Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (3)

Bab Tiga: Mempersekutukan Prinsip-Prinsip Kebenaran yang Seharusnya Dipahami agar Dapat Melaksanakan Setiap Tugas dengan Baik (Bagian Dua)

Pada pertemuan terakhir, kita mengadakan persekutuan tambahan tentang tanggung jawab kedua dari pemimpin dan pekerja, membahas kesulitan apa saja yang ada dalam jalan masuk kehidupan, serta mengungkapkan penerapan dan perwujudan tertentu dari pemimpin palsu. Kemudian, kita membahas beberapa hal yang berkaitan dengan tanggung jawab ketiga dari pemimpin dan pekerja—mempersekutukan prinsip-prinsip kebenaran yang seharusnya dipahami agar dapat melaksanakan setiap tugas dengan baik—serta mengungkapkan dan menelaah di mana letak "kepalsuan" pemimpin palsu yang tercermin melalui sikap, penerapan, dan perwujudannya dalam hal-hal tersebut. Dengan kata lain, berbagai perwujudan dari kegagalan pemimpin palsu dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Silakan sebutkan hal-hal tersebut. (Salah satunya adalah tentang pencetakan buku-buku firman Tuhan. Pemimpin palsu itu tidak melakukan pekerjaan spesifik, mereka hanya menyampaikan doktrin-doktrin yang tak bermakna. Mereka juga tidak mempersekutukan secara spesifik tentang prinsip-prinsip kebenaran dan tidak melakukan sedikit pun pekerjaan nyata.) Dalam hal ini, pemimpin palsu tersebut tidak melakukan pekerjaan nyata, gagal memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin dan pekerja, serta tidak mempersekutukan dengan jelas persyaratan profesionalitas, prinsip-prinsip spesifik, dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan itu. Mereka hanya meneriakkan beberapa slogan dan mengucapkan kata-kata tak bermakna, lalu mengira telah melakukan pekerjaan dengan baik. Apa lagi yang telah kita bahas? (Ada juga kejadian tentang pembelian mantel bulu angsa untuk Tuhan.) Masalah apa yang terungkap dalam kejadian ini mengenai pemimpin palsu? (Kejadian ini mengungkapkan bahwa pemimpin palsu tidak melakukan pekerjaan nyata dan sama sekali tidak memiliki kemanusiaan dan nalar.) Ketika seseorang membelikan-Ku sepotong pakaian, para pemimpin itu membantu memeriksanya—apakah ini bagian dari pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh pemimpin dan pekerja? (Bukan.) Mereka melakukan pekerjaan yang tidak seharusnya dilakukan—apa masalahnya di sini? (Mereka tidak melakukan pekerjaan yang semestinya.) Inilah salah satu perwujudan dari pemimpin palsu. Pertama, hal ini mengungkapkan bahwa pemimpin palsu tidak melakukan pekerjaan yang semestinya, dan kedua, ini menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki nalar dan hanya melakukan hal-hal menjijikkan, tidak bernalar, dan tidak manusiawi. Engkau semua hanya mengingat contoh-contohnya, tetapi belum memahami permasalahan yang sebenarnya yang hendak dijelaskan melalui contoh-contoh ini, atau esensi dari persoalan-persoalan yang hendak ditelaah. Apa contoh lainnya yang telah Kuberikan mengenai pemimpin palsu yang tidak melakukan pekerjaan yang semestinya? (Ada seorang pembuat kue yang terus membuat kue untuk Tuhan. Tuhan telah memberitahu orang itu untuk tidak melakukannya, tetapi pemimpin dan pekerja tetap membiarkannya, bahkan mereka sendiri ikut mencicipi kue tersebut.) Masalah apa yang terungkap dari contoh ini mengenai pemimpin palsu? (Mereka tidak melakukan pekerjaan yang semestinya, atau tidak melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan, dan justru bersikeras melakukan pekerjaan yang tidak seharusnya dilakukan.) Contoh ini terutama mengungkapkan bahwa pemimpin palsu tidak melakukan pekerjaan yang semestinya dan gagal memahami inti dan fokus utama dari pekerjaannya. Selain itu, pemimpin palsu memiliki sebuah masalah yang serius. Apakah itu? (Mereka tidak menaati firman Tuhan atau melakukan pekerjaan sesuai dengan tuntutan-Nya.) Apakah ada yang ingin menambahkan? (Mereka berpura-pura rohani dan seolah-olah memikirkan beban Tuhan, tetapi sebenarnya, mereka hanya bertindak sembrono dan melakukan hal-hal buruk.) Itu adalah salah satu masalah pemimpin palsu. Ada lagi yang mau menambahkan? (Sebelum bertindak, mereka tidak berusaha memahami tuntutan Tuhan, tetapi justru menggunakan imajinasinya sendiri untuk menggantikan keinginan Tuhan.) Ini termasuk dalam kategori tidak bernalar. Ada lagi yang mau menambahkan? (Cara pemimpin palsu menangani masalah seseorang yang membeli sepotong pakaian untuk Tuhan menyingkapkan bahwa mereka tidak memiliki kemanusiaan yang normal.) Aspek kemanusiaan normal apa yang tidak dimiliki pemimpin palsu? Mereka tidak memahami aturan dalam berperilaku dan tidak memiliki tata krama. Bukankah demikian? (Ya.) Sebenarnya, hal-hal yang telah engkau semua sebutkan ini bersifat sekunder; apa masalah utamanya? Begitu orang-orang ini menjadi pemimpin, mereka ingin menikmati manfaat dari statusnya, menikmati perlakuan khusus, dan menikmati kenyamanan. Misalnya, mereka ingin menikmati beberapa kue, dan ketika melihat seseorang yang pandai memasak, mereka berpikir untuk mencicipi masakannya demi memuaskan keinginan mereka. Pemimpin palsu yang tidak melakukan pekerjaan yang semestinya, atau tidak melakukan pekerjaan nyata saja sudah cukup menjijikkan, apalagi mereka juga mendambakan kenyamanan dan menikmati kerakusannya. Mereka menggunakan dalih mencicipi rasa dan melakukan pemeriksaan bagi Tuhan untuk memuaskan kerakusannya, menikmati keuntungan dari statusnya. Semua ini adalah perwujudan dari pemimpin palsu. Meskipun perwujudan ini tidak dapat disebut kejam atau jahat jika dibandingkan dengan esensi watak antikristus, kemanusiaan pemimpin palsu sudah cukup membuat orang merasa jijik. Dalam hal karakter, mereka tidak memiliki hati nurani dan nalar; kemanusiaannya sangat rendah dan tercela, serta tidak memiliki integritas. Dari contoh-contoh ini, dapat disimpulkan bahwa pemimpin palsu memang tidak mampu melakukan pekerjaan nyata. Ini adalah fakta.

