Cara Mengejar Kebenaran (21)
Baru-baru ini, kita telah bersekutu tentang beberapa perwujudan yang berkaitan dengan hati nurani dan nalar yang menunjukkan tidak adanya kemanusiaan, bukan? (Ya.) Dengan menyebutkan beberapa contoh negatif, kita menyingkapkan beberapa perwujudan dari orang-orang yang tidak memiliki hati nurani dan nalar dalam kemanusiaan mereka. Jadi, melalui persekutuan tentang contoh-contoh negatif ini, apakah engkau semua telah mengetahui perwujudan apa yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang yang berhati nurani dan bernalar dalam kehidupan mereka? (Melalui persekutuan Tuhan tentang beberapa perwujudan orang-orang yang tidak memiliki hati nurani dan nalar, aku memahami bahwa orang dengan kemanusiaan yang normal seharusnya memiliki rasa malu, dan ketika sesuatu terjadi pada mereka, seharusnya mereka mampu memikirkan dan menyikapinya secara rasional.) Siapa lagi yang ingin menambahkan? (Melalui persekutuan Tuhan, aku memahami bahwa mereka yang bukan manusia memiliki perwujudan sikap yang keras kepala dan tegar tengkuk, sedangkan orang dengan kemanusiaan yang normal mampu membedakan yang benar dan yang salah dan mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar; mereka dapat menerima hal-hal positif, dan mereka memandang orang, peristiwa, dan hal-hal dengan cara yang relatif objektif dan rasional. Selain itu, mereka memiliki rasa malu; ketika melakukan kesalahan, mereka mampu mengakui kesalahan mereka, segera memperbaikinya, dan bertobat.) Singkatnya, pada dasarnya semua inilah perwujudannya. Di satu sisi, mereka yang berhati nurani dan bernalar mampu memperlakukan orang, peristiwa, dan hal-hal dengan benar, juga mampu menilai serta memandang orang, peristiwa, dan hal-hal secara objektif. Di sisi lain, mereka juga memiliki rasa malu, dan melakukan segala sesuatu berdasarkan hati nurani dan nalar mereka. Karena kita sedang membahas hati nurani dan nalar, mari kita membahas karakter spesifik yang seharusnya orang miliki dalam hati nurani mereka, dan yang seharusnya orang perlihatkan. Kita telah mengatakan sebelumnya bahwa orang yang berhati nurani memiliki dua sifat: Yang satu adalah integritas, dan yang lain adalah kebaikan hati. Artinya, selain mampu membedakan yang benar dan yang salah, serta mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar, orang yang memiliki sifat dan karakteristik hati nurani dan nalar, setidaknya, adalah orang yang berintegritas dan baik hati. Ada perincian mengenai integritas dan kebaikan hati ini. Ini tidak mengacu pada penampilan luar yang terlihat cukup lugas, atau terlihat tidak jahat, tidak memperlihatkan perilaku yang jelas-jelas berbuat jahat atau melakukan hal-hal buruk—ini tidak mengacu pada perwujudan lahiriah yang orang pikirkan dalam gagasan mereka. Sebaliknya, ini berarti memiliki beberapa perwujudan yang sesuai dengan esensi integritas dan kebaikan hati dalam situasi-situasi tertentu.
Pertama, mari kita membahas tentang integritas dan kebaikan hati. Perwujudan utama yang terkandung dalam hati nurani adalah integritas dan kebaikan hati. Mari kita melihat hal ini dari segi cara berperilaku terlebih dahulu. Bagaimana orang bisa mengetahui apakah seseorang berintegritas dan baik hati dari caranya berperilaku? Biasanya, orang yang berhati nurani memiliki batasan dalam cara mereka berperilaku; maksudnya adalah bahwa di dalam hatinya, mereka memiliki standar dalam cara mereka berperilaku. Sebagai contoh, ketika berinteraksi dengan orang lain, mereka tidak mengambil keuntungan dari orang-orang itu. Apakah ini standar dalam cara berperilaku? (Ya.) Tidak mengambil keuntungan dari orang lain ketika berinteraksi dengan mereka adalah standar dasar dalam cara berperilaku. Orang yang berhati nurani dan bernalar memiliki batasan dalam cara mereka berperilaku, menangani masalah, dan berinteraksi dengan orang lain, yaitu tidak mengambil keuntungan dari orang lain. Entah mereka sedang berinteraksi dengan orang miskin atau orang kaya, mereka tidak mengambil keuntungan dari orang-orang itu. Mereka berpikir, "Uang orang lain adalah milik mereka. Semiskin apa pun diriku, aku tidak boleh mengambil keuntungan dari mereka." Jika mereka kekurangan uang atau membutuhkan bantuan, sekalipun mereka melihat bahwa orang lain kaya, mereka sama sekali tidak akan mengambil keuntungan darinya. Jika seseorang membantu mereka, mereka akan mencari cara untuk membalasnya, dan sama sekali tidak akan menerimanya begitu saja. Sebagai contoh, jika seseorang mentraktir mereka makan, mereka akan mencari kesempatan untuk balas mentraktirnya, atau mereka berupaya sebaik mungkin untuk membantu ketika orang tersebut membutuhkan. Mereka meyakini bahwa hanya berperilaku dengan cara seperti ini, barulah mereka dapat merasa tenang di dalam hatinya. Engkau lihat, bukankah ini berarti memiliki batasan dalam cara berperilaku? (Ya.) Ini juga merupakan suatu standar dalam cara berperilaku. Orang yang berhati nurani mampu mencapai hal ini. Jika mereka berutang uang atau berutang budi kepada seseorang, mereka selalu merasa tidak enak hati, dan akan terus mencari kesempatan untuk membalas orang tersebut. Mereka mungkin membalasnya dengan uang atau benda materi, atau mereka mungkin membantu dengan segenap kemampuan mereka ketika orang tersebut mengalami kesulitan tertentu. Hanya dengan cara ini, barulah mereka dapat merasa tenang dan tidak merasa berutang di dalam hatinya. Jika mereka tidak memiliki kesempatan untuk memberi ganti rugi kepada orang tersebut atau tidak memiliki kemampuan untuk membalasnya, mereka akan selamanya merasa berutang kepadanya. Ketika bertemu dengan orang tersebut, mereka akan selalu merasa tidak berani menatap matanya, dan mereka tidak akan bisa makan atau tidur dengan tenang. Beban itu baru akan terangkat dari pundak mereka, dan hati mereka baru akan merasa tenang setelah mereka selesai memberi ganti rugi kepada orang itu. Hanya orang-orang seperti inilah yang memiliki hati nurani, nalar, dan rasa malu. Jika engkau berinteraksi dengan orang semacam ini, mereka sama sekali tidak akan pernah berutang apa pun kepadamu, dan engkau tidak akan selalu menjadi pihak yang diutangi oleh mereka. Bukankah ini adalah perwujudan dari memiliki hati nurani? (Ya.) Tidak mengambil keuntungan dari orang lain adalah batasan yang dimiliki orang-orang semacam ini dalam cara mereka berperilaku, dan dapat juga dikatakan bahwa ini adalah prinsip dalam cara mereka berperilaku. Mereka memang harus bertindak seperti ini; jika tidak, di dalam hatinya, mereka akan merasa gelisah dan akan selalu ada perasaan menyalahkan diri sendiri. Apakah ini adalah perwujudan integritas ataukah kebaikan hati dalam hati nurani? (Ini adalah integritas.) Integritas sedikit lebih menonjol di sini. Apakah terdapat juga kebaikan hati di dalamnya? (Terdapat juga kebaikan hati di dalamnya—tidak ingin mengambil keuntungan dari orang lain, dan tidak ingin menyebabkan orang lain menderita kerugian atau dirugikan.) Terdapat unsur kebaikan hati dalam sikap yang tidak menginginkan orang lain menderita kerugian. Jadi, apakah prinsip tentang cara mereka berperilaku ini ada hubungannya dengan kepribadian mereka? (Tidak.) Apakah itu ada hubungannya dengan apa yang diajarkan oleh keluarga atau masyarakat kepada mereka? (Tidak.) Apakah itu ada hubungannya dengan apakah mereka miskin atau kaya? (Tidak.) Apakah itu ada hubungannya dengan wawasan mereka? (Tidak.) Hanya ada satu hal yang penting, yaitu bahwa itu ada hubungannya dengan hati nurani dan nalar mereka, dan itu ada hubungannya dengan pengggolongan mereka. Hanya karena mereka memiliki sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka, serta hati nurani dan nalar kemanusiaan, maka mereka berperilaku dengan cara seperti ini. Ini bukanlah hasil dari pendidikan manusia. Sekalipun orang tua memang mengajari anak-anak mereka, orang tua hanya dapat mengajari mereka beberapa doktrin tentang cara berperilaku—orang tua tidak dapat mengubah esensi natur anak-anak mereka, dan sama sekali tidak mampu membuat anak-anak mereka melakukan segala sesuatu berdasarkan hati nurani dan nalar. Jadi, prinsip dalam cara berperilaku ini pada dasarnya berasal dari kemanusiaan mereka. Bahwa mereka memiliki prinsip dan batasan semacam ini dalam cara mereka berperilaku, itu bukanlah hasil dari pengaruh orang lain; itu sepenuhnya berasal dari esensi natur mereka sendiri, serta dari hati nurani dan nalar mereka. Oleh karena itu, jika orang memiliki sifat integritas dan kebaikan hati, maka, dalam kehidupan mereka sehari-hari dan dalam cara mereka berperilaku serta menangani berbagai hal, entah mereka kaya atau miskin, entah mereka berwawasan atau tidak, entah kepribadian mereka cepat dan efisien atau lambat dan tidak terburu-buru, mudah marah atau lemah lembut—semua hal ini tidaklah penting. Apa yang penting? Yang penting adalah mereka memiliki batasan dalam cara mereka berperilaku; mereka memiliki batasan atau prinsip dasar dalam cara mereka berperilaku, yaitu tidak mengambil keuntungan dari orang lain. "Tidak mengambil keuntungan dari orang lain" ini berarti tidak ingin mengambil keuntungan dari orang lain, dan tidak pernah mengambil keuntungan dari orang lain. Batasan dan prinsip tentang cara berperilaku ini berasal dari kemanusiaan mereka; ini muncul karena sifat kemanusiaan mereka. Oleh karena itu, fakta bahwa mereka memiliki prinsip tentang cara berperilaku semacam itu berkaitan sangat erat dengan hati nurani mereka serta integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka. Artinya, hanya jika orang memiliki sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka, barulah mereka akan memiliki prinsip tentang cara berperilaku yang tidak mengambil keuntungan dari orang lain; prinsip ini muncul dari sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka. Katakan kepada-Ku, selain berintegritas dan baik hati, apakah orang dengan sifat-sifat kemanusiaan memiliki perasaan malu dan rasa malu? (Ya.) Mereka lebih memilih menderita kerugian daripada mengambil keuntungan dari orang lain. Jika mereka mengambil keuntungan dari seseorang, mereka akan selalu merasa berutang kepada orang itu. Setiap kali bertemu orang itu, mereka akan merasa seperti manusia hina; mereka akan merasa tidak nyaman dan gelisah di dalam hatinya, dan selalu ingin mencari kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Jika mereka meminjam uang dari orang lain dan belum melunasinya, mereka akan merasa gelisah di dalam hatinya. Sekalipun seseorang tanpa sengaja menyinggung masalah itu, mereka akan merasa wajah mereka memerah, serta merasa malu dan bahkan gelisah. Jika seseorang berbicara sedikit lebih kasar tentang hal ini, mereka akan berharap ditelan bumi, benar-benar merasa terlalu malu untuk menghadapi siapa pun. Apakah ini perwujudan memiliki perasaan malu? (Ya.) Semua ini adalah perwujudan yang diperlihatkan oleh orang-orang yang memiliki sifat kemanusiaan, yang didorong oleh hati nurani mereka. Jika orang semacam ini berutang uang atau berutang budi, mereka merasa gelisah di dalam hatinya, seolah-olah mereka telah melakukan sesuatu yang memalukan. Mereka sering merasa tertuduh oleh hati nurani mereka, dan mereka mencoba segala cara yang memungkinkan untuk melunasi utangnya kepada pihak lain. Ada yang bekerja di beberapa tempat sekaligus, ada yang menjual barang kesayangan mereka, ada yang menjual aset keluarga mereka, dan ada yang bahkan jatuh sakit tetapi tidak rela mengeluarkan uang untuk berobat ke dokter—mereka lebih memilih menderita kemiskinan dan kelelahan demi menghemat uang dan segera melunasi utang mereka. Ada orang-orang yang tidak memahami hal ini, dan berkata, "Jika orang lain menghasilkan uang seperti yang kauhasilkan, mereka pasti sudah membeli mobil dan rumah sejak lama. Kau menggunakan seluruh uangmu untuk melunasi utangmu, dan kau sendiri menjalani kehidupan yang sulit—bukankah itu terlalu bodoh? Jika kau tidak memiliki kemampuan untuk melunasi utang itu, tidak usah melunasinya." Namun, mereka berpikir, "Bagaimana mungkin aku berperilaku dengan cara seperti itu? Berperilaku dengan cara seperti itu sangatlah tidak berhati nurani—jika demikian, apakah aku masih bisa disebut manusia? Menggunakan uang orang lain untuk menjalani kehidupan yang baik—apa bedanya itu dengan menggunakan uang haram? Mungkinkah hati nuraniku merasa tenang? Mengambil apa yang merupakan milik orang lain sangatlah tercela dan menjijikkan! Tidak mudah bagi mereka untuk mendapatkan uang. Mereka sudah sangat membantuku dengan meminjamkan uang kepadaku saat itu, dan aku tak henti-hentinya bersyukur atas hal itu; aku harus segera melunasinya. Dalam cara berperilaku, orang haruslah bertindak dengan hati nurani dan dapat dipercaya; hanya dengan menggunakan uang yang mereka hasilkan sendiri, orang baru bisa merasa tenang. Tidak mengambil keuntungan dari orang lain dan tidak berutang kepada orang lain—inilah batasan paling dasar dalam cara berperilaku." Engkau lihat, orang yang berhati nurani memiliki prinsip yang paling dasar dan benar dalam melakukan segala sesuatu. Meskipun masih ada jarak yang jauh antara tujuan yang mereka tetapkan dalam cara mereka berperilaku dan prinsip-prinsip kebenaran, sejauh menyangkut cara berperilaku, prinsip tentang cara berperilaku dari orang semacam ini untuk tidak mengambil keuntungan dari orang lain sudah cukup untuk memperlihatkan bahwa mereka memiliki sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka. Dalam hal mengambil keuntungan dari orang lain atau berutang, dari prinsip tentang cara berperilaku yang dibicarakan oleh orang-orang ini, dapat dilihat bahwa mereka relatif berintegritas dan baik hati. Mereka tidak menggunakan penalaran yang menyimpang atau bertindak tidak masuk akal. Mereka berkata, "Orang itu mengulurkan tangan untuk meminjamkan uang kepadaku ketika aku sedang mengalami masa yang paling sulit; ini sudah merupakan bantuan yang sangat besar. Jika aku mampu melunasi utang itu, aku seharusnya segera melunasinya." Bukankah ini adalah perwujudan dari cara berperilaku yang berintegritas? (Ya.) Setidaknya, mereka memiliki semangat kebenaran, dan kemanusiaan mereka tidak jahat. Sementara itu, bagaimana cara berpikir orang jahat? "Siapa yang menyuruhmu meminjamkan uang kepadaku saat itu? Bukankah kau bisa saja tidak meminjamkannya kepadaku? Kau sendiri yang bersedia meminjamkannya. Jika aku tidak ingin melunasinya, aku tidak akan melunasinya. Aku akan menggunakan uangmu untuk berbisnis dan mendapat untung besar; lagi pula, kau punya uang lebih. Selain itu, begitu uang itu berada di tanganku, itu menjadi milikku, dan aku bisa menghabiskannya sesukaku. Mengenai apakah aku akan melunasinya atau tidak, itu tergantung pada suasana hatiku. Ketika aku punya uang, aku akan melunasinya jika suasana hatiku sedang baik—anggap saja sebagai keuntungan tak terduga. Jika aku tidak melunasinya, tidak ada yang bisa kaulakukan; tidak ada surat utang, jadi sekalipun kau menggugatku di pengadilan, kau tidak akan menang." Inilah mentalitas orang jahat. Bukankah ini tidak masuk akal? (Ya.) Cara berpikir orang jahat sangat bertolak belakang dengan cara berpikir orang yang berintegritas. Pemikiran orang yang berintegritas sangatlah lurus. Dalam istilah orang tidak percaya, mereka penuh pengertian dan masuk akal, mereka memikirkan orang lain dalam segala hal, dan mereka menghargai kasih sayang dan kebenaran, akal sehat, serta kemanusiaan. Mereka tidak bertindak tidak masuk akal, dan tidak menggunakan penalaran yang menyimpang. Inilah integritas. Lalu bagaimana cara berpikir orang yang berintegritas? "Tidak mudah bagi mereka untuk mendapatkan uang. Sekalipun mereka punya banyak uang, itu milik mereka, itu bukan untuk kaugunakan. Tindakan mereka meminjamkannya kepadamu adalah kemurahan hati; begitu kau berutang sesuatu kepada seseorang, kau telah menanggung utang, dan karenanya kau memiliki tanggung jawab dan kewajiban untuk melunasinya." Engkau lihat, bukankah cara berpikir mereka lurus? Bukankah mereka berakal sehat? Bukankah mereka penuh pengertian dan masuk akal? (Ya.) Ini adalah perwujudan integritas. Jika orang memiliki sifat integritas dalam kemanusiaannya, mereka akan berpikir seperti ini. Mereka akan penuh pengertian dan masuk akal, serta berakal sehat; ini adalah perwujudan memiliki kemanusiaan. Perwujudan tidak memiliki kemanusiaan adalah bertindak seperti orang jahat: bertindak tidak masuk akal, tidak mau mendengarkan nalar, bertindak sewenang-wenang, bersikap sok berkuasa dan mendominasi, selalu menggunakan penalaran yang menyimpang, bahkan tidak memahami penalaran kemanusiaan, dan sama sekali tidak mampu bersikap penuh pengertian dan masuk akal, dan karenanya, tidak mampu mencapai tingkat menerapkan kebenaran. Orang-orang yang memiliki sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka bersikap penuh pengertian dan masuk akal; hal-hal yang mereka katakan sangat adil dan masuk akal, memiliki sentuhan manusiawi, dan beralasan kuat. Hanya orang-orang semacam inilah yang memiliki kondisi untuk menerima kebenaran. Setelah mendengar firman Tuhan, hanya orang-orang dengan sifat kemanusiaan semacam inilah yang merasa, "Firman Tuhan sangat benar, ini sungguh kebenaran! Beginilah seharusnya cara orang berperilaku. Orang seharusnya memiliki batasan dalam cara mereka berperilaku. Orang yang memiliki hati nurani dan nalar seharusnya memperlakukan orang lain dengan cara seperti ini, dan mereka seharusnya berperilaku dan menangani masalah dengan cara seperti ini. Firman Tuhan sangatlah benar!" Engkau lihat, sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka memberi mereka kondisi dasar untuk menerima kebenaran, memungkinkan mereka untuk mengatakan Amin dan menerima kebenaran setelah mendengarnya, tanpa merasa menentang, tanpa merasa jijik akan kebenaran, atau menolaknya. Mereka merasa bahwa firman Tuhan adalah benar, sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan kemanusiaan yang normal, mampu memuaskan kebutuhan dalam hati orang-orang, dan merupakan apa yang seharusnya dimiliki oleh orang dengan kemanusiaan yang normal, dan bahwa hanya kebenaran yang dapat memuaskan mereka dan memungkinkan kemanusiaan mereka menjadi lebih baik. Oleh karena itu, hanya orang-orang yang memiliki sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka yang bisa haus akan kebenaran, bisa mengetahui bahwa firman Tuhan adalah kebenaran ketika mereka mendengarnya, kemudian mampu menerima kebenaran di dalam hati mereka, dan mampu menerapkan kebenaran setelah mereka memahaminya.
