Bab Delapan: Mereka akan Membuat Orang Lain Hanya Tunduk kepada Mereka, Bukan kepada Kebenaran atau Tuhan (Bagian Dua)
Lampiran: Pembahasan Singkat tentang Tiga Aspek Kemanusiaan yang Normal
Kita tidak akan menceritakan kisah-kisah dalam persekutuan kita kali ini. Kita akan mulai dengan topik yang sering dibahas: apa kemanusiaan itu. Kita sudah banyak membicarakan topik ini di masa lalu, dan kita membicarakannya juga sekarang. Ini adalah topik yang sering disinggung, masalah yang orang jumpai setiap hari dalam kehidupan sehari-hari, topik yang dapat orang jumpai dan alami setiap hari. Topiknya adalah apa kemanusiaan itu. Kemanusiaan mencakup beberapa hal penting. Apa saja perwujudan umum dari kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari? (Integritas dan martabat.) Apa lagi? Hati nurani dan nalar, bukan? (Ya.) Engkau sering membicarakannya. Apa saja hal lainnya yang tidak sering kaubicarakan? Dengan kata lain, topik apa yang pada dasarnya tidak kausinggung dalam pembicaraan umum tentang kemanusiaan? Hati nurani dan nalar, integritas dan martabat; topik-topik ini adalah topik lama yang biasa orang temui. Seberapa besar hubungan antara hati nurani, nalar, integritas, dan martabat yang sering engkau semua bahas dengan kehidupan nyatamu? Bagaimana materi itu membangun dan membantu penerapan serta jalan masuk dalam kehidupan nyatamu? Seberapa besar manfaatnya? Jadi, hal-hal apa lagi yang berhubungan erat dengan kemanusiaan normal dalam kehidupan sehari-hari? Aku akan menyebutkan beberapa, dan kita akan melihat apakah itu adalah topik yang biasa engkau semua temui. Dengan materi kita yang menyangkut kemanusiaan, pertama-tama kita akan mengesampingkan apakah materinya positif atau negatif, dan apakah itu berhubungan dengan kemanusiaan yang normal atau yang tidak normal. Di luar hal-hal yang baru saja kita sebutkan, ada satu hal tentang sikap orang dalam memperlakukan berbagai macam orang, peristiwa, dan hal-hal dalam kehidupannya sehari-hari. Yang itu, bukan? Bukankah itu menyangkut kemanusiaan? (Ya.) Ada lagi yang lain, yaitu pengelolaan orang terhadap lingkungan pribadinya dalam kehidupan sehari-hari, dan satu lagi, sikap dan perilaku orang dalam hubungan mereka dengan lawan jenis. Apakah ketiga hal ini berhubungan dengan kemanusiaan? (Ya.) Semuanya berhubungan dengan kemanusiaan. Untuk topik yang akan kita bahas sekarang, kita akan mengesampingkan pokok pembicaraan tentang pengejaran orang akan kebenaran, bagaimana memasuki kenyataan kebenaran dalam kepercayaan seseorang kepada Tuhan, dan bagaimana menegakkan berbagai macam prinsip, serta hanya membahas kemanusiaan. Jadi, ketiga hal itu; apakah hubungannya dengan kemanusiaan itu penting? (Ya.) Apa saja ketiga hal itu? Sebutkan kembali. (Yang pertama adalah sikap orang dalam memperlakukan berbagai macam orang, peristiwa, dan hal-hal dalam kehidupannya sehari-hari. Yang kedua adalah pengelolaan orang terhadap lingkungan pribadinya dalam kehidupan sehari-hari. Yang ketiga adalah sikap dan perilaku orang dalam hubungan mereka dengan lawan jenis dalam kehidupan mereka sehari-hari.) Dan ketiga hal itu berhubungan dengan apa? (Kemanusiaan.) Mengapa kita mengatakan bahwa ketiga hal ini menyangkut kemanusiaan, bahwa ketiganya berhubungan dengannya? Mengapa kita mengemukakan ketiga hal ini? Mengapa kita tidak membicarakan bagian hati nurani dan nalar? Mengapa kita mengesampingkan aspek-aspek yang biasanya kita bahas untuk membicarakan ketiga hal ini? Apakah ketiga hal ini lebih tinggi atau lebih mendasar daripada hati nurani, nalar, integritas, dan martabat yang berhubungan dengan kemanusiaan, yang sudah kita bahas sebelumnya? (Ketiganya lebih mendasar.) Lalu, apakah membahas hal-hal ini berarti merendahkanmu? (Tidak.) Jadi, mengapa kita membahasnya? (Ketiganya nyata.) Ketiganya lebih nyata. Itukah alasanmu? Mengapa kita akan membicarakannya? Karena Aku mendapati masalah-masalah; berkenaan dengan kondisi yang ada dan berbagai perilaku yang muncul dalam kehidupan sehari-hari, Aku mendapati beberapa masalah yang berkaitan erat dengan kehidupan nyata orang-orang, dan perlu untuk menjabarkannya satu per satu serta mempersekutukannya. Jika orang mengesampingkan kehidupan nyata dan berbagai perilaku kemanusiaan yang normal serta kehidupan sehari-hari dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan, dan sekadar dengan gigih mengejar kebenaran—kebenaran yang begitu mendalam, seperti menjadi orang yang dikasihi Tuhan—katakan kepada-Ku, masalah apa yang akan ditimbulkannya? Apa kondisi dasar yang memungkinkan orang memasuki kenyataan kebenaran dalam mengejar kebenaran? (Mereka harus melakukannya dalam kehidupan nyata.) Apa lagi? (Mereka memerlukan kemanusiaan yang normal.) Benar, mereka harus memiliki kemanusiaan yang normal; selain hati nurani, nalar, integritas, dan martabat, kemanusiaan yang normal juga terdiri dari tiga hal yang baru saja kita sebutkan. Akan sedikit kosong jika orang berbicara tentang mengejar dan mencari kebenaran, tetapi mereka tidak dapat hidup sesuai dengan standar atau mencapai kenormalan dalam ketiga hal yang berkaitan dengan kemanusiaan ini. Mengejar kebenaran, mengejar jalan masuk ke kenyataan kebenaran, mengejar keselamatan, ini tidak dapat dicapai oleh semua orang, tetapi hanya oleh sebagian kecil orang yang mencintai kebenaran dan memiliki kemanusiaan yang normal. Jika orang tidak tahu apa yang seharusnya dimiliki oleh seseorang yang kemanusiaannya normal, atau apa yang harus dia lakukan, atau sikap dan sudut pandang seperti apa yang seharusnya dia miliki terhadap orang, peristiwa, dan hal-hal tertentu, apakah orang itu mampu mencapai jalan masuk ke kenyataan kebenaran? Dapatkah pengejaran kebenarannya membuahkan hasil? Sayangnya tidak.
A. Sikap Orang dalam Perlakuan Mereka terhadap Berbagai Macam Orang, Peristiwa, dan Hal-Hal
Kita akan mulai dengan persekutuan tentang poin pertama yang menyangkut kemanusiaan: sikap orang dalam perlakuan mereka terhadap berbagai macam orang, peristiwa, dan hal-hal dalam kehidupan sehari-hari. Semua orang memahami apa arti "kehidupan sehari-hari". Tidak perlu dijelaskan lebih lanjut. Lalu, apa saja orang, peristiwa, dan hal-hal utama yang berhubungan dengan kemanusiaan? Dengan kata lain, apa yang ada di sana yang muncul ke tingkat kemanusiaan yang normal, yang berhubungan dengan ruang lingkupnya, yang bersinggungan dengannya? (Berhubungan dengan orang dan hal-hal.) Itu sebagian darinya. Ada juga pengetahuan dan keterampilan profesional yang harus dipelajari oleh orang, dan ada pengetahuan umum untuk kehidupan sehari-hari. Ini semua adalah bagian dari apa yang harus dipahami dan dimiliki oleh seseorang yang memiliki kemanusiaan yang normal. Misalnya, ada orang-orang yang belajar pertukangan kayu atau pertukangan batu, dan yang lain belajar mengemudikan atau memperbaiki mobil. Ini adalah keterampilan, keahlian, dan mengetahui suatu keahlian yang seperti itu berarti cakap dalam pekerjaan profesional dari keahlian tersebut. Jadi, sampai tingkat dan standar mana orang harus mempelajari suatu keterampilan untuk dapat dianggap sebagai ahli? Setidaknya orang harus mampu menghasilkan produk akhir sesuai dengan standar yang dapat diterima. Ada orang-orang yang melakukan pekerjaan yang berkualitas buruk. Pekerjaan yang mereka lakukan tidak sesuai standar, bahkan hingga taraf tidak enak dilihat. Apa masalahnya di sana? Itu menyangkut sikap mereka terhadap pekerjaannya. Ada orang-orang yang tidak memiliki sikap yang sungguh-sungguh. Mereka berpikir, "Jika apa yang kubuat bisa berfungsi, itu sudah cukup baik. Gunakan saja sampai beberapa tahun, lalu perbaiki." Apakah pandangan seperti ini yang seharusnya dimiliki oleh orang yang memiliki kemanusiaan yang normal? (Tidak.) Ada orang-orang yang memiliki sikap masa bodoh, acuh tak acuh. "Cukup baik" sudah bagus bagi mereka. Ini adalah sikap yang tidak bertanggung jawab. Ada sesuatu dalam watak rusak yang membuat orang menangani segala sesuatu dengan sembrono dan tidak bertanggung jawab: Itu adalah sesuatu yang sering orang sebut sebagai keberengsekan. Dalam semua yang mereka lakukan, mereka melakukannya sampai mencapai titik "itu sepertinya sudah benar" dan "seperti ini sudah cukup"; ini adalah sikap "mungkin", "boleh jadi", dan "tidak 100%"; mereka melakukan sesuatu dengan sikap asal-asalan, puas dengan melakukan hal yang minimal, dan puas dengan menggertak; mereka merasa bahwa menanggapi segala sesuatu dengan serius atau dengan teliti itu tidak ada gunanya, apalagi mencari prinsip-prinsip kebenaran. Bukankah ini sesuatu yang ada di dalam watak yang rusak? Apakah itu perwujudan dari kemanusiaan yang normal? Tidak. Jika menyebutnya kecongkakan, itu benar, dan menyebutnya tidak bermoral juga sepenuhnya tepat, tetapi kata yang paling sempurna untuk menyebutnya adalah "berengsek". Kebanyakan orang memiliki keberengsekan dalam diri mereka, hanya tarafnya saja yang berbeda. Dalam segala hal, mereka ingin melakukan segala sesuatu dengan sikap yang asal-asalan serta ceroboh, dan ada aroma kelicikan dalam segala sesuatu yang mereka lakukan. Mereka menipu orang lain saat ada kesempatan, sebisa mungkin mengambil jalan pintas, sebisa mungkin menghemat waktu. Di dalam hatinya, mereka berpikir, "Selama aku tidak tersingkap, tidak menyebabkan masalah, dan selama aku tidak dimintai pertanggungjawaban, aku bisa bekerja dengan asal-asalan. Aku tidak perlu melakukannya dengan sangat baik, itu terlalu merepotkan!" Orang semacam itu tidak mau belajar sampai menjadi ahli, dan mereka tidak berupaya keras atau menderita serta membayar harga dalam pembelajaran mereka. Mereka hanya ingin mendapatkan pemahaman yang dangkal tentang suatu pelajaran dan kemudian menyebut diri mereka ahli dalam pelajaran itu, meyakini bahwa mereka telah menguasai semua yang perlu diketahui, lalu mengandalkan ini untuk melakukan apa pun dengan ala kadarnya. Bukankah ini sikap yang orang miliki terhadap orang lain, peristiwa dan hal-hal? Apakah ini sikap yang baik? Tidak. Sederhananya, itu adalah sikap yang "asal-asalan". Keberengsekan semacam ini ada dalam diri semua manusia yang rusak. Orang yang memiliki keberengsekan dalam kemanusiaan mereka menganut pandangan dan sikap yang "asal-asalan" dalam apa pun yang mereka lakukan. Apakah orang-orang seperti itu mampu melaksanakan tugas mereka dengan benar? Tidak. Apakah mereka mampu melakukan segala sesuatu berdasarkan prinsip? Bahkan lebih tidak mungkin lagi.
Ada orang-orang yang tidak berkomitmen pada apa pun yang mereka lakukan. Mereka ceroboh, bersikap asal-asalan, dan tidak bertanggung jawab. Ada orang-orang yang, misalnya, belajar mengemudi, tetapi tidak pernah bertanya kepada pengemudi yang berpengalaman apa yang harus diperhatikan saat mengemudi, atau berapa kecepatan yang dapat merusak mesin. Mereka tidak bertanya, mereka hanya mengemudi dengan asal-asalan, dan akibatnya, mobil mereka rusak. Mereka menendang mobilnya dan berkata, "Barang ini ringkih. Beri aku Mercedes atau BMW, mobil usang ini tidak berguna, sudah kuno!" Sikap apa itu? Mereka tidak memperlakukan barang-barang materiel dengan penuh kasih sayang, dan tidak berpikir untuk menjaganya tetap bagus, tetapi merusak dan menghancurkannya dengan sengaja. Ada orang-orang yang hidupnya ceroboh dan lalai. Sepanjang hari, mereka melakukan segalanya dengan cara yang sembrono dan serampangan. Orang macam apa mereka ini? (Orang yang tidak peduli.) "Orang yang tidak peduli" adalah sebutan yang halus; engkau harus menyebut mereka "orang yang serampangan"; "orang yang hina" juga cocok. Apakah itu berlebihan? Bagaimana membedakan orang yang mulia dan orang yang hina? Lihat saja sikap dan tindakan mereka terhadap tugas, dan lihatlah bagaimana mereka memperlakukan segala sesuatu dan berperilaku ketika muncul masalah. Orang yang berintegritas dan bermartabat akan bersikap teliti, bersungguh-sungguh, serta tekun dalam tindakan mereka, dan mereka rela untuk membayar harga. Orang yang tidak berintegritas dan tidak bermartabat akan bersikap ceroboh dan seenaknya dalam tindakan mereka, selalu melakukan tipu muslihat, selalu ingin bersikap asal-asalan. Teknik apa pun yang mereka pelajari, mereka tidak mempelajarinya dengan tekun, mereka tidak mampu mempelajarinya, dan sebanyak apa pun waktu yang mereka habiskan untuk mempelajarinya, mereka tetap saja benar-benar tidak mengerti. Orang-orang seperti ini berkarakter hina. Sebagian besar orang bersikap asal-asalan dalam melaksanakan tugasnya. Watak apa yang berperan di sini? (Watak berengsek.) Bagaimana orang-orang berengsek memperlakukan tugasnya? Tentu saja, mereka tidak memiliki sikap yang benar terhadap tugasnya, dan mereka pasti bersikap asal-asalan dalam melaksanakannya. Ini berarti mereka tidak memiliki kemanusiaan yang normal. Orang yang benar-benar berengsek itu seperti binatang. Seperti memelihara anjing sebagai binatang piaraan, jika engkau tidak mengawasinya, ia akan menggigiti dan merusak semua perabotan serta peralatanmu. Itu akan merugikan. Anjing adalah binatang; mereka tidak berpikir untuk memperlakukan barang dengan kasih sayang, dan engkau tidak dapat berdebat dengan mereka; engkau hanya harus menanganinya. Jika tidak, dan engkau malah membiarkan binatang itu menggila dan mengganggu kehidupanmu, itu menunjukkan bahwa ada sesuatu yang hilang dalam kemanusiaanmu. Jadi, engkau tidak jauh berbeda dari binatang. IQ-mu terlalu rendah; engkau tidak berguna. Jadi, bagaimana engkau bisa menanganinya dengan baik? Engkau harus memikirkan cara untuk membatasinya dalam parameter tertentu, atau mengurungnya, lalu mengeluarkannya dua atau tiga kali setiap hari pada waktu yang ditentukan, sehingga anjing itu dapat cukup beraktivitas. Itu akan mengendalikan kebiasaannya yang menggigiti perabot tanpa terkendali, juga membiarkannya berolahraga agar ia tetap sehat. Dengan begitu, si anjing ditangani dengan baik, dan lingkunganmu pun terlindungi. Jika orang tidak dapat menangani hal-hal yang mereka jumpai dan tidak memiliki sikap yang benar, mereka kehilangan sesuatu dalam kemanusiaannya. Itu tidak dapat memenuhi standar kemanusiaan yang normal. Atau, dalam istilah memasak: orang biasa menggunakan sedikit saja minyak ketika menumis, tetapi ada beberapa wanita yang menggunakan banyak sekali minyak. Sekalipun engkau kaya, engkau tidak boleh menghambur-hamburkan minyak; engkau harus menggunakannya dalam jumlah takaran yang wajar. Namun, wanita-wanita tersebut tidak peduli tentang hal itu; jika mereka tidak bisa mengendalikan diri dan menuangkan terlalu banyak minyak ke dalam tumisan, mereka hanya menyendok minyak yang berlebih dan membuangnya ke tanah. Itu pemborosan, bukan? Disebut apa umumnya orang yang bersikap seperti itu terhadap barang-barang materiel? "Royal", atau dalam istilah yang menghina, "pemboros". Dari mana barang-barang materiel berasal? Itu diberikan oleh Tuhan. Ada orang-orang yang mengatakan bahwa merekalah yang telah mendapatkan barang-barang mereka, tetapi berapa banyak yang bisa kauperoleh jika itu tidak diberikan oleh Tuhan? Dia memberimu hidupmu. Jika Dia tidak memberimu hidupmu, engkau tidak akan memiliki apa-apa dan engkau tidak akan menjadi apa-apa, jadi apakah engkau akan tetap bisa memiliki hal-hal materielmu itu? Tuhan mungkin telah memberimu lebih banyak dibanding rumah tangga pada umumnya, tetapi apakah sikap dan sudut pandangmu dalam menghambur-hamburkannya itu benar? Bagaimana ini digolongkan dalam konteks kemanusiaan? Orang yang seperti itu memiliki kemanusiaan yang buruk. Bersikap royal, menghambur-hamburkan barang, tidak tahu cara memperlakukan barang dengan kasih sayang, orang seperti itu tidak memiliki kemanusiaan yang normal. Ada orang-orang yang bahkan tidak berpikiran untuk memperlakukan barang-barang di rumah Tuhan dengan hati-hati. Ada barang yang merupakan milik rumah Tuhan. Mereka tahu ini. Namun, jika akan turun hujan, dan akibatnya akan buruk jika barang itu kebasahan, apa yang mereka pikirkan? "Tidak masalah jika barang itu kebasahan. Itu bukan punyaku. Akan kubiarkan saja." Kemudian, mereka pergi. Disebut apakah sikap itu? Egois. Apakah cara pikir mereka lurus? Jika tidak, orang seperti apakah mereka? (Orang yang bengkok.) Jika seseorang tidak lurus hati, bukankah dia bengkok? Apakah orang yang pemikirannya tidak lurus memiliki kemanusiaan yang normal? Tentu saja tidak. Untuk poin pertama kita, sikap orang dalam memperlakukan berbagai macam orang, peristiwa, dan hal-hal, berapa banyak hal yang sudah kita bicarakan sekarang? Ada keberengsekan, berengsek. Apa lagi? (Bersikap hina dan bengkok.) Bahasa sehari-hari seperti itu, apakah engkau menggunakan kata-kata seperti itu saat merenung, mengenal diri, dan menganalisis diri dalam kehidupan sehari-harimu? (Tidak.) Tak seorang pun melakukannya. Jadi, kata-kata apa yang kaugunakan? Engkau berbicara dengan bahasa yang muluk-muluk; tak seorang pun menggunakan bahasa sehari-hari seperti itu.
Banyak orang merasa dirinya cukup hebat karena percaya kepada Tuhan. Mereka yang khususnya memiliki keterampilan dan kecakapan profesional, atau bahkan memiliki gelar yang tinggi, merasa lebih unggul dibandingkan orang-orang biasa. Karena merasa puas, mereka berpikir, "Aku bahkan meninggalkan karier mantap yang kumiliki di dunia, dan aku tidak datang ke rumah Tuhan untuk mendapatkan makanan gratis. Orang yang seahli aku dapat berkontribusi di rumah Tuhan. Aku mengorbankan diriku dan menderita bagi Tuhan. Aku bahkan berbagi kamar dan makanan dengan orang-orang biasa ini, dalam kehidupan bersama. Betapa hebatnya kualitasku!" Mereka beranggapan bahwa mereka memiliki integritas yang sangat terhormat, bahwa mereka lebih mulia dibandingkan dengan orang lain. Mereka selalu bersukacita karenanya. Sebenarnya, ada begitu banyak hal yang hilang dari kemanusiaan mereka, dan bukan hanya mereka tidak menyadarinya, malahan mereka merasa bangga, berpikir bahwa mereka hebat, bahwa karakter mereka lebih luhur daripada karakter orang-orang biasa. Sebenarnya, tidak ada satu hal pun yang sesuai dengan definisi kata "normal" yang menjelaskan apa "kemanusiaan" itu sendiri dalam "kemanusiaan yang normal". Tidak ada satu hal pun yang memenuhi standar itu; semuanya jauh dari pemenuhan standar tersebut. Hati nurani mereka? Mereka tidak punya hati nurani. Karakter mereka? Tidak baik. Integritas dan sifat-sifat mereka? Tidak ada satu pun yang baik. Karena semua orang tinggal bersama, ketika ada orang-orang yang memiliki sesuatu yang mereka anggap berharga, mereka tidak akan berani meninggalkannya di tempat terbuka. Mengapa demikian? Salah satu alasannya adalah karena mereka tidak percaya kepada orang lain, dan alasan lainnya adalah di mana ada banyak orang, tentunya akan ada orang-orang yang tidak dapat dipercaya, beberapa dari mereka mungkin akan mengambilnya, bahkan mungkin mencurinya. Orang-orang ini berkarakter buruk. Ada orang-orang yang mengambil porsi makanan yang terenak saat mereka makan, dan mereka memakannya sampai kenyang, tanpa memedulikan ada berapa banyak orang di belakang mereka yang belum makan. Bukankah perbuatan seperti ini sangat egois? Ada orang-orang yang memikirkan orang lain saat mereka makan. Apa artinya? Ini menunjukkan bahwa orang-orang yang seperti ini adalah orang-orang berakal sehat yang masih memikirkan orang lain. Mereka akan makan dengan porsi yang lebih sedikit, supaya bisa menyisakan makanan bagi orang lain. Itulah artinya berkualitas. Di rumah Tuhan, sebagian orang memiliki kemanusiaan, sementara sebagian lainnya sedikit kurang. Mereka bahkan tidak dapat memenuhi standar kemanusiaan yang normal. Dengan memperhatikan perilaku yang Aku sebutkan itu, apakah ada banyak orang dengan kemanusiaan yang normal di antara kalian? Atau tidak banyak? Ketika kalian menunjukkan perilaku seperti itu, apakah kalian mampu menyadari bahwa itu adalah masalah? Ketika engkau menyingkapkan watak yang rusak, apakah engkau menyadarinya? Jika engkau menyadarinya, dapat merasakannya, dan bersedia untuk berubah, maka engkau memiliki sedikit kemanusiaan, hanya saja engkau masih belum mencapai kenormalan tersebut. Jika engkau bahkan tidak menyadarinya, bisakah engkau dianggap sebagai seorang yang berkemanusiaan? Tidak bisa. Ini bukan masalah kemanusiaan yang baik atau buruk, normal atau tidak normal; engkau tidak punya kemanusiaan. Misalnya saat sedang makan, ada orang-orang yang melihat sepiring babi kecap keluar dan mulai mengambilnya, baik potongan yang berlemak maupun tidak, dan tidak berhenti makan sampai semuanya habis. Pernahkah kalian melihat binatang berkelahi karena makanan? (Ya.) Pemandangan yang sama, tetapi pada binatang; pada manusia, apakah berkelahi seperti itu bagian dari kemanusiaan yang normal? (Itu bukan kemanusiaan yang normal.) Apa saja yang akan dilakukan oleh orang-orang dengan kemanusiaan yang normal? (Mereka akan puas dengan apa yang mereka dapatkan, dan tidak serakah.) Itu cara yang tepat untuk mengatakannya. Lalu, bagaimana orang bisa tidak serakah? Opini dan pandangan seperti apa terhadap masalah ini yang seharusnya dipikirkan dan dimiliki oleh orang dengan kemanusiaan yang normal, yang melaluinya orang dapat lanjut bertindak dengan tepat? Pertama-tama, pemikiranmu harus benar. Seorang wanita, misalnya, akan berpikir, "Ada banyak babi kecap hari ini. Aku ingin makan lebih banyak, tetapi aku agak malu, karena aku dikelilingi oleh saudara-saudaraku. Apa yang seharusnya aku lakukan? Mungkin aku akan memakannya nanti, sampai mereka sudah mencobanya terlebih dahulu. Aku tidak ingin orang lain bertanya-tanya bagaimana seorang wanita sepertiku bisa begitu rakus. Betapa memalukannya itu!" Pemikiran seperti itu wajar bagi wanita, karena wanita pada umumnya agak sensitif. Kebanyakan pria akan berpikir, "Babi kecap ini luar biasa. Aku akan mengambil dan menyantapnya." Mereka akan menjadi orang pertama yang mengambilnya dengan sumpitnya, tanpa memedulikan apa yang dipikirkan oleh orang lain. Namun, beberapa pria lebih rasional dari itu. Sesudah mencobanya, mereka berpikir, "Masih ada banyak orang di belakangku yang belum makan. Aku harus berhenti makan dan menyisakan untuk yang lain juga." Kenyataan bahwa mereka dapat berpikir dan bertindak seperti itu menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang bernalar, bahwa mereka secara inheren memiliki kemanusiaan yang normal. Ada orang-orang yang menyimpang oleh karena jalan pikiran yang tidak masuk akal, "Tuhan tidak menghendaki orang makan babi kecap, jadi aku tidak akan memakannya sedikit pun. Itu berarti aku memiliki lebih banyak kemanusiaan, bukan?" Itu adalah pikiran yang tidak masuk akal. Apakah yang Aku tunjukkan dengan contoh ini? Bahwa orang hendaknya mengambil sikap yang benar terhadap setiap orang, peristiwa, dan hal-hal. Orang dapat mencapai sikap yang benar ini melalui opini yang diambil dari sudut pandang rasionalitas, hati nurani, integritas, dan martabat kemanusiaan. Jika engkau menerapkan pola pikir seperti ini, pada dasarnya engkau akan sejalan dengan kemanusiaan yang normal.
Sikap seseorang terhadap orang, peristiwa, dan hal-hal, tidak lain dari cara berinteraksi dengan orang dan hal-hal yang terwujud di dalam kehidupan sehari-hari. Perwujudan ini mungkin tidak banyak hubungannya dengan pekerjaan yang harus engkau lakukan, atau mungkin jauh kaitannya dari pekerjaan tersebut, tetapi kepercayaan kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang kosong: Orang-orang yang percaya kepada Tuhan tidak hidup dalam ruang hampa, namun dalam kehidupan nyata. Mereka tidak bisa terpisah dari kehidupan nyata. Sikap dan pemikiran bagaimana yang seharusnya dimiliki orang, baik terhadap keterampilan profesional, atau terhadap wawasan maupun pengetahuan umum tentang sesuatu? Apakah selalu memiliki pola pikir yang membingungkan itu wajar? Ada orang-orang yang selalu bertindak seenaknya mengenai hal-hal ini; apakah itu menghasilkan sesuatu yang baik? Apakah mereka tidak memiliki masalah dengan sudut pandang mereka? Masalah dengan sudut pandang mereka adalah bagian darinya; di luar itu, itu ada hubungannya dengan karakter mereka. Naga merah yang sangat besar sudah memerintah Tiongkok selama ribuan tahun, selalu terlibat dalam kampanye dan perjuangan. Ia tidak mengembangkan perekonomian, dan ia tidak memikirkan kehidupan rakyat jelata. Pada akhirnya, rakyat mengembangkan semacam keberengsekan, seperti bekerja dengan lesu dan tidak bersemangat. Mereka bersikap asal-asalan dalam segala yang mereka lakukan, sudut pandang mereka pun sempit. Mereka tidak mengejar keunggulan dalam studi apa pun, dan mereka juga tidak dapat mencapainya. Mereka selalu bekerja dengan sudut pandang yang sempit: Mereka melihat apa yang dibutuhkan oleh pasar, lalu bergegas memproduksinya tanpa berpikir panjang, demi mendapatkan keuntungan. Mereka tidak berkembang lebih jauh dari dasar ini, atau melakukan penelitian ilmiah lebih lanjut, maupun berjuang untuk mencapai keunggulan yang lebih sempurna. Hasil akhirnya adalah industri ringan, industri berat, dan sektor lainnya di Tiongkok sama-sama tidak memiliki produk mutakhir di panggung dunia. Namun, orang-orang Tiongkok membanggakan diri: "Kami memiliki budaya tradisional terhebat selama 5.000 tahun terakhir di Tiongkok. Sebagai orang-orang Tiongkok, kami adalah orang-orang yang baik hati dan gigih." Lalu, mengapa Tiongkok terus membuat barang-barang tiruan untuk menipu orang? Mengapa mereka hampir tidak punya apa pun yang dapat bersaing di pasar global? Apa yang terjadi di sana? Apakah Tiongkok punya produk-produk mutakhir? Orang-orang Tiongkok memang memiliki satu hal yang "mutakhir", yaitu keterampilan mereka dalam meniru dan memalsukan, dalam menipu. Keberengsekan mereka terlihat dalam hal itu. Ada orang-orang yang akan berkata, "Mengapa Engkau menggambarkan kami seperti itu? Bukankah menurut-Mu itu meremehkan dan merendahkan kami?" Benarkah demikian? Jika kita melihat hal-hal yang dilakukan oleh orang-orang Tiongkok, memang demikianlah faktanya. Apakah ada orang-orang Tiongkok, di pasar atau di antara orang biasa, yang melakukan pekerjaannya dengan penuh perhatian? Sangat sedikit, dan mereka yang berjuang mati-matian untuk pekerjaannya, ketika melihat betapa buruknya lingkungan sosial dan tidak ada lagi faedahnya bagi mereka yang melakukan pekerjaannya dengan penuh perhatian, mereka berhenti mencoba dan menyerah.
Hal-hal yang berkaitan dengan kemanusiaan—sikap, pemikiran, dan pendapat yang orang perlihatkan dalam cara mereka memperlakukan orang lain, peristiwa, dan hal-hal—menunjukkan sesuatu dengan sangat jelas. Menunjukkan apakah hal-hal ini? Semuanya menunjukkan bagaimana orang dapat melihat karakter orang lain, menunjukkan apakah mereka adalah orang yang baik dan lurus, atau tidak. Apa artinya bersikap baik dan lurus? Apakah menjadi seorang yang tradisional berarti baik dan lurus? Apakah menjadi seorang yang sopan dan santun berarti baik dan lurus? (Tidak.) Apakah mengikuti aturan dengan saksama berarti baik dan lurus? (Tidak.) Tidak satu pun dari hal-hal itu. Jadi, apa artinya bersikap baik dan lurus? Jika seorang itu baik dan lurus, maka apa pun yang mereka lakukan, mereka melakukannya dengan mentalitas tertentu, "Apakah aku suka melakukan hal ini atau tidak, atau apakah hal itu termasuk dalam bidang yang merupakan minatku atau sesuatu yang hanya sedikit menarik minatku, itu telah dipercayakan kepadaku untuk kulakukan, dan aku akan melakukannya dengan baik. Aku akan mulai mempelajarinya dari awal, secara realistis, aku akan melakukannya selangkah demi selangkah. Pada akhirnya, sejauh apa pun aku telah melakukan tugasku, aku telah melakukan yang terbaik." Setidaknya, engkau harus memiliki semacam sikap dan mentalitas yang rendah hati. Jika, sejak engkau mengambil alih sebuah tugas, engkau melakukan tugasmu dengan bingung dan tidak memedulikannya sama sekali; jika engkau tidak memperlakukannya dengan sungguh-sungguh dan tidak merujuk pada sumber-sumber yang relevan, membuat persiapan yang mendetail, atau mencari dan berkonsultasi dengan orang lain; selain itu, jika engkau tidak menambah waktu yang engkau gunakan untuk mempelajari tugas ini sehingga engkau dapat terus menjadi semakin baik dalam tugas tersebut untuk mencapai keahlian dalam kemampuan atau profesi ini, melainkan mempertahankan sikap yang sembrono terhadap tugas ini dan dengan sikap yang asal-asalan dalam memperlakukan tugas tersebut, maka ini adalah masalah dalam kemanusiaanmu. Bukankah ini berarti engkau hanya melakukan tugas tanpa tujuan yang jelas? Beberapa orang berkata, "Aku tidak suka jika engkau memberiku tugas semacam ini." Jika engkau tidak menyukainya, jangan menerimanya. Jika engkau menerimanya, engkau harus memperlakukannya dengan sikap yang sungguh-sungguh dan bertanggung jawab. Sikap seperti itulah yang seharusnya engkau miliki. Bukankah ini sesuatu yang seharusnya dimiliki oleh orang dengan kemanusiaan yang normal? Inilah yang dimaksud dengan bersikap baik dan lurus. Dalam aspek kemanusiaan yang normal ini, setidaknya engkau membutuhkan sikap memperhatikan, ketelitian, dan kerelaan untuk membayar harga, termasuk sikap yang rendah hati, bersungguh-sungguh, dan bertanggung jawab. Memiliki hal-hal ini sudah cukup.
Ada berbagai macam orang di gereja. Mereka yang mencintai kebenaran memiliki kemanusiaan yang lebih baik, dan ketika mereka menyingkapkan watak yang rusak, mereka mudah dikoreksi. Mereka yang tidak mencintai kebenaran memiliki kemanusiaan yang jauh lebih buruk. Jika orang tidak mengerahkan upaya dan tidak bertanggung jawab terhadap amanat Tuhan, bukankah mereka tidak layak mendapatkan pujian? Kemanusiaan seperti itu tidak berharga dan tidak bernilai. Itu hina. Engkau percaya kepada Tuhan. Jika engkau memperlakukan tugasmu dengan sikap asal-asalan dan tidak bertanggung jawab, entah itu amanat Tuhan atau tugas yang dipercayakan oleh gereja kepadamu, apakah sikapmu adalah sikap yang seharusnya dimiliki oleh orang dengan kemanusiaan yang normal? Ada orang-orang yang mungkin berkata, "Aku tidak menganggap serius apa yang dipercayakan oleh saudara-saudariku untuk kulakukan, tetapi aku menjamin bahwa aku akan berhasil dalam hal-hal yang Tuhan berikan kepadaku untuk kulakukan. Aku akan memperlakukannya dengan baik." Apakah itu sentimen yang tepat? (Tidak.) Mengapa demikian? Orang yang tidak dapat dipercaya dan kurang bajik, yang kemanusiaannya tidak memiliki hal-hal ini; kepada siapa sajakah mereka bisa jujur? Tidak seorang pun. Bahkan dalam urusan mereka sendiri pun, mereka menipu dan asal-asalan. Bukankah orang seperti itu hina dan tidak berharga? Jika orang dapat mengerahkan upaya dan bertanggung jawab serta dapat dipercaya dalam hal-hal yang ditugaskan oleh orang lain kepadanya untuk dilakukan, apakah mereka akan melakukan yang jauh lebih buruk terhadap amanat yang mereka terima dari Tuhan? Jika mereka memahami kebenaran sebagai orang yang memiliki hati nurani dan nalar, mereka seharusnya tidak melakukan yang lebih buruk kepada amanat yang mereka terima dari Tuhan dan kepada pelaksanaan tugas mereka. Mereka pasti akan bertindak jauh lebih baik daripada orang-orang yang tidak memiliki hati nurani dan kebajikan. Itulah bedanya karakter mereka. Ada orang yang mengatakan, "Aku tidak akan menganggap serius jika engkau memintaku untuk mengurus anjing atau kucing, tetapi jika aku ditugaskan untuk suatu hal penting di rumah Tuhan, aku pasti akan melaksanakannya dengan baik." Apakah itu benar? (Tidak.) Mengapa tidak? Jika seseorang memiliki sudut pandang yang benar, dalam hal-hal besar maupun hal-hal kecil, apa pun amanatnya, dan jika hatinya benar dan berbudi luhur, serta memiliki integritas, dapat dipercaya, dan perilakunya bermoral, maka itu berharga, dan orang itu adalah orang dengan kualitas yang berbeda. Orang-orang yang demikian menangani masalah apa pun dengan segenap moralitas dan kredibilitas mereka. Jika seseorang yang tidak bermoral dan tidak dapat dipercaya mengatakan, "Jika Tuhan secara langsung memberiku suatu amanat, aku pasti akan menanganinya dengan baik," apakah perkataan itu benar? Itu akan sedikit berlebihan dan menipu. Bagaimana engkau yang tanpa hati nurani atau nalar dapat dipercaya oleh orang lain? Kata-kata kosongmu menggema, itu hanyalah tipuan. Suatu ketika rumah Tuhan mempunyai dua ekor anjing kecil untuk menjaga sebuah tempat. Seseorang ditugaskan untuk memeliharanya, dan dia memelihara dan merawatnya seolah itu adalah piaraannya sendiri. Orang itu tidak terlalu suka anjing, tetapi dia merawatnya dengan baik. Ketika anjing itu sakit, dia merawatnya, memandikannya, dan memberinya makan tepat waktu. Dia mungkin tidak suka anjing, tetapi dia memelihara anjing-anjing itu sebagai amanat dan tanggung jawabnya. Bukankah itu yang seharusnya ada dalam kemanusiaan? Dia memiliki kemanusiaan, jadi dia melakukannya dengan baik. Kedua anjing itu kemudian dirawat oleh orang lain, dan dalam waktu sebulan, mereka menjadi sangat kurus. Apa yang terjadi? Tidak ada seorang pun yang peduli atau memperhatikan ketika anjing-anjing itu sakit, dan keadaan mereka yang buruk memengaruhi nafsu makan mereka. Itulah sebabnya mereka menjadi sangat kurus; begitulah orang itu merawat mereka. Apakah ada perbedaan di antara orang-orang ini? (Ya.) Di mana? (Dalam kemanusiaannya.) Apakah orang yang merawat anjing-anjing itu dengan baik memahami banyak kebenaran? Belum tentu. Kemudian, orang yang merawat anjing-anjing itu dengan buruk belum tentu percaya kepada Tuhan untuk rentang waktu yang lebih singkat. Lalu, mengapa ada perbedaan yang begitu besar antara keduanya? Karena karakter mereka berbeda. Ada orang-orang yang bisa dipercaya. Ketika mereka berjanji kepada seseorang, pada akhirnya mereka akan dapat mempertanggungjawabkannya, tanpa peduli mereka suka atau tidak suka melakukannya. Ketika mereka mengambil alih suatu tugas, mereka pasti akan menyelesaikannya, setahap demi setahap. Mereka mempertanggungjawabkan kepercayaan yang diberikan orang kepada mereka, dan mereka mempertanggungjawabkannya kepada hati mereka sendiri. Mereka memiliki hati nurani, dan dengannya mereka mengukur segala sesuatu. Ada orang-orang yang tidak memiliki hati nurani. Mereka akan membuat janji dan sesudah itu mereka tidak melakukan apa pun untuk menepatinya. Mereka tidak berkata, "Mereka memercayaiku. Aku harus melakukannya dengan baik untuk menjaga kepercayaan mereka." Itu bukanlah hati yang mereka miliki, dan itu bukanlah cara berpikir mereka. Bukankah seperti itu perbedaan dalam kemanusiaan? Katakan pada-Ku, apakah seseorang yang melakukan tugasnya dengan baik merasa sulit untuk melakukannya? Dia tidak merasa bahwa hal itu terlalu melelahkan atau menyulitkan. Dia tidak memeras otak untuk mencari tahu cara melakukan tugasnya dengan baik, dan dia tidak sering mendoakannya. Dia tahu dalam hatinya apa yang sepatutnya dilakukan, jadi dia bertanggung jawab. Orang yang tidak mau bertanggung jawab itu juga menerima tugasnya, dan menganggapnya menyusahkan begitu dia melakukannya. Dia merasa kesal ketika anjing-anjing itu menggonggong dan dia menghardiknya, "Menggonggong lagi, ayo! Menggonggong sekali lagi dan aku akan menendangmu sampai mati!" Bukankah ada perbedaan kemanusiaan di sini? Ya, dan itu perbedaan yang besar. Bagi beberapa orang, ketika engkau menugasi mereka sesuatu, mereka merasa kesal, terganggu, karena engkau membuat mereka kehilangan kebebasan. "Pekerjaan lagi? Aku sudah punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan, aku bukan hanya bermalas-malasan di sini!" Jadi, mereka membuat segala macam alasan untuk menghindarinya, untuk memaafkan diri sendiri karena tidak menunaikan tanggung jawabnya. Mereka tidak memiliki hati nurani atau nalar, mereka juga tidak berintrospeksi, sebaliknya mereka membenarkan diri dan mencari alasan untuk memaafkan diri sendiri atas kemanusiaannya yang buruk. Begitulah perilaku orang-orang yang berkemanusiaan buruk. Jadi, dapatkah seorang yang seperti itu memasuki kenyataan kebenaran? (Tidak.) Mengapa tidak? Mereka tidak mencintai kebenaran, dan mereka tidak mencintai hal-hal positif. Bukankah begitu? Mereka tidak memiliki kemanusiaan yang normal maupun kenyataan akan hal-hal positif. Mereka tidak memiliki esensi itu di dalam diri mereka. Jadi, apa hubungan antara kebenaran dan kemanusiaan yang normal? Apa yang harus ada di dalam kemanusiaan orang agar mereka dapat memasuki kenyataan kebenaran dan menerapkan kebenaran? Mereka terlebih dahulu harus memiliki hati nurani dan nalar. Apa pun yang mereka lakukan, mereka harus memiliki sikap yang benar, pemikiran yang benar, dan sudut pandang yang benar. Hanya dengan hal-hal ini orang dapat memiliki kemanusiaan yang normal, dan hanya dengan memiliki kemanusiaan yang normal orang dapat menerima dan menerapkan kebenaran.
