Apakah Setia pada Orang Lain Artinya Kita Orang yang Baik?
Oleh Yu Ming, TiongkokPada 2012, ketika aku menjadi pemimpin gereja, Zheng Xin membujuk dan menyesatkan beberapa saudara-saudari agar dia...
Kami menyambut semua pencari yang merindukan penampakan Tuhan!
Aku dan Saudari Barbara sudah saling kenal selama dua tahun. Kami memiliki banyak kesamaan. Tiap kali kami mengobrol, rasanya seperti tak ada habisnya. Kami sering berbagi pengalaman dan apa yang kami peroleh dari pengalaman itu. Dia akan mencariku untuk berbicara saat dia dalam keadaan buruk. Tiap kali aku ada masalah, aku juga ingin berbagi dengannya. Dia selalu sabar bersekutu denganku. Aku sangat menghargai hubungan akrab kami. Aku merasa betapa menyenangkannya memiliki seorang saudari di sampingku yang selalu membantu dan mendukungku.
Suatu hari, aku tak sengaja mendengar Barbara mengobrol dengan beberapa saudari tentang hasil bagus yang dia dapatkan dalam pemberitaan Injilnya belakangan ini, bagaimana banyak orang yang diinjili olehnya dipenuhi dengan gagasan agamawi, dan bagaimana, dengan berdoa serta mengandalkan Tuhan, dia dengan sabar menyampaikan persekutuannya kepada mereka dan membacakan firman Tuhan sehingga mereka segera menerima pekerjaan Tuhan pada akhir zaman. Para saudari mengaguminya setelah mendengar perkataannya, merubungnya dan mengajukan segala macam pertanyaan, mencari jalan penerapan yang baik. Aku sempat ragu dan berpikir, "Baguslah bahwa pemberitaan Injilnya berjalan baik, tetapi dia hanya bicara tentang betapa hebat hasil pekerjaannya, bukan tentang jalan spesifik yang dia tempuh. Dia juga tidak bersaksi tentang cara Tuhan membimbingnya dalam proses itu. Bukankah dia hanya pamer dengan berbicara seperti ini?" Beberapa hari kemudian, seorang saudari memberitahuku, "Barbara memiliki kualitas yang sangat bagus, dia belum lama memberitakan Injil dan telah mencapai hasil yang sehebat itu. Dia berkata bahwa pemimpin bahkan memintanya berbagi pengalamannya di pertemuan." Aku terkejut mendengarnya dan berpikir, "Mengapa Barbara mengatakan hal-hal ini? Semua itu tidak mendidik atau bermanfaat bagi orang lain." Aku berpikir bagaimana selama periode itu Barbara selalu memamerkan hasil bagus yang dia dapatkan dalam pelaksanaan tugasnya, dan aku merasa tidak tenang, aku berpikir, "Tuhan pernah menyampaikan persekutuan-Nya bahwa pamer dan meninggikan diri adalah penyingkapan watak Iblis. Orang-orang kini sangat mengagumi Barbara, akan berbahaya kalau terus begini. Aku tak boleh membiarkan ini berlanjut. Aku harus mencari kesempatan untuk menunjukkan masalah ini kepadanya." Namun, setiap kali berpikir untuk menunjukkan masalah ini langsung kepadanya, aku merasa ragu. Aku teringat pengalamanku beberapa tahun sebelumnya. Saat itu, kulihat rekan kerjaku, Janie, sering bicara kata-kata dan doktrin, menegur orang lain dari posisi atasan, tetapi dia tidak pernah menganalisis atau mengenal dirinya sendiri. Aku menunjukkan masalah ini kepadanya, lalu dia bukan saja tak mau menerimanya, dia bahkan menegurku dengan mengungkit kegagalan dan pelanggaranku di masa lalu. Setelah itu, dia bahkan enggan memedulikanku. Ini membuatku merasa sangat canggung dan terluka. Di lain waktu, Saudari Roxanna menyimpang dari topik saat menyampaikan persekutuannya di pertemuan dan kutunjukkan ini kepadanya. Lalu, dia membuka diri kepadaku, berkata bahwa dia sangat malu dan menentang saat kutunjukkan masalahnya, juga bahwa dia merasa aku sengaja mencoba mempersulitnya hingga dia bahkan tak mau lagi bersekutu di pertemuan selanjutnya. Meskipun dia terus mencari dan merenungkan dirinya, mengenali masalahnya, aku tetap merasa sangat sedih. Setelah kejadian ini, aku menjadi sangat khawatir jika harus menunjukkan masalah orang lain. Mengingat kembali semua pengalaman itu membuatku makin ragu untuk mengonfrontasi Barbara. Aku berpikir tentang betapa baiknya hubungan kami selama ini dan bertanya-tanya, "Jika kutunjukkan masalah dalam dirinya, akankah dia merasa malu dan merasa terpojok? Apa yang akan kulakukan jika dia tak mau mendengar perkataanku dan berprasangka terhadapku, jika dia merasa aku menunjukkan kekurangannya dan berusaha mempersulit dirinya, lalu tidak mau lagi memedulikanku? Kami sering berpapasan setiap hari, jadi akan terasa sangat tidak nyaman. Dia tidak selalu pamer seperti ini. Mungkin dengan membaca firman Tuhan, dia akan bisa merenung dan mulai mengenal dirinya sendiri. Jadi, tak masalah. Aku seharusnya diam saja."
