Cara Mengejar Kebenaran (24)
Terakhir kali, kita bersekutu tentang melepaskan penghalang di antara dirinya dan Tuhan serta permusuhannya terhadap Tuhan, yang termasuk dalam topik yang lebih besar tentang "melepaskan" dalam "Cara Mengejar Kebenaran". Konten ini berkaitan dengan gagasan dan imajinasi tentang Tuhan yang berinkarnasi. Aspek apa saja yang kita persekutukan? (Terakhir kali, Tuhan terutama mempersekutukan dan mengungkapkan beberapa gagasan dan imajinasi kami tentang Tuhan yang berinkarnasi, dan Tuhan juga mempersekutukan dua prinsip penerapan bagi kami: Yang pertama adalah tidak membandingkan Tuhan yang berinkarnasi dengan Tuhan yang di surga, dan yang kedua adalah tidak menyamakan Tuhan yang berinkarnasi dengan umat manusia yang rusak.) Untuk membereskan gagasan dan imajinasi tentang Tuhan yang berinkarnasi, yang harus orang terapkan adalah kedua prinsip yang disebutkan dalam persekutuan terakhir ini. Apa prinsip yang pertama? (Tidak membandingkan Tuhan yang berinkarnasi dengan Tuhan yang di surga.) Lalu apa prinsip yang kedua? (Tidak menyamakan Tuhan yang berinkarnasi dengan umat manusia yang rusak.) Terutama kedua prinsip ini. Terakhir kali, Aku mempersekutukan prinsip yang pertama—tidak membandingkan Tuhan yang berinkarnasi dengan Tuhan yang di surga—dan secara singkat memperkenalkan topik-topik mengenai kehidupan Tuhan yang berinkarnasi yang dapat dilihat orang dan yang belum mereka pahami. Hari ini, Aku akan melanjutkan persekutuan tentang Tuhan yang berinkarnasi. Makin banyak Aku bersekutu, makin orang akan memahaminya, dan makin menyeluruh pemahaman mereka. Makin banyak Aku mempersekutukan makna penting kemanusiaan yang normal atau kerendahhatian dan ketersembunyian Tuhan yang berinkarnasi, makin orang akan memahami Tuhan yang berinkarnasi, dan makin nyata pemahaman mereka tentang Dia. Mereka akan mampu lebih memahami sisi nyata dari Tuhan yang berinkarnasi, atau aspek-aspek diri-Nya yang dapat orang lihat serta sentuh, dan pengenalan mereka akan lebih akurat dan nyata. Dengan cara ini, orang akan melepaskan beberapa gagasan dan imajinasi mereka tentang Tuhan yang di surga yang tidak sejalan dengan kenyataan. Makin orang melepaskan gagasan dan imajinasi mereka tentang Tuhan yang di surga, dan makin mereka mengenal serta memahami kenyataan dan kenormalan Tuhan yang berinkarnasi, makin normal hubungan antara manusia dan Tuhan. Satu poin tentang tidak membandingkan Tuhan yang berinkarnasi dengan Tuhan yang di surga adalah engkau harus memiliki pemahaman tentang kenyataan dan kenormalan Tuhan yang berinkarnasi. Makin engkau memahami kenyataan dan kenormalan Tuhan yang berinkarnasi, makin engkau akan memahami Tuhan yang di surga, dan engkau tidak akan menilai Tuhan yang di surga dengan gagasan serta imajinasimu. Tentu saja, dari sudut pandang objektif, hal lain juga akan terjadi: Engkau akan memiliki sikap yang benar terhadap Tuhan, engkau akan memiliki pandangan yang objektif tentang berbagai perwujudan yang diperlihatkan oleh Tuhan yang berinkarnasi dalam kemanusiaan-Nya, dan engkau juga akan mengenal Tuhan yang di surga dengan lebih akurat dan nyata. Ini mencegahmu agar tidak selalu memiliki gagasan dan imajinasi tentang Tuhan yang berinkarnasi yang tidak sejalan dengan kenyataan, dan ini juga mencegahmu agar tidak selalu membandingkan Tuhan yang berinkarnasi dengan Tuhan yang di surga. Ketika membahas daging inkarnasi Tuhan—yaitu Kristus—ada topik tertentu yang sering diangkat: kenormalan dan kenyataan, serta kerendahhatian dan ketersembunyian Tuhan yang berinkarnasi. Orang sering berbicara tentang kenormalan dan kenyataan-Nya, dan mereka juga sering berbicara tentang kerendahhatian serta ketersembunyian-Nya; namun, tentang persoalan nyata yang ada di dalamnya, dapat dikatakan bahwa semua orang kurang memahaminya. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kenormalan dan kenyataan Tuhan? Apa yang dimaksud dengan kerendahhatian dan ketersembunyian-Nya? Artinya, mengenai apa sebenarnya kenormalan, kenyataan, kerendahhatian, dan ketersembunyian Tuhan yang berinkarnasi di dalam hati orang, serta bagaimana memahami dan mengenal hal-hal ini, orang tidak jelas tentang kebenaran atau esensi dalam hal ini, dan hanya mengkhotbahkannya seolah-olah itu adalah semacam teori atau terminologi rohani. Oleh karena itu, kita sangat perlu mempersekutukan topik tentang kenormalan dan kenyataan, serta kerendahhatian dan ketersembunyian Tuhan yang berinkarnasi ini secara terperinci dan sistematis. Melalui persekutuan semacam itu, orang akan menjadi jelas tentang apa yang dimaksud dengan menghidupi kenormalan dan kenyataan Tuhan yang berinkarnasi, Anak manusia yang memiliki identitas khusus ini.
Mengenai kenormalan dan kenyataan Tuhan yang berinkarnasi, apa yang engkau semua pahami secara harfiah, atau menurut gagasan dan imajinasimu? Selama bertahun-tahun berhubungan, berinteraksi, atau berbicara dengan Tuhan yang berinkarnasi, apa tepatnya yang telah engkau semua rasakan dan kenali tentang kenormalan dan kenyataan Tuhan yang berinkarnasi? Sebagian besar topik yang dipersekutukan sebelumnya adalah tentang masalah umat manusia yang rusak. Artinya, kita mempersekutukan berbagai masalah yang engkau semua miliki, yang berkaitan dengan watak yang rusak, melayani Tuhan, dan melaksanakan tugas, serta kemanusiaan, kualitas, gagasan dan imajinasi, serta sikap dan sudut pandang orang terhadap Tuhan. Kita membicarakan semua ini. Aku telah mengkhotbahkan kebenaran dan menyampaikan khotbah selama bertahun-tahun, dan semuanya adalah tentang masalah-masalahmu. Kali ini, kita akhirnya tidak membicarakan masalah-masalahmu, melainkan tentang beberapa hal yang berkaitan dengan Tuhan yang berinkarnasi, yang memungkinkan kita untuk melihat berbagai hal dari sudut pandang yang berbeda. Bukankah engkau semua merasa topik ini cukup santai, sama sekali tidak membebani, dan tidak terlalu canggung? (Ya.) Lalu, apa hal-hal yang dapat engkau semua lihat, alami, atau pahami mengenai kenormalan dan kenyataan atau kerendahhatian dan ketersembunyian Tuhan yang berinkarnasi? Engkau dapat berbicara tentang teori atau fakta; apa pun boleh. Engkau semua tidak bisa menjawab. Jika demikian, apakah di benakmu engkau semua biasanya tidak memiliki pemikiran tentang daging inkarnasi Tuhan? Tidak ada pengenalan sama sekali? Tidak ada perasaan apa pun? Engkau pasti memilikinya, bukan? Terkadang itu bisa berupa pemikiran sekilas, terkadang itu mungkin sesuatu yang sedikit kaupikirkan, dan terkadang itu bisa saja berupa kesan mendalam yang kaumiliki di dalam hatimu. Jika itu adalah pemikiran sekilas, engkau mungkin tidak mengingatnya; atau terkadang pemikiran atau sudut pandang tertentu muncul di alam bawah sadarmu, dan engkau mungkin belum tentu mengingatnya juga. Namun, terkadang engkau memiliki kesan tertentu tentang Tuhan yang berinkarnasi, dan kesan ini pada gilirannya menyebabkanmu mengembangkan suatu pandangan. Kesan ini akan ada di pikiranmu untuk waktu yang lama. Engkau pasti akan mampu mengingatnya. Pikiranmu seharusnya tidak kosong, bukan? Jadi, bicarakanlah pemahamanmu tentang kenormalan dan kenyataan, atau kerendahhatian dan ketersembunyian Tuhan yang berinkarnasi. (Tuhan, pemahamanku tentang kenormalan dan kenyataan Tuhan yang berinkarnasi adalah bahwa Dia juga memiliki kebutuhan daging yang normal. Sebagai contoh, ketika Kristus berbicara untuk waktu yang lama, Dia akan merasa haus dan perlu minum air. Ketika Dia bersekutu dengan kami dalam pertemuan selama tiga atau empat jam, Dia juga akan merasa lelah dan perlu beristirahat. Ketika Dia berjalan untuk waktu yang lama, Dia juga perlu beristirahat. Artinya, dari luarnya, Kristus sama dengan orang normal, dan Dia juga memiliki seluruh rentang emosi kemanusiaan yang normal: Dia merasa senang ketika mendengar hal-hal yang menggembirakan, dan merasa sedih ketika mendengar hal-hal yang menyedihkan. Ini juga merupakan perwujudan kenormalan dan kenyataan Tuhan yang berinkarnasi.) Engkau telah menyatakan beberapa fakta. Ini adalah hal-hal yang telah engkau semua lihat, dan juga hal-hal yang dapat engkau semua sentuh serta rasakan. Ada lagi? (Tuhan, aku akan menambahkan satu poin: Aku pernah mendengar sebelumnya bahwa ketika Engkau akan mengarahkan beberapa pekerjaan profesional, Engkau juga harus mempelajari dan memahami beberapa pengetahuan khusus.) Apakah ini sesuatu yang telah engkau semua dengar? Bahwa ketika Aku mengarahkan beberapa pekerjaan profesional, Aku juga harus mempelajarinya dengan cara yang nyata, serta memahami dan menguasai beberapa pengetahuan profesional yang relevan. Apakah ini informasi yang telah diterima kebanyakan orang? Apakah ini yang engkau semua pikirkan? (Tidak. Sebagai contoh, ketika Engkau mengarahkan pekerjaan tim produksi film, Engkau hanya menonton beberapa film dan acara TV sesekali untuk memperoleh pemahaman dasar tentangnya; Engkau tidak secara khusus meluangkan waktu untuk mempelajarinya atau menelitinya.) Hal ini perlu diluruskan. Aku benar-benar tidak memiliki energi untuk mencari sumber daya atau mempelajari pengetahuan profesional apa pun. Hanya saja Aku telah menonton beberapa film dan karena itu memiliki sedikit kesan tentang bagaimana seharusnya film-film itu secara umum; selain itu, berdasarkan beberapa pengetahuan profesional yang relevan yang diberikan oleh saudara-saudari, Aku kemudian mencari tahu dan menyimpulkan prinsip-prinsip yang relevan, dan memberikan beberapa arahan untuk pekerjaan profesional tersebut. Poin esensial di sini adalah memahami prinsip-prinsipnya, dan mengarahkan mereka berdasarkan prinsip-prinsip tersebut. Kesulitan mereka yang melakukan pekerjaan tersebut adalah, dalam satu aspek, pengetahuan profesional mereka tidak komprehensif, dan dalam aspek lain, mereka tidak memahami prinsip-prinsip kebenaran, ditambah dengan kualitas mereka yang buruk. Jadi, berdasarkan pemahaman akan prinsip-prinsip tersebut, Aku memberi mereka sedikit bimbingan, sehingga hasilnya lebih baik daripada jika mereka melakukannya sendiri. Aku melakukan ini berdasarkan prinsip menyebarluaskan firman Tuhan, bersaksi tentang Tuhan, tidak membawa penghinaan terhadap Tuhan, dan memungkinkan orang untuk belajar lebih banyak tentang pekerjaan Tuhan dan lebih memahami kebenaran, dan ini telah membuahkan hasil tertentu. Dalam hal keterampilan profesional yang sebenarnya, Aku hampir tidak memilikinya. Aku tidak memiliki pengetahuan khusus itu sejak awal, Aku juga tidak pernah secara khusus mencoba mempelajarinya seperti yang engkau semua katakan. Apa pun jenis pekerjaan profesional yang Kubimbing, Aku tidak pernah mencoba mempelajarinya, Aku juga tidak pernah mencari materi pendidikan, sumber daya, atau pengetahuan profesional yang relevan. Paling-paling, saudara-saudari menemukan beberapa materi pendidikan atau sampel yang relevan dan memberikannya kepada-Ku untuk Kulihat, dan dari sini, Aku menyimpulkan beberapa prinsip yang relevan, dan beberapa cara kerja untuk profesi tersebut, dan mengarahkan pekerjaan mereka berdasarkan hal-hal ini.
Mengenai aspek kenormalan dan kenyataan Tuhan yang berinkarnasi, orang telah melihat beberapa kenormalan dan kenyataan yang diperlihatkan oleh naluri daging-Nya. Ini termasuk naluri manusia, serta beberapa penyingkapan dan keterbatasan dari berbagai kondisi bawaan daging; ini adalah kenormalan dan kenyataan istilah-istilah ini dalam arti sebenarnya. Entah itu hal-hal yang Dia perlihatkan secara lahiriah, atau pemikiran dan pandangan batin-Nya, atau prinsip-prinsip batin tentang cara berperilaku dari kemanusiaan-Nya, singkatnya, pemahaman yang paling sederhana dan paling dasar tentang kenormalan dan kenyataan Tuhan yang berinkarnasi adalah bahwa Dia tidak luar biasa, tidak transenden, atau tidak berbeda dari orang normal. Artinya, dari penampilan luar Tuhan yang berinkarnasi, engkau tidak dapat melihat perwujudan khusus apa pun yang berbeda dari perwujudan orang biasa. Jika Dia tidak berbicara atau melakukan apa pun, hanya dengan melihat fitur wajah-Nya, bentuk fisik-Nya, dan pribadi-Nya secara keseluruhan, engkau tidak dapat melihat apa pun yang tidak biasa. Dia tidak luar biasa, tidak transenden, atau tidak berbeda dari orang normal; Dia hanyalah orang biasa. Kalau dikatakan secara akurat dan objektif, jika orang ini berada di tengah keramaian dan tidak berbicara, melakukan pekerjaan, atau mengungkapkan kebenaran, engkau tidak dapat mengetahui apa perbedaan orang ini dengan orang lainnya. Sebagai contoh, jika Aku duduk di antara engkau semua dan orang asing masuk, mereka akan melihat bahwa Aku tampak sama seperti engkau semua. Aku tidak duduk di kursi kehormatan, Aku juga tidak menonjol. Aku memiliki penampilan biasa; Aku tidak luar biasa, tidak menjulang tinggi, dan Aku tidak tampak seperti tokoh besar. Aku hanyalah orang biasa. Jadi, mereka tidak akan bisa membedakan siapa Tuhan yang berinkarnasi. Jika Aku hidup bersama sekelompok orang, engkau juga tidak akan dapat melihat sesuatu yang berbeda tentang-Ku saat itu. Engkau hanya tahu bahwa Tuhan yang berinkarnasi ini adalah perempuan, tetapi engkau sama sekali tidak akan mampu membedakan siapa Tuhan yang berinkarnasi dengan mata telanjang, kecuali engkau sering mendengarkan khotbah-Ku; dalam hal ini, engkau mungkin mampu mengenali dari suara-Ku. Jika suara seseorang mirip dengan suara-Ku, beberapa orang bahkan mungkin keliru dan mengira bahwa dia adalah Tuhan yang berinkarnasi. Apakah hal-hal seperti itu terjadi? Ini tentu saja pernah terjadi. Ada orang-orang yang terlihat transenden dan menonjol, secara khusus memiliki aura dan gaya, dan tampak sangat mulia, seperti seseorang yang memiliki status dan kedudukan tertentu. Beberapa saudara-saudari yang bodoh, atau orang-orang yang sangat ingin bertemu dengan Tuhan yang berinkarnasi, akan secara keliru mengira bahwa orang seperti itu adalah Tuhan yang berinkarnasi, dan bahkan bersujud serta berlutut kepadanya. Orang yang disembah itu merasa cukup senang di dalam hatinya dan bahkan diam-diam menerimanya. Ketika dia hendak pergi, orang-orang bodoh yang bersujud dan berlutut itu bahkan meneteskan air mata dan enggan berpisah dengannya; mereka menarik pakaiannya dan tidak membiarkannya pergi, sambil berkata, "Kapan engkau akan datang lagi? Kami akan merindukanmu!" Mereka bahkan berkata dengan sangat gembira, "Akhirnya aku telah bertemu dengan Tuhan yang berinkarnasi. Aku tidak memiliki penyesalan dalam hidup ini. Sekalipun aku mati, hidupku tidak akan sia-sia!" Orang yang disembah itu sama sekali tidak mengklarifikasi situasinya. Pernahkah engkau semua mendengar hal-hal semacam itu? (Ya.) Hal semacam ini tidak mungkin terjadi di luar negeri. Mengapa hal itu terjadi di Tiongkok daratan? Karena Tuhan yang berinkarnasi menampakkan diri dan bekerja di Tiongkok, Dia pasti memiliki gambar orang Tionghoa, jadi hal semacam ini terjadi di Tiongkok daratan. Kita tidak akan membahas apakah kedua belah pihak yang terlibat dalam hal ini benar atau salah. Mengenai masalah ini sendiri, seperti apa pun orang memahami kenormalan dan kenyataan Tuhan yang berinkarnasi, berdasarkan gagasan mereka, orang percaya bahwa Tuhan yang berinkarnasi seharusnya memiliki gambar yang menjulang tinggi, penampilan yang mulia, dan terlebih lagi, identitas yang mulia. Dia juga seharusnya memiliki penampilan dan cara berbicara yang unik, membuat setiap orang yang memandang-Nya merasa bahwa Dia seperti Tuhan, bahwa Dia adalah Tuhan, tanpa keraguan sedikit pun. Jika Dia terlihat biasa saja bagi orang-orang, dan mereka tidak dapat melihat aura Tuhan atau gambar Tuhan di dalam diri-Nya, maka mustahil Dia adalah Tuhan. Orang percaya bahwa Tuhan yang berinkarnasi pasti sangat menjulang tinggi, mulia, dan memiliki aura, sangat tampak seperti seseorang dengan identitas kerajaan. Dia seharusnya berdiri tegak ketika berjalan, mata-Nya seharusnya cerah dan menusuk, dan tatapan-Nya seharusnya sangat tajam; Dia seharusnya mampu langsung mengetahui apa yang dipikirkan siapa pun hanya dengan melihat mereka, dan dengan sekilas pandang, Dia seharusnya mampu mengetahui siapa yang memendam pemikiran yang buruk atau sikap yang memusuhi. Pemikiran yang orang-orang miliki ini telah mencerminkan fenomena tertentu: Orang memiliki imajinasi yang sangat banyak tentang Tuhan yang berinkarnasi. Padahal sebenarnya, Tuhan yang berinkarnasi tidak sama dengan Tuhan dalam gagasan dan imajinasi orang; ada perbedaannya. Penampilan luar Tuhan yang berinkarnasi sangatlah biasa. Dia sama sekali tidak menjulang tinggi, sama sekali tidak transenden, dan sama sekali tidak supernatural; bahkan dapat dikatakan bahwa tidak ada yang istimewa tentang diri-Nya. Dari luar, Dia hampir tidak ada bedanya dengan semua manusia ciptaan. Artinya, Dia hampir sama persis dengan manusia yang diciptakan oleh Tuhan dalam hal berbagai fungsi yang mereka miliki, serta naluri, pemikiran normal, dan berbagai kemampuan manusia. Ini adalah hal-hal lahiriah yang dapat orang lihat secara langsung dengan mata telanjang dan dapat orang sentuh, dan dapat orang pahami serta mengerti. Hal-hal lahiriah ini mudah dilihat dan dipahami oleh orang, jadi hal-hal ini tidak akan menjadi fokus persekutuan kita. Fokus persekutuan kita adalah kenormalan dan kenyataan Tuhan yang berinkarnasi, serta kerendahhatian dan ketersembunyian-Nya.
