Cara Mengejar Kebenaran (22)

Bagaimana perasaan engkau semua setelah mendengar pernyataan dan isi tentang sifat kemanusiaan yang dipersekutukan selama periode belakangan ini? Apakah engkau sedikit lebih jelas tentang sifat orang yang benar-benar memiliki kemanusiaan? (Kami sedikit lebih jelas dibandingkan sebelumnya.) Jadi, setelah mendengar ini, apakah engkau semua telah mengambil kesimpulan apa pun tentang apa saja ciri utama orang yang memiliki sifat kemanusiaan? Apakah engkau semua mampu melihat apa ciri kemanusiaan seseorang berdasarkan hal-hal terperinci dan spesifik yang dipersekutukan? (Melalui persekutuan Tuhan baru-baru ini, aku kini memahami bahwa orang yang memiliki sifat kemanusiaan memiliki hati nurani dan nalar, serta mampu membedakan yang benar dan yang salah.) Orang yang memiliki sifat hati nurani dan nalar dalam kemanusiaan mereka memandang orang dan hal-hal, serta berperilaku dan bertindak, di atas landasan hati nurani dan nalar mereka. Pandangan mereka terhadap orang lain dan prinsip dalam cara mereka berperilaku dibangun di atas landasan hati nurani dan nalar ini. Ini sangat akurat, bukan? (Ya.) Orang yang tidak memiliki hati nurani dan nalar memiliki ciri-ciri tertentu mengenai pandangan mereka terhadap orang lain dan prinsip dalam cara mereka berperilaku. Sementara itu, orang yang benar-benar memiliki hati nurani dan nalar juga memiliki ciri-ciri tertentu mengenai pandangan mereka terhadap orang lain dan prinsip dalam cara mereka berperilaku, dan ciri-ciri ini sama sekali tidak hampa; ciri-ciri ini benar-benar terlihat dan terwujud dalam kehidupan sehari-hari dari orang-orang yang memiliki hati nurani dan nalar. Di era apa pun atau di lingkungan sosial macam apa pun seseorang hidup, jika dia memiliki hati nurani dan nalar, dia akan hidup dalam beberapa sifat kemanusiaan. Dalam setiap hal di hidupnya, atau dalam sebagian besar hal yang berkaitan dengan pemikiran dan pandangan serta prinsip dalam cara berperilaku, dia akan memperlihatkan dengan jelas sifat hati nurani dan nalar; ini sama sekali bukan sesuatu yang hampa. Periksalah hal ini pada orang-orang di sekitarmu. Bukankah demikian kenyataannya? (Ya.) Ketika orang memiliki hati nurani dan nalar, mereka akan memiliki perwujudan integritas dan kebaikan hati. Karena didorong dan dipengaruhi hati nurani, mereka akan memiliki batasan tertentu dalam cara mereka berperilaku dan bertindak, dan karena fungsi nalar mereka serta efek pengendalian nalar terhadap mereka—atau, di dalam batas nalar mereka—mereka akan memiliki perwujudan dan cara menjalani yang spesifik. Jadi, untuk menentukan apakah orang memiliki hati nurani dan nalar, lihatlah perwujudan nyata mereka; lihatlah apakah sudut pandang, prinsip, dan batasan mereka biasanya dalam cara mereka memandang orang dan hal-hal, serta cara mereka berperilaku dan bertindak, sesuai dengan standar hati nurani dan nalar, dan apakah batasan terendah mereka berada dalam batas hati nurani dan nalar serta berada di bawah kendali hati nurani dan nalar mereka. Jika, ketika memandang orang dan hal-hal, serta berperilaku dan bertindak, hati nurani dan nalar yang orang miliki tidak berfungsi, dan mereka sendiri tidak dikontrol serta tidak dikendalikan oleh hati nurani dan nalar mereka, mereka akan sering memperlihatkan bahwa mereka bertindak bertentangan dengan hati nurani dan nalar, atau telah kehilangan hati nurani dan nalar mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, yang orang ini wujudkan dan hidupi hanyalah ketiadaan hati nurani dan tidak adanya nalar. Ketika menghadapi berbagai hal, mereka hanya melontarkan penalaran yang menyimpang, dan pemikiran serta pandangan mereka sangatlah ekstrem, degil, dan abnormal. Mereka tidak spesifik dalam cara mereka berbicara, dan mereka gagal membedakan antara orang dalam dan orang luar ketika berbicara; semua yang mereka katakan tak masuk akal dan bingung. Tindakan mereka juga sering melampaui batas nalar, tidak memiliki prinsip, batasan, apalagi hikmat, dan terutama merupakan sikap yang gampang marah; mereka hanya melakukan hal-hal yang konyol dan bodoh. Entah itu bergaul dengan orang lain atau menangani berbagai hal, mereka tidak pernah bisa menemukan prinsip atau arah yang benar, apalagi memiliki prinsip atau batasan apa pun dalam cara mereka berperilaku. Mereka tidak tahu bagaimana cara berperilaku; mereka tidak tahu apa arti cara berperilaku atau berusaha menjadi orang macam apa mereka seharusnya, dan mereka juga tidak tahu apa itu kehidupan yang sejati atau jalan seperti apa yang seharusnya ditempuh orang. Di dalam hatinya, mereka sama sekali tidak memiliki konsep tentang hal-hal ini; mereka menjalani hari-hari mereka dalam kebingungan, tanpa tujuan atau arah apa pun. Setiap kali menghadapi sesuatu, mereka sekadar menjalaninya dengan bingung, tidak mampu menarik pengalaman atau pelajaran apa pun darinya, ataupun mendapatkan jalan penerapan yang benar. Seberapa lama pun mereka hidup, mereka selalu tetap berpikiran kacau dan bingung. Apakah orang-orang semacam itu memiliki hati nurani dan nalar? (Tidak.) Mereka tampaknya hidup dengan cukup bahagia dan santai setiap hari, bertindak seperti orang bodoh yang tanpa beban, tanpa mengalami kesulitan apa pun. Namun, ketika mereka menghadapi berbagai hal, makin hal-hal ini berkaitan dengan pemikiran, pandangan, dan prinsip dalam cara berperilaku, makin mereka menjadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Terutama ketika mereka menghadapi orang, peristiwa, dan hal-hal yang rumit, mereka bahkan tidak memiliki hikmat, kecerdasan, dan prinsip yang paling dasar dalam cara berperilaku. Baik dalam hal IQ maupun prinsip dalam cara berperilaku, orang-orang semacam itu tidak mencapai standar memiliki sifat kemanusiaan. Hidup di dunia ini, orang akan menghadapi segala macam orang, peristiwa, dan hal-hal, serta hal besar dan hal kecil kehidupan. Manusia sejati memiliki hati nurani dan nalar; ketika menghadapi orang, peristiwa, dan hal-hal ini, mereka memiliki prinsip, dan mereka memiliki beberapa pemikiran serta pandangan yang relatif benar dan positif. Terlebih lagi, ketika menangani orang, peristiwa, dan hal-hal ini, mereka akan membuat penilaian di dalam batas rasionalitas. Sekalipun mereka belum menerima pekerjaan Tuhan dan tidak memahami kebenaran, mereka akan tetap membuat penilaian dan menangani hal-hal ini di dalam batas hati nurani dan nalar. Mereka tidak berpikiran kacau atau bingung ketika dihadapkan pada berbagai situasi, tetapi justru didorong dan dikendalikan oleh hati nurani dan nalar mereka, sehingga mereka akan memiliki prinsip dasar dalam cara berperilaku untuk menangani hal-hal ini. Selain integritas dan kebaikan hati, ciri paling jelas lainnya dari orang-orang yang memiliki sifat hati nurani dan nalar dalam kemanusiaan mereka adalah memiliki rasa malu. Aku bersekutu sedikit tentang memiliki rasa malu ketika mempersekutukan perwujudan integritas dan kebaikan hati sebelumnya. Selain apa yang Kupersekutukan saat itu, masih ada banyak isi yang lebih spesifik, dan itulah yang akan kita lanjutkan hari ini.

Karena orang yang berhati nurani dan bernalar memiliki hati nurani yang berfungsi dan juga memiliki nalar, sudah tentu mereka akan jelas memiliki ciri berupa memiliki rasa malu dalam cara mereka berperilaku. Pertama-tama, mari kita membahas beberapa perwujudan atau pernyataan tentang memiliki rasa malu yang pernah engkau semua temui dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, ada kata-kata kotor tertentu yang tidak sanggup engkau katakan; ide untuk mengatakan hal-hal semacam itu terasa memalukan bagimu. Apakah ini berarti memiliki rasa malu? (Ya.) Ada beberapa hal yang buruk dan jahat; hal-hal itu tidak dapat diungkapkan secara terbuka, dan engkau tidak sanggup melakukannya. Apakah ini berarti memiliki rasa malu? Ketika engkau melakukan hal-hal yang memalukan, engkau merasa menyesal di dalam hatimu dan membenci dirimu sendiri. Apakah ini berarti memiliki rasa malu? (Ya.) Apa lagi perwujudan lainnya? (Orang yang memiliki rasa malu peduli dengan harga diri mereka, dan tahu untuk merasa malu jika perlu.) Ini adalah hal-hal yang dapat dipikirkan oleh siapa pun. Apa cara lain untuk mengatakan "memiliki rasa malu"? (Memiliki perasaan malu.) Dalam kehidupan sehari-hari, bukankah kita sering berkata, "Tidakkah kau punya rasa malu sedikit pun?" (Ya.) Apa yang terutama berkaitan dengan memiliki rasa malu? Apakah itu berkaitan dengan integritas dan martabat? (Ya.) Ketika orang memiliki rasa malu, mereka sangat peduli akan integritas dan martabat mereka sendiri. Mereka tidak akan mengorbankan integritas mereka atau menggunakan martabat mereka untuk ditukar dengan hal-hal yang orang anggap baik atau hal-hal yang menguntungkan diri mereka sendiri. Dalam arti tertentu, memiliki rasa malu berarti orang menjaga integritas dan martabatnya sekalipun itu berarti mengorbankan kepentingan pribadi. Hati nurani orang yang memiliki rasa malu berfungsi ketika mereka bertindak; artinya, di mata orang lain, mereka memiliki integritas dan martabat yang relatif lebih tinggi. Dalam perkataan dan tindakan mereka, tidak ada yang mereka sembunyikan dan mereka bersikap terbuka serta terang-terangan. Mereka tidak melakukan hal-hal yang tercela dan kotor, dan prinsip yang mereka taati atau argumen yang mereka ungkapkan dapat bertahan terhadap pemeriksaan orang-orang; orang lain tidak mengkritik mereka di belakang mereka atau bergosip tentang mereka. Artinya, jika orang memiliki rasa malu, cara dan metode mereka dalam melakukan sesuatu akan relatif terbuka dan terang-terangan. Mereka tidak mencoba melakukan apa pun yang curang, dan mereka tidak tercela atau kotor. Batasan untuk tindakan orang-orang semacam itu dan cara mereka bertindak pada dasarnya berada di dalam batas hati nurani dan nalar. Prinsip dan cara yang digunakan orang yang memiliki rasa malu dalam berperilaku, dan tujuan yang mereka tetapkan dalam cara mereka berperilaku, adalah seperti ini. Selain hal-hal ini, orang yang memiliki rasa malu tentu saja memiliki beberapa perwujudan yang spesifik, serta menjalani dan memperlihatkan beberapa hal yang spesifik. Atau, dalam beberapa hal, mereka memiliki beberapa pemikiran dan pandangan yang relatif positif, dan mereka berperilaku serta bertindak di bawah bimbingan pemikiran dan pandangan yang positif ini. Sebagai contoh, ketika gereja sedang memilih pemimpin di semua tingkatan, karena orang yang memiliki rasa malu memiliki watak yang rusak, mereka mencintai status dan memiliki ambisi sama seperti orang lain; mereka juga ingin dipandang tinggi, dan ingin memiliki status serta prestise yang tinggi di antara orang-orang. Mereka sama dengan orang lain dalam hal ini. Namun, cara orang yang memiliki rasa malu mencapai status bukanlah dengan mencoba segala cara untuk pamer dan menyombongkan diri sendiri demi mendapatkan penghargaan tinggi dari saudara-saudari, atau bersaing dengan orang lain tanpa malu, menggunakan cara-cara yang tidak biasa atau cara-cara yang tidak terhormat untuk melakukan hal-hal yang kotor. Sebaliknya, mereka ingin dipilih sebagai pemimpin berdasarkan kemampuan nyata mereka; misalnya, dengan mencapai beberapa hasil di bidang profesional dengan memanfaatkan kelebihan mereka atau dengan menanggung kesukaran dan membayar harga—atau, dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi saudara-saudari dengan hidup dalam kemanusiaan mereka dengan baik—agar mendapatkan pengakuan dari sebagian besar saudara-saudari, dan dengan demikian dipilih sebagai pemimpin. Jika mereka tidak terpilih, di dalam hatinya, mereka juga merasakan sedikit kekesalan. Kekesalan ini adalah perwujudan yang normal dari kerusakan, dan perwujudan yang sangat wajar dari umat manusia yang rusak. Namun, mereka mampu menyikapi hal ini dengan benar: "Fakta bahwa orang-orang tidak memilihku menunjukkan bahwa aku masih belum mencapai standar. Mungkin aku masih memiliki kekurangan di beberapa bidang. Aku tidak terpilih; aku tidak boleh mencoba bersikeras bersaing untuk itu sekarang. Setidaknya, aku harus memiliki sifat-sifat yang diinginkan dalam hal kualitas, kemanusiaan, atau kemampuan kerja agar orang-orang memilihku. Jika aku tidak terpilih karena tidak memiliki sifat-sifat yang diinginkan, tetapi tetap tanpa malu bersikeras untuk menjadi pemimpin, itu sangatlah tidak terhormat!" Meskipun di dalam hatinya, mereka merasa sedikit kecewa dan sedih setelah kalah dalam pemilihan, mereka mampu merenungkan dan mengenal diri mereka sendiri, serta melihat kekurangan dan ketidakmampuan apa yang mereka miliki. Kemudian mereka melihat kelebihan apa yang sebenarnya dimiliki oleh orang yang terpilih, mengapa saudara-saudari memilih orang tersebut, dalam aspek apa orang tersebut melakukan pekerjaan lebih baik daripada mereka, dan dalam hal apa kualitas orang tersebut lebih baik daripada kualitas mereka. Orang yang memiliki rasa malu akan menyikapi hal ini secara rasional; setelah kalah dalam pemilihan, mereka sama sekali tidak akan menentang, mengeluh, menghakimi, atau melontarkan makian. Mereka sama sekali tidak akan melakukan hal-hal ini. Mengapa mereka tidak akan melakukan hal-hal ini? Karena orang semacam ini memiliki nalar. Bahkan ketika mereka menghadapi beberapa kemunduran dan kegagalan, mereka tidak kehilangan nalar mereka; mereka tetap hidup di dalam batas nalar. Dengan demikian, mereka akan menyikapi masalah yang ada secara rasional. Sekalipun watak rusak mereka mendorong atau memengaruhi mereka untuk merasa kesal, menjadi negatif, atau bahkan merasa agak menentang, karena mereka memiliki nalar, mereka akan segera menyesuaikan mentalitas dan keadaan mereka dalam waktu singkat, dan kemudian menyikapi perkara kekalahan dalam pemilihan itu secara rasional. Mereka tidak akan bersaing demi posisi pemimpin, mereka juga tidak akan menggunakan cara atau metode yang licik untuk mencapai tujuan mereka; mereka tidak akan melakukan hal-hal yang melampaui batas. Artinya, di mata orang lain, orang ini sama dengan orang lain yang memiliki watak yang rusak: Mereka juga mencintai status dan memiliki ambisi serta keinginan untuk mendapatkannya, tetapi kecintaan mereka pada status dan cara mereka mendapatkannya berada di dalam lingkup yang diatur oleh sifat memiliki rasa malu di dalam kemanusiaan mereka. Mereka tidak akan menggunakan cara-cara yang tidak biasa untuk memperoleh status, mereka juga tidak akan pamer demi status atau memuaskan ambisi dan keinginan mereka, dengan mengatakan hal-hal yang tidak tahu malu untuk memperoleh penghargaan yang tinggi. Mereka sama sekali tidak akan mengatakan atau melakukan hal-hal semacam itu. Sebaliknya, mereka diam-diam mengerahkan upaya untuk mengejar kebenaran dan melaksanakan tugas mereka. Mereka lebih banyak bertindak dan lebih sedikit berbicara, berusaha sebaik mungkin untuk mengendalikan ambisi dan keinginan mereka akan status. Mereka berharap dapat mencapai hasil dan bekerja dengan lebih baik melalui upaya mereka sendiri, mempersiapkan tingkat pertumbuhan yang cukup bagi diri mereka sendiri agar memenuhi syarat untuk melayani sebagai pemimpin atau pekerja. Mereka juga berharap bahwa upaya mereka dapat dilihat dan diakui oleh saudara-saudari, dan bahwa kelak mereka dapat terpilih sebagai pemimpin. Sekalipun orang yang memiliki rasa malu memiliki ambisi untuk terpilih sebagai pemimpin, mereka tetap melakukan hal-hal yang relatif rasional yang berada di dalam batas hati nurani dan nalar. Dengan kata lain, sekalipun mereka memiliki ambisi umat manusia yang rusak, mereka tetap peduli dengan integritas dan martabat mereka; tanpa mengorbankan integritas dan martabat mereka, mereka melakukan hal-hal yang dianggap benar, tepat, dan relatif positif berdasarkan pemikiran serta gagasan umat manusia yang rusak. Jadi, orang yang memiliki rasa malu memperlihatkan rasa malu ini dengan sangat jelas bahkan ketika dihadapkan pada status dan keinginan. Sekalipun mereka mencintai status dan ingin menjadi pemimpin, mereka tetap peduli dengan integritas dan martabat mereka; artinya, pemikiran dan pandangan mereka mengenai hal-hal semacam itu, serta cara dan prinsip mereka dalam bertindak, relatif rasional dan positif. Pertama-tama, mereka tidak mengarang fakta untuk secara licik mendapatkan kepercayaan atau penghargaan tinggi dari orang-orang; selain itu, mereka tidak menggunakan kata-kata manis atau penampilan luar yang palsu yang dapat menipu orang-orang agar menyukai mereka demi mendapatkan penghargaan tinggi dari orang-orang itu. Sekalipun mereka mencintai status dan ingin terpilih sebagai pemimpin, mereka tidak mengarang hal-hal, tidak melakukan penipuan, ataupun menggunakan taktik. Mereka percaya bahwa prinsip dasar yang seharusnya paling mereka patuhi adalah melakukan segala sesuatu dengan cara yang praktis dan realistis, dengan tekun mengerahkan diri mereka untuk melakukan apa pun yang Tuhan tuntut dan apa pun yang benar, berjuang untuk melakukannya dengan baik, dan mencurahkan lebih banyak upaya untuk menerapkan dan mengalami kebenaran. Mereka berpikir, "Jika aku lebih memahami kebenaran dan tahu cara mempersekutukan kebenaran, bukankah saudara-saudari akan memilihku sebagai pemimpin?" Mereka berharap untuk memperoleh pengakuan melalui upaya mereka sendiri, dengan hidup dalam perwujudan hati nurani dan nalar ini secara nyata, bukannya melalui rekayasa. Dalam bahasa sehari-hari, mereka ingin memperoleh pengakuan dengan mengandalkan kemampuan nyata, bakat yang sebenarnya, dan pekerjaan nyata mereka, kemudian memiliki kesempatan untuk dipilih sebagai pemimpin. Jadi, apakah menurutmu orang-orang semacam itu memiliki rasa malu? (Ya.) Apakah menurutmu ini adalah penilaian yang objektif terhadap orang semacam ini? (Ya.) Dalam hal apa ini objektif? (Meskipun orang semacam ini juga mencintai reputasi dan status, serta memiliki ambisi dan keinginan, mereka tetap dapat menggunakan standar hati nurani untuk mengendalikan diri mereka sendiri, dan mereka peduli dengan integritas dan martabat mereka. Mereka tidak berpura-pura atau menipu untuk mendapatkan penghargaan tinggi dan kepercayaan orang-orang; sebaliknya, mereka ingin memperoleh pengakuan dengan benar-benar membayar harga dan mengerahkan upaya. Aku merasa bahwa orang-orang semacam itu relatif memiliki sedikit rasa malu.) Jika, ketika dihadapkan pada status, seseorang bahkan tidak memiliki perwujudan hati nurani dan nalar, tetapi orang-orang tetap mengatakan bahwa orang itu memiliki rasa malu, bukankah perkataan ini hampa dan tidak nyata? (Ya.) Lalu, dalam kondisi seperti apa pernyataan bahwa seseorang memiliki rasa malu bisa dianggap objektif dan tidak hampa? Dalam kondisi ketika mereka benar-benar memiliki perwujudan memiliki hati nurani dan nalar saat menghadapi berbagai hal, yang mencakup perwujudan rasa malu yang ditemukan dalam kemanusiaan yang normal. Apakah rasa malu adalah sesuatu yang seharusnya dimiliki oleh orang dengan kemanusiaan yang normal? (Ya.)

