3. Tujuan dan Makna dari Masing-Masing Tiga Tahap Pekerjaan Tuhan
Firman Tuhan yang Relevan:
Pekerjaan yang Yahweh lakukan pada bangsa Israel menetapkan tempat Tuhan memulai pekerjaan-Nya di bumi di antara manusia, yang juga merupakan tempat kudus di mana Dia hadir. Dia membatasi pekerjaan-Nya pada bangsa Israel. Pada mulanya, Dia tidak bekerja di luar Israel, sebaliknya, Dia memilih orang-orang yang Dia anggap cocok untuk membatasi ruang lingkup pekerjaan-Nya. Israel adalah tempat di mana Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, dan dari debu tanah di tempat itu Yahweh menciptakan manusia; tempat ini menjadi pusat pekerjaan-Nya di bumi. Bangsa Israel, yang merupakan keturunan Nuh dan juga keturunan Adam, adalah fondasi manusia dari pekerjaan Yahweh di bumi.
Pada masa ini, makna penting, tujuan, dan langkah-langkah pekerjaan Yahweh di Israel adalah untuk memulai pekerjaan-Nya di seluruh bumi, yang, dengan menjadikan Israel sebagai pusatnya, secara bertahap menyebar ke bangsa-bangsa bukan Yahudi. Inilah prinsip yang berdasarkannya Dia bekerja di seluruh alam semesta—untuk menetapkan sebuah model dan kemudian memperluaskannya sampai semua manusia di alam semesta menerima Injil-Nya. Bangsa Israel pertama adalah keturunan Nuh. Orang-orang ini hanya dianugerahi dengan napas Yahweh, dan cukup mengerti untuk mengurus kebutuhan dasar kehidupan, tetapi mereka tidak tahu Tuhan seperti apakah Yahweh itu, atau apa maksud-maksud-Nya bagi manusia, apalagi bagaimana mereka seharusnya takut akan Tuhan atas segala ciptaan. Mengenai apakah ada aturan dan hukum yang harus dipatuhi,[a] atau apakah ada tugas yang harus makhluk ciptaan lakukan bagi Sang Pencipta, keturunan Adam tidak tahu apa-apa tentang hal ini. Satu-satunya yang mereka ketahui adalah bahwa suami harus berpeluh dan bekerja demi menafkahi keluarganya, dan istri harus tunduk kepada suaminya dan melestarikan ras manusia yang telah Yahweh ciptakan. Dengan kata lain, orang-orang seperti itu, yang hanya memiliki napas Yahweh dan hidup-Nya, tidak tahu apa-apa tentang bagaimana mematuhi hukum Tuhan atau bagaimana memuaskan Tuhan atas segala ciptaan. Mereka memahami terlalu sedikit. Jadi sekalipun tidak ada yang bengkok atau curang dalam hati mereka, dan kecemburuan serta perselisihan jarang muncul di antara mereka, namun demikian, mereka tidak memiliki pengetahuan atau pemahaman tentang Yahweh, Tuhan atas segala ciptaan. Para leluhur manusia ini hanya tahu memakan apa yang dari Yahweh, dan menikmati hal-hal dari Yahweh, tetapi mereka tidak tahu bagaimana takut akan Yahweh; mereka tidak tahu bahwa Yahweh adalah Dia yang harus mereka sembah dengan lutut bertelut. Jadi bagaimana mereka bisa disebut makhluk ciptaan-Nya? Jika demikian, bukankah firman, "Yahweh adalah Tuhan atas segala ciptaan" dan "Dia menciptakan manusia agar mereka dapat mewujudkan diri-Nya, memuliakan Dia, dan merepresentasikan diri-Nya" telah diucapkan dengan sia-sia? Bagaimana mungkin orang yang tidak memiliki hati yang takut akan Yahweh menjadi kesaksian bagi kemuliaan-Nya? Bagaimana mungkin mereka menjadi perwujudan kemuliaan-Nya? Bukankah firman yang Yahweh ucapkan, "Aku menciptakan manusia menurut gambar-Ku" kemudian menjadi senjata di tangan Iblis, si jahat itu? Bukankah firman ini kemudian menjadi tanda penghinaan terhadap penciptaan Yahweh atas manusia? Untuk menyelesaikan tahap pekerjaan itu, Yahweh, setelah menciptakan umat manusia, tidak memerintahkan atau menuntun mereka dari zaman Adam hingga Nuh. Sebaliknya, barulah setelah air bah menghancurkan dunia, Dia secara resmi mulai menuntun bangsa Israel, yang merupakan keturunan Nuh dan juga keturunan Adam. Pekerjaan dan perkataan-Nya di Israel memberi tuntunan kepada semua orang Israel saat mereka menjalani kehidupan mereka di seluruh negeri Israel, dan dengan cara demikian, menunjukkan kepada manusia bahwa Yahweh tidak hanya mampu meniupkan napas ke dalam manusia, sehingga manusia dapat memiliki hidup dari-Nya dan bangkit dari debu tanah menjadi manusia ciptaan, tetapi bahwa Dia juga bisa membakar manusia, dan mengutuk manusia, dan menggunakan tongkat-Nya untuk memerintah umat manusia. Jadi, mereka juga melihat bahwa Yahweh dapat menuntun kehidupan manusia di bumi, dan berfirman serta bekerja di antara manusia sesuai dengan waktu siang dan malam. Pekerjaan yang Dia lakukan hanyalah agar makhluk ciptaan-Nya bisa mengetahui bahwa manusia yang berasal dari debu tanah telah diangkat oleh-Nya, dan terlebih lagi bahwa manusia itu telah diciptakan oleh-Nya. Bukan hanya ini, tetapi Dia pertama-tama melakukan pekerjaan-Nya di Israel agar bangsa-bangsa dan suku bangsa lainnya (yang sebenarnya tidak terpisah dari Israel, tetapi telah bercabang dari Israel, namun masih keturunan dari Adam dan Hawa) dapat menerima Injil Yahweh dari Israel, sehingga seluruh makhluk ciptaan di alam