Pemimpin Palsu Tidak Mampu Mempersekutukan Prinsip-Prinsip dalam Melakukan Pekerjaan

Hari ini, kita akan lanjutkan dengan mengungkapkan berbagai perwujudan pemimpin palsu berdasarkan tanggung jawab pemimpin dan pekerja. Pemimpin palsu pada dasarnya tidak mampu melakukan pekerjaan gereja yang esensial dan penting. Mereka hanya menangani beberapa urusan umum yang sederhana; pekerjaan mereka tidak memainkan peran yang penting atau menentukan dalam pekerjaan gereja secara keseluruhan, dan itu tidak membuahkan hasil yang nyata. Persekutuan yang mereka sampaikan pada dasarnya hanya mencakup beberapa topik yang usang dan umum, semuanya adalah kata-kata dan doktrin yang sering diulang dan itu sangat kosong, luas, dan tidak terperinci. Persekutuan mereka hanya berisi hal-hal yang dapat orang pahami secara harfiah dengan membacanya. Para pemimpin palsu ini sama sekali tidak mampu menyelesaikan masalah nyata yang dihadapi umat pilihan Tuhan dalam hal jalan masuk kehidupan mereka; mereka terutama sangat tidak mampu untuk menyelesaikan masalah gagasan, imajinasi, dan perwujudan watak rusak orang-orang. Hal yang utama adalah bahwa pemimpin palsu sama sekali tidak mampu memikul pekerjaan penting yang diatur oleh rumah Tuhan, seperti pekerjaan penginjilan, pekerjaan produksi film, atau pekerjaan tulis-menulis. Khususnya, dalam hal pekerjaan yang ada kaitannya dengan pengetahuan profesional, meskipun para pemimpin palsu mungkin tahu dengan cukup jelas bahwa mereka adalah orang awam di bidang ini, mereka tidak mempelajarinya, dan mereka juga tidak melakukan penelitian, dan terlebih lagi, mereka tidak mampu memberi pengarahan yang spesifik kepada orang lain atau menyelesaikan masalah apa pun yang berkaitan dengannya. Namun, mereka tetap saja dengan tidak tahu malu mengadakan pertemuan, berbicara tanpa henti tentang teori-teori kosong, serta mengucapkan kata-kata dan doktrin. Pemimpin palsu tahu betul bahwa mereka tidak mampu melakukan pekerjaan semacam ini, tetapi mereka berpura-pura menjadi ahli, bersikap sombong, dan selalu menggunakan doktrin-doktrin yang tinggi untuk menegur orang lain. Mereka tidak mampu menjawab pertanyaan siapa pun, tetapi mereka mencari dalih dan alasan untuk menegur orang lain, bertanya mengapa mereka tidak mempelajari profesi tersebut, mengapa mereka tidak mencari kebenaran, dan mengapa mereka tidak mampu menyelesaikan masalah mereka sendiri. Para pemimpin palsu ini, yang merupakan orang-orang awam di bidang ini dan tidak mampu menyelesaikan masalah apa pun, masih saja menceramahi orang lain dari posisi atas. Di luarnya, orang lain melihat mereka sangat sibuk, seolah-olah mereka mampu melakukan banyak pekerjaan dan sangat cakap, tetapi sebenarnya, mereka tidak ada artinya. Pemimpin palsu jelas tidak mampu melakukan pekerjaan nyata, tetapi mereka dengan bersemangat menyibukkan diri mereka, dan selalu mengucapkan kata-kata hambar yang sama di pertemuan, mengulang-ulangnya, tanpa mampu menyelesaikan satu pun masalah nyata. Orang-orang menjadi sangat muak dengan hal ini, dan sama sekali tidak menerima didikan rohani apa pun darinya. Pekerjaan semacam ini sangat tidak efisien, dan tidak membuahkan hasil apa pun. Beginilah cara pemimpin palsu bekerja, dan pekerjaan gereja pun tertunda karenanya. Namun, pemimpin palsu tetap merasa bahwa mereka sedang melakukan pekerjaan yang penting dan bahwa mereka sangat cakap, padahal sebenarnya, mereka tidak pernah melakukan satu aspek pun dari pekerjaan gereja dengan baik. Mereka tidak tahu apakah para pemimpin dan pekerja yang berada dalam lingkup tanggung jawab mereka memenuhi standar atau tidak, dan mereka juga tidak tahu apakah para pemimpin dan pengawas dari berbagai tim mampu memikul pekerjaan mereka atau tidak, dan mereka tidak peduli, juga tidak bertanya apakah ada masalah yang muncul dalam pelaksanaan tugas saudara-saudari. Singkatnya, pemimpin palsu tidak mampu menyelesaikan masalah apa pun dalam pekerjaan mereka, tetapi mereka tetap sibuk dengan penuh semangat. Dari perspektif orang lain, pemimpin palsu mampu menanggung kesukaran, bersedia membayar harga, dan mereka menghabiskan setiap hari dengan menyibukkan diri. Ketika tiba waktu makan, mereka harus dipanggil ke meja makan, dan mereka tidur sangat larut. Namun, hasil kerja mereka sama sekali tidak baik. Jika engkau tidak memperhatikan dengan saksama, di luarnya akan terlihat bahwa semua pos pekerjaan sedang dilakukan, dan semua orang sedang sibuk melaksanakan tugas mereka, tetapi jika engkau mengamati dengan saksama dan teliti, serta dengan sungguh-sungguh memeriksa pekerjaan tersebut, situasi yang sebenarnya akan tersingkap. Setiap pos pekerjaan yang berada dalam lingkup tanggung jawab mereka berantakan, tidak ada struktur atau keteraturan sama sekali. Ada masalah-masalah—atau bahkan celah—di setiap pos pekerjaan. Terjadinya masalah-masalah ini berkaitan dengan para pemimpin palsu yang tidak memahami prinsip-prinsip kebenaran, dan bertindak berdasarkan gagasan, imajinasi, dan antusiasme mereka. Pemimpin palsu tidak pernah mempersekutukan prinsip-prinsip kebenaran, mereka juga tidak pernah mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah. Mereka