Perwujudan macam apa yang dimiliki oleh orang yang memiliki rasa malu ketika mereka berada di antara orang lain? Mereka mengambil tindakan nyata. Mereka tidak mengandalkan cara-cara seperti menjilat dan menyanjung, membentuk kelompok tertutup, menghasut orang lain, mengarang hal-hal, berpura-pura, menipu, berbohong, atau bertindak berbeda di depan dan di belakang orang, untuk mendapatkan prestise dan status yang mereka inginkan; sebaliknya, mereka bekerja dengantekun. Apa fakta objektifnya di sini? Yaitu bahwa, karena orang-orang yang memiliki rasa malu memiliki watak yang rusak, sangatlah wajar bahwa mereka akan memperlihatkan beberapa sifat, pemikiran dan pandangan, serta ambisi dan keinginan umat manusia yang rusak; ini sangat normal. Namun, meskipun mereka juga memiliki ambisi dan mencintai status, orang yang memiliki rasa malu tidak akan menggunakan cara-cara yang tidak biasa untuk memperoleh status; sebaliknya, mereka ingin mengandalkan kemampuan nyata mereka untuk mengambil tindakan nyata. Tentu saja, jika orang semacam ini memenuhi standar dalam hal kualitas, kemanusiaan, dan semua aspek lainnya, hanya masalah waktu sebelum mereka terpilih sebagai pemimpin. Namun, di kelompok sosial atau di tempat kerja, apa yang pada akhirnya terjadi pada orang-orang yang memiliki hati nurani dan nalar ini? Mereka bukan saja tidak akan dipromosikan atau ditempatkan pada posisi penting, tetapi mereka bahkan akan dikucilkan dan ditekan. Mereka tidak menjilat dan menyanjung, mereka juga tidak mencari muka kepada para pemimpin atau memberinya hadiah, apalagi mencoba mengambil hati rekan kerja mereka. Mereka tidak menggunakan taktik atau mencoba melakukan penipuan, mereka juga tidak menggunakan falsafah licik tentang cara berinteraksi dengan orang lain untuk memanipulasi dua pihak yang berlawanan demi keuntungan pribadi. Jika engkau meminta mereka untuk melakukan hal-hal ini, mereka akan selalu merasa malu; mereka tidak sanggup melakukannya. Jika engkau meminta mereka untuk menjilat para pemimpin dan hanya mengatakan hal-hal yang baik tentangnya, mereka tidak sanggup melakukannya, karena mereka tidak melihat apa pun yang baik dalam diri para pemimpin tersebut. Jika mereka mengingkari perasaan mereka yang sebenarnya dan melontarkan komentar yang menjilat seperti, "Para pemimpin menangani hal yang tak terhitung banyaknya setiap hari dan berusaha mati-matian demi kita," mereka akan merasa malu, dan bahkan menampar wajah mereka sendiri setelah mengatakannya. Mereka berpikir, "Para pemimpin ini menghabiskan sepanjang hari dengan makan, minum, dan bersenang-senang; mereka gemuk dan berwajah kemerahan. Bagaimana mungkin mereka menangani hal yang tak terhitung banyaknya setiap hari? Mereka semua adalah pejabat korup yang tidak melakukan pekerjaan yang semestinya, tetapi hanya makan, minum, melacur, dan berjudi. Mereka semua adalah setan-setan yang memakan daging manusia dan meminum darah manusia!" Di dalam hatinya, mereka sangat membenci orang-orang ini dan tidak ingin mengingkari perasaan mereka yang sebenarnya dan mengucapkan satu kata pun untuk menjilat orang-orang ini. Mereka merasa bahwa mengatakan hal-hal yang menjilat itu memuakkan, dan sama sekali tidak akan sudi mengatakannya. Meskipun mereka telah sedikit tercemar oleh tren-tren sosial dan bisa saja mengatakan beberapa hal yang bertentangan dengan perasaan mereka yang sebenarnya, mereka memiliki suatu batasan; mereka tidak akan bertindak terlalu jauh dan menjadi memuakkan. Jika mereka benar-benar memberi hadiah dan meminta bantuan untuk menyelesaikan sesuatu, itu karena mereka tak punya pilihan lain. Hanya ketika mereka benar-benar terpojok dan tak punya pilihan lain, barulah mereka akan mengingkari perasaan mereka yang sebenarnya dan melakukan hal semacam itu. Namun, setelah melakukannya, mereka akan menyesalinya, merasa bahwa mereka telah kehilangan martabat mereka dan terlalu malu untuk menghadapi siapa pun. Hal itu meninggalkan bekas di hati mereka, dan mereka tidak akan bisa melupakan hal ini seumur hidup mereka. Ketika orang yang memiliki rasa malu mendapati diri mereka dalam kondisi khusus tertentu di mana, karena rasa tidak berdaya, tekanan hidup, atau tekanan dari luar, mereka tak punya pilihan lain selain melakukan hal-hal yang membuat integritas dan martabat mereka hilang, ini menjadi aib seumur hidup mereka. Setiap kali memikirkannya, mereka merasa menyesal dan merasakan nyeri di hati mereka, bersumpah untuk tidak pernah melakukan hal semacam itu lagi.

Memiliki rasa malu adalah ciri yang jelas di antara sifat-sifat kemanusiaan. Ciri ini dapat mengendalikan orang agar tidak melakukan hal-hal yang membuat integritas dan martabat mereka hilang, atau membantu mereka untuk lebih jarang melakukan hal-hal semacam itu. Hal ini juga dapat melindungi orang agar tidak melampaui batas hati nurani dan nalar, serta membantu mereka memilih untuk melakukan hal-hal yang relatif positif dan benar. Ini sangat penting. Bahkan ketika dihadapkan pada status, kepentingan pribadi, dan uang, dan bahkan demi bertahan hidup dan menyambung hidup, orang yang memiliki rasa malu tetap dikendalikan oleh hati nurani dan nalar mereka dalam apa pun yang mereka lakukan, dan tidak akan melampaui batasan-batasan ini. Jika mereka sesekali melampauinya, dan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani dan nalar mereka, yang menyebabkan mereka kehilangan martabat dan kehilangan integritas mereka, maka rasa malu mereka akan menjadi makin kuat, dan rasa teguran dari hati nurani mereka akan makin meningkat. Ini karena begitu orang semacam ini melampaui batasan yang ditetapkan oleh rasa malu mereka, atau melepaskan diri dari kontrol dan kendali yang diberikan oleh rasa malu mereka, mereka akan merasa makin gelisah dan bersalah, dan makin menyalahkan diri sendiri di dalam hatinya. Oleh karena itu, engkau dapat melihat bahwa ketika orang-orang yang memiliki rasa malu berada di hadapan orang-orang yang memiliki status dan kedudukan, mereka tampak sangat terasing dan canggung, bahkan memberi kesan kepada orang lain bahwa mereka agak aneh. Mereka yang sama sekali tidak memiliki hati nurani dan nalar bergaul dengan sangat baik satu sama lain, sedangkan orang-orang yang memiliki hati nurani dan nalar merasa sangat canggung ketika mereka bersama orang-orang semacam itu. Di dalam hatinya, orang yang tidak memiliki hati nurani dan nalar tidak merasa terganggu sebanyak apa pun perkataan mereka yang bertentangan dengan fakta, mereka juga tidak merasakan apa pun betapa pun tidak tahu malunya hal-hal yang mereka katakan. Sebaliknya, karena orang yang memiliki hati nurani dan nalar memiliki rasa malu, mereka bukan saja tidak sanggup mengatakan hal-hal ini, tetapi mereka juga merasa tidak nyaman dan merasa tidak tahan mendengar hal-hal semacam itu. Karena itu, bergaul dengan orang-orang yang tidak memiliki rasa malu adalah semacam siksaan bagi mereka. Di satu sisi, siksaan ini berasal dari rasa malu mereka sendiri, dan di sisi lain, berasal dari dikucilkan. Karena prinsip mereka dalam cara berperilaku dan menangani berbagai hal membuat orang lain merasa bahwa mereka sangat aneh dan ganjil, seolah-olah mereka sama sekali tidak terlibat dengan urusan duniawi, dan mereka dipandang sok suci, orang-orang pun mengucilkan mereka atau menjauhi mereka. Oleh karena itu, orang semacam ini akan disingkirkan di antara orang-orang yang tidak percaya, terutama di tempat kerja; dalam perkataan orang tidak percaya, orang-orang semacam itu tidak diterima di mana pun. Semua orang tidak percaya ingin menaiki tangga kesuksesan dengan menggunakan segala macam cara yang tidak biasa, menggunakan cara apa pun yang diperlukan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sebaliknya, orang-orang yang memiliki rasa malu selalu ingin mencari nafkah secara jujur, wajar, dan adil, dengan mengandalkan kemampuan mereka. Hal ini tidak akan membuat mereka berhasil di kelompok sosial mana pun, karena aturan main dalam kelompok semacam itu tidaklah adil; sebaliknya, semua orang mengikuti aturan tak tertulis. Mereka yang makmur dan memiliki prestise mahir dalam menjalani hidup berdasarkan aturan tak tertulis ini, sedangkan orang-orang yang memiliki rasa malu, karena mereka menjaga integritas dan martabat mereka, tidak pernah bisa menerima aturan tak tertulis dari masyarakat tersebut. Mereka tidak memahami aturan-aturan ini, mereka tidak menyukainya, dan terlebih lagi, mereka menolak untuk menggunakannya. Dengan demikian, di dalam kelompok orang, orang lain mungkin dipromosikan atau dipandang tinggi oleh para pemimpin, sementara mereka, karena memiliki rasa malu, selalu berbicara dan bertindak secara kaku sesuai aturan, mengatakan apa pun yang ada di pikiran mereka; dengan demikian, dari waktu ke waktu, mereka akhirnya menyinggung rekan kerja dan para pemimpin mereka, mengenai titik lemah para pemimpin dan mengucapkan perkataan yang paling tidak ingin didengar oleh para pemimpin. Pada saat mereka menyadarinya, semuanya sudah terlambat. Apa yang terjadi pada akhirnya? Berapa tahun pun mereka telah berjuang atau seberapa lama pun mereka telah bekerja, mereka tidak pernah dipromosikan atau ditempatkan pada posisi penting. Bagi mereka yang memiliki hati nurani, nalar, dan rasa malu, apakah hidup di antara orang-orang semacam itu adalah kebahagiaan atau penderitaan? (Penderitaan.) Ketika mereka tidak dapat mengetahui yang sebenarnya tentang masyarakat ini dan umat manusia yang rusak ini, mereka mencoba segala cara untuk berbaur dengan masyarakat ini dan dengan orang-orang yang di antaranya mereka hidup. Namun, karena mereka memiliki hati nurani dan nalar, mereka tidak sanggup melakukan hal-hal yang bertentangan dengan integritas dan martabat mereka. Dengan demikian, sekeras apa pun mereka mencoba, dan sebanyak apa pun upaya yang mereka kerahkan atau sebanyak apa pun pengorbanan yang mereka lakukan, hasil akhirnya adalah mereka tidak pernah dapat berbaur dengan masyarakat ini atau dengan orang-orang yang di antaranya mereka hidup; mereka selalu merasa canggung di antara orang-orang tersebut, dan bahkan tidak tahu mengapa. Mereka berkata pada diri sendiri, "Masyarakat ini sangat tidak adil. Jika kau tidak tahu bagaimana cara menggunakan taktik atau menjilat dan menyanjung, selalu ingin menjaga integritas dan martabatmu atau mencapai tujuanmu, kau tidak akan berhasil di kelompok orang mana pun." Inilah pengalaman yang didapatkan orang-orang yang memiliki rasa malu dari bertahan hidup di tengah masyarakat. Perasaan apa yang pada akhirnya membekas dalam hati mereka? Apakah mereka menyukai masyarakat manusia ini, atau merasa kecewa karenanya? (Kecewa.) Mereka hanya bisa merasa kecewa. Mereka terjun ke tengah masyarakat dengan penuh harapan, merasa bahwa orang baik masih merupakan mayoritas di tengah masyarakat, dan bahwa di tengah masyarakat terdapat kejujuran, keadilan, dan merupakan tempat di mana orang dapat mencari keadilan. Namun, setelah sibuk ke sana kemari dengan penuh perjuangan di tengah masyarakat selama bertahun-tahun, apa yang pada akhirnya mereka dapatkan bagi diri mereka sendiri? Yang mereka dapatkan adalah kesadaran bahwa bukan saja tidak terdapat keadilan atau kebenaran di dunia manusia, tetapi dunia ini juga berbahaya. Ketika seekor harimau menerkammu, engkau setidaknya bisa mencoba menghindarinya; tetapi ketika orang-orang mengincarmu, engkau bahkan tak punya kesempatan untuk mencoba menghindarinya. Inilah yang pada akhirnya mereka dapatkan; mereka akhirnya berkecil hati dan kecewa dengan masyarakat dan umat manusia. Mereka ingin meniru orang-orang ini dengan menggunakan taktik, menjilat dan menyanjung, mendekati para pemimpin dan atasan, memberi hadiah, dan mengambil hati orang-orang, tetapi sekeras apa pun mereka mencoba, mereka tidak pernah bisa belajar bagaimana melakukan hal-hal ini; mereka bahkan tidak bisa mengucapkan beberapa kata yang menjilat dengan lancar, dan ketika mereka mencobanya, mereka akhirnya mempermalukan diri sendiri dan menjadi bahan tertawaan. Namun, hidup di tengah masyarakat ini, mereka tak punya pilihan selain bertindak seperti ini. Setiap hari, hati nurani mereka sarat dengan perasaan menyalahkan diri sendiri dan rasa gelisah. Mereka merasa tidak memiliki harapan dalam hidup; segala sesuatu terasa penuh tekanan atau menyiksa, dan perasaan mereka diliputi rasa frustrasi setiap hari. Dihadapkan pada berbagai masalah yang bermunculan di tengah masyarakat dan kelompok orang ini sangatlah menyiksa bagi mereka, dan siksaan ini memberi mereka kegelisahan yang luar biasa di dalam hati mereka. Meskipun mereka belajar untuk mengatakan beberapa hal yang tidak tahu malu, atau meniru orang lain dalam melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani dan nalar mereka, hati mereka diliputi rasa gelisah, serta rasa bersalah dan perasaan menyalahkan diri sendiri. Makin hati mereka merasa gelisah, makin mereka membenci masyarakat dan umat manusia ini di dalam hatinya, bukan? (Ya. Mereka akan merasa bahwa masyarakat ini tidak adil dan menjadi benci terhadapnya.) Mereka akan membenci umat manusia dan membenci masyarakat ini. Mereka berharap keadilan dan kebenaran akan muncul, berharap seseorang akan muncul yang mampu menegakkan keadilan dan kejujuran, dan agar ada tempat di mana orang dapat mencari keadilan. Namun, ini hanyalah harapan; hal-hal ini tidak dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata; di tengah masyarakat tidak ada tempat bagi orang-orang untuk mencari keadilan. Meskipun pengaruh masyarakat ini dan hidup di antara berbagai kelompok orang jahat menyebabkan mereka tanpa sadar menjadi tercemar oleh hal-hal yang dipopulerkan dan dianjurkan oleh tren-tren jahat, atau yang relatif trendi, rasa malu di lubuk hati mereka dan kerinduan mereka akan keadilan dan hal-hal positif tidak pernah hilang atau berubah. Di dalam hatinya, mereka tetap berharap keadilan dan kebenaran akan muncul, sehingga mereka tidak perlu berperilaku dengan cara yang bertentangan dengan perasaan mereka yang sebenarnya, tidak perlu mengkhianati integritas dan martabat mereka sendiri, dan tidak perlu mengorbankan rasa malu mereka demi mencari nafkah dan bertahan hidup, hidup dan berperilaku dengan cara yang begitu tidak tahu malu. Meskipun berbaur di tengah masyarakat dan di antara orang-orang yang rusak sekian lama telah menyebabkan mereka menjadi tercemar oleh beberapa kebiasaan buruk dan telah membuat mereka beradaptasi dengan tren-tren sosial, sehingga hati nurani dan nalar mereka seolah-olah telah terkikis dan menjadi kabur, jika mereka adalah manusia sejati, hati nurani dan nalar mereka tidak akan pernah hilang. Karena hati nurani dan nalar mereka tidak akan hilang, rasa malu mereka akan selalu ada. Hanya saja, setelah berada di tengah masyarakat sekian lama, dan setelah memperoleh banyak pengetahuan serta mempelajari banyak falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain, mereka telah tertular beberapa kebiasaan buruk dalam kemanusiaan mereka dan memperoleh beberapa hal dari Iblis dan setan-setan dalam watak mereka, sehingga hati nurani dan nalar mereka relatif mati rasa dan lamban. Namun, selama mereka adalah manusia, dan mereka memiliki sifat hati nurani dan nalar dalam kemanusiaan mereka, rasa malu mereka akan selalu ada. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang dapat diselamatkan.

Ketika orang memiliki hati nurani dan nalar, mereka juga memiliki rasa malu. Orang yang memiliki rasa malu adalah orang yang berintegritas dan bermartabat, dan orang semacam itu akan mencintai keadilan dan kebenaran, serta hal-hal positif. Artinya, dinilai dari esensi naturnya, mereka mencintai hal-hal positif; hanya saja sebelum mereka memahami apa itu hal positif, mereka tidak tahu apa yang seharusnya atau tidak seharusnya mereka sukai. Begitu mereka memahami apa itu hal positif dan hal negatif, preferensi mereka terhadap hal-hal positif menjadi lebih spesifik dan tepat. Jika orang memiliki hati nurani dan nalar, perwujudan dasar dari sifat-sifat kemanusiaan mereka adalah kecintaan pada keadilan dan kebenaran. Mereka berharap, selama hidup di antara orang-orang lain, mereka dapat diperlakukan secara adil, tanpa perlu menggunakan taktik atau tipu muslihat, dan tanpa harus mengikuti aturan tak tertulis apa pun. Mereka berharap interaksi di antara orang-orang bisa adil dan orang bisa diperlakukan dengan adil. Artinya, mereka berharap segala sesuatunya bisa jelas dan lugas: Jika engkau melakukan kesalahan, maka engkau bersalah, dan engkau seharusnya menerima hukuman yang setimpal; sebaliknya, jika engkau tidak melakukan kesalahan apa pun dan telah memberikan kontribusi, engkau seharusnya diberi imbalan. Jika orang memiliki keterampilan serta pengetahuan nyata dan kemampuan aplikatif, mereka seharusnya dihormati, dipromosikan, dan ditempatkan pada posisi penting. Jika mereka tidak memiliki pengetahuan nyata dan kemampuan aplikatif, mereka tidak seharusnya ditempatkan pada posisi penting. Orang-orang yang berhati nurani dan bernalar menyukai orang-orang seperti ini, dan mereka menyukai lingkungan hidup semacam ini. Setelah menghabiskan waktu yang lama di tengah masyarakat, sekalipun mereka telah menumbuhkan beberapa kebiasaan buruk atau menerima beberapa pemikiran dan pandangan yang keliru di bawah pengaruh tren-tren jahat, serta telah mengalami kemunduran dan menghadapi berbagai rintangan, mereka pada akhirnya merasa bahwa kembali memiliki rasa malu adalah hal yang sudah semestinya. Dalam tindakannya, tanpa sadar mereka akan kembali pada prinsip menjaga integritas dan martabat mereka sendiri. Ketika orang semacam ini menghabiskan waktu yang lama di tengah masyarakat dan di antara orang-orang lainnya serta dipengaruhi oleh mereka, itu bagaikan sepotong giok murni yang dicampakkan ke tumpukan sampah dan tertimbun oleh kotoran. Sekalipun kotoran itu sangat tebal dan kotor, esensi giok tersebut tetap tidak berubah; begitu kotoran itu disingkirkan, apa yang terlihat tetaplah sepotong giok. Oleh karena itu, ketika orang-orang yang memiliki hati nurani, nalar, dan rasa malu datang ke rumah Tuhan, lingkungan hidup di sana, serta pekerjaan yang Tuhan lakukan dan firman yang Dia ungkapkan, sepenuhnya memenuhi kebutuhan di dalam lubuk hati mereka. Apa kebutuhan di dalam lubuk hati mereka? Mereka mencintai keadilan dan kebenaran, mencintai hal-hal positif, membenci kejahatan, membenci aturan tak tertulis di masyarakat, dan membenci pertikaian serta tindakan saling berkhianat di antara orang-orang. Jika orang-orang semacam itu datang ke rumah Tuhan, dan lewat mengalami penyingkapan, penghakiman, dan hajaran firman Tuhan, kemudian menjalani ujian serta pemurnian dari Tuhan, dan pada akhirnya, tunduk pada firman Tuhan dan menerima penghakiman serta hajaran firman-Nya, mereka sedikit demi sedikit membuang berbagai watak rusak yang tersingkap dari kemanusiaan mereka, serta kenajisan dan kebiasaan buruk yang biasanya ada dalam diri mereka, maka mereka akan menjadi manusia baru. Artinya, begitu orang yang memiliki rasa malu memenuhi standar dasar kemanusiaan ini—menerima kebenaran, tunduk pada firman Tuhan, dan memandang orang dan hal-hal, serta berperilaku dan bertindak, sesuai dengan firman Tuhan—mereka dapat, berdasarkan firman Tuhan, mengenali watak rusak mereka dan berbagai pemikiran serta pandangan yang salah, juga cara berperilaku mereka yang keliru dan jalan yang salah yang telah mereka pilih. Entah orang mempelajari hal-hal ini dari masyarakat atau hal-hal tersebut berasal langsung dari kerusakan Iblis, jika mereka memiliki rasa malu, maka setelah menerima firman Tuhan, mereka akan mampu menerapkan kebenaran dan berangsur-angsur membuang watak-watak rusak tersebut, dan dengan demikian, ada harapan yang besar bagi mereka untuk memperoleh keselamatan.

