Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Harapan Sepenuh Hati Seorang Kristen: Bebas dari Dosa dan Masuk ke dalam Kerajaan Surga Bukan Lagi sebuah Impian

211

Zhenyi, seorang Kristen, selalu merasa tertekan tentang hidup dalam dosa dan dia khawatir bahwa dia tidak akan dapat masuk ke dalam kerajaan surga. Namun syukurlah, dia akhirnya menemukan jalan untuk bebas dari dosa dan masuk ke dalam kerajaan surga …

Oleh Saudari Zhenyi

Kata Pengantar

Aku percaya bahwa setiap saudara-saudari di dalam Tuhan akan mengalami situasi seperti ini: ketika kita berhubungan dengan orang lain dan perkataan serta tindakan mereka tidak sesuai dengan gagasan kita sendiri, kita dapat dengan mudah kehilangan kesabaran dan mulai menegur mereka, dan kita tidak mampu mempraktikkan toleransi dan kesabaran. Contoh lainnya adalah ketika kepentingan kita sendiri terganggu, dan kita kemudian mampu berkata bohong dan menipu, dan bahkan tidak mampu mengatakan sepatah kata pun yang jujur. Dosa adalah seperti sebuah rantai tidak terlihat yang mengikat kita dengan erat, dan itu membuat kita merasa sangat berutang kepada Tuhan namun tidak berdaya untuk membebaskan diri kita darinya! Apakah engkau juga tertekan dengan pertanyaan tentang bagaimana caranya bebas dari dosa? Saudari Zhenyi akan menggunakan pengalamannya untuk memberi tahu kita cara untuk bisa bebas dari dosa, jadi marilah kita baca bersama-sama.

Pada tahun 2002, aku menikah dan pindah dari Vietnam ke Taiwan. Karena perbedaan bahasa dan budaya di antara kami, ditambah fakta bahwa aku dan suamiku memiliki karakter yang sangat berbeda, kami sering bertengkar dan selama pertengkaran tak seorang pun dari kami yang mau mengalah, dan kami berdua merasa sangat sedih.

Pada tahun 2011, aku mulai percaya kepada Tuhan Yesus, dan dari firman-Nya aku memahami bahwa Tuhan menuntut kita untuk bersikap toleran, sabar, dan mengasihi orang lain. Karena itu aku mulai berperilaku sesuai dengan ajaran Tuhan terhadap orang lain. Awalnya, aku mampu bersikap toleran dan sabar terhadap suamiku, dan kami jarang sekali bertengkar. Namun, itu tidak bertahan lama, dan kami kembali memulai kehidupan kami yang terus-menerus bertengkar.. Ketika aku berada di tempat kerja sepanjang hari dan "menyeret" diriku yang kelelahan pulang ke rumah hanya untuk melihat suamiku cuma duduk di sana menonton TV, sama sekali tidak menyadari bahwa pekerjaan rumah tangga perlu dikerjakan, aku tidak tahan lagi dan akan kehilangan kesabaran terhadapnya; setiap kali aku membeli beberapa perabot untuk rumah dan disalahkan oleh suamiku karena membuang-buang uang, aku akan merasa tidak setuju dan akan merasa bahwa aku tidak melakukan kesalahan apa pun dan dia tidak boleh mengkritikku. Pertengkaran antara aku dan suamiku juga berdampak kepada kedua anak kami. Akhirnya, ketika anak-anak kami melihatku pulang, mereka bersembunyi di kamar mereka dan tidak mau keluar; aku dan suamiku sama sekali tidak berbicara satu sama lain sepanjang minggu demi minggu. Kami semakin jauh satu sama lain, dan aku merasa sangat tertekan.

Aku kemudian pergi menemui seorang pengkhotbah dan menceritakan kepadanya tentang penderitaanku dengan harapan dia akan dapat menolongku. Setelah mendengarkan kesusahanku, pengkhotbah itu membacakan kepadaku ayat Alkitab: "Lalu datanglah Petrus kepada-Nya dan berkata: 'Tuhan, berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia bersalah kepadaku dan aku mengampuninya? Sampai tujuh kali?' Yesus berkata kepadanya, Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, tapi tujuh puluh kali tujuh kali" (Matius 18:21-22). Dia kemudian mengatakan kepadaku bahwa orang yang percaya kepada Tuhan harus menaati ajaran-ajaran Tuhan, bahwa kita harus penuh kasih, toleran, dan sabar terhadap orang lain, dan kita harus memiliki roh yang mengampuni. Dia berkata agar tidak berbuat dosa, kita juga harus berpuasa dan berdoa, serta mengakui dosa-dosa kita dan bertobat kepada Tuhan.

