Jalan Masuk ke Dalam Kehidupan IV

Firman Tuhan Harian: Kutipan 483

Mengapa tepatnya engkau percaya kepada Tuhan? Kebanyakan orang masih bingung mengenai pertanyaan ini. Mereka selalu memiliki dua sudut pandang yang sama sekali berbeda tentang Tuhan yang praktis dan Tuhan yang di surga, yang menunjukkan bahwa mereka percaya kepada Tuhan bukan untuk tunduk kepada-Nya, tetapi untuk menerima manfaat-manfaat tertentu, atau untuk melarikan diri dari penderitaan akibat bencana; baru saat itulah mereka agak tunduk. Ketundukan mereka bersyarat; prospek pribadi mereka adalah prasyarat ketundukan mereka; mereka tunduk karena tidak punya pilihan. Jadi, mengapa engkau percaya kepada Tuhan? Jika itu semata-mata demi prospekmu dan nasibmu, lebih baik engkau tidak percaya kepada-Nya. Kepercayaan seperti ini adalah menipu diri sendiri, menenteramkan diri sendiri, dan membanggakan diri sendiri. Jika imanmu tidak dibangun di atas dasar ketundukan kepada Tuhan, maka engkau pada akhirnya akan dihukum karena menentang-Nya. Semua orang yang tidak mencari ketundukan kepada Tuhan dalam iman mereka adalah orang yang menentang Tuhan. Tuhan meminta agar orang mencari kebenaran, agar mereka haus akan firman-Nya, makan dan minum firman-Nya, dan melakukan firman-Nya, semuanya agar mereka dapat mencapai ketundukan kepada Tuhan. Jika itulah niatmu yang sebenarnya, Tuhan pasti akan meninggikanmu, dan pasti akan bermurah hati kepadamu. Ini tak diragukan lagi dan tak bisa diubah. Jika niatmu bukan untuk tunduk kepada Tuhan, dan engkau memiliki tujuan-tujuan lain, semua yang engkau katakan dan lakukan—bahkan doa-doamu di hadapan Tuhan, dan terlebih lagi, setiap tindakanmu—akan bertentangan dengan-Nya. Sekalipun kata-katamu lembut dan engkau bersikap santun, sekalipun setiap tindakan dan ungkapanmu terlihat benar bagi orang lain, seolah engkau adalah orang yang tunduk, tetapi ketika menyangkut niatmu dan pandanganmu tentang iman kepada Tuhan, setiap tindakanmu bertentangan dengan Tuhan, itu berarti melakukan kejahatan. Orang yang tampak setaat domba, tetapi yang hatinya memendam niat-niat jahat, adalah serigala berbulu domba. Mereka secara langsung menyinggung Tuhan, dan Tuhan tidak akan meluputkan seorang pun dari mereka. Roh Kudus akan menyingkapkan masing-masing dari mereka dan menunjukkan kepada semua orang bahwa mereka semua yang munafik pasti akan ditolak dengan penuh kemuakan oleh Roh Kudus. Jangan khawatir: Tuhan akan membuat perhitungan dan membuang mereka semua pada gilirannya.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Dalam Imanmu kepada Tuhan, Engkau Harus Tunduk kepada Tuhan"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 484

Jika engkau tidak dapat menerima terang baru dari Tuhan, dan tidak dapat memahami semua yang Tuhan lakukan saat ini, dan engkau tidak mencarinya, atau engkau justru meragukannya, memberikan penghakiman atasnya, atau meneliti dan menganalisisnya, maka engkau tidak berpikiran untuk tunduk kepada Tuhan. Jika, ketika terang saat ini muncul, engkau masih menjunjung tinggi terang kemarin dan menentang pekerjaan baru Tuhan, maka engkau tidak lebih dari seorang yang tak masuk akal—engkau adalah salah satu dari mereka yang dengan sengaja menentang Tuhan. Kunci untuk tunduk kepada Tuhan adalah menerima terang baru, dan mampu menerimanya dan melakukannya. Inilah satu-satunya ketundukan sejati. Mereka yang tidak memiliki keinginan untuk merindukan Tuhan tidak mampu untuk secara sadar tunduk kepada-Nya, dan hanya dapat menentang Tuhan sebagai akibat dari kepuasan mereka terhadap status quo. Alasan orang tidak dapat tunduk kepada Tuhan adalah karena dia dirasuki oleh apa yang datang sebelumnya. Hal-hal yang datang sebelumnya telah menghasilkan segala macam gagasan dan berbagai imajinasi tentang Tuhan dalam diri manusia, dan ini telah menjadi gambar Tuhan dalam pikiran mereka. Jadi, yang mereka percayai adalah konsepsi mereka sendiri, dan standar dari imajinasi mereka sendiri. Jika engkau mengukur Tuhan yang melakukan pekerjaan nyata saat ini dengan Tuhan dari imajinasimu sendiri, maka imanmu berasal dari Iblis, dan cemar oleh preferensimu sendiri—Tuhan tidak menghendaki iman seperti ini. Terlepas dari betapa tinggi kredensial mereka, dan terlepas dari dedikasi mereka—sekalipun mereka telah mengabdikan upaya seumur hidup untuk pekerjaan-Nya, dan telah menjadikan diri mereka martir—Tuhan tidak berkenan kepada seorang pun dengan iman seperti ini. Dia hanya menganugerahi mereka sedikit kasih karunia dan membiarkan mereka menikmatinya untuk sementara waktu. Orang-orang seperti ini tidak mampu melakukan kebenaran. Roh Kudus tidak bekerja di dalam diri mereka, dan pada gilirannya Tuhan akan menyingkirkan masing-masing dari mereka. Terlepas dari apakah mereka tua atau muda, mereka yang tidak tunduk kepada Tuhan dalam iman mereka dan memiliki niat-niat yang salah adalah orang-orang yang menentang dan mengacaukan, dan orang-orang seperti itu tidak diragukan lagi akan disingkirkan oleh Tuhan. Mereka yang tidak memiliki ketundukan sedikit pun kepada Tuhan, yang hanya mengakui nama-Nya, dan merasakan kebaikan dan keindahan Tuhan, tetapi tidak mengikuti langkah-langkah Roh Kudus, dan tidak tunduk kepada pekerjaan dan perkataan Roh Kudus saat ini—orang-orang semacam itu hidup di tengah kasih karunia Tuhan, dan tidak akan didapatkan atau disempurnakan oleh-Nya. Tuhan menyempurnakan manusia melalui ketundukan mereka, melalui makan, minum, dan menikmati firman Tuhan, dan melalui penderitaan dan pemurnian dalam hidup mereka. Hanya melalui iman seperti ini watak manusia dapat berubah, dan hanya setelah itu mereka dapat memiliki pengetahuan sejati tentang Tuhan. Tidak puas dengan hidup di tengah kasih karunia Tuhan, secara aktif merindukan dan mencari kebenaran, dan berupaya agar didapatkan oleh Tuhan—ini artinya secara sadar tunduk kepada Tuhan dan ini tepatnya jenis iman yang Dia kehendaki. Orang yang tidak melakukan apa-apa selain menikmati kasih karunia Tuhan tidak bisa disempurnakan atau diubah; dan ketundukan, kesalehan, kasih, dan kesabaran mereka semuanya dangkal. Mereka yang hanya menikmati kasih karunia Tuhan tidak dapat benar-benar mengenal Tuhan, dan bahkan ketika mereka mengenal Tuhan, pengetahuan mereka dangkal, dan mereka mengatakan hal-hal seperti "Tuhan mengasihi manusia," atau "Tuhan berbelas kasihan kepada manusia". Ini tidak merepresentasikan kehidupan manusia, dan tidak menunjukkan bahwa orang benar-benar mengenal Tuhan. Jika, ketika firman Tuhan memurnikan mereka, atau ketika ujian-Nya menimpa mereka, orang tidak dapat tunduk kepada Tuhan—jika, sebaliknya, mereka menjadi ragu-ragu, dan jatuh—maka mereka tidak sedikit pun tunduk. Di dalam diri mereka, ada banyak aturan dan batasan tentang iman kepada Tuhan; pengalaman-pengalaman lama yang merupakan hasil dari iman selama bertahun-tahun, atau berbagai aturan berdasarkan Alkitab. Dapatkah orang-orang seperti ini tunduk kepada Tuhan? Orang-orang ini penuh dengan hal-hal manusiawi—bagaimana mereka bisa tunduk kepada Tuhan? "Ketundukan" mereka adalah sesuai preferensi pribadi—akankah Tuhan menghendaki ketundukan seperti ini? Ini bukan ketundukan kepada Tuhan, tetapi kepatuhan pada aturan; ini adalah memuaskan dan menenteramkan diri mereka sendiri. Jika engkau mengatakan bahwa ini adalah ketundukan kepada Tuhan, bukankah engkau menghujat-Nya? Engkau adalah seorang Firaun Mesir. Engkau melakukan kejahatan, dan engkau secara terang-terangan terlibat dalam pekerjaan menentang Tuhan—beginikah Tuhan menghendakimu melayani? Engkau sebaiknya segera bertobat, dan berupaya untuk mendapatkan kesadaran diri. Jika tidak, akan lebih baik jika engkau pulang saja ke kampung halamanmu; itu akan lebih baik bagimu daripada apa yang kauanggap sebagai pelayananmu kepada Tuhan. Engkau tidak akan mengacaukan dan mengganggu; engkau akan tahu tempatmu, dan hidup enak—dan bukankah itu lebih baik? Dan engkau tidak akan dihukum karena menentang Tuhan!

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Dalam Imanmu kepada Tuhan, Engkau Harus Tunduk kepada Tuhan"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 485

Pekerjaan Roh Kudus berubah dari hari ke hari. Itu naik makin tinggi dengan setiap langkah, pewahyuan esok hari akan lebih tinggi daripada pewahyuan saat ini, langkah demi langkah menanjak makin tinggi. Dengan pekerjaan seperti inilah Tuhan menyempurnakan manusia. Jika manusia tidak bisa mengikuti, mereka bisa disingkirkan kapan saja. Jika manusia tidak memiliki hati yang tunduk, mereka tidak akan bisa mengikuti sampai akhir. Zaman sebelumnya telah berlalu; zaman ini adalah zaman yang baru. Dan pada zaman baru, pekerjaan yang baru harus dilakukan. Khususnya pada zaman terakhir ini di mana manusia disempurnakan, Tuhan akan melakukan pekerjaan yang lebih baru dengan lebih cepat, jadi, jika orang tidak berniat tunduk, mereka akan merasa sulit untuk mengikuti jejak langkah Tuhan. Tuhan tidak mematuhi peraturan apa pun, Dia juga tidak memperlakukan setiap tahap pekerjaan-Nya sebagai sesuatu yang selamanya tidak berubah. Sebaliknya, Dia terus-menerus melakukan pekerjaan yang selalu lebih baru dan lebih tinggi. Di setiap tahap, pekerjaan-Nya menjadi makin nyata, dan makin sesuai dengan kebutuhan manusia yang sebenarnya. Hanya dengan mengalami pekerjaan seperti itu, barulah manusia dapat mencapai perubahan terakhir dari watak mereka. Pengetahuan manusia tentang kehidupan mencapai tingkat yang makin tinggi, dan karena itu, pekerjaan Tuhan juga selalu mencapai tingkat yang makin tinggi. Hanya dengan demikianlah manusia dapat disempurnakan dan menjadi layak untuk dipakai Tuhan. Di satu sisi, Tuhan bekerja dengan cara ini untuk menentang dan membalikkan gagasan-gagasan manusia, dan di sisi lain, untuk membawa manusia ke dalam keadaan yang lebih tinggi dan lebih nyata, ke dalam alam tertinggi dari kepercayaan kepada Tuhan, supaya pada akhirnya, kehendak Tuhan dapat diselesaikan. Semua orang yang secara natur memberontak dan dengan sengaja menentang akan disingkirkan oleh tahap pekerjaan Tuhan yang cepat dan dahsyat ini; hanya orang-orang yang berniat tunduk dan dengan senang hati merendahkan diri yang dapat maju terus sampai akhir. Dalam jenis pekerjaan ini, engkau semua harus belajar bagaimana untuk tunduk dan bagaimana mengesampingkan gagasan-gagasanmu. Engkau harus berhati-hati dalam setiap langkah yang kauambil. Jika engkau ceroboh, engkau pasti akan menjadi orang yang ditolak Roh Kudus, orang yang mengganggu pekerjaan Tuhan. Sebelum menjalani tahap pekerjaan ini, aturan-aturan dan hukum zaman dahulu yang dibuat manusia begitu banyak sampai-sampai manusia terhanyut, dan akibatnya, menjadi sombong dan lupa diri. Semua ini menjadi rintangan yang menghalangi manusia dari menerima pekerjaan Tuhan yang baru; rintangan-rintangan ini adalah musuh bagi manusia untuk dapat mengenal Tuhan. Jika manusia tidak memiliki ketundukan dalam hatinya ataupun memiliki kerinduan akan kebenaran, dia akan berada dalam bahaya. Jika engkau hanya tunduk pada pekerjaan dan perkataan yang sederhana, dan tidak mampu menerima sesuatu yang lebih mendalam, artinya engkau adalah orang yang berpegang teguh pada cara-cara lama dan tidak bisa mengikuti pekerjaan Roh Kudus.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Orang-Orang yang Tunduk kepada Tuhan dengan Hati yang Tulus Pasti akan Didapatkan oleh Tuhan"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 486

Pekerjaan yang dilakukan Tuhan berbeda-beda dari zaman ke zaman. Jika engkau tunduk dengan baik pada pekerjaan Tuhan di satu tahap, tetapi di tahap berikutnya ketundukanmu terhadap pekerjaan-Nya buruk, atau engkau tidak mampu tunduk, Tuhan akan meninggalkanmu. Engkau mengikuti Tuhan ketika Dia mengambil tahap ini, dan engkau harus terus mengikuti-Nya saat Dia melangkah ke tahap berikutnya; baru setelah itulah engkau akan menjadi orang yang tunduk kepada Roh Kudus. Karena engkau percaya kepada Tuhan, engkau harus terus berada dalam ketundukanmu. Janganlah engkau hanya tunduk bila engkau suka dan tidak tunduk bila engkau tidak suka. Ketundukan semacam ini tidak diperkenan oleh Tuhan. Jika engkau tidak dapat mengikuti pekerjaan baru yang Kupersekutukan, dan terus berpegang pada perkataaan-perkataan sebelumnya, lalu bagaimana bisa ada kemajuan dalam hidupmu? Pekerjaan Tuhan bertujuan untuk membekalimu melalui firman-Nya. Jika engkau tunduk dan menerima perkataan-Nya, Roh Kudus pasti akan bekerja di dalam dirimu. Roh Kudus bekerja tepat setelah Aku berbicara; lakukanlah seperti yang telah Kukatakan, dan Roh Kudus akan segera bekerja di dalam dirimu. Aku melepaskan terang yang baru untuk kaulihat, dan membawamu ke dalam terang yang sekarang ini, dan jika engkau berjalan ke dalam terang ini, Roh Kudus akan segera bekerja di dalam dirimu. Ada beberapa orang mungkin keras kepala dan berkata: "Pokoknya aku tidak akan menerapkan perkataan-Mu." Kalau begitu, Kuberitahukan kepadamu bahwa engkau sekarang sudah buntu; engkau kering, dan engkau tidak punya kehidupan. Jadi, dalam mengalami perubahan pada watakmu, tidak ada yang lebih penting daripada mengikuti terang yang sekarang. Roh Kudus tidak hanya bekerja dalam diri orang-orang tertentu yang dipakai Tuhan, tetapi terlebih lagi, Dia bekerja di dalam gereja. Dia dapat bekerja dalam diri siapa saja. Dia mungkin bekerja di dalam dirimu sekarang, dan engkau akan mengalami pekerjaan ini. Selama periode berikutnya, Dia mungkin bekerja dalam diri orang lain, dalam hal ini engkau harus bergegas mengikuti; makin dekat engkau mengikuti terang yang sekarang, makin hidupmu dapat bertumbuh. Orang seperti apa pun seseorang, apabila Roh Kudus bekerja di dalam dirinya, engkau harus mengikuti. Pelajari pengalaman mereka melalui pengalamanmu sendiri dengan cara yang nyata, dan engkau akan menerima perkara-perkara yang jauh lebih tinggi. Melalui penerapan semacam ini, engkau akan maju lebih cepat. Inilah jalan penyempurnaan bagi manusia dan sarana bagi pertumbuhan kehidupan. Jalan untuk disempurnakan dicapai melalui ketundukanmu pada pekerjaan Roh Kudus. Engkau tidak tahu melalui orang seperti apa Tuhan akan bekerja menyempurnakanmu, engkau juga tidak tahu melalui orang, kejadian, atau perkara apa yang akan Dia izinkan untuk kauperoleh atau lihat. Jika engkau dapat berjalan di jalur yang benar ini, itu menunjukkan bahwa ada harapan besar bagimu untuk disempurnakan oleh Tuhan. Jika engkau tidak dapat melakukannya, itu menunjukkan bahwa masa depanmu suram dan tanpa terang. Begitu engkau memulai di jalur yang benar, engkau akan mendapat penyingkapan dalam segala hal. Apa pun yang disingkapkan Roh Kudus kepada orang lain, apabila engkau melanjutkan berdasarkan pengetahuan mereka untuk mengalami sendiri segala sesuatunya, maka itu akan menjadi bagian hidupmu, dan engkau akan mampu membekali orang lain berdasarkan pengalaman ini. Mereka yang membekali orang lain dengan mengulangi kata-kata seperti burung beo adalah orang-orang yang belum memiliki pengalaman apa pun; engkau harus belajar untuk menemukan, melalui pencerahan dan penerangan orang lain, cara melakukan penerapan sebelum engkau bisa mulai berbicara berdasarkan pengalaman dan pengetahuan nyatamu sendiri. Cara ini akan lebih bermanfaat bagi hidupmu sendiri. Engkau harus mengalami dengan cara seperti ini, tunduk pada segala sesuatu yang berasal dari Tuhan. Engkau harus mencari maksud-maksud Tuhan dalam segala hal dan memetik pelajaran dalam segala sesuatu, agar hidupmu dapat bertumbuh. Penerapan seperti itulah yang akan memberikan kemajuan tercepat.

Roh Kudus mencerahkanmu melalui pengalaman nyatamu, dan menyempurnakanmu melalui imanmu. Apakah engkau benar-benar ingin disempurnakan? Jika engkau benar-benar ingin disempurnakan Tuhan, engkau akan memiliki kegigihan untuk mengesampingkan dagingmu, engkau akan sanggup melaksanakan firman Tuhan, dan engkau tidak akan menjadi negatif atau lemah. Engkau akan mampu tunduk pada semua yang berasal dari Tuhan, dan engkau akan mampu mempersembahkan semua tindakanmu—baik yang dilakukan di hadapan orang lain maupun di belakang mereka—kepada Tuhan. Jika engkau bertindak sebagai orang jujur dan menerapkan kebenaran dalam segala hal, maka engkau akan menjadi orang yang disempurnakan. Para penipu yang melakukan satu hal di hadapan orang lain dan melakukan hal lain di belakang mereka, tidak ingin disempurnakan. Mereka semua adalah anak-anak kehancuran dan kebinasaan; mereka bukanlah milik Tuhan melainkan milik Iblis. Mereka bukanlah jenis manusia yang dipilih Tuhan! Jika tindakan-tindakan dan perilakumu tidak layak di hadapan Tuhan atau tidak bisa diperiksa oleh Roh Tuhan, ini adalah bukti bahwa ada sesuatu yang salah denganmu. Jika engkau menerima penghakiman dan hajaran Tuhan, serta berfokus pada perubahan watakmu barulah engkau akan bisa berada di jalur untuk disempurnakan. Jika engkau benar-benar ingin disempurnakan oleh Tuhan dan mengikuti kehendak Tuhan, engkau harus tunduk pada seluruh pekerjaan Tuhan, tanpa keluhan sedikit pun, tanpa membuat penilaian atau kesimpulan sembarangan tentang pekerjaan Tuhan. Inilah persyaratan minimum untuk disempurnakan oleh Tuhan. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh orang-orang yang berupaya untuk dapat disempurnakan oleh Tuhan adalah ini: lakukanlah segala sesuatu dengan hati yang mengasihi Tuhan. Apa artinya melakukan segala sesuatu dengan hati yang mengasihi Tuhan? Itu berarti segala tindakan dan perilakumu layak ditunjukkan di hadapan Tuhan. Dan karena engkau memiliki niat yang benar, entah tindakanmu benar atau salah, engkau tidak takut menunjukkannya kepada Tuhan atau kepada saudara-saudarimu. Engkau berani berikrar di hadapan Tuhan. Engkau harus membeberkan setiap niat, pemikiran, dan idemu di hadapan Tuhan agar Tuhan mengetahuinya; jika engkau melakukan penerapan dan masuk dengan cara ini, maka kemajuan dalam hidupmu akan melesat cepat.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Orang-Orang yang Tunduk kepada Tuhan dengan Hati yang Tulus Pasti akan Didapatkan oleh Tuhan"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 487

Karena engkau percaya kepada Tuhan, engkau harus beriman pada semua firman Tuhan dan dalam semua pekerjaan-Nya. Dengan kata lain, karena engkau percaya kepada Tuhan, engkau harus tunduk kepada-Nya. Jika engkau tidak dapat melakukan hal ini, maka tidak masalah apakah engkau percaya kepada Tuhan atau tidak. Jika engkau sudah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, tetapi belum pernah tunduk kepada-Nya dan tidak menerima seluruh firman-Nya, melainkan meminta Tuhan untuk tunduk kepadamu dan bertindak sesuai dengan gagasan-gagasanmu, maka engkau adalah orang yang paling memberontak, dan engkau adalah pengikut yang bukan orang percaya. Bagaimana orang semacam ini dapat tunduk kepada pekerjaan dan firman Tuhan yang tidak selaras dengan gagasan-gagasan manusia? Orang yang paling suka memberontak adalah orang yang dengan sengaja membantah dan menentang Tuhan. Mereka adalah musuh Tuhan, antikristus. Sikap mereka selalu adalah sikap bermusuhan terhadap pekerjaan Tuhan yang baru; mereka tidak pernah memperlihatkan kecenderungan sedikit pun untuk tunduk, mereka juga tidak pernah dengan senang hati tunduk atau merendahkan diri. Mereka menganggap dirinya paling unggul di hadapan orang lain dan tidak pernah tunduk kepada siapa pun. Di hadapan Tuhan, mereka menganggap dirinya yang paling fasih dalam mengkhotbahkan firman, dan yang paling cakap dalam membentuk orang lain. Mereka tak pernah melepaskan "kekayaan" yang dimilikinya, tetapi memperlakukannya sebagai pusaka keluarga untuk dipuja, sebagai bahan khotbah kepada orang lain, dan menggunakannya untuk menceramahi orang-orang bodoh yang mengidolakan mereka. Memang ada beberapa orang seperti ini di gereja. Dapat dikatakan mereka ini adalah "pahlawan-pahlawan degil", dari generasi ke generasi tinggal di rumah Tuhan. Mereka menganggap mengkhotbahkan firman (doktrin) sebagai tugas tertinggi mereka. Tahun demi tahun, dari generasi ke generasi, mereka terus menjalankan tugas mereka yang "sakral dan tak bisa diganggu gugat". Tidak ada orang yang berani menyentuh mereka; dan tak seorang pun berani menegur mereka secara terbuka. Mereka menjadi "raja-raja" di rumah Tuhan, merajalela sementara mereka menindas orang lain dari masa ke masa. Gerombolan setan ini berusaha bekerja sama dan menghancurkan pekerjaan-Ku; mana mungkin Kubiarkan setan-setan yang hidup ini ada di depan mata-Ku? Bahkan orang-orang yang hanya setengah tunduk pun tidak dapat melanjutkan sampai akhir, apalagi para penindas ini, yang sama sekali tidak punya ketundukan dalam hati mereka! Pekerjaan Tuhan tidak mudah didapatkan oleh manusia. Bahkan dengan menggunakan seluruh kekuatan yang mereka miliki, orang hanya akan bisa mendapatkan sebagian saja darinya, yang akhirnya memungkinkan mereka untuk disempurnakan. Lalu, bagaimana dengan anak-anak penghulu malaikat yang berusaha menghancurkan pekerjaan Tuhan? Bukankah harapan mereka bahkan lebih kecil lagi untuk didapatkan oleh Tuhan? Tujuan-Ku melakukan pekerjaan penaklukan bukan semata-mata untuk menaklukkan demi penaklukan, tetapi untuk menaklukkan untuk mengungkapkan kebenaran dan kefasikan, untuk mendapatkan bukti untuk hukuman manusia, untuk menghukum orang jahat, dan terlebih lagi, menaklukkan untuk menyempurnakan orang-orang yang rela tunduk. Pada akhirnya, semua orang akan dipisahkan berdasarkan jenisnya, dan orang-orang yang disempurnakan adalah mereka yang pemikiran dan ide-idenya dipenuhi dengan ketundukan. Inilah pekerjaan yang pada akhirnya akan diselesaikan. Sementara itu, mereka yang setiap tindakannya adalah memberontak akan dihukum dan dilemparkan ke dalam api untuk dibakar, dan menjadi objek kutukan yang kekal. Ketika saat itu tiba, "pahlawan-pahlawan besar dan tak terkalahkan" di masa lalu itu akan menjadi "para pengecut yang lemah dan tak berdaya" yang paling rendah dan paling dijauhi. Hanya perkara inilah yang dapat menggambarkan setiap aspek kebenaran Tuhan, dan watak-Nya yang tidak dapat disinggung oleh manusia, dan hanya inilah yang dapat menenangkan kebencian di hati-Ku. Tidakkah engkau semua setuju bahwa hal ini sama sekali masuk akal?

Tidak semua orang yang mengalami pekerjaan Roh Kudus, atau semua orang yang berada dalam aliran ini, dapat memperoleh kehidupan. Kehidupan bukanlah milik bersama yang dimiliki semua manusia, dan perubahan watak sama sekali bukan sesuatu yang mudah dicapai oleh semua orang. Ketundukan pada pekerjaan Tuhan harus nyata dan aktual, dan itu harus dihidupi. Ketundukan yang dangkal tidak akan mendapat perkenanan Tuhan, dan tunduk terhadap firman Tuhan hanya pada aspek-aspek yang dangkal, tanpa mengupayakan perubahan dalam watak seseorang, adalah tidak sejalan dengan maksud-maksud Tuhan. Ketundukan kepada Tuhan dan ketundukan pada pekerjaan Tuhan adalah hal yang sama. Orang yang hanya tunduk kepada Tuhan, tetapi tidak tunduk pada pekerjaan-Nya tidak bisa dianggap tunduk, apalagi mereka yang tidak benar-benar tunduk, tetapi secara lahiriah suka menyanjung. Semua orang yang benar-benar tunduk kepada Tuhan dapat mengambil manfaat dari pekerjaan-Nya dan memperoleh pemahaman akan watak dan pekerjaan Tuhan. Hanya orang-orang semacam inilah yang benar-benar tunduk kepada Tuhan. Orang-orang semacam ini dapat memperoleh pengetahuan baru, dan mengalami perubahan baru dari pekerjaan yang baru. Hanya orang-orang inilah yang diperkenanan oleh Tuhan, dan hanya orang-orang inilah yang disempurnakan, dan hanya orang-orang inilah yang wataknya telah berubah. Orang-orang yang diperkenanan oleh Tuhan adalah mereka yang dengan senang hati tunduk kepada Tuhan serta pada firman dan pekerjaan-Nya. Hanya orang-orang semacam inilah yang benar, hanya orang-orang semacam inilah yang sungguh-sungguh menginginkan Tuhan dan mencari Tuhan. Adapun orang-orang yang hanya berbicara tentang iman mereka kepada Tuhan dengan mulut mereka, tetapi yang pada dasarnya mengutuk-Nya, mereka adalah orang-orang yang memakai topeng, yang membawa racun ular; mereka adalah orang-orang yang paling pengkhianat dari semuanya. Cepat atau lambat, orang-orang dursila ini akan dirobek topengnya. Bukankah ini pekerjaan yang sedang dilakukan saat ini? Orang jahat akan selalu jahat, dan tidak akan pernah lolos dari hari hukuman. Orang baik akan selalu baik, dan akan dinyatakan ketika pekerjaan itu selesai. Tak seorang pun dari orang fasik jahat dianggap benar, dan tak seorang pun dari orang benar akan dianggap jahat. Akankah Aku membiarkan siapa pun didakwa secara keliru?