Jika orang tidak memiliki rasa malu, mereka sama sekali tidak memenuhi syarat dasar kemanusiaan ini—menerima firman Tuhan, tunduk pada firman Tuhan, dan memandang orang dan hal-hal, serta berperilaku dan bertindak, sesuai dengan firman Tuhan. Mengapa mereka tidak memenuhi syarat dasar ini? Karena orang yang tidak memiliki rasa malu tidak merasa muak terhadap hal-hal negatif, terhadap berbagai tren jahat masyarakat, atau terhadap falsafah Iblis; sebaliknya, mereka sangat menyukai hal-hal ini, dan bahkan dapat menerima, menganjurkan, dan menyebarluaskan sudut pandang ini. Mereka tidak merasa ini memalukan, juga tidak merasa hal ini bertentangan dengan hati nurani dan nalar. Artinya, mereka sama sekali tidak memiliki perasaan malu. Dengan cara apa pun mereka menggunakan taktik atau melakukan hal-hal yang bertentangan dengan perasaan mereka yang sebenarnya, mereka tidak merasa malu. Orang yang memiliki kemanusiaan dan rasa malu merasa malu atas perbuatan mereka, tetapi orang yang tidak memiliki rasa malu bukan saja tidak merasa jijik sedikit pun untuk melakukan hal-hal ini, mereka justru menikmatinya. Orang yang tidak memiliki rasa malu merasa sangat nyaman berada di kubangan kotoran raksasa yang bernama masyarakat, tanpa perasaan jijik atau benci sedikit pun. Di situlah tepatnya tempat mereka bermain-main. Mereka membenci keadilan dan kebenaran, dan mereka juga benci ketika orang lain memperlakukan mereka dengan cara yang adil. Mereka justru menyukai cara-cara yang tidak adil dan tidak benar tersebut di tengah masyarakat, karena hal ini memberi mereka kesempatan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan melalui berbagai cara yang tidak semestinya. Mereka merasa ketidakadilan itu bagus, dan tren-tren jahat serta aturan tak tertulis ini luar biasa. Mengapa mereka merasa semua itu sangat bagus? Karena berbagai tren dan aturan tak tertulis dari dunia manusia yang jahat ini memungkinkan mereka untuk mendapatkan apa pun yang mereka inginkan, memuaskan ambisi dan keinginan mereka, serta berbagai tuntutan jahat mereka. Dengan demikian, mereka merasa dunia ini luar biasa. Jika keadilan dan kebenaran muncul di tengah masyarakat, mereka tidak akan memiliki ruang untuk bertahan hidup dan tidak akan mampu mewujudkan ambisi dan keinginan mereka. Justru karena masyarakat tidak adil dan memiliki aturan tak tertulis, maka mereka memiliki kesempatan untuk makmur dan menjadi unggul daripada yang lain. Jika dunia ini memiliki keadilan dan kebenaran, orang-orang jahat yang tidak memiliki rasa malu ini tidak akan bisa menonjol. Oleh karena itu, ketika mendengar firman tentang keadilan dan kebenaran, mereka sangat jijik padanya dan menjadi sangat marah. Sebaliknya, ketika orang yang memiliki rasa malu mendengar firman tentang keadilan dan kebenaran, di dalam hatinya, mereka merasa hidup ini penuh dengan terang, dan ada harapan bagi mereka. Melihat terang, hati mereka merasa terbebaskan. Jika mereka melihat bahwa masyarakat penuh dengan kejahatan, dan bahwa semua orang hidup berdasarkan falsafah Iblis dan bertindak menurut aturan tak tertulis, mereka merasa bahwa jalan ke depan suram dan tidak ada terang. Oleh karena itu, bagi orang-orang yang memiliki rasa malu, penampakan dan pekerjaan Tuhan, serta kebenaran yang diungkapkan oleh Tuhan, adalah tepat seperti yang dibutuhkan oleh batin mereka, dan juga apa yang sangat mereka rindukan dan harapkan di dalam hati mereka. Penampakan Tuhan, pekerjaan Tuhan, dan fakta bahwa kebenaranlah yang berkuasa di rumah Tuhan memungkinkan orang yang memiliki rasa malu dan sifat-sifat kemanusiaan untuk melihat harapan dan melihat terang. Setelah datang ke rumah Tuhan, meskipun watak rusak mereka masih berkuasa ketika mereka berbicara dan bertindak, di dalam hatinya, mereka mendambakan hal-hal positif dan bersedia menerima kebenaran. Dalam hal kebutuhan kemanusiaannya, mereka diatur oleh hati nurani dan nalar, perkataan dan tindakan mereka dapat dikendalikan, dan mereka mampu mengenal diri sendiri ketika mereka memperlihatkan kerusakan. Jika mereka dapat memahami kebenaran dan bertindak sesuai dengan prinsip, mereka dapat memperoleh perkenanan Tuhan. Hidup di rumah Tuhan, mereka merasa penuh harapan; mereka melihat masa depan yang cerah di hadapan mereka, dan hati mereka dipenuhi dengan harapan. Setiap kali dikatakan bahwa "kebenaranlah yang berkuasa di rumah Tuhan, Tuhan itu benar, dan di mana pun Tuhan berkuasa, ada keadilan dan kebenaran", orang yang berhati nurani dan bernalar merasa bersukacita dan terhibur di dalam hatinya, dan tentu saja, mereka juga mendambakannya. Apa arti "mendambakan"? Artinya, ketika dikatakan bahwa "kebenaranlah yang berkuasa di rumah Tuhan", di dalam hatinya, mereka merasa bahagia dan terbebas; di lubuk hatinya, mereka mengaminkan perkataan ini dan merasakan semacam kesenangan. Ketika dikatakan bahwa "kebenaranlah yang berkuasa di rumah Tuhan, dan di mana pun Tuhan bekerja, keadilan dan kebenaranlah yang berkuasa", orang-orang yang memiliki sifat hati nurani dan nalar dalam kemanusiaan mereka merasa sangat puas di dalam hatinya. Kedua pernyataan ini memberikan arah bagi hidup mereka dan juga memuaskan kebutuhan kemanusiaan mereka. Mereka mungkin belum tentu banyak memahami kebenaran, dan mereka mungkin belum tentu mampu menerapkan banyak firman Tuhan, tetapi hanya mendengar ungkapan "kebenaranlah yang berkuasa di rumah Tuhan" sudah membuat mereka merasa sangat terhibur dan puas di dalam hatinya. Ungkapan ini beresonansi dengan kuat dalam diri mereka dan menggetarkan hati mereka; ini adalah perwujudan dari kebutuhan kemanusiaan mereka. Sikap orang terhadap ungkapan ini dan apa yang mereka rasakan di dalam lubuk hatinya sangat menunjukkan esensi dan golongan mereka. Engkau lihat, ketika Iblis dan setan-setan mendengar "kebenaranlah yang berkuasa di rumah Tuhan", mereka merasa jijik: "Apa maksudmu 'kebenaranlah yang berkuasa'? Aku belum melihat bahwa kebenaranlah yang berkuasa!" Ketika mendengar "kebenaranlah yang berkuasa di rumah Tuhan", mereka merasa seolah-olah itu sedang mengutuk mereka dan mengancam hidup mereka, sehingga mereka merasa jijik padanya; beginilah reaksi Iblis dan setan-setan ketika mereka mendengar perkataan ini. Sebaliknya, ketika orang-orang yang bingung dan mereka yang berasal dari binatang mendengar firman ini, mereka secara lisan mengakui bahwa kebenaranlah yang berkuasa di rumah Tuhan, tetapi sama sekali tidak merasakan apa pun di dalam hati mereka. Mereka tidak merasakan kebahagiaan atau sukacita, mereka juga tidak merasakan resonansi apa pun. Meskipun mereka dapat menyetujui pernyataan ini dan tidak melawannya, itu bukanlah sesuatu yang mereka butuhkan di dalam hati mereka. Namun, berbeda halnya dengan manusia sejati. Mereka mendambakan dan haus akan keadilan dan kebenaran, sehingga ketika mendengar bahwa kebenaranlah yang berkuasa di rumah Tuhan, hati mereka dipenuhi dengan harapan. Sekalipun mereka menghadapi beberapa kesulitan dan kemunduran khusus, atau mengalami perlakuan tidak adil dari antikristus dan orang-orang jahat, ketika mereka berpikir bahwa kebenaranlah yang berkuasa di rumah Tuhan, hati mereka dipenuhi dengan harapan, keadaan mereka menjadi makin baik, dan ada orang-orang yang bahkan dipenuhi dengan sukacita yang tak terbatas. Perasaan yang dimiliki manusia sejati ketika mendengar firman "kebenaranlah yang berkuasa di rumah Tuhan" berbeda dari perasaan orang-orang yang berasal dari Iblis dan setan-setan, atau yang berasal dari binatang. Engkau lihat, ketika seekor kelinci melihat wortel dan rumput, ia menyukainya dan mengunyahnya tanpa henti. Namun, ketika seekor serigala melihat wortel dan rumput, ia merasa jijik, dan berkata, "Apa enaknya ini? Menurutku kelinci dan ayam jauh lebih enak!" Sebanyak apa pun kauberitahukan kepadanya bahwa wortel dan rumput itu bergizi, serigala tetap tidak tergerak sama sekali. Jadi, ketika orang-orang yang bereinkarnasi dari binatang mendengar firman "kebenaranlah yang berkuasa di rumah Tuhan", meskipun mereka mengakui dalam hal doktrin bahwa firman ini benar, di dalam hatinya, mereka merasa jijik. Mereka sama sekali tidak menerima firman ini, dan tidak akan pernah mengakui bahwa firman ini adalah fakta. Sebaliknya, ketika manusia sejati mendengar "kebenaranlah yang berkuasa di rumah Tuhan, dan keadilan dan kebenaran ada pada Tuhan", di dalam hatinya, mereka merasa sangat puas. Mereka merasa bahwa mereka sekarang memiliki jalan, dan bahwa ada harapan bagi mereka sebagai manusia. Engkau lihat, orang-orang dari golongan berbeda memiliki perwujudan yang berbeda dalam cara mereka menyikapi hal yang sama. Karena manusia sejati memiliki perasaan yang sedemikian jelas terhadap ungkapan "kebenaranlah yang berkuasa di rumah Tuhan", dalam hal kebenaran-kebenaran lainnya—yang berkaitan dengan beberapa penerapan spesifik dan ajaran spesifik Tuhan kepada manusia—mereka yang memiliki hati nurani dan nalar akan sangat haus akan kebenaran-kebenaran itu. Sekalipun saat ini, sementara watak rusak mereka tetap belum berubah sama sekali, menerapkan kebenaran agak sulit bagi mereka karena tingkat pertumbuhan mereka kecil dan mereka telah dirusak terlalu dalam oleh Iblis, setiap kali mereka membaca firman Tuhan ini, hati mereka tergerak dan merasa terinspirasi. Mereka akan membulatkan tekad untuk tunduk pada firman Tuhan dan menerapkannya. Bagi mereka, firman Tuhan adalah kekuatan pendorong yang menginspirasi mereka untuk tetap berada di jalan tersebut, dan tentu saja, firman Tuhan juga merupakan jalan penerapan nyata bagi mereka untuk berusaha menjadi orang yang dikasihi Tuhan. Sebagai contoh, ketika Tuhan berbicara tentang kisah Nuh, Ayub, Abraham, dan Petrus, orang-orang yang memiliki sifat kemanusiaan pertama-tama akan merasa iri setelah mendengarnya. Seberapa iri mereka? Dengan menggunakan ungkapan yang kurang pantas, mereka "ngiler" mendengarnya. Artinya, ketika mereka mendengar bahwa orang-orang ini bisa memiliki rasa takut dan ketundukan seperti itu kepada Tuhan, mereka juga ingin menjadi orang semacam itu, berpikir, "Aku ingin menyembah Tuhan seperti Ayub dan Nuh, dan aku berharap dapat mencapai ketundukan mutlak kepada Tuhan seperti Abraham, tanpa ketidakmurnian pribadi apa pun." Mereka memiliki semacam kerinduan; artinya, ketika mendengar kisah dan kesaksian tokoh-tokoh ini, hati mereka tergerak, dan mereka merasa terinspirasi. Apa artinya hati mereka tergerak? Itu berarti mereka ingin menjadi orang semacam ini. Mereka merasa bahwa menjadi orang semacam ini adalah hal yang baik dan bahwa itu adalah kebutuhan batinnya; mereka merasa bahwa menjadi orang semacam ini memungkinkan mereka untuk memuaskan Tuhan, tunduk kepada Tuhan, dan memberi kesaksian bagi Tuhan, dan bahwa ini adalah hal yang paling luar biasa, bermakna, serta berharga. Dalam pandangan mereka, hal-hal ini adalah yang paling bernilai dan patut dihargai. Jadi, ketika mendengar tentang hal-hal positif ini, hati mereka tersentuh; mereka sangat menyukainya, sangat tertarik akan hal-hal itu, dan sangat terkesan olehnya. Karena hal-hal ini sepenuhnya memenuhi kebutuhan batin mereka akan keadilan dan kebenaran, serta dahaga akan hal-hal positif, hal-hal inilah yang menarik minat mereka, dan merupakan hal-hal yang mutlak mereka butuhkan dalam hidup mereka. Sedangkan mengenai hal-hal yang tidak bernilai dan tidak bermakna, mereka tidak tertarik akan hal-hal tersebut. Sebelum mengenal kebenaran dan firman Tuhan, mereka mungkin telah membaca beberapa karya sastra duniawi atau artikel tentang pandangan hidup dan falsafah hidup, tetapi setelah percaya kepada Tuhan dan mengenal firman Tuhan, ketika mereka membandingkan hal-hal tersebut dengan kisah tokoh-tokoh yang disebutkan dalam firman Tuhan atau kebenaran firman Tuhan, mereka tidak lagi menyukai hal-hal dari dunia orang tidak percaya tersebut; hal yang paling mereka sukai adalah isi yang berkaitan dengan kebenaran. Itu berarti, di dalam hatinya, mereka memiliki dahaga dan kerinduan akan hal-hal positif, akan firman Tuhan, dan akan kisah tokoh-tokoh yang berkaitan dengan kebenaran. Di atas landasan ini, selangkah demi selangkah, orang dapat memahami kebenaran dan masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Pertama-tama, hal-hal positif, kebenaran, dan juga keadilan serta kebenaran adalah kebutuhan kemanusiaan mereka. Dengan adanya kebutuhan ini dalam kemanusiaan mereka, ketika mendengar kebenaran, mereka mampu memperlihatkan dahaga dan kerinduan akan hal itu, dan hanya dengan demikian, mereka dapat melangkah lebih jauh untuk menerimanya, tunduk padanya, dan masuk ke dalamnya. Hanya orang-orang semacam itu yang memiliki harapan untuk disucikan dan diselamatkan. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi orang untuk memiliki rasa malu dalam kemanusiaannya.

Jika engkau meminta orang yang memiliki rasa malu untuk bertindak bertentangan dengan integritas dan martabat mereka, di dalam batinnya, mereka akan merasa tersiksa; hidup dengan bermartabat dan berintegritas adalah kebutuhan kemanusiaan mereka. Berdasarkan hal ini, dapat dikatakan bahwa menerima kebenaran adalah hal yang sangat wajar bagi mereka; dapat juga dikatakan bahwa itu adalah suatu hal yang sudah semestinya dan, secara alami, hal yang relatif mudah bagi mereka. Alasan dapat dikatakan bahwa itu relatif mudah adalah karena orang masih memiliki watak yang rusak di dalam diri mereka, tetapi hanya dalam hal kemanusiaan, lebih mudah bagi orang yang memiliki rasa malu untuk menerima kebenaran. Selain itu, jika orang yang memiliki rasa malu memiliki beberapa kelebihan, keunggulan, dan karunia, begitu mereka memberikan beberapa kontribusi dan memperoleh beberapa hasil dalam pelaksanaan tugas mereka di gereja, mereka akan secara sangat wajar membagikan hal tersebut kepada orang lain berdasarkan hati nurani dan nalar mereka. Semua orang telah dirusak oleh Iblis, dan ketika orang yang memiliki rasa malu membagikan pengalaman, pemahaman, dan hasil yang mereka peroleh, mereka terkadang memamerkan kelebihan dan keunggulan mereka. Namun, karena mereka memiliki rasa malu, mereka terkendali dan tahu batas dalam tindakan mereka. Hal apa yang memungkinkan mereka untuk tahu batas? Itu berasal dari hati nurani dan nalar mereka. Meskipun mereka terkadang pamer dan tanpa sadar ingin dipandang tinggi oleh orang lain, karena rasa malu dan kendali dari nalar kemanusiaan mereka, sekalipun mereka pamer, mereka tidak akan begitu berlebihan atau begitu kelewat batas dan tidak terkendali. Jadi, perkataan mereka relatif objektif dan rasional. Sebagai contoh, ketika tindakan pamer mereka mencapai titik yang bertentangan dengan rasa malunya, mereka akan menahan diri dan berhenti, alih-alih dengan lancang dan tanpa tahu batas menyombongkan diri, pamer, serta meninggikan dan bersaksi tentang diri mereka sendiri, atau tanpa tahu malu mencari penghargaan tinggi, kekaguman, dan penghormatan orang-orang dengan menghalalkan segala cara. Meskipun mereka juga memiliki penyingkapan dan perwujudan watak yang rusak, serta pemikiran atau keinginan yang didiktekan oleh watak yang rusak, orang yang memiliki rasa malu akan bertindak berdasarkan hati nurani dan nalar ketika melaksanakan tugas mereka, dan atas dasar menjaga integritas dan martabat mereka sendiri. Sekalipun mereka memperlihatkan watak yang rusak, itu ada batasnya. Sebaliknya, orang-orang yang tidak memiliki rasa malu mencoba segala cara yang memungkinkan untuk pamer dan meninggikan diri mereka sendiri dalam kondisi apa pun dan di lingkungan mana pun. Mereka berbicara tanpa disaring, mengatakan segala macam hal. Mereka bahkan mengeklaim pujian atas hal-hal baik yang dilakukan oleh orang lain, atau menjadikan kekurangan dan kesalahan orang lain sebagai bahan pembicaraan untuk pamer bahwa mereka unggul dan lebih baik daripada orang lain, berbicara tentang betapa baiknya mereka dan betapa mereka unggul daripada orang lain dengan cara menekan dan meremehkan orang-orang itu. Bagi sebagian orang, makin banyak orang, makin besar keinginan mereka untuk pamer; ketika hanya ada sedikit orang, mereka merasa keinginan mereka tidak dapat terpuaskan. Jadi, makin banyak orang, makin mereka ingin pamer dan tampil; makin banyak orang, makin mereka menjadi lancang dan makin tidak memiliki rasa malu. Mereka berbicara tanpa henti, tidak mampu mengendalikan diri mereka sendiri. Mereka mencari setiap kesempatan untuk pamer dan menyombongkan diri, menyombongkan betapa tinggi status dan kedudukan mereka, betapa tinggi kualifikasi pendidikan mereka, betapa luas pengetahuan mereka, betapa tinggi status mereka di masyarakat, tingkat kepemimpinan apa yang mereka emban di rumah Tuhan, kontribusi apa yang telah mereka berikan, dan sebagainya. Mereka mencari setiap kesempatan untuk menyombongkan sifat mereka yang menonjol dan memamerkan bahwa mereka berbeda dari yang lain. Mereka pamer tanpa henti, dan makin banyak mereka berbicara, makin mereka menggebu-gebu. Jika engkau meminta mereka untuk mempersekutukan pengetahuan mereka tentang kebenaran atau pengalaman mereka tentang jalan masuk kehidupan, perkataan mereka hambar dan mereka hanya mengatakan beberapa hal. Namun, dalam hal menyombongkan diri, berbicara tentang bagaimana mereka berbeda dari yang lain, dan kontribusi apa yang telah mereka berikan, mereka berbicara terus-menerus dan tanpa henti, berbicara panjang lebar tanpa sedikit pun rasa malu. Ketika mereka selesai mengatakan hal-hal ini dan tidak ada lagi yang bisa dikatakan, mereka berbicara tentang bagaimana mereka adalah jagoan berkelahi ketika masih muda, bagaimana tidak ada yang bisa memukuli mereka, dan bagaimana mereka bahkan membutakan sebelah mata anak lain. Mereka bahkan berkata, "Semua orang dewasa berkata, 'Anak ini luar biasa; ia tidak akan menjadi orang biasa saat besar nanti!'" Bukankah orang yang mengatakan hal-hal ini tidak memiliki rasa malu? Mereka tidak memiliki rasa malu; ini namanya omong besar dan pamer. Orang-orang yang tidak memiliki rasa malu memanfaatkan setiap kesempatan untuk pamer dan meninggikan diri sendiri, dan mereka bersedia membayar harga apa pun untuk melakukannya. Seperti apa pun orang lain memandang mereka, mereka sama sekali tidak memiliki rasa malu. Sebaliknya, orang yang benar-benar memiliki rasa malu juga akan pamer dan meninggikan diri mereka sendiri, tetapi sekalipun mereka tidak memahami kebenaran dan belum mengalami hajaran dan penghakiman, mereka tahu batas ketika melakukan hal-hal semacam itu. Setidaknya, perkataan mereka objektif. Mereka tidak akan mengatakan mereka mampu melakukan hal-hal yang tak mampu mereka lakukan, mereka tidak akan membual atau menyombongkan diri, apalagi mengeklaim pujian atas hal-hal baik yang dilakukan oleh orang lain. Mereka tidak akan mengatakan hal-hal yang dibuat-buat ataupun mengarang fakta. Mengapa demikian? Mereka tidak sanggup mengatakan hal-hal semacam itu. Mereka berpikir, "Jika aku tidak melakukannya, untuk apa kukatakan aku melakukannya?" Mereka akan merasa dituduh oleh hati nurani mereka. Sebagai contoh, jika orang yang memiliki hati nurani dan nalar serta rasa malu mendapat nilai-nilai buruk di sekolah, meskipun mereka ingin menyombongkan diri bahwa mereka memiliki kualitas yang baik dan tidak lebih buruk dari orang rata-rata, paling-paling mereka akan berkata, "Aku giat belajar. Aku lulus ujian masuk SMP dan SMA sendiri tanpa mengeluarkan uang untuk menyuap, dan kemudian aku dengan susah payah berhasil masuk ke perguruan tinggi." Mereka hanya berkata, "Aku juga kuliah," dan tidak menyombongkan apa pun. Ini tidak bisa dianggap pamer, karena apa yang mereka katakan itu objektif dan benar. Mereka mungkin menghilangkan hal-hal yang membuatnya malu atau yang membuatnya kehilangan muka, tetapi mereka sama sekali tidak akan berkata, "Aku adalah siswa yang hebat; aku selalu masuk sepuluh besar di kelasku." Mereka tidak akan mengarang fakta, mengada-ada, atau mengatakan hal-hal yang tidak pernah terjadi. Apa alasan mereka tidak mengatakan hal-hal ini? Itu karena di dalam dirinya, mereka memiliki hati nurani dan rasa malu. Ada orang-orang yang berkata, "Apakah itu karena seseorang di sekitar mereka mengetahui yang sebenarnya tentang mereka?" Sekalipun tak seorang pun tahu yang sebenarnya tentang mereka, mereka tetap tidak sanggup mengatakan hal-hal ini, karena mereka memiliki rasa malu dan peduli dengan harga diri mereka. Mereka merasa bahwa mengada-ada dan mengarang fakta itu terlalu memalukan, dan tidak berintegritas serta bermartabat. Ada orang-orang yang berkata, "Jika orang lain tidak mengetahui yang sebenarnya tentang mereka, mereka bisa sedikit berpura-pura. Apa salahnya berpura-pura?" Namun, mereka tetap tidak akan melakukannya. Ini soal natur seseorang; ini bermuara pada golongan orang. Jika engkau adalah orang yang memiliki rasa malu, perkataan dan tindakanmu akan tetap selalu berada di dalam batas memiliki rasa malu. Engkau tidak bisa melangkahi batas-batas itu; jika sesekali engkau melampauinya satu langkah saja, itu adalah situasi yang sangat khusus. Begitu engkau melangkahinya, engkau merasakan kegelisahan dan perasaan menyalahkan diri sendiri dalam hati nuranimu; di dalam dirimu, engkau merasa tidak nyaman. Oleh karena itu, sekalipun orang yang memiliki rasa malu pamer dan menyombongkan diri, ada batas dan rambu yang berlaku. Mereka sama sekali tidak akan tanpa malu dan dengan lancang mengucapkan kata-kata kosong atau berbicara muluk-muluk untuk menyombongkan diri dan pamer, mereka juga tidak akan mengada-ada dan mengarang fakta untuk mengeklaim pujian atas semua pekerjaan baik bagi diri mereka sendiri. Mereka sama sekali bukan orang semacam ini. Berbicara tentang memiliki rasa malu, rasa malu ini memiliki fungsi di dalam diri orang; ini bukanlah sesuatu yang hampa. Karena rasa malu adalah suatu sifat kemanusiaan, itu adalah sesuatu yang bersifat bawaan di dalam diri orang-orang; itu sama sekali bukan efek yang ditimbulkan oleh pengendalian dari orang, peristiwa, dan hal-hal eksternal. Hal-hal eksternal tidak dapat mengendalikan pemikiran dan tindakanmu; pemikiran orang, kebutuhan batin mereka, serta esensi dan golongan mereka, adalah hal-hal internal bagi mereka. Sekalipun orang yang memiliki rasa malu ingin pamer atau meninggikan dan bersaksi tentang diri mereka sendiri untuk mendapatkan sedikit prestise di antara orang-orang, karena mereka memiliki rasa malu, ada batas dan rambu yang berlaku ketika mereka melakukan hal-hal ini. Artinya, di dalam hatinya, hati nurani mereka terus-menerus memperingatkan mereka, "Melakukan ini sudah keterlaluan dan tidak tahu malu. Jangan lakukan ini! Jika engkau melakukannya, akan sangat memalukan dan tidak bermartabat ketika orang-orang membongkar dirimu yang sebenarnya nanti! Jika engkau berperilaku seperti ini, apakah engkau masih seorang manusia?" Pemikiran dan pandangan ini selalu mengendalikan mereka, sehingga ada batas yang berlaku ketika mereka melakukan hal-hal semacam itu. Engkau lihat, ketika orang yang memiliki rasa malu berpakaian, sekalipun menurut mereka sepotong pakaian terlihat bagus, jika mereka bercermin dan melihat bahwa itu agak tembus pandang, mereka merasa tidak pantas untuk mengenakannya di luar. Orang lain berkata, "Apa masalahnya jika itu tembus pandang? Orang-orang zaman sekarang semuanya berpakaian seperti ini. Sedikit terbuka saja engkau merasa malu. Orang lain mengenakan pakaian yang jauh lebih terbuka dan bahkan tidak peduli." Mereka berkata, "Tidak mungkin; aku tidak bisa mengenakannya di luar." Mereka tidak sudi keluar dengan berpakaian seperti itu. Mengapa demikian? Rasa malu mereka tidak bisa menerimanya; rasa malu mereka mengendalikan mereka. Orang-orang yang memiliki rasa malu akan tahu batas dalam cara mereka berperilaku dan menangani berbagai hal atau dalam cara mereka berpakaian dan berdandan, sedangkan orang-orang yang tidak memiliki rasa malu itu berbeda. Sama halnya dengan orang-orang yang berpakaian dengan pantas ketika mereka bersama saudara-saudari, tetapi berpakaian berbeda setelah mereka pulang, memakai apa pun yang suka dipakai oleh orang tidak percaya; beberapa bahkan langsung mencopot pakaian yang mereka kenakan ke pertemuan segera setelah mereka sampai di rumah, dan berkata, "Aku benar-benar tidak suka memakai pakaian ini. Pakaian ini terlalu kuno; aku terlihat sangat kampungan. Siapa yang mau memakai pakaian ini!" Entah mereka sedang bersama saudara-saudari atau tidak, pakaian dan dandanan orang yang benar-benar memiliki rasa malu selalu bermartabat dan sopan. Sekalipun mereka tidak percaya kepada Tuhan, mereka akan tetap berpakaian seperti ini dan tidak akan terlalu berlebihan.

