Mengejar Kebenaran Telah Mengubahku
Oleh Saudari Ou Lin, Myanmar Pada Mei 2018, aku meninggalkan rumah untuk bergabung dengan kemiliteran. Di ketentaraan, saat pemimpin...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Aku lahir di sebuah keluarga kelas pekerja biasa. Orang tuaku lugu dan patuh tanpa kemampuan khusus, dan kerabat serta teman kami memandang rendah mereka. Aku berpikir, "Aku tidak boleh seperti orang tuaku, hidup biasa-biasa saja dan dipandang rendah. Aku akan berjuang untuk sukses dan bekerja keras membangun karier. Aku ingin menjadi pusat perhatian dan membuat semua orang memujiku saat menyebut namaku."
Pada tahun 2017, aku lulus kuliah, dan bergabung dengan perusahaan real estat sebagai konsultan properti. Saat itu, pasar properti sedang mengalami ledakan, dan di bulan pertama magang, aku dengan mudah menjual tiga rumah. Bonus dan komisi untuk menjual satu rumah sebanding dengan gaji sebulan teman sekelasku, aku pun berpikir, "Begitu lulus, aku langsung menemukan pekerjaan yang menghasilkan begitu banyak uang. Aku yang paling berhasil di antara para teman sekelasku. Setelah dua tahun, ketika uang yang kudapatkan lebih banyak lagi, para sahabat dan teman sekelasku akan mengagumiku." Pada bulan Maret 2018, harga rumah naik lagi, dan antusiasme orang untuk membeli rumah melonjak seketika. Rekan kerjaku dan banyak investor besar di industri ini semuanya membeli rumah. Mereka berencana menggunakan kartu kredit untuk berinvestasi di real estat sebelum harga melonjak, menunggu beberapa tahun saja sampai harga rumah melambung tinggi, lalu menjualnya dengan harga dua kali lipat dari harga beli. Melihat ini, aku merasa sangat iri. Aku takut tidak bisa mengikuti lonjakan pasar perumahan ini, dan jika harga rumah terus naik, makin kecil juga kesempatanku untuk membelinya. Aku takut jika melewatkan kesempatan emas ini, entah kapan aku bisa mencapai tujuanku untuk mengungguli orang lain. Selain itu, jika kerabat dan teman tahu aku sudah membeli rumah, mereka pasti memandangku dengan cara berbeda dan memujiku yang begitu cakap. Jadi aku memutuskan untuk mengambil pinjaman dan membeli rumah. Waktu itu, ibuku sudah percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa, dan saat mendengar aku berencana membeli rumah, dia menasihatiku, "Pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia di akhir zaman akan segera berakhir, dan bencana akan makin besar. Saat bencana melanda, akankah kau bisa membawa semua harta benda ini? Lebih penting percaya kepada Tuhan, lebih banyak membaca firman-Nya, dan mengejar kehidupan. Lagipula, keluarga kita tidak punya banyak uang, dari mana kau dapatkan uang untuk membeli rumah?" Namun saat itu, aku tidak mendengarkan apa pun dikatakannya, dan aku menganggap pikiran ibuku pendek. Kupikir tidak ada yang tahu kapan bencana akan datang, dan karena aku masih muda, yang terpenting saat ini adalah mencari cara menghasilkan uang dan menonjol. Jadi, aku mengambil pinjaman untuk membeli rumah. Kemudian, supaya tidak dipandang rendah oleh rekan kerja dan untuk memamerkan statusku di hadapan klien, aku mengambil pinjaman lagi untuk membeli mobil. Kupikir di zaman ini, punya mobil dan rumah adalah standar hidup sukses, dan hanya dengan itulah orang bisa dihormati di mana-mana. Kemudian, para kerabat dan teman memujiku, katanya, "Kau hebat; jangan lupakan kami kalau sudah kaya!" Mendengar ini, aku merasa senang, dan kesombonganku sangat terpuaskan. Supaya terlihat seperti orang yang menghasilkan banyak uang dan mencapai hal besar, aku juga menghamburkan uang sembarangan, menampilkan diri sebagai orang yang lumayan sukses. Di semua restoran dan tempat hiburan terkemuka, ke mana pun orang kaya pergi, aku ada di sana. Ratusan, bahkan ribuan yuan untuk kartu-kartu keanggotaan kugelontorkan seperti menggelontorkan air minum saja. Dengan demikian, begitu gajiku turun, langsung kugunakan untuk melunasi utang kartu kredit dan cicilan bulanan. Kadang, alih-alih bisa menabung, aku malah harus menombokinya, jadi tagihan kartu kreditku terus menumpuk. Awalnya, aku khawatir apa jadinya kalau aku tidak bisa melunasi utang-utangku. Namun, kupikir dengan kemampuanku, mendapatkan uang bukanlah masalah, lagipula aku punya rumah sebagai aset tak bergerak, yang bisa kujual beberapa tahun lagi saat harganya naik sehingga mendapatkan banyak uang. Dengan jaminan sekuat itu, apa yang harus ditakuti? Jadi aku berhenti mengkhawatirkannya.
