Haruskah Meninggalkan Segala Sesuatu dan Mengorbankan Diri untuk Tuhan Dibalas dengan Berkat?

11 Februari 2026

Pada tahun 2022, aku bertemu Saudari Guo Li di sebuah gereja. Dari percakapan kami, aku mengetahui bahwa dia telah meninggalkan rumah untuk melaksanakan tugasnya sepuluh tahun yang lalu dan selama bertahun-tahun ini telah melayani sebagai pemimpin atau pekerja. Kapan pun gereja membutuhkan penyiraman dan dukungan, dia selalu bekerja sama secara aktif, dan dia mampu menanggung kesulitan serta membayar harga. Namun dalam beberapa tahun terakhir, tumor ganas tumbuh di lengannya, dan dia telah menjalani empat operasi dalam tiga tahun. Ketika mendengar ini, aku merasa sangat tidak enak. "Saudari ini benar-benar percaya kepada Tuhan, dan dia mampu meninggalkan segala sesuatu, mengorbankan diri, menanggung kesulitan, dan membayar harga dalam tugasnya," pikirku. "Bagaimana mungkin Tuhan tidak menjaga dan melindunginya dan malah membiarkannya terkena penyakit yang begitu mengerikan? Aku juga telah meninggalkan segala sesuatu dan mengorbankan diri selama bertahun-tahun. Aku tidak melepaskan tugasku bahkan ketika aku dianiaya oleh suamiku. Sekarang aku hampir berusia 50 tahun, dan masalah leher serta nyeri bahuku makin parah. Aku bahkan tidak tahu apakah Tuhan akan menjagaku tetap aman di masa depan! Bagaimana jika aku terkena penyakit serius seperti dia suatu hari nanti?" Aku tidak berani memikirkannya lebih jauh, dan aku tidak bisa menahan perasaan agak putus asa. Selama waktu itu, aku terus-menerus mengkhawatirkan kondisi Guo Li. Ketika aku mengetahui bahwa di tengah rasa sakitnya, dia mencari kebenaran, merenungkan dan memahami watak rusaknya, dan mampu tunduk kepada Tuhan tanpa mengeluh, dan masih melaksanakan tugasnya sebaik mungkin, aku berharap bahwa Tuhan akan melindungi dan menyembuhkan penyakitnya, oleh karena imannya yang tulus dan semua pengorbanan dirinya untuk-Nya. Setelah itu, setiap kali kami bertemu, hal pertama yang kulakukan adalah menanyakan kondisinya. Suatu kali, Guo Li memberitahuku bahwa dokternya berkata bahwa tidak ada yang perlu dia khawatirkan lagi. Mendengar berita ini, aku sangat senang, dan aku berpikir, "Sepertinya Tuhan benar-benar melindungi mereka yang dengan tulus mengorbankan diri untuk-Nya. Meskipun pekerjaan Tuhan pada tahap ini tidak seperti pekerjaan Tuhan Yesus di Zaman Kasih Karunia, di mana Dia menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan, pekerjaan penghakiman, hajaran, ujian, dan pemurnian Tuhan juga disertai dengan berkat-berkat-Nya. Selama orang memetik pelajaran dari penyakit mereka, tidak mengeluh tentang Tuhan, dan tetap teguh dalam kesaksian mereka bagi-Nya, Dia akan tetap menjaga mereka. Ini persis seperti ketika Ayub mengalami ujian Tuhan. Dia kehilangan kekayaannya yang besar dan semua anak-anaknya, dan tubuhnya dipenuhi bisul yang menyakitkan, tetapi dia tetap memuji nama Tuhan tanpa mengeluh dan tetap teguh dalam kesaksiannya bagi Tuhan. Pada akhirnya, penyakitnya disembuhkan, dan Tuhan memberkatinya dengan kekayaan yang bahkan lebih banyak dari sebelumnya. Anak-anaknya lebih rupawan, dan umur hidupnya dilipatgandakan. Tuhan sungguh benar!" Dengan berpikir seperti ini, keputusasaanku lenyap seketika, dan aku merasa bersemangat kembali dalam tugasku.