Suatu hari, Barbara memberitahuku bahwa beberapa saudara-saudari telah memberinya saran. Mereka berkata dia cenderung pamer dalam persekutuannya, dan itu akan dengan mudah membuat orang lain mengagumi serta memujanya. Ini membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Saat mendengar ucapannya, aku merasa bimbang. Sebenarnya, belakangan ini, aku juga melihatnya pamer, tetapi karena takut akan merusak hubungan kami, aku menutup mata dan tidak mengatakan apa pun kepadanya. Bukankah ini kesempatan yang bagus? Haruskah aku mengatakan masalah yang kulihat dalam dirinya? Namun kemudian kupikir sudah cukup berat baginya untuk menerima saran mereka. Jika aku juga angkat bicara, mungkinkah dia tak mampu menanggungnya dan menjadi negatif? Aku khawatir jika kutunjukkan masalah yang kulihat dalam dirinya, dia akan berpikir bahwa aku terlalu keras, lalu menjauhkan diri dariku, jadi kupikirkan baik-baik tentang nada suara yang harus dipakai dan bagaimana menyampaikan perkataanku dengan bijak agar aku tidak membuatnya malu. Aku pun memberi contoh bagaimana aku dahulu meninggikan diri dan pamer, caraku merenungkannya dan memahami hal itu, dan hanya di bagian akhir, kusinggung tentang masalah dalam dirinya secara singkat. Aku takut membuatnya malu, jadi aku memberinya kata-kata penenang, "Tiap orang punya watak rusak dan sangat wajar untuk memperlihatkannya. Aku juga begitu. Bahkan setelah begitu lama memercayai Tuhan, aku selalu congkak, sombong, dan sering pamer. Jangan sampai ini mengekangmu, kau harus punya sikap yang benar terhadap dirimu." Menanggapi hal ini, dia tidak mengatakan apa pun. Namun kemudian, terjadi sesuatu yang membuatku kembali gelisah.
Dalam suatu pertemuan, Barbara mempersekutukan pemahamannya tentang firman Tuhan dan terus berbicara tentang pengalaman terbarunya dalam memberitakan Injil. Dia berbicara tentang bagaimana dia memberitakan Injil kepada seorang pendeta yang telah percaya kepada Tuhan selama puluhan tahun. Pria itu dipenuhi gagasan agamawi dan telah memercayai banyak rumor tak berdasar. Dia tetap tidak menerima Injil bahkan setelah berulang kali diinjili. Namun kemudian, Barbara menyampaikan persekutuannya dan berdebat dengannya. Dengan menggunakan bagian firman Tuhan yang relevan, dia membantah gagasan dan kekeliruannya satu per satu, lalu pendeta itu perlahan melepaskan gagasannya dan menerima pekerjaan Tuhan pada akhir zaman. Usai berbicara, perhatian semua orang tertuju pada pengalamannya dalam memberitakan Injil, sementara tak seorang pun berfokus merenungkan dan mempersekutukan firman Tuhan. Saat itu, aku sedikit menyadari, "Bukankah ini di luar topik? Meskipun dia mempersekutukan pengalamannya dalam memberitakan Injil, setelah selesai, semua orang mulai mengagumi dan menghormatinya. Bukankah dia sedang pamer?" Aku ingin menunjukkan hal itu kepadanya dan memintanya berhenti membahas topik ini, tetapi lidahku kelu, aku berpikir, "Jika aku menginterupsinya di depan orang banyak ini, bukankah dia akan sangat malu? Memang benar Barbara mencapai beberapa hasil dalam pemberitaan Injilnya, jadi jika kukatakan kepadanya, akankah semua orang mengira kukatakan itu karena aku iri dan sengaja mempersulit dirinya? Mungkin niatnya baik dan dia tidak mencoba pamer?" Jadi, aku tidak angkat bicara, tetapi aku tidak bisa menenangkan hatiku untuk merenungkan firman Tuhan. Persekutuanku juga tidak mencerahkan karena aku hanya menyampaikan perkataan yang membosankan, lalu pertemuan itu pun berakhir.
Sepanjang malam itu, aku gelisah di tempat tidurku, tidak bisa tidur. Aku terus memikirkan hal-hal yang Barbara katakan untuk pamer di pertemuan dan tatapan penuh kekaguman di wajah semua orang. Persekutuan yang dia sampaikan tidak membuat orang-orang lebih memahami firman Tuhan, sebaliknya dia membuat semua orang tertarik pada pemberitaan Injilnya, jadi pertemuan itu tidak mencapai hasil yang baik. Karena takut membuatnya malu, aku diam dan tidak melindungi kehidupan bergereja. Bukankah aku hanya seorang penyenang orang? Aku teringat satu bagian firman Tuhan: "Engkau harus memeriksa dirimu dengan saksama untuk mengetahui apakah engkau seorang yang benar. Apakah tujuan dan niatmu dibuat dengan mempertimbangkan Aku dalam pikiranmu? Apakah semua kata-kata dan tindakanmu dikatakan dan dilakukan di hadirat-Ku? Aku memeriksa semua pikiran dan idemu. Apakah engkau tidak merasa bersalah? ... Apakah kaupikir lain kali engkau akan mampu mengganti makan dan minum yang telah diambil Iblis kali ini? Jadi, engkau sekarang melihatnya dengan jelas; apakah ini sesuatu yang dapat engkau ganti? Bisakah engkau mengganti waktu yang hilang? Engkau semua harus rajin memeriksa dirimu sendiri untuk melihat mengapa tidak ada makan dan minum dalam beberapa pertemuan terakhir, dan siapa yang menyebabkan masalah ini. Engkau harus mempersekutukannya satu per satu sampai hal ini jelas. Jika orang seperti itu tidak dibatasi dengan tegas, saudara dan saudarimu tidak akan mengerti, dan kemudian hal itu akan terjadi lagi. Mata rohanimu tertutup; terlalu banyak di antaramu yang buta! Selain itu, mereka yang melihat, tidak peduli tentang hal itu. Mereka tidak berdiri dan berbicara dan mereka juga buta. Mereka yang melihat tetapi tidak berbicara adalah bisu. Ada banyak orang di sini yang cacat" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Perkataan Kristus pada Mulanya, Bab 13"). Firman Tuhan menggambarkan keadaanku dengan tepat. Dalam persekutuan yang disampaikannya, Barbara melenceng dari topik, membuang waktu semua orang, dan memengaruhi keefektifan pertemuan itu, tetapi aku hanya menonton tanpa mengatakan apa pun. Aku terus berpikir, "Aku jelas tahu bahwa Barbara melenceng dari topik, jadi mengapa aku tidak melindungi kehidupan bergereja? Mengapa aku memilih diam dan menjadi penyenang orang?" Pertama, aku tidak yakin apakah tindakan Barbara itu berarti dia sedang meninggikan dirinya dan pamer. Dia memang cukup berpengalaman dalam memberitakan Injil. Mempersekutukan pengalaman ini bisa bermanfaat bagi orang lain. Jadi dapatkah persekutuannya yang seperti ini dianggap pamer? Kedua, aku khawatir aku tidak memahami semuanya dengan jelas, khawatir perkataanku akan mengekangnya dan orang lain akan menganggapku mengatakan ini karena iri.
