Jalan Masuk ke Dalam Kehidupan VI
Firman Tuhan Harian: Kutipan 556
Hanya dengan mengejar kebenaran, orang dapat mencapai perubahan dalam wataknya: ini adalah sesuatu yang harus orang pahami dan orang harus memahaminya secara menyeluruh. Jika engkau tidak memiliki cukup pemahaman tentang kebenaran, dengan mudah engkau akan menyimpang dan tersesat. Jika engkau ingin bertumbuh dalam hidupmu, engkau harus mencari kebenaran dalam segala sesuatu. Apa pun yang sedang kaulakukan, engkau harus mencari tahu bagaimana berperilaku agar sesuai dengan kebenaran, dan menemukan noda apa yang ada dalam dirimu yang melanggar kebenaran; engkau harus memiliki pemahaman yang jelas mengenai hal-hal ini. Apa pun yang sedang kaulakukan, engkau harus memikirkan apakah itu sesuai dengan kebenaran atau tidak, dan apakah itu memiliki nilai dan makna atau tidak. Engkau boleh melakukan hal-hal yang sesuai dengan kebenaran, tetapi engkau tidak boleh melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kebenaran. Berkaitan dengan hal-hal yang bisa atau tidak bisa kaulakukan, jika hal-hal itu bisa dilepaskan, engkau harus melepaskannya. Atau jika engkau telah melakukannya selama beberapa waktu, lalu mendapati bahwa engkau harus melepaskannya, maka buatlah keputusan cepat dan lepaskanlah itu secepatnya. Inilah prinsip yang harus kauikuti dalam segala sesuatu yang kaulakukan. Ada orang-orang yang mengajukan pertanyaan ini: mengapa mencari kebenaran dan menerapkannya begitu sulit—seakan mendayung melawan arus, dan akan terseret mundur jika engkau berhenti mendayung maju? Namun, mengapa malah jauh lebih mudah untuk melakukan hal-hal yang jahat dan tidak berarti—semudah mendayung perahu ke hilir? Mengapa seperti itu? Itu karena natur manusia adalah mengkhianati Tuhan. Natur Iblis telah mengambil tempat dominan dalam diri manusia, dan ini adalah suatu kekuatan yang sifatnya menentang. Manusia dengan natur yang mengkhianati Tuhan, tentu saja sangat mudah untuk melakukan hal-hal yang mengkhianati Dia, dan tindakan positif secara alami sulit untuk mereka lakukan. Hal ini ditentukan sepenuhnya oleh esensi natur manusia. Begitu engkau benar-benar memahami kebenaran dan mulai mencintai kebenaran dari dalam dirimu, engkau akan mendapati ternyata melakukan hal-hal yang sesuai dengan kebenaran itu mudah. Engkau akan melaksanakan tugasmu dan terbiasa menerapkan kebenaran—bahkan dengan mudah dan penuh sukacita, dan engkau akan merasa bahwa melakukan apa pun yang negatif membutuhkan upaya yang sangat besar. Ini karena kebenaran telah mendapatkan tempat dominan dalam hatimu. Jika engkau benar-benar memahami kebenaran tentang hidup manusia, engkau akan memiliki jalan untuk kauikuti dalam kaitannya dengan menjadi orang seperti apakah dirimu, bagaimana agar menjadi orang yang terbuka dan berterus terang, orang yang jujur, serta orang yang memberi kesaksian bagi Tuhan dan melayani Dia. Dan begitu engkau memahami kebenaran-kebenaran ini, engkau tidak akan pernah lagi mampu melakukan perbuatan jahat yang menentang Dia, atau memainkan peran sebagai pemimpin palsu, pekerja palsu, atau antikristus. Bahkan sekalipun Iblis menyesatkanmu, atau seseorang yang jahat mendesakmu, engkau tetap tidak akan melakukannya; tidak peduli siapa pun yang berusaha memaksamu, engkau tetap tidak akan bertindak seperti itu. Jika orang memperoleh kebenaran, dan kebenaran itu menjadi hidup mereka, mereka akan menjadi mampu untuk membenci kejahatan dan merasakan kejijikan dalam diri mereka terhadap hal-hal negatif. Akan sulit bagi mereka untuk melakukan kejahatan, karena watak hidup mereka telah berubah dan mereka telah disempurnakan oleh Tuhan.
Jika, di dalam hatimu, engkau benar-benar memahami kebenaran, engkau akan tahu bagaimana menerapkan kebenaran dan tunduk kepada Tuhan, dan secara alami engkau akan mampu memulai jalan mengejar kebenaran. Jika jalan yang kautempuh adalah jalan yang benar dan sesuai dengan maksud Tuhan, maka pekerjaan Roh Kudus tidak akan meninggalkanmu—dan dengan demikian akan semakin kecil kemungkinan engkau mengkhianati Tuhan. Tanpa kebenaran, akan mudah bagimu untuk melakukan kejahatan, dan engkau akan melakukannya meskipun engkau sendiri tidak mau. Misalnya, jika engkau memiliki watak yang congkak dan sombong, maka diberi tahu untuk tidak menentang Tuhan tidak ada bedanya, engkau tidak mampu menahan diri, itu berada di luar kendalimu. Engkau tidak akan melakukannya dengan sengaja; engkau akan melakukannya di bawah dominasi naturmu yang congkak dan sombong. Kecongkakan dan kesombonganmu akan membuatmu memandang rendah Tuhan dan menganggap-Nya tak berarti; itu akan mengakibatkanmu meninggikan diri sendiri, membuatmu selalu menonjolkan diri; itu akan membuatmu memandang rendah orang lain dan hanya memikirkan dirimu sendiri; itu akan merebut posisi Tuhan di hatimu, dan akhirnya menyebabkanmu mengambil posisi Tuhan dan menuntut agar orang tunduk kepadamu, dan membuatmu memuja pemikiran, ide, dan gagasanmu sendiri sebagai kebenaran. Begitu banyak kejahatan yang dilakukan manusia di bawah dominasi natur mereka yang congkak dan sombong! Untuk bisa mengatasi masalah melakukan kejahatan, mereka harus terlebih dahulu menyelesaikan masalah dalam natur mereka. Tanpa adanya perubahan watak, orang pada dasarnya tidak mungkin mampu menyelesaikan masalah ini. Ketika engkau memiliki pemahaman tentang Tuhan, ketika engkau bisa melihat kerusakanmu sendiri dan mengenali kecelaan dan kejelekanmu, kecongkakan dan kesombonganmu engkau akan merasa jijik, mual, dan tertekan. Engkau akan mampu secara sadar melakukan hal-hal untuk memuaskan Tuhan dan dengan melakukan hal ini, engkau akan merasa nyaman. Engkau akan secara sadar membaca firman Tuhan, meninggikan Tuhan, memberi kesaksian bagi Tuhan, dan, di dalam hatimu, engkau akan merasakan kenikmatan. Engkau akan secara sadar membuka topengmu, menyingkapkan keburukanmu sendiri dan dengan melakukan hal ini, engkau akan merasa baik dalam batinmu dan merasa dirimu berada dalam keadaan pikiran yang lebih baik. Langkah pertama mengejar perubahan dalam watakmu adalah berusaha memahami firman Tuhan dan masuk ke dalam kebenaran. Hanya dengan memahami kebenaran, barulah engkau bisa memperoleh kemampuan membedakan; hanya dengan kemampuan membedakan, barulah engkau bisa memahami segala sesuatu secara menyeluruh; hanya dengan memahami segala sesuatu secara menyeluruh, barulah engkau benar-benar mengenal dirimu sendiri; hanya setelah engkau benar-benar mengenal dirimu sendiri, barulah engkau mampu memberontak terhadap daging dan dengan demikian engkau mampu menerapkan kebenaran, berangsur-angsur tunduk kepada Tuhan, dan setahap demi setahap, engkau akan memasuki jalur yang benar dalam kepercayaanmu kepada Tuhan. Ini bergantung pada seperti apa tekad yang orang miliki saat mengejar kebenaran. Jika orang benar-benar memiliki tekad, maka sesudah enam bulan atau satu tahun mereka akan mulai berada di jalur yang benar. Dalam tiga atau lima tahun, mereka akan melihat hasilnya, dan akan merasa bahwa mereka sedang membuat kemajuan dalam hidupnya. Jika orang percaya kepada Tuhan tetapi tidak mengejar kebenaran, dan tidak pernah berfokus menerapkan kebenaran, maka mereka bisa saja percaya selama sepuluh atau dua puluh tahun tanpa mengalami perubahan apa pun. Dan pada akhirnya, mereka akan berpikir bahwa itulah arti beriman kepada Tuhan; mereka akan mengira beriman kepada Tuhan itu hampir sama dengan cara hidup mereka yang sebelumnya di dunia sekuler, dan bahwa menjadi hidup itu tidak ada artinya. Ini benar-benar menunjukkan bahwa tanpa kebenaran, hidup itu hampa. Mereka mungkin mampu mengkhotbahkan beberapa kata dan doktrin, tetapi mereka akan tetap merasa tidak nyaman dan tidak tenang. Jika orang memiliki pengetahuan tentang Tuhan, tahu bagaimana menjalani hidup yang bermakna, dan mampu melakukan beberapa hal untuk memuaskan Tuhan, mereka akan merasa bahwa inilah hidup yang nyata itu, bahwa hanya hidup dengan cara seperti inilah hidup mereka memiliki makna, dan bahwa mereka harus hidup dengan cara seperti ini untuk memberikan kepuasan kepada Tuhan, membalas kasih Tuhan, dan merasa tenang. Jika mereka bisa secara sadar memuaskan Tuhan, menerapkan kebenaran, memberontak terhadap diri mereka sendiri, melepaskan gagasan mereka sendiri, dan menjadi tunduk serta memikirkan maksud Tuhan—jika mereka mampu melakukan semua hal ini secara sadar—maka inilah yang dimaksud dengan menerapkan kebenaran secara tepat, dan menerapkan kebenaran secara nyata. Tidak seperti sebelumnya, hanya mengandalkan imajinasi dan mengikuti aturan, dan mengira bahwa inilah yang dimaksud dengan menerapkan kebenaran. Sebenarnya, mengandalkan imajinasi dan mengikuti aturan sangat melelahkan, tidak memahami kebenaran dan melakukan segala sesuatu tanpa prinsip juga sangat melelahkan, dan melakukan segala sesuatu secara membabi buta tanpa tujuan bahkan lebih melelahkan. Jika engkau memahami kebenaran, engkau tidak akan dibatasi oleh siapa pun, peristiwa apa pun, atau hal-hal apa pun, dan engkau akan benar-benar memiliki kebebasan dan kelegaan. Engkau akan bertindak dengan cara yang berprinsip, serta menjadi rileks dan bahagia, dan engkau tidak akan merasa bahwa ini membutuhkan terlalu banyak upaya atau menyebabkan terlalu banyak penderitaan. Jika engkau memiliki keadaan seperti ini, itu artinya engkau memiliki kebenaran dan kemanusiaan, dan engkau adalah orang yang wataknya telah berubah.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Mengejar Kebenaran Orang Dapat Mencapai Perubahan dalam Wataknya"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 557
Dalam proses pengalaman hidup, apa pun yang terjadi, engkau harus belajar mencari kebenaran, dan merenungkan hal itu dengan saksama sesuai dengan firman Tuhan dan kebenaran. Ketika engkau tahu bagaimana melakukan segala sesuatu yang sepenuhnya sesuai dengan maksud Tuhan, engkau akan mampu melepaskan segala sesuatu yang berasal dari kehendakmu sendiri. Setelah engkau tahu bagaimana bertindak sesuai dengan maksud Tuhan, engkau harus benar-benar bertindak dengan cara demikian, seolah-olah mengikuti arus alami; melakukan segala sesuatu dengan cara ini terasa sangat ringan dan mudah. Beginilah cara orang yang memahami kebenaran melakukan segala sesuatu. Jika engkau mampu memperlihatkan kepada orang-orang bahwa engkau benar-benar efektif ketika engkau melaksanakan tugasmu, dan bahwa ada prinsip tentang bagaimana engkau melakukan segala sesuatu, bahwa watak hidupmu memang telah berubah, bahwa engkau telah melakukan banyak hal baik bagi umat pilihan Tuhan, maka engkau adalah orang yang memahami kebenaran, dan tentu saja memiliki keserupaan dengan manusia; dan ketika engkau makan dan minum firman Tuhan pasti ada efeknya. Begitu orang benar-benar memahami kebenaran, mereka akan mampu mengenali berbagai keadaan mereka, mereka akan mampu melihat perkara-perkara yang rumit dengan jelas sehingga mereka akan tahu bagaimana melakukan penerapan dengan benar. Jika orang tidak memahami kebenaran dan tidak mampu mengenali keadaan mereka sendiri, maka jika mereka ingin memberontak terhadap diri mereka sendiri, mereka tidak akan tahu apa atau bagaimana cara memberontak. Jika mereka ingin melepaskan kehendak mereka sendiri, mereka tidak akan tahu apa yang salah dengan kehendak mereka sendiri, mereka akan berpikir bahwa kehendak mereka sesuai dengan kebenaran, dan bahkan mungkin menganggap kehendak mereka sendiri sebagai pencerahan dari Roh Kudus. Bagaimana orang semacam itu akan melepaskan keinginannya sendiri? Mereka tidak akan mampu, dan terlebih lagi, mereka tidak mampu memberontak terhadap daging. Oleh karena itu, ketika engkau tidak memahami kebenaran, engkau dapat dengan mudah salah mengira sesuatu yang berasal dari kehendakmu sendiri, yang sesuai dengan gagasan manusia, serta kebaikan, kasih, penderitaan dan pengorbanan manusia sebagai hal yang benar dan sesuai dengan kebenaran. Lalu, bagaimana agar engkau dapat memberontak terhadap hal-hal manusiawi ini? Engkau tidak memahami kebenaran, dan engkau tidak tahu apa arti menerapkan kebenaran. Engkau sama sekali berada dalam kegelapan dan engkau tidak mungkin tahu apa yang harus dilakukan, jadi engkau hanya bisa melakukan apa yang menurutmu baik, dan akibatnya, terdapat penyimpangan dalam beberapa tindakanmu. Beberapa di antaranya karena mengikuti aturan, beberapa karena semangat, dan beberapa karena gangguan Iblis. Seperti inilah orang-orang yang tidak memahami kebenaran. Ketika melakukan sesuatu, mereka sangat tidak menentu, selalu timbul penyimpangan, dan tidak ada akurasi sama sekali. Orang-orang yang tidak memahami kebenaran memandang segala sesuatu dengan cara yang absurd, sama seperti orang-orang tidak percaya. Bagaimana mereka mampu menerapkan kebenaran? Bagaimana mereka mampu menyelesaikan masalah? Memahami kebenaran bukanlah hal yang sederhana. Setinggi atau serendah apa pun kualitas seseorang, bahkan setelah pengalaman seumur hidup, jumlah kebenaran yang mampu mereka pahami terbatas, dan jumlah firman Tuhan yang mampu mereka pahami juga terbatas. Orang-orang yang relatif lebih berpengalaman adalah orang-orang yang memahami beberapa kebenaran, dan mereka setidaknya mampu untuk tidak lagi melakukan hal-hal yang menentang Tuhan, dan tidak lagi melakukan hal yang jelas-jelas jahat. Mereka tidak mungkin bertindak tanpa sama sekali dicampuri oleh niat mereka sendiri. Karena manusia memiliki cara berpikir yang normal dan pemikiran mereka mungkin tidak selalu sesuai dengan firman Tuhan, pencampuran dengan kehendak mereka sendiri tidak dapat dihindari. Yang penting adalah mampu mengenali semua hal yang berasal dari kehendak diri sendiri dan bertentangan dengan firman Tuhan, kebenaran, dan pencerahan Roh Kudus. Engkau harus bekerja keras untuk memahami firman Tuhan; hanya ketika engkau memahami kebenaran, barulah engkau akan memiliki kemampuan membedakan, dan hanya dengan cara demikianlah engkau mampu memastikan bahwa engkau tidak akan melakukan kejahatan.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Mengejar Kebenaran Orang Dapat Mencapai Perubahan dalam Wataknya"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 558
Untuk mengenal dirimu sendiri, engkau harus mengetahui perwujudan kerusakanmu sendiri, watak rusakmu, kelemahan utamamu sendiri, serta esensi naturmu. Engkau juga harus tahu, sampai pada hal-hal terkecil, hal-hal yang tersingkap dalam kehidupanmu sehari-hari—motifmu, sudut pandangmu, dan sikapmu tentang segala hal—entah engkau sedang berada di rumah atau di luar rumah, ketika engkau sedang berkumpul, ketika engkau sedang makan dan minum firman Tuhan, atau dalam setiap masalah yang engkau hadapi. Melalui aspek-aspek inilah, engkau harus mengenal dirimu sendiri. Tentu saja, untuk mengenal dirimu sendiri pada tingkat yang lebih dalam, engkau harus menggabungkan firman Tuhan; hanya dengan mengenal dirimu sendiri berdasarkan firman-Nya, barulah engkau dapat memperoleh hasil. Saat menerima penghakiman firman Tuhan, jangan takut menderita atau merasa sakit, dan terlebih lagi, jangan takut firman Tuhan akan menghunjam hatimu dan menyingkapkan keadaan-keadaanmu yang buruk. Mengalami hal-hal ini sangatlah bermanfaat. Jika engkau percaya kepada Tuhan, engkau harus membaca lebih banyak firman Tuhan yang menghakimi dan menghajar orang, terutama yang menyingkapkan esensi kerusakan manusia. Engkau harus lebih banyak membandingkannya dengan keadaan nyatamu, dan engkau harus mengaitkannya lebih banyak dengan dirimu sendiri dan lebih sedikit dengan orang lain. Jenis-jenis keadaan yang Tuhan singkapkan ini ada pada setiap orang, dan semuanya dapat ditemukan di dalam dirimu. Jika engkau tidak memercayai hal ini, cobalah alami sendiri. Semakin banyak engkau mengalaminya, semakin engkau akan mengenal diri sendiri, dan semakin engkau akan merasa bahwa firman Tuhan itu sangat akurat. Setelah membaca firman Tuhan, beberapa orang tidak mampu mengaitkannya dengan diri mereka sendiri; mereka berpikir bahwa bagian dari firman ini bukanlah tentang mereka, tetapi tentang orang lain. Contohnya, saat Tuhan menyingkapkan manusia sebagai sundal dan pelacur, beberapa saudari merasa bahwa karena mereka telah sangat setia kepada suami mereka, firman seperti itu pasti tidak mengacu pada diri mereka; beberapa saudari merasa bahwa karena mereka tidak menikah dan belum pernah berhubungan intim, firman seperti itu juga pasti bukan tentang mereka. Beberapa saudara merasa bahwa firman ini hanya ditujukan untuk wanita, dan tidak ada kaitannya dengan mereka; beberapa orang menganggap firman Tuhan yang menyingkapkan manusia terlalu keras, bahwa semua itu tidak sesuai dengan kenyataan, jadi mereka tidak mau menerimanya. Bahkan ada orang-orang yang mengatakan bahwa dalam beberapa hal, firman Tuhan itu tidak akurat. Apakah ini sikap yang benar terhadap firman Tuhan? Sikap ini jelas salah. Semua orang memandang diri mereka berdasarkan perilaku lahiriah mereka. Mereka tidak mampu merenungkan diri mereka sendiri dan mengetahui esensi mereka yang rusak berdasarkan firman Tuhan. Di sini, "sundal" dan "pelacur" mengacu pada esensi kerusakan, kekotoran, dan percabulan manusia. Entah pria atau wanita, menikah atau tidak menikah, semua orang memiliki pemikiran yang rusak dalam hal percabulan—jadi bagaimana mungkin hal itu tidak ada kaitannya denganmu? Firman Tuhan menyingkapkan watak rusak manusia; entah pria atau wanita, tingkat kerusakan orang adalah sama. Bukankah ini sebuah fakta? Kita harus terlebih dahulu menyadari bahwa semua yang Tuhan firmankan adalah kebenaran, dan sesuai dengan fakta, dan sekeras apa pun firman-Nya menghakimi dan menyingkapkan manusia, atau selembut apa pun firman-Nya mempersekutukan kebenaran atau menasihati manusia, entah firman-Nya adalah penghakiman atau berkat, entah itu adalah penghukuman atau kutuk, entah itu memberi kepada orang perasaan pahit atau manis, orang harus menerima semuanya itu. Seperti itulah sikap yang harus orang miliki terhadap firman Tuhan. Sikap macam apakah ini? Apakah ini sikap yang saleh, sikap yang penuh hormat, sikap yang sabar, atau sikap yang rela menerima penderitaan? Engkau semua sepertinya terlihat bingung. Kuberitahukan kepadamu bahwa bukan satu pun dari sikap-sikap ini. Dalam iman mereka, orang harus dengan tegas mengakui bahwa firman Tuhan adalah kebenaran. Karena firman Tuhan memang adalah kebenaran, orang harus menerimanya dengan nalar. Apakah mereka mampu mengenali atau mengakuinya atau tidak, sikap pertama mereka terhadap firman Tuhan haruslah sikap yang menerimanya secara mutlak. Jika firman Tuhan tidak menyingkapkan salah satu atau engkau semua, siapa yang disingkapkannya? Dan jika bukan untuk menyingkapkan dirimu, mengapa engkau diminta untuk menerimanya? Bukankah ini bertentangan? Tuhan berbicara kepada semua manusia, setiap kalimat yang diucapkan Tuhan menyingkapkan manusia yang rusak, dan tak seorang pun terkecuali—yang tentu saja juga termasuk dirimu. Tak satu pun kalimat perkataan Tuhan adalah tentang penampilan lahiriah, atau tentang semacam keadaan, apalagi tentang peraturan lahiriah ataupun bentuk sederhana perilaku dalam diri manusia. Firman Tuhan bukan seperti itu. Jika kaupikir setiap kalimat yang diucapkan oleh Tuhan hanya menyingkapkan suatu jenis perilaku manusia atau penampilan lahiriah yang sederhana, engkau tidak memiliki pemahaman rohani dan engkau tidak memahami apa yang dimaksud dengan kebenaran. Firman Tuhan adalah kebenaran. Orang dapat merasakan kedalaman firman Tuhan. Sedalam apakah firman Tuhan itu? Setiap firman Tuhan menyingkapkan watak rusak manusia, dan hal-hal esensial yang berakar kuat dalam hidup mereka. Semua itu merupakan hal-hal esensial, bukan penampilan lahiriah, dan terutama bukan perilaku lahiriah. Jika memandang manusia dari penampilan lahiriahnya, mereka semua mungkin kelihatannya adalah orang yang baik. Namun, mengapa Tuhan mengatakan bahwa beberapa orang adalah roh jahat dan beberapa orang adalah roh najis? Ini adalah suatu hal yang tak terlihat olehmu. Jadi, orang tidak boleh memperlakukan firman Tuhan berdasarkan gagasan atau imajinasi manusia, atau berdasarkan rumor, dan tentu saja bukan berdasarkan pernyataan partai yang berkuasa. Firman Tuhan adalah satu-satunya kebenaran; semua perkataan manusia tidak masuk akal dan keliru. Setelah mempersekutukan firman-Nya dengan cara demikian, sudahkah engkau semua mengalami perubahan dalam sikapmu terhadap firman Tuhan? Sebesar atau sekecil apa pun perubahannya, lain kali engkau semua membaca firman Tuhan yang menghakimi dan menyingkapkan orang, setidaknya engkau tidak boleh mencoba berdebat dengan Tuhan. Engkau tidak boleh lagi mengeluh tentang Tuhan dengan berkata, "Firman penyingkapan dan penghakiman Tuhan sangat keras; aku tidak akan membaca halaman ini. Aku akan melewatinya saja! Biarkan aku mencari sesuatu untuk dibaca tentang berkat dan janji-janji, agar aku menemukan penghiburan." Engkau tidak boleh lagi membaca firman Tuhan dengan cara memilah dan memilih menurut keinginanmu sendiri. Engkau harus menerima kebenaran serta penghakiman dan hajaran firman Tuhan; hanya dengan cara demikianlah watak rusakmu ditahirkan, dan hanya dengan cara demikianlah engkau dapat memperoleh keselamatan.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Makna Penting Mengejar Kebenaran dan Jalan Pengejarannya"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 559
Bagaimana caramu memahami natur manusia? Memahami naturmu sebenarnya berarti menganalisis hal-hal yang ada di kedalaman jiwamu—hal-hal dalam hidupmu, dan semua logika dan falsafah Iblis yang telah kaujalani—yang berarti kehidupan Iblis yang selama ini kaujalani. Hanya dengan menggali hal-hal yang ada dalam jiwamu yang terdalam, barulah engkau dapat memahami naturmu. Bagaimana caranya hal-hal ini bisa digali? Semua itu tidak dapat digali atau dianalisis hanya melalui satu atau dua hal; sering kali, setelah engkau selesai melakukan sesuatu, engkau masih belum memahami. Bisa dibutuhkan waktu tiga atau lima tahun sebelum engkau bahkan bisa mendapatkan sedikit kesadaran atau pemahaman. Jadi, dalam banyak situasi, engkau harus merenungkan dirimu dan mengenal dirimu sendiri. Engkau harus menggali dirimu dalam-dalam dan menganalisis dirimu berdasarkan firman Tuhan, agar engkau mampu membuahkan hasil. Ketika pemahamanmu akan kebenaran bertumbuh semakin mendalam, engkau akan secara berangsur-angsur mengetahui esensi naturmu sendiri melalui perenungan diri dan pengenalan diri sendiri.