Yang mengejutkanku, beberapa bulan kemudian aku mendengar bahwa kanker Guo Li kambuh dan lengannya harus diamputasi. Hatiku tersentak. "Bagaimana bisa begini hasilnya? Guo Li benar-benar percaya kepada Tuhan, dia telah meninggalkan segala sesuatu dan mengorbankan diri selama bertahun-tahun, dan bahkan ketika sakit parah, dia tidak mengkhianati Tuhan dan masih melaksanakan tugasnya semampunya. Mengapa Tuhan tidak menyembuhkannya sepenuhnya? Mengapa dia harus diamputasi?" Aku tidak bisa memahaminya. "Dia tetap teguh dalam kesaksiannya, jadi mengapa Tuhan tidak melindunginya? Tampaknya meninggalkan segala sesuatu dan mengorbankan diri tidak menjamin pemeliharaan dan perlindungan Tuhan! Tuhan bahkan tidak memberikan upah atau berkat khusus apa pun kepada mereka yang benar-benar percaya kepada-Nya dan meninggalkan segala sesuatu serta mengorbankan diri. Jika percaya kepada Tuhan berujung pada akhir seperti Guo Li, itu sama sekali tidak sepadan!" Saat itu, aku tidak bisa menerima hasil seperti itu. Gagasan, kesalahpahaman, dan penghakimanku tentang Tuhan semuanya meluap tak terkendali. Aku bahkan tidak tahu apa yang harus dipersekutukan dalam pertemuan. Hatiku terasa hampa, dingin seperti es, dan rasa sakitnya tak terlukiskan. Aku menjadi sangat putus asa. Aku teringat bagaimana aku juga telah meninggalkan keluargaku dan melepaskan pekerjaanku untuk melaksanakan tugasku selama bertahun-tahun. Sekarang suamiku telah menemukan wanita lain, dan aku bahkan tidak punya rumah untuk kembali. Apa yang akan kulakukan jika suatu hari nanti aku sakit parah dan Tuhan tidak menyembuhkanku? Aku tidak bisa menahan diri untuk mulai khawatir dan resah tentang masa depanku dan apa yang akan terjadi padaku. Hari itu, aku bahkan tidak bisa makan malam, dan aku tidak punya keinginan untuk menyelesaikan masalah yang dilaporkan oleh anggota tim. Aku tidur sangat awal malam itu. Selama periode itu, setiap kali aku memikirkan penyakit Guo Li, aku menjadi sangat putus asa dan kehilangan semua motivasi untuk tugasku. Aku tidak segera menindaklanjuti dan menyelesaikan kesulitan serta masalah para pendatang baru, yang menyebabkan makin banyak mereka yang tidak menghadiri pertemuan dengan teratur. Meskipun dalam hati aku menyesali diriku, aku tetap tidak bisa mengumpulkan kekuatan untuk melaksanakan tugasku. Ketika cuaca menjadi agak lebih dingin dan aku harus bepergian ke tempat yang jauh, aku tidak mau pergi. Aku hanya merasa karena semua tindakanku meninggalkan dan mengorbanan diri belum tentu mendapatkan pemeliharaan dan perlindungan Tuhan, mengapa aku masih harus berusaha begitu keras? Aku bahkan menyesal telah meninggalkan segalanya untuk keluar dan melaksanakan tugasku, takut jika aku berakhir seperti Guo Li dengan penyakit serius yang tidak disembuhkan Tuhan, semua upaya bertahun-tahun itu akan sia-sia. Selama waktu itu, hatiku diselimuti kegelapan dan aku tidak tahu harus berkata apa saat berdoa. Aku mulai merenungkan mengapa aku menjadi begitu putus asa setelah mengetahui tentang kambuhnya penyakit Guo Li.

Suatu hari selama saat teduhku, aku membaca satu bagian firman Tuhan dan memperoleh sedikit pemahaman tentang keadaanku. Tuhan berfirman: "Ada orang-orang yang beranggapan bahwa percaya kepada Tuhan haruslah mendatangkan kedamaian dan sukacita, dan jika mereka menghadapi situasi tertentu, mereka hanya perlu berdoa kepada Tuhan dan Tuhan akan mendengarkan, memberi mereka kasih karunia dan berkat, serta memastikan semuanya berjalan dengan damai dan lancar bagi mereka. Tujuan mereka percaya kepada Tuhan adalah untuk mencari kasih karunia, memperoleh berkat, dan menikmati kedamaian dan kebahagiaan. Karena pandangan inilah mereka meninggalkan keluarga atau berhenti dari pekerjaan mereka untuk mengorbankan diri bagi Tuhan dan mampu menanggung kesukaran dan membayar harga. Mereka yakin bahwa asalkan mereka meninggalkan segala sesuatu, mengorbankan diri bagi Tuhan, menanggung kesukaran, dan bekerja dengan tekun, memperlihatkan perilaku yang sangat baik, mereka akan memperoleh berkat dan perkenanan Tuhan, dan kesulitan apa pun yang mereka hadapi, asalkan mereka berdoa kepada Tuhan, Dia akan menyelesaikannya dan membuka jalan bagi mereka dalam segala hal. Inilah sudut pandang yang dimiliki mayoritas orang yang percaya kepada Tuhan. Orang-orang merasa bahwa