Bab Delapan: Mereka akan Membuat Orang Lain Hanya Tunduk kepada Mereka, Bukan kepada Kebenaran atau Tuhan (Bagian Tiga)
Lampiran: Analisis tentang Budaya Tradisional Timur dan Barat
Katakan pada-Ku, apa arti kebenaran? Bukankah kita telah mempersekutukan topik ini sebelumnya? (Ya.) Baiklah, katakan pada-Ku apa yang dimaksud dengan kebenaran menurut pendapatmu. (Kebenaran adalah prinsip dan standar yang menjadi dasar untuk mengukur semua orang, tindakan, dan segala hal.) Bagus. Ada yang lain? Adakah pendapat yang berbeda? Jangan berpikir tentang perkataan doktrin mana yang harus digunakan atau baris firman Tuhan mana yang harus dipilih untuk dijadikan jawaban, cukup jawab berdasarkan pengalaman dan pemahaman nyatamu sendiri. Tak masalah jika jawabanmu tidak terlalu mendalam. Ada yang berkata, "Firman Tuhan adalah kebenaran." Meskipun pernyataan ini benar, jika engkau hanya mampu mengatakan kata-kata tersebut, tetapi tidak memahami makna yang sebenarnya, maka itu hanya sekadar doktrin bagimu. Mari kita membahasnya lebih dalam—apa yang dimaksud dengan kebenaran? Apa itu firman Tuhan? Apa esensi dari firman Tuhan? Apakah kebenaran merupakan standar yang dihasilkan melalui pemikiran dan pertimbangan orang-orang? (Tidak.) Apakah kebenaran merupakan ringkasan pengalaman dan pengetahuan yang orang-orang peroleh, atau semacam budaya sosial, atau budaya tradisional yang dihasilkan dalam konteks masyarakat tertentu? (Tidak.) Lalu, apakah kebenaran merupakan prinsip-prinsip yang orang rangkum sendiri untuk perilaku dan tindakannya? (Tidak.) Jadi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan kebenaran? Bagaimana kita bisa menentukan prinsip-prinsip yang dibahas di sini agar prinsip-prinsip tersebut memiliki arti yang pasti dan orang-orang mengetahui bahwa itu adalah kebenaran setelah mereka mendengarnya? Bagaimana kita bisa mendefinisikannya dengan cara yang membuat orang merasa ringkas dan tepat? (Semua tuntutan Tuhan terhadap manusia adalah kebenaran.) Semua tuntutan Tuhan terhadap manusia adalah kebenaran, itu benar, tetapi bagaimana engkau bisa mengatakannya dengan cara yang lebih tepat? (Kebenaran adalah kenyataan dari semua hal yang positif.) Hal ini sudah sering dikatakan sebelumnya. Kita sering mengatakan bahwa firman Tuhan, tuntutan-Nya terhadap manusia, dan kenyataan dari semua hal positif adalah kebenaran—ada yang lain? (Kebenaran adalah standar dan jalan tentang bagaimana orang-orang harus menangani hal-hal dan berperilaku.) Kebenaran adalah standar dan jalan tentang bagaimana orang-orang harus menangani hal-hal dan berperilaku, itu juga benar. Sekarang gabungkan semua aspek ini dan definisikan kebenaran dalam satu kalimat yang ringkas. (Tuhan adalah kebenaran.) Tuhan adalah kebenaran; ini agak terlalu luas, terlalu umum. Definisi ini harus lebih spesifik, sehingga ketika orang-orang mendengarnya, mereka merasa bahwa ini adalah definisi yang tepat, tidak kosong, tetapi cukup konkret dan nyata, dan berpikir bahwa definisi ini terdengar cocok. Coba rangkum lagi; bagaimana sebenarnya engkau bisa mendefinisikannya dengan lebih tepat? (Sebelumnya, Yang di Atas sudah mempersekutukan bahwa kebenaran adalah standar untuk perilaku, tindakan, dan penyembahan manusia kepada Tuhan.) Bukankah definisi ini sudah ringkas? (Ya.) Kebenaran adalah standar untuk perilaku, tindakan, dan penyembahan manusia kepada Tuhan. Mengapa mendefinisikannya sebagai sebuah standar? Bagaimana kita semestinya memahami kata "standar" ini secara harfiah? (Sebagai prinsip yang tepat.) Sebagai prinsip atau aturan yang tepat; itu juga bisa disebut sebagai peraturan. Jadi, apa yang dimaksud dengan "standar"? (Patokan.) Standar adalah patokan, aturan dan prinsip yang tepat. Inilah yang disebut dengan standar. Standar untuk perilaku, tindakan, dan penyembahan manusia kepada Tuhan—jika definisi-definisi akurat, lalu apa yang berkaitan dengan standar ini? Apa yang dimaksud dengan standar di sini? Ini sudah didefinisikan sebelumnya: standar untuk perilaku, tindakan, dan penyembahan manusia kepada Tuhan. Inilah kebenaran. Jadi, ketika seseorang membaca kalimat tersebut, mungkinkah mereka menganggap, "Budaya tradisional kita juga kebenaran"? Bisakah hal ini dikategorikan sebagai kebenaran? (Tidak bisa.) Tentu tidak. Bisakah mereka berkata, "Kami memiliki kesimpulan penelitian akademik yang merupakan kebenaran," atau "Masyarakat kami memiliki budaya, pengalaman, atau standar moral yang baik yang juga merupakan kebenaran"? Bolehkah kebenaran didefinisikan seperti ini? (Tidak boleh.) Mengapa kita tidak boleh menggunakan hal-hal tersebut untuk mendefinisikan kebenaran? Mengapa kita mengatakan bahwa hal-hal tersebut tidak berkaitan dengan kebenaran? (Semua itu tidak berkaitan dengan penyembahan kepada Tuhan.) Benar. Semua itu mungkin berkaitan dengan perilaku manusia, tetapi tidak berkaitan dengan penyembahan kepada Tuhan. Apa yang dimaksud dengan perilaku yang mereka bahas? Apa saja standar dan aturan mereka? Perbuatan baik yang berasal dari Iblis. Standar dan aturan itu tidak berkaitan dengan penyembahan kepada Tuhan, tetapi berkaitan dengan penyembahan dan pembelaan kepada Iblis. Itu adalah serangkaian pepatah atau budaya tentang perilaku yang telah dirangkum dari imajinasi dan gagasan manusia, serta dari apa yang orang-orang yakini sebagai moral atau perbuatan yang baik. Semua itu tidak menyangkut kebenaran atau penyembahan kepada Tuhan—tidak berhubungan dengan penyembahan kepada Tuhan.
Orang Tionghoa telah merangkum sebuah budaya tradisional yang hanya sesuai untuk orang Tionghoa dan yang tidak bisa diterima oleh orang Barat. Orang Barat memiliki pahlawan nasional, kesadaran integritas moral bangsa, dan budaya nasionalnya sendiri, tetapi seandainya mereka membawa budayanya ke Timur, apakah orang-orang di sana mau menerimanya? (Tidak.) Budaya tersebut pun tidak akan diterima. Oleh karena itu, setinggi apa pun orang-orang memandang budaya ini, atau seluhur apa pun mereka menganggap tradisi ini, apakah ada keterkaitan antara budaya dan tradisi tersebut dengan kebenaran? (Tidak ada.) Tidak ada kaitannya sama sekali. Sebagai contoh, ada semacam budaya tradisional di Timur yang menganggap bahwa burung hantu bukanlah hewan keberuntungan. Apa yang orang-orang katakan? "Bukan tangisan burung hantu yang seharusnya kautakuti, tetapi takutlah pada tawanya. Dengarkan koaknya, dan hal-hal buruk akan terjadi." Dalam budaya tradisional Timur, burung hantu diyakini sebagai pertanda buruk atau pembawa sial. Jadi, apakah orang-orang Timur menyukai hewan "pembawa sial" ini? (Tidak, mereka tidak suka.) Apa yang mendasari ketidaksukaan ini? Yang mendasarinya adalah budaya tradisional Barat dan warisan turun-temurun yang menganggap bahwa mendengar koak burung hantu adalah pertanda kematian dalam keluarga. Hal ini mungkin merupakan hukum yang telah dirangkum orang-orang, imajinasi manusia, atau suatu kebetulan, dan setelahnya hati mereka percaya bahwa burung hantu itu tidak baik. Mereka menganggap bahwa orang tidak seharusnya memuja atau memperlakukannya sebagai hewan keberuntungan, dan jika mereka melihat seekor burung hantu, mereka harus segera mengusirnya dan tidak menyambutnya. Bukankah hal ini semacam budaya? (Ya.) Entah itu positif maupun negatif, budaya semacam ini adalah warisan masyarakat. Untuk saat ini, mari kita kesampingkan apakah budaya itu benar atau salah, dan cukup untuk dikatakan bahwa budaya semacam ini diterima secara luas oleh semua orang di Timur, terutama di Tiongkok. Setiap orang di sana percaya sepenuh hati bahwa burung hantu itu tidak baik dan bukan hewan keberuntungan, sehingga mereka akan segera menghindar jika melihatnya. Namun di Barat, sebagian orang percaya bahwa burung hantu adalah hewan keberuntungan, dan mereka menggunakan patung serta lukisan burung hantu sebagai dekorasi. Semua jenis sulaman dan totem juga memiliki desain burung hantu, serta dianggap sebagai hewan keberuntungan. Apa yang dimaksud dengan hewan keberuntungan? Maksudnya adalah hewan ini mungkin mendatangkan keberuntungan bagimu, dan engkau tidak akan mengalami kemalangan setelah mendengar koaknya atau melihatnya. Budaya tradisional semacam ini sudah merakyat di Barat. Kita tidak akan membuat penilaian tentang budaya mana yang benar dan mana yang salah; kita tidak akan menilai dalam hal ini. Namun, melalui topik ini, kita dapat melihat bahwa pandangan dan gagasan yang dimiliki orang Timur dan Barat terhadap hewan yang sama yang diciptakan oleh Tuhan dapat berlainan dan bahkan sama sekali berbeda. Orang Timur tidak memandangnya sebagai hal yang baik, terlepas dari apakah burung hantu itu tertawa atau menangis, burung itu tidak dianggap baik bagi mereka, sedangkan orang Barat menganggap bahwa burung itu adalah keberuntungan, baik ketika hewan ini menangis maupun tertawa, dan memandangnya saja bisa mendatangkan keberuntungan, sehingga mereka memperlakukannya sebagai hewan keberuntungan. Dua sudut pandang dan cara berurusan dengan burung hantu ini berasal dari budaya tradisional: yang pertama percaya bahwa burung hantu mendatangkan kesialan, dan yang kedua menganggapnya sebagai keberuntungan. Melihatnya sekarang, mana yang sesuai dengan kebenaran, dan mana yang tidak? (Keduanya tidak sesuai dengan kebenaran.) Apa dasar dari pernyataanmu? (Kedua pandangan itu tidak berasal dari Tuhan.) Betul. Ketika orang-orang mengatakan bahwa burung hantu bukanlah hewan keberuntungan, apa dasarnya? Dasarnya adalah budaya tradisional Timur; apa yang mereka yakini sebagai hal yang mendatangkan keberuntungan, kesialan, bencana, kemalangan, atau keberhasilan diukur berdasarkan budaya tradisional. Inilah cara memandang hal-hal yang berasal dari imajinasi dan gagasan, yang menjadi penyebab munculnya budaya semacam itu. Orang Barat menganggap bahwa burung hantu bisa mendatangkan keberuntungan bagi orang-orang, dan tentu saja anggapan ini sedikit lebih baik dan lebih progresif dibandingkan memperlakukan dan memandangnya sebagai kesialan. Hal ini membuat orang-orang merasa bahwa burung itu adalah hewan yang cukup baik, dan paling tidak mereka akan merasa tenang dan stabil setelah melihatnya, sesuatu yang lebih baik daripada merasa sial. Namun, apa yang bisa engkau peroleh dari memahaminya seperti ini? Bisakah burung hantu benar-benar mendatangkan keberuntungan bagimu? (Tidak.) Seandainya engkau terlahir di Tiongkok, apakah burung hantu benar-benar bisa menentukan keberuntunganmu? Tidak juga. Jadi, apa yang bisa engkau pahami dari hal ini? Meskipun engkau percaya bahwa hewan itu bisa mendatangkan keberuntungan atau kesialan, itu hanya sebatas kepercayaan dan gagasan manusia, bukan fakta. Hal ini membuktikan apa? (Budaya tradisional bukanlah kebenaran.) Benar; tidak ada budaya yang merupakan kebenaran. Jadi, bagaimana engkau harus memperlakukan burung hantu dengan cara yang sesuai dengan kebenaran? Hal ini berhubungan dengan standar untuk perilaku, tindakan, dan penyembahan manusia kepada Tuhan. Apa standarnya di sini? Standarnya adalah, dari sudut pandang mana engkau harus memandang makhluk ini dan bagaimana engkau harus memperlakukannya ketika hewan itu muncul di hadapanmu, baik saat hewan itu menangis atau tertawa—semua hal ini berhubungan dengan standar. Apa standarnya? (Kebenaran.) Standarnya adalah kebenaran. Apa yang seharusnya menjadi dasar bagimu dalam memperlakukan seekor burung hantu? (Firman Tuhan.) Apa isi dari firman Tuhan tentang cara berurusan dengan makhluk semacam ini? Firman-Nya tidak secara spesifik mengatakan, "Engkau harus memperlakukan burung hantu dengan benar dan tidak boleh berat sebelah dalam hal ini. Engkau tidak boleh mengatakan bahwa burung hantu adalah kesialan, juga tidak boleh mengatakan bahwa burung hantu bisa mendatangkan keberuntungan. Engkau harus memperlakukan burung hantu secara objektif dan adil." Tuhan tidak berkata demikian. Jadi, dasar apa yang harus engkau miliki agar pandanganmu tentang burung hantu sesuai dengan standar, dengan kebenaran? (Pada hakikatnya, Tuhanlah yang menciptakan segala hal.) Dasarmu harus berupa fakta bahwa Tuhan menciptakan segala hal, inilah kebenaran. Di tangan Tuhan, keberadaan segala hal pasti memiliki fungsi, misi, dan nilainya masing-masing. Apa lagi? (Dari sudut pandang Tuhan, segala hal itu baik.) Betul, segala hal yang diciptakan oleh Tuhan itu baik, keberadaannya memiliki nilai, dan harus ada. Selama sesuatu berasal dari Tuhan dan diciptakan oleh-Nya, itu tidak akan pernah tidak diperlukan. Apa yang dimaksud dengan "tidak pernah tidak diperlukan" ini? Maksudnya adalah suatu hal tidak akan mendatangkan kesialan pada orang secara acak. Bisakah seekor burung hantu kecil secara acak membawa kesialan bagimu? Bukankah hal itu terlalu mengagungkan burung hantu? Mana yang lebih tinggi: manusia atau burung hantu? Manusia adalah pengurus segala hal, dan lebih tepatnya, mereka mengendalikan nasib burung hantu dan mampu memusnahkan semua burung hantu begitu saja. Burung hantu tidak mungkin bisa mengubah nasib manusia. Jadi, bagaimana cara memperlakukan makhluk ini sesuai dengan kebenaran? Memperlakukannya sesuai dengan firman Tuhan. Tuhan menciptakan segala hal, semua makhluk yang berbeda-beda, juga manusia. Burung hantu adalah makhluk, jadi kita harus memperlakukannya sesuai dengan sudut pandang kita terhadap semua makhluk ciptaan. Pertama, kita tidak boleh begitu saja merusak hukum kelangsungan hidup burung hantu. Misalnya, kebiasaan dan karakteristik burung hantu adalah tidur di siang hari, berburu dan aktif di malam hari. Jika engkau menemukan seekor burung hantu yang terluka, dan dengan baik hati memungutnya, bagaimana engkau harus memperlakukannya? (Sesuai kebiasaannya.) Benar, engkau harus menghormati hukum kelangsungan hidupnya. Jangan berpikir untuk membuatnya tertidur di malam hari, memberinya obat tidur jika burung tersebut tidak tidur. Perlakuan seperti ini salah. Jika burung hantu selalu berisik di malam hari dan mengganggu istirahatmu, engkau bisa memindahkannya ke tempat lain yang tidak akan mengganggumu, tetapi engkau tidak boleh mengganggu hukum kelangsungan hidupnya, atau melanggar cara burung itu bertahan hidup. Bukankah ini adalah cara yang tepat untuk memperlakukannya? (Ya.) Beginilah seharusnya sudut pandangmu terhadap semua hal yang diciptakan oleh Tuhan. Pertama, milikilah sudut pandang yang benar. Ini adalah langkah pertama yang harus kauambil ketika melakukan suatu hal. Kedua, engkau harus menggunakan sudut pandang yang benar ini saat melakukan berbagai hal atau menangani persoalan, sehingga tindakanmu akan sesuai dengan kebenaran. Inilah standarnya. Sederhananya, standar merupakan aturan dan hukum yang tepat. Sebagai contoh, ketika seekor kucing melihat tikus, kucing tersebut ingin menangkapnya. Katakanlah engkau menganggap bahwa tikus juga ciptaan Tuhan, dan ingin menghalangi kucing itu, dan mencegahnya agar tidak menangkap tikus—apakah hal ini salah? (Ya.) Apa pendapatmu tentang perlakuan tersebut? (Itu melanggar hukum.) Perlakuan tersebut melanggar hukum alam. Ketika ada orang yang melihat ikan di dalam air, mereka ragu, "Semua orang mengatakan bahwa ikan tidak bisa hidup tanpa air. Namun, aku akan mencoba untuk mengeluarkannya dari air dan membuatnya hidup di daratan." Akibatnya, tak lama kemudian, ikan tersebut mati. Tindakan apa ini? (Tak masuk akal.) Ini tidak masuk akal. Dengan membahas burung hantu, sudahkah engkau semua sedikit banyak mampu memahami standar-standarnya, dan apa dasar standar tersebut? (Standar tersebut didasarkan pada firman Tuhan.) Benar, semua itu didasarkan firman Tuhan. Jadi, bagaimana engkau semua harus memperlakukan burung hantu di masa mendatang? Jika, pada suatu malam, seekor burung hantu menangis di dekat jendelamu, bagaimana engkau harus menanganinya? Setidaknya, kita tahu burung hantu berhak untuk menangis, dan kita harus memberikan haknya. Jika terlalu berisik, engkau bisa mengusirnya, tetapi engkau tidak perlu khawatir apakah engkau akan mengalami kesialan atau tidak keesokan harinya. Engkau tidak perlu memikirkannya karena nasib, kehidupan, dan kematian manusia ada di tangan Tuhan dan di bawah kedaulatan-Nya. Orang-orang tidak memahami kebenaran, sehingga mereka dengan mudah berprasangka buruk terhadap segala hal dan bahkan memiliki imajinasi serta gagasan, atau menjadi sedikit bertakhayul. Ini menyebabkan orang-orang memiliki pandangan yang salah tentang banyak hal dan tidak mampu bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran atau memenuhi standar untuk perilaku, tindakan, dan penyembahan manusia kepada Tuhan dalam segala hal. Apa alasannya? (Tidak memahami kebenaran.) Hal ini disebabkan oleh ketidakpahaman mereka tentang kebenaran.
Ketika orang Timur berinteraksi dengan orang Barat, mereka melihat ciri-ciri orang Barat yang menonjol—hidung bagian atas yang tinggi, mata yang besar, warna rambut yang beragam, dan penampilan mereka yang elegan—dan tanpa sadar timbul rasa iri atau kagum terhadap mereka. Lalu, selama interaksi berlangsung, mereka terus menerima budaya Barat. Mengapa mereka bisa menerimanya? Karena mereka iri hati dan ingin menjadi seperti mereka. Mereka menganggap bahwa penampilan memang telah ditentukan oleh Tuhan dan tidak bisa diubah. Namun, mereka menganggap bahwa mereka akan bermartabat jika bisa menyamai cara hidup orang Barat, seperti cara mereka makan, berpakaian, cara mereka menggunakan barang-barang, serta cara bicara, berpikir, dan budaya mereka. Apa pendapatmu tentang pemikiran semacam ini? Apakah semua orang memilikinya? (Ya.) Beberapa orang Timur suka meniru orang Barat, dan hal pertama yang mereka tiru adalah minum kopi. Mereka merasa bahwa kebiasaan orang Timur minum teh sudah terlalu kuno, jadi mereka belajar minum kopi dari orang Barat. Khususnya, sebagian orang Timur melihat banyak orang Barat yang terburu-buru bekerja setiap pagi, sambil menggenggam cangkir kopinya, dan seiring berjalannya waktu, mereka juga belajar melakukannya, meskipun terkadang mereka sebenarnya tidak sibuk. Ini disebut peniruan. Orang Timur sebenarnya tidak memiliki kebiasaan ini, tetapi mereka menganggap bahwa adat istiadat orang Barat ini baik, luhur, dan elegan. Mereka percaya bahwa jika mereka tidak memiliki kebiasaan ini, mereka harus mempelajari dan menirunya, dan jika mereka benar-benar mempelajarinya dan hidup menurut kebiasaan ini, mereka berpikir bahwa mereka pasti bisa bergabung dengan barisan orang Barat dan menjadi seperti mereka. Ini adalah salah satu bentuk penyembahan kepada orang Barat. Jika engkau benar-benar menyukai sesuatu, maka silakan pelajari dengan sungguh-sungguh, tetapi jika engkau hanya ingin mempelajari adat istiadat semacam ini sebagai kepalsuan untuk dipamerkan kepada orang lain, maka itu disebut peniruan. Jika seseorang tidak memahami kebenaran, mereka tidak akan memiliki standar dalam segala tindakan mereka, dan mereka akan menjadi seperti lalat tak berkepala, tanpa arah dan tujuan. Ketika mereka melihat orang Barat, mereka akan mempelajari bagaimana orang Barat bertindak; ketika mereka melihat apa yang menjadi tren di dunia, mereka akan mempelajarinya. Seperti inilah orang tidak percaya, dan jika seseorang yang percaya kepada Tuhan melakukan hal serupa, maka orang macam apakah mereka? (Pengikut yang bukan orang percaya.) Benar. Apakah mereka memiliki standar atau prinsip ketika melakukan segala hal? (Tidak.) Mereka tidak berprinsip. Mengapa? Karena mereka memuja tren duniawi dan kejahatan; mereka tidak mengagumi Tuhan, tidak mencintai kebenaran di dalam hatinya, serta tidak menerima dan mencari kebenaran. Semua orang semacam ini adalah pengikut yang bukan orang percaya. Karena orang semacam ini memiliki esensi tersebut, sekalipun mereka berada di dalam gereja, membaca firman Tuhan dan mendengarkan khotbah, mereka tidak akan pernah mampu menemukan standar untuk perilaku, tindakan, dan penyembahan manusia kepada Tuhan. Hal ini menyiratkan bahwa mereka tidak pernah mampu memperoleh kebenaran. Bukankah itu benar? (Ya.) Meniru orang lain yang minum kopi dapat memperlihatkan kegemaran seseorang, jalan yang mereka tempuh, dan prinsip-prinsip tindakannya. Katakan pada-Ku, apakah minum teh adalah kebenaran, atau apakah minum kopi adalah kebenaran? (Keduanya tidak berkaitan dengan kebenaran.) Benar sekali. Jadi, apa yang dimaksud dengan kebenaran? Ada orang-orang yang berkata, "Segala sesuatu yang berasal dari Tuhan adalah kebenaran. Firman Tuhan yang mengatakan bahwa alangkah baiknya jika engkau makan makanan musiman adalah kebenaran." Benar. Kebenaran adalah standar untuk perilaku, tindakan, dan penyembahan manusia kepada Tuhan. Jadi, apa yang termasuk dalam standar untuk perilaku? Itu mencakup setiap aspek kebenaran berkenaan dengan perilaku. Bagaimana dengan standar untuk tindakan? Itu adalah cara dan sarana yang engkau gunakan untuk menangani berbagai hal. Tentu saja, kita semua mengetahui standar untuk menyembah Tuhan. Ruang lingkup standar ini mengacu pada hal-hal tersebut, dan semuanya berkaitan dengan kebenaran. Misalkan ada orang yang berkata, "Mengapa engkau tidak suka teh?" dan engkau menjawab, "Apakah aku yang tidak suka teh tidak sesuai dengan kebenaran?" Orang lain berkata, "Engkau hidup di Barat, lalu mengapa engkau belum belajar minum kopi? Tidak ada selera jika engkau belum minum kopi!" dan engkau menjawab, "Apakah engkau mencoba mengutukku? Berdosakah aku jika tidak minum kopi? Apakah 'selera' adalah kebenaran? Seberapa berartikah selera itu?" Hal itu sangat tidak berarti, bukan? Tidak memahami kebenaranlah yang tidak berarti sama sekali! Apa yang harus orang-orang pahami dari contoh ini? Mereka harus memahami pandangan yang harus mereka miliki terhadap orang-orang, peristiwa, dan hal-hal ini, serta cara berurusan dengan semua itu yang sesuai dengan tuntutan Tuhan, sehingga standar yang Dia tuntut dapat terpenuhi. Apa yang harus orang-orang pahami dan cari dari semua ini? Standar yang harus mereka ikuti dalam menangani segala macam hal.