Untuk mengenal naturmu, engkau harus memahami naturmu itu melalui beberapa hal. Pertama, engkau harus memiliki pemahaman yang jelas tentang apa yang kausukai. Ini bukan mengacu pada apa yang suka kaumakan atau kenakan, sebaliknya, itu mengacu pada hal-hal yang kaunikmati, yang membuatmu iri, yang kausembah, yang kaukejar, dan yang kauperhatikan dalam hatimu, jenis orang yang suka kauajak bergaul, jenis orang yang kaukagumi dan idolakan di dalam hatimu. Contohnya, kebanyakan orang menyukai orang-orang berkedudukan tinggi, orang-orang yang elegan dalam cara bicara dan sikap mereka, atau menyukai mereka yang bermulut manis atau mereka yang berpura-pura. Yang disebutkan di atas adalah tentang orang macam apa yang dengannya mereka suka berinteraksi. Mengenai hal-hal yang orang nikmati, ini termasuk kesediaan orang untuk melakukan hal-hal tertentu yang mudah dilakukan, senang melakukan hal-hal yang menurut orang lain baik dan yang akan disetujui atau dipuji orang-orang. Dalam natur manusia, ada karakteristik umum mengenai hal-hal yang mereka sukai. Artinya, mereka menyukai orang-orang, peristiwa, dan hal-hal yang membuat orang lain iri karena penampilan luar, mereka menyukai orang-orang, peristiwa dan hal-hal yang terlihat sangat cantik dan mewah, dan mereka menyukai orang-orang, peristiwa, dan hal-hal yang membuat orang lain memuja mereka. Hal-hal yang orang sukai ini adalah hal-hal yang hebat, memesona, indah, dan megah. Semua orang memuja hal-hal ini. Dapat dilihat bahwa manusia tidak memiliki kebenaran apa pun, juga tidak memiliki keserupaan dengan manusia sejati. Tidak ada sedikit pun makna penting dalam memuja hal-hal ini, tetapi manusia tetap menyukainya. Hal-hal yang disukai orang-orang ini tampaknya dianggap hal yang sangat baik oleh orang yang tidak percaya kepada Tuhan, dan semua itu adalah hal yang terutama ingin dikejar orang. ... Hal-hal yang dikejar dan didambakan orang termasuk dalam tren-tren duniawi, hal-hal ini berasal dari Iblis dan setan-setan, semua ini dibenci oleh Tuhan, dan tidak mengandung kebenaran sedikit pun. Hal-hal yang cenderung orang dambakan menyingkapkan seperti apa esensi natur mereka. Pilihan orang dapat dilihat dari cara mereka berpakaian. Ada orang yang senang berpakaian warna-warni yang menarik perhatian atau pakaian yang aneh. Mereka senang mengenakan aksesori yang belum pernah dikenakan orang lain, dan mereka menyukai hal-hal yang dapat menarik perhatian lawan jenis. Bahwa mereka mengenakan pakaian dan aksesori ini menunjukkan kesukaan yang mereka miliki akan hal-hal ini dalam hidup mereka dan jauh di lubuk hati mereka. Hal-hal yang mereka sukai tidak bermartabat atau tidak pantas. Semua itu bukanlah hal-hal yang seharusnya dikejar manusia normal. Di dalam kesukaan mereka akan hal-hal tersebut terdapat ketidakbenaran. Cara pandang mereka sama persis dengan cara pandang orang-orang duniawi. Orang tidak dapat melihat bagian apa pun dari hal ini yang sesuai dengan kebenaran. Oleh karena itu, apa yang engkau sukai, fokuskan, puja, iri, dan pikirkan dalam hatimu setiap hari semuanya adalah representasi dari naturmu. Kegemaranmu akan hal-hal duniawi ini sudah cukup membuktikan bahwa naturmu menyukai ketidakbenaran, dan dalam situasi yang serius, naturmu itu jahat dan tak dapat disembuhkan. Engkau harus menganalisis naturmu dengan cara seperti ini: periksalah apa yang kausukai dan apa yang kautinggalkan dalam hidupmu. Engkau mungkin bersikap baik kepada seseorang untuk sementara waktu, tetapi ini tidak membuktikan bahwa engkau menyukai mereka. Yang sebenarnya kausukai adalah apa yang ada dalam naturmu; meskipun tulang-tulangmu patah, engkau akan tetap menikmatinya dan tidak akan pernah bisa meninggalkannya. Ini tidak mudah untuk diubah. Mencari pasangan, misalnya, orang mencari orang-orang yang sama tipenya dengan diri mereka sendiri. Jika seorang wanita benar-benar jatuh cinta kepada seseorang, maka tak seorang pun akan dapat menghentikannya. Sekalipun kakinya patah, dia tetap akan ingin bersamanya; dia pasti ingin menikah dengannya meskipun itu berarti dia harus mati. Bagaimana ini bisa terjadi? Ini karena tak seorang pun mampu mengubah apa yang ada di dalam naluri manusia, di lubuk hati mereka. Meskipun orang sudah mati, jiwa mereka tetap akan menyukai hal-hal yang sama; ini adalah hal-hal tentang natur manusia, dan merepresentasikan esensi seseorang. Hal-hal yang manusia sukai mengandung beberapa ketidakbenaran. Sebagian orang jelas dalam kesukaan mereka akan hal-hal itu, sementara sebagian lainnya tidak; sebagian orang memiliki kesukaan yang kuat akan hal-hal itu, sementara yang lainnya tidak; sebagian orang memiliki pengendalian diri, sementara yang lainnya tidak bisa mengendalikan diri mereka sendiri. Ada orang-orang yang cenderung tenggelam dalam hal-hal yang gelap dan jahat, yang membuktikan bahwa mereka tidak memiliki hidup. Ada orang-orang yang mampu mengatasi godaan daging dan tidak disibukkan atau dikendalikan oleh hal-hal tersebut, yang membuktikan bahwa mereka memiliki sedikit tingkat pertumbuhan dan watak mereka telah sedikit berubah. Sebagian orang memahami beberapa kebenaran dan merasa bahwa mereka memiliki hidup dan bahwa mereka mengasihi Tuhan, tetapi sebenarnya, itu masih terlalu awal, dan mengalami perubahan dalam watak seseorang bukanlah masalah yang sederhana. Apakah esensi natur orang mudah dipahami? Meskipun orang memahaminya sedikit, mereka harus melewati banyak kerumitan untuk mencapai pemahaman itu, dan bahkan dengan sedikit pemahaman, perubahan tidak mudah dicapai. Semua ini adalah kesulitan yang orang hadapi, dan orang tidak dapat mengenal diri mereka sendiri tanpa tekad untuk mengejar kebenaran. Bagaimanapun orang, peristiwa, dan hal-hal di sekitarmu mungkin berubah dan bagaimanapun dunia mungkin jungkir balik, jika kebenaran membimbingmu dari dalam batinmu, jika kebenaran sudah mengakar dalam dirimu dan firman Tuhan membimbing hidup, pilihan, pengalaman dan keberadaanmu, maka pada tahap itulah engkau sudah benar-benar berubah. Sekarang ini, yang disebut orang sebagai perubahan hanyalah bahwa orang sedikit bekerja sama, dengan enggan mampu menerima diri mereka dipangkas, secara aktif melaksanakan tugas mereka, dan memiliki sedikit antusiasme dan iman, tetapi ini tidak bisa dianggap sebagai perubahan dalam watak dan ini tidak membuktikan bahwa orang telah memiliki hidup. Ini hanyalah preferensi dan kecenderungan orang—tak lebih dari itu.
Untuk mendapatkan pemahaman tentang natur, selain menggali hal-hal yang orang sukai dalam natur mereka, beberapa dari aspek terpenting yang berkaitan dengan natur mereka juga harus digali. Misalnya, pandangan orang tentang berbagai hal, metode dan sasaran mereka dalam hidup, nilai-nilai kehidupan dan cara pandang orang tentang hidup, serta pandangan dan pemikiran mereka mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan kebenaran. Semua ini adalah hal-hal yang tersembunyi jauh di kedalaman jiwa orang dan memiliki kaitan langsung dengan perubahan watak. Lalu, seperti apa cara pandang manusia yang rusak mengenai kehidupan? Dapat dikatakan seperti ini: "Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya." Semua manusia hidup untuk dirinya sendiri; bahasa kasarnya, mereka hidup untuk daging. Mereka hidup sekadar untuk makan. Apa bedanya keberadaan seperti ini dengan keberadaan hewan? Hidup dengan cara seperti ini sama sekali tidak ada nilainya, apalagi bermakna. Cara pandang orang tentang hidup ini adalah tentang apa yang engkau andalkan untuk hidup di dunia ini, untuk apa engkau hidup, dan bagaimana engkau hidup—dan semua ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan esensi dari natur manusia. Dengan menganalisis natur manusia, engkau akan melihat bahwa orang-orang semuanya menentang Tuhan. Mereka semua adalah setan, dan tidak ada orang yang benar-benar baik. Hanya dengan menganalisis natur manusia, engkau dapat benar-benar mengetahui kerusakan dan esensi manusia dan memahami milik siapa manusia itu sebenarnya, apa yang benar-benar kurang dalam diri manusia, dengan apa mereka harus diperlengkapi, dan bagaimana seharusnya mereka menjalani hidup dalam keserupaan dengan manusia. Benar-benar menganalisis natur seseorang tidak mudah, dan tidak dapat dilakukan tanpa mengalami firman Tuhan atau tanpa mengalami pengalaman nyata.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Apa yang Harus Orang Ketahui tentang Perubahan Watak"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 560
Bagaimana mengetahui natur seseorang? Hal-hal apa yang membentuk natur seseorang? Engkau hanya mengetahui kekurangan, kelemahan, niat, gagasan, kenegatifan, dan pemberontakan manusia, tetapi engkau tak mampu menemukan hal-hal yang ada dalam natur manusia. Engkau hanya tahu lapisan luarnya, tanpa bisa menemukan asal-usul dari natur manusia, dan ini bukan merupakan pengetahuan tentang natur manusia. Beberapa orang mengakui kekurangan dan kenegatifan mereka dengan berkata, "Aku memahami naturku. Kau tahu, aku mengakui bahwa aku ini congkak. Bukankah itu berarti aku memahami naturku?" Kecongkakan adalah bagian dari natur manusia, itu memang benar. Namun, tidaklah cukup mengakui hal ini dalam pengertian doktrinal. Apa artinya orang mengetahui naturnya sendiri? Bagaimana natur dapat diketahui? Dari aspek apakah natur diketahui? Bagaimana natur orang seharusnya diketahui secara spesifik dari hal-hal yang dia singkapkan? Pertama, engkau dapat mengetahui natur seseorang melalui minatnya. Sebagai contoh, beberapa orang sangat mengidolakan orang-orang terkenal dan terkemuka, beberapa sangat menyukai penyanyi atau bintang film, dan beberapa sangat suka bermain gim. Dari minat-minat ini, kita dapat mengetahui seperti apa natur orang-orang ini. Berikut contoh sederhananya: beberapa orang mungkin sangat mengidolakan seorang penyanyi tertentu. Sampai sejauh mana mereka mengidolakan mereka? Sampai pada taraf mereka terobsesi dengan setiap gerakan, senyuman, dan perkataan penyanyi ini. Mereka terpaku pada penyanyi ini, dan bahkan memotret semua yang dia kenakan, lalu kemudian menirunya. Masalah apa yang diperlihatkan oleh taraf pengidolaan terhadap seseorang ini? Ini memperlihatkan bahwa orang semacam itu hanya memiliki hal-hal orang tidak percaya itu di dalam hati mereka, dan mereka tidak memiliki kebenaran, mereka tidak memiliki hal-hal yang positif, dan terlebih lagi, mereka tidak memiliki Tuhan di dalam hati mereka. Semua hal yang dipikirkan, dicintai, dan dikejar orang ini adalah hal-hal yang berasal dari Iblis. Hal-hal ini memenuhi hati orang ini, hati yang telah diserahkan untuk hal-hal itu. Dapatkah engkau semua mengatakan seperti apa esensi natur mereka? Jika sesuatu dicintai secara ekstrem, hal itu bisa menjadi hidup orang tersebut dan memenuhi hati mereka, membuktikan sepenuhnya bahwa orang itu adalah seorang penyembah berhala yang tidak menginginkan Tuhan dan justru mencintai setan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa natur orang semacam itu adalah natur yang mencintai dan menyembah setan, tidak mencintai kebenaran, dan tidak menginginkan Tuhan. Bukankah ini cara yang benar untuk memandang natur seseorang? Ini sepenuhnya benar. Harus dengan cara inilah orang menganalisis natur manusia. Misalnya, ada orang-orang yang secara khusus mengidolakan Paulus. Mereka suka berpidato dan melakukan pekerjaan secara lahiriah, mereka suka mengadakan pertemuan dan berkhotbah, dan mereka suka orang-orang mendengarkan mereka, mengidolakan mereka, dan mengerumuni mereka. Mereka suka memiliki tempat di hati orang lain, dan mereka ingin orang lain menghargai citra yang mereka tunjukkan. Mari kita menelaah natur mereka dari perilaku-perilaku ini. Seperti apakah natur mereka? Jika mereka benar-benar bersikap seperti ini, itu sudah cukup menunjukkan bahwa mereka itu congkak dan sombong, bahwa mereka tidak menyembah Tuhan sama sekali, dan bahwa mereka mengejar status yang lebih tinggi serta ingin memiliki otoritas atas orang lain, menguasai mereka, dan memiliki tempat di hati mereka. Ini adalah gambaran klasik dari Iblis. Aspek-aspek yang sangat menonjol dari natur mereka adalah bahwa mereka congkak dan sombong, mereka tidak menyembah Tuhan, dan mereka berusaha membuat orang lain memuja mereka. Perilaku semacam itu dapat memberimu pandangan yang sangat jelas akan natur mereka. Sebagai contoh, ada orang-orang yang sangat suka mengambil keuntungan secara tidak adil, dan orang-orang ini berusaha memenuhi kepentingan mereka sendiri dalam segala hal. Apa pun yang mereka lakukan harus menguntungkan mereka, kalau tidak, mereka tidak akan melakukannya. Mereka tidak peduli dengan apa pun kecuali hal itu memberi mereka keuntungan, dan selalu ada motif tersembunyi di balik semua tindakan mereka. Mereka membicarakan hal yang baik-baik tentang siapa pun yang menguntungkan mereka, dan mereka mempromosikan siapa pun yang menyanjung mereka. Bahkan ketika orang-orang yang mereka sukai itu bermasalah, mereka akan mengatakan bahwa orang-orang itu benar dan berusaha keras untuk membela dan menutupi kesalahan mereka. Natur apa yang dimiliki orang-orang semacam itu? Engkau dapat sepenuhnya mengetahui natur mereka dengan jelas dari perilaku-perilaku ini. Mereka berusaha keras untuk mengambil keuntungan dari berbagai hal secara tidak adil melalui tindakan mereka, selalu terlibat dalam perilaku yang bersifat transaksional dalam setiap keadaan, dan engkau dapat yakin bahwa natur mereka adalah natur yang sangat mendambakan keuntungan. Mereka mementingkan diri mereka sendiri dalam segala hal yang mereka lakukan. Mereka tidak akan bangun lebih pagi kecuali hal itu ada manfaatnya bagi mereka. Mereka adalah orang-orang paling egois, dan mereka sama sekali tak pernah puas. Natur mereka tercermin melalui kecintaan mereka akan keuntungan dan melalui tidak adanya kecintaan mereka akan kebenaran. Beberapa pria terpikat oleh para wanita, selalu menggoda wanita di mana pun mereka berada. Wanita cantik adalah objek perhatian orang-orang seperti itu dan memegang penghargaan tertinggi di hati mereka. Mereka rela memberikan hidup mereka, dan mengorbankan segalanya, demi wanita cantik; wanitalah yang memenuhi hati mereka. Seperti apakah natur orang-orang ini? Natur mereka adalah menyukai wanita cantik, memuja mereka, dan mencintai kejahatan. Mereka adalah para pria cabul dengan natur yang jahat dan tamak. Mengapa Kukatakan bahwa inilah natur mereka? Karena ini adalah perwujudan keserakahan yang telah menjadi natur seseorang. Perilaku-perilaku ini bukan sekadar pelanggaran sesekali, dan orang-orang semacam ini juga bukan saja sedikit lebih buruk daripada orang kebanyakan, melainkan, mereka telah semakin dikuasai sepenuhnya oleh hal-hal ini, yang telah menjadi natur dan esensi mereka. Dengan demikian, hal-hal ini telah menjadi perwujudan dari natur mereka. Unsur-unsur dalam natur seseorang selalu tersingkap dengan sendirinya. Apa pun yang orang lakukan, apa pun itu, dapat menyingkapkan natur orang tersebut. Orang-orang memiliki motif dan tujuan mereka sendiri untuk segala sesuatu yang mereka lakukan, dan entah itu melakukan tugas menjadi tuan rumah, memberitakan Injil, atau jenis pekerjaan lainnya, mereka dapat menyingkapkan bagian-bagian dari natur mereka tanpa menyadarinya karena natur seseorang adalah hidupnya, dan orang dikendalikan oleh natur mereka selama mereka hidup. Natur seseorang tidak terlihat hanya sesekali atau secara kebetulan; sebaliknya, natur seseorang dapat sepenuhnya merepresentasikan esensi orang tersebut. Segala sesuatu yang mengalir dari dalam tulang dan darah orang merepresentasikan natur dan hidup mereka. Ada orang yang menyukai wanita cantik. Ada yang menyukai uang. Ada orang yang sangat mencintai status. Ada orang yang sangat menghargai reputasi dan citra pribadi mereka. Ada orang yang sangat mencintai atau menyembah berhala. Dan ada orang sangat congkak dan sombong, tidak tunduk kepada siapa pun di hati mereka dan berjuang mengejar status, mereka suka lebih menonjol dari orang lain dan memiliki otoritas atas mereka. Ada berbagai jenis natur. Semua itu dapat berbeda di antara orang-orang, tetapi unsur yang umum dari natur mereka adalah penentangan dan pengkhianatan terhadap Tuhan. Dalam hal itulah, natur mereka semuanya sama.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Cara Mengenal Natur Manusia"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 561