sudut pandang ini sah dan benar. Kemampuan banyak orang untuk mempertahankan iman mereka kepada Tuhan selama bertahun-tahun tanpa melepaskan iman mereka berkaitan secara langsung dengan sudut pandang ini. Mereka berpikir, 'Aku telah berkorban begitu banyak untuk Tuhan, perilakuku begitu baik, dan aku tidak melakukan perbuatan jahat apa pun; Tuhan pasti akan memberkatiku. Karena aku telah banyak menderita dan membayar harga yang mahal untuk setiap tugas, melakukan segala sesuatu berdasarkan firman dan tuntutan Tuhan tanpa melakukan kesalahan apa pun, Tuhan seharusnya memberkatiku; Dia seharusnya memastikan bahwa semuanya berjalan lancar bagiku, dan bahwa aku harus sering memiliki kedamaian dan sukacita di hatiku, serta menikmati hadirat Tuhan.' Bukankah ini adalah gagasan dan imajinasi manusia? ... Ketika apa yang Tuhan lakukan tidak sesuai dengan gagasan manusia, di dalam hatinya, mereka dengan segera mengembangkan keluhan dan kesalahpahaman tentang Dia. Mereka bahkan merasa diperlakukan tidak adil, lalu mulai berdebat dengan Tuhan, dan mereka bahkan mungkin menghakimi dan mengutuk-Nya. Apa pun gagasan dan kesalahpahaman yang orang miliki, dari sudut pandang Tuhan, Dia tidak pernah bertindak atau memperlakukan siapa pun berdasarkan gagasan atau keinginan manusia. Tuhan selalu melakukan apa yang ingin Dia lakukan, berdasarkan cara-Nya sendiri dan berdasarkan pada esensi watak-Nya sendiri. Tuhan memiliki prinsip dalam cara-Nya memperlakukan setiap orang; tidak ada yang Dia lakukan kepada setiap orang yang didasarkan pada gagasan, imajinasi, atau preferensi manusia—ini adalah aspek pekerjaan Tuhan yang paling bertentangan dengan gagasan manusia. ... Ketika orang bersikeras berpaut pada gagasan mereka, mereka mengembangkan penentangan terhadap Tuhan. Ini terjadi secara alami. Di manakah sumber penentangan itu? Itu terletak pada fakta bahwa apa yang biasanya manusia miliki di dalam hati mereka tanpa diragukan lagi adalah gagasan dan imajinasi mereka dan bukan kebenaran. Oleh karena itu, ketika dihadapkan pada pekerjaan Tuhan yang tidak sesuai dengan gagasan manusia, orang mampu menentang Tuhan dan menghakimi-Nya. Ini membuktikan bahwa manusia pada dasarnya tidak memiliki hati yang tunduk kepada Tuhan, watak rusak mereka masih jauh dari ditahirkan, dan mereka pada dasarnya hidup berdasarkan watak rusak mereka. Mereka masih sangat jauh dari memperoleh keselamatan" (Firman, Jilid 5, Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja, "Tanggung Jawab para Pemimpin dan Pekerja (16)"). Setelah membaca firman Tuhan, barulah aku menyadari bahwa penyebab kerasnya reaksiku terhadap kabar kambuhnya kanker Guo Li dan lengannya yang diamputasi adalah karena kepercayaanku kepada Tuhan selalu didasarkan pada gagasan dan imajinasiku sendiri. Aku percaya bahwa selama seseorang dengan tulus percaya kepada Tuhan dan mampu meninggalkan segala sesuatu, mengorbankan diri, menderita, dan membayar harga dalam tugas mereka, Tuhan akan memberi mereka kasih karunia dan berkat, serta menjaga mereka tetap aman dan sehat, bebas dari penyakit dan bencana. Bahkan jika malapetaka menimpa mereka, selama mereka dengan tulus berdoa dan mengandalkan Tuhan serta terus melaksanakan tugas mereka, Dia akan menjaga mereka tetap aman. Melihat bahwa Guo Li telah meninggalkan segala sesuatu, mengorbankan diri, menanggung banyak penderitaan dan membayar harga yang mahal selama bertahun-tahun, dan terutama bahwa dia masih bisa berdoa kepada Tuhan, memetik pelajaran, dan bertahan dalam tugasnya di tengah penyakit, aku merasa bahwa Tuhan seharusnya memberkati dan melindunginya. Aku tidak pernah menyangka penyakitnya akan kambuh dan dia harus diamputasi. Ini memberikan pukulan berat bagi gagasanku dan menghancurkan harapanku untuk mendapatkan berkat dari percaya kepada Tuhan. Aku segera membayangkan jika suatu hari nanti aku sakit parah seperti Guo Li dan Tuhan tidak menyembuhkanku meskipun aku sudah berdoa, maka tidak ada gunanya percaya kepada Tuhan. Aku mengembangkan gagasan dan penentangan terhadap Tuhan, dalam hati aku menghakimi-Nya tidak benar. Aku menjadi begitu negatif sehingga aku kehilangan semua keinginan untuk melaksanakan tugasku, mulai mengkhawatirkan masa depanku sendiri, dan bahkan menyesal dahulu telah meninggalkan segalanya demi melaksanakan tugasku. Hanya