Apa yang Kuperoleh dari Tiga Setengah Tahun di Penjara

24 Desember 2025

Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Masalah terbesar dengan manusia adalah bahwa dia tidak memikirkan apa pun kecuali nasib dan prospeknya dan memberhalakan hal-hal ini. Manusia mengejar Tuhan demi nasib dan prospeknya; dia tidak menyembah Tuhan karena kasihnya kepada-Nya. Karena itu, dalam penaklukan manusia, keegoisan manusia, keserakahan dan hal-hal yang paling menghalangi penyembahannya kepada Tuhan semuanya harus dipangkas dan dengan demikian disingkirkan. Dengan melakukan itu, hasil penaklukan manusia akan tercapai. Sebagai hasilnya, pada tahap awal penaklukan manusia, adalah perlu untuk membersihkan semua ambisi liar dan kelemahan paling fatal manusia, dan melalui ini, mengungkapkan hati manusia yang mengasihi Tuhan dan mengubah pengetahuannya tentang kehidupan manusia, pandangannya tentang Tuhan, dan arti keberadaan dirinya. Dengan cara ini, hati manusia yang mengasihi Tuhan ditahirkan, yang berarti, hati manusia ditaklukkan" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Memulihkan Kehidupan Normal Manusia dan Membawanya ke Tempat Tujuan yang Mengagumkan"). Setelah membaca bagian firman Tuhan ini, aku teringat akan pengalamanku saat ditangkap. Pengalaman itu benar-benar menyadarkanku tentang betapa nyatanya firman Tuhan. Kalau seseorang ingin berhenti memikirkan masa depan dan takdirnya, lalu bisa tunduk kepada Tuhan dan mengasihi-Nya, dia harus mengalami penghakiman, hajaran, ujian, dan pemurnian dari Tuhan di akhir zaman.

Pada akhir tahun 2012, aku ditangkap oleh polisi PKT saat memberitakan Injil. Selama polisi berulang kali menginterogasi dan berupaya untuk memaksaku agar mengaku, firman Tuhanlah yang membimbingku untuk tetap teguh dalam kesaksianku tanpa menjadi Yudas. Polisi tidak mendapatkan informasi tentang gereja yang mereka inginkan, dan pada akhirnya, mereka menjatuhkan hukuman tiga setengah tahun penjara kepadaku dengan tuduhan "menghambat penegakan hukum". Meskipun aku sudah mempersiapkan diri untuk dipenjara setelah ditangkap, hatiku tetap kacau balau ketika membaca vonis itu. Aku diam-diam menghitung hari dalam benakku, "Tiga setengah tahun itu lebih dari seribu hari dan malam! Bagaimana aku bisa menjalaninya?" Aku sangat khawatir ketika mendengar seorang mantan narapidana berkata, "Di penjara itu sangat gelap, dan kalau pekerjaanmu tidak selesai atau tidak dilakukan dengan baik, kau akan dipukuli. Orang yang fisiknya lemah bisa mati di dalam, dan di sana, kalau ada orang yang mati, itu sama seperti anjing mati; para sipir sama sekali tidak peduli." Aku pun merasa sedikit takut, dan berpikir, "Selama berbulan-bulan di rumah tahanan, penyakit lambungku makin parah dan bahkan sampai menyebabkan pendarahan. Setiap kali aku pergi ke kamar mandi, selalu ada gumpalan darah yang keluar. Kaki dan telapak kakiku juga menjadi agak bengkak. Dengan kondisi tubuh seperti ini, akankah aku bisa keluar hidup-hidup setelah bertahun-tahun berada di penjara yang tidak manusiawi itu? Kalau aku mati di penjara, bukankah aku tidak akan bisa melihat hari ketika kerajaan Tuhan terwujud?" Setelah memikirkan hal-hal ini, tanpa sadar aku mengkhawatirkan masa depanku, dan di hatiku mulai timbul sedikit kesalahpahaman terhadap Tuhan: Apakah Tuhan menggunakan situasi ini untuk menyingkapkan dan menyingkirkanku? Meskipun aku tahu bahwa aku tidak boleh salah paham terhadap Tuhan, dan situasi yang Dia atur adalah yang kubutuhkan, selama beberapa hari, hatiku kacau balau, dan aku tidak bisa tidur di malam hari. Dalam penderitaanku, aku terus berseru kepada Tuhan, "Tuhan, aku tahu bahwa tak seharusnya aku salah paham terhadap-Mu, tetapi saat ini aku sangat lemah. Tolong beri aku iman dan kekuatan untuk menghadapi situasi di depanku ini." Setelah berdoa, aku teringat akan sebuah ayat dari Perjanjian Lama, saat Tuhan Yahweh berfirman kepada Yosua: "Jadilah kuat dan penuh keberanian; jangan takut maupun tawar hati, karena TUHANmu, besertamu ke mana pun engkau pergi" (Yosua 1:9). Aku juga teringat akan firman Tuhan Yang Mahakuasa: "Dari segala sesuatu yang ada di alam semesta, tidak ada satu pun yang mengenainya Aku tidak mengambil keputusan yang terakhir. Apakah ada sesuatu yang tidak berada di tangan-Ku?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta, Bab 1"). Tuhan berdaulat atas segalanya dan mengendalikan segalanya, jadi bahkan di penjara PKT, bukankah nasibku tetap ada di tangan Tuhan? Setelah memikirkan hal ini, hatiku terasa lega.