Dalam prinsip tentang cara berperilaku yang tidak mengambil keuntungan dari orang lain, sifat kemanusiaan yang diperlihatkan orang dengan jelas adalah integritas, kebaikan hati, dan rasa malu. Tentu saja, selain tidak berutang budi atau berutang uang, orang yang berhati nurani dan bernalar memperlihatkan perwujudan lain untuk tidak mengambil keuntungan dari orang lain, yaitu ketika orang lain mengambil keuntungan dari mereka dan mereka menderita kerugian, mereka tidak mempermasalahkannya, dan terkadang mereka bahkan dapat memberikan sesuatu kepada orang lain tanpa diminta. Jika seseorang terus menyinggung masalah pelunasan utangnya, orang-orang ini merasa sungkan: "Kau terus menyinggung hal ini, seolah-olah aku mendesakmu untuk melunasi utangmu. Sebenarnya, aku tidak pernah bermaksud melakukan itu. Kau bisa melunasinya kapan pun kau punya uang; jika kau tidak punya uang dan berutang kepadaku selamanya, itu juga tidak apa-apa. Jika kau bersikeras untuk tidak membayarku, aku tidak akan menuntutmu melunasinya. Jika kau bisa melunasinya, lakukanlah; jika tidak bisa, aku akan menganggapnya sebagai sedekah." Engkau lihat, mereka juga memiliki perwujudan semacam ini, dan batasan dalam cara mereka berperilaku ini. Misalkan seseorang ingin meminjam sesuatu yang sangat penting bagi mereka dan yang sangat mereka hargai. Sekalipun mereka tidak terlalu kaya, ketika orang lain mengatakan ingin meminjamnya, mereka berpikir, "Orang ini pasti sedang kesulitan sehingga meminjam sesuatu dariku, jadi aku seharusnya meminjamkannya kepadanya." Sebagai contoh, selama musim bertani yang sibuk, seseorang ingin meminjam kendaraan mereka. Mereka sendiri membutuhkan kendaraan itu, dan jika mereka meminjamkannya kepada orang itu, pekerjaan mereka sendiri akan tertunda. Namun, karena mereka baik hati dalam hal kemanusiaan mereka, mereka tetap meminjamkannya, hanya berpesan kepada orang itu untuk segera mengembalikannya setelah selesai digunakan. Beberapa hari kemudian, orang tersebut mengembalikan kendaraan itu, tetapi dalam kondisi rusak dan belum diperbaiki, sehingga mereka harus memperbaikinya sendiri. Mereka merasa sedikit kesal, tetapi mereka tidak terlalu marah, dan berpikir, "Sudahlah, kami bertetangga dan sering bertemu; aku tidak akan mempermasalahkannya." Mereka memperlakukan orang lain dengan berjiwa besar seperti ini; bahkan ketika mereka menderita kerugian, mereka tidak meributkannya. Meskipun semua orang sama-sama manusia, prinsip dan batasan yang orang miliki dalam cara mereka berperilaku berbeda-beda. Ada orang yang mampu bersedekah, sementara yang lain bukan hanya tidak dapat melakukannya, melainkan juga ingin mengambil keuntungan dari orang lain. Meskipun orang yang relatif berintegritas dan baik hati semacam ini merasa sedikit kesal setelah menderita kerugian, mereka tidak bertindak dan berdebat dengan pihak lain, mereka juga tidak bertengkar dengannya ataupun menuntut ganti rugi; mereka hanya bersabar seperti ini. Jika mereka perlu pergi untuk mengurus sesuatu dan meminjam kendaraan seseorang, setelah menggunakannya, mereka mencucinya dan mengisi penuh tangki bensinnya. Ketika mereka mengembalikannya kepada pemiliknya, kendaraan itu sama sekali tidak rusak, dan mereka juga memberi kompensasi kepada pemiliknya dengan membayar harga sewa harian tertinggi untuk jenis kendaraan ini. Mereka tidak akan membuat orang tersebut merasa dimanfaatkan. Menurut mereka inilah yang seharusnya mereka lakukan. Ada orang-orang yang berkata, "Apakah orang semacam ini hanya memedulikan gengsi mereka?" Bagi umat manusia yang rusak, berapa banyak orang yang mampu mencapai tingkat ini hanya demi gengsi mereka? Orang tidak percaya sering berkata, "Berapa harga gengsi seseorang?" dan "Berapa harga hati nurani?" Tak seorang pun mau merogoh kocek mereka hanya untuk menjaga gengsi atau untuk membuat orang lain menganggap mereka memiliki hati nurani dan kemanusiaan. Bagi setiap orang, hal-hal materi dan uang lebih penting daripada nyawa itu sendiri. Mengatakan sesuatu yang baik, terhormat, atau tidak tulus dan menyanjung demi menjaga gengsi adalah sesuatu yang mampu orang lakukan, tetapi benar-benar merelakan uang mereka untuk membantu orang lain tidaklah mudah; sangat sedikit orang yang mampu melakukannya. Hanya mereka yang memiliki sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka yang mampu mencapai hal ini. Orang-orang semacam itu melakukan segala sesuatu berdasarkan prinsip "Aku lebih memilih menderita sedikit kerugian daripada mengambil keuntungan darimu". Jika mereka tidak bertindak seperti ini, mereka merasa tidak enak hati. Sering kali, ketika orang semacam ini meminjam sesuatu, mereka bukan hanya tidak mengambil keuntungan dari si pemberi pinjaman, melainkan bahkan terkadang mereka akhirnya membayar lebih dari kantong mereka sendiri. Sebagai contoh, ketika mereka meminjam kendaraan seseorang, mereka mengisi bensinnya dan mencucinya, dan akhirnya memberi kompensasi kepada pemiliknya dengan membayar harga sewa harian tertinggi untuk jenis kendaraan tersebut. Jika dihitung dengan cara seperti ini, bukankah jadinya lebih mahal daripada jika mereka menyewa kendaraan sendiri? (Ya.) Ketika mereka mengembalikan kendaraan tersebut, jika pemiliknya melihat-lihat dan memeriksanya beberapa kali, si peminjam merasa gelisah di dalam hatinya, khawatir pemiliknya menemukan beberapa bagian kendaraan yang rusak dan menuntut ganti rugi. Akhirnya, setelah memeriksanya, pemiliknya mengatakan bahwa tidak ada masalah, merasa cukup puas, dan juga menyebutkan bahwa mereka dapat meminjam kendaraan itu kapan pun mereka mau di masa mendatang. Setelah itu, barulah orang-orang ini merasa tenang di dalam hatinya, berpikir, "Ah, dia memercayaiku; mendengar ini saja sudah cukup!" Engkau lihat, apa yang mereka cari dalam cara mereka berperilaku? Mereka tidak mencari cara untuk mengambil keuntungan dari orang lain; mereka hanya berusaha untuk berperilaku sebagai orang yang dapat dipercaya, dan tidak dipandang rendah oleh orang lain. Katakan kepada-Ku, apakah orang mampu bertindak seperti ini karena mereka peduli akan gengsi mereka, karena mereka pengecut, karena mereka miskin dan tidak memiliki ambisi, atau karena mereka takut dipandang rendah? Bukan karena satu pun dari hal-hal ini. Prinsip paling dasar yang dimiliki oleh orang yang berhati nurani dalam berinteraksi dengan orang lain adalah tidak mengambil keuntungan dari orang lain. Yang mereka cari adalah ketenangan pikiran. Sekalipun mereka sendiri menderita kerugian atau menjalani kehidupan yang sulit karenanya, mereka tidak menyalahkan orang lain atau berusaha membuat perhitungan dengan orang-orang tersebut. Mereka hanya berusaha untuk bertindak sesuai dengan hati nurani mereka sendiri dan tidak berutang apa pun kepada siapa pun. Apa pun yang mereka lakukan, mereka merasa harus bertindak sedemikian rupa sehingga mereka tidak merasa bersalah, hati nurani mereka tidak menuduh mereka, dan mereka tidak mengambil keuntungan dari siapa pun; mereka tidak melakukan apa pun yang membuat mereka berutang kepada orang lain dan menyebabkan orang-orang mengkritik di belakang mereka. Mereka bisa bertindak seperti ini bukan karena mereka miskin, atau karena mereka memiliki kepribadian yang lemah, apalagi karena mereka sombong, melainkan karena sifat kemanusiaan mereka—integritas dan kebaikan hati—yang mendorong mereka untuk melakukan hal-hal ini. Terutama dalam hal tidak mengambil keuntungan dari orang lain saat berinteraksi dengan mereka, orang-orang itu berperilaku dengan sangat baik hati dan berintegritas.
Misalkan ada seseorang yang kondisi keuangannya kurang baik, dan ketika dia berinteraksi dengan orang kaya, orang tersebut memberinya beberapa barang yang tidak lagi digunakan di rumah sebagai sedekah. Si penerima berpikir, "Fakta bahwa dia memberikan barang-barang ini kepadaku berarti dia tidak memandang rendah diriku; dia telah memberiku bantuan. Lalu, bagaimana seharusnya aku membalasnya? Aku tidak mampu membeli hadiah mewah; yang kumiliki hanyalah sayuran segar dari ladang, dan telur dari ayam-ayam kampung di rumah. Hal-hal ini mungkin tidak terlalu berarti baginya, tetapi bagi kami orang miskin, ini adalah hal terbaik yang kami miliki, hal-hal paling pantas yang dapat kami berikan. Aku akan memberinya beberapa agar dia bisa mencicipi sesuatu yang segar; ini juga merupakan tanda apresiasiku." Pihak yang kaya itu sebenarnya memberikan barang-barang yang tidak terpakai, tetapi si penerima mampu memahami hal ini dengan benar. Dia tidak berkata, "Kau memberiku barang-barang yang tidak kaugunakan dan tidak kaupedulikan; bukankah ini berarti merendahkanku seakan-akan aku pengemis? Apakah kau akan tetap memberiku barang-barang itu jika kau menggunakannya? Mengapa kau tidak memberiku barang-barang bagus yang kau miliki?" Orang yang benar-benar memiliki hati nurani dan nalar tidak akan berpikir seperti ini. Mereka hanya akan berpikir, "Fakta bahwa dia memberiku barang-barang ini berarti dia tidak memandang rendah diriku." Sekalipun orang lain mengucapkan beberapa komentar yang tidak enak didengar dan di dalam hatinya, mereka merasa sedikit sedih, mereka tetap bisa menyikapi hal ini dengan benar dan tidak mencoba memperdebatkan pandangan mereka sendiri; terlebih lagi, mereka mampu memberi imbalan kepada si pemberi dengan apa yang mereka anggap sebagai barang-barang terbaik yang mereka miliki, berdasarkan situasi keluarga dan kondisi keuangan mereka sendiri. Engkau lihat, prinsip mereka dalam berinteraksi dan memperlakukan orang lain adalah tidak mengambil keuntungan dari orang lain. Meskipun prinsip ini tampaknya tidak mencolok, dan merupakan hal benar dan lumrah yang sudah biasa dilakukan kebanyakan orang, tidak semua orang mampu mematuhinya, juga tidak semua orang memandangnya sebagai prinsip yang paling dasar tentang cara berperilaku, apalagi sebagai sesuatu yang dihargai oleh semua orang. Orang yang benar-benar berintegritas dan baik hati sangat mementingkan prinsip tidak berutang kepada orang lain atau mengambil keuntungan dari mereka saat bergaul dan berinteraksi dengan orang lain. Entah mereka sedang menikmati kehidupan yang nyaman atau menderita kemiskinan, hal yang mereka cari dalam cara mereka berperilaku dan menangani berbagai hal adalah ketenangan pikiran, dan bebas dari tuduhan hati nurani mereka. Hanya orang-orang semacam ini yang berusaha untuk berperilaku dengan cara seperti itu. Di era apa pun atau di lingkungan sosial seperti apa pun mereka, atau di kelompok orang mana pun mereka berada, mereka yang bisa berperilaku seperti ini melakukannya karena mereka memiliki sifat integritas, kebaikan hati, dan tahu malu dalam kemanusiaan mereka. Sebaliknya, jika orang tidak memiliki sifat-sifat ini dalam kemanusiaan mereka, mereka tidak akan memiliki batasan dalam cara mereka berperilaku, dan sekalipun mereka memilikinya, mereka tidak akan mampu mempertahankannya. Apa alasan mereka tidak mampu mempertahankan batasan dalam cara mereka berperilaku? Terutama karena mereka tidak memiliki sifat integritas, kebaikan hati, dan perasaan malu dalam kemanusiaan mereka. Ada orang-orang yang berkata, "Bukankah orang seperti ini terkadang juga mampu mempertahankan batasan dalam cara mereka berperilaku?" Mereka mampu melakukannya dalam kondisi khusus. Terkadang mereka memang tampaknya mampu mempertahankan batasan; itu adalah kondisi khusus. Terkadang mereka berhasil untuk tidak mengambil keuntungan dari orang lain atau berutang kepada orang lain karena situasinya tidak tepat, atau karena mereka tidak dapat menemukan kesempatan yang cocok. Sebagai contoh, jika mereka meminjam barang atau uang dan tidak mengembalikannya, akan ada konsekuensinya: Mereka akan menanggung kecaman opini publik atau dimintai pertanggungjawaban secara hukum, orang-orang akan mengkritik mereka di belakang mereka, atau mereka bahkan mungkin tidak bisa tinggal di desa, kampung, atau komunitas mereka. Mereka tidak melakukannya karena terpaksa dan tidak ada pilihan lain; karena tidak berdaya, mereka dengan enggan melunasi utang kepada peminjam mereka atau untuk sementara waktu tidak mengambil keuntungan dari si peminjam. Namun, jenis orang yang tidak mampu mempertahankan batasan dalam cara mereka berperilaku ini tidak pernah bertindak seperti ini secara proaktif, karena mereka sama sekali tidak memiliki sifat seperti integritas, kebaikan hati, dan rasa malu dalam kemanusiaan mereka. Sebaliknya, jenis orang yang benar-benar mampu untuk tidak mengambil keuntungan dari orang lain melakukannya secara proaktif, dan itu adalah sesuatu yang mereka perlihatkan secara alami, atau mereka sendiri telah menetapkan prinsip dan batasan semacam ini dalam cara mereka berperilaku. Jelas, fakta bahwa mereka memiliki prinsip semacam ini dalam cara mereka berperilaku adalah perwujudan alami yang berasal dari hati nurani dan nalar mereka, dan perwujudan alami ini sepenuhnya didasarkan pada fakta bahwa mereka memiliki sifat integritas dan kebaikan hati; mereka tidak dipengaruhi oleh orang lain, juga tidak dipaksa oleh lingkungan mereka. Itu benar-benar sesuatu yang mereka perlihatkan secara alami, yang merupakan kebutuhan kemanusiaan mereka, dan juga kebutuhan dunia batin mereka. Ini adalah dasar yang cukup memadai untuk mengatakan bahwa orang semacam ini secara bawaan memiliki sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka. Jika mereka tidak bertindak seperti ini, mereka tidak akan mampu menyelaraskannya dengan hati nurani mereka, dan mereka akan merasa gelisah di dalam hatinya; mereka akan merasa terlalu malu untuk hidup dan terlalu malu untuk ditemui. Akibatnya, mereka berperilaku dengan cara ini dengan sangat alami. Katakan kepada-Ku, apakah menurutmu prinsip tentang cara berperilaku yang tidak mengambil keuntungan dari orang lain ini penting? (Ya.) Tidak mengambil keuntungan dari orang lain tampaknya merupakan prinsip dasar tentang cara berperilaku yang sangat tidak mencolok, tetapi ini adalah penanda penting yang mencerminkan sifat seperti apa yang orang miliki dalam kemanusiaan mereka. Bukankah demikian? (Ya.)
Orang yang tidak mengambil keuntungan dari orang lain memperlihatkan jenis perwujudan lainnya. Sebagai contoh, seseorang yang relatif kaya menawarkan kepada mereka sesuatu yang tidak dipakainya atau barangnya yang berlebih. Merasa bahwa tidak boleh mengambil keuntungan dari orang lain tanpa memberikan imbalan, dan tidak ingin berutang budi kepada siapa pun, mereka berkata, "Aku tidak terlalu membutuhkannya saat ini, tetapi terima kasih atas kebaikanmu." Apakah menurutmu orang-orang serakah? Ketika orang melihat barang-barang bagus, apakah mereka menyukainya dan ingin menikmatinya? Semua orang menyukai dan ingin menikmatinya, tetapi ada perbedaan di antara orang-orang. Sebagai contoh, kebanyakan orang suka menggunakan komputer bermerek yang kualitasnya bagus, cepat, dan memiliki gambar yang tajam. Ada orang-orang yang tidak punya uang dan tidak mampu membelinya, jadi mereka selalu ingin mengambil keuntungan dari orang lain. Ketika mereka melihat seseorang menggunakan komputer bermerek, mereka sering meminjamnya, dan bahkan menggunakannya tanpa izin dari pemiliknya atau ketika pemiliknya tidak ada. Ketika pemiliknya perlu menggunakannya, mereka bahkan mencari-cari alasan dan malah menyuruh pemiliknya menggunakan komputer mereka. Melihat bahwa mereka terus menggunakannya dan tidak mengembalikannya, si pemilik tidak punya pilihan selain membeli komputer yang lain. Seperti itulah mereka merampas komputer orang lain, tanpa merasakan teguran dari hati nurani mereka sedikit pun. Apakah orang semacam itu memiliki kemanusiaan? Apakah mereka memiliki hati nurani? (Tidak.) Apakah mereka orang yang berintegritas dan baik hati? (Tidak.) Orang yang berintegritas dan baik hati sama sekali tidak akan melakukan hal semacam itu. Misalkan seseorang membeli komputer baru dan, melihat bahwa orang yang berintegritas dan baik hati ini menggunakan komputer yang lambat, menawarkan komputer lamanya kepada orang tersebut. Orang yang berintegritas dan baik hati itu merasa bahwa menerimanya berarti mengambil keuntungan, dan dia pun menolaknya. Si pemilik komputer mengatakan bahwa dia bisa membayarnya beberapa puluh yuan saja, tetapi orang yang berintegritas itu tahu bahwa ini jelas merupakan bentuk amal, dan merasa bahwa dia tidak boleh mengambil keuntungan dari hal ini. Jadi, dia memikirkan cara untuk menabung, berpikir bahwa sekalipun dia menabung beberapa ratus yuan untuk membeli komputer tersebut, itu dapat dianggap membelinya dengan harga barang bekas. Jika si pemilik komputer menolak uang itu, dia tidak akan menyetujui tawaran tersebut; dia sama sekali tidak akan menerima barang pemberian orang lain secara cuma-cuma. Katakan kepada-Ku, apakah dia kaku? Orang tidak percaya mengatakan orang semacam ini kaku dan tidak mau berkompromi, tetapi ada suatu kelebihan dalam hal sifat kemanusiaan yang tercermin dalam sikap yang tidak bersedia untuk berkompromi ini. Kelebihan apa? Mereka percaya bahwa apa pun situasinya, mereka harus mempertahankan prinsip dan batasan dalam cara mereka berperilaku; hanya dengan begitu, mereka dapat memiliki ketenangan pikiran dan merasa mantap. Mereka berpikir jika mereka mengambil keuntungan dari orang lain, itu tidak adil dan mereka tidak akan sanggup menghadapi orang tersebut, dan jika mereka menggunakan barang orang lain, itu akan membuat mereka merasa gelisah, wajah mereka akan memanas, dan mereka akan merasa tidak nyaman di dalam hatinya. Ada orang-orang yang berkata, "Namun, orang tersebut bersedia meminjamkannya." Apakah kesediaan orang tersebut berarti itu bukan mengambil keuntungan darinya? Sekalipun orang tersebut bersedia, itu tetap saja mengambil keuntungan darinya. Mengambil keuntungan tetaplah mengambil keuntungan; natur dari hal ini tidak berubah karena kesediaan orang lain; esensinya tetaplah sama. Mereka berpikir, "Membeli komputer sebagus itu seharga beberapa puluh yuan jelas berarti mengambil keuntungan darinya. Aku sama sekali tidak boleh menerimanya. Jika aku bisa menabung cukup uang, aku akan membelinya. Jika tidak bisa, aku akan menggunakan komputer lamaku sendiri saja, yang penting pikiranku tenang." Engkau lihat, bukankah ini batasan dalam cara mereka berperilaku? (Ya.) Mereka mampu mempertahankan batasan ini dalam situasi apa pun. Seseorang ingin memberi mereka sesuatu yang begitu besar, mereka memiliki kesempatan untuk mendapatkan sesuatu yang sebagus ini. Melihat hal ini, orang tidak percaya berpikir: "Kau bodoh jika tidak mengambilnya. Sia-sia jika tidak mengambil keuntungan!" Namun, mereka tidak berpikir demikian. Mereka percaya bahwa ini bukanlah bodoh, dan bahwa mereka tidak boleh menipu diri sendiri; mengambil keuntungan tetaplah mengambil keuntungan. Mereka berpikir jika mereka mengambil keuntungan, mereka akan merasa gelisah di dalam hatinya, tidak dapat hidup dengan nyaman, dan merasa tidak tenang menggunakan komputer tersebut, dan bahwa mereka tidak dapat berperilaku seperti itu. Engkau lihat, mereka tidak akan melewati batasan ini dalam cara mereka berperilaku. Bukankah ini berarti hati nurani bekerja dalam diri mereka? (Ya.) Mereka memiliki sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka, dan hati nurani mereka menjalankan fungsinya, sehingga mereka mampu mempertahankan batasan ini. Artinya, alasan mereka mampu mempertahankan batasan ini adalah karena hati nurani mereka terus menjalankan fungsinya, memberi mereka kesadaran, dan membuat mereka merasa, "Melakukan hal itu salah, melakukan hal itu tidak pantas. Aku tidak boleh melakukannya." Hati nurani mereka terus-menerus mendorong, mengendalikan, dan mengatur mereka, memungkinkan mereka untuk mempertahankan batasan dalam cara mereka berperilaku. Pada akhirnya, mungkin mereka mampu membeli barang yang ditawarkan itu kemudian menggunakannya, atau mungkin mereka tidak pernah mampu membelinya dan barang itu digunakan oleh orang lain, dan dalam hal ini, mereka tidak merasa sedih. Setidaknya, dalam hal ini, mereka telah mempertahankan batasan dan prinsip ini dalam cara mereka berperilaku. Orang yang memiliki sifat kemanusiaan menetapkan prinsip dan batasan dalam cara mereka berperilaku, dan mereka terus mempertahankannya. Sekalipun mereka menghadapi situasi yang berkaitan dengan kepentingan mereka dan merasa tergoda pada saat itu, hati nurani mereka akan terus-menerus mendorong dan mengendalikan mereka. Pada akhirnya, sekalipun orang lain berpikir bahwa kepentingan orang ini dirugikan atau bahwa keuntungan tersebut diambil oleh orang lain, dan orang ini mungkin merasa sedikit sedih atau kesal untuk sesaat, karena fungsi hati nurani mereka, hati mereka akan segera tenang. Mereka akan merenung, "Memang lebih baik tidak mengambil keuntungan dari orang lain. Setidaknya aku memiliki ketenangan pikiran, dan tidak merasa dituduh oleh hati nuraniku." Inilah yang mereka cari. Inilah fungsi yang dijalankan oleh hati nurani dalam diri manusia: Hati nurani terus-menerus mengatur dan mengendalikan mereka, memungkinkan mereka untuk membuat pilihan yang tepat. Dalam menghadapi kepentingan diri sendiri, moralitas, atau bahkan beberapa godaan, hati nurani yang orang miliki akan terus-menerus mengendalikan, mengatur, dan mengoreksi perilaku mereka. Pada akhirnya, dalam sebagian besar kasus, orang-orang yang memiliki sifat kemanusiaan akan memilih untuk meninggalkan kepentingan mereka sendiri demi mendapatkan kedamaian dan ketenangan bagi hati nurani mereka. Dalam kondisi khusus, beberapa dari orang-orang ini juga mengalami saat-saat ketika mereka melewati batasan hati nurani mereka, tetapi setelah ini muncul tuduhan dan kegelisahan dalam hati nurani mereka; beberapa orang bahkan menanggung kegelisahan dan rasa bersalah ini selama sisa hidup mereka. Inilah fungsi hati nurani. Artinya, orang yang memiliki sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka akan sesekali melakukan kesalahan, dan dalam kondisi khusus, juga akan melewati batasan kemanusiaan mereka dan melanggar prinsip tentang cara berperilaku yang telah mereka tetapkan untuk diri mereka sendiri. Namun, konsekuensi dari hal ini adalah mereka akan menderita tuduhan dari hati nurani mereka. Jika mereka tidak dapat menemukan kesempatan untuk menebus hal ini, atau kondisi mereka tidak memungkinkannya, mereka akan hidup dengan tuduhan, kegelisahan, teguran diri, dan rasa bersalah dalam batin mereka. Ini adalah perwujudan normal yang dimiliki dalam segala kondisi oleh orang yang memiliki hati nurani dan nalar, serta memiliki sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka.