Mengenai apa yang seharusnya orang pahami tentang Tuhan yang berinkarnasi, entah itu kenormalan dan kenyataan-Nya, atau kerendahhatian dan ketersembunyian-Nya, itu merupakan pemikiran atau cara mengenal yang sama sekali tidak orang miliki di dalam hatinya; pemikiran ini bahkan tidak ada dalam gagasan dan imajinasi mereka. Ini berkaitan dengan bagaimana Tuhan yang berinkarnasi hidup di antara manusia, bagaimana Dia hidup di lingkungan kehidupan nyata umat manusia, bagaimana Dia berperilaku dalam kehidupan-Nya, dan bagaimana Dia berbicara serta bekerja di antara manusia. Ini berkaitan dengan hal-hal tentang esensi Tuhan yang berinkarnasi, dan hal-hal ini layak untuk dipersekutukan. Aspek-aspek ini juga merupakan hal-hal yang tidak dapat orang lihat atau yang sangat sulit untuk orang pahami, dan tentu saja, ini juga merupakan hal-hal yang tidak ada dalam pengenalan manusia ataupun dalam gagasan dan imajinasi mereka tentang Tuhan yang berinkarnasi. Artinya, pengenalan, pemahaman, dan imajinasi orang tentang Tuhan yang berinkarnasi pada dasarnya terlepas dari kenyataan kehidupan dan keberadaan Tuhan yang berinkarnasi. Akibatnya, banyak pengenalan orang mengenai esensi Tuhan yang berinkarnasi tidak nyata dan tidak objektif, dan bahkan terdiri dari beberapa gagasan dan imajinasi yang tidak sesuai dengan kenyataan. Tuhan yang berinkarnasi hidup di antara manusia dan di dunia materi ini; kenormalan dan kenyataan-Nya tercermin dalam kehidupan-Nya, serta dalam proses keberadaan-Nya. Dalam kehidupan-Nya dan proses keberadaan-Nya, di satu sisi menyangkut kehidupan daging ini, dan di sisi lain menyangkut pelayanan yang dilaksanakan oleh Tuhan yang berinkarnasi. Dari kedua aspek ini, mari kita lihat bagaimana kenormalan dan kenyataan yang dihidupi dan dimiliki oleh Tuhan yang berinkarnasi berbeda dari gagasan dan imajinasi manusia; bagian-bagian mana dari kenormalan dan kenyataan ini yang tidak dapat dipahami manusia atau yang mereka abaikan setelah melihatnya, padahal sebenarnya merupakan perwujudan dari kenormalan dan kenyataan yang dimiliki oleh daging inkarnasi Tuhan. Karena hal ini berkaitan dengan kehidupan dan keberadaan Tuhan yang berinkarnasi, hal ini menyangkut banyak persoalan nyata, serta banyak pemikiran dan pandangan mengenai persoalan nyata ini. Pemikiran dan pandangan ini sebenarnya secara nyata dan objektif disingkapkan dan dihidupi dalam kehidupan Tuhan yang berinkarnasi dan pelayanan yang dilaksanakan-Nya. Namun, karena orang memendam terlalu banyak gagasan dan imajinasi—entah tentang Tuhan yang di surga atau Tuhan yang di bumi—dan karena semua ini hampa dan tidak sejalan dengan kenyataan, kebanyakan orang mengabaikan kenormalan dan kenyataan, serta kerendahhatian dan ketersembunyian, yang dapat dilihat manusia diwujudkan oleh Tuhan yang berinkarnasi—identitas khusus Tuhan. Yang menjadi fokus kebanyakan orang adalah tanda dan mukjizat, misteri, kemampuan supernatural, dan hal-hal yang mendalam, agung, atau relatif transenden dan aneh, dan sebagainya. Sebaliknya, orang mengabaikan hal-hal yang benar-benar objektif, nyata, dan riil yang dihidupi dan disingkapkan oleh Tuhan sendiri. Berapa tahun pun daging inkarnasi Tuhan hidup di antara umat manusia, karena orang-orang mengabaikan hal-hal ini, pengenalan mereka tentang Tuhan selalu terjebak dalam imajinasi mereka yang hampa dan samar. Akibatnya, pengetahuan orang tentang Tuhan selalu sangat tidak objektif dan tidak nyata. Hari ini, melalui persekutuan tentang topik ini, mari kita mengenal kenormalan dan kenyataan yang tercermin dalam kehidupan Tuhan yang berinkarnasi dan pelayanan yang Dia laksanakan. Entah itu kehidupan Tuhan yang berinkarnasi, atau pelayanan yang dilaksanakan-Nya, kedua aspek tersebut berkaitan dengan menghidupi kenormalan dan kenyataan-Nya. Ini berkaitan dengan sudut pandang Tuhan yang berinkarnasi—Anak manusia yang memiliki identitas khusus ini—terhadap semua jenis orang, peristiwa, dan hal, serta prinsip dan metode-Nya dalam menangani berbagai macam hal. Selama bertahun-tahun, dalam persekutuan, engkau semua telah mendengar tentang prinsip dan metode yang digunakan Tuhan yang berinkarnasi dalam menyikapi dan menangani berbagai macam hal, dan sekarang engkau telah mengetahuinya. Hal-hal tersebut, yang tampaknya cukup luhur dan agung di benakmu, semuanya berkaitan dengan kebenaran. Dalam satu aspek, hal-hal ini merepresentasikan maksud-maksud Tuhan yang di surga; hal-hal ini merepresentasikan apa yang dituntut oleh Tuhan yang memiliki identitas dan esensi Tuhan terhadap manusia dan apa yang Dia ajarkan kepada mereka. Dalam aspek lain, tidak dapat disangkal bahwa hal-hal itu juga merepresentasikan prinsip, metode, serta pemikiran dan pandangan Tuhan yang berinkarnasi, Anak manusia ini, dalam cara-Nya memandang atau menangani segala macam hal. Aku telah bersekutu dengan engkau semua untuk waktu yang lama tentang sejumlah besar konten yang berkaitan dengan prinsip-prinsip kebenaran ini; ada banyak topik, dan topik-topik itu cukup panjang. Konten ini cukup untuk merepresentasikan pemikiran, pandangan, sikap, dan prinsip Tuhan yang berinkarnasi—Anak manusia—untuk menangani berbagai macam hal. Kita tidak akan membicarakan aspek ini hari ini.
Topik utama yang akan kita persekutukan adalah prinsip dalam cara berperilaku Tuhan yang berinkarnasi, dan cara-Nya melakukan segala sesuatu, dalam kehidupan serta keberadaan-Nya. Melalui persekutuan-Ku mengenai kedua aspek ini, engkau semua akan lebih memahami kenormalan dan kenyataan Tuhan yang berinkarnasi, serta lebih memahami Tuhan yang berinkarnasi. Di satu sisi, hidup di antara umat manusia, Tuhan yang berinkarnasi memiliki prinsip dalam cara-Nya berperilaku, dan Dia juga memiliki prinsip dalam cara-Nya melakukan segala sesuatu. Prinsip-prinsip ini sangat sederhana. Prinsip-Ku dalam cara-Ku berperilaku adalah berperilaku dengan cara yang taat aturan, dan prinsip-Ku dalam melakukan segala sesuatu adalah melakukannya sebagaimana mestinya. Berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya, inilah prinsip dan pedoman-Ku dalam cara-Ku berperilaku dan cara-Ku melakukan segala sesuatu. Berapa jumlah kata keseluruhannya? (Dua belas kata.) Kedua belas kata ini sangat sederhana, dan makna harfiahnya cukup mudah dipahami. Kata-kata itu sama sekali tidak abstrak ataupun hampa, sama sekali tidak mendalam, dan sama sekali tidak luhur maupun muluk-muluk. Berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya, inilah prinsip dan pedoman-Ku dalam cara-Ku berperilaku dan cara-Ku melakukan segala sesuatu. Aku mematuhi prinsip-prinsip ini dalam cara-Ku berperilaku dan melakukan segala sesuatu; tepat seperti inilah cara-Ku melakukannya. Dapatkah engkau semua melihat bahwa ini adalah fakta? Dapatkah engkau semua mencocokkan ini dengan fakta-fakta yang ada? Di satu sisi, ketika Aku berkhotbah dan bersekutu, ketika Aku berhubungan dan berinteraksi dengan orang-orang, dan ketika Aku mengobrol dengan orang-orang, Aku selalu memberi tahu mereka untuk berperilaku dengan cara seperti ini. Di sisi lain, Aku sendiri juga berperilaku dengan cara seperti ini. Aku tidak meneriakkan slogan. Lalu, mengapa Aku memberi tahu orang-orang tentang prinsip-prinsip ini? Itu karena Aku sendiri melakukan segala sesuatu dan berperilaku dengan cara seperti ini; tidak ada hal lain yang mendalam. Ada orang-orang yang berkata, "Pedoman bagi cara-Mu berperilaku ini sangat biasa; sama sekali tidak elegan. Itu tidak dapat merepresentasikan identitas Tuhan yang berinkarnasi!" Benarkah demikian? (Tidak.) Berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya, ini adalah prinsip dan pedoman. Aku menerapkannya dalam kehidupan-Ku sehari-hari, dan Aku juga menerapkannya ketika melaksanakan pelayanan-Ku, yaitu ketika melakukan pekerjaan. Beginilah cara-Ku berperilaku, dan beginilah cara-Ku melakukan segala sesuatu. Mari kita bicarakan saja hal-hal ini seolah-olah kita sedang mengobrol dan berbincang santai, agar engkau semua bisa sedikit bersantai, dan belajar sedikit lebih banyak tentang kehidupan-Ku dari-Ku. Apakah itu bisa diterima? (Ya.) Jika, suatu saat dalam obrolan kita, beberapa darimu berkata, "Aku keberatan! Apa yang Kaukatakan tidak sesuai dengan perwujudan-Mu," maka Aku akan mencoba menyatakannya kembali, dan Aku akan mengoreksi atau membetulkannya di masa depan. Jika beberapa darimu angkat tangan dan berkata, "Aku setuju! Apa yang Kaukatakan sangat sesuai dengan apa yang telah kami lihat dan dengar dari penyingkapan-Mu dalam kehidupan-Mu; apa yang Kaukatakan adalah fakta," maka Aku akan melanjutkannya. Apakah itu bisa diterima? (Ya.)
Baik dalam kehidupan maupun dalam pekerjaan, Aku berpegang teguh pada pedoman ini: berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya. Engkau semua mungkin telah mampu memahaminya cukup banyak dalam pekerjaan yang Kulakukan, jadi mari kita terlebih dahulu bicara tentang bagaimana hal itu berlaku dalam kehidupan-Ku. Tuhan yang berinkarnasi adalah seseorang yang memiliki identitas khusus di antara umat manusia, tetapi ketika melakukan segala sesuatu, Dia sama sekali tidak bertindak seolah-olah Dia istimewa. Dia tidak pernah memperlakukan diri-Nya sendiri sebagai tokoh istimewa; Dia hanyalah orang biasa. Di negara mana pun Dia berada, Dia mematuhi hukum dan peraturan negara tersebut. Jika ada sesuatu yang perlu Dia lakukan tetapi tidak Dia pahami, Dia segera berkonsultasi dan mencari tahu apa yang ditetapkan oleh hukum dan kebijakan setempat, apa yang ilegal untuk dilakukan dan apa yang tidak, dan Dia melakukannya sebagaimana mestinya, tanpa memberikan perlakuan istimewa pada diri-Nya sendiri. Apakah melakukan segala sesuatu dengan cara ini berarti taat aturan, dan apakah itu berarti berbuat sebagaimana mestinya? (Ya.) Inilah yang dimaksud dengan berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya. Di negara yang bebas dan demokratis, jika Dia perlu memahami hukum yang relevan untuk menyelesaikan sesuatu, Dia berkonsultasi dengan pengacara atau mencari tahu hukum dan peraturannya. Dia tidak melakukan hal-hal yang melanggar hukum maupun memanfaatkan celah hukum; Dia dengan ketat mematuhi hukum dan peraturan, karena hukum dan peraturan di sebagian besar negara melindungi hak dan kepentingan sah dari individu, dan itulah yang seharusnya dipatuhi oleh orang-orang. Sebagai contoh, jika kita melakukan pembangunan di halaman dan perlu menempatkan sesuatu di sana, kita harus terlebih dahulu mencari tahu apa peraturan pemerintah mengenai hal ini, apakah benda ini boleh ditempatkan di halaman, dan jika ya, di mana tempat yang sesuai untuk meletakkannya. Setelah mendapatkan kejelasan tentang rinciannya, kita melakukan segala sesuatu sesuai dengan peraturan pemerintah. Jika pemerintah tidak mengizinkannya, kita tidak akan melakukannya. Kita tidak akan membuat masalah dengan tak masuk akal, dan kita sama sekali tidak akan dengan sengaja melanggar hukum untuk melakukannya. Sebagai contoh, jika kita ingin mendirikan suatu bangunan, kita perlu mengajukan persetujuan pemerintah. Setelah pemerintah menyetujuinya, pembangunan dapat dimulai. Setelah selesai, proyek itu masih harus lulus inspeksi pemerintah. Jika lulus inspeksi, kita dapat menggunakannya dengan tenang. Inilah prosedur untuk pembangunan. Ada orang-orang yang mungkin berkata, "Untuk proyek kecil semacam ini, apakah pemerintah menetapkan bahwa kita harus mendapatkan persetujuan? Jika itu opsional, tidak perlu mengurusnya agar tidak repot." Kukatakan, "Kita harus mencari tahu secara pasti. Bagaimana jika itu memang memerlukan persetujuan pemerintah, dan kita tidak mendapatkannya, bukankah kita akan melanggar peraturan? Kita tidak boleh melanggarnya. Karena kita akan mendirikan bangunan ini, kita seharusnya berusaha mendapatkan persetujuan. Jika pemerintah mengatakan tidak perlu mendapatkan persetujuan, tanpa mengajukannya pun kita akan merasa tenang. Jika pemerintah mengatakan itu harus disetujui, maka pengajuan persetujuan kita akan masuk akal dan taat hukum." Untuk apa pun yang berkaitan dengan hukum atau peraturan pemerintah, kita harus berkonsultasi dan mencari tahu secara pasti. Jika tidak, akan sangat merepotkan jika terjadi kesalahan. Aturan dasar tinggal di luar negeri adalah tidak melakukan apa pun yang melanggar hukum atau apa pun yang melanggar peraturan pemerintah. Sebagai contoh, jika kita tinggal di pedesaan dan ingin memelihara ayam atau domba, kita harus mendapatkan persetujuan pemerintah. Pemerintah memiliki peraturan terperinci untuk hal-hal ini, dan kita sama sekali tidak boleh melanggarnya atau mencoba mendapatkan hak istimewa. Jika kita melanggar peraturan pemerintah dan tertangkap, itu akan sangat merepotkan. Jadi, ini mengharuskan kita untuk mematuhi hukum, dan ini juga berkaitan dengan prinsip tentang cara kita berperilaku dan cara kita hidup. Di mana pun kita tinggal, kita seharusnya berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya. Dalam kehidupan-Ku sehari-hari, Aku juga berinteraksi dengan tetangga-tetangga-Ku dengan cara yang taat aturan. Aku tidak membuat kebisingan atau mengganggu orang lain. Apa pun yang ditetapkan pemerintah, kita harus mematuhinya. Bahkan jika engkau memelihara anjing, engkau harus merawatnya dengan baik agar anjing itu tidak terus-menerus menggonggong dan mengganggu istirahat para tetangga. Terutama pada akhir pekan ketika semua tetanggamu sedang berada di rumah, engkau harus lebih berhati-hati agar tidak mengganggu mereka. Ketika turun salju di musim dingin, engkau harus menunggu sampai lewat jam delapan pagi baru mulai membersihkan salju. Membersihkan salju terlalu pagi akan menimbulkan suara bising yang akan mengganggu istirahat para tetanggamu dan membuat mereka kesal. Jika pemerintah memiliki peraturan yang jelas, engkau harus mematuhinya. Jangan dengan sengaja melanggar peraturan pemerintah; jangan mencari masalah dengan pemerintah. Inilah yang disebut berperilaku dengan cara yang taat aturan. Di mana pun Aku tinggal, pada dasarnya Aku tidak membuat kebisingan. Aku tidak pernah memutar musik di luar, dan Aku tidak membuat kegaduhan atau berbicara dengan keras. Ketika mengajak anjing berjalan-jalan, Aku tidak membiarkannya terus-menerus menggonggong. Aku berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengganggu para tetangga-Ku, tidak mencampuri kehidupan mereka, dan tidak membuat mereka kesal. Bukankah inilah berperilaku dengan cara yang taat aturan? (Ya.) Itulah sebabnya Aku rukun dengan para tetangga-Ku selama bertahun-tahun ini. Kami hidup damai satu sama lain, saling menyapa ketika bertemu, dan hidup berdampingan dengan ramah dan harmonis. Di mana pun kita tinggal, kita harus mematuhi aturan ketika berinteraksi dengan tetangga kita. Kita tidak boleh menimbulkan masalah bagi mereka, dan kita juga tidak perlu bersikap menghamba. Kita seharusnya memperlakukan orang lain dengan benar dan melakukan segala sesuatu dengan adil dan patut. Jika kita melakukan ini, seiring berjalannya waktu tidak akan ada konflik apa pun.