semesta mampu untuk takut akan Yahweh dan menghormatinya-Nya atas kebesaran-Nya. Seandainya Yahweh tidak memulai pekerjaan-Nya di Israel, tetapi sebaliknya, setelah menciptakan umat manusia, membiarkan mereka hidup tanpa beban di bumi, maka jika demikian halnya, karena natur fisik manusia (natur berarti bahwa manusia tidak akan pernah tahu hal-hal yang tidak dapat dilihatnya, artinya dia tidak akan tahu bahwa Yahweh-lah yang menciptakan umat manusia, dan bahkan lebih tidak tahu lagi mengapa Dia melakukannya), dia tidak akan pernah tahu bahwa Yahweh-lah yang menciptakan umat manusia atau bahwa Dia adalah Tuhan atas semua ciptaan. Jika Yahweh setelah menciptakan manusia dan menempatkannya di bumi, mengebaskan tangan-Nya begitu saja lalu pergi, bukannya tinggal di antara umat manusia untuk memberi mereka tuntunan selama jangka waktu tertentu, maka semua manusia akan kembali ke ketiadaan; bahkan langit dan bumi dan semua ciptaan-Nya yang tak terhitung jumlahnya, dan semua manusia, akan kembali ke ketiadaan dan terlebih lagi akan diinjak-injak oleh Iblis. Dengan demikian, kehendak Yahweh bahwa "Di bumi, yaitu, di tengah-tengah ciptaan-Nya, Dia harus memiliki tempat untuk berpijak, tempat yang kudus" akan hancur. Maka, setelah menciptakan umat manusia, bahwa Dia bisa tetap berada di tengah manusia untuk menuntun mereka dalam kehidupan mereka, dan berbicara kepada mereka dari tengah-tengah mereka—semua ini adalah untuk mewujudkan keinginan-Nya, dan menggenapi rencana-Nya. Pekerjaan yang Dia lakukan di Israel dimaksudkan hanya untuk melaksanakan rencana yang telah Dia tetapkan sebelum penciptaan-Nya atas segala sesuatu, dan karena itu pekerjaan-Nya yang pertama di antara orang Israel dan penciptaan-Nya atas segala sesuatu tidak bertentangan satu sama lain, tetapi keduanya dilakukan demi pengelolaan-Nya, pekerjaan-Nya, dan kemuliaan-Nya, dan dilakukan untuk memperdalam makna penting penciptaan-Nya atas umat manusia. Dia menuntun kehidupan umat manusia di bumi selama dua ribu tahun setelah Nuh, di mana selama itu Dia mengajar manusia untuk memahami bagaimana takut akan Yahweh, Tuhan atas segala ciptaan, bagaimana menjalani hidup mereka dan bagaimana terus bertahan hidup, dan yang paling penting, bagaimana bertindak sebagai saksi bagi Yahweh, tunduk kepada Dia, dan takut akan Dia, bahkan memuji Dia dengan musik seperti dilakukan Daud dan para imamnya.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pekerjaan pada Zaman Hukum Taurat"
Catatan kaki:
a. Naskah asli tidak mengandung frasa "harus dipatuhi".
Yahweh menciptakan manusia, dengan kata lain, Dia menciptakan leluhur umat manusia, Hawa dan Adam, tetapi Dia tidak menganugerahi mereka kecerdasan atau hikmat lebih lanjut. Meskipun sudah hidup di bumi, mereka hampir tidak mengerti apa-apa. Karena itu, pekerjaan menciptakan umat manusia oleh Yahweh baru separuh jalan dan jauh dari rampung. Dia hanya membentuk model manusia dari tanah liat dan memberikan napas-Nya, tetapi tidak disertai dengan kemauan yang cukup untuk takut akan Dia. Pada mulanya, manusia tidak memiliki hati yang takut atau gentar akan Dia. Manusia hanya tahu cara mendengarkan perkataan-Nya, tetapi tidak tahu tentang pengetahuan dasar kehidupan di bumi dan aturan hidup manusia yang normal. Maka, meskipun Yahweh menciptakan laki-laki dan perempuan dan menyelesaikan proyek tujuh hari, Dia sama sekali tidak merampungkan penciptaan manusia sehingga manusia hanyalah debu dan tidak memiliki realitas sebagai manusia. Manusia hanya tahu bahwa Yahweh-lah yang telah menciptakan umat manusia, tetapi tidak tahu bagaimana harus mematuhi perkataan atau hukum Yahweh. Maka, setelah umat manusia muncul, pekerjaan Yahweh masih jauh dari rampung. Dia masih harus membimbing mereka untuk datang ke hadapan-Nya sehingga mereka dapat hidup bersama di bumi dan takut akan Dia, dan supaya dengan bimbingan-Nya mereka bisa memasuki jalur yang benar dari kehidupan manusia yang normal di bumi. Hanya dengan cara ini pekerjaan yang dilakukan, terutama atas nama Yahweh, benar-benar rampung; artinya, hanya dengan cara ini, pekerjaan penciptaan dunia oleh Yahweh benar-benar rampung. Maka, setelah menciptakan umat manusia, Dia harus menuntun hidup umat manusia di bumi selama beberapa ribu tahun agar umat manusia dapat mematuhi ketetapan dan hukum-Nya dan mengambil bagian dalam semua kegiatan kehidupan manusia normal di bumi. Baru setelah itu pekerjaan Yahweh benar-benar rampung. Dia melakukan pekerjaan ini setelah menciptakan umat manusia, dan melanjutkannya sampai ke zaman Yakub, yakni ketika Dia menjadikan dua belas anak Yakub sebagai dua belas suku Israel. Sejak saat itu dan seterusnya, semua orang Israel menjadi bangsa manusia yang secara resmi dipimpin oleh-Nya di bumi, dan Israel menjadi suatu tempat yang khusus di bumi, tempat Dia melakukan pekerjaan-Nya. Yahweh menjadikan