Suatu hari di bulan Oktober 2013, aku dikirim ke penjara untuk menjalani hukumanku. Di penjara-penjara Tiongkok, narapidana hanyalah tenaga kerja gratis bagi mereka untuk menghasilkan uang. Narapidana bekerja 16 sampai 17 jam sehari, dan terkadang kalau ada target yang mendesak, waktu kerjanya lebih lama lagi; mereka yang gagal menyelesaikan tugas akan dihukum secara fisik. Pekerjaanku saat itu adalah menyetrika bagian-bagian kecil dari pakaian. Aku harus memegang setrika dalam posisi yang sama selama lebih dari sepuluh jam sehari, dan gerakanku harus cepat. Karena penjara memakai sistem lini produksi, kalau satu orang lambat, itu akan memengaruhi kecepatan seluruh lini produksi, dan siapa pun yang menyebabkan keterlambatan akan dihukum. Kedua jariku menjadi kaku karena terlalu lama menggenggam pegangan setrika dengan erat, dan aku harus meluruskannya dengan kuat agar bisa kembali normal. Seperti kata pepatah, sepuluh jari terhubung ke hati, dan terkadang tanganku sakit sekali sampai-sampai aku tidak bisa tidur di malam hari. Beban kerja yang luar biasa berat, ditambah pendarahan lambungku yang belum sembuh total, membuat tubuhku sangat lemah. Dalam waktu tiga bulan di penjara, aku mulai merasakan sakit punggung, sesak di dada, dan napas pendek. Saat memikirkan sisa hukumanku yang masih panjang, aku takut jika terus seperti ini, kalaupun tidak mati, aku bisa menjadi cacat. Kalau aku menjadi cacat, setelah keluar dari penjara, aku akan kesulitan menjalani hidup, lalu bagaimana aku bisa melaksanakan tugasku? Kalau aku tidak bisa melaksanakan tugasku, bukankah aku tidak akan punya kesempatan lagi untuk diselamatkan? Aku sangat berharap bahwa Tuhan segera menghukum naga merah yang sangat besar, karena kalau dia tumbang, aku tidak perlu menderita seperti ini. Selama masa itu, aku sangat memperhatikan berita dari luar. Setiap kali ada narapidana baru yang datang, aku mencoba mencari tahu bagaimana keadaan di luar, menanyakan apakah ada malapetaka atau kekacauan yang terjadi. Namun, hari demi hari berlalu, keadaan di luar tetap tenang, dan aku merasa agak kecewa. Kenapa Tuhan tidak menghukum naga merah yang sangat besar? Kalau aku terus berada di penjara seperti ini, kalaupun tidak mati, aku akan menjadi cacat! Setelah memikirkan hal-hal ini, hatiku dipenuhi kegelapan dan rasa putus asa. Dalam penderitaanku, aku berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, membayangkan tanganku akan menjadi cacat saja sudah membuatku begitu putus asa. Aku terus khawatir kalau aku menjadi cacat, aku tidak akan punya jalan keluar dalam hidup. Aku juga khawatir tidak akan bisa melaksanakan tugasku sehingga aku tidak akan bisa diselamatkan. Tuhan, tolong bimbing aku keluar dari keadaan yang salah ini."

Suatu hari, pada waktu istirahat di luar sel, aku melihat pegunungan di kejauhan, yang tadinya kuning dan tandus, entah kapan telah berubah menjadi hijau. Saat aku memandangi bunga dan rerumputan di pegunungan, beberapa firman Tuhan terlintas di benakku: "Bunga dan rerumputan terbentang sepanjang lereng, tetapi bunga bakung menambah kilau kepada kemuliaan-Ku di bumi sebelum datangnya musim semi—bisakah manusia mencapai hal-hal semacam itu? Bisakah ia bersaksi bagi-Ku di bumi sebelum kedatangan-Ku? Bisakah ia mendedikasikan diri bagi nama-Ku di negara naga merah besar?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta, Bab 34"). Aku merenungkan firman Tuhan ini berulang kali, memikirkan bagaimana bunga dan rerumputan, meskipun biasa dan sederhana, tidak menuntut apa pun dari Sang Pencipta. Entah mereka mengalami musim dingin yang membekukan atau musim panas yang menyengat, mereka tetap tumbuh dan mekar tahun demi tahun sesuai dengan hukum yang telah Tuhan tetapkan bagi mereka, menambah keindahan bagi bumi ciptaan Tuhan, dan memberi kesaksian tentang keajaiban perbuatan Tuhan. Tuhan berfirman: "Bunga dan rerumputan terbentang sepanjang lereng, tetapi bunga bakung menambah kilau kepada kemuliaan-Ku di bumi sebelum datangnya musim semi." Aku memahami dengan jelas bahwa Tuhan menggunakan firman ini untuk membimbingku keluar dari keputusasaanku. Aku merasa terharu sekaligus malu. Sama seperti bunga dan rerumputan, aku ini hanya makhluk ciptaan yang kecil, tetapi aku terus-menerus menuntut Tuhan untuk bertindak sesuai keinginanku. Ketika Tuhan tidak memenuhi tuntutanku dan tidak menghukum naga merah yang sangat besar, hatiku menjauh dari-Nya. Aku benar-benar tidak punya nalar! Tuhan punya rencana-Nya sendiri dalam melakukan pekerjaan-Nya, dan Tuhan tahu kapan waktu yang tepat untuk menghancurkan naga merah yang sangat besar. Aku seharusnya membiarkan Tuhan mengatur segalanya. Lagi pula, apakah aku akan menjadi cacat, apakah aku bisa bertahan hidup, dan apakah aku bisa melaksanakan tugasku, semuanya ada di tangan Tuhan. Kekhawatiranku itu tidak perlu. Setelah memikirkan hal-hal ini, hatiku menjadi lebih tenang.