Mengenai perihal bahwa Tuhan yang berinkarnasi berperilaku dengan cara yang taat aturan, ada orang-orang yang berkata, "Bukankah ini hal yang sangat normal?" dan Aku berkata, "Engkau benar sekali; memang senormal itu." Berasal dari manakah kenormalan ini? Ini berasal dari hati nurani dan nalar kemanusiaan. Justru karena Tuhan yang berinkarnasi memiliki hati nurani dan nalar kemanusiaan normal yang optimal, dalam hal cara berperilaku—sesuatu yang orang anggap sebagai hal yang sangat biasa—prinsip yang Dia patuhi juga sangat biasa: taat aturan. Setelah mendengar ini, ada orang-orang yang mungkin berkata, "Apa pentingnya hal ini? Apakah hal ini bahkan layak untuk dibicarakan? Inikah yang dimaksud dengan normal dan nyata? Ini adalah hal-hal sepele." Meskipun demikian, fakta bahwa Tuhan yang berinkarnasi berperilaku dengan cara yang taat aturan adalah perwujudan dari kenormalan dan kenyataan-Nya, jadi hal ini layak untuk dibicarakan dan dikenali orang-orang. Orang berpikir bahwa merupakan hal biasa bagi-Ku untuk berperilaku dengan cara yang taat aturan. Namun, bagaimana jika Aku memberi diri-Ku sendiri perlakuan istimewa di mana pun dalam kehidupan-Ku, dan menyombongkan diri-Ku di setiap kesempatan, dengan berkata, "Akulah Kristus. Aku datang dari surga. Aku tidak seperti siapa pun. Di antara umat manusia, Aku tiada duanya. Seluruh umat manusia, semua makhluk hidup, dan semua makhluk ciptaan harus diinjak-injak di bawah kaki-Ku. Segala sesuatu adalah tumpuan kaki-Ku. Baik orang yang percaya kepada Tuhan maupun orang tidak percaya, semua orang harus bersujud dan menyembah-Ku. Ketika mereka datang ke hadapan-Ku, mereka semua harus bersikap takzim dan penuh hormat"? Apakah ini normal? (Tidak.) Itu tidak normal. Apakah engkau mendapati-Ku bertindak seperti itu? (Tidak.) Aku tidak bertindak seperti itu. Aku rukun dengan semua orang yang dapat Kutemui, terutama orang tidak percaya. Aku memperlakukan mereka dan berinteraksi dengan mereka sesuai dengan aturan dan etiket. Ketika berdiskusi atau berkonsultasi tentang apa pun dengan orang-orang, Aku sangat menghormati mereka. Ketika ada sesuatu yang tidak Kupahami, Aku lebih banyak bertanya dan mencari tahu, dan beberapa orang dengan sangat sabar membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan-Ku. Tentu saja, bukan berarti Aku berperilaku dengan cara yang taat aturan hanya untuk membalas perlakuan mereka ini. Sebaliknya, itu karena, hidup di lingkungan nyata ini, Tuhan yang berinkarnasi pada dasarnya mematuhi prinsip semacam itu ketika berinteraksi dengan orang-orang dan menyelesaikan segala sesuatu. Sebagai contoh, perpustakaan adalah tempat untuk membaca dan belajar. Ketika pergi ke sana, engkau seharusnya mematuhi aturannya. Engkau tidak boleh berisik dan seharusnya sebisa mungkin berusaha untuk tidak berbicara. Jika ingin berbicara, engkau seharusnya mengecilkan suaramu atau keluar, dan terutama jika teleponmu berdering, engkau seharusnya segera keluar untuk menjawabnya, semua itu agar tidak mengganggu atau memengaruhi orang lain yang sedang membaca. Inilah yang disebut mematuhi aturan. Di lingkungan semacam ini, jika Aku menerima panggilan telepon, Aku akan keluar untuk menjawabnya. Ada orang-orang yang berkata, "Siapa yang tidak mengetahui hal ini?" Memang ada orang yang tidak mengetahui hal ini. Di beberapa restoran, supermarket, dan tempat-tempat di negara-negara Barat yang didatangi orang untuk menyelesaikan urusan, engkau sering dapat mendengar beberapa orang berbicara dengan sangat keras, dan para pelayan serta staf di sana merasa sangat muak. Terutama ada orang-orang Asia yang sama sekali tidak memahami aturan dan tampak sangat tidak berkelas. Di beberapa tempat, ada aturan yang tertulis dengan jelas, tetapi mereka bertindak seolah-olah mereka sama sekali tidak melihatnya. Sekalipun melihat aturan yang ditulis dalam bahasa ibu mereka, mereka tidak mematuhinya, dan bahkan melanggarnya. Ketika diingatkan anggota staf, mereka bahkan berdebat dengan staf tersebut. Bukankah ini mempermalukan diri sendiri? Ada orang-orang yang terbiasa bersikap sewenang-wenang di negara asal mereka. Ketika datang ke Barat, mereka masih mengira itu adalah wilayah mereka sendiri, bertindak agresif dan berjalan pongah seperti gorila, sama sekali tidak mematuhi aturan. Akibatnya, di mana pun berada, mereka membuat orang membenci mereka dan merasa muak. Bahkan ada orang yang membuat masalah saat mengikuti ujian di departemen kendaraan bermotor (DMV). Setelah itu, ketika melihat rekan senegaranya, mereka bahkan berseru, "Kita orang Tiongkok bebas di mana pun kita berada. Kita tidak pernah cenderung mematuhi aturan. Makin santai kita, makin baik. Jika ada yang mencoba mendisiplinkanku, aku akan membuat keributan besar!" Bukankah orang seperti ini adalah setan yang hidup? Apa kaupikir engkau sedang berada di negara asalmu, di mana engkau bisa bersikap sewenang-wenang jika memiliki kekuasaan dan pengaruh? Engkau berada di luar negeri, di negara yang diatur oleh supremasi hukum. Jika melanggar hukum dan peraturan, engkau harus memikul tanggung jawab hukum. Mematuhi hukum dan peraturan adalah hal paling minimal yang seharusnya orang lakukan. Jika orang bahkan tidak memahami aturan-aturan dasar ini, mereka sama sekali tidak memiliki keserupaan dengan manusia.
Aku biasanya sangat berhati-hati di tempat umum. Terutama ketika pergi ke instansi pemerintah untuk menangani berbagai urusan, Aku bertindak dengan hati-hati dan berusaha untuk tidak melanggar aturan mereka. Formulir apa pun yang Kuisi atau pertanyaan apa pun yang Kujawab, Aku selalu bertindak sesuai dengan aturan. Setelah beberapa kali menangani berbagai urusan, Aku telah memperoleh pengalaman. Mematuhi aturan itu mudah; yang mengkhawatirkan adalah tidak memahami aturan. Jangankan mempermalukan diri sendiri, mungkinkah itu memengaruhi penyelesaian urusan? Mungkin saja, jadi orang haruslah berperilaku dengan cara yang taat aturan. Orang Barat pada dasarnya mampu melakukan hal-hal ini. Tuhan yang berinkarnasi memiliki rasionalitas dan hati nurani yang normal, jadi tentu saja Dia juga dapat melakukannya, dan Dia melakukannya dengan sangat proaktif. Dia tidak menganggap diri-Nya sebagai yang satu-satunya di antara umat manusia ciptaan, Dia juga tidak pernah melangkahi hukum serta peraturan ini untuk mencari hak istimewa bagi diri-Nya sendiri. Apa pun urusan yang sedang Kutangani di instansi pemerintah, Aku selalu mengikuti prosedurnya. Aku tidak pernah mengajukan tuntutan dengan berkata, "Aku memiliki status khusus dan identitas khusus. Bisakah engkau memberi-Ku perlakuan khusus?" Di satu sisi, Aku tidak berkonsultasi dengan siapa pun untuk menemukan jalan semacam ini. Di sisi lain, Aku tidak pernah berdoa kepada Tuhan yang di surga dengan berkata, "Tuhan, dapatkah Engkau melakukan tanda dan mukjizat bagi-Ku, menyelesaikan urusan ini seketika, agar Aku tidak perlu mengikuti prosedur ini seperti yang manusia lakukan?" Aku tidak pernah berdoa seperti ini; sebaliknya, Aku menangani berbagai urusan sesuai dengan prosedur dengan cara yang taat aturan. Tentu saja, ketika menangani urusan ini, Aku juga akan menghadapi beberapa situasi khusus. Situasi khusus memerlukan penanganan khusus. Jika ada biaya yang harus dibayar, Aku membayarnya. Jika Aku harus menunggu, Aku menunggu. Jika Aku perlu mengajukan sesuatu atau mendapatkan konfirmasi lagi dari pemerintah, maka Aku akan mengajukannya dan mendapatkan konfirmasi lagi. Aku pasti akan mengikuti prosedur dengan ketat sesuai dengan hukum dan peraturan, dan tidak akan melangkahi wewenang siapa pun. Baik saat Aku sedang berbelanja di supermarket maupun menangani urusan di instansi pemerintah, jika orang-orang mengantre, Aku pun ikut mengantre. Saat giliran-Ku tiba, Aku segera maju. Apa pun yang mereka minta untuk Kulakukan, Aku melakukannya dengan cara yang taat aturan sesuai dengan permintaan mereka. Beginilah cara-Ku berperilaku. Ketika menghadapi berbagai hal dalam kehidupan, beginilah cara-Ku bertindak dan mengalaminya. Meskipun ada beberapa saat tertentu ketika Aku merasa diperlakukan tidak adil, hal itu tidak pernah memengaruhi pedoman-Ku untuk "berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya". Aku tetap melakukan apa yang seharusnya Kulakukan. Aku, khususnya, terlihat sebagai orang Asia, berperawakan kecil dan berpenampilan biasa-biasa saja, tidak berbicara dengan suara keras, dan tampak umum dan rata-rata bagi orang-orang, tidak menonjol di keramaian, dan sama sekali tidak menarik perhatian siapa pun. Oleh karena itu, saat menangani urusan di beberapa lingkungan khusus, Aku menghadapi berbagai tingkat diskriminasi, atau menerima berbagai tingkat "perlakuan khusus". Jika engkau semua menghadapi hal-hal ini, apa yang akan kaulakukan? Apakah engkau semua akan berdebat dengan orang-orang itu, mengajukan keluhan terhadap mereka, atau berdoa kepada Tuhan untuk mengutuk mereka? Metode mana yang akan kauterapkan? (Jika kondisinya tepat, aku mungkin akan berdebat dengan mereka.) Apakah engkau akan berdoa di dalam hatimu untuk mengutuk mereka? (Aku tidak akan bertindak sejauh itu, tetapi aku akan cukup marah di dalam hati.) Ketika engkau diperlakukan berbeda atau didiskriminasi, engkau seharusnya membiarkan situasinya mereda. Adapun bagi-Ku, Aku tidak berdoa untuk mengutuk mereka, Aku juga tidak berdebat atau berselisih dengan mereka. Sebaliknya, Aku membiarkan situasinya mereda dan menyikapinya dengan benar. Aku akan merasa agak tidak nyaman di dalam hati-Ku, tetapi setelah beberapa hari, Aku akan baik-baik saja; Aku akan menerimanya. Sekalipun martabat dan integritasmu terhina, engkau tidak boleh memperlihatkan sikap yang gampang marah; engkau tidak boleh menangani berbagai hal dengan sikap yang gampang marah. Lalu bagaimana seharusnya engkau menanganinya? Jika seseorang mendiskriminasi atau menghina dirimu, engkau seharusnya memperlakukan mereka dengan sabar, menjauh dari mereka, dan tidak memperlihatkan sikap yang gampang marah; maka mereka tidak dapat melakukan apa pun terhadapmu. Anggap saja sedikit kerugian kali ini sebagai pelajaran. Jika Aku menghadapi hal semacam ini, karena rasionalitas dan hati nurani kemanusiaan-Ku yang normal, Aku akan merasa terluka, dan Aku juga akan merasa bahwa integritas serta martabat-Ku telah terpukul. Aku akan merasa tidak nyaman dan pedih di dalam hati. Namun, Aku sama sekali tidak akan merasa diperlakukan tidak adil karena Aku memiliki identitas khusus dan status khusus, apalagi membenci atau mengutuk mereka yang mendiskriminasi diri-Ku. Makin bertambah usia-Ku, makin Aku merasa bahwa hal-hal ini sepenuhnya normal. Hidup di dunia manusia ini, di antara umat manusia yang sedemikian rusaknya, hal-hal ini sepenuhnya normal. Aku merasa seperti ini bukan karena Aku terbiasa dengan hal-hal semacam itu dan menjadi mati rasa terhadapnya, melainkan karena semua orang adalah manusia yang rusak. Diskriminasi mereka tidak ditujukan kepadamu secara pribadi; sebaliknya, seluruh umat manusia memang seperti ini. Engkau lihat, di AS, negara imigran yang terdiri dari banyak ras, orang-orang dari setiap ras akan mengatakan bahwa mereka telah didiskriminasi; bahkan orang kulit putih akan mengaku demikian. Orang akan menghadapi diskriminasi pada berbagai kesempatan, di berbagai lingkungan, dan di antara kelompok orang yang berbeda-beda. Terkadang itu adalah diskriminasi dari ras lain, dan terkadang orang juga menghadapi diskriminasi atau perlakuan tidak adil dari ras mereka sendiri. Apa yang kauanggap sebagai diskriminasi mungkin hanyalah cara paling umum dalam menangani berbagai hal terkait bagaimana manusia yang rusak memperlakukan satu sama lain. Memang seperti inilah umat manusia ini, jadi jangan menganggap hal-hal semacam itu terlalu serius. Marah itu normal, tetapi engkau seharusnya segera mengetahui yang sebenarnya tentang hal-hal ini dan kemudian melepaskannya. Jangan menanggapinya dengan sikap yang gampang marah. Jangan berpikir untuk membalas dendam kepada siapa pun atau berdoa untuk mengutuk siapa pun. Jangan merasa bahwa dirimu bukan orang biasa. Engkau adalah orang biasa, dan begitulah cara orang lain memperlakukanmu. Jika mereka menganggapmu mudah diintimidasi, mereka akan menindasmu. Bukankah ini sepenuhnya normal? Jangan mengandalkan gagasan dan imajinasi untuk berpikir, "Aku bukan orang biasa. Aku memiliki nilai yang begitu tinggi dan status yang begitu tinggi. Aku akan berdoa untuk mengutuk siapa pun yang menindasku. Jika aku memberitahumu siapa yang menyokongku, itu akan membuatmu sangat ketakutan. Kelak saat aku memegang kekuasaan, aku akan membuatmu berlutut dan memohon belas kasihan, dan aku akan membuatmu bersujud seperti ayam yang mematuk beras." Aku tidak pernah memiliki pemikiran semacam itu. Di dunia, diskriminasi ada di mana-mana. Diskriminasi dari orang-orang tidak ditujukan kepadamu secara pribadi. Dunia ini sendiri penuh dengan ketidakadilan, diskriminasi, segala macam kejahatan, dan segala macam perbuatan jahat. Ketika Aku menghadapi hal-hal semacam itu, karena Aku tidak memperlakukan diri-Ku sebagai tokoh istimewa, sangat mudah bagi-Ku untuk melepaskan hal-hal ini. Bukankah ini juga berarti mematuhi pedoman berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya? (Ya.)
Dalam kehidupan-Nya, Tuhan yang berinkarnasi mau tak mau berinteraksi dan bergaul dengan orang-orang, termasuk beberapa saudara-saudari yang percaya kepada Tuhan, serta beberapa orang tidak percaya. Ketika berinteraksi dengan saudara-saudari yang percaya kepada Tuhan, tentu saja Dia juga memiliki beberapa prinsip dalam cara-Nya berperilaku dan menangani segala sesuatu yang berkaitan dengan kemanusiaan. Meskipun Dia tidak secara ketat mematuhi aturan kesopanan dan timbal balik serta cara hidup di dunia ini, dalam hal saling membalas kebaikan, Dia berusaha untuk tidak mengambil keuntungan dari orang lain maupun mencari perlakuan istimewa bagi diri-Nya sendiri. Ketika beberapa saudara-saudari menghabiskan sebagian tenaga dan waktu mereka untuk membantu-Ku menangani urusan pribadi, Aku akan mencari kesempatan untuk memberi mereka hadiah kecil, mengunjungi mereka, mentraktir mereka makan, atau melakukan hal lain. Ini bukan suap; ini adalah kesopanan dan timbal balik, dan bukan mengambil keuntungan dari orang lain. Adapun saudara-saudari yang tidak pernah berinteraksi secara pribadi dengan-Ku, Aku tidak pernah memberi hadiah kepada siapa pun dari mereka karena mereka memiliki status atau telah berkontribusi di rumah Tuhan, dan Aku juga tidak pernah memberikan sesuatu atau perlakuan khusus kepada siapa pun dari mereka karena Aku menghargai mereka atau memiliki hubungan yang baik dengan mereka. Hal-hal semacam itu tidak pernah terjadi. Singkatnya, ketika bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang, Aku berusaha untuk tidak mengambil keuntungan dari mereka atau mencari perlakuan istimewa bagi diri-Ku sendiri. Identitas khusus-Ku tidak akan membuat-Ku berpikir, "Dengan cara apa pun Aku memakaimu, itu sudah sepatutnya, dan engkau seharusnya menerimanya; itu merupakan peninggian terhadapmu." Aku tidak akan berpikir seperti ini. Jika engkau membantu-Ku menangani beberapa urusan pribadi, hal-hal di luar pekerjaan gereja, Aku akan mengingat budi baik ini dan membalasmu. Atas dasar ini, Aku akan menjalin hubungan timbal balik denganmu. Terlebih lagi jika berkaitan dengan orang tidak percaya; jika orang tidak percaya telah membantu-Ku menangani sesuatu dan mengeluarkan sejumlah uang, pertama-tama, Aku akan memastikan untuk tidak berutang kepada mereka secara finansial. Aku tidak akan membiarkan mereka mengeluarkan uang dari kantong mereka sendiri; Aku akan memberi mereka berapa pun uang yang dibutuhkan. Selain itu, dalam membantu-Ku menangani hal ini, mereka sangat bersusah payah, mengerahkan banyak upaya, dan banyak berlarian ke sana kemari, jadi Aku harus memberi mereka hadiah sebagai bentuk kesopanan, menawarkan kompensasi atas bantuan tersebut, dan tidak mengambil keuntungan dari mereka. Mereka melakukan pekerjaan ini dan mencari nafkah darinya; Aku tidak boleh membiarkan mereka menderita kerugian atau mengeluarkan uang dari kantong mereka sendiri karena mereka membantu-Ku menangani sesuatu. Itu tidak pantas. Jadi, Aku tidak mencari perlakuan istimewa bagi diri-Ku sendiri dalam hal-hal semacam itu. Tentu saja, ini bukan mengikuti aturan main, melainkan orang harus berpegang pada cara hidup di dunia serta kesopanan dan timbal balik yang paling dasar; tidak boleh membuat pengecualian dalam hal ini. Jika engkau meminta orang untuk menangani suatu hal dan tidak membayar mereka, serta selalu berusaha mengambil keuntungan dari mereka, ini adalah perwujudan dari tidak memiliki integritas. Apa prinsip-Ku dalam hal-hal ini? Jika engkau ingin menyelesaikan sesuatu, dan rencana yang mereka berikan sesuai dan engkau mampu membayar harga yang mereka tetapkan, lakukanlah itu. Jika engkau tidak mampu membayarnya, jangan lakukan; carilah seseorang yang menawarkan harga lebih murah untuk melakukannya. Hanya lakukan apa yang mampu kaubayar. Jangan memaksakan diri di luar kemampuanmu, dan jangan memikirkan cara untuk mengambil keuntungan dari orang lain. Jika engkau tidak memiliki kemampuan finansial untuk mengurusnya, engkau bisa meminjam uang, mengambil pinjaman, atau menunggu sampai engkau mengumpulkan cukup uang untuk mengurusnya. Singkatnya, carilah jalan keluar sendiri; engkau tidak boleh mengambil keuntungan dari orang lain. Jika ini adalah profesi mereka, ketika mereka menangani sesuatu untukmu, engkau seharusnya menepati janjimu dan membayar mereka. Ini sepenuhnya wajar dan dapat dibenarkan. Tidak mengambil keuntungan dari orang lain, tidak menipu orang lain, tidak berutang kepada orang lain, tidak bertindak tanpa rasa malu, dan tidak memiliki utang, inilah yang disebut berperilaku dengan cara yang taat aturan. Ketika berada dalam kesulitan, jangan curahkan masalahmu kepada orang lain; ketika miskin, jangan mengambil keuntungan dari orang lain; ketika kaya, jangan memamerkan kekayaanmu; dan jangan berlagak karena identitas dan statusmu. Inilah prinsip-Ku dalam berinteraksi dengan orang lain dan menangani berbagai hal. Sebagai contoh, terkadang Aku akan meminta seseorang untuk menangani sesuatu. Katakanlah bahwa biasanya biayanya hanya seribu dolar, tetapi orang itu menginginkan lima ribu dolar. Meskipun Aku mampu membayarnya, Aku tidak akan terima jika ditipu seperti ini. Aku membayar sesuai dengan biaya yang biasanya dibutuhkan untuk menyelesaikan hal ini, dan Aku tidak tawar-menawar dengan orang lain. Jika Aku tidak mampu membayarnya, Aku akan mencari orang yang menawarkan harga lebih murah. Aku sama sekali tidak akan bertindak tanpa rasa malu, dan juga tidak akan berpura-pura miskin agar mereka menurunkan harga; Aku tidak pernah mengatakan hal-hal semacam itu. Aku memberikan uang sebanyak yang dibutuhkan untuk mengurus hal ini, membayar harga pasar dan bertindak sesuai dengan aturan. Seteguh ini Aku dalam berpegang pada prinsip. Ada orang-orang kaya sangat mencolok dan sombong. Mereka mengenakan barang-barang bermerek, cincin berlian, dan kalung, berdandan dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan perhiasan yang berkilauan. Selain itu, mereka mengenakan sepatu hak tinggi ke mana pun mereka pergi, dan biasanya menghindari berjalan di atas karpet, karena berpikir jika sepatu mereka tidak menimbulkan suara, itu terlalu tidak mencolok. Mereka secara khusus berjalan di atas lantai marmer atau kayu agar orang-orang menyadari kedatangan mereka. Mereka bahkan tidak melepas kacamata hitam bermereknya saat memasuki ruangan, dan mereka menyapu pandangan ke dalam ruangan itu dari ambang pintu untuk melihat siapa saja yang ada di sana, seolah-olah berkata, "Apakah engkau semua melihat bahwa sang ratu telah tiba?" Ke mana pun mereka pergi, mereka pasti berlagak terlebih dahulu. Jika Aku mengenakan kacamata hitam saat keluar rumah di musim panas, Aku segera memasukkannya ke dalam tas-Ku saat tiba di tempat tujuan-Ku, jangan sampai orang melihat-Ku mengenakan kacamata hitam dan mengira Aku sedang berlagak, yang dapat menyebabkan kesalahpahaman. Sebagian besar sepatu yang Kukenakan memiliki sol karet atau busa, dan Aku berusaha untuk tidak menimbulkan suara apa pun saat berjalan. Ketika Aku pergi ke suatu tempat untuk menangani sesuatu, jika Aku perlu membunyikan bel pintu, Aku melakukannya. Jika Aku tidak perlu membunyikan bel pintu, setelah masuk ke dalam, Aku terlebih dahulu memberi tahu resepsionis bahwa Aku memiliki