melalui Tuhan yang menyingkapkanku, aku sadar bahwa kepercayaanku kepada-Nya hanyalah usahaku untuk tawar-menawar dengan-Nya. Aku ingin menggunakan tindakanku yang meninggalkan dan mengorbankan diri untuk menuntut kasih karunia serta berkat-Nya; aku sama sekali tidak melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan. Itu persis seperti Paulus, yang percaya, "Aku sudah melakukan pertandingan yang baik. Aku sudah menyelesaikan perlombaanku, aku sudah menjaga imanku: Mulai dari sekarang sudah tersedia bagiku mahkota kebenaran" (2 Timotius 4:7-8). Dia menggunakan kesibukannya ke sana kemari dan pengorbanannya sebagai alat tawar-menawar untuk menuntut mahkota kebenaran dari Tuhan, mencoba tawar-menawar dengan-Nya seolah-olah itu adalah haknya, dan mencoba memanfaatkan Dia untuk mencapai tujuan tercelanya, yaitu mendapatkan berkat dan keuntungan. Tuhan tidak pernah berkata bahwa orang bisa masuk kerajaan surga hanya dengan sibuk ke sana kemari dan mengorbankan diri. Paulus dengan penuh harap memperlakukan gagasan dan imajinasinya sebagai kebenaran yang harus dikejar. Dia sama sekali tidak percaya kepada Tuhan, tetapi kepada dirinya sendiri. Jalan yang ditempuhnya adalah jalan menentang Tuhan, dan pada akhirnya, dia mengalami hukuman Tuhan. Aku telah menganggap tindakanku meninggalkan, menderita, dan membayar harga sebagai alat tawar-menawar untuk ditukarkan dengan berkat Tuhan. Aku sama sekali tidak memperlakukan Tuhan sebagai Sang Pencipta; aku terus-menerus menipu dan memanfaatkan Dia. Ini menyinggung watak Tuhan, dan jika aku tidak bertobat, pada akhirnya aku juga akan disingkirkan. Baru saat itulah aku menyadari bahwa sangat berbahaya jika percaya kepada Tuhan tanpa mengejar kebenaran dan hanya mencari berkat serta kasih karunia secara membabi buta. Suatu hari nanti, ujian besar bisa datang, dan aku mungkin akan mengkhianati Tuhan, lalu disingkapkan dan disingkirkan.

Setelah itu, aku merenung lebih jauh. Aku sudah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun dan secara doktrin aku tahu bahwa aku tidak boleh tawar-menawar dengan Tuhan, tetapi mengapa keinginanku untuk mendapatkan berkat masih begitu berakar kuat? Selama saat teduhku, aku membaca firman Tuhan: "Di mata antikristus, dan dalam pemikiran serta pandangan mereka, mengikuti Tuhan itu harus ada keuntungannya; mereka tidak akan mau repot-repot bergerak jika tidak ada keuntungannya. Jika tidak ada ketenaran, keuntungan, atau status yang dapat dinikmati, jika pekerjaan yang mereka lakukan atau tugas yang mereka laksanakan sama sekali tidak membuat mereka dikagumi oleh orang lain, tidak ada gunanya percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugas mereka. ... Dalam kepercayaan mereka, antikristus hanya ingin diberkati, dan mereka tidak mau menderita kesengsaraan. Ketika mereka melihat seseorang yang diberkati, yang telah memperoleh keuntungan, yang telah diberi kasih karunia, dan yang telah menerima lebih banyak kenikmatan materi, keuntungan yang besar, mereka percaya bahwa ini dilakukan oleh Tuhan; dan jika mereka tidak menerima berkat materi seperti itu, berarti ini bukanlah tindakan Tuhan. Maksud mereka sebenarnya adalah, 'Jika engkau benar-benar tuhan, engkau hanya dapat memberkati manusia; engkau harus menghindarkan manusia dari kesengsaraan dan tidak membiarkan mereka mengalami penderitaan. Hanya dengan demikian, percaya kepadamu barulah berharga dan berguna bagi manusia. Jika setelah mengikutimu, orang masih ditimpa kesengsaraan, jika mereka masih menderita, lalu apa gunanya percaya kepadamu?' Mereka tidak mengakui bahwa semua hal dan peristiwa berada di tangan Tuhan, dan Tuhan berdaulat atas segalanya. Dan mengapa mereka tidak mengakuinya? Karena antikristus takut menderita kesengsaraan. Mereka hanya ingin memperoleh keuntungan, mendapatkan manfaat, menikmati berkat; mereka tidak mau menerima kedaulatan atau pengaturan Tuhan, tetapi hanya ingin menerima keuntungan dari Tuhan. Ini adalah sudut pandang antikristus yang egois dan tercela" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Sepuluh (Bagian Enam)). "Semua manusia yang rusak hidup demi diri mereka sendiri. Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya—inilah ringkasan dari natur manusia. Manusia percaya kepada Tuhan demi diri mereka sendiri; ketika mereka meninggalkan segala sesuatu dan mengorbankan diri mereka untuk Tuhan, tujuannya adalah untuk diberkati, dan ketika mereka berbakti kepada-Nya, tujuannya masih untuk mendapatkan upah. Singkatnya, semua itu dilakukan dengan tujuan untuk diberkati, diberi upah, dan masuk ke dalam kerajaan surga. Di tengah masyarakat, orang bekerja untuk keuntungan diri mereka sendiri, dan di rumah Tuhan, mereka melaksanakan tugas untuk diberkati. Demi mendapatkan berkat, orang meninggalkan segalanya dan mampu menanggung banyak penderitaan. Tidak ada bukti yang lebih kuat mengenai natur Iblis dalam diri manusia dibandingkan hal ini" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Tuhan menyingkapkan bahwa antikristus percaya kepada-Nya hanya untuk mendapatkan berkat dan keuntungan dari-Nya serta agar terlindung dari kemalangan. Jika mereka tidak bisa mendapatkan berkat, mereka merasa bahwa percaya kepada Tuhan itu tidak ada artinya dan mereka akan meninggalkan-Nya. Ini sepenuhnya ditentukan oleh natur antikristus yang egois dan tercela. Saat merenungkan diriku sendiri, aku melihat bahwa aku juga hidup berdasarkan racun Iblis seperti "Jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, langit dan bumi akan menghukumnya" dan "Jangan pernah bangun pagi kecuali ada untungnya." Segala sesuatu yang kulakukan didorong oleh kepentingan diri sendiri, dan harus menguntungkan bagiku. Sebelum percaya kepada Tuhan, aku selalu lemah dan sakit-sakitan. Namun setelah aku mulai percaya dan melaksanakan tugasku, semua penyakitku disembuhkan. Setelah menerima kasih karunia yang begitu besar dari Tuhan, aku bertekad untuk percaya dengan sungguh-sungguh. Aku berpikir bahwa selama aku melakukannya, serta meninggalkan segala sesuatu dan mengorbankan diri untuk Tuhan, aku akan menerima lebih banyak berkat dan perlindungan dari-Nya. Itulah sebabnya aku aktif melaksanakan tugasku, tidak peduli bagaimana suamiku menganiaya atau berusaha menghentikanku, dan itulah sebabnya aku rela menanggung penderitaan apa pun. Namun, ketika kulihat Guo Li terkena penyakit begitu serius setelah bertahun-tahun melaksanakan tugasnya, aku tiba-tiba merasa bahwa meninggalkan segala sesuatu dan mengorbankan diri belum tentu mendatangkan berkat dan perlindungan Tuhan, jadi apa gunanya melaksanakan tugasku? Karena itu, aku hidup dalam sikap negatif dan menentang Tuhan, kehilangan semua keinginan untuk melaksanakan tugasku, dan bahkan menyesal telah meninggalkan rumah untuk melakukannya. Aku menyadari naturku begitu egois dan licik; aku hanyalah orang yang mengutamakan kepentinganku sendiri! Merupakan kasih karunia Tuhan bahwa aku bisa datang ke rumah-Nya dan melaksanakan tugas. Tuhan berharap agar aku mengejar kebenaran untuk mencapai perubahan watak, sepenuhnya terbebas dari belenggu Iblis, dan menghidupi kemanusiaan yang normal. Namun, aku tidak mengejar kebenaran sedikit pun; yang kupikirkan hanya tentang mendapatkan berkat dan keuntungan. Ketika aku menerima perlindungan dan kasih karunia Tuhan, aku rela meninggalkan segala sesuatu, mengorbankan diri, dan bahkan menderita. Namun, begitu pekerjaan Tuhan tidak sesuai dengan gagasanku, maka keinginanku untuk mendapatkan berkat pun hancur, sikapku terhadap tugasku berubah seketika. Aku menjadi negatif, menentang, dan bersikap asal-asalan, dan bahkan menyesal telah melaksanakan tugasku. Aku menjadi orang yang sama sekali berbeda. Aku melihat bahwa hidup berdasarkan aturan Iblis telah membuatku sangat egois, tercela, dan tidak memiliki kemanusiaan. Kepercayaanku bersifat menipu, sebuah upaya untuk memanfaatkan Tuhan, dan aku sedang menempuh jalan menentang Dia. Jika aku tidak berbalik, aku hanya akan disingkirkan. Aku teringat akan firman Tuhan: "Dalam hal apakah memperlakukan pengejaran berkat sebagai tujuan itu salah? Ini sepenuhnya bertentangan dengan kebenaran dan tidak sesuai dengan maksud Tuhan untuk menyelamatkan manusia" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dalam Menerapkan Kebenaran Terdapat Jalan Masuk Kehidupan"). Tuhan menyelamatkan orang untuk menyucikan watak rusak mereka dan akhirnya membawa mereka masuk ke dalam kerajaan-Nya. Namun, aku hanya berfokus pada kasih karunia dan berkat di depan mata dan tidak mengejar kebenaran. Bukankah ini menyimpang dari tuntutan Tuhan? Pada akhirnya, aku pasti tidak akan mendapatkan apa-apa.

