Lampiran Satu: Apa Arti Kebenaran
Mari kita nyanyikan lagu pujian ini: Semua Ciptaan Harus Berada di Bawah Kekuasaan Tuhan
1 Tuhan menciptakan segala sesuatu, dan dengan demikian, Dia membuat semua ciptaan berada di bawah kekuasaan-Nya dan tunduk pada kekuasaan-Nya; Dia akan memerintah segala sesuatu, sehingga segala sesuatu berada di tangan-Nya. Semua ciptaan Tuhan, termasuk binatang dan tumbuhan, umat manusia, gunung-gunung dan sungai-sungai, serta danau-danau—semua harus berada di bawah kekuasaan-Nya. Semua benda di angkasa dan di atas tanah harus berada di bawah kekuasaan-Nya. Semua ciptaan itu tak bisa punya pilihan lain dan harus tunduk pada pengaturan-Nya. Hal ini ditetapkan oleh Tuhan, dan merupakan otoritas-Nya.
2 Tuhan memerintah segala sesuatu, dan mengatur serta mengurutkan segalanya, masing-masing dikelompokkan berdasarkan jenisnya, dan diberikan posisinya sendiri, sesuai dengan hasrat Tuhan. Sebesar apa pun sesuatu, tak ada sesuatu apa pun yang dapat melampaui Tuhan, segala sesuatu melayani manusia yang diciptakan oleh Tuhan, dan tiada sesuatu pun yang berani untuk memberontak terhadap Tuhan atau mengajukan tuntutan kepada Tuhan. Oleh karena itu, manusia sebagai makhluk ciptaan, juga harus memenuhi tugasnya sebagai manusia. Entah ia tuan ataukah pengurus segala sesuatu, setinggi apa pun status manusia di antara segala sesuatu, ia tetap hanyalah manusia kecil, dan tak lebih dari manusia yang tak penting, tak lebih dari makhluk ciptaan, dan ia tak akan pernah berada di atas Tuhan.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Keberhasilan atau Kegagalan Tergantung pada Jalan yang Manusia Jalani"
Kebenaran apakah yang terkandung dalam lagu "Semua Ciptaan Harus Berada di Bawah Kekuasaan Tuhan"? Baris mana yang adalah kebenaran? (Semua barisnya adalah kebenaran.) Apa bunyi baris terakhirnya? ("Setinggi apa pun status manusia di antara segala sesuatu, ia tetap hanyalah manusia kecil, dan tak lebih dari manusia yang tak penting, tak lebih dari makhluk ciptaan, dan ia tak akan pernah berada di atas Tuhan.") Manusia tidak akan pernah bisa berada di atas Tuhan. Makhluk ciptaan tidak akan pernah bisa berada di atas Tuhan. Segala sesuatu selain Tuhan adalah makhluk ciptaan. Manusia tidak akan pernah bisa berada di atas Tuhan; itu adalah kebenaran. Dapatkah kebenaran itu berubah? Akankah itu berubah di akhir zaman? (Tidak.) Itulah kebenarannya. Siapa yang dapat mengatakan kepada-Ku apa itu kebenaran? (Kebenaran adalah standar untuk perilaku, tindakan, dan penyembahan manusia kepada Tuhan.) Kita telah bersekutu dua kali tentang topik "apa arti kebenaran", jadi mari kita bahas tentang yang dimaksud dengan standar. Yang penting di sini adalah standarnya. (Standar adalah prinsip-prinsip, hukum-hukum, dan aturan-aturan yang baku dan akurat. Dasar dari standar adalah firman Tuhan.) Apakah ada lagi yang ingin menambahkan? (Standar adalah prinsip-prinsip, hukum-hukum, dan aturan-aturan yang paling baku dan akurat, yang berasal dari firman Tuhan.) Di sini terdapat penambahan kata "paling", tetapi apakah kata "paling" itu diperlukan? Apa bedanya antara menambahkan dan tidak menambahkan kata "paling"? Jika suatu hal dikatakan "paling", itu berarti bahwa ada yang nomor dua, nomor tiga, dan seterusnya di bawahnya. Apa pendapatmu tentang penambahan kata "paling" itu? (Tidak cocok, karena kebenaran adalah satu-satunya standar. Ketika kata "paling" ditambahkan, itu menyiratkan adanya sifat relatif karena ada hal-hal lain yang berperingkat dua atau tiga di bawahnya.) Apakah penjelasan itu akurat? (Ya.) Penjelasan itu memang masuk akal. Jika engkau semua memiliki pandangan dan pemahaman yang akurat tentang "apa arti kebenaran" dan memahami dengan jelas bahwa Tuhan adalah kebenaran, engkau semua dapat memahami apakah kata "paling" itu harus ditambahkan, apakah penambahan kata itu tepat, apa bedanya jika kata itu ditambahkan, apa artinya jika itu tidak ditambahkan, dan apa artinya jika itu ditambahkan. Kini, jelaslah sudah bahwa tidak menambahkan "paling" adalah tindakan yang tepat. Kesalahan apakah yang dibuat oleh seseorang yang menambahkan kata itu? Menurutnya, tidak soal aspek Tuhan yang mana yang sedang dijabarkan, kata "paling" harus ditambahkan. Di mana letak kesalahannya jika dia melakukan pembandingan seperti itu? Pernyataan atau kebenaran Tuhan manakah yang telah disanggah? (Karena makhluk ciptaan tidak akan pernah bisa berada di atas Tuhan, penambahan kata "paling" mengisyaratkan adanya sistem peringkat antara makhluk ciptaan dan Tuhan.) Betulkah itu? (Ya.) Itu masuk akal, itu dapat dijelaskan dengan cara demikian. Apakah ada pernyataan lain yang dapat menegaskan bahwa penambahan kata "paling" bukanlah hal yang tepat? (Aku teringat sesuatu, yaitu bahwa kebenaran hanya dapat berasal dari Tuhan, dan hanya Tuhanlah kebenaran, sehingga tidak mungkin ada pernyataan relatif seperti "kedua terbenar", "ketiga terbenar", dan seterusnya.) Penjelasan itu juga benar. (Kebenaran adalah standar untuk perilaku, tindakan, dan penyembahan manusia kepada Tuhan. Karena hukum, aturan, dan standar hanya dapat berasal dari Tuhan, manusia tidak memiliki standar atau hukum untuk perbuatan mereka, dan mereka juga tidak dapat menetapkan aturan untuk mereka sendiri, sehingga tidak perlu ada penambahan kata "paling".) Penjelasan itu sedikit lebih nyata. Ada lagi yang lain? (Otoritas dan esensi Tuhan unik. Esensi Tuhan adalah kebenaran, dan tidak ada hal apa pun yang dapat dibandingkan dengannya. Penambahan kata "paling" menimbulkan kesan bahwa kebenaran tidak unik lagi.) Bagaimana dengan pernyataan itu? (Bagus.) Bagusnya di mana? (Pernyataan itu menunjukkan bahwa Tuhan unik.) "Unik"—engkau semua melupakan istilah itu. Tuhan itu unik. Dapatkah standar-standar yang disampaikan dalam setiap kalimat yang Tuhan ucapkan serta dalam setiap tuntutan Tuhan terhadap manusia ditemukan di tengah umat manusia? (Tidak.) Apakah pengetahuan, budaya tradisional, atau pemikiran umat manusia mengandung hal-hal itu? (Tidak.) Dapatkah mereka menghasilkan kebenaran? Tidak. Oleh karena itu, penambahan kata "paling" menyiratkan adanya sistem peringkat kedua, ketiga, dan seterusnya; membedakan posisi yang tinggi, rendah, dan lebih rendah lagi; serta membagi segala hal ke dalam tingkat pertama, kedua, ketiga .... Artinya, segala hal yang benar dapat menjadi standar berdasarkan sistem urutan tertentu. Dapatkah hal itu dipahami dengan cara demikian? (Ya.) Jadi, apa salahnya dengan penambahan kata "paling"? Itu mengubah firman dan kebenaran Tuhan menjadi sesuatu yang relatif, hanya relatif lebih tinggi daripada pengetahuan, falsafah, dan hal-hal benar lain yang berlaku di tengah umat manusia yang telah Dia ciptakan. Hal itu membagi kebenaran ke dalam tingkatan-tingkatan. Akibatnya, hal-hal benar di tengah manusia yang rusak juga menjadi kebenaran. Terlebih lagi, hal-hal itu juga menjadi standar bagi perbuatan dan perilaku manusia—hanya saja tingkatannya lebih rendah. Misalnya, hal-hal seperti tata krama, kesopanan, kebaikan manusia, dan sejumlah hal baik lain yang melekat pada diri manusia sejak lahir menjadi standar—artinya, hal-hal itu menjadi apa? (Kebenaran.) Itu semua menjadi kebenaran. Lihatlah, penambahan kata "paling" mengubah natur dari standar itu. Begitu natur standar itu berubah, tidakkah definisi Tuhan berubah juga? (Ya.) Definisi Tuhan menjadi apa? Dalam definisi itu, Tuhan tidaklah unik; otoritas, kuasa, dan esensi Tuhan tidaklah unik. Tuhan hanyalah suatu peran yang memiliki kuasa dan otoritas tertinggi di antara umat manusia. Orang mana pun di antara umat manusia yang memiliki kemampuan dan prestise dapat dianggap sejajar dengan Tuhan dan dapat dibicarakan dengan cara yang sama seperti Dia, hanya saja tidak setinggi atau seagung Dia. Para tokoh dan pemimpin yang bersifat cukup positif di antara umat manusia dapat diberi peringkat di bawah Tuhan dan menjadi penguasa tingkat kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya ..., dengan Tuhan sebagai bosnya. Tidakkah tafsiran yang demikian mengubah total identitas dan esensi Tuhan? Dengan penambahan satu kata saja, yaitu "paling", esensi Tuhan berubah sepenuhnya. Apakah itu bermasalah? (Ya.) Jadi, tanpa menambahkan kata "paling", dalam hal apa kata-kata ini benar? (Kata-kata itu menyatakan sebuah fakta.) Fakta apa? (Fakta bahwa Tuhan adalah kebenaran, prinsip, dasar, dan standar.) Faktanya adalah bahwa Tuhan adalah asal muasal dari semua standar ini. Tidak ada standar semacam itu di antara manusia yang rusak dan di antara makhluk ciptaan. Hanya Tuhanlah satu-satunya sumber yang mengungkapkan standar-standar itu. Hanya Tuhanlah yang memiliki esensi itu. Kenyataan dan standar dari segala hal positif hanya dapat berasal dari Tuhan. Jika seseorang mengetahui sesuatu tentang prinsip-prinsip perilaku, perbuatan, penyembahan Tuhan oleh manusia, mengetahui sesuatu tentang standar-standar, serta memahami sejumlah kebenaran, dapatkah mereka menjadi Tuhan? (Tidak.) Apakah mereka sumber kebenaran? Apakah mereka pengungkap segala kebenaran? (Bukan.) Jadi, dapatkah mereka disebut Tuhan? Tidak. Itulah perbedaan mendasarnya. Apakah engkau memahaminya? (Ya.) Meskipun Aku telah membahas topik "apa arti kebenaran" sebanyak dua kali, jawabanmu semua masih mengandung kekeliruan besar, yakni mengubah Tuhan menjadi salah satu dari makhluk ciptaan, menyetarakan makhluk ciptaan dengan Tuhan, dan menyejajarkan hubungan antara keduanya. Itu mengubah natur dari perkara ini, dan itu sama saja dengan menyangkal Tuhan. Tuhan adalah Sang Pencipta, sedangkan manusia adalah makhluk ciptaan—kedua peranan itu tidak memiliki peringkat yang sama. Namun, apa yang terjadi ketika engkau menambahkan kata "paling"? Kedua peranan itu menjadi sama dari segi esensi dan peringkat; perbedaannya hanya terletak pada yang mana yang lebih tinggi atau lebih rendah posisinya. Ketika Aku bertanya tentang hal ini secara terperinci, engkau semua berpikir di dalam hati, "Bukankah ini merendahkan kami? Kami semua orang terpelajar, jadi bagaimana mungkin kami melupakan kata-kata sependek itu? Kami dapat berbicara tentang hal itu dengan mudah, bahkan tanpa harus melihat catatan." Masalahnya terungkap begitu engkau membuka mulutmu. Setelah Aku berbicara, engkau semua membacanya beberapa kali dan masih saja tidak dapat mengulanginya secara akurat. Mengapa ini dapat terjadi? Engkau semua masih belum memahami kebenaran dalam persoalan itu. Seseorang menambahkan kata "paling", lalu berpikir, "Tidak ada di antara kalian yang menambahkan kata 'paling'. Apa kalian tidak memiliki iman yang kuat kepada Tuhan? Lihat aku, kutambahkan kata 'paling'. Itu menunjukkan bahwa aku terpelajar. Masa kuliahku tidak terbuang percuma!" Setelah dia menambahkan "paling", sebagian besar dari engkau semua tidak menyadari letak masalahnya. Sedikit di antaramu merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres, tetapi tidak dapat menjelaskannya. Setelah orang lain menjelaskannya, engkau semua memahaminya dari segi teoretis dan tahu bahwa penjelasanmu tepat. Namun, apakah engkau memahaminya dari segi kebenaran? (Tidak.) Aku bersekutu tentang letak kesalahan dari penambahan kata "paling" dan engkau memahaminya, tetapi apakah engkau sungguh memahami esensi dari persoalan itu? (Tidak.) Engkau tidak melihatnya dengan jelas. Mengapa bisa begitu? (Kami tidak memahami kebenaran.) Lalu, mengapa engkau tidak memahami kebenaran? Tidakkah engkau memahami yang Kukatakan? Jika engkau paham, bagaimana bisa engkau masih belum dapat memahami kebenaran? Ada berapa bab yang membahas topik "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik"? Sudah berapa kali engkau semua membacanya? Apakah engkau benar-benar memahami kata-kata yang tercantum di sana? (Tidak.) Engkau tidak paham, sehingga engkau mempermalukan diri sendiri hari ini. Kata-kata itu telah menyingkapkan dirimu. Betulkah demikian? (Ya.) Sudahkah engkau mempelajari apa pun darinya? Masihkah engkau bertindak berdasarkan kecerdasanmu sendiri ketika lain kali menghadapi sesuatu yang seperti itu? Engkau tidak akan berani, bukan? Jika seseorang tidak memahami kebenaran, pendidikan ataupun pengetahuan sebanyak apa pun tidak akan berguna. Jika engkau tidak terpelajar dan tidak mengetahui cara menggunakan kata "paling", engkau mungkin tidak akan menambahkannya, dan masalah ini mungkin tidak akan muncul. Setidak-tidaknya, engkau mungkin tidak akan membuat kesalahan itu dan mempermalukan diri sendiri. Namun, karena engkau terpelajar serta memahami makna dan penggunaan kata-kata tertentu, engkau menerapkannya kepada Tuhan. Akibatnya, engkau menimbulkan masalah ini serta mengubah kecerdasan menjadi kecerobohan. Jika engkau menerapkannya kepada seseorang, itu hanyalah bentuk pengidolaan dan sanjungan, yang paling-paling hanya menjijikkan. Namun, jika engkau menerapkannya kepada Tuhan, masalahnya menjadi serius. Itu akan menjadi kata yang menyangkal Tuhan, menentang Tuhan, dan mengutuk Tuhan. Itu adalah kesalahan yang cenderung diperbuat oleh manusia rusak yang tidak memiliki kebenaran. Ke depannya, berhati-hatilah agar jangan sembarangan menambahkan kata keterangan atau kata sifat. Mengapa? Karena segala hal terkait identitas, esensi, firman, dan watak Tuhan adalah aspek-aspek yang paling tidak dikuasai oleh manusia yang rusak. Pemahaman mereka tentang aspek-aspek itu adalah yang paling dangkal dan miskin. Oleh karena itu, orang yang tidak memahami kebenaran harus berhati-hati agar jangan bertindak ceroboh. Lebih baik bersikap bijaksana.
I. Analisis tentang Gagasan "Jangan Meragukan Orang yang Kaupekerjakan, dan Jangan Mempekerjakan Orang yang Kauragukan"
Ada beberapa orang yang baru saja menjelaskan definisi dan konsep kebenaran. Engkau semua memahami definisi dan konsep kebenaran, tetapi apakah engkau semua memahami apa arti kebenaran? Aku perlu menguji engkau semua dalam hal itu. Bagaimana Aku akan mengujimu? Aku akan menggunakan kelebihanmu untuk mengujimu. Dan apa saja kelebihan yang engkau semua miliki? Engkau telah akrab dengan pelajaran, perkataan, dan kosakata; dengan berbagai falsafah dan pendekatan tentang cara berinteraksi dengan orang lain yang dimiliki oleh orang dari segala kalangan; serta dengan budaya tradisional, gagasan, dan imajinasi manusia. Engkau semua juga akrab dengan berbagai hukum dan gagasan yang dijalankan oleh manusia dari segala ras, etnik, dan kebangsaan. Bukankah itu semua adalah kelebihan yang engkau miliki? Di antara segala pengetahuan itu terdapat berbagai ungkapan yang cukup baku: ada yang berupa peribahasa, pepatah, atau istilah sehari-hari yang menarik dan umum digunakan oleh masyarakat umum. Tanyailah dirimu sendiri: hal-hal apa yang begitu sering dipikirkan dan dipandang secara mendalam oleh orang sehingga dijadikan sebuah ungkapan? Pertama-tama, mari kita analisis sejumlah pepatah, ungkapan, dan hukum, serta pendekatan manusia terhadap urusan duniawi dan gagasan tradisional sehingga kita dapat memahami apa arti kebenaran. Kita akan membahas apa arti kebenaran yang sebenarnya dari sudut pandang negatif. Apakah itu pendekatan yang baik? (Ya.) Jadi, berilah satu contoh sebagai permulaan. (Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan.) Tepatkah pernyataan itu? (Tidak.) "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan." Mari kita bersekutu tentang yang satu ini terlebih dahulu. Silakan jelaskan arti dari pepatah ini. (Artinya, engkau harus memercayai orang yang kaupekerjakan tanpa bersikap waspada terhadap mereka. Jika engkau tidak memercayai seseorang, jangan mempekerjakan mereka.) Itu adalah tafsiran harfiahnya. Pertama-tama, katakan kepada-Ku, apakah sebagian besar orang di dunia setuju dengan pepatah itu, atau tidak? (Setuju.) Mereka setuju dengan pepatah itu. Dapat dikatakan bahwa sebagian besar orang di masyarakat ini menerapkan pepatah "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan" sebagai prinsip dalam mempekerjakan orang lain dan mereka mematuhi prinsip ini dalam cara mereka memperlakukan orang. Jadi, adakah unsur yang tepat dalam pepatah ini? (Tidak ada.) Jadi, mengapa sebagian besar orang yang tidak percaya menganggapnya tepat serta menerima dan menerapkannya tanpa ragu? Apa yang mendorong mereka untuk bersikap demikian? Mengapa mereka mengatakannya? Ada orang yang berkata, "Jika ingin mempekerjakan seseorang, engkau tidak boleh meragukan dia; engkau harus memercayainya. Engkau harus percaya bahwa dia memiliki bakat dan karakter yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan itu, dan bahwa dia akan loyal kepadamu. Jika engkau meragukan dia, jangan mempekerjakan dia. Seperti kata pepatah, 'Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan.' Pepatah itu tepat." Sebenarnya, pepatah itu tidak lain daripada perkataan jahat yang menyesatkan. Dari manakah asalnya? Apa tujuan pepatah itu? Ada konspirasi apa di balik pepatah itu? (Tuhan, aku ingat bahwa dalam persekutuan terakhir disebutkan bahwa ada sejumlah orang yang, jika mereka tidak mau orang lain terlibat dalam pekerjaan mereka, akan berkata, "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan." Maksud mereka yang sebenarnya adalah, "Karena engkau telah memberiku pekerjaan ini dan menggunakanku, engkau tidak boleh terlibat dalam pekerjaanku. Engkau tidak boleh ikut campur.") Watak seperti apakah yang dimiliki oleh orang-orang yang melontarkan pepatah itu? (Watak antikristus, yaitu bertindak dengan sewenang-wenang dan menjadi hukum bagi diri mereka sendiri.) Itulah watak mereka yang sebenarnya. Apakah mereka yang menggunakan atau menciptakan pepatah itu termasuk yang mempekerjakan, atau yang dipekerjakan? Siapakah yang paling diuntungkan oleh pepatah itu? (Mereka yang dipekerjakan.) Keuntungan apakah yang mereka peroleh dari pepatah itu? Dengan terus menekankan pepatah itu kepada pemberi kerjanya, mereka sedang menanamkan pemikiran tertentu dalam diri sang pemberi kerja. Perbuatan itu menunjukkan ciri penanaman gagasan dan indoktrinasi. Perbuatan itu sama saja dengan mengatakan kepada pemberi kerja: Begitu mempekerjakan seseorang, engkau harus percaya bahwa mereka akan setia kepadamu. Engkau harus percaya bahwa mereka akan melakukan pekerjaannya dengan baik dan memiliki kemampuan untuk melakukannya. Engkau tidak boleh meragukan mereka karena keraguan akan merugikan dirimu sendiri. Jika engkau selalu mendua hati dan berpikiran untuk mengganti mereka dengan orang lain, hal itu dapat memengaruhi kesetiaan mereka kepadamu. Setelah mendengar itu, apakah sang pemberi kerja akan mudah dipengaruhi atau disesatkan dengan pepatah tadi? (Ya.) Lalu, begitu dia berhasil dipengaruhi atau disesatkan, orang yang diuntungkan adalah orang yang dipekerjakan itu. Jika sang pemberi kerja menerima cara pikir seperti itu, mereka tidak akan ragu atau curiga kepada orang yang mereka pekerjakan. Mereka tidak akan mengawasi atau menanyakan pekerjaan yang telah dilakukan orang itu, entah dia setia kepada sang pemberi kerja ataupun memiliki kemampuan untuk bekerja. Dengan demikian, orang yang dipekerjakan itu dapat lolos dari pengawasan ataupun pengamatan sang pemberi kerja, dan kemudian dapat melakukan apa pun semaunya tanpa menuruti kehendak sang pemberi kerja. Katakan kepada-Ku, ketika seorang pekerja memanfaatkan pepatah itu, apakah mereka benar-benar memiliki karakter untuk sepenuhnya setia kepada pemberi kerjanya? Apakah mereka sama sekali tidak perlu diawasi? (Tidak.) Mengapa kita dapat berkata begitu? Seluruh dunia mengakui fakta bahwa sejak zaman purbakala hingga sekarang manusia sangatlah rusak, memiliki watak yang rusak, serta sangat curang dan licik. Tidak ada orang yang jujur; bahkan orang bodoh pun berkata bohong. Fakta itu menyebabkan kesulitan besar ketika kita mempekerjakan orang lain, dan nyaris mustahil untuk menemukan orang yang layak dipercaya, apalagi yang sepenuhnya dapat diandalkan. Hal terbaik yang dapat diharapkan adalah menemukan orang yang cukup dapat dipekerjakan. Karena tidak ada orang yang layak dipercaya, lalu bagaimana mungkin kita menerapkan pepatah "jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan"? Pepatah itu tidak mungkin diterapkan karena tidak ada seorang pun yang dapat diandalkan. Jadi, bagaimana sebaiknya kita menggunakan mereka yang cukup dapat dipekerjakan? Kita hanya dapat melakukannya dengan pengawasan dan bimbingan. Orang yang tidak percaya mengutus informan dan mata-mata untuk mengawasi orang yang mereka pekerjakan untuk menjamin rasa aman bagi diri mereka sendiri. Jadi, orang zaman dahulu menipu diri sendiri ketika berkata "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan." Orang yang menciptakan istilah "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan" pun sebenarnya tidak menerapkannya sendiri. Jika benar-benar menerapkannya, mereka adalah orang tidak bijaksana, orang bodoh kelas kakap yang hanya dapat dikelabui dan dicurangi. Bukankah demikian kenyataannya? Mari kita bicarakan letak kekurangan paling besar dari pepatah "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan." Apa dasar dari pepatah "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan"? Orang yang dipekerjakan itu haruslah sepenuhnya dapat diandalkan, setia, dan bertanggung jawab. Harus ada jaminan 100% bahwa karyawan itu adalah orang yang demikian agar sang pemberi kerja dapat menerapkan pepatah "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan." Dewasa ini, orang tepercaya semacam itu tidak dapat ditemukan dan nyaris tidak ada. Artinya, pernyataan "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan" adalah omong kosong. Jika engkau memilih orang yang tidak dapat dipercaya, lalu menerapkan pepatah "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan" untuk menahan keraguanmu akan orang itu, tidakkah engkau menipu dirimu sendiri? Apakah orang yang dipekerjakan itu mampu menjadi orang yang tepercaya dan melakukan berbagai hal secara setia dan bertanggung jawab hanya karena engkau tidak meragukannya? Pada kenyataannya, mereka akan terus berperilaku menurut sifat mereka sendiri, terlepas dari keraguanmu. Jika mereka adalah orang licik, mereka akan terus melakukan hal-hal licik. Jika mereka jujur, mereka akan terus melakukan berbagai hal tanpa tipu muslihat. Itu tidak bergantung pada apakah engkau memiliki keraguan terhadap mereka atau tidak. Misalnya, katakanlah engkau mempekerjakan orang licik. Engkau tahu dalam hatimu bahwa orang itu licik, tetapi engkau berkata kepadanya, "Aku tidak meragukanmu, jadi silakan lakukan pekerjaanmu secara bertanggung jawab." Akankah orang tadi menjadi jujur dan melakukan berbagai hal tanpa tipu muslihat hanya karena engkau tidak meragukannya? Mungkinkah itu? Sebaliknya, jika engkau mempekerjakan orang jujur, akankah dia berbalik menjadi orang licik karena engkau meragukan atau tidak memahaminya? Tidak akan. Oleh karena itu, pepatah "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan" murni hanyalah upaya orang bodoh untuk menenangkan batin mereka. Itu adalah omong kosong untuk mengelabui diri sendiri. Sejauh manakah kerusakan manusia? Karena mengejar status dan kekuasaan, ayah dan anak, atau saudara kandung, saling bertikai dan saling bunuh. Ibu dan putrinya pun membenci satu sama lain karenanya. Siapa yang dapat memercayai satu sama lain? Tidak ada seorang pun yang sepenuhnya dapat diandalkan; yang ada hanya orang-orang yang cukup dapat dipekerjakan. Siapa pun yang engkau pekerjakan, satu-satunya cara untuk mencegah kesalahan adalah dengan mengamati atau mengawasi mereka. Jadi, "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan" adalah pepatah untuk menipu diri sendiri. Itu omong kosong, itu adalah kekeliruan yang tidak dapat dipercaya sama sekali. Mengapa Tuhan mengungkapkan kebenaran dan melakukan pekerjaan penghakiman untuk menyucikan dan menyelamatkan umat manusia di akhir zaman? Itu karena umat manusia telah menjadi sangat rusak. Tidak ada orang yang benar-benar tunduk kepada Tuhan, dan tidak ada seorang pun yang layak dipakai oleh Tuhan. Jadi, Tuhan berulang kali menuntut agar orang menjadi jujur. Tuhan melakukannya karena manusia amat licik. Mereka dipenuhi oleh watak rusak Iblis dan memiliki natur Iblis. Mereka tidak dapat menahan diri untuk berbuat dosa dan melakukan kejahatan, dan mereka mampu menentang dan mengkhianati Tuhan di mana pun dan kapan pun. Tidak ada di antara manusia rusak yang dapat digunakan atau dianggap terpercaya. Benar-benar sulit untuk memilih dan menggunakan seseorang dari antara umat manusia! Pertama-tama, orang tidak mungkin sepenuhnya memahami orang lain. Kedua, orang tidak dapat melihat isi hati orang lain. Ketiga, dalam keadaan khusus, bahkan lebih mustahil lagi bagi orang untuk mengendalikan atau mengatur orang lain. Mengingat semua alasan ini, menemukan orang untuk digunakan adalah hal tersulit untuk dilakukan. Oleh karena itu, pepatah "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan" sangat keliru dan sama sekali tidak nyata. Jika engkau memilih dan menggunakan seseorang atas dasar pepatah itu, itu sama saja dengan meminta untuk dikelabui. Siapa pun yang menganggap bahwa pepatah itu tepat dan benar adalah orang paling bodoh. Dapatkah pepatah itu benar-benar menyelesaikan kesulitan yang timbul dalam hal menggunakan orang lain? Tidak sama sekali. Itu hanyalah sebuah cara untuk menghibur diri sendiri, tetapi dengan menipu dan memperdaya diri sendiri.
Pada titik ini dalam persekutuan kita, apakah engkau memiliki pemahaman dasar tentang tepat atau tidaknya pepatah "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan"? Apakah pepatah itu kebenaran? (Bukan.) Jadi, apa itu? (Falsafah Iblis.) Lebih spesifiknya, pepatah itu berfungsi sebagai alasan bagi seseorang yang ingin menerobos atau membebaskan diri dari pengawasan atau pengamatan orang lain. Itu juga adalah selubung yang disebarkan oleh orang-orang jahat untuk melindungi kepentingan dan mencapai tujuan mereka sendiri. Pepatah itu adalah dalih bagi mereka yang memendam niat tersembunyi untuk berbuat semaunya. Itu juga adalah kekeliruan yang disebarluaskan oleh orang-orang semacam itu untuk membenarkan tindakan membebaskan diri dari pengawasan, pengamatan, serta penghukuman terhadap moralitas dan hati nurani. Namun, sekarang ini ada orang-orang yang percaya bahwa "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan" adalah pernyataan yang nyata dan tepat. Apakah orang semacam itu memiliki ketajaman? Apakah mereka memahami kebenaran? Apakah pikiran dan pandangan orang semacam itu bermasalah? Jika seseorang dalam gereja menyebarkan pepatah itu, dia melakukannya dengan motif tertentu dan sedang berusaha untuk menyesatkan orang lain. Dia berusaha menggunakan pepatah "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan" untuk melenyapkan kesangsian dan keraguan orang lain terhadap diri mereka. Secara tersirat, itu berarti bahwa dia ingin agar orang lain percaya bahwa dia dapat bekerja dan bahwa dia adalah orang yang dapat digunakan. Bukankah itu maksud dan tujuan orang itu? Pastilah begitu. Dia berpikir, "Engkau semua tidak pernah memercayaiku dan selalu meragukanku. Suatu hari, engkau mungkin akan menemukan masalah kecil pada diriku dan memberhentikanku. Mana bisa aku bekerja jika hal itu selalu mengganggu pikiranku?" Jadi, orang itu menyebarkan pandangan itu agar rumah Tuhan memercayai dia tanpa ragu dan membiarkan dia bekerja dengan bebas sehingga tujuan mereka tercapai. Jika seseorang benar-benar mengejar kebenaran, dia seharusnya memperlakukan pengawasan rumah Tuhan atas pekerjaannya dengan sepatutnya ketika melihatnya karena dia mengetahui bahwa pengawasan itu adalah perlindungan bagi dirinya sendiri dan, yang lebih penting lagi, juga adalah bentuk tanggung jawab atas pekerjaan rumah Tuhan. Meskipun mungkin dia memperlihatkan kerusakannya, dia dapat berdoa kepada Tuhan dan meminta-Nya untuk memeriksa dan melindunginya, atau bersumpah kepada Tuhan bahwa dia akan menerima hukuman-Nya jika berbuat jahat. Tidakkah itu akan menenangkan batinnya? Mengapa harus menyebarkan kekeliruan untuk menyesatkan orang dan mencapai tujuan pribadi? Ada sejumlah pemimpin dan pekerja yang selalu bersikap menentang terhadap pengawasan umat pilihan Tuhan atau terhadap upaya para pemimpin tingkat atas dan pekerja untuk mempelajari pekerjaan mereka. Apa isi pikiran mereka? "'Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan.' Mengapa engkau semua selalu mengawasiku? Mengapa menggunakanku jika engkau semua tidak memercayaiku?" Jika engkau bertanya kepada mereka tentang pekerjaan mereka atau menanyakan perkembangannya, lalu menanyakan tentang keadaan pribadi mereka, mereka bahkan akan menjadi lebih defensif, "Pekerjaan ini telah dipercayakan kepadaku. Akulah penanggungjawabnya. Mengapa engkau semua ikut campur dalam pekerjaanku?" Meskipun tidak berani mengatakannya secara terus terang, mereka akan menyindir, "Ada pepatah yang berkata, 'Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan.' Mengapa engkau orang yang begitu ragu?" Mereka bahkan akan menuduh dan melabelimu. Dan bagaimana jika engkau tidak memahami kebenaran dan tidak memiliki ketajaman? Setelah mendengar sindiran tadi, engkau akan berkata, "Apakah aku ragu? Jika demikian, aku salah. Aku licik! Engkau benar: Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan." Jika begitu, bukankah engkau telah disesatkan? Apakah pepatah "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan" sesuai dengan kebenaran? Tidak, itu omong kosong! Orang-orang jahat itu berbahaya dan licik. Mereka menyajikan pepatah itu sebagai kebenaran untuk menyesatkan orang-orang yang bingung. Setelah mendengar pepatah tadi, seseorang yang bingung akan benar-benar disesatkan. Dia pun menjadi bingung dan berpikir, "Dia benar. Aku telah berbuat salah kepadanya. Dia sendiri telah berkata, 'Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan.' Bagaimana aku bisa meragukannya? Bukan begini caranya melaksanakan pekerjaan. Aku harus menyemangatinya tanpa menyelisik pekerjaannya. Karena aku menggunakannya, aku perlu memercayainya dan membiarkannya bekerja dengan bebas tanpa mengekangnya. Aku harus memberinya ruang untuk melaksanakan pekerjaannya. Dia memiliki kemampuan untuk melaksanakannya. Bahkan, meskipun dia tidak memilikinya, masih ada Roh Kudus yang bekerja!" Logika macam apa itu? Apakah semua itu sesuai dengan kebenaran? (Tidak.) Semua perkataan berikut ini terdengar tepat. "Kita tidak boleh mengekang orang lain." "Manusia tidak dapat melakukan apa pun. Roh Kuduslah yang melakukan segalanya. Roh Kudus memeriksa segalanya. Kita tidak perlu ragu karena Tuhan sepenuhnya berkuasa." Namun, perkataan macam apakah itu? Tidakkah yang mengatakannya adalah orang-orang bingung? Mereka bahkan tidak dapat menyadari hal sesederhana itu dan malah disesatkan hanya karena satu kalimat. Dapat dikatakan bahwa kebanyakan orang menganggap perkataan "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan" sebagai kebenaran, dan mereka disesatkan dan terikat olehnya. Mereka terganggu dan terpengaruh olehnya ketika memilih atau menggunakan orang, dan bahkan membiarkan perkataan ini mengendalikan tindakan mereka. Akibatnya, banyak pemimpin dan pekerja selalu mengalami kesulitan dan merasa khawatir setiap kali mereka memeriksa pekerjaan gereja dan mempromosikan serta menggunakan orang. Akhirnya, yang bisa mereka lakukan hanyalah menghibur diri mereka sendiri dengan perkataan "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan". Setiap kali mereka memeriksa atau menanyakan tentang pekerjaan, mereka berpikir, "'Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan.' Aku harus memercayai saudara-saudariku, dan bagaimanapun juga, Roh Kudus memeriksa orang, jadi aku tak boleh selalu meragukan dan mengawasi orang lain." Mereka telah dipengaruhi oleh perkataan ini, bukan? Apa akibat yang ditimbulkan oleh pengaruh perkataan ini? Pertama, jika seseorang menganut gagasan "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan", akankah mereka memeriksa dan membimbing pekerjaan orang lain? Akankah mereka mengawasi dan menindaklanjuti pekerjaan orang lain? Jika orang ini memercayai semua orang yang mereka pekerjakan dan tidak pernah memeriksa atau membimbing mereka dalam pekerjaan mereka, dan tidak pernah mengawasi mereka, apakah artinya mereka sedang melakukan tugas mereka dengan loyal? Mampukah mereka melaksanakan pekerjaan gereja dengan cara yang kompeten dan memenuhi amanat Tuhan? Apakah mereka loyal pada amanat Tuhan? Kedua, ini bukan semata-mata kegagalan menaati firman Tuhan dan melaksanakan tugasmu, tetapi ini berarti menjadikan konspirasi Iblis dan falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain seolah-olah itu adalah kebenaran, dan mengikuti serta menerapkannya. Engkau sedang menaati Iblis dan hidup menurut falsafah Iblis, bukan? Engkau bukan orang yang tunduk pada Tuhan, apalagi orang yang menaati firman Tuhan. Engkau adalah orang yang bejat. Mengesampingkan firman Tuhan, dan menjadikan perkataan Iblis dan menerapkannya sebagai kebenaran, berarti mengkhianati kebenaran dan Tuhan! Engkau bekerja di rumah Tuhan, tetapi prinsip-prinsip di balik tindakanmu adalah logika Iblis dan falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain, orang macam apa engkau? Ini adalah orang yang mengkhianati Tuhan dan orang yang sangat mempermalukan Tuhan. Apa esensi dari tindakan ini? Secara terbuka mengutuk Tuhan dan secara terbuka menyangkal kebenaran. Bukankah itu esensinya? (Ya.) Selain tidak mengikuti kehendak Tuhan, engkau membiarkan salah satu pepatah jahat Iblis dan falsafah Iblis tentang cara berinteraksi dengan orang lain merajalela di gereja. Dengan melakukan hal ini, engkau menjadi kaki tangan Iblis, membantu Iblis menjalankan kegiatannya di dalam gereja, serta mengganggu dan mengacaukan pekerjaan gereja. Esensi dari masalah ini sangat serius, bukan?