janji temu dengan si anu pada jam sekian, lalu duduk di sana dan menunggu. Aku melihat beberapa orang duduk dan memainkan ponsel mereka saat tidak ada yang dilakukan. Mereka menyilangkan kaki dan mengibas-ngibaskan rambut mereka yang dikeriting, dengan tas bermerek di sebelah mereka. Mereka begitu sombong. Ke mana pun Aku pergi, Aku sangat tidak mencolok. Aku mencari tempat di sudut untuk duduk, memeluk tas di dada agar tidak direbut orang jahat. Aku berhati-hati dan tetap tidak menonjolkan diri. Saat tiba giliran-Ku, Aku segera pergi mengurus hal tersebut tanpa membuang-buang waktu, berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menarik perhatian. Aku mengikuti aturan saat menangani sesuatu dan tidak berutang kepada orang lain. Ke mana pun Aku pergi, Aku menjaga gerak-gerik-Ku tetap terkendali; Aku tidak ingin menarik perhatian siapa pun. Artinya, ke mana pun Aku pergi untuk menangani sesuatu, Aku bergerak dengan tenang, tidak pernah bersuara begitu keras seolah-olah mengumumkan kehadiran-Ku. Ketika berinteraksi dengan orang tidak percaya, jika mereka biasanya memiliki aturan tertentu dalam menangani sesuatu, Aku mengikuti aturan tersebut. Sebagai contoh, di suatu industri, aturannya adalah bahwa setelah seseorang menangani suatu hal untukmu, engkau harus mentraktirnya makan. Berdasarkan harga transaksi kami, umumnya makanannya berharga sekitar lima belas dolar, jadi Aku mentraktirnya makan dengan harga sekitar itu. Ada orang-orang yang berkata, "Karena Engkau mentraktir mereka, keluarkanlah sedikit lebih banyak uang untuk pamer." Itu tidak perlu. Apa pun aturan mereka, kita mematuhinya. Jangan bertindak berlebihan, dan jangan membuang-buang uang hanya untuk pamer. Di Barat, ketika meminta seseorang untuk mengurus sesuatu, atau mempekerjakan pekerja per jam atau buruh dan sejenisnya, sudah menjadi kebiasaan untuk memberikan tip. Beberapa industri memiliki aturan mengenai besaran tip, sementara yang lain tidak. Bagi industri yang tidak memiliki aturan semacam itu, biasanya karena kesopanan dan rasa hormat kepada pekerja tersebut, Aku memberikan tip yang wajar berdasarkan tarif mereka, kualitas pekerjaan mereka, dan sikap mereka. Jika mereka melakukan pekerjaan dengan baik, Aku akan memberi mereka tambahan lima dolar; jika pekerjaan mereka biasa-biasa saja dan Aku tidak ingin menggunakan jasa mereka lagi di masa depan, Aku tidak akan memberi mereka uang tambahan, tetapi Aku tidak akan membayar kurang dari hak mereka. Adapun dalam memberi tip, Aku tidak berlagak seperti seorang taipan dan dengan sengaja memamerkan kekayaan-Ku, mengeluarkan segenggam uang tunai dan memberikannya kepada seseorang tanpa menghitungnya. Aku tidak pernah melakukan hal-hal semacam itu. Sebaliknya, sebelum mereka mulai bekerja, Aku terlebih dahulu menyiapkan uangnya berdasarkan tarif mereka dan memberikannya saat mereka pergi. Sebagian besar orang cukup puas dengan ini. Ini juga dapat dianggap sebagai aturan dalam menangani berbagai hal di Barat. Karena ini adalah aturan, kita harus mematuhinya dan tidak boleh melanggarnya. Jika engkau baru di suatu tempat dan tidak memahami aturannya, sebaiknya engkau mencari tahu. Setelah engkau memahaminya, jangan berpura-pura tidak tahu; berusahalah sebaik mungkin untuk menangani berbagai hal sesuai dengan aturan. Tentu saja, ini bukan berarti Aku takut orang-orang menghakimi-Ku di belakang-Ku atau mengatakan bahwa Aku tidak berperilaku dengan cara yang taat aturan; ini bukan karena takut akan hal-hal tersebut. Sebaliknya, Aku merasa bahwa memang begitulah seharusnya hal itu dilakukan; itulah yang sepatutnya Kulakukan. Ada orang-orang yang berkata, "Jika Engkau mengurangi bayaran mereka sepuluh dolar, bukankah Engkau akan memiliki cukup uang untuk makanan tambahan?" Engkau tidak boleh melihatnya dengan cara seperti itu. Itu adalah hak mereka. Jika engkau memberi mereka sepuluh dolar lebih sedikit, itu sama dengan mengambil sepuluh dolar dari mereka. Menggunakan uang yang kauambil dari orang lain untuk kebutuhanmu sendiri itu tidak berhati nurani. Melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati nuranimu itu tidak sejalan dengan kemanusiaan; itu berarti tidak memiliki kemanusiaan. Jika engkau mencoba mengurangi bayaran mereka seperti itu, engkau tidak berperilaku dengan cara yang taat aturan. Berperilaku dengan cara yang taat aturan berarti, paling tidak, bertindak adil dan bicara apa adanya. Misalkan engkau bekerja di industri jasa dan perlu mengandalkan tip untuk mencari nafkah. Jika seseorang tidak memberimu tip, mengambil keuntungan darimu, bagaimana perasaanmu? Logikanya sama saja. Tidak memberi tip mungkin tidak melanggar hukum di industri tertentu, dan tidak ada yang akan menuntutmu karena hal itu, tetapi apakah hati nuranimu bisa tenang? Jika hati nuranimu tidak bisa tenang, engkau telah berutang pada hati nuranimu. Jika engkau memiliki terlalu banyak utang semacam itu dalam hidup ini, kapan engkau akan mampu melunasinya? Engkau tidak boleh berperilaku seperti ini. Mungkin engkau mengambil sedikit keuntungan dari seseorang dengan tidak memberinya tip, tetapi tidakkah engkau merasa hati nuranimu menuduhmu? Jika engkau benar-benar tidak merasakannya, benar-benar ada masalah dengan dirimu. Jika engkau mencoba mengambil keuntungan dari seseorang untuk hal sekecil itu, mungkinkah engkau mampu melakukan hal-hal yang lebih buruk lagi? Dengan mentalitas seperti itu, masih bisakah engkau menerapkan kebenaran?
Semua orang mungkin menjumpai contoh-contoh yang kita persekutukan mengenai berperilaku dengan cara yang taat aturan dalam perjalanan hidup dan kelangsungan hidup mereka. Bagi Tuhan yang berinkarnasi, hidup di tengah umat manusia ini, hal-hal ini juga tidak mungkin dihindari dan merupakan hal-hal yang harus Dia hadapi. Ketika melakukan hal-hal ini, secara keseluruhan Tuhan yang berinkarnasi dengan ketat mematuhi pedoman dan prinsip berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya. Aku sendiri bertindak persis seperti ini. Tentu saja, ketika interaksi-Ku dengan engkau semua berkaitan dengan pekerjaan gereja atau kehidupan pribadimu, jika engkau semua meminta-Ku untuk bersekutu denganmu atau berkonsultasi dengan-Ku tentang cara menangani masalah tertentu, Aku akan bersekutu dengan engkau semua secara ketat sesuai dengan pedoman-Ku tentang cara berperilaku. Entah engkau semua menerimanya atau tidak, sudut pandang-Ku serta cara dan prinsip-Ku dalam berperilaku tetap tidak berubah. Aku sama sekali tidak akan mengajarimu untuk memanfaatkan celah hukum demi mengambil keuntungan ekstra; melakukan hal itu sama sekali tidak pantas. Apa pun yang terjadi, Aku akan terlebih dahulu meminta engkau semua untuk mencari tahu dengan jelas apakah hal tersebut berkaitan dengan hukum, kebijakan, atau peraturan industri tertentu. Jika berkaitan dengan hal-hal ini, Aku akan memberitahumu untuk berkonsultasi dengan pejabat pemerintah, berkonsultasi dengan pengacara, atau mencari aturan yang relevan secara daring. Jika berkaitan dengan masalah keuangan, engkau semua seharusnya berkonsultasi dengan akuntan. Engkau harus menerapkan cara ini di negara mana pun engkau berada. Beginilah cara-Ku melakukan berbagai hal, dan Aku sama sekali tidak akan mendorongmu untuk melanggar pedoman-pedoman ini. Sebaliknya, Aku menuntutmu untuk secara ketat mematuhi hukum dan peraturan di setiap negara dengan ketat, termasuk aturan dan ketentuan di tempat umum atau industri apa pun. Jika engkau tidak mengetahuinya, engkau harus berinisiatif untuk mencari tahu dan berkonsultasi dengan orang lain tentang hal itu. Jika engkau mengetahuinya, engkau harus berusaha sebaik mungkin untuk mematuhinya. Apa pun yang ditentukan oleh aturan tersebut, begitulah seharusnya kita melakukannya. Sekalipun terkadang aturan atau hukum negara memengaruhi waktu yang kaugunakan untuk melaksanakan tugasmu, atau memengaruhi beberapa hal yang berkaitan dengan tugasmu, engkau harus tetap mematuhinya. Engkau dapat mencari cara untuk menyesuaikan waktu pelaksanaan tugasmu atau lingkungan tempatmu melaksanakannya untuk menghindari konflik dengan hukum dan peraturan negara, dan juga agar tidak berperilaku atau menyebabkan insiden yang melanggar hukum dan peraturan negara tersebut. Apakah sudah sepatutnya melakukan berbagai hal dengan cara seperti ini? (Ya.) Ini dalam satu aspek. Dalam aspek lainnya, apa pun hukum dan peraturan suatu negara, dan entah itu masuk akal atau tidak, selama hal itu ditetapkan secara eksplisit oleh pemerintah, dan selama itu berada dalam lingkup kehidupan dan keberadaan-Ku, Aku mematuhi dan menaatinya sebisa-Ku. Aku sama sekali tidak akan mengomentari atau mengkritik aspek apa pun dari hukum dan peraturan pemerintah yang tidak masuk akal atau tidak berpihak pada kepentingan orang-orang; sebaliknya, Aku mematuhi aturan apa pun yang ditetapkan pemerintah. Tentu saja, ketika Aku berbicara tentang mematuhi hukum dan peraturan pemerintah, ini tidak termasuk hukum yang melarang keyakinan beragama atau hukum yang menyangkal dan menentang Tuhan. Sebaliknya, ini mengacu pada hukum dan peraturan yang melindungi hak-hak warga negara, menjaga ketertiban sosial, dan mendorong keadilan; inilah yang seharusnya orang patuhi. Apa pun pemikiran yang orang miliki di benak mereka, mematuhi hukum dan peraturan adalah yang utama. Orang seharusnya menghormati hukum negara, serta menghormati aturan dan ketentuan industri apa pun. Jika engkau tidak dapat beradaptasi dengannya atau tidak menyukainya, engkau dapat menghindari industri ini, atau engkau dapat meninggalkan negara tersebut. Namun secara rasional, jika engkau tinggal di negara tertentu, atau berurusan dengan orang-orang di industri tertentu, engkau seharusnya mematuhi hukum negara tersebut, mematuhi ketentuan dan aturan di industri tersebut atau situasi serta lingkungan khusus tertentu, dan bahkan beberapa norma moral. Aku berusaha secara ketat mematuhi hukum, peraturan, dan ketentuan umat manusia, serta beberapa aturan dan ketentuan khusus di tempat umum, dan norma moral serta perilaku dasar umat manusia. Aku tidak pernah menonjolkan identitas dan status khusus-Ku, dan Aku juga tidak menentang hukum, peraturan, instruksi, ketentuan, dan sejenisnya. Aku tidak menantangnya atau dengan sengaja melanggarnya serta bertindak sesuka hati-Ku; sebaliknya, Aku secara ketat mematuhinya. Di balik kepatuhan-Ku yang ketat ini terdapat rasa hormat terhadap hukum, regulasi, ketentuan, dan aturan tersebut. Ini juga merupakan prinsip yang benar-benar orang terapkan dan patuhi ketika berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya. Mungkin ada orang-orang yang tidak memahami bagaimana sikap-Ku terhadap hal-hal ini; di benak mereka mungkin ada beberapa pemikiran yang tidak sejalan dengan kenyataan, atau gagasan dan imajinasi yang hampa tentang prinsip dan pedoman-Ku dalam melakukan hal-hal seperti itu. Melalui persekutuan seperti ini, apakah engkau semua menemukan sesuatu yang hampa di sini? (Tidak.) Mengatakan bahwa tidak ada yang hampa berarti bahwa sikap-Ku terhadap hal-hal ini adalah menyikapinya secara rasional dari perspektif kemanusiaan. Aku tidak menempatkan diri-Ku di posisi yang lebih tinggi, Aku tidak melihatnya dari perspektif tingkat yang ketiga dari surga, dan Aku tidak menyikapi hal-hal ini dari status khusus memiliki identitas Tuhan. Sebaliknya, Aku menyikapinya dengan cara yang sangat manusiawi dari perspektif yang rasional. Aku tidak pernah menonjolkan identitas-Ku sebagai Tuhan yang berinkarnasi dalam cara-Ku menyikapi hal-hal ini, dan Aku juga tidak pernah memanfaatkan identitas ini untuk memandang semua itu dengan sikap merendahkan. Aku tidak pernah menantang hal-hal ini, dan Aku tidak mengacaukan hukum serta peraturan negara atau aturan industri mana pun. Sebaliknya, Aku secara ketat mematuhi hukum, peraturan, ketentuan, dan hal-hal lain semacam itu dengan taat dan sebagaimana mestinya. Bahkan yang lebih nyata, dalam hal berinteraksi dengan orang lain, Aku juga mematuhi prinsip yang sangat manusiawi.
Kita telah mempersekutukan beberapa perwujudan Tuhan yang berinkarnasi dalam berperilaku dengan cara yang taat aturan. Ini mungkin hal-hal yang tidak pernah engkau semua pikirkan, atau hal-hal yang tidak pernah engkau semua anggap serius; engkau semua mungkin memiliki ide yang sangat hampa tentang hal-hal ini; atau, ketika melihat, mengalami, atau mendengar tentang hal-hal ini, engkau semua mungkin sama sekali mengabaikannya. Namun, hal-hal ini adalah cerminan dari kenormalan dan kenyataan, serta kerendahhatian dan ketersembunyian, yang diwujudkan oleh daging inkarnasi Tuhan. Selain itu, hal-hal ini juga merupakan perwujudan yang paling normal dan nyata dari cara-Nya berperilaku ketika Roh Tuhan mengenakan daging dan datang ke tengah-tengah manusia. Melalui perwujudan-perwujudan ini, orang dapat lebih memahami bagaimana Tuhan yang di surga memandang, menyikapi, dan menangani persoalan tentang cara berperilaku dan menjadi anggota umat manusia. Pedoman dan prinsip cara berperilaku ini memungkinkan orang untuk melihat dan mengetahui bahwa Tuhan tidak melakukan apa pun secara hampa, bahwa Dia melakukan segala sesuatu secara nyata, dan Dia bertindak sesuai dengan prinsip dengan cara yang nyata, mematuhi hukum dan peraturan umat manusia, maupun aturan di berbagai bidang dalam masyarakat manusia. Sambil mematuhi hukum dan peraturan ini, Tuhan yang berinkarnasi juga harus melaksanakan pelayanan-Nya dan melakukan pekerjaan yang hendak Dia lakukan. Entah Dia menghidupi kemanusiaan yang normal, atau Dia melakukan pekerjaan keilahian, tak satu pun dari hal-hal ini bertentangan atau berlawanan satu sama lain. Pedoman dan prinsip cara berperilaku yang diperlihatkan oleh Tuhan dalam kehidupan manusia normal-Nya menampilkan kenormalan dan kenyataan Tuhan yang berinkarnasi; ini adalah satu aspek. Aspek lainnya, Dia menghidupi kemanusiaan yang normal—yang memiliki hati nurani dan nalar—yang seharusnya dimiliki oleh Roh Tuhan dalam menjadi manusia atau mengenakan daging di antara manusia. Meskipun cara hidup ini sering kali tampak tidak berkaitan dengan pelayanan yang dilaksanakan oleh Tuhan yang berinkarnasi dalam keilahian-Nya, pedoman dan prinsip yang Tuhan patuhi dalam menghidupi kemanusiaan sama dengan esensi kebenaran, watak Tuhan, dan tuntutan-Nya terhadap umat manusia yang diungkapkan dalam pekerjaan ilahi-Nya. Prinsip-prinsip cara berperilaku yang dipatuhi oleh Tuhan yang berinkarnasi dalam kehidupan manusia-Nya adalah berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya. Dengan demikian, prinsip-prinsip kerja yang Dia patuhi ketika melakukan pekerjaan-Nya dalam keilahian pada dasarnya sama: Dia berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya; prinsip-prinsip tersebut tidak berubah. Oleh karena itu, sejauh menyangkut Tuhan yang berinkarnasi, kemanusiaan dan keilahian-Nya tidak pernah terpisah; keduanya sepenuhnya bersatu. Keilahian-Nya dapat diungkapkan melalui kemanusiaan-Nya, dan kemanusiaan-Nya adalah perwujudan dari sebagian keilahian-Nya. Oleh karena itu, ketika Tuhan yang berinkarnasi hidup di antara umat manusia, kemanusiaan dan keilahian-Nya yang dapat orang lihat selama periode ini tidak terputus atau terpisah; keduanya bersatu. Cara hidup kemanusiaan-Nya serta pedoman dan prinsip dalam cara-Nya berperilaku, sampai batas tertentu, diawasi, dipengaruhi, dan diarahkan oleh Roh Tuhan. Di sisi lain, dapat juga dikatakan bahwa Dia menghidupi kemanusiaan normal-Nya yang memiliki hati nurani dan nalar. Hanya dengan kemanusiaan semacam itulah daging inkarnasi Tuhan dapat memikul keseluruhan pekerjaan ilahi-Nya, pekerjaan yang seharusnya Dia lakukan dalam keilahian-Nya; hanya dengan kemanusiaan semacam itulah daging inkarnasi Tuhan dapat memenuhi pelayanan yang harus Dia laksanakan, dan melaksanakannya dengan baik. Ini adalah satu pemahaman. Pemahaman lainnya adalah bahwa pelayanan yang dilaksanakan oleh Tuhan yang berinkarnasi dicapai melalui kemanusiaan yang memiliki kenormalan dan kenyataan seperti itu. Bagaimanapun juga, esensi kemanusiaan dan keilahian Tuhan yang berinkarnasi sama-sama membentuk Tuhan yang berinkarnasi, yang memiliki identitas khusus Kristus. Oleh karena itu, pedoman dan prinsip dalam cara berperilaku kemanusiaan Tuhan yang berinkarnasi yang kaulihat, hingga perwujudan, sikap, dan sudut pandang-Nya yang spesifik dalam segala hal yang Dia lakukan, adalah bagian dari kemanusiaan-Nya, dan tentu saja, dapat juga dikatakan sebagai bagian dari keilahian-Nya. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Artinya, ketika engkau melihat kemanusiaan semacam itu dalam diri Tuhan yang berinkarnasi, engkau seharusnya yakin bahwa Dia adalah daging yang dikenakan oleh Tuhan. Tentu saja, ketika engkau bersentuhan dengan kebenaran yang diungkapkan oleh Tuhan, sambil mengakui bahwa Tuhan yang berinkarnasi memiliki keilahian, engkau juga seharusnya mengakui bahwa kemanusiaan-Nya adalah bagian dari Tuhan yang berinkarnasi, yang memiliki identitas khusus. Bagaimanapun juga, pada akhirnya orang diizinkan untuk melihat sisi normal dan nyata dari Tuhan yang berinkarnasi ini serta pedoman dan prinsip cara berperilaku yang Dia hidupi, karena ini berkaitan dengan banyak hal yang dihadapi daging Tuhan dalam keberadaan dan kehidupan-Nya. Meskipun perwujudan nyata dalam kehidupan manusia Tuhan yang berinkarnasi ini tidak mencapai tingkat pelayanan yang Dia laksanakan atau perbekalan-Nya akan kebenaran, jalan, dan hidup bagi orang-orang, prinsip dan pedoman cara berperilaku ini tidak terputus dari keilahian di dalam diri Tuhan yang berinkarnasi. Justru karena daging ini adalah daging inkarnasi Tuhan dan daging yang dikenakan oleh Roh Tuhan, kemanusiaan normal dari Tuhan yang berinkarnasi ini dapat memiliki pedoman dan prinsip cara berperilaku seperti ini. Yang tersirat dari hal ini adalah bahwa sangat sulit bagi anggota umat manusia yang rusak, atau siapa pun di antara umat manusia yang rusak yang memiliki latar belakang, identitas, nilai sosial, dan status mulia yang menguntungkan, untuk berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya; tidak ada seorang pun yang terkecuali. Oleh karena itu, aspek kenormalan dan kenyataan ini adalah apa yang dimiliki kemanusiaan Tuhan yang berinkarnasi dan apa itu, dan tentu saja, ini juga merupakan bagian dari apa yang dimiliki keilahian Tuhan yang berinkarnasi dan apa itu; hanya saja Dia mengungkapkan dan menyingkapkannya melalui kemanusiaan-Nya. Jika Tuhan yang berinkarnasi menyombongkan diri ke mana pun Dia pergi, selalu menegaskan status-Nya, berbicara dengan muluk-muluk, merasa diri-Nya mulia, memandang rendah semua orang dan bersikap tinggi hati dan sok kuasa, serta selalu ingin menginjak-injak semua orang; jika Dia mengutuk siapa pun yang tidak sujud menyembah, mengubah mereka menjadi abu, menghabisi mereka seketika, atau membunuh mereka dengan tatapan tajam-Nya, maka akan sulit untuk mengatakan apakah Dia benar-benar memiliki esensi keilahian di dalam diri-Nya. Di satu sisi, Tuhan yang berinkarnasi memiliki hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal untuk mempertahankan seluruh kehidupan, perkataan, dan perbuatan daging-Nya. Di sisi lain, keilahian-Nya juga bekerja di dalam diri-Nya, karena bagaimanapun juga, keilahian adalah kehidupan-Nya yang sejati. Seandainya kemanusiaan-Nya sama-sama congkak dan merasa diri benar seperti kemanusiaan umat manusia yang rusak, akankah kaukatakan bahwa orang ini adalah Tuhan yang berinkarnasi? (Tidak.) Misalkan orang selalu memiliki perwujudan supernatural, selalu berpikir bahwa mereka adalah makhluk surgawi yang turun ke bumi, selalu memiliki perasaan ini, dan selalu berbicara kepada orang lain dari tempat yang tinggi, membuat orang lain mengagumi perkataan dan perbuatan mereka. Misalkan mereka selalu memiliki pemikiran supernatural dan transenden di dalam hati mereka, dalam sekilas mampu mengetahui apa yang terjadi dalam kehidupan masa lalu seseorang, kejahatan apa yang telah dia lakukan, hal-hal apa yang telah dia lakukan, atau berapa kali dia telah bereinkarnasi sebagai manusia atau binatang. Selain itu, misalkan orang ini selalu merasa bahwa dia sangat mulia, selalu memiliki perwujudan supernatural saat berbicara, dan disertai dengan tanda serta mukjizat, membuat orang merasa bahwa mereka istimewa. Orang semacam itu tidak normal. Di satu sisi, watak hidup di dalam diri mereka tidak normal; di sisi lain, kehidupan di dalam diri mereka bukanlah kehidupan keilahian. Inilah satu-satunya cara untuk mengatakannya.