Ketika mempersekutukan dan membagikan pemahaman berdasarkan pengalaman mereka dalam pertemuan, jika orang yang berintegritas dan bermartabat pamer dan meninggikan diri sendiri, di dalam hatinya, mereka akan merasa malu, seolah-olah banyak orang sedang melihat mereka, dan perasaan ini mengingatkan mereka, "Bukankah tidak baik mengatakan hal ini? Bukankah tidak baik melakukan hal ini?" Mereka akan merasa malu. Artinya, apa pun yang mereka katakan atau lakukan, atau sejauh mana pun perkataan atau tindakan mereka, rasa malu di lubuk hati mereka terus-menerus mengingatkan, menahan, dan mengendalikan mereka. Dengan demikian, hingga taraf tertentu, perkataan yang mereka ucapkan dan hal-hal yang mereka lakukan mencerminkan taraf relatif dari integritas dan martabat. Sekalipun orang semacam ini memiliki watak yang rusak atau cacat tertentu dalam kemanusiaan mereka, atau dipengaruhi oleh tren-tren jahat, karena golongan mereka secara bawaan, mereka tetap mampu tanpa sadar mencocokkan diri mereka dengan firman Tuhan ketika mendengar firman-Nya yang menyingkapkan dan menghakimi orang. Mereka berpikir, "Tuhan sedang membicarakan aku melalui pernyataan ini. Aku pernah memiliki keadaan dan penyingkapan semacam ini, dan aku juga pernah memiliki perwujudan semacam ini." Mereka akan memperlihatkan keadaan dan perwujudan di mana mereka secara sadar mencocokkan diri mereka dengan firman Tuhan. Dengan kata lain, ketika orang yang memiliki rasa malu mendengar firman Tuhan yang menyingkapkan dan menghakimi orang, mereka tanpa sadar akan menerimanya dan mencocokkan diri mereka dengannya. Mereka akan merenungkan diri mereka sendiri berdasarkan firman Tuhan, dan mengakui bahwa mereka rusak dalam hal ini dan bahwa mereka memiliki penyingkapan serta perwujudan ini. Di lubuk hatinya, mereka akan merasa gelisah: "Ternyata aku juga memiliki kerusakan. Ternyata aku adalah orang yang memiliki watak congkak seperti yang disingkapkan oleh firman Tuhan. Aku juga menentang dan tidak taat, dan aku bukanlah orang yang baik. Bagaimana aku bisa begitu rusak? Dahulu kukira diriku cukup baik, kukira aku adalah orang baik yang berhati nurani dan bernalar, yang suka memberi kepada orang lain, dan cenderung bersimpati serta merasa iba terhadap orang lain. Kukira aku bisa langsung diangkat setelah menerima pekerjaan Tuhan. Aku bahkan tidak berpikir bahwa aku juga adalah bagian dari umat manusia yang rusak." Karena mereka memiliki kondisi dasar berupa memiliki rasa malu ini, mereka akan secara alami dan normal menerima fakta-fakta yang sebenarnya tentang orang yang disingkapkan oleh firman Tuhan, kemudian mencocokkan diri mereka dengan fakta-fakta tersebut untuk merenungkan dan mengenal diri mereka sendiri. Hal ini memberi mereka kesempatan yang luar biasa untuk menghadapi firman Tuhan dengan benar, menerima firman Tuhan tanpa penentangan, dan kemudian sedikit demi sedikit mencapai ketundukan. Berdasarkan pada apa semua ini? Ini berdasarkan pada rasa malu yang mereka miliki. Dengan demikian, mereka mampu menyadari bahwa ada beberapa perwujudan kerusakan yang memalukan dan jahat dalam diri mereka, kemudian, dengan adanya rasa malu yang bekerja dalam diri mereka, mereka mampu secara proaktif menolak apa yang mereka anggap sebagai hal yang negatif dan memalukan. Ketika mendengar pernyataan, keadaan, penyingkapan spesifik, dan bahkan peristiwa spesifik dalam firman Tuhan yang menyingkapkan watak rusak umat manusia, mereka mampu menyadari bahwa mereka memiliki watak-watak rusak ini dalam diri mereka. Mereka akan menerimanya untuk merenungkan dan mengenal diri mereka sendiri. Setelah itu, ketika kembali menghadapi hal-hal semacam itu, jika mereka melanggar firman Tuhan atau kembali memperlihatkan keadaan yang disingkapkan dalam firman Tuhan, di dalam hatinya rasa malu akan tetap mengingatkan mereka, "Dengan melakukan hal ini, bukankah kau sedang melanggar firman Tuhan? Kau bukan orang yang baik, kau juga bukan orang yang tunduk pada firman Tuhan ataupun mencintai kebenaran!" Karena mereka memiliki rasa malu, mereka mampu menerima penyingkapan dan penghakiman firman Tuhan. Dengan demikian, firman Tuhan memberi dampak pengendalian dalam diri mereka serta dapat mengoreksi pemikiran dan pandangan mereka. Engkau lihat, bukankah fungsi dari rasa malu sangatlah besar? (Ya.) Ketika mereka tidak memahami kebenaran, mereka memiliki batasan moral dasar. Ketika mereka memahami prinsip-prinsip kebenaran atau memahami rincian firman Tuhan, standar yang digunakan oleh rasa malu mereka untuk mengendalikan diri bukan lagi batasan moral mereka, bukan pula sekadar batasan dari hati nurani dan nalar mereka; melainkan, prinsip-prinsip kebenaran menjadi batasan mereka. Bukankah batasan ini lebih tinggi daripada batasan hati nurani dan nalar seseorang? Bukankah standar batasan ini telah ditingkatkan? (Ya.) Pada awalnya, ketika orang yang memiliki rasa malu tidak memahami kebenaran, mereka memiliki batasan moral dasar dalam pemikiran dan pandangan mereka. Setelah mereka memahami kebenaran, batasan moral mereka meningkat dan berangsur-angsur mengarah pada prinsip-prinsip kebenaran. Bukankah menurutmu orang semacam ini telah berubah? Aku akan memberikan sebuah contoh dan engkau semua akan memahaminya. Sebagai contoh, pada awalnya, ketika berinteraksi dengan orang lain, mereka tidak mengambil keuntungan dari orang-orang, tidak memukul atau memaki orang, tidak dengan sengaja melakukan hal-hal untuk mencurangi dan merugikan orang lain, serta tidak menipu dan memperdaya orang lain. Menurut mereka, bertindak seperti ini sudah cukup baik. Apakah menahan diri untuk tidak memukul atau memaki orang, dan tidak mencurangi atau merugikan mereka, merupakan prinsip kebenaran dalam memperlakukan orang lain? (Ini hanyalah perwujudan dasar kemanusiaan; ini bukanlah prinsip kebenaran.) Ini hanyalah batasan moral tentang cara berperilaku orang yang berhati nurani dan bernalar: berusaha sebaik mungkin untuk tidak memukul atau memaki orang, dan tidak melakukan hal-hal yang mencurangi atau merugikan orang lain. Itu hanyalah tindakan menahan diri dari berbuat jahat. Namun, prinsip-prinsip kebenaran lebih tinggi daripada batasan moral seseorang. Memperlakukan orang lain sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran bukan lagi sekadar mematuhi batasan moralmu; itu lebih tinggi daripadanya. Lalu, apa yang dituntut oleh firman Tuhan dalam hal prinsip tentang cara memperlakukan orang, yang lebih tinggi daripada batasan moral ini? (Memperlakukan orang secara adil sesuai dengan prinsip.) Benar, memperlakukan orang secara adil. Ini adalah prinsip kebenaran. Lalu, apakah prinsip kebenaran ini adalah batasan moral? (Bukan, prinsip ini lebih tinggi daripada batasan moral.) Ini bukanlah batasan moral; ini adalah prinsip kebenaran yang didasarkan pada batasan moral dan yang juga lebih tinggi daripadanya. Inilah prinsip sejati dalam cara memperlakukan orang. Menahan diri untuk tidak memukul atau memaki orang, dan untuk tidak melakukan hal-hal yang mencurangi atau merugikan orang lain, bukanlah prinsip kebenaran; itu hanyalah tindakan menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang bersifat negatif. Namun, hanya karena engkau menahan diri untuk tidak melakukannya bukan berarti engkau memiliki prinsip dalam caramu memperlakukan orang; tidak memukul atau memaki orang bukan berarti prinsipmu dalam memperlakukan orang sudah benar. Apakah menahan diri untuk tidak memukul atau memaki mereka, dan tidak mencurangi atau merugikan mereka, sama dengan memperlakukan mereka secara adil? Tidak, bukan? Jika ada seseorang yang pernah menyinggungmu atau yang tidak akur denganmu, atau seseorang yang tidak kausukai, tetapi berdasarkan kemanusiaan dan kualitasnya, ia cocok untuk menjadi pemimpin, apakah engkau akan memilihnya? Jika engkau menilai hal ini berdasarkan prinsip tidak memukul atau memaki orang, dan tidak mencurangi atau merugikan mereka, apa yang akan engkau lakukan? Engkau tidak akan memiliki jalan untuk diikuti. Sebagai manusia yang rusak, tanpa prinsip yang akurat dalam memperlakukan orang lain, paling-paling engkau akan berkata, "Aku tidak memukul atau memakinya, aku juga tidak mengatakan apakah ia baik atau buruk. Aku tidak menghalanginya, jadi tidak bisa kaukatakan bahwa aku mencurangi atau merugikannya. Lagi pula, aku tidak menyukainya, jadi aku tidak akan memilihnya." Apakah tidak memilihnya berarti memperlakukan orang secara adil? (Tidak.) Sebenarnya, jika ia adalah kandidat yang cocok untuk menjadi pemimpin, engkau seharusnya memilihnya; hanya inilah yang disebut memperlakukan orang lain secara adil. Memilihnya bukan didasarkan pada prinsip tidak memukul atau memaki orang, dan tidak mencurangi atau merugikan mereka, melainkan didasarkan pada apa? Itu didasarkan pada prinsip memperlakukan orang secara adil sebagaimana dituntut oleh firman Tuhan; hanya ini yang merupakan prinsip kebenaran. Jadi, ada orang-orang yang berpikir, "Aku tidak memukul atau memaki orang, aku juga tidak mencurangi atau merugikan mereka, jadi bukankah itu berarti aku orang baik?" Terhadap hal ini, Kukatakan, "Engkau bukan orang yang baik. Paling-paling, engkau hanya cukup beruntung dianggap sebagai manusia." Orang yang benar-benar baik adalah orang yang mampu menerapkan prinsip-prinsip kebenaran. Artinya, dalam hal cara memperlakukan orang lain, selain menahan diri untuk tidak memukul, memaki, mencurangi, atau merugikan mereka, engkau juga mampu memperlakukan mereka secara adil dan benar; hanya dengan demikian, barulah engkau adalah orang yang baik. Apakah mempersekutukannya dengan cara ini membuat hal ini menjadi jelas? (Ya.) Batasan moral adalah prinsip dasar cara berperilaku bagi orang-orang yang memiliki hati nurani dan nalar dalam kemanusiaan mereka. Meskipun prinsip dalam cara berperilaku ini sesuai dengan hati nurani dan nalar kemanusiaan, prinsip ini tidak dapat menggantikan prinsip-prinsip kebenaran; dibandingkan dengan prinsip-prinsip kebenaran, masih ada kesenjangan. Paling-paling, orang yang memiliki batasan moral adalah orang yang memenuhi standar, tetapi mereka tidak dapat disebut sebagai orang yang baik. Hanya mereka yang mampu berperilaku dan bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaranlah yang merupakan orang baik. Sebagai contoh, sudah cukup baik jika orang biasa mampu untuk tidak mencurangi atau merugikan orang lain, dan tidak memukul atau memaki orang dalam hal cara mereka memperlakukan orang lain. Namun, prinsip orang baik dalam memperlakukan orang lain lebih tinggi daripada ini: Mereka mampu memperlakukan orang lain secara adil dan sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Artinya, manusia sejati memiliki batasan moral dan rasa malu, dan mereka memiliki kondisi dasar untuk berperilaku dengan cara yang semestinya. Dengan demikian, orang semacam itu memiliki kesempatan untuk mencapai taraf memperlakukan orang secara adil, berperilaku sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, dan menerapkan sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Apakah ada perbedaan antara batasan moral dan prinsip-prinsip kebenaran? (Ya.)

Jika orang memiliki rasa malu dalam kemanusiaan mereka, maka mereka berintegritas dan bermartabat dalam cara mereka berperilaku dan bertindak. Batasan mereka adalah mereka harus menjaga integritas serta martabat mereka dan tidak kehilangannya. Dalam bahasa sehari-hari, orang semacam itu pada dasarnya tidak kehilangan hati nurani mereka; mereka bersikap saksama dalam cara mereka melakukan sesuatu, mereka menghargai integritas dan karakter, dan mereka mampu berempati terhadap orang lain. Apa pun yang mereka lakukan, dalam hal kepentingan pribadi, status, atau uang, mereka memiliki batasan. Batasan ini menjaga integritas dan martabat mereka; artinya, mereka tidak akan melampaui apa yang diizinkan oleh integritas dan martabat mereka dengan melakukan hal-hal yang tidak dapat dibenarkan dari segi keadilan moral maupun etika manusia secara tidak berprinsip. Inilah yang disebut memiliki rasa malu. Selain itu, orang yang memiliki sifat hati nurani dan nalar dalam kemanusiaan mereka memiliki pandangan dan pilihan mereka sendiri mengenai makan, minum, dan bersenang-senang, serta mengenai berbagai tren jahat di tengah masyarakat. Mereka sama sekali tidak akan mengikuti tren-tren jahat untuk menjalani kehidupan yang bingung dan tidak bermoral, dengan sesuka hati memanjakan diri mereka sendiri dan bertindak bobrok. Mereka memiliki pilihan mereka sendiri mengenai urusan dunia manusia atau tren-tren jahat. Pilihan-pilihan ini mungkin didasarkan pada integritas dan kebaikan hati mereka, atau mungkin didasarkan pada rasa malu mereka; itu bergantung pada hal yang sedang dihadapi. Betapa pun populernya berbagai hal yang muncul di dunia ini, dan betapa pun semua itu disetujui oleh masyarakat dan publik, di lubuk hatinya, orang-orang semacam itu tetap memiliki pemikiran dan pandangan mereka sendiri mengenai hal-hal ini, dan mereka akan tetap membuat pilihan tepat mereka sendiri. Di dalam hatinya, mereka percaya, "Apa pun kondisinya, kau tidak boleh kehilangan kemanusiaanmu. Kapan pun itu, kau adalah manusia. Kau tidak boleh melakukan hal-hal yang dilakukan oleh binatang. Kau tidak boleh melakukan hal-hal yang dilakukan oleh para setan. Kau tidak boleh membuat dirimu menjadi sama seperti binatang dan para setan." Jadi, apa pun yang mereka lakukan, mereka dikendalikan oleh hati nurani dan nalar mereka. Secara spesifik, pengendalian ini berarti terus-menerus diingatkan dan dikendalikan oleh hati nurani dan nalar mereka. Sebagai contoh, katakanlah ada seseorang yang seperti ini dan seseorang lainnya yang sama-sama sedang berbisnis. Orang yang satunya terus-menerus menipu dan memperdaya orang-orang, menjual barang seharga sepuluh yuan dengan harga tiga hingga lima ratus yuan, sedangkan dia hanya menjualnya seharga lima puluh yuan, mendapatkan penghasilan yang hanya cukup untuk sekadar menyambung hidup. Melihat orang lain tersebut mendapatkan keuntungan besar sementara dia telah bekerja dengan begitu tekun selama bertahun-tahun hanya demi mendapatkan cukup uang untuk makan, di dalam hatinya, dia selalu merasa tidak terima. Dia juga ingin bertindak secara tidak bermoral seperti orang tersebut, tetapi kemudian dia berpikir, "Melakukan hal itu akan terlalu bertentangan dengan hati nuraniku. Aku tidak sanggup melakukannya! Bagaimana jika aku ketahuan setelah melakukannya? Apakah melakukannya berarti melanggar hukum? Apakah aku akan masuk penjara?" Engkau lihat, dia banyak memikirkan hal ini, dan dengan merenungkannya seperti ini, dia terus-menerus menuduh diri sendiri di dalam hati nuraninya. Meskipun dia disesatkan dan dipengaruhi oleh berbagai tren jahat di dunia dan juga ingin menghasilkan lebih banyak uang untuk menikmati kehidupan materi yang baik, setelah merenungkannya, pada akhirnya ia tetap tidak sanggup menipu dan memperdaya orang lain. Ada orang-orang yang berkata, "Orang-orang semacam itu hanya penakut, bukan?" Beberapa dari mereka memang penakut, tetapi ada juga yang tidak; mereka hanya dikendalikan oleh hati nurani dan nalar mereka dan merasa tidak bisa menipu serta memperdaya orang lain. Sekalipun mereka sesekali melakukannya, mereka menyesalinya setelah itu, hidup dalam ketakutan setiap hari, takut jika sesuatu yang buruk akan terjadi dan seseorang akan datang melabrak mereka. Mereka berpikir, "Aku tidak mendapatkan uang ini dengan cara yang terhormat. Jika orang-orang mengetahuinya, apakah mereka akan mengkritikku di belakangku? Aku pasti tidak akan melakukan hal ini lagi. Hanya ketika uang yang kugunakan didapatkan melalui kerja kerasku sendiri, barulah pikiranku merasa tenang, dan barulah tidurku terbebas dari mimpi buruk." Setelah sekali menipu seseorang seperti ini, mereka merasa tersiksa untuk waktu yang lama; mereka tidak bisa tidur nyenyak, mereka tidak nafsu makan, dan selalu merasa gelisah di dalam hatinya. Tentu saja, orang semacam ini pada dasarnya tidak ada di tengah masyarakat. Masyarakat penuh dengan orang-orang yang berasal dari setan-setan dan binatang; mereka tidak merasakan apa pun dalam hal menipu dan memperdaya orang lain seperti ini.