Dari perspektif kemanusiaan, perwujudan dari orang-orang yang memiliki sifat integritas dan kebaikan hati ini relatif biasa dan lumrah, tidak luhur atau supernatural, juga tidak benar-benar mulia, dan di mata manusia, ini hanya berarti bahwa seseorang memiliki sedikit integritas dan hidup dengan sedikit bermartabat. Namun, di mata Tuhan, sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan yang diwujudkan oleh orang-orang semacam itu sangatlah berharga. Karena umat manusia ini memuja kejahatan, dan tak seorang pun memedulikan hati nurani atau nalar, orang-orang yang berintegritas dan baik hati dikucilkan dalam masyarakat. Prinsip-prinsip dasar tentang cara berperilaku yang mereka patuhi dan wujudkan diejek, diremehkan, dan dikutuk oleh masyarakat luas. Bagaimana orang-orang mengejek mereka? (Orang-orang mengatakan bahwa mereka bodoh, kaku, dan berpikiran tumpul.) Memang seperti itulah kenyataannya. Di tengah masyarakat ini, orang-orang dengan kemanusiaan yang normal diejek, diolok-olok, diremehkan, dan dikutuk oleh orang lain; mereka tidak dapat memperoleh pengakuan maupun persetujuan dari orang lain. Jika engkau selalu berpegang teguh pada prinsip tentang caramu berperilaku dalam sekelompok orang, engkau menjalani kehidupan yang sangat melelahkan. Setiap hari, apa pun yang kautemui, engkau merasa dadamu sesak dan geram, dan engkau merenung, "Apa salahnya aku berperilaku seperti ini? Mengapa orang lain mengejekku? Orang-orang selalu berkata, 'Berapa harga hati nurani?' Hati nurani adalah hal yang paling berharga. Apakah seseorang bahkan manusia jika tidak memiliki hati nurani?" Orang-orang sepertimu adalah objek ejekan dan pengucilan di antara kelompok orang tidak percaya mana pun; tidak ada yang menyetujuimu, dan tak seorang pun memihakmu. Engkau berintegritas dan berpegang teguh pada prinsip dalam caramu berperilaku, dan orang-orang berkata, "Apakah berpegang teguh pada prinsip bisa membayar tagihan? Apakah berpegang teguh pada prinsip akan membuatmu memperoleh penghargaan dari atasan? Apakah semua orang akan menyetujuimu jika engkau berpegang teguh pada prinsip? Jika engkau berpegang teguh pada prinsip di tengah masyarakat ini, engkau adalah orang yang paling bodoh; engkau akan ditekan, dan akhirnya tidak punya cara untuk memenuhi kebutuhan hidup!" Jadi, engkau merenung: "Apa salahnya aku berpegang teguh pada prinsip? Mengapa menjadi orang yang berintegritas dan baik hati membuatku diejek, dikucilkan, dan ditekan?" Pada akhirnya, engkau menyimpulkan bahwa manusia sudah busuk sampai ke intinya, bahwa tidak ada satu orang pun yang baik di antara mereka, bahwa mereka semua adalah setan dan Iblis! Engkau berkata bahwa engkau berperilaku dengan hati nurani yang bersih, bahwa engkau ingin berperilaku dengan cara yang bermartabat dan berintegritas, ingin menangani segala sesuatu sesuai aturan, dan mengandalkan keterampilanmu sendiri untuk mencari nafkah tanpa menggunakan cara yang bengkok, tetapi dengan berperilaku seperti ini, engkau cenderung ditindas di tengah masyarakat; orang-orang dapat dengan mudah menyingkirkanmu dengan hanya sedikit bermanuver. Apa pun keterampilan yang kaumiliki, engkau dikucilkan dan ditekan. Engkau merasa bahwa tidak ada tempat untuk mencari keadilan di dunia manusia ini, dan bahwa hidup seperti ini terlalu menyesakkan. Hidup di tengah orang-orang ini tidak seperti berada di dalam tong pewarna yang besar, tetapi di dalam penggiling daging; engkau akan digiling hidup-hidup sampai mati. Sekalipun engkau tidak digiling sampai mati, engkau akan mati kelelahan, bertindak berlawanan dengan kehendakmu setiap hari dalam hidupmu dengan keadaan lelah secara fisik dan mental, setiap kata yang kauucapkan dan setiap hal yang kaulakukan merupakan pengkhianatan terhadap kehendakmu sendiri. Meski hidup terus-menerus dalam keadaan sulit seperti ini, engkau masih diejek sebagai orang bodoh dan sebagai orang yang kaku, yang tidak tahu cara memberi hadiah kepada atasan atau membangun koneksi dengan rekan kerja. Engkau berperilaku berdasarkan prinsip tidak mengambil keuntungan dari orang lain, tetapi orang lain mencoba segala cara yang memungkinkan untuk mengambil keuntungan darimu, dan engkau bahkan tidak dapat menghindarinya. Pada akhirnya engkau melakukan banyak pekerjaan, tetapi atasan tidak memperhatikanmu, dan semua pujian direbut oleh orang lain. Setelah engkau percaya kepada Tuhan, engkau melihat bahwa ada keadilan di rumah Tuhan, bahwa Tuhan itu benar, dan bahwa sekalipun beberapa orang bertindak tidak adil, ada kebenaran dalam firman Tuhan, ada keadilan dalam firman Tuhan, Tuhan memiliki watak yang benar, dan kebenaran serta keadilanlah yang berkuasa di rumah Tuhan. Engkau berkata: "Jadi, orang baik bisa makmur di rumah Tuhan. Aku bisa membuka hatiku dan mengucapkan semua perkataan yang selama ini kupendam. Aku bisa menggunakan kelebihan dan bakat apa pun yang kumiliki. Hidup di rumah Tuhan benar-benar damai dan penuh sukacita; aku tidak akan pernah lagi ditekan dan dikucilkan oleh orang lain. Percaya kepada Tuhan dan datang ke rumah Tuhan sangatlah luar biasa! Jika aku tidak percaya kepada Tuhan, aku akan hidup seperti mayat hidup dan makin lama aku hidup, makin aku merasa kelelahan dan menderita; aku tidak akan dapat menemukan arah dalam hidup, hatiku akan menjadi redup, dan aku tidak akan dapat melihat cahaya atau masa depan. Itu akan sangat menyakitkan!" Sebelum orang-orang seperti ini percaya kepada Tuhan dan memperoleh kebenaran, mereka merasa bahwa mereka tidak memiliki jalan dalam hidup dan bahwa masa depan mereka suram dan tidak ada cahaya. Setelah mengalami beberapa kemunduran dan kegagalan, serta mengalami banyak kesukaran, mereka tidak hanya meragukan hidup mereka, tetapi bahkan merasa bahwa hidup tidak ada gunanya. Mereka merasa bahkan kematian akan lebih baik daripada hidup di antara orang-orang semacam itu dan hidup di dunia semacam itu! Orang-orang bahkan hidup tidak sebahagia burung-burung di langit, atau sebebas ikan-ikan di laut; setidaknya, burung-burung bisa berkicau kapan pun mereka mau, terbang di langit tanpa rintangan apa pun, dan memiliki sebidang tanah murni mereka sendiri. Orang-orang yang hidup di dunia ini bahkan tidak memiliki hak atau kebebasan untuk berbicara dengan jujur; mereka hidup setiap hari dengan memakai topeng, dan hanya bisa mengatakan hal-hal yang tidak ingin mereka katakan, yang bertentangan dengan apa yang sebenarnya mereka rasakan dalam hati; mereka tak punya pilihan selain mengatakan hal-hal semacam itu, tetapi mereka merasa jijik setelah mengatakannya. Mengapa hidup harus begitu sulit? Orang-orang semacam ini merasa jijik melihat wajah orang-orang di sekitar mereka, dengan rasa muak dan kebencian dalam hati mereka, tetapi mereka tidak dapat menghindar atau menjauh dari orang-orang itu, dan juga tetap harus bergaul dengan mereka. Terkadang mereka terpikir untuk sekadar hidup asal-asalan seperti ini demi menghidupi diri sendiri dan menafkahi keluarga mereka, tetapi tetap tidak rela melakukannya. Mereka merasa bahwa orang haruslah mengejar sesuatu yang bermakna dalam hidup, bahwa mereka haruslah hidup dalam keserupaan dengan manusia, mengatakan yang sebenarnya, dan menjunjung tinggi batasan dalam cara mereka berperilaku, dan bahwa ini adalah yang setidaknya seharusnya dicapai manusia. Mereka merasa jika seseorang bahkan tidak dapat mencapai hal ini, dia bukanlah manusia. Namun, tanpa jalan untuk ditempuh, mereka tidak berdaya, dan hanya bisa menjalani hidup dengan bingung dan linglung, hanya sekadar bertahan hidup. Terutama ketika mereka menghadapi beberapa kesulitan dan telah kehabisan cara, di dalam hatinya, mereka merasa sangat tersiksa: "Mengapa kita hidup? Apakah hanya untuk berbohong setiap hari, dan bergaul dengan orang-orang yang bahkan tidak menyerupai manusia ini dan sekadar hidup asal-asalan menunggu kematian? Karena cepat atau lambat aku akan mati juga, daripada hidup asal-asalan menunggu kematian, lebih baik aku mati saja sekarang dan terbebas dari semua ini lebih cepat." Meskipun orang-orang ingin terbebas dari semua ini, sangat jarang ada orang yang berani melakukannya; mereka khawatir jika mereka mati seperti ini, mereka tidak akan punya cara untuk menjelaskannya kepada orang tua dan orang-orang terkasihnya, dan di dalam hatinya, mereka juga memiliki kekhawatiran: "Apakah mati seperti ini benar-benar akan membebaskanku? Baguslah jika itu benar-benar membebaskanku, tetapi jika tidak, itu akan lebih buruk lagi." Demikianlah, orang-orang bergumul dalam penderitaan seperti ini. Mereka yang belum memperoleh kebenaran menyedihkan seperti ini. Orang-orang merasa bahwa selalu ada harapan dan sesuatu yang dinanti-nantikan dalam hidup, tetapi di lubuk hatinya, mereka merasa bahwa hal-hal ini menjadi makin samar dan jauh. Makin orang merasa bahwa hal-hal ini samar dan jauh, makin mereka bergumul dan menderita di dalam hatinya. Semua orang semacam itu berharap untuk mempertahankan batasan hati nurani mereka serta prinsip dalam cara mereka berperilaku, dan hidup dengan cara yang tidak bertentangan dengan kehendak mereka. Mereka tidak mengajukan tuntutan yang ketat pada diri mereka sendiri, juga tidak menetapkan tujuan yang sangat tinggi bagi hidup mereka; mereka tidak mencari kekayaan yang berlimpah dan jabatan tinggi, tetapi hanya untuk hidup dengan ketenangan pikiran. Namun, mereka bahkan tidak dapat mematuhi prinsip-prinsip yang sesederhana itu dan batasan yang sesederhana itu dalam cara mereka berperilaku, sehingga mereka hidup seperti mayat hidup setiap hari, merasa sangat kelelahan. Kelelahan ini bukanlah kelelahan fisik, bukan pula rasa sakit yang ditimbulkan oleh penyakit, melainkan kelelahan tubuh dan pikiran. Kelelahan ini adalah rasa berat yang diakibatkan oleh tenggelamnya hati mereka; itu menekan hati mereka seperti batu besar, membuat batin mereka terasa sesak dan menderita. Namun kemudian, mereka tetap harus menghadapi kehidupan dan berbagai macam orang, peristiwa, dan hal-hal, jadi mereka hanya menguatkan diri dan terus bertahan dari hari ke hari, melewati hari-hari mereka di tengah kesukaran, menjalani kehidupan yang sangat menyakitkan. Ada orang-orang yang ingin pergi menonton opera Peking. Mereka melihat bahwa seluruh alur cerita opera Peking tentang kehidupan tokoh utama yang sulit, penuh rintangan dan kemunduran, di mana pemainnya akhirnya berseru di akhir cerita, "Betapa menderita ..." dan orang-orang yang memiliki rasa sakit di hati mereka bisa merasakannya. Mengapa mereka bisa merasakannya? Karena pemain tersebut menyuarakan apa yang ada dalam hatinya. Jika engkau hidup berdasarkan hati nuranimu, hidup di dunia ini tidaklah mudah dan tidak akan membawamu ke mana-mana; engkau akan menemui jalan buntu, mengalami kemunduran, dan tersiksa di setiap kesempatan. Jika engkau berusaha menjadi orang yang buruk, orang yang jahat, atau orang yang keji, engkau akan berhasil di mana pun engkau berada, tanpa menemui hambatan apa pun. Jika engkau adalah orang yang berintegritas dan baik hati, dan engkau memiliki sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaanmu, sekalipun integritas dan kebaikan hatimu menjadi tercemar atau bahkan ternoda dan mengandung beberapa ketidakmurnian setelah engkau mengalami berbagai hal di tengah masyarakat, sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaanmu tidak akan pernah berubah, dan tak seorang pun akan mampu mengubahnya. Sekalipun engkau tidak lagi berani mengatakan yang sebenarnya atau tidak menjunjung tinggi prinsip-prinsip dan batasan-batasan dalam caramu berperilaku, di lubuk hatimu, engkau akan rindu untuk mengatakan yang sebenarnya, untuk menjunjung tinggi prinsip-prinsip dalam caramu berperilaku, untuk mempertahankan batasan hati nuranimu, dan untuk memperoleh kedamaian serta ketenangan dalam batinmu.
Setelah jenis orang yang berintegritas dan baik hati ini percaya kepada Tuhan, rumah Tuhan—gereja—bagi mereka adalah tempat yang murni dan tenang, serta tempat di mana hati mereka dapat menemukan kedamaian dan kelepasan. Tentu saja, dapat juga dikatakan bahwa itu adalah tempat di mana mereka dapat mengejar perwujudan aspirasi hidup mereka, dan tempat yang memungkinkan mereka untuk melihat terang dalam hidup mereka dan tidak lagi merasa tersesat dalam hal bagaimana seharusnya mereka berperilaku. Jadi, bagi orang yang memiliki hati nurani dan nalar, rumah Tuhan adalah rumah sejati mereka. Rumah ini bukanlah rumah dalam arti daging atau materi; sebaliknya, ini adalah tempat yang aman di mana mereka dapat percaya kepada Tuhan dan tunduk kepada-Nya dengan hati yang sederhana, apa adanya, dan terbuka. Ini juga bisa disebut sebagai tempat berlindung yang aman. Bagaimana bunyi pepatahnya? Rumah Tuhan adalah pelabuhan di mana orang-orang berintegritas dan baik hati yang memiliki sifat kemanusiaan dapat berlabuh. Artinya, di sinilah mereka dapat membuang sauh mereka; mereka tidak perlu lagi sibuk ke sana kemari, dan mereka mampu menerima kebenaran serta menemukan arah dan jalan dalam hidup mereka, sehingga hati mereka merasa puas. Dengan demikian, manusia sejati hanya merasa benar-benar puas di dalam hatinya ketika mereka datang ke rumah Tuhan; orang yang memiliki hati nurani dan nalar hanya merasa telah menemukan rumah sejati mereka, tempat yang memungkinkan hati mereka untuk memperoleh kedamaian dan ketenangan, ketika mereka kembali ke rumah Tuhan dan kembali ke hadapan Sang Pencipta. Meskipun aspirasi dalam cara mereka berperilaku dan prinsip-prinsip yang mendasari cara mereka berperilaku masih jauh dari menerapkan kebenaran, setidaknya, mereka merasa bahwa di rumah Tuhan dan di gereja, hati mereka telah memperoleh kedamaian dan penghiburan. Inilah perbedaan yang dirasakan oleh orang semacam ini antara berada di rumah Tuhan dan berada di dunia; ini adalah perbedaan di dalam hati mereka. Oleh karena itu, ketika orang semacam ini datang ke rumah Tuhan, hati mereka mendapatkan penghiburan dan kedamaian; mereka merasa bahwa hanya rumah Tuhan yang merupakan tempat di mana mereka dapat mengejar arah hidup mereka, dan juga merupakan lingkungan yang paling mereka butuhkan, dan tentu saja, tempat yang mereka dambakan. Mereka senang berada di sini, dan bersedia untuk hidup dan berperilaku di lingkungan semacam ini; tentu saja, mereka melakukannya karena keinginan pribadi. Dalam hal keinginan pribadi mereka ini, lingkungan rumah Tuhan, cara Tuhan bekerja, tuntutan Tuhan terhadap manusia, dan semua aspek lainnya sudah cukup untuk memuaskan kebutuhan kemanusiaan mereka, sehingga mereka mengejar kebenaran dengan pikiran yang tenang dan menerapkan berdasarkan tuntutan Tuhan. Oleh karena itu, apakah seseorang mampu mengejar kebenaran atau tidak, itu sepenuhnya bergantung pada kemanusiaannya. Hanya jika kemanusiaannya memiliki sifat kebaikan hati dan integritas, jika mereka mencintai keadilan dan kebenaran, jika mereka senang datang ke rumah Tuhan dan memperoleh kedamaian serta ketenangan batin, atau jika hati mereka telah memperoleh penghiburan yang utuh setelah datang ke rumah Tuhan dan datang ke hadapan Tuhan, barulah mereka dapat menenangkan diri untuk mendengarkan, menerima, dan tunduk pada firman Tuhan; setelah itu, barulah mereka dapat menenangkan diri untuk mengejar kebenaran dan menjadi makhluk ciptaan yang semestinya. Artinya, hanya ketika orang datang ke lingkungan rumah Tuhan dan hati mereka memperoleh penghiburan, dan memahami kebenaran membuat hati mereka merasa terpenuhi, dan aspirasi serta tujuan hidup yang mereka kejar terwujud—hanya di bawah kondisi-kondisi dasar inilah mereka memiliki kesempatan untuk mengejar kebenaran. Ini adalah perwujudan spesifik dari mereka yang memiliki sifat kemanusiaan. Tentu saja, dalam hal mengejar kebenaran, apakah seseorang memiliki sifat kemanusiaan atau tidak sangatlah penting. Jika orang tidak memiliki sifat kemanusiaan, pada dasarnya mereka tidak memenuhi syarat untuk mengejar kebenaran.
