Bab Delapan: Mereka akan Membuat Orang Lain Hanya Tunduk kepada Mereka, Bukan kepada Kebenaran atau Tuhan (Bagian Satu)
Lampiran: Analisis tentang Masalah yang Muncul Saat Mentranskripsikan Khotbah
Kudengar beberapa orang mengatakan bahwa para pentranskripsi menghapus kisah-kisah dari awal beberapa khotbah terakhir, dan hanya menyisakan bagian formal khotbah yang mengikutinya. Benarkah demikian? Kisah-kisah manakah yang dipisahkan dari khotbah yang mengikutinya? (Kisah Dabao dan Xiaobao, Kisah Daming dan Xiaoming, serta Pembicaraan tentang Kapital: "Biarkan Saja!") Ketiga kisah ini dipisahkan dari isi khotbahnya, tetapi kenapa? Karena alasan apa? Dikatakan bahwa para pentranskripsi menganggap bahwa kisah-kisah sebelum khotbah itu tidak sesuai dengan isi khotbah yang mengikutinya, sehingga mereka memisahkannya. Apakah ini dapat dibenarkan? Inilah tepatnya yang dilakukan para pentranskripsi. Mereka terlalu congkak dan merasa diri benar, dengan mengeluarkan kisah-kisah itu dan menempatkannya dalam bab-bab terpisah tanpa isi khotbah. Apakah menurut engkau semua hasil dari perbuatan ini baik atau buruk? Selain itu, apakah menurut engkau semua kisah yang diceritakan sebelumnya harus sesuai dan cocok dengan khotbah yang mengikutinya? Apakah ini benar-benar diperlukan? (Tidak.) Lalu, mengapa mereka yang mentranskripsikan khotbah itu menyalahartikan tugasnya seperti ini? Bagaimana bisa mereka mempunyai pendapat seperti itu? Apa masalahnya di sini? Mereka berpikir dalam hati, "Kisah yang Engkau ceritakan di luar topik. Aku akan memilahkannya untuk-Mu, dan saat membagikannya, aku tidak akan menyatukan keduanya. Khotbah adalah khotbah; biarlah itu konsisten dari satu kisah ke kisah berikutnya. Isi dari kisah sebelumnya tidak boleh dicampurkan dengan isi khotbah. Aku harus memilahkannya untuk-Mu karena Engkau sendiri tidak memahami masalahnya." Apakah ini niat baik? Dari mana munculnya niat baik mereka ini? Apakah itu muncul dari gagasan manusia? (Ya.) Ketika Aku berkhotbah, apakah Aku perlu mempertimbangkan segala sesuatunya secara komprehensif? Apakah setiap kisah yang Aku ceritakan harus sesuai dengan isi khotbah setelahnya? (Tidak.) Ini tidak perlu; ini disebut aturan, gagasan. Kesalahan apakah yang dilakukan para pentranskripsi? (Melakukan sesuatu berdasarkan gagasan dan imajinasi mereka.) Apa lagi? (Bertindak sembarangan dan sewenang-wenang.) Natur dari perilaku seperti ini adalah sedikit sembarangan dan sewenang-wenang; mereka tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan. Berkata seperti ini masuk akal, tetapi tetap saja berbeda dari esensi masalahnya. Ketika mereka mentranskripsikan khotbah, sikap dan sudut pandang seperti apa yang mereka gunakan dalam memandang segala sesuatu yang Tuhan katakan? Entah itu kisah atau khotbah, dengan sikap seperti apa dan dari sudut pandang mana mereka memandang dan mendengarkan hal-hal yang diucapkan ini? (Dari sudut pandang pengetahuan dan pembelajaran.) Benar. Melihat kisah-kisah yang diceritakan dan isi khotbah dari perspektif pengetahuan akan mengarah pada masalah ini. Mereka percaya bahwa ketika Aku menyampaikan khotbah, bagian mana pun yang ingin Aku bicarakan, isinya harus mengikuti urutan; setiap kalimat harus logis, setiap kalimat harus sesuai dengan gagasan semua orang, dan setiap bagian harus mempunyai tujuan yang ketat. Mereka mengukur khotbah-Ku menurut gagasan ini. Apakah ini menunjukkan tidak memiliki pemahaman rohani? (Ya.) Tentu saja tidak memiliki pemahaman rohani! Menggunakan logika dan kesimpulan untuk memperlakukan apa yang Aku bicarakan dari perspektif pengetahuan adalah melakukan kesalahan yang serius. Aku mempersekutukan kebenaran, bukan mengarang pidato; engkau harus memahami ini dengan jelas. Di antara engkau semua yang mendengarkan khotbah pada pertemuan tersebut dan kemudian mendengarkan kembali khotbah yang mereka transkripsikan, apakah engkau memperhatikan adanya poin-poin penting atau hal-hal yang disampaikan pada saat itu yang mereka hapus? Apakah hal seperti ini terjadi? Misalnya, mungkin engkau mendengar suatu bagian di pertemuan yang sangat menyentuh dan sangat membina, tetapi sesudahnya, saat mendengarkan rekaman khotbah, engkau mendapati bahwa bagian itu tidak ada; itu sudah dihapus. Pernahkah ini terjadi padamu? Jika engkau tidak mendengarkan dengan saksama, engkau mungkin tidak menyadarinya, jadi pastikan untuk mendengarkan dengan saksama di masa mendatang. Aku pernah mendengarkan rekamannya sekali, dan saat Aku baru saja mulai membahas berbagai perwujudan antikristus, mencantumkan dari satu sampai lima belas, mereka sudah menghapus uraian dan penjelasan terperinci dari masing-masing perwujudan itu, sebagai gantinya hanya mencantumkan perwujudan pertama, perwujudan kedua, perwujudan ketiga, dan seterusnya. Setiap perwujudan disampaikan dengan sangat cepat, jauh lebih cepat daripada seorang guru sekolah yang memberikan pelajaran. Bagi sebagian besar orang yang belum pernah mendengarkan khotbah itu sebelumnya dan tidak familier dengannya, mereka tidak akan memiliki waktu untuk merenung ketika mendengarkan khotbah itu. Jika mereka ingin mendengarkan dengan saksama, mereka harus selalu berhenti, mendengarkan satu kalimat lalu dengan cepat mencatatnya, kemudian merenungkan apa arti kalimat itu, lalu memutar kalimat berikutnya. Jika tidak, temponya akan terlalu cepat dan mereka tidak bisa mengikutinya. Ini adalah kesalahan serius yang dilakukan oleh mereka yang mengedit rekaman khotbah. Khotbah adalah suatu percakapan, diskusi. Apa isi khotbahnya? Khotbah itu membahas berbagai kebenaran dan berbagai keadaan orang-orang; semuanya menyangkut kebenaran. Jadi, apakah isi khotbah yang menyangkut kebenaran ini mudah diterima dan dipahami orang-orang, atau apakah isi khotbah tersebut membutuhkan pertimbangan, perenungan, dan proses mental sebelum perlahan-lahan meresponsnya? (Pertimbangan, perenungan, dan proses mental dibutuhkan.) Jadi, berdasarkan keadaan ini, kecepatan seperti apa yang harus dipertahankan oleh orang yang menyampaikan khotbah? Akankah itu berhasil jika mereka berbicara secepat senapan mesin? (Tidak.) Seperti seorang guru yang memberikan pelajaran? (Tidak.) Seperti seseorang yang menyampaikan pidato? (Tidak.) Itu sama sekali tidak akan berhasil. Selama khotbah, harus ada tanya jawab, jeda untuk merenung, memberi orang-orang waktu untuk merespons—tempo inilah yang tepat. Mereka mentranskripsikan khotbah tanpa memahami prinsip ini; apakah ini menunjukkan tidak adanya pemahaman rohani? (Ya.) Mereka memang tidak memiliki pemahaman rohani. Mereka berpikir, "Hal-hal yang Engkau bicarakan ini, aku sudah mendengarnya. Sesudah mendengarkan sekali, aku bisa mengingat intinya, dan aku tahu apa yang Engkau bicarakan. Dengan menggunakan pengalamanku dan keterampilan luar biasa yang aku peroleh dari seringnya mengedit rekaman khotbah, aku akan melakukannya seperti ini dan mempercepat temponya." Percepatan itu tampaknya tidak terlalu menjadi masalah, tetapi apa pengaruhnya terhadap transkripsi khotbahnya? Itu mengubahnya menjadi sebuah esai. Sesudah khotbah diubah menjadi sebuah esai, perasaan mendengarkannya secara langsung akan hilang; lalu, bisakah khotbah itu menghasilkan efek yang sama? Pasti ada perbedaan. Apakah perbedaan ini menjadikannya lebih baik atau lebih buruk? (Lebih buruk.) Itu menjadikannya lebih buruk. Orang-orang yang tidak memiliki pemahaman rohani bertindak berdasarkan inisiatif mereka sendiri, dan menganggap diri mereka pintar. Mereka percaya bahwa mereka terpelajar, terampil, berbakat, dan cerdas, tetapi pada akhirnya mereka melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Bukankah begitu? (Ya.) Dalam khotbah-Ku, mengapa kadang-kadang Aku mengajukan pertanyaan kepada engkau semua? Ada orang-orang yang berkata, "Mungkin Engkau takut kami akan tertidur." Benarkah? Mengapa Aku kadang-kadang membicarakan perkara lain, keluar dari topik dan membahas hal-hal yang ringan dan ceria? Itu untuk membuatmu rileks, memberimu waktu untuk merenung. Itu juga membantumu memiliki pemahaman yang lebih luas tentang aspek tertentu dari kebenaran, sehingga engkau tidak membatasi pemahamanmu pada kata-kata, makna harfiah, doktrin, atau struktur tata bahasa—pemahamanmu tidak boleh terbatas pada hal-hal itu. Jadi, terkadang Aku membicarakan hal-hal lain; terkadang Aku menceritakan lelucon untuk meringankan suasana, tetapi sebenarnya, Aku melakukannya terutama untuk mencapai hasil tertentu—engkau harus mengerti ini.
Engkau lihat, ketika seorang pendeta yang religius menyampaikan khotbah, dia berdiri di mimbar dan hanya berbicara tentang topik-topik membosankan yang tidak ada hubungannya sedikit pun dengan kehidupan nyata orang-orang, keadaan mentalnya, atau masalah-masalah yang dihadapinya. Semuanya hanya kata-kata dan doktrin mati. Mereka tidak menyampaikan apa-apa selain kata-kata yang terdengar menyenangkan dan menyerukan beberapa slogan kosong. Itu membuat para pendengarnya merasa bosan, dan mereka tidak mendapatkan apa-apa darinya. Pada akhirnya, ini mengakibatkan situasi di mana pendeta berbicara dari atas, dan di bawah tidak seorang pun yang memperhatikan; tidak ada interaksi apa pun. Bukankah pendeta itu membuang-buang tenaganya? Pendeta menyampaikan khotbah seperti ini hanya demi mencari nafkah, demi kelangsungan hidupnya sendiri; mereka tidak memikirkan kebutuhan jemaat. Sementara kita sekarang, penyampaian khotbah kita bukan tentang melaksanakan upacara keagamaan atau menyelesaikan semacam tugas—melainkan tentang mencapai beberapa hasil. Untuk mencapai hasil, semua aspek harus dipertimbangkan—kebutuhan segala macam orang, gagasan, imajinasi, dan keadaan mereka, serta sudut pandang mereka, semuanya harus dipertimbangkan. Sejauh mana orang-orang dari setiap golongan sosial dapat menerima bahasa yang digunakan juga harus dipertimbangkan. Beberapa orang terpelajar yang suka sekali dengan bahasa formal perlu mendengarkan kata-kata sastra yang relatif gramatikal dan logis. Mereka mampu memahaminya. Ada juga sejumlah orang-orang biasa, mereka yang berada di lapisan masyarakat yang lebih rendah, yang belum familier dengan bahasa formal seperti itu; jadi apakah yang harus Aku lakukan? Aku harus berbicara sedikit bahasa daerah. Di masa lalu, Aku tidak banyak menggunakan bahasa daerah, tetapi beberapa tahun ini, Aku sudah sedikit belajar, dan sekarang Aku bahkan kadang-kadang melontarkan peribahasa dua bagian atau menceritakan lelucon. Dengan cara ini, sesudah mendengarkan, semua orang akan merasa bahwa semua yang Aku katakan mudah dipahami, apa pun golongan sosialnya, dan itu lebih erat kaitannya dengan mereka. Namun, jika semuanya menggunakan bahasa daerah, isi khotbah tidak akan terdengar cukup mendalam, sehingga harus dipadukan dengan beberapa bahasa formal, semuanya diungkapkan dengan bahasa sehari-hari; hanya dengan demikian khotbah akan memenuhi standar minimum. Sesudah bahasa daerah mulai digunakan, mengatakan hal-hal seperti "sekadar bilang", "seperti", "maksudku", dan sebagainya, memasukkan terlalu banyak ungkapan seperti itu dapat memengaruhi sejauh mana kebenaran disampaikan. Namun, jika semuanya bahasa formal, semua dikatakan dengan begitu tertata dan formal, mengikuti logika tata bahasa dan penalaran selangkah demi selangkah, tanpa kesalahan sedikit pun, seperti membacakan esai atau membaca teks, seolah-olah semuanya mengikuti naskah dari awal hingga akhir, kata demi kata, bahkan sampai ke tanda baca, apakah menurut engkau semua itu akan berhasil? Itu akan terlalu menyusahkan, Aku tidak punya tenaga untuk itu. Ini satu aspek. Selain itu, terlepas dari apakah mereka terpelajar atau tidak, semua orang menunjukkan berbagai aspek kemanusiaannya, dan ekspresi kemanusiaan ini terkait dengan kehidupan nyata. Kehidupan nyata, pada gilirannya, tidak terpisahkan dari bahasa sehari-hari; tidak terpisahkan dari lingkungan tempat tinggalmu. Lingkungan tempat tinggal ini dipenuhi dengan bahasa sehari-hari seperti ini, dengan campuran beberapa bahasa daerah, ditambah sejumlah kosakata sederhana dengan sedikit gaya sastra. Ini cukup; ini pada dasarnya mencakup dan meliputi seluruh jangkauan yang perlu diperhatikan. Entah mereka tua atau muda, tidak terpelajar atau berpengetahuan, pada dasarnya semua orang bisa mengerti akan hal itu, semua orang bisa memahaminya; mereka tidak akan merasa bosan, dan mereka tidak akan merasa hal itu berada di luar jangkauan mereka. Inilah yang harus diperhatikan dalam persekutuan dan penyampaian khotbah, yaitu mempertimbangkan semua aspek kebutuhan orang-orang. Jika ingin khotbah mencapai hasil, engkau harus mempertimbangkan semua aspek ini: tempo bicara, pilihan kata, dan cara mengungkapkannya. Selain itu, ketika mengartikulasikan sesuatu dan mempersekutukan suatu aspek kebenaran, pada saat kapan itu sudah disampaikan secara menyeluruh? Pada saat kapan itu tidak cukup menyeluruh? Aspek apa sajakah yang harus ditambahkan? Ini semua harus dipertimbangkan. Jika engkau bahkan tidak mempertimbangkan aspek-aspek ini, kapasitas berpikirmu sangat kurang. Ketika orang lain berimajinasi dalam dua dimensi, engkau harus mampu berpikir dalam tiga dimensi. Engkau harus melihat dengan lebih komprehensif dan lebih akurat dibandingkan orang lain, mampu melihat segala macam persoalan dengan jelas, dan juga merasakan prinsip-prinsip kebenaran yang terkait. Dengan cara ini, semua aspek watak rusak yang dapat dipikirkan, diungkapkan, atau disingkapkan orang, serta keadaan yang terlibat, pada dasarnya semuanya sudah dibahas dan akan dipahami oleh semua orang. Apakah para pentranskripsi juga harus memiliki kualitas dan cara berpikir ini? Jika mereka tidak memilikinya, sebaliknya mereka selalu mengandalkan pengetahuan yang sudah mereka pelajari untuk merangkum poin utama khotbah, ide pokoknya, inti setiap bagiannya, itu seperti pelajar Tiongkok yang mempelajari teks sastra. Pertama-tama, guru meminta mereka untuk mempratinjau keseluruhan teks sastra itu, kemudian membacanya dengan saksama. Pada pelajaran formal pertama, sang guru berbicara tentang inti dari paragraf pertama, memperkenalkan kosakata baru, dan mendiskusikan tata bahasa terkait. Ketika semua bagian sudah dipelajari, engkau masih harus menghafalkannya, dan akhirnya membuat kalimat-kalimat dengan kosakata baru serta memahami ide pokok teks sastra itu dan tujuan si pengarang menulisnya. Dengan cara ini, engkau akan memiliki pemahaman penuh tentang apa yang hendak disampaikan oleh teks tersebut. Setiap orang sudah mempelajarinya, semua orang mengetahuinya, tetapi jika engkau menerapkannya untuk mentranskripsikan khotbah, itu terlalu mendasar. Kukatakan padamu, jika engkau sedang menulis esai, engkau dapat menggunakan cara ini; itu hanyalah hal yang umum dalam menulis. Namun, jika engkau menerapkan pemikiran ini, teori ini, metode ini untuk mentranskripsikan khotbah, bukankah engkau bisa berbuat salah? Ya, pasti bisa. Engkau tidak tahu mengapa Aku ingin menceritakan kisah ini, engkau tidak mencoba memahami kebenaran yang seharusnya engkau pahami dari kisah ini—ini salah. Selain itu, apakah engkau mampu memahami kebenaran baik dalam kisah maupun isi khotbah? Jika engkau tidak dapat memahaminya, berarti engkau tidak memiliki pemahaman rohani. Kualifikasi apakah yang mungkin dimiliki oleh orang yang tidak memiliki pemahaman rohani untuk mentranskripsikan khotbah?
Menurut engkau semua, mengapa Aku menceritakan kisah-kisah? Para pentranskripsi khotbah tidak mengetahui alasannya, jadi mereka menambahkan sudut pandangnya sendiri. Mereka yakin bahwa jika Aku ingin menceritakan kisah, itu harus cocok dengan isi khotbah sesudahnya—mereka tidak tahu mengapa Aku menceritakan kisah-kisah. Engkau juga tidak tahu, bukan? Karena engkau tidak tahu, Aku akan mengatakan kepadamu alasannya. Dari awal sampai sekarang, Aku sudah membahas berbagai perwujudan antikristus sekitar sepuluh kali, dan Aku baru membahas setengahnya. Jika Aku langsung membahas isinya sekaligus hingga selesai, topiknya akan sangat membosankan, bukan? Jika Aku langsung membicarakan hal ini setiap kali kita mulai—pertama-tama dengan meminta semua orang meninjau apa yang dibahas terakhir kali, kemudian mulai berbicara, dan engkau semua mencatat dengan tergesa-gesa, menulis dan menulis dan berjuang untuk menjaga matamu tetap terbuka—dan jika Aku kemudian membuat semua orang meringkas sesudah Aku selesai, dengan semua orang mengucek mata mereka, membolak-balik halaman dan membaca isi persekutuan hari ini, dan sesudah sepertinya semua orang kurang lebih mengingatnya, Aku berkata, "Itu saja untuk hari ini, mari kita akhiri dan kita akan lanjut membahasnya kali mendatang," semua orang akan merasa sedikit tertekan: "Setiap pertemuan selalu tentang hal-hal ini, pola yang sama ini; isinya terlalu panjang dan membosankan." Terlebih lagi, mempersekutukan kebenaran harus dari banyak segi, orang-orang mengalami kemajuan dalam semua aspek kebenaran secara bersamaan. Ini seperti jalan masuk kehidupan manusia: Orang harus bertumbuh dalam hal pengenalan diri, perubahan watak, pengetahuan akan Tuhan, kesadaran akan berbagai keadaan dirinya dan kemanusiaannya, wawasannya, serta semua aspek lainnya—semua ini harus mengalami kemajuan secara bersamaan. Jika saat ini Aku hanya membahas tentang mengenali berbagai perwujudan antikristus, orang mungkin mengesampingkan aspek-aspek kebenaran lainnya, dan mereka akan berpikir sepanjang hari, "Siapakah yang tampak seperti antikristus? Apakah aku seorang antikristus? Ada berapa banyak antikristus yang ada di sekitarku?" Melakukan hal ini akan mempengaruhi jalan masuk mereka ke dalam aspek-aspek kebenaran lainnya. Jadi, Aku memikirkan bagaimana isi khotbah dapat mencakup satu kebenaran lagi, sehingga orang dapat memahami satu kebenaran tambahan; yaitu ketika membahas topik "Menyingkapkan Antikristus", orang-orang akan sekaligus mampu memahami aspek-aspek lainnya juga. Hasil khotbah seperti ini lebih bagus, bukan? (Ya.) Misalnya, ketika engkau makan makanan pokok, terkadang di saat yang sama, engkau juga makan apel. Ini memberikan nutrisi tambahan, bukan? (Ya.) Kalau begitu, katakan, apakah perlu Aku menceritakan kisah-kisah? (Ya.) Itu pasti. Jika itu tidak diperlukan, mengapa Aku menceritakannya? Menggunakan kisah untuk membahas sejumlah topik yang ringan dan menggembirakan membantu orang untuk memperoleh dan mendapatkan sesuatu dalam aspek-aspek kebenaran lainnya. Ini adalah hal yang baik. Setelah selesai membahas topik-topik ringan ini, Aku kembali ke topik utama. Adalah tepat menatanya seperti ini. Apa yang engkau makan sebelum hidangan utama? (Hidangan pembuka.) Ini adalah hidangan pembuka. Makanan pembuka biasanya sangat enak dan menggugah selera makan, bukan? Jadi, ketika Aku menceritakan sebuah kisah, engkau dapat memperoleh suatu aspek kebenaran dari kisah itu yang memperdalam pengetahuan atau pemahamanmu. Ini semua baik. Tentu saja, mereka yang tidak punya pemahaman rohani mendengarkan kisah dan hanya mendengarkan permukaan luarnya saja, mereka tidak melihat kebenaran di dalamnya yang seharusnya dipahami. Mereka tidak punya pemahaman rohani—tidak ada yang bisa dilakukan terhadap hal ini. Misalnya, saat mendengarkan "Kisah Dabao dan Xiaobao", ada orang-orang yang hanya ingat bahwa Dabao itu jahat dan Xiaobao itu bodoh. Mereka ingat nama Dabao dan Xiaobao, tetapi tidak ingat dalam keadaan bagaimana orang dalam kisah itu memperlihatkan watak rusaknya, watak seperti apa yang tersingkap, tentang apa sebenarnya watak ini, atau apa hubungannya dengan kebenaran. Dalam keadaan yang bagaimana engkau sendiri memperlihatkan watak seperti ini? Apakah engkau akan mengucapkan kata-kata seperti itu? Jika engkau berkata, "Aku tidak akan mengucapkan kata-kata seperti itu," ini merepotkan, karena ini membuktikan bahwa engkau belum memahami kebenaran. Ada orang-orang yang mengatakan, "Aku mungkin mengucapkan kata-kata seperti itu saat aku menghadapi situasi tertentu, itu semacam watak yang muncul dalam keadaan tertentu." Begitu engkau mengetahui ini, tidak akan sia-sia saat engkau mendengarkan kisah itu. Sesudah mendengarkan kisahnya, ada orang-orang yang mengatakan, "Orang macam apa Dabao itu? Dia bahkan merundung dan menipu anak kecil. Dia jahat! Aku tidak akan menipu anak-anak seperti itu." Bukankah ini menunjukkan tidak adanya pemahaman rohani? Mereka hanya membicarakan masalah itu saja, tetapi tidak memahami kebenaran dalam kisah yang sudah dipersekutukan. Mereka tidak dapat menghubungkan situasi itu dengan diri mereka sendiri; ini menunjukkan tidak adanya pemahaman rohani, sangat tidak adanya pemahaman rohani. Para pentranskripsi khotbah menghadapi masalah ini. Begitu ada sesuatu yang menyangkut kebenaran, ada orang-orang yang mengungkapkan pandangan pengikut yang bukan orang percaya; begitu kebenaran terlibat, ada orang-orang yang tidak punya pemahaman rohani; begitu kebenaran terlibat, ada orang-orang yang menjadi rentan terhadap penyimpangan, ada orang-orang yang menjadi keras kepala, ada orang-orang yang menjadi jahat, dan ada orang-orang yang menjadi muak terhadapnya. Jadi watak apakah yang dimiliki para pentranskripsi khotbah? Setidak-tidaknya, mereka congkak dan sombong, bertindak atas inisiatif sendiri, tidak memahami dan tidak berusaha memahami. Mereka bahkan tidak bertanya mengenainya; mereka langsung memisahkan kisah-kisah itu dari isi yang mengikutinya. Mereka pikir, "Khotbah-khotbah ini diberikan kepadaku untuk ditranskripsikan, jadi aku mempunyai wewenang untuk mengambil keputusan ini. Dengan ayunan kapakku, akan kutebas habis kisahnya. Beginilah aku akan memperlakukan khotbah-khotbah yang Engkau berikan kepadaku. Jika Engkau tidak menyukainya, jangan pakai aku." Bukankah ini congkak dan sombong? Mereka tidak dapat menerima kebenaran, mereka tidak memahami kebenaran. Mereka tidak tahu apa tugas mereka atau apa yang seharusnya dan tidak seharusnya mereka lakukan—mereka tidak tahu satu pun dari hal-hal ini. Orang yang tidak memiliki pemahaman rohani hanya bisa melakukan hal-hal yang tidak masuk akal, tidak manusiawi, dan hal-hal yang mencerminkan tidak adanya integritas. Mereka juga hanya melakukan hal-hal yang melanggar prinsip-prinsip kebenaran, menganggap dirinya pintar dan tidak punya ketundukan. Rekaman khotbah-khotbah-Ku diberikan kepada mereka untuk ditranskripkan, dan apa pun pendapat atau pemikiran mereka mengenai bagaimana cara menanganinya, mereka tidak bertanya kepada-Ku. Bukankah masalah ini sangat serius? (Ya.) Serius sampai sejauh mana? (Memiliki natur mengubah firman Tuhan.) Hal itu memang memiliki sedikit natur ini.
Aku menceritakan sebuah kisah, membahas suatu aspek spesifik dari kebenaran, dan kemudian Aku menyampaikan khotbah tentang aspek-aspek lain sesudahnya. Apakah Aku memikirkan keselarasan dua hal ini? Awalnya, Aku harus memikirkan hal ini, tetapi mengapa Aku tidak memaksakan bahwa kedua aspek ini harus selaras? Apakah Aku menyadarinya? (Ya.) Lalu mengapa hal ini menjadi masalah bagi para pentranskripsi khotbah? Aku tahu kisah yang Aku ceritakan tidak ada hubungannya dengan khotbah yang mengikutinya. Apakah mereka menyadari hal ini? Tidak. Mereka bahkan belum mempertimbangkan masalah ini dengan cermat. Mereka berpikir, "Engkau diarahkan oleh Roh Kudus; selama itu kedengaran seperti kebenaran, itu baik. Engkau menceritakan sebuah kisah di hari itu, dan kemudian sesudahnya mendiskusikan isi khotbah tertentu. Apa hubungannya kedua hal ini? Mengapa berbicara dengan cara seperti itu? Apa manfaat yang bisa didapat sesudah Engkau selesai berbicara? Engkau tidak tahu suatu pun tentang ini. Ini tidak akan berhasil!" Pertama, apa yang akan Aku bicarakan, bagaimana Aku berbicara, dan apa tepatnya khotbah yang Aku sampaikan—katakan, apakah keadaan pikiran-Ku sedang jernih saat memutuskan hal-hal ini? (Ya.) Keadaan pikiran-Ku memang sedang jernih, Aku pastinya tidak dalam keadaan bingung; hati-Ku memiliki alur pemikiran yang jelas. Jika seseorang tidak punya pemahaman rohani, tidak tahu bagaimana mencari kebenaran, dan secara asal-asalan menganalisis dan secara asal-asalan menggolongkan hal-hal, berpikir bahwa itu sangat baik, bukankah mereka orang Farisi yang sesungguhnya? Mereka hanya suka mendengarkan teori-teori besar yang kosong, dan tidak suka mendengarkan khotbah yang nyata dan praktis. Hasilnya adalah mereka tidak memahami bahkan kebenaran yang paling dangkal. Ini menunjukkan betapa seriusnya ketiadaan pemahaman rohani! Tanpa hati yang takut akan Tuhan, orang akan menjadi congkak dan merasa benar sendiri, dan teristimewa makin tidak kenal takut; mereka akan berani menghakimi masalah apa pun, beranggapan bahwa mereka memahami semuanya. Tepat seperti inilah umat manusia yang rusak; inilah watak mereka. Apakah bersikap berani dan bertindak sembarangan merupakan hal yang baik, atau hal yang buruk? (Hal yang buruk.) Menjadi berani atau takut sebenarnya tidak masalah; yang penting adalah apakah ada rasa takut akan Tuhan dalam hati seseorang. Nanti, ketika engkau semua mendengarkan rekaman khotbah, pastikan engkau semua mencermati apakah ada hal-hal penting yang dihapus dari transkripsi. Orang-orang celaka yang tidak punya pemahaman rohani ini, terkadang perbuatan yang mereka lakukan secara tidak sengaja dapat menyebabkan gangguan dan kerusakan. Mereka mengatakan itu tidak disengaja—kalau tidak disengaja, apakah itu berarti watak mereka bukan watak yang rusak? Itu masih watak yang rusak. Untuk saat ini, sekian untuk topik ini.
Lampiran:
Impian Xiaogang
Hari ini aku akan mulai lagi dengan bercerita. Apakah engkau semua tertarik mendengarkan cerita? Dapatkah engkau memperoleh sesuatu dari cerita? Banyak hal yang terjadi dalam cerita dan semua itu mengandung kebenaran. Orang-orang dalam cerita memiliki sejumlah keadaan, penyingkapan, niat, serta watak yang rusak. Kenyataannya, semua ini ada dalam diri setiap orang dan terhubung dengan semua orang. Jika engkau memahami dan mampu mengenali hal-hal ini dalam cerita, ini membuktikan bahwa engkau memiliki pemahaman rohani. Ada orang-orang yang berkata, "Engkau mengatakan bahwa aku memiliki pemahaman rohani, apakah itu berarti aku adalah orang yang mencintai kebenaran?" Belum tentu; keduanya adalah dua hal yang berbeda. Ada orang-orang yang memiliki pemahaman rohani, tetapi tidak mencintai kebenaran. Mereka hanya memahami dan tidak lebih dari itu, mereka pun tidak membandingkan kebenaran terhadap diri mereka sendiri atau menerapkan kebenaran. Ada orang-orang yang memiliki pemahaman rohani, dan setelah mendengarkan cerita, mereka menemukan bahwa mereka memiliki masalah yang sama dan mempertimbangkan cara untuk masuk dan cara untuk berubah ke depannya, orang-orang ini telah memperoleh hasil yang diinginkan. Jadi hari ini, aku akan menceritakan sebuah cerita. Pokok bahasannya ringan dan semua orang akan bersedia menyimaknya. Dua hari terakhir ini, aku telah merenungkan cerita mana yang dapat membantu sebagian besar orang mendapatkan sesuatu dan dibina setelah mereka mendengarkannya. Selain itu, cerita itu dapat memberikan kesan yang mendalam tentang suatu aspek kebenaran pada mereka, dan membantu mereka untuk mengaitkannya dengan kenyataan, serta mendapatkan manfaat darinya dengan cara masuk ke dalam suatu aspek kebenaran, atau mengoreksi semacam penyimpangan. Aku lupa menamai cerita terakhir yang Kuceritakan, jadi hari ini kita akan menamai cerita itu. Menurut engkau semua, apa sebutan yang tepat untuk cerita ini? (Hadiah Istimewa.) Hilangkan kata "istimewa", sebut saja "Hadiah". Kata "istimewa" terdengar agak aneh di sini dan orang akan memusatkan perhatian mereka pada kata itu. "Hadiah" memiliki makna yang lebih ambigu. Jadi, apa yang akan Kuceritakan hari ini? Cerita hari ini berjudul "Impian Xiaogang". "Xiao" berarti "kecil", seperti yang engkau ketahui, dan bagaimana dengan "Gang"? ("Jabatan.") Benar. Setelah mendengar nama ini, engkau semua seharusnya tahu isi ceritanya, engkau seharusnya hampir bisa menebaknya. Aku akan mulai bercerita sekarang.
Xiaogang adalah seorang pemuda yang bersemangat, rajin belajar, dan tekun, dia juga cukup pintar. Dia suka belajar, jadi dia belajar sedikit tentang beberapa teknologi komputer yang cukup populer saat ini, maka di rumah Tuhan, sudah sewajarnya dia ditugaskan untuk melaksanakan tugasnya di tim video. Saat pertama kali bergabung dengan tim video, Xiaogang sangat senang dan bangga. Karena dia masih muda dan menguasai teknologi tertentu, dia percaya bahwa pekerjaan video adalah keahliannya sekaligus hobinya, dan dia dapat memanfaatkan keahliannya dengan melaksanakan tugasnya di sana, serta membuat kemajuan dalam bidang ini melalui proses pemelajaran yang terus-menerus. Selain itu, sebagian besar orang yang dia temui di sini juga masih muda, dan dia sangat menyukai suasana di sini serta menikmati tugasnya. Jadi, setiap hari dia menyibukkan diri dengan pekerjaan dan belajar dengan sungguh-sungguh. Dengan cara inilah Xiaogang bangun pagi-pagi untuk mulai bekerja setiap hari, terkadang tidak beristirahat sampai larut malam. Xiaogang membayar harga yang besar untuk tugasnya dan menderita beberapa kesulitan, dan sudah sewajarnya dia juga belajar cukup banyak pengetahuan profesional yang relevan; dia merasa setiap hari telah dihabiskan dengan sangat produktif. Xiaogang juga sering bersekutu dan menghadiri pertemuan dengan saudara-saudarinya, dan merasa bahwa setelah datang ke sini, dia telah membuat lebih banyak kemajuan dibandingkan dengan ketika dia percaya kepada Tuhan di kota asalnya, dan bahwa dia telah bertumbuh dewasa, serta dapat mengambil beberapa pekerjaan. Dia merasa sangat senang dan puas. Ketika dia pertama kali mempelajari teknologi komputer, dia berharap dapat bekerja dengan komputer suatu hari nanti, dan kini keinginannya itu akhirnya terwujud, sehingga dia sangat menghargai kesempatan ini. Beberapa waktu berlalu, dan pekerjaan Xiaogang serta jabatannya belum berubah. Dia berpaut pada pekerjaannya, tanggung jawab, dan tugasnya, serta dia tampak lebih dewasa dari sebelumnya. Dia juga telah membuat kemajuan dalam jalan masuk kehidupan, dia sering bersekutu dan mendoa-bacakan firman Tuhan dengan saudara-saudarinya di pertemuan-pertemuan, dan minatnya dalam percaya kepada Tuhan menjadi makin kuat. Dapat dikatakan juga bahwa iman Xiaogang meningkat sedikit demi sedikit. Jadi, dia memiliki mimpi baru, "Alangkah bagusnya jika aku dapat menjadi orang yang lebih berguna selagi melakukan pekerjaan komputer!"
Waktu berlalu seperti ini, hari demi hari, dan Xiaogang terus melaksanakan tugas yang sama. Pada suatu kesempatan, dia kebetulan menonton sebuah film, dan setelah itu, film tersebut memberikan pengaruh yang besar baginya. Mengapa? Dalam film tersebut ada seorang pemuda yang seumuran dengan Xiaogang, dan dia mengagumi penampilan, akting, tutur kata serta tingkah laku pemuda dalam film tersebut, juga menjadi sedikit cemburu. Setelah menonton film tersebut, dia terkadang membayangkan, "Alangkah bagusnya jika aku menjadi pemuda dalam film itu. Aku berada di depan komputer setiap hari, membuat dan mengunggah semua jenis video, dan entah betapa sibuk atau lelahnya aku, atau betapa kerasnya aku bekerja, aku tetaplah seorang pekerja di balik layar. Bagaimana orang lain bisa tahu betapa kerasnya kami bekerja? Jika suatu hari nanti aku bisa tampil di layar lebar seperti pemuda dalam film itu, dan lebih banyak orang yang bisa melihat dan mengenalku, itu akan sangat menyenangkan!" Xiaogang menonton film ini berulang-ulang, juga semua macam cuplikan yang menampilkan pemuda itu. Makin sering dia menonton, makin dia iri pada pemuda itu, dan makin hatinya mendambakan keinginan untuk menjadi seorang aktor. Dengan demikian, impian baru Xiaogang pun lahir. Apa impian barunya? "Aku ingin belajar akting dan berjuang untuk menjadi aktor yang memenuhi syarat, tampil di layar lebar, memiliki aura seperti pemuda itu, dan membuat lebih banyak orang iri padaku dan ingin menjadi diriku." Sejak saat itu, Xiaogang mulai bekerja untuk meraih impiannya. Di waktu senggangnya, Xiaogang mengakses Internet dan melihat semua jenis materi tentang akting. Dia juga menonton semua jenis film dan acara televisi, menonton dan belajar pada saat yang sama, sambil berkhayal memiliki kesempatan untuk menjadi seorang aktor. Hari demi hari masih berlalu seperti ini, Xiaogang mempelajari profesi akting sambil tetap berpaut pada jabatannya. Akhirnya, berkat kegigihan dan ketekunannya, Xiaogang menguasai dasar-dasar akting tertentu. Dia telah belajar cara meniru, dia telah belajar cara berbicara dan tampil di depan orang lain, dan dia tidak memiliki sedikit pun demam panggung. Permintaannya yang berulang-ulang akhirnya menghasilkan kesempatan: Ada film yang membutuhkan seorang pemuda sebagai peran utama. Dari audisi tersebut, sang sutradara menyadari penampilannya, kelasnya, dan kemampuan akting dasarnya sudah memenuhi standar. Jika dia mendapatkan lebih banyak pelatihan, dia seharusnya mampu melakukannya. Setelah mendengar berita ini, Xiaogang sangat gembira, dan berpikir dalam benaknya, "Akhirnya aku bisa beralih dari di belakang layar menjadi ke layar kaca, satu lagi impianku akan segera terwujud!" Xiaogang kemudian dipindahkan ke tim produksi film untuk melaksanakan tugasnya.
Setelah Xiaogang pindah ke tim produksi film, lingkungan kerja yang baru memberikannya kesegaran dan semangat. Dia merasa bahwa setiap hari berlalu dengan begitu bahagia, dan tidak lagi suram, membosankan, dan dibatasi seperti sebelumnya, karena dia tinggal dan bekerja di sana, dan ada banyak hal yang dia hadapi setiap hari yang sama sekali berbeda dengan pekerjaannya di depan komputer. Dia hidup dalam bidang pekerjaan yang berbeda, di dunia yang berbeda. Dengan cara ini, Xiaogang mencurahkan dirinya pada pekerjaan produksi film. Setiap hari dia menyibukkan diri dengan berakting dan mempelajari dialognya, mendengarkan instruksi sutradara dan mendengarkan saudara-saudarinya menganalisis alur cerita. Bagi Xiaogang, bagian yang paling sulit adalah menghayati peran, jadi dia menghafal dialognya berulang kali dan terus memikirkan karakternya sendiri, bagaimana dia harus berbicara dan berakting, bagaimana dia harus berjalan dan berdiri, bahkan bagaimana dia harus duduk, dia harus mempelajari kembali semua hal ini. Setelah melanjutkan pekerjaan yang rumit dan berbeda-beda ini selama beberapa waktu, Xiaogang akhirnya menyadari betapa sulitnya menjadi seorang aktor. Setiap hari dia harus menghafal kalimat yang sama. Terkadang dia dapat melafalkannya dengan sempurna, tetapi ketika pada pertunjukan yang sebenarnya, dia selalu membuat kesalahan dan harus mengulang adegan tersebut. Dia sering ditegur oleh sutradara karena salah satu akting atau dialognya tidak sesuai standar. Jika beberapa kinerjanya buruk secara berturut-turut, dia akan mengalami pemangkasan, dan dia akan kehilangan muka, menanggung penderitaan, dan bahkan mendapatkan tatapan aneh dan ejekan. Dihadapkan dengan semua ini, Xiaogang sedikit berkecil hati, "Jika aku tahu bahwa menjadi seorang aktor di layar lebar akan sesulit ini, aku tidak akan datang ke sini, tetapi sekarang aku berada dalam situasi yang rumit. Aku sudah berada di sini, jadi tidak masuk akal bagiku untuk menyerah sebelum pembuatan film selesai, dan mustahil bagiku untuk mempertanggungjawabkannya. Ini adalah impianku, aku harus mewujudkannya, tetapi berapa jauh lagi jalan yang harus dilalui? Dapatkah aku bertahan?" Xiaogang mulai bimbang. Pada hari-hari berikutnya, Xiaogang berjuang untuk mengatasi pekerjaan dan kehidupannya sehari-hari. Setiap hari terasa lebih tak tertahankan dibanding hari sebelumnya, tetapi dia tetap harus bertahan dan memaksakan dirinya untuk terus maju. Seperti yang dapat dibayangkan, ke depannya Xiaogang pasti akan mengalami masalah dalam berbagai hal. Dia mulai melaksanakan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya dengan sangat enggan. Ketika sutradara memberitahunya apa yang harus dilakukan, dia mendengarkan dan hanya itu saja. Setelah itu, dia mencoba yang terbaik untuk mencapai apa yang dia bisa, tetapi jika dia tidak dapat melakukan sesuatu, dia tidak serius dengan dirinya sendiri. Apa status Xiaogang saat ini? Dia melalui setiap hari dengan sangat enggan, sangat negatif, dan sangat pasif, tanpa dengan sungguh-sungguh menerima bimbingan dan bantuan dari direktur atau saudara-saudarinya ke dalam hatinya. Dia percaya, "Beginilah aku, tidak ada ruang untuk perbaikan. Kalian mendorongku melebihi kemampuanku. Jika kita bisa merekamnya, ayo lakukan; jika tidak bisa, lupakan saja. Aku akan kembali ke tim video untuk melaksanakan tugasku." Dia memikirkan betapa hebatnya bekerja di tim video, duduk di depan komputer setiap hari. Begitu nyaman dan mudah; dia sangat senang! Seluruh diri dan seisi dunianya berada dalam ketikan papan ketik, dia bisa memiliki apa pun yang diinginkannya hanya dengan mengaktifkan efek khusus. Dunia maya itu sangat menarik bagi Xiaogang. Pada saat ini, Xiaogang makin merindukan masa lalunya dan waktu yang dihabiskannya untuk melaksanakan tugasnya di tim video. Hari-hari berlalu seperti ini, lalu pada suatu malam, Xiaogang tidak bisa tidur. Mengapa dia tidak bisa tidur? Dia berpikir dalam hati, "Apa aku cocok menjadi seorang aktor? Jika aku tidak cocok menjadi aktor, aku seharusnya segera kembali ke tim video. Tugas tim video sangat santai dan mudah, aku hanya duduk di depan komputer dan separuh hari berlalu begitu saja, dan aku tidak perlu memasak makanan sendiri. Tugas itu tidak berat, segala sesuatunya bisa dilakukan dengan sentuhan pada papan ketikku, yang ada hanya yang tak terbayangkan, tidak ada yang mustahil. Sekarang ini, sebagai seorang aktor, aku harus mempelajari dialogku setiap hari dan melafalkannya berulang kali. Namun, penampilanku masih belum memuaskan, sutradara sering mencelaku, dan saudara-saudariku sering mengkritikku. Melaksanakan tugas ini terlalu berat, jauh lebih baik bekerja di tim video!" Makin dia memikirkannya, makin dia merindukannya. Dia berguling ke sana ke mari selama setengah malam, tidak mampu tidur, dan hanya mampu tertidur di paruh kedua malam ketika dia terlalu lelah untuk tetap terjaga. Ketika Xiaogang membuka matanya di pagi hari, pikiran pertamanya adalah, "Apakah pada akhirnya aku harus pergi, atau tidak? Haruskah aku kembali ke tim video? Jika aku tetap di sini, aku tidak tahu apakah film ini akan dianggap memenuhi standar setelah kami selesai syuting, dan siapa yang tahu seberapa banyak kesulitan yang harus kutanggung sementara itu. Aku tidak cocok menjadi seorang aktor! Saat itu, aku ingin menjadi seorang aktor hanya karena dorongan sesaat dan iseng, aku benar-benar bingung! Begini, aku membuat langkah yang salah dan sekarang keadaan menjadi sangat sulit untuk ditangani, dan tidak ada seorang pun yang dapat kuajak bicara tentang kesulitan ini. Berdasarkan situasiku saat ini, sepertinya tidak akan mudah bagiku untuk menjadi aktor yang baik, jadi aku harus menyerah secepat mungkin. Aku akan segera memberi tahu direktur bahwa aku akan kembali, supaya aku tidak menunda-nunda pekerjaan mereka." Kemudian, Xiaogang mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan hal ini kepada sutradara, "Aku tidak cocok untuk menjadi seorang aktor, tetapi kalian justru memilihku, kenapa kalian tidak membiarkanku kembali ke tim video saja?" Sutradara berkata, "Tidak bisa, kita sudah merekam setengah dari film ini. Jika kita mengganti aktor, itu akan menunda pekerjaan kita, bukan?" Xiaogang tetap bersikeras dan berkata, "Lalu kenapa? Gantilah aku dengan siapa pun yang kau inginkan, itu tidak ada hubungannya denganku. Apa pun yang terjadi, kau harus membiarkanku pergi. Jika kau tidak membiarkanku pergi, aku tidak akan berusaha untuk berakting!" Sutradara melihat bahwa Xiaogang bersikeras untuk pergi dan mereka tidak akan mampu menyelesaikan syuting film tersebut, jadi sutradara membiarkannya pergi.