Sekalipun orang yang memiliki hati nurani dan nalar sering bersinggungan dengan berbagai hal yang berkaitan dengan makan, minum, dan bersenang-senang, hati nurani dan nalar mereka akan tetap menjalankan fungsinya. Mereka tidak akan mengikuti daging atau tren-tren jahat untuk memuaskan berbagai keinginan mereka sepenuhnya. Sebaliknya, apa pun yang mereka makan, minum, atau nikmati, ada batasnya. Mereka berpikir, "Menyantap makanan enak, mengenakan pakaian bagus, dan memiliki kenikmatan jasmani yang terbaik, semuanya adalah kesia-siaan. Apakah benar-benar demi semua ini manusia hidup?" Di dalam hati orang semacam ini, kenikmatan fisik, makan, minum, dan bersenang-senang tidak dapat memuaskan kebutuhan dunia batin mereka. Mereka berpikir, "Orang selalu mengejar untuk menikmati hal-hal yang baik. Aku sekarang telah menikmatinya sendiri, dan aku tidak merasakan kebahagiaan apa pun. Apa sebenarnya kebahagiaan itu? Bagaimana seharusnya orang hidup untuk memiliki kebahagiaan sejati? Makan, minum, dan bersenang-senang, serta berbagai kenikmatan jasmani, semuanya sudah kunikmati; bukankah semua itulah isi kehidupan manusia? Inikah arti hidup itu? Jika orang menjalani seluruh hidupnya seperti ini, hanya untuk mengejar makan, minum, dan bersenang-senang, serta mengejar kenikmatan jasmani, apa bedanya mereka dengan binatang? Jika manusia, seperti halnya binatang, juga hidup hanya untuk makan tiga kali sehari, tidak memahami apa arti hidup, tetap merasa tidak terpenuhi dalam pemikiran, dunia rohani, dan hati mereka, serta tidak memahami banyak hal tentang hidup, apa gunanya generasi demi generasi hidup seperti ini?" Ketika orang masih muda, mereka penuh dengan rasa ingin tahu tentang dunia. Ada banyak hal yang tidak mereka ketahui dan belum mereka lihat, serta ada banyak hal yang belum mereka alami, dan mereka merasa bahwa jika mereka pergi keluar dan mengarungi dunia, hidup mereka mungkin akan sangat bahagia dan terpenuhi, atau mereka mungkin akan menjalani kehidupan yang luar biasa dan unik. Namun, setelah benar-benar terjun ke tengah masyarakat, mereka melihat bahwa umat manusia hidup seperti ini dari generasi ke generasi. Dari keadaan yang bodoh dan tidak tahu apa-apa di masa muda mereka hingga sangat menderita dan memperoleh beberapa pengalaman hidup setelah melalui beberapa hal di tengah masyarakat, begitulah semua orang menjalani hidup mereka. Mereka semua melalui proses mengejar prospek, ketenaran dan keuntungan, serta berfokus pada makan, minum, bersenang-senang, serta kenikmatan jasmani. Di masa tua mereka, meskipun mereka telah memperoleh beberapa pengalaman hidup, mereka tampaknya tidak menuai apa pun, mereka juga tidak memahami apa arti hidup. Bukankah agak tidak bermakna bagi seseorang untuk menjalani seluruh hidupnya seperti ini? Orang sering merasakan kehampaan yang tak bisa dijelaskan. Artinya, ketika di dalam hatinya, mereka benar-benar merenungkan hidup dan mencoba memikirkan sesuatu yang bermakna dan berharga, tidak ada apa pun yang terpikirkan oleh mereka, dan hati mereka terasa benar-benar hampa. Mereka tidak tahu mengapa ini terjadi, mereka juga tidak tahu apa yang seharusnya dibutuhkan oleh hati mereka atau di mana hati mereka seharusnya bersandar. Mereka merasa tidak memiliki apa pun untuk diandalkan, dan mereka merasa sangat kebingungan, berpikir, "Aku telah mengalami cukup banyak hal dalam hidup ini, dan aku telah merasakan berbagai kesukaran dan penderitaan. Apakah hidup benar-benar berakhir seperti ini?" Ketika mereka melihat orang-orang yang lebih tua, tampaknya orang-orang itu juga telah menjalani kehidupan dengan cara seperti ini. Mereka kemudian merasa bahwa kehidupan manusia tidak bermakna. Mereka selalu mengejar ketenaran dan keuntungan, status, serta kenikmatan jasmani. Ketika mereka tidak memilikinya, mereka bertekad kuat untuk mendapatkannya; ketika mereka mendapatkannya, mereka merasakan sedikit kebahagiaan dan sedikit bersukacita untuk sesaat, tetapi dalam jangka panjang, sama sekali tidak ada kebahagiaan yang patut dibicarakan. Setelah sibuk ke sana kemari selama sebagian besar hidupnya, mereka tetap merasa hampa, tanpa ada sesuatu yang layak untuk dijadikan pegangan. Mereka selalu merasa seperti sedang menggenggam udara dengan kedua tangan, tetapi berharap mendapatkan sesuatu darinya. Menurut engkau semua, apakah perasaan ini baik? (Tidak.) Lalu, bagaimana perasaan ini muncul? (Itu karena semua kegiatan makan, minum, dan bersenang-senang di dunia ini tidak dapat memuaskan kebutuhan batin orang.) Apakah semua orang berpikir seperti ini? Orang macam apa yang berpikir seperti ini? (Orang yang memiliki hati nurani dan nalar berpikir seperti ini.) Katakan kepada-Ku, apakah orang yang tidak memiliki pemikiran, tidak memiliki cara berpikir yang logis, dan tidak berakal budi, akan berpikir seperti ini? (Tidak.) Orang yang tidak berakal budi adalah orang yang tidak memiliki hati nurani dan nalar; mereka berasal dari binatang. Mereka tidak memikirkan hal-hal kemanusiaan ini, mereka juga tidak memikirkan kehidupan manusia, masa depan, atau jalan apa yang harus ditempuh. Mereka tidak mempertimbangkan hal-hal ini sama sekali. Asalkan mereka bisa makan dan minum, mereka sudah puas. Mereka hanya menjalani setiap hari dengan asal-asalan, bersenang-senang selagi masih hidup, dan menikmati setiap hari selagi bisa. Mereka tidak memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan hidup. Lalu apa hubungannya hal-hal ini dengan hati nurani dan nalar kemanusiaan? Jika orang memiliki hati nurani dan nalar, mereka akan memperlihatkan rasionalitas dalam apa yang mereka lakukan. Memiliki rasionalitas sangatlah penting bagi orang-orang. Ketika orang memiliki rasionalitas, sering kali mereka tidak hidup berdasarkan perasaan, tetapi hidup secara rasional, hidup secara rasional pada saat ini. Mereka akan berpikir, "Apakah aku benar-benar telah memperoleh sesuatu dalam hidup ini? Apakah hidup ini layak untuk dijalani? Apakah aku telah melakukan sesuatu yang bermakna dan berharga? Apakah hal-hal yang kukejar adalah apa yang kubutuhkan dalam batinku? Apakah kebutuhan batinku telah terpuaskan? Kebutuhan itu belum terpuaskan, dan aku merasa sangat hampa. Tidak ada satu pun hal materi, maupun kasih sayang keluarga atau persahabatan, yang dapat memuaskanku di lubuk hatiku. Tak satu pun dari hal-hal ini adalah apa yang dibutuhkan oleh kemanusiaanku." Mereka akan memikirkan hal-hal ini secara rasional. Artinya, makin beranjak dewasa, makin rasional mereka dalam memandang hal-hal ini, dan makin mereka gagal mendapatkan jawaban, makin besar penderitaan yang mereka rasakan. Sebelum mengalami hal-hal ini, orang akan menilai dan membayangkan beberapa hal di dalam lingkup nalar dengan cara yang terencana dan menggunakan rasionalitas yang normal. Namun, ketika mereka telah melalui proses dari hal-hal ini dan menengok kembali, mereka menjadi lebih rasional. Mereka akan secara rasional memandang hal-hal yang telah mereka alami dan hal-hal yang telah mereka lalui, dan mereka akan melihat bahwa semua hal ini adalah kesia-siaan, dan tidak satu pun yang bermakna. Mengapa Kukatakan demikian? Karena segala sesuatu yang orang lakukan adalah demi makanan dan pakaian, demi memenuhi kebutuhan makan tiga kali sehari untuk daging mereka, dan demi mempertahankan kenikmatan jasmani. Mereka memperebutkan ketenaran dan keuntungan, serta bersaing satu sama lain. Jika orang menjalani seluruh hidupnya hanya demi hal-hal ini, hidup seperti binatang, berarti mereka tidak jauh lebih maju daripada binatang; hidup seperti ini tidak memiliki nilai. Di dalam hatinya, orang yang memiliki nalar manusia akan merenungkan hal-hal ini. Oleh karena itu, ketika mereka mencapai usia tertentu, pola hidup, aturan main, dan cara menangani berbagai hal yang terus berulang ini akan membuat mereka merasa lelah, muak, jijik, dan jengah. Pada akhirnya, mereka akan merasakan kehampaan, merasa bahwa mereka telah menikmati dan mengalami semua hal ini tetapi belum menuai apa pun, dan belum mendapatkan hal-hal yang nyata dan berwujud yang benar-benar memuaskan kebutuhan kemanusiaan mereka. Dalam kondisi seperti ini, orang-orang yang memiliki hati nurani dan nalar akan lebih jauh menyelidiki, mencari, dan meraba-raba: Apa sebenarnya arti kehidupan manusia yang sejati? Bagaimana seharusnya orang menjalani kehidupan mereka? Beberapa orang pintar akan mencari jalan hidup dan mencoba menemukan keyakinan agama. Dalam konteks inilah sebagian orang datang ke rumah Tuhan. Mereka menemukan bahwa hanya firman Tuhan, serta kebenaran, jalan, dan hidup yang Tuhan sediakan bagi umat manusia, yang dapat memuaskan kebutuhan mereka. Ketika mereka menyelidiki pertanyaan-pertanyaan seperti apa nilai dan makna hidup, hanya firman Tuhan yang dapat memberi mereka jawabannya. Barulah kemudian mereka memiliki dahaga akan firman Tuhan, dan selanjutnya menerima firman Tuhan dan dengan demikian melangkah lebih jauh untuk tunduk pada firman Tuhan. Dahaga, penerimaan, dan ketundukan mereka pada firman Tuhan semuanya didasarkan pada pengalaman hidup mereka, dan dihasilkan dari perenungan mereka mengenai beberapa hal yang telah mereka alami dalam hidup.

Apakah engkau semua merasa bahwa apa yang baru saja kita persekutukan itu abstrak? Dapatkah engkau semua memahaminya? (Itu tidak abstrak. Kami bisa memahaminya.) Isi ini tidak abstrak maupun hampa; semua ini adalah hal-hal yang dapat dilihat dan dijumpai orang dalam kehidupan nyata. Jika ada orang yang berpikir bahwa bersekutu tentang hati nurani dan nalar kemanusiaan itu terlepas dari kehidupan nyata, dan merasa bahwa isi ini sangat hampa dan abstrak, seolah-olah itu adalah sesuatu yang terjadi di dunia lain dan terlalu jauh dari manusia, bukankah orang itu bermasalah? Engkau tidak memahami hal-hal yang berkaitan dengan cara berperilaku, dan dalam caramu berperilaku, engkau tidak memiliki hati nurani atau nalar apa pun. Jadi, apa sebenarnya engkau ini? Setan atau binatang? Sulit untuk mengatakannya, tetapi bagaimanapun juga, engkau bukanlah manusia. Orang yang memiliki hati nurani dan nalar mampu menyadari dan merasa terhubung dengan pemikiran atau perwujudan yang berkaitan dengan hati nurani dan nalar kemanusiaan. Jika orang tidak dapat merasa terhubung dengan pemikiran atau perwujudan yang positif ini, tetapi dapat merasa terhubung dengan pemikiran dan perwujudan yang negatif, itu menunjukkan bahwa tidak ada hati nurani atau nalar di dalam diri mereka. Ada orang-orang yang tidak berhati nurani dan bernalar yang bahkan sangat jijik dengan pemikiran dan pandangan serta cara berperilaku yang berkaitan dengan hati nurani dan nalar kemanusiaan, merasa bahwa hal-hal itu memalukan, menjijikkan, atau hina. Ini adalah orang-orang yang tidak memiliki sifat kemanusiaan. Orang yang tidak memiliki sifat kemanusiaan sangat jijik dengan perwujudan hati nurani dan nalar kemanusiaan, dan mereka juga tidak dapat menyadari berbagai pemikiran, perilaku, dan prinsip penerapan spesifik yang diperlihatkan oleh kemanusiaan dari orang yang benar-benar berhati nurani dan bernalar. Karena mereka bukan berasal dari jenis yang sama, mereka tidak dapat menyadari semua itu. Katakan kepada-Ku, dapatkah binatang memahami prinsip apa yang mendasari cara orang bertindak atau mengapa mereka bertindak seperti itu? (Tidak.) Binatang tidak mengetahuinya. Apa yang binatang ketahui? Mereka tahu apa yang harus dilakukan dan kapan melakukannya, hanya hal-hal yang sudah pasti itu: kapan harus makan, berapa lama harus bermain, dan ke mana pemilik mereka biasanya membawa mereka. Mengenai mengapa pemilik mereka membawa mereka ke sana atau mengapa tidak, ini adalah hal-hal yang tidak mereka ketahui. Mereka juga tidak tahu mengapa jumlah makanan yang mereka dapatkan berbeda antara musim dingin dan musim panas, mereka juga tidak tahu niat di balik semua hal yang pemilik mereka lakukan bagi mereka. Mereka hanya tahu, "Pokoknya, pemilikku baik kepadaku. Pemilikku memberiku makanan lezat setiap hari, dan juga menemaniku serta melindungiku. Dia baik kepadaku, jadi dia adalah pemilikku. Orang lain tidak memberiku makan atau memperlakukanku dengan baik, jadi mereka bukan pemilikku, dan aku juga tidak dekat dengan mereka." Binatang hanya mengetahui hal-hal sederhana ini. Demikian pula, orang-orang yang berasal dari binatang tidak akan pernah mampu mengerti atau memahami hal-hal yang berkaitan dengan kemanusiaan, cara berperilaku, serta pemikiran dan pandangan ini. Sekalipun engkau mengajari mereka, yang akan mereka pelajari darimu hanyalah doktrin. Namun, memahami sesuatu sebatas doktrin bukanlah benar-benar memahaminya; mereka tidak memahami makna tersiratnya, mereka juga tidak memahami nilai dari hal-hal yang engkau ajarkan kepada mereka. Oleh karena itu, orang-orang yang berasal dari binatang tidak dapat memahami ketika hal-hal yang berkaitan dengan hati nurani dan nalar kemanusiaan dibicarakan. Setan-setan dapat memahami hal-hal ini secara doktrinal, tetapi mereka tidak menerimanya. Mereka merasa jijik dan benci terhadap pernyataan-pernyataan ini, berpikir bahwa engkau sedang melontarkan perkataan yang muluk-muluk, dan bahwa semua ini adalah pernyataan yang terlepas dari kehidupan nyata umat manusia. Entah mereka tidak menerimanya atau tidak mampu memahaminya, Aku tidak mengatakan hal-hal tentang cara berperilaku ini untuk didengarkan oleh mereka yang berasal dari setan atau binatang. Jika mereka bersedia menerimanya sebagai doktrin, itu tidak masalah; jika mereka tidak bersedia, Aku tidak keberatan. Orang-orang dipilah menurut jenis mereka; mereka tidak dapat dipaksa. Apa pun jenismu, itulah yang menentukan hal-hal yang engkau sukai. Jika engkau tidak memiliki kemanusiaan dan bukan berasal dari umat manusia, engkau tidak akan memahami firman yang berkaitan dengan kebenaran, dan engkau tidak akan bersedia menempuh jalan yang seharusnya ditempuh oleh manusia. Hanya orang-orang yang berasal dari golongan manusia yang akan bersedia mendengarkan topik-topik yang berkaitan dengan cara berperilaku dan kebenaran. Jika ada orang-orang yang tidak bersedia mendengarkan dan tidak dapat meresapinya, mereka tidak perlu mendengarkannya. Orang-orang semacam itu bukan berasal dari golongan manusia, dan kebenaran bukan diucapkan untuk mereka dengar.

Baru saja kita menyebutkan bahwa bagi orang-orang yang memiliki hati nurani dan nalar dalam kemanusiaan mereka, dalam hal kebutuhan jasmani dalam kehidupan—seperti makan, minum, dan bersenang-senang—seiring mereka makin banyak mengalami dan menjumpai hal-hal ini, mereka akan terus-menerus merenungkannya. Makin mereka mengalami makan, minum, bersenang-senang, dan kesenangan daging dalam kehidupan, makin mereka merasakan di dalam hatinya bahwa hal-hal ini tidak bermakna dan hampa. Sekalipun mereka tidak dapat berhenti hidup seperti ini, mereka tidak menemukan sukacita di dalamnya; sebaliknya, mereka merasa sangat tidak berdaya. Kondisi ini makin mendorong mereka untuk berusaha memahami pertanyaan-pertanyaan seperti makna hidup dan mengapa manusia hidup. Oleh karena itu, ketika mereka menerima pekerjaan Tuhan dan mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, mereka merasakan kepuasan yang sangat besar dalam hati mereka, dan berpikir bahwa ini sungguh jalan yang benar dalam hidup manusia. Ketika orang semacam itu menerima perbekalan kebenaran firman Tuhan, mereka merasa bahwa berbagai hal positif dan berbagai tuntutan terhadap manusia yang disebutkan dalam firman Tuhan sepenuhnya memuaskan, atau hingga taraf tertentu, sesuai dengan kebutuhan dalam kemanusiaan mereka. Oleh karena itu, mereka dengan rela akan menerima firman Tuhan dan tuntutan Tuhan terhadap manusia; mereka percaya bahwa ini benar-benar jalan yang seharusnya orang tempuh, dan bahwa ini benar-benar prinsip tentang cara berperilaku yang seharusnya orang miliki. Karena mereka memiliki kebutuhan dan pemikiran semacam itu, firman Tuhan adalah perbekalan bagi mereka dan dapat menjadi pertolongan yang tepat waktu bagi mereka. Setelah menerima perbekalan firman Tuhan, mereka akan memiliki keinginan dan tekad untuk memuaskan Tuhan, dan menjadi manusia sejati sesuai dengan tuntutan Tuhan. Sebagai contoh, orang-orang benar yang disebutkan oleh Tuhan, seperti Nuh, Abraham, Ayub, dan Petrus, kisah tentang bagaimana mereka tunduk kepada Tuhan dan menerima amanat-Nya adalah hal yang sangat didambakan dan dikagumi oleh orang-orang semacam ini dalam hati mereka. Mereka berharap suatu hari nanti mereka juga dapat memiliki ketundukan yang sejati dan mutlak kepada Tuhan, sama seperti Nuh, Abraham, dan yang lainnya, dan mereka juga berharap suatu hari nanti mereka mampu memperoleh perkenanan Tuhan dan menjadi salah satu orang benar yang Tuhan bicarakan. Mereka mendambakan diri mereka menjadi orang baik, orang benar. Kisah orang-orang benar yang Tuhan ceritakan ini sangat menggerakkan mereka, dan hati mereka sering kali tersentuh serta terinspirasi oleh kisah orang-orang itu dan oleh sikapnya terhadap Tuhan. Karena mereka memiliki sifat hati nurani dan nalar dalam kemanusiaan mereka, mereka mampu menjadikan tokoh-tokoh yang disebutkan dalam firman Tuhan ini sebagai panutan dan teladan untuk ditiru; ini juga merupakan tanda bahwa mereka memiliki hati nurani dan nalar. Tentu saja, perwujudan semacam ini juga merupakan syarat dasar bagi seseorang untuk mampu menerima dan tunduk pada firman Tuhan, serta untuk disucikan dan diselamatkan. Setidaknya, dinilai dari perwujudan orang semacam itu dan apa yang mereka perlihatkan selama proses mengalami kehidupan, mereka tidaklah mati rasa ataupun tumpul perasaannya. Mereka bukanlah orang yang tidak memiliki pemikiran, juga bukan orang yang tidak memiliki pandangan apa pun tentang hidup, kenyataan, atau hal-hal seperti makan, minum, dan bersenang-senang. Mereka memiliki pendapat, mereka memiliki pandangan sendiri, dan terlebih lagi, mereka memiliki pemikiran dan pandangan yang positif. Artinya, mereka tidak mati rasa dan tidak tumpul perasaannya terhadap berbagai hal dalam kehidupan, tetapi mereka memikirkannya. Terutama setelah mengalami segala macam masa sulit, kemunduran, dan kegagalan, serta merasakan suka duka kehidupan, mereka makin merasa bahwa hidup mereka hampa dan tidak berharga jika terus seperti ini; bahwa jika mereka sekadar melewati dunia ini dan berperilaku dengan cara seperti ini, itu tidak bernilai dan tidak bermakna; dan bahwa pada akhirnya mereka tidak akan memperoleh apa pun jika berperilaku dengan cara seperti ini. Mereka akan merasa enggan untuk menerima hal ini begitu saja dan merasa ini tidak masuk akal: "Apakah benar-benar seperti ini cara orang seharusnya hidup, menghabiskan seluruh hidup mereka seperti ini? Apa gunanya generasi demi generasi hidup seperti ini?" Engkau lihat, meskipun pada akhirnya mereka tidak mencapai kesimpulan tentang bagaimana orang seharusnya hidup, setidaknya mereka memikirkannya. Mereka tidak tenggelam dalam makan, minum, bersenang-senang, dan menikmati kenyamanan daging, kasih sayang keluarga mereka, atau kebahagiaan kehidupan keluarga, hanya melewati hari-hari mereka dengan asal-asalan tanpa arah. Sikap mereka terhadap kehidupan sama sekali bukan sikap yang sekadar menjalaninya dengan asal-asalan, karena, dengan dituntun oleh nalar, mereka sering kali merenung. Hal-hal seperti makan, minum, bersenang-senang, dan kesenangan daging sama sekali tidak akan memuaskan kebutuhan hati mereka. Dalam kondisi ini, mereka akan mencari hal-hal yang dapat memuaskan kebutuhan hati mereka. Pada akhirnya, hanya firman Tuhan dan pekerjaan Tuhan yang dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan yang mereka renungkan ini, dan memuaskan kebutuhan hati mereka.