Baik itu pedoman bagi cara-Nya berperilaku maupun prinsip-Nya dalam menangani berbagai hal, segala sesuatu yang diperlihatkan dan dihidupi oleh Tuhan yang berinkarnasi sangatlah normal dan nyata. Lihatlah hal-hal yang telah Kukatakan dan hal-hal yang Kulakukan dalam kehidupan-Ku. Adakah di antaranya yang tidak normal? Adakah di antaranya yang supernatural atau tidak biasa? (Tidak.) Apa pun yang sedang Kutangani, engkau tidak akan menemukan apa pun yang tidak biasa tentang-Ku. Aku bukanlah orang yang tidak biasa; Aku hanyalah orang normal. Selain itu, pemikiran, pandangan, cara berpikir, dan logika-Ku dalam menangani setiap hal tidak menyimpang, ekstrem, ataupun supernatural. Aku tenang dan tidak mudah tersulut emosi ketika berinteraksi dan bergaul dengan orang lain. Jika orang bersedia berinteraksi dengan-Ku, Aku pun berinteraksi dengan mereka; jika tidak, Aku tidak memaksakan diri untuk mendekati mereka. Apakah menurutmu cara berpikir-Ku normal dalam hal berinteraksi dengan orang-orang, menangani berbagai hal, melakukan segala macam hal, dan dalam cara-Ku berperilaku? (Ya.) Semuanya normal. Aku tidak pernah menyerukan kepada engkau semua atau menghasutmu untuk menentang pemerintah negara mana pun, dan Aku juga tidak pernah mengatakan kepadamu sesuatu seperti: "Orang yang percaya kepada Tuhan semuanya berasal dari Tuhan; engkau semua berasal dari tingkat yang ketiga dari surga. Jangan takut pada dunia ini; injak-injak dunia ini di bawah kakimu! Engkau semua adalah anak-anak laki-laki yang penuh kemenangan; ambillah tongkat besi untuk memerintah dunia ini dan memerintah umat manusia ini. Segala sesuatu ada di bawah kakimu!" Pernahkah Aku berkata demikian? (Tidak.) Apa yang telah Kukatakan? Bahwa engkau semua harus taat aturan dalam segala sesuatu yang kaulakukan. Di negara mana pun engkau percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugasmu, engkau harus mematuhi hukum dan melakukan segala sesuatu sesuai dengan peraturan pemerintah. Engkau sama sekali tidak boleh bertindak gegabah dan sewenang-wenang; engkau harus berhati-hati dan janganlah hidup dengan tak terkendali. Jika engkau melanggar hukum dan peraturan pemerintah, begitu ada pengaduan yang diajukan terhadapmu, itu akan memengaruhi pelaksanaan tugasmu. Aku terus-menerus mengingatkan tentang hal ini. Meskipun kedengarannya agak biasa, ini sangat nyata, karena engkau semua memiliki terlalu sedikit pengalaman hidup dan kurang wawasan, serta sangat cenderung melakukan kesalahan. Engkau adalah orang yang percaya kepada Tuhan. Tujuanmu pergi ke berbagai negara untuk melaksanakan tugasmu adalah demi mengikuti kehendak Tuhan dan memberi kesaksian bagi Tuhan, bukan untuk menentang negara mana pun atau partai penguasa mana pun. Engkau hanyalah makhluk ciptaan yang melaksanakan tugasmu; engkau seharusnya tunduk sepenuhnya pada kekuasaan Sang Pencipta, dan engkau seharusnya tunduk pada bagaimana pun pengaturan dan penataan Tuhan atas segala sesuatu. Ke negara mana pun engkau pergi, di lingkungan seperti apa pun engkau tinggal, atau di rumah saudara-saudari mana pun engkau menginap, engkau harus taat aturan, membantu sebanyak mungkin. Selain itu, engkau harus mematuhi hukum dan peraturan apa pun yang dimiliki negara tersebut. Aku berulang kali menasihati engkau semua agar tidak melanggar aturan dan jangan sampai ada pengaduan terhadapmu. Jika ada pengaduan terhadapmu, engkau seharusnya mencari tahu kesalahan apa yang telah kaulakukan, peraturan apa yang telah kaulanggar, dan mengapa pengaduan itu diajukan. Petiklah pelajaran agar hal itu tidak terjadi lagi. Jika engkau tidak memetik pelajaran, akan terus ada pengaduan yang diajukan terhadapmu. Semua perkataan-Ku dalam hal ini adalah solusi masalah berdasarkan kondisi yang sebenarnya. Aku memberitahumu bagaimana menjalani hidup, bagaimana bertahan hidup, dan bagaimana mematuhi aturan, agar tidak membawa masalah yang tidak perlu pada kehidupan serta kelangsungan hidupmu sendiri. Ke negara mana pun engkau pergi, engkau berada di sana untuk melaksanakan tugasmu. Pertama, engkau harus berbaur dengan negara tersebut dan mematuhi hukum serta peraturannya. Engkau tidak boleh mengacaukan tatanan mereka yang sudah ada atau membawa masalah apa pun bagi mereka. Hanya dengan demikian, mereka akan menerimamu dan memperlakukanmu sebagai bagian dari negara tersebut, dan hanya dengan cara ini, engkau dapat dengan tenang melaksanakan tugasmu. Jika engkau bahkan tidak mematuhi aturan setempat, dan melakukan hal-hal yang melanggar aturan, menyebabkan orang-orang terus-menerus mengeluh dan membuat masalah bagimu, sampai pada titik di mana mereka bahkan muak terhadapmu dan tidak ingin engkau tinggal di sana lagi, lalu bagaimana engkau bisa bermimpi untuk melaksanakan tugasmu? Di mana pun engkau tinggal, engkau harus mematuhi hukum dan peraturan setempat. Katakan kepada-Ku, apakah menerapkan cara ini benar? Apakah ini bermanfaat bagi engkau semua dalam melaksanakan tugasmu? (Ya.) Menerapkan cara ini sangatlah nyata. Mematuhi hukum dan peraturan adalah pengetahuan dasar dalam kehidupan nyata. Ini bukan membesar-besarkan masalah sepele, apalagi bersikap terlalu sensitif; ini adalah prinsip yang harus kaupatuhi dalam kehidupan nyata. Jika terjadi sesuatu atau muncul masalah, kita membahas cara terbaik untuk menyelesaikannya dan bagaimana memetik pelajaran darinya sehingga engkau dapat berusaha untuk lebih sedikit melakukan kesalahan atau menghindarinya sama sekali di masa depan, serta menjadi orang yang berperilaku dengan cara yang taat aturan dan sebagaimana mestinya. Ada orang-orang yang tidak mematuhi aturan di mana pun mereka berada. Mereka membuang sampah sembarangan, dan terkadang mereka membuat keributan serta mengganggu istirahat para tetangga. Bagaikan binatang buas yang memasuki sebuah desa, mereka memengaruhi dan mengganggu lingkungan masyarakat, membuat orang lain memandang rendah dan sangat tidak suka terhadap mereka di mana pun mereka berada. Aku memberi tahu orang-orang ini bahwa mereka seharusnya dengan ketat mematuhi hukum dan peraturan setempat, dan bahwa mereka harus mengikuti aturan, dan bahwa hanya dengan berperilaku dengan cara seperti ini, barulah orang memiliki kemanusiaan yang normal. Katakan kepada-Ku, apakah cara berpikir-Ku dan titik tolak-Ku dalam menangani hal-hal ini benar? (Ya.) Aku tidak melakukan hal-hal yang luhur dan agung, atau abstrak, atau transenden, atau tidak biasa. Aku hanya mengoreksi dan mengarahkan orang-orang mengenai hal-hal kecil dalam kehidupan mereka ini, serta kesalahan dan kekurangan yang muncul dalam kehidupan mereka, menunjukkan dan memperbaiki masalah mereka serta memberi mereka kiat-kiat. Bagi Tuhan yang berinkarnasi, apakah berperilaku dengan cara ini nyata? (Ya.) Ini sangat nyata! Menangani hal-hal ini sama sekali tidak hampa, dan sama sekali tidak terlepas dari kehidupan nyata. Jadi, baik melihatnya dari pedoman dan prinsip cara berperilaku dan melakukan berbagai hal yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari Tuhan yang berinkarnasi, maupun dari kebenaran yang Dia persekutukan dalam pelayanan yang Dia laksanakan, kedua aspek tersebut sangatlah normal dan nyata. Kedua aspek tersebut merupakan hal-hal yang dapat dipahami, dimengerti, diterima, dan dicapai oleh orang yang memiliki cara berpikir normal, yang mencintai hal-hal positif, dan yang memiliki hati nurani serta nalar. Tak satu pun dari aspek tersebut terlepas dari kehidupan nyata sama sekali; inilah yang disebut normal dan nyata.
Apakah hal-hal sepele dalam kehidupan yang baru saja Kusebutkan ini berkaitan dengan prinsip tentang cara berperilaku dan melakukan segala sesuatu? Apakah hal-hal tersebut bermanfaat bagi engkau semua? (Ya.) Kalau begitu, mari kita lanjutkan. Suatu kali, pipa air pada sistem penyiram rumput di halaman kami sempat pecah, dan air yang bocor mengalir ke halaman tetangga. Aku menyuruh seseorang untuk segera memberi tahu tetangga tersebut dan melihat apakah kami perlu membersihkannya untuk dia. Tetangga itu agak tidak senang melihat begitu banyak air yang membanjiri, tetapi karena kami berinisiatif untuk memberitahunya, dia tidak terlalu mempermasalahkannya demi kesopanan. Kemudian, saat Natal, kami memberinya sekotak cokelat sebagai permintaan maaf. Dia cukup terkejut sekaligus senang, serta berpesan agar kami tidak perlu sungkan untuk datang dan meminta bantuan jika kami membutuhkannya. Menjelang petang, dia bahkan membawa anaknya untuk memberi kami sekeranjang buah, sambil berkata, "Selamat hari raya! Terima kasih atas hadiahnya, dan selamat datang di komunitas kami!" Kami berbasa-basi sebentar, lalu mereka pergi. Menurut-Ku, penanganan masalah dengan cara ini cukup baik; jika kita bergaul dengan tetangga kita seperti ini, seharusnya hubungannya tidak terlalu buruk. Ini adalah memberi hadiah kepada pihak lain sebagai permintaan maaf demi mencairkan hubungan atau meredakan situasi ketika terjadi sesuatu, suatu pertukaran budi baik yang sederhana. Tentu saja, mereka tidak menerima hadiahmu secara cuma-cuma dan mengambil keuntungan darimu; mereka memberikan balasan. Engkau lihat, orang Barat sangat memperhatikan hal seperti ini. Ketika memberi hadiah, mereka sangat tulus. Tidak masalah apakah hadiahnya mahal; yang terpenting adalah hati mereka sangat tulus. Bertukar budi baik dan menangani masalah dengan cara ini cukup tepat. Tentu saja, ada latar belakang dalam menangani hal semacam ini. Ketika tidak terjadi apa pun, tidak perlu mencari muka kepada siapa pun tanpa alasan, berinisiatif membuatkan makanan Tionghoa untuk mereka atau memberi mereka hadiah, demi menjaga hubungan dengan mereka. Tidak perlu melakukan ini. Dalam interaksi normal, sekadar menyapa mereka saat bertemu dan hidup berdampingan secara damai sudah cukup. Namun, ketika suatu masalah muncul—sebagai contoh, jika engkau melakukan sesuatu yang salah dan perlu meminta maaf—maka pergilah meminta maaf. Hal ini dilakukan berdasarkan rasionalitas kemanusiaan yang normal; itu sama sekali tidak berlebihan atau bersikap sok. Katakan kepada-Ku, apakah menanganinya dengan cara ini tepat? Apakah itu sesuai dengan prinsip? (Ya.) Ini bukanlah bersikap menghamba, juga bukan bersikap congkak dan sombong. Engkau tidak bertindak superior, tetapi engkau juga menjaga martabatmu. Ada orang-orang yang berpikir, "Orang Barat suka makan makanan Tionghoa. Agar mereka tidak mengajukan keluhan terhadap kita jika kita melanggar beberapa aturan di masa depan, mari kita buatkan mereka pangsit dan beri mereka beberapa makanan ringan." Cari muka tanpa alasan. Katakan kepada-Ku, pantaskah melakukan hal ini? (Tidak.) Di satu sisi, tidak ada yang tahu apakah makanan yang kaubuat rasanya seperti berasal dari restoran asli dan apakah pihak lain bahkan akan bersedia memakannya. Selain itu, mereka juga tidak mengenalmu dengan baik. Jika engkau memberi mereka makanan yang kaubuat sendiri, apakah mereka akan memercayaimu? Di sisi lain, untuk apa engkau memberi mereka hadiah ketika tidak ada hal khusus yang terjadi? Apakah mereka mengenalmu dengan baik? Apakah engkau memiliki hubungan atau pertemanan dengan mereka? Tidak, jadi bukankah selalu berusaha memberi mereka makanan Tionghoa itu perbuatan orang gila? (Ya.) Bukankah hal itu akan membuat orang merasa jengkel? (Ya.) Lihatlah prinsip-prinsip-Ku dalam berinteraksi dengan tetangga. Apakah pemikiran-Ku normal? Apakah Aku menerapkan prinsip-prinsip itu secara akurat dan tepat? (Ya.) Apakah Aku memiliki perwujudan logika berpikir yang kacau? (Tidak.) Interaksi-Ku dengan orang-orang semuanya normal. Dalam situasi normal, Aku tidak pernah memberi orang hadiah. Jika seseorang benar-benar membantu-Ku, Aku akan memberinya sesuatu untuk mengungkapkan rasa terima kasih-Ku. Berinteraksi dengan orang dengan cara ini adalah tepat. Ini adalah bersikap normal dan nyata, dan ini juga adalah berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya. Kebanyakan orang tidak memahami prinsip-prinsip ini; ini disebut bodoh dan tidak tahu apa-apa. Bukankah engkau semua setuju? (Ya.) Ada orang-orang yang memperlihatkan kebodohan mereka dalam cara mereka melakukan berbagai hal. Mereka selalu memberi orang hadiah dan mencari muka tanpa alasan, dan ketika melihat ini, orang lain berpikir ada yang salah dengan mereka. Aku tidak melakukan hal ini. Aku tidak berusaha mencari muka kepada orang-orang. Aku memiliki martabat, dan Aku memiliki prinsip-prinsip-Ku dalam melakukan segala sesuatu. Ketika suatu masalah benar-benar muncul, Aku bertindak sesuai prinsip. Aku mematuhi aturan, Aku memiliki batasan, dan cara berpikir-Ku logis, sejalan dengan pemikiran normal, dan sejalan dengan rasionalitas. Ada banyak detail mengenai aspek kenormalan dan kenyataan Tuhan yang berinkarnasi ini, tetapi tidak perlu membahas banyak hal secara terperinci. Singkatnya, pemikiran-Nya dalam hal ini pasti normal.