orang-orang ini kelompok pertama yang secara resmi menerima pekerjaan yang dilakukan-Nya di bumi. Dia menjadikan seluruh tanah Israel sebagai titik awal pekerjaan-Nya, menggunakan mereka sebagai awal dari pekerjaan yang lebih besar sehingga semua orang yang lahir dari-Nya di bumi akan tahu bagaimana caranya takut akan Dia dan bagaimana caranya hidup di bumi. Dan dengan demikian, perbuatan orang Israel menjadi contoh bagi orang-orang dari bangsa bukan Yahudi, dan apa yang dikatakan di antara orang Israel akan didengar pula oleh orang-orang dari bangsa bukan Yahudi. Karena merekalah yang pertama menerima hukum dan perintah Yahweh, demikian pula yang pertama tahu bagaimana takut akan cara hidup yang ditetapkan Yahweh. Merekalah leluhur umat manusia yang selain mengetahui cara hidup yang ditetapkan Yahweh juga merupakan representasi ras manusia yang dipilih oleh Yahweh.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Visi Pekerjaan Tuhan (3)"
Selama Zaman Hukum Taurat, Yahweh menetapkan banyak perintah untuk Musa sampaikan kepada bangsa Israel yang mengikutinya keluar dari Mesir. Perintah-perintah ini diberikan oleh Yahweh kepada bangsa Israel dan tidak ada hubungannya dengan orang Mesir; perintah ini dimaksudkan untuk mengekang orang Israel, dan Dia menggunakan perintah itu untuk menuntut mereka. Apakah mereka mematuhi hari Sabat, apakah mereka menghormati orang tua mereka, apakah mereka menyembah berhala, dan sebagainya—inilah prinsip-prinsip, yang menilai apakah mereka berdosa atau benar. Di antara mereka, ada beberapa orang yang dilanda api Yahweh, ada yang dirajam sampai mati, dan ada juga yang menerima berkat Yahweh, dan ini ditentukan menurut apakah mereka mematuhi perintah-perintah ini atau tidak. Mereka yang tidak mematuhi hari Sabat akan dirajam sampai mati. Para imam yang tidak merayakan hari Sabat akan dilanda api Yahweh. Mereka yang tidak menghormati orang tua juga akan dirajam sampai mati. Semua ini diperintahkan oleh Yahweh. Yahweh menegakkan perintah dan hukum-hukum-Nya sehingga, ketika Dia memimpin mereka dalam kehidupan mereka, bangsa ini akan mendengarkan dan tunduk pada firman-Nya dan tidak memberontak terhadap-Nya. Dia menggunakan hukum-hukum ini untuk mengendalikan ras manusia yang baru lahir, meletakkan dasar yang lebih baik bagi pekerjaan-Nya di masa mendatang. Jadi, berdasarkan pekerjaan yang Yahweh lakukan, zaman pertama disebut Zaman Hukum Taurat. Meskipun Yahweh menyampaikan banyak perkataan dan melakukan banyak pekerjaan, Dia hanya menuntun manusia secara positif, mengajar orang-orang bebal ini bagaimana menjadi manusia, bagaimana hidup dan memahami jalan Yahweh. Sebagian besar dari pekerjaan yang Dia lakukan adalah untuk membuat orang-orang menaati jalan-Nya dan mematuhi hukum-hukum-Nya. Pekerjaan itu dilakukan dalam diri orang-orang yang dangkal kerusakannya; pekerjaan itu tidak meluas sampai sejauh mengubahkan watak atau kemajuan mereka dalam kehidupan. Dia sekadar menggunakan hukum untuk membatasi dan mengendalikan orang. Bagi orang Israel pada waktu itu, Yahweh hanyalah sosok Tuhan di dalam bait suci, sosok Tuhan yang di surga. Dia adalah tiang awan, tiang api. Satu-satunya yang Yahweh tuntut untuk mereka lalukan adalah mematuhi apa yang mereka ketahui saat itu sebagai hukum dan perintah-Nya—yang bahkan bisa dikatakan sebagai peraturan—karena apa yang Yahweh lakukan tidak dimaksudkan untuk mengubahkan mereka, tetapi untuk memberi kepada mereka lebih banyak hal yang harus dimiliki manusia dan untuk mengajar mereka dari mulut-Nya sendiri, karena setelah diciptakan, manusia tidak memiliki apa pun yang seharusnya ia miliki. Maka, Yahweh memberikan kepada manusia hal-hal yang harus mereka miliki untuk kehidupan mereka di bumi, menjadikan orang-orang yang telah dipimpin-Nya melampaui leluhur mereka, Adam dan Hawa, karena apa yang Yahweh berikan kepada mereka melampaui apa yang telah Dia berikan kepada Adam dan Hawa pada mulanya. Bagaimanapun, pekerjaan yang Yahweh lakukan di Israel hanyalah untuk menuntun manusia dan membuat manusia mengenal Pencipta mereka. Dia tidak menaklukkan ataupun mengubahkan mereka, tetapi hanya menuntun mereka. Inilah keseluruhan pekerjaan Yahweh pada Zaman Hukum Taurat. Inilah latar belakang, kisah sesungguhnya, esensi dari pekerjaan-Nya di seluruh negeri Israel, dan permulaan dari pekerjaan-Nya selama enam ribu tahun—untuk mengendalikan umat manusia dalam tangan Yahweh. Dari inilah lahir lebih banyak pekerjaan dalam rencana pengelolaan-Nya selama enam ribu tahun.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Pekerjaan pada Zaman Hukum Taurat"