Apakah engkau semua menganggap bahwa budaya tradisional atau sentimen nasional layak disebut dengan istilah "standar"? (Tidak.) Sebagai contoh, "Menjadi manusia berarti engkau harus mencintai negaramu"—apakah hal ini standar? (Bukan.) "Menjadi manusia berarti engkau harus berbakti kepada orang tuamu"—apakah hal ini standar? (Bukan.) Ada juga yang berkata, "Wanita harus berbudi luhur," atau "Wanita harus mematuhi Tiga Ketaatan dan Empat Kebajikan," tetapi apakah hal-hal ini standar? (Bukan.) "Seorang pria hanya boleh memiliki satu istri dan harus setia"—apakah hal ini standar? Apakah itu memenuhi standar sebagai kebenaran? (Tidak.) Itu adalah perilaku dan moral yang benar, dan hal yang paling mendasar dan fundamental dalam kemanusiaan, tetapi hal itu belum cukup untuk menjadi kebenaran. Itu sesuai dengan standar moral dan perilaku kemanusiaan yang normal, tetapi apakah hal itu bisa dianggap sebagai standar? Apa yang dimaksud dengan standar? (Kebenaran.) Standar mengacu pada kebenaran, dan oleh karena itu, apa pun yang tidak memenuhi kebenaran bukanlah standar. Apakah engkau paham? Apakah tuntutan pria dan wanita dalam budaya tradisional yang baru saja Kusebutkan adalah tuntutan Tuhan? (Bukan.) Jadi, apa yang Tuhan tuntut terhadap kaum pria? Apa yang Alkitab katakan? (Bahwa kaum pria berjerih payah dan berpeluh untuk menyokong keluarganya.) Ini adalah tuntutan Tuhan terhadap kaum pria, dan merupakan hal yang paling mendasar yang harus mampu dilakukan oleh seorang pria. Bagaimana dengan aturan Tuhan untuk kaum wanita? (Bahwa berahi mereka harus kepada suaminya.) Karena ini adalah perkataan firman Tuhan, maka ini adalah kebenaran, dan manusia harus mematuhinya. Apa pun yang berasal dari budaya tradisional atau aturan moral manusia, sebaik apa pun itu, bukanlah kebenaran. Mengapa Aku mengatakan bahwa itu bukan kebenaran? (Karena Tuhan tidak mengatakannya.) Apa pun yang tidak dikatakan oleh Tuhan pasti bukan kebenaran, begitu juga dengan hal-hal yang tidak berkaitan dengan tuntutan firman Tuhan. Apa saja standar yang digunakan oleh orang Timur dalam mendefinisikan kaum wanita? Mereka percaya bahwa pertama-tama, wanita yang baik harus lembut dan berbudi luhur, berbudaya dan sopan, manis dan mungil, dan bahwa setelah menikah, mereka harus merawat semua orang dalam keluarga, baik yang muda maupun yang tua, tanpa mengeluh. Mereka hanya keset. Inilah citra kaum wanita yang diciptakan oleh orang Timur; semua itu adalah standar yang wajib dimiliki oleh kaum wanita. Sekarang, mari kita lihat standar yang dituntut orang Barat terhadap kaum wanita, yaitu apa yang mereka ajarkan dan anjurkan melalui pemikiran dan sudut pandang mereka. Orang Barat percaya bahwa wanita harus mandiri, bebas, dan setara—pada dasarnya, ini adalah hak-hak wanita yang dianjurkan oleh negara Barat. Hak-hak ini memiliki definisi dan tuntutan yang mendasar bagi kaum wanita, yaitu hak-hak tersebut memberikan konsep mendasar bagi gaya hidup dan penampilan kaum wanita. Konsep apakah ini? Bahwa wanita tidak boleh menjadi penurut, menyedihkan, dan berperilaku baik sepanjang hari, seperti keset. Mereka menganggap sikap ini jelek, dan wanita harus kuat dan berani. Ini adalah standar yang dituntut terhadap kaum wanita di hati orang Barat. Mereka percaya bahwa kaum wanita tidak perlu seperti boneka, tunduk pasrah menerima kemalangan setiap hari, menunggu orang lain menegur atau memberinya perintah. Mereka berpikir itu tidak perlu. Orang Barat menganjurkan kaum wanita untuk menjadi proaktif, mandiri, dan berani bertindak. Tentu saja, apa yang kita pahami mungkin tidak sepenuhnya sama dengan pemikiran mereka, tetapi pada dasarnya ini adalah perbedaan utama antara wanita Timur dan Barat. Manakah dari dua pandangan tersebut yang benar? (Keduanya salah.) Sebenarnya, hal ini bukanlah tentang benar dan salah. Dengan latar belakang masyarakat Timur, dalam komunitas semacam ini, engkau harus hidup seperti itu. Apakah engkau mampu memberontak jika menginginkannya? Dalam suatu keluarga, jika engkau memberontak, engkau mempertaruhkan nyawa. Di Barat, engkau bisa menjalani hidup layaknya wanita Barat, tetapi tidak soal bagaimana engkau menjalani hidup dan dengan latar belakang masyarakat atau komunitas mana pun, pandangan manakah yang sesuai dengan kebenaran? (Keduanya tidak sesuai dengan kebenaran.) Kedua pandangan ini melanggar dan tidak sesuai dengan kebenaran. Mengapa Aku mengatakan demikian? Orang Timur menginginkan kaum wanita agar selalu berperilaku baik, mewujudkan Tiga Ketaatan dan Empat Kebajikan, berbudi luhur, dan bersikap lembut—apa tujuannya? Agar mereka mudah dikendalikan. Ini adalah ideologi jahat yang telah berkembang dari budaya tradisional Timur, dan sangat merugikan bagi orang-orang, yang pada akhirnya membuat kaum wanita menjalani hidup tanpa memiliki arah atau pemikirannya sendiri. Kaum wanita ini tidak tahu apa yang harus dilakukan, bagaimana cara melakukannya, atau tindakan apa yang benar atau salah. Mereka bahkan mengorbankan hidupnya demi keluarga, tetapi tetap saja merasa belum cukup melakukan banyak hal. Apakah hal ini merugikan bagi wanita? (Tentu saja.) Mereka bahkan tidak berani menentang ketika hak-hak yang seharusnya mereka nikmati direbut. Mengapa mereka tidak menentang? Mereka berkata, "Adalah salah dan tidak bajik jika aku melawan. Lihat si anu, dia jauh lebih baik dan jauh lebih menderita dariku, tetapi dia tak pernah mengeluh." Mengapa mereka berpikir seperti ini? (Mereka telah dipengaruhi oleh pemikiran budaya tradisional.) Budaya tradisional inilah yang telah mengakar dalam diri mereka dan membuat mereka begitu menderita. Bagaimana mereka bisa menoleransi penyiksaan seperti ini? Mereka tahu betul bahwa penyiksaan seperti ini memang menyakitkan, membuatnya merasa tidak berdaya dan melukai hatinya, lalu mengapa mereka tetap pasrah? Apa alasan objektifnya? Alasannya, ini adalah latar belakang sosial mereka, jadi mereka tidak bisa melepaskan diri, tetapi hanya bisa pasrah menerimanya. Ini juga cara mereka beranggapan secara subjektif. Mereka tidak memahami kebenaran, atau bagaimana wanita seharusnya menjalani hidup dengan bermartabat, atau cara yang benar bagi wanita untuk menjalani hidup. Tak ada seorang pun yang pernah memberitahukan hal-hal ini kepada mereka. Sepengetahuan mereka, apa standar untuk perilaku dan tindakan wanita? Budaya tradisional. Mereka menganggap bahwa apa yang telah diwariskan dari generasi ke generasi adalah benar, dan jika ada yang melanggarnya, hati nurani mereka perlu dikecam. Inilah "standar" mereka. Namun, apakah standar ini memang benar? Haruskah standar ini diberi tanda kutip? (Ya.) Standar ini tidak sesuai dengan kebenaran. Tidak soal seberapa diterimanya atau sebaik apa pun perilaku seseorang di bawah kendali pemikiran dan sudut pandang semacam ini, apakah hal ini sebenarnya merupakan sebuah standar? Bukan, itu bertentangan dengan kebenaran dan kemanusiaan. Sudah sekian lama wanita di Timur harus mengurus seluruh keluarganya dan bertanggung jawab atas semua hal yang sepele. Apakah ini adil? (Tidak.) Lalu, bagaimana mereka bisa menoleransi hal itu? Karena mereka terikat dengan pemikiran dan sudut pandang seperti ini. Kemampuan mereka untuk menoleransi hal itu menunjukkan bahwa, di lubuk hatinya, mereka 80% yakin bahwa itu adalah hal yang benar untuk dilakukan, dan jika mereka bertahan, mereka akan mampu memenuhi standar budaya tradisional. Jadi, mereka sedang menempuh arah itu, memenuhi standar-standar tersebut. Jika, di lubuk hatinya, mereka menganggap bahwa itu salah dan mereka tidak seharusnya melakukannya, bahwa itu tidak sesuai dengan kemanusiaan dan bertentangan dengan kemanusiaan dan kebenaran, masih bisakah mereka melakukannya? (Tidak.) Mereka harus memikirkan cara agar bisa terlepas dari orang-orang itu dan tidak menjadi budak mereka. Namun, kebanyakan wanita tidak berani melakukannya—apa anggapan mereka? Mereka mungkin mampu bertahan tanpa komunitasnya, tetapi mereka akan menanggung stigma yang mengerikan jika mereka pergi, dan akan menerima akibat tertentu. Setelah menimbangnya, mereka berpikir bahwa jika mereka melakukannya, rekan kerjanya akan bergosip tentang betapa tidak berbudi luhurnya mereka, masyarakat akan mengecam mereka dengan cara tertentu dan memiliki pendapat tertentu tentang mereka, dan semua itu akan menimbulkan akibat serius. Pada akhirnya, mereka mempertimbangkannya lagi dan berpikir, "Sebaiknya aku menoleransi hal itu saja. Jika tidak, beban dari kecaman ini akan menghancurkanku!" Seperti inilah sudut pandang wanita Timur dari generasi ke generasi. Apa yang harus mereka tanggung di balik semua perbuatan baik ini? Hak asasi dan martabat manusia yang mereka miliki dirampas. Apakah pemikiran dan pandangan ini sesuai dengan kebenaran? (Tidak.) Semua itu tidak sesuai dengan kebenaran. Martabat dan hak asasi mereka telah dirampas, integritas, kehidupan mandiri, serta ruang berpikir mereka telah direnggut, dan haknya untuk berbicara dan mengutarakan hasratnya telah hilang—semua yang mereka lakukan hanya untuk orang-orang di rumah. Apa tujuan mereka melakukan hal ini? Agar memenuhi standar yang dituntut oleh budaya tradisional terhadap wanita, dan agar orang lain memuji mereka, menyebut mereka sebagai istri yang baik dan orang yang baik. Bukankah hal ini semacam penyiksaan? (Ya.) Apakah cara berpikir seperti ini benar atau menyimpang? (Itu menyimpang.) Apakah hal itu sesuai dengan kebenaran? (Tidak.) Tuhan menciptakan kehendak bebas untuk umat manusia, dan apa pemikiran yang dihasilkan oleh kehendak bebas ini? Apakah pemikiran itu sesuai dengan kemanusiaan? Pemikiran ini setidak-tidaknya harus sesuai dengan kemanusiaan. Selain itu, Dia juga bermaksud agar manusia memiliki pandangan dan pemahaman yang akurat tentang semua orang, peristiwa, dan hal-hal dalam menjalani kehidupan, dan kemudian memilih jalan yang benar untuk hidup dan menyembah Tuhan. Kehidupan yang dijalani dengan cara ini diberikan oleh Tuhan dan seharusnya dinikmati. Namun, orang-orang dikekang, dibelenggu, dan disimpangkan oleh yang disebut budaya tradisional dan aturan moral sepanjang hidup mereka, dan pada akhirnya menjadi apa? Mereka menjadi boneka budaya tradisional. Bukankah hal ini disebabkan oleh orang-orang yang tidak memahami kebenaran? (Ya.) Apakah engkau semua mau memilih jalan ini kelak? (Tidak, aku tidak mau.) Lalu, apa yang harus kaulakukan? Sebagai contoh, engkau berkata, "Aku akan menentang mereka," atau "Aku tidak akan lagi melayani mereka. Aku memiliki hak asasi manusia dan integritasku sendiri." Apakah boleh? (Tidak.) Tidak boleh. Ini sama ekstremnya, dan tidak memberikan kesaksian tentang Tuhan atau memuliakan-Nya. Jadi, bagaimana seharusnya engkau bertindak? (Sesuai dengan prinsip.) Tentu saja, bertindak sesuai dengan prinsip memang benar, dan engkau harus memperlakukan semua orang sesuai dengan prinsip, memperlakukan mereka seperti saudara-saudari jika mereka percaya kepada Tuhan, dan sebagai orang tidak percaya jika mereka tidak percaya kepada-Nya. Engkau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, mendistorsi integritasmu, atau menyerahkan martabat dan hak-hakmu dengan mengorbankan hidupmu untuk mereka. Mereka tidak layak mendapatkannya. Hanya ada satu Pribadi di dunia ini yang layak mendapatkan pengorbanan hidupmu. Siapa Dia? (Tuhan.) Mengapa? Karena Tuhan adalah kebenaran, dan firman-Nya adalah standar untuk eksistensi, perilaku, dan tindakan manusia. Selama engkau memiliki Tuhan, dan firman Tuhan, maka engkau tidak akan menyimpang, dan caramu berperilaku dan bertindak tidak akan salah. Ini adalah kesudahan yang dicapai oleh firman Tuhan terhadap seseorang setelah mereka diselamatkan.
"Apa yang Dimaksud dengan Kebenaran?" adalah topik yang sangat luas. Kita baru saja memberikan beberapa contoh, salah satunya adalah cara memperlakukan burung hantu. Apa contoh lainnya? (Orang Timur yang meniru orang Barat yang minum kopi.) (Standar yang dituntut orang Timur dan orang Barat terhadap kaum wanita.) Semua ini adalah contoh yang paling jelas. Jadi, di antara pandangan orang-orang Timur dan Barat tentang berbagai hal, manakah yang dianggap standar? (Tidak ada.) Tak satu pun yang berhubungan dengan kebenaran, semuanya adalah pandangan dan pendapat manusia. Lebih tepatnya, semua itu adalah sudut pandang yang salah dan kekeliruan. Semua itu bukanlah standar, melainkan strategi, teori, dan falsafah Iblis yang merugikan manusia. Setelah mempersekutukan topik tersebut seperti ini, apakah engkau sedikit lebih paham tentang hal ini? (Ya.) Seandainya Aku tidak membahas hal ini, mungkin suatu hari nanti engkau semua akan mempertimbangkan untuk meniru orang Barat dengan minum kopi dan makan hamburger, menyamai mereka. Apakah hal itu sesuai dengan prinsip? Sekalipun engkau menyantap makanan Barat setiap hari, semua itu tidak akan berguna jika engkau tidak mengejar kebenaran, engkau tetap tidak akan memiliki standar untuk caramu berperilaku. Yang terpenting adalah entah engkau mampu mencari kebenaran dan bertindak sesuai dengan prinsip—hal ini bermanfaat bagimu. Setelah Aku menyampaikan persekutuan seperti ini, apakah engkau semua memiliki sedikit pemahaman tentang kebenaran dan standar? (Ya.) Apakah ada kebenaran dalam budaya tradisional atau standar moral masyarakat? (Tidak ada.) Apakah ada kebenaran di dalam aturan moral? (Tidak ada.) Bisakah engkau sekarang yakin bahwa firman Tuhan adalah kebenaran? (Ya, kami bisa.) Setelah engkau yakin bahwa firman-Nya adalah kebenaran, engkau harus mempertimbangkan: Apa itu firman Tuhan? Apa saja prinsip-prinsip yang dituntut dalam firman-Nya? Apa saja standar yang telah Dia sampaikan kepada manusia? Bagaimana tepatnya mereka harus bertindak agar sesuai dengan firman Tuhan, dan apa saja prinsip-prinsip yang benar dalam melakukannya? Inilah yang harus engkau cari, tetapi untuk saat ini, mari kita akhiri topik ini sampai di sini.
Lampiran:
Satu Hari dalam Kehidupan Xiaojia
Mari kita beralih ke topik berikutnya. Apa yang sebaiknya dibahas? Mungkin Aku harus menceritakan sebuah kisah. Cerita juga menyentuh kebenaran serta standar untuk perilaku, tindakan, dan penyembahan manusia kepada Tuhan. Dengarkan baik-baik bagaimana kisah ini berkaitan dengan kebenaran dan standar untuk perilaku manusia. Cerita ini mengisahkan satu hari dalam kehidupan Xiaojia. Tokoh utama kita adalah Xiaojia, lalu ceritanya kira-kira berlangsung berapa lama? (Satu hari.) Satu hari. Beberapa orang mungkin bertanya, "Apakah peristiwa yang hanya berlangsung sehari layak untuk diceritakan?" Nah, itu tergantung pada apa yang diceritakan. Jika semuanya tentang gosip dan hal-hal sepele, itu tidak layak untuk diceritakan. Namun, jika itu menyentuh kebenaran, jangankan satu hari, peristiwa satu menit pun layak untuk diceritakan, bukan? (Benar sekali.)
Xiaojia adalah orang yang sangat bersemangat dalam pengejarannya dan antusias dalam melaksanakan tugasnya. Kisahnya dimulai pada suatu pagi saat dia bangun tidur. Setelah bangun, membaca firman Tuhan, dan melakukan saat teduh, Xiaojia pergi sarapan dan mengambil semangkuk bubur serta beberapa sayuran. Kemudian dia melihat beberapa telur, lalu berpikir: "Aku harus makan dua butir. Dua butir telur sehari sudah cukup untuk nutrisi." Namun, saat mengulurkan tangannya, dia ragu-ragu, "Ambil dua atau satu saja? Tidak baik jika orang lain melihatku mengambil dua butir, itu terlalu serakah. Mereka akan mengira aku rakus. Lebih baik ambil satu saja." Dia menarik tangannya kembali sebelum mengulurkannya lagi untuk mengambil sebutir telur. Tepat saat itu, seseorang datang untuk mengambil telur membuat jantung Xiaojia berdebar kencang ketika melihatnya. Dia berpikir: "Sebenarnya, lebih baik tidak makan telur. Aku sudah punya bubur, sayuran, dan beberapa bakpao, dan itu sudah cukup untuk sarapan. Aku tidak boleh serakah. Mengapa aku jadi ingin makan telur? Betapa buruknya jika orang lain melihatnya. Bukankah itu berarti menikmati kenyamanan? Aku tidak akan mengambilnya." Dengan pikiran demikian, Xiaojia meletakkan kembali telur itu. Setelah menghabiskan sarapannya beberapa menit kemudian, dia mulai melakukan tugasnya. Xiaojia menyibukkan dirinya dengan pekerjaan yang ada, menyelesaikannya satu per satu. Waktu berlalu dengan cepat, dan dalam sekejap, sudah tiba waktunya makan siang. Semua orang pergi makan, tetapi Xiaojia menengok jam tangannya dan melihat sudah pukul 12.40 siang. "Tunggu sebentar. Aku tidak boleh terburu-buru makan ketika semua orang melakukannya. Jika aku bergegas pergi bersama yang lain, bukankah aku akan sama saja dengan mereka dan terlihat rakus? Aku akan menunggu sedikit lebih lama." Xiaojia melanjutkan apa yang sedang dilakukannya, tetapi perutnya mulai keroncongan. Dia memegang perutnya dan tanpa sadar melihat ke komputer, lalu berpikir: "Aku sangat lapar! Apa menu makan siang hari ini? Semoga ada daging. Alangkah baiknya jika aku bisa mendapatkan sedikit daging!" Perutnya terus keroncongan saat dia memikirkannya, dan dengan sangat susah payah Xiaojia berhasil menunggu sampai semua orang kembali dari makan siang. Seseorang bertanya: "Mengapa engkau belum makan siang? Cepatlah sana, makanannya sudah dingin." Xiaojia menjawab, "Tidak apa-apa. Aku belum selesai dengan pekerjaanku. Aku akan pergi setelah selesai." "Bukankah lebih baik makan dulu, baru kemudian melanjutkan pekerjaan?" "Tidak apa-apa. Aku akan segera selesai." Xiaojia pun menahan rasa laparnya dan melanjutkan pekerjaannya. Sebenarnya, dia sekarang sangat lapar dan sedang tidak berminat untuk terus bekerja, tetapi Xiaojia tetap menahan rasa laparnya dan terus berpura-pura. Setelah beberapa saat dia memeriksa jam tangannya lagi dan melihat bahwa saat itu sudah pukul 1.30 siang, lalu berpikir: "Cukup. Sebaiknya aku makan siang sekarang." Ketika Xiaojia hendak berdiri dan pergi makan, seorang saudari membawakannya nampan makanan dan berkata, "Sudah sangat terlambat! Mengapa engkau belum makan siang? Sesibuk apa pun, engkau tetap harus makan. Engkau akan sakit perut jika tidak makan tepat waktu." Xiaojia menjawab, "Tidak apa-apa. Aku akan makan setelah selesai." "Engkau tidak perlu pergi. Aku membawakan makananmu, jadi, cepatlah makan." "Untuk apa terburu-buru? Aku bahkan belum lapar." Tepat saat dia mengatakan bahwa dia belum lapar, perutnya keroncongan dengan suara gemuruh. Xiaojia memegang perutnya sambil tersenyum malu, lalu berkata kepada saudari itu, "Lain kali, tidak perlu repot-repot membawakanku makanan." "Namun, jika aku tidak membawakannya, makanan akan menjadi dingin dan harus dipanaskan lagi. Makanan itu sudah dipanaskan sekali." "Kalau begitu, terima kasih!" Xiaojia menelan air liur sambil mengambil makanannya dari saudari itu. Melirik nampan itu, dia sangat senang: dua bakpao, sayuran, daging, dan sup. Xiaojia memikirkan hal lain ketika melihat bakpaonya, lalu berkata kepada saudari itu, "Aku tidak bisa makan dua bakpao. Aku terlalu sibuk belakangan ini, tidak bisa tidur nyenyak, dan tidak punya nafsu makan. Bukankah sia-sia jika engkau memberiku dua bakpao? Ambillah kembali yang satu." "Tidak apa-apa. Engkau bisa mengembalikannya jika benar-benar tidak bisa menghabiskannya," jawab saudari itu sebelum pergi. Xiaojia membatin, "Cepatlah pergi. Aku lapar sekali." Dia mengambil sup, melihat tidak ada orang di sekitarnya, tetapi masih merasa sedikit malu, lalu dengan hati-hati menyesapnya. Kemudian dia melihat dagingnya, "Wah! Aku bisa mencium aroma daging babi kecap dari jarak jauh. Namun, aku tidak bisa langsung memakannya karena aku harus makan sayur dulu. Aku akan makan lebih sedikit daging jika aku kenyang dengan sayur, kalau tidak, aku akan menghabiskan setengah mangkuk daging, dan bukankah itu memalukan?" Xiaojia berpikir sejenak sebelum melakukannya. Dia mengunyah bakpao dan sayur-sayuran, serta meminum supnya. Saat makan, Xiaojia merasa ingin mencicipi sedikit daging, lalu dia mengambil sepotong daging babi kecap, kemudian mengantarkannya ke mulutnya. Xiaojia memejamkan matanya dan menikmatinya dengan hati-hati, "Lezat sekali! Daging memang enak, tetapi aku tidak boleh makan terlalu banyak. Hanya satu gigitan sudah cukup, lalu lebih banyak sayuran dan lebih banyak sup." Dia melanjutkan memakan bakpaonya, tetapi terus menatap daging saat dia makan sayuran, "Haruskah aku makan daging ini? Rasanya sangat enak, sayang sekali jika tidak dimakan." Dia mulai menelan air liur lagi, dan dia berpikir, "Aku tahu! Aku akan merobek bakpao ini menjadi potongan-potongan kecil dan mencelupkannya ke dalam kuah. Bukankah itu sama dengan makan daging? Dengan cara ini, orang lain bisa melihat bahwa aku tidak makan daging, tetapi aku tetap bisa merasakan semua rasa dagingnya. Hebat sekali!" Dengan pemikiran tersebut, Xiaojia mencelupkan sepotong bakpao ke dalam kuah, lalu mengambilnya dan memakannya. Dia merasa bakpao itu lezat dan hampir sama seperti daging. Xiaojia kemudian segera merobek seluruh bakpao dan memasukkannya ke dalam kuah .... Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, dia sudah memakan semuanya dan juga menghabiskan supnya. Dia hanya makan satu bakpao, menahan keinginannya untuk memakan yang satunya lagi dan menahan diri. Setelah menghabiskan semua hidangan sesuai rencana, Xiaojia sudah cukup kenyang dan merasa tidak ingin makan lagi. Kemudian dia berpikir, "Oh, tidak pantas rasanya makan secepat ini, aku seperti orang kelaparan. Aku memang sangat lapar, tetapi tidak baik jika orang melihatku seperti ini. Aku harus makan pelan-pelan. Namun, apa yang bisa kulakukan sekarang setelah selesai? Baiklah, aku punya ide. Aku akan mengembalikannya dalam sepuluh menit." Xiaojia melirik arlojinya dan memperhatikan jarum jam, "Lima menit ... sepuluh ... lima belas ... Oke, pukul dua. Sempurna, kembalikan!" Dengan senang hati, dia mengembalikan sisa daging babi kecap dan bakpao.
Setelah pukul 2 siang, Xiaojia kembali. Saudara-saudarinya telah pergi untuk beristirahat, sementara dia sendiri tidak punya kegiatan apa pun untuk dilakukan hingga membuatnya benar-benar bosan. Dia berpikir, "Haruskah aku tidur siang juga? Tidur siang setelah makan selalu menyegarkan. Namun, jika aku tidur ketika orang lain juga tidur, itu menjadikanku apa? Aku tidak boleh tidur. Aku harus tetap bertahan. Namun, bagaimana caranya agar tetap terjaga? Aku tidak mungkin bisa tidur sambil berdiri, tetapi jika aku terus berdiri, aku akan mengejutkan seseorang jika mereka tiba-tiba masuk. Tidak, aku tidak boleh berdiri. Baiklah, aku akan duduk di depan komputerku saja. Jika ada yang melihat, mereka akan mengira aku sedang bekerja, padahal sebenarnya aku sedang beristirahat. Itu ide yang bagus." Xiaojia kemudian duduk dengan santai di depan komputer, menatap kosong layarnya, tetapi dalam lima menit dia sudah tertidur dan mendengkur di atas keyboard. Empat puluh menit kemudian, Xiaojia tersentak bangun dari tidur lelapnya, melompat dan agak bingung, dan berkata, "Bukankah aku tadi berdiri? Mengapa aku bisa tertidur?" Dia melihat jamnya, dan menyadari bahwa hari sudah larut, lalu segera pergi untuk mencuci muka saat tidak ada orang lain di sekitar. Melihat pantulan dirinya di cermin kamar mandi, Xiaojia berseru, "Aduh, tidak! Wajahku penuh bekas keyboard! Bagaimana aku bisa terlihat seperti ini!" Dia segera menggosok wajahnya, mengusap dan menepuk-nepuknya, dan akhirnya menghabiskan waktu cukup lama di kamar mandi. Kemudian dia bercermin dan melihat bahwa sebagian besar bekas keyboard di wajahnya hampir hilang, dan di dalam hatinya, dia merasa senang dan berkata, "Tidak akan ada yang akan melihatnya, kecuali mereka benar-benar memperhatikan." Setelah itu Xiaojia menyisir rambutnya dan merapikan kerah bajunya, tiba-tiba dia menyadari bahwa kerah baju berwarnanya sedikit berminyak, dan setelah diperiksa lebih dekat, mansetnya juga agak kotor. Dia berpikir dalam hati, "Aku belum mencuci atau mengganti bajuku selama beberapa hari ini, tetapi ada manfaatnya juga tidak mencucinya. Sedikit kotoran tidak masalah, aku tidak terganggu dengan sedikit noda. Lagi pula, bukankah akan terlihat lebih rohani jika agak kumal?" Dia pun membalikkan kerah dan lengan bajunya, serta menggulung lengan jaketnya, memperlihatkan semua bagian yang kotor. Merasa cukup puas, Xiaojia pun bersemangat dan berjalan keluar dari kamar kecil dengan tenang. Setelah beberapa saat, sebagian besar orang sudah berada di tempatnya masing-masing dan mulai sibuk dengan pekerjaannya. Ketika Xiaojia melihat bahwa semua orang sudah ada di sana, dia berkata, "Engkau semua tidak berlama-lama tidur! Engkau semua benar-benar mampu menderita dan membayar harga! Aku bahkan tidak tidur siang, hanya terlelap sebentar sebelum membasuh wajahku. Kalau tidak, aku tidak akan punya tenaga." Tidak ada yang menjawab. Merasa sangat bosan, dia pun mulai bekerja. Karena Xiaojia sudah menyantap begitu banyak sup saat makan siang, dia terus ingin merasa ke kamar kecil tetapi berusaha menahannya, berpikir, "Jika aku pergi, bukankah orang-orang akan menganggapku malas? Itu bukan reputasi yang baik, jadi sebaiknya aku tidak pergi." Dia pun menahannya hingga akhirnya ada orang lain yang menuju kamar kecil, dan dia melihat kesempatannya. Xiaojia dengan cepat ikut antrean sambil berpikir, "Bagus juga mengikuti kerumunan karena tak ada yang akan mengatakan apa pun tentangku."
Sore itu adalah hari yang sangat sibuk. Xiaojia melakukan banyak pekerjaan, bersekutu dengan orang ini, bertanya kepada orang itu, mencari sumber daya, dan melakukan berbagai tugas yang relevan dengan tugasnya. Setelah semua kesibukan itu, akhirnya tiba waktunya untuk makan malam. Kali ini Xiaojia agak terlambat dibanding yang lain, tetapi dia masih bisa menyelesaikan makannya tepat waktu. Saat-saat setelah makan malam adalah waktu yang paling membahagiakan bagi Xiaojia setiap harinya karena itu adalah satu-satunya waktu ketika dia bisa dengan tenang menikmati secangkir kopi kesukaannya. Dia tidak merasa bersalah atau mendapatkan kritik dari orang lain, dan hatinya tenang. Mengapa? Karena dia memiliki cukup alasan mengapa dia perlu minum kopi, alasan yang sepenuhnya bisa diterima oleh semua orang. Jadi, inilah saat yang paling membahagiakan baginya. Sambil membuat kopi, dia bergumam pada dirinya sendiri, "Ah, harus lembur lagi hari ini. Entah sampai kapan. Kurasa aku akan lihat berapa lama kopi ini bisa membuatku tetap terjaga." Dia meletakkan kopi yang baru diseduhnya di atas meja dengan sikap menantang, seolah-olah memberi tahu semua orang, "Ada apa? Aku sedang minum kopi, engkau semua mau apa?" Sambil melirik sekelilingnya, dia melihat tidak ada yang memperhatikannya. Dia tetap dengan santai mengambil cangkirnya, menyesapnya, dan berpikir, "Semua orang bilang kopi itu enak, dan memang benar. Rasanya berbeda setiap hari, memberikan pengalaman yang berbeda. Ini luar biasa!" Merasa puas, dengan bangga dia menyesap kopinya, lalu memandang ke sekeliling tanpa tujuan untuk mengerjakan pekerjaan malamnya. Dia pada dasarnya tidak punya tujuan, dan merasa lelah setelah hari yang sibuk, tetapi memaksakan diri untuk terus bekerja. Dia tidak boleh mengantuk, dan tidak bisa membiarkan orang lain melihat bahwa dia lelah, atau bersikap asal-asalan, tidak bertanggung jawab, atau lalai dalam menangani pekerjaannya atau tugasnya. Dia memaksakan diri untuk tetap terjaga dan duduk di depan komputernya untuk terus bekerja, dan tentu saja minum kopi demi kopi. Makin banyak meminumnya, dia makin terjaga, dan makin sedikit rasa kantuknya. Xiaojia sesekali melirik jam tangannya, berkata, "Sudah lewat pukul satu, tetapi aku tidak boleh tidur karena aku sudah menetapkan target untuk tidur pukul tiga. Aku bahkan tidak boleh tidur pada pukul 2.50 pagi karena itu akan melanggar janjiku dan aku tidak akan punya penjelasan kepada Tuhan. Ini adalah janji yang harus dipegang oleh makhluk ciptaan, jadi aku harus menghormatinya. Aku bilang aku akan tidur pukul 3, jadi aku akan tidur pukul 3 pagi sekalipun aku harus minum banyak kopi." Maka, dia pun minum kopi dan melawan rasa kantuknya, secara mental menahan dan mengendalikan dirinya. Pada pukul tiga pagi, Xiaojia punya tugas penting untuk dilakukan, dia lalu mengambil ponselnya dan mengirim pesan yang berbunyi: saudari polan, ini Xiaojia. Aku punya pengingat penting untukmu supaya tidak lupa ada pertemuan kelompok besok pagi pukul 10. Wajib hadir, dan jangan terlambat. Tertanda: Xiaojia. Setelah mengirim pesan itu, Xiaojia merasa lega tetapi juga bertanya-tanya, "Mengirimnya adalah satu hal, tetapi bagaimana kalau dia tidak menerimanya? Apakah dia tahu bahwa aku mengirimkan pesan kepadanya? Aku tidak boleh tidur dulu. Aku perlu menunggu dan melihat apakah dia membalasnya." Setelah menunggu setengah jam masih belum ada balasan, Xiaojia berpikir, "Apakah dia sudah tidur? Mengapa dia tidur begitu awal? Sungguh tidak ada gunanya sudah tidur pukul tiga." Xiaojia menunggu sampai saudari itu membalas pada pukul 3:50: Aku belum lupa tentang pukul 10 besok. Aku harap engkau juga tidak lupa dan datang tepat waktu. Xiaojia membacanya dan berpikir, "Oh, orang macam apa ini? Bagaimana dia bisa tidur lebih larut dariku?" Namun, Xiaojia sudah tidak tahan lagi, dan berkata, "Tidak ada kopi lagi! Jika aku minum lagi, aku tidak akan bisa tidur sama sekali malam ini. Aku harus tidur karena aku harus bangun pukul 5.30, paling lambat pukul 6 pagi. Aku tidak boleh terlambat dibandingkan saudara-saudariku yang lain karena aku harus membiarkan semua orang melihatku berdoa, membaca firman Tuhan, dan mendengarkan khotbah setelah mereka bangun. Jadi aku tidak boleh bangun terlambat. Semuanya karena pesan ini yang membuatku tidak bisa tidur lebih awal. Namun, tidak apa-apa, orang lain tahu aku tidur larut malam. Aku mencapai tujuanku, dan aku akan berusaha tidur pukul empat besok." Ketika Xiaojia mencoba berpikir, dia tidak bisa menahan rasa kantuknya sampai-sampai dia tidak melepas pakaiannya saat kembali ke kamar. Dia ambruk di tempat tidurnya, sudah setengah tertidur, tetapi masih memaksakan diri untuk mengingat-ingat, jangan makan telur di pagi hari, hanya makan satu bakpao untuk makan siang, jangan makan daging babi kecap, tidur pukul 3 pagi, masih ada pesan yang harus dikirim .... Xiaojia berpikir dan berpikir sampai akhirnya dia terdiam, tertidur dalam kelelahan, keletihan, mimpi, dan khayalan. Begitulah satu hari dalam kehidupan Xiaojia.