Sekarang, mari kita membahas perwujudan lain dari integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan orang-orang. Aku baru saja mengatakan bahwa orang yang memiliki sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka menetapkan suatu prinsip dasar dalam pergaulan dan interaksi mereka dengan orang lain, dan dalam cara mereka berperilaku serta menangani berbagai hal, yakni tidak mengambil keuntungan dari orang lain. Tentu saja, ini juga merupakan batasan dalam cara mereka berperilaku. Selain tidak mengambil keuntungan dari orang lain, orang semacam ini memiliki perwujudan lain: Mereka bersedia bersimpati kepada orang lain dan membantunya, dan mereka juga bersedia memberi kepada orang lain. Di mata orang lain, orang-orang seperti ini agak bodoh; mereka terlalu baik hati, mereka mudah percaya serta mengasihani orang lain, dan, meskipun mereka sendiri tidak berkecukupan, mereka suka memberi. Mereka suka melawan ketidakadilan; ketika melihat seseorang menghadapi kesulitan, mereka tidak tinggal diam atau berpura-pura tidak melihat, tetapi secara proaktif berusaha untuk membantu. Sekalipun mereka tidak memiliki kemampuan untuk membantu, mereka tetap memiliki niat baik. Ketika melihat seseorang menghadapi kesulitan, mereka merasa jika mereka tidak mengulurkan tangan untuk membantu, hati nurani mereka tidak akan merasa tenang. Sekalipun orang tersebut tidak meminta bantuan, mereka tetap merasa sudah seharusnya membantunya. Setelah menerima bantuan mereka, orang itu hanya mengucapkan terima kasih dan selesai sampai di situ, tetapi orang yang berintegritas dan baik hati ini tidak mempermasalahkannya; di kemudian hari, ketika ada orang lain yang benar-benar menghadapi kesulitan, mereka tetap akan membantunya. Bagi orang-orang, sikap seperti ini tampaknya sedikit naif atau bebal; orang lain menasihati mereka untuk berhenti berbuat baik, memberi tahu bahwa setidaknya mereka harus membuat orang merasa berutang budi ketika membantu orang. Saat mendengarnya, mereka berpikir: "Haruskah kita membuat orang merasa berutang budi karena membantu mereka? Seberapa besar upaya yang dibutuhkan untuk mengulurkan tangan? Mengapa membuat segalanya menjadi begitu rumit?" Sesederhana inilah mereka; mereka semata-mata bersedia membantu orang lain. Katakan kepada-Ku, menurutmu apakah bersedia membantu orang lain ada hubungannya dengan kemanusiaan seseorang? (Ya.) Mereka benar-benar tidak mencari imbalan seperti apa pun. Di dunia ini, adakah orang yang bebas dari hasrat dan keinginan? (Tidak.) Lalu, bagaimana orang semacam ini mampu membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan apa pun? Bagi kebanyakan orang, harus ada kondisi khusus macam apa, atau harus seperti apa hubungan mereka dengan seseorang, agar mereka mau membantu orang tersebut? Salah satunya adalah jenis hubungan yang paling dekat, hubungan darah. Selain itu, orang yang mereka bantu haruslah orang yang memiliki kemampuan, atau harus ada keuntungan yang bisa didapatkan dari membantu orang; hanya ada manfaat dan tidak ada kerugian bagi mereka. Ini adalah skenario satu-satunya. Di luar skenario ini, siapa yang mau membantu orang lain tanpa alasan? Tepatnya, mereka tidak membantu orang lain secara cuma-cuma; harus ada keuntungan yang bisa didapatkan. Sekalipun tidak ada keuntungan langsung, tetap harus ada keuntungan jangka panjang. Bagaimanapun juga, mereka hanya membantu ketika mereka bisa mendapatkan sesuatu darinya. Jadi, mengenai orang-orang yang bersedia membantu orang lain, terlepas dari seberapa banyak bantuan yang mereka berikan atau apakah bantuan yang mereka berikan bernilai atau tidak—entah itu sesuatu yang besar atau sesuatu yang sepele—berasal dari manakah kesediaan mereka untuk membantu orang lain? Apakah itu ada hubungannya dengan kemanusiaan mereka? (Ya.) Aspek kemanusiaan mana yang berkaitan dengan hal itu? (Kebaikan hati.) Itu ada hubungannya dengan kebaikan hati; ketika orang memiliki sifat kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka, mereka bersedia membantu orang lain. Sebagai contoh, mereka melihat seorang saudara atau saudari menjadi negatif dan lemah. Sebenarnya, mereka sendiri bukanlah pemimpin gereja, dan hanya memiliki hubungan biasa dengan saudara atau saudari ini, tetapi ketika mereka melihatnya menjadi negatif dan lemah, mereka merasa sedih dan memiliki beban di dalam hatinya. Mereka tidak akan merasa tenang jika tidak membantu, dan mereka berpikir, "Meskipun tingkat pertumbuhanku sendiri tidak besar dan aku tidak memahami banyak kebenaran, tetaplah baik bagiku untuk mencoba memenuhi kewajibanku. Mungkin setelah mendengar apa yang kukatakan, mereka akan mampu merenungkan diri mereka sendiri dan berhenti bersikap negatif; bukankah itu bagus?" Jadi, jika seseorang menjadi negatif dan lemah—kecuali jika hal itu luput dari perhatian mereka—begitu mereka menyadarinya, mereka mencari kesempatan untuk bersekutu dengan orang tersebut. Jika mereka sendiri tidak mampu bersekutu dengan jelas, mereka mencari satu bagian firman Tuhan untuk dipersekutukan dengan orang tersebut. Singkatnya, dengan memberi nasihat, bimbingan, dan juga membacakan firman Tuhan kepada orang itu, orang itu akhirnya memahami maksud Tuhan, tidak lagi negatif, dan mampu melaksanakan tugasnya dengan normal, yang memberikan rasa puas kepada orang yang baik hati tersebut. Mereka benar-benar tidak tega melihat orang bersikap negatif dan menjadi pasif, atau hidup dalam kesakitan dan penderitaan; mereka hanya ingin menghibur dan mendukungnya. Jika orang tersebut tetap negatif, mereka merasa harus memenuhi tanggung jawab mereka. Ketika, berkat nasihat dan bimbingan mereka, orang tersebut tidak lagi negatif, mereka merasa sangat bahagia di dalam hatinya, dan merasa bahwa berperilaku dengan cara seperti ini sangatlah baik. Mereka tidak mencari keuntungan apa pun; hanya saja, ketika mereka tidak membantu seseorang padahal mereka mampu melakukannya, mereka akan merasa gelisah, dan hati nurani mereka akan terganggu. Katakan kepada-Ku, apakah menurutmu gangguan pada hati nurani mereka dan rasa gelisah ini adalah perwujudan dan penyingkapan dari sifat kemanusiaan? (Ya.)
Ada orang-orang yang cenderung bersimpati kepada orang lain. Tentu saja, jika dilihat dari perspektif kemanusiaan tertentu, ini mungkin juga merupakan kelemahan manusia, karena mereka terkadang bersimpati kepada orang jahat dan dan membantunya, tetapi mereka tidak dapat mengubah kelemahan ini. Setelah mereka membantu seseorang yang jahat, orang jahat itu berhasil melewati masa sulit dan menjadi makmur, tetapi tetap memandang rendah dan mengabaikan orang yang telah membantunya. Di dalam hatinya, mereka merasa sedih, berkata, "Mengapa dia seperti ini? Dahulu ketika dia sedang terpuruk dan meminta bantuanku, aku bersimpati kepadanya dan membantunya, tetapi sekarang setelah dia makmur dan menjalani kehidupan yang baik, dia mengabaikanku." Di dalam hatinya, mereka tidak dapat memahami hal ini; mereka tidak dapat mengetahui yang sebenarnya tentang esensi orang jahat. Setelah beberapa waktu, jika ada orang jahat lain yang meminta bantuan, mereka mungkin masih bersimpati kepadanya, tetapi mereka akan melihat terlebih dahulu apakah orang ini jahat. Jika orang tersebut tidak terlalu keji dan cukup patut dikasihani, mereka akan tetap merasa bersimpati terhadapnya. Ketika mereka melihat beberapa saudara-saudari yang melaksanakan tugas secara penuh waktu tetapi keluarganya miskin dan sedang menghadapi kesulitan dalam hidup, mereka berpikir, "Meskipun sangat miskin, mereka masih bisa melaksanakan tugas mereka; itu baru orang baik! Aku sendiri hidup berkecukupan; jika aku tidak membantu mereka, aku akan merasa tidak bersikap semestinya terhadap mereka. Aku harus memberi kepada mereka dan membantu mereka, sehingga mereka bisa membeli pakaian atau kebutuhan sehari-hari." Engkau lihat, mereka baik hati; ketika melihat orang mengalami kesulitan, mereka tidak bisa menahan diri untuk merasa bersimpati kepada orang itu dan membantunya. Di antara orang-orang, ada orang baik, orang jahat, dan juga orang yang naif. Orang baik mampu memberi dan membantu orang lain, orang jahat mampu melakukan segala macam hal jahat, dan berbagai orang naif selalu dimanfaatkan dan disuruh-suruh oleh orang lain, dan mungkin melakukan segala macam hal bodoh; tingkat naifnya pun bermacam-macam. Singkatnya, ada segala macam orang. Orang yang memiliki sifat kemanusiaan cenderung bersimpati kepada orang lain. Mereka selalu menganggap orang lain patut dikasihani, mereka selalu bisa melihat apa yang patut dikasihani dari orang-orang, dan mereka selalu bisa melihat sisi mana dari orang-orang yang layak mendapat simpati; hati nurani mereka memiliki unsur kelembutan di dalamnya. Artinya, ketika mereka melihat seseorang menghadapi kesulitan, mengalami situasi yang menyakitkan, atau ditindas oleh orang jahat atau diperlakukan tidak adil, di dalam hatinya, mereka menjadi geram dan merasa bersimpati kepada orang-orang tersebut; mereka selalu memiliki hati yang bersimpati. Sebenarnya, kondisi mereka sendiri mungkin tidak jauh lebih baik daripada orang lain, dan mereka belum tentu lebih jarang ditindas, tetapi karena mereka memiliki kebaikan hati dalam kemanusiaannya, mereka tak pernah dapat menahan diri untuk bersimpati kepada orang lain. Ketika orang menghadapi kesulitan atau menderita kesakitan, mereka tidak tinggal diam atau mengabaikan orang-orang itu. Terkadang, karena dipengaruhi oleh lingkungan sosial—melihat bahwa orang-orang hanya memedulikan diri sendiri dan mengabaikan sesamanya—mereka ingin menahan diri untuk tidak membantu orang, tetapi mereka selalu gagal; ketika mereka melihat orang miskin yang tak mampu membeli makanan, setelah menimbang-nimbang di benaknya, mereka akhirnya tetap membantu orang itu. Sebagai contoh, seseorang terkena flu berat—batuk, bersin, dan demam tinggi. Beberapa orang takut tertular, jadi mereka menjauh. Sebaliknya, orang yang baik hati tidak bisa menahan diri untuk menunjukkan kepedulian kepadanya: "Kau terkena flu; apakah kau sudah minum obat?" Jika orang tersebut tidak punya uang untuk membeli obat, mereka akan menggunakan uang mereka sendiri untuk membelikannya. Engkau lihat, ketika orang yang baik hati melihat seseorang sakit dan menderita, mereka tidak tinggal diam. Artinya, ketika orang sedang menghadapi kesulitan, ketika mereka dihadapkan pada penderitaan atau keadaan yang sulit, orang yang memiliki sifat kemanusiaan selalu bisa merasakannya, dan selalu bisa menyadari bahwa orang-orang itu membutuhkan bantuan. Mereka berada di lingkungan yang sama dengan orang lain, tetapi mereka sangat peka terhadap hal-hal yang tidak dapat dirasakan oleh orang lain. Mengapa demikian? Itu semata-mata karena hati orang tidaklah sama. Orang yang tidak memiliki empati tidak akan bertanya, sebesar apa pun penderitaan orang lain, seolah-olah mereka tidak bisa merasakannya. Orang yang memiliki empati, karena ada unsur kebaikan hati dalam sifat kemanusiaan mereka, selalu tidak bisa menahan diri untuk merasa bersimpati kepada orang-orang di sekitar mereka yang mengalami penderitaan dan kesulitan, kemudian, karena dikendalikan oleh hati nuraninya, mengulurkan tangan untuk membantu; engkau tidak akan bisa menghentikan mereka sekalipun engkau mencobanya. Mereka melakukan ini bukan karena mengharapkan orang lain mengingat kebaikan mereka, bukan juga dengan harapan bahwa orang akan sangat memuji kemanusiaan dan karakter mereka; mereka semata-mata memiliki kesediaan untuk melakukan hal tersebut, dan melakukannya memberi mereka perasaan mantap dalam hati mereka. Ini adalah pemikiran dan perilaku yang timbul dari sifat kemanusiaan; tak seorang pun dapat mengubah mereka dan tak seorang pun dapat membatasi mereka. Hal-hal yang mereka lakukan, atau cara mereka berperilaku dan prinsip-prinsip yang mendasari perbuatan mereka, murni merupakan perwujudan alami dari kemanusiaan yang normal. Perwujudan alami dari kemanusiaan ini sepenuhnya berasal dari hati mereka. Mereka bertindak seperti ini dengan sukarela; tak seorang pun menyuruh mereka, dan mereka tidak sedang mengejar keuntungan tertentu. Mereka benar-benar bersedia melakukannya, dan hanya melakukan hal-hal semacam inilah yang memberi mereka ketenangan pikiran; jika mereka tidak melakukannya, mereka merasa gelisah di dalam hatinya. Bahkan ketika bertemu dengan orang jahat yang sedang menghadapi kesulitan, mereka tahu bahwa mereka tidak seharusnya membantu orang jahat, tetapi mereka juga berpikir, "Apakah aku menjadi kejam?" Sekalipun mereka tidak membantu orang jahat ini, simpati mereka tetap tidak berubah, dan akan secara alami terlihat lagi di lingkungan yang sesuai dan kepada orang-orang yang tepat. Ini adalah sifat kemanusiaan. Sifat kemanusiaan bersifat bawaan, dan tentu saja sifat itu juga dapat terlihat kapan saja dan di mana saja; sifat kemanusiaan sangatlah alami, sangatlah murni, dan sangatlah sederhana. Oleh karena itu, ketika seseorang memiliki sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaannya, itu bukan berasal dari apa yang diajarkan oleh orang tua atau masyarakat kepada mereka, juga tidak dipengaruhi oleh lingkungan apa pun; ini adalah sifat yang melekat pada kemanusiaan seseorang.
Ada orang-orang yang suka memberi. Apakah menurutmu orang yang suka memberi pasti juga orang kaya? Apakah mereka pasti orang-orang yang telah melewati banyak badai kehidupan dan tidak lagi terikat pada dunia fana? Apakah mereka pasti orang-orang yang telah menikmati semua kekayaan dan kemegahan dunia—dan telah mengetahui yang sebenarnya tentang semua itu—serta memandang kenikmatan akan hal-hal materi dengan sikap acuh tak acuh? Apakah mereka pasti orang-orang yang kepribadiannya relatif santai dan murah hati? Tidak, mereka belum tentu seperti ini. Di antara orang-orang yang memiliki sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka, ada tipe orang yang menjalani kehidupan yang sangat hemat. Jika sebutir nasi jatuh saat mereka makan, mereka harus memungut dan memakannya, tidak tega menyia-nyiakannya. Mereka hanya menggunakan sedikit air saat menyikat gigi dan mencuci muka. Ketika pakaian mereka sudah usang, mereka tidak tega membuangnya; mereka mencucinya dan terus mengenakannya. Saat membeli barang, mereka merencanakan dan menganggarkannya dengan cermat, membeli barang-barang murah asalkan kualitasnya dapat diterima. Karena tipe orang ini sangat hemat, apakah ini berarti mereka pelit? (Tidak.) Tipe orang ini sangat hemat terhadap diri sendiri, tetapi mereka tidak pelit terhadap orang lain. Sebagai contoh, ketika melihat seseorang sedang menjalani kehidupan yang sulit, mereka memberikan beberapa barang mereka sendiri, seperti pakaian atau peralatan rumah tangga. Ada orang-orang yang berkata, "Apakah mereka ini orang miskin yang sok dermawan?" Tidak demikian, mereka hanya merasa bahwa orang lain cukup patut dikasihani, jadi mereka selalu ingin membantu orang itu. Sebenarnya, mereka sendiri tidak berkecukupan ataupun kaya, dan mereka tidak mengharapkan sesuatu ketika memberikan bantuan kepada orang lain. Mereka memang memiliki kemanusiaan semacam ini; mereka suka membantu orang lain, dan ini juga merupakan prinsip mereka dalam cara mereka berperilaku. Apakah ini juga suatu sifat kemanusiaan? (Ya.) Prinsip dasar orang semacam ini dalam memperlakukan orang lain adalah membantu ketika mereka seharusnya membantu, dan bersimpati ketika mereka seharusnya bersimpati. Ketika orang lain sedang menghadapi kesulitan, mereka akan memberikan kasih dan menggunakan tindakan nyata untuk membantu orang-orang itu; ketika orang lain kekurangan sesuatu, mereka memberikan barang mereka sendiri kepada orang-orang tersebut. Di dalam sifat kemanusiaan mereka, selalu ada kesediaan semacam itu; pemikiran ini selalu bisa muncul dalam diri mereka, atau mereka selalu bisa merasakan penderitaan orang-orang di sekitar mereka yang membutuhkan bantuan dan simpati. Apakah ini berarti hati nurani bekerja di dalam diri mereka? (Ya.) Sifat kemanusiaan semacam itu tidak ditentukan oleh kepribadian, tetapi karena fungsi hati nurani. Dengan demikian, mereka memiliki mentalitas ini—atau sifat kemanusiaan ini—yaitu bersedia membantu orang lain. Ketika orang membutuhkan bantuan dan meminta bantuan kepada mereka, mereka tidak hanya merasa bersimpati, tetapi mereka juga dengan tulus membantu; sekalipun itu menyita sebagian waktu dan mereka harus memberikan beberapa barang kepada orang tersebut, mereka bersedia. Kesediaan ini, setidaknya, didasarkan pada kebaikan hati dalam kemanusiaan seseorang. Jika orang tidak memiliki kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka, di satu sisi, mereka tidak akan memiliki kesediaan subjektif untuk membantu orang lain, dan di sisi lain, mereka tidak akan merasa bersimpati ketika dimintai bantuan, dan mereka juga tidak akan membantu orang dengan tulus. Jika orang tidak memiliki ketulusan ini, mereka hanya akan bertindak sebagai formalitas dan bersikap asal-asalan terhadapmu. Mereka akan sedikit bertindak dengan enggan demi mempertahankan harga diri atau demi kesopanan, atau karena mereka didorong oleh kepentingan tertentu mereka; jika tidak, mereka takut suatu hari nanti mereka menjadi bawahanmu, atau suatu hari nanti engkau berguna bagi mereka; mereka dapat dengan setengah hati membantumu karena berbagai alasan. Namun, bagi orang yang kemanusiaannya benar-benar memiliki sifat kebaikan hati, mereka tidak pasif dalam cara mereka membantu orang, apalagi, tentu saja, mereka tidak merasa tidak rela atau enggan; sebaliknya, kesediaan ini secara bawaan ada di dalam sifat kemanusiaan mereka. Mereka membantu orang lain dengan sukarela, dengan tulus, dan secara proaktif. Sebagai contoh, engkau membutuhkan bantuan mereka untuk suatu hal. Ketika engkau meminta bantuan mereka, mereka akan merasa sangat bersimpati terhadapmu, dan akan membantumu dengan sangat antusias, tulus, dan sukarela. Mungkin saja engkau memercayakan sesuatu untuk mereka tangani, atau meminta mereka menyampaikan pesan untukmu, atau mungkin ada suatu barang yang engkau butuhkan; bantuan seperti apa pun yang engkau butuhkan dari mereka, singkatnya, mereka akan memperlakukan hal ini dengan ketulusan, kesungguhan, keseriusan, dan tanggung jawab.