jelas tidak memiliki pemahaman rohani dan tidak mampu melakukan pekerjaan kepemimpinan, dan mereka hanya mampu mengucapkan kata-kata dan doktrin serta sama sekali tidak memahami kebenaran, tetapi mereka berpura-pura mengetahui hal-hal yang tidak mereka ketahui dan berusaha menyamar sebagai ahli. Mereka hanya melakukan pekerjaan dengan sekadar formalitas. Ketika masalah muncul, mereka secara membabi buta menerapkan peraturan untuk menanganinya. Mereka hanya sibuk tanpa tujuan dan tidak membuahkan hasil nyata apa pun. Karena para pemimpin palsu ini tidak memahami prinsip-prinsip kebenaran, dan hanya mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin serta menasihati orang lain untuk mematuhi aturan, kemajuan setiap pos pekerjaan gereja menjadi lambat dan tidak ada hasil jelas yang dicapai. Akibat paling jelas setelah pemimpin palsu bekerja selama beberapa waktu adalah kebanyakan orang tidak mampu memahami kebenaran, mereka tidak tahu cara mengidentifikasi setiap kali ada orang yang memperlihatkan kerusakan atau mengembangkan gagasan, dan mereka tentu saja tidak memahami prinsip-prinsip kebenaran yang harus dipatuhi ketika melaksanakan tugas mereka. Orang-orang yang melaksanakan tugas dan yang tidak melaksanakan tugas semuanya lamban, tidak terkendali dan tidak disiplin, serta kacau seperti pasir yang berserakan. Kebanyakan dari mereka mungkin mampu mengucapkan beberapa kata dan doktrin, tetapi saat melaksanakan tugas, mereka hanya menaati aturan; mereka tidak tahu bagaimana cara mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah. Karena pemimpin palsu sendiri tidak tahu bagaimana cara mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah, bagaimana mereka bisa memimpin orang lain untuk melakukannya? Apa pun yang menimpa orang lain, pemimpin palsu hanya dapat menasihati mereka dengan berkata, "Kita harus memikirkan maksud-maksud Tuhan!" "Kita harus setia dalam melaksanakan tugas kita!" "Ketika sesuatu terjadi pada kita, kita harus tahu bagaimana cara berdoa, dan kita harus mencari prinsip-prinsip kebenaran!" Para pemimpin palsu sering meneriakkan slogan-slogan dan doktrin-doktrin ini, dan itu tidak membuahkan hasil sama sekali. Setelah orang-orang mendengarnya, mereka tetap tidak memahami apa arti prinsip-prinsip kebenaran, dan mereka tidak memiliki jalan penerapan. Secara dangkal, orang-orang berdoa ketika sesuatu menimpa mereka, dan mereka ingin setia ketika melaksanakan tugas mereka, tetapi mereka semua tidak memahami berbagai hal seperti apa yang harus mereka lakukan agar dapat menjadi setia, bagaimana mereka seharusnya berdoa agar dapat memahami maksud-maksud Tuhan, dan bagaimana mereka seharusnya mencari ketika mereka menghadapi suatu masalah agar dapat memperoleh pemahaman tentang prinsip-prinsip kebenaran. Ketika orang-orang bertanya kepada pemimpin palsu, mereka berkata, "Ketika sesuatu menimpamu, bacalah lebih banyak firman Tuhan, berdoalah lebih banyak, dan lebih banyaklah mempersekutukan kebenaran." Orang-orang bertanya kepada mereka, "Apa prinsip-prinsip yang berkaitan dalam pekerjaan ini?" dan mereka berkata, "Firman Tuhan tidak mengatakan apa pun tentang masalah pekerjaan profesional, dan aku juga tidak memahami bidang pekerjaan itu. Lakukanlah penelitianmu sendiri jika kalian ingin mengerti, jangan bertanya kepadaku. Aku menuntun kalian untuk memahami kebenaran, bukan dalam hal pekerjaan profesional." Pemimpin palsu menggunakan perkataan semacam ini untuk menghindari pertanyaan. Dan sebagai akibatnya, meskipun kebanyakan orang memiliki hasrat yang membara untuk melaksanakan tugas mereka, mereka tidak tahu bagaimana bertindak berdasarkan prinsip kebenaran, mereka juga tidak tahu cara mematuhi prinsip tersebut saat melaksanakan tugas mereka. Melihat hasil dari setiap pos pekerjaan dalam lingkup tanggung jawab para pemimpin palsu, kebanyakan orang mengandalkan pengetahuan, ilmu, dan karunia mereka untuk melakukan pekerjaan mereka, dan mereka bodoh jika menyangkut masalah-masalah seperti apa tuntutan spesifik Tuhan, apa prinsip-prinsip melaksanakan tugas, dan bagaimana cara bertindak agar dapat mencapai hasil dalam bersaksi bagi Tuhan dan bagaimana mempropagandakan Injil dengan lebih efektif sehingga semua orang yang merindukan penampakan Tuhan mendengar suara-Nya, menyelidiki jalan yang benar, dan kembali kepada Tuhan sesegera mungkin. Mengapa mereka tidak tahu tentang hal-hal ini? Ini berkaitan langsung dengan kegagalan para pemimpin palsu untuk melakukan pekerjaan nyata. Penyebab utama hal ini adalah karena para pemimpin palsu sendiri tidak tahu apa arti prinsip kebenaran, atau prinsip apa yang harus dipahami dan diikuti orang-orang. Mereka bertindak tanpa prinsip, dan mereka tidak pernah menuntun orang-orang untuk mencari prinsip-prinsip penerapan dan jalan dalam tugas mereka. Ketika seorang pemimpin palsu menemukan masalah, dia tidak mampu menyelesaikannya sendiri, dan dia tidak bersekutu dan mencari dengan orang lain, yang menyebabkan tugas-tugas sering kali perlu dikerjakan ulang dalam setiap pos pekerjaan. Ini bukan saja membuang-buang sumber daya keuangan dan materiel, tetapi juga