Akhirnya Xiaogang kembali ke tim video dari tim produksi film. Dia kembali ke tempat kerja sebelumnya yang sangat dia kenal dengan sangat baik. Dia menyentuh kursi dan komputernya, dan keduanya terasa tak asing. Dia lebih menyukai tempat ini. Dia mendekat dan duduk; kursinya empuk dan komputernya siap digunakan. "Lebih baik membuat video, tugas ini tidak melelahkan. Ada keuntungannya bekerja di belakang layar, tidak ada yang tahu jika kau melakukan kesalahan, dan tidak ada yang mengkritikmu, kau hanya perlu segera memperbaikinya dan selesai." Xiaogang akhirnya menemukan keuntungan menjadi pekerja di belakang layar. Bagaimana suasana hatinya saat ini? Dia merasa sangat terhibur dan bahagia, dan berpikir, "Aku membuat pilihan yang tepat. Tuhan memberiku kesempatan dan memungkinkanku untuk kembali ke pekerjaan ini. Aku merasa terhormat memiliki hak istimewa ini!" Dia senang bahwa dia telah membuat pilihan yang tepat untuk sekali ini. Pada hari-hari berikutnya, Xiaogang tetap melaksanakan rutinitas kerja harian tim video. Tidak ada hal istimewa yang terjadi selama ini dan Xiaogang melewati setiap hari dengan cara yang biasa saja.
Suatu hari, ketika sedang mengerjakan sebuah video, Xiaogang tiba-tiba menemukan seorang pemuda yang lucu dan berkelas dalam sebuah program tari, pemuda itu tampil dengan sangat baik. Dia berpikir, "Dia seumuran denganku, kenapa dia bisa menari dan aku tidak?" Akibatnya, Xiaogang tergoda lagi. Ide apa yang muncul di benaknya? (Menari.) Xiaogang memiliki ide untuk belajar menari. Dia menonton video klip ini dan pertunjukan si pemuda berulang kali. Lalu dia membuat beberapa pertanyaan tentang di mana belajar menari, cara mempelajarinya, dan tarian apa yang paling dasar. Dia juga sering memanfaatkan kenyamanan di tempat kerja untuk mencari di komputernya tentang bahan ajar, video, dan sumber pemelajaran yang berkaitan dengan tarian. Tentu saja, saat mencari, Xiaogang tidak hanya melihat, dia juga mempelajarinya dengan menerapkannya. Untuk belajar menari, setiap hari Xiaogang bangun pagi-pagi sekali dan tidur sangat larut. Dia berlatih dengan dasar senam tari yang sangat terbatas, mulai mempelajari tarian rakyat secara formal, bangun lebih awal setiap hari untuk melakukan peregangan dan gerakan kayang. Dalam proses belajar, Xiaogang mengalami banyak rasa sakit fisik dan menghabiskan banyak waktunya, hingga akhirnya mencapai beberapa hal-hal kecil. Xiaogang merasa bahwa kesempatannya akhirnya tiba, bahwa dia dapat menari di atas panggung karena dia percaya bahwa tubuhnya sedikit lebih fleksibel dan dia dapat melakukan beberapa gerakan tarian. Selain itu, dengan meniru dan belajar, dia juga hampir menguasai beberapa ketukan saat dia memutar musik. Dalam situasi seperti ini, Xiaogang merasa sudah waktunya untuk mengajukan permohonan ke gereja untuk mengubah tugasnya. Sekali lagi, setelah berulang kali meminta, akhirnya keinginan Xiaogang terpenuhi dan dia bergabung dengan tim tari untuk menjadi seorang penari. Sejak saat itu, seperti para penari lainnya, Xiaogang bangun pagi-pagi sekali untuk latihan pagi dan berlatih program tarian, serta dengan rutin menghadiri pertemuan, persekutuan, dan menganalisis serta merencanakan program tarian dengan orang-orang ini. Dia melaksanakan pekerjaan ini setiap hari, dan ketika hari itu berakhir, dia sangat lelah sehingga punggungnya dan kakinya sakit. Setiap hari selalu seperti itu, saat hujan atau cerah. Saat memulai dahulu, Xiaogang penuh dengan rasa ingin tahu tentang tarian, tetapi setelah dia memahami dan mulai terbiasa dengan kehidupan dan berbagai aspek seorang penari. Xiaogang merasa bahwa hanya itu yang ada dalam menari. Berulang kali menarikan gerakan, terkadang pergelangan kaki terkilir, terkadang punggung bawahnya tertarik, dan ada risiko cedera. Saat dia menari, dia berpikir, "Oh tidak, bekerja sebagai penari juga sulit. Tiap hari aku sangat lelah sehingga seluruh tubuhku bau keringat. Ini tidak semudah itu. Ini lebih sulit dari pekerjaan video! Tidak, aku harus bertahan!" Kali ini dia tidak menyerah begitu saja, dan dia bertahan sampai akhirnya dia tiba pada gladi resik untuk program tari, dan setelah itu, tarian mereka dikirim untuk ditinjau. Pada hari peninjauan, bagaimana suasana hati Xiaogang? Dia sangat bersemangat dan penuh antisipasi akan hasil kerja kerasnya, sehingga dia bahkan tidak makan siang. "Dia sudah berusaha keras, bukan?" Akhirnya, ketika hasilnya diumumkan, tarian mereka tidak lolos tinjauan tahap pertama. Berita itu menghantam Xiaogang seperti sambaran petir dan suasana hatinya mencapai titik terendah. Dia jatuh terduduk di kursi, "Kami sudah menghabiskan waktu begitu lama untuk tarian ini dan kau menolaknya hanya dengan satu kata? Apa kau tahu apa pun tentang tarian? Kami menari dengan prinsip-prinsip, kami semua telah membayar harganya, dan kau menolak tarian kami begitu saja?" Kemudian dia berpikir, "Keputusan ada di tangan mereka dan jika mereka tidak menerima tarian kami, kami harus memperbaikinya lagi. Ini tidak bisa diperdebatkan dengan siapa-siapa. Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan, jadi ayo mulai dari awal." Pada hari ketika tarian mereka ditolak di tinjauan tahap pertama, Xiaogang tidak makan siang, dan dengan enggan, dia hanya makan sedikit saat makan malam. Apakah engkau semua pikir dia mampu tidur malam itu? (Dia tidak bisa tidur.) Dia tidak bisa tidur lagi, pikirannya bergejolak, "Mengapa segala sesuatunya tidak berjalan lancar ke mana pun aku pergi? Tuhan belum memberkatiku. Tarian yang telah kami kerjakan selama dua bulan tidak lolos pada tinjauan tahap pertama. Aku tidak tahu kapan tarian ini akan lolos tinjauan tahap kedua dan aku tidak tahu berapa lama waktu yang harus kami habiskan untuk mewujudkannya. Kapan aku mampu naik ke atas panggung dan tampil secara resmi? Tidak ada harapan bagiku untuk menjadi pusat perhatian!" Ada banyak pikiran di benaknya, dia merenung dan merenung, lalu berpikir, "Pekerjaan video lebih baik. Aku hanya pergi ke sana dan duduk, mengetik di papan ketik, dan bunga, tanaman, dan pepohonan akan muncul. Burung-burung berkicau ketika kusuruh mereka berkicau, kuda-kuda berlari ketika kusuruh mereka berlari, apa pun yang kuinginkan, ada di sana. Namun dalam menari, kami harus lolos peninjauan dan setiap hari aku sangat lelah sampai-sampai bau keringat. Terkadang aku begitu lelahnya hingga tidak bisa makan atau tidur nyenyak, lalu tarian kami tidak lolos tinjauan tahap pertama. Tugas ini juga berat. Bukankah lebih baik jika aku kembali bekerja di tim video?" Dia berpikir, "Namun itu sangat menyedihkan, mengapa aku bimbang lagi? Aku tidak boleh berpikir seperti ini, ayo tidur!" Dia tertidur dengan perasaan bingung. Keesokan harinya, dia bangun dan hampir melupakan semuanya, jadi dia terus menari dan melanjutkan gladi resik. Ketika tiba pada hari tinjauan tahap kedua, Xiaogang kembali merasa gugup. Dia bertanya, "Dapatkah tarian kita lolos dalam tinjauan kali ini?" Semua orang menjawab, "Siapa yang tahu? Jika tidak lolos, itu membuktikan bahwa tarian kita tidak cukup bagus dan kita akan terus mengasahnya. Ketika tariannya lolos, saat itulah kita akan secara resmi tampil dan merekamnya. Biarlah semuanya berjalan dengan sendirinya dan tangani masalah ini dengan benar." Xiaogang berkata, "Tidak, kalian dapat mengatasinya dengan benar, tetapi aku tidak punya waktu untuk itu." Akhirnya, hasil putaran kedua keluar dan tarian mereka tidak lolos lagi. Xiaogang berkata, "Hah, aku sudah menduganya! Tidak mudah untuk menjadi sukses dalam bidang pekerjaan ini! Kami masih muda, tampan, dan kami dapat menari. Bukankah ini adalah kekuatan? Para peninjau itu iri pada kami karena mereka tidak bisa menari, itulah sebabnya mereka tidak mau meloloskan tarian kami. Sepertinya tarian itu tidak akan pernah lolos, menari itu tidak mudah, aku akan kembali." Malam itu Xiaogang tidur dengan sangat nyenyak karena dia telah memutuskan untuk berkemas, pergi, dan mengucapkan selamat tinggal keesokan harinya.
Bagaimanapun juga, Xiaogang akhirnya dapat mewujudkan keinginannya lagi dan kembali ke tim video, duduk di depan komputernya lagi. Dia merenungkan perasaan yang tidak asing lagi dari masa lalu dan berpikir, "Aku terlahir untuk melakukan pekerjaan di balik layar. Aku hanya dapat menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Aku tidak memiliki kesempatan untuk berada di atas panggung atau menjadi terkenal dalam hidup ini. Aku hanya akan bersikap baik dan terus mengetik di papan ketik. Ini adalah tugasku, jadi aku akan melakukan pekerjaan ini." Dia telah memantapkan dirinya setelah semua maju-mundur ini. Impian keduanya telah pupus dan tidak terpenuhi. Xiaogang adalah orang yang "rajin dan tekun belajar", serta orang yang "bersemangat dan ambisius". Apakah menurut engkau semua, dia akan bersedia duduk di depan komputer dan melakukan pekerjaan yang membosankan seperti itu? Tidak, kemungkinan besar tidak.
Belum lama ini, Xiaogang terobsesi untuk bernyanyi. Bagaimana dia bisa berubah begitu cepat? Mengapa dia terobsesi dengan hal ini, mengapa dia tidak bisa menjauh dari panggung? Ada sesuatu yang tersembunyi di dalam hatinya. Kali ini dia tidak gegabah meminta untuk mengubah tugasnya; dia hanya mencari materi setiap hari dan melatih kemampuan vokal dan kemampuan bernyanyinya. Dia sering berlatih hingga suaranya serak, terkadang sampai dia tidak bisa bersuara. Meski begitu, Xiaogang tidak patah semangat karena kali ini dia telah mengubah strategi. Dia berkata, "Kali ini aku tidak dapat mengubah tugasku tanpa memahami situasi yang nyata. Aku sungguh harus berhati-hati, jika tidak, orang-orang akan mengejekku. Apa yang akan mereka pikirkan tentangku jika aku selalu mengubah tugasku? Mereka akan merendahkanku. Kali ini aku harus terus berlatih sampai kumerasa aku dapat menjadi penyanyi hebat, sebagus para penyanyi di gereja, lalu aku akan mendaftar ke Tim Lagu Pujian." Dia berusaha keras untuk berlatih seperti ini setiap hari, baik di waktu luang maupun di tempat kerja, berlatih tanpa kenal lelah. Suatu hari, saat Xiaogang sedang bekerja, pemimpin timnya tiba-tiba berkata kepadanya, "Xiaogang, pekerjaan apa yang sedang kau lakukan? Jika kau bersikap asal-asalan seperti ini lagi dan tidak berusaha keras dalam pekerjaanmu, kau tidak akan diperbolehkan melaksanakan tugas ini lagi." Xiaogang berkata, "Aku tidak melakukan apa-apa." Kemudian, semua orang berkerumun dan berkata, "Xiaogang, apa yang terjadi? Oh, kau telah membuat kesalahan besar! Yang di Atas telah memperbaiki kesalahan semacam ini berkali-kali, bagaimana mungkin kau masih melakukannya? Itu karena kau berlatih bernyanyi setiap hari dan tidak berkonsentrasi pada penyuntingan video, jadi kau terus membuat kesalahan dan menunda hal-hal penting. Jika kau membuat kesalahan seperti ini lagi, gereja akan mengusirmu. Gereja tidak akan menginginkanmu lagi dan kami semua akan menolakmu!" Xiaogang terus menjelaskan, "Aku tidak sengaja melakukannya, mulai sekarang, aku akan berhati-hati, beri aku satu kesempatan lagi. Jangan usir aku, aku mohon pada kalian, jangan usir aku! Tuhan, selamatkan aku!" Ketika dia berteriak, dia merasakan tangan yang besar menepuk pundaknya, sambil berkata, "Xiaogang, bangun! Bangun, Xiaogang!" Apa yang sedang terjadi? (Dia bermimpi.) Dia bermimpi. Matanya terpejam dan dia linglung, tangannya mencengkeram dan mencakar-cakar udara. Semua orang bertanya-tanya apa yang telah terjadi dan kemudian mereka melihat Xiaogang membungkuk di atas papan ketiknya sambil tertidur. Seorang saudara menepuknya, dan setelah beberapa kali didorong, Xiaogang akhirnya terbangun. Ketika dia bangun, dia berkata, "Oh, sungguh menakutkan, aku hampir diusir." "Karena apa?" Xiaogang memikirkannya dan melihat bahwa tidak ada yang terjadi. Ternyata itu hanya mimpi, dia tersentak ketakutan karena sebuah mimpi. Itulah akhir dari ceritanya, yaitu "Impian Xiaogang".
Masalah apa yang dibicarakan dalam cerita ini? Faktanya, mimpi dan kenyataan sering kali bertentangan. Orang-orang sering kali berpikir bahwa mimpi mereka adalah sesuatu yang pantas, tetapi mereka tidak tahu bahwa mimpi dan kenyataan sama sekali bukan hal yang sama. Mimpi hanyalah angan-anganmu, itu hanya ketertarikanmu yang bersifat sementara. Sering kali, mimpi adalah preferensi, ambisi, dan keinginan orang-orang yang menjadi tujuan pengejaran mereka. Mimpi orang sama sekali tidak konsisten dengan kenyataan. Jika orang memiliki terlalu banyak mimpi, kesalahan apa yang akan sering mereka buat? Mereka akan mengabaikan pekerjaan yang ada di depan mata yang seharusnya mereka lakukan pada saat itu. Mereka akan mengabaikan kenyataan dan mengesampingkan tugas yang seharusnya mereka laksanakan, pekerjaan yang seharusnya mereka selesaikan, serta kewajiban dan tanggung jawab yang seharusnya mereka penuhi saat itu. Mereka tidak akan menganggap serius hal-hal ini dan mereka hanya akan terus mengikuti mimpi mereka, selalu tergesa-gesa dan bekerja keras untuk mewujudkannya, dan melakukan banyak hal yang tidak berarti. Dengan cara ini, bukan hanya mereka akan gagal melaksanakan tugas mereka dengan benar, mereka juga mungkin menunda dan mengganggu pekerjaan gereja. Banyak orang yang tidak memahami kebenaran atau mengejar kebenaran. Seperti apa mereka memperlakukan pelaksanaan tugas? Mereka memperlakukannya seperti sebuah pekerjaan, hobi, atau investasi yang mereka minati. Mereka tidak memperlakukannya seperti sebuah misi atau tugas yang diberikan oleh Tuhan, atau tanggung jawab yang harus mereka penuhi. Bahkan, mereka tidak berusaha memahami kebenaran atau maksud Tuhan dalam melaksanakan tugas mereka, agar mereka dapat melaksanakan tugas mereka dengan baik dan menyelesaikan amanat Tuhan. Oleh karena itu, dalam proses melaksanakan tugas mereka, begitu mengalami kesulitan, beberapa orang menjadi tidak bersedia dan ingin melarikan diri. Ketika mereka menghadapi beberapa kesulitan atau mengalami kemunduran, mereka mundur dan ingin melarikan diri lagi. Mereka tidak mencari kebenaran; yang mereka pikirkan hanyalah melarikan diri. Seperti kura-kura, jika ada yang tidak beres, mereka akan bersembunyi di dalam cangkangnya, lalu menunggu hingga masalahnya berlalu sebelum muncul kembali. Ada banyak orang yang seperti ini. Khususnya, ada beberapa orang yang ketika diminta untuk bertanggung jawab atas pekerjaan tertentu, mereka tidak mempertimbangkan cara mereka dapat mempersembahkan kesetiaan mereka, atau cara melaksanakan tugas ini dan melaksanakan pekerjaan ini dengan baik. Sebaliknya, mereka mempertimbangkan caranya mengelak dari tanggung jawab, caranya menghindari pemangkasan, caranya agar tidak bertanggung jawab, dan caranya muncul tanpa merugi ketika masalah atau kesalahan terjadi. Mereka terlebih dahulu mempertimbangkan rute pelarian mereka sendiri dan cara memuaskan preferensi dan minat mereka sendiri, bukan cara melaksanakan tugas mereka dengan baik dan mempersembahkan kesetiaan mereka. Dapatkah orang-orang seperti ini memperoleh kebenaran? Mereka tidak mendedikasikan upaya dalam kebenaran dan mereka tidak menerapkan kebenaran dalam melaksanakan tugas mereka. Bagi mereka, rumput tetangga selalu lebih hijau. Hari ini mereka ingin melakukan ini, besok ingin melakukan itu, dan mereka berpikir bahwa tugas orang lain lebih baik dan lebih mudah daripada tugas mereka sendiri. Namun, mereka tidak berusaha dalam hal kebenaran. Mereka tidak memikirkan masalah apa yang ada dengan ide-ide mereka ini dan mereka tidak mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah. Pikiran mereka selalu berfokus pada kapan mimpi mereka akan terwujud, siapa yang menjadi pusat perhatian, siapa yang mendapatkan pengakuan dari Yang di Atas, siapa yang melaksanakan pekerjaan tanpa dipangkas dan dipromosikan. Pikiran mereka dipenuhi dengan hal-hal ini. Dapatkah orang-orang yang selalu memikirkan hal-hal ini melaksanakan tugasnya dengan memadai? Mereka tidak akan pernah dapat mencapai hal ini. Jadi, orang seperti apa yang melaksanakan tugasnya dengan cara ini? Apakah mereka orang-orang yang mengejar kebenaran? Pertama-tama, satu hal yang pasti: Orang-orang seperti ini tidak mengejar kebenaran. Mereka berusaha menikmati sejumlah berkat, menjadi terkenal, dan menjadi sorotan di rumah Tuhan, sama seperti ketika mereka bertahan hidup di masyarakat. Dari segi esensi, orang-orang seperti apakah mereka? Mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya. Pengikut yang bukan orang percaya melaksanakan tugas mereka di rumah Tuhan seperti halnya mereka melaksanakan pekerjaan di dunia luar. Mereka peduli tentang siapa yang dipromosikan, siapa yang menjadi pemimpin tim, siapa yang menjadi pemimpin gereja, siapa yang dipuji oleh semua orang karena pekerjaannya, siapa yang ditinggikan dan disebut-sebut. Mereka peduli tentang hal-hal ini. Hal ini sama seperti di sebuah perusahaan: Siapa yang dipromosikan, siapa yang mendapat kenaikan gaji, siapa yang menerima pujian dari pemimpin, dan siapa yang menjadi akrab dengan pemimpin—orang-orang peduli tentang hal-hal ini. Jika mereka juga mengejar hal-hal ini di rumah Tuhan dan disibukkan dengan hal-hal ini sepanjang hari, bukankah mereka sama saja dengan orang-orang tidak percaya? Pada esensinya, mereka adalah orang-orang tidak percaya; mereka adalah contoh khas dari pengikut yang bukan orang percaya. Apa pun tugas yang mereka laksanakan, mereka hanya akan berjerih payah dan bertindak dengan cara yang asal-asalan. Apa pun khotbah yang mereka dengar, mereka tetap tidak akan menerima kebenaran, dan terlebih lagi, mereka tidak akan menerapkan kebenaran. Mereka telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun tanpa mengalami perubahan apa pun, dan entah selama berapa tahun pun mereka melaksanakan tugas mereka, mereka tidak akan mampu mempersembahkan kesetiaan mereka. Mereka tidak memiliki iman sejati kepada Tuhan, mereka tidak memiliki kesetiaan, mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya.
Ada orang-orang yang takut bertanggung jawab saat melaksanakan tugas mereka. Jika gereja memberi mereka tugas, pertama-tama mereka akan mempertimbangkan apakah pekerjaan itu menuntut mereka untuk bertanggung jawab atau tidak, dan jika ya, mereka tidak akan menerima tugas itu. Syarat mereka untuk melaksanakan tugas adalah, pertama, tugas itu harus ringan; kedua, tugas itu tidak menyibukkan atau melelahkan; dan ketiga, apa pun yang mereka lakukan, mereka tidak perlu bertanggung jawab. Hanya tugas semacam itulah yang mau mereka lakukan. Orang macam apakah ini? Bukankah ini orang yang licin dan licik? Mereka tidak mau memikul tanggung jawab sekecil apa pun. Mereka bahkan takut dedaunan akan menghancurkan tengkorak mereka saat berguguran dari pohon. Tugas apa yang mampu dilaksanakan oleh orang semacam ini? Apa gunanya mereka berada di rumah Tuhan? Pekerjaan rumah Tuhan ada kaitannya dengan pekerjaan melawan Iblis dan penyebaran Injil Kerajaan. Tugas apa yang tidak memerlukan tanggung jawab? Apakah menurutmu menjadi seorang pemimpin mengandung tanggung jawab? Bukankah tanggung jawab mereka lebih besar, dan bukankah mereka harus lebih bertanggung jawab? Entah engkau menyebarkan Injil, bersaksi, membuat video, dan sebagainya—pekerjaan apa pun yang kaulakukan—selama itu berkaitan dengan prinsip kebenaran, itu mengandung tanggung jawab. Jika engkau melaksanakan tugasmu tanpa prinsip, itu akan memengaruhi pekerjaan rumah Tuhan, dan jika engkau takut bertanggung jawab, berarti engkau tidak mampu melaksanakan tugas apa pun. Apakah orang yang takut bertanggung jawab dalam pelaksanaan tugasnya adalah pengecut, atau apakah ada masalah dengan watak mereka? Engkau harus bisa membedakannya. Sebenarnya ini bukan masalah kepengecutan. Jika orang itu mengejar kekayaan atau melakukan sesuatu untuk kepentingannya sendiri, mengapa dia bisa begitu berani? Dia mau mengambil risiko apa pun. Namun, ketika dia melakukan sesuatu untuk gereja, untuk rumah Tuhan, dia sama sekali tak mau mengambil risiko. Orang-orang semacam itu egois dan tercela, yang paling curang dari semuanya. Siapa pun yang tidak bertanggung jawab dalam pelaksanaan tugasnya berarti tidak sedikit pun tulus kepada Tuhan, apalagi memiliki kesetiaan. Orang macam apa yang berani bertanggung jawab? Orang macam apa yang memiliki keberanian untuk menanggung beban yang berat? Orang yang bertindak sebagai pemimpin dan maju dengan berani pada saat paling genting dalam pekerjaan rumah Tuhan, yang tidak takut memikul tanggung jawab yang berat dan menanggung kesukaran besar, ketika mereka melihat pekerjaan yang paling penting dan krusial. Seperti itulah orang yang setia kepada Tuhan, prajurit Kristus yang baik. Apakah dalam hal ini semua orang yang takut bertanggung jawab dalam tugas mereka bersikap seperti itu karena mereka tidak memahami kebenaran? Tidak; itu adalah masalah dalam kemanusiaan mereka. Mereka tidak memiliki rasa keadilan atau tanggung jawab, mereka adalah orang-orang yang egois dan tercela, bukan orang-orang yang percaya kepada Tuhan dengan hati yang tulus, dan mereka tidak menerima kebenaran sedikit pun. Karena alasan inilah, mereka tidak dapat diselamatkan. Orang-orang yang percaya kepada Tuhan harus banyak membayar harga untuk memperoleh kebenaran, dan mereka akan menemui banyak rintangan ketika menerapkan kebenaran. Mereka harus meninggalkan sesuatu, meninggalkan keinginan daging mereka dan menanggung sedikit penderitaan. Hanya dengan cara demikian, mereka akan mampu menerapkan kebenaran. Jadi, dapatkah orang yang takut bertanggung jawab menerapkan kebenaran? Mereka pasti tidak mampu menerapkan kebenaran, apalagi memperolehnya. Mereka takut menerapkan kebenaran, takut menimbulkan kerugian bagi kepentingan mereka; mereka takut dihina, difitnah, dan dikritik, dan mereka tidak berani menerapkan kebenaran. Akibatnya, mereka tidak mampu memperolehnya, dan seberapa pun lamanya mereka percaya kepada Tuhan, mereka tidak dapat memperoleh keselamatan-Nya. Mereka yang mampu melaksanakan tugas di rumah Tuhan haruslah orang-orang yang membebani dirinya untuk pekerjaan gereja, yang bertanggung jawab, yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip kebenaran, dan yang mampu menderita dan membayar harga. Jika orang kurang dalam area-area ini, berarti mereka tidak layak untuk melaksanakan tugas, dan mereka tidak memenuhi syarat untuk melaksanakan tugas. Ada banyak orang yang takut bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas. Ketakutan mereka terwujud dalam tiga cara utama. Yang pertama, mereka memilih tugas yang tidak menuntut tanggung jawab. Jika seorang pemimpin gereja mengatur agar mereka melaksanakan sebuah tugas, mereka pertama-tama bertanya apakah mereka harus bertanggung jawab untuk itu: Jika harus bertanggung jawab, mereka tidak mau menerimanya. Jika tugas itu tidak menuntut mereka untuk bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkannya, mereka menerimanya dengan enggan, tetapi tetap harus melihat apakah pekerjaan itu melelahkan, menyusahkan atau tidak, dan sekalipun mereka menerima tugas itu dengan enggan, mereka tidak termotivasi untuk melaksanakannya dengan baik, tetap memilih untuk bersikap asal-asalan. Kenyamanan, tanpa perlu bekerja keras, dan tidak ada kesulitan fisik—inilah prinsip mereka. Yang kedua, ketika kesulitan menimpa mereka atau mereka menghadapi masalah, upaya pertama mereka adalah melaporkannya kepada pemimpin dan meminta pemimpin untuk menangani dan menyelesaikannya, dengan harapan membuat diri mereka sendiri merasa santai. Mereka tidak peduli bagaimana pemimpin menangani masalah ini dan tidak memedulikan hal ini—asalkan mereka tidak perlu bertanggung jawab, maka semuanya baik-baik saja bagi mereka. Apakah pelaksanaan tugas seperti itu setia kepada Tuhan? Ini disebut mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain, pengabaian terhadap tugas, melakukan tipu muslihat. Semua hanya bicara; mereka tidak melakukan apa pun yang nyata. Mereka berpikir, "Jika ini adalah tugas yang harus kuselesaikan, bagaimana jika akhirnya aku melakukan kesalahan? Jika mereka menyelidiki siapa yang harus disalahkan, bukankah mereka akan menanganiku? Bukankah akulah yang terlebih dahulu dianggap orang yang harus bertanggung jawab?" Inilah yang mereka khawatirkan. Namun, apakah engkau percaya bahwa Tuhan memeriksa segala sesuatu? Semua orang melakukan kesalahan. Jika seseorang yang niatnya benar belum punya pengalaman dan belum pernah menangani hal semacam itu sebelumnya, tetapi mereka telah melakukan yang terbaik, itu terlihat oleh Tuhan. Engkau harus percaya bahwa Tuhan memeriksa segala sesuatu dan memeriksa hati manusia. Jika orang bahkan tidak memercayai hal ini, bukankah mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya? Apa gunanya orang semacam itu melaksanakan tugas? Sebenarnya tidak terlalu penting apakah mereka melaksanakan tugas ini atau tidak, bukan? Mereka takut memikul tanggung jawab dan menghindari tanggung jawab mereka. Ketika sesuatu terjadi, hal pertama yang mereka lakukan bukanlah berusaha memikirkan cara untuk menangani masalah tersebut, tetapi hal pertama yang mereka lakukan adalah menelepon dan memberi tahu pemimpin. Tentu saja, ada beberapa orang yang berusaha menangani sendiri masalahnya sembari memberi tahu pemimpin, tetapi ada orang-orang yang tidak melakukan hal ini, dan hal pertama yang mereka lakukan adalah menelepon pemimpin, dan setelah menelepon, mereka hanya menunggu dengan pasif, menunggu instruksi. Jika pemimpin menginstruksikan satu langkah, mereka mengambil satu langkah; jika pemimpin menyuruh mereka melakukan sesuatu, mereka melakukannya. Jika pemimpin tidak mengatakan apa pun atau tidak memberi instruksi, mereka tidak melakukan apa pun dan hanya menunda-nunda. Tanpa seorang pun memacu mereka atau mengawasi mereka, mereka sama sekali tidak bekerja. Katakan kepada-Ku, apakah orang seperti ini sedang melaksanakan tugas? Sekalipun mereka sedang berjerih payah, mereka tidak memiliki kesetiaan! Ada satu cara lagi orang mewujudkan ketakutannya untuk bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas. Ketika melaksanakan tugas, ada orang-orang yang hanya melakukan sedikit pekerjaan permukaan dan sederhana, pekerjaan yang tidak memerlukan tanggung jawab. Untuk pekerjaan yang mengandung kesulitan dan memerlukan tanggung jawab, mereka melemparkannya kepada orang lain, dan jika terjadi kesalahan, mereka melemparkan kesalahan kepada orang-orang itu dan menjauhkan diri mereka sendiri dari masalah. Ketika para pemimpin gereja melihat bahwa mereka tidak bertanggung jawab, mereka dengan sabar memberikan bantuan, atau mereka memangkas orang-orang itu, agar mereka mampu memikul tanggung jawab. Namun, mereka tetap saja tidak mau bertanggung jawab dan berpikir, "Tugas ini sulit untuk dilaksanakan. Aku harus bertanggung jawab jika ada sesuatu yang salah, dan mungkin saja aku bahkan akan dikeluarkan dan disingkirkan, dengan demikian, akan tamatlah riwayatku." Sikap macam apa ini? Jika mereka tidak memiliki rasa tanggung jawab dalam melaksanakan tugas mereka, bagaimana mereka mampu melaksanakan tugas mereka dengan baik? Orang yang tidak sungguh-sungguh mengorbankan diri mereka untuk Tuhan tidak akan mampu melaksanakan tugas apa pun dengan baik, dan orang yang takut memikul tanggung jawab hanya akan menunda segala sesuatu ketika mereka melaksanakan tugas mereka. Orang-orang semacam itu tidak dapat dipercaya atau diandalkan; mereka hanya melaksanakan tugas mereka untuk mendapatkan makanan di mulut mereka. Haruskah "pengemis" semacam ini disingkirkan? Ya. Rumah Tuhan tidak menginginkan orang-orang semacam itu. Ini adalah tiga perwujudan dari orang-orang yang takut bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas mereka. Orang yang takut bertanggung jawab dalam tugas mereka bahkan tidak dapat mencapai tingkat orang berjerih payah dengan setia, dan mereka tidak layak untuk melaksanakan suatu tugas. Ada orang-orang yang disingkirkan karena bersikap seperti ini terhadap tugas mereka. Bahkan sekarang pun, mereka mungkin tidak mengetahui alasannya dan tetap mengeluh dengan berkata, "Aku melaksanakan tugasku dengan semangat yang berapi-api, lalu mengapa mereka menyuruhku pergi dengan begitu dinginnya?" Bahkan sekarang pun, mereka tidak mengerti. Mereka yang tidak memahami kebenaran menghabiskan seluruh hidup mereka tanpa mampu memahami mengapa mereka disingkirkan. Mereka berdalih bagi diri mereka sendiri, dan terus membela diri, berpikir, "Sudah menjadi naluri manusia untuk melindungi dirinya sendiri, dan mereka seharusnya melakukannya. Siapa yang tidak boleh sedikit memikirkan keuntungannya sendiri? Siapa yang tidak boleh sedikit memikirkan dirinya sendiri? Siapa yang tidak perlu menyediakan jalan keluar bagi dirinya sendiri?" Jika engkau melindungi dirimu sendiri setiap kali sesuatu menimpamu dan menyediakan jalan keluar, atau pintu belakang bagimu sendiri, apakah engkau sedang menerapkan kebenaran? Ini bukanlah menerapkan kebenaran—ini berarti bersikap licik. Sekarang ini engkau sedang melaksanakan tugasmu di rumah Tuhan. Apa prinsip pertama melaksanakan tugas? Pertama-tama, engkau harus melaksanakan tugas dengan segenap hatimu, mengerahkan segenap upayamu, dan melindungi kepentingan rumah Tuhan. Ini adalah prinsip kebenaran, prinsip yang harus kauterapkan. Melindungi diri dengan menyediakan jalan keluar, pintu belakang bagi dirinya sendiri adalah prinsip penerapan yang diikuti orang-orang tidak percaya, dan merupakan falsafah tertinggi mereka. Mengutamakan diri sendiri dalam segala hal dan mendahulukan kepentingan sendiri di atas segalanya, tidak memikirkan orang lain, tidak ada kaitannya dengan kepentingan rumah Tuhan dan kepentingan orang lain, mengutamakan kepentingan sendiri dan kemudian memikirkan jalan keluar—bukankah seperti inilah orang tidak percaya itu? Seperti inilah tepatnya orang tidak percaya itu. Orang semacam ini tidak layak untuk melaksanakan tugas. Masih ada beberapa orang seperti Xiaogang dalam cerita ini—dia adalah contoh yang khas. Mereka tidak bisa melakukan apa pun dengan sikap tenang. Mereka ingin menghindari masalah dalam segala hal yang mereka lakukan. Mereka tidak ingin menderita sedikit pun kesulitan atau frustrasi. Daging mereka harus nyaman, mereka harus bisa makan dan tidur secara teratur, dan angin tidak boleh menerpa mereka atau matahari tidak boleh membakar mereka. Selain itu, mereka tidak bertanggung jawab atas pekerjaan mereka. Apa yang mereka lakukan haruslah sesuatu yang mereka sukai, sesuatu yang mereka kuasai, sesuatu yang sangat ingin mereka lakukan. Jika mereka tidak melakukan apa yang mereka inginkan, mereka tidak memiliki ketaatan sedikit pun. Mereka terus-menerus berubah pikiran dan bimbang. Mereka tidak pernah berkomitmen dalam apa yang mereka lakukan—mereka selalu menyimpan sebagian kekuatan mereka untuk digunakan nantinya. Ketika mereka menderita, mereka ingin mundur. Mereka tidak bisa tahan dipangkas. Tidak bisa menuntut terlalu tinggi kepada mereka. Mereka tidak bisa menderita. Apa yang mereka lakukan sepenuhnya bergantung pada minat dan rencana mereka sendiri—tidak ada sedikit pun ketaatan dalam diri mereka. Jika orang semacam ini tidak dapat mencari kebenaran dan merenungkan diri mereka sendiri, maka tindakan dan watak yang rusak ini sulit untuk diubah. Melaksanakan tugas sebagai orang yang percaya kepada Tuhan membutuhkan setidaknya sedikit ketulusan. Menurutmu, apakah orang-orang ini tulus? Ketika upaya serius diperlukan, mereka meringkuk ketakutan. Mereka tidak memiliki sedikit pun ketulusan. Ini sangat merepotkan dan sulit untuk ditangani. Mereka merasa bahwa mereka hebat, dan bahkan mereka merasa dirugikan ketika mereka diberhentikan atau dipangkas. Sangat merepotkan jika orang-orang tidak mencari kebenaran atau memasuki kenyataan kebenaran. Sudah cukup untuk topik ini—mari kita masuk ke poin utama.
Analisis tentang Bagaimana Antikristus Membuat Orang Lain Hanya Tunduk kepada Mereka, Bukan kepada Kebenaran atau Tuhan
Persekutuan hari ini adalah tentang butir kedelapan dari bermacam cara antikristus bermanifestasi: Mereka akan membuat orang lain hanya tunduk kepada mereka, bukan kepada kebenaran atau Tuhan. Apakah engkau dapat memahami butir ini? Pertimbangkan terlebih dahulu manifestasi manakah dari butir ini yang dapat engkau cocokkan dengan apa yang engkau pahami. Mereka akan membuat orang lain hanya tunduk kepada mereka, bukan kepada kebenaran atau Tuhan—arti harfiahnya mudah dipahami, tetapi di dalamnya terdapat banyak keadaan, dan berbagai watak yang diperlihatkan oleh beberapa tipe orang, atau berbagai perilaku yang diperlihatkan oleh berbagai watak itu. Ini adalah topik besar; kita harus mempersekutukannya dari ciri-cirinya yang lebih kecil. Untuk menjelaskan butir ini menurut arti harfiahnya, orang-orang yang mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin paling sering mengatakan: "Itu berarti mengindahkan mereka dalam segala hal—mereka membuat orang mengindahkan mereka, bahkan ketika apa yang mereka katakan tidak sesuai dengan kebenaran. Ketika mereka mengkhotbahkan beberapa kata dan doktrin, orang lain mengindahkannya; ketika mereka mengatakan sebuah ungkapan, orang lain mengindahkannya. Mereka selalu cenderung memerintah orang lain, mendelegasikan pekerjaan kepada orang lain, dan memaksa orang lain untuk mengindahkannya." Bukankah itu yang paling sering mereka katakan ketika mereka berbicara sedikit tentang arti harfiahnya? Apa lagi? "Mereka pikir mereka benar tentang segala sesuatu. Mereka membuat semua orang mengindahkan mereka, dan membuat orang tunduk pada apa yang mereka katakan, meski itu tidak sesuai dengan kebenaran. Mereka memandang diri mereka sebagai kebenaran dan sebagai Tuhan, dan dengan mengindahkan mereka, orang tunduk kepada kebenaran dan kepada Tuhan. Itulah artinya." Andai engkau yang berbicara tentang topik ini, pikirkanlah bagaimana engkau harus melakukannya. Jika engkau harus mulai dengan apa yang pernah engkau lihat atau alami secara pribadi, dari unsur apakah engkau akan memulainya? Begitu kita berbicara tentang kenyataan, tidak ada sesuatu yang engkau katakan. Jadi, apakah engkau juga tidak berbicara dalam persekutuanmu yang biasa engkau lakukan bersama saudara-saudari? Bagaimana engkau dapat melakukan pekerjaanmu dengan baik tanpa berbicara? Berbicaralah sedikit terlebih dahulu tentang cara dan perilaku konkrit dari manifestasi ini. Yang manakah di antaranya yang pernah engkau lihat atau saksikan sebelumnya? Apakah engkau punya ide? (Ketika aku sedang melaksanakan tugasku, aku mendapatkan ide yang cukup kuat, dan aku sangat ingin mewujudkannya. Aku pikir ideku itu baik dan benar, dan ketika orang lain menyangsikannya, aku katakan bahwa masalah itu janganlah ditunda, bahwa masalah itu harus segera diselesaikan. Kemudian, aku memaksa melakukan apa yang aku maksudkan. Orang lain mungkin ingin mencari, tetapi aku tidak ingin memberi mereka waktu—aku ingin mereka melakukan hal itu sesuai dengan ideku.) Itu adalah manifestasi konkret. Siapa lagi yang ingin berbicara? (Suatu ketika aku bersekutu dengan saudara-saudari tentang masalah mengangkat dan membina seseorang. Sebenarnya aku sangat ingin mengangkat orang itu. Aku merasa sudah mencari dari Yang di Atas dan tidak ada masalah apa pun dengan mengangkatnya. Beberapa saudara-saudari belum terlalu memahami masalah itu, dan aku tidak mempersekutukan tentang mengapa kami harus mengangkat orang itu, apa prinsip-prinsipnya, atau apa kebenarannya—aku hanya secara paksa mengatakan kepada mereka bagaimana baiknya orang itu, bahwa mengangkatnya sejalan dengan prinsip-prinsip. Aku memaksa mereka menaatiku agar percaya bahwa apa yang kulakukan benar.) Engkau sedang membicarakan tentang sekumpulan masalah, sekumpulan keadaan, yang secara keseluruhan cocok dengan butir ini. Tampaknya sedikit pemahaman harfiah adalah sejauh mana pemahamanmu tentang kebenaran, jadi aku harus mempersekutukannya. Jika engkau cukup memahami butir ini, kita akan melewatinya dan bersekutu tentang hal selanjutnya. Namun, tampaknya kita belum bisa melakukannya, dan harus bersekutu tentang topik ini sesuai rencana.
Butir kedelapan dari berbagai manifestasi antikristus adalah: Mereka akan membuat orang lain hanya tunduk kepada mereka, bukan kepada kebenaran atau Tuhan. Dalam hal ini, ada beberapa pernyataan atas esensi antikristus. Tentu saja ini bukan sekadar masalah, ungkapan, pandangan, atau cara dalam menangani sesuatu; sebaliknya, ini suatu watak. Jadi, watak apakah itu? Watak ini terwujud dalam beberapa cara. Cara pertama adalah bahwa orang-orang semacam itu tidak bisa bekerja sama dengan siapa pun. Apakah itu cara melakukan sesuatu? (Bukan, itu watak.) Itu benar—itu adalah memperlihatkan watak, yang esensinya adalah congkak dan merasa benar sendiri. Orang seperti itu tidak bisa bekerja sama dengan siapa pun. Itu yang pertama. Cara kedua ia mewujudkan diri adalah bahwa mereka memiliki keinginan dan ambisi untuk mengendalikan dan menaklukkan orang. Apakah itu watak? (Ya.) Apakah itu cara melakukan sesuatu? (Bukan.) Apakah itu berbeda dari hal-hal yang sudah engkau katakan? Engkau telah berbicara tentang peristiwa-peristiwa tertentu, cara-cara tertentu dalam melakukan sesuatu—itu bukanlah esensi. Bukankah manifestasi ini lebih parah dari hal-hal yang engkau katakan? (Ya.) Ini sampai ke akarnya. Dan cara ketiga adalah menolak untuk mengizinkan orang lain ikut campur, menanyakan, atau mengawasi mereka dalam pekerjaan apa pun yang mereka lakukan. Apakah itu esensi? (Ya.) Ada banyak perilaku dan cara melakukan sesuatu yang terkait dalam masing-masing esensi ini. Sekali lagi, esensi ini cocok dengan butir kedelapan, bukan? Cara keempat, mereka berpura-pura menjadi perwujudan kebenaran setelah mereka memperoleh sedikit pengalaman dan pengetahuan, dan memetik beberapa pelajaran, yang berarti bahwa jika mereka dapat mempersekutukan beberapa kebenaran, mereka merasa memiliki kenyataan kebenaran, dan ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa mereka adalah orang yang memiliki kebenaran, orang yang menerapkan kebenaran, mengasihi kebenaran, dan memiliki kenyataan kebenaran. Mereka berpura-pura menjadi perwujudan kebenaran—bukankah ini adalah masalah yang naturnya serius? (Ya.) Apakah manifestasi ini cocok dengan butir kedelapan? (Ya.) Cocok. Butir kedelapan pada dasarnya termanifestasi dalam keempat cara ini. Sebutkanlah, dimulai dengan yang pertama. (Yang pertama, orang-orang semacam itu tidak bisa bekerja sama secara harmonis dengan siapa pun.) "Secara harmonis" mengacu pada kemampuan untuk bekerja sama; orang-orang seperti itu sama sekali tidak mampu bekerja sama dengan siapa pun. Mereka melakukan segalanya sendiri, seorang diri dalam menjalankan perbuatan mereka; "seorang diri" adalah ciri khas dari manifestasi pertama. Sekarang, manifestasi kedua. (Mereka memiliki ambisi dan keinginan untuk mengendalikan dan menaklukkan orang.) Apakah ini manifestasi yang serius? (Ya.) Nah, apakah ciri khas dari manifestasi kedua? Jelaskan dalam satu kata. (Jahat.) "Jahat" merupakan kata sifat; kata itu menggambarkan watak mereka. Kata yang digunakan seharusnya adalah "mengendalikan". "Mengendalikan" adalah suatu tindakan, salah satu tindakan yang muncul dari watak semacam itu. Dan manifestasi ketiga. (Mereka menolak untuk mengizinkan orang lain ikut campur, menanyakan, atau mengawasi mereka dalam pekerjaan apa pun yang mereka lakukan.) Bukankah itu watak yang umum pada antikristus? (Ya.) Ini adalah karakteristik watak yang khas dari antikristus. Adakah kata yang tepat untuk meringkas perwujudan ini? Ya—"menentang". Siapa pun yang datang, mereka menentangnya; dan melupakan tentang menerima pengawasan dan pertanyaan dari saudara-saudari dan orang-orang biasa—mereka bahkan tidak mau menerima pemeriksaan Tuhan. Bukankah itu penentangan? (Ya.) Dan manifestasi keempat. (Mereka berpura-pura menjadi perwujudan kebenaran setelah mereka memperoleh sedikit pengalaman dan pengetahuan, dan memetik beberapa pelajaran.) Kita akan meringkasnya dengan kata yang tepat: "berpura-pura." Kepura-puraan lebih serius daripada kepalsuan. Perilaku yang mendasar dan khas, cara melakukan sesuatu, dan watak yang terkait dengan butir kedelapan semuanya dapat ditemukan dalam empat perwujudan ini. Ciri khas dari manifestasi pertama adalah "seorang diri". Mereka tidak bekerja sama dengan siapa pun, tetapi ingin bertindak sendiri. Mereka tidak mengindahkan siapa pun selain diri mereka sendiri, dan mereka membuat orang lain mengindahkan mereka saja, bukan orang lain. Ikuti cara mereka atau silakan pergi. Ciri khas dari manifestasi kedua adalah "kendali". Mereka ingin mengendalikan orang, dan mereka akan menggunakan berbagai cara untuk mengendalikan dirimu, pikiranmu, caramu melakukan sesuatu, hatimu, dan pandanganmu. Mereka tidak mempersekutukan kebenaran kepadamu. Mereka tidak membuatmu memahami prinsip kebenaran, dan mereka tidak membuatmu memahami maksud Tuhan. Mereka ingin mengendalikanmu demi kepentingan mereka sendiri, sehingga engkau akan berbicara untuk mereka, dan melakukan hal-hal untuk mereka, dan bekerja untuk mereka, supaya engkau meninggikan mereka dan bersaksi untuk mereka. Mereka ingin mengendalikanmu sebagai budak mereka, boneka mereka. Ciri khas dari manifestasi ketiga adalah "menentang", yang berarti menentang segala sesuatu—segala sesuatu yang mungkin merupakan penilaian atau pengawasan, maupun ancaman terhadap pekerjaan dan perkataan mereka, mereka menolak dan menentang dengan sengit. Ciri khas dari manifestasi keempat adalah "berpura-pura"—mereka berpura-pura menjadi apa? Mereka berpura-pura menjadi perwujudan kebenaran, artinya mereka menuntut orang untuk mengingat apa yang mereka katakan dan apa yang mereka lakukan, dan bahkan mencatatnya di buku catatan. Mereka berkata, "Bagaimana mungkin cukup hanya dengan mencatat dalam otak? Engkau perlu menuliskannya di buku catatanmu. Tak seorang pun di antaramu yang mengerti apa yang aku katakan—itu hal yang sangat mendalam!" Mereka anggap sebagai apa kata-kata mereka? Kebenaran. Sekarang, dari sini, kita akan mempersekutukannya satu per satu.