Kemudian, aku membaca dua bagian lagi dari firman Tuhan dan memperoleh sedikit pemahaman tentang watak benar Tuhan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Kebenaran itu bukan berarti adil atau masuk akal; kebenaran bukanlah egalitarianisme, juga bukan memberi kepadamu apa yang pantas kauterima untuk pekerjaanmu, atau memberimu upah untuk pekerjaan apa pun yang telah kaukerjakan, atau memberi kepadamu hakmu sesuai dengan upaya yang telah kaukeluarkan. Ini bukanlah kebenaran. Itu hanyalah adil dan masuk akal. Sangat sedikit orang yang mampu mengenal watak Tuhan yang benar. Seandainya Tuhan memusnahkan Ayub setelah Ayub memberi kesaksian bagi Dia: Apakah ini benar? Sebenarnya, ini benar. Mengapa ini disebut benar? Bagaimana manusia memandang kebenaran? Jika sesuatu selaras dengan gagasan manusia, maka sangat mudah bagi mereka untuk mengatakan bahwa Tuhan itu benar; tetapi, jika mereka tidak melihat bahwa sesuatu itu selaras dengan gagasan mereka—jika itu adalah sesuatu yang tak mampu mereka mengerti—maka menjadi sulit bagi mereka untuk mengatakan bahwa Tuhan itu benar. Jika Tuhan memusnahkan Ayub pada waktu itu, orang tidak akan mengatakan bahwa Dia benar. Sebenarnya, entah manusia telah dirusak atau tidak, dan entah mereka telah dirusak sedemikian dalam atau tidak, apakah Tuhan harus membenarkan diri-Nya ketika Dia memusnahkan mereka? Haruskah Dia menjelaskan kepada manusia atas dasar apa Dia melakukannya? Haruskah Tuhan memberi tahu manusia hukum-hukum yang telah Dia tetapkan? Tidak perlu. Di mata Tuhan, orang yang rusak dan yang cenderung menentang Tuhan sama sekali tidak berharga; namun bagaimanapun cara Tuhan menangani mereka, itu akan tepat, dan semua itu berdasarkan pengaturan Tuhan. Jika engkau tidak berkenan di mata Tuhan, dan jika Dia berkata bahwa engkau tidak lagi berguna bagi-Nya setelah kesaksianmu dan karena itu memusnahkanmu, apakah ini merupakan kebenaran-Nya? Ini juga adalah kebenaran-Nya. ... Segala sesuatu yang Tuhan lakukan adalah benar. Walaupun manusia mungkin tidak mampu memahami hal ini, mereka tak boleh menghakimi sesuka hati mereka. Jika sesuatu yang Dia lakukan tampak tidak masuk akal bagi manusia, atau jika mereka memiliki gagasan apa pun tentang hal itu, lalu mereka berkata bahwa Dia tidak benar, itu berarti mereka sedang bersikap sangat tidak masuk akal" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). "Tindakan Tuhan tidak ada yang salah, dan engkau harus memuji kebenaran-Nya. Apa pun yang Tuhan lakukan, itu selalu benar. Bahkan jika engkau menyimpan gagasan bahwa apa yang dilakukan Tuhan tidak mempertimbangkan perasaan manusia atau tidak sesuai dengan keinginanmu, engkau harus tetap memuji Tuhan. Mengapa engkau harus melakukannya? Engkau semua tidak tahu alasannya, bukan? Itu sebenarnya mudah dijelaskan, yaitu karena Tuhan adalah Tuhan dan engkau adalah manusia; Dia adalah Sang Pencipta dan engkau adalah makhluk ciptaan. Engkau tidak memiliki hak untuk menuntut Tuhan melakukan sesuatu atau memperlakukanmu dengan cara tertentu, sedangkan Tuhan memiliki hak untuk menuntutmu. Berkat, kasih karunia, upah, mahkota—bagaimana semua hal tersebut diberikan dan kepada siapa, itu semua terserah Tuhan. ... Identitas, status, dan esensi Tuhan tidak akan pernah bisa disamakan dengan identitas, status, dan esensi manusia, dan ini juga tidak akan pernah berubah—Tuhan akan selamanya menjadi Tuhan, dan manusia akan selamanya menjadi manusia. Jika seseorang mampu memahami hal ini, apa yang seharusnya dilakukan? Mereka harus tunduk kepada kedaulatan dan pengaturan Tuhan—ini cara paling rasional untuk menyikapi segala sesuatu. Tidak ada cara lain. Jika engkau tidak tunduk, itu berarti engkau memberontak, dan jika engkau menentang dan berargumen, itu berarti engkau sangat memberontak, dan harus dihancurkan. Kemampuan untuk tunduk kepada kedaulatan dan pengaturan Tuhan, menunjukkan bahwa engkau bernalar. Ini adalah sikap yang harus dimiliki oleh manusia, dan hanya sikap inilah yang seharusnya dimiliki oleh makhluk ciptaan" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Dua Belas). Setelah membaca firman Tuhan, kurasakan firman itu menusuk hatiku, dan aku menyadari bahwa aku sama sekali tidak memahami watak benar Tuhan. Dalam gagasanku, sikap benar Tuhan berarti bersikap adil dan