Katakan kepada-Ku, apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah melelahkan bagi Xiaojia untuk selalu berpura-pura seperti itu? (Ya, itu memang melelahkan.) Robot yang melakukan hal yang sama sepanjang hari tidak akan merasa lelah karena tidak memiliki pikiran atau kesadaran, tetapi bagi manusia sangat melelahkan. Mengapa Xiaojia hidup seperti itu meskipun sudah sangat lelah? Mengapa dia melakukannya? Apakah dia memiliki perhitungan? (Ya, dia memiliki perhitungan.) Apa yang menjadi fokus perhitungannya? (Pamer kepada orang lain.) Apa yang dia peroleh dari pamer tersebut? (Itu bisa membuat orang-orang mengaguminya.) Benar, itu bisa membuat orang mengaguminya. Apakah perilaku Xiaojia ini terasa familier bagi engkau semua? Orang seperti apa yang berperilaku seperti itu? (Orang Farisi.) Tepat sekali. Orang Farisi menampilkan perilaku baik, perilaku dan penerapan yang sesuai dengan gagasan manusia, dan sengaja melakukannya di depan orang lain agar terlihat baik dan dipuja. Mereka menggunakan metode ini untuk mencapai tujuannya dalam menyesatkan orang. Apa natur utama dari mereka yang berpura-pura seperti itu, melakukan segala macam perilaku baik untuk dipamerkan kepada orang lain? Ini adalah salah satu bentuk kepura-puraan, tipu daya, penyesatan—ada lagi? (Kerohanian palsu.) Hal apa saja dalam keseharian Xiaojia yang mencerminkan watak dan tipikal orang-orang yang pandai berpura-pura? Makan telur, bakpao, daging babi kecap, dan minum kopi. Semuanya hanyalah urusan eksternal, tetapi esensi apa yang bisa engkau lihat di dalamnya? Kepura-puraan dan pengendalian diri. Dia berpura-pura dalam hal apa? (Dia berpura-pura menderita.) Apakah orang memandang penderitaan sebagai sesuatu yang baik atau buruk? (Sesuatu yang baik.) Penderitaan adalah perilaku baik yang sangat dikagumi oleh semua orang. Apa pendapat orang tentang perilaku baik seperti ini? Mereka menganggapnya sebagai penerapan kebenaran. Jadi, Xiaojia tidak ragu untuk menderita dan membayar harga. Penderitaannya mencakup apa saja? Tidak menyantap makanan yang enak, begadang, bangun pagi, dan menundukkan tubuhnya. Apa natur dari penderitaan seperti ini? Semua itu adalah kepura-puraan. Dia bukan menderita demi kebenaran atau keadilan, melainkan demi mendapatkan pujian dan kekaguman dari orang lain, serta demi nama baik dan gengsinya. Apakah dia menderita demi kebenaran? (Tidak, dia bukan menderita demi kebenaran.) Dari semua tindakan Xiaojia, apakah ada yang sesuai dengan prinsip kebenaran, dan apakah dia memberontak terhadap dirinya sendiri dan melepaskan kepentingan pribadinya demi kebenaran? Apakah ada salah satunya? (Tidak ada.) Apa natur dari penderitaannya? Apakah itu merupakan penerapan kebenaran? Apakah itu perwujudan dari cintanya pada kebenaran? (Tidak, bukan.) Jadi, apa itu sebenarnya? (Kemunafikan.) Itu adalah kemunafikan, muak akan kebenaran, tipu daya, kepura-puraan, kepalsuan, dan penyesatan; itu sepenuhnya merupakan tindakan dan pilihan yang didasarkan pada imajinasi dan gagasannya sendiri, serta berfokus pada kepentingan pribadinya, tidak ada hubungannya sama sekali dengan kebenaran. Dia tidak mencari kebenaran, jadi tindakannya juga bukan kebenaran; bukan hanya tidak ada hubungannya dengan kebenaran, melainkan juga sepenuhnya bertentangan dengan kebutuhan normal kemanusiaan yang terkandung di lubuk hatinya. Apakah makan telur itu dosa? (Tidak.) Tetapi Xiaojia menganggap makan telur sebagai bentuk kerakusan. Telur adalah jenis makanan yang diciptakan Tuhan untuk manusia. Jika engkau memiliki sarana untuk memakannya, itu bukanlah rakus, tetapi jika engkau tidak memiliki sarana untuk memakannya, dan engkau mencuri dan memakan telur orang lain, itu baru disebut rakus. Bagaimana Xiaojia mendefinisikan masalah ini? Dia menganggap makan telur adalah bentuk kerakusan, dan bahkan lebih rakus lagi jika orang lain melihatnya. Dia berpikir bahwa jika dia bisa makan telur tanpa terlihat oleh orang lain, diam-diam, itu bukan sifat rakus. Apa standar yang dia gunakan untuk mengukur kerakusan? Itu didasarkan pada apakah ada yang melihat atau tidak. Apakah Xiaojia mendasarkannya pada firman Tuhan? Tidak, itu murni pandangannya sendiri. Faktanya, apakah orang lain memiliki pemikiran atau pandangan tentang masalah makan telur ini? (Tidak, tidak ada.) Itu murni teori yang dibuatnya sendiri. Xiaojia berpendapat bahwa sarapan dengan telur adalah sifat rakus, menikmati kenyamanan, dan mengikuti keinginan daging. Menurut pandangannya, bukankah semua orang yang makan telur berarti menikmati kenyamanan dan mengikuti keinginan daging? Makna tersirat dari kata-katanya adalah dia berpendapat, "Ketika makan telur, engkau semua sedang mengikuti keinginan daging. Aku tidak mengikuti keinginan daging, aku bisa menahan diri, jadi aku tidak makan telur. Bahkan jika telur diletakkan di hadapanku, aku bisa mengambilnya dan menaruhnya kembali tanpa memakannya. Itulah keteguhan hati dan tekad yang kumiliki dan betapa aku mencintai kebenaran. Bisakah engkau semua melakukannya? Jika tidak bisa, itu artinya engkau semua tidak mencintai kebenaran." Dia memperlakukan pemikirannya sebagai apa? Menganggapnya sebagai standar untuk mengukur benar dan salah. Bukankah ini kepura-puraan? (Ya, memang.) Ini adalah kepura-puraan.
Perwujudan lain yang ditunjukkan oleh Xiaojia adalah bahwa dia tidak pergi makan saat waktunya makan siang. Sebaliknya, apa yang dia lakukan? (Dia menundanya.) Dia menahan rasa laparnya dan menunda untuk makan. Tetapi mengapa? (Supaya dilihat orang.) Dia berpura-pura melakukannya agar dilihat orang. Apa yang ingin dia tunjukkan dan sampaikan kepada orang lain dari tindakan tersebut? Dia ingin menunjukkan kepada orang lain betapa besar penderitaan yang bisa ditanggungnya, betapa tekun, setia, serius, dan bertanggung jawabnya dia dalam pekerjaannya! Dia ingin orang-orang melihat bahwa dia benar-benar manusia super! Dengan begitu, dia akan mencapai tujuannya; itulah penilaian yang diinginkannya. Apa arti penilaian itu baginya? Itu adalah hidupnya, sumber kehidupannya. Apakah ini adalah cinta akan kebenaran? (Bukan.) Jadi, apa yang disukai oleh orang-orang seperti dia? Mereka tidak ragu untuk pamer, bersekongkol, dan bermuslihat, serta menipu orang lain dengan menggunakan kedok, menunjukkan betapa mereka sanggup menanggung penderitaan sehingga mendapatkan komentar seperti, "Engkau benar-benar bisa menanggung penderitaan. Engkau adalah orang yang sangat mencintai Tuhan, dan engkau melaksanakan tugasmu dengan setia." Mereka tidak ragu untuk menggunakan penampilan palsu dan tipu daya untuk menyembunyikan fakta yang sebenarnya, menipu Tuhan dan mengelabui orang lain, semua demi mendapatkan pujian atau penilaian yang baik dari orang lain. Watak seperti apakah ini? (Watak yang jahat.) Ini memang watak yang jahat. Mereka sangat pandai berpura-pura, pandai bersandiwara, dan menggunakan tipu daya! Ini hanya masalah makan, apa masalahnya pergi makan dengan tenang? Apakah orang hidup tidak makan? Apakah makan tepat waktu itu sebuah dosa? Apakah berdosa jika mencari sesuatu untuk dimakan ketika lapar? (Tidak.) Itu adalah kebutuhan fisik; sesuatu yang wajar. Orang-orang seperti ini menganggap semua kebutuhan yang wajar sebagai sesuatu yang tidak wajar dan mengutuknya. Apa yang mereka anjurkan? Mereka menganjurkan untuk terus menerus menundukkan tubuh, menyembunyikan kebenaran, dan menampilkan kedok agar orang lain melihat bagaimana mereka menanggung penderitaan, tidak menikmati kenyamanan, membayar harga, serta mengorbankan waktu, tenaga, dan segala sesuatu yang mereka miliki untuk pekerjaan. Inilah yang ingin mereka tunjukkan kepada orang lain. Sesungguhnya, apakah mereka benar-benar melakukan hal tersebut? Tidak, mereka tidak melakukannya. Mereka menyesatkan orang lain dengan penampilan palsu dan ini adalah perwujudan dari watak jahat. Mereka rela menghabiskan begitu banyak tenaga hanya untuk hal sepele seperti makan—orang seperti apa mereka? Apakah ini yang akan dilakukan oleh seseorang dengan kemanusiaan yang normal? (Tidak.) Tidak. Itu terlalu berbahaya! Apakah kebanyakan orang akan setuju atau merasa muak jika mendengar seseorang yang begitu banyak membuat drama tentang hal sepele? (Mereka akan merasa muak.) Apakah engkau semua pernah berperilaku seperti itu? (Kadang-kadang.) Apakah sampai sedemikian parah? (Tidak.) Rasa lapar adalah perasaan yang sulit untuk ditahan, tetapi sejumlah orang mampu menahan penderitaan ini. Jika engkau meminta mereka untuk tunduk pada firman Tuhan, berusaha mengikuti firman-Nya, bertindak sesuai dengan prinsip firman-Nya, dan berbicara dengan jujur, mereka akan merasa itu terlalu berat dan sulit. Bagi orang-orang ini, mengorbankan kepentingan dan harga dirinya lebih sulit daripada mendaki ke langit. Namun, mereka bersedia, tidak peduli biayanya, untuk mengesampingkan firman Tuhan, bertindak sesuai dengan imajinasinya sendiri, dan melindungi kepentingan daging mereka sendiri. Bukankah ini adalah perwujudan dari tidak mencintai kebenaran? (Ya, benar.) Itu adalah salah satu aspeknya.
Perwujudan apa lagi yang diperlihatkan Xiaojia? Dia sangat mengantuk, tetapi tetap tidak mau tidur. Katakan kepada-Ku, ketika seseorang mengantuk, lalu tidur sebentar atau beristirahat sejenak, kemudian memiliki lebih banyak tenaga untuk bekerja, bukankah itu sesuatu yang wajar? (Ya, benar.) Itu memang wajar. Apakah ada yang akan menghukum Xiaojia karena tidur? (Tidak ada.) Lalu, jika tidak ada yang akan menghukumnya, mengapa dia begitu ketakutan? Apa yang dia takutkan? (Takut ketahuan.) Benar, dia takut ketahuan. Dalam bayangannya, dia merasa semua orang sangat menghormatinya, semua orang menganggapnya sangat mampu menanggung penderitaan, dan sangat saleh. Xiaojia merasa bahwa jika dirinya yang sebenarnya terungkap, dan semua orang mendapati bahwa dia bukan orang seperti itu, seluruh citra baiknya akan hancur. Dia tidak sanggup memikirkan hal tersebut. Oleh karena itu, Xiaojia menahan diri bahkan untuk tidur siang sebentar sekalipun. Dia menetapkan standar yang sangat ketat untuk dirinya sendiri. Orang seperti apakah Xiaojia ini? Bukankah dia orang yang sakit jiwa? Orang-orang semacam ini sering mendengarkan khotbah, membaca firman Tuhan, dan berkumpul untuk bersekutu, tetapi mengapa mereka tidak berfokus pada kebenaran? Merenungkan prinsip-prinsip kebenaran akan sangat baik bagimu. Lihatlah apa yang firman Tuhan katakan. Apakah ada pernyataan tentang orang yang tidur siang dalam firman Tuhan? (Tidak ada.) Tuhan tidak membuat pernyataan apa pun tentang hal ini, bahkan tidak pernah menyebutkannya. Siapa pun yang memiliki pemikiran kemanusiaan yang normal seharusnya tahu bagaimana menangani hal tersebut. Tidur sebentar ketika mengantuk itu adalah hal yang wajar. Pada musim panas di siang hari yang terik, beristirahat sebentar juga wajar. Terutama bagi orang tua yang tubuh dan energinya sudah tidak sekuat dulu, mereka perlu tidur sebentar setelah makan siang. Ini bukan soal kebiasaan, melainkan kebutuhan fisik mereka. Tuhan telah memberimu persepsi, kesadaran, dan respons kemanusiaan yang normal agar engkau bisa mengatur pola makan, kerja, dan istirahat sehari-hari sesuai dengan pekerjaan dan lingkunganmu; engkau tidak perlu menyiksa diri sendiri. Misalnya, anggaplah engkau tidak mau makan hidangan yang mewah, dan berkata, "Tuhan tidak memperbolehkan manusia menikmati makanan yang enak; selalu menyantap makanan yang enak membuat manusia menjadi rakus." Tuhan tidak pernah mengatakan hal tersebut, dan Dia tidak memiliki tuntutan seperti itu terhadap manusia. Namun, Xiaojia justru berpikir seperti ini dan dia merasa bahwa Tuhan mungkin juga berpikiran demikian. Xiaojia menganggap kalau seseorang tidur terlalu awal, itu berarti menikmati kenyamanan dan Tuhan tidak menyukainya. Bukankah ini tanda bahwa dia tidak memahami kebenaran? (Ya, benar.) Ketika Xiaojia tidak memahami kebenaran, dia bisa saja mencarinya, tetapi dia tidak melakukannya, dia hanya bertindak sesuai dengan keinginannya sendiri. Sampai sejauh mana Xiaojia melakukannya? Dia minum tiga atau empat cangkir kopi dalam sehari demi bisa begadang. Ada orang-orang yang berkata, "Demi bisa melakukan pekerjaan di rumah Tuhan, aku sudah minum banyak kopi selama beberapa tahun terakhir ini ketika melakukan tugasku." Yang lain berkata, "Siapa yang menyuruhmu minum kopi? Bukankah itu keinginanmu sendiri?" Dalam hati, mereka berpikir, "Engkau tahu mengapa aku minum kopi? Itu bukan untuk begadang, melainkan untuk menurunkan berat badan. Engkau tidak tahu itu, bukan? Namun, aku tidak bisa memberitahumu karena kalau aku mengatakannya, engkau akan tahu. Jika engkau lebih kurus dariku, apakah aku akan terlihat kurus?" Ini sebenarnya sedang bermuslihat, bukan? Pandangan dan pemikiran apa yang terkandung di dalamnya? Apakah ada pemahaman atau rasionalitas kemanusiaan yang normal di sini? (Tidak ada.) Tidak ada, semuanya hanyalah adu siasat, tipu daya dan persekongkolan, kepura-puraan, kepalsuan, serta penyesatan yang ada di dalamnya. Itu saja isinya. Selalu penuh tipu daya setiap kali sesuatu terjadi. Mereka sama sekali tidak mau mengungkapkan pandangan atau pemikirannya yang sebenarnya, apalagi membiarkan semua orang tahu, atau membiarkan Tuhan melihat. Pola pikirnya bukanlah "Aku terbuka dan apa adanya, tindakanku sesuai dengan pemikiranku, dan inilah diriku yang sebenarnya." Pola pikirnya jelas bukan seperti itu, lalu seperti apa? Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk menutupi dan berpura-pura, takut jika citranya di mata orang lain tidak cukup mulia, tidak cukup saleh, atau tidak cukup rohani.
Mengapa Xiaojia ingin begadang? Banyak jenis pekerjaan yang tidak mengharuskan untuk begadang, dan orang pada umumnya akan mengantuk setelah pukul 10 malam. Sekalipun mereka terus bekerja, itu tidak akan efektif karena tenaga manusia terbatas. Namun, Xiaojia selalu memaksakan diri. Sebenarnya, dia tahu ini tidak efektif, tetapi dia tidak peduli apakah itu berhasil atau tidak. Mengapa Xiaojia mengirim pesan sebelum tidur? (Agar orang lain tahu.) Untuk memastikan orang lain melihat bahwa dia tidur pukul tiga dinihari. Bahkan jika engkau begadang semalaman, bukankah engkau sendiri yang akhirnya akan mengantuk? Bukankah engkau sendiri yang akan menanggung akibatnya? Ada orang-orang yang begadang hingga pukul 3 dinihari untuk mengirim pesan. Ketika si penerima pesan membalas pada pukul 4 pagi, mereka menunggu sampai pukul 5 pagi untuk membalas pesan tersebut demi menunjukkan bahwa mereka masih begadang. Mereka menyiksa diri dan saling merugikan dengan cara seperti ini, dan pada akhirnya, tidak ada yang tidur sepanjang malam. Bukankah mereka ini bertindak bodoh dan konyol? Perilaku macam apa ini? Itu adalah perilaku bodoh. Dari mana semua perilaku tersebut berasal? Semuanya berasal dari watak yang rusak. Untuk saat ini, kita tidak akan melihat watak rusak mana yang berasal dari perilaku ini, kita hanya akan mengatakan betapa konyolnya perilaku tersebut. Orang-orang ini dapat mengubah perilaku konyol ini dengan memilih salah satu firman Tuhan secara acak dan menerapkannya. Setiap firman-Nya dapat membantu mereka untuk hidup dengan damai dan aman, dan membuat hidup mereka lebih realistis dan nyata. Mengapa mereka tidak memilih untuk hidup berdasarkan firman Tuhan? Mengapa mereka menyiksa diri seperti ini? Bukankah mereka menanggung akibat dari perbuatannya sendiri? (Ya.) Sebanyak apa pun penderitaan mereka, itu akan sia-sia, dan apa pun penderitaan yang mereka alami, akibatnya tetap harus mereka tanggung sendiri. Ada yang berkata, "Aku telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, dan aku telah menjadi pemimpin selama 20 tahun. Aku selalu begadang dan tidak tidur, dan pada akhirnya, aku menderita gangguan saraf." Aku berkata, "Engkau masih beruntung hanya mengalami gangguan saraf. Jika engkau terus menyiksa diri dengan bodoh dan bertindak seperti itu, tak lama lagi gangguan jiwa akan menghampirimu." Bisakah seseorang menjadi sehat jika tidak tidur di malam hari, selalu tegang, dan tubuhnya tidak berfungsi normal? Itu akibat dari perbuatannya sendiri! Engkau berkata pada mereka, "Perilaku seperti itu tidak baik. Usahakan untuk mengatur pekerjaanmu pada siang hari, dan tingkatkan produktivitasmu. Ketika semua orang membahas pekerjaan, kurangi pembicaraan yang tidak perlu, dan jangan terlalu banyak membicarakan hal-hal yang tidak penting. Engkau harus fokus pada poin-poin utama, inti, dan pokok pembicaraan. Setelah selesai, setiap orang harus langsung melanjutkan tugasnya masing-masing. Jangan mengoceh atau membuang-buang waktu." Namun, mereka tidak akan mendengarkanmu. Mereka tidak pandai mengekspresikan diri dan juga tidak merangkum pengalamannya, mereka hanya bicara omong kosong untuk menghabiskan waktu sampai pukul satu atau dua pagi, tidak tidur atau tidak membiarkan orang lain tidur. Bukankah ini menyiksa dan merugikan orang lain? Akhirnya, mereka berpikir, "Tuhan, Engkau melihat, bukan? Aku tidak tidur sampai pukul tiga pagi!" Tuhan melihatnya. Dia bukan hanya melihat penampilan luar mereka, melainkan juga isi hatinya, dan Dia berkata, "Hatimu kotor. Engkau begadang semalaman dalam penderitaan yang sia-sia, tetapi Tuhan tidak akan pernah mengingatnya. Ketika waktunya tidur, engkau tidak tidur, justru memaksakan diri untuk tetap terjaga. Engkau telah membuat dirimu sendiri menderita!" Ketika seseorang mengantuk, kelopak matanya secara alami akan tertutup. Ini adalah naluri, jadi engkau pantas menderita jika engkau selalu melawan naluri dan hukum alam! Tuhan tidak akan memintamu untuk menanggung penderitaan yang tidak ada gunanya, atau karena melanggar hukum alam, prinsip, atau melanggar kebenaran. Jika engkau bersikeras untuk menderita seperti itu, silakan saja. Sebagian orang ketika mendengar ada yang tidur pukul 3 pagi, berpikir, "Bukankah itu sama sepertiku? Kalau begitu, nanti aku akan tidur pukul setengah empat pagi" Lalu, mereka mendengar ada yang tidur pukul setengah empat pagi, dan mereka pun ingin tidur pukul empat pagi. Bukankah ini gangguan mental? Engkau dapat bersaing dalam hal apa pun, tetapi justru memilih untuk bersaing siapa yang tidur lebih larut. Ini artinya engkau tidak normal secara mental. Apakah orang-orang semacam itu memiliki masalah dalam pemahaman? (Ya, mereka memang bermasalah dalam pemahaman.) Mereka tidak mampu memahami kebenaran. Ketika engkau punya waktu, berhentilah menghabiskan energi, berpikir berlebihan, dan mengkhawatirkan hal-hal seperti perilaku lahiriah, kepura-puraan, dan kepalsuan. Lalu, apa yang seharusnya kauupayakan? Lihatlah bagaimana firman Tuhan menyingkapkan natur rusak dan watak jahat manusia, dan bagaimana Dia menyingkapkan orang-orang yang bersikap asal-asalan. Fokuslah pada membandingkan dirimu dengan firman Tuhan yang menyingkapkan manusia, renungkan berapa banyak dari perwujudan yang Tuhan singkapkan yang kaumiliki, dan seberapa sering engkau melakukan atau memperlihatkan hal-hal tersebut. Alangkah baiknya jika engkau bisa merangkum itu semua! Betapa tercelanya jika seseorang selalu mengerahkan upaya hanya untuk beberapa butir telur atau bakpao, atau mencelupkan sesuatu ke dalam kaldu! Menunjukkan apakah ini? Itu artinya penuh perhitungan dan kurangnya hikmat. Orang seperti apakah itu? (Orang bodoh.) Benar sekali. Jika berbicara tentang orang-orang yang selalu memikirkan berapa banyak telur yang harus dimakan, atau selalu berpikir tentang minum kopi supaya bisa begadang, tidaklah berlebihan untuk menyebut mereka orang bodoh yang terobsesi dengan makanan. Dalam hal apa mereka bodoh? Mengapa kita mengatakan orang-orang ini bodoh? (Karena penderitaan yang mereka alami sama sekali tidak ada nilainya.) Itu jelas tidak ada nilainya. Mengapa engkau mau melakukan hal-hal kekanak-kanakan seperti itu? Apakah kaupikir dengan tidak makan telur seumur hidup akan membuatmu mampu memahami kebenaran? Bukankah ini tindakan bodoh? (Ya.) Jangan melakukan hal-hal bodoh. Orang seperti apa yang cenderung melakukan hal-hal bodoh? (Orang-orang yang tidak memiliki pemahaman rohani.) Apakah mereka ini memiliki kemampuan untuk memahami kebenaran? (Tidak.) Ada yang berkata, "Kualitas mereka sangat baik dan terampil dalam berkhotbah." Mereka mungkin pandai berkhotbah, tetapi mengapa mereka selalu bersikap kekanak-kanakan setiap kali bertindak? Mengapa mereka bersikap begitu kekanak-kanakan dan konyol? Apa yang sedang terjadi? Mereka mengatakan satu hal, tetapi bertindak lain. Apa yang mereka katakan adalah pemahamannya tentang doktrin, dan apa yang dilakukan adalah hal-hal yang benar-benar mereka pahami dan dapat mereka terima. Di lubuk hatinya, apakah mereka menerima atau mengakui doktrin yang dikhotbahkan? (Tidak, mereka tidak mengakuinya.) Mereka tidak mengakui bahwa itu adalah kebenaran, atau standar yang harus mereka terapkan dan patuhi. Sebenarnya, itu adalah tipu daya dan gagasan dalam hatinya, pemikiran dan penerapan palsu, serta perilaku yang orang lain anggap baik, yang benar-benar mereka yakini sebagai standar dan jalan penerapan. Jika orang-orang seperti ini tidak berbalik, apakah mereka akan dibuang? Apakah masih ada kesempatan bagi mereka untuk diselamatkan? Harapannya sangat kecil.
Katakan kepada-Ku, apakah masuk akal menggunakan payung atau memakai topi jerami di bawah terik matahari? (Ya, itu masuk akal.) Orang yang bekerja di bawah sinar matahari bisa cepat terbakar kulitnya jika tidak memakai topi, jadi hal tersebut sangat wajar dilakukan. Namun, ada orang-orang yang tidak berpikir demikian, dan berkata, "Memakai topi jerami? Bukankah itu menghinaku? Apa mungkin aku memakai topi? Aku tidak takut menderita, aku juga tidak takut kulitku menjadi hitam. Sebenarnya, kulit hitam itu sehat." Jika mereka benar-benar berpikir demikian, itu tidak salah, tetapi masalahnya adalah di lubuk hatinya, ada orang-orang yang tidak berpikir seperti ini. Mereka beranggapan, "Lihat kalian, memakai topi jerami karena takut kulitmu menjadi hitam atau terbakar matahari di hari yang panas. Aku tidak akan memakai topi! Apa yang perlu ditakutkan dari kulit hitam atau terbakar? Tuhan menyukainya, jadi aku tidak peduli apa yang orang lain pikirkan!" Apa pendapatmu tentang orang-orang yang mengatakan hal ini? Apakah menurutmu mereka sedikit licik, sedikit palsu? Sebenarnya, ada motif di balik penolakan mereka memakai topi, yaitu untuk menunjukkan kepada orang-orang bahwa mereka sanggup menanggung penderitaan dan sangat rohani. Perilaku munafik seperti ini menjijikkan! Apakah orang yang pandai berpura-pura seperti ini bisa melaksanakan tugasnya dengan baik? Apakah mereka bisa menanggung penderitaan dan membayar harga dalam melaksanakan tugas? Begitu kulitnya menghitam atau terbakar matahari, bukankah mereka akan mengeluh dan menyalahkan Tuhan? Orang-orang Farisi yang munafik tidak pernah menerapkan kebenaran, tetapi berpura-pura rohani. Apakah mereka benar-benar mampu menanggung penderitaan dan membayar harga? Berdasarkan esensi orang munafik, engkau dapat melihat bahwa mereka sama sekali tidak mencintai kebenaran, apalagi sanggup menderita atau membayar harga untuk hal tersebut. Selain itu, sebanyak apa pun firman kebenaran yang mereka dengar, mereka tidak pernah mendengarnya atau memahaminya sebagai kebenaran, sebaliknya mereka memperlakukan dan mengkhotbahkannya sebagai semacam teori rohani. Orang-orang munafik seperti ini tidak memahami mengapa manusia harus percaya kepada Tuhan, mengapa Dia ingin memberikan kebenaran kepada manusia, bagaimana proses manusia menerima keselamatan dari Tuhan, serta apa makna pentingnya. Mereka juga tidak memahami apa sebenarnya arti keselamatan yang Tuhan maksudkan. Mereka tidak memahami semua kebenaran ini. Jika di gereja ada orang munafik seperti itu, yang tidak mencintai kebenaran, tetapi suka berpura-pura, mereka adalah orang Farisi yang sesungguhnya. Mereka hanya peduli pada perilaku, penampilan, dan bagaimana orang lain menilainya, dan sebanyak apa pun kebenaran yang didengarnya, mereka tidak pernah menerapkannya. Semua yang mereka katakan terdengar benar, dan mereka dapat mengkhotbahkan segala macam doktrin, tetapi tidak menerapkan apa yang mereka khotbahkan. Kalau ada yang cocok dengannya, apakah mereka tipe orang yang sama? (Ya, sama.) Bagaimana seseorang dengan pemikiran yang normal melihat perwujudan orang munafik ini? Mereka akan berpikir, "Cara mereka menerapkannya salah, bukan? Mengapa begitu aneh? Ketika tiba waktunya makan, seharusnya langsung makan saja, mengapa harus berbelit-belit begitu?" Mereka akan mengatakan bahwa orang itu aneh, caranya memahami sesuatu berbeda dari orang lain, menyimpang, dan mereka tidak akan terpengaruh olehnya. Namun, jika seseorang adalah tipe orang yang sama seperti orang munafik ini, yang sangat peduli pada penampilan luar dan pendapat orang lain, mereka akan saling membandingkan dan bersaing. Sama seperti Xiaojia yang mengirim pesan pukul 3 dini hari, lalu penerimanya membalasnya pukul 4 pagi, berpikir, "Engkau mengirim pesan pukul 3 pagi, jadi aku akan membalas pukul 4 pagi," dan kemudian Xiaojia berpikir, "Engkau membalas pesanku pukul 4 pagi, jadi aku akan mengirim pesanku pukul 5 pagi." Seiring berjalannya waktu, bersaing seperti ini, semua orang lambat laun menjadi munafik. Jika seorang pemimpin gereja adalah orang semacam ini, dan saudara-saudari tidak memiliki kemampuan mengenali, mereka berada dalam bahaya, mereka dapat disesatkan kapan saja. Mengapa Kukatakan demikian? Orang yang tidak memahami kebenaran mudah disesatkan dan dipengaruhi oleh perilaku baik orang lain yang tampak dari luar. Karena mereka tidak tahu mana yang benar, menurut gagasannya, perilaku seperti itu dianggap baik. Jika seseorang mampu melakukan hal tersebut, orang itu akan menjadi objek pemujaannya, dan dia akan berpikir bahwa orang tersebut pantas menjadi pemimpin, pantas disempurnakan, dan dikasihi oleh Tuhan. Mereka akan menyetujui perilaku seperti ini dan menegaskannya di lubuk hati. Apa yang akan terjadi jika mereka menegaskannya? Mereka akan mengikuti orang tersebut. Jika mereka berdua adalah pemimpin, mereka akan saling membandingkan dan bersaing. Pernah suatu kali para pemimpin dan pekerja gereja dari berbagai negara mengadakan pertemuan secara daring. Setelah Aku bergabung dan mendengarkan sebentar, Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres. Aku berpikir, "Apa yang sedang dilakukan orang-orang ini? Apakah mereka sedang berkhotbah?" Setelah memahami situasinya, Aku menyadari bahwa mereka sedang berdoa. Aku bertanya-tanya dalam hati mengapa mereka berdoa seperti itu. Terdengar menakutkan, seakan-akan mereka sedang memamerkan taring dan mengayungkan cakarnya. Hal itu sendiri mungkin bukanlah masalah besar, lalu apa masalah utamanya? Mereka tampak berdoa dengan mata terbuka, bukan di hadirat Tuhan, dan tidak mengungkapkan isi hati mereka. Sebaliknya, mereka justru saling membandingkan siapa yang paling fasih bicara, siapa yang dapat menyampaikan lebih banyak doktrin, dan siapa yang berbicara secara lebih luas dan mendalam. Kedengarannya seperti menyaksikan sebuah kompetisi, dan tentu saja bukan doa kepada Tuhan. Bukankah orang-orang ini sudah selesai? Bukankah mereka sudah dibuang? Jika orang semacam ini menjadi pemimpin, berapa banyak penderitaan yang harus ditanggung oleh orang-orang di bawahnya? Bukankah orang-orang di bawah ini sedang dirugikan? Setiap orang berdoa dengan antusias setidaknya selama 20 menit, dan meskipun ada ketentuan dari Yang di Atas bahwa pertemuan tidak boleh didominasi oleh satu orang, dan setiap orang hanya boleh bersekutu selama 5 hingga 10 menit, mereka masih saja dengan berani menghabiskan begitu banyak waktu untuk berdoa. Kemudian, Aku akhirnya mengerti mengapa banyak pertemuan berlangsung dari pagi hingga malam—mereka yang disebut para pemimpin ini menghabiskan waktu lama hanya untuk berdoa, satu per satu, sementara orang-orang di bawahnya menderita. Para pemimpin palsu ini berada di sana untuk berdebat, mengoceh, bahkan ada yang berbicara tidak menentu sehingga mereka lupa apakah mereka sudah mengatakan sesuatu sebelumnya. Bagi mereka, semuanya tidak menjadi masalah, yang penting mereka berbicara lebih lama dari yang lain. Aku pun bertanya-tanya: Ketika seseorang berdoa, mereka seharusnya berdoa kepada Tuhan dengan mata tertutup, lalu mengapa mata mereka terbuka? Apakah itu tidak mengganggu pikiran mereka, melihat bagaimana orang lain berdoa? Apalagi harus memikirkan tentang bagaimana orang lain berdoa dan kata-kata apa yang mereka gunakan, serta ingin lebih unggul dari mereka—dengan hati yang dipenuhi hal-hal seperti ini, apakah mungkin untuk berdoa kepada Tuhan dan mengungkapkan isi hati? Bukankah ini nalar yang tidak normal? Bukankah semua ini perwujudan dari kerohanian palsu dari pemimpin palsu, dan pekerja palsu? Berkumpul bersama, membaca firman Tuhan, dan mempersekutukan kebenaran adalah hal yang baik bagi setiap orang, tetapi ada yang melaporkan dengan berkata, "Oh, kau tidak tahu. Ketika para pemimpin itu berkumpul dan berdoa, itu seperti mereka sedang melantunkan kitab suci; mereka terus membicarakan hal yang sama setiap kali berkumpul. Aku muak mendengarnya." Bagaimana pertemuan seperti ini dapat membangun kerohanian orang? Para pemimpin dan pekerja palsu selalu melakukan hal ini; apakah mereka sesuai dengan maksud Tuhan? Mereka tidak berfokus pada mempersekutukan kebenaran untuk membantu orang memahaminya, atau menyelesaikan masalah dengan mempersekutukan kebenaran; sebaliknya, mereka terlibat dalam hal-hal agamawi dan kerohanian palsu. Bukankah ini menyesatkan orang? Apa masalahnya di sini? Mereka sama sekali tidak memahami maksud Tuhan, juga tuntutan-Nya terhadap manusia. Mereka hanya melakukan ritual keagamaan dan memamerkan diri! Lebih buruk lagi, mereka menggunakan doa untuk menyingkapkan, menyerang, dan menghakimi orang lain, ada juga yang menggunakan doa untuk membenarkan dirinya sendiri. Doa mereka tampaknya untuk didengar Tuhan, tetapi sebenarnya untuk didengar manusia. Oleh karena itu, orang-orang ini tidak memiliki sedikit pun hati yang takut akan Tuhan, mereka semua adalah para pengikut yang bukan orang percaya yang mengganggu pekerjaan rumah Tuhan. Para pemimpin palsu ini memperlihatkan begitu banyak keburukan dalam doa-doa mereka. Ada yang berdoa dengan berkata, "Tuhan, ada orang-orang yang telah salah paham terhadapku. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku berdoa kepadamu, aku tidak merasa negatif, dan orang lain bisa berpikir sesuka mereka." Sebagian membicarakan doktrin, dan yang lain bersaing tentang siapa yang lebih banyak mendengarkan khotbah, siapa yang mengingat lebih banyak lirik lagu pujian atau firman Tuhan, siapa yang doanya paling panjang, siapa yang paling fasih berbicara, atau siapa yang memiliki cara berdoa yang paling beragam, dan berdoa dengan berbagai jenis doa. Apakah ini arti berdoa? (Bukan.) Lalu, apa ini? Ini adalah perbuatan jahat yang tanpa rasa takut dan malu! Itu artinya mempermainkan dan menginjak-injak kebenaran, mempermalukan dan menghujat Tuhan! Setan-setan dan para pengikut yang bukan orang percaya ini berani mengatakan apa pun melalui doa. Katakan kepada-Ku, apakah mereka orang percaya sejati? Apakah mereka memiliki kesalehan? (Tidak.) Orang-orang seperti ini menjadi negatif ketika statusnya sebagai pemimpin dicabut, mereka sama sekali tidak merenungkan dirinya sendiri, tetapi justru mengeluh ke mana-mana dengan berkata, "Aku telah sangat menderita dalam pekerjaanku untuk tuhan, tetapi mereka masih mengatakan bahwa aku tidak melakukan pekerjaan nyata, aku adalah pemimpin palsu, lalu menggantiku. Lagi pula, berapa banyak orang yang mampu membicarakan doktrin secara lengkap sepertiku? Berapa banyak yang begitu mengasihi sepertiku? Aku meninggalkan keluarga dan karierku, serta menghabiskan setiap hari di gereja menghadiri pertemuan dengan saudara-saudariku, berbicara selama tiga atau lima hari setiap kali. Bagaimana mereka bisa menggantikanku begitu saja?" Mereka tidak patuh dan menyimpan keluhan. Ada juga yang menyebarkan pandangan seperti ini, "Jangan menjadi pemimpin di rumah tuhan, jika kau dipilih menjadi pemimpin, kau akan mendapat masalah, dan begitu kau diganti, kau bahkan tidak akan memiliki kesempatan untuk menjadi orang percaya biasa." Perkataan macam apa ini? Itu adalah perkataan yang paling tidak masuk akal dan menggelikan, serta dapat juga dikatakan bahwa itu adalah perkataan ketidakpatuhan, ketidakpuasan, dan penghujatan terhadap Tuhan. Bukankah itu arti dari kata-kata tersebut? (Ya.) Apa yang terkandung di dalamnya? Suatu serangan. Perkataan itu bukanlah penghakiman biasa! Orang-orang ini tidak berkata bahwa mereka digantikan karena mengamuk melakukan hal-hal buruk dan gagal melakukan pekerjaan nyata. Sebaliknya mereka mengeluh bahwa Tuhan tidak benar kepada mereka, bahwa Dia tidak mempertimbangkan harga diri mereka dalam tindakan-Nya, dan Tuhan tidak memahami perasaan dan keterlibatan emosional mereka. Mentalitasnya adalah mentalitas orang tidak percaya, mereka sama sekali tidak memiliki kenyataan kebenaran!