Orang yang memiliki sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka sangatlah serius dan bertanggung jawab ketika dipercaya orang lain untuk menangani sesuatu. Sebagai contoh, jika orang semacam itu pergi ke kota untuk mengurus sesuatu, dan seseorang meminta bantuan mereka untuk membelikan obat, saat membelinya, mereka berpikir: "Haruskah aku membeli obat Barat atau obat Tiongkok? Obat Barat bekerja cepat, tetapi mengiritasi lambung. Mungkinkah dia akan mengalami efek samping jika meminumnya? Kalau begitu, aku akan bertanya apakah ada obat Tiongkok yang relatif efektif dan tidak mengiritasi lambung." Engkau lihat, mereka memikirkan segala sesuatunya dengan sangat cermat. Ketika orang yang bertanggung jawab dan memiliki sifat kebaikan hati setuju untuk membantu orang lain menangani sesuatu, mereka akan membantu orang tersebut memilih barang yang dibutuhkannya dengan cara yang tulus, serius, dan bertanggung jawab. Mungkin saja mereka tidak terlalu serius ketika menangani urusan mereka sendiri, dan ketika membeli barang, mereka hanya membeli apa pun yang tampaknya lumayan, tetapi ketika menangani urusan orang lain, mereka sangat penuh perhatian dan sangat bertanggung jawab. Mereka berpikir: "Karena dia memercayakan hal ini kepadaku, itu berarti dia sangat menghargaiku; aku harus mengurus hal ini dengan semestinya. Lagi pula, ini bukanlah hal yang sulit. Ini semudah mengangkat jari. Aku harus memastikan dia puas dengan apa yang kulakukan. Namun, aku tidak tahu jenis obat apa yang tepat untuknya, dan dia sedang terburu-buru membeli obat untuk mengobati penyakitnya, jadi aku akan membelikan sedikit obat Tiongkok dan obat Barat untuknya." Setelah mereka membeli obat itu dan membawanya pulang, orang yang meminta tolong itu memilih obat yang kebetulan merupakan jenis yang ia butuhkan. Engkau lihat, mereka segenap hati dalam apa yang mereka lakukan dan melakukannya dengan serius, sehingga hal tersebut ditangani dengan cukup sempurna. Namun, orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak memiliki sifat kebaikan hati, jika engkau meminta bantuan mereka untuk membeli obat, mereka juga akan setuju, tetapi setelah pergi ke apotek, mereka hanya membeli sembarang obat yang sesuai dengan penyakitnya lalu pulang. Engkau bertanya kepada mereka berapa banyak obat yang harus diminum setiap hari dan apakah ada pantangannya, dan mereka berkata, "Aku tidak tahu. Baca saja sendiri petunjuknya. Lagi pula, aku sudah pergi dan membelikan obat itu untukmu." Pada akhirnya, obat Barat yang mereka beli tidak boleh diminum oleh orang yang rentan terhadap alergi, dan kebetulan engkau memiliki kondisi tersebut. Jadi, sia-sia membeli obat itu, dan engkau tetap harus pergi sendiri untuk membeli obat yang lain. Mereka tidak menangani hal itu dengan semestinya, dan kini engkau bahkan berutang budi juga kepada mereka. Apakah di dalam hatimu engkau merasa senang? (Tidak.) Bagaimana penanganan hal ini? Itu tidak ditangani dengan baik. Engkau memercayakannya kepada orang yang salah; engkau tidak menemukan orang yang tepat. Engkau harus mencari seseorang yang memiliki sifat kemanusiaan. Jika orang semacam itu sulit ditemukan, maka ketika engkau meminta seseorang untuk membantu membeli obat, engkau harus memberinya beberapa instruksi tambahan dan menjelaskan semuanya dengan gamblang. Jika engkau tidak memberinya instruksi, dan orang yang kaupercayai adalah seseorang yang tidak memiliki kemanusiaan, maka hal ini pasti tidak akan ditangani dengan baik; bukan hanya membuang-buang uang, engkau juga akan berutang budi kepadanya. Jika engkau menemukan seseorang yang memiliki kemanusiaan, ia akan berusaha sebaik mungkin untuk menangani hal ini dengan semestinya. Karena ia memiliki hati yang tulus dan mampu bertanggung jawab, serta memiliki sifat kebaikan hati dalam kemanusiaannya, ketika ia menangani hal-hal untukmu, ia bisa memikirkan kepentinganmu dan mempertimbangkan segala sesuatunya untukmu, membeli barang-barang yang kaubutuhkan dengan harga yang masuk akal. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki sifat kemanusiaan hanya akan bertindak sebagai formalitas dan bersikap asal-asalan ketika menangani sesuatu untukmu. Mereka hanya pandai bicara, tetapi ketika menangani hal tersebut, mereka sama sekali tidak akan menanyakan harga, juga tidak akan membandingkan harga di tempat lain; mereka hanya akan asal membeli barang untukmu. Jika engkau tidak membandingkan kedua jenis orang ini, sepertinya keduanya sama-sama mampu menangani sesuatu. Namun, orang yang memiliki sifat kemanusiaan dapat membuatmu merasa puas ketika mereka menangani sesuatu untukmu. Mereka memiliki perwujudan kemanusiaan; mereka mampu memenuhi kebutuhanmu dan memikirkan segala sesuatunya untukmu. Mereka memiliki ketulusan semacam ini. Ini membuktikan bahwa mereka baik hati, manusia sejati, dan layak menerima kepercayaanmu. Di sisi lain, ketika engkau memercayai orang yang tidak memiliki sifat kemanusiaan untuk menangani sesuatu, mereka tidak akan menanganinya dengan baik. Sekalipun mereka sesekali mengurus hal-hal dengan lumayan baik, mereka tidak melakukannya dengan tulus; itu hanya kebetulan. Engkau berkata: "Obat itu sangat bagus. Aku sembuh tidak lama setelah meminumnya." Akan lebih baik jika engkau tidak mengatakan hal ini, tetapi sekarang setelah engkau memberi tahu mereka hal ini, utang budimu kepada mereka menjadi makin besar. Jelas-jelas mereka pergi untuk menangani urusan mereka sendiri, tetapi mereka tetap harus berkata kepadamu, "Lihat? Aku pergi khusus untukmu." Mereka akan menuntut balas budi darimu, dan engkau tidak akan bisa membalas utang budi yang sepele ini seumur hidupmu; pada dasarnya, engkau telah terjerat oleh setan yang jahat. Namun, orang yang memiliki kemanusiaan tidak akan menuntut balas budi darimu sebaik apa pun mereka menangani suatu hal untukmu. Ketika engkau mengucapkan terima kasih kepada mereka, mereka berkata, "Itu bukan apa-apa. Aku kebetulan lewat sana." Engkau lihat, mereka hanya mengatakan yang sebenarnya. Kenyataannya, mereka telah berbuat sangat baik untukmu dan sangat membantumu. Bahkan orang-orang terdekatmu mungkin tidak memperlakukanmu seperti ini, tetapi seseorang yang memiliki sifat kemanusiaan dapat melakukan apa yang bahkan tidak dapat dilakukan oleh orang-orang yang kaukasihi. Mereka menangani hal itu dengan sangat baik dan tidak mengharapkan imbalan apa pun. Engkau selalu merasa berutang budi kepada mereka, jadi engkau memberi mereka buah-buahan atau sesuatu yang lain dari waktu ke waktu, dan engkau selalu mengingat mereka ketika ada hal baik yang muncul. Namun di benaknya, mereka tidak menganggapnya sebagai hal yang besar, merasa bahwa membantumu menyelesaikan sesuatu hampir tidak membutuhkan upaya apa pun dari pihak mereka, dan merupakan hal yang sangat wajar untuk dilakukan. Mereka juga memberitahumu bahwa jika ke depannya ada hal lain di mana engkau membutuhkan bantuan mereka, mereka akan tetap membantu. Engkau lihat, bukankah ada perbedaan di antara orang-orang? (Ya.) Biar Kuberitahukan kepadamu, orang yang memiliki kemanusiaan memiliki sifat integritas dan kebaikan hati, dan kapan pun itu, orang semacam ini adalah yang paling dapat diandalkan. Hanya orang-orang seperti inilah yang dapat dipercaya, karena mereka memiliki batasan dalam tindakan mereka. Alasan mereka memiliki batasan dalam tindakan mereka adalah karena mereka memiliki sifat kemanusiaan, yakni integritas dan kebaikan hati.
Mengenai orang yang tidak memiliki sifat kemanusiaan, sekalipun itu adalah orang yang tidak pernah kausinggung, asalkan engkau melakukan sesuatu yang ada kaitannya dengan kepentingan mereka, mereka akan mencari kesempatan untuk membalas dendam kepadamu. Sebaliknya, ketika itu adalah orang yang benar-benar memiliki sifat kemanusiaan, sekalipun engkau pernah menyakiti mereka sebelumnya, atau bahkan merugikan kepentingan mereka, mereka sama sekali tidak akan membencimu atau membalas dendam kepadamu. Sekalipun mereka memiliki sikap yang agak buruk ketika berbicara kepadamu, atau perkataan mereka terdengar sedikit kasar, atau mereka sedikit menceramahimu, ini adalah perwujudan normal yang berasal dari kemanusiaan; mereka sama sekali tidak akan terus-menerus berusaha membalas dendam atau selamanya membencimu seperti yang akan dilakukan oleh orang jahat. Didasarkan pada apakah ini? Ini didasarkan pada batasan yang mereka miliki dalam cara mereka berperilaku. Justru karena mereka memiliki hati nurani dan nalar, serta memiliki sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka, mereka tidak akan pernah melampaui batasan mereka dalam cara mereka berperilaku. Jika ada yang menyinggung mereka, sekalipun mereka ingin membalas dendam, hati nurani mereka sama sekali tidak akan membiarkan mereka melakukannya. Jika mereka merasa marah, mereka hanya akan mengucapkan beberapa perkataan marah untuk sedikit melampiaskannya, dan selesai sampai di situ; mereka sama sekali tidak akan melakukan apa pun untuk membalas dendam. Ini adalah sifat orang yang memiliki kemanusiaan. Engkau lihat, bahkan ada orang yang, meskipun tidak ada yang menyinggung mereka, tetap ingin membuat orang lain menderita; mereka ingin bersaing dan berselisih dengan orang lain, selalu memikirkan cara untuk bersiasat terhadap orang lain di belakangnya. Ini juga merupakan sifat kemanusiaan; ini adalah sifat yang dimiliki oleh para setan jahat dan para Iblis jahat dalam kemanusiaan mereka. Sebaliknya, orang yang memiliki sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka tidak akan sanggup membuat orang lain menderita. Jika mereka melakukan hal-hal semacam itu, hati nurani mereka akan menegur dan mendisiplinkan mereka. Sekalipun Tuhan tidak mendisiplinkan mereka, Roh Kudus tidak menegur mereka, dan saudara-saudari tidak menegur mereka, hati nurani mereka tetap mengendalikan mereka. Ketika orang dikendalikan oleh hati nurani mereka, mereka tidak berlebihan dalam bertindak, dan mereka memiliki batasan dalam apa yang mereka lakukan. Sekalipun engkau menyinggung mereka, menyakiti mereka, atau bahkan melakukan sesuatu yang keterlaluan, mereka tidak akan mau bertengkar denganmu. Paling-paling, mereka hanya akan menghindarimu dan mengabaikanmu, dan tidak akan bergaul, berinteraksi, atau bekerja sama denganmu. Namun, mereka sama sekali tidak akan membahayakanmu atau berusaha mencelakakanmu; mereka tidak akan bersiasat terhadapmu di belakangmu atau menggunakan taktik untuk menjebakmu; mereka sama sekali tidak akan melakukan hal-hal semacam itu. Lihat dan perhatikan siapa di antara orang-orang di sekitarmu yang merupakan orang semacam ini; mereka adalah orang baik dengan sifat tertinggi. Engkau bisa merasa benar-benar tenang berinteraksi dengan mereka. Sekalipun engkau menyakiti mereka sampai pada titik di mana mereka benar-benar hancur, paling-paling mereka akan membencimu di dalam hatinya, tidak ingin memedulikanmu lagi, dan tidak pernah berteman denganmu, tetapi mereka tidak akan bersiasat terhadapmu, mereka juga tidak akan mencari kesempatan untuk membalas dendam kepadamu, apalagi berkata, "Tidak pernah terlambat bagi pria bermartabat untuk membalas dendam." Inilah integritas dan kebaikan hati yang sejati. Mampu mencapai hal ini sama sekali bukanlah sesuatu yang bisa dipalsukan; ini adalah sifat kemanusiaan yang sejati. Hanya orang yang memiliki sifat kemanusiaan yang akan memiliki prinsip dan batasan yang benar dalam cara mereka berperilaku. Saat engkau berinteraksi dan bergaul dengan mereka, engkau akan dapat melihat perilaku dan perwujudan ini di dalam diri mereka, serta perwujudan alami kemanusiaan mereka.
Karena golongan orang berbeda-beda, reaksi mereka terhadap berbagai hal juga berbeda. Engkau lihat, ketika orang-orang jahat itu, mereka yang bereinkarnasi dari setan, mengambil keuntungan dari orang lain, apa reaksi mereka jika seseorang menyingkapkan mereka? Mereka akan berkata: "Siapa yang tidak mengambil keuntungan dari orang lain? Bukankah keuntungan ada memang untuk diambil? Apa salahnya mengambil sedikit keuntungan? Jika ada keuntungan yang bisa diambil dan engkau tidak mengambilnya, bukankah engkau orang bodoh dan orang tolol?" Ini adalah logika penjahat. Mereka tidak memiliki kesadaran hati nurani di dalam hatinya, tidak tahu malu, dan tidak memiliki perasaan malu. Karena mereka tidak memiliki hati nurani, mereka tidak memiliki standar untuk menilai masalah tentang mengambil keuntungan dari orang lain. Prinsip mereka adalah bahwa keuntungan memang dimaksudkan untuk direbut, dan setelah engkau merebutnya, itu menjadi milikmu. Tidak merebutnya berarti rugi, dan itu berarti engkau orang bodoh. Bukankah ini logika seorang penjahat? Bagaimana orang-orang yang bereinkarnasi dari binatang memandang masalah tentang mengambil keuntungan dari orang lain? Jika engkau memberi tahu mereka, "Yang kaulakukan ini adalah mengambil keuntungan; tidak baik mengambil keuntungan dari orang lain, dan tidak baik berutang kepada mereka," apa yang mereka pikirkan? "Keuntungan ini milikku. Aku tidak berutang apa pun kepada mereka jika aku mengambil keuntungan dari mereka. Apa salahnya mengambil keuntungan? Mampu mengambil keuntungan adalah suatu keahlian; jika kau tidak memiliki keahlian ini, kau akan rugi." Ini adalah logika bajingan. Mereka tidak memiliki batasan, tidak tahu malu, tidak memiliki perasaan malu, apalagi perasaan hati nurani. Mereka tidak memiliki standar untuk menilai apa pun. Sekalipun engkau memberi tahu mereka apa standar yang benar, mereka tidak menganggapnya sebagai standar, dan tidak tahu bahwa standar ini benar. Mereka tidak memiliki rasionalitas orang normal dan tidak dapat membedakan apa yang benar dan apa yang tidak benar. Mereka menghabiskan sepanjang hari dalam keadaan linglung; apa pun yang kaukatakan, tidak ada yang dapat memberi mereka kejelasan atau membuat mereka memahaminya. Mereka hanyalah orang-orang yang bingung. Namun, orang-orang yang berhati nurani dan bernalar memiliki sifat kemanusiaan. Jika mereka tanpa sengaja mengambil keuntungan dari seseorang dan engkau menunjukkan hal itu kepada mereka, mereka akan menjadi panik di dalam hatinya dan wajah mereka memerah karena malu: "Apakah aku mengambil keuntungan dari mereka? Mengapa aku tidak menyadarinya? Bahkan orang lain yang menunjukkannya kepadaku, sungguh memalukan!" Mereka akan berkata: "Berapa pun keuntungan yang kuambil dari mereka, aku harus mengembalikannya secara penuh; aku bahkan bisa menambahkan sedikit bunga." Mereka harus mencari cara untuk memperbaiki situasi. Mereka tidak mau memiliki reputasi sebagai orang yang suka mengambil keuntungan dari orang lain. Jika mereka memiliki reputasi itu, mereka akan merasa sangat hina. Oleh karena itu, begitu seseorang benar-benar menunjukkan masalah mereka tersebut, mereka tidak akan mencoba membenarkan diri. Mereka tidak akan berkata, "Aku tidak mengambil keuntungan dari mereka, aku juga tidak ingin melakukannya." Mereka tidak akan menggunakan logika bajingan semacam ini untuk membantah dan membenarkan diri. Karena mereka memiliki unsur integritas dalam diri mereka, begitu seseorang mengangkat masalah itu, mereka akan menghadapinya dengan benar, melakukan segala cara yang mungkin untuk menebusnya serta memberikan kompensasi kepada pihak lain, dan tidak akan pernah melakukan hal semacam ini lagi; jika mereka melakukannya, mereka akan menampar wajah mereka sendiri. Mereka merasa sangat malu karena apa yang telah mereka lakukan disingkapkan oleh seseorang, dan sekarang orang-orang mengkritik mereka di belakang mereka serta mencaci mereka di depan mereka. Tidak ada tempat bagi mereka untuk menyembunyikan rasa malu mereka, dan berharap menemukan lubang di tanah untuk tempat bersembunyi; mereka berharap tidak pernah terjadi hal semacam ini dalam hidup mereka. Karena memiliki hati nurani, di dalam hatinya, mereka merasa malu setelah mengambil keuntungan dari orang lain. Mereka terlalu malu untuk membenarkan diri, merasa bahwa apa yang mereka lakukan terlalu memalukan, sehingga mereka tidak bisa berkata-kata, tidak ada yang bisa dikatakan untuk membela diri; mereka hanya ingin memberi kompensasi kepada pihak lain itu. Orang-orang seperti ini berbeda dari orang-orang jahat dan para setan. Betapa pun memalukannya hal-hal yang dilakukan para setan itu, mereka tidak merasa malu. Ketika orang-orang yang memiliki sifat kemanusiaan mendengar hal-hal semacam itu, wajah mereka langsung memerah karena malu: "Begitu banyak orang tahu tentang ini; sungguh memalukan!" Di dalam hatinya, mereka merasa malu dan sangat hina, serta sangat sedih dan gelisah. Engkau lihat, di lubuk hatinya, orang-orang dari golongan berbeda memiliki pandangan dan sikap yang berbeda terhadap masalah yang sama. Karena perbedaan dalam sifat kemanusiaan mereka, berbagai jenis orang memiliki sikap yang berbeda terhadap masalah yang sama. Jika orang memiliki perasaan malu, itu membuktikan bahwa mereka juga tahu malu, yang kemudian membuktikan bahwa mereka memiliki sifat kemanusiaan. Sebaliknya, jika orang tidak tahu malu, dan setelah berbuat jahat serta melakukan hal-hal yang memalukan, mereka berusaha membantah untuk membela diri, atau bahkan tak mau mengakui apa yang mereka lakukan dan berpura-pura tidak tahu, mereka adalah orang yang tidak memiliki sifat kemanusiaan. Orang-orang yang tidak memiliki sifat kemanusiaan, setidaknya, bukanlah orang yang berintegritas dan baik hati; mereka tidak memiliki kemanusiaan ataupun nalar, dan tidak layak disebut manusia. Ketika orang-orang jahat dan para setan melakukan hal-hal buruk dan berbuat jahat, dan musuh-musuh mereka menunjuk-nunjuk serta melontarkan hinaan kepada mereka, mereka balas menghina, merasa bahwa melakukannya sepenuhnya dapat dibenarkan. Mereka bahkan melakukan segala cara yang mungkin untuk membenarkan dan membela diri mereka sendiri, mengungkapkan penalaran yang menyimpang seolah-olah itu benar-benar penalaran yang masuk akal, terus berbicara dengan lancang dan tanpa henti; mereka sama sekali tidak menerima penalaran dan sepenuhnya tidak tahu malu! Adapun orang-orang yang bereinkarnasi dari binatang, ketika mereka mengambil keuntungan dari orang lain dan dikritik karena hal itu, di dalam hatinya, mereka merasa diperlakukan tidak adil, dan mereka juga melakukan segala cara yang mungkin untuk mencari-cari dalih dan alasan. Ketika membenarkan diri sendiri, mereka juga bersilat lidah dan berbicara tanpa henti, dan, seperti halnya orang jahat, mereka juga tidak memiliki perasaan malu. Karena mereka adalah binatang yang tidak memiliki kesadaran hati nurani, menghabiskan sepanjang hari dalam keadaan linglung dan tidak mampu membedakan yang benar dan yang salah dalam hal apa pun, dengan demikian, mereka tidak memiliki kesadaran dalam hal semacam ini; mereka memberikan beberapa alasan yang menyesatkan untuk mencoba menyembunyikan apa yang mereka lakukan, kemudian mereka merasa masalahnya sudah selesai. Menurut mereka, ini bukanlah masalah dalam cara mereka berperilaku; menurut mereka, asalkan mereka memberikan cukup dalih dan alasan, mereka dapat menghindari tanggung jawab dan tak seorang pun akan tahu apa yang telah mereka lakukan. Mereka akan menipu diri mereka sendiri, berpikir: "Ini sudah berlalu. Aku tidak pernah melakukan hal semacam itu, aku tidak pernah melakukan kesalahan itu. Jangan menganggapku orang jahat. Aku bukanlah orang yang suka mengambil keuntungan dari orang lain. Lihatlah betapa baik hati dan tulusnya aku, dan betapa aku penuh pengertian terhadap orang lain!" Engkau lihat, inilah orang yang bingung. Hanya orang-orang yang memiliki sifat kemanusiaan yang sangat peka terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan martabat seperti ini. Sekalipun tak seorang pun tahu apa yang telah mereka lakukan, jika mereka sendiri menyadarinya, mereka akan merasa gelisah dan bersalah di dalam hatinya, dan bahkan merasa seolah-olah orang-orang sedang memperhatikan mereka. Jika beberapa orang yang cukup mengenal mereka benar-benar tahu apa yang telah mereka lakukan, mereka akan merasa makin gelisah dan akan terlalu malu untuk mencoba membenarkan diri. Mereka akan melakukan segala cara yang mungkin untuk segera menebusnya, dan tidak akan pernah melakukan hal semacam ini lagi, menganggapnya terlalu memalukan! Inilah perwujudan yang berbeda dari tiga golongan orang dalam hal yang sama.