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Orang-Orang yang Tunduk kepada Tuhan dengan Hati yang Tulus Pasti akan Didapatkan oleh Tuhan"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 488

Saat hidupmu bertumbuh, engkau harus selalu memiliki jalan masuk yang baru dan pemahaman baru yang lebih tinggi, yang bertumbuh semakin dalam di setiap langkah. Inilah perkara yang harus dimasuki seluruh umat manusia. Melalui bersekutu, mendengarkan khotbah, membaca firman Tuhan, atau menangani suatu masalah, engkau akan mendapatkan pemahaman baru dan pencerahan baru, dan tidak akan hidup dalam aturan-aturan lama dan masa lampau; engkau selalu hidup dalam terang yang baru, dan tidak akan menyimpang dari firman Tuhan. Inilah yang dimaksud dengan memulai di jalan yang benar. Membayar harga pada tingkat yang dangkal tidak akan cukup; hari demi hari, firman Tuhan memasuki alam yang lebih tinggi, dan hal-hal yang baru muncul setiap hari, dan manusia juga harus membuat jalan masuk yang baru setiap hari. Saat Tuhan berfirman, demikianlah Dia membuat semua yang difirmankan-Nya terwujud. Jika engkau tidak dapat mengikuti, engkau akan tertinggal. Doa-doamu harus semakin mendalam; makan dan minum firman Tuhan tidak boleh terputus-putus. Perdalamlah pencerahan dan penerangan yang kauterima, dan gagasanmu serta imajinasimu harus secara berangsur-angsur berkurang. Engkau juga harus memperkuat penilaianmu, dan apa pun yang kauhadapi, engkau harus memiliki pemikiranmu sendiri tentang hal itu dan memiliki sudut pandangmu sendiri. Dengan memahami beberapa hal di dalam roh, engkau harus mendapatkan wawasan mengenai hal-hal lahiriah dan menangkap esensi setiap masalah. Jika engkau tidak diperlengkapi dengan hal-hal ini, bagaimana engkau mampu memimpin gereja? Jika engkau hanya mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin, tanpa kenyataan dan tanpa cara melakukannya, engkau hanya akan dapat bertahan untuk waktu yang singkat. Perkataanmu mungkin dapat sedikit diterima bila engkau berbicara dengan orang percaya baru, tetapi tak lama kemudian, setelah orang percaya baru itu telah mendapat pengalaman nyata, engkau tidak akan mampu lagi membekali mereka. Lalu, bagaimana engkau bisa layak untuk dipakai Tuhan? Tanpa pencerahan baru, engkau tidak dapat bekerja. Orang-orang yang tidak memiliki pencerahan baru adalah orang-orang yang tidak tahu cara mengalami, dan orang semacam ini tidak pernah mendapat pengetahuan baru atau pengalaman baru. Dalam hal membekali kehidupan, mereka takkan pernah bisa menjalankan fungsinya, mereka juga tidak akan pernah layak untuk dipakai Tuhan. Orang semacam ini tidak berguna, tidak ada manfaatnya. Sebenarnya, manusia semacam ini sama sekali tidak mampu menjalankan fungsinya dalam pekerjaan dan sama sekali tidak berguna. Mereka tidak hanya gagal menjalankan fungsinya, tetapi malah memberikan banyak tekanan yang tidak perlu pada gereja. Aku menasihati "orang-orang tua yang dihormati" ini untuk segera meninggalkan gereja sehingga orang-orang tak perlu lagi melihatmu. Orang-orang semacam ini tidak memiliki pemahaman mengenai pekerjaan yang baru dan dipenuhi dengan berbagai gagasan yang tak habis-habisnya. Mereka tidak melakukan fungsi apa pun di gereja; sebaliknya, mereka membuat kerusakan dan menyebarkan hal-hal yang negatif ke mana-mana, bahkan sampai melakukan berbagai macam pelanggaran dan gangguan di gereja, dengan demikian membawa orang-orang yang tidak bisa membedakan ke dalam kebingungan dan kekacauan. Setan-setan yang hidup ini, roh-roh jahat ini harus segera meninggalkan gereja, jika tidak, gereja akan dirusak oleh perbuatanmu. Engkau mungkin tidak takut akan pekerjaan sekarang ini, tetapi tidakkah engkau takut akan hukuman yang adil di hari esok? Ada banyak orang di gereja yang adalah benalu, dan ada banyak serigala yang berusaha mengacaukan pekerjaan Tuhan yang normal. Semua ini adalah setan-setan yang diutus oleh si raja setan, serigala-serigala jahat yang berusaha menelan domba-domba yang tidak menyadarinya. Jika orang-orang semacam ini tidak diusir, mereka menjadi parasit di gereja dan ngengat-ngengat yang melahap persembahan. Cepat atau lambat, harinya akan tiba ketika belatung-belatung yang keji, bebal, rendah, dan menjijikkan ini akan dihukum!

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Orang-Orang yang Tunduk kepada Tuhan dengan Hati yang Tulus Pasti akan Didapatkan oleh Tuhan"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 489

Memiliki pengetahuan tentang nyatanya diri Tuhan dan memiliki pemahaman menyeluruh tentang pekerjaan Tuhan—kedua hal ini terlihat di dalam firman-Nya, dan hanya melalui perkataan-perkataan inilah engkau dapat memperoleh pencerahan. Oleh karena itu, engkau harus berbuat lebih banyak untuk memperlengkapi dirimu dengan firman Tuhan. Sampaikanlah pemahamanmu perihal firman Tuhan dalam persekutuan, dan dengan cara demikian, engkau dapat mencerahkan orang lain dan memberi kepada mereka jalan keluar—inilah jalan yang praktis. Sebelum Tuhan mengatur sebuah lingkungan untukmu, setiap orang di antaramu harus terlebih dahulu memperlengkapi diri dengan firman-Nya. Ini adalah sesuatu yang harus dilakukan semua orang; ini adalah prioritas yang mendesak. Pertama-tama, capailah titik di mana engkau tahu cara makan dan minum firman Tuhan. Untuk apa pun yang tak mampu engkau lakukan, tiliklah firman-Nya untuk mencari jalan penerapan; untuk setiap masalah yang tidak engkau pahami atau kesulitan apa pun yang mungkin engkau miliki, perhatikan firman-Nya. Jadikan firman Tuhan sebagai perbekalanmu, dan biarkan firman Tuhan membantumu mengatasi kesulitan dan masalah nyatamu, juga biarkan firman-Nya menjadi pertolongan dalam hidupmu. Hal-hal ini akan membutuhkan upaya dari pihakmu. Dalam makan dan minum firman Tuhan, engkau harus mencapai hasil; engkau harus sanggup menenangkan hatimu di hadapan-Nya, dan engkau harus melakukan penerapan sesuai dengan perkataan-Nya setiap kali engkau menghadapi masalah. Kalau engkau belum menemukan masalah apa pun, engkau tetap harus memastikan dirimu makan dan minum firman-Nya. Terkadang engkau dapat berdoa dan merenungkan kasih Tuhan, bersekutu dalam hal pemahamanmu tentang firman-Nya, dan bersekutu tentang pencerahan dan penerangan yang engkau alami dalam dirimu, serta reaksimu ketika membaca perkataan-perkataan ini. Selain itu, engkau dapat memberi kepada orang-orang jalan keluar. Hanya inilah yang nyata. Tujuan melakukan ini adalah memungkinkan firman Tuhan menjadi perbekalanmu yang nyata.

Sepanjang hari, berapa jam yang kauhabiskan untuk dengan sungguh-sungguh berada di hadapan Tuhan? Berapa banyak dari harimu yang benar-benar kauberikan kepada Tuhan? Berapa banyak yang kauberikan bagi dagingmu? Memiliki hati yang selalu berorientasi kepada Tuhan merupakan langkah pertama untuk orang berada di jalur yang benar menuju dirinya disempurnakan oleh-Nya. Jika engkau dapat mengabdikan hatimu, tubuhmu, dan segenap kasihmu yang murni kepada Tuhan, menempatkan seluruhnya di hadapan-Nya, tunduk sepenuhnya kepada-Nya, dan sepenuhnya memperhatikan maksud-maksud-Nya—bukan memperhatikan daging, bukan keluarga, dan bukan hasrat pribadimu sendiri, melainkan memperhatikan kepentingan rumah tangga Tuhan, menjadikan firman Tuhan sebagai prinsip dan fondasi dalam segala hal—maka dengan melakukannya, niatmu dan sudut pandangmu akan berada di tempat yang tepat, dan engkau akan menjadi seseorang di hadapan Tuhan yang menerima pujian-Nya. Orang yang Tuhan sukai adalah mereka yang bersikap sepenuh hati terhadap-Nya; mereka adalah orang-orang yang mengabdi hanya kepada-Nya. Orang yang Tuhan benci adalah mereka yang setengah hati dan yang memberontak terhadap-Nya. Ia membenci mereka yang percaya kepada-Nya dan selalu ingin menyenangkan-Nya tetapi tidak dapat sepenuhnya mengorbankan diri mereka demi Dia. Dia membenci mereka yang berkata bahwa mereka mengasihi-Nya padahal dalam hatinya memberontak terhadap-Nya; Dia membenci mereka yang menggunakan kata-kata fasih yang berbunga-bunga dengan tujuan menipu. Mereka yang tidak dengan sungguh-sungguh berdedikasi kepada Tuhan atau yang belum benar-benar tunduk di hadapan-Nya pada dasarnya adalah pengkhianat dan sangat congkak. Mereka yang tidak dapat dengan sungguh-sungguh tunduk di hadapan Tuhan yang nyata dan normal, mereka bahkan lebih congkak, dan mereka terutama adalah keturunan si penghulu malaikat yang patuh. Orang yang sungguh-sungguh mengorbankan diri mereka bagi Tuhan mengabdikan segenap keberadaan mereka kepada-Nya dan menyerahkan diri mereka di hadapan-Nya; mereka mampu tunduk pada semua firman dan pekerjaan-Nya, dan mampu menerapkan firman-Nya. Mereka mampu menerima firman Tuhan dan menganggapnya sebagai fondasi keberadaan mereka, dan mampu dengan sungguh-sungguh mencari di dalam firman Tuhan untuk menemukan bagian mana yang harus mereka terapkan. Orang-orang semacam itulah yang benar-benar hidup di hadapan Tuhan. Jika engkau menerapkan dengan cara seperti ini, itu akan bermanfaat bagi kehidupanmu, dan melalui makan dan minum firman-Nya engkau dapat memenuhi kebutuhan batin dan kekuranganmu sehingga watak hidupmu berubah, engkau akan memenuhi maksud-maksud Tuhan. Jika engkau bertindak sesuai dengan tuntutan Tuhan, dan jika engkau tidak memuaskan daging, melainkan memenuhi maksud-maksud-Nya, maka dalam hal ini engkau telah masuk ke dalam kenyataan firman-Nya. Masuk ke dalam kenyataan firman Tuhan berarti engkau mampu melaksanakan tugasmu dan memenuhi tuntutan pekerjaan Tuhan. Hanya tindakan-tindakan praktis semacam inilah yang dapat disebut masuk ke dalam kenyataan firman-Nya. Jika engkau mampu masuk ke dalam kenyataan ini, engkau akan memiliki kebenaran. Inilah awal dari masuk ke dalam kenyataan; engkau harus terlebih dahulu menjalani latihan ini dan hanya setelah itulah engkau akan mampu masuk ke dalam kenyataan yang jauh lebih dalam. Pikirkanlah tentang bagaimana mematuhi perintah dan bagaimana setia di hadapan Tuhan; jangan selalu berpikir tentang kapan engkau akan dapat masuk ke dalam kerajaan. Jika watakmu tidak berubah, apa pun yang engkau pikirkan akan sia-sia! Untuk masuk ke dalam kenyataan firman Tuhan, pertama-tama engkau harus sampai pada titik di mana seluruh gagasan dan pemikiranmu adalah untuk Tuhan—ini adalah kebutuhan yang paling sederhana.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Orang yang Sungguh-Sungguh Mengasihi Tuhan adalah Orang yang Mampu Sepenuhnya Tunduk pada Kenyataan Diri-Nya"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 490

Saat ini, ada banyak orang yang berada di tengah-tengah ujian dan tidak memahami pekerjaan Tuhan, tetapi Kuberitahukan kepadamu: jika engkau tidak memahaminya, sebaiknya engkau tidak menghakimi tentang hal itu. Mungkin suatu hari nanti kebenaran akan terungkap seluruhnya, dan pada saat itu engkau akan memahaminya. Tidak menghakimi akan bermanfaat bagimu, tetapi engkau tidak boleh menunggu secara pasif. Engkau harus berusaha untuk masuk secara aktif; baru setelah itulah engkau akan menjadi orang yang benar-benar masuk. Karena pemberontakannya, orang-orang selalu mengembangkan gagasan tentang Tuhan yang nyata. Hal ini mengharuskan semua orang untuk belajar bagaimana agar tunduk, karena Tuhan yang nyata merupakan ujian yang sangat besar bagi umat manusia. Jika engkau tidak mampu berdiri teguh, selesai sudah semuanya; jika engkau tidak memiliki pemahaman tentang nyatanya Tuhan yang nyata itu, engkau tidak akan dapat disempurnakan oleh Tuhan. Langkah penting yang menentukan apakah orang dapat disempurnakan atau tidak adalah pemahaman mereka tentang nyatanya diri Tuhan. Kenyataan diri Tuhan yang berinkarnasi yang datang ke bumi merupakan ujian bagi setiap dan semua orang; jika engkau mampu tetap teguh dalam hal ini, engkau akan menjadi seseorang yang mengenal Tuhan, dan engkau akan menjadi seseorang yang benar-benar mengasihi Dia. Jika engkau tidak dapat tetap teguh dalam hal ini, dan jika engkau hanya percaya kepada Roh dan tidak mampu percaya pada nyatanya diri Tuhan, maka sehebat apa pun imanmu kepada Tuhan, tidak ada gunanya. Jika engkau tidak dapat percaya kepada Tuhan yang kelihatan, dapatkah engkau percaya kepada Roh Tuhan? Bukankah engkau sedang mencoba membodohi Tuhan? Engkau tidak tunduk di hadapan Tuhan yang terlihat dan nyata, lantas mampukah engkau tunduk di hadapan Roh? Roh tidak kelihatan dan tidak berwujud, maka ketika engkau berkata bahwa engkau taat pada Roh Tuhan, bukankah engkau hanya berkata bohong? Kunci untuk mematuhi perintah ialah memiliki pemahaman tentang Tuhan yang nyata. Begitu engkau telah memiliki pemahaman tentang Tuhan yang nyata, engkau akan mampu mematuhi perintah. Ada dua komponen untuk mematuhi perintah: komponen pertama adalah berpegang teguh pada esensi Roh-Nya, dan di hadapan Roh, mampu menerima pemeriksaan Roh; komponen lainnya adalah mampu memiliki pemahaman yang benar tentang daging inkarnasi, dan mencapai ketundukan sejati. Baik di hadapan daging maupun di hadapan Roh, orang harus selalu memiliki hati yang tunduk kepada Tuhan dan takut kepada-Nya. Hanya orang semacam ini yang memenuhi syarat untuk disempurnakan. Jika engkau memiliki pemahaman tentang nyatanya Tuhan yang nyata—artinya, jika engkau telah berdiri teguh dalam ujian ini—maka tidak akan ada hal lain yang terlalu berat bagimu.

Sebagian orang mengatakan, "Perintah itu mudah dipatuhi; engkau hanya perlu berbicara dengan jujur dan saleh ketika berada di hadapan Tuhan, dan tanpa menggerakkan tangan sedikit pun; inilah arti mematuhi perintah." Benarkah demikian? Jadi, jika engkau melakukan beberapa hal yang menentang Tuhan di belakang-Nya, apakah yang kaulakukan itu mematuhi perintah? Engkau harus memiliki pemahaman menyeluruh tentang apa yang dimaksud dengan mematuhi perintah. Mematuhi perintah berkaitan dengan apakah engkau memiliki pemahaman yang benar mengenai nyatanya diri Tuhan atau tidak; jika engkau memahami tentang nyatanya diri Tuhan, tidak tersandung dan jatuh dalam ujian ini, dapat dianggap engkau memiliki kesaksian yang kuat. Menjadi kesaksian yang berkumandang bagi Tuhan terutama berkaitan dengan apakah engkau memiliki pemahaman tentang Tuhan yang nyata atau tidak, dan apakah engkau mampu taat atau tidak di hadapan Pribadi ini yang bukan hanya biasa, tetapi juga normal ini, dan bahkan tunduk sampai mati. Jika melalui ketundukan ini, engkau sungguh-sungguh menjadi kesaksian bagi Tuhan, itu berarti engkau telah didapatkan oleh Tuhan. Jika engkau mampu tunduk sampai mati, dan di hadapan-Nya, engkau tidak mengeluh, tidak memfitnah, tidak memiliki gagasan sendiri, dan tidak memiliki motif lain, maka dalam hal inilah Tuhan akan memperoleh kemuliaan. Ketundukan di hadapan seseorang yang biasa, yang dipandang rendah oleh manusia, dan mampu tunduk sampai mati tanpa gagasan apa pun—inilah kesaksian yang sejati. Kenyataan yang Tuhan tuntut untuk orang masuki adalah bahwa engkau mampu tunduk pada firman-Nya, mampu melakukan firman-Nya, mampu tunduk di hadapan Tuhan yang nyata dan mengenali kerusakanmu sendiri, mampu membuka hatimu di hadapan-Nya, dan pada akhirnya didapatkan oleh-Nya melalui semua firman-Nya ini. Tuhan memperoleh kemuliaan ketika semua perkataan ini menaklukkan dirimu dan membuatmu sepenuhnya tunduk kepada-Nya; melalui ini, Dia mempermalukan Iblis dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Ketika engkau tidak memiliki gagasan apa pun tentang nyatanya diri Tuhan yang berinkarnasi—artinya, ketika engkau tetap teguh dalam ujian ini—engkau telah memberikan kesaksian yang baik. Jika suatu hari nanti saat engkau telah paham sepenuhnya tentang Tuhan yang nyata dan engkau mampu taat sampai mati seperti Petrus, engkau akan didapatkan dan disempurnakan oleh Tuhan. Apa pun yang Tuhan lakukan yang tidak sejalan dengan gagasanmu merupakan ujian bagimu. Seandainya pekerjaan Tuhan sejalan dengan gagasanmu, engkau tidak perlu menderita atau dimurnikan. Oleh karena pekerjaan-Nya sedemikian nyata dan juga tidak sejalan dengan gagasanmu, maka engkau dituntut untuk melepaskan gagasanmu. Ini sebabnya hal itu menjadi sebuah ujian bagimu. Oleh karena nyatanya diri Tuhan, semua orang berada di tengah ujian; pekerjaan-Nya nyata, bukan supernatural. Dengan sepenuhnya memahami firman-Nya yang nyata, perkataan-Nya yang nyata tanpa gagasan apa pun, dan dengan mampu sungguh-sungguh mengasihi-Nya saat pekerjaan-Nya menjadi semakin nyata, engkau akan didapatkan oleh-Nya. Sekelompok orang yang akan Tuhan dapatkan adalah mereka yang mengenal Tuhan; yaitu, mereka yang mengenal kenyataan diri-Nya. Lebih jauh lagi, mereka adalah orang-orang yang mampu tunduk pada pekerjaan Tuhan yang nyata.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Orang yang Sungguh-Sungguh Mengasihi Tuhan adalah Orang yang Mampu Sepenuhnya Tunduk pada Kenyataan Diri-Nya"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 491

Selama waktu Tuhan dalam rupa manusia, ketundukan yang Dia tuntut dari manusia bukanlah seperti apa yang manusia bayangkan yaitu dengan tidak menghakimi atau menentang; sebaliknya, Dia menuntut orang untuk menggunakan firman-Nya sebagai prinsip untuk kehidupan dan fondasi untuk kelangsungan hidup mereka, untuk mereka sepenuhnya menerapkan esensi dari firman-Nya, dan sepenuhnya memenuhi maksud-maksud-Nya. Satu aspek diharuskannya orang tunduk kepada Tuhan yang berinkarnasi mengacu pada diterapkannya firman-Nya, dan aspek lainnya mengacu pada kemampuan mereka untuk tunduk pada kenormalan dan kenyataan diri-Nya. Keduanya merupakan keharusan yang mutlak. Orang-orang yang dapat mencapai kedua aspek ini adalah semua orang yang sungguh-sungguh memiliki hati yang mengasihi Tuhan. Mereka semua adalah orang yang telah Tuhan dapatkan, dan mereka semua mengasihi Tuhan seperti mereka mencintai hidupnya sendiri. Tuhan yang berinkarnasi memiliki kemanusiaan yang normal dan nyata dalam pekerjaan-Nya. Dengan cara inilah, cangkang luar kemanusiaan-Nya yang normal dan nyata itu menjadi ujian yang besar bagi manusia; itu menjadi kesulitan terbesar mereka. Namun, kenormalan dan kenyataan diri Tuhan tidak dapat dihindari. Dia mencoba segalanya untuk menemukan solusi, tetapi pada akhirnya Dia tidak dapat menghindarkan diri-Nya untuk mengenakan cangkang luar kemanusiaan-Nya yang normal. Ini karena, bagaimanapun juga, Dia adalah Tuhan yang menjadi manusia, bukan Tuhan Roh yang di surga. Dia bukan Tuhan yang tidak dapat dilihat oleh manusia, melainkan Tuhan yang mengenakan cangkang mahkluk ciptaan. Dengan demikian, melepaskan diri-Nya dari cangkang luar kemanusiaan-Nya yang normal sama sekali tidak mudah. Jadi, bagaimanapun juga, Dia tetap melakukan pekerjaan yang ingin dilakukan-Nya dari perspektif daging-Nya. Pekerjaan ini adalah pengungkapan diri Tuhan yang normal dan nyata, jadi bagaimana mungkin orang merasa tidak masalah jika mereka tidak tunduk? Apa sesungguhnya yang dapat manusia lakukan mengenai tindakan Tuhan tersebut? Dia melakukan apa pun yang ingin dilakukan-Nya; apa pun yang disukai-Nya, itulah yang terjadi. Jika manusia tidak tunduk, lalu rencana lain apa yang bisa mereka miliki? Sampai sejauh ini, hanya ketundukanlah yang dapat menyelamatkan manusia; tidak seorang pun memiliki ide cemerlang lainnya. Manusia bisa apa, jika Tuhan ingin menguji mereka? Namun, semua ini bukan pemikiran oleh Tuhan yang di surga, melainkan pemikiran oleh Tuhan yang berinkarnasi. Dia ingin melakukan ini, maka tak seorang pun mampu mengubahnya. Tuhan yang di surga tidak mencampuri apa yang dilakukan oleh Tuhan yang berinkarnasi, jadi bukankah ini lebih lagi merupakan alasan mengapa manusia harus tunduk kepada-Nya? Meskipun Dia nyata dan normal, Dia sepenuhnya adalah Tuhan yang menjadi manusia. Berdasarkan gagasan-Nya sendiri, Dia melakukan apa pun yang ingin Dia lakukan. Tuhan yang di surga telah menyerahkan semua tugas kepada-Nya; engkau harus tunduk pada apa pun yang Dia lakukan. Meskipun Dia memiliki kemanusiaan dan sangat normal, Dia telah dengan sengaja merancangkan semua ini, jadi bagaimana manusia bisa memelototi-Nya dengan mata terbelalak tanda tak setuju? Dia ingin menjadi manusia biasa, maka Dia adalah manusia biasa. Dia ingin hidup dalam kemanusiaan, maka Dia hidup dalam kemanusiaan. Dia ingin hidup dalam keilahian, maka Dia hidup dalam keilahian. Orang dapat memandang hal ini sesuka mereka, tetapi Tuhan akan selalu menjadi Tuhan, dan manusia akan selalu menjadi manusia. Esensi-Nya tidak dapat disangkal karena beberapa detail sepele, Dia juga tidak dapat didorong keluar dari "pribadi" Tuhan karena satu hal sepele. Manusia memiliki kebebasan manusia, dan Tuhan memiliki martabat Tuhan; kedua hal ini tidak saling mengganggu. Tidak dapatkah manusia memberi Tuhan sedikit kebebasan? Tidak dapatkah mereka menoleransi keberadaan Tuhan dengan sedikit lebih santai? Jangan bersikap sedemikian ketat terhadap Tuhan! Masing-masing harus bertenggang rasa satu sama lain; maka tidakkah semuanya akan beres? Masih akan adakah kerenggangan? Jika seseorang tidak dapat bertenggang rasa terhadap hal seremeh itu, bagaimana mereka bisa berpikir untuk menjadi seorang yang sabar? Bagaimana mereka bisa menjadi seorang manusia sejati? Bukan Tuhan yang menimbulkan kesulitan bagi manusia, melainkan manusialah yang menimbulkan kesulitan bagi Tuhan. Mereka selalu menangani sesuatu dengan terlalu membesar-besarkan masalah. Mereka benar-benar mengada-ada, dan itu tidak perlu sama sekali! Ketika Tuhan bekerja dalam kemanusiaan yang normal dan nyata, apa yang dilakukan-Nya bukanlah pekerjaan manusia, melainkan pekerjaan Tuhan. Namun demikian, manusia tidak melihat esensi pekerjaan-Nya; mereka hanya selalu melihat cangkang luar kemanusiaan-Nya. Mereka belum melihat pekerjaan yang sedemikian agungnya, tetapi mereka bersikeras untuk melihat kemanusiaan-Nya yang biasa dan normal, dan akan terus bersikeras tentang hal itu. Bagaimana mungkin ini disebut tunduk di hadapan Tuhan? Tuhan yang di surga kini telah "menjadi" Tuhan yang di bumi, dan Tuhan yang di bumi kini adalah Tuhan yang di surga. Tidak masalah jika penampakan luar Mereka sama, juga tidak masalah seberapa serupanya Mereka bekerja. Pada akhirnya, Dia yang melakukan pekerjaan Tuhan sendiri adalah Tuhan itu sendiri. Engkau harus tunduk, baik engkau menginginkannya atau tidak—ini bukan perkara di mana engkau punya pilihan! Manusia harus tunduk pada Tuhan, dan manusia harus sepenuhnya tunduk kepada Tuhan tanpa sedikit pun kepura-puraan.