Kemudian, aku kebetulan melihat sebuah buku berjudul Iman Orang-Orang Terkenal dari seorang narapidana lain, yang berisi kisah-kisah banyak misionaris terkenal, baik dari Tiongkok maupun luar negeri, seperti Hudson Taylor, Robert Morrison, Wang Mingdao, Watchman Nee, dan lainnya. Aku tidak pernah menyangka akan menemukan buku seperti itu di penjara PKT yang dijaga ketat, jadi aku meminjamnya dengan antusias untuk dibaca. Aku sangat terinspirasi oleh kesaksian-kesaksian indah dari orang-orang kudus sepanjang zaman di buku itu, dan aku teringat akan firman Tuhan: "Yang sekarang ini Kukaruniakan kepadamu melebihi yang Kukaruniakan kepada Musa dan Daud, jadi demikian juga Aku meminta agar kesaksianmu melebihi kesaksian Musa dan agar perkataanmu lebih hebat dari perkataan Daud. Aku memberimu seratus kali lipat—jadi demikian juga Aku memintamu mengembalikannya kepada-Ku sebanyak itu. Engkau harus tahu bahwa Akulah yang mengaruniakan hidup kepada umat manusia, dan engkau semualah yang menerima hidup itu dari-Ku dan harus memberi kesaksian bagi-Ku. Inilah tugasmu yang Kuembankan kepadamu dan yang harus engkau semua lakukan bagi-Ku. ... Engkau semua memahami misteri-Ku di surga lebih banyak daripada Yesaya dan Yohanes; engkau semua mengetahui keindahan dan kehormatan-Ku lebih daripada semua orang kudus di zaman sebelumnya. Apa yang telah engkau semua terima bukan hanya kebenaran-Ku, jalan-Ku, dan hidup-Ku, melainkan juga penglihatan dan pewahyuan yang lebih hebat daripada penglihatan dan pewahyuan Yohanes. Engkau semua memahami jauh lebih banyak misteri dan juga telah melihat wajah asli-Ku; engkau semua telah menerima lebih banyak penghakiman-Ku dan mengetahui lebih banyak tentang watak benar-Ku. Jadi, meskipun engkau semua dilahirkan pada akhir zaman, apa yang kaupahami adalah hal-hal sebelumnya dan di masa yang lampau, dan engkau juga telah mengalami hal-hal dari zaman sekarang, dan semua ini dilakukan oleh-Ku secara pribadi. Apa yang Kuminta darimu tidaklah berlebihan, karena Aku telah memberimu begitu banyak, dan engkau semua telah melihat banyak hal dalam diri-Ku. Oleh karena itu, Aku memintamu untuk memberikan kesaksian tentang-Ku bagi orang-orang kudus di masa yang lampau, dan inilah satu-satunya keinginan hati-Ku" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Apa yang Kauketahui tentang Iman?"). Aku memikirkan orang-orang kudus dari generasi-generasi yang lalu. Mereka tidak menikmati penyiraman dan perbekalan dari begitu banyak firman Tuhan yang kunikmati, tetapi mereka mengorbankan nyawa mereka untuk memberi kesaksian tentang keselamatan dari Tuhan Yesus. Ada yang dirajam sampai mati, ada yang tubuhnya ditarik kuda hingga terbelah, ada yang digergaji sampai mati, dan yang lain disalibkan terbalik, tetapi mereka semua memberikan kesaksian yang indah dan menggema bagi Tuhan. Aku telah menikmati perbekalan dari begitu banyak firman Tuhan Yang Mahakuasa, jadi aku harus memberikan kesaksian yang indah dan menggema bagi Tuhan sama seperti orang-orang kudus dari generasi-generasi yang lalu untuk mempermalukan Iblis. Ini juga merupakan harapan Tuhan bagi kita yang telah menerima pekerjaan-Nya di akhir zaman. Setelah memikirkan hal ini, aku bertekad untuk mengikuti teladan orang-orang kudus dari generasi-generasi yang lalu. Aku bersedia untuk memberontak terhadap dagingku dan melepaskan tuntutan-tuntutanku yang tidak masuk akal kepada Tuhan, menyerahkan masa depan dan nasibku ke tangan Tuhan, dan berserah pada penataan dan pengaturan-Nya. Bahkan jika aku benar-benar menjadi cacat, aku akan tetap mengikuti Tuhan sampai akhir. Lagi pula, sekalipun aku benar-benar disiksa sampai mati di penjara oleh PKT, ini adalah penganiayaan demi kebenaran. Ini adalah hal yang mulia, dan aku tidak seharusnya bersedih. Sebaliknya, aku harus mengandalkan Tuhan untuk tetap teguh dalam kesaksianku. Pada hari-hari berikutnya, aku secara sadar merenungkan firman Tuhan yang bisa kuingat, aku menyanyikan lagu-lagu pujian yang telah kupelajari, dan aku juga memercayakan kesulitanku kepada Tuhan, berharap kepada-Nya. Perlahan-lahan, keadaanku membaik.