Semua manusia telah dirusak oleh Iblis, dan natur manusia adalah mengkhianati Tuhan. Namun, di antara semua manusia yang telah dirusak oleh Iblis, ada sebagian orang yang mampu tunduk pada pekerjaan Tuhan dan menerima kebenaran. Orang-orang inilah yang mampu memperoleh kebenaran dan mencapai perubahan dalam wataknya. Ada orang-orang yang tidak mengejar kebenaran dan malah mengikuti arus. Mereka menaati dan melakukan apa pun yang kauminta, mereka mampu meninggalkan segala sesuatu dan mengorbankan diri, dan mereka mampu menanggung penderitaan apa pun. Orang-orang semacam itu memiliki sedikit hati nurani dan nalar, dan mereka ada harapan untuk diselamatkan dan bertahan hidup, tetapi watak mereka tidak dapat berubah karena mereka tidak mengejar kebenaran, dan mereka hanya puas dengan memahami doktrin. Mereka tidak mengatakan atau melakukan hal-hal yang melanggar hati nurani, mereka dapat dengan tulus melaksanakan tugas mereka, dan mereka dapat menerima persekutuan tentang kebenaran mengenai masalah apa pun. Namun, mereka tidak melakukan upaya serius ketika menyangkut kebenaran, pikiran mereka bingung, dan mereka tidak pernah mampu memahami esensi kebenaran. Watak mereka tidak mungkin berubah. Jika engkau ingin ditahirkan dari kerusakan dan mengalami perubahan dalam watak hidupmu, engkau harus mencintai kebenaran dan mampu menerima kebenaran. Apa artinya menerima kebenaran? Menerima kebenaran berarti apa pun jenis watak rusak yang kaumiliki, atau yang mana pun dari racun si naga merah yang sangat besar—dari racun Iblis—yang ada di dalam naturmu, ketika firman Tuhan menyingkapkan hal-hal ini, engkau harus mengakuinya dan tunduk, engkau tidak boleh membuat pilihan berbeda, dan engkau harus mengenal dirimu sendiri sesuai dengan firman Tuhan. Inilah yang dimaksud dengan mampu menerima firman Tuhan dan menerima kebenaran. Apa pun yang Tuhan firmankan, sekeras apa pun perkataan-Nya, dan kata-kata apa pun yang Dia gunakan, engkau dapat menerimanya selama apa yang Dia katakan adalah kebenaran, dan engkau dapat mengakuinya selama itu sesuai dengan kenyataan. Engkau dapat tunduk pada firman Tuhan sedalam apa pun engkau memahaminya, dan engkau mampu menerima serta tunduk pada terang dari pencerahan Roh Kudus yang dipersekutukan oleh saudara-saudarimu. Ketika orang semacam itu telah mengejar kebenaran sampai pada titik tertentu, mereka mampu memperoleh kebenaran dan mencapai perubahan dalam watak mereka. Meskipun orang yang tidak mencintai kebenaran memiliki sedikit kemanusiaan, mampu melakukan beberapa hal baik, serta mampu meninggalkan dan mengorbankan diri untuk Tuhan, mereka bingung tentang kebenaran dan tidak memperlakukannya dengan serius sehingga watak hidup mereka tidak pernah berubah. Engkau dapat melihat bahwa Petrus memiliki kemanusiaan yang sama dengan murid-murid lainnya, tetapi dia menonjol dalam pengejarannya yang sungguh-sungguh akan kebenaran. Apa pun yang Yesus katakan, dia merenungkannya dengan sungguh-sungguh. Yesus bertanya, "Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Petrus menjawab dengan jujur, "Aku hanya mengasihi Bapa yang di surga, tetapi aku belum mengasihi Tuhan yang di bumi." Kemudian dia memahami, berpikir, "Ini tidak benar, Tuhan yang di bumi adalah Tuhan yang di surga. Bukankah Tuhan yang di surga dan Tuhan yang di bumi adalah Tuhan yang sama? Jika aku hanya mengasihi Tuhan yang di surga, artinya kasihku tidak nyata. Aku harus mengasihi Tuhan yang di bumi, karena hanya dengan demikianlah kasihku menjadi nyata." Jadi, Petrus mulai memahami arti sesungguhnya firman Tuhan dari apa yang Yesus tanyakan. Untuk dapat mengasihi Tuhan, dan agar kasih ini menjadi nyata, orang harus mengasihi Tuhan yang berinkarnasi di bumi. Mengasihi Tuhan yang samar-samar dan tidak terlihat bukanlah hal yang realistis atau nyata, sedangkan mengasihi Tuhan yang nyata dan terlihat adalah kebenaran. Dari perkataan Yesus, Petrus memperoleh kebenaran dan pemahaman akan maksud Tuhan. Jelaslah bahwa kepercayaan Petrus kepada Tuhan hanya difokuskan pada mengejar kebenaran. Pada akhirnya, dia memiliki kasih kepada Tuhan yang nyata—Tuhan yang di bumi. Petrus sangat bersungguh-sungguh dalam pengejarannya akan kebenaran. Setiap kali Yesus menasihati dirinya, dia merenungkan perkataan Yesus dengan sungguh-sungguh. Mungkin dia merenung selama berbulan-bulan, setahun, atau bahkan bertahun-tahun sampai Roh Kudus menerangi dirinya dan dia memahami esensi firman Tuhan. Dengan cara ini, Petrus masuk ke dalam kebenaran, dan saat dia melakukannya, watak hidupnya diubahkan dan diperbarui. Jika orang tidak mengejar kebenaran, mereka tidak akan pernah memahami kebenaran. Engkau bisa saja mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin sepuluh ribu kali, tetapi semua itu tetap hanya merupakan kata-kata dan doktrin. Beberapa orang hanya berkata, "Kristus adalah kebenaran, jalan, dan hidup." Meskipun engkau mengulangi perkataan ini sepuluh ribu kali, itu akan tetap tidak berguna; engkau tidak memahami maknanya. Mengapa dikatakan bahwa Kristus adalah kebenaran, jalan, dan hidup? Dapatkah engkau menjelaskan pengetahuan berdasarkan pengalamanmu tentang hal ini? Sudahkah engkau masuk ke dalam kenyataan kebenaran, jalan, dan hidup? Tuhan telah mengucapkan firman-Nya sehingga engkau semua dapat mengalaminya dan memperoleh pengetahuan. Hanya mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin tidak ada gunanya. Engkau hanya bisa mengenal dirimu sendiri setelah engkau memahami dan masuk ke dalam firman Tuhan. Jika engkau tidak memahami firman Tuhan, engkau tidak bisa mengenal dirimu sendiri. Engkau hanya dapat memiliki ketajaman jika engkau memahami kebenaran. Tanpa memahami kebenaran, engkau tidak bisa memiliki ketajaman. Engkau hanya dapat melihat masalah dengan jelas jika engkau memahami kebenaran. Tanpa memahami kebenaran, engkau tidak dapat melihat masalah dengan jelas. Engkau hanya bisa mengenal dirimu sendiri jika engkau memahami kebenaran. Tanpa memahami kebenaran, engkau tidak bisa mengenal dirimu sendiri. Watakmu hanya bisa berubah jika engkau memperoleh kebenaran. Tanpa kebenaran, watakmu tidak bisa berubah. Hanya setelah engkau memperoleh kebenaran, barulah engkau mampu melayani sesuai dengan maksud Tuhan. Tanpa memperoleh kebenaran, engkau tidak mampu melayani sesuai dengan maksud Tuhan. Hanya setelah engkau memperoleh kebenaran, barulah engkau dapat menyembah Tuhan. Tanpa memahami kebenaran, sekalipun engkau menyembah Dia, penyembahanmu itu tidak akan lebih dari sebuah pelaksanaan ritual keagamaan. Tanpa kebenaran, semua yang kaulakukan bukanlah kenyataan. Dengan memperoleh kebenaran, barulah semua yang kaulakukan mengandung kenyataan. Semua hal ini bergantung pada memperoleh kebenaran dari firman Tuhan.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Cara Mengenal Natur Manusia"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 562
Mendapatkan pemahaman yang sejati tentang firman Tuhan bukanlah perkara yang sederhana. Jangan berpikir seperti ini: "Aku dapat menafsirkan makna harfiah firman Tuhan, dan semua orang mengatakan tafsiranku itu bagus, dan memberiku acungan jempol, jadi ini artinya aku memahami firman Tuhan." Itu tidak sama dengan memahami firman Tuhan. Jika engkau telah mendapatkan sedikit terang dari dalam perkataan Tuhan, dan engkau telah merasakan makna sesungguhnya dari firman-Nya, dan jika engkau dapat mengungkapkan maksud di balik firman-Nya dan apa pengaruh yang pada akhirnya akan dicapai oleh firman-Nya—jika engkau memiliki pemahaman yang jelas akan semua hal ini—engkau dapat dianggap memiliki tingkat pemahaman tertentu akan firman Tuhan. Jadi, memahami firman Tuhan tidaklah sesederhana itu. Hanya karena engkau dapat memberikan penjelasan yang muluk-muluk dan berlebihan tentang makna harfiah firman Tuhan bukan berarti engkau memahaminya. Sebanyak apa pun engkau mampu menjelaskan makna harfiah firman Tuhan, penjelasanmu tetap didasarkan pada imajinasi dan cara berpikir seorang manusia. Itu tidak berguna! Bagaimana engkau bisa memahami firman Tuhan? Kuncinya adalah dengan mencari kebenaran dari dalam firman Tuhan. Hanya dengan cara itulah engkau dapat benar-benar memahami firman Tuhan. Tuhan tidak pernah mengucapkan perkataan kosong. Setiap kalimat yang Dia ucapkan berisi rincian yang pasti akan disingkapkan lebih lanjut di dalam firman-Nya, dan rincian-rincian itu dapat diungkapkan secara berbeda. Manusia tidak dapat memahami cara Tuhan mengungkapkan kebenaran. Perkataan Tuhan sangat mendalam dan tidak dapat dengan mudah dipahami oleh pikiran manusia. Manusia dapat menemukan hampir seluruh makna dari setiap aspek kebenaran asalkan mereka berupaya keras. Hal-hal terperinci lainnya akan mereka dapatkan selama pengalaman mereka selanjutnya, melalui pencerahan Roh Kudus. Cara pertama adalah merenungkan dan memahami firman Tuhan dan mencari konten spesifiknya dengan membacanya. Cara kedua adalah dengan memahami makna firman Tuhan dengan mengalaminya dan memperoleh pencerahan dari Roh Kudus. Melalui kemajuan yang terus-menerus dalam kedua cara ini, engkau dapat mulai memahami firman Tuhan. Jika engkau menafsirkannya pada tingkat tekstual secara harfiah atau dari pemikiran dan imajinasimu sendiri, maka meskipun engkau menjelaskannya dengan berlebihan, sebenarnya engkau masih belum memahami kebenaran, dan semua itu masih berdasarkan pemikiran dan imajinasi manusia. Itu bukan diperoleh dari pencerahan Roh Kudus. Orang cenderung menafsirkan firman Tuhan berdasarkan gagasan dan imajinasi mereka, dan mereka bahkan mungkin salah menafsirkan firman Tuhan di luar konteks sehingga mereka cenderung salah paham dan menghakimi Tuhan, dan ini menyusahkan. Jadi, kebenaran terutama diperoleh dengan memahami firman Tuhan dan dengan dicerahkan oleh Roh Kudus. Mampu memahami dan menjelaskan makna harfiah firman Tuhan bukan berarti engkau telah memperoleh kebenaran. Jika memahami makna harfiah firman Tuhan berarti engkau memahami kebenaran, maka engkau hanya perlu memiliki sedikit pendidikan dan pengetahuan, jadi untuk apa engkau membutuhkan pencerahan Roh Kudus? Apakah pekerjaan Tuhan adalah sesuatu yang dapat dipahami oleh pikiran manusia? Oleh karena itu, memahami kebenaran tidak bisa didasarkan pada gagasan atau imajinasi manusia. Engkau membutuhkan pencerahan, penerangan, dan bimbingan Roh Kudus untuk memiliki pengetahuan berdasarkan pengalaman yang nyata. Inilah proses memahami dan memperoleh kebenaran, dan ini juga merupakan syarat yang dibutuhkan.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Cara Mengenal Natur Manusia"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 563
Bagaimana engkau memahami natur manusia? Hal yang terpenting adalah membedakannya dari perspektif pandangan dunia, pandangan hidup, dan nilai-nilai hidup manusia. Semua orang yang berasal dari setan hidup bagi diri mereka sendiri. Pandangan hidup dan moto-moto mereka sebagian besar berasal dari pepatah Iblis, seperti "Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya", "Manusia mati demi mendapatkan kekayaan sama seperti burung mati demi mendapatkan makanan", dan kekeliruan lainnya. Semua perkataan yang diucapkan oleh raja-raja setan, orang-orang terkemuka, dan para filsuf ini telah menjadi hidup manusia. Khususnya, kebanyakan dari perkataan Konfusius, yang diagungkan oleh masyarakat Tiongkok sebagai "orang bijak", telah menjadi hidup manusia. Ada juga peribahasa Buddhisme dan Taoisme yang terkenal, serta pepatah klasik yang telah sering kali diulang oleh berbagai tokoh ternama. Semuanya ini adalah rangkuman dari falsafah dan natur Iblis. Semua ini juga merupakan gambaran dan penjelasan terbaik tentang natur Iblis. Racun-racun yang telah ditanamkan ke dalam hati manusia ini semuanya berasal dari Iblis, dan tak satu pun dari semua ini yang berasal dari Tuhan. Perkataan jahat seperti itu juga bertentangan langsung dengan firman Tuhan. Sangat jelas bahwa kenyataan dari semua hal positif berasal dari Tuhan, dan semua hal negatif yang meracuni manusia berasal dari Iblis. Oleh karena itu, engkau dapat mengetahui natur seseorang dan milik siapakah mereka dengan cara melihat pandangan dan nilai-nilai hidup mereka. Iblis merusak manusia melalui pendidikan dan pengaruh pemerintah nasional serta melalui orang-orang terkenal dan hebat. Perkataan jahat mereka telah menjadi natur dan hidup manusia. "Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya" adalah pepatah Iblis terkenal yang telah ditanamkan dalam diri semua orang, dan ini telah menjadi hidup manusia. Ada falsafah lain tentang cara berinteraksi dengan orang lain yang juga seperti ini. Iblis menggunakan budaya tradisional setiap negara untuk mendidik, menyesatkan, dan merusak manusia, menyebabkan manusia jatuh dan ditelan oleh jurang kebinasaan yang tak berdasar, dan pada akhirnya, manusia dimusnahkan oleh Tuhan karena mereka melayani Iblis dan menentang Tuhan. Beberapa orang telah menjabat sebagai pejabat publik di masyarakat selama puluhan tahun, bayangkan menanyakan pertanyaan berikut ini kepada mereka: "Engkau telah sangat sukses dengan jabatan ini, pepatah terkenal apa yang paling kaupegang?" Mereka mungkin berkata, "Satu pepatah yang kumengerti adalah ini: 'Para pejabat tidak akan mempersulit orang yang banyak memberi hadiah; orang tidak akan mencapai apa pun tanpa menjilat.'" Ini adalah falsafah Iblis yang mendasari karier mereka. Bukankah perkataan ini merepresentasikan natur orang semacam itu? Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kedudukan telah menjadi natur mereka, menjadi pejabat dan sukses dalam karier adalah tujuan mereka. Masih ada banyak racun Iblis dalam hidup manusia, cara mereka berperilaku, dan tindakan mereka. Sebagai contoh, falsafah mereka tentang cara berinteraksi dengan orang lain, cara-cara mereka melakukan sesuatu, dan moto hidup mereka semuanya dipenuhi dengan racun si naga merah yang sangat besar, dan semua ini berasal dari Iblis. Dengan demikian, segala sesuatu yang mengalir dalam tulang dan darah manusia adalah hal-hal dari Iblis. Semua pejabat itu, mereka yang memegang tampuk kekuasaan, dan orang-orang yang sukses, memiliki berbagai jalan dan rahasia keberhasilannya sendiri. Bukankah rahasia semacam itu mewakili natur asli mereka dengan tepat? Mereka telah melakukan hal-hal besar di dunia, dan tak seorang pun dapat melihat rencana jahat dan tipu muslihat yang ada di baliknya. Ini menunjukkan betapa berbahaya dan jahatnya natur mereka. Manusia telah dirusak sedemikian dalam oleh Iblis. Racun Iblis mengalir dalam darah setiap orang, dan dapat dikatakan bahwa natur manusia itu rusak, jahat, berlawanan, dan bertentangan dengan Tuhan, dipenuhi dan dibenamkan dalam falsafah dan racun Iblis. Itu seluruhnya telah menjadi esensi natur Iblis. Inilah sebabnya manusia menentang dan berlawanan dengan Tuhan. Orang dapat mengenal diri mereka sendiri dengan mudah jika natur mereka dapat dianalisis dengan cara seperti ini.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Cara Mengenal Natur Manusia"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 564