Sekelompok orang yang ingin didapatkan oleh Tuhan yang berinkarnasi sekarang ini adalah mereka yang sejalan dengan maksud-maksud-Nya. Mereka hanya perlu tunduk pada pekerjaan-Nya, dan berhenti selalu menyibukkan pikiran mereka dengan harapan tentang Tuhan yang di surga, hidup dalam ketidakjelasan, dan mempersulit keadaan bagi Tuhan dalam rupa manusia. Mereka yang mampu tunduk kepada-Nya adalah mereka yang benar-benar mendengarkan firman-Nya dan taat pada rancangan-Nya. Orang-orang seperti ini tidak peduli sama sekali tentang seperti apakah Tuhan yang di surga itu sebenarnya, atau pekerjaan seperti apa yang mungkin sedang dilakukan Tuhan yang di surga kepada manusia; mereka sepenuhnya mempersembahkan hati mereka kepada Tuhan yang di bumi dan menempatkan seluruh keberadaannya di hadapan-Nya. Mereka tidak pernah mempertimbangkan keselamatan mereka sendiri, mereka juga tidak pernah mempersoalkan kenormalan dan kenyataan diri Tuhan dalam rupa manusia. Mereka yang tunduk kepada Tuhan dalam rupa manusia dapat disempurnakan oleh-Nya. Mereka yang percaya kepada Tuhan yang di surga tidak akan memperoleh apa-apa. Ini karena bukan Tuhan yang di surga, melainkan Tuhan yang di bumi, yang mengaruniakan janji dan berkat kepada manusia. Manusia tidak seharusnya selalu menghormati Tuhan yang di surga secara agung sembari memandang Tuhan yang di bumi sekadar orang biasa; ini tidak adil. Tuhan yang di surga agung dan luar biasa dengan hikmat yang luar biasa, tetapi Tuhan yang di surga tidak ada sama sekali; Tuhan yang di bumi sangat rata-rata dan tidak signifikan, dan juga sangat normal. Dia tidak memiliki pikiran yang luar biasa atau melakukan tindakan yang meluluhlantakkan bumi; Dia hanya bekerja dan berfirman dengan cara yang sangat normal dan nyata. Kendati Dia tidak berbicara lewat guntur atau mendatangkan angin dan hujan, Dia sungguh merupakan inkarnasi Tuhan yang di surga, dan Dia sungguh merupakan Tuhan yang hidup di antara manusia. Orang tidak boleh menganggap pribadi yang mampu mereka pahami dan yang sesuai dengan imajinasinya sendiri sebagai Tuhan, atau menghormati orang tersebut dengan hebatnya, sementara memandang pribadi yang tidak bisa mereka terima dan yang sama sekali tidak terbayangkan oleh mereka sebagai pribadi yang hina. Semua ini berasal dari pemberontakan manusia; semua ini adalah sumber penentangan manusia terhadap Tuhan.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Orang yang Sungguh-Sungguh Mengasihi Tuhan adalah Orang yang Mampu Sepenuhnya Tunduk pada Kenyataan Diri-Nya"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 492

Manusia tidak akan mampu merasakan kasih Tuhan jika mereka hanya mengandalkan perasaan hati nurani mereka. Jika mereka hanya mengandalkan hati nurani, kasih mereka kepada Tuhan akan lemah. Jika engkau hanya berbicara tentang membalas anugerah dan kasih Tuhan, engkau tidak akan memiliki dorongan dalam kasihmu kepada-Nya; mengasihi Dia berdasarkan perasaan hati nuranimu adalah pendekatan yang pasif. Mengapa Kukatakan bahwa itu adalah pendekatan yang pasif? Ini adalah sebuah masalah praktis. Kasih seperti apakah kasihmu kepada Tuhan itu? Bukankah itu hanya membodohi Tuhan dan asal-asalan tanpa antusiasme ataupun komitmen kepada-Nya? Kebanyakan orang percaya bahwa karena mengasihi Tuhan tidak ada upahnya dan orang, bagaimanapun, akan dihajar karena tidak mengasihi Dia, maka secara keseluruhan, tidak berbuat dosa saja sudah cukup baik. Jadi mengasihi Tuhan dan membalas kasih-Nya berdasarkan perasaan hati nurani seseorang adalah pendekatan yang pasif, dan itu bukan kasih kepada Tuhan yang muncul secara spontan dari hati seseorang. Kasih kepada Tuhan harus merupakan perasaan yang tulus dari lubuk hati seseorang. Sebagian orang berkata: "Aku sendiri bersedia mengejar Tuhan dan mengikuti Dia. Sekarang bahkan jika Tuhan ingin meninggalkan aku, aku tetap akan mengikuti Dia. Entah Dia menginginkan aku atau tidak, aku akan tetap mengasihi Dia, dan pada akhirnya aku harus mendapatkan Dia. Aku menyerahkan hatiku kepada Tuhan, dan apa pun yang Dia lakukan, aku akan mengikuti Dia seumur hidupku. Bagaimanapun juga, aku harus mengasihi Tuhan dan aku harus mendapatkan Dia; aku tidak akan beristirahat sampai aku mendapatkan-Nya." Apakah engkau memiliki tekad seperti ini?

Jalan untuk percaya kepada Tuhan adalah sama dengan jalan untuk mengasihi-Nya. Jika engkau percaya kepada-Nya engkau harus mengasihi Dia; tetapi, mengasihi Dia tidak hanya mengacu pada membalas kasih-Nya atau mengasihi Dia berdasarkan perasaan hati nuranimu—itu adalah kasih yang murni kepada Tuhan. Terkadang orang tidak mampu untuk merasakan kasih Tuhan hanya berdasarkan hati nurani mereka. Mengapa selalu Kukatakan: "Semoga Roh Tuhan menggerakkan roh kita"? Mengapa Aku tidak berbicara tentang menggerakkan hati nurani manusia untuk mengasihi Tuhan? Itu karena hati nurani manusia tidak bisa merasakan kasih Tuhan. Jika engkau tidak diyakinkan oleh firman Tuhan ini, berusahalah menggunakan hati nuranimu untuk merasakan kasih-Nya. Engkau mungkin akan mengalami dorongan pada saat itu, tetapi dorongan itu akan segera lenyap. Jika engkau merasakan kasih Tuhan hanya dengan hati nuranimu, engkau akan merasa terdorong ketika berdoa, tetapi tak lama kemudian dorongan itu memudar dan menghilang. Mengapa begitu? Jika engkau hanya menggunakan hati nuranimu, engkau tidak akan dapat membangkitkan kasihmu kepada Tuhan; ketika engkau benar-benar merasakan keindahan Tuhan di dalam hatimu, rohmu akan digerakkan oleh-Nya, dan hanya pada saat inilah hati nuranimu akan dapat memainkan peran aslinya. Artinya ketika Tuhan menggerakkan roh manusia dan ketika manusia memiliki pengetahuan dan merasa terdorong dalam hatinya, yaitu setelah ia memperoleh pengalaman, baru setelah itulah, ia mampu untuk secara efektif mengasihi Tuhan dengan hati nuraninya. Mengasihi Tuhan dengan hati nuranimu tidak salah—ini adalah tingkat terendah dalam hal mengasihi Tuhan. Mengasihi dengan "selama layak atas kasih karunia Tuhan" sama sekali tidak akan mendorong manusia untuk masuk secara proaktif. Ketika manusia mengalami pekerjaan Roh Kudus, yaitu, ketika mereka melihat dan merasakan kasih Tuhan dalam pengalaman praktis mereka, ketika mereka memiliki beberapa pengetahuan tentang Tuhan dan benar-benar melihat bahwa Tuhan itu sangat layak mendapatkan kasih manusia dan betapa indahnya Dia, baru pada saat itulah manusia dapat benar-benar mengasihi Tuhan.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Kasih Sejati kepada Tuhan itu Spontan"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 493

Ketika manusia menghubungi Tuhan dengan hati mereka, ketika hati mereka dapat sepenuhnya berpaling kepada-Nya, ini adalah langkah pertama dari kasih manusia kepada Tuhan. Jika engkau ingin mengasihi Tuhan, engkau harus terlebih dahulu mampu memalingkan hatimu kepada-Nya. Apa artinya memalingkan hatimu kepada Tuhan? Itu adalah ketika semua yang kauupayakan dalam hatimu adalah demi mengasihi dan mendapatkan Tuhan. Ini menunjukkan bahwa engkau telah sepenuhnya memalingkan hatimu kepada Tuhan. Selain Tuhan dan firman-Nya, hampir tidak ada hal lain di dalam hatimu (keluarga, kekayaan, suami, istri, anak-anak, atau hal-hal lain). Bahkan kalaupun ada, hal-hal itu tidak dapat memenuhi hatimu, dan engkau tidak memikirkan prospek masa depanmu tetapi hanya berusaha untuk mengasihi Tuhan. Pada saat seperti itu engkau akan sepenuhnya memalingkan hatimu kepada Tuhan. Misalkan, engkau masih membuat rencana untuk dirimu sendiri di dalam hatimu dan selalu mengejar keuntungan pribadimu sendiri, selalu berpikir: "Kapan aku dapat mengajukan satu permintaan kecil kepada Tuhan? Kapan keluargaku menjadi kaya? Bagaimana aku bisa mendapatkan pakaian bagus? ..." Jika engkau hidup dalam keadaan seperti itu, itu menunjukkan bahwa hatimu belum sepenuhnya berpaling kepada Tuhan. Jika di dalam hatimu hanya ada firman Tuhan dan engkau mampu berdoa kepada Tuhan dan menjadi dekat dengan-Nya sepanjang waktu—seolah-olah Dia sangat dekat denganmu, seolah-olah Tuhan ada di dalam dirimu dan engkau ada di dalam Dia—jika engkau berada dalam keadaan seperti itu, itu berarti hatimu berada di hadirat Tuhan. Jika engkau berdoa kepada Tuhan dan makan serta minum firman-Nya setiap hari, selalu memikirkan pekerjaan gereja, dan jika engkau memperhatikan maksud-maksud Tuhan, menggunakan hatimu untuk benar-benar mengasihi Dia dan memuaskan hati-Nya, maka hatimu akan menjadi milik Tuhan. Jika hatimu dipenuhi oleh sejumlah hal lain, berarti hatimu masih dipenuhi oleh Iblis dan belum benar-benar berpaling kepada Tuhan. Ketika hati orang benar-benar berpaling kepada Tuhan, mereka akan memiliki kasih yang tulus dan spontan kepada Dia dan akan dapat mempertimbangkan pekerjaan Tuhan. Meskipun mereka masih mengalami saat-saat ketika mereka bodoh dan tidak masuk akal, mereka memperlihatkan kepedulian akan kepentingan rumah Tuhan, pekerjaan-Nya, dan perubahan watak mereka sendiri, dan niat hati mereka baik. Sebagian orang selalu menyatakan bahwa semua yang mereka lakukan adalah demi gereja, padahal sebenarnya, mereka bekerja demi keuntungan mereka sendiri. Orang-orang seperti itu punya niat yang salah. Mereka bengkok dan penuh tipu daya dan sebagian besar hal yang mereka lakukan adalah demi keuntungan pribadi mereka sendiri. Orang seperti itu tidak berusaha mengasihi Tuhan; hati mereka masih milik Iblis dan tidak bisa berpaling kepada Tuhan. Karenanya, Tuhan tidak mungkin mendapatkan orang seperti itu.

Jika engkau ingin sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan didapatkan oleh-Nya, langkah pertama adalah dengan sepenuhnya memalingkan hatimu kepada Tuhan. Dalam setiap hal yang engkau lakukan, periksalah dirimu dan tanyakan: "Apakah aku melakukan ini berdasarkan hati yang mengasihi Tuhan? Apakah ada niat pribadi di dalamnya? Apa tujuanku sebenarnya dalam melakukan ini?" Jika engkau ingin menyerahkan hatimu kepada Tuhan, engkau harus terlebih dahulu menundukkan hatimu sendiri, meninggalkan semua niat pribadimu, dan mencapai keadaan yang sepenuh hati kepada Tuhan. Inilah jalan penerapan untuk menyerahkan hatimu kepada Tuhan. Apa yang dimaksud dengan menundukkan hati? Menundukkan hati berarti melepaskan keinginan daging yang berlebihan, tidak menginginkan kenyamanan atau keuntungan status. Menundukkan hati berarti melakukan segalanya untuk memuaskan Tuhan, dan mengarahkan hati sepenuhnya untuk Tuhan, bukan untuk dirinya sendiri. Ini sudah cukup.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Kasih Sejati kepada Tuhan itu Spontan"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 494

Kasih sejati kepada Tuhan berasal dari dalam hati; itu adalah kasih yang hanya ada atas dasar pengetahuan manusia tentang Tuhan. Ketika hati seseorang sepenuhnya berpaling kepada Tuhan, mereka memiliki kasih kepada Tuhan, tetapi kasih itu belum tentu murni dan belum tentu lengkap. Ini karena masih ada jarak antara hati orang yang sepenuhnya berpaling kepada Tuhan dan orang tersebut memiliki pemahaman sejati tentang Tuhan dan pemujaan yang tulus kepada-Nya. Cara manusia mencapai kasih yang sejati kepada Tuhan dan mengenal watak Tuhan adalah dengan memalingkan hati mereka kepada Tuhan. Ketika manusia menyerahkan hatinya yang tulus kepada Tuhan, mereka akan mulai masuk ke dalam pengalaman hidup. Dengan cara demikian, watak mereka akan mulai berubah, kasih mereka kepada Tuhan akan berangsur-angsur tumbuh, dan pengetahuan mereka tentang Tuhan juga akan berangsur-angsur meningkat. Jadi memalingkan hati seseorang kepada Tuhan adalah prasyarat untuk mendapatkan jalur pengalaman hidup yang benar. Ketika manusia menempatkan hati mereka di hadapan Tuhan, mereka hanya memiliki hati yang merindukan-Nya tetapi bukan kasih kepada-Nya, karena mereka tidak memiliki pemahaman tentang Dia. Meskipun dalam keadaan ini mereka memang memiliki kasih kepada-Nya, kasih itu tidak spontan dan tidak murni. Ini karena segala sesuatu yang berasal dari daging manusia adalah produk emosi dan tidak berasal dari pemahaman sejati. Itu hanyalah dorongan sesaat dan tidak bisa menghasilkan pemujaan yang bertahan lama. Ketika orang tidak memiliki pengetahuan tentang Tuhan, mereka hanya dapat mengasihi-Nya berdasarkan kesukaan mereka sendiri dan gagasan pribadi mereka sendiri; kasih seperti ini tidak bisa disebut kasih yang spontan, juga tidak bisa disebut kasih sejati. Hati manusia bisa benar-benar berpaling kepada Tuhan, dan mampu memikirkan kepentingan Tuhan dalam segala sesuatu, tetapi jika manusia tidak memiliki pemahaman tentang Tuhan, ia tidak akan mampu memiliki kasih yang benar-benar spontan. Yang bisa ia lakukan hanyalah melaksanakan beberapa fungsi bagi gereja atau melakukan sedikit tugasnya, tetapi ia akan melakukannya tanpa dasar. Watak orang semacam ini sulit berubah; orang-orang seperti itu tidak mengejar kebenaran, atau mereka tidak memahaminya. Walaupun seseorang benar-benar memalingkan hati mereka kepada Tuhan, itu tidak berarti bahwa kasih kepada Tuhan dalam hati mereka benar-benar murni, karena mereka yang memiliki Tuhan di dalam hatinya belum tentu memiliki kasih kepada Tuhan di dalam hatinya. Ini menyangkut perbedaan antara orang yang mengejar dan orang yang tidak mengejar pemahaman tentang Tuhan. Ketika orang telah memiliki pengetahuan tentang Dia, ini menunjukkan bahwa hati mereka telah sepenuhnya berpaling kepada Tuhan, ini menunjukkan bahwa kasih sejati mereka kepada Tuhan di dalam hatinya bersifat spontan. Hanya orang seperti itu yang memiliki Tuhan di dalam hati mereka. Memalingkan hati seseorang kepada Tuhan adalah prasyarat untuk orang berada di jalur yang benar, untuk memahami Tuhan, dan untuk mencapai kasih kepada Tuhan. Ini bukan penanda selesainya tugas orang untuk mengasihi Tuhan, juga bukan penanda orang telah memiliki kasih yang sejati kepada-Nya. Satu-satunya cara bagi seseorang untuk mencapai kasih sejati kepada Tuhan adalah dengan memalingkan hati mereka kepada-Nya, yang juga merupakan hal pertama yang harus orang lakukan sebagai salah satu dari makhluk ciptaan-Nya. Mereka yang mengasihi Tuhan adalah semua orang yang mengejar kehidupan, yaitu orang-orang yang mengejar kebenaran dan sungguh-sungguh menginginkan Tuhan; mereka semua memiliki pencerahan Roh Kudus dan telah digerakkan oleh-Nya. Mereka semua mampu memperoleh bimbingan Tuhan.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Kasih Sejati kepada Tuhan itu Spontan"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 495

Saat ini, ketika engkau semua berupaya mengasihi dan mengenal Tuhan, di satu sisi, engkau harus menanggung penderitaan dan pemurnian, dan di sisi lain, engkau semua harus membayar harganya. Tidak ada pelajaran yang lebih mendalam dibandingkan dengan pelajaran mengasihi Tuhan, dan dapat dikatakan bahwa pelajaran yang manusia petik dari kepercayaan seumur hidupnya adalah bagaimana mengasihi Tuhan. Artinya, jika engkau percaya kepada Tuhan, engkau harus mengasihi Tuhan. Jika engkau hanya percaya kepada Tuhan, tetapi tidak mengasihi-Nya dan belum mendapatkan pengenalan akan Tuhan, dan tidak pernah mengasihi Tuhan dengan kasih sejati yang berasal dari hatimu, maka kepercayaanmu kepada Tuhan adalah sia-sia; apabila, dalam kepercayaanmu kepada Tuhan, engkau tidak mengasihi Tuhan, maka engkau hidup dalam kesia-siaan, dan seluruh hidupmu adalah yang paling hina dari semua kehidupan. Jika di sepanjang hidupmu, engkau tidak pernah mengasihi atau memuaskan Tuhan, lalu apa gunanya engkau hidup? Apa gunanya kepercayaanmu kepada Tuhan? Bukankah itu adalah upaya yang sia-sia? Artinya, jika orang-orang ingin percaya dan mengasihi Tuhan, mereka harus membayar harga. Alih-alih berupaya untuk bertindak dengan cara tertentu secara lahiriah, mereka seharusnya mencari pemahaman sejati di lubuk hati mereka. Jika engkau bersemangat untuk menyanyi dan menari, tetapi tidak dapat menerapkan kebenaran, dapatkah engkau dikatakan mengasihi Tuhan? Mengasihi Tuhan mengharuskan pencarian akan maksud Tuhan dalam segala hal, dan itu menuntutmu untuk menggali lebih dalam ketika sesuatu terjadi kepadamu, berusaha memahami maksud Tuhan, dan berusaha memahami apa maksud Tuhan dalam masalah itu, apa yang Dia minta untuk engkau capai, dan bagaimana engkau harus memperhatikan maksud-Nya. Misalnya: sesuatu terjadi yang mengharuskanmu menanggung penderitaan, pada saat seperti itulah engkau harus memahami apa maksud Tuhan, dan bagaimana harus memperhatikan maksud-Nya. Engkau tidak boleh memuaskan dirimu sendiri: Pertama-tama, sangkal dirimu sendiri. Tidak ada yang lebih hina daripada kedagingan. Engkau harus berusaha memuaskan Tuhan, dan engkau harus memenuhi tugasmu. Dengan pemikiran seperti itu, Tuhan akan memberimu pencerahan khusus dalam masalah ini, dan hatimu pun akan menemukan penghiburan. Entah besar ataupun kecil, ketika sesuatu terjadi kepadamu, engkau harus terlebih dahulu menyangkal dirimu sendiri dan menganggap kedagingan sebagai sesuatu yang paling hina dari segala sesuatu. Semakin engkau memuaskan daging, semakin kedaginganmu mengambil kebebasannya; jika engkau memuaskan daging pada saat ini, lain kali itu akan menuntut lebih banyak. Saat ini terus berlanjut, manusia mulai semakin mencintai daging. Daging selalu memiliki keinginan yang berlebihan; itu selalu menuntutmu untuk memuaskannya dan menuntutmu untuk menyenangkannya di dalam dirimu, entah itu dengan makanan yang kaumakan, pakaian yang kaukenakan, dalam hal kehilangan kesabaranmu, atau menuruti kelemahan dan kemalasanmu sendiri .... Makin engkau memuaskan daging, makin besar keinginanannya, dan makin menikmati daging, sampai pada satu titik di mana keinginan daging itu membuat orang memiliki gagasan yang lebih mendalam, dan memberontak terhadap Tuhan, dan meninggikan dirinya sendiri, dan mulai meragukan pekerjaan Tuhan. Semakin engkau memuaskan daging, semakin besar kelemahan daging; engkau akan selalu merasa bahwa tak seorang pun memperhatikan kelemahanmu, engkau akan selalu meyakini bahwa Tuhan sudah keterlaluan, dan engkau akan berkata: "Mengapa Tuhan begitu keras? Mengapa Dia tidak mau memberi orang kelonggaran?" Ketika orang memuaskan daging dan terlalu menyayanginya, mereka menghancurkan dirinya sendiri. Jika engkau sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan tidak memuaskan daging, engkau akan melihat bahwa segala sesuatu yang Tuhan lakukan sangat tepat dan sangat baik, dan bahwa kutukan-Nya terhadap pemberontakanmu dan penghakiman-Nya terhadap ketidakbenaranmu memang sudah sepantasnya. Adakalanya Tuhan akan mendidik dan mendisiplinkan dirimu, dan mengatur lingkungan tertentu untuk menempamu, memaksamu untuk datang ke hadapan-Nya—dan engkau akan selalu merasa bahwa apa yang Tuhan lakukan itu sangatlah baik. Dengan demikian, engkau akan merasa seolah-olah tidak ada banyak penderitaan, dan bahwa Tuhan itu sangat indah. Jika engkau memanjakan kelemahan daging, dan mengatakan bahwa Tuhan sudah keterlaluan, engkau akan merasa bahwa engkau selalu dalam penderitaan dan selalu merasa sedih, dan engkau akan menjadi tidak jelas tentang semua pekerjaan Tuhan, dan akan tampak seolah-olah Tuhan sama sekali tidak bersimpati terhadap kelemahan manusia, dan tidak menyadari kesulitan manusia. Oleh karena itu, engkau akan selalu merasa sebatang kara, seolah-olah engkau telah mengalami ketidakadilan yang besar, dan pada saat seperti ini engkau akan mulai mengeluh. Semakin engkau memanjakan kelemahan daging dengan cara seperti ini, semakin engkau akan merasa bahwa Tuhan sudah keterlaluan, sampai sedemikian buruknya sehingga engkau menyangkali pekerjaan Tuhan, dan mulai menentang Tuhan, dan menjadi penuh pemberontakan. Oleh karena itu, engkau harus memberontak terhadap daging, dan jangan memanjakannya: "Suami (istri) ku, anak-anakku, masa depanku, perkawinanku, keluargaku—semua itu tidak penting! Di dalam hatiku hanya ada Tuhan, dan aku harus berusaha semampuku untuk memuaskan Tuhan, dan tidak memuaskan daging." Engkau harus memiliki tekad ini. Jika engkau selalu dikuasai oleh tekad seperti itu, ketika engkau melakukan kebenaran, dan mengesampingkan dirimu, engkau akan mampu melakukan itu dengan sedikit upaya saja. Diceritakan pernah ada seorang petani yang melihat seekor ular yang terbujur kaku di jalan. Si petani tersebut mengambil ular itu dan menggendongnya di dadanya, dan setelah pulih, ular itu menggigit si petani sampai mati. Kedagingan manusia ibarat ular: Hakikatnya adalah untuk mencelakakan hidupnya—dan ketika daging telah sepenuhnya melakukan segala sesuatu sesuai keinginannya, engkau akan kehilangan hidupmu. Daging adalah dari Iblis. Selalu ada keinginan berlebihan di dalamnya; daging selalu memikirkan dirinya sendiri, dan selalu menginginkan kesenangan dan ingin menikmati kenyamanan, tidak memiliki perasaan cemas dan perasaan urgensi, bermalas-malasan, dan jika engkau memuaskannya sampai titik tertentu, pada akhirnya ia akan melahapmu. Artinya, jika engkau memuaskannya saat ini, maka lain kali ia akan memintamu untuk memuaskannya lagi. Daging selalu memiliki keinginan yang berlebihan dan permintaan baru, dan memanfaatkan caramu menurutinya untuk membuatmu makin menyayanginya dan hidup di tengah kenyamanannya—dan jika engkau tidak pernah bisa mengalahkannya, pada akhirnya engkau akan merusak dirimu sendiri. Apakah engkau dapat memperoleh hidup di hadapan Tuhan atau tidak dan akan seperti apa kesudahan akhirmu, itu tergantung pada bagaimana engkau menerapkan pemberontakanmu terhadap daging. Tuhan telah menyelamatkanmu, memilihmu dan menentukanmu dari semula, tetapi jika saat ini engkau tidak mau memuaskan-Nya, engkau tidak mau menerapkan kebenaran, engkau tidak mau memberontak terhadap dagingmu sendiri dengan hati yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, pada akhirnya engkau akan menghancurkan dirimu sendiri, dan akan menanggung penderitaan yang bukan kepalang. Jika engkau selalu memanjakan daging, Iblis akan secara perlahan-lahan menelanmu, dan meninggalkanmu tanpa kehidupan, atau tanpa jamahan Roh, sampai tiba harinya engkau menjadi gelap sepenuhnya di dalam dirimu. Ketika engkau hidup dalam kegelapan, engkau akan ditawan oleh Iblis, engkau tidak lagi memiliki Tuhan di dalam hatimu, dan pada saat itu engkau akan menyangkali keberadaan Tuhan dan meninggalkan-Nya. Jadi, jika orang ingin mengasihi Tuhan, mereka harus membayar harga penderitaan dan menanggung penderitaan. Tidak perlu semangat dan penderitaan lahiriah, tidak perlu lebih banyak membaca dan menyibukkan diri; sebaliknya, mereka harus mengesampingkan hal-hal berikut ini dalam diri mereka: pemikiran yang berlebihan, kepentingan pribadi, dan rencana, gagasan, serta niat mereka sendiri. Itulah maksud Tuhan.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Hanya Mengasihi Tuhan yang Berarti Sungguh-Sungguh Percaya kepada Tuhan"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 496