Di pertemuan keesokan harinya, aku menyuarakan kebingunganku dan mencari bantuan beberapa saudari. Kami membaca satu bagian firman Tuhan bersama-sama: "Meninggikan dan memberi kesaksian tentang diri mereka sendiri, memamerkan diri, berusaha membuat orang kagum terhadap mereka dan memuja mereka—umat manusia yang rusak mampu melakukan hal-hal ini. Inilah cara orang bereaksi secara naluriah ketika mereka dikuasai oleh natur Iblis dalam diri mereka, dan ini umum dilakukan oleh semua manusia yang rusak. Bagaimana biasanya orang meninggikan dan memberi kesaksian tentang diri mereka sendiri? Bagaimana mereka mencapai tujuan membuat orang lain menghormati dan memuja mereka? Mereka bersaksi tentang berapa banyak pekerjaan yang telah mereka lakukan, berapa banyak mereka telah menderita, berapa banyak mereka telah mengorbankan diri, dan berapa banyak harga yang telah mereka bayarkan. Mereka meninggikan diri dengan membicarakan modal mereka untuk memperoleh tempat yang lebih tinggi, lebih mantap, lebih aman di hati orang, dan dengan demikian membuat lebih banyak orang menghargai, menghormati, iri, dan bahkan memuja, mengagumi serta mengikuti mereka. Untuk mencapai tujuan ini, orang melakukan banyak hal sehingga di luarnya mereka bersaksi tentang Tuhan, padahal pada dasarnya mereka meninggikan dan memberi kesaksian tentang diri mereka sendiri. Apakah mereka memiliki nalar dalam bertindak seperti ini? Mereka sama sekali tidak bernalar dan tidak tahu malu. Mereka tanpa malu-malu memberi kesaksian tentang apa yang telah mereka lakukan bagi Tuhan dan berapa banyak mereka telah menderita bagi Dia. Mereka bahkan memamerkan karunia, bakat, pengalaman, keterampilan khusus, teknik-teknik cerdas mereka dalam berinteraksi dengan orang lain, cara-cara yang mereka gunakan untuk mempermainkan orang, dan sebagainya. Salah satu metode mereka dalam meninggikan dan memberi kesaksian tentang diri mereka sendiri adalah dengan memamerkan diri dan menganggap rendah orang lain. Mereka juga menyamarkan dan menyembunyikan diri mereka yang sebenarnya, menyembunyikan kelemahan, kekurangan, dan keterbatasan mereka dari orang-orang dan hanya pernah memperlihatkan kepada orang-orang keglamoran mereka. Mereka bahkan tidak berani memberi tahu orang lain ketika mereka merasa negatif, dan tidak punya keberanian untuk terbuka serta bersekutu dengan orang lain. Ketika melakukan kesalahan, antikristus melakukan upaya terbaik untuk menyembunyikan dan menutupinya. Tidak pernah mereka menyebutkan kerugian yang mereka timbulkan terhadap pekerjaan gereja selama pelaksanaan tugas mereka. Namun, ketika mereka memberikan kontribusi kecil atau memperoleh sedikit keberhasilan kecil, mereka segera memamerkannya. Mereka tidak sabar ingin memberi tahu seluruh dunia tentang betapa mampunya mereka, betapa tingginya kualitas mereka, betapa istimewanya mereka, dan betapa mereka jauh lebih baik daripada orang normal. Bukankah ini adalah cara-cara untuk meninggikan dan memberi kesaksian tentang diri mereka sendiri?" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, "Bab Empat: Mereka Meninggikan dan Memberi Kesaksian tentang Diri Mereka Sendiri"). Melalui penyingkapan firman Tuhan, aku mengerti bahwa salah satu tanda antikristus meninggikan dan bersaksi tentang diri mereka sendiri adalah ketika mereka memamerkan karunia, kekuatan, kontribusi, dan prestasi mereka di hadapan orang lain agar orang menganggap mereka berbakat dan berkualitas, agar mereka dihormati dan dikagumi. Pada dasarnya, memberitakan Injil dan bersaksi tentang Tuhan adalah hal yang positif. Barbara memiliki kelebihan dalam memberitakan Injil. Jika dia dapat mempersekutukan kesulitan yang dia hadapi, cara dia mengandalkan Tuhan dan mengalami pekerjaan-Nya, apa yang dia dapatkan dan pelajari dari hal ini, dan jalan penerapan baik yang dia rangkumkan, maka persekutuannya itu pasti akan mendidik kerohanian orang. Namun, Barbara hanya bicara tentang bagaimana dia telah menderita saat memberitakan Injil dan bagaimana dia telah membayar harga. Tak seorang pun yang mendengar pengalamannya menjadi makin mengenal Tuhan ataupun mengerti dengan jelas tentang cara menerapkan atau menyikapi berbagai kesulitan. Sebaliknya, mereka malah mulai menghormati dan mengagumi dirinya, kemudian akhirnya merasa bahwa dia memiliki pengalaman, karunia, dan kualitas dalam memberitakan Injil serta lebih bersemangat daripada yang lain. Semua orang memuji dan iri kepadanya, merasa diri mereka tidak cakap. Jadi, hasil dari pamer dan meninggikan diri serta hasil dari bersaksi tentang Tuhan tidaklah sama. Lewat persekutuan, pandangan awalku terkonfirmasi, aku sangat yakin sebagian besar ucapan Barbara bukanlah bersaksi tentang Tuhan, melainkan untuk meninggikan dirinya sendiri dan pamer. Dia sedang memperlihatkan watak antikristus dalam dirinya, yang membuat Tuhan jijik dan benci. Para saudari juga mengingatkanku bahwa Barbara mungkin belum menyadari perilakunya. Setelah melihat hal ini, aku harus menunjukkannya dengan penuh kasih untuk membantu Barbara. Aku tidak seharusnya menjadi penyenang orang hanya untuk menjaga hubunganku dengannya. Ucapan para saudari membuatku malu, lalu kuputuskan untuk sesegera mungkin bersekutu dengan Barbara.