Kunci untuk merenungkan diri dan mengenal dirimu sendiri adalah ini: makin engkau merasa bahwa di bidang-bidang tertentu engkau telah berhasil atau telah melakukan hal yang benar, dan makin engkau menganggap dirimu mampu memenuhi maksud Tuhan atau mampu menyombongkan dirimu di bidang-bidang tertentu, maka di bidang-bidang itulah, engkau harus makin mengenal dirimu sendiri dan engkau harus makin menyelidikinya secara mendalam untuk melihat ketidakmurnian apa yang ada di dalam dirimu, dan hal-hal apa di dalam dirimu yang tidak dapat memenuhi maksud Tuhan. Mari kita jadikan Paulus sebagai contoh. Paulus adalah orang yang sangat berpengetahuan, dia banyak menderita ketika dia berkhotbah dan bekerja, dan banyak orang sangat mengaguminya. Akibatnya, setelah menyelesaikan banyak pekerjaan, dia beranggapan akan ada mahkota yang tersedia untuknya. Ini menyebabkan Paulus berjalan makin jauh di jalan yang salah, sampai akhirnya dia dihukum oleh Tuhan. Jika, pada saat itu, dia merenungkan dan menganalisis dirinya sendiri, dia tentu tidak akan berpikir dengan cara seperti itu. Dengan kata lain, Paulus tidak berfokus mencari kebenaran dalam firman yang Tuhan Yesus ucapkan; dia hanya percaya pada gagasan dan imajinasinya sendiri. Dia mengira sekadar melakukan beberapa hal yang baik dan memperlihatkan beberapa perilaku yang baik, dia akan diperkenan dan diberi upah oleh Tuhan. Pada akhirnya, gagasan dan imajinasinya sendiri telah membutakan hatinya dan menutupi yang sebenarnya tentang kerusakan dirinya. Namun, orang lain tidak mampu mengenali hal-hal ini, dan mereka tidak memiliki pemahaman tentang hal-hal ini, sehingga sebelum Tuhan menyingkapkan hal ini, mereka selalu menetapkan Paulus sebagai standar untuk dicapai, sebagai teladan bagi hidup mereka, dan menganggap Paulus sebagai orang yang mereka dambakan dan idolakan. Kasus Paulus adalah peringatan bagi setiap umat pilihan Tuhan. Terutama ketika kita yang mengikut Tuhan mampu menderita dan membayar harga dalam tugas kita dan ketika kita melayani Tuhan, kita merasa bahwa kita sepenuh hati dan mengasihi Tuhan, maka pada saat-saat seperti inilah, sangat penting bagi kita untuk merenungkan dan lebih mengenal diri kita sendiri tentang jalan yang kita tempuh. Ini karena apa yang kauanggap baik adalah apa yang akan kauyakini sebagai hal yang benar, dan engkau tidak akan meragukannya, merenungkannya, atau menganalisis apakah ada sesuatu di dalamnya yang menentang Tuhan. Sebagai contoh, ada orang-orang yang yakin bahwa mereka sangat baik hati. Mereka tidak pernah membenci atau menyakiti orang lain, dan mereka selalu menolong saudara-saudari yang keluarganya membutuhkan, berusaha agar masalah mereka tersebut dapat diselesaikan; niat baik mereka luar biasa, dan mereka melakukan apa pun yang mampu mereka lakukan untuk menolong semua orang yang bisa mereka tolong. Namun, mereka tidak pernah berfokus untuk menerapkan kebenaran, dan mereka tidak memiliki jalan masuk kehidupan. Apa hasilnya memiliki sikap yang suka menolong seperti itu? Mereka menunda hidup mereka sendiri, tetapi mereka cukup senang dengan diri mereka sendiri, dan sangat puas dengan semua yang telah mereka lakukan. Terlebih lagi, mereka sangat bangga akan hal itu, mereka yakin bahwa dalam semua yang telah mereka lakukan, tidak ada yang bertentangan dengan kebenaran, dan semua itu pasti akan memenuhi maksud Tuhan, dan bahwa mereka adalah orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan. Mereka menganggap kebaikan alami mereka sebagai modal, dan setelah mereka menganggapnya sebagai modal, dan menerimanya begitu saja sebagai kebenaran. Sebenarnya, semua yang mereka lakukan hanyalah kebaikan manusia. Mereka sama sekali tidak menerapkan kebenaran karena mereka melakukan semua itu di hadapan manusia, dan bukan di hadapan Tuhan, terlebih dari itu, mereka tidak melakukan penerapan sesuai dengan tuntutan Tuhan dan kebenaran. Oleh karena itu, semua perbuatan mereka sia-sia. Tak satu pun dari hal-hal yang mereka lakukan yang merupakan penerapan kebenaran, ataupun penerapan firman Tuhan, apalagi mengikuti kehendak-Nya; sebaliknya, mereka menggunakan kebaikan manusia dan perilaku baik untuk menolong sesama. Kesimpulannya, mereka tidak mencari maksud Tuhan dalam semua yang mereka lakukan, mereka juga tidak bertindak sesuai dengan tuntutan-Nya. Tuhan tidak berkenan pada perilaku baik manusia yang seperti ini; bagi Tuhan, itu harus dikutuk dan tidak pantas untuk diingat oleh-Nya.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Mengenali Pandangannya yang Salah, Barulah Orang Dapat Benar-Benar Berubah"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 565
Kunci untuk mencapai perubahan watak adalah mengenal natur diri sendiri, dan ini harus dilakukan sesuai dengan pengungkapan Tuhan. Hanya di firman Tuhan, seseorang dapat mengenal naturnya yang buruk, berbagai racun Iblis yang ada di dalam naturnya, kebodohan dan ketidaktahuannya, serta unsur-unsur yang rapuh dan negatif dalam naturnya. Setelah engkau sepenuhnya memahami semua ini, benar-benar mampu membenci dirimu sendiri, memberontak terhadap daging, tekun menerapkan firman Tuhan, tekun mengejar kebenaran dalam melaksanakan tugasmu untuk mencapai perubahan watak, dan menjadi orang yang benar-benar mengasihi Tuhan, barulah engkau menapaki jalan Petrus. Tanpa kasih karunia Tuhan atau pencerahan dan bimbingan dari Roh Kudus, akan sulit untuk menempuh jalan ini, karena tanpa kebenaran, orang tidak bisa memberontak terhadap diri mereka sendiri. Menapaki jalan Petrus untuk disempurnakan terutama bergantung pada memiliki tekad dan iman, serta mengandalkan Tuhan. Selain itu, seseorang harus tunduk pada pekerjaan Roh Kudus dan tidak pernah menyimpang dari firman Tuhan dalam segala hal. Inilah aspek-aspek penting yang tidak boleh dilanggar sama sekali. Dalam menjalani pengalaman, sangatlah sulit untuk mengenal diri sendiri, dan tanpa pekerjaan Roh Kudus, tidak akan ada hasil yang tercapai. Untuk menempuh jalan Petrus, seseorang harus fokus mengenal dirinya sendiri dan mengubah wataknya. Jalan Paulus bukanlah jalan untuk mengejar kehidupan atau fokus mengenal diri sendiri, melainkan jalan yang khususnya fokus pada pelaksanaan pekerjaan dan pada kemegahan serta gengsi dari pekerjaan yang dilakukan. Niatnya adalah untuk menukarkan pekerjaan dan penderitaannya dengan berkat serta upah dari Tuhan. Niat ini salah. Paulus tidak fokus pada kehidupan, juga tidak mementingkan perubahan wataknya. Dia hanya fokus pada upah. Tujuan yang dikejarnya salah, maka tentu saja jalan yang ditempuhnya pun salah. Ini disebabkan oleh naturnya yang congkak dan sombong. Jelas sekali, Paulus tidak memiliki sedikit pun kebenaran, juga tidak memiliki hati nurani atau nalar. Dalam menyelamatkan dan mengubah orang, Tuhan terutama mengubah watak mereka. Tujuan firman Tuhan adalah untuk menghasilkan perubahan dalam watak orang, dan agar orang mampu mengenal Dia serta tunduk kepada-Nya, dan mampu menyembah-Nya secara normal. Inilah tujuan dari firman dan pekerjaan Tuhan. Cara pengejaran Paulus secara langsung berlawanan dan bertentangan dengan maksud Tuhan. Cara itu sepenuhnya berlawanan dengan maksud-Nya. Namun, cara pengejaran Petrus sepenuhnya sejalan dengan maksud Tuhan. Petrus fokus pada kehidupan serta perubahan watak, dan inilah tepatnya yang ingin Tuhan hasilkan dalam diri orang melalui pekerjaan-Nya. Oleh karena itu, jalan Petrus diberkati dan diperkenan oleh Tuhan, sedangkan jalan Paulus justru adalah jalan yang dibenci dan dikutuk Tuhan karena bertentangan dengan maksud-Nya. Untuk menempuh jalan Petrus, seseorang harus mengerti maksud Tuhan. Mereka hanya dapat memiliki pemahaman yang akurat tentang jalan mana yang harus diikuti jika mereka benar-benar mampu memahami sepenuhnya maksud Tuhan melalui firman-Nya, yaitu memahami apa yang ingin Tuhan genapi dalam diri manusia dan, pada akhirnya, hasil seperti apa yang ingin Dia capai. Jika engkau tidak sepenuhnya memahami jalan Petrus dan hanya ingin mengikutinya, engkau tidak akan mampu menapakinya. Dengan kata lain, engkau mungkin mengetahui banyak doktrin, tetapi pada akhirnya, engkau tidak akan mampu masuk ke dalam kenyataan. Bahkan jika engkau memiliki sedikit jalan masuk yang dangkal, engkau tidak akan mampu mencapai hasil yang nyata.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 566
Kebanyakan orang memiliki pemahaman yang sangat dangkal tentang diri mereka sendiri. Mereka sama sekali tidak mengetahui dengan jelas hal-hal di dalam natur mereka. Mereka hanya mengetahui beberapa keadaan rusak yang mereka perlihatkan, hal-hal yang cenderung mereka lakukan, atau kekurangan apa yang mereka miliki, dan ini membuat mereka merasa telah mengenal diri mereka sendiri. Jika mereka kemudian menaati beberapa aturan, memastikan bahwa mereka tidak melakukan kesalahan di bidang-bidang tertentu, dan berhasil menghindari pelanggaran-pelanggaran tertentu, mereka berpikir bahwa mereka memiliki kenyataan dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan dan menganggap bahwa mereka akan diselamatkan. Ini tidak lain hanyalah imajinasi manusia. Jika engkau menaati hal-hal itu, apakah engkau akan benar-benar mampu menahan diri untuk tidak melanggar? Apakah engkau benar-benar telah mencapai perubahan dalam watakmu? Apakah engkau benar-benar telah hidup dalam keserupaan dengan manusia? Apakah engkau akan benar-benar mampu memuaskan Tuhan? Sama sekali tidak. Ini sudah pasti. Orang harus memiliki standar yang tinggi dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan: untuk mendapatkan kebenaran dan mengalami beberapa perubahan dalam watak hidup mereka. Untuk ini, pertama-tama orang harus berupaya mengenal diri mereka sendiri. Jika pengenalan seseorang akan dirinya sendiri terlalu dangkal, ini tidak akan menyelesaikan masalah apa pun, dan watak hidup mereka tidak akan berubah sama sekali. Engkau harus mengenal dirimu sendiri secara mendalam. Ini berarti mengenal naturmu, dan mengetahui unsur-unsur apa saja yang terkandung di dalamnya, dari mana hal-hal ini berasal, dan dari mana datangnya. Selain itu, apakah engkau benar-benar mampu membenci hal-hal ini? Pernahkah engkau melihat jiwamu sendiri yang buruk dan naturmu yang jahat? Jika engkau benar-benar melihat kebenaran tentang dirimu sendiri, engkau akan membenci dirimu sendiri. Ketika engkau membenci dirimu sendiri dan kemudian mencoba menerapkan firman Tuhan, engkau akan mampu memberontak terhadap daging serta mendapatkan kekuatan untuk menerapkan kebenaran, dan itu tidak akan terasa sulit lagi. Mengapa banyak orang bertindak menurut kesukaan daging mereka? Karena mereka menganggap diri mereka cukup baik, dan merasa bahwa tindakan mereka cukup pantas dan dapat dibenarkan, tanpa kesalahan apa pun, dan bahkan sepenuhnya benar, sehingga mereka bertindak dengan percaya diri. Ketika mereka benar-benar mengetahui seperti apa natur mereka—betapa buruk, menyedihkan, dan hinanya natur itu—mereka tidak akan merasa diri sangat penting dan bersikap begitu congkak lagi, dan mereka tidak akan lagi merasa begitu senang dengan diri mereka sendiri. Mereka akan berpikir, "Aku harus menerapkan beberapa firman Tuhan dengan sikap yang membumi. Jika tidak, aku tidak akan memenuhi standar sebagai manusia, dan aku akan malu untuk hidup di hadirat Tuhan." Mereka akan benar-benar menganggap diri mereka kecil dan sangat tidak berarti. Pada titik ini, akan menjadi mudah bagi mereka untuk menerapkan kebenaran, dan mereka akan tampak seperti selayaknya manusia. Hanya ketika seseorang benar-benar membenci dirinya sendiri, barulah dia mampu memberontak terhadap daging. Jika tidak membenci diri sendiri, mereka tidak akan mampu memberontak terhadap daging. Benar-benar membenci diri sendiri bukanlah perkara mudah. Untuk melakukannya, ada beberapa hal yang harus dimiliki seseorang. Pertama, seseorang harus mengenal naturnya. Kedua, mereka harus menyadari bahwa mereka itu miskin dan menyedihkan, bahwa mereka sangat kecil serta tidak berarti, dan mereka harus melihat jiwa mereka yang menyedihkan dan kotor. Ketika mereka sepenuhnya memahami siapa diri mereka sebenarnya—ketika hasil ini tercapai—mereka benar-benar mengenal diri mereka sendiri, dan bisa dikatakan bahwa pengenalan diri mereka sudah tepat. Pada titik ini, barulah mereka dapat membenci diri sendiri, bahkan mengutuk diri sendiri, dan benar-benar merasa bahwa manusia telah dirusak secara mendalam oleh Iblis sehingga mereka sama sekali tidak memiliki keserupaan dengan manusia. Suatu hari, jika mereka benar-benar menghadapi ancaman kematian, mereka akan berpikir, "Inilah hukuman Tuhan yang benar. Tuhan sungguh benar. Aku pantas mati!" Pada titik ini, mereka tidak akan menyuarakan keberatan, apalagi mengeluh tentang Tuhan. Mereka hanya akan merasa benar-benar miskin, menyedihkan, najis, serta rusak, dan bahwa mereka seharusnya disingkirkan dan dihancurkan oleh Tuhan, dan mereka akan merasa bahwa jiwa seperti mereka tidak layak untuk hidup di bumi. Oleh karena itu, mereka tidak akan mengeluh tentang Tuhan atau menentang-Nya, apalagi mengkhianati-Nya. Namun, jika mereka tidak mengenal diri sendiri, dan masih menganggap diri mereka cukup baik, ketika ancaman kematian mendekat, mereka akan berpikir, "Aku telah beriman dengan sangat baik. Aku telah mengejar kebenaran dengan begitu keras, berkorban begitu banyak, dan sangat menderita, tetapi pada akhirnya, tuhan membiarkanku mati. Entah di mana letak kebenaran tuhan. Mengapa dia membiarkanku mati? Jika orang sepertiku saja harus mati, siapa yang bisa diselamatkan? Bukankah seluruh umat manusia akan tamat?" Pertama-tama, mereka akan memiliki gagasan tentang Tuhan. Kedua, mereka akan mengeluh tentang Dia dan tidak memiliki ketundukan sama sekali. Mereka sama seperti Paulus, yang tidak mengenal dirinya sendiri, bahkan ketika ajalnya sudah dekat. Ketika hukuman Tuhan menimpa mereka, semuanya sudah terlambat.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 567
Tepatnya, menempuh jalan Petrus dalam iman seseorang kepada Tuhan berarti menempuh jalan mengejar kebenaran, yang juga merupakan jalan untuk benar-benar mengenal dirinya sendiri dan berubah dalam wataknya. Hanya dengan menempuh jalan Petrus, orang akan berada di jalan penyempurnaan dirinya oleh Tuhan. Orang harus mengetahui dengan jelas bagaimana tepatnya cara menempuh jalan Petrus dan juga cara melakukannya. Pertama, orang itu harus mengesampingkan niat pribadinya, pengejarannya yang tidak benar, dan bahkan keluarga dan semua hal yang berkaitan dengan dagingnya sendiri. Dia harus berbakti dengan sepenuh hati; yang berarti, dia harus sepenuhnya mengabdikan diri kepada firman Tuhan, berfokus pada makan dan minum firman Tuhan, memusatkan perhatiannya untuk mencari kebenaran dan hasrat Tuhan di dalam firman-Nya, serta berusaha memahami maksud Tuhan dalam segala hal. Inilah metode penerapan yang paling mendasar dan yang terpenting. Inilah yang dahulu dilakukan Petrus setelah berjumpa dengan Yesus, dan hanya dengan melakukan penerapan dengan cara ini, barulah orang akan mampu mencapai hasil yang terbaik. Pengabdian sepenuh hati kepada firman Tuhan terutama mengharuskanmu untuk mencari kebenaran dan hasrat Tuhan di dalam firman-Nya, berfokus untuk memahami maksud Tuhan, serta memahami dan mendapatkan lebih banyak kebenaran dari firman Tuhan. Ketika membaca firman Tuhan, fokus Petrus bukanlah untuk memahami doktrin, apalagi memperoleh pengetahuan teologis. Sebaliknya, dia memusatkan perhatiannya untuk memahami kebenaran dan memahami maksud Tuhan, dan untuk mencapai pemahaman tentang watak dan keindahan Tuhan. Petrus juga berupaya untuk memahami berbagai keadaan rusak manusia dari firman Tuhan serta esensi natur, dan kekurangan manusia yang sebenarnya, sehingga dapat dengan mudah memenuhi tuntutan Tuhan untuk memuaskan Dia. Petrus melakukan begitu banyak penerapan yang benar sesuai dengan firman Tuhan. Inilah yang paling selaras dengan maksud Tuhan, dan inilah cara terbaik bagi seseorang untuk bekerja sama dalam mengalami pekerjaan Tuhan. Ketika mengalami ratusan ujian dari Tuhan, Petrus membandingkan dirinya dengan ketat terhadap setiap firman Tuhan yang menghakimi dan menyingkapkan manusia—dan setiap firman mengenai tuntutan-Nya terhadap manusia—memeriksa dirinya, dan berusaha untuk memahami makna firman Tuhan secara akurat. Dia merenungkan dengan sungguh-sungguh semua yang Yesus katakan kepadanya, benar-benar menghafalkan setiap kata di benaknya—pendekatan ini membuahkan hasil yang sangat baik. Dengan menerapkan seperti ini, dia mampu mengenal dirinya sendiri melalui firman Tuhan, dan dia bukan saja mulai mengetahui berbagai keadaan rusak dan kekurangan manusia, tetapi dia juga mulai mengetahui tentang esensi dan natur manusia. Ini memperlihatkan bahwa Petrus benar-benar mengenal dirinya sendiri. Dari firman Tuhan, Petrus, di satu sisi, memperoleh pengenalan yang benar tentang dirinya sendiri, dan di sisi lain, dia memahami watak benar yang Tuhan ungkapkan, apa yang Dia miliki dan siapa Dia, maksud Tuhan bagi pekerjaan-Nya, dan tuntutan Tuhan terhadap manusia. Dari firman ini dia mulai benar-benar mengenal Tuhan. Dia mulai mengenal watak Tuhan dan esensi-Nya; dia mulai mengenal dan memahami apa yang Tuhan miliki dan siapa Dia, juga keindahan Tuhan dan tuntutan Tuhan terhadap manusia. Sekalipun Tuhan pada waktu itu tidak berbicara sebanyak yang dilakukan-Nya pada saat ini, hasil dalam aspek-aspek ini tercapai dalam diri Petrus. Ini adalah hal yang langka dan berharga. Petrus mengalami ratusan ujian; dia tidak menderita dengan sia-sia. Dia tidak hanya mengenal dirinya sendiri dari firman dan pekerjaan Tuhan, tetapi dia juga mengenal Tuhan. Selain itu, di dalam firman Tuhan dia sangat memperhatikan tuntutan Tuhan terhadap manusia dan aspek-aspek yang di dalamnya manusia harus memuaskan Tuhan agar menjadi sesuai dengan maksud-Nya, dan dia mampu berusaha keras untuk hal-hal ini, mencapai kejelasan penuh. Ini sangat bermanfaat bagi jalan masuk kehidupannya. Apa pun aspek firman Tuhan, selama firman itu dapat berfungsi sebagai hidup dan merupakan kebenaran, Petrus mengukirnya di dalam hatinya, di mana dia akan sering merenungkannya dan memahaminya. Setelah mendengar firman yang Yesus katakan, dia mampu menerima perkataan itu dengan sepenuh hati, yang menunjukkan bahwa dia sangat berfokus pada firman Tuhan, dan dia benar-benar mencapai hasil pada akhirnya. Itu berarti, dia mampu dengan cekatan menerapkan firman Tuhan, menerapkan kebenaran secara akurat dan bertindak sesuai dengan maksud Tuhan, melakukan segala sesuatu sepenuhnya sesuai dengan keinginan Tuhan, dan meninggalkan pendapat serta imajinasi pribadinya. Dengan cara ini dia masuk ke dalam kenyataan firman Tuhan. Pelayanan Petrus menjadi sejalan dengan maksud Tuhan terutama karena dia telah melakukan hal ini.