Aku tidak pernah memperkenalkan diri-Ku ketika berinteraksi dengan orang-orang; bahkan ketika bertemu dengan saudara-saudari, Aku tidak pernah memperkenalkan diri-Ku. Dalam interaksi-Ku dengan orang-orang, Aku tidak pernah bersikap sok sebagai Tuhan yang berinkarnasi. Apakah menurutmu ini perwujudan yang normal dan nyata dari berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya? (Ya.) Sebagai contoh, ada saudara-saudari yang berkata, "Engkau adalah Tuhan, Engkau adalah Sang Pencipta. Merupakan kehormatan bagi siapa pun untuk melakukan sesuatu bagi-Mu. Jika mereka tidak melakukannya dengan baik, mereka mencari mati!" Ketika Aku bertemu dengan orang-orang semacam itu, Aku berkata, "Menjauhlah dari-Ku! Apa gunanya mengatakan hal-hal itu? Sekalipun saudara-saudari melakukan sesuatu untuk-Ku, Aku tidak mengajukan tuntutan semacam itu terhadap mereka." Dengan siapa pun Aku berinteraksi, Aku tidak pernah memberi tahu mereka identitas-Ku. Katakan kepada-Ku, apakah ini perwujudan dari pemikiran yang normal dan kemanusiaan yang normal? (Ya.) Engkau lihat, orang gila akan selalu memperkenalkan diri mereka, dengan berkata, "Aku adalah Kaisar Langit! Aku adalah Ibu Suri dari Barat yang turun ke bumi! Aku datang dari surga. Jika kalian para kroco tidak mendengarkanku, aku akan memusnahkan kalian!" Akan menjadi apakah orang seperti ini? (Iblis dan setan.) Mereka akan menjadi Iblis dan setan. Dalam istilah manusia, mereka akan disebut orang yang sakit jiwa, seseorang yang tidak memiliki rasionalitas yang normal. Apakah orang yang tidak memiliki rasionalitas yang normal akan berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya? (Tidak.) Engkau hanya dapat berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya jika engkau setidaknya memiliki hati nurani yang telah optimal dan rasionalitas yang standar. Karena Tuhan yang berinkarnasi memiliki kemanusiaan yang normal, perilaku dan tindakan-Nya diatur oleh hati nurani serta nalar dari kemanusiaan yang normal, dan Dia secara alami hidup dalam kemanusiaan yang normal yang memiliki hati nurani dan rasionalitas; oleh karena itu, dalam berperilaku dan melakukan segala sesuatu, Dia dengan ketat mematuhi prinsip berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya. Jika ada orang-orang tidak percaya yang mengacaukan urusan pribadi-Ku, atau dengan sengaja menipu-Ku, atau dengan sengaja merusak barang-barang, Aku memetik pelajaran dari hal ini dan tidak pernah lagi menggunakan mereka. Mengenai orang-orang tidak percaya, semanis apa pun perkataan mereka, Aku harus waspada; jika Aku tidak berhati-hati, Aku akan termakan tipu daya mereka. Ada terlalu banyak penipu di dunia ini. Mereka tidak peduli siapa dirimu; asalkan mereka dapat menipumu, mereka akan melakukannya. Di alam roh, Iblis dan setan-setan dengan jelas melihat bahwa Tuhan berdaulat atas segala sesuatu, dan melihat kemahakuasaan Tuhan serta esensi Tuhan, tetapi mereka tidak pernah menghormati Tuhan, takut akan Tuhan, ataupun mengakui identitas dan esensi Tuhan. Sekarang setelah Tuhan menjadi daging, katakan kepada-Ku, siapa di antara umat manusia yang dirusak oleh Iblis yang mampu mengakui Tuhan dan tunduk kepada-Nya? Bahkan orang-orang yang percaya kepada Tuhan pun tidak sepenuhnya mengakui-Nya, apalagi tunduk kepada-Nya. Ada orang-orang yang berkata bahwa mereka akan bersujud dan menyembah di hadapan Tuhan. Mereka tidak keberatan berlutut di hadapan surga, berlutut di hadapan salib, berlutut di hadapan nama Yahweh, atau berlutut di hadapan lukisan Tuhan Yesus, tetapi di dalam hatinya, mereka merasa berat jika harus berlutut kepada-Ku, manusia ini: "Apakah engkau yang kupercaya? Engkau tidak tampak seperti tuhan! Jika aku berlutut di hadapanmu, bukankah aku merendahkan diriku sendiri? Aku bisa berlutut di hadapan langit, bumi, dan orang tuaku. Bagaimana mungkin aku berlutut di hadapan orang kecil sepertimu? Terutama karena engkau seorang wanita, penampilanmu biasa saja, engkau tidak terkenal, dan engkau tidak memiliki status atau prestise di dunia. Mengapa aku harus berlutut di hadapanmu?" Di dalam hatinya, mereka merasa tidak nyaman. Ketika mereka ingin berlutut, mereka ragu-ragu, dan bahkan sebelum mereka berlutut, mereka berdiri lagi, tidak bersedia dan enggan. Aku berkata, "Jangan berlutut di hadapan-Ku. Jika engkau ingin berlutut, berlututlah di hadapan Tuhan yang di surga. Aku tidak membutuhkanmu untuk berlutut di hadapan-Ku; Aku tidak dapat menerimanya. Aku tidak memiliki kuasa sebesar itu sehingga Aku dapat membawamu ke udara dan membawamu ke tingkat yang ketiga dari surga. Aku hanyalah orang biasa. Aku membawamu, manusia yang rusak, ke hadapan Tuhan. Kemudian, Aku memberitahumu kebenaran-kebenaran yang Kuketahui dan Kupahami untuk kauterapkan, agar engkau dapat memperoleh keselamatan, sepenuhnya mengubahmu menjadi makhluk ciptaan yang standar dan kemudian mengembalikanmu kepada Sang Pencipta. Inilah tanggung jawab-Ku dan pelayanan-Ku. Bagi engkau semua, hanya itulah kegunaan-Ku. Aku tidak mencapai apa pun yang layak dipuji sehubungan dengan dirimu, maupun dengan Tuhan yang di surga. Aku hanyalah orang biasa yang telah melakukan hal-hal yang seharusnya Kulakukan, mengucapkan firman yang seharusnya Kuucapkan, dan melakukan pekerjaan yang seharusnya Kulakukan. Entah di dalam hatimu engkau bersedia, dari perspektif kemanusiaan-Ku, Aku sama sekali tidak bersedia menerima sujud dan sembahmu. Terlebih lagi, di dalam hatimu, engkau tidak bersedia dan menentang, jadi Aku makin tidak dapat menerimanya." Engkau lihat, apakah pemikiran-Ku normal? Dilihat dari aspek kemanusiaan mana pun, ini adalah perwujudan dari pemikiran yang normal. Karena Tuhan yang berinkarnasi hidup dalam kemanusiaan yang normal, dan hidup seperti orang biasa dalam kehidupan nyata, serta tidak luar biasa, cara Dia memperlakukan dan menangani berbagai hal sebagian besar diatur oleh hati nurani dan nalar kemanusiaan-Nya. Ini menyebabkan banyak orang mengembangkan gagasan; mereka berpikir, "Bukankah Dia hanyalah orang yang biasa dan normal?" Sekalipun orang mengakui inkarnasi dan menerima pekerjaan Tuhan, di dalam hatinya, mereka tidak ingin berlutut dan menyembah orang ini ataupun tunduk kepada-Nya. Sebenarnya, berbicara dari hati-Ku, Aku tidak ingin menerima sujud dan sembahmu, karena Aku memiliki martabat dan rasionalitas. Jangankan engkau enggan, sekalipun engkau bersedia berlutut dan menyembah-Ku, Aku tidak akan bersedia menerimanya. Apa artinya? Artinya, di dalam hati nurani dan nalar kemanusiaan Tuhan yang berinkarnasi ini, juga terdapat rasa malu. Apa arti memiliki rasa malu? Artinya, jika seseorang berkata, "Aku enggan berlutut dan menyembah orang ini; aku agak tidak rela di dalam hatiku"; atau jika seseorang hidup dalam keadaan bingung; atau jika seseorang berlutut dan menyembah sambil dipenuhi dengan imajinasi tentang Tuhan, akan Kukatakan bahwa sujud dan sembah semacam ini semuanya tidak sah. Aku tidak membutuhkan ritual seperti ini. Engkau semua sama sekali tidak boleh melakukan ritualisme semacam itu. Sekalipun engkau berlutut di hadapan-Ku, Aku akan merasa malu untuk menerimanya. Jika engkau bersikeras berlutut di hadapan-Ku, haruskah Aku berkata "Diberkatilah engkau" atau "Terima kasih"? Aku benar-benar tidak akan tahu harus berkata apa. Mengapa? Saat ini engkau bahkan tidak jelas tentang situasimu sendiri dalam berbagai aspek, tetapi engkau masih mencoba berlutut dan menyembah-Ku. Aku benar-benar tidak dapat menerimanya. Aku tidak tahu apakah engkau benar-benar menyembah Tuhan. Jika Aku mencoba menerimamu sebagai orang yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, engkau benar-benar tidak akan memenuhi standar. Jadi, hal ini pun terhenti di sini. Ini sangat memalukan. Aku masih belum jelas sebagai apa Aku harus menerimamu atau apa yang pantas untuk dikatakan kepadamu, jadi di dalam hati, Aku sangat menentang hal ini. Engkau semua sama sekali tidak boleh berlutut dan menyembah-Ku. Aku tidak membutuhkannya, dan Aku tidak menyukainya. Jika engkau semua perlu memahami aspek kebenaran apa pun atau membutuhkan aspek apa pun dari prinsip-prinsip tentang cara berperilaku dan melakukan segala sesuatu, Aku dapat mempersekutukannya. Namun, jika engkau semua ingin melakukan formalitas ini, sebaiknya jangan melakukannya, setidaknya tidak sekarang. Sebelum di dalam hatimu engkau semua memiliki ketundukan sejati kepada Tuhan dan sebelum engkau semua menempuh jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, jangan lakukan ini. Jangan melakukan formalitas ini. Melakukan hal ini tidaklah baik. Ini akan membuat situasi menjadi canggung bagi kita berdua. Sebaiknya jangan melakukan hal ini. Melakukan ritualisme semacam itu tidak ada gunanya.
Dalam mempersekutukan persoalan gagasan dan imajinasi orang tentang Tuhan yang berinkarnasi, Aku memberikan banyak contoh yang berkaitan dengan kenormalan dan kenyataan Tuhan yang berinkarnasi. Dalam contoh-contoh ini, engkau semua dapat melihat bahwa Tuhan yang berinkarnasi tidaklah luar biasa, transenden, supernatural, ataupun tidak lazim. Hal-hal ini dan hal-hal lain semacam itulah yang seharusnya orang pahami mengenai kenormalan, kenyataan, kerendahhatian, dan ketersembunyian Tuhan yang berinkarnasi. Apa yang dihidupi-Nya, serta pedoman dan prinsip-prinsip-Nya tentang cara berperilaku, semuanya sangat nyata dan sangat normal, dan ketika Dia menghadapi berbagai hal, Dia juga mampu bersabar dan bertoleransi. Apa pun yang Dia lakukan, segala sesuatu yang dihidupi dan diperlihatkan oleh Tuhan yang berinkarnasi dalam kehidupan-Nya mencerminkan bahwa terdapat sisi nyata dalam cara berperilaku daging inkarnasi Tuhan. Artinya, bagaimana Dia menghadapi berbagai hal dan menangani berbagai masalah, itu sepenuhnya didasarkan pada pedoman dan prinsip-prinsip-Nya tentang cara berperilaku, yaitu berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya. Beberapa tahun yang lalu, anak tetangga kami akan masuk perguruan tinggi, dan mereka mengadakan pesta di halaman untuk merayakannya, bernyanyi dan menari. Mereka masih bernyanyi dengan mikrofon pada pukul satu atau dua pagi, dan banyak tetangga di sekitar bisa mendengarnya dengan jelas. Orang Barat suka mengajukan keluhan, tetapi dalam situasi ini, tak seorang pun mengajukan keluhan, karena kami semua sudah bertetangga selama bertahun-tahun pada saat itu. Semua orang merasa, "Anak-anak itu sudah bersekolah selama bertahun-tahun, dan jarang mereka bisa bersantai, jadi biarkan mereka bersenang-senang. Terganggu seperti ini sesekali dan tidak tidur nyenyak selama satu malam bukanlah masalah besar. Anggap saja bergadang." Apakah pemikiran seperti ini normal? Apakah orang seharusnya memiliki kesabaran dan toleransi semacam ini terhadap orang lain? (Ya.) Ada orang-orang yang berkata, "Engkau adalah Tuhan, bagaimana mungkin Engkau bersabar terhadap manusia rusak yang menimbulkan kegaduhan? Engkau tidak seharusnya bersabar. Istirahat-Mu sangatlah penting!" Aku berkata, "Istirahat siapa yang tidak penting? Istirahat semua orang itu penting." Namun, orang dewasa terkadang perlu memiliki toleransi dan menunjukkan pengertian. Terutama terhadap anak-anak, kita harus menunjukkan toleransi kepada mereka. Lagi pula, ketika engkau hidup di dunia ini, banyak hal tidak berjalan sesuai keinginanmu, dan sering kali, engkau hanya perlu bersabar. Hal ini bukanlah apa-apa. Engkau juga harus menanggung hal-hal yang lebih serius daripada ini dan yang benar-benar merugikanmu. Hidup di dunia ini, dalam proses bertahan hidup, semua orang menghadapi banyak situasi di mana mereka tidak punya pilihan. Apakah engkau benar-benar hanya akan terjebak ketika menghadapi situasi semacam itu? Apakah engkau tidak akan mampu melanjutkan hidup? Matahari akan tetap terbit keesokan harinya. Hidup harus terus berjalan. Tidak perlu bersikap picik tentang masalah sepele, terus mempermasalahkannya dan bertindak seolah-olah ini adalah akhir dunia. Tidak perlu meributkannya atau membesar-besarkan masalah. Untuk hal-hal seperti ini, engkau harus bertoleransi dan bersabar. Ketika suatu hari engkau telah mengalami lebih banyak hal, engkau akan memperoleh wawasan dan tahu bagaimana menyikapinya. Katakan kepada-Ku, apakah pemikiran semacam ini normal? (Ya.) Apa yang akan dipikirkan oleh orang dengan pemikiran yang tidak normal? "Bocah nakal, kau sudah besar dan mulai berpesta pora. Orang-orang tidak percaya ini benar-benar setan! Tidak tahukah kau siapa aku? Kau mengganggu istirahatku, jadi aku akan membuatmu menyesalinya. Kukutuk kau!" Apakah pemikiran semacam itu normal? (Tidak.) Pemikiran ini tidak normal, jadi engkau tidak boleh berpikir seperti itu. Aku sendiri tidak akan berpikir seperti itu. Ketika hal-hal ini terjadi, Aku bisa bersabar dan menyikapinya dengan benar; Aku bisa menyikapi dan menangani hal-hal ini dengan pemikiran dan pandangan orang dewasa. Tentu saja, ini juga merupakan perwujudan spesifik dari berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya. Ada orang-orang yang berkata, "Kebesaran hati Tuhan seluas laut dan langit, jadi orang-orang tidak penting seperti itu bukanlah apa-apa bagi Tuhan. Betapa pun berisiknya, Dia tidak mendengarnya; Dia tidak merasakan apa-apa. Ini disebut berada di tingkat yang lebih tinggi, ini disebut berada di dimensi yang berbeda, ini disebut memiliki pikiran yang luas." Benarkah demikian? (Tidak.) Aku benar-benar tidak berfokus pada "pikiran yang luas". Aku tidak yakin apa arti "pikiran yang luas", Aku juga tidak mengerti apa itu "berada di dimensi yang berbeda", dan Aku tidak berada di suatu tingkat yang "tinggi". Aku hanya tahu apa itu pemikiran yang normal dan rasionalitas yang normal, bagaimana bertindak dengan cara yang sesuai dengan kemanusiaan dan rasionalitas, hal-hal apa yang harus ditanggung dengan sabar dan hal-hal apa yang harus diperlakukan dengan serius, serta prinsip dan pedoman apa yang harus ditaati dengan ketat ketika berinteraksi dengan orang lain, serta bagaimana berpikir dengan cara yang tidak menyimpang, radikal, supernatural, atau ekstrem dalam situasi tertentu, dan bagaimana berpikir secara normal tanpa menyimpang ke kiri ataupun ke kanan. Aku mengetahui hal-hal ini, tetapi Aku tidak pernah tahu apa arti "berada di dimensi berbeda", "memiliki pikiran yang luas", dan "tidak menonjolkan diri dalam berperilaku". Aku hanya mematuhi prinsip berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya. Bukankah ini sederhana? (Ya.) Hal apa pun yang Kutangani, dari perspektif dan pendirian-Ku, Aku memandang setiap hal dan setiap orang dengan benar, adil, masuk akal, dan rasional sebagai orang biasa yang normal, berusaha keras untuk mencapai keadilan, kewajaran, kemasukakalan, dan rasionalitas dalam segala hal yang Kulakukan, tanpa bersikap radikal, hampa, ataupun tidak lazim. Selain itu, Aku tidak bertindak superior, dan tidak pernah memandang apa pun dari posisi yang begitu hampa seperti tingkat yang ketiga dari surga. Meskipun cara-Ku menangani banyak hal dalam kehidupan nyata yang seperti ini tampak sangat biasa saja bagi orang-orang, ini adalah beberapa pemikiran dan pandangan, serta cara berperilaku, yang harus orang miliki dalam hidup dan bertahan hidup sebagai anggota umat manusia. Hidup dengan cara seperti ini cukup membumi dan tidak melelahkan, sehingga banyak orang merasa bahwa Aku mudah bergaul, tanpa segala macam kerumitan yang tidak perlu. Tujuan-Ku memberi tahu engkau semua hal-hal ini bukan hanya agar engkau semua mengetahui beberapa hal, melainkan untuk memberi tahu engkau semua bahwa Aku memiliki prinsip ketika berinteraksi dengan siapa pun atau menangani berbagai hal. Aku tidak pernah mengambil sesuatu dengan paksa atau dengan tipu daya, Aku tidak pernah bermulut manis, Aku tidak pernah ingin mengambil keuntungan dari siapa pun saat berurusan dengan orang-orang, dan Aku tentu saja tidak akan melanggar hukum dalam menangani hal apa pun. Singkatnya, prinsip dalam cara-Ku berperilaku adalah mematuhi pedoman berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya, agar hati nurani-Ku damai dan bersikap adil dalam melakukan segala sesuatu, agar Aku tidak merugikan atau menipu siapa pun, dan tidak merugikan kepentingan orang lain. Sekalipun Aku mendapat manfaat dengan cara tertentu, itu tidak akan terjadi dengan merugikan kepentingan orang lain; sebaliknya, Aku berusaha untuk bersikap wajar dan adil. Aku telah memberi tahu engkau semua hal-hal ini dan memberikan contoh-contoh ini, dan Aku juga telah berbicara kepada engkau semua secara teori tentang prinsip-prinsip dalam aspek cara berperilaku ini. Memang seperti inilah diri-Ku. Jika engkau semua ingin mengetahui lebih banyak untuk memastikan kenormalan dan kenyataan, serta kerendahhatian dan ketersembunyian, yang Kubicarakan, dan untuk memastikan bahwa Aku memang bertindak sesuai dengan prinsip "berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya" ini, Aku mempersilakan engkau semua untuk menyelidiki dan mengumpulkan bukti di mana-mana untuk melihat apakah yang Kukatakan itu sesuai dengan kenyataan. Singkatnya, engkau semua harus memahami hal-hal ini dengan jelas. Pada dasarnya, semua ini adalah hal tentang kehidupan dan keberadaan Tuhan yang berinkarnasi. Inilah yang seharusnya engkau semua pahami, dan yang juga wajib engkau semua pahami.