Dewasa ini, sebagian besar pemimpin dan pekerja memendam racun Iblis dalam hati mereka dan masih hidup berdasarkan falsafah Iblis, dan hanya sedikit firman Tuhan yang berkuasa dalam hati mereka. Pekerjaan dari banyak pemimpin dan pekerja mengalami masalah—mereka tidak pernah memeriksa atau mengawasi pekerjaan setelah melakukan penataan pekerjaan, meskipun mereka tahu persis dalam hati mereka bahwa sejumlah orang tidak dapat melaksanakan pekerjaan itu dan masalah pasti akan timbul. Namun, karena tidak mengetahui cara menyelesaikan masalah itu, mereka hanya menerapkan pandangan "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan" dan bersikap asal-asalan, bahkan dengan batin yang tenang. Hal itu membuat sejumlah orang tidak mampu melakukan pekerjaan yang nyata. Mereka hanya menyibukkan diri mereka dengan perkara-perkara biasa dan bersikap asal-asalan. Akibatnya, mereka mengacaukan pekerjaan gereja, dan di sejumlah tempat, bahkan terjadi pencurian terhadap persembahan bagi Tuhan. Karena tidak sanggup menyaksikannya, umat pilihan Tuhan mengadukan perkara itu kepada Yang di Atas. Sang pemimpin palsu, begitu menyadari masalah itu, menjadi bingung dan merasa seakan-akan bencana sedang mendekat. Yang di Atas lalu bertanya kepadanya, "Mengapa engkau tidak memeriksa pekerjaan itu? Mengapa engkau menggunakan orang yang salah?" Sang pemimpin palsu pun menjawab, "Aku tidak dapat melihat esensi seseorang, jadi aku hanya mengikuti prinsip 'Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan'. Tidak kusangka bahwa aku menggunakan orang yang salah dan menyebabkan bencana seperti itu." Menurutmu, apakah pandangan "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan" itu benar? Apakah perkataan ini adalah kebenaran? Mengapa orang itu mau menggunakan perkataan ini dalam pekerjaan rumah Tuhan dan dalam melaksanakan tugasnya? Apa masalahnya di sini? "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan" jelas-jelas merupakan perkataan orang tidak percaya, perkataan yang berasal dari Iblis—jadi mengapa dia memperlakukan perkataan ini sebagai kebenaran? Mengapa dia tidak mampu membedakan apakah perkataan ini benar, atau salah? Ini jelas merupakan perkataan manusia, perkataan manusia yang rusak, perkataan ini sama sekali bukan kebenaran, sangat bertentangan dengan firman Tuhan, dan tidak boleh dijadikan sebagai standar untuk tindakan, perilaku, dan penyembahan manusia kepada Tuhan. Jadi, bagaimana perkataan ini harus diperlakukan? Jika engkau benar-benar mampu membedakan, standar kebenaran seperti apa yang harus kaugunakan sebagai penggantinya untuk berfungsi sebagai prinsip dalam melakukan penerapanmu? Itu seharusnya adalah "laksanakan tugasmu dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap pikiranmu". Bertindak dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap pikiranmu artinya tidak boleh dikekang oleh siapa pun; itu artinya menjadi sehati sepikiran, dan tidak lebih dari itu. Ini adalah tanggung jawabmu dan tugasmu, dan engkau harus melaksanakannya dengan baik, karena ini adalah hal yang sangat wajar dan dibenarkan. Masalah apa pun yang kauhadapi, engkau harus bertindak berdasarkan prinsip. Tanganilah semua itu sebagaimana mestinya; jika pemangkasan diperlukan, lakukanlah, dan jika pemberhentian diperlukan, lakukanlah. Singkatnya, bertindaklah berdasarkan firman Tuhan dan kebenaran. Bukankah ini adalah prinsipnya? Bukankah ini kebalikan dari ungkapan "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan"? Apa artinya jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan? Artinya, jika engkau telah mempekerjakan seseorang, engkau tidak boleh meragukannya, engkau harus melepaskan kendalimu atasnya, tidak mengawasinya, dan membiarkannya melakukan apa yang dia inginkan; dan jika engkau meragukannya, engkau seharusnya tidak mempekerjakannya. Bukankah ini arti ungkapan itu? Ungkapan ini sangat salah. Manusia telah dirusak sedemikian dalamnya oleh Iblis. Semua orang memiliki watak Iblis, dan mampu mengkhianati Tuhan dan menentang Tuhan. Bisa dikatakan tak seorang pun bisa dipercaya. Meskipun seseorang bersumpah, itu tidak ada gunanya karena manusia dikekang oleh watak rusak mereka dan tak mampu mengendalikan diri mereka sendiri. Mereka harus menerima penghakiman dan hajaran Tuhan sebelum mereka mampu menyelesaikan masalah watak rusak mereka, dan sepenuhnya menyelesaikan masalah penentangan dan pengkhianatan mereka terhadap Tuhan—menyelesaikan sumber dosa manusia. Semua orang yang belum melewati penghakiman dan penyucian Tuhan dan belum memperoleh keselamatan tidak dapat diandalkan. Mereka tidak layak dipercaya. Oleh karena itu, ketika engkau menggunakan seseorang, engkau harus mengawasi dan mengarahkan mereka. Selain itu, engkau harus memangkas mereka dan sering mempersekutukan kebenaran, dengan begini, barulah engkau dapat melihat dengan jelas apakah dia dapat terus digunakan atau tidak. Jika ada orang-orang yang mampu menerima kebenaran, menerima diri mereka dipangkas, mampu melaksanakan tugas mereka dengan setia, dan yang mengalami kemajuan terus-menerus dalam hidup mereka, maka hanya orang-orang inilah yang benar-benar dapat digunakan. Mereka yang benar-benar bisa digunakan mendapat penegasan bahwa mereka memiliki pekerjaan Roh Kudus. Orang yang tidak memiliki pekerjaan Roh Kudus tidak dapat diandalkan. Mereka adalah orang yang berjerih payah dan pekerja upahan. Ketika tiba saatnya memilih pemimpin dan pekerja, ada cukup banyak di antara mereka, setidaknya lebih dari separuh, yang tersingkirkan, sedangkan hanya segelintir yang dianggap bisa digunakan atau cocok untuk digunakan. Itulah faktanya. Ada pemimpin gereja yang tidak pernah mengawasi atau memeriksa pekerjaan orang lain dan tidak memperhatikan pekerjaan itu begitu mereka selesai bersekutu atau membuat pengaturan pekerjaan. Mereka malah menerapkan pepatah "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan" dan bahkan berkata kepada diri sendiri, "Sisanya serahkan saja kepada Tuhan." Lalu, mereka mulai tenggelam dalam kenyamanan dan kesantaian. Mereka tidak menyelidiki persoalan itu dan mengabaikannya. Dengan bekerja secara demikian, tidakkah mereka bersikap asal-asalan? Apakah mereka mempunyai rasa tanggung jawab? Bukankah orang-orang semacam itu adalah pemimpin palsu? Tuhan menuntut orang untuk melaksanakan tugas-tugas mereka dengan segenap hati, jiwa, pikiran, dan kekuatan mereka. Yang Tuhan tuntut dari manusia adalah kebenaran. Jika para pemimpin dan pekerja menaati perkataan Iblis dan para setan ketika mengerjakan atau melaksanakan tugas-tugas mereka, alih-alih firman Tuhan, bukankah itu tanda bahwa mereka menentang dan mengkhianati Tuhan? Mengapa rumah Tuhan, ketika memilih para pemimpin dan pekerja, hanya memilih orang yang mampu menerima kebenaran, orang-orang baik yang berhati nurani dan bernalar, dan mereka yang berkualitas baik, dan yang mampu memikul pekerjaan itu? Itu karena umat manusia sangatlah rusak dan nyaris tidak ada yang bisa digunakan. Kecuali jika seseorang telah bertahun-tahun menjalani pelatihan dan pembinaan, dan dia melakukan berbagai hal dengan sangat tidak efisien serta sangat kesulitan melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik, dia harus dihakimi, dihajar, dan dipangkas berkali-kali sebelum menjadi cocok untuk digunakan. Sebagian besar orang tersingkap dan tersingkirkan selama proses pelatihan, sedangkan para pemimpin dan pekerja tersingkirkan pada tingkat yang sangat tinggi. Mengapa itu bisa terjadi? Itu karena umat manusia telah sangat dirusak oleh Iblis. Sebagian besar orang tidak mencintai kebenaran dan tidak memenuhi standar hati nurani dan nalar. Jadi, sebagian besar dari mereka tidak dapat digunakan. Mereka harus percaya kepada Tuhan selama beberapa tahun dan memahami sedikit kebenaran agar dapat melakukan tugas-tugas tertentu. Itulah kenyataan dari umat manusia yang rusak. Jadi, menurut penjelasan ini, dapat kita simpulkan bahwa pernyataan "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan" sepenuhnya salah dan tidak memiliki nilai praktis, dan bahwa orang yang menciptakannya adalah setan. Dapat kita katakan dengan yakin bahwa "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan" adalah ungkapan yang sesat dan keliru. Itu adalah pepatah yang jahat dan falsafah Iblis, dan memang pantas digambarkan seperti itu. Tuhan tidak pernah berfirman apa pun yang kurang lebih berbunyi "umat manusia yang rusak dapat dipercaya". Dia selalu menuntut manusia agar jujur, yang membuktikan bahwa hanya ada sangat sedikit orang jujur di antara seluruh umat manusia, bahwa semuanya sanggup berbohong dan berbuat curang, dan bahwa semuanya memiliki watak licik. Selain itu, Tuhan berfirman bahwa besarnya kemungkinan manusia yang rusak untuk mengkhianati Tuhan adalah seratus persen. Sungguhpun Tuhan menggunakan seseorang, dia harus dipangkas selama bertahun-tahun. Bahkan, ketika sedang digunakan pun, dia harus menjalani penghakiman dan hajaran selama bertahun-tahun agar dapat disucikan. Sekarang, katakan kepada-Ku, apakah ada orang yang benar-benar dapat diandalkan? Tidak ada yang berani mengatakan ada. Jika tidak ada yang berani, itu membuktikan apa? Itu membuktikan bahwa semua orang tidak dapat diandalkan. Jadi, mari kita kembali pada pepatah "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan". Di mana letak kekeliruannya? Apanya yang tidak logis? Tidakkah itu cukup jelas? Jika ada yang masih percaya bahwa pepatah itu tepat atau berlaku dalam suatu segi, mereka pastilah orang yang tidak memiliki kebenaran dan tidak masuk akal. Hari ini, engkau semua mampu menyadari bahwa pepatah itu bermasalah dan menentukan bahwa itu adalah kekeliruan. Itu sepenuhnya karena engkau telah mengalami pekerjaan Tuhan serta kini mampu melihat dengan lebih jelas dan memperoleh wawasan yang lebih luas tentang esensi dari umat manusia yang rusak. Hanya karena itulah engkau mampu sepenuhnya menolak pepatah Iblis yang sesat dan keliru itu. Jika bukan karena pekerjaan penyelamatan Tuhan, engkau semua juga mungkin disesatkan oleh pepatah Iblis yang jahat itu dan bahkan menggunakannya seakan-akan itu adalah dogma standar atau semboyan. Sangat disayangkan jika hal itu sampai terjadi—engkau tidak akan memiliki kenyataan kebenaran sama sekali.
Sebagian besar orang pernah mendengar pepatah "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan". Menurut keyakinan engkau semua, pepatah itu tepat atau keliru? (Keliru.) Engkau yakin bahwa pepatah itu keliru, tetapi mengapa pepatah itu masih dapat memengaruhimu dalam kehidupan nyata? Ketika perkara semacam itu menimpamu, pemikiran itulah yang akan timbul. Pemikiran itu akan mengganggumu sampai taraf tertentu, dan begitu itu mengganggumu, pekerjaanmu tidak akan maksimal. Jadi, jika engkau yakin bahwa pepatah itu keliru dan telah menentukan bahwa itu keliru, mengapa engkau masih terpengaruh olehnya dan mengapa engkau masih menggunakannya untuk menghibur dirimu sendiri? (Karena manusia tidak memahami kebenaran, mereka lemah dalam melakukan penerapan menurut firman Tuhan, jadi mereka akan menggunakan falsafah Iblis tentang cara berinteraksi dengan orang lain sebagai prinsip atau kriteria dalam melakukan penerapan.) Itulah salah satu alasannya. Adakah yang lain? (Karena ungkapan itu cukup sejalan dengan kepentingan daging manusia, dan mereka secara alamiah akan bertindak sesuai dengan ungkapan itu ketika tidak memahami kebenaran.) Orang tidak hanya bertindak seperti itu ketika tidak memahami kebenaran. Bahkan ketika memahami kebenaran, mereka mungkin tidak mampu melakukan penerapan sesuai dengan kebenaran. Tepat jika dikatakan bahwa ungkapan itu "cukup sejalan dengan kepentingan daging manusia". Orang lebih memilih untuk mengikuti siasat curang atau falsafah Iblis tentang cara berinteraksi dengan orang lain untuk melindungi kepentingan daging mereka sendiri daripada menerapkan kebenaran. Di samping itu, mereka memiliki dasar untuk melakukannya. Dasar apakah itu? Dasarnya adalah bahwa ungkapan itu telah diterima secara luas oleh masyarakat sebagai hal yang benar. Ketika mereka melakukan berbagai hal sesuai dengan ungkapan itu, perbuatan mereka dapat dianggap sah di depan semua orang lain, dan mereka pun akan terbebas dari kritikan. Ketika dipandang dari perspektif moral ataupun hukum, atau dari sudut pandang gagasan tradisional, pandangan dan penerapan itu masuk akal. Jadi, ketika engkau tidak bersedia untuk menerapkan kebenaran atau ketika engkau tidak memahaminya, engkau lebih memilih untuk menyinggung Tuhan, melanggar kebenaran, dan mundur ke posisi yang tidak melangkahi ambang batas moralitas. Di manakah posisi itu? Posisi itu adalah ambang batasmu untuk "jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan". Dengan mundur ke posisi itu dan bertindak sesuai dengan ungkapan tadi, engkau akan memperoleh ketenangan batin. Mengapa itu memberimu ketenangan batin? Karena orang lain juga berpikir dengan cara yang sama. Selain itu, hatimu juga memendam gagasan bahwa hukum tidak bisa ditegakkan jika semua orang adalah pelanggarnya, dan engkau berpikir, "Semua orang juga berpikiran begitu. Jika aku melakukan penerapan sesuai dengan ungkapan itu, tidak masalah jika Tuhan mengutukku karena aku tidak dapat melihat Tuhan ataupun menyentuh Roh Kudus. Setidaknya, di mata orang lain, aku akan dipandang sebagai seseorang yang memiliki sifat manusiawi, seseorang yang memiliki sedikit hati nurani." Engkau memilih untuk mengkhianati kebenaran demi "sifat manusiawi" itu supaya orang lain memandangmu tanpa sikap yang memusuhi di mata mereka. Lalu, semua orang akan berpikir positif tentangmu, engkau tidak akan dikritik, dan engkau akan hidup nyaman dengan batin yang tenang—apa yang engkau cari adalah ketenangan batin. Apakah ketenangan batin itu adalah perwujudan rasa cinta seseorang akan kebenaran? (Bukan.) Jadi, watak macam apakah itu? Apakah watak itu mengandung kelicikan? Ya, kelicikan ada di dalamnya. Engkau telah merenungkannya, dan engkau tahu bahwa ungkapan "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan" tidak tepat dan bukanlah kebenaran. Jadi, mengapa, ketika menghadapi jalan buntu, engkau masih tidak memilih kebenaran, tetapi malah bersandar pada ungkapan filosofis yang berasal dari budaya tradisional, yang paling diterima oleh banyak orang? Mengapa engkau memilihnya? Itu berhubungan dengan jalan pikiran manusia yang rumit, dan ketika ada jalan pikiran yang rumit, watak macam apakah yang berperan di situ? (Kejahatan.) Selain kejahatan, ada aspek lain yang berperan di situ. Engkau tidak sepenuhnya mengakui bahwa ungkapan itu tepat, tetapi engkau masih sanggup mengikutinya serta membiarkannya memengaruhi dan mengendalikanmu. Ada satu hal yang pasti di sini: Engkau muak akan kebenaran, dan engkau bukanlah orang yang mencintai kebenaran. Bukankah itu wataknya? (Ya.) Yang itu sudah pasti. Orang dipengaruhi oleh banyak pandangan ketika melakukan berbagai hal, dan meskipun engkau sesungguhnya tidak harus percaya dalam hatimu bahwa pandangan-pandangan itu tepat, engkau tetap saja sanggup menaati dan berpegang padanya, dan itu disebabkan oleh watak tertentu. Meskipun engkau percaya bahwa pandangan-pandangan itu keliru, engkau masih dapat dipengaruhi, diseret, dan diperdaya olehnya. Itu adalah watak jahat. Misalnya, ada orang yang mengonsumsi narkotika atau berjudi. Mereka juga berkata bahwa kedua hal itu buruk dan bahkan menyarankan orang lain untuk tidak melakukan hal semacam itu karena mereka berpotensi akan kehilangan segala-galanya. Mereka percaya bahwa hal semacam itu salah dan bahwa itu adalah perbuatan buruk, tetapi dapatkah mereka berhenti dan meninggalkannya? (Tidak.) Mereka tidak akan mungkin menghentikan diri sendiri, dan mereka bahkan terang-terangan berkata, "Judi juga adalah cara untuk menghasilkan uang sehingga itu dapat dijadikan profesi." Bukankah mereka sekadar mempercantiknya saja? Pada kenyataannya, mereka berpikir, "Profesi macam apa ini? Aku telah menggadaikan segala hal berharga yang kumiliki dan kehilangan semua uang yang kuhasilkan darinya. Pada akhirnya, tidak ada seorang penjudi pun yang dapat menjalani kehidupan normal." Jadi, mengapa mereka masih mempercantiknya seperti itu? Karena mereka tidak dapat berhenti. Dan mengapa mereka tidak dapat berhenti? Karena itu adalah natur mereka; kebiasaan itu sudah terlanjur berakar. Mereka membutuhkannya dan tidak dapat memberontak terhadapnya—seperti itulah natur mereka. Kurang lebih, kita telah cukup bersekutu tentang ungkapan "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan". Apakah seseorang terpengaruh oleh ungkapan itu karena dorongan sementara untuk menerima pandangan semacam itu, atau jangan-jangan Iblislah yang memanfaatkan kelengahan itu untuk menanamkan pandangan itu dalam dirinya dan mendorongnya untuk bertindak demikian? (Tidak.) Natur rusak orang itu turut berperan di dalamnya. Dia memilih jalan itu karena itu ada dalam naturnya. Setelah menganalisis ungkapan "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan" dengan cara ini, secara garis besar engkau telah memahaminya. Ungkapan itu didefinisikan sebagai falsafah Iblis tentang cara berinteraksi dengan orang lain—dari segi mana pun, itu bukanlah kebenaran. Apakah itu ada kaitannya dengan kebenaran? (Tidak.) Ungkapan itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan kebenaran dan dikutuk oleh Tuhan. Itu bukanlah kebenaran. Itu berasal dari Iblis, bukan dari Tuhan. Dengan pasti dapat dikatakan bahwa ungkapan itu sama sekali tidak berkaitan dengan kebenaran ataupun standar tentang cara orang yang percaya kepada Tuhan harus bertindak, berperilaku, dan menyembah Tuhan. Ungkapan itu telah dikutuk sepenuhnya. Unsur-unsur keliru dalam ungkapan itu relatif jelas terlihat, sehingga mudah bagi engkau semua untuk menyadari apakah itu tepat, atau keliru.
II. Analisis tentang Gagasan "Tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu"
Mari kita bahas pepatah lain, yaitu "tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu". Siapa yang dapat menjelaskan artinya? (Dalam pepatah "tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu", kayu bakar berarti potongan kayu yang digunakan untuk membuat api, sedangkan empedu berarti kelenjar empedu. Pepatah itu berasal dari kisah Goujian, raja Kerajaan Yue, yang tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu setiap hari, serta perjuangannya untuk membalas dendam, bangkit dari kekalahan, dan memulihkan kerajaannya.) Engkau telah menjelaskan latar belakang pepatah itu, yakni kisah asal muasal pepatah tadi. Biasanya ketika menjelaskan sebuah pepatah, selain menjelaskan latar belakangnya, engkau harus menjelaskan maknanya yang lebih luas, yakni hal yang dimaksudkan oleh metafora itu ketika orang menggunakannya di zaman modern. Jelaskanlah itu lagi. (Pepatah itu menggambarkan seseorang yang membanting tulang, berusaha, dan bekerja keras untuk mewujudkan tujuan dan cita-citanya.) Lalu, bagaimana "kayu bakar" dan "empedu" seharusnya dijelaskan dalam konteks ini? Engkau tidak menjelaskan dua aspek maknanya. Jika dilihat dari kata yang digunakan, "kayu bakar" dalam cerita ini memaksudkan sejenis kayu berduri. Goujian berbaring di atas kayu bakar yang berduri ketika tidur untuk terus mengingatkan dirinya sendiri akan keadaan, rasa malu, serta misi yang sedang dipikulnya. Selain itu, dia menggantung sebuah empedu pada langit-langit dan menjilatnya setiap hari. Apa yang orang rasakan ketika menjilat empedu? (Rasa pahit.) Pasti itu sangat pahit! Dia menggunakan rasa pahit itu untuk mengingatkan dirinya sendiri agar tidak melupakan kebenciannya, misinya, dan cita-citanya. Apakah cita-citanya? Tugas besar untuk memulihkan kerajaannya. Tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu biasanya digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan apa? Metafora itu biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berada dalam keadaan malang, tetapi tidak melupakan misi dan cita-citanya serta sanggup membayar harga demi mewujudkan cita-cita, prinsip, dan misinya. Kurang lebih begitulah artinya. Di mata orang-orang sekuler, apakah pepatah "tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu" bersifat positif atau negatif? (Positif.) Mengapa pepatah itu dianggap positif? Pepatah itu dapat memotivasi orang yang berada di tengah kesukaran untuk tidak melupakan kebencian dan rasa malunya serta untuk bekerja keras dan berusaha menjadi lebih kuat. Itu adalah pepatah yang cukup menginspirasi. Di mata orang sekuler, tidak diragukan bahwa pepatah itu pasti bersifat positif. Jika orang bertindak menurut pepatah itu, tidak diragukan lagi bahwa segala yang mereka lakukan, motivasi mereka dalam melakukan segala sesuatu, dan prinsip-prinsip yang mereka anut adalah benar dan positif. Dengan berkata begini, pada dasarnya tidak ada yang salah dengan pepatah itu, jadi apa yang hendak kita analisis dengan mengetengahkannya? Apa yang ingin kita katakan? (Kita ingin menganalisis dalam hal apa saja pepatah itu bertentangan dengan kebenaran.) Itu benar. Kita ingin menyelidiki apakah itu kebenaran atau bukan. Karena pepatah itu sangat "benar", sudah selayaknya kita menganalisis dan memeriksa dari segi-segi manakah persisnya pepatah itu dapat dikatakan "benar". Lalu, kita akan memperoleh definisi akuratnya dan dapat melihat apakah pepatah itu sungguh-sungguh kebenaran, atau bukan. Itulah hasil akhir yang ingin kita capai. Pepatah "tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu" adalah prinsip bertahan hidup yang dipegang oleh orang-orang dalam keadaan tertentu. Pertama-tama, mari kita tegaskan—apakah pepatah itu kebenaran? (Bukan.) Janganlah kita mulai dengan menyatakan apakah pepatah itu kebenaran atau bukan. Dari makna harfiahnya yang dapat dilihat orang, pepatah itu tidak bermakna negatif. Jadi, makna positif apa yang dimilikinya? Pepatah itu dapat memotivasi orang, memberi mereka tekad, membuat mereka terus berjuang, tidak mundur, tidak berkecil hati, dan tidak menjadi pengecut. Ada aspek dalam pepatah itu yang bersifat positif jika diterapkan. Namun, dalam situasi apa orang perlu menerapkan prinsip-prinsip perilaku dan tindakan yang terkandung dalam pepatah itu? Adakah hubungan antara prinsip-prinsip yang terkandung dalam pepatah itu dan kepercayaan kepada Tuhan? Adakah hubungannya dengan penerapan kebenaran? Adakah hubungannya dengan melaksanakan tugas? Adakah hubungannya dengan mengikuti jalan Tuhan? (Tidak.) Secepat itukah engkau menyimpulkannya? Bagaimana engkau semua tahu bahwa semua hal itu tidak ada hubungannya dengan pepatah tadi? (Firman Tuhan tidak mengatakannya.) Berkata seperti itu terlalu sederhana dan tidak bertanggung jawab. Ketika engkau tidak memahami sesuatu dan berkata, "Bagaimana pun juga, pepatah itu tidak ada dalam firman Tuhan, dan aku tidak tahu artinya, jadi aku tidak akan mendengarkannya. Pepatah itu bisa mengungkapkan apa pun, tetapi aku tidak akan memercayainya." Perkataan itu tidak bertanggung jawab. Engkau harus menyikapinya secara serius. Begitu engkau menyikapinya secara serius, memahaminya secara menyeluruh, dan memiliki hikmat yang benar tentang itu, engkau tidak akan pernah memperlakukan pepatah itu sebagai kebenaran. Saat ini, Aku tidak membuatmu menyangkal ketepatan pepatah itu. Sebaliknya, Aku sedang membantumu memahami bahwa pepatah itu bukanlah kebenaran serta menunjukkan kepadamu kebenaran apa yang harus engkau pahami dan bagaimana engkau seharusnya menjunjung kebenaran dalam keadaan-keadaan serupa. Mengertikah engkau? Jadi, katakan kepada-Ku yang engkau semua pahami tentang pepatah itu. (Pepatah "tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu" berbicara tentang bagaimana orang seharusnya melakukan penerapan ketika mengalami kesialan, tetapi di rumah Tuhan, istilah "kesialan" tidak ada. Ketika Tuhan menyingkapkan orang atau menempatkan mereka dalam ujian, itu semua adalah bagian dari proses Tuhan untuk menyempurnakan mereka. Itu bukan kesialan. Pepatah itu mengajari orang bahwa mereka harus mengingat kesulitan yang mereka derita saat ini dan membuat kembali sejumlah kemajuan di masa depan. Ungkapan itu tidak dianggap masuk akal di rumah Tuhan. Akan kuberikan satu contoh yang agak kurang pantas: Setelah digantikan, sejumlah pemimpin menggunakan ungkapan "tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu" untuk memotivasi diri sendiri dan berkata, "Aku akan belajar dari Goujian, raja Kerajaan Yue, dan tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu. Akan ada saatnya ketika aku mendapatkan posisi lamaku dan menjadi pemimpin lagi. Kalian lihat saja! Kini, kalian mengkritikku dan berkata bahwa aku buruk dalam hal ini dan itu. Suatu hari, aku akan memperoleh kembali apa yang hilang dariku dan membuat kalian melihat diriku yang sebenarnya. Pasti akan datang harinya ketika hinaan yang kuderita saat ini akan dihapus bersih!") Itu adalah contoh yang sangat bagus. Apakah contoh tadi mencerahkanmu semua? Apakah engkau semua pernah mengalami saat ketika engkau ingin tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu? Pernahkah engkau berpikir untuk memperoleh kembali hal-hal yang telah hilang? (Ya. Aku pernah memikirkannya ketika orang lain menentang pandanganku. Misalnya, ketika aku membahas sejumlah hal dengan saudara-saudari dan mereka mempertanyakan pandangan yang kuajukan, di dalam hati, aku merasa hendak menentang dan kupikir, "Suatu hari, aku harus mengerjakan sesuatu yang bagus dan menunjukkannya kepadamu semua." Lalu, aku pergi dan bekerja keras untuk mempelajari bidang pekerjaan itu, tetapi itu adalah mentalitas yang salah.) Itu bukanlah sikap menerima kebenaran, mencari kebenaran, atau menerapkan kebenaran, melainkan sikap menentang yang keras kepala dan ingin membuktikan sesuatu kepada orang lain. Itu adalah sikap tidak mengakui kekalahan. Sikap semacam itu dianggap positif di kalangan umat manusia. Tidak pernah mengakui kekalahan adalah semacam tabiat yang bagus, dan itu artinya orang itu memiliki keteguhan, jadi mengapa itu dikatakan bukan penerapan kebenaran? Itu karena sikap orang itu ketika melakukan berbagai hal serta prinsip-prinsip dan motivasi di balik perbuatannya tidak didasarkan pada kebenaran, sebaliknya pada pepatah dari budaya tradisional, yaitu "tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu". Meskipun seseorang dapat berkata bahwa orang seperti itu berkepribadian kuat serta bahwa pola pikir dan sikap mereka yang ingin menang dan tidak mengakui kekalahan itu menimbulkan rasa hormat dari orang-orang di dunia sekuler, di hadapan kebenaran, pola pikir dan temperamen macam apakah itu? Itu adalah pola pikir dan temperamen yang rendah dan sangat buruk, serta dibenci Tuhan. Ada lagikah yang ingin berbagi? (Ketika aku melaksanakan suatu tugas, karena aku tidak biasa dengan bidang pekerjaan itu, kupikir orang tidak menganggapku serius. Jadi, dalam hati, aku diam-diam mengerahkan diriku sendiri, "Aku perlu mempelajari bidang pekerjaan ini dan membuat kalian melihat bahwa aku memang mampu." Terkadang, ketika orang menunjukkan kekurangan dalam pelaksanaan tugasku, aku berusaha untuk berubah. Aku menghadapi kesulitan dan membayar harga untuk mempelajari pekerjaan itu. Seberapa besar pun kesulitan yang kuderita, semuanya kutelan saja. Namun, aku tidak berusaha mencari cara melaksanakan tugasku dengan baik, sebaliknya aku mengharapkan hari ketika aku dapat membuat orang lain mengagumiku dan aku memperoleh respek dari orang lain. Aku juga mengalami keadaan semacam "tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu".) Dari hal-hal yang engkau semua telah bagikan, Aku mendapati sebuah masalah. Engkau semua telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, meninggalkan keluarga dan kariermu, serta mengalami kesukaran yang tidak kecil, tetapi baru memanen sedikit hasil. Engkau semua juga mampu menghadapi kesukaran dan mengorbankan diri dalam melaksanakan tugas-tugasmu serta sanggup membayar harganya, tetapi mengapa engkau tidak mengalami kemajuan dalam hal kebenaran? Mengapa kebenaran yang engkau pahami begitu sedikit dan begitu dangkal? Sebabnya adalah engkau semua tidak menganggap penting kebenaran. Engkau selalu ingin tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu, dan hatimu begitu dipenuhi oleh hasrat untuk membuktikan dirimu sendiri. Tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu adalah "sebuah bisul besar"—menurutmu, apakah itu adalah hal yang baik? Apa hasil akhir dari menerapkan pepatah tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu? Ketika seseorang ingin membuktikan bahwa dia mampu dan kompeten, tidak lebih rendah daripada orang lain, dan tidak boleh kalah dari siapa pun, mereka akan tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu. Dengan kata lain, mereka akan "menanggung penderitaan yang sangat besar agar bisa unggul dari yang lain". Jadi, seperti apakah perwujudan dari tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu? Pertama, itu terwujud dalam bentuk perilaku tidak mengakui kekalahan. Kedua, itu terwujud dalam perilaku menanggung penghinaan dan memikul beban berat. Mungkin engkau tidak menggunakan kata-kata apa pun untuk memperdebatkan sesuatu dengan orang lain, menyanggah mereka, atau membela diri sendiri, tetapi diam-diam engkau mengerahkan upaya. Upaya macam apa? Mungkin upaya itu berbentuk harga yang engkau semua bayar, seperti bekerja keras semalam suntuk, bangun subuh-subuh, atau membaca firman Tuhan dan mempelajari bidang pekerjaanmu ketika orang lain asyik bersenang-senang, mengerahkan upaya ekstra. Apakah begitu caranya menderita kesukaran? Itu namanya tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu. Seperti apakah perwujudan ketiganya? Yang ketiga adalah memiliki semacam ambisi besar di dalam hati dan tidak mengeluhkan kesulitan akibat ambisi besar itu. Mereka ingin menjunjung tujuan-tujuan yang telah mereka tetapkan dan mempertahankan kehendak untuk berjuang. Apa kehendak untuk berjuang itu? Misalnya, jika ingin menjadi pemimpin atau menunaikan suatu tugas, engkau harus selalu mempertahankan keadaan pikiran itu dalam batin. Engkau jangan pernah melupakan tekad, misi, aspirasi, dan idealismemu. Dapatkah engkau menggambarkannya dalam satu kalimat? (Jangan kehilangan motivasi awalmu untuk melakukan sesuatu.) Tidak kehilangan motivasi awalmu untuk melakukan sesuatu adalah sikap yang benar, tetapi tidak cukup kuat. (Milikilah ambisi yang besar di dalam hatimu.) Itu lebih baik. Pernyataan itu terasa lebih kuat. Dapatkah engkau mengungkapkannya secara lebih akurat dan padat? (Kehendak untuk berjuang dan aspirasi.) Dapatkah engkau mengungkapkannya dengan kata-kata yang lengkap? Akan ada banyak perjuangan dan kekalahan, tetapi, makin lama engkau berjuang, makin engkau menjadi berani. Itu adalah kemauan untuk berjuang dengan prinsip "pantang menyerah". Itu seperti ketika ada orang yang berkata, "Engkau berkecil hati setelah digantikan? Aku sudah digantikan berkali-kali, tetapi tidak pernah berkecil hati. Setiap kali gagal melakukan sesuatu, aku langsung bangkit lagi. Kita harus memiliki kehendak untuk berjuang!" Dari sudut pandang mereka, kehendak untuk berjuang itu adalah hal positif. Mereka tidak menganggap buruk orang yang memiliki aspirasi, idealisme, dan kehendak untuk berjuang. Bagaimana mereka memperlakukan ambisi dan hasrat yang dihasilkan oleh watak rusak kecongkakan? Mereka memperlakukannya sebagai hal yang positif. Jadi, menurut mereka, kemampuan untuk menderita kesukaran berupa tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu untuk meraih tujuan yang mereka perjuangkan dan anggap benar adalah perbuatan yang tepat, yang dianggap baik oleh orang, dan yang harus menjadi kebenaran. Itulah tiga perwujudan dari tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu. Dapatkah ketiga perwujudan itu menjelaskan makna yang terkandung dalam pepatah tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu? (Ya.) Jadi, Aku akan bersekutu tentang ketiga perwujudan itu secara lebih mendalam.