Kukira melalui pengalaman ini, aku sudah bisa mengesampingkan pemikiran tentang masa depan dan nasibku, tetapi kemudian aku mengalami situasi yang menyingkapkan diriku dan membuatku memahami bahwa melepaskan pemikiran itu tidak semudah yang kupikirkan. Pada musim dingin tahun 2014, karena tubuhku yang lemah dan kondisi penjara yang sangat buruk, di mana aku harus mencuci rambut dan mandi dengan air keran yang dingin bahkan di musim dingin yang menusuk, aku hampir selalu pilek dan flu. Seiring berjalannya waktu, pembuluh darah kapiler di hidungku pecah karena aku sering membuang ingus. Awalnya, pendarahannya hanya sedikit dan sesekali, tetapi lama kelamaan, pendarahannya menjadi makin parah, sampai akhirnya, dalam beberapa kesempatan, hidungku terus-menerus mengeluarkan darah, seperti air yang mengalir dari keran. Para sipir melihat aku terlalu banyak mengeluarkan darah dan takut aku akan mati di bengkel, jadi mereka membawaku ke rumah sakit penjara. Namun, kondisi medis di rumah sakit penjara sangat buruk. Dokter hanya memberiku infus dan tidak melakukan tindakan apa pun untuk menghentikan pendarahan. Dia juga meletakkan sebuah ember plastik di depanku, dan dengan dingin berkata, "Kalau kau mau berdarah, berdarah ke ember saja. Jangan sampai darahmu berceceran di lantai." Setelah mengatakan itu, dia langsung berbalik dan pergi. Hidungku terus-menerus mimisan, jadi aku memakai tisu untuk menyumbat lubang hidungku dan menghentikan pendarahan. Namun, begitu lubang hidung kusumbat, darah mulai mengalir keluar dari mulutku. Karena kehilangan banyak darah, aku bisa merasakan panas tubuhku perlahan-lahan menghilang. Darah terus mengalir sesekali dari hidungku, dan tak lama kemudian, aku sudah menghabiskan sebungkus tisu. Aku benar-benar kehabisan tenaga, dan aku hanya bisa membiarkan darah mengalir dari mulut dan hidungku ke pakaianku. Tak lama kemudian, ada noda merah besar di dadaku, dan aku mulai merasa makin dingin. Aku hanya bisa bersandar lemah di dinding yang dingin, dan aku merasa seolah-olah detik-detik hidupku sedang dihitung mundur. Sambil menatap langit-langit, aku berpikir, "Kalau begini terus, tidak lama lagi aku akan mati kehabisan darah. Kalau aku mati seperti ini di penjara, tidak akan ada yang tahu. Aku tidak akan pernah bertemu lagi dengan saudara-saudariku, apalagi melihat hari kemuliaan Tuhan." Aku juga teringat bagaimana, setelah percaya kepada Tuhan, aku telah melepaskan karier dan meninggalkan rumahku karena diburu oleh PKT, dan bagaimana aku terus-menerus melaksanakan tugasku di rumah Tuhan. Aku tidak pernah menyangka bahwa pada akhirnya aku akan mati di penjara, bukannya menerima berkat. Makin aku memikirkannya, makin aku merasa sedih, dan hatiku dipenuhi kepiluan. Dalam penderitaanku, aku berdoa dalam hati kepada Tuhan, "Tuhan, apa yang kuhadapi ini mengandung maksud-Mu, tetapi tingkat pertumbuhanku terlalu kecil, dan melihat bahwa aku akan mati, hatiku dipenuhi penderitaan dan keputusasaan. Tuhan, tolong beri aku iman dan kekuatan, agar melalui Engkau aku dapat menjadi teguh." Setelah berdoa, aku teringat akan apa yang Ayub katakan selama menghadapi ujiannya: "Yahweh yang memberi, Yahweh juga yang mengambil; terpujilah nama Yahweh" (Ayub 1:21). Ketika pencobaan Iblis menimpa Ayub, dia kehilangan semua harta benda dan anak-anaknya, dan seluruh tubuhnya dipenuhi barah yang menyakitkan. Hal-hal ini akan menjadi pukulan yang tak tertahankan bagi siapa pun, tetapi Ayub memiliki hati yang takut akan Tuhan. Dia tidak mengeluh terhadap Tuhan, juga tidak berdosa dengan mulutnya, tetapi sebaliknya, dia menerima bahwa itu adalah dari Tuhan, percaya bahwa semua kekayaan dan anak-anaknya adalah pemberian Tuhan, dan meskipun dia tampak seperti dirampok, hal ini telah terjadi atas izin Tuhan. Oleh karena itu, Ayub tunduk saat Tuhan mengambil semua itu darinya dan dengan rela mengembalikan semua yang dimilikinya kepada Tuhan, sambil tetap memuji nama Tuhan yang kudus. Di tengah pencobaan Iblis, iman, ketundukan, dan rasa takut Ayub akan Tuhan memungkinkannya untuk tetap teguh dalam kesaksiannya bagi Tuhan dan mempermalukan Iblis, dan dia menerima perkenanan dan berkat Tuhan. Setelah merenungkan kesaksian Ayub, aku menyadari bahwa semua yang kumiliki, termasuk hidupku, adalah pemberian Tuhan. Adalah hal yang wajar bagi Tuhan untuk mengambilnya kembali, dan aku seharusnya tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Namun, ketika dihadapkan pada kematian, aku merasa menderita dan putus asa, dan hatiku tidak rela. Aku menyadari bahwa aku tidak memiliki ketundukan terhadap Tuhan, dan bahwa imanku benar-benar kecil. Setelah menyadari hal ini, aku berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, aku bersedia menyerahkan hidupku ke dalam tangan-Mu. Entah aku hidup atau mati, aku bersedia tunduk pada kedaulatan dan pengaturan-Mu." Setelah berdoa, hatiku menjadi jauh lebih tenang, dan aku merasa bahwa Tuhan adalah sandaranku yang kuat dan perkasa. Tanpa diduga, ketika aku sepenuhnya memercayakan hidup dan matiku kepada Tuhan, aku melihat perbuatan-Nya. Tuhan menggerakkan seorang narapidana yang tidak kukenal untuk pergi mencari direktur rumah sakit penjara, mengatakan bahwa aku berasal dari kampung halaman yang sama dengan direktur tersebut, dan memintanya untuk membantuku. Sebenarnya, aku tidak berasal dari kota yang sama dengan direktur. Setelah direktur datang dan melihatku berlumuran darah, dia segera berkata, "Jangan khawatir, aku akan menyuruh seseorang membawamu ke rumah sakit kota untuk transfusi darah dan perawatan darurat." Namun, setelah para sipir membawaku ke rumah sakit kota, untuk menghemat biaya, mereka hanya melakukan operasi penghentian pendarahan, dan aku tidak menerima transfusi darah. Kupikir, karena aku telah kehilangan begitu banyak darah, para sipir pasti akan mengizinkanku beristirahat selama beberapa hari. Namun, tanpa diduga, begitu aku turun dari meja operasi, para sipir langsung mengirimku kembali bekerja di bengkel. Aku merasa pusing, melayang, dan kepalaku seolah berputar. Dalam hatiku, aku makin membenci PKT yang meremehkan nyawa manusia. Aku menempuh jalan hidup yang benar dengan percaya kepada Tuhan dan memberitakan Injil, tetapi aku justru menderita penganiayaan yang keji seperti ini dari PKT! Selain kebencian, hatiku dipenuhi kesedihan, dan aku berpikir, "Sepertinya kali ini aku benar-benar akan mati di penjara, dan aku tidak akan pernah melihat hari ketika kerajaan Tuhan terwujud." Aku menyadari bahwa keadaanku salah, dan setelah mengingat kembali pengalaman-pengalaman sebelumnya, aku tahu bahwa situasi ini adalah ujian dari Tuhan bagiku. Aku bersedia tunduk pada penataan dan pengaturan Tuhan, dan mencari maksud-Nya dalam situasi ini. Kemudian, ketika aku tunduk, aku melihat perbuatan Tuhan lagi. Seorang sipir dari kampung halamanku mendengar tentang situasiku dan membujuk pemimpin bengkel, memintanya untuk mengizinkanku beristirahat selama beberapa hari, dan akhirnya aku pulih. Aku melihat kemahakuasaan dan kedaulatan Tuhan dan memperoleh lebih banyak iman kepada-Nya, dan aku memahami bahwa entah aku hidup atau mati, itu ada di tangan Tuhan. Tidak peduli seberapa jahatnya naga merah yang sangat besar atau bagaimana dia mencoba membunuhku, tanpa izin Tuhan, tidak ada yang bisa mengambil nyawaku.