B. Pengelolaan Orang terhadap Lingkungan Pribadinya
Poin kedua: pengelolaan orang terhadap lingkungan pribadinya dalam kehidupan sehari-hari. Bidang kemanusiaan normal apa saja yang berhubungan dengan poin ini? (Lingkungan tempat tinggal orang.) Apa sajakah yang termasuk di dalamnya? Ini terutama terdiri dari dua bidang yang luas: lingkungan tempat tinggal orang yang cakupannya hanya sejauh kehidupan pribadinya, dan lingkungan publik yang sering mereka kunjungi. Secara spesifik, aspek apa saja yang termasuk dalam kedua bidang yang luas ini? Gaya hidup orang, juga caranya menjaga kebersihan dan lingkungannya. Jika diuraikan lebih lanjut, apa sajakah yang termasuk dalam gaya hidup orang? Bekerja dan beristirahat, pola makan, dan hal-hal seperti menjaga kesehatan serta pengetahuan dasar tentang kehidupan sehari-hari. Kita akan memulai dengan yang pertama, yaitu bekerja dan beristirahat. Keduanya harus dilakukan secara teratur dan terjadwal. Di luar keadaan khusus, seperti ketika sebuah pekerjaan mengharuskan orang untuk bekerja hingga larut malam atau untuk lembur, bekerja dan beristirahat adalah yang paling sering dilakukan secara teratur dan terjadwal. Itulah cara yang benar. Ada orang-orang yang lebih suka begadang di malam hari. Mereka tidak tidur di malam hari, tetapi menyibukkan diri dengan segala macam hal. Mereka tidak tidur sampai orang lain bangun dan mulai bekerja pada dini hari, dan ketika orang-orang lain tidur di malam hari, itulah saat mereka bangun dan mulai bekerja. Bukankah ada saja orang-orang yang seperti itu? Selalu tidak sinkron dengan orang-orang lain, selalu merasa dirinya lebih istimewa orang-orang seperti itu tidak begitu bernalar. Ritme setiap orang pada dasarnya harus sinkron dalam keadaan normal, terlepas dari keadaan-keadaan yang tidak umum. Apa yang berikutnya? (Pola makan.) Persyaratan pola makan dari kemanusiaan yang normal mudah dicapai, bukan? (Ya.) Hal ini mudah. Namun, bukankah ada orang-orang yang pandangannya agak keliru tentang pola makan? Ada orang-orang yang mengatakan, "Kami percaya kepada Tuhan, dan segala sesuatu ada dalam tangan-Nya. Tidak ada cara makan yang dapat membahayakan perut orang. Kami akan makan apa pun yang kami suka, semau-maunya dan sebebas-bebasnya. Itu bukan masalah, karena Tuhan yang melindungi kami." Bukankah ada orang-orang dengan pemahaman seperti itu? Bukankah ada sesuatu yang sedikit menyimpang dalam hal ini? Pemahaman seperti itu tidak biasa; mereka yang berpandangan seperti itu tidak normal cara berpikirnya. Ada orang-orang lain yang mencampur-adukkan pengetahuan yang normal dan rasional tentang hidup dengan bertimbang rasa terhadap daging. Mereka percaya bahwa memedulikan pengetahuan yang rasional untuk hidup berarti bertimbang rasa terhadap daging. Bukankah ada orang-orang yang percaya akan hal itu? (Ya.) Misalnya, ada orang yang memiliki masalah lambung dan tidak makan makanan yang pedas dan dapat memicu. Ada orang-orang yang mengatakan kepada mereka, "Itu adalah preferensi makanmu; engkau bertimbang rasa terhadap daging. Engkau perlu memberontak terhadapnya. Ada tempat-tempat yang akan engkau datangi di mana ada makanan, dan engkau harus menyantapnya. Bagaimana mungkin engkau tidak memakannya?" Bukankah ada orang-orang dengan pemahaman seperti itu? (Ya.) Ada orang-orang yang tidak boleh makan sesuatu tetapi bersikeras memakannya, yang mengakibatkan ketidaknyamanan, demi memberontak terhadap daging. Aku katakan kepada mereka, "Engkau boleh tidak memakannya jika engkau tidak mau. Tidak ada seorang pun yang akan mengecammu jika engkau tidak memakannya." Mereka mengatakan, "Tidak, aku harus memakannya!" Dalam perkara demikian, ketidaknyamanan mereka itu memang pantas. Mereka sendiri yang mendatangkannya. Mereka membuat peraturan untuk diri mereka sendiri, jadi merekalah yang harus mematuhinya. Lalu, apakah salah jika tidak memakannya? (Tidak.) Tidak salah. Orang-orang lain dengan kondisi kesehatan tertentu alergi terhadap beberapa jenis makanan. Mereka perlu menghindari makanan itu dan tidak memakannya. Ada orang-orang yang alergi terhadap cabai dan tidak boleh memakannya, tetapi mereka malah bersikeras memakannya. Mereka terus memakannya, percaya bahwa itulah artinya memberontak terhadap daging. Bukankah itu pemahaman yang menyimpang? Ya. Jika makanan tertentu tidak cocok untuk mereka, seharusnya jangan dimakan. Untuk apa mereka melawan tubuhnya sendiri? Bukankah mereka sembrono? (Ya.) Tidak perlu sekaku itu, dan tidak perlu juga memberontak melawan daging dengan cara seperti itu. Setiap orang punya kondisi fisiknya sendiri: Ada yang perutnya sensitif; ada yang jantungnya lemah; ada yang penglihatannya kurang baik; ada yang mudah berkeringat; ada yang tidak pernah berkeringat. Kondisi setiap orang berbeda, engkau harus membuat penyesuaian berdasarkan kondisimu sendiri. Satu kalimat dapat mewakili kasus-kasus ini: Gunakanlah sedikit akal sehat dalam hidupmu. Apa yang dimaksud dengan "akal sehat" di sini? Artinya, engkau perlu tahu apa saja makanan yang membahayakan bagimu jika dimakan, dan apa yang baik bagimu untuk dimakan. Jika sesuatu rasanya tidak enak tetapi baik bagi kesehatanmu, maka engkau harus memakannya demi kesehatanmu. Jika sesuatu terasa enak untuk dimakan tetapi membuatmu sakit, maka jangan memakannya. Itulah akal sehat. Selain itu, orang juga harus tahu beberapa kiat untuk tetap sehat menurut akal sehat. Sepanjang empat musim dalam setahun, biarkan waktu, iklim, dan musim memberitahumu apa yang harus engkau makan, inilah prinsip utamanya. Jangan melawan tubuhmu. Ini adalah pemikiran dan pemahaman yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang yang berkemanusiaan normal. Ada orang-orang yang menderita peradangan usus dan mengalami diare saat mereka makan makanan yang bisa memicunya. Jadi, jangan memakannya. Namun, ada orang-orang yang berkata, "Aku tidak takut. Sebab Tuhan yang melindungiku," dan akibatnya mereka menderita diare sesudah memakannya. Mereka bahkan mengatakan bahwa Tuhan yang menguji dan memurnikan mereka. Bukankah mereka orang-orang yang tidak masuk akal? Jika mereka bukan orang yang tidak masuk akal, maka mereka adalah orang yang amat rakus. Mereka makan tanpa memedulikan akibatnya. Orang-orang seperti itu punya banyak masalah. Mereka tidak bisa mengendalikan nafsu makannya, dan malah berkata, "Aku tidak takut. Sebab Tuhan yang melindungiku!" Bagaimana pemahaman mereka tentang masalah itu? Pemahamannya menyimpang, mereka tidak memahami kebenaran, tetapi mencoba menerapkannya tanpa dipikir dahulu. Mereka menderita peradangan usus, tetapi makan sembarangan, dan ketika mereka mengalami diare sebagai akibatnya, mereka mengatakan bahwa Tuhan yang menguji dan memurnikan mereka—bukankah itu penerapan yang membabi buta terhadap peraturan? Orang seperti itu memang tidak masuk akal, omongannya pun kosong. Bukankah itu menghujat Tuhan? Apakah Roh Kudus akan bekerja dalam diri orang yang tidak masuk akal seperti itu? (Tidak.) Jika engkau tidak memahami kebenaran, engkau tidak boleh menerapkan aturan pada berbagai hal tanpa dipikir dahulu. Apakah Tuhan akan menguji orang tanpa pandang bulu? Tentu tidak. Engkau bahkan tidak memenuhi syarat untuk diuji; tingkat pertumbuhanmu tidak ada. Oleh karena itu, Tuhan tidak akan mengujimu. Orang yang tidak tahu makanan mana yang akan membuatnya sakit adalah seorang idiot dengan tingkat kecerdasan yang rendah. Dapatkah orang yang rasionalitas dan tingkat kecerdasannya buruk memahami maksud Tuhan? Dapatkah mereka memahami kebenaran? (Tidak.) Jadi, apakah Tuhan akan menguji orang seperti itu? Tidak, tidak akan. Itulah yang dimaksud dengan tidak memiliki nalar dan berbicara omong kosong. Ada prinsip-prinsip di mana Tuhan menguji manusia; ujian ditujukan bagi orang-orang yang mencintai kebenaran dan mengejarnya, bagi orang-orang yang akan digunakan Tuhan dan dapat memberi kesaksian bagi-Nya. Dia menguji orang-orang yang imannya sejati, yang dapat mengikuti-Nya dan bersaksi bagi-Nya. Pekerjaan Roh Kudus tidak berlaku bagi siapa pun yang hanya mencari kenyamanan dan kesenangan, juga bagi mereka yang sama sekali tidak mengejar kebenaran serta memiliki pemahaman yang menyimpang. Jika demikian, apakah Tuhan akan menguji mereka? Itu sama sekali tidak mungkin.
Ada orang-orang yang mampu mendapatkan obat-obatan herbal atau makanan kesehatan ala Tiongkok, yang mereka konsumsi tanpa berpikir panjang. Ada wanita-wanita yang akan mengoleskan sesuatu yang melindungi kulit ke wajah mereka, yang memutihkan dan mengencangkannya. Mereka akan menghabiskan dua jam setiap hari untuk menggunakan riasan, dan tiga jam untuk membersihkannya. Pada akhirnya kulit mereka rusak hingga tak dapat dikenali. Mereka bahkan mengatakan, "Tidak seorang pun yang bisa lari dari hukum alam, yang memudarkan kecantikan seiring bertambahnya usia. Lihat saja kulitku yang menua ini!" Faktanya mereka tidak akan terlihat begitu tua jika saja mereka tidak terus-menerus mengutak-atik wajah mereka. Justru mengoleskan produk-produk itulah yang membuat mereka kelihatan tua. Menurutmu, apa artinya itu? (Mereka sendiri yang membuatnya.) Salahnya sendiri! Ada pengetahuan yang rasional untuk hidup dalam kemanusiaan yang normal, dan orang perlu memahaminya, seperti pengetahuan umum tentang menjaga kesehatan dan mencegah penyakit: misalnya, kaki yang dingin cenderung menyebabkan sakit punggung, atau bagaimana orang seharusnya mengobati rabun dekat sejak dini, atau apa saja risikonya saat duduk terlalu lama di depan komputer. Orang harus lebih mengerti tentang cara menjaga kesehatan yang rasional seperti itu. Ada orang-orang yang mungkin mengatakan, "Untuk percaya kepada Tuhan, engkau hanya perlu membaca firman-Nya. Apa gunanya mempelajari semua hal yang berhubungan dengan menjaga kesehatan yang rasional? Rentang hidup seseorang telah ditentukan oleh Tuhan; tidak ada pengetahuan tentang menjaga kesehatan apa pun yang akan berguna. Ketika tiba saatnya engkau meninggal, tidak ada seorang pun yang bisa menyelamatkanmu." Ini sekilas tampaknya benar, tetapi sebetulnya, agak tidak masuk akal. Ini adalah sesuatu yang akan dikatakan oleh orang yang tidak memiliki pemahaman rohani. Mereka belajar mencerocos tentang kata-kata dan doktrin yang lazim dan kedengaran rohani, padahal sebenarnya, mereka tidak memiliki pemahaman yang murni sama sekali. Mereka mencoba menerapkan aturan tanpa dipikir dahulu saat sesuatu terjadi pada mereka, berbicara semanis mungkin, tanpa mempraktikkan kebenaran apa pun. Ada orang-orang yang mungkin mengatakan kepada mereka bahwa bubur jagung itu bergizi, misalnya, bahwa itu baik untuk kesehatan. Pesan itu tidak akan mereka indahkan. Namun, begitu mereka mendengar seseorang mengatakan bahwa babi kecap itu menyehatkan, mereka akan memakannya sampai kenyang saat mereka melihatnya di lain kesempatan. Mereka berkata bahkan seraya mengunyah, "Mau bagaimana lagi? Aku perlu makan ini; ini demi kesehatanku!" Bukankah itu perkataan yang menipu? (Ya.) Itu menipu. Memiliki apa yang seharusnya dimiliki oleh orang yang berkemanusiaan normal, mengetahui apa yang seharusnya diketahui, mengetahui apa yang seharusnya diketahui pada tahap kehidupan yang sesuai dengan usiamu, itulah arti dari memiliki kemanusiaan yang normal. Ada orang-orang di usia dua puluhan yang makan sembarangan. Mereka makan es batu di hari yang sangat dingin. Orang-orang yang lebih tua ngeri melihatnya, dan mendesak mereka untuk berhenti, memberi tahu bahwa mereka akan sakit perut. "Sakit perut? Aku akan baik-baik saja," kata mereka, "Lihatlah aku. Kondisi tubuhku sedang prima!" Mereka tidak tahu tentang hal-hal seperti itu di usia mereka. Tunggu sampai mereka berumur empat puluh tahun; kala itu mintalah mereka makan es batu. Apakah mereka akan memakannya? (Tidak.) Ketika mereka berumur enam puluh tahun, jangankan makan es, mereka akan takut mendekatinya. Dinginnya akan terlalu dahsyat bagi tubuh mereka. Itu disebut pengalaman, memetik pelajaran hidup. Jika orang di usia enam puluh tahun masih tidak tahu bahwa perutnya tidak sanggup menampung es batu yang terlalu banyak, bahwa tubuhnya tidak dapat menerimanya dan hal itu akan membuatnya sakit, disebut apakah itu? Apakah mereka kurang memiliki kemanusiaan yang normal? Mereka kurang memiliki pengalaman hidup. Jika seseorang yang berumur enam puluh tahun masih belum tahu bahwa dingin itu buruk bagi punggung, bahwa kaki yang dingin menyebabkan sakit punggung, lalu bagaimana dia hidup selama enam puluh tahun itu? Dia pasti sudah melaluinya dengan serampangan. Ada orang-orang yang mengerti banyak hal rasional tentang kehidupan pada saat mereka berumur empat puluhan, seperti misalnya: pengetahuan rasional tentang kesehatan; dan mereka memiliki sejumlah pandangan yang benar mengenai hal-hal materi, uang, juga pekerjaan, serta mengenai kerabat mereka, urusan dunia, kehidupan, dan sebagainya. Mereka memiliki pemahaman yang murni mengenai hal-hal ini, dan bahkan jika mereka tidak percaya kepada Tuhan, mereka masih memahami hal-hal ini sedikit lebih baik daripada orang-orang yang lebih muda dari mereka. Inilah orang-orang yang bisa mengenali yang benar dan salah, orang-orang dengan pemikiran normal. Dalam dua dekade setelah umur dua puluhan, mereka sudah memahami banyak hal, beberapa di antaranya mendekati kebenaran. Ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang dengan kemampuan berpikir, orang-orang yang berkualitas baik. Jika mereka adalah orang yang mengejar kebenaran, jalan masuk mereka ke dalam kenyataan kebenaran akan jauh lebih cepat, karena mereka akan telah mengalami banyak hal dalam dua puluh tahun itu, dan memperoleh beberapa hal positif. Pengalaman mereka akan konsisten dengan kenyataan kebenaran yang Tuhan bicarakan. Namun, jika banyak aspek yang masih kurang dalam kemanusiaan orang tersebut, dan dia tidak memiliki pandangan yang benar, atau pemikiran kemanusiaan yang normal, apalagi kecerdasan kemanusiaan yang normal mengenai kehidupan, dan mengenai orang lain, peristiwa, dan hal-hal yang muncul dalam dua puluh tahun itu, maka sia-sialah hidup yang telah dia jalani selama bertahun-tahun itu. Di beberapa tempat yang pernah Aku kunjungi, Aku mendapati bahwa beberapa saudari yang lebih tua tidak tahu cara memasak. Mereka bahkan tidak bisa merencanakan menu yang seimbang. Mereka memberi kuah pada apa yang seharusnya digoreng, dan menggoreng apa yang seharusnya berkuah. Hasil bumi berubah seiring dengan musim, tetapi hidangan yang tersaji di meja mereka selalu sama. Apa yang terjadi di sana? Itu adalah kurangnya kecerdasan, bukan? Mereka kurang memiliki kualitas kemanusiaan yang normal. Mereka bahkan tidak bisa memasak berbagai bahan makanan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari, seperti kubis dan kentang. Mereka tidak mampu mengerjakan tugas-tugas yang paling sederhana dan tidak mampu menyelesaikannya. Bagaimanakah mereka bisa bertahan selama lima puluh atau enam puluh tahun terakhir? Mungkinkah hati mereka tidak menuntut apa pun dalam kehidupan mereka? Jika orang tidak dapat memperoleh pengalaman dari apa pun yang mereka lakukan, maka tugas apa yang dapat dilaksanakan dengan baik oleh orang seperti itu? Faktanya adalah orang dapat belajar melakukan segala sesuatu, jika mereka benar-benar berusaha dan berlatih untuk beberapa waktu. Jika orang masih tidak dapat melakukan sesuatu sesudah beberapa tahun belajar, kecerdasan dan kualitasnya pastilah sangat buruk!
Sekarang, mari kita membahas sedikit tentang mengelola kebersihan. Baru-baru ini, Aku mengunjungi dua tempat di mana rumah-rumahnya benar-benar berantakan. Awalnya semuanya cukup teratur di sana, jadi bagaimana tempat-tempat itu bisa berubah menjadi seperti "kandang babi"? Alasannya adalah karena orang-orang di sana tidak tahu caranya untuk mengendalikan situasi. Mereka tidak memiliki kesadaran kemanusiaan yang normal, dan kepedulian akan kebersihan. Bukan hanya karena mereka malas; lebih dari itu, mereka sudah terbiasa hidup dalam kondisi seperti itu. Mereka membuang sampah sembarangan dan meletakkan barang-barang di mana-mana, tanpa adanya aturan atau larangan. Ketika mereka sudah membersihkan suatu tempat, mereka bisa menjaganya tetap bersih hanya untuk satu atau dua hari; beberapa hari kemudian, tempat itu menjadi sangat berantakan dan kotor. Sungguh pemandangan yang sangat buruk. Katakan pada-Ku, disebut apakah lingkungan seperti itu? Orang-orang di sana bisa makan dengan lahap dan tidur nyenyak dalam kondisi seperti itu, orang-orang macam apakah itu? Mereka seperti babi, bukan? Mereka tidak memiliki kesadaran dan tidak mengerti apa pun tentang kebersihan, tentang lingkungan mereka, tentang struktur, tentang pengelolaan. Mereka tidak menyadarinya, seberapa kotornya atau berantakannya pun tempat itu. Itu tidak mengganggu mereka; mereka tidak khawatir karenanya dan tenang saja. Mereka terus hidup seperti biasanya, tidak pemilih dan tidak punya syarat. Beberapa tempat menjaga kebersihan dan lingkungannya dengan baik, dan engkau akan berpikir bahwa orang-orang di sana peduli akan kebersihan, bahwa mereka tahu cara mengelola lingkungan mereka, tetapi tidak seorang pun yang tahu sampai ada inspeksi mendadak, dan mereka sudah mengirimkan orang-orang sebelum inspeksinya terjadi untuk membersihkan tempat itu. Jika engkau memberi tahu mereka sebelumnya bahwa engkau akan datang, tempat itu dijamin bersih; jika engkau pergi ke sana tanpa memberi tahu mereka, engkau akan mendapati lingkungan yang berbeda, lingkungan yang pasti kotor dan berantakan. Di kamar beberapa gadis, ada pakaian dan sepatu yang berserakan. Di luar, perkakas kerja seperti cangkul dan beliung ditumpuk bersama pakaian. Ada orang-orang di sana yang mungkin mengatakan bahwa mereka sangat sibuk hingga tidak punya waktu untuk membersihkan. Sesibuk itukah mereka? Apakah mereka bahkan tidak punya waktu untuk bernapas? Jika tidak, maka itu berarti mereka sibuk, baiklah—tetapi pastinya mereka tidak sesibuk itu? Apakah begitu sulit mengelola tempat mereka? Apakah begitu melelahkan untuk menjaga lingkungan yang bersih dan rapi? Apakah ini ada hubungannya dengan kemanusiaan? Mengapa orang sangat suka tinggal di dalam "kandang babi"? Mengapa mereka merasa sangat nyaman di lingkungan seperti itu? Bagaimana mereka bisa sama sekali tidak bereaksi terhadap lingkungan seperti itu? Apa yang terjadi di sana? Apa penyebab dari lingkungan yang dikelola dengan buruk? Jika Aku pergi sesekali ke suatu tempat dan memberi tahu mereka sebelumnya, mereka akan membuatnya sangat bersih dan rapi, tetapi mereka akan berhenti membersihkannya jika Aku sering pergi ke sana. Mereka berkata, "Engkau sering kemari, cukuplah dengan formalitasnya. Beginilah kami sebenarnya. Melelahkan jika harus membersihkan sepanjang waktu! Siapa yang punya tenaga? Kami sangat sibuk dengan pekerjaan sepanjang hari, kami bahkan tidak punya waktu untuk menyisir rambut!" Seperti itulah, mereka membenarkan tindakan mereka. Apa lagi pembenaran mereka? "Ini semua sementara. Kita tidak perlu menatanya dengan sempurna. Seperti ini pun tidak masalah." Memang semuanya bersifat sementara, tetapi bahkan jika engkau tinggal di tenda, engkau tetap harus merawatnya, bukan? Itulah kemanusiaan yang normal. Jika engkau bahkan tidak memiliki sedikit kemanusiaan yang normal itu, apa bedanya engkau dengan binatang buas?
Ada satu gereja di rumah Tuhan yang lokasinya cukup bagus, dekat dengan pegunungan dan sumber air. Di sana sudah dibangun jalan, dan pepohonan berjejer di sepanjang tepi sungai di dekatnya. Bahkan ada juga gazebo, dengan batu-batu hias di sebelahnya. Itu sungguh indah. Suatu hari, Aku melihat dari kejauhan, ada sesuatu yang kecil berwarna kuning di jalanan yang bersih itu. Saat mendekatinya, Aku melihat bahwa itu adalah kulit jeruk. Tidak ada yang tahu siapa yang sudah dengan santai membuang sampahnya di sana. Di gazebo pun, yang biasanya juga bersih, seseorang sudah makan biji bunga matahari dan membuang kulitnya di seluruh lantai. Katakan pada-Ku, apakah orang itu adalah orang yang tahu aturan? Dalam kemanusiaan yang normal, apakah ada standar yang dituntut untuk kebersihan dan lingkungan, atau tidak ada? Ada orang-orang yang mungkin berkata, "Dalam hal apa aku tidak memiliki standar? Aku mencuci kakiku setiap sore. Ada orang-orang yang tidak melakukannya. Ada orang-orang yang bahkan tidak mencuci muka ketika mereka bangun di pagi hari." Baiklah, kakimu mungkin bersih, tetapi mengapa lingkungan kerjamu seperti kandang babi? Apa arti dari kebersihanmu itu? Bahkan, itu malah menunjukkan bahwa engkau sangat egois. Semua hal ingin kau atur. Bagaimana engkau bisa menjadi tuan atas segala hal, jika engkau bahkan tidak bisa mengelola satu kompleks perumahan? Sungguh tidak tahu malu! Bukan hanya lingkungan mereka yang tidak bisa mereka kelola, mereka bahkan tidak bisa mengelola kebersihan mereka sendiri, dan membuang sampah sembarangan di tanah. Bagaimana mereka mendapatkan kebiasaan seperti ini? Mereka mungkin membenarkan diri saat membuang kulit buah di tanah dengan menyebutnya kompos. Kalau begitu, mengapa tidak menempatkannya di tumpukan kompos atau di tempat sampah? Mengapa membuangnya di jalanan atau di gazebo itu? Apakah gazebo itu tempatnya untuk menyimpan kompos? Bukankah itu mengabaikan aturan? (Ya.) Itu adalah kurangnya kemanusiaan, akal sehat, dan moral yang parah, mereka adalah orang-orang yang hina! Katakan pada-Ku, apakah ada cara untuk menyelesaikan masalah ini? Bagaimana ini bisa dihentikan? Apakah akan berhasil dengan pengawasan? Siapa yang bisa mengawasinya? Apa yang harus dilakukan? (Denda mereka.) Ya, itu upaya terakhir. Sistem yang tepat harus diterapkan. Tidak ada lagi yang bebas dari hukuman. Orang-orang ini benar-benar berengsek. Kelakuan mereka tidak bisa diperbaiki! Di beberapa tempat, ada kardus-kardus lapuk, papan-papan lapuk, dan sobekan kertas berserakan di mana-mana, dan orang-orang di sana mengatakan bahwa mereka menyimpannya untuk digunakan nanti. Mengingat barang-barang itu berguna, mengapa tidak menyortirnya menurut jenisnya ke dalam tumpukan yang rapi? Bukankah akan terlihat lebih baik dan memakan lebih sedikit tempat? Kebanyakan orang tidak tahu cara mengelola. Barang-barang di tempat mereka bertumpukan dan terserak di mana-mana, hingga tidak ada lagi ruang kosong. Tumpukan makin berantakan seiring bertambahnya barang, dan bersama kekacauan muncullah kotoran, hingga tempat itu menjadi tempat pembuangan sampah, menjijikkan bagi semua orang yang melihatnya. Apakah orang-orang yang tinggal di lingkungan seperti itu memiliki kemanusiaan yang normal? Apakah mereka orang-orang yang berkualitas, jika mereka bahkan tidak bisa menjaga lingkungan tempat mereka tinggal? Apa perbedaan antara orang-orang seperti itu dan binatang buas? Sebagian alasan mengapa kebanyakan orang tidak tahu cara mengelola tempat mereka tinggal adalah karena tidak seorang pun punya kesadaran akan kebersihan, juga tidak ada seorang pun yang tahu cara mengelola lingkungan mereka. Hal-hal ini tidak terlintas dalam pikiran mereka, dan mereka tidak tahu seperti apa seharusnya lingkungan tempat tinggal itu. Mereka seperti binatang, tidak sadar akan seperti apa seharusnya lingkungan tempat mereka tinggal. Sebagian lain berkaitan dengan para pengelola yang tidak tahu bagaimana mengelola hal-hal ini. Para pengelola tidak tahu bagaimana mengelola hal-hal ini, dan mereka yang dikelola tidak proaktif atau sadar akan hal-hal ini. Pada akhirnya, dengan "kerja sama" semua orang, tempat itu berubah menjadi "kandang babi". Ketika orang-orang ini berada di suatu tempat untuk sementara waktu, Aku meninggalkan tempat ini dengan suatu perasaan: "Mengapa tempat ini tidak pernah bersih? Mengapa tempat ini tidak pernah kelihatan seperti rumah?" Katakan pada-Ku, apakah melihat tempat seperti itu bisa membangkitkan suasana hati orang? (Tidak.) Apakah pergi ke sana akan membuat suasana hati kalian bagus? (Kami tidak akan merasakan apa-apa.) Itulah respons kalian yang sebenarnya, tidak merasakan apa-apa. Aku menyusun rencana untuk beberapa tempat itu, dan ketika pekerjaan sudah selesai dilakukan dan segala sesuatunya sudah diatur ulang, semua orang menikmati pemandangannya. Namun beberapa hari kemudian, segalanya berantakan lagi. Aku harus mencari orang yang cocok untuk mengelola tugas itu, jika kebersihan hendak dipertahankan. Itu karena kebanyakan orang benar-benar tidak tahu kebersihan, membuat kekacauan dalam pekerjaan apa pun yang mereka lakukan. Ada orang-orang yang memetik sayuran dan tidak tahu tempat yang tepat untuk mencucinya. Mereka bersikeras mencari tempat yang bersih untuk mencucinya, yang akibatnya membuat tempat itu kotor lagi. Bagaimana perasaanmu melihat itu? Bukankah orang-orang ini sekawanan binatang liar? Mereka tidak punya kemanusiaan! Melihat orang-orang ini, yang tidak peduli akan kebersihan dan tidak tahu cara mengelola lingkungan mereka, itu akan membangkitkan amarahmu! Orang-orang ini diberi lingkungan yang baik untuk ditinggali, segala sesuatunya diatur dengan baik. Segala macam bunga dan rumput bermekaran di musim semi; ada pegunungan, sumber air, gazebo; mereka punya tempat untuk bekerja, tempat untuk tinggal, dan segala macam fasilitas. Betapa baiknya! Namun, bagaimana akhirnya? Mereka menganggap remeh hal itu; mereka tidak menghargai kebaikan itu. Mereka berpikir, "Ini adalah tempat yang lebih indah daripada kebanyakan tempat lain, tetapi kurang lebih tetap saja pedesaan. Di tanahnya tidak ada apa-apa selain rumput dan lumpur." Dengan pola pikir seperti itu, mereka tanpa pikir panjang mengotori tempat itu. Mereka tidak berpikir untuk mengelola lingkungan mereka. Betapa banyak hal yang hilang dari kemanusiaan seperti itu! Orang-orang itu tidak memiliki hal-hal yang seharusnya dimiliki kemanusiaan; mereka bahkan tidak dapat menjaga berbagai aspek lingkungan hidup mereka dengan cara yang paling mendasar. Katakan pada-Ku, bagaimana mungkin orang tidak terpikir untuk menghargai lingkungan yang begitu indah yang mereka tinggali? Bagaimana mungkin mereka tidak terpikir untuk memeliharanya? Mengapa? Apakah mereka begitu sibuk dengan tugas mereka hingga mereka tidak punya waktu? Atau apa lagi yang terjadi dengan mereka? Apakah ada orang yang tidak sibuk dengan tugasnya? Ada orang-orang yang tinggal di lingkungan yang lebih buruk daripadamu, tetapi mereka memelihara tempat mereka dengan cukup baik. Orang lain melihatnya dan memberi acungan jempol, mengagumi dan menghargai mereka. Lalu, ada lingkungan tempat kalian tinggal, orang-orang bahkan tidak perlu masuk ke dalam; mereka akan mencemoohmu hanya dengan melihat bagian luarnya. Bukankah itu perbuatanmu sendiri? Tindakan dan perilakumu sudah membuat lingkungan tempat tinggalmu itu kumuh dan menyedihkan. Ketika orang melihat lingkungan tempat tinggalmu, itu sama halnya dengan melihat esensimu. Lalu, dapatkah engkau menyalahkan mereka karena mencemoohmu? Apakah seseorang itu luhur atau rendah, mulia atau hina, tidak ditentukan oleh penilaian orang lain, melainkan oleh apa yang mereka jalani sendiri. Jika engkau memiliki hal-hal dari kemanusiaan yang normal, engkau dapat benar-benar hidup dalam keserupaan dengan manusia. Engkau akan mampu menunjukkan kualitasmu yang mulia, dan orang lain akan otomatis menghargai dan menghormatimu. Jika engkau tidak memiliki hal-hal itu, dan engkau tidak mengerti kebersihan yang rasional, engkau juga tidak tahu bagaimana memelihara lingkunganmu serta menjalani hari-harimu di "kandang babi" dan merasa cukup puas dengannya, itu menyingkapkan kualitasmu yang seperti binatang liar. Itu berarti engkau rendah dan hina. Orang yang rendah dan hina seperti itu, dengan kemanusiaan yang rendah dan hina seperti itu, tanpa sedikit pun pemikiran, pandangan, keharusan, dan pengejaran yang semestinya dimiliki oleh kemanusiaan yang normal, tanpa satu pun dari hal-hal itu, dapatkah orang seperti itu memahami kebenaran? Bisakah mereka memasuki kenyataan kebenaran? (Tidak.) Kalian semua juga berpendapat bahwa mereka tidak bisa memasuki kenyataan tersebut? Mengapa tidak? Ada orang-orang yang akan mengatakan, "Kami sudah lama menjauhkan diri dari semua hal duniawi itu selama kami bertahun-tahun percaya kepada Tuhan. Kami tidak peduli dengan hal-hal itu! 'Menjalani hidup yang berkualitas' itu adalah hal duniawi!" Bukankah ada orang-orang yang mengatakan ini? Lalu, apakah udara yang engkau hirup adalah hal duniawi? Pakaian yang engkau kenakan, semua barang materi yang engkau gunakan, bukankah itu semua barang-barang duniawi? Mengapa engkau tidak mencari di tempat terbuka saja untuk berkumpul? Mengapa berkumpul dalam sebuah ruangan? Bukankah orang-orang yang mengatakan ini tidak masuk akal? Aku akan memberitahumu sebuah fakta: Jika orang seperti itu ingin memasuki kenyataan kebenaran, itu akan sulit bagi mereka. Jika orang ingin memasuki kenyataan kebenaran, mereka harus terlebih dahulu memiliki kemanusiaan yang normal; terlebih dari itu, mereka harus membuang kebiasaan-kebiasaan buruk itu dari hidup mereka, demi mengejar suatu cara dan tujuan dalam hidup yang memiliki kualitas, tata krama, dan moralitas. Apakah ini cara yang tepat untuk mengatakannya? Baiklah, apakah masalah-masalah ini mudah diperbaiki? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengubah gaya hidup seseorang dan membuang kebiasaan buruk dalam hidupnya? Cara seperti apa yang harus digunakan untuk mengubah kebiasaan ini secepat mungkin? Cara bagaimanakah yang ada, selain dari hukuman? (Pengawasan bersama.) Salah satu caranya adalah pengawasan bersama; itu tergantung penerimaan masing-masing orang. Dari apa yang Aku lihat, mengenakan denda adalah langkah yang ampuh, dan benar-benar efektif. Begitu engkau menyinggung denda tunai, engkau menyangkutkan kepentingan orang. Mereka tidak punya pilihan selain mematuhinya, karena takut kepentingan mereka akan dirugikan. Itulah yang dicapai dengan pengenaan denda. Namun, mengapa tidak ada yang dicapai oleh mempersekutukan kebenaran dengan orang-orang itu? Karena mereka tidak memiliki kemanusiaan yang normal, atau syarat-syarat yang diperlukan untuk menerima kebenaran. Itulah sebabnya mempersekutukan kebenaran merupakan cara yang tidak efektif untuk mereka. Di lingkungan kerja mana pun, pertama-tama belajarlah untuk memilah barang-barang berdasarkan jenisnya. Kedua untuk menjaga kerapian. Ketiga, untuk menjaga kebersihan dan higienitas, lalu yang terpenting, menanamkan kebiasaan untuk membuang sampah. Itulah yang seharusnya dimiliki oleh kemanusiaan yang normal.