Jika orang hanya melewati hari-harinya seperti ini hari demi hari, tahun demi tahun, tidak pernah memikirkan jalan apa yang seharusnya mereka tempuh atau bagaimana mereka seharusnya hidup; jika, setelah mengalami kemunduran, kegagalan, masa sulit, dan kesengsaraan, serta merasakan suka duka kehidupan, mereka tetap tidak memikirkan hal-hal ini sama sekali, tidak memiliki pandangan tentang kehidupan atau cara berperilaku, dan terus mengejar ketenaran, keuntungan, status, dan kesenangan, bahkan sangat bersemangat untuk terjun ke dalam berbagai tren jahat—dan mereka tidak memiliki kesadaran, tidak merasa sedih atau menderita, dan tidak merasa bahwa hidup seperti ini hampa—maka orang semacam itu pastilah bukan manusia. Jika mereka adalah manusia, begitu mencapai usia tertentu, mereka akan memikirkan pertanyaan-pertanyaan mengenai kehidupan. Ada orang yang mulai merenungkan hal-hal tentang kehidupan di usia dua puluhan: "Generasi kakek nenekku dan generasi orang tuaku semuanya hidup seperti itu. Apakah aku juga akan hidup seperti mereka, menikah dan memiliki anak pada usia tertentu, dan begitu saja seumur hidupku? Apakah aku benar-benar hidup hanya untuk membesarkan anak dan menghasilkan keturunan? Jika seseorang menjalani seluruh hidupnya seperti ini, hidupnya itu tidak bermakna. Jika generasi demi generasi hidup seperti ini, bukankah hidup mereka tetaplah hampa?" Samar-samar, mereka merasakan di dalam hatinya bahwa masa depan itu hampa dan tidak pasti. Mereka merasa, "Jika orang hanya mengejar makan, minum, bersenang-senang, dan kesenangan daging seumur hidupnya, lalu memiliki dan membesarkan anak, agar anak-anak merawat mereka di masa tua serta memberi mereka pemakaman yang layak, dan mereka dapat menikmati masa tua dengan tenang, jika mereka mengejar tujuan ini, maka hidup mereka akan sangat tidak bermakna!" Bahkan sebelum mereka benar-benar mulai mengalami kehidupan, mereka sudah melihat bahwa jalan di depan gelap dan tanpa cahaya; mereka sudah melihat setiap tahap kehidupan yang telah direncanakan sebelumnya yang terbentang di hadapan mereka. Samar-samar, mereka merasakan di dalam hati bahwa hidup seperti ini tidaklah bermakna dan tidak ada hal yang layak untuk dinantikan! Ada orang-orang yang ketika mencapai usia dua puluhan, mulai berpikir tentang berkeluarga, membangun karier, dan menjalani kehidupan yang nyaman, serta membuat orang tua mereka menikmati kehidupan yang nyaman. Ada juga orang-orang yang selalu berambisi; mereka selalu ingin menjadi kaya atau menjadi pejabat, menjadi unggul daripada orang lain dan membawa kehormatan bagi leluhur mereka. Entah mereka dipengaruhi oleh orang tua mereka atau oleh masyarakat, singkatnya, mereka tidak tahu bagaimana merenungkan kehidupan. Mereka sangat yakin bahwa hidup ini hanyalah tentang makanan yang enak, pakaian yang bagus, dan kehidupan yang nyaman, dan mereka tidak memikirkan hal lain apa pun. Ada orang-orang yang mengalami banyak kemunduran sebelum melihat dengan jelas bahwa masyarakat dan umat manusia ini tidak sebaik yang orang bayangkan, dan mereka mulai memikirkan cara untuk menjalani kehidupan yang berharga, bermakna, dan yang tidak dijalani dengan sia-sia. Orang-orang semacam itu merupakan kelompok minoritas yang sangat kecil. Singkatnya, semua orang yang merenungkan nilai hidup dan menyadari bahwa orang haruslah menangani perkara-perkara nyata selagi mereka hidup, adalah orang-orang yang memiliki hati nurani dan nalar. Fakta bahwa mereka mampu merenungkan hal-hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai mereka berbeda dari nilai yang orang lain miliki. Nilai-nilai mereka bukanlah tentang makan enak, menikmati hal-hal yang bagus, menjadi makmur, menonjol di antara yang lain, serta memiliki prospek yang baik dalam kehidupan ini, dan sampai di situ saja. Ada banyak orang yang memiliki prospek yang baik, seperti para pejabat tinggi itu. Adakah hal baik yang menanti mereka pada akhirnya? Apakah mereka hidup bahagia? Jika engkau melihat dari dekat kehidupan mereka di balik layar, mereka juga tidak bahagia. Ini membuatmu merasa bahwa jika engkau juga mencari status dan prospek, engkau juga tidak akan bahagia, sama seperti mereka. Orang yang memiliki pemikiran kemanusiaan yang normal akan merenung, "Para pejabat tinggi itu tidak bahagia, yang membuktikan bahwa jalan yang mereka tempuh salah. Lalu, apa jalan benar yang harus orang tempuh yang benar-benar dapat membawa penghiburan bagi hati mereka?" Hati orang membutuhkan sesuatu yang dapat menghiburnya. Sumber penghiburan ini bukanlah kesenangan materi seperti uang, rumah mewah, atau mobil mewah, bukan pula orang kepercayaan yang dapat mengarungi berbagai kesengsaraan bersama mereka, apalagi pernikahan yang sempurna atau anak-anak yang berbakti. Tak ada satu pun dari hal-hal ini yang bisa benar-benar membawa penghiburan bagi hati manusia. Hal yang dapat benar-benar membawa penghiburan bagi hati manusia adalah hal-hal yang dibutuhkan oleh hati mereka. Mereka perlu mendapatkan beberapa jawaban; yakni, ada beberapa hal yang ingin orang pahami dalam perjalanan hidup: Dari mana manusia berasal? Kapan mereka akan mati? Siapa yang mengendalikan kematian? Apakah ada yang namanya nasib dalam kehidupan? Siapa yang mengendalikan nasib? Jika orang tua yang mengendalikannya, lalu siapa yang mengendalikan nasib orang tua? Orang tua bahkan tidak dapat mengendalikan nasib mereka sendiri, jadi dapatkah mereka mengendalikan nasib anak-anak mereka? Selain itu, bagaimana seharusnya cara orang berperilaku? Bagaimana seharusnya cara mereka berperilaku agar hidup mereka berharga, dan mereka tidak melewati dunia ini dengan sia-sia? Jika orang memiliki jiwa, lalu setelah mereka mati, apakah jiwa mereka memiliki tempat untuk dituju? Jika jiwa memiliki tempat untuk dituju, apakah itu berkaitan dengan kehidupan ini? Apa yang harus orang lakukan dalam kehidupan ini agar jiwa mereka dapat pergi ke tempat yang baik setelah kematian? Bagaimana mereka dapat menghindar atau berubah haluan agar tidak pergi ke tempat yang buruk? Semua ini adalah pertanyaan yang seharusnya orang pikirkan. Ketika orang memikirkan pertanyaan-pertanyaan ini tetapi tidak bisa mendapatkan jawaban, apakah mereka merasa tersiksa di dalam hatinya? (Ya.) Makin engkau gagal mendapatkan jawaban, makin engkau merasa tersiksa di dalam hatimu, dan makin engkau tidak berminat untuk menikmati hidup, kasih sayang keluarga, atau asmara, karena seperti apa pun engkau menikmatinya, hal-hal ini hanya dapat mengisi kehampaan di hatimu untuk sementara. Setelah engkau selesai menikmati hal-hal ini, di lubuk hatimu, engkau akan merasa jauh lebih hampa, karena hal-hal yang sementara kaumiliki atau kaunikmati hanya membuat hatimu mati rasa dan memuaskan kebutuhan sesaatmu; hal-hal itu tidak dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang kaurenungkan. Pada akhirnya, berapa pun uang yang kaumiliki, sebaik apa pun kehidupan materi yang kaunikmati, atau berapa pun banyaknya anak di sisimu yang menghormatimu, tak ada satu pun dari semua itu yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan di lubuk hatimu, juga tak ada satu pun dari semua itu yang dapat membantumu menemukan jawaban yang kauinginkan. Artinya, hal-hal yang kaunikmati dalam hidup ini, hal-hal yang telah kauperoleh, tidak dapat memberitahumu akan seperti apa masa depanmu, ke mana engkau akan pergi setelah kehidupan ini berakhir, atau apakah engkau akan dihukum ataukah diberi upah. Tak seorang pun dapat memberimu jawaban yang akurat atas pertanyaan-pertanyaan ini, dan engkau tidak dapat menemukan jawaban yang akurat dalam buku atau sumber apa pun. Jika, ketika merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini, samar-samar engkau dapat merasakan bahwa hidup ini hampa, bahwa menikmati kasih sayang keluarga itu hampa, bahwa menikmati asmara, pernikahan, dan keluarga itu hampa, bahwa menikmati bakti dari anak-anak itu hampa, dan bahwa menikmati hal-hal seperti makan, minum, dan bersenang-senang semuanya hampa—dan makin engkau menikmati dan memperoleh hal-hal ini, makin kuat dan berat perasaan hampa ini—maka engkau akan makin merasakan bahwa hatimu membutuhkan sesuatu selain hal-hal ini untuk memperoleh penghiburan. Ini akan makin mendorongmu untuk mencari hal-hal yang dapat membawa penghiburan bagi hatimu, dan mencari jawaban atas kehidupan serta jalan hidup. Ketika hal-hal ini tidak dapat diperoleh, orang bersikap tidak berdaya dan asal-asalan terhadap urusan duniawi: "Aku akan hidup seperti ini saja. Lagi pula, seperti inilah orang menjalani seluruh hidup mereka." Sebagus apa pun hal-hal yang dimiliki atau dinikmati oleh orang yang berhati nurani dan bernalar, semua itu hampa bagi mereka. Mereka tidak seperti orang-orang yang sejenis dengan binatang, yang tidak pernah kenyang sebanyak apa pun mereka makan dan tidak pernah puas sebanyak apa pun hal yang mereka nikmati, dan yang bahkan berpikir, "Paling baik bagi orang untuk bersenang-senang seperti ini seumur hidup mereka. Dalam kehidupan ini, hal terburuk untuk dimiliki adalah penyakit dan yang terburuk untuk tidak dimiliki adalah uang." Ini adalah logika orang-orang yang bereinkarnasi dari binatang. Pepatah ini—"yang terburuk untuk dimiliki adalah penyakit dan yang terburuk untuk tidak dimiliki adalah uang"—adalah falsafah hidup yang mereka dapatkan setelah mengalami kehidupan. Namun, ketika orang yang berhati nurani dan bernalar mendengar perkataan ini, mereka berpikir, "Menjadi miskin memang tampaknya buruk; saat butuh uang tetapi tidak punya uang, itu sangat menyulitkan. Namun, dapatkah memiliki uang menyelesaikan masalah kehampaan? Itu sama sekali tidak dapat menyelesaikannya. Memiliki terlalu banyak uang juga merepotkan. Selalu ada orang yang mendambakannya, dan kau tidak tahu di mana tempat yang aman untuk menyimpannya. Tampaknya tidak aman menaruhnya di bank, kau tidak merasa yakin untuk menginvestasikannya, dan lagi pula kau tidak bisa menghabiskan uang sebanyak itu. Jika kau menghabiskan uang untuk kesenangan dengan makan, minum, dan bersenang-senang, tinggal di rumah mewah, mengendarai mobil mewah, dan menikmati sikap orang yang menjilat, mengagumi, dan memandang tinggi, sementara orang-orang mengikuti dan mengelilingimu di mana pun engkau berada, seperti segerombolan lalat hijau yang terus-menerus berdengung di sekitarmu tanpa meninggalkanmu sesaat pun, setelah menikmati hal-hal ini selama beberapa waktu, kau akan merasa muak dengan semua itu di dalam hatimu, dan berpikir betapa menyenangkannya jika bisa menemukan tempat untuk diam sejenak dan menenangkan pikiran. Sekalipun kau dapat berkeliling dunia dan memperluas wawasanmu, setelah itu, ketika batinmu menjadi tenang, kau tetap akan merasa bahwa hidup seperti ini tidaklah bermakna, dan kau akan merasa makin hampa." Sebenarnya, ketika orang merasa hampa terhadap semua ini, hati mereka membutuhkan penghiburan. Artinya, ketika mencapai usia tertentu dan mencapai tahap tertentu dalam jalan hidup, mereka akan memiliki banyak pertanyaan dan kebingungan tentang hidup yang tidak mereka pahami, yang perlu dijawab dan diselesaikan. Jika pertanyaan-pertanyaan ini tidak dapat dijawab, mereka hanya bisa hidup seperti mayat hidup, menghadapi segala sesuatu dengan enggan, dan sudut pandang mereka terhadap segala sesuatu akan menjadi sangat negatif dan pasif, alih-alih proaktif. Ini adalah beberapa perasaan tentang kehidupan yang dimiliki oleh orang-orang yang berhati nurani dan bernalar dalam kemanusiaan mereka.

Bagi orang-orang yang berhati nurani dan bernalar, selain memiliki beberapa perasaan tentang kehidupan, ketika mencapai usia tertentu, mereka akan memiliki beberapa kesadaran tentang hidup manusia dan akan merenungkan berbagai pertanyaan. Karena mereka berhati nurani—atau lebih tepatnya, karena orang-orang semacam itu memiliki hati dan roh—di bawah pengaruh yang terus-menerus dari hati nurani dan nalar mereka, mereka akan merenungkan berbagai pertanyaan pada tahap kehidupan yang berbeda: Bagaimana seharusnya segala macam orang diperlakukan? Bagaimana seharusnya orang memperlakukan orang tua dan anak-anak mereka? Apa sebenarnya arti hidup ini? Dalam hidup, apa sebenarnya arti makan, minum, dan kesenangan, serta ketenaran, keuntungan, status, dan prospek? Setelah mengalami berbagai tahap kehidupan, sekalipun mereka tidak memahami kebenaran, mereka akan menarik beberapa kesimpulan tentang hidup. Karena mereka merenung, mereka akan menarik kesimpulan. Kesimpulan ini mungkin objektif, atau mungkin hanyalah kesadaran pribadi. Namun setidaknya, orang-orang yang berhati nurani dan bernalar telah melewati hal-hal tertentu selama proses mengalami hidup. Dengan sejumlah pengalaman hidup, mereka akan merasa, "Dalam hidup ini, banyak hal tidak berjalan seperti yang diinginkan; banyak hal berada di luar kendali. Seolah-olah, di alam yang tak kasatmata, Surga telah mengatur semua ini." Inilah kesadaran yang mereka peroleh dari mengalami hidup, dan ini juga merupakan salah satu perolehan mereka. Dalam hal kemanusiaan, perolehan ini adalah jenis perenungan yang sangat positif dan alami yang dihasilkan oleh fungsi hati nurani dan nalar. Mengapa mereka memiliki perenungan semacam ini? Itu karena selama proses mengalami hidup, ada banyak hal yang berjalan sesuai keinginan mereka maupun yang tidak, hal-hal yang selaras dengan keinginan mereka maupun yang tidak. Selama proses mengalami hal-hal ini, mereka akan terus-menerus memetik pelajaran dan pada akhirnya mencapai kesimpulan: Orang memiliki nasib. Entah kehidupan orang berjalan lancar dan sesuai keinginan mereka atau penuh dengan masa sulit dan kekecewaan, entah membawa penderitaan atau kebahagiaan, ada yang namanya nasib. Atas dasar ini, mereka akan merenungkan beberapa pertanyaan: "Sudah pasti bahwa orang memiliki nasib, tetapi apakah orang memilih nasib mereka sendiri? Apakah nasib dibentuk oleh orang tua? Tampaknya tidak demikian. Jika nasib anak-anak dibentuk dan diputuskan oleh orang tua mereka, maka setiap orang tua akan berharap anak-anak mereka makmur dan menonjol dibandingkan orang lain, serta memiliki kehidupan bahagia yang berjalan sesuai dengan keinginan mereka. Namun, mengapa hidupku tidak berjalan sesuai dengan harapan orang tuaku, juga tidak sesuai dengan keinginanku sendiri? Jelas, nasib tidak diputuskan oleh manusia. Mengatakan bahwa nasib manusia dibentuk oleh natur adalah omong kosong; ini sama sekali tidak mungkin. Pasti ada Yang Berdaulat, Surga, yang mengatur hal ini di dunia yang tak kasatmata." Setelah mengalami beberapa tahap kehidupan, mereka memiliki beberapa kesadaran. Atau, untuk beberapa tahap kehidupan yang tidak mereka alami, mereka memperoleh beberapa pemahaman dan wawasan dari orang tua atau pendahulu mereka; tentu saja, ini juga merupakan kesadaran tentang kehidupan. Pertama-tama, mereka percaya pada nasib, dan atas dasar ini, mereka percaya bahwa Surga itu ada. Apakah ini objektif? (Ya.) Mungkin ada orang-orang yang akan berkata, "Apa yang kaukatakan tidak objektif. Kami juga manusia, tetapi kami tidak berpikir seperti itu." Ketika kita mengatakan bahwa orang yang berhati nurani dan bernalar merenungkan pertanyaan tentang kehidupan, itu tidak berarti mereka hanya duduk di sana tanpa melakukan apa pun dan memikirkannya selama empat puluh lima menit seolah-olah mereka sedang berada di dalam kelas, lalu mendapatkan suatu jawaban. Sebaliknya, seiring bertambahnya usia dan makin banyak hal yang mereka alami, bahkan tanpa sadar mereka memperoleh kesadaran tentang kehidupan. Kesadaran ini tidak diperoleh dalam semalam, tidak juga datang setelah satu tahun. Mungkin dimulai dari usia tiga puluh tahun, mereka mulai mengalami kehidupan dan berinteraksi dengan masyarakat dan orang lain; setelah berangsur-angsur mengalami berbagai hal, pengalaman itu terakumulasi sedikit demi sedikit, membawa mereka pada kesimpulan semacam itu. Artinya, setelah mencapai usia tertentu, setelah melewati beberapa perjalanan hidup, orang-orang yang berhati nurani dan bernalar pertama-tama akan percaya bahwa orang memiliki nasib, dan bahwa nasib mereka berada di bawah kedaulatan serta pengaturan Surga; kesimpulan inilah yang mereka ambil. Apa lagi yang mereka simpulkan? "Entah orang menikmati berkat atau mengalami kesukaran dalam hidup ini, entah mereka miskin atau kaya, entah mereka menjadi pejabat tinggi atau hanya orang biasa, tak satu pun dari semua ini ditentukan oleh mereka." Jika engkau memikirkannya dari perspektif manusia, siapa yang tidak ingin menjadi pejabat, menikmati kehidupan materi yang baik, dan memiliki kehidupan yang bahagia dan bebas dari kesulitan di mana segala sesuatunya berjalan sesuai keinginan mereka? Namun, aspirasi semacam itu belum tentu terwujud; nasib setiap orang berbeda-beda. Sebagai contoh, ada orang yang terlihat biasa saja dan berantakan ketika masih kecil, tetapi mereka meraih kesuksesan ketika dewasa; orang-orang tidak dapat memahami hal ini. Misalnya, ada seorang gadis yang memiliki tekad yang sangat kuat untuk unggul sejak kecil; ia berprestasi dalam studinya dan memiliki paras yang sangat rupawan. Namun, apa yang pada akhirnya terjadi padanya? Ia menikah dengan seorang preman, dipukuli setiap hari, dan anak-anaknya tidak serupawan yang ia bayangkan; mereka semua berparas aneh dan tidak menarik. Ia memiliki tekad yang begitu kuat, parasnya begitu rupawan, dan ada begitu banyak orang yang mengejarnya, tetapi setelah mempertimbangkan semua pilihannya, ia pada akhirnya memilih seorang preman; ini adalah sesuatu yang tidak akan pernah diduga orang. Atau katakanlah ada seseorang yang sangat ambisius dan bermimpi menjadi seorang jenderal atau gubernur provinsi ketika ia dewasa. Apa yang terjadi padanya? Ketika ia dewasa, ia mencari nafkah dengan bertani. Ia berpendidikan cukup tinggi, mengenakan kacamata sepanjang hari dan mampu berbicara dengan fasih. Ke mana pun ia pergi, ia menceritakan kisah-kisah sejarah dan berbagai cerita kepada orang lain. Ia bahkan mengetahui segalanya mulai dari astronomi hingga geografi, dan dapat meramal nasib. Namun pada akhirnya, ia tidak mencapai apa pun dan tetap menjadi petani seumur hidupnya. Dari hal-hal ini, dapat dilihat bahwa nasib seseorang di sepanjang hidupnya diatur oleh Surga. Sekalipun engkau memiliki aspirasi dan keinginan yang baik, hal-hal itu belum tentu terwujud; dan sekalipun engkau tidak memilikinya, mungkin kemujuran akan datang kepadamu secara tak terduga. Ini memenuhi perkataan orang tidak percaya bahwa Surga punya mata. Ini sepenuhnya berada di bawah kedaulatan dan pengaturan Sang Pencipta. Terlebih lagi, siapa pun yang miskin saat ini belum tentu akan miskin seumur hidupnya. Ketika seseorang miskin, istrinya mungkin memandang rendah dirinya dan meninggalkannya. Namun, beberapa tahun kemudian, bisnisnya sukses dan ia menjadi jutawan, mengendarai mobil mewah, tinggal di rumah mewah, serta mengenakan emas dan perak. Istrinya kemudian ingin kembali, tetapi ia lebih memilih untuk tidak pernah menikah lagi daripada menerima istrinya kembali. Engkau lihat, istrinya sama sekali tidak memiliki nasib yang baik; ia ditakdirkan untuk menjadi miskin. Kaya atau miskinnya seseorang dalam kehidupan ini berada di luar kendalinya. Engkau tidak pernah tahu kapan engkau mungkin menjadi kaya, dan engkau tidak pernah tahu apa yang mungkin menyebabkanmu menjadi miskin. Ada orang-orang kaya yang berpikir bahwa mereka akan kaya seumur hidup mereka, jadi mereka memandang rendah orang miskin dan mengabaikannya. Namun beberapa tahun kemudian, mereka jatuh miskin, dan orang-orang yang dahulu mereka tindas dan abaikan sekarang lebih kaya daripada mereka, dan tidak sudi menghiraukan mereka. Selain menyadari bahwa kaya atau miskinnya seseorang berada di luar kendalinya, apa lagi kesadaran tentang kehidupan yang didapatkan oleh orang-orang yang berhati nurani dan bernalar? Ada orang-orang yang berkata, "Dalam kehidupan ini, sekalipun kau tidak melakukan hal-hal yang baik, janganlah melakukan kejahatan. Surga punya mata! Lihatlah keluarga itu; mereka sudah bobrok sejak generasi kakek nenek mereka, selalu menipu dan mencelakai orang lain. Apa yang pada akhirnya terjadi pada mereka? Cucu laki-laki mereka menerima balasannya; ia terlahir cacat. Jadi, janganlah melakukan kejahatan. Surga punya mata; cepat atau lambat, engkau akan menghadapi pembalasan jika engkau berbuat jahat!" Orang yang berhati nurani dan bernalar mengalami banyak hal dan banyak menderita ketika mereka tidak memahami kebenaran. Ketika mencapai usia lima puluhan atau enam puluhan, mereka akan memiliki berbagai kesadaran tentang kehidupan. Kesadaran ini pada akhirnya mengarah pada satu kesimpulan tentang keberadaan nasib dan Surga, bahwa di dunia tak kasatmata, nasib manusia berada di bawah kedaulatan dan pengaturan Surga, bahwa manusia menghadapi pembalasan setelah mereka mati, bahwa orang tidak boleh berbuat jahat, dan bahwa kejahatan apa pun yang orang perbuat, Surga punya mata dan sedang mengawasi. Jangan mengira orang lain tidak tahu bahwa engkau telah berbuat jahat; orang-orang mungkin tidak tahu, tetapi Surga pasti tahu. Utang yang orang miliki dalam kehidupan ini harus dibayar di kehidupan selanjutnya, dan bahkan mungkin butuh beberapa masa kehidupan untuk membayarnya. Engkau lihat, dari zaman kuno hingga saat ini, semua orang yang telah melakukan terlalu banyak kejahatan telah menemui akhir yang buruk dan menghadapi pembalasan. Ada orang yang melakukan terlalu banyak pembunuhan dan dihukum; selama ratusan tahun, mereka tidak sekali pun bereinkarnasi sebagai manusia. Mereka terus-menerus bereinkarnasi sebagai sapi dan babi, dan setelah disembelih, mereka bereinkarnasi sebagai babi dan sapi lagi, melewati siklus ini dari generasi ke generasi. Inilah yang disebut menghadapi pembalasan. Sekalipun orang-orang yang berhati nurani dan bernalar tidak memahami kebenaran, mereka tetap bisa memiliki beberapa perasaan tentang hal-hal dalam kehidupan, menyadari beberapa hal positif, dan pada akhirnya mendapatkan beberapa jawaban yang positif. Jawaban-jawaban yang positif ini memungkinkan mereka untuk mendapatkan beberapa prinsip tentang cara berperilaku yang seharusnya orang miliki, dan jalan tentang cara berperilaku yang seharusnya orang tempuh. Menjalani seluruh kehidupan mereka dengan cara seperti ini, setidaknya mereka dapat lebih sedikit berbuat jahat dan luput dari beberapa hukuman. Makin banyak pengalaman hidup yang orang miliki dan makin banyak kesadaran tentang kehidupan yang mereka peroleh, makin mereka dapat menghadapi prospek dan masa depan mereka dengan benar, dan makin mereka dapat membiarkan segala sesuatunya berjalan alami, membiarkan segala sesuatunya terjadi apa adanya, alih-alih dengan paksa dan sengaja mencoba mengendalikan semua hal ini. Sebagai contoh, mengenai hal-hal seperti prospek dan pernikahan anak, atau bagaimana anak memperlakukan orang lanjut usia, para orang tua akan membiarkan segala sesuatunya berjalan alami dan menghadapi hal-hal ini dengan benar, alih-alih menggunakan cara-cara yang dibuat-buat atau perilaku ekstrem untuk memanipulasi semuanya. Jadi, ketika orang memiliki kesadaran seperti ini tentang kehidupan, hingga taraf tertentu, mereka mampu mematuhi pengaturan Surga dan pengaturan nasib, serta melakukan lebih sedikit hal bodoh atau tidak melakukannya sama sekali.