Aku teringat bagaimana dalam semua kesempatan ini, ketika aku menghadapi situasi-situasi ini, aku begitu mengkhawatirkan masa depan dan nasibku, selalu khawatir bahwa jika aku mati, aku tidak akan bisa diselamatkan. Aku menyadari bahwa situasi yang Tuhan atur bukan hanya untuk menunjukkan kepadaku kejahatan PKT, melainkan juga untuk membuatku memahami watak rusakku sendiri. Aku teringat akan firman Tuhan: "Dalam kepercayaan kepada Tuhan, yang orang cari adalah mendapatkan berkat untuk di masa depan; inilah tujuan dalam iman mereka. Semua orang memiliki niat dan harapan ini, tetapi kerusakan dalam natur mereka harus dibereskan melalui ujian dan pemurnian. Dalam aspek mana pun engkau tidak murni dan memperlihatkan kerusakan, dalam aspek-aspek inilah engkau harus dimurnikan—ini adalah pengaturan Tuhan. Tuhan menciptakan suatu lingkungan untukmu, yang memaksamu dimurnikan di sana sehingga engkau mampu mengetahui kerusakanmu sendiri. Pada akhirnya, engkau akan mencapai titik di mana engkau lebih suka mati untuk meninggalkan niat dan keinginanmu, serta tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Setelah merenungkan firman Tuhan dan membandingkannya dengan pengalamanku sendiri, aku menyadari bahwa hanya melalui pemurnian, seseorang dapat melihat dengan jelas tingkat pertumbuhannya dan memahami kerusakannya. Sebelumnya, aku selalu berpikir bahwa dengan meninggalkan keluarga dan karierku untuk melaksanakan tugasku, menghadapi penangkapan dan penganiayaan dari naga merah yang sangat besar dan tidak mengkhianati Tuhan, itu berarti bahwa aku adalah orang percaya yang tulus. Namun, dalam situasi ini, aku akhirnya menyadari bahwa aku percaya kepada Tuhan hanya demi masa depan serta tempat tujuan yang baik, dan bahwa aku tidak dengan tulus ingin memuaskan Tuhan. Jadi, begitu aku melihat bahwa aku tidak bisa mendapatkan berkat, aku menjadi negatif dan menderita. Ketika pertama kali mengetahui bahwa aku dijatuhi hukuman tiga setengah tahun, aku teringat akan betapa parahnya pendarahan lambungku dan betapa lemahnya tubuhku, dan aku takut akan mati di penjara dan tidak akan pernah melihat hari ketika kerajaan Tuhan terwujud. Karena ini, aku begitu tersiksa hingga tidak bisa tidur, dan aku bahkan salah memahami bahwa Tuhan menggunakan situasi ini untuk menyingkirkanku. Setelah masuk penjara, karena beban kerja yang terlalu berat, aku tidak bisa meluruskan jari-jariku, dan aku khawatir jika aku menjadi cacat, aku tidak akan punya jalan keluar dalam hidup. Aku juga khawatir tidak akan bisa melaksanakan tugasku dan sehingga tidak akan bisa diselamatkan, jadi aku berharap agar Tuhan menghancurkan naga merah yang sangat besar sesegera mungkin dan hidup dalam keputusasaan. Kemudian, karena mimisan yang tidak kunjung berhenti, aku takut akan mati dan merasa menderita juga sengsara, bahkan menyesal telah meninggalkan rumah untuk melaksanakan tugasku. Baru pada saat itulah aku menyadari bahwa dalam menjaga imanku dan melaksanakan tugasku, aku sama sekali tidak menerapkan kebenaran atau tunduk kepada Tuhan, juga tidak berusaha membalas kasih Tuhan. Sebaliknya, aku menggunakan pelaksanaan tugasku untuk mencoba tawar-menawar demi kasih karunia dan berkat Tuhan dan untuk mencoba mendapatkan kesudahan serta tempat tujuan yang baik. Meskipun aku berdalih mengorbankan diri untuk Tuhan, pada dasarnya, aku berusaha memuaskan keinginanku sendiri untuk diberkati. Dengan melaksanakan tugasku seperti ini, aku mencoba tawar-menawar dengan Tuhan, dan aku mencoba memanfaatkan serta menipu-Nya. Di mana letak hati nurani atau nalarku? Seandainya Tuhan tidak menggunakan penganiayaan oleh naga merah yang sangat besar untuk menyingkapkan dan memurnikanku, aku akan terus tertipu oleh pengorbanan serta upaya lahiriahku, dan aku akan terus percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugasku dengan niat untuk diberkati. Pada akhirnya, aku akan berakhir seperti Paulus, yang menjadikan upaya dan pengorbanannya sebagai modal untuk menuntut kasih karunia dari Tuhan, dan tanpa malu berkata, "Aku sudah melakukan pertandingan yang baik. Aku sudah menyelesaikan perlombaanku, aku sudah menjaga imanku: Mulai dari sekarang sudah tersedia bagiku mahkota kebenaran" (2 Timotius 4:7-8). Kalau aku terus percaya dengan cara seperti itu sampai akhir, aku tidak akan bisa mendapatkan kebenaran dan diselamatkan, dan hanya akan menghancurkan diriku sendiri. Aku akhirnya memahami niat Tuhan yang tekun; Dia menggunakan situasi seperti ini untuk memurnikan dan membersihkanku dari kerusakan dan kenajisan dalam diriku. Aku benar-benar merasa bahwa meskipun tindakan Tuhan tidak sejalan dengan kehendakku, semuanya adalah kasih dan keselamatan bagiku. Pada saat yang sama, aku juga merasakan belas kasihan dan perlindungan Tuhan bagi diriku. Saat aku menerima vonis dan khawatir tidak akan bisa keluar dari penjara hidup-hidup, Tuhanlah yang mencerahkan dan membimbingku melalui firman-Nya, dan memberiku iman untuk menghadapi lingkungan penjara yang keras. Saat aku khawatir akan menjadi cacat dan tidak bisa bertahan hidup, Tuhan membimbingku melalui bunga dan rerumputan, dan melalui perbuatan orang-orang kudus dari generasi-generasi yang lalu di dalam buku itu, mendorongku untuk bertekad agar terus maju. Saat aku mengalami pendarahan hebat dan nyawaku terancam, Tuhan menggerakkan seorang narapidana yang tidak kukenal untuk menemui direktur, sehingga aku mendapat pertolongan dan berhasil selamat. Aku sering teringat akan firman dalam "Helaan Duka Yang Mahakuasa", di mana Tuhan berfirman: "Dia berjaga di sisimu" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan). Aku sangat merasakan bahwa di saat-saat krisis, Tuhanlah satu-satunya sandaran dan tempat perlindunganku! Aku teringat bagaimana, selama bertahun-tahun ini percaya kepada Tuhan, aku tidak pernah memberikan hatiku yang tulus kepada-Nya. Aku hanya melaksanakan sedikit tugasku sambil mencoba tawar-menawar dengan Tuhan, tetapi Tuhan tidak memperlakukanku sesuai dengan pemberontakanku. Di saat-saat sulit, ketika aku berseru kepada Tuhan, Dia tetap menyertaiku. Dia juga menuntun dan membimbingku melalui firman-Nya, membangkitkan berbagai orang, peristiwa, dan hal-hal untuk membantuku. Pada saat itu, penyesalan dan rasa bersalah memenuhi hatiku, dan aku berdoa dalam hati kepada Tuhan, "Tuhan, aku belum mengejar kebenaran dengan sungguh-sungguh. Aku hanya berkorban demi masa depan dan nasibku sendiri. Kalau aku bisa selamat dan keluar dari sini, aku pasti akan mengejar kebenaran dengan sungguh-sungguh dan tidak akan menyia-nyiakan keselamatan dari-Mu. Sekalipun aku tidak memiliki tempat tujuan yang baik, aku akan tetap melaksanakan tugasku dengan baik dan membalas kasih-Mu!"