tenaga dan waktu orang-orang. Konsekuensi seperti itu berkaitan langsung dengan kualitas yang sangat buruk dan tidak bertanggung jawab dari para pemimpin palsu. Meskipun tidak dapat dikatakan bahwa para pemimpin palsu dengan sengaja melakukan kejahatan dan menyebabkan gangguan, dapat dikatakan bahwa mereka sama sekali tidak mencari prinsip-prinsip kebenaran dalam pekerjaan mereka, bahwa mereka selalu bertindak berdasarkan kehendak mereka sendiri. Ini hal yang pasti. Para pemimpin palsu tidak memahami prinsip-prinsip kebenaran, mereka juga tidak mampu mempersekutukannya dengan jelas kepada orang lain; sebaliknya, mereka hanya memberi orang-orang kebebasan untuk berbuat sekehendak hati mereka. Ini secara tidak sengaja menyebabkan beberapa orang yang bertanggung jawab atas pekerjaan tertentu bertindak sewenang-wenang dan keras kepala, bertindak sesuka mereka dan melakukan apa pun sekehendak hati mereka. Akibatnya, bukan saja hanya ada sedikit hasil yang nyata, tetapi pekerjaan gereja juga menjadi kacau. Ketika seorang pemimpin palsu diberhentikan, dia bukan saja tidak merenungkan atau mengenal dirinya sendiri, dia juga memberikan penjelasan yang menyesatkan dan membela diri mereka sendiri, serta tidak menerima kebenaran sedikit pun, dan sama sekali tidak berniat untuk bertobat. Mereka bahkan mungkin meminta agar rumah Tuhan memberi mereka kesempatan lagi, berkata bahwa mereka pasti dapat melakukan pekerjaan dengan baik. Apakah engkau semua memercayai mereka? Mereka sama sekali tidak mengenal diri mereka sendiri, mereka juga tidak menerima kebenaran. Dapatkah mereka mengubah jalan mereka? Mereka tidak memiliki kenyataan kebenaran, jadi dapatkah mereka melakukan pekerjaan dengan baik? Apakah itu mungkin? Mereka tidak melakukan pekerjaan dengan baik kali ini. Akankah mereka mampu melakukannya dengan baik jika mereka diberi kesempatan lagi? Itu tidak mungkin. Dapat dikatakan dengan pasti bahwa para pemimpin palsu tidak memiliki kemampuan untuk bekerja; terkadang, mereka mungkin bekerja keras dan menjadi sangat sibuk, tetapi itu adalah kesibukan yang sia-sia, dan tidak membuahkan hasil. Ini cukup untuk menunjukkan bahwa pemimpin palsu memiliki kualitas yang sangat buruk, bahwa mereka sama sekali tidak memahami kebenaran, dan tidak mampu melakukan pekerjaan nyata. Ini menyebabkan banyak masalah muncul dalam pekerjaan, tetapi mereka tidak mampu menyelesaikannya dengan mempersekutukan kebenaran, dan hanya menggunakan beberapa doktrin kosong untuk menasihati orang-orang agar mematuhi aturan, dan akibatnya mereka mengacaukan pekerjaan dan membiarkannya menjadi berantakan. Beginilah cara para pemimpin palsu bekerja dan konsekuensi yang ditimbulkannya. Semua pemimpin dan pekerja harus menganggap hal ini sebagai peringatan.

Berbagai masalah yang tidak memuaskan yang muncul di dalam gereja secara langsung berkaitan dengan pemimpin palsu—ini adalah masalah yang tidak dapat dihindari. Pemimpin palsu ini tidak memiliki kemampuan untuk memahami kebenaran, tetapi merasa dirinya memahami dan mengerti segalanya, kemudian bertindak berdasarkan imajinasi dan gagasannya sendiri. Mereka tidak pernah mencari kebenaran untuk mengatasi ketidakmampuannya dalam memahami prinsip kebenaran atau standar yang dituntut oleh Tuhan. Aku telah berinteraksi dengan banyak pemimpin dan pekerja, dan Aku sering bertemu dengan mereka. Ketika kami bertemu, Aku bertanya kepada mereka, "Apakah engkau semua memiliki masalah? Apakah engkau semua telah mencatat permasalahan yang ada dalam pekerjaan? Adakah masalah yang tidak dapat kauselesaikan sendiri?" Setelah Aku bertanya, mereka menatap kosong, muncul keraguan dalam hatinya, "Kami ini pemimpin; apakah mungkin kami punya masalah? Jika kami punya masalah, bukankah pekerjaan gereja telah terhenti sejak lama? Pertanyaan macam apa ini? Kami mendengarkan khotbah dan persekutuan, serta berpegang pada firman Tuhan. Ada begitu banyak pemimpin di gereja, mengapa Engkau masih khawatir? Dengan bertanya seperti ini, Engkau jelas-jelas sedang meremehkan kami. Bagaimana mungkin kami punya masalah? Jika kami punya masalah, kami tidak akan menjadi pemimpin. Pertanyaan-Mu sungguh tidak pantas!" Setiap kali Aku menanyakan apakah mereka memiliki masalah, keadaannya selalu seperti ini—setiap dari mereka tampak mati rasa dan bodoh. Ada begitu banyak masalah dalam berbagai pekerjaan gereja, tetapi orang-orang ini sama sekali tidak dapat melihat atau menemukannya. Mereka tidak mampu mengemukakan persoalan yang menyangkut jalan masuk kehidupan pribadi, atau masalah-masalah yang ada dalam pekerjaan yang berkaitan dengan prinsip-prinsip kebenaran. Mengingat mereka tidak mampu mengemukakan masalah-masalah ini, Aku pun bertanya kepada mereka, "Bagaimana perkembangan pekerjaan penerjemahan firman Tuhan? Apakah engkau tahu berapa bahasa yang seharusnya diterjemahkan sekarang? Bahasa mana yang harus diterjemahkan terlebih dahulu, dan mana yang bisa dikerjakan kemudian? Berapa banyak buku firman Tuhan yang harus dicetak dalam setiap bahasa?" Mereka menjawab, "Ah, semuanya sedang diterjemahkan." Aku bertanya lagi, "Sudah sejauh mana perkembangan penerjemahannya? Apakah