I. Analisis tentang Ketidakmampuan Antikristus untuk Bekerja Sama dengan Siapa pun
Butir pertama adalah bahwa antikristus tidak bisa bekerja sama dengan siapa pun. Ini adalah manifestasi pertama dari antikristus yang hanya ingin orang lain tunduk kepada mereka, bukan kepada kebenaran atau Tuhan. Mereka tidak bisa bekerja sama dengan siapa pun—dan "siapa pun" mencakup semua orang. Entah kepribadian mereka cocok dengan kepribadian orang lain atau tidak, dan apa pun keadaannya, mereka sama sekali tidak bisa bekerja sama. Ini bukan masalah memperlihatkan kerusakan biasa—ini adalah masalah dalam natur mereka. Beberapa orang mengatakan, "Ada orang-orang tertentu yang kepribadiannya tidak cocok dengan kepribadianku, dan karenanya aku tidak bisa bekerja sama dengan mereka." Itu bukan masalah sederhana mengenai kepribadian, tetapi masalah watak yang rusak. Memiliki watak yang rusak berarti memiliki watak antikristus, tetapi itu tidak berarti bahwa orang memiliki esensi antikristus. Jika orang bisa mencari kebenaran, dan bisa menaati apa yang dikatakan orang lain, siapa pun orangnya, asalkan sesuai dengan kebenaran, bukankah mudah bagi orang itu untuk menjalin kerja sama yang harmonis dengan orang lain? (Ya.) Mudah bagi orang yang bisa tunduk kepada kebenaran untuk bekerja sama dengan orang lain; orang yang tidak bisa tunduk kepada kebenaran tidak bisa bekerja sama dengan siapa pun. Ada orang-orang, misalnya, yang sangat congkak dan merasa benar sendiri. Mereka tidak menerima kebenaran sedikit pun, dan mereka tidak bisa bekerja sama secara harmonis dengan siapa pun. Ini adalah masalah yang serius—mereka memiliki natur antikristus, dan mereka tidak bisa tunduk kepada kebenaran maupun Tuhan. Manusia mempunyai watak yang rusak: jika mereka dapat menerima kebenaran, akan mudah bagi mereka untuk diselamatkan; tetapi jika mereka memiliki natur antikristus dan tidak dapat menerima kebenaran, mereka berada dalam masalah—tidak mudah bagi mereka untuk diselamatkan. Banyak antikristus yang sudah disingkapkan terutama karena ketidakmampuan mereka untuk bekerja sama dengan siapa pun, selalu bertindak diktator. Apakah itu adalah penyingkapan watak yang rusak, atau apakah itu adalah esensi natur antikristus? Tidak bisa bekerja sama dengan siapa pun—masalah apakah itu? Apa hubungannya dengan membuat orang lain hanya tunduk kepada mereka, bukan kepada kebenaran atau Tuhan? Jika kita mempersekutukan butir ini dengan jelas, engkau akan dapat melihat bahwa orang-orang yang memiliki esensi natur antikristus tidak bisa bekerja sama dengan siapa pun, bahwa mereka akan berpisah dengan siapa pun yang bekerja sama dengan mereka, dan bahwa mereka bahkan akan menjadi saingan sengit. Secara kasat mata, beberapa antikristus mungkin terlihat memiliki asisten atau rekan sekerja, tetapi pada kenyataannya ketika sesuatu terjadi, antikristus tak pernah mendengarkan apa yang orang lain katakan, seberapa pun benarnya perkataan mereka. Mereka bahkan tidak mempertimbangkan, apalagi mendiskusikan atau mempersekutukannya. Mereka sama sekali tidak memperhatikan, seakan-akan orang lain ini tidak ada di sana. Ketika antikristus mendengarkan apa yang orang lain katakan, mereka hanya bersikap asal-asalan atau berpura-pura agar dilihat orang. Namun, ketika pada akhirnya tiba saat untuk keputusan akhir, antikristuslah yang menentukan; perkataan orang lain tidak perlu diperhatikan, sama sekali tidak penting. Sebagai contoh, ketika dua orang bertanggung jawab atas sesuatu, dan salah satunya memiliki esensi antikristus, apa yang diperlihatkan dalam diri orang ini? Apa pun itu, mereka sendirilah yang memulai, yang mengajukan pertanyaan, yang menyelesaikan masalah, dan yang memberikan solusi. Dan sering kali, mereka tidak memberitahu rekan sekerja mereka. Apa pandangan antikristus terhadap rekan sekerja mereka? Di mata antikristus, orang-orang itu bukan wakil mereka, melainkan hanya hiasan. Di mata antikristus, rekan sekerja mereka sama sekali dianggap tidak ada. Setiap kali ada masalah, antikristus memikirkannya, dan begitu mereka memutuskan suatu tindakan, mereka memberi tahu semua orang bahwa dengan cara inilah hal tersebut harus dilakukan, dan tak seorang pun diizinkan untuk mempertanyakannya. Apa esensi dari kerjasama mereka dengan orang lain? Kenyataannya adalah untuk menjadi pengambil keputusan, tidak pernah mendiskusikan masalah dengan orang lain, menjadi satu-satunya penanggung jawab pekerjaan, dan menjadikan rekan sekerja mereka hanya sebagai hiasan. Mereka selalu bertindak sendiri dan tidak pernah bekerja sama dengan siapa pun. Mereka tidak pernah mendiskusikan atau membicarakan pekerjaan mereka dengan orang lain, mereka sering kali membuat keputusan sendiri dan menangani masalah seorang diri, dan dalam banyak hal, orang lain baru mengetahui bagaimana masalah diselesaikan atau ditangani setelah masalah itu selesai. Orang lain memberi tahu mereka, "Semua masalah harus didiskusikan dengan kami. Kapan engkau menangani orang itu? Bagaimana caramu menangani dia? Mengapa kami tidak mengetahuinya?" Mereka tidak memberikan penjelasan ataupun memperhatikan; bagi mereka, rekan sekerja mereka sama sekali tidak ada gunanya dan sekadar dekorasi atau hiasan. Ketika sesuatu terjadi, mereka memikirkannya, mengambil keputusan sendiri, dan bertindak sesuka hati. Sebanyak apa pun orang-orang yang ada di sekitar mereka, seakan-akan orang-orang ini tidak ada di sana. Bagi antikristus, orang-orang ini bisa dianggap angin lalu. Oleh karena hal ini, adakah aspek nyata dari kerja sama mereka dengan orang lain? Sama sekali tidak, mereka hanya bersikap asal-asalan dan berpura-pura. Orang lain berkata kepada mereka, "Mengapa engkau tidak bersekutu dengan orang lain ketika engkau menemukan masalah?" Mereka menjawab, "Apa yang mereka ketahui? Aku pemimpin tim, terserah aku untuk memutuskan." Yang lain berkata, "Dan mengapa engkau tidak bersekutu dengan rekan kerjamu?" Mereka menjawab, "Kukatakan kepadanya, dia tidak memiliki pendapat." Mereka menggunakan orang lain yang tidak memiliki pendapat atau tidak dapat berpikir sendiri sebagai alasan untuk mengaburkan fakta bahwa mereka sedang bertindak semaunya sendiri. Dan setelahnya, mereka sama sekali tidak merenungkan diri sendiri. Tidaklah mungkin bagi orang seperti ini akan menerima kebenaran. Inilah persoalan dalam natur antikristus.
Bagaimana istilah "kerja sama" dijelaskan dan diterapkan? (Mendiskusikan segala sesuatu ketika hal itu muncul.) Ya, itu salah satu cara untuk menerapkannya. Apa lagi? (Mengimbangi kelemahan orang dengan kelebihan orang lain, saling mengawasi.) Itu sepenuhnya tepat; menerapkan seperti itu berarti bekerja sama secara harmonis. Masih ada lagi? Meminta pendapat orang lain ketika sesuatu terjadi—bukankah itu kerja sama? (Ya.) Jika seseorang mempersekutukan masalahnya, dan begitu pula dengan yang lain, dan pada akhirnya, mereka hanya mengikut persekutuan orang pertama, mengapa harus menempuh itu semua? Itu bukan kerja sama—itu melanggar prinsip-prinsip dan tidak membuahkan hasil kerja sama. Jika engkau berbicara terus menerus, seperti senapan mesin, dan tidak memberikan kesempatan kepada orang lain yang ingin berbicara, dan tidak mendengarkan orang lain bahkan sesudah engkau mengutarakan semua idemu, apakah itu diskusi? Apakah itu persekutuan? Itu sekadar sikap asal-asalan—bukan kerja sama. Jadi, apakah itu kerja sama? Kerja sama adalah ketika engkau, sesudah mengutarakan ide dan keputusanmu, dapat meminta pendapat dan pandangan orang lain, kemudian saling membandingkan pernyataan dan pandanganmu dengan yang lain, dengan beberapa orang melakukan penilaian bersama-sama terhadapnya, dan mencari prinsip-prinsip, sehingga sampai pada pemahaman bersama dan menentukan jalan penerapan yang benar. Itulah yang dimaksud dengan berdiskusi dan bersekutu—itu yang dimaksud dengan "kerja sama". Ada orang-orang, yang sebagai pemimpin, tidak dapat memahami suatu masalah, tetapi tidak mau mendiskusikannya dengan orang lain sampai mereka tak lagi punya pilihan. Mereka kemudian mengatakan kepada kelompoknya, "Aku tidak bisa menangani masalah ini secara otokratis; aku perlu bekerja sama secara harmonis dengan semua orang. Aku akan memintamu semua menyampaikan pendapatmu mengenainya dan mendiskusikannya, untuk menentukan tindakan yang tepat untuk kita lakukan." Sesudah semua orang berbicara dan menyampaikan pendapatnya, mereka bertanya kepada pemimpin bagaimana pendapatnya. Dia mengatakan, "Apa yang diinginkan semua orang sama dengan apa yang kuinginkan—aku juga berpikir demikian. Inilah yang sudah kurencanakan sejak awal dan dengan diskusi ini, terjamin kebulatan suaranya." Apakah ini pernyataan yang tulus? Ada noda di sana. Dia tidak mampu memahami masalahnya sama sekali, dan ada niat untuk menyesatkan dan mengelabui orang dengan apa yang dia katakan—itu dimaksudkan untuk membuat orang menjunjung tinggi dirinya. Meminta pendapat semua orang hanyalah formalitas, yang dimaksudkan untuk membuat semua orang mengatakan bahwa dia tidak bersikap diktator atau otokratis. Untuk menghindari label itu, dia menggunakan cara ini untuk menutupi semuanya. Pada kenyataannya, ketika semua orang berbicara, dia tidak mendengarkan sama sekali, dan tidak memedulikan sama sekali apa yang mereka katakan. Dan dia juga tidak tulus membiarkan semua orang berbicara. Di permukaan, dia membiarkan semua orang bersekutu dan berdiskusi, tetapi pada kenyataannya, dia hanya membiarkan orang berbicara untuk menemukan cara yang sejalan dengan niatnya sendiri. Dan begitu dia sudah menentukan cara yang cocok untuk mulai menanganinya, dia akan memaksa orang untuk menerima apa yang ingin dilakukannya, entah itu benar atau tidak, dan membuat semua orang berpikir bahwa caranya benar, bahwa itulah yang diinginkan semua orang. Pada akhirnya, dia melakukannya dengan paksaan. Apakah itu yang engkau sebut kerja sama? Bukan—kalau begitu, itu disebut apa? Dia bersikap diktator. Tak peduli dia benar atau salah, dia ingin menjadi satu-satunya yang membuat keputusan akhir. Di samping itu, ketika sesuatu terjadi dan dia tidak dapat memahaminya, dia meminta semua orang untuk berbicara terlebih dahulu. Begitu mereka sudah berbicara, dia menyimpulkan pandangan mereka, dan dari sana dia mencari cara yang dia sukai dan anggap cocok, dan membuat semua orang menerimanya. Dia berpura-pura mau bekerja sama, dan hasilnya akan tetap sesuai keinginannya—tetap saja, dialah satu-satunya orang yang memegang keputusan akhir. Dia menemukan dan mencari-cari kesalahan dalam apa yang dikatakan semua orang, memberi komentar dan menggiring yang lain untuk sepikiran dengannya, kemudian dia lanjut menyimpulkan semuanya dalam satu pernyataan yang lengkap dan akurat, yang digunakan untuk membuat keputusannya, dengan menunjukkan kepada semua orang bahwa dia lebih tinggi dari yang lain. Dia terlihat seolah telah mendengarkan pesan semua orang, dan dia memang membiarkan semua orang berbicara. Namun, faktanya, pada akhirnya hanya dia yang mengambil keputusan. Keputusan itu sebenarnya adalah wawasan dan pandangan semua orang, yang sekadar diringkas olehnya, dituangkan dalam cara yang sedikit lebih lengkap dan akurat. Ada orang-orang yang tidak mampu memahami ini dan beranggapan dialah yang dijunjung tinggi. Apakah karakter dari tindakannya itu? Bukankah itu kelicikan yang parah? Dia merangkum pesan semua orang dan mengakui pesan itu sebagai miliknya, sehingga orang memuja dan menaatinya; dan pada akhirnya, semua orang bertindak sesuai dengan yang dikehendakinya. Apakah itu kerja sama yang harmonis? Itu adalah sikap congkak dan merasa benar sendiri, kediktatoran—dia mengambil semua pujian untuk dirinya sendiri. Orang-orang seperti itu sangat tidak tulus, congkak, dan merasa benar sendiri, dalam bekerja sama dengan orang lain, dan orang akan melihatnya jika diberi waktu yang cukup. Sebagian akan mengatakan: "Engkau katakan bahwa aku tidak bisa bekerja sama dengan siapa pun—aku sungguh punya rekan kerja! Dia bekerja sama dengan baik denganku: Dia pergi ke mana pun aku pergi, melakukan apa yang kulakukan; dia pergi ke mana pun aku menyuruhnya pergi, melakukan apa pun yang kuperintahkan, bagaimanapun ada mereka yang melakukannya untukku." Itukah arti kerja sama? Tidak. Itu namanya menjadi seorang pelayan. Seorang pelayan melakukan perintahmu—apakah itu kerja sama? Jelas, mereka adalah pesuruh, yang tidak memiliki ide atau pandangan, apalagi pendapat sendiri. Dan lebih dari itu, pikiran mereka adalah menyenangkan orang lain. Mereka tidak teliti dalam apa pun yang mereka lakukan, tetapi bersikap asal-asalan, dan mereka tidak menjunjung tinggi kepentingan rumah Tuhan. Tujuan apakah yang dapat diperoleh dari kerja sama seperti itu? Orang yang menjadi rekan kerjanya hanya melakukan perintahnya, selamanya menjadi pesuruh. Pesuruh mengindahkan apa pun yang dikatakan orang lain dan melakukan apa pun yang diperintahkan orang lain. Itu bukanlah kerja sama. Apakah itu kerja sama? Engkau harus mampu saling mendiskusikan hal-hal, dan mengungkapkan pandangan dan pendapatmu; engkau harus saling melengkapi dan mengawasi, dan saling mencari, saling bertanya, dan saling mengingatkan. Itulah arti bekerja sama secara harmonis. Katakanlah, misalnya, engkau menangani sesuatu sesuai dengan keinginanmu sendiri, dan seseorang mengatakan, "Kau melakukan kesalahan, sepenuhnya bertentangan dengan prinsip-prinsip. Mengapa kau menanganinya semaumu, tanpa mencari kebenaran?" Menanggapi ini, engkau menjawab, "Itu benar—aku senang kau memperingatkanku! Jika tidak, itu akan menjadi bencana!" Itulah artinya saling mengingatkan. Lalu apa artinya saling mengawasi? Setiap orang memiliki watak rusak, dan mungkin bersikap asal-asalan dalam melaksanakan tugasnya, hanya menjaga status dan harga diri mereka sendiri, bukan kepentingan rumah Tuhan. Keadaan seperti itu ada dalam diri setiap orang. Jika engkau mengetahui seseorang punya masalah, engkau hendaknya berinisiatif untuk bersekutu dengannya, mengingatkannya untuk melaksanakan tugasnya sesuai dengan prinsip-prinsip, seraya menjadikan itu sebagai peringatan untukmu sendiri. Itulah saling mengawasi. Apa fungsi dari saling mengawasi? Maksudnya adalah untuk menjaga kepentingan rumah Tuhan dan juga untuk mencegah orang mengambil jalan yang salah. Kerja sama mempunyai fungsi lain, di samping saling mengingatkan dan saling mengawasi: yaitu saling bertanya satu sama lain. Ketika engkau ingin menangani seseorang, misalnya, engkau harus bersekutu dan bertanya kepada rekan kerjamu: "Aku belum pernah menemui hal seperti ini sebelumnya. Aku tidak tahu bagaimana menanganinya. Apa cara yang baik untuk menanganinya? Aku tidak bisa menyelesaikannya!" Dia mengatakan, "Aku pernah menangani masalah seperti ini sebelumnya. Konteksnya saat itu sedikit berbeda dari kasus orang ini; ini akan sedikit seperti mengikuti aturan, jika kita menanganinya dengan cara yang sama. Aku juga tidak tahu cara yang baik untuk menangani hal ini sekarang." Engkau mengatakan, "Aku punya ide yang ingin kubahas denganmu. Orang ini kelihatannya jahat, jika dilihat dari karakternya, tetapi kita tidak bisa memastikannya untuk saat ini. Namun, dia bisa berjerih payah, jadi biarkan dia melakukannya untuk saat ini. Jika dia tidak bisa berjerih payah, dan terus mengacaukan dan mengganggu, maka kita akan menanganinya." Dia mendengar ini dan berkata, "Itu cara yang bagus. Itu cara yang bijaksana dan sepenuhnya sesuai dengan prinsip-prinsip, dan cara ini tidak menekan siapa pun, juga tidak melampiaskan kemarahan pribadi. Kalau begitu, mari kita tangani seperti itu." Engkau berdua mencapai kesepakatan melalui diskusi. Pekerjaan yang dilakukan dengan cara demikian berjalan dengan lancar. Andaikan engkau berdua tidak bekerja sama dan tidak mendiskusikannya, dan ketika rekan kerjamu tidak tahu cara menangani sesuatu, dia melemparkan masalahnya kepadamu, seraya berpikir, "Tanganilah sesukamu. Jika ada yang tidak beres, bagaimanapun juga, itu akan menjadi tanggung jawabmu—aku tidak mau ikut menanggungnya denganmu." Engkau dapat melihat bahwa rekan kerjamu enggan untuk memikul tanggung jawab, tetapi engkau tidak menunjukkan hal itu kepadanya, melainkan bertindak gegabah sesuai dengan keinginanmu sendiri, sambil berpikir, "Kau tidak mau memikul tanggung jawab? Kau ingin membuat aku yang menanganinya? Baiklah, aku akan menanganinya, kalau begitu aku akan mengusirnya." Kalian berdua tidak sepemikiran; masing-masing punya sudut pandang sendiri—dan akibatnya, masalah ini ditangani secara serampangan, melanggar prinsip-prinsip, dan orang yang mampu berjerih payah dikeluarkan secara sewenang-wenang. Apakah itu kerja sama yang harmonis? Kerja sama yang harmonis adalah satu-satunya cara untuk mencapai hasil positif. Jika yang satu tidak mau bertanggung jawab dan yang lain bertindak sewenang-wenang, itu sama saja dengan tidak bekerja sama. Mereka berdua bertindak sesuai dengan kemauan mereka sendiri. Bagaimana mungkin pelaksanaan tugas yang demikian dapat memuaskan?
Ketika sesuatu muncul di tengah kerja sama, engkau harus saling bertanya dan saling mendiskusikannya. Bisakah antikristus menerapkan cara ini? Antikristus tidak bisa bekerja sama dengan siapa pun; mereka selalu ingin berkuasa secara otoriter. Ciri khas dari manifestasi ini adalah "seorang diri". Mengapa menggunakan kata "seorang diri" untuk menggambarkannya? Karena sebelum bertindak, mereka tidak datang ke hadapan Tuhan dalam doa, mereka juga tidak mencari prinsip-prinsip kebenaran, apalagi menemukan orang untuk diajak bersekutu dan mengatakan kepadanya, "Apakah prosesnya tepat? Apa yang ditetapkan dalam pengaturan kerja? Bagaimana hal seperti ini harus ditangani?" Mereka tidak pernah mendiskusikan berbagai hal atau berusaha mencapai kesepakatan dengan sesama pekerja dan rekan kerja. Mereka benar-benar memikirkan hal-hal dan rancangan sendiri, membuat rencana dan pengaturan mereka sendiri. Hanya dengan membaca sekilas tentang pengaturan kerja di rumah Tuhan, mereka beranggapan bahwa mereka sudah memahaminya, dan kemudian secara membabi buta mengatur pekerjaan—dan pada saat orang lain mengetahui hal ini, pekerjaan sudah diatur. Mustahil bagi siapa pun untuk terlebih dahulu mendengar pandangan atau pendapat mereka dari mulut mereka sendiri karena mereka tidak pernah mengomunikasikan kepada siapa pun pikiran dan pandangan yang mereka pendam. Mungkin orang bertanya, "Bukankah semua pemimpin dan pekerja punya rekan kerja?" Mereka mungkin secara teknis memiliki seseorang sebagai rekan kerja, tetapi ketika tiba waktunya bekerja, mereka tidak lagi memilikinya—mereka bekerja seorang diri. Meskipun para pemimpin dan pekerja memiliki rekan kerja, dan semua orang yang melakukan suatu tugas memiliki rekan kerja, para antikristus yakin memiliki kualitas diri yang baik dan lebih baik dari orang kebanyakan sehingga orang kebanyakan tidak layak menjadi rekan kerja mereka, dan semua orang lebih rendah daripada mereka. Inilah sebabnya antikristus suka menjadi penentu keputusan dan tidak suka mendiskusikan segala sesuatu dengan orang lain. Mereka pikir melakukan hal itu membuat mereka terlihat seperti orang yang tidak cakap dan tidak berguna. Sudut pandang macam apa ini? Watak macam apa ini? Apakah ini watak yang congkak? Mereka menganggap bekerja sama dan mendiskusikan segala sesuatu dengan orang lain, bertanya kepada mereka dan mencari dari mereka, adalah tidak bermartabat dan merendahkan, suatu penghinaan terhadap harga diri mereka. Jadi, untuk melindungi harga diri, mereka tidak bersikap transparan dalam apa pun yang mereka lakukan, mereka juga tidak memberi tahu orang lain tentang hal itu, apalagi mendiskusikannya. Menurut mereka berdiskusi dengan orang lain berarti memperlihatkan diri mereka tidak cakap; menurut mereka selalu meminta pendapat orang lain berarti mereka bodoh dan tidak mampu berpikir sendiri; menurut mereka bekerja bersama orang lain dalam menyelesaikan tugas atau beberapa masalah membuat mereka tampak tidak berguna. Bukankah ini adalah mentalitas mereka yang congkak dan absurd? Bukankah ini adalah watak rusak mereka? Kecongkakan dan sikap merasa benar di dalam diri mereka terlalu jelas; mereka telah kehilangan semua nalar manusia normal, dan mereka tidak sehat secara mental. Mereka selalu berpikir bahwa mereka memiliki kemampuan, mampu menyelesaikan segala sesuatu seorang diri, dan tidak perlu bekerja sama dengan orang lain. Karena mereka memiliki watak yang rusak seperti itu, mereka tak mampu mencapai kerja sama yang harmonis. Mereka yakin bahwa bekerja sama dengan orang lain berarti melemahkan dan memecah-belah kekuasaan mereka, bahwa ketika pekerjaan dibagi dengan orang lain, kekuasaan mereka sendiri berkurang dan mereka tak bisa memutuskan sendiri segala sesuatunya, yang berarti mereka tidak memiliki kekuasaan nyata, yang bagi mereka merupakan kerugian besar. Jadi, apa pun yang terjadi pada diri mereka, jika mereka yakin bahwa mereka mengerti dan tahu cara yang tepat untuk menanganinya, mereka tidak akan mendiskusikannya dengan orang lain, sementara mereka yang akan mengambil semua keputusan. Mereka akan lebih memilih melakukan kesalahan daripada membiarkan orang lain tahu, mereka akan lebih memilih untuk salah daripada berbagi kekuasaan dengan orang lain, dan mereka akan lebih memilih diberhentikan daripada membiarkan orang lain ikut campur dalam pekerjaan mereka. Inilah antikristus. Mereka lebih suka merugikan kepentingan rumah Tuhan, lebih suka mempertaruhkan kepentingan rumah Tuhan, daripada berbagi kekuasaan dengan orang lain. Menurut mereka, saat mereka sedang melakukan suatu pekerjaan atau menangani suatu masalah, ini bukanlah pelaksanaan tugas, melainkan kesempatan untuk memamerkan dan menonjolkan diri lebih daripada orang lain, dan kesempatan untuk menunjukkan kekuasaan. Oleh karena itu, meskipun mereka berkata bahwa mereka akan bekerja sama secara harmonis dengan orang lain dan mereka akan mendiskusikan masalah apa pun yang muncul bersama orang lain, sebenarnya, di lubuk hatinya, mereka tidak rela menyerahkan kekuasaan atau status mereka. Menurut mereka asalkan mereka memahami beberapa doktrin dan mampu melakukannya seorang diri, mereka tidak perlu bekerja sama dengan siapa pun; menurut mereka, tugas itu haruslah dilaksanakan dan diselesaikan seorang diri, dan hanya inilah yang membuat mereka cakap. Apakah pandangan ini benar? Mereka tidak tahu jika mereka melanggar prinsip, tidak melakukan tugas, tidak mampu melaksanakan amanat Tuhan, dan hanya berjerih payah. Alih-alih mencari prinsip-prinsip kebenaran ketika melakukan tugas, mereka menggunakan kekuasaan sesuai dengan pemikiran dan niat mereka, pamer, dan menonjolkan diri mereka sendiri. Siapa pun rekan sekerja mereka atau apa pun yang mereka lakukan, mereka tidak pernah mau mendiskusikan segala sesuatu, mereka selalu ingin bertindak sendiri, dan selalu ingin menjadi pengambil keputusan. Mereka jelas bermain-main dengan kekuasaan dan menggunakan kekuasaan untuk melakukan segala sesuatu. Antikristus semuanya menyukai kekuasaan, dan ketika mereka memiliki status, mereka menginginkan lebih banyak kekuasaan. Ketika mereka memiliki kekuasaan, antikristus cenderung menggunakan status mereka untuk pamer dan menonjolkan diri mereka sendiri, sehingga membuat orang lain mengagumi mereka dan tujuan mereka untuk terlihat paling menonjol tercapai. Oleh karena itu, antikristus sangat mementingkan kekuasaan dan status, dan tidak akan pernah melepaskan kekuasaan mereka, selamanya. Tugas apa pun yang mereka lakukan, bidang profesional maupun keterampilan yang diperlukan, mereka akan berpura-pura mengerti, meskipun jelas-jelas mereka tidak mengerti. Dan jika ada orang yang menuduh mereka tidak mengerti, dan hanya berpura-pura, mereka akan mengatakan, "Meski aku mulai mempelajarinya sekarang, aku akan memahaminya lebih baik dari kau. Ini hanya masalah mencari beberapa sumber secara online, bukan?" Beginilah sifat congkak dan merasa benar sendiri para antikristus itu. Mereka menggampangkan segala sesuatu dan mereka berani mengambil tanggung jawab yang besar seorang diri. Dan akibatnya, ketika Yang di Atas memeriksa pekerjaan dan bertanya bagaimana perkembangannya, mereka mengatakan bahwa pekerjaan tersebut kurang lebih sudah ditangani. Kenyataannya adalah mereka bekerja sendiri, tidak mendiskusikan segala sesuatunya dengan siapa pun—mereka memutuskan semuanya sendiri. Jika engkau bertanya kepada mereka, "Apakah ada prinsip-prinsip dalam caramu bertindak?" mereka akan mengemukakan serangkaian teori untuk membuktikan bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar dan sejalan dengan prinsip-prinsip tersebut. Kenyataannya, pemikiran mereka menyimpang dan salah. Mereka belum mendiskusikan segala sesuatunya sama sekali dengan orang lain, tetapi selalu sudah membuat keputusan akhir, membuat keputusan sendiri. Keputusan yang dibuat seseorang sering kali mengandung penyimpangan, jadi watak apakah ini, yang menganggap dirinya benar dan akurat? Ini jelas watak congkak. Mereka punya watak yang congkak, dan itu sebabnya mereka bersikap diktator—itu sebabnya mereka membuat kerusuhan dengan melakukan hal-hal buruk. Ini adalah otokrasi—monopoli. Inilah watak antikristus. Mereka tidak pernah mau bekerja sama dengan siapa pun, tetapi menganggapnya sebagai sesuatu yang berlebihan dan tidak perlu. Mereka selalu menganggap dirinya lebih baik dari orang lain, bahwa tidak ada orang lain yang sebanding dengannya. Itu sebabnya mengapa pada dasarnya, antikristus tidak memiliki keinginan atau kemauan untuk bekerja sama dengan orang lain. Mereka ingin apa yang mereka katakan terlaksana; mereka menginginkan monopoli. Hanya dengan begitu mereka merasa senang—hanya dengan begitu mereka dapat menunjukkan keunggulannya, membuat orang lain tunduk dan memuja mereka.
Ada bagian lain dari hal itu, yaitu antikristus selalu ingin memiliki kekuasaan mutlak, memiliki satu-satunya keputusan akhir. Aspek dari watak mereka ini juga membuat mereka tidak bisa bekerja sama dengan orang lain. Jika engkau bertanya kepada mereka apakah mereka bersedia bekerja sama, mereka menjawab bersedia, tetapi ketika saatnya tiba untuk melakukannya, mereka tidak bisa. Inilah watak mereka. Mengapa mereka tidak bisa melakukannya? Katakanlah seorang antikristus menjadi asisten ketua kelompok, dan orang lain menjadi ketua kelompok, maka orang yang memiliki esensi natur antikristus akan bergeser dari asisten menjadi ketua, dan ketua kelompok akan menjadi asistennya. Posisinya akan terbalik. Bagaimana mereka mencapai ini? Mereka memiliki banyak teknik. Salah satu unsur dari teknik mereka adalah mereka memanfaatkan saat-saat ketika mereka sedang beraksi di depan saudara-saudari—saat ketika sebagian besar orang dapat melihat mereka—untuk banyak berbicara dan bertindak serta memamerkan diri, untuk membuat orang mengagumi mereka dan mengakui bahwa mereka jauh lebih baik daripada ketua kelompok, dan bahwa mereka mengungguli ketua kelompok. Seiring berjalannya waktu, saudara-saudari mulai mengatakan bahwa ketua kelompok tidak sebaik asisten ketua kelompok. Antikristus senang mendengarnya; mereka berpikir, "Akhirnya, mereka mengakui bahwa aku lebih baik dari dia. Aku sudah mencapai tujuanku." Apakah tanggung jawab dan kewajiban yang harus ditunaikan oleh asisten ketua kelompok dalam keadaan normal? Mereka harus bekerja sama dengan ketua kelompok dalam melaksanakan dan mengimplementasikan pekerjaan yang diatur gereja, dan menyampaikan segala sesuatu kepada ketua kelompok, mendukungnya, dan mengawasinya serta bertindak bersama dalam diskusi dengannya. Ketua kelompok harus berperan sebagai pemimpin utama; asisten ketua kelompok harus mendukungnya dan bekerja sama dengannya dalam memastikan bahwa setiap proyek kerja ditangani dengan baik. Selain dari tidak menyabotasenya, segala sesuatu harus dilakukan dengan bekerja sama dengan ketua kelompok, supaya pekerjaan yang harus dilakukan dapat diselesaikan dengan baik. Jika tindakan ketua kelompok melanggar prinsip, maka asisten ketua kelompok harus menyatakan kepadanya dan membantunya, serta memperbaiki kesalahan tersebut. Dan ketika segala sesuatu yang dilakukan oleh ketua kelompok adalah baik dan benar, dan sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, maka asisten ketua kelompok harus mendukung dan bekerja sama dengannya, dan berusaha sekuat tenaga dalam pelayanannya, dan sehati dan sepikiran dengan ketua kelompok untuk melakukan pekerjaan dengan baik. Jika terjadi masalah, atau jika ditemukan masalah, mereka berdua harus mendiskusikan penyelesaiannya. Terkadang, ada dua hal yang harus dilakukan secara bersamaan; sesudah mereka berdua membicarakannya, mereka harus secara terpisah mengurus pekerjaan mereka dengan baik. Itulah kerja sama—kerja sama yang harmonis. Apakah antikristus bekerja sama seperti ini dengan orang lain? Sama sekali tidak. Jika seorang antikristus yang melayani sebagai asisten ketua kelompok, mereka akan memikirkan apa yang harus mereka lakukan untuk bertukar posisi dengan ketua kelompok, untuk mengubah ketua kelompok menjadi asisten dan asisten menjadi ketua kelompok, sehingga dia yang mengambil alih kendali. Mereka memerintahkan ketua kelompok untuk melakukan ini dan itu, menunjukkan kepada semua orang bahwa mereka jauh lebih baik daripada ketua kelompok, bahwa mereka cocok menjadi ketua kelompok. Dengan cara ini, gengsi mereka bertambah di antara yang lain, dan kemudian dengan alami mereka akan terpilih sebagai ketua kelompok. Mereka sengaja membuat ketua kelompok terlihat bodoh dan kehilangan muka, sehingga orang lain memandang rendah dirinya. Kemudian, dengan kata-kata, mereka mengejeknya dan menyindirnya, serta menyingkapkan dan meremehkannya. Perlahan-lahan, perbedaan di antara keduanya makin besar, dan tempat yang mereka miliki di hati orang-orang makin berbeda. Dengan demikian, pada akhirnya, antikristus menjadi ketua kelompok—mereka berhasil menarik banyak orang ke pihaknya. Jadi, dengan watak seperti yang mereka miliki, dapatkah mereka bekerja sama secara harmonis dengan orang lain? Tidak. Di mana pun mereka berada, mereka ingin menjadi andalan, memonopoli, dan memegang kekuasaan di tangan mereka sendiri. Apa pun gelarmu, kepala atau asisten, tinggi atau rendah, status dan kekuasaan, menurut pandangan mereka, cepat atau lambat harus menjadi milik mereka sendiri. Siapa pun yang melaksanakan tugas bersama mereka, atau melakukan proyek kerja apa pun bersama mereka, atau bahkan mendebatkan suatu masalah dengan mereka, mereka tetap seorang penyendiri yang bertindak sendiri. Mereka tidak bekerja sama dengan siapa pun. Tidak ada seorang pun diperbolehkan memiliki gengsi atau gelar yang sama seperti mereka, atau kemampuan atau reputasi yang sama. Begitu seseorang melampaui mereka dan mengancam status mereka, mereka akan mencoba membalikkan keadaan, dengan cara apa pun yang mereka miliki. Misalnya, semua orang sedang mendiskusikan suatu masalah dan ketika diskusi hampir membuahkan hasil, dalam sekilas mereka akan memahaminya dan tahu apa yang harus dilakukan. Mereka akan berkata, "Apakah ini benar-benar sangat sulit ditangani? Apakah ini masih membutuhkan diskusi seperti ini? Tak satu pun dari apa yang kau katakan akan berhasil!" Dan mereka akan menawarkan suatu teori baru atau ide yang terdengar cemerlang yang tak pernah terpikirkan oleh siapa pun, yang pada akhirnya menyangkal pandangan semua orang. Begitu mereka melakukannya, itu akan membuat orang berpikir, "Itu ide tingkat tinggi, baiklah; bagaimana bisa tidak terpikirkan oleh kita? Kita ini hanya rakyat jelata yang bodoh. Itu tidak baik—kita membutuhkanmu sebagai pemimpin!" Itulah hasil yang diinginkan antikristus; mereka selalu melontarkan ide yang terdengar cemerlang, supaya mereka dapat tampil sebagai sosok yang unik dan memenangkan penghargaan dari orang lain. Dan kesan apakah yang pada akhirnya tertanam pada diri orang-orang? Bahwa ide mereka melampaui ide orang biasa, lebih tinggi daripada ide orang biasa. Seberapa tinggi? Jika mereka tidak ada di sana, kelompok tidak dapat membuat keputusan atau menyelesaikan apa pun, jadi orang harus menunggu mereka datang dan mengatakan sesuatu. Begitu mereka datang, semua orang mengagumi mereka, dan jika apa yang mereka katakan itu salah, semua orang tetap mengatakan itu adalah kata-kata yang tinggi. Dalam hal ini, bukankah mereka menyesatkan orang? Jadi, mengapa mereka tidak bisa bekerja sama dengan siapa pun? Mereka merasa, "Bekerja sama dengan orang lain berarti menempatkan diriku sejajar dengan mereka. Bisakah dua harimau menempati gunung yang sama? Hanya bisa ada satu raja gunung, dan kedudukan raja itu jatuh ke tangan siapa pun yang dapat memegangnya—dan seorang yang cakap sepertiku yang dapat melakukannya. Engkau semua tidak berpikiran cemerlang; kualitasmu buruk, dan engkau penakut. Lagi pula, engkau belum pernah menipu atau membodohi orang lain di dunia ini—engkau baru saja dibodohi oleh orang lain. Hanya aku sendiri yang memenuhi syarat untuk menjadi pemimpin di sini!" Dengan demikian, bersama mereka hal-hal buruk menjadi hal-hal baik. Mereka memamerkan keburukan mereka—bukankah itu tidak tahu malu? Mengapa mereka mengatakan hal-hal seperti itu? Jadi, apakah tujuan mereka bertindak seperti ini? Untuk menjadi sang pemimpin, untuk menduduki posisi paling penting, entah seberapa besar pun kelompok orang yang ada di dalamnya. Bukankah itu niat mereka? (Ya.) Jadi, mereka memikirkan segala cara untuk meremehkan, merendahkan, mengejek semua orang, dan lalu menawarkan ide-ide mereka sendiri yang terdengar cemerlang, untuk meyakinkan semua orang dan membuat semua orang melakukan apa yang mereka katakan. Apakah itu kerja sama? Bukan—jadi, apakah itu? Ini cocok dengan bab kedelapan yang sedang kita bahas: Mereka akan membuat orang lain hanya tunduk kepada mereka, bukan kepada kebenaran atau Tuhan. Ini dikatakan sehubungan dengan kerja sama. Bisakah antikristus—apa pun yang mereka lakukan, dalam bahasa mereka atau dalam cara mereka—melaksanakan tugas dengan bekerja sama dengan orang lain? (Tidak.) Mereka tidak bekerja sama, tetapi hanya menuntut orang lain bekerja sama dengan pernyataan dan cara mereka. Jadi, bisakah mereka menerima nasihat orang lain? Tentu saja tidak bisa. Nasihat apa pun yang disampaikan orang lain kepada mereka, mereka acuh tak acuh terhadapnya. Mereka tidak menanyakan rincian atau alasan, mereka juga tidak menanyakan bagaimana sebenarnya segala sesuatu harus ditangani, apalagi mencari prinsip-prinsip kebenaran. Lebih parah lagi, mereka bahkan tidak bertanya kepada-Ku saat Aku ada di hadapan mereka—mereka memperlakukan-Ku seperti angin lalu. Aku bertanya apakah mereka memiliki masalah dan mereka menjawab tidak. Jelas bahwa mereka tidak tahu apa yang seharusnya diperbuat atas sesuatu yang baru saja terjadi, tetapi mereka tidak bertanya kepada-Ku, padahal Aku ada di sana di hadapan mereka. Jadi, bisakah mereka bekerja sama dengan orang lain siapa pun itu? Tidak ada seorang pun yang memenuhi syarat untuk menjadi rekan kerja mereka, tetapi hanya menjadi budak dan pelayan mereka. Bukankah begitu? Ada dari mereka yang mungkin memiliki rekan kerja, tetapi nyatanya, rekan kerja mereka itu adalah pelayan mereka, seperti halnya boneka. Mereka mengatakan, "Datanglah ke sini," dan rekan itu melakukannya; "Pergilah ke sana," dan rekan itu melakukannya; rekan kerjanya tahu apa yang mereka boleh tahu, dan apa yang mereka tidak boleh tahu, dan rekannya itu bahkan tidak berani bertanya. Segala sesuatunya sesuai seperti yang mereka katakan. Orang mungkin berkata kepada mereka, "Ini tidak akan berhasil. Ada beberapa hal yang tidak bisa kautangani seorang diri. Kau harus mencari seseorang untuk diajak bekerja sama, seseorang yang akan mengawasimu. Selain itu, ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa kautangani dengan baik di masa lalu. Kau perlu mencari seseorang yang berkualitas, dengan kemampuan untuk melakukan pekerjaan itu, untuk bekerja sama denganmu dan membantumu—kau perlu menjaga pekerjaan gereja dan kepentingan rumah Tuhan!" Apa yang akan mereka katakan mengenai hal ini? "Jika engkau mengalihkan rekan kerjaku, tidak ada seorang pun yang akan cocok menjadi rekan kerjaku." Apakah ini yang mereka katakan? Apakah mereka tidak akan memiliki rekan kerja, atau mereka tidak bisa menemukan pelayan dan budak yang seperti itu? Mereka takut bahwa mereka tidak akan bisa menemukan budak atau pelayan yang seperti itu, "rekan kerja" yang hanya menuruti perintah mereka. Bagaimana menurutmu tantangan yang mereka ajukan ini harus diselesaikan? Engkau mungkin mengatakan, "Oh, kau tidak bisa menemukan rekan kerja? Kalau begitu, kau tidak perlu mengerjakan proyek ini, siapa pun yang memiliki rekan kerja bisa melakukannya." Bukankah dengan begitu masalahnya terselesaikan? Jika tidak seorang pun yang cocok menjadi rekan kerjamu dan tidak seorang pun yang bisa bekerja sama denganmu, lalu seperti apakah engkau? Engkau adalah monster, orang aneh. Mereka yang benar-benar memiliki nalar setidaknya bisa bekerja sama dengan orang kebanyakan, kecuali orang itu kualitasnya terlalu buruk. Itu tidak akan berhasil. Hal pertama yang harus dilakukan oleh orang yang bernalar adalah belajar bekerja sama dengan orang lain dalam melaksanakan tugasnya. Mereka harus bisa bekerja sama dengan siapa pun, kecuali orang itu berpikiran lemah atau setan, dalam hal ini tidak mungkin bekerja sama dengan mereka. Bisa bekerja sama dengan kebanyakan orang adalah hal yang sangat penting—itu adalah tanda dari nalar yang normal.