Pekerjaan yang Yesus lakukan sesuai dengan kebutuhan manusia pada zaman itu. Tugas-Nya adalah menebus manusia, mengampuni dosa-dosa mereka, dan karena itu, watak-Nya secara keseluruhan adalah kerendahhatian, kesabaran, kasih, ketaatan, kelapangan hati, belas kasihan, dan kasih setia. Dia memberi kepada manusia kasih karunia dan berkat yang melimpah, dan segala sesuatu yang dapat manusia nikmati, Dia memberikan hal berikut untuk mereka nikmati: kedamaian dan kebahagiaan, kesabaran dan kasih-Nya, belas kasihan dan kasih setia-Nya. Pada masa itu, kelimpahan segala sesuatu yang dapat manusia nikmati—perasaan damai dan aman di dalam hati mereka, perasaan tenang dalam roh mereka, ketergantungan mereka kepada Yesus Sang Juruselamat—semua itu mereka dapatkan karena mereka hidup pada zaman itu. Pada Zaman Kasih Karunia, manusia telah dirusak oleh Iblis, jadi untuk mencapai pekerjaan penebusan seluruh umat manusia, diperlukan kasih karunia yang berlimpah, kelapangan hati dan kesabaran yang tak terbatas, dan terlebih lagi, sebuah persembahan yang cukup untuk menebus dosa manusia, supaya pekerjaan tersebut berdampak. Apa yang dilihat manusia pada Zaman Kasih Karunia hanyalah korban persembahan-Ku untuk menebus dosa-dosa umat manusia, yaitu Yesus. Satu-satunya yang mereka ketahui adalah bahwa Tuhan sangat berbelas kasihan dan panjang sabar, dan satu-satunya yang mereka lihat adalah belas kasihan dan kasih setia Yesus. Ini sepenuhnya karena mereka lahir pada Zaman Kasih Karunia. Jadi, sebelum mereka dapat ditebus, mereka harus menikmati berbagai jenis kasih karunia yang Yesus anugerahkan kepada mereka sehingga mereka dapat menarik manfaat dari semua itu. Dengan cara ini, dosa-dosa mereka dapat diampuni melalui kasih karunia yang mereka nikmati, dan mereka juga bisa memiliki kesempatan untuk ditebus melalui kelapangan hati dan kesabaran Yesus. Hanya melalui kelapangan hati dan kesabaran Yesuslah mereka mendapatkan hak untuk menerima pengampunan dan menikmati kelimpahan kasih karunia yang dianugerahkan oleh Yesus. Seperti yang Yesus katakan: Aku datang bukan untuk menebus orang benar, melainkan orang berdosa, sehingga orang berdosa diampuni dari dosa-dosa mereka. Jika pada saat Yesus menjadi manusia, Dia membawa watak menghakimi, mengutuk, dan tidak bersabar terhadap pelanggaran manusia, maka manusia tidak akan pernah punya kesempatan untuk ditebus, dan akan tetap berdosa untuk selamanya. Jika demikian, rencana pengelolaan enam ribu tahun tentu akan berhenti pada Zaman Hukum Taurat, dan Zaman Hukum Taurat akan diperpanjang selama enam ribu tahun. Dosa manusia hanya akan semakin bertambah dan semakin menyedihkan, dan penciptaan manusia akan menjadi sia-sia. Manusia hanya dapat melayani Yahweh di bawah hukum Taurat, tetapi dosa-dosa mereka akan melampaui dosa-dosa manusia yang pertama kali diciptakan. Semakin Yesus mengasihi umat manusia, mengampuni dosa-dosa mereka, dan menganugerahkan belas kasihan serta kasih setia yang cukup kepada mereka, semakin manusia dapat diselamatkan oleh Yesus, untuk disebut sebagai domba-domba terhilang yang telah dibeli kembali oleh Yesus dengan harga mahal. Iblis tidak dapat ikut campur dalam pekerjaan ini, karena Yesus memperlakukan para pengikut-Nya seperti seorang ibu yang penuh kasih memperlakukan bayinya dalam dekapannya. Dia tidak menjadi marah ataupun memandang hina mereka, melainkan penuh penghiburan; Dia tidak pernah murka terhadap mereka, melainkan menahan diri terhadap dosa-dosa mereka dan menutup mata terhadap kebodohan dan kebebalan mereka, sampai-sampai Dia berkata, "Ampunilah sesamamu sampai tujuh puluh kali tujuh kali." Dengan demikian, hati orang-orang diubahkan oleh hati-Nya, dan hanya dengan cara demikianlah manusia menerima pengampunan dosa melalui kelapangan hati-Nya.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Fakta Sebenarnya di Balik Pekerjaan pada Zaman Penebusan"
Meskipun Yesus di dalam inkarnasi-Nya sama sekali tanpa perasaan-perasaan daging, Dia selalu menghibur murid-murid-Nya, memenuhi kebutuhan mereka, membantu dan menopang mereka. Sebanyak apa pun pekerjaan yang dilakukan-Nya, atau sebesar apa pun penderitaan yang ditanggung-Nya, Dia tidak pernah mengajukan tuntutan yang berlebihan terhadap manusia, melainkan selalu sabar dan berlapang hati terhadap dosa-dosa mereka, sehingga orang-orang pada Zaman Kasih Karunia dengan penuh kasih menyebut-Nya "Yesus Juruselamat yang patut dikasihi". Bagi orang-orang pada masa itu—bagi semua orang—apa yang Yesus miliki dan siapa diri-Nya, sepenuhnya adalah belas kasihan dan kasih setia. Dia tidak pernah mengingat pelanggaran manusia dan perlakuan-Nya terhadap mereka tidak pernah didasarkan pada pelanggaran mereka. Karena masa itu adalah zaman yang berbeda, Dia sering menganugerahkan makanan dan minuman yang berlimpah, sehingga orang-orang bisa makan sampai kenyang. Dia memperlakukan semua pengikut-Nya dengan penuh kasih karunia, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan-setan, membangkitkan orang mati. Agar orang-orang dapat percaya kepada-Nya dan melihat bahwa semua perbuatan-Nya itu dilakukan dengan tulus dan sepenuh hati, Dia bahkan sampai membangkitkan mayat yang telah membusuk, demi menunjukkan kepada mereka bahwa di tangan-Nya, bahkan orang mati pun dapat hidup kembali. Dengan cara inilah, tanpa bersuara Dia menanggung dan melakukan pekerjaan penebusan-Nya di tengah-tengah mereka. Bahkan sebelum dipakukan ke kayu salib, Yesus telah menanggung dosa manusia dan menjadi korban penghapus dosa bagi umat manusia. Bahkan sebelum disalibkan, Dia telah membuka jalan ke kayu salib untuk menebus manusia. Pada akhirnya Dia disalibkan, mengorbankan diri-Nya demi salib, dan Dia menganugerahkan semua belas kasihan, kasih setia, dan kekudusan-Nya kepada umat manusia.