Berapa lama engkau semua biasanya berdoa selama pertemuan? Apakah doamu menyita banyak waktu semua orang? Apakah doamu pernah mengganggu orang lain? Ada orang-orang yang membutuhkan banyak waktu untuk berdoa, dan semua orang merasa bosan mendengarkannya, tetapi orang-orang ini tetap merasa bahwa merekalah yang paling rohani, dan meyakini bahwa inilah yang telah mereka peroleh dan raih selama bertahun-tahun percaya kepada Tuhan. Mereka tidak merasa lelah meskipun sudah berdoa selama beberapa jam, hanya mengulang-ulang hal-hal lama yang tidak relevan, membicarakan semua kata-kata dan doktrin, serta slogan-slogan yang mereka ketahui, atau hal-hal yang mereka dengar dari orang lain, atau yang mereka buat sendiri, mereka melakukannya entah semua orang bosan atau tidak, entah mereka suka atau tidak. Apakah ini cara engkau semua berdoa? Katakanlah kepada-Ku, apakah yang benar itu berdoa dalam waktu singkat atau dalam waktu yang lama? (Tidak ada yang benar atau salah.) Tepat sekali. Engkau tidak bisa memutuskan mana yang benar atau salah di antara keduanya, engkau hanya perlu berdoa kepada Tuhan sesuai dengan kebutuhan hatimu. Terkadang doa tidak membutuhkan ritual, tetapi ada saat-saat tertentu hal tersebut diperlukan; itu tergantung pada situasi dan apa yang terjadi. Jika engkau beranggapan bahwa berdoa bisa memakan waktu yang lama, berdoalah kepada Tuhan secara pribadi tentang masalah pribadimu. Jangan berdoa tentang semua itu dalam pertemuan dan menghabiskan waktu semua orang. Ini disebut bernalar. Demi harga diri dan reputasinya, ada orang-orang yang tidak menghiraukan hal ini. Itu artinya bersikap bodoh dan tidak bernalar. Apakah orang yang tidak bernalar memiliki rasa malu? Mereka bahkan tidak menyadari bahwa semua orang muak melihat mereka berdoa. Dapatkah orang yang tidak memiliki sedikit pun persepsi atau kesadaran memahami kebenaran? Tidak. Prinsip-prinsip kebenaran yang Tuhan tuntut terhadap manusia untuk diterapkan semuanya ada dalam firman-Nya, dan semua firman yang Tuhan persekutukan mengenai penerapan kebenaran mengandung prinsip-prinsip ini, manusia hanya perlu merenungkannya dengan saksama. Ada banyak prinsip dalam firman Tuhan tentang cara menerapkan kebenaran; ada prinsip-prinsip dan cara menerapkannya dalam berbagai hal, situasi, dan konteks, yang penting adalah apakah engkau memiliki pemahaman rohani dan kemampuan untuk memahami. Jika seseorang memiliki kemampuan untuk memahami, mereka akan mampu memahami kebenaran. Namun jika tidak, yang akan mereka pahami hanyalah aturan, sedetail apa pun firman Tuhan yang didengarnya, dan ini bukanlah pemahaman kebenaran. Oleh karena itu, Tuhan memberimu sebuah prinsip agar engkau dapat menyesuaikannya dengan berbagai situasi. Melalui mendengarkan firman-Nya dan mulai mengenal-Nya, melalui berbagai pengalaman dan melalui persekutuan, serta pencerahan Roh Kudus, engkau akan mulai memahami satu aspek dari prinsip-prinsip yang Dia sampaikan, dan standar-standar yang Dia tuntut untuk satu jenis hal. Kemudian, engkau akan memahami aspek kebenaran tersebut. Jika Tuhan harus menjelaskan semuanya secara detail, dan memberi tahu orang-orang bagaimana seharusnya melakukan sesuatu, prinsip-prinsip yang Dia sampaikan akan menjadi tidak berguna. Jika Tuhan menggunakan metode ini, dan memberi tahu umat manusia aturannya satu demi satu, apa yang pada akhirnya akan manusia peroleh? Hanya beberapa penerapan dan perilaku. Mereka tidak akan pernah memahami maksud Tuhan atau firman-Nya. Jika seseorang tidak memahami firman Tuhan, mereka tidak akan pernah mampu memahami kebenaran. Bukankah demikian? (Ya, benar.) Apakah engkau semua mampu memahami kebenaran? Kebanyakan orang tidak mampu, dan hanya sedikit yang memiliki pemahaman rohani dan mencintai kebenaran yang benar-benar mampu mencapainya. Jadi, apa syarat bagi mereka yang mampu memahaminya? Mereka mampu memahami kebenaran jika mereka memiliki pemahaman rohani, memiliki kemampuan untuk memahami, dengan sungguh-sungguh mengejar dan mencintai kebenaran, serta hal-hal positif. Bagi yang masih tidak mampu memahami kebenaran, di satu sisi, itu karena masalah dengan kualitas atau pemahamannya, dan di sisi lain, itu adalah masalah waktu. Itu seperti orang-orang yang berusia 20-an. Jika engkau meminta mereka untuk mencapai apa yang mampu dan seharusnya dicapai oleh seseorang yang berusia 50-an, bukankah ini memaksa mereka melakukan sesuatu yang di luar kemampuannya? (Ya, benar.) Sekarang pikirkan, kemampuan seseorang untuk memahami kebenaran berkaitan dengan apa? (Kualitasnya.) Itu berkaitan dengan kualitas mereka. Apa lagi? (Apakah mereka mengejar kebenaran atau tidak.) Itu ada kaitan tertentu dengan pengejaran mereka. Ada orang-orang yang sebenarnya cukup baik dalam hal pemahaman, kecepatan berpikir, dan IQ, serta mampu memahami kebenaran, tetapi mereka tidak mencintai atau mengejar kebenaran. Mereka tidak merasakan apa pun terhadap kebenaran di dalam hatinya, dan mereka tidak berusaha untuk itu. Bagi orang-orang semacam ini, kebenaran akan selalu menjadi sesuatu yang kabur dan tidak dapat dikenali, dan seberapa pun lamanya mereka telah percaya kepada Tuhan, itu tidak akan ada gunanya.
Baiklah, ceritanya sudah selesai. Apakah alur dan isi dari cerita-cerita ini bisa membantu engkau semua memahami sejumlah kebenaran? (Ya.) Mengapa Aku menyampaikan cerita-cerita ini? Jika cerita-cerita ini tidak ada hubungannya dengan kondisi kehidupan nyata seseorang, watak yang mereka perlihatkan, dan pemikiran mereka, apakah ada gunanya menceritakannya? (Tidak.) Tentu tidak ada gunanya. Hal-hal yang telah kita bahas adalah fenomena dan keadaan umum yang sering kali diperlihatkan orang dalam kehidupannya, dan semuanya berkaitan dengan watak, pandangan, dan pemikirannya. Jika setelah mendengarkan cerita-cerita ini, engkau semua menganggapnya sekadar cerita, sedikit menghibur dan sedikit menarik, tetapi hanya sebatas itu, dan engkau tidak mampu memahami kebenaran di dalamnya, cerita-cerita ini tidak akan berpengaruh bagi engkau semua. Penting untuk memahami kebenaran di dalamnya. Setidaknya, ini akan membantu memperbaiki perilakumu, terutama pandanganmu tentang hal-hal tertentu, dan membantu engkau semua untuk berbalik dari cara pemahaman yang menyimpang, dan memiliki pemahaman murni tentang hal-hal tersebut. Ini bukan hanya tentang mengubah perilakumu, melainkan juga untuk menyelesaikan keadaan yang disebabkan oleh watak-watak yang rusak dari akarnya. Apakah engkau mengerti? Sekarang, mari kita mempersekutukan topik utama.
Analisis tentang Bagaimana Antikristus Membuat Orang Lain Hanya Tunduk kepada Mereka, Bukan kepada Kebenaran atau Tuhan
IV. Analisis tentang Antikristus yang Berpura-pura Menjadi Perwujudan Kebenaran Setelah Mereka Memperoleh Sedikit Pengalaman dan Pengetahuan
Sebelumnya, kita telah mempersekutukan butir delapan tentang perwujudan antikristus—mereka membuat orang lain hanya tunduk kepada mereka, bukan kepada kebenaran atau Tuhan. Bab delapan dibagi menjadi empat subtopik secara keseluruhan. Kita telah selesai mempersekutukan tiga subtopik pertama, lalu apa yang keempat? (Antikristus yang berpura-pura menjadi perwujudan kebenaran setelah mereka memperoleh sedikit pengalaman dan pengetahuan, serta memetik sejumlah pelajaran.) Ini adalah subtopik keempat dari butir delapan. Tentu saja, hal ini juga berhubungan dengan aspek perwujudan dari topik butir delapan—topik-topik itu berkaitan. Apa topiknya? Mereka membuat orang lain hanya tunduk kepada mereka, bukan kepada kebenaran atau Tuhan. Mari kita bagi subtopik ini dan membahasnya satu per satu. Apa yang dimaksud dengan pengalaman, pengetahuan, dan pelajaran? Orang macam apa yang memilikinya? Orang macam apa yang suka membekali diri mereka dengan hal-hal itu? Orang macam apa yang menekankan pembekalan diri dengan hal-hal ini, bukannya membekali diri dengan kebenaran? Orang macam apa yang menganggap hal-hal tersebut sebagai kebenaran? Pertama, satu hal yang pasti: sebaik apa pun kualitas orang-orang ini, dan apa pun persepsi mereka, mereka sangat mencintai pengetahuan, dan cintanya akan pengetahuan melebihi cintanya akan kenyataan kebenaran. Tujuan dan arah yang mereka kejar dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan adalah untuk memperoleh apa yang disebut-sebut sebagai pengalaman dan pengetahuan. Mereka ingin menggunakan pengetahuan dan pengalaman ini untuk mempersenjatai dan melengkapi diri mereka agar menjadi lebih elegan, lebih bergaya, lebih terlatih, serta lebih dihormati dan lebih dipuja. Dengan pengetahuan dan pengalaman ini, mereka merasa bahwa kehidupannya lebih berharga, lebih memuaskan, dan mereka lebih percaya diri. Dalam pandangan mereka, mereka percaya kepada Tuhan untuk membekali diri mereka dengan pengetahuan ini dan dengan perkataan yang berhubungan dengan teologi serta berbagai aspek akal sehat, pengetahuan, dan pelajaran. Mereka percaya bahwa dengan membekali diri mereka dengan hal-hal ini, mereka bisa menduduki posisi di rumah Tuhan dan dalam kelompok ini. Oleh karena itu, apa yang setiap hari mereka pikirkan, puja, dan ikuti di hati mereka semuanya berhubungan dengan pengetahuan, pengalaman, dan lain sebagainya.
Pertama-tama, mari kita lihat apa saja pengetahuan, pengalaman, dan pelajaran yang tersedia, serta mana dari aspek-aspek ini yang bisa disebut sebagai berpura-pura menjadi perwujudan kebenaran. Pertama, dapat dikatakan dengan pasti bahwa hal-hal ini tidak ada hubungannya dengan kebenaran, tidak sesuai dengan kebenaran, dan bertentangan dengan kebenaran. Ini mungkin berupa hal-hal yang benar menurut gagasan manusia, hal-hal yang menurut gagasan mereka adalah positif, indah, dan baik. Namun sebenarnya, di mata Tuhan, hal-hal ini tidak berkaitan dengan kebenaran dan bahkan pada dasarnya hal-hal ini adalah sumber kutukan manusia terhadap kebenaran, akar dan sumber penentangan manusia terhadap Tuhan serta gagasan mereka tentang-Nya. Adakah perbedaan dalam hal usia dan jenis kelamin orang-orang yang memperoleh pengalaman, pengetahuan, dan pelajaran? (Tidak ada.) Kemungkinan besar tidak ada. Ada orang-orang yang diberi karunia. Apa itu karunia? Sebagai contoh, setelah sebagian orang mendengarkan sebuah teori atau perkataan dan memahami inti atau konsep dasar dari teori tersebut, pikirannya bereaksi dengan cepat. Mereka langsung mengetahui cara menjelaskan teori atau perkataan tersebut dan cara mengubahnya dengan bahasanya sendiri yang mereka gunakan untuk berbicara dengan orang lain. Setelah mendengarkan hal-hal tersebut, mereka bisa mengingatnya dengan cepat; hal ini tidak membuat mereka menjadi sangat tanggap, mereka sekadar memiliki ingatan yang baik sekali, yaitu semacam karunia khusus. Apakah ada orang yang memiliki karunia seperti ini? (Ada.) Ada orang-orang seperti ini, yang setelah engkau mengucapkan satu hal, bisa langsung menggunakan hal tersebut untuk menebak tentang hal lain. Ketika diberi informasi tentang aspek dari suatu topik, mereka bisa menerapkannya ke aspek lainnya. Mereka sangat lihai dalam menggunakan topik yang sedang dibahas untuk mengemukakan gagasannya sendiri. Mereka sangat pandai dalam hal-hal logis dan ilmu bahasa seperti hal-hal eksternal dan teori. Dengan kata lain, mereka unggul dalam memainkan kata-kata dan menggunakan teori-teori untuk membujuk dan meyakinkan orang lain. Ada orang-orang yang memiliki karunia seperti ini. Mereka sangat pandai bicara, memiliki pemikiran dan reaksi yang sangat tangkas. Ketika mendengar satu aspek kebenaran, dengan kecerdikan dan karunianya, mereka mampu memahami aspek kebenaran ini sebagai bentuk pengetahuan dan pelajaran, lalu menggunakan pelajaran ini untuk dipersekutukan dengan orang lain dan melakukan apa yang disebut sebagai penyiraman dan penggembalaan. Apa pengaruhnya terhadap orang-orang? Apakah ada hasil yang baik? (Tidak ada.) Mengapa? (Itu tidak nyata, dan orang-orang tidak memiliki jalan untuk diterapkan ketika mereka mendengarnya.) Setelah mendengarkan perkataan orang-orang ini, orang lain beranggapan bahwa semua yang mereka katakan itu benar, tidak ada kata yang salah dan tidak ada kata yang bertentangan dengan prinsip—semuanya benar. Namun, ketika menerapkannya, mereka merasa bahwa kata-kata tersebut kosong, tidak ada tujuan maupun arah ketika menerapkannya, dan itu tidak dapat digunakan sebagai prinsip-prinsip penerapan. Jadi, apa kata-kata tersebut? (Doktrin.) Kata-kata tersebut adalah semacam doktrin, semacam pengetahuan. Perwujudan antikristus semacam ini sangat jelas dan menonjol. Antikristus menganggap kebenaran sebagai pengetahuan, sebagai sesuatu yang akademis, dan sebagai teori. Meskipun hanya memahami setengahnya, antikristus selalu menuntut orang lain melakukan ini dan itu. Ketika orang lain tidak memiliki pemahaman dan meminta mereka untuk menjelaskan secara detail, antikristus tidak mampu menjelaskannya dengan gamblang dan malah menjawabnya dengan bantahan, "Engkau tidak mencintai kebenaran. Jika engkau mencintai kebenaran, engkau pasti mampu memahami perkataanku dan memiliki jalan penerapan." Setelah mendengarnya, beberapa orang yang bingung dan tidak mampu mengidentifikasi menganggap, "Itu benar. Jika aku benar-benar mencintai kebenaran, aku pasti mampu memahami kata-kata mereka." Orang-orang yang tidak mampu mengidentifikasi menganggap bahwa perkataan orang ini benar—bahwa mereka tidak memahami kebenaran. Mereka membebankan tanggung jawab pada dirinya sendiri dan dengan demikian disesatkan oleh antikristus dan kehilangan arah.
Sekarang mari kita membahas pengalaman. Pengalaman adalah metode dalam melewati banyak hal yang telah terhimpun dalam kurun waktu yang lama. Apakah orang-orang yang bekerja selama dua hari bisa dianggap memiliki pengalaman? (Tidak.) Lantas, orang-orang yang telah bekerja selama 10 atau 20 tahun tentu memiliki pengalaman. Ada orang-orang yang merasa bahwa mereka memiliki pengalaman setelah bekerja selama bertahun-tahun, bahwa mereka tahu apa yang harus mereka lakukan ketika hal-hal tertentu menimpanya, bagaimana menangani jenis orang tertentu, dan doktrin macam apa yang harus mereka sampaikan kepada orang-orang yang mana, mereka mengetahui semuanya. Akibatnya, ketika suatu hari terjadi hal baru yang tidak mereka ketahui, mereka membuka kembali catatan pekerjaannya selama 20 tahun terakhir, merenungkannya, dan kemudian menggunakan perkataan dan penerapan masa lalu tersebut tanpa pandang bulu. Ketika mereka bertindak dengan cara ini, orang-orang yang tidak memahami kebenaran masih menganggap bahwa apa yang sedang mereka lakukan itu sesuai dengan kebenaran, sementara orang-orang yang memahami kebenaran melihatnya dan berkata, "Orang ini bertindak tanpa dipikir dahulu. Mereka tidak memiliki prinsip dalam pekerjaannya; mereka sepenuhnya mengandalkan pengalaman dan tidak memahami maksud Tuhan, juga tidak memahami bagaimana bertindak dengan cara yang melindungi kepentingan rumah Tuhan dan sesuai dengan prinsip-prinsip rumah Tuhan tentang cara memperlakukan orang. Mereka menerapkan peraturan tanpa dipikir dahulu." Ada masalah di sini. Jika orang biasa belum lama bekerja, mereka mungkin tidak memiliki modal untuk berkata, "Aku memiliki pengalaman; aku tidak takut. Aku telah bekerja selama bertahun-tahun. Orang macam apa yang belum pernah kutemui, dan masalah apa yang belum pernah kutangani?" Namun, orang-orang tersebut berani berkata demikian. Sekalipun engkau sudah menangani banyak hal dan berbagai macam orang, dapatkah engkau menjamin bahwa engkau bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran dalam menangani setiap hal dan saat menghadapi setiap orang? Kenyataannya, engkau tidak berani menjaminnya. Namun, bagi orang-orang yang menganggap pengalaman dan rutinitas sebagai kebenaran, jika ada orang yang mengajukan keberatan terhadap mereka, mereka berkata, "Aku telah bekerja selama bertahun-tahun. Aku telah menyeberangi lebih banyak jembatan daripada jalan yang telah kaulalui, tetapi engkau masih saja berani untuk tidak sependapat denganku? Pulang dan berdoa sajalah!" Di depan mereka, tak seorang pun yang berani berkata "tidak", mengajukan pendapat yang berbeda, ataupun menyuarakan ketidaksetujuan. Perilaku macam apa ini? Ini adalah perilaku yang menganggap pengalaman sebagai kebenaran dan percaya kepada diri sendiri sebagai perwujudan kebenaran. Ada orang-orang yang berkata, "Aku tidak menganggap diriku sebagai perwujudan kebenaran; siapa yang berani menyandang gelar tersebut? Tuhan adalah satu-satunya kebenaran. Aku tidak pernah bertindak seperti itu, juga tidak pernah berpikir seperti itu." Secara subjektif, engkau tidak berpikir dengan cara seperti itu, juga tidak bermaksud untuk bertindak seperti itu. Namun, secara objektif, caramu dalam melakukan berbagai hal, perilakumu, dan esensi dari tindakanmu pada akhirnya menggolongkanmu sebagai orang yang menganggap diri sendiri sebagai perwujudan kebenaran. Mengapa engkau memaksa orang-orang menaati saranmu dengan saksama? Jika engkau tidak menganggap dirimu sebagai Tuhan dan hanya sebagai orang biasa, apakah engkau memenuhi syarat untuk membuat orang lain menaatimu? (Tidak.) Ada satu keadaan di mana orang-orang dapat menaatimu, yaitu jika engkau memahami kebenaran; jika engkau adalah orang yang memahami kebenaran. Namun sekali lagi, sekalipun engkau adalah orang yang memahami kebenaran, engkau tetaplah orang biasa, dan apakah orang biasa dapat menjadi perwujudan kebenaran? (Tidak.) Jika seseorang mampu memahami semua firman yang telah Tuhan katakan dan semua kebenaran yang Tuhan haruskan untuk dipahami manusia, bisakah orang tersebut menjadi perwujudan kebenaran? (Tidak bisa.) Ada orang-orang yang berkata, "Itu mungkin karena mereka belum disempurnakan. Petrus adalah orang yang disempurnakan. Bisakah Petrus disebut sebagai perwujudan kebenaran?" Disempurnakan tidak membuat seseorang menjadi perwujudan kebenaran, dan apakah engkau tahu alasannya? (Ada perbedaan dalam esensinya.) Ada perbedaan dalam esensinya; ini adalah salah satu aspeknya. Entah manusia bisa menjadi perwujudan kebenaran atau tidak; inilah topik yang perlu kita bahas. Mengapa dikatakan bahwa manusia tidak mungkin bisa menjadi perwujudan kebenaran? Apakah perwujudan kebenaran hanya sebatas pertanyaan tentang esensi? Ada orang-orang yang berkata: "Manusia dilahirkan sebagai makhluk ciptaan, dan Pribadi yang ada di surga pada hakikatnya adalah Sang Pencipta. Kita tidak perlu memperdebatkan hal ini; Tuhan akan selalu menjadi perwujudan kebenaran. Lalu, apakah karena Kristus memahami kebenaran dan memiliki kebenaran sehingga Dia menjadi perwujudan kebenaran? Jika kita telah memperoleh semua kebenaran dari Tuhan, apakah kita juga bisa disebut sebagai perwujudan kebenaran?" Orang lain berkata, "Tidak bisa. Dahulu, aku beranggapan bahwa ketika orang-orang memahami lebih banyak kebenaran, mereka bisa menjadi kristus dan menjadi tuhan. Kini aku tahu bahwa esensi ini tidak tergantikan dan tidak dapat diubah." Pemahaman mereka sudah sampai pada taraf ini. Jadi, apakah engkau mampu memahami hal ini lebih dalam? Engkau seharusnya akan memahami topik ini begitu Aku selesai menyampaikan persekutuan kepada engkau semua. Ketika kita membahas perwujudan kebenaran, apa sebenarnya maksud dari "perwujudan" ini? Istilah ini sedikit abstrak, jadi mari kita membahasnya dengan istilah-istilah yang paling sederhana. Tuhan itu sendiri adalah kebenaran, dan Dia memiliki semua kebenaran itu. Tuhan adalah sumber kebenaran. Setiap hal yang positif dan setiap kebenaran berasal dari Tuhan. Dia dapat memutuskan benar dan salahnya segala sesuatu dan semua peristiwa; Dia dapat menilai hal-hal yang telah terjadi, hal-hal yang sedang terjadi sekarang, dan hal-hal di masa depan yang belum diketahui manusia. Tuhanlah satu-satunya Hakim yang dapat menilai benar dan salahnya segala sesuatu, dan ini berarti benar dan salahnya segala sesuatu hanya dapat dinilai oleh Tuhan. Dia mengetahui kriteria untuk segala sesuatu. Dia mampu mengungkapkan kebenaran kapan pun dan di mana pun. Tuhan adalah perwujudan kebenaran, yang berarti bahwa Dia sendirilah yang memiliki esensi kebenaran. Bahkan jika manusia memahami banyak kebenaran dan disempurnakan oleh Tuhan, akankah mereka kemudian berkaitan dengan perwujudan kebenaran? Tidak. Ini adalah kepastian. Ketika manusia disempurnakan, mengenai pekerjaan Tuhan saat ini dan berbagai standar yang Tuhan tuntut dari manusia, mereka akan memiliki penilaian serta metode penerapan yang akurat, dan mereka akan memahami maksud Tuhan sepenuhnya. Mereka dapat membedakan antara apa yang berasal dari Tuhan dan apa yang berasal dari manusia, antara apa yang benar dan apa yang salah. Namun, ada beberapa hal yang tetap tidak dapat dicapai dan tidak jelas bagi manusia, hal-hal yang hanya dapat mereka ketahui setelah Tuhan memberi tahu mereka. Dapatkah manusia mengetahui atau memprediksi hal-hal yang belum diketahui, hal-hal yang belum Tuhan beritahukan kepada mereka? Sama sekali tidak. Lagi pula, sekalipun manusia memperoleh kebenaran dari Tuhan, memiliki kenyataan kebenaran, dan mengetahui esensi dari banyak kebenaran, serta memiliki kemampuan untuk membedakan yang benar dan yang salah, akankah mereka memiliki kemampuan untuk mengendalikan dan menguasai segala sesuatu? Mereka tidak akan memiliki kemampuan ini. Itulah perbedaan antara Tuhan dan manusia. Makhluk ciptaan hanya bisa memperoleh kebenaran dari sumber kebenaran. Dapatkah mereka memperoleh kebenaran dari manusia? Apakah manusia adalah kebenaran? Dapatkah manusia membekali kebenaran? Mereka tidak bisa membekali kebenaran, dan di situlah letak perbedaannya. Engkau hanya bisa menerima kebenaran, tidak bisa membekalinya. Dapatkah engkau disebut sebagai orang yang memiliki kebenaran? Dapatkah engkau disebut sebagai perwujudan kebenaran? Sama sekali tidak. Apa tepatnya esensi dari perwujudan kebenaran? Itu adalah sumber yang membekali kebenaran, sumber yang mengendalikan dan berdaulat atas segala sesuatu, dan itu juga merupakan satu-satunya kriteria serta standar untuk menilai segala sesuatu dan peristiwa. Inilah perwujudan kebenaran. Antikristus sering kali tak mau menerima hal ini. Mereka percaya bahwa pengetahuan adalah kekuatan, bahwa pengalaman adalah senjata yang menjadi bekal bagi orang-orang untuk menjadi berkuasa, dan ketika orang-orang memiliki pengalaman, pengetahuan, serta pelajaran ini, mereka dapat mengendalikan segala hal. Mereka dapat mengendalikan nasib orang, mengendalikan serta memengaruhi pemikiran orang, dan bahkan memengaruhi perilaku orang. Atau, sebagian orang akan beranggapan bahwa hal-hal ini dapat mengarahkan orang, mengubah pikiran orang, dan mengubah watak orang. Pemikiran macam apa ini? (Pemikiran antikristus.) Semua itu adalah pemikiran antikristus. Mengapa Tuhan mampu berdaulat atas nasib umat manusia? Tuhan adalah kenyataan dari semua hal positif, dan firman-Nya adalah kenyataan dari semua hal positif. Apa esensi dari Tuhan? Esensi-Nya adalah kebenaran, dan oleh karena itulah Dia mampu berdaulat atas nasib umat manusia. Antikristus tidak melihat atau mengenali hal ini, apalagi menerimanya. Mereka menganggap hal-hal yang berasal dari manusia, pengetahuan, dan masyarakat serta hal-hal yang dihormati oleh umat manusia yang jahat sebagai kebenaran, dan mereka berusaha menggunakan hal-hal ini untuk menyesatkan orang, mengendalikan orang, serta mendapatkan tempat di gereja dan di antara umat pilihan Tuhan. Apa tujuan mereka menyesatkan orang? Apa tujuan mereka mempelajari dan membekali diri mereka dengan hal-hal ini? Tujuannya adalah untuk membuat orang-orang menaati dan mendengarkan kata-kata mereka. Apa tujuan mereka membuat orang-orang mendengarkan kata-kata mereka? (Untuk mengendalikan orang-orang.) Benar, tujuan mereka adalah untuk mengendalikan orang-orang. Artinya, ketika antikristus melontarkan beberapa kata, orang-orang akan patuh dan dimanipulasi oleh mereka, menjadi alat dan budak antikristus. Karena orang-orang menerima sudut pandang antikristus dan menerima apa yang disebut-sebut sebagai pengalaman, pengetahuan, dan pelajaran mereka, orang-orang tersebut lalu memuja mereka. Bukankah memuja mereka berarti mendengarkan mereka? (Ya.) Bukankah mendengarkan mereka berarti bahwa orang-orang tersebut dapat dimanipulasi dengan mudah? Bukankah antikristus sudah berhasil? (Ya, sudah berhasil.) Setelah seseorang mendengarkan mereka, bukankah hal ini berarti orang itu telah dirampas dari Tuhan? (Ya.) Hal ini membuat antikristus senang; inilah tujuan mereka. Sebenarnya, di lubuk hatinya, antikristus belum tentu sepenuhnya percaya bahwa mereka adalah perwujudan kebenaran dan bahwa mereka adalah kebenaran, tetapi mereka berpikir dan bertindak seperti itu. Mengapa mereka berpikir dan bertindak seperti ini? Antikristus percaya bahwa pengetahuan, pengalaman mereka, dan semua hal yang berasal dari karunia mereka adalah benar, dan mereka ingin menggunakan hal-hal ini untuk mengendalikan orang-orang dan berkuasa penuh atas mereka. Sudah jelas bahwa sejumlah pengetahuan, pengalaman, dan pelajaran mereka adalah perkataan setan yang dimaksudkan untuk menipu orang. Meskipun tidak jelas, terdapat taktik, rencana licik, serta konspirasi yang tersembunyi dalam beberapa perkataan antikristus, dan orang-orang yang tidak mampu memahaminya akan disesatkan. Apa akibatnya jika orang-orang disesatkan? Mereka makin menjauh dari Tuhan dan tidak lagi memahami kebenaran, menganggap pengetahuan, pengalaman, dan pelajaran manusia sebagai kebenaran serta mengesampingkan firman Tuhan. Mereka menjadi sangat bingung akan firman Tuhan, tetapi mereka sangat memedulikan dan menjunjung tinggi pengetahuan dan pengalaman ini, bahkan berusaha menerapkan dan mengimplementasikannya. Inilah tujuan dari tindakan antikristus. Jika mereka tidak memiliki ambisi seperti itu untuk memanipulasi, mengendalikan, dan membuat orang-orang taat, apakah mereka akan membekali diri dengan hal-hal ini? Mereka tidak akan mengerahkan upaya sama sekali untuk mencapainya. Mereka memiliki tujuan; arah tujuan mereka sangat jelas. Apa tujuan yang jelas ini? (Untuk mengendalikan orang.) Tujuannya adalah untuk mengendalikan orang. Entah mereka mengendalikan seluruh kelompok atau hanya sebagian orang, akankah mereka mampu mengendalikan siapa pun tanpa landasan teoretis? Mereka harus terlebih dahulu mencari seperangkat pemikiran dan teori yang paling sesuai dengan gagasan serta imajinasi orang-orang dan yang paling cocok dengan selera orang-orang, serta menggunakan sebanyak-banyaknya cara untuk menyebarkan pemikiran dan teori tersebut kepada orang-orang. Hal ini berarti mencuci otak orang-orang, melakukan pekerjaan psikologis terhadap mereka, terus mengindoktrinasi mereka, dan terus membuat orang-orang mendengarkan, membuat mereka terbiasa, serta menerima pemikiran dan sudut pandang ini. Sebenarnya, orang-orang sedang diindoktrinasi dan dicuci otaknya secara pasif, dan tanpa disadari, mereka pun menerima pandangan ini. Karena orang-orang tidak memiliki kemampuan batiniah untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, sebelum memahami kebenaran, mereka tidak memiliki kemampuan untuk menentang hal-hal ini; mereka tidak memiliki antibodi untuk hal ini. Ketika orang-orang menerima pandangan yang keliru ini, mereka dengan mudah terperangkap olehnya. Apa yang dimaksud dengan "terperangkap"? Ini berarti bahwa setelah menerima pandangan tersebut, orang-orang menjadi makin teguh untuk percaya bahwa hal-hal ini adalah benar dan terus menggunakan pandangan tersebut untuk meyakinkan diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka telah disesatkan serta dikendalikan, dan beginilah cara Iblis mencapai tujuannya ketika menyesatkan manusia.