Salah satu ciri yang paling nyata dari esensi seorang antikristus adalah bahwa mereka memonopoli kekuasaan dan menjalankan kediktatoran mereka sendiri: Mereka tidak mendengarkan siapa pun, mereka tidak menghormati siapa pun, dan apa pun kelebihan orang, atau apa pun pandangan benar atau pendapat bijak yang orang-orang itu ungkapkan, atau apa pun cara-cara sesuai yang orang-orang itu kemukakan, mereka tidak mengindahkannya; seolah-olah tak seorang pun memenuhi syarat untuk bekerja sama dengan mereka, atau mengambil bagian dalam apa pun yang mereka lakukan. Ini adalah sejenis watak yang antikristus miliki. Ada orang-orang yang menganggapnya sebagai kemanusiaan yang buruk—tetapi bagaimana ini bisa dianggap kemanusiaan buruk yang lumrah? Ini sepenuhnya adalah watak Iblis, dan watak seperti itu sangat kejam. Mengapa Kukatakan bahwa watak mereka sangat kejam? Antikristus mengambil alih segala sesuatu dari rumah Tuhan dan semua milik gereja, dan memperlakukannya sebagai milik pribadi mereka, yang semuanya dikelola oleh mereka, dan mereka tidak mengizinkan orang lain pun ikut campur dengannya. Satu-satunya yang antikristus pikirkan ketika melaksanakan pekerjaan gereja adalah kepentingan mereka sendiri, status mereka sendiri dan martabat mereka sendiri. Mereka tidak mengizinkan siapa pun merugikan kepentingan mereka, apalagi membiarkan siapa pun yang berkualitas atau siapa pun yang mampu menyampaikan kesaksian pengalaman mereka yang mengancam reputasi dan status mereka. Karena itu, mereka berusaha menindas dan menyingkirkan sebagai pesaing orang-orang yang mampu menyampaikan kesaksian pengalaman, dan yang mampu mempersekutukan kebenaran dan membekali umat pilihan Tuhan, dan mereka berusaha mati-matian untuk mengasingkan orang-orang itu dari orang lain, merusak reputasi mereka sepenuhnya, dan menjatuhkan mereka. Baru setelah itulah antikristus akan merasa tenang. Jika orang-orang ini tidak pernah merasa negatif dan mampu melaksanakan tugas mereka, menyampaikan kesaksian mereka, dan menyokong orang lain, maka antikristus akan beralih ke upaya terakhir mereka, yaitu dengan mencari-cari kesalahan mereka dan mengutuk mereka, atau menjebak mereka, dan mengarang alasan untuk menyiksa dan menghukum mereka, sampai mereka disingkirkan dari gereja. Baru setelah itulah antikristus akan benar-benar merasa tenang. Inilah yang paling licik dan kejam tentang antikristus. Yang paling membuat mereka takut dan cemas adalah orang-orang yang mengejar kebenaran dan yang memiliki kesaksian pengalaman yang nyata, karena orang-orang yang memiliki kesaksian seperti itu adalah orang-orang yang paling diterima dan didukung oleh umat pilihan Tuhan, bukan mereka yang terus saja bercakap kosong tentang kata-kata dan doktrin. Antikristus tidak memiliki kesaksian pengalaman yang nyata, mereka juga tak mampu menerapkan kebenaran; mereka paling-paling hanya mampu melakukan beberapa perbuatan baik untuk menjilat orang. Namun, sebanyak apa pun perbuatan baik yang mereka lakukan, atau sebanyak apa pun hal muluk-muluk yang mereka katakan, semua ini tetap tidak sebanding dengan manfaat dan keuntungan yang orang dapatkan dari kesaksian pengalaman yang baik. Tidak ada yang bisa menggantikan dampak perbekalan dan penyiraman yang diberikan kepada umat pilihan Tuhan oleh mereka yang mampu menyampaikan kesaksian pengalaman mereka. Karena itu, ketika antikristus melihat seseorang menyampaikan kesaksian pengalamannya, tatapan mereka tampak tajam. Kemarahan berkobar di dalam hati mereka, kebencian muncul, dan mereka berusaha keras membungkam si pembicara dan menghalanginya agar tidak lagi berbicara. Jika dia terus berbicara, reputasi antikristus akan hancur total, wajah buruk mereka akan sepenuhnya tersingkap di muka umum, sehingga antikristus mencari dalih untuk mengganggu orang yang menyampaikan kesaksian, dan menindas mereka. Antikristus mengizinkan hanya diri mereka sendiri untuk menyesatkan orang dengan kata-kata dan doktrin; mereka tidak mengizinkan umat pilihan Tuhan memuliakan Tuhan dengan menyampaikan kesaksian pengalaman mereka, yang menunjukkan orang macam apakah yang paling dibenci dan ditakuti oleh antikristus. Ketika ada orang yang menonjol setelah melakukan sedikit pekerjaan, atau ketika ada orang yang mampu menyampaikan kesaksian pengalaman yang nyata, dan umat pilihan Tuhan mendapatkan manfaat, pembangunan rohani, dan dukungan darinya, dan itu mendatangkan banyak pujian dari semua orang, maka iri hati dan benci pun tumbuh dalam hati antikristus, dan mereka berusaha untuk menyingkirkan dan menindas orang itu. Dalam keadaan apa pun, mereka tidak mengizinkan orang-orang seperti itu untuk melakukan pekerjaan apa pun, demi menghalangi orang-orang itu agar tidak mengancam status mereka. Orang-orang yang memiliki kenyataan kebenaran berfungsi menonjolkan dan menyoroti kemiskinan, kesengsaraan, keburukan, dan kejahatan antikristus saat antikristus berada di hadapan mereka, sehingga ketika antikristus memilih rekan atau teman sekerja, mereka tidak pernah memilih orang yang memiliki kenyataan kebenaran, mereka tidak pernah memilih orang yang mampu menyampaikan kesaksian pengalaman mereka, dan mereka tidak pernah memilih orang yang jujur atau orang yang mampu menerapkan kebenaran. Orang-orang inilah yang paling dicemburui dan dibenci oleh antikristus, dan mereka adalah duri dalam daging antikristus. Sebanyak apa pun perbuatan baik yang dilakukan oleh orang-orang yang menerapkan kebenaran ini, atau sebesar apa pun manfaat mereka bagi pekerjaan rumah Tuhan, antikristus akan berusaha sekuat tenaga untuk menutupi perbuatan-perbuatan ini. Mereka bahkan akan memutarbalikkan fakta untuk mengeklaim pujian atas hal-hal yang baik, sembari mengalihkan hal-hal buruk kepada orang lain sebagai cara untuk meninggikan diri sendiri dan meremehkan orang lain. Antikristus sangat iri dan benci kepada mereka yang mengejar kebenaran dan yang mampu berbicara tentang kesaksian pengalaman mereka. Mereka takut orang-orang ini akan mengancam status mereka sendiri, sehingga mereka akan melakukan segala cara untuk menyerang dan mengucilkan mereka. Antikristus melarang saudara-saudari menghubungi mereka atau mendekati mereka, atau mendukung dan memuji orang-orang yang mampu berbicara tentang kesaksian pengalaman mereka. Hal inilah yang paling menyingkapkan natur Iblis dalam diri antikristus, yang muak akan kebenaran dan membenci Tuhan. Dan hal ini juga membuktikan bahwa antikristus adalah arus balik yang jahat di rumah Tuhan, bahwa merekalah yang harus disalahkan atas gangguan terhadap pekerjaan gereja dan penentangan terhadap kehendak Tuhan. Selain itu, antikristus sering mengarang kebohongan dan memutarbalikkan fakta di antara saudara-saudari, meremehkan dan mengutuk orang yang dapat menyampaikan kesaksian pengalaman mereka. Apa pun pekerjaan yang dilakukan orang-orang itu, antikristus mencari-cari alasan untuk mengucilkan dan menindas mereka, dan bersikap menghakimi terhadap mereka, mengatakan bahwa mereka ini congkak, dan merasa dirinya benar, bahwa mereka suka pamer, dan bahwa mereka menyimpan ambisi. Sebenarnya, orang-orang ini memiliki kesaksian pengalaman dan memiliki kenyataan kebenaran. Mereka memiliki kemanusiaan yang relatif baik, memiliki hati nurani dan nalar, dan mampu menerima kebenaran. Dan meskipun mereka mungkin memiliki kekurangan, kelemahan, dan sesekali menyingkapkan watak yang rusak, mereka mampu bermenung diri dan bertobat. Orang-orang ini adalah mereka yang akan Tuhan selamatkan, dan yang memiliki harapan untuk disempurnakan oleh Tuhan. Singkatnya, orang-orang ini pantas untuk melakukan tugas. Mereka memenuhi persyaratan dan prinsip untuk melakukan tugas. Namun, antikristus berpikir dalam hatinya, "Tidak mungkin aku menerima hal ini. Kau ingin memiliki peran dalam wilayah kekuasaanku, bersaing denganku. Itu tidak mungkin; jangan pernah berpikir kau bisa melakukannya. Kau lebih berpendidikan daripadaku, kau lebih pandai bicara daripadaku, lebih populer daripadaku, dan kau mengejar kebenaran jauh lebih tekun daripadaku. Jika aku bekerja sama denganmu dan kau mencuri perhatian yang seharusnya kumiliki, lalu apa yang akan kulakukan?" Apakah mereka memikirkan kepentingan rumah Tuhan? Tidak. Apa yang sedang mereka pikirkan? Mereka hanya memikirkan bagaimana mempertahankan status mereka sendiri. Meskipun para antikristus ini tahu bahwa mereka sendiri tidak mampu melakukan pekerjaan nyata, mereka tidak membina atau mempromosikan orang-orang berkualitas baik yang mengejar kebenaran; mereka hanya mempromosikan orang-orang yang menyanjung mereka, orang-orang yang cenderung memuja orang lain, yang menerima dan mengagumi mereka di dalam hatinya, orang-orang yang licin dalam berbicara dan berurusan, yang tidak memahami kebenaran dan tidak memiliki kemampuan untuk membedakan. Antikristus membawa orang-orang ini ke sisi mereka untuk melayani mereka, dan sibuk kian kemari untuk mereka, dan melewatkan setiap hari berada di sekitar mereka. Ini memberikan kekuasaan kepada antikristus di gereja, dan ini berarti bahwa banyak orang mendekat kepada mereka dan mengikut mereka, dan bahwa tak seorang pun berani menyinggung mereka. Semua orang yang dibina oleh antikristus ini adalah orang-orang yang tidak mengejar kebenaran. Kebanyakan dari mereka tidak memiliki pemahaman rohani dan tidak tahu apa-apa selain mengikuti aturan. Mereka suka mengikuti tren dan orang yang berkuasa pada saat itu. Mereka jenis orang yang menjadi percaya diri karena memiliki tuan yang kuat—sekelompok orang-orang bodoh. Bagaimanakah peribahasa orang-orang yang tidak percaya? Lebih baik menjadi pengawal orang yang baik daripada dihormati sebagai leluhur oleh orang jahat. Antikristus melakukan tepat yang sebaliknya—mereka bertindak sebagai leluhur sembahan orang-orang yang seperti itu, dan siap membina mereka sebagai pengibar bendera dan pemandu sorak mereka. Setiap kali antikristus berkuasa di gereja, mereka akan selalu merekrut orang-orang yang bodoh dan orang-orang yang semata-mata hanya main-main sebagai penolong mereka, sembari mengucilkan dan menekan orang-orang berkualitas yang mampu memahami dan menerapkan kebenaran, yang mampu bekerja—dan terutama para pemimpin dan pekerja yang mampu melakukan pekerjaan nyata. Dengan demikian, terbentuklah dua kubu di gereja: di kubu yang satu terdapat orang-orang yang kemanusiaannya relatif jujur, yang melaksanakan tugasnya dengan tulus, dan mereka adalah orang-orang yang mengejar kebenaran. Kubu yang lain adalah kelompok orang-orang yang bingung dan yang hanya bermain-main, yang dipimpin oleh antikristus. Kedua kubu ini akan terus berperang satu sama lain hingga antikristus disingkapkan dan disingkirkan. Antikristus selalu berperang dan bertindak melawan mereka yang melaksanakan tugasnya dengan tulus dan mengejar kebenaran. Tidakkah ini sangat mengganggu pekerjaan gereja? Tidakkah ini mengacaukan dan mengganggu pekerjaan Tuhan? Bukankah kekuatan antikristus ini merupakan batu sandungan dan rintangan yang menghalangi terlaksananya kehendak Tuhan di dalam gereja? Bukankah ini kekuatan jahat yang menentang Tuhan? Mengapa antikristus bertindak seperti ini? Sebab, dalam pikiran mereka, jelas bahwa jika karakter-karakter positif ini bangkit dan menjadi pemimpin dan pekerja, mereka akan menjadi pesaing antikristus; mereka akan menjadi kekuatan yang menentang antikristus, dan sama sekali tidak akan mendengarkan kata-kata antikristus ataupun menaatinya; mereka sama sekali tidak akan mematuhi semua perintah antikristus. Orang-orang ini sudah cukup menjadi ancaman bagi status antikristus. Apabila antikristus melihat orang-orang ini, kebencian muncul di hati mereka; hati mereka tidak akan damai dan tenang jika mereka tidak mengucilkan dan menaklukkan orang-orang ini serta merusak nama baik mereka. Oleh karena itu, mereka harus bekerja dengan cepat untuk membangun kekuatan mereka sendiri dan memperkuat posisi mereka. Dengan cara ini, mereka dapat mengendalikan lebih banyak umat pilihan Tuhan, dan tidak akan pernah lagi khawatir tentang segelintir orang-orang yang mengejar kebenaran yang mengancam status mereka. Antikristus membentuk kekuatan mereka sendiri di dalam gereja, mengambil orang-orang yang mendengarkan mereka, menaati mereka, dan yang menjilat mereka, serta mempromosikan mereka untuk bertanggung jawab atas setiap aspek pekerjaan. Apakah melakukan ini bermanfaat bagi pekerjaan rumah Tuhan? Tidak. Bukan saja itu tidak bermanfaat, tetapi juga menimbulkan kekacauan dan gangguan terhadap pekerjaan gereja. Jika kekuatan jahat ini didukung oleh lebih dari separuh umat, ada kemungkinan kekuatan ini akan menumbangkan gereja. Ini karena jumlah orang-orang yang mengejar kebenaran di dalam gereja merupakan minoritas, sedangkan orang yang berjerih payah dan pengikut yang bukan orang percaya yang ada di sana untuk makan sepuasnya berjumlah setidaknya separuhnya. Dalam situasi ini, jika antikristus memusatkan kekuatan mereka untuk menyesatkan dan menarik orang-orang itu ke pihak mereka, wajar jika mereka akan lebih unggul ketika gereja memilih para pemimpin. Oleh karena itu, rumah Tuhan selalu menekankan bahwa selama pemilihan, kebenaran harus dipersekutukan hingga jelas. Jika engkau tidak mampu menyingkapkan dan mengalahkan antikristus dengan mempersekutukan kebenaran, antikristus bisa menyesatkan orang dan terpilih sebagai pemimpin, merebut dan mengendalikan gereja. Bukankah itu suatu hal yang berbahaya? Jika satu atau dua antikristus muncul di gereja, itu tidak akan menimbulkan ketakutan, tetapi jika antikristus menjadi suatu kekuatan dan mencapai tingkat pengaruh tertentu, maka akan menimbulkan ketakutan. Oleh karena itu, antikristus harus diberantas dan dikeluarkan dari gereja sebelum mereka mencapai tingkat pengaruh itu. Tugas ini adalah prioritas yang paling utama dan perlu dilakukan. Terlebih lagi, para pengikut yang bukan orang percaya di dalam gereja, khususnya mereka yang cenderung menyembah dan mengikuti manusia, yang suka mengikuti kekuatan itu, yang suka menjadi kaki tangan dan antek setan, yang suka membentuk kelompok-kelompok kecil—para pengikut yang bukan orang percaya dan setan seperti mereka itu harus disingkirkan dengan segera. Itulah satu-satunya cara untuk mencegah para perusuh itu membentuk kekuatan untuk mengganggu dan mengendalikan gereja. Ini adalah sesuatu yang harus dilihat dengan jelas oleh umat pilihan Tuhan, sesuatu yang harus menjadi tanggung jawab orang-orang yang memahami kebenaran. Semua orang yang membebani diri dengan pekerjaan gereja, semua yang memikirkan maksud Tuhan, harus memahami hal-hal ini sebagaimana adanya. Mereka terutama harus melihat tipe antikristus sebagaimana adanya, juga setan-setan kecil yang suka menyanjung dan memuja orang, dan kemudian membatasi mereka atau mengeluarkan mereka dari gereja. Penerapan seperti ini sangat diperlukan. Terutama orang-orang seperti antikristus yang memulai dengan membangun hubungan baik dengan orang-orang yang bingung, orang-orang yang tidak berguna, dan orang-orang hina yang tidak menerima atau mencintai kebenaran. Antikristus memenangkan hati orang-orang itu dan "bekerja sama" dengan mereka dengan cukup harmonis, akrab, dan antusias. Makhluk macam apakah orang-orang itu? Bukankah mereka anggota geng antikristus? Jika Yang di Atas harus menggantikan "leluhur sesembahan" mereka, maka keturunan yang patuh ini tidak akan menoleransinya—mereka akan menghakimi Yang di Atas sebagai tidak adil, dan mereka akan bergabung untuk membela antikristus. Dapatkah rumah Tuhan membiarkan mereka menang? Yang dapat dilakukannya adalah menebarkan jaringnya ke atas mereka semua dan mengeluarkan mereka semua. Mereka adalah setan dari geng antikristus, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang boleh lolos. Orang-orang seperti antikristus jarang bertindak sendirian; sering kali, mereka membentuk kelompok untuk mengambil tindakan, yang terdiri dari setidaknya dua atau tiga orang. Namun, ada beberapa kasus antikristus yang bertindak sebagai individu. Ini karena mereka tidak memiliki bakat, atau mungkin belum mendapatkan kesempatan. Namun, kesamaan mereka dengan yang lainnya adalah kecintaan khusus mereka terhadap status. Jangan berasumsi mereka tidak mencintai status karena mereka tidak memiliki keterampilan atau pendidikan. Itu salah. Engkau belum memahami dengan jelas esensi antikristus—asalkan seseorang adalah antikristus, dia menyukai status. Melihat bahwa antikristus tidak bisa bekerja sama dengan siapa pun, lalu mengapa mereka membina kelompok orang-orang yang bingung seperti itu, sampah, dan orang-orang yang hina untuk menjilat mereka? Apakah mereka bermaksud bekerja sama dengan orang-orang ini? Jika mereka benar-benar bisa bekerja sama dengan mereka, maka pernyataan bahwa "antikristus tidak bisa bekerja sama dengan siapa pun" itu tidak masuk akal. Mereka tidak bisa bekerja sama dengan siapa pun—bahwa "siapa pun" terutama merujuk pada orang-orang yang positif, tetapi dengan mempertimbangkan watak antikristus, mereka juga tidak bisa bekerja sama dengan kaki tangan mereka. Jadi, apakah yang mereka lakukan dengan membina orang-orang ini? Mereka membina sekelompok orang yang bingung yang mudah disuruh-suruh, yang mudah dimanipulasi, yang tidak memiliki pandangan sendiri, yang melakukan apa pun yang dikatakan antikristus—yang akan terus bersama untuk menjaga status antikristus. Jika seorang antikristus mengandalkan dirinya sendiri, mereka akan sendirian, dan akan tidak mudah bagi mereka untuk menjaga status mereka. Itulah sebabnya mereka memenangkan hati sekelompok orang yang bingung untuk berkumpul di sekeliling mereka setiap hari dan melakukan hal-hal untuk kepentingan mereka. Mereka bahkan menyesatkan umat pilihan Tuhan: mereka berbicara tentang bagaimana orang-orang ini mengejar kebenaran dan bagaimana mereka menderita; mereka mengatakan bahwa orang-orang itu pantas dibina; mereka bahkan mengatakan bahwa ketika orang-orang ini memiliki masalah, orang-orang ini meminta nasihat kepada mereka tentangnya, dan bertanya kepada mereka mengenainya—bahwa mereka semua adalah orang-orang yang taat dan tunduk. Apakah mereka bekerja sama melaksanakan tugas mereka? Antikristus menemukan sekelompok orang yang akan bertindak bagi mereka, yang akan menjadi antek mereka, kaki tangan mereka, untuk mengonsolidasikan status mereka. Itu bukan kerja sama—itu menjalankan pekerjaannya sendiri. Begitulah kekuatan antikristus.
Menurutmu, apakah bekerja sama dengan orang lain itu sulit? Sebenarnya tidak sulit. Bahkan bisa dikatakan mudah. Namun, mengapa orang masih merasa hal ini sulit? Karena mereka memiliki watak yang rusak. Bagi orang yang memiliki kemanusiaan, hati nurani, dan nalar, bekerja sama dengan orang lain itu relatif mudah, dan mereka dapat merasa bahwa ini adalah sesuatu yang menyenangkan. Ini karena tidak mudah bagi siapa pun untuk menyelesaikan sesuatu seorang diri, dan apa pun bidang yang mereka geluti, atau apa pun yang mereka lakukan, selalu merupakan hal yang baik jika ada seseorang yang memberimu petunjuk dan menawarkan bantuan—jauh lebih mudah daripada melakukannya seorang diri. Selain itu, ada batas mengenai apa yang mampu orang capai dengan kualitas mereka atau apa yang mampu mereka alami seorang diri. Tak seorang pun mampu menguasai semua bidang pekerjaan: tidak mungkin satu orang mengetahui semuanya, cakap dalam semuanya, mencapai semuanya—itu tidak mungkin, dan semua orang harus memiliki nalar seperti ini. Jadi, apa pun yang kaulakukan, entah itu penting atau tidak, engkau akan selalu membutuhkan seseorang untuk membantumu, memberimu petunjuk dan nasihat, atau melakukan sesuatu dengan bekerja sama denganmu. Inilah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa engkau akan melakukan segala sesuatu dengan lebih tepat, melakukan lebih sedikit kesalahan, sehingga makin kecil kemungkinanmu untuk menyimpang—ini adalah hal yang baik. Melayani Tuhan, khususnya, adalah perkara yang besar, dan tidak menyelesaikan watakmu yang rusak dapat menempatkanmu dalam bahaya! Jika orang memiliki watak Iblis, mereka dapat memberontak dan menentang Tuhan kapan pun dan di mana pun. Orang yang hidup berdasarkan watak Iblis dalam diri mereka, mampu menolak, menentang, dan mengkhianati Tuhan setiap saat. Antikristus sangat bodoh, mereka tidak menyadari hal ini, mereka berpikir, "Aku sudah cukup kesulitan mendapatkan kekuasaanku, mengapa aku harus membaginya dengan orang lain? Memberikan otoritasku kepada orang lain berarti aku sama sekali tidak memilikinya, bukan? Bagaimana aku bisa menunjukkan bakat dan kemampuanku tanpa kekuasaan?" Mereka tidak tahu bahwa apa yang telah Tuhan percayakan kepada manusia bukanlah kekuasaan atau status, melainkan tugas. Antikristus hanya mau menerima kekuasaan dan status, mereka mengesampingkan tugas mereka, dan mereka tidak melakukan pekerjaan nyata. Sebaliknya, mereka hanya mengejar ketenaran, keuntungan dan status, dan hanya ingin merebut kekuasaan, mengendalikan umat pilihan Tuhan, serta menikmati manfaat dari status. Melakukan segala sesuatu dengan cara ini sangat berbahaya—ini menentang Tuhan! Siapa pun yang mengejar ketenaran, keuntungan dan status, alih-alih melaksanakan tugas mereka dengan benar, mereka sedang melakukan hal yang berbahaya dan bermain-main dengan hidup mereka. Orang yang melakukan hal berbahaya dan bermain-main dengan hidup mereka dapat menghancurkan diri mereka sendiri setiap saat. Sekarang ini, sebagai pemimpin atau pekerja, engkau sedang melayani Tuhan, dan ini bukan hal yang biasa. Engkau tidak sedang melakukan sesuatu untuk manusia, apalagi bekerja agar dapat membayar tagihan dan menyediakan makanan di atas meja; melainkan, engkau sedang melaksanakan tugasmu di gereja. Dan terutama, mengingat bahwa tugas ini berasal dari amanat Tuhan, apa artinya melaksanakan tugas ini? Itu berarti dalam tugasmu, engkau bertanggung jawab kepada Tuhan, entah engkau melaksanakannya dengan baik atau tidak; pada akhirnya, engkau harus mempertanggungjawabkannya kepada Tuhan, harus ada hasilnya. Yang telah kauterima ini adalah amanat Tuhan, tanggung jawab yang kudus, jadi sepenting atau sekecil apa pun tanggung jawab ini, ini adalah tanggung jawab yang serius. Seberapa seriuskah tanggung jawab ini? Dalam skala kecil, ini berkaitan dengan apakah engkau dapat memperoleh kebenaran dalam kehidupanmu ini dan berkaitan dengan bagaimana Tuhan akan memandangmu. Dalam skala besar, ini berkaitan langsung dengan masa depanmu, nasibmu, dan kesudahanmu; jika engkau melakukan kejahatan dan menentang Tuhan, engkau akan dikutuk dan dihukum. Segala sesuatu yang kaulakukan ketika engkau melaksanakan tugasmu dicatat oleh Tuhan, dan Tuhan memiliki prinsip dan standar-Nya sendiri tentang bagaimana itu dinilai dan dievaluasi; Tuhan menentukan kesudahanmu berdasarkan semua yang kauwujudkan saat engkau melaksanakan tugasmu. Apakah ini masalah serius? Memang benar! Jadi, jika engkau diberi suatu tugas, apakah itu urusanmu sendiri untuk kautangani? (Tidak.) Pekerjaan itu bukanlah sesuatu yang dapat kauselesaikan sendiri, melainkan pekerjaan itu mengharuskanmu memikul tanggung jawab atasnya. Tanggung jawab ada di tanganmu; engkau harus menyelesaikan amanat itu. Hal ini berkaitan dengan apa? Ini berkaitan dengan kerja sama, dengan cara bekerja sama dalam pelayanan, dengan cara bekerja sama untuk melaksanakan tugasmu, dengan cara bekerja sama untuk menyelesaikan amanatmu, dengan cara bekerja sama sedemikian rupa sehingga engkau mengikuti kehendak Tuhan. Itu berkaitan dengan hal-hal ini.
Kerjasama yang harmonis melibatkan banyak hal. Setidaknya, salah satu dari banyak hal ini adalah membiarkan orang lain berbicara dan memberikan saran yang berbeda. Jika engkau benar-benar bernalar, apa pun pekerjaan yang kaulakukan, engkau harus terlebih dahulu belajar mencari prinsip-prinsip kebenaran, dan engkau juga harus berinisiatif untuk mencari pendapat orang lain. Asalkan engkau menanggapi setiap saran dengan serius, dan kemudian menyelesaikan masalah dengan sehati dan sepikir, pada dasarnya engkau akan mencapai kerja sama yang harmonis. Dengan cara ini, engkau akan menghadapi kesulitan yang jauh lebih sedikit dalam tugasmu. Apa pun masalah yang muncul, akan mudah untuk menyelesaikan dan menanganinya. Inilah efek dari kerjasama yang harmonis. Terkadang ada perselisihan karena hal-hal sepele, tetapi selama semua ini tidak memengaruhi pekerjaan, hal-hal itu tidak akan menjadi masalah. Namun, mengenai hal-hal penting dan hal-hal besar yang melibatkan pekerjaan gereja, engkau harus mencapai permufakatan dan mencari kebenaran untuk menyelesaikannya. Sebagai seorang pemimpin atau pekerja, jika engkau selalu menganggap dirimu lebih unggul daripada orang lain, dan bersenang-senang dalam tugasmu seperti itu adalah jabatan dalam pemerintahan, selalu menikmati manfaat dari statusmu itu, selalu membuat rencanamu sendiri, selalu memikirkan dan menikmati ketenaran, keuntungan dan statusmu sendiri, selalu mengurus urusanmu sendiri, dan selalu berusaha untuk mendapatkan status yang lebih tinggi, mengatur atau mengendalikan lebih banyak orang, dan memperluas lingkup kekuasaanmu, ini adalah masalah. Memperlakukan tugas penting sebagai kesempatan untuk menikmati kedudukanmu seolah-olah engkau adalah pejabat pemerintah adalah sangat berbahaya. Jika engkau selalu bertindak seperti ini, tidak mau bekerja sama dengan orang lain, tidak mau melemahkan kekuasaanmu dan membaginya dengan orang lain, tidak mau orang lain lebih unggul daripada dirimu, mencuri pusat perhatian, jika engkau hanya ingin menikmati kekuasaan seorang diri, itu berarti engkau adalah antikristus. Namun, jika engkau sering mencari kebenaran, menerapkan pemberontakan terhadap dagingmu, terhadap motivasi dan gagasanmu sendiri, dan mampu mengambil inisiatif untuk bekerja sama dengan orang lain, membuka hatimu untuk berkonsultasi dan mencari bersama orang lain, dengan penuh perhatian mendengarkan gagasan dan saran orang lain, serta menerima saran yang benar dan yang sesuai dengan kebenaran, dari siapa pun itu berasal, itu artinya engkau sedang melakukan penerapan dengan cara yang bijak dan benar, dan engkau dapat menghindarkan dirimu agar tidak menempuh jalan yang salah, di mana ini merupakan perlindungan bagimu. Engkau harus melepaskan gelar kepemimpinanmu, melepaskan simbol statusmu, memperlakukan dirimu sebagai orang biasa, berdiri setara dengan orang lain, dan memiliki sikap yang bertanggung jawab terhadap tugasmu. Jika engkau selalu memperlakukan tugasmu sebagai gelar dan status resmi, atau semacam kehormatan, dan membayangkan bahwa orang lain ada di sana untuk bekerja dan melayani kedudukanmu, ini menyusahkan, dan Tuhan akan benci dan muak terhadapmu. Jika engkau percaya bahwa engkau setara dengan orang lain, bahwa engkau hanya memiliki sedikit lebih banyak amanat dan tanggung jawab dari Tuhan, jika engkau dapat belajar menempatkan dirimu setara dengan mereka, dan bahkan dapat merendahkan diri untuk meminta pendapat orang lain, dan jika engkau dapat dengan sungguh-sungguh, saksama, dan penuh perhatian mendengarkan apa yang mereka katakan, maka engkau akan bekerja sama dengan harmonis dengan orang lain. Efek apa yang akan dicapai oleh kerjasama yang harmonis seperti ini? Efeknya sangat besar. Engkau akan mendapatkan hal-hal yang belum pernah kaudapatkan sebelumnya, yaitu terang kebenaran dan kenyataan hidup; engkau akan menemukan sifat terpuji orang lain dan belajar dari kelebihan mereka. Ada hal lainnya: engkau mungkin menganggap orang lain bodoh, dungu, tolol, lebih rendah daripada dirimu, tetapi ketika engkau mendengarkan pendapat mereka, atau orang lain membuka diri kepadamu, tanpa disadari engkau akan mendapati bahwa tak seorang pun sebiasa seperti yang kaupikirkan, bahwa semua orang dapat memberikan pemikiran dan ide yang berbeda, dan bahwa semua orang memiliki kecakapannya sendiri. Jika engkau belajar untuk bekerja sama secara harmonis, selain membantumu belajar dari kelebihan orang lain, ini dapat menyingkapkan kecongkakan dan sikapmu yang merasa diri benar, dan membuatmu berhenti menganggap dirimu cerdas. Ketika engkau tidak lagi menganggap dirimu lebih cerdas dan lebih baik daripada orang lain, engkau akan berhenti hidup dalam keadaan narsistik dan menghargai diri sendiri ini. Dan itu akan melindungimu, bukan? Itulah pelajaran yang seharusnya engkau petik dan manfaat yang seharusnya engkau peroleh dari bekerja sama dengan orang lain.
Dalam berurusan dengan orang-orang, Aku mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang dikatakan kebanyakan orang. Aku berupaya untuk memeriksa segala tipe orang, dan mendengarkan mereka berbicara, serta mempelajari bahasa dan gaya yang mereka gunakan dalam berbicara. Engkau biasanya berasumsi, misalnya, bahwa sebagian besar orang hanya memiliki sedikit pendidikan, tetapi tidak mengetahui keterampilan khusus, sehingga tidak perlu diajak berinteraksi. Sesungguhnya, itu tidak benar. Ketika engkau berhubungan dengan orang-orang ini, atau, bahkan dengan beberapa orang yang istimewa, engkau dapat memahami hal-hal di dalam lubuk hati mereka yang tidak dapat engkau lihat atau rasakan—hal-hal seperti pikiran dan pandangan mereka, yang sebagian menyimpang, dan yang sebagian baik. Tentu saja, "kebaikan" tersebut mungkin cukup jauh dari kebenaran; kebaikan itu mungkin tidak ada hubungannya dengan kebenaran. Namun, engkau akan dapat mengetahui lebih banyak aspek dari kemanusiaan. Bukankah itu suatu hal yang baik untukmu? (Ya.) Itulah yang dimaksud dengan wawasan, yakni cara untuk menambah wawasanmu. Ada orang-orang yang mungkin mengatakan, "Apa gunanya menambah wawasan kita?" Ini bermanfaat untuk pemahamanmu akan berbagai tipe orang, dan untuk penilaianmu serta analisismu mengenai berbagai tipe orang, dan terlebih lagi untuk kemampuanmu menolong berbagai tipe orang. Inilah jalan di mana banyak pekerjaan dilakukan. Ada orang-orang yang menganut kerohanian palsu dan percaya, "Sekarang sesudah aku percaya kepada Tuhan, aku tidak mendengarkan siaran berita, dan aku tidak membaca surat kabar. Aku tidak lagi berinteraksi dengan dunia luar. Semua orang, dari segala lapisan masyarakat dan profesi, adalah setan!" Nah, engkau salah. Jika engkau memiliki kebenaran, apakah engkau masih takut berinteraksi dengan setan? Bahkan, Tuhan terkadang berurusan dengan Iblis di alam roh. Apakah Dia berubah karenanya? Tidak sedikit pun. Engkau takut berurusan dengan setan, dan di dalam ketakutan itu, ada masalah. Yang sebenarnya harus ditakuti ialah bahwa engkau tidak memahami kebenaran, engkau memiliki pemahaman dan pandangan yang tidak benar tentang percaya kepada Tuhan dan kebenaran, engkau memiliki banyak gagasan dan bayangan, dan engkau terlalu dogmatis. Itu sebabnya, apakah engkau seorang pemimpin atau pekerja atau ketua kelompok, apa pun pekerjaan yang menjadi tanggung jawabmu dan peran apa pun yang engkau mainkan, engkau harus belajar untuk bekerja sama dengan orang lain dan berurusan dengan mereka. Janganlah melontarkan ide yang muluk-muluk, dan janganlah selalu bersikap seperti seorang bertinggi hati untuk membuat orang mendengarkanmu. Jika engkau selalu melontarkan ide yang muluk-muluk, dan engkau tidak pernah mampu menerapkan kebenaran, atau bekerja sama dengan orang lain, engkau membodohi dirimu sendiri. Kalau begitu, siapa yang akan memedulikanmu? Bagaimana kejatuhan kaum Farisi terjadi? Mereka selalu mengkhotbahkan teori teologis dan melontarkan ide yang muluk-muluk. Sementara mereka terus melakukannya, Tuhan tidak lagi ada di sana di dalam hati mereka—mereka menyangkal Dia, dan, bahkan menggunakan gagasan, hukum, dan aturan manusia untuk mengutuk dan menentang Tuhan, dan untuk memakukan-Nya di kayu salib. Mereka membawa Alkitab mereka sepanjang hari, membaca dan menelitinya, mampu melafalkan kitab suci dengan lancar. Dan pada akhirnya, apakah yang terjadi? Mereka tidak tahu di mana Tuhan berada, atau bagaimana watak-Nya, dan meskipun Dia telah mengungkapkan banyak kebenaran, mereka tidak menerimanya sedikit pun, tetapi menentang dan mengutuk-Nya. Bukankah itu akhir mereka? Engkau semua mengetahui dengan jelas bagaimana akibatnya. Apakah engkau semua memiliki pandangan yang salah seperti itu dalam kepercayaanmu kepada Tuhan? Bukankah engkau semua menutup diri? (Ya.) Apakah engkau melihat-Ku menutup diri? Aku terkadang membaca berita, dan terkadang menonton wawancara dengan tamu istimewa dan program-program lain seperti itu; terkadang, Aku mengobrol santai dengan saudara-saudari, dan terkadang, Aku mengobrol dengan seorang yang memasak atau bersih-bersih. Aku berbicara sedikit dengan siapa pun yang Aku temui. Jangan berpikir bahwa karena engkau mengemban suatu tugas, atau karena engkau punya bakat istimewa, atau, bahkan karena engkau telah melakukan misi khusus, maka engkau lebih istimewa dari orang lain. Itu salah. Begitu engkau berpikir bahwa engkau lebih istimewa dari orang lain, pandangan salah itu tanpa engkau sadari akan mengurungmu—akan mengungkungmu dari luar dengan tembok besi dan perunggu. Kemudian, engkau akan merasa bahwa engkau adalah yang tertinggi dari semuanya, bahwa engkau tidak boleh melakukan ini dan itu, bahwa engkau tidak boleh berbicara atau berkomunikasi dengan orang yang ini dan itu, bahwa engkau bahkan tidak boleh tertawa. Dan pada akhirnya apakah yang terjadi? Berubah menjadi siapakah engkau? (Seorang penyendiri yang terkucil.) Engkau menjadi seorang penyendiri yang terkucil. Lihatlah bagaimana para kaisar zaman dahulu selalu mengatakan hal-hal seperti, "Aku, sendirilah, yang begini dan begitu"; "Aku, sendirilah, yang ini dan itu"; "Aku, sendirilah, yang berpikir"—selalu menyatakan dirinya sendirian. Jika engkau selalu menyatakan dirimu sendirian, seberapa hebatkah engkau menurutmu dirimu sendiri? Begitu hebatkah hingga engkau benar-benar sudah menjadi putra surga? Seperti itukah dirimu? Esensinya, engkau adalah orang biasa. Jika engkau selalu menganggap dirimu hebat dan luar biasa, engkau dalam masalah. Engkau akan gagal. Jika engkau melakukan urusan duniawimu dengan pandangan salah seperti itu, maka cara dan sarana dari tindakanmu akan berubah—prinsip-prinsipmu akan berubah. Jika engkau selalu menganggap dirimu berbeda, engkau lebih unggul dari semua orang lain, bahwa engkau tidak boleh melakukan ini atau itu, bahwa melakukan hal-hal seperti itu akan merendahkan status dan kedudukanmu, bukankah segala sesuatunya jadi memburuk? (Ya.) Engkau akan merasa, "Dengan status seperti yang kumiliki, aku tidak bisa sekadar mengatakan segala sesuatunya kepada orang lain!" "Dengan status seperti yang kumiliki, aku tidak bisa mengatakan kepada orang lain bahwa aku suka memberontak!" "Dengan kedudukan seperti yang kumiliki, aku tidak bisa mengatakan kepada orang lain hal-hal yang merendahkan diriku seperti kelemahan, kekurangan, kesalahan, dan kurangnya pendidikanku—aku sama sekali tidak bisa membiarkan siapa pun mengetahui hal-hal itu!" Itu akan melelahkan, bukan? (Ya.) Jika engkau hidup dengan cara yang melelahkan seperti itu, dapatkah engkau melakukan tugasmu dengan baik? (Tidak.) Di mana masalahnya muncul? Masalahnya muncul dalam pandanganmu tentang tugas dan statusmu. Sehebat apa pun "jabatan-mu," apa pun posisimu, berapa pun banyaknya orang yang ada dalam tanggung jawabmu, sungguh, itu tak lebih dari sekadar tugas yang berbeda. Engkau tidak berbeda dari orang lain. Engkau tidak dapat melihat ini sebagaimana adanya, tetapi selalu merasakan dalam hati, "Ini bukan tugas yang berbeda—ini benar-benar perbedaan dalam kedudukan. Aku harus lebih unggul dari orang lain; bagaimana mungkin aku dapat bekerja sama dengan orang lain? Mereka mungkin juga bekerja sama denganku—aku tidak bisa bekerja sama dengan mereka!" Jika engkau selalu berpikir seperti itu, selalu ingin lebih unggul dari semua orang, selalu ingin berdiri di atas pundak orang lain, di atas mereka, dan memandang rendah mereka, maka tidak akan mudah bagimu untuk bekerja sama dengan orang lain. Engkau akan selalu berpikir, "Tahu apa orang itu? Jika dia tahu segala hal, saudara-saudari pasti akan memilih dia sebagai pemimpin. Jadi, kenapa mereka memilihku? Karena aku lebih baik dari dia. Jadi, aku tidak harus membahas segala hal dengan dia. Jika aku melakukannya, itu berarti aku tidak hebat. Untuk membuktikan bahwa aku hebat, aku tidak boleh membahas segala hal dengan siapa pun. Tidak ada seorang pun yang pantas untuk membahas pekerjaan denganku—tak seorang pun!" Demikianlah bagaimana antikristus berpikir.
Di Tiongkok daratan, Partai Komunis menindas keyakinan agama. Ini adalah lingkungan yang mengerikan. Orang-orang yang percaya kepada Tuhan menghadapi bahaya ditangkap kapan saja, sehingga para pemimpin dan pekerja tidak sering berkumpul. Kadang-kadang, mereka bahkan tidak dapat mengadakan pertemuan rekan kerja sebulan sekali; mereka menunggu hingga situasinya memungkinkan untuk berkumpul, atau hingga mereka menemukan tempat yang tepat. Jadi, bagaimana pekerjaan dilaksanakan? Ketika ada pengaturan kerja, seseorang harus ditemukan untuk menyampaikannya. Suatu ketika, kami menemukan seorang saudara di dekat sini untuk menyampaikan pengaturan kerja kepada seorang pemimpin daerah. Saudara ini adalah orang percaya biasa, dan ketika dia menyampaikan pengaturan kerja, pemimpin daerah membacanya dan berkata, "Hm. Inilah hal yang sudah kuduga." Apakah yang dia pamerkan di depan saudara itu? Dia bertindak sok berkuasa, sehingga siapa pun yang melihatnya akan berkata, "Wah, berwibawa sekali. Hebat!" Dan itu bukan apa-apa—tepat sesudahnya, dia berkata, "Inikah orang yang mereka utus untuk menyampaikan pengaturan kerja kepadaku? Pangkatnya tidak cukup tinggi!" Artinya: "Aku ini seorang pemimpin daerah, seorang pemimpin penting. Bagaimana bisa orang percaya biasa diutus untuk menyampaikan hal ini kepadaku? Bukankah itu keterlaluan? Yang di atas benar-benar meremehkanku. Aku seorang pemimpin daerah, jadi mereka setidaknya harus mengutus seorang pemimpin distrik untuk menyampaikannya, tetapi mereka mengutus orang percaya biasa yang paling rendah untuk melakukannya—pangkatnya tidak cukup tinggi!" Orang macam apakah pemimpin ini! Seberapa besar dia menghargai statusnya, sampai mengatakan bahwa pengirim itu tidak cukup tinggi pangkatnya? Dia memperlakukan gelarnya sebagai alasan untuk menegaskan otoritasnya. Bukankah dia ini adalah orang yang jahat? (Ya.) Dia itu memang orang yang jahat. Dalam pekerjaan gereja, apakah kita pilih-pilih siapa yang diutus untuk menyampaikan sesuatu atau menyampaikan pemberitahuan? Di lingkungan seperti Tiongkok daratan, saudara-saudari menghadapi risiko yang sangat besar saat dalam perjalanan untuk menyampaikannya, dan ketika saudara ini tiba dengan pengaturan kerja, dia diberitahu oleh si pemimpin bahwa pangkatnya tidak cukup tinggi, yang menyiratkan bahwa seseorang dengan pangkat yang cukup harus ditemukan, seseorang yang setara dengan si pemimpin dalam hal kedudukan dan status, dan bahwa melakukan yang sebaliknya berarti meremehkan si pemimpin—bukankah itu watak seorang antikristus? (Ya.) Itu adalah watak seorang antikristus. Orang jahat ini tidak bisa melakukan pekerjaan nyata apa pun, dan dia tidak punya keterampilan, tetapi dia masih mengajukan tuntutan seperti itu—dia masih menekankan status. Apakah slogannya? "Pangkatnya tidak cukup tinggi." Siapa pun yang berbicara dengannya, pertama-tama dia bertanya, "Engkau pemimpin dari tingkat mana? Ketua kelompok kecil? Pergilah—pangkatmu tidak cukup tinggi!" Jika saudara Yang di Atas yang mengadakan pertemuan, dia akan selalu maju ke depan dan berkata, "Saudara ini adalah yang terbesar di antara para pemimpin gereja, dan aku adalah orang berikutnya sesudah dia. Di mana pun dia duduk, aku duduk tepat di sebelahnya, sesuai dengan pangkatnya." Begitu jelasnya itu dalam pikirannya. Bukankah itu tidak tahu malu? (Ya.) Sungguh tidak tahu malu—dia tidak memiliki pengenalan diri! Seberapa tidak tahu malunya dia? Cukup untuk membuat orang jijik. Meski menyandang gelar pemimpin, apakah yang bisa dia lakukan? Seberapa baik dia melakukannya? Dia perlu menunjukkan hasilnya sebelum dia bisa memamerkan kualifikasinya—itu baru pas; itu baru masuk akal. Namun demikian, dia membedakan orang berdasarkan pangkat tanpa dia mencapai hasil apa pun, tanpa melakukan pekerjaan apa pun! Lalu apa guna pangkatnya? Sebagai pemimpin daerah, dia tidak banyak melakukan pekerjaan nyata—dia masih belum memenuhi standar pangkatnya. Jika Aku membedakan orang berdasarkan pangkatnya, adakah orang yang dapat mendekati-Ku? Tidak. Apakah engkau semua melihat-Ku membedakan berdasarkan pangkat ketika Aku berinteraksi dengan orang? Tidak—siapa pun yang Aku temui, Aku berbicara sedikit kepada mereka jika Aku bisa, dan jika Aku tidak punya waktu, Aku hanya menyapa mereka dan begitulah. Namun, antikristus ini tidak berpikir seperti itu. Dia menganggap kedudukan, status, dan nilai sosial lebih penting dari apa pun, bahkan lebih berharga daripada nyawanya sendiri. Apakah engkau semua membedakan orang berdasarkan pangkat ketika engkau melaksanakan tugasmu bersama? Ada orang-orang yang membedakan berdasarkan pangkat dalam segala hal yang mereka lakukan; mereka akan langsung mengatakan bahwa orang lain melampaui pangkat mereka dalam pekerjaan yang mereka lakukan dan pemberitahuan yang mereka berikan. Pangkat apakah yang hendak mereka lampaui? Laksanakan tugasmu sendiri dengan baik terlebih dahulu. Engkau tidak bisa melaksanakan tugas apa pun dengan baik atau melakukan pekerjaan apa pun, tetapi engkau masih membedakan berdasarkan pangkat—siapakah yang memintamu untuk melakukannya? Belum saatnya untuk membedakan berdasarkan pangkat. Engkau melakukannya terlalu dini; engkau tidak memiliki pengenalan diri. Ada kalanya kita pergi ke suatu tempat dan mencari orang di sana untuk mengatasi suatu masalah. Apakah kita mencari orang yang cocok berdasarkan pangkat? Pada dasarnya kita tidak melakukan itu. Jika engkau bertanggung jawab atas pekerjaan itu, maka kami akan mencarimu, dan jika engkau tidak ada di sana, kami akan mencari orang lain. Kami tidak membedakan berdasarkan pangkat, tidak pula berdasarkan tinggi atau rendahnya status. Jika orang merasa perlu untuk membedakan seperti itu, mereka tidak memiliki pengenalan diri, dan mereka tidak memahami prinsip-prinsipnya. Jika engkau membedakan berdasarkan status, pangkat, dan gelar di rumah Tuhan sama telitinya seperti yang dilakukan orang-orang yang tidak percaya, maka engkau benar-benar tidak bernalar! Engkau tidak memahami kebenaran; engkau begitu kekurangan. Engkau tidak memahami apa artinya percaya kepada Tuhan.