Setelah melalui pengalaman ini, aku lebih memahami pentingnya Tuhan menggunakan naga merah yang sangat besar untuk melakukan pelayanan. Seandainya aku tidak secara pribadi mengalami penganiayaan dari naga merah yang sangat besar, aku tidak akan melihat esensi setannya dengan begitu jelas, imanku kepada Tuhan dan ketundukanku kepada-Nya juga tidak akan meningkat, dan aku tidak akan memperoleh pemahaman sejati tentang watak rusakku. Aku benar-benar mengalami bahwa pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan manusia begitu nyata dan begitu bijaksana! Aku juga mulai memahami bahwa naga merah yang sangat besar menentang Tuhan dan menganiaya umat pilihan Tuhan dengan begitu ganas, dan Tuhan sudah ingin menghancurkannya sejak lama. Namun, karena kita, sekelompok orang ini, belum disempurnakan, Tuhan masih perlu menggunakannya untuk melakukan pelayanan. Begitu pelayanannya selesai, keruntuhannya akan tiba.

Pada tanggal 9 November 2015, aku dibebaskan setelah menjalani hukumanku. Dua sipir mengantarku ke gerbang penjara, dan salah satu dari mereka bertanya kepadaku, "Apa kau akan tetap percaya kepada Tuhan setelah keluar dari sini? Kalau ya, kau akan kembali ke sini lagi!" Aku dengan tegas berkata, "Percaya kepada Tuhan adalah kebebasanku!" Kedua sipir itu menatapku dengan heran lalu hanya menggelengkan kepala. Sekitar sepuluh hari setelah aku bebas, saudara-saudariku menghubungiku, dan aku bergabung kembali dengan kelompok yang menyebarluaskan Injil Kerajaan.