Beberapa orang yang telah mempelajari beberapa keterampilan profesional khusus di dunia atau mereka yang memiliki status sosial tertentu di tengah masyarakat, memiliki pemikiran yang sama setelah datang ke rumah Tuhan, yang memunculkan perwujudan yang sama dalam diri mereka. Apa pemikiran tersebut? Mereka menganggap diri mereka sebagai kaum elite dalam masyarakat. Apakah kaum elite? Kaum elite adalah orang-orang yang menonjol dalam kelompok. Mereka telah mengenyam pendidikan tinggi khusus, dan bakat, kualitas, serta karunianya jelas lebih unggul daripada orang lain. Apa yang dimaksud dengan lebih unggul daripada orang lain? Itu berarti bahwa di antara kelompok, mereka memiliki pemikiran, kecerdasan, dan kepandaian berbicara yang menonjol, serta memiliki kemampuan khusus untuk memahami hal-hal dan keterampilan tertentu. Itulah yang disebut jelas lebih unggul dari orang lain, dan orang-orang ini dikenal sebagai kaum elite dalam masyarakat. Setiap negara membina orang seperti ini. Apa tujuan dari pembinaan tersebut? Agar negara itu berkembang lebih cepat. Ketika orang-orang seperti ini mengabdikan diri mereka di berbagai posisi, perkembangan berbagai lapisan masyarakat akan lebih cepat. Status orang-orang tersebut dalam masyarakat tinggi atau rendah? (Tinggi.) Pastinya, status mereka bukan status biasa. Mereka memiliki beberapa bakat khusus, telah mempelajari sejumlah pengetahuan khusus, dan telah mengenyam sejumlah pendidikan khusus. Kualitas, bakat, dan pengetahuan yang mereka peroleh lebih tinggi daripada orang kebanyakan. Jika orang-orang ini datang ke gereja, apa mentalitas mereka? Apa pemikiran pertama mereka? Pertama, mereka menganggap, "Beruang yang lemah masih lebih kuat daripada rusa. Meskipun setelah percaya kepada tuhan, aku tidak mengejar dunia atau menikmati ketenaran di sana, mengingat pendidikan khusus yang telah kuperoleh, serta pengetahuan yang telah kupelajari dan bakat yang kumiliki, aku seharusnya menjadi pemimpin di antara engkau semua. Di rumah tuhan, aku seharusnya menjadi sokoguru dan penopang. Akulah yang seharusnya menjadi pemimpin dan pembimbing." Bukankah ini cara pikir mereka? Apa dasar pemikiran tersebut? Seandainya mereka adalah petani rendahan, akankah mereka berani berpikir demikian? (Tidak akan.) Mengapa tidak? (Mereka tidak memiliki modal.) Mereka tidak memiliki modal untuk berpikir seperti itu. Jadi, orang macam apakah yang bisa berpikir seperti ini? Semua orang yang memiliki pengetahuan, bakat, karunia tertentu, dan apa yang disebut-sebut sebagai kualitas. Ketika mereka datang ke rumah Tuhan, mereka berpikir, "Aku tidak lagi mengejar dunia. Dunia ini terlalu jahat, jadi aku akan datang ke rumah tuhan dan melakukan pengejaran di sana. Di rumah tuhan, setidaknya aku bisa memperoleh posisi sebagai pemimpin atau pekerja." Apakah mereka menyimpan niat yang baik? (Tidak.) Mengapa mereka tidak menyimpan niat yang baik? Hal-hal yang telah mereka pelajari dan status sosialnya sangat merusak mereka. Jika mereka tidak mengejar kebenaran, mereka tidak akan pernah turun dari posisi tersebut dalam hidup mereka. Mereka akan selalu merasa tinggi di atas awan, padahal sebenarnya, di mata Tuhan, mereka tidak ada bedanya dengan makhluk ciptaan biasa mana pun. Mereka akan selalu menempatkan diri mereka tinggi di atas awan. Bukankah hal ini berbahaya? Jika mereka jatuh, mereka akan jatuh dengan keras dan hidupnya mungkin berada dalam bahaya! Mengapa orang-orang semacam ini menganggap bahwa mereka harus memiliki status yang tinggi, harus dipuja, harus memiliki banyak orang yang mengelilingi mereka, harus dilibatkan dalam konsultasi tentang segala hal dan pendapatnya harus didengar, dan harus dipikirkan serta diprioritaskan dalam segala hal? Mengapa mereka memikirkan begitu banyak "keharusan"? Karena mereka terlalu mementingkan status sosial, pengetahuan, dan hal-hal khusus yang telah mereka pelajari. Mereka percaya, "Sebanyak atau setinggi apa pun kebenaran yang dikatakan, hal-hal yang kumiliki ini tetap berharga; semua itu lebih berharga daripada kebenaran dan tidak dapat digantikan oleh kebenaran. Dalam masyarakat, aku adalah bos perusahaan. Aku mengatur ribuan orang. Hanya dengan lambaian tanganku, semua orang harus mendengarkanku. Aku memiliki kekuasaan sebesar itu—coba pikirkan posisi dan status seperti apa yang kumiliki! Di antara orang-orang yang tidak terlalu penting di rumah Tuhan ini, berapa banyak orang yang lebih tinggi dariku? Jika kuperhatikan sekelilingku, aku tidak melihat banyak orang istimewa. Seandainya aku yang mengatur mereka, itu tidak menjadi masalah; itu hal sepele!" Misalkan engkau berkata, "Baiklah. Bukanlah hal yang buruk jika kau memiliki ambisi ini. Aku akan memenuhi keinginanmu, aku merekomendasikanmu sebagai pemimpin gereja. Engkau membawa orang-orang ini ke hadirat Tuhan sehingga mereka tahu bagaimana harus membaca firman Tuhan dan menerapkan kebenaran, dan engkau memberikan dukungan kepada orang yang lemah, yang negatif, dan yang tidak melaksanakan tugas mereka." Mereka akan berkata, "Itu mudah. Ketika aku berbisnis, aku melakukan semua pekerjaan psikologis itu. Aku pandai dalam hal itu." Begitu lebih dari tiga puluh orang di gereja dipercayakan di bawah kekuasaannya, apa yang terjadi? Tidak kurang dari dua bulan, orang-orang yang lemah menjadi makin lemah, orang-orang yang negatif menjadi makin negatif, dan orang-orang yang menyebarkan Injil tidak mampu memperoleh orang. Mereka yang tidak tahu bagaimana cara membaca firman Tuhan menjadi mengantuk setiap kali waktu pertemuan tiba dan bahkan tidak mau lagi mendengarkan khotbah dari Yang di Atas. Ketika ditanya, "Bukankah engkau cukup mampu?" Mereka menjawab, "Ya, dahulu aku adalah bos. Kemampuanku sudah jelas!" Bos seperti apa pun dirimu di dunia ini, itu tidak ada gunanya. Jika engkau tidak memahami kebenaran, berarti engkau belum terlatih untuk melakukan pekerjaan gereja. Jika orang-orang ini diberi tanggung jawab atas pekerjaan penginjilan, mereka hanya akan terlibat dalam formalitas yang sia-sia dan dangkal, tidak akan memperoleh hasil apa pun, dan gereja dengan puluhan orang juga tidak akan disirami dengan baik. Apa yang terjadi di sini? Orang yang berpengetahuan semacam ini dahulunya adalah bos dan eksekutif perusahaan di kalangan masyarakat, lalu mengapa mereka tidak bisa menggunakan keterampilan mereka ketika datang ke rumah Tuhan? (Roh Kudus tidak menjaga mereka.) Roh Kudus tidak menjaga mereka adalah salah satu aspeknya, tetapi apa alasan utamanya? Mereka tidak memahami kebenaran, sehingga dalam hal keadaan orang, watak rusak orang, tuntutan Tuhan kepada manusia, firman Tuhan yang menyingkapkan manusia, dan cara Tuhan berbicara, mereka tidak memiliki pemahaman rohani dan tidak mampu memahami apa yang sedang terjadi dengan hal-hal ini, dan hanya bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu dan secara dangkal. Mereka berpikir bahwa pekerjaan gereja sama seperti menjalankan bisnis di dunia, dan selama mereka menginspirasi pikiran orang dan membangkitkan antusiasme orang, berarti mereka sudah melakukan pekerjaan yang baik. Di satu sisi, mereka berpikir mereka harus melakukan pekerjaan psikologis. Di sisi lain, mereka harus menggunakan cara mereka yang mantap dalam berinteraksi dengan orang lain, berusaha menyuap orang-orang yang berada di atas mereka dan membeli orang-orang yang berada di bawah mereka. Mereka percaya bahwa selama engkau bisa memastikan bahwa orang-orang mendapatkan uang, orang-orang itu akan mendengarkan dan mengikutimu—mereka berpikir sesederhana itu. Hal-hal luar tidak berkaitan dengan kebenaran. Dalam kepercayaan kepada Tuhan, segala hal yang orang lakukan berkaitan dengan kebenaran dan perubahan watak. Apakah metode yang sama dengan yang mereka gunakan di dunia ini akan berhasil? (Tidak.) Itu tidak akan berhasil. Dalam hal cara berurusan dengan keadaan orang, cara berurusan dengan kelemahan orang, cara menyokong orang dengan baik, cara berurusan dengan gagasan orang tentang Tuhan, cara membuat orang mengenal diri mereka sendiri ketika mereka menyingkapkan watak rusaknya, dan cara membantu orang-orang menjadi jujur, mereka tidak tahu apa-apa dan bahkan berbicara omong kosong dan memaksakan peraturan secara membabi buta. Sebagai contoh, jika seseorang mengatakan sesuatu yang tidak ahli dan tidak memiliki pemahaman rohani, mereka akan mengatakan bahwa orang ini memiliki kualitas buruk dan tidak mengejar kebenaran. Mereka hanya menerapkan peraturan secara membabi buta, dan mereka melakukannya dengan berbagai cara sampai orang lain tidak memiliki jalan untuk ditempuh, mengganggu dan membuat mereka tidak termotivasi. Mereka yang melaksanakan tugasnya tidak lagi memiliki semangat untuk melakukannya, sementara mereka yang negatif menjadi makin negatif. Ada orang-orang yang berkata bahwa lebih baik mereka membaca firman Tuhan di rumah jika orang semacam ini sampai memimpin gereja. Apa yang menyebabkan hal ini? Ketika mereka memimpin gereja, mereka membuat orang-orang menjadi tidak termotivasi, sehingga membuat orang-orang itu tak mau lagi percaya kepada Tuhan. Mengapa orang-orang itu tidak mau percaya? Karena awalnya mereka memiliki visi yang agak jelas, tetapi tindakan orang ini mengganggu dan membingungkan mereka. Sejak awal, memang tidak ada kebenaran di hati orang-orang ini—yang ada hanyalah pemahaman tentang doktrin. Setelah mereka diganggu orang ini, mereka menjadi makin bingung dan mereka tidak mampu lagi memahami pekerjaan Roh Kudus. Eksistensi Tuhan itu sendiri juga menjadi sedikit tidak jelas. Lantas, metode apa yang mereka gunakan untuk menggiring orang-orang sampai ke titik ini? Sebagai contoh, apakah pernyataan "Manusia diciptakan oleh Tuhan" adalah kebenaran? (Ya.) Engkau harus menggunakan wawasan, pemahaman, dan pengalaman nyatamu untuk membuktikan pernyataan ini agar saudara-saudari bisa percaya dengan lebih teguh bahwa pernyataan ini adalah kebenaran dan benar serta mampu meyakini bahwa umat manusia berasal dari Tuhan, sehingga imannya kepada Tuhan bertambah. Begitu seseorang memiliki keimanan kepada Tuhan, ketika dia menerima pendisiplinan atau mengalami kesulitan atau penganiayaan, barulah dia akan memiliki kekuatan di hatinya. Ini adalah fakta. Namun, apa yang orang-orang ini katakan? "Ada program TV yang melaporkan sebuah penemuan bahwa 100 juta tahun yang lalu, manusia telah hidup dalam suku-suku." Ketika mereka memamerkan pengetahuannya dan berbicara tentang sejarah seperti ini, semua orang yang mendengarnya menjadi bingung, "Bukankah dikatakan bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan? Jika kau mengatakannya seperti itu, itu tampaknya tidak seperti itu. Apakah manusia berasal dari kera?" Lihat, ke manakah mereka telah menggiring orang-orang? Bukankah hal ini membahayakan orang-orang? (Ya.) Setiap kali mereka memiliki peluang, mereka memamerkan pengetahuannya dan berbicara tentang sejarah, falsafah, dan cara mereka berurusan dan berkolusi dengan pejabat pemerintah di dunia, hanya memamerkan hal-hal tersebut. Ketika mereka pamer seperti ini, dan ketika sebagian saudara-saudari yang tingkat pertumbuhannya masih kecil, lemah, dan keimanannya masih belum seberapa, mendengar hal-hal ini, ke manakah arah hatinya? (Lari ke arah dunia.) Benar. Apa yang dimaksud dengan hal ini? Orang-orang yang dipercayakan kepada mereka ini dihancurkan oleh mereka. Jelas mereka adalah orang yang belum terlatih. Mereka bukan saja tidak memahami hal-hal tentang jalan masuk kehidupan, tetapi juga tidak memahami apa pekerjaan mereka, apalagi hal-hal rohani dalam hidup atau perubahan watak. Mereka tidak memahami apa pun tentang hal ini, tetapi mereka masih berpura-pura menjadi orang yang memahami kebenaran dan ingin menjadi gembala untuk memimpin umat pilihan Tuhan. Bukankah hal ini tidak masuk akal? Jika engkau tidak memahami hal-hal rohani dalam hidup, apa yang harus kaulakukan ketika dipilih sebagai pemimpin? Engkau menjawab, "Aku hanyalah orang yang belum terlatih dan belum pernah memimpin gereja. Aku harus mencari dan memahami apa yang ditetapkan oleh pengaturan pekerjaan tentang hal ini dan menemukan orang yang memahaminya untuk diajak bersekutu tentang bagaimana pekerjaan harus dilakukan, atau menemukan saudara-saudari yang memahami kebenaran dan berkoordinasi dengan mereka." Apakah ini sikap yang benar? (Ya.) Namun, ada orang-orang yang tidak melakukannya. Mereka berlagak lebih unggul dan berkata, "Engkau menginginkanku berkoordinasi dengan orang lain—yang memiliki kualifikasi yang lebih tinggi dariku? Siapakah yang memiliki status sosial yang lebih tinggi dariku? Aku cukup tersohor di tengah masyarakat. Siapa pun yang menemuiku harus menaruh sedikit rasa hormat kepadaku." Mereka hanya membanggakan dan memamerkan kemampuannya seperti ini. Ketika mereka memimpin gereja seperti itu, apakah saudara-saudari masih memiliki harapan untuk masuk ke dalam kenyataan kebenaran? (Tidak.) Tidak ada harapan. Sekalipun itu yang terjadi, orang-orang ini tetap menyuruh orang lain melaporkan semua hal kepada mereka. Setan-setan ini pernah mengenyam sedikit pendidikan di universitas, dan mereka memiliki sedikit pengetahuan, dan alhasil mereka berani berlagak dan menipu di masyarakat, dan melakukan segala bentuk hal yang buruk. Mereka memiliki sarana untuk bertahan, sehingga mereka pergi ke rumah Tuhan untuk memperoleh sesuatu. Untuk mendapatkan status dan membawa kemuliaan bagi leluhur mereka, mereka bahkan ingin berpura-pura sebagai perwujudan kebenaran agar umat pilihan Tuhan mau mendengarkan dan mengikuti mereka. Apa arti dari "perwujudan kebenaran" bagi mereka? Artinya, "Engkau semua harus menjunjung setiap pemikiran, pendekatan, dan pendapatku sebagai kebenaran. Aku telah menetapkan aturan untukmu: Semua tagihan, bahkan yang kurang dari lima dolar, harus dilaporkan kepadaku." Orang lain berkata: "Tak perlu melaporkan lima dolar. Kami juga memiliki ruang lingkup otoritas. Tak bisakah kami hanya bertindak sesuai dengan prinsip?" Apa anggapan mereka? "Bagaimana mungkin hal itu tidak masalah? Ini masalah besar. Aku adalah pemimpin. Akulah yang menjadi penentu keputusan!" Sekalipun mereka tidak mengatakannya, beginilah anggapan mereka di hati mereka. Beginilah cara mereka mengendalikan orang. Mereka bisa melakukan segala hal yang buruk atau mengelabui orang lain. Ketika mereka mengelabui dan melukai orang lain, mereka tidak berkedip, hatinya tidak berdetak kencang, dan mereka sama sekali tidak merasa gelisah. Ketika diberi posisi di rumah Tuhan, mereka berani menerimanya. Begitu mereka menerimanya, mereka tidak ingin turun dari jabatannya dan ingin menipu sebagai perwujudan kebenaran agar orang lain taat. Apakah orang-orang semacam ini memang ada? (Ada.)