A. Tidak Mengakui Kekalahan
Mari kita mulai dengan membahas perwujudan pertama dari pepatah tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu, yaitu tidak mengakui kekalahan. Apa itu tidak mengakui kekalahan? Perwujudan apa yang biasa orang tunjukkan yang membuktikan bahwa mereka memiliki mentalitas tidak mengakui kekalahan? Watak seperti apakah tidak mengakui kekalahan itu? (Congkak dan keras kepala.) Watak itu mengandung dua watak yang jelas, yaitu congkak dan keras kepala. Apa lagi? (Keinginan untuk menang.) Apakah itu disebut watak? Itu adalah perwujudan. Kita sekarang sedang membicarakan watak. (Muak akan kebenaran.) Muak akan kebenaran tentu berarti bahwa mereka tidak menerima kebenaran. Misalnya, ketika seorang pemimpin atau pekerja berkata bahwa perbuatanmu melanggar prinsip-prinsip dan memperlambat pekerjaan rumah Tuhan, dan mereka ingin menggantikanmu, engkau berpikir, "Huh! Menurutku, perbuatanku tidak salah. Jika engkau mau menggantiku, silakan saja. Jika engkau tidak mengizinkanku melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Aku akan tunduk!" Di dalam ketundukan itu terdapat sikap tidak mau mengakui kekalahan. Itu adalah sebuah watak. Di samping kecongkakan, keras kepala, dan rasa muak akan kebenaran, apa lagikah yang terkandung dalam watak itu? Adakah watak ingin menyaingi Tuhan? (Ya.) Jadi, watak apakah itu? Itu adalah kekejian. Engkau semua bahkan tidak dapat mengenali watak sekeji itu. Mengapa Kukatakan bahwa itu keji? (Karena mereka ingin menyaingi Tuhan.) Mencoba untuk menyaingi kebenaran disebut sikap yang keji—terlalu keji! Jika mereka tidak keji, mereka tidak akan mencoba untuk menyaingi kebenaran dan menyaingi Tuhan, atau bersaing dengan-Nya. Itu adalah watak keji. Di dalam watak tidak mengakui kekalahan, terdapat kecongkakan, keras kepala, rasa muak akan kebenaran, dan kekejian. Itu adalah watak-watak yang jelas berkaitan dengannya. Seperti apakah perwujudan watak tidak mengakui kekalahan? Mentalitas apa yang tercakup di dalamnya? Bagaimana pola pikir orang-orang yang tidak mengakui kekalahan? Seperti apakah sikap mereka? Apa yang mereka katakan, pikirkan, dan singkapkan ketika menghadapi hal-hal seperti penggantian? Perwujudan paling umum adalah, ketika mereka melaksanakan suatu tugas, lalu Yang di Atas melihat bahwa mereka tidak cocok untuk melaksanakan tugas itu dan mengganti mereka, mereka merenung di dalam hati, "Aku tidak sepadan denganmu. Aku tidak akan berdebat denganmu. Aku berbakat. Emas sejati ditakdirkan untuk berkilau pada akhirnya, dan aku adalah orang yang berbakat, ke mana pun aku pergi! Apa pun pengaturan yang dibuat oleh Yang di Atas untukku, aku akan menanggungnya dan mendengarkannya untuk saat ini." Mereka juga menghampiri hadirat Tuhan dan berdoa, "Tuhan, aku mohon kepada-Mu untuk menjagaku dari keinginan untuk mengeluh. Kumohon agar Engkau menjaga lidahku, mencegahku agar tidak menghakimi-Mu atau menista-Mu, serta membuatku mampu tunduk." Namun, mereka lalu merenung lagi, "Aku tidak mampu tunduk. Itulah bagian terberatnya. Aku tidak dapat menerima fakta ini. Apa yang harus kulakukan? Ini adalah pengaturan dari Yang di Atas. Tidak ada yang dapat kulakukan. Aku begitu berbakat, tetapi mengapa aku tidak pernah dapat menggunakan bakatku di rumah Tuhan? Kelihatannya, aku belum cukup membaca firman Tuhan. Mulai sekarang, aku harus membaca lebih banyak firman Tuhan!" Mereka tidak menyerah dan tidak berpikir bahwa mereka lebih rendah daripada orang lain, mereka kebetulan saja memercayai Tuhan lebih belakangan, dan kekurangan itu dapat dikejar. Jadi, mereka berusaha membaca firman Tuhan dan mendengarkan khotbah-khotbah. Mereka mempelajari lagu pujian baru, membaca satu bab firman Tuhan setiap hari, serta berlatih berkhotbah. Perlahan-lahan, mereka menjadi makin akrab dengan firman Tuhan, dapat mengkhotbahkan banyak doktrin rohani, dan dapat berbicara untuk bersekutu dalam pertemuan. Apakah di sini terdapat dorongan untuk tidak mengakui kekalahan? (Ya.) Dorongan macam apakah itu? (Dorongan yang jahat.) Itu bermasalah! Mengapa, begitu kita menganalisisnya, engkau semua langsung melabelinya sebagai dorongan yang jahat? Tidakkah hal-hal itu baik? Kehidupan rohani mereka normal. Mereka tidak terlibat dalam hal-hal sekuler. Mereka tidak bergosip. Mereka dapat menyebutkan banyak bab dari firman Tuhan dan menyanyikan banyak lagu pujian di luar kepala. Mereka adalah kaum "elit"! Jadi, mengapa engkau berkata bahwa itu adalah dorongan yang jahat? (Niat mereka adalah untuk membuktikan bahwa mereka mampu dan tidak lebih rendah daripada orang lain.) Itu disebut tidak mengakui kekalahan. Dengan tidak mengakui kekalahan, apakah mereka benar-benar memahami diri sendiri dan mengakui masalah-masalah mereka? (Tidak.) Apakah mereka mengakui kerusakan dan watak congkak mereka? (Tidak.) Jadi, apa yang mereka buktikan dengan tidak mengakui kekalahan? Mereka ingin membuktikan bahwa mereka mampu dan lebih hebat, bahwa mereka lebih baik daripada orang lain, dan akhirnya membuktikan bahwa mengganti mereka adalah sebuah kesalahan. Dorongan mereka diarahkan pada tujuan itu. Apakah itu yang disebut tidak mengakui kekalahan? (Ya.) Sikap tidak mengakui kekalahan itu mendorong mereka untuk menghasilkan sejumlah tindakan, yaitu menghadapi kesukaran, membayar harga, menanggung penghinaan dan memikul beban berat. Dari luarnya, mereka kelihatannya mereka berusaha amat keras, dapat menghadapi kesukaran dan membayar harga, serta akhirnya meraih tujuan mereka, tetapi mengapa Tuhan tidak senang? Mengapa Dia mengutuk mereka? Karena Tuhan memeriksa lubuk hati manusia yang terdalam dan menilai setiap orang menurut kebenaran. Bagaimana Tuhan menilai perilaku, niat, perwujudan, dan watak setiap orang? Semua hal itu dinilai berdasarkan kebenaran. Lalu, bagaimana Tuhan menilai dan menjelaskan persoalan itu? Sebesar apa pun kesukaran yang telah kauderita dan semahal apa pun harga yang telah kaubayar, pada akhirnya, engkau tidak berjuang untuk mencapai kebenaran. Niatmu bukanlah untuk menerima atau tunduk kepada kebenaran. Sebaliknya, engkau malah menggunakan metode versimu sendiri dengan menghadapi penderitaan dan membayar harga untuk membuktikan bahwa Tuhan dan rumah Tuhan telah salah dalam menggolongkan dan menanganimu. Hal ini menyiratkan apa? Engkau ingin membuktikan bahwa engkau adalah orang yang tidak pernah salah dan tidak memiliki watak rusak. Engkau ingin membuktikan bahwa cara rumah Tuhan menanganimu tidak selaras dengan kebenaran serta bahwa kebenaran dan firman Tuhan terkadang keliru. Misalnya, ketika terjadi kekeliruan dan masalah ketika ada urusan yang menyangkut dirimu, kasus itu membuktikan bahwa firman Tuhan bukanlah kebenaran dan engkau tidak perlu tunduk. Bukankah demikian hasilnya? (Ya.) Apakah Tuhan berkenan dengan hasil seperti itu, atau mengutuknya? (Dia mengutuknya.) Tuhan mengutuknya.
Apakah sikap tidak mengakui kekalahan itu selaras dengan kebenaran? (Tidak.) Jika kita berkata bahwa sikap itu tidak sesuai dengan kebenaran dan jauh sekali dari kebenaran, mungkinkah pernyataan itu menjadi tepat? Tidak, karena sikap itu tidak berkaitan dengan kebenaran sama sekali. Di dunia dan di tengah umat manusia, apakah sikap tidak mengakui kekalahan dipuji, atau dikutuk? (Dipuji.) Di lingkungan seperti apakah sikap itu dipuji? (Di tempat kerja dan sekolah.) Misalnya, jika seorang murid mendapat nilai 60 dalam ujian, dia berkata, "Aku tidak mengakui kekalahan. Lain waktu, aku akan mendapat 90!" Dan ketika mendapat nilai 90, kali berikutnya dia ingin mendapat nilai 100. Akhirnya dia pun mendapat nilai 100, dan orang tuanya berpikir bahwa anak mereka ambisius dan memiliki masa depan yang cerah. Lingkungan lain yang sebenarnya paling umum adalah dalam pertandingan. Ada tim yang, ketika kalah, mencoreng wajah mereka sebagai tanda rasa malu, tetapi mereka tidak mengakui kekalahan. Karena mentalitas dan sikap tidak mengakui kekalahan itu, mereka bekerja dan berlatih lebih keras, lalu dalam pertandingan berikutnya mereka mengalahkan tim lain dan membuat para lawannya terlihat buruk. Dalam masyarakat dan di tengah umat manusia, tidak mengakui kekalahan adalah suatu mentalitas. Apa itu mentalitas? (Itu adalah cara berpikir yang menopang orang secara psikologis.) Tepat. Itulah kekuatan penggerak yang mendukung orang untuk selalu berani bergerak maju, tidak terkalahkan, tidak berkecil hati, tidak mundur, serta meraih impian dan tujuan mereka. Sikap itu disebut tidak mengakui kekalahan. Itu adalah sejenis mentalitas tidak mengakui kekalahan. Orang berpikir bahwa, jika mereka tidak memiliki mentalitas atau "semangat" semacam itu, hidup tidaklah bermakna. Hidup mereka bergantung pada apa? Hidup mereka bergantung pada mentalitas semacam itu. Dari mana asalnya mentalitas itu? Itu berasal dari gagasan dan imajinasi orang serta watak rusak mereka. Itu tidak nyata, dan orang tidak dapat meraihnya. Sejak Tuhan menciptakan manusia hingga sekarang, sebanyak apa pun tahun-tahun yang telah berlalu, ada sangat banyak hal positif, seperti tatanan yang dijalani oleh semua makhluk hidup, tatanan yang dijalani oleh umat manusia, dan tatanan yang berlaku bagi langit dan bumi dan alam semesta serta segala sesuatu, dan seterusnya. Menurut pemikiran dan tingkat pendidikannya, orang seharusnya mampu menemukan tatanan untuk ditaati di tengah semua ini dan untuk dianut sebagai prinsip dan kekuatan penggerak bagi tindakan dan perilaku mereka, atau sebagai dasar atas hal-hal itu. Namun, orang tidak mengerahkan usahanya ke arah yang benar—ke arah manakah mereka mengerahkan kekuatannya? Mereka mengerahkan kekuatannya ke arah yang salah. Maksudnya, mereka melanggar tatanan yang mengatur perkembangan segala sesuatu dan yang mengatur perputaran segala sesuatu. Mereka selalu ingin memusnahkan tatanan alami yang telah ditetapkan oleh Tuhan serta menggunakan metode-metode dan cara-cara manusia untuk menciptakan kebahagiaan. Mereka tidak tahu cara meraih kebahagiaan, misteri yang terkandung di dalamnya, atau sumbernya. Mereka tidak mencari sumber itu. Mereka malah mencoba menggunakan cara manusia untuk menciptakan kebahagiaan dan juga selalu ingin menciptakan mukjizat. Mereka mencoba menggunakan cara manusia dalam mengubah tatanan normal dari segala sesuatu, lalu meraih kebahagiaan dan tujuan yang mereka inginkan. Semuanya itu tidak normal. Seperti apakah hasil akhir dari orang yang mengandalkan diri sendiri untuk berjuang meraih hal-hal semacam itu, tidak peduli bagaimana cara mereka berjuang? Dunia ini, yang Tuhan berikan kepada umat manusia untuk dikelola, telah dirusak. Siapakah korban terbesar dari kerusakan itu? (Manusia.) Umat manusialah korban terbesarnya. Orang telah menyalahgunakan dunia hingga sejauh ini, tetapi masih saja mereka sesumbar bahwa mereka pantang menyerah. Tidakkah ada sesuatu yang salah dalam kepala mereka? Dampak akhir seperti apakah yang diakibatkan oleh sikap pantang menyerah? Bencana yang dahsyat. Dampaknya bukan sekadar kekalahan dalam satu atau dua pertandingan, atau corengan tanda rasa malu pada wajah mereka. Mereka telah memusnahkan kesempatan dan menutup jalan keluar mereka—mereka telah memusnahkan diri mereka sendiri! Itulah yang dihasilkan dari sikap tidak mengakui kekalahan.
Yang kita analisis sekarang adalah perwujudan khas dari watak Iblis yang kejam dan congkak, yaitu pantang menyerah. Pantang menyerah adalah sebuah mentalitas. Kita mengkritiknya, menyingkapkannya, dan mengutuknya, tetapi jika engkau mengutuknya di kalangan umat manusia, akankah mereka menerimanya? (Tidak.) Mengapa tidak? (Karena semua orang memuji ungkapan itu.) Mereka mendukung mentalitas itu. Jika seseorang tidak memiliki sedikit pun mentalitas tidak mengakui kekalahan dan pantang menyerah, orang lain akan berkata bahwa dia adalah orang yang lemah. Jika kita tidak mendukung hal-hal itu, apakah kita orang yang lemah? (Bukan.) Orang berkata, "Bagaimana mungkin engkau bukan orang lemah? Engkau tidak hidup dengan sedikit pun ketangguhan. Apa gunanya engkau hidup?" Apakah pernyataan itu benar? Mari kita analisis terlebih dahulu: Sikap macam apakah tidak mengakui kekalahan itu? Haruskah orang yang nalarnya normal memiliki sikap itu? Sebenarnya, jika orang memiliki nalar yang normal, mereka seharusnya tidak memiliki pola pikir seperti itu. Memiliki pola pikir seperti itu adalah kesalahan. Seseorang harus menghadapi kenyataan agar dapat menjadi orang yang bernalar. Oleh karena itu, terbukti bahwa tidak mengakui kekalahan adalah sikap yang tidak bernalar. Artinya, ada sesuatu yang salah dengan pikiran mereka, dan sikap itu jelas-jelas salah. Bagi orang yang percaya kepada Tuhan, sebenarnya, mereka seharusnya tidak memiliki pola pikir seperti itu karena watak congkak terkandung dalam sikap tidak mengakui kekalahan. Mudahkah bagi orang untuk menerima kebenaran jika mereka memiliki watak congkak? (Tidak.) Ini adalah masalah. Jika engkau menggunakan watak congkak sebagai dasar bagi pencarianmu akan kebenaran, apakah yang sebenarnya engkau cari? Yang engkau cari pastilah bukan kebenaran, karena pencarian seperti itu pada dasarnya tidak bersifat positif, dan yang akan engkau peroleh pasti bukanlah kebenaran. Itu pasti akan menjadi sejenis "mentalitas" hasil khayalan orang. Jika orang memperlakukan mentalitas semacam itu sebagai kebenaran, mereka telah tersesat dari jalan yang benar. Jadi, jika kita hendak membetulkan pola pikir tidak mengakui kekalahan, apa yang akan kita katakan? Kita akan berkata bahwa orang harus menghadapi masalah nyata, harus melakukan berbagai hal menurut prinsip-prinsip kebenaran, dan tidak boleh memiliki sikap tidak mengakui kekalahan. Jika mereka tidak mengakui kekalahan, siapakah yang sebenarnya tidak mereka akui? (Tuhan.) Mereka tidak mengakui kebenaran. Lebih khususnya lagi, mereka tidak mengakui fakta-fakta yang sesungguhnya dari persoalan itu, tidak mengakui bahwa mereka bersalah dan telah disingkapkan, dan tidak mengakui bahwa mereka memiliki watak congkak. Itulah kebenarannya. Jadi, bagaimana engkau dapat menyanggah orang-orang itu? Cara terbaik untuk membantah mereka adalah dengan menggunakan hal yang paling memalukan bagi mereka. Hal apakah di dunia modern ini yang dianggap paling memalukan oleh umat manusia? Sains. Apa yang telah sains berikan kepada umat manusia? (Bencana.) Sains, hal yang paling dipuji dan dibanggakan oleh umat manusia, telah membawa bencana yang tidak ada bandingnya bagi mereka. Kini setelah memiliki petunjuk itu, bagaimana sebaiknya engkau semua menyanggah orang-orang itu sehingga engkau dapat mempermalukan mereka? Menurut kalian, haruskah semua orang yang sejenis dengan Iblis dipermalukan? (Ya.) Jika engkau tidak mempermalukan mereka, mereka akan terus meremehkan kebenaran, mendiskriminasi orang-orang yang percaya kepada Tuhan, dan meyakini bahwa orang-orang yang percaya kepada Tuhan hanya percaya karena mereka adalah orang-orang lemah. Bagaimana sebaiknya engkau semua menyanggah mereka? (Dengan berkata, "Engkau hanyalah orang biasa. Memangnya apa yang kaumiliki yang membuatmu tidak perlu mengakui kekalahan? Apa yang membuatmu merasa tidak masalah ketika tidak mengakui kekalahan? Bahkan, meskipun beberapa orang adalah ilmuwan, memangnya kenapa? Meskipun mereka mengembangkan teknologi ilmiah yang sangat canggih, lalu kenapa? Dapatkah para ilmuwan menanggulangi segala bencana yang disebabkan oleh sains ke tengah umat manusia saat ini?") Itulah cara yang tepat untuk menyanggah mereka. Pikirkanlah, bukankah itu cara yang baik untuk menyanggah mereka? Engkau berkata, "Umat manusia telah hidup sampai saat ini, tetapi orang bahkan tidak mengenal nenek moyang mereka sendiri, jadi bagaimana bisa mereka tidak mengakui kekalahan? Engkau bahkan tidak tahu asal usulmu, jadi apa yang perlu engkau sombongkan? Engkau bahkan tidak mengakui bahwa Tuhan yang menciptakanmu, jadi bagaimana bisa engkau tidak mengakui kekalahan? Tuhan menciptakan manusia, dan itu adalah hal yang agung, tetapi engkau tidak mengakui ataupun menerimanya. Engkau malah bersikeras memercayai dan mengakui bahwa manusia berevolusi dari binatang buas. Begitu rendahkah engkau? Tuhan begitu perkasa dan mulia. Dia berkata bahwa Dialah Penciptamu, tetapi engkau tidak mengakui bahwa engkau adalah makhluk ciptaan-Nya. Begitu hinakah engkau?" Mereka akan membantah apa? "Manusia berevolusi dari kera, tetapi kita binatang yang levelnya lebih tinggi." "Lalu, bukankah engkau tetap saja hewan dan binatang buas? Kita tidak mengakui bahwa kita binatang. Kita adalah orang, manusia ciptaan Tuhan. Tuhan menciptakan manusia, dan Dia mengakui bahwa engkau adalah manusia, tetapi engkau tidak mau menjadi manusia. Engkau bersikeras menyangkal fakta bahwa Tuhan menciptakan manusia. Engkau bersikeras bahwa dirimu adalah binatang. Apa gunanya engkau hidup? Apakah engkau layak hidup?" Apakah ada kekuatan dalam kata-kata itu? (Ya.) Begitulah cara kita menyanggah orang-orang itu. Tidak peduli apakah mereka mengakuinya atau tidak, menerimanya atau tidak, itu semua adalah fakta. Aku akan berbicara tentang hal lain. Orang tidak pernah mengakui kekalahan, dan mereka merasa sangat hebat karena memiliki teknologi canggih dan segala macam kebijaksanaan, tetapi bagaimana cara mereka memperlakukan alam? Mereka terus memeranginya dan selalu ingin menaklukkannya. Mereka sama sekali tidak paham akan caranya mengikuti tatanan alam. Apa yang akhirnya diakibatkan oleh cara manusia mengelola alam? Tidakkah semua itu dikelola oleh manusia yang berpengetahuan luas dan memahami sains? Tidakkah engkau menolak mengakui kekalahan? Apakah engkau orang yang hebat? Apakah engkau tidak memerlukan kedaulatan Tuhan? Umat manusia dan alam telah hidup berdampingan selama ribuan tahun, tetapi yang mengherankan, mereka masih belum tahu cara mengelola alam. Umat manusia mengembangkan dan mengonsumsi segala hal secara berlebihan serta mencemari alam dengan begitu parahnya sehingga cadangan sumber daya alam kini makin tidak mencukupi. Selain itu, tidak ada air yang mereka minum, makanan yang mereka makan, atau udara yang mereka hirup yang bebas dari racun. Saat pertama kali Tuhan menciptakan alam, semua makhluk hidup, makanan, udara, dan air bebas dari racun dan bersih, tetapi setelah Dia memberikan alam kepada umat manusia untuk dikelola, semua hal itu menjadi beracun. Manusia sendirilah yang harus "menikmati" semua ini. Jadi, bagaimana bisa orang tidak mengakui kekalahan? Tuhan menciptakan dunia yang begitu indah untuk umat manusia dan mengizinkan mereka untuk mengelolanya, tetapi bagaimana cara mereka mengelolanya? Apakah mereka tahu cara mengelolanya? Umat manusia menyalahgunakan alam hingga taraf alam menjadi sepenuhnya kacau balau. Lautan, gunung, daratan, udara, dan bahkan lapisan ozon di langit—tidak ada yang lolos. Semuanya telah dirusak. Siapakah yang akhirnya akan menanggung dampak mengerikan dari semua itu? (Manusia.) Umat manusia sendiri. Manusia benar-benar bodoh, tetapi mereka pikir mereka hebat dan mereka tidak mengakui kekalahan! Mengapa mereka tidak mengakuinya? Jika umat manusia diperbolehkan untuk terus mengelola berbagai hal dengan cara demikian, akankah alam pulih kembali ke kondisi awalnya? Tidak akan pernah. Jika umat manusia mengandalkan mentalitas tidak mengakui kekalahan, dunia dan alam hanya akan bertambah buruk, mengerikan, dan kotor jika dikelola mereka. Akan seperti apa dampak akhirnya? Umat manusia akan mati dalam lingkungan yang telah mereka hancurkan. Lalu, siapakah yang pada akhirnya mampu mengubah itu semua? Tuhan. Jika manusia mampu melakukan itu, salah satu di antara mereka boleh saja maju dan mencoba untuk mengubah keadaan dunia saat ini, tetapi adakah orang yang berani mengambil tanggung jawab itu? (Tidak ada.) Jadi, mengapa orang tidak mengakui kekalahan? Orang bahkan tidak mampu melindungi air yang mereka minum. Alam tidak dirusak oleh singa atau macan, apalagi burung, ikan, atau serangga. Sebaliknya, manusia sendirilah yang merusak dan memusnahkannya. Manusia pada akhirnya harus menuai apa yang mereka tabur. Adakah cara untuk mengubahnya sekarang? Itu tidak bisa diubah. Dapat dikatakan dengan pasti bahwa, jika Tuhan tidak datang untuk melakukan semua itu, lingkungan tempat hidup seluruh umat manusia hanya akan makin bertambah parah dan mengerikan. Keadaan tidak akan membaik. Hanya Tuhanlah yang dapat mengubah semua itu. Apakah tidak masalah jika umat manusia tidak mengakui kekalahan? Dapatkah engkau mengubah lingkungan ini? Engkau dianugerahi lingkungan yang baik, tetapi yang kaulakukan hanya merusaknya, bukannya melindunginya. Seperti apakah rantai makanan yang berlaku di seluruh dunia? Apakah umat manusia memahaminya? Tidak. Misalnya, serigala adalah hewan buas. Jika manusia membunuh semua serigala, mereka akan berpikir bahwa mereka telah menaklukkan alam. Dengan tekad dan mentalitas semacam itu serta mentalitas untuk menghadapi tantangan, umat manusia pun mulai memburu serigala secara besar-besaran. Ketika mereka membunuh sebagian besar serigala di suatu kawasan padang rumput, umat manusia berpikir bahwa mereka telah menaklukkan alam dan spesies hewan bernama serigala. Sementara itu, mereka menggantung kulit serigala di rumah mereka, memakai jubah dari kulit serigala, mengenakan topi dari kulit serigala, dan menaruh kulit anak serigala di ujung mata belati mereka. Mereka mengambil foto, dan memberi tahu seluruh dunia, "Kita telah menaklukkan spesies yang menjadi ancaman bagi umat manusia, yaitu serigala!" Tidakkah rasa puas diri ini agak terlalu dini? Dengan lebih sedikit jumlah serigala, dari luar kelihatannya hidup manusia dan sejumlah makhluk lain tidak lagi terancam, tetapi dampak apakah yang akan timbul setelahnya? Umat manusia harus membayar mahal atas tindakan itu. Harga apakah yang harus mereka bayar? Ketika serigala dibunuh secara besar-besaran, jumlah serigala menyusut. Segera setelahnya, segala jenis kelinci, tikus, dan setiap jenis hewan lain di padang rumput yang menjadi makanan serigala mulai berlipat ganda dalam jumlah besar. Ketika jumlah hewan-hewan itu bertambah banyak, apakah dampak pertamanya? (Rerumputan akan menghilang.) Rerumputan akan makin berkurang. Ketika rumput berkurang, maka makin sedikit pula tumbuhan yang melapisi permukaan tanah. Ketika jumlah hewan-hewan itu menjadi berlebih, mereka perlu makan banyak sekali rumput, dan laju pertumbuhan rumput menjadi tidak sebanding dengan jumlah hewan herbivora. Ketika hal-hal itu tidak lagi seimbang, apa yang terjadi? (Tanah menjadi gersang.) Ya, tanah akan menjadi gersang. Ketika tidak ada lagi lapisan tumbuhan di tanah, tanah mulai berubah menjadi pasir dan perlahan-lahan menjadi daerah berpasir. Sebagian besar tanaman tidak dapat berakar atau berkembang biak di pasir sehingga tanah berpasir berkembang dengan cepat dan makin meluas hingga akhirnya seluruh padang rumput menjadi gurun. Setelah itu, gurun itu mulai merambah kawasan tempat tinggal manusia, dan apakah yang pertama kali mereka rasakan? Mungkin ketika orang melihat bahwa kawasan gurun telah meluas, mereka tidak merasa takut. Namun, ketika serangan badai pasir menghantam, kerusakan apakah yang akan ditimbulkan pada umat manusia? Pertama, debu akan bertiup di mana-mana. Lalu, ketika musim berangin tiba, orang bahkan tidak akan mampu membuka mata karena terlalu banyak pasir yang tertiup angin. Tubuh mereka akan dilapisi pasir dan mulut mereka akan penuh dengan pasir. Dalam keadaan ekstrem, rumah, ternak, atau orang yang tinggal di dekat gurun itu bisa jadi tertimbun pasir. Dapatkah orang menghentikan pasir? (Tidak.) Mereka tidak dapat menghentikannya, jadi mereka harus pindah dan mundur makin jauh ke pedalaman. Pada akhirnya, padang rumput akan menjadi makin sempit, gurun makin meluas, dan daerah yang dapat ditinggali umat manusia akan makin sedikit. Jadi, apakah lingkungan tempat tinggal manusia akan menjadi lebih baik atau lebih buruk? (Lebih buruk.) Bagaimana hasil yang harus mereka tanggung itu dapat terjadi? Apa pemicunya? (Dibunuhnya kawanan serigala.) Itu dimulai ketika mereka membunuh kawanan serigala. Pemicunya adalah hal kecil yang tidak mencolok semacam itu. Jika manusia tidak memahami cara mengikuti dan melindungi tatanan itu, dampak apakah yang akhirnya akan timbul? Orang-orang akan tersapu oleh pasir. Bukankah itu bencana yang dahsyat? Membunuh serigala adalah sejenis perilaku, tetapi watak apakah yang menjadi inti dari perilaku itu? Apakah esensi dari watak itu? Apakah yang memotivasi mereka untuk melakukannya? Cara berpikir seperti apakah yang menimbulkan perilaku semacam itu? (Keinginan untuk menaklukkan alam.) Betul, mereka ingin menaklukkan alam. Orang berpikir bahwa serigala adalah musuh alami umat manusia. Serigala membawa ancaman bagi umat manusia dan selalu memakan orang. Serigala bukanlah hal yang baik. Umat manusia memfitnah serigala dengan cara demikian, lalu mencoba untuk menaklukkan dan memberantas mereka sampai tidak tersisa, bahkan seekor pun. Dengan demikian, umat manusia dapat hidup dengan nyaman dan tenang serta tidak terancam sama sekali. Motivasi itulah yang mendasari manusia untuk mulai membunuh serigala. Apa yang mendorong perbuatan itu? Perbuatan itu didorong oleh mentalitas tidak mengakui kekalahan. Umat manusia tidak tahu cara mengelola atau menertibkan para serigala. Mereka malah selalu ingin membunuh dan memberantas mereka. Mereka ingin membalikkan tatanan itu dan mengubahnya menjadi tatanan lain. Apa hasilnya? Orang-orang tertimbun pasir. Bukankah itu hasilnya? (Ya.) Itulah hasilnya. Dari seluruh ras umat manusia dan seisi dunia yang Tuhan ciptakan, di suatu sudut kecil di planet ini—yang di mata Tuhan mungkin tidak lebih besar daripada sebiji kacang—insiden kecil itu terjadi, tetapi orang bahkan tidak dapat memahaminya dengan jelas. Mereka masih bersaing dengan alam, bersaing dengan Tuhan, dan tidak mengakui kekalahan! Dampak apakah yang ditimbulkan dari sikap tidak mengakui kekalahan? (Kemusnahan.) Mereka yang menyebabkan kemusnahan mereka sendiri! Begitulah faktanya sekarang. Setelah dampak itu terjadi, bagaimana sebaiknya umat manusia memperbaikinya? (Mereka tidak bisa.) Mereka tidak dapat memperbaikinya. Sejumlah lembaga sosial dan orang-orang baik hati yang mengadakan berbagai kegiatan untuk kepentingan umum bergerak dan mengimbau semua orang untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Motivasi dan alasan mereka melakukan hal-hal itu benar, dan imbauan mereka pun benar. Adakah orang yang menanggapi? (Tidak.) Pemerintah juga tidak bertindak. Tidak ada yang peduli dengan persoalan itu. Orang mengetahui penyebab persoalan itu, tetapi mereka hanya menyelidikinya sebagai pengamat, lalu selesai. Mereka tetap saja membunuh serigala seperti sebelumnya. Seseorang berkata, "Jika engkau terus membantai mereka seperti itu, suatu hari engkau akan terkubur dalam pasir." Namun, orang-orang itu menjawab, "Ya, aku akan terkubur. Namun, tentunya bukan hanya aku saja. Apa yang harus ditakutkan?" Watak apakah itu? Watak yang mati rasa dan kurangnya kemampuan untuk berpikir. Mereka tidak memiliki kemanusiaan. Siapa yang tidak takut mati? Bagaimana mereka bisa mengatakan hal yang sembrono seperti itu? Mereka tidak percaya bahwa hal semacam itu akan terjadi. Mereka berpikir, "Bumi ini luas. Selain gurun, ada pegunungan dan hutan-hutan. Apakah semua itu dapat musnah dengan begitu cepat? Masih ada banyak waktu! Kita hanya membunuh sedikit serigala dan sejumlah tempat berubah menjadi gurun, dan kau setakut ini? Jika mereka harus dibunuh, kita harus membunuh mereka." Tidakkah itu bodoh? Mereka membunuh sejumlah serigala, dan hanya dalam dua atau tiga puluh tahun, hamparan padang rumput yang hijau pun berubah total. Seandainya orang menaburkan benih rumput di tanah itu, atau menanam tumbuhan yang cocok untuk tanah gurun—seandainya mereka mampu mengubah lingkungan itu, umat manusia akan dapat menebus kesalahannya dan itu belum terlalu terlambat. Namun, apakah kenyataannya sesederhana itu? Tatanan yang telah dibuat oleh Tuhan adalah yang terbaik dan paling cocok. Manusia harus mengikuti tatanan itu untuk menjaga keberadaan tanah, agar hewan, tumbuhan, dan manusia dapat terus hidup di situ dan agar setiap makhluk dapat berhubungan dengan harmonis dan hidup berdampingan dengan saling membatasi dan menguntungkan satu sama lain. Jika sebagian wilayah di bumi hancur, engkau mungkin tidak melihat dampak apa pun dalam sepuluh tahun, tetapi setelah dua puluh tahun, ketika engkau baru benar-benar merasakan dampaknya, tidak akan ada yang mampu membatalkannya. Apakah artinya itu? Artinya, jika Tuhan tidak membuat perubahan besar, mulai sejak saat itu, lingkungan tempat tinggal manusia hanya akan menjadi makin buruk dan tidak akan berkembang ke arah yang baik. Seperti itulah dampaknya nanti. Apa sumber dari dampak itu? Sumbernya adalah mentalitas tidak mengakui kekalahan yang dipuji oleh umat manusia, yang adalah perwujudan pertama dari prinsip tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu. Dari sudut pandang manusia, tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu adalah pepatah yang "agung" dan "suci". Namun, hal pertama yang diakibatkan oleh gagasan itu adalah dampak-dampak negatif besar pada umat manusia. Orang berpikir, "Tidakkah ada tatanan atas alam? Menurutku, tatanan ini tidak begitu penting. Tidakkah orang berkata bahwa itu kudus dan tidak boleh dimusnahkan? Kalau begitu, aku akan memusnahkannya, dan kita lihat saja apa yang akan terjadi!" Dampak negatif yang kini "dinikmati" oleh umat manusia adalah hal yang paling tidak ingin mereka lihat. Begitulah terjadinya dampak dari perkataan "lihat saja apa yang akan terjadi". Dampak itu terpampang jelas di hadapan umat manusia. Semua orang telah melihat suasana "akhir zaman". Bukankah mereka mendapatkan akibat yang setimpal? Mereka sendirilah yang menyebabkan semua itu.
Perwujudan pertama dari tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu adalah tidak mengakui kekalahan. Dampak apa yang harus ditanggung oleh manusia? Bencana dahsyat. Mereka menuai dampak negatif dari perbuatan mereka. Dalam bahasa sehari-hari, dapat dikatakan bahwa mereka mendapatkan apa yang mereka minta dan memperoleh yang layak mereka dapatkan! Kini engkau mengetahui apakah sebenarnya ungkapan itu benar atau salah dan apakah itu kebenaran, bukan? Apakah ungkapan itu kebenaran? (Bukan.) Itu bukan kebenaran. Katakanlah orang tidak percaya berkata lagi, "Kita ini manusia, jadi kita harus mempunyai semangat. Kita harus tangguh!" Engkau merenungkannya dan berkata, "Itu benar sekali. Sebagai orang percaya, kita selalu berbicara tentang ketundukan. Tidakkah itu menunjukkan kurangnya kemandirian? Tidakkah itu terlalu lemah? Kita tidak memiliki ketangguhan." Apakah engkau berpikir seperti itu? Jika engkau menerima hal-hal yang telah Kukatakan hari ini, engkau tidak akan pernah berpikir seperti itu. Sebaliknya, engkau akan berkata, "Umat manusia tidak mungkin lagi diselamatkan. Tidak heran Tuhan membenci mereka. Umat manusia sudah tidak dapat lagi diajak untuk berpikir rasional." Engkau tidak akan menerima gagasan semacam itu. Bahkan jika engkau tidak memiliki bantahan yang cocok, atau hal itu tidak cocok untuk mendebat orang-orang itu, di dalam hati, engkau mengetahui bahwa pandangan mereka sama sekali bukan kebenaran. Sepositif apa pun gagasan semacam itu di mata orang-orang, dan tidak peduli sebanyak apa pun manusia di dunia yang menganjurkan dan menyanjungnya, engkau tidak akan terpengaruh olehnya. Sebaliknya, engkau akan menolak dan mencemoohnya. Aku telah selesai bersekutu tentang perwujudan pertama dari tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu. Awalnya Aku mempersekutukan kebenaran itu, tetapi mengapa Aku menyimpang dari topik itu? Inilah yang Kupikirkan: Jika yang engkau ambil dari persekutuan-Ku hanya sebatas definisi atau konsep, engkau tidak akan pernah memahami bagian mana yang benar dan salah dari ide ini. Engkau hanya akan terombang-ambing—terkadang engkau akan berpikir bahwa gagasan semacam itu benar, terkadang engkau akan berpikir bahwa gagasan semacam itu salah, tetapi engkau tidak akan mengetahui dengan jelas mana yang salah atau benar. Selain itu, engkau akan sering bertindak menurut "prinsip" itu, dan engkau akan selalu kebingungan. Jika engkau tidak dapat memahaminya dengan jelas, engkau tidak akan dapat meninggalkan gagasan semacam itu. Jika engkau tidak dapat meninggalkannya, dapatkah engkau menerapkan kebenaran dengan sepenuhnya? Dapatkah engkau menyembah dan mengikuti firman Tuhan sebagai kebenaran dengan sepenuhnya? Tidak, tidak dengan sepenuhnya. Engkau hanya akan mampu secara relatif berpikir, atau kadang-kadang berpikir, bahwa firman Tuhan benar atau selalu benar, dan engkau menjunjung hal ini dari segi doktrin. Namun, jika engkau masih dipengaruhi dan terganggu oleh "pengetahuan" itu dan oleh kata-kata yang kedengarannya benar tetapi sesungguhnya palsu, engkau akan selalu berpikir bahwa firman Tuhan adalah kebenaran yang relatif dan bukan kebenaran mutlak.