Namun di luar dugaan, pada akhir 2019, sebuah kecelakaan menghancurkan mimpi indahku sepenuhnya. Suatu hari sepulang kerja, aku pergi minum dengan tiga rekan, dan di perjalanan pulang, rekan yang mengemudi mulai mengebut untuk bersenang-senang. Karena mengemudi terlalu cepat, dia tidak sempat mengerem, dan mobil melaju keluar jalan dan menabrak rumah. Mobil itu hancur total di tempat, dan kami berempat dilarikan ke rumah sakit. Akhirnya, usus si pengemudi pecah dan mengalami pendarahan, dan penumpang depan mengalami patah tulang belakang. Untungnya, aku duduk di belakang pengemudi, dan di antara kami berempat, lukaku yang paling ringan, hanya mengalami patah tulang di lengan kanan. Namun, rekan yang duduk di sebelahku tidak seberuntung itu. Karena ada tiang listrik di depan rumah itu, pengemudi pun membanting setir ke kiri untuk menghindari rumah. Akibatnya, rekanku yang duduk di belakang terhantam keras oleh tiang itu, hatinya pecah, dan dia tewas di tempat. Setiap kali mengingatnya, aku merinding. Aku merasa sangat terguncang sekaligus juga beruntung. Yang mengguncangku adalah betapa rapuhnya nyawa manusia, bagaimana hidup dan mati bisa terjadi dalam sekejap, dan bahwa tak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi detik berikutnya. Beruntung bagiku, jika pengemudi membanting setir ke kanan atau jika aku duduk di bangku rekanku itu, akulah yang akan mati. Meski tidak kulihat, aku merasa seolah-olah ini telah diatur oleh Tuhan, membiarkanku lolos dari musibah ini. Setelah itu, keluarga almarhum menuntut ganti rugi. Kami bertiga mengumpulkan 800.000 yuan sebagai ganti rugi untuk menyelesaikan masalah ini. Saat itu, aku punya tumpukan utang sebesar 300.000 yuan. Setiap kali memikirkan cicilan mobil, cicilan rumah, dan ratusan ribu tagihan kartu kredit, aku merasa sangat tertekan. Aku berpikir, "Bagaimana aku harus menjalani hidupku ke depan?" Setelah beberapa saat berputus asa, kuputuskan untuk bangkit kembali dan terus menjual rumah untuk mencari uang dan melunasi utang. Namun, tepat setelah itu, tiba-tiba datang pandemi global COVID-19 di awal 2020 yang kembali memberikan pukulan mematikan bagi hidupku. Karena karantina wilayah jangka panjang di kota, semua orang dikarantina di rumah, kantor penjualan kosong, dan penjualan terhenti total. Kemudian, demi memangkas biaya, perusahaan hanya membayar 50% gaji karyawan. Aku berpikir, "Habislah aku. Kali ini, tidak ada yang bisa kulakukan untuk pulih. Ini bahkan tidak cukup untuk cicilan bulanan mobil dan rumahku, lalu ada ratusan ribu tagihan kartu kredit yang harus dipikirkan. Jika aku tidak bisa membayarnya, bank akan menyita rumah itu dan melelangnya, dan jika aku tidak bisa melunasi utang, namaku akan masuk daftar hitam, dan aku akan kehilangan segalanya." Aku mempertimbangkan untuk menjual rumah yang baru saja kubeli, tetapi saat itu, pengembang menyatakan bangkrut dan kabur, meninggalkan rumah yang belum jadi dan serah terima pun tertunda hingga batas waktu yang tak bisa ditentukan. Untuk menutup cicilan bulanan mobil dan rumah, tak ada pilihan selain mengambil banyak cicilan di kartu kreditku. Sejak saat itu, aku dibebani oleh bunga tinggi, dan kudapati diriku menjalani hidup dalam jurang utang.
Selama waktu itu, aku merasa putus asa, kehilangan keberanian untuk hidup, dan benar-benar kehilangan harapan dalam hidup. Aku sering bertanya-tanya, "Apa gunanya membeli mobil dan rumah? Sekarang mobil menganggur, dan rumah belum jadi dan tidak bisa dijual. Jika aku mati dalam kecelakaan mobil itu, apa gunanya punya mobil dan rumah?" Dalam penderitaanku, ibuku kembali memberitakan Injil Tuhan Yang Mahakuasa di akhir zaman kepadaku. Dia berkata, "Hidup manusia semua ada di tangan Tuhan. Kau harus datang ke hadapan Tuhan dan membaca firman-Nya dengan sungguh-sungguh, dan apa pun kesulitan atau rasa sakitmu, kau harus memberitahukannya kepada Tuhan dan meminta Dia membantumu melewati kesulitan ini." Saat itu, aku teringat satu bagian firman Tuhan yang sering ibu bacakan untukku: "Segala macam bencana akan menimpa susul-menyusul; semua negara dan tempat akan mengalami bencana: Wabah, kelaparan, banjir, kekeringan, dan gempa bumi terjadi di mana-mana. Bencana-bencana ini tidak hanya terjadi di satu atau dua tempat saja, juga tidak akan berakhir dalam satu atau dua hari; sebaliknya, bencana-bencana ini akan meluas ke wilayah yang makin besar, dan akan bertambah parah. Selama masa ini, segala macam wabah serangga akan muncul berturut-turut, dan fenomena kanibalisme akan terjadi di mana-mana. Inilah penghakiman-Ku atas berlaksa-laksa bangsa dan suku" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perkataan Kristus pada Mulanya, Bab 65"). Tuhan sudah lama berfirman bahwa bencana akan menjadi makin besar, dan sekarang firman ini telah digenapi. Dahulu ibuku sering berbicara kepadaku tentang iman kepada Tuhan, tapi aku selalu acuh tak acuh, bersikeras membeli rumah dan mobil, serta berusaha untuk menonjol demi dikagumi orang lain. Namun, segala sesuatunya tidak berjalan sesuai keinginanku. Musnah sudah harapanku menggunakan rumah untuk melunasi pinjamanku, dan aku menanggung beban utang yang sangat besar. Dengan pandemi yang telah menyebar ke seluruh dunia dan puluhan ribu orang meninggal setiap hari, iklim yang terus memburuk, serta bencana global dan perang yang meletus silih berganti, aku benar-benar merasa bahwa malapetaka dahsyat di akhir zaman telah tiba. Jika aku masih tidak percaya kepada Tuhan, suatu hari nanti aku pun mungkin akan jatuh ke dalam bencana. Aku tidak bisa terus keras kepala menempuh jalan yang salah, dan kubulatkan tekad untuk membaca firman Tuhan dengan sungguh-sungguh. Kemudian, dengan membaca firman Tuhan, aku mulai memahami beberapa kebenaran, hatiku menemukan sandaran, dan aku memperoleh harapan untuk terus hidup.