Jika orang mampu memuaskan Tuhan saat melaksanakan tugasnya, berprinsip dalam perkataan dan tindakannya, dan masuk ke dalam kenyataan semua aspek kebenaran, maka dia adalah orang yang disempurnakan oleh Tuhan. Dapat dikatakan bahwa pekerjaan dan firman Tuhan telah sepenuhnya efektif bagi mereka, bahwa firman Tuhan telah menjadi hidup mereka, mereka telah memperoleh kebenaran, dan bahwa mereka mampu hidup sesuai dengan firman Tuhan. Setelah ini, natur daging mereka—yaitu, fondasi keberadaan mereka yang semula—akan terguncang dan runtuh. Hanya setelah orang memiliki firman Tuhan sebagai hidupnya, barulah dia akan menjadi manusia baru. Jika firman Tuhan menjadi hidup orang, jika visi pekerjaan Tuhan, penyingkapan dan tuntutan-Nya terhadap manusia, dan standar hidup manusia yang Tuhan tuntut untuk orang penuhi menjadi hidup mereka, jika orang hidup berdasarkan firman dan kebenaran ini, maka mereka disempurnakan oleh firman Tuhan. Orang-orang semacam itu dilahirkan kembali dan telah menjadi manusia baru melalui firman Tuhan. Inilah jalan yang ditempuh Petrus dalam mengejar kebenaran. Inilah jalan untuk disempurnakan. Petrus disempurnakan oleh firman Tuhan, dia mendapatkan hidup dari firman Tuhan, kebenaran yang diungkapkan Tuhan menjadi hidupnya, dan dia menjadi orang yang memperoleh kebenaran.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Cara Menempuh Jalan Petrus"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 568
Sebelum manusia mengalami pekerjaan Tuhan dan memahami kebenaran, natur Iblislah yang mengendalikan dan menguasai mereka dari dalam. Secara spesifik, apa yang terkandung dalam natur tersebut? Misalnya, mengapa engkau egois? Mengapa engkau mempertahankan posisimu? Mengapa engkau memiliki perasaan yang begitu kuat? Mengapa engkau menikmati hal-hal yang tidak benar? Mengapa engkau menyukai kejahatan? Apakah dasar kesukaanmu akan hal-hal seperti itu? Dari manakah asal hal-hal ini? Mengapa engkau begitu senang menerimanya? Saat ini, engkau semua telah memahami bahwa alasan utama di balik semua hal ini adalah karena racun Iblis ada di dalam diri manusia. Jadi, apakah racun Iblis itu? Bagaimana racun Iblis dapat diungkapkan? Misalnya, jika engkau bertanya, "Bagaimana seharusnya orang hidup? Untuk apa seharusnya orang hidup?" Orang akan menjawab: "Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya." Satu frasa ini mengungkapkan sumber penyebab masalahnya. Falsafah dan logika Iblis telah menjadi hidup orang. Apa pun yang orang kejar, mereka melakukannya demi diri mereka sendiri—oleh karena itu, mereka hidup hanya demi diri mereka sendiri. "Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya"—ini adalah falsafah hidup manusia dan ini juga mewakili natur manusia. Perkataan ini telah menjadi natur manusia yang rusak dan perkataan ini adalah gambaran sebenarnya dari natur Iblis manusia yang rusak. Natur Iblis ini telah menjadi dasar bagi keberadaan manusia yang rusak. Selama ribuan tahun, umat manusia yang rusak telah hidup berdasarkan racun Iblis ini, hingga hari ini. Segala sesuatu yang Iblis lakukan adalah demi keinginan, ambisi dan tujuannya sendiri. Iblis ingin melampaui Tuhan, membebaskan diri dari Tuhan, dan menguasai segala sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan. Sekarang ini, sampai ke taraf inilah manusia telah dirusak oleh Iblis: mereka semua memiliki natur Iblis, mereka semua berusaha menyangkal dan menentang Tuhan, dan mereka ingin mengendalikan nasib mereka sendiri dan mencoba menentang pengaturan dan penataan Tuhan. Ambisi dan keinginan mereka sama persis dengan ambisi dan keinginan Iblis. Oleh karena itu, natur manusia adalah natur Iblis. Sebenarnya, banyak semboyan dan pepatah manusia yang merepresentasikan natur manusia dan mencerminkan esensi kerusakan manusia. Segala sesuatu yang orang pilih adalah kesukaan mereka sendiri, dan semuanya merepresentasikan watak dan pengejaran manusia. Dalam setiap perkataan yang orang ucapkan, dan dalam semua yang mereka lakukan, betapa pun terselubungnya, semua itu tidak dapat menutupi natur mereka. Sebagai contoh, orang Farisi biasanya berkhotbah dengan cukup baik, tetapi ketika mereka mendengar khotbah dan kebenaran yang diungkapkan oleh Yesus, alih-alih menerimanya, mereka malah mengutuknya. Ini menyingkapkan esensi natur orang Farisi yang membenci dan muak akan kebenaran. Ada orang-orang yang berbicara cukup baik dan pandai menyamarkan diri mereka, tetapi setelah orang lain berhubungan dengan mereka selama beberapa waktu, orang lain mendapati bahwa natur mereka sangat licik dan tidak jujur. Setelah lama berhubungan dengan mereka, semua orang tahu seperti apa esensi natur mereka. Pada akhirnya, orang lain menarik kesimpulan berikut: mereka tidak pernah mengatakan yang sebenarnya, dan curang. Pernyataan ini merepresentasikan natur orang semacam itu dan merupakan gambaran dan bukti terbaik dari esensi natur mereka. Falsafah mereka tentang cara berinteraksi dengan orang lain adalah tidak mengatakan yang sebenarnya kepada siapa pun, serta tidak memercayai siapa pun. Natur Iblis dalam diri manusia mengandung banyak falsafah dan racun Iblis. Terkadang engkau sendiri bahkan tidak menyadari semua itu, dan tidak memahami semua itu; meskipun demikian, setiap saat dalam hidupmu didasarkan pada hal-hal ini. Terlebih lagi, engkau menganggap hal-hal ini cukup benar, masuk akal, dan sama sekali tidak salah. Ini cukup untuk menunjukkan bahwa falsafah Iblis telah menjadi natur manusia, dan bahwa mereka sedang hidup sepenuhnya sesuai dengan falsafah Iblis, menganggap cara hidup ini baik, dan sama sekali tanpa rasa pertobatan. Karena itu, mereka selalu memperlihatkan natur Iblis dalam diri mereka, dan mereka selalu hidup berdasarkan falsafah Iblis. Natur Iblis adalah hidup manusia dan merupakan esensi natur manusia.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Cara Menempuh Jalan Petrus"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 569
Sekarang engkau semua sudah sedikit mampu mengenali watak rusak yang kauperlihatkan. Setelah engkau mampu mengetahui dengan jelas hal-hal rusak apa yang masih cenderung kauperlihatkan secara teratur, dan hal-hal apa yang masih cenderung kaulakukan yang bertentangan dengan kebenaran, akan menjadi mudah menahirkan watak rusakmu. Mengapa, dalam banyak hal, orang tak mampu mengendalikan diri mereka sendiri? Karena setiap saat, dan dalam segala hal, mereka dikendalikan oleh watak rusak mereka, yang membatasi dan mengganggu mereka dalam segala hal. Ketika segala sesuatunya berjalan baik, dan mereka tidak tersandung atau menjadi negatif, beberapa orang selalu merasa diri mereka memiliki tingkat pertumbuhan, dan tidak memikirkannya ketika mereka melihat orang jahat, pemimpin palsu, atau antikristus yang disingkapkan dan disingkirkan. Mereka bahkan akan menyombongkan diri di depan semua orang dengan berkata, "Orang lain bisa tersandung, tetapi aku tidak. Orang lain mungkin tidak mengasihi Tuhan, tetapi aku mengasihi Tuhan." Mereka mengira mereka mampu tetap teguh dalam kesaksian mereka dalam situasi atau keadaan apa pun. Dan hasilnya? Ketika tiba saatnya mereka diuji, mereka pun mengeluh dan mengomel tentang Tuhan. Bukankah ini kegagalan, bukankah ini berarti tersandung? Tidak ada yang lebih menyingkapkan orang daripada ketika mereka diuji. Tuhan memeriksa lubuk hati manusia, dan kapan pun itu, manusia sama sekali tidak boleh membanggakan diri. Apa pun yang mereka banggakan, dalam hal itulah mereka, cepat atau lambat, akan tersandung suatu hari nanti. Ketika mereka melihat orang lain tersandung dan gagal dalam keadaan tertentu, mereka tidak memikirkannya, dan bahkan berpikir bahwa mereka sendiri tidak mungkin melakukan kesalahan, bahwa mereka akan mampu tetap teguh—tetapi mereka juga akhirnya tersandung dan gagal dalam keadaan yang sama. Bagaimana ini bisa terjadi? Itu karena manusia tidak sepenuhnya memahami esensi natur mereka sendiri; pengetahuan mereka tentang masalah esensi natur mereka sendiri masih kurang dalam, jadi menerapkan kebenaran sangat berat bagi mereka. Sebagai contoh, ada orang-orang yang sangat curang, dan tidak jujur dalam perkataan dan perbuatannya, tetapi jika engkau bertanya kepada mereka, dalam hal apa watak rusak mereka paling parah, mereka berkata, "Aku sedikit curang." Mereka hanya mengatakan bahwa mereka sedikit licik, tetapi mereka tidak mengatakan bahwa natur mereka sendiri licik, dan mereka tidak mengatakan bahwa mereka adalah orang yang licik. Pengenalan mereka akan keadaan rusak mereka sendiri tidak sedalam itu, dan mereka tidak memandangnya dengan serius, atau memandangnya seteliti orang lain. Dari sudut pandang orang lain, orang ini sangat licik dan sangat bengkok, dan terdapat tipu muslihat dalam semua yang mereka katakan, dan perkataan serta tindakan mereka tidak pernah jujur—tetapi orang seperti itu tidak mampu mengenal diri mereka sendiri sedalam itu. Pengetahuan apa pun yang kebetulan mereka miliki hanyalah pengetahuan yang dangkal. Setiap kali mereka berbicara dan bertindak, mereka memperlihatkan sebagian dari natur mereka, tetapi mereka tidak menyadari hal ini. Jadi, mereka yakin bahwa tindakan mereka bukanlah perwujudan kerusakan, mereka mengira mereka telah menerapkan kebenaran—tetapi bagi orang-orang yang mengamati, orang ini sangat bengkok dan licik, dan perkataan serta tindakan mereka sangat tidak jujur. Dengan kata lain, manusia memiliki pemahaman yang sangat dangkal mengenai natur mereka sendiri, dan ada perbedaan yang sangat besar antara pemahaman ini dan firman Tuhan yang menghakimi dan menyingkapkan diri mereka. Ini bukan berarti ada kekeliruan dalam apa yang Tuhan singkapkan, tetapi ini berarti kurangnya pemahaman manusia yang mendalam akan natur mereka sendiri. Manusia tidak memiliki pemahaman yang mendasar atau esensial tentang diri mereka sendiri; sebaliknya, mereka berfokus dan mencurahkan upaya mereka untuk mengetahui tindakan dan perwujudan lahiriah mereka. Sekalipun beberapa orang kadang kala mampu mengatakan sedikit tentang pengenalan mereka akan diri sendiri, itu tidak akan terlalu mendalam. Tak seorang pun pernah berpikir bahwa mereka adalah jenis orang tertentu atau bahwa mereka memiliki jenis natur tertentu karena mereka memang telah melakukan jenis hal tertentu atau telah memperlihatkan satu hal tertentu. Tuhan telah menyingkapkan natur dan esensi manusia, tetapi yang orang pahami adalah bahwa cara mereka melakukan segala sesuatu dan cara mereka berbicara cacat dan rusak; akibatnya, adalah tugas yang relatif berat bagi mereka untuk menerapkan kebenaran. Orang mengira bahwa kesalahan mereka hanyalah perwujudan sesaat yang terlihat secara tidak sengaja, bukan tersingkapnya natur mereka. Ketika orang berpikir seperti ini, sangat sulit bagi mereka untuk benar-benar mengenal diri sendiri, dan sangat sulit bagi mereka untuk memahami dan menerapkan kebenaran. Karena mereka tidak memahami kebenaran dan tidak haus akan kebenaran, ketika menerapkan kebenaran, mereka hanya mengikuti peraturan secara asal-asalan. Manusia tidak menganggap natur mereka sendiri sangatlah buruk, dan yakin bahwa mereka tidak buruk hingga mencapai taraf mereka harus dimusnahkan atau dihukum. Padahal menurut standar Tuhan, manusia sudah dirusak sedemikian dalamnya, mereka masih sangat jauh dari standar untuk menerima keselamatan, karena mereka hanya memiliki pendekatan tertentu yaitu untuk di luarnya mereka tidak terlihat melanggar kebenaran, padahal sebenarnya, mereka tidak menerapkan kebenaran dan tidak tunduk kepada Tuhan.
Adanya perubahan pada perilaku atau tingkah laku orang bukan berarti adanya perubahan dalam natur mereka. Alasannya adalah karena perubahan pada tingkah laku orang tidak dapat secara mendasar mengubah penampilan asli mereka, apalagi mengubah natur mereka. Hanya jika orang memahami kebenaran, mengenal esensi natur mereka sendiri, dan mampu menerapkan kebenaran, barulah penerapan mereka akan cukup mendalam dan menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar mematuhi seperangkat aturan. Cara orang menerapkan kebenaran sekarang ini masih belum mencapai tolak ukur, dan tidak dapat sepenuhnya mencapai semua yang menjadi tuntutan kebenaran. Orang hanya menerapkan sebagian kebenaran, dan hanya pada saat mereka berada dalam keadaan dan situasi tertentu barulah mereka mampu menerapkan sedikit kebenaran; ini bukan berarti mereka mampu menerapkan kebenaran dalam semua keadaan dan semua situasi. Terkadang, ketika orang merasa bahagia dan keadaan mereka baik, atau ketika mereka bersekutu dengan orang lain dan mereka memiliki jalan penerapan di dalam hati mereka, mereka untuk sementara waktu mampu melakukan beberapa hal yang sesuai dengan kebenaran. Namun, ketika mereka hidup dengan orang-orang yang negatif dan tidak mengejar kebenaran, dan mereka dipengaruhi oleh orang-orang ini, di dalam hatinya, mereka kehilangan jalan mereka, dan mereka tak mampu menerapkan kebenaran. Ini memperlihatkan bahwa tingkat pertumbuhan mereka terlalu kecil, dan bahwa mereka masih belum benar-benar memahami kebenaran. Ada beberapa orang yang, jika dibimbing dan dituntun oleh orang yang tepat, mampu menerapkan kebenaran; tetapi jika mereka disesatkan dan diganggu oleh pemimpin palsu atau antikristus, mereka bukan saja tidak mampu menerapkan kebenaran, mereka juga cenderung disesatkan hingga mau mengikuti orang-orang tersebut. Orang-orang semacam itu masih berada dalam bahaya, bukan? Orang semacam ini, dengan tingkat pertumbuhan seperti ini, tidak mungkin mampu menerapkan kebenaran dalam segala hal dan situasi. Sekalipun mereka benar-benar menerapkan kebenaran, itu hanya akan terjadi ketika mereka berada dalam suasana hati yang baik atau dibimbing oleh orang lain; tanpa adanya orang baik untuk menuntun mereka, akan ada kalanya mereka mampu melakukan hal-hal yang melanggar kebenaran, dan mereka akan menyimpang dari firman Tuhan. Dan mengapa ini terjadi? Ini terjadi karena engkau hanya mengetahui sedikit tentang keadaanmu, dan engkau tidak mengenal esensi naturmu sendiri, dan engkau belum mencapai tingkat pertumbuhan yang mampu memberontak terhadap daging dan menerapkan kebenaran; dengan demikian, engkau tidak memiliki kendali atas apa yang akan kaulakukan di masa depan, dan tidak dapat menjamin bahwa engkau akan mampu tetap teguh dalam keadaan atau ujian apa pun. Ada kalanya engkau berada dalam suatu keadaan dan engkau mampu menerapkan kebenaran, dan engkau tampak telah sedikit berubah, tetapi, dalam keadaan yang berbeda, engkau tidak mampu menerapkan kebenaran. Ini adalah sesuatu yang di luar kendalimu. Terkadang engkau mampu menerapkan kebenaran dan terkadang engkau tak mampu. Di satu waktu, engkau paham, dan di waktu berikutnya, engkau bingung. Saat ini, engkau tidak melakukan sesuatu yang buruk, tetapi mungkin tak lama kemudian, engkau akan melakukannya. Hal ini membuktikan bahwa hal-hal rusak masih ada di dalam dirimu, dan jika engkau tidak mampu benar-benar mengenal dirimu sendiri, hal-hal tersebut tidak akan mudah untuk diselesaikan. Jika engkau tidak bisa memperoleh pemahaman menyeluruh tentang watak rusakmu sendiri, dan pada akhirnya dapat melakukan hal-hal yang menentang Tuhan, engkau berada dalam bahaya. Jika engkau mampu benar-benar mengenal naturmu, dan membencinya, engkau akan mampu mengendalikan dirimu sendiri, memberontak terhadap dirimu sendiri, dan menerapkan kebenaran.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 570
Tujuan mempersekutukan kebenaran dengan jelas adalah memampukan orang untuk memahami dan menerapkan kebenaran serta mencapai perubahan dalam watak mereka. Tujuannya bukan hanya untuk membawa terang dan sedikit kebahagiaan ke dalam hati mereka begitu mereka memahami kebenaran. Jika engkau memahami kebenaran tetapi tidak menerapkan kebenaran, maka makna dari mempersekutukan kebenaran dan memahaminya akan hilang. Apa masalahnya jika orang memahami kebenaran tetapi tidak menerapkannya? Ini adalah bukti bahwa mereka tidak mencintai kebenaran, bahwa di dalam hatinya, mereka tidak menerima kebenaran, dalam hal ini mereka akan kehilangan berkat Tuhan dan kesempatan untuk diselamatkan. Saat menyangkut tentang apakah orang dapat memperoleh keselamatan atau tidak, yang penting adalah apakah mereka mampu menerima dan menerapkan kebenaran. Jika engkau menerapkan kebenaran yang kaupahami, engkau akan menerima pencerahan, penerangan dan bimbingan Roh Kudus, engkau akan mampu masuk ke dalam kenyataan kebenaran, mencapai pemahaman yang lebih mendalam tentang kebenaran, dan pada akhirnya memperoleh kebenaran serta keselamatan dari Tuhan. Ada orang-orang yang tak mampu menerapkan kebenaran, dan mereka selalu mengeluh bahwa Roh Kudus tidak mencerahkan atau menerangi mereka, bahwa Tuhan tidak memberi mereka kekuatan. Ini keliru; ini artinya salah paham terhadap Tuhan. Pencerahan dan penerangan Roh Kudus dibangun di atas dasar kerja sama orang-orang. Orang harus memiliki hati yang tulus dan mau menerapkan kebenaran, dan entah pemahaman mereka mendalam atau dangkal, mereka harus mampu menerapkan kebenaran. Hanya dengan cara demikianlah, mereka akan dicerahkan dan diterangi oleh Roh Kudus. Jika orang memahami kebenaran tetapi tidak menerapkannya dan hanya menunggu Roh Kudus bertindak dan memaksa mereka untuk menerapkannya, bukankah mereka bersikap sangat pasif? Tuhan tidak pernah memaksa orang untuk melakukan apa pun. Jika orang memahami kebenaran tetapi tidak mau menerapkannya, ini menunjukkan bahwa mereka tidak mencintai kebenaran, atau bahwa keadaan mereka tidak normal dan ada sesuatu yang menghalangi mereka. Namun, jika orang mampu berdoa kepada Tuhan, Tuhan pun akan bekerja; masalahnya sebenarnya adalah jika mereka tidak mau menerapkan kebenaran dan juga tidak berdoa kepada Tuhan, Roh Kudus tidak memiliki cara untuk bekerja dalam diri mereka. Sebenarnya, apa pun kesulitan yang orang hadapi, itu selalu dapat diselesaikan; yang penting adalah mampu atau tidaknya mereka melakukan penerapan sesuai dengan kebenaran. Sekarang, masalah kerusakan di dalam dirimu bukanlah kanker, itu bukan suatu penyakit yang tak dapat disembuhkan. Jika engkau semua mampu bertekad untuk menerapkan kebenaran, engkau akan menerima pekerjaan Roh Kudus, dan akan ada kemungkinan watak-watak yang rusak ini berubah. Semua itu tergantung pada apakah engkau mampu bertekad untuk menerapkan kebenaran; inilah kuncinya. Jika engkau menerapkan kebenaran dan menempuh jalan mengejar kebenaran, engkau akan mampu menerima pekerjaan Roh Kudus, dan pasti dapat diselamatkan. Jika jalan yang kautempuh adalah jalan yang salah, engkau akan kehilangan pekerjaan Roh Kudus; satu langkah yang salah akan menimbulkan langkah salah lainnya, dan tamatlah riwayatmu, dan berapa tahun pun engkau terus percaya, engkau tidak akan dapat memperoleh keselamatan. Sebagai contoh, ketika sedang bekerja, ada orang-orang yang tidak pernah memikirkan bagaimana melakukan pekerjaan dengan cara yang bermanfaat bagi pekerjaan rumah Tuhan dan sesuai dengan maksud Tuhan. Akibatnya, mereka melakukan banyak hal yang egois dan hina, menimbulkan kemuakan dan kebencian Tuhan, sehingga mereka disingkapkan dan disingkirkan. Jika dalam segala sesuatu, orang mampu mencari kebenaran dan melakukan penerapan sesuai dengan kebenaran, itu berarti mereka telah masuk ke jalur iman yang benar kepada Tuhan, sehingga memiliki harapan untuk menjadi orang yang sesuai dengan maksud Tuhan. Ada orang-orang yang memahami kebenaran tetapi tidak menerapkannya. Sebaliknya, mereka percaya bahwa kebenaran bukanlah hal penting, dan bahwa itu tidak mampu menyelesaikan masalah kehendak dan watak rusak mereka sendiri. Bukankah orang-orang semacam itu menggelikan? Bukankah mereka benar-benar tidak masuk akal? Bukankah mereka menganggap diri mereka sendiri sangat cerdas? Jika orang mampu menerapkan sesuai dengan kebenaran, watak rusak mereka dapat berubah. Jika kepercayaan dan pelayanan mereka kepada Tuhan sesuai dengan kepribadian alami mereka, maka tak seorang pun dari mereka akan mampu mencapai perubahan dalam watak mereka. Ada orang-orang yang menghabiskan sepanjang hari larut dalam kecemasan yang disebabkan oleh pilihan mereka yang salah. Padahal kebenaran sudah langsung tersedia bagi mereka, tetapi mereka tidak menyelidikinya atau berusaha menerapkannya; mereka malah bersikeras memilih jalan mereka sendiri. Betapa konyolnya tindakan mereka! Mereka benar-benar tidak tahu bagaimana menikmati berkat yang mereka miliki; mereka terlahir untuk menderita. Menerapkan kebenaran adalah sesederhana itu; apakah engkau menerapkannya atau tidak, itulah yang terpenting. Jika engkau adalah orang yang memiliki tekad untuk menerapkan kebenaran, maka kenegatifan, kelemahan, dan watakmu yang rusak akan berangsur diselesaikan dan diubah; ini tergantung pada apakah hatimu mencintai kebenaran atau tidak, apakah engkau mampu menerima kebenaran atau tidak, apakah engkau mampu menderita dan membayar harga untuk memperoleh kebenaran atau tidak. Jika engkau benar-benar mencintai kebenaran, engkau akan mampu mengalami segala jenis penderitaan untuk memperolehnya—entah itu berarti difitnah, dihakimi, atau ditolak orang, engkau harus menanggung semua ini dengan kesabaran dan toleransi. Tuhan akan melindungi dan memberkatimu, Dia tidak akan meninggalkan atau mengabaikanmu—ini pasti. Jika engkau berdoa kepada Tuhan dengan hati yang takut akan Tuhan, bergantung pada Tuhan dan memandang Tuhan, tidak akan ada kesulitan yang tak mampu kaulewati. Engkau mungkin memiliki watak yang rusak, dan engkau mungkin melakukan pelanggaran, tetapi jika engkau memiliki hati yang takut akan Tuhan, dan jika engkau dengan hati-hati menempuh jalan mengejar kebenaran, engkau pasti akan mampu berdiri teguh, dan pasti akan dibimbing serta dilindungi oleh Tuhan.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 571
Jika engkau ingin mendapatkan pemahaman tentang kebenaran, sangat penting bagimu untuk mengetahui cara makan dan minum firman Tuhan. Jika engkau membaca firman Tuhan terlalu sedikit, tidak membacanya dengan sungguh-sungguh, dan tidak merenungkannya dengan hatimu, engkau tidak akan mampu memahami kebenaran. Yang mampu kaupahami hanyalah sedikit doktrin, sehingga akan sangat sulit bagimu untuk memahami maksud dan tujuan Tuhan dalam firman-Nya. Jika engkau tidak memahami tujuan dan hasil yang ingin dicapai oleh firman Tuhan, jika engkau tidak memahami apa yang ingin dicapai dan disempurnakan oleh firman-Nya dalam diri manusia, itu membuktikan bahwa engkau belum memahami kebenaran. Mengapa Tuhan mengatakan hal itu? Mengapa Dia berbicara dengan nada bicara seperti itu? Mengapa Dia begitu sungguh-sungguh dan terus-terang dalam setiap perkataan yang Dia ucapkan? Mengapa Dia memilih untuk menggunakan kata-kata tertentu? Apakah engkau tahu? Jika engkau tidak dapat menyatakannya dengan jelas, itu berarti engkau tidak memahami maksud Tuhan atau tujuan-Nya. Jika engkau tidak memahami konteks di balik firman-Nya, bagaimana engkau mampu memahami atau menerapkan kebenaran? Untuk memperoleh kebenaran, engkau harus terlebih dahulu memahami apa yang Tuhan maksudkan dalam setiap firman yang Dia ucapkan, dan setelah memahami firman tersebut, terapkanlah, membuat firman Tuhan hidup di dalam dirimu dan menjadi kenyataanmu. Dengan melakukannya engkau akan masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Hanya ketika engkau memiliki pemahaman yang menyeluruh akan firman Tuhan, barulah engkau dapat benar-benar memahami kebenaran. Setelah hanya memahami beberapa kata dan doktrin, engkau merasa sudah memahami kebenaran dan memiliki kenyataan. Ini adalah penipuan diri sendiri. Engkau bahkan tidak memahami mengapa Tuhan menuntut orang untuk menerapkan kebenaran. Ini membuktikan bahwa engkau tidak memahami maksud Tuhan, dan bahwa engkau masih belum memahami kebenaran. Sebenarnya, Tuhan menuntut manusia melakukan ini adalah untuk menyucikan dan menyelamatkan mereka, agar manusia dapat menyingkirkan watak rusak mereka, serta menjadi orang yang tunduk kepada Tuhan dan mengenal-Nya. Inilah tujuan yang Tuhan ingin capai dengan menuntut orang untuk menerapkan kebenaran.