Ada wanita-wanita yang menyisir rambut dan pergi ke luar, tanpa terlebih dahulu menyapu helaian rambut yang jatuh. Mereka melakukan ini setiap hari. Bisakah kebiasaan seperti ini berubah? Ketika engkau selesai menyisir rambutmu, engkau harus segera membersihkan dan merapikannya. Jangan biarkan orang lain membersihkannya, kelola lingkunganmu sendiri dengan baik. Jika engkau ingin mengelola lingkunganmu dengan baik, engkau harus memulainya dari dirimu sendiri. Bersihkan tempatmu sendiri terlebih dahulu. Selain itu, orang harus memikirkan kepentingan umum lingkungan yang mereka huni. Misalnya, tanggung jawab harus dipikul oleh semua orang untuk mengelola tempat di mana mereka tinggal dan beristirahat. Jika engkau melihat potongan kulit jeruk di tanah, ambil saja dan buang ke tempat sampah. Di beberapa tempat kerja, ada serpihan kayu, serutan kayu, batang besi, dan paku di mana-mana saat pekerjaan sudah selesai. Pergilah ke sana, dan lihat rasakan betapa mudahnya paku terinjak jika engkau tidak berhati-hati. Itu sangat berbahaya. Mengapa mereka tidak membereskan dan membuat semuanya bersih sesudah mereka menyelesaikan pekerjaan mereka? Kebiasaan buruk macam apa itu? Dengan berbuat seperti itu, apakah mereka bisa menjelaskannya? Bagaimana anggapan orang melihat tempat kerja yang berantakan dan kotor seperti itu? Bukankah begitu cara binatang liar melakukan pekerjaannya? Orang-orang yang berkemanusiaan harus membersihkan segala sesuatunya dengan baik seusai mereka bekerja, dan dengan sekilas orang lain akan tahu bahwa pekerjaan itu dilakukan oleh manusia. Binatang liar tidak membersihkan sesudah mereka selesai bekerja, seolah-olah membersihkan bukan tugas mereka dan tidak ada hubungannya dengan mereka. Logika macam apa itu? Aku telah melihat banyak orang yang tidak membersihkan tempatnya sesudah mereka bekerja. Mereka semua memiliki kebiasaan buruk ini. Aku sudah memberi tahu mereka tentangnya setiap hari, bahwa seusai bekerja, mereka harus meminta seseorang untuk membersihkan semua sampah. Bersihkan setiap hari. Dengan demikian, tempat itu akan bersih. Mereka harus mengembangkan kebiasaan seperti itu. Untuk mengembangkan sebuah kebiasaan hidup, orang harus memulai dengan memelihara lingkungan, kemudian menunggu hingga terbiasa dengannya. Kemudian suatu hari, ketika lingkungan itu berubah, mereka sendiri akan merasa tidak nyaman melihat ada sesuatu yang tidak bersih. Sama halnya dengan orang-orang yang sudah tinggal di luar negeri selama tiga atau lima tahun, yang menganggap semuanya lebih baik di sana. Tiba saatnya mereka kembali ke kampung halaman, dan mereka merasa bahwa mereka tiba-tiba sudah menjadi lebih keren. Mereka memandang dengan cemooh pada orang-orang lain yang tidak peduli dengan kebersihan, pada orang-orang yang rumahnya tidak bersih. Mereka bahkan tidak tahan tidak mandi selama beberapa hari. Bukankah lingkungan mereka yang mengajarkan ini? Begitulah cara kerjanya. Jadi, engkau harus mulai dengan mengelola kebersihan dirimu sendiri dan lingkunganmu. Itulah cara agar engkau nyaman dalam melaksanakan tugasmu; itulah juga yang seharusnya dimiliki oleh seorang yang berkemanusiaan normal. Di beberapa tempat yang pernah Aku kunjungi, Aku melihat kamar para gadis yang benar-benar berantakan, kacau. Ada orang-orang yang mungkin mengatakan, "Engkau ingin kami rapi; apakah cara melakukannya harus seperti cara yang dilakukan di kamp pelatihan?" Tidak perlu sebegitunya. Rapikan tempat tidurmu dan bersihkan kamarmu setiap hari. Jagalah kebersihan. Biasakanlah itu. Jika engkau melakukan hal-hal ini setiap hari, dan itu menjadi kebiasaan, sebuah norma, otomatis seperti halnya makan, maka engkau telah mengembangkan kebiasaan hidup sehari-hari ini, dan keharusanmu terhadap lingkunganmu akan berstandar tinggi. Lalu, ketika engkau sudah mencapai standar yang tinggi itu, seluruh sikapmu, pandangan mentalmu, seleramu, kemanusiaanmu, dan martabatmu semuanya akan menjadi tinggi. Namun, jika engkau tinggal di "kandang babi", tempat yang bukan untuk manusia, melainkan lebih seperti liang binatang liar, engkau tidak memiliki keserupaan dengan manusia. Misalnya saat memasuki sebuah ruangan, ada orang-orang yang ketika melihat bahwa ruangan dan lantainya bersih, akan mengebaskan kotoran dari sepatu mereka sebentar di luar. Mereka akan masih merasa kurang bersih, jadi mereka akan melepaskan sepatu sebelum memasuki ruangan. Ketika pemilik ruangan melihat betapa bersih dan hormatnya orang itu kepadanya, dia akan menghormati orang itu juga. Orang-orang lain akan masuk saja, dengan sepatu berlumuran lumpur, dan tidak terpikir oleh mereka bahwa itu akan mengotori lantainya dengan lumpur. Mereka sama sekali tidak berperasaan terhadapnya. Pemilik ruangan melihat bahwa mereka pada dasarnya tidak mengindahkan aturan. Dia berpandangan buruk terhadap mereka, dan karenanya, dia mencemooh mereka, juga tidak akan membiarkan mereka masuk ke ruangan itu di masa mendatang. Dia akan membuat mereka menunggu di luar, dan inilah yang akan tersirat: "Engkau tidak pantas masuk ke dalam, engkau akan mengotori tempat ini jika engkau masuk, dan berapa lama waktu yang harus kuhabiskan untuk membersihkannya!" Dia tidak akan menghormati mereka. Ketika dia melihat bahwa mereka tidak memiliki keserupaan dengan manusia, dia bahkan tidak akan menghormati mereka. Jika kehidupan orang sampai pada tahap ini, apakah mereka bahkan masih bisa dianggap seperti manusia? Binatang piaraan saja lebih baik daripada mereka. Jadi, orang harus hidup dalam keserupaan dengan manusia agar dapat disebut manusia, dan mereka harus memiliki kemanusiaan yang normal agar dapat hidup dalam keserupaan dengan manusia. Di mana pun orang tinggal, apa pun tugas yang mereka laksanakan, mereka harus mematuhi aturan. Mereka harus memelihara tempat dan kebersihan, dan memiliki rasa tanggung jawab, serta memiliki kebiasaan hidup yang baik. Mereka harus penuh perhatian dan serius dalam semua yang mereka lakukan, juga mempertahankannya sampai mereka menyelesaikannya dengan baik dan sesuai standar. Dengan demikian, orang akan melihat dari pelaksanaan tugasmu serta caramu berhubungan dengan orang lain dan segala hal, bahwa engkau jujur dan lurus, seorang yang baik. Mereka akan merasa kagum kepadamu, dan mereka secara alami tentunya akan menghormatimu. Mereka akan menghargai dan menyeganimu juga, sehingga mereka tidak akan mempermainkanmu atau merundungmu. Mereka akan berbicara kepadamu dengan cara yang serius, tanpa ejekan atau hinaan. Aku tidak tahu bagaimana orang memandang penampilan-Ku, tetapi Aku merasa, ketika Aku bertemu dengan kebanyakan orang, mereka tidak membuat lelucon atau berbicara sembrono. Aku tidak tahu mengapa begitu. Mungkin orang merasa, "Engkau memang orangnya serius, dan Engkau juga tidak main-main dalam perkataan dan tindakan-Mu. Engkau orang yang baik; Aku tidak akan berani berkelakar saat berinteraksi dengan-Mu. Dari awal bertemu pun, sudah jelas bahwa Engkau bukan tipe orang yang seperti itu." Jika, saat engkau pergi ke suatu tempat dan berbicara dengan orang-orang, mengobrol dengan orang-orang, berinteraksi dengan orang-orang, mereka merasa bahwa ada sesuatu di dalam kemanusiaan dan moralitasmu. Mereka mungkin tidak dapat mengutarakan dengan jelas apa yang mereka rasakan terhadapmu, tetapi engkau akan tahu apa yang engkau pikirkan setiap hari, dan engkau akan selalu memiliki prinsip dan standar mengenai caramu memandang segala sesuatu dan terlibat dengan orang-orang. Jika begitu caramu terlibat dan berinteraksi dengan orang-orang, maka mereka akan mengatakan bahwa engkau sangat bijaksana, sangat serius dan bijaksana dalam semua yang engkau lakukan, artinya engkau sangat berprinsip. Perasaan apakah yang pada akhirnya akan ditimbulkan oleh hal ini kepada mereka? Renungkanlah itu perlahan-lahan. Jika perilakumu diperlengkapi dengan hal-hal yang seharusnya dimiliki oleh mereka yang berkemanusiaan normal, penilaian orang terhadapmu tidak lagi menjadi sebuah permasalahan, bahkan ketika mereka menilaimu tanpa sepengetahuanmu. Jika mereka merasa, dalam lubuk hati mereka, bahwa engkau adalah seorang yang lurus, bijaksana, seorang yang bersikap serius, bertanggung jawab terhadap semua hal, yang luhur dalam kebajikan, maka saat mereka semakin mengenalmu seiring berjalannya waktu, mereka akan mengakuimu dan menghargaimu. Kemudian, engkau akan menjadi pribadi yang berharga. Jika, sesudah mengenalmu selama beberapa waktu, mereka melihat bahwa engkau tidak melakukan apa pun dengan baik, bahwa engkau malas dan rakus, tidak mau belajar apa pun, bahwa standarmu melampaui kemampuanmu, bahwa engkau cukup tamak dan egois, dan terlebih lagi; bahwa engkau tidak peduli terhadap kebersihan, dan tidak berpikir untuk memelihara lingkunganmu; jika mereka melihat bahwa engkau tidak tahu seluk-beluk apa pun yang engkau lakukan, bahwa engkau memiliki kualitas yang cukup buruk, dan bahwa engkau tidak dapat dipercaya, tidak bisa melakukan tugas apa pun yang diberikan dengan baik, maka engkau akan menjadi orang yang dianggap tidak penting sama sekali oleh orang-orang lain, dan ditolak sebagai pribadi. Menjadi orang yang tidak dianggap penting sama sekali oleh orang-orang bukanlah masalah besar. Secara keseluruhan; yang menjadi masalah adalah jika perbuatanmu hina, rendah, dan tidak berharga di hati Tuhan, seperti binatang liar, tidak memiliki hati atau semangat, maka engkau dalam masalah. Engkau masih sangat jauh dari keselamatan! Bagi siapa pun yang karakternya tidak sesuai standar, yang ucapan dan tindakannya sama sekali tidak sesuai aturan, yang seperti binatang liar, apakah ada harapan baginya untuk diselamatkan? Mereka dalam bahaya, seperti yang Aku lihat. Cepat atau lambat, mereka akan disingkirkan.
C. Sikap dan Perilaku Orang Dalam Hubungan Mereka dengan Lawan Jenis
Butir ketiga kita adalah sikap dan perilaku orang dalam hubungan mereka dengan lawan jenis dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah masalah yang akan dihadapi oleh semua orang yang hidup di antara orang-orang lain, tak peduli usia mereka. Aspek kemanusiaan apakah yang terkait di dalamnya? Ini menyangkut martabat orang, rasa malu orang, dan gaya perilaku orang. Ada orang-orang yang sangat santai dalam memandang hubungan dengan lawan jenis. Mereka merasa bahwa itu bukanlah masalah besar asalkan tidak terjadi apa-apa, juga bukan masalah besar menikmati pikiran mesum atau mengungkapkan gairah yang tak bermoral. Bolehkah seseorang dengan kemanusiaan yang normal memiliki pemikiran seperti itu? Apakah ini tanda kemanusiaan yang normal? Setelah engkau cukup umur untuk menikah dan melakukan kontak dengan lawan jenis, dan ingin menjalin suatu hubungan, lakukanlah secara normal, dan tidak ada seorang pun yang akan ikut campur. Namun, ada orang-orang yang tidak ingin menjalin suatu hubungan—mereka menggoda orang yang menarik perhatian mereka selama beberapa hari, dan begitu mereka bertemu dengan seseorang yang mereka sukai dan sesuai dengan preferensi mereka, mereka mulai pamer. Bagaimana cara mereka pamer? Alis yang terangkat, kedipan mata, atau perubahan nada suara saat mereka berbicara, atau mereka bertingkah dengan cara tertentu atau mulai mengucapkan kata-kata lucu untuk membuat diri mereka diperhatikan; inilah pamer. Ketika seseorang yang biasanya tidak seperti ini menyingkapkan perilaku demikian, engkau dapat pastikan bahwa ada lawan jenis di dekat sana yang sesuai dengan preferensinya. Siapakah orang-orang ini? Engkau bisa katakan bahwa mereka adalah orang-orang yang berperilaku buruk, atau tidak menjaga batasan yang jelas antara laki-laki dan perempuan, tetapi mereka belum menunjukkan perilaku yang tercela. Beberapa orang mungkin berkata bahwa mereka sekadar bersikap genit. Dengan kata lain, mereka berperilaku dengan cara yang tidak bermartabat; orang-orang yang genit tidak memiliki gagasan akan harga diri. Ada orang-orang yang menyingkapkan karakteristik ini dalam kehidupan sehari-hari, tetapi kinerja tugas mereka tidak terpengaruh, dan juga tidak memengaruhi penyelesaian pekerjaan mereka, jadi apakah ini benar-benar sebuah masalah? Beberapa orang berkata: "Asalkan hal ini tidak menghalangi pengejaran mereka akan kebenaran, apakah perlu membahasnya?" Berhubungan dengan apakah hal ini? Ini berhubungan dengan rasa malu dan martabat kemanusiaan seseorang. Kemanusiaan seseorang mustahil tanpa adanya rasa malu dan martabat, dan tanpa keduanya, kemanusiaan mereka tidak dapat dianggap kemanusiaan yang normal. Ada orang-orang yang dapat dipercaya, mereka bersungguh-sungguh, bertanggung jawab, dan bekerja keras dalam segala sesuatu yang mereka lakukan. Mereka tidak memiliki masalah serius, tetapi mereka sama sekali tidak menganggap serius aspek hidup mereka yang ini. Ketika engkau menggoda lawan jenis, apakah itu membangun atau merusak? Bagaimana jika yang engkau goda jatuh cinta kepadamu? Engkau mungkin berkata, "Bukan itu yang aku inginkan"; jika engkau masih menggoda seseorang, padahal bukan itu yang engkau inginkan, bukankah engkau mempermainkan mereka? Engkau menyakiti mereka! Ini sedikit tak bermoral. Orang yang melakukan ini memiliki karakter yang buruk. Selain itu, jika engkau tidak bermaksud menjalani hubungan ini dan tidak serius akan hal tersebut, tetapi engkau masih menaikkan alismu dan mengedipkan mata kepada lawan jenis, dan memamerkan candaan dan humor, melakukan segala hal untuk menunjukkan bahwa engkau memiliki gaya, bahwa engkau tampan atau cantik—jika engkau pamer seperti ini, apakah yang sebenarnya engkau lakukan? (Merayu orang.) Di dalamnya ada niat untuk merayu. Sekarang, apakah tindakan merayu seperti ini adalah hal yang mulia atau buruk? (Itu adalah hal yang buruk.) Inilah di mana tidak ada lagi martabat. Orang macam apakah di dunia ini yang mau merayu orang? Pelacur, perempuan jalang, bajingan—orang-orang ini tidak tahu malu. Apa artinya tidak tahu malu? Artinya mereka tidak peka terhadap aib. Integritas, rasa malu, dan kehormatan, juga martabat dan reputasi—mereka tidak peduli dengan semua itu. Orang-orang seperti ini memamerkan diri dan bersikap genit di mana-mana. Menggoda satu atau dua orang tidak cukup bagi mereka, dan mereka tidak menganggap delapan atau sepuluh orang berlebihan. Butuh beribu-ribu orang untuk membuat mereka bahagia. Beberapa wanita yang sudah menikah telah memiliki dua anak, dan tidak seorang pun di luar rumah yang mengetahuinya. Mengapa mereka tidak membiarkan orang lain tahu? Mereka takut begitu mereka mengatakan bahwa dirinya sudah menikah dan telah menjadi milik seseorang, mereka tidak akan lagi berhasil dalam bujuk rayunya, dan mereka akan kehilangan daya tarik serta daya pikat mereka. Itulah sebabnya mereka tidak mau terbuka akan hal tersebut. Apakah orang-orang seperti itu tidak peka terhadap aib? Apakah kemanusiaan seseorang normal jika hal-hal seperti itu ada di dalamnya? Tidak. Implikasinya adalah jika engkau memiliki kemanusiaan dan perilaku seperti itu, maka engkau tidak memiliki kemanusiaan yang normal; tidak memiliki rasa malu dan martabat. Ada orang-orang yang mulai membelai rambut dan merapikan pakaian mereka begitu mereka berada di dekat lawan jenis, atau mereka akan mengenakan perona pipi dan bedak, berusaha sekuat tenaga mempercantik dirinya. Apa tujuan mereka melakukannya? Tujuan mereka adalah merayu. Ini adalah sesuatu yang seharusnya tidak ada dalam kemanusiaan yang normal. Untuk dapat merayu orang seperti ini dan tidak merasakan apa-apa, menganggap bahwa itu adalah hal yang cukup normal dan biasa, bahwa itu bukan masalah besar, berarti tidak memiliki rasa malu dan bahkan tidak tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Ada orang-orang yang rela berjalan mondar-mandir di jalanan tanpa busana sama sekali jika mereka diberi sepuluh ribu yuan. Orang macam apakah mereka? Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki rasa malu. Mereka akan melakukan apa saja demi uang, tanpa merasa malu. Integritas, karakter, rasa malu, dan martabat tidak berarti apa-apa dan tidak bernilai bagi mereka. Mereka merasa bahwa kemampuan mereka untuk memamerkan diri dan merayu orang lain adalah bakat mereka, dan satu-satunya kegembiraan mereka datang dari memenangkan hati lebih banyak orang dan membuat lebih banyak orang mengejar mereka. Itulah kehormatan tertinggi bagi wanita seperti itu; itulah yang mereka hargai. Mereka tidak menghargai hal-hal seperti martabat, rasa malu, atau karakter. Apakah ini kemanusiaan yang baik? (Tidak.) Pernahkah engkau semua menunjukkan perilaku-perilaku ini? (Pernah.) Lalu, apakah engkau mampu mengendalikannya? Dapatkah engkau mengendalikannya sepanjang waktu, atau hanya sebagian kecil waktu? Apakah engkau memiliki kemampuan untuk mengekang dirimu? Orang-orang yang bisa mengekang diri adalah mereka yang hatinya tahu rasa malu. Setiap orang memiliki saat-saat di mana mereka bersikap impulsif dan tidak bermoral untuk sementara, tetapi ketika mereka yang bisa mengekang diri mengalaminya, mereka merasa bahwa apa yang mereka lakukan itu tidak benar, bahwa itu merendahkan mereka, bahwa mereka harus segera berubah, dan bahwa mereka tidak boleh melakukannya lagi. Kemudian, ketika mereka menghadapi hal seperti itu lagi, mereka mampu mengendalikan diri. Jika tidak ada sedikit pun kapasitas untuk mengekang diri di dalam kemanusiaanmu, maka terhadap apa engkau akan memberontak ketika diminta menerapkan kebenaran? Beberapa orang diberkati dengan wajah rupawan, dan mendapati diri mereka selalu dikejar oleh lawan jenis; makin banyak orang yang mengejar mereka, makin mereka merasa mampu untuk pamer. Bukankah ini berbahaya bagi mereka? Apa yang harus engkau lakukan dalam situasi seperti ini? (Kenali dan hindari batu sandungan ini.) Ini sungguh sebuah batu sandungan yang harus engkau hindari—jika tidak, engkau pasti akan mendapati bahwa seseorang sudah memasang jerat bagimu. Engkau harus menghindari batu sandungan ini sebelum engkau terjerat; inilah yang disebut pengekangan diri. Orang yang memiliki pengekangan diri memiliki rasa malu dan martabat. Mereka yang tidak memilikinya dapat dibujuk oleh siapa pun yang merayu mereka; dan memakan umpan bilamana seseorang mengejar mereka, yang memunculkan masalah. Selain itu, mereka juga akan sengaja pamer, bersolek serta berdandan, dan secara khusus memilih pakaian yang dapat membuat mereka terlihat lebih tampan, lebih menarik dan cantik, dan akan mengenakannya setiap hari; ini berbahaya bagi mereka dan menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang secara sadar berusaha merayu orang lain. Jika engkau kelihatan terlalu mencolok dan menggoda dalam pakaian-pakaian ini, maka engkau harus memberontak terhadap dagingmu dan berhenti mengenakan pakaian seperti itu. Jika engkau memiliki tekad dalam hal ini, maka engkau akan dapat melakukannya. Namun, jika engkau tidak memiliki tekad ini, dan engkau ingin mencari pasangan, maka cari dan temukanlah: berinteraksilah secara normal satu sama lain, tanpa menggoda yang lain. Jika engkau tidak mencari pasangan, tetapi masih menggoda yang lain, ini dapat disebut sebagai tidak tahu malu. Engkau harus jelas akan apa yang engkau pilih. Dapatkah engkau semua mematuhi prinsip-prinsip? (Kami memiliki tekad ini.) Jika engkau memiliki tekad ini, maka engkau memiliki energi, motivasi, dan akan mudah bagimu untuk mematuhinya. Pada dasarnya, beberapa orang naturnya baik, dan terlebih lagi, setelah percaya kepada Tuhan, mereka mengejar kebenaran dan mengambil jalan yang benar, jadi mereka tidak memiliki keinginan itu, dan tidak menanggapi siapa pun yang mencoba menggoda mereka. Beberapa orang cukup rentan akan hal ini, sedangkan yang lain tidak mengindahkannya; beberapa orang terlihat memiliki tekad ini, tetapi bahkan mereka sendiri tidak dapat mengetahui apakah mereka sebenarnya memiliki tekad ini atau tidak. Mengenai interaksi dengan lawan jenis, ini adalah sesuatu yang harus engkau tangani dengan benar dan periksa kembali, dan kenali sebagai bagian dari rasa malu dan martabat kemanusiaan yang normal. Bagaimana tidak adanya rasa malu berhubungan dengan tidak adanya kemanusiaan? Wajar untuk mengatakan bahwa jika orang tidak memiliki rasa malu, maka mereka tidak memiliki kemanusiaan. Mengapa setiap orang yang tidak memiliki kemanusiaan tidak mencintai kebenaran? Mengapa kita mengatakan bahwa orang dapat mengejar kebenaran jika mereka memiliki kemanusiaan? Katakan kepada-Ku, apakah orang-orang yang tidak memiliki rasa malu tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik? (Tidak.) Jadi, ketika mereka melakukan hal-hal buruk yang menentang dan mengkhianati Tuhan serta melanggar kebenaran, apakah mereka merasa diri mereka bersalah? (Tidak.) Dapatkah mereka berada di jalan yang benar jika hati nurani mereka tidak menegur mereka? Dapatkah mereka mengejar kebenaran? Orang-orang yang kurang ajar dan tidak tahu malu itu mati rasa; mereka tidak dapat dengan jelas membedakan hal-hal yang positif dan yang negatif, atau apa yang Tuhan kasihi dan apa yang Dia benci. Jadi, ketika Tuhan berfirman agar manusia jujur, mereka berkata, "Apa masalahnya berkata bohong? Mengatakan kedustaan itu tidak merendahkan!" Bukankah orang yang tidak memiliki rasa malu akan mengatakan sesuatu seperti itu? Jika orang yang memiliki rasa malu gagal untuk jujur dan ketahuan oleh semua orang, apakah wajahnya tidak akan memerah? Bukankah mereka merasa gelisah di dalam hati? (Ya.) Bagaimana dengan orang yang tidak memiliki rasa malu? "Menjadi orang yang jujur, apa yang dipikirkan orang lain, bagaimana orang menilaiku, atau seperti apa bobotku bagi mereka—semua itu tidak penting bagiku!" Mereka tidak peduli. Lalu, apakah mereka masih bisa mengejar kebenaran? Jika sesudah mereka berkata bohong, engkau bertanya kepada mereka apakah mereka merasa gelisah di dalam hati atau apakah mereka merasa menyalahkan diri, mereka akan berkata, "Apa artinya merasa damai? Apa itu menyalahkan diri? Mengapa ini harus begitu merepotkan?" Mereka tidak memiliki kesadaran seperti itu. Dapatkah orang dengan nalar yang tidak sehat seperti itu mengikuti Tuhan? Dapatkah mereka mengejar kebenaran? Mereka tidak mengejarnya. Bagi mereka, tidak ada batasan antara hal-hal yang positif dan yang negatif, antara kebenaran dan apa yang melanggar kebenaran—semuanya sama. Bagaimanapun, mereka berpikir, akan baik-baik saja jika setiap orang melakukan upaya, melaksanakan tugasnya, dan membayar harga. Hal-hal positif tidak ada bedanya dengan hal-hal negatif. Mereka tidak merasa diri mereka bersalah ketika mereka melakukan sesuatu yang menentang Tuhan, ketika mereka melakukan sesuatu yang melanggar prinsip-prinsip kebenaran, ketika mereka melakukan sesuatu yang menyebabkan kerugian bagi kepentingan orang lain, atau ketika mereka melakukan sesuatu yang mengganggu pekerjaan gereja. Mereka sama sekali tidak merasa diri mereka bersalah. Dalam hal ini, bukankah mereka tidak memiliki rasa malu? Orang-orang yang tidak memiliki rasa malu tidak dapat menilai hal-hal seperti itu. Bagi mereka, ini tentang melakukan apa pun yang mereka inginkan. Apa pun boleh dilakukan; tidak perlu menggunakan kebenaran untuk membuat penghakiman. Jadi, orang-orang yang tidak memiliki rasa malu tidak mungkin memahami atau menerapkan kebenaran. Inilah hubungan antara tidak memiliki rasa malu dan tidak memiliki kemanusiaan. Kalau begitu, mengapa engkau semua tidak bisa mengatakan ini? Engkau semua berpikir, "Apa yang sedang Engkau khotbahkan ini tidak banyak hubungannya dengan kebenaran; itu sangat jauh dari kebenaran. Kami biasanya dapat melihat hal-hal ini dengan jelas, jadi apakah kami masih membutuhkan-Mu untuk membahasnya?" Jika engkau semua merasa ini tidak ada hubungannya dengan kebenaran, maka seberapa banyak kenyataan kebenaran yang sudah engkau semua masuki? Apakah engkau semua menjalani kemanusiaan yang normal? Sudahkah engkau semua benar-benar menjadi orang yang memiliki kebenaran dan kemanusiaan? Tingkat pertumbuhan engkau semua terlalu rendah dan bahkan tidak dapat memahami hal-hal ini, jadi kenyataan kebenaran apakah yang mungkin engkau miliki?
Satu dari kesepuluh ketetapan administratif rumah Tuhan mengatakan: Manusia memiliki watak yang rusak dan selain itu, dia memiliki perasaan. Oleh karena itu, sangat dilarang bagi dua orang jemaat yang berlainan jenis kelamin untuk bekerja bersama-sama tanpa didampingi ketika melayani Tuhan. Siapa pun yang ketahuan melakukannya akan diusir, tanpa pengecualian. Bagaimana orang memandang ketetapan administratif ini? Jika seorang pria memiliki hubungan yang tidak pantas dengan lebih dari tiga puluh wanita, katakan pada-Ku, bagaimana perasaan orang-orang yang mendengar hal ini? (Mereka akan tidak percaya.) Engkau akan terkejut mendengarnya; engkau akan terguncang, "Ya ampun, banyak sekali! Itu menjijikkan, bukan?" Apa yang akan dirasakan pria itu ketika dia memberitahukannya kepadamu? (Dia akan bertindak seolah-olah itu tidak penting baginya.) Itu tidak berarti apa-apa baginya. Tanyakan kepadanya apa yang dia makan hari ini: "Nasi." Tanyakan kepadanya berapa banyak wanita yang pernah bersama dia: "Tiga puluh atau lebih." Dia akan mengatakan kedua hal tersebut dengan nada suara dan pola pikir yang persis sama. Adakah keselamatan bagi orang yang memiliki kemanusiaan seperti itu? Tidak ada, bahkan jika dia percaya kepada Tuhan. Bagaimana mungkin dia tidak tahu malu ketika dia mengatakan sesuatu seperti itu? Itu adalah hal yang merendahkan! Lalu, bagaimana dia bisa mengatakannya begitu saja? Katakan pada-Ku, apakah dia masih punya rasa malu? Tidak, dia tidak punya. Persepsi hati nurani dalam kemanusiaannya sudah mati rasa, dan dia sudah kehilangan kepekaan. Ini bukan sekadar masalah kerusakan moral—orang-orang yang tidak punya rasa malu atau martabat bukan lagi manusia. Mereka masih terlihat seperti manusia dari luar, tetapi hancur begitu mereka harus menangani sesuatu. Mereka mampu melakukan apa pun, tanpa mengenal rasa malu, dan itu berarti mereka bukan lagi manusia. Mari kita tutup pembicaraan kita tentang hal ini di sini.
Renungkan ketiga aspek kemanusiaan normal ini yang sudah kita bahas hari ini—apakah ketiganya itu penting? Apakah aspek-aspek kemanusiaan normal ini tidak berhubungan dengan pengejaran kebenaran? (Tidak.) Lalu apa hubungannya dengan pengejaran kebenaran? Jika kemanusiaan dari seseorang yang percaya kepada Tuhan tidak memiliki ketelitian, rasa tanggung jawab, atau kapasitas untuk penuh perhatian dalam tindakannya—jika dia tidak memiliki kemanusiaan seperti itu, lalu apa yang bisa diperolehnya dalam kepercayaan kepada Tuhan dan pengejaran kebenaran? Kita sudah bersekutu tentang beberapa kebenaran selama bertahun-tahun, kebenaran di setiap bidang. Jika orang tidak mengerahkan upaya atau memperlakukan kebenaran ini dengan pola pikir yang cermat, dengan segala sesuatunya dikerjakan asal-asalan dan tidak ada satu pun yang dilakukan dengan cermat, dapatkah mereka mencapai pemahaman tentang kebenaran seperti ini? Ada orang-orang yang berkata, "Jika aku tidak bisa sampai pada pemahaman akan kebenaran, tidak bisakah aku sekadar menghafalkan doktrin dan terminologi ini?" Akankah engkau pada akhirnya dapat memperoleh kebenaran dengan cara ini? Jika engkau tidak memiliki kemanusiaan yang normal seperti ini dan tidak memiliki hal-hal ini di dalam kemanusiaanmu, artinya engkau tidak memiliki sikap yang cermat, teliti, bersungguh-sungguh, dan bertanggung jawab terhadap berbagai hal, maka kebenaran berubah menjadi doktrin dan slogan-slogan bagimu, itu berubah menjadi peraturan. Engkau tidak dapat memperoleh kebenaran karena engkau tidak dapat memahaminya. Selain itu, jika engkau tidak bisa mengelola lingkungan, rutinitas, dan gaya hidup pribadimu dengan baik, akankah engkau bisa memasuki berbagai prinsip dan perkataan yang menyangkut kebenaran? Tidak akan bisa. Terlebih lagi, orang harus mencintai hal-hal positif dalam hidup dan orang harus mempertahankan sikap benci dan jijik di lubuk hatinya terhadap hal-hal yang negatif dan jahat. Inilah satu-satunya cara untuk memasuki beberapa kebenaran. Ini berarti bahwa dalam mengejar kebenaran, engkau harus memiliki sikap yang benar dan kerangka berpikir yang tepat; engkau harus menjadi orang yang lurus dan serius. Hanya orang-orang seperti ini yang dapat memperoleh kebenaran. Jika orang tidak punya rasa malu, dan tetap mati rasa dan tidak menyadari di dalam hatinya ketika mereka sudah melakukan banyak hal jahat, banyak hal yang memberontak terhadap Tuhan dan melanggar kebenaran, menganggapnya bukan masalah besar—apakah kebenaran ada gunanya bagi mereka? Tidak ada gunanya sama sekali. Kebenaran tidak berpengaruh apa pun kepada mereka, dan tidak dapat mengekang mereka, menegur mereka, membimbing mereka, atau menunjukkan arah dan jalan kepada mereka, yang berarti mereka dalam masalah. Bagaimana mungkin orang yang bahkan tidak memiliki rasa malu memahami kebenaran? Agar orang dapat memahami kebenaran, pertama-tama, mereka harus peka terhadap hal-hal positif dan negatif di dalam hatinya. Mereka merasa jijik hanya dengan mendengar atau menjumpai hal-hal yang negatif atau jahat, dan jika mereka sendiri melakukan hal seperti itu, mereka akan merasa malu dan gelisah. Mereka merasakan cinta akan kebenaran dan dapat menerima kebenaran di dalam hatinya; mereka dapat menggunakan kebenaran untuk mengekang diri dan berbalik dari keadaan mereka yang salah. Bukankah ini adalah hal-hal yang seharusnya dimiliki oleh kemanusiaan yang normal? (Ya.) Dengan memiliki hal-hal itu, bukankah menjadi mudah bagi orang untuk mengejar kebenaran? Jika orang tidak memiliki satu pun dari hal-hal ini, maka berbicara tentang mengejar kebenaran hanyalah omong kosong—bagaimana mereka dapat melakukan itu tanpa hal-hal positif di dalam hatinya? Hanya jika kemanusiaan yang normal memiliki hal-hal ini, kebenaran akan berakar, berkembang, dan berbuah di dalam dirimu—baru ketika itulah kebenaran akan memberikan pengaruh. Ketika engkau sudah memahami kebenaran, engkau akan mampu mengubah pemikiranmu dan mengendalikan perilakumu, dan pikiran-pikiranmu yang rusak akan makin berkurang. Inilah perubahan yang benar.
Berapa banyak perwujudan dari kemanusiaan normal yang sudah kita bahas hari ini yang engkau semua miliki? Berapa banyak yang tidak engkau miliki? Apa yang engkau semua miliki? (Rasa malu.) Rasa malu—itu jawaban yang bagus. Rasa malu adalah hal yang setidaknya harus engkau miliki. Apa lagi? Apakah engkau semua memiliki mentalitas dan sikap yang cermat dan teliti sehubungan dengan orang, peristiwa, dan hal-hal? Kulihat bahwa engkau semua ceroboh dalam semua yang engkau lakukan, hanya bersikap lesu dan bermalas-malasan, dan saat Aku melihat hal-hal yang engkau semua lakukan, kecemasan timbul dalam hati-Ku. Dapatkah engkau semua mendeteksi masalah-masalah ini sendiri? Apakah engkau khawatir saat mendeteksinya? (Ya.) Khawatir yang bagaimana? Katakanlah. (Sekarang sesudah aku mendengarkan persekutuan Tuhan, aku merasa bahwa aku tidak memiliki banyak kemanusiaan, dan bahwa aku memiliki mentalitas yang sembrono terhadap tugasku dan peristiwa-peristiwa dalam hidupku. Aku sangat jauh dari standar tuntutan Tuhan. Itu sedikit menakutkan.) Ada terlalu banyak kekurangan dalam kemanusiaanmu, bukan? Engkau merasa bahwa engkau sudah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun dan mendengarkan banyak kebenaran, tetapi engkau bahkan tidak memiliki hal-hal yang paling mendasar dari kemanusiaan—bagaimana mungkin engkau tidak merasa cemas? Ada orang-orang yang memiliki sedikit keterampilan teknis, tetapi semua yang mereka lakukan asal-asalan. Semuanya di bawah standar, tidak sesuai standar, dan mereka tidak memeriksa dengan cermat apa saja metode yang canggih dan yang standar. Bukankah ini pikiran mereka yang terbelakang? Misalnya, suatu kali mereka diminta untuk memasang pintu dan mereka mengatakan, "Di tempat asalku, sebagian besar pintu yang kami miliki adalah pintu berdaun tunggal." Tempat kecil asal mereka tidak menetapkan standar. Mereka seharusnya melihat gaya pintu di gedung-gedung perkantoran dan perumahan di kota-kota besar, kemudian melakukan pekerjaan mereka berdasarkan kenyataan situasi. Namun di sini, mereka membuka mulut dan berkata, "Kami tidak membuat pintu berdaun ganda di kampung halaman, dan tidak ada terlalu banyak orang di sini. Juga tidak akan menjadi masalah besar jika ada banyak orang—mereka masih bisa berhimpitan." Orang lain berkata, "Jika orang-orang masuk dengan berhimpitan dan dalam waktu yang lama, itu akan merusak kusen pintu. Mari kita bicarakan ini. Kali ini buatlah pintu berdaun ganda, sebagai pengecualian, oke?" Kemudian mereka berkata: "Tidak! Aku membuat pintu berdaun tunggal; aku tidak bisa membuat pintu berdaun ganda. Apakah aku yang tahu cara membuatnya, atau engkau? Aku—jadi mengapa engkau tidak mau mendengarkanku tentang hal ini? Engkau harus mendengarkanku!" Mereka diminta untuk bekerja sesuai keadaan, tetapi mereka tidak mau mendengarkan dan bersikeras membuat pintu berukuran kecil. Bukankah ini merepotkan? Ketika diminta untuk memasang partisi kaca antara bagian dalam dan luar agar cahaya masuk dan membuat ruangan tidak terasa sempit, mereka berkata, "Mengapa kita memasang kaca? Itu akan menjadi risiko keamanan, bukan? Aku tidak akan memasang kaca; kedua pintu ini akan berfungsi dengan baik. Ini adalah satu-satunya jenis pintu yang kami gunakan di tempat asalku." Mereka selalu melontarkan kata-kata seperti "tempat asalku", "kampung halaman", "aku sudah belajar hal-hal teknis", untuk menekan orang lain. Apakah hal-hal itu adalah kebenaran? (Bukan.) Mereka mengadopsi sikap seperti itu terhadap hal-hal eksternal, apakah yang kurang dalam kemanusiaan mereka? Rasionalitas. Hal apa, khususnya, yang kurang dalam rasionalitas mereka? Wawasan. Mereka selalu merasa bahwa segala sesuatu di tempat asal mereka itu benar, bahwa semuanya itu adalah yang paling tinggi, bahwa semuanya itu adalah kebenaran. Bukankah rasionalitas mereka buruk? Seperti apa seharusnya rasionalitas yang normal? Dengan rasionalitas yang normal, mereka akan berkata, "Aku sudah menekuni usaha ini selama bertahun-tahun, tetapi aku jarang melihat pintu seperti itu. Beginilah kami semua membuat pintu di tempat asalku, jadi mari kita lihat seberapa besar pintu di sini. Kami akan mengikuti apa yang dilakukan orang-orang di sini. Ini adalah tempat yang berbeda, dan dalam tugas ini, aku harus tetap fleksibel." Bukankah itu rasionalitas? (Ya.) Lalu, apakah orang seperti itu memiliki rasionalitas ini? Tidak, mereka tidak memiliki nalar. Bagaimana hal tersebut ditangani pada akhirnya? Pekerjaan itu harus dikerjakan ulang. Bukankah pengerjaan ulang itu suatu kerugian? (Ya.) Ya, memang. Apakah ada banyak contoh masalah seperti itu? Ada. Orang itu keras kepala, benar-benar keras kepala. Seberapa keras kepala mereka? Mereka tidak mau mendengarkan perkataan siapa pun; mereka bahkan tidak mau mendengarkan apa yang Aku katakan, dan mereka juga menentang-Ku. Aku berkata, "Engkau harus mengubah caramu. Jika engkau tidak mau, ini bukan pekerjaan untukmu." Mereka juga punya nyali untuk berkata, "Aku akan membuat pintu dengan ukuran ini meskipun Engkau tidak membutuhkanku!" Watak apakah itu? Apakah itu kemanusiaan yang normal? (Bukan.) Itu bukan kemanusiaan yang normal—jadi, kemanusiaan macam apa itu? Menurut-Ku, mereka sedikit serupa binatang buas. Sama seperti ketika seekor lembu kehausan: Tidak peduli berapa banyak barang atau orang yang mungkin dibawanya dalam kereta, begitu lembu itu melihat genangan air atau sungai, dia akan langsung menarik kereta itu ke sana. Seberapa banyaknya pun orang, mereka tidak akan dapat menyeretnya pergi dari sana. Ini adalah binatang yang kita bicarakan. Apakah orang juga memiliki watak seperti ini? Ketika mereka memilikinya, itu bukanlah kemanusiaan yang normal, dan itu berbahaya. Mereka akan mencari alasan untuk menyangkalmu, dan berhenti mendengarkan. Mereka begitu keras kepala dan bodoh. Dengan masalah-masalah seperti itu dalam kehidupan sehari-hari, jika engkau tidak memiliki sikap menerima dengan rendah hati, mau menerima pendapat orang lain, jika engkau tidak memiliki sikap mau belajar, bagaimana engkau akan dapat menerima kebenaran? Bagaimana engkau akan dapat menerapkannya? Semua orang mengatakan akan lebih cocok membuat pintu berdaun ganda. Engkau bahkan tidak dapat melakukannya, dan itu sangat jauh dari menerapkan kebenaran—engkau bahkan tidak mau mendengarkan saran yang masuk akal. Mampukah engkau mendengarkan sesuatu yang menyentuh kebenaran? Engkau tidak mau mendengarkan, seperti biasanya. Sesuatu yang menyentuh kebenaran tidak akan sampai kepada orang yang memiliki watak seperti ini, dan itu berarti masalah besar baginya. Jika kemanusiaan orang bahkan tidak memiliki nalar semacam ini, kebenaran apakah yang dapat mereka terapkan? Untuk siapakah mereka melakukan hal-hal yang membuat mereka sibuk setiap hari? Itu dilakukan sepenuhnya sesuai dengan preferensi mereka sendiri, keinginan egois mereka sendiri. Setiap hari, mereka memiliki pandangan seperti ini terhadap orang, peristiwa, dan hal-hal di sekeliling mereka dalam kehidupan sehari-hari: "Aku akan melakukan apa yang aku mau, aku akan melakukan apa yang kupikirkan, dan aku akan melakukan apa yang kuyakini." Disebut apakah ini? Sepanjang hari, semua yang mereka pikirkan sepenuhnya jahat. Jika hati mereka begitu jahat, bagaimana dengan tindakan mereka? Apakah ada orang yang seluruh pikirannya jahat, tetapi seluruh tindakannya masih sejalan dengan kebenaran? Ini tidak benar—ini akan menjadi suatu kontradiksi. Pikiran mereka seluruhnya jahat, dan asal mereka memulainya sepenuhnya jahat, jadi paling tidak hal-hal yang mereka lakukan tidak akan dikenang. Dari hal-hal yang tidak dikenang, ada kekacauan dan gangguan, ada perusakan, sementara yang lain tidak terlalu buruk. Jika hal-hal ini diperlakukan dengan serius, mereka akan harus dikutuk. Begitulah cara kerjanya.