Pemangkasan Tuhan terhadap watak lahiriah manusia juga merupakan salah satu bagian dari pekerjaan-Nya, misalnya, memangakas kemanusiaan lahiriah yang tidak normal, atau gaya hidup dan kebiasaan mereka, cara-cara dan adat istiadat mereka, serta penerapan lahiriah mereka, dan semangat mereka. Namun, ketika Dia meminta orang melakukan kebenaran dan mengubah watak mereka, yang terutama dipangkas adalah niat dan gagasan dalam diri mereka. Hanya memangkas watak lahiriahmu tidaklah sulit; itu seperti memintamu untuk tidak menyantap makanan yang kausukai, di mana ini mudah. Namun, menangani hal yang berkaitan dengan pemahaman di dalam dirimu, itu tidak mudah dilepaskan. Itu menuntut orang untuk memberontak terhadap daging, membayar harga, dan menderita di hadapan Tuhan. Ini terutama berlaku dengan niat orang. Sejak manusia percaya kepada Tuhan, mereka telah menyimpan banyak niat yang tidak benar. Ketika engkau tidak melakukan kebenaran, engkau merasa semua niatmu benar, tetapi ketika sesuatu terjadi kepadamu, engkau akan melihat bahwa ada banyak niat yang tidak benar dalam dirimu. Oleh karena itu, ketika Tuhan menyempurnakan manusia, Dia membuat mereka menyadari bahwa ada banyak pemahaman dalam diri mereka yang menghalangi pengenalan mereka akan Tuhan. Ketika engkau menyadari bahwa niatmu salah, ketika engkau berhenti bertindak menuruti pemahaman dan niatmu, dan ketika engkau dapat menjadi kesaksian bagi Tuhan serta berdiri teguh di posisimu dalam segala hal yang terjadi kepadamu, ini membuktikan bahwa engkau telah memberontak terhadap kedaginganmu. Ketika engkau memberontak terhadap daging, akan ada peperangan dalam dirimu yang tidak terelakkan. Iblis akan berusaha untuk membuat orang-orang mengikutinya, akan berusaha untuk membuat mereka mengikuti pemahaman daging dan menjunjung tinggi kepentingan daging—tetapi firman Tuhan akan mencerahkan dan menerangi orang-orang di dalam batin mereka, dan pada saat ini, tergantung pada dirimu apakah engkau mengikuti Tuhan atau mengikuti Iblis. Tuhan meminta orang untuk melakukan kebenaran terutama untuk memangkas hal-hal dalam diri mereka, untuk memangkas pemikiran dan pemahaman yang tidak sejalan dengan maksud Tuhan. Roh Kudus menjamah hati manusia dan mencerahkan serta menerangi mereka. Jadi ada peperangan di balik semua hal yang terjadi: setiap kali orang melakukan kebenaran, atau menerapkan kasih mereka kepada Tuhan, ada peperangan besar, dan walaupun daging mereka tampak baik-baik saja, sebenarnya di lubuk hati mereka, peperangan antara hidup dan mati akan terus terjadi—dan setelah peperangan yang sengit ini, setelah banyak perenungan, barulah kemenangan atau kekalahan dapat diputuskan. Orang tidak tahu entah harus tertawa atau menangis. Karena banyak niat yang salah dalam diri manusia, atau karena banyak pekerjaan Tuhan yang berseberangan dengan pemahaman mereka, tatkala orang melakukan kebenaran, peperangan yang dahsyat pun terjadi di balik layar. Setelah melakukan kebenaran ini, di balik layar, orang akan meneteskan begitu banyak air mata kesedihan sebelum pada akhirnya memutuskan untuk memuaskan Tuhan. Karena peperangan inilah manusia menanggung penderitaan dan pemurnian; inilah penderitaan yang sejati. Ketika peperangan menghampirimu, jika engkau dapat sungguh-sungguh berdiri di pihak Tuhan, engkau akan dapat memuaskan Tuhan. Saat melakukan kebenaran, tidak terhindarkan bahwa orang akan menderita dalam batinnya; apabila, ketika mereka melakukan kebenaran, segala sesuatu dalam diri mereka benar, mereka tidak perlu disempurnakan oleh Tuhan. Tidak akan ada peperangan, dan mereka tidak akan menderita. Karena ada banyak hal dalam diri manusia yang membuatnya tidak layak untuk dipakai Tuhan, dan karena ada banyak watak pemberontak dalam daging, maka manusia harus belajar memberontak terhadap kedagingan secara lebih mendalam. Inilah yang Tuhan sebut penderitaan yang Dia minta untuk dijalani manusia bersama-Nya. Ketika engkau menghadapi kesulitan, bergegaslah berdoa kepada Tuhan: "Ya, Tuhan! Aku ingin memuaskan-Mu, aku ingin menanggung penderitaan terakhir ini untuk memuaskan hati-Mu, dan betapa pun besarnya rintangan yang kuhadapi, aku harus tetap memuaskan-Mu. Sekalipun aku harus menyerahkan seluruh hidupku, aku harus tetap memuaskan-Mu!" Dengan tekad ini, tatkala engkau berdoa seperti ini, engkau akan dapat berdiri teguh dalam kesaksianmu. Setiap kali orang-orang melakukan kebenaran, setiap kali mereka menjalani pemurnian, setiap kali mereka diuji, dan setiap kali pekerjaan Tuhan datang kepada mereka, manusia harus menanggung penderitaan yang bukan kepalang. Semua ini adalah ujian bagi manusia, dan karena itu di dalam diri mereka semua terjadi peperangan. Inilah harga sebenarnya yang mereka bayar. Lebih banyak membaca firman Tuhan dan lebih menyibukkan diri adalah sebagian dari harga itu. Itulah yang harus dilakukan orang, itulah tugas mereka, dan tanggung jawab yang harus mereka penuhi, tetapi manusia harus mengesampingkan hal-hal yang perlu dikesampingkan di dalam diri mereka. Jika engkau tidak mengesampingkannya, sebesar apa pun penderitaan lahiriahmu, dan sebesar apa pun kesibukanmu, semuanya akan sia-sia! Artinya, hanya perubahan dalam dirimu yang dapat menentukan apakah penderitaan lahiriahmu berharga. Ketika watak batiniahmu telah berubah dan engkau telah melakukan kebenaran, barulah semua penderitaan lahiriahmu akan mendapatkan perkenanan Tuhan; jika tidak ada perubahan dalam watak batiniahmu, sebanyak apa pun penderitaan yang kautanggung atau sesibuk apa pun engkau secara lahiriah, tidak akan ada perkenanan dari Tuhan—dan penderitaan yang tidak diperkenan oleh Tuhan adalah sia-sia. Dengan demikian, apakah harga yang telah kaubayar diperkenan oleh Tuhan atau tidak, itu ditentukan oleh apakah ada perubahan dalam dirimu atau tidak, dan ditentukan oleh apakah engkau melakukan kebenaran dan memberontak terhadap niat dan pemahamanmu sendiri untuk memuaskan maksud Tuhan, memperoleh pengenalan akan Tuhan, dan menunjukkan kesetiaan kepada Tuhan atau tidak. Sesibuk apa pun dirimu, jika engkau tidak pernah tahu bagaimana memberontak terhadap niatmu sendiri, tetapi hanya mengupayakan aktivitas dan semangat lahiriah, dan tidak pernah memperhatikan hidupmu, maka penderitaanmu itu akan sia-sia. Jika, dalam lingkungan tertentu, ada sesuatu yang ingin kaukatakan, tetapi, di dalam dirimu, engkau merasa bahwa mengatakan hal itu tidaklah baik, bahwa mengatakannya tidaklah berguna untuk saudara-saudarimu dan mungkin akan menyakiti mereka, engkau tidak akan mengatakannya, engkau lebih memilih untuk menderita di dalam dirimu, karena perkataan ini tidak dapat memenuhi maksud Tuhan. Pada saat ini, akan ada peperangan dalam dirimu, tetapi engkau akan bersedia mengalami penderitaan dan melepaskan apa yang kausukai. Engkau akan bersedia menanggung penderitaan ini demi memuaskan Tuhan, dan walaupun engkau akan menderita kesakitan di dalam dirimu, engkau tidak menuruti keinginan dagingmu, dan hati Tuhan akan dipuaskan, dan karena itu engkau sendiri akan merasa dihiburkan di dalam dirimu. Seperti inilah sesungguhnya membayar harga, dan inilah harga diinginkan Tuhan. Jika engkau melakukan penerapan seperti ini, Tuhan pasti akan memberkatimu; jika engkau tidak dapat mencapai ini, sebanyak apa pun pemahamanmu, atau sefasih apa pun engkau berbicara, semua itu tidak ada artinya! Jika, dalam jalan mengasihi Tuhan, engkau dapat berdiri di pihak Tuhan ketika Dia berperang melawan Iblis, dan engkau tidak kembali kepada Iblis, berarti engkau telah memiliki kasih kepada Tuhan, dan engkau akan berdiri teguh dalam kesaksianmu.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Hanya Mengasihi Tuhan yang Berarti Sungguh-Sungguh Percaya kepada Tuhan"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 497

Dari luar, setiap langkah pekerjaan yang Tuhan lakukan pada manusia tampak sebagai interaksi antara manusia, seolah-olah timbul dari pengaturan manusia atau dari gangguan manusia. Namun di balik setiap langkah pekerjaan, dan semua yang terjadi, adalah pertaruhan yang Iblis buat di hadapan Tuhan, dan hal ini menuntut orang-orang untuk tetap teguh dalam kesaksian mereka bagi Tuhan. Misalnya, ketika Ayub diuji: Di balik layar, Iblis bertaruh dengan Tuhan, dan yang terjadi kepada Ayub adalah perbuatan manusia, dan gangguan manusia. Di balik setiap langkah pekerjaan yang Tuhan lakukan pada engkau semua adalah pertaruhan antara Iblis dengan Tuhan—di balik itu ada peperangan. Misalnya, jika engkau berprasangka terhadap saudara-saudarimu, tentu akan ada perkataan-perkataan yang ingin kauucapkan—perkataan yang kaurasa mungkin jahat di mata Tuhan—tetapi jika engkau tidak mengatakannya, engkau akan merasakan ketidaknyamanan di dalam hatimu, dan pada saat itulah, peperangan akan mulai terjadi di dalam dirimu: "Apakah aku harus bicara atau tidak?" Inilah peperangannya. Jadi, dalam segala sesuatu yang engkau hadapi selalu ada peperangan, dan ketika ada peperangan di dalam dirimu, berkat kerja sama dan penderitaanmu yang nyata, Tuhan bekerja di dalam dirimu. Akhirnya, engkau mampu mengesampingkan masalah di dalam dirimu dan kemarahanmu secara alami dipadamkan. Itulah dampak kerja samamu dengan Tuhan. Segala sesuatu yang dilakukan orang membutuhkan sejumlah hati dan upaya. Tanpa adanya penderitaan yang nyata, mereka tidak dapat memuaskan Tuhan; mereka bahkan jauh sekali dari memuaskan Tuhan, dan mereka hanya meneriakkan slogan kosong! Dapatkah slogan-slogan kosong ini memuaskan Tuhan? Ketika Tuhan dan Iblis berperang di alam roh, bagaimana seharusnya engkau memuaskan Tuhan, dan bagaimana engkau harus tetap teguh dalam kesaksianmu bagi-Nya? Engkau harus tahu bahwa segala sesuatu yang terjadi pada dirimu adalah ujian yang besar dan itulah saatnya Tuhan membutuhkanmu untuk memberi kesaksian. Meskipun dari luar semua itu kelihatannya tidak penting, ketika hal-hal ini terjadi, semua ini menunjukkan apakah engkau mengasihi Tuhan atau tidak. Jika engkau mengasihi-Nya, engkau akan mampu tetap teguh dalam kesaksianmu bagi-Nya, dan jika engkau belum menerapkan kasih kepada-Nya, ini menunjukkan bahwa engkau bukan orang yang menerapkan kebenaran, bahwa engkau tidak memiliki kebenaran, dan tidak memiliki hidup. Engkau hanyalah sekam! Dalam segala sesuatu yang terjadi pada orang-orang, Tuhan mengharuskan mereka untuk tetap teguh dalam kesaksian mereka bagi Dia. Meskipun tidak ada hal besar yang terjadi kepadamu saat ini dan engkau tidak memberi kesaksian yang besar, semua detail kehidupanmu sehari-hari berhubungan dengan kesaksian bagi Tuhan. Jika engkau dapat membuat saudara-saudari, anggota keluarga, dan semua orang di sekitarmu kagum; jika pada suatu hari orang tidak percaya datang, dan mengagumi semua hal yang kaulakukan, dan melihat bahwa semua yang Tuhan lakukan menakjubkan, berarti engkau telah memberi kesaksian. Walaupun engkau tidak memiliki wawasan dan kualitasmu rendah, melalui penyempurnaan Tuhan atas dirimu, engkau mampu memuaskan Dia dan memperhatikan maksud-Nya, menunjukkan kepada orang lain begitu besar pekerjaan yang telah Dia lakukan dalam diri orang-orang dengan kualitas terburuk. Ketika orang mencapai pengenalan akan Tuhan dan menjadi para pemenang di hadapan Iblis, setia kepada Tuhan hingga taraf tertentu, maka tidak ada yang lebih teguh daripada sekelompok orang ini, dan inilah kesaksian yang terbesar. Walaupun engkau tidak mampu melakukan pekerjaan yang besar, engkau mampu memuaskan Tuhan. Orang lain tidak mampu mengesampingkan gagasan mereka, tetapi engkau mampu; orang lain tidak mampu memberi kesaksian bagi Tuhan dalam pengalaman nyata mereka, tetapi engkau mampu menggunakan tingkat pertumbuhan nyata dan tindakan nyatamu untuk membalas kasih Tuhan dan memberi kesaksian yang berkumandang bagi-Nya. Hanya inilah yang dimaksud mengasihi Tuhan secara nyata. Jika engkau tidak mampu melakukan ini, artinya engkau tidak menjadi kesaksian di antara anggota keluargamu, saudara-saudarimu, atau di hadapan orang-orang dunia. Jika engkau tidak mampu menjadi kesaksian di hadapan Iblis, dia akan menertawakanmu. Iblis akan memperlakukanmu sebagai lelucon, sebagai mainan, dia juga akan sering membodohimu dan menganggumu. Di masa depan, ujian besar mungkin akan menimpamu—tetapi saat ini, jika engkau mengasihi Tuhan dengan hati yang tulus, dan jika, terlepas dari sebesar apa pun ujian yang akan datang, terlepas dari apa pun yang akan terjadi kepadamu, jika engkau mampu tetap teguh dalam kesaksianmu, dan mampu memuaskan Tuhan, hatimu akan terhibur, dan engkau tidak akan takut menghadapi ujian sebesar apa pun di masa depan. Engkau semua tidak dapat melihat dengan jelas apa yang akan terjadi di masa depan; engkau semua hanya dapat memuaskan Tuhan dalam keadaan yang terjadi sekarang. Engkau semua tidak mampu melakukan pekerjaan besar apa pun—engkau harus berfokus untuk memuaskan Tuhan dengan mengalami firman-Nya dalam kehidupan nyata, dan engkau harus memberi kesaksian yang kuat dan berkumandang dan dengan demikian mempermalukan Iblis. Walaupun dagingmu tidak akan terpuaskan dan akan menderita, engkau akan memuaskan Tuhan dan mempermalukan Iblis. Jika engkau selalu menerapkan seperti ini, Tuhan akan membukakan jalan di hadapanmu. Ketika, suatu hari nanti, ujian yang besar datang, orang lain akan jatuh, tetapi engkau akan mampu berdiri teguh: karena harga yang telah kaubayar, Tuhan akan melindungimu sehingga engkau mampu berdiri teguh dan tidak jatuh. Jika, biasanya, engkau mampu menerapkan kebenaran dan memuaskan Tuhan dengan hati yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, Tuhan pasti akan melindungimu selama ujian di masa depan. Walaupun engkau bodoh dan memiliki tingkat pertumbuhan yang rendah, serta berkualitas buruk, Tuhan tidak akan memihak terhadapmu. Hal itu bergantung pada apakah niatmu benar atau tidak. Misalkan hari ini engkau dapat memuaskan Tuhan—engkau memerhatikan hal-hal kecil dan memuaskan Tuhan dalam segala hal—engkau memiliki hati yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, engkau memberikan hatimu yang tulus kepada Tuhan, dan meskipun ada beberapa hal yang tidak dapat kaulihat dengan jelas, engkau dapat datang ke hadapan Tuhan untuk memperbaiki niatmu dan mencari maksud Tuhan, dan engkau melakukan segala sesuatu demi memuaskan Tuhan. Sekalipun saudara-saudarimu mungkin menolakmu, hatimu tetap memuaskan Tuhan, dan engkau tidak mendambakan kesenangan daging. Jika engkau selalu menerapkan seperti ini, engkau akan dilindungi ketika ujian besar menimpamu.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Hanya Mengasihi Tuhan yang Berarti Sungguh-Sungguh Percaya kepada Tuhan"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 498

Keadaan batiniah seperti apa dalam diri orang-orang yang menjadi sasaran ujian? Ujian-ujian ditujukan bagi orang-orang yang memiliki watak pemberontak di dalam dirinya yang tidak mampu memuaskan Tuhan. Ada banyak hal yang najis di dalam diri manusia, dan banyak kemunafikan, dan karena itu Tuhan harus memberi mereka ujian untuk memurnikan mereka. Namun, jika pada saat ini engkau dapat memuaskan Tuhan, ujian di masa depan akan menyempurnakanmu. Jika, pada saat ini, engkau tidak mampu memuaskan Tuhan, ujian di masa depan akan mencobaimu, dan tanpa disadari engkau akan jatuh, dan pada saat itu engkau tidak akan mampu menolong dirimu sendiri, karena engkau tidak dapat mengikuti pekerjaan Tuhan dan tidak memiliki tingkat pertumbuhan yang nyata. Oleh karena itu, jika engkau ingin dapat berdiri teguh di masa depan, memuaskan Tuhan dengan lebih baik, dan mengikuti Dia sampai akhir, saat ini engkau harus membangun landasan yang kuat. Engkau harus memuaskan Tuhan dengan menerapkan kebenaran dalam segala hal dan memperhatikan maksud-Nya. Jika engkau selalu menerapkan seperti ini, akan terbentuk landasan di dalam dirimu, dan Tuhan akan membangkitkan di dalam dirimu hati yang mengasihi-Nya, dan Dia akan memberimu iman. Suatu hari, ketika ujian benar-benar menimpamu, engkau mungkin akan mengalami penderitaan dan merasa sedih sampai titik tertentu, dan merasakan dukacita yang menghancurkan, seolah-olah engkau telah mati—tetapi kasihmu kepada Tuhan tidak akan berubah, dan akan menjadi jauh makin dalam. Seperti itulah berkat Tuhan. Jika engkau dapat menerima semua yang Tuhan firmankan dan lakukan saat ini dengan hati yang tunduk, engkau pasti akan diberkati Tuhan, dan dengan demikian engkau akan menjadi orang yang diberkati Tuhan dan menerima janji-Nya. Jika, saat ini, engkau tidak melakukan penerapan, ketika suatu hari ujian menimpamu, engkau tidak akan memiliki iman atau hati yang mengasihi, dan pada saat itu, ujian akan menjadi pencobaan; engkau akan terjerumus di tengah pencobaan Iblis dan tidak memiliki cara untuk melepaskan diri. Saat ini, engkau mungkin dapat berdiri teguh ketika ujian kecil menimpamu, tetapi engkau belum tentu mampu berdiri teguh ketika suatu hari ujian besar menimpamu. Beberapa orang sombong dan berpikir bahwa mereka telah mendekati sempurna. Jika engkau tidak masuk lebih dalam pada saat itu, dan tetap berpuas diri, engkau akan berada dalam bahaya. Saat ini, Tuhan tidak memberimu ujian yang lebih besar dan semuanya terlihat baik-baik saja, tetapi ketika Tuhan mengujimu, engkau akan mendapati bahwa engkau masih memiliki terlalu banyak kekurangan, karena tingkat pertumbuhanmu masih terlalu rendah dan engkau tidak mampu menanggung ujian-ujian yang besar. Jika engkau tetap seperti keadaan dirimu saat ini dan berada dalam keadaan kelesuan rohani, maka saat ujian datang, engkau akan jatuh. Engkau semua harus sering menyadari betapa rendahnya tingkat pertumbuhanmu; hanya dengan cara inilah engkau semua akan mengalami kemajuan. Jika engkau baru melihat betapa rendahnya tingkat pertumbuhanmu pada saat mengalami ujian, betapa lemahnya tekadmu, betapa sedikitnya kenyataan kebenaran di dalam dirimu, dan betapa tidak memadainya dirimu untuk melakukan maksud Tuhan—jika engkau baru menyadari semua ini pada waktu ujian datang, semuanya akan terlambat.

Jika engkau tidak mengenal watak Tuhan, engkau pasti akan jatuh selama ujian, karena engkau tidak tahu bagaimana Tuhan menyempurnakan manusia, dan dengan cara apa Dia menyempurnakan mereka, dan ketika ujian Tuhan datang kepadamu dan itu tidak sesuai dengan gagasanmu, engkau tidak akan mampu tetap teguh. Kasih sejati Tuhan adalah seluruh watak-Nya, dan ketika seluruh watak Tuhan diperlihatkan kepada manusia, apa dampaknya terhadap dagingmu? Ketika watak benar Tuhan diperlihatkan kepada manusia, daging mereka pasti akan mengalami banyak penderitaan. Jika engkau tidak mengalami penderitaan ini, engkau tidak dapat disempurnakan oleh Tuhan, engkau juga tidak akan mampu mempersembahkan kasih yang sejati kepada Tuhan. Jika Tuhan menyempurnakanmu, Dia pasti akan memperlihatkan seluruh watak-Nya kepadamu. Sejak penciptaan hingga saat ini, Tuhan tidak pernah memperlihatkan seluruh watak-Nya kepada manusia—tetapi selama akhir zaman, Dia memperlihatkannya kepada sekelompok orang yang telah Dia tentukan dari semula dan telah Dia pilih, dan dengan menyempurnakan orang-orang, Dia memperlihatkan watak-Nya, dan dengan demikian Dia melengkapi sekelompok orang. Seperti itulah kasih sejati Tuhan bagi manusia. Mengalami kasih sejati Tuhan menuntut orang untuk menanggung penderitaan yang sangat besar, dan membayar harga yang mahal. Hanya dengan demikian, orang pada akhirnya bisa didapatkan oleh Tuhan, dan akhirnya mampu memberikan kasih sejati mereka kembali kepada Tuhan, dan baru setelah itulah hati Tuhan akan dipuaskan. Jika orang ingin disempurnakan oleh Tuhan, dan jika mereka ingin mengikuti kehendak-Nya, dan sepenuhnya memberikan kasih sejati mereka kepada Tuhan, mereka harus mengalami banyak penderitaan dan banyak siksaan dari lingkungan mereka, mengalami penderitaan hingga di ambang kematian. Pada akhirnya, mereka akan dipaksa untuk memberikan hati sejati mereka kembali kepada Tuhan. Apakah seseorang itu sungguh-sungguh mengasihi Tuhan atau tidak, itu tersingkap selama penderitaan dan pemurnian. Pemurnian kasih manusia oleh Tuhan juga hanya tercapai melalui penderitaan dan pemurnian.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Hanya Mengasihi Tuhan yang Berarti Sungguh-Sungguh Percaya kepada Tuhan"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 499

Hakikat kepercayaan kebanyakan orang kepada Tuhan adalah keyakinan agamawi: mereka tidak mampu mengasihi Tuhan, dan hanya bisa mengikuti Tuhan bagaikan robot, tidak mampu sungguh-sungguh merindukan Tuhan atau memuja-Nya. Mereka hanya mengikuti Dia dalam hati. Banyak orang percaya kepada Tuhan, tetapi hanya sedikit yang mengasihi Tuhan; mereka hanya "takut" kepada Tuhan karena takut mengalami malapetaka, atau "mengagumi" Tuhan karena Dia tinggi dan kuat—tetapi dalam rasa takut dan kekaguman mereka, tidak ada kasih atau kerinduan sejati. Dalam pengalaman mereka, mereka mencari hal-hal kecil tentang kebenaran, atau berbagai misteri yang tidak penting. Kebanyakan orang hanya mengikuti, memancing di air keruh semata-mata demi mendapatkan berkat; mereka tidak mencari kebenaran, juga tidak sungguh-sungguh tunduk kepada Tuhan untuk menerima berkat-berkat Tuhan. Kehidupan kepercayaan semua orang kepada Tuhan tidak ada artinya, tidak ada nilainya, dan di dalamnya terdapat pertimbangan dan pengejaran pribadi; mereka bukan percaya kepada Tuhan untuk mengasihi Tuhan, melainkan agar mereka diberkati. Banyak orang bertindak sesuka hatinya; mereka melakukan apa pun yang mereka inginkan, dan tidak pernah mempertimbangkan kepentingan Tuhan, atau apakah yang mereka lakukan itu sudah sesuai dengan maksud-maksud Tuhan. Orang-orang seperti ini bahkan tidak dapat mencapai kepercayaan yang sejati, apalagi kasih kepada Tuhan. Esensi Tuhan tidak hanya untuk dipercayai oleh manusia; terlebih dari itu, untuk dikasihi manusia. Namun, banyak orang yang percaya kepada Tuhan tidak mampu menemukan "rahasia" ini. Manusia tidak berani mengasihi Tuhan, mereka juga tidak berusaha untuk mengasihi Dia. Mereka tidak pernah menemukan bahwa ada begitu banyak hal yang patut dicintai tentang Tuhan; mereka tidak pernah menemukan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mengasihi manusia, dan bahwa Dia adalah Tuhan untuk dikasihi oleh manusia. Keindahan Tuhan dinyatakan dalam pekerjaan-Nya: hanya ketika manusia mengalami pekerjaan-Nya, mereka dapat menemukan keindahan-Nya; hanya dalam kenyataan, mereka dapat merasakan keindahan Tuhan; dan tanpa mengalami dan mengamatinya dalam kehidupan nyata, tak seorang pun dapat menemukan keindahan Tuhan. Begitu banyak hal yang patut dikasihi tentang Tuhan, tetapi tanpa benar-benar berhubungan dengan-Nya, manusia tidak mampu menemukan hal itu. Dengan kata lain, jika Tuhan tidak menjadi daging, manusia tidak akan mampu benar-benar berhubungan dengan-Nya, dan jika mereka tidak dapat betul-betul terlibat dengan-Nya, mereka juga tidak akan dapat mengalami pekerjaan-Nya—dan karenanya kasih mereka kepada Tuhan pun akan tercemar oleh banyak kepalsuan dan imajinasi. Kasih kepada Tuhan yang di surga tidak senyata seperti kasih kepada Tuhan yang di bumi, karena pengetahuan manusia tentang Tuhan yang di surga dibangun di atas imajinasi mereka, bukan pada apa yang mereka saksikan dengan mata kepala mereka sendiri, dan apa yang telah mereka alami secara pribadi. Ketika Tuhan datang ke bumi, orang-orang dapat menyaksikan perbuatan-Nya yang nyata dan keindahan-Nya, dan mereka dapat menyaksikan segala sesuatu tentang watak-Nya yang nyata dan normal, yang ribuan kali lebih nyata daripada pengetahuan tentang Tuhan yang di surga. Sebesar apa pun orang mengasihi Tuhan yang di surga, tidak ada yang nyata tentang kasih ini, dan kasih ini penuh dengan gagasan manusia. Sekecil apa pun kasih mereka kepada Tuhan yang di bumi, kasih ini nyata; bahkan sekalipun hanya sedikit, kasih itu tetap saja nyata. Tuhan menyebabkan manusia mengenal Dia melalui pekerjaan nyata, dan melalui pengetahuan inilah Dia mendapatkan kasih mereka. Seperti halnya Petrus: jika dia tidak hidup bersama Yesus, mustahil baginya untuk memuja Yesus. Demikian juga, kesetiaannya terhadap Yesus dibangun di atas hubungannya dengan Yesus. Untuk membuat manusia mengasihi diri-Nya, Tuhan telah datang di antara manusia dan hidup bersama manusia, dan satu-satunya yang Dia inginkan agar manusia lihat dan alami adalah kenyataan diri Tuhan.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Mereka yang Mengasihi Tuhan akan Selamanya Hidup di Dalam Terang-Nya"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 500

Tuhan menggunakan kenyataan dan munculnya fakta untuk menyempurnakan manusia; firman Tuhan melaksanakan sebagian dari penyempurnaan-Nya atas diri manusia, dan ini merupakan pekerjaan menuntun dan membuka jalan. Dengan kata lain, di dalam firman Tuhan-lah engkau harus menemukan jalan penerapan dan pengetahuan tentang visi. Dengan memahami hal-hal ini, manusia akan memiliki jalan dan visi dalam penerapan nyata mereka, dan mereka akan mampu memperoleh pencerahan melalui firman Tuhan; mereka akan mampu memahami bahwa hal-hal ini telah datang dari Tuhan, dan mereka mampu membedakan banyak hal. Setelah memahaminya, mereka harus segera masuk ke dalam kenyataan ini dan harus menggunakan firman Tuhan untuk memuaskan Tuhan dalam kehidupan nyata mereka. Tuhan akan menuntunmu dalam segala sesuatu dan akan memberimu jalan penerapan, dan membuatmu merasakan bahwa Dia begitu baik, dan memampukanmu memahami bahwa setiap langkah pekerjaan Tuhan di dalam dirimu adalah untuk menyempurnakanmu. Jika engkau ingin menyaksikan kasih Tuhan, jika engkau benar-benar ingin mengalami kasih Tuhan, engkau harus masuk jauh ke dalam kenyataan, jauh ke dalam kehidupan nyata, dan melihat bahwa segala sesuatu yang Tuhan lakukan adalah kasih dan keselamatan, bahwa semua yang Dia lakukan bertujuan memampukan manusia untuk meninggalkan hal yang najis, dan memurnikan banyak hal dalam diri mereka yang tidak dapat memenuhi maksud-maksud Tuhan. Tuhan menggunakan firman untuk membekali manusia; Dia mengatur berbagai lingkungan kehidupan nyata untuk manusia alami, dan jika manusia makan dan minum banyak firman Tuhan, maka ketika mereka benar-benar menerapkannya, mereka dapat memecahkan segala kesulitan dalam hidup mereka dengan menggunakan banyak dari firman Tuhan. Artinya, engkau harus memiliki firman Tuhan agar engkau masuk jauh ke dalam kenyataan; jika engkau tidak makan dan minum firman Tuhan, dan tidak mengalami pekerjaan Tuhan, engkau tidak akan memiliki jalan dalam kehidupan nyata. Jika engkau tidak pernah makan atau minum firman Tuhan, engkau akan hilang akal ketika sesuatu terjadi padamu. Engkau hanya tahu bahwa engkau harus mengasihi Tuhan, tetapi engkau tidak mampu melakukan pembedaan apa pun, serta tidak memiliki jalan penerapan; engkau kacau dan bingung, dan kadang kala engkau bahkan percaya bahwa dengan memuaskan daging berarti engkau sedang memuaskan Tuhan—semua itu adalah akibat jika tidak makan dan minum firman Tuhan. Dengan kata lain, jika engkau tanpa pertolongan firman Tuhan, dan hanya meraba-raba dalam kenyataan, berarti engkau pada dasarnya tidak mampu menemukan jalan penerapan. Orang-orang seperti ini sama sekali tidak memahami apa artinya percaya kepada Tuhan, apalagi memahami apa artinya mengasihi Tuhan. Jika, dengan menggunakan pencerahan dan tuntunan firman Tuhan, engkau sering berdoa, menyelidiki, dan mencari, dan melalui ini engkau menemukan hal yang harus engkau terapkan, menemukan peluang untuk mengalami pekerjaan Roh Kudus, sungguh-sungguh bekerja sama dengan Tuhan, dan tidak kacau dan bingung, maka engkau akan memiliki jalan dalam kehidupan nyata, dan akan sungguh-sungguh memuaskan Tuhan. Ketika engkau telah memuaskan Tuhan, di dalam dirimu akan ada tuntunan Tuhan, dan engkau akan sangat diberkati oleh Tuhan, yang akan memberimu perasaan bahagia: engkau akan merasa sangat terhormat karena telah memuaskan Tuhan, engkau akan merasa sangat gembira, dan di dalam hatimu, engkau akan merasa jernih dan damai. Hati nuranimu akan terhibur dan bebas dari tuduhan, engkau akan merasa nyaman dalam batinmu ketika bertemu dengan saudara-saudarimu. Inilah artinya menikmati kasih Tuhan, dan hanya inilah sungguh-sungguh menikmati Tuhan. Kenikmatan manusia akan kasih Tuhan diperoleh melalui pengalaman: dengan mengalami kesukaran dan mengalami diri mereka menerapkan kebenaran, mereka memperoleh berkat Tuhan. Jika engkau hanya mengatakan bahwa Tuhan benar-benar mengasihimu, bahwa Dia telah sungguh-sungguh membayar harga yang mahal bagi manusia, bahwa Dia dengan sabar dan baik hati menyampaikan begitu banyak firman, dan selalu menyelamatkan manusia, perkataanmu mengenai firman ini hanyalah satu sisi dari kenikmatan akan Tuhan. Kenikmatan yang lebih besar—kenikmatan yang nyata—adalah saat manusia melakukan kebenaran dalam kehidupan nyata mereka, di mana setelah itu hati mereka akan menjadi jernih dan damai. Batin mereka merasa sangat tersentuh dan merasakan betapa Tuhan adalah yang paling patut untuk dicintai. Engkau akan merasa bahwa harga yang telah engkau bayar itu sangat sepadan. Setelah membayar harga yang mahal dalam berbagai upayamu, hatimu akan sangat gembira: engkau akan merasa benar-benar menikmati kasih Tuhan, dan memahami bahwa Tuhan telah melakukan pekerjaan penyelamatan dalam diri manusia, bahwa pemurnian-Nya atas manusia dimaksudkan untuk menyucikan mereka, dan bahwa Tuhan menguji manusia untuk menyelidiki apakah mereka sungguh-sungguh mengasihi Dia. Jika engkau selalu melakukan kebenaran dengan cara ini, secara bertahap engkau akan mengembangkan pengetahuan yang jelas tentang banyak hal mengenai pekerjaan Tuhan. Pada saat itulah, engkau akan selalu merasa bahwa firman Tuhan di hadapanmu itu sebening kristal. Jika engkau dapat memahami dengan jelas banyak kebenaran, engkau akan merasa bahwa segala hal menjadi mudah untuk dilakukan, bahwa engkau dapat mengatasi masalah apa pun dan mengalahkan pencobaan apa pun, dan engkau akan melihat bahwa tidak ada masalah apa pun bagimu, yang akan sangat membebaskan dan melepaskanmu. Pada saat inilah engkau akan menikmati kasih Tuhan, dan kasih sejati-Nya akan datang kepadamu. Tuhan memberkati orang-orang yang memiliki visi, yang memiliki kebenaran, yang memiliki pengetahuan, dan yang sungguh-sungguh mengasihi Dia. Jika orang ingin melihat kasih Tuhan, mereka harus melakukan kebenaran dalam kehidupan nyata, mereka harus rela menanggung rasa sakit dan meninggalkan hal yang mereka kasihi demi memuaskan Tuhan, dan meskipun dengan air mata berlinang, mereka harus tetap mampu memuaskan hati Tuhan. Dengan cara ini, Tuhan pasti akan memberkatimu, dan jika engkau menghadapi kesulitan yang seperti ini, hal ini akan diikuti oleh pekerjaan Roh Kudus. Melalui kehidupan nyata dan mengalami firman Tuhan, manusia dapat menyaksikan keindahan Tuhan, dan hanya jika mereka telah merasakan kasih Tuhan, mereka dapat sungguh-sungguh mengasihi Dia.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Mereka yang Mengasihi Tuhan akan Selamanya Hidup di Dalam Terang-Nya"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 501