B. Menanggung Penghinaan dan Memikul Beban Berat
Perwujudan kedua dari tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu adalah menanggung penghinaan dan memikul beban berat. Menanggung penghinaan dan memikul beban berat juga merupakan sebuah bentuk pemikiran, mentalitas, dan sikap terhadap berbagai hal yang didukung oleh orang-orang duniawi. Di tengah masyarakat dan dunia, itu adalah cara berpikir yang cukup positif serta dianggap cukup optimistis, berorientasi ke depan, dan positif oleh umat manusia. Jadi, hal apakah yang ingin kita analisis? Apa yang salah dari menanggung penghinaan dan memikul beban berat? Mengapa itu bukan kebenaran? Pada dasarnya, sikap itu tidak berkaitan dengan kebenaran. Apa yang Kumaksudkan ketika Aku berkata bahwa sikap itu tidak berkaitan dengan kebenaran? Maksud-Ku adalah, jika ingin menerapkan kebenaran, engkau harus sepenuhnya melakukan hal itu menurut prinsip-prinsip firman Tuhan serta menurut standar dan ketentuan yang dituntut oleh Tuhan. Engkau tidak boleh mencampuradukkan sikap dan pandangan tentang melakukan berbagai hal dengan metode dan cara yang berasal dari "ideologi", "mentalitas", dan "integritas" manusia. Firman Tuhan adalah kebenaran dan tidak berkaitan dengan hal-hal itu. Lalu, mengapa menanggung penghinaan dan memikul beban berat dianggap buruk? Mengapa Kukatakan bahwa itu bukan kebenaran? Tidakkah itu layak dianalisis? (Ya.) Mari kita mulai dengan menjelaskan makna harfiah dari ungkapan itu agar lebih mudah dipahami. Menanggung penghinaan dan memikul beban berat berarti mampu menanggung segala rasa malu, kepedihan, dan pelecehan demi memenuhi tanggung jawab, beban, atau misi yang engkau laksanakan dan terima. Itulah makna dasar dari ungkapan itu. Lalu, di lingkungan dan situasi seperti apakah orang biasanya menggunakan ungkapan ini? Jika ada yang berkata bahwa seseorang menanggung penghinaan dan memikul beban berat, lalu apakah orang itu sedang berada dalam keadaan di mana misinya telah selesai dan dia telah mencapai tujuan yang hendak dicapainya? (Tidak.) Jadi, biasanya, ketika ada yang menggunakan ungkapan menanggung penghinaan dan memikul beban berat, yang sedang dia maksudkan adalah orang tidak penting yang berada dalam keadaan tanpa status dan tanpa nama sama sekali, apalagi kekuasaan. Dia berada dalam situasi semacam itu tetapi masih perlu memikul tanggung jawabnya, memikul misi yang harus diselesaikannya, tidak berkecil hati, tidak berkompromi, dan tidak menyerah. Bukankah itu juga sejenis mentalitas? Apakah yang ditekankan oleh mentalitas itu? Yang ditekankan oleh mentalitas itu adalah "menanggung" dan "memikul". "Menanggung" berarti bersikap sabar dan bertahan menghadapi sesuatu. Sementara itu, selain menanggung sesuatu, dia juga harus mengambil dan memikul beban dan tanggung jawab berat, tidak gagal memenuhi harapan semua orang, dan tidak mengecewakan pihak yang telah memercayakan tugas itu kepadanya. Mentalitas macam apakah itu? (Ketekunan.) Ada unsur makna ini dalam mentalitas itu, tetapi makna itu berada pada tataran yang sangat dasar dan dangkal. Ada unsur apa lagi di sana? Mari kita menganalisisnya dengan cara berikut ini. Apa arti dari kata "penghinaan" dalam "menanggung penghinaan"? (Direndahkan dan rasa malu.) Itu adalah keadaan ketika semua orang di sekeliling orang itu membuatnya merasa direndahkan. Perilaku-perilaku spesifik apakah yang mempermalukan orang dan membuatnya merasa direndahkan? (Mengejek, memfitnah, dan melontarkan komentar pedas tentangnya.) Itu betul: mengejek, memfitnah, mengolok-olok, mempermainkan, dan melontarkan komentar pedas tentangnya. Jadi, apa arti "beban berat" dalam "memikul beban berat"? (Tanggung jawab dan amanat.) Tanggung jawab dan amanat mengandung apa? Keduanya mengandung sejenis misi dan beban berat. Beban berat itu bisa jadi beban yang dipercayakan oleh orang lain kepadanya, tujuan yang diperjuangkan olehnya, atau misi yang dipikirkannya sendiri. Misi seperti apakah yang dia pikir sedang dia laksanakan? (Membawa kehormatan bagi leluhur mereka, dan menonjolkan diri.) (Menjadi yang terunggul di antara manusia.) Semua itu adalah contoh. Pada dasarnya, semua itu adalah aspirasi orang. Untuk mencapai dan mewujudkan tujuan-tujuan itu, dalam keadaannya saat ini, dia mampu bertahan saat direndahkan, diejek, difitnah, mendapat komentar pedas, dan bahkan diolok-olok orang-orang di sekelilingnya. Apa yang mendorong mereka untuk menanggung semua itu? Misalnya, ada orang yang bercita-cita menjadi jenderal berpangkat tinggi di ketentaraan. Sebelum meraih kekuasaan, suatu hari, sekelompok preman menghinanya dan berkata, "Engkau? Seorang jenderal? Saat ini, seekor kuda pun bahkan engkau tak punya—mana mungkin engkau menjadi jenderal? Jika engkau mau menjadi jenderal, merangkaklah dahulu di antara kakiku!" Semua orang di sekitar mereka pun ikut tertawa. Dia merenung sesaat, "Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk menjadi jenderal. Mengapa mereka mengolok-olok dan menertawakanku? Namun, aku tidak boleh gegabah dan menunjukkan kemampuanku sekarang. Ditilik dari keadaan saat ini, jika tidak melakukan apa yang mereka katakan, aku akan dipukuli, dan jika situasinya memburuk, aku bisa kehilangan nyawaku. Jika demikian, bagaimana bisa aku menjadi jenderal? Demi idealismeku, merangkak di antara kaki seorang preman bukanlah apa-apa. Aku masih diriku sendiri, bukan?" Pada saat itu, dia berlutut, menaruh kedua tangannya di tanah, dan merangkak di antara kaki si preman seperti anjing. Selagi dia merangkak, hatinya begitu berat untuk menerimanya dan terasa pedih, seakan-akan sedang ditusuk pisau—ada kebencian dalam hatinya! Dia berpikir, "Suatu hari, ketika aku sungguh menjadi seorang jenderal, akan kucincang dia menjadi ribuan potong!" Itulah yang dipikirkannya dalam hatinya, tetapi dari luar, dia harus menanggungnya. Dia tidak boleh membiarkan orang lain mengetahui isi pikirannya. Setelah merangkak di antara kaki si preman, kelompok itu pun puas dan melepaskannya sambil menendangnya dengan cepat ke samping. Dia bangkit, menepuk debu dari tubuhnya, dan bahkan berkata, "Tendangan yang bagus. Aku akan memanggilmu 'bos' mulai sekarang." Yang dia pikirkan di dalam dan yang dia tunjukkan di luar sangat jauh berbeda. Bagaimana dia mampu melakukan itu? Dia hanya mempunyai satu tujuan: "Aku harus tetap hidup. Aku menanggung semua ini agar suatu hari aku dapat menjadi jenderal dan menjadi yang terunggul di antara manusia. Itu semua layak dibayar dengan kesulitan hidup dan penghinaan hari ini. Besok, aku harus bekerja bahkan lebih keras lagi dan berupaya untuk meraih tujuanku. Apa pun kesulitan yang kuhadapi, dan apa pun penderitaan dan penghinaan yang harus kutanggung, aku harus menjadi seorang jenderal! Setelah menjadi jenderal, hal pertama yang akan kulakukan adalah membunuh si berengsek itu dan menuntut balas atas bagaimana aku dihina dengan merangkak di antara kakinya!" Terlepas dari apakah dia nanti menjadi jenderal, "ketabahan" adalah prinsip tertingginya pada saat itu. Adakah strategi atau siasat rahasia yang terkandung dalam prinsip itu? (Ya.) Ada siasat rahasia. Dia tabah karena tidak ada lagi yang dapat dia perbuat. Apakah tujuannya? Tujuannya adalah agar suatu hari dia dapat membalas segala penghinaan itu. Ketabahannya didasarkan pada pepatah seperti "Di mana ada kehidupan di situ ada harapan" dan "Tidak pernah terlambat bagi pria bermartabat untuk membalas dendam". Semua itu adalah siasat. Siasat-siasat itulah yang mendorongnya untuk menanggung penghinaan dan merangkak di antara kaki si preman. Mulai dari titik itu, hasrat dalam hatinya untuk menjadi jenderal menjadi makin besar dan hebat. Sudah pasti dia tidak akan menyerah. Jadi, untuk apa dia menanggung aib dan penghinaan? Apakah untuk mempertahankan suatu misi mulia atau mempertahankan martabat sejati? Dia melakukannya demi ambisinya sendiri. Jadi, apakah itu bersifat positif atau negatif? (Negatif.) Ditilik pada tataran makna ini, "ketabahan" itu jelas didorong oleh kepentingan, hasrat, dan ambisi pribadi. Adakah kebenaran dalam ketabahan itu? (Tidak.) Jika tidak ada kebenaran, adakah kemanusiaan yang normal di situ? (Tidak.) Itu tidak adil dan tidak terhormat, apalagi tanpa cela. Hal itu penuh dengan hasrat, siasat rahasia, dan perhitungan. Itu tidak positif.
Pikiran dan mentalitas menanggung penghinaan dan memikul beban berat semacam itu, yang didukung di kalangan umat manusia yang jahat ini, pada dasarnya mirip seperti kisah yang baru saja Kusampaikan. Menurut kisah itu, jika seseorang ingin meraih hal-hal besar, dia harus mampu menanggung hal-hal yang tidak dapat ditanggung oleh orang biasa. Ketabahan itu utamanya mengacu ke mana? (Tabah menanggung malu.) Bukan. Apakah hal-hal yang orang pegang karena ketabahan benar, atau palsu? (Palsu.) Itu poin pentingnya. Segala hal yang dipegang orang, perkataan yang mereka ucapkan, dan perilaku yang mereka tunjukkan demi ambisi dan idealismenya adalah palsu, semuanya tidak disengaja; segala hal itu didorong oleh prasyarat dari segala hasrat, kepentingan pribadi, dan hal-hal yang disebut aspirasi dan tujuan manusia. Segala hal yang dipegang orang itu hanyalah langkah sementara. Tidak ada sedikit pun yang jujur atau benar, dan tidak ada sedikit pun yang transparan, terbuka, atau terus-terang. Itu semua hanyalah langkah sementara. Bukankah semua itu rencana licik? Langkah sementara diambil ketika orang menanggung sesuatu dengan cara demikian untuk sementara waktu, berkata manis, merayu, dan menipu untuk sementara waktu, serta menutupi identitas, isi hati, pikiran, pandangan, dan bahkan kebencian mereka yang sesungguhnya untuk sementara waktu, dan tidak membiarkan orang lain melihatnya. Mereka justru ingin orang lain melihat sisi mereka yang lemah, payah, ringkih, dan penakut. Mereka sepenuhnya menutupi wajah asli mereka. Untuk apa mereka melakukannya? Mereka melakukannya agar suatu hari mereka dapat mewujudkan misi yang besar, menjadi yang terunggul di antara manusia, mengendalikan orang lain, dan menguasai orang lain. Apa yang tampak ketika orang menerapkan dan mewujudkan ungkapan "menanggung penghinaan dan memikul beban berat"? Apakah orang yang melakukannya memiliki sikap jujur? Apakah mereka memiliki pemahaman dan penyesalan akan diri sendiri? (Tidak.) Misalnya, orang lain berkata, "Orang sepertimu ingin menjadi jenderal?" Mereka merenungkannya, lalu berkata, "Aku tidak dapat mencapainya. Aku tidak akan menjadi jenderal. Aku hanya bergurau." Apakah kata-kata yang mereka ucapkan jujur, atau palsu? (Palsu.) Apa yang mereka pikirkan di dalam hati? "Hanya orang seperti akulah yang dapat menjadi jenderal!" Itulah yang mereka pikirkan di dalam hati, tetapi apakah baik jika mereka mengatakannya secara terang-terangan? (Tidak.) Mengapa tidak? Agar mereka tidak dipukuli, dan untuk menyembunyikan kemampuan asli mereka, mereka berkata, "Aku hanya bergurau. Aku tidak seberani itu untuk benar-benar bermimpi menjadi jenderal. Engkaulah yang lebih mirip jenderal berpangkat tinggi. Engkaulah jenderal berpangkat tertinggi di masa depan. Itu bahkan lebih tinggi daripada jenderal biasa!" Apakah perkataan itu jujur? (Tidak.) Ada di mana kata-kata mereka yang jujur? (Di dalam hati mereka.) Itu benar. Mereka menyimpan kata-kata jujur mereka di dalam hati dan tidak mengatakannya secara terang-terangan. Mengapa mereka tidak mengatakannya secara terang-terangan? Mereka takut dipukuli jika melakukannya, sehingga mereka tidak mengatakan ataupun mengungkapkannya. Mereka tidak membiarkan siapa pun tahu dan selamanya menyembunyikan kemampuan asli mereka. Apakah artinya menyembunyikan kemampuan asli? Itu adalah keadaan ketika seseorang tidak membiarkan orang lain melihat kemampuan mereka yang sebenarnya. Mereka menutupi kemampuan itu dan tidak membiarkannya tersingkap agar orang lain tidak menjadi waspada dan bertindak berlawanan dengan kepentingan mereka. Bukankah itu juga makna sesungguhnya dari tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu? (Ya, betul.) Tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu; menanggung penghinaan dan memikul beban berat; jangan pernah melupakan tujuan, hasrat, dan kebencianmu; dan jangan pernah membiarkan orang melihat wajah dan kemampuan aslimu. Ada orang berkemampuan yang tidak banyak bicara ketika berada di tengah sekelompok orang. Mereka diam dan tertutup, dan, bahkan jika berbicara, mereka hanya mengungkapkan setengah dari apa yang mereka pikirkan. Orang lain selalu kesulitan untuk mengerti atau memahami hal yang sebenarnya ingin mereka katakan dan berpikir, "Mengapa mereka berbicara dengan cara yang begitu sulit dimengerti? Mengapa begitu sulit untuk mengatakan sesuatu dari hati? Ada apa ini sebenarnya?" Sebenarnya, ada pemikiran di dalam hati yang tidak mereka ungkapkan, dan di dalamnya terdapat watak rusak. Ada orang lain yang tidak berbicara dengan cara seperti itu, tetapi, ketika melakukan berbagai hal, mereka selalu menyembunyikan sejauh mana kemampuan mereka yang sebenarnya. Apa tujuan mereka dalam menyembunyikan jangkauan kemampuan mereka yang sebenarnya? Mereka takut bahwa, jika orang berkemampuan atau tokoh yang hebat melihatnya, mereka akan iri hati, mencari masalah dengan mereka, dan menyakiti mereka. Di tengah sekelompok orang, bukankah mereka yang selalu memuji orang lain, berbicara manis tentang orang lain, dan berkata bahwa semua orang lain lebih baik daripada mereka sendiri justru adalah jenis orang yang paling mengerikan? (Ya.) Engkau tidak pernah mengetahui seperti apa tampilan asli mereka. Di luar, engkau melihat bahwa mereka tidak membicarakannya sehingga engkau berpikir bahwa mereka tidak berambisi, tetapi sebenarnya engkau keliru. Sejumlah orang semacam itu adalah mereka yang menanggung penghinaan dan memikul beban berat. Itu seperti adegan yang kerap muncul dalam film. Ada orang yang sering melakukan perbuatan baik saat dia berada di luar rumah, dia memakai pakaian lama dan sudah usang, dan dia selalu jadi bulan-bulanan ketika bersama-sama orang lain. Seperti itulah dia di depan publik. Namun, begitu sampai rumah, dia masuk ke sebuah ruangan rahasia. Terdapat sebuah peta di dindingnya, dan dia telah menempatkan banyak informan untuk memantau keadaan di 80% titik lokasi pada peta itu. Namun, orang-orang yang rutin berinteraksi dengannya tetap menindasnya dan sama sekali tidak menduga bahwa dia memiliki ambisi-ambisi. Suatu hari, ketika semua lokasi pada peta tadi jatuh ke dalam kendalinya dan tujuannya pun tercapai sepenuhnya. Orang-orang yang menindasnya pun akan terkejut setengah mati dan berkata, "Ternyata orang itu setan—ambisinya terlalu berlebihan! Dia telah berpura-pura selama bertahun-tahun. Tidak ada yang pernah melihat jati dirinya yang sebenarnya." Dia berkata, "Yang kulakukan hanyalah menanggung penghinaan dan memikul beban berat. Jika aku tidak menanggung kesengsaraan seperti yang telah kulakukan dan mengelabui engkau semua dengan tanda-tanda palsu, jika aku mengatakan segalanya kepada kalian, mungkinkah aku mampu menuntaskan misi sebesar itu?" Ciri-ciri apa yang sama-sama dimiliki oleh orang jahat dan orang yang ambisi ekstrem? Salah satunya, stamina dan ketangguhan mereka melebihi orang biasa. Selain itu, siasat rahasia mereka melebihi orang biasa dan, jika orang kebanyakan berinteraksi dengan mereka, orang-orang itu akan dipermainkan. Apakah artinya dipermainkan? Artinya, tidak ada yang dapat memahami mereka dengan jelas. Yang dapat mereka lihat hanyalah hal-hal yang mereka katakan dan lakukan di permukaan. Jangan berpikir bahwa engkau akan mampu menemukan isyarat apa pun tentang hal-hal yang mereka pikirkan jauh di balik perbuatan dan perkataan mereka. Bukankah itu artinya dipermainkan oleh mereka? Stamina dan ketangguhan itu sendiri adalah kata-kata yang berkonotasi positif, tetapi siasat rahasia mereka menjadikan kedua kata itu berkonotasi negatif. Mereka juga memiliki ambisi dan hasrat yang berlebihan dibandingkan dengan orang biasa. Rata-rata orang memiliki ambisi dan hasrat, tetapi ketika merasa tidak mampu meraih sesuatu, mereka menyerah dan tidak bersedia menanggung penderitaannya. Di samping itu, mereka selalu blak-blakan jika ingin bertarung dengan seseorang; mereka tidak memiliki siasat rahasia. Namun, orang jahat jenis itu memiliki ambisi luar biasa serta selalu menjalankan siasat rahasia dan rencana liciknya. Mereka tidak akan pernah meninggalkan ambisi dan hasratnya. Mereka akan terus bertarung hingga akhir, bahkan hingga ajal menjemput.
Banyak buku teks menampilkan kisah Goujian, raja Kerajaan Yue, yang tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu. Para orang tua juga mengajarkan kisah itu kepada anak-anak mereka. Ada anak yang mendengar kisah itu dan berpikir, "Menjadi orang yang biasa-biasa saja sudah bagus. Mengapa sangat penting bagi orang untuk memiliki ambisi yang berlebihan seperti itu? Siapa yang sanggup membuat diri sendiri menderita dengan tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu? Itu bukanlah jenis penderitaan yang dapat dihadapi oleh orang biasa." Hanya orang-orang berambisi yang memiliki tekad untuk menderita seperti itu. Di dalamnya terkandung siasat rahasia. Namun, umat manusia mendukung mentalitas semacam itu. Misal, ada ungkapan yang berbunyi, "Sebesar apa pun kesukaran dan penghinaan yang dideritanya dan segenting apa pun keadaannya, orang tidak boleh kehilangan aspirasinya." Masyarakat ini mendukung gagasan seperti tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu serta menanggung penghinaan dan memikul beban berat untuk memacu dan memotivasi orang agar berjuang demi kebahagiaan dan tujuan-tujuan mereka. Jadi, mengapa kita mengkritiknya sebagai sesuatu yang salah? Seluruh umat manusia telah dirusak oleh Iblis. Adakah di antara umat manusia yang tujuan-tujuannya diarahkan kepada kebenaran dan sasaran yang benar? (Tidak.) Oleh karena itu, makin banyak manusia yang tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu, dan makin banyak manusia yang menanggung penghinaan dan memikul beban berat, makin garanglah kekuatan Iblis, makin banyaklah pertempuran dan pembantaian di antara umat manusia, makin jahatlah umat manusia, dan akan makin gelaplah seluruh masyarakat. Sebaliknya, jika engkau mampu menaati penataan Surga dan menyelaraskan dirimu dengan tatanan alami segala hal, dan jika engkau mampu menerima segala hal yang terjadi, menghormati tatanan itu, dan menunggu penataan Surga, engkau tidak perlu menanggung penghinaan dan memikul beban berat. Engkau perlu bangun dan menggunakan akal sehatmu. Mampu menaati penataan dan pengaturan Tuhan adalah hal yang tepat. Di samping itu, dalam melakukan segala hal, orang harus setidaknya mampu melakukannya sesuai dengan hati nuraninya, dan bahkan melakukannya setingkat lebih tinggi dengan sanggup melakukannya menurut hukum yang Tuhan gariskan bagi umat manusia. Jika demikian, apakah orang masih harus mengenakan topeng dan memikul beban berat? (Tidak.) Tidak, tidak perlu lagi. Melalui persekutuan ini, apakah engkau semua memahami jenis perilaku macam apakah sebenarnya menanggung penghinaan dan memikul beban berat? Apakah tujuan dari tindakan menanggung penghinaan dan memikul beban berat bersifat positif, atau negatif? (Negatif.) Seandainya ada yang berkata bahwa seseorang menanggung penghinaan dan memikul beban berat untuk menjadi pemimpin, atau berkata bahwa seseorang menanggung penghinaan dan memikul beban berat demi memenuhi amanat yang Tuhan berikan dan mendapat ganjarannya, atau berkata bahwa seseorang menanggung penghinaan dan memikul beban berat untuk berusaha agar disempurnakan—apakah kata-kata itu dapat dipercaya? (Tidak.) Menanggung penghinaan dan memikul beban berat sepenuhnya adalah falsafah Iblis. Tidak ada kebenaran di dalamnya, dan, begitu engkau mendengarnya, langsung jelaslah terlihat bahwa kata-kata itu menyimpang. Jika ada yang berkata bahwa seseorang menanggung penghinaan dan memikul beban berat untuk menunggu penataan Tuhan dan tunduk kepada kedaulatan Tuhan, apakah itu tepat untuk dikatakan? (Tidak.) Mengapa itu tidak tepat? Kedua fakta di atas tidak berhubungan satu sama lain. Tuhan tidak menuntutmu untuk menanggung penghinaan ataupun menderita karena direndahkan. Apa perbedaan mendasar antara menanggung penghinaan dan memikul beban berat seperti yang dibahas di sini dan orang-orang yang percaya kepada Tuhan dan tunduk kepada-Nya? (Menanggung penghinaan dan memikul beban berat adalah upaya untuk menyingkirkan penataan dan pengaturan Tuhan.) Menanggung penghinaan dan memikul beban berat berarti bahwa orang memiliki rencana, aspirasi, kehendak, dan tujuan sendiri yang mereka kejar masing-masing. Apakah itu semua selaras dengan standar-standar yang Tuhan tuntut dari manusia dan tujuan-tujuan yang Tuhan berikan kepada manusia untuk mereka kejar? (Tidak.) Itu tidak selaras. Apa yang hendak orang raih bagi diri mereka sendiri dengan menanggung penghinaan dan memikul beban berat? Yang hendak mereka raih adalah kepentingan pribadi, dan itu tidak ada kaitannya dengan nasib yang telah Tuhan atur dan bagaimana Tuhan berdaulat atas manusia.
Siapa pun yang menerapkan prinsip menanggung penghinaan dan memikul beban berat memiliki maksud dan tujuan. Misalnya, ketika seorang mahasiswa yang baru lulus pertama kali tiba di sebuah perusahaan untuk magang, para staf senior berkata, "Mahasiswa lulusan baru yang magang di sini harus bertugas mengambilkan kopi selama tiga tahun." Di dalam hati, para mahasiswa magang itu berpikir, "Meskipun aku mahasiswa yang baru lulus, aku tidak akan tunduk kepada kalian!" Mereka berpikir demikian di dalam hati, tetapi tidak berani mengungkapkannya secara terang-terangan. Dari luar, mereka masih harus memberikan senyum palsu. Setiap hari, mereka harus mengikuti aturan, bersikap luwes dan teramat sopan, bertahan sebisanya, dan harus bertahan ketika orang lain mendapati kesalahan mereka. Apa tujuan mereka menanggung semua itu? Tujuannya adalah agar suatu hari mereka dapat mendengus dengan angkuh, menjadi sekretaris manajer atau bos, dan menindas mereka yang pernah menindas mereka. Bukankah begitu isi pikiran mereka? Sebagian orang berkata, "Begitulah semestinya mereka berpikir dan bertindak. Jika tidak, mereka akan terus menjadi bulan-bulanan orang di sepanjang sisa hidup mereka. Siapa yang mau menderita seperti itu? Selain itu, bagaimana orang mampu bertahan jika tidak memiliki aspirasi? Manusia bergelut ke atas; air mengalir ke bawah—begitulah caranya hidup. Prajurit yang tidak ingin menjadi jenderal bukanlah prajurit yang baik." Perkataan itu menjadi slogan mereka, tetapi semuanya adalah logika Iblis. Mereka harus menderita seperti itu untuk mencapai tujuan mereka—dari hari ke hari, dari tahun ke tahun, bersikap penuh hormat dan sopan kepada semua orang. Suatu hari, bos mereka berkata, "Kinerjamu selama tiga tahun ini bagus. Mulai minggu depan, engkau akan menjadi staf penjual." Ketika mereka mendengarnya, hati mereka tidak senang, "Aku bekerja keras selama tiga tahun hanya untuk menjadi staf penjual! Kupikir aku akan menjadi direktur eksekutif di bagian penjualan!" Namun, mereka harus berterima kasih atas promosi itu. Mereka belum mencapai tujuannya, jadi mereka harus terus bertahan. Mereka terus menanggung penghinaan dan memikul beban berat serta dengan susah payahnya mengikuti bos mereka untuk minum-minum dan melempar senyum palsu, dan setelah menanggung itu semua selama sepuluh tahun, akhirnya mereka mencapai tujuannya. Suatu hari, bos berkata kepada mereka, "Engkau telah melaksanakan pekerjaanmu dengan baik. Aku akan mempromosikanmu ke posisi asisten." Ketika mendengarnya, mereka sangat kegirangan di dalam hati—akhirnya mereka berhasil! Hasil macam apakah itu? Di mata mereka, mereka kini setingkat di atas orang-orang lain. Apakah mereka melakukan semua itu dengan rela? (Tidak.) Untuk siapakah mereka melakukan semua itu? (Untuk diri mereka sendiri.) Untuk diri mereka sendiri. Tidak ada segi apa pun dalam prinsip itu yang bersifat positif dan harus diikuti, apalagi yang layak dipuji dan dimuliakan. Namun, mentalitas seperti itulah yang dianjurkan dalam masyarakat saat ini—menanggung penghinaan dan memikul beban berat, merunduk-runduk seperti anjing yang ekornya terseret lunglai di tanah. Jadi, ungkapan macam apakah "menanggung penghinaan dan memikul beban berat" yang dianjurkan oleh masyarakat itu? (Ungkapan yang buruk.) Mengapa buruk? Orang menanggung penghinaan dan memikul beban berat murni karena niat dan motivasi mereka serta demi memuaskan ambisi dan hasrat mereka sendiri. Mereka melakukannya bukan demi mencapai tujuan-tujuan yang tepat. Itulah sebabnya Kukatakan bahwa tidak ada aspek apa pun darinya yang layak diikuti, disanjung, atau dipuji, apalagi diabadikan. Mari kita bahas contoh lain berupa kisah yang terjadi di lingkungan istana di zaman dahulu kala. Suatu hari, seorang kaisar mangkat. Permaisuri melihat bahwa putranya masih terlalu kecil dan sama sekali tidak akan mampu mengendalikan istana jika dia naik takhta. Jadi, untuk memastikan agar putranya betul-betul akan berkuasa sebagai kaisar, dia pun menanggung penghinaan dan memikul beban berat dengan menikahi adik mendiang kaisar, lalu keduanya membesarkan anak itu bersama-sama. Apakah tujuannya menanggung penghinaan dan memikul beban berat? Dia melakukannya demi memastikan posisi putranya sebagai kaisar. Ketika posisi putranya sebagai kaisar telah diamankan, dia akan naik status menjadi ibu suri. Itulah yang disebut dengan menanggung penghinaan dan memikul beban berat. Penghinaan apakah yang ditanggungnya? Dia tidak menjaga kesuciannya. Begitu kaisar meninggal, dia langsung menikahi adik suaminya, yang membuat nama baiknya tercoreng. Orang-orang mengkritik dan menghakiminya di belakangnya, dan bahkan buku-buku sejarah tidak mencatat gambaran yang baik tentang dirinya. Apakah dia peduli? Sebenarnya, sebelum menikahi iparnya sendiri, dia telah memikirkan dampak buruknya. Jadi, mengapa dia tetap melakukannya? Dia ingin memastikan posisi putranya sebagai kaisar dan melindungi posisinya sendiri sebagai ibu suri. Itulah alasan satu-satunya dia rela menanggung reputasi yang begitu jelek dan bersedia menderita kesukaran itu. Itulah yang disebut dengan menanggung penghinaan dan memikul beban berat. Apakah yang dicapainya dengan menanggung segala penghinaan itu? Yang dia dapatkan adalah manfaat yang jauh lebih besar. Itulah tujuannya menanggung penghinaan dan memikul beban berat. Begitu dia memperoleh manfaat besar itu, segala reputasi jelek tadi tidak ada artinya. Sebagai imbalan atas reputasi yang jelek, dia memperoleh kekuasaan dan status bagi dirinya dan putranya. Jadi, apakah perbuatan menanggung penghinaan dan memikul beban berat yang dilakukannya bersifat positif atau negatif? (Negatif.) Jika orang hanya melihat perilakunya, dia mampu mengorbankan dirinya sendiri, dan, dari sudut pandang putranya, ada unsur tidak mementingkan diri sendiri dalam penghinaan dan penderitaan yang ditanggungnya. Jadi, orang semestinya memujinya dan berkata, "Sungguh ibu yang hebat!" Namun, ketika melihat hasrat, ambisi, dan tujuannya yang sebenarnya, orang-orang seharusnya mengkritiknya. Tindakan-tindakannya layak dihakimi.
Apakah orang yang percaya kepada Tuhan perlu menanggung penghinaan dan memikul beban berat? (Tidak.) Jika manusia menerima firman Tuhan beserta penghakiman, hajaran, pemangkasan, ujian, dan pemurnian-Nya, serta bahkan kutukan dan hukuman-Nya bagi manusia, apakah mereka perlu menanggung penghinaan dan memikul beban berat? (Tidak.) Hal itu sudah pasti. Penggunaan ungkapan "menanggung penghinaan dan memikul beban berat" dalam konteks orang-orang percaya sangat tidak dapat diterima dan dikutuk. Mengapa penggunaan ungkapan dalam konteks ini salah? Bagaimana orang membuktikan bahwa perilaku itu tidak benar dalam konteks ini? Sekadar mengakui di mulut dan dari segi doktrin bahwa ungkapan itu salah tidak dapat diterima. Engkau harus mengetahui kebenaran-kebenaran yang bersinggungan dengannya. Sebelumnya, engkau masih berpikir bahwa untuk dapat menerima disempurnakan dan diselamatkan oleh Tuhan, manusia harus belajar menanggung penghinaan dan memikul beban berat, tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu, menganut mentalitas Goujian, raja Kerajaan Yue, dan pantang menyerah. Saat itu, engkau adalah orang bodoh dan tidak mampu memahami kebenaran. Kini, setelah persekutuan-Ku, engkau berpikir, "Ungkapan itu tidak bagus. Sebelumnya, aku selalu menggunakannya—mengapa aku bisa begitu bodoh?" Engkau dapat melihat bahwa engkau tidak mengerti kebenaran dan kemampuan memahamimu buruk. Engkau harus memahami hal-hal yang salah dalam ungkapan itu. Begitu engkau benar-benar mampu memahami yang salah di dalamnya, engkau akan memiliki pemahaman yang menyeluruh tentang ungkapan itu. Jika engkau hanya melihat secara jelas sebagian darinya, yaitu sisi negatifnya saja, tetapi tidak melihat sisinya yang orang anggap positif dan produktif secara jelas, itu berarti engkau belum memahami kebenaran. Setelah mendengar yang baru saja Kupersekutukan, akankah engkau semua mampu menganalisis dan menelaah hal-hal itu menurut metode-metode-Ku? Mengapa tindakan menanggung penghinaan dan memikul beban berat tidak diperlukan dalam rumah Tuhan? Mengapa Kukatakan bahwa metode dan mentalitas itu dikutuk oleh rumah Tuhan dan tidak selaras dengan kebenaran? (Tuhan, pemahamanku adalah bahwa, di rumah Tuhan, menerima penghakiman dan hajaran firman Tuhan, dan bahkan digantikan atau dikutuk tidak bisa disebut sebagai menanggung penghinaan. Itu justru adalah cara Tuhan bekerja untuk menyelamatkan manusia, dan tujuannya adalah menuntun kami ke jalan mencari kebenaran. Itu sama sekali tidak berkaitan dengan menanggung penghinaan dan memikul beban berat. Jika orang mampu memahami dengan benar, mereka akan mengetahui bahwa itu adalah tanda bahwa Tuhan mengasihi dan meninggikan, serta bahwa menerima penghakiman dan hajaran Tuhan adalah bentuk perhatian dan perlindungan yang besar serta penyelamatan Tuhan atas manusia.) Benarkah pernyataan itu? (Ya.) Jika engkau tidak dapat melihat penghakiman dan hajaran secara jelas, perlawanan dan keluhan akan timbul dalam hatimu, dan engkau akan menerapkan ungkapan falsafah Iblis "menanggung penghinaan dan memikul beban berat" karena engkau berpikir, "Oh tidak, aku harus menanggung penghinaan dan memikul beban berat serta menganut mentalitas Goujian, raja Kerajaan Yue." Lalu, engkau akan mengukir kata-kata "menanggung penghinaan dan memikul beban berat" di permukaan mejamu untuk memacu dan memotivasi dirimu sendiri, dan engkau akan menjadikannya sebagai sloganmu. Tidakkah itu menandakan masalah? Mungkin benar bahwa sesudah persekutuan hari ini, engkau semua pasti tidak akan melakukan itu, tetapi akankah engkau semua menjadikan ungkapan lain yang belum Aku analisis sebagai sloganmu, seperti "Menyembunyikan terang diri dan menggalang kekuatan dalam kegelapan"? Tidakkah ungkapan itu memiliki natur yang sama? Hal-hal itu adalah bagian dari budaya tradisional Tiongkok. Bukankah hal-hal itu adalah racun Iblis? Semuanya itu adalah racun Iblis. Semuanya adalah falsafah Iblis tentang cara berinteraksi dengan orang lain.
Dahulu, ketika Aku bekerja di gereja-gereja di Tiongkok daratan, yaitu ketika Aku baru memulai pekerjaan-Ku, rumah Tuhan mengatur beberapa saudara-saudari untuk meningkatkan literasi mereka. Seperti apakah keadaan saat itu? Ada beberapa yang sudah berusia lanjut, dan ada juga yang tinggal di daerah terpencil. Tingkat pendidikan mereka cukup rendah dan mereka tidak dapat membaca dengan baik. Misalnya, firman Tuhan membicarakan "kualitas rendah", "watak Tuhan", "maksud Tuhan", dan berbagai istilah teknis lain, tetapi mereka tidak memahami atau mengetahui arti istilah-istilah itu. Kemudian, rumah Tuhan berkata kepada saudara-saudari itu bahwa mereka dapat meningkatkan literasi mereka di waktu senggang dan bahwa mereka setidaknya harus mengetahui arti dari sejumlah ungkapan, istilah, dan kata benda yang sudah ditetapkan. Jika tidak, ketika membaca firman Tuhan, mereka bahkan tidak akan memahami arti dari kata-kata dan ungkapan-ungkapan itu sendiri. Jadi, bagaimana mungkin mereka dapat memahami firman Tuhan? Dan jika mereka tidak dapat memahami firman Tuhan, bagaimana mungkin mereka bisa menerapkan kebenaran? Setelahnya, saudara-saudari itu pun mulai berupaya untuk mempelajari hal-hal tadi. Itu adalah hal yang baik, tetapi sejumlah orang yang pemahamannya menyimpang memanfaatkan keadaan itu. Dalam pertemuan, beberapa pemimpin berbicara hanya tentang pentingnya meningkatkan literasi, cara agar saudara-saudari dapat menjadi terpelajar, manfaat literasi, dan hal-hal yang akan terjadi jika mereka tidak terpelajar. Mereka membicarakan banyak sekali doktrin seperti itu. Hal-hal itu bukanlah kebenaran, dan orang tidak perlu berbicara terlalu banyak tentang itu. Begitu seseorang mengatakan hal-hal itu, orang dapat memahaminya sehingga tidak perlu ada persekutuan tentangnya dalam pertemuan seakan-akan hal-hal itu adalah kebenaran. Beberapa pemimpin tidak hanya menghabiskan banyak sekali waktu selama pertemuan untuk bersekutu tentang hal-hal itu seakan-akan hal-hal itu adalah kebenaran. Mereka juga menemukan sebuah "trik" baru dan secara khusus menguji pengetahuan saudara-saudari tentang kata-kata yang jarang digunakan. Jika saudara-saudari tidak dapat menjawab, tidakkah para pemimpin itu menjadi terlihat seperti berpendidikan tinggi? Pada masa itu, ada sejumlah pemimpin palsu yang tidak melakukan pekerjaan nyata. Mereka tidak bersekutu tentang pengalaman hidup, kebenaran, atau firman Tuhan. Mereka malah hanya bersekutu tentang literasi. Hal itu disebut apa? Hal itu disebut tidak melakukan pekerjaan yang seharusnya. Bukankah itu masalah? (Ya.) Mengapa Aku membicarakan perkara itu? Apa gunanya bagimu semua? Apakah engkau semua mampu melakukan hal semacam itu? Adakah yang berencana bertindak seperti itu? Jika engkau semua bertindak seperti itu, engkau semua benar-benar orang yang bingung! Ada sejumlah orang yang melihat-Ku membicarakan ungkapan-ungkapan ini, lalu mereka menyiapkan diri untuk bertindak dan mulai mempersiapkan diri serta berkata, "Ternyata bersekutu tentang kebenaran semudah itu. Bersekutu tentang ungkapan saja sudah cukup. Engkau boleh bersekutu tentang ungkapan, sedangkan aku akan bersekutu tentang candaan, istilah slang, petuah, dan pepatah." Bukankah itu yang disebut tidak melakukan pekerjaan yang seharusnya? (Ya.) Orang-orang macam apakah mereka? Apakah mereka memiliki pemahaman rohani? (Tidak.) Mereka tidak memiliki pemahaman rohani, dan mereka tidak memahami kebenaran. Apakah yang mereka pikirkan? "Engkau duduk saja di situ dan berceloteh padahal tidak ada yang Kaukerjakan dan Engkau membungkam kami dengan sejumlah pepatah. Jika mengikuti metode-Mu, aku pun dapat bersekutu!" Orang yang tidak memiliki pemahaman rohani hanya melihat segala hal di permukaan saja dan meniru-Ku secara membabi buta. Para pemimpin itu harus diganti karena meniru perilaku itu, dan siapa pun yang bertindak sama seperti mereka harus diganti pula. Mengapa Aku membicarakan hal itu? Aku menarik perhatianmu semua kepada hal itu sebelum engkau mengikuti perilaku itu, sehingga engkau tidak terjerumus ke jalan yang salah. Aku dapat membicarakan segala hal ini, tetapi, jika engkau yang membicarakannya, dapatkah engkau melakukannya dengan cara yang dapat dimengerti? Tidak. Jadi, mengapa Aku membicarakan pepatah dan ungkapan itu? Dalam kondisi apakah Aku membicarakannya? Ketika orang memahami konsep dan definisi kebenaran, lalu jika atas dasar itu Aku masuk lebih dalam dan menganalisis lebih banyak lagi hal yang orang anggap sebagai kebenaran, mereka tidak dapat memahaminya. Mereka tidak mengetahui cara terbaik untuk merenungkannya dan hal-hal yang harus mereka kaitkan dengannya. Karena engkau semua tidak memahami itu semua, Aku menceritakan kepadamu semua sejumlah kisah tentang ungkapan-ungkapan. Itu perlu dilakukan. Beberapa orang berpikir bahwa mereka berada di jenjang universitas ketika berbicara mengenai kebenaran dan bertanya-tanya alasannya mereka harus mengikuti lagi pelajaran-pelajaran di jenjang SD. Mereka tidak dapat memahami bahwa ini bukan kelas di jenjang SD, melainkan kelas di jenjang universitas. Engkau semua masih belum ke universitas. Engkau selama ini masih di jenjang SD, tetapi engkau merasa telah lulus ke jenjang universitas dan merasa diri hebat. Sayangnya, perasaan itu salah; perasaan itu keliru. Engkau semua masih jauh dari ke universitas. Oleh karena itu, Kuingatkan lagi kepadamu semua: Janganlah melakukan hal-hal yang baru saja Aku bicarakan. Bersekutulah dengan jujur tentang hal-hal yang engkau pahami, dan jika engkau tidak paham, jangan berbicara omong kosong. Bersekutu tentang kebenaran bukanlah celotehan. Tidak ada yang mempunyai waktu untuk mendengarkan celotehanmu. Jangan meniru-Ku secara membabi buta, dan jangan membicarakan Goujian, raja Kerajaan Yue, atau sejarah modern, atau sejarah kuno karena Aku membicarakan tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu. Apa gunanya membicarakan hal-hal itu? Apakah orang bersedia mendengarkannya? Bahkan jika orang bersedia mendengarkan, hal-hal itu bukanlah kebenaran.