Ada banyak kesadaran yang bisa didapatkan tentang kehidupan. Selain yang baru saja kita persekutukan, kesadaran apa lagi yang telah engkau semua dapatkan? (Bahwa kelahiran, penuaan, penyakit, dan kematian juga berada di luar kendali manusia.) Ya, kelahiran, penuaan, penyakit, dan kematian berada di luar kendali manusia. Engkau lihat, ada orang yang kesehatannya sangat baik, tetapi kemudian mereka masuk angin dan beberapa hari kemudian meninggal. Sementara itu, ada orang yang sakit-sakitan, minum obat sepanjang tahun, tetapi mereka hidup hingga berusia delapan puluhan. Kapan orang mati juga berada di luar kendali mereka; itu bukanlah sesuatu yang dapat mereka pilih. Apa lagi kesadaran tentang kehidupan? (Bahwa asmara dan pernikahan juga berada di luar kendali seseorang.) Orang tidak dapat mengetahui yang sebenarnya tentang banyak hal pada saat itu, tetapi ketika mencapai usia tertentu, mereka akan sampai pada beberapa kesadaran. Sebagai contoh, ada banyak hal yang tidak dapat dibuat-buat oleh manusia; hal-hal itu tidak berubah menurut kehendak manusia, tidak juga diputuskan oleh kehendak manusia. Katakan kepada-Ku, bagi orang yang mampu merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini dan memiliki kesadaran seperti ini tentang kehidupan, ketika mendengar firman Tuhan, bukankah hati mereka menjadi jauh lebih terang? (Ya.) Jika mereka bisa mendapatkan jawaban dari firman Tuhan, lalu dapatkah mereka menerima firman Tuhan? Akankah mereka mengakui bahwa firman Tuhan benar? (Ya.) Setelah orang yang berhati nurani dan bernalar mengalami beberapa tahap kehidupan, mereka akan sampai pada beberapa kesadaran tentang kehidupan. Poin paling dasar di antara kesadaran ini adalah kepercayaan pada nasib dan kepercayaan bahwa Tuhan itu ada. Atas dasar ini, ketika mereka datang ke hadapan Tuhan, firman Tuhan memberi mereka jawaban dan juga memberi mereka jalan, meneguhkan kesadaran yang mereka peroleh selama proses mengalami kehidupan, dan juga memberi mereka jawaban yang spesifik. Artinya, firman Tuhan dengan sempurna melengkapi beberapa perincian spesifik yang gagal mereka sadari selama proses mengalami kehidupan, membantu mereka untuk lebih memahami dan lebih meyakini bahwa Tuhan itu ada, dan tidak diragukan lagi bahwa Tuhan berdaulat atas nasib manusia. Sejak awal, mereka telah memiliki landasan ini, dan telah mendapatkan jawaban semacam itu selama proses mengalami kehidupan. Ketika mereka datang ke hadapan Tuhan dan memahami kebenaran dari firman Tuhan, firman Tuhan membuat mereka makin meyakini keberadaan-Nya dan fakta bahwa Dia berdaulat atas nasib manusia. Artinya, firman Tuhan memungkinkan mereka untuk meneguhkan bahwa kesadaran mereka benar dan akurat. Oleh karena itu, atas dasar memiliki kesadaran tentang kehidupan, mereka makin meyakini bahwa Tuhan benar-benar ada, dan bahwa meskipun Dia tidak dapat dilihat atau disentuh, keberadaan-Nya tidak dapat disangkal. Mereka sebenarnya sudah memiliki kesadaran dan perasaan tentang hal ini sebelum datang ke hadapan Tuhan. Ketika mereka menerima peneguhan dari firman Tuhan, iman mereka secara alami meningkat; alih-alih menjadi lebih ragu, mereka memiliki lebih banyak iman kepada Tuhan dan keyakinan yang lebih teguh akan keberadaan-Nya. Akibatnya, mereka memiliki lebih sedikit kesulitan untuk menerima firman Tuhan dibandingkan kebanyakan orang. Sama seperti Ayub, apa kesadarannya tentang kehidupan? "Yahweh yang memberi, Yahweh juga yang mengambil; terpujilah nama Yahweh" (Ayub 1:21). Sebelum Tuhan mengujinya, dan sebelum Tuhan bertatap muka dengannya, ia sudah merasakan hal ini. Jadi, ketika Tuhan mengujinya, ia makin meyakini di dalam hatinya bahwa ini adalah perbuatan Tuhan, dan bahwa ini tidak mungkin salah. Artinya, ketika Tuhan mengujinya, ia tidak mulai dari nol dalam mengenal Tuhan, berhubungan dan mengenal perbuatan Tuhan, serta mengenal kedaulatan Tuhan; sebaliknya, ia telah memahami dan menghayati perbuatan Tuhan serta kedaulatan Tuhan. Atas dasar ini, ia makin meneguhkan bahwa pengenalan dan kesadarannya benar, dan bahwa Tuhan memang bertindak dengan cara ini. Adapun orang-orang yang berhati nurani dan bernalar, ketika mereka datang ke hadapan Tuhan setelah memperoleh kesadaran tentang kehidupan, mereka hampir tidak memiliki kesulitan untuk menerima firman Tuhan. Mereka mampu meyakini dengan lebih teguh bahwa firman Tuhan itu benar. Hanya saja banyak perincian yang tidak ada dalam kesadaran mereka tentang kehidupan, dan hal ini membuat mereka makin meyakini dan meneguhkan bahwa pengenalan mereka benar, sehingga mereka tidak memiliki keraguan tentang Tuhan. Karena mereka tidak memiliki keraguan tentang Tuhan dan sangat meyakini keberadaan-Nya, apakah sulit bagi mereka untuk menerima kedaulatan Tuhan dan firman-Nya? Dibandingkan dengan mereka yang sama sekali tidak percaya atau tidak mengakui keberadaan Tuhan, atau yang mempertanyakannya, apakah hal ini lebih mudah bagi mereka? (Ya.) Sekalipun mereka dihalangi oleh watak rusak mereka, setidaknya, sikap mereka terhadap firman Tuhan dan kebenaran dibangun di atas landasan bahwa mereka sangat meyakini, tanpa keraguan apa pun, bahwa Tuhan adalah Yang Berdaulat atas umat manusia. Artinya, ketika Tuhan menguji mereka atau menghajar dan menghakimi mereka, pertama, setidaknya mereka tidak menyangkal keberadaan Tuhan; kedua, mereka tidak mempertanyakan kedaulatan Tuhan; dan ketiga, mereka tidak menolak kedaulatan Tuhan. Sebaliknya, mereka hanya fokus membereskan watak rusak mereka sendiri. Keadaan ini berbeda dari keadaan orang yang sama sekali tidak percaya bahwa Tuhan ada atau yang bersikap skeptis terhadap Tuhan. Adapun mereka yang sama sekali tidak percaya akan keberadaan Tuhan, ketika hajaran dan penghakiman Tuhan datang atas mereka atau Tuhan mengatur lingkungan untuk mendisiplinkan mereka, mereka terlebih dahulu bersikap menentang terhadap Tuhan. Mereka menyangkal keberadaan Tuhan, dengan berkata, "Ini bukan perbuatan tuhan; tuhan tidak akan pernah bertindak seperti ini!" atau "Di manakah tuhan? Ini adalah perbuatan manusia!" Mereka memperlihatkan perilaku dan melontarkan pernyataan yang khas dari pengikut yang bukan orang percaya. Sementara itu, mereka yang bersikap skeptis terhadap Tuhan selalu bertanya-tanya, "Apakah ini perbuatan Tuhan? Aku tidak percaya Tuhan akan bertindak seperti ini. Tuhan mengasihi dan menunjukkan kepedulian terhadap manusia; akankah Dia menjalankan kedaulatan-Nya seperti ini? Menurutku Dia tidak akan melakukannya. Pokoknya, aku tidak ingin menerimanya; jika sesuatu tidak sesuai dengan gagasanku, aku tidak menerimanya!" Engkau lihat, sikap kedua jenis orang ini terhadap hajaran dan penghakiman, pendisiplinan, serta ujian dari Tuhan berbeda. Adapun orang-orang yang memiliki sifat hati nurani dan nalar dalam kemanusiaan mereka dan benar-benar percaya akan keberadaan Tuhan, ketika Tuhan mengatur lingkungan untuk menguji mereka, pertama-tama mereka menyikapi lingkungan yang diatur oleh Tuhan dari perspektif umat manusia ciptaan. Di dalam hatinya, mereka memperlakukan Sang Pencipta dan Tuhan dengan sikap ketundukan. Sikap mereka bukanlah sikap yang mempertanyakan, menolak, atau menyangkal; sebaliknya, mereka percaya, "Ini adalah perbuatan Tuhan; ini berada di bawah kedaulatan Tuhan." Meskipun pemberontakan dan gagasan mungkin juga timbul dalam diri mereka, dan mereka mencoba berdebat, setidaknya, sikap mereka terhadap lingkungan tersebut adalah: "Ini adalah perbuatan Tuhan; Tuhan berdaulat atas segala sesuatu." Terlebih lagi, setidaknya, mereka tidak akan meragukan apakah Tuhan benar-benar ada; ini adalah sesuatu yang sama sekali tidak akan terjadi. Oleh karena itu, pekerjaan apa pun yang Tuhan lakukan pada diri mereka, sikap mereka terhadap Tuhan adalah sikap manusia ciptaan terhadap Tuhan, bukan sikap terhadap orang biasa. Bukankah sikap orang-orang yang berhati nurani dan bernalar terhadap Tuhan berbeda dengan sikap pengikut yang bukan orang percaya dan orang-orang yang meragukan-Nya? (Ya.)

Pengikut yang bukan orang percaya memperlakukan Tuhan seolah-olah Dia tidak ada, dan bahkan memperlakukan-Nya sebagai orang biasa yang sederajat dengan mereka. Orang-orang yang meragukan Tuhan memiliki imajinasi yang kosong dan samar tentang Tuhan ketika tidak terjadi apa-apa pada mereka; ketika menghadapi masalah, mereka memendam segala macam kecurigaan, keraguan, dan bahkan sikap skeptis terhadap Tuhan. Namun, bagi mereka yang berhati nurani dan bernalar, karena di dalam hatinya mereka yakin bahwa Tuhan ada, serta yakin akan identitas dan esensi Tuhan, apa pun pemberontakan atau gagasan yang mereka miliki terhadap Tuhan, mereka setidaknya memperlakukan Tuhan dengan sikap makhluk ciptaan terhadap Sang Pencipta. Apakah perbedaan antara jenis orang ini dan dua jenis sebelumnya besar? (Ya.) Mereka tidak akan bersikap skeptis terhadap Tuhan, mereka juga tidak akan memperlakukan Tuhan sebagai orang biasa. Mengapa kita membahas perbedaan ini? Itu karena, bagi orang yang memiliki kemanusiaan, apa pun watak rusak yang mereka perlihatkan, dan entah mereka memiliki gagasan atau pemberontakan terhadap Tuhan, semua ini tetap berada dalam lingkup hati nurani dan nalar kemanusiaan mereka. Pertama, mereka tidak akan mengutuk Tuhan; kedua, mereka tidak akan menghakimi Tuhan ataupun menghujat Tuhan; dan ketiga, mereka tidak akan menentang pekerjaan yang Tuhan lakukan pada diri mereka. Paling-paling, mereka mungkin mencoba berdebat, atau tidak bersedia menerima situasi yang ada, atau tidak bersedia menerima pekerjaan Tuhan semacam itu. Namun setidaknya, mereka memperlakukan Tuhan sebagai Tuhan, dan sekalipun mereka memiliki beberapa perwujudan pemberontakan, hal-hal ini masih dalam batas lingkup hati nurani dan nalar. Sebaliknya, ketika tidak menghadapi situasi apa pun, orang-orang yang menyangkal Tuhan tidak memiliki kesadaran tentang apakah Tuhan ada. Namun, ketika mereka benar-benar menghadapi suatu situasi, mereka percaya bahwa Tuhan telah melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan bagi mereka—mungkin Dia sedang mendisiplinkan mereka, atau merampas sesuatu dari mereka agar mereka kehilangan beberapa kepentingan pribadi—dan di dalam hatinya, mereka akan dengan lancang menghakimi Tuhan, mengutuk Tuhan, dan menghujat Tuhan, sama sekali tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan. Sikap mereka terhadap Tuhan berbeda dengan sikap orang-orang yang berhati nurani dan bernalar. Mereka berani mengutuk Tuhan, dan kutukan ini bukan sekadar pemberontakan; mereka mengutuk Tuhan tanpa mengendalikan atau menahan diri sedikit pun. Mengapa mereka tidak mengendalikan atau menahan diri? Karena mereka bukanlah manusia dan tidak memiliki hati nurani dan nalar; mereka memperlakukan Tuhan seolah-olah Dia adalah orang yang paling biasa di sekitar mereka. Jika firman Tuhan menyinggung masalah mereka, mereka memperlakukan Tuhan seperti musuh, berpikir, "Jika firmanmu tidak menguntungkan bagiku, aku akan marah dan menyerang balik dirimu! Selama firman dan tindakanmu tidak menyangkut diriku, aku tidak akan ada masalah denganmu. Jika terjadi sesuatu yang merugikan kepentinganku atau jika aku menghadapi penangkapan, maka aku akan menyangkal dan menolak tuhan seketika itu juga!" Di dalam hatinya, mereka juga akan berkata, "Percaya kepada tuhan itu sia-sia. Kami bahkan harus menderita penganiayaan dan penindasan. Aku sendiri tidak akan mau menderita kesukaran ini!" Engkau lihat, setiap saat mereka memendam pemikiran untuk melepaskan kepercayaan mereka kepada Tuhan dan meninggalkan-Nya. Ketika menghadapi hal-hal yang tidak berjalan sesuai keinginan mereka, mereka memiliki pemikiran ini dan ingin menjauh dari Tuhan. Ini adalah keadaan yang paling umum dari setan-setan dan pengikut yang bukan orang percaya. Begitu orang-orang ini menghadapi hal-hal yang tidak menguntungkan bagi mereka, mereka ingin menyangkal Tuhan, berhenti percaya kepada Tuhan, dan menolak nama Tuhan serta melarikan diri. Mereka tidak hanya meninggalkan nama Tuhan, tetapi juga mengeluh bahwa Tuhan tidak dapat melindungi mereka atau menjaga kepentingan mereka. Ada orang-orang yang bahkan berkata, "Apakah Tuhan benar-benar ada? Dapatkah Dia benar-benar berdaulat atas segala sesuatu?" Ada yang berkata, "Melayani Tuhan tidaklah mudah; berada di dekat raja sama berbahayanya dengan berbaring di samping harimau!" Engkau lihat, mereka berani mengatakan hal-hal yang luar biasa memberontak. Jika engkau benar-benar memperlakukan Tuhan sebagai Tuhan dan benar-benar percaya bahwa Tuhan itu ada, memikirkannya dari hati nurani dan nalar orang yang normal, akankah engkau menghakimi Tuhan dan menghujat-Nya seperti ini ketika engkau menghadapi hal-hal yang tidak menguntungkan bagimu? Engkau tidak akan melakukannya, karena hati nuranimu sama sekali tidak akan mengizinkannya, dan karenanya engkau sama sekali tidak akan memiliki pemikiran seperti ini. Lalu, apakah engkau akan tetap mengatakan hal-hal semacam itu? Kata-kata semacam itu tidak akan pernah keluar dari mulutmu. Ketika setan-setan dan pengikut yang bukan orang percaya itu menghadapi hal-hal yang tidak menguntungkan bagi mereka, mereka akan mengutuk dan menghujat Tuhan, dan pada akhirnya meninggalkan Tuhan serta berhenti percaya. Ada juga orang-orang yang, ketika menghadapi hal-hal yang tidak berjalan sesuai keinginan mereka, memprotes dengan melakukan mogok kerja, meninggalkan pekerjaan mereka, dan menolak untuk melaksanakan tugas mereka. Pernah ada seorang pengikut yang bukan orang percaya yang melakukan kejahatan dan membawa kerugian besar bagi rumah Tuhan. Rumah Tuhan memberhentikan orang itu, dan ketika ia ditugaskan ke gereja biasa, ia menolak, dengan berkata, "Jika kau menugaskanku ke gereja biasa, aku tidak akan makan. Aku akan mati di sini!" Beberapa saudara-saudari kemudian memangkasnya dan bersekutu dengannya. Aku berkata, "Bukankah engkau bodoh meladeni orang semacam itu? Ini adalah setan yang sedang memperlihatkan dirinya yang sebenarnya, jadi mengapa engkau menanggapinya dengan begitu serius?" Jika ia adalah manusia, mungkinkah ia melakukan hal semacam itu? Siapa yang sedang ia tentang? Mengesampingkan fakta bahwa ia telah melakukan begitu banyak kejahatan dan membawa kerugian yang begitu besar bagi rumah Tuhan—di mana dalam hal ini sepenuhnya dapat dibenarkan dan sudah semestinya bagi rumah Tuhan untuk menangani orang ini—sekalipun ia tidak melakukan kejahatan apa pun, bukankah juga sudah semestinya bagi rumah Tuhan untuk memberhentikannya karena ia tidak mampu melakukan pekerjaan? Ini berarti bertindak sesuai dengan prinsip. Jadi, trik tak tahu malu macam apa yang coba ia lakukan? Dengan mencoba melakukan aksi tak tahu malu itu, ia pun tersingkap, dan ini menjadi alasan yang lebih kuat untuk mengusirnya. Ia bisa pergi ke mana pun ia inginkan; gereja hanya perlu menghapus namanya, dan masalahnya selesai. Ini adalah setan, jadi mengapa engkau menanggapinya dengan begitu serius? Menanggapinya dengan serius adalah kebodohan; dapatkah engkau bernalar dengan setan? Pengikut yang bukan orang percaya ini tidak memiliki hati nurani dan nalar, melakukan segala macam hal kotor, dan mencoba melakukan tindakan tak tahu malu, mengira jika ia melakukannya, rumah Tuhan tidak akan bisa berkutik. Orang semacam itu mudah ditangani; suruh saja ia pergi, dan selesai sudah. Hilang dari pandangan, tidak perlu dipusingkan lagi. Bukankah bodoh memperlakukan pengikut yang bukan orang percaya yang adalah setan sebagai orang normal? Setan sama sekali tidak menerima kebenaran, dan dengan cara apa pun ia percaya, ia tidak akan memperoleh kebenaran. Jika engkau mempersekutukan kebenaran dengannya, bukankah itu membuang-buang tenaga? Jika engkau ingin ia disucikan dan diselamatkan, itu mustahil. Ia hanyalah setan yang memperlihatkan dirinya yang sebenarnya, dan ia seharusnya dikeluarkan. Beginilah pengikut yang bukan orang percaya seharusnya ditangani.