Jadi, aku mulai berpuasa dan berdoa, serta mengakui dosa dan bertobat kepada Tuhan, dan aku bertekad untuk mengubah diriku sendiri. Namun, beberapa saat kemudian, bukan saja tabiatku tidak berubah menjadi lebih baik, tetapi malah semakin buruk. Suamiku juga menegurku dan berkata bahwa, meskipun membaca Alkitab dan berdoa setiap hari, aku masih belum berubah sama sekali. Diperhadapkan dengan celaan dari suamiku ini, aku merasakan rasa bersalah yang sangat besar, dan aku bertanya-tanya: "Aku telah berpuasa dan berdoa, aku telah memberikan persembahan, aku melakukan saat teduhku secara teratur dan menghadiri ibadah gereja. Jadi mengapa aku tidak mampu menghentikan diriku dari berbuat dosa?" Aku adalah seorang Kristen, tetapi dalam kenyataannya, aku sama sekali tak mampu untuk memuliakan Tuhan dalam hidupku. Sebaliknya, aku hanya mempermalukan Tuhan, dan ini sangat menyakitkanku. Setiap hari, aku tidak bisa makan atau tidur, dan aku tidak dapat berkonsentrasi di tempat kerja. Khususnya, saat aku membaca dalam Alkitab, "Usahakankah hidup damai dengan semua orang dan dalam kekudusan, karena tanpa kekudusan, tidak ada manusia yang bisa melihat Tuhan" (Ibrani 12:14), aku bahkan akan merasa lebih gelisah. Tuhan itu kudus, dan Dia menuntut agar kita mencapai penyucian, namun aku terus-menerus berbuat dosa dan bahkan tidak mampu bersikap toleran atau sabar terhadap keluargaku sendiri—bagaimana aku bisa layak bertemu dengan Tuhan dan masuk ke dalam kerajaan surga? Dan bagaimana aku dapat berhenti berbuat dosa? Aku sering berlutut di lantai dan berdoa kepada Tuhan, air mata mengalir di wajahku: "Ya Tuhan! Aku tidak pernah mampu menghentikan diriku dari kehilangan kesabaran dan aku telah mengatakan banyak hal yang menyakitkan. Aku hidup dalam keadaan berbuat dosa dan mengaku dosa, dan aku tidak berdaya untuk membebaskan diri darinya. Ya Tuhan! Kumohon tolong aku untuk bebas dari keadaan yang sulit ini."

Pada tahun 2017, aku bertemu Saudari Zhang secara daring, dan kami sering membaca Alkitab bersama dan mempersekutukan tentang pengalaman kami sendiri. Persekutuan Saudari Zhang selalu sangat mencerahkan, dan itu banyak membantuku. Karena itu aku memberi tahu dia semua tentang penderitaanku hidup dalam dosa. Setelah mendengarkanku, Saudari Zhang berkata, "Saudari, sebenarnya ada banyak saudara-saudari yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan yang sama sepertimu, yang bingung tentang mengapa, setelah mereka menerima penebusan Tuhan Yesus, mereka masih dapat sering melakukan dosa. Mereka juga bertanya-tanya, apakah mereka tidak akan pernah mampu membebaskan diri mereka dari ikatan dosa, apakah pada akhirnya mereka akan dapat masuk ke dalam kerajaan surga atau tidak, dan mereka bertanya bagaimana sebenarnya mereka dapat membebaskan diri dari ikatan dosa. Aku telah melihat beberapa bagian dalam sebuah buku yang menjelaskan masalah ini dengan sangat jelas. Kita akan mengerti begitu kita mendengarkan bagian-bagian ini."