Ada orang yang, meskipun mereka percaya kepada Tuhan, tidak secara sukarela dan dengan senang hati mengorbankan diri mereka untuk-Nya. Sebaliknya, mereka melaksanakan tugas dengan enggan. Mereka hanya memikirkan cara berjerih payah agar mendapatkan berkat, tetapi tidak mau berjuang mengejar kebenaran. Ketika melaksanakan tugasnya, mereka sering bertindak asal-asalan serta tidak teliti, dan mereka merasa puas dengan hanya memperoleh sedikit hasil agar mereka tidak dikeluarkan. Namun, terlepas dari apakah orang benar-benar percaya kepada-Nya dan mengorbankan diri mereka untuk Dia, Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat. Tuhan tidak akan mengutukmu karena engkau tidak memahami kebenaran atau bertindak asal-asalan ketika melaksanakan tugasmu. Tuhan akan selalu memeriksa dirimu untuk melihat apakah engkau dapat menerima kebenaran dan apakah engkau dapat bertobat dengan sungguh-sungguh serta menempuh jalan kehidupan yang benar. Itu tergantung pada bagaimana engkau memilih. Ada orang yang tidak memahami kebenaran apa pun ketika mereka mulai melaksanakan tugas, tetapi karena mereka sering mendengarkan khotbah dan sering berkumpul serta bersekutu, lambat laun mereka mulai memahami kebenaran. Hati mereka menjadi makin terang, dan mereka menyadari bahwa mereka memiliki terlalu banyak kekurangan, tidak memiliki kebenaran sama sekali, dan tidak memiliki prinsip dalam melaksanakan tugasnya, hanya melakukan sejumlah pekerjaan berdasarkan niat sendiri. Mereka merasa bahwa melaksanakan tugas dengan cara ini tidaklah sesuai dengan maksud Tuhan, dan hatinya merasa bersalah. Mereka mulai berjuang mengejar kebenaran, dan mereka memperoleh hasil yang kian membaik ketika melaksanakan tugas. Di satu sisi, seperti inilah mereka memperoleh jalan masuk kehidupan, dan di sisi lain, mereka lambat laun menjadi memenuhi syarat dalam melaksanakan tugasnya. Inilah orang yang dapat menerima kebenaran dalam melaksanakan tugasnya. Seiring dengan makin jelasnya pemahaman mereka tentang kebenaran, mereka dapat dengan jelas melihat perwujudan kerusakan dalam diri mereka sendiri. Mereka mau berdoa kepada Tuhan dan mengandalkan-Nya dalam hati mereka, bersedia menyingkirkan kerusakan mereka, menerapkan kebenaran, dan menempuh jalan untuk mengejar kebenaran. Ini adalah pertumbuhan hidup secara berangsur dalam perjalanan manusia melaksanakan tugas. Mereka yang mengikuti Tuhan semuanya mulai memahami kebenaran dan masuk ke dalam kenyataan kebenaran dalam proses pelaksanaan tugas mereka. Jika orang tidak mencintai kebenaran, bisakah perubahan seperti itu terjadi? Tentu saja tidak. Ada orang yang sangat congkak dan sombong. Ketika mereka datang ke rumah Tuhan, terutama setelah melaksanakan tugas, kecongkakan dan kesombongan mereka menjadi jelas. Sambil bersedekap dan berkacak pinggang, mereka memperlihatkan penentangan dan ketidakpuasan. Mengapa mereka begitu congkak? Di dalam hati, mereka berkata: "Untuk percaya kepada tuhan dan melaksanakan tugasku, aku telah meninggalkan dunia, keluarga, dan pekerjaanku. Bukankah ini adalah harga yang mahal? Aku telah meninggalkan begitu banyak hal untuk tuhan. Bukankah seharusnya tuhan memberiku ganti rugi? Selain itu, berdasarkan status dan pendapatanku di masyarakat, bukankah seharusnya rumah tuhan setidaknya memberiku perlakuan yang sama? Sekarang aku sedang melaksanakan tugasku, tak bisakah tuhan memberiku sedikit bantuan khusus? Aku adalah orang yang berbakat, jauh lebih baik daripada orang kebanyakan. Aku seharusnya memiliki status di rumah tuhan. Jika orang lain bisa memimpin, berarti aku juga bisa. Statusku tidak semestinya lebih rendah dari orang lain, dan aku seharusnya mendapatkan perlakuan yang lebih tinggi daripada orang kebanyakan. Yang paling penting, bisakah tuhan menjamin bahwa aku akan menerima berkat dan memiliki tempat tujuan yang baik kelak?" Berdasarkan pemikiran di hati mereka, kita bisa melihat bahwa mereka sudah mulai bertransaksi dengan Tuhan, bukannya mengorbankan diri mereka secara tulus untuk Dia. Pola pikir mereka sama seperti Paulus, yang mau melaksanakan tugas mereka untuk ditukar dengan berkat Tuhan. Namun, nalar mereka jauh lebih buruk daripada nalar Paulus; nalar mereka jauh lebih rendah daripada nalar Paulus. Mengapa Aku berkata demikian? Karena Paulus memang mengalami banyak penderitaan selama bertahun-tahun dia menyebarkan Injil, dan hasil yang dia dapatkan dari menyebarkan Injil jauh lebih baik daripada orang kebanyakan. Paling tidak, langkah-langkah kakinya telah menapaki sebagian besar Eropa; dia telah membangun banyak gereja di seluruh Eropa. Dalam hal ini, antikristus kebanyakan tidak bisa dibandingkan dengan nalar Paulus ataupun seberapa banyak dia telah berjerih payah. Namun, orang yang baru saja Kusebutkan menjadi sangat congkak setelah melaksanakan tugasnya. Bukankah mereka sangat tidak bernalar? Mereka sungguh tidak bernalar, dan seperti halnya perampok, begitu ada kesempatan untuk mendapatkan berkat, mereka tidak dapat melepaskannya. Orang-orang semacam ini selalu dengan sengaja mencari kesempatan untuk tampil menonjol di rumah Tuhan, sekalipun sebatas menjadi pemimpin tim atau pengawas. Singkatnya, ketika datang ke rumah Tuhan, mereka tidak mau menjadi pengikut biasa. Tidak soal siapa pun yang mau mengakui bahwa mereka adalah makhluk ciptaan biasa, bahwa mereka hanyalah makhluk ciptaan biasa seperti semua makhluk hidup lainnya, mereka tidak akan pernah menerima sudut pandang ini; mereka tidak akan pernah membiarkan diri mereka diperlakukan tidak adil seperti ini. Mereka beranggapan bahwa seharusnya mereka menerima perlakuan khusus dan Tuhan seharusnya memberi mereka kasih karunia serta berkat khusus. Mereka juga ingin menikmati manfaat khusus dari status di rumah Tuhan. Mereka tidak memperbolehkan rumah Tuhan meragukan bakatnya, apalagi memperbolehkan orang-orang bertanya tentang pekerjaannya; semua orang harus memiliki keyakinan yang bulat terhadap mereka karena mereka telah meninggalkan segalanya untuk Tuhan dan sepenuhnya setia kepada-Nya. Bukankah permintaan ini tak masuk akal? Apakah orang ini memiliki nalar? Ada berapa banyak orang-orang semacam ini? Berapa persentase orang-orang semacam ini di gereja? Orang-orang semacam ini selalu percaya bahwa mereka memiliki beberapa kemampuan dan bakat, sehingga mereka membual tentang betapa sangat cerdasnya mereka. Jadi, apa yang dimaksud dengan bakat itu? Itu berarti mereka suka membual, banyak bicara omong kosong, mengubah cara bicaranya tergantung dengan lawan bicaranya, dan memiliki keterampilan menipu yang lebih tinggi daripada orang biasa. Mereka percaya bahwa ini adalah bakat serta kemampuan, dan mereka ingin menggunakan kemampuan ini untuk menipu dengan cara yang terang-terangan. Apa yang dimaksud dengan bakat sejati? Itu berarti memiliki keterampilan khusus. Ketika Tuhan menciptakan manusia, Dia memberikan berbagai keahlian khusus kepada berbagai macam orang. Ada orang-orang yang pandai di bidang sastra, ada yang pandai di bidang kedokteran, ada yang pandai dalam mempelajari keterampilan, ada yang pandai dalam penelitian ilmiah, dan sebagainya. Keahlian khusus yang dimiliki orang adalah pemberian dari Tuhan dan tidak pantas disombongkan. Apa pun keahlian khusus yang orang miliki, itu bukan berarti bahwa orang tersebut memahami kebenaran, dan tentu saja bukan berarti bahwa orang tersebut memiliki kenyataan kebenaran. Orang-orang memiliki keahlian khusus tertentu, dan jika mereka percaya kepada Tuhan, mereka seharusnya menggunakan keahlian khusus ini untuk melaksanakan tugasnya. Hal ini dapat diterima oleh Tuhan. Menyombongkan keahlian khusus tertentu atau ingin menggunakannya untuk bertransaksi dengan Tuhan, hal ini sungguh tidak bernalar. Orang-orang semacam ini tidak diperkenan Tuhan. Ada orang-orang yang menguasai keterampilan tertentu, sehingga ketika mereka datang ke rumah Tuhan, mereka merasa unggul daripada orang lain, ingin mendapatkan perlakuan khusus, dan mereka merasa memiliki pekerjaan yang terjamin seumur hidup. Mereka menganggap keterampilan ini sebagai semacam modal; betapa congkaknya! Jadi, bagaimana seharusnya engkau memandang karunia dan keahlian ini? Jika hal-hal ini berguna di rumah Tuhan, berarti itu semua hanyalah alat agar engkau melaksanakan tugasmu. Semua itu tidak berkaitan dengan kebenaran. Sebanyak apa pun karunia dan bakat yang kaumiliki, itu hanyalah keahlian khusus manusia dan tidak berkaitan dengan kebenaran. Karunia dan keahlian khususmu bukan berarti bahwa engkau memahami kebenaran, dan tentu saja bukan berarti bahwa engkau memiliki kenyataan kebenaran. Jika engkau menggunakan karunia dan keahlian khusus untuk melaksanakan tugas dan engkau melaksanakan tugasmu dengan baik, berarti semua itu sudah digunakan dengan tepat, dan penggunaannya diperkenankan oleh Tuhan. Namun, jika engkau menggunakan karunia dan keahlian khususmu untuk pamer, bersaksi bagi dirimu sendiri, dan membangun kerajaanmu sendiri, berarti dosamu akan sangat besar, dan engkau akan menjadi pelanggar berat dalam menentang Tuhan. Karunia itu pemberian Tuhan. Jika engkau tidak bisa menggunakannya untuk melaksanakan tugasmu dan bersaksi kepada Tuhan, berarti engkau sangat tidak berhati nurani serta tidak bernalar, dan engkau akan banyak berutang kepada Tuhan; ini adalah pemberontakan yang keterlaluan! Namun, sebaik apa pun engkau menggunakan karunia dan keahlian khususmu, itu bukan berarti bahwa engkau memiliki kenyataan kebenaran. Menerapkan kebenaran dan bertindak dengan cara yang berprinsip berarti engkau memiliki kenyataan kebenaran. Karunia dan bakat selalu menjadi karunia dan bakat. Semua itu tidak berkaitan dengan kebenaran. Sebanyak apa pun karunia dan bakat yang kaumiliki, dan setinggi apa pun reputasi atau statusmu, itu tidak akan pernah berarti bahwa engkau memiliki kenyataan kebenaran. Karunia dan bakat tidak akan pernah menjadi kebenaran. Semua itu tidak berkaitan dengan kebenaran. Namun, antikristus tidak berpikir demikian, dan hal-hal inilah yang tepatnya sangat mereka hargai. Sebagai contoh, ada orang yang memiliki bakat akting. Setelah memainkan peran utama dalam sebuah film yang dibuat di rumah Tuhan, mereka mulai bersikap seolah unggul dari orang lain. Bahkan tiga orang yang membantu merias wajah mereka belum cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Mereka dulunya hanyalah orang biasa, tetapi setelah mereka percaya kepada Tuhan, setelah melakukan tugasnya sebagai seorang aktor, mereka mulai bersikap seolah unggul dari orang lain. Bukankah mereka mencari mati? Kurasa mereka memang sedang mencari mati! Penampilan mereka tidaklah spesial, dan keterampilan akting mereka biasa-biasa saja. Mereka hanya cocok memainkan peran tertentu, jadi mereka diberi peran lain; bukankah ini meninggikan mereka? Ketika diberi kesempatan untuk melaksanakan tugas, mereka bahkan bersikap seolah unggul dari orang lain. Ketika berakting, mereka menyuruh orang untuk melayaninya dengan membawakan teh dan menuangkan air, membuat marah semua saudara-saudari yang melihat. Aku berkata, "Keluarkan mereka!" Dan gereja pun mengeluarkan mereka. Bukankah orang-orang ini seharusnya dikeluarkan? Mereka beranggapan bahwa gereja tidak mampu membuat film tanpa mereka, sehingga mereka berani bersikap seolah unggul dari orang lain. Mereka tidak memperkirakan konsekuensi ini. Hal ini didorong oleh natur mereka. Orang-orang semacam ini menghargai pengetahuan, bakat, pembelajaran, dan pengalaman. Mereka terlalu mementingkan hal-hal ini, tetapi mengabaikan hal yang paling berharga, yaitu kebenaran. Mereka tidak menyadari bahwa kebenaranlah yang berkuasa di rumah Tuhan. Jika mereka tidak mengejar kebenaran, setinggi apa pun pengetahuannya atau sefasih apa pun mereka berbicara, mereka tidak akan sanggup bertahan. Cepat atau lambat, mereka pasti akan disingkapkan dan disingkirkan. Apakah mudah bagi orang-orang untuk memahami sedikit doktrin ini? Mereka yang telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, tetapi tidak mampu mengetahui yang sebenarnya tentang hal ini hanyalah orang-orang bingung yang tidak berharga sama sekali. Seandainya mereka memiliki sedikit saja nalar, mereka tidak akan sedemikian congkaknya. Orang semacam ini adalah para setan dan Iblis yang menyingkapkan dirinya sendiri. Sekarang, Aku menunjukkan hal ini secara langsung agar engkau semua juga mampu memahaminya dengan jelas; sehingga engkau semua dapat sedikit membedakan hal ini dan mengetahui yang sebenarnya tentang hal ini. Jika Aku tidak menunjukkannya dengan jelas, akankah engkau semua mampu membedakannya seperti ini? Akankah engkau semua mampu mengeluarkan mereka? Orang-orang tidak mampu melihat permasalahannya, jadi Aku harus memaparkannya dengan jelas. Jika penjelasan-Ku tidak jelas, masalahnya tidak akan bisa diselesaikan. Masalah apa pun tidak akan bisa diselesaikan dengan hanya mengandalkan beberapa doktrin yang engkau semua pahami.
Antikristus selalu menganggap dirinya memiliki bakat khusus. Mereka beranggapan bahwa mereka adalah lulusan perguruan tinggi yang sangat berpendidikan dan memiliki banyak pengetahuan. Mereka sangat mengagungkan dan menghargai pengetahuannya serta teori-teori rohani yang mereka pelajari, dan bahkan memperlakukan hal-hal ini layaknya kebenaran. Terlebih lagi, mereka sering kali menggunakan pengetahuan dan pengalaman yang mereka yakini benar ini, dan memanfaatkannya untuk menyuruh, menyesatkan, atau mengondisikan orang-orang di sekitar mereka. Khususnya, mereka sering berbicara tentang masa lalu mereka yang "gemilang", yang mereka gunakan untuk membujuk dan meyakinkan orang lain, serta membuat orang itu mengagumi dan memuja mereka. Dan masa lalu yang "gemilang" seperti apa yang mereka miliki? Beberapa dari mereka akan berkata, "Dahulu, aku adalah dosen di sebuah universitas. Semua muridku adalah mahasiswa Master atau Ph.D. Setiap kali aku memberi kuliah, tidak ada satu pun kursi yang kosong; setiap mahasiswa duduk tanpa bersuara sama sekali, memperhatikanku dengan pandangan memuja dan mengagumi. Aku bahkan tidak merasa gugup. Betapa hebat dan mengesankannya diriku kala itu! Aku terlahir dengan bakat dan keberanian seperti itu." Orang lain akan berkata, "Aku belajar mengemudi saat berusia 14 tahun. Kini aku sudah mengemudi selama lebih dari 40 tahun, dan keterampilan mengemudiku adalah yang terbaik." Apa yang mereka maksud dengan hal ini? Maksudnya, "Kalian baru mengemudi selama beberapa hari. Apa yang kau tahu? Pengemudi kawakan seperti diriku telah mengemudi seumur hidup. Aku sudah makan banyak asam garam. Kelak, kau harus bertanya padaku jika ada sesuatu yang tidak kaupahami. Kau harus mendengarkan apa yang kukatakan." Ketika mereka memiliki sedikit keterampilan tertentu, antikristus menganggap diri mereka luar biasa, mereka berusaha tampak misterius, dan mereka memamerkan diri serta bersaksi tentang diri sendiri agar orang lain mengagumi dan memuja mereka. Ketika orang semacam ini memiliki sedikit kelebihan atau karunia, hal itu membuat mereka menganggap dirinya lebih baik daripada orang lain, dan berhasrat untuk memimpin orang lain. Ketika orang lain mendatangi mereka untuk mencari jawaban, antikristus menceramahi mereka dengan berlagak tinggi, dan jika kemudian orang tersebut masih tidak paham, antikristus langsung menganggap orang itu memiliki kualitas buruk, meskipun sebenarnya antikristuslah yang tidak memberikan penjelasan yang gamblang. Sebagai contoh, ketika melihat seseorang tidak mampu memperbaiki mesin yang rusak, antikristus akan berkata, "Mengapa kau masih belum mengetahui cara melakukannya? Bukankah aku sudah memberitahumu cara melakukannya? Aku menerangkannya dengan jelas, tetapi engkau tetap tidak mengerti. Kualitasmu benar-benar buruk. Kau tidak mengerti setiap kali aku mengajarimu cara melakukannya." Namun, ketika orang itu meminta mereka memperbaiki mesin tersebut, antikristus akan menatap mesin itu dengan sangat lama, dan juga tidak tahu cara memperbaikinya. Mereka bahkan akan menyembunyikan fakta bahwa mereka tidak tahu cara memperbaikinya dari orang tersebut. Setelah meminta orang itu pergi, antikristus akan melakukan penelitian secara diam-diam dan mencoba mencari cara memperbaiki mesin tersebut, tetapi mereka tetap tidak akan mampu memperbaikinya. Akhirnya, antikristus membongkar mesin itu, membuatnya benar-benar berantakan, dan tidak bisa merakitnya kembali. Lalu, karena takut hal ini dilihat oleh orang lain, mereka akan menyembunyikan semua komponen mesinnya. Apakah memalukan jika tidak tahu cara melakukan beberapa hal? Adakah orang yang mampu melakukan segala hal? Engkau tidak perlu malu jika tidak tahu cara melakukan beberapa hal. Ingat, engkau hanyalah orang biasa. Tak seorang pun mengagumi atau memujamu. Orang biasa hanyalah orang biasa. Jika engkau tidak tahu cara melakukan sesuatu, cukup katakan bahwa engkau tidak tahu cara melakukannya. Mengapa engkau sampai mencoba menyamarkan dirimu sendiri? Orang-orang akan merasa jijik terhadapmu jika engkau selalu menyamarkan dirimu sendiri. Cepat atau lambat, engkau akan memperlihatkan dirimu yang sesungguhnya, dan saat itu, engkau akan kehilangan martabat serta integritasmu. Inilah watak antikristus; mereka selalu menganggap diri mereka sebagai orang yang serba bisa, sebagai orang yang mampu melakukan segalanya, yang cakap dan kompeten dalam segala hal. Bukankah hal ini akan membuat mereka mengalami masalah? Apa yang akan mereka lakukan jika mereka memiliki sikap yang jujur? Mereka akan berkata, "Aku tidak pandai dalam keterampilan teknis ini; aku hanya memiliki sedikit pengalaman. Aku telah menerapkan semua pengetahuanku, tetapi aku tidak memahami masalah-masalah baru yang kita hadapi ini. Oleh karena itu, jika kita ingin melaksanakan tugas kita dengan baik, kita harus mempelajari beberapa pengetahuan profesional. Menguasai pengetahuan profesional akan membantu kita melaksanakan tugas secara efektif. Tuhan telah mengamanatkan tugas ini kepada kita, jadi kita bertanggung jawab untuk melaksanakannya dengan baik. Kita harus pergi dan mempelajari pengetahuan profesional ini dengan sikap yang penuh tanggung jawab terhadap tugas kita." Inilah yang dimaksud dengan menerapkan kebenaran. Orang yang memiliki watak antikristus tidak akan mau melakukannya. Jika seseorang memiliki sedikit nalar, dia akan berkata, "Hanya inilah yang kuketahui. Engkau tidak perlu menghormatiku, dan aku tidak perlu bersikap seolah unggul; bukankah hal itu akan mempermudah segala hal? Selalu menyamarkan diri sendiri itu menyedihkan. Jika ada sesuatu yang tidak kita ketahui, kita bisa mempelajarinya bersama-sama, lalu bekerja secara harmonis untuk melaksanakan tugas kita dengan baik. Kita harus memiliki sikap yang bertanggung jawab." Setelah melihat hal ini, orang-orang akan berpikir, "Orang ini lebih baik dari kita; ketika ada masalah yang menimpanya, mereka tidak dengan gegabah memaksakan diri melampaui batas mereka, juga tidak melempar kesalahan kepada orang lain, atau lari dari tanggung jawab. Sebaliknya, mereka menanggung masalah itu sendiri dan menanganinya dengan sikap yang serius serta bertanggung jawab. Inilah orang baik yang serius dan bertanggung jawab atas pekerjaan serta tugasnya. Mereka dapat dipercaya. Keputusan yang diambil rumah Tuhan untuk mengamanatkan tugas penting ini kepada mereka sudah tepat. Tuhan benar-benar memeriksa lubuk hati manusia!" Dengan melaksanakan tugas seperti ini, mereka akan mampu meningkatkan keterampilannya dan memperoleh penerimaan semua orang. Bagaimana terbentuknya penerimaan ini? Pertama, mereka memperlakukan tugasnya dengan sikap yang serius dan bertanggung jawab; kedua, mereka mampu menjadi orang yang jujur, dan mereka memiliki sikap yang nyata serta tekun; ketiga, tidak menutup kemungkinan bahwa mereka mendapat bimbingan dan pencerahan dari Roh Kudus. Orang semacam ini memiliki berkat Tuhan; inilah yang dapat diperoleh orang yang memiliki hati nurani dan nalar. Meskipun mereka memiliki watak yang rusak, kekurangan, serta kelemahan, dan tidak tahu cara melakukan banyak hal, mereka tetap menempuh jalan penerapan yang benar. Mereka tidak menyamarkan diri atau mengelabui; mereka memiliki sikap yang serius dan bertanggung jawab terhadap tugasnya, dan sikap yang sangat menginginkan dan taat akan kebenaran. Antikristus tidak akan pernah mampu melakukan hal-hal ini karena pola pikir mereka akan selalu berbeda dengan mereka yang mencintai dan mengejar kebenaran. Mengapa pola pikir mereka berbeda? Karena natur Iblis bersemayam dalam diri mereka; mereka hidup berdasarkan watak Iblis agar dapat mencapai tujuan mereka memperoleh kekuasaan. Mereka selalu berusaha menggunakan berbagai cara untuk melakukan rencana jahat dan tipu daya, menyesatkan orang-orang dengan berbagai macam cara agar orang tersebut memuja serta mengikuti mereka. Oleh karena itu, untuk mengelabui orang-orang, mereka mencari segala macam cara untuk menyamarkan diri mereka, menipu, berbohong, dan mengelabui, agar orang lain percaya bahwa mereka benar dalam segala hal, bahwa mereka mampu dalam segala hal, dan dapat melakukan apa pun; bahwa mereka lebih cerdas daripada orang lain, lebih bijak daripada orang lain, dan lebih paham daripada orang lain; bahwa mereka lebih baik dalam segala hal daripada orang lain, dan bahwa mereka unggul daripada orang lain dalam segala bidang; bahkan percaya bahwa merekalah yang terbaik dalam kelompok mana pun. Mereka memiliki kebutuhan semacam itu; inilah watak antikristus. Oleh karena itu, mereka belajar untuk berpura-pura menjadi sosok yang bertolak belakang dengan diri mereka yang sebenarnya, menghasilkan masing-masing tindakan dan perwujudan yang beragam tersebut.
Renungkanlah: Watak apa yang dimiliki oleh orang yang suka berpura-pura menjadi sosok yang bertolak belakang dengan diri mereka yang sebenarnya? Mereka berpura-pura menjadi apa? Mereka tidak berpura-pura menjadi setan atau tokoh negatif; mereka berpura-pura menjadi sesuatu yang luhur, bagus, indah, dan baik, yang dihormati serta dikagumi orang; mereka berpura-pura menjadi hal-hal tersebut yang dipuji dan disetujui orang. Mereka berpura-pura mengetahui dan memahami segala hal; mereka berpura-pura memiliki kebenaran, sebagai tokoh yang positif, dan sebagai kenyataan kebenaran. Bukankah hal ini akan merusak diri mereka sendiri? Apakah mereka memiliki kenyataan tersebut? Apakah mereka memiliki esensi tersebut? Tidak. Justru karena tidak memiliki hal-hal itulah mereka disebut berpura-pura. Jadi, akankah ada orang yang berkata bahwa mereka adalah perwujudan kebenaran karena mereka memiliki kenyataan kebenaran? Apakah pernyataan ini benar? (Tidak.) Sekalipun engkau memiliki beberapa kenyataan kebenaran, engkau sama sekali bukanlah perwujudan kebenaran. Oleh karena itu, siapa pun yang berpura-pura sebagai perwujudan kebenaran adalah orang yang congkak dan tidak masuk akal! Orang yang hanya memiliki sedikit kenyataan kebenaran, tetapi berani berpura-pura sebagai perwujudan kebenaran tidak lebih dari sekadar setetes air yang mengaku sebagai lautan yang luas dan tanpa batas. Bukankah ini sangat congkak? Bukankah ini sungguh tidak tahu malu? Bagi orang yang berpura-pura sebagai perwujudan kebenaran, mereka pasti memiliki modal untuk melakukannya. Lalu apa yang antikristus gunakan untuk berpura-pura sebagai perwujudan kebenaran? Mereka menggunakan hal-hal yang baru saja Kusebutkan: pengetahuan, pengalaman, dan pelajaran. Ini mencakup semua keterampilan dan bakat khusus yang orang peroleh dari proses belajar serta karunia yang mereka miliki sejak lahir. Ada orang yang memiliki karunia untuk berbicara bahasa roh, dan ada yang memiliki karunia atau kefasihan dalam berkhotbah. Orang lain telah mempelajari atau menguasai keterampilan profesional khusus tertentu. Sebagai contoh, ada orang yang sangat hebat di bidang tari, musik, seni rupa, bahasa, atau sastra; ada juga yang terampil dalam bidang politik, yang berarti bahwa mereka sangat pandai memanipulasi orang, bahwa mereka unggul dalam diplomasi, dan sebagainya. Singkatnya, hal ini mencakup orang-orang yang memiliki bakat khusus dari semua lapisan masyarakat. Orang-orang yang memiliki bakat atau karunia khusus ini mungkin belum tentu memiliki status tertentu atau karier yang mapan di tengah masyarakat. Ada orang yang tinggal di tempat kecil, tetapi mereka mampu berbicara tentang berbagai topik dari masa lalu hingga sekarang dengan jelas, logis, dan sangat fasih. Jika orang-orang dengan bakat khusus ini memiliki watak antikristus, mereka tidak akan puas dengan hal-hal tersebut ketika datang ke rumah Tuhan; mereka akan menyimpan ambisi serta keinginan tertentu, dan semua itu lambat laun akan tersingkap.
Mengenai poin antikristus yang berpura-pura menjadi perwujudan kebenaran setelah mereka berhasil memperoleh sedikit pengalaman dan pengetahuan, serta memperoleh pelajaran, kita baru saja membahas ruang lingkup pengetahuan, pengalaman, dan pelajaran tersebut. Dan apa yang menjadi fokus dalam pembahasan ini? (Berpura-pura.) Benar. Intinya adalah antikristus berpura-pura sebagai perwujudan kebenaran. Pengetahuan, pengalaman, pelajaran, tak satu pun dari hal-hal ini merupakan kebenaran; itu semua sama sekali tidak berkaitan dengan kebenaran. Bahkan hal-hal ini bertentangan dengan kebenaran dan dikutuk oleh Tuhan. Misalnya pengetahuan, apakah sejarah termasuk salah satu bentuk pengetahuan? (Ya.) Bagaimana buku-buku pengetahuan dan sejarah tentang sejarah manusia, sejarah negara atau kelompok etnis tertentu, sejarah modern, sejarah kuno, atau bahkan sejarah tidak resmi tertentu, bisa muncul? (Semua itu ditulis oleh manusia.) Jadi, apakah hal-hal yang ditulis oleh manusia sesuai dengan sejarah yang sebenarnya? Bukankah ide dan pandangan manusia tidak sesuai dengan prinsip, jalan, dan cara Tuhan bertindak? Apakah perkataan yang disampaikan oleh manusia ini berkaitan dengan sejarah yang sebenarnya? (Tidak.) Tidak ada kaitannya. Oleh karena itu, seakurat apa pun catatan yang tertulis dalam buku sejarah, itu semua hanya sebatas pengetahuan. Sefasih apa pun sejarawan, dan selogis serta sejelas apa pun mereka menarasikan sejarah-sejarah ini, bagaimana kesimpulanmu setelah mendengarnya? (Kami akan mengetahui peristiwa-peristiwa tersebut.) Ya, engkau akan mengetahui peristiwa-peristiwa tersebut. Namun, apakah mereka menarasikan sejarah ini hanya untuk menyampaikan peristiwa tersebut kepadamu? Mereka memiliki ide tertentu yang ingin mereka indoktrinasikan dalam dirimu. Lalu, apa fokus dari indoktrinasi mereka? Inilah yang perlu kita analisis dan telaah. Aku akan memberi sebuah contoh agar engkau semua bisa memahami hal yang ingin mereka indoktrinasikan dalam diri orang. Setelah mengulas sejarah dari zaman kuno hingga sekarang, orang-orang pada akhirnya menghasilkan sebuah pepatah; mereka telah mengamati sebuah fakta dari sejarah manusia, yaitu: "Yang menang mendapat mahkota, dan yang kalah tidak mendapat apa-apa." Apakah ini pengetahuan? (Ya.) Pengetahuan ini berasal dari fakta-fakta sejarah. Apakah pepatah ini memiliki keterkaitan dengan jalan dan cara yang Tuhan gunakan untuk memegang kedaulatan atas segala hal? (Tidak.) Sebenarnya, itu berlawanan; itu bertentangan dan tidak sesuai dengan hal-hal tersebut. Jadi, engkau telah diindoktrinasi dengan pepatah ini, dan jika engkau tidak memahami kebenaran, atau jika engkau adalah orang tidak percaya, apa yang mungkin kaupikirkan setelah mendengarnya? Bagaimana engkau memahami pepatah ini? Pertama-tama, sejarawan atau buku-buku sejarah ini mencantumkan semua peristiwa seperti ini, dengan menggunakan bukti yang memadai dan peristiwa-peristiwa sejarah untuk memperkuat keakuratan pepatah tersebut. Pada awalnya, engkau mungkin hanya mempelajari pepatah ini dari buku, dan sekadar mengetahui pepatah itu saja. Engkau mungkin hanya memahaminya pada satu tingkatan atau hingga taraf tertentu sampai engkau mengetahui peristiwa-peristiwa tersebut. Namun, setelah engkau mendengar fakta-fakta sejarah ini, pengakuan dan penerimaanmu terhadap pepatah ini akan menjadi makin dalam. Engkau pasti tidak akan berkata, "Beberapa hal tidak seperti itu adanya." Sebaliknya, engkau akan berkata, "Begitulah adanya; jika melihat sejarah dari zaman kuno hingga sekarang, manusia telah berkembang dengan cara ini; yang menang mendapat mahkota, dan yang kalah tidak mendapat apa-apa!" Ketika engkau memahami masalah ini dengan cara seperti itu, bagaimana pandangan dan sikapmu terhadap perilakumu, kariermu, dan kehidupan sehari-harimu, serta orang-orang, peristiwa, dan hal-hal di sekitarmu? Akankah persepsi semacam ini mengubah sikapmu? (Ya.) Pertama-tama, itu akan mengubah sikapmu. Lalu, bagaimana hal itu akan mengubah sikapmu? Akankah hal itu membimbing dan mengubah arah hidup serta metode yang kaugunakan dalam urusan duniawi? Mungkin sebelumnya engkau percaya bahwa "Keharmonisan adalah harta karun; kesabaran adalah kecerdikan" dan "Orang yang baik memiliki kehidupan yang damai". Kini, engkau akan berpikir, "Karena 'yang menang mendapat mahkota, dan yang kalah tidak mendapat apa-apa', jika aku ingin menjadi pejabat, aku harus mempertimbangkan si A dengan saksama. Dia tidak sepihak denganku, jadi aku tidak bisa mempromosikannya, sekalipun dia layak dipromosikan." Karena engkau memikirkan segala sesuatu dengan cara ini, sikapmu akan berubah dengan cepat. Bagaimana perubahan ini akan terjadi? Sikapmu akan berubah karena engkau menerima ide dan sudut pandang bahwa "Yang menang mendapat mahkota, dan yang kalah tidak mendapat apa-apa". Mendengar banyak fakta hanya akan meneguhkan benarnya pandangan tentang kehidupan manusia yang nyata ini dalam dirimu. Engkau akan sangat percaya bahwa engkau harus menerapkan sudut pandang ini dalam tindakan dan perilakumu untuk mengejar prospek dan kehidupanmu di masa mendatang. Saat itu, bukankah ide dan sudut pandang ini telah mengubahmu? (Ya.) Dan selain mengubahmu, itu juga akan merusakmu. Begitulah adanya. Pengetahuan semacam ini mengubah dan merusakmu. Jadi, jika dilihat dari akar persoalan ini, seakurat apa pun sejarah ini disajikan, semua itu pada akhirnya dirangkum menjadi pepatah ini, dan engkau diindoktrinasi dengan ide ini. Apakah pengetahuan ini adalah perwujudan kebenaran, atau cara berpikir Iblis? (Cara berpikir Iblis.) Betul. Sudahkah Aku menjelaskan hal ini dengan cukup terperinci? (Ya.) Sekarang jelaslah sudah. Jika engkau tidak percaya kepada Tuhan, engkau tetap tidak akan memahaminya bahkan setelah menjalani dua kehidupan; makin lama engkau hidup, makin engkau merasa bahwa engkau bodoh, dan menganggap bahwa engkau tidak cukup kejam, dan bahwa engkau seharusnya menjadi orang yang lebih kejam, lebih licik, lebih berbahaya, lebih buruk, dan lebih jahat. Engkau akan berpikir, "Jika dia bisa membunuh, aku harus menyalakan api. Jika dia membunuh satu orang, aku harus membunuh 10 orang. Jika dia membunuh tanpa meninggalkan jejak, aku akan melukai orang-orang tanpa mereka sadari; aku bahkan akan membuat keturunan mereka berterima kasih padaku selama tiga generasi!" Inilah pengaruh yang telah ditimbulkan oleh falsafah, pengetahuan, pengalaman, dan pelajaran Iblis dalam diri umat manusia. Kenyataannya, itu justru penyiksaan dan kerusakan. Oleh karena itu, apa pun pengetahuan yang dikhotbahkan atau disebarkan di dunia ini, itu akan mengindoktrinasikan suatu ide atau sudut pandang dalam dirimu. Jika engkau tidak mampu mengidentifikasinya, engkau akan diracuni. Kesimpulannya, kini satu hal yang pasti: Tidak peduli apakah pengetahuan ini berasal dari orang awam atau dari sumber resmi, apakah pengetahuan itu dikagumi oleh segelintir orang atau banyak orang, tak satu pun dari pengetahuan tersebut berkaitan dengan kebenaran. Kebenaran adalah kenyataan dari semua hal positif. Keakuratannya tidak ditentukan oleh jumlah orang yang mengakuinya. Kenyataan hal-hal positif adalah kebenaran itu sendiri. Tak seorang pun mampu mengubahnya, dan tak seorang pun bisa menyangkalnya. Kebenaran akan selalu menjadi kebenaran.