Orang-orang bingung yang termasuk dalam golongan hewan ini tidak mengakui Tuhan dari lubuk hatinya dan tidak memperlakukan Tuhan sebagai Tuhan, mereka juga tidak memiliki rasa hormat terhadap daging Tuhan ataupun rasa takut akan Tuhan yang di surga; bagi mereka, hanya keuntungan pribadi yang penting. Jika hari ini mereka memperoleh berkat yang menguntungkan bagi mereka, mereka berkata, "Tuhan itu baik, tuhan itu agung, tuhan itu benar, tuhan itu mulia!" Namun, jika suatu hari Tuhan mengambil keuntungan mereka dan membuat mereka menderita, mereka akan menyangkal dan mengkhianati Tuhan, bahkan berkata, "Belum tentu tuhan itu sepenuhnya baik; aku tidak percaya lagi kepada tuhan!" Jika rumah Tuhan membagikan beberapa keuntungan dan membiarkan mereka mendapatkan sesuatu secara gratis, mereka merasa senang dan berkata, "Tuhan sangat mengasihi manusia, tuhan sangat indah! Aku memuji tuhan di dalam hatiku!" Mereka menjadi begitu bahagia sehingga mereka melompat kegirangan, dan bahkan bisa terbangun sambil tertawa dari mimpi mereka di malam hari. Jika mereka diberi tahu bahwa itu tidak lagi gratis, mereka segera mengubah nada bicara mereka dan menjadi tidak senang. Mereka tidak lagi mengatakan bahwa Tuhan itu indah atau bahwa Tuhan peduli kepada manusia, dan sebaliknya menghakimi dengan mengatakan bahwa rumah Tuhan terlalu pelit dan tidak memiliki kasih; sikap mereka berubah begitu cepat. Apakah orang-orang semacam itu memiliki hati nurani dan rasionalitas? (Tidak.) Orang-orang yang tidak berhati nurani dan tidak bernalar tidak memiliki rasa malu. Ketika mendapat keuntungan, mereka berkata Tuhan itu baik; ketika tidak bisa mendapat keuntungan, mereka berubah haluan dan berkata, "Tuhan itu tidak baik, tidak ada tuhan." Mereka benar-benar mampu mengatakan hal-hal semacam itu. Lidah mereka bercabang, seolah-olah mereka memiliki kepribadian ganda; merekalah yang berkata Tuhan itu baik, dan mereka jugalah yang berkata Tuhan itu tidak baik. Didasarkan pada apa perkataan mereka? Itu murni didasarkan pada apakah mereka diuntungkan atau tidak; jika mereka tidak diuntungkan, mereka berkata Tuhan itu tidak baik. Mereka benar-benar mampu mengatakan hal-hal semacam itu. Umumnya, jika orang yang berhati nurani dan bernalar mengatakan hal-hal semacam itu, mereka akan merasa bersalah di dalam hatinya: "Oh, aku tidak punya hati nurani. Apa yang baru saja kukatakan tidak pantas. Aku tidak boleh berkata seperti itu kelak. Begitu kata-kata diucapkan, itu tidak bisa ditarik kembali; mengatakannya telah memperlihatkan kemanusiaanku." Mereka kemudian akan merenungkan dan mengenal diri mereka sendiri. Orang-orang yang bereinkarnasi dari binatang tidak akan merenungkan dan mengenal diri mereka sendiri. Mereka berpikir apa pun yang mereka katakan, itu dapat dibenarkan; mereka mengatakan satu hal ketika mereka senang, dan hal lain ketika mereka tidak senang. Mereka tidak memiliki rasa malu dan tidak berintegritas atau tidak bermartabat, dan mereka tidak peduli bagaimana orang lain memandang mereka. Jadi, apakah mereka benar-benar memiliki Tuhan di dalam hati mereka? Tepatnya, tidak. Secara objektif, ketika mereka membutuhkan-Nya, mereka berkata Tuhan itu ada, bahwa Tuhan menyertai mereka, bahwa Tuhan menganugerahkan kasih karunia kepada mereka dan membantu mereka, dan bahwa Tuhan menjaga serta melindungi mereka. Namun, ketika Tuhan menegur dan mendisiplinkan mereka, membuat mereka kehilangan muka dan merasa dipermalukan, dan merasa bahwa apa yang Tuhan lakukan tidak menguntungkan bagi mereka, mereka berkata Tuhan tidak baik dan mulai bersikap skeptis terhadap Tuhan. Katakan kepada-Ku, hati nurani dan nalar apa yang dimiliki orang-orang semacam itu? Mereka memperlakukan Tuhan sama seperti mereka memperlakukan manusia, sama sekali tidak mematuhi batasan hati nurani apa pun. Mereka bahkan berani berbantah dan berdebat dengan Tuhan, dan berani melontarkan makian kepada-Nya, tanpa sedikit pun rasa gentar atau takut akan Tuhan. Setelah itu, mereka menyesalinya: "Oh, aku telah mengecewakan Tuhan!" Namun, ketika mereka menghadapi hal-hal semacam itu lagi, mereka tetap bertindak dengan cara yang sama. Di dalam hatinya, mereka tidak akan pernah memiliki rasa takut yang sejati akan Tuhan; tidak ada tempat bagi Tuhan di dalam hati mereka. Namun, orang yang benar-benar memiliki hati nurani dan nalar memiliki tempat yang tetap bagi Tuhan di dalam hatinya, dan tempat yang tetap ini membuat mereka lebih tulus, sungguh-sungguh, dan hormat terhadap Tuhan daripada terhadap siapa pun. Ketulusan, kesungguhan, dan rasa hormat ini merupakan sikap mereka terhadap Tuhan karena efek dari hati nurani dan nalar dasar yang mereka miliki. Jadi, kapan pun itu, entah mereka sedang lemah atau negatif, atau mereka telah gagal atau telah didisiplinkan, mereka tidak akan melampaui batasan ini. Sebesar apa pun kesulitan yang mereka hadapi atau sebanyak apa pun penderitaan yang mereka alami, mereka tidak akan melampaui batasan ini, karena mereka adalah manusia sejati. Mereka percaya bahwa Tuhan itu ada dan bahwa Dia berdaulat atas nasib manusia, sehingga mereka tidak akan melampaui batasan hati nurani untuk melakukan pelanggaran terhadap Tuhan, dan mereka juga tidak akan dengan sengaja mengutuk Tuhan, menentang Tuhan, atau memberontak terhadap Tuhan sementara menyadari bahwa mereka sedang melakukannya. Bahwa mereka menahan diri untuk tidak melakukannya dengan sengaja berarti mereka dikendalikan oleh hati nurani dan nalar mereka. Tentu saja, di bawah efek hati nurani dan nalar, mereka juga mampu melakukan beberapa hal yang seharusnya dilakukan oleh orang dengan kemanusiaan yang normal. Sebagai contoh, apa pun pekerjaan yang Tuhan lakukan atau apa pun firman yang Tuhan ucapkan yang tidak sesuai dengan gagasan mereka, mereka tidak akan dengan sengaja menghakimi atau melontarkan komentar. Mereka mampu menyikapi hal-hal ini dengan benar atau mencari kebenaran untuk membereskan gagasan mereka sendiri; mereka memiliki batasan dasar di alam bawah sadar mereka. Karena mereka percaya bahwa Tuhan itu ada, mereka akan memiliki perenungan ini karena efek dari hati nurani dan nalar mereka. Setelah merenung, mereka akan memiliki sikap dasar dan prinsip-prinsip dasar tentang bagaimana mereka memperlakukan Tuhan. Hanya di atas landasan prinsip-prinsip dasar inilah orang dapat mempertahankan hubungan mereka dengan Tuhan sebagai hubungan antara makhluk ciptaan dengan Sang Pencipta, mempertahankan hubungan yang benar, normal, dan semestinya semacam itu. Hanya dengan adanya hubungan ini, orang dapat menerima firman Tuhan secara normal, serta tunduk pada firman Tuhan dan menerapkannya secara normal. Katakan kepada-Ku, dapatkah orang-orang yang sering mengutuk Tuhan, orang-orang yang ingin berhenti percaya kepada Tuhan begitu saja, dan orang-orang yang mengeluh tentang Tuhan serta membenci-Nya begitu saja, menerima firman Tuhan? Dapatkah mereka menerapkan firman Tuhan? (Tidak.) Sikap yang dimiliki orang-orang ini terhadap Tuhan adalah sikap yang dimiliki setan-setan terhadap Tuhan. Karena setan-setan memiliki sikap semacam itu terhadap Tuhan, dapatkah mereka memperlakukan firman Tuhan sebagai kebenaran? Tidak pernah. Hanya manusia ciptaan yang dapat memperlakukan firman Tuhan sebagai kebenaran. Hanya dengan memperlakukan firman Tuhan sebagai kebenaranlah orang dapat bersedia menerima firman Tuhan, dan lebih jauh lagi, mereka kemudian mampu tunduk pada firman Tuhan, menerapkannya, serta masuk ke dalamnya, dan pada akhirnya disucikan dan diselamatkan.

Orang yang memiliki sifat hati nurani dan nalar dalam kemanusiaan mereka memiliki prinsip dasar dalam cara mereka memperlakukan Tuhan, yaitu memiliki niat untuk tunduk. Apa pun yang terjadi pada mereka, mereka sama sekali tidak akan menghakimi secara sembarangan, melainkan akan berdoa kepada Tuhan dan mencari kebenaran; inilah perwujudan yang seharusnya dimiliki oleh orang yang normal. Jika perwujudan orang sesuai dengan hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal, atau jika mereka memiliki pengaturan, pengekangan, dan pengendalian hati nurani dan nalar, maka orang ini adalah manusia sejati, dan merupakan orang yang hendak Tuhan selamatkan. Jika mereka bertindak tanpa pengaturan, apalagi pengendalian hati nurani serta nalar, dan bingung; jika mereka ingin memiliki sikap yang baik terhadap Tuhan tetapi tidak pernah mampu melakukannya, tidak tahu persis bagaimana mereka seharusnya memperlakukan Tuhan, dan tidak tahu prinsip apa yang seharusnya orang patuhi di hadapan Tuhan agar menjadi benar, jika mereka tidak mengetahui satu pun dari hal-hal ini, tetapi hanya bingung dan berpikiran kacau, bertindak baik di sekitar orang baik dan bertindak jahat di sekitar orang jahat, orang macam apakah mereka? Ketika berada di sekitar orang-orang yang berhati nurani dan bernalar, mereka tidak melakukan hal jahat apa pun, tetapi itu tidak berarti mereka adalah orang yang memiliki kemanusiaan. Jika berada di sekitar orang-orang jahat, mereka akan melakukan hal-hal jahat. Ketika orang-orang jahat mengutuk Tuhan, mereka juga menjadi skeptis terhadap Tuhan; ketika orang-orang jahat menyangkal dan menghakimi Tuhan, mereka tidak merasa jijik, mereka tidak membedakan, dan tetap saja terus bergaul dengan orang-orang jahat. Mereka tidak pernah menjaga pekerjaan rumah Tuhan, kesaksian Tuhan, atau kepentingan gereja, tetapi bertindak sebagai penonton, bahkan tidak tahu apa yang benar dan apa yang tidak benar. Orang semacam itu adalah salah satu dari mereka yang bereinkarnasi dari binatang; mereka sama sekali bukan manusia. Sebaliknya, sebelum orang yang berhati nurani dan bernalar mengalami pekerjaan Tuhan, mereka memiliki rasa segan, rasa gentar, atau rasa hormat yang mendasar terhadap Surga yang mampu dicapai oleh manusia. Setidaknya, Surga itu suci, adil, dan luhur bagi mereka. Setelah menerima pekerjaan Tuhan dan memahami beberapa kebenaran yang Tuhan tuntut untuk dimiliki manusia, karena efek hati nurani dan nalar mereka, sekalipun tidak memahami begitu banyak kebenaran, mereka dapat menyadari nalar dan sikap yang seharusnya dimiliki manusia terhadap Tuhan. Entah itu berkaitan dengan identitas Tuhan maupun berbagai aspek daging-Nya, mereka akan memiliki tingkat rasa segan, rasa hormat, dan rasa gentar tertentu. Lebih baik lagi, atas dasar memahami beberapa kebenaran, mereka dapat memiliki rasa takut akan Tuhan. Mereka tidak memperlakukan Tuhan secara sembarangan, acuh tak acuh, semaunya, atau tidak hormat, tetapi memperlakukan-Nya dengan sangat berhati-hati dan waspada. Terutama ketika itu berkaitan dengan pekerjaan Tuhan, kesaksian-Nya, nama-Nya, identitas dan status-Nya, dan persembahan milik-Nya, serta firman Tuhan, tuntutan Tuhan, dan instruksi spesifik dari Tuhan, mereka sangat berhati-hati dan waspada. Mereka menyikapi hal-hal ini dengan hati yang takut akan Tuhan dan sikap yang penuh hormat. Mereka tidak menyikapinya dengan sikap asal-asalan, juga tidak melakukan segala sesuatu sebagai formalitas dan untuk pamer, tetapi mampu menyikapinya dengan serius, dengan hati dan sikap yang rendah hati terhadap semua hal, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, yang berkaitan dengan Tuhan. Inilah sikap yang paling harus dimiliki oleh orang yang berhati nurani dan bernalar terhadap Tuhan. Ketika engkau tidak memahami kebenaran, engkau mungkin tidak memiliki pemahaman yang sangat tepat tentang kata "Tuhan", juga tidak memahami identitas dan esensi Tuhan atau watak Tuhan, tetapi engkau memiliki tingkat rasa hormat dan rasa gentar tertentu terhadap Surga. Setelah engkau memahami pekerjaan Tuhan, mengalami pekerjaan Tuhan, dan menerima firman Tuhan, akan berubah menjadi apakah rasa hormat dan rasa gentarmu terhadap Tuhan? Itu akan berubah menjadi ketulusan, kesungguhan, dan rasa takut, atau kengerian dan kegentaran; inilah sikap terhadap Tuhan yang seharusnya dimiliki oleh orang yang memiliki hati nurani dan nalar kemanusiaan normal. Jika orang telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun dan mengaku percaya bahwa Tuhan itu ada serta mengakui keberadaan Tuhan, tetapi tidak pernah, karena efek hati nurani dan nalar, memiliki sikap yang seharusnya mereka miliki terhadap Tuhan, maka mudah untuk membayangkan apa kekurangan orang ini di dalam dirinya. Jika mereka sekadar tidak memiliki ketulusan dan kesungguhan terhadap Tuhan, tetapi masih memiliki sedikit rasa gentar dan takut akan Tuhan, maka hanya dapat dikatakan bahwa orang ini tidak terlalu baik; meskipun mereka adalah manusia, mereka bukanlah manusia yang sangat baik. Mungkin mereka telah terlalu parah dicemari dan dipengaruhi oleh tren jahat Iblis di tengah masyarakat, atau mereka telah diracuni terlalu dalam dan dicuci otaknya terlalu parah. Meskipun demikian, jika engkau memiliki rasa takut akan Tuhan, maka setidaknya, engkau masih manusia. Jika engkau tidak memiliki sedikit pun ketulusan atau rasa gentar terhadap Tuhan, dan tidak memiliki sedikit pun rasa takut akan Tuhan, maka dapat dikatakan bahwa engkau bukanlah manusia; engkau tidak layak disebut manusia dan tidak mencapai standar manusia. Mengenai semua hal yang terlihat maupun yang tidak terlihat yang berkaitan dengan Tuhan, jika engkau menyikapinya dengan sembarangan, acuh tak acuh, dan sepintas lalu, atau bahkan menyikapinya dengan cara yang kasar dan biadab, maka engkau bukanlah manusia. Ini karena engkau bahkan tidak memiliki pengaturan dan pengendalian hati nurani dan nalar dalam caramu memperlakukan Tuhan, dan itu cukup untuk menggambarkan masalahnya, dan cukup untuk menggolongkan orang sepertimu sebagai bukan manusia. Sebelum engkau percaya kepada Tuhan dan datang ke rumah Tuhan, dapat dimaklumi bahwa engkau tidak memiliki rasa hormat yang jelas atau sikap yang benar terhadap Tuhan, dan tidak ada penghakiman ketat yang dijatuhkan kepadamu; tetapi sekarang setelah engkau percaya kepada Tuhan, jika, selama engkau mengikuti Tuhan dan menerima pembekalan firman hidup-Nya, engkau tetap tidak dapat memiliki ketulusan, kesungguhan, dan rasa takut terhadap Tuhan, dan sikapmu terhadap-Nya tetap kasar dan biadab—bukan hanya tidak memiliki rasa takut, melainkan begitu santai dan acuh tak acuh, sama seperti sikap Iblis terhadap Tuhan—maka hanya dapat dikatakan bahwa orang sepertimu tidak memiliki hati nurani dan nalar. Jika orang semacam itu bahkan memperlakukan Tuhan seperti ini, tanpa pengendalian hati nurani dan nalar, apakah mereka masih manusia? Mereka bukanlah manusia.

Kurang lebih itulah semua yang kita persekutukan mengenai berbagai aspek hati nurani dan nalar manusia. Perwujudan hati nurani dan nalar mana pun yang sedang kita bicarakan, semua itu berkaitan dengan pemikiran, pandangan, dan perilaku manusia tertentu. Tidak ada satu pun dari aspek-aspek ini yang hampa. Ada yang berkaitan dengan cara memperlakukan orang, peristiwa, dan hal-hal; ada yang berkaitan dengan cara menyikapi falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain dan berbagai aspek kehidupan; dan ada yang berkaitan dengan cara memperlakukan kebenaran dan Tuhan. Aspek mana pun yang engkau fokuskan, ciri yang menonjol dari orang yang berhati nurani dan bernalar adalah bahwa cara berperilaku dan tindakan mereka dikekang dan dikendalikan oleh hati nurani dan nalar. Mereka memiliki batas dan rambu dalam tindakan mereka. Inilah ciri khasnya. Hanya dengan memiliki ciri inilah mereka memenuhi syarat dasar untuk memperoleh keselamatan. Apakah engkau memahaminya? (Ya.) Apakah ada hal yang tidak kaupahami? Mengenai tiga aspek yang dipersekutukan hari ini—bahwa orang-orang yang berhati nurani dan bernalar memiliki rasa malu, mampu merenungkan kehidupan, dan memiliki rasa hormat serta rasa gentar yang mendasar terhadap Tuhan—apakah engkau semua merasa ada satu aspek yang tidak sesuai dengan dirimu sendiri? Apakah engkau merasa salah satu di antaranya hampa? (Tidak. Kami merasa semuanya sesuai dengan diri kami.) Kalau begitu, mari kita akhiri persekutuan kita di sini untuk hari ini. Sampai jumpa!

1 Juni 2024

Sebelumnya: Cara Mengejar Kebenaran (21)

Selanjutnya: Cara Mengejar Kebenaran (26)

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Pengaturan

  • Teks
  • Tema

Warna Solid

Tema

Jenis Huruf

Ukuran Huruf

Spasi Baris

Spasi Baris

Lebar laman

Isi

Cari

  • Cari Teks Ini
  • Cari Buku Ini

Hubungi kami via WhatsApp