engkau semua selama bertahun-tahun ini, apakah satu-satunya hal yang bisa Kukatakan? Selain fakta bahwa jalan yang telah engkau semua pilih untuk ditempuh dalam mengikuti Tuhan yang berinkarnasi adalah benar, engkau semua tidak memiliki apa pun. Engkau semua hanyalah cangkang kosong tanpa kenyataan hidup. Mengenai kehidupanmu sebagai manusia, itu benar-benar kacau balau dan sepenuhnya berantakan. Kebanyakan orang tidak memiliki keterampilan sejati atau pengetahuan yang murni, tidak tahu cara menjalani hidup, tidak tahu cara mengelola lingkungan ataupun mengurus hewan, dan tidak tahu cara menjaga kebersihan pribadi. Dalam segala sesuatu yang mereka lakukan, mereka tidak memiliki prosedur, tidak teratur, dan tidak tahu cara memulai atau menyelesaikan sesuatu. Karakter mereka juga buruk. Mereka tidak memiliki sikap yang serius, bertanggung jawab, teliti, dan saksama dalam melakukan sesuatu. Mereka hanya bersikap asal-asalan demi menumpang hidup, menjalani hari demi hari sekadar formalitas. Namun, orang-orang ini semua memiliki keinginan yang berlebihan, merasa diri mereka lebih baik daripada orang lain, dan ingin memimpin serta mengeluarkan perintah agar orang lain melakukan sesuatu, namun sayang sekali, tak satu pun dari mereka memiliki kemampuan itu. Aku tidak suka memimpin dan mengeluarkan perintah, Aku juga tidak suka duduk di tempat yang tinggi untuk memberi perintah dan menyuruh orang melakukan sesuatu. Aku hanya suka melakukan pekerjaan nyata, melakukan setiap pekerjaan dengan rapi dan efisien, melakukannya dengan baik secara sistematis, dan bertanggung jawab atas pekerjaan tersebut dengan keseriusan tertinggi hingga akhir. Namun, kebanyakan orang benar-benar tidak memiliki kemampuan yang dibutuhkan. Mereka tidak mampu memikul tanggung jawab ini, dan mereka tidak memiliki keterampilan ataupun kemampuan untuk memberi perintah. Harus Kukatakan bahwa engkau semua tidak mampu mengelola atau memelihara lingkungan. Aku memiliki cetak biru tertentu dan rencana tertentu di benak-Ku, jadi Aku memberitahukan rencana-Ku kepada engkau semua. Kuberitahukan kepada engkau semua cara bekerja, cara menata berbagai hal, di mana harus menanam pohon, di mana harus menanam rumput, apa yang harus dibangun dan di mana tempatnya, di mana tempat yang cocok untuk meletakkan barang-barang tertentu, dan cara mengelola hal-hal tertentu, lalu engkau semua pergi dan melakukannya—hanya itu yang dibutuhkan. Setelah selesai melakukannya, semua orang melihat bahwa apa yang telah dilakukan memang terlihat cukup bagus. Aku telah berinteraksi dengan orang-orang ini selama lima atau enam tahun, dan keterampilan serta kemampuan mereka semuanya telah tersingkap. Aku sekarang tahu bahwa anggota umat manusia ini mungkin semuanya seperti ini. Meskipun Aku tidak hidup bersama umat pilihan dari semua negara berbeda, situasi nyatamu seharusnya kurang lebih sama dengan situasi nyata umat pilihan Tuhan di gereja-gereja Tionghoa di AS. Aku berinteraksi dengan orang-orang ini, sehingga pada akhirnya mereka mendapatkan sedikit manfaat ekstra dan beroleh sedikit perkenanan-Ku. Engkau semua berada jauh, dan Aku tidak dapat berinteraksi dengan engkau semua, jadi engkau semua hanya dapat mengejar kebenaran. Hasilnya sama saja.

Dalam menjadi daging untuk melakukan pekerjaan kali ini, apa yang terutama Tuhan lakukan adalah mempersekutukan berbagai kebenaran, memungkinkan orang untuk menempuh jalan keselamatan dengan memahami, menerima, dan menerapkan setiap kebenaran, dan pada akhirnya memperoleh keselamatan, yang dengan demikian akan mengakhiri pekerjaan rencana pengelolaan Tuhan selama enam ribu tahun; inilah pekerjaan yang harus Tuhan lakukan. Mengenai berapa banyak bagian dari pekerjaan ini yang tidak sesuai dengan gagasan manusia atau dalam pandangan mereka tidak begitu sejalan dengan Tuhan yang di surga, mereka harus melepaskan semua ini. Gagasan apa pun yang kaumiliki, selama firman yang diucapkan dan pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan yang berinkarnasi mengungkapkan kebenaran dan maksud-maksud Tuhan, mampu merepresentasikan Tuhan itu sendiri, serta merepresentasikan watak dan identitas Tuhan, maka engkau harus menerimanya dan tidak mencari-cari kesalahan. Terlebih lagi, jika engkau terus-menerus mencari-cari kesalahan dan memiliki berbagai gagasan tentang Tuhan yang berinkarnasi, yang selalu menghambatmu untuk menerima kebenaran, maka inilah kendala terbesar bagimu; hal ini hanya akan mendatangkan kerugian bagimu tanpa manfaat sedikit pun. Oleh karena itu, engkau tidak seharusnya memperlakukan Tuhan yang berinkarnasi berdasarkan gagasan dan imajinasimu, engkau juga tidak boleh menilai Tuhan yang berinkarnasi dengan menggunakan gagasan dan imajinasimu. Sebaliknya, engkau seharusnya melepaskan gagasan dan imajinasi awalmu tentang Tuhan yang berinkarnasi, serta gagasan dan imajinasimu saat ini tentang Dia. Apa pun gagasan dan imajinasi yang kaumiliki, engkau harus menolaknya; engkau harus menelaah dan sampai pada tahap mengenalinya, lalu mengutuk dan melepaskannya. Hanya setelah melepaskannya, barulah engkau dapat memiliki hati yang jernih untuk menerima firman Tuhan dan pekerjaan keselamatan yang Tuhan lakukan dalam dirimu, dan hanya dengan demikian engkau dapat datang ke hadapan Tuhan serta memiliki harapan untuk memperoleh keselamatan. Selain berfirman untuk membekali orang dengan kebenaran dan melakukan pekerjaan menghajar, menghakimi, dan menyelamatkan manusia, Tuhan yang berinkarnasi sebenarnya juga memberikan beberapa bimbingan yang bermanfaat mengenai beberapa hal dalam kehidupan manusia. Meskipun pekerjaan ini tidak berkaitan dengan kebenaran atau pekerjaan menyelamatkan manusia, dan bukan pekerjaan yang termasuk dalam pelayanan Tuhan yang berinkarnasi, dalam hubungan dan interaksi-Ku dengan orang-orang di gereja-gereja Tionghoa di AS, Aku juga telah memberikan banyak bimbingan, kritikan, dan koreksi mengenai masalah-masalah dalam kehidupan mereka. Benar, bukan? (Ya.) Ini adalah pekerjaan yang hanya Kulakukan sambil lalu. Di luarnya, kebanyakan orang tampak seolah-olah mereka agak mampu, tetapi mereka tidak mampu memikul satu pekerjaan pun, dan bahkan lingkungan tempat tinggal mereka benar-benar berantakan. Melihat bahwa pada dasarnya sepertinya tidak ada harapan untuk membuat orang-orang ini menjaga lingkungan tempat tinggal mereka tetap rapi dan menempatkan kehidupan mereka di jalur yang benar bahkan dalam waktu sepuluh tahun, Aku berpartisipasi dan membimbing mereka dalam beberapa hal, membantu mereka merapikan halaman dan menata lingkungan. Di beberapa tempat, meja, kursi, sofa, dan tanaman pot di dalam ruangan, lukisan dan cermin yang tergantung di dinding, serta barang-barang di kamar mandi semuanya benar-benar berantakan. Menggambarkannya dengan dua ungkapan, itu "benar-benar tidak teratur", membuatmu "bahkan tidak punya tempat untuk berdiri". Bahkan hanya untuk berjalan di dalam saja akan membuatmu khawatir engkau mungkin menabrak sesuatu. Setiap kali pergi ke sana, Aku merasa di dalam terasa sesak tak tertahankan. Melihat bagaimana barang-barang ditata di dalam membuat-Ku merasa tidak nyaman. Berbagai macam barang ditumpuk menggunung, dengan banyak barang diletakkan di tempat yang salah. Berember-ember beras dan tepung ditumpuk di ruang kerja, tetapi tidak ada apa pun di lemari dapur yang dimaksudkan untuk menyimpan biji-bijian. Ada obeng di rak piring, dan kotak perkakas di dalam kulkas. Kukatakan kepada orang-orang di sana, "Apakah perkakasmu perlu dibekukan? Apakah engkau semua takut perkakas itu akan menjadi terlalu panas di luar?" Aku hanya merasa itu tidak masuk akal. Aku memiliki suatu kebiasaan: Begitu melangkah ke dalam ruangan, Aku suka melihat terlebih dahulu apakah suatu tempat ditata dengan rapi dan pantas, serta apakah setiap barang telah diletakkan di tempat yang seharusnya. Aku mengamati tempat mereka beberapa kali dan benar-benar tidak tahan lagi melihatnya. Kukatakan, "Aku ada waktu luang hari ini, jadi Aku akan merapikan tempat ini untuk engkau semua. Setelah selesai merapikannya, jika menurutmu ini sesuai, pertahankanlah seperti ini; tetapi jika menurutmu ini tidak sesuai, engkau semua dapat mengubahnya." Aku memperhatikan secara garis besar perabotan dasar apa saja yang ada, lalu berdasarkan ukuran dan struktur tempat itu, Aku menyuruh semua orang untuk meletakkan perabotan, berbagai peralatan dapur, dan pakaian mereka di tempatnya masing-masing, menatanya dengan semestinya. Aku juga menyuruh mereka membersihkan sarang laba-laba, serta pasir dan debu yang ada di lantai. Setelah dirapikan, semua orang merasa cukup senang dengan hasilnya. Mereka kemudian mempertahankan penataan dasar ini; mereka hanya perlu menjaganya tetap bersih. Aku juga telah membantu orang-orang merancang lingkungan halaman mereka. Kami menanam pohon berbunga di beberapa tempat, dan pohon maple di tempat-tempat lainnya, serta menanam beberapa bunga di petak bunga. Penataan taman seperti ini cukup bagus. Setelah semuanya ditata, di beberapa tempat, semua itu dipelihara dengan cukup baik, sementara di tempat lain, tidak ada yang menganggap serius hal-hal tersebut dan mereka tidak memelihara apa pun. Ketika bunga dan tanaman tumbuh lebih tinggi dan bercabang, mereka bahkan tidak tahu bahwa mereka harus memangkasnya. Aku bertanya-tanya, apakah orang-orang ini bebal atau apa? Setelah lingkungan ditata, mereka tidak tahu apakah itu bagus atau tidak, dan mereka tidak tahu apa yang seharusnya diletakkan dan di mana. Engkau meletakkan sebuah meja di dalam ruangan, meletakkan lampu meja di atasnya, dan meletakkan beberapa kursi di sekelilingnya. Pada malam hari, membaca buku dan mendengarkan lagu pujian di bawah lampu, rasanya cukup menyenangkan bagi seseorang untuk melakukan saat teduhnya dengan tenang di sini. Orang yang tidak memahami hal ini merasa bahwa tidak ada cukup barang di dalam ruangan itu, jadi mereka memasukkan dua meja kecil lagi, dan menumpuk beras, tepung, dan makanan anjing di atas meja-meja tersebut. Di mana pun terdapat sedikit ruang, mereka menjejalkan barang-barang, membuat ruangan penuh sesak hingga terlihat seperti gudang. Mereka merasa tidak praktis untuk mengambil barang ketika semuanya tersortir dan tersimpan dengan rapi, dan merasa praktis untuk mengambil barang kapan saja ketika semuanya ditumpuk menjadi satu. Aku berkata, "Ini adalah lingkungan tempat tinggal manusia. Jika engkau tidak tahu cara merawat atau memeliharanya, apa bedanya hidup seperti ini dengan hidup di kandang babi?" Ada orang-orang yang memperhatikan bagaimana Aku menjaga lingkungan tempat tinggal tetap rapi dan belajar dari hal ini; mereka mampu menangkap beberapa hal dan memahami sedikit. Namun, ada orang-orang yang bahkan tidak mencoba untuk belajar; mereka tidak pernah memelihara lingkungan tempat tinggal mereka sendiri ataupun kebersihan pribadi mereka. Ke mana pun Aku pergi, jika Kulihat tempat itu cukup bersih, tidak ada barang yang berlebihan, dan tidak mewah, tetapi cukup rapi, tidak berantakan sama sekali, dan tidak ada sampah, Aku merasa cukup bersedia untuk tinggal di sana. Aku merasa tempat ini sangat bagus; terang dan bersih, serta tenang. Tempat di mana Aku sendiri tinggal tidak membutuhkan barang-barang mewah atau perabotan yang berlebihan. Lampu gantung mewah, kasur Simmons, dan perabotan bergaya Eropa—Aku tidak membutuhkan semua ini. Cukup sebuah tempat tidur sederhana, meja rias, meja tulis, dan kursi. Duduk di sana, Aku bisa membaca buku, menggunakan komputer, dan mendengarkan lagu. Ini cukup bagus dan cukup sederhana. Memiliki barang-barang sederhana bukanlah hal yang utama. Apa hal yang utama? Hal yang utama adalah semuanya diletakkan dengan rapi. Buku-buku ditata dengan rapi di sana. Bahkan untuk pakaian yang tidak sedang Kukenakan, Aku tidak melemparkannya begitu saja; sebaliknya, Aku melipatnya dan menyimpannya dengan rapi. Dengan melihatnya, engkau bisa tahu bahwa pakaian itu telah ditata. Tidak ada debu di meja atau meja rias; jika ada, Aku mengelapnya. Ketika Aku pergi ke beberapa tempat dan melihat bahwa ruangannya cukup bersih, itu menunjukkan bahwa pemilik rumah cukup serius dalam hal kebersihan. Di beberapa tempat, barang-barang di dalam ruangan benar-benar berantakan, dan juga sangat kotor, dengan adanya rambut, debu, sarang laba-laba, serangga, dan segala hal lainnya; itu terlihat menjijikkan. Aku tidak akan bersedia pergi ke tempat seperti itu. Tempat-tempat yang Aku suka tinggali belum tentu sangat nyaman, tetapi pasti rapi dan bersih. Di beberapa tempat, engkau bisa mencium bau aneh begitu masuk ke dalam, dan tidak ada yang menata barang-barang di ruangan itu; benar-benar berantakan. Aku tidak akan bersedia tinggal di tempat seperti itu. Jika Aku memang harus pergi ke sana untuk mengurus sesuatu, Aku bisa mencoba menahannya, tetapi ketika kesabaran-Ku sudah mencapai batasnya, Aku akan menyuruh mereka merapikannya. Ada orang-orang yang tidak bersedia merapikannya, dalam hal ini Aku akan berbicara terus terang. Kukatakan, "Rapikan kandang babimu itu!" Katakan kepada-Ku, jika orang bahkan tidak tahu cara memelihara lingkungan tempat tinggal mereka sendiri, apa yang dapat mereka selesaikan? Di beberapa tempat, dapur dijaga cukup bersih. Pada dasarnya tidak ada lalat, tidak ada debu di meja makan, sisa makanan ditutupi dengan tudung saji, tidak ada noda air di sekitar tempat cuci piring, setiap lap bersih dan rapi, dan tidak ada noda minyak di gagang pintu lemari mana pun. Sangat bersih! Inilah yang disebut tahu cara memelihara lingkungan tempat tinggal. Namun, kebanyakan orang tidak tahu cara memelihara lingkungan tempat tinggal mereka. Sekalipun engkau membantu mereka merapikan ruangan mereka, mereka hanya dapat mempertahankannya seperti itu selama beberapa hari saja. Jika engkau kembali beberapa hari kemudian, ruangan itu sama sekali tidak dapat dikenali lagi seperti sebelumnya; engkau akan mengira telah masuk ke ruangan yang salah. Namun, di sebagian besar tempat, Aku tidak masuk ke kamar tidur siapa pun; Aku hanya pergi ke area umum seperti ruang tamu, dapur, dan ruang makan. Jika Kutemukan area yang tidak higienis, Aku akan merapikan satu atau dua di antaranya. Sedangkan mengenai tempat-tempat yang jarang Kukunjungi, mereka dapat menatanya sesuka hati mereka.