Ada semacam pandangan yang keliru dalam diri sebagian orang, pandangan yang dianggap menjijikkan oleh orang lain. Orang-orang ini memiliki sedikit karunia atau kelebihan, atau mungkin keahlian, kompetensi, atau kemampuan khusus di beberapa bidang, dan sesudah mereka percaya kepada Tuhan, mereka menganggap diri sebagai orang-orang terpandang. Apakah sikap ini benar? Bagaimana pendapatmu mengenai pandangan ini? Apakah itu sesuatu yang merupakan pemikiran dari kemanusiaan yang normal? Bukan. Kalau begitu, gagasan macam apa itu? Bukankah itu tidak bernalar? (Ya.) Mereka percaya, "Aku lebih tinggi dari orang-orang biasa karena aku menguasai keahlian ini, dan aku lebih hebat dari rata-rata orang di rumah tuhan. Aku seorang pria yang memiliki keahlian dan kemampuan, dan aku fasih berbicara dan berbakat. Aku cukup menonjol di rumah tuhan. Aku yang terkemuka. Tidak seorang pun dapat memberiku perintah, tidak seorang pun dapat memimpinku, dan tidak seorang pun dapat memerintahkanku untuk melakukan apa pun. Aku memiliki keterampilan ini, jadi aku akan melakukan apa yang aku mau. Aku tidak perlu memikirkan prinsip-prinsip—apa pun yang aku lakukan adalah benar dan sejalan dengan kebenaran." Bagaimana pendapatmu tentang pandangan ini? Bukankah ada orang-orang yang seperti ini? Orang-orang seperti itu bukanlah minoritas, dan mereka datang ke rumah Tuhan untuk memamerkan diri. Jika mereka menggunakan kelebihan atau keterampilan mereka untuk melaksanakan tugas di rumah Tuhan, itu tidak apa-apa, tetapi jika mereka ingin memamerkan diri, maka itu adalah masalah yang naturnya berbeda. Mengapa disebut "memamerkan diri"? Mereka memandang orang-orang yang percaya kepada Tuhan sebagai orang bodoh, bukan siapa-siapa. Bukankah ada yang salah dengan pemikiran mereka? Apakah tidak ada yang salah dengan rasionalitas mereka? Apakah memang seperti ini keadaan sebenarnya? Apakah orang-orang yang percaya kepada Tuhan benar-benar tidak berharga? (Tidak demikian.) Lalu mengapa orang-orang itu melihatnya seperti itu? Mengapa mereka berpikiran seperti itu? Apa yang menyebabkan pikiran seperti itu? Apakah mereka mempelajarinya dari orang-orang tidak percaya? Mereka menganggap orang-orang yang percaya kepada Tuhan itu bukan siapa-siapa, bahwa mereka semua adalah ibu rumah tangga dan bapak rumah tangga, bahwa mereka semua adalah orang desa, dan bahwa mereka berasal dari lapisan masyarakat bawah. Pandangan mereka adalah pandangan naga merah yang sangat besar. Mereka beranggapan bahwa orang-orang yang percaya kepada Tuhan itu tidak mampu, bahwa mereka tidak dapat sukses dalam masyarakat, dan bahwa mereka datang untuk percaya kepada Tuhan hanya karena tidak ada jalan bagi mereka di luar sana, tidak ada tempat lain untuk dituju. Mereka berpikir bahwa karena mereka memiliki kemampuan, tahu sedikit mengenai profesi, atau memiliki pengetahuan teknis, itu menjadikan mereka orang yang berbakat di rumah Tuhan. Apakah pemikiran itu benar? (Tidak.) Apa yang salah dengan pemikiran itu? Mereka percaya tidak ada orang yang mampu di rumah Tuhan, dan dengan sedikit pengetahuan profesional mereka, mereka ingin memegang kekuasaan dan mengambil keputusan akhir dalam berbagai hal. Adakah orang-orang seperti itu di sana? Adakah orang-orang seperti ini di samping engkau semua, atau di antara orang-orang yang engkau semua kenal atau ketahui? Ada sejumlah orang yang terampil di bidang tertentu, dan ketika engkau meminta mereka bertindak sebagai pemimpin kelompok atau pengawas, mereka merasa seolah-olah sudah mendapatkan jabatan resmi. Mereka merasa bahwa mereka memegang keputusan akhir di rumah Tuhan, bahwa tidak ada satu orang lain pun yang memperhatikan kepentingan rumah Tuhan seperti mereka atau melindungi kepentingan rumah Tuhan lebih dari mereka, dan bahwa tidak ada seorang pun yang sesetia mereka. Mereka ingin mengelola dan berpartisipasi dalam segala hal, tetapi mereka tidak mengelola apa pun dengan baik, mereka juga tidak mencari prinsip kebenaran. Mereka bahkan tidak mendengarkan apa yang Aku katakan. Apakah ada orang-orang seperti itu di sana? (Ya.) Ada orang-orang yang seperti itu. Dengan mengatasnamakan keterampilan tertentu yang mereka miliki, mereka ingin mengelola semua orang dan memegang jabatan. Misalnya, ketika beberapa saudara-saudari melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai, mereka akan berkata, "Kita perlu menangani orang-orang ini—mereka keterlaluan!" Ketika orang-orang yang percaya kepada Tuhan mempunyai masalah, kebenaran harus dipersekutukan dengan mereka. Ini bukanlah kamp tentara di mana kendali militer harus diterapkan. Mengenai masalah-masalah di gereja, persoalan hanya dapat diselesaikan dengan bersekutu tentang firman Tuhan dan membuat orang-orang memahami kebenaran. Mereka yang tidak menerima kebenaran dan bertindak sewenang-wenang dan semaunya dapat dipangkas—hanya mereka yang bersikeras tidak menerima kebenaran yang bisa didisiplinkan. Ada orang-orang yang sudah melayani sebagai pengawas atau sebagai pemimpin dan pekerja yang jelas-jelas tidak memiliki kenyataan kebenaran, tetapi masih selalu ingin memegang kekuasaan dan memberikan keputusan akhir di rumah Tuhan. Apakah orang-orang ini memiliki hati nurani dan nalar? Mereka hanya tahu beberapa keterampilan dan tidak memahami kebenaran sedikit pun. Mereka menganggap diri mereka berguna dan mampu, berpikir bahwa mereka lebih baik daripada kebanyakan orang di rumah Tuhan, dan mereka ingin melakukan apa yang mereka inginkan di gereja dari posisi yang berkuasa—untuk menjadi satu-satunya penentu keputusan. Mereka tidak mencari prinsip-prinsip kebenaran, tetapi bertindak sesuai dengan apa yang mereka inginkan, sesuai dengan preferensi mereka. Apa masalahnya di sini? Bukankah ini watak antikristus? Apakah orang-orang seperti ini memiliki nalar kemanusiaan yang normal? Sedikit pun mereka tidak memilikinya. Kita akan mengakhiri persekutuan kita tentang kemanusiaan yang normal di sini.
Analisis tentang Bagaimana Antikristus Membuat Orang Lain Hanya Tunduk kepada Mereka, Bukan kepada Kebenaran atau Tuhan
III. Analisis tentang Penolakan Antikristus untuk Mengizinkan Orang Lain Ikut Campur, Menanyakan, atau Mengawasi Mereka dalam Pekerjaan Mereka
Kelanjutan dari topik persekutuan kita yang lalu adalah bab kedelapan tentang berbagai perwujudan antikristus: Mereka akan membuat orang lain hanya tunduk kepada mereka, bukan kepada kebenaran atau Tuhan. Kita telah membagi bab ini menjadi empat subbagian. Kita telah membahas dua subbagian dalam pertemuan terakhir kita: yang pertama adalah bahwa mereka tidak mampu bekerja sama dengan siapa pun; yang kedua adalah bahwa mereka memiliki keinginan dan ambisi untuk mengendalikan dan menaklukkan orang lain. Apa yang ketiga? Melarang orang lain ikut campur, menanyakan, atau mengawasi mereka dalam pekerjaan apa pun yang telah mereka lakukan. Apa saja yang mungkin termasuk dalam pekerjaan yang telah mereka lakukan? Ini termasuk program kerja apa pun yang mungkin menjadi tanggung jawab seorang pemimpin atau pekerja, serta pekerjaan yang mungkin menjadi tanggung jawab seorang pengawas kelompok atau pemimpin kelompok; ini juga dapat berupa pekerjaan profesional di beberapa bidang maupun pekerjaan satu orang. Orang yang telah melakukan setiap pekerjaan ini mungkin adalah seorang pemimpin atau pekerja, atau mereka mungkin adalah seorang saudara atau saudari biasa. Jika mereka melarang orang lain untuk ikut campur, menanyakan, atau mengawasi mereka, sedang dalam keadaan apa mereka? Perilaku apa yang berkaitan dengan larangan ini? Ini adalah perilaku lain yang termasuk dalam perwujudan kedelapan antikristus, penyingkapan lain dari esensi mereka. Dalam setiap jenis tugas, ada beberapa pekerjaan yang bersifat profesional dan ada beberapa pekerjaan yang secara langsung melibatkan jalan masuk kehidupan. Pekerjaan profesional melibatkan semua aspek seperti teknik, pengetahuan, pemelajaran, dan personel. Semua ini termasuk di dalamnya. Ada orang-orang yang, setelah menerima suatu pekerjaan, mulai mengerjakannya sendiri. Mereka tidak membahasnya dengan orang lain, dan ketika mereka mengalami kesulitan, mereka tidak ingin mencari pendapat orang lain; mereka hanya ingin menjadi satu-satunya penengah dan penentu keputusan. Orang lain mungkin menawarkan ide dan pendapatnya, berharap dapat sedikit membantu mereka. Namun, apakah mereka menerimanya? (Tidak.) Tidak, mereka tidak dapat menerimanya. Watak macam apa itu? Watak apa yang sedang menguasai mereka sehingga mereka melarang orang lain ikut campur, menanyakan, atau mengawasi pelaksanaan tugas mereka? Mereka percaya, "Aku tahu tentang jenis pekerjaan ini dan aku tahu teorinya. Gereja telah menugaskan pekerjaan ini padaku. Jadi, aku akan mengerjakannya sendiri." Mereka sering mengaku bahwa mereka memahami profesi itu dan mereka adalah orang dalam yang akan membenarkan penolakan untuk mengungkapkan informasi apa pun yang terkait dengan pekerjaan dan kemajuannya. Mereka bahkan tidak ingin memberi tahu orang lain tentang kecerobohan, kekeliruan, atau kecelakaan yang muncul dalam pekerjaan tersebut. Begitu orang lain mengetahui hal-hal seperti itu dan ingin menanyakan, terlibat, atau mencari tahu lebih banyak, mereka tidak mau menjawab, tetapi berkata, "Hal-hal di dalam lingkup pekerjaanku adalah wilayahku. Kau tidak punya hak untuk bertanya. Gereja tidak menugaskan pekerjaan ini padamu, gereja menugaskanku, dan aku harus tetap merahasiakannya." Apakah itu pembenaran yang masuk akal? Bolehkah mereka "merahasiakannya"? (Tidak.) Mengapa tidak? Jika dia bersekutu dengan orang lain tentang keadaan pekerjaan, kecerobohan, dan masalah yang muncul di dalamnya, serta rencana dan arahnya, apakah itu merupakan pelanggaran informasi? (Bukan.) Bukan, kecuali jika itu adalah beberapa perincian tertentu yang akan membawa bahaya keamanan bagi gereja jika dibocorkan, dan jika hal itu tidak pantas untuk diberitahukan kepada orang lain. Dalam kasus-kasus seperti itu, tidak masalah jika tidak mengatakannya. Namun, jika mereka menggunakan rahasia sebagai pembenaran, dan tidak mau memberitahukan orang lain tentang apa pun yang termasuk dalam lingkup pekerjaan mereka, serta menentang dan tidak mau menerima pertanyaan, konsultasi, atau permintaan informasi dari saudara-saudari biasa, para pemimpin, dan pekerja, lantas apa masalahnya? Misalnya, mereka mungkin ingin melakukan sesuatu dengan cara tertentu. Orang lain berkata kepada mereka, "Jika kau melakukannya seperti itu, itu akan menimbulkan kerugian bagi kepentingan rumah Tuhan, dan kau akan keluar jalur. Bagaimana kalau kita melakukannya dengan cara ini saja?" Mereka berpikir, "Jika aku melakukannya seperti yang kaukatakan, itu akan memperlihatkan kepada orang lain bahwa caraku tidak baik, bukan? Kemudian pujian untuk pekerjaan itu akan jatuh kepadamu, bukan? Itu tidak boleh terjadi; aku lebih baik keluar dari jalur daripada mengikuti caramu. Aku harus berpegang pada jalanku. Aku tidak peduli jika itu mendatangkan kerugian bagi kepentingan rumah tuhan; reputasi dan statuskulah yang penting, gengsikulah yang penting!" Sekalipun apa yang mereka lakukan salah, mereka tetap melakukan kesalahan dan tidak akan mengizinkan siapa pun ikut campur. Bukankah itu adalah watak antikristus? (Ya.) Apa esensi dari tidak mengizinkan orang lain ikut campur? Itu artinya menjalankan bisnis mereka sendiri. Kepentingan rumah Tuhan bukanlah sesuatu yang penting bagi mereka dan pekerjaannya bukanlah fokus mereka. Mereka tidak bekerja berdasarkan prinsip itu. Sebaliknya, mereka bekerja dengan berfokus pada kepentingan pribadi, status, dan gengsi mereka; pekerjaan dan kepentingan rumah Tuhan harus berguna bagi status dan kepentingan mereka sendiri. Itulah sebabnya mereka tidak mengizinkan orang lain ikut campur atau menanyakan pekerjaan mereka. Mereka beranggapan bahwa begitu seseorang ikut campur dalam pekerjaan mereka, status dan kepentingan mereka akan terancam, bahwa kekurangan dan kelemahan mereka, serta masalah dan penyimpangan dalam pekerjaan mereka, kemungkinan besar akan tersingkap. Jadi, mereka bersikeras melarang orang lain ikut campur pekerjaan mereka dan mereka tidak menerima kerja sama atau pengawasan dari orang lain.
Apa pun pekerjaan yang dilakukannya, seorang antikristus takut Yang di Atas akan mempelajarinya lebih lanjut dan menanyakannya. Jika Yang di Atas benar-benar menanyakan keadaan pekerjaan atau personel, dia hanya akan memberikan penjelasan secara asal-asalan tentang beberapa hal sepele, beberapa hal yang dia anggap aman untuk diketahui Yang di Atas, yang tidak akan ada konsekuensinya jika diketahui oleh Yang di Atas. Jika Yang di Atas terus menanyakan tentang hal lainnya, dia akan menganggap bahwa Yang di Atas sedang ikut campur dalam tugasnya dan dalam "urusan internal"-nya. Dia tidak akan mengatakan apa pun lagi kepada Yang di Atas, tetapi akan berpura-pura bodoh, menipu, dan menutupi semuanya. Bukankah dia sedang menolak pengawasan rumah Tuhan? (Ya.) Apa yang akan dia lakukan jika seseorang membuka kedok masalahnya dan akan mengungkapkan serta melaporkannya ke Yang di Atas? Dia akan menghalanginya, mencegatnya, dan dia bahkan akan mengancam, "Jika kau mengatakan hal ini dan itu menyebabkan kita dipangkas oleh yang di atas, kesalahannya ada padamu. Jika ada orang yang harus dipangkas, kaulah orangnya!" Bukankah dia sedang mencoba untuk mendirikan kerajaannya sendiri? (Ya.) Dia bahkan tidak akan membiarkan Yang di Atas bertanya, dan tak ada seorang pun yang berhak mengetahui tentang hal-hal yang termasuk dalam lingkup pekerjaannya atau untuk menanyainya tentang hal-hal tersebut, apalagi untuk membuat rekomendasi. Jika dia telah mendapatkan sebuah program kerja, hanya dia yang dapat menjadi penentu keputusan terhadap hal-hal yang termasuk dalam lingkup pekerjaan tersebut; hanya dia yang dapat menengahi; hanya dia yang dapat bertindak dan berbicara sekehendak hatinya, dan dia memiliki pembenaran diri untuk tindakan apa pun. Tindakan apa yang dia lakukan setelah seseorang bertanya? Bersikap asal-asalan dan menutup-nutupi. Dan apa lagi? (Penipuan.) Benar: penipuan. Dia bahkan akan memberimu kesan yang palsu. Di beberapa gereja, misalnya, dalam jangka waktu sebulan, seorang pemimpin atau diaken penginjilan mungkin jelas-jelas hanya mendapatkan tiga orang di gereja yang menjadi tanggung jawab mereka, jauh lebih sedikit daripada di gereja-gereja lain. Dia merasa tidak ada cara untuk menjelaskannya kepada Yang di Atas. Jadi, apa yang dia lakukan? Ketika dia memberikan laporan tentang pekerjaannya, dia menambahkan angka nol setelah angka tiga dan berkata bahwa dia telah mendapatkan tiga puluh orang. Orang lain mengetahui tentang hal ini dan bertanya kepadanya, "Bukankah itu penipuan?" "Penipuan?" katanya. "Kenapa? Itu bukan penipuan jika bulan depan kami mendapatkan tiga puluh orang untuk menebusnya, bukan?" Untuk ini, dia memiliki pembenaran. Jika orang lain menanggapi masalah ini dengan serius dan ingin melaporkan fakta-faktanya kepada Yang di Atas, dia menganggap orang tersebut sedang membuat masalah baginya, bahwa mereka sedang mempersulit dirinya. Jadi, dia akan menekan orang tersebut dan menanganinya. Dia akan membuat masalah bagi orang tersebut. Dalam hal ini, bukankah dia sedang menghukum orang? Bukankah dia sedang melakukan kejahatan? Dia tidak pernah mencari prinsip-prinsip kebenaran dalam pekerjaannya, jadi apa tujuannya dalam melakukan pekerjaan? Tujuannya adalah untuk mengamankan status dan mata pencahariannya. Apa pun hal buruk yang dia lakukan, dia tidak memberi tahu orang-orang tentang maksud dan motif dari apa yang dilakukannya. Dia harus merahasiakannya dengan ketat; hal-hal itu adalah informasi rahasia baginya. Apa topik yang paling sensitif bagi orang-orang semacam ini? Saat engkau bertanya kepada mereka, "Apa yang telah kaulakukan akhir-akhir ini? Apakah pelaksanaan tugasmu sudah membuahkan hasil? Adakah kekacauan atau gangguan di dalam lingkup pekerjaanmu? Bagaimana kau menanganinya? Apakah kau sudah melakukan pekerjaanmu dengan sebagaimana mestinya? Apakah kau telah melaksanakan tugasmu dengan setia? Apakah keputusan kerja yang telah kaubuat menyebabkan kerugian bagi kepentingan rumah Tuhan? Apakah pemimpin yang tidak memenuhi syarat telah diganti? Apakah orang-orang yang berkualitas baik dan yang relatif mengejar kebenaran telah dipromosikan dan dibina? Apakah kau pernah menekan orang-orang yang tidak patuh kepadamu? Pengetahuan apa yang kaumiliki tentang watak rusakmu? Orang macam apakah kau?" Ini adalah topik-topik yang paling sensitif baginya. Ditanya dengan pertanyaan-pertanyaan ini adalah hal yang paling dia takutkan, jadi, bukannya menunggumu untuk bertanya kepadanya, dia akan segera mencari topik lain untuk menutupinya. Dia ingin menyesatkanmu dengan segala cara, menghalangimu agar tidak mengetahui apa situasi yang sebenarnya, sebagaimana adanya. Dia selalu membiarkanmu tidak mengetahui informasinya, selalu menghalangimu agar tidak mengetahui seberapa jauh dia sebenarnya telah menyelesaikan pekerjaannya. Tidak ada sedikit pun transparansi di sana. Apakah orang semacam itu memiliki kepercayaan yang sejati kepada Tuhan? Apakah dia memiliki rasa takut akan Tuhan? Tidak. Dia tidak pernah secara proaktif melaporkan pekerjaannya, dia juga tidak secara proaktif melaporkan kesalahan-kesalahan dalam pekerjaannya; dia tidak pernah bertanya, mencari, atau membuka diri tentang tantangan dan kebingungan yang dia hadapi dalam pekerjaannya, tetapi bertindak sangat jauh sampai berani menutupi hal-hal itu, memperdaya dan menipu orang lain. Sama sekali tidak ada transparansi dalam pekerjaannya, dan hanya ketika Yang di Atas mendesaknya untuk memberikan laporan dan penjelasan yang sebenarnya, barulah dia dengan enggan akan mengatakannya sedikit. Dia lebih memilih mati daripada berbicara tentang masalah apa pun yang melibatkan reputasi dan statusnya. Dia lebih memilih mati daripada mengucapkan sepatah kata pun tentang hal itu. Sebaliknya, dia berpura-pura belum mengerti. Bukankah itu watak antikristus? Orang macam apa ini? Apakah ini sejenis masalah yang diselesaikan dengan mudah? Jika Yang di Atas memberinya bimbingan dalam pekerjaannya, bagaimana sikapnya terhadap hal itu? Asal-asalan. Dia kelihatannya setuju, dan dia bahkan akan mengeluarkan buku catatan atau komputer dan dengan bersemangat membuat catatan, tetapi setelah dia mencatatnya, apakah kemudian dia sudah memahami bimbingan itu dan mulai bekerja? (Tidak.) Dia bergaya agar engkau melihatnya, melakukan sesuatu yang hebat untuk memperdayamu. Apa sebenarnya yang sedang dia pikirkan? "Karena pekerjaan ini telah diberikan kepadaku untuk dilakukan, akulah yang menjadi penentu keputusan. Tak seorang pun boleh ikut campur dengan apa yang ingin kulakukan. 'Pejabat setempat memiliki kendali yang lebih besar dibanding pejabat negara,' jadi aku punya hak ini. Jika tidak, jangan memintaku untuk menangani pekerjaan itu. Pecat saja aku." Inilah yang dia pikirkan, dan beginilah cara dia bertindak. Watak apakah itu? Bukankah itu watak antikristus? (Ya.) Ini berarti masalah. Engkau tidak diizinkan ikut campur atau bertanya, atau menyelidiki dan mengajukan pertanyaan. Dia sangat sensitif terhadap hal itu. Dia berpikir, "Apakah yang di atas sedang berusaha memeriksa masalahku dan memeriksa pekerjaanku? Siapakah yang membocorkan informasi ini?" Dalam kepanikan, dia berusaha sekuat tenaga untuk mencari tahu siapa yang telah membocorkannya. Pada akhirnya, keraguannya mengerucut kepada dua orang, dan dia mengusir kedua orang tersebut. Apa masalahnya? Watak seorang antikristus.
Apa ciri utama dari watak seorang antikristus? Berpegang pada status dan mengendalikan orang lain. Dia memperoleh status agar dapat mengendalikan orang lain. Asalkan dia memiliki status, dia akan mengendalikan orang lain secara sah. Mengapa Kukatakan dia akan melakukannya secara sah? Karena pekerjaannya ditugaskan kepadanya oleh rumah Tuhan; dia dipilih oleh saudara-saudari untuk melakukannya. Dengan demikian, bukankah dia akan merasa bahwa dia melakukannya secara sah? (Ya.) Jadi, ini menjadi sesuatu yang dapat dia manfaatkan. Dengan pemikiran ini, dia berkata, "Engkau semua telah memilihku, bukan? Jika kau memilihku, kau harus percaya kepadaku. Ada pepatah orang-orang tidak percaya: 'Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan.'" Di sini, dia bahkan menggunakan pepatah Iblis. Apakah pepatah ini adalah kebenaran? (Bukan.) Itu adalah ajaran sesat dan kekeliruan Iblis. Jika engkau bertanya tentang pekerjaannya, dia akan mengemukakan teori seperti ini, "'Jangan meragukan orang yang kaupekerjakan, dan jangan mempekerjakan orang yang kauragukan.' Jika kau menggunakanku, kau tidak boleh mencurigaiku. Jika kau tidak tahu orang macam apa aku, jika kau tidak dapat mengetahui yang sebenarnya mengenai diriku, jangan menggunakanku. Namun, kau sedang menggunakanku, dan karena itu, aku harus tetap teguh dalam kedudukan ini. Aku harus menjadi penentu keputusan." Dia harus menjadi penentu keputusan dalam semua urusan pekerjaan; ini tidak akan berhasil jika tidak membiarkannya menjadi penentu keputusan, mencarikan mitra untuknya, atau meminta orang lain untuk mengawasi dan membimbingnya. Jika seseorang datang untuk memeriksa pekerjaannya, dia hanya berkata tidak. Dia merasa bahwa dia tidak melakukan kesalahan apa pun dan tidak perlu diperiksa. Secara hak, dia memanfaatkan status dan otoritasnya untuk mengendalikan orang lain, tempat kerja, dan pekerjaan gereja. Bukankah dia sedang mendirikan kerajaannya sendiri? Bukankah ini seorang antikristus? Rumah Tuhan mungkin meminta dia melakukan pekerjaan ini dan melaksanakan tugas ini, tetapi rumah Tuhan tidak akan mengizinkan dia memegang kekuasaan sebagai seorang diktator. Bukankah orang semacam itu salah paham terhadap maksud Tuhan dan pengaturan rumah-Nya? Mengapa dia selalu mengejar status dan kekuasaan dan bukannya melaksanakan tugasnya dengan baik? (Dia dikendalikan oleh watak antikristus.) Benar. Seperti itulah watak seorang antikristus. Mengapa dia salah paham terhadap gereja ketika gereja mengatur pekerjaan untuknya? Karena pada dasarnya dia suka mengendalikan orang. Itulah esensi naturnya. Itulah dirinya yang sebenarnya. Aturlah pekerjaan untuknya, dan dia akan merasa bahwa sekarang dia memiliki kekuasaan dan status, dan dengan demikian memiliki kendali atas wilayahnya. Jika engkau pergi ke wilayahnya, engkau harus melakukan apa yang dia katakan. Sebagai contoh, rumah Tuhan pernah mengatur seorang pemimpin untuk pergi memeriksa pekerjaan seorang antikristus. Pemimpin dan antikristus tersebut adalah pemimpin gereja, mereka berdua memiliki level yang sama. Antikristus tersebut berkata, "Kau adalah pemimpin gereja, dan aku adalah pemimpin gereja. Level kita sama. Kau tidak mencampuri urusanku, dan aku tidak akan mencampuri urusanmu. Jangan bersekutu denganku, kau tidak punya kedudukan untuk melakukannya! Kau pun ingin bertanya tentang bagaimana keadaan di gereja kita. Apakah yang di atas memerintahkanmu untuk melakukannya? Tunjukkan kepadaku buktinya." Pemimpin tersebut berkata, "Yang di Atas baru saja menyuruhku menyampaikan sebuah pesan. Pergi dan tanyakan kepadanya jika kau tidak percaya kepadaku." Antikristus tersebut menjawab, "Lalu apa yang membuatmu berhak untuk bersekutu denganku dan membuat tuduhan terhadapku? Apa yang memberimu hak untuk bertanya tentang hal-hal yang termasuk dalam pekerjaanku? Engkau tidak memiliki kedudukan untuk melakukannya!" Apakah perkataan ini sesuai dengan kebenaran? (Tidak.) Tindakan macam apa ini? Tindakan yang hanya akan dilakukan oleh seorang antikristus. Ada pepatah di antara orang-orang tidak percaya: "Kekuatan menghasilkan kekuasaan." Dia bersaing untuk melihat siapa yang kedudukannya lebih tinggi, siapa yang kekuatannya lebih besar, siapa yang lebih kompeten. Dia bersaing untuk melihat siapa yang bertanggung jawab atas lebih banyak orang. Di rumah Tuhan, para antikristus bersaing dengan orang lain untuk melihat hal-hal yang sama. Bukankah dia telah datang ke tempat yang salah? Akankah seseorang yang memiliki watak yang rusak, tetapi bukan seorang antikristus, biasanya berpikir dengan cara seperti itu ketika dia bertemu dengan pemimpin gereja yang levelnya sama dengannya? Dia akan memperlihatkan sesuatu, tetapi dia akan mampu bersekutu secara normal. Dia sama sekali tidak akan berkata, "Apakah kau berada dalam kedudukan untuk menanyakan tentang pekerjaanku?" Dia tidak akan mengatakan hal itu karena dia memiliki nalar yang normal dan hati yang takut akan Tuhan. Bagaimana seseorang yang memiliki nalar normal akan berperilaku? Dia akan berpikir, "Tuhan meninggikan kami dengan membiarkan kami memimpin gereja; itu adalah amanat-Nya, dan itu adalah tugas kami. Jika Tuhan tidak menugaskan kami untuk melakukannya, kami tidak akan berarti apa pun. Itu bukan semacam kedudukan resmi. Aku dapat bersekutu denganmu tentang pekerjaan gereja, dan bagaimana keadaan saudara-saudari, dan pengalaman kerjaku." Akankah seorang antikristus bersekutu dengan orang lain tentang hal-hal ini? Tidak. Dia sama sekali tidak akan memperlihatkan. Inilah sebabnya salah satu ciri antikristus adalah keinginan untuk mengejar status dan kekuasaan yang melebihi orang biasa, dan itulah sebabnya selain itu, dia lebih licik dan berbahaya daripada orang biasa. Di manakah kelicikan dan sifat berbahayanya terwujud? (Dia tidak mengatakan apa pun kepadamu. Dia tidak memberitahumu apa pun secara langsung.) Dia merasa bahwa setiap masalah adalah rahasia, sesuatu yang tidak boleh dia bicarakan dengan orang lain. Dalam semua hal, dia bersikap waspada terhadap orang lain; dia menjaga semuanya tertutup, terbungkus, dan tersembunyi. Jadi, dapatkah dia berinteraksi dan berkomunikasi secara normal ketika berurusan dengan orang lain? Dapatkah dia mengatakan apa pun dari hatinya? Tidak. Dia hanya mengucapkan perkataan basa-basi yang dangkal dan kata-kata yang menyenangkan, untuk menghalangimu agar tidak menaksir keadaan dirinya yang sebenarnya. Setelah engkau berinteraksi dengannya selama beberapa waktu, engkau akan merasa, "Dari penampilannya, orang ini kelihatannya tidak jahat, tetapi mengapa aku selalu merasa hatinya begitu jauh dari orang lain? Mengapa selalu canggung untuk berinteraksi dengannya? Aku selalu merasa bahwa dia tidak dapat diselami." Apakah engkau merasakan hal itu? (Ya.) Itulah watak seorang antikristus: dia bersikap waspada terhadap semua orang. Mengapa dia bersikap waspada? Karena menurutnya, siapa pun dapat menjadi ancaman bagi statusnya. Jika dia tidak berhati-hati, jika dia lengah, dia dapat membiarkan orang lain mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi dalam dirinya, jati dirinya yang sebenarnya, dan statusnya pun akan mustahil untuk dipertahankan. Jadi, ketika dia berhadapan dengan seseorang yang menanyakan keadaan pekerjaan dan tugasnya, atau menanyakan keadaan dirinya, dia akan menutupi apa yang dapat dia tutupi dan menyembunyikan apa yang dapat dia sembunyikan. Apa yang tidak dapat dia tutupi, dia akan mencari cara untuk menutupinya, atau dia akan bersembunyi darimu. Beberapa antikristus memiliki watak yang aneh: meskipun mereka hidup di antara orang lain, engkau tidak akan melihat mereka berinteraksi secara normal dengan siapa pun, dan mereka tidak berkomunikasi secara normal dengan orang lain. Setiap hari, mereka menyendiri, muncul saat makan dan menghilang lagi setelahnya. Mereka selalu menghilang. Mengapa mereka tidak berinteraksi dengan orang lain? Mereka akan mengatakan apa saja kepada keluarga mereka, jadi mengapa tidak ada apa pun yang bisa mereka katakan kepada saudara-saudari? Orang-orang tidak percaya memiliki pepatah, "Orang yang banyak bicara, banyak melakukan kesalahan." Orang-orang semacam itu berkomitmen pada prinsip ini; mereka tidak akan membiarkan diri mereka berbicara dengan ceroboh, karena sesuatu yang mereka katakan dapat memperlihatkan diri mereka yang sebenarnya, menyingkapkan kelemahan mereka. Tidak mungkin mengetahui perkataan mana yang dapat membuat orang lain memandang rendah mereka dan memberi tahu orang lain apa sebenarnya yang sedang terjadi pada diri mereka, jadi mereka berusaha sebaik mungkin untuk menghindari orang lain. Apakah menghindarnya mereka ini tidak disengaja, atau ada sesuatu di dalamnya yang mengendalikannya? Ada sesuatu di sana yang mengendalikannya. Apakah hal itu adil dan terhormat, atau mencurigakan? (Mencurigakan.) Tentu saja itu mencurigakan. Ini bukan satu-satunya cara antikristus berperilaku. Pada umumnya, mereka tidak berkomunikasi atau berinteraksi secara normal dengan orang lain; terkadang, mereka sangat fasih berbicara dan mampu berbicara, tetapi hal-hal apa yang mereka bicarakan? Apa pembahasan mereka? Mereka mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin, memamerkan diri mereka sendiri. Mereka berkata bahwa mereka mampu melakukan pekerjaan nyata dan menyelesaikan masalah nyata, padahal sebenarnya mereka tidak memiliki keterampilan nyata apa pun. Tanyakanlah kepada mereka apa kekurangan mereka, apakah mereka memiliki watak yang congkak, dan mereka akan menjawab, "Siapa di antara umat manusia yang rusak yang tidak congkak?" Engkau dapat melihat bahwa kecongkakan mereka pun memiliki dasar. Itu melibatkan semua orang di dalamnya, seolah-olah kecongkakan mereka sangat pantas. Mereka tidak akan pernah mencari kebenaran, dan mereka tampaknya tidak merasa bahwa ada masalah atau kesulitan dalam pekerjaan. Engkau tidak akan menemukan situasi yang sebenarnya dengan bertanya kepada mereka. Ketika tidak ada yang bisa mereka lakukan, mereka hanya akan duduk diam di sana, dan setiap kali mereka berbicara, mereka akan berbicara tentang kualifikasi mereka. Mereka tidak pernah membuka diri; mereka tidak pernah mengatakan pemberontakan atau hasrat berlebihan apa di dalam diri mereka, atau bagaimana mereka berusaha untuk bertransaksi dengan Tuhan, atau kepada siapa mereka telah berbohong, atau apa ambisi mereka ketika melakukan pekerjaan. Mereka tidak pernah mengangkat isu-isu ini, dan ketika orang lain mengangkat isu-isu ini, mereka tidak tertarik. Bahkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyinggung hal-hal dalam lingkup pekerjaan mereka, mereka hanya akan berbicara sedikit dengan sepintas lalu. Singkatnya, siapa pun yang berhubungan dengan mereka, untuk jangka waktu berapa lama pun, akan mengalami kesulitan besar jika ingin mempelajari lebih lanjut tentang apa pun dalam lingkup tugas mereka, baik yang berkaitan dengan personel, penerapan profesional, maupun kemajuan pekerjaan. Apa pun sudut pendekatanmu, entah engkau mencoba menyelipkan pertanyaanmu secara tidak langsung, atau menanyakannya secara langsung, atau menanyakannya kepada seseorang yang dekat dengannya, engkau tidak akan mendapatkan hasil dengan mudah. Itu sangat melelahkan. Bukankah itu licik? (Ya.) Mengapa begitu melelahkan untuk mendapatkan informasi apa pun tentang berbagai hal sebagaimana adanya dari mereka? Mengapa mereka merahasiakan segala sesuatunya dengan begitu rapat? Apa tujuan mereka? Mereka ingin terus mengamankan status dan mata pencaharian mereka. Mereka percaya, "Tidak mudah untuk mendapatkan status ini, untuk sampai ke posisiku yang sekarang. Jika aku mempermalukan diriku sendiri dengan melakukan kesalahan dalam kecerobohan sesaat, bukankah itu masalah bagiku? Lagi pula, jika rumah tuhan mengetahui hal-hal buruk yang telah kulakukan, siapa yang tahu apakah mereka akan menanganiku atau tidak?" Sebanyak apa pun engkau berbicara tentang membuka diri dan menjadi orang yang jujur, serta melaksanakan tugas dengan setia, apakah mereka akan memahaminya? Tidak, tidak akan. Bagi mereka, hanya ada satu keyakinan: orang yang banyak bicara akan menenggelamkan kapal. Jika engkau menceritakan semuanya kepada orang lain, itu berarti engkau tidak kompeten—tidak berguna! Itulah keyakinan mereka. Seperti itulah watak antikristus.