Kemudian, aku berpikir, "Setiap kali menyangkut masa depan dan nasibku, mengapa aku merasa begitu sengsara dan tertekan, sampai-sampai aku berdebat dengan Tuhan dan tidak bisa benar-benar tunduk pada penataan serta pengaturan-Nya? Apa yang sebenarnya mengendalikanku?" Selama saat teduhku, aku membaca firman Tuhan: "Sebelum manusia mengalami pekerjaan Tuhan dan memahami kebenaran, natur Iblislah yang mengendalikan dan menguasai mereka dari dalam. Secara spesifik, apa yang terkandung dalam natur tersebut? Misalnya, mengapa engkau egois? Mengapa engkau mempertahankan posisimu? Mengapa engkau memiliki perasaan yang begitu kuat? Mengapa engkau menikmati hal-hal yang tidak benar? Mengapa engkau menyukai kejahatan? Apakah dasar kesukaanmu akan hal-hal seperti itu? Dari manakah asal hal-hal ini? Mengapa engkau begitu senang menerimanya? Saat ini, engkau semua telah memahami bahwa alasan utama di balik semua hal ini adalah karena racun Iblis ada di dalam diri manusia. Jadi, apakah racun Iblis itu? Bagaimana racun Iblis dapat diungkapkan? Misalnya, jika engkau bertanya, 'Bagaimana seharusnya orang hidup? Untuk apa seharusnya orang hidup?' Orang akan menjawab: 'Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya.' Satu frasa ini mengungkapkan sumber penyebab masalahnya. Falsafah dan logika Iblis telah menjadi kehidupan manusia. Apa pun yang orang kejar, mereka melakukannya demi diri mereka sendiri—oleh karena itu, mereka hidup hanya demi diri mereka sendiri. 'Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya'—ini adalah falsafah hidup manusia dan ini juga mewakili natur manusia. Perkataan ini telah menjadi natur manusia yang rusak dan perkataan ini adalah gambaran sebenarnya dari natur Iblis manusia yang rusak. Natur Iblis ini telah menjadi dasar bagi keberadaan manusia yang rusak. Selama ribuan tahun, umat manusia yang rusak telah hidup berdasarkan racun Iblis ini, hingga hari ini" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Cara Menempuh Jalan Petrus"). Setelah membaca firman Tuhan ini, aku memahami bahwa kekhawatiranku yang terus-menerus tentang masa depan dan nasibku dalam iman dan tugasku bukanlah sekadar perwujudan watak rusak, melainkan terutama karena ada natur Iblis di dalam diriku. Aku hidup berdasarkan falsafah Iblis bahwa "Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya" dan "Jangan pernah bangun pagi kecuali ada untungnya". Dalam segala hal yang kulakukan, aku mengikuti prinsip-prinsip kepentingan diri sendiri. Aku benar-benar egois dan tercela. Dari luar, kelihatannya aku telah meninggalkan segalanya untuk melaksanakan tugasku, tetapi pada kenyataannya, aku mencari keuntungan pribadi, dan mencoba bertransaksi untuk mendapatkan berkat masuk ke dalam kerajaan surga. Aku ingat ketika seseorang pertama kali memberitakan Injil Tuhan Yesus kepadaku. Aku mendengar bahwa percaya kepada Tuhan akan mendatangkan kasih karunia serta berkat, dan setelah mati, jiwaku akan diselamatkan dan masuk surga. Jadi, aku percaya kepada Tuhan. Setelah menerima pekerjaan Tuhan di akhir zaman, aku mengetahui bahwa Tuhan akan sepenuhnya membersihkan dan menyelamatkan orang-orang dan membawa mereka ke zaman berikutnya, sehingga aku merasa sangat gembira. Demi menerima berkat di masa depan, aku dengan tegas meninggalkan keluarga juga karierku, dan memilih untuk melaksanakan tugasku penuh waktu. Setelah percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa selama lebih dari setahun, aku ditangkap karena memberitakan Injil. Setelah dibebaskan dengan jaminan, polisi membatasi pergerakanku dan melarangku meninggalkan daerah setempat, menuntut agar aku siap sedia kapan saja; kalau tidak, aku akan dijebloskan ke penjara. Namun, aku tetap memilih untuk melaksanakan tugasku di daerah lain, karena kupikir dengan melakukan itu, aku bisa diingat oleh Tuhan dan menerima berkat-Nya. Namun, ketika aku ditangkap lagi, dijatuhi hukuman tiga setengah tahun, dan dihadapkan pada kemungkinan menjadi cacat atau mati di penjara, aku merasa harapanku untuk menerima berkat telah pupus. Aku merasa sangat menderita dan putus asa, dan aku bahkan menyesal telah pergi ke daerah lain untuk melaksanakan tugasku. Kupikir setelah aku berkorban begitu banyak, Tuhan tidak seharusnya membiarkanku mati, dan Dia seharusnya memberiku tempat tujuan yang baik. Aku menyadari bahwa hidup berdasarkan racun-racun Iblis ini membuatku sangat egois, hanya memikirkan keuntunganku sendiri. Aku tidak memiliki rasa takut atau ketundukan kepada Tuhan. Sebagai makhluk ciptaan, percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugasku adalah tanggung jawabku yang tidak dapat dielakkan, tetapi apa yang kupikirkan dan kuinginkan hanyalah untuk diriku sendiri. Aku ingin menggunakan tugasku sebagai kesempatan untuk mencoba tawar-menawar dengan Tuhan dan mewujudkan mimpiku untuk diberkati. Aku benar-benar egois dan tercela! Aku teringat bagaimana Tuhan telah menjadi daging dua kali untuk menyelamatkan umat manusia, menghadapi penolakan dan fitnah dari dunia, dan menanggung kesalahpahaman, keluhan, dan bahkan dimanfaatkan oleh mereka yang percaya kepada Tuhan. Namun, Tuhan tidak pernah menuntut apa pun dari manusia, apalagi meminta siapa pun untuk membalas-Nya. Dia hanya mengungkapkan kebenaran untuk menyirami dan membekali manusia, dan dengan diam-diam menunggu mereka kembali. Kasih Tuhan benar-benar tanpa pamrih! Aku teringat akan betapa banyak firman Tuhan yang telah kumakan dan minum, dan betapa banyak yang telah kuterima dari Tuhan, tetapi aku tidak pernah berpikir untuk membalas kasih Tuhan dengan melaksanakan tugasku dengan baik. Aku hanya fokus agar Tuhan memberiku tempat tujuan yang baik, dan ketika aku tidak menerimanya, aku menjadi negatif dan menderita, dan bahkan menyesali pengorbananku. Aku merasakan penyesalan dan rasa bersalah yang mendalam, dan aku membenci diriku sendiri karena sungguh tidak memiliki hati nurani dan kemanusiaan!