Ada orang-orang yang membersihkan diri mereka dengan sangat baik ketika syuting film atau program nyanyian dan tarian, terlihat cukup rapi. Namun terkadang, dalam keadaan khusus, kami perlu melakukan panggilan video untuk membahas hal-hal pekerjaan, dan tanpa persiapan, merias wajah, atau merapikan diri, mereka melakukan panggilan video; begitu Aku melihat mereka, Kupikir, "Mengapa orang-orang ini begitu berantakan? Mereka bahkan tidak merapikan diri mereka sendiri. Apakah mereka benar-benar sesibuk itu?" Ada orang-orang yang menyimpan banyak barang rongsokan yang disembunyikan di seluruh kamar tidur mereka. Mereka menyembunyikan banyak makanan di bawah bantal dan selimut mereka, seperti biskuit, kuaci, dan sebagainya, serta pakaian dalam, kaus kaki, dan bahkan komputer, ponsel, buku catatan, dan lain-lain. Ketika tidur di malam hari, mereka harus menyingkirkan barang-barang ini ke samping agar tersedia cukup ruang untuk tidur. Orang-orang ini bahkan tidak mampu menjaga kerapian area yang luasnya kurang dari empat meter persegi di atas tempat tidur mereka. Mereka meletakkan segala sesuatu di tempat tidur mereka, dan entah berapa hari mereka mungkin tidak membersihkannya. Ketika selimut mereka menjadi lembap dan berbau apek, mereka tidak menjemurnya di bawah sinar matahari. Begitu engkau masuk ke kamar, engkau bisa mencium bau busuk, yang juga buruk bagi kesehatan mereka. Seperti apa pun rumahnya, kamar tidur harus memiliki ventilasi. Udara hanya bisa segar ketika engkau membiarkan sinar matahari masuk. Alas kasur tempatmu berbaring dan selimut yang kaupakai harus dijemur di bawah sinar matahari dari waktu ke waktu. Jika barang-barang itu mengeluarkan bau aneh atau telah kotor, barang-barang itu harus dicuci. Inilah satu-satunya cara untuk tetap higienis. Selain itu, meletakkan barang-barang yang berantakan di bawah bantal sama sekali tidak dapat diterima; dengan adanya barang-barang itu di sana, Aku tidak bisa tidur. Ada orang yang memiliki kebiasaan ini: Mereka menjejalkan semua barang pribadi mereka di bawah bantal dan di bawah alas tidur mereka. Jika mereka tidak dapat menemukan sesuatu, mereka dijamin akan dapat menemukannya di sana. Bukan hanya pria yang memiliki kebiasaan buruk ini; yang mengejutkan, beberapa di antaranya adalah wanita muda. Di luarnya, orang-orang ini biasanya terlihat cukup bersih. Saat merekam video dan membuat program, mereka terlihat sangat rapi, dan penampilan mereka juga tidak buruk. Mereka terlihat cukup hidup dan glamor. Bagaimana mungkin mereka bahkan tidak tahu cara memelihara lingkungan tempat tinggal pribadi mereka dan bahkan tidak dapat menjaga kebersihan dasar? Katakan kepada-Ku, apa yang dapat diselesaikan oleh orang-orang semacam itu? Melakukan apa pun membutuhkan disiplin diri; engkau seharusnya melakukan berbagai hal secara metodis dan sistematis, serta bersikap cermat, teliti, sungguh-sungguh, dan bertanggung jawab—engkau harus memiliki sifat-sifat kemanusiaan ini. Jika, dalam hal ruang dan lingkungan pribadimu sendiri, engkau memiliki sikap yang malas, lamban, asal-asalan, dan tidak bertanggung jawab, lalu bagaimana engkau bisa melakukan berbagai pekerjaan gereja dengan baik? Ada orang yang berkata, "Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan. Aku tidak punya waktu untuk mengurus hal-hal ini." Bukankah ini hanya alasan? (Ya.) Terus terang saja, orang-orang semacam itu benar-benar malas.