Apa pun pekerjaan yang sedang dilakukannya, seorang antikristus melarang orang lain ikut campur atau menanyakan, dan selain itu, dia melarang rumah Tuhan mengawasinya. Apa tujuannya melakukan hal ini? Dia terutama ingin mengendalikan umat pilihan Tuhan, untuk mengamankan status dan kekuasaannya, yang berarti bahwa dia sedang mengamankan mata pencahariannya. Itulah tujuan utamanya. Jika engkau adalah pemimpin atau pekerja, apakah engkau takut rumah Tuhan akan mengajukan pertanyaan dan mengawasi pekerjaanmu? Apakah engkau takut rumah Tuhan akan menemukan penyimpangan dan kesalahan dalam pekerjaanmu dan memangkasmu? Apakah engkau takut setelah Yang di Atas mengetahui kualitas dan tingkat pertumbuhanmu yang sebenarnya, Dia akan memandangmu secara berbeda dan tidak mempertimbangkanmu untuk dipromosikan? Jika engkau memiliki semua ketakutan ini, terbukti bahwa motivasimu bukanlah demi pekerjaan gereja, engkau sedang bekerja demi reputasi dan status, yang membuktikan bahwa engkau memiliki watak antikristus. Jika engkau memiliki watak antikristus, engkau akan cenderung menempuh jalan antikristus dan melakukan semua kejahatan yang dilakukan oleh antikristus. Jika di dalam hatimu engkau tidak takut rumah Tuhan mengawasi pekerjaanmu, mampu memberikan jawaban yang jujur atas pertanyaan dan pemeriksaan Yang di Atas tanpa menyembunyikan apa pun, serta mengatakan sebanyak yang kauketahui, entah yang kaukatakan itu benar atau salah, kerusakan apa pun yang kauperlihatkan—meskipun engkau memperlihatkan watak antikristus—engkau sama sekali tidak akan dianggap sebagai antikristus. Yang terpenting adalah apakah engkau mampu mengetahui watak antikristus dalam dirimu sendiri, dan apakah engkau mampu mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah ini. Jika engkau adalah orang yang menerima kebenaran, watak antikristus dalam dirimu dapat dibereskan. Jika engkau tahu betul bahwa engkau memiliki watak antikristus, tetapi tidak mencari kebenaran untuk membereskannya; jika engkau bahkan berusaha menyembunyikan atau berbohong tentang masalah yang terjadi dan mengelak dari tanggung jawab; dan jika engkau tidak menerima kebenaran ketika mengalami pemangkasan, ini adalah masalah serius, dan engkau tidak ada bedanya dengan antikristus. Jika engkau tahu bahwa engkau memiliki watak antikristus, mengapa engkau tidak berani menghadapinya? Mengapa engkau tak mampu memperlakukan hal itu dengan jujur dan berkata, "Jika Yang di Atas menanyakan tentang pekerjaanku, aku akan mengatakan semua yang kutahu. Meskipun hal-hal buruk yang telah kulakukan tersingkap, Yang di Atas tidak memakaiku lagi begitu Dia mengetahuinya, dan aku kehilangan statusku, aku akan tetap mengatakan dengan jelas apa yang harus kukatakan"? Ketakutanmu akan pengawasan dan pertanyaan tentang pekerjaanmu di rumah Tuhan membuktikan bahwa engkau lebih menghargai statusmu daripada kebenaran. Bukankah ini watak antikristus? Menghargai status di atas segalanya adalah watak antikristus. Mengapa engkau begitu menghargai status? Apa manfaat yang dapat kauperoleh dari status? Jika status mengakibatkanmu mengalami bencana, kesulitan, rasa malu, dan penderitaan, akankah engkau tetap menghargainya? (Tidak.) Ada begitu banyak manfaat yang berasal dari memiliki status, misalnya orang akan iri terhadapmu, menghormatimu, menghargaimu, dan menyanjungmu, engkau juga akan menerima kekaguman dan penghormatan mereka. Ada juga perasaan memiliki superioritas dan hak istimewa yang diberikan statusmu, yang memberimu kebanggaan dan rasa layak dihargai. Selain itu, engkau juga bisa menikmati hal-hal yang orang lain tidak dapat menikmatinya, seperti manfaat dari statusmu dan perlakuan istimewa. Ini adalah hal-hal yang bahkan tidak berani kaupikirkan, dan yang sudah lama kaurindukan dalam mimpimu. Apakah engkau menghargai hal-hal ini? Jika status hanyalah hal yang hampa, tanpa makna nyata, dan mempertahankannya tidak memiliki tujuan nyata, bukankah bodoh untuk menghargainya? Jika engkau mampu melepaskan hal-hal seperti kepentingan dan kesenangan daging, ketenaran, keuntungan, dan status tidak akan lagi mengikatmu. Jadi, apa yang harus terlebih dahulu kauselesaikan untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan menghargai dan mengejar status? Pertama, ketahuilah natur yang sebenarnya dari masalah berbuat jahat dan menipu, menyembunyikan dan menutupi, serta menolak pengawasan, pertanyaan, dan penyelidikan rumah Tuhan agar dapat menikmati manfaat dari status. Bukankah ini adalah penentangan dan perlawanan yang terang-terangan terhadap Tuhan? Jika engkau mampu mengetahui natur dan konsekuensi yang sebenarnya dari mendambakan manfaat dari status, maka masalah mengejar status akan terselesaikan. Jika engkau tidak dapat mengetahui esensi yang sebenarnya dari mendambakan manfaat status, masalah ini tidak akan pernah terselesaikan.
Apakah engkau semua bermitra untuk melakukan pekerjaan dan melaksanakan tugasmu? Apakah engkau menerima pengawasan? Apakah engkau telah melakukan sesuatu agar orang lain tidak ikut campur atau bertanya? Jika seseorang bertanya, apakah engkau kemudian menolaknya dan berkata, "Kau pikir kau siapa, berani mencampuri urusanku? Statusku setingkat lebih tinggi darimu dan aku yang menjadi penentu keputusan dalam pekerjaanku. Yang di Atas tidak menanyakan, jadi apa yang membuatmu berhak untuk bertanya?" Adakah yang seperti itu? Apa watak utama antikristus? Menempati status dan merebut kekuasaan; tidak melakukan apa pun yang bermanfaat bagi pekerjaan rumah Tuhan dan apa pun yang bermanfaat bagi kepentingan rumah Tuhan, tetapi bersikap asal-asalan, menipu, dan tanpa kesungguhan. Dari luar, mereka tampaknya sangat bersemangat dengan tugas mereka, tetapi lihatlah hal-hal yang mereka lakukan, yang pertama, tidak ada kemajuan; kedua, tidak efisien; dan ketiga, tidak terlalu menghasilkan. Semuanya dibuat menjadi berantakan. Hanya ada satu hal yang tidak mereka lepaskan, yaitu memanfaatkan kesempatan yang diberikan pekerjaan mereka untuk meraih kekuasaan dan tidak melepaskannya. Mereka baik-baik saja selama mereka memiliki kekuasaan. Pekerjaan apa pun yang mereka lakukan, apakah itu berkaitan dengan sebuah profesi, urusan eksternal, keterampilan teknis, atau aspek-aspek lain, tidak ada transparansi di dalam semuanya. Apakah ketiadaan transparansi ini tidak disengaja? Tidak. Apa yang tidak disengaja bukanlah watak, tetapi berkaitan dengan tidak adanya kualitas dan ketidaktahuan tentang cara melakukan pekerjaan. Lalu, mengapa Kukatakan bahwa watak ini adalah watak seorang antikristus? Mereka bertindak dengan sengaja. Mereka memiliki sebuah niat di dalam diri mereka: mereka secara sadar menghalangimu agar tidak mengetahui hal-hal ini, dan secara sadar bersembunyi darimu serta menghindar agar tidak bertemu denganmu. Mereka meminimalkan pembicaraan dan komunikasi mereka denganmu; mereka meminimalkan interaksi mereka denganmu. Mereka mengurangi kontak terhadap hal-hal ini, sehingga engkau tidak akan selalu menyalahkan mereka dan bertanya kepada mereka, sehingga engkau tidak akan tahu terlalu banyak tentang apa yang sebenarnya terjadi, sehingga engkau tidak akan melihat diri mereka yang sebenarnya. Bukankah itu disengaja? Bukankah ada niat di dalamnya? Apa niat dan tujuan mereka? Mereka ingin menipumu, mengelabuimu; mereka memberimu kesan yang salah dan mencegahmu untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Dengan demikian, mereka telah mengamankan status mereka, yang akan menyenangkan mereka. Bukankah itu naturnya? (Ya.) Itulah watak antikristus, secara sadar menipu, mengelabui, dan menutupi segala sesuatu. Semua itu dilakukan secara sadar. Katakan kepada-Ku, program kerja apa yang membuat orang begitu sibuk sehingga mereka tidak punya waktu untuk bertemu dengan orang lain? Tidak ada, bukan? Tidak ada program kerja yang membuat orang begitu sibuk sehingga mereka tidak punya waktu untuk makan atau tidur, juga tidak punya waktu untuk bertemu dengan orang lain. Segala sesuatunya belum sesibuk itu. Waktu untuk melakukan hal-hal tersebut dapat diatur. Jadi, mengapa orang-orang ini tidak punya waktu? Mereka tidak ingin bertemu denganmu; mereka tidak ingin engkau bertanya tentang pekerjaan mereka. Bukankah itu watak seorang antikristus? (Ya.) Orang macam apa mereka? Bukankah mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya? Semua antikristus adalah pengikut yang bukan orang percaya. Jika bukan, mereka tidak akan mengambil alih pekerjaan rumah Tuhan atau mengendalikan orang-orang yang mengikuti Tuhan di bawah kekuasaan mereka sendiri. Mereka tidak akan melakukan hal-hal seperti itu. Perilaku pertama dari pengikut yang bukan orang percaya adalah bahwa mereka sama sekali tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan. Mereka membuat rencana untuk kepentingan mereka sendiri, dengan dalih percaya kepada Tuhan; mereka berani dan ceroboh, sama sekali tidak takut. Kepercayaan mereka kepada Tuhan bukanlah iman yang sejati, melainkan sebuah slogan. Mereka sama sekali tidak memiliki rasa takut akan Tuhan di dalam hati mereka.
Ketika beberapa orang mendengar seseorang bermaksud mengintervensi dan mengawasi pekerjaan mereka, apa sikap mereka? "Pengawasan tidak menjadi masalah. Aku menerima pengawasan. Bertanya juga tidak menjadi masalah, tetapi jika engkau memang benar-benar mengawasiku, aku tidak akan bisa melanjutkan pekerjaanku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Jika engkau selalu menjadi penentu keputusan dan menjadikanku seorang pelaksana, aku tidak akan bisa bekerja. 'Hanya bisa ada satu pria dominan.'" Bukankah ini sebuah teori? Ini adalah teori antikristus. Watak apa yang dimiliki orang yang mengatakan ini? Apakah ini watak seorang antikristus? Apa yang dimaksud dengan "Hanya bisa ada satu pria dominan"? Mereka bahkan tidak akan membiarkan Yang di Atas bertanya. Jika Yang di Atas tidak bertanya, apakah itu berarti engkau tidak melanggar kebenaran dalam bertindak? Akankah engkau melakukan sesuatu yang salah karena ditanya? Akankah Yang di Atas mengacaukan pekerjaanmu? Katakan kepada-Ku, apakah Yang di Atas memberikan bimbingan atas pekerjaan, menanyakan hal itu, dan mengawasinya agar pekerjaan itu dilakukan dengan lebih baik, atau lebih buruk? (Lebih baik.) Jadi, mengapa ada orang-orang yang tidak menerima hasil yang lebih baik itu? (Mereka dikuasai oleh watak antikristus.) Benar. Itu adalah watak antikristus mereka. Mereka tidak mampu menahan diri. Begitu seseorang bertanya tentang pekerjaan yang menjadi tanggung jawab mereka, itu membuat mereka kesal. Mereka merasa bahwa kepentingan mereka akan dibagi-bagi dengan orang lain, sebagaimana status dan kekuasaan mereka. Jadi, mereka merasa tidak nyaman. Mereka merasa bahwa rencana dan prosedur mereka telah menjadi kacau. Apakah mereka akan menerimanya? Jika Yang di Atas mempromosikan seseorang dan meminta orang itu bekerja sama dengan mereka, mereka berpikir, "Aku tidak punya rencana untuk menggunakan orang ini, tetapi yang di atas bersikeras bahwa mereka bagus dan mempromosikan mereka. Aku tidak senang terhadap hal itu. Bagaimana aku akan bekerja sama dengan mereka? Jika yang di atas menggunakan mereka, aku akan berhenti saja!" Mereka berkata seperti itu, tetapi apakah sebenarnya mereka akan mampu melepaskan status mereka? Tidak. Yang sedang mereka lakukan bersifat konfrontasi. Akankah mereka mengizinkan siapa pun melakukan pekerjaan yang mengancam status mereka, pekerjaan yang tidak menonjolkan mereka, pekerjaan yang menyabotase skenario mereka saat ini? Tidak, mereka tidak akan mengizinkannya. Sebagai contoh, ketika Yang di Atas mempromosikan atau mengganti seseorang, apa yang mereka pikirkan? "Ini seperti tamparan di pipiku! Mereka bahkan tidak memberitahuku. Selain itu, aku masih seorang pemimpin. Mengapa mereka tidak mengatakan apa pun kepadaku sebelumnya? Seolah-olah aku tidak penting sama sekali!" Memangnya engkau itu siapa? Apakah itu pekerjaanmu? Pertama, itu bukan wilayahmu, dan kedua, orang-orang ini tidak mengikutimu, jadi untuk apa mereka menganggap dirimu begitu penting? Apakah itu sesuai dengan kebenaran? Kebenaran yang mana? Ada prinsip-prinsip yang digunakan oleh Yang di Atas untuk mempromosikan atau mengganti seseorang. Mengapa Yang di Atas mempromosikan seseorang? Karena orang tersebut dibutuhkan untuk pekerjaan itu. Mengapa Yang di Atas mengganti seseorang? Karena orang tersebut tidak lagi dibutuhkan untuk pekerjaan itu. Dia tidak mampu melakukan pekerjaan itu. Jika engkau tidak menggantinya, dan bahkan tidak membiarkan Yang di Atas melakukannya, bukankah engkau tidak bernalar? (Ya.) Ada orang-orang yang berkata, "Jika yang di atas ingin memberhentikan seseorang, itu akan mempermalukan diriku. Jika mereka bermaksud mengganti seseorang, beritahukan kepadaku secara pribadi, dan aku yang akan melakukannya. Itu adalah tugasku; itu adalah bagian dari tanggung jawabku. Jika aku mengganti mereka, itu akan memperlihatkan kepada semua orang betapa tanggapnya aku terhadap orang, dan bahwa aku mampu melakukan pekerjaan nyata. Sungguh akan menjadi suatu kehormatan!" Apakah engkau semua berpikir seperti ini? Ada orang-orang yang menginginkan reputasi dan harga diri, dan mereka memberikan pembenaran seperti ini. Apakah itu akan berhasil? Apakah itu masuk akal? Di satu sisi, rumah Tuhan melakukan pekerjaannya sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran; di sisi lain, rumah Tuhan bekerja berdasarkan keadaan apa adanya. Tidak ada yang namanya meloncati level kepengawasan, terutama dalam hal promosi dan penggantian oleh Yang di Atas, atau bimbingan dan instruksinya untuk beberapa bidang pekerjaan. Dalam kasus-kasus seperti itu, itu bahkan lebih sedikit hubungannya dengan meloncati level kepengawasan. Jadi, mengapa seorang antikristus mencari-cari "kesalahan" ini? Satu hal yang pasti: Dia tidak memahami kebenaran, jadi dia menilai pekerjaan rumah Tuhan dengan otak manusianya dan proses-proses yang ada di dunia luar. Selain itu, tujuan utamanya tetap melindungi dirinya sendiri dan dia harus memiliki harga dirinya. Dia licik dan lihai dalam semua yang dia lakukan, dia tidak bisa membiarkan orang-orang di bawahnya melihat bahwa dia memiliki cacat atau kekurangan. Sampai sejauh mana dia akan menjaga penampilannya? Sampai orang lain akan melihat dirinya sebagai orang yang sempurna, tanpa kerusakan atau kekurangan. Orang lain akan melihat bahwa Yang di Atas harus menggunakannya dan bahwa saudara-saudari harus memilihnya. Dia adalah orang yang sempurna. Bukankah begitu keadaan yang dia inginkan? Bukankah itu watak seorang antikristus? (Ya.) Ya, itulah watak seorang antikristus.
Persekutuan kita barusan adalah tentang salah satu perilaku utama antikristus: mereka tidak mengizinkan orang lain ikut campur, menanyakan, atau mengawasi mereka dalam pekerjaan mereka. Apa pun pengaturan yang dibuat rumah Tuhan untuk menindaklanjuti pekerjaan mereka, atau mempelajari lebih lanjut tentangnya, atau mengawasinya, mereka akan menggunakan segala macam cara untuk menghalangi dan menolaknya. Sebagai contoh, ketika ada orang-orang yang ditugaskan pada sebuah bidang pekerjaan oleh Yang di Atas, beberapa waktu berlalu tanpa ada kemajuan sama sekali. Mereka tidak memberi tahu Yang di Atas apakah mereka sedang mengerjakannya, atau bagaimana keadaannya, atau apakah ada kesulitan atau masalah yang terjadi. Mereka tidak memberikan umpan balik. Beberapa pekerjaan mendesak dan tidak dapat ditunda, tetapi mereka menunda-nunda, mengulur-ulur untuk waktu yang lama tanpa menyelesaikan pekerjaan tersebut. Yang di Atas kemudian harus mengajukan pertanyaan. Ketika Yang di Atas bertanya, mereka menganggap pertanyaan-pertanyaan itu sangat memalukan, dan mereka menentangnya di dalam hati: "Baru kira-kira sepuluh hari sejak aku ditugaskan pekerjaan ini. Aku bahkan belum mengetahui apa yang harus kulakukan, dan Yang di Atas sudah mulai bertanya. Tuntutan mereka terhadap orang-orang terlalu tinggi!" Lihatlah mereka, mencari-cari kesalahan dari pertanyaan tersebut. Apa masalahnya di sini? Katakan kepada-Ku, bukankah wajar bagi Yang di Atas untuk bertanya? Di satu sisi, Yang di Atas ingin mengetahui lebih banyak tentang keadaan kemajuan pekerjaan, serta kesulitan apa yang masih harus diselesaikan; dan selain itu, Yang di Atas ingin mengetahui lebih banyak tentang seperti apa kualitas orang-orang yang ditugaskan pada pekerjaan tersebut, dan apakah mereka benar-benar mampu menyelesaikan masalah dan melakukan pekerjaan dengan baik. Yang di Atas ingin mengetahui fakta yang sebenarnya, dan sering kali, mereka bertanya dalam keadaan seperti itu. Bukankah itu sesuatu yang seharusnya mereka lakukan? Yang di Atas khawatir bahwa engkau tidak tahu cara menyelesaikan masalah dan tidak mampu menangani pekerjaan itu. Itulah sebabnya Yang di Atas bertanya. Ada orang-orang yang sangat menentang dan tidak suka akan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Mereka tidak mau membiarkan orang lain bertanya, dan selama orang lain bertanya, mereka bersikap menentang dan memiliki sejumlah kecurigaan, selalu berpikir, "Mengapa mereka selalu bertanya dan ingin tahu lebih banyak? Apakah mereka tidak memercayaiku dan memandang rendah diriku? Jika mereka tidak memercayaiku, mereka seharusnya tidak menggunakanku!" Mereka tidak pernah memahami pertanyaan dan pengawasan dari Yang di Atas, tetapi menentangnya. Apakah orang-orang semacam ini memiliki nalar? Mengapa mereka tidak mengizinkan Yang di Atas untuk bertanya dan mengawasi mereka? Selain itu, mengapa mereka bersikap melawan dan menentang? Apa masalahnya di sini? Mereka tidak peduli apakah pelaksanaan tugas mereka efektif atau apakah itu akan menghambat kemajuan pekerjaan. Mereka tidak mencari prinsip-prinsip kebenaran ketika melaksanakan tugas, tetapi melakukan apa pun yang mereka inginkan. Mereka tidak memikirkan hasil atau efisiensi pekerjaan, dan sama sekali tidak memikirkan kepentingan rumah Tuhan, apalagi memikirkan yang Tuhan maksudkan dan tuntut. Pemikiran mereka adalah, "Aku memiliki cara dan kebiasaanku sendiri untuk melaksanakan tugasku. Jangan menuntut terlalu banyak dariku atau menuntut hal-hal yang terlalu terperinci. Sudah cukup bagiku untuk melaksanakan tugasku. Aku tidak boleh terlalu lelah atau terlalu menderita." Mereka tidak memahami pertanyaan dan upaya Yang di Atas untuk mengetahui lebih banyak tentang pekerjaan mereka. Apa yang tidak ada dari kurangnya pemahaman mereka ini? Bukankah tidak adanya ketundukan? Bukankah tidak adanya rasa tanggung jawab? Kesetiaan? Jika mereka benar-benar bertanggung jawab dan setia dalam melaksanakan tugas mereka, apakah mereka akan menolak pertanyaan Yang di Atas tentang pekerjaan mereka? (Tidak.) Mereka akan dapat memahaminya. Jika mereka benar-benar tidak dapat memahaminya, hanya ada satu kemungkinan: mereka memandang tugas mereka sebagai profesi dan mata pencaharian mereka, dan mereka memanfaatkannya, pada saat yang sama menganggap tugas yang mereka laksanakan sebagai syarat dan alat tawar-menawar untuk mendapatkan upah. Mereka hanya akan melakukan sedikit pekerjaan untuk menyelamatkan mukanya agar dilihat oleh Yang di Atas, tanpa ada upaya untuk menjadikan amanat Tuhan sebagai tugas dan kewajiban mereka. Jadi, ketika Yang di Atas bertanya tentang pekerjaan mereka atau mengawasinya, mereka akan masuk ke dalam kerangka berpikir yang menentang dan tidak suka. Bukankah demikian? (Ya.) Dari mana masalah ini berasal? Apa esensinya? Sikap mereka terhadap bidang pekerjaan itu keliru. Mereka hanya memikirkan kesenangan dan kenyamanan daging, status dan harga diri mereka sendiri, bukannya memikirkan efektivitas pekerjaan dan kepentingan rumah Tuhan. Mereka sama sekali tidak berusaha bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Jika mereka benar-benar memiliki sedikit hati nurani dan nalar, mereka akan mampu memahami pertanyaan dan pengawasan Yang di Atas. Mereka akan mampu berkata dari hati, "Untunglah Yang di Atas bertanya. Jika tidak, aku akan selalu bertindak berdasarkan keinginanku sendiri, yang akan menghambat efektivitas pekerjaan, atau bahkan mengacaukannya. Yang di Atas bersekutu dan memeriksa berbagai hal, dan itu benar-benar telah menyelesaikan masalah yang sebenarnya. Betapa bagusnya hal itu!" Ini akan memperlihatkan bahwa mereka adalah orang yang bertanggung jawab. Mereka takut jika mereka melakukan pekerjaan itu sendiri, jika terjadi kesalahan atau kelalaian, dan itu menyebabkan kerugian bagi pekerjaan rumah Tuhan dan tidak akan ada cara untuk memperbaikinya, itu akan menjadi tanggung jawab yang tidak mampu mereka pikul. Bukankah itu rasa tanggung jawab? (Ya.) Itu adalah rasa tanggung jawab, dan itu adalah tanda bahwa mereka sedang memenuhi kesetiaan mereka. Apa yang dipikirkan dalam benak orang-orang yang tidak mengizinkan orang lain bertanya tentang pekerjaan mereka? "Pekerjaan ini adalah urusanku, karena akulah yang ditugaskan. Aku yang menjadi penentu keputusan dalam urusanku sendiri; aku tidak butuh orang lain ikut terlibat!" Mereka mempertimbangkan segala sesuatunya sendiri, dan melakukan apa yang mereka inginkan, seperti yang ditentukan oleh kepribadian mereka. Mereka melakukan apa pun yang akan bermanfaat bagi mereka, dan tak seorang pun diizinkan bertanya tentang sesuatu. Tak seorang pun diizinkan mengetahui keadaan yang sebenarnya. Jika engkau bertanya kepada mereka, "Bagaimana perkembangan tugas itu?" mereka akan menjawab, "Tunggu." Jika kemudian engkau bertanya, "Bagaimana kemajuannya?" mereka akan menjawab, "Hampir selesai." Apa pun yang kautanyakan kepada mereka, mereka hanya akan mengucapkan sepatah atau dua patah kata. Mereka hanya akan mengucapkan beberapa kata pada satu waktu, dan tidak lebih dari itu. Mereka tidak akan memberikan satu kalimat yang akurat dan spesifik. Tidakkah engkau merasa mual berbicara dengan orang-orang semacam ini? Jelas sekali bahwa mereka tidak ingin mengatakan apa-apa lagi kepadamu. Jika engkau mengajukan lebih banyak pertanyaan, mereka menjadi tidak sabar, "Engkau terus bertanya tentang hal kecil itu, seolah-olah aku tidak mampu menyelesaikan sesuatu, seolah-olah aku tidak cakap untuk tugas itu!" Mereka sama sekali enggan mengizinkan orang-orang bertanya. Jika engkau terus menanyai mereka, mereka akan berkata, "Siapa aku bagimu, seekor keledai atau kuda yang dapat diperintah? Jika engkau tidak memercayaiku, jangan gunakan aku; jika engkau menggunakanku, engkau harus memercayaiku, dan memercayaiku berarti engkau seharusnya tidak selalu bertanya!" Inilah jenis sikap yang mereka miliki. Apakah mereka sedang memperlakukan program kerja sebagai tugas yang harus mereka laksanakan? (Tidak.) Para antikristus tidak memperlakukan pekerjaan sebagai tugas mereka, tetapi sebagai alat tawar-menawar untuk memperoleh berkat dan upah. Mereka puas hanya dengan berjerih payah, yang ingin mereka tukarkan dengan berkat. Itulah sebabnya mereka bekerja dengan sikap asal-asalan. Di satu sisi, mereka tidak ingin orang lain ikut campur dalam pekerjaan mereka untuk menjaga martabat dan harga diri mereka. Mereka menganggap bahwa tugas yang mereka laksanakan dan pekerjaan yang mereka lakukan adalah milik mereka secara pribadi, bahwa itu adalah urusan pribadi mereka. Itulah sebabnya mereka tidak mengizinkan orang lain ikut campur. Di sisi lain, jika mereka menyelesaikan pekerjaan dengan baik, mereka dapat mengklaim pujian atas pekerjaan tersebut dan meminta agar diberi upah. Jika seseorang ikut campur, pujian itu tidak akan lagi diberikan kepada mereka sendiri. Mereka takut orang lain merebut pujian itu dari mereka. Itulah sebabnya mereka sama sekali tidak akan mengizinkan orang lain ikut campur dalam pekerjaan mereka. Bukankah orang-orang seperti antikristus itu egois dan keji? Tugas apa pun yang sedang mereka laksanakan, itu sama seperti mereka sedang mengurus urusan pribadi mereka. Mereka tidak akan mengizinkan orang lain ikut campur atau berpartisipasi, entah mereka sendiri melakukannya dengan baik atau tidak. Jika mereka melakukannya dengan baik, mereka hanya akan membiarkan pujian itu diberikan kepada mereka saja, agar orang lain tidak mengklaim sebagian dari pujian dan hasil pekerjaan itu. Bukankah itu menyusahkan? Watak apakah itu? Itu adalah watak Iblis. Ketika Iblis bertindak, dia tidak mengizinkan intervensi orang lain, dia ingin menjadi penentu keputusan dalam segala hal yang dia lakukan dan mengendalikan segalanya, dan tak seorang pun boleh mengawasi atau mengajukan pertanyaan apa pun. Jika ada orang yang mencampuri atau ikut campur, dia terlebih lagi tidak akan mengizinkannya. Beginilah cara antikristus bertindak; apa pun yang mereka lakukan, tak seorang pun diizinkan mengajukan pertanyaan, dan bagaimanapun cara mereka bekerja di balik layar, tak seorang pun diizinkan ikut campur. Inilah perilaku antikristus. Mereka bertindak seperti ini karena di satu sisi, mereka memiliki watak yang sangat congkak dan di sisi lain, mereka sangat tidak bernalar. Mereka sama sekali tidak tunduk, dan tidak mengizinkan siapa pun mengawasi mereka atau memeriksa pekerjaan mereka. Semua ini benar-benar perbuatan setan, yang sama sekali berbeda dari perbuatan manusia normal. Siapa pun yang melakukan pekerjaan membutuhkan kerja sama orang lain, mereka membutuhkan bantuan, saran, dan kerja sama orang lain, dan meskipun ada orang yang mengawasi atau memantau, ini bukan hal yang buruk, ini hal yang diperlukan. Jika kesalahan terjadi di satu bagian dari pekerjaan itu, dan kesalahan itu diketahui oleh orang-orang yang memantau dan segera diperbaiki, dan kerugian pada pekerjaan itu bisa dicegah, bukankah ini sangat membantu? Jadi, ketika orang pintar melakukan segala sesuatu, mereka senang jika diawasi, diamati, dan ditanyai oleh orang lain. Jika, secara kebetulan, kesalahan memang terjadi, dan orang-orang ini mampu menunjukkannya, lalu kesalahan itu dapat segera diperbaiki, bukankah ini hasil akhir yang diinginkan? Tak seorang pun di dunia ini yang tidak membutuhkan bantuan orang lain. Hanya orang yang menderita autisme atau depresi yang suka menyendiri dan tidak berinteraksi atau berkomunikasi dengan orang lain. Ketika orang menderita autisme atau depresi, mereka tidak lagi normal. Mereka tidak mampu lagi mengendalikan diri mereka sendiri. Jika pikiran dan nalar orang dalam keadaan normal, dan mereka sama sekali tidak mau berkomunikasi dengan orang lain, dan mereka tidak ingin orang lain tahu tentang apa pun yang mereka lakukan, mereka ingin melakukan berbagai hal secara rahasia, tersembunyi, dan bekerja di balik layar, dan mereka tidak mendengarkan apa pun yang orang lain katakan, artinya orang-orang semacam itu adalah antikristus, bukan? Mereka adalah antikristus.
Suatu kali, ketika Aku bertemu dengan pemimpin sebuah gereja, Aku bertanya kepadanya apa yang sedang terjadi dengan pelaksanaan tugas saudara-saudari. Aku bertanya, "Adakah orang di gereja saat ini yang mengganggu kehidupan bergereja?" Dapatkah engkau menebak apa yang dikatakannya? "Semuanya baik-baik saja, tidak ada masalah." Aku bertanya, "Bagaimana saudari anu melaksanakan tugasnya?" Dia berkata, "Baik-baik saja." Kemudian Aku bertanya, "Sudah berapa tahun dia percaya kepada Tuhan?" Dia menjawab, "Baik-baik saja." Aku berkata, "Meja ini seharusnya tidak berada di sini, meja ini harus dipindahkan." Dia berkata, "Aku akan memikirkannya." Aku berkata, "Bukankah sebidang tanah ini perlu disiram?" Dia berkata, "Kami akan mempersekutukan hal itu." Aku berkata, "Tanaman ini telah engkau tanam di sebidang tanah ini pada tahun ini. Apakah engkau akan menanam tanaman yang sama tahun depan?" Dia berkata, "Kelompok pengambil keputusan kami memiliki rencana." Seperti itulah jawaban yang dia berikan. Perasaan apa yang kaurasakan ketika mendengar jawabannya? Apakah engkau memahami apa pun dari jawabannya? Apakah engkau memperoleh informasi apa pun? (Sama sekali tidak.) Engkau dapat langsung mengetahui bahwa dia sedang mengelabuimu, menganggapmu sebagai orang bodoh, orang luar. Dia tidak tahu siapa sebenarnya orang luar tersebut; orang-orang tidak percaya menyebutnya "tamu yang bertindak sebagai tuan rumah". Dia tidak tahu identitasnya sendiri. Aku berkata, "Ada begitu banyak orang yang tinggal di sini, dan sirkulasi udaranya tidak baik. Engkau harus memasang kipas angin, atau di sini akan menjadi terlalu panas, dan orang-orang kemungkinan besar akan terkena sengatan panas." Dia berkata, "Kami akan membicarakannya." Semua hal yang Kukatakan kepadanya, dia harus membicarakannya, mempersekutukannya, dan juga memikirkannya. Segala pengaturan yang Kubuat, apa pun yang Kukatakan, tidak ada artinya bagi dia. Baginya, semua itu bukanlah pengaturan atau perintah, dan dia tidak melaksanakannya. Lalu, dia menganggap perkataan-Ku sebagai apa? (Saran untuk dia pertimbangkan.) Apakah Aku sedang memberinya saran untuk dia pertimbangkan? Tidak, Aku sedang memberitahunya apa yang seharusnya dia lakukan, apa yang harus dia lakukan. Apakah karena dia tidak mengerti apa yang sedang Kukatakan? Jika dia tidak mengerti, artinya dia adalah orang bodoh yang tidak tahu identitasnya atau tugas apa yang sedang dia laksanakan. Ada begitu banyak orang yang tinggal di sana, tidak ada AC dalam ruangan atau ventilasi udara. Seberapa cerdaskah dia dengan tidak memasang kipas angin? Seharusnya dia pulang sekarang juga. Dia adalah sampah, dan rumah Tuhan tidak membutuhkan sampah. Orang-orang tidak tahu segalanya tentang apa pun, tetapi mereka bisa belajar. Ada beberapa hal yang tidak Kumengerti, jadi Aku mendiskusikannya dengan orang lain, "Menurut engkau semua, apa cara yang baik untuk melakukannya? Engkau bebas memberikan saranmu." Jika beberapa orang berpikir bahwa cara tertentu adalah yang terbaik, Aku berkata, "Baiklah, mari kita lakukan seperti yang kaukatakan. Bagaimanapun juga, Aku belum memikirkan apa yang harus kita lakukan dengan saksama. Kita akan menggunakan caramu." Bukankah itu cara berpikir kemanusiaan yang normal? Itulah yang dimaksud dengan bergaul dengan orang lain. Dalam bergaul dengan orang lain, orang tidak boleh membedakan siapa yang lebih unggul atau lebih rendah, atau siapa yang menjadi pusat perhatian dan siapa yang tidak, atau siapa yang menjadi penentu keputusan atas berbagai hal. Tidak perlu membuat perbedaan-perbedaan seperti ini. Cara siapa pun yang benar dan sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, itulah yang harus diindahkan. Apakah engkau semua mampu melakukannya? (Ya.) Ada orang-orang yang tidak mampu. Antikristus tidak mampu. Mereka bersikeras harus menjadi penentu keputusan. Hal macam apa itu? Apa yang orang lain ajukan tidak akan berhasil dengan mereka, sekalipun itu bernalar; mereka tahu itu benar dan bernalar, tetapi mereka tidak akan mematuhi apa pun yang diusulkan oleh orang lain. Mereka merasa senang asalkan merekalah yang mengusulkan sesuatu. Bahkan dalam hal kecil ini, mereka berjuang mengejar keunggulan. Watak apakah itu? Watak seorang antikristus. Mereka terlalu mementingkan status, ketenaran, dan harga diri. Seberapa pentingkah hal-hal tersebut? Bagi mereka, hal-hal tersebut lebih penting daripada nyawa mereka. Mereka akan melindungi status dan ketenaran mereka, sekalipun itu berarti kehilangan nyawa mereka.