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Fakta Sebenarnya di Balik Pekerjaan pada Zaman Penebusan"
Tanpa penebusan Yesus, umat manusia akan selamanya hidup dalam dosa dan menjadi keturunan dosa, keturunan setan-setan. Jika terus begitu, seluruh dunia akan menjadi tanah tempat Iblis berdiam, menjadi tempat kediamannya. Pekerjaan penebusan, bagaimanapun, membutuhkan ditunjukkannya belas kasihan dan kasih setia kepada umat manusia; hanya dengan cara inilah manusia dapat menerima pengampunan dan pada akhirnya mendapatkan hak untuk dilengkapi dan didapatkan sepenuhnya oleh Tuhan. Tanpa tahap pekerjaan ini, rencana pengelolaan enam ribu tahun tidak akan dapat bergerak maju. Jika Yesus tidak disalibkan, jika Dia hanya menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan-setan yang merasuki mereka, maka dosa-dosa manusia tidak dapat diampuni sepenuhnya. Dalam kurun waktu tiga setengah tahun Yesus melakukan pekerjaan-Nya di bumi, Dia menyelesaikan hanya separuh dari pekerjaan penebusan-Nya; jadi, dengan disalibkan dan menjadi serupa dengan daging yang berdosa, serta diserahkan kepada si jahat, Dia menyelesaikan pekerjaan penyaliban dan menguasai takdir umat manusia. Hanya setelah Dia diserahkan ke dalam tangan Iblislah Dia menebus umat manusia. Selama tiga puluh tiga setengah tahun Dia menderita di bumi, diolok-olok, difitnah, dan ditinggalkan, bahkan sampai Dia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya, tanpa tempat untuk beristirahat dan Dia kemudian disalibkan, dengan seluruh wujud-Nya—sebuah tubuh yang kudus dan tak berdosa—dipakukan ke kayu salib. Dia menanggung segala macam penderitaan yang ada. Orang-orang yang berkuasa mengejek dan mencambuk-Nya, dan para tentara bahkan meludahi wajah-Nya; tetapi Dia tetap diam dan menanggung semuanya sampai akhir, tunduk tanpa syarat sampai mati, pada saat mana Dia menebus semua manusia. Baru setelah itulah Dia diizinkan untuk beristirahat. Pekerjaan yang Yesus lakukan hanya merepresentasikan Zaman Kasih Karunia; pekerjaan itu tidak merepresentasikan Zaman Hukum Taurat, ataupun menggantikan pekerjaan pada akhir zaman. Inilah esensi dari pekerjaan Yesus pada Zaman Kasih Karunia, zaman kedua yang telah dilalui umat manusia—yaitu Zaman Penebusan.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Fakta Sebenarnya di Balik Pekerjaan pada Zaman Penebusan"
Pada masa itu, pekerjaan Yesus adalah pekerjaan untuk menebus seluruh umat manusia. Dosa-dosa semua orang yang percaya kepada-Nya diampuni; asalkan engkau percaya kepada-Nya, Dia akan menebusmu; jika engkau percaya kepada-Nya, engkau tidak lagi berdosa, engkau telah dibebaskan dari dosa-dosamu. Inilah yang dimaksud dengan diselamatkan dan dibenarkan oleh iman. Namun, di antara orang-orang percaya, masih ada yang memberontak dan melawan Tuhan, dan perlahan-lahan masih harus dibuang. Keselamatan tidak berarti manusia telah sepenuhnya didapatkan oleh Yesus, melainkan bahwa manusia tidak lagi menjadi milik dosa, bahwa dosa-dosanya telah diampuni. Asalkan engkau percaya, engkau tidak akan pernah lagi menjadi milik dosa.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Visi Pekerjaan Tuhan (2)"
Ketika Yesus datang ke dalam dunia manusia, Dia membawa Zaman Kasih Karunia dan mengakhiri Zaman Hukum Taurat. Pada akhir zaman, Tuhan sekali lagi menjadi daging, dan dengan inkarnasi ini Dia mengakhiri Zaman Kasih Karunia dan membawa Zaman Kerajaan. Semua orang yang dapat menerima inkarnasi Tuhan yang kedua akan dibawa ke dalam Zaman Kerajaan, dan juga akan bisa menerima bimbingan Tuhan secara pribadi. Meskipun Yesus datang di antara manusia dan melakukan banyak pekerjaan, Dia hanya menyelesaikan pekerjaan penebusan seluruh umat manusia dan menjadi korban penghapus dosa manusia; Dia tidak membebaskan manusia dari semua wataknya yang rusak. Menyelamatkan manusia sepenuhnya dari pengaruh Iblis tidak hanya mengharuskan Yesus menjadi korban penghapus dosa dan menanggung dosa manusia, tetapi juga mengharuskan Tuhan untuk melakukan pekerjaan yang bahkan lebih besar untuk membebaskan manusia sepenuhnya dari wataknya yang telah dirusak oleh Iblis. Jadi, setelah manusia diampuni dari dosa-dosanya, Tuhan datang kembali menjadi daging untuk memimpin manusia memasuki zaman yang baru serta memulai pekerjaan hajaran dan penghakiman. Pekerjaan ini telah membawa manusia ke dalam alam yang lebih tinggi. Semua orang yang tunduk di bawah kekuasaan-Nya akan menikmati kebenaran yang lebih tinggi dan memperoleh berkat yang lebih besar. Mereka akan benar-benar hidup dalam terang dan memperoleh kebenaran, jalan, dan hidup.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Kata Pengantar"
Pekerjaan Tuhan dalam inkarnasi saat ini adalah untuk mengungkapkan watak-Nya terutama melalui hajaran dan penghakiman, dan di atas dasar ini, untuk membawa lebih banyak kebenaran kepada manusia dan menunjukkan kepadanya lebih banyak jalan penerapan, dengan demikian mencapai tujuan-Nya untuk menaklukkan dan menyelamatkan manusia dari wataknya yang rusak. Inilah yang ada di balik pekerjaan Tuhan pada Zaman Kerajaan.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Kata Pengantar"
Pekerjaan pada akhir zaman adalah mengucapkan firman. Perubahan-perubahan besar dapat terjadi dalam diri manusia melalui firman. Perubahan yang terjadi dalam diri orang-orang ini sekarang setelah menerima firman ini jauh lebih besar daripada perubahan yang terjadi dalam diri orang-orang pada Zaman Kasih Karunia setelah mereka menerima berbagai tanda dan mukjizat. Karena, pada Zaman Kasih Karunia, roh jahat diusir dari manusia melalui penumpangan tangan dan doa, tetapi watak rusak dalam diri manusia tetap ada di dalam dirinya. Manusia disembuhkan dari sakitnya dan diampuni dosa-dosanya, tetapi tentang bagaimana tepatnya manusia dapat membuang watak rusak Iblis dalam dirinya, pekerjaan ini belum dilakukan dalam dirinya. Manusia hanya diselamatkan dan diampuni dosanya karena imannya, tetapi natur dosa manusia tidak terhapuskan dan tetap ada dalam dirinya. Dosa manusia diampuni melalui inkarnasi Tuhan, tetapi bukan berarti manusia tidak lagi memiliki dosa dalam dirinya. Dosa manusia dapat diampuni melalui korban penghapus dosa, tetapi mengenai bagaimana tepatnya agar dia tidak lagi berbuat dosa, dan bagaimana natur berdosanya dapat dibuang sepenuhnya dan diubahkan, manusia tidak memiliki cara untuk menyelesaikan masalah ini. Dosa manusia telah diampuni karena pekerjaan penyaliban Tuhan, tetapi manusia tetap hidup dalam watak lama Iblis yang rusak. Dengan demikian, manusia harus sepenuhnya diselamatkan dari watak rusak Iblis agar natur berdosa manusia sepenuhnya dibuang, dan tidak akan pernah berkembang lagi, sehingga watak manusia dapat diubahkan. Hal ini mengharuskan manusia untuk memahami jalan pertumbuhan dalam kehidupan, memahami jalan hidup, dan memahami cara untuk mengubah wataknya. Hal ini juga mengharuskan manusia untuk menerapkan sesuai dengan jalan ini sehingga watak manusia dapat secara bertahap diubahkan dan dia dapat hidup di bawah terang yang bersinar, agar segala sesuatu yang dia lakukan sesuai dengan maksud-maksud Tuhan, agar dia dapat membuang watak rusak Iblis dalam dirinya, dan supaya dia dapat melepaskan diri dari pengaruh kegelapan Iblis, sehingga dia pun lepas sepenuhnya dari dosa. Hanya dengan begitu manusia akan menerima keselamatan yang lengkap. Tatkala Yesus melakukan pekerjaan-Nya, pengetahuan manusia tentang Dia masih samar dan tidak jelas. Manusia selalu percaya bahwa Dia adalah anak Daud dan menyatakan-Nya sebagai nabi besar dan Tuhan yang penuh belas kasih yang menebus dosa manusia. Ada orang yang karena imannya, disembuhkan hanya dengan menyentuh ujung jubah-Nya; orang buta dapat melihat, bahkan orang mati hidup kembali. Namun, manusia tidak dapat menemukan watak Iblis yang jahat yang sudah berurat-akar di dalam dirinya dan tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana mengenyahkan watak tersebut. Manusia menerima banyak kasih karunia, seperti kedamaian dan kesenangan daging, berkat bagi seluruh keluarga karena iman satu orang, kesembuhan atas penyakit, dan lain sebagainya. Sisanya adalah perbuatan baik manusia dan penampilan saleh mereka; jika manusia bisa hidup berdasarkan hal-hal itu, dia dianggap orang percaya yang baik. Hanya orang-orang percaya semacam itu yang dapat masuk ke surga setelah meninggal, yang artinya mereka telah diselamatkan. Namun, semasa hidup, mereka sama sekali tidak mengerti jalan kehidupan. Mereka sekadar melakukan dosa dan mengakui dosa, terus begitu dalam siklus yang terus menerus berputar tanpa jalan untuk mengubah watak mereka; seperti itulah keadaan manusia di Zaman Kasih Karunia. Apakah manusia sudah menerima keselamatan yang lengkap? Tidak! Karena itu, setelah tahap itu selesai, masih ada pekerjaan penghakiman dan hajaran. Tahap ini adalah menyucikan manusia melalui firman, dan dengan demikian memberinya jalan untuk diikuti. Tahap ini tidak akan berbuah atau bermakna jika dilanjutkan dengan pengusiran roh-roh