Semua orang dengan kemanusiaan yang normal memiliki tuntutan bagi lingkungan tempat tinggal mereka. Aku juga memiliki tuntutan bagi lingkungan tempat tinggal-Ku. Setidaknya, lingkungan itu harus higienis, bersih, dan rapi, serta nyaman untuk dilihat. Aku tidak akan membahas hal ini lebih jauh. Mari kita ambil contoh penciptaan dan pengelolaan Tuhan atas segala sesuatu—apakah Dia mengelola semua itu dengan baik? Segala sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan—sungai dan danau dengan segala isinya, gunung, lembah, dan dataran, serta semua jenis hewan dan tumbuhan—dikelola oleh-Nya. Katakan kepada-Ku, apakah Tuhan mengelolanya dengan baik? (Ya.) Apakah setiap jenis makhluk hidup dikelola dengan baik? (Ya.) Apakah ada sesuatu yang kacau atau tidak jelas? (Tidak, Tuhan mengelola semua itu dengan cara yang sangat tertib dan sistematis.) Tuhan mengelolanya dengan keteraturan, ketertiban, pengorganisasian, dan kejelasan, dengan kesaksamaan dan ketepatan yang luar biasa. Menggunakan istilah manusia, pengelolaan-Nya atas hal-hal ini sangat rapi dan teratur, tanpa ada yang saling mengganggu, dan tidak ada yang kacau balau. Engkau lihat, lautan memiliki batasannya, sungai memiliki jangkauannya, dan gunung, daratan, serta dataran memiliki fungsinya masing-masing. Jenis pohon apa yang tumbuh dan di tempat mana, serta di lingkungan dan zona apa hewan, burung, dan binatang buas tumbuh—semua ini diatur dan dibatasi. Tuhan mengelola semua itu dengan ketertiban yang sempurna. Ikan dan berbagai makhluk hidup lainnya di laut juga hidup dengan keteraturan yang luar biasa. Tuhan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya bagi mereka. Berdasarkan ruang lingkup kehidupan setiap jenis makhluk hidup, Dia menetapkan kebiasaan hidupnya, rutinitasnya, dan suhu yang sesuai untuknya, dan Dia juga menciptakan makanan yang dibutuhkannya. Tuhan sangat saksama dalam pertimbangan-Nya atas setiap masalah, dan mengelola segala sesuatu dengan cara yang sangat terorganisasi. Sekarang lihatlah: Bagaimana orang memelihara lingkungan mereka? Lupakan tentang menyuruhmu mengelola sebuah gereja atau suatu wilayah—bahkan memelihara kamar tidurmu sendiri atau tempatmu beristirahat dengan baik pun engkau tidak mampu. Ada orang-orang yang bahkan tidak dapat menjaga ruang sekecil tempat tidur mereka sendiri tetap rapi. Katakan kepada-Ku, apa yang mungkin mampu engkau lakukan? Ini adalah kekurangan dalam kemanusiaan. Jangankan memenuhi standar yang dituntut oleh Tuhan yang di surga, jika engkau mampu memenuhi apa yang dituntut oleh Tuhan yang berinkarnasi—yaitu, apa Kutuntut untuk engkau lakukan, itu sudah lumayan. Semua ini adalah hal-hal yang seharusnya dicapai oleh orang-orang dengan kemanusiaan yang normal. Jika engkau bahkan tidak dapat memenuhi standar kemanusiaan yang normal, maka sesungguhnya akan sedikit sulit bagimu untuk memperoleh keselamatan. Ini adalah tuntutan terhadap orang-orang dalam hal memelihara lingkungan mereka. Jika orang mengerahkan sedikit upaya ke dalam hal ini, mereka dapat memenuhi tuntutan ini; ini bukanlah sesuatu yang sulit. Mulailah jalan masukmu dengan memelihara lingkungan tempat tinggalmu sendiri; kemudian, belajarlah untuk mengelola pekerjaanmu dan tugas yang kaulaksanakan. Masukilah hal-hal ini sedikit demi sedikit, kembangkan beberapa kebiasaan baik dalam hal kemanusiaan yang normal, dan binalah beberapa kemampuan kerja atau kemampuan hidup yang dapat dicapai oleh orang-orang dengan kemanusiaan yang normal. Sedikit demi sedikit, saat engkau mencoba untuk hidup dalam kemanusiaan yang normal ini, engkau seharusnya beradaptasi dengan beberapa kebiasaan hidup dan lingkungan tempat tinggal yang positif dan baik, dan berangsur-angsur menjadikannya bagian dari kemanusiaanmu yang normal. Ini akan bermanfaat bagi pelaksanaan tugasmu, pekerjaanmu, dan kelangsungan hidupmu. Benar, bukan? (Ya.) Ini adalah beberapa masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Mengingat bahwa Tuhan yang berinkarnasi adalah daging, Dia harus memiliki kemanusiaan yang normal dan naluri umat manusia ciptaan, serta hidup dalam lingkup kehidupan umat manusia ciptaan. Dengan demikian, Tuhan yang berinkarnasi juga memiliki beberapa kebutuhan dan perwujudan kemanusiaan yang normal. Meskipun secara lahiriah kebutuhan dan perwujudan ini tidak berkaitan langsung dengan identitas dan esensi Tuhan, ataupun dengan watak Tuhan yang Tuhan representasikan, semua itu setidaknya sejalan dengan kemanusiaan normal yang dituntut dari manusia oleh Tuhan yang di surga; semua itu tidak bertentangan, juga tidak berbenturan sama sekali. Terlebih lagi, penyingkapan dan pengungkapan kemanusiaan normal dari Tuhan yang berinkarnasi tidak menimbulkan kerugian apa pun bagi umat manusia. Apa pun yang dituntut oleh Tuhan yang berinkarnasi darimu berada dalam lingkup kemanusiaan yang normal, dan apa pun yang Dia singkapkan saat berinteraksi denganmu, hal-hal ini pasti tidak akan menyakitimu, dan tentu saja tidak akan mencelakaimu. Tuhan bukan saja tidak akan melakukan hal-hal yang mencelakaimu, tetapi Dia, dalam lingkup kemanusiaan-Nya—yang memiliki kemanusiaan yang normal—juga akan melakukan pekerjaan yang hendak Dia lakukan, mengucapkan firman yang hendak Dia ucapkan, dan mengungkapkan watak serta esensi yang hendak Dia ungkapkan, untuk menuntun orang-orang ke hadapan Tuhan, dan ke jalan memperoleh keselamatan. Betapa pun kecil, dan betapa pun normal dan nyata penampilan luar Tuhan yang berinkarnasi itu tampaknya bagimu, dan betapa pun biasa dan tidak istimewanya Dia di antara umat manusia ciptaan, kemanusiaan normal yang Dia hidupi tetaplah merepresentasikan Tuhan itu sendiri, dan berkaitan dengan Tuhan itu sendiri. Jadi, hanya karena Dia memperlihatkan kemanusiaan yang normal atau melakukan beberapa hal yang berkaitan dengan kemanusiaan yang normal, seperti membantumu merapikan lingkungan tempat tinggalmu atau menata lingkungan sekitarmu, engkau tidak boleh berpikir, "Bagaimana mungkin Tuhan melakukan hal-hal ini? Bukankah Dia adalah Tuhan yang di surga? Bukankah seharusnya Dia melakukan pekerjaan Tuhan itu sendiri? Bagaimana mungkin Dia mengurus hal-hal ini? Bukankah ini seperti menggunakan meriam untuk membunuh seekor nyamuk?" Jika engkau memiliki pemikiran seperti ini, engkau sama sekali dan sepenuhnya keliru. Mungkin ada juga orang yang berpikir, "Tuhan adalah Tuhan yang berinkarnasi—apakah Tuhan yang berinkarnasi ini tinggi dan agung? Apakah Dia terlepas dari hal-hal duniawi? Apakah lingkungan tempat Dia tinggal, lingkup kehidupan-Nya, atau tuntutan hidup-Nya berbeda dari kami, orang-orang biasa?" Biar Kuberitahukan kepadamu, perwujudan dari setiap aspek kehidupan Tuhan yang berinkarnasi ini semuanya terlalu biasa dan semuanya terlalu normal; semua itu sama sekali tidak muluk-muluk, dan bahkan sangat sepele di mata banyak orang. Dia tidak memiliki tuntutan yang ketat atau keinginan yang berlebihan untuk kualitas hidup-Nya; Dia hanya suka hidup dengan cara yang paling sederhana dan paling bersahaja. Ada orang-orang yang berkata, "Apakah Tuhan yang berinkarnasi tidak tahu cara menikmati standar hidup yang tinggi?" Sebenarnya bukannya Aku tidak tahu caranya, bukan juga Aku tidak terbiasa dengan hal-hal yang bagus. Aku hanya tidak menyukai hal-hal semacam itu. Aku tidak memiliki tuntutan semacam itu. Tuntutan dan standar hidup-Ku sama dengan tuntutan dan standar hidup orang biasa: makan beberapa hidangan tumis dan selada di musim panas, makan beberapa hidangan rebus dan tahu rebus di musim dingin, makan pangsit saat cuaca menjadi dingin dan turun salju. Ada orang yang berkata, "Kalau begitu, apakah Engkau tahu cara memasak?" Aku juga tahu cara memasak, dan Aku bisa membuat mi buatan tangan. Beberapa tahun yang lalu, Aku juga membuat bakpao dan roti gulung, mencuci piring, dan bersih-bersih. Aku melipat selimut-Ku dengan sangat rapi. Aku ingin mencuci pakaian-Ku segera setelah pakaian itu sedikit kotor, dan Aku tidak suka mencium bau yang aneh. Aku tidak memiliki tuntutan yang ketat dalam hal kehidupan. Aku menyukai ketenangan dan tidak menyukai kebisingan. Aku tidak bersedia tinggal di tempat di mana ada banyak orang berbicara dengan sangat keras dan di mana ada banyak kebisingan, dan Aku tidak menyukai kota. Katakan kepada-Ku, apakah ini berarti memiliki standar yang tinggi? (Tidak.) Saat Aku naik mobil, di dalamnya hanya perlu tenang dan itu sudah cukup. Aku tidak suka mengatur AC terlalu dingin, dan mengenai pemanas, asalkan sedikit hangat dan Aku tidak merasa kedinginan saat mengenakan jaket tebal, itu sudah cukup. Ketika membeli perabotan, Aku suka membeli lemari besar yang dapat menampung banyak barang, agar apa pun yang Kutaruh di dalamnya dapat ditata dengan rapi. Aku suka menjaga barang-barang yang Kugunakan tetap bersih. Sekalipun barang-barang itu menjadi usang setelah digunakan untuk waktu yang lama, tidak ada noda keringat yang menempel dan tidak mengeluarkan bau yang aneh, apalagi ada rambut atau ketombe yang menempel. Aku pasti akan mencuci pakaian yang telah Kukenakan sebelum menaruhnya di lemari; Aku tidak pernah menaruh pakaian kotor di lemari. Aku tidak memiliki tuntutan yang ketat dalam hal kehidupan. Ketika memelihara anjing, Aku tidak memelihara ras unggulan; asalkan anjing itu penurut, baik, dan tahu diri, tidak menimbulkan masalah, dan tidak terus-menerus ingin jalan-jalan atau bermain, itu sudah cukup. Ada orang-orang yang berkata, "Apakah Tuhan yang berinkarnasi hanya menyukai barang-barang kelas atas dan mewah?" Aku tidak asing dengan barang-barang semacam itu, tetapi Aku benar-benar tidak menyukainya. Aku menyukai barang-barang yang praktis—entah itu pakaian-Ku, barang-barang yang Kugunakan, atau tempat tinggal-Ku, asalkan praktis, itu sudah cukup. Jika ada sepotong pakaian atau sepasang sepatu yang dapat dipakai selama bertahun-tahun dan itu adalah sesuatu yang Kubutuhkan, Aku pasti akan membelinya. Jika suatu barang sangat berkelas, berharga, dan bernilai, tetapi merupakan sesuatu yang hampir tidak akan Kugunakan sekali dalam satu dekade, Aku tidak akan menginginkannya sekalipun barang itu diberikan kepada-Ku secara gratis. Aku tidak menyukai barang-barang semacam itu. Ada orang yang berkata, "Untuk komputer-Mu, apakah Engkau menggunakan yang paling mahal, paling canggih, paling canggih, dan paling cepat?" Komputer yang Kugunakan lumayan cepat, tetapi bukan yang paling canggih. Asalkan Aku dapat menggunakannya untuk memeriksa cuaca dan membaca pesan, serta melakukan beberapa tugas sehari-hari, itu sudah cukup. Perangkat apa pun yang Kugunakan, Aku tidak pernah menggunakan yang paling canggih; perangkat yang biasa dan praktis sudah cukup. Sekalipun barang-barang-Ku yang biasa itu menjadi usang karena digunakan, Aku berusaha sebaik mungkin untuk menjaganya tetap benar-benar bersih dan tidak rusak, serta memastikan barang-barang itu dapat digunakan secara normal.