Di bawah bimbingan Tuhan, aku kemudian teringat akan sebuah bagian dari firman Tuhan: "Engkau adalah makhluk ciptaan—engkau tentu saja harus menyembah Tuhan dan mengejar kehidupan yang bermakna. Jika engkau tidak menyembah Tuhan tetapi hidup dalam dagingmu yang kotor, lalu bukankah engkau hanyalah binatang buas yang mengenakan pakaian manusia? Karena engkau adalah manusia, engkau harus mengorbankan dirimu bagi Tuhan dan menanggung semua penderitaan! Engkau harus dengan senang hati dan tanpa ragu-ragu menerima sedikit penderitaan yang engkau alami sekarang dan menjalani kehidupan yang bermakna, seperti Ayub dan Petrus. ... Engkau semua adalah orang-orang yang mengejar jalan yang benar dan yang mencari peningkatan. Engkau semua adalah orang-orang yang bangkit di negara si naga merah yang sangat besar, mereka yang Tuhan sebut orang benar. Bukankah itu kehidupan yang paling bermakna?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Penerapan (2)"). Firman Tuhan memberiku arah untuk melangkah maju. Aku memahami bahwa sebagai makhluk ciptaan, aku harus mengejar kebenaran, menyembah Tuhan, memenuhi fungsi makhluk ciptaan, dan menjalani hidup yang bermakna. Inilah jalan hidup yang benar! Aku bertekad untuk tidak lagi mencoba tawar-menawar dengan Tuhan. Aku akan menempatkan diri di posisi sebagai makhluk ciptaan, melaksanakan tugasku dengan baik dan berusaha untuk mengasihi dan memuaskan Tuhan.

Aku sekarang sudah keluar dari penjara selama sembilan tahun, dan setiap kali aku mengingat pengalamanku di penjara itu, perasaanku sangat campur aduk. Jika aku tidak mengalami situasi itu, aku tidak akan menyadari betapa kecilnya tingkat pertumbuhanku, atau betapa sedikitnya imanku kepada Tuhan, apalagi memahami watak rusakku yang egois dan tercela, serta pengejaranku yang keliru. Pada saat yang sama, aku juga memahami bahwa Tuhan menggunakan naga merah yang sangat besar untuk melakukan pelayanan, melakukannya untuk menyingkapkanku dan membersihkan watak Iblis dalam diriku, sehingga mengubah pandanganku yang keliru tentang mengejar berkat dalam imanku, dan membuatku melepaskan banyak kekhawatiranku tentang masa depan dan nasibku. Hal-hal ini tidak akan bisa kudapatkan di lingkungan yang nyaman. Sekarang, penangkapan orang-orang percaya oleh PKT menjadi makin parah. Aku sering mendengar tentang saudara-saudari yang ditangkap dan dijatuhi hukuman, dan bahkan ada yang dipukuli sampai mati. Terkadang aku berpikir bahwa aku makin tua dan kondisi kesehatanku tidak sebaik dulu. Aku sudah pernah ditangkap dua kali, dan jika aku ditangkap lagi, aku pasti akan menerima hukuman yang berat. Sangat besar kemungkinan bahwa aku akan mati di penjara dan tidak bisa melihat hari ketika kerajaan terwujud. Namun, ketika aku memikirkan bimbingan dan perbuatan Tuhan yang telah kualami, hatiku terasa jauh lebih tenang dan tenteram. Aku teringat akan sebuah lagu pujian gereja yang sering kunyanyikan dan sangat menguatkanku, "Dalam Mengikuti Kristus, Aku Takkan Berpaling, Meskipun sampai Mati": "Iblis, naga merah yang sangat besar, menindas dan menangkap umat pilihan Tuhan dengan gila-gilaan. Mereka yang mengikuti Kristus mempertaruhkan nyawa demi melaksanakan tugas mereka. Suatu hari nanti, aku mungkin akan ditangkap dan dianiaya karena bersaksi tentang Tuhan. Dalam hatiku, aku memahami dengan jelas bahwa ini adalah penganiayaan demi kebenaran. Mungkin hidupku akan lenyap seperti kembang api yang sekejap. Dalam hidup ini, mengikuti dan bersaksi tentang Kristus memenuhi hatiku dengan kebanggaan. Sekalipun aku tak bisa menyaksikan agungnya perluasan Kerajaan yang belum pernah terjadi, aku tidak akan menyesal ataupun mengeluh, dan aku akan mempersembahkan harapan terbaikku. Sekalipun aku tidak bisa menyaksikan hari ketika Kerajaan terwujud, hari ini, dapat memberi kesaksian untuk mempermalukan Iblis saja sudah cukup bagiku" (Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru). Aku tahu bahwa jalan di depan penuh dengan banyak kesulitan dan rintangan, tetapi apa pun ujian dan kesengsaraan yang akan kualami, atau apakah aku akan memiliki masa depan atau tempat tujuan yang baik, aku akan tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan, melaksanakan tugasku dengan baik, dan berusaha untuk menerapkan lirik lagu ini dalam kehidupanku sehari-hari.

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Renungan Seorang Pasien Uremia

Aku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa di akhir zaman ketika berusia empat puluhan. Aku melihat bahwa pekerjaan Tuhan di akhir zaman...

Hubungi kami via WhatsApp