Tuhan mengungkapkan kebenaran bagi orang-orang yang mencintai kebenaran, haus akan kebenaran, dan mencari kebenaran. Adapun orang-orang yang menaruh perhatian pada kata-kata dan doktrin serta gemar berbicara panjang lebar dan muluk-muluk, mereka tidak akan pernah memperoleh kebenaran; mereka sedang membodohi diri mereka sendiri. Sudut pandang mereka tentang kebenaran dan firman Tuhan keliru; pemahaman mereka memang sejak awal bengkok—sudut pandang mereka semuanya keliru. Beberapa orang lebih suka mempelajari firman Tuhan. Mereka selalu mengkaji bagaimana firman Tuhan berbicara tentang tempat tujuan atau tentang cara diberkati. Mereka paling tertarik dengan firman semacam ini. Jika firman Tuhan tidak sesuai dengan pemahaman mereka dan tidak memuaskan keinginan mereka akan berkat, mereka akan menjadi negatif, tidak lagi mengejar kebenaran, dan tidak mau mengorbankan diri mereka untuk Tuhan. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak tertarik pada kebenaran. Akibatnya, mereka tidak bersungguh-sungguh terhadap kebenaran; mereka hanya mampu menerima kebenaran yang sesuai dengan gagasan dan imajinasi mereka. Meskipun orang-orang semacam itu bersemangat dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan dan berusaha dengan segala macam cara untuk melakukan beberapa hal baik dan menampilkan diri mereka sendiri dengan baik, mereka melakukannya semata-mata agar memiliki tempat tujuan yang baik di masa depan. Terlepas dari kenyataan bahwa mereka juga terlibat dalam kehidupan bergereja, makan dan minum firman Tuhan, mereka tidak akan menerapkan kebenaran atau memperolehnya. Ada orang-orang yang makan dan minum firman Tuhan, tetapi yang melakukannya dengan asal-asalan; mereka merasa telah memperoleh kebenaran hanya dengan memahami beberapa kata dan doktrin. Sungguh bodohnya mereka! Firman Tuhan adalah kebenaran. Namun, orang belum tentu akan memahami dan memperoleh kebenaran setelah mereka membaca firman Tuhan. Jika engkau gagal memperoleh kebenaran melalui makan dan minum firman Tuhan, yang akan engkau dapatkan adalah kata-kata dan doktrin. Jika engkau tidak tahu cara menerapkan kebenaran atau cara bertindak sesuai dengan prinsip, artinya engkau tetap tidak memiliki kenyataan kebenaran. Engkau mungkin sering membaca firman Tuhan, tetapi sesudahnya, engkau tetap tidak mampu memahami maksud Tuhan, dan hanya memahami beberapa kata dan doktrin. Bagaimana cara makan dan minum firman Tuhan agar dapat memahami kebenaran? Pertama, engkau harus menyadari bahwa firman Tuhan tidak mudah dipahami; firman Tuhan itu sangat mendalam. Bahkan satu kalimat firman Tuhan membutuhkan seumur hidupmu untuk mengalaminya secara penuh. Tanpa beberapa tahun pengalaman, bagaimana mungkin engkau mampu memahami firman Tuhan? Jika, ketika membaca firman Tuhan, engkau tidak memahami maksud Tuhan, dan tidak memahami tujuan dari firman-Nya, asal-usulnya, hasil yang ingin dicapainya, atau apa yang ingin diselesaikannya, lalu apakah itu berarti engkau memahami kebenaran? Engkau mungkin telah sering membaca firman Tuhan dan engkau mungkin dapat menghafal banyak ayat, tetapi engkau tidak mampu menerapkan kebenaran dan sama sekali belum berubah, hubunganmu dengan Tuhan begitu jauh dan asing seperti yang selalu terjadi selama ini. Ketika menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan gagasanmu, engkau masih merasa ragu terhadap-Nya, dan engkau tidak memahami-Nya, tetapi engkau berdebat dengan-Nya serta menyimpan gagasan-gagasan dan kesalahpahaman tentang diri-Nya, menentang-Nya dan bahkan menghujat-Nya. Watak macam apa ini? Watak ini adalah watak kecongkakan, watak yang muak akan kebenaran. Bagaimana orang yang begitu congkak dan muak akan kebenaran mampu menerima atau menerapkannya? Orang-orang semacam itu sama sekali tidak akan pernah mampu memperoleh kebenaran atau Tuhan.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 572
Dikatakan "Orang yang mengikuti sampai akhir pasti akan diselamatkan", tetapi apakah ini mudah untuk diterapkan? Tidak, dan banyak orang yang diburu dan dianiaya oleh si naga merah yang sangat besar menjadi terlalu takut dan gentar untuk mengikut Tuhan. Mengapa mereka jatuh? Karena mereka tidak memiliki iman yang sejati. Beberapa orang mampu menerima kebenaran, berdoa kepada Tuhan, mengandalkan Tuhan, dan mereka berdiri teguh dalam ujian dan kesengsaraan, sementara orang lain tidak mampu mengikuti sampai akhir. Pada titik tertentu selama ujian dan kesengsaraan, mereka akan jatuh, kehilangan kesaksian mereka, dan tidak mampu bangkit dan melanjutkan. Semua hal yang muncul setiap hari, baik besar maupun kecil, yang bisa menggoyahkan tekadmu, menguasai hatimu, atau mengekangmu dalam tugasmu dan mengekangmu dalam kemajuanmu, semua itu membutuhkan penanganan yang tekun, dan engkau harus memeriksa semua hal ini dengan saksama serta mencari kebenaran. Semua ini adalah masalah yang harus diselesaikan saat engkau mengalaminya. Beberapa orang menjadi negatif, mengeluh, dan melepaskan pekerjaan mereka saat menghadapi kesulitan, dan mereka tidak mampu bangkit kembali sesudah setiap kemunduran. Semua orang ini adalah orang-orang bodoh yang tidak mencintai kebenaran, dan mereka tidak akan memperoleh kebenaran bahkan dengan beriman seumur hidup. Bagaimana orang-orang bodoh seperti itu bisa mengikuti hingga akhir? Jika hal yang sama terjadi pada dirimu sepuluh kali, tetapi engkau tidak mendapatkan apa pun darinya, maka engkau adalah orang yang biasa-biasa saja, orang yang tidak berguna. Orang yang cerdik dan orang yang benar-benar berkualitas yang memiliki pemahaman rohani adalah para pencari kebenaran; jika sesuatu terjadi pada mereka sepuluh kali, maka, mungkin dalam delapan dari kasus-kasus tersebut, mereka akan mampu mendapatkan pencerahan, memetik sedikit pelajaran, memahami beberapa kebenaran, dan membuat sedikit kemajuan. Ketika sesuatu menimpa orang bodoh sepuluh kali—orang yang tidak memiliki pemahaman rohani—tidak sekali pun hal tersebut akan bermanfaat bagi hidup mereka, tidak sekali pun hal itu akan mengubah mereka, dan tidak sekali pun hal itu akan membuat mereka mengetahui wajah buruk mereka, di mana itulah akhir bagi mereka. Setiap kali sesuatu terjadi pada mereka, mereka jatuh, dan setiap kali mereka jatuh, mereka membutuhkan orang lain untuk mendukung dan membujuk mereka; tanpa didukung dan dibujuk, mereka tak mampu bangkit, dan setiap kali sesuatu terjadi, mereka berisiko jatuh dan mengalami kemunduran. Bukankah ini berarti mereka sudah berakhir? Apakah ada alasan lain bagi orang-orang yang tidak berguna seperti itu untuk diselamatkan? Keselamatan Tuhan bagi umat manusia adalah keselamatan bagi mereka yang mencintai kebenaran, keselamatan bagi bagian dari diri mereka yang memiliki kemauan dan ketetapan hati, dan bagian dari diri mereka yang mendambakan kebenaran dan keadilan di dalam hati mereka. Ketetapan hati manusia adalah bagian dari diri mereka di dalam hatinya yang mendambakan keadilan, kebaikan, dan kebenaran, dan memiliki hati nurani. Tuhan menyelamatkan bagian ini dari manusia, dan melaluinya, Dia mengubah watak rusak mereka, sehingga mereka bisa memahami dan memperoleh kebenaran, sehingga kerusakan mereka bisa ditahirkan, dan watak hidup mereka bisa diubahkan. Jika engkau tidak memiliki hal-hal ini dalam dirimu, engkau tidak bisa diselamatkan. Jika, dalam dirimu, tidak ada cinta akan kebenaran atau kerinduan akan keadilan dan terang; jika, setiap kali engkau menghadapi hal-hal jahat, engkau tidak memiliki kemauan untuk menyingkirkannya, juga tidak memiliki tekad untuk menanggung kesukaran; selain itu, jika hati nuranimu mati rasa; jika kemampuanmu untuk menerima kebenaran juga menjadi mati rasa, dan engkau tidak perseptif terhadap kebenaran atau terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi; dan jika engkau tidak memiliki kemampuan untuk memahami segala hal, dan dalam menghadapi apa pun yang menimpamu, engkau tidak mampu mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah dan selalu negatif, maka tidak mungkin bagimu untuk diselamatkan. Orang semacam itu tidak memiliki apa pun untuk direkomendasikan dalam diri mereka, tidak ada apa pun yang membuat Tuhan layak bekerja dalam diri mereka. Hati nurani mereka mati rasa, pikiran mereka kacau, dan mereka tidak mencintai kebenaran, tidak mendambakan keadilan di lubuk hati mereka, dan, sejelas atau setransparan apa pun Tuhan berbicara tentang kebenaran, mereka tidak bereaksi sedikit pun; seolah-olah hati mereka sudah mati. Bukankah itu artinya hidup mereka sudah tamat? Orang dengan napas yang masih tersisa dalam tubuhnya mungkin bisa diselamatkan dengan alat pernapasan buatan, tetapi, jika mereka sudah mati dan jiwanya sudah pergi meninggalkan tubuhnya, alat pernapasan buatan tidak akan ada gunanya. Jika, ketika dihadapkan dengan masalah dan kesulitan, orang mundur dan menghindarinya, mereka sama sekali tidak mencari kebenaran dan memilih untuk menjadi negatif serta malas dalam pekerjaan mereka, maka diri mereka yang sebenarnya telah tersingkap. Orang-orang semacam itu sama sekali tidak memiliki kesaksian pengalaman. Mereka hanya pendompleng, beban bagi orang lain, mereka tidak berguna di rumah Tuhan, dan mereka benar-benar sudah berakhir. Hanya mereka yang mampu mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah, merekalah orang yang memiliki tingkat pertumbuhan, dan hanya merekalah yang mampu tetap teguh dalam kesaksian mereka. Ketika engkau menghadapi masalah dan kesulitan, engkau harus menghadapinya dengan kepala dingin, dan memperlakukannya dengan benar, dan engkau harus membuat pilihan. Engkau harus belajar menggunakan kebenaran untuk menyelesaikan masalah. Entah kebenaran yang biasanya kaupahami itu mendalam atau dangkal, engkau harus menggunakannya. Kebenaran bukan hanya perkataan yang keluar dari mulutmu ketika sesuatu terjadi padamu, juga tidak digunakan khususnya untuk menyelesaikan masalah orang lain; sebaliknya, kebenaran digunakan untuk menyelesaikan masalah dan kesulitan yang kaumiliki. Itulah yang terpenting. Dan hanya jika engkau menyelesaikan masalahmu sendiri, barulah engkau akan mampu menyelesaikan masalah orang lain. Mengapa dikatakan bahwa Petrus adalah buah? Karena ada hal-hal berharga dalam dirinya. Hal-hal yang layak untuk disempurnakan. Dia mencari kebenaran dalam segala sesuatu, memiliki tekad, dan teguh dalam kemauannya; dia memiliki nalar, rela mengalami kesukaran, dan mencintai kebenaran di dalam hatinya; ketika ada hal yang menimpanya, dia tidak menyia-nyiakannya, dan dia mampu memetik pelajaran dari segala hal. Semua ini adalah kelebihannya. Jika engkau tidak memiliki kelebihan ini, itu berarti masalah. Tidak akan mudah bagimu untuk memperoleh kebenaran dan diselamatkan. Jika engkau tidak tahu cara mengalami atau tidak memiliki pengalaman, engkau tidak akan mampu menyelesaikan kesulitan orang lain. Karena engkau tidak mampu menerapkan dan mengalami firman Tuhan, engkau tidak tahu apa yang harus kaulakukan ketika sesuatu terjadi padamu, engkau menjadi sedih dan menangis tersedu-sedu ketika engkau menghadapi masalah, dan engkau menjadi negatif dan lari ketika engkau mengalami beberapa kemunduran kecil, dan engkau tidak mampu memperlakukannya dengan benar. Karena semua ini, tidak mungkin bagimu untuk memperoleh jalan masuk kehidupan. Bagaimana engkau bisa membekali orang lain tanpa jalan masuk kehidupan? Untuk membekali hidup orang, engkau harus mempersekutukan kebenaran dengan jelas dan mampu mempersekutukan prinsip-prinsip penerapan dengan jelas untuk dapat menyelesaikan masalah. Bagi orang yang memiliki hati dan roh, engkau hanya perlu mengatakan sedikit, dan mereka akan memahaminya. Namun, hanya memahami sedikit kebenaran tidak akan berhasil. Mereka juga harus memiliki jalan dan prinsip penerapan. Hanya inilah yang akan membantu mereka menerapkan kebenaran. Sekalipun orang memiliki pemahaman rohani, dan hanya membutuhkan beberapa kalimat bagi mereka untuk memahaminya, jika mereka tidak menerapkan kebenaran, tidak akan ada jalan masuk kehidupan. Jika mereka tidak mampu menerima kebenaran, maka hidup mereka sudah berakhir, dan mereka tidak akan pernah mampu masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Engkau dapat memegang tangan beberapa orang saat engkau mengajar mereka, dan mereka tampaknya akan mengerti pada waktu itu, tetapi segera setelah engkau melepaskannya, mereka kembali menjadi bingung. Ini bukanlah orang yang memiliki pemahaman rohani. Jika, apa pun masalah yang kauhadapi, engkau negatif dan lemah, engkau sama sekali tidak memiliki kesaksian, dan engkau tidak melakukan bagianmu dalam hal-hal yang seharusnya orang lakukan dan hal-hal di mana mereka harus berperan, ini membuktikan bahwa engkau tidak memiliki Tuhan di hatimu, dan engkau bukan orang yang mencintai kebenaran. Bagaimanapun pekerjaan Roh Kudus menggerakkan orang, hanya dengan mengalami pekerjaan Tuhan selama bertahun-tahun, mendengarkan begitu banyak kebenaran, memiliki sedikit hati nurani, dan mengandalkan pengendalian diri, orang harus setidaknya mampu memenuhi standar minimum, yakni tidak ditegur oleh hati nurani mereka. Orang tidak seharusnya begitu mati rasa dan lemah seperti sekarang ini, dan benar-benar sulit dipercaya bahwa mereka bisa berada dalam keadaan seperti ini. Mungkin engkau semua telah melewati beberapa tahun terakhir dalam keadaan linglung, sama sekali tidak mengejar kebenaran atau membuat kemajuan sedikit pun. Jika engkau tidak seperti ini, bagaimana engkau bisa begitu mati rasa dan tumpul? Ketika engkau seperti ini, itu sepenuhnya karena kebodohan dan ketidaktahuanmu sendiri, dan engkau tidak boleh menyalahkan orang lain. Kebenaran tidak memihak kepada orang-orang tertentu. Jika engkau tidak menerima kebenaran, dan engkau tidak mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah, bagaimana engkau bisa berubah? Ada orang-orang yang merasa kualitas mereka terlalu rendah dan mereka tidak memiliki kemampuan untuk memahami, jadi mereka menentukan diri mereka sendiri, dan merasa sekeras apa pun mereka mengejar kebenaran, mereka tidak akan mampu memenuhi tuntutan Tuhan. Mereka pikir sekeras apa pun mereka berusaha, itu tidak berguna, tidak ada lagi yang dapat dilakukan, jadi mereka selalu negatif, dan akibatnya, bahkan setelah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, mereka belum memperoleh kebenaran sedikit pun. Tanpa berusaha keras mengejar kebenaran, engkau berkata bahwa kualitasmu terlalu rendah, engkau menganggap dirimu tidak ada harapan, dan engkau selalu hidup dalam keadaan negatif. Akibatnya, kebenaran yang seharusnya kaupahami tidak berhasil kaupahami, dan kebenaran yang seharusnya mampu kauterapkan juga tidak berhasil kauterapkan—bukankah itu berarti engkau sendirilah yang menghalangi dirimu? Jika engkau selalu berkata bahwa kualitasmu tidak cukup baik, bukankah ini berarti mengelak dan menolak untuk bertanggung jawab? Jika engkau mampu menderita, membayar harga, dan mendapatkan pekerjaan Roh Kudus, engkau pasti akan mampu memahami beberapa kebenaran dan masuk ke dalam beberapa kenyataan. Jika engkau tidak mencari atau mengandalkan Tuhan, dan menganggap dirimu tidak ada harapan tanpa berupaya atau membayar harga, dan menyerah begitu saja, maka engkau adalah orang yang tidak berguna, dan tidak memiliki sedikit pun hati nurani dan nalar. Entah kualitasmu rendah atau luar biasa, jika engkau memiliki sedikit hati nurani dan nalar, engkau seharusnya melakukan dengan baik apa yang harus kaulakukan dan apa yang menjadi misimu; menjadi seorang yang mangkir adalah hal yang buruk dan pengkhianatan terhadap Tuhan. Ini tidak dapat diubah. Mengejar kebenaran membutuhkan kemauan yang kuat, dan orang yang terlalu negatif atau lemah tidak akan mencapai apa pun. Mereka tidak akan mampu percaya kepada Tuhan hingga akhir, dan jika mereka ingin memperoleh kebenaran dan mencapai perubahan watak, harapan mereka akan makin kecil. Hanya mereka yang mengejar kebenaran dan memiliki tekad yang bisa memperoleh kebenaran dan disempurnakan oleh Tuhan.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 573
Segera setelah tugas mereka menjadi sibuk, ada banyak orang yang menjadi tidak mampu mengalami dan tidak mampu mempertahankan keadaan yang normal, dan sebagai akibatnya, mereka selalu minta diadakan pertemuan, dan minta agar kebenaran dipersekutukan kepada mereka. Apa yang sedang terjadi di sini? Mereka tidak memahami kebenaran, mereka tidak memiliki dasar di jalan yang benar, orang-orang semacam itu didorong oleh semangat ketika mereka melaksanakan tugas dan itu tidak dapat bertahan lama. Ketika orang tidak memahami kebenaran, tidak ada prinsip dalam apa pun yang mereka lakukan. Jika mereka diatur untuk melakukan sesuatu, mereka mengacaukannya, mereka ceroboh dalam apa pun yang mereka lakukan, mereka tidak mencari prinsip, dan tidak ada ketundukan dalam hati mereka—yang membuktikan bahwa mereka tidak mencintai kebenaran dan tidak mampu mengalami pekerjaan Tuhan. Apa pun yang kaulakukan, engkau harus terlebih dahulu memahami mengapa engkau melakukannya, apa niat yang mengarahkanmu melakukan hal ini, apa pentingnya engkau melakukan hal itu, apa natur dari hal tersebut, dan apakah yang sedang kaulakukan adalah hal positif atau negatif. Engkau harus memiliki pemahaman yang jelas tentang semua hal ini; sangatlah perlu bagimu untuk mampu bertindak sesuai dengan prinsip. Jika engkau sedang melakukan sesuatu yang dapat digolongkan sebagai pelaksanaan tugasmu, engkau harus merenungkan: Bagaimana seharusnya aku melaksanakan tugasku dengan baik sehingga aku tidak hanya melakukannya dengan asal-asalan? Engkau harus berdoa dan mendekat kepada Tuhan dalam hal ini. Berdoa kepada Tuhan adalah untuk mencari kebenaran, mencari jalan penerapan, mencari keinginan Tuhan, dan mencari cara untuk memuaskan Tuhan. Doa bertujuan untuk mencapai efek ini. Berdoa kepada Tuhan, mendekat kepada Tuhan, dan membaca firman Tuhan bukanlah upacara keagamaan atau tindakan lahiriah. Itu dilakukan dengan tujuan melakukan penerapan sesuai dengan kebenaran setelah mencari maksud Tuhan. Jika engkau selalu berkata "syukur kepada Tuhan" sebelum engkau bertindak, engkau mungkin tampak sangat rohani dan berwawasan luas, tetapi jika, ketika tiba saatnya untuk bertindak, engkau tetap melakukan apa yang kauinginkan, tanpa sama sekali mencari kebenaran, maka ucapan "syukur kepada Tuhan" ini hanyalah sebuah mantra, itu adalah kerohanian yang palsu. Ketika melaksanakan tugasmu, engkau harus selalu berpikir: "Bagaimanakah seharusnya aku melaksanakan tugas ini? Apa keinginan Tuhan?" Berdoa kepada Tuhan dan mendekat kepada Tuhan untuk mencari prinsip dan kebenaran dalam tindakanmu, mencari keinginan Tuhan di dalam hatimu, dan tidak meninggalkan firman Tuhan atau prinsip-prinsip kebenaran dalam apa pun yang kaulakukan—hanya orang seperti inilah yang benar-benar percaya kepada Tuhan; orang-orang yang tidak mencintai kebenaran tidak mampu melakukan semua ini. Ada banyak orang yang mengikuti ide mereka sendiri dalam apa pun yang mereka lakukan, dan memikirkan segala sesuatunya dengan sangat sederhana, dan juga tidak mencari kebenaran. Sama sekali tidak memiliki prinsip, dan di dalam hatinya, mereka tidak memikirkan bagaimana bertindak sesuai dengan apa yang Tuhan tuntut, atau dengan cara yang memuaskan Tuhan, dan mereka hanya mau dengan keras kepala mengikuti kehendak mereka sendiri. Tuhan tidak memiliki tempat di hati orang-orang semacam itu. Beberapa orang berkata, "Aku hanya berdoa kepada Tuhan ketika aku menghadapi kesulitan, tetapi menurutku tetap saja tidak ada pengaruhnya—jadi biasanya jika sesuatu terjadi padaku sekarang, aku tidak berdoa kepada Tuhan, karena berdoa kepada Tuhan tidak ada gunanya." Tuhan sama sekali tidak ada di hati orang-orang semacam itu. Mereka tidak mencari kebenaran dalam apa pun yang mereka lakukan pada waktu-waktu biasanya; mereka hanya mengikuti ide mereka sendiri. Jadi, apakah ada prinsip dalam tindakan mereka? Tentu saja tidak. Mereka memandang segala sesuatu secara sederhana. Meskipun orang-orang mempersekutukan prinsip-prinsip kebenaran kepada mereka, mereka tidak mampu menerimanya, karena tidak pernah ada prinsip apa pun dalam tindakan mereka, Tuhan tidak memiliki tempat di hati mereka, dan hanya ada diri mereka sendiri di dalam hati mereka. Mereka merasa bahwa niat mereka baik, bahwa mereka tidak sedang melakukan kejahatan, bahwa niat mereka tidak dapat dianggap melanggar kebenaran, mereka berpikir bahwa bertindak sesuai dengan niat mereka sendiri berarti menerapkan kebenaran, bahwa bertindak demikian berarti tunduk kepada Tuhan. Sebenarnya, mereka tidak benar-benar mencari atau berdoa kepada Tuhan dalam hal ini, melainkan bertindak berdasarkan dorongan hati, berdasarkan niat mereka sendiri yang penuh semangat, mereka tidak melaksanakan tugas mereka seperti yang Tuhan tuntut, mereka tidak memiliki hati yang tunduk kepada Tuhan, mereka tidak memiliki keinginan ini. Inilah kesalahan terbesar dalam penerapan yang orang lakukan. Jika engkau percaya kepada Tuhan tetapi Dia tidak ada di hatimu, bukankah itu berarti engkau sedang berusaha menipu Tuhan? Dan pengaruh apa yang dihasilkan oleh kepercayaan kepada Tuhan yang seperti itu? Apa yang dapat kauperoleh? Dan apa gunanya kepercayaan kepada Tuhan yang seperti itu?