ada masalah?" Mereka menjawab, "Aku tidak tahu, aku harus bertanya terlebih dahulu." Hal seperti ini pun masih harus Aku tanyakan kepada mereka, dan mereka tetap tidak tahu jawabannya. Jadi, pekerjaan apa yang telah mereka lakukan selama ini? Aku bertanya kepada mereka, "Apakah engkau menyelesaikan persoalan-persoalan yang ditanyakan saudara-saudari sebelumnya?" Mereka menjawab, "Aku sudah mengadakan pertemuan dengan mereka—pertemuan sehari penuh." Aku bertanya lagi, "Apakah masalah-masalah tersebut telah terselesaikan setelah pertemuan?" Mereka menjawab, "Apakah maksud-Mu jika masih ada persoalan, kami harus mengadakan pertemuan lagi?" Aku berkata, "Aku tidak sedang menanyakan apakah engkau telah mengadakan pertemuan atau belum, tetapi apakah masalah-masalah profesionalitas telah terselesaikan. Apakah orang-orang ini memahami prinsip-prinsipnya? Apakah mereka melanggar prinsip-prinsip ketika melaksanakan tugasnya? Apakah engkau menemukan ada masalah?" Mereka menjawab, "Oh, masalahnya? Aku sudah menyelesaikannya. Aku telah mengadakan pertemuan untuk saudara-saudari." Apakah percakapan ini masih bisa dilanjutkan? (Tidak bisa.) Bukankah mendengar percakapan ini membuat engkau semua marah? (Ya.) Pemimpin macam apa mereka ini? Bukankah mereka hanyalah orang-orang bodoh yang memiliki kerohanian palsu? Mereka tidak memiliki kualitas pemimpin dan pekerja; mereka buta, tidak mengerti bagaimana melakukan pekerjaan, dan setiap ditanya, mereka hanya menjawab "Aku tidak tahu". Ketika terus ditanya, mereka menjawab, "Pokoknya, aku sudah mengadakan pertemuan, tak perlu dibahas lagi!" Apakah pemimpin ini telah melakukan pekerjaan nyata? Apakah mereka memenuhi standar sebagai pemimpin? (Tidak.) Mereka adalah pemimpin palsu. Apakah engkau semua menyukai pemimpin seperti ini? Jika engkau bertemu dengan pemimpin seperti ini, apa yang harus engkau semua lakukan? Ketika beberapa pemimpin bertemu dengan saudara-saudari, mereka berkata, "Masalah apa pun yang kalian hadapi hari ini, mari kita bersekutu terlebih dahulu tentang bagaimana melaksanakan tugas dengan baik." Kemudian, ada yang berkata, "Kami menghadapi persoalan teknis dan profesionalitas dalam tugas kami. Haruskah kami menggunakan metode teknis dan profesionalitas yang populer di kalangan orang tidak percaya?" Bukankah ini masalah yang harus diselesaikan oleh para pemimpin? Jika beberapa masalah tidak dapat diselesaikan melalui persekutuan saudara-saudari, para pemimpin harus turun tangan untuk menyelesaikannya—ini ada kaitannya dengan tanggung jawab seorang pemimpin. Apa yang dilakukan pemimpin palsu ketika menghadapi masalah seperti ini? Mereka berkata, "Ini masalah profesionalitas, ini urusan engkau semua, apa hubungannya denganku? Persekutukanlah sendiri masalah itu, tetapi sebelumnya, aku akan mengadakan pertemuan untuk engkau semua. Dalam pertemuan hari ini, kita akan bersekutu tentang kerja sama yang harmonis. Pertanyaan yang baru saja engkau semua tanyakan ada kaitannya dengan kerja sama yang harmonis. Engkau semua seharusnya mampu mendiskusikan berbagai hal dan mempersekutukannya bersama, serta melakukan lebih banyak penelitian; tidak ada yang boleh merasa dirinya benar, dan setiap orang harus menerima keputusan yang didukung oleh mayoritas—bukankah ini persoalan tentang kerja sama yang harmonis? Tampaknya engkau semua tidak tahu bagaimana bekerja sama secara harmonis, atau bagaimana mendiskusikan masalah ketika persoalan itu muncul. Engkau bertanya kepadaku tentang setiap masalah. Untuk apa engkau bertanya kepadaku? Apakah aku memahami semua hal ini? Jika aku memahaminya, bukankah itu berarti engkau semua tidak akan punya pekerjaan untuk dilakukan? Engkau menanyakan segalanya kepadaku. Apakah ini masalah yang harus aku tangani? Aku hanya bertanggung jawab untuk mempersekutukan kebenaran, persoalan profesionalitas harus kauselesaikan sendiri. Apa urusanku dengan semua itu? Lagi pula, aku sudah bersekutu dengan engkau semua dan mengatakan agar engkau semua bekerja sama secara harmonis—jika engkau semua tidak dapat melakukannya, jangan laksanakan tugas ini. Aku telah menyelesaikan persekutuanku, sekarang, selesaikan masalah itu sendiri." Apakah pemimpin ini tahu bagaimana menyelesaikan permasalahan? (Tidak, mereka tidak tahu.) Meskipun tidak tahu bagaimana melakukannya, mereka merasa dirinya paling benar dan pandai melepaskan tanggung jawab. Tampaknya, mereka memang melakukan pekerjaannya, mereka datang ke lokasi pekerjaan untuk melakukan pemeriksaan dan tidak sedang bermalas-malasan. Namun, mereka tidak mampu melakukan pekerjaan nyata atau menyelesaikan masalah nyata, yang berarti bahwa mereka adalah pemimpin palsu. Apakah engkau semua bisa mengenali pemimpin palsu seperti ini? Ketika dihadapkan dengan masalah apa pun, pemimpin palsu tidak mampu mempersekutukan kebenaran yang relevan: mereka hanya mengucapkan beberapa doktrin dan teori kosong yang dibuat seolah-olah terdengar sangat tinggi dan mendalam. Akibatnya, setelah mendengarnya, orang-orang bukan hanya tidak memahami kebenaran, melainkan juga merasa bingung dan kehilangan arah. Inilah pekerjaan yang dilakukan oleh pemimpin palsu.