Kita baru saja membahas tentang penerapan kerja sama dengan orang lain. Apakah ini hal yang mudah dilakukan? Siapa pun yang dapat mencari kebenaran, yang memiliki sedikit rasa malu, kemanusiaan, hati nurani, dan nalar, dapat menerapkan kerja sama dengan orang lain. Orang-orang tanpa kemanusiaan, yang selalu ingin memonopoli status, yang selalu memikirkan martabat, status, ketenaran, dan keuntungan diri sendiri, mereka tidak bisa bekerja sama dengan siapa pun. Tentu saja, ini juga merupakan salah satu perwujudan utama antikristus: Mereka tidak bekerja sama dengan siapa pun, juga tidak dapat menjalin kerja sama secara harmonis dengan siapa pun. Mereka tidak menerapkan prinsip itu. Apakah alasannya? Mereka tidak mau melepaskan kekuasaan; mereka tidak mau membiarkan orang lain tahu bahwa ada hal-hal yang tidak dapat mereka pahami, bahwa ada hal-hal yang perlu mereka cari nasihatnya. Mereka memberikan ilusi kepada orang-orang, membuat mereka berpikir bahwa tidak ada suatu pun yang tidak dapat mereka lakukan, tidak ada suatu pun yang tidak mereka ketahui, tidak ada suatu pun yang mereka kurang berpengetahuan, bahwa mereka punya semua jawabannya, dan bahwa segala sesuatu dapat dilakukan, segalanya bisa, dan dapat dicapai oleh mereka—bahwa mereka tidak membutuhkan orang lain, ataupun bantuan, peringatan, atau nasihat orang lain. Itulah satu alasannya. Selain itu, watak antikristus apakah yang paling mencolok? Yaitu, watak apakah yang akan bisa segera engkau kenali saat engkau berhubungan dengan mereka, hanya dengan mendengar satu atau dua ungkapan dari mereka? Kecongkakan. Seberapa congkakkah mereka? Congkak yang tidak bernalar—seperti penyakit mental. Jika mereka menyeruput air, misalnya, dan mereka menampilkannya secara anggun saat melakukannya, mereka akan membicarakannya sebagai sesuatu yang bisa dibanggakan: "Lihat, betapa anggunnya aku saat minum air." Mereka sangat pintar dalam berlagak dan memamerkan diri; mereka sangat tidak tahu malu dan tebal muka. Seperti itulah antikristus. Menurut anggapan mereka, tidak ada seorang pun yang sebanding dengan mereka. Mereka sangat pintar pamer, dan mereka sama sekali tidak punya pengenalan diri. Beberapa antikristus sangat jelek, tetapi mereka beranggapan bahwa mereka berparas elok, dengan wajah oval, mata berbentuk almond, dan alis melengkung. Mereka bahkan tidak punya sekelumit pun pengenalan diri ini. Pada usia 30 atau 40 tahun, rata-rata orang akan menilai penampilan dan kemampuannya sendiri secara kurang lebih akurat. Namun, para antikristus tidak memiliki rasionalitas seperti itu. Masalah apakah yang berperan di sini? Watak congkak mereka sudah melampaui batas-batas rasionalitas normal. Seberapa congkaknya mereka? Meskipun mereka terlihat seperti kodok, mereka akan mengatakan bahwa mereka terlihat seperti angsa. Dalam hal ini, ada suatu ketidakmampuan untuk membedakan sesuatu dari yang bukan, dan menjungkirbalikkan hal-hal. Tingkat kecongkakan seperti itu adalah kecongkakan yang tidak tahu malu; dan itu tak terkendali. Ketika orang biasa memuji penampilan diri sendiri, mereka merasa itu tidak pantas dikatakan dan merasa malu. Sesudah mengatakannya, mereka akan merasa malu sepanjang hari itu, dengan wajah memerah. Antikristus tidak malu. Mereka akan memuji diri sendiri atas hal-hal baik yang sudah mereka lakukan dan kekuatan-kekuatan yang mereka miliki, untuk hal apa pun yang membuat mereka cakap dan lebih baik dari orang lain—kata-kata ini mengalir begitu saja dari mulut mereka, seolah-olah itu adalah ucapan biasa. Mereka bahkan tidak tersipu malu! Ini adalah kecongkakan yang melampaui batas, tanpa rasa malu, atau tanpa rasionalitas. Inilah sebabnya, di mata antikristus, setiap orang normal—terutama setiap orang yang mencari kebenaran, dan memiliki hati nurani dan nalar dari kemanusiaan yang normal, dan pemikiran yang normal—adalah orang yang biasa-biasa saja, yang tidak punya bakat, yang lebih rendah dari mereka, dan tidak punya kemampuan khusus serta kelebihan mereka. Pantaslah kita katakan demikian karena mereka angkuh dan yakin bahwa tidak ada seorang pun yang sebanding dengan mereka—karena alasan ini, mereka tidak ingin bekerja sama atau mendiskusikan hal-hal dengan siapa pun, dalam segala hal yang mereka lakukan. Mereka mungkin mendengarkan khotbah, membaca firman Tuhan, melihat penyingkapan firman-Nya, atau kadang-kadang dipangkas, tetapi bagaimanapun juga, mereka tidak akan mengakui bahwa mereka sudah memperlihatkan kerusakan dan sudah melakukan pelanggaran, apalagi mengakui diri sebagai orang yang congkak dan merasa benar sendiri. Mereka tidak mampu memahami bahwa mereka hanyalah orang biasa, dengan kualitas yang biasa. Mereka tidak bisa mengerti hal-hal seperti itu. Bagaimana pun engkau memangkas mereka, mereka akan tetap berpikir bahwa mereka memiliki kualitas yang baik, bahwa mereka lebih tinggi dari orang-orang biasa. Bukankah ini tidak ada harapan? (Ya.) Tidak ada harapan. Itulah antikristus. Bagaimanapun mereka dipangkas, mereka tetap tidak bisa menundukkan kepala dan mengakui bahwa mereka tidak baik, bahwa mereka tidak mampu. Menurut anggapan mereka, mengakui masalah, kesalahan, atau kerusakan mereka akan seperti dikutuk, seperti dihancurkan. Inilah cara mereka berpikir. Mereka berpikir bahwa begitu orang lain melihat kesalahan mereka, atau begitu mereka mengakui bahwa kualitas mereka buruk dan bahwa mereka tidak memiliki pemahaman rohani, mereka akan kehilangan energi dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan dan merasa tidak berarti, karena status mereka tidak akan lagi terjamin—mereka akan kehilangan statusnya. Mereka berpikir, "Apakah ada gunanya hidup tanpa status? Lebih baik aku mati saja!" Dan jika mereka memiliki status, kecongkakan mereka tak terkendali, mengacau seraya melakukan hal-hal buruk; dan jika mereka menemui jalan buntu dan dipangkas, mereka akan ingin meninggalkan posisinya, dan menjadi negatif serta bermalas-malasan. Ingin mereka bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran? Jangan pernah berpikir mengenai itu. Apakah yang mereka yakini? "Bagaimana kalau engkau memberiku posisi dan membiarkanku bertindak sendiri? Engkau ingin aku bekerja sama dengan orang lain? Itu mustahil! Jangan carikan aku rekan sekerja—aku tidak membutuhkannya; tidak ada seorang pun yang cocok menjadi rekan sekerjaku. Atau, jangan menggunakanku—suruh orang lain melakukannya!" Makhluk macam apakah ini? "Hanya bisa ada satu pria dominan"—ini adalah pola pikir antikristus, dan ini adalah perwujudnyataannya. Apakah ini tidak ada harapan? (Ya.)
Dalam bab pertama, yang mengatakan bahwa antikristus tidak bisa bekerja sama dengan siapa pun, apakah yang terkandung dalam "tidak bisa" itu? Bahwa mereka tidak bekerja sama dengan siapa pun, dan bahwa mereka tidak bisa menjalin kerja sama dengan orang lain—bukankah ini dua penekanan darinya? Kedua makna ini terkandung di dalamnya, sebagaimana ditentukan oleh esensi antikristus. Meskipun orang mungkin bekerja sama dengannya, esensi dari kerja sama tersebut bukanlah kerja sama yang sebenarnya—orang itu hanyalah pelayan, menyediakan bantuan, melakukan berbagai tugas kecil, dan menangani urusan untuk mereka. Ini sama sekali tidak memenuhi syarat sebagai kerja sama. Jadi, bagaimana definisi "kerja sama"? Sesungguhnya, tujuan utama kerja sama adalah mencapai pemahaman akan prinsip-prinsip kebenaran, bertindak sesuai prinsip-prinsip kebenaran, mengatasi setiap masalah, membuat keputusan yang tepat—keputusan yang sejalan dengan prinsip-prinsip, tanpa penyimpangan, dan mengurangi kesalahan dalam pekerjaan, sehingga semua yang engkau lakukan adalah pelaksanaan tugasmu, bukan melakukan apa yang engkau inginkan, dan tidak bertindak sembrono. Perwujudan pertama dari antikristus membuat orang lain hanya tunduk kepada mereka, bukan kepada kebenaran atau Tuhan, adalah bahwa mereka tidak bisa bekerja sama dengan siapa pun. Orang mungkin mengatakan, "Tidak bisa bekerja sama dengan siapa pun tidak sama dengan membuat orang lain hanya tunduk kepada mereka." Tidak bisa bekerja sama dengan siapa pun berarti mereka tidak mengindahkan perkataan siapa pun atau meminta saran siapa pun—mereka bahkan tidak mencari maksud Tuhan atau prinsip-prinsip kebenaran. Mereka hanya bertindak dan berperilaku sesuai kemauannya sendiri. Apa yang tersirat dalam hal ini? Mereka yang berkuasa dalam pekerjaan mereka, bukan kebenaran, bukan Tuhan. Jadi, prinsip-prinsip pekerjaan mereka adalah membuat orang lain mengindahkan apa yang mereka katakan, dan memperlakukannya seolah-olah itu adalah kebenaran, seolah-olah mereka adalah Tuhan. Bukankah itu naturnya? Ada orang-orang yang mungkin mengatakan, "Jika mereka tidak bisa bekerja sama dengan siapa pun, mungkin itu karena mereka memahami kebenaran dan tidak membutuhkan kerja sama." Itukah yang terjadi? Makin orang memahami kebenaran dan menerapkannya, makin banyak sumber yang mereka minta nasihat dan mereka cari ketika mereka bertindak. Mereka mendiskusikan hal-hal dan bersekutu dengan lebih banyak orang, dalam upaya meminimalkan kerugian dan kemungkinan terjadinya kesalahan. Makin orang memahami kebenaran, makin mereka bernalar, dan makin mereka bersedia dan bisa bekerja sama dengan orang lain. Bukankah begitu? Dan makin kurang bersedia dan kurang bisa orang bekerja sama dengan orang lain, mereka yang tidak mau mengindahkan orang lain, yang tidak mau mempertimbangkan saran orang lain, yang ketika bertindak tidak mempertimbangkan kepentingan rumah Tuhan dan tidak mau mencari tahu apakah tindakan mereka sejalan dengan prinsip-prinsip kebenaran—orang-orang seperti itu kurang mencari kebenaran dan kurang memahaminya. Apakah yang secara keliru mereka yakini? "Saudara-saudari sudah memilihku untuk menjadi pemimpin mereka; tuhan telah memberiku kesempatan ini untuk menjadi pemimpin. Jadi, semua yang kulakukan sesuai dengan kebenaran—apa pun yang kulakukan itu benar." Bukankah ini suatu kesalahpahaman? Mengapa mereka bisa memiliki kesalahpahaman seperti itu? Satu hal yang pasti: Orang-orang seperti itu tidak mencintai kebenaran. Dan satu hal lagi: Orang-orang seperti itu sama sekali tidak memahami kebenaran. Ini tak diragukan lagi.
Antikristus tidak bisa bekerja sama dengan siapa pun. Ini adalah masalah yang serius. Apa pun tugas yang dilakukan antikristus, siapa pun yang menjadi rekan sekerjanya, akan selalu ada konflik dan perselisihan. Beberapa orang mungkin mengatakan, "Jika mereka bertanggung jawab untuk membersihkan dan merapikan bagian dalam setiap hari, bagaimana mereka bisa tidak bekerja sama dengan orang lain?" Ada masalah watak di sini: Siapa pun yang berinteraksi atau melakukan pekerjaan dengan mereka, mereka akan selalu meremehkannya, selalu ingin menceramahinya, agar orang itu melakukan apa yang mereka katakan. Apakah engkau semua akan mengatakan bahwa mereka yang seperti itu bisa bekerja sama dengan orang lain? Mereka tidak bisa bekerja sama dengan siapa pun; ini karena watak mereka yang rusak terlalu parah. Mereka tidak hanya tidak bisa bekerja sama dengan orang lain, mereka juga selalu menceramahi dan mengekang orang lain dari atas—mereka ingin selalu mengangkangi bahu orang dan memaksakan ketaatan mereka. Ini bukan sekadar masalah watak—ini juga merupakan masalah yang serius dengan kemanusiaan mereka. Mereka tidak punya hati nurani atau nalar. Begitulah jahatnya orang. Mereka tidak bisa bekerja sama dengan siapa pun; mereka tidak bisa bergaul dengan siapa pun. Apakah hal-hal yang saling dibagikan dalam kemanusiaan di antara manusia? Manakah dari hal-hal itu yang kompatibel? Hati nurani dan nalar, serta sikap mereka yang mencintai kebenaran—ini dibagikan bersama. Jika kedua belah pihak memiliki kemanusiaan yang normal seperti itu, maka mereka bisa rukun; jika tidak, maka tidak bisa; dan jika yang satu memilikinya dan yang lain tidak, maka mereka juga tidak bisa. Orang baik dan orang jahat tidak bisa rukun—orang yang baik dan orang yang jahat tidak bisa rukun. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi agar orang dapat rukun satu sama lain secara normal: Sebelum mereka bisa bekerja sama satu sama lain, setidaknya mereka harus memiliki hati nurani dan nalar, dan bersabar serta bertoleransi. Orang harus sepikir untuk bisa bekerja sama dalam melaksanakan tugas; mereka harus menimba kelebihan pihak lain untuk menutup kelemahan diri sendiri, dan bersabar serta bertoleransi, dan mempunyai dasar dalam bersikap. Begitulah cara hidup rukun, dan meski terkadang ada konflik dan perselisihan, kerja sama bisa terus terjalin, dan setidaknya tidak akan timbul permusuhan. Jika orang tidak memiliki dasar seperti itu, dan tidak dibimbing oleh hati nurani atau tidak masuk akal, dan melakukan segala sesuatu dengan cara yang berfokus pada keuntungan semata, sekadar mencari keuntungan belaka, berharap untuk selalu mendapatkan keuntungan dari pengorbanan orang lain, maka kerja sama adalah mustahil. Begitulah yang terjadi di antara orang-orang jahat, dan di antara raja-raja Iblis, yang berperang satu sama lain tanpa henti. Berbagai roh jahat di alam roh tidak rukun satu sama lain. Meski setan terkadang membentuk konsorsium, ini semua tentang saling mengeksploitasi untuk mencapai tujuan mereka sendiri. Konsorsium mereka bersifat sementara, dan tak lama berselang, mereka hancur dengan sendirinya. Sama halnya dengan manusia. Orang-orang tanpa kemanusiaan adalah apel jelek yang merusak kumpulannya; hanya mereka yang memiliki kemanusiaan yang normal yang mudah diajak bekerja sama, sabar dan toleran terhadap orang lain, mampu mengindahkan pendapat orang lain, dan mampu mengesampingkan statusnya dalam pekerjaan yang dilakukan, dengan melakukannya dalam diskusi dengan orang lain. Mereka juga punya watak rusak, dan selalu ingin membuat orang lain mengindahkan mereka—mereka juga mempunyai niat seperti itu—tetapi karena mereka punya hati nurani dan nalar, dan dapat mencari kebenaran, dan mengenal diri sendiri, serta merasa bahwa melakukan hal tersebut tidak pantas, yang akan membuat mereka merasa tercela, dan mereka mampu mengekang diri sendiri, cara dan sarana mereka melakukan segala sesuatu akan berubah, sedikit demi sedikit. Dengan demikian, mereka akan bisa bekerja sama dengan orang lain. Mereka memperlihatkan watak yang rusak, tetapi mereka bukan orang jahat, dan mereka tidak memiliki esensi antikristus. Mereka tidak akan punya masalah besar dalam bekerja sama dengan orang lain. Andai mereka adalah orang jahat atau antikristus, mereka tidak akan bisa bekerja sama dengan orang lain. Demikianlah semua orang jahat dan antikristus yang dikeluarkan oleh rumah Tuhan. Mereka tidak bisa bekerja sama dengan siapa pun, dan akibatnya mereka semua tersingkap dan disingkirkan. Namun, ada banyak orang dengan watak antikristus, yang menempuh jalan antikristus, yang sesudah mengalami banyak pemangkasan, dapat menerima kebenaran, dan dapat benar-benar bertobat, dan dapat bersabar dan bertoleransi terhadap orang lain. Orang-orang seperti itu dapat secara bertahap menjalin kerja sama yang harmonis dengan orang lain. Antikristus sendiri tidak bisa bekerja sama dengan siapa pun. Betapapun banyaknya watak rusak yang mereka perlihatkan, mereka tidak mau mencari kebenaran untuk mengatasinya, tetapi akan tetap bersikukuh dengan caranya sendiri, tak bermoral dan tak terkendali. Bukan saja mereka tidak bisa bekerja sama secara harmonis dengan orang lain—jika mereka melihat ada orang yang bisa menilai mereka dan tidak senang terhadap mereka, mereka bahkan akan mulai menyiksa orang itu, dan mengambil sikap mengucilkan dan memusuhinya. Mereka akan tetap memusuhinya, dengan konsekuensi adanya gangguan pada pekerjaan gereja. Ini ditentukan oleh esensi natur antikristus.
Pelajaran apakah yang seharusnya engkau pelajari dalam pelatihan untuk bekerja sama secara harmonis? Belajar bekerja sama adalah satu unsur dari penerapan mencintai kebenaran, dan juga satu tanda darinya. Ini adalah satu cara perwujudan hati nurani dan rasionalitas orang. Engkau mungkin mengatakan bahwa engkau memiliki hati nurani, martabat, dan rasionalitas, tetapi jika engkau tidak bisa bekerja sama dengan siapa pun, dan tidak bisa rukun dengan keluargamu, dengan orang luar, atau dengan teman, dan interaksimu berantakan, dan engkau punya perselisihan yang tak kunjung henti dalam tugas bersama, yang membuatmu mempunyai musuh—jika engkau tidak pernah bisa rukun dengan siapa pun, engkau dalam bahaya. Jika perilaku seperti itu ada di antara perilaku seluruh watak rusakmu, atau salah satu perilaku di antara semua yang engkau miliki yang tidak sesuai dengan kebenaran, dan tidak lebih dari sekadar perilaku, yang engkau ketahui, dan sehubungan dengan yang terus engkau cari dan ubah, engkau masih memiliki kesempatan. Masih ada ruang untuk keselamatan; itu bukan masalah besar. Namun, jika sifat bawaanmu memang orang yang seperti ini, sifat bawaan tidak bisa rukun dengan siapa pun, dan tidak ada gunanya membicarakannya—engkau sama sekali tidak bisa mengekangnya—maka itu adalah masalah yang serius. Jika engkau tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan, entah bagaimana kebenaran dipersekutukan kepadamu, tetapi merasa bahwa masalah itu bukan masalah besar, bahwa itu adalah kehidupan normalmu, cara utama di mana watak rusakmu mewujudkan diri, maka watakmu adalah esensi antikristus. Dan jika itu adalah esensimu, itu lain masalahnya dibandingkan jika engkau menempuh jalan antikristus. Ada orang-orang yang menempuh jalan antikristus, dan ada orang-orang yang merupakan antikristus itu sendiri. Bukankah ada perbedaan di sana? (Ya.) Mereka yang menempuh jalan antikristus menunjukkan perilaku antikristus ini dalam tindakan mereka; mereka akan menyingkapkan watak antikristus sedikit lebih nyata dan jelas dibandingkan orang kebanyakan, tetapi mereka masih bisa melakukan pekerjaan yang sejalan dengan kebenaran, memiliki kemanusiaan, dan memiliki rasionalitas. Jika orang tidak dapat melakukan pekerjaan positif sama sekali, dan yang mereka lakukan malahan sepenuhnya adalah perilaku antikristus ini, penyingkapan dari esensi antikristus ini—jika semua pekerjaan yang mereka lakukan dan tugas yang mereka laksanakan adalah penyingkapan yang seperti itu, tanpa suatu pun yang sejalan dengan kebenaran—dalam hal ini, mereka adalah antikristus.
Beberapa pemimpin dan pekerja, sebelumnya, sering menyingkapkan watak antikristus: mereka ceroboh dan sewenang-wenang, dan selalu menggunakan cara mereka sendiri. Namun, mereka tidak melakukan kejahatan apa pun yang jelas terlihat dan kemanusiaan mereka tidak buruk. Melalui dipangkas, melalui saudara-saudari yang membantu mereka, melalui dipindahkan atau diganti, dengan bersikap negatif selama beberapa waktu, mereka akhirnya menjadi sadar bahwa yang mereka perlihatkan sebelumnya adalah watak yang rusak, mereka akhirnya mau bertobat, dan berpikir, "Yang terpenting adalah bertekun dalam melakukan tugasku apa pun yang terjadi. Meskipun aku menempuh jalan antikristus, aku tidak digolongkan sebagai antikristus. Ini adalah belas kasihan Tuhan, jadi aku harus bekerja keras dalam keyakinanku dan pengejaranku. Tidak ada yang salah dengan jalan mengejar kebenaran." Sedikit demi sedikit mereka berbalik, dan kemudian mereka bertobat. Ada perwujudan yang baik dalam diri mereka, mereka mampu mencari prinsip kebenaran ketika melakukan tugas mereka, dan mereka juga mencari prinsip kebenaran ketika berhubungan dengan orang lain. Dalam segala hal, mereka masuk ke arah yang positif. Bukankah itu berarti mereka sudah berubah? Mereka sudah berbalik dari menempuh jalan antikristus ke menempuh jalan menerapkan dan mengejar kebenaran. Ada harapan dan kesempatan bagi mereka untuk memperoleh keselamatan. Dapatkah engkau menggolongkan orang-orang semacam itu sebagai antikristus karena mereka pernah memperlihatkan beberapa perwujudan dari seorang antikristus atau menempuh jalan antikristus? Tidak. Antikristus lebih memilih mati daripada bertobat. Mereka tidak memiliki rasa malu; di samping itu, mereka berwatak kejam dan jahat, dan mereka sangat muak akan kebenaran. Mungkinkah orang yang muak akan kebenaran menerapkan kebenaran atau bertobat? Itu mustahil. Mereka sama sekali muak akan kebenaran berarti bahwa mereka tidak akan pernah bertobat. Ada satu hal pasti mengenai orang-orang yang bisa bertobat, dan itu adalah bahwa mereka sudah melakukan kesalahan tetapi dapat menerima penghakiman dan hajaran firman Tuhan, dapat menerima kebenaran, dan dapat berusaha sekeras mungkin untuk bekerja sama ketika melakukan tugas mereka, menerima firman Tuhan sebagai kaidah pribadi mereka, dan membuat firman Tuhan menjadi kenyataan dalam hidup mereka. Mereka menerima kebenaran, dan di lubuk hatinya, mereka tidak muak akan kebenaran. Bukankah ini perbedaannya? Inilah perbedaannya. Namun, antikristus tidak berhenti menolak untuk dipangkas—mereka tidak mau mendengarkan siapa pun yang perkataannya sesuai dengan kebenaran, dan mereka tidak percaya bahwa firman Tuhan adalah kebenaran, dan mereka juga tidak mengakuinya sebagai kebenaran. Apakah natur yang mereka miliki? Natur yang muak akan kebenaran dan membencinya, hingga tingkat yang ekstrem. Ketika orang mempersekutukan kebenaran atau berbicara tentang kesaksian pengalaman, mereka sangat muak dengannya, dan mereka memusuhi orang yang mempersekutukan kebenaran. Jika orang di gereja menyebarkan berbagai argumen yang tidak masuk akal dan jahat, mengatakan hal-hal yang konyol, dan tidak masuk akal, itu membuat mereka sangat bahagia; mereka akan segera bergabung dan berkubang dalam lumpur bersama mereka, dalam kerja sama yang erat. Ini seumpama burung-burung yang berbulu sama berkumpul bersama, mencari yang sejenis. Jika mereka mendengar umat pilihan Tuhan mempersekutukan kebenaran atau berbicara tentang kesaksian pengalaman pengenalan diri mereka dan pertobatan yang tulus, itu membuat mereka jengkel, dan mereka mulai memikirkan bagaimana mengucilkan dan menyerang orang itu. Singkat kata, mereka tidak menyukai siapa pun yang mengejar kebenaran. Mereka ingin mengucilkan dan menjadi musuhnya. Siapa pun yang mahir memamerkan diri dengan mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin, mereka sangat menyukainya dan sangat setuju dengannya, seolah-olah mereka sudah menemukan orang kepercayaan dan teman seperjalanan. Jika seorang berkata, "Siapa pun yang melakukan paling banyak pekerjaan dan memberikan kontribusi terbesar akan diberi upah yang besar dan dimahkotai, dan akan memerintah bersama Tuhan," mereka akan menjadi sangat bersemangat tiada akhir, dengan darahnya yang bergejolak. Mereka akan merasa bahwa mereka jauh lebih baik dari orang lain, bahwa mereka akhirnya menonjol dari orang banyak, bahwa sekarang ada ruang bagi mereka untuk menampilkan diri dan memamerkan nilai mereka. Maka, mereka akan sangat puas. Bukankah itu berarti muak akan kebenaran? Jika engkau mengatakan kepada mereka dalam persekutuan, "Tuhan tidak menyukai orang-orang seperti Paulus, dan Dia paling muak dengan orang-orang yang menempuh jalan antikristus, dan mereka yang berkeliling sepanjang hari dengan berkata, 'Tuhan, Tuhan, belum cukup banyakkah pekerjaan yang kulakukan untuk-Mu?' Dia muak dengan orang-orang yang berkeliling sepanjang hari memohon upah dan mahkota kepada-Nya." Kata-kata ini tentu saja adalah kebenaran, tetapi perasaan apakah yang mereka miliki ketika mendengar persekutuan yang demikian? Apakah mereka mengatakan amin dan menerima kata-kata seperti itu? Bagaimanakah reaksi pertama mereka? Rasa muak di hati dan keengganan untuk mendengarkan—maksud mereka adalah, "Bagaimana engkau bisa begitu yakin dengan apa yang engkau katakan? Apakah engkau yang menentukan keputusan akhir? Aku tidak percaya apa yang engkau katakan! Aku akan melakukan apa yang akan kulakukan. Aku mau menjadi seperti Paulus dan meminta mahkota kepada tuhan. Dengan begitu, aku bisa diberkati, dan mempunyai tempat tujuan yang baik!" Mereka bersikeras mempertahankan pandangan Paulus. Bukankah dengan begitu mereka melawan Tuhan? Bukankah itu menentang Tuhan yang nyata? Tuhan telah menyingkapkan dan menelaah esensi Paulus; Dia mengatakan begitu banyak hal tentangnya, dan setiap bagiannya adalah kebenaran—tetapi antikristus ini tidak menerima kebenaran ataupun fakta bahwa semua tindakan dan perilaku Paulus adalah menentang Tuhan. Dalam benaknya, mereka masih mempertanyakan: "Jika kau mengatakan sesuatu, apakah itu berarti benar? Atas dasar apa? Bagiku, apa yang dikatakan dan dilakukan Paulus kelihatan benar. Tidak ada yang salah di dalamnya. Aku mengejar mahkota dan upah—itulah yang mampu kulakukan! Bisakah kau menghentikanku? Aku akan terus melakukan pekerjaan; begitu aku sudah melakukan banyak pekerjaan, aku akan punya modal—aku akan sudah memberikan kontribusi, dan dengan demikian, aku akan dapat masuk ke dalam kerajaan surga dan mendapatkan upah. Tidak ada yang salah dengan itu!" Mereka begitu keras kepala. Mereka tidak menerima kebenaran sedikit pun. Engkau dapat mempersekutukan kebenaran kepada mereka, tetapi mereka tidak akan mendengarkannya; mereka muak akan kebenaran. Itulah sikap antikristus terhadap firman Tuhan, kebenaran, dan itu juga sikap mereka terhadap Tuhan. Jadi, perasaan apakah yang engkau semua rasakan ketika engkau telah mendengarkan kebenaran? Engkau merasa bahwa engkau tidak mengejar kebenaran, dan bahwa engkau tidak memahaminya. Engkau merasa masih jauh darinya, dan bahwa engkau perlu berjuang menuju kenyataan kebenaran. Dan bilamana engkau membandingkan dirimu dengan firman Tuhan, saat itulah engkau merasa bahwa dirimu sangat kurang, berkualitas buruk, dan tidak punya pemahaman rohani—bahwa engkau masih bersikap asal-asalan, dan bahwa masih ada kejahatan di dalam dirimu. Dan lalu, engkau menjadi negatif. Bukankah itu keadaanmu? Sebaliknya, antikristus tidak pernah menjadi negatif. Mereka selalu begitu antusias, tidak pernah merenungkan diri atau mengenal dirinya sendiri, tetapi berpikir bahwa mereka tidak punya masalah besar. Begitulah orang yang selalu congkak dan merasa diri benar—begitu mereka memegang kekuasaan, mereka berubah menjadi antikristus.
II. Analisis tentang Bagaimana Antikristus Selalu Memiliki Keinginan dan Ambisi untuk Mengendalikan dan Menaklukkan Orang
Kita akan lanjut dengan mempersekutukan hal berikutnya: Antikristus selalu memiliki keinginan dan ambisi untuk mengendalikan dan menaklukkan orang. Masalah ini lebih serius daripada ketidakmampuan dalam bekerja sama dengan siapa pun. Menurut engkau semua, orang seperti apakah yang suka mengendalikan dan menaklukkan orang lain? Orang seperti apakah yang mempunyai hasrat dan ambisi untuk mengendalikan dan menaklukkan orang lain? Aku akan memberimu sebuah contoh. Apakah orang-orang yang secara khusus menyukai status suka mengendalikan dan menaklukkan orang lain? Bukankah mereka adalah tipe antikristus? Mereka menyesatkan, mengendalikan, dan menundukkan orang lain, kemudian orang memuja dan mengindahkan mereka. Dengan demikian, mereka mendapatkan penghargaan dan rasa hormat dari orang-orang, dan membuat orang memuja dan mengagumi mereka. Bukankah kemudian ada tempat bagi mereka dalam hati orang-orang? Jika orang tidak yakin dan tidak mendukung mereka, apakah orang akan memuja mereka? Tentu saja tidak. Jadi, sesudah mereka memiliki status, mereka masih perlu meyakinkan orang-orang, sepenuhnya memenangkan hati orang-orang, dan membuat orang-orang mengagumi mereka. Hanya dengan demikian orang akan memuja mereka. Itu salah satu tipenya. Ada lagi tipe yang lain—orang yang sangat congkak. Mereka memperlakukan orang lain dengan cara yang sama: Mereka mulai dengan menundukkan orang, membuat semua orang memuja dan mengagumi mereka. Baru sesudah itulah mereka puas. Orang yang sangat keji juga suka mengendalikan orang lain, membuat orang lain mengindahkan mereka dan mengerumuni mereka, serta melakukan segala sesuatu untuk mereka. Baik orang yang sangat congkak maupun orang yang berwatak keji, sesudah mereka mengambil kekuasaan, mereka menjadi antikristus. Para antikristus selalu memiliki ambisi dan hasrat untuk mengendalikan dan menaklukkan orang lain; ketika bertemu orang lain, mereka selalu ingin memastikan bagaimana orang memandang mereka, dan apakah ada tempat bagi mereka di hati orang, dan apakah orang mengagumi dan memuja mereka. Jika mereka bertemu dengan orang yang pandai menjilat dan menyanjung-nyanjung orang lain, mereka sangat senang; mereka kemudian mulai merasa diri penting, menceramahi orang dan mengoceh tentang gagasan yang muluk-muluk, menanamkan aturan, metode, doktrin, dan gagasan kepada orang-orang. Mereka membuat orang-orang menerima hal-hal ini sebagai kebenaran, dan bahkan bermuka manis di depan mereka: "Jika engkau bisa menerima hal-hal ini, engkau adalah orang yang mencintai dan mengejar kebenaran." Orang-orang yang tidak bisa mengenali para antikristus akan berpikir bahwa apa yang dikatakan itu masuk akal, dan meski hal itu tidak jelas bagi mereka, dan mereka tidak tahu apakah itu sesuai dengan kebenaran, mereka hanya merasa bahwa tidak ada yang salah dengan apa yang dikatakan, dan bahwa itu tidak melanggar kebenaran. Jadi, mereka menaati para antikristus. Jika orang mampu mengenali antikristus dan mungkin menyingkapkannya, itu akan membuat murka antikristus, yang tanpa basa-basi akan melemparkan kesalahan kepada mereka, mengutuk mereka, dan mengancam mereka, sambil unjuk kekuatan. Mereka yang tidak bisa mengenali para antikristus akan sepenuhnya ditundukkan oleh antikristus dan mengaguminya dari lubuk hati mereka, yang membuat mereka memuja antikristus, bergantung padanya, dan bahkan takut padanya. Mereka merasa diperbudak oleh antikristus, hati mereka seolah-olah merasa gelisah jika kehilangan kepemimpinan, ajaran, dan celaan antikristus. Tanpa hal-hal ini, mereka seolah-olah tidak memiliki rasa aman, dan Tuhan mungkin tidak menginginkan mereka lagi. Kemudian, semua orang belajar mengamati ekspresi antikristus saat mereka bertindak, karena takut antikristus tidak akan senang. Mereka semua berusaha menyenangkan antikristus; orang-orang seperti itu sungguh-sungguh bertekad untuk mengikuti antikristus. Dalam pekerjaannya, antikristus mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin. Antikristus pandai mengajar orang-orang untuk mematuhi aturan-aturan tertentu; tidak pernah memberitahukan apa prinsip kebenaran yang harus dipatuhi, mengapa orang-orang harus bertindak demikian, apa maksud Tuhan, pengaturan apakah yang sudah dibuat oleh rumah Tuhan untuk pekerjaan, pekerjaan apakah yang paling esensial dan penting, atau apa pekerjaan utama yang harus dilakukan. Antikristus tidak mengatakan apa pun mengenai hal-hal yang paling penting ini. Mereka tidak pernah mempersekutukan kebenaran ketika melakukan dan mengatur pekerjaan. Mereka sendiri tidak memahami prinsip kebenaran, jadi yang bisa mereka lakukan hanyalah mengajari orang untuk mematuhi beberapa aturan dan doktrin—dan jika orang melanggar kata-kata dan aturan mereka, orang itu akan menghadapi teguran dan celaan antikristus. Antikristus sering melakukan pekerjaan dengan mengatasnamakan rumah Tuhan, mencela orang dan menceramahi orang dari posisi yang tinggi. Ada orang-orang yang bahkan menjadi begitu bingung dengan ceramah mereka hingga orang-orang itu merasa berhutang kepada Tuhan karena tidak bertindak sesuai dengan tuntutan antikristus. Bukankah orang-orang seperti itu berada di bawah kendali antikristus? (Ya.) Di pihak antikristus, perilaku macam apakah ini? Perilaku memperbudak. "Memperbudak" disebut sebagai "mencuci otak" dalam istilah bangsa si naga merah yang sangat besar. Ini seperti ketika si naga merah yang sangat besar menangkap orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Selain menyiksa orang-orang itu, ia juga menggunakan teknik lainnya: mencuci otak. Entah orang-orang itu petani, atau pekerja, atau kaum intelektual, si naga merah yang sangat besar menggunakan banyak ajaran sesat dan keliru—ateisme, evolusi, dan Marxisme-Leninisme—untuk mencuci otak orang-orang; ia menanamkan hal-hal ini pada orang-orang dengan paksa, tidak soal betapa menjijikkan atau memuakkannya ini bagi orang-orang, kemudian ia menggunakan gagasan-gagasan dan teori-teori ini untuk membelenggu anggota tubuh orang-orang dan mengendalikan hatinya. Demikianlah cara si naga merah yang sangat besar menghalangi orang agar tidak percaya kepada Tuhan, tidak menerima kebenaran, dan tidak mengejar kebenaran agar diselamatkan dan disempurnakan. Begitu pula, tidak soal betapa banyaknya khotbah yang didengar oleh orang-orang yang dikendalikan oleh antikristus, mereka tidak dapat memahami kebenaran, atau apa tujuan sebenarnya percaya kepada Tuhan, atau jalan seperti apa yang harus mereka tempuh, atau pandangan benar seperti apa yang harus mereka miliki dalam melakukan setiap hal, atau pendirian apa yang harus mereka ambil. Mereka tidak memahami satu pun dari hal-hal ini; yang ada dalam hati mereka hanyalah kata-kata dan doktrin, serta teori-teori kosong dari antikristus. Dan sesudah disesatkan dan dikendalikan oleh antikristus dalam waktu yang lama, mereka bertumbuh hingga benar-benar menjadi seperti antikristus: Mereka menjadi orang-orang yang percaya kepada Tuhan, tetapi tidak menerima kebenaran sama sekali, dan bahkan menentang serta melawan Tuhan. Orang macam apakah yang disesatkan dan dikendalikan oleh antikristus? Tak diragukan lagi, tak seorang pun di antara mereka yang adalah pencinta kebenaran—mereka semua adalah orang-orang munafik, orang-orang yang tidak mengejar kebenaran dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan dan tidak menangani urusan-urusan yang seharusnya dalam pelaksanaan tugas mereka. Dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan, orang-orang ini tidak mengikuti Tuhan; sebaliknya mereka mengikuti antikristus, mereka menjadi budak antikristus, dan akibatnya mereka tidak dapat memperoleh kebenaran. Hasil ini tak dapat dihindari.
Apakah prinsip yang digunakan Tuhan dalam memperlakukan manusia? Apakah paksaan? Apakah pengendalian? Tidak—justru kebalikan dari pengendalian. Apa prinsip Tuhan dalam cara Dia memperlakukan manusia? (Dia memberi mereka kehendak bebas.) Ya, Dia memberimu kehendak bebas. Dia memungkinkanmu untuk mencapai pemahamanmu sendiri di tengah lingkungan yang Dia tetapkan, supaya engkau secara alami mendapatkan pemahaman dan pengalaman manusia. Dia memampukanmu memahami aspek kebenaran secara alami, sehingga ketika engkau menjumpai lingkungan semacam itu lagi, engkau tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dipilih. Dia juga memampukanmu untuk memahami apa yang benar dan apa yang salah dari lubuk hatimu, sehingga pada akhirnya engkau memilih jalan yang benar. Tuhan tidak mengendalikanmu, dan Dia tidak memaksamu. Namun, antikristus justru bertindak sebaliknya. Mereka akan mencuci otak dan mengindoktrinasimu dengan menyesatkanmu, lalu menjadikanmu budak mereka. Mengapa Aku menggunakan kata "budak"? Apa itu budak? Artinya engkau tidak akan membedakan apakah antikristus itu benar atau salah, dan engkau tidak akan berani melakukannya—engkau tidak akan tahu apakah mereka benar atau salah; hatimu akan bingung dan bimbang. Engkau tidak akan mengetahui dengan jelas tentang apa yang benar dan apa yang tidak; engkau tidak akan mengetahui apa yang seharusnya dan tidak boleh engkau lakukan. Engkau hanya akan seperti boneka yang menunggu perintah antikristus, tidak berani mengambil tindakan jika antikristus tidak memberikan perintah, dan hanya berani bertindak sesudah engkau mendengar perintah mereka. Engkau akan kehilangan kemampuan bawaanmu sendiri, dan kehendak bebasmu tidak akan berperan. Saat itu, engkau akan menjadi orang mati. Engkau akan punya hati, tetapi engkau tidak akan mampu berpikir; engkau akan punya akal budi, tetapi engkau tidak akan mampu memikirkan masalah—engkau tidak akan mampu membedakan yang benar dan yang salah, atau hal-hal apa yang positif dan hal-hal apa yang negatif, atau bagaimana cara bertindak yang benar dan bagaimana cara bertindak yang salah. Tanpa disadari, antikristus akan sudah mengendalikanmu. Apa yang akan mereka kendalikan? Apakah hatimu, atau apakah pikiranmu? Mereka akan mengendalikan hatimu; lalu secara alami pikiranmu akan jatuh ke bawah kendali mereka. Mereka akan mengikat tangan dan kakimu erat-erat, mengikatnya dengan erat dan kuat, sehingga dalam setiap langkah yang engkau ambil, engkau jatuh terperosok dalam keraguan dan kebimbangan, dan sesudahnya engkau menciut mundur, lalu engkau ingin melangkah lagi, mengambil tindakan, tetapi engkau menciut kembali. Dalam segala hal yang engkau lakukan, penglihatanmu akan kabur dan tidak jelas. Hal ini tak terlepas dari pernyataan-pernyataan antikristus yang menyesatkan. Apa teknik utama antikristus dalam mengendalikan orang? Yang mereka katakan hanyalah hal-hal yang sesuai dengan gagasan dan imajinasi manusia, dengan perasaan manusia, dan dengan penalaran manusia. Mereka tampaknya memiliki sedikit kemanusiaan saat berbicara, tetapi mereka tidak memiliki kenyataan kebenaran apa pun. Katakan pada-Ku, bisakah orang yang dikendalikan dan mengikuti antikristus melakukan tugas di rumah Tuhan dengan segenap hati dan segenap kekuatannya? (Tidak.) Apa alasan di baliknya? Mereka tidak memahami kebenaran—itulah alasan utamanya. Dan ada alasan lain: Antikristus terlibat dalam permainan kekuasaan; mereka tidak menerapkan kebenaran dalam melaksanakan tugasnya, juga mereka tidak melaksanakan tugasnya dengan segenap hati dan kekuatan. Jadi, bisakah pesuruh seperti mereka menerapkan kebenaran? Seperti apa antikristus itu, pesuruh yang membuntuti mereka pun akan seperti itu. Antikristus memimpin dalam tidak menerapkan kebenaran, dalam melanggar prinsip, dalam mengkhianati kepentingan rumah Tuhan, dalam bersikap tidak masuk akal dan bertindak seperti diktator. Apakah ini tidak akan mempengaruhi pesuruhnya? Sama sekali tidak mungkin. Lalu, apa jadinya orang-orang yang mereka kekang dan kendalikan? Mereka akan saling mewaspadai, mereka akan saling curiga dan saling berkelahi—bersaing demi ketenaran dan keuntungan, demi kesempatan untuk menonjolkan diri, dan demi modal. Jauh di lubuk hatinya, semua orang yang dikendalikan oleh antikristus tidak harmonis dan tidak lagi sepikiran. Mereka berhati-hati dan waswas dalam bertindak; mereka tidak saling terbuka, dan mereka tidak memiliki hubungan manusia yang normal satu sama lain. Tidak ada persekutuan yang normal di antara mereka, tidak ada kegiatan mendoa-bacakan, tidak ada kehidupan rohani yang normal. Mereka terbagi-bagi, sama seperti kelompok orang yang tidak percaya, kelompok iblis di dunia ini. Begitulah halnya ketika antikristus berkuasa. Ada sikap waswas di antara orang-orang, pergumulan yang terbuka dan yang tersembunyi, sabotase, kedengkian, penghakiman, dan pembandingan akan siapa yang mengambil lebih sedikit tanggung jawab, "Jika engkau tidak mau mengambil tanggung jawab, aku juga tidak mau. Atas dasar apa engkau ingin aku mempertimbangkan kepentingan rumah Tuhan, sedangkan engkau sendiri tidak mempertimbangkannya? Kalau begitu, aku tidak mau mempertimbangkannya!" Apakah tempat seperti itu adalah rumah Tuhan? Bukan. Tempat macam apakah itu? Kamp Iblis. Kebenaran tidak berkuasa di sana; tidak ada pekerjaan Roh Kudus, atau berkat Tuhan, atau kepemimpinan-Nya. Jadi, setiap orang yang di sana adalah seperti setan-setan kecil. Dari luar, kata-kata pujian yang mereka ucapkan tentang orang lain terdengar manis, "Oh, mereka benar-benar mengasihi tuhan; mereka benar-benar memberikan persembahan; mereka benar-benar menderita dalam melakukan tugasnya!" Namun mintalah mereka untuk menilai seseorang, dan apa yang akan mereka katakan kepadamu di belakang orang itu akan berbeda dari apa yang mereka katakan di hadapan orang itu. Jika saudara-saudari jatuh ke dalam tangan pemimpin palsu, dalam pelaksanaan tugasnya, mereka akan terpecah-pecah seperti setumpuk pasir yang tumpah—mereka tidak akan mendapatkan hasil, dan mereka tidak akan mendapatkan pekerjaan Roh Kudus, dan sebagian besar dari mereka tidak akan mengejar kebenaran. Lalu, bagaimana jika mereka jatuh di bawah kendali antikristus? Orang-orang itu tidak lagi bisa disebut gereja. Mereka sepenuhnya adalah anggota kamp Iblis, dan geng antikristus.