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 574
Bagaimana seharusnya engkau merenungkan dirimu sendiri, dan berusaha mengenal dirimu sendiri, setelah engkau melakukan sesuatu yang melanggar prinsip-prinsip kebenaran dan yang tidak menyenangkan Tuhan? Ketika engkau hendak melakukan hal tersebut, apakah engkau berdoa kepada-Nya? Pernahkah engkau memikirkan, "Apakah melakukan segala sesuatu dengan cara ini sesuai dengan kebenaran? Bagaimana Tuhan akan memandang hal ini jika perkara ini dibawa ke hadapan-Nya? Akankah Dia senang atau kesal saat mengetahui tentang hal ini? Akankah Dia benci atau jijik terhadap hal ini?" Engkau tidak mencari tahu tentang hal ini, bukan? Meskipun orang lain mengingatkanmu, engkau masih berpikir bahwa hal tersebut bukanlah masalah besar dan tidak bertentangan dengan prinsip apa pun dan bukan merupakan suatu dosa. Akibatnya, engkau menyinggung watak Tuhan dan memancing kemarahan Tuhan, bahkan sampai ke titik Dia membencimu. Ini diakibatkan oleh pemberontakan manusia. Oleh karena itu, engkau harus mencari kebenaran dalam segala sesuatu. Inilah yang harus kauikuti. Jika engkau dapat dengan sungguh-sungguh datang ke hadapan Tuhan untuk berdoa terlebih dahulu, dan kemudian mencari kebenaran sesuai dengan firman Tuhan, engkau tidak akan salah. Engkau mungkin sedikit menyimpang ketika menerapkan kebenaran, tetapi hal ini sulit dihindari, dan engkau akan mampu melakukan penerapan dengan benar setelah engkau memperoleh beberapa pengalaman. Namun, jika engkau tahu bagaimana bertindak sesuai dengan kebenaran, tetapi tidak menerapkannya, masalahnya adalah engkau membenci kebenaran. Orang yang tidak mencintai kebenaran tidak akan pernah mencari kebenaran, apa pun yang terjadi pada mereka. Hanya orang yang mencintai kebenaran yang memiliki hati yang takut akan Tuhan, dan ketika terjadi hal-hal yang tidak mereka pahami, mereka mampu mencari kebenaran. Jika engkau tidak mampu memahami maksud Tuhan dan tidak tahu bagaimana menerapkan kebenaran, engkau harus bersekutu dengan beberapa orang yang memahami kebenaran. Jika engkau tidak dapat menemukan orang yang memahami kebenaran, engkau harus mencari beberapa orang yang memiliki pemahaman yang murni untuk berdoa kepada Tuhan bersama-sama dengan sehati sepikir, mencari dari Tuhan, menunggu waktu Tuhan, dan menantikan Tuhan membuka jalan bagimu. Asalkan engkau semua merindukan kebenaran, mencari kebenaran, dan mempersekutukan kebenaran bersama-sama, akan tiba waktunya ketika salah seorang dari antaramu menemukan solusi yang baik. Jika engkau semua mendapati bahwa solusi tersebut sesuai dan merupakan cara yang baik, ini mungkin karena pencerahan dan penerangan Roh Kudus. Jika kemudian engkau terus bersekutu bersama-sama untuk menghasilkan jalan penerapan yang lebih akurat, ini pasti akan sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Dalam penerapanmu, jika engkau mendapati jalan penerapanmu masih kurang sesuai, engkau harus segera memperbaikinya. Jika engkau salah sedikit, Tuhan tidak akan menghukummu, karena niatmu dalam apa yang kaulakukan adalah benar, dan engkau sedang menerapkan sesuai dengan kebenaran. Engkau hanya sedikit bingung tentang prinsip-prinsipnya dan telah melakukan kesalahan dalam penerapanmu, yang dapat dimaklumi. Namun, ketika kebanyakan orang melakukan sesuatu, mereka melakukannya berdasarkan imajinasi mereka sendiri. Mereka tidak menggunakan firman Tuhan sebagai dasar untuk merenungkan bagaimana melakukan penerapan sesuai dengan kebenaran atau bagaimana agar mendapatkan perkenanan Tuhan. Sebaliknya, mereka hanya memikirkan bagaimana menguntungkan diri mereka sendiri, bagaimana membuat orang lain menghormati mereka, dan bagaimana membuat orang lain mengagumi mereka. Mereka melakukan segala sesuatu sepenuhnya berdasarkan gagasan mereka sendiri dan hanya untuk memuaskan diri mereka sendiri, dan ini sangat menyusahkan. Orang-orang semacam itu tidak akan pernah melakukan segala sesuatu sesuai dengan kebenaran, dan Tuhan akan selalu membenci mereka. Jika engkau benar-benar orang yang memiliki hati nurani dan nalar, maka apa pun yang terjadi, engkau harus dapat datang ke hadapan Tuhan untuk berdoa dan mencari, dapat dengan serius memeriksa motif dan ketidakmurnian dalam tindakanmu, mampu menentukan apa yang pantas untuk dilakukan sesuai dengan firman dan tuntutan Tuhan, dan berulang kali menimbang dan merenungkan tindakan apa yang menyenangkan Tuhan, tindakan apa yang menjijikkan bagi Tuhan, dan tindakan apa yang mendapatkan perkenanan Tuhan. Engkau harus memikirkan hal-hal ini berulang kali dalam pikiranmu sampai engkau memahaminya dengan jelas. Jika engkau tahu bahwa engkau memiliki motifmu sendiri dalam melakukan sesuatu, maka engkau harus merenungkan apa motifmu, apakah itu untuk memuaskan diri sendiri atau untuk memuaskan Tuhan, apakah itu bermanfaat bagi dirimu sendiri atau bagi umat pilihan Tuhan, dan apa akibat yang akan ditimbulkannya .... Jika engkau mencari dan lebih banyak merenungkan seperti ini dalam doamu, dan menanyakan lebih banyak pertanyaan pada dirimu sendiri untuk mencari kebenaran, maka penyimpangan dalam tindakanmu akan menjadi semakin kecil. Hanya mereka yang mampu mencari kebenaran dengan cara inilah yang merupakan orang-orang yang memikirkan maksud Tuhan dan yang takut akan Tuhan, karena engkau mencari sesuai dengan tuntutan firman Tuhan dan dengan hati yang tunduk, dan kesimpulan yang kauperoleh dari mencari dengan cara ini akan sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran.
Jika tindakan seorang percaya tidak sesuai dengan kebenaran, mereka sama seperti orang tidak percaya. Ini adalah jenis orang yang tidak memiliki Tuhan di dalam hati mereka, dan orang yang menyimpang dari Tuhan, dan orang semacam itu seperti pekerja upahan di rumah Tuhan yang melakukan beberapa pekerjaan sambilan bagi tuan mereka, menerima sedikit upah, dan kemudian pergi. Ini sama sekali bukanlah orang yang percaya kepada Tuhan. Apa yang dapat kaulakukan untuk mendapatkan pengakuan dari Tuhan adalah hal pertama yang harus kauperiksa dan kauusahakan ketika engkau melakukan segala sesuatu; itu harus menjadi prinsip dan ruang lingkup dari tindakan-tindakanmu. Alasan mengapa engkau harus menentukan apakah yang sedang kaulakukan itu sesuai dengan kebenaran atau tidak adalah jika itu sesuai dengan kebenaran, maka itu pasti sesuai dengan maksud Tuhan. Bukan berarti engkau harus menilai apakah hal itu benar atau salah, atau apakah itu sesuai dengan selera orang lain atau tidak, atau apakah itu sesuai dengan keinginanmu sendiri atau tidak; sebaliknya, engkau harus menentukan apakah itu sesuai dengan kebenaran atau tidak, dan apakah itu menguntungkan pekerjaan dan kepentingan gereja atau tidak. Jika engkau mempertimbangkan hal-hal ini, engkau akan semakin sesuai dengan maksud Tuhan saat engkau melakukan segala sesuatu. Jika engkau tidak mempertimbangkan aspek-aspek ini, dan sekadar mengandalkan kehendakmu sendiri saat melakukan segala sesuatu, dijamin engkau akan salah melakukannya, karena kehendak manusia bukanlah kebenaran dan, tentu saja, tidak sesuai dengan Tuhan. Jika engkau ingin diakui Tuhan, engkau harus menerapkan segala sesuatu sesuai dengan kebenaran dan bukan sesuai dengan kehendakmu sendiri. Beberapa orang terlibat dalam masalah pribadi tertentu dengan mengatasnamakan melaksanakan tugas mereka. Saudara-saudari mereka kemudian melihat hal ini sebagai hal yang kurang pantas dan menegur mereka karenanya, tetapi orang-orang ini tidak mau disalahkan. Mereka mengira bahwa karena itu adalah masalah pribadi yang tidak melibatkan pekerjaan, keuangan, atau orang-orang gereja, dan itu bukan perbuatan yang jahat, maka orang tidak seharusnya ikut campur. Bagimu, beberapa hal mungkin tampak sebagai masalah pribadi yang tidak melibatkan prinsip maupun kebenaran apa pun. Namun, melihat hal yang kaulakukan, engkau bersikap sangat egois. Engkau tidak memikirkan pekerjaan gereja atau kepentingan rumah Tuhan, ataupun memikirkan apakah ini akan memuaskan Tuhan; engkau hanya memikirkan keuntunganmu sendiri. Ini sudah melibatkan kepatutan orang-orang kudus serta kemanusiaan seseorang. Meskipun apa yang kaulakukan tidak melibatkan kepentingan gereja dan kebenaran, terlibat dalam masalah pribadi sembari mengatakan sedang melakukan tugasmu tidaklah sesuai dengan kebenaran. Apa pun yang kaulakukan, seberapa pun besar atau kecilnya suatu masalah, dan apakah itu adalah tugasmu di rumah Tuhan atau urusan pribadimu sendiri, engkau harus mempertimbangkan apakah hal yang kauperbuat itu sesuai dengan maksud Tuhan atau tidak, dan juga apakah itu merupakan sesuatu yang seharusnya dilakukan seseorang yang memiliki kemanusiaan. Jika engkau mencari kebenaran dengan cara ini dalam segala sesuatu yang kaulakukan, engkau adalah orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan. Jika engkau dengan serius memperlakukan setiap hal dan setiap kebenaran dengan cara seperti ini, engkau akan mampu mencapai perubahan dalam watakmu. Ada orang-orang yang berpikir, "Menyuruhku menerapkan kebenaran saat aku melaksanakan tugasku cukup adil, tetapi saat aku sedang mengurus urusan pribadiku, aku tidak peduli apa yang dikatakan kebenaran—aku akan melakukan apa yang kusuka, apa pun yang diperlukan untuk menguntungkan diriku sendiri." Dengan perkataan ini, engkau dapat melihat bahwa mereka bukanlah orang-orang yang mencintai kebenaran. Tidak ada prinsip dalam apa yang mereka lakukan. Mereka akan melakukan apa pun yang bermanfaat bagi mereka, bahkan tanpa memikirkan dampaknya terhadap rumah Tuhan. Akibatnya, setelah mereka melakukan sesuatu, Tuhan tidak hadir dalam diri mereka, dan mereka merasa gelap dan sedih, dan tidak tahu apa yang sedang terjadi. Bukankah ini yang layak mereka terima? Jika engkau tidak menerapkan kebenaran dalam tindakanmu dan mempermalukan Tuhan, maka engkau berbuat dosa terhadap-Nya. Jika orang tidak mencintai kebenaran dan sering bertindak berdasarkan kehendak mereka sendiri, mereka akan sering menyinggung Tuhan. Dia akan membenci dan menolak mereka, serta mengesampingkan mereka. Yang orang semacam itu lakukan sering kali tidak mendapat pengakuan dari Tuhan, dan jika mereka tidak bertobat, hukuman tidak akan jauh dari mereka.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 575
Tugas apa pun yang kaulaksanakan melibatkan jalan masuk kehidupan. Entah tugasmu itu cukup teratur atau tidak menentu, membosankan atau mengasyikkan, engkau harus selalu mendapatkan jalan masuk kehidupan. Tugas yang beberapa orang laksanakan agak monoton; mereka melakukan hal yang sama setiap hari. Namun, ketika melaksanakan tugas-tugas itu, keadaan yang orang-orang ini singkapkan tidak semuanya serupa. Terkadang, ketika suasana hatinya sedang baik, orang sedikit lebih rajin dan melakukan pekerjaan dengan lebih baik. Di lain waktu, entah karena pengaruh apa, watak rusak Iblis dalam diri mereka membangkitkan hal-hal jahat dalam diri mereka, menyebabkan mereka memiliki pandangan yang tidak benar dan berada dalam keadaan yang buruk dan suasana hati yang buruk; hal ini mengakibatkan mereka melaksanakan tugas mereka secara asal-asalan. Keadaan batin manusia selalu berubah-ubah; itu bisa berubah di mana pun dan kapan pun. Bagaimanapun keadaanmu berubah, selalu bertindak berdasarkan suasana hatimu adalah keliru. Katakanlah engkau melaksanakan tugasmu sedikit lebih baik saat suasana hatimu sedang baik, dan sedikit lebih buruk saat suasana hatimu sedang buruk—seperti inikah cara bertindak berdasarkan prinsip? Akankah ini memampukanmu untuk melaksanakan tugasmu dengan cara yang memenuhi standar? Apa pun suasana hati mereka, orang harus tahu cara berdoa di hadapan Tuhan dan mencari kebenaran; hanya dengan cara inilah mereka dapat menghindarkan dirinya dikekang dan dipengaruhi oleh suasana hati mereka. Ketika melaksanakan tugasmu, engkau harus selalu memeriksa dirimu sendiri untuk memahami apakah engkau melakukan berbagai hal sesuai dengan prinsip, apakah pelaksanaan tugasmu memenuhi standar, apakah engkau hanya melakukannya secara asal-asalan atau tidak, apakah engkau telah berusaha melalaikan tanggung jawabmu, dan apakah ada masalah dengan sikap dan cara berpikirmu. Setelah engkau merenungkan diri dan perkara-perkara ini menjadi jelas bagimu, engkau akan lebih mudah melaksanakan tugasmu dengan baik. Apa pun yang kauhadapi saat melaksanakan tugasmu—sikap negatif dan kelemahan, atau berada dalam suasana hati yang buruk setelah dipangkas—engkau harus memperlakukannya dengan benar, dan engkau juga harus mencari kebenaran dan memahami maksud Tuhan. Dengan melakukan hal-hal ini, engkau akan memiliki jalan penerapan. Jika engkau ingin melakukan pekerjaan yang baik dalam pelaksanaan tugasmu, engkau tidak boleh dipengaruhi oleh suasana hatimu. Betapa pun negatif atau lemahnya perasaanmu, engkau harus menerapkan kebenaran dalam segala sesuatu yang kaulakukan, dengan sangat ketat, dan berpegang teguh pada prinsip. Jika engkau melakukan hal ini, orang lain tidak saja akan menyetujuimu, tetapi Tuhan juga akan menyukaimu. Dengan demikian, engkau akan menjadi orang yang bertanggung jawab dan yang mampu menerima tanggung jawab; engkau akan menjadi orang yang sungguh-sungguh baik, yang benar-benar melaksanakan tugasmu memenuhi standar dan sepenuhnya hidup dalam keserupaan dengan manusia sejati. Orang-orang semacam itu disucikan dan mencapai perubahan nyata tatkala melaksanakan tugas mereka, dan dapat dikatakan bahwa mereka itu jujur di mata Tuhan. Hanya orang jujur yang dapat bertekun dalam menerapkan kebenaran dan berhasil dalam bertindak berdasarkan prinsip, dan mampu melaksanakan tugas mereka memenuhi standar. Orang-orang yang bertindak berdasarkan prinsip melaksanakan tugas mereka dengan teliti ketika suasana hati mereka baik; mereka tidak bekerja secara asal-asalan, mereka tidak congkak dan mereka tidak pamer untuk membuat orang lain mengagumi mereka. Ketika suasana hati mereka sedang buruk, mereka tetap mampu menyelesaikan tugas sehari-hari mereka dengan kesungguhan dan tanggung jawab yang sama besarnya, dan meskipun mereka menghadapi sesuatu yang merugikan pelaksanaan tugas mereka, atau yang memberi sedikit tekanan pada mereka atau yang menyebabkan gangguan saat mereka melaksanakan tugas, mereka tetap mampu menenangkan hati mereka di hadapan Tuhan dan berdoa, seraya mengatakan, "Sebesar apa pun masalah yang kuhadapi—meskipun langit runtuh—selama aku hidup, aku bertekad berupaya sebaik mungkin untuk melaksanakan tugasku. Setiap hari aku hidup merupakan hari di mana aku harus melaksanakan tugasku dengan baik sehingga aku layak menerima tugas yang Tuhan limpahkan kepadaku, dan layak menerima napas yang telah Dia embuskan ke dalam tubuhku. Sebesar apa pun kesulitan yang mungkin kuhadapi, aku akan mengesampingkan semuanya, karena melaksanakan tugasku dengan baik adalah hal yang terpenting!" Orang yang tidak terpengaruh oleh siapa pun, peristiwa, hal, atau lingkungan apa pun, yang tidak dikekang oleh suasana hati atau keadaan luar seperti apa pun, dan yang menempatkan tugas dan amanat yang Tuhan telah percayakan kepada mereka sebagai yang pertama dan terutama—merekalah orang yang setia kepada Tuhan dan yang benar-benar tunduk kepada-Nya. Orang-orang semacam ini telah memperoleh jalan masuk kehidupan dan telah masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Inilah salah satu ungkapan hidup dalam kebenaran yang paling sejati dan nyata.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Jalan Masuk Kehidupan Dimulai dengan Pelaksanaan Tugas"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 576