Kita baru saja menyebutkan bahwa orang-orang yang memiliki sifat kemanusiaan biasanya memiliki prinsip dalam cara mereka memperlakukan orang lain. Ketika mereka melaporkan atau memberikan informasi tentang situasi seseorang, atau ketika mereka menilai seseorang, mereka bisa memandang dan memperlakukan orang tersebut berdasarkan kemanusiaan mereka yang berintegritas dan baik hati. Sekalipun mereka tidak memahami kebenaran, mereka tetap memiliki beberapa batasan dasar. Sebagai contoh, mereka akan menilai orang yang memiliki kemampuan rata-rata, seperti ini: "Mereka tidak melakukan hal buruk apa pun. Mereka menjalani kehidupan yang pantas. Mereka adalah orang biasa di dunia, dan dapat dianggap sebagai orang yang polos." Engkau lihat, mereka akan menilai orang yang memiliki kemampuan rata-rata dengan benar berdasarkan hati nurani mereka sendiri. Mereka bahkan dapat memperlakukan dan menilai dengan benar orang-orang yang pernah menyinggung mereka, menyakiti mereka, atau merugikan kepentingan mereka di masa lalu. Hal ini makin memperlihatkan sifat integritas dan kebaikan hati yang orang-orang ini miliki dalam kemanusiaan mereka. Artinya, mereka mampu menilai orang yang memiliki kemampuan rata-rata dengan benar; jika orang itu baik, mereka katakan baik, dan jika orang itu tidak baik, mereka juga akan mengatakannya demikian. Jika diminta untuk berbohong, mereka tidak bisa melakukannya; mereka merasa bahwa melakukannya akan bertentangan dengan kehendak mereka. Mereka hanya mengatakan yang sebenarnya dan berbicara jujur. Mereka juga mampu bertindak berdasarkan prinsip ini terhadap orang-orang yang pernah menyinggung mereka. Sekalipun ada seseorang yang tidak mereka sukai atau membuat mereka merasa jijik, jika mereka diharuskan untuk melaporkan atau menilai orang tersebut, mereka lebih memilih tidak mengambil sikap, dengan berkata: "Aku takut penilaianku tentang orang ini tidak akan objektif karena aku memiliki keluhan dan dendam pribadi terhadapnya, jadi aku abstain. Kalian dapat menilai dia berdasarkan penilaian semua orang lain tentang dirinya." Inilah yang pada dasarnya mampu dicapai oleh orang-orang yang memiliki sifat kemanusiaan. Terutama, ketika orang yang memiliki status masih mampu memperlakukan orang lain dengan adil, itu makin memperlihatkan sifat kemanusiaan mereka. Bagaimana mereka memperlakukan orang ketika mereka memiliki status adalah hal yang benar-benar dapat memungkinkan orang lain untuk melihat dengan jelas apakah mereka memiliki sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka. Ketika orang tidak memiliki status, mereka tampaknya mampu memperlakukan orang dengan adil, dan penilaian mereka terhadap orang-orang tersebut relatif objektif. Hal ini saja mungkin tidak menunjukkan apa pun; ketika mereka memiliki status, lihatlah bagaimana mereka memperlakukan orang-orang yang pernah menyinggung atau menyakiti mereka, dan bagaimana mereka memperlakukan orang-orang yang sebelumnya mengucilkan mereka atau bahkan dengan sengaja menindas mereka. Karena orang yang benar-benar memiliki sifat kemanusiaan memiliki integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka, ketika mereka memiliki status, mereka dapat memperlakukan dengan benar orang-orang yang pernah menyinggung mereka, menyakiti mereka, atau yang bahkan dengan sengaja menindas mereka di masa lalu. Mungkin saja ketika mereka tidak memahami kebenaran, mereka tidak dapat memperlakukan orang berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran secara sepenuhnya tepat, tetapi mereka juga memiliki batasan dan prinsip mereka sendiri dalam cara mereka memperlakukan orang. Sebagai contoh, di gereja, jika saudara-saudari yang lain memilih individu tertentu sebagai kandidat atau sebagai pemimpin, dan orang ini kebetulan adalah orang yang pernah menyinggung mereka sebelumnya, mereka sama sekali tidak akan dengan sengaja mencampuri atau menghalangi pemilihan tersebut setelah melihat bahwa semua saudara-saudari mengatakan orang ini tidak buruk dan telah berubah. Mungkin saja secara pribadi mereka tidak terlalu menyukai orang ini, tetapi jika rumah Tuhan memakai orang ini dan saudara-saudari memilihnya, mereka akan menangani segala sesuatu sesuai aturan dan bertindak berdasarkan prinsip, dalam kondisi di mana mereka belum sepenuhnya mengetahui yang sebenarnya tentang orang ini. Mereka sama sekali tidak akan memperlakukan orang ini dengan tidak adil karena mereka memiliki keluhan pribadi terhadapnya, dan mereka juga tidak akan dengan sengaja menindas atau menyiksanya. Sesekali, karena watak rusak mereka atau kelemahan dalam kemanusiaan mereka, mereka mungkin—dalam kondisi khusus—menyerang orang itu dengan hal-hal yang tidak seharusnya dikatakan, karena semua orang memiliki watak yang rusak dan tak seorang pun bebas dari kesalahan. Namun, mereka mampu memegang teguh prinsip-prinsip dasar, yaitu, mereka tidak akan menyerang, menindas, atau membalas dendam terhadap orang-orang yang bermusuhan dengan mereka hanya karena mereka sendiri memiliki status. Jika hal ini sesekali terjadi, hati nurani mereka akan menuduh mereka setelahnya, memberi tahu mereka: "Kau salah melakukan hal ini. Sekarang setelah kau memiliki status, kau menggunakan kekuasaan yang kaumiliki untuk membalas dendam kepada orang-orang itu; ini tidak pantas!" Mereka akan merenungkan diri mereka sendiri, hati nurani mereka akan menuduh mereka, dan terlebih dari itu, nalar mereka akan mengendalikan mereka agar tidak menindas orang lain dan membalas dendam, serta akan mengatur perilaku mereka, terus-menerus mengingatkan mereka, "Itu tidak pantas." Dengan demikian, mereka akan berhati-hati dalam bertutur kata, dan tidak akan bertindak berlebihan dalam hal-hal yang mereka lakukan. Ini adalah beberapa perwujudan dasar dari orang-orang yang memiliki hati nurani dan nalar kemanusiaan yang normal dalam cara mereka memperlakukan orang lain. Sekalipun sesaat mereka ingin bertindak berdasarkan suasana hati mereka untuk menyasar orang-orang yang pernah berselisih dengan mereka atau yang pernah menyakiti mereka di masa lalu, dan sekalipun orang lain akan menganggap tindakan mereka untuk membalas dendam sekarang sepenuhnya masuk akal, apa yang mereka lakukan tetap terukur, dan mereka memiliki batasan, yang sama sekali tidak akan mereka langgar. Jika mereka bisa melanggar batasan mereka dan membalas dendam dengan gila-gilaan, mereka bukanlah orang yang memiliki sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka. Justru karena mereka memiliki kelemahan dalam kemanusiaan dan mereka hidup dalam kemanusiaan yang normal, mereka juga merasakan kebencian dan kemarahan terhadap orang-orang yang telah menyakiti mereka, dan juga ingin membalas dendam. Namun, karena kemanusiaan mereka memiliki sifat integritas dan kebaikan hati, dan mereka dikendalikan serta diatur oleh hati nurani dan nalar mereka, ketika ingin membalas dendam kepada seseorang, mereka akan ditegur oleh hati nurani mereka dan dikendalikan oleh nalar mereka, berpikir: "Lupakan saja. Itu tidak pantas. Apa yang mereka lakukan sebelumnya tidak benar-benar menyakitiku, dan sekalipun aku membalas dendam kepada mereka sekarang, itu tidak akan menyelesaikan masalah apa pun." Mereka akan menggunakan cara-cara rasional untuk mengendalikan dan menahan diri, sekaligus membujuk dan menyadarkan diri mereka sendiri. Jika, terlebih dari itu, mereka juga memahami beberapa kebenaran, perilaku mereka dalam hal ini akan jauh lebih baik lagi dan lebih sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Singkatnya, dalam hal cara mereka memperlakukan orang lain, mereka akan memperlihatkan sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka dari waktu ke waktu, dan akan sering memperlihatkan beberapa pemikiran serta perilaku yang dibimbing oleh sifat kemanusiaan. Perkataan yang sering kaudengar darinya adalah: "Lupakan saja. Jika aku membalas perbuatan mereka kepadaku, bukankah aku sama saja seperti mereka? Lagi pula, apa yang terjadi sudah berlalu. Kita semua orang dewasa; apakah ada gunanya saling membalas dendam seperti ini?" Mereka akan memiliki beberapa pemikiran dan pandangan yang berasal dari sifat kemanusiaan untuk mengendalikan mereka. Tentu saja, pemikiran dan pandangan mereka yang muncul di bawah bimbingan hati nurani dan nalar mereka juga terus-menerus mengatur, menahan, mengendalikan, dan mengekang perkataan serta tindakan mereka. Setelah itu, pemikiran untuk membalas dendam kepada orang lain yang melampaui batas nalar makin lama akan makin memudar di dalam hati mereka. Dengan koreksi yang terus-menerus oleh hati nurani dan nalar, ditambah dengan mengejar kebenaran dan menjadi makin dewasa seiring bertambahnya usia, pemikiran dan tindakan mereka yang memiliki sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka—selagi orang-orang ini mengejar kebenaran—akan makin cenderung ke arah yang positif, makin sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, dan menjadi makin terkendali. Artinya, melalui proses ini, orang akan berangsur-angsur melepaskan kebencian, melepaskan keluhan, dan melepaskan berbagai masalah pribadi yang dihasilkan oleh pikiran sempit mereka sendiri. Jika orang hanya diatur dan dikendalikan oleh hati nurani dan nalar, mereka hanya bisa sekadar melepaskan kebencian dan keluhan, dan sekadar berkata, "Lupakan saja, itu sudah berlalu." Namun, jika orang mampu mengejar kebenaran dan memahami kebenaran, mereka tidak akan terbatas pada sekadar melepaskan dan membiarkan hal-hal berlalu kemudian selesai sampai di situ; sebaliknya, mereka akan mampu menerapkan prinsip-prinsip kebenaran dan—didorong oleh hati nurani dan nalar—hidup dengan lebih benar, menangani masalah-masalah ini dan memperlakukan orang-orang yang terhadapnya mereka memiliki keluhan dengan cara yang Tuhan ajarkan. Oleh karena itu, hanya jika orang memiliki prinsip-prinsip dasar dalam memperlakukan orang lain, dan di atas dasar ini juga memahami kebenaran, barulah mereka dapat berangsur-angsur memasuki kenyataan kebenaran dan menerapkannya berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran.
Prinsip-prinsip yang digunakan oleh orang yang memiliki hati nurani dan nalar dalam memperlakukan orang lain dikendalikan oleh sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka. Jadi, orang-orang yang tidak memiliki sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka tidak memiliki prinsip dalam cara mereka memperlakukan orang lain. Engkau lihat, ada orang-orang yang ketika tidak memiliki status, jika mereka disakiti atau direndahkan seseorang dan mereka tidak mampu membalas dendam, mereka tampak sangat penurut, seolah-olah cara mereka berperilaku sangatlah berjiwa besar, dan engkau mungkin merasa bahwa mereka cukup baik, dan tidak pernah melihat mereka membalas dendam kepada siapa pun yang telah menyinggung mereka, tetapi ini tidak dapat menentukan apa sebenarnya sifat yang mereka miliki dalam kemanusiaan mereka. Engkau seharusnya melihat cara mereka memperlakukan orang—apakah mereka dapat memperlakukan orang dengan adil, apakah mereka dapat memperlakukan orang yang pernah menyinggung mereka di masa lalu berdasarkan hati nurani dan nalar, dan apakah mereka dapat memiliki prinsip dalam memperlakukan orang—ketika mereka memiliki status, kendali atas suatu pembahasan, dan kuasa untuk mengambil keputusan. Ini memberitahumu apa sebenarnya golongan orang tersebut. Orang yang tidak memiliki sifat kemanusiaan berpura-pura sangat patuh ketika mereka tidak memiliki status. Ketika mereka tidak mampu membalas dendam kepada orang lain, mereka tidak berani melakukannya, tetapi di dalam hatinya, mereka mengingat setiap dendam. Pikiran mereka penuh dengan kebencian, penuh dengan pembalasan dendam, dan penuh dengan cara untuk menyiksa serta bersiasat terhadap orang lain. Mereka akan menunggu waktu yang tepat dan mencari kesempatan untuk membalas dendam, menunggu untuk melihat jatuhnya orang-orang yang menyinggung mereka di masa lalu. Begitu mereka memiliki status, dan setelah mereka mengukuhkan status ini, sikap mereka terhadap orang-orang yang pernah menyinggung mereka di masa lalu atau yang berselisih dengan mereka sepenuhnya berbeda dari sikap yang dimiliki oleh orang-orang yang berhati nurani dan bernalar. Mereka pasti akan membalas dendam, dan akan memutar otak mencari cara untuk melakukannya. Mereka sama sekali tidak akan melepaskan kebencian mereka, juga tidak akan melepaskan keluhan apa pun. Mereka sama sekali tidak akan seperti orang-orang yang memiliki sifat kemanusiaan, yang akan berkata: "Lupakan saja. Sudah bertahun-tahun berlalu. Aku baik-baik saja, dan apa yang mereka lakukan dahulu tidak benar-benar menyakitiku. Selain itu, apa yang akan dicapai dengan membalas dendam?" Mereka sama sekali tidak akan berkata "Lupakan saja"; di dalam hatinya, mereka akan terus mengingat dendam itu. Ketika mereka memiliki status, mereka berkata: "Apa kaukira aku sudah melupakan kebencianku? Kau menyinggungku, menyakitiku, dan menindasku sebelumnya; apa kaukira itu sudah berlalu begitu saja sekarang? Tidak mungkin! Aku memiliki status sekarang; kondisinya berbeda dari sebelumnya. Bagaimana mungkin aku tidak membalas dendam kepadamu? Aku akan menggunakan kekuasaan yang kumiliki untuk menunjukkan kepadamu apa yang mampu kulakukan, agar kau tahu bahwa aku bukan orang biasa!" Dunia batin mereka penuh dengan kebencian, dan pikiran mereka penuh dengan cara untuk membalas dendam dan cara untuk mengubah kekalahan menjadi kemenangan, mencoba membuat semua orang mengingat betapa berbahayanya mereka, sehingga orang-orang tidak lagi mengganggu mereka seperti sebelumnya, tetapi justru takut kepada mereka. Engkau lihat, bukankah orang semacam ini berbeda dari orang yang memiliki sifat kemanusiaan? (Ya.) Apa yang terus-menerus mereka pikirkan di benak mereka? "Akan kutunjukkan kepadamu betapa berbahayanya aku. Akan kutunjukkan kepadamu bahwa aku bukan orang yang bisa diremehkan. Akan kubuat kau ketakutan setiap kali melihatku, agar kau tidak pernah berani menindasku lagi!" Katakan kepada-Ku, apakah menurutmu mereka bisa bertindak berdasarkan pemikiran ini? (Ya.) Mereka pasti bisa. Hati mereka dipenuhi dengan kebencian, dan terlebih lagi, golongan mereka adalah golongan setan, dan mereka tidak memiliki standar untuk mengukur apakah berpikir dengan cara seperti ini benar atau salah. Ketika mereka berpikir dengan cara ini, mereka tidak memiliki hati nurani dan nalar untuk mengendalikan mereka; tidak ada yang dapat mengendalikan atau mengatur mereka. Sementara hal-hal yang jahat dan kejam ini terus-menerus membesar dan meluap dalam diri mereka, mereka juga terus-menerus bersiasat dan mencari kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin mereka lakukan. Sekarang mereka memiliki status; kesempatan mereka akhirnya tiba. Katakan kepada-Ku, apakah menurutmu mereka akan melunak? Mereka sama sekali tidak akan melunak. Mereka akan memanfaatkan kesempatan ini dan menggunakan kekuasaan yang sekarang mereka miliki untuk mewujudkan semua pemikiran mereka menjadi kenyataan, membuat orang-orang yang menyakiti mereka di masa lalu dan musuh-musuh mereka takut kepada mereka, menunjukkan kepada semua orang itu betapa kompeten dan mampunya mereka, membuat semua orang ini mengagumi mereka di dalam hatinya, dan membuat mereka memiliki status di hati orang-orang ini. Hal berikutnya yang akan mereka lakukan adalah mempermalukan orang-orang ini, dan menggunakan perkataan serta tindakan untuk menindas dan menyerang orang-orang ini. Mereka akan melihat siapa yang pernah menyinggung mereka di masa lalu dan memutar otak: "Aku harus mengirim mereka untuk memberitakan Injil di tempat yang paling sulit dan berbahaya. Jika mereka tidak mau pergi, aku akan memangkas mereka. Jika mereka tetap tidak pergi setelah itu, aku akan menghancurkan reputasi mereka dan mengusir mereka! Siapa pun yang membela mereka akan mengalami nasib yang sama!" Ada orang-orang yang pernah menyinggung mereka di masa lalu, dan sekarang telah terpilih menjadi pemimpin, tetapi masih menjadi bawahan mereka. Mereka berpikir: "Khotbah apa yang bisa kusampaikan untuk sepenuhnya menghancurkan wibawa mereka? Jika mereka berkelakuan baik dan mendengarkan aku dalam segala hal, aku akan menganggap masalah masa lalu dengan mereka sudah selesai. Namun, jika mereka tidak taat, menganggapku menjijikkan, dan tidak puas denganku, dan bahkan ingin melaporkan masalahku, aku harus memberi mereka pelajaran! Aku akan melakukan segala cara yang mungkin untuk membuat saudara-saudari mencopot dan memberhentikan mereka, dan membuat mereka tidak akan pernah bisa bangkit lagi! Aku akan mengirim mereka ke peternakan untuk menggarap lahan atau memelihara babi. Jika mereka tetap tidak mendengarkan, aku akan mencari tempat yang paling berbahaya bagi mereka untuk pergi dan melaksanakan tugas mereka, di mana mereka bisa ditangkap oleh polisi kapan saja!" Memiliki pemikiran semacam itu saja sudah sangat parah; itu sudah melanggar batasan. Bahwa mereka bisa berpikir dengan cara seperti ini sudah membuktikan bahwa mereka tidak benar-benar memiliki hati nurani atau nalar apa pun. Jika mereka benar-benar mampu melakukan hal-hal ini, selain tidak memiliki hati nurani dan nalar, mereka juga memiliki unsur natur setan dalam diri mereka. Hati mereka bukan hanya tidak memiliki kemanusiaan, melainkan juga mengandung natur setan. Bukankah mereka adalah setan? Ketika jenis orang ini tidak memiliki status, mereka cukup pandai menyamar dan bertahan menghadapi berbagai hal. Mereka telah menguasai "Tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu". Mereka telah belajar dari ungkapan "Tidak pernah terlambat bagi pria bermartabat untuk membalas dendam", dan "Selama masih hidup, masih ada kesempatan", serta "Hati perdana menteri cukup luas untuk diarungi perahu". Mereka telah menyamar sampai sekarang, dan akhirnya, diri mereka yang sebenarnya tersingkap. Makhluk celaka macam apa mereka? Mereka bukan manusia, mereka adalah setan. Coba perhatikan orang-orang mana yang berkelakuan baik ketika mereka tidak memiliki status, tetapi segera tampak seperti orang yang berbeda begitu mereka mendapatkan status. Mereka dengan cepat menanyakan keberadaan dan situasi siapa pun yang pernah menyinggung mereka, dan tugas apa yang saat ini sedang dilaksanakan orang itu. Kemudian, mereka mencari kesempatan untuk mulai mencari masalah dengan orang-orang ini dan membesar-besarkan masalah mereka, menyerang orang-orang ini sampai menurut dan tunduk kepada mereka, dan pada titik itu, mereka percaya bahwa pekerjaan gereja telah dilakukan dengan baik. Orang-orang seperti ini adalah setan jahat dan harus segera diberhentikan. Jika mereka tidak diberhentikan, engkau akan menderita bersama yang lain; cepat atau lambat, mereka juga akan menyerangmu.