Dengan dilonngarkannya karantina wilayah untuk sementara, pekerjaanku berangsur-angsur kembali normal. Karena aku telah membuat skema pembayaran cicilan untuk banyak kartu kredit, aku menanggung tumpukan biaya bunga yang sangat besar setiap bulannya, dan gaji bulananku hampir seluruhnya digunakan untuk membayarnya. Saat itulah aku sadar bahwa meskipun skema cicilan bank seolah mengurangi tekanan pembayaranku saat itu, pada esensinya itu adalah riba! Aku merasa seolah telah jatuh ke dalam jurang utang yang tak berdasar, dan jika keadaan terus begini, aku tidak akan pernah bisa menyelesaikan pembayaran, dan sisa hidupku akan kuhabiskan untuk berusaha melunasi utang-utangku. Ketika melihat tagihan bulanan, aku tidak bisa menahan tangisku. Dalam penderitaan, aku berseru kepada Tuhan, "Tuhan, aku tahu bahwa percaya kepada-Mu adalah jalan hidup yang benar, dan aku bersedia mengejar kebenaran dengan sungguh-sungguh. Namun saat ini, aku memiliki kesulitan nyata dan tidak tahu bagaimana menyelesaikannya. Aku sangat menderita. Mohon bukakan jalan bagiku." Kemudian, secara kebetulan, aku melihat di internet bahwa orang bisa menghasilkan uang dengan menyunting video, jadi aku mencoba menyunting video secara daring. Tak disangka, salah satu video yang kuunggah tiba-tiba menjadi viral. Setelah itu, aku terus menyunting video dan mengunggahnya di berbagai platform, dan dalam tiga bulan, aku mendapatkan hampir 100.000 yuan, yang sangat meringankan tekanan finansialku. Aku merasa sangat terharu. Aku benar-benar telah mengalami kemahakuasaan dan kedaulatan Tuhan. Tuhan telah mendengar doa-doaku dan membantuku melewati kesulitan. Dan aku bisa memiliki lebih banyak waktu untuk mengikuti pertemuan dan membaca firman-Nya. Jadi, tanpa ragu aku mengundurkan diri dari pekerjaanku, aku kemudian meluangkan lebih banyak waktu untuk menghadiri pertemuan sambil menyunting video. Tak lama setelah aku mengundurkan diri, pemimpin mengatur agar aku melaksanakan tugas tulis-menulis, dan aku sangat bersemangat. Aku menghadiri pertemuan dan melaksanakan tugasku di siang hari, dan malam harinya mencari uang dengan menyunting video untuk melunasi utang. Kemudian, ada lebih banyak artikel yang perlu dipilah, dan aku tidak punya banyak waktu untuk menyunting video. Dari aku mengunggah video dua hari sekali, berubah menjadi hanya lima hari sekali, dan terkadang, selama liburan, klien sangat membutuhkan video untuk disunting di menit-menit terakhir, tetapi karena mereka tidak dapat menghubungiku, mereka beralih ke orang lain, dan aku kehilangan banyak pesanan. Melihat pendapatanku perlahan menurun, hatiku mulai berubah. Kupikir, "Tugasku benar-benar menyita waktuku. Aku akhirnya mendapatkan kesempatan untuk menghasilkan uang, dan ini mungkin satu-satunya batu loncatanku untuk bangkit kembali. Jika aku bertahan mengerjakan ini selama sekitar satu tahun lagi, aku tidak hanya akan mampu melunasi semua utangku, tetapi juga akan mencapai kemerdekaan finansial dan kembali dikagumi teman serta kerabat. Jika aku melewatkan kesempatan mencari uang ini, siapa yang tahu berapa lama aku harus menunggu? Aku tidak boleh melepaskan ini begitu saja. Lagipula, hanya dengan menghasilkan cukup uang, barulah aku akan mampu menenangkan hatiku untuk melaksanakan tugasku dengan benar. Jika tidak, aku akan tetap dirisaukan oleh utang dan tidak dapat fokus pada tugasku." Kemudian, meskipun setiap hari aku melaksanakan tugasku, dalam hati, aku terus memikirkan bagaimana menulis naskah video. Sesampainya di rumah, aku akan duduk di depan komputer untuk mengumpulkan bahan dan menyunting video, dan aku tidak mau repot-repot meluangkan waktu untuk memilah artikel yang dikirimkan saudara-saudari. Aku belum menyerahkan satu artikel pun dalam tiga bulan.