Baru saja Kukatakan bahwa orang yang memercayai dan mengikuti Tuhan tidak perlu menanggung penghinaan dan memikul beban berat, apalagi melakukan penerapan menanggung penghinaan dan memikul beban berat. Mengapa orang tidak boleh menerapkan ungkapan yang "bagus" dan mentalitas yang "mulia" itu? Di manakah letak masalahnya? Mengapa orang tidak boleh memiliki mentalitas menanggung penghinaan dan memikul beban berat? Dari segi doktrin, alasannya adalah karena menanggung penghinaan dan memikul beban berat bukanlah kebenaran. Ungkapan itu tidak diucapkan oleh Tuhan, bukan tuntutan Tuhan bagi umat manusia, dan bukan prinsip perbuatan yang Dia berikan bagi mereka yang mengikuti-Nya. Mengapa Kukatakan bahwa ungkapan itu bukanlah kebenaran ataupun prinsip penerapan? Pertama-tama, marilah kita lihat kata "penghinaan" dalam menanggung penghinaan dan memikul beban berat. "Penghinaan" mengacu ke apa? Direndahkan dan dipermalukan. Jadi, jika orang percaya kepada Tuhan dan Tuhan berdaulat atas nasib mereka, dengan tunduk kepada Tuhan, apakah mereka menanggung penghinaan? Apakah mereka sedang menanggung perlakuan yang merendahkan? (Tidak.) Apakah orang perlu menanggung dan berkata, "Untuk mencapai ketundukan kepada Tuhan, aku harus menahan bara dalam hatiku, kemarahan dalam hatiku, keluhan dalam hatiku, dan rasa penolakan dalam hatiku. Aku harus menanggung itu dan tidak bersuara. Bagiku, segala hal itu adalah penghinaan, jadi aku akan menahan perasaan-perasaan itu"? Apakah mereka menerapkan kebenaran dengan melakukan itu? (Tidak.) Apakah yang mereka terapkan? Pemberontakan, kepalsuan, dan kepura-puraan. Untuk mencapai penerapan kebenaran dan ketundukan kepada kebenaran serta kedaulatan dan penataan Tuhan, hal pertama yang harus engkau lakukan bukanlah menanggung kepedihan apa pun, dan engkau tidak perlu menanggung perlakuan merendahkan apa pun. Apakah kedaulatan, penataan, dan tuntutan Tuhan bagimu adalah penghinaan? (Tidak.) Dia tidak sedang menghinamu. Tuhan tidak menghinamu dengan menyingkapkan, menghakimi, menghajar, menguji, dan memurnikanmu. Namun, pada saat yang sama, ketika Dia menyingkapkan pengungkapan watak-watak rusakmu, Dia justru membuatmu memahami dirimu sendiri, membuatmu mampu menyingkirkan dan memberontak terhadap watak-watak itu, serta bertindak sesuai dengan tuntutan Tuhan. Dampak apakah yang akan dihasilkannya? Engkau akan mampu tunduk kepada Tuhan, memahami kebenaran, menjadi orang yang menyenangkan Tuhan, dan menjadi seseorang yang diperkenan Tuhan. Oleh karena itu, apakah ada perlakuan merendahkan di antara hal-hal yang engkau hadapi selama proses dan masa yang engkau lalui untuk meraih hal-hal itu? Adakah hal-hal yang engkau anggap sebagai penghinaan dari Tuhan terhadapmu? (Tidak ada.) Ketika Tuhan mengungkapkanmu, seperti ketika Dia mengungkapkan kecongkakan, kejahatan, kelicikan, watak keras kepala, atau kekejamanmu, adakah di antara hal-hal itu yang bukan fakta? (Tidak ada.) Semuanya adalah fakta. Apa pun bentuk perkataan yang Tuhan gunakan untuk mengungkapkanmu dan yang dikatakan-Nya kepadamu, segalanya adalah fakta. Tidak peduli apakah orang mampu mengenali hal-hal itu, tidak peduli seberapa banyak yang mampu mereka pahami dan terima, semua hal itu adalah fakta. Fakta-fakta itu bukannya tanpa dasar, bukan pula pernyataan yang berlebihan, dan jelas tidak dimaksudkan untuk menjebakmu. Jadi, apakah hal-hal itu dimaksudkan untuk menghinamu? (Tidak.) Itu bukan hanya tidak dimaksudkan untuk menghinamu, melainkan juga dimaksudkan sebagai nasihat dan peringatan agar tidak menempuh jalan orang jahat dan tidak mengikuti Iblis, serta dimaksudkan untuk membuatmu menempuh jalan hidup yang tepat. Hal-hal itu membawa hasil dan dampak positif bagimu. Natur dari tindakan-tindakan Tuhan itu sepenuhnya tepat. Dia melakukan hal-hal itu untuk menyelamatkanmu, dan itu sepenuhnya selaras dengan kebenaran. Itulah kesukaran yang harus orang derita dan kesulitan yang harus orang hadapi untuk menyingkirkan watak rusak mereka, memenuhi maksud Tuhan, dan menjadi makhluk ciptaan yang sejati. Sikap yang seharusnya orang miliki adalah menerima kesukaran itu secara proaktif, bukan menanggungnya sebagai perlakuan yang merendahkan. Kesukaran itu bukanlah penghinaan, bukan olok-olok, dan bukan pula ejekan, apalagi tindakan Tuhan untuk mempermainkan manusia. Itu muncul semata-mata karena manusia mempunyai watak-watak rusak, memberontak terhadap Tuhan, dan tidak mencintai kebenaran. Kepedihan itu timbul dalam diri manusia karena firman dan tuntutan Tuhan kepada manusia, jadi adakah bagian mana pun dari kepedihan itu yang sengaja Tuhan berikan atau tambahkan kepada manusia, yang seharusnya tidak perlu mereka derita? Tidak ada hal seperti itu. Sebaliknya, jika terlalu sedikit menderita kepedihan, orang tidak dapat menyingkirkan watak-watak rusak mereka. Tidak peduli seberapa parah watak suka memberontak mereka, dan tidak peduli seberapa jauh mereka mampu mengakui dan menerima ketika Tuhan menyingkapkan watak-watak rusak mereka, pada akhirnya, hal-hal yang Tuhan berikan kepada manusia bukanlah penghinaan, dan hal-hal yang mereka derita bukanlah perlakuan yang merendahkan. Pada kenyataannya, itulah yang harus orang derita. Itulah kepedihan yang harus diderita oleh seseorang yang telah sangat dirusak oleh Iblis. Orang harus menderita kepedihan itu. Mengapa Kukatakan bahwa orang harus menderita kepedihan itu? Karena orang telah menjadi sangat suka memberontak terhadap Tuhan dan telah menjadi Iblis. Jika orang ingin menyingkirkan watak-watak rusaknya dan menerima penyelamatan Tuhan, mereka harus menderita kesukaran itu. Hal itu sangat tepat dan sudah sepatutnya. Itulah jalan yang harus orang lalui, dan itulah kesukaran yang harus mereka derita. Bukan Tuhan yang memberi mereka kesukaran ini. Itu seperti ketika engkau sakit perut setelah meminum air dingin. Siapa yang salah? Air dingin? (Bukan.) Siapakah yang membawa kesukaran itu bagi dirimu? (Kami sendiri.) Engkau yang membawanya bagi dirimu sendiri. Proses dan hasil yang harus diderita itu adalah akibat perbuatan mereka sendiri. Tidak ada istilah perlakuan yang merendahkan atau penghinaan dalam hal ini. Sejumlah orang tidak memahaminya dengan cara demikian. Mereka tidak menerima kebenaran. Apa yang mereka pikirkan? "Rumah Tuhan mengizinkanku menjadi pemimpin. Rumah Tuhan menempatkanku pada posisi itu, dan aku dengan senang hati telah melakukan pekerjaanku sebagai pemimpin. Tidak pernah terpikir olehku bahwa rumah Tuhan akan memberhentikanku karena tidak melakukan pekerjaanku dengan baik dan berbuat kesalahan. Telah jadi apakah aku ini? Masihkah aku mempunyai integritas dan martabat? Masihkah aku memiliki kebebasan manusia? Masihkah aku memiliki otonomi?" Mereka berpikir bahwa orang tidak seharusnya tunduk kepada pengaturan dan penataan Tuhan tanpa adanya kebebasan memilih dalam urusan itu, dan jika orang tunduk sepenuhnya, mereka adalah orang-orang bodoh dan tidak bermartabat yang hidup dalam keadaan yang teramat lemah dan dirugikan. Oleh karena itu, orang semacam itu berpikir bahwa ketika manusia menerima penghakiman, hajaran, dan pemangkasan, mereka pastilah menderita penghinaan, seperti kata pepatah, "Ketika orang berdiri di bawah langit-langit yang rendah, tidak ada pilihan selain menundukkan kepala." Lihat, itu satu falsafah Iblis lainnya. Ungkapan terkenal itu membuat orang-orang menundukkan kepala. Apa yang mereka pikirkan? Apakah mereka tunduk dengan rela atau menanggung penghinaan dan memikul beban berat? (Yang kedua.) Mereka pikir mereka menanggung penghinaan dan memikul beban berat. Mereka tidak tunduk dengan rela. Ketundukan mereka tidak tulus dan tidak murni. Sebaliknya, mereka tidak punya pilihan selain tunduk. Jadi, mereka memandang ketiadaan pilihan itu sebagai semacam penghinaan. Karena orang seperti itu dapat berpikir demikian, apakah mereka menganggap penerapan ketundukan pada firman Tuhan sebagai penerapan kebenaran? Tidak. Mereka tidak memperlakukan ketundukan sebagai kebenaran. Malah bagi mereka, menanggung penghinaan dan memikul beban berat adalah kebenaran. Tidakkah natur kedua hal itu berbeda? (Ya.) Meskipun baik orang yang tunduk dengan rela maupun orang yang menanggung penghinaan dan memikul beban berat sama-sama tunduk, dan meskipun keduanya tidak menyebabkan masalah atau menentang, dan meskipun dari luar keduanya terlihat taat, baik, dan berperilaku pantas, kedua tindakan itu memiliki natur yang berbeda. Orang yang tunduk dengan tulus memperlakukan ketundukan sebagai tanggung jawab, tugas, dan kewajibannya. Mereka memperlakukannya sebagai tugas yang mengikat dan sebagai kebenaran. Bahkan meskipun mereka yang tidak tunduk dengan tulus tidak menunjukkan sikap menentang, dalam hatinya mereka berpikir bahwa mereka menanggung penghinaan dan memikul beban berat. Di mata mereka, menanggung penghinaan dan memikul beban berat adalah kebenaran tertinggi. Mereka menganggap menanggung penghinaan sebagai penerapan kebenaran, dan mereka memperlakukan ketundukan sebagai apa? Mereka memperlakukannya sebagai menanggung penghinaan, bukan menerapkan kebenaran. Tidakkah itu pandangan yang terbalik? Pandangan seperti itu disebut apa? (Pandangan mereka terbalik.) Pandangan mereka terbalik. Mereka memperlakukan kebenaran sebagai falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain, dan mereka memperlakukan doktrin dan falsafah itu sebagai kebenaran. Bukankah ini hitam dan putih yang dibalikkan? (Ya.) Itu adalah hitam dan putih yang dibalikkan. Jadi, bagaimana seharusnya masalah itu diselesaikan? Orang harus memahami bahwa kesukaran yang mereka derita bukanlah penghinaan ataupun upaya seseorang untuk menghina mereka. Jadi, apa yang menyebabkan kesukaran yang diderita oleh manusia? (Watak rusak manusia.) Itu benar. Jika engkau tidak memiliki watak rusak, dan engkau dapat memahami kebenaran, tunduk kepada Tuhan, tunduk sepenuhnya kepada kedaulatan dan penataan Tuhan, serta takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, engkau tidak perlu menderita kesukaran itu. Dengan demikian, penghinaan itu tidak ada. Engkau memahaminya, bukan?
Antara kesukaran dan penghinaan, yang manakah yang positif? Adakah perbedaan antara keduanya? (Ya, ada.) Kesukaran bersifat positif. Jika engkau dengan rela menerima penghakiman, hajaran, pemangkasan, serta dengan rela menderita kesukaran itu, engkau akan menafsirkannya seperti ini, "Aku harus menderita kesukaran. Apa pun yang Tuhan lakukan, bahkan sekalipun aku tidak memahaminya, hatiku kesulitan untuk menerimanya, dan aku negatif dan lemah, segala yang dilakukan-Nya itu tepat. Aku memiliki watak rusak dan tidak boleh berbantah dengan Tuhan. Sesulit apa pun bagi hatiku untuk menerimanya, kesukaran itu terjadi karena kesalahan-kesalahanku sendiri. Tuhan tidak salah; segala yang Tuhan lakukan itu tepat. Aku pantas menderita kesukaran. Siapakah yang menyebabkanku memiliki watak rusak? Siapakah yang menyebabkanku menentang Tuhan? Siapakah yang menyebabkanku berbuat jahat? Hal-hal itu tidak diberikan oleh Tuhan kepadaku, tetapi ditimbulkan oleh naturku sendiri. Aku harus menderita kesukaran itu." Lalu, jika orang menderita kesukaran itu, apakah itu bersifat positif? (Ya.) Jika orang memahaminya dengan cara yang positif dan memahami bahwa hal itu dari Tuhan, kesukaran itu bersifat positif. Namun, seandainya mereka berkata, "Aku sanggup tunduk, tetapi, meskipun tunduk, aku harus memaparkan argumenku dengan jelas serta membagikan hal-hal yang kupikirkan dalam hati dan yang kuperbuat dengan jelas. Aku tidak dapat tunduk begitu saja seperti pengecut yang kebingungan. Jika tidak, aku akan mati karena memendam begitu banyak hal dalam batin." Mereka selalu ingin menjelaskan berbagai hal dengan jelas dan lugas, menjelaskan berbagai hal secara luar-dalam, membicarakan alasan mereka, membicarakan hal-hal yang mereka pikirkan, membicarakan bagaimana mereka membayar harga, dan membicarakan betapa benarnya mereka. Mereka tidak bersedia menjadi orang yang tunduk kepada Tuhan untuk menahan diri dari membenarkan diri sendiri, membela diri sendiri, atau membicarakan argumen mereka sendiri. Mereka tidak rela bertindak seperti itu. Dalam keadaan seperti itu, mereka memperlakukan ketundukan sebagai apa? Mereka memperlakukannya sebagai sikap menanggung perlakuan yang merendahkan. Apakah yang mereka pikirkan dalam hati? "Aku harus menanggung segala perendahan itu agar Tuhan berkenan kepadaku dan berkata bahwa aku telah tunduk." Apakah penghinaan itu benar-benar ada? Jika tidak pernah ada penghinaan sama sekali, mengapa mereka masih saja menjelaskan berbagai hal secara jelas dan lugas untuk menyingkirkan "penghinaan" itu? Itu bukanlah ketundukan yang sejati. Bahkan sekalipun niatmu dalam melakukan sesuatu benar, Tuhan ingin mengatur berbagai hal dengan cara demikian. Engkau tidak perlu membela diri dan tidak perlu membantah. Apakah Ayub melakukan berbagai hal dengan lebih baik daripada engkau atau tidak? (Lebih baik.) Ketika Ayub diuji, jika dia berargumen dan membela dirinya sendiri, akankah Tuhan mendengarkan? Tidak, Dia tidak akan mendengarkan. Itulah faktanya. Tahukah Ayub bahwa Tuhan tidak mendengarkan pembelaan orang? Ayub tidak tahu, tetapi Ayub tidak membela diri. Itulah tingkat pertumbuhan yang dia miliki. Dia benar-benar telah tunduk. Hal buruk apakah yang Ayub lakukan sehingga Tuhan memperlakukannya seperti itu? Dia tidak melakukan apa pun yang buruk. Tuhan berkata bahwa Ayub takut akan Dia dan menjauhi kejahatan, dan bahwa Ayub adalah orang yang sempurna. Dalam kaitannya dengan konteks "penghinaan", Tuhan seharusnya tidak membuat Ayub menderita perlakuan yang merendahkan itu, tidak menyerahkannya kepada Iblis, serta tidak membiarkan Iblis mencobainya dan membuatnya kehilangan segala kepunyaannya. Jika dilihat dari sudut pandang orang-orang yang tidak tunduk, Ayub menderita kesukaran dan perlakuan merendahkan luar biasa, dan ketika menerima segala ujian itu, dia menanggung penghinaan dan memikul beban berat demi memperoleh berkat yang bahkan lebih besar lagi dari Tuhan setelahnya. Apakah itu benar? (Tidak.) Seperti itukah cara Ayub berpikir dan melakukan penerapan? (Tidak.) Bagaimana dia melakukan penerapan? Bagaimana dia menyikapi ujian itu? Dia tidak perlu menanggung. Dia pun tidak berpikir bahwa dia menderita perlakuan yang merendahkan. Apa yang dia pikirkan? (Tuhan memberi, dan Dia mengambil kembali.) Itu benar. Manusia berasal dari Tuhan. Tuhan memberimu hidup dan menganugerahimu napas. Engkau sepenuhnya berasal dari Tuhan, jadi bukankah segala hal yang engkau peroleh adalah pemberian Tuhan kepadamu? Apa yang dapat engkau sombongkan? Segalanya diberikan oleh Tuhan, jadi jika Tuhan ingin mengambilnya kembali, apakah ada yang perlu dibantah? Ketika Dia memberimu sesuatu, engkau gembira, dan ketika Dia tidak memberimu sesuatu, engkau tidak gembira, mengeluh tentang Tuhan, memintanya kepada Tuhan, dan berseteru dengan Tuhan. Terserah Tuhan apakah Dia memberimu sesuatu. Tidak ada yang bisa diperdebatkan manusia. Begitukah cara Ayub bertindak? (Ya.) Begitulah cara Ayub bertindak. Adakah rasa diperlakukan tidak adil dalam hatinya? (Tidak.) Tidak ada. Jika dilihat dari luar, Ayub memiliki argumen yang cukup untuk menyuarakan ketidakadilan, membuat pembenaran, membela diri, melawan Tuhan, dan menjelaskan segalanya kepada Tuhan secara jelas dan lugas. Dialah orang yang paling pantas melakukan hal-hal itu, tetapi apakah dia melakukannya? Tidak. Dia tidak berkata apa pun, dan hanya sedikit bertindak: Dia mengoyak jubahnya, mencukur kepalanya, kemudian tersungkur dan menyembah. Semua tindakan di atas membuat orang melihat Ayub sebagai orang yang seperti apa? Orang yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan serta orang yang sempurna. Apa definisi dari orang yang sempurna? Seseorang yang tidak menghakimi tindakan Tuhan dan justru memuji dan tunduk kepadanya, dan seberapa berat pun kesukaran yang mereka derita, tidak berkata, "Aku telah mengalami ketidakadilan. Ini adalah tindakan yang merendahkan." Seberapa berat pun kesukaran yang mereka derita, mereka tidak pernah menunjukkan atau mengucapkan satu patah kata pun yang seperti itu. Hal itu disebut apa? Orang tidak percaya menyebutnya "penyangkalan diri". Di mana letak logikanya? Apakah begitu kenyataannya? (Tidak.) "Penyangkalan diri" adalah penyakit jiwa, dan itu omong kosong. Tidak peduli seberapa besar atau pedihnya perkara yang Ayub hadapi, dia tidak pernah berargumen atau melawan Tuhan. Dia hanya tunduk. Apakah alasan pertamanya untuk tunduk? Takut akan Tuhan. Kemampuannya untuk tunduk berasal dari pemahamannya tentang Tuhan. Dia percaya bahwa segalanya berasal dari Tuhan dan bahwa segala yang Tuhan lakukan itu tepat.
Sejumlah pemimpin dan pengawas kelompok yang digantikan menangis tidak henti-hentinya, mengamuk, dan menjadi emosional. Mereka berpikir bahwa mereka mengalami ketidakadilan, mengeluh bahwa Tuhan tidak benar, dan merasa bahwa saudara-saudari seharusnya merasa bersalah karena telah menyingkapkan dan melaporkan mereka, sambil berkata, "Kalian tidak memiliki hati nurani. Aku sudah begitu baik kepada kalian, dan beginilah cara kalian membalasku! Tuhan tidak benar. Aku telah menderita begitu banyak ketidakadilan, tetapi Tuhan tidak melindungiku. Mereka memberhentikanku begitu saja dengan kasar. Kalian semua memandangku rendah, dan Tuhan memandangku rendah juga!" Mereka berpikir bahwa mereka telah diperlakukan secara sangat tidak adil dan mengamuk. Katakan kepada-Ku, dapatkah orang semacam itu tunduk? Menurut-Ku, itu tidak mudah. Jadi, tidakkah segalanya telah berakhir bagi mereka? Untuk apa engkau mengamuk? Jika engkau dapat menerimanya, terimalah itu. Jika engkau tidak dapat menerima kebenaran dan tidak dapat tunduk kepada kebenaran, keluarlah dari rumah Tuhan! Jangan percaya kepada Tuhan—tidak ada yang memaksamu. Ketidakadilan apa yang ditimpakan kepadamu? Mengapa engkau mengamuk? Ini adalah rumah Tuhan. Jika engkau sanggup, pergilah dan mengamuklah di tengah masyarakat. Carilah raja-raja setan dan Iblis-Iblis, lalu mengamuklah di hadapan mereka. Jangan mengamuk di rumah Tuhan. Jika engkau diberhentikan dari jabatan sebagai pemimpin kelompok, lantas kenapa? Engkau masih dapat hidup meskipun tidak menjadi pemimpin kelompok, bukan? Apakah engkau tidak akan percaya kepada Tuhan jika engkau tidak menjadi pemimpin kelompok? Ayub menderita kesukaran yang begitu dahsyat, tetapi apa yang dia ucapkan? Dia tidak mengucapkan satu keluhan pun dan bahkan memuji Tuhan dengan berkata, "Terpujilah nama Yahweh" (Ayub 1:21). Apakah dia memuji nama Yahweh karena dia menerima ganjaran dan manfaat yang berlimpah-ruah? Tidak. Memang begitulah pemahaman Ayub dan caranya melakukan penerapan. Tidakkah itu terkait dengan karakter seseorang juga? (Ya.) Sejumlah orang berintegritas rendah, dan ketika sedikit saja disakiti, mereka berpikir bahwa mereka telah diperlakukan dengan sangat tidak adil dan bahwa semua orang di bawah kolong langit harus merasa bersalah dan meminta maaf kepada mereka. Orang-orang itu sangat menyusahkan! Bagaimana engkau menjelaskan kata "perlakuan yang merendahkan"? Menderita perlakuan yang merendahkan adalah kejadian umum di antara orang-orang tidak percaya, tetapi rumah Tuhan memiliki cara yang berbeda dalam menggambarkannya: menderita kesukaran dan perlakuan yang merendahkan demi memperoleh kebenaran adalah kesukaran yang harus diderita oleh manusia. Entah mereka dipangkas atau digantikan, orang yang memahami kebenaran tidak berpikir bahwa itu adalah perlakuan yang merendahkan. Mereka berpikir bahwa mereka layak menderita kesukaran dan bahwa orang tidak dapat tunduk kepada hal itu karena memiliki watak-watak rusak, tetapi itu bukan perlakuan yang merendahkan. Siapakah yang benar-benar mengalami perlakuan yang merendahkan? Tuhanlah yang menderita hal itu. Tuhan menyelamatkan umat manusia, tetapi mereka tidak mengerti. Begini, setelah Tuhan membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, mereka menyembah berhala. Ketika mereka tidak mempunyai apa pun untuk dimakan, mereka mengeluhkan Tuhan, dan Tuhan pun harus menurunkan manna dan makanan lain kepada mereka. Setelah beberapa hari yang baik-baik saja, mereka tidak lagi memedulikan Tuhan, tetapi ketika mereka menghadapi kesulitan, mereka mencari-Nya lagi. Jadi, bukankah Tuhan yang menderita penghinaan besar? Bukankah Tuhan yang berinkarnasi menderita penghinaan yang sangat besar ketika Dia ditolak dari masa ke masa? Manusia itu bukan apa-apa dan tidak memiliki kemampuan apa-apa. Mereka menikmati banyak sekali kasih karunia dan kebenaran yang diberikan dan disediakan oleh Tuhan, tetapi mereka merasa diperlakukan secara sangat tidak adil ketika sedikit saja menderita kesukaran yang layak mereka terima. Ketidakadilan apakah yang mereka derita? Ada orang yang biasanya memiliki cukup ketangguhan, tetapi ketika sedikit saja menderita kesukaran, ketika saudara-saudari memangkas mereka, atau ketika seseorang mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan kepada mereka, atau ketika tidak ada yang mendukung atau menyanjung mereka, mereka tersinggung karena merasa bahwa mereka telah menderita kesukaran besar dan diperlakukan dengan tidak adil. Mereka pun mengeluh, "Kalian semua memandangku rendah, dan tidak ada yang memperhatikanku. Aku telah ditakdirkan untuk diperlakukan dengan buruk!" Untuk apa engkau mengamuk? Apakah gunanya mengatakan hal-hal seperti itu? Apakah ada dari kata-kata itu yang sejalan dengan kebenaran? (Tidak.) Jadi, apa itu sebenarnya? Apakah itu penghinaan? Engkau tidak mampu melihat kesukaran yang layak engkau derita secara jelas dan tidak menerimanya. Engkau sudah mendengarkan banyak sekali khotbah, tetapi tidak memahami cara orang seharusnya menerapkan kebenaran dan ketundukan. Engkau tidak mengetahui hal-hal itu dan masih saja berpikir bahwa engkau telah menderita semacam perlakuan yang sangat merendahkan. Bukankah engkau tidak masuk akal? Bagi orang yang menerima penyelamatan Tuhan, apakah perlakuan yang merendahkan itu ada? (Tidak.) Bahkan jika saudara-saudari jelas-jelas memperlakukanmu secara tidak adil, bagaimana seharusnya engkau mengalaminya? Misal, ada uang lima puluh dolar tergeletak di suatu tempat, dan, setelah engkau berjalan melewatinya, uang itu hilang, dan semua orang curiga bahwa engkaulah yang mengambilnya. Apa yang akan engkau lakukan? Dalam hati, engkau akan merasa frustrasi dan kesal: "Meskipun miskin, aku masih mempunyai martabat dan harga diri. Aku masih peduli dengan martabatku. Aku tidak pernah mengambil apa pun milik orang lain. Tanganku sepenuhnya bersih. Kalian selalu memandang rendah aku, dan akulah orang pertama yang kaucurigai ketika itu terjadi. Tuhan tidak menjernihkan keadaan untukku. Kelihatannya, Dia tidak menyukaiku juga!" Engkau mengamuk. Apakah itu termasuk penghinaan? (Tidak.) Jadi, engkau harus berbuat apa dalam keadaan seperti itu? Jika engkau yang mengambil, akuilah itu, dan berjanjilah untuk tidak pernah mengambil apa pun lagi. Jika tidak, katakanlah, "Aku tidak mengambilnya. Tuhan mengetahui relung hati manusia yang terdalam. Siapa pun yang mengambil uang itu mengetahuinya, dan Tuhan pun mengetahuinya. Aku tidak akan mengatakan apa pun lagi." Engkau tidak perlu berkata, "Kalian memandang rendah aku. Kalian semua ingin memperlakukanku dengan tidak adil." Apa gunanya mengatakan hal-hal seperti itu? Baikkah jika engkau mengatakan banyak hal semacam itu? (Tidak.) Mengapa tidak? Jika engkau mengatakan banyak hal semacam itu, itu membuktikan suatu fakta, yakni bahwa Tuhan tidak ada dalam hatimu, engkau tidak percaya kepada Tuhan, dan engkau tidak memiliki iman sejati kepada Tuhan. Ketika engkau mengatakan keadaan yang sebenarnya, Tuhan tahu. Dia mengetahui relung hati manusia yang terdalam dan memeriksa segala perkataan dan perbuatan orang. Seperti apa pun orang memandangnya, itu terserah mereka. Engkau percaya bahwa Tuhan mengetahui segala hal itu, dan engkau tidak perlu banyak berkata-kata. Apakah engkau perlu merasa tersinggung? Tidak, tidak perlu. Apakah pentingnya hal ini? Engkau merasa telah menderita ketidakadilan ketika engkau difitnah dan dihakimi karena percaya kepada Tuhan. Namun, dapatkah engkau membicarakan hal itu secara jelas? Dengan membela dirimu sendirian di hadapan mereka, engkau menunda hal yang sesungguhnya. Itu tidak ada gunanya, bukan? Apa gunanya membantah mereka? Itu bukanlah penerapan kebenaran.
Orang menderita banyak kesukaran dalam proses mengalami penyelamatan Tuhan. Apakah kesukaran yang orang derita itu adalah perlakuan yang merendahkan? (Bukan.) Jelas bukan. Mengapa Aku mengatakannya? (Karena memiliki watak-watak rusak, manusia harus menderita kesukaran itu.) Manusia memiliki watak-watak rusak. Itulah salah satu alasannya. Selain itu, tidak peduli aspek kebenaran mana pun yang tidak engkau pahami dan sisi mana pun dalam dirimu yang masih bersifat negatif, engkau dapat menyebutkannya dan bersekutu tentangnya. Engkau tidak perlu memendamnya dalam batinmu. Apa tujuan persekutuan? (Menyelesaikan masalah.) Mencari kebenaran, memahami kebenaran, dan menyelesaikan masalah yang ada di dalam batin. Engkau tidak perlu memendamnya dalam batinmu. Engkau tidak perlu menderita perlakuan yang merendahkan. Engkau tidak perlu menanggung dan berkata, "Aku tidak paham, tetapi aku masih saja dibuat tunduk. Aku harus paham sebelum tunduk." Jika tidak paham, engkau dapat bersekutu. Mencari kebenaran adalah jalan yang benar. Itu tidak salah. Ketika beberapa hal dipersekutukan dan dipaparkan secara jelas, orang akan mengetahui apa yang harus dilakukannya. Engkau harus menyimpan sikap dan menyelesaikan masalah dengan mencari kebenaran. Jika engkau tidak memahami kebenaran dan hanya menerapkan ketundukan, pada akhirnya engkau akan tetap tidak dapat menyelesaikan masalahmu. Oleh karena itu, sekalipun engkau dituntut untuk tunduk, engkau tidak dituntut untuk tunduk dengan cara yang membingungkan dan tanpa prinsip. Namun, ada prinsip paling dasar yang terkandung di dalam ketundukan, yaitu, ketika engkau tidak paham, engkau pertama-tama harus tunduk, memiliki hati yang tunduk, dan mempunyai sikap ketundukan. Itulah kerasionalan yang harus orang miliki. Setelah mencapai tahap itu, barulah engkau dapat mencari perlahan-lahan. Dengan cara itu, engkau akan terhindar dari perbuatan menyinggung watak Tuhan, dapat dilindungi, dan berhasil sampai ke ujung jalan. Apakah segala firman yang Tuhan gunakan untuk menyingkapkan, mengutuk, menghakimi, dan bahkan melaknat orang dimaksudkan untuk menghina mereka? (Tidak.) Apakah orang perlu kesabaran luar biasa untuk menanggung semua itu? (Tidak.) Tidak, tidak perlu. Sebaliknya, orang memerlukan iman yang luar biasa untuk menerima semua itu. Hanya dengan menerima hal inilah engkau sungguh dapat memahami natur rusak Iblis yang sebenarnya, esensi rusak manusia yang sebenarnya, apa sebenarnya sumber permusuhan manusia terhadap Tuhan, dan penyebab ketidaksesuaian antara manusia dengan Tuhan. Engkau harus mencari kebenaran dalam firman Tuhan sebelum dapat menyelesaikan masalah-masalah itu. Jika engkau tidak menerima kebenaran dan, tidak peduli sejelas apa pun firman Tuhan menyatakan berbagai hal, engkau tidak menerimanya, engkau tidak akan pernah menyelesaikan masalah-masalah itu. Bahkan sekalipun engkau memahami bahwa "firman Tuhan tidak menghina kita, tetapi hanya menyingkapkan kita untuk kebaikan kita sendiri", engkau hanya mengakuinya dari segi doktrin. Engkau tidak akan pernah memahami makna sesungguhnya dari segala hal yang Tuhan katakan atau hasil yang ingin Tuhan capai lewat kata-kata itu. Engkau juga tidak akan memahami kebenaran apa yang sesungguhnya Tuhan bicarakan. Setelah bersekutu dengan cara demikian, bukankah mungkin, sampai taraf tertentu, untuk membuat orang memiliki sikap proaktif dan positif terhadap menerima pemangkasan, menerima penggantian, dan menerima pekerjaan, penataan, dan kedaulatan yang Tuhan lakukan, yang tidak selaras dengan gagasan-gagasan manusia? (Ya.) Setidak-tidaknya, orang akan berpikir bahwa segala hal yang Tuhan lakukan itu benar, bahwa mereka tidak boleh memahaminya secara negatif, dan bahwa sikap yang terlebih dahulu harus mereka miliki adalah secara aktif menerima, tunduk, dan kemudian bekerja sama dengannya. Segala yang Tuhan lakukan kepada manusia tidak menuntut mereka untuk memiliki kesabaran yang luar biasa. Artinya, engkau tidak perlu menanggung semua hal itu. Apa yang perlu engkau lakukan? Yang perlu engkau lakukan adalah menerima, mencari, dan tunduk. Istilah "menanggung penghinaan" yang digunakan oleh orang tidak percaya jelas-jelas adalah istilah yang merendahkan manusia. Tidak ada perbuatan Tuhan yang menuntutmu untuk menanggung penghinaan. Engkau dapat menerapkan kesabaran, kasih, kerendahan hati, serta ketundukan, penerimaan, kejujuran, keterbukaan, dan kesediaan untuk mencari. Hal-hal itu cukup positif. Jadi, apa logika di balik perkataan orang tidak percaya itu? Itu adalah falsafah Iblis dan tipuan setan. Simpulannya, menanggung penghinaan bukanlah prinsip yang harus ditaati oleh mereka yang percaya kepada Tuhan. Itu bukanlah kebenaran. Itu adalah hal yang bersifat Iblis. Menanggung penghinaan bukanlah sesuatu yang Tuhan tuntut untuk dilakukan oleh manusia karena tidak ada penghinaan yang di dalamnya. Segala perbuatan Tuhan terhadap manusia adalah tindakan yang mengasihi, menyelamatkan, menjaga, dan melindungi mereka. Hal-hal yang Tuhan katakan dan pekerjaan yang Dia lakukan bagi manusia semuanya bersifat positif dan semuanya adalah kebenaran. Tidak ada sedikit pun di antaranya yang sama dengan perkataan serta pekerjaan Iblis, dan di situ tidak terdapat metode-metode dan cara-cara Iblis. Orang baru dapat disucikan dan diselamatkan hanya dengan menerima firman Tuhan.