Mengapa antikristus selalu ingin mengendalikan orang-orang? Itu karena mereka tidak menjaga kepentingan rumah Tuhan, juga mereka tidak peduli dengan jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan. Satu-satunya pikiran mereka adalah kekuasaan, status, dan prestise mereka sendiri. Mereka percaya bahwa selama mereka mempunyai kendali atas hati orang-orang dan membuat semua orang memuja mereka, maka ambisi dan hasrat mereka akan terpenuhi. Untuk masalah-masalah yang menyangkut kepentingan rumah Tuhan, atau pekerjaan gereja, atau jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan, mereka sama sekali tidak peduli akan segala hal itu. Bahkan ketika masalah muncul, mereka tidak dapat melihatnya. Mereka tidak dapat melihat masalah seperti di mana pengaturan staf yang tidak sesuai di rumah Tuhan; atau di mana hal-hal milik rumah Tuhan yang dibagi-bagikan secara tidak wajar, termasuk banyaknya hal-hal yang hilang, juga siapa yang sudah menghambur-hamburkannya; atau siapa yang menyebabkan kekacauan dan gangguan dalam pekerjaan; atau siapa yang memanfaatkan orang secara tidak pantas; atau siapa yang bersikap asal-asalan dalam pekerjaan—menyadarinya saja tidak, apalagi menangani masalah-masalah seperti itu. Apa yang mereka tangani? Dalam hal-hal apakah mereka campur tangan? (Hal-hal sepele.) Hal-hal apa sajakah yang adalah hal-hal sepele? Berikan sejumlah perinciannya. (Ada pemimpin yang berangkat untuk menyelesaikan masalah rumah tangga saudara-saudari tertentu—misalnya, seseorang dalam keluarga yang tidak akur dengan orang lainnya. Ini hanyalah masalah kehidupan sehari-hari.) Itulah yang dilakukan oleh pemimpin palsu. Dan apakah yang dilakukan oleh antikristus? (Mereka tidak memedulikan jalan masuk kehidupan saudara-saudari, atau hal-hal yang bertentangan dengan prinsip kebenaran; mereka hanya memedulikan hal-hal yang berkaitan langsung dengan reputasi dan status mereka—misalnya, orang yang tidak melakukan apa yang mereka katakan, atau orang yang tidak menyukai mereka. Mereka menangani hal-hal seperti itu.) Itu sebagian darinya. Hal-hal seperti itu memang terjadi. Antikristus memeriksa siapa yang kehadirannya tidak mereka sukai, siapa yang tidak menghormati mereka, dan siapa yang dapat mengenali diri mereka yang sebenarnya. Mereka melihat hal-hal ini dan mencatatnya dalam hati; hal-hal seperti itu sangat penting bagi mereka. Apa lagi? (Jika orang yang terpilih di suatu gereja bisa menilai mereka dan tidak sepikiran dengan mereka, mereka akan mencari cara untuk mencari-cari kesalahan orang itu, dan menggantikan orang itu. Mereka suka melakukan hal-hal seperti itu.) Apa pun kesalahan atau masalah yang ada pada orang yang melakukan hal-hal buruk, atau bagaimana pun orang menyebabkan kekacauan dan gangguan, antikristus tidak memedulikannya—mereka secara khusus mencari-cari kesalahan orang yang melaksanakan tugasnya dan orang yang mengejar kebenaran, mencari pembenaran dan alasan agar orang itu digantikan. Ada satu lagi cara utama dalam perwujudan antikristus yang mengendalikan orang lain: Selain mengendalikan saudara-saudari biasa, mereka juga mencoba mengendalikan orang-orang yang bertanggung jawab di setiap aspek pekerjaan. Mereka selalu ingin memegang semua kekuasaan dalam genggaman mereka sendiri. Jadi, mereka menanyakan semuanya; mereka mengawasi dan mengamati segalanya untuk melihat bagaimana orang melakukan sesuatu. Mereka sama sekali tidak mempersekutukan prinsip kebenaran, atau memberikan kebebasan bertindak kepada orang-orang. Mereka ingin membuat semua orang melakukan apa yang mereka katakan dan tunduk kepada mereka. Mereka selalu takut kalau-kalau kekuasaannya akan terbagi dan diambil orang lain. Ketika membahas suatu masalah, seberapa banyaknya pun orang yang mempersekutukannya atau apa pun hasil dari persekutuan itu, mereka akan menolak semuanya saat hasil itu sampai kepada mereka, dan diskusi harus dimulai dari awal kembali. Dan apakah hasil akhirnya? Segala sesuatunya belum berakhir sampai semua orang mengindahkan mereka, dan jika itu belum terjadi, orang-orang akan harus terus bersekutu. Persekutuan seperti ini terkadang berlangsung hingga tengah malam, tanpa seorang pun diperbolehkan tidur; persekutuan tidak akan berakhir sampai orang-orang lain mengindahkan apa yang mereka katakan. Ini adalah sesuatu yang dilakukan antikristus. Adakah orang yang percaya bahwa dengan melakukan ini, antikristus mengambil tanggung jawab atas pekerjaan? Apa bedanya antara bertanggung jawab atas pekerjaan dan kelaliman antikristus? (Niatnya berbeda.) Ketika orang bersungguh-sungguh dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan, mereka melakukan ini untuk mempersekutukan prinsip kebenaran dengan jelas, supaya setiap orang dapat memahami kebenaran. Sebaliknya, antikristus bertindak seperti raja yang lalim untuk mempertahankan kekuasaan, untuk mendapatkan keunggulan, untuk menyangkal semua pandangan yang berbeda dari pendapat mereka dan dapat menyebabkan mereka kehilangan muka. Bukankah ada perbedaan di antara kedua niat ini? (Ada.) Apa bedanya? Dapatkah engkau semua memahaminya? Membuat orang memahami prinsip kebenaran melalui persekutuan, dan bersaing untuk mendapatkan penghargaan—apa perbedaan di antara keduanya? (Niat.) Bukan hanya niat—tentu saja niatnya berbeda. (Salah satu dari cara ini akan lebih bermanfaat bagi rumah Tuhan.) Salah satu cara ini dapat lebih bermanfaat bagi rumah Tuhan adalah perbedaan lainnya—dengan mempertimbangkan kepentingan rumah Tuhan. Namun, apa perbedaan utamanya? Ketika orang benar-benar mempersekutukan kebenaran, saat engkau mendengarnya, terbukti bahwa itu bukanlah pembenaran atau pembelaan pribadi. Semua yang mereka persekutukan dimaksudkan untuk membuat semua orang memahami maksud Tuhan, itu semua adalah kesaksian untuk maksud Tuhan. Persekutuan seperti ini membuat prinsip kebenaran jelas, dan sesudah mendengarnya, orang mempunyai jalan di depannya—mereka tahu apa prinsip-prinsipnya, mereka tahu apa yang harus mereka lakukan di masa mendatang, mereka kemungkinan besar tidak akan melanggar prinsip dalam melakukan tugas mereka, dan tujuan penerapan mereka akan lebih akurat. Persekutuan seperti itu tidak dicemari sedikit pun oleh pembenaran atau pembelaan pribadi. Namun bagaimana orang-orang yang ingin membalikkan segala sesuatu demi keuntungan mereka dan membuat orang lain berada di bawah kendali mereka berkhotbah? Apakah yang mereka khotbahkan? Mereka berkhotbah tentang pembenaran diri mereka, dan pikiran, niat, serta tujuan di balik apa pun yang mereka lakukan, sehingga orang akan menerimanya, memercayainya, dan tidak salah paham terhadap mereka. Itu semua hanyalah pembenaran diri; tidak ada kebenaran sama sekali di dalamnya. Jika engkau mendengarkan dengan saksama, engkau akan mendengar bahwa tidak ada kebenaran dalam apa yang mereka persekutukan—itu semua hanyalah perkataan, dalih, dan pembenaran manusia. Itu saja. Dan sesudah mereka berbicara, apakah semua orang akan memahami prinsip? Tidak—tetapi mereka sudah cukup memahami maksud si pembicara. Inilah metode antikristus. Begitulah cara mereka mengendalikan orang. Begitu mereka merasa bahwa status dan prestise mereka sudah dirugikan dan terkena dampak dalam kelompok, sebisa mungkin mereka segera mengadakan pertemuan untuk mencoba menyelamatkannya. Dan bagaimana mereka menyelamatkan hal-hal itu? Dengan memberikan dalih, dengan memberikan pembenaran, dengan mengatakan apa yang mereka pikirkan saat itu. Apa tujuan mereka mengatakannya? Untuk menjernihkan semua kesalahpahaman yang dimiliki orang tentang mereka. Ini tepat seperti naga merah yang sangat besar: Sesudah ia menyiksa dan menghukum orang, ia akan membenarkan orang tersebut dan membersihkannya dari tuduhan apa pun yang didakwakan kepadanya. Apa tujuan mereka melakukan ini? (Untuk menutupinya dengan sengaja.) Ia membenarkanmu dan mengompensasimu sesudah ia selesai melakukan sesuatu yang buruk kepadamu, supaya engkau berpikir bahwa naga merah yang sangat besar sebenarnya baik dan dapat dipercaya. Dengan cara ini, kekuasaannya tidak terancam. Begitu pula antikristus: Tidak ada satu pun yang mereka katakan atau lakukan yang bukan demi kepentingan mereka sendiri; mereka tidak akan mengatakan apa pun demi kebenaran, apalagi mengatakan atau melakukan suatu pun demi kepentingan rumah Tuhan. Semua yang mereka katakan dan lakukan hanyalah demi reputasi dan status mereka sendiri. Ada orang-orang yang mungkin berkata, "Tidak adil Engkau mendefinisikan mereka sebagai antikristus, karena mereka bekerja keras, dan mereka melakukan tugasnya dengan sangat rajin, bekerja pontang-panting demi rumah Tuhan dari fajar hingga petang. Terkadang mereka bahkan terlalu sibuk untuk makan. Mereka sudah sangat banyak menderita!" Dan untuk siapakah mereka menderita? (Diri mereka sendiri.) Untuk diri mereka sendiri. Jika mereka tidak punya status, akankah mereka melakukan hal yang sama? Mereka pontang-panting seperti itu demi reputasi dan status mereka sendiri—mereka melakukannya demi upah. Jika mereka tidak mendapatkan upah, atau jika mereka tidak mendapatkan ketenaran, keuntungan, atau status, mereka pasti sudah mundur sejak lama. Mereka melakukan hal-hal ini di depan orang lain, dan sementara mereka melakukannya, mereka ingin membuat Tuhan tahu tentang mereka, dan membuat Dia memberi mereka upah yang sepantasnya, mengingat semua yang sudah mereka lakukan. Apa yang pada akhirnya mereka inginkan adalah upah; mereka tidak ingin mendapatkan kebenaran. Engkau harus memahami poin ini. Ketika mereka merasa sudah mempunyai modal yang cukup, ketika mereka mempunyai kesempatan untuk berbicara di antara orang-orang lain, apa isi perkataan mereka? Pertama, memamerkan kontribusi mereka—suatu serangan psikologis. Apa itu serangan psikologis? Membuat semua orang tahu, dalam lubuk hati mereka, bahwa mereka sudah melakukan banyak hal baik demi rumah Tuhan, berkontribusi, mengambil risiko, melakukan pekerjaan berbahaya, pontang-panting, dan mengalami penderitaan yang tidak sedikit—ini menunjukkan kredensial bagi mereka dan berbicara tentang modal mereka di depan orang-orang lain. Kedua, mereka berbicara dengan cara yang berlebihan dan tidak masuk akal tentang teori yang tidak realistis, yang orang-orang merasa memahaminya, meskipun sebenarnya tidak. Teori-teori ini terdengar sangat mendalam, misterius, dan abstrak, dan membuat orang-orang memuja antikristus. Kemudian, mereka berbicara dengan cara yang muluk-muluk dan membingungkan tentang hal-hal yang mereka yakini tidak pernah dipahami oleh seorang pun—misalnya tentang teknologi dan luar angkasa, keuangan dan akuntansi, serta masalah-masalah masyarakat dan politik—dan bahkan masalah-masalah dunia kriminal dan penipuan. Mereka mengisahkan sejarah pribadi mereka. Jadi, apakah ini? Mereka memamerkan diri. Dan tujuan mereka pamer adalah melancarkan serangan psikologis. Apakah menurutmu mereka bodoh? Jika hal-hal yang mereka katakan tidak berdampak pada orang-orang, apakah mereka akan tetap mengatakannya? Tidak akan. Mereka mempunyai tujuan dalam mengatakannya: Ini tentang menunjukkan kredensial mereka, pamer, dan menyombongkan diri.
Selain itu, cara apakah yang sering digunakan antikristus? Ke mana pun mereka pergi, mereka menggunakan cara kepala rumah tangga—ke mana pun mereka pergi, mereka mengatakan, "Apa yang sedang engkau kerjakan? Bagaimana kabarnya? Apakah ada kesulitan? Cepatlah dan tangani hal-hal yang ditugaskan kepadamu! Jangan bersikap asal-asalan. Semua pekerjaan rumah tuhan itu penting dan tidak bisa ditunda!" Mereka ibarat kepala rumah tangga yang selalu mengawasi pekerjaan orang-orang di rumahnya. Apa maksudnya bahwa mereka adalah kepala rumah tangga? Artinya siapa pun yang berada di rumah mereka bisa saja melakukan kesalahan, atau mengambil jalan yang salah, jadi mereka perlu mengawasi orang-orang itu; jika tidak, tidak seorang pun yang akan melaksanakan tugasnya—orang-orang itu semuanya akan tersandung. Antikristus percaya bahwa semua orang lain adalah idiot dan anak kecil, jika mereka tidak terus mengawasi orang-orang itu, jika orang-orang itu dibiarkan lolos sekejap saja dari pengamatan mereka, akan ada orang-orang yang melakukan kesalahan dan mengambil jalan yang salah. Pandangan macam apakah ini? Bukankah mereka menggunakan cara kepala rumah tangga? (Ya.) Lalu apakah mereka melakukan pekerjaan yang nyata? Tidak pernah; mereka mengatur agar orang lain yang melakukan semua pekerjaan, mereka hanya peduli dengan birokrasi dan menjadi tuan, dan ketika orang lain sudah melakukan pekerjaan, seolah-olah mereka sendiri yang sudah melakukannya—mereka yang menerima semua pujian. Mereka benar-benar menikmati keuntungan dari status mereka; mereka tidak pernah melakukan apa pun yang bermanfaat bagi pekerjaan rumah Tuhan, dan bahkan jika mereka mendapati seseorang yang bersikap asal-asalan atau lalai dalam pelaksanaan tugasnya, seseorang yang mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja, mereka hanya menyampaikan beberapa patah kata nasihat dan menghiburnya, tetapi mereka tidak pernah menyingkapkan atau membatasinya—mereka tidak pernah menyinggung siapa pun. Jika tak seorang pun mau mendengarkan mereka, mereka akan berkata, "Hatiku hancur berkeping-keping karena mengkhawatirkanmu semua; aku sudah berbicara sampai mulutku kering—aku sudah berlelah-lelah sampai-sampai tubuhku nyaris patah menjadi dua! Engkau membuatku mengkhawatirkan begitu banyak hal!" Bukankah mereka tidak tahu malu dengan berkata demikian? Apakah engkau tidak merasa jijik mendengarnya? Ini adalah salah satu cara antikristus mewujudkan hasratnya yang terus-menerus untuk mengendalikan manusia. Bagaimana antikristus yang seperti itu bersekutu dengan orang lain? Mereka mengatakan kepada-Ku, misalnya, "Orang-orang di bawahku tidak melakukan apa yang diperintahkan. Mereka tidak menganggap serius pekerjaan gereja. Mereka bersikap asal-asalan, dan mereka menghamburkan uang rumah tuhan tanpa pikir panjang. Mereka itu benar-benar binatang buas, orang-orang itu—mereka lebih rendah daripada anjing!" Bagaimana nada bicara mereka di sini? Mereka menjadikan diri mereka pengecualian; yang mereka maksudkan, "Aku memikirkan kepentingan rumah Tuhan—mereka tidak." Antikristus menganggap dirinya sebagai siapa? Seorang "duta merek". Apa itu duta merek? Lihatlah duta merek dari beberapa negara—orang-orang seperti apakah mereka? Mereka dipilih karena kecantikannya; mereka sangat cantik, mereka berbicara dengan fasih, dan mereka semua sudah mengikuti pelatihan. Di balik layar, mereka semua punya koneksi dan berurusan dengan pria yang tinggi, kaya, dan tampan, dengan para pejabat tinggi, dengan para pengusaha kaya—itulah sebabnya mereka menjadi duta merek. Apa yang mereka andalkan untuk menjadi duta merek? Apakah semata-mata karena keelokan, tubuh yang indah, dan kefasihan mereka dalam berbicara? Mereka terutama mengandalkan koneksi di belakang layar. Bukankah begitu cara kerjanya? (Ya.) Ya, begitulah cara kerjanya. Antikristus, yang selalu mempunyai sikap sebagai pemimpin atau kepala rumah tangga, selalu ingin menggunakan cara ini, sikap ini, untuk menyesatkan dan mengendalikan orang. Bukankah itu sedikit serupa dengan gaya seorang duta merek? Mereka berdiri di sana, dengan tangan terlipat di belakang punggung, dan ketika saudara atau saudari mengangguk dan membungkuk kepada mereka, mereka berkata, "Bagus—lakukan pekerjaan dengan baik!" Siapakah mereka, bisa berkata seperti itu? Posisi apakah yang sudah mereka tetapkan bagi diri mereka sendiri? Aku tidak berkata seperti itu, ke mana pun Aku pergi, pernahkah engkau semua mendengar Aku berkata seperti itu? (Tidak.) Kadang-kadang, Aku akan berkata, "Kesempatan yang engkau miliki untuk melakukan tugasmu dengan pikiran tenang bukanlah hal yang mudah didapat! Engkau harus memanfaatkan kesempatan ini, dan laksanakan tugas dengan baik—jangan sampai engkau diusir karena melakukan kejahatan dan menyebabkan gangguan." Namun, dari mana asal perkataan-Ku ini? Ketulusan hati. Namun apakah antikristus berpikir seperti itu? Itu bukan cara mereka berpikir, dan bukan cara mereka bertindak. Mereka menyuruh orang lain untuk melakukan pekerjaan dengan baik—apakah mereka sendiri melakukannya? Tidak. Mereka akan menyuruh orang lain melakukan pekerjaan dengan baik, banting tulang untuk mereka, bekerja keras untuk mereka, dan pada akhirnya, merekalah yang mendapatkan semua pujian. Apakah engkau bekerja banting tulang untuk-Ku sekarang ini, dengan melaksanakan tugasmu? (Tidak.) Engkau juga tidak bekerja keras untuk-Ku; engkau melaksanakan tugas dan kewajibanmu sendiri, dan kemudian rumah Tuhan menyediakan kebutuhanmu. Apakah berlebihan mengatakan bahwa Aku menyediakan kebutuhanmu? (Tidak.) Itu bukan pernyataan yang salah, dan kenyataannya, memang demikian adanya. Namun, jika engkau ingin Aku mengatakan itu, Aku tidak akan melakukannya—itu tidak akan pernah keluar dari mulut-Ku. Aku hanya akan mengatakan bahwa rumah Tuhan menyediakan kebutuhanmu: Engkau melakukan tugasmu sendiri di rumah Tuhan, dan Tuhan menyediakan kebutuhanmu. Jadi, untuk siapa engkau melakukan tugasmu? (Diri kami sendiri.) Engkau melaksanakan tugas dan kewajibanmu sendiri; inilah tanggung jawab yang harus engkau penuhi sebagai makhluk ciptaan. Engkau melakukan ini di hadirat Tuhan. Engkau sama sekali tidak boleh mengatakan bahwa engkau bekerja untuk-Ku—Aku tidak membutuhkan itu. Aku tidak membutuhkan siapa pun bekerja untuk-Ku; Aku bukan bos, Aku juga bukan direktur perusahaan. Aku tidak menghasilkan uang darimu, dan engkau tidak memakan makanan-Ku. Kita hanya saling bekerja sama dengan satu sama lain. Aku mempersekutukan kebenaran yang harus Aku persekutukan kepadamu agar engkau bisa memahaminya, berangkat di jalan yang benar, dan dengan itu, hati-Ku menjadi tenang—tanggung jawab dan kewajiban-Ku sudah dilaksanakan hingga tuntas. Ini adalah kerja sama yang saling menguntungkan, di mana setiap orang memainkan perannya masing-masing. Ini jauh dari perkara siapa mengeksploitasi siapa, siapa memanfaatkan siapa, siapa memberi makan siapa. Jangan bersikap seperti itu—tidak ada gunanya, dan itu menjijikkan. Sungguh, lakukan pekerjaan dengan baik hingga terlihat jelas oleh semua orang, dan pada akhirnya, engkau akan berada pada posisi yang tepat untuk menyelesaikan pertanggungjawabanmu di hadirat Tuhan. Apakah antikristus punya nalar seperti itu? Tidak. Jika mereka mengambil sedikit tanggung jawab, memberikan sedikit kontribusi, dan sudah melakukan beberapa pekerjaan, mereka akan memamerkannya, dengan cara yang jelas-jelas menjijikkan—bahkan berharap menjadi duta merek. Jika engkau tidak mencoba menjadi duta merek, dan engkau mulai melakukan pekerjaan nyata, semua orang akan menghormatimu. Jika engkau meniru sikap seorang duta merek, tetapi engkau tidak mampu melakukan pekerjaan nyata apa pun, dan membuatnya sebegitu rupa sehingga Yang di Atas harus memedulikannya dan secara pribadi memberikan arahan untuk semua pekerjaan, dan menindaklanjutinya dengan mengawasimu dan memberimu bimbingan, dengan Yang di Atas melakukan setiap aspek pekerjaan, dan jika engkau masih menganggap dirimu mampu, bahwa engkau sudah menjadi lebih terampil, bahwa engkaulah yang melakukan semuanya itu—bukankah itu tidak tahu malu? Antikristus mampu melakukan hal ini. Mereka merampok kemuliaan Tuhan. Ketika orang normal sudah mengalami beberapa hal, mereka bisa memahami sedikit kebenaran, dan melihat bahwa, "Kualitasku benar-benar sangat buruk—aku ini bukan siapa-siapa. Tanpa kepedulian dan pengawasan dari Yang di Atas, tanpa mereka membimbing tanganku untuk menolongku, aku tidak akan mampu berbuat apa-apa. Selama ini aku hanya orang-orangan saja. Sekarang aku mulai sedikit mengenal diriku sendiri. Aku tahu bahwa diriku tidak berharga. Aku tidak akan mengeluh jika Yang di Atas memangkasku lagi di kemudian hari. Aku akan tunduk saja." Tahu bahwa dirimu sendiri tak berharga, engkau akan melakukan pekerjaan yang menjadi tugasmu dengan cara yang baik, dengan sangat praktis. Apa pun yang ditugaskan Yang di Atas kepadamu, engkau akan melakukannya dengan baik, dengan segenap hati dan segenap kekuatanmu. Apakah ini yang dilakukan antikristus? Tidak—mereka tidak memikirkan kepentingan rumah Tuhan, atau pekerjaan rumah Tuhan. Apakah kepentingan terbesar rumah Tuhan? Apakah itu kekayaan gereja? Apakah itu persembahan kepada Tuhan? Bukan. Jadi, apakah itu? Aspek pekerjaan apakah yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas setiap orang? Memberitakan Injil dan memberikan kesaksian bagi Tuhan, supaya segenap umat manusia memahami Tuhan dan kembali kepada-Nya. Inilah kepentingan terbesar rumah Tuhan. Dan kepentingan terbesar itu bercabang ke bawah, terbagi-bagi dalam setiap kelompok dan setiap aspek pekerjaan, dan kemudian terbagi-bagi lagi secara lebih terperinci hingga ke berbagai tugas yang dilakukan tiap-tiap orang. Inilah kepentingan rumah Tuhan. Apakah engkau melihat ini sebelumnya? Tidak! Ketika Aku berbicara tentang kepentingan rumah Tuhan, engkau mengira bahwa itu adalah uang, rumah, dan mobil. Kepentingan apakah itu? Bukankah itu hanya sekadar hal-hal materi? Apakah lalu orang akan berkata, "Karena hal-hal itu bukan kepentingan, mari kita hambur-hamburkan sesuka kita"? Apakah itu benar? (Tidak.) Sama sekali tidak! Menghambur-hamburkan persembahan adalah dosa besar.
Apa lagi yang menarik minat para antikristus selain keinginan dan ambisi untuk mengendalikan orang? Pada dasarnya tidak ada. Mereka tidak terlalu tertarik pada hal-hal lain. Entah setiap orang melaksanakan tugas dengan benar, entah penempatan staf sudah diatur dengan benar, entah ada orang yang mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja, entah setiap aspek pekerjaan gereja berkembang dengan lancar, bagian pekerjaan mana yang bermasalah, bagian mana yang masih lemah, bagian mana yang belum dipikirkan, di manakah pekerjaan belum dilakukan dengan sepatutnya—antikristus tidak melibatkan diri dalam hal-hal seperti itu, dan mereka juga tidak menanyakannya. Mereka tidak pernah memedulikannya, mereka tidak pernah melakukan pekerjaan konkret ini. Misalnya, pekerjaan penerjemahan, pekerjaan penyuntingan video, pekerjaan pembuatan film, pekerjaan berbasis teks, pekerjaan penginjilan, dan sebagainya—mereka tidak rajin menindaklanjuti aspek apa pun dari pekerjaan itu. Selama sesuatu itu tidak ada hubungannya dengan ketenaran, keuntungan, atau status mereka, seolah-olah itu tidak ada hubungannya dengan mereka. Jadi, apakah satu-satunya hal yang mereka lakukan? Mereka hanya menangani urusan umum—pekerjaan dangkal yang diperhatikan dan dilihat orang. Mereka selesai di situ, lalu mengkoar-koarkannya sebagai kecakapan mereka, dan kemudian mereka mulai menikmati keuntungan dari status mereka. Apakah antikristus peduli dengan jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan? Tidak; mereka hanya peduli pada reputasi dan status mereka, pada hal-hal yang membuat mereka menonjol, dan membuat orang menghormati dan memuja mereka. Jadi, apa pun masalah yang timbul dalam pekerjaan gereja, mereka tidak ambil pusing atau menanyakannya; tidak soal seberapa seriusnya suatu masalah, seberapa besarnya kerugian yang ditimbulkan pada kepentingan rumah Tuhan, mereka tidak merasa bahwa itu adalah masalah. Katakan pada-Ku, apakah mereka bahkan punya hati? Apakah mereka orang yang setia? Apakah mereka orang yang mencintai dan menerima kebenaran? Hal-hal ini harus dipertanyakan. Apa yang mereka lakukan sepanjang hari, sehingga mereka mengacaukan pekerjaan gereja? Ini cukup untuk menunjukkan bahwa mereka tidak sedikit pun memedulikan maksud Tuhan. Mereka tidak melakukan pekerjaan nyata yang dipercayakan Tuhan kepada mereka, tetapi menyibukkan diri secara eksklusif dengan urusan-urusan yang dangkal dan umum, sehingga bagi orang lain mereka akan kelihatan sedang bekerja. Di luarnya, mereka sibuk melaksanakan tugas untuk menunjukkan kepada orang bahwa mereka punya semangat dan iman. Ini mengelabui mata beberapa orang. Mereka tidak melakukan satu aspek pun dari pekerjaan nyata gereja—mereka tidak melakukan satu pun pekerjaan menyiram dan menyediakan kebenaran. Mereka tidak pernah menggunakan kebenaran untuk mengatasi masalah; mereka sekadar menangani beberapa masalah umum, dan melakukan sedikit pekerjaan yang membuat mereka terlihat baik. Sehubungan dengan pekerjaan nyata gereja, mereka hanya bersikap asal-asalan dan tidak bertanggung jawab—mereka tidak punya rasa tanggung jawab sedikit pun. Mereka tidak pernah mencari kebenaran untuk mengatasi masalah, seberapa banyak pun yang muncul, dan mereka melakukan tugas mereka sekadar formalitas. Dan sesudah menangani beberapa urusan yang dangkal dan umum, mereka berpikir bahwa mereka sudah melakukan pekerjaan nyata. Sementara antikristus melakukan tugasnya, mereka dengan semena-mena melakukan hal buruk dan bertindak sewenang-wenang seperti diktator. Mereka mengacaukan pekerjaan gereja dan membuatnya benar-benar berantakan. Tidak ada satu aspek pekerjaan pun yang dilakukan dengan standar yang memadai dan tanpa kesalahan; tidak ada aspek pekerjaan yang dilakukan dengan baik tanpa Yang di Atas harus ikut campur tangan, menanyakan, dan mengawasinya. Meski begitu, ada orang-orang yang berkeluh kesah dan membangkang sesudah digantikan; mereka membuat argumen yang menipu demi diri mereka sendiri, melemparkan tanggung jawab kepada para pemimpin tingkat atas dan para pekerja. Bukankah itu sama sekali tidak masuk akal? Sikap orang yang sebenarnya terhadap kebenaran tidak dapat dilihat ketika tidak ada apa pun yang terjadi, tetapi ketika dia dipangkas dan digantikan, sikapnya yang sebenarnya terhadap kebenaran akan tersingkap. Orang yang menerima kebenaran mampu melakukannya dalam keadaan apa pun. Jika mereka salah, mereka bisa mengakui kesalahannya; mereka bisa menghadapi kenyataan dan menerima kebenaran. Orang yang tidak mencintai kebenaran tidak akan mengakui bahwa dia salah, meski kesalahannya sudah tersingkap; apalagi mau menerima rumah Tuhan untuk menanganinya. Dan apa yang bahkan digunakan oleh sebagian dari mereka sebagai pembenaran? "Aku bermaksud berlaku baik—hanya saja yang kulakukan ternyata tidak baik. Aku tidak dapat disalahkan sekarang karena kinerjaku buruk. Aku bermaksud baik, dan aku menderita serta membayar harganya, dan aku mengorbankan diri—tidak melakukan sesuatu dengan baik tidak sama dengan melakukan yang jahat!" Menggunakan pembenaran diri ini, alasan ini, menolak ditangani oleh rumah Tuhan—apakah itu pantas? Apa pun pembenaran diri dan alasan yang diberikan, mereka tidak dapat menyembunyikan sikap mereka terhadap kebenaran dan terhadap Tuhan. Ini berkaitan dengan esensi naturnya, dan ini adalah hal yang paling mengandung indikasi. Entah sesuatu sudah terjadi atau belum, sikapmu terhadap kebenaran mewakili esensi naturmu. Itulah sikapmu terhadap Tuhan. Bagaimana engkau memperlakukan Tuhan dapat dilihat hanya dengan melihat bagaimana engkau memperlakukan kebenaran.
Apa yang baru saja kita bahas dalam pembahasan kita mengenai perilaku antikristus dalam mengendalikan orang? (Antikristus hanya tertarik dengan mengendalikan orang.) Benar. Orang yang sangat congkak dan sangat cinta akan status memiliki "ketertarikan" yang cukup untuk mengendalikan orang. "Ketertarikan" ini tidak positif—ini merupakan keinginan dan ambisi, ini hal negatif, dan ini merendahkan. Mengapa mereka tertarik untuk mengendalikan orang? Dari sudut pandang objektif, itu adalah natur mereka, tapi ada alasan lain. Orang yang ingin mengendalikan orang lain khususnya bergairah dan mencintai status, ketenaran, keuntungan, kesombongan, dan kekuasaan. Dapatkah Aku mengatakannya seperti itu? (Ya.) Dan bukankah hasrat dan cinta khusus seperti itu serupa dengan yang dimiliki Iblis? Bukankah itu esensi Iblis? Iblis merenungkan sepanjang hari bagaimana cara menyesatkan dan mengendalikan manusia; setiap hari, ia menanamkan dalam diri manusia gagasan-gagasan dan pandangan-pandangan yang keliru, baik melalui penanaman gagasan dan pendidikan, atau melalui budaya tradisional, atau melalui ilmu pengetahuan, pengetahuan tingkat tinggi, dan ajaran-ajaran—dan semakin ia menanamkan hal-hal ini pada manusia, semakin manusia memujanya. Apakah tujuan Iblis menanamkan hal-hal ini pada manusia? Ketika ia sudah melakukannya, manusia akan memiliki gagasan Iblis; mereka memiliki filosofi dan cara hidup Iblis. Ini sama seperti Iblis berurat berakar dalam hati manusia. Mereka hidup mengikuti Iblis, dan kehidupan mereka adalah kehidupan Iblis—yaitu kehidupan para setan. Bukankah begitu? Bukankah ini juga natur antikristus dalam mengendalikan orang? Mereka ingin membuat semua orang lain menjadi orang seperti mereka; mereka ingin membuat semua orang hidup untuk mereka, siap melayani mereka, dan melakukan segala sesuatu untuk mereka. Dan semuanya harus ada di bawah kendali mereka: pikiran dan perkataan orang, gaya bicaranya, gagasannya, serta pandangannya, sudut pandang dan sikapnya dalam bertindak, bahkan sikapnya terhadap Tuhan, keimanannya, serta kehendak dan aspirasinya dalam melaksanakan tugas—semua ini harus ada di bawah kendali mereka. Seberapa jauh kendali ini? Pertama-tama mereka mencuci otak dan mengindoktrinasi orang, kemudian membuat semua orang melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan. Mereka menjadi sang "ayah baptis". Untuk menjadikan orang seperti itu, antikristus menggunakan banyak cara: Ada menyesatkan, menanamkan gagasan, membuat orang takut, dan apa lagi? (Serangan psikologis.) Itu bagian dari menyesatkan. Apa lagi? (Memaksa dan menyuap orang.) Bagaimana cara mereka menyuap orang? Ada orang-orang yang semena-mena melakukan hal yang buruk saat melaksanakan tugasnya di rumah Tuhan. Bisakah antikristus melihat ini dengan jelas? Semuanya sangat jelas bagi mereka. Jadi, apakah mereka menanganinya? Tidak. Mengapa tidak? Mereka ingin menggunakan perkara ini untuk menyuap orang-orang itu; mereka berkata, "Aku tidak menanganimu karena kebaikan hatiku padamu. Engkau harus berterima kasih kepadaku. Aku melihatmu melakukan sesuatu yang buruk, tetapi aku tidak melaporkanmu, dan aku tidak menanganimu. Aku bersikap lunak. Bukankah sekarang engkau berutang budi kepadaku di masa depan?" Jadi, orang-orang itu berterima kasih kepadanya dan menganggapnya sebagai dermawan mereka. Kemudian, antikristus dan orang-orang itu ibarat babi yang berkubang di kubangan yang sama. Saat berkuasa, antikristus bisa menyuap orang-orang seperti itu: mereka yang berbuat jahat, yang merugikan kepentingan rumah Tuhan, yang diam-diam menghakimi Tuhan, dan yang diam-diam mengacaukan pekerjaan rumah Tuhan. Ini adalah tipe geng orang jahat yang dilindungi oleh antikristus. Bukankah ini semacam kendali? (Ya.) Faktanya adalah antikristus tahu di dalam lubuk hati mereka bahwa orang-orang ini bukanlah orang-orang yang menjaga kepentingan rumah Tuhan. Mereka semua mengetahuinya—mereka sama-sama paham—jadi, mereka berkomplot. "Kita ini serupa. Engkau tidak mempertimbangkan kepentingan rumah tuhan. Engkau membodohi tuhan, aku juga; engkau tidak mengejar kebenaran, aku juga." Antikristus menyuap orang-orang seperti itu. Bukankah ini menyuap mereka? (Ya.) Mereka tidak memiliki keraguan tentang membiarkan kepentingan rumah Tuhan dirugikan. Dengan mengorbankan kepentingan rumah Tuhan, mereka membiarkan orang-orang ini yang semena-mena melakukan hal-hal buruk, dan menumpang gratis di rumah Tuhan. Seolah-olah mereka yang menafkahi orang-orang ini, dan orang-orang ini secara tidak sadar berterima kasih kepada mereka. Ketika tiba saatnya bagi rumah Tuhan untuk menangani orang-orang jahat ini, bagaimana mereka memandang antikristus? Mereka berkata kepada diri sendiri, "Oh, tidak. Mereka sudah diberhentikan. Jika tidak, kita pasti sudah bisa bersenang-senang lebih lama—dengan perlindungan mereka, tidak seorang pun yang akan bisa menanganiku." Mereka masih merasa begitu terikat pada antikristus! Jelaslah bahwa semua hal ini yang dilakukan antikristus adalah kekacauan dan gangguan, hal-hal yang menyesatkan orang, dan perbuatan jahat yang menentang Tuhan. Dan siapa pun yang tidak mencintai kebenaran tidak akan membenci perbuatan-perbuatan jahat ini, dan mereka bahkan akan menutupinya. Misalnya, ada seorang pemimpin yang melindungi antikristus. Yang di Atas bertanya kepadanya apakah ada orang di gereja yang menyebabkan kekacauan dan gangguan, atau semena-mena melakukan hal-hal buruk, atau apakah ada antikristus yang menyesatkan orang. Pemimpin itu menjawab, "Baiklah, aku akan menanyakannya kepada orang-orang. Biar aku memeriksanya untukmu." Bukankah itu bagian dari pekerjaannya? Dengan cara bicara seperti itu—"biar aku memeriksanya untukmu"—dia berhasil menghadapi Yang di Atas, dan tidak terdengar lagi kabar tentangnya sesudah itu. Dia tidak memeriksanya—dia tidak ingin menyinggung orang-orang itu! Dan ketika Yang di Atas bertanya lagi kepadanya, "Sudahkah engkau memeriksanya?" dia berkata, "Sudah—tidak ada." Apakah itu benar? Dialah antikristus terbesar dari semuanya, pelaku utama dalam mengganggu pekerjaan gereja, dan dalam merugikan kepentingan rumah Tuhan. Dia sendirilah antikristus—apa yang perlu dia periksa? Dengan adanya dia di sana, hal buruk apa pun yang dilakukan orang-orang di bawahnya, kekacauan dan gangguan apa pun yang mereka timbulkan, tidak seorang pun yang dapat memeriksanya. Dia menghalangi orang agar tidak melakukannya. Implikasinya, dalam keadaan seperti itu, bukankah dia sudah memisahkan orang-orang di bawah kepemimpinannya dari Tuhan? Ya. Dan siapakah yang ditaati oleh orang-orang itu, yang olehnya sudah dipisahkan dari Tuhan? Bukankah mereka menaatinya? Dan demikianlah, dia menjadi si perundung, pemimpin bandit, tiran lokal—dia mengendalikan orang-orang itu. Metode apakah yang dia gunakan? Dia menggunakan tipu muslihat terhadap Yang di Atas dan menipu orang-orang yang di bawahnya. Terhadap orang-orang di bawahnya, dia menyuap mereka dan mengucapkan kata-kata yang manis, dan terhadap Yang di Atas, dia menggunakan tipu muslihat—dia tidak membiarkan Yang di Atas mengetahui apa yang terjadi di bawah. Dia tidak mengatakan apa pun tentang hal itu kepada Yang di Atas, dan dia juga menciptakan kedok. Kedok apakah yang dia ciptakan? Dia berkata kepada Yang di Atas, "Ada seseorang di gereja kita yang dilaporkan oleh semua saudara-saudari sebagai seorang yang kemanusiaannya buruk, luar biasa kejam, dan tidak mampu melakukan tugas apa pun. Bagaimana menurutmu—bolehkah aku menangani wanita itu?" Menurut ceritanya, terlihat jelas dari perwujudan orang itu bahwa orang itu adalah seorang wanita jahat yang harus ditangani. Jadi, Yang di Atas mengatakan, "Kalau begitu, engkau boleh menanganinya. Apakah engkau sudah menanganinya?" Dia mengatakan, "Kami menanganinya bulan lalu dan mengeluarkannya." Apakah faktanya benar seperti yang dia katakan? Apa yang sebenarnya terjadi sesudah pertanyaan-pertanyaan yang lebih detail diajukan? Wanita itu tidak akur dengannya. Dan ada alasan mengapa mereka tidak akur: Pemimpin ini tidak melakukan pekerjaan nyata, dan dia selalu membentuk geng dan kelompok di antara saudara-saudari—dia menampakkan perwujudan antikristus, dan wanita itu dapat mengenali dirinya yang sebenarnya lalu melaporkan serta mengungkapkan masalah tersebut. Segera sesudah si wanita membuat laporan, tindakannya itu diketahui oleh rekan bawahan si pemimpin, dan akibatnya wanita itu dihukum dan dikeluarkan olehnya. Antikristus ini berhasil membuat semua orang di bawahnya bangkit melawan wanita itu dan menolaknya, dan pada akhirnya, dia menangani wanita itu dan mengeluarkannya, dan sesudah itu dia melaporkan "kabar baik" ini kepada Yang di Atas. Faktanya, bukan itu yang sebenarnya terjadi. Apakah hal seperti itu terjadi di gereja? Ya. Antikristus menindas saudara-saudari; mereka menindas orang-orang yang bisa mengenali mereka yang sebenarnya dan melaporkan masalah mereka, juga orang-orang yang bisa memahami esensi natur mereka. Mereka bahkan mengajukan pengaduan terhadap korban mereka terlebih dahulu, dengan melaporkan kepada Yang di Atas bahwa orang-orang itulah yang menimbulkan gangguan. Siapakah yang sebenarnya menimbulkan gangguan? Antikristuslah yang mengganggu dan mengendalikan gereja.