Antikristus melarang ikut campur, menanyakan, atau mengawasi orang lain dalam pekerjaan apa pun yang mereka lakukan, dan larangan ini diwujudkan dalam beberapa cara. Salah satunya adalah penolakan. "Berhentilah mengintervensi, menanyakan, dan mengawasiku saat aku bekerja. Pekerjaan apa pun yang kulakukan adalah tanggung jawabku, aku sudah tahu bagaimana melakukannya dan aku tidak membutuhkan siapa pun untuk mengaturku!" Ini adalah penolakan secara langsung. Perwujudan lainnya adalah di luarnya terlihat mau menerima, dengan berkata, "Baiklah, mari kita bersekutu dan melihat bagaimana pekerjaan harus dilakukan," tetapi ketika orang lain benar-benar mulai mengajukan pertanyaan dan berusaha mencari tahu lebih banyak tentang pekerjaan mereka, atau ketika menunjukkan beberapa masalah dan memberikan beberapa saran, bagaimana sikap mereka? (Mereka tidak mau menerimanya.) Benar—mereka sama sekali tidak mau menerimanya, mereka mencari dalih dan alasan untuk menolak saran orang lain, mereka mengubah yang salah menjadi benar dan yang benar menjadi salah, tetapi sebenarnya, di dalam hatinya, mereka tahu bahwa mereka sedang memaksakan logika, bahwa mereka hanya mengucapkan perkataan yang muluk-muluk, bahwa perkataan mereka hanya teoretis, bahwa perkataan mereka tidak memiliki kenyataan seperti yang orang lain katakan. Namun, untuk melindungi status mereka—meskipun tahu betul bahwa mereka salah dan orang lain benar—mereka tetap mengubah apa yang benar menjadi salah, dan mengubah yang salah menjadi benar, dan terus mengatakannya, tidak membiarkan hal-hal yang benar dan sesuai dengan kebenaran diperkenalkan atau dilaksanakan sebagaimana harusnya. Bukankah mereka memperlakukan pekerjaan gereja sebagai permainan, sebuah lelucon? Bukankah mereka tidak mau menerima pertanyaan dan pengawasan? Mereka tidak mengungkapkan "larangan" mereka ini secara terang-terangan, dengan berkata kepadamu, "Kau tidak diizinkan ikut campur dengan pekerjaanku." Di luarnya, bukan itu yang mereka lakukan, tetapi itulah pola pikir mereka. Mereka akan menggunakan tipu muslihat tertentu, dan tampak sangat saleh di luar. Mereka akan berkata, "Kebetulan kami memang membutuhkan bantuan, jadi sekarang karena kau ada di sini, bersekutulah dengan kami sedikit!" Pemimpin tingkat atas mereka akan percaya bahwa mereka sedang bersikap tulus, lalu bersekutu dengan mereka, memberi tahu mereka tentang keadaan saat ini. Begitu mereka mendengar pemimpin tersebut, mereka akan berpikir, "Begitu caramu memandang segala sesuatu. Baiklah, aku akan harus berdebat denganmu, menyanggah dan membantah pandanganmu. Aku akan mempermalukanmu." Apakah itu sikap yang menerima? (Tidak.) Lalu, sikap apakah itu? Itu adalah menolak untuk mengizinkan orang lain ikut campur, menanyakan, atau mengawasi mereka dalam pekerjaan yang mereka lakukan. Mengingat bahwa antikristus akan melakukan itu, lalu mengapa mereka berpura-pura di depan orang lain dan bersikap menerima? Mereka yang selalu menipu orang lain dengan cara seperti ini memperlihatkan betapa liciknya mereka. Mereka takut orang lain akan mengetahui yang sebenarnya mengenai mereka. Khususnya pada saat ini, ada orang-orang yang memiliki sedikit kearifan, jadi jika seorang antikristus menolak pengawasan dan bantuan orang lain secara langsung, orang-orang akan mampu mengetahui yang sebenarnya mengenai dirinya. Lalu mereka akan kehilangan harga diri dan statusnya, dan tidak akan mudah baginya untuk dipilih sebagai pemimpin atau pekerja di kemudian hari. Jadi, ketika seorang pemimpin tingkat atas memeriksa pekerjaannya, dia berpura-pura menerimanya, mengatakan hal-hal yang menyenangkan dan menyanjung, membuat semua orang berpikir, "Lihat betapa salehnya pemimpin kita dan betapa dia mencari kebenaran! Pemimpin kita sedang memperhatikan kehidupan kita dan pekerjaan gereja. Dia bertanggung jawab ketika melaksanakan tugasnya. Kita akan memilihnya lagi dalam pemilihan berikutnya." Yang tak seorang pun sangka adalah begitu pemimpin tingkat tinggi tersebut pergi, antikristus tersebut akan mengatakan sesuatu seperti ini, "Yang dikatakan orang yang memeriksa pekerjaan itu benar, tetapi itu belum tentu sesuai dengan kondisi di gereja kami. Segala sesuatunya berbeda di setiap gereja. Kita tidak dapat mengikuti apa yang dia katakan secara keseluruhan, kita harus mempertimbangkannya sesuai situasi kita yang sebenarnya. Kita tidak bisa menerapkan peraturan secara kaku begitu saja!" Setiap orang yang mendengar perkataan ini berpikir bahwa itu benar. Bukankah mereka telah disesatkan? Di satu sisi, seorang antikristus mengucapkan kata-kata yang menyenangkan dan berpura-pura menerima pengawasan orang lain; segera setelah itu, dia mulai menyesatkan dan mencuci otak secara internal. Dia menerapkan dua bagian dari pendekatan ini sekaligus. Apakah dia memiliki tipu muslihat? Tentu saja banyak! Di luarnya, dia berbicara dengan baik dan berpura-pura menerima, membuat semua orang percaya bahwa dia merasa sangat bertanggung jawab atas pekerjaan itu, bahwa dia mampu melepaskan kedudukan dan statusnya, bahwa dia bukan orang yang otoriter, tetapi dapat menerima pengawasan dari Yang di Atas atau dari orang lain. Ketika dia melakukannya, dia "menjelaskan" kepada saudara-saudari tentang pro dan kontra berbagai hal, dan "menjelaskan" berbagai situasi. Apa tujuannya? Untuk tidak menerima orang lain ikut campur, menanyakan, atau mengawasi, dan untuk membuat saudara-saudari berpikir bahwa dia bertindak sebagaimana mestinya, benar, sesuai dengan pengaturan pekerjaan rumah Tuhan, dan sesuai dengan prinsip-prinsip dalam bertindak, dan bahwa sebagai pemimpin, dia mematuhi prinsip. Sebenarnya, hanya ada sedikit orang di gereja yang memahami kebenaran; kebanyakan orang tidak diragukan lagi tidak memiliki kearifan, mereka tidak mampu mengetahui yang sebenarnya mengenai antikristus ini, dan tentu saja disesatkan oleh mereka. Sebagai contoh, ada orang-orang yang tidak bisa tidur di malam hari karena beberapa alasan tertentu. Mereka terjaga sepanjang malam. Keadaan tidak bisa tidur itu terwujud dalam dua cara yang berbeda pada dua tipe orang. Tipe pertama mencari kesempatan di siang hari untuk tidur sebentar sesegera mungkin. Dia tidak memberi tahu orang lain bahwa dia tidak tidur. Itu adalah satu situasi, satu cara terjadinya segala sesuatu. Tidak ada niat di baliknya. Tipe orang lainnya tertidur saat sedang makan dan memberi tahu semua orang, "Aku tidak tidur tadi malam!" Seseorang bertanya, "Mengapa?" dan dia berkata, "Ada pertemuan daring, dan aku menemukan beberapa masalah dalam pekerjaan. Aku begadang semalaman untuk menyelesaikannya." Dia terus-menerus mengumumkan bahwa dia tidak tidur sepanjang malam. Apakah dia enggan begadang sepanjang malam? Mengapa dia menjelaskannya kepada kelompok itu? Apakah ada sesuatu dalam penjelasan itu? Apa tujuannya? Dia ingin memberi tahu seluruh dunia tentang apa yang dia lakukan, karena takut orang lain mungkin tidak tahu. Dia ingin semua orang tahu bahwa dia telah menderita, bahwa dia terjaga sepanjang malam, bahwa dia bersedia membayar harga dalam kepercayaannya kepada Tuhan, bahwa dia tidak mendambakan kenyamanan. Dengan ini, dia bermaksud memenangkan simpati dan persetujuan dari saudara-saudari. Dia memenangkan hati orang-orang dengan melakukan pekerjaan dangkal ini, dan dengan melakukannya, dia membuat orang lain menghargainya, dan dia mendapatkan kehormatan di hati orang-orang. Begitu dia memiliki status, dia kemudian yakin untuk berbicara dengan otoritas. Begitu dia berbicara dengan otoritas, bukankah dia kemudian dapat menikmati perlakuan khusus yang menyertai status? (Ya.) Apakah menurutmu dia telah memanfaatkan kesempatan ini dengan baik? Apakah engkau memberi tahu orang lain ketika engkau semua belum tidur, atau jika engkau begadang? (Ya.) Ketika engkau melakukannya, apakah itu tidak disengaja, atau ada niatan di baliknya? Apakah engkau hanya memberi tahu seseorang begitu saja, atau apakah engkau membuat pengumuman besar, melakukan pertunjukan? (Kami mengatakannya begitu saja.) Tidak ada niat di balik mengatakannya dengan begitu saja; itu tidak menunjukkan masalah watak. Memang ada perbedaan esensi antara mengatakannya dengan sengaja dan mengatakannya tanpa sengaja. Ketika seorang antikristus bertindak, apa motif di balik apa yang sedang dia lakukan, entah di luarnya dia tampak menerima intervensi dan pertanyaan orang lain, atau entah dia menolaknya saat itu juga—apa pun yang terjadi? Dia memegang status dan kekuasaan, dan dia tidak akan melepaskannya. Bukankah itu motifnya? (Ya.) Benar. Dia sama sekali tidak akan membiarkan kekuasaan yang dia peroleh dengan susah payah, status dan gengsi yang dia peroleh dengan susah payah, lenyap begitu saja, dalam momen yang tidak disengaja; dia tidak akan membiarkan siapa pun melemahkan kekuatan dan pengaruhnya dengan ikut campur dalam pekerjaannya atau bertanya tentangnya. Dia beranggapan: melaksanakan tugas, melakukan program kerja, sebenarnya bukanlah tugas, dan dia tidak perlu melaksanakannya sebagai kewajiban; sebaliknya, itu berarti memiliki kekuasaan tertentu, memiliki beberapa orang di bawah komandonya. Dia meyakini bahwa dengan kekuasaan, dia tidak perlu lagi berkonsultasi dengan siapa pun, tetapi kini dia memiliki kesempatan dan kekuasaan untuk memimpin. Seperti inilah sikap yang dia miliki terhadap tugas.
Ada orang-orang yang hanya menjalani formalitas ketika Yang di Atas bertanya tentang pekerjaan mereka. Mereka melakukan hal-hal yang dangkal dan menanyakan hal-hal yang remeh, seolah-olah mereka adalah orang-orang yang mencari kebenaran. Sebagai contoh, jika ada suatu kejadian yang jelas-jelas merupakan kekacauan dan gangguan, mereka akan bertanya kepada Yang di Atas apakah orang yang menyebabkannya harus ditangani. Bukankah hal seperti itu adalah bagian dari pekerjaan mereka? (Ya.) Apa maksud mereka dengan menanyakan hal itu kepada Yang di Atas? Mereka bermaksud memberimu kepalsuan tentang diri mereka, untuk menunjukkan kepadamu bahwa jika mereka selalu bertanya bahkan tentang hal-hal seperti itu, itu adalah bukti bahwa mereka tidak menganggur, bahwa mereka sedang bekerja. Mereka hanya menciptakan kepalsuan untuk menyesatkanmu. Sebenarnya, mereka memiliki beberapa masalah nyata di dalam hati mereka, dan mereka tidak tahu bagaimana cara mempersekutukan kebenaran untuk menyelesaikannya, dan mereka juga tidak tahu prinsip-prinsip mana yang harus mereka terapkan. Ada hal-hal yang tidak jelas bagi mereka, dalam menangani orang dan menangani urusan, tetapi mereka tidak pernah bertanya atau mencari tentang hal itu. Mengingat bahwa mereka tidak yakin tentang hal-hal ini dalam hati mereka, bukankah mereka seharusnya bertanya kepada Yang di Atas mengenainya? (Ya.) Mereka tidak yakin atau tidak tahu yang sebenarnya tentang hal-hal itu, tetapi terus bertindak secara membabi buta—apa yang akan menjadi akibatnya? Dapatkah mereka memprediksi apa yang akan terjadi? Akankah mereka mampu memikul tanggung jawab atas akibatnya? Tidak, mereka tidak akan mampu. Jadi, mengapa mereka tidak bertanya tentang hal-hal ini? Mereka tidak bertanya karena memiliki beberapa pertimbangan. Salah satunya adalah mereka takut Yang di Atas akan tahu: "Jika aku bahkan tidak mampu menangani masalah sepele ini dan harus bertanya tentangnya, yang di atas, akan menganggap kualitasku tidak terlalu baik. Bukankah ini akan berarti membiarkan yang di atas mengetahui yang sebenarnya tentang diriku?" Ada juga pertimbangan bahwa jika mereka bertanya, dan keputusan Yang di Atas berbeda serta bertentangan dengan pandangan mereka sendiri, mereka akan kesulitan untuk memilih. Jika mereka tidak melakukan apa yang dikatakan Yang di Atas, Yang di Atas akan berkata bahwa mereka sedang melanggar prinsip-prinsip kerja; jika mereka melakukannya, itu akan mendatangkan kerugian pada kepentingan mereka sendiri. Jadi, mereka tidak bertanya. Bukankah itu yang dipertimbangkan? (Ya.) Ya. Orang macam apa mereka, yang mempertimbangkan hal-hal ini? (Antikristus.) Mereka memang adalah antikristus. Dengan apa pun, entah mereka menanyakannya atau tidak, entah mereka menyuarakannya atau hanya memikirkannya, mereka tidak mencari kebenaran atau memperlakukan hal tersebut berdasarkan prinsip; dalam segala hal, mereka mengutamakan kepentingan mereka sendiri. Mereka memiliki daftar di dalam hati mereka tentang hal-hal yang mereka perbolehkan untuk ditanyakan dan diketahui oleh Yang di Atas, serta hal-hal yang mereka sama sekali tak ingin Yang di Atas mengetahuinya. Mereka telah membatasi bagian-bagian itu dan membaginya menjadi dua kategori. Mereka akan berbicara sepintas dengan Yang di Atas tentang hal-hal yang tidak penting yang tidak dapat mengancam status mereka, agar dapat menghadapi Yang di Atas; tetapi dengan hal-hal yang dapat mengancam status mereka, mereka tidak akan mengucapkan sepatah kata pun. Jika Yang di Atas bertanya tentang hal-hal itu, apa yang akan mereka lakukan? Mereka akan menggunakan beberapa kata untuk mengakali orang; mereka akan berkata, "Baiklah, kami akan membahasnya ... kami akan terus mencari ..."—banyak mengucapkan kata-kata positif untukmu, tanpa apa pun yang dapat dianggap sebagai penentangan. Dari penampilannya, mereka sangat tunduk, tetapi sebenarnya, mereka memiliki perhitungannya sendiri. Mereka tidak berencana untuk membiarkan Yang di Atas menjadi penentu keputusan; mereka tidak berencana untuk meminta saran-saran Yang di Atas dan membiarkan mereka mengambil keputusan, atau mencari jalan dari Yang di Atas. Mereka tidak memiliki rencana seperti itu. Mereka tidak ingin membiarkan Yang di Atas ikut campur atau mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Begitu Yang di Atas tahu, maka ancaman apa yang akan ditimbulkannya bagi mereka? (Mereka akan merasa status mereka tidak aman.) Bukan hanya mereka akan merasa status mereka tidak aman, melainkan juga merasa bahwa rencana dan tujuan mereka tidak akan lagi dapat dilaksanakan, dan dengan demikian perbuatan jahat mereka tidak akan lagi dibenarkan; mereka tidak akan dapat lagi mengikuti rencana mereka sendiri secara sah, tanpa menyembunyikan apa pun, dan terang-terangan. Inilah masalah yang akan mereka hadapi. Jadi, apakah mereka dapat memastikan bagaimana bertindak dengan cara yang bermanfaat bagi mereka? Mereka pasti memiliki pemikiran dan perhitungan sendiri tentang hal itu. Apakah engkau semua juga mendapati dirimu dihadapkan dengan hal-hal seperti itu? Lalu, apa yang engkau semua pikirkan tentang mereka? Bagaimana caramu memperlakukan mereka? Aku akan memberimu contoh. Ada seorang pria yang menjadi pemimpin dan menjadi terbawa suasana dengan kedudukan itu; dia selalu suka pamer di depan orang lain agar mreka menghormatinya. Secara kebetulan dia bertemu dengan seorang tidak percaya yang dia kenal, yang ingin meminjam uang. Orang tidak percaya itu menceritakan keadaannya dengan sangat menyedihkan sehingga pemimpin itu, atas dorongan hatinya, dan karena semangatnya pada saat itu, menyetujuinya, di mana setelah itu dia berpikir dengan tenang dan tanpa keraguan, "Aku adalah pemimpin gereja. Aku harus menjadi penentu keputusan atas uang milik gereja. Jika menyangkut hal-hal yang menjadi milik rumah tuhan, gereja, dan uang persembahan—akulah pejabat yang berwenang, jadi akulah yang menjadi penentu keputusan. Akulah yang mengelola keuangan dan masalah personel, akulah yang menjadi penentu keputusan atas semuanya!" Jadi, dia meminjamkan uang milik rumah Tuhan kepada orang tidak percaya tersebut. Begitu dia melakukannya, dia merasa sedikit gelisah, dan mempertimbangkan apakah dia harus memberi tahu Yang di Atas tentang hal itu. Jika dia memberitahukannya, Yang di Atas mungkin tidak menyetujui hal itu—jadi dia mulai mengarang kebohongan dan mencari alasan untuk menipu Yang di Atas. Yang di Atas mempersekutukan prinsip-prinsip kebenaran kepadanya, tetapi dia tidak mengindahkannya. Begitulah caranya melakukan perbuatan jahat dengan menyalahgunakan persembahan secara diam-diam. Mengapa orang seperti itu berani membuat rencana terhadap persembahan? Engkau hanyalah seorang pemimpin gereja, apakah engkau memiliki hak untuk mengelola persembahan? Apakah engkau yang menjadi penentu keputusan terhadap masalah persembahan dan keuangan? Jika engkau adalah seseorang yang memiliki kemanusiaan yang normal dan bernalar, seseorang yang mengejar kebenaran, bagaimana seharusnya engkau memperlakukan persembahan milik Tuhan? Bukankah hal-hal yang berkaitan dengan persembahan harus dilaporkan kepada Yang di Atas, untuk melihat apa yang diputuskan oleh rumah Tuhan? Bukankah Yang di Atas berhak untuk mengetahui tentang masalah besar seperti itu? Ya. Engkau harus jelas tentang hal ini di dalam hatimu; itulah nalar yang seharusnya kaumiliki. Jika menyangkut masalah keuangan, baik besar maupun kecil, Yang di Atas berhak mengetahuinya. Jika Yang di Atas tidak bertanya, itu tidak menjadi masalah—tetapi begitu Yang di Atas bertanya, engkau harus menjawab dengan jujur, dan engkau harus tunduk pada apa pun yang diputuskan oleh Yang di Atas. Bukankah seperti itulah nalar yang seharusnya kaumiliki? (Ya.) Namun, apakah para antikristus mampu melakukan hal ini? (Tidak.) Itulah perbedaan antara para antikristus dan orang normal. Jika mereka berpikir ada kemungkinan seratus persen bahwa Yang di Atas tidak akan menyetujui hal itu, dan bahwa mereka akan kehilangan harga diri mereka, mereka akan memikirkan segala macam cara untuk merahasiakannya, membuat agar Yang di Atas tidak mengetahuinya. Mereka bahkan akan menekan orang-orang di bawah mereka, dan berkata, "Jika ada yang menyingkapkan hal ini, itu berarti mereka menentangku. Aku tidak akan melepaskan mereka. Aku akan menangani mereka, apa pun yang terjadi!" Dengan perkataan mereka yang menakutkan itu, tak seorang pun berani melaporkan masalah itu kepada Yang di Atas. Mengapa mereka melakukan itu? Mereka percaya, "Ini termasuk dalam lingkup otoritasku. Aku berhak mengerahkan dan mendistribusikan orang, uang, dan barang-barang yang berada dalam wilayah kekuasaanku!" Apa prinsip mereka dalam mengerahkan dan mendistribusikan hal-hal ini? Mereka membuat pengaturan sekehendak hati mereka. Mereka menggunakan dan memberikan uang dan barang-barang dengan seenaknya, tanpa mematuhi prinsip apa pun, mereka memboroskan dan menghambur-hamburkan hal-hal ini tanpa pandang bulu, dan tak seorang pun berhak ikut campur. Mereka harus menjadi penentu keputusan atas semua itu. Bukankah begitu cara berpikir mereka? Tentu saja, mereka tidak akan mengucapkannya dengan lantang, dengan bahasa yang terus terang, tetapi inilah yang benar-benar mereka pikirkan di dalam hatinya, "Apa gunanya memiliki jabatan? Bukankah semua itu adalah tentang uang, tentang mendapat makan dan pakaian? Sekarang, akulah yang menjabat; aku memiliki status itu. Bukankah bodoh jika aku tidak memanfaatkan kekuasaanku untuk melakukan apa pun sekehendak hatiku?" Bukankah itu yang mereka yakini? (Ya.) Karena mereka memiliki watak seperti itu, dan meyakininya, maka mereka berani menyembunyikan masalah seperti itu tanpa rasa takut sedikit pun, tanpa menghiraukan konsekuensi apa pun, dengan cara dan sarana apa pun yang dapat mereka bayangkan. Bukankah demikian? (Ya.) Mereka tidak menilai apakah hal itu benar atau tidak, atau apa hal yang sepatutnya dilakukan, atau apa prinsip-prinsipnya. Mereka tidak mempertimbangkan hal-hal ini; satu-satunya pertimbangan mereka adalah siapa yang akan melindungi kepentingan mereka. Seorang antikristus adalah orang yang berbahaya, egois, dan keji! Seberapa kejikah dia? Itu dapat diungkapkan dalam satu istilah: dia tidak tahu malu! Orang-orang itu bukanlah milikmu, juga barang-barang itu, dan terlebih lagi, uang itu bukan milikmu, tetapi engkau ingin mengambilnya sebagai milikmu, untuk diatur sekehendak hatimu. Orang lain bahkan tidak memiliki hak untuk mengetahuinya; sekalipun engkau memboroskan dan menghambur-hamburkan barang-barang itu, orang lain tidak memiliki hak untuk bertanya. Sudah sejauh mana dirimu? Engkau tidak tahu malu! Bukankah itu tidak tahu malu? (Ya.) Itulah seorang antikristus. Seperti apa batasan yang ada di dalam hati orang-orang biasa yang tidak akan mereka langkahi jika menyangkut uang? Mereka menganggap bahwa itu adalah persembahan milik Tuhan, dan persembahan diberikan kepada Tuhan oleh umat pilihan-Nya, jadi semua itu adalah milik Tuhan. Semua itu adalah "milik pribadi"-Nya, sebagaimana yang mungkin dikatakan beberapa orang. Apa yang menjadi milik Tuhan bukanlah milik umum, juga bukan milik siapa pun. Siapakah Tuan atas rumah Tuhan? (Tuhan.) Ya, itu adalah Tuhan. Apa sajakah yang termasuk rumah Tuhan? Itu termasuk umat pilihan-Nya di masing-masing gereja, serta semua perlengkapan dan harta benda masing-masing gereja. Semua hal ini adalah milik Tuhan. Itu sama sekali bukan milik satu orang pun, dan tak seorang pun berhak mengambilnya sebagai milik mereka. Akankah seorang antikristus berpikir seperti itu? (Tidak.) Dia menganggap bahwa persembahan adalah milik siapa pun yang mengelolanya, milik siapa pun yang memiliki kesempatan untuk mengambilnya, dan bahwa jika seseorang menjadi pemimpin, dia berhak untuk menikmatinya. Itulah sebabnya dia terus-menerus mengejar status dengan segenap kekuatannya. Setelah dia mendapatkannya, semua harapannya akhirnya terwujud. Mengapa dia mengejar status? Jika engkau memintanya untuk memimpin umat pilihan Tuhan dengan jujur, dengan tindakan yang berprinsip, tetapi tidak mengizinkannya menyentuh harta milik gereja atau persembahan milik Tuhan, akankah dia masih sangat proaktif untuk mengejar statusnya? Sama sekali tidak. Dia akan menunggu dengan pasif, dan membiarkan segala sesuatunya berjalan sebagaimana mestinya. Dia akan berpikir, "Jika aku terpilih, aku akan melakukan pekerjaan dan melaksanakan tugasku dengan baik; jika tidak, aku tidak akan menjilat siapa pun. Aku tidak akan mengatakan atau melakukan apa pun tentang hal itu." Justru karena seorang antikristus berpikir bahwa sebagai seorang pemimpin, dia berhak untuk mengendalikan dan menikmati semua harta milik gereja, maka dia memeras otaknya dalam upayanya untuk naik jabatan, sampai pada titik tidak tahu malu, agar dapat memperoleh status dan menikmati semua yang dihasilkan oleh status tersebut. Apa artinya tidak tahu malu? Itu berarti melakukan hal-hal yang memalukan. Itulah artinya tidak tahu malu. Jika seseorang berkata kepadanya, "Apa yang kaulakukan sangat memalukan!" dia tidak akan peduli, tetapi dia berpikir, "Apanya yang memalukan dari hal itu? Siapa yang tidak suka status? Tahukah kau bagaimana rasanya memiliki status? Rasanya mengendalikan uang? Tahukah kau akan kegembiraan itu? Tahukah kau akan perasaan diistimewakan? Pernahkah kau merasakannya?" Begitulah cara para antikristus memandang status, jauh di lubuk hati mereka. Begitu seorang antikristus memperoleh status, dia akan ingin mengendalikan segalanya. Dia juga akan mengendalikan persembahan milik Tuhan. Dia ingin menjadi penentu keputusan tentang bagian apa pun dari pekerjaan gereja yang membutuhkan biaya, tanpa pernah berkonsultasi dengan Yang di Atas. Dia menjadi tuan atas uang milik rumah Tuhan, dan rumah Tuhan menjadi miliknya. Dia memiliki hak untuk menjadi penentu keputusan atas harta milik rumah Tuhan, memutuskan apa yang terjadi padanya, memberikannya kepada orang ini dan itu sekehendak hatinya, menentukan bagaimana setiap bagiannya digunakan. Terhadap persembahan milik Tuhan, mereka tidak pernah bertindak dengan hati-hati dan waspada serta berdasarkan prinsip; sebaliknya, mereka adalah orang yang sangat boros, dan menjadi penentu keputusan. Orang seperti itu adalah antikristus sejati.
Dahulu ada seseorang yang secara diam-diam menggelapkan persembahan milik Tuhan, yang mana merupakan masalah serius. Itu bukanlah pelanggaran biasa; itu adalah masalah dengan esensi naturnya. Ketika dia berinteraksi dengan orang-orang tidak percaya saat menangani beberapa urusan, dia terus pamer untuk membuat orang berpikir bahwa dia memiliki uang dan kekuasaan. Akibatnya, orang-orang meminjam uang darinya. Bukan saja orang ini tidak menolak mereka, dia benar-benar berkomitmen untuk meminjamkan mereka uang, dan kemudian melakukannya dengan menggunakan taktik penipuan terhadap rumah Tuhan. Orang ini memiliki masalah serius. Dengan masalah yang begitu besar, engkau seharusnya membuat laporan kepada Yang di Atas, dan menjelaskan fakta-faktanya; engkau tidak boleh berurusan dengan orang-orang yang menggunakan persembahan milik Tuhan demi memperoleh kredibilitas pribadi atau demi reputasimu sendiri. Seseorang yang rasional dan memiliki hati yang takut akan Tuhan akan menangani masalah-masalah semacam itu dengan cara seperti itu ketika menghadapinya. Namun, apa itu yang dilakukan seorang antikristus? Mengapa dia disebut antikristus? Karena dia tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan sedikit pun; dia berbuat sekehendak hatinya, mengesampingkan Tuhan, kebenaran, dan firman Tuhan. Dia sama sekali tidak memiliki ketundukan yang nyata kepada Tuhan, tetapi mengutamakan kepentingan, ketenaran, keuntungan, dan statusnya sendiri. Dia menggunakan cara-cara yang menipu untuk menyesatkan para pemimpin dan pekerja gereja, dan dengan demikian meminjamkan uang kepada orang-orang tidak percaya. Apakah itu adalah uang miliknya? Hanya dengan beberapa patah kata, dia meminjamkannya. Bukankah itu menjadikan persembahan milik Tuhan sebagai pemberian? Ini adalah sesuatu yang dilakukan para antikristus, dan beberapa antikristus benar-benar telah melakukan hal-hal seperti itu. Agar mereka mampu melakukan hal seperti itu, watak mereka pastilah watak yang sangat berani dan sembrono, sangat congkak, dan juga sangat berbahaya. Jelas bahwa mereka juga bodoh, orang yang paling bodoh. Mereka pasti akan mendapat akibat dari perbuatan mereka sendiri. Katakan kepada-Ku, bagaimana orang-orang semacam itu harus ditangani? (Mereka harus diusir.) Itu saja? Pengusiran? Siapa yang akan mengganti kerugiannya? Mereka harus diminta untuk membayar ganti rugi, dan kemudian diusir. Bukankah para antikristus itu tidak tahu malu, mampu melakukan hal seperti itu? Apa bedanya mereka dengan penghulu malaikat? Penghulu malaikat dapat dengan tidak tahu malu berkata, "Akulah yang menciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu. Manusia adalah milikku untuk kukendalikan!" Dia menginjak dan merusak umat manusia sekehendak hatinya. Setelah seorang antikristus berkuasa, dia berkata, "Kalian semua harus percaya kepadaku dan mengikutiku. Akulah yang berkuasa di sini, dan akulah yang menjadi penentu keputusan. Serahkan semua urusan kepadaku, dan bawalah uang milik gereja kepadaku!" Beberapa orang berkata, "Mengapa kami harus memberikan uang gereja kepadamu?" dan antikristus tersebut menjawab, "Akulah pemimpinnya. Aku berhak mengendalikannya. Aku harus mengendalikan segalanya, termasuk persembahan!" Kemudian, dia mengambil alih segalanya. Para antikristus tidak peduli dengan masalah atau kesulitan apa pun yang dimiliki saudara-saudari dalam jalan masuk kehidupan mereka, atau buku-buku khotbah dan firman Tuhan apa yang belum mereka miliki. Yang mereka pedulikan adalah siapa yang memegang uang gereja untuk disimpan, dan ada berapa banyak uangnya, dan bagaimana uang tersebut digunakan. Jika Yang di Atas bertanya tentang keadaan keuangan gereja itu, bukan saja mereka tidak akan menyerahkan uang gereja, mereka bahkan tidak akan memberi tahu Yang di Atas tentang yang sebenarnya. Mengapa mereka tidak mau memberi tahu Yang di Atas? Karena mereka ingin menggelapkan dan mengambil uang milik gereja untuk diri mereka sendiri. Para antikristus memiliki minat tertinggi dalam hal-hal materiel, uang, dan status. Mereka tentu saja tidak seperti yang mereka katakan di permukaan, "Aku percaya kepada tuhan. Aku tidak mengejar dunia, dan aku tidak mendambakan uang." Mereka sama sekali tidak seperti yang mereka katakan. Mengapa mereka mengejar dan mempertahankan status dengan segenap kekuatan mereka? Karena mereka ingin memiliki, atau mengendalikan dan merebut semua yang ada dalam wilayah kekuasaan mereka, khususnya uang dan hal-hal materiel. Mereka menikmati uang ini dan hal-hal materiel ini seolah-olah semua itu adalah manfaat dari status mereka. Mereka adalah keturunan sejati dari penghulu malaikat, dengan esensi natur Iblis baik dalam sebutan maupun faktanya. Semua orang yang mengejar status dan menghargai uang tentu saja memiliki masalah dengan esensi watak mereka. Ini tidak sesederhana seperti hanya memiliki watak seorang antikristus: mereka sangat ambisius. Mereka ingin mengendalikan uang milik rumah Tuhan. Jika mereka diminta bertanggung jawab atas suatu pekerjaan, pertama-tama, mereka tidak akan mengizinkan orang lain ikut campur, mereka juga tidak akan menerima pertanyaan atau pengawasan dari Yang di Atas; selain itu, ketika mereka menjadi pengawas atas pekerjaan apa pun, mereka akan menemukan cara untuk memamerkan diri mereka sendiri, melindungi diri mereka sendiri, dan meninggikan diri mereka sendiri. Mereka selalu ingin terlihat paling menonjol, menjadi orang yang memerintah dan mengendalikan orang lain. Mereka juga ingin menguasai dan bersaing untuk mengejar status yang lebih tinggi, dan bahkan ingin mengendalikan setiap bagian dari rumah Tuhan, khususnya uangnya. Para antikristus memiliki kecintaan khusus terhadap uang. Ketika mereka melihatnya, mata mereka berbinar; dalam pikirannya, mereka selalu berpikir tentang uang dan berusaha untuk mendapatkannya. Semua ini adalah tanda dan sinyal dari para antikristus. Jika engkau mempersekutukan kebenaran dengan mereka, atau berusaha untuk mengetahui tentang keadaan saudara-saudari, mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti berapa banyak dari mereka yang lemah dan negatif, hasil apa yang diperoleh mereka masing-masing dalam pelaksanaan tugasnya, dan siapa di antara mereka yang tidak sesuai dengan tugasnya, para antikristus tidak akan tertarik. Namun, jika menyangkut persembahan milik Tuhan—jumlah uangnya, siapa yang menyimpannya, disimpan di mana, kode sandinya, dan sebagainya—inilah yang paling mereka pedulikan. Seorang antikristus memiliki keahlian yang luar biasa dengan hal-hal ini. Dia mengetahuinya dengan sangat baik. Ini pun merupakan tanda dari seorang antikristus. Para antikristus paling pandai mengucapkan perkataan yang terdengar muluk, tetapi mereka tidak melakukan pekerjaan nyata. Sebaliknya, mereka selalu disibukkan dengan pemikiran tentang menikmati persembahan milik Tuhan. Katakan kepada-Ku, bukankah antikristus tidak bermoral? Mereka sama sekali tidak memiliki kemanusiaan, mereka sepenuhnya adalah setan-setan. Dalam pekerjaannya, mereka selalu tidak mengizinkan orang lain ikut campur, menanyakan, atau mengawasi mereka. Inilah perilaku ketiga yang diperlihatkan oleh perwujudan kedelapan dari antikristus.
Beberapa waktu yang lalu, sebuah gereja di suatu negara membeli sebuah bangunan dan perlu merenovasinya, dan kebetulan pemimpin gereja di negara itu adalah seorang antikristus yang belum memperlihatkan dirinya yang sesungguhnya. Antikristus tersebut menggunakan seseorang yang tidak dikenal oleh siapa pun untuk merenovasi rumah tersebut, dan tak seorang pun tahu hubungan macam apa yang dimilikinya dengan orang tersebut. Akibatnya, orang jahat itu memanfaatkan situasi tersebut, dan banyak uang yang seharusnya tidak digunakan terbuang sia-sia selama renovasi. Ada beberapa perabot yang masih bisa digunakan yang ada di rumah itu, yang semuanya disingkirkan dan diganti dengan yang baru. Perabot lama yang disingkirkan itu kemudian dijual oleh orang jahat tersebut untuk menghasilkan uang. Perabot itu sebenarnya tidak rusak—masih bisa digunakan—tetapi orang jahat itu menggunakan sejumlah uang tambahan untuk membeli perabot yang baru, agar dapat memperoleh uang, untuk memanfaatkan situasi tersebut. Apakah antikristus tersebut tahu tentang hal-hal ini? Dia tahu. Lalu, mengapa dia membiarkan orang jahat itu bertindak dengan cara seperti itu? Karena mereka pasti memiliki hubungan yang tidak normal. Beberapa orang melihat masalah itu dan berencana untuk menindaklanjuti dan memeriksa pembangunan, untuk melihat bagaimana perkembangannya. Begitu mereka berkata bahwa mereka berencana untuk melihat pembangunan itu, antikristus tersebut menjadi khawatir dan gelisah, serta berkata, "Tidak! Tenggat waktunya belum tiba, tak seorang pun diizinkan untuk melihat!" Reaksinya begitu keras, begitu sensitif. Apakah ada sesuatu yang sedang terjadi di dalamnya? (Ya.) Orang-orang itu, yang sekarang agak takut, membahas masalah itu, "Ini tidak dapat diterima. Dia tidak mengizinkan kita melihat pembangunan itu. Pasti ada masalah di sini; kita harus pergi melihat ke lokasinya." Namun, antikristus itu tetap tidak mengizinkan pembangunan tersebut dilihat sampai pekerjaan itu selesai. Katakan kepada-Ku, bukankah orang-orang itu bingung? Fakta bahwa antikristus tersebut tidak mau mengizinkan pembangunan itu dilihat membuktikan bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi. Mereka harus segera melaporkannya kepada Yang di Atas, atau bersama-sama memberhentikannya, atau bersikeras untuk pergi melihat dan memeriksa pembangunan itu. Itu adalah tanggung jawab mereka. Jika mereka tidak dapat mengambil tanggung jawab tersebut, itu berarti mereka adalah pengecut yang tidak berguna dan tidak kompeten. Para pengecut yang tidak kompeten itu tidak bersikeras. Itu bukan masalah rumah mereka sendiri, jadi mereka mengabaikannya begitu saja. Seperti itulah egois dan tidak bertanggung jawabnya mereka. Ketika pekerjaan itu selesai, Aku melihat melalui sebuah video bahwa ada sebuah masalah. Masalah apa yang Kulihat? Ada sebuah meja di tengah-tengah ruang rapat, dan di sekelilingnya ada kursi-kursi dari kulit seperti yang digunakan di kantor-kantor mewah. Kursi-kursi yang Kududuki semuanya adalah kursi-kursi biasa, jadi haruskah orang-orang biasa itu menggunakan barang-barang mewah seperti itu? (Tidak.) Itulah jenis furnitur yang mereka berdua pasang, dan orang-orang di sana merasa sangat senang duduk di kursi tersebut. Begitu Aku menemukan masalahnya, Aku menelepon bajingan itu dan mulai menyelidiki masalah itu. Di mana-mana, di setiap ruangan, pemeriksaan menyingkapkan begitu banyak masalah dan kerugian keuangan yang besar. Banyak yang telah hilang. Beberapa perabot asli rumah itu masih dapat digunakan, tetapi orang jahat itu mengangkutnya ke luar dan menjualnya, untuk memperoleh uang darinya; selain itu, dia memperoleh uang ketika dia membeli perabot baru yang mahal itu; dan selain itu, dia memasang beberapa peralatan yang seharusnya tidak ada di gereja. Orang jahat itu melakukannya tanpa berkonsultasi dengan siapa pun. Ketika dia melakukannya, apakah antikristus tersebut mengetahuinya? Dia kemungkinan besar mengetahuinya. Dia itu pergi ke lokasi pekerjaan itu setiap hari, dan setelah melihatnya, dia tidak membuat laporan, tetapi membiarkan pemborosan orang tersebut. Betapa beraninya! Apakah dia seorang yang percaya kepada Tuhan? Setelah 20 tahun percaya kepada Tuhan, dia begitu menjijikkan, dan melakukan hal seperti itu. Orang macam apa dia? Dia bukan manusia! Bahkan orang baik di antara orang-orang tidak percaya tidak melakukan hal itu; sungguh tidak bermoral! Setiap kali Yang di Atas bertanya kepadanya tentang pekerjaan pembangunan itu, dia berpura-pura bodoh untuk menipu dan mengelabui Yang di Atas, menutupi dan menyembunyikan berbagai hal, dan pada akhirnya begitu banyak masalah muncul. Jadi, akankah berlebihan untuk mengusirnya dan membiarkannya mencari pekerjaan agar mendapatkan uang untuk mengganti kerugian tersebut? (Tidak.) Katakan kepada-Ku, sekalipun antikristus itu bisa mengembalikan uang itu, apakah dia akan menemukan kedamaian dalam hidup ini? Dapatkah dia hidup dengan tenang? Kurasa dia akan harus menghabiskan seluruh hidupnya dalam siksaan. Andai dia tahu bahwa tindakannya akan menjadi seperti ini, mengapa dia bertindak seperti itu pada waktu itu? Mengapa dia melakukannya sejak awal? Dia bukannya baru percaya kepada Tuhan selama satu atau dua tahun dan tidak mengetahui aturan di rumah-Nya, atau apa artinya memiliki hati yang takut akan Tuhan, atau apa arti kesetiaan. Setelah bertahun-tahun percaya kepada-Nya, dia sama sekali tidak berubah, dan meskipun dia mampu memberikan sedikit pelayanan, dia masih melakukan kejahatan seperti itu! Karena menjijikkan seperti itu, dia harus disingkirkan dan dikutuk!