Mendengarnya mengatakan ini, aku sangat ingin mendengar bagian-bagian yang disebutkannya tersebut. Dia kemudian mengirimkan kepadaku bagian-bagian itu secara daring dan mulai membacakannya: "Meskipun manusia telah ditebus dan diampuni dosanya, itu hanya dapat dianggap bahwa Tuhan tidak lagi mengingat pelanggaran manusia dan tidak memperlakukan manusia sesuai dengan pelanggarannya. Namun, ketika manusia hidup dalam daging dan belum dibebaskan dari dosa, ia hanya bisa terus berbuat dosa, tanpa henti menyingkapkan watak rusak Iblis dalam dirinya. Inilah kehidupan yang manusia jalani, siklus tanpa henti berbuat dosa dan meminta pengampunan. Mayoritas manusia berbuat dosa di siang hari lalu mengakui dosa di malam hari. Dengan demikian, sekalipun korban penghapus dosa selamanya efektif bagi manusia, itu tidak dapat menyelamatkan manusia dari dosa. Hanya separuh dari pekerjaan penyelamatan telah diselesaikan, karena watak manusia masih rusak" ("Misteri Inkarnasi (4)" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "AOrang berdosa sepertimu, yang baru saja ditebus, yang belum diubahkan, atau disempurnakan Tuhan, mungkinkah engkau berkenan di hati Tuhan? Bagimu, engkau yang masih berada dalam diri manusia yang lama, memang benar bahwa engkau diselamatkan oleh Yesus, dan engkau tidak terhitung sebagai orang berdosa karena penyelamatan Tuhan, tetapi hal ini tidak berarti bahwa engkau tidak berdosa, dan tidak najis. Bagaimana mungkin engkau bisa kudus jika engkau belum diubahkan? Di dalam dirimu, engkau dipenuhi dengan kenajisan, egois dan kasar, tetapi engkau masih berharap untuk dapat turun bersama Yesus—enak sekali kau! Engkau melewatkan satu tahap dalam kepercayaanmu kepada Tuhan: engkau baru hanya ditebus, tetapi belum diubahkan. Agar engkau dapat berkenan di hati Tuhan, Tuhan harus langsung melakukan pekerjaan pengubahan dan pembersihan terhadapmu. Jika engkau hanya ditebus, engkau tidak akan dapat mencapai kekudusan. Dengan begini, engkau tidak akan layak mendapat bagian dalam berkat-berkat Tuhan yang baik, sebab engkau melewatkan satu tahap dalam pekerjaan Tuhan dalam mengelola manusia, yaitu tahap kunci berupa pengubahan dan penyempurnaan. Oleh karena itu, engkau, seorang berdosa yang baru ditebus saja, tidak dapat langsung menerima warisan Tuhan" ("Mengenai Sebutan dan Identitas" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Ketika Yesus datang ke dalam dunia manusia, Ia membawa Zaman Kasih Karunia dan mengakhiri Zaman Hukum Taurat. Pada akhir zaman, Tuhan sekali lagi menjadi daging, dan ketika Ia menjadi daging, Ia mengakhiri Zaman Kasih Karunia dan memulai Zaman Kerajaan. Semua orang yang menerima inkarnasi Tuhan yang kedua akan dipimpin ke dalam Zaman Kerajaan, dan dapat menerima bimbingan Tuhan secara pribadi. Meskipun Yesus melakukan banyak pekerjaan di antara manusia, Ia hanya menyelesaikan penebusan seluruh umat manusia dan menjadi korban penghapus dosa manusia, tetapi tidak melepaskan manusia dari wataknya yang rusak. Menyelamatkan manusia sepenuhnya dari pengaruh Iblis tidak hanya membuat Yesus harus menanggung dosa manusia sebagai korban penghapus dosa, tetapi juga membuat Tuhan wajib melakukan pekerjaan yang lebih besar untuk melepaskan manusia dari wataknya yang telah dirusak Iblis" (Kata Pengantar, Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia).

Saudari Zhang kemudian memberikan persekutuannya, "Kita dapat melihat dari bagian-bagian ini bahwa pekerjaan penebusan yang dilakukan Tuhan Yesus membebaskan kita dari dosa-dosa kita tetapi tidak membebaskan kita dari natur dosa kita. Kita telah sangat dirusak oleh Iblis sehingga, meskipun dosa kita telah diampuni dan kita tidak lagi berada di bawah penghukuman oleh hukum Taurat, watak jahat seperti bersikap congkak dan merasa diri penting, egois dan jahat, bengkok dan curang, dan sebagainya, masih sangat mengakar dalam di dalam diri kita dan telah menjadi kehidupan kita. Di bawah kekuasaan watak jahat ini, kita tidak berdaya selain berbuat dosa dan menentang Tuhan, dan aku percaya bahwa kita berdua memiliki pemahaman yang mendalam mengenai hal ini. Contohnya, Tuhan menuntut kita agar kita bersikap toleran dan sabar terhadap orang lain dan kita mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. Namun, dalam kehidupan, ketika kita melihat orang lain berperilaku dengan cara yang bertentangan dengan gagasan kita sendiri, kita kehilangan kesabaran dan mulai menegur mereka. Ketika ucapan atau tindakan orang lain melanggar kepentingan kita sendiri, kita dapat berselisih dan bertengkar dengan mereka, dan bahkan bisa membenci mereka dan menjadi tidak bisa bergaul secara damai dengan mereka. Tuhan menuntut agar kita menjadi orang yang jujur, tetapi agar dapat melindungi gengsi dan kedudukan kita sendiri, kita sering berkata bohong dan melakukan penipuan. Tuhan menuntut agar kita mengasihi Dia dengan segenap hati dan pikiran kita, tetapi ketika suatu kemalangan terjadi pada keluarga kita atau kita menghadapi sebuah masalah di tempat kerja, kita selalu menyalahkan Tuhan, dan bahkan sampai menjauhi dan mengkhianati Tuhan. Ini hanyalah beberapa contoh dari perilaku kita di bawah kekuasaan watak kita yang jahat. Meskipun kita mungkin sering datang ke hadapan Tuhan untuk mengakui dan bertobat dari dosa-dosa kita, atau kita berusaha menahan diri atau berpuasa dan berdoa, itu semua sia-sia. Ini menunjukkan kepada kita bahwa natur jahat kita belum dicabut dan bahwa, meskipun dosa-dosa kita telah diampuni, kita sama sekali tidak mungkin dapat memastikan bahwa kita tidak akan terus berbuat dosa dan menentang Tuhan!