masuk akal; bahwa jika kita berusaha, kita akan diberikan balasan. Aku percaya Tuhan harus memberikan kasih karunia dan berkat kepada mereka yang menderita dan mengorbankan diri untuk-Nya, dan terutama ketika selama ujian mereka tetap teguh dalam kesaksian mereka, Dia harus memberkati dan melindungi mereka lebih lagi, serta menyembuhkan penyakit mereka. Misalnya, karena Guo Li telah meninggalkan keluarganya dan melepaskan pekerjaannya untuk melaksanakan tugasnya selama bertahun-tahun dan sekarang menderita penyakit serius, kurasa Tuhan seharusnya memerhatikan tahun-tahun dia meninggalkan segala sesuatu dan mengorbankan diri untuk-Nya, melindungi dia dan menyembuhkan penyakitnya. Namun pada akhirnya, bukan saja dia tidak membaik, dia bahkan diamputasi. Jadi aku mengeluh bahwa Tuhan tidak punya perhatian dan menghakimi-Nya sebagai tidak benar. Standarku untuk mengukur kebenaran Tuhan adalah bahwa jika seseorang berusaha, mereka harus diberikan balasan, dan bahwa seberapa pun usaha atau pengorbanan diri mereka, Tuhan harus memberikan upah dengan nilai yang setara. Ini sudut pandang yang sangat menyimpang! Tuhan adalah Sang Pencipta, dan aku adalah makhluk ciptaan. Segala sesuatu yang kunikmati, serta hidupku sendiri, diberikan oleh Tuhan. Mengikuti Tuhan dan melaksanakan tugasku adalah hal yang sepenuhnya wajar dan dapat dibenarkan bagiku. Mengenai apakah Tuhan memberiku kasih karunia dan berkat, itu adalah urusan-Nya sendiri. Aku tidak berhak menuntut Tuhan; aku harus menerima kedaulatan dan pengaturan-Nya tanpa syarat, dengan hati yang tunduk. Terlebih lagi, segala sesuatu yang Tuhan lakukan dalam diri manusia memiliki makna dan mengandung hikmat-Nya. Aku tidak boleh melihat hal-hal berdasarkan penampilan luar, apalagi menghakimi semua yang Tuhan lakukan berdasarkan gagasan dan imajinasiku sendiri. Ini persis seperti Ayub. Dia takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, tetapi dia menghadapi kehilangan harta benda dan kematian anak-anaknya, serta tubuhnya sendiri dipenuhi bisul menyakitkan. Di mata manusia, dia menderita kemalangan, tetapi Tuhan menggunakan ujian ini untuk menyempurnakan iman sejatinya kepada-Nya. Ayub menjadi orang yang sempurna di mata Tuhan, dan Iblis tidak lagi berhak menuduh atau mencobainya. Ada juga maksud baik Tuhan dalam penyakit yang menimpa Guo Li. Meskipun dia sakit dan dagingnya menderita, jika dia bisa mencari kebenaran dan memetik pelajaran, serta memperoleh iman sejati dan ketundukan kepada Tuhan, maka penderitaan itu akan bermanfaat. Aku tidak bisa lagi melihat hal-hal berdasarkan gagasan dan imajinasiku sendiri. Tuhan selalu benar, dan apa pun yang Dia lakukan, itu mengandung maksud baik serta hikmat-Nya. Setelah memahami hal ini, hatiku menjadi sangat tercerahkan.

Selama saat teduhku, aku membaca firman Tuhan dan menjadi paham akan perspektif yang benar yang harus dimiliki seseorang dalam percaya kepada Tuhan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Mengalami pekerjaan Tuhan bukanlah tentang menikmati anugerah, tetapi lebih tentang menderita demi kasihmu kepada-Nya. Karena engkau menikmati anugerah Tuhan, engkau juga harus menikmati hajaran-Nya; engkau harus mengalami semua ini. Engkau bisa mengalami pencerahan Tuhan dalam dirimu dan engkau juga bisa mengalami bagaimana dipangkas dan dihakimi Tuhan. Dengan cara demikian, pengalamanmu akan menjadi luas dan lengkap. Tuhan telah melakukan pekerjaan penghakiman dan hajaran-Nya terhadapmu. Firman Tuhan telah memangkasmu, tetapi bukan hanya itu; firman Tuhan juga telah mencerahkan dan menerangimu. Ketika engkau negatif dan lemah, Tuhan mengkhawatirkan dirimu. Semua pekerjaan ini dimaksudkan supaya engkau tahu bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia berada dalam pengaturan Tuhan. Engkau mungkin berpikir bahwa percaya kepada Tuhan adalah tentang penderitaan atau melakukan segala macam hal bagi-Nya; engkau mungkin berpikir bahwa tujuan percaya kepada Tuhan adalah agar dagingmu merasakan kedamaian, atau agar segala sesuatu dalam hidupmu berjalan lancar, atau agar engkau merasa nyaman dan tenang dalam segala hal. Namun, tak satu pun dari hal-hal ini merupakan tujuan yang harus manusia capai dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan. Jika engkau percaya demi tujuan-tujuan ini, berarti