jahat, karena sifat manusia yang berdosa tidak bisa diusir dan manusia hanya akan sekadar berhenti pada pengampunan dosa mereka. Melalui korban penghapus dosa, manusia telah diampuni dosa-dosanya, karena pekerjaan penyaliban telah berakhir dan Tuhan telah mengalahkan Iblis. Namun, watak manusia yang rusak tetap ada dalam dirinya dan manusia masih dapat berbuat dosa dan melawan Tuhan; Tuhan belum mendapatkan umat manusia. Itulah sebabnya pada tahap pekerjaan ini, Tuhan menggunakan firman-Nya untuk menyingkapkan watak manusia yang rusak, dan membuat manusia menerapkan sesuai dengan jalan yang semestinya. Pekerjaan pada tahap ini lebih bermakna dibandingkan tahap sebelumnya, serta lebih berbuah, karena sekarang firmanlah yang secara langsung membekali hidup manusia dan memungkinkan watak manusia diperbarui sepenuhnya; ini adalah tahap pekerjaan yang jauh lebih menyeluruh. Karena itu, inkarnasi pada akhir zaman telah menyempurnakan makna inkarnasi Tuhan dan sepenuhnya menuntaskan rencana pengelolaan Tuhan bagi keselamatan manusia.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Misteri Inkarnasi (4)"
Selama Zaman Kerajaan, Tuhan yang berinkarnasi berfirman untuk menaklukkan semua orang yang percaya kepada-Nya. Inilah "Firman menampakkan diri dalam rupa manusia"; Tuhan telah datang selama akhir zaman untuk melakukan pekerjaan ini, artinya, Dia telah datang untuk menggenapi makna penting yang sebenarnya dari Firman menampakkan diri dalam rupa manusia. Dia hanya menyampaikan firman, dan jarang ada kemunculan fakta. Inilah esensi dari Firman menampakkan diri dalam rupa manusia, dan ketika Tuhan yang berinkarnasi menyampaikan firman-Nya, inilah penampakan Firman dalam rupa manusia, dan inilah Firman yang menjadi daging. "Pada awalnya adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Tuhan, dan Firman itu adalah Tuhan, dan Firman itu menjadi daging." Inilah (pekerjaan penampakan Firman dalam daging) pekerjaan yang akan Tuhan selesaikan pada akhir zaman, dan inilah bab terakhir dari seluruh rencana pengelolaan-Nya, dan karena itu, Tuhan telah datang ke bumi dan mewujudkan firman-Nya dalam daging. Apa yang dilakukan sekarang ini, yang akan dilakukan di masa depan, yang akan diselesaikan Tuhan, tempat tujuan akhir manusia, mereka yang akan diselamatkan, mereka yang akan dimusnahkan, dan seterusnya—semua pekerjaan yang harus diselesaikan ini pada akhirnya sudah dinyatakan dengan jelas, dan semuanya dalam rangka menggenapi makna penting yang sebenarnya dari Firman menampakkan diri dalam rupa manusia. Ketetapan administratif dan undang-undang yang sebelumnya diumumkan, mereka yang akan dimusnahkan, mereka yang akan masuk ke dalam tempat perhentian—semua firman ini harus digenapi. Inilah pekerjaan yang terutama dikerjakan oleh Tuhan yang berinkarnasi selama akhir zaman. Dia membuat manusia memahami di mana tempat orang-orang yang telah ditentukan dari semula dan di mana tempat mereka yang tidak ditentukan dari semula, bagaimana umat-Nya dan anak-anak-Nya akan dikelompokkan, apa yang akan terjadi pada Israel, apa yang akan terjadi pada Mesir—di masa depan, semua firman ini akan digenapi. Laju pekerjaan Tuhan sedang semakin cepat. Tuhan menggunakan firman sebagai sarana untuk menyatakan kepada manusia apa yang harus dilakukan pada setiap zaman, apa yang harus dilakukan Tuhan yang berinkarnasi selama akhir zaman, dan pelayanan yang harus dilakukan-Nya, dan semua firman ini disampaikan untuk menggenapi makna penting yang sebenarnya dari Firman yang menampakkan diri dalam rupa manusia.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Segala Sesuatu Terlaksana oleh Firman Tuhan"
Pada Zaman Kerajaan, Tuhan menggunakan firman untuk menghantarkan zaman yang baru, mengubah sarana yang digunakan-Nya dalam bekerja, dan melakukan pekerjaan seluruh zaman tersebut. Inilah prinsip yang Tuhan gunakan untuk bekerja pada Zaman Firman. Dia menjadi daging dan berfirman dari berbagai perspektif, memungkinkan manusia untuk sungguh-sungguh melihat Tuhan, yang adalah Firman yang menampakkan diri dalam rupa manusia, serta menyaksikan hikmat dan keajaiban-Nya. Tuhan bekerja dengan cara ini agar dapat dengan lebih baik mencapai tujuan menaklukkan, menyempurnakan, dan menyingkirkan manusia, yang merupakan makna sebenarnya dari penggunaan firman untuk bekerja pada Zaman Firman. Melalui firman, orang mulai mengenal pekerjaan Tuhan, watak Tuhan, hakikat manusia, dan apa yang seharusnya manusia masuki. Melalui firman, semua pekerjaan yang ingin Tuhan kerjakan pada Zaman Firman terlaksana. Melalui firman, orang-orang disingkapkan, disingkirkan, dan diuji. Orang-orang telah menyaksikan firman ini, mendengar firman ini, dan mengenali keberadaan firman ini. Sebagai hasilnya, mereka telah mulai percaya akan keberadaan Tuhan, kemahakuasaan dan hikmat Tuhan, serta hati Tuhan yang mengasihi