Para antikristus memiliki kesamaan dalam cara mereka bekerja: pekerjaan apa pun yang sedang mereka lakukan, mereka tidak mengizinkan orang lain ikut campur atau menanyakan. Mereka selalu ingin menyembunyikan segala sesuatu dan menutupi segala sesuatu. Mereka pasti sedang merencanakan sesuatu; mereka tidak mengizinkan orang lain mengetahui masalah dalam pekerjaan mereka. Jika mereka melakukan segala sesuatu dengan cara yang benar dan jujur, dengan cara yang sesuai dengan kebenaran dan prinsip-prinsip, dengan hati nurani yang bersih, apa yang perlu mereka khawatirkan? Apanya yang tidak bisa diungkapkan? Mengapa mereka tidak mengizinkan orang lain untuk bertanya dan ikut campur? Apa yang mereka khawatirkan? Apa yang mereka takutkan? Jelaslah bahwa mereka sedang merencanakan sesuatu. Itu sangat jelas! Para antikristus bekerja tanpa transparansi apa pun. Ketika mereka telah melakukan sesuatu yang buruk, mereka memikirkan cara untuk menyembunyikannya dan menutupinya, membuat kesan yang palsu, bahkan terlibat dalam penipuan yang terang-terangan. Apa hasilnya? Tuhan memeriksa semuanya, dan meskipun orang lain mungkin tidak mengetahui sesuatu untuk sementara waktu, dan mungkin disesatkan untuk sementara waktu, harinya akan tiba ketika Tuhan menyingkapkannya. Di mata Tuhan, semuanya terbuka, semuanya tersingkap. Tidak ada gunanya bagimu untuk menyembunyikan sesuatu dari Tuhan. Dia Mahakuasa, dan ketika Dia memutuskan untuk menyingkapkanmu, semuanya akan tersingkap di siang bolong. Hanya antikristus, orang-orang bodoh yang tidak memiliki pemahaman rohani, dan yang memiliki natur penghulu malaikat, yang akan percaya, "Asalkan aku menutup rapat segala sesuatunya, dan tidak mengizinkanmu ikut campur atau bertanya, dan tidak mengizinkanmu mengawasi segala sesuatunya, kau tidak akan mengetahui apa pun, dan aku akan memegang kendali penuh atas gereja ini!" Mereka menganggap bahwa jika mereka memerintah sebagai para raja, mereka akan mampu mengendalikan situasi. Benarkah demikian? Mereka tidak tahu bahwa Tuhan itu Mahakuasa; kepandaian mereka hanya mereka sendiri yang menyatakannya. Tuhan memeriksa semuanya. Sebagai contoh, katakanlah engkau telah melakukan kejahatan hari ini. Tuhan memeriksanya, tetapi Dia tidak menyingkapkanmu, Dia memberimu kesempatan untuk bertobat. Engkau kembali melakukan kejahatan besok, dan tetap saja, engkau tidak memberikan pertanggungjawaban atau bertobat; Tuhan masih memberimu sebuah kesempatan, dan menunggumu untuk bertobat. Namun, jika engkau tetap tidak bertobat, Tuhan tidak akan ingin memberimu kesempatan itu. Dia akan merasa jijik terhadapmu dan membencimu, dan di lubuk hati-Nya, Dia tidak akan ingin menyelamatkanmu, dan Dia akan meninggalkanmu sepenuhnya. Dalam hal itu, hanya dalam hitungan menit sebelum Dia menyingkapkan dirimu, dan seperti apa pun engkau berusaha untuk menutupi sesuatu atau menghalangi hal ini, itu sama sekali tidak akan berhasil. Sebesar apa pun tanganmu, dapatkah engkau menghalangi langit dengan tangan itu? Betapa pun mampunya dirimu, dapatkah engkau menutupi mata Tuhan? (Tidak.) Semua itu adalah ide-ide bodoh manusia. Mengenai betapa Mahakuasanya sebenarnya Tuhan, manusia sudah dapat merasakan sedikit dari hal ini dalam firman-Nya. Selain itu, siapa pun di antara umat manusia yang rusak ini yang telah melakukan kejahatan besar dan melawan Tuhan secara langsung telah menghadapi berbagai hukuman, dan semua orang yang melihat ini sepenuhnya yakin, dan mengakuinya sebagai pembalasan. Bahkan orang-orang tidak percaya dapat melihat bahwa kebenaran Tuhan tidak menoleransi pelanggaran, jadi mereka yang percaya kepada-Nya seharusnya dapat lebih melihat hal ini. Kemahakuasaan dan hikmat Tuhan tidak terukur. Manusia tidak mungkin melihatnya dengan jelas. Ada lagu itu—bagaimana bunyinya? ("Perbuatan Tuhan Tak Terukur.") Inilah esensi Tuhan, penyingkapan sejati dari identitas dan esensi-Nya. Tidak perlu ada dugaan atau spekulasi darimu. Engkau hanya perlu memercayai firman itu, maka engkau tidak akan melakukan hal-hal bodoh seperti itu. Semua orang menganggap diri mereka cerdas; mereka menutup mata mereka dengan daun dan berkata, "Dapatkah Engkau melihatku?" Tuhan berkata, "Bukan saja Aku dapat melihat seluruh tubuhmu, Aku bahkan melihat hatimu, dan seberapa sering engkau telah pergi ke dunia manusia," dan orang-orang tercengang. Jangan menganggap dirimu cerdas; jangan berpikir, "Tuhan tidak tahu tentang hal ini, dan Dia tidak tahu tentang hal itu. Tidak ada saudara-saudari yang melihat. Tak seorang pun tahu. Aku punya rencana kecilku sendiri. Lihat betapa cerdasnya aku!" Di dunia ini, orang-orang yang tidak memahami kebenaran, atau tidak percaya bahwa Tuhan berdaulat atas segalanya, bukanlah orang yang cerdas. Apa pun yang mereka katakan atau lakukan, pada akhirnya, semuanya salah, semuanya melanggar kebenaran, semuanya menentang Tuhan. Hanya ada satu jenis orang yang cerdas. Jenis manakah itu? Jenis orang yang percaya bahwa Tuhan memeriksa semuanya, bahwa Dia dapat melihat semuanya, dan bahwa Dia berdaulat atas semuanya. Orang-orang semacam itu sangat cerdas, karena dalam semua yang mereka lakukan, mereka tunduk kepada Tuhan; semua yang mereka lakukan sesuai dengan kebenaran, diperkenan oleh Tuhan, dan diberkati oleh Tuhan. Entah seseorang cerdas atau tidak tergantung pada apakah mereka mampu tunduk kepada Tuhan; itu bergantung pada apakah yang mereka katakan dan lakukan sesuai dengan kebenaran. Jika engkau memiliki pemikiran ini, "Inilah pendapatku tentang masalah ini, dan itulah yang ingin kulakukan, karena itu akan bermanfaat bagiku, tetapi aku tidak ingin menceritakan hal ini kepada orang lain, dan aku pun tidak ingin mereka mengetahuinya." Apakah itu cara berpikir yang benar? (Tidak.) Apa yang harus kaulakukan jika engkau menyadari bahwa itu bukanlah cara berpikir yang benar? Engkau seharusnya menampar wajahmu sendiri, memberi pelajaran kepada dirimu sendiri. Engkau menganggap bahwa jika engkau tidak mengatakannya, Tuhan tidak akan tahu? Sebenarnya, ketika engkau sedang memiliki pemikiran itu, Tuhan mengetahui hatimu. Bagaimana Dia bisa tahu? Tuhan telah mengetahui yang sebenarnya mengenai esensi natur manusia. Jadi, mengapa Dia tidak menyingkapkanmu dalam hal ini? Bahkan tanpa Dia menyingkapkannya, engkau sendiri akan mampu memahaminya secara bertahap, karena engkau telah makan dan minum begitu banyak firman-Nya. Engkau memiliki hati nurani dan nalar, pikiran, dan pemikiran yang normal; engkau seharusnya mampu merenungkan mana yang benar dan yang salah. Tuhan memberimu waktu dan kesempatan untuk memikirkan semuanya secara perlahan, untuk melihat apakah engkau bodoh atau tidak. Engkau akan melihat hasilnya setelah memikirkan hal ini selama beberapa hari: engkau akan tahu bahwa engkau bodoh dan tolol, dan bahwa engkau tidak seharusnya berusaha menyembunyikan hal itu dari Tuhan. Dalam segala hal, engkau harus membuka dirimu sepenuhnya kepada Tuhan dan engkau harus bersikap terus terang—inilah satu-satunya kondisi dan keadaan yang harus dipertahankan di hadapan Tuhan. Bahkan saat engkau tidak terbuka, engkau terbuka di hadapan Tuhan. Dari sudut pandang Tuhan, Dia mengetahui faktanya, apakah engkau terbuka tentang hal itu atau tidak. Bukankah engkau sangat bodoh jika engkau tidak dapat melihat hal itu dengan jelas? Jadi bagaimana agar engkau menjadi orang yang pintar? Dengan membuka dirimu kepada Tuhan. Engkau tahu bahwa Tuhan memeriksa dan mengetahui segalanya, jadi jangan berpikir dirimu cerdas, dan berpikir bahwa Dia mungkin tidak tahu; karena Tuhan sudah pasti secara diam-diam mengamati hati orang, orang yang cerdas seharusnya sedikit lebih terus terang, sedikit lebih murni, dan bersikap jujur—itulah hal yang bijak untuk dilakukan. Selalu merasa bahwa engkau cerdas, selalu ingin menyimpan rahasia kecilmu sendiri, selalu berusaha menjaga sedikit privasi; apakah itu cara berpikir yang benar? Tidak masalah jika bersikap seperti itu kepada orang lain, karena ada orang-orang yang tidak memiliki karakter positif dan tidak mencintai kebenaran. Engkau bisa sedikit menahan diri terhadap orang-orang seperti itu. Jangan ungkapkan isi hatimu kepada mereka. Sebagai contoh, katakanlah ada seseorang yang kaubenci, dan engkau telah mengatakan hal-hal yang buruk tentang dirinya di belakangnya. Haruskah engkau memberi tahu mereka tentang hal itu? Jangan, cukup dengan tidak lagi melakukan hal seperti itu. Jika engkau membicarakannya, itu akan merusak hubungan di antara kalian berdua. Engkau tahu di dalam hatimu bahwa engkau tidak baik, bahwa hatimu kotor dan jahat, bahwa engkau iri terhadap orang lain, bahwa demi bersaing untuk mengejar ketenaran dan keuntungan, engkau telah mengatakan hal-hal yang buruk tentang orang lain di belakangnya untuk merusak reputasi mereka. Betapa kejinya! Engkau mengakui bahwa engkau rusak; engkau tahu bahwa apa yang kaulakukan itu salah, dan bahwa naturmu jahat. Lalu engkau datang ke hadapan Tuhan dan berdoa kepada-Nya, "Ya Tuhan, apa yang kulakukan secara rahasia adalah hal yang jahat dan keji. Kumohon, ampunilah aku, kumohon agar Engkau menuntunku, dan kumohon agar Engkau menegurku. Aku akan berusaha agar tidak lagi melakukan hal seperti itu." Melakukan itu tidaklah masalah. Engkau dapat menggunakan beberapa teknik dalam interaksimu dengan orang, tetapi yang terbaik adalah membuka dirimu kepada Tuhan secara tulus, dan jika engkau memiliki niat tersembunyi dan menggunakan teknik, maka engkau akan mendapat masalah. Dalam pikiranmu, engkau selalu berpikir, "Apa yang dapat kukatakan untuk membuat Tuhan menganggap tinggi diriku dan tidak mengetahui apa yang sedang kupikirkan di dalam hati? Apa hal yang benar untuk dikatakan? Aku harus lebih menyembunyikannya, aku harus sedikit lebih bijaksana, aku harus memiliki metode; mungkin barulah Tuhan akan mengagumiku." Apakah menurutmu Tuhan tidak akan tahu jika engkau selalu berpikir seperti itu? Tuhan tahu apa pun yang kaupikirkan. Sangat melelahkan untuk berpikir seperti itu. Jauh lebih sederhana untuk berbicara dengan jujur dan sesungguhnya, dan itu membuat hidupmu lebih mudah. Tuhan akan berkata bahwa engkau tulus dan murni, bahwa engkau memiliki hati yang jujur—dan itu sangat berharga. Jika engkau memiliki hati yang terus terang dan sikap yang tulus, sekalipun ada saat-saat ketika engkau bertindak terlalu jauh dan bertindak bodoh, bagi Tuhan ini bukanlah pelanggaran; itu lebih baik daripada bersikap sangat perhitungan, dan lebih baik daripada perenungan dan prosesmu yang terus-menerus. Apakah antikristus mampu melakukan hal-hal ini? (Tidak, mereka tidak mampu.)
Semua orang yang menempuh jalan antikristus adalah orang-orang dengan watak antikristus, dan jalan yang ditempuh oleh orang-orang dengan watak antikristus adalah jalan antikristus. Namun, ada sedikit perbedaan antara seseorang dengan watak antikristus dan antikristus. Jika seseorang memiliki watak antikristus dan dapat menempuh jalan antikristus, itu tidak serta-merta menunjukkan bahwa dia adalah seorang antikristus. Namun, jika dia tidak bertobat dan tidak mampu menerima kebenaran, dia dapat berubah menjadi seorang antikristus. Masih ada harapan dan kesempatan untuk bertobat bagi orang-orang yang menempuh jalan antikristus karena mereka belum menjadi antikristus. Jika mereka melakukan berbagai macam kejahatan dan digolongkan sebagai antikristus, dan dengan demikian langsung dikeluarkan dan diusir, mereka tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk bertobat. Jika seseorang yang menempuh jalan antikristus belum melakukan banyak kejahatan, ini setidaknya menunjukkan bahwa dia belum menjadi orang jahat. Jika dia mampu menerima kebenaran, ada secercah harapan baginya. Jika dia tidak mau menerima kebenaran, apa pun yang terjadi, akan sangat sulit baginya untuk diselamatkan, sekalipun dia belum melakukan segala macam kejahatan. Mengapa seorang antikristus tidak dapat diselamatkan? Karena dia tidak menerima kebenaran sedikit pun. Seperti apa pun rumah Tuhan bersekutu tentang menjadi orang yang jujur—tentang bagaimana orang harus bersikap terbuka dan tulus, berterus terang, serta tidak berbuat licik, dia tidak dapat menerimanya. Dia selalu merasa bahwa orang akan rugi dengan bersikap jujur dan bahwa mengatakan yang sebenarnya adalah hal bodoh. Dia bertekad untuk tidak menjadi orang yang jujur. Inilah natur antikristus, yaitu muak akan kebenaran dan membencinya. Bagaimana seseorang dapat diselamatkan jika dia tidak menerima kebenaran sedikit pun? Jika seseorang yang menempuh jalan antikristus mampu menerima kebenaran, ada perbedaan yang jelas antara dirinya dan seorang antikristus. Semua antikristus adalah orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran sedikit pun. Sebanyak apa pun kesalahan atau kejahatan yang telah mereka lakukan, sebesar apa pun kerugian yang telah mereka timbulkan bagi pekerjaan gereja dan kepentingan rumah Tuhan, mereka tidak akan pernah merenungkan dan mengenali diri mereka sendiri. Sekalipun mereka dipangkas, mereka sama sekali tidak mau menerima kebenaran; itulah sebabnya gereja menggolongkan mereka sebagai orang-orang jahat, sebagai antikristus. Seorang antikristus paling-paling hanya akan mengakui bahwa tindakannya melanggar prinsip dan tidak sesuai dengan kebenaran, tetapi dia sama sekali tidak akan pernah mengakui bahwa dia melakukan kejahatan dengan sengaja, atau menentang Tuhan dengan sengaja. Dia hanya akan mengakui kesalahan, tetapi dia tidak mau menerima kebenaran; dan setelah itu, dia akan terus melakukan kejahatan seperti sebelumnya, tanpa menerapkan kebenaran apa pun. Dari fakta bahwa antikristus tidak pernah menerima kebenaran, dapat dilihat bahwa esensi natur antikristus adalah muak akan kebenaran dan membencinya. Mereka tetaplah orang-orang yang selalu menentang Tuhan, seberapapun lamanya mereka percaya kepada-Nya. Meskipun semua umat manusia yang rusak biasanya mungkin memiliki watak antikristus, tetapi ada perbedaan antara mereka dan para antikristus. Ada orang-orang yang mampu mengingat firman penghakiman dan penyingkapan Tuhan di dalam hati mereka setelah mereka mendengarnya dan merenungkannya, serta merenungkan diri mereka sendiri berulang kali. Mereka kemudian mungkin menyadari, "Jadi inilah watak antikristus; inilah yang dimaksud dengan menempuh jalan antikristus. Sungguh masalah yang serius! Keadaan dan perilakuku seperti itu; aku memiliki esensi seperti itu. Aku adalah orang seperti itu!" Mereka kemudian memikirkan bagaimana mereka dapat menyingkirkan watak antikristus itu dan sungguh-sungguh bertobat, setelah itu, mereka dapat bertekad untuk tidak menempuh jalan antikristus. Dalam pekerjaan dan kehidupan mereka, dalam sikap mereka terhadap orang, peristiwa, dan hal-hal serta terhadap amanat Tuhan, mereka mampu merenungkan tindakan dan perilaku mereka sendiri, tentang mengapa mereka tidak mampu tunduk kepada Tuhan, mengapa mereka selalu hidup berdasarkan watak Iblis, mengapa mereka tidak mampu memberontak terhadap daging dan Iblis. Jadi, mereka akan berdoa kepada Tuhan, dan menerima penghakiman dan hajaran-Nya, serta dengan sungguh-sungguh memohon agar Tuhan menyelamatkan mereka dari watak rusak mereka dan dari pengaruh Iblis. Adanya tekad mereka untuk melakukan hal ini membuktikan bahwa mereka mampu menerima kebenaran. Mereka juga memperlihatkan watak yang rusak, dan bertindak berdasarkan kehendak mereka sendiri; perbedaannya adalah bahwa seorang antikristus tidak hanya memiliki ambisi dan hasrat untuk mendirikan kerajaannya sendiri, dia juga tidak mau menerima kebenaran, apa pun yang terjadi. Inilah kelemahan utama seorang antikristus. Di sisi lain, jika seseorang dengan watak antikristus mampu menerima kebenaran dan berdoa kepada Tuhan serta mengandalkan-Nya, dan jika dia ingin menyingkirkan watak rusak Iblis, serta menempuh jalan mengejar kebenaran, manfaat apakah yang bisa diberikan oleh doa dan tekad seperti itu bagi jalan masuk kehidupannya? Setidaknya hal itu akan membuatnya merenungkan dirinya sendiri dan mengenal dirinya sendiri saat dia melaksanakan tugasnya, dan menggunakan kebenaran untuk menyelesaikan masalah, sehingga dia dapat melaksanakan tugasnya dengan memenuhi standar. Itulah salah satu cara yang akan bermanfaat baginya. Selain itu, dengan pelatihan yang diberikan oleh pelaksanaan tugasnya, dia akan mampu memulai jalan mengejar kebenaran. Apa pun kesulitan yang dia hadapi, dia akan mampu mencari kebenaran, berfokus pada menerima kebenaran dan menerapkannya; dia akan mampu menyingkirkan watak Iblisnya, dan mulai tunduk kepada Tuhan serta menyembah-Nya. Dia dapat memperoleh keselamatan Tuhan dengan melakukan penerapan seperti itu. Orang yang memiliki watak seorang antikristus mungkin sesekali memperlihatkan kerusakan, dan dia mungkin masih berbicara dan bertindak demi ketenaran, keuntungan, dan statusnya, meskipun dia tidak bermaksud untuk melakukannya, dan dia mungkin tetap bekerja berdasarkan kehendaknya sendiri, tetapi begitu dia menyadari bahwa dia sedang memperlihatkan watak rusaknya, dia akan merasa menyesal, dan berdoa kepada Tuhan. Ini membuktikan bahwa dia adalah seseorang yang mampu menerima kebenaran, yang tunduk pada pekerjaan Tuhan; ini membuktikan bahwa dia sedang mengejar jalan masuk kehidupan. Berapa tahun pun pengalaman yang dimiliki seseorang, atau seberapa banyak kerusakan yang dia perlihatkan, dia pada akhirnya akan mampu menerima kebenaran, dan masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Dia adalah seseorang yang tunduk pada pekerjaan Tuhan. Seraya dia melakukan semua ini, itu menunjukkan bahwa dia telah membangun dasarnya di jalan yang benar. Namun, ada orang-orang yang menempuh jalan antikristus yang tidak mampu menerima kebenaran. Bagi mereka, keselamatan akan sama sulitnya untuk diperoleh seperti halnya bagi antikristus. Orang-orang semacam itu tidak merasakan apa pun saat mereka mendengar firman Tuhan yang menyingkapkan antikristus, mereka malah acuh tak acuh dan tidak tergerak. Ketika persekutuan beralih ke topik tentang watak antikristus, mereka akan mengakui bahwa mereka memiliki watak antikristus dan bahwa mereka sedang menempuh jalan antikristus. Mereka akan membicarakan hal itu dengan cukup baik. Namun, ketika tiba saatnya untuk menerapkan kebenaran, mereka akan tetap menolak untuk melakukannya; mereka akan tetap bertindak berdasarkan kehendak mereka sendiri, dengan mengandalkan watak antikristus mereka. Jika engkau bertanya kepada mereka, "Apakah batinmu bergumul saat kau memperlihatkan watak antikristus? Apakah kau merasakan penyesalan ketika kau berbicara untuk melindungi statusmu? Apakah kau merenungkan dan mulai mengenal dirimu sendiri saat kau memperlihatkan watak antikristus? Apakah kau menyesal di dalam hatimu setelah kau memahami watak rusakmu? Apakah kau bertobat atau berubah sesudahnya?" Mereka pasti tidak memiliki jawabannya karena mereka belum memiliki pengalaman dan pemahaman seperti itu. Mereka tidak akan mampu mengatakan apa pun. Apakah orang-orang semacam ini mampu sungguh-sungguh bertobat? Itu pasti tidak akan mudah. Mereka yang benar-benar mengejar kebenaran akan merasa menderita oleh setiap penyingkapan watak antikristus dalam diri mereka dan menjadi cemas; mereka akan berpikir, "Mengapa aku sama sekali tidak mampu menyingkirkan watak Iblis ini? Mengapa aku selalu memperlihatkan watak yang rusak? Mengapa watak rusakku ini begitu keras kepala dan sulit untuk ditangani? Mengapa begitu sulit untuk masuk ke dalam kenyataan kebenaran?" Ini menunjukkan bahwa pengalaman hidup mereka dangkal, dan bahwa watak rusak mereka sama sekali belum diatasi. Itulah sebabnya pergulatan di hati mereka berkecamuk begitu dahsyat ketika sesuatu menimpa mereka, dan itulah sebabnya mereka juga menanggung beban berat dari siksaan itu. Meskipun mereka memiliki tekad untuk menyingkirkan watak Iblis mereka, mereka pasti tidak dapat melakukannya tanpa pergulatan melawannya di dalam hati mereka, dan keadaan bergulat itu makin meningkat dari hari ke hari. Seiring dengan pengenalan mereka akan diri sendiri yang makin dalam, dan mereka memahami betapa dalamnya kerusakan mereka, mereka makin mendambakan untuk memperoleh kebenaran dan makin menghargainya, serta akan mampu menerima dan menerapkan kebenaran tanpa henti selama proses mengenal diri sendiri dan watak rusak mereka. Tingkat pertumbuhan mereka akan secara berangsur-angsur bertumbuh, dan watak hidup mereka akan mulai benar-benar berubah. Jika mereka terus berusaha mengalami dengan cara ini, situasi mereka akan makin membaik dari tahun ke tahun, dan pada akhirnya, mereka akan mampu mengalahkan daging dan menyingkirkan kerusakan mereka, sering menerapkan kebenaran, dan mencapai ketundukan kepada Tuhan. Jalan masuk kehidupan tidaklah mudah! Itu sama seperti membangunkan seseorang yang akan meninggal: tanggung jawab yang dapat orang penuhi adalah mempersekutukan kebenaran, menyokong mereka, membekali mereka, atau memangkas mereka. Jika mereka dapat menerimanya dan tunduk, ada harapan bagi mereka; mereka mungkin cukup beruntung bisa lolos, dan segalanya tidak akan berujung pada kematian. Namun, jika mereka menolak untuk menerima kebenaran, dan sama sekali tidak mengenal diri mereka sendiri, maka mereka berada dalam bahaya. Ada para antikristus yang tidak mengenal diri mereka sendiri setelah disingkirkan selama satu atau dua tahun, dan tidak mengakui kesalahan mereka. Dalam kasus seperti itu, tidak ada tanda-tanda kehidupan yang tersisa dalam diri mereka, dan itu adalah bukti bahwa mereka tidak memiliki harapan lagi untuk diselamatkan. Ketika engkau semua sedang dipangkas, mampukah engkau menerima kebenaran? (Ya.) Itu berarti ada harapan. Itu adalah hal yang baik! Jika engkau mampu menerima kebenaran, engkau memiliki harapan untuk diselamatkan.
Jika engkau ingin diselamatkan, engkau harus melewati banyak rintangan. Rintangan apakah itu? Pergulatan tanpa henti dalam melawan watak rusakmu, dan pergulatan melawan watak Iblis dan antikristus: watak-watak rusak tersebut ingin mengendalikanmu, dan engkau ingin melepaskan diri darinya; dia ingin menyesatkanmu, dan engkau ingin menolaknya. Jika engkau merasa bahwa engkau tidak mampu melepaskan dirimu dari watak rusakmu bahkan setelah engkau mulai memahaminya, engkau akan tertekan dan menderita, dan engkau akan berdoa. Terkadang engkau melihat bahwa engkau masih belum dapat melepaskan diri dari kendali watak Iblis setelah beberapa waktu, dan engkau merasa tidak ada harapan, tetapi engkau tidak mau menyerah, dan engkau akan merasa bahwa engkau tidak boleh terus bersikap negatif dan putus harapan, bahwa engkau harus terus berjuang. Dalam proses melaksanakan tugas dan proses mengalami pekerjaan Tuhan, orang-orang memiliki respons internal yang beragam, secara bertahap. Singkatnya, mereka yang memiliki hidup adalah mereka yang mengejar kebenaran, dan di dalam dirinya, mereka terus-menerus berubah. Akan ada perubahan yang terus-menerus dalam pemikiran dan pandangan mereka, dalam perilaku dan kebiasaan mereka, dan bahkan dalam niat, ide, dan pemikiran mereka yang terdalam. Selain itu, mereka akan membedakan dengan makin jelas apa yang benar dan apa yang salah, serta apa saja kesalahan yang telah mereka lakukan, dan apakah suatu cara berpikir itu benar atau salah, serta apakah suatu pandangan sesuai dengan kebenaran, dan apakah prinsip-prinsip di balik tindakan hingga taraf tertentu sesuai dengan maksud-maksud Tuhan, dan apakah mereka adalah orang yang tunduk kepada Tuhan, orang yang mencintai kebenaran. Hal-hal ini secara berangsur akan makin jelas di dalam hati mereka. Lalu, di atas dasar apakah pencapaian dari hasil-hasil ini dibangun? Dasarnya adalah menerapkan dan masuk ke dalam kebenaran ketika mereka memahaminya. Mengapa para antikristus sama sekali tidak mampu mencapai perubahan? Mampukah mereka memahami kebenaran? (Ya, mampu.) Mereka mampu memahaminya, tetapi mereka tidak menerapkannya, dan mereka tidak menerapkannya ketika mereka mendengarnya. Mereka mungkin memahaminya dan menerimanya sebagai doktrin, tetapi mampukah mereka menerapkan sedikit doktrin dan aturan yang mampu mereka pahami itu? Tidak, sama sekali tidak; sekalipun engkau memaksa mereka, sekalipun mereka berusaha keras, tetap saja, mereka tidak akan mampu menerapkannya. Itulah sebabnya bagi mereka, masuk ke dalam kebenaran tetap merupakan kekosongan yang abadi. Sebanyak apa pun seorang antikristus dapat berbicara tentang menjadi orang yang jujur, sebesar apa pun upayanya, dia tetap tidak mampu membuat satu pun pernyataan yang jujur; dan seperti apa pun dia berbicara tentang memikirkan maksud Tuhan, dia tetap tidak akan melepaskan motivasinya yang egois dan keji. Dia bertindak dari sudut pandang yang egois. Ketika dia melihat sesuatu yang baik, sesuatu yang akan bermanfaat baginya, dia berkata, "Berikan kepadaku. Itu milikku!" Dia mengatakan apa pun yang akan bermanfaat bagi statusnya dan dia melakukan apa pun yang akan bermanfaat bagi dirinya sendiri. Inilah esensi antikristus. Dalam puncak gairah sesaat, dia mungkin merasa bahwa dia telah memahami sedikit kebenaran. Kegairahan memengaruhinya, dan dia meneriakkan beberapa slogan, "Aku harus melakukan penerapan dan berubah, serta memuaskan tuhan!" Namun, ketika tiba saatnya untuk menerapkan kebenaran, apakah dia menerapkannya? Tidak. Apa pun yang Tuhan firmankan, sebanyak apa pun kebenaran dan fakta yang Dia khotbahkan, bersama dengan beberapa contoh nyata, itu tidak mampu menggerakkan seorang antikristus, juga tidak mampu menggoyahkan ambisinya. Inilah ciri dan tanda seorang antikristus. Dia sama sekali tidak akan menerapkan kebenaran apa pun. Ketika dia berbicara dengan baik, itu untuk didengar orang lain, dan sebaik apa pun dia berbicara, itu hanyalah perkataan kosong dan muluk-muluk, itu adalah teori baginya. Bagaimana orang semacam ini sebenarnya menempatkan kebenaran di dalam hatinya? Apa yang telah Kukatakan kepadamu yang merupakan esensi natur seorang antikristus? (Kebencian terhadap kebenaran.) Benar. Dia membenci kebenaran. Dia meyakini bahwa kejahatannya, keegoisan dan kekejiannya, kecongkakannya, kekejamannya, perebutan status dan kekayaannya, serta kendalinya atas orang lain adalah kebenaran tertinggi, falsafah tertinggi, dan tidak ada hal lain yang lebih tinggi daripada hal-hal tersebut. Begitu dia memperoleh status dan dapat mengendalikan orang lain, dia dapat melakukan apa pun yang dia inginkan, dan semua ambisi dan hasratnya kemudian dapat tercapai. Inilah tujuan akhir seorang antikristus.
Para antikristus muak akan kebenaran dan membencinya. Mungkinkah bagimu untuk membuat seseorang yang muak akan kebenaran menerima kebenaran dan menerapkannya? (Tidak.) Melakukan itu sama saja dengan meminta seekor sapi untuk memanjat pohon atau seekor serigala untuk memakan jerami. Bukankah itu meminta hal yang mustahil dari mereka? Terkadang engkau akan melihat seekor serigala menyelinap ke kawanan domba dan tinggal bersama mereka. Itu adalah tipu muslihat untuk menipu mereka, menunggu kesempatannya untuk memakan domba. Naturnya tidak akan pernah berubah. Demikian pula, meminta seorang antikristus untuk menerapkan kebenaran sama saja dengan meminta seekor serigala untuk memakan jerami dan meninggalkan instingnya untuk memakan domba: itu tidak mungkin. Serigala adalah karnivora. Mereka memakan domba. Mereka memakan semua jenis hewan. Itu adalah natur mereka, dan itu tidak dapat diubah. Jika seseorang berkata, "Aku tidak tahu apakah aku seorang antikristus atau bukan, tetapi setiap kali aku mendengar kebenaran dipersekutukan, hatiku berkobar dengan amarah, dan aku membencinya, dan siapa pun yang memangkasku, aku lebih membenci mereka," apakah orang itu adalah seorang antikristus? (Ya.) Seseorang berkata, "Ketika sesuatu menimpamu, kau harus tunduk dan mencari kebenaran," dan orang pertama tadi berkata, "Tunduk? Enak saja! Tutup mulutmu!" Hal macam apakah itu? Apakah itu sifat pemarah? (Bukan.) Watak apakah itu? (Kebencian terhadap kebenaran.) Dia bahkan tidak akan mendengarkan pembicaraan tentang hal itu, dan segera setelah engkau mempersekutukan kebenaran, naturnya meledak, dan dia memperlihatkan dirinya yang sebenarnya. Dia tidak suka mendengar apa pun yang menyinggung tentang mencari kebenaran atau tunduk kepada Tuhan. Seberapa besar ketidaksukaannya? Ketika dia mendengar pembicaraan seperti itu, dia meledak. Kesopanannya lenyap; dia tidak takut dirinya tersingkap. Sejauh itulah kebenciannya. Mampukah dia menerapkan kebenaran? (Tidak.) Kebenaran tidak diberikan untuk orang jahat; kebenaran diberikan untuk orang-orang yang memiliki hati nurani dan bernalar, yang mencintai kebenaran dan hal-hal positif. Kebenaran menuntut orang-orang itu untuk menerimanya dan menerapkannya. Sedangkan orang-orang jahat dengan esensi antikristus, yang sangat memusuhi kebenaran dan hal-hal positif, mereka tidak akan pernah menerima kebenaran. Seberapa lamanya pun mereka telah percaya kepada Tuhan, sebanyak apa pun khotbah yang mereka dengar, mereka tidak akan menerima atau menerapkan kebenaran. Jangan mengira bahwa mereka tidak menerapkan kebenaran karena mereka tidak memahaminya, dan bahwa mereka akan mengerti ketika mereka telah lebih banyak mendengarnya. Itu tidak mungkin karena semua orang yang muak akan kebenaran dan membencinya adalah sejenis Iblis. Mereka tidak akan pernah berubah, dan tak ada seorang pun yang dapat mengubah mereka. Itu sama seperti penghulu malaikat, setelah mengkhianati Tuhan: pernahkah engkau semua mendengar Tuhan berkata bahwa Dia akan menyelamatkan penghulu malaikat? Tuhan tidak pernah mengatakannya. Jadi, apa yang Tuhan lakukan terhadap Iblis? Dia melemparkannya ke udara dan membiarkannya melakukan pelayanan untuk-Nya di bumi, melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Ketika dia selesai melakukan pelayanan, dan rencana pengelolaan Tuhan selesai, Tuhan akan memusnahkannya, dan tamatlah riwayatnya. Apakah Tuhan mengatakan satu hal lain kepadanya? (Tidak.) Mengapa tidak? Karena itu tidak akan ada gunanya. Mengatakan satu hal lain akan menjadi berlebihan. Tuhan telah mengetahui yang sebenarnya mengenai dia: esensi natur seorang antikristus tidak akan pernah berubah. Memang begitulah adanya.
Ketika engkau semua bertemu dengan seorang antikristus, bagaimana engkau seharusnya memperlakukannya? Ada beberapa pemimpin yang telah digolongkan sebagai pemimpin palsu atau antikristus, dan digantikan. Mengenai salah satu dari mereka, setelah beberapa waktu, saudara-saudari melaporkan bahwa dia masih mampu melakukan pekerjaan, bahwa dia telah bertobat sementara itu dan performanya telah membaik. Tidak begitu jelas secara spesifik apakah performanya telah membaik dalam hal perilaku, atau apakah dia telah berbicara dengan muluk-muluk, atau apakah dia telah menjadi lebih disiplin dalam perannya. Karena saudara-saudari mengatakan bahwa performanya telah membaik, dan mengingat bahwa ada kekurangan tenaga kerja untuk beberapa pekerjaan, maka diaturlah bahwa dia harus mengerjakan suatu pekerjaan. Sebagai hasilnya, tidak sampai dua bulan kemudian, saudara-saudari membuat laporan, "Gantikan dia segera. Dia terlalu menekan kami sehingga kami merasa derita. Jika dia tidak diganti, kami tidak akan dapat melaksanakan tugas kami." Mereka tidak akan setuju untuk menggunakannya, apa pun yang terjadi; siapa pun yang mereka pilih sebagai pemimpin, mereka tidak memilih dia lagi. Dia masih punya akhlak yang sama seperti dahulu. Pembicaraannya terdengar baik, tetapi sebenarnya dia tidak berubah sedikit pun. Apa yang terjadi? Naturnya telah benar-benar tersingkap. Menurutmu, bagaimana masalah ini harus ditangani? Reaksi saudara-saudari yang keras seperti itu membuktikan bahwa mereka memang memiliki sedikit kearifan. Ada orang-orang yang telah disesatkan olehnya, dan setelah Yang di Atas menanganinya, ada orang-orang yang membelanya, dan belakangan beberapa orang berkata bahwa dia telah bertobat. Jadi, dia dipromosikan sekali lagi, dan setelah beberapa waktu, dia tersingkap sepenuhnya. Saudara-saudari sekarang telah mengetahui yang sebenarnya mengenai dirinya, dan mereka telah bersatu untuk memberhentikannya. Yang di Atas melihat bahwa orang-orang ini sekarang memiliki kearifan. Penyiraman yang dilakukan terhadap mereka tidak sia-sia. Jadi, karena mereka semua tidak setuju terhadap penggunaan orang itu, Yang di Atas menggantinya. Berasal dari manakah kearifan mereka? (Dari pemahaman akan kebenaran.) Ya, mereka telah memahami kebenaran. Kearifan berasal dari pemahaman akan kebenaran. Bukankah kebenaran dan Tuhan tetap berkuasa di sana? (Ya.) Kearifan mereka tepat waktu: setelah orang itu diberhentikan, saudara-saudari tidak lagi dikendalikan olehnya. Orang-orang telah sangat menderita di bawah penindasannya. Dia sama sekali tidak memiliki kemanusiaan. Dia tidak melaksanakan tugasnya dengan semestinya, tetapi mengganggu saudara-saudari dalam pelaksanaan tugas mereka. Dia berbuat sesuka hati tanpa memedulikan mereka dan memanfaatkan mereka dengan kekuasaannya. Siapa yang akan menyetujui hal itu? Hanya orang bodoh yang setuju! Ketika orang-orang semacam itu diganti, apakah mereka memiliki perasaan tentang hal itu sesudahnya? Sebelumnya, orang tersebut diberhentikan oleh Yang di Atas; kali ini, dia diberhentikan oleh saudara-saudari, diprotes keras. Itu bukan cara berhenti yang baik! Dia awalnya ingin mencari kedudukan. Ternyata dia tidak mendapatkannya, tetapi jatuh terjerembap dan kembali ke keadaan awalnya. Bukankah seharusnya dia merenungkan dirinya sendiri? (Ya.) Jika dia telah menjadi orang yang normal, hanya seseorang yang wataknya sangat rusak, bukankah dia juga harus merenungkan dirinya sendiri? (Ya.) Ada tipe orang yang tidak merenung. Dia menganggap bahwa dia benar, bahwa apa pun yang dia lakukan adalah benar; dia tidak menerima fakta, dia tidak menerima hal-hal positif, dan dia tidak menerima penilaian orang lain terhadapnya. Dia adalah orang-orang yang memiliki esensi watak seorang antikristus. Para antikristus sendiri tidak tahu cara merenungkan diri mereka sendiri. Apa yang mereka renungkan sebagai gantinya? "Hmm! Harinya akan tiba ketika bintangku akan terbit sekali lagi. Tunggu saja sampai kalian berada dalam genggamanku. Lihat saja bagaimana aku akan menyiksamu nanti!" Akankah dia memiliki kesempatan untuk melakukannya? (Tidak.) Dia sudah tidak memiliki kesempatan lagi. Ketika saudara-saudari mulai memahami lebih banyak kebenaran, dan ketika mereka mampu mengenali yang sebenarnya dari beragam keadaan orang, khususnya mengenali antikristus, ruang yang tersisa bagi seorang antikristus untuk melakukan kejahatan akan makin kecil, dan dia akan memiliki kesempatan makin sedikit untuk melakukannya. Tidak akan mudah baginya untuk mencoba bangkit kembali. Dia berharap Yang di Atas akan mengurangi khotbah tentang kearifan dan tidak lagi mengetahui dirinya yang sebenarnya. Ketika dia mendengar kebenaran seperti itu, dia tahu bahwa semuanya sudah berakhir baginya, dan merasa bahwa tidak ada harapan lagi untuk bangkit. Perenungannya tidak seperti ini: "Apa yang telah disingkapkan dan dikenali mereka itu benar. Itu sepenuhnya mencerminkan keadaanku. Bagaimana aku harus berubah? Jika aku terus berperilaku seperti ini, bukankah itu akan menjadi akhir bagiku? Aku akan dianggap tidak berguna. Apa gunanya menempuh jalan penghulu malaikat dan menentang Tuhan?" Apakah dia akan merenung seperti itu? (Tidak.) Dia tidak akan merenung, dan dia pasti tidak akan merenungkan dirinya sendiri dan mencoba mengenal dirinya sendiri; sebaliknya, dia tidak bertobat sekalipun mati. Itulah naturnya. Seperti apa pun engkau mempersekutukan kebenaran, itu tidak akan membangunkannya atau membuatnya bertobat. Apakah ada jalan keluar tanpa pertobatan? (Tidak ada.) Dia tidak bertobat. Dia mengikuti jalannya sampai akhir yang getir, menuju kehancuran yang dia sebabkan sendiri, itulah yang ditentukan oleh natur antikristus.