Seusai pertemuan itu, aku tak bisa menenangkan diri. Aku telah melihat masalah Barbara, tetapi takut menunjukkan masalah itu kepadanya. Bahkan ketika aku mengatakan sesuatu, aku hanya menyinggung sedikit masalah itu tanpa benar-benar mendapatkan hasil, yang menyebabkan Barbara tidak pernah sungguh-sungguh merenungkannya ataupun menyadari masalah dalam dirinya. Pemikiran ini membuatku dipenuhi rasa bersalah dan kegelisahan. Aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya kepada diriku, "Aku biasanya ceria dan gembira di sekitar Barbara dan bercerita apa pun, jadi mengapa begitu sulit bagiku untuk menunjukkan masalah dalam dirinya? Mengapa aku tidak mampu berkata-kata?" Dalam pencarian dan perenunganku, aku membaca firman-firman Tuhan ini: "Engkau semua terpelajar, dan engkau semua sangat memperhatikan cara berbicara yang halus dan bersahaja. Engkau juga sangat teliti dalam bertutur kata, menggunakan nada bicara yang bijaksana, berusaha untuk tidak melukai harga diri atau martabat siapa pun. Engkau selalu memberi ruang gerak bagi dirimu sendiri ketika engkau berbicara dan bertindak, serta berusaha sebaik mungkin untuk membuat orang merasa puas. Engkau juga berhati-hati dengan caramu menyelesaikan masalah, berusaha untuk tidak membuka luka lama orang lain atau menyingkapkan kekurangan mereka, dan tidak membuat orang sedih atau malu. Ini adalah falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain yang diikuti semua orang. Apa pendapatmu tentang falsafah ini? (Ini artinya menjadi penyenang orang; ini artinya licik dan penuh tipu daya.) Itu artinya bengkok, penuh tipu daya, licik, dan berbahaya. Ada banyak hal yang berniat jahat, berbahaya, dan memalukan yang tersembunyi di balik senyuman wajah orang" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Enam Indikator Pertumbuhan dalam Hidup"). "Orang yang suka mengambil jalan tengah adalah orang yang paling berbahaya dari semuanya. Mereka tidak menyinggung siapa pun, mereka halus dan licik, mereka pandai berpura-pura sependapat dalam segala situasi, dan tak seorang pun yang bisa mendeteksinya. Mereka adalah Iblis yang hidup!" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Menerapkan Kebenaran, Barulah Orang Dapat Melepaskan Belenggu Watak yang Rusak"). "Ada prinsip dalam falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain yang berbunyi, 'Lindungi pertemananmu dengan tak pernah menunjukkan kesalahan teman.' Itu berarti untuk menjaga pertemanan yang baik ini, orang harus tutup mulut tentang masalah teman mereka, sekalipun mereka melihatnya dengan jelas. Mereka menaati prinsip tersebut untuk tidak mempermalukan orang atau menyingkapkan kekurangan mereka. Mereka saling menipu, saling menyembunyikan, dan berencana licik terhadap satu sama lain. Meskipun mereka tahu betul orang macam apa orang lain itu, mereka tidak mengatakannya secara langsung, tetapi menggunakan cara-cara licik untuk menjaga hubungan mereka. Mengapa orang ingin menjaga hubungan semacam ini? Itu karena orang tidak mau menciptakan musuh di tengah masyarakat ini, atau di dalam kelompoknya, yang akan berarti sering menempatkan dirinya sendiri dalam situasi berbahaya. Karena engkau tahu seseorang akan menjadi musuhmu dan menyakitimu setelah engkau menyingkapkan kekurangannya atau menyakiti hatinya, dan engkau tidak ingin menempatkan dirimu dalam situasi seperti itu, engkau menggunakan prinsip falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain yang berbunyi, 'Jika engkau memukul orang lain, jangan pukul wajah mereka; jika engkau menyingkapkan orang lain, jangan singkapkan kekurangan mereka.' Dilihat dari sudut pandang ini, jika dua orang berada dalam hubungan seperti itu, dapatkah mereka dianggap sebagai sahabat sejati? (Tidak.) Mereka bukan sahabat sejati, apalagi orang kepercayaan dari masing-masing mereka. Jadi, hubungan seperti apa ini sebenarnya? Bukankah ini adalah hubungan sosial yang dasar? (Ya.) Dalam hubungan sosial semacam ini, orang tidak bisa berbicara dari hati ke hati, juga tidak bisa memiliki hubungan yang mendalam, juga tidak dapat mengatakan apa pun yang ingin mereka katakan. Mereka tidak dapat menyampaikan apa yang ada dalam hati mereka, atau masalah yang mereka lihat dalam diri orang lain, atau perkataan yang akan bermanfaat bagi orang lain. Sebaliknya, mereka memilih hal-hal menyenangkan untuk dikatakan, untuk menjilat orang lain. Mereka tidak berani mengatakan yang sebenarnya ataupun menjunjung tinggi prinsip, dan dengan cara itu mereka mencegah orang lain agar tidak memiliki pemikiran yang memusuhi mereka. Ketika tak seorang pun mengancam seseorang, bukankah orang tersebut akan hidup relatif tenang dan damai? Bukankah inilah tujuan orang dalam menganjurkan pepatah ini, 'Jika engkau memukul orang lain, jangan pukul wajah mereka; jika engkau menyingkapkan orang lain, jangan singkapkan kekurangan mereka'? (Ya.) Jelas, ini adalah cara bertahan hidup yang bengkok dan licik yang mengandung unsur kewaspadaan, yang tujuannya adalah untuk melindungi diri sendiri. Karena hidup dengan cara seperti ini, orang tidak memiliki orang kepercayaan, tidak memiliki sahabat yang dengannya mereka dapat mengatakan apa pun yang mereka inginkan. Di antara orang-orang, yang ada hanyalah sikap saling berwaspada, saling memanfaatkan, dan saling bersiasat, di mana setiap orang mengambil apa yang mereka butuhkan dari hubungan tersebut. Bukankah begitu? Pada dasarnya, tujuan dari 'Jika engkau memukul orang lain, jangan pukul wajah mereka; jika engkau