Tuhan yang berinkarnasi tidak hanya dengan ketat mematuhi pedoman dan prinsip tentang berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya dalam kehidupan manusia-Nya, tetapi Dia juga mematuhi pedoman dan prinsip ini dengan ketat dalam pelayanan yang Dia laksanakan. Aku telah bekerja dan berkhotbah selama bertahun-tahun, dan engkau semua selalu membaca firman yang Kupersekutukan. Melalui berbagai topik, engkau seharusnya mampu memahami sudut pandang, pendirian, dan sikap-Ku mengenai berbagai hal. Engkau semua mengetahui hal ini secara teori, tetapi tahukah engkau semua bagaimana cara-Ku berperilaku dan melakukan segala sesuatu dalam pelayanan yang Kulaksanakan? Mungkin beberapa orang di antaramu hanya tahu bahwa Aku telah melakukan berbagai hal dan tahu perwujudan apa yang telah Kuperlihatkan, tetapi dalam hal-hal spesifik, engkau semua mungkin belum tahu apa yang Kupikirkan di dalam hati-Ku atau apa rencana dan rancangan-Ku. Jadi, Aku akan memberikan pengantar singkat. Mengenai hal melaksanakan pelayanan-Ku, pada dasarnya, dalam pekerjaan yang dapat dan seharusnya Kulakukan—dan yang berkaitan dengan pelayanan-Ku—Aku mengerahkan segenap upaya, dan tidak tunduk pada kekangan apa pun. Aku tidak menuntut apa pun dari engkau semua, Aku juga tidak mencari pujian. Aku hanya mencoba dengan segala cara yang memungkinkan untuk menerangkan dengan jelas apa yang dapat Kulakukan, apa yang Kupahami, dan apa yang Kuketahui. Untuk menjelaskan berbagai hal dengan jelas, sekalipun itu bertele-tele atau merepotkan, Aku berusaha sebaik mungkin untuk membuat hal-hal tersebut menjadi jelas. Aku berusaha untuk mencapai titik di mana Aku merasa di dalam hati-Ku bahwa engkau semua telah memahaminya dan bahwa Aku telah menerangkan berbagai hal dengan jelas; pada saat itulah Aku berhenti berbicara, dan topik tersebut berakhir di sana. Jika Aku merasa bahwa Aku telah berbicara terlalu sedikit dan engkau semua mungkin belum memahaminya, maka Aku akan membahasnya secara terperinci, berbicara lebih banyak, dan bahkan mengulanginya lagi, mencoba segala cara yang memungkinkan untuk menerangkan topik tersebut dengan jelas. Aku tidak takut engkau semua mentertawakan-Ku. Aku tidak takut beberapa intelektual tertawa dan berkata, "Engkau benar-benar bertele-tele saat berbicara!" Aku hanya memenuhi tanggung jawab-Ku berdasarkan prinsip berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya, menerangkan dengan jelas dan gamblang firman yang hendak Kukatakan. Jika orang tidak dapat memahami beberapa perkataan tentang kebenaran yang Kupersekutukan, dan masih merasa tidak jelas setelah mendengarnya, maka Aku akan memberikan contoh dan berbicara dengan lebih spesifik. Meskipun Aku harus mengucapkan banyak firman dengan cara ini, merasa kehabisan tenaga, lelah secara mental, hingga mulut-Ku menjadi kering, Aku tetap harus mencoba segala cara yang memungkinkan untuk menerangkan berbagai hal dengan jelas. Jika engkau semua tidak memahaminya setelah Aku selesai berbicara pada saat itu, Aku akan mengadakan pertemuan lagi. Lalu, apa artinya? Mengadakan pertemuan lagi dan berbicara hingga mulut-Ku kering berarti Aku akan sangat kelelahan; itu berarti Aku harus menderita kelelahan sekali lagi. Namun, Aku tidak boleh mengendur. Hanya karena Aku telah membicarakan topik ini terakhir kali, Aku tidak boleh berhenti membicarakannya lain kali karena takut kelelahan, entah engkau semua memahaminya atau tidak. Aku harus mencoba segala cara yang memungkinkan untuk menerangkan topik ini dengan jelas. Mengenai apakah engkau semua dapat memahami, menerima, dan menerapkan kebenaran setelah mendengar firman ini, itu bergantung pada pengejaran pribadimu; Aku tidak memusingkan hal itu. Namun, mengenai topik-topik yang ingin Kubicarakan dan belum Kubicarakan, serta tanggung jawab yang belum Kupenuhi atau beban yang belum Kutuntaskan, Aku pasti harus menyelesaikannya dan menanganinya dengan baik, sampai di dalam hati Aku merasa, "Itu sudah diterangkan dengan jelas sekarang. Aku sudah membahas semua hal yang termasuk dalam topik ini. Setidaknya, engkau semua tahu tentang hal ini dan memahaminya." Dengan demikian, Aku merasa tenang di dalam hati. Mungkin saja mengadakan beberapa pertemuan tambahan untuk engkau semua akan membuat-Ku sangat kelelahan sehingga Aku tidak akan bisa tidur selama beberapa hari, tetapi jika lain kali hal ini terjadi, Aku akan tetap menggunakan cara ini. Aku tidak akan mengendur, dengan berkata, "Agar tidak kelelahan, Aku tidak akan berbicara banyak, dan Aku akan mengurangi satu pertemuan. Mari kita akhiri topik ini di sini; lagi pula, kebanyakan orang tidak mengejar kebenaran." Aku tidak akan bersikap asal-asalan terhadap engkau semua, Aku juga tidak akan bersikap asal-asalan terhadap pelayanan yang Kulaksanakan. Ketika melakukan hal ini, Aku tidak pernah mengatakan bahwa Aku harus bertindak benar demi hati nurani-Ku, atau bertindak benar demi saudara-saudari yang telah duduk di sini mendengarkan khotbah-Ku selama beberapa jam. Sebaliknya, Aku secara alami dan dengan kemampuan terbaik-Ku mencurahkan bagi engkau semua segala sesuatu yang seharusnya Kulakukan, ingin Kulakukan, dan ingin Kukatakan, agar engkau semua mendengarkannya serta memperolehnya. Aku tidak mengendur, dan Aku tidak bertindak dengan sikap asal-asalan. Jika Aku tidak menerangkan sesuatu dengan jelas pada kali pertama, Aku akan mengulanginya dua atau tiga kali dengan cara berbeda. Sekalipun di dalam hatimu, engkau semua memiliki pendapat tertentu tentang-Ku atau mengatakan bahwa Aku bertele-tele, Aku tidak peduli. Asalkan Aku dapat menerangkan berbagai hal dengan jelas dan mencapai hasil, itu sudah cukup. Ketika berbicara, Aku bertindak berdasarkan prinsip "melakukan segala sesuatu dengan baik dan menyeluruh, memenuhi tanggung jawab-Ku, dan mencurahkan segala sesuatu di dalam diri-Ku kepada engkau semua". Aku tidak mengendur, atau bertindak dengan sikap asal-asalan. Inilah sikap Tuhan yang berinkarnasi dalam melaksanakan pelayanan-Nya.
Mengenai hal-hal yang tidak berkaitan dengan pelayanan-Ku, seperti terkadang membimbingmu dalam hal-hal yang berada dalam lingkup tugasmu, ini tidak termasuk dalam pelayanan-Ku. Engkau semua mungkin tidak menyadari hal ini. Sebenarnya, selain mempersekutukan kebenaran dan membimbing engkau semua untuk memahami prinsip-prinsip kebenaran dan masuk ke dalam kenyataan kebenaran, tidak ada hal lain yang berkaitan dengan-Ku; itu bukanlah hal yang seharusnya Kulakukan. Biar Kuperjelas hal ini kepada engkau semua. Membimbing pekerjaanmu tidak termasuk dalam lingkup pelayanan-Ku, dan tidak ada hubungannya dengan-Ku. Tidak masalah apakah Aku melakukan pekerjaan ini atau tidak; itu adalah urusan engkau semua, manusia. Ini adalah pertama kalinya Aku menyebutkan hal ini, yaitu urusan engkau semua, manusia. Artinya, urusan engkau semua, urusan manusia, tidak ada hubungannya dengan-Ku. Mengapa Kukatakan demikian? Apa yang kaulaksanakan adalah tugasmu, dan apa yang Kulaksanakan adalah pelayanan-Ku. Aku melakukan pekerjaan, sementara engkau semua melaksanakan tugas; ada perbedaannya. Tentang membimbing engkau semua dalam hal-hal yang berada dalam lingkup tugasmu, selain mempersekutukan prinsip-prinsip kebenaran, jika engkau semua bertanya kepada-Ku tentang keterampilan profesional atau tugas-tugas duniawi, Aku akan mencoba yang terbaik untuk mengungkapkan dengan jelas apa yang Kupahami, apa yang Kumiliki wawasannya, serta prinsip-prinsip yang telah Kupahami, agar engkau semua mengetahui dan memahaminya. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mengajarimu dan membantumu belajar. Untuk hal yang tidak Kuketahui, Aku akan memintamu untuk mencari referensi, atau jika ada seseorang di antaramu yang mengetahuinya, Aku akan berkonsultasi dengannya, "Kau telah mempelajari profesi ini, jadi apa yang dikatakan materi pendidikan di industri ini tentang hal ini? Apa saja aturan dalam bidang pengetahuan ini? Mari kita temukan prinsip-prinsipnya di sini, agar pekerjaan kita dapat lebih sesuai dengan selera dan pandangan tajam para profesional, sehingga kita tidak diejek atau menjadi bahan tertawaan, tidak mempermalukan diri kita sendiri, dan tidak membuat rumah Tuhan terlihat buruk." Engkau lihat, lagu pujian paduan suara, musikal, produksi film, penulisan naskah, seni, serta tarian, kostum, dan sebagainya yang Kubimbing—aspek pekerjaan profesional atau nonprofesional apa pun itu—semua itu bukanlah pekerjaan yang berada dalam lingkup pelayanan yang Kulaksanakan. Semua itu adalah tugasmu. Menyebutnya "tugasmu" berarti itu adalah urusanmu, dan bahwa engkau semua seharusnya menanganinya sendiri, karena hal-hal ini berkaitan dengan bidang pengetahuan tertentu, dan persoalan teknis serta profesional dari industri tertentu, dan ini adalah hal-hal yang harus kaupelajari. Hal yang seharusnya kaupelajari adalah bagianmu untuk kaupelajari, hal yang seharusnya kautanyakan adalah bagianmu untuk kautanyakan, dan hal yang seharusnya kauterapkan adalah bagianmu untuk kauterapkan. Sebenarnya, semua ini tidak ada hubungannya dengan-Ku. Pekerjaan yang Kulakukan adalah merepresentasikan daging inkarnasi Tuhan dalam mengungkapkan firman, dan merepresentasikan Tuhan dalam berfirman kepadamu dan bekerja atasmu. Mengenai pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan pelayanan-Ku, itu adalah urusan engkau semua, manusia. Untuk pekerjaan ini, Tuhan telah mengatur seorang pemimpin dan gembala untuk memimpin engkau semua, dan Dia juga telah menetapkan berbagai pengaturan kerja dan berbagai ketetapan administratif serta peraturan. Engkau semua seharusnya mematuhi dengan ketat pengaturan dari pemimpin yang telah Tuhan tetapkan bagimu—orang yang dipakai oleh Roh Kudus—dan tunduk pada kepemimpinannya. Mengenai pekerjaan apa pun yang Kulakukan di luar pelayanan-Ku, itu terhitung sebagai apa? Ini semua terhitung sebagai pekerjaan tambahan. Aku tidak perlu melaksanakan tugas. Aku melakukan pekerjaan dan melaksanakan pelayanan-Ku, dan engkau semua melaksanakan tugasmu. Oleh karena itu, Aku dapat membimbing pekerjaanmu, tetapi ini bukanlah sesuatu yang seharusnya Kulakukan. Jika menurutmu, "Engkau harus melakukan pekerjaan ini; ini adalah pekerjaan-Mu. Bagaimana mungkin Engkau tidak melakukannya? Jika Engkau tidak melakukannya, aku akan melimpahkan tanggung jawab itu kepada-Mu dan menolak untuk melepaskan-Mu," maka Kukatakan bahwa engkau semua salah. Engkau semua tidak dapat melimpahkan ini kepada-Ku. Itu adalah tugasmu, manusia. Ketika engkau semua tidak memahami sesuatu tentang tugasmu, engkau semua harus bersekutu, berdiskusi, dan mencari di antaramu sendiri. Jika engkau bertanya kepada-Ku, dan kondisi-Ku pada saat itu memungkinkan, Aku dapat membantumu. Jika Aku tidak punya waktu dan tidak dapat membantumu, itu bukanlah tanggung jawab-Ku. Jika ada di antaramu yang menggunakan penalaran yang menyimpang, dengan berkata bahwa inilah yang seharusnya Kulakukan, maka engkau salah. Ini adalah tugas yang seharusnya engkau semua laksanakan, dan ini tidak ada hubungannya dengan-Ku. Jika engkau tidak melaksanakan tugasmu dengan baik, itu berarti engkau tidak bertanggung jawab dan tidak setia. Jika engkau tidak melaksanakan tugasmu dengan baik dan mencoba melimpahkan tanggung jawab itu kepada-Ku, ini adalah perwujudan tidak memiliki nalar, dan Tuhan menganggap ini sangat menjijikkan. Namun, jika Aku melihat bahwa engkau semua benar-benar tidak mampu melakukan sesuatu, bahwa itu di luar jangkauanmu, dan bahwa engkau tidak mengetahui prinsip untuk melakukan pekerjaan ini, maka Aku harus membantu, memberikan satu atau dua contoh kepadamu, dan membawamu ke jalur yang benar. Jika engkau semua masih tidak mampu melakukannya, dan kondisi-Ku tidak memungkinkan-Ku untuk melakukannya, atau Aku juga tidak mampu melakukannya, maka yang dapat kita lakukan hanyalah menghentikan pekerjaan ini. Hanya itulah yang dapat kita lakukan. Siapa yang patut disalahkan atas kemampuanmu yang sangat terbatas dan kualitasmu yang sangat buruk? Namun, jika Aku benar-benar melakukan suatu pekerjaan, Aku melakukannya sebaik mungkin. Jika Aku tahu cara melakukan sesuatu, Aku akan memberitahumu sejauh yang Kuketahui, dan Aku juga akan memberitahumu apa yang tidak Kuketahui cara melakukannya. Untuk bagian-bagian yang tidak Kuketahui, Aku akan berkonsultasi denganmu. Jika engkau semua juga tidak tahu, Aku akan merenungkan, memikirkan, dan mencarinya sendiri. Begitu menemukan suatu jalan, beberapa ide, dan beberapa petunjuk untuk diikuti, Aku akan bersekutu denganmu, berusaha sekuat tenaga untuk melakukan pekerjaan ini dengan baik dan menyeluruh. Di satu sisi, ini adalah wujud tanggung jawab atas pekerjaan tersebut. Di sisi lain, ini memungkinkanmu untuk mempelajari sesuatu selama Aku membimbingmu. Engkau dapat mempelajari prinsip-prinsip yang perlu dipahami dan kebenaran yang perlu dimengerti untuk aspek pekerjaan profesional ini. Ada orang yang, meskipun memahami sedikit pengetahuan profesional, tidak dapat menghasilkan produk jadi, sehingga Aku membimbing mereka. Setelah selesai, Aku masih merasa tidak yakin tentang hal itu, jadi Aku meminta mereka berkonsultasi dengan seorang pakar industri, dan meminta pakar tersebut untuk memeriksanya. Jika pakar tersebut mengatakan bahwa melakukannya dengan cara ini sesuai dengan norma-norma industri dan tidak membuat kita menjadi bahan tertawaan, maka kita akan tetap berpegang pada tindakan ini. Jika pakar tersebut mengatakan bahwa itu terlihat seperti dilakukan oleh seorang amatir, bahwa itu terlihat memalukan, tidak benar, dan tidak memenuhi standar, maka kita akan meminta pakar tersebut untuk segera melakukan beberapa perubahan pada hal itu. Kita tidak boleh merasa diri benar, kita tidak boleh berpura-pura memahami sesuatu padahal kita tidak memahaminya, dan kita harus memiliki kesadaran diri. Kita tidak boleh menipu diri sendiri; kita harus menanggapi berbagai hal dengan serius, berusaha untuk memperoleh sesuatu dalam hal keterampilan profesional setelah menyelesaikan suatu pekerjaan. Oleh karena itu, saat melakukan hal semacam ini, sekalipun Aku seorang amatir dalam hal keterampilan profesional dan tidak banyak memahaminya, Aku akan tetap berusaha sekuat tenaga. Ada orang yang berkata, "Mengapa Engkau tetap membimbing mereka padahal Engkau tidak memahaminya?" Itu karena orang-orang ini memiliki keterampilan profesional yang terbatas; mereka benar-benar tidak memiliki kreativitas atau ide-ide bagus dalam hal produksi artistik yang berkaitan dengan keterampilan profesional. Aku memiliki sedikit kelebihan di bidang ini dan memiliki beberapa ide, jadi Aku memberikannya kepada orang-orang ini yang memiliki sedikit dasar atau sedikit pengetahuan umum dalam profesi tertentu, dan semua orang ini menganggap ide-ide-Ku ini cukup bagus. Melihat bahwa mereka menganggap ide-ide-Ku cukup bagus, Aku maju terus dan "dengan memberanikan diri" membimbing mereka, dan beberapa karya yang Kubimbing dengan cara ini lumayan bagus. Bukannya Aku bersikap tak tahu malu dengan berkata demikian; kata "lumayan bagus" ini ada dasarnya. Aku hanya berkata demikian karena para pakar industri telah melihatnya dan mengatakan bahwa karya itu lumayan bagus. Kata "lumayan bagus" ini tidak berarti bahwa karya itu sangat bagus atau telah mencapai standar profesional, hanya saja setidaknya, para pakar telah memastikan bahwa karya itu layak, dan karena itu Aku merasa tenang. Sejauh ini, kebanyakan orang berpikir bahwa beberapa karya yang telah Kubimbing lumayan bagus, dan tampaknya beberapa di antaranya bahkan telah memenangkan penghargaan dalam kompetisi tertentu, bukan? (Ya.) Aspek pekerjaan apa pun atau hal apa pun yang sedang Kulakukan, asalkan Aku memiliki beberapa pemikiran dan ide, atau Aku merasa memiliki konsep kreatif yang bagus, Aku pasti akan angkat bicara. Aku akan mencoba segala cara agar saudara-saudari membantu menerapkan ide-ide ini dalam produksi, sehingga ada lebih banyak orang yang akan bersedia melihatnya. Alhasil, pekerjaan Tuhan dan firman Tuhan disebarluaskan lebih banyak, lebih baik, dan lebih luas. Dengan demikian, tujuan kita tercapai. Mengenai cara dan metode yang Kugunakan untuk melakukan berbagai hal, semua itu tetap didasarkan pada prinsip berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya. Ketika Aku melakukan berbagai hal, Aku bertindak dengan tenang, dan mengerahkan segenap upaya untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut dan melakukannya dengan baik. Setelah pekerjaan selesai dan diunggah, fase itu pun berakhir.
