Bisakah Orang Masuk ke dalam Kerajaan Surga karena Kerja Keras?

02 Maret 2025

Oleh Sheila, Kenya

Aku dilahirkan dalam keluarga Katolik. Sejak aku kecil, nenekku mengajarkanku cara berdoa dan menjalankan ritual-ritual Katolik. Ketika aku berusia lima belas tahun, aku mulai mempelajari doktrin Katolik. Romo kami selalu mengatakan bahwa kita harus mengikuti perintah Tuhan, saling mengasihi, menghadiri Misa, dan melakukan perbuatan baik. Dia mengatakan bahwa hanya orang yang melakukan hal-hal ini yang merupakan orang percaya yang saleh, dan ketika Tuhan datang, Dia akan mengangkat mereka ke kerajaan surga. Aku sering berkata dalam hati, "Aku harus melakukan apa yang Tuhan katakan, mengikuti semua aturan gereja, dan aktif melakukan perbuatan baik, agar Tuhan mengasihiku, dan ketika Dia kembali, Dia akan memberkatiku dan mengangkatku ke kerajaan surga."

Setelah masuk kuliah, aku sempat menunda studiku agar aku punya lebih banyak waktu untuk memberikan pelayanan di gereja. Selama masa itu, aku mendapati bahwa jemaat lain tampak begitu saleh di gereja, berdoa dan menghadiri Misa, tetapi dalam kehidupan sehari-hari mereka merokok, minum-minum, dan berpesta liar. Aku merasa jijik, aku berpikir, "Tuhan mengajarkan kita untuk mengasihi-Nya, menolong mereka yang membutuhkan, dan menjauhi godaan duniawi. Orang-orang ini mungkin terlihat seperti percaya kepada Tuhan, tetapi mereka sebenarnya tidak melakukan apa-apa untuk-Nya. Mereka bernafsu pada hal-hal duniawi dan mencari kesenangan duniawi. Bukankah itu menentang ajaran Tuhan? Aku tidak boleh seperti mereka. Aku akan melakukan lebih banyak perbuatan baik untuk Tuhan agar aku bisa masuk ke dalam kerajaan surga ketika saatnya tiba." Namun seiring berjalannya waktu, aku menyadari diriku juga tidak mampu menaati perintah Tuhan dalam kehidupanku sehari-hari. Setiap kali melihat anggota gereja yang mencari kesenangan itu hidup dengan bahagia dan bebas, sementara aku menghadapi kesulitan dan kesusahan, aku tidak bisa menahan diri untuk mengeluh tentang Tuhan. Tuhan mengajarkan kita untuk mengasihi orang lain sebagaimana mengasihi diri kita sendiri, tetapi aku selalu merasa iri dan memandang rendah orang-orang. Keluargaku memarahiku ketika aku berbuat salah, tetapi aku hanya mencari-cari alasan, membantah, dan marah kepada mereka. Tuhan mengajarkan kita untuk bersikap rendah hati dan pemaaf, tetapi aku tidak mematuhinya. Aku merasa sangat bersalah, menjadi orang percaya seperti sekadar julukan bagiku. Aku mulai merenung, "Mengapa aku tidak pernah bisa mengatasi dosaku? Meskipun setiap kali berbuat dosa, aku mengakuinya kepada romoku dan melakukan perbuatan baik untuk menebusnya, aku tetap saja mengulangi dosa yang sama. Bagaimana bisa Tuhan memberkati iman seperti ini?" Namun, romo kami selalu berkata bahwa dengan mengaku kepadanya setelah berbuat dosa, kita akan diampuni, dan selama kita bekerja untuk Tuhan dan melakukan perbuatan baik, Dia akan kembali berbelas kasihan, memberkati kita, dan membiarkan kita masuk ke dalam kerajaan surga, karena dikatakan dalam Alkitab: "Aku telah berlomba dengan baik, aku telah menyelesaikan pertandinganku dan aku telah mempertahankan iman. Mulai sekarang, telah dianugerahkan kepadaku mahkota kebenaran" (2 Timotius 4:7-8). Ketika memikirkan kata-kata romo itu, aku terhibur. Aku berpikir bahwa selama aku lebih sering menghadiri Misa, mengaku dosa, dan terus mengorbankan diri untuk Tuhan, maka aku punya harapan untuk masuk ke dalam kerajaan surga. Jadi, kusibukkan diriku dengan melakukan perbuatan baik. Aku mengunjungi orang sakit dan tahanan, serta menjadi sukarelawan di panti asuhan.