Tuhan yang berinkarnasi juga selektif dalam hal berinteraksi dengan orang-orang. Dia tidak suka bergaul secara luas, Dia juga tidak suka memiliki hubungan yang terlalu dalam dengan orang-orang. Namun, ketika berinteraksi dengan orang lain, Dia juga memiliki beberapa pendapat dasar tentang orang-orang dan tuntutan terhadap mereka; setidaknya, orang yang berinteraksi dengan-Nya harus memperlakukan orang lain dengan tulus. Ada jenis orang tertentu yang hanya menyombongkan diri dan membual saat mereka berbicara. Sembilan dari sepuluh hal yang mereka katakan terdengar tidak benar dan tidak realistis, atau perkataan mereka diwarnai dengan sikap yang menghina dan meremehkan orang lain, dan mereka menyimpan niat buruk. Setiap kali engkau berbicara dan berinteraksi dengan orang-orang semacam itu, mereka selalu seperti ini; engkau tidak akan pernah bisa mengetahui yang sebenarnya tentang diri mereka, dan tidak bisa merasakan ketulusan mereka. Orang-orang semacam itu tidak dapat dipercaya dan bersikap tidak serius; mereka adalah pemalas, dan Aku tidak suka bergaul dengan mereka. Ada jenis orang lain yang berbohong sepanjang waktu dan suka mengobrol kosong serta berbicara omong kosong, tidak pernah mengatakan hal yang sebenarnya. Jika engkau bertanya kepada mereka tentang sesuatu dan mencoba mendapatkan jawaban yang serius, mereka berbicara berbelit-belit dan tidak mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Aku selalu berbicara kepada mereka dengan cara yang sepenuhnya tulus dan tidak meremehkan mereka, apalagi mencelakai mereka, tetapi mereka tetap tidak mengatakan yang sebenarnya kepada-Ku; tidak mungkin bercakap-cakap dengan orang-orang semacam itu. Satu jenis orang adalah para pemalas yang menyombongkan diri, membual, dan bersikap tidak serius. Aku tidak bersedia berinteraksi dengan orang-orang semacam itu. Jenis orang lainnya adalah mereka yang berbohong sepanjang waktu dan tidak pernah mengatakan hal yang sebenarnya; Aku juga tidak suka berinteraksi dengan orang-orang semacam ini—Aku jijik dan membenci orang-orang semacam itu. Jika Aku harus berurusan dengan orang-orang semacam itu selama melakukan pekerjaan gereja, Aku dapat menahannya. Itu hanya sebatas urusan pekerjaan. Jika tidak ada pekerjaan yang perlu ditangani, Aku berusaha sebaik mungkin untuk menjauh dari orang-orang semacam itu dan tidak berinteraksi dengan mereka. Ada juga jenis orang lainnya: Bahkan sebelum engkau benar-benar berurusan apa pun dengan mereka, mereka mulai memperhitungkan bagaimana mereka dapat memanfaatkanmu, bagaimana mereka dapat memperoleh informasi yang berguna darimu, bagaimana mereka dapat menghasilkan uang darimu, atau bagaimana mereka dapat menipumu untuk mendapatkan simpati, kepercayaan, dan rasa hormatmu. Mereka memikirkan segala cara yang memungkinkan untuk bersiasat terhadapmu. Aku tidak bersedia berinteraksi dengan orang-orang semacam itu. Aku menganggap mereka menjijikkan, dan Aku menjauh dari mereka sejauh yang Aku bisa. Ada juga jenis orang lainnya: Engkau hanya perlu sedikit berinteraksi dengan mereka, dan mereka akan mencoba mengukur serta membandingkan diri mereka denganmu, dan bahkan akan iri terhadapmu. Sebagai contoh, jika engkau memotong rambut, mereka akan mengatakan potongan rambutmu terlihat jelek, tetapi beberapa hari kemudian, mereka akan memotong rambut dengan gaya yang sama persis. Atau mereka akan melihatmu mengenakan pakaian yang bagus dan bertanya di mana engkau membelinya, sambil mengatakan di depanmu bahwa warnanya terlalu gelap, gayanya sudah ketinggalan zaman, pakaian itu tidak terlihat bagus saat kaukenakan, dan sebagainya, tetapi beberapa hari kemudian, mereka membeli pakaian yang sama persis dan terus-menerus mondar-mandir di sekitarmu untuk memamerkannya. Mengenai segala sesuatu yang engkau miliki, asalkan mereka melihatnya, mereka juga harus memilikinya. Jika engkau membeli kubis seharga lima puluh sen per pon, mereka berkata, "Itu mahal sekali!" Namun, mereka berbalik dan pergi ke toko lain untuk membeli kubis seharga satu dolar per pon, dan bahkan berkata, "Sayuran yang kubeli lebih murah daripada milikmu." Bukankah mereka terang-terangan berbohong? Engkau tidak terlalu mengenal mereka, dan tidak memiliki hubungan dekat dengan mereka, tetapi mereka mencoba bersaing denganmu dan iri kepadamu seperti ini, membandingkan diri mereka denganmu dalam segala hal; mereka bahkan mencoba mengunggulimu dalam apa pun yang engkau katakan. Bukankah ini seperti bertemu dengan anjing gila? Ketika Aku bertemu orang-orang semacam itu, Aku menghindari dan mengabaikan mereka. Mustahil untuk rukun dengan jenis orang yang tidak memiliki kemanusiaan normal semacam ini. Ada juga jenis orang lainnya, yang mungkin juga pernah engkau semua temui; jenis orang ini sangat sulit untuk dihadapi. Sebagai contoh, mereka mengeluh bahwa ruangan terasa panas. Jika engkau menyuruh mereka untuk membuka pintu agar ada sirkulasi udara, mereka berkata, "Tidak, lalat akan masuk jika pintu dibuka." Jika engkau menyarankan agar mereka memasang pintu kawat nyamuk, mereka berkata itu akan membuat keluar masuk menjadi repot. Jika engkau menyuruh mereka menyalakan kipas angin, mereka berkata mereka takut masuk angin karena hembusan anginnya dan itu membuang-buang listrik. Jika engkau bertemu dengan orang seperti ini, yang menolak setiap saran yang engkau berikan saat mereka mengeluh bahwa ruangan terasa panas, engkau akan tahu bahwa orang ini benar-benar sulit dihadapi. Makhluk macam apa mereka sebenarnya? Dapatkah mereka menerima perkataan yang benar? (Tidak. Mereka tidak memiliki kemanusiaan yang normal.) Lalu, apakah engkau masih mau berbicara dengan mereka? (Tidak.) Ketika bertemu jenis orang ini, Aku membentuk suatu kesan tentang mereka di dalam hati-Ku: "Oh, jadi engkau adalah jenis orang seperti ini. Engkau tidak memiliki kemanusiaan yang normal, engkau tidak menerima perkataan yang benar, engkau selalu mencari-cari kesalahan, dan engkau suka menimbulkan masalah yang sulit untuk sengaja mempersulit orang lain. Engkau bukan orang yang baik." Bagaimana seharusnya jenis orang ini digolongkan? Dalam istilah populer, orang-orang semacam itu disebut "tukang bantah". Orang-orang seperti ini tidak bisa diajak bernalar. Mereka mengeluh ruangan terasa panas, tetapi solusi apa pun yang engkau usulkan, mereka mengatakan itu salah atau tidak akan berhasil. Namun, segera setelah engkau meninggalkan ruangan, mereka langsung membuka pintu dan jendela, serta menyalakan kipas angin, tidak khawatir tentang lalat yang masuk atau masuk angin karena hembusan anginnya. Orang-orang semacam itu tidak sejalan dengan-Ku. Mustahil untuk berkomunikasi dengan mereka, dan Aku tidak suka berinteraksi dengan mereka. Ada orang-orang yang berkata, "Engkau tidak menyukai jenis orang ini, Engkau tidak menyukai jenis orang itu—Engkau tidak bisa berurusan dengan seseorang hanya karena Engkau tidak menyukai mereka?" Aku tidak mengatakan Aku tidak bisa berurusan dengan mereka hanya karena Aku tidak menyukai mereka. Jika Aku harus berinteraksi dengan mereka untuk pekerjaan atau dalam kehidupan sehari-hari, Aku dapat menahannya. Aku tidak bisa menolak untuk berinteraksi dengan orang-orang semacam itu hanya karena Aku tidak menyukai mereka, sehingga menunda pekerjaan atau memengaruhi hal-hal tertentu yang harus diselesaikan. Namun, jika tidak diperlukan, Aku sama sekali tidak akan berinteraksi dengan orang-orang semacam itu.

Ada jenis orang lainnya yang hanya suka makan, minum, dan bersenang-senang, mengabaikan tugas yang semestinya. Jika itu karena mereka masih muda dan belum dewasa, karakternya belum stabil, atau karena mereka dimanjakan di rumah, sehingga mereka tidak tahu bagaimana mengurus hal-hal yang semestinya atau berfokus pada tugas yang semestinya—dan mereka tidak mencoba mempelajari keterampilan teknis apa pun atau memperoleh pengetahuan dan keahlian—ini dapat dimaklumi. Namun, ada orang-orang yang sudah berusia dua puluhan, tiga puluhan, atau empat puluhan, dan masih mengabaikan tugas yang semestinya serta luntang-lantung sepanjang hari. Ketika tidak ada yang harus dilakukan, mereka suka mengobrol kosong, berbincang-bincang, dan berkeliaran menjalani hidup dengan asal-asalan. Mereka tidak pernah memikirkan hal-hal yang semestinya ataupun berfokus pada tugas yang semestinya, dan mereka tidak berusaha mempelajari keterampilan teknis apa pun atau memperoleh pengetahuan dan keahlian apa pun. Mereka tidak membaca firman Tuhan, memikirkan masalah kehidupan, ataupun merenungkan jalan apa yang seharusnya orang tempuh. Mereka tidak pernah merenungkan bagaimana seharusnya menghindarkan diri dari menempuh jalan yang salah setelah melihat orang lain menempuhnya, juga tidak melihat orang-orang yang telah memiliki jalan masuk ke dalam firman Tuhan dan kebenaran serta telah memperoleh sesuatu dari hal-hal itu agar dapat belajar dari mereka. Mereka tidak pernah merenungkan hal-hal yang semestinya ini. Ketika ada waktu luang, mereka hanya makan, minum, dan bersenang-senang, membaca berita hiburan dan mengikuti perkembangan dari berbagai industri. Tenggelam dalam segala macam sumber berita, majalah, dan tren-tren sosial, mereka hanya mengikuti arus dan menjalani hidup dengan santai, menjalani hari demi hari begitu saja. Bahkan setelah menjalani hidup tanpa arah selama sekitar satu dekade, mereka sama sekali tidak memiliki kesadaran dan tidak pernah merasa tertekan. Siapa pun yang memangkas atau menyingkapkan mereka, mereka tidak memedulikannya, tetap mati rasa dan lambat dalam berpikir, serta tidak tahu bagaimana mencari kebenaran. Orang-orang semacam itu hanya menjalani hidup dengan asal-asalan, hanya menumpang hidup dan menunggu mati. Jenis orang ini juga sering kali sinis, merasa bahwa segala sesuatunya tidak adil dan di mana pun mereka berada, bakat mereka tidak memiliki wadah untuk disalurkan. Namun, mereka gagal mempelajari apa pun karena kurangnya upaya mereka, tidak pernah menanggapi pekerjaan apa pun dengan serius, tidak pernah menanggapi satu pun perkataan yang benar dengan serius, dan tidak pernah memikirkan apa yang seharusnya mereka lakukan di masa depan. Mereka mengungkapkan diri mereka dengan cukup jelas, dan memiliki ide, cita-cita, dan keinginan, tetapi mereka sama sekali tidak mewujudkannya dalam tindakan. Doktrin yang mereka bicarakan cukup bagus dan luhur, dan orang-orang menganggapnya masuk akal dan beralasan, dan bahkan cukup enak didengar, tetapi dalam hal melakukan hal-hal praktis di kehidupan nyata, mereka tidak dapat mengerahkan tenaga apa pun dan tidak mengambil tindakan nyata apa pun. Aku tidak menyukai orang-orang semacam itu. Mungkin kualitasmu sangat biasa-biasa saja, atau engkau cukup lambat dalam berpikir, bakat alamimu kurang, dan engkau tidak memiliki karunia atau talenta apa pun. Namun, engkau sangat tekun, engkau mengerahkan banyak upaya dalam melakukan berbagai hal dan melakukannya dengan rajin, engkau bersedia menanggung kesukaran, dan mampu membayar harga. Siapa pun yang memercayakan tugas kepadamu, engkau sangat bersungguh-sungguh dan bertanggung jawab, serta mampu memikul tanggung jawab atas tugas itu sampai akhir. Engkau juga dengan ketat berpegang teguh pada prinsip, sampai-sampai terkadang engkau bahkan menyebabkan orang lain terkekang; orang-orang merasa bahwa engkau terlalu serius dan terlalu ketat berpegang teguh pada prinsip, tetapi engkau mampu terus bertahan melakukannya. Aku menyukai orang semacam ini. Bukanlah masalah besar jika kualitasmu sedikit buruk dan engkau sedikit lambat dalam berpikir. Setidaknya engkau bukanlah orang yang bermulut manis, curang, licik, atau seseorang yang menjalani hidup dengan asal-asalan. Meskipun kualitasmu tidak tinggi dan bakat alamimu kurang, engkau suka mempelajari berbagai hal, dan engkau belajar dengan cara yang sangat serius serta praktis dan realistis, tanpa bersikap asal-asalan. Saat orang lain telah berhenti mencoba mempelajari sesuatu, engkau terus mencoba sampai engkau menguasainya. Aku menyukai orang semacam ini. Mereka berperilaku dan bertindak dengan langkah yang mantap dan terukur, tidak pernah menetapkan tujuan yang terlalu tinggi, dan sangat bersungguh-sungguh. Mereka memperlakukan orang dan hal-hal dengan ketulusan. Bahkan ketika memandikan anjing, mereka memandikannya sampai benar-benar bersih dan menyeluruh; jika tidak, mereka merasa sedang bersikap asal-asalan. Mereka memperlakukan bahkan seekor anjing pun dengan semestinya. Aku menyukai orang-orang seperti ini. Ada orang-orang yang mampu menipu orang lain, dan mereka juga mampu menipu Tuhan dan bersikap asal-asalan terhadap-Nya; mereka berbicara dengan sangat manis tetapi tidak melakukan hal-hal nyata. Aku tidak bersedia memperhatikan atau berinteraksi dengan orang-orang semacam itu. Mungkin engkau fasih berbicara, dan engkau tahu cara menyanjung dan mengucapkan kata-kata yang manis didengar, tetapi Aku tidak bersedia mendengarkan perkataan semacam itu. Aku tidak akan termakan oleh hal-hal semacam itu.

Aku mengucapkan firman ini agar engkau semua dapat memahami-Ku. Aku hanyalah orang biasa yang hidup dalam kemanusiaan yang normal. Dibandingkan dengan Tuhan yang di surga, Aku sangat tidak berarti; Aku adalah orang yang sangat lumrah, sangat biasa. Aku tidak memiliki citra yang luhur, dan tidak memiliki kemampuan yang luar biasa. Aku tidak menjulang di atas orang lain, apalagi ingin menonjol di antara orang banyak. Aku hanyalah orang yang sangat lumrah, dan juga orang yang sangat sederhana. Aku merasa bahwa orang biasa seperti-Ku, yang hidup dalam kemanusiaan yang normal, sepenuhnya mampu memikul tahap pekerjaan Tuhan pada akhir zaman ini, dan juga mampu mengungkapkan seluruh kebenaran yang hendak Tuhan ungkapkan pada akhir zaman, agar engkau semua dapat memperoleh dari-Ku semua aspek kebenaran yang berasal dari Tuhan yang dibutuhkan untuk memperoleh keselamatan. Bagi engkau semua, daging Tuhan yang berinkarnasi sudah cukup untuk memungkinkan engkau semua memperoleh keselamatan; aspek atau sisi mana pun dari daging ini yang dapat engkau semua lihat dan jumpai sebenarnya sudah cukup untuk tujuan ini. Oleh karena itu, sebagai orang normal, jika engkau memiliki hati nurani dan rasionalitas, engkau tidak seharusnya terus-menerus membandingkan Tuhan yang berinkarnasi dengan Tuhan yang di surga. Jika engkau melakukannya, di satu sisi, itu tidak ada manfaatnya bagimu, dan di sisi lain, Tuhan yang di surga tidak akan suka engkau melakukannya. Terlebih lagi, jika engkau terus-menerus membandingkan Tuhan yang berinkarnasi dengan Tuhan yang di surga, hingga taraf yang besar, itu akan memengaruhi penerimaanmu terhadap firman yang diucapkan dan pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan yang berinkarnasi, serta pembekalan semua aspek kebenaran yang kaubutuhkan yang berasal dari-Nya. Ada juga aspek yang bahkan lebih penting, yaitu betapa pun kecilnya, betapa pun normalnya, atau betapa pun biasanya Tuhan yang berinkarnasi, bagaimanapun juga, Dia adalah pengungkapan Tuhan di bumi, perwujudan Tuhan di bumi, dan representasi Tuhan di bumi. Sebanyak apa pun dari diri Tuhan yang dapat Dia representasikan atau sebanyak apa pun dari diri Tuhan yang dapat Dia wujudkan, setidaknya, di mata Tuhan, Dia merepresentasikan Tuhan, dan Dia adalah representasi sebagian dari identitas Tuhan, esensi Tuhan, dan watak Tuhan. Oleh karena itu, setidaknya, Dia merepresentasikan identitas Tuhan, dan Dia juga merepresentasikan pekerjaan yang hendak Tuhan lakukan di bumi; Dia bertindak atas nama Tuhan, atau dapat dikatakan bahwa Dia bertindak atas nama Tuhan untuk melakukan pekerjaan di bumi. Sebanyak apa pun engkau memandang atau menyembah Tuhan yang di surga, Tuhan tidak suka engkau membandingkan Tuhan yang berinkarnasi dengan Tuhan yang di surga, Dia juga tidak suka engkau memisahkan Tuhan yang berinkarnasi dari Tuhan yang di surga. Terlebih lagi, Dia tidak suka jika, ketika membandingkan Tuhan yang berinkarnasi dengan Tuhan di yang surga, engkau menjunjung tinggi Tuhan yang di surga tetapi memandang rendah Tuhan yang di bumi, atau jika engkau penuh kekaguman dan penghormatan terhadap Tuhan yang di surga tetapi penuh permusuhan dan diskriminasi terhadap Tuhan yang di bumi, dan bahkan menghakimi, mengutuk, dan menyerang-Nya. Oleh karena itu, dalam hal bagaimana orang memperlakukan Tuhan yang berinkarnasi, di satu sisi, mereka harus memperlakukan-Nya dengan benar dan menerima kemanusiaan-Nya yang normal; di sisi lain, mereka harus menerima kebenaran yang Dia ungkapkan dan watak yang Dia ungkapkan sesuai dengan identitas dan status Tuhan. Ketika Dia memperlihatkan kemanusiaan yang normal dan mengungkapkan watak Tuhan atau mewujudkan esensi Tuhan, apa yang kaulihat dan apa yang mampu kaupahami adalah tepat seperti itu. Pada akhirnya dengan perspektif dan sikap makhluk ciptaan, engkau harus tunduk dan menerima firman Tuhan yang Dia ungkapkan, atau watak serta esensi Tuhan yang Dia perlihatkan. Selain tidak membandingkan Tuhan yang berinkarnasi dengan Tuhan yang di surga, engkau juga tidak boleh memperlakukan Tuhan yang berinkarnasi dan Tuhan yang di surga secara berbeda. Karena, bagaimanapun juga, Tuhan yang di surga dan Tuhan yang berinkarnasi pada esensinya adalah satu—hanya saja terdapat perbedaan dalam wujud penampakan Mereka saat dilihat langsung dengan mata telanjang—entah engkau membandingkan Tuhan yang berinkarnasi dengan Tuhan yang di surga atau tidak, pada akhirnya, caramu memperlakukan Tuhan yang berinkarnasi haruslah bermuara pada fakta bahwa Dia memiliki identitas Tuhan dan esensi Tuhan. Kemanusiaan normal seperti apa pun atau penyingkapan dan perwujudan seperti apa pun yang kaulihat dengan mata telanjang pada diri Tuhan yang berinkarnasi, atau tampak senormal, sebiasa, dan senyata apa pun diri-Nya, engkau harus menerima, menyambut, dan tunduk kepada-Nya dari perspektif makhluk ciptaan, alih-alih menentang-Nya. Orang selalu suka membandingkan Tuhan yang berinkarnasi dengan Tuhan yang di surga. Hal terburuk tentang hal ini adalah bahwa orang paling cenderung menggunakan gagasan dan imajinasi manusia tentang Tuhan untuk menghakimi, menghukum, atau menolak Tuhan yang berinkarnasi. Oleh karena itu, membandingkan Tuhan yang berinkarnasi dengan Tuhan yang di surga adalah jalan yang berujung pada kematian bagimu. Apa arti jalan yang berujung pada kematian? Ini mengacu pada apa yang telah Kukatakan sebelumnya, yaitu engkau pasti mencari mati! Dan apa artinya mencari mati? Itu tidak berarti bahwa rumah Tuhan akan mengeluarkanmu atau mengusirmu. Sebaliknya, itu berarti perbuatan jahat yang telah kaulakukan begitu parah sehingga engkau akan menderita hukuman dan dibinasakan; itu sama dengan menantang maut. Ketika engkau melakukan kejahatan semacam itu, orang tidak dapat melakukan apa pun terhadapmu, tetapi Tuhan akan mengutukmu berdasarkan perbuatan jahatmu. Lalu mengapa Kukatakan bahwa ini berarti mencari mati? Ada alasan Aku menggunakan ungkapan "engkau pasti mencari mati", yaitu bahwa pendekatanmu ini merepresentasikan jalan yang kautempuh. Jalan macam apa yang sedang kautempuh? Pendekatanmu ini merepresentasikan bahwa engkau sedang menempuh jalan yang berujung pada kebinasaan. Apa arti jalan yang berujung pada kebinasaan ini? Itu berarti bahwa Tuhan dengan jelas bersaksi bahwa Tuhan yang berinkarnasi di bumi ini merepresentasikan diri-Nya dan merepresentasikan maksud-maksud-Nya pada akhir zaman, dan bahwa Tuhan yang berinkarnasi ini adalah perwujudan-Nya dan pemikul pekerjaan-Nya pada akhir zaman, tetapi engkau tidak menerima firman ini. Engkau bersikeras menolak untuk mengakui identitas dan esensi Tuhan yang berinkarnasi ini, dan engkau tidak menerima firman dan pekerjaan-Nya. Engkau bukan saja tidak menerimanya, tetapi engkau bahkan menolaknya, dan engkau bahkan sering berdoa dan memohon kepada Tuhan yang di surga, ingin melangkahi Tuhan yang berinkarnasi untuk mendapatkan perkenanan dari Tuhan yang di surga dan dengan demikian memperoleh keselamatan. Artinya, engkau hanya percaya kepada Tuhan yang di surga, sedangkan mengenai Tuhan yang berinkarnasi, yaitu Dia yang kepadanya dipercayakan pekerjaan Tuhan di bumi, engkau tidak menerima-Nya. Itu berarti engkau sedang menolak pekerjaan yang dilakukan dan firman yang diucapkan oleh Tuhan yang di surga setelah Dia datang ke bumi; engkau sedang menolak diri-Nya yang telah menjadi manusia di bumi, sehingga jalan yang kautempuh adalah jalan kebinasaan. Sebanyak apa pun engkau menyembah dan memendang Tuhan yang di surga, Tuhan tidak menerima ataupun mengakuinya. Jalan yang sedang kautempuh adalah jalan kebinasaan; ini disebut mencari mati. Apa artinya mencari mati? Itu berarti kejahatan yang telah kaulakukan terlalu besar dan dapat menyebabkanmu dihukum; ini sama dengan menantang maut. Jalan yang kautempuh dan jalan penerapan yang kauambil itu salah. Engkau memosisikan dirimu melawan Tuhan, engkau bersikap memusuhi Tuhan. Jangan mengira: "Aku percaya kepada Tuhan yang di surga. Tuhan yang berinkarnasi hanyalah orang biasa. Aku menerima firman yang Dia ucapkan, tetapi mengenai diri-Nya dalam rupa manusia, aku tidak menerima bahwa Dia adalah Kristus, bahwa Dia adalah Tuhan. Bagaimana mungkin Dia merepresentasikan identitas Tuhan? Aku benar-benar tidak mengakui bahwa Dia adalah Tuhan di bumi. Tidak ada Tuhan lain selain Tuhan yang di surga." Jika engkau mengucapkan perkataan ini, engkau berada dalam masalah. Engkau sedang menempuh jalan kebinasaan; ini adalah mencari mati. Apakah ada orang-orang dalam sejarah yang "mencari mati"? Apakah ada orang-orang yang jelas-jelas menempuh jalan kebinasaan? Apakah Paulus salah satunya? (Ya.) Paulus adalah orang semacam itu, dan begitu pula para ahli Taurat, orang-orang Farisi, dan para imam kepala itu. Mereka hanya percaya kepada nama Yahweh, dan hanya percaya kepada Tuhan yang di surga. Ketika Tuhan menjadi daging dan datang ke bumi, mereka melihat bahwa Tuhan Yesus hanyalah orang biasa, dan terlebih lagi, putra seorang tukang kayu yang miskin, sehingga mereka menolak untuk menerima-Nya apa pun yang terjadi: "Aku sama sekali tidak akan menerima-Mu. Aku hanya percaya kepada Tuhan yang di surga!" Dan apa yang dikatakan Tuhan yang di surga kepada mereka? "Engkau pasti mencari mati!" Ungkapan yang sama yang baru saja Kugunakan. Apa hasilnya? Fakta membuktikan bahwa mereka mencari mati, bukan? (Ya.) Apakah engkau semua ingin menempuh jalan semacam itu? (Tidak.) Kalau begitu, jangan menempuh jalan semacam itu. Jika engkau telah menempuh jalan semacam ini sebelumnya, cepatlah berbalik, bertobat, dan mengakui dosa-dosamu; masih belum terlambat untuk berbalik sekarang. Namun, engkau semua tidak boleh menggunakan ungkapan "engkau pasti mencari mati" sembarangan. Kapan pun engkau semua mengucapkannya, ada sikap yang gampang marah di dalamnya. Orang-orang di dunia kejahatan sering berkata, "Engkau pasti mencari mati!" Maksud mereka adalah mereka ingin membunuh seseorang. Sedangkan ketika Aku mengatakannya, itu berbeda dari ketika mereka mengatakannya. Ketika Aku mengatakannya, tidak ada sikap yang gampang marah di dalamnya, dan Aku tidak sedang mencoba menggertak. Aku hanya ingin mengingatkanmu: Jangan menempuh jalan Paulus; itu akan berarti mencari mati, dan itu adalah jalan kebinasaan. Jika engkau menempuh jalan ini, engkau akan dibinasakan, dan engkau akan berakhir dengan kesudahan yang sama seperti Paulus; itu akan sangat mengerikan. Paulus tidak mendengar banyak kebenaran pada saat itu. Fakta bahwa dia mencari mati adalah kesalahannya sendiri dan ditentukan oleh natur dirinya. Namun sekarang, engkau semua memiliki kisah tentang Paulus sebagai peringatan, jadi engkau semua tidak boleh mencari mati. Jangan menempuh jalan kebinasaan itu. Kebenaran tentang inkarnasi telah dijelaskan dengan sangat gamblang sekarang, dan berbagai kebenaran tentang memperoleh keselamatan juga telah dijelaskan dengan sangat gamblang. Jika engkau masih dengan sengaja menentang dan bersikeras menolak untuk menerima Tuhan yang berinkarnasi, bukankah ini mencari mati? Ini membuktikan bahwa engkau adalah orang yang sama seperti Paulus. Engkau semua sama sekali tidak boleh menempuh jalan ini!