Dengan cara apa tindakan "menanggung penghinaan" yang disampaikan oleh Iblis terwujud dalam diri manusia? Pandangan itu terwujud dalam bentuk tindakan yang melukai, melecehkan, merusak, dan menginjak-injak. Intinya, pandangan itu membawa malapetaka bagimu. Tidak peduli apakah engkau telah menderita kesukaran atau perlakuan yang merendahkan, pendek kata, apa pun yang akhirnya orang dapatkan dari hal-hal yang ditentukan oleh Iblis bagi mereka pastilah bukan kebenaran. Apa yang mereka dapatkan? Kepedihan. Pengaruh Iblis dalam diri manusia adalah beraneka macam bentuk penghinaan dan cemoohan serta pelecehan dan kerusakan. Jadi, dampak dan perasaan seperti apa yang diakibatkan oleh ungkapan di atas dalam diri manusia? Ungkapan itu mendorong manusia untuk menanggung perlakuan tidak adil dan menyesuaikan diri agar dapat melindungi diri sendiri, dan bahkan membuat batin mereka kacau. Orang belajar untuk menggunakan segala macam taktik dan metode untuk menangani dan menyikapi semua hal itu serta belajar untuk bermulut manis pada orang lain, berpura-pura, dan berkata palsu. Ketika orang mengungkapkan dan mewujudkan semua hal itu, apakah hati mereka ikhlas, gembira, dan damai, atau marah dan pedih? (Marah dan pedih.) Makin mereka menanggung penghinaan di dunia ini, apakah kemarahan dalam hati mereka makin bertambah atau berkurang? (Bertambah.) Lalu, apakah orang memandang umat manusia dengan cara yang makin memusuhi, atau mengasihi? (Memusuhi.) Orang memandang umat manusia dengan sikap memusuhi yang makin besar dan membenci setiap orang yang mereka jumpai. Ketika masih muda dan baru saja terjun ke masyarakat, orang melihat bahwa segalanya indah, dan mereka mudah sekali memercayai orang. Ketika menginjak usia tiga puluhan, mereka tidak semudah itu lagi memercayai orang. Ketika menginjak usia empat puluhan, mereka tidak memercayai kebanyakan orang, dan ketika menginjak usia lima puluhan, hati mereka penuh dengan kebencian dan mereka cenderung mudah berubah dan menyakiti orang. Sebelum dipenuhi oleh kebencian, hal-hal apakah yang mereka tanggung? Semuanya adalah perlakuan yang merendahkan dan kepedihan. Jika engkau tidak memiliki kemampuan dan kekuasaan yang dimiliki oleh orang lain, ketika mereka mengatakan sesuatu tentang dirimu, engkau harus secepatnya menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan. Lalu, ketika mereka mencacimu, engkau harus mendengarkan. Tidak ada yang dapat engkau lakukan, tetapi apa yang engkau pikirkan dalam hati? "Suatu hari, ketika berkuasa, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri dan memusnahkan keluargamu hingga tiga keturunan!" Kebencian dalam hatimu tumbuh makin kuat dan makin kuat. Itulah dampak dari menanggung penghinaan dan memikul beban berat terhadap umat manusia yang rusak. Orang menganggap bahwa menanggung penghinaan dan memikul beban berat, yang dipuji dan didukung oleh masyarakat, sebagai hal positif, dan bahwa mentalitas dan pola pikir semacam itu memungkinkan orang untuk bekerja keras dan berusaha menjadi lebih kuat. Jadi, mengapa prinsip itu pada akhirnya mengakibatkan kemarahan dan kebencian dalam diri manusia? (Karena itu bukanlah kebenaran.) Itu benar. Prinsip itu menghasilkan dampak negatif karena itu bukanlah kebenaran. Hal apa yang menimbulkan kebencian dan pembunuhan akibat dendam selama bergenerasi-generasi dalam masyarakat dan kalangan gangster? (Setelah orang direndahkan, kebencian dalam hati mereka berkembang dan mereka membunuh karena dendam.) Itu benar. Seperti itulah timbulnya pembunuhan karena dendam. Dari generasi ke generasi, orang-orang membunuh satu sama lain secara brutal hingga umat manusia hancur karena bencana. Itulah dampaknya. Umat manusia hidup menurut falsafah dan logika Iblis serta perlahan berkembang hingga saat ini berada di bawah kuasa Iblis. Hubungan antar manusia makin kacau, makin jauh, makin penuh kecurigaan, dan makin dingin. Sudah sampai ke titik manakah keadaannya sekarang? Keadaannya telah mencapai titik di mana hati dua manusia tidak lagi terpaut satu sama lain dan dipenuhi oleh rasa saling benci dan memusuhi. Dahulu, tetangga sering berhubungan dan kerap berinteraksi satu sama lain. Namun, kini seseorang mungkin telah meninggal selama lima hingga enam hari, dan tetangganya tidak mengetahuinya. Tidak ada yang memeriksa keadaan mereka. Mengapa keadaannya bisa sampai ke titik itu? Sebabnya adalah rasa saling benci. Engkau tidak ingin orang lain memusuhimu, tetapi pada saat yang sama, engkau memusuhi orang lain. Itu adalah lingkaran setan. Itulah dampak negatif dan bencana yang ditimbulkan oleh hukum Iblis pada umat manusia. Pandangan dan kesan dalam hati orang terhadap sesamanya makin negatif sehingga mereka makin ahli dalam menanggung penghinaan dan memikul beban berat, lalu kemarahan dan kebencian dalam hati mereka berkembang hingga akhirnya mereka berkata, "Akan lebih baik jika mereka semua mati saja dan tidak ada seorang pun yang hidup!" Tidakkah hati semua orang penuh dengan kebencian semacam itu? Mereka berharap dunia ini dimusnahkan secepat mungkin, "Kejahatan semua orang telah mendarah daging. Mereka pantas dimusnahkan!" Engkau berkata bahwa kejahatan orang lain telah mendarah daging, tetapi bagaimana dengan dirimu sendiri? Mungkinkah engkau telah benar-benar berubah? Sudahkah engkau memperoleh keselamatan? Jika membenci orang lain karena kejahatan mereka yang telah mendarah daging, engkau seharusnya lebih baik daripada mereka. Jika engkau ternyata sama jahatnya seperti orang-orang dunia, engkau tidak mempunyai nalar. Ketika seseorang yang bernalar melihat bahwa kejahatan umat manusia telah mendarah daging, dia harus mencari kebenaran dan hidup dalam keserupaan dengan manusia untuk menyenangkan Tuhan. Itulah perbuatan yang pantas. Dengan demikian, ketika Tuhan memusnahkan umat manusia yang jahat, mereka akan diselamatkan.
Apakah engkau semua membenci umat manusia yang jahat ini? (Ya.) Sebagian besar orang yang percaya kepada Tuhan memiliki sejumlah kemanusiaan dan nalar. Hati mereka lebih baik, mereka mendambakan terang, dan mereka sangat ingin agar Tuhan dan kebenaran berkuasa. Mereka tidak menyukai hal-hal yang jahat dan tidak adil. Seharusnya, mereka penuh dengan harapan, kasih, dan toleransi terhadap umat manusia, jadi bagaimana bisa mereka membenci umat manusia? Ada yang berkata, "Dahulu, saat aku masih sekolah, ada guru yang merundungku, tetapi aku tidak berani mengungkapkannya. Aku hanya dapat menanggungnya. Jadi, kubulatkan tekadku untuk belajar dengan keras dan masuk universitas nanti. Akan kutunjukkan kepada kalian diriku yang sebenarnya, lalu akulah yang akan merundung kalian!" Ada yang berkata, "Saat dahulu aku bekerja, orang-orang kuat di perusahaan selalu merundungku, dan aku berpikir, 'Tunggu saja hingga tiba saatnya aku mengalahkan kalian dengan prestasiku. Lalu, akan kubuat hidup kalian menderita!'" Ada juga yang berkata, "Dahulu saat aku menjalankan usaha, manajer vendor selalu menggelapkan uangku, dan aku berpikir, 'Ketika tiba saatnya aku menghasilkan keuntungan besar, akan kubalas kau!'" Tidak ada orang yang hidupnya enak, dan selalu ada masanya ketika mereka dirundung. Selalu ada orang yang mereka benci dalam hati dan yang ingin mereka balas. Seperti itulah perkembangan dunia saat ini: penuh kebencian dan permusuhan. Permusuhan manusia terhadap sesamanya begitu ekstrem sehingga mereka tidak dapat hidup bersama dengan rukun dan saling bersahabat. Dunia ini akan dihabisi sebentar lagi. Dunia ini telah mencapai batas akhirnya. Setiap orang mempunyai kisah memilukan dalam hatinya dari masa ketika dia dirundung oleh seseorang di suatu tempat, atau ketika dia dihina, dipandang rendah, ditipu, atau dirugikan oleh orang lain di suatu perusahaan, lembaga, atau kelompok. Hal-hal itu terjadi di mana-mana. Itu membuktikan apa? Itu membuktikan bahwa umat manusia tidak lagi memiliki orang seperti Nuh di antara mereka. Begitukah kenyataannya? (Ya.) Hati setiap orang penuh kejahatan serta permusuhan terhadap kebenaran, hal-hal positif, dan keadilan. Manusia sudah tidak mungkin diselamatkan. Tidak ada orang, ajaran, dan teori yang dapat menyelamatkan manusia. Itulah kenyataannya. Sejumlah orang masih berharap, "Kapan perang dunia terjadi? Setelah perang itu, semuanya yang layak mati akan mati, dan orang yang tersisa dapat memulai lembaran baru. Era baru akan dimulai, dan negara baru akan berdiri." Mungkinkah itu? Tidak, tidak mungkin. Sejumlah orang menaruh harapan mereka pada berbagai macam agama, tetapi agama-agama itu hampir runtuh, dan mereka sedang sekarat. Setiap agama busuk hingga ke akarnya dan memiliki reputasi yang buruk. Apa yang Kumaksudkan dengan kata-kata itu? Kata-kata itu dimaksudkan untuk membuat orang memahami satu fakta, yakni jika Tuhan tidak menggunakan firman dan kebenaran untuk menyelamatkan manusia, watak kebencian dan kekejaman dalam batin manusia hanya akan makin parah dan bertumbuh subur. Pada akhirnya, kemungkinan satu-satunya bagi umat manusia adalah bahwa mereka akan memusnahkan diri mereka sendiri karena orang saling bunuh satu sama lain secara keji. Saat ini, banyak orang ingin menghindari kumpulan ras manusia jahat itu dan pergi untuk hidup sendirian jauh di pegunungan dan hutan, atau di tempat-tempat yang tidak ada jejak manusianya. Apakah dampak dari hal itu? Umat manusia tidak akan lagi berlipat ganda dan tidak akan ada lagi generasi baru. Umat manusia akan punah setelah generasi yang sekarang. Tidak akan ada lagi keturunan. Perlawanan umat manusia terhadap Tuhan terlalu parah, yang sudah memancing murka-Nya sejak awal. Mereka akan dihabisi tidak lama lagi. Mengapa ada begitu banyak orang yang tidak menikah? Karena mereka takut ditipu, tidak percaya lagi bahwa masih ada orang baik, dan dipenuhi oleh sikap permusuhan terhadap pernikahan. Siapakah yang harus disalahkan? Salahkanlah orang-orang yang terlalu rusak, salahkanlah Iblis dan setan-setan, dan salahkanlah orang-orang yang bersedia menerima kerusakan. Engkau membenci orang lain, tetapi apakah engkau benar-benar lebih baik daripada mereka? Engkau tidak memiliki kebenaran dan membenci orang lain itu tidak ada gunanya. Jika orang tidak memiliki kebenaran dan tidak memahami kebenaran, mereka akhirnya akan mencapai jalan buntu, jatuh ke dalam bencana, dan dimusnahkan. Itulah akhir yang akan menimpa mereka. Jika Tuhan tidak menyelamatkan umat manusia, tidak akan ada satu orang pun di antara umat manusia yang rusak yang dapat memahami kebenaran.
Sebenarnya, apa itu "penghinaan"? Apakah orang percaya perlu menanggung penghinaan? Apakah "penghinaan" itu ada? (Tidak ada.) Tidak ada. Jadi, masalahnya sudah selesai, bukan? Jika lain kali engkau mendengar seseorang berkata, "Sebagai orang percaya, engkau harus pertama-tama belajar bertahan. Apa pun yang terjadi, engkau harus menjalaninya dan menekannya dalam batin." Haruskah engkau mengatakan sesuatu kepada mereka ketika mendengar mereka berkata demikian? (Ya.) Apa yang sebaiknya engkau katakan? Katakanlah, "Untuk apa engkau bertahan? Jika engkau benar-benar menderita perlakuan yang merendahkan, engkau patut dikasihani karena itu menunjukkan bahwa engkau tidak memahami kebenaran. Jika engkau memahami kebenaran, perlakuan yang merendahkan itu tidak akan ada, dan engkau akan menerima segala keadaan yang Tuhan atur bagimu dengan ikhlas dan gembira. Itulah kesukaran yang harus diderita oleh manusia, bukan perlakuan yang merendahkan. Itulah cara Tuhan meninggikanmu. Kenyataan bahwa kita dapat menderita kesukaran membuktikan bahwa Tuhan masih memberi kita kesempatan dan memungkinkan kita untuk diselamatkan. Jika kita bahkan tidak berkesempatan untuk menderita kesukaran atau tidak layak untuk menerimanya, kita tidak akan memiliki kesempatan untuk diselamatkan. Itu bukanlah perlakuan yang merendahkan. Engkau harus memahaminya dengan jelas dan merenungkan apakah yang engkau katakan tadi sungguh benar. Perlakuan yang merendahkan itu tidak ada. Kita adalah manusia yang rusak dan pantas menderita kesukaran itu. Ketika sakit, engkau harus menderita sedikit kesukaran karena harus makan obat dan menjalani operasi. Apakah kesukaran yang engkau derita untuk menyembuhkan penyakitmu termasuk perlakuan yang merendahkan? Itu bukanlah perlakuan yang merendahkan. Itu dilakukan untuk menyembuhkanmu. Kepercayaan kita kepada Tuhan dan pengalaman kita sewaktu dihakimi dan dihajar bertujuan untuk menyingkirkan watak-watak rusak kita dan untuk hidup dalam keserupaan dengan manusia, hidup menurut tuntutan Tuhan, tunduk kepada Tuhan, menyembah-Nya, hidup secara lebih baik, dan hidup dengan lebih bermartabat. Kita layak menderita kesukaran itu akibat watak-watak rusak kita. Menderita kesukaran diperlukan demi memperoleh kebenaran dan hidup. Kita tidak dapat menafsirkannya sebagai perlakuan yang merendahkan. Kita harus menerimanya sebagai tanggung jawab dan kewajiban yang harus kita penuhi, serta sebagai jalan yang harus kita tempuh. Itulah tindakan Tuhan untuk mengangkat kita, dan kita harus memuji Tuhan karena Dia mengangkat kita dan atas kesempatan yang diberikan-Nya kepada kita. Ditilik dari segala hal yang telah kita lakukan dan cara kita melakukannya, kita tidak pantas menderita kesukaran itu, dan kita seharusnya dimusnahkan seperti orang-orang dunia. Jika kita memperlakukan kesukaran yang seharusnya kita derita dan segala rahmat yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita sebagai perendahan, kita betul-betul tidak berhati nurani dan menyakiti hati Tuhan! Kita tidak pantas menikmati penyelamatan Tuhan." Tidakkah demikian? (Ya.) Doktrin itu sangat sederhana. Tidakkah seharusnya seseorang mampu memahaminya meskipun hal itu tidak diungkapkan? Setelah dicerahkan dengan cara demikian dan memahami hal-hal itu, hati manusia akan menjadi lebih tenteram dan mereka tidak akan bertindak tanpa akal ketika berbagai hal terjadi pada mereka. Sejumlah orang secara jelas mengetahui dalam hati bahwa itu adalah kebenaran dan bahwa mereka harus menerimanya. Namun, ketika berbicara, mereka masih berkata bahwa itu benar-benar tidak adil, lalu terus saja berbicara hingga kata-kata penghakiman melawan Tuhan pun terlontar. Janganlah melakukan hal yang seperti itu. Kapan pun sesuatu terjadi kepadamu, carilah kebenaran. Itulah hal yang terpenting, dan janganlah mengabaikannya. Jika engkau mengakui bahwa Tuhan adalah kebenaran, jalan, dan kehidupan, engkau tidak boleh memperlakukan keadaan apa pun yang Tuhan berikan kepada kita sebagai pekerjaan manusia. Engkau justru harus memperlakukan setiap keadaan yang Tuhan berikan sebagai kesempatan untuk mengubah watakmu dan menerima kebenaran.
Aku telah selesai bersekutu tentang makna kata "penghinaan". Berikutnya, Aku akan bersekutu tentang bagian berikutnya, yaitu makna dari ungkapan "memikul beban berat". Baru saja kita membicarakan bahwa beban berat yang orang tanggung adalah hasrat dan ambisi di lubuk hati mereka, atau tujuan yang mereka harap dapat tercapai. Terkait dengan gagasan bahwa orang yang percaya kepada Tuhan diselamatkan oleh Tuhan dan menerima kepemimpinan Tuhan, apakah mereka perlu menanggung penghinaan dan memikul beban berat? Aku baru saja berkata bahwa ungkapan "menanggung penghinaan" tidak dapat diterima di rumah Tuhan. Engkau tidak perlu menanggung penghinaan. Engkau tidak perlu merasa bahwa engkau menanggung begitu banyak kesukaran. Hatimu tidak perlu merasa diperlakukan secara tidak adil. Engkau juga tidak perlu menanggung segala perlakuan yang merendahkan untuk menyenangkan Tuhan, seakan-akan engkau sebegitu mulianya. Engkau tidak perlu melakukan itu semua. Jadi, apa artinya memikul beban berat? Jika seseorang berkata bahwa Tuhan membuat manusia menderita segala kesukaran itu agar mereka mampu mengambil tanggung jawab dan tugas yang lebih besar, lalu menerima berkat yang lebih banyak dan mencapai tempat tujuan yang lebih baik, apakah pernyataan itu benar dan masuk akal? (Tidak, itu tidak benar.) Itu tidak benar. Lalu, bagaimana seharusnya kita mendefinisikannya? Tuhan mengizinkan manusia untuk diselamatkan dan mencapai tahap takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan serta membuat hidup mereka lebih baik. Sebenarnya, apakah Tuhan melakukan itu demi manusia, atau demi diri-Nya sendiri? (Demi manusia.) Tentu saja demi manusia. Manusia adalah penerima manfaat yang terbesar. Itulah alasannya Aku berkata bahwa itu tidak ada kaitannya dengan manfaat yang Tuhan dapatkan darinya, apalagi dengan banyaknya berkat yang dapat orang peroleh dengan menderita kesukaran itu. Engkau tidak perlu menanggung dan memiliki "aspirasi besar" semacam itu. Engkau juga tidak perlu menyangkal berbagai hal untuk mencapai tujuan itu. Pada kenyataannya, engkau belum menyangkal ataupun membuang apa pun. Sebaliknya, orang sebenarnya telah memperoleh hasil yang terbanyak. Pertama, mereka telah memahami berbagai macam kriteria untuk mengatur perilaku mereka. Selain itu, mereka mampu menaati seluruh tatanan ini dan segala hukum yang telah Tuhan tetapkan serta hidup secara teratur. Apakah cara hidup itu lebih baik jika dibandingkan dengan cara hidup orang di zaman sekarang? (Cara hidup itu lebih baik.) Cara hidup itu lebih baik daripada cara hidup orang di zaman sekarang. Lalu, di antara kedua cara hidup itu, yang manakah yang lebih diberkati, lebih mirip dengan cara hidup makhluk ciptaan sejati, dan, yang lebih penting lagi, adalah hidup yang seharusnya dimiliki oleh umat manusia? (Yang pertama.) Tentu saja yang pertama. Setelah menderita kesukaran, engkau memahami maksud Tuhan dan sekaligus memahami banyak kebenaran. Lalu, dengan pemahaman tentang kebenaran sebagai landasan, engkau belajar cara berperilaku, dan engkau memiliki kebenaran yang berperan sebagai kehidupan dalam kemanusiaanmu. Tidakkah itu membuat dirimu berharga? Manusia awalnya tidak memiliki kebenaran sama sekali. Mereka hanyalah makhluk hina tidak berharga yang lebih rendah daripada semut dan tidak layak hidup. Namun, kini engkau telah memahami kebenaran serta berbicara dan bertindak menurut kebenaran. Apa pun yang Tuhan atur agar engkau lakukan, engkau mampu mendengarkannya dan melakukan tepat seperti yang diminta. Apa pun penataan yang Tuhan buat untukmu, engkau mampu tunduk kepadanya. Jadi, akankah engkau tetap menghakimi Tuhan? Akankah engkau memberontak terhadap-Nya secara proaktif? Jika seseorang menghasutmu untuk memberontak terhadap Tuhan, akankah engkau melakukannya? (Tidak.) Jika seseorang merancang kebohongan tentang Tuhan untuk menyesatkanmu, akankah engkau memercayainya? (Tidak.) Engkau tidak akan melakukannya. Jadi, engkau tidak akan memberontak terhadap Tuhan, baik dari segi subjektif maupun objektif. Manusia-manusia seperti itu sepenuhnya hidup di bawah kekuasaan Tuhan. Jadi, apakah manusia seperti itu masih perlu menghadapi kepedihan orang-orang zaman sekarang? Masih adakah kebencian dan kepedihan dalam hati mereka? Adakah hal-hal menyedihkan dan pedih dalam hati mereka? (Tidak.) Tidak ada kepedihan dalam hati mereka. Dalam segala hal yang mereka lakukan, orang-orang seperti itu mempunyai prinsip dan tidak sembarangan bertindak. Selain itu, ketika berbagai hal terjadi, Tuhan memiliki otoritas kedaulatan, dan Iblis tidak dapat melukaimu. Engkau hidup sebagai manusia yang sejati. Akankah Tuhan memusnahkan manusia seperti itu? Akankah manusia seperti itu memusnahkan diri mereka sendiri? (Tidak.) Tidak akan. Mereka adalah jenis manusia yang sama sekali berbeda dari para manusia rusak di zaman sekarang. Hati manusia di zaman sekarang penuh kebencian dan kepedihan. Mereka sanggup bunuh diri kapan pun dan di mana pun, berperang dan membunuh orang kapan pun dan di mana pun, serta melakukan hal-hal buruk kapan pun dan di mana pun. Mereka mendatangkan bencana ke dunia manusia. Sementara itu, para manusia yang diselamatkan oleh Tuhan dan yang telah memperoleh kebenaran sebagai kehidupan dapat hidup bersama dalam damai tanpa berperang atau membenci. Mereka mampu tunduk kepada penataan Tuhan dan tunduk dengan hati dan upaya yang bersatu untuk mengamalkan setiap firman yang Tuhan katakan. Semua orang itu hidup dalam firman Tuhan serta bekerja keras dengan tujuan yang sama. Dengan tujuan untuk membuat kehendak Tuhan terlaksana, dengan engkau yang memahami kebenaran, dia memahami kebenaran, dan mereka pun memahami kebenaran, dapatkah mereka masih memiliki pandangan yang berbeda-beda ketika mereka bersama-sama? (Tidak.) Dengan cara itu, mereka dapat mencapai titik di mana semuanya hidup di tengah kehadiran Tuhan, di dalam firman-Nya, hidup menurut kebenaran, dan hidup di mana hati orang-orang sesuai satu sama lain. Dengan cara itu, masihkah ada pembantaian dan peperangan di antara manusia? (Tidak.) Masihkah orang perlu menanggung kepedihan? Tidak ada kepedihan. Manusia-manusia yang seperti itu menikmati kehidupan yang penuh berkat, tanpa adanya peperangan ataupun pembantaian. Jadi, bagaimana seharusnya orang mengelola segala hal yang telah Tuhan percayakan kepada mereka? (Mereka harus hidup bersama dalam damai.) Pertama, mereka harus hidup bersama dalam damai. Kedua, mereka harus mengelola segalanya menurut tatanan dan hukum yang Tuhan tetapkan. Artinya, seluruh tatanan itu, segala hukum itu, dan semua makhluk hidup adalah milik umat manusia, digunakan oleh umat manusia, dan membawa manfaat bagi umat manusia. Betapa menakjubkannya umat manusia yang seperti itu! Waktu itu, lingkungan tempat hidup umat manusia diberikan kepada mereka untuk dikelola. Tuhan menetapkan tatanan dan hukum untuk dunia ini demi manusia, lalu Tuhan tidak akan mencampurinya. Jika suatu hari engkau melihat serigala memangsa kelinci, apa yang akan engkau lakukan? Engkau harus membiarkan serigala itu memakannya. Engkau tidak dapat mencegah serigala memakan kelinci dan membuatnya memakan rumput. Kesalahan apa yang akan engkau perbuat? (Melawan tatanan alami segala hal.) Engkau akan melawan tatanan alami segala hal. Kelinci makan rumput dan serigala makan daging, jadi engkau harus menghormati kodrat mereka dan membiarkan mereka berkembang secara bebas. Engkau tidak perlu mencampuri kegiatan dan cara hidup mereka dengan cara yang artifisial dan ditambah-tambahkan. Engkau tidak perlu mengelola hal-hal itu. Tuhan telah mengatur hal-hal itu sebagaimana mestinya. Jika ada beberapa tempat yang curah hujannya tinggi dan iklimnya tidak cocok, hewan-hewan harus bermigrasi. Engkau berkata, "Kita harus membetulkan tempat ini. Bagaimana mungkin curah hujannya selalu begitu tinggi? Pastilah hewan-hewan itu lelah karena harus terus bermigrasi!" Bukankah itu kebodohan lagi? (Ya.) Mengapa itu hal bodoh? Tuhankah yang menentukan iklim itu di sana? (Ya.) Tuhanlah yang menentukan iklim itu dan membiarkan hewan-hewan itu hidup di sana. Tuhankah yang menentukan pola migrasi hewan-hewan itu? (Ya.) Jadi, mengapa engkau ingin menghalanginya? Mengapa engkau bertindak secara asal-asalan menurut maksud baikmu? Apa sisi positif dari migrasi? Ketika sekawanan besar hewan menetap di suatu kawasan selama setengah tahun, rumputnya akan habis dimakan. Jika hujan tidak turun dan mereka tidak bersedia pergi, apa jadinya? Hujan harus turun sepanjang waktu. Ketika tanah basah, mereka tidak dapat menetap di situ dan rumput akan dibanjiri air hujan sehingga mereka harus pergi. Migrasi itu menjadikan tubuh mereka sehat dan memberi kesempatan kepada rumput untuk tumbuh kembali. Begitu mereka telah memakan sebagian besar rumput di tempat lain, kini giliran salju yang turun di sana, lalu sekali lagi mereka akan tersingkir dan harus segera bermigrasi. Mereka pun kembali ke tempat semula. Di situ hujan belum turun, rumput telah tumbuh, dan mereka dapat memakannya lagi. Dengan demikian, ekosistem terus mempertahankan keseimbangannya dengan cara yang alami. Sejumlah orang berkata, "Antelop wildebeest selalu dimakan oleh singa. Sungguh kasihan! Tidak bisakah kita membuat mereka lebih cerdas?" Mengapa engkau bertindak secara asal-asalan, meskipun maksudmu baik? Apakah engkau mencoba untuk menunjukkan bahwa engkau baik hati? Kebaikan hatimu itu berlebihan. Jika wildebeest menjadi cerdik, singa akan kelaparan. Tegakah engkau melihat singa menjadi kelaparan? Ada orang lain yang berkata, "Singa itu jahat. Mereka menggigit rusa dan zebra. Itu sangat mengerikan dan kejam!" Jika engkau memusnahkan singa, akan ada terlalu banyak rusa dan zebra. Seperti apakah hasil akhirnya nanti? Semua rumput akan dimakan habis, dan padang rumput akan berubah menjadi gurun. Dapatkah engkau menanggungnya? Akankah engkau tetap bertindak menurut maksud baik itu? Jadi, apa yang seharusnya engkau lakukan? Biarkan saja mereka berkembang secara alami. Begitulah cara kerja dunia hewan. Tuhan telah lama sekali menetapkan seluruh tatanan itu, dan mau tidak mau engkau harus menerimanya. Segalanya harus berlangsung sesuai dengan tatanan yang telah ditetapkan. Jika engkau melawan tatanan alam, kehidupan tidak akan dapat bertahan. Begitu memahami segala hukum itu, engkau akan menghormatinya dan memandang hal-hal ini menurut hukum-hukum itu. Lalu, engkau akan melihat hikmat dari kedaulatan Tuhan atas segala-galanya. Selain itu, segala hukum itu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Bagaimana itu dapat terjadi? (Tuhan telah menakdirkannya.) Itu telah ditakdirkan oleh Tuhan. Begitulah cara Tuhan menatanya. Manusia meriset sains, biologi, dan segala macam bidang ilmu pengetahuan. Mereka telah melaksanakan penelitian selama bertahun-tahun, tetapi hanya memahami doktrin dan tatanan yang sederhana. Tidak ada yang melihat kedaulatan atau hikmat Tuhan dalam doktrin dan fenomena itu. Mengapa seluruh ekosistem dan rantai makanan dapat menjadi begitu rumit dan menakjubkan? Manusia hanya mengklarifikasi suatu fenomena atau mengumumkan suatu fakta kepada semua orang di dunia ini, tetapi tidak ada yang dapat menyimpulkan atau melihat dengan jelas bahwa semua itu berasal dari Tuhan. Semuanya tidak timbul dengan sendirinya. Jika kita mengikuti pendapat bahwa hal itu timbul dengan sendirinya, bagaimana mungkin selama ini tidak pernah ada yang melihat kera berubah menjadi manusia? Segala hukum itu ditetapkan oleh Tuhan. Apakah hukum-hukum itu ada kaitannya dengan kera yang berubah menjadi manusia? (Tidak.) Tidak ada hal semacam itu. Tuhan menetapkan segala hukum dan seluruh tatanan itu. Jika manusia cukup beruntung untuk dapat tetap ada, pada saat itu mereka tidak akan hanya menghormati, menjaga, dan mengelola seluruh tatanan dan segala hukum itu, tetapi yang lebih penting, mereka akan menjadi penerima manfaat terbesar dari seluruh tatanan dan segala hukum itu. Tuhan telah menyiapkan semua itu bagi umat manusia dan menetapkannya bagi manusia. Segalanya telah disiapkan untuk dinikmati oleh manusia. Di antara segala makhluk ciptaan, manusia adalah yang paling diberkati. Manusia memiliki bahasa dan pikiran, dapat mendengar suara Tuhan, dapat memahami firman Tuhan, memiliki bahasa untuk berbicara dengan Tuhan, dan paling cakap dalam memahami firman Tuhan. Yang menjadikan mereka paling diberkati adalah bahwa Tuhan memberi mereka modal terbesar untuk meraih keselamatan dan untuk datang ke hadirat-Nya. Pada akhirnya, segala hal yang telah Tuhan lakukan serta seluruh tatanan dan segala hukum yang Tuhan tetapkan akan memerlukan manusia untuk mengelola dan merawatnya. Orang-orang yang hanya meneliti, merusak, merugikan, dan mengacaukan seluruh tatanan dan segala hukum itu harus dilenyapkan. Manusia telah menderita kesukaran yang begitu besar. Apakah tempat tujuan yang orang yakini dalam hati dan yang mereka cari dan dambakan benar-benar ada? Tempat itu tidak benar-benar ada. Itu hanyalah hasrat dan ambisi manusia yang berbeda dari yang ingin Tuhan berikan kepada manusia. Keduanya berbeda dan tidak terkait dengan satu sama lain. Jadi, unsur "memikul beban berat" dalam menanggung penghinaan dan memikul beban berat tidak ada dalam kehidupan manusia. Apa yang Kumaksudkan ketika mengatakan bahwa unsur itu tidak ada? Maksud-Ku, tempat tujuan indah yang engkau yakini serta hal-hal yang ingin engkau capai melalui ambisi dan hasrat dalam lubuk hatimu tidak ada sama sekali. Sehebat apa pun kesukaran yang engkau derita atau sebesar apa pun perlakuan merendahkan yang engkau tanggung, pada akhirnya tempat tujuan yang engkau dambakan, hal-hal yang ingin engkau capai, jati diri yang engkau harapkan, dan banyaknya berkat yang ingin engkau peroleh tidak dapat diterima. Itu adalah hal-hal yang tidak ingin Tuhan berikan kepadamu. Masalah lain apakah yang terkandung di sini? Menanggung penghinaan dan memikul beban berat terjadi ketika orang menyembunyikan kemampuan mereka yang sesungguhnya dengan menanggung dan menderita perlakuan yang merendahkan demi meraih tujuan-tujuan mereka. Apa tujuan-tujuan itu? Itu adalah idealisme-idealisme dan bahkan hasrat-hasrat yang ada dalam lubuk hati orang. Jadi, ketika orang percaya menderita kesukaran, apakah itu demi memuaskan hasrat? (Tidak.) Jadi, untuk apakah itu? Ketika orang percaya menderita kesukaran, apakah tujuan yang ingin mereka kejar dan capai itu bersifat positif atau negatif? (Positif.) Apakah itu terkait dengan hasrat? (Tidak.) Jadi, apa tujuan positif itu? (Untuk menyingkirkan watak rusak mereka, menjadi manusia sejati, dan mampu hidup secara lebih baik.) Tujuannya adalah untuk menyingkirkan watak rusak mereka, menjadi manusia sejati, dan mampu hidup secara lebih baik. Ada lagi? Untuk menjadi manusia yang diselamatkan dan untuk tidak memberontak terhadap Tuhan lagi. Maukah engkau semua menjadi orang seperti Ayub dan Petrus? (Ya.) Jadi, bukankah itu sebuah tujuan? (Ya.) Apakah tujuan itu terkait dengan hasrat? (Tidak.) Tujuan itu adalah usaha yang tepat serta misi dan jalan yang telah Tuhan berikan kepada manusia. Itu adalah hal yang tepat. Itulah sebabnya Aku berkata bahwa kesukaran yang engkau tanggung demi pengejaran tujuan yang tepat itu bukanlah menanggung penghinaan. Kesukaran itu justru adalah hal yang harus dikejar oleh manusia dan jalan yang harus ditempuh oleh manusia. Apakah orang yang dalam hatinya berpikir bahwa mereka menanggung perlakuan yang merendahkan dapat sampai ke jalan itu? Mereka tidak dapat sampai ke situ dan tidak dapat meraih tujuan itu.