Suatu hari pada tahun 2017, aku sedang membuka Facebook untuk melihat pesan-pesan seperti biasanya ketika tiba-tiba aku melihat sebuah bagian yang diunggah oleh seorang saudari bernama Betty: "Meskipun banyak orang percaya kepada Tuhan, hanya sedikit yang memahami apa arti percaya kepada Tuhan, dan bagaimana tepatnya mereka seharusnya bertindak agar sesuai dengan maksud-maksud Tuhan. ... 'Percaya kepada Tuhan' berarti percaya bahwa Tuhan itu ada; ini adalah konsep paling sederhana tentang percaya kepada Tuhan. Lebih jauh lagi, percaya bahwa Tuhan ada tidaklah sama dengan benar-benar percaya kepada Tuhan; sebaliknya, ini adalah sejenis kepercayaan sederhana dengan nuansa agamawi yang kuat. Kepercayaan sejati kepada Tuhan berarti: Atas dasar kepercayaan bahwa Tuhanlah yang berdaulat atas segala sesuatu, orang mengalami firman-Nya dan pekerjaan-Nya, dan dengan demikian membuang watak rusaknya, memenuhi maksud-maksud Tuhan, dan akhirnya mengenal Tuhan. Hanya perjalanan semacam inilah yang dapat disebut 'percaya kepada Tuhan'. Namun, orang sering menganggap kepercayaan kepada Tuhan sebagai hal yang sangat sederhana dan sepele. Ketika orang percaya kepada Tuhan dengan cara ini, kepercayaan itu telah kehilangan maknanya, dan meskipun mereka mungkin terus percaya sampai akhir, mereka tidak akan pernah mendapatkan perkenanan Tuhan, karena mereka menempuh jalan yang salah. Orang-orang yang sampai hari ini percaya kepada Tuhan dalam kata-kata dan doktrin yang kosong, masih belum tahu bahwa mereka tidak memiliki esensi kepercayaan kepada Tuhan, dan bahwa mereka tidak dapat menerima perkenanan Tuhan. Mereka masih berdoa agar Tuhan memberkati mereka dengan kedamaian dan kasih karunia yang cukup. Mari kita tenangkan hati kita, dan berpikir dengan sungguh-sungguh: Mungkinkah percaya kepada Tuhan adalah hal yang termudah di dunia? Mungkinkah percaya kepada Tuhan semata-mata berarti menerima banyak kasih karunia dari Tuhan? Apakah orang yang percaya kepada Tuhan tanpa mengenal-Nya atau orang yang percaya kepada Tuhan tetapi menentang-Nya benar-benar mampu memenuhi maksud-maksud Tuhan?" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Kata Pengantar"). Kata-kata ini terasa begitu segar dan baru. Aku langsung tertarik. Aku terutama belum pernah mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan di akhir tulisan itu. Aku berpikir, "Ini luar biasa! Kata-kata siapa ini? Bagian sependek itu mengungkapkan sepenuhnya makna iman kepada Tuhan serta tujuan kita beriman." Aku merenungkan kata-kata itu, menenangkan hatiku dan dengan sungguh-sungguh merenungkan imanku untuk pertama kalinya dalam hidupku. Aku memikirkan kembali perjalanan imanku selama bertahun-tahun. Aku berpartisipasi dalam banyak kegiatan dan upacara di gereja, aktif dalam pelayanan gereja dan melakukan perbuatan baik di komunitas, serta sedikit menderita dan membayar sejumlah harga. Namun, aku melakukan semua itu agar aku dan keluargaku diberkati serta dilindungi oleh Tuhan, dan terutama agar aku bisa masuk ke dalam kerajaan surga. Aku selalu berpikir bahwa aku bertindak benar dengan mengejar hal-hal tersebut, imanku akan diperkenan oleh Tuhan, dan aku akan menerima janji serta berkat-Nya. Namun, setelah membaca kata-kata itu, samar-samar aku mulai menyadari bahwa ada makna iman yang jauh lebih dalam. Aktif melakukan perbuatan baik dan menyangkal diri hanya demi mendapatkan berkat dari kerajaan surga sebagai imbalan, bukanlah mengasihi Tuhan yang sesungguhnya. Bagaimana mungkin Tuhan berkenan dengan iman seperti itu? Namun, kemudian aku berpikir tentang bagaimana aku sudah percaya kepada Tuhan selama lebih dari 20 tahun, selalu terlibat dalam pelayanan gereja. Mungkinkah semua penderitaan dan pengorbananku selama ini tidak berarti apa-apa? Makin aku merenungkan kata-kata itu, makin aku ingin melihat apa lagi yang ada di linimasa Facebook Saudari Betty agar aku bisa memahami semua ini dengan jelas. Jadi, aku menghubunginya dan kami bertemu secara daring.

Aku menceritakan kepadanya bagaimana perasaanku saat membaca kata-kata itu, berkata, "Unggahan daringmu itu luar biasa. Itu membuatku sadar bahwa aku percaya kepada Tuhan hanya demi berkat, bukan benar-benar mengasihi Tuhan. Namun, ada satu hal yang belum kupahami. Alkitab berkata: 'Aku telah berlomba dengan baik, aku telah menyelesaikan pertandinganku dan aku telah mempertahankan iman. Mulai sekarang, telah dianugerahkan kepadaku mahkota kebenaran' (2 Timotius 4:7-8). Romoku selalu berkata bahwa selama kita terus melakukan pekerjaan dan perbuatan baik, Tuhan akan memberkati kita dan kita akan mampu masuk ke dalam kerajaan surga. Aku sudah melakukan semua itu selama bertahun-tahun aku beriman. Apakah Tuhan benar-benar tidak akan mengingat segala hal yang telah kulakukan? Apakah aku tidak akan mampu masuk ke dalam kerajaan surga?" Betty membagikan persekutuan ini, "Selalu bekerja keras, berkorban, dan melakukan perbuatan baik demi Tuhan akan menyenangkan hati-Nya, dan ketika Dia kembali, kita akan diangkat ke kerajaan surga. Itu adalah perkataan Paulus. Tuhan Yesus tidak pernah mengatakan hal seperti itu, dan begitu pula Roh Kudus. Kata-kata itu hanya mencerminkan pandangan Paulus sendiri, itu bukanlah apa yang Tuhan maksudkan. Kata-kata manusia bukanlah kebenaran. Hanya firman Tuhan yang merupakan kebenaran. Jika menyangkut hal penting tentang masuk ke dalam kerajaan surga, firman Tuhan harus menjadi dasarnya. Jika kita mengikuti perkataan manusia, kita mungkin akan menyimpang dari jalan Tuhan. Jadi, siapa sebenarnya yang dapat masuk ke dalam kerajaan surga? Tuhan Yesus sudah memberitahu kita dengan jelas: 'Bukan setiap orang yang berseru Tuhan, Tuhan, yang akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga, dialah yang akan masuk ke dalam Kerajaan Surga' (Matius 7:21). Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan tidak melihat seberapa banyak kita berkorban dalam menentukan apakah kita bisa masuk ke dalam kerajaan surga. Sebaliknya, Dia melihat apakah kita mengikuti kehendak-Nya atau tidak. Artinya, untuk masuk ke dalam kerajaan surga, orang harus membuang natur berdosanya dan dibersihkan, serta harus mengikuti firman Tuhan, tunduk, mengasihi, dan menyembah-Nya. Jika kita bekerja keras dan banyak berkorban, tetapi kita tidak mampu mengikuti firman Tuhan, sering berbuat dosa, dan menentang Tuhan, kita tidak akan bisa masuk ke dalam kerajaan surga. Orang-orang Farisi Yahudi yang menentang Tuhan, melayani Tuhan tahun demi tahun di bait suci dan menyebarluaskan Injil Tuhan di mana-mana. Mereka sangat menderita dan membayar harga yang mahal. Dari luar, mereka tampak setia kepada Tuhan, tetapi yang mereka pedulikan hanyalah mengadakan ritual keagamaan. Mereka menjaga dan memberitakan tradisi dan doktrin manusia, serta mengabaikan hukum dan perintah Tuhan. Pelayanan mereka sepenuhnya bertentangan dengan maksud Tuhan, dan mereka menyimpang dari jalan-Nya. Terutama saat Tuhan Yesus datang untuk melakukan pekerjaan-Nya, orang-orang Farisi dengan gila-gilaan mengutuk dan memfitnah-Nya, serta melakukan segala cara agar orang-orang tidak mengikuti-Nya demi melindungi kedudukan dan mata pencaharian mereka. Pada akhirnya, mereka bersekongkol dengan pemerintah Romawi untuk menyalibkan Tuhan Yesus, yang mendatangkan hukuman dari Tuhan. Ini membuktikan bahwa orang dapat bekerja keras, berkorban, dan mengorbankan diri, tetapi bukan berarti mereka mengikuti kehendak Tuhan. Ini karena mereka belum dibersihkan dari dosa, dan orang-orang masih akan berdosa dan menentang Tuhan bahkan jika mereka telah berkorban dan banyak mengorbankan diri mereka untuk-Nya. Maka seperti itulah kita. Meskipun kita tampak bekerja keras, bersikap baik hati dan memberi, serta membantu sesama jemaat gereja, tujuan kita adalah untuk diberkati dan masuk ke dalam kerajaan surga. Ketika kita diberkati Tuhan, kita berterima kasih dan memuji-Nya. Ketika kita sakit atau bencana datang atas kita, kita mengeluhkan tentang Tuhan dan salah paham terhadap-Nya, bahkan kita bisa mengkhianati-Nya. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa kita tidak melakukan semua itu karena mengasihi atau ingin memuaskan Tuhan, melainkan untuk membuat kesepakatan dengan Tuhan. Kita hanya menggunakan Tuhan untuk memenuhi ambisi dan keinginan kita sendiri. Lalu, bagaimana kita bisa menjadi orang yang mengikuti kehendak Bapa Surgawi? Alkitab berkata: 'Jadilah engkau kudus; karena Aku kudus' (1 Petrus 1:16). Tuhan itu kudus, jadi bagaimana mungkin Tuhan membawa orang-orang kotor seperti kita ke dalam kerajaan surga? Kita bisa diperkenan oleh Tuhan dan layak masuk ke dalam kerajaan surga hanya jika kita membuang natur berdosa kita, dibersihkan, dan tidak lagi berbuat dosa atau menentang Tuhan." Saat mendengarkan Saudari Betty, aku berpikir, "Dahulu aku mengira bahwa aku bisa masuk ke dalam kerajaan surga dengan perbuatan baik, tetapi sekarang tampaknya aku telah menerapkan imanku dengan cara yang bertentangan dengan maksud Tuhan. Manusia hanya dapat masuk ke dalam kerajaan surga dengan menjadi kudus, tetapi aku tidak tahu bagaimana cara menjadi kudus." Aku menyampaikan pikiranku dengan Saudari Betty.

Dia membacakan beberapa bagian yang relevan dari firman Tuhan Yang Mahakuasa: "Orang berdosa sepertimu, yang baru saja ditebus, dan yang belum menjalani perubahan atau penyempurnaan oleh Tuhan, dapatkah engkau sesuai dengan maksud-maksud Tuhan? Engkau, yang masih dirimu yang lama, memang benar bahwa engkau telah diselamatkan oleh Yesus, dan engkau bukan milik dosa karena keselamatan dari Tuhan, tetapi ini tidak membuktikan bahwa engkau tidak berdosa dan tidak najis. Bagaimana mungkin engkau menjadi suci jika engkau belum menjalani perubahan? Di dalam dirimu, engkau penuh dengan kenajisan, dan engkau egois dan hina, tetapi engkau masih berharap untuk turun bersama Yesus—enak betul! Engkau telah melewatkan satu tahap dalam kepercayaanmu kepada Tuhan; engkau sekadar telah ditebus, tetapi belum menjalani perubahan. Agar engkau dapat sesuai dengan maksud-maksud Tuhan, Tuhan harus secara pribadi melakukan pekerjaan untuk mengubah dan mentahirkan dirimu; jika tidak, engkau hanya telah ditebus dan tidak mungkin menjadi suci. Dengan demikian, engkau tidak memenuhi syarat untuk menikmati berkat-berkat yang indah bersama dengan Tuhan, karena engkau telah tertinggal satu langkah dalam pekerjaan pengelolaan manusia oleh Tuhan, yaitu tahap kunci mengubah dan menyempurnakan manusia. Dengan demikian, engkau, seorang berdosa yang baru saja ditebus, tidak dapat langsung menerima warisan dari Tuhan" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Mengenai Sebutan dan Identitas"). "Meskipun Yesus datang di antara manusia dan melakukan banyak pekerjaan, Dia hanya menyelesaikan pekerjaan penebusan seluruh umat manusia dan menjadi korban penghapus dosa manusia; Dia tidak menyingkirkan semua watak rusak manusia. Menyelamatkan manusia sepenuhnya dari pengaruh Iblis tidak hanya mengharuskan Yesus menjadi korban penghapus dosa dan menanggung dosa manusia, tetapi juga mengharuskan Tuhan untuk melakukan pekerjaan yang bahkan lebih besar untuk sepenuhnya menyingkirkan watak manusia yang telah dirusak oleh Iblis. Jadi, setelah manusia diampuni dari dosa-dosanya, Tuhan datang kembali menjadi daging untuk memimpin manusia memasuki zaman yang baru serta memulai pekerjaan hajaran dan penghakiman. Pekerjaan ini telah membawa manusia ke dalam alam yang lebih tinggi. Semua orang yang tunduk di bawah kekuasaan-Nya akan menikmati kebenaran yang lebih tinggi dan memperoleh berkat yang lebih besar. Mereka akan benar-benar hidup dalam terang dan memperoleh kebenaran, jalan, dan hidup" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Kata Pengantar"). Saudari Betty kemudian berkata, "Di Zaman Kasih Karunia, Tuhan Yesus hanya melakukan pekerjaan penebusan. Setelah kita menerima keselamatan dari-Nya, kita hanya perlu mengaku dan bertobat kepada-Nya, maka dosa kita diampuni dan kemudian kita bisa menikmati kasih karunia dan berkat yang Dia limpahkan kepada kita. Tuhan Yesus mengampuni dosa-dosa kita, tetapi Dia tidak menghapus natur berdosa dan watak Iblis kita. Setelah manusia dirusak oleh Iblis, kita jadi dikuasai oleh watak kita yang rusak, seperti kecongkakan, kesombongan, kebengkokan, kelicikan, kejahatan, dan keserakahan, sehingga kita tidak bisa menahan diri dari berbuat dosa dan menentang Tuhan. Itulah natur Iblis kita yang merupakan akar dari dosa dan penentangan kita terhadap Tuhan; jika kita tidak mengatasi natur berdosa ini, kita tidak akan pernah berhenti berbuat dosa serta menentang Tuhan, dan kita tidak akan pernah layak untuk masuk ke dalam kerajaan surga. Itulah sebabnya Tuhan mengatakan bahwa Dia akan kembali di akhir zaman, mengungkapkan kebenaran untuk melakukan pekerjaan penghakiman yang dimulai di rumah Tuhan untuk sepenuhnya membersihkan dan mengubah watak Iblis kita. Dengan demikian, kita dapat terbebas dari dosa serta sepenuhnya diselamatkan dan didapatkan oleh Tuhan. Sebagaimana dinubuatkan oleh Tuhan: 'Dia yang menolak Aku dan tidak menerima firman-Ku, sudah ada yang menghakiminya; firman yang Kunyatakan, itulah yang akan menghakiminya pada akhir zaman' (Yohanes 12:48). 'Masih banyak hal lain yang ingin Kukatakan kepadamu, tetapi engkau belum mampu menerima semuanya itu sekarang. Namun, ketika Dia, Roh Kebenaran itu, datang, Dia akan mengajarkan kepadamu seluruh kebenaran: karena Dia tidak akan berbicara dari diri-Nya sendiri; tetapi Dia akan menyampaikan segala sesuatu yang telah didengar-Nya: dan Dia akan menunjukkan hal-hal yang akan datang kepadamu' (Yohanes 16:12-13). Kita hanya bisa dibersihkan dari kerusakan kita dengan menerima pekerjaan penghakiman Tuhan yang datang kembali pada akhir zaman. Hanya dengan begitu kita akan layak mewarisi janji-janji Tuhan dan memasuki kerajaan-Nya." Persekutuan Saudari Betty benar-benar membuatku melihat terang. Selama bertahun-tahun, aku telah berbuat dosa, lalu mengaku kepada romo dan bekerja keras melakukan perbuatan baik, tetapi aku tetap tidak bisa menahan diri dari berbuat dosa. Sekarang aku tahu bahwa Tuhan Yesus hanya melakukan pekerjaan penebusan, dan dengan percaya kepada-Nya, hanya dosa-dosa kita yang diampuni, tetapi natur berdosa kita masih tetap ada dalam diri kita. Itulah sebabnya aku masih hidup dalam sebuah lingkaran setan dosa dan pengakuan. Satu-satunya cara untuk dibersihkan dari kerusakan kita adalah dengan menerima pekerjaan penghakiman Tuhan yang datang kembali pada akhir zaman. Hanya dengan begitu kita mampu benar-benar tunduk dan takut akan Tuhan, serta layak untuk memasuki kerajaan-Nya. Pemikiran itu membuatku sangat bahagia. Aku kini memiliki harapan untuk masuk ke dalam kerajaan surga!

Keesokan harinya, Saudari Betty memutar pembacaan berjudul: "Juruselamat Telah Datang Kembali di atas 'Awan Putih'". Pembacaan itu sangat menyentuh hatiku, dan aku merasa kata-kata itu sangat berwibawa. Dengan penuh semangat dia berkata kepadaku, "Tuhan yang selama ini kita rindukan telah kembali sebagai Tuhan Yang Mahakuasa yang berinkarnasi. Tuhan Yang Mahakuasa menyatakan banyak kebenaran dan melakukan pekerjaan penghakiman yang dimulai dari rumah Tuhan. Apa yang kemarin kita baca dan yang hari ini kita dengarkan semuanya diucapkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Dia telah datang dan membuka tujuh meterai serta membuka gulungan kitab kecil. Dia telah menyingkapkan semua misteri yang belum pernah kita pahami dan menganugerahkan semua kebenaran yang kita perlukan untuk diselamatkan dan dibersihkan sepenuhnya. Ini menggenapi nubuat dalam Kitab Wahyu: 'Siapa bertelinga, hendaklah dia mendengarkan apa yang Roh katakan kepada gereja-gereja' (Wahyu 3:6). Hari ini kita dapat mendengar suara Tuhan karena bimbingan Tuhan dan kita sangat diberkati!" Aku begitu gembira dan bersemangat saat mendengar kabar bahwa Tuhan telah kembali. Semua pembacaan yang kudengar dan kata-kata yang kubaca sehari sebelumnya merupakan firman Tuhan. Tidak heran jika kata-kata itu memiliki otoritas yang begitu besar! Siapa lagi yang mampu mengungkapkan misteri tentang bagaimana Tuhan kembali? Tidak ada yang mampu melakukannya selain Tuhan. Aku benar-benar yakin bahwa kata-kata ini diucapkan oleh Tuhan dan bahwa Tuhan telah kembali! Aku merasa sangat bersemangat saat itu. Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku bisa menyambut kedatangan Tuhan kembali. Aku merasa sangat diberkati! Aku hanya memiliki satu pertanyaan, "Bagaimana Tuhan melakukan pekerjaan penghakiman untuk membersihkan dan sepenuhnya menyelamatkan manusia?"

Saudari Betty kemudian membacakan bagian firman Tuhan Yang Mahakuasa untuk menjawab pertanyaanku: "Kristus akhir zaman menggunakan berbagai kebenaran untuk mengajar manusia, mengungkapkan hakikat manusia, dan menganalisis perkataan dan perbuatan manusia. Firman ini mengandung berbagai kebenaran, seperti tugas manusia, bagaimana manusia seharusnya tunduk kepada Tuhan, bagaimana manusia seharusnya setia kepada Tuhan, bagaimana manusia seharusnya hidup dalam kemanusiaan yang normal, serta hikmat dan watak Tuhan. Firman ini semuanya ditujukan pada hakikat manusia dan watak rusak dirinya. Secara khusus, firman yang mengungkapkan bagaimana manusia menolak Tuhan, terlebih lagi ditujukan pada bagaimana manusia itu merupakan perwujudan dari Iblis, dan kekuatan yang memusuhi Tuhan. Dalam melaksanakan pekerjaan penghakiman-Nya, Tuhan tidak menjelaskan natur manusia sepenuhnya dengan beberapa kata; Dia menyingkapkan dan memangkas dalam jangka panjang. Semua cara penyingkapan dan pemangkasan yang beragam ini tidak bisa digantikan dengan perkataan biasa; sebaliknya, kebenaran yang sama sekali tidak dimiliki manusia digunakan untuk melaksanakan pekerjaan penyingkapan dan pemangkasan ini. Hanya cara-cara seperti inilah yang dapat disebut penghakiman; hanya melalui penghakiman jenis inilah manusia bisa ditaklukkan dan diyakinkan sepenuhnya tentang Tuhan, dan bahkan memperoleh pengenalan yang sejati akan Tuhan. Yang dihasilkan oleh pekerjaan penghakiman adalah pemahaman manusia tentang wajah sejati Tuhan dan fakta sebenarnya tentang pemberontakannya sendiri. Pekerjaan penghakiman telah memungkinkan manusia untuk memperoleh banyak pemahaman tentang maksud Tuhan, tujuan pekerjaan Tuhan, dan misteri-misteri yang tidak dapat dimengerti olehnya. Pekerjaan ini juga telah memungkinkan manusia untuk memahami dan mengetahui esensi rusak dirinya serta akar kerusakannya, dan menyadari wajah buruk dirinya. Semua hasil ini dihasilkan oleh pekerjaan penghakiman, karena esensi pekerjaan ini sebenarnya adalah pekerjaan membukakan kebenaran, jalan, dan hidup Tuhan kepada semua orang yang beriman kepada-Nya. Pekerjaan ini adalah pekerjaan penghakiman yang dilakukan oleh Tuhan" (Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Kristus Melakukan Pekerjaan Penghakiman dengan Kebenaran"). Setelah membacakannya, Saudari Betty berkata, "Di akhir zaman, Tuhan Yang Mahakuasa bekerja untuk menghakimi dan membersihkan umat manusia melalui firman-Nya. Tuhan menghakimi pemberontakan, ketidakbenaran, watak rusak, dan natur Iblis manusia yang menentang-Nya, serta menyingkapkan keinginan kita akan berkat, iman kita yang tercemar, pandangan keliru, dan berbagai gagasan kita tentang-Nya. Tuhan juga menunjukkan bagaimana menjadi jujur, melayani sesuai dengan maksud-Nya, sungguh-sungguh tunduk dan mengasihi-Nya, mengikuti kehendak-Nya, dan sebagainya. Dengan mengalami penghakiman dan hajaran firman-Nya, kita menyadari betapa kita telah dirusak oleh Iblis—menjadi congkak, sombong, bengkok, licik, jahat, dan serakah—dan bagaimana segala sesuatu yang kita jalani berasal dari watak Iblis dalam diri kita. Dalam hal ini, kita melihat watak Tuhan yang kudus dan benar, yang tidak menoleransi pelanggaran, dan kita mulai membenci diri sendiri, merasa menyesal, dan berfokus menerapkan kebenaran. Kemudian watak hidup kita perlahan mulai berubah. Semua ini dicapai dengan mengalami penghakiman dan hajaran firman Tuhan." Saudari Betty kemudian membagikan pengalamannya sendiri. Dalam imannya sebelumnya, dia selalu berpikir bahwa dia mengasihi Tuhan karena dia mengorbankan dirinya dan berkorban dengan semangat, jadi dia sering berdoa, memohon kasih karunia dan berkat dari Tuhan. Dia sangat percaya bahwa karena dia telah menderita demi Tuhan, Tuhan pasti akan memberinya imbalan berupa jalan masuk ke dalam kerajaan surga. Setelah menerima pekerjaan Tuhan pada akhir zaman serta dihakimi dan disingkapkan oleh firman-Nya, dia menyadari bahwa pandangannya tentang iman salah dan tercemar: Dia percaya kepada Tuhan bukan karena mengasihi atau tunduk kepada-Nya atau melaksanakan tugas makhluk ciptaan, melainkan untuk memenuhi keinginannya sendiri akan berkat dan untuk mendapatkan berkat kerajaan surga sebagai imbalan. Ini berarti menggunakan Tuhan dan membuat kesepakatan dengan-Nya. Dia menyadari betapa dia begitu egois, tidak berperikemanusiaan atau bernalar, dan dia sepenuhnya menyesali serta membenci dirinya sendiri. Dia mulai mengejar kebenaran seperti yang dituntut oleh Tuhan, dan pandangannya yang keliru tentang iman pun diperbaiki. Watak Iblis yang dimilikinya juga mulai berubah. Dia mengalami bahwa satu-satunya cara untuk benar-benar mengenal diri sendiri dan dibersihkan dari kerusakan adalah dengan menerima penghakiman dan hajaran firman Tuhan. Dari persekutuan ini, aku melihat betapa nyata cara Tuhan mengungkapkan kebenaran dan melakukan pekerjaan penghakiman-Nya pada akhir zaman, serta bagaimana hal itu benar-benar dapat mengubah dan membersihkan manusia. Aku menyadari betapa kita membutuhkan pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman, dan bahwa kita sekarang memiliki jalan untuk membuang kerusakan dan disucikan. Aku sangat gembira.

Dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya, Saudari Betty bersekutu denganku tentang misteri inkarnasi Tuhan, bagaimana Iblis merusak manusia, bagaimana Tuhan menyelamatkan manusia selangkah demi selangkah, kisah tersembunyi dalam Alkitab, kesudahan dan tempat tujuan umat manusia, dan banyak lagi. Ini adalah kebenaran yang belum pernah kudengar sebelumnya selama lebih dari 20 tahun aku percaya kepada Tuhan. Makin aku membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa, makin aku merasa bahwa firman itu adalah suara Tuhan. Hanya Tuhan yang berinkarnasi yang mampu mengungkapkan firman dengan otoritas dan kuasa seperti itu. Selain Tuhan, siapa yang mampu menyingkapkan kebenaran tentang kerusakan umat manusia oleh Iblis? Siapa yang mampu menunjukkan penyimpangan dalam iman kita dan menunjukkan jalan yang benar dalam kepercayaan kita? Siapa yang dapat mengungkapkan misteri rencana pengelolaan Tuhan selama 6.000 tahun dan memberitahukan kepada kita tentang kesudahan dan tempat tujuan yang menanti kita? Aku pun diyakinkan bahwa Tuhan Yang Mahakuasa adalah Tuhan yang kembali—Dialah Kristus yang menampakkan diri di akhir zaman! Kemudian aku dengan bersukacita menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman.

Sebelumnya: Ini adalah Suara Tuhan

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Konten Terkait

Tinggalkan Balasan

Hubungi kami via WhatsApp