Ketika mempersekutukan prinsip-prinsip kebenaran yang seharusnya dipahami agar dapat melaksanakan setiap tugas dengan baik, pemimpin palsu tersingkap sepenuhnya. Mereka tidak mampu mempersekutukan prinsip-prinsip kebenaran, atau memimpin orang-orang untuk mematuhi dan menerapkan prinsip-prinsip kebenaran dalam pelaksanaan tugasnya, atau memimpin orang-orang untuk memahami dan masuk ke dalam kenyataan kebenaran—mereka tidak dapat memenuhi tanggung jawab yang seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin. Bukan hanya itu, mereka juga tidak mampu mengikuti perkembangan keadaan para pengawas berbagai pekerjaan dan personel yang bertanggung jawab atas berbagai pekerjaan penting. Bahkan, sekalipun mereka memiliki sedikit pemahaman tentang hal ini, pemahamannya pun tidak akurat. Akibatnya, berbagai pekerjaan mengalami gangguan dan kerugian yang sangat besar. Inilah berbagai perwujudan pemimpin palsu yang akan kita ungkapkan hari ini dalam kaitannya dengan tanggung jawab pemimpin dan pekerja yang keempat.

Bab Empat: Terus Mengikuti Perkembangan Keadaan Para Pengawas dari Berbagai Pekerjaan dan Personel yang Bertanggung Jawab atas Berbagai Pekerjaan Penting, dan dengan segera Memindahtugaskan atau Memberhentikan Mereka bila Diperlukan, untuk Mencegah atau Mengurangi Kerugian karena Menggunakan Orang-Orang yang Tidak Tepat, dan Menjamin Efisiensi serta Kelancaran Kemajuan Pekerjaan

Pemimpin dan Pekerja Harus Mengetahui Keadaan Para Pengawas Berbagai Pekerjaan

Apa tanggung jawab pemimpin dan pekerja yang keempat? ("Terus mengikuti perkembangan keadaan para pengawas dari berbagai pekerjaan dan personel yang bertanggung jawab atas berbagai pekerjaan penting, dan dengan segera memindahtugaskan atau memberhentikan mereka bila diperlukan, untuk mencegah atau mengurangi kerugian karena menggunakan orang-orang yang tidak tepat, dan menjamin efisiensi serta kelancaran kemajuan pekerjaan.") Benar, inilah standar minimal yang harus dapat dipenuhi oleh pemimpin dan pekerja saat melakukan pekerjaan. Apakah engkau semua sudah memahami dengan jelas tanggung jawab utama pemimpin dan pekerja dalam bab empat ini? Para pemimpin dan pekerja harus memiliki pemahaman yang jelas tentang para pengawas berbagai pekerjaan dan personel yang bertanggung jawab atas berbagai pekerjaan penting. Merupakan lingkup tanggung jawab para pemimpin dan pekerja untuk memahami situasi para pengawas berbagai pekerjaan dan personel yang bertanggung jawab atas berbagai pekerjaan penting. Jadi, siapa sajakah personel ini? Yang terutama, ada para pemimpin gereja, lalu para pengawas tim dan para ketua berbagai kelompok. Bukankah krusial dan sangat penting untuk memahami dan mengerti situasi, seperti apakah para pengawas berbagai pekerjaan dan para personel yang bertanggung jawab atas berbagai pekerjaan penting memiliki kenyataan kebenaran, berprinsip dalam tindakan mereka, dan mampu melakukan pekerjaan gereja dengan baik? Jika para pemimpin dan pekerja benar-benar memahami situasi para pengawas utama dari berbagai pekerjaan, dan membuat penyesuaian personel yang sesuai, itu sama saja dengan mereka melakukan pemeriksaan yang tepat untuk setiap jenis pekerjaan, dan itu sama saja dengan mereka memenuhi tanggung jawab dan tugas mereka. Jika penyesuaian yang benar tidak dilakukan terhadap para personel ini dan timbul suatu masalah, pekerjaan gereja akan sangat terpengaruh. Jika para personel ini memiliki kemanusiaan yang baik, memiliki landasan dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan, bertanggung jawab dalam menangani masalah, dan mampu mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah, maka memberi mereka tanggung jawab untuk menangani pekerjaan akan mengurangi banyak masalah, dan yang terpenting, itu akan memungkinkan pekerjaan berjalan dengan lancar. Namun, jika para pengawas dari berbagai tim tidak dapat diandalkan, memiliki kemanusiaan yang buruk, tidak berperilaku dengan baik, dan tidak menerapkan kebenaran, dan, terlebih lagi, cenderung menyebabkan beberapa kekacauan dan gangguan, ini akan memengaruhi pekerjaan yang menjadi tanggung jawab mereka dan jalan masuk kehidupan saudara-saudari yang mereka pimpin. Tentu saja, pengaruh itu bisa besar atau kecil. Jika para pengawas hanya lalai dalam tugas mereka dan tidak mengurus pekerjaan mereka dengan semestinya, ini mungkin hanya akan menyebabkan sedikit penundaan dalam pekerjaan; kemajuan akan sedikit lebih lambat, dan pekerjaan akan sedikit kurang efisien. Namun, jika mereka adalah antikristus, masalahnya akan menjadi serius: ini bukan lagi masalah pekerjaan menjadi sedikit lebih tidak efisien atau lebih tidak efektif—tetapi mereka akan mengganggu dan merusak pekerjaan gereja yang menjadi tanggung jawab mereka, yang menyebabkan kerugian yang parah. Jadi, selalu mengikuti perkembangan keadaan para pengawas dari berbagai pekerjaan dan personel yang bertanggung jawab atas berbagai pekerjaan penting, serta melakukan pemindahtugasan dan pemberhentian secara tepat waktu setelah mengetahui bahwa ada orang tidak sedang melakukan pekerjaan nyata, semua ini bukanlah tanggung jawab yang boleh diabaikan oleh para pemimpin dan pekerja—ini adalah pekerjaan yang sangat serius dan sangat penting. Jika para pemimpin dan pekerja dapat dengan segera mengetahui karakter para pengawas dari berbagai pekerjaan dan personel yang bertanggung jawab atas berbagai pekerjaan penting, dan bagaimana sikap mereka terhadap kebenaran dan tugas mereka, serta keadaan dan kinerja mereka selama setiap periode dan di setiap tahap, serta dengan segera membuat penyesuaian atau menangani orang-orang tersebut berdasarkan keadaan, maka barulah pekerjaan akan dapat berjalan dengan mantap. Sebaliknya, jika orang-orang itu merajalela melakukan hal-hal buruk dan tidak melakukan pekerjaan nyata di gereja, dan para pemimpin dan pekerja tidak mampu dengan segera mengidentifikasi hal ini dan melakukan pemindahtugasan secara tepat waktu, melainkan menunggu hingga segala macam masalah serius muncul, yang menimbulkan kerugian besar bagi pekerjaan gereja, sebelum dengan santai berusaha menanganinya, melakukan pemindahtugasan, dan memperbaiki serta menyelamatkan situasi tersebut, itu artinya para pemimpin dan pekerja itu hanyalah sampah. Mereka benar-benar adalah pemimpin palsu yang harus diberhentikan dan disingkirkan.