Suatu hari di bulan Februari 2023, sebuah platform video mengundangku untuk membuat video. Aku menyelesaikan video itu hanya dalam empat jam, dan tak disangka, setelah video itu ditayangkan, video itu langsung viral, dan dalam tujuh hari, aku memperoleh pendapatan bersih sebesar 130.000 yuan, yang membuatku mampu melunasi separuh utangku. Aku berpikir, "Dengan menghasilkan uang secepat ini, jika aku terus bekerja keras selama enam bulan lagi, aku akan bisa melunasi seluruh utangku, dan kemudian aku akan kembali mampu memperoleh ketenaran dan keuntungan, serta dikagumi teman dan kerabat. Aku akan bisa kembali ke masa-masa hidup makmur dan dikagumi orang. Aku tidak boleh melewatkan kesempatan langka ini! Aku harus gunakan sebanyak mungkin waktu untuk menghasilkan uang, dan mengurangi waktu yang kuhabiskan untuk tugas-tugasku." Namun, saat berpikir seperti ini, aku merasa tidak tenang. Aku kembali teringat saat diriku terlilit utang, menemui jalan buntu, dan merasa lebih baik mati. Kasih karunia Tuhanlah yang menuntunku ke jalan iman. Aku telah berdoa kepada Tuhan, meminta Dia membukakan jalan bagiku dan membantuku melewati kesulitanku, dan aku telah memutuskan untuk percaya kepada Tuhan dengan benar serta mengejar kebenaran. Sekarang, Tuhan telah membukakan jalan bagiku dan membantuku melunasi sebagian besar utangku. Jika aku terus mengejar uang, ketenaran, dan keuntungan, bukankah aku sedang menipu Tuhan? Aku juga teringat bagaimana aku telah mencoba segala cara untuk menghasilkan uang demi mengejar ketenaran dan keuntungan, dan pada akhirnya, aku tidak hanya gagal menghasilkan uang, tetapi bahkan kehilangan banyak akibat kecelakaan mobil itu. Sekarang, aku telah mendapatkan uang yang hampir setara dengan setahun penghasilanku, hanya dari sebuah video yang kukerjakan hanya dalam empat jam. Semua ini adalah kemahakuasaan dan kedaulatan Tuhan. Aku melihat bahwa berapa banyak penghasilan seseorang dalam hidupnya semuanya telah ditakdirkan oleh Tuhan. Ketika belum waktunya bagi mereka untuk menghasilkan uang, sekalipun mereka bekerja banting tulang untuk mencari uang, uang itu akan lenyap dengan berbagai cara. Namun, ketika sudah waktunya bagi mereka untuk menghasilkan uang, mereka bisa mendapatkannya hampir tanpa usaha. Aku selalu ingin mengandalkan kemampuanku untuk mendapatkan banyak uang, tetapi jika aku tidak ditakdirkan untuk memiliki banyak uang, maka sekeras apa pun aku berusaha, pada akhirnya akan sia-sia. Setelah memikirkan hal ini, aku segera berdoa, "Tuhan, semua uang yang kuhasilkan sekarang adalah karena Engkau membukakan jalan bagiku untuk meringankan utangku, mengizinkanku percaya kepada-Mu dengan benar serta melaksanakan tugasku, tetapi saat menghadapi godaan menghasilkan uang, aku tidak bisa melepaskannya. Kiranya Engkau menuntunku dan memampukanku untuk memahami maksud-Mu dan menemukan jalan penerapan."