Jika dilihat sekarang, apakah ungkapan "menanggung penghinaan dan memikul beban berat" adalah kebenaran? (Bukan.) Itu bukanlah kebenaran, dan itu bukanlah kriteria mengenai cara orang bertindak, berperilaku, atau menyembah Tuhan. Apakah orang perlu menanggung penghinaan dan memikul beban berat agar diselamatkan oleh Tuhan? (Tidak.) Apakah benar atau salah jika dikatakan bahwa manusia meraih keselamatan dengan menanggung penghinaan dan memikul beban berat? (Salah.) Mengapa salah? Menanggung penghinaan dan memikul beban berat bukanlah penerapan kebenaran, jadi bagaimana mungkin mereka mencapai keselamatan? Itu seperti mengatakan bahwa seseorang yang membunuh orang, melakukan pembakaran, dan melakukan banyak hal buruk, tetapi akhirnya menjadi "pemimpin yang dicintai oleh rakyat". Tidakkah itu nyaris sama dengan pernyataan di atas? (Ya.) Seperti itulah artinya. Mereka jelas berada di jalan kejahatan tetapi menjadi orang yang positif. Itu merupakan sebuah kontradiksi. Jika ada yang berkata bahwa orang yang menanggung penghinaan dan memikul beban berat akhirnya mencapai kesesuaian dengan Tuhan, atau bahwa seseorang yang menanggung penghinaan dan memikul beban berat akhirnya tetap teguh selama ujian, atau bahwa orang yang menanggung penghinaan dan memikul beban berat akhirnya memenuhi amanat Tuhan, pernyataan manakah yang tepat? (Tidak ada yang tepat.) Tidak ada yang tepat. Tepatkah jika dikatakan bahwa seseorang menanggung penghinaan dan memikul beban berat ketika menyebarkan Injil di seluruh desa? (Tidak.) Kulihat ada yang tidak yakin dan berpikir, "Tepatkah itu? Kurasa pernyataan itu tepat, bukan? Sering kali terjadi bahwa orang harus menanggung penghinaan dan memikul beban berat ketika menyebarkan Injil dan memberi kesaksian tentang Tuhan." Penggunaan ungkapan itu dalam konteks tadi tepat, bukan? (Tidak, tidak tepat.) Mengapa tidak? Katakanlah kepada-Ku. (Karena dampak yang timbul dari menanggung penghinaan dan memikul beban berat tidak positif.) Bukankah itu adalah penerapan yang tepat? Telaahlah segi yang keliru dalam ungkapan itu. Analisislah ungkapan itu. "Dengan menanggung penghinaan dan memikul beban berat ketika membagikan Injil, mereka membuat banyak orang bertobat, menghasilkan banyak buah, dan menyebarkan nama Tuhan." Apakah engkau tidak tahu tepat atau tidaknya pernyataan itu? Jika kita menerapkannya menurut setiap pernyataan yang kita persekutukan hari ini, penggunaan ungkapan itu dalam situasi yang demikian tidaklah tepat. Namun, jika kita berpikir selangkah lebih jauh tentang sejumlah orang yang, ketika menyebarkan Injil, dipukuli atau diteriaki oleh calon pendengarnya dan diusir dari ambang pintu mereka, tidakkah itu termasuk menanggung penghinaan? (Tidak.) Jadi, apakah itu? (Kesukaran yang harus diderita oleh orang-orang percaya ketika menyebarkan Injil.) Itu benar. Itu adalah kesukaran yang harus orang derita. Itu adalah tanggung jawab mereka, kewajiban mereka, dan amanat yang Tuhan berikan kepada manusia. Itu seperti sakit melahirkan. Bukankah itu merupakan kesukaran yang harus diderita? (Ya.) Jika seorang perempuan berkata kepada anaknya, "Aku menanggung penghinaan dan memikul beban berat demi melahirkanmu ke dunia ini," apakah itu adalah hal yang tepat untuk dikatakan? (Tidak.) Dia menderita kesukaran, jadi mengapa perkataan itu keliru? Karena itu adalah kesukaran yang harus diderita olehnya. Misalnya, jika seekor serigala berburu selama beberapa jam untuk memburu seekor kelinci, lalu berkata, "Aku menanggung penghinaan dan memikul beban berat agar bisa memakan seekor kelinci," apakah itu tepat? (Tidak.) Untuk memakan kelinci, serigala itu harus mengorbankan sesuatu. Kelinci itu tidak akan hanya duduk di tempatnya dan menunggu dimangsa oleh serigala. Pekerjaan manakah yang semudah itu? Apa pun tugasnya, orang harus selalu mengorbankan hal tertentu. Itu bukanlah menanggung penghinaan dan memikul beban berat. Saat ini, kita telah sepenuhnya mengategorikan ungkapan "menanggung penghinaan dan memikul beban berat" sebagai hal yang bersifat apa? (Negatif.) Kita telah mengategorikannya sebagai ungkapan yang bersifat negatif dan berkonotasi buruk serta sebagai logika Iblis dan falsafah duniawi Iblis. Itu tidak ada kaitannya dengan iman kepada Tuhan atau hal-hal positif. Jika seseorang berkata, "Aku telah menyebarkan Injil selama bertahun-tahun. Aku sungguh telah menanggung penghinaan dan memikul beban berat!" hal itu tidak tepat. Menyebarkan Injil adalah tanggung jawabmu dan kesukaran yang memang seharusnya engkau derita. Bahkan seandainya engkau tidak menyebarkan Injil, tidakkah engkau menderita kesukaran hanya dengan menjalani hidup sehari-hari? Itu adalah kesukaran yang harus diderita oleh manusia, dan itu sudah sepatutnya. Ungkapan "menanggung penghinaan dan memikul beban berat" pada dasarnya telah dimusnahkan dari rumah Tuhan. Jika seseorang menyebut ungkapan itu lagi, bagaimanakah engkau akan menafsirkannya? Jika seseorang berkata, "Aku menanggung penghinaan dan memikul beban berat di penjara agar aku jangan sampai menjadi Yudas!" apakah pernyataan itu tepat? (Tidak.) Mengapa tidak? "Agar aku jangan sampai menjadi Yudas" adalah tujuan dan perkataan yang sangat adil, jadi mana mungkin itu bukan menanggung penghinaan dan memikul beban berat? (Orang percaya tidak boleh menjadi Yudas.) Itu benar. Apakah masuk akal bagi orang percaya untuk menjadi Yudas? Masuk akalkah jika dikatakan bahwa tidak menjadi Yudas adalah menanggung penghinaan dan memikul beban berat? Memberi kesaksian tentang Tuhan adalah tugasmu. Makhluk ciptaan harus berdiri teguh dalam kesaksian dan pendirian itu. Iblis tidak pantas dipuji manusia. Tuhan adalah satu-satunya yang harus disembah oleh manusia, dan menyembah Tuhan adalah tindakan yang sepenuhnya wajar dan dapat dibenarkan. Ketika Iblis berusaha untuk menggodamu agar mengikuti kehendaknya, engkau harus berdiri teguh dalam kesaksianmu tentang Tuhan, menyangkal kehidupanmu, dan tidak menjadi Yudas. Itu tidak termasuk menanggung penghinaan dan memikul beban berat. Sekarang, Aku telah memaparkan ungkapan itu dengan jelas. Jika ada lagi orang yang berkata bahwa dia menanggung penghinaan dan memikul beban berat, bagaimana engkau semua menyikapi persoalan itu? Dia akan memahaminya ketika engkau meminta mereka mendengarkan khotbah yang Kusampaikan hari ini. Itulah cara yang termudah.
C. Pantang Menyerah untuk Berjuang
Perwujudan ketiga dari tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu adalah pantang menyerah. Watak macam apa pantang menyerah itu? Watak congkak. Bagaimana mungkin manusia tidak pernah gagal? Bagaimana mungkin manusia tidak pernah berbuat salah, berkata salah, atau melakukan kesalahan apa pun? Engkau harus mengakui, "Aku adalah orang biasa, dan aku adalah orang normal. Aku memiliki kelemahan dan kekurangan. Aku pernah berbuat salah dan berkata salah. Aku dapat berbuat salah dan mengikuti jalan yang salah. Aku adalah manusia biasa." Jadi, apa artinya pantang menyerah? Pantang menyerah adalah ketika seseorang gagal, mengalami kemunduran, atau tersesat di jalan yang salah, tetapi tidak mengakuinya. Dia terus saja melangkah maju dengan keras kepala. Dia gagal, tetapi tidak berkecil hati, gagal tetapi tidak mengakui kesalahannya. Tak peduli berapa banyak orang yang menegur atau mengutuknya, dia tidak berubah. Dia bersikeras untuk berjuang, bekerja, serta mengejar ke arahnya sendiri untuk mencapai tujuannya sendiri, dan tidak memikirkan biayanya. Mentalitas seperti itulah yang dimaksud oleh ungkapan tersebut. Apakah mentalitas itu cukup baik untuk menginspirasi orang? Dalam situasi apakah ungkapan "Pantang menyerah" biasanya digunakan? Dalam segala jenis situasi. Ungkapan ini ada di mana pun manusia rusak berada; mentalitas ini ada. Jadi, apa tujuan manusia sejenis Iblis mencetuskan pepatah ini? Tujuannya adalah agar orang tidak akan pernah bisa memahami dirinya sendiri dan tidak mengakui serta menerima kesalahannya sendiri. Tujuan lainnya adalah agar orang tidak melihat sisi dirinya yang rapuh, lemah, dan tidak kompeten, tetapi hanya melihat sisi dirinya yang mampu, kuat, dan gagah berani, agar mereka tidak meremehkan diri sendiri, tetapi merasa bahwa mereka kompeten. Selama engkau berpikir bahwa engkau mampu, maka engkau akan mampu. Selama engkau berpikir bahwa engkau dapat menjadi sukses, tidak akan gagal, dan dapat menjadi yang terhebat dari semua orang, engkau akan dapat mencapai semua itu. Selama memiliki kegigihan, tekad, ambisi, dan keinginan itu, engkau dapat meraih segalanya. Manusia bukanlah makhluk yang lemah; mereka kuat. Orang-orang tidak percaya memiliki pepatah: "Panggungmu sebesar hatimu." Ada orang-orang menyukai pepatah itu begitu mereka mendengarnya: "Wah, jadi artinya, jika aku menginginkan berlian sepuluh karat, aku akan mendapatkannya? Jika aku menginginkan Mercedes Benz, aku akan mendapatkannya?" Akankah yang kau dapatkan sesuai dengan besarnya keinginan hatimu itu? (Tidak.) Pepatah ini adalah kekeliruan. Sederhananya, kecongkakan mereka yang memercayai dan mengakui ungkapan "Pantang menyerah" tiada batasnya. Cara berpikir orang-orang itu secara langsung bertentangan dengan firman Tuhan yang mana? Tuhan menuntut manusia untuk memahami diri sendiri dan berperilaku dengan rendah hati. Manusia memiliki watak-watak rusak; mereka memiliki kekurangan dan watak yang menentang Tuhan. Tidak ada yang sempurna di antara umat manusia. Tidak ada seorang pun yang sempurna; mereka hanyalah orang-orang biasa. Tuhan menasihati orang untuk berperilaku seperti apa? (Berperilaku dengan sederhana dan jujur.) Berperilaku dengan sederhana dan jujur, serta memegang teguh posisi mereka sebagai makhluk ciptaan dengan cara yang rendah hati. Pernahkah Tuhan menuntut manusia untuk pantang menyerah? (Tidak.) Tidak. Jadi, apa yang Tuhan katakan tentang manusia yang mengikuti jalan yang salah atau memperlihatkan watak rusak? (Dia berkata bahwa manusia harus mengakui dan menerimanya.) Akuilah, terimalah, lalu pahamilah itu, mampu berubah, dan terapkanlah kebenaran. Sebaliknya, pantang menyerah menunjukkan bahwa orang itu tidak memahami masalahnya sendiri, tidak memahami kesalahannya, tidak menerima kesalahannya, tidak berubah dalam situasi apa pun, dan tidak bertobat apa pun yang terjadi, apalagi menerima kedaulatan atau penataan Tuhan. Mereka bukan hanya tidak mencari tahu apa tepatnya nasib manusia itu, atau apa itu penataan dan pengaturan Tuhan; mereka bukan hanya tidak mencari hal-hal itu, melainkan justru memegang kendali atas nasib mereka sendiri. Mereka ingin menjadi penentu terakhir. Selain itu, Tuhan menuntut manusia untuk memahami diri mereka sendiri, mengukur dan menilai diri sendiri dengan akurat, serta melakukan apa pun yang dapat mereka lakukan sebaik-baiknya dengan sikap yang rendah hati dan perilaku yang baik, serta dengan segenap hati, pikiran, dan jiwa mereka, sedangkan Iblis membuat manusia menggunakan watak congkak mereka sepenuhnya dan memberikan kebebasan penuh pada watak congkak mereka. Hal itu menjadikan mereka manusia yang super, yang hebat, dan bahkan yang memiliki kekuatan yang luar biasa; itu membuat manusia menjadi sesuatu yang mustahil bagi mereka. Jadi, apa itu falsafah Iblis? Menurut falsafah Iblis, sekalipun engkau salah, engkau tidaklah salah; selama engkau memiliki mentalitas tidak mengakui kekalahan, dan selama engkau memiliki mentalitas pantang menyerah, cepat atau lambat, akan tiba waktunya ketika engkau menjadi yang terhebat dari semua orang, dan cepat atau lambat, akan tiba saatnya ketika impian dan tujuanmu akan terwujud. Jadi, bukankah di dalam prinsip pantang menyerah terkandung pesan bahwa engkau akan menggunakan segala cara untuk meraih sesuatu? Untuk meraih tujuanmu, engkau tidak boleh mengakui bahwa engkau dapat gagal, engkau tidak boleh percaya bahwa engkau adalah orang biasa, dan engkau tidak boleh percaya bahwa engkau dapat mengikuti jalan yang salah. Selain itu, engkau harus dengan tidak jujur menggunakan segala macam metode dan siasat rahasia untuk mewujudkan ambisi dan keinginanmu. Apakah prinsip pantang menyerah mengandung pesan agar orang menghadapi nasib mereka dengan sikap menunggu dan tunduk? (Tidak.) Tidak. Manusia bersikeras untuk meletakkan nasib mereka sepenuhnya di tangan mereka sendiri. Mereka ingin mengendalikan nasibnya sendiri. Tidak peduli jalan mana yang akan mereka tempuh, apakah mereka akan diberkati atau tidak, atau gaya hidup seperti apa yang akan mereka jalani, merekalah yang harus menjadi penentu akhir dalam segala hal. Orang-orang tidak percaya memiliki pepatah: "Kesempatan datang kepada mereka yang siap." Pepatah seperti apakah itu? Ada banyak orang yang menghabiskan waktu bertahun-tahun atau seumur hidup untuk bersiap-siap, tetapi meninggal tanpa pernah memperoleh kesempatan. Dari mana datangnya kesempatan? (Dari Tuhan.) Jika Tuhan tidak mempersiapkan kesempatan untukmu, sebanyak apa pun persiapan yang kaulakukan, apakah itu ada gunanya? (Tidak.) Jika Tuhan tidak berencana memberimu kesempatan dan hal itu tidak ditakdirkan, tidak peduli berapa tahun pun yang kauhabiskan untuk bersiap-siap, apakah itu ada gunanya? Akankah Tuhan kasihan kepadamu dan memberimu sebuah kesempatan karena engkau telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk bersiap-siap? Akankah Tuhan melakukannya? (Tidak.) Kesempatan akan datang jika Tuhan telah mempersiapkannya untukmu, dan jika Tuhan belum mempersiapkannya, engkau tidak akan mendapat kesempatan. Apakah prinsip pantang menyerah ada gunanya? (Tidak.) Ada orang-orang yang berkata, "Aku pantang menyerah. Nasibku ada di tanganku sendiri!" Kata-kata mereka tajam, tetapi bukan merekalah yang menentukan tercapai atau tidaknya hal itu. Misalnya, ada seorang perempuan yang menginginkan anak laki-laki. Dia telah melahirkan beberapa anak, tetapi ternyata semuanya perempuan. Orang lain berkata agar dia jangan menambah anak lagi dan bahwa dia tidak ditakdirkan untuk memiliki anak laki-laki, tetapi dia tidak menyerah dan berkata, "Aku tidak memercayainya. Aku akan pantang menyerah!" Ketika anak kesepuluhnya juga perempuan, akhirnya dia menyerah: "Kelihatannya memang aku tidak ditakdirkan untuk memiliki anak laki-laki." Apakah dia masih pantang menyerah? Apakah dia masih percaya diri? Apakah dia masih berani menambah anak lagi? Tidak, dia tidak berani. Seseorang yang lain menjalankan usaha dan berencana untuk menghasilkan lima ratus ribu dolar dalam dua tahun. Awalnya, ketika dia tidak menghasilkan apa pun setelah setengah tahun pertama, dia berkata, "Tidak masalah. Belum menghasilkan uang setelah setengah tahun pertama tidak apa-apa. Aku pasti akan menghasilkan uang dalam setengah tahun berikutnya." Setelah lebih dari setahun berlalu dan dia belum juga menghasilkan sedikit pun uang, dia masih belum menyerah: "Aku pantang menyerah. Aku percaya bahwa segalanya ada di tangan manusia; aku punya banyak kesempatan!" Setelah lewat dua tahun, dia belum menghasilkan lima puluh ribu dolar, apalagi lima ratus ribu. Dia berpikir bahwa dia belum memiliki cukup waktu dan pengalaman, sehingga dia pergi dan belajar selama dua tahun berikutnya. Setelah empat tahun berlalu, dia bukan hanya belum menghasilkan lima ratus ribu dolar, melainkan juga kehilangan nyaris seluruh modalnya. Namun, dia masih saja pantang menyerah: "Aku ditakdirkan untuk memiliki uang. Bagaimana mungkin aku tidak mampu menghasilkan lima ratus ribu dolar?" Setelah hampir sepuluh tahun berlalu, akankah dia tetap memiliki target untuk menghasilkan lima ratus ribu dolar? Jika engkau bertanya lagi kepadanya tentang jumlah uang yang rencananya akan dia hasilkan tahun ini, dia akan berkata, "Ah, secukupnya saja untuk aku hidup." Apakah dia masih pantang menyerah? Dia telah gagal, bukan? Mengapa dia gagal? Apakah dia gagal karena target pendapatannya terlalu tinggi? Itukah alasannya? Bukan. Entah itu harta orang, anak-anaknya, kesukaran yang mereka alami dalam hidupnya, atau kapan dan ke mana mereka pergi, tidak ada satu pun dari semua itu yang dapat mereka tentukan sendiri. Ada orang-orang yang ingin bekerja di pemerintahan, tetapi mereka tidak pernah mendapat kesempatan itu. Apakah itu karena mereka tidak cakap? Mereka cakap, penuh perhitungan, dan tahu cara menjilat orang. Jadi, mengapa sulit sekali bagi mereka untuk menjadi pegawai negeri? Ada banyak orang yang tidak secakap mereka dan yang mereka pandang rendah yang telah menjadi pegawai negeri. Orang-orang itu pandai berbicara, mempunyai bakat sejati, dan memiliki pendidikan yang bagus. Jadi, jika mereka ingin menjadi pegawai negeri, mengapa sulit sekali bagi mereka untuk meraihnya? Ketika masih muda, mereka pantang menyerah, tetapi saat sudah tua dan masih hanya menjadi pegawai biasa, mereka akhirnya menyerah dan berkata, "Nasib manusia ditentukan oleh Surga. Jika suatu hal telah ditakdirkan, itu akan terjadi. Jika tidak, itu tidak akan dapat diraih dengan berjuang." Bukankah mereka telah pasrah terhadap nasib mereka? Di manakah mentalitas mereka yang pantang menyerah itu? Manusia dipermalukan ketika dihadapkan dengan fakta.
Apa dampak dari mentalitas pantang menyerah pada manusia? Mentalitas itu memupuk hasrat dan ambisi mereka. Mentalitas itu tidak membawa pengaruh positif ataupun bimbingan kepada manusia, tetapi malah membawa pengaruh negatif atau merugikan kepada mereka. Manusia sendiri tidak mengetahui apa-apa tentang tempatnya di alam semesta, tentang nasib yang telah Surga rencanakan bagi mereka, serta tentang kedaulatan dan penataan Tuhan. Ditambah lagi, mereka telah memperoleh semacam "penopang mental". Apa yang akhirnya terjadi ketika orang berada dalam keadaan ketika mereka hanya dapat disesatkan? Mereka bekerja sangat keras tanpa mendapat apa-apa dan melakukan banyak sekali pekerjaan yang sia-sia. Demi mencapai tujuan-tujuannya, orang rela membiarkan tubuh dan pikirannya menderita banyak sekali kehilangan dan trauma. Mereka pun tentu saja telah melakukan banyak kejahatan demi memenuhi hasrat, ambisi, dan tujuannya. Kejahatan itu akan membawa dampak apa kepada manusia di kehidupan mereka yang selanjutnya? Kejahatan itu hanya akan membawa hukuman. Watak rusak membawa ambisi dan hasrat ke dalam diri manusia. Di antara tindakan-tindakan manusia yang didorong oleh ambisi dan hasratnya, adakah yang patut untuk dilakukan? Adakah di antaranya yang selaras dengan kebenaran? (Tidak.) Tindakan-tindakan seperti apakah itu? Itu semua hanyalah tindakan-tindakan jahat. Termasuk apa sajakah tindakan-tindakan jahat itu? Perhitungan terhadap orang lain, menipu orang lain, mencelakakan orang lain, dan mengelabui orang lain. Orang akhirnya berutang terlalu banyak kepada orang lain dan mungkin bereinkarnasi menjadi binatang di kehidupan selanjutnya. Siapa pun yang paling banyak berpiutang kepadanya, yang paling banyak ditipunya, dan yang paling banyak diakalinya, di rumah orang itulah dia akan hidup sebagai binatang yang tidak mampu berbicara dan diperintah-perintah oleh orang lain. Bahkan jika bereinkarnasi sebagai manusia, dia akan menderita kesukaran tiada henti sepanjang hidupnya. Dia harus membayar segala yang telah dilakukannya. Itulah dampak negatif yang akan terjadi. Jika mereka tidak diarahkan oleh pepatah "pantang menyerah", ambisi dan hasrat mereka tidak akan terpupuk. Lalu, jika ambisi dan hasrat mereka tidak terwujud dalam dua atau tiga tahun, mereka mungkin akan meninggalkan hal-hal itu. Namun, begitu Iblis mengipasi baranya, hasrat mereka pun menjadi makin berkobar. Hasrat yang berkobar itu sendiri bukanlah masalahnya, tetapi itu mendorong mereka untuk melangkah ke jalan yang jahat. Ketika seseorang berada di jalan yang jahat, dapatkah mereka melakukan hal-hal baik? Dapatkah mereka melakukan hal-hal yang manusiawi? Tidak. Mereka akan menghalalkan segala cara untuk mencapai target dan tujuan mereka, bersumpah bahwa mereka tidak akan beristirahat sebelum tujuan mereka tercapai, dan mampu melakukan segala macam perbuatan buruk. Lihat saja, bukankah ada kasus-kasus ketika anak membunuh orang tuanya demi mendapatkan harta orang tuanya? (Ya.) Ada terlalu banyak contoh ketika orang membunuh sahabat dan orang-orang tersayangnya dengan tangannya sendiri demi kepentingan pribadi. Ketika ada dua orang yang melihat kesempatan menguntungkan yang sama dan harus bertempur satu sama lain untuk merebutnya, mereka menggunakan cara apa pun yang sanggup mereka lancarkan untuk mendapatkannya. Apa yang mereka yakini pada saat yang paling menentukan itu? "Aku pantang menyerah. Aku benar-benar tidak boleh gagal kali ini. Jika aku melewatkannya, aku mungkin tidak akan pernah lagi menjumpai kesempatan sebagus itu selama sisa hidupku. Jadi, kali ini aku harus menang. Aku mutlak harus mendapatkan kesempatan itu. Siapa pun yang menghalangi jalanku, akan kubunuh dia tanpa kecuali!" Akhirnya, apa yang akan terjadi? Dia membunuh orang yang satu lagi. Dia mungkin telah mencapai dan memenuhi tujuan dan hasratnya, tetapi dia juga telah berbuat jahat, dan hal itu membuahkan bencana. Hatinya mungkin tidak tenang seumur hidupnya, mungkin merasa bersalah, atau mungkin juga sepenuhnya tidak menyadarinya. Namun, meskipun dia tidak merasakannya sama sekali, tidak berarti Tuhan tidak mendefinisikan perkara itu. Tuhan memiliki cara untuk menanganinya. Orang itu mungkin telah mencapai tujuan hidupnya dan mungkin telah berhasil, tetapi di kehidupan berikutnya, dia harus membayar harga yang mahal atas perbuatannya di kehidupan yang sekarang, yang mungkin berupa sebuah perbuatan yang jahat. Dia mungkin harus membayarnya dalam satu, dua, atau tiga kehidupan, atau bahkan untuk selamanya. Harga itu sangat mengerikan! Jadi, bagaimana dampak itu bisa timbul? Itu timbul akibat satu ungkapan saja, satu keyakinan saja. Orang itu ingin mendapatkan kesempatan itu. Dia tidak mengakui kekalahan, tidak menyerah, dan tidak mengizinkan dirinya gagal. Dia dengan gigihnya ingin merebut kesempatan itu. Akibatnya adalah terjadinya bencana. Setelah bencana telah terjadi, satu atau dua tahun tidak akan cukup untuk membayar dan menebus dampaknya. Bukankah harga itu terlalu mahal? Usia manusia hingga antara delapan puluh dan sembilan puluh tahun, dan yang usianya lebih pendek dapat hidup antara lima puluh hingga enam puluh tahun. Tidak peduli apakah engkau telah memperoleh manfaat pribadi, status, uang, atau berbagai hal materi lain, engkau akan secara sadar menikmati hal-hal itu selama dua puluh atau tiga puluh tahun. Namun, untuk dapat menikmatinya selama dua puluh atau tiga puluh tahun, engkau mungkin harus membayar harga di semua siklus kehidupanmu untuk selama-lamanya. Bukankah harga itu terlalu mahal? (Ya.) Orang yang tidak percaya kepada Tuhan tidak memahami kebenaran dan juga tidak mengetahui bahwa Tuhan berdaulat atas segala hal itu. Jadi mereka hanya mampu melakukan hal-hal bodoh demi hasrat egois mereka sendiri dan hasrat sekejap untuk membela kepentingan pribadi yang membutakan, di bawah pengaruh suatu gagasan atau logika Iblis, yang berujung pada penyesalan abadi. "Abadi" tidak berarti dua puluh atau tiga puluh tahun di kehidupan yang sekarang, tetapi mereka harus menderita di setiap kehidupannya, termasuk yang sekarang. Orang yang tidak percaya kepada Tuhan tidak akan memahami hal-hal ini, dan jika orang yang percaya kepada Tuhan tidak memahami kebenaran atau mengetahui Tuhan, mereka tidak akan memahami hal-hal itu juga. Beberapa orang tidak melakukan hal-hal yang jelas-jelas jahat. Ketika engkau melihat mereka dari luar, mereka tidak membunuh orang, membakar sesuatu, atau terang-terangan memasang jebakan untuk orang lain, tetapi mereka mempunyai banyak taktik rahasia. Di mata Tuhan, hakikat kejahatan seperti itu dan kejahatan yang jelas-jelas kejahatan adalah sama. Apa maksud-Ku ketika berkata bahwa keduanya memiliki hakikat yang sama? Maksud-Ku adalah, dari pihak Tuhan, prinsip-prinsip yang digunakan-Nya untuk mengutuk hal-hal semacam itu adalah sama. Dia menggunakan metode yang sama dan kebenaran yang sama untuk mengutuk hal-hal itu. Segala hal yang telah dilakukan oleh orang-orang ini dikutuk oleh Tuhan, tidak peduli apa motivasi mereka untuk melakukannya dan apakah mereka melakukannya di rumah Tuhan atau di dunia luar. Jika engkau percaya kepada Tuhan tetapi masih melakukan hal-hal itu, akankah kesudahan yang akhirnya Tuhan berikan kepadamu berbeda dari orang-orang tidak percaya? Katakan kepada-Ku, akankah Tuhan toleran terhadapmu dan mengubah watak benar-Nya hanya karena engkau percaya kepada-Nya selama bertahun-tahun dan melakukan pelayanan bagi gereja selama beberapa tahun? Menurut engkau semua, apakah ini mungkin? Itu benar-benar tidak mungkin. Apa maksud-Ku ketika mengatakan itu? Jika engkau tidak memahami kebenaran, kejahatan yang engkau lakukan adalah kejahatan, dan ketika engkau memahami kebenaran, kejahatan yang engkau lakukan masih tetap kejahatan. Di mata Tuhan, semua itu kejahatan. Dua jenis kejahatan itu sama-sama sebanding. Tidak ada bedanya di antara keduanya. Selama sesuatu tidak selaras dengan kebenaran, itu adalah kejahatan. Di mata Tuhan, tidak ada perbedaan hakikat di antara keduanya. Karena keduanya adalah kejahatan, orang harus membayar kejahatan yang mereka lakukan dalam kedua situasi itu. Mereka harus membayar harganya. Itulah watak benar Tuhan. Entah engkau meragukan atau memercayainya, itulah yang Tuhan lakukan, dan itulah cara-Nya mendefinisikan berbagai hal. Apa maksud-Ku ketika mengatakan hal itu? Aku bermaksud untuk mengatakan suatu fakta kepada engkau semua: Engkau tidak boleh berasumsi, "Tuhan memilihku, jadi aku telah dianggap istimewa di mata-Nya. Aku memahami banyak kebenaran. Jika aku melakukan sedikit kejahatan, Tuhan tidak akan mendefinisikan atau mengutuknya. Aku dapat berbuat sesukaku. Aku dapat melakukan kejahatan dengan dalih bahwa aku menderita kesukaran karena menerapkan kebenaran. Dengan begitu, Tuhan tidak akan mengutuknya, bukan?" Engkau salah. Prinsip-prinsip Tuhan dalam mengutuk kejahatan adalah sama. Tidak ada bedanya kejahatan itu terjadi di tempat mana atau dalam kelompok yang mana. Tuhan tidak membedakan antara berbagai ras atau antara mereka yang telah dipilih oleh-Nya atau belum dipilih oleh-Nya. Tidak peduli apakah mereka adalah orang-orang tidak percaya atau orang-orang percaya, Tuhan memandang mereka dengan cara yang sama. Pahamkah engkau? (Ya, kami paham.)
"Pantang menyerah" adalah hal yang orang katakan ketika mereka diarahkan oleh watak Iblis, dan itu adalah mentalitas yang didukung oleh dunia Iblis. Kita memandang mentalitas itu sebagai apa? (Penyakit jiwa.) Itu adalah cara berpikir dan prinsip yang orang miliki untuk hidup dan melakukan berbagai hal yang didukung oleh orang-orang berpenyakit jiwa. Mentalitas itu mendorong dan memotivasi orang untuk menghalalkan segala cara untuk memuaskan ambisi dan hasrat mereka sendiri, untuk tidak pernah berkecil hati dalam keadaan apa pun, untuk mengejar berbagai hal menurut prinsip "bertahanlah dan jangan pernah menyerah", dan untuk tidak menelaah apakah hasrat dan ambisi mereka patut atau tidak. Selama mereka memiliki mentalitas itu, itu adalah hal yang layak dipuji. Jika seseorang pernah meneliti sesuatu yang bermanfaat bagi umat manusia, pantang menyerah, tidak berkecil hati karena kegagalan, terus berkembang ke arah yang positif, dan terus meneliti agar manusia dapat hidup dengan lebih baik di masa depan, itu adalah hal yang sepertinya terpuji. Namun, apakah itu tujuan yang dikejar oleh umat manusia di dunia ini? Siapakah yang dengan tanpa pamrih melakukan hal-hal semacam itu bagi kebaikan umat manusia? Tidak ada. Bahkan jika ada beberapa orang yang dari tampilan luarnya melakukan berbagai hal dengan spanduk membawa kebaikan bagi umat manusia, di balik itu, mereka melakukannya demi reputasi dan pencapaian profesional mereka sendiri sehingga nama mereka akan tercatat dalam sejarah. Itulah tujuan mereka, dan tidak ada di antaranya yang patut. Selain hal-hal itu, mentalitas pantang menyerah mengarahkan orang untuk melakukan apa? Pertama-tama, mentalitas pantang menyerah menantang batas-batas dan insting-insting manusia. Misalnya, di suatu lapangan olahraga, ketika seseorang melakukan tiga salto sekaligus dan jantungnya tidak kuat, dia berkata, "Aku pantang menyerah. Aku harus menantang batasku dan menantang Rekor Dunia Guinness. Aku akan melakukan sepuluh salto sekaligus!" Akibatnya, ketika sedang melakukan lompatan kedelapan, dia meninggal. Bagaimana jika dia tidak memiliki mentalitas yang memotivasinya untuk melakukan hal tadi? (Dia akan melakukan salto sesuai dengan kemampuannya.) Itu benar. Tuhan menuntut manusia untuk melakukan apa? Tuhan menuntut manusia untuk hidup dengan kemanusiaan yang normal dan mengizinkan manusia untuk memiliki kelemahan. Insting dan organ jasmani manusia memiliki batas ketahanan. Orang harus memahami betul tingkat yang mampu mereka capai. Apakah orang tadi memahami betul dampak dari melakukan sepuluh salto sekaligus terhadap dirinya? Dia tidak betul-betul memahaminya, dan dia melakukannya dengan membabi buta dan menantang batas yang dimilikinya. Jadi, siapakah yang harus disalahkan atas kematiannya? (Dialah yang harus disalahkan.) Sumber yang mendorongnya untuk berusaha melakukan sepuluh salto adalah Iblis yang selalu memotivasinya dengan berkata, "Engkau harus pantang menyerah. Menyerah setelah lima salto itu payah. Engkau harus melakukan delapan salto!" Dia merenung, "Delapan rasanya tidak cukup. Aku akan melakukan sepuluh!" Hasilnya, setelah salto kedelapan, jantungnya berhenti berdetak dan pernapasannya berhenti. Bukankah dia dipermainkan oleh Iblis? Tentu saja kita hanya menggunakan kasus di atas sebagai contoh. Mungkin ada orang yang mampu melakukan dua puluh salto tanpa masalah. Ketika orang memiliki tekad untuk berjuang dengan pantang menyerah, mereka berjuang terus-menerus dan akhirnya membuang hidup mereka sendiri. Skenario yang sedikit lebih baik adalah mereka hanya membuang hidup mereka, tetapi tidak melakukan kejahatan apa pun. Jika demikian, mereka masih berkesempatan untuk bereinkarnasi sebagai manusia di kehidupan berikutnya dan dapat menikmati rasanya menjadi manusia lagi. Namun, beberapa manusia telah melakukan kejahatan besar yang menimbulkan bencana, jadi mereka harus membayar harga yang sangat mahal untuk itu selama beberapa siklus kehidupan. Mereka harus terus menebusnya dan menderita kesukaran di semua siklus kehidupan. Jika mereka tidak menebus semuanya di kehidupan yang sekarang, masih ada kehidupan berikutnya. Tidak ada yang tahu berapa banyak siklus kehidupan yang harus mereka jalani hingga mereka menebus semuanya. Itulah hasilnya.
Ketika sejumlah orang gagal dalam menyebarkan Injil, mereka menolak untuk menyerah begitu saja dan berkata, "Aku pantang menyerah. Aku tidak mendapatkan siapa pun kali ini—aku gagal. Lain kali, aku tidak boleh gagal. Aku mutlak harus menjadi saksi Tuhan dan menjadi anak laki-laki yang menang!" Bagus jika orang memiliki tekad itu, tetapi bagaimana dengan fakta bahwa mereka mampu mengucapkan pepatah "pantang menyerah"? Watak apakah itu? Bukankah itu watak penghulu malaikat? Apakah Tuhan membuat mereka bersaksi dengan cara demikian? Apakah mereka memahami kebenaran? Apakah yang mereka lakukan dapat disebut bersaksi bagi Tuhan? Tindakan mereka mempermalukan Tuhan. Menurut engkau semua, jenis orang macam apakah mereka? (Orang tolol.) Mereka adalah orang tolol. Mereka tidak memahami kebenaran, tetapi mereka berkata bahwa mereka memberi kesaksian tentang Tuhan. Jika mereka tidak mempermalukan Tuhan, itu sudah bagus sekali. "Pantang menyerah" adalah jenis perkataan seperti apa? Apakah arti perkataan itu? Artinya adalah manusia tidak boleh mengakui kegagalan. Pada kenyataannya, orang-orang itu telah gagal, tetapi mereka berpikir bahwa dengan tidak mengakui kegagalan, mereka telah mencapai kemenangan mental. Orang-orang tidak percaya sangat menjunjung tinggi jenis mentalitas yang membuat orang terus berjuang setelah gagal berkali-kali dan menjadi makin berani ketika berhadapan dengan rintangan yang makin banyak. Jika engkau pernah memiliki dan mengandalkan mentalitas semacam itu ketika berjuang untuk meraih tujuan, bukankah itu memalukan? Aspek watak rusak manusia manakah yang paling tampak dalam perkataan "pantang menyerah"? Aspek esensi manusia manakah yang tercermin dalam perkataan itu? Tidakkah orang seperti itu—yang lebih memilih mati daripada menyerah, dan yang lebih baik mati sebelum mengakui kekalahan—congkak dan tidak bernalar? Fakta bahwa orang dapat menjadi begitu congkak hingga taraf itu dan lebih memilih mati daripada mengakui kekalahan bukanlah hanya masalah ketiadaan nalar. Mereka juga kurang memiliki kecerdasan, seperti orang nekat. Sejumlah orang berkata, "Apakah itu karena mereka muda dan sembrono?" Memang ada hubungannya. Ada pepatah terkenal di masyarakat, "Untuk bisa menang, orang haruslah mengerahkan segenap kemampuan dan kekuatannya." Itulah cerminan dari mentalitas anak muda yang berani mempertaruhkan segalanya, seperti remaja yang marah. "Jika bersedia mempertaruhkan hidupmu, engkau dapat meraih segalanya." Itulah mentalitas pantang menyerah. Apakah orang-orang tua juga memiliki semangat semacam itu? Ya, mereka juga memilikinya. Lihatlah, dunia politik sepenuhnya terdiri atas para orang dewasa dan lanjut usia, dan persaingannya sengit! Orang memiliki watak-watak rusak dan hidup menurut watak-watak rusaknya. Mereka semua memiliki mentalitas semacam itu dalam taraf yang berbeda-beda. Hal itu tidak banyak berhubungan dengan apakah mereka tua atau muda, tetapi berhubungan langsung dengan watak mereka. Jika percaya kepada Tuhan dan memahami kebenaran, engkau akan melihat persoalan ini secara jelas dan mengetahui bahwa mentalitas semacam itu tidak selaras dengan prinsip-prinsip kebenaran dan bahwa itu adalah watak rusak. Jika engkau tidak memahami kebenaran, engkau tidak akan mampu memahami hal ini dengan jelas dan akan berpikir, "Memiliki kemauan untuk berjuang adalah hal yang baik; itu sudah sepantasnya. Bagaimana orang dapat hidup jika tidak memiliki sedikit pun kemauan untuk berjuang? Jika orang tidak memiliki sedikit pun kemauan untuk berjuang, mereka tidak akan lagi bersemangat untuk terus hidup. Lalu, apa gunanya mereka hidup? Mereka pasrah menghadapi setiap situasi yang tidak menguntungkan—betapa lemah dan pengecutnya sikap seperti itu!" Semua orang mengira bahwa mereka harus berjuang demi martabat selama mereka masih hidup. Bagaimana cara mereka berjuang demi martabat? Dengan menekankan kata "berjuang". Dalam menghadapi situasi apa pun, mereka berusaha mencapai tujuan mereka dengan cara berjuang. Mentalitas pantang menyerah berasal dari kata "berjuang". Hal yang paling dikagumi para ateis adalah semangat juang. Mereka berjuang melawan surga; mereka berjuang melawan bumi; mereka berjuang melawan orang lain—ini adalah hal yang paling membuat mereka bahagia. Mereka menganggap bahwa makin mampu seseorang berjuang, makin mereka heroik—para pahlawan dipenuhi keinginan untuk berjuang. Di sinilah munculnya mentalitas pantang menyerah; inilah inti perjuangan. Semua jenis setan Iblis tidak pernah menerima kebenaran, jadi berdasarkan apa mereka hidup? Mereka hidup berdasarkan falsafah Iblis tentang perjuangan. Setiap hari mereka hidup, mereka berjuang. Apa pun yang mereka lakukan, mereka selalu berusaha mencapai kemenangan dengan cara berjuang, dan memamerkan kemenangan mereka. Mereka berusaha berjuang demi martabat dalam semua yang mereka lakukan—mampukah mereka memperolehnya? Apa sebenarnya yang mereka pertarungkan dan perjuangkan? Semua perjuangan mereka adalah untuk mendapatkan ketenaran, keuntungan, dan status; semua perjuangan mereka adalah demi kepentingan mereka sendiri. Mengapa mereka berjuang? Karena mereka ingin menjadi pahlawan dan disebut orang terpandang. Namun, perjuangan mereka pasti berakhir dengan kematian, dan mereka harus dihukum. Tidak ada keraguan tentang ini. Di mana pun para Iblis dan setan berada, di situlah perjuangan terjadi; ketika mereka akhirnya dihancurkan, perjuangan mereka pun akan berakhir. Seperti inilah kesudahan para Iblis dan setan.