Sekarang setelah Aku bersekutu begitu banyak, apakah engkau semua jelas tentang bagaimana seharusnya engkau semua memperlakukan Tuhan yang berinkarnasi, dan bagaimana menyikapi hubungan antara Tuhan yang berinkarnasi dan Tuhan yang di surga dengan semestinya? (Ya.) Lalu apa saja prinsip-prinsipnya dalam hal ini? Ada berapa prinsip? Berikan ringkasan. (Melalui persekutuan Tuhan hari ini, prinsip pertama yang telah kupahami adalah menerima kemanusiaan yang normal dari Tuhan yang berinkarnasi, dan menyikapi dengan benar kemanusiaan yang normal dari daging yang dikenakan oleh Tuhan, termasuk menyikapi dengan benar kebutuhan pokok dan pilihan-pilihan-Nya di dalam kemanusiaan normal-Nya. Prinsip lainnya adalah bahwa Tuhan yang di bumi memiliki esensi Tuhan, jadi selama Dia dapat mengungkapkan kebenaran dan menyelamatkan manusia, kami seharusnya menerima-Nya dan tunduk kepada-Nya. Ini adalah kuncinya.) Biar Kutekankan beberapa hal lagi. Secara teori, kemanusiaan yang normal dari Tuhan yang berinkarnasi tidak berkaitan dengan kebenaran, juga tidak berkaitan dengan pekerjaan yang hendak Tuhan lakukan. Lebih tepatnya, kemanusiaan yang normal mengacu pada hal-hal yang ada dalam lingkup kehidupan Tuhan yang berinkarnasi. Mengenai Orang ini—apa yang Dia sukai, kepribadian-Nya, rentang emosi yang Dia alami, serta berbagai pendapat, sudut pandang, pemahaman, pilihan-Nya, dan hal-hal lain mengenai kehidupan dan masyarakat—jika dinilai dari perspektif kemanusiaan, apakah perwujudan-perwujudan-Nya ini sejalan dengan hati nurani dan rasionalitas kemanusiaan yang normal? (Ya.) Mereka yang menjawab "ya" harus bertanggung jawab atas jawaban itu. Engkau harus menjelaskan dengan gamblang: Dari manakah "ya"-mu ini? Apakah ini doktrin, sekadar membeo, ataukah engkau benar-benar memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang hal ini? (Tuhan, sudut pandangku adalah bahwa, entah Tuhan membimbing kami dalam menghidupi kemanusiaan yang normal atau meminta kami untuk membedakan beberapa orang, peristiwa, dan hal-hal yang kami temui, semuanya itu memberi tahu kami bagaimana menghidupi kemanusiaan yang normal dan bagaimana menjadi orang yang jujur; semuanya itu menuntun kami ke jalan yang benar. Oleh karena itu, bimbingan Tuhan kepada manusia dalam semua aspek bermanfaat bagi mereka.) Aku akan berhati-hati untuk mengatakan bahwa semuanya itu bermanfaat bagi manusia, tetapi setidaknya, Aku sendiri percaya bahwa kata "normal" dalam "kemanusiaan yang normal" patut dijelaskan. Jadi, bagaimana seharusnya kata "normal" dijelaskan? Di satu sisi, itu berarti bahwa perspektif dan pendirian yang digunakan Tuhan yang berinkarnasi dalam memandang orang, peristiwa, dan hal-hal adalah benar. Aku telah berbicara dalam persekutuan-Ku tentang bagaimana Aku memperlakukan berbagai macam orang dan berbagai macam hal. Dapat dikatakan bahwa berbagai pandangan-Ku tentang dunia, umat manusia, dan berbagai tren jahat serta tren ideologis, semua itu dimiliki oleh-Ku sebagai seorang manusia, tetapi dapat juga dikatakan bahwa semua itu berasal dari Tuhan. Tidak mungkin untuk membahas hal-hal ini secara terperinci di sini—renungkanlah sendiri hal-hal ini perlahan-lahan. Pendirian dan sudut pandang yang digunakan Tuhan yang berinkarnasi dalam memandang orang, peristiwa, dan hal-hal adalah normal—ini dalam satu aspek. Dalam aspek lainnya, sudut pandang dan pemikiran yang Dia kembangkan dari pemahaman-Nya tentang berbagai hal adalah normal; semua itu tidak menyimpang ataupun ekstrem. Aku tidak akan berani mengatakan seberapa banyak engkau semua mungkin mendapatkan manfaat dari perwujudan-perwujudan kemanusiaan-Ku yang normal saat Aku hidup dan berinteraksi dengan engkau semua, atau bahwa hal itu dapat memberimu manfaat yang sama seperti kebenaran, tetapi setidaknya, Aku tidak akan mencelakaimu. Ada juga poin yang paling dasar, yaitu bahwa berdasarkan pemikiran dan keinginan pribadi-Ku, Aku tidak pernah ingin mencelakai siapa pun. Jika Aku melihat bahwa engkau melakukan kesalahan dalam perkataanmu atau memiliki beberapa cara hidup, kebiasaan hidup, atau sikap terhadap kehidupan yang keliru, misalnya, engkau memiliki pemahaman yang menyimpang tentang memakan jenis makanan tertentu, Aku akan berbicara kepadamu dan memperbaiki pemikiran serta pandanganmu. Di satu sisi, dari pemahaman kemanusiaan yang normal, Aku membantumu memperbaiki beberapa kebiasaan hidup yang keliru, agar engkau memiliki pemikiran dan pandangan yang benar serta mampu menyikapi hal ini secara rasional. Di sisi lain yang lebih dalam, Aku melakukan ini untuk memungkinkanmu memahami dan masuk ke dalam beberapa kebenaran. Ini juga merupakan perwujudan kemanusiaan yang normal dari Tuhan yang berinkarnasi. Terlebih lagi, berbagai kebutuhan dalam kehidupan Tuhan dalam kemanusiaan yang normal, dan bagaimana Dia berinteraksi dengan berbagai macam orang, juga normal. Apa yang dimaksud dengan "normal" ini? Pernahkah engkau semua mendengar Aku menindas siapa pun, mencelakai siapa pun, menekan siapa pun, atau menipu siapa pun? (Tidak.) Aku benar-benar tidak pernah melakukan hal-hal semacam itu. Dengan identitas dan status-Ku, bukankah terlalu mudah bagi-Ku untuk mengucapkan kata-kata yang kejam atau menekan seseorang? Aku berhak untuk melakukannya, tetapi Aku benar-benar tidak pernah menindas siapa pun, bertengkar dengan siapa pun, menantang siapa pun, atau meributkan siapa pun di belakang mereka. Aku tidak pernah memiliki perwujudan-perwujudan ini. Ketika berada di antara orang-orang, Aku hanya berinteraksi dengan mereka secara normal; Aku menjadi sedikit lebih dekat dengan mereka yang memiliki kemanusiaan yang baik, dan menjauh dari mereka yang memiliki kemanusiaan yang buruk. Ketika bisa, Aku membantu, dan ketika tidak bisa, Aku membiarkan segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya. Mengenai perwujudan kemanusiaan yang normal ini, entah itu rentang emosi atau kebiasaan hidup-Ku, atau cara dan prinsip-Ku dalam berinteraksi dengan orang-orang, dari apa yang dapat engkau semua lihat, sentuh, pahami, dan pelajari secara langsung, apakah engkau semua melihat ada aspek yang tidak normal? (Tidak ada yang tidak normal; semuanya benar-benar nyata.) "Semuanya benar-benar nyata." Beberapa orang mungkin tidak terlalu memahami hal ini, jadi biar Aku mengoreksimu: Semua perwujudan kemanusiaan yang normal dari Tuhan yang berinkarnasi ini memiliki prinsip; tidak ada yang hampa atau dibuat-buat di dalamnya. Aku sendiri percaya bahwa Aku tidak pernah berlagak, dan Aku secara khusus tidak suka memberi perintah; sebaliknya, Aku suka melakukan pekerjaan nyata. Aku mengajarkan semua yang Aku ketahui dan pahami, tanpa menahan apa pun. Engkau lihat, ketika memberimu instruksi tentang suatu pekerjaan tertentu yang berkaitan dengan keterampilan profesional, Aku mengatakan sebanyak yang Aku ketahui. Pernahkah Aku menahan apa pun? (Tidak.) Aku tidak menyembunyikan atau merahasiakan apa pun; Aku melakukan yang terbaik untuk membimbing dan mengajarimu. Engkau belajar dengan sangat serius, mengerahkan banyak upaya, dan mampu menanggung banyak kesukaran, dan pada akhirnya, engkau menguasai apa yang telah Kuajarkan dan mampu bertindak secara mandiri, tidak lagi membutuhkan bimbingan-Ku. Ini membuat-Ku cukup senang, dan Aku tidak merasa cemburu. Aku bahkan mendorongmu untuk melakukan segala sesuatu secara mandiri, dan Aku bersedia membiarkanmu meraih pencapaian. Ketika engkau meraih pencapaian dan semua orang mengagumimu, Aku bahkan memberimu selamat. Ketika engkau belajar berbagai hal dari-Ku dan meraih pencapaian, serta semua orang memandang tinggi dirimu, ini membuktikan bahwa engkau mampu, dan Aku benar-benar tidak cemburu. Aku tidak mencoba mencuri perhatian darimu, Aku juga tidak mencoba mengambil pujian darimu. Aku tidak akan berkata, "Mengapa engkau tidak memberi tahu semua orang bahwa engkau mempelajari hal ini dari-Ku? Mengapa engkau tidak berterima kasih kepada-Ku?" Aku berkata, "Aku hanya mempersekutukan prinsip-prinsipnya dan tidak mengajar sebanyak itu; engkaulah yang memahaminya dengan baik." Ada banyak hal yang nyata di dalam kemanusiaan yang normal dari Tuhan yang berinkarnasi, dan di dalam kenyataan ini, ada banyak hal yang konkret. Mungkin dengan Aku memperkenalkan diri-Ku seperti ini, engkau semua yang telah berinteraksi dengan-Ku perlahan-lahan akan memahaminya. Aku sangat sederhana dalam interaksi-Ku dengan orang-orang. Aku berterus terang, Aku tidak melakukan tipu daya apa pun, Aku tidak bersiasat terhadap orang lain, dan Aku tidak memanfaatkan orang, apalagi menggunakan status-Ku untuk memerintah orang lain saat melakukan pekerjaan, ataupun menggunakan manfaat dari status-Ku untuk mencari keuntungan pribadi apa pun. Jika engkau mencoba mencari muka kepada-Ku dan menyanjung-Ku, Aku merasa cukup tidak nyaman dan gelisah, dan Aku harus menjauhimu. Jika engkau berinteraksi dengan-Ku secara normal, tanpa mencoba mencari muka kepada-Ku atau menyanjung-Ku, Aku merasa cukup nyaman, dan Aku cukup bersedia untuk berinteraksi denganmu.