menyingkapkan orang lain, jangan singkapkan kekurangan mereka' adalah untuk menjaga agar tidak menyinggung orang lain maupun menciptakan musuh, untuk melindungi diri sendiri dengan tidak menyakiti siapa pun. Ini adalah taktik dan metode yang orang gunakan untuk menjaga dirinya agar tidak disakiti. Melihat pada beberapa aspek dari esensi pernyataan ini, apakah tuntutan di balik perilaku moral 'Jika engkau memukul orang lain, jangan pukul wajah mereka; jika engkau menyingkapkan orang lain, jangan singkapkan kekurangan mereka' adalah prinsip yang mulia? Apakah ini positif? (Tidak.) Lalu, apa yang pepatah ini ajarkan kepada orang? Pepatah ini mengajarkan bahwa engkau tidak boleh menyinggung atau melukai perasaan siapa pun, jika tidak, engkaulah yang pada akhirnya akan disakiti .... Apakah pernyataan ini mengajarkan orang bahwa mereka harus bersikap bijaksana dan mampu membedakan orang lain dalam interaksi pribadi mereka, bahwa mereka harus memandang orang lain dan segala sesuatu dari sudut pandang yang benar, dan menggunakan metode yang bijak saat berinteraksi dengan orang lain? (Tidak.) Apakah pernyataan ini mengajarkan orang bahwa jika mereka bertemu orang yang baik atau orang yang memiliki kemanusiaan, mereka harus memperlakukan orang itu dengan tulus, dan saat melihat orang itu memiliki kekurangan dan masalah, mereka harus menyediakan bantuan jika mereka mampu, dan jika tidak, mereka harus bersikap toleran dan memperlakukan orang itu dengan benar, belajar bersabar terhadap kekurangan mereka, serta belajar dari kelebihan dan kualitas baik mereka? Apakah itu yang diajarkan pernyataan ini kepada orang-orang? (Tidak.) Jadi pada akhirnya, hasil apa yang diperoleh dari apa yang pepatah ini ajarkan? Apakah itu membuat orang menjadi makin jujur, ataukah makin licik? Pepatah ini mengakibatkan orang menjadi makin licik; hambatan di antara hati orang bertambah, jarak di antara orang-orang melebar, dan hubungan orang menjadi rumit; itu sama dengan hubungan sosial di antara orang-orang yang menjadi rumit. Komunikasi dari hati ke hati antar orang terputus, dan pola pikir yang saling waspada muncul. Dapatkah hubungan orang-orang tetap normal dengan cara seperti ini? Akankah atmosfer sosial membaik? (Tidak.) Jadi, itulah sebabnya pepatah 'Jika engkau memukul orang lain, jangan pukul wajah mereka; jika engkau menyingkapkan orang lain, jangan singkapkan kekurangan mereka' jelas sekali salah. Jika orang hidup menurut pepatah ini, akan seperti apa akibatnya? Akankah mereka mampu hidup dalam kemanusiaan yang normal? Akankah mereka mampu mematuhi prinsip-prinsip kebenaran? Akankah mereka mampu berperilaku dengan cara yang terbuka, jujur, lugas, dan lurus? Mereka sama sekali tidak dapat mencapai hasil positif apa pun" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Apa yang Dimaksud dengan Mengejar Kebenaran (8)"). Dengan membaca firman Tuhan, aku sadar bahwa aku mengandalkan falsafah Iblis tentang cara berinteraksi dengan orang lain dalam berinteraksi dengan Barbara, seperti "Lindungi pertemananmu dengan tak pernah menunjukkan kesalahan teman", "Jika engkau memukul orang lain, jangan pukul wajah mereka; jika engkau menyingkapkan orang lain, jangan singkapkan kekurangan mereka", dan "Seorang teman baru berarti satu jalan lagi; seorang musuh baru berarti satu rintangan lagi". Sampai saat itu, aku telah menganggap falsafah ini sebagai prinsip yang aku gunakan untuk berinteraksi dengan orang lain. Aku kira berperilaku seperti ini adalah satu-satunya cara untuk menjaga hubungan antarpribadi, tidak menyinggung orang lain, dan tidak menimbulkan masalah bagi diriku. Lewat penyingkapan firman Tuhan, akhirnya aku tahu bahwa falsafah-falsafah ini adalah cara hidup yang licik, licin, dan menipu, yang membuat orang saling bersikap waspada, menciptakan jarak di antara mereka, dan mencegah terbentuknya interaksi yang tulus, terlebih lagi, itu tidak memungkinkan mereka untuk saling mengasihi. Berinteraksi dengan cara seperti ini membuat kita terhindar dari menyinggung orang lain atau menyebabkan masalah bagi diri kita, menghalangi kita untuk memiliki teman sejati, dan hanya memungkinkan kita menjadi jauh lebih palsu dan licik. Aku akhirnya mengerti bahwa orang harus bersikap jujur saat berinteraksi dengan orang lain. Pada saat kita melihat seseorang memiliki masalah dalam dirinya, kita harus membantunya sebaik mungkin karena kasih. Sekalipun pada saat itu dia tidak menerimanya dan salah paham terhadap kita, kita tetap harus berpegang pada prinsip itu dan menetapkan niat yang benar saat melakukannya. Aku mengingat kembali interaksiku dengan Barbara. Di beberapa kesempatan, aku jelas melihat dia pamer di depan orang lain, dan orang lain sangat mengaguminya, tetapi aku takut menyakiti egonya dengan menunjukkan masalahnya dan takut dia akan mengabaikanku. Jadi, agar hubungan kami tetap baik, aku hanya melihat tanpa berkomentar ataupun menolongnya saat dia memperlihatkan kerusakan, yang membuat dia tidak merenungkannya dan tidak tahu masalah dirinya, lalu kembali ke caranya yang lama. Dengan hidup berdasarkan falsafah Iblis ini, aku hanya ingin menjaga hubungan kami agar Barbara menganggapku orang yang penuh pengertian dan berempati. Aku tidak memikirkan jalan masuk kehidupannya. Kalau saja aku segera menunjukkan masalah yang kulihat, mungkin dia akan memahami watak rusaknya dan tidak akan mengatakan hal-hal tak bernalar seperti itu selama pertemuan. Aku telah menjadi penyenang orang demi menjaga hubungan kami. Ini