Mari kita bahas fakta bahwa Tuhan berdaulat atas segala hal. Sejak Tuhan mulai memimpin umat manusia, Dia juga telah menjaga sejarah dan membuat catatan. Bagaimana Tuhan memandang sejarah manusia? Tuhan ingin agar manusia melihat kebenaran, dan penilaian serta kesimpulan yang manusia buat tentang berbagai hal bukanlah kebenaran. Namun, mengapa manusia tidak memandang sejarah berdasarkan firman Tuhan dan kebenaran? Karena manusia muak akan kebenaran, membenci kebenaran, dan sama sekali tidak menerima kebenaran. Itulah sebabnya mereka mampu memikirkan sejumlah teori yang menggelikan, tak masuk akal, dan tampaknya benar, padahal salah. Sebagai contoh, Tuhan Yesus dikandung oleh Roh Kudus. Ini adalah hal yang positif. Namun, apa pendapat Iblis tentang hal ini? Iblis tidak mengakui fakta bahwa Tuhan Yesus dikandung oleh Roh Kudus, dan bahkan menghujat bahwa Tuhan Yesus adalah anak haram, bahwa Dia dilahirkan dari manusia. Iblis menggunakan kata terkotor manusia, sebuah ungkapan yang menjadi cemoohan serta hinaan orang, dan menggunakannya untuk menyebut kelahiran Tuhan Yesus. Bukankah hal ini adalah penyimpangan fakta? (Ya.) Pengandungan oleh Roh Kudus adalah pekerjaan Tuhan. Apa pun bentuknya, satu hal yang pasti tentang pekerjaan Tuhan: Itu adalah kebenaran, kebenaran yang abadi. Lantas, mengapa Iblis tidak menerima fakta yang jelas tersebut, fakta yang telah ditetapkan sebelumnya dan disaksikan oleh Tuhan? Mengapa Iblis mengabaikan hal ini dan bahkan mendeskripsikan Tuhan Yesus sebagai anak haram yang terlahir dari manusia? (Iblis membenci kebenaran dan hal-hal yang positif.) Iblis dengan sengaja mendiskreditkan Tuhan! Iblis paling sadar akan fakta ini; Iblis melihatnya dengan sangat jelas di alam roh. Jadi, mengapa Iblis bersikap demikian? Apa motif dan niat Iblis? Mengapa Iblis menyebarkan pernyataan semacam itu? Iblis dengan sengaja memfitnah dan mendiskreditkan Tuhan. Apa tujuan Iblis mendiskreditkan Tuhan? Agar manusia percaya bahwa Yesus adalah anak haram, menganggapnya tercela, dan sehingga tidak percaya kepada-Nya. Iblis berpikir, "Jika manusia tidak memiliki iman kepadamu, engkau tidak akan mampu menyelesaikan pekerjaanmu, bukan?" Kenyataannya, kebenaran selamanya tetaplah kebenaran. Sekalipun seluruh umat manusia menolaknya pada waktu itu, dua ribu tahun kemudian, Tuhan Yesus pada akhirnya memiliki banyak pengikut dan umat yang memuja-Nya di seluruh dunia, salib dipamerkan secara terang-terangan di mana-mana, dan Iblis telah gagal. Apakah pernyataan Iblis berhasil? (Tidak.) Oleh karena itu, pernyataan Iblis bukanlah kebenaran; itu tidak dapat bertahan, dan upaya Iblis dalam mendiskreditkan Tuhan sia-sia. Terlepas dari apakah hal yang Tuhan lakukan ini sesuai dengan gagasan dan imajinasi manusia, atau apakah hal ini bertentangan dengan budaya tradisional, pepatah, atau etika moral umat manusia, Tuhan tidak memedulikannya. Mengapa Tuhan tidak peduli? Apa yang berkaitan dengan hal ini? Karena Tuhan berdaulat atas segala hal, dapatkah perkataan setan dari Iblis ini menghancurkan pekerjaan Tuhan? Engkau tidak dapat mengetahui yang sebenarnya, bukan? (Tidak.) Katakan kepada-Ku, bukankah segala sesuatu berada di tangan Tuhan? (Ya.) Mungkinkah pernyataan setan dari Iblis, yang hanya terdiri dari beberapa kata ini, menghancurkan rencana pengelolaan Tuhan? Apakah mungkin? (Tidak mungkin.) Iblis ingin berhasil, tetapi dapatkah Iblis melakukannya? Kebenaran selamanya tetaplah kebenaran. Inilah kekuatan dari kebenaran. Kekuatan kebenaran adalah sesuatu yang tidak dapat diubah oleh siapa pun, termasuk Iblis. Bahkan sampai saat ini, Iblis terus menyebarkan pernyataan tersebut. Apakah itu berhasil? Tidak. Pekerjaan Zaman Kasih Karunia sudah berakhir; Injil Tuhan Yesus telah disebarkan hingga ke penjuru dunia, dan pekerjaan penghakiman baru di akhir zaman sudah berjalan selama bertahun-tahun. Iblis sudah lama gagal dan dipermalukan. Jadi, sekarang apa gunanya Iblis marah dan frustasi? Tidak ada gunanya. Oleh karena itu, apa pun pandangannya, atau setinggi apa pun tingkat pengetahuannya, berapa pun jumlah orang yang menjadi target penyebaran dan penerapan pandangan ini, semua itu tidak ada gunanya; itu tidak akan bertahan. Pekerjaan Tuhan tidak dapat dihentikan; bahkan Iblis pun tidak mampu menghentikannya. Apakah segelintir orang yang tidak penting sungguh menganggap bahwa mereka mampu menghentikan pekerjaan Tuhan? Itu hanya khayalan! Kebanyakan dari engkau semua bertumbuh dengan rumor ini, menerima pandangan Iblis yang menyesatkan; kepalamu telah dipenuhi dengan hal-hal seperti logika, falsafah, pengetahuan, dan ilmu pengetahuan dari Iblis. Lalu, apa yang terjadi? Ketika firman Tuhan datang kepadamu, engkau semua masih mendengar suara Tuhan dan kembali ke hadirat Tuhan. Rumor dan perkataan setan dari Iblis tidaklah berguna. Semua itu tidak mampu mencegah kelanjutan pekerjaan Tuhan sedikit pun. Umat pilihan Tuhan di semua negara sudah mulai menerima pekerjaan Tuhan di akhir zaman. Setiap hari, mereka makan dan minum firman Tuhan, mendengarkan khotbah, dan bersekutu. Mereka melaksanakan tugasnya untuk Tuhan dan memberikan kesaksian tentang Dia. Iblis merenungkannya dan berkata, "Mengapa banyak perkataanku yang menyesatkan tidak berhasil? Aku sudah melakukan banyak hal untuk menindas, menangkap, dan menyiksa umat pilihan tuhan, mengapa semua tindakan ini tidak banyak berpengaruh? Mengapa jumlah orang yang percaya kepada tuhan justru bertambah?" Lalu, Iblis tahu di dalam hatinya bahwa Tuhan benar-benar mahakuasa, setelah itu Iblis sepenuhnya dipermalukan, dan karenanya berkata, "Iblis akan selalu kalah di tangan Tuhan." Apakah ini adalah fakta? (Ya.) Firman Tuhan-lah yang benar-benar bisa mencapai segalanya! Iblis dan semua raja setan melakukan pelayanan kepada Tuhan. Di tangan Tuhan, mereka adalah objek yang melayani dan kontras. Apakah objek yang melayani dan kontras ini berkaitan dengan kita? (Tidak.) Tidak berkaitan. Kita hanya perlu fokus dalam percaya kepada Tuhan, kita tidak berkaitan dengan mereka. Entah mereka adalah raja atau penjahat, mereka adalah milik Iblis dan akan dimusnahkan. Kita hanya perlu mengikuti Tuhan dengan sepenuh hati, selalu mengkhianati Iblis, dan hanya mengikuti Tuhan. Inilah hal yang benar yang perlu dilakukan.
Aku telah memberikan satu contoh pengetahuan dan pengalaman, jadi kini engkau seharusnya memahami hal-hal ini dengan sedikit lebih akurat. Apa tujuannya mempersekutukan hal-hal ini? Di satu sisi, tujuannya adalah agar engkau menggunakan fakta-fakta serta contoh-contoh ini untuk mengenali antikristus, dan juga mengenali aspek watak antikristus ini di dalam dirimu sendiri. Di sisi lain, bukankah pembahasan seperti ini dapat mencegah sebagian orang agar tidak bertindak sembrono? (Ya.) Dahulu, orang-orang tertentu cenderung mengandalkan pengalaman dan cara yang kuno dalam melaksanakan tugasnya, dan mereka berpaut pada cara mereka sendiri dalam melakukan berbagai hal, sehingga mereka mengganggu serta mengacaukan pekerjaan rumah Tuhan, sehingga akibatnya mereka ditangani. Mereka mementingkan cara-cara kuno dan pengalaman mereka di atas segalanya, tak pernah mempertimbangkan hal-hal yang paling penting: apa yang telah Tuhan katakan atau tuntut terhadap manusia, atau bagaimana cara mematuhi prinsip-prinsip kebenaran. Mereka juga dengan keras kepala berpaut pada cara-cara kuno mereka, dan selain itu, menggunakan logika yang tak masuk akal sebagai dasar pernyataan ini: "Kami selalu melakukannya dengan cara ini," "Di tempat asal kami, itu selalu dilakukan dengan cara ini. Seperti inilah leluhur kami melakukannya." Mengapa mereka selalu menekankan hal-hal seperti itu? Ini membuktikan bahwa mereka tidak menerima hal-hal baru; mereka tidak menerima kebenaran. Mereka tidak dapat melihat kekakuan, keterbelakangan, dan keabsurdan dalam cara-cara tersebut. Mereka tidak menyadari bahwa ada cara baru dalam melakukan berbagai hal, cara yang lebih maju, lebih akurat, dan lebih tepat. Mereka selalu berpaut pada cara kuno, dengan mengandalkan pengalaman mereka sebelumnya, dan menganggap bahwa mereka sudah cukup maju; bahwa mereka sedang menerapkan kebenaran. Bukankah itu semua tak masuk akal? "Di tempat asal kami, itu selalu dilakukan dengan cara ini", "Cara yang sebelumnya kugunakan", "Kami selalu melakukannya dengan cara ini"; dapatkah cara kuno dan arkaisme ini menggantikan prinsip-prinsip kebenaran? Apakah melakukan hal-hal dengan cara kuno berarti bahwa seseorang sedang menerapkan kebenaran? Orang-orang itu tidak memahami apa pun, juga tidak mampu mengetahui yang sebenarnya tentang apa pun. Bukankah mereka adalah orang tua kolot yang berpaut pada cara kuno dan bersikap keras kepala? Sangat sulit bagi orang-orang semacam ini untuk menerima kebenaran! Katakan kepada-Ku, terlepas dari apakah sesuatu itu baru atau kuno, bagaimana engkau memperlakukannya? Bagaimana engkau menanganinya? Apa dasarmu dalam menangani hal ini? Jika semua orang hanya memiliki pengetahuan yang terbatas tentang sesuatu, bagaimana engkau memperlakukannya dengan cara yang benar dan sesuai dengan prinsip? Engkau harus terlebih dahulu bertanya kepada seseorang yang relatif memiliki keahlian di bidang ini. Selama engkau menemukan seseorang yang berpengetahuan, engkau akan memiliki jalan. Jika engkau tidak bisa menemukan seseorang yang berpengetahuan, engkau bisa mengatasi masalah itu sepenuhnya dengan mencari saran atau informasi secara daring. Sembari mencari, engkau tetap harus berdoa kepada Tuhan dan memandang-Nya; biarkanlah Tuhan membukakan jalanmu. Disebut apa ini? Kita menyebutnya sebagai prinsip-prinsip penerapan. Sebagian darimu berpikir, "Aku adalah profesional dalam bidang ini dan memiliki begitu banyak pengalaman. Aku bahkan sudah menerima berbagai penghargaan karena melakukan hal ini, jadi aku memiliki modal ini. Karena pekerjaan ini telah dipercayakan kepadaku, akulah yang bertanggung jawab. Aku memiliki kekuasaan untuk membuat keputusan, dan semuanya tergantung padaku. Semua orang harus mematuhi perintahku dan taat kepadaku. Apa pun yang orang lain katakan tidaklah penting, dan siapa pun yang tidak setuju denganku harus tutup mulut!" Apakah cara berpikir seperti ini benar? Sama sekali tidak benar. Sikapmu dan watak yang kauperlihatkan itulah yang bermasalah. Di dalam hatimu, engkau menganggap bahwa menerima amanat ini berarti engkau berhak berkuasa. Engkau ingin menjadi penentu keputusan dan tidak mengizinkan siapa pun menyampaikan pendapat. Seolah-olah engkau tidak memerlukan mitra kerja, atau siapa pun tidak perlu mengutarakan pendapatnya; semuanya berjalan sesuai dengan perkataanmu, semuanya tergantung padamu. Watak macam apa ini? Bukankah watak ini terlalu congkak dan tidak bernalar? Ini adalah watak antikristus. Mungkin engkau memiliki kualitas yang sedikit lebih baik daripada orang lain, mungkin engkau memiliki sedikit wawasan, dan sedikit pengalaman dalam masalah ini. Namun, ada satu hal yang perlu kaupahami: Tak satu pun dari hal-hal yang kaumiliki itu adalah kebenaran. Jika engkau percaya bahwa engkau memiliki kualitas yang cukup baik, memiliki sedikit wawasan, sedikit bakat, serta memiliki sedikit pengetahuan, dan engkau memandang semua itu sebagai kebenaran, dan percaya bahwa engkau sendiri adalah kebenaran, dan beranggapan bahwa semua orang harus mematuhi perintahmu dan menaati pengaturanmu, bukankah hal ini adalah watak antikristus? Jika engkau benar-benar melakukan berbagai hal dengan cara seperti ini, berarti engkau sepenuhnya sama dengan seorang antikristus. Apa yang salah denganmu ketika engkau memperlakukan karuniamu sebagai kebenaran? Tidak ada yang salah dengan kualitas, wawasan, bakat, dan pengetahuan yang kaumiliki. Jadi, apa yang kita analisis di sini? Yang kita analisis adalah watakmu, watak rusak yang kaubawa di balik hal-hal tersebut; watak yang congkak, watak yang merasa diri benar. Jika engkau memperlakukan karuniamu sebagai kebenaran, berarti engkau percaya bahwa engkau memiliki kebenaran karena engkau memiliki karunia ini. Engkau mengganti kebenaran dengan karunia tersebut. Lantas, watak macam apa ini? Bukankah ini adalah watak antikristus? Semua antikristus memperlakukan pemikiran, pembelajaran, karunia, dan bakat mereka sebagai kebenaran. Mereka beranggapan bahwa dengan memiliki karunia ini, mereka memiliki kebenaran. Oleh karena itu, mereka menuntut orang lain untuk menaati mereka, mematuhi perintah mereka, dan menaati kekuasaan mereka. Di sinilah letak kesalahan antikristus. Apakah engkau benar-benar memiliki kebenaran? Engkau tidak memiliki pemahaman yang sejati tentang Tuhan, juga tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan, engkau bahkan bukan orang yang tunduk kepada Tuhan, dan engkau tidak memiliki kebenaran sedikit pun, tetapi engkau congkak, sombong, dan merasa diri benar, beranggapan bahwa engkau memiliki kebenaran, dan orang lain harus menaatimu serta mematuhi perintahmu. Engkau adalah antikristus sejati.
Pekerjaan penyebaran Injil meliputi berbagai proyek yang menuntut orang untuk mengkaji dan mempelajari berbagai keterampilan dan profesi; namun, ada orang yang tidak memahami maksud Tuhan dan mudah menyimpang. Mereka hanya mempelajari profesi dan keterampilan tanpa menerima kebenaran sedikit pun. Orang macam apa ini? (Orang yang memiliki watak antikristus yang berfokus pada karunia.) Benar. Orang macam inilah yang sedang kita singkapkan; orang semacam ini memiliki watak antikristus, dan parahnya, mereka adalah antikristus. Mereka ingin menggunakan kesempatan ini untuk mempelajari hal-hal tersebut, lalu menjadi yang terbaik dari yang terbaik di antara orang-orang yang mengetahui profesi atau keterampilan ini, untuk menjadi yang paling terpelajar dan yang paling pandai dalam bidang ini agar orang lain akan mengandalkan mereka dalam segala hal, serta mendengarkan mereka sebagai pengganti penerapan kebenaran, dan pada saat yang sama, mereka memegang peran terdepan dalam kelompok ini. Di sinilah letak masalahnya. Orang macam apa yang seperti ini? Orang yang hanya berusaha mempelajari dan membekali diri sendiri dengan segala macam pengetahuan, pembelajaran, dan pengalaman; yang mengandalkan kualitas, bakat, dan karunia mereka untuk melakukan segala hal. Cepat atau lambat, mereka semua akan menempuh jalan tersebut. Itu tidak dapat dihindari. Inilah jalan Paulus. Apa pun area atau bidang yang kaugeluti, memiliki sedikit lebih banyak pengetahuan, pengalaman, atau pelajaran daripada orang lain tidak cukup menunjukkan bahwa engkau memahami kebenaran atau telah memasuki kenyataan kebenaran, dan tentu saja hal itu tidak berarti bahwa engkau telah memperoleh kebenaran. Jadi, apa yang cukup menunjukkan hal ini? Memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang prinsip-prinsip untuk melaksanakan tugas semacam ini, serta standar yang dituntut oleh rumah Tuhan dalam melaksanakan tugas ini selama proses mempelajari keterampilan profesional tersebut. Ada orang yang menjadi makin menentang ketika engkau makin berusaha membuat mereka mempelajari pengetahuan profesional, serta beranggapan bahwa mereka tidak mungkin bisa melaksanakan tugasnya, dan bahkan berkata, "Percaya kepada Tuhan seharusnya adalah soal menjauhkan diri dari dunia orang-orang tidak percaya, lalu mengapa kita harus mempelajari keterampilan dan pengetahuan orang-orang tidak percaya?" Mereka tidak ingin belajar. Ini adalah kemalasan. Mereka tidak memiliki sikap yang bertanggung jawab terhadap pekerjaannya, tidak setia, dan tidak mau mengerahkan upaya sedikit pun terhadap hal semacam itu. Tujuan dari mempelajari profesi dan keterampilan adalah agar engkau dapat melaksanakan tugasmu dengan baik. Ada banyak pengetahuan dan akal sehat yang belum kaujumpai yang perlu kaupelajari. Ini adalah tuntutan dan amanat Tuhan terhadap manusia. Oleh karena itu, mempelajari hal-hal tersebut tidak akan sia-sia; itu semua bertujuan agar engkau dapat melaksanakan tugasmu dengan baik. Ada orang yang beranggapan bahwa setelah mempelajari keterampilan tersebut, mereka akan mampu memperoleh kedudukan di rumah Tuhan. Bukankah cara berpikir seperti ini bermasalah? Pandangan ini salah. Adakah orang yang mampu menempuh jalan ini? Makin besar kekuasaan, makin luas ruang lingkup pekerjaan, dan makin besar tanggung jawab yang diberikan kepada orang semacam ini, akan makin berbahaya mereka. Bagaimana bahaya ini muncul? Tentu saja karena mereka memiliki watak yang rusak dan watak antikristus. Saat melakukan berbagai hal, mereka hanya berfokus pada cara melaksanakan tugas dan bertindak asal-asalan. Mereka tidak mencari prinsip-prinsipnya. Selama proses melaksanakan tugasnya, mereka tidak mulai memahami maksud Tuhan, tidak juga mulai lebih mengerti atau memahami lebih lanjut tentang prinsip-prinsip kebenaran. Mereka tidak mencari prinsip-prinsipnya, juga tidak memeriksa atau meninjau kerusakan yang mereka perlihatkan, pandangan keliru yang muncul dalam diri mereka, atau keadaan salah yang ke dalamnya mereka terjatuh saat melaksanakan tugasnya. Mereka hanya berfokus pada praktik lahiriah, hanya memperhatikan soal penguasaan dan pembekalan diri dengan berbagai jenis pengetahuan yang diperlukan dalam tugas mereka. Mereka percaya bahwa, apa pun bidang pekerjaan yang seseorang geluti, pengetahuanlah yang berkuasa; bahwa mereka akan menjadi kuat dan mapan dalam suatu kelompok jika mereka memiliki pengetahuan; dan bahwa di kelompok mana pun mereka berada, orang yang memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi dan gelar akademis yang tinggi akan memiliki status yang tinggi. Sebagai contoh, di sebuah rumah sakit, direktur rumah sakit umumnya sangat cakap dalam semua aspek profesi dan memiliki keterampilan teknis yang terbaik, dan orang-orang semacam itu beranggapan bahwa hal ini juga berlaku di rumah Tuhan. Apakah memahami hal-hal dengan cara seperti ini benar? Tidak. Cara ini bertentangan dengan pepatah, "Kebenaran berkuasa di rumah Tuhan." Orang-orang semacam itu percaya bahwa pengetahuanlah yang berkuasa di rumah Tuhan, siapa pun yang memiliki pengetahuan dan pengalaman, siapa pun yang memiliki senioritas yang cukup dan modal yang memadai akan menjadi mapan di rumah Tuhan, dan semua orang harus mendengarkan mereka. Bukankah pandangan ini salah? Ada orang-orang yang mungkin secara tidak sadar berpikir dan bertindak seperti ini; mereka mengejarnya, dan mungkin suatu hari nanti mereka akan menemui jalan buntu. Mengapa mereka mungkin akan menemui jalan buntu? Apakah seseorang yang tidak mencintai atau mengejar kebenaran, yang benar-benar mengabaikan kebenaran, mampu memahami dirinya sendiri? (Tidak.) Sementara tidak mengenali diri sendiri, mereka telah membekali diri dengan banyak pengetahuan, membayar sejumlah harga untuk rumah Tuhan dan memberikan sejumlah kontribusi. Mereka telah mengubah itu semua menjadi apa? Mereka telah mengubahnya menjadi modal. Dan apa arti modal tersebut bagi mereka? Itu adalah catatan penerapan kebenaran mereka, bukti yang menunjukkan bahwa mereka masuk ke dalam kenyataan kebenaran dan memahami kebenaran. Beginilah mereka telah mengubah hal-hal ini. Di hati setiap individu, memahami kebenaran dan masuk ke dalam kenyataan kebenaran dianggap sebagai hal yang baik dan positif. Tentu saja, hal ini juga dianggap benar di mata orang semacam itu. Namun, sayangnya, mereka telah menyalahartikan pengetahuan sebagai kebenaran. Namun, mereka tetap merasa puas dengan kesalahan ini. Ini adalah pertanda bahaya. Orang macam apa yang bisa bertindak seperti ini? Orang yang tidak memiliki pemahaman rohani akan melakukan tindakan seperti ini dan tanpa sadar menempuh jalan yang salah. Setelah mereka terjerumus, engkau tidak akan mampu menarik mereka kembali. Jika engkau bersekutu dengan mereka tentang kebenaran, menunjukkan keadaan mereka, dan menyingkapkan diri mereka, mereka tidak akan paham, mereka tidak akan mampu mengaitkannya dengan diri mereka sendiri. Orang semacam ini tidak memiliki pemahaman rohani sama sekali. Orang semacam ini secara alami memperlakukan pengetahuan, pengalaman, dan pelajaran mereka sebagai kebenaran. Lalu setelah mereka menganggap hal-hal tersebut sebagai kebenaran, suatu situasi tertentu pada akhirnya akan muncul. Itu tidak terelakkan. Misalkan, Tuhan mengatakan suatu hal dan orang semacam ini mengatakan hal lain, sudut pandang mereka pasti akan berbeda. Jadi, sudut pandang siapa yang akan dianggap benar oleh orang semacam ini? Mereka akan menganggap sudut pandang mereka sendirilah yang benar. Lalu, apakah mereka akan mampu tunduk pada Tuhan? (Tidak.) Apa yang akan mereka lakukan? Mereka akan berpaut pada sudut pandang mereka sendiri dan menolak apa yang telah Tuhan katakan. Dengan demikian, bukankah mereka memperlakukan diri mereka sebagai perwujudan kebenaran? (Ya.) Menurut mereka, seperti halnya penganut agama Buddha, mereka pada akhirnya telah mencapai keberhasilan melalui pembinaan diri; sementara menolak Tuhan, mereka membuat orang lain memperlakukan mereka layaknya Tuhan dan beranggapan bahwa mereka telah menjadi perwujudan kebenaran. Betapa tak masuk akalnya hal itu! Sebagai contoh, ada orang yang sangat pandai dalam bidang pengetahuan atau bidang profesi tertentu. Karena masih awam dalam bidang ini, Aku mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka terkait bidang ini, tetapi ketika Aku bertanya, mereka mulai pamer. Orang macam apa ini? Katakan kepada-Ku, salahkah Aku jika bertanya kepada mereka? (Tidak.) Jadi, mengapa Aku bertanya kepada mereka? Karena ada beberapa hal yang berhubungan dengan pekerjaan serta profesi, dan karena Aku tidak memahami semua itu, Aku harus bertanya kepada orang lain. Terlebih lagi, Aku tahu bahwa mereka memiliki pengalaman dan memahami hal-hal ini. Sudah sepatutnya Aku bertanya kepada mereka. Apakah niat dan cara-Ku sudah benar? (Ya.) Seharusnya tidak ada yang salah dengan hal ini, bukan? Jadi, cara yang benar manakah yang seharusnya digunakan orang tersebut dalam memperlakukan hal ini? Mereka seharusnya mengatakan pada-Ku tentang semua yang mereka pahami. Lalu, bagaimana seharusnya cara mereka memikirkan hal itu? Cara pikir seperti apa yang benar? Cara pikir seperti apa yang salah? Bagaimana orang yang normal dan masuk akal akan memikirkannya? Bagaimana seseorang yang memiliki watak antikristus akan memikirkannya? Ada orang-orang yang, setelah mengetahui bahwa Aku tidak paham, berkata, "Oh, engkau tidak paham! Engkau tidak tahu betapa sulitnya kami melakukannya! Engkau tidak mengetahuinya dan engkau tidak memahaminya!" Sambil berbicara, mereka mulai pamer. Dan pertanda apakah sikap pamer ini? Itu menandakan adanya masalah. Orang-orang ini biasanya sangat sopan dan alim, tetapi mengapa mereka tiba-tiba mulai pamer? (Mereka menganggap diri mereka sebagai kebenaran karena mereka memahami sedikit pengetahuan dan memiliki sedikit pengalaman.) Benar. Sebelumnya, ketika orang lain bertanya kepada mereka, mereka tidak menganggapnya penting. Namun, ketika Aku bertanya kepada mereka, mereka berpikir, "Bukankah kau adalah kebenaran? Bukankah kau seharusnya memahami segala hal? Bagaimana mungkin kau tidak memahami hal semacam ini? Jika kau tidak memahami hal ini, berarti aku unggul darimu." Mereka ingin sedikit pamer. Bukankah ini yang mereka pikirkan? (Ya.) Mereka tidak merasa dihormati. Sebaliknya, ada semacam watak Iblis yang berkecamuk dalam diri mereka. Tiba-tiba, mereka merasa begitu hebat di antara bumi dan langit! Bukankah ini adalah persepsi yang salah? Bukankah orang-orang semacam ini bodoh? (Ya.) Aku juga sependapat. Hanya orang bodoh yang bisa berpikir demikian. Bukankah mereka hanya memahami sedikit tentang bidang ini? Ada banyak hal yang orang-orang tidak ketahui; mereka seharusnya memiliki sedikit kesadaran diri. Ada orang yang mengetahui sedikit tentang kain dan dapat dengan mudah mengetahui jenis bahan hanya dengan menyentuhnya. Jika engkau memuji mereka dengan berkata, "Tampaknya engkau tahu soal kain," mereka akan menjawab, "Tentu saja. Kau tidak akan tahu karena kalian belum mempelajarinya. Aku telah mempelajarinya, aku lebih ahli dalam bidang ini daripada kalian. Aku tidak merendahkanmu, kau hanya perlu lebih banyak belajar." Bukankah hal ini cukup menjijikkan? Lalu, ada orang yang agak sering memasak dan mulai memamerkan banyaknya hidangan yang bisa mereka buat serta banyaknya makanan yang bisa mereka masak. Ada orang-orang yang belum lama bekerja sebagai tabib di daerah pedesaan. Ketika saudara-saudari mereka mulai agak sakit dan meminta mereka untuk memberi pijatan atau melakukan akupunktur atau bekam, dan bertanya apakah pengobatan itu dapat menyembuhkan, mereka menjawab, "Apakah kau kira penyakit ini dapat disembuhkan dengan mudah? Kalian tidak paham. Semua orang yang berprofesi di dunia kesehatan tahu bahwa tubuh manusia itu rumit. Ada banyak misteri penciptaan manusia oleh tuhan. Jadi, apakah akupunktur atau bekam dapat digunakan atau tidak, itu tergantung keadaannya." Kenyataannya, pengetahuan mereka juga sangat sedikit. Mereka tidak mampu menerangkan kondisi kesehatan dengan jelas atau mengobati banyak penyakit. Namun, agar tidak malu, mereka tetap bersikap seolah mereka unggul, berpura-pura, dan bertindak bagaikan ahli. Perwujudan dari berbagai macam orang ini menunjukkan bahwa semua manusia yang rusak memiliki watak Iblis dan watak antikristus. Masih ada kasus yang jauh lebih parah di mana orang-orang menyamarkan diri mereka dan berpura-pura sampai akhir. Terlepas dari apakah orang lain memuji mereka atau tidak, mereka menyimpan pemikiran yang gelap di lubuk hati mereka. Apa pemikiran tersebut? "Aku tidak akan pernah membiarkan orang lain mengetahui identitas dan kemampuanku yang sebenarnya." Sebagai contoh, jika mereka hanyalah seorang tabib, mereka selalu berusaha untuk membuat orang lain berpikir bahwa mereka adalah dokter terkenal, tidak pernah ingin orang lain tahu bahwa mereka adalah tabib, atau apakah mereka benar-benar bisa menyembuhkan penyakit atau tidak. Mereka takut orang lain mengetahui kebenaran situasi mereka. Sampai pada taraf mana mereka menyembunyikan diri mereka? Sampai pada taraf di mana semua orang yang berinteraksi dengan mereka menganggap mereka tidak pernah melakukan kesalahan dan tidak memiliki kelemahan apa pun; bahwa mereka ahli dalam segala hal yang telah mereka pelajari dan bisa melakukan apa pun yang orang lain butuhkan. Jika orang lain bertanya apakah mereka bisa memasak atau tidak, mereka akan menjawab bisa. Ketika ditanya apakah mereka bisa mempersiapkan perjamuan Manchu-Han, meskipun mereka berpikir, "Aku tidak bisa mempersiapkannya," mereka akan menjawab "Ya!" ketika ditanya lebih lanjut. Namun, ketika diminta untuk melakukannya, mereka akan berdalih untuk menolaknya. Bukankah ini penipuan? Mereka berpura-pura mengetahui segalanya, mampu melakukan segala hal, mampu berbuat apa pun; bukankah mereka orang bodoh? Namun, terlepas dari apakah mereka adalah orang bodoh atau memiliki beberapa kualitas, kemampuan, atau karunia, apa satu hal yang sama-sama dimiliki oleh antikristus? Mereka sama-sama memiliki keinginan untuk berpura-pura memahami segalanya, berpura-pura sebagai kebenaran. Meskipun mereka tidak secara langsung mengaku sebagai kebenaran, mereka ingin berpura-pura bahwa mereka adalah kenyataan dari segala hal yang positif, bahwa mereka dapat melakukan segala hal. Kalau begitu, bukankah itu berarti bahwa mereka adalah perwujudan kebenaran? Mereka beranggapan bahwa mereka adalah perwujudan kebenaran, bahwa semua perkataan mereka adalah benar, dan bahwa itu adalah kebenaran.