Selama bertahun-tahun Aku berinteraksi dengan orang-orang, setelah hidup selama ini, Aku telah bertemu dengan berbagai macam orang dalam kemanusiaan normal-Ku. Aku telah melihat mereka semua—ada orang yang sangat rumit, dan orang yang sangat bodoh; orang yang sangat congkak dan tidak rasional, serta orang yang sangat jahat. Kemudian, sedikit demi sedikit, Aku menemukan bahwa orang itu benar-benar berbeda satu sama lain. Aku sederhana dalam interaksi-Ku dengan orang-orang. Aku berbicara dengan sangat sederhana dan berterus terang, dan Aku juga mampu membuka diri. Namun, saat bertemu dengan berbagai macam orang, Aku melihat bahwa kemanusiaan di dalam diri orang terlalu rumit. Namun, serumit apa pun orang-orang yang Kuhadapi, ketika mengungkapkan sesuatu atau menyelesaikan suatu hal dalam kemanusiaan normal-Ku, pendirian, prinsip, metode, dan pilihan pribadi-Ku tidak pernah berubah. Berurusan dengan orang macam apa pun, pada akhirnya, cara-Ku memperlakukan orang didasarkan pada prinsip-prinsip yang sudah ada di dalam diri-Ku. Jika engkau adalah orang yang mengejar kebenaran dan memiliki kemanusiaan, kita dapat lebih banyak berinteraksi, lebih banyak bertemu, dan lebih banyak bersekutu, berbicara dari hati ke hati. Jika engkau bukan orang yang mengejar kebenaran, engkau tidak melaksanakan tugasmu, dan kemanusiaanmu sangat jahat, Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk mengurangi pertemuan dan interaksi denganmu. Aku hanya melakukan secukupnya untuk menjaga kesopanan. Jika engkau mampu mencari kebenaran dan dengan tulus mencari ketika engkau memiliki masalah, Aku dapat bersekutu denganmu, tetapi entah engkau dapat menerimanya atau tidak, itu adalah urusanmu sendiri. Adapun bagi mereka yang memendam niat jahat atau niat buruk, Aku juga memiliki metode dan prinsip yang sesuai untuk menangani dan memperlakukan mereka. Di luarnya, cara-Ku memperlakukan mereka tidak berubah; Aku tetap mempersekutukan firman tersebut dan tetap melakukan hal-hal ini, dan itu tetap merupakan perwujudan dari kemanusiaan normal-Ku, tetapi ini tidak berarti Aku tidak dapat melihat orang macam apa mereka itu. Di luarnya, engkau melihat bahwa Aku selalu seperti ini, sederhana dalam cara-Ku memperlakukan orang, memperlakukan semua orang secara rasional di dalam kemanusiaan yang normal. Inilah yang engkau lihat di luarnya, tetapi tahukah engkau apa yang Kupikirkan tentang mereka di dalam hati-Ku? Aku memiliki prinsip dan pandangan mengenai orang semacam ini. Apa saja prinsip dan pandangan ini? Jika Aku menilai mereka dari perspektif dan nalar kemanusiaan normal-Ku, masalah mereka bukanlah masalah besar. Namun, jika Aku memandang jalan yang mereka tempuh dan kesudahan masa depan mereka dari perspektif keilahian-Ku, maka masalah mereka sangatlah serius. Oleh karena itu, pada diri-Ku, terkadang kemanusiaan normal-Ku dan keilahian-Ku sedang diselaraskan. Saat Aku menyelaraskan keduanya, mungkin saja Aku sedang bersikap lunak terhadapmu, memberimu kesempatan, mengamatimu, dan menunggumu untuk berbalik arah, dan mungkin juga Tuhan yang di surga sedang memberimu kesempatan. Pada diri-Ku, ini adalah proses penyelarasan antara kemanusiaan normal-Ku dan keilahian-Ku. Aku tidak bersedia bertemu denganmu, tetapi karena, engkau mungkin tidak melanggar ketetapan administratif ataupun prinsip-prinsip rumah Tuhan, engkau masih berada di rumah Tuhan. Bagi-Ku, dari perspektif kemanusiaan-Ku, Aku bisa bersabar terhadapmu dan tidak mempermasalahkan apa yang telah kaulakukan, tetapi dari perspektif keilahian-Ku, Aku telah menyatakan dirimu bersalah. Sementara Aku menyatakan orang-orang bersalah, dan pada saat yang sama mengampuni, memaafkan, dan tidak memperhitungkan kesalahan mereka, ada orang-orang yang disingkapkan oleh Tuhan, dan ada pula yang melakukan kejahatan besar, mendatangkan konsekuensi serius, dan diusir. Sementara Aku menunggu, ada orang-orang yang tetap melaksanakan tugas mereka di rumah Tuhan. Selama proses pelaksanaan tugas mereka, mereka berangsur-angsur membalikkan keadaan, berubah, dan berjuang menuju kebenaran; mereka berbalik arah di dalam hati mereka. Dari perspektif kemanusiaan normal-Ku, Aku mungkin—ketika waktunya tepat—berinteraksi dan berbincang dengan mereka yang berbalik arah, memberi mereka sedikit persekutuan dan bantuan. Namun, selama proses ini, ada orang-orang yang tetap tidak berubah sama sekali. Mereka masih memiliki perwujudan yang sama seperti sebelumnya, tidak mengejar kebenaran dan tetap menempuh jalan mereka yang semula. Dengan demikian, dari perspektif-Ku, apa pun yang telah kaulakukan kepada-Ku atau bagaimanapun engkau memandang-Ku, Aku hanya memperlakukanmu sebagai orang yang percaya kepada Tuhan. Namun, dalam penilaian kemanusiaan normal-Ku, karena engkau masih belum berubah bahkan sekarang pun, akan sangat sulit bagimu untuk berubah di masa depan. Sebenarnya, dalam keilahian-Ku, telah ditentukan sebelumnya bahwa orang semacam ini termasuk golongan yang akan binasa dan merupakan objek kebinasaan, dan pada dasarnya mustahil bagi mereka untuk berubah. Namun, ini dilihat dari perspektif keilahian-Ku. Bagaimanapun juga, kemanusiaan memiliki keterbatasannya. Terkadang, di bawah batasan hati nurani atau nalar-Nya, Tuhan yang berinkarnasi akan memiliki beberapa niat baik manusia dan mengharapkan yang terbaik bagi orang-orang. Dia akan berharap bahwa beberapa orang akan berbalik arah selama periode tertentu, atau dalam hal tertentu di masa depan, atau selama peristiwa besar. Mungkin mereka akan mampu berubah. Dalam keadaan seperti itu, Dia memberi kesempatan kepada beberapa orang melalui cara-Nya memperlakukan mereka.

Di satu sisi, kemanusiaan normal dari Tuhan yang berinkarnasi ini bekerja sama dengan sebagian pekerjaan keilahian-Nya atau mengungkapkan beberapa pendapat dan sudut pandang. Di sisi lain, Dia juga memberikan bantuan, atau terus-menerus memverifikasi esensi, natur, atau jalan orang-orang, yang dilihat oleh keilahian Tuhan. Oleh karena itu, kemanusiaan normal dari Tuhan yang berinkarnasi ini bukan hanya untuk memikul pelayanan Kristus dan Anak manusia. Bagi manusia, yang lebih penting adalah bahwa Dia memampukan mereka untuk memperoleh pemahaman yang lebih besar tentang Tuhan yang di surga. Artinya, Dia memberi lebih banyak kesempatan kepada orang-orang untuk lebih memahami Tuhan yang di surga dan melihat lebih banyak esensi-Nya, dari Tuhan yang berinkarnasi. Di sisi lain lagi, Dia berfungsi untuk memulihkan hubungan antara umat manusia yang rusak dan Tuhan yang di surga dengan lebih baik. Mungkin engkau semua tidak terlalu memahami kata "memulihkan". Jika engkau semua tidak memahaminya, tidak ada yang dapat dilakukan; tidak ada kata yang lebih cocok. Aku akan memberikan sebuah contoh. Ketika engkau mengembangkan gagasan tentang aspek tertentu dari maksud Tuhan atau tuntutan Tuhan, engkau tidak dapat menerima maksud atau tuntutan ini. Engkau mulai memiliki pemikiran dan mengembangkan pemberontakan, dan kemudian engkau tidak mampu untuk tunduk. Pada saat ini, Tuhan yang berinkarnasi memahami dan memperhatikan kesulitan serta kelemahanmu. Dia mengucapkan beberapa firman, melakukan beberapa pekerjaan, dan memberikan beberapa contoh. Melalui persekutuan, Dia membantumu melihat apa maksud Tuhan itu, di mana letak kesalahan dalam sikapmu terhadap Tuhan, dan bagaimana engkau seharusnya membalikkan keadaan yang memberontak ini untuk mencapai ketundukan kepada Tuhan. Melalui persekutuan yang manusiawi atau bantuan dan dukungan yang manusiawi dari Tuhan yang berinkarnasi, gagasan dan kesalahpahamanmu tentang Tuhan dihilangkan. Setelah itu, sikapmu terhadap Tuhan mengalami sedikit pergeseran; itu berubah dari memberontak dan menentang menjadi bersedia untuk tunduk. Kemudian engkau sampai pada tahap mengenal dirimu sendiri, membenci dirimu sendiri, dan memahami bahwa sudah sepantasnya bagi Tuhan untuk bertindak dengan cara ini, dan bahwa Tuhan memiliki niat yang tekun. Melalui persekutuan, pemulihan, dukungan, dan bantuan semacam itu dari Tuhan yang berinkarnasi, Dia memungkinkanmu untuk memahami maksud Tuhan dengan memperkenalkan seperti apa watak, esensi, dan maksud Tuhan yang di surga, dan Dia juga memungkinkanmu untuk mengetahui di mana letak kesalahanmu dan bagaimana cara bertobat. Begitu kedua aspek ini dipersekutukan dengan jelas, dan engkau pada akhirnya mencapai titik di mana engkau tidak lagi memberontak terhadap Tuhan atau menentang-Nya, dan engkau memiliki kesediaan untuk tunduk, sikap Tuhan yang di surga terhadapmu akan sedikit berubah. Dia tidak akan lagi menyatakan dirimu bersalah dan tidak lagi membencimu; kemarahan-Nya terhadapmu akan dihilangkan. Begitu kemarahan Tuhan dihilangkan, engkau merasakan kedamaian, penghiburan, dan kenikmatan di dalam hatimu; ketika engkau kembali datang ke hadapan Tuhan untuk berdoa, engkau merasa engkau memiliki hal-hal untuk dikatakan kepada-Nya, engkau merasakan kehadiran Tuhan, dan hatimu tenang serta damai. Saat kembali memikirkannya, engkau menyadari bahwa sebelumnya engkau terlalu memberontak terhadap Tuhan, dan kehendakmu sendiri terlalu kuat, yang menyebabkan Tuhan membencimu. Engkau kemudian merasakan penyesalan, dan ketika nantinya engkau kembali menghadapi hal-hal semacam itu, engkau tidak akan pernah lagi memberontak terhadap Tuhan. Melalui persekutuan dan dukungan dari Tuhan yang berinkarnasi, sikapmu terhadap Tuhan berbalik sepenuhnya, serta hubunganmu dengan Tuhan berubah total dan membaik, sehingga hubunganmu dengan Tuhan tidak lagi berada dalam keadaan sebelumnya, melainkan berkembang ke arah yang positif. Engkau lihat, jika Tuhan yang berinkarnasi tidak mengucapkan firman ini atau melakukan pekerjaan ini, mengingat kehendak dan naturmu sendiri, engkau mungkin akan selamanya hidup dalam keadaan menentang Tuhan. Dengan demikian, hubunganmu dengan Tuhan akan tetap buntu, dan akan tetap berada dalam lingkaran setan semacam itu. Akankah Tuhan yang di surga mengubah sikap-Nya terhadapmu karena engkau tetap buntu dengan Tuhan seperti ini? Itu mustahil. Jika engkau tetap buntu dengan Tuhan seperti ini, Tuhan akan berubah dari tadinya muak dan benci terhadapmu menjadi membenci dan menolakmu. Begitu mencapai titik di mana Dia membenci dan menolakmu, apakah engkau masih memiliki kesempatan untuk memperoleh keselamatan? (Tidak.) Engkau tidak akan memiliki kesempatan, dan Tuhan akan melepaskanmu. Begitu Dia melepaskanmu, hidupmu sebagai orang percaya berakhir di sana. Aku tidak akan mau lagi menyelamatkanmu, dan Aku tidak perlu lagi berhubungan denganmu. Engkau akan sepenuhnya dikeluarkan dari barisan orang-orang yang Kuselamatkan. Aku tidak ingin melihatmu lagi, karena selama waktu Aku menunggu, engkau tidak pernah berbalik arah. Hati nurani dan nalarmu tidak berfungsi, dan tak seorang pun bisa membuatmu berbalik arah. Aku memberimu kesempatan untuk waktu yang sedemikian lama, tetapi engkau tidak berbalik arah. Oleh karena itu, dalam situasi seperti ini, jika tak seorang pun muncul untuk memulihkan hubungan antara Tuhan dan manusia, maka hubunganmu dengan Tuhan akan terputus sama sekali. Hasil akhirnya adalah Tuhan akan membenci dan menolakmu, engkau akan selamanya terpisah dari terang wajah Tuhan, dan engkau tidak akan lagi menjadi makhluk ciptaan di mata Tuhan; engkau akan benar-benar binasa pada saat itu. Namun, kehadiran Tuhan yang berinkarnasi memberimu kesempatan untuk memulihkan hubunganmu dengan Tuhan. Jika Tuhan yang berinkarnasi tidak menampakkan diri dan bekerja, begitu hubungan antara manusia dan Tuhan yang di surga menjadi buntu, itu akan dengan mudah menyebabkan Tuhan membenci dan menolak umat manusia. Akan mustahil bagi manusia untuk mendapat kesempatan atau semacam pesan dari pihak ketiga atau dunia luar untuk memperbaiki hubungan mereka dengan Tuhan. Hanya Tuhan yang berinkarnasi yang dapat memainkan peran ini dan melakukan pekerjaan ini; Dia menjadi pemulih antara Tuhan yang di surga dan umat manusia. Dengan pemulihan semacam itu, seluruh umat manusia tanpa disadari memperoleh lebih banyak kesempatan selama masa inkarnasi Tuhan. Kesempatan-kesempatan ini diperlukan manusia untuk memperoleh keselamatan, dan tak seorang pun bisa selamat tanpanya. Entah saat ini engkau sedang mengejar kebenaran atau akan mengejar kebenaran di masa depan, selama engkau ingin memperoleh keselamatan, kesempatan-kesempatan ini adalah hal yang paling penting bagimu. Oleh karena itu, peran Tuhan yang berinkarnasi ini sangat penting bagimu! Kemanusiaan normal dari Tuhan yang berinkarnasi adalah bagian yang tak terpisahkan dari Tuhan yang berinkarnasi. Hanya kemanusiaan normal dari Tuhan yang berinkarnasi yang dapat melihat kesempatan semacam itu, meraih kesempatan semacam itu, mengetahui bahwa umat manusia membutuhkan kesempatan semacam itu, dan memastikan kesempatan semacam itu bagi umat manusia, dan dengan cara demikian menyelesaikan masalah hubungan yang buntu antara manusia dan Tuhan. Namun, jika Tuhan yang berinkarnasi tidak memiliki kemanusiaan yang normal dan hanya memiliki keilahian, maka hubungan antara manusia dan Tuhan akan tetap menjadi hubungan antara umat manusia dan Tuhan yang di surga. Dalam hal itu, dapat dikatakan bahwa akan sangat sulit bagi manusia untuk mendapat kesempatan memperoleh keselamatan dan memperbaiki hubungan mereka dengan Tuhan. Karena Tuhan yang berinkarnasi memiliki kemanusiaan yang normal, dan karena kemanusiaan yang normal ini memiliki hati nurani dan nalar kemanusiaan, Dia mampu, dalam lingkup hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal, melihat apa yang menjadi titik fokus, alasan, dan akar penyebab dari berbagai pertentangan yang muncul antara manusia dan Tuhan. Adapun cara menyelesaikan pertentangan dan akar masalah ini agar tidak ada lagi pertentangan antara manusia dan Tuhan, dan agar hubungan mereka tidak lagi buntu, hanya Anak manusia yang hidup di dalam lingkup hati nurani dan rasionalitas kemanusiaan yang normal—Tuhan yang berinkarnasi—yang dapat melihat hal ini, yang dapat benar-benar menyelesaikan masalah ini, dan dapat melakukan pekerjaan ini. Dengan cara ini, selama proses memberontak terhadap Tuhan dan selama proses memperoleh keselamatan, orang dapat terus-menerus membereskan pemberontakan, penentangan, dan perlawanan mereka terhadap Tuhan, bukan? (Ya.) Saat engkau menyelesaikan masalah-masalah pemberontakan, perlawanan, dan penentangan terhadap Tuhan ini, Tuhan terus-menerus mengampunimu, menerimamu, dan mengakuimu. Engkau berubah dari memberontak, melawan, dan menentang menjadi terus-menerus mengakui dosa-dosamu dan bertobat, dan kemudian memiliki kesediaan untuk menerima kebenaran, mencapai ketundukan yang tulus, dan tidak lagi memberontak terhadap Tuhan. Selama proses ini, engkau diampuni oleh Tuhan, dan kemudian engkau memperoleh kebenaran, berangsur-angsur datang ke hadapan Tuhan, berangsur-angsur memperbaiki hubunganmu dengan Tuhan, dan berangsur-angsur diterima oleh Tuhan. Engkau lihat, siapakah penerima manfaat utama di sini? (Manusia.) Manusia memperoleh begitu banyak manfaat! Proses ini memungkinkanmu untuk melihat harapan untuk hidup, dan harapan untuk bertahan hidup. Namun, sebelum Tuhan yang berinkarnasi melakukan pekerjaan-Nya, manusia memiliki banyak gagasan dan imajinasi tentang Tuhan, serta segala macam pemberontakan; ada banyak masalah dalam hubungan antara manusia dan Tuhan. Selama masa ketika Tuhan yang berinkarnasi telah bekerja dan mengungkapkan begitu banyak kebenaran, masalah-masalah umat manusia ini telah berangsur-angsur diselesaikan. Sudut pandang, sikap, pendirian, dan perspektif orang terhadap Tuhan telah berangsur-angsur membaik, dan saat semua itu berangsur-angsur membaik, sikap orang terhadap Tuhan juga telah berubah. Hanya ketika orang-orang berubahlah Tuhan akan berangsur-angsur mengakui mereka, berangsur-angsur menerima dan menyukai mereka, dan berangsur-angsur melepaskan kebencian, kejijikan, penolakan, dan kutukan-Nya terhadap mereka. Jika Tuhan tidak menjadi daging, sebanyak apa pun tenaga yang kaukerahkan atau semahal apa pun harga yang kaubayar dalam kepercayaanmu kepada Tuhan selama bertahun-tahun ini, akankah engkau mampu memperoleh semua hasil ini? (Tidak.) Tanpa Tuhan yang berinkarnasi, hubungan antara manusia dan Tuhan tidak akan pernah membaik. Poin terpenting tentang Tuhan yang berinkarnasi adalah bahwa Dia memiliki kemanusiaan yang normal dan hidup di dalam kemanusiaan yang normal. Hanya dengan hidup di dalam kemanusiaan yang normal, memiliki hati nurani dan rasionalitas kemanusiaan yang normal, dan mampu berpikir, menilai, dan membuat keputusan dengan benar, serta memahami dan mengetahui berbagai macam orang, peristiwa, dan hal-hal, barulah Dia dapat secara normal, sedikit demi sedikit, menyediakan berbagai kebenaran yang orang butuhkan, agar orang dapat berangsur-angsur diterima dan diakui oleh Tuhan. Hanya dengan cara ini orang dapat keluar dari berbagai watak rusak mereka, tidak lagi memberontak terhadap Tuhan, dan tidak lagi hidup di bawah belenggu Iblis untuk menentang Tuhan, melainkan, selama proses Tuhan mengungkapkan kebenaran—yaitu, selama proses Tuhan melakukan pekerjaan-Nya—mereka berangsur-angsur memiliki ketundukan yang sejati kepada Tuhan dan rasa takut yang sejati akan Tuhan. Jadi, dengan cara apa pun engkau memandangnya, makna penting Tuhan yang berinkarnasi bagi umat manusia sungguh sangat besar!