Orang macam apa yang seharusnya dipilih menjadi pemimpin gereja? Di satu sisi, mereka seharusnya memiliki beban dalam melaksanakan tugas mereka dan memiliki kualitas yang memadai. Di sisi lain, kemanusiaan mereka seharusnya berintegritas dan baik hati, dan mereka seharusnya mampu memperlakukan orang dengan adil. Ketika mereka tidak memiliki status, sebenarnya ada beberapa saudara-saudari yang pernah menyinggung mereka atau berselisih dengan mereka, tetapi setelah menjadi pemimpin, mereka mampu memperlakukan orang-orang ini dengan benar, mempromosikan orang-orang ini ketika seharusnya dipromosikan, dan memakai orang-orang ini ketika seharusnya dipakai. Ada orang-orang yang memberi tahu mereka, "Orang itu pernah menjelek-jelekkanmu sebelumnya," tetapi mereka mampu melepaskannya. Mereka mengutamakan pekerjaan rumah Tuhan, dengan berkata: "Rumah Tuhan sedang membutuhkan orang saat ini. Jika ia cocok untuk melaksanakan tugas ini, kita seharusnya memakainya." Siapa pun yang berusaha menabur perselisihan, mereka tidak terpengaruh olehnya. Sekalipun itu adalah orang yang memperlakukan mereka paling buruk, jika orang ini sesuai dengan prinsip-prinsip rumah Tuhan untuk memakai orang, pemimpin tersebut akan memakai orang itu sebagaimana diperlukan. Mengesampingkan apakah orang semacam itu memikirkan maksud Tuhan, atau seperti apa kualitas mereka, atau apakah mereka mampu melakukan pekerjaan dengan baik atau tidak, dalam hal golongan orang saja, mereka mutlak tergolong manusia sejati. Mereka mampu memperlakukan orang dengan adil, terutama orang yang pernah berselisih dengan mereka, atau orang yang pernah menekan mereka, menyakiti mereka, atau bahkan menghina mereka atau menindas mereka di masa lalu; mereka mampu memperlakukan semua orang itu dengan benar dan adil. Itu sudah cukup bagi kita untuk mengatakan bahwa orang ini cukup berintegritas dan baik hati; mereka sesuai dengan prinsip dan memenuhi syarat untuk disempurnakan oleh Tuhan. Ada orang yang berkata: "Lalu, apakah orang ini adalah orang yang mengejar kebenaran? Jika ia tidak mengejar kebenaran, bukankah ia tidak akan mampu memperlakukan orang dengan cara seperti ini?" Apakah ini benar? Katakan kepada-Ku, sekalipun orang tidak mengejar kebenaran, asalkan mereka secara alami memiliki sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka, akankah mereka mampu memiliki prinsip dasar dalam cara mereka memperlakukan orang? (Ya.) Ketika mereka memiliki status, akankah mereka mampu melepaskan keluhan pribadi, tidak memperhitungkan kesalahan masa lalu orang lain, dan tidak memperlakukan orang berdasarkan keluhan pribadi mereka? Mereka akan mampu mencapai hal ini. Jika engkau bahkan tidak dapat mencapai hal ini, bagaimana engkau bisa berharap untuk menerapkan kebenaran dan tunduk pada firman Tuhan? Jika hal ini pun di luar kemampuanmu, engkau bukanlah orang yang berintegritas dan baik hati; dapat juga dikatakan bahwa engkau bukanlah orang yang memiliki sifat kemanusiaan; engkau bukan manusia. Jika engkau bukan manusia dan tidak memiliki hati nurani atau nalar, engkau berusaha mengejar kebenaran dengan berlandaskan apa? Jika engkau tidak memenuhi syarat dasar untuk tunduk pada firman Tuhan dan mengejar kebenaran, engkau tidak dapat memperoleh kebenaran dan tidak layak disebut manusia. Jika engkau tidak mampu memperlakukan orang dengan adil, dapatkah engkau mencintai kebenaran? Dapatkah engkau menerapkan firman Tuhan? Jika engkau bahkan tidak dapat melepaskan keluhan pribadi yang kecil, dan engkau mampu membalas dendam kepada siapa pun yang merugikanmu atau yang pernah menyinggungmu sebelumnya, dan engkau bahkan tidak memiliki standar hati nurani dan nalar apa pun, apakah engkau akan mampu menerapkan firman Tuhan? Sama sekali tidak! Oleh karena itu, ketika memilih seorang pemimpin, engkau seharusnya terlebih dahulu melihat bagaimana orang tersebut memperlakukan orang lain; ini adalah salah satu standar untuk mengukur apakah seseorang memiliki sifat kemanusiaan. Artinya, siapa pun yang pernah menyinggung mereka di masa lalu, mereka tidak menyimpan dendam, dan mereka tidak pernah membalas dendam kepada siapa pun, dan mereka tetap sama bahkan setelah mendapatkan status. Mungkin saja mereka akan bertindak superior, memiliki sedikit keinginan akan status, atau menikmati manfaat dari status, tetapi mereka memakai orang-orang yang pernah menyinggung mereka di masa lalu sebagaimana diperlukan, dan berinteraksi dengan orang-orang itu sebagaimana seharusnya. Mungkin di dalam hatinya, mereka mengingat dendam tersebut, tetapi mereka tidak melakukan tindakan pembalasan sama sekali. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh siapa pun yang tidak memiliki sifat kemanusiaan; binatang tidak dapat mencapai hal ini, apalagi setan-setan. Hanya orang-orang yang memiliki hati nurani yang dapat mencapainya. Ketika orang-orang yang berhati nurani melakukan apa pun, hati nurani mereka mendorong mereka dan mengatur perilaku mereka dari dalam, dan nalar mereka mengendalikan dorongan hati serta sikap gampang marah mereka; terlebih lagi, itu mengendalikan dan mengatur pemikiran serta perilaku mereka yang tidak rasional. Sekalipun mereka memiliki status, mereka tidak akan melakukan hal-hal untuk membalas dendam kepada orang lain. Ini adalah tanda yang jelas bahwa seseorang memiliki sifat kemanusiaan. Lihatlah orang-orang di sekitarmu; siapa pun yang seperti ini adalah manusia sejati. Mungkin saja kualitas mereka hanya rata-rata, mereka tidak berpendidikan tinggi, dan mereka masih cukup muda; mungkin juga secara lahiriah mereka tidak tampak begitu bersemangat, juga tidak tampak begitu mengejar, dan mungkin saja mereka tidak akan mengejar kebenaran di masa depan, tetapi orang semacam itu, setidaknya, adalah orang yang dapat kauandalkan, bukan? (Ya.)
Sekarang setelah kita selesai bersekutu tentang perwujudan orang yang berintegritas dan baik hati dalam hal cara mereka memperlakukan orang lain, mari kita membahas perwujudan dan ciri spesifik apa yang dimiliki orang semacam ini ketika mereka berbuat salah dan melakukan pelanggaran. Sebagai manusia yang rusak, jika mereka memiliki sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka, ketika mereka melakukan kesalahan, entah mereka menyadarinya atau tidak, mereka akan merenungkan dan memeriksa perkataan dan tindakan mereka sendiri. Jika mereka telah menyakiti seseorang, atau jika seseorang memberikan tanggapan negatif atau penilaian negatif tentang mereka, mereka akan memeriksa diri sendiri: "Perkataanku yang mana yang salah? Apa kesalahanku? Apakah aku memiliki niat tertentu ketika aku berbicara pada saat itu? Apakah aku menargetkan orang itu? Apakah benar-benar salahku bahwa aku menimbulkan akibat buruk baginya? Apakah dia terlalu sensitif, ataukah aku kurang berhati-hati dalam pertimbanganku dan pilihan kata-kataku tidak pantas pada saat itu?" Mereka akan sering memeriksa diri mereka sendiri, dan memiliki sikap untuk berperilaku dengan cara yang rendah hati. Sikap ini berasal dari integritas dan kebaikan hati mereka, dan tentu saja, ini juga berasal dari rasionalitas mereka. Itu adalah salah satu aspek. Lebih jauh lagi, jika melalui perenungan diri mereka menemukan bahwa mereka memiliki beberapa masalah, atau jika orang lain menunjukkan masalah mereka, mereka akan merasa sedih dan hati mereka akan tersentak: "Apakah aku salah dalam caraku melakukannya? Apakah seharusnya aku tidak melakukannya seperti itu? Aku tidak melakukannya dengan sengaja pada saat itu, dan aku tidak memiliki niat apa pun." Sebagai manusia yang rusak, dalam beberapa kondisi khusus atau sehubungan dengan beberapa hal khusus, mereka mungkin berkata, "Aku tidak melakukannya dengan sengaja atau dengan niat apa pun," untuk menyelamatkan harga diri mereka, tetapi di dalam hatinya, mereka akan merasa bersalah. Selama proses terus-menerus memeriksa dan merenungkan diri mereka sendiri, jika mereka menemukan bahwa apa yang mereka lakukan benar-benar salah, mereka akan kembali merasa gelisah, merasa bahwa mereka seharusnya tidak melakukannya seperti itu; mereka akan merasa menyesal dan sedih, dan akan mencoba mencari cara untuk menebus apa yang telah mereka lakukan atau mencari kesempatan untuk memperbaikinya, bahkan secara proaktif meminta maaf dan mengakui kesalahan mereka. Saat menemukan bahwa mereka telah melakukan kesalahan, orang-orang dengan sifat kemanusiaan akan terlebih dahulu merasakan kesedihan yang tiba-tiba di hati mereka, wajah mereka akan memerah, dan kepala mereka akan berdenyut; ini adalah reaksi normal yang berasal dari hati nurani. Didasarkan pada apakah reaksi normal ini? Ini didasarkan pada sifat integritas, kebaikan hati, dan rasionalitas yang orang miliki dalam kemanusiaan mereka. Mereka memiliki perwujudan ini bukan karena mereka ingin menyelamatkan harga diri mereka sendiri, bukan juga karena mereka telah mempermalukan diri mereka sendiri atau dipandang rendah oleh orang lain, melainkan karena mereka merasa bersalah dan menegur diri mereka sendiri karena telah melakukan kesalahan, merasa bahwa mereka seharusnya tidak melakukannya dengan cara seperti itu. Ini adalah sikap yang mengakui kesalahan mereka, dan ini juga merupakan reaksi yang timbul dari teguran hati nurani mereka dan fungsi rasionalitas mereka. Mereka akan memiliki suatu reaksi; mereka sama sekali tidak akan sepenuhnya mati rasa, tidak akan mencoba membantah dan membenarkan diri dengan tidak tahu malu, dan juga tidak akan mencoba mencari cara untuk menghindari tanggung jawab; sebaliknya, mereka akan memiliki sikap proaktif untuk mengakui dan menerima, serta bersedia memikul tanggung jawab. Karena orang semacam ini memiliki sifat integritas dan kebaikan hati dalam kemanusiaan mereka, perasaan malu mereka sangat jelas. Jika mereka melakukan sesuatu yang sedikit salah, saat seseorang menunjukkannya, mereka tidak akan mampu menyembunyikan rasa malu mereka. Jika mereka sedikit lebih membantah, mereka akan merasa, "Ini jelas salahku sendiri, dan mereka sudah menjelaskannya dengan gamblang, jadi untuk apa aku masih membantah?" Mereka akan langsung mengakui kesalahan mereka, merasa benar-benar hina dan ingin ditelan bumi. Apakah ini adalah efek dari hati nurani dan nalar? (Ya.) Jika banyak orang mengetahui apa yang telah mereka lakukan, mereka akan makin merasa malu untuk muncul, dan mereka akan mencoba mencari cara untuk menebusnya dan memperbaiki apa yang telah mereka lakukan. Artinya, setelah orang yang berhati nurani dan bernalar melakukan kesalahan, mereka memiliki sikap dasar untuk mengakui kesalahan mereka; mereka mampu menerima fakta ini dan memiliki perasaan malu. Selain itu, bukan berarti mereka hanya mengakui kesalahan mereka dan selesai sampai di situ; mereka juga akan mencoba mencari cara untuk menebusnya. Karena mereka memiliki hati nurani, mereka mencurahkan segenap hati ke dalam apa yang mereka lakukan; ketika dihadapkan pada suatu situasi, mereka menganggapnya serius dan menyikapi situasi tersebut dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab, mencurahkan pikiran mereka untuk merenungkan masalah yang ada, dan memperlakukannya dengan serius, alih-alih bersikap asal-asalan, sekadar melakukan formalitas, apalagi menghindar dari tanggung jawab. Mereka mampu memikul tanggung jawab, menerima kesalahan mereka dengan sungguh-sungguh dan dengan segenap hati, kemudian berbicara dan bertindak secara bertanggung jawab, berusaha untuk meminimalkan kerugian. Mereka sama sekali tidak seperti orang-orang dari golongan setan, yang mengamuk saat seseorang mengkritik mereka karena telah melakukan kesalahan, yang memikirkan segala cara yang mungkin untuk mengelak dan menghindar dari tanggung jawab, yang mencoba segala cara untuk melemparkan tanggung jawab kepada orang lain, dan yang bertingkah seperti orang kudus yang tidak pernah melakukan kesalahan apa pun. Bagi mereka yang bereinkarnasi dari binatang, mereka terlebih lagi tidak tahu apa yang benar dan apa yang tidak benar dalam apa pun yang mereka lakukan. Jika engkau menunjukkan bahwa mereka melakukan kesalahan, mereka memang mengakuinya, tetapi jika engkau bertanya kepada mereka di mana letak kesalahan mereka, mereka berkata, "Aku tidak tahu, tetapi karena kaukatakan aku salah, maka aku salah." Namun, ketika mereka menghadapi hal semacam ini lagi, mereka akan tetap melakukannya dengan cara yang sama. Sebanyak apa pun hal salah atau hal jahat yang mereka lakukan, atau sebanyak apa pun watak rusak yang mereka perlihatkan, mereka pada akhirnya selalu mengatakan beberapa kalimat yang sama: "Apa kesalahanku? Apakah salah bagiku untuk menderita dan membayar harga selama bertahun-tahun? Jika aku tidak percaya kepada Tuhan dan tidak memiliki hati nurani serta nalar, akankah aku mampu menderita sebanyak ini?" Mereka yang bereinkarnasi dari binatang berpikiran sederhana, pada akhirnya selalu mengucapkan beberapa kalimat yang sama. Namun, orang-orang dari golongan setan jauh lebih licik daripada mereka yang bereinkarnasi dari binatang; mereka akan menggunakan berbagai cara dan metode untuk melakukan kejahatan dan menyesatkan orang, dan sebagian orang yang tingkat pertumbuhannya kecil dan yang tidak memiliki kemampuan untuk membedakan benar-benar bisa tertipu. Singkatnya, setan sama sekali tidak akan mengakuinya ketika mereka melakukan kesalahan. Mereka bukan saja tidak mengakui bahwa mereka adalah orang-orang dengan watak yang rusak, tetapi mereka bahkan ingin orang menganggap mereka suci dan tidak dapat diganggu gugat, dan orang-orang tak bercela yang tidak pernah melakukan kesalahan. Apa pun kesalahan yang mereka lakukan, mereka selalu menyatakan alasan mengapa mereka melakukannya, dan selalu mencoba membenarkan diri mereka sendiri. Pada akhirnya, mereka menyatakan bahwa mereka tidak mampu berbuat salah, bahwa sekalipun mereka melakukan kesalahan, mereka punya alasan untuk itu, bahwa mereka bukanlah orang yang memiliki watak yang rusak, bahwa mereka tidak akan pernah melakukan kesalahan apa pun, dan bahwa mereka benar-benar orang kudus dan orang yang tak bercela. Namun, berbeda halnya dengan orang-orang yang memiliki sifat hati nurani dan nalar dalam kemanusiaan mereka. Karena mereka adalah orang-orang berintegritas yang tidak bengkok ataupun licik, jika kaukatakan bahwa mereka telah melakukan kesalahan, sekalipun mereka tidak melakukannya atau itu tidak ada hubungannya dengan mereka, mereka bersedia untuk menerimanya terlebih dahulu. Ketika orang lain memberi tahu mereka, "Apakah kau bodoh? Jika kau menerimanya, engkau harus memikul tanggung jawab," mereka berkata, "Aku juga turut andil dalam apa yang terjadi; aku juga terlibat." Mereka mampu menerimanya; sikap mereka jujur dan berintegritas. Terkadang mereka juga ingin menghindari tanggung jawab, tetapi kemudian mereka merenung: "Mengapa menghindari tanggung jawab untuk sesuatu yang terlihat oleh siapa pun yang punya mata? Terlebih lagi, Tuhan memeriksa lubuk hati manusia. Jika kau terlibat dalam apa yang terjadi, Tuhan tidak akan melepaskanmu. Di hadapan Tuhan, semua orang tersingkap, dan semua tindakan serta perbuatan mereka terbuka. Bisakah engkau berhasil lolos di hadapan Tuhan? Oleh karena itu, hal ini seharusnya ditangani sesuai aturan; tanggung jawab harus dipikul oleh yang bersangkutan. Jika aku bersalah dalam hal ini, aku akan memikul tanggung jawab. Aku bersedia menerima hukuman, dan aku juga bersedia menerima pemangkasan. Aku akan menerima dengan cara apa pun rumah Tuhan menanganiku; bagaimanapun juga, akulah yang memilih untuk melakukan kesalahan." Engkau lihat, ketika mereka melakukan kesalahan dan menghadapi pemangkasan, di satu sisi, mereka memiliki sikap menerima; di sisi lain, mereka mampu memahaminya dengan benar. Selain itu, karena orang semacam ini mencurahkan pikiran mereka untuk merenungkan situasi tersebut dan merenungkan diri mereka sendiri setelah melakukan kesalahan, ketika mereka menghadapi hal yang sama lagi, mereka akan memikirkan cara agar tidak melakukan kesalahan. Karena mereka memiliki perasaan malu, dan mereka memedulikan harga diri mereka, mereka mampu bertobat ketika melakukan kesalahan.