Haruskah mentalitas pantang menyerah untuk berjuang dikembangkan dan didukung? (Tidak.) Jadi, bagaimana orang sebaiknya menyikapinya? (Orang harus meninggalkannya.) Orang harus membedakannya, mengutuknya, dan meninggalkannya. Ungkapan itu bukanlah kebenaran dan bukanlah kriteria yang harus manusia ikuti, apalagi tuntutan Tuhan kepada umat manusia. Ungkapan itu tidak ada kaitannya dengan firman Tuhan dan dengan tuntutan Tuhan kepada umat manusia. Apa yang Tuhan tuntut dari manusia? Tuhan tidak memintamu untuk memiliki pantang menyerah untuk berjuang. Yang Tuhan minta adalah agar manusia memahami esensi rusak mereka sendiri serta mengetahui orang seperti apa mereka, tipe seperti apa mereka, kekurangan mereka, tinggi atau rendahnya kualitas mereka, kemampuan memahami mereka, apakah mereka sungguh-sungguh mencintai Tuhan, dan apakah mereka mencintai kebenaran. Tuhan memintamu untuk memahami dirimu sendiri secara akurat dalam segi-segi itu, lalu melakukan apa pun yang dapat kaulakukan sesuai dengan tingkat pertumbuhanmu sendiri dan kualitas yang engkau miliki, sebaik yang engkau mampu. Apakah permintaan Tuhan itu mengandung pesan harus "berjuang"? (Tidak.) Engkau tidak perlu berjuang. Beberapa orang berkata, "Dapatkah aku berjuang melawan watak rusakku?" Dapatkah watak rusakmu ditaklukkan dengan berjuang? Dapatkah engkau mengubahnya dengan berjuang? (Tidak.) Watak itu tidak dapat diubah. Beberapa orang berkata, "Dapatkah aku berjuang melawan kekuatan jahat Iblis? Dapatkah aku berjuang melawan antikristus? Dapatkah aku berjuang melawan orang jahat, orang dengan watak jahat, serta orang yang menyebabkan kekacauan dan gangguan?" Hal itu tentu tidak baik. Mengapa tidak baik? Konsep "berjuang" itu sendiri bukanlah penerapan kebenaran. Kapan firman Tuhan pernah berkata, "berjuanglah melawan antikristus," "berjuanglah melawan orang Farisi," "berjuanglah melawan orang-orang munafik," atau "berjuanglah melawan watak rusakmu"? Pernahkah Tuhan mengatakan hal-hal itu? (Tidak pernah.) Sebaliknya, di masyarakat, dunia Iblis dipenuhi oleh perjuangan melawan tuan-tuan tanah, melawan kaum penguasa, dan melawan kaum cendekiawan. Selain itu, ada juga massa lawan massa, adu ayam, adu anjing, adu banteng, dan seterusnya. Apa pun itu, tidak ada yang baik dari antara hal-hal itu. Berjuang adalah taktik yang digunakan Iblis untuk mencelakakan orang dan membawa malapetaka kepada makhluk hidup. Mentalitas itu tidak membiarkan umat manusia hidup bersama dalam damai. Mentalitas itu malah menciptakan perselisihan dan kebencian antarmanusia, lalu membuat orang bertarung dan membantai satu sama lain, sedangkan Iblis sendiri menonton hiburan dan keributan itu dari samping arena. Karena itu adalah perilaku Iblis, jika suatu perilaku, fenomena, atau perkara yang terkait dengan mentalitas untuk berjuang timbul dalam gereja dan rumah Tuhan, bagaimana engkau semua akan memandang hal-hal itu? Akankah engkau semua mengacungkan jempol untuk mendukung dan menyetujui mentalitas itu, atau menghentikannya? (Menghentikannya.) Engkau harus menghentikannya, memaparkan berbagai hal kepada mereka dengan jelas, membuat mereka paham, dan memberi tahu mereka untuk melakukan berbagai hal menurut kebenaran, melaksanakan berbagai hal sesuai dengan prinsip-prinsip, dan sepenuhnya bertindak selaras dengan firman Tuhan. Engkau juga dapat memangkas mereka, tetapi memangkas, menegur, dan bahkan mendisiplinkan mereka bukanlah berjuang. Apa yang dimaksud dengan berjuang? Berjuang adalah meributkan yang benar dan yang salah tentang suatu persoalan sikap yang gampang marah, berdebat dengan orang dan bertingkah tidak masuk akal, mengamuk, dan bahkan melancarkan siasat rahasia dan rencana licik atau menggunakan taktik, metode, dan cara manusia untuk mengalahkan, menundukkan, menaklukkan, dan menyiksa seseorang secara berulang-ulang hingga dia menyerah. Itulah yang disebut berjuang. Berjuang murni merupakan sejenis perilaku dan tindakan gampang marah serta murni merupakan sejenis perilaku, metode, dan cara Iblis untuk melakukan berbagai hal. Berjuang tidak ada kaitannya dengan kebenaran. Beberapa orang berkata, "Salahkah jika umat pilihan Tuhan bangkit dan berjuang melawan orang-orang seperti pemimpin palsu, antikristus, orang Farisi, dan orang jahat? Bukankah bagus jika kita berjuang melawan mereka hingga mereka menyerah atau dikeluarkan? Bukankah setelahnya rumah Tuhan akan menjadi tenang? Bukankah saudara-saudari akan mampu menjalankan kehidupan bergereja mereka dalam damai? Mengapa kita tidak boleh berjuang melawan orang-orang itu?" Apakah berjuang melawan orang-orang itu dibenarkan? Pertama-tama, ada satu hal yang pasti, yaitu bahwa berjuang itu salah. Mengapa salah? Tuhan menghukum dan mengutuk orang-orang jahat, jadi apa salahnya jika kita berjuang melawan mereka? Bagaimana mungkin itu salah jika orang-orang itu menghina mereka, menyasar mereka, menyiksa mereka ketika tidak ada hal lain yang lebih penting untuk dikerjakan, meneriaki mereka, memiting mereka ke tanah, dan mengkritik mereka? Tuhan menuliskan ketetapan Administratif, dan di dalam ketetapan itu, tidak ada ketentuan terkait berjuang. Tuhan hanya memberlakukan ketetapan Administratif yang di dalamnya terdapat metode-metode dan prinsip-prinsip untuk menangani setiap jenis orang. Ketetapan itu memberi tahu manusia tentang jenis-jenis orang yang harus dikeluarkan, yang harus diusir, yang harus digantikan, yang harus dibina, yang harus digunakan, yang tidak boleh digunakan, yang dapat diselamatkan, dan yang tidak dapat diselamatkan. Tuhan hanya memberi tahu manusia prinsip-prinsip. Jadi, sebagai manusia, bagaimana seharusnya engkau semua menafsirkan firman-firman Tuhan itu? Segala firman Tuhan itu adalah kebenaran. Apa itu kebenaran? Itu adalah, ketika Tuhan melakukan apa pun atau memperlakukan orang macam apa pun, bahkan jika dia adalah orang jahat yang telah berbuat hal-hal jahat dan mengakibatkan kerugian luar biasa terhadap pekerjaan dan kepentingan rumah Tuhan, Tuhan akan tetap menggunakan metode-metode-Nya untuk menangani orang itu. Dia tentu saja tidak akan menggunakan metode-metode Iblis atau metode impulsif apa pun untuk menanganinya. Hal itu disebut apa? Hal itu disebut memperlakukan orang secara adil. Apakah perlakuan adil itu mengandung unsur "berjuang"? Tidak. Apakah itu kebenarannya? (Ya.) Tidak peduli seberapa impulsif, bersifat Iblis, dan jahatnya orang itu, kita menerima firman Tuhan sebagai petunjuk tertinggi dan sebagai prinsip-prinsip akurat yang digunakan untuk menanganinya. Kita tidak mencelanya atau menghakiminya beramai-ramai secara impulsif. Kita benar-benar tidak melakukan hal semacam itu. Itulah yang disebut memperlakukan orang dengan adil, dan itu adalah prinsip-prinsip yang Tuhan berikan kepada manusia.
Di daerah Timur, ada ungkapan baku "pantang menyerah untuk berjuang". Di daerah Barat, mungkin ada ungkapan yang maknanya sama. Selama orang telah dirusak oleh Iblis dan berada di bawah kuasa Iblis, setiap orang memiliki watak Iblis, sangat congkak dan merasa dirinya benar, serta tidak mau mengalah kepada siapa pun. Ketika mereka digerakkan oleh watak semacam itu, mentalitas dan pola pikir untuk pantang menyerah pasti akan timbul dalam diri manusia. Semua orang memandang bahwa cara berpikir dan mentalitas semacam itu yang disebarluaskan oleh umat manusia sebagai hal yang patut, positif, dan sebagai sesuatu yang cukup untuk menopang manusia selama mereka melangkah ke depan dan menjalani hidup. Bagaimanapun mereka memandang mentalitas dan cara berpikir semacam itu sebagai sesuatu yang begitu patut, dan meskipun mereka mengatakannya sebagai sesuatu yang begitu patut, kita semua harus mampu membedakannya. Dari antara seluruh umat manusia, kebenaran tidak berkuasa di tengah suku bangsa mana pun. Tidak peduli seberapa tinggi, kuno, atau misterius ide-ide atau budaya tradisional yang telah dihasilkan oleh suatu suku bangsa, atau pendidikan yang telah diterimanya, atau pengetahuan yang dimilikinya, ada satu hal yang pasti: Tidak ada di antara hal-hal itu yang merupakan kebenaran atau memiliki kaitan apa pun dengan kebenaran. Sejumlah orang berkata, "Beberapa ajaran moral atau gagasan untuk mengukur benar dan salah, tepat dan keliru, atau hitam dan putih yang terkandung dalam budaya tradisional, kelihatannya cukup mirip dengan kebenaran." Fakta bahwa keduanya terdengar mirip dengan kebenaran tidak berarti bahwa makna keduanya mirip. Pepatah-pepatah umat manusia yang rusak berasal dari Iblis dan tidak pernah merupakan kebenaran, sedangkan hanya firman Tuhan sajalah yang adalah kebenaran. Jadi, semirip apa pun kelihatannya beberapa perkataan umat manusia dengan firman Tuhan, perkataan-perkataan itu bukanlah kebenaran dan tidak dapat menjadi kebenaran. Hal itu tidak dapat disangsikan lagi. Keduanya hanya mirip dari segi pilihan kata dan ungkapan, tetapi pada kenyataannya, gagasan-gagasan tradisional itu tidak cocok dengan kebenaran firman Tuhan. Meskipun mungkin kata-kata itu memiliki kemiripan dari segi makna harfiahnya, keduanya tidak berasal dari sumber yang sama. Firman Tuhan berasal dari Sang Pencipta, sedangkan kata-kata, ide-ide, dan pandangan-pandangan dari budaya tradisional berasal dari Iblis dan para setan. Beberapa orang berkata, "Ide-ide, pandangan-pandangan, dan pepatah-pepatah terkenal dari budaya tradisional diterima di seluruh dunia sebagai hal yang positif. Bahkan jika hal-hal itu adalah kebohongan dan kekeliruan, dapatkah hal-hal itu menjadi kebenaran jika orang menganutnya selama beberapa ratus atau beberapa ribu tahun?" Jelas tidak. Cara pandang itu sama konyolnya seperti mengatakan bahwa kera berevolusi menjadi manusia. Budaya tradisional tidak akan pernah menjadi kebenaran. Budaya adalah budaya, dan tidak peduli seberapa mulianya suatu budaya, itu tetaplah hanya suatu hal yang cukup positif yang dihasilkan oleh umat manusia yang rusak. Namun, kepositifan tidak sama dengan kebenaran, dan sifat positif tidak lantas menjadikannya kriteria. Hal itu hanya bersifat cukup positif, tidak lebih. Jadi, kini apakah jelas bagi kita, baik atau burukkah dampak budaya tradisional pada umat manusia di balik "kepositifannya"? Tidak disangsikan lagi bahwa budaya tradisional membawa dampak buruk dan negatif pada umat manusia.
Hari ini, kita telah menganalisis pepatah "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan". Itu adalah semacam falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain. Kita juga telah menganalisis ungkapan terkenal itu dengan latar belakang sejarah berupa ungkapan "Tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu". Tidakkah dua ungkapan itu saja telah cukup untuk memberi engkau semua pemahaman baru tentang budaya tradisional dan falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain? Seperti apakah tepatnya esensi budaya tradisional dan falsafah cara berinteraksi dengan orang lain? Pertama, engkau dapat meyakini bahwa hal-hal itu sama sekali tidak positif. Hal-hal itu timbul dari watak-watak rusak manusia, dan Iblislah sumbernya. Hal-hal itu membawa dampak apa kepada umat manusia? Hal-hal itu menyesatkan, merusak, serta mengikat dan mengekang umat manusia. Itu pasti dan tidak dapat disangsikan. Semua hal yang dibawanya kepada umat manusia adalah pengaruh negatif dan efek negatif, jadi apakah hal-hal itu adalah kebenaran? (Bukan.) Hal-hal itu bukanlah kebenaran, tetapi umat manusia masih mengagungkannya sebagai kebenaran. Apa yang terjadi di sini? Manusia telah disesatkan. Karena manusia belum diselamatkan oleh Tuhan, tidak memahami kebenaran, dan belum mendengar hal-hal yang akurat dari Tuhan tentang ungkapan-ungkapan dan perkara-perkara semacam itu, mereka akhirnya menerima ide-ide dan pandangan yang, menurut konsepsi-konsepsi mereka cukup tepat, baik, dan cocok dengan kehendak mereka. Hal-hal itu awalnya memasuki hati mereka dan telah berkuasa di situ, sehingga orang mempertahankan hal-hal itu selama ratusan dan ribuan tahun. Budaya tradisional yang mengandung falsafah Iblis ini telah lama mengakar dalam hati orang-orang serta menyesatkan dan memengaruhi orang-orang dari generasi ke generasi. Jika engkau semua tidak menerima kebenaran, engkau akan terus disesatkan dan dipengaruhi oleh falsafah-falsafah itu. Hari ini, Aku menganalisis dan bersekutu tentang "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan" serta "Tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu". Yang pertama adalah pepatah, yang kedua adalah ungkapan. Dalam keduanya, kita dapat melihat wujud yang sebenarnya dari budaya Iblis di seluruh dunia: budaya Iblis terbentuk dari ajaran-ajaran sesat dan kekeliruan-kekeliruan yang menyesatkan, merusak, merugikan, dan mencelakakan manusia. Jika umat manusia menaati falsafah-falsafah Iblis itu, seiring dengan perjalanan hidupnya, mereka hanya akan bertambah rusak dan bertambah jahat. Mereka akan saling membantai dan saling bertempur tanpa ada habis-habisnya. Tidak akan ada rasa saling percaya antarmanusia, tidak ada hidup berdampingan dengan harmonis, dan tidak ada rasa saling mengasihi. Singkatnya, budaya tradisional membawa dampak buruk bagi umat manusia. Di bawah bimbingan "ide-ide" dan "mentalitas-mentalitas" itu, umat manusia terus-menerus melakukan kejahatan, menentang Tuhan, menantang batas-batas moral manusia, dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan mereka. Pada akhirnya, mereka akan mengikuti jalan kemusnahan dan dihukum. Itulah esensi budaya manusia. Bicara tentang pepatah, apakah pendapatmu semua tentang pepatah-pepatah itu? Beberapa orang mungkin berkata, "Pepatah bukanlah ide sebenarnya yang dianjurkan oleh umat manusia. Orang-orang kalangan atas yang tingkat wawasannya cukup tinggi tidak mengikuti ungkapan-ungkapan itu." Baru saja kita menganalisis ungkapan yang diterima oleh masyarakat kalangan atas, yaitu "tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu". Apakah itu adalah ungkapan kelas atas? (Tidak.) Itu bukanlah ungkapan kelas atas, tetapi ungkapan, ide, dan mentalitas itu jelas-jelas dipuji dan dianjurkan oleh semua orang di setiap lembaga pendidikan tinggi dan di setiap arena tingkat atas masyarakat. Itulah budaya manusia. Umat manusia telah dibuat terbiasa, dibuat mati rasa, dan dirusak oleh unsur-unsur budaya tradisional itu. Dan apa hasil akhirnya? Umat manusia disesatkan, dikekang, dan diikat oleh budaya tradisional, suatu jenis mentalitas serta teori pun muncul secara alamiah. Lalu, umat manusia pun menganjurkan, menyebarluaskan, meneruskan, dan mendorong orang untuk menerimanya. Pada akhirnya, unsur budaya itu memenangkan hati semua orang, membuat orang mendukung mentalitas dan ide tadi, dan semua orang pun dirusak oleh ide itu. Ketika telah dirusak sampai taraf tertentu, manusia tidak lagi memiliki pemahaman tentang benar atau salah. Mereka tidak lagi ingin membedakan antara keadilan dan kejahatan, dan mereka juga tidak lagi berkehendak untuk membedakan antara hal-hal positif dan negatif. Bahkan telah terjadi bahwa mereka ragu apakah mereka benar-benar manusia, dan ada banyak orang yang menyimpang yang tidak tahu apakah mereka laki-laki atau perempuan. Seberapa jauhkah umat manusia yang seperti itu dari kemusnahan? Seperti apakah umat manusia zaman sekarang dibandingkan dengan di zaman Nuh? Apakah mereka bahkan lebih jahat? Mereka telah mencapai puncak teratas kejahatan dan telah menjadi begitu jahatnya sehingga ada sejumlah hal yang tidak mampu kaudengar, karena setelah mendengarnya, engkau menjadi jijik. Semua manusia sakit hingga taraf tertentu. Dari luar, tubuh mereka terlihat seperti manusia, tetapi hal-hal yang sebenarnya mereka pikirkan di dalam hati bukanlah hal-hal yang seharusnya dipikirkan oleh manusia. Mereka semua sakit dan tidak dapat berputar haluan. Apa maksud-Ku bahwa mereka tidak dapat berputar haluan? Maksud-Ku, mungkin seratus atau dua ratus tahun lalu, ada lebih banyak orang yang bersedia mendengar Tuhan berbicara dan mengucapkan perkataan. Mereka percaya bahwa di dunia ini ada keadilan, begitu juga kebenaran dan kesetaraan. Dahulu, orang bersedia menerima fakta semacam itu, dan mereka mendambakan agar hal-hal itu dapat terwujud. Bahkan lebih dari itu, mereka berharap akan tiba saatnya ketika Sang Penyelamat datang untuk menyelamatkan umat manusia dari pengaruh kegelapan dan kejahatan. Namun, seratus atau dua ratus tahun kemudian, makin sedikit orang yang seperti itu. Ada berapa banyak orang yang dapat memahami firman Tuhan? Ada berapa banyak orang yang dapat menerima kebenaran? Bahkan jika ada banyak orang yang menerima kasih karunia Tuhan, lalu kenapa? Jumlah orang yang sungguh-sungguh mengikuti-Nya makin menurun. Dengan kata lain, di tengah umat manusia, makin sedikit saja orang yang, setelah mendengar firman Tuhan, merasa terdorong, mampu mencintai hal-hal positif, mendambakan terang, mendambakan keadilan, serta mendambakan kedatangan kerajaan, keadilan, dan kebenaran Tuhan. Itu semua menunjukkan apa? Itu semua menunjukkan bahwa falsafah-falsafah, hukum-hukum, ide-ide, dan "mentalitas-mentalitas" Iblis telah menyesatkan dan merusak seluruh umat manusia. Sampai sejauh apakah umat manusia telah disesatkan dan dirusak? Semua orang telah menerima kekeliruan dan pepatah jahat dari Iblis sebagai kebenaran. Mereka semua menyembah Iblis dan mengikuti Iblis, tetapi tidak memahami firman Tuhan, Sang Pencipta. Apa pun yang dikatakan oleh Sang Pencipta, sebanyak apa pun yang dikatakan-Nya, serta sejelas dan senyata apa pun firman-firman-Nya, tidak ada yang paham. Tidak ada yang mengerti. Mereka semua mati rasa dan berotak tumpul. Pikiran dan batin mereka kacau balau. Mengapa bisa kacau balau? Iblislah yang menjadikannya kacau balau. Iblis telah sepenuhnya merusak manusia. Dalam masyarakat masa kini, ada berbagai macam ide, ideologi, dan pernyataan yang berbeda-beda. Orang memercayai apa pun yang mereka pilih dan mengikuti apa pun yang mereka pilih. Tidak ada yang dapat memberi tahu mereka apa yang harus mereka lakukan, dan tidak ada juga yang mampu memberi tahu mereka apa yang harus mereka lakukan. Keadaannya telah sampai sejauh itu. Jadi, fakta bahwa engkau semua mampu memilih untuk percaya kepada Tuhan adalah berkat. Hari ini engkau semua mampu memahami yang Tuhan katakan, memiliki sedikit hati nurani, memercayai yang Tuhan katakan, mendambakan kedatangan kerajaan Tuhan, dan mendambakan hidup di kerajaan yang terang, keadilan, kesetaraan, dan kebenaran. Apakah ketulusan yang engkau semua miliki itu adalah hal yang langka? Bagaimana engkau memperolehnya? Perlindungan Tuhan dan pekerjaan Roh Kudus yang bekerja dalam dirimu yang memberimu pencerahan sehingga engkau mampu percaya kepada Tuhan dan mengikuti-Nya. Jika Tuhan tidak bekerja dalam dirimu, akankah engkau semua mampu berada di sini sekarang sebagai orang-orang percaya? Mungkinkah engkau berubah menjadi dirimu yang sekarang ini? Lihat saja, apakah orang-orang tidak percaya itu kini masih memiliki keserupaan dengan manusia? Saat ini, engkau mungkin tidak memahami banyak kebenaran, dan dalam banyak situasi, pandanganmu masih sama persis seperti pandangan orang tidak percaya. Apa pun isi pikiran mereka, itulah isi pikiranmu juga. Meskipun terkadang engkau tidak menerima sejumlah pandangan mereka, engkau tidak memiliki kemampuan untuk membedakan dan tidak mempunyai jalan lain untuk diikuti. Ketika tiba harinya engkau memahami kebenaran, engkau akan mampu membedakan bahwa pandangan-pandangan mereka salah dan jahat, dan hatimu akan mampu untuk menolaknya. Lalu, engkau akan melihat wajah iblis mereka dengan jelas. Engkau akan melihat bahwa mereka adalah para iblis yang bernyawa, bukan manusia. Mereka berkedok sebagai manusia, tetapi tidak melakukan hal-hal yang manusiawi. Bagaimana engkau dapat mengetahui bahwa itu memang demikian? Semua perkataan yang mereka sebarluaskan sangatlah manis di telinga dan dapat menyesatkan orang, tetapi hal-hal yang mereka lakukan dan laksanakan sangatlah jahat dan tidak enak dilihat, serta jelas-jelas tidak tahu malu dan tidak masuk akal. "Ide" dan "mentalitas" yang mereka pertahankan itu sangatlah jahat dan antagonistis, bertentangan sepenuhnya dengan firman Tuhan dan kebenaran, serta berkebalikan mutlak dari firman Tuhan dan kebenaran. Namun, orang-orang ini memandang penalaran-penalaran palsu dan ajaran-ajaran sesat itu sebagai kebenaran dan menyebarluaskannya secara intens, mendukungnya dengan gigih di muka umum untuk menyesatkan dan merusak umat manusia agar mereka dapat menutupi berbagai kejahatan mereka yang hina dan tidak senonoh serta wajah mereka yang tidak enak dipandang. Dari sini, engkau dapat melihat dengan jelas bahwa mereka semua adalah para iblis, serta binatang dan roh kotor yang tidak dapat diajak bernalar. Engkau tidak dapat berbicara secara rasional dengan mereka dan tidak dapat mengutarakan kata-kata yang baik atau benar kepada mereka. Ketika tiba waktunya engkau dapat melihat dengan tingkat kejelasan setinggi itu, engkau akan mengetahui bahwa kerusakan umat manusia telah begitu dalam, bahwa engkau sama rusaknya dengan orang lain, bahwa baru saat inilah engkau percaya kepada Tuhan dan memahami sejumlah kebenaran, barulah engkau dapat hidup dalam sejumlah keserupaan dengan manusia, melepaskan dirimu dari pengaruh Iblis dan setan-setan, serta membedakan, membenci, dan meninggalkan mereka; bahwa tanpa penyelamatan Tuhan, engkau akan menjadi sama saja dengan mereka tanpa ada perbedaannya; dan bahwa engkau sanggup melakukan berbagai macam hal yang jahat atau buruk. Kini engkau sedang mengejar kebenaran, mencurahkan banyak kerja keras dan upaya bagi kebenaran, mementingkan penerapan, dan mengolah kebenaran menjadi kenyataan dirimu sendiri. Ketika engkau memahami kebenaran, dapat menerapkan kebenaran, dapat hidup dalam kenyataan firman Tuhan, dan memiliki kesaksian pengalaman yang nyata, hatimu akan bahagia dan damai, pola pikir dan keadaanmu akan makin normal, hubunganmu dengan Tuhan akan makin dekat dan makin normal, dan hari-harimu akan makin baik. Jika engkau tidak menerapkan kebenaran, selalu hidup menurut falsafah Iblis, serta selalu salah memahami Tuhan dan curiga kepada-Nya, hatimu akan makin jauh dari Tuhan, kepercayaanmu kepada-Nya akan sia-sia, dan engkau tidak akan memperoleh apa-apa. Bahkan jika engkau telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, memahami banyak kata-kata dan doktrin, serta tidak menerima berbagai pemikiran dan pandangan keliru milik orang tidak percaya, itu tidak ada gunanya. Itu karena engkau tidak memahami kebenaran, hanya dapat membicarakan sejumlah kata-kata dan doktrin, dan masih tidak dapat menerapkan kebenaran. Karena hal-hal yang pertama memasuki hatimu dan menjadi dominan di sana masih menguasai dirimu, engkau hanya mampu hidup menurut hal-hal itu. Apa pun yang ingin engkau lakukan dan apa pun keadaan yang menimpamu, engkau tidak akan mampu menolong dirimu sendiri untuk keluar dari kendali falsafah-falsafah Iblis itu. Jadi, jika falsafah-falsafah Iblis itu menguasai hatimu, engkau tidak akan dapat menerapkan kebenaran. Beberapa orang berkata, "Aku tidak menerapkan kebenaran, tetapi aku juga tidak mengikuti Iblis." Apakah itu mungkin? Tidak ada jalan tengah. Engkau dapat mencapai taraf mampu melakukan berbagai hal menurut kebenaran hanya dengan menerima kebenaran, memahami kebenaran, dan kemudian menyingkirkan hal-hal Iblis yang pertama memasuki hatimu dan menjadi dominan di sana. Ketika kebenaran menguasai hatimu dan firman Tuhan menguasai hatimu, engkau secara alamiah akan dapat menerapkan kebenaran dalam apa yang engkau katakan dan perbuat.
Sebagai apakah orang memperlakukan logika dan pemikiran Iblis serta dukungan mental yang mengendalikan cara hidup manusia? Sebagai santapan psikologis? Asupan bergizi untuk jiwa? Sebenarnya, itulah hal-hal yang merusak manusia, dan jika "memakannya", orang akan mati. Jika orang terus menerima hal-hal itu dan menyimpan hal-hal Iblis dalam dirinya, apakah artinya itu? Artinya, mereka belum menyingkirkan watak-watak asli mereka yang rusak dan, selain itu, malah menerima kerusakan baru dari Iblis. Artinya, segalanya telah selesai bagi mereka. Mereka tidak dapat diselamatkan, itu tidak dapat dihindari. Engkau harus terus-menerus membedakan dan menolak hal-hal itu serta terus-menerus menyingkirkannya, tidak hidup menurut hal-hal itu, dan menerima firman Tuhan. Ada orang yang berkata, "Aku tidak akan menerima hal-hal itu. Firman Tuhan akan memasuki diriku dengan sendirinya." Itu tidak mungkin. Engkau harus secara proaktif mencari dan menerima kebenaran, dan melalui proses memahami kebenaran, engkau secara alamiah akan memperoleh kemampuan untuk membedakan penalaran-penalaran palsu dan ajaran-ajaran sesat serta akan melepaskan hal-hal itu secara perlahan-lahan. Dengan demikian, firman Tuhan secara bertahap akan menjadi prinsip-prinsipmu dalam melakukan berbagai hal, dan ketika melakukan berbagai hal, engkau akan mengetahui cara melakukan berbagai hal yang selaras dengan maksud-maksud Tuhan. Engkau pun akan menerapkan kebenaran dengan sangat alamiah, dan dari segi watak rusakmu yang itu akan berubah. Menurutmu semua, apakah itu sulit dilakukan, atau tidak? Sebenarnya itu tidak sulit. Yang sulit adalah orang tidak menerapkannya. Beberapa orang berkata, "Itu sangatlah sulit, lebih sulit daripada memanjat ke langit! Bukankah itu namanya mengharapkan hal yang mustahil? Tidakkah itu menempatkanku dalam posisi yang sulit?" Betulkah demikian? Tidak, tidak demikian. Engkau harus menyikapi persoalan-persoalan itu dengan benar dan memiliki kemampuan untuk membedakan persoalan-persoalan itu dengan tepat. Hari ini, Aku telah menghabiskan begitu banyak waktu untuk menganalisis dan bersekutu tentang hanya sedikit kekeliruan Iblis, tetapi apakah hanya hal-hal itu saja yang tersimpan dalam diri manusia? (Tidak.) Ada lebih banyak lagi daripada itu! Nanti, Aku akan bersekutu tentang berbagai topik terkait suksesi. Sebelumnya, Aku tidak pernah bersekutu tentang segi ini, jadi apakah engkau semua pernah merenungkan topik-topik itu sendiri? Engkau belum pernah melakukannya. Jika engkau merenungkannya, akankah engkau memperoleh sejumlah hasil? Jika engkau semua mampu mencurahkan sedikit usaha untuk memahami kebenaran, engkau pasti telah memiliki sedikit kemampuan untuk membedakan kekeliruan-kekeliruan Iblis dan pengetahuanmu tidak akan sekosong saat ini. Apakah persekutuan-Ku hari ini tentang topik-topik itu terasa mendadak? Adakah yang berkata, "Bukankah kita sedang bersekutu tentang cara mengenali antikristus? Mengapa kita tiba-tiba bersekutu tentang topik-topik itu?" Semua persoalan itu berkaitan dengan watak rusak Iblis. Semua persoalan itu juga berkaitan dengan cara manusia mengenali watak rusak Iblis dan bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan manusia untuk memahami kebenaran secara akurat. Setidaknya setelah bersekutu, orang akan mengetahui, "Ternyata ungkapan-ungkapan hebat itu bukanlah kebenaran." Mulai saat ini, kekeliruan-kekeliruan seperti "Tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu" serta "Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan" dapat tersingkir dari hatimu. Mungkin ada beberapa di antaramu yang tidak dapat menyingkirkannya saat ini, tetapi setidaknya engkau tahu bahwa ungkapan-ungkapan itu bukanlah kebenaran. Lalu, jika lain kali engkau mendengar seseorang mengatakan ungkapan-ungkapan itu, engkau akan tahu bahwa itu semua menyesatkan dan engkau tidak akan menerimanya. Meskipun hatimu merasa bahwa ungkapan-ungkapan itu ada benarnya dan masih merupakan hal yang baik untuk dilakukan, engkau juga berpikir, "Tuhan berkata bahwa ungkapan-ungkapan itu bukanlah kebenaran. Aku tidak dapat bertindak menurut hal-hal itu." Bukankah pesan itu bermanfaat untukmu? (Ya.) Apa tujuan-Ku dalam mengatakan hal-hal itu? Mengapa Aku menganalisis ungkapan-ungkapan itu seperti ini? Orang percaya selalu berkata, "Kita harus menerapkan kebenaran. Semua firman Tuhan adalah kebenaran. Semua firman Tuhan adalah hal-hal positif yang harus kita terapkan." Suatu hari engkau dipangkas, dan ungkapan "Tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu" serta "Ketika langit hendak memberi tanggung jawab besar kepada seseorang, hatinya harus mengalami kepedihan terlebih dahulu" pun muncul dalam hatimu. Apakah hal-hal itu adalah kebenaran? Bukankah itu lelucon? Jika engkau diminta untuk menjadi saksi bagi Tuhan, bagaimana engkau akan melakukannya? Engkau berkata, "Orang percaya harus menanggung penghinaan dan memikul beban berat, tidur di atas kayu bakar dan merasakan pahitnya empedu, serta harus mempunyai mentalitas dan pantang menyerah untuk berjuang." Apakah itu namanya bersaksi tentang Tuhan? (Bukan.) Dengan memperlakukan logika Iblis sebagai firman Tuhan dan kebenaran, serta menjadi saksi baginya, engkau tidak hanya telah menjadi saksi bagi Tuhan dengan cara yang tidak patut, tetapi juga telah menjadi bahan tertawaan Iblis dan mempermalukan Tuhan. Apa yang engkau lakukan? Jika Tuhan menghukummu karena itu, engkau akan berpikir bahwa itu tidak adil dan berkata, "Aku bodoh. Aku tidak memahaminya. Tuhan tidak pernah bersekutu denganku tentang itu." Jika Dia tidak menghukummu, tetapi natur perbuatan-perbuatanmu sangatlah serius, apa yang harus Tuhan lakukan terhadap hal itu? Menepikanmu? (Tidak.) Tidak ada yang perlu dilakukan. Terkait diri-Ku, Aku hanya akan membuatmu semua memahami dan mengetahui sebanyak mungkin, sesuai dengan tingkat pemahamanmu dan sejauh yang mampu Kukatakan kepadamu semua, tentang apa persisnya kebenaran itu, apakah ungkapan-ungkapan yang engkau semua pikir baik dan benar memiliki kaitan dengan kebenaran, dan apakah ungkapan-ungkapan itu adalah kebenaran. Aku harus membuatmu semua memahami hal-hal itu. Jika, setelah mengetahui hal-hal itu, engkau masih berpikir dengan cara yang sama dan masih tetap bersikeras, Tuhan tidak akan menepikanmu ataupun mengabaikanmu. Engkau layak dihukum, dan Tuhan akan bertindak. Mengapa Tuhan akan melakukan itu? Jika engkau bertindak dengan cara demikian tanpa memahami hal-hal itu, Tuhan akan menganggapmu bodoh dan tidak berpengetahuan. Namun, jika engkau mengetahui hal-hal itu dan masih saja bertindak dengan cara demikian, itu berarti bahwa engkau dengan sengaja melakukan perbuatan yang salah dan Tuhan harus menanganinya menurut prinsip-prinsip.
19 Desember 2019