Hal-hal yang dilakukan Tuhan yang berinkarnasi di dalam lingkup pelayanan yang Dia laksanakan didasarkan pada prinsip-prinsip-Nya tentang berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya. Ketika melakukan hal-hal di luar lingkup ini, Dia juga tidak menyimpang dari prinsip-prinsip ini; Dia juga berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya. Untuk masalah-masalah yang dapat Kulihat dan Kutemukan, Aku meminta seseorang untuk menyampaikannya, atau Aku secara pribadi terlibat untuk memberikan bimbingan dan koreksi, serta membantu menyelesaikannya. Singkatnya, berkaitan dengan hal-hal yang dapat kautemui atau kaudengar dalam kehidupan nyatamu, Aku pada dasarnya menangani segala sesuatu, apa pun itu, berdasarkan prinsip tersebut. Selain itu, Aku tidak membedakan antara urusan besar dan kecil. Entah itu memelihara kucing, memelihara anjing, membangun kandang babi, membangun kandang domba, atau memasak, membuat pakaian, atau bahkan bersih-bersih, Aku terlibat dalam apa pun yang Kulihat. Ketika Aku melihat engkau semua melakukan kesalahan, Aku mengarahkan dan mengoreksimu. Mereka yang memiliki hati akan mendengarkan dan menerimanya, sementara mereka yang tidak memiliki hati tidak akan menerimanya. Setelah itu, Aku melihat siapa yang mendengarkan dan mampu mengikuti instruksi-Ku, dan Aku memakai mereka. Selama bertahun-tahun berinteraksi dengan engkau semua, beginilah cara-Ku melakukan segala sesuatu. Setelah memberitahumu apa yang harus dilakukan, Aku terus menindaklanjutinya sampai hal tersebut selesai dan dilakukan dengan baik. Meskipun ada banyak hal yang tidak Kulakukan dengan tangan-Ku sendiri, hati-Ku selalu fokus pada apa pun yang sedang Kutindaklanjuti; hati-Ku tidak pernah meninggalkan hal-hal ini. Jika sesuatu perlu ditangani dengan mendesak dan cepat, Aku bekerja dari fajar hingga senja dan larut malam untuk menyelesaikannya, terus-menerus menindaklanjuti, mengawasi, dan mengarahkan. Namun, mengingat kondisi fisik-Ku, seperti yang dapat kaubayangkan, melakukan pekerjaan ini cukup melelahkan. Setelah pekerjaan tersebut akhirnya selesai, Aku berhenti pergi ke sana. Pada akhirnya, seseorang menyadarinya dan berkata, "Tuhan telah mengatur segala sesuatu dengan sangat baik untuk kita di sini, tetapi Dia tidak dapat menikmatinya; kamilah yang dapat menikmati semuanya." Aku berkata bahwa asalkan engkau semua dapat menikmatinya, itu sudah cukup. Begitu segala sesuatunya sudah beres bagimu, dan segala sesuatu sudah sesuai untukmu dalam hal kehidupan dan pelaksanaan tugasmu, Aku tidak perlu lagi menyibukkan diri dengan hal-hal ini. Sebenarnya, pekerjaan Tuhan yang berinkarnasi adalah mempersekutukan kebenaran dan menyediakan kebenaran; pekerjaan lain tidak ada hubungannya dengan-Ku. Namun, selama bertahun-tahun ini, selain melakukan pekerjaan-Ku, Aku juga sibuk membantumu menyelesaikan masalah yang engkau semua hadapi dalam pelaksanaan tugasmu, yang juga telah membuat-Ku cukup bersusah payah. Meskipun banyak pekerjaan bukanlah hal-hal yang seharusnya Kulakukan, dan ada banyak hal yang bahkan belum pernah Kulakukan sebelumnya—karena belum pernah secara sistematis mempelajari jenis pengetahuan atau keterampilan tertentu, atau menangani hal-hal ini dalam kehidupan—Aku tidak tinggal diam saat gereja dan rumah Tuhan menghadapi berbagai hal. Sebaliknya, Aku berusaha sekuat tenaga untuk membimbing dan membantu engkau semua, dan dalam hal kehidupan sehari-hari, Aku juga melakukan semua yang dapat Kulakukan untuk membereskan segala sesuatu dengan baik untukmu. Bertindak dari sudut pandang kemanusiaan, Aku melakukan apa yang dapat Kulakukan. Jika Aku melihat sesuatu yang perlu dilakukan, dan tidak melakukannya, Aku akan merasa gelisah di dalam hati-Ku. Jika Aku menemukan suatu masalah dan tidak memperbaikinya, Aku akan merasa gelisah di dalam hati-Ku. Jika ada pekerjaan yang tak seorang pun tahu cara melakukannya, dan Aku memiliki ide serta mampu melakukannya, tetapi Aku tidak melakukannya, Aku akan merasa gelisah di dalam hati-Ku. Jadi, Aku harus mengambil tindakan. Oleh karena itu, dari luarnya, tampaknya selain berfirman dan menyampaikan khotbah, Aku tidak melakukan hal lain. Namun, Aku telah banyak bersusah payah demi kehidupanmu sehari-hari dan kebutuhan dasar yang engkau semua perlukan untuk melaksanakan tugasmu. Kualitas kebanyakan orang sangatlah buruk sehingga mereka bahkan tidak dapat melakukan hal-hal ini dengan baik, jadi Aku harus memikirkan cara untuk membimbingmu. Meskipun Aku terlihat biasa-biasa saja dan bukan tokoh penting, dan tidak menerima pelatihan apa pun di tengah masyarakat, dalam hal kebutuhan dasar personel yang melaksanakan tugas mereka di rumah Tuhan, sejak Aku pertama kali berhubungan dengan engkau semua hingga sekarang, tidak ada satu pun aspek dari lingkungan hidup dasar, kondisi kehidupan, dan kebutuhanmu sehari-hari yang tidak Kuperhatikan dengan sungguh-sungguh. Ambil contoh menanam sayuran di ladang. Pada awalnya, melihat bahwa sebagian besar orang di ladang pernah tinggal di pedesaan dan telah melakukan pekerjaan menanam selama beberapa tahun, Aku memilih beberapa orang yang tahu cara menanam untuk mengemban pekerjaan ini. Aku memberi tahu mereka sayuran apa yang harus ditanam pada musim apa dan bagaimana cara menanamnya, berpikir bahwa Aku tidak perlu mengkhawatirkannya setelah itu. Namun, tak lama kemudian, Aku pergi ke ladang dan melihat bahwa semuanya benar-benar berantakan. Pengawas tidak dapat menjalankan tanggung jawab tersebut, dan para pekerja juga tidak dapat melakukan pekerjaan dengan baik. Pada akhirnya, tidak ada yang dapat Kulakukan selain turun tangan, menindaklanjuti, dan mengarahkan mereka sedikit demi sedikit. Dari memilih dan membeli benih hingga mencari tahu berapa banyak yang harus ditanam dan bagaimana memilih lahan, serta apa yang harus ditanam setiap musim, berapa banyak yang harus ditanam, bagaimana cara menanamnya, siapa yang harus bertanggung jawab untuk menanam, bagaimana cara memupuk, dan hal-hal apa yang harus diperhatikan, Aku menerangkan semuanya dengan jelas kepada mereka. Aku secara pribadi mengarahkan mereka seperti ini; Aku melakukan segalanya, kecuali memasak untuk mereka dan menyuapi mereka. Ada orang yang berkata, "Bukankah Engkau memperlakukan mereka seperti anak berusia tiga tahun?" Sebenarnya, memang demikian. Orang-orang ini semuanya tampak seperti orang dewasa, tetapi mereka benar-benar tidak mampu memikul tanggung jawab ini. Aku memang harus menuntun mereka dan secara pribadi mengarahkan serta mengajari mereka seperti ini sebelum segala sesuatunya akhirnya mulai berjalan lancar. Kemudian, semua orang yang melaksanakan tugas mereka dapat memakan biji-bijian dan sayuran yang mereka tanam sendiri. Di musim panas, mereka juga dapat memakan beberapa buah-buahan, dan di musim dingin, mereka dapat memakan sayuran yang telah mereka simpan. Jika Yang di Atas tidak turun tangan dan memeriksa pekerjaan ini, dan hanya membiarkan orang-orang di bawah melakukannya, semuanya akan menjadi berantakan. Bagaimanapun juga, apa fakta yang sedang Kuberitahukan kepada engkau semua? Aku telah melakukan banyak hal tanpa membicarakannya, tetapi hal-hal yang Kubicarakan memang benar-benar apa yang telah Kulakukan.
Aku mempersekutukan hal-hal ini bukan untuk memberi tahu engkau semua berapa banyak hal yang telah Kulakukan, seberapa besar kelelahan yang telah Kualami, atau seberapa banyak Aku bersusah payah demi engkau semua. Tidak perlu membicarakan hal-hal ini. Jadi, apa yang sedang Kuberitahukan kepada engkau semua? Tuhan yang berinkarnasi datang ke dunia manusia ini untuk merepresentasikan Tuhan dalam melakukan pekerjaan. Pekerjaan-Nya adalah pelayanan yang Dia laksanakan. Pada tahap akhir zaman ini, pekerjaan-Nya adalah membekali orang dengan semua kebenaran yang mereka butuhkan untuk memperoleh keselamatan. Dalam pelayanan yang Dia laksanakan, Dia dengan ketat mematuhi pedoman dan prinsip berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya. Di luar ini, dalam kehidupan manusia-Nya dan mengenai perwujudan kemanusiaan-Nya, Dia juga tidak melampaui prinsip dan pedoman ini. Entah itu membimbing engkau semua dalam melaksanakan tugasmu atau membantumu menangani berbagai hal mengenai kebutuhan dasar dalam kehidupan, Aku bertindak berdasarkan prinsip berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya. Aku tidak pernah meneriakkan slogan atau berbicara dengan muluk-muluk, dan Aku tidak pernah memberi perintah secara membabi buta; Aku hanya melakukan berbagai hal secara nyata. Sampai sejauh mana Aku melakukan hal ini? Sebagai contoh, saat mengarahkan penanaman di ladang, Aku meminta mereka membuat daftar semua varietas sayuran yang mereka ketahui, apa nama sayuran tersebut, seperti apa bentuknya, berapa lama masa pertumbuhannya, dan varietas mana yang terbaik dan paling cocok ditanam di daerah setempat. Berdasarkan apa yang Kuketahui, Aku memilih satu atau dua varietas dari setiap sayuran, memutuskan siapa yang akan bertanggung jawab untuk menanamnya, dan pada akhirnya membuat semua orang dapat memakan sayuran segar setiap musim. Aku tidak pernah meneriakkan slogan, dengan berkata, "Sayuran ini sangat bergizi. Orang memperoleh sangat banyak manfaat dengan memakannya. Cara ilmiah untuk menanamnya adalah seperti ini." Aku tidak pernah mempelajari ilmu gizi, Aku juga tidak memahami pertanian. Apa yang Kuketahui? Aku tahu cara memilih varietas sayuran yang cocok untuk ditanam di lokasi tertentu, sehingga setelah tumbuh, rasanya enak, semua orang mau memakannya, dan tidak sia-sia menanam sayuran itu. Pendekatan-Ku benar-benar sepraktis ini. Semua ini adalah berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya. Ini adalah prinsip dan pedoman yang Kupatuhi; beginilah cara-Ku berperilaku selama bertahun-tahun. Aku tidak pernah meneriakkan slogan, dan Aku tidak membutuhkan ucapan terima kasih darimu. Asalkan makanan dan akomodasi engkau semua sesuai, dan segala sesuatunya tidak sepenuhnya kacau, Aku merasa tenang. Ketika tidak ada seorang pun yang menyebabkan gangguan atau menimbulkan masalah, dan di mana-mana terlihat cukup bersih, biji-bijian dan sayuran telah ditanam dengan semestinya, babi, domba, serta ternak lainnya dipelihara dengan semestinya, semua area lainnya cukup baik, dan kebutuhan dasar tidak lagi menjadi masalah bagi sebagian besar orang yang melaksanakan tugas mereka, maka Aku tak perlu lagi khawatir. Tuntutan-Ku dalam hal ini tidaklah ketat. Engkau semua lihat, pernahkah Aku meneriakkan slogan ketika membimbingmu dalam pekerjaan apa pun atau dalam persoalan terkait kebutuhan dasarmu? Aku tidak pernah meneriakkan slogan. Setelah Aku membereskan berbagai hal untuk engkau semua, Aku mencari orang-orang yang cocok untuk melaksanakan pekerjaan tersebut. Jika orang itu tidak cocok dan pekerjaan tersebut tidak dapat dilaksanakan, mereka akan diganti. Hanya ketika pekerjaan tersebut akhirnya dilaksanakan, dan sebagian besar hal telah ditangani dengan semestinya, serta kebutuhan dasar personel yang melaksanakan tugas telah diatur dengan semestinya, barulah Aku dapat menghentikan pekerjaan manusia-Ku, tidak perlu lagi bersusah payah dalam hal ini. Ada orang-orang yang masih selalu bertanya kepada-Ku tentang hal-hal sepele. Seseorang berkata, "Apa yang harus kami lakukan jika anak domba yang baru lahir tidak bisa mendapatkan susu?" Yang lain berkata, "Apa yang harus kami lakukan jika pakaian yang kami buat selalu menyusut?" Engkau semua harus mencari tahu sendiri cara untuk mengatasi hal-hal ini; itu adalah urusanmu, dan itu tidak ada hubungannya dengan-Ku. Bahkan ketika mempersekutukan kebenaran, Aku hanya menyampaikannya sekali. Khotbah dan persekutuan tersebut ada rekaman audionya. Jika tidak memahaminya, engkau semua dapat mendengarkannya beberapa kali lagi, dan jangan terburu-buru saat merenungkan, mencari, dan bersekutu. Jika, berdasarkan hal ini, engkau semua masih sedikit bingung tentang beberapa hal dan tidak tahu cara menanganinya, kita dapat mempersekutukannya ketika kita bertemu. Namun, mengenai apa yang mampu dicapai oleh manusia, sebaiknya engkau semua menangani sendiri hal-hal semacam itu. Tuhan menciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu untuk manusia—matahari, bulan, bintang, air, udara, sinar matahari, makanan, serta berbagai lingkungan dan makhluk hidup yang manusia butuhkan, lalu setelah itu Dia menempatkan manusia di bumi. Tuhan memelihara hukum pertumbuhan dan beroperasinya segala sesuatu untuk manusia, serta memelihara lingkungan hidup manusia; manusia sendiri yang menjalani hidupnya. Mengenai apa yang harus ditanam pada musim apa, kapan harus memanennya, bagaimana menyimpannya setelah panen, bagaimana cara mengolahnya menjadi makanan, apa yang harus dimakan lebih banyak, apa yang harus dimakan lebih sedikit, apa yang harus dimakan pada musim apa, berapa banyak yang harus dimakan setiap hari, itu adalah urusanmu sendiri. Sekarang setelah kebenaran dipersekutukan dengan sangat jelas, dan hal-hal mengenai kehidupan telah dibereskan dengan semestinya untuk engkau semua, jika engkau semua masih meminta-Ku untuk membantumu melakukan ini dan itu, dan masih mencari-Ku untuk bersekutu denganmu tentang ini dan itu, berarti engkau semua sangat tidak bernalar. Mengenai apa yang telah Kupersekutukan, Kuberitahukan kepadamu untuk menangani dan mengatasi sendiri hal-hal ini. Gereja memiliki pemimpin di semua tingkatan, serta orang yang dipakai oleh Roh Kudus untuk memimpinmu. Engkau semua harus mencari dan mengatasi sendiri berbagai hal; jangan datang kepada-Ku untuk segala sesuatu. Alasannya adalah bahwa Aku telah mengatakan segala sesuatu yang seharusnya Kukatakan, Aku bahkan telah mengatur kebutuhan dasar bagi engkau semua, dan mengenai hal-hal sepele itu, semua itu bukanlah hal yang seharusnya Kuselesaikan, melainkan urusanmu sendiri, dan engkau semua harus menanganinya sendiri.
Sebanyak apa pun firman yang diucapkan oleh Tuhan yang berinkarnasi atau sebanyak apa pun hal yang Dia lakukan, orang haruslah mengetahui bahwa poin terpenting tentang kenormalan dan kenyataan, serta kerendahhatian dan ketersembunyian Tuhan yang berinkarnasi adalah ini: Baik Tuhan yang berinkarnasi hidup di antara manusia maupun melaksanakan pelayanan-Nya, pedoman dan prinsip paling dasar dari kemanusiaan-Nya, yang dihidupi oleh daging-Nya, adalah berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya. Ini tercermin dalam daging inkarnasi Tuhan, dan tentu saja, ini juga tercermin dalam diri Tuhan yang memiliki identitas dan esensi Tuhan, Tuhan dalam identitas yang melekat pada diri-Nya. Tentu saja, dalam kasus Tuhan, itu tidak disebut "berperilaku dengan cara yang taat aturan", tetapi setidaknya, dalam cara Tuhan melakukan segala sesuatu, dan dalam cara Dia memperlakukan orang serta berbagai hal, Dia juga pasti mematuhi prinsip-prinsip ini dengan ketat. Inilah apa yang dimiliki kemanusiaan Tuhan yang berinkarnasi dan siapa Dia, dan juga apa yang dimiliki oleh keilahian Tuhan dalam identitas yang melekat pada diri-Nya dan siapa Dia. Apa yang dimiliki oleh kemanusiaan-Nya dan siapa Dia menuntut-Nya untuk berperilaku dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya, sementara esensi Tuhan dalam identitas yang melekat pada diri-Nya menuntut Tuhan untuk memperlakukan orang dengan cara yang taat aturan dan melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya. Kita tidak akan berbicara lebih banyak tentang hal ini. Dari perspektif apa pun engkau melihatnya—dalam hal segala sesuatu yang Tuhan ciptakan, kedaulatan Tuhan atas umat manusia dan bimbingan-Nya terhadap mereka, perkara besar hingga perkara kecil, dan dari yang makroskopis hingga yang mikroskopis—Tuhan melakukan segala sesuatu dengan cara yang taat aturan dan sebagaimana mestinya. Ketika Tuhan tidak berinkarnasi, Dia tersembunyi di antara segala sesuatu. Meskipun umat manusia tidak melihat sosok Tuhan atau wajah sejati Tuhan, Tuhan selalu memimpin seluruh umat manusia. Dia juga selalu melakukan setiap hal, mengelola setiap hal, dan memegang kedaulatan atas setiap hal di alam semesta dengan cara yang nyata; dari semua hal yang Dia lakukan, tidak ada yang hampa. Tentu saja, tidak ada satu hal pun yang dilakukan oleh tangan Tuhan tetap berada pada tingkat teori atau slogan. Sebaliknya, dalam setiap hal yang Tuhan lakukan—entah engkau mampu menghayatinya atau tidak, entah engkau dapat melihatnya atau tidak—Dia melakukannya dengan cara yang taat aturan dan melakukannya sebagaimana mestinya. Dia melakukan pekerjaan yang hendak Dia lakukan dengan cara yang praktis dan realistis. Dia tidak pernah membuat deklarasi ataupun membenarkan diri-Nya sendiri kepada orang-orang, Dia juga tidak meneriakkan slogan apa pun. Sebaliknya, Dia selalu berbicara dan berfirman, secara nyata memimpin dan membekali seluruh umat manusia. Ini juga merupakan apa yang dimiliki Tuhan dan siapa Dia. Apa yang dimiliki Tuhan yang berinkarnasi dan siapa Dia pasti tidak akan terputus dari atau bertentangan dengan apa yang dimiliki Tuhan itu sendiri dan siapa Dia. Oleh karena itu, setelah orang mengetahui apa yang dimiliki Tuhan yang berinkarnasi dan siapa Dia, atau mengetahui pedoman dan prinsip tentang cara berperilaku yang dipatuhi oleh Tuhan yang berinkarnasi, mereka sebagian besar akan mengetahui esensi Tuhan dalam identitas yang melekat pada diri-Nya, serta apa yang dimiliki-Nya dan siapa Dia. Akibatnya, gagasan dan imajinasi orang tentang Tuhan yang di surga akan berkurang hingga taraf tertentu, dan pengenalan, pemahaman, atau pandangan mereka tentang Tuhan akan menjadi lebih nyata. Secara relatif, mereka juga akan mampu memperlakukan Tuhan yang berinkarnasi dengan lebih akurat, objektif, dan rasional, alih-alih mengutuk apa yang dimiliki kemanusiaan-Nya dan siapa Dia, atau meremehkan atau mengabaikan apa yang dimiliki kemanusiaan-Nya dan siapa Dia. Sebaliknya, di satu sisi, mereka akan mampu menyikapinya dengan benar, dan di sisi lain, mereka akan lebih mampu—melalui apa yang dimiliki kemanusiaan-Nya dan siapa Dia—untuk melihat apa yang dimiliki keilahian-Nya dan siapa Dia, sehingga mampu mengenal Tuhan yang di surga maupun Tuhan yang di bumi dengan lebih akurat.
Baiklah, kita akan mengakhiri persekutuan kita tentang topik ini di sini untuk hari ini. Sampai jumpa!
10 Agustus 2024