Orang-orang tidak percaya sering berkata, "Mereka bisa hidup di tempat sampah tanpa merasa itu bau." Bagi orang-orang yang tidak memiliki hati nurani dan nalar, sekalipun mereka melakukan kesalahan yang sama seratus kali, mereka tidak memiliki perasaan malu dan tidak memiliki rasa bersalah. Mereka bukan manusia! Jika seseorang adalah manusia, setelah melakukan kesalahan yang sama satu atau dua kali, mereka akan merasa, "Habislah aku sekarang. Kapan aku akan berubah?" Mereka akan menjadi khawatir dan cemas, dan datang ke hadapan Tuhan untuk berdoa serta mengakui dosa-dosa mereka. Mereka bahkan akan bertanya-tanya apakah mereka sudah tidak bisa ditolong lagi; mereka akan memiliki kesalahpahaman ini. Karena memedulikan harga diri mereka dan memiliki perasaan malu, mereka merasa, "Aku sudah beberapa kali melakukan kesalahan semacam ini sekarang; akankah aku ditangani oleh rumah Tuhan? Apakah Tuhan telah menyerah mengenaiku? Aku terlalu malu untuk diselamatkan oleh Tuhan!" Apa pun kesalahpahaman yang mereka miliki tentang Tuhan, singkatnya, setelah melakukan kesalahan, orang semacam ini pasti akan mendapatkan pengalaman dan memetik pelajaran, dan berusaha mencari segala cara yang mungkin untuk menebus serta memperbaiki kesalahan mereka, berusaha untuk tidak melakukannya lagi. Mereka akan berpikir, "Aku tidak berusaha memuaskan orang lain, tetapi setidaknya aku harus merasa tenang dalam diriku sendiri. Hanya ketika aku merasa tenang dalam diriku sendiri, barulah aku dapat memberikan pertanggungjawaban kepada Tuhan di hadapan-Nya. Jika aku bahkan tidak merasa tenang dalam diriku sendiri, bagaimana mungkin aku punya keberanian untuk menghadap Tuhan?" Jika orang memiliki pemikiran semacam itu, mereka pasti didorong oleh sifat hati nurani dan nalar dalam kemanusiaan mereka. Jika engkau tidak memiliki pemikiran semacam itu, engkau akan melakukan kesalahan yang sama berulang kali, dan terlebih lagi, engkau tidak akan mau mendengarkan atau menerima apa yang dikatakan siapa pun; engkau bahkan mungkin tidak pernah memiliki sikap bertobat, tidak pernah mau mengakui fakta ataupun mengakui kesalahanmu, apalagi memikul tanggung jawab. Ada juga orang-orang yang membenci siapa pun yang menunjukkan kesalahan mereka; mereka menentang orang tersebut, mempersulitnya, dan bahkan menyerang serta membalas dendam kepadanya. Orang-orang semacam itu sudah tidak bisa ditolong lagi; ini adalah orang-orang tidak memiliki sifat kemanusiaan. Namun, orang-orang yang memiliki sifat kemanusiaan sama sekali tidak akan bertindak seperti ini. Setelah melakukan kesalahan yang sama satu atau dua kali, mereka akan merenung, "Mengapa aku masih bisa melakukan kesalahan ini?" Mereka mampu mencari kebenaran untuk menyelesaikan hal ini. Apakah menurutmu ini adalah sikap berbalik? (Ya.) Mampu merenungkan diri sendiri ketika melakukan kesalahan dan bersedia memperbaiki kesalahannya, ini adalah sikap berbalik. Lalu, orang macam apa yang memiliki sikap berbalik? Bukankah ini sikap yang hanya bisa muncul dalam diri orang yang kemanusiaannya memiliki sifat hati nurani dan nalar? (Ya.) Jika orang tidak memiliki hati nurani dan nalar kemanusiaan, apakah mereka akan berbalik? (Tidak.) Apakah mereka akan merasa menyesal dan membenci diri mereka sendiri? (Tidak.) Apakah mereka akan menganggap serius hal-hal salah yang telah mereka perbuat dan pelanggaran yang telah mereka lakukan? Tentu saja tidak, bukan? Tepatnya, orang yang tidak berhati nurani tidak memiliki hati, jadi mereka tidak akan melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati, mereka juga tidak akan menganggap serius ketika mereka melakukan kesalahan. Karena mereka tidak memiliki hati, mereka tidak akan merenungkan diri mereka sendiri, juga tidak akan menerima kebenaran; mereka tidak memiliki kemampuan ini. Ketika mendengar orang lain mengatakan bahwa mereka telah melakukan kesalahan, hanya orang-orang yang memiliki hati nurani yang mampu menyikapi hal tersebut dengan sungguh-sungguh dan dengan sepenuh hati, menganggap serius hal itu, kemudian merasa bersalah dan menyesal. Hanya di atas dasar perasaan bersalah dan penyesalan, barulah mereka dapat berbalik, dan hanya ketika mereka berbalik, barulah mereka dapat memiliki kesempatan untuk tunduk pada firman Tuhan, serta menerapkan dan berperilaku dengan cara yang sesuai dengan firman Tuhan dan prinsip-prinsip kebenaran. Namun, orang yang tidak memiliki hati nurani tidak pernah merasa bersalah atau menyesal; apa pun kesalahan yang mereka lakukan, mereka tidak pernah menganggapnya serius. Dengan cara apa pun orang lain menyingkapkan masalah mereka, mereka tidak menganggapnya serius dan menutup telinga terhadapnya. Karena mereka tidak memiliki hati nurani, mereka tidak akan menyikapi hal tersebut dengan sungguh-sungguh dan dengan sepenuh hati, juga tidak akan memikirkan dan merenungkannya dengan sepenuh hati. Tanpa mencurahkan hati untuk merenungkan diri sendiri, mereka tidak akan merasa menyesal atau bersalah, dan tanpa penyesalan dan rasa bersalah, mereka tidak akan berbalik. Jika demikian, sama sekali tidak mungkin bagi orang semacam ini untuk menerima kebenaran dan tunduk pada firman Tuhan; mereka hanyalah orang-orang yang sama sekali tidak memiliki harapan untuk memperoleh keselamatan. Oleh karena itu, dari perspektif manusia, bukan berarti Tuhan tidak menyelamatkan orang-orang yang tidak memiliki sifat kemanusiaan, melainkan karena orang tidak memiliki sifat kemanusiaan—syarat dasar untuk memperoleh keselamatan—mereka tidak dapat menerima atau tunduk pada kebenaran, yang membuat harapan mereka untuk memperoleh keselamatan hampir nol. Dengan mengingat hal ini, terdapat hubungan langsung antara memiliki sifat kemanusiaan dan memperoleh keselamatan; tepat seperti inilah kenyataannya. Jika engkau tidak memiliki sifat kemanusiaan, engkau bahkan tidak akan mengakuinya ketika engkau melakukan kesalahan, engkau juga tidak akan menganggapnya serius, menyikapinya dengan saksama, merenungkannya dengan sungguh-sungguh, merasa bersalah dan menyesal, kemudian memperbaiki dan mengubahnya. Jika engkau tidak mampu berbalik dalam hal sesederhana melakukan kesalahan, engkau akan lebih tidak mampu lagi untuk berbalik dalam hal memperlihatkan watak yang rusak. Karena watak yang rusak secara langsung melawan Tuhan, dalam hal natur dan esensinya, watak yang rusak jauh lebih serius daripada melakukan kesalahan. Jika engkau gagal mengenali watak rusakmu dan tidak mencari kebenaran untuk membereskannya, watak rusakmu akan sangat sulit untuk dibereskan. Karena watak yang rusak secara inheren berakar dengan kuat, jika engkau bukan orang yang mengejar kebenaran, engkau tidak akan punya cara untuk membereskan watak rusakmu, dan akibatnya, engkau tidak akan punya cara untuk mewujudkan perubahan dalam watak hidupmu. Dengan demikian, memperoleh keselamatan bukan lagi soal sulit atau tidaknya itu bagimu; itu akan menjadi suatu kemustahilan. Oleh karena itu, sikap dan reaksi orang setelah mereka melakukan kesalahan atau melakukan pelanggaran berhubungan langsung dengan apakah mereka memiliki sifat kemanusiaan. Sangatlah penting untuk memahami hal ini dengan jelas.
Lihatlah orang-orang di sekitarmu, dan engkau dapat membedakan apakah, setelah melakukan kesalahan, mereka secara proaktif mengakui dan menerimanya, apakah mereka merasa menyesal dan sedih, dan apakah mereka berbalik setelah jangka waktu tertentu—yaitu, apakah mereka berbalik dalam hal pemikiran, sikap, dan perilaku mereka. Jika mereka tidak berbalik, berarti mereka seratus persen bukan manusia. Jika, melalui makan dan minum firman Tuhan, pencerahan Roh Kudus, pengaruh lingkungan mereka, atau bantuan saudara-saudari—melalui cara apa pun orang berbalik—mereka memiliki sikap jujur untuk menerima kebenaran di dalam hatinya, mereka makin sedikit membenarkan diri—bahkan sampai pada titik berhenti sama sekali—dan, dinilai dari perkataan serta tindakan mereka, mereka merasa menyesal dan sedih tentang kesalahan yang mereka lakukan sebelumnya dan ingin mencari kesempatan untuk menebusnya, maka orang ini memiliki harapan untuk memperoleh keselamatan; ini adalah orang yang memiliki sifat kemanusiaan. Namun, ada orang-orang yang tidak menganggap serius setelah melakukan kesalahan. Mereka tidak pernah membicarakan kesalahan yang telah mereka lakukan, mereka juga tidak mengakui kesalahan mereka, tidak menelaah diri sendiri, ataupun merasa sedih. Mereka tampaknya sama sekali tidak berniat untuk berbalik; mereka mati rasa dan berpikiran tumpul, menghabiskan sepanjang hari dengan cengengesan tanpa beban, dan sama sekali tidak merasa bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Sekalipun mengakuinya, mereka hanya menyepelekannya dan menganggapnya selesai. Sama seperti para bajingan yang tidak tahu malu, mereka mengakui kesalahan mereka pada satu saat dan melakukan kesalahan pada saat berikutnya, dan terus mengakui kesalahan mereka segera setelah melakukannya. Seolah-olah mereka sedang bercanda atau bermain-main; mereka tidak menganggap serius hal tersebut. Mereka menyikapinya sebagai permainan anak kecil, sebagai suatu prosedur dan formalitas, alih-alih menerima apa yang terjadi dan berubah dari lubuk hati mereka. Orang macam apa ini? Ini bukanlah manusia. Mereka tidak tahu cara berperilaku, juga tidak tahu jalan seperti apa yang harus dipilih dalam cara mereka berperilaku. Mereka tidak memahami hal-hal ini; mereka memandangnya sebagai hal-hal yang sangat sederhana dan dangkal. Setelah melakukan kesalahan, sekalipun mereka tidak mengatakan apa pun pada saat itu, mereka selalu memikirkan cara untuk membenarkan diri sendiri dan membersihkan nama mereka setelahnya. Memanfaatkan kesempatan yang ada saat pertemuan atau saat semua orang membicarakan hal tersebut, mereka selalu ingin semua orang tahu dan memahami hal-hal yang ingin mereka katakan dalam membela diri, apa yang mereka pikirkan dan bagaimana mereka bertindak pada saat itu, bahwa niat mereka baik, bahwa tujuan mereka benar, bahwa mereka tidak melakukan kesalahan apa pun. Mereka bukan hanya tidak merasa menyesal atas kesalahan dan pelanggaran mereka, melainkan juga tidak mau mengakuinya, dan bahkan ingin menghindari dan dibebaskan dari tanggung jawab, berharap dapat menyelamatkan citra mereka di mata semua orang. Meskipun orang-orang seperti ini terdengar manis ketika berbicara, dilihat dari perwujudan mereka di semua area, mereka tidak mengakui ataupun menerima fakta bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Lalu menurutmu, apakah mereka akan berbalik? Mereka tidak akan berbalik. Mereka mengungkit hal ini dari waktu ke waktu, dan bahkan harus menceritakannya kepada semua orang yang tidak tahu tentang hal itu. Setelah menceritakannya, mereka memikirkan segala cara yang mungkin untuk menunjukkan kinerja yang baik saat melakukan hal-hal lain guna menebus citra mereka yang rusak dalam hal sebelumnya, agar dapat mengambil hati orang-orang. Setelah mereka berkelakuan baik selama beberapa waktu dan semua orang telah melupakan apa yang mereka lakukan sebelumnya, mereka sekali lagi mulai berpikir untuk meninggikan diri dan bersaksi tentang diri mereka sendiri. Mereka terus-menerus menghitung berapa banyak kontribusi yang telah mereka berikan untuk rumah Tuhan, berapa banyak hal baik yang telah mereka lakukan untuk rumah Tuhan, dan berapa banyak kerugian yang telah mereka hindarkan dari rumah Tuhan. Mereka sama sekali tidak berniat untuk berbalik; mereka tidak memiliki rasa malu. Ketika orang-orang yang tidak memiliki rasa malu berbuat salah dan melakukan pelanggaran, mereka bukan hanya tidak berbalik, melainkan justru menjadi makin parah. Mereka berpikir: "Siapa yang tidak pernah melakukan kesalahan? Kesalahan yang kulakukan sebelumnya pada dasarnya bukanlah apa-apa. Lagi pula, bukan hanya aku yang terlibat. Namun, aku tidak bisa mengatakannya. Aku harus membiarkan semua orang melihat bahwa kinerjaku dapat diterima dan bahwa aku memiliki sikap menyesal, lalu aku akan melakukan beberapa hal baik untuk menebusnya guna mengalihkan perhatian semua orang dan sedikit mengambil hati mereka. Bukankah itu sudah cukup?" Di dalam hatinya, mereka tidak percaya bahwa Tuhan memeriksa segala sesuatu. Mereka ingin melakukan hal-hal ini di depan orang lain; mereka berpikir Tuhan tidak dapat melihat apa yang mereka pikirkan di dalam hati mereka; bagi mereka, bahwa Tuhan memeriksa lubuk hati manusia hanyalah sebuah doktrin. Mereka tidak tahu bahwa Tuhan sedang memeriksa, dan mereka tidak mengakui atau percaya bahwa Tuhan mampu memeriksa lubuk hati orang, jadi segala sesuatu yang mereka lakukan adalah untuk dilihat oleh orang lain. Di lubuk hatinya, mereka bersikap keras kepala dan menentang. Mereka menentang kebenaran, menentang untuk menerima fakta, menentang untuk mengakui kesalahan mereka, dan terlebih lagi menentang untuk berbalik. Mereka tidak berbalik; bukankah ini menunjukkan adanya masalah? Sebesar apa pun kesalahan yang mereka perbuat atau sebesar apa pun pelanggaran yang mereka lakukan, mereka tidak berbalik. Mereka sama seperti Paulus, yang menentang Tuhan dan langsung dipukul jatuh oleh Tuhan, tetapi masih menganggap dirinya cukup baik. Orang semacam ini berpikir: "Jika aku sibuk ke sana kemari dan mengorbankan diriku, serta mendapatkan banyak orang dan menghasilkan banyak buah dari pemberitaan Injil, berkontribusi untuk menebus dosa-dosaku, Tuhan seharusnya memberiku mahkota. Mahkota adalah milik orang-orang sepertiku. Jika aku tidak mendapatkan mahkota, siapa lagi? Apa masalahnya dengan melakukan kesalahan? Asalkan, setelah aku melawan Tuhan, aku bersedia memperbaikinya, itu tidak masalah. Jika aku hanya lebih banyak memberitakan Injil di masa depan, Tuhan tidak akan mengingat pelanggaranku." Engkau lihat, bagaimana sikap mereka terhadap Tuhan? Bagaimana sikap mereka terhadap kebenaran? Ini adalah sikap yang tidak memiliki kemanusiaan; ini adalah sikap setan. Mereka tidak pernah memandang firman Tuhan, kebenaran, atau jalan yang benar dalam hidup sebagai hal-hal yang seharusnya mereka pilih dan kejar. Mereka tidak pernah memiliki niat apa pun untuk berbalik, dan mereka sama sekali tidak akan pernah menundukkan kepala dan mengakui dosa-dosa mereka, mereka juga tidak akan pernah mengakui kesalahan mereka dan mengaku kalah. Kata "kegagalan" dan "kesalahan" tidak ada dalam kamus mereka, apalagi kata "pelanggaran", jadi orang semacam ini tidak akan bertobat. Lalu, apakah menurutmu orang semacam ini memiliki hati nurani dan nalar? Apakah mereka memiliki sifat integritas, kebaikan hati, dan perasaan malu dalam kemanusiaan mereka? (Tidak.) Mereka sama sekali tidak memilikinya. Sebesar apa pun pelanggaran yang telah mereka lakukan, bahkan dengan fakta tepat di depan mata mereka, mereka tidak merasa bersalah di dalam hatinya. Ini mengerikan! Jika engkau adalah orang yang memiliki hati nurani, engkau pasti akan merasa bersalah ketika engkau berbuat salah dan melakukan pelanggaran. Jika engkau benar-benar melakukan kesalahan besar dan membawa kerugian pada rumah Tuhan, engkau akan merasa sangat berduka hingga berharap engkau mati saja, engkau akan mengutuk dirimu sendiri, dan akan merasa bahwa engkau tidak layak untuk hidup di hadapan Tuhan; tetapi orang-orang yang seperti Paulus tidak memiliki penyesalan semacam ini. Di rumah Tuhan, kita sering melihat ada orang-orang yang merasa terus-menerus tertuduh di dalam hatinya setelah mengatakan satu kebohongan atau melakukan satu hal yang melanggar prinsip, dan hanya setelah mereka mengakui kesalahan mereka kepada orang lain, barulah mereka merasa seolah-olah beban yang berat telah terangkat dari mereka. Ada cukup banyak orang seperti ini. Apa pun kesalahan yang mereka lakukan, mereka mampu merenungkan diri mereka sendiri, dan pada saat yang sama, mereka mampu menjadikannya sebagai peringatan dan memperingatkan diri mereka sendiri untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama. Jika orang memedulikan harga diri mereka, memiliki rasa malu, dan terlebih lagi, memiliki nalar, ketika melakukan kesalahan, mereka merasa terlalu malu untuk mencoba membenarkan diri atau menghindari tanggung jawab dan melimpahkan kesalahan kepada orang lain. Sebaliknya, mereka bersedia memikul tanggung jawab, mereka merasa bersalah dan sedih dari waktu ke waktu, kemudian mereka berbalik. Ada orang yang merasa hina ketika mereka berbuat salah dan melakukan pelanggaran, merasa terlalu malu untuk menghadap Tuhan dan saudara-saudari, sedangkan mereka yang tidak memiliki sifat kemanusiaan tidak memiliki perasaan ini. Engkau lihat, meskipun kedua jenis orang ini adalah manusia, bagi sebagian orang, jika rumor bahwa mereka berhubungan gelap dengan seseorang tersebar di belakang mereka—dan ini mungkin sesuatu yang hanya terlintas sejenak di pikiran mereka—begitu mereka mendengar beberapa orang membicarakannya, mereka merasa diri mereka sangat hina dan terlalu malu untuk menemui siapa pun. Orang-orang yang memiliki rasa malu akan memiliki perwujudan semacam itu. Namun, beberapa orang tidak peduli bahkan ketika mereka tertangkap basah di tempat tidur bersama seseorang: "Apa kesalahanku? Bukankah aku hanya tidur dengannya? Apa masalahnya dengan itu? Bukankah sekarang hal ini sudah biasa?" Engkau lihat, ini jelas berbeda, bukan? Jika orang-orang yang memiliki sifat kemanusiaan mendengar orang lain sekadar membicarakan mereka, mereka merasa sangat malu dan sedih hingga mereka tidak bisa makan, merasa terlalu malu untuk muncul dan merasa bahwa mereka tidak bisa melanjutkan hidup, sedangkan beberapa orang tidak peduli bahkan ketika mereka tertangkap basah di tempat tidur dengan orang lain. Orang-orang memang berbeda satu sama lain; jika orang tidak memiliki rasa malu, mereka bukanlah manusia. Bisakah orang yang tidak memiliki rasa malu memperoleh kebenaran? Orang yang tidak memiliki hati nurani dan nalar tidak mencintai kebenaran. Ini karena mereka tidak membenci dosa, hal-hal jahat, atau hal-hal negatif. Selain itu, mereka tidak memiliki rasa malu ketika melakukan kesalahan, dan dengan lancang mencoba menghindari tanggung jawab. Akibatnya, orang semacam ini tidak akan pernah secara proaktif datang ke hadapan Tuhan untuk menerima penghakiman dan hajaran firman Tuhan, secara proaktif mengakui kerusakan mereka, atau dengan rela tunduk pada kebenaran; mereka tidak memiliki kebutuhan semacam itu, mereka pikir itu tidak perlu, dan bahwa mereka tidak membutuhkannya. Namun, mengenai orang yang benar-benar memiliki hati nurani dan nalar, karena prinsip-prinsip dan batasan-batasan mereka dalam cara mereka berperilaku di segala aspek membuat mereka merasa bahwa firman Tuhan dan tuntutan Tuhan terhadap orang adalah apa yang mereka butuhkan, mereka bersedia menerapkan berdasarkan firman Tuhan; jika mereka tidak melakukannya, mereka merasa gelisah di dalam hatinya. Jika mereka mendengar dan memahami tuntutan Tuhan tetapi tidak bertindak berdasarkannya, di satu sisi, mereka merasa bahwa saudara-saudari sedang mengawasi mereka, dan di sisi lain, yang lebih penting, mereka merasa bahwa Tuhan sedang diam-diam mengawasi mereka, dan bahwa mereka tidak dapat luput dari pemeriksaan-Nya ke mana pun mereka pergi. Mereka berpikir, "Tuhan tahu apa pun yang kaukatakan. Jika kau melakukan kesalahan tetapi tidak mengakuinya, tidak merasa menyesal, tidak memikirkannya dengan sungguh-sungguh, tidak memperbaikinya, dan sama sekali tidak berbalik, bagaimana Tuhan akan memandang hal ini?" Pertanyaan ini—"Bagaimana Tuhan akan memandang hal ini?"—di satu sisi, berasal dari kepercayaan dan pengakuan mereka akan Tuhan, dan di sisi lain, ini terutama berasal dari fungsi hati nurani dan nalar mereka. Jadi, kesimpulannya, hati nurani dan nalar seseorang menentukan kebutuhan kemanusiaannya, jalan yang dia tempuh, dan terlebih lagi prinsip serta sikapnya terhadap segala macam hal. Tentu saja, itu juga menentukan apakah seseorang dapat melangkah di jalan mengejar kebenaran, dan terlebih lagi, menentukan apakah seseorang pada akhirnya dapat memperoleh keselamatan.
Seluruh isi persekutuan hari ini adalah tentang berbagai hal sepele dalam kehidupan yang berkaitan dengan kemanusiaan, menyinggung tentang apakah orang suka mengambil keuntungan dari orang lain dalam cara mereka berperilaku dan menangani berbagai hal, apakah orang memiliki hati yang hangat dan bersedia membantu serta bersimpati kepada orang lain, apakah mereka bersedia memberi, dan apa prinsip mereka dalam memperlakukan orang lain, serta apa sikap dan sudut pandang yang orang miliki ketika mereka melakukan kesalahan. Meskipun semua ini adalah hal-hal sepele dalam kehidupan, beberapa perwujudan kemanusiaan yang sangat tidak mencolok dalam kehidupan orang sehari-hari, apa yang dicerminkannya di balik layar adalah sifat kemanusiaan seseorang. Didorong oleh hati nurani dan nalar, orang yang memiliki sifat kemanusiaan akan mematuhi batasan moral dasar, sementara orang-orang yang tidak memiliki sifat kemanusiaan sama sekali tidak memahami apa batasan kemanusiaan dan prinsip-prinsip tentang cara berperilaku. Jadi, apakah seseorang memiliki hati nurani dan nalar, itu menentukan jalan yang mereka tempuh. Dapat juga dikatakan bahwa itu menentukan masa depan dan tempat tujuan yang orang miliki; memang begitulah kenyataannya. Baiklah, mari kita akhiri persekutuan kita di sini untuk hari ini. Sampai jumpa!
18 Mei 2024