sudut pandangmu itu salah dan sama sekali tidak mungkin bagimu untuk disempurnakan. Tindakan Tuhan, watak Tuhan yang benar, hikmat-Nya, firman-Nya, keajaiban-Nya serta diri-Nya yang tak terselami, semua itulah yang harus manusia pahami. Engkau harus menggunakan pemahaman ini untuk menyingkirkan dari dalam hatimu semua tuntutan, harapan dan gagasan pribadimu. Hanya dengan menyingkirkan hal-hal ini, engkau bisa memenuhi syarat yang dituntut oleh Tuhan, dan hanya dengan melakukan ini, engkau bisa memiliki hidup dan memuaskan Tuhan. Tujuan percaya kepada Tuhan adalah untuk memuaskan-Nya dan hidup dalam watak yang Dia inginkan, sehingga tindakan dan kemuliaan-Nya dapat terwujud lewat sekelompok orang yang tidak layak ini. Inilah cara pandang yang benar untuk percaya kepada Tuhan, dan ini juga merupakan tujuan yang harus engkau kejar. Engkau harus memiliki cara pandang yang benar dalam memercayai Tuhan dan engkau harus berusaha mendapatkan firman Tuhan. Engkau perlu makan dan minum firman Tuhan dan harus bisa hidup dalam kebenaran dan terutama engkau harus mampu melihat perbuatan-perbuatan-Nya yang nyata, perbuatan-Nya yang menakjubkan di seluruh alam semesta, juga pekerjaan nyata yang Dia lakukan dalam daging. Melalui pengalaman praktis mereka, manusia bisa menyadari bagaimana Tuhan melakukan pekerjaan-Nya dalam diri mereka dan apa yang menjadi maksud-Nya bagi mereka. Tujuan semua ini adalah untuk menyingkirkan watak Iblis mereka yang rusak. Setelah engkau menyingkirkan dari dalam dirimu kecemaran dan ketidakbenaran, dan setelah engkau membersihkan niatmu yang salah dan setelah engkau mengembangkan imanmu yang sejati kepada Tuhan—hanya dengan iman sejatilah engkau bisa benar-benar mengasihi Tuhan" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Mereka yang Akan Disempurnakan Harus Mengalami Pemurnian"). Dari firman Tuhan aku melihat bahwa percaya kepada Tuhan bukanlah demi menerima berkat dari-Nya. Hal yang utama adalah mengalami penghakiman, hajaran, ujian, dan pemurnian Tuhan untuk membuang watak yang rusak dan memperoleh keselamatan-Nya. Saat mengingat kembali tahun-tahunku beriman, aku telah menikmati begitu banyak penyiraman dan pembekalan firman Tuhan tetapi tidak mengejar kebenaran. Aku hanya ingin menikmati kasih karunia dan berkat Tuhan, dan watak hidupku tidak berubah sedikit pun. Penyakit Guo Li benar-benar menjadi alat untuk menyingkapkan keadaanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus berfokus untuk mengalami pekerjaan Tuhan dalam hal-hal yang terjadi padaku. Terutama dalam hal-hal yang tidak sejalan dengan gagasanku sendiri, aku harus mencari kebenaran, merenungkan dan mengenal diriku sendiri, serta mengatasi watak rusakku. Begitu memahami hal-hal ini, aku tidak lagi khawatir apakah di masa mendatang aku akan menerima berkat atau tidak. Aku juga mampu mengabdikan hatiku pada tugasku, memikirkan tentang bagaimana menyiram pendatang baru dengan baik dan melaksanakan tugasku untuk memuaskan Tuhan. Tidak peduli penyakit atau kesulitan apa pun yang menimpaku di masa depan, aku bersedia mengalaminya dengan hati yang tunduk kepada Tuhan, berfokus pada mengejar kebenaran dan melaksanakan tugasku dengan baik.

Pada bulan Juli 2023, aku bertemu Guo Li lagi. Meskipun salah satu lengannya telah diamputasi, dia masih tetap melaksanakan tugas menjadi tuan rumah. Ketika kami berbicara tentang bagaimana perasaannya menghadapi amputasi itu, dia memberitahuku dengan tenang dan tegar, "Syukur kepada Tuhan! Aku sudah berusia lebih dari tujuh puluh tahun. Orang lain yang sakit pada waktu yang sama denganku semuanya sudah meninggal, tetapi aku masih hidup. Ini adalah perlindungan terbesar Tuhan. Meskipun aku menderita penyakit serius ini, aku telah memperoleh begitu banyak darinya. Dalam masa hidup ini, bisa mendengar begitu banyak firman Tuhan dan bisa melaksanakan tugasku—itu sudah cukup. Ini adalah kasih karunia Tuhan! Tak ada yang lain yang kuinginkan. Aku hanya meminta agar dalam setiap hari yang kuhidupi, aku bisa melaksanakan tugasku untuk memuaskan Tuhan!" Mendengar perkataan Guo Li, aku merasa malu sekaligus sangat terinspirasi, dan aku juga memperoleh keyakinan untuk mengalami pekerjaan Tuhan. Syukur kepada Tuhan!

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Hubungi kami via WhatsApp