dan menyelamatkan manusia. Istilah "firman" mungkin biasa dan sederhana, tetapi firman yang diucapkan dari mulut Tuhan yang berinkarnasi mengguncang alam semesta, firman itu mengubah hati manusia, mengubah gagasan, dan watak lama mereka, serta mengubah penampakan seluruh dunia yang sebelumnya. Selama berabad-abad, hanya Tuhan zaman sekarang yang bekerja dengan cara ini, dan hanya Dia yang berfirman dengan cara ini serta datang untuk menyelamatkan manusia dengan cara ini. Mulai saat ini dan seterusnya, manusia hidup di bawah bimbingan firman Tuhan, di tengah penggembalaan dan perbekalan firman-Nya; orang-orang hidup di dunia firman Tuhan, di tengah kutukan dan berkat-berkat firman Tuhan, dan mayoritas orang hidup di bawah penghakiman dan hajaran firman-Nya. Firman ini dan pekerjaan ini semuanya adalah demi keselamatan manusia, demi memenuhi kehendak Tuhan, dan demi mengubah penampakan asli dari dunia ciptaan yang lama. Tuhan menciptakan dunia dengan menggunakan firman, Dia menuntun semua manusia di alam semesta dengan menggunakan firman, Dia menaklukkan dan menyelamatkan mereka dengan menggunakan firman, dan pada akhirnya, Dia akan menggunakan firman untuk membawa seluruh dunia yang lama kepada kesudahannya, dan dengan demikian, merampungkan seluruh rencana pengelolaan-Nya. Di sepanjang Zaman Kerajaan, Tuhan menggunakan firman untuk melakukan pekerjaan-Nya dan untuk mencapai hasil pekerjaan-Nya. Dia tidak melakukan keajaiban atau mengadakan mukjizat, melainkan hanya melakukan pekerjaan-Nya melalui firman. Karena firman inilah manusia dipelihara dan dibekali, serta mendapatkan pengetahuan dan pengalaman sejati.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Zaman Kerajaan adalah Zaman Firman"
Dalam pekerjaan terakhir-Nya untuk mengakhiri zaman, watak Tuhan terdiri dari hajaran dan penghakiman, di mana Dia menyingkapkan semua yang tidak benar untuk menghakimi semua orang secara terbuka, dan menyempurnakan mereka yang mengasihi-Nya dengan hati yang tulus. Hanya watak seperti inilah yang dapat mengakhiri zaman. Akhir zaman telah tiba. Segala sesuatu dipilah menurut jenisnya, dan dibagi ke dalam kategori berbeda berdasarkan sifat mereka yang berbeda. Inilah saatnya Tuhan menyingkapkan kesudahan dan tempat tujuan manusia. Jika manusia tidak mengalami hajaran dan penghakiman, pemberontakan dan ketidakbenaran mereka tidak dapat disingkapkan. Hanya melalui hajaran dan penghakiman, barulah kesudahan segala sesuatu dapat disingkapkan. Orang hanya memperlihatkan diri mereka yang sebenarnya ketika mereka dihajar dan dihakimi. Yang jahat akan dikumpulkan bersama yang jahat, yang baik dengan yang baik, dan semua orang akan dipilah menurut jenis mereka. Melalui hajaran dan penghakiman, kesudahan segala sesuatu akan disingkapkan, sehingga yang jahat bisa dihukum dan yang baik diberikan upah, dan semua orang menyerahkan diri di bawah kekuasaan Tuhan. Semua pekerjaan ini harus dicapai melalui hajaran dan penghakiman yang benar. Karena kerusakan manusia telah mencapai puncaknya dan pemberontakan mereka sangat parah, hanya watak Tuhan yang benar, yang terutama terdiri dari hajaran dan penghakiman serta yang disingkapkan pada akhir zaman, yang bisa sepenuhnya mengubah manusia dan melengkapi mereka dan menyingkapkan kejahatan dan dengan demikian semua orang yang tidak benar akan dihukum berat. Oleh karena itu, watak seperti ini penuh dengan makna penting zaman ini. Watak Tuhan disingkapkan dan diungkapkan demi kepentingan pekerjaan setiap zaman yang baru. Itu bukan berarti Tuhan menyingkapkan watak-Nya secara sewenang-wenang dan tanpa makna. Andaikan pada akhir zaman ketika menyingkapkan kesudahan manusia, jika Tuhan tetaplah mengasihi manusia dengan belas kasihan dan kasih yang tak terhingga, serta terus bersikap penuh kasih terhadap mereka, tidak membuat manusia mengalami penghakiman yang benar, sebaliknya menunjukkan toleransi, kesabaran, dan pengampunan kepada mereka, serta mengampuni mereka betapa pun beratnya dosa mereka, tanpa penghakiman yang benar sedikit pun, lalu, kapankah seluruh pengelolaan Tuhan akan berakhir? Kapankah watak seperti itu dapat menuntun orang ke tempat tujuan yang sesuai bagi umat manusia? Sebagai contoh, seandainya seorang hakim selalu mengasihi orang-orang, selalu berwajah ramah dan berhati lembut. Dia mengasihi orang-orang apa pun kejahatan yang telah mereka lakukan, dan dia penuh kasih dan panjang sabar terhadap orang-orang siapa pun mereka. Jika demikian, kapan dia akan dapat memberi keputusan yang adil? Selama akhir zaman, hanya penghakiman yang benar yang dapat memilah orang menurut jenis mereka dan membawa orang ke alam yang baru. Dengan demikian, seluruh zaman diakhiri melalui watak benar Tuhan yang terdiri dari penghakiman dan hajaran.
—Firman, Jilid 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Visi Pekerjaan Tuhan (3)"