Teknik apa saja yang digunakan antikristus untuk membuat orang tunduk kepada mereka? Salah satu tekniknya adalah menggunakan berbagai cara untuk mengendalikanmu—mengendalikan pikiranmu, metodemu, jalan yang engkau tempuh, dan bahkan mengendalikan melalui kekuasaan yang mereka miliki, tugas yang engkau laksanakan. Jika engkau dekat dengan mereka, mereka akan memberimu tugas mudah yang memungkinkanmu untuk menonjol; jika engkau selalu tidak taat kepada mereka, dan selalu menunjukkan kesalahan mereka, dan mengungkapkan masalah kerusakan mereka, mereka akan mengatur agar engkau melakukan pekerjaan yang tidak disukai orang-orang lain—misalnya, menyuruh seorang saudari muda melakukan pekerjaan yang kotor dan melelahkan. Mereka mengatur pekerjaan yang mudah dan bersih bagi siapa pun yang dekat dengan mereka, menyanjung mereka, dan selalu mengatakan apa yang ingin mereka dengar. Begitulah cara antikristus memperlakukan dan mengendalikan orang. Artinya, dalam hal kuasa atas penempatan staf dan mutasi, siapa yang melakukan apa, semuanya tergantung pada mereka, mereka satu-satunya yang memegang kendali. Apakah ini hanya sekadar ambisi dan keinginan? Bukan. Bukankah ini persis sama dengan item kedelapan mengenai perwujudan antikristus: "Mereka akan membuat orang lain hanya tunduk kepada mereka, bukan kepada kebenaran atau Tuhan"? Apa yang dimaksud dengan "Mereka akan membuat orang lain hanya tunduk kepada mereka, bukan kepada kebenaran atau Tuhan"? Apa yang salah dengan perwujudan itu? Dalam hal apa itu salah? Keinginan mereka agar orang-orang tunduk sepenuhnya bertentangan dengan kebenaran. Itu tidak sesuai dengan prinsip kebenaran. Itu sepenuhnya bertentangan dengan kepentingan rumah Tuhan dan bertentangan dengan maksud Tuhan; tak sedikit pun darinya yang menjaga kepentingan rumah Tuhan, dan tak sedikit pun darinya yang sesuai dengan kebenaran. Keinginan mereka agar orang-orang tunduk adalah sepenuhnya ambisi, keinginan, preferensi, minat, dan gagasan mereka sendiri. Bukankah ini esensi masalahnya? Inilah salah satu cara esensi antikristus terwujud. Bukankah ini sampai pada inti masalahnya? Dengan demikian tindakan antikristus seharusnya mudah dikenali. Ada sejumlah pemimpin dan pekerja yang mengemukakan pandangan yang tepat dan benar, dan meskipun ada orang-orang yang tidak yakin dan tidak dapat menerimanya, para pemimpin ini mampu bertahan dalam mengimplementasikan pandangan yang benar tersebut dan menerapkannya. Apa perbedaan antara perilaku ini dan perilaku antikristus? Dari luar, keduanya tampak serupa, tetapi ada perbedaan dalam esensinya. Apa yang dilakukan antikristus adalah dengan sengaja menentang kebenaran dan prinsip kerja rumah Tuhan, membuat orang melakukan apa yang mereka katakan dengan dalih melaksanakan tugas untuk rumah Tuhan dan taat pada kebenaran. Ini salah—salah besar dan tidak masuk akal. Ada sejumlah pemimpin dan pekerja yang menegakkan pandangan yang benar. Apa yang sesuai dengan prinsip kebenaran harus ditegakkan; ini bukan congkak dan sikap merasa diri benar, juga bukan mengekang orang—ini adalah menegakkan kebenaran. Kedua perilaku tersebut tampak serupa dari luar, tetapi esensinya berbeda: Yang satu menegakkan prinsip kebenaran, dan yang lainnya menegakkan pandangan yang salah. Apa yang dilakukan antikristus adalah sepenuhnya melanggar kebenaran, memusuhinya, dan sepenuhnya didorong oleh ambisi dan keinginan pribadi mereka—itulah sebabnya antikristus ingin orang-orang tunduk hanya kepada mereka dan bukan kepada kebenaran atau Tuhan. Itulah inti dari hal ini. Apa yang baru saja kita bicarakan adalah fakta yang sudah pasti. Apa yang dimaksud dengan keinginan dan ambisi di sini? Itu merujuk pada orang-orang yang tidak melakukan hal-hal yang nyata seperti yang dilakukan antikristus, meski begitu masih memiliki kecenderungan ini. Mereka mempunyai kecenderungan dan perwujudan ini, yang berarti mereka mempunyai keinginan dan ambisi ini. Di kelompok mana pun mereka berada, mereka selalu ingin memerintah orang seperti seorang pejabat: "Engkau, buatlah makanan!" "Engkau, beritahu si anu!" "Bekerja keraslah dalam tugasmu, dan berlakulah lebih setia—tuhan mengawasi!" Apakah mereka perlu mengatakan hal-hal itu? Cara bicara macam apa itu? Siapakah mereka hingga selalu bertindak seperti tuan dan majikan? Mereka bukan siapa-siapa, tetapi mereka berani mengatakan hal-hal seperti itu—bukankah itu tidak bernalar? Ada orang-orang yang mungkin mengatakan, "Mereka itu orang-orang bodoh." Namun mereka bukanlah orang-orang bodoh biasa—mereka adalah orang bodoh yang istimewa. Istimewanya bagaimana? Apabila mereka berdebat atau mendiskusikan suatu masalah dengan siapa pun, entah mereka benar atau tidak, merekalah yang pada akhirnya harus menang; entah mereka benar atau tidak, merekalah yang harus menjadi penentu keputusan, membuat keputusan dan menetapkan keputusan akhir. Apa pun status mereka, mereka ingin mengambil keputusan. Jika orang lain menang dengan menyatakan pendapat yang benar, mereka menjadi marah; mereka melepaskan jabatannya dan membebaskan diri dari pekerjaannya—mereka berhenti, dengan mengatakan, "Engkau boleh mengatakan apa pun yang engkau mau—bagaimanapun engkau tidak melakukan apa yang aku katakan!" Apakah mereka tidak mempunyai ambisi dan keinginan itu? Konsekuensi apakah yang timbul ketika orang-orang seperti itu menjadi tuan dan majikan, menjadi orang yang memegang kendali, dan menjadi pemimpin? Mereka menjadi standar antikristus. Apakah engkau mempunyai perwujudan seperti itu? Itu bukan hal yang baik! Bukankah akan terjadi bencana besar jika seseorang yang percaya kepada Tuhan tidak memperoleh kebenaran, tetapi malah menjadi seorang antikristus?
Bagaimana orang-orang yang tidak percaya memandang orang? Ketika mereka bertemu seseorang, pertama-tama mereka melihat penampilan dan pakaiannya; ketika mereka mendengarkan orang lain berbicara, mereka selalu ingin melihat apakah orang itu terpelajar. Jika mereka menganggap penampilan dan pakaianmu tidak sedap dipandang, dan engkau tidak terlalu terpelajar atau berpengetahuan, mereka akan mencemoohmu, dan ingin menjadi yang lebih unggul ketika mereka berbicara denganmu. Kukatakan, "Jika engkau ingin berdebat, silakan saja—engkau bicaralah." Aku menutup mulut-Ku; Aku mengalah. Sebagian besar orang di rumah Tuhan mendengarkan-Ku, ke mana pun Aku pergi. Jadi, Aku mencari kesempatan untuk mendengarkan orang lain berbicara, membiarkan orang-orang lain yang lebih banyak berbicara—Aku mencoba membuat semua orang berbicara dari hati, dan berbicara tentang kesulitan dalam diri mereka, dan tentang pengetahuan mereka. Sambil Aku mendengarkan, Aku bisa mendengar penyimpangan-penyimpangan. Aku bisa mendengar sejumlah masalah dan kekurangan mereka, masalah apa saja yang sudah muncul di jalan yang mereka tempuh, dan bidang mana dari pekerjaan gereja yang belum dilakukan dengan baik, masalah apa yang masih ada di sana, dan apakah masalah itu perlu diselesaikan. Aku berkonsentrasi mendengarkan hal-hal ini. Jika kami berdebat tentang suatu masalah—misalnya jika Aku mengatakan bahwa cangkir itu kertas, dan engkau bersikeras mengatakan itu plastik, Aku akan berkata, "Baik. Engkau benar." Aku tidak akan berdebat denganmu. Ada orang-orang yang berpikir, "Jika Engkau benar, mengapa Engkau tidak mendebatnya?" Itu tergantung pada masalahnya. Jika itu adalah sesuatu yang berhubungan dengan kebenaran, sudah sepatutnya engkau mengindahkan-Ku; jika itu urusan luar, maka apa pun yang engkau katakan, Aku tidak akan ikut campur—hal-hal seperti itu tidak ada hubungannya dengan-Ku. Tidak ada gunanya berdebat mengenai hal-hal seperti itu. Ada orang-orang yang membahas masalah negara tertentu. Kepada mereka, Aku berkata, "Sepengetahuan-Ku, begitulah adanya." Aku menambahkan "sepengetahuan-Ku" di awal; ada sedikit pengetahuan akan diri sendiri di dalamnya. Aku menyatakan fakta yang Aku tahu untuk mengilustrasikan masalahnya, dengan mengatakan, "Begini situasinya sekarang, tetapi jika ada keadaan khusus, Aku tidak tahu tentang itu." Hanya itu yang bisa Aku lakukan untuk mengevaluasi masalahnya dengan fakta seperti itu, tetapi Aku tidak memamerkan seberapa banyak yang Aku ketahui. Aku hanya memberi mereka sedikit informasi sebagai referensi—Aku tidak bermaksud menempatkan diri dalam posisi yang lebih tinggi dari mereka dan menekan mereka, untuk menunjukkan betapa briliannya Aku, bahwa Aku tahu segalanya, bahwa mereka tidak tahu apa-apa. Itu bukan sudut pandang-Ku. Ketika orang-orang mengobrol dengan-Ku, Aku menyebutkan sedikit informasi yang tidak mereka ketahui, dan mereka mengatakan, "Engkau menghabiskan waktu sepanjang hari di dalam—apa yang engkau ketahui?" Mereka tidak mengetahui informasi itu, tetapi mereka ingin berdebat dan berselisih dengan-Ku mengenai hal itu. Aku berkata, "Itu benar. Aku tidak pergi keluar, tetapi Aku tahu mengenai satu hal ini. Aku hanya memberitahumu mengenai hal itu, itu saja—percaya atau tidak." Apa yang perlu diperdebatkan dari hal itu? Berdebat tentang hal semacam ini adalah suatu watak. Ada orang yang bahkan ingin bersaing demi superioritas dalam masalah lahiriah, dengan mengatakan: "Bagaimana engkau bisa tahu mengenai hal ini? Bagaimana aku tidak tahu mengenainya? Bagaimana engkau bisa berbicara panjang lebar tentangnya sedangkan aku tidak?" Misalnya, Aku berkata, "Selama bertahun-tahun Aku tinggal di sini, Aku mendapati sesuatu yang unik mengenai iklimnya. Iklimnya cukup lembap." Ini adalah pengamatan yang Kudapatkan sesudah lama tinggal di tempat ini—ini adalah fakta. Namun, ada orang-orang yang mendengarnya dan berkata, "Benarkah seperti itu? Lalu, kenapa aku tidak merasakan kelembapannya?" Hanya karena engkau tidak merasakan kelembapannya, bukan berarti iklimnya tidak lembap. Engkau tidak bisa sekadar berpendapat berdasarkan apa yang kaurasakan—engkau harus menggunakan data. Prakiraan cuaca harian dibuat dengan sangat rinci, dan sesudah engkau cukup melihatnya, engkau akan tahu bahwa sebenarnya di sini lembap. Itu bukan sesuatu yang sekadar Aku imajinasikan, dan Aku tidak berbicara berdasarkan perasaan. Dan mengapa begitu? Selalu ada lumut di dasar dinding yang teduh sepanjang tahun; di musim semi, ada tempat-tempat yang Aku tidak berani berjalan melewatinya, sebab sangat licin. Pengamatan ini dihasilkan ketika Aku melaluinya, mengalaminya, melihatnya dengan mata-Ku sendiri, dan merasakannya secara pribadi. Berbicara seperti ini tidak bertentangan dengan fakta, bukan? Namun, ada orang-orang yang menantang-Ku mengenai hal-hal ini ketika mereka berbicara kepada-Ku—Aku berkata di sini lembab, dan mereka benar-benar mengatakan tidak. Bukankah mereka ini orang-orang yang bingung? (Ya.) Sebagian pernyataan dibuat berdasarkan kenyataan, itu berasal dari pengalaman, dan tidak muncul tiba-tiba dari imajinasi. Mengapa Kukatakan itu bukan imajinasi? Karena pernyataan itu memaparkan rinciannya dengan jelas, menyeluruh, dan sistematis, dan ketika orang melihat dan mengalami apa yang digambarkan dalam pernyataan tersebut, maka itu akan tepat sesuai dengan apa yang dikatakan. Bukankah pernyataan-pernyataan itu akurat? (Ya.) Namun, bahkan dengan pernyataan-pernyataan yang akurat ini, ada orang-orang yang selalu suka berdebat, dan mereka berdebat dengan-Ku seperti ini. Apakah yang mereka perdebatkan? Apakah ini pertarungan fana? Apakah mereka bertempur untuk hidup mereka? Bukan itu yang mereka perdebatkan, mereka hanya ingin bersaing soal siapa yang lebih tahu. Mereka hanya suka berdebat—ini adalah sebuah watak. Menurutmu, bagaimana seharusnya orang-orang seperti itu diperlakukan? Apakah mereka perlu disingkapkan, dan dilayani berdebat sampai engkau mendidih karena amarah? (Tidak.) Tidak ada gunanya berdebat dengan orang-orang bodoh seperti itu. Itu merendahkan diri sendiri. Biarkan saja mereka. Bukankah itu cukup? Apa gunanya berdebat dengan orang-orang bodoh dan gegabah seperti itu? Kalau ada argumentasi atau perdebatan karena orang tidak memahami suatu masalah yang menyangkut kebenaran, itu tidak apa-apa—tetapi bukankah bodoh jika berdebat mengenai hal-hal lahiriah? Watak antikristus terutama adalah tidak menerima kebenaran, bersikap congkak dan merasa diri benar, muak akan kebenaran. Antikristus bahkan tidak menerima sepatah kata pun yang benar, atau pernyataan dan ucapan yang sesuai dengan fakta, dan mereka akan menelitinya, lalu membantah dan berdebat denganmu mengenai hal itu—apalagi tentang kebenaran. Bukankah itu adalah suatu watak? (Ya.) Watak apakah itu? Congkak. Yang mereka maksudkan adalah, "Engkau baru memahami sedikit kebenaran, bukan? Engkau tidak memahami urusan lahiriah, jadi sebaiknya engkau mendengarkanku tentang hal itu! Jangan buka mulutmu—itu benar-benar membuatku kesal. Masalah lahiriah ini bukan urusanmu. Dengan tanggung jawabmu, dengan mengatakan kebenaran, aku akan mendengarkanmu—tetapi berhentilah bicara tentang hal-hal lahiriah ini. Kenapa engkau tidak tutup mulut! Engkau belum pernah mengalami hal-hal ini, jadi apa yang engkau ketahui? Engkau perlu mendengarkanku!" Dalam segala hal, mereka ingin membuat orang-orang mendengarkan mereka. Mereka ingin menaklukkan semua orang, bahkan tanpa melihat siapa orangnya. Watak apakah ini? Apakah ada sedikit pun nalar? (Tidak.)
Katakan kepada-Ku, apakah bergaul dengan-Ku itu mudah atau sulit? (Mudah.) Bagaimana engkau bisa tahu? Mengapa engkau mengatakan itu mudah? Aku akan memberi tahu engkau semua, dan engkau dapat melihat apakah penjelasan-Ku tentang diri-Ku sendiri benar dan akurat atau tidak. Pertama, rasionalitas-Ku normal. Bagaimana kenormalan ini dapat dijelaskan? Itu artinya Aku memiliki standar yang akurat dan perspektif yang akurat terhadap semua hal. Dengan demikian, bukankah pandangan dan pernyataan-Ku mengenai setiap hal, dan sikap-Ku terhadap setiap jenis hal, semuanya normal? (Ya.) Semuanya normal—setidaknya, semuanya sesuai dengan standar kemanusiaan yang normal. Kedua, kebenaran bertindak sebagai penjaga-Ku. Ini adalah dua hal yang setidaknya harus dimiliki rasionalitas yang normal. Ada satu aspek lagi untuk hal ini: Alasan engkau semua dapat melihat bahwa bergaul dengan-Ku itu mudah adalah karena Aku memiliki tolok ukur yang tepat dan Aku mengetahui standar-standar jika menyangkut berbagai jenis orang. Aku memiliki penilaian yang benar, serta cara dan sarana untuk bagaimana Aku memperlakukan para pemimpin dan saudara-saudari biasa, untuk bagaimana Aku memperlakukan orang berusia lanjut dan orang muda, untuk bagaimana Aku memperlakukan orang-orang congkak yang cenderung suka pamer, dan untuk bagaimana Aku memperlakukan mereka yang memiliki dan tidak memiliki pemahaman rohani, dan sebagainya, untuk setiap jenis orang. Apa hal utama dari tolok ukur, metode, dan cara ini? Semua itu mengikuti prinsip-prinsip kebenaran, tidak diterapkan secara sembarangan. Sebagai contoh, katakanlah Aku menghormatimu karena engkau adalah seorang mahasiswa, atau mencemoohmu karena engkau adalah seorang petani—itu bukanlah prinsip. Jadi, bagaimana Aku menguasai prinsip-prinsip ini? Dengan melihat kualitas dan kemanusiaan seseorang, tugas yang dia laksanakan, imannya kepada Tuhan, dan sikapnya terhadap kebenaran, Aku memperlakukan orang-orang berdasarkan gabungan dari berbagai aspek ini. Ada alasan lain mengapa engkau semua melihat-Ku sebagai orang yang mudah diajak bergaul, yang mungkin banyak orang memiliki gagasan tentangnya dan tidak dapat menerimanya. Mereka berpikir, "Engkau memiliki status, tetapi mengapa Engkau tidak terlihat seperti orang yang memiliki status? Engkau tidak menunjukkan status-Mu; Engkau tidak berperilaku seolah-olah Engkau jauh lebih tinggi daripada orang lain. Di benak orang, mereka merasa bahwa mereka harus menghormati-Mu—tetapi mengapa ketika orang-orang melihat-Mu, mereka merasa bahwa yang paling cocok adalah memandang-Mu secara setara, atau bahkan memandang rendah diri-Mu?" Jadi, mereka menganggap bahwa bergaul dengan-Ku itu mudah, dan mereka pun bersikap santai. Bukankah demikian? Seperti itulah mereka. Akibatnya, mereka menganggap bahwa tidak ada yang perlu ditakuti dari diri-Ku, dan bahwa bergaul dengan-Ku dengan cara seperti ini adalah bagus. Katakan kepada-Ku, jika Aku menekan engkau semua di setiap kesempatan, dan memangkas engkau semua tanpa alasan yang jelas, serta menegur dan menceramahi engkau semua sepanjang hari dengan ekspresi muram di wajah-Ku, bukankah segala sesuatunya akan berbeda? Engkau semua akan berpikir, "Engkau sangat sulit untuk diajak bergaul, kepribadian-Mu eksentrik dan suasana hati-Mu berubah-ubah!" Jika demikian, itu berarti Aku tidak akan mudah diajak bergaul. Justru karena Aku tampak normal di mata engkau semua dalam semua aspek-Ku, kepribadian-Ku, kesenangan-Ku dan amarah-Ku, dalam kesedihan dan sukacita-Ku, dan karena dalam pikiran engkau semua, engkau menganggap bahwa orang-orang yang berkedudukan dan berstatus tinggi seharusnya berperilaku seolah-olah mereka jauh lebih tinggi daripada orang lain, tetapi Aku yang engkau semua lihat sekarang benar-benar sangat biasa—itulah tepatnya mengapa engkau menurunkan kewaspadaanmu dan merasa bahwa Aku mudah diajak bergaul. Selain itu, apakah engkau semua melihat bahwa Aku menggunakan istilah-istilah birokrasi ketika Aku berbicara? (Tidak.) Tidak—jika menyangkut hal-hal yang tidak engkau semua pahami, Aku membantumu semampu-Ku dengan apa pun yang Aku bisa, dan Aku jarang mencemoohmu. Mengapa Aku jarang melakukannya? Ada kalanya Aku merasa sangat jengkel dan tidak mampu menahan diri untuk mengucapkan beberapa patah kata yang mencemoohmu, tetapi Aku juga harus mempertimbangkan bahwa engkau dapat menjadi lemah, jadi Aku berbicara dengan cara seperti itu kepadamu sesedikit mungkin. Sebaliknya, Aku toleran, pemaaf, dan sabar. Aku membantu engkau semua semampu-Ku, di mana Aku bisa, dan Aku mengajari engkau semua sebanyak yang Aku bisa, dari apa yang Aku bisa—inilah yang Kulakukan dalam kebanyakan situasi. Mengapa demikian? Itu karena mayoritas orang sangat kurang dalam hal bersaksi bagi Tuhan dan memahami kebenaran—tetapi dalam hal makan, minum, dan bersenang-senang, atau dalam hal berpakaian dan berdandan, atau bermain gim, atau hal-hal duniawi lainnya, orang-orang mengetahui semua hal ini. Di sisi lain, dalam hal kepercayaan kepada Tuhan, dan hal-hal yang menyangkut kebenaran, orang-orang tidak mengerti; dalam hal bersaksi bagi Tuhan, dan menggunakan keterampilan profesi mereka, kelebihan mereka, dan karunia mereka untuk melakukan sedikit pekerjaan bersaksi bagi Tuhan, untuk menghasilkan suatu pekerjaan yang menjadi saksi bagi Tuhan, tidak ada yang dapat mereka katakan. Apa yang harus Kulakukan, ketika Aku melihat situasi seperti itu? Aku harus mengajarimu, melatihmu sedikit demi sedikit, dan mengajarimu dengan sebaik mungkin. Aku memilih hal-hal yang Kupahami, Kuketahui, dan dapat Kulakukan, dan Aku mengajarkannya kepadamu terus menerus, sampai suatu pekerjaan selesai. Aku mengajarkanmu dengan sebaik mungkin, sebanyak yang Kubisa. Bagi mereka yang berkualitas rendah yang tidak dapat diajar, pahamilah sebanyak yang engkau bisa, dan biarkan segalanya berjalan dengan sewajarnya—Aku tidak akan memaksamu. Pada akhirnya, ada orang-orang yang berkata, "Kami yang memahami sebuah profesi telah ditaklukkan oleh orang awam. Kami yang memiliki pengetahuan di bidang ini tidak mampu menyelesaikan apa pun, dan kami tetap membutuhkan orang awam ini untuk mengarahkan dan membantu kami untuk menyelesaikan apa pun—ini sungguh memalukan!" Sebenarnya, ini tidak memalukan karena bersaksi bagi Tuhan dalam kepercayaan seseorang melibatkan kebenaran, dan kebenaran adalah wilayah yang belum tersentuh oleh umat manusia. Tidak ada manusia rusak yang terlahir dengan memahami kebenaran; hanya melalui pekerjaan pribadi Tuhan untuk menyempurnakan manusia, barulah mereka dapat memahami kebenaran. Jika manusia dilahirkan mampu bersaksi bagi Tuhan, maka tak seorang pun akan menentang-Nya! Itulah sebabnya manusia adalah sejenis Iblis dan memiliki esensi natur yang memusuhi Tuhan, sehingga mereka tidak mampu melakukan hal-hal yang melibatkan kebenaran dan bersaksi bagi Tuhan. Jadi, apa yang harus dilakukan orang-orang? Selama mereka mengerahkan upaya terbaik mereka untuk berusaha sebaik mungkin, itu sudah cukup. Jika Aku memiliki tenaga untuk memberikan bantuan dan bimbingan, Aku akan membantu. Jika tidak, atau jika Aku sedang sibuk dengan hal-hal lain dan tidak memiliki waktu, engkau semua lakukan saja apa yang engkau bisa. Itu sesuai dengan prinsip, bukan? Itulah satu-satunya cara yang dapat dilakukan. Aku tidak memaksamu untuk melakukannya melampaui kemampuanmu. Itu tidak ada gunanya—itu tidak bisa dilakukan. Pada akhirnya, orang-orang berpikir, "Engkau cukup mudah diajak bergaul, dan tuntutan-Mu mudah untuk dipenuhi. Engkau memberi tahu kami apa yang harus dilakukan, dan kami akan melakukan seperti yang Engkau katakan." Beberapa orang mungkin sesekali dipangkas. Kebanyakan dari mereka berhasil melewatinya dengan baik dengan pemahaman yang benar. Beberapa orang melepaskan pekerjaannya, dan beberapa orang membuat gangguan secara diam-diam, tidak berusaha keras untuk melaksanakan tugas mereka, dan tidak melakukan pekerjaan nyata. Orang-orang semacam itu kemudian digantikan. Jika engkau tidak mau melakukan pekerjaan tersebut, maka mundurlah. Mengapa harus menggunakanmu untuk melakukannya? Kami akan menggantimu—itu saja. Sederhana, bukan? Jika di kemudian hari, orang-orang itu bertobat, berubah, dan melakukan pekerjaan mereka dengan baik, mereka akan diberi kesempatan lagi—dan jika mereka tetap menyebabkan gangguan dan kekacauan dengan cara yang sama, mereka tidak akan pernah digunakan lagi. Lebih baik Aku menggunakan seseorang yang taat. Apa gunanya setiap saat terlibat dengan orang-orang semacam itu? Benar, bukan? Itu akan sulit bagi mereka dan melelahkan bagi-Ku. Ada prinsip-prinsip tentang bagaimana Aku menangani hal-hal ini, ada juga prinsip-prinsip tentang bagaimana Aku bergaul dengan orang lain. Alasan lain mengapa Aku mudah diajak bergaul adalah karena dalam bergaul dengan orang lain, Aku tidak pernah menuntut hal-hal yang terlalu berat dari mereka. Lakukan apa pun yang kaubisa; untuk hal-hal yang tidak dapat kaulakukan, Aku akan menjelaskannya kepadamu, satu per satu. Lakukan apa yang kaubisa dengan segenap hatimu; jika engkau tidak melakukannya dengan segenap hatimu, Aku tidak akan memaksamu untuk melakukannya. Sedangkan sisanya, yaitu bagaimana engkau percaya kepada Tuhan, itu adalah urusanmu sendiri. Jika engkau tidak mendapatkan apa pun pada akhirnya, tak ada seorang pun yang akan bisa kausalahkan. Apa pendapatmu tentang prinsip-prinsip-Ku mengenai cara-Ku memperlakukan orang lain? Apakah engkau merasa semua itu sedikit memanjakan? Sama sekali tidak demikian—cara-Ku menangani hal ini sepenuhnya sesuai dengan prinsip-prinsip. Prinsip-prinsip apakah itu? Dengarkanlah Aku, dan engkau semua akan mengerti.
Aku, Tuhan yang berinkarnasi, bekerja di dalam kemanusiaan—dapatkah Aku sepenuhnya menggantikan Roh Kudus, atau Roh Tuhan, dalam melakukan pekerjaan? Tidak, Aku tidak bisa. Jadi, Aku tidak mencoba melampaui batas-batas-Ku, dengan mengatakan bahwa Aku ingin menggantikan Tuhan yang di surga dan melakukan semua pekerjaan-Nya. Itu berarti Aku akan membesar-besarkan diri-Ku sendiri—Aku tidak mampu melakukan hal itu. Aku adalah orang biasa. Apa pun yang mampu Kulakukan, Aku lakukan. Aku melakukan apa yang mampu Kulakukan dengan baik; Aku melakukannya sampai selesai, dan Aku melakukannya dengan benar. Aku melakukannya dengan segenap hati-Ku dan dengan segenap kekuatan-Ku. Itu sudah cukup. Itulah pekerjaan yang harus Kulakukan. Namun, jika Aku tidak mampu memahami hal ini, dan merasakan penentangan terhadap fakta ini, dan tidak mengakuinya, tetapi selalu berusaha berpura-pura menjadi hebat, selalu berusaha untuk bersinar, selalu berusaha untuk memamerkan beberapa keterampilan yang luar biasa, akankah itu sesuai dengan prinsip? Tidak. Apakah engkau semua mengira bahwa Aku memahami hal ini? Aku sangat memahaminya! Lingkup perkataan dapat diucapkan oleh daging Tuhan dan pekerjaan yang dapat dilakukan oleh daging adalah lingkup pekerjaan yang Dia lakukan dalam daging. Di luar lingkup ini, orang-orang di balik layar mengalami pendisiplinan dan pemangkasan Tuhan, serta pencerahan dan bimbingan Roh Kudus, dan bahkan Tuhan menganugerahkan visi, dan siapa yang akan Tuhan sempurnakan, siapa yang akan Dia singkirkan, serta apa pandangan dan sikap Tuhan terhadap semua orang—semua hal ini adalah urusan Tuhan. Jika engkau semua berhubungan dekat dengan-Ku, Aku pun dapat melihat hal-hal ini—tetapi seperti apa pun cara-Ku melihat, seberapa banyak dari semuanya itu yang dapat Kulihat? Jumlah orang yang dapat Kutemui terbatas, dan jumlah orang yang dapat Kuajak berinteraksi juga terbatas—bagaimana mungkin ini mencakup setiap orang? Itu tidak mungkin. Bukankah engkau seharusnya jelas tentang hal ini? Katakan kepada-Ku, apakah Aku jelas tentang hal ini? Aku jelas tentang hal ini. Inilah yang seharusnya dilakukan orang yang normal. Aku tidak memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya Kulakukan. Apakah orang-orang mampu melakukan hal ini? Tidak—mereka tidak memiliki rasionalitas itu. Ada orang-orang yang bertanya kepada-Ku, "Bukankah Engkau selalu menyelidiki sesuatu secara diam-diam? Bukankah Engkau selalu bertanya tentang siapa yang melakukan apa dan hal-hal buruk apa yang sedang mereka katakan tentang diri-Mu secara diam-diam, atau siapa yang secara diam-diam menghakimi-Mu dan meneliti tentang diri-Mu?" Aku akan jujur kepadamu: Aku tidak pernah menanyakan hal-hal itu. Siapa yang bertanggung jawab atas semua itu? Roh Tuhan—Tuhan memeriksa semuanya; Dia memeriksa seluruh bumi dan Dia memeriksa hati manusia. Jika engkau tidak percaya pada pemeriksaan Tuhan, bukankah nalarmu tidak normal? (Ya.) Jadi, engkau bukanlah seseorang yang benar-benar percaya kepada Tuhan, engkau sedang mengambil posisi yang salah, dan masalah besar telah terjadi. Aku menuntut engkau semua untuk percaya kepada Tuhan, dan Aku mutlak percaya akan hal ini. Jadi, perkataan dan perbuatan-Ku dibangun di atas landasan ini. Aku tidak melakukan segala sesuatu di luar batas-batas-Ku; Aku tidak melakukan segala sesuatu di luar jangkauan kemampuan-Ku. Bukankah itu merupakan suatu watak? (Ya.) Beberapa orang tidak melihatnya seperti itu. Mereka menganggap bahwa Aku memiliki identitas ini, status ini, dan kekuasaan ini, jadi mereka bertanya-tanya mengapa Aku tidak bertindak dengan cara seperti itu. Mereka menganggap bahwa Aku perlu memahami lebih banyak hal, dan mendalami lebih banyak hal, agar Aku terlihat memiliki kedudukan yang lebih tinggi, status yang lebih tinggi, kekuasaan yang lebih banyak, dan otoritas yang lebih besar. Seberapa besarnya pun otoritas dan kekuasaan yang Tuhan berikan kepada-Ku, itulah yang Kumiliki. Semua itu bukanlah hal-hal yang Kuperjuangkan, juga bukan hal-hal yang Kurebut. Otoritas Tuhan, kekuasaan-Nya, dan kemahakuasaan-Nya bukanlah hal-hal yang dapat direpresentasikan oleh daging yang tidak berarti. Jika engkau tidak jelas tentang hal itu, artinya ada sesuatu yang salah dengan nalarmu. Jika engkau tidak dapat mengetahui yang sebenarnya mengenai masalah ini setelah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, berarti engkau terlalu bodoh dan tidak tahu apa-apa. Ada banyak hal yang tidak Kutanyakan—tetapi apakah Aku mengetahuinya di dalam hati-Ku? (Engkau mengetahuinya.) Apa yang Kuketahui? Apakah Aku mengetahui nama setiap orang? Apakah Aku mengetahui sudah berapa tahun setiap orang percaya kepada Tuhan? Aku tidak perlu mengetahui hal-hal itu. Cukuplah bagi-Ku untuk mengetahui keadaan setiap orang, apa yang kurang dari setiap orang, sejauh mana mereka telah memperoleh jalan masuk kehidupan, dan kebenaran apa yang seharusnya didengar, disiramkan, dan diberikan kepada setiap orang. Mengetahui hal-hal ini sudah cukup. Bukankah ini pekerjaan yang harus Kulakukan? Mengetahui apa pekerjaan yang harus Kulakukan—apa yang harus Kukatakan dan pekerjaan yang harus Kulakukan—bukankah itu arti rasionalitas? (Ya.) Bagaimana rasionalitas semacam itu bisa muncul? Jika Tuhan yang berinkarnasi bahkan tidak memiliki rasionalitas ini, jika Dia bahkan tidak memiliki standar untuk mengukur segala sesuatu dan semua peristiwa, lalu kebenaran apa yang harus Dia bicarakan? Jika Tuhan yang berinkarnasi bertarung dengan Roh Tuhan dan bersaing dengan-Nya demi status, bukankah ada sesuatu yang salah? Bukankah itu tidak benar? Mungkinkah hal-hal seperti itu terjadi? Tidak—itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah terjadi.
Ada orang-orang yang selalu khawatir dan berkata, "Apakah Engkau selalu menanyakan tentang kami dan selalu meneliti kami secara diam-diam? Apakah Tuhan selalu berusaha mencari tahu apa yang kami pikirkan tentang diri-Nya dan bagaimana kami memandang-Nya dalam hati kami?" Aku tidak memikirkan hal-hal seperti itu. Semua itu tidak ada gunanya! Apa gunanya memikirkan hal-hal itu? Semua ini berada dalam pemeriksaan Tuhan. Ada lingkup bagi tindakan Roh Tuhan, dan terlebih lagi, ada lingkup bagi tindakan Tuhan yang berinkarnasi. Tuhan yang berinkarnasi adalah Tuhan, Dia adalah saluran dan ungkapan kebenaran, dan pekerjaan yang Dia lakukan pada tahap ini merupakan representasi dari tahap ini, bukan representasi dari tahap sebelumnya. Tuhan yang berinkarnasi hanya dapat melakukan pekerjaan yang ada dalam periode dan lingkup ini. Jadi, dapatkah pekerjaan ini menjadi representasi dari tahap selanjutnya? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Itu urusan Tuhan sendiri. Aku tidak melampaui batas. Aku melakukan apa yang menjadi tugas-Ku; Aku melakukan hal-hal yang seharusnya dan yang mampu Kulakukan. Aku tidak pernah mendorong diri-Ku melampaui batas-batas-Ku, dengan berkata, "Aku mahakuasa! Aku hebat!" Itu adalah Roh Tuhan; Tuhan yang berinkarnasi hanya merepresentasikan ungkapan dan saluran bagi pekerjaan yang sedang Tuhan lakukan selama periode ini. Lingkup pekerjaan-Nya dan pekerjaan apa yang harus Dia lakukan telah ditentukan oleh Tuhan. Jika engkau berkata, "Kristus yang berinkarnasi itu mahakuasa," apakah engkau benar atau salah? Setengah benar, setengah salah. Roh Tuhanlah yang mahakuasa; Kristus tidak boleh dikatakan mahakuasa. Engkau seharusnya berkata bahwa Tuhan itu mahakuasa. Itulah cara yang tepat dan akurat untuk mengatakannya, dan itu sesuai dengan fakta. Rasionalitas apa yang harus Kumiliki? Semua orang berkata bahwa Aku adalah Tuhan, Tuhan itu sendiri, bahwa Aku adalah Tuhan yang berinkarnasi, jadi apakah Aku percaya bahwa Aku dapat merepresentasikan Tuhan itu sendiri, merepresentasikan Roh-Nya? Aku tidak bisa. Sekalipun Tuhan memberi-Ku kuasa dan kemampuan itu, Aku tidak dapat merepresentasikan-Nya. Jika Aku dapat merepresentasikan Tuhan dengan cara seperti itu, bukankah itu akan menjadi semacam penghujatan terhadap watak dan esensi-Nya? Daging sangat terbatas! Bukan seperti itu cara untuk memahaminya; topik ini tidak dapat dibahas dari sudut pandang ini. Bukankah demikian? (Ya.) Jadi, karena Aku memiliki pemikiran-pemikiran ini, prinsip-prinsip ini untuk melakukan segala sesuatu, dan pertimbangan-pertimbangan dalam melakukan setiap hal, Aku tidak terlihat seperti Tuhan bagi banyak orang, dan bahkan ada orang-orang yang sebelum mereka berhubungan dengan-Ku, menyimpan beberapa khayalan, imajinasi, dan gagasan, yang berhati-hati dan waspada dalam tindakan mereka, dan begitu mereka bertemu dengan-Ku, mereka berpikir, "Dia hanya seorang manusia, bukan? Tidak ada apa pun yang menakutkan tentangnya." Setelah ini, mereka mulai melonggarkan batasan dan melakukan segala sesuatu dengan bebas, tanpa terkendali—mereka makin berani, dan mereka berani merajalela melakukan hal-hal buruk. Apa sebutan bagi mereka? Pengikut yang bukan orang percaya. Jika engkau hanya percaya kepada Tuhan yang berinkarnasi, tetapi tidak percaya kepada Roh Tuhan, engkau adalah pengikut yang bukan orang percaya; dan jika engkau hanya percaya kepada Roh Tuhan, tetapi tidak percaya kepada Tuhan yang berinkarnasi, engkau juga adalah pengikut yang bukan orang percaya. Tuhan yang berinkarnasi dan Roh Tuhan adalah satu—Mereka adalah satu. Mereka tidak saling bertarung, apalagi terpisah dari satu sama lain, dan terlebih lagi, Mereka tidak memiliki entitas Mereka sendiri. Mereka adalah satu—hanya saja Tuhan yang berinkarnasi harus memperlakukan pekerjaan-Nya dan Tuhan dari perspektif daging. Itu adalah urusan daging, dan itu tidak ada hubungannya dengan engkau semua—itu adalah urusan Kristus, dan itu tidak ada hubungannya dengan umat manusia. Engkau tidak bisa berkata, "Jadi, engkau juga menganggap bahwa dirimu adalah orang biasa. Baiklah, kalau begitu kita adalah jenis orang yang sama. Kita semua sama." Apakah boleh berkata seperti itu? Itu adalah sebuah kesalahan. Ada orang-orang yang berkata, "Engkau kelihatannya mudah diajak bergaul, jadi mari kita lupakan formalitas. Mari kita memperlakukan satu sama lain seperti sahabat, seperti teman; mari kita saling menjadi orang kepercayaan—mari kita saling berteman." Bolehkah seperti itu? Orang-orang itu tidak memiliki pemahaman rohani; mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya. Makin engkau menyampaikan perasaanmu kepada mereka dan berbicara kepada mereka tentang kebenaran, fakta, dan kenyataan kebenaran, makin mereka memandang rendah dirimu—orang-orang ini adalah pengikut yang bukan orang percaya. Makin engkau berbicara tentang misteri yang mendalam, dan mengucapkan slogan-slogan, doktrin-doktrin, dan hal-hal yang bersifat abstrak, serta makin engkau menegaskan statusmu, memamerkannya, dan berlagak, makin mereka menghormatimu—mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya. Ketika mereka melihat seseorang yang berprinsip dan bertindak dengan penuh pertimbangan, yang tindakannya sesuai dengan kebenaran, yang mampu memperlakukan hal-hal yang positif dan negatif dengan batasan dan kearifan yang jelas—makin orang tersebut bertindak seperti itu, makin mereka memandang rendah orang tersebut, dan menganggap orang tersebut tidak penting—mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya.
Ketika Aku berhubungan dengan orang-orang dan berinteraksi dengan mereka, siapa pun mereka atau seberapa lama pun interaksi itu berlangsung, adakah di antara mereka yang merasa: "Dia selalu berusaha mengendalikanku, Dia mengambil alih semua urusan rumah tanggaku, Dia selalu berusaha menaklukkanku"? Aku tidak sedang menaklukkanmu! Apa gunanya itu? Bacalah sendiri firman Tuhan, renungkan dan masukilah itu secara perlahan. Jika engkau adalah seseorang yang mengejar kebenaran, Roh Kudus akan bekerja dalam dirimu, dan Tuhan akan memberikan berkat serta bimbingan kepadamu. Jika engkau bukan seseorang yang mengejar kebenaran, jika engkau selalu menentang semua yang Kukatakan, dan tidak mau mendengarnya, dan tidak menerimanya, maka pada akhirnya, engkau akan selalu disingkapkan, dan segala sesuatunya akan selalu salah ketika engkau bertindak—engkau tidak akan dipimpin oleh Tuhan. Bagaimana itu bisa terjadi? (Tuhan memeriksa semuanya.) Tuhan bukan hanya memeriksa segalanya. Engkau harus melewati dan mengalaminya sendiri. Ketika Aku mengatakan sesuatu, entah orang-orang setuju atau tidak, atau entah mereka menerimanya atau tidak, apakah Roh Kudus melindunginya, atau apakah Dia tidak memperhatikannya? (Dia melindunginya.) Roh Kudus pasti melindunginya dan Dia tentu saja tidak akan mengabaikannya. Engkau semua harus mengingat hal ini. Entah orang-orang dapat menerima apa yang Kukatakan atau tidak, akan tiba harinya ketika fakta-fakta akan terungkap dengan jelas, dan dengan sekilas, semua orang akan berkata, "Apa yang Engkau katakan selama ini benar! Engkau telah mengatakannya sejak lama—mengapa aku tidak mengetahuinya?" Entah pada saat itu engkau percaya atau tidak bahwa perkataan-Ku berasal dari imajinasi-Ku, atau dari pikiran-Ku, atau dari pengetahuan—suatu hari, setelah mengalami beberapa hal, engkau akan berpikir, "Apa yang Engkau katakan selama ini adalah kebenaran!" Lalu bagaimana engkau akan bisa sampai pada pemahaman ini? Dari pengalaman. Jika engkau mampu memperoleh pemahaman ini, akankah itu terjadi melalui analisis di pikiranmu? Sama sekali tidak; engkau telah dituntun oleh Roh Kudus—itu akan terjadi melalui tindakan Tuhan. Orang-orang tidak percaya menjalani seluruh hidup mereka dengan sedikit pengetahuan tentang beberapa aturan untuk langit dan bumi serta segala sesuatu, tetapi mampukah mereka memperoleh kebenaran? (Tidak.) Jadi, apa yang tidak mereka miliki? (Mereka tidak memiliki pekerjaan Roh Kudus.) Benar. Mereka tidak memiliki pekerjaan Roh Kudus—itulah yang tidak mereka miliki. Jadi, seperti apa pun caramu memandang-Ku dan menilai-Ku sebagai seorang manusia, dan seperti apa pun caramu memperlakukan perkataan-Ku dan hal-hal yang Kulakukan, pada akhirnya akan ada konsekuensinya. Tuhan akan bertindak, dan Dia akan menyingkapkan apakah pilihanmu benar atau salah, apakah sikapmu benar atau salah, dan apakah ada sesuatu yang salah dengan pandanganmu. Tuhan melindungi pekerjaan daging-Nya. Lalu, mengapa Tuhan tidak menyokong orang lain? Mengapa Dia tidak menyokong antikristus? Karena Roh dan daging adalah satu; Keduanya memiliki sumber yang sama. Sebenarnya, ini bukanlah melindungi—dengan kata lain, setelah engkau mengalaminya sampai akhir, entah itu adalah firman yang diucapkan oleh Tuhan yang berinkarnasi atau yang datang kepadamu dari pencerahan Roh Kudus, semuanya akan konsisten. Semuanya tidak akan pernah saling bertentangan; semuanya akan selaras. Apakah engkau semua memiliki kepastian tentang hal ini? Sebagian orang memilikinya, sementara yang lain belum sampai pada titik ini dalam pengalaman mereka, dan tidak memiliki kepastian tentang hal ini. Ini berarti iman mereka belum mencapai titik itu; iman mereka masih sangat kecil. Dengan kata lain, saat kepercayaanmu mencapai taraf tertentu, tiba-tiba akan datang suatu hari ketika engkau merasa bahwa sebuah ungkapan biasa, yang diucapkan oleh manusia biasa ini, ungkapan yang kauanggap tidak terlalu mengesankan saat mendengarnya, telah menjadi kehidupanmu. Bagaimana caranya hal itu akan menjadi kehidupanmu? Tanpa sadar, engkau akan mengandalkannya dalam tindakanmu. Hal itu akan menjadi tuntunan bagi kehidupanmu sehari-hari. Ketika engkau tidak memiliki jalan, ungkapan itu akan menjadi kenyataan bagimu, dan itu akan menjadi sebuah tujuan yang menunjukkan jalan kepadamu; ketika engkau menderita, ungkapan itu akan membantumu untuk keluar dari kenegatifan dan memahami apa masalahmu. Setelah pengalaman seperti itu, engkau akan melihat bahwa meskipun ungkapan itu biasa saja, ada bobot dan kehidupan di dalamnya—bahwa itu adalah kebenaran! Jika engkau tidak berfokus mengejar kebenaran dan tidak mencintai kebenaran, engkau mungkin mengutuk Tuhan, inkarnasi-Nya, serta kebenaran yang Dia ungkapkan. Jika engkau adalah seseorang yang mengejar kebenaran, akan datang suatu hari dalam pengalamanmu ketika engkau akan berkata, "Tuhan cukup mudah diajak bergaul. Tuhan yang berinkarnasi cukup mudah diajak bergaul"—tetapi tak seorang pun akan berkata, "Aku telah bergaul dengan-Nya seolah-olah Dia adalah seorang manusia." Mengapa demikian? Karena pengalamanmu akan firman Kristus dan pekerjaan yang Roh Kudus lakukan di dalam dirimu ketika engkau tidak melihat-Nya dalam kehidupanmu sehari-hari, adalah sama. Apa yang akan timbul dari dalam dirimu melalui hal yang "sama" ini? Engkau akan berkata, "Tuhan telah memakai penampilan luar yang biasa dan umum, wujud daging, jadi manusia telah mengabaikan esensi-Nya. Justru karena manusia memiliki watak yang rusak, mereka tidak dapat melihat sisi Tuhan yang adalah esensi-Nya. Mereka hanya melihat sisi yang dapat dilihat manusia. Manusia benar-benar tidak memiliki kebenaran!" Bukankah seperti itulah mereka? (Ya.) Seperti itulah mereka. Sebagai contoh, dalam beberapa pekerjaan, jika ada banyak aspek yang tidak mampu Kulakukan, banyak orang pasti akan mengembangkan gagasan. Namun, jika Aku mampu melakukan beberapa dari setiap aspek pekerjaan tersebut, semua orang akan merasa sedikit lebih tenang dan merasa agak terhibur di hati: "Baiklah. Dia terlihat seperti Tuhan—itu saja yang bisa kukatakan. Dia terlihat seperti Tuhan yang berinkarnasi, Dia terlihat seperti Kristus. Mungkin Dia adalah Kristus." Itulah satu-satunya jenis definisi yang orang-orang miliki. Namun, jika Aku hanya mempersekutukan kebenaran dan mengungkapkan beberapa firman Tuhan, dan tidak melakukan lebih dari itu—jika Aku tidak memberikan bimbingan nyata tentang pekerjaan apa pun, dan tidak mampu memberikan bimbingan nyata, itu akan mengurangi penghargaan orang terhadap daging ini dan bobot yang mereka berikan kepada-Nya. Orang-orang meyakini bahwa daging harus memiliki kemampuan dan bakat tertentu. Apakah ini memang bakat? Bukan. Tuhan dapat menganugerahkan kepada orang-orang segala macam bakat, karunia, dan kemampuan, jadi katakan kepada-Ku, apakah Tuhan itu sendiri memiliki hal-hal itu? Sangat melimpah! Jadi, ada orang-orang yang tidak dapat memecahkan misteri ini, dan berkata, "Bagaimana Engkau dapat memberi instruksi kepada kami untuk bernyanyi jika Engkau sendiri tidak pandai bernyanyi? Bukankah itu seperti orang awam yang memberikan instruksi kepada para profesional? Bukankah itu bertentangan dengan prinsip?" Kukatakan kepadamu, Aku adalah pengecualian. Mengapa demikian? Jika engkau semua tidak dapat melakukan sesuatu dengan baik, Aku harus mengulurkan tangan-Ku untuk membantumu; jika engkau semua dapat melakukan sesuatu, Aku tidak keberatan untuk tidak ikut campur, Aku tidak ingin ikut campur—melakukannya akan melelahkan-Ku. Jika engkau semua dapat melakukan sesuatu dengan baik, mengapa Aku perlu mengulurkan tangan-Ku untuk membantumu? Aku tidak sedang pamer di sini, dan aku tidak sedang mengucapkan pemikiran-pemikiran yang muluk. Aku hanya ingin mengajari engkau semua, baik dalam ranah keterampilan profesional maupun dalam ranah prinsip-prinsip kebenaran. Begitu engkau semua telah mempelajari keterampilan dan memahami prinsip-prinsip, beban di hati-Ku akan terangkat, karena hal-hal tersebut di luar dari pekerjaan yang harus Kulakukan. Ada orang-orang yang berkata, "Jika itu bukan pekerjaan yang harus Kaulakukan, mengapa Engkau melakukannya?" Pekerjaan itu harus dilakukan, dan orang-orang sangat tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pekerjaan itu. Jika Aku tidak memberi bimbingan seperti yang Kulakukan, pekerjaan yang dihasilkan tidak akan istimewa, dan bersaksi tentang Tuhan akan membuahkan hasil yang biasa-biasa saja. Jika Aku tidak memiliki pekerjaan yang signifikan untuk diperlihatkan, Aku juga sedikit lalai dan juga merasa tidak nyaman, jadi aku melakukan sedikit pekerjaan, sesuai dengan tenaga dan kondisi tubuh-Ku. Mengapa? Ada beberapa pertimbangan. Ketika seluruh umat manusia melihat hal-hal yang telah dibuat orang-orang dan menyerapnya, perspektif, pandangan, dan kemampuan untuk memahami yang orang-orang miliki hanya berbeda dalam hal berapa lama mereka telah menjadi orang percaya, pengalaman mereka, dan kualitas mereka, tetapi titik awal mereka pada dasarnya sama. Titik awal mereka adalah pengalaman yang mereka miliki tentang kenyataan kebenaran berdasarkan pemahaman mereka akan kebenaran. Inilah hal-hal yang dapat dibuat oleh umat manusia. Aku tidak dapat melakukan sesuatu atau menghasilkan pekerjaan dari perspektif orang biasa. Jadi, perspektif apa yang harus Kuambil? Perspektif daging? Aku juga tidak bisa melakukan hal itu. Itu akan tidak pantas, bukan? Tentu saja, Aku akan mengambil perspektif Tuhan dan pekerjaan-Nya dari dalam daging, untuk mengucapkan perkataan itu, melakukan hal-hal itu, dan mengungkapkan pandangan-pandangan itu. Dapatkah nilai dari hal-hal ini diukur dengan uang di antara umat manusia? (Tidak.) Tidak bisa. Itu karena begitu hal-hal ini sudah menjadi pekerjaan karya yang selesai, itu akan bertahan selamanya bagi umat manusia. Tentu saja, karya-karya biasa itu juga akan bertahan selamanya. Namun, karena karya-karya ini akan bertahan selamanya dan di masa mendatang, serta akan memberikan kontribusi kepada seluruh umat manusia, baik itu sebagai penuntun untuk percaya kepada Tuhan, maupun sebagai perbekalan dan bantuan, Aku harus membuat beberapa pekerjaan yang lebih penting, bukan? Itulah sebabnya Aku harus mengucapkan firman dan menghasilkan karya dari sudut pandang yang tidak dapat dicapai oleh umat manusia. Untuk apa Aku melakukan hal ini? Untuk meningkatkan ketenaran gereja. Apakah motif itu benar? (Benar.) Katakan kepada-Ku, apakah itu bermanfaat bagi kesaksian tentang Tuhan jika ketenaran gereja meningkat? (Ya.) Apakah itu memajukannya, atau menghambatnya? (Itu memajukannya.) Itu sudah pasti—itu jelas memajukannya. Ketika beberapa kelompok orang tidak percaya dan kelompok keagamaan melihat karya-karya ini, mereka kagum dengan betapa bagusnya film-film ini dibuat, dan selalu ingin bertemu dengan sutradara di balik layar. Aku tidak mau bertemu dengan orang-orang ini. Aku tidak memiliki waktu untuk bertemu dengan mereka, dan Aku tidak tahu apa tujuan mereka bertemu dengan-Ku. Jadi, apa gunanya Aku bertemu dengan mereka? Jika orang-orang yang menonton film-film itu dapat menerima kebenaran, itu sudah cukup, dan jika mereka bersedia menyelidiki jalan yang benar, itu lebih baik lagi. Mereka tidak perlu bertemu dengan-Ku. Singkatnya, Aku membuat beberapa karya yang penting, sehingga ketika umat manusia melihat hal-hal ini, mereka akan memperoleh manfaat yang lebih besar. Apakah menyerahkan hal-hal ini kepada umat manusia adalah hal yang baik, atau buruk? (Hal yang baik.) Itu bermanfaat; itu layak dilakukan.