tindakan yang sangat merugikan! Lalu, aku memikirkan saudari lain yang pernah berinteraksi denganku. Aku lihat saudari itu sering asal-asalan dalam tugasnya, dan saat orang lain menunjukkan masalah dalam dirinya, dia selalu mendebat balik dan tidak mampu menerimanya. Aku ingin menyampaikan persekutuanku kepadanya untuk membantunya merenungkan diri, tetapi aku merasa dia lebih tua dariku, jika kutunjukkan masalah dalam dirinya, aku akan menyakiti egonya dan membuatnya menganggapku terlalu kasar. Jadi, aku tutup mata saja mengenai masalah dalam dirinya dan tetap terlihat ceria, suka mengobrol, dan ramah kepadanya. Hanya setelah dia diberhentikan karena bersikap asal-asalan dalam tugasnya, barulah aku menyesal tak segera membantunya. Ketika dia hendak pergi, aku mempersekutukan masalah yang kulihat pada dirinya. Meskipun dia akhirnya mengenali masalah dirinya, dia menegurku karena aku tidak segera menunjukkannya dan berkata jika dia memperbaiki masalah itu lebih awal, dia mungkin tidak akan diberhentikan dan disesuaikan penugasan tugasnya. Saat terpikirkan hal itu, akhirnya aku mengerti bahwa hidup berdasarkan falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain dan menjadi penyenang orang tidak sama dengan menjadi orang yang baik. Orang yang melakukannya tidak memperlihatkan ketulusan atau kasih terhadap orang lain, mereka justru egois dan licik. Orang seperti ini hidup berdasarkan watak Iblis dalam dirinya, dan itu membuat Tuhan jijik. Selama ini Barbara selalu tulus kepadaku, tetapi aku hanya mengandalkan falsafah-falsafah ini ketika berinteraksi dengannya dan tidak menerapkan kebenaran. Aku hanya memikirkan cara agar tidak menyinggung perasaannya dan mempertahankan citra baikku di benaknya, dan saat kulihat dia memperlihatkan watak rusak, aku mengabaikannya. Bisakah aku disebut teman baik padahal tindakanku seperti ini? "Lindungi pertemananmu dengan tak pernah menunjukkan kesalahan teman" benar-benar merupakan perkataan setan, si Iblis. Itu sangat merugikan dan aku tak ingin lagi hidup berdasarkan hal itu.
Dalam pencarian dan perenunganku, aku sadar ada alasan lain mengapa aku tidak berani menunjukkan masalah Barbara: Aku memiliki pandangan yang salah. Aku selalu mengira menunjukkan masalah orang lain berarti menyingkapkan kekurangan mereka, bahwa itu akan melukai ego mereka, sangat mungkin menyinggung mereka, serta merupakan hal yang melelahkan dan tidak dihargai. Jadi terhadap Barbara, aku selalu takut dia akan tersinggung jika kutunjukkan masalah dalam dirinya dan itu akan menghancurkan hubungan kami sehingga bagiku sangat sulit untuk menerapkan kebenaran. Jadi aku mencari Tuhan, memohon agar Dia membimbingku untuk mengatasi masalahku ini. Dalam pencarianku, aku membaca firman Tuhan ini: "Tuhan menuntut agar orang mengatakan yang sebenarnya, mengatakan apa yang mereka pikirkan, dan tidak menipu, menyesatkan, mengolok-olok, menyindir, menghina, mengejek, atau mengekang orang lain, atau menyingkapkan kelemahan mereka, atau menyakiti mereka. Bukankah ini prinsip orang berbicara? Apa artinya orang tidak boleh menyingkapkan kelemahan orang lain? Itu artinya tidak mencari-cari kesalahan orang lain. Jangan terus saja menggunakan kesalahan atau kekurangan mereka di masa lalu untuk menghakimi atau mengutuk mereka. Inilah yang setidaknya harus dilakukan. Dari sisi positif, apa ciri perkataan yang mendidik kerohanian? Perkataan itu terutama harus mendorong, memberi konseling, membimbing, menasihati, memahami, dan menghibur. Selain itu, dalam beberapa situasi khusus, perlu untuk secara langsung menyingkapkan kesalahan orang lain dan memangkas mereka, agar mereka memperoleh pemahaman tentang kebenaran dan hati yang bertobat. Hanya dengan cara demikian, barulah hasil dapat diperoleh. Cara penerapan ini sangat bermanfaat bagi orang-orang. Ini adalah bantuan yang nyata bagi mereka, dan ini mendidik kerohanian bagi mereka, bukan? ... Singkatnya, apa prinsip di balik berbicara? Prinsipnya adalah: Katakanlah apa yang ada dalam hatimu, dan suarakan pengalamanmu yang sebenarnya serta apa yang sebenarnya kaupikirkan. Perkataan inilah yang paling bermanfaat bagi orang-orang, yang membekali mereka, yang membantu mereka, perkataan inilah yang paling positif. Menolak untuk mengatakan perkataan palsu, perkataan yang tidak bermanfaat atau tidak mendidik kerohanian orang; ini akan menghindarkan dari mencelakai mereka atau membuat mereka tersandung, menjerumuskan mereka ke dalam kenegatifan atau menyebabkan dampak negatif. Engkau harus mengatakan hal-hal yang positif. Sebisa mungkin, engkau harus berusaha untuk membantu orang, bermanfaat bagi mereka, membekali mereka, menghasilkan dalam diri mereka iman yang sejati kepada Tuhan; dan engkau harus memungkinkan orang untuk terbantu, memperoleh banyak dari pengalamanmu akan firman Tuhan dan dari caramu memecahkan masalah, memampukan mereka memahami jalan mengalami pekerjaan Tuhan dan masuk ke dalam kenyataan kebenaran, memungkinkan mereka memiliki jalan masuk kehidupan serta membuat hidup mereka bertumbuh—yang merupakan efek dari perkataanmu yang berprinsip dan mendidik kerohanian mereka" (Firman, Jilid 6, Tentang Pengejaran akan Kebenaran, "Apa yang Dimaksud dengan Mengejar Kebenaran (3)"). "Jika engkau memiliki hubungan yang baik dengan seorang saudara atau saudari, dan mereka memintamu untuk menunjukkan masalah apa yang mereka miliki, bagaimana seharusnya penerapanmu? Hal ini berkaitan dengan pendekatan apa yang kaugunakan terhadap masalah