Selama ini kita telah membahas topik tentang mengenali antikristus. Menurutmu, perasaan apa yang dimiliki oleh mereka yang adalah antikristus saat mereka mendengarkan? Ketika tiba saatnya untuk berkumpul, mereka merasakan siksaan yang tak tertahankan, dan hatinya menentang. Bukankah mereka adalah antikristus? (Ya.) Ketika seseorang yang normal dengan watak yang rusak tahu bahwa dia memiliki watak antikristus, dia dengan penuh semangat segera mendengar dan memahami lebih banyak karena begitu mereka telah mengerti, saat itulah mereka akan mampu mengejar perubahan. Mereka beranggapan bahwa jika mereka tidak mengerti, mereka akan tersesat, dan mungkin akan datang saatnya ketika mereka menempuh jalan antikristus, di mana mereka akan melakukan kejahatan besar, lepas kendali, dan dengan demikian kehilangan kesempatan mereka untuk diselamatkan, dan dimusnahkan. Mereka takut akan hal ini. Pola pikir seorang antikristus berbeda. Dia sungguh berharap bahwa tak ada seorang pun yang membicarakan atau mendengarkan khotbah-khotbah tentang kearifan; dia benar-benar berharap semua orang menjadi bingung dan tidak arif, serta disesatkan olehnya. Itulah yang akan membuatnya senang. Apakah keinginan terbesar seorang antikristus? Mengambil alih kekuasaan. Apakah engkau semua ingin mengambil alih kekuasaan? (Tidak.) Tidak dengan hatimu, tetapi terkadang hal itu muncul dalam pikiranmu sebagai sesuatu yang kauinginkan, dan itu sebenarnya adalah sesuatu yang ingin kaulakukan. Engkau mungkin memiliki keinginan subjektif di dalam dirimu, kerinduan di lubuk hatimu untuk tidak menjadi orang seperti itu, tidak menempuh jalan itu, tetapi ketika sesuatu terjadi padamu, watak rusakmu menggoyahkanmu dan mendorongmu. Engkau memeras otakmu memikirkan bagaimana engkau akan melindungi status dan pengaruhmu, berapa banyak orang yang dapat kaukendalikan, bagaimana cara berbicara dengan otoritas, untuk mendapatkan penghormatan orang lain. Ketika engkau selalu memikirkan hal-hal ini, hatimu tidak lagi berada di bawah kendalimu. Apa yang sedang mengendalikannya? (Watak yang rusak.) Ya, hatimu berada di bawah kendali watak rusak Iblis. Seseorang merenung sepanjang hari tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kepentingan dagingnya; dia selalu bertengkar dengan orang lain, dan mereka tidak memperoleh apa pun dari pertengkaran ini. Itu sangat menyakitkan bagi mereka, mereka hanya hidup untuk daging dan Iblis. Jadi, dia bertekad untuk melaksanakan tugasnya dengan baik dan hidup bagi Tuhan, hanya untuk kembali berjuang mengejar status dan kepentingannya ketika berbagai hal menimpanya: dia terus-menerus berjuang hingga kelelahan dan tidak mendapatkan apa pun. Katakan kepada-Ku, bukankah itu cara hidup yang melelahkan? (Ya.) Dia hidup seperti itu hari demi hari, dan sebelum dia menyadarinya, sudah puluhan tahun berlalu. Ada orang-orang yang percaya kepada Tuhan selama sepuluh atau dua puluh tahun. Berapa banyak kebenaran yang telah mereka peroleh? Berapa banyak watak rusak mereka yang telah berubah? Untuk siapa mereka hidup setiap hari? Untuk apa mereka menyibukkan diri mereka? Untuk apa mereka memeras otak mereka? Semuanya demi daging. Tuhan berkata bahwa "setiap pikiran dan maksud hati manusia selalu jahat". Apakah ada kesalahan dalam firman tersebut? Rasakanlah itu; nikmatilah itu. Ketika engkau merenungkan firman ini, ketika engkau mengalaminya, bukankah engkau merasa takut? Engkau mungkin berkata, "Aku memang merasa takut. Secara lahiriah, aku membayar harga sepanjang hari; aku meninggalkan, mengorbankan diriku, serta menderita. Itulah yang dilakukan tubuh dagingku. Namun, semua pemikiran hatiku jahat. Semuanya bertentangan dengan kebenaran. Dalam banyak hal yang kulakukan, asal tindakanku, motifku, dan tujuanku hanyalah tentang melakukan kejahatan dari pemikiranku sendiri." Apa hasil dari tindakan seperti itu? Perbuatan jahat. Akankah Tuhan mengingatnya? Ada orang-orang yang mungkin berkata, "Aku telah percaya kepada Tuhan selama dua puluh tahun. Aku telah meninggalkan segalanya, dan tetap saja, Tuhan tidak mengingatnya." Mereka sedih dan menderita. Apa yang membuat mereka menderita? Jika Tuhan benar-benar ketat terhadap manusia, manusia tidak akan memiliki apa pun untuk dibanggakan. Semua ini adalah kasih karunia Tuhan, belas kasihan-Nya. Tuhan sangat toleran terhadap manusia. Renungkanlah: Tuhan begitu kudus, begitu benar, begitu mahakuasa, dan Dia hanya melihat ketika orang-orang yang mengikuti-Nya hanya memikirkan hal jahat sepanjang hari, dan memikirkan hal yang bertentangan dengan kebenaran, dan hanya memikirkan hal-hal yang menarik bagi status, ketenaran, dan keuntungan mereka sendiri. Akankah Tuhan menoleransi para pengikut-Nya menentang dan mengkhianati-Nya dengan cara seperti ini? Sama sekali tidak. Didominasi oleh ide-ide, pemikiran, niat, dan motif ini, orang-orang secara terang-terangan melakukan segala sesuatu dalam pemberontakan dan penentangan terhadap Tuhan, sambil membanggakan bahwa mereka melaksanakan tugas mereka dan bekerja sama dengan pekerjaan Tuhan. Semua ini, Tuhan melihat, dan tetap saja, Dia harus menanggungnya. Bagaimana Dia menanggungnya? Dia memberikan kebenaran; Dia menyirami dan menyingkapkan; Dia juga mencerahkan dan menerangi, dan memberikan bimbingan, serta mendidik dan mendisiplinkan. Ketika pendisiplinan itu keras, Dia bahkan harus memberikan penghiburan. Betapa sabarnya Tuhan melakukan semua itu! Dia melihat berbagai watak rusak orang-orang ini, yang pada kenyataannya bahwa semua dari berbagai penyingkapan, perilaku, dan pemikiran mereka adalah jahat, dan tetap saja, Dia mampu menanggungnya. Katakan kepada-Ku, akan mampukah manusia melakukan hal itu? (Tidak.) Kesabaran yang orang tua berikan kepada anak-anak mereka adalah nyata, tetapi mereka mungkin tetap meninggalkan anak-anak mereka atau bahkan memutuskan hubungan dengan anak-anak mereka ketika keadaan menjadi tak tertahankan. Lalu, bagaimana dengan kesabaran yang Tuhan tunjukkan kepada seseorang? Setiap hari yang kaujalani adalah hari ketika Tuhan menunjukkan kesabaran-Nya kepadamu. Seperti itulah kesabaran-Nya. Apa yang ada di dalam kesabaran itu? (Kasih.) Bukan hanya kasih, Dia memiliki pengharapan terhadapmu. Apa pengharapan itu? Dia ingin melihat hasil dan tuaian melalui pekerjaan yang Dia lakukan, dan agar manusia dapat merasakan kasih-Nya. Apakah manusia memiliki kasih seperti itu? Tidak. Hanya dengan sedikit pemelajaran dan pendidikan, sedikit karunia atau bakat, seseorang merasa dirinya memiliki kedudukan yang lebih mulia daripada yang lain, dan orang biasa tidak dapat mendekatinya. Itulah karakter manusia yang menjijikkan. Apakah seperti itu cara Tuhan bertindak? Justru sebaliknya: umat manusia yang sangat kotor dan rusak adalah mereka yang Tuhan selamatkan; selain itu, Dia hidup bersama mereka, berbicara dengan mereka dan menyokong mereka, dengan berhadapan muka. Manusia tidak dapat melakukan hal itu.
Persekutuan selanjutnya adalah tentang masalah tambahan. Ada orang-orang yang, ketika mereka bersaksi, berkata, "Setiap kali sesuatu menimpaku, aku memikirkan kasih Tuhan dan kasih karunia-Nya, dan aku tergerak. Aku berhenti memperlihatkan watak rusakku setiap kali aku memikirkan hal-hal ini." Kebanyakan orang merasa bahwa ini adalah pernyataan yang baik, bahwa hal itu benar-benar dapat menyelesaikan masalah perwujudan watak yang rusak. Apakah perkataan ini benar-benar masuk akal? Tidak. Kasih Tuhan, kemahakuasaan-Nya, toleransi-Nya terhadap manusia, dan semua pekerjaan yang Dia lakukan dalam diri manusia hanya dapat menggerakkan seseorang, yaitu bagian dari dirinya yang adalah kemanusiaannya, bagian yang adalah hati nurani dan rasionalitasnya; tetapi, hal itu tidak dapat membereskan watak rusak manusia, juga tidak dapat mengubah tujuan dan arah pengejaran manusia. Inilah sebabnya Tuhan melakukan pekerjaan penghakiman pada akhir zaman: Dia mengungkapkan dan memberikan kebenaran agar dapat membereskan masalah watak rusak manusia. Apa hal terpenting yang Tuhan lakukan? Dia mengungkapkan dan membekali kebenaran, serta menghakimi dan menghajar manusia. Dia tidak ingin menggerakkanmu dengan tindakan-Nya atau dengan hal-hal yang Dia lakukan, untuk mengubah arah dan tujuan pengejaranmu. Dia tidak akan bekerja seperti itu. Apa pun yang Tuhan firmankan tentang betapa sabarnya Dia terhadap manusia, atau tentang bagaimana Dia menyelamatkan manusia, seberapapun besarnya harga yang harus dibayar, seperti apa pun Dia mengatakannya, Tuhan hanya ingin manusia memahami maksud-Nya untuk menyelamatkan manusia. Dia tidak mengatakan hal-hal itu untuk membuat hati manusia melunak dan membuat mereka mampu berbalik karena mereka sangat tergerak setelah mendengar-Nya. Cara ini tidak akan berhasil. Mengapa tidak? Watak rusak manusia adalah esensi natur mereka, dan esensi natur itu adalah landasan yang manusia andalkan untuk bertahan hidup. Itu bukanlah kebiasaan buruk yang akan berubah dengan sedikit dorongan; esensi natur tidak akan berubah begitu seseorang merasa bahagia, atau dengan sejumlah pengetahuan yang diperoleh atau sejumlah buku yang dibaca. Itu tidak mungkin. Tak seorang pun mampu mengubah natur manusia. Orang hanya dapat berubah dengan menerima dan memperoleh kebenaran. Hanya kebenaran yang mampu mengubah manusia. Jika engkau ingin mencapai perubahan dalam watak hidupmu, engkau harus mengejar kebenaran, dan untuk mengejar kebenaran, engkau harus memulainya dengan memperoleh pemahaman yang jelas tentang semua macam kebenaran yang Tuhan ucapkan. Ada orang-orang yang menganggap bahwa jika seseorang telah memahami doktrin, maka dia telah memahami kebenaran. Ini salah besar. Bukan berarti jika engkau memahami doktrin tentang kepercayaan kepada Tuhan dan mampu membicarakan beberapa teori rohani, itu artinya engkau telah memahami kebenaran. Sekarang, coba renungkan: apa sebenarnya yang dimaksud dengan kebenaran? Mengapa Aku selalu mengatakan bahwa ada begitu banyak orang yang tidak memahami kebenaran? Mereka mengira, "Jika aku mampu memahami makna firman Tuhan, itu berarti aku telah memahami kebenaran," dan bahwa, "Semua firman Tuhan itu benar; semuanya diucapkan ke dalam hati kita, jadi itu adalah bahasa kita bersama." Katakan kepada-Ku, apakah pernyataan itu benar, atau salah? Apa sebenarnya yang dimaksud dengan memahami kebenaran? Mengapa kita berkata mereka tidak memahami kebenaran? Kita akan terlebih dahulu membahas sedikit tentang apa yang dimaksud dengan kebenaran. Kebenaran adalah kenyataan dari semua hal-hal positif. Jadi, bagaimana kenyataan dari hal-hal positif itu berkaitan dengan manusia? (Tuhan, menurut pemahamanku, perwujudan dari seseorang yang memahami kebenaran adalah bahwa orang-orang, peristiwa, dan hal-hal apa pun yang dia temui, dia memiliki prinsip, dan tahu cara memperlakukannya, dan memiliki jalan untuk menerapkan; kebenaran mampu menyelesaikan kesulitannya dan menjadi kenyataan dalam hidupnya. Tuhan baru saja mengatakan bahwa pemahaman seseorang akan doktrin bukanlah pemahaman akan kebenaran. Dia merasa seolah-olah dia telah memahami kebenaran, tetapi dia tidak mampu menyelesaikan masalah dan kesulitan apa pun yang dia miliki dalam kehidupan nyatanya. Dia tidak memiliki jalan untuk itu; dia tidak mampu menghubungkan berbagai hal dengan kebenaran.) Itulah yang dimaksud dengan tidak memahami kebenaran. Sebagian dari apa yang baru saja dikatakan benar-benar tepat: Apa yang dimaksud dengan kebenaran? (Kebenaran dapat memungkinkan orang untuk memiliki jalan untuk menerapkan dan bertindak berdasarkan prinsip-prinsip; kebenaran mampu menyelesaikan kesulitan orang-orang.) Benar. Membandingkan diri sendiri terhadap prinsip-prinsip kebenaran dan melakukan penerapan berdasarkannya. Itulah jalannya. Hal ini membuktikan bahwa itulah yang dimaksud dengan memahami kebenaran. Jika engkau hanya memahami doktrin, dan ketika sesuatu terjadi padamu, engkau tidak mampu menerapkannya, dan tidak mampu menemukan prinsip-prinsipnya, maka itu bukanlah pemahaman akan kebenaran. Apakah yang dimaksud dengan kebenaran? Kebenaran adalah prinsip-prinsip dan standar untuk melakukan segala sesuatu. Bukankah demikian? (Ya.) Ketika Aku berkata bahwa engkau semua tidak memahami kebenaran, Aku sedang berkata bahwa setelah mendengar khotbah, engkau semua hanya mengetahui doktrin. Engkau tidak tahu apa prinsip-prinsip dan standar kebenaran di dalamnya, atau hal-hal apa yang terjadi padamu yang melibatkan aspek kebenaran itu, atau keadaan-keadaan mana yang melibatkannya, dan engkau juga tidak tahu cara menerapkan aspek kebenaran itu. Engkau tidak mengetahui satu pun dari hal-hal ini. Sebagai contoh, katakanlah engkau semua telah mengajukan sebuah pertanyaan. Fakta bahwa engkau telah mengajukan pertanyaan ini menunjukkan bahwa engkau semua tidak memahami aspek kebenaran ini. Akankah engkau memahaminya setelah mempersekutukannya? (Ya.) Engkau mungkin mengerti sedikit setelah persekutuan, tetapi jika engkau gagal memahaminya ketika hal serupa terjadi lagi padamu, itu bukanlah pemahaman akan kebenaran yang sejati. Engkau tidak mengetahui prinsip-prinsip dan standar dari kebenaran itu; engkau tidak menguasainya. Mungkin ada sebuah kebenaran yang kaupikir telah kaumengerti, tetapi mengenai kenyataan apa yang dibahas, dan keadaan manusia mana yang dituju, jika engkau telah memahami kebenaran itu, mampukah engkau kemudian membandingkan keadaanmu sendiri terhadap kebenaran itu? Jika engkau tidak mampu, dan engkau tidak pernah tahu apa keadaanmu yang sebenarnya, apakah itu adalah pemahaman akan kebenaran? (Bukan.) Itu bukanlah pemahaman akan kebenaran. Ketika berbicara tentang satu aspek kebenaran dan prinsip-prinsip, jika engkau mengetahui hal-hal mana dan keadaan apa saja yang melibatkan kebenaran itu, dan orang seperti apa atau manakah dari keadaanmu sendiri yang berkaitan dengan kebenaran itu, dan engkau juga mampu menggunakan kebenaran itu untuk menyelesaikannya, maka itu berarti engkau memahami kebenaran. Jika engkau merasa bahwa engkau memahami sebuah khotbah saat engkau mendengarnya, tetapi ketika engkau diminta untuk bersekutu, engkau hanya mengulang kata-kata yang kaudengar, tidak mampu membicarakannya dan menjelaskan dalam keadaan dan situasi nyata, apakah pemahamanmu adalah memahami kebenaran? Bukan. Jadi, apakah engkau semua sering memahami kebenaran, atau tidak? (Tidak.) Mengapa tidak? Karena setelah mendengar kebanyakan kebenaran, engkau semua hanya memahami doktrin. Yang dapat kaulakukan adalah mematuhinya sebagai aturan; engkau tidak tahu bagaimana cara menerapkannya secara fleksibel. Ketika sesuatu menimpamu, engkau tercengang; ketika sesuatu menimpamu, engkau tidak mampu menerapkan sedikit doktrin yang telah kaupahami di tempat kejadian. Itu tidak berguna. Apakah itu adalah memahami kebenaran, atau bukan? (Bukan.) Itulah yang dimaksud dengan tidak memahami kebenaran. Jika engkau tidak memahami kebenaran, lantas bagaimana? Engkau harus mengerahkan upaya, dan berusaha keras untuk memikirkannya. Ada beberapa hal yang harus ada dalam kemanusiaanmu: engkau harus teliti dan cermat dalam apa yang kaupelajari dan lakukan. Jika engkau ingin mengejar kebenaran tetapi tidak memiliki hati nurani dan nalar manusia normal, engkau tidak akan pernah mampu memahami kebenaran, dan imanmu adalah iman yang bingung. Ini tidak bergantung pada kualitasmu; itu hanya bergantung pada apakah engkau memiliki kemanusiaan semacam ini atau tidak. Jika engkau memilikinya, maka sekalipun kualitasmu biasa-biasa saja, engkau masih bisa memahami kebenaran dasar. Ini setidaknya menyentuh kebenaran. Jika engkau memiliki kualitas yang sangat baik, maka apa yang kaupahami mungkin adalah hal-hal pada tingkat kebenaran yang dalam, dan dengan begitu, engkau akan mampu lebih masuk ke dalamnya. Ini berkaitan dengan kualitasmu. Namun, jika tidak ada sikap teliti dan cermat dalam kemanusiaanmu, serta engkau selalu samar dan tidak pasti, kebingungan, selalu dalam kondisi kesuraman—suram, kabur, dan asal-asalan dalam semua hal, maka bagimu, kebenaran akan selalu menjadi aturan dan doktrin. Engkau tidak akan mampu memperolehnya. Setelah mendengar Aku mengatakan hal ini, apakah engkau semua sekarang merasa bahwa mengejar kebenaran itu sulit? Ada kesulitan dalam taraf tertentu untuk mengejar kebenaran, tetapi itu bisa jadi besar, atau bisa juga kecil. Jika engkau merenungkannya, berusaha keras dan mengerahkan upaya, tingkat kesulitan itu akan berkurang, dan engkau akan memperoleh beberapa kebenaran; jika engkau sama sekali tidak berupaya keras untuk mengejar kebenaran, tetapi hanya mengejar doktrin dan kebiasaan lahiriah, engkau tidak akan mampu memperoleh kebenaran.
Sudahkah engkau semua benar-benar memahami esensi dari sesuatu melalui persekutuan-Ku yang sistematis tentang kebenaran-kebenaran ini? Sudahkah engkau mulai menyadari sesuatu? Bukankah ada lebih banyak hal mendetail dalam satu kebenaran mana pun daripada yang ada dalam kerangka pengetahuan dari setiap mata kuliah di perguruan tinggi? (Ya.) Ada begitu banyak detail. Orang-orang mampu menguasai pengetahuan hanya dengan upaya beberapa tahun, melalui penerapan terus-menerus dan pengalaman langsung, asalkan mereka dapat menghafal dan memahaminya. Ketika mempelajari sebuah mata pelajaran akademis, orang dapat menguasainya secara berangsur-angsur hanya dengan menghabiskan waktu dan tenaga, serta sedikit mencurahkan upaya untuk hal itu. Namun, untuk memahami kebenaran, hanya menggunakan otakmu tidak akan berhasil. Engkau harus menggunakan hatimu. Jika engkau tidak merenungkan firman Tuhan dengan hatimu atau mengalaminya dengan hatimu, engkau tidak akan mampu memahami kebenaran. Hanya orang-orang yang memiliki pemahaman rohani, yang teliti, dan yang memiliki kemampuan memahami yang mampu memperoleh kebenaran; mereka yang tidak memiliki pemahaman rohani, yang kualitasnya buruk, dan yang tidak memiliki kemampuan memahami tidak akan pernah mampu memperolehnya. Apakah engkau semua adalah orang-orang yang kurang memperhatikan, atau apakah engkau teliti? (Kami adalah orang-orang yang kurang memperhatikan.) Bukankah itu berbahaya? Mampukah engkau semua menjadi teliti? (Ya.) Itu adalah hal yang baik; Aku senang mendengarnya. Jangan selalu berkata engkau tidak mampu. Bagaimana engkau akan tahu jika engkau belum mencobanya? Engkau seharusnya mampu melakukannya. Dengan tekad dan sikapmu saat ini dalam pengejaranmu, ada harapan bagimu untuk memahami kebenaran dasar. Itu dapat dicapai. Asalkan seseorang bersedia untuk menggunakan hatinya dan membayar harga, serta berupaya lebih keras mengejar kebenaran di dalam hatinya, Roh Kudus akan bekerja dan menyempurnakannya. Jika dia tidak berupaya keras mengejar kebenaran di dalam hatinya, Roh Kudus tidak akan bekerja. Ingatlah: agar seseorang dapat mulai memahami kebenaran, dia harus secara proaktif berupaya lebih keras dan membayar harga, tetapi ini hanya dapat mencapai separuh dari hasil yang diinginkan, yaitu hanya mencapai bagian yang orang harus bekerja sama dengannya. Separuh lainnya adalah bagian penting dari memahami kebenaran, yang tidak dimiliki orang, dan itu harus mengandalkan pekerjaan dan penyempurnaan Roh Kudus agar tercapai. Engkau tidak boleh melupakan bahwa, meskipun sudah cukup mengandalkan upaya lebih keras dalam hal memperoleh pengetahuan dan mempelajari sains, memahami kebenaran tidaklah seperti itu. Tidak ada gunanya mengandalkan pikiran saja, orang harus menggunakan hati mereka, dan mereka harus membayar harganya. Apa hasil yang dicapai dengan membayar harga? Pekerjaan Roh Kudus. Namun, apa landasannya agar Roh Kudus bekerja? Sebelum Tuhan akan bekerja, pikiran seseorang harus cukup teliti; hatinya harus cukup tenang, tenteram, dan cukup jujur. Pekerjaan Roh Kudus itu tak kentara, dan mereka yang telah merasakannya tahu itu. Orang-orang yang sering berusaha mengejar kebenaran sering kali dapat merasakan pencerahan Roh Kudus, sehingga jalan penerapan mereka dalam pelaksanaan tugas mereka menjadi lancar, dan ada pencerahan yang makin besar di dalam hati mereka. Orang-orang yang tidak memiliki pengalaman tidak dapat merasakan pekerjaan Roh Kudus, dan tidak akan pernah dapat melihat jalan yang benar. Semua hal tidak jelas dan kabur bagi mereka; mereka tidak tahu jalan mana yang benar. Sebenarnya, tidaklah sulit untuk memahami kebenaran dan melihat jalan penerapan dengan jelas: jika orang memiliki kondisi-kondisi itu di dalam hatinya, Roh Kudus akan bekerja. Namun, jika hatimu berada di luar kondisi-kondisi itu, engkau tidak akan dapat mendeteksi pekerjaan Roh Kudus. Ini tidak abstrak atau samar. Dengan engkau berada dalam keadaan itu dan hatimu berada dalam kondisi itu, jika engkau mencari, berusaha, merenungkan, dan berdoa, Roh Kudus akan bekerja di dalam dirimu. Namun, jika engkau tidak memperhatikan, selalu ingin mengejar status dan berjuang mengejar ketenaran dan keuntungan, selalu ingin membuat keributan dan menerapkan upayamu dalam wujud itu, jika engkau selalu mengelak, bersembunyi dari, menghindari, dan menolak Tuhan, tidak bersikap tulus, dengan hati yang tidak terbuka kepada-Nya, Roh Kudus tidak akan bekerja, Dia tidak akan memperhatikanmu dan Dia bahkan tidak akan menegurmu. Seberapa banyak kebenaran yang mampu dipahami seseorang yang bahkan belum pernah mengalami teguran Roh Kudus? Terkadang, Roh Kudus menegurmu untuk memberitahumu cara yang benar dan cara yang salah untuk melakukan sesuatu. Ketika Dia memberimu perasaan seperti itu, apa yang akhirnya kauperoleh darinya? Engkau akan memperoleh kemampuan untuk membedakan yang benar dan yang salah, dan engkau akan sangat jelas tentang hal itu, sekilas pandang: "Cara itu salah, itu tidak sesuai dengan prinsip. Aku tidak boleh melakukan hal itu." Dengan hal itu, engkau akan tahu dengan jelas apa prinsip-prinsipnya, dan apa maksud-maksud Tuhan, serta apa sebenarnya arti kebenaran, dan dengan demikian, engkau akan tahu apa yang harus kaulakukan. Namun, jika Roh Kudus tidak bekerja, jika Dia tidak memberimu disiplin semacam itu, engkau akan selamanya berada dalam kondisi bingung, tanpa kejelasan, jika menyangkut hal-hal seperti itu. Ketika hal-hal itu menimpamu, engkau akan tercengang; ketika hal-hal itu menimpamu, engkau tidak akan tahu apa yang sedang terjadi, dan di dalam hatimu, engkau akan sangat kebingungan—apa yang harus kaulakukan tidak akan jelas bagimu. Engkau mungkin akan penuh dengan kecemasan, tetapi mengapa Roh Kudus tidak bekerja? Mungkin beberapa keadaan di dalam dirimu tidak benar, dan engkau sedang menentang. Dengan apa engkau menentang? Jika engkau berpaut pada beberapa pandangan atau gagasan yang salah, Tuhan tidak akan bekerja, tetapi Dia akan menunggu sampai engkau menyadari bahwa gagasan atau pandangan itu salah. Roh Kudus hanya akan bekerja dari landasan itu. Ketika Roh Kudus bekerja, Dia tidak hanya membiarkanmu tahu secara sadar tentang apa yang benar dan salah. Sebaliknya, Dia membiarkanmu melihat dengan jelas apa jalannya, arahnya, serta tujuannya, dan seberapa jauh pemahamanmu dari kebenaran. Dia membuatmu mengetahui hal ini dengan jelas. Pernahkah engkau semua mengalami hal seperti itu? Jika seseorang telah percaya kepada Tuhan selama sepuluh atau dua puluh tahun tanpa pengalaman spesifik seperti itu, orang macam apakah mereka? Orang yang kurang memperhatikan. Mereka hanya dapat memberikan beberapa doktrin dan slogan secara verbal, yang sering diulang-ulang, dan hanya dapat menyelesaikan masalah dengan beberapa strategi dan teknik sederhana mereka. Karena hal ini, mereka ditakdirkan tidak ada kemajuan. Mereka tidak akan pernah memahami kebenaran, dan Roh Kudus tidak akan bekerja di dalam mereka. Dengan orang-orang yang kurang memperhatikan seperti itu, yang baginya kebenaran sama sekali berada di luar jangkauan, mereka tidak mampu memahaminya, sekalipun Roh Kudus mencerahkan mereka. Jadi, Roh Kudus tidak akan bekerja di dalam mereka. Mengapa? Apakah Tuhan pilih kasih? Tidak. Lalu, apa alasannya? Karena kualitas mereka terlalu buruk, dan itu berada di luar jangkauan mereka. Mereka tidak memahami kebenaran, sekalipun Roh Kudus bekerja; jika mereka diberi tahu bahwa sesuatu adalah prinsip, akankah mereka memiliki kemampuan untuk memahaminya? Tidak. Jadi, Tuhan tidak akan melakukannya. Pernahkah engkau semua mengalami hal ini? Kebenaran itu tidak memihak. Saat engkau mengejarnya, saat engkau mendalaminya, Roh Kudus akan bekerja, dan engkau akan memperolehnya. Namun, siapa pun engkau, jika engkau malas dan mendambakan kenyamanan, dan tidak mau berusaha mengejar kebenaran, Roh Kudus tidak akan bekerja, dan engkau tidak akan mampu memperoleh kebenaran. Apakah engkau mengerti sekarang? Apakah engkau semua saat ini sedang mengejar kebenaran? Siapa pun yang mengejar kebenaran akan memperolehnya, dan mereka yang akhirnya memperoleh kebenaran akan menjadi sangat berharga. Orang-orang yang tidak dapat memperolehnya, tidak ada gunanya iri terhadap mereka: jika orang-orang tersebut melewatkan kesempatan ini, kesempatan itu akan lenyap.
Kapan periode waktu yang terbaik untuk mengejar kebenaran? Periode ini, ketika Tuhan melakukan pekerjaan dalam daging, berfirman dan bersekutu denganmu berhadapan muka, menasihatimu dan membantumu. Mengapa Kukatakan ini adalah masa yang terbaik? Karena pekerjaan dan perkataan Tuhan yang berinkarnasi dapat sepenuhnya membantumu memahami maksud-maksud Roh Kudus, dan memungkinkanmu untuk mengetahui bagaimana cara Roh Kudus bekerja. Tuhan yang berinkarnasi mampu memahami prinsip, pola, cara, dan sarana pekerjaan Roh Kudus secara keseluruhan, dan Dia memberitahumu tentang hal itu, sehingga engkau tidak perlu mencarinya sendiri. Tempuhlah jalan pintas ini, dan engkau akan mampu dengan segera mencapainya. Ketika Tuhan yang berinkarnasi berhenti berfirman dan telah menyelesaikan pekerjaan-Nya, engkau akan harus mencarinya sendiri. Tak seorang pun dapat menggantikan daging inkarnasi ini, yang dengan jelas dapat memberitahumu apa yang harus dilakukan, dan ke mana harus menuju, serta jalan seperti apa yang harus ditempuh. Tak ada seorang pun yang dapat memberitahumu hal-hal itu; seberapapun rohaninya seseorang, mereka tidak dapat memberitahumu. Ada contoh-contoh dari hal ini. Sama halnya dengan orang-orang yang percaya kepada Yesus, yang telah percaya selama dua ribu tahun. Ada sebagian dari mereka yang sekarang kembali membaca Perjanjian Lama dan menaati Hukum Taurat; dan ada yang memikul salib, tetapi menggantungkan sepuluh perintah Tuhan di kamar mereka, dan menaati aturan-aturan dan perintah-perintah. Apa yang telah mereka peroleh pada akhirnya? Roh Kudus bekerja, tetapi jika firman Tuhan yang jelas tidak ada, manusia selalu saja meraba-raba. Apa artinya tidak adanya firman yang jelas? Itu berarti bahwa apa yang orang cari-cari dan peroleh tidak memiliki kesimpulan. Tak ada seorang pun yang dapat memberimu kepastian, mengatakan bahwa adalah benar bagimu untuk melakukan ini dan salah untuk melakukan itu. Tak ada seorang pun yang dapat memberitahumu hal itu. Sekalipun Roh Kudus mencerahkanmu, dan engkau percaya bahwa itu benar, apakah kemudian Tuhan berkenan? Engkau juga tidak tahu dengan pasti, bukan? (Ya.) Perkataan Tuhan Yesus itu, yang Dia tinggalkan dua ribu tahun yang lalu dan tercatat dalam Alkitab—sekarang, dua ribu tahun kemudian, orang-orang yang percaya kepada Tuhan telah memberikan penjelasan tentang segala macam hal mengenai kedatangan-Nya kembali, dan tak ada seorang pun yang tahu apa sebenarnya penjelasan yang akurat. Jadi, mereka membutuhkan banyak usaha untuk menerima tahap pekerjaan ini. Apa yang ditunjukkan oleh hal ini? Bahwa dengan firman samar-samar yang tidak diberikan secara jelas ini, sepuluh orang memiliki sepuluh penjelasan, dan seratus orang memiliki seratus penjelasan. Setiap orang memiliki pembenaran dan argumen mereka sendiri. Manakah penjelasan yang akurat? Selama Tuhan tidak berfirman atau memberikan kesimpulan, apa pun yang dikatakan manusia tidak masuk hitungan. Sebesar apa pun denominasimu, berapa pun jumlah anggotanya, apakah itu diperhitungkan oleh Tuhan? (Tidak.) Tuhan tidak melihat kekuatanmu. Sekalipun tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat menerima apa yang Tuhan lakukan, tindakan-Nya benar, dan itu adalah kebenaran. Ini adalah fakta yang kekal dan tidak berubah! Semua agama dan denominasi menjelaskannya dengan cara ini dan cara itu, dan apa yang terjadi pada akhirnya? Apakah penjelasanmu ada gunanya? (Tidak.) Tuhan menyangkalnya dengan satu kalimat. Seperti apa pun engkau menjelaskannya, apakah Tuhan akan memperhatikanmu? (Tidak.) Mengapa Tuhan tidak akan memperhatikanmu? Tuhan telah mulai melakukan pekerjaan baru, yang sudah berlangsung hampir tiga puluh tahun sekarang. Apakah Dia akan memperhatikan orang-orang itu, secongkak apa pun mereka berseru? (Tidak.) Dia tidak akan memperhatikan. Orang-orang religius akan berkata, "Jika Engkau tidak memperhatikan mereka, bukankah orang-orang itu tidak dapat diselamatkan?" Sebenarnya, firman Tuhan telah sejak lama menjelaskan semuanya, dan apa yang Dia katakan, itulah yang terjadi. Sebanyak apa pun kekuatan yang dimiliki dunia keagamaan, itu tidak akan berguna; seberapa banyaknya pun jumlah mereka, itu tidak membuktikan bahwa mereka memiliki kebenaran. Tuhan melakukan apa yang seharusnya Dia lakukan; di mana pun Dia harus memulai, di situlah Dia memulai; siapa pun yang Dia pilih, orang itulah yang Dia pilih. Apakah Dia dipengaruhi dan dikekang oleh dunia keagamaan? (Tidak.) Sama sekali tidak. Ini adalah pekerjaan Tuhan. Namun, umat manusia yang rusak ingin beralasan dengan Tuhan dan memberikan penjelasan kepada-Nya sepanjang hari, apakah itu ada gunanya? Mereka bahkan menggunakan kata-kata Alkitab untuk ditafsirkan sekehendak hati mereka. Jelas-jelas mereka mencomot kata-kata itu di luar konteksnya, dan bahkan ingin berpaut pada kata-kata itu sepanjang hidup mereka, menunggu Tuhan untuk menggenapinya. Mereka sedang bermimpi! Jika seseorang tidak mencari kebenaran dalam firman Tuhan, dan selalu ingin meminta Tuhan untuk melakukan hal ini dan itu, apakah orang itu masih bernalar? Mereka sedang berusaha melakukan apa? Apakah mereka ingin memberontak? Apakah mereka ingin bersaing dengan Tuhan? Ketika bencana besar terjadi, semua orang akan tercengang; mereka akan menangis dan berteriak, tetapi tidak ada gunanya. Bukankah itu yang akan terjadi? Itulah yang akan terjadi.
Sekarang adalah periode waktu yang terbaik, inilah waktu ketika Tuhan menyelamatkan manusia dan menyempurnakan mereka. Jangan menunggu sampai tiba harinya ketika engkau akan sudah kehilangan periode ini, lalu engkau merenung, "Apa arti perkataan Tuhan itu? Seharusnya aku bertanya pada saat itu, sekarang aku tidak dapat lagi bertanya. Aku akan berdoa saja, Roh Kudus akan bekerja. Itu adalah hal yang sama." Apakah akan sama? (Tidak.) Jika sama, maka orang-orang yang telah percaya kepada Tuhan selama dua ribu tahun ini tidak akan seperti sekarang. Lihat saja kata-kata yang ditulis oleh orang-orang yang disebut-sebut sebagai orang kudus selama awal milenium kedua, betapa dangkalnya kata-kata itu, betapa menyedihkan! Sekarang ini ada sebuah buku tebal berisi lagu-lagu pujian yang dinyanyikan oleh orang-orang dari semua agama dan denominasi, dan lagu-lagu pujian itu hanya berbicara tentang kasih karunia Tuhan dan tentang diberkati, hanya kedua hal itu. Apakah itu pengenalan akan Tuhan? Bukan. Apakah ada sedikit pun kebenaran di dalamnya? (Tidak ada.) Mereka hanya tahu bahwa Tuhan mengasihi orang-orang di dunia. Ada pernyataan yang selalu ada di dunia yang tidak pernah berubah: "Tuhan adalah kasih." Hanya itu kalimat yang mereka ketahui. Jadi, bagaimana cara Tuhan mengasihi manusia? Tuhan sekarang meninggalkan mereka dan menyingkirkan mereka. Apakah Dia tetap mengasihi? Menurut mereka, Dia tidak lagi mengasihi. Jadi, mereka mengutuk-Nya. Manusia tidak mengejar kebenaran dan tidak mampu memahaminya, ini adalah hal yang paling menyedihkan. Ada kesempatan yang sangat bagus saat ini. Tuhan telah berinkarnasi untuk mengungkapkan kebenaran dan menyelamatkan manusia secara pribadi. Akan sangat disayangkan jika engkau tidak mengejar kebenaran dan tidak memperolehnya. Seandainya engkau telah mengejarnya, dan mengejarnya dengan penuh upaya, tetapi gagal memahaminya pada akhirnya, engkau tidak merasa bersalah di dalam hati nurani. Setidaknya, engkau tidak akan mengecewakan dirimu sendiri. Sudahkah engkau semua sekarang memulai pengejaranmu? Apakah melaksanakan tugas dianggap sebagai mengejar kebenaran? Itu dianggap sebagai sejenis kerja sama, tetapi itu belum termasuk dalam mencapai pengejaran akan kebenaran dan belum termasuk mengejar kebenaran. Itu hanyalah sejenis perilaku, suatu tindakan. Itu adalah memiliki sikap mengejar kebenaran. Jadi, bagaimana sesuatu dapat dianggap sebagai mengejar kebenaran? Engkau harus memulainya dengan memahami kebenaran. Jika engkau tidak memahami kebenaran, dan tidak menganggap serius apa pun, serta bersikap asal-asalan dalam tugasmu, dan melakukan apa pun yang kauinginkan, tanpa pernah mencari kebenaran atau memperhatikan prinsip-prinsip kebenaran, akankah engkau mampu memahami kebenaran? Jika engkau tidak memahami kebenaran, bagaimana engkau bisa mengejarnya? Bukankah benar demikian? (Ya.) Orang macam apa yang tidak mengejar kebenaran? Mereka adalah orang-orang bodoh. Jadi, bagaimana caranya engkau mengejar kebenaran? Engkau harus mulai dengan memahaminya. Sulitkah untuk memahami kebenaran? Tidak, tidak sulit. Mulailah dengan lingkungan yang kaujumpai dan tugas yang kaulaksanakan, serta lakukanlah penerapan dan pelatihan berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Melakukan hal ini menunjukkan bahwa engkau telah mulai menempuh jalan mengejar kebenaran. Pertama, dari prinsip-prinsip ini, mulailah mencari, merenungkan, berdoa, dan memperoleh pencerahan sedikit demi sedikit. Pencerahan yang kauperoleh adalah kebenaran yang harus kaupahami. Carilah kebenaran dari pelaksanaan tugasmu terlebih dahulu, dan mulailah berusaha untuk bertindak berdasarkan prinsip kebenaran. Semua hal ini tidak dapat dipisahkan dari kehidupan nyata: orang-orang, peristiwa, hal-hal yang kaujumpai dalam hidup, dan hal-hal yang termasuk dalam lingkup tugasmu. Mulailah dengan hal-hal tersebut, dan perolehlah pemahaman tentang prinsip-prinsip kebenaran, maka engkau akan memiliki jalan masuk kehidupan.
23 Oktober 2019