Bagi beberapa orang, apa pun masalah yang mereka hadapi ketika melaksanakan tugas, mereka tidak mencari kebenaran, dan mereka selalu bertindak berdasarkan pemikiran, gagasan, imajinasi, dan keinginan mereka sendiri. Dari awal hingga akhir, mereka memuaskan keinginan mereka sendiri, dan watak rusak mereka mengendalikan tindakan mereka. Mereka mungkin terlihat selalu melaksanakan tugas mereka, tetapi karena mereka tidak pernah menerima kebenaran, dan mereka telah gagal melakukan segala sesuatu berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, pada akhirnya mereka tidak memperoleh kebenaran dan hidup, dan mereka menjadi orang yang berjerih payah sesuai dengan sebutannya. Jadi, bergantung pada apa orang-orang semacam itu ketika melaksanakan tugas mereka? Mereka tidak mengandalkan kebenaran ataupun mengandalkan Tuhan. Sedikit kebenaran yang mereka pahami itu belum menguasai hati mereka; mereka sedang mengandalkan karunia dan bakat mereka sendiri, mengandalkan pengetahuan apa pun yang telah mereka peroleh, serta tekad atau niat baik mereka sendiri, untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut. Dengan demikian, akankah mereka mampu melaksanakan tugas mereka dengan cara yang memenuhi standar? Ketika orang mengandalkan sifat alami, gagasan, imajinasi, keahlian, dan ilmu mereka untuk melaksanakan tugas, meskipun mungkin kelihatannya mereka melaksanakan tugas mereka dan tidak melakukan kejahatan, mereka tidak sedang menerapkan kebenaran, dan belum melakukan apa pun yang memuaskan Tuhan. Ada juga masalah lain yang tidak bisa diabaikan: Selama proses pelaksanaan tugasmu, jika gagasan, imajinasi, dan kemauanmu sendiri tidak pernah berubah dan tidak pernah diganti dengan kebenaran, dan jika tindakan dan perbuatanmu tidak pernah dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, lalu apa yang akan menjadi kesudahanmu? Engkau tidak akan memiliki jalan masuk kehidupan, engkau akan menjadi orang yang berjerih payah, dan dengan demikian genaplah firman Tuhan Yesus: "Banyak orang akan berkata kepada-Ku di hari itu kelak, Tuhan, Tuhan, bukankah kami telah bernubuat demi nama-Mu, telah mengusir setan-setan demi nama-Mu, dan melakukan banyak pekerjaan ajaib demi nama-Mu? Saat itu Aku akan menyatakan kepada mereka, Aku tidak pernah mengenalmu: pergilah daripada-Ku, engkau yang melakukan kejahatan" (Matius 7:22-23). Mengapa Tuhan menyebut orang-orang yang mengerahkan upaya dan yang berjerih payah sebagai pelaku kejahatan? Ada satu hal yang dapat kita ketahui dengan pasti, yaitu bahwa apa pun tugas atau pekerjaan yang orang-orang ini lakukan, motivasi, dorongan, niat, dan pemikiran mereka muncul sepenuhnya dari keinginan egois mereka sendiri, dan semua itu sepenuhnya untuk melindungi kepentingan dan prospek mereka sendiri, dan juga untuk melindungi reputasi dan status mereka sendiri, serta memuaskan kesombongan mereka. Pertimbangan dan perhitungan mereka semuanya berpusat pada hal-hal ini, tidak ada kebenaran di dalam hati mereka, dan mereka tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan dan tunduk kepada-Nya. Inilah akar masalahnya. Sekarang ini, dalam hal apa sangat penting bagimu untuk melakukan pengejaranmu? Dalam segala sesuatu, engkau harus mencari kebenaran, dan engkau harus melaksanakan tugasmu dengan baik sesuai dengan maksud dan tuntutan Tuhan. Jika engkau melakukannya, engkau akan menerima perkenan Tuhan. Jadi apa sajakah hal-hal rinci yang harus kaulakukan agar dapat melaksanakan tugasmu sesuai dengan tuntutan Tuhan? Dalam semua yang kaulakukan, engkau harus belajar berdoa kepada Tuhan, engkau harus merenungkan niat apa yang kaumiliki, pemikiran apa yang kaumiliki, dan apakah niat dan pemikiran ini sesuai dengan kebenaran atau tidak; jika tidak, hal-hal itu harus dikesampingkan, setelah itu engkau harus bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, dan menerima pemeriksaan Tuhan. Ini akan memastikan bahwa engkau menerapkan kebenaran. Jika engkau memiliki niat dan tujuanmu sendiri, dan sangat sadar bahwa semua itu melanggar kebenaran serta bertentangan dengan maksud Tuhan, tetapi engkau tetap tidak berdoa kepada Tuhan dan mencari kebenaran untuk mendapatkan solusi, maka ini berbahaya, akan mudah bagimu untuk melakukan kejahatan dan melakukan hal-hal yang menentang Tuhan. Jika engkau melakukan kejahatan satu atau dua kali dan bertobat, maka engkau masih ada harapan untuk diselamatkan. Jika engkau terus melakukan kejahatan, berarti engkau adalah pelaku segala macam kejahatan. Jika engkau tetap tidak bertobat pada saat ini, engkau berada dalam masalah: Tuhan akan mengesampingkan atau meninggalkanmu, yang berarti engkau berisiko disingkirkan; orang yang melakukan segala macam perbuatan jahat pasti akan dihukum dan disingkirkan.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 577
Orang harus memahami bahwa ada prinsip mendasar tentang perlakuan Sang Pencipta terhadap makhluk ciptaan, yang juga merupakan prinsip yang tertinggi. Bagaimana Sang Pencipta memperlakukan makhluk ciptaan sepenuhnya didasarkan pada rencana pengelolaan-Nya dan kebutuhan pekerjaan-Nya; Dia tidak perlu berkonsultasi dengan siapa pun, juga tidak perlu memperoleh persetujuan siapa pun. Apa pun yang seharusnya Dia lakukan dan bagaimana pun Dia seharusnya memperlakukan manusia, itulah yang Dia lakukan, dan apa pun yang Dia lakukan atau bagaimana pun Dia memperlakukan orang, semuanya selaras dengan prinsip-prinsip kebenaran, dan prinsip tindakan Sang Pencipta. Sebagai makhluk ciptaan, satu-satunya yang harus dilakukan adalah tunduk kepada Sang Pencipta; orang tidak boleh membuat pilihannya sendiri. Inilah nalar yang harus dimiliki makhluk ciptaan, dan jika orang tidak memilikinya, mereka tidak layak disebut manusia. Orang harus memahami bahwa Sang Pencipta akan selalu menjadi Sang Pencipta; Dia memiliki kuasa dan memenuhi syarat untuk mengatur dan berdaulat atas makhluk ciptaan mana pun sekehendak hati-Nya, dan tidak perlu alasan untuk melakukannya. Ini adalah otoritas-Nya. Makhluk ciptaan tidak berhak dan tidak memenuhi syarat untuk menghakimi apakah apa pun yang dilakukan Sang Pencipta benar atau salah, atau bagaimana seharusnya Dia bertindak. Tidak ada makhluk ciptaan yang memenuhi syarat untuk memilih apakah akan menerima kedaulatan dan pengaturan Sang Pencipta atau tidak; dan tidak ada makhluk ciptaan yang memenuhi syarat untuk menuntut bagaimana Sang Pencipta mengatur dan berdaulat atas nasib mereka. Ini adalah kebenaran yang tertinggi. Apa pun yang telah Sang Pencipta lakukan terhadap makhluk ciptaan-Nya, dan bagaimanapun Dia melakukannya, satu-satunya yang harus dilakukan manusia ciptaan adalah: mencari, tunduk, mengenal, dan menerima semua yang telah dilakukan oleh Sang Pencipta. Hasil akhirnya adalah Sang Pencipta akan menyelesaikan rencana pengelolaan-Nya dan menyelesaikan pekerjaan-Nya, dan rencana pengelolaan-Nya akan terus maju tanpa hambatan apa pun; sementara itu, karena makhluk ciptaan telah menerima kedaulatan dan pengaturan Sang Pencipta, serta tunduk pada kedaulatan dan pengaturan-Nya, mereka akan memperoleh kebenaran, memahami maksud Sang Pencipta, dan mengenal watak-Nya. Masih ada prinsip lain yang harus Kuberitahukan kepadamu: Apa pun yang dilakukan Sang Pencipta, seperti apa pun perwujudan yang Dia tunjukkan, dan entah yang dilakukan-Nya itu adalah perbuatan besar ataupun perbuatan kecil, Dia tetaplah Sang Pencipta; sedangkan semua manusia yang Dia ciptakan, apa pun yang telah mereka lakukan, dan apa pun bakat atau karunia yang mereka miliki, mereka tetaplah makhluk ciptaan. Adapun umat manusia yang diciptakan, sebanyak apa pun kasih karunia dan sebanyak apa pun berkat yang telah mereka terima dari Sang Pencipta, atau sebanyak apa pun belas kasihan, kasih setia atau kebaikan yang mereka terima, tidak seharusnya mereka menganggap diri mereka berbeda dari orang banyak, atau berpikir mereka bisa sederajat dengan Tuhan dan bahwa mereka telah menjadi bertaraf tinggi di antara makhluk ciptaan lainnya. Sebanyak apa pun karunia yang telah Tuhan anugerahkan kepadamu, atau sebanyak apa pun kasih karunia yang telah Dia berikan kepadamu, atau sebaik apa pun Dia telah memperlakukan dirimu, atau apakah Dia telah memberimu beberapa talenta khusus, tidak ada satu pun dari semua ini yang merupakan modalmu. Engkau adalah makhluk ciptaan, dan karenanya engkau akan selamanya makhluk ciptaan. Jangan pernah engkau berpikir, "Aku adalah anak kesayangan di tangan Tuhan. Tuhan tidak akan pernah meninggalkanku. Sikap Tuhan kepadaku akan selalu sikap yang penuh kasih, perhatian dan belaian lembut, dengan bisikan hangat yang menghibur dan menasihati." Sebaliknya, di mata Sang Pencipta, engkau sama seperti semua makhluk ciptaan lainnya; Tuhan bisa menggunakanmu seperti yang Dia kehendaki, dan bisa juga menatamu seperti yang Dia kehendaki, dan Dia bisa mengaturmu sesuai yang Dia kehendaki agar engkau memainkan peran apa pun di antara segala macam orang, peristiwa, dan segala hal. Inilah pengetahuan yang harus orang miliki, dan nalar yang harus mereka miliki. Jika orang bisa memahami dan menerima perkataan ini, hubungan mereka dengan Tuhan akan tumbuh lebih normal, dan mereka akan membangun hubungan yang paling tepat dengan-Nya; jika orang bisa memahami dan menerima perkataan ini, mereka akan menempatkan diri pada tempat yang seharusnya, menempati tempatnya itu, dan menjunjung tinggi tugas mereka.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Memahami Kebenaran, Orang Bisa Mengetahui Perbuatan Tuhan"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 578
Mengenal Tuhan harus dilakukan dengan membaca firman Tuhan, menerapkan dan mengalami firman Tuhan, serta mengalami banyak ujian, pemurnian, dan pemangkasan; hanya dengan cara demikian, ada kemungkinan bagimu untuk memiliki pengetahuan yang benar tentang pekerjaan Tuhan dan watak Tuhan. Ada orang-orang yang berkata: "Aku belum pernah melihat Tuhan yang berinkarnasi, jadi bagaimana aku bisa mengenal Tuhan?" Sebenarnya, firman Tuhan adalah pengungkapan dari watak-Nya. Dari firman Tuhan, engkau dapat melihat kasih dan keselamatan-Nya bagi manusia, juga cara-Nya menyelamatkan mereka .... Ini karena firman-Nya diungkapkan oleh Tuhan itu sendiri, bukan ditulis oleh manusia. Firman-Nya telah diungkapkan secara pribadi oleh Tuhan; Tuhan itu sendiri sedang mengungkapkan perkataan-Nya sendiri dan suara hati-Nya, yang juga dapat disebut perkataan dari hati-Nya. Mengapa firman-Nya disebut perkataan dari hati-Nya? Karena perkataan itu dikeluarkan dari lubuk hati, dan mengungkapkan watak-Nya, maksud-Nya, gagasan dan pemikiran-Nya, kasih-Nya bagi umat manusia, penyelamatan-Nya atas umat manusia, dan apa yang diharapkan-Nya dari umat manusia .... Perkataan Tuhan terdiri dari perkataan yang keras, dan perkataan yang lembut dan penuh pengertian, juga beberapa perkataan yang menyingkapkan yang tidak memedulikan perasaan orang. Jika engkau hanya melihat pada perkataan yang menyingkapkan tersebut, engkau mungkin akan merasa bahwa Tuhan itu cukup keras. Jika engkau hanya melihat pada perkataan yang lembut, engkau mungkin akan merasa bahwa Tuhan itu tidak terlalu berotoritas. Oleh karena itu, engkau tidak boleh memaknai firman Tuhan di luar konteksnya; melainkan harus melihatnya dari setiap sudut. Terkadang Tuhan berbicara dari sudut pandang yang penuh belas kasih, dan kemudian orang melihat kasih-Nya bagi umat manusia; terkadang Dia berbicara dari sudut pandang yang sangat keras, dan kemudian orang melihat bahwa watak-Nya tidak dapat disinggung, bahwa manusia itu begitu menjijikkan, dan tidak layak memandang wajah Tuhan atau datang ke hadapan-Nya, dan semata-mata karena kasih karunia-Nya mereka sekarang diizinkan untuk datang ke hadapan-Nya. Hikmat Tuhan dapat terlihat dari cara-Nya bekerja dan dalam makna penting pekerjaan-Nya. Manusia tetap dapat melihat hal-hal ini di dalam firman Tuhan, bahkan tanpa bersentuhan secara langsung dengan Dia. Ketika seseorang yang sungguh-sungguh mengenal Tuhan bersentuhan dengan Kristus, perjumpaan mereka dengan Kristus itu dapat sesuai dengan pengetahuan yang sudah mereka miliki tentang Tuhan; tetapi, ketika orang yang hanya memiliki pemahaman teoretis berjumpa dengan Kristus, mereka tidak bisa melihat korelasinya. Kebenaran tentang inkarnasi Tuhan merupakan misteri yang paling mendalam; ini sulit untuk manusia pahami. Kumpulkan semua aspek firman Tuhan tentang misteri inkarnasi, lihatlah firman Tuhan dari semua sudut, lalu berdoalah bersama-sama, renungkan, dan bersekutulah lebih lanjut tentang aspek kebenaran ini. Dengan melakukannya, engkau akan memperoleh pencerahan dari Roh Kudus dan akan mulai memahami. Karena manusia tidak punya kesempatan untuk bersentuhan secara langsung dengan Tuhan, mereka harus mengandalkan pengalaman semacam ini untuk merasakan jalan masuk mereka dan masuk sedikit demi sedikit jika mereka akhirnya ingin mendapatkan pengenalan yang benar tentang Tuhan.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"
Firman Tuhan Harian: Kutipan 579
Apa arti mengenal Tuhan? Itu berarti mampu mengetahui sukacita, kemarahan, kesedihan, dan kebahagiaan-Nya, dan dengan demikian mengenal watak-Nya—inilah artinya benar-benar mengenal Tuhan. Engkau berkata bahwa engkau telah melihat Dia, tetapi engkau tidak memahami sukacita, kemarahan, kesedihan, serta kebahagiaan-Nya, dan engkau tidak memahami watak-Nya. Engkau juga tidak memahami kebenaran-Nya ataupun belas kasihan-Nya, dan engkau tidak tahu apa yang disukai atau dibenci-Nya. Ini bukanlah mengenal Tuhan. Ada orang-orang yang mampu mengikuti Tuhan, tetapi belum tentu sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan. Sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan artinya tunduk kepada Tuhan. Orang yang tidak sungguh-sungguh tunduk kepada Tuhan artinya tidak sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan—di sinilah letak perbedaannya. Ketika engkau telah mengikut Tuhan selama beberapa tahun, dan memiliki pengenalan dan pemahaman akan Tuhan, ketika engkau memiliki pengertian dan pemahaman tentang maksud Tuhan, ketika engkau menyadari niat Tuhan yang tekun dalam menyelamatkan manusia, itulah saat engkau sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, sungguh-sungguh tunduk kepada Tuhan, sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, dan sungguh-sungguh menyembah Tuhan. Jika engkau percaya kepada Tuhan tetapi tidak mengejar pengenalan akan Tuhan, dan tidak memiliki pemahaman tentang maksud Tuhan, watak Tuhan, dan pekerjaan Tuhan, itu berarti engkau hanyalah seorang pengikut yang berlari ke sana kemari untuk Tuhan dan mengikuti apa pun yang mayoritas orang lakukan. Itu tidak dapat disebut ketundukan yang sejati, apalagi penyembahan yang sejati. Bagaimana penyembahan yang sejati terjadi? Tanpa terkecuali, semua orang yang melihat Tuhan dan benar-benar mengenal Tuhan menyembah dan takut akan Dia; mereka semua terdorong untuk bersujud dan menyembah Dia. Sekarang ini, sementara Tuhan yang berinkarnasi sedang bekerja, semakin besar pemahaman yang manusia miliki tentang watak-Nya dan tentang apa yang dimiliki-Nya dan siapa Dia, semakin mereka akan menghargai hal-hal ini dan semakin mereka akan takut akan Dia. Biasanya, semakin kurang pengenalan akan Tuhan yang manusia miliki, semakin ceroboh mereka, sehingga mereka memperlakukan Tuhan sebagai manusia. Jika manusia benar-benar mengenal dan melihat Tuhan, mereka akan gemetar ketakutan dan bersujud merebahkan dirinya. "Dia yang datang sesudah aku lebih berkuasa daripada aku, aku pun tidak layak membukakan kasut-Nya" (Matius 3:11)—mengapa Yohanes mengatakan ini? Meskipun jauh di lubuk hatinya dia tidak memiliki pengenalan akan Tuhan yang sangat mendalam, dia tahu bahwa Tuhan itu menakjubkan. Berapa banyak orang sekarang ini yang dapat takut akan Tuhan? Jika mereka tidak mengenal watak-Nya, lalu bagaimana mungkin mereka takut akan Tuhan? Jika manusia tidak mengetahui esensi Kristus ataupun memahami watak Tuhan, mereka akan semakin tidak dapat sungguh-sungguh menyembah Tuhan yang nyata. Jika mereka hanya melihat penampilan lahiriah Kristus yang biasa dan normal, tetapi tidak mengetahui esensi-Nya, maka mudah bagi mereka untuk memperlakukan Kristus hanya sebagai orang biasa. Mereka mungkin bersikap tidak hormat kepada-Nya dan dapat menipu-Nya, menentang-Nya, memberontak terhadap-Nya, dan menghakimi-Nya. Mereka dapat bersikap merasa diri benar dan tidak memperlakukan firman-Nya secara serius; mereka bahkan dapat memunculkan gagasan, kutukan, dan hujatan terhadap Tuhan. Untuk menyelesaikan masalah-masalah ini, manusia harus mengetahui esensi dan keilahian Kristus. Inilah aspek utama dari mengenal Tuhan; inilah hal yang harus dimasuki dan dicapai oleh semua orang yang percaya kepada Tuhan yang nyata.
—Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"