tersebut. ... Jadi, jika engkau mendapati seorang saudara atau saudari memiliki masalah, cara bertindak apa yang sesuai dengan kebenaran? Ada berapa banyak prinsip yang relevan? Pertama, setidaknya jangan membuat mereka tersandung. Engkau harus terlebih dahulu memikirkan kelemahan mereka dan bagaimana berbicara kepada mereka tanpa membuat mereka tersandung. Setidaknya, inilah yang harus kaupikirkan. Selanjutnya, jika engkau tahu bahwa mereka adalah orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan dan mampu menerima kebenaran, maka ketika engkau melihat bahwa mereka memiliki masalah, engkau harus berinisiatif membantu mereka. Jika engkau tidak melakukan apa pun dan mentertawakan mereka, ini berarti merugikan mereka. Orang yang melakukannya tidak memiliki hati nurani atau nalar, dan tidak memiliki kasih terhadap orang lain. Siapa pun yang memiliki sedikit hati nurani dan nalar tidak boleh mentertawakan salah satu saudara-saudari. Engkau harus memikirkan segala cara yang memungkinkan untuk membantu mereka menyelesaikan masalah mereka, membuat orang tersebut memahami di mana letak kesalahan mereka dan apa penyebabnya. Apakah orang tersebut bisa bertobat, itu urusan mereka sendiri. Engkau telah memenuhi tanggung jawab yang seharusnya kaupenuhi. Sekalipun mereka tidak bertobat sekarang, suatu hari nanti mereka mungkin akan sadar, dan kemudian mereka akan bertobat, dan tidak akan mengeluh tentangmu atau menuduhmu. Setidaknya, caramu memperlakukan saudara-saudari tidak boleh berada di bawah standar hati nurani dan nalar. Jangan berutang kepada orang lain; bantulah mereka sejauh yang engkau mampu. Inilah yang seharusnya orang lakukan. Orang yang mampu memperlakukan saudara-saudari dengan kasih dan berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran adalah jenis orang yang paling baik. Mereka juga orang yang paling baik hati. Tentu saja, saudara-saudari sejati adalah orang-orang yang mampu menerima dan menerapkan kebenaran. Jika orang hanya percaya kepada Tuhan untuk makan roti hingga kenyang atau untuk menerima berkat, tetapi tidak menerima kebenaran, mereka bukanlah saudara atau saudari. Engkau harus memperlakukan saudara-saudari sejati berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Apa pun pelanggaran yang dilakukannya, dan betapa pun mereka mungkin untuk sesaat mengambil jalan yang salah karena tingkat pertumbuhan mereka yang kecil, engkau harus membantu mereka dalam semangat kasih. Apa hasil minimum yang harus dicapai dalam membantu mereka? Pertama, tidak membuat mereka tersandung, dan tidak membiarkan mereka menjadi negatif; kedua, benar-benar membantu mereka, dan membuat mereka berbalik dari jalan yang salah; dan ketiga, membuat mereka memahami kebenaran dan memilih jalan yang benar. Ketiga hasil ini hanya dapat dicapai dengan membantu mereka dalam semangat kasih. Jika engkau tidak memiliki kasih sejati, engkau tidak dapat mencapai ketiga hasil ini, dan paling banyak engkau hanya dapat mencapai satu atau dua hasil. Ketiga hasil ini juga merupakan tiga prinsip untuk membantu orang lain. Engkau mengetahui ketiga prinsip ini dan menguasainya, tetapi dengan cara apa sebenarnya prinsip-prinsip itu diterapkan? Apakah engkau benar-benar memahami kesulitan orang lain? Bukankah ini masalah lain? Engkau juga harus berpikir, 'Dari mana asal kesulitan mereka? Apakah aku mampu membantu mereka? Jika tingkat pertumbuhanku terlalu kecil dan aku tak mampu menyelesaikan masalah mereka, dan aku berbicara sembarangan, aku mungkin mengarahkan mereka ke jalan yang salah. Terlebih lagi, bagaimana kemampuan memahami yang dimiliki orang ini? Seperti apa kualitas mereka? Apakah mereka keras kepala? Apakah mereka memiliki pemahaman rohani? Dapatkah mereka menerima kebenaran? Apakah mereka mengejar kebenaran? Jika mereka melihat bahwa aku lebih baik daripada mereka, dan aku bersekutu dengan mereka, akankah kecemburuan atau kenegatifan muncul dalam diri mereka?' Semua pertanyaan ini harus dipikirkan. Engkau juga harus menemukan metode yang sesuai, serta beberapa bagian firman Tuhan yang sesuai dengan keadaan mereka; mempersekutukan prinsip-prinsip kebenaran dengan jelas kepada mereka, membantu mereka memahami kebenaran firman Tuhan dan menemukan jalan untuk menerapkannya. Kemudian, masalah akan diselesaikan, dan orang itu akan keluar dari kesukarannya. Apakah ini masalah yang sederhana? Ini bukan masalah yang sederhana. Jika engkau tidak memahami kebenaran, maka sebanyak apa pun engkau berbicara, itu tidak akan berguna. Jika engkau sungguh-sungguh memahami kebenaran, engkau akan mampu mencerahkan dan bermanfaat bagi mereka hanya dengan beberapa kalimat" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Mengejar Kebenaran Orang Bisa Meluruskan Gagasan dan Kesalahpahaman Mereka tentang Tuhan"). Dari firman Tuhan, aku mengerti jika kita menyingkapkan kekurangan orang lain, kita memanfaatkan kelemahan mereka untuk menghakimi dan mengutuk mereka. Niat kita adalah untuk meledek, mencemooh, dan mencela orang. Ini membuat Tuhan jijik. Namun, jika kita menunjukkan masalah dan kekurangan seseorang dengan maksud menolongnya, ini akan mendidik kerohaniannya, dan merupakan perwujudan rasa kasih kita kepada orang lain dan rasa tanggung jawab kita atas hidup mereka. Jika orang itu mengejar kebenaran, maka dengan bantuan orang lain, dia akan mampu merenungkan dirinya dan mencari kebenaran untuk mengatasi masalah dirinya, dan dia akan membuat kemajuan dalam jalan masuk kehidupannya. Namun, beberapa orang menentang