Kita baru saja secara umum mempersekutukan pentingnya memahami dan mengetahui keadaan sebenarnya dari para pengawas berbagai pekerjaan dan efektivitas pekerjaan mereka. Kita menggunakan kondisi nyata ini untuk menilai apakah pemimpin dan pekerja telah memenuhi tanggung jawabnya, serta mengungkapkan berbagai perwujudan yang diperlihatkan yang membuktikan bahwa mereka adalah pemimpin palsu. Dengan demikian, kita bisa menelaah esensi pemimpin palsu. Ketika masalah serius muncul dalam pekerjaan gereja, pemimpin palsu gagal memenuhi tanggung jawabnya. Mereka tidak dapat menemukan masalahnya dengan cepat, apalagi menangani dan menyelesaikannya dengan segera. Hal ini menyebabkan permasalahan tersebut berlarut-larut, yang kemudian mengakibatkan penundaan dan kerugian pada pekerjaan gereja, bahkan dapat menyebabkan pekerjaan gereja terhenti atau berantakan. Ketika hal ini terjadi, barulah pemimpin palsu dengan enggan datang ke lokasi pekerjaan gereja untuk mengamati situasi, tetapi mereka tetap tidak dapat menemukan solusi yang sesuai atau tepat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, dan akhirnya, mereka hanya membiarkannya tidak terselesaikan. Inilah perwujudan utama dari pemimpin palsu.

Standar untuk Memilih Para Pengawas Berbagai Pekerjaan

Apakah kebanyakan orang memiliki pemahaman umum tentang standar untuk memilih pengawas pekerjaan dan personel yang bertanggung jawab untuk berbagai pekerjaan penting? Misalnya, apa yang terutama harus dimiliki pengawas pekerjaan seni? (Mereka harus memiliki profesionalitas di bidang ini dan mampu melakukan pekerjaan tersebut.) Memiliki profesionalitas adalah salah satu teorinya. Jadi, secara spesifik, apa yang dimaksud dengan profesionalitas ini? Mari kita jelaskan. Jika seseorang suka menggambar dan tertarik untuk membuat karya seni, tetapi itu bukan bidangnya, orang tersebut tidak memiliki pengetahuan di bidang ini dan sekadar menyukainya, apakah tepat untuk memilihnya sebagai pengawas tim seni? (Tidak.) Ada yang berkata, "Kalau suka membuat karya seni, mereka dapat melakukan pekerjaan ini dan perlahan mempelajarinya." Apakah pernyataan ini benar? (Tidak.) Ada satu pengecualian untuk ini, yaitu jika semua anggota tim seni juga tidak memahami profesi tersebut, dan orang ini memiliki pengetahuan sedikit lebih banyak dan belajar lebih cepat daripada yang lain. Kalau begitu, apakah memilihnya sebagai pengawas cukup tepat? (Ya.) Selain skenario ini, misalkan di antara semua orang yang terlibat dalam pembuatan karya seni, hanya orang ini yang tidak memahami profesi tersebut, tetapi dirinya dipilih karena memahami kebenaran dan menyukai seni—apakah itu tepat? (Tidak, tidak tepat.) Mengapa tidak tepat? Karena orang itu bukan pilihan pertama atau satu-satunya. Lalu, bagaimana seharusnya memilih pengawas seperti ini? Pengawas harus dipilih dari orang-orang yang paling mahir dan berpengalaman dalam bidang tersebut; artinya, mereka harus seorang ahli yang memiliki profesionalitas dan kemampuan kerja—jangan memilih orang awam. Ini adalah salah satu aspeknya. Selain itu, orang tersebut harus memiliki rasa tanggung jawab, memiliki pemahaman rohani, dan mampu memahami kebenaran. Mereka juga setidaknya harus memiliki dasar dalam imannya kepada Tuhan. Prinsip utamanya adalah pertama, mereka harus memiliki kemampuan kerja; kedua, mereka harus memahami bidang pekerjaannya; dan ketiga, mereka harus memiliki pemahaman rohani dan mampu memahami kebenaran. Gunakan ketiga kriteria ini untuk memilih para pengawas untuk setiap pekerjaan.