Orang yang mengasihi Tuhan adalah orang yang mencintai kebenaran, dan semakin orang yang mencintai kebenaran menerapkan kebenaran, semakin banyak kebenaran yang mereka miliki; semakin mereka menerapkannya, semakin banyak kasih Tuhan yang mereka miliki; dan semakin mereka menerapkannya, semakin mereka diberkati oleh Tuhan. Jika engkau selalu melakukan penerapan dengan cara demikian, kasih Tuhan bagimu akan secara berangsur-angsur memampukanmu untuk mengerti, sama seperti Petrus menjadi kenal akan Tuhan: Petrus mengatakan bahwa Tuhan tidak hanya memiliki hikmat untuk menciptakan langit dan bumi dan segala isinya, tetapi terlebih dari itu, Dia juga memiliki hikmat untuk melakukan pekerjaan nyata dalam diri manusia. Petrus mengatakan bahwa Dia tidak hanya layak menerima kasih manusia karena penciptaan-Nya atas langit dan bumi dan segala isinya, tetapi terlebih lagi, karena kemampuan-Nya untuk menciptakan, menyelamatkan, dan menyempurnakan manusia, serta mewariskan kasih-Nya kepada manusia. Selain itu, Petrus juga mengatakan bahwa ada banyak hal dalam diri-Nya yang layak menerima kasih manusia. Petrus berkata kepada Yesus: "Apakah menciptakan langit dan bumi dan segala isinya adalah satu-satunya alasan Engkau layak mendapatkan kasih manusia? Ada lebih banyak dalam diri-Mu yang patut dicintai. Engkau bertindak dan bergerak dalam kehidupan nyata, Roh-Mu menjamah batinku, Engkau mendisiplinkan aku, Engkau menegurku—hal-hal ini bahkan lebih layak bagi-Mu untuk menerima kasih manusia." Jika engkau ingin melihat dan mengalami kasih Tuhan, engkau harus menyelidiki dan mencari dalam kehidupan nyata dan harus rela mengesampingkan dagingmu sendiri. Engkau harus mengambil keputusan ini. Engkau harus menjadi seseorang yang bertekad bulat, yang mampu memuaskan Tuhan dalam segala sesuatu, tidak bermalas-malas atau mengidamkan kenikmatan daging, tidak hidup untuk daging tetapi hidup bagi Tuhan. Mungkin engkau tidak memuaskan Tuhan kali ini. Itu karena engkau tidak memahami maksud-maksud Tuhan; di lain waktu, meskipun akan membutuhkan lebih banyak usaha, engkau harus memuaskan Dia dan tidak memuaskan daging. Ketika engkau mengalami dengan cara demikian, engkau akan jadi semakin mengenal Tuhan. Engkau akan mengerti bahwa Tuhan dapat menciptakan langit dan bumi dan segala isinya, bahwa Dia telah menjadi daging supaya manusia bisa benar-benar melihat-Nya dan benar-benar terlibat dengan-Nya; engkau akan melihat bahwa Dia dapat berjalan di antara manusia, dan bahwa Roh-Nya dapat menyempurnakan manusia dalam kehidupan nyata, memungkinkan mereka untuk menyaksikan keindahan-Nya dan mengalami pendisiplinan-Nya, hajaran-Nya, dan berkat-berkat-Nya. Jika engkau selalu mengalami dengan cara demikian, dalam kehidupan nyata engkau tidak akan terpisahkan dari Tuhan, dan jika suatu hari hubunganmu dengan Tuhan tidak lagi normal, engkau akan mampu menerima teguran dan merasakan penyesalan. Ketika engkau memiliki hubungan yang normal dengan Tuhan, engkau tidak akan pernah ingin meninggalkan Tuhan, dan jika suatu hari Tuhan mengatakan Dia akan meninggalkanmu, engkau akan takut dan mengatakan lebih baik mati daripada ditinggalkan oleh Tuhan. Begitu engkau merasakan ini, engkau akan merasa bahwa engkau tidak mampu meninggalkan Tuhan, dan dengan cara demikian, engkau akan memiliki dasar, dan akan sungguh-sungguh menikmati kasih Tuhan.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Mereka yang Mengasihi Tuhan akan Selamanya Hidup di Dalam Terang-Nya"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 502

Orang sering berbicara mengenai membiarkan Tuhan menjadi hidup mereka, tetapi pengalaman mereka belum mencapai taraf tersebut. Engkau sekadar berkata bahwa Tuhan adalah hidupmu, bahwa Dia menuntunmu setiap hari, bahwa engkau makan dan minum firman-Nya setiap hari, dan bahwa engkau berdoa kepada-Nya setiap hari, dan karenanya Dia telah menjadi hidupmu. Pengetahuan orang-orang yang berkata seperti ini sangatlah dangkal. Dalam diri banyak orang tidak ada dasar; firman Tuhan telah tertanam di dalam diri mereka, tetapi firman Tuhan itu belum bertunas, apalagi menghasilkan buah apa pun. Sekarang ini, sudah sejauh manakah engkau mengalami? Baru sekarang, setelah Tuhan memaksamu sampai sejauh ini, engkau merasa bahwa engkau tidak dapat meninggalkan Tuhan. Suatu hari, ketika engkau telah mencapai titik tertentu, jika Tuhan memintamu pergi, engkau tidak akan sanggup melakukannya. Engkau akan selalu merasa bahwa engkau tidak sanggup tanpa Tuhan di dalam dirimu; engkau bisa bertahan tanpa suami, istri, atau anak-anak, tanpa keluarga, tanpa ibu atau ayah, tanpa kenikmatan daging, tetapi engkau tidak sanggup tanpa Tuhan. Tanpa Tuhan akan terasa seperti engkau kehilangan hidupmu; engkau tidak akan sanggup hidup tanpa Tuhan. Pada saat engkau telah mengalami sampai titik ini, engkau telah mencapai sasaran dalam imanmu kepada Tuhan, dan dengan cara demikian Tuhan telah menjadi hidupmu, Dia telah menjadi dasar keberadaanmu. Engkau tidak akan pernah lagi mampu meninggalkan Tuhan. Ketika engkau telah mengalami sampai taraf ini, engkau telah sungguh-sungguh menikmati kasih Tuhan, dan ketika engkau memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Tuhan, Dia akan menjadi hidupmu, kasihmu, dan saat itulah engkau akan berdoa kepada Tuhan dan berkata: "Ya Tuhan! Aku tidak sanggup meninggalkan-Mu. Engkau adalah hidupku. Aku dapat bertahan tanpa semua yang lain—tetapi tanpa-Mu aku tidak sanggup terus hidup." Inilah tingkat pertumbuhan manusia yang sesungguhnya; inilah kehidupan yang nyata. Beberapa orang telah dipaksa untuk mencapai sejauh yang telah mereka capai saat ini: mereka harus terus maju entah mereka menginginkannya atau tidak, dan mereka selalu merasa seakan-akan diperhadapkan dengan situasi yang sangat sulit. Engkau harus mengalami sampai sedemikian rupa hingga Tuhan menjadi hidupmu, sedemikian rupa hingga jika Tuhan direnggut dari hatimu, rasanya akan seperti kehilangan hidupmu; Tuhan harus menjadi hidupmu, dan engkau haruslah tidak sanggup meninggalkan Dia. Dengan cara demikian, engkau akan benar-benar mengalami Tuhan, dan pada saat inilah, ketika engkau mengasihi Tuhan, engkau akan sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, dan kasih itu akan menjadi kasih yang murni yang satu-satunya. Suatu hari ketika pengalamanmu sampai sedemikian rupa hingga hidupmu telah mencapai titik tertentu, saat engkau berdoa kepada Tuhan, serta makan dan minum firman Tuhan, engkau tidak akan sanggup meninggalkan Tuhan di dalam hatimu, dan engkau tidak akan mampu melupakan-Nya, bahkan sekalipun ingin. Tuhan akan menjadi hidupmu; engkau sanggup melupakan dunia, engkau sanggup melupakan istrimu, suamimu, atau anak-anakmu, tetapi engkau akan mengalami kesulitan melupakan Tuhan—melakukannya tidak mungkin bagimu, inilah kehidupan sejatimu, dan kasih sejatimu kepada Tuhan. Ketika kasih manusia kepada Tuhan telah mencapai titik tertentu, kasih mereka akan hal-hal lain tidak dapat menyamai kasih mereka kepada Tuhan; kasih mereka kepada Tuhan menjadi yang utama. Dengan demikian engkau sanggup menyerahkan segalanya, dan rela menerima semua pemangkasan dari Tuhan. Pada saat engkau telah mencapai kasih kepada Tuhan yang melampaui segalanya, engkau akan hidup dalam kenyataan, dan dalam cinta Tuhan.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Mereka yang Mengasihi Tuhan akan Selamanya Hidup di Dalam Terang-Nya"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 503

Begitu Tuhan menjadi kehidupan di dalam diri manusia, mereka menjadi tidak sanggup untuk meninggalkan Tuhan. Bukankah ini perbuatan Tuhan? Tidak ada kesaksian yang lebih hebat! Tuhan telah bekerja sampai titik tertentu; Dia telah mengatakan agar orang melakukan pelayanan, dihajar atau mati, dan orang-orang tidak mundur, yang menunjukkan bahwa mereka telah ditaklukkan oleh Tuhan. Orang yang memiliki kebenaran adalah mereka, yang dalam pengalaman nyata, dapat berdiri teguh dalam kesaksian mereka, berdiri teguh dalam posisi mereka, berdiri di pihak Tuhan, pantang mundur, dan yang dapat memiliki hubungan normal dengan orang-orang yang mengasihi Tuhan, yang mampu untuk sepenuhnya menaati Tuhan ketika sesuatu terjadi pada diri mereka, dan yang mampu tunduk kepada Tuhan sampai mati. Penerapan dan pernyataanmu dalam kehidupan nyata adalah kesaksian tentang Tuhan, semua itu adalah bagaimana manusia menjalani hidupnya dan merupakan kesaksian tentang Tuhan, dan inilah sesungguhnya menikmati kasih Tuhan; ketika engkau telah mengalami sampai titik ini, dampak yang diinginkan sudah tercapai. Engkau memiliki pengalaman hidup yang nyata dan setiap tindakanmu dipandang dengan penuh kekaguman oleh orang lain. Busana dan penampilan luarmu biasa-biasa saja, tetapi engkau menjalani kehidupan yang sangat saleh, dan ketika engkau mempersekutukan firman Tuhan, engkau dituntun dan diterangi oleh-Nya. Engkau mampu membicarakan tentang maksud-maksud Tuhan melalui perkataanmu, mempersekutukan kenyataan, dan engkau memahami banyak tentang melayani dalam roh. Engkau berbicara dengan tenang, engkau sopan dan jujur, tidak konfrontatif dan bersikap patut, mampu tunduk pada pengaturan Tuhan dan tetap teguh dalam kesaksianmu ketika hal-hal menimpamu, dan engkau tenang dan sabar tanpa peduli apa pun yang engkau hadapi. Orang semacam ini benar-benar telah menyaksikan kasih Tuhan. Sebagian orang masih muda, tetapi mereka bertindak layaknya seorang paruh baya; mereka dewasa, memiliki kebenaran, dan dikagumi oleh orang lain—dan orang-orang inilah yang memiliki kesaksian, dan merupakan manifestasi dari Tuhan. Dengan kata lain, ketika mereka telah mengalami sampai titik tertentu, di dalam dirinya, mereka akan memiliki wawasan ke arah Tuhan, dan watak lahiriah mereka juga akan stabil. Banyak orang tidak melakukan kebenaran, dan tidak berdiri teguh dalam kesaksian mereka. Dalam diri orang-orang seperti itu tidak ada kasih kepada Tuhan, atau kesaksian tentang Tuhan, dan orang-orang inilah yang paling dibenci oleh Tuhan. Mereka membaca firman Tuhan dalam ibadah, tetapi yang mereka jalani adalah Iblis, dan ini sama artinya dengan membawa penghinaan terhadap Tuhan, mengata-ngatai Tuhan, dan menghujat Tuhan. Dalam diri orang-orang semacam ini, tidak ada tanda-tanda kasih Tuhan, dan mereka sama sekali tidak memiliki pekerjaan Roh Kudus. Jadi perkataan dan perbuatan orang-orang ini merepresentasikan Iblis. Jika hatimu selalu damai di hadapan Tuhan, dan engkau selalu memperhatikan orang-orang dan hal-hal di sekitarmu, dan apa yang terjadi di sekitarmu, dan jika engkau memikirkan beban Tuhan, dan selalu memiliki hati yang takut akan Tuhan, maka Tuhan akan sering mencerahkanmu di dalam batinmu. Di gereja ada orang-orang yang menjadi "pengawas": mereka sangat berniat mengawasi kegagalan orang lain, lalu meniru dan berusaha menandingi mereka. Mereka tidak mampu membedakan, tidak membenci dosa, dan tidak muak atau merasa jijik akan hal-hal yang dari Iblis. Orang-orang seperti itu dipenuhi dengan hal-hal dari Iblis, dan pada akhirnya mereka akan benar-benar ditinggalkan oleh Tuhan. Hatimu harus selalu takut di hadapan Tuhan, kata-kata dan tindakanmu harus sekadarnya dan jangan pernah ingin menentang atau mengecewakan Tuhan. Engkau jangan pernah rela membiarkan pekerjaan Tuhan di dalam dirimu menjadi sia-sia, atau membiarkan semua kesukaran yang telah engkau alami dan semua yang telah engkau terapkan menjadi sia-sia. Engkau harus mau bekerja lebih keras dan mengasihi Tuhan lebih lagi di jalan yang terbentang di depanmu. Inilah orang-orang yang memiliki visi sebagai dasar mereka. Inilah orang-orang yang mencari kemajuan.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Mereka yang Mengasihi Tuhan akan Selamanya Hidup di Dalam Terang-Nya"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 504

Jika orang percaya kepada Tuhan dan mengalami firman Tuhan dengan hati yang takut akan Tuhan, di dalam diri orang-orang seperti itu dapat terlihat keselamatan dari Tuhan dan kasih Tuhan. Orang-orang ini mampu bersaksi bagi Tuhan; mereka hidup dalam kebenaran, dan mereka bersaksi tentang kebenaran, siapa Tuhan itu, dan watak Tuhan. Mereka hidup di tengah kasih Tuhan dan mereka telah melihat kasih Tuhan. Jika orang ingin mengasihi Tuhan, mereka harus merasakan keindahan Tuhan dan melihat keindahan Tuhan; hanya setelah itulah, di dalam diri mereka dapat dibangkitkan hati yang mengasihi Tuhan, dan hati yang dengan setia mengorbankan diri mereka sendiri kepada Tuhan. Tuhan tidak membuat manusia mengasihi Dia melalui perkataan, atau melalui imajinasi mereka, dan Dia tidak memaksa orang untuk mengasihi diri-Nya. Sebaliknya, Dia membuat manusia mengasihi diri-Nya atas kemauan mereka sendiri, dan Dia membuat mereka melihat keindahan-Nya dalam pekerjaan dan perkataan-Nya, dan setelah itu, kasih kepada Tuhan tumbuh di dalam diri mereka. Hanya dengan cara demikianlah, orang dapat benar-benar memberi kesaksian bagi Tuhan. Manusia mengasihi Tuhan tidak dipengaruhi oleh bujukan orang lain, dan itu juga bukan dorongan emosional sesaat. Manusia mengasihi Tuhan karena mereka telah melihat keindahan-Nya, karena mereka telah melihat bahwa ada begitu banyak hal tentang Dia yang layak menerima kasih manusia, karena mereka telah melihat keselamatan, hikmat, dan perbuatan ajaib Tuhan—dan sebagai akibatnya, mereka benar-benar memuji Tuhan, dan sungguh-sungguh merindukan-Nya, dan di dalam diri mereka pun bangkitlah gairah sehingga mereka tidak mampu bertahan tanpa memperoleh Tuhan. Alasan mengapa mereka yang sungguh-sungguh bersaksi bagi Tuhan mampu memberikan kesaksian yang berkumandang tentang Dia adalah karena kesaksian mereka di bangun di atas fondasi pengetahuan yang benar dan kerinduan sesungguhnya akan Tuhan. Kesaksian seperti itu tidak disampaikan menurut dorongan emosional sesaat, tetapi berdasarkan pada pengetahuan mereka tentang Tuhan dan watak-Nya. Karena mereka telah mengenal Tuhan, mereka merasa bahwa mereka tentu saja harus bersaksi bagi Tuhan dan membuat semua orang yang merindukan Tuhan mengenal Tuhan, dan menyadari akan keindahan Tuhan serta kenyataan diri-Nya. Sebagaimana kasih orang kepada Tuhan, kesaksian mereka pun bersifat spontan; kesaksian mereka nyata, dan memiliki makna serta nilai yang nyata. Kesaksian mereka tidak pasif atau hampa ataupun tanpa arti. Alasan mengapa hanya orang yang benar-benar mengasihi Tuhan yang paling memiliki nilai dan makna dalam hidup mereka, alasan mengapa mereka hanya sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, adalah karena orang-orang ini mampu hidup dalam terang Tuhan dan mampu hidup bagi pekerjaan dan pengelolaan Tuhan. Itu karena mereka tidak hidup dalam kegelapan, melainkan hidup dalam terang; mereka tidak menjalani kehidupan yang tanpa makna, melainkan kehidupan yang telah diberkati oleh Tuhan. Hanya mereka yang mengasihi Tuhan yang mampu bersaksi bagi Tuhan, hanya merekalah saksi-saksi Tuhan, hanya merekalah yang diberkati oleh Tuhan, dan hanya merekalah yang dapat menerima janji-janji Tuhan. Mereka yang mengasihi Tuhan adalah sahabat karib Tuhan; mereka adalah orang-orang yang dikasihi Tuhan, dan mereka dapat menikmati berkat bersama dengan Tuhan. Hanya orang-orang seperti inilah yang akan hidup sampai kekekalan, dan hanya merekalah yang akan selamanya hidup di bawah pemeliharaan dan perlindungan Tuhan. Tuhan adalah untuk dikasihi oleh manusia, dan Dia layak menerima kasih semua orang, tetapi tidak semua orang mampu mengasihi Tuhan, dan tidak semua orang dapat bersaksi bagi Tuhan dan memegang kuasa dengan Tuhan. Karena mereka mampu bersaksi bagi Tuhan, dan mencurahkan segenap upaya mereka bagi pekerjaan Tuhan, mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dapat berjalan ke mana pun di bawah langit tanpa ada yang berani menentang mereka, dan mereka dapat memegang kuasa di bumi dan memerintah semua umat Tuhan. Orang-orang ini telah datang bergabung dari seluruh dunia. Mereka adalah orang-orang dari seluruh dunia yang berbicara bahasa yang berbeda dan memiliki warna kulit yang berbeda, tetapi makna penting keberadaan mereka adalah sama; mereka semua memiliki hati yang mengasihi Tuhan, mereka semua memiliki kesaksian yang sama, memiliki tekad yang sama serta keinginan yang sama. Mereka yang mengasihi Tuhan dapat berjalan bebas di seluruh dunia, dan mereka yang bersaksi bagi Tuhan dapat melakukan perjalanan melintasi alam semesta. Orang-orang ini dikasihi oleh Tuhan, mereka diberkati oleh Tuhan, dan mereka akan selamanya hidup dalam terang-Nya.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Mereka yang Mengasihi Tuhan akan Selamanya Hidup di Dalam Terang-Nya"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 505

Sebenarnya, seberapa besar engkau mengasihi Tuhan sekarang? Dan seberapa banyak engkau mengetahui segala yang telah Tuhan lakukan di dalam dirimu? Ini adalah pelajaran yang harus kaupetik. Ketika Tuhan tiba di dunia, semua yang telah Tuhan lakukan dalam diri manusia dan izinkan untuk dilihat manusia adalah agar manusia mengasihi-Nya dan benar-benar mengenal-Nya. Manusia mampu menderita bagi Tuhan dan dapat sampai sejauh ini salah satu sebabnya karena kasih Tuhan, dan sebab lainnya karena keselamatan dari Tuhan; terlebih lagi, ini adalah hasil dari penghakiman dan pekerjaan hajaran yang telah Tuhan lakukan dalam diri manusia. Jika engkau tidak mengalami penghakiman, hajaran, dan ujian dari Tuhan, dan jika Tuhan belum membuat engkau semua menderita, jujur saja, engkau semua tidak akan sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Makin besar pekerjaan Tuhan dalam diri manusia dan makin besar penderitaan manusia, makin itu menunjukkan seberapa bermaknanya pekerjaan Tuhan, dan hati manusia makin mampu untuk sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Bagaimana pelajaran tentang mengasihi Tuhan dicapai? Tanpa penderitaan dan pemurnian, tanpa ujian-ujian yang menyakitkan—dan apalagi, jika semua yang Tuhan berikan kepada manusia hanyalah kasih karunia, kasih setia, dan belas kasih—akankah engkau mampu mencapai titik di mana engkau benar-benar mengasihi Tuhan? Di satu sisi, selama ujian dari Tuhan, manusia mengenali kekurangannya dan melihat bahwa dia tidak penting, hina, dan rendah, dia juga tidak memiliki apa-apa dan bukan siapa-siapa; di sisi lain, selama ujian-ujian itu, Tuhan mengatur sejumlah lingkungan bagi manusia, agar di dalam lingkungan itu, manusia dapat lebih mengalami keindahan Tuhan. Walaupun kepedihannya besar, dan kadang tak tertahankan—bahkan hingga mencapai tahap dukacita yang meremukkan—setelah mengalaminya, barulah manusia melihat betapa indahnya pekerjaan Tuhan dalam dirinya, dan hanya di atas dasar inilah lahir kasih sejati manusia kepada Tuhan. Sekarang ini manusia melihat bahwa dengan kasih karunia, kasih, dan belas kasih Tuhan saja, ia tidak mampu benar-benar mengenal dirinya sendiri, apalagi mengetahui esensi manusia. Hanya melalui pemurnian dan penghakiman dari Tuhan, dan dalam proses pemurnian itu sendiri, manusia bisa mengenal kekurangan-kekurangannya, dan mengetahui bahwa ia tidak memiliki apa-apa. Maka, kasih manusia akan Tuhan dibangun atas dasar pemurnian dan penghakiman Tuhan. Jika engkau hanya menikmati kasih karunia Tuhan, memiliki kehidupan keluarga yang penuh damai atau berkat secara materi, berarti engkau belum mendapatkan Tuhan, dan keyakinanmu kepada Tuhan tidak bisa dikatakan berhasil. Tuhan telah menjalankan satu tahap pekerjaan kasih karunia dalam daging, dan telah memberikan berkat-berkat materi kepada manusia, tetapi manusia tidak bisa disempurnakan hanya dengan kasih karunia, kasih, dan belas kasih saja. Dalam pengalaman-pengalamannya, manusia mengalami sebagian kasih Tuhan, dan melihat kasih dan belas kasih Tuhan, tetapi setelah mengalaminya selama beberapa waktu, ia melihat bahwa kasih karunia dan kasih dan belas kasih Tuhan tidak mampu membuat manusia sempurna, tidak mampu menyingkapkan apa yang rusak dalam diri manusia, dan tidak mampu menghilangkan watak manusia yang rusak, atau menyempurnakan kasih dan imannya. Pekerjaan kasih karunia Tuhan adalah pekerjaan satu periode, dan manusia tidak dapat menggantungkan diri pada menikmati kasih karunia Tuhan untuk mengenal-Nya.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Hanya dengan Mengalami Ujian-Ujian yang Menyakitkan Engkau Semua Bisa Mengenal Keindahan Tuhan"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 506

Sekarang ini, sebagian besar orang tidak memiliki pengetahuan itu. Mereka percaya bahwa penderitaan itu tidak ada nilainya, bahwa mereka dikucilkan oleh dunia, kehidupan rumah tangga mereka bermasalah, Tuhan tidak berkenan akan mereka, dan prospek mereka suram. Ada orang-orang yang menderita hingga taraf tertentu, yang bahkan ingin mati. Ini bukanlah kasih sejati kepada Tuhan; orang-orang seperti itu adalah pengecut, mereka tidak memiliki ketabahan, mereka lemah dan tidak kompeten! Tuhan benar-benar ingin manusia mengasihi-Nya, tetapi makin manusia mengasihi-Nya, makin besar penderitaan manusia, dan makin manusia mengasihi-Nya, makin besar ujiannya. Jika engkau mengasihi-Nya, semua jenis penderitaan akan menimpamu—dan jika engkau tidak mengasihi-Nya, mungkin segala sesuatu akan berjalan dengan lancar bagimu, dan semuanya akan damai di sekelilingmu. Ketika engkau mengasihi Tuhan, engkau akan selalu merasa bahwa banyak hal di sekitarmu tidak mampu kauatasi, dan karena tingkat pertumbuhanmu terlalu kecil, engkau akan dimurnikan; selain itu, engkau tidak akan mampu memuaskan Tuhan, dan akan selalu merasa bahwa maksud Tuhan itu terlalu tinggi, jauh dari jangkauan manusia. Karena semua ini, engkau akan dimurnikan—karena ada banyak kelemahan di dalam dirimu, dan karena banyak hal tidak mampu memuaskan maksud Tuhan, engkau akan dimurnikan di dalam dirimu. Namun engkau harus melihat dengan jelas bahwa penyucian hanya bisa dicapai melalui pemurnian. Maka, selama akhir zaman ini engkau semua harus memberi kesaksian bagi Tuhan. Seberat apa pun penderitaanmu, engkau harus menjalaninya sampai akhir, dan bahkan hingga akhir napasmu, engkau tetap harus setia kepada Tuhan dan tunduk pada pengaturan Tuhan; hanya inilah yang disebut benar-benar mengasihi Tuhan, dan hanya inilah kesaksian yang kuat dan bergema. Ketika engkau dicobai oleh Iblis, engkau harus berkata, "Hatiku milik Tuhan, dan Tuhan telah mendapatkan aku. Aku tidak bisa memuaskanmu—aku harus mengabdikan seluruh diriku untuk memuaskan Tuhan." Semakin engkau memuaskan Tuhan, semakin Dia akan memberkatimu, dan semakin besar kekuatan kasihmu bagi Tuhan; demikian pula engkau akan memiliki iman dan tekad, dan akan merasa bahwa tidak ada yang lebih berharga atau bermakna dibandingkan kehidupan yang dihabiskan untuk mengasihi Tuhan. Bisa dikatakan bahwa manusia hanya perlu mengasihi Tuhan agar bisa hidup tanpa dukacita. Walaupun akan ada waktunya ketika dagingmu lemah dan engkau dilanda banyak masalah nyata, jika pada waktu itu engkau benar-benar bergantung kepada Tuhan, di dalam rohmu, engkau akan dihiburkan, engkau akan merasa tenang, dan engkau akan memiliki sesuatu untuk bergantung. Dengan cara ini, engkau akan mampu mengatasi banyak lingkungan, sehingga engkau tidak akan mengeluh tentang Tuhan karena kesengsaraan yang engkau derita. Sebaliknya, engkau akan ingin menyanyi, menari, dan berdoa, berkumpul dan bersekutu, memikirkan Tuhan, dan engkau akan merasakan bahwa semua orang, peristiwa, dan berbagai hal di sekelilingmu yang diatur oleh Tuhan, semuanya itu sesuai. Jika engkau tidak mengasihi Tuhan, engkau akan merasa segalanya tidak sesuai dengan keinginanmu dan tidak ada yang akan menyenangkan matamu; dalam rohmu, engkau tidak akan bebas, melainkan tertindas, hatimu akan selalu mengeluh tentang Tuhan, dan engkau akan selalu merasa bahwa engkau sangat menderita, serta merasa diperlakukan tidak adil. Jika engkau tidak mengejar demi kebahagiaan, melainkan untuk memuaskan Tuhan dan agar tidak dituduh oleh Iblis, pengejaran seperti itu akan memberimu kekuatan besar untuk mengasihi Tuhan. Manusia mampu melakukan segala hal yang diucapkan oleh Tuhan, dan segala sesuatu yang dilakukannya mampu memuaskan Tuhan—itulah artinya memiliki kenyataan. Mengejar kepuasan Tuhan berarti menggunakan hatimu yang mengasihi Tuhan untuk menerapkan firman-Nya; kapan pun waktunya—sekalipun orang lain tidak memiliki kekuatan—di dalam dirimu tetap ada hati yang mengasihi Tuhan, dan engkau mendambakan serta merindukan Tuhan dari lubuk hatimu. Inilah tingkat pertumbuhan yang nyata. Seberapa besar tingkat pertumbuhanmu, itu tergantung pada seberapa besar hati yang mengasihi Tuhan yang kaumiliki, pada apakah engkau bisa tetap berdiri teguh ketika diuji, apakah engkau lemah ketika situasi tertentu melandamu, dan apakah engkau bisa mempertahankan pendirian ketika saudara-saudarimu menolakmu; terjadinya fakta-fakta akan menunjukkan seperti apa hatimu yang mengasihi Tuhan tersebut. Bisa dilihat dari banyak pekerjaan Tuhan bahwa Tuhan benar-benar mengasihi manusia, hanya saja mata roh manusia belum sepenuhnya terbuka, dan tidak mampu melihat dengan jelas banyak karya Tuhan dan maksud Tuhan, maupun banyak hal yang indah tentang Tuhan; manusia memiliki terlalu sedikit kasih sejati bagi Tuhan. Engkau telah percaya kepada Tuhan selama ini, dan sekarang Tuhan telah meniadakan semua sarana untuk melarikan diri. Sesungguhnya, engkau tidak punya pilihan kecuali mengambil jalan yang benar, dan penghakiman yang keras serta keselamatan agung dari Tuhan-lah yang menuntunmu ke jalan yang benar ini. Hanya setelah mengalami kesulitan dan pemurnian, manusia bisa mengetahui bahwa Tuhan itu indah. Setelah menimba pengalaman sampai saat ini, bisa dikatakan bahwa manusia telah mengenal sebagian dari keindahan Tuhan, tetapi ini tetap belum cukup, karena manusia begitu kurang. Manusia harus mengalami lebih banyak pekerjaan Tuhan yang ajaib dan lebih banyak pemurnian yang menyakitkan yang diatur oleh Tuhan. Hanya dengan begitu, barulah watak hidup manusia bisa berubah.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Hanya dengan Mengalami Ujian-Ujian yang Menyakitkan Engkau Semua Bisa Mengenal Keindahan Tuhan"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 507

Engkau semua sedang berada di tengah ujian dan pemurnian. Bagaimana seharusnya engkau mengasihi Tuhan selama pemurnian? Setelah mengalami pemurnian, orang mampu memanjatkan pujian sejati kepada Tuhan, dan di tengah pemurnian, mereka dapat melihat bahwa mereka penuh kekurangan. Semakin besar pemurnianmu, makin engkau mampu memberontak terhadap daging; semakin besar pemurnian yang orang alami, semakin besar pula kasih mereka kepada Tuhan. Inilah yang harus engkau semua pahami. Mengapa orang harus dimurnikan? Dampak apa yang ingin dicapai? Apa makna penting pekerjaan pemurnian oleh Tuhan dalam diri manusia? Apabila engkau sungguh-sungguh mencari Tuhan, maka setelah mengalami pemurnian-Nya hingga taraf tertentu engkau akan merasakan bahwa itu sungguh baik, dan sangat penting. Bagaimana seharusnya manusia mengasihi Tuhan selama pemurnian? Dengan menggunakan tekad untuk mengasihi Tuhan untuk menerima pemurnian-Nya: selama pemurnian engkau akan merasa tersiksa dalam batinmu, seolah-olah sebuah pisau dipelintir dalam hatimu, tetapi engkau bersedia memuaskan Tuhan dengan menggunakan hatimu yang mengasihi Tuhan, dan engkau tidak mau memedulikan daging. Inilah yang dimaksud dengan menyatakan kasih kepada Tuhan. Engkau terluka dalam batinmu, dan penderitaanmu telah mencapai titik tertentu, tetapi engkau tetap bersedia datang ke hadapan Tuhan dan berdoa: "Ya, Tuhan! Aku tidak dapat meninggalkan Engkau. Walaupun ada kegelapan dalam diriku, aku ingin memuaskan-Mu; Engkau mengenal hatiku, dan kiranya Engkau mencurahkan lebih banyak kasih-Mu dalam diriku." Inilah yang diterapkan selama pemurnian. Jika engkau menggunakan hatimu yang mengasihi Tuhan sebagai dasar, pemurnian dapat membuatmu lebih dekat kepada Tuhan dan menjadikanmu lebih intim dengan Tuhan. Karena engkau percaya kepada Tuhan, engkau harus menyerahkan hatimu di hadapan Tuhan. Jika engkau mempersembahkan dan menempatkan hatimu di hadapan Tuhan, selama pemurnian, engkau pasti tidak akan menyangkal, atau meninggalkan Tuhan. Dengan demikian, hubunganmu dengan Tuhan akan menjadi makin dekat dan makin normal, dan persekutuanmu dengan Tuhan akan menjadi makin sering. Jika engkau selalu menerapkannya seperti ini, engkau akan lebih sering hidup di dalam terang Tuhan, lebih sering hidup di bawah bimbingan firman-Nya. Watakmu juga makin lama akan makin berubah, dan pemahamanmu akan bertambah hari demi hari. Ketika harinya tiba, saat ujian dari Tuhan tiba-tiba menimpamu, engkau bukan saja akan mampu berdiri di pihak Tuhan, engkau juga akan mampu bersaksi bagi Tuhan. Pada saat itu, engkau akan seperti Ayub dan seperti Petrus. Setelah bersaksi bagi Tuhan, engkau akan menjadi orang yang sungguh-sungguh mengasihi Dia, dan akan dengan senang hati mengorbankan nyawamu demi Dia; engkau akan menjadi saksi Tuhan, orang yang dikasihi Tuhan. Kasih yang telah mengalami pemurnian itu kuat, tidak rapuh. Kapan pun dan bagaimana pun Tuhan mengujimu, engkau mampu mengesampingkan soal hidup dan matimu, dengan senang hati meninggalkan segalanya demi Tuhan, dan dengan sukacita menanggung apa pun bagi Tuhan—dengan demikian, kasihmu akan murni dan imanmu akan memiliki kenyataan. Hanya dengan begitu, engkau akan menjadi orang yang sungguh-sungguh dikasihi Tuhan, dan yang sungguh-sungguh disempurnakan oleh Tuhan.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Hanya dengan Mengalami Pemurnian, Manusia Dapat Memiliki Kasih Sejati"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 508

Jika orang jatuh ke dalam pengaruh Iblis, mereka tidak memiliki kasih kepada Tuhan dalam diri mereka, dan visi, kasih, serta tekad mereka sebelumnya telah lenyap. Dahulu orang merasa bahwa mereka harus menderita bagi Tuhan, tetapi kini mereka berpikir bahwa melakukan itu sungguh memalukan, dan mereka berkeluh kesah tiada henti. Inilah pekerjaan Iblis, suatu tanda bahwa manusia telah jatuh ke bawah kuasa Iblis. Apabila engkau mengalami keadaan ini, engkau harus berdoa, dan membalikkan situasi secepat engkau bisa—ini akan melindungimu terhadap serangan Iblis. Selama berlangsungnya pemurnian yang pahitlah manusia menjadi paling rentan jatuh ke dalam pengaruh Iblis, jadi bagaimanakah seharusnya engkau mengasihi Tuhan selama pemurnian seperti itu? Engkau harus membulatkan tekadmu, menyerahkan hatimu di hadapan Tuhan dan mengabdikan seluruh waktumu untuk-Nya. Seperti apa pun cara Tuhan memurnikanmu, engkau harus mampu melakukan kebenaran guna memenuhi maksud-maksud Tuhan, dan engkau sendiri harus berinisiatif mencari Tuhan dan melakukan persekutuan. Pada masa-masa seperti ini, semakin engkau pasif, semakin negatif pula engkau akan bersikap, dan semakin mudah bagimu untuk mengalami kemunduran. Ketika perlu bagimu untuk menunaikan fungsimu, walaupun engkau tidak menunaikannya dengan baik, engkau melakukannya sebaik yang engkau bisa dan melakukannya semata-mata dengan menggunakan hatimu yang mengasihi Tuhan; apa pun yang orang lain katakan—entah mereka mengatakan bahwa engkau melakukannya dengan baik, atau bahwa engkau melakukannya dengan buruk—secara umum, niatmu sudah benar, dan engkau tidak menganggap diri benar, karena engkau bertindak demi kepentingan Tuhan. Ketika orang lain salah menafsirkanmu, engkau mampu berdoa kepada Tuhan dan berkata: "Ya, Tuhan! Aku tidak meminta orang lain menoleransiku, atau memperlakukan aku dengan baik, juga tidak meminta agar mereka mengerti atau menyetujui aku. Aku hanya meminta agar aku mampu mengasihi-Mu dalam hatiku, agar aku tenang di dalam hatiku, dan agar hati nuraniku jernih. Aku tidak meminta orang lain memujiku, atau menghormatiku; aku hanya berusaha untuk memuaskan-Mu dari hatiku; aku menjalani peranku dengan segenap kemampuanku, dan walaupun aku dungu dan bodoh, berkualitas rendah dan buta, aku tahu bahwa Engkau indah, dan aku rela mengabdikan segala yang kumiliki kepada-Mu." Begitu engkau berdoa seperti ini, hatimu yang mengasihi Tuhan akan muncul, dan engkau akan merasakan kelegaan yang lebih besar dalam hatimu. Inilah yang dimaksud dengan menyatakan kasih kepada Tuhan. Saat engkau mengalami pemurnian, engkau akan gagal dua kali dan berhasil satu kali, atau gagal lima kali dan berhasil dua kali, dan saat engkau mengalami dengan cara ini, hanya di tengah kegagalanlah engkau akan bisa melihat keindahan Tuhan dan menemukan hal-hal yang kurang dalam dirimu. Ketika di kemudian hari engkau menghadapi keadaan seperti itu, engkau harus berhati-hati, mengendalikan langkah-langkahmu, dan berdoa lebih sering. Engkau akan secara bertahap mengembangkan kemampuan untuk menang dalam situasi-situasi seperti itu. Ketika itu terjadi, doa-doamu telah menjadi efektif. Pada saat engkau mendapati dirimu berhasil kali ini, engkau akan merasa puas dalam dirimu, dan ketika engkau berdoa engkau akan bisa merasakan Tuhan, dan bahwa hadirat Roh Kudus tidak meninggalkanmu—hanya pada saat itulah engkau akan tahu bagaimana Tuhan bekerja dalam dirimu. Melakukan dengan cara ini akan memberimu jalan pengalaman. Jika engkau tidak melakukan kebenaran, engkau tidak akan mengalami hadirat Roh Kudus dalam dirimu. Namun, jika engkau melakukan kebenaran saat menghadapi berbagai hal sebagaimana adanya, maka meskipun dalam batinmu engkau terluka, Roh Kudus akan besertamu setelahnya, engkau akan mampu merasakan hadirat Tuhan ketika engkau berdoa, engkau akan memiliki kekuatan untuk menerapkan firman Tuhan, dan selama persekutuan dengan saudara-saudarimu tidak ada yang membebani hati nuranimu dan engkau akan merasa damai, dan dengan cara ini, engkau akan mampu secara terus terang mengungkapkan apa yang telah engkau lakukan. Apa pun yang orang lain katakan, engkau akan mampu memiliki hubungan yang normal dengan Tuhan, engkau tidak akan dikekang oleh orang lain, engkau akan bangkit di atas segalanya—dan dalam hal ini, engkau akan menunjukkan bahwa penerapan firman Tuhan yang engkau lakukan sudah efektif.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Hanya dengan Mengalami Pemurnian, Manusia Dapat Memiliki Kasih Sejati"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 509

Semakin Tuhan memurnikan manusia, semakin hati orang mampu mengasihi Tuhan. Penderitaan dalam hati mereka bermanfaat bagi hidup mereka, mereka lebih mampu untuk menjadi tenang di hadapan Tuhan, hubungan mereka dengan Tuhan bertambah dekat, dan mereka lebih mampu melihat kasih Tuhan yang luar biasa besar dan penyelamatan-Nya yang luar biasa besar. Petrus mengalami pemurnian hingga ratusan kali, dan Ayub menjalani sejumlah ujian. Jika engkau semua ingin disempurnakan oleh Tuhan, engkau pun harus mengalami pemurnian ratusan kali—engkau harus melewati proses ini dan melalui langkah ini—hanya dengan begitu engkau akan dapat memenuhi maksud-maksud Tuhan dan dijadikan sempurna oleh Tuhan. Pemurnian merupakan cara terbaik yang Tuhan gunakan untuk menyempurnakan manusia; hanya pemurnian dan ujian pahit yang dapat memunculkan kasih sejati kepada Tuhan dalam hati manusia. Tanpa penderitaan, orang tidak memiliki kasih yang sejati kepada Tuhan; jika mereka tidak diuji di dalam batinnya, jika mereka tidak mengalami pemurnian yang sejati, hati mereka akan selalu mengembara entah ke mana. Setelah dimurnikan hingga taraf tertentu, engkau akan melihat kelemahan dan kesulitanmu sendiri, engkau akan melihat seberapa banyak kekuranganmu dan bahwa engkau tidak mampu mengatasi banyaknya masalah yang engkau hadapi, dan engkau akan melihat seberapa banyak pemberontakanmu. Hanya selama ujianlah, orang mampu untuk benar-benar mengetahui keadaan mereka yang sesungguhnya; ujian bahkan lebih mampu untuk menyempurnakan orang.

Selama masa hidupnya, Petrus mengalami pemurnian ratusan kali dan menjalani banyak penempaan yang menyakitkan. Pemurnian ini menjadi landasan kasihnya yang terdalam kepada Tuhan, dan merupakan pengalaman paling bermakna dalam seluruh hidupnya. Alasan mengapa dia mampu memiliki kasih yang terdalam kepada Tuhan, di satu sisi, karena tekadnya untuk mengasihi Tuhan; tetapi, yang lebih penting, itu karena pemurnian dan penderitaan yang dia lalui. Penderitaan ini menjadi penuntunnya di jalan mengasihi Tuhan, dan merupakan hal yang paling berkesan baginya. Apabila orang tidak mengalami penderitaan pemurnian tatkala mengasihi Tuhan, kasih mereka sarat dengan ketidakmurnian dan preferensi pribadi mereka; kasih seperti ini penuh dengan niat Iblis, dan pada dasarnya tidak dapat memenuhi maksud-maksud Tuhan. Memiliki tekad untuk mengasihi Tuhan belum dapat dianggap sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Meskipun semua yang mereka pikirkan dalam hati mereka adalah demi mengasihi dan memuaskan Tuhan, dan sepertinya demi Tuhan dan tanpa adanya ide-ide manusia, tetapi ketika penerapan mengasihi Tuhan semacam itu dibawa ke hadapan-Nya, Dia tidak berkenan ataupun memberkatinya. Sekalipun orang memahami sepenuhnya dan telah mengenal seluruh kebenaran, ini tidak dapat dikatakan sebagai tanda mengasihi Tuhan, tidak dapat dikatakan bahwa orang-orang ini memiliki kenyataan mengasihi Tuhan. Meskipun orang telah memahami banyak kebenaran sebelum menjalani pemurnian, mereka tidak mampu menerapkan kebenaran-kebenaran ini; hanya selama pemurnianlah, orang dapat memahami makna sesungguhnya dari kebenaran-kebenaran ini, hanya setelah itulah, orang dapat benar-benar merasakan maknanya yang sesungguhnya. Pada saat itu, ketika mereka kembali menerapkan kebenaran ini, mereka mampu melakukan dengan tepat, dan sesuai dengan maksud-maksud Tuhan; dalam penerapan mereka pada saat itu, ide-ide mereka sendiri menjadi berkurang, kerusakan manusia mereka berkurang, dan perasaan manusia mereka menurun; hanya pada saat itulah penerapan yang mereka lakukan menjadi perwujudan sejati dari kasih kepada Tuhan. Hasil kebenaran kasih kepada Tuhan tidak diraih lewat pemahaman di bibir saja atau kesediaan mental, dan itu juga tidak dapat diraih cukup dengan memahami kebenaran tersebut. Ini menuntut agar orang membayar harga, agar mereka mengalami banyak penderitaan selama pemurnian, dan hanya setelah itulah, kasih mereka akan menjadi murni dan sejalan dengan maksud-maksud Tuhan.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Hanya dengan Mengalami Pemurnian, Manusia Dapat Memiliki Kasih Sejati"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 510

Diperhadapkan dengan keadaan manusia dan sikap manusia terhadap Tuhan, Tuhan telah melakukan pekerjaan baru, yang memungkinkan manusia untuk memiliki pengetahuan serta ketundukan kepada-Nya, dan kasih juga kesaksian. Jadi, manusia harus mengalami pemurnian Tuhan terhadap dirinya, juga penghakiman dan pemangkasan Tuhan terhadap dirinya, karena tanpa itu manusia tidak akan pernah dapat mengenal Tuhan dan tidak pernah akan mampu sungguh-sungguh mengasihi dan menjadi kesaksian bagi-Nya. Pemurnian manusia oleh Tuhan bukanlah semata-mata demi mencapai dampak yang sepihak, tetapi demi mencapai dampak dari berbagai segi. Jadi, Tuhan melakukan pekerjaan pemurnian dalam diri mereka yang bersedia mencari kebenaran, yaitu agar tekad dan kasih mereka disempurnakan oleh Tuhan. Bagi mereka yang bersedia mencari kebenaran dan yang mendambakan Tuhan, tidak ada hal lain yang lebih bermakna, atau lebih membantu, daripada pemurnian seperti ini. Watak Tuhan tidak semudah itu dimengerti atau dipahami oleh manusia, karena Tuhan, bagaimanapun juga, adalah Tuhan. Yang terutama, tidaklah mungkin bagi Tuhan untuk memiliki watak yang sama dengan manusia, dan karena itu tidaklah mudah bagi manusia untuk memahami watak-Nya. Kebenaran tidak dimiliki oleh manusia secara inheren, dan itu tidak mudah dipahami oleh mereka yang telah dirusak Iblis; manusia tidak memiliki kebenaran, dan tidak memiliki tekad untuk melakukan kebenaran, dan jika dia tidak menderita dan tidak dimurnikan atau dihakimi, tekadnya tersebut tidak pernah akan dijadikan sempurna. Bagi semua orang, pemurnian sungguh menyakitkan, dan sangat sulit untuk diterima—tetapi, selama pemurnianlah Tuhan menyingkapkan watak-Nya yang benar kepada manusia, dan membuat tuntutan-Nya terhadap manusia terbuka, dan memberikan lebih banyak pencerahan, dan lebih banyak pemangkasan yang nyata. Melalui pembandingan antara fakta dan kebenaran, manusia memperoleh pengetahuan yang lebih besar tentang dirinya sendiri dan tentang kebenaran, serta memperoleh pemahaman yang lebih besar tentang maksud-maksud Tuhan sehingga manusia dapat memiliki kasih akan Tuhan yang lebih benar dan lebih murni. Itulah tujuan-tujuan Tuhan dalam menjalankan pekerjaan pemurnian. Semua pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan dalam diri manusia memiliki tujuan dan makna penting; Tuhan tidak melakukan pekerjaan yang tidak berarti, Dia juga tidak melakukan pekerjaan yang tidak bermanfaat bagi manusia. Pemurnian bukan berarti menyingkirkan manusia dari hadapan Tuhan, juga bukan berarti memusnahkan mereka di neraka. Sebaliknya, itu berarti mengubah watak manusia selama pemurnian, mengubah niat-niatnya, pandangan-pandangan lamanya, mengubah kasihnya kepada Tuhan, dan mengubah seluruh hidupnya. Pemurnian merupakan ujian nyata manusia, dan suatu bentuk pelatihan yang nyata, dan hanya selama pemurnianlah kasih manusia dapat memenuhi fungsinya yang inheren.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Hanya dengan Mengalami Pemurnian, Manusia Dapat Memiliki Kasih Sejati"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 511

Jika engkau percaya kepada Tuhan, engkau harus tunduk pada Tuhan, melakukan kebenaran, dan melakukan semua tugasmu. Selain itu, engkau harus memahami hal-hal yang harus engkau alami. Jika engkau hanya mengalami dirimu dipangkas, didisiplinkan, dan dihakimi, jika engkau hanya mampu menikmati Tuhan, tetapi tetap tidak mampu merasakan ketika Tuhan sedang mendisiplinkan atau memangkas dirimu—ini tidak bisa diterima. Mungkin dalam peristiwa pemurnian ini, engkau masih mampu bertahan, tetapi ini masih belum cukup; engkau masih harus terus bergerak maju. Pelajaran mengasihi Tuhan tidak pernah berhenti, dan tidak akan pernah ada akhirnya. Manusia memandang percaya kepada Tuhan sebagai sesuatu yang sangat sederhana, tetapi begitu mereka mendapat sedikit pengalaman praktis, mereka kemudian menyadari bahwa percaya kepada Tuhan itu tidaklah sesederhana yang orang bayangkan. Ketika Tuhan bekerja untuk memurnikan manusia, manusia menderita. Makin besar pemurnian yang mereka alami, makin mereka memiliki hati yang mengasihi Tuhan, dan akan makin besar kekuatan Tuhan dinyatakan dalam dirinya. Sebaliknya, makin sedikit orang mengalami pemurnian, makin sedikit mereka memiliki hati yang mengasihi Tuhan dan akan makin sedikit kekuatan Tuhan dinyatakan di dalam diri mereka. Semakin besar pemurnian dan penderitaan seseorang, dan semakin besar siksaan yang mereka alami, akan semakin dalam kasihnya kepada Tuhan, akan menjadi semakin murni imannya kepada Tuhan, dan akan semakin mendalam pengenalannya akan Tuhan. Dalam pengalamanmu, engkau akan melihat bahwa orang-orang yang mengalami pemurnian dan penderitaan yang berat, yang menerima banyak pemangkasan dan disiplin, memiliki kasih yang dalam kepada Tuhan serta pengenalan akan Tuhan yang lebih mendalam dan menyeluruh, dan bahwa mereka yang belum pernah mengalami pemangkasan hanya akan memiliki pengenalan yang dangkal. Mereka hanya bisa berkata: "Tuhan itu begitu baik, Dia memberikan anugerah kepada manusia sehingga manusia bisa menikmati-Nya." Jika orang telah dipangkas dan didisiplinkan Tuhan, mereka akan mampu membicarakan tentang pengenalan yang benar akan Tuhan. Jadi, semakin luar biasa pekerjaan Tuhan dalam diri manusia, semakin berharga dan bermakna pekerjaan itu. Semakin tak terselami itu bagimu dan semakin tidak sesuai dengan gagasanmu, semakin pekerjaan Tuhan itu mampu menaklukkanmu, mendapatkanmu, dan menjadikanmu sempurna. Betapa dalamnya makna penting pekerjaan Tuhan! Jika Tuhan tidak memurnikan manusia dengan cara ini, jika Dia tidak bekerja dengan metode ini, pekerjaan-Nya akan menjadi tidak efektif dan tanpa makna. Dikatakan di masa lalu bahwa Tuhan akan memilih dan mendapatkan kelompok orang ini, dan menyempurnakan mereka pada akhir zaman; dalam hal ini terkandung makna penting yang luar biasa. Semakin besar pekerjaan yang dikerjakan-Nya dalam dirimu, semakin dalam dan semakin murni kasihmu kepada Tuhan. Semakin besar pekerjaan Tuhan, semakin manusia mampu memahami sesuatu dari hikmat-Nya dan semakin dalam pengenalan manusia akan Dia. Selama akhir zaman, 6.000 tahun rencana pengelolaan Tuhan akan berakhir. Mungkinkah itu benar-benar berakhir dengan sedemikian mudahnya? Begitu Dia menaklukkan umat manusia, akankah pekerjaan-Nya itu berakhir? Mungkinkah sesederhana itu? Manusia memang membayangkannya sesederhana itu, tetapi apa yang Tuhan lakukan tidaklah sesederhana itu. Setiap bagian pekerjaan yang Tuhan lakukan tidak terselami oleh manusia. Jika engkau mampu menyelami pekerjaan Tuhan, pekerjaan Tuhan itu akan menjadi tak bermakna atau tak bernilai. Pekerjaan yang Tuhan lakukan tidak dapat diselami; itu terlalu bertentangan dengan gagasanmu, dan semakin tidak dapat diselami oleh pemahamanmu, semakin terlihat bahwa pekerjaan Tuhan bermakna: jika pekerjaan Tuhan sesuai dengan gagasanmu, pekerjaan Tuhan itu akan menjadi tidak bermakna. Hari ini, engkau merasa bahwa pekerjaan Tuhan sangatlah ajaib, dan semakin ajaib, semakin engkau merasa bahwa Tuhan tak terselami, dan engkau melihat betapa besar perbuatan Tuhan itu. Jika Dia hanya melakukan pekerjaan yang dangkal dan biasa-biasa saja untuk menaklukkan manusia dan tidak melakukan hal lain setelah itu, manusia tidak akan mampu melihat makna penting dari pekerjaan Tuhan. Walau engkau mengalami sedikit pemurnian sekarang ini, itu adalah keuntungan besar bagi pertumbuhanmu dalam kehidupan; jadi sangat perlu bagimu untuk mengalami kesukaran seperti itu. Hari ini, engkau mengalami sedikit pemurnian, tetapi setelahnya engkau akan benar-benar mampu melihat perbuatan Tuhan dan pada akhirnya engkau akan berkata: "Perbuatan Tuhan begitu ajaib!" Perkataan inilah yang akan ada dalam hatimu. Setelah mengalami pemurnian Tuhan untuk sejangka waktu (pengujian bagi pelaku pelayanan dan masa hajaran), pada akhirnya sebagian orang akan berkata: "Percaya kepada Tuhan sangat sulit!" Perkataan "sangat sulit" yang mereka gunakan menunjukkan bahwa perbuatan Tuhan memang tak terselami, bahwa pekerjaan Tuhan sangatlah bermakna dan bernilai, dan sangat layak dihargai oleh manusia. Jika, setelah Aku melakukan begitu banyak pekerjaan, engkau tidak sedikit pun memiliki pengetahuan, apakah pekerjaan-Ku masih memiliki nilai? Itu akan membuatmu berkata: "Pelayanan kepada Tuhan itu benar-benar sulit, perbuatan Tuhan sangat ajaib, Tuhan benar-benar bijak! Tuhan itu begitu indah!" Jika, setelah melewati satu masa pengalaman, engkau bisa mengatakan hal tersebut, hal ini membuktikan bahwa engkau sudah mendapatkan pekerjaan Tuhan dalam dirimu. Suatu hari, ketika engkau berada di negara lain untuk menyebarkan Injil dan seseorang bertanya kepadamu: "Bagaimana mengenai imanmu kepada Tuhan?" engkau akan bisa berkata: "Tindakan Tuhan begitu menakjubkan!" Mereka akan merasakan bahwa kata-katamu itu membicarakan tentang pengalaman nyata. Inilah kesaksian yang sejati. Engkau akan mengatakan pekerjaan Tuhan penuh hikmat, dan pekerjaan-Nya dalam dirimu benar-benar meyakinkanmu dan menaklukkan hatimu. Engkau akan selalu mengasihi-Nya karena Dia lebih dari layak untuk menerima kasih manusia! Jika engkau bisa mengatakan hal-hal ini, engkau bisa menggerakkan hati orang. Semua inilah yang dimaksud dengan memberi kesaksian. Jika engkau bisa memberi kesaksian yang berkumandang, menggerakkan orang hingga menangis, itu menunjukkan engkau benar-benar orang yang mengasihi Tuhan, karena engkau mampu bersaksi tentang mengasihi Tuhan, dan melalui dirimu, tindakan Tuhan dapat dipersaksikan dalam kesaksianmu. Melalui kesaksianmu, orang lain menjadi rindu untuk mencari pekerjaan Tuhan, untuk mengalami pekerjaan Tuhan, dan di lingkungan apa pun mereka berada, mereka mampu untuk berdiri teguh. Hanya inilah cara yang benar memberi kesaksian dan inilah tepatnya yang dituntut darimu saat ini. Engkau harus melihat bahwa pekerjaan Tuhan sangat berharga dan layak dihargai oleh manusia, bahwa Tuhan sangat berharga dan begitu berlimpah; Dia tidak hanya bisa berfirman, tetapi Dia juga menghakimi manusia, memurnikan hati mereka, memberi mereka kenikmatan, mendapatkan mereka, menaklukkan mereka, dan menyempurnakan mereka. Dari pengalamanmu, engkau akan melihat bahwa Tuhan sungguh layak dikasihi. Jadi, seberapa dalamkah engkau mengasihi Tuhan saat ini? Apakah engkau benar-benar bisa mengatakannya dari hatimu? Ketika engkau mampu mengungkapkan kata-kata ini dari kedalaman hatimu, engkau akan bisa memberi kesaksian. Begitu pengalamanmu telah mencapai tingkat ini, engkau akan mampu menjadi saksi bagi Tuhan, dan engkau akan memenuhi syarat. Jika engkau tidak mencapai tingkat ini dalam pengalamanmu, berarti engkau masih terlalu jauh. Wajar jika orang mengalami kelemahan selama proses pemurnian, tetapi setelah pemurnian engkau seharusnya mampu mengatakan: "Tuhan sangat berhikmat dalam pekerjaan-Nya!" Jika engkau sungguh-sungguh mampu mendapatkan pemahaman praktis dari perkataan ini, maka itu akan menjadi sesuatu yang sangat berharga bagimu, dan pengalamanmu akan menjadi bernilai.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Mereka yang Akan Disempurnakan Harus Mengalami Pemurnian"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 512

Apa yang seharusnya kaukejar sekarang? Apakah engkau mampu memberi kesaksian tentang pekerjaan Tuhan, apakah engkau mampu menjadi kesaksian dan perwujudan Tuhan, dan apakah engkau layak dipakai oleh-Nya—inilah hal-hal yang harus kaukejar. Berapa banyak pekerjaan yang Tuhan lakukan dalam dirimu? Berapa banyak yang telah kaulihat, berapa banyak yang telah kaupahami? Berapa banyak yang telah kaualami dan kaurasakan? Entah Tuhan telah mengujimu, memangkasmu, atau mendisiplinkanmu, tindakan-Nya dan pekerjaan-Nya telah dilakukan atasmu. Namun, sebagai orang yang percaya kepada Tuhan dan orang yang bersedia mengejar demi disempurnakan oleh-Nya, apakah engkau mampu bersaksi tentang pekerjaan Tuhan berdasarkan pengalaman nyatamu sendiri? Bisakah engkau hidup dalam firman Tuhan melalui pengalaman nyatamu? Apakah engkau mampu membekali orang lain melalui pengalaman nyatamu sendiri, dan mengorbankan seluruh hidupmu untuk bersaksi tentang pekerjaan Tuhan? Untuk bersaksi tentang pekerjaan Tuhan, engkau harus mengandalkan pengalamanmu, pengetahuanmu, dan harga yang sudah kaubayar. Hanya dengan begitulah engkau dapat memenuhi maksud-Nya. Apakah engkau orang yang bersaksi tentang pekerjaan Tuhan? Apakah engkau memiliki tekad ini? Jika engkau mampu bersaksi tentang nama-Nya, dan terlebih lagi, tentang pekerjaan-Nya, dan jika engkau dapat hidup dalam gambar umat-Nya yang Dia tuntut, berarti engkau adalah saksi bagi Tuhan. Bagaimana tepatnya engkau bersaksi tentang Tuhan? Jika engkau mengejar dan merindukan untuk hidup dalam firman Tuhan, dan memberi kesaksian dengan mulutmu sendiri, agar orang dapat mengenal pekerjaan-Nya dan melihat perbuatan-Nya—jika engkau sungguh-sungguh mengejar semua ini, Tuhan akan menyempurnakanmu. Jika yang kaukejar hanyalah disempurnakan oleh Tuhan dan akhirnya diberkati, perspektifmu tentang kepercayaan kepada Tuhan tidaklah murni. Engkau seharusnya mengejar bagaimana melihat perbuatan Tuhan dalam kehidupan nyata, bagaimana memuaskan-Nya ketika Dia menyingkapkan maksud-Nya kepadamu, dan mengejar bagaimana engkau harus memberi kesaksian tentang keajaiban dan hikmat-Nya, serta bagaimana bersaksi tentang cara-Nya mendisiplinkan dan memangkasmu. Semua ini adalah hal-hal yang harus kaurenungkan. Jika hatimu yang mengasihi Tuhan semata-mata agar engkau dapat memperoleh kemuliaan bersama-Nya setelah Dia menyempurnakanmu, itu masih belum cukup dan tidak bisa memenuhi tuntutan Tuhan. Engkau harus mampu secara nyata memberi kesaksian tentang pekerjaan Tuhan, secara nyata memenuhi tuntutan-Nya, dan secara nyata mengalami pekerjaan yang telah Dia lakukan dalam diri manusia. Entah itu penderitaan, air mata, atau kesedihan, engkau harus mengalami semua ini secara nyata. Semua itu dimaksudkan untuk menyempurnakanmu sebagai saksi bagi Tuhan. Sebenarnya, apa yang mendorongmu untuk menderita dan mencari penyempurnaan? Apakah penderitaanmu saat ini benar-benar demi mengasihi Tuhan dan menjadi kesaksian bagi-Nya? Ataukah demi mendapatkan berkat daging, bagi harapan masa depan dan nasibmu? Semua niat, motivasi, dan tujuan yang engkau kejar harus diluruskan dan tidak boleh dituntun oleh kehendakmu sendiri. Jika satu orang mencari penyempurnaan untuk menerima berkat dan memerintah dalam kuasa, sementara yang lain mengejar penyempurnaan untuk memuaskan Tuhan, untuk benar-benar menjadi kesaksian yang nyata tentang pekerjaan Tuhan, yang manakah dari antara kedua pengejaran itu yang akan engkau pilih? Jika engkau memilih yang pertama, engkau masih terlalu jauh dari standar Tuhan. Aku pernah mengatakan bahwa tindakan-tindakan-Ku akan diketahui secara terbuka di seluruh alam semesta dan Aku akan memerintah sebagai Raja di alam semesta. Di sisi lain, apa yang dipercayakan kepada engkau semua adalah untuk pergi dan menjadi kesaksian tentang pekerjaan Tuhan, bukan untuk menjadi raja dan menampakkan diri di seluruh alam semesta. Biarlah pekerjaan Tuhan memenuhi alam semesta dan cakrawala. Biarlah semua orang melihatnya dan mengakuinya. Perkataan ini dikatakan dalam hubungannya dengan Tuhan itu sendiri, dan apa yang harus manusia lakukan adalah menjadi kesaksian bagi Tuhan. Berapa banyak yang engkau ketahui tentang Tuhan sekarang? Seberapa banyak engkau dapat bersaksi tentang Tuhan? Apa tujuan Tuhan menyempurnakan manusia? Begitu engkau mengerti maksud Tuhan, bagaimana engkau harus memperhatikan maksud-Nya? Jika engkau ingin disempurnakan dan ingin memberi kesaksian tentang pekerjaan Tuhan lewat apa yang engkau hidupi, jika engkau memiliki dorongan ini, tidak ada yang terlalu sulit. Yang orang butuhkan saat ini adalah iman. Jika engkau memiliki dorongan ini, dengan mudah engkau akan melepaskan semua kenegatifan, kepasifan, kemalasan, dan gagasan dari daging, falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain, watak pemberontakan, perasaan, dan sebagainya.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Mereka yang Akan Disempurnakan Harus Mengalami Pemurnian"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 513

Sementara mengalami ujian, normal bagi manusia untuk merasa lemah, atau memiliki kenegatifan dalam diri mereka, atau kurang memiliki kejelasan tentang maksud Tuhan atau jalan penerapan. Namun secara keseluruhan, engkau harus memiliki iman dalam pekerjaan Tuhan, dan seperti Ayub, tidak menyangkal Tuhan. Walaupun Ayub lemah dan mengutuki hari kelahirannya sendiri, dia tidak menyangkal bahwa segala sesuatu yang manusia miliki setelah mereka lahir dikaruniakan oleh Yahweh dan Yahweh jugalah yang mengambil semua itu. Apa pun ujian yang dihadapinya, dia tetap mempertahankan keyakinannya ini. Dalam pengalaman manusia, apa pun pemurnian yang mereka alami melalui firman Tuhan, secara umum, yang Tuhan kehendaki adalah iman mereka dan hati yang mengasihi Tuhan. Yang Dia sempurnakan dengan bekerja dengan cara ini adalah iman, kasih dan tekad manusia. Tuhan melakukan pekerjaan penyempurnaan dalam diri manusia, dan mereka tidak bisa melihatnya, tidak bisa menyentuhnya; dalam situasi inilah iman dibutuhkan. Ketika sesuatu tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, iman diperlukan. Ketika engkau tidak bisa melepaskan gagasanmu sendiri, iman juga diperlukan. Ketika engkau tidak mengerti pekerjaan Tuhan, yang dibutuhkan darimu adalah memiliki iman dan bersikap tegas serta tetap teguh dalam kesaksianmu. Ketika Ayub mencapai titik ini, Tuhan menampakkan diri kepadanya dan berbicara kepadanya. Artinya, hanya ketika engkau memiliki iman, barulah engkau akan bisa melihat Tuhan. Ketika engkau memiliki iman, Tuhan akan menyempurnakanmu, dan tanpa iman, Dia tidak bisa menyempurnakanmu. Tuhan akan mengaruniakan kepadamu apa pun yang ingin engkau dapatkan. Jika engkau tidak memiliki iman, engkau tidak bisa disempurnakan dan engkau tidak akan mampu melihat perbuatan Tuhan, apalagi kemahakuasaan-Nya. Dalam pengalaman nyatamu, saat engkau memiliki iman untuk melihat perbuatan-Nya, Tuhan akan menampakkan diri kepadamu dan Dia akan mencerahkan dan membimbingmu dari dalam batinmu. Tanpa iman itu, Tuhan tidak bisa melakukan hal itu. Jika engkau sudah kehilangan harapan kepada Tuhan, bagaimana engkau akan bisa mengalami pekerjaan-Nya? Karena itu, hanya jika engkau memiliki iman dan tidak memendam keraguan terhadap Tuhan, hanya jika engkau memiliki iman yang sejati kepada-Nya apa pun yang Dia lakukan, Dia akan menerangi dan mencerahkanmu melalui pengalamanmu, dan hanya setelah itulah engkau akan bisa melihat perbuatan-Nya. Semua ini dicapai melalui iman. Iman hanya diperoleh melalui pemurnian, dan tanpa pemurnian, iman tidak dapat muncul. Apa yang dimaksud dengan iman? Iman adalah kepercayaan yang sejati dan hati yang tulus yang harus manusia miliki ketika mereka tidak bisa melihat atau menyentuh sesuatu, ketika pekerjaan Tuhan tidak sesuai dengan gagasan manusia, ketika itu di luar jangkauan manusia. Inilah iman yang Aku maksudkan. Manusia membutuhkan iman selama masa-masa penderitaan dan selama masa-masa pemurnian, dan ketika mereka memiliki iman, mereka kemudian menghadapi pemurnian—pemurnian dan iman tidak bisa terpisahkan. Jika, bagaimanapun cara Tuhan bekerja, dan apa pun lingkunganmu, engkau mampu mengejar kehidupan, mencari kebenaran, mengejar pengetahuan akan pekerjaan Tuhan, serta berusaha memahami perbuatan-Nya, dan mampu bertindak sesuai kebenaran, inilah yang disebut memiliki iman sejati, dan ini membuktikan bahwa engkau belum kehilangan iman kepada Tuhan. Jika, selama masa pemurnian, engkau mampu bertahan dalam mengejar kebenaran, sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, tidak mengembangkan keraguan tentang-Nya, dan apa pun yang Dia lakukan, engkau tetap menerapkan kebenaran untuk memuaskan-Nya, serta mampu mencari maksud-Nya secara mendalam dan memperhatikan maksud-Nya, inilah yang dimaksud dengan iman yang sejati kepada Tuhan. Di masa lalu, ketika Tuhan berkata engkau akan memerintah sebagai raja, engkau mengasihi Dia, dan ketika Dia secara terbuka menunjukkan diri-Nya kepadamu, engkau mengejar-Nya. Namun sekarang Tuhan tersembunyi, engkau tidak bisa melihat-Nya, dan penderitaan menimpamu—pada saat seperti ini, apakah engkau kehilangan harapan kepada Tuhan? Jadi, setiap saat engkau harus mengejar kehidupan dan berusaha memenuhi maksud Tuhan. Inilah yang disebut iman sejati, dan ini adalah kasih yang paling sejati dan paling indah.

Di masa lalu, orang-orang semuanya akan datang ke hadapan Tuhan untuk menyatakan tekad mereka, dan mereka berkata: "Bahkan seandainya tidak ada orang lain yang mengasihi Tuhan, aku harus mengasihi-Nya." Namun sekarang, pemurnian datang menimpamu, dan karena ini tidak sesuai dengan gagasanmu, engkau kehilangan iman kepada Tuhan. Apakah ini kasih yang murni? Engkau sudah membaca berulang kali tentang perbuatan Ayub—apakah engkau sudah lupa? Kasih sejati hanya bisa terbentuk dari dalam iman. Engkau mengembangkan kasih sejati kepada Tuhan lewat pemurnian yang engkau alami, dan melalui imanmu engkau mampu memikirkan maksud Tuhan dalam pengalaman praktismu, dan melalui iman engkau memberontak terhadap dagingmu sendiri dan mengejar kehidupan; inilah yang seharusnya manusia lakukan. Jika engkau melakukan ini, engkau akan mampu melihat tindakan Tuhan, tetapi jika engkau kekurangan iman, engkau tidak akan bisa melihat tindakan Tuhan ataupun mengalami pekerjaan-Nya. Jika engkau ingin dipakai dan disempurnakan oleh Tuhan, engkau harus memiliki setiap aspek kebenaran: tekad untuk menderita, iman, kesabaran, ketundukan, dan kemampuan untuk mencari kebenaran dan memahami maksud Tuhan, kemampuan untuk memperhatikan kesedihan dan niat-Nya yang tekun, dan sebagainya. Menyempurnakan seseorang tidaklah mudah, dan setiap pemurnian yang engkau alami membutuhkan iman dan kasihmu. Jika engkau ingin disempurnakan oleh Tuhan, tidaklah cukup sekadar berlari ke sana kemari, juga tidak cukup sekadar mengorbankan diri bagi Tuhan. Engkau harus memiliki banyak hal supaya bisa menjadi seseorang yang disempurnakan oleh Tuhan. Ketika menghadapi penderitaan, engkau harus mampu untuk tidak memedulikan daging dan tidak mengeluh kepada Tuhan. Ketika Tuhan menyembunyikan diri-Nya darimu, engkau harus mampu memiliki iman untuk mengikuti-Nya, menjaga kasihmu yang terdahulu tanpa membiarkan kasih itu berubah atau menghilang. Apa pun yang Tuhan lakukan, engkau harus membiarkan-Nya mengatur sekehendak hati-Nya dan lebih baik mengutuk dagingmu sendiri daripada mengeluh kepada-Nya. Ketika dihadapkan pada ujian, engkau harus rela menanggung penderitaan karena melepaskan apa yang engkau kasihi dan rela menangis getir untuk memuaskan Tuhan. Hanya inilah kasih yang sejati dan iman yang sejati. Bagaimanapun tingkat pertumbuhanmu yang sebenarnya, engkau harus terlebih dahulu memiliki tekad ini untuk menderita dan iman yang sejati ini, dan engkau juga harus memiliki tekad untuk memberontak terhadap daging. Engkau harus rela menderita secara pribadi dan mengalami kerugian pada kepentingan pribadimu untuk memenuhi maksud Tuhan. Engkau juga harus memiliki hati yang menyesali diri sendiri: Pada masa lalu, engkau tidak mampu memuaskan Tuhan dan sekarang, engkau dapat menyesali dirimu. Engkau tidak boleh kekurangan satu pun dari hal-hal ini—melalui hal-hal inilah Tuhan akan menyempurnakanmu. Jika engkau tidak dapat memenuhi kriteria ini, engkau tidak bisa disempurnakan.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Mereka yang Akan Disempurnakan Harus Mengalami Pemurnian"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 514

Seorang yang melayani Tuhan tidak boleh hanya tahu tentang menderita bagi-Nya; lebih dari itu, mereka harus mengerti bahwa tujuan percaya kepada Tuhan adalah berusaha untuk mengasihi Tuhan. Tuhan memakai dirimu bukan sekadar untuk memurnikanmu dan membuatmu menderita, tetapi Dia memakaimu supaya engkau mengetahui perbuatan-Nya, mengetahui makna sejati hidup manusia, dan secara khusus agar engkau tahu bahwa melayani Tuhan bukanlah tugas yang mudah. Mengalami pekerjaan Tuhan bukanlah tentang menikmati anugerah, tetapi lebih tentang menderita demi kasihmu kepada-Nya. Karena engkau menikmati anugerah Tuhan, engkau juga harus menikmati hajaran-Nya; engkau harus mengalami semua ini. Engkau bisa mengalami pencerahan Tuhan dalam dirimu dan engkau juga bisa merasakan bagaimana dipangkas dan dihakimi Tuhan. Dengan cara demikian, pengalamanmu akan menjadi luas dan lengkap. Tuhan telah melakukan pekerjaan penghakiman dan hajaran-Nya terhadapmu. Firman Tuhan telah memangkasmu, tetapi bukan hanya itu; firman Tuhan juga telah mencerahkan dan menerangimu. Ketika engkau negatif dan lemah, Tuhan mengkhawatirkan dirimu. Semua pekerjaan ini dimaksudkan supaya engkau tahu bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia berada dalam pengaturan Tuhan. Engkau mungkin berpikir bahwa percaya kepada Tuhan adalah tentang penderitaan atau melakukan segala macam hal bagi-Nya; engkau mungkin berpikir bahwa tujuan percaya kepada Tuhan adalah agar dagingmu merasakan kedamaian, atau agar segala sesuatu dalam hidupmu berjalan lancar, atau agar engkau merasa nyaman dan tenang dalam segala hal. Namun, tak satu pun dari hal-hal ini merupakan tujuan yang harus manusia capai dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan. Jika engkau percaya demi tujuan-tujuan ini, berarti sudut pandangmu itu salah dan sama sekali tidak mungkin bagimu untuk disempurnakan. Tindakan Tuhan, watak Tuhan yang benar, hikmat-Nya, firman-Nya, keajaiban-Nya serta diri-Nya yang tak terselami, semua itulah yang harus manusia pahami. Engkau harus menggunakan pemahaman ini untuk menyingkirkan dari dalam hatimu semua tuntutan, harapan dan gagasan pribadimu. Hanya dengan menyingkirkan hal-hal ini, engkau bisa memenuhi syarat yang dituntut oleh Tuhan, dan hanya dengan melakukan ini, engkau bisa memiliki hidup dan memuaskan Tuhan. Tujuan percaya kepada Tuhan adalah untuk memuaskan-Nya dan hidup dalam watak yang Dia inginkan, sehingga tindakan dan kemuliaan-Nya dapat terwujud lewat sekelompok orang yang tidak layak ini. Inilah cara pandang yang benar untuk percaya kepada Tuhan, dan ini juga merupakan tujuan yang harus engkau capai. Engkau harus memiliki cara pandang yang benar dalam memercayai Tuhan dan engkau harus berusaha mendapatkan firman Tuhan. Engkau perlu makan dan minum firman Tuhan dan harus bisa hidup dalam kebenaran dan terutama engkau harus mampu melihat perbuatan-perbuatan-Nya yang nyata, perbuatan-Nya yang menakjubkan di seluruh alam semesta, juga pekerjaan nyata yang Dia lakukan dalam daging. Melalui pengalaman praktis mereka, manusia bisa menghargai bagaimana Tuhan melakukan pekerjaan-Nya dalam diri mereka dan apa yang menjadi maksud-Nya bagi mereka. Tujuan semua ini adalah untuk menyingkirkan watak mereka yang rusak dan jahat. Setelah engkau menyingkirkan dari dalam dirimu kecemaran dan ketidakbenaran, dan setelah engkau membersihkan niatmu yang salah dan setelah engkau mengembangkan imanmu yang sejati kepada Tuhan—hanya dengan iman sejatilah engkau bisa benar-benar mengasihi Tuhan. Engkau hanya bisa mengasihi Tuhan dengan murni di atas dasar kepercayaanmu kepada-Nya. Dapatkah engkau mengasihi Tuhan tanpa percaya kepada-Nya? Karena engkau percaya kepada Tuhan, engkau tidak bisa membiarkan dirimu bingung tentang hal ini. Sebagian orang menjadi penuh semangat begitu mereka melihat bahwa iman kepada Tuhan akan memberi mereka berkat, tetapi langsung kehilangan energi begitu tahu bahwa mereka harus mengalami pemurnian. Seperti itukah percaya kepada Tuhan? Pada akhirnya, engkau harus mencapai ketundukan yang sempurna dan mutlak di hadapan Tuhan dalam imanmu. Engkau percaya kepada Tuhan, tetapi masih menuntut-Nya, memiliki banyak gagasan agamawi yang tidak bisa engkau lepaskan, kepentingan pribadi yang tak bisa engkau lepaskan, dan masih mencari berkat daging, dan ingin agar Tuhan menyelamatkan dagingmu, menyelamatkan jiwamu—semua itu adalah perilaku orang yang punya cara pandang salah. Meskipun orang dengan kepercayaan agamawi memiliki iman kepada Tuhan, mereka tidak berusaha mengubah watak mereka, tidak mengejar pengenalan akan Tuhan, tetapi sebaliknya mereka hanya mengejar kepentingan daging mereka. Banyak di antara engkau sekalian yang memiliki iman yang termasuk dalam golongan orang agamawi; ini bukanlah iman yang sejati kepada Tuhan. Untuk percaya kepada Tuhan, manusia harus memiliki hati yang siap untuk menderita bagi-Nya dan kerelaan untuk menyerahkan diri bagi-Nya. Jika mereka tidak memenuhi kedua persyaratan ini, hal itu tidak dianggap sebagai iman kepada Tuhan dan mereka tidak akan mampu mengalami perubahan dalam watak mereka. Hanya mereka yang dengan sungguh-sungguh mengejar kebenaran, mencari pengenalan akan Tuhan, dan mengejar kehidupan yang merupakan orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Mereka yang Akan Disempurnakan Harus Mengalami Pemurnian"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 515

Tujuan pekerjaan pemurnian terutama adalah untuk menyempurnakan iman manusia. Pada akhirnya, apa yang dicapai adalah bahwa engkau ingin pergi, pada saat yang sama, engkau tidak bisa pergi; beberapa orang tetap mampu memiliki iman bahkan pada saat mereka tidak lagi memiliki sedikit pun harapan; dan orang tidak lagi memiliki harapan sama sekali mengenai masa depan mereka sendiri. Hanya pada saat inilah pemurnian Tuhan selesai. Manusia masih belum mencapai tahap mengambang antara hidup dan mati, dan mereka belum merasakan kematian, jadi proses pemurnian belum berakhir. Bahkan mereka yang berada pada tahap pelaku pelayanan pun belum dimurnikan sampai tingkat tertinggi. Ayub menjalani pemurnian yang ekstrem, dan tidak ada yang bisa dia andalkan. Manusia harus menjalani pemurnian sampai di tingkat di mana mereka tidak punya harapan dan tidak ada yang bisa diandalkan—hanya inilah pemurnian yang sejati itu. Selama masa para pelaku pelayanan, jika hatimu selalu tenang di hadapan Tuhan, dan jika apa pun yang dilakukan-Nya dan apa pun maksud-Nya bagimu, engkau selalu tunduk pada pengaturan-Nya, maka pada akhirnya, engkau akan mengerti semua yang telah Tuhan lakukan. Engkau menjalani ujian Ayub, dan pada saat yang sama engkau menjalani ujian Petrus. Ketika Ayub diuji, ia menjadi kesaksian, dan pada akhirnya Yahweh dinyatakan kepadanya. Hanya setelah dia menjadi kesaksian, dia layak memandang wajah Tuhan. Mengapa dikatakan: "Aku menyembunyikan diri dari tanah najis, tetapi memperlihatkan diri-Ku pada kerajaan yang kudus"? Itu artinya bahwa hanya ketika engkau kudus dan menjadi kesaksian, engkau bisa memiliki martabat untuk memandang wajah Tuhan. Jika engkau tidak bisa menjadi kesaksian bagi-Nya, engkau tidak memiliki martabat untuk memandang wajah-Nya. Jika engkau mundur atau mengeluh kepada Tuhan saat menghadapi pemurnian, sehingga gagal menjadi kesaksian bagi-Nya, dan menjadi bahan tertawaan Iblis, maka engkau tidak akan mendapatkan penampakan Tuhan. Jika engkau seperti Ayub, yang di tengah ujian mengutuki dagingnya sendiri dan tidak mengeluh kepada Tuhan, dan mampu membenci dagingnya sendiri tanpa mengeluh atau berdosa dalam perkataannya, itulah artinya engkau akan menjadi kesaksian. Ketika engkau menjalani pemurnian sampai tahap tertentu dan masih bisa seperti Ayub, sepenuhnya tunduk di hadapan Tuhan, dan tanpa menuntut hal lain dari-Nya atau memiliki gagasanmu sendiri, Tuhan pun akan menampakkan diri kepadamu. Sekarang ini Tuhan tidak menampakkan diri kepadamu karena engkau telah memiliki begitu banyak gagasan pribadi, prasangka pribadi, pikiran yang egois, persyaratan pribadi, dan keinginan daging, sehingga engkau tidak layak melihat wajah-Nya. Kalaupun engkau melihat Tuhan, engkau akan mengukur-Nya berdasarkan gagasanmu sendiri dan dengan melakukannya, Dia dipakukan lagi ke kayu salib olehmu. Jika ada banyak hal yang terjadi pada dirimu tidak sesuai dengan gagasanmu tetapi engkau bisa mengesampingkannya dan memperoleh pengetahuan tentang tindakan Tuhan dari hal-hal ini, dan jika di tengah pemurnian engkau memperlihatkan hati yang mengasihi Tuhan, berarti engkau tetap teguh dalam kesaksian bagi-Nya. Jika rumahmu damai, engkau menikmati kenyamanan daging, tidak ada yang menganiayamu, dan saudara-saudari di gereja menaatimu, bisakah engkau memperlihatkan hati yang mengasihi Tuhan? Dapatkah situasi ini memurnikanmu? Hanya melalui pemurnianlah kasihmu kepada Tuhan bisa diperlihatkan, dan hanya melalui terjadinya hal-hal yang tidak sesuai dengan gagasanmu, engkau bisa disempurnakan. Melalui adanya banyak hal negatif dan bertentangan, dan melalui segala macam perwujudan Iblis—tindakannya, tuduhannya, gangguannya dan penyesatannya—Tuhan memperlihatkan kepadamu wajah jahat Iblis dengan jelas, dan dengan demikian menyempurnakan kemampuanmu untuk membedakan Iblis, sehingga engkau akan membenci Iblis dan memberontak melawannya.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Mereka yang Akan Disempurnakan Harus Mengalami Pemurnian"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 516