dan merasa jijik dengan dipangkas dan tak mau masalah mereka ditunjukkan. Ini menyingkapkan bahwa mereka tidak menerima kebenaran dan watak mereka muak akan kebenaran. Sebelumnya, aku yakin bahwa menunjukkan masalah orang lain sama artinya dengan menyingkapkan kekurangan mereka dan merupakan hal yang melelahkan dan tidak dihargai. Pandangan ini sungguh keliru. Aku akhirnya mengerti bahwa ada prinsip dalam menolong orang lain dengan menunjukkan masalah dalam diri mereka. Ini bukan hanya tentang langsung menunjukkan masalah orang lain dengan niat baik dan antusiasme, siapa pun mereka. Melainkan, kita harus melakukannya berdasarkan prinsip kebenaran, dengan mempertimbangkan kemanusiaan seseorang dan kemampuan dia untuk memahami, apakah dia orang yang tepat atau bukan, apakah dia mampu menerima kebenaran atau tidak, bagaimana menunjukkan masalah dalam dirinya dengan cara yang akan memperoleh hasil, bukan untuk membuatnya tersandung, atau menyebabkan dia menjadi negatif. Yang terpenting adalah kita seharusnya memikirkan kebenaran yang relevan, membantu orang lain untuk memahami kebenaran dan maksud Tuhan dengan menunjukkan masalah dalam dirinya, serta memberinya jalan penerapan. Hanya dengan melakukan ini, kita dapat benar-benar menolong orang lain. Pada saat ini, akhirnya aku sadar bahwa alasan mengapa selama ini aku tidak memperoleh hasil yang baik saat menunjukkan masalah dalam diri orang lain adalah karena aku tidak mencari prinsip kebenaran. Sama seperti ketika kulihat Janie sering bicara kata-kata dan doktrin, menegur orang lain dengan sikap merasa kedudukannya lebih tinggi, dan tidak pernah bicara tentang mengenal dirinya sendiri—aku menunjukkan masalah dalam dirinya secara langsung, tetapi sebenarnya, melalui interaksi kami, aku mengerti bahwa dia bukanlah orang yang mampu menerima kebenaran. Aku tahu bahwa pemahamannya tentang kebenaran telah menyimpang dan dia sangat mementingkan status. Karena alasan ini, menunjukkan masalah dalam dirinya secara langsung tidaklah bijak, dan aku gagal memperoleh hasil yang baik. Dia kemudian tersingkap telah secara konsisten tidak menerima kebenaran serta menolak nasihat dan bantuan yang diberikan oleh saudara-saudari. Dia sering kali mencari kekurangan para pemimpin dan pekerja untuk menyerang dan menghakimi mereka, dan pada akhirnya, dia pun dikeluarkan setelah dia digolongkan sebagai orang yang jahat. Mengenai Roxanna, dia sangat mementingkan harga dirinya, lamban dalam memahami dan masuk ke dalam kebenaran, serta tidak pernah mengalami dirinya dipangkas. Namun, aku tidak mempertimbangkan tingkat pertumbuhannya dan berbicara tentang penyimpangan dirinya saat mempersekutukan firman Tuhan di depan semua orang. Akibatnya, dia tidak mau menerimanya dan menjadi negatif selama beberapa waktu. Namun kemudian, dengan bantuan dan sokongan dari saudara-saudari lainnya, dia mampu mengubah keadaan ini. Setelah memahami aspek dari prinsip-prinsip ini, aku tidak lagi merasa takut untuk menunjukkan masalah dalam diri Barbara. Barbara mampu menerima kebenaran dan dia adalah orang yang tepat. Aku harus membantunya dengan kasih dan sesuai dengan prinsip-prinsip agar dia terhindar dari menempuh jalan yang salah. Dalam hatiku, aku berdoa kepada Tuhan, mencari bagaimana aku bisa bersekutu kepada Barbara dengan efektif, dengan cara yang tidak mengekangnya dan dapat membantunya memahami kebenaran aspek ini, serta sungguh-sungguh mengenal dirinya.
Beberapa waktu setelah itu, aku mencari dan merenungkan firman Tuhan yang menyingkapkan orang yang sukanya pamer dan meninggikan dirinya. Aku mencari waktu untuk membuka diri kepada Barbara dan membahas masalah dalam dirinya yang kulihat saat itu, serta bersekutu tentang natur dan akibat sikap pamer dan meninggikan diri, tentang sikap Tuhan dalam menangani perilaku semacam ini. Setelah kusampaikan persekutuanku, Barbara akhirnya menyadari keseriusan masalahnya, sadar bahwa dia dikendalikan oleh obsesinya akan status, senang memiliki tempat di hati orang lain dan dikagumi oleh mereka, dan bahwa pengejaran seperti ini membuat Tuhan muak. Di pertemuan berikutnya, dia bersekutu dan menganalisis perilakunya yang suka pamer dan meninggikan dirinya. Ini memungkinkan semua orang untuk memperoleh kemampuan untuk membedakan. Melihat Barbara mampu merenungkan dan mengenali masalah dalam dirinya, membenci dirinya, dan sungguh-sungguh bertobat, aku merasa bahagia. Namun pada saat yang sama, aku juga merasa bersalah. Aku menyesal baru sekarang aku bersekutu dan menunjukkan hal ini kepadanya. Ternyata dia tidak berprasangka terhadapku karena aku menunjukkan dan menyingkapkan masalah dirinya, hubungan kami juga tidak hancur, justru kami menjadi lebih akrab dari sebelumnya. Aku pun mengerti hanya dengan hidup berdasarkan firman Tuhan dan berinteraksi dengan orang lain sesuai prinsip kebenaran, barulah kita bisa merasa tenang.
Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.
Oleh Yu Ming, TiongkokPada 2012, ketika aku menjadi pemimpin gereja, Zheng Xin membujuk dan menyesatkan beberapa saudara-saudari agar dia...
Oleh Saudari Chen Yang, Tiongkok Sebelum menjadi orang percaya, kupikir perkataan "Lindungi pertemananmu dengan tak pernah menunjukkan...
Pada Februari 2021, aku dan Wang Hua terpilih sebagai pemimpin gereja. Karena Wang Hua pernah memiliki pengalaman sebagai pemimpin dan juga...
Pada Mei 2020, aku dipilih sebagai pemimpin gereja. Sebulan kemudian, dua saudari yang bekerja bersama diberhentikan. Dalam evaluasi yang...