Kemudian, aku membaca firman Tuhan dan belajar bagaimana cara menerapkannya. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Tuhan telah sejak lama memberi tahu manusia bahwa mereka harus merasa puas dengan hanya memiliki makanan dan pakaian. Apa pun profesi yang kaugeluti, jangan jadikan itu sebagai karier, dan jangan memandangnya sebagai batu loncatan atau sarana untuk menjadi terkenal atau mengumpulkan kekayaan dan hidup nyaman. Apa pun pekerjaan atau profesi yang kaugeluti, cukuplah bagimu untuk hanya menganggapnya sarana untuk memenuhi kebutuhan hidupmu. Jika pekerjaan itu dapat memenuhi kebutuhan hidupmu, engkau harus tahu kapan harus berhenti dan tidak lagi mengejar kekayaan. Jika penghasilan 5 juta per bulan cukup untuk makan tiga kali sehari dan kebutuhan hidup sehari-hari, maka engkau harus berhenti di situ dan tidak berusaha memperluas lingkup pekerjaanmu. Jika engkau memiliki kebutuhan tertentu, engkau dapat bekerja paruh waktu atau melakukan pekerjaan sementara untuk memenuhi kebutuhan tersebut—itu dapat diterima. Tuntutan Tuhan terhadap manusia adalah: apa pun profesi yang kaugeluti, entah profesi itu membutuhkan pengetahuan atau keahlian teknis, atau entah profesi tersebut mengharuskanmu bekerja secara fisik atau tidak, asalkan pekerjaan itu wajar dan tidak melanggar hukum, sesuai dengan kemampuanmu, dan profesi ini dapat memenuhi kebutuhan hidupmu, itu sudah cukup. Jangan menjadikan profesi yang kaugeluti sebagai batu loncatan untuk mewujudkan aspirasi dan keinginanmu sendiri demi memuaskan kehidupan dagingmu, sehingga membuat dirimu jatuh ke dalam pencobaan atau situasi sulit, atau membuatmu tidak dapat berbalik kembali. Jika penghasilan 5 juta per bulan cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadimu atau kehidupan keluargamu, maka engkau harus mempertahankan pekerjaan itu dan menggunakan waktu yang tersisa untuk beribadah kepada Tuhan, menghadiri pertemuan, melaksanakan tugasmu, dan mengejar kebenaran. Inilah misimu, nilai dan makna hidup orang percaya. ... Jika engkau ingin memperoleh anugerah dalam kepercayaanmu kepada Tuhan, jika engkau ingin memperoleh kebenaran, itu bergantung pada upayamu untuk menyediakan waktu dan tenaga. Ini adalah masalah pilihan. Tuhan tidak melarangmu untuk menjalani kehidupan yang normal. Penghasilanmu cukup untuk memenuhi kebutuhan akan makanan dan pakaian, menopang kelangsungan hidup tubuh dan aktivitas hidupmu. Itu cukup untuk menopang kelangsungan hidupmu. Namun, engkau tidak puas; engkau selalu ingin menghasilkan uang yang lebih banyak. Jadi tenaga dan waktumu akan terkuras oleh sejumlah uang ini. Untuk apa tenaga dan waktumu terkuras? Untuk meningkatkan kualitas kehidupan jasmanimu. Saat engkau meningkatkan kualitas kehidupan jasmanimu, yang kauperoleh dalam kepercayaanmu kepada Tuhan akan berkurang, dan waktumu untuk melaksanakan tugas telah lenyap dan tersita. Apa yang menyita waktumu? Waktumu tersita oleh pengejaran kehidupan jasmani yang baik, tersita oleh kenikmatan jasmani. Apakah itu sepadan? (Tidak.)" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (20)"). "Di dunia ini, semua profesi yang orang geluti berkaitan dengan ketenaran, keuntungan, dan kenikmatan jasmani. Alasan mengapa orang menghasilkan lebih banyak uang bukan untuk mencapai jumlah uang tertentu, tetapi untuk meningkatkan kenikmatan jasmani dengan menghasilkan uang tersebut, dan juga untuk menjadi orang kaya yang dikenal masyarakat. Dengan demikian, mereka akan memperoleh ketenaran, keuntungan, dan kedudukan, yang semuanya melebihi lingkup kebutuhan dasar. Berapa pun harga yang orang bayar adalah untuk kenikmatan jasmani, tak ada satu pun darinya yang bermakna; semuanya hampa, seperti mimpi. Yang mereka dapatkan pada akhirnya hanyalah kehampaan belaka" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Cara Mengejar Kebenaran (20)"). Firman Tuhan menunjukkan jalan penerapan kepadaku. Tidak seharusnya aku memperlakukan karierku sebagai batu loncatan untuk berusaha melesat naik atau bangkit kembali, dan aku seharusnya sudah puas hanya dengan memiliki cukup makanan dan pakaian. Maksud Tuhan adalah agar aku menjalani kehidupan yang normal supaya aku bisa memiliki lebih banyak waktu dan tenaga untuk melaksanakan tugasku dan mengejar kebenaran, dan supaya aku bisa terhindar dari kembali jatuh ke dalam pusaran mengejar uang, ketenaran, dan keuntungan. Saat aku melihat betapa menyunting video sangat menghasilkan dan bahwa dengan melakukannya aku bisa dengan cepat membayar banyak utangku, aku ingin menghasilkan lebih banyak uang dengan menyunting video—bukan hanya untuk melunasi utang, tetapi juga untuk bangkit kembali dan agar aku kembali dikagumi teman serta kerabat. Jadi aku mencurahkan semua pikiran dan waktuku untuk menyunting video, dan tidak memikirkan atau memperhatikan tugasku. Hatiku merasa menentang ketika tugasku sedang sibuk, karena aku hanya ingin menggunakan lebih banyak waktu untuk menghasilkan uang. Demi memuaskan hasratku, kugunakan seluruh waktu dan tenagaku demi menghasilkan uang. Aku tidak memikirkan tugasku, dan aku kehilangan banyak kesempatan untuk memperoleh kebenaran. Jika aku terus seperti ini, sudah menghasilkan sepuluh ribu lalu ingin seratus ribu, sudah menghasilkan seratus ribu lalu ingin lebih lagi, keinginanku tidak akan ada habisnya dan tidak akan pernah terpuaskan. Pada akhirnya aku hanya akan dikendalikan uang, ketenaran, dan keuntungan, dan aku akan jatuh ke dalam pusaran uang, ketenaran, serta keuntungan lagi. Bahkan jika akhirnya aku memperoleh uang, ketenaran, dan keuntungan di masa depan, aku akan makin jauh dari Tuhan, berhenti melaksanakan tugasku, dan gagal memahami kebenaran. Apa gunanya hidup seperti itu? Ketika kembali teringat saat aku tak berdaya dan tanpa harapan, bimbingan firman Tuhanlah yang memberiku harapan untuk hidup, dan saat aku menghadapi utang besar dan tidak ada jalan keluar, Tuhan membukakan jalan bagiku, memampukanku menghasilkan uang dan menyelesaikan kesulitan nyataku, serta memiliki waktu dan tenaga untuk melaksanakan tugasku. Namun sekarang, saat menghadapi godaan uang, aku kembali ingin menghasilkan banyak uang dan menjadi menonjol. Aku bahkan melaksanakan tugasku secara asal-asalan dan menunda pekerjaan. Aku jelas bisa melaksanakan tugasku dengan baik tanpa menunda pelunasan utang, tetapi itu tidak cukup bagiku, dan menghadapi godaan berulang kali untuk menghasilkan uang, aku mengesampingkan tugasku. Aku benar-benar tidak punya hati nurani! Aku telah melanggar tekad yang kubuat di hadapan Tuhan; semua yang kukatakan itu menipu Dia! Aku benar-benar tidak pantas hidup! Aku tidak bisa terus mengejar uang banyak lagi dan harus sepenuhnya mengabdikan tenaga untuk tugasku. Aku bisa mencari waktu untuk menyunting video guna menghasilkan uang dan melunasi utang selama itu tidak menghambat tugasku. Kemudian, aku mulai merasa terbeban terhadap tugasku. Kuselesaikan memilah tumpukan artikel, dan aku bisa mencurahkan hatiku dalam pertemuan.
Kemudian, aku membaca satu bagian lagi dari firman Tuhan, dan aku mendapatkan pemahaman tentang akar penyebab keterikatanku pada kekayaan, ketenaran, dan keuntungan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Sebenarnya, sebesar apa pun aspirasi manusia, serealistis dan sepantas apa pun keinginan manusia, semua yang ingin dicapai manusia, semua yang dicari manusia, terkait erat dengan dua kata. Kedua kata ini sangat penting bagi setiap orang sepanjang hidupnya, dan itulah hal-hal yang ingin Iblis tanamkan dalam diri manusia. Apakah kedua kata ini? Kedua kata ini adalah 'ketenaran' dan 'keuntungan'. Iblis menggunakan metode yang sangat lembut, metode yang sangat sesuai dengan gagasan manusia, dan yang tidak terlalu agresif, untuk membuat orang tanpa sadar menerima cara dan hukumnya untuk bertahan hidup, mengembangkan tujuan dan arah hidup mereka, dan mulai memiliki aspirasi hidup. Semuluk apa pun kedengarannya penjabaran tentang aspirasi hidup orang, aspirasi ini selalu berkisar pada ketenaran dan keuntungan. Segala sesuatu yang dikejar oleh orang hebat atau terkenal mana pun—atau, yang sebenarnya dikejar oleh semua orang—sepanjang hidup mereka, hanya berkaitan dengan dua kata ini: 'ketenaran' dan 'keuntungan'. Orang mengira setelah memiliki ketenaran dan keuntungan, mereka memiliki modal untuk menikmati status yang tinggi dan kekayaan yang besar, serta menikmati hidup. Mereka mengira setelah memiliki ketenaran dan keuntungan, mereka memiliki modal untuk mencari kesenangan dan menikmati kesenangan daging dengan semaunya sendiri. Demi ketenaran dan keuntungan yang mereka inginkan ini, orang-orang tanpa sadar dan dengan senang hati menyerahkan tubuh, hati, dan bahkan semua yang mereka miliki, termasuk prospek dan nasib mereka kepada Iblis. Mereka melakukannya tanpa keraguan, tanpa sejenak pun merasa ragu, dan tanpa pernah terpikir untuk mendapatkan kembali semua yang pernah mereka miliki. Dapatkah orang tetap memegang kendali atas diri mereka sendiri setelah mereka menyerahkan diri kepada Iblis dan menjadi setia kepadanya dengan cara ini? Tentu saja tidak. Mereka sama sekali dan sepenuhnya dikendalikan oleh Iblis. Mereka telah sama sekali dan sepenuhnya tenggelam dalam rawa ini, dan tidak mampu membebaskan diri mereka. Begitu seseorang terperosok dalam ketenaran dan keuntungan, mereka tidak lagi mencari apa yang cerah, apa yang adil, atau hal-hal yang indah dan baik. Ini karena godaan ketenaran dan keuntungan terlalu besar bagi manusia, dan inilah hal-hal yang dapat dikejar orang tanpa henti sepanjang hidup mereka dan bahkan sampai selama-lamanya. Bukankah inilah situasi sebenarnya?" (Firman, Jilid 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VI"). Setelah membaca firman Tuhan yang menyingkapkan, aku memahami bahwa akar dari hasratku untuk terus menghasilkan lebih banyak uang dan dikagumi adalah karena aku sangat terikat oleh "ketenaran" dan "keuntungan". Sejak kecil, aku melihat orang tuaku dipandang rendah oleh kerabat dan teman, dan aku merasa hidup seperti itu benar-benar tidak bermartabat, jadi aku memutuskan harus berjuang untuk menjadi makmur dan dikagumi. Aku hidup berdasarkan racun Iblis "Manusia bergelut ke atas; air mengalir ke bawah," dan "Menonjol dari orang lain." Melihat orang lain berinvestasi membeli rumah dan memperoleh ketenaran serta keuntungan, aku juga ingin menggunakan cara ini untuk menjadi menonjol dan dikagumi teman serta kerabat. Aku jelas tidak punya kemampuan finansial, tetapi aku tidak ragu mengambil pinjaman untuk membeli rumah dan mobil, dan aku juga melakukan pembelian dalam jumlah besar, sering mengunjungi berbagai tempat mewah dan membeli barang-barang mewah, menampilkan diri sebagai orang sukses. Meskipun hidupku tampak makmur dan selalu glamor, di balik itu semua aku dibebani oleh kewajiban membayar utang dengan bunga tinggi. Demi bisa dikagumi orang lain, aku menjadi sangat dangkal dan berulang kali menolak keselamatan Tuhan. Aku mengambil pinjaman untuk membeli mobil dan rumah, menumpuk utang