Banyaknya pengalaman kegagalan, kelemahan, dan berbagai masa negatif yang engkau alami bisa dikatakan sebagai ujian Tuhan bagimu. Ini karena segala sesuatu berasal dari Tuhan, dan semua hal dan peristiwa ada di tangan-Nya. Entah engkau gagal atau lemah atau tersandung, semua tergantung pada Tuhan dan berada dalam genggaman tangan-Nya. Dari perspektif Tuhan, ini adalah ujian bagimu, dan jika engkau tidak bisa mengenalinya, itu akan menjadi pencobaan. Ada dua keadaan yang manusia harus kenali: satu datang dari Roh Kudus, kemungkinan sumber lainnya adalah Iblis. Yang satu adalah keadaan di mana Roh Kudus menerangimu dan memungkinkanmu untuk mengenal dirimu sendiri, membenci dan menyesali dirimu sendiri, dan mampu memiliki kasih sejati kepada Tuhan, untuk menetapkan tekadmu demi memuaskan Dia. Yang satu lagi adalah keadaan di mana engkau mengenal dirimu sendiri, tetapi engkau negatif dan lemah. Bisa dikatakan bahwa ini adalah pemurnian Tuhan, dan ini juga bisa dikatakan pencobaan Iblis. Jika engkau mengenali bahwa ini adalah penyelamatan Tuhan atas dirimu dan jika engkau merasa bahwa sekarang engkau sangat berutang kepada-Nya—dan bahwa mulai sekarang engkau akan berusaha menebusnya, berhenti hidup dalam kebejatan seperti itu, serta makan dan minum firman Tuhan dengan benar—dan jika engkau selalu menganggap dirimu tidak baik, dan memiliki hati yang rindu, itu adalah ujian dari Tuhan. Setelah penderitaan berakhir, dan engkau sekali lagi bergerak maju, Tuhan akan tetap memimpin, menerangi, mencerahkan, dan memeliharamu. Namun, jika engkau tidak mengenalinya dan bersikap negatif, semata-mata menelantarkan dirimu dalam keputusasaan, jika engkau berpikir demikian, maka itu artinya pencobaan Iblis telah menimpamu. Ketika Ayub menjalani ujian, Tuhan dan Iblis bertaruh, dan Tuhan mengizinkan Iblis menyakiti Ayub. Meskipun Tuhan-lah yang sedang menguji Ayub, Iblislah yang datang kepada Ayub. Bagi Iblis, dia sedang mencobai Ayub, tetapi Ayub ada di pihak Tuhan. Jika tidak demikian halnya, Ayub pasti telah jatuh ke dalam pencobaan. Begitu orang jatuh ke dalam pencobaan, mereka berada dalam bahaya. Menjalani pemurnian bisa dikatakan sebagai ujian dari Tuhan, tetapi jika engkau sedang tidak dalam keadaan baik, bisa dikatakan itu adalah pencobaan dari Iblis. Jika engkau tidak jelas tentang visi, Iblis akan menuduhmu dan mengaburkanmu dalam aspek visi. Tanpa sadar, engkau sudah jatuh ke dalam pencobaan.

Jika engkau tidak mengalami pekerjaan Tuhan, engkau tidak akan pernah bisa disempurnakan. Dalam pengalamanmu, engkau juga harus menyelami sampai ke rinciannya. Misalnya, hal-hal apa yang membuatmu mengembangkan gagasan serta begitu banyak motif, dan tindakan praktis apa yang kaumiliki untuk menyelesaikan masalah-masalah ini? Jika engkau bisa mengalami pekerjaan Tuhan, ini berarti engkau memiliki tingkat pertumbuhan. Jika engkau hanya terlihat bersemangat, itu bukanlah tingkat pertumbuhan yang sebenarnya dan engkau pasti tidak akan sanggup berdiri teguh. Hanya jika engkau semua mampu mengalami pekerjaan Tuhan dan engkau mampu mengalami dan merenungkan pekerjaan Tuhan setiap saat dan di mana saja, jika engkau semua mampu meninggalkan gembala, hidup mandiri dengan bergantung kepada Tuhan, dan mampu melihat tindakan Tuhan yang nyata—hanya pada saat itulah maksud Tuhan terpenuhi. Saat ini, kebanyakan orang tidak tahu bagaimana mengalaminya, dan saat menghadapi masalah, mereka tidak tahu cara menanganinya; mereka tidak mampu mengalami pekerjaan Tuhan, dan mereka tidak dapat menjalani kehidupan rohani. Engkau harus menerima firman dan pekerjaan Tuhan dalam kehidupan praktismu.

Kadang Tuhan memberimu perasaan tertentu, perasaan yang membuatmu kehilangan sukacita dalam batinmu, dan kehilangan hadirat Tuhan, sampai engkau merasa berada dalam kegelapan. Inilah salah satu jenis pemurnian. Setiap kali engkau melakukan sesuatu, selalu gagal atau seperti tidak berhasil. Inilah disiplin Tuhan. Terkadang, ketika engkau melakukan sesuatu yang memberontak dan menentang Tuhan, tidak seorang pun mengetahuinya—tetapi Tuhan tahu. Dia tidak akan melepaskanmu dan Dia akan mendisiplinkan dirimu. Pekerjaan Roh Kudus sangat mendetail. Dia dengan sangat saksama memperhatikan setiap perkataan dan perbuatan manusia, setiap tindakan dan gerak-geriknya, dan setiap pikiran dan gagasannya sehingga orang-orang bisa mendapat keyakinan dalam batin mereka tentang hal-hal ini. Engkau pernah melakukan sesuatu dan itu gagal, engkau kembali melakukan sesuatu dan itu tetap gagal, dan pelan-pelan engkau akan mulai memahami pekerjaan Roh Kudus. Lewat banyak disiplin, engkau akan tahu apa yang harus dilakukan supaya sesuai dengan maksud Tuhan dan apa yang tidak sesuai dengan maksud-Nya. Pada akhirnya, engkau akan memiliki respons yang akurat terhadap bimbingan Roh Kudus dalam dirimu. Kadang engkau akan berontak dan engkau akan ditegur oleh Tuhan di dalam batinmu. Semua ini berasal dari pendisiplinan Tuhan. Jika engkau tidak menghargai firman Tuhan, jika engkau memandang rendah pekerjaan-Nya, Dia tidak akan memedulikan engkau. Semakin engkau serius menanggapi firman Tuhan, semakin Dia akan mencerahkanmu. Sekarang ini, ada beberapa orang di gereja yang imannya campur aduk dan bingung, dan mereka melakukan banyak hal yang tidak pantas dan bertindak tanpa disiplin, sehingga pekerjaan Roh Kudus tidak dapat terlihat dengan jelas dalam diri mereka. Sebagian orang meninggalkan tugas mereka demi mendapatkan uang, pergi untuk menjalankan bisnis tanpa didisiplinkan; orang seperti itu berada dalam bahaya yang bahkan lebih besar. Mereka bukan hanya tidak memiliki pekerjaan Roh Kudus saat ini, tetapi di masa depan mereka akan sulit disempurnakan. Ada banyak orang yang di dalam dirinya pekerjaan Roh Kudus tidak bisa terlihat dan di dalam dirinya pendisiplinan Tuhan tidak bisa terlihat. Mereka adalah orang-orang yang tidak tahu dengan jelas maksud Tuhan dan yang tidak mengetahui pekerjaan-Nya. Mereka yang mampu berdiri teguh di tengah pemurnian, yang mengikuti Tuhan, apa pun yang Dia lakukan, dan setidak-tidaknya mampu untuk tidak meninggalkan-Nya, atau mencapai 0.1% dari apa yang Petrus capai, mereka akan baik-baik saja, tetapi mereka tidak punya nilai untuk dipakai oleh Tuhan. Banyak orang bisa mengerti sesuatu dengan cepat, memiliki kasih sejati kepada Tuhan, dan bisa melampaui tingkat yang dicapai Petrus, dan Tuhan melakukan pekerjaan penyempurnaan dalam diri mereka. Disiplin dan pencerahan datang kepada orang-orang seperti itu, dan jika ada sesuatu dalam diri mereka yang tidak sesuai dengan maksud Tuhan, mereka akan langsung membuangnya. Orang-orang semacam itu adalah emas, perak, dan batu-batu berharga—nilai mereka adalah yang tertinggi! Jika Tuhan sudah melakukan banyak pekerjaan tetapi engkau masih seperti pasir atau batu, engkau tidak berharga!

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Mereka yang Akan Disempurnakan Harus Mengalami Pemurnian"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 517

Pekerjaan Tuhan di negeri si naga merah yang sangat besar sangatlah menakjubkan dan tak terselami. Dia akan menyempurnakan sekelompok orang dan menyingkirkan beberapa orang lainnya, karena ada semua jenis orang di dalam gereja—ada orang yang mencintai kebenaran dan yang tidak; ada orang yang mengalami pekerjaan Tuhan dan yang tidak; ada orang yang melakukan tugas mereka dan yang tidak; ada orang yang bersaksi bagi Tuhan dan yang tidak—dan sebagian dari mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya dan orang-orang jahat, dan mereka pasti akan disingkirkan. Jika engkau tidak mengetahui pekerjaan Tuhan dengan jelas, engkau akan menjadi negatif; ini adalah karena pekerjaan Tuhan hanya bisa dilihat dalam diri sebagian kecil orang. Pada saat ini, akan menjadi jelas siapa yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan siapa yang tidak. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan memiliki pekerjaan Roh Kudus, sedangkan mereka yang tidak dengan sungguh-sungguh mengasihi Dia akan tersingkap melalui setiap langkah dalam pekerjaan-Nya. Mereka akan menjadi orang-orang yang akan disingkirkan. Orang-orang ini akan disingkapkan dalam pekerjaan penaklukan, dan mereka adalah orang-orang yang tidak punya nilai untuk disempurnakan. Mereka yang telah disempurnakan telah didapatkan oleh Tuhan dalam keseluruhan diri mereka, dan mampu mengasihi Tuhan seperti Petrus. Mereka yang telah ditaklukkan tidak memiliki kasih yang spontan, tetapi hanya kasih yang pasif, dan mereka terpaksa untuk mengasihi Tuhan. Kasih yang spontan dikembangkan melalui pemahaman yang diperoleh lewat pengalaman praktis. Kasih ini menguasai hati orang dan membuatnya rela mengabdikan dirinya kepada Tuhan; firman Tuhan menjadi landasan mereka dan mereka mampu menderita bagi Tuhan. Tentu saja, ini adalah hal-hal yang dimiliki orang yang sudah disempurnakan oleh Tuhan. Jika engkau hanya berusaha untuk ditaklukkan, engkau tidak bisa menjadi kesaksian bagi Tuhan; jika Tuhan hanya mencapai tujuan penyelamatan-Nya lewat menaklukkan orang, maka langkah para pelaku pelayanan sudah cukup untuk mencapai hal ini. Namun, menaklukkan manusia bukanlah tujuan akhir Tuhan, tujuan akhir-Nya adalah menyempurnakan manusia. Jadi, daripada mengatakan tahap ini adalah tahap pekerjaan penaklukan, lebih baik mengatakan bahwa ini adalah tahap pekerjaan penyempurnaan dan penyingkiran. Sebagian orang belum sepenuhnya ditaklukkan, dan dalam proses menaklukkan mereka, sekelompok orang akan disempurnakan. Kedua pekerjaan ini dilakukan serempak. Orang-orang belum pergi bahkan selama masa pekerjaan yang panjang, dan ini menunjukkan bahwa tujuan penaklukan sudah tercapai—inilah fakta mengenai ditaklukkan. Pemurnian bukanlah demi penaklukan, tetapi demi penyempurnaan. Tanpa pemurnian, manusia tidak bisa disempurnakan. Jadi, pemurnian begitu berharga! Hari ini sekelompok orang disempurnakan dan didapatkan. Kesepuluh berkat yang disebutkan sebelumnya ditujukan kepada mereka yang sudah disempurnakan. Segala hal tentang mengubah gambaran mereka di bumi ditujukan kepada mereka yang telah disempurnakan. Mereka yang belum disempurnakan, tidak memenuhi syarat untuk menerima janji-janji Tuhan.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Mereka yang Akan Disempurnakan Harus Mengalami Pemurnian"

Firman Tuhan Harian: Kutipan 518

Percaya kepada Tuhan dan mengenal Tuhan adalah sepenuhnya wajar dan dapat dibenarkan, dan sekarang ini—selama zaman ketika Tuhan yang berinkarnasi sedang melakukan pekerjaan-Nya secara pribadi—adalah waktu yang sangat baik untuk mengenal Tuhan. Memuaskan Tuhan adalah sesuatu yang dicapai dengan membangun dasar pemahaman akan maksud-maksud Tuhan, dan untuk memahami maksud-maksud-Nya, penting sekali untuk memiliki pengetahuan tentang Dia. Pengetahuan tentang Tuhan ini adalah impian yang harus dimiliki orang yang percaya kepada-Nya; inilah dasar kepercayaan manusia kepada Tuhan. Tanpa pengetahuan ini, kepercayaan manusia kepada Tuhan akan berada dalam keadaan samar-samar, di tengah-tengah teori kosong. Bahkan jika orang semacam itu memiliki tekad untuk mengikut Tuhan, mereka tidak akan mendapatkan apa pun. Semua orang yang tidak mendapatkan apa pun dalam aliran ini adalah mereka yang akan disingkirkan—mereka semua adalah benalu. Apa pun langkah pekerjaan Tuhan yang kaualami, engkau harus disertai dengan penglihatan yang hebat. Jika tidak, akan sulit bagimu untuk menerima setiap langkah pekerjaan yang baru, karena pekerjaan Tuhan yang baru berada di luar kemampuan manusia untuk membayangkannya, dan berada di luar batas pemahamannya. Jadi, tanpa seorang gembala yang menggembalakan manusia, tanpa seorang gembala yang terlibat dalam persekutuan tentang berbagai penglihatan, manusia tidak mampu menerima pekerjaan baru ini. Jika manusia tidak dapat memahami penglihatan, dia tidak dapat memahami pekerjaan Tuhan yang baru. Jika manusia tidak dapat tunduk pada pekerjaan Tuhan yang baru, manusia tidak akan dapat memahami maksud-maksud Tuhan, dan dengan demikian pengetahuannya tentang Tuhan tidak akan berarti apa-apa. Sebelum manusia melaksanakan firman Tuhan, dia harus mengenal firman-Nya, artinya, dia harus memahami maksud-maksud Tuhan. Hanya dengan cara inilah firman Tuhan dapat dilaksanakan secara akurat dan sesuai dengan maksud-maksud Tuhan. Inilah hal yang harus dimiliki setiap orang yang mencari kebenaran, dan ini juga merupakan proses yang harus dijalani oleh setiap orang yang berusaha mengenal Tuhan. Proses mengenal firman Tuhan adalah proses mengenal Tuhan dan pekerjaan-Nya. Jadi, mengetahui visi tidak hanya mengacu pada mengenal kemanusiaan Tuhan yang berinkarnasi, tetapi juga termasuk mengenal firman dan pekerjaan Tuhan. Dari firman Tuhan-lah manusia memahami maksud-maksud Tuhan, dan dari pekerjaan Tuhan-lah mereka mengenal watak Tuhan dan siapa Dia. Percaya kepada Tuhan adalah langkah awal untuk mengenal Tuhan. Proses maju dari kepercayaan awal kepada Tuhan ini kepada kepercayaan yang paling mendalam kepada-Nya adalah proses untuk mengenal Tuhan, proses mengalami pekerjaan Tuhan. Jika engkau hanya percaya kepada Tuhan demi memercayai Tuhan, dan bukan demi mengenal-Nya, artinya tidak ada kenyataan pada imanmu, dan imanmu tidak bisa menjadi murni—dalam hal ini tidak ada keraguan. Jika, selama proses mengalami pekerjaan Tuhan, manusia secara berangsur-angsur mulai mengenal Tuhan, wataknya akan sedikit demi sedikit berubah, dan kepercayaannya akan menjadi semakin benar. Dengan cara ini, ketika manusia mencapai keberhasilan dalam kepercayaannya kepada Tuhan, dia akan sepenuhnya mendapatkan Tuhan. Alasan mengapa Tuhan mengerahkan upaya-Nya yang sedemikian besar untuk menjadi manusia kedua kalinya untuk melakukan pekerjaan-Nya secara pribadi adalah agar manusia dapat mengenal Dia dan melihat-Nya. Mengenal Tuhan[a] adalah hasil akhir yang harus dicapai pada akhir dari pekerjaan Tuhan; inilah persyaratan terakhir yang Tuhan tuntut dari umat manusia. Alasan mengapa Dia melakukan ini adalah demi kesaksian terakhir-Nya; Dia melakukan pekerjaan ini agar manusia akhirnya dapat sepenuhnya berbalik kepada-Nya. Manusia hanya bisa mengasihi Tuhan dengan mengenal Dia, dan untuk mengasihi Tuhan, dia harus mengenal Tuhan. Bagaimanapun dia mengejar, atau apa yang ingin dia dapatkan, dia harus mampu mencapai pengetahuan tentang Tuhan. Hanya dengan cara inilah manusia dapat memuaskan hati Tuhan. Dengan mengenal Tuhan barulah manusia dapat memiliki iman yang sejati kepada Tuhan, dan dengan mengenal Tuhan barulah manusia dapat benar-benar takut akan Tuhan dan tunduk kepada-Nya. Mereka yang tidak mengenal Tuhan tidak akan pernah benar-benar tunduk dan takut akan Tuhan. Mengenal Tuhan mencakup mengenal watak-Nya, memahami maksud-maksud-Nya, dan mengetahui siapa Dia. Namun, aspek mana pun yang mulai diketahui orang, setiap aspek mengharuskan manusia untuk membayar harga dan menuntut tekad untuk tunduk, sebab tanpanya tak seorang pun akan mampu terus mengikuti sampai akhir. Pekerjaan Tuhan sangat tidak sesuai dengan pemahaman manusia. Watak Tuhan dan siapa Dia terlalu sulit untuk diketahui manusia, dan segala sesuatu yang Tuhan firmankan dan lakukan terlalu sulit untuk dipahami manusia: jika manusia ingin mengikut Tuhan tetapi tidak mau tunduk kepada-Nya, manusia tidak akan mendapat apa pun. Sejak penciptaan dunia hingga sekarang, Tuhan telah melakukan banyak pekerjaan yang tidak dapat dipahami manusia dan yang sulit diterima manusia, dan Tuhan telah banyak berfirman yang membuat pemahaman manusia sulit untuk dipulihkan. Namun Dia tidak pernah menghentikan pekerjaan-Nya hanya karena manusia mengalami terlalu banyak kesulitan; sebaliknya, Dia terus bekerja dan berfirman, dan meskipun sejumlah besar "pejuang" telah jatuh berguguran, Dia tetap melakukan pekerjaan-Nya, dan melanjutkannya tanpa henti untuk memilih sekelompok demi sekelompok orang yang bersedia tunduk pada pekerjaan baru-Nya. Dia tidak berbelas kasihan kepada para "pahlawan" yang sudah jatuh itu, dan sebaliknya menghargai orang-orang yang menerima pekerjaan baru dan firman-Nya. Namun untuk tujuan apakah Dia bekerja dengan cara ini, yakni langkah demi langkah? Mengapa Dia selalu menyingkirkan beberapa orang dan memilih yang lain? Mengapa Dia selalu menggunakan metode seperti itu? Tujuan dari pekerjaan-Nya adalah memungkinkan manusia untuk mengenal-Nya, dan dengan demikian didapatkan oleh-Nya. Prinsip pekerjaan-Nya adalah bekerja pada diri orang-orang yang mampu untuk tunduk pada pekerjaan yang Dia lakukan pada zaman sekarang, dan bukan bekerja dalam diri mereka yang tunduk pada pekerjaan yang telah Dia lakukan di masa lalu sementara menentang pekerjaan yang Dia lakukan pada masa sekarang. Di sinilah letak alasan mengapa Dia telah menyingkirkan begitu banyak orang.

Dampak dari pelajaran mengenal Tuhan tidak dapat dicapai dalam satu atau dua hari: manusia harus mengumpulkan pengalaman, menjalani penderitaan, dan mencapai ketundukan yang sejati. Pertama-tama, dimulai dari pekerjaan dan firman Tuhan. Sangat penting bahwa engkau memahami apa yang termasuk dalam pengetahuan tentang Tuhan, bagaimana mencapai pengetahuan ini, dan bagaimana melihat Tuhan dalam pengalamanmu. Inilah yang harus dilakukan setiap orang saat mereka belum mengenal Tuhan. Tak seorang pun mampu memahami pekerjaan dan firman Tuhan dalam satu langkah, dan tak seorang pun mampu mencapai pengetahuan tentang keseluruhan Tuhan dalam waktu singkat. Ada proses pengalaman yang diperlukan, yang tanpanya tak seorang pun akan mampu mengenal Tuhan atau mengikuti-Nya dengan sungguh-sungguh. Semakin banyak pekerjaan yang Tuhan lakukan, semakin manusia mengenal-Nya. Semakin pekerjaan Tuhan bertentangan dengan pemahaman manusia, semakin banyak pengetahuan manusia tentang Dia yang diperbarui dan diperdalam. Jika pekerjaan Tuhan selama-lamanya tetap dan tidak berubah, maka tidak banyak yang bisa diketahui manusia tentang Dia. Di antara penciptaan dan masa sekarang, apa yang Tuhan lakukan selama Zaman Hukum Taurat, apa yang Dia lakukan selama Zaman Kasih Karunia, dan apa yang Dia lakukan selama Zaman Kerajaan—engkau semua harus jelas tentang penglihatan-penglihatan ini. Engkau semua harus tahu pekerjaan Tuhan.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Hanya Mereka yang Mengenal Tuhan yang Bisa Menjadi Kesaksian bagi Tuhan"

Catatan kaki:

a. Dalam naskah aslinya tertulis "Pekerjaan mengenal Tuhan".


Firman Tuhan Harian: Kutipan 519

Manusia mengalami pekerjaan Tuhan, mulai mengenal dirinya sendiri, membersihkan wataknya yang rusak, dan mencari pertumbuhan dalam kehidupannya, semuanya itu adalah demi mengenal Tuhan. Jika engkau hanya berusaha mengenal dirimu sendiri dan memangkas watakmu yang rusak, tetapi tidak memiliki pengetahuan tentang pekerjaan apakah yang Tuhan lakukan pada manusia, tentang betapa hebat keselamatan-Nya, atau tentang bagaimana engkau mengalami pekerjaan Tuhan dan menyaksikan perbuatan-Nya, pengalamanmu ini tidak ada artinya. Jika engkau berpikir bahwa kehidupan manusia telah mencapai kedewasaan hanya karena dia mampu melakukan kebenaran dan bertahan, ini berarti bahwa engkau masih belum memahami makna hidup yang sebenarnya atau tujuan Tuhan dalam menyempurnakan manusia. Suatu hari, ketika engkau berada di gereja-gereja agamawi, di antara anggota Gereja Pertobatan atau Gereja Kehidupan, engkau akan menjumpai banyak orang saleh, yang doa-doanya berisi "penglihatan" dan yang dalam pengejaran kehidupannya, mereka merasa dijamah dan dibimbing oleh firman. Selain itu, dalam banyak hal mereka mampu bertahan dan menyangkal diri mereka sendiri, dan tidak dipimpin oleh daging. Pada saat itu, engkau tidak akan dapat membedakannya: engkau akan percaya bahwa semua yang mereka lakukan itu benar, merupakan pengungkapan yang wajar akan kehidupan, dan sangat disayangkan bila nama yang mereka percayai adalah salah. Bukankah pandangan seperti itu bodoh? Mengapa dikatakan bahwa banyak orang tidak memiliki kehidupan? Karena mereka tidak mengenal Tuhan, dan dengan demikian dikatakan bahwa mereka tidak memiliki Tuhan di dalam hati mereka, dan tidak memiliki kehidupan. Jika kepercayaanmu kepada Tuhan telah mencapai titik tertentu di mana engkau mampu sepenuhnya mengenal perbuatan Tuhan, kenyataan diri Tuhan, dan setiap tahap pekerjaan-Nya, artinya engkau memiliki kebenaran itu. Jika engkau tidak mengetahui pekerjaan dan watak Tuhan, artinya masih ada sesuatu yang kurang dalam pengalamanmu. Bagaimana Yesus melaksanakan tahap pekerjaan-Nya, bagaimana tahap ini dilakukan, bagaimana Tuhan melaksanakan pekerjaan-Nya pada Zaman Kasih Karunia dan pekerjaan apakah yang telah dilakukan, pekerjaan apakah yang sedang dilakukan pada tahap ini—jika engkau tidak memiliki pengetahuan menyeluruh tentang hal-hal ini, engkau tidak akan pernah merasa yakin dan akan selalu merasa tidak aman. Jika, setelah satu periode pengalaman, engkau mampu mengetahui pekerjaan yang Tuhan lakukan dan setiap langkah pekerjaan-Nya, dan jika engkau telah memperoleh pengetahuan menyeluruh tentang tujuan Tuhan dalam menyampaikan firman-Nya, dan tentang mengapa begitu banyak firman yang Dia ucapkan belum digenapi, engkau bisa dengan berani dan tanpa menahan diri mengejar jalan di depan, bebas dari kekhawatiran dan pemurnian. Engkau semua harus memahami dengan cara apakah Tuhan mencapai begitu banyak dari pekerjaan-Nya. Dia menggunakan firman yang Dia ucapkan, memurnikan manusia dan mengubah gagasan manusia dengan berbagai macam firman. Semua penderitaan yang telah engkau semua alami, semua pemurnian yang telah kaujalani, pemangkasan yang kauterima di dalam dirimu, pencerahan yang telah kaualami—semua ini telah dicapai melalui firman yang telah Tuhan ucapkan. Karena apakah manusia mengikut Tuhan? Karena firman Tuhan! Firman Tuhan sangat misterius, dan selain itu, firman Tuhan dapat menggerakkan hati manusia, mengungkapkan hal-hal yang terkubur di dalam dirinya, membuatnya mengetahui hal-hal yang terjadi di masa lalu, dan memungkinkannya melihat dengan jelas masa depan. Jadi manusia menanggung penderitaan karena firman Tuhan, dan juga disempurnakan karena firman Tuhan: baru pada saat inilah manusia mengikut Tuhan. Hal yang harus dilakukan manusia pada tahap ini adalah menerima firman Tuhan, dan terlepas dari apakah dia disempurnakan atau mengalami pemurnian, firman Tuhan adalah kuncinya. Inilah pekerjaan Tuhan, dan ini juga merupakan penglihatan yang harus diketahui manusia pada zaman sekarang.

—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Hanya Mereka yang Mengenal Tuhan yang Bisa Menjadi Kesaksian bagi Tuhan"

Sebelumnya: Jalan Masuk ke Dalam Kehidupan III

Selanjutnya: Jalan Masuk ke Dalam Kehidupan V

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Pengaturan

  • Teks
  • Tema

Warna Solid

Tema

Jenis Huruf

Ukuran Huruf

Spasi Baris

Spasi Baris

Lebar laman

Isi

Cari

  • Cari Teks Ini
  • Cari Buku Ini

Hubungi kami via WhatsApp