Ada orang-orang yang diberi tugas khusus oleh Yang di Atas. Setelah mendengarnya, mereka berpikir, "Tugas ini dipercayakan kepadaku oleh yang di atas, sehingga kekuasaanku menjadi lebih besar. Kini aku memiliki kesempatan untuk memperlihatkan bakat dan kekuasaanku. Aku akan menunjukkan betapa hebatnya diriku kepada orang-orang di bawahku." Ketika berinteraksi dengan saudara-saudari, mereka suka memerintah saudara-saudari dan berkata, "Pergi dan lakukanlah ini!" Ketika ditanya cara melakukannya, mereka menjawab, "Kau mau mengerjakannya atau tidak? Jika tidak, aku akan menghukummu! Ini adalah perintah dari yang di atas. Apakah kau mau menyinggung mereka dengan menunda pekerjaan itu? Jika yang di atas meminta pertanggungjawaban, siapa yang mampu mengemban tanggung jawab ini?" Saudara-saudari tersebut menjawab, "Kami hanya ingin memahaminya dan mencari prinsip-prinsip untuk melakukannya. Kami tidak ingin melakukannya secara sembrono dan menerapkan cara apa pun yang kami anggap sesuai. Semuanya harus dilakukan berdasarkan prinsip. Apa pun masalahnya, atau betapa pun mendesak atau pentingnya itu, dan siapa pun yang memercayakannya, mematuhi prinsip adalah kebenaran yang tak dapat diubah. Itu adalah tugas kami, dan kami harus bertanggung jawab. Tuhan menuntut kami agar mencari prinsip. Kami mencari dan meminta penjelasan dengan sikap yang bertanggung jawab. Tidak ada yang salah dengan hal ini. Kau harus menjelaskan hal ini kepada kami." Namun, mereka menjawab, "Apa lagi yang harus dijelaskan tentang hal ini? Mungkinkah perkataan yang di atas itu salah? Cepat kerjakan!" Saudara-saudari tersebut menjawab, "Karena Yang di Atas berkata demikian, kami pasti akan segera melakukannya. Namun, bisakah kau memberi tahu kami dengan jelas cara melakukannya? Apakah ada aturan atau instruksi tertentu?" Mereka berkata, "Lakukanlah sesuai dengan yang kalian anggap tepat. Instruksi dari yang di atas tidak begitu terperinci. Cari tahulah sendiri!" Orang macam apa ini? Mari kita lupakan sejenak motif dan sumber penyebab sikap mereka ini. Sebaliknya, mari kita periksa watak mereka terlebih dahulu. Apakah cara mereka ini baik? (Tidak.) Mengapa mereka muncul dengan cara seperti itu? Apakah cara ini normal? (Tidak.) Itu tidak normal. Apakah ini merupakan masalah keadaan mental, atau watak mereka? (Watak mereka yang bermasalah.) Benar, watak merekalah yang bermasalah. Ada sebuah ungkapan, "menunggu kesempatan yang tepat." Ungkapan ini berarti bahwa di masa lalu, mereka tidak pernah memiliki kesempatan yang tepat untuk membangun kekuasaannya; tetapi kini setelah kesempatan itu muncul dengan sendirinya, mereka akan meraihnya dan menggunakannya sebagai dalih untuk bertindak. Watak macam apa ini? Apa pun tugas yang kauterima dari Yang di Atas, prinsip-prinsip tindakanmu tidak boleh berubah. Ketika Yang di Atas memercayakan sebuah pekerjaan atau tugas kepadamu, itu hanya sebatas amanat yang dipercayakan kepadamu. Itu juga tugas yang harus kaulaksanakan. Namun, setelah menerima amanat dari Yang di Atas dan mengambil pekerjaan tersebut, lantas, bolehkah engkau mengaku sebagai perwakilan yang berkuasa penuh dan ahli kebenaran? Apakah engkau kini memiliki wewenang untuk memerintah orang lain dan bertindak sesuka hatimu? Apakah engkau diperbolehkan untuk mengikuti kehendakmu sendiri begitu saja, bertindak sesuka hatimu menurut kesukaanmu sendiri dan dengan caramu sendiri? Adakah perbedaan antara ketika Yang di Atas secara langsung memberimu kepercayaan untuk melakukan sesuatu dengan ketika engkau melaksanakan tugasmu seperti biasa? Tidak ada perbedaan; keduanya adalah tugasmu. Karena keduanya adalah tugasmu, apakah prinsip-prinsip untuk melakukan berbagai hal telah berubah? Tidak ada yang berubah. Oleh karena itu, dari mana pun engkau menerima tugas, esensi dan natur tugasmu itu sama. Apa yang Kumaksud dengan hal ini? Itu berarti bahwa apa pun tugas yang kaulaksanakan, engkau harus bertindak sesuai dengan prinsip. Itu bukan berarti bahwa hanya karena Yang di Atas memberimu kepercayaan secara langsung untuk melakukan sesuatu, engkau bisa melakukannya sesuka hatimu, juga bukan berarti bahwa apa pun yang kaulakukan akan benar dan dibenarkan. Sekalipun engkau memiliki sedikit kemampuan, bolehkah engkau menyimpang dari jalan mencari prinsip-prinsip kebenaran? Engkau tetaplah manusia yang rusak. Engkau belum menjadi tuhan; engkau bukanlah anggota kelompok khusus. Dirimu tetaplah dirimu, dan engkau akan selalu menjadi manusia. Dalam Alkitab, ada banyak orang yang secara pribadi dipanggil oleh Tuhan: Musa, Nuh, Abraham, Ayub, dan masih banyak lagi. Ada juga banyak orang yang telah berbicara dengan Tuhan; namun, tak seorang pun dari orang-orang ini menganggap diri mereka sebagai sosok istimewa atau anggota dari kelompok khusus. Di antara orang-orang ini, ada yang secara pribadi melihat Tuhan menampakkan diri dalam api yang menyala, ada yang mendengar perkataan Tuhan dengan telinganya sendiri, ada yang mendengar firman Tuhan yang disampaikan oleh para utusan, sedangkan yang lainnya secara pribadi menerima ujian dari Tuhan. Adakah di antara mereka yang Tuhan pandang berbeda dari manusia biasa? (Tidak.) Tidak. Tuhan tidak memandangnya demikian. Namun, jika engkau memahaminya seperti itu dan selalu menganggap dirimu sendiri sebagai sosok istimewa, watak macam apa yang kaumiliki? (Watak antikristus.) Itu benar-benar watak antikristus, dan itu mengerikan! Sekalipun Tuhan meletakkan tangan-Nya di atas kepalamu dan memberimu kuasa untuk melakukan mukjizat dengan dukungan kuasa ilahi atau menyelesaikan tugas tertentu, tetap saja engkau akan selalu menjadi manusia; engkau tidak dapat menjadi perwujudan kebenaran. Apa maksudnya? Itu berarti engkau tidak akan pernah berhak menggunakan nama Tuhan untuk menentang kebenaran dan bertindak sesuka hatimu, itu adalah perilaku penghulu malaikat. Terkadang, Tuhan menggunakan metode khusus atau saluran khusus untuk memberi kepercayaan kepada orang-orang tertentu untuk melakukan hal-hal khusus, melaksanakan pekerjaan khusus, maupun menyampaikan peristiwa atau tugas khusus. Hal itu karena Tuhan percaya bahwa orang-orang ini mampu mengemban pekerjaan tersebut, mereka dapat menyelesaikan pekerjaan yang Tuhan percayakan kepada mereka, dan mereka layak mendapatkan kepercayaan Tuhan, tidak lebih. Sekalipun mereka secara pribadi telah diberi amanat oleh Tuhan sendiri, telah mendengar perkataan dari mulut Tuhan, atau telah berbicara dengan Tuhan, mereka tidak akan menjadi apa pun yang berbeda dari orang kebanyakan; juga tidak akan ditinggikan dari makhluk ciptaan biasa menjadi makhluk ciptaan yang unik atau unggul. Itu tidak akan pernah terjadi. Oleh karena itu, di tengah-tengah umat manusia, di rumah Tuhan, seistimewa apa pun hal-hal tertentu seperti bakat, identitas, status, pengalaman, atau pelajaran yang orang miliki, semua itu tidak bisa diubah menjadi perwujudan kebenaran. Jika orang dengan begitu sembarangan berpura-pura sebagai perwujudan kebenaran, orang itu sudah pasti adalah antikristus. Meskipun ada orang yang sesekali memperlihatkan watak seperti itu, mereka masih dapat menerima kebenaran dan bertobat. Orang-orang semacam ini memiliki watak antikristus dan menempuh jalan antikristus; mereka masih memiliki harapan untuk diselamatkan. Namun, jika seseorang selalu berpura-pura sebagai perwujudan kebenaran, terus menganggap bahwa mereka benar, dan tidak mau bertobat, berarti mereka adalah antikristus sejati. Siapa pun yang merupakan antikristus tidak akan menerima kebenaran sedikit pun. Sekalipun mereka disingkapkan dan disingkirkan, mereka tetap tidak mampu mengenal diri sendiri dan juga tidak dapat sungguh-sungguh menyesal. Ada pemimpin dan pekerja yang hanya memiliki watak antikristus. Prinsip yang menjadi dasar tindakan mereka dan jalan yang mereka pilih sama dengan prinsip dan jalan antikristus. Mereka juga tidak memiliki kerasionalan dan tidak memahami kebenaran, tidak mengetahui natur dan akibat dari tindakan mereka, serta bertindak secara sembrono. Namun, yang membedakan mereka adalah bahwa di antara mereka, ada orang-orang yang masih bisa menerima beberapa perkataan-Ku. Perkataan-Ku masih dapat memacu mereka dan menjadi peringatan bagi mereka. Meskipun mereka memiliki watak antikristus, mereka masih dapat menerima sedikit kebenaran; mereka masih dapat menerima sedikit pemangkasan, mereka dapat sungguh-sungguh menyesal dan bertobat hingga taraf tertentu. Inilah yang membedakan mereka dari antikristus. Mereka adalah orang-orang yang hanya memiliki watak antikristus. Ada kesamaan antara memiliki esensi natur antikristus dan memiliki watak antikristus. Pada dasarnya, keduanya sama; ciri-ciri yang sama antara antikristus dan seseorang yang memiliki watak antikristus adalah bahwa keduanya memiliki watak antikristus. Namun, beberapa dari orang-orang ini bisa menerima kebenaran dan memperlihatkan penyesalan yang nyata. Orang semacam ini bukanlah antikristus, melainkan seseorang yang memiliki watak antikristus. Inilah perbedaan antara antikristus dan orang yang memiliki watak antikristus. Siapa pun yang tidak dapat menerima sedikit pun kebenaran dan tidak memperlihatkan penyesalan yang sesungguhnya adalah antikristus sejati. Siapa pun yang dapat menerima kebenaran dan benar-benar menyesal adalah orang yang memiliki watak antikristus dan dapat diselamatkan. Engkau harus mampu membedakan dua macam orang ini dengan jelas dan tidak boleh begitu saja membuat penilaian. Orang macam apa engkau semua? Ada orang-orang yang mungkin berkata, "Mengapa aku merasa sama seperti antikristus? Sepertinya aku tidak ada bedanya dengan mereka." Perasaan ini tepat, memang tidak ada perbedaan yang jelas. Jika engkau dapat menerima kebenaran dan memperlihatkan penyesalan yang sungguh-sungguh, itulah satu-satunya hal yang membedakan; itu juga merupakan perbedaan dalam hal kemanusiaan. Artinya, antikristus adalah orang jahat. Di sisi lain, orang yang memiliki watak antikristus bukanlah orang jahat; mereka hanya memiliki watak yang rusak. Itulah satu-satunya perbedaannya. Tidak ada perbedaan dalam watak mereka yang rusak. Dalam hal ini, mereka semua sama; ini adalah kesamaan yang mereka semua miliki. Berbagai kondisi manusia yang rusak yang disingkapkan oleh firman Tuhan ini sepenuhnya akurat dan tidak sedikit pun menyimpang dari kenyataan. Ketika umat pilihan Tuhan membaca firman Tuhan, mereka semua memiliki perasaan yang sama; mereka semua memiliki pemahaman yang sama, dan yang membedakan hanyalah kedalaman pengalaman mereka. Mereka semua mengakui bahwa mereka congkak dan tidak bernalar. Mereka semua mampu menyadari bahwa mereka memiliki terlalu banyak watak yang rusak, bahwa Iblis telah merusak umat manusia sedemikian dalamnya, dan bahwa tidak mudah bagi Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia. Terlepas dari banyaknya pembahasan itu, masih ada hal lain yang perlu disampaikan. Mereka semua menyadari bahwa manusia itu miskin, menyedihkan, buta, dan bodoh. Mereka semua mengetahui bahwa Iblislah yang telah merusak umat manusia sedemikian dalamnya, bahwa sumber penyebab kerusakan dan kejahatan umat manusia adalah perusakan dan kendali Iblis terhadap umat manusia. Setelah dirusak oleh Iblis, umat manusia menjadi tercemar oleh racun Iblis, sehingga mereka menumbuhkan watak Iblis dan kehilangan kerasionalan, hati nurani, dan nalar manusia yang normal. Orang-orang tidak mampu membedakan antara yang benar dan yang salah. Jika Tuhan tidak menetapkan hukum bagi umat manusia, orang-orang tidak akan tahu apakah memukul atau membunuh orang itu benar atau salah; atau apakah mencuri atau seks bebas itu benar atau salah. Mereka akan beranggapan bahwa tindakan mereka dibenarkan dan mereka harus bertindak dengan cara seperti itu. Namun, setelah Tuhan menetapkan hukum dan perintah, manusia menjadi sadar bahwa perbuatan-perbuatan tersebut adalah dosa; kerasionalan mereka menjadi sedikit lebih normal. Tentu saja, itu hanya tingkat kerasionalan yang paling dangkal, yang dengan sendirinya akan menjadi lebih dalam setelah mereka memahami kebenaran. Sekarang, jika orang-orang mampu memahami berbagai kebenaran lebih lanjut, mengenali diri mereka sendiri, menemukan tempat yang tepat, dan dengan akurat mengukur taraf kualitas, wawasan, dan kemampuan mereka sendiri dalam memahami kebenaran, dan jika mereka juga mampu menggunakan kebenaran sebagai standar dan mengandalkan firman Tuhan untuk memahami hal-hal seperti mana sikap manusia yang rusak terhadap Tuhan yang merupakan sikap positif dan mana yang merupakan sikap negatif, dan mana yang merupakan gagasan serta imajinasi, dan mana yang sesuai dengan kebenaran, maka kerasionalan mereka akan menjadi jauh lebih normal. Oleh karena itu, hanya kebenaranlah yang bisa memberi manusia kehidupan yang baru. Namun, jika engkau membekali diri dengan pengetahuan, menekankan praktik-praktik tertentu, dan selalu pamer, selalu menonjolkan dirimu sendiri, dan selalu memamerkan sedikit pengetahuan atau pelajaran yang tidak jelas dan tidak seberapa penting tersebut, serta tidak mengejar kebenaran, akankah engkau mampu memperoleh kehidupan baru tersebut? Tidak, itu hanya khayalan. Engkau bukan hanya tidak akan memperolehnya, engkau juga akan kehilangan kesempatan untuk diselamatkan, dan itu sangatlah berbahaya!
Masing-masing dari engkau semua telah mendengarkan banyak khotbah tentang kebenaran dan engkau kini kurang lebih mampu mengenali berbagai macam orang. Meskipun engkau mampu membedakan orang jahat dan orang keji, engkau tetap tidak mampu membedakan pemimpin palsu dan antikristus. Kini, rumah Tuhan berangsur-angsur mengeluarkan orang-orang yang tidak menerima kebenaran sedikit pun, yang masih bertindak secara sembrono dan mengganggu serta mengacaukan pekerjaan rumah Tuhan dari gereja. Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan Tuhan telah mencapai tahap ini, dan umat pilihan Tuhan mulai bangkit. Ketika Aku berinteraksi dengan orang-orang tertentu di masa lalu, Aku selalu merasa ada semacam "aroma" yang berasal dari diri mereka. Aroma seperti apa? Itu sama seperti aroma binatang buas dan hewan liar yang meraung dan bulunya meremang sebelum ada yang ingin mendekati mereka. Manusia juga memperlihatkan perilaku tertentu seperti binatang. Bagaimana perilaku ini muncul? Perilaku ini muncul dari watak Iblis yang rusak yang manusia miliki. Apa yang Kumaksud dengan "aroma"? Maksud-Ku adalah engkau tidak melihat ketulusan ketika engkau menatap mata mereka; sebaliknya, engkau bertemu dengan tatapan kosong yang tidak fokus. Mereka merasa tidak mampu menilai dirimu, sehingga sorot mata mereka tidak fokus saat menatapmu. Engkau juga tidak bisa mendeteksi kejujuran dalam kata-kata yang mereka ucapkan, karena tidak ada sedikit pun kejujuran di lubuk hati mereka. Apa maksud-Ku ketika Aku mengatakan bahwa mereka tidak memiliki kejujuran? Maksud-Ku, dengan siapa pun mereka berinteraksi, terdapat suatu penghalang pertahanan di lubuk hati mereka. Engkau bisa melihat penghalang pertahanan ini dari sorot mata, cara bicara, dan dari nada suara mereka. Seperti itulah aroma mereka; itu membuat orang merasa bahwa meskipun mereka telah mendengar banyak khotbah, mereka masih belum memahami kebenaran, juga belum menempuh jalan keselamatan. Tidak peduli bagaimana engkau bersekutu dengan mereka tentang kebenaran atau menyingkapkan watak rusak umat manusia; setulus apa pun engkau memperlakukan mereka, memenuhi kebutuhan mereka, menggembalakan, atau membantu mereka, engkau tidak akan mendapatkan sikap yang tulus dari mereka. Jadi, apa yang ada dalam diri mereka? Kewaspadaan, keragu-raguan; semua itulah yang paling umum; terlebih lagi, ada juga semacam perlindungan diri dan keinginan untuk selalu dihormati. Oleh karena itu, semua perkataan, tatapan mata, dan ekspresi wajah mereka memperlihatkan sesuatu yang sangat tidak wajar. Artinya, apa yang kaulihat dari sorot mata dan ekspresi mereka berbeda dari apa yang mereka pikirkan di lubuk hati mereka. Singkatnya, terlepas dari apakah orang itu penakut, atau waspada, atau mengalami kesulitan dalam diri mereka, jika engkau tidak dapat melihat kejujuran mereka, bukankah hal itu bermasalah? (Ya.) Itu bermasalah. Jadi, bagaimana kita bisa tahu? Kita bisa tahu dari perilaku dan cara mereka berbicara. Mereka tidak mengatakan apa yang ada dalam pikiran mereka; sebaliknya, mereka memilih kata-kata yang mereka anggap tepat dan bersekutu denganmu tentang hal-hal yang sudah mereka pertimbangkan. Ini adalah taktik membela diri orang tidak percaya. Setiap kali ada hal yang menimpa mereka, bulu mereka meremang terlebih dahulu layaknya landak, untuk melindungi diri mereka sendiri. Kenyataan diri, kemampuan dan bakat mereka, serta kesalahan yang telah mereka perbuat, kebingungan mereka, bahkan tipu muslihat dan kemunafikan mereka, semuanya terbungkus dalam duri, tersembunyi dari dunia luar, bahkan tersembunyi dari-Ku. Mereka berupaya sekuat tenaga untuk menutupi, mengemas diri, dan juga melindungi diri mereka. Dari mana hal-hal ini berasal? Umat manusia memperoleh hal-hal ini setelah dirusak oleh Iblis. Pada mulanya, setelah Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, Dia membimbing mereka untuk tinggal di Taman Eden; Dia memberi tahu mereka buah dari pohon mana yang boleh dimakan, dan buah mana yang tidak boleh dimakan. Mereka telanjang dan tidak malu di hadapan Tuhan. Lalu, apa pendapat mereka tentang hal ini? Mereka beranggapan bahwa begitulah cara Tuhan menciptakan mereka, bahwa mereka memiliki semua yang telah Tuhan berikan, dan mereka tidak perlu bersembunyi dari Tuhan; mereka tidak pernah berpikir untuk melakukannya. Oleh karena itu, tidak soal bagaimana mereka tampil di hadirat Tuhan, mereka selalu tulus. Engkau dapat melihat ketulusan di mata mereka; tidak ada pertahanan atau tembok pelindung terhadap Tuhan di dalam hati mereka. Mereka tidak perlu melindungi diri di hadapan Tuhan karena di lubuk hatinya, mereka tahu bahwa Tuhan tidak membawa ancaman bagi mereka; mereka benar-benar aman. Tuhan hanya akan melindungi, mengasihi, dan menghargai mereka. Tuhan tidak akan pernah menyakiti mereka. Ini adalah pemikiran yang paling mendasar dan kokoh di lubuk hati mereka. Namun, kapan hal ini mulai berubah? (Ketika mereka makan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan jahat.) Sebenarnya, makan dari pohon pengetahuan yang baik dan jahat hanyalah simbolis. Itu berarti bahwa, semenjak Iblis pertama kali membujuk Hawa, mereka sedikit demi sedikit mulai terbujuk oleh Iblis, melakukan dosa, melakukan hal-hal yang salah, dan menempuh jalan yang salah; kemudian, racun Iblis memasuki diri mereka. Tak lama kemudian, sebelum Tuhan datang, mereka sering bersembunyi dari Tuhan, tidak ingin Tuhan menemukan mereka. Mengapa mereka melakukan hal ini? Mereka merasa jauh dari Tuhan. Bagaimana jarak tersebut muncul? Karena mereka memiliki sesuatu yang berbeda di dalam diri mereka. Iblis memberi mereka pemikiran dan pandangan tertentu; Iblis menawari mereka semacam kehidupan, yang membuat mereka ragu dan waspada terhadap Tuhan. Kemudian dalam sekejap, mereka mulai bertanya-tanya apakah Tuhan akan menertawakan mereka ketika melihat mereka telanjang. Dari mana gagasan ini berasal? (Dari Iblis.) Mengapa mereka tidak berpikir demikian sebelum Iblis membujuk mereka? Sebelumnya, mereka memiliki kehidupan yang paling primitif yang diberikan oleh Tuhan; mereka tidak khawatir Tuhan akan menertawakan mereka, juga tidak memiliki pemikiran seperti itu. Namun, setelah terbujuk oleh Iblis, segalanya mulai berubah. Awalnya, mereka berpikir, "Kita tidak mengenakan apa-apa. Tidakkah Tuhan akan menertawakan kita? Apakah ini berarti kita tidak tahu malu?" Serangkaian pertanyaan muncul di benak mereka. Setelah pemikiran tersebut muncul, mau tidak mau mereka pun bersembunyi dari Tuhan. Tentu saja mereka berpikir, "Kapan Tuhan akan datang? Jika Tuhan benar-benar datang, apa yang harus kulakukan? Aku harus cepat-cepat bersembunyi!" Mereka merasakan keharusan untuk selalu bersembunyi. Apakah ini watak yang rusak? (Ya.) Bujukan Iblis adalah sumber dari watak yang rusak ini. Ketika bersikap waspada dan bersembunyi dari Tuhan, akankah mereka tetap percaya kepada Tuhan di dalam hati mereka? Akankah mereka masih mengandalkan-Nya? (Tidak.) Jadi, apa yang tersisa? (Kewaspadaan.) Yang tersisa hanyalah kewaspadaan dan kecurigaan, serta jarak, ketakutan, dan keraguan; semua itu muncul. Mereka bahkan berpikir, "Akankah Tuhan menyakiti kami? Kami telanjang dan tidak memiliki apa pun untuk membela diri kami. Mungkinkah Tuhan menyerang kami? Mungkinkah Dia membunuh kami?" Tak pernah terlintas di benak mereka bahwa Tuhan-lah yang telah memberikan kehidupan kepada mereka, dan Dia sudah pasti tidak akan membunuh mereka dengan begitu mudahnya. Pikiran mereka kabur, mereka menjadi bingung. Perusakan Iblis terhadap umat manusia tetap berlangsung hingga sekarang; sikap umat manusia terhadap Tuhan dapat dilihat dari mata manusia, dan tidak pernah berubah. Ketulusan mereka sirna; iman sejati, kepercayaan, dan ketergantungan mereka akan Tuhan sirna. Di mana akar dari hal ini berada? (Perusakan Iblis.) Betul, itu bersumber dari perusakan Iblis. Iblis sudah merusak umat manusia sedemikian buruknya! Meskipun manusia mungkin beranggapan bahwa masa ketika Iblis belum merusak manusia adalah masa yang sangat baik, kenyataannya, jika dibandingkan dengan masa setelah mereka diselamatkan, memahami kebenaran, serta mengenal Tuhan, segala sesuatu pada masa itu tetaplah tidak sebaik setelah mereka diselamatkan. Jika bisa memilih, dari skenario tersebut, manakah yang akan engkau semua pilih? (Masa setelah diselamatkan.) Sebenarnya, tidaklah pantas bagi manusia untuk memilih salah satunya; manusia tidak bisa memilih. Itu telah ditetapkan oleh Tuhan, dan itu adalah nasib manusia. Sebelum dirusak oleh Iblis, meskipun manusia percaya dan mengandalkan Tuhan, umat manusia pertama tidak memahami kebenaran dan tidak mengetahui siapa itu Tuhan. Kini, manusia setidaknya memiliki suatu konsep tentang hal ini; mereka tahu bahwa umat manusia berasal dari Tuhan, bahwa mereka adalah makhluk ciptaan, dan bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta. Mereka tahu bahwa Tuhan-lah yang mengendalikan segalanya. Namun, manusia pada waktu itu tidak memahami hal-hal ini. Mereka begitu sederhana; artinya, mereka tidak khawatir apakah Tuhan melihat atau menertawakan mereka, dan mereka akan berpaling pada Tuhan dalam segala hal. Sesederhana itulah kepercayaan mereka pada waktu itu. Namun, apakah mereka tahu siapa Tuhan itu? Tidak. Oleh karena itu, semua pekerjaan yang telah Tuhan lakukan memiliki nilai yang mendalam dan makna yang sangat penting bagi umat manusia. Semua itu baik. Ketika kita berbicara tentang sejarah pemberontakan umat manusia terhadap Tuhan, apakah engkau semua merasa cukup sedih? Hubungan antara manusia dan Tuhan yang dulunya sangat erat kini menjadi begitu renggang. Tuhan dengan tulus melindungi dan mengasihi manusia, tetapi manusia meragukan Tuhan; mereka bersembunyi dan menjauh dari Tuhan, bahkan memandang Tuhan sebagai musuh. Menceritakan hal ini saja sungguh sangat menyedihkan. Namun, kita hanya bisa mengarahkan kebencian kita terhadap Iblis; Iblislah yang telah merusak umat manusia sedemikian dalamnya. Meskipun Iblis telah merusak manusia hingga taraf tersebut, Tuhan memiliki cara untuk menyelamatkan umat manusia. Sebesar apa pun perusakan Iblis, itu tidak akan memengaruhi pekerjaan Tuhan dalam menyelamatkan umat manusia. Inilah kemahakuasaan Tuhan, otoritas Tuhan.
Antikristus berpura-pura menjadi perwujudan kebenaran setelah mereka memperoleh sedikit pengalaman dan pengetahuan, serta mendapat sejumlah pelajaran. Kita sudah cukup banyak mempersekutukan topik ini. Informasi apa yang telah engkau semua peroleh dari persekutuan ini? Apa kebenaran yang kaupahami? (Kami tidak boleh mementingkan pengetahuan.) Ini adalah salah satu aspeknya. Ada yang lain? (Manusia tidak akan pernah menjadi kebenaran dan tidak boleh berpura-pura menjadi Tuhan.) Pada hakikatnya, berpura-pura menjadi kebenaran bukanlah hal yang positif. Tidak ada seorang pun yang dapat berpura-pura menjadi kebenaran. Kebenaran adalah esensi Tuhan. Tuhan memberimu sedikit kebenaran, dan memperoleh sedikit kebenaran itu sudah cukup baik bagimu. Namun, ada orang yang ingin menjadi perwujudan kebenaran. Itu mustahil. Klaim semacam ini sungguh tidak berdasar. Terlebih lagi, jika manusia ingin diselamatkan dengan percaya kepada Tuhan, mereka harus belajar berperilaku bersahaja dan tidak mengejar kesempurnaan. Meskipun kata "kesempurnaan" mungkin saja ada, ide tentang makhluk ciptaan menjadi sempurna tidak dapat dipertahankan. Kesempurnaan hanya dapat ditemukan dalam diri Tuhan. Di antara manusia, yang penuh dengan kerusakan, siapa yang sempurna? Segala hal yang Tuhan ciptakan itu tak bercela. Inilah yang kita sebut "kesempurnaan". Lihatlah ikan di laut, burung-burung di langit, unggas dan binatang buas yang menjelajahi bumi; semuanya sempurna. Bisakah engkau menemukan satu pun yang tidak baik? Lalu, ada rantai biologis yang terbentuk dari semua makhluk hidup; betapa sempurnanya itu! Manusia yang rusak hanya bisa menimbulkan kerusakan, membuat rantai tersebut tidak lagi sempurna, rusak, dan tidak memadai. Sungguh egois dan tercela! Segala hal yang Tuhan ciptakan itu baik. Dedaunan di pepohonan diciptakan dengan berbagai bentuk; binatang, baik kecil maupun besar, diciptakan dalam berbagai bentuk, masing-masing memiliki fungsinya sendiri. Tuhan sangat memikirkan umat manusia; namun, manusia, yang dirusak oleh Iblis, telah gagal memelihara segala hal. Sebaliknya, umat manusia telah merusak segala hal dan menyia-nyiakan maksud Tuhan yang sungguh-sungguh. Manusia tidak menghargai semua itu; sebaliknya, mereka telah merusaknya dengan begitu parah, membuang-buang, dan merusak semua sumber daya secara ekstrem. Lalu apa akibat dari hal ini? Apa hasil akhirnya? Apa yang mereka tanam, itulah yang mereka tuai! Lingkungan rusak, rantai makanan terganggu, udara tercemar, dan air terkontaminasi. Tak ada lagi makanan alami; bahkan tidak ada air bersih untuk diminum. Oleh karena itu, konsep "kesempurnaan" tidak ada dalam diri manusia yang telah dirusak oleh Iblis. Siapa pun yang mengaku sempurna atau mencari kesempurnaan dengan dalih mengejar kebenaran, orang itu membuat klaim yang tak masuk akal, itu adalah kebohongan yang menipu dan menyesatkan. Meski begitu, manusia yang rusak tersebut ingin berpura-pura menjadi perwujudan kebenaran! Mereka sudah melakukan banyak hal yang buruk, tetapi masih berpikir bahwa mereka bisa berpura-pura menjadi perwujudan kebenaran! Bukankah hal ini berarti bahwa natur Iblis dalam diri mereka tidak berubah? (Ya.) Meskipun tidak memiliki kebenaran sama sekali, mereka masih tetap ingin berpura-pura menjadi perwujudan kebenaran; orang-orang yang memiliki natur Iblis semacam ini sungguh tidak tahu malu!
20 November 2019