ratusan ribu, dan kemudian menderita pukulan ganda akibat kecelakaan mobil dan pandemi. Aku menghabiskan hari-hariku memeras otak mencari cara untuk "gali lubang tutup lubang". Selama waktu itu, utang mengacaukan pikiranku dan rambutku memutih karena khawatir. Aku merasa lebih baik mati saja. Setelah menemukan Tuhan, Dia membukakan jalan bagiku, memberiku lebih banyak waktu untuk mengikuti pertemuan dan melaksanakan tugasku, tetapi saat kutemukan kesempatan untuk menghasilkan uang, aku pun ingin mengejar uang, ketenaran, dan keuntungan. Sepanjang perjalanan ini, aku terus mengejar uang, ketenaran, dan keuntungan, dan bahkan ketika aku sudah babak belur, aku masih tidak tahu untuk berbalik. Hatiku sudah menjadi begitu keras kepala! Saat menghadapi keselamatan dan peninggian dari Tuhan, aku bukan hanya tidak menghargai, tetapi bahkan menganggap tugasku menghambat pengejaranku akan uang, dan aku hampir melewatkan kesempatan untuk mengejar kebenaran dan diselamatkan. Akhirnya aku sadar bahwa mengejar uang, ketenaran, dan keuntungan adalah jalan tanpa kembali, dan jika aku tidak berbalik, aku akan ikut binasa sepenuhnya dengan Iblis.
Aku merenung, "Hidup seperti apa yang benar-benar berharga dan bermakna?" Aku pun membaca firman Tuhan: "Tuhan bukan hanya membayar harga untuk setiap orang selama beberapa dekade mulai dari kelahiran mereka sampai sekarang. Di mata Tuhan, engkau telah tak terhitung kali datang ke dunia ini, dan telah bereinkarnasi tak terhitung kali banyaknya. Siapa yang mengendalikan ini? Tuhan-lah yang mengendalikan ini. Engkau tidak dapat mengetahui hal-hal ini. Setiap kali engkau datang ke dunia ini, Tuhan secara pribadi membuat pengaturan untukmu: Dia mengatur berapa tahun engkau akan hidup, di keluarga macam apa engkau akan dilahirkan, kapan engkau akan membangun rumah tangga dan kariermu, dan apa yang akan kaulakukan di dunia ini serta bagaimana engkau akan mencari nafkah. Tuhan mengatur sebuah cara bagimu untuk mencari nafkah, sehingga engkau dapat menyelesaikan misimu dalam hidup ini dengan lancar. ... Selama engkau mengikuti Tuhan, baik engkau menderita ataupun membayar harga, engkau sebenarnya sedang bekerja sama dengan Tuhan. Apa pun yang Tuhan minta untuk kita lakukan, kita harus mendengarkan firman Tuhan dan menerapkan firman-Nya. Jangan memberontak terhadap Tuhan atau melakukan apa pun yang membuat-Nya sedih. Untuk dapat bekerja sama dengan Tuhan, engkau harus sedikit menderita, dan engkau harus meninggalkan dan mengesampingkan beberapa hal. Engkau harus melepaskan ketenaran, keuntungan, status, uang, serta kesenangan duniawi—engkau bahkan perlu melepaskan hal-hal seperti pernikahan, pekerjaan, dan harapan masa depanmu di dunia ini. Apakah Tuhan tahu bahwa engkau telah melepaskan hal-hal ini? Dapatkah Tuhan melihat semua ini? (Ya.) Apa yang akan Tuhan lakukan ketika Dia melihat bahwa engkau telah melepaskan hal-hal ini? (Tuhan akan terhiburkan, dan Dia akan merasa senang.) Tuhan bukan hanya akan merasa senang dan berkata, 'Harga yang Kubayar telah membuahkan hasil. Manusia bersedia bekerja sama dengan-Ku, mereka memiliki tekad ini, dan Aku telah mendapatkan mereka.' Baik Tuhan merasa senang atau bahagia, dipuaskan atau dihiburkan, Tuhan bukan hanya bersikap demikian. Dia juga bertindak, dan Dia ingin melihat hasil yang dicapai oleh pekerjaan-Nya, jika tidak demikian, apa yang dituntut-Nya dari manusia tidak akan ada artinya. Anugerah, kasih, dan belas kasihan yang Tuhan tunjukkan kepada manusia bukan sekadar sikap—melainkan juga fakta. Fakta apakah itu? Fakta bahwa Tuhanlah yang menaruh firman-Nya di dalam dirimu, mencerahkanmu, memungkinkanmu untuk melihat apa yang indah mengenai diri-Nya, dan apa sebenarnya dunia ini, memberimu kejelasan yang luar biasa di dalam hatimu, dan memungkinkanmu untuk memahami firman dan kebenaran-Nya. Dengan demikian, tanpa kausadari, engkau akan memperoleh kebenaran. Tuhan melakukan begitu banyak pekerjaan dalam dirimu dengan cara yang sangat nyata, memungkinkanmu untuk memperoleh kebenaran. Ketika engkau memperoleh kebenaran, ketika engkau memperoleh hal yang paling berharga, yaitu hidup yang kekal, maksud Tuhan pun terpenuhi. Ketika Tuhan melihat bahwa manusia sedang mengejar kebenaran dan bersedia bekerja sama dengan-Nya, Dia merasa senang dan puas. Tuhan kemudian memiliki sikap tertentu, dan pada saat Dia memiliki sikap tersebut, Dia bertindak, berkenan atas manusia dan memberkatinya. Dia berkata, 'Aku akan memberimu upah. Ini adalah berkat yang sepantasnya engkau terima.' Kemudian, engkau akan memperoleh kebenaran dan hidup. Jika engkau telah mengenal Sang Pencipta dan telah mendapatkan penghargaan-Nya, akankah engkau tetap merasakan kekosongan di dalam hatimu? Tidak akan. Engkau akan merasa dipenuhi dan merasakan kenikmatan. Bukankah itu berarti menjalani kehidupan yang bernilai? Inilah kehidupan yang paling berharga dan bermakna" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Membayar Harga untuk Memperoleh Kebenaran Sangatlah Bermakna"). Setelah membaca firman Tuhan, aku mengerti bahwa keluarga tempatku dilahirkan dan kapan waktuku menemukan Tuhan serta melaksanakan tugasku, semuanya sudah lama diatur oleh Tuhan. Pemeliharaan dan perlindungan Tuhanlah yang memungkinkanku selamat dari kecelakaan mobil itu, dan Tuhanlah yang membukakan jalan bagiku, memampukanku untuk akhirnya kembali melihat cahaya setelah terperangkap dalam kabut utang, dan memiliki kesempatan untuk melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan dengan baik. Tanpa perlindungan Tuhan, aku pasti sudah lama dicelakai oleh Iblis. Firman Tuhan juga memberiku arah dalam hidup, memampukanku mengerti bahwa hanya mengejar kebenaran dan melaksanakan tugas dengan baik untuk memuaskan Tuhanlah yang benar-benar bermakna dan berharga. Aku telah menikmati begitu banyak kasih karunia dan berkat Tuhan! Ketika memikirkan ini, aku memutuskan untuk mengabdikan diriku sepenuhnya pada tugasku, dan asalkan tugasku tidak terhambat, aku masih bisa mencari waktu untuk menyunting video guna mendapatkan sedikit uang—cukup untuk menutupi cicilan bulanan dan biaya hidupku.
Dua bulan kemudian, aku terpilih sebagai pemimpin gereja. Aku melihat bahwa menjadi pemimpin melibatkan lebih banyak pekerjaan dan tanggung jawab daripada memilah artikel, dan itu juga menuntut lebih banyak waktu dan tenaga. Ini berarti kesempatanku untuk menghasilkan uang akan terus makin berkurang. Namun kali ini, aku bersedia mengutamakan tugasku, jadi aku mengabdikan diri untuk tugasku. Tak disangka, tiga bulan kemudian, saat sedang mengurus pengembalian pajak penghasilan pribadi di ponselku, aku melihat bahwa pengembalian dana sebesar 20.000 yuan telah langsung masuk ke rekeningku, yang dengan sempurna menyelesaikan masalah cicilan rumahku selama lebih dari setengah tahun. Aku benar-benar mengalami bahwa ketika kita tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan dan melaksanakan tugas makhluk ciptaan sebaik mungkin, Tuhan akan membukakan jalan sehingga kebutuhan sandang dan pangan kita akan tercukupi serta mampu bertahan hidup.
Setelah melewati pengalaman ini, aku jadi mengerti bahwa hal-hal materi seperti uang, ketenaran, dan keuntungan sepenuhnya bersifat sementara, dan bahwa mengejar serta mendapatkan kebenaran itu lebih berharga, bernilai, dan bermakna. Aku bersedia menngabdikan lebih banyak waktu dan tenagaku untuk tugasku, dan berusaha melaksanakan tugasku demi membalas kasih Tuhan!
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Oleh Saudari Ou Lin, Myanmar Pada Mei 2018, aku meninggalkan rumah untuk bergabung dengan kemiliteran. Di ketentaraan, saat pemimpin...
Orang tuaku meninggal ketika aku masih kecil, dan sejak saat itu, aku serta kedua saudariku tinggal bersama nenek kami. Neneklah yang...
Oleh Shipo, Korea Mencari Uang, Kelelahan Fisik dan Mental Ketika aku masih muda, keluarga kami miskin, dan karena itu, tidak hanya...
Sejak kecil, aku selalu mendapat nilai bagus dan sering mendapat nilai ujian tertinggi di kelas. Setiap kali daftar nilai ujian keluar,...