"Tuhan Yesus berkata: 'Bukan setiap orang yang memanggil-Ku, Tuhan, Tuhan, yang akan masuk ke dalam Kerajaan Surga; melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga' (Matius 7:21). 'Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, siapa saja yang melakukan dosa adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tinggal di rumah selamanya: tetapi Anak tetap tinggal selama-selamanya' (Yohanes 8:34-35). Tuhan Yesus memberi tahu kita dengan jelas bahwa orang yang berbuat dosa dan menentang Tuhan tidak dapat masuk ke dalam kerajaan surga. Hanya dengan melakukan kehendak Bapa yang di surga, yaitu, membuang watak jahat kita dan disucikan, dan mencapai ketaatan sejati kepada Tuhan serta kasih kepada Tuhan, barulah kita dapat memenuhi syarat untuk masuk ke dalam kerajaan surga. Jika kita ingin membebaskan diri kita dari ikatan dan kekangan dosa, kita perlu Tuhan datang kembali untuk melakukan pekerjaan menyingkirkan dosa agar memampukan kita untuk membebaskan diri dari watak rusak kita sekali untuk selamanya dan disucikan. Hanya dengan cara inilah kita dapat memperoleh keselamatan Tuhan yang sempurna dan dibawa Tuhan ke dalam kerajaan surga."

Setelah mendengarkan bagian-bagian ini dan persekutuan saudari itu, aku mengerti bahwa alasan mengapa aku telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun tetapi masih dapat sering kehilangan kesabaranku dan menegur orang, alasan aku tidak bisa mengasihi orang lain dan menunjukkan toleransi kepada orang lain sesuai dengan ajaran Tuhan, dan alasan aku sering hidup dalam keadaan memberontak terhadap Tuhan, selalu mendukakan Tuhan, adalah karena naturku yang berdosa masih ada di dalam diriku. Jika aku ingin bebas dari ikatan dan kekangan dosa sekali untuk selamanya, aku harus menerima pekerjaan penyucian yang dilakukan oleh kedatangan Tuhan yang kedua kali, karena baru pada saat itulah aku jadi memenuhi syarat untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Saat aku merenungkan firman yang Saudari Zhang telah bacakan kepadaku yang telah menjelaskan dengan sangat jelas keadaan kita yang sebenarnya dan pekerjaan Tuhan Yesus, aku mulai merasa sangat penasaran, dan kemudian aku bertanya kepada Saudara Zhang, "Siapa yang menulis apa yang baru saja kau bacakan kepadaku? Mengapa sebelumnya aku tidak pernah mendengarnya?"

Saudari Zhang menjawab dengan gembira, "Saudari, firman yang baru saja kubaca adalah firman yang diungkapkan oleh kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Tuhan Yesus telah datang kembali!" Aku heran mendengar berita ini, dan aku dengan bersemangat bertanya, "Apakah itu benar? Apakah Tuhan Yesus benar-benar telah datang kembali?" Dengan kepastian, Saudari Zhang berkata kepadaku, "Ya, Kristus akhir zaman, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Tuhan Yang Mahakuasa mengungkapkan semua kebenaran untuk menyucikan dan menyelamatkan umat manusia dan Dia melakukan pekerjaan penghakiman yang dimulai di rumah Tuhan untuk menyingkirkan natur dosa kita dan menyelamatkan kita sepenuhnya dari wilayah kekuasaan Iblis dan, pada akhirnya, Dia akan membawa mereka yang watak rusaknya telah disucikan ke dalam kerajaan Tuhan!" Aku sangat senang mendengar bahwa Tuhan telah datang kembali, dan dalam hati aku menaikkan doa kepada Tuhan: "Ya Tuhan! Jika Tuhan Yang Mahakuasa benar-benar adalah kedatangan-Mu yang kedua kalinya, aku mohon kepada-Mu untuk membimbingku dan memampukanku untuk mendengar dan memahami firman-Mu." Saudari Zhang kemudian mempersekutukan kepadaku banyak kebenaran yang berhubungan dengan pekerjaan penebusan Tuhan Yesus. Saat aku mendengarkan, hatiku dipenuhi dengan terang, dan aku memutuskan untuk menyelidiki pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman dengan sungguh-sungguh.

Media Terkait