Dengan cara inilah Aku bergaul dengan engkau semua. Hubungan yang Kumiliki dengan engkau semua adalah hubungan yang engkau semua lihat dan rasakan. Jadi, hubungan seperti apakah yang Tuhan miliki dengan engkau semua? Dapatkah itu dirasakan? Itu sama. Jangan berpikir, "Tuhan yang berinkarnasi adalah seorang manusia; Dia mudah diajak bergaul. Namun, Tuhan yang di surga tidak, dengan kemegahan dan murka-Nya—Dia menakutkan!" Tuhan itu seperti Aku. Dia tidak akan menaklukkan atau mengendalikanmu dengan ucapan atau metode, atau dengan kekerasan. Dia tidak akan melakukan hal itu. Dia akan bergaul denganmu dengan cara yang sama seperti yang engkau semua rasakan saat Aku bergaul dengan engkau semua: Aku mengajar engkau semua semampu-Ku, dan Aku membantu engkau semua semampu-Ku agar dapat memahami. Mengenai hal-hal yang tidak dapat engkau semua pahami, Aku tidak mengindoktrinasikannya secara paksa padamu. Ada orang-orang yang mungkin berkata, "Engkau berkata bahwa Engkau tidak mengindoktrinasi kami secara paksa—lalu, apa yang sedang Engkau lakukan dengan selalu mengkhotbahkan kebenaran?" Apakah itu indoktrinasi? Itu disebut membekalimu—itu bukan memaksamu untuk membuat kemajuan, itu adalah penyiraman. Penyiraman adalah hal yang wajar; ini adalah hal yang positif. Ada orang-orang yang akan berkata, "Bukankah penaklukan manusia oleh antikristus sama seperti penaklukan manusia oleh Tuhan?" (Itu tidak sama.) Dalam hal apa itu tidak sama? Kata yang digunakan untuk penaklukan manusia oleh antikristus dan penaklukan manusia oleh Tuhan adalah sama; apa perbedaan dalam esensi di antara kedua penggunaan kata tersebut? Mampukah engkau semua menjelaskannya dengan gamblang? Jika engkau semua bahkan tidak mampu menjelaskannya, pemahamanmu akan kebenaran benar-benar sangat buruk. (Penaklukan manusia oleh Iblis merupakan kendali yang dipaksakan, sedangkan penaklukan manusia oleh Tuhan merupakan perbekalan akan kebenaran—itu menyampaikan prinsip-prinsip kebenaran kepada manusia, yang kemudian dapat diterapkan oleh manusia, dan dengan demikian mereka memperoleh kehidupan.) Jadi, Aku bertanya kepada engkau semua: Iblis mengendalikan dan menaklukkan manusia, tetapi apakah dia memiliki kebenaran? (Tidak.) Apa itu Iblis? Atas dasar apa dia menaklukkan manusia? Dengan kata lain, apa yang membuat Iblis memenuhi syarat untuk menaklukkan manusia dan berusaha untuk mendapatkan mereka? Iblis tidak memiliki apa pun. Jadi, apa yang digunakannya untuk menaklukkan manusia? Apa yang dapat diberikannya kepada manusia, begitu dia menaklukkan mereka? Dia hanya dapat merusakmu; dia hanya dapat mempermainkan dan menghancurkanmu, serta pada akhirnya, setelah dia selesai menghancurkanmu, dia akan mengirimmu ke neraka. Seperti apakah penaklukan dan kendalinya? Itu hanyalah penyiksaan. Tujuannya mengendalikan dan menaklukkanmu adalah untuk menghentikanmu agar tidak tunduk kepada Tuhan dan kebenaran, serta membuatmu tunduk kepadanya. Bagi Iblis, tunduk kepada Tuhan adalah salah, dan tunduk kepadanya adalah benar. Jika engkau tunduk kepadanya, dan dikendalikan serta ditaklukkan olehnya, engkau telah meninggalkan Tuhan dan menolak-Nya sepenuhnya. Lalu, bagaimana cara Tuhan menaklukkan pekerjaan manusia? Tuhan itu sendiri adalah kebenaran; Dia adalah kenyataan dari semua hal yang positif, sumber dari semua hal yang positif, sumber kebenaran. Lalu, apa itu manusia? Manusia adalah jenis makhluk yang telah dirusak oleh Iblis. Mereka tidak memiliki kebenaran. Jadi, Tuhan harus menghakimi dan menghajar manusia, serta menguji dan memurnikan mereka, dengan cara mengungkapkan kebenaran dan menyingkapkan watak rusak manusia, sehingga manusia dapat memahami firman yang Dia ucapkan, dan mengakui-Nya sebagai Sang Pencipta dan diri mereka sendiri sebagai makhluk ciptaan-Nya, lalu datang ke hadirat-Nya, bersujud kepada-Nya, serta menerima kedaulatan dan pengaturan-Nya. Bukankah semua ini sesuai dengan kebenaran? (Ya.) Jadi, apa yang dimaksud dengan penaklukan ini? Itu berarti mendapatkan orang, itu berarti penyelamatan; itu adalah hal yang positif. Itu tidak merugikanmu. Bukankah ada perbedaan antara penaklukan Tuhan dan penaklukan Iblis? Adalah sah bagi Tuhan untuk menaklukkan manusia. Dia adalah kebenaran, sumber segala hal yang positif. Mengatakan bahwa Dia "menaklukkan umat manusia" adalah cara yang sangat tepat untuk mengungkapkannya! Umat manusia tidak memiliki kebenaran, mereka telah dirusak sedemikian dalamnya oleh Iblis, dan dijadikan sejenis dengan Iblis. Itulah sebabnya manusia tidak tunduk kepada Tuhan, dan menyangkal-Nya, serta menolak-Nya. Apa yang harus dilakukan terhadap hal ini? Tuhan harus mengungkapkan kebenaran dan menggunakan metode hajaran dan penghakiman untuk membuat orang memahami siapa Tuhan, siapa Sang Pencipta, siapa makhluk ciptaan, dan siapa Iblis, serta membuat mereka mengenali Tuhan dan kembali kepada-Nya, mengakui Sang Pencipta, dan mengakui diri mereka sebagai makhluk ciptaan-Nya di hadirat-Nya. Itulah yang dimaksud dengan penaklukan. Apakah orang-orang yang ditaklukkan oleh Tuhan memahami kebenaran, atau tidak? (Mereka memahami kebenaran.) Lalu, apa yang diperoleh orang-orang yang ditaklukkan oleh Iblis? Mereka tidak memahami kebenaran, dan mereka menjauhi, mengkhianati, serta menolak Tuhan, memiliki gagasan tentang-Nya, dan bahkan mengikuti Iblis dan antikristus. Mereka bahkan dapat menghakimi Tuhan, memberontak terhadap-Nya, dan mengutuk-Nya, menolak untuk mengakui kedaulatan-Nya, dan terlebih lagi, mereka menolak untuk tunduk kepadanya. Apakah makhluk ciptaan seperti ini dapat diterima? (Tidak.) Justru merekalah kebalikan dari manusia yang ditaklukkan oleh Tuhan; efeknya adalah kebalikan dari penaklukan Tuhan atas manusia.
Jika seseorang seperti antikristus memiliki status dan dia pergi ke suatu tempat di mana orang-orang tidak tahu bahwa dia adalah seorang pemimpin, apakah dia akan senang karenanya? Tidak. Ke mana pun dia pergi, dia akan menggunakan segala cara yang dia miliki untuk memberi tahu semua orang, "Aku adalah seorang pemimpin; buatkan aku makanan. Aku harus makan sesuatu yang enak!" Apa pendapat engkau semua tentang pandangan-Ku mengenai status? (Engkau tidak tertarik akan hal itu.) Bagaimana ketidaktertarikan itu diwujudkan? Ketika Aku pergi ke suatu tempat, Aku memberi tahu orang-orang di sana sebisa mungkin untuk tidak menyebarkan berita atau membiarkan orang lain tahu tentang identitas-Ku. Mengapa Aku melakukan hal ini? Karena ketika orang-orang mengetahuinya, itu benar-benar menyebalkan. Jika mereka tidak tahu, mereka mungkin akan mencurahkan sedikit isi hatinya kepada-Ku; sungguh menyebalkan ketika begitu mereka mengetahuinya, mereka mendadak bungkam di hadapan-Ku. Katakan kepada-Ku, bukankah Aku akan kesepian, tanpa seorang pun yang mau mencurahkan isi hatinya kepada-Ku? Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak membiarkan orang lain tahu, sehingga orang-orang dapat memperlakukan-Ku seolah-olah Aku adalah orang biasa, dan mengatakan apa yang ingin mereka katakan kepada-Ku. Sangat menyenangkan bagi-Ku jika orang-orang merasa bebas dan lepas, tidak selalu merasa terkekang karena Aku, dan tidak selalu bersikap sangat hormat di hadapan-Ku. Tidaklah perlu bagi mereka untuk bertindak seperti itu; Aku tidak suka itu. Mereka yang tidak memahami kebenaran berpikir, "Tentu saja Engkau menyukainya, jadi dengan cara seperti itulah aku akan memperlakukan-Mu." Ketika Aku melihat orang-orang seperti itu, Aku bersembunyi. Ketika Aku melihat seseorang yang selalu mengangguk dan membungkuk, Aku bersembunyi, secepat yang Aku bisa. Aku sama sekali tidak ingin berurusan dengan orang-orang semacam itu—itu terlalu merepotkan, terlalu bermasalah! Namun, antikristus berbeda. Mereka berharap untuk mendapatkan rasa hormat dari orang-orang, menerima perlakuan istimewa ke mana pun mereka pergi. Apa lagi yang lebih mereka harapkan? Selama mereka masih ada, orang-orang yang berada di bawah kepemimpinan mereka akan sepenuhnya mematuhi perintah mereka dan mematuhinya tanpa kompromi, sampai pada titik mutlak; lalu mereka berpikir, "Lihat—apa pendapatmu tentang prajurit yang kupimpin, tim yang kupimpin? Mereka semua dengan patuh melakukan apa yang kukatakan." Mereka merasakan rasa pencapaian yang istimewa. Mereka melatih orang-orang untuk menjadi seperti boneka, menjadi seperti budak, tanpa pemikiran yang independen, atau opini dan pandangan mereka sendiri; mereka membuat setiap bawahan mereka mati rasa dan bodoh. Antikristus kemudian merasa gembira dan senang di lubuk hati mereka, merasa bahwa pekerjaan mereka telah membuahkan hasil, bahwa keinginan dan ambisi mereka telah terpenuhi. Jika segala sesuatunya tidak seperti itu, hati mereka merasa sedih: "Mengapa orang-orang tidak melakukan apa yang kukatakan? Metode apa yang harus kugunakan agar mereka mematuhiku? Baiklah—jika kau tidak tahu bahwa aku hebat, aku hanya perlu menunjukkannya kepadamu! Aku memiliki gelar pascasarjana; aku membawa ijazahku setiap hari, agar kau dapat melihatnya. Aku lulus Ujian untuk Jurusan Bahasa Inggris Level Delapan dan aku adalah ketua serikat mahasiswa. Karena kalian tidak begitu mengenalku dengan baik, aku akan sedikit pamer kepada kalian!" Setiap kali mereka mendiskusikan pekerjaan, mereka berkata, "Apa pun pemikiran yang kalian semua miliki, sampaikanlah; ungkapkanlah pandangan kalian dengan bebas—jangan terkekang karena aku." Jadi, orang-orang di sana mulai mengungkapkan pandangan mereka. Setelah mereka melakukannya, "orang yang lebih unggul" dengan gelar pascasarjana ini berkata, "Pandangan kalian tidak bagus. Semuanya biasa saja, semuanya adalah pandangan orang biasa. Aku benar-benar harus ikut campur. Lihatlah, kalian tidak mampu melakukan pekerjaan itu! Sebenarnya, aku tidak ingin melakukan pekerjaan ini, tetapi jika aku tidak berada di sini, kalian tidak akan mampu menanggung beban ini. Jadi, aku perlu mengulurkan bantuan. Aku telah memikirkan hal ini dengan matang. Beginilah cara kita akan menanganinya. Tak satu pun trik yang kalian sebutkan akan berhasil; aku akan memberi kalian trik yang lebih baik. Itulah yang diharuskan oleh pengaturan kerja untuk kita lakukan di masa lalu. Mulai sekarang, kita tidak akan mematuhi aturan tersebut. Kita tidak akan lagi melakukannya dengan cara seperti itu." Beberapa orang berkata, "Jika kami tidak bertindak berdasarkan pengaturan kerja, itu akan menyebabkan kerugian besar bagi rumah Tuhan." Mereka menjawab, "Jangan terlalu dipikirkan—akankah rumah tuhan peduli dengan sedikit uang ini? Mari kita berfokus pada hasilnya—itulah yang penting. Mulai sekarang, lakukan saja apa yang kukatakan. Jika terjadi kesalahan, akulah yang akan bertanggung jawab!" Tak ada seorang pun yang dapat menghalangi mereka. Bukankah mereka hanya mengucapkan ide-ide yang terdengar muluk? Apa tujuan mereka melakukan? Tujuannya adalah untuk pamer, dan selalu mengingatkan setiap orang tentang keberadaan mereka, serta kecerdasan mereka. Dalam hal apa mereka cerdas? Dalam hal mereka yang sulit dipahami oleh orang biasa. Sekalipun antikristus memiliki pandangan yang sama seperti orang lain, mereka tetap menolak pandangan itu ketika pandangan itu diungkapkan oleh orang lain, kemudian mereka memulai dari awal dan memimpin dengan menyatakan pandangan itu kembali. Kelompok tersebut mendengar perkataan mereka dan berkata, "Bukankah itu ide yang sama?" Antikristus itu menjawab, "Sama atau tidak, akulah yang mengatakannya. Bukan kalian yang mengatakannya. Akulah yang memulai ide ini." Seperti apa pun cara mereka mengulang-ulang perkataannya, tujuan mereka adalah untuk meyakinkan semua orang, memberi tahu orang-orang: "Aku bukan pemimpin yang tak punya tujuan; aku bukan pemimpin kelompok dan orang yang bertanggung jawab yang tak punya tujuan. Aku bukan cuma bicara tanpa tindakan—aku tidak akan berada di posisi ini jika aku tidak memiliki bakat, karunia, dan kemampuan." Jika sesuatu terjadi saat antikristus itu tidak ada, tak ada orang lain yang boleh mengambil keputusan, dan jika mereka berada di sana, merekalah yang harus mengambil keputusan. Semua orang harus memperhatikan ekspresi mereka. Semua orang baru dapat bernapas lega setelah mereka yang mengambil keputusan; jika bukan mereka yang mengambil keputusan, semua orang merasa cemas. Jika mereka tidak diizinkan untuk mengambil keputusan, maka tidak akan mungkin untuk menyelesaikan tugas yang ada. Bukankah antikristus memiliki tujuan ketika melakukan hal ini? Terkadang mereka berpikir, "Apakah yang sedang kulakukan ini benar? Sebaiknya aku tidak melakukan hal ini—aku sedang mempermalukan diriku sendiri. Bukankah seperti inilah cara antikristus bertindak? Itu tidak dapat diterima; yang penting adalah harga diriku. 'Antikristus'? Yang di atas tidak mengutukku, jadi aku bukan antikristus!" Lalu mereka terus bertindak seperti sebelumnya. Terkadang, mereka tahu betul bahwa apa yang sedang mereka lakukan melanggar pengaturan kerja dan prinsip-prinsip kebenaran, bahwa mereka jelas-jelas sedang mempertimbangkan harga diri dan status mereka sendiri, bahwa mereka memiliki niat sendiri—tetapi mereka terus melakukan apa yang selama ini telah mereka lakukan, tanpa memikirkan konsekuensinya, dan terlebih lagi, mereka tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan. Bukankah ini masalah watak? Tindakan apa yang ditimbulkan oleh watak semacam ini? Bersikap sangat egois dan merajalela melakukan hal-hal buruk. Apakah mereka benar-benar tidak tahu di dalam hati mereka cara bertindak yang benar? Apakah mereka benar-benar tidak memahami bahwa apa yang sedang mereka lakukan melanggar prinsip? Apakah mereka benar-benar tidak tahu bahwa apa yang mereka lakukan sedang menyesatkan dan mengendalikan orang lain, bahwa mereka sedang melakukan kejahatan? Mereka tahu dan memahami hal-hal ini. Mereka terus bertindak dengan cara yang sama dan itu berarti mereka tidak mencintai kebenaran dan muak terhadapnya. Mereka menolak pandangan, cara, metode, atau pernyataan apa pun, selama itu bukan berasal dari mulut mereka. Bukankah ini ambisi? (Ya.) Ada ambisi dan niat jahat di dalamnya. Niat jahat apa? Apa yang tersembunyi di baliknya? (Membuat orang-orang melakukan apa yang mereka katakan.) Membuat orang-orang melakukan apa yang mereka katakan—mereka sama sekali tidak boleh kehilangan keuntungan atau kesempatan sedikit pun untuk menonjol, atau membiarkan hal-hal ini jatuh ke tangan orang lain. Harus mereka yang membuat keputusan setiap saat; harus mereka yang mengambil keputusan akhir setiap saat; hasil pekerjaan harus menjadi milik mereka saja dan hanya mereka yang menerima pujian pada setiap saat. Pada akhirnya, mereka membuat semua orang mengembangkan suatu kecenderungan. Kecenderungan apa? Kecenderungan untuk menganggap bahwa pekerjaan hanya dapat berjalan jika mereka berada dalam kelompok—tanpa mereka, seolah-olah tidak ada orang lain yang mampu menanggung beban tersebut. Dengan begitu, bukankah mereka telah mencapai tujuan mereka? Orang-orang itu telah jatuh di bawah kendali mereka. Apa tandanya orang sedang dikendalikan? Ditaklukkan dan dikalahkan sepenuhnya—antikristus menyiksamu agar menyerah kepada mereka, sehingga engkau tidak dapat membedakan yang benar dari yang salah, dan sama sekali tidak berusaha untuk mengenali mereka atau menghubungkan aspek kebenaran apa pun dengan mereka, dan dengan teguh meyakini bahwa apa pun yang mereka lakukan adalah benar, dan tidak lagi berani menganalisis apakah mereka benar atau salah. Inilah akibat yang ditimbulkan setelah orang-orang disesatkan dan dikendalikan oleh antikristus, dan tepat setelah itu, orang-orang tersebut mengikuti antikristus. Bukankah demikian? (Ya.) Bukankah ini jelas merupakan perwujudan antikristus yang membuat orang lain hanya tunduk kepada mereka, bukan kepada kebenaran atau Tuhan? (Ya.) Apa motif dan niat jahat di balik semua yang mereka lakukan, dan apa sumber dari tindakan, cara, dan sarana mereka, dan bahkan pernyataan mereka? Yaitu mereka ingin mengalahkanmu, menundukkanmu, membuatmu menyerah kepada mereka, dan menunjukkan kepadamu siapa pemimpinnya, siapa yang memenuhi syarat untuk memimpin, siapa yang menjadi penentu keputusan di sana, dan bahwa bukanlah kebenaran yang menjadi penentu keputusan—bahwa tak seorang pun kecuali mereka yang dapat menjadi tuan atas orang-orang ini, atau yang mengambil keputusan, atau yang membuat keputusan. Engkau ingin menyinggung tentang kebenaran, tetapi tidak ada cara bagimu untuk melakukannya. Engkau ingin mengemukakan pendapat yang berbeda—tetapi jangan pernah memikirkannya. Watak antikristus macam apa ini? Ini adalah watak yang kejam; mereka ingin menaklukkan dan mengendalikan orang-orang. Entah engkau melihat keinginan dan ambisi antikristus atau tidak, atau melihat tindakan nyata mereka atau tidak, semua ini menunjukkan watak mereka yang kejam dan muak akan kebenaran. Cara-cara, penyingkapan, dan perwujudan yang dimiliki antikristus untuk menaklukkan dan mengendalikan orang-orang, serta esensi mereka, sangat sesuai dengan topik utama yang sedang kita persekutukan. Antikristus ingin agar orang-orang hanya tunduk kepada mereka—maksud mereka sebenarnya adalah bahwa orang-orang harus melakukan apa yang mereka katakan, bahwa melakukannya berarti tunduk kepada Tuhan. Jika seseorang mengemukakan pendapat yang berbeda dan mengatakan bahwa apa yang sedang antikristus lakukan bertentangan dengan kebenaran, mereka akan membantah, "Bertentangan dengan kebenaran? Katakan kepada kami—apa arti kebenaran? Jika kau mampu menjelaskannya dengan gamblang, aku akan mematuhimu—tetapi jika kau tidak mampu, aku akan mempermalukanmu!" Ketika mereka mengatakan itu, beberapa orang benar-benar merasa takut dan berkata, "Aku benar-benar tidak mampu menjelaskannya dengan gamblang, jadi aku akan melakukan apa yang kaukatakan." Dengan begitu, antikristus telah mencapai tujuan mereka. Adakah orang-orang yang melakukan hal ini? (Ada.) Pernahkah engkau semua melakukan hal-hal seperti ini? (Tidak.) Antikristus memiliki keterampilan ini. Orang biasa menyerah ketika menyadari bahwa dirinya tidak dapat membujuk orang lain; mereka tidak memiliki teknik itu. Di satu sisi, itu karena mereka tidak mampu berbicara dan mengekspresikan diri mereka dengan cara seperti itu, mereka tidak mampu berbicara dan berdebat dengan baik. Di sisi lain, hati mereka tidak cukup kejam. Mereka yang mampu melakukan hal-hal ini pasti memiliki watak yang jahat di dalam diri mereka. Mereka harus bersikap kejam dan cukup bengis, serta tidak peduli dengan perasaan orang lain. Jika ada yang tidak setuju dengan mereka, mereka akan menyiksanya dengan cara yang sangat kejam, dan seberapa kejamnya pun mereka melakukannya, hati nurani mereka tidak akan merasa bersalah atau menyadarinya. Seseorang akan berkata, "Mereka sudah cukup menyedihkan; mengapa aku membuat mereka melakukan apa yang kukatakan? Aku akan melepaskan mereka, mereka percaya kepada Tuhan, bukan kepadaku. Mereka boleh mendengarkan siapa pun yang berbicara dengan cara yang sesuai dengan kebenaran, siapa pun orangnya. Aku biarkan saja kali ini." Apakah antikristus berpikir dengan cara seperti ini? Tidak; antikristus sama sekali tidak memiliki rasionalitas seperti itu. Mereka sangat jelas tentang ambisi dan hasrat mereka sendiri. Mereka berpaut pada ambisi dan hasrat itu dan tidak akan melepaskannya, sama seperti serigala yang menggigit seekor domba di mulutnya. Jika engkau berusaha bernegosiasi dengan serigala, dan menghentikannya agar tidak memakan seekor domba—akankah itu berhasil? Itu tidak akan berhasil. Mengapa tidak? Karena itu adalah wataknya. Apa yang dipercayai serigala? "Aku lapar. Aku suka makan domba. Ini tidak salah. Entah aku ingin makan domba atau tidak, semua itu benar." Itulah falsafahnya, standar dan sumber tindakannya. Demikian pula, ketika antikristus menaklukkan dan mengendalikan orang-orang, apakah mereka berpikir, "Aku bukan Tuhan. Betapa tidak tahu malunya aku mengendalikan manusia. Jika orang-orang mulai mengenaliku, bagaimana aku dapat memperlihatkan wajahku di mana pun?" Apakah mereka memiliki rasa malu seperti itu? (Tidak.) Mereka tidak memiliki rasa malu. Jadi, apa yang hilang dari kemanusiaan mereka? Rasa malu, rasionalitas, dan hati nurani. Hal-hal ini tidak ada dalam kemanusiaan mereka. Tanpa hal-hal tersebut, apakah mereka masih manusia? Mereka bukan manusia. Tidak semua yang mengenakan kulit manusia adalah manusia, belum tentu—sebagian adalah setan, sebagian adalah mayat hidup, dan sebagian adalah binatang. Jadi, makhluk macam apakah antikristus itu? Mereka adalah setan-setan; sebagian dari mereka adalah setan jahat, dan yang lainnya adalah roh-roh jahat. Singkatnya, mereka bukan manusia. Karena mereka tidak memiliki nalar, hati nurani, dan rasa malu sebagai kemanusiaan yang normal, sehingga antikristus mampu bersaing dengan Tuhan untuk mendapatkan manusia dan memenangkan hati manusia. Ini menunjukkan bahwa esensi natur mereka jahat. Tidaklah dibenarkan bagi mereka untuk bersaing dengan orang lain demi status, apalagi bersaing dengan Tuhan demi status dan demi manusia! Ini makin memperlihatkan bahwa mereka adalah antikristus sejati, bahwa mereka adalah setan-setan dan para Iblis.
Sekarang kita telah bersekutu tentang perwujudan antikristus sampai bab kedelapan. Mampukah engkau semua sekarang membandingkan antara dirimu dan antikristus, serta orang-orang yang menempuh jalan antikristus dan mereka yang memiliki watak antikristus, untuk memahami orang macam apa dirimu? (Ya.) Engkau mampu membuat beberapa perbandingan. Masalah orang yang manakah yang dapat diselesaikan dengan melakukan hal ini? (Itu dapat menghalangi kami agar tidak menempuh jalan yang salah.) Itu dapat menghalangimu agar tidak menempuh jalan yang salah. Apa lagi? (Itu membuat kami mampu membedakan orang, peristiwa, dan hal-hal di sekitar kami.) Itu membuat engkau mampu membedakan beberapa dari orang-orang di sekitarmu. Mampu membedakan orang lain adalah bagian darinya; tetapi, yang terutama, engkau harus tahu bagaimana membedakan dirimu sendiri, dari watak antikristus di dalam dirimu dan jalan yang kautempuh. Ini akan membantumu agar tidak tersesat ketika melaksanakan tugasmu dan tidak menempuh jalan antikristus. Begitu seseorang telah mulai melangkah di jalan antikristus, apakah mudah bagi mereka untuk kembali? Tidak; begitu mereka telah mulai melangkah, tidak mudah bagi mereka untuk kembali. Tahukah engkau apa alasannya? (Roh Kudus tidak bekerja di dalam diri mereka.) Itulah alasan utamanya. Mulai melangkah di jalan yang salah itu berbahaya, karena engkau telah memilih untuk berjuang melawan Tuhan, bersaing dengan-Nya untuk mendapatkan umat pilihan-Nya, dan untuk melawan-Nya sampai akhir; engkau tidak sedang mencari kebenaran, atau berusaha untuk menerima keselamatan dari Tuhan. Jika engkau mulai menempuh jalan seperti itu, engkau akan berada dalam masalah. Engkau akan bertentangan dengan Tuhan—engkau akan berdiri di pihak yang melawan Dia dengan kehendakmu yang subjektif; yaitu, pemikiran, pandangan, opini, dan pilihanmu semuanya akan memusuhi Tuhan. Jika, sebelum engkau mulai melangkah di jalan ini, engkau memiliki beberapa perwujudan, watak, dan esensi objektif yang bertentangan dan memusuhi Tuhan, tetapi engkau selalu berhati-hati dalam hatimu untuk tidak menempuh jalan permusuhan terhadap Tuhan, atau jalan antikristus, maka engkau memiliki kesempatan untuk diselamatkan. Jika engkau benar-benar mulai melangkah di jalan antikristus, jalan permusuhan terhadap Tuhan, engkau sedang berada dalam bahaya. Seberapa besarkah bahayanya? Cukup besar sehingga tidak akan mudah bagimu untuk berbalik. Beberapa orang baru saja mengatakan bahwa Roh Kudus tidak akan lagi bekerja dalam dirimu—itu sangat jelas! Bagaimana mungkin Roh Kudus bekerja dalam diri orang semacam itu? Begitu engkau telah mulai melangkah di jalan seperti itu, begitu engkau telah membuat pilihan itu, engkau sedang berada dalam bahaya. Jika engkau memahami hal ini di dalam hatimu, tetapi tetap melakukannya, pergi ke jalan itu, dan membuat pilihan itu, serta selalu melanjutkan berdasarkan prinsip-prinsipmu sendiri dan cara-cara lamamu sebelumnya ketika engkau bertindak, tanpa berbalik atau bertobat, tanpa membalikkan arahmu, itu merepresentasikan pilihanmu—engkau telah memutuskan untuk menempuh jalan ini dalam permusuhan terhadap Tuhan. Bukan karena engkau tidak mengerti apa yang sedang kaulakukan—engkau sedang dengan sengaja berbuat dosa. Itu sama seperti Paulus, yang berkata, "Siapakah engkau, tuhan? Mengapa engkau ingin menjatuhkanku?" Dia tahu betul bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan, bahwa Dia adalah Kristus, tetapi dia tetap menentang-Nya sampai akhir. Itu berarti dengan sengaja berbuat dosa. Paulus tidak bersaksi bagi Tuhan, dia juga tidak meninggikan-Nya. Dia berpikir, "Bukankah engkau hanya orang biasa? Bukankah engkau hanya menjatuhkanku karena engkau memiliki kuasa untuk melakukannya? Engkau mungkin memiliki kuasa, tetapi aku tetap percaya kepada tuhan yang di surga. Engkau, sang inkarnasi, bukanlah tuhan; engkau tidak ada hubungannya dengan tuhan. Engkau adalah anak tuhan, dan engkau setara dengan kami." Bukankah itu pandangannya? Apa dasar dari pandangan Paulus ini? Setelah dia mengetahui bahwa Tuhan Yesus adalah Kristus yang berinkarnasi, dia tetap memegang pandangan ini, seperti yang dia lakukan sebelumnya. Ini adalah masalah yang serius, dan dengan begitu, kesudahannya diputuskan. Mengingat bahwa dia berpegang pada pandangan itu sepanjang waktu, mungkinkah jalan yang dia tempuh berubah? Jalan yang orang tempuh didasarkan pada pandangan mereka: apa pun pandanganmu, itulah jalan yang kautempuh. Demikian pula sebaliknya, jalan apa pun yang kautempuh, itulah pandangan yang akan muncul dalam dirimu, pandangan yang akan kaumiliki, pandangan yang akan memengaruhi dan mengarahkanmu. Begitu engkau memulai jalan permusuhan terhadap Tuhan, pandangan ini akan terbentuk dan berakar di dalam dirimu, dan kemudian satu hal yang pasti: engkau pasti akan menentang Tuhan sampai akhir; engkau pasti akan selalu berpegang pada pandangan, pengetahuan, dan sikapmu yang salah, yang akan menyerukan tuntutan terhadap Tuhan sampai akhir. Engkau sama sekali tidak akan berubah haluan—apa pun yang orang lain katakan, meskipun Roh Kudus mencerahkanmu, atau meskipun saudara-saudari menasihatimu, atau meskipun Tuhan menerangimu. Tidak akan ada ruang untuk mengubah haluanmu. Ini adalah pilihanmu. Engkau akan diberi kesempatan pertama, kedua, dan ketiga—jika, setelah tiga kali kesempatan untuk bertobat, engkau belum bertobat, engkau tidak akan memiliki kesempatan lagi di kemudian hari. Seperti apa pun engkau bekerja dan membayar harganya, Tuhan tidak akan tergerak—Dia telah mengambil keputusan tentang dirimu. Apa yang akan Tuhan putuskan untukmu? Bahwa engkau akan dibuat untuk melakukan pelayanan, bahwa engkau akan digunakan; dan setelah engkau digunakan, Dia akan menempatkanmu di suatu tempat di mana engkau akan dihajar dan dihukum, seperti yang telah Dia putuskan. Bagaimana itu bisa terjadi, Tuhan mengambil keputusan dengan cara seperti ini? Apakah karena pemikiran sesaatmu? Apakah itu didasarkan pada ide-ide sepintasmu? Apakah itu didasarkan pada saat engkau melangkah sejenak ke jalan yang salah? Tidak; Tuhan mendasarkan ini pada pandangan yang kaumiliki di lubuk hatimu, pada sikap jangka panjangmu terhadap kebenaran, dan pada jalan yang kauputuskan untuk ditempuh. Engkau telah memutuskan untuk bertindak dengan cara seperti ini, dan apa pun yang orang-orang katakan, itu tidak ada gunanya; engkau telah memutuskan untuk menggunakan teori ini sebagai landasan bagi jalan yang kautempuh di masa depan. Karena engkau telah memutuskan, bukankah Tuhan harus menentukan kesudahanmu? Kesudahanmu telah ditentukan sejak lama; Tuhan tidak perlu menunggu sampai akhir untuk menentukannya. Tuhan selalu melihat perwujudan beberapa orang—ketika orang-orang ini akhirnya sampai di ujung jalan, kesudahan mereka pada akhirnya ditentukan berdasarkan berbagai perwujudan mereka. Ada orang-orang yang telah melakukan lebih banyak perbuatan baik daripada perbuatan jahat; mereka telah memiliki lebih banyak sikap yang baik dan positif terhadap Tuhan daripada sikap yang negatif dan jahat, dan berdasarkan penilaian menyeluruh dari berbagai perilaku dan perwujudan mereka, kesudahan mereka ditentukan. Namun, ada orang lain yang kesudahannya ditentukan oleh Tuhan setelah sekilas pandang melihat jalan yang mereka tempuh. Apakah Tuhan memberi orang-orang kesempatan sebelum menentukan kesudahan mereka? Ya. Berapa banyak? Kemungkinan besar tidak ada angka yang pasti untuk ini. Itu tergantung pada esensi natur seseorang, dan juga berdasarkan pada pengejarannya. Ada orang-orang yang mungkin mendapat tiga kesempatan. Sebagian tidak dapat diselamatkan, mereka sangat bodoh dan keras kepala, serta tidak menerima kebenaran sedikit pun—kesudahan mereka ditentukan sebelum mereka telah memiliki tiga kesempatan. Namun, Tuhan mengatur beberapa lingkungan untuk sebagian orang berdasarkan keadaan mereka, dan berdasarkan usia mereka serta berdasarkan hal-hal yang telah mereka lalui, Dia mungkin memberi mereka lima kesempatan. Ini berdasarkan esensi natur mereka, dan sikap mereka saat menerima kebenaran. Tuhan menentukan kesudahan dan tempat tujuan seseorang berdasarkan hal-hal ini.
Segala macam hal terjadi pada orang-orang, dan mereka sering kali tidak tahu bagaimana cara menghadapinya; bolehkah jika mereka tidak berusaha untuk memahami kebenaran? Mudah bagi orang untuk menempuh jalan yang salah ketika mereka tidak memahami kebenaran. Mengapa Kukatakan demikian? Orang-orang hidup berdasarkan watak rusak Iblis, dan hal-hal yang keluar dari dalam diri mereka adalah hal-hal yang secara alami mereka perlihatkan, dan tak ada seorang pun dari mereka yang sesuai dengan kebenaran, atau tidak berkhianat terhadap Tuhan. Jadi, mengapa mereka harus selalu mendengarkan khotbah? Selalu mendengarkan khotbah, merenungkannya, dan menyimpannya di dalam hati; selalu berdoa dan mencari; datang ke hadirat Tuhan dengan hati yang takut akan Tuhan, dengan hati yang saleh, dengan hati yang mendambakan kebenaran; menetapkan waktu setiap hari untuk bersaat teduh, berdoa, dan makan serta minum firman Tuhan; dan bersekutu dengan orang lain, serta bekerja sama secara harmonis dengan orang lain untuk melakukan pekerjaan; bertindak setiap hari berdasarkan prinsip-prinsip ini, dan mematuhi prinsip-prinsip ini setiap hari—Tuhan melihat apakah elemen-elemen terperinci dari penerapan orang-orang ini membuahkan hasil. Ada orang-orang yang mungkin bertanya, "Bukankah itu hanya proses?" Apa yang dimaksud dengan proses? Semua ini bukanlah hal-hal yang eksternal—engkau hanya mampu mematuhi hal-hal ini jika engkau memiliki hati untuk melakukannya. Tanpa hati yang seperti itu, berapa hari engkau mampu mematuhinya? Engkau tidak akan mampu mematuhinya. Beberapa pemimpin tidak pernah makan dan minum firman Tuhan dan tidak pernah melakukan saat teduh. Apa artinya ini? Artinya mereka bukanlah orang percaya sejati. Jika mereka bukan orang percaya sejati, lalu bagaimana mereka bisa menjadi pemimpin? Di beberapa tempat, tak ada seorang pun yang layak untuk pekerjaan itu, jadi gereja terpaksa menggunakan orang-orang ini. Mereka secara keliru berpikir, "Aku telah dipilih sebagai pemimpin. Aku mampu melakukan pekerjaan ini dengan cara yang sama tanpa makan dan minum firman Tuhan—asalkan orang-orang memiliki kaki dan mulut, mereka mampu melakukan pekerjaan ini." Ini adalah kebodohan. Tuhan tidak melihat apakah engkau mampu melakukan pekerjaan itu atau tidak—Dia melihat apa yang telah kaulakukan. Pekerjaan yang mampu kaulakukan, orang lain juga mampu melakukannya. Siapa pun yang memiliki sedikit kecerdasan normal mampu melakukannya. Jangan mengira bahwa karena engkau telah dipilih sebagai pemimpin, dan engkau mampu melakukan pekerjaan itu, maka keberhasilanmu terjamin, bahwa engkau telah disempurnakan, bahwa engkau kemudian memiliki kesempatan untuk bertahan. Bukan seperti itu cara kerjanya. Tuhan tidak pernah melihat seberapa banyak yang kaulakukan; Dia melihat apa yang telah kaulakukan, Dia melihat jalan yang kautempuh. Jangan menipu dirimu sendiri tentang hal ini. Engkau mungkin berpikir, "Ada begitu banyak orang yang tidak terpilih, tetapi aku terpilih. Kelihatannya aku luar biasa, bahwa aku memiliki kualitas yang lebih tinggi dan lebih baik daripada orang lain." Apanya yang baik tentang dirimu? Sekalipun engkau baik, tentu saja engkau tidak berhak untuk tidak menerapkan kebenaran, dan bertindak melanggar kebenaran, bukan? Sekalipun engkau baik, tentu saja engkau tidak berhak untuk tidak melakukan saat teduh atau berdoa, dan tidak mencari kebenaran saat engkau bertindak, bukan? Engkau tidak berhak atas hal-hal itu. Tidak ada status atau gelar yang menjadi modalmu. Semua itu adalah hal-hal yang sementara, hal-hal eksternal. Tuhan melihat kesetiaanmu; Dia melihat bagaimana engkau menerapkan kebenaran, mengejar kebenaran, dan sikapmu terhadap kebenaran; Dia melihat ketundukanmu; Dia melihat sikapmu terhadap tugasmu dan misimu. Ada orang-orang mungkin mengerahkan banyak upaya untuk melaksanakan tugas mereka, tetapi mereka tidak melaksanakannya sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Jika engkau memberi tahu mereka bahwa mereka harus bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, mereka menentang, mereka menjadi marah dan tidak menerimanya. Dengan begitu saja, mereka tersingkap. Apa yang telah tersingkap? Bahwa mereka tidak menerima kebenaran. Orang macam apakah mereka yang tidak menerima kebenaran? Pengikut yang bukan orang percaya. Apa yang secara membabi buta dilakukan pengikut yang bukan orang percaya? Mengapa mereka begitu bersemangat dalam kesibukan mereka? Mereka memiliki tujuan, mereka melihat bahwa, "Ada kesempatan bagiku untuk menjadi pejabat di sini, dan jika aku menjadi pejabat, aku dapat memperoleh keuntungan dari gereja, dan dipuja oleh semua orang. Tempat ini bagus sekali! Sumber penghasilan ini terlalu mudah didapat, begitu pun prestise dan keuntungan ini; status ini benar-benar sangat mudah untuk diperoleh—benar-benar sangat mudah untuk menjadi pejabat di sini!" Mereka tidak pernah menyangka bahwa mereka akan menjadi "pejabat" dalam kehidupan ini. Namun, begitu mereka kehilangan "jabatan" mereka, mereka memperlihatkan diri mereka yang sebenarnya. Mereka tidak melakukan upaya lebih lanjut untuk rumah Tuhan. Akankah mereka tetap mampu menderita dan membayar harganya? Tidak. Bukankah mereka kemudian tersingkap? Ada orang-orang yang akan berusaha sekuat tenaga begitu mereka memiliki status, berusaha dan menguras keringat, tidak mengeluh sebanyak apa pun mereka menderita—tetapi begitu mereka tidak lagi memiliki status, mereka menjadi negatif, sampai-sampai kenegatifan tersebut menguasai mereka. Bukankah mereka kemudian tersingkap? Status telah menyingkapkan mereka. Apakah perlu menempatkan mereka melewati ujian? Tidak. Baiklah, kita akan mengakhiri persekutuan hari ini di sini.
1 Oktober 2019