Representasi utama dari Tuhan yang berinkarnasi adalah kemanusiaan normal dari Tuhan yang berinkarnasi, dan kemanusiaan normal ini sangat diperlukan. Jadi, jika engkau memiliki banyak gagasan tentang kemanusiaan normal dari Tuhan yang berinkarnasi, yang tak pernah bisa kaulepaskan, dan engkau sering membandingkan Tuhan yang berinkarnasi dengan Tuhan yang di surga, maka Kukatakan bahwa engkau sama sekali tidak memiliki kemanusiaan. Engkau telah memperoleh begitu banyak dari kemanusiaan normal Tuhan ini, tetapi engkau bahkan tidak tahu bagaimana caranya engkau memperoleh berbagai aspek kebenaran ini. Bukankah engkau buta? Engkau tidak memiliki hati nurani, bukan? (Ya.) Engkau tidak memiliki hati nurani dan tidak mengerti apa pun. Ada orang-orang yang berkata, "Jika Tuhan tidak menjadi daging untuk berfirman dan bekerja, kami pasti sudah memperoleh keselamatan sejak lama, dan kami pasti sudah diangkat ke hadapan Tuhan sejak lama." Bukankah ini perkataan yang keliru? Bukankah terlalu konyol untuk mengatakan hal-hal semacam itu? (Ya.) Tanpa firman dan pekerjaan Tuhan yang berinkarnasi selama bertahun-tahun ini, akankah engkau semua masih hidup hari ini? Jadi, jika setelah mengikuti Tuhan yang berinkarnasi selama bertahun-tahun, dan mendengarkan-Nya mempersekutukan kebenaran selama bertahun-tahun, engkau telah merasakan dan menghayati secara mendalam bahwa, "Pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan yang berinkarnasi sangat bermanfaat bagiku! Aku benar-benar mendapat manfaat yang sangat besar!" Jika engkau benar-benar dapat menghayati hal ini, ini menunjukkan apa? Ini menunjukkan bahwa engkau memiliki hati nurani, dan penghayatanmu benar. Orang yang tidak memiliki hati nurani dan nalar tetap tidak mampu menghayati hal ini bahkan sekarang pun, dan hal ini berbahaya. Jika mereka tidak menghayatinya sekarang, akankah mereka mampu menghayatinya dalam dua puluh tahun lagi? Pasti tidak. Jelas bahwa orang semacam ini tidak memiliki hati nurani. Mereka bukan saja tidak dapat menghayati bahwa firman dan pekerjaan Tuhan yang berinkarnasi semuanya adalah keselamatan bagi manusia, tetapi mereka juga akan berkata, "Apa yang telah kuperoleh dari percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun?" Tuhan telah mengungkapkan begitu banyak kebenaran. Apakah engkau tidak memperolehnya? Tidakkah engkau merasa bahwa kebenaran adalah hal yang paling berharga? Jika engkau tidak merasa bahwa kebenaran adalah hal yang paling berharga, maka engkau bukanlah orang percaya sejati; engkau hanyalah pendompleng. Jika engkau tidak merasa bahwa engkau telah memperoleh kebenaran, maka engkau tidak memiliki hati nurani. Apakah orang yang tidak berhati nurani adalah manusia? (Bukan.) Orang yang tidak berhati nurani bukanlah manusia. Engkau lihat, berapa tahun pun seekor binatang hidup, ia tidak akan pernah tahu bahwa Sang Pencipta itu ada; dan berapa puluh ribu atau ratus juta tahun pun setan hidup, ia tidak akan pernah mengakui keberadaan Tuhan. Akankah binatang dihukum karena tidak mengetahui bahwa Tuhan itu ada? (Tidak.) Anjing hidup selama sekitar sepuluh tahun, kuda hidup selama dua puluh atau tiga puluh tahun, dan gajah bahkan mungkin hidup selama lebih dari seratus tahun. Mereka tidak mengetahui keberadaan Sang Pencipta, tetapi tak satu pun dari mereka dihukum karena hal ini, karena mereka tergolong sebagai binatang. Tuhan tidak memiliki tuntutan terhadap mereka, dan Dia juga tidak menyelamatkan mereka. Manusia itu berbeda. Tuhan memiliki tuntutan terhadap manusia dan telah menaruh harapan-Nya pada mereka. Setelah mengalami pekerjaan Tuhan yang berinkarnasi selama bertahun-tahun, engkau seharusnya mampu menghayati hal ini, bukan? Lalu bagaimana seharusnya orang memperlakukan Tuhan yang berinkarnasi? Semuanya kembali pada apa yang telah Kukatakan sebelumnya: Sebanyak apa pun Tuhan yang berinkarnasi tampak tidak sesuai dengan gagasan dan imajinasimu atau dengan apa yang kauinginkan—mungkin Dia tidak setinggi dirimu, tidak serupawan dirimu, tidak memiliki pengetahuan dan pendidikan sebanyak dirimu, dan tidak memiliki status sosial setinggi dirimu—jika engkau mampu menghayati bahwa kebenaran yang telah Dia persekutukan selama bertahun-tahun ini telah memungkinkanmu untuk menuai panen yang besar dan memperoleh kebenaran, maka engkau seharusnya menerima fakta bahwa Dia adalah Tuhan dan bahwa Dia memiliki identitas Tuhan. Jika engkau benar-benar memiliki rasionalitas, engkau tidak seharusnya selalu membandingkan Tuhan yang berinkarnasi dengan Tuhan yang di surga. Apakah ada gunanya membandingkan Mereka seperti itu? Dengan selalu membandingkan Mereka seperti ini, engkau hanya akan menempatkan dirimu sendiri dalam posisi yang sulit; selain itu, Tuhan akan muak terhadapmu, dan pada akhirnya engkau tidak akan memperoleh apa pun. Selalu membandingkan Mereka seperti ini akan memengaruhimu dalam mendapatkan kebenaran dan memperoleh keselamatan. Oleh karena itu, hanya karena kebenaran yang diungkapkan oleh Tuhan yang berinkarnasi dapat memampukanmu untuk memperoleh keselamatan, engkau tidak boleh lagi membandingkan Tuhan yang berinkarnasi dengan Tuhan yang di surga, dan engkau seharusnya menerima Tuhan yang berinkarnasi. Masih belum terlambat untuk menerima-Nya sekarang. Ada orang yang berkata, "Lalu apa arti penerimaan? Aku telah mendengarkan khotbah-Mu selama ini, bukan? Bukankah itu adalah penerimaan?" Mendengarkan khotbah tidak sama dengan penerimaan. Lalu apa sebenarnya penerimaan itu? Renungkan sendiri hal ini: Apa saja perwujudan dari tidak menerima-Nya, dan apa saja perwujudan telah menerima-Nya? Renungkan dan persekutukan hal itu di antara engkau semua. Mari kita akhiri persekutuan kita di sini untuk hari ini. Sampai jumpa!

27 Juli 2024

Sebelumnya: Cara Mengejar Kebenaran (22)

Selanjutnya: Cara Mengejar Kebenaran (26)

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Pengaturan

  • Teks
  • Tema

Warna Solid

Tema

Jenis Huruf

Ukuran Huruf

Spasi Baris

Spasi Baris

Lebar laman

Isi

Cari

  • Cari Teks Ini
  • Cari Buku Ini

Hubungi kami via WhatsApp