Perwujudan Para Pemimpin Palsu Berkenaan dengan Para Pengawas Berbagai Pekerjaan

Setelah memilih para pengawas untuk berbagai bagian spesifik dari pekerjaan, pemimpin dan pekerja tidak boleh hanya berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa; mereka juga harus melatih dan membina para pengawas ini selama beberapa waktu untuk melihat apakah orang-orang yang mereka pilih benar-benar dapat melakukan pekerjaan tersebut dan menempatkan pekerjaan pada jalur yang benar. Itulah yang dimaksud dengan memenuhi tanggung jawab mereka. Misalkan, pada saat pemilihan, engkau melihat semua calon memahami bidang pekerjaannya, memiliki kemampuan kerja, memiliki sedikit rasa terbeban, serta memiliki pemahaman rohani dan kemampuan untuk memahami kebenaran. Engkau pun berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja karena mereka memenuhi syarat dalam hal tersebut, dan berkata, "Engkau semua bisa mulai bekerja, semua prinsip sudah aku beritahukan kepada engkau semua. Mulai sekarang, lakukan saja apa yang diperintahkan oleh rumah Tuhan kepada engkau semua." Apakah ini cara yang dapat diterima untuk melakukan pekerjaan? Setelah mengatur para pengawas, apakah ini berarti engkau boleh meninggalkannya begitu saja? (Tidak boleh.) Jadi, apa yang harus dilakukan? Misalkan seorang pemimpin berkumpul dengan para pengawas dua kali seminggu, mempersekutukan kebenaran dengan mereka, dan hanya itu, meyakini bahwa karena para pengawas itu semuanya berinisiatif, dapat diandalkan, dan mampu memahami perkataan orang lain, mereka pasti dapat melakukan penerapan sesuai dengan kebenaran. Pemimpin ini beranggapan bahwa mereka tidak perlu menyelidiki atau menindaklanjuti bagaimana para pengawas ini secara spesifik melakukan pekerjaannya, apakah mereka bekerja sama secara harmonis dengan orang lain, apakah mereka telah memiliki profesionalitas selama periode ini, atau sejauh mana mereka telah menyelesaikan pekerjaan yang diberikan oleh rumah Tuhan. Seperti inikah cara yang seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin dan pekerja dalam menangani pekerjaannya? (Tidak, bukan begitu.) Inilah cara pemimpin palsu melakukan pekerjaannya. Mereka berusaha menyelesaikan semua pekerjaan sekali dan untuk selamanya, mengatur pengawas, membentuk sebuah tim dengan beberapa anggota, kemudian berkata, "Mulailah bekerja. Jika engkau semua membutuhkan peralatan, beri tahu aku, dan rumah Tuhan akan membelikannya untuk engkau semua. Jika menghadapi kesulitan dalam kehidupan sehari-hari atau menghadapi masalah, sampaikan saja, dan rumah Tuhan akan selalu menyelesaikannya untuk engkau semua. Jika tidak ada kesulitan, fokuslah pada pekerjaan engkau semua. Jangan menimbulkan kekacauan atau gangguan, dan jangan melontarkan ide-ide yang muluk-muluk." Pemimpin palsu mengatur orang-orang ini untuk bekerja sama, dan menganggap bahwa selama mereka memiliki makanan, minuman, dan tempat tinggal, itu sudah cukup, dan tidak perlu memperhatikannya lagi. Ketika Yang di Atas bertanya, "Sudah berapa lama sejak para pengawas untuk pekerjaan ini dipilih? Bagaimana perkembangan pekerjaannya?" mereka menjawab, "Sudah enam bulan. Kami telah mengadakan sekitar 10 pertemuan untuk mereka, dan mereka kelihatannya bersemangat, dan pekerjaan sedang dilakukan." Ketika Yang di Atas bertanya, "Jadi, bagaimana kemampuan kerja para pengawas?" mereka menjawab, "Cukup baik. Ketika kami memilihnya, mereka adalah yang terbaik." Yang di Atas bertanya lagi, "Bagaimana keadaan mereka sekarang? Apakah mereka dapat melakukan pekerjaan nyata?" Mereka menjawab, "Aku telah mengadakan pertemuan untuk mereka." Yang di Atas menjawab, "Aku tidak menanyakan apakah engkau telah mengadakan pertemuan, aku menanyakan bagaimana perkembangan pekerjaannya." Mereka menjawab, "Sepertinya baik-baik saja, tidak ada yang melaporkan hal buruk tentang mereka." Yang di Atas menjawab, "Tidak ada yang melaporkan hal buruk tentang mereka bukanlah tolok ukur. Engkau harus melihat bagaimana kemampuan kerja dan profesionalitasnya, apakah mereka memiliki pemahaman rohani, dan apakah mereka melakukan pekerjaan nyata." Mereka menjawab, "Pada saat pemilihan, mereka terlihat baik. Selama beberapa waktu ini, aku belum menanyakan detailnya. Jika engkau ingin mengetahuinya, aku akan menanyakannya lagi." Beginilah cara pemimpin palsu bekerja. Mereka terus mengadakan pertemuan dan persekutuan tanpa henti dengan bawahannya, tetapi ketika menyangkut Yang di Atas, mereka berdalih dan memberikan jawaban yang asal-asalan. Respons asal-asalan terbaiknya adalah dengan berkata, "Aku telah mengadakan pertemuan untuk mereka. Terakhir kali, aku bertanya tentang pekerjaan dengan sangat terperinci." Beginilah cara mereka merespons Yang di Atas. Apakah pemimpin palsu ini melakukan pekerjaan nyata? Apakah mereka telah memahami permasalahan yang sebenarnya? Apakah mereka telah menyelesaikannya? Setelah mengatur para pengawas, pemimpin palsu sama sekali tidak tahu apakah para pengawas telah memenuhi tanggung jawabnya atau menunjukkan kesetiaan, bagaimana pekerjaan itu dilakukan, apakah hasilnya baik atau buruk, bagaimana saudara-saudari melaporkan kembali tentang mereka, atau apakah ada orang lain yang lebih sesuai untuk pekerjaan itu. Mengapa mereka tidak tahu mengenai hal ini? Karena mereka tidak melakukan pekerjaan nyata; mereka hanya sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Mereka menganggap bahwa tidak perlu terus-menerus mengawasi dan memeriksa pekerjaan seperti ini karena itu akan menunjukkan bahwa mereka tidak memercayai para pengawas tersebut. Dalam benaknya, mengadakan pertemuan berarti mereka telah memenuhi tanggung jawab dan menunjukkan kesetiaan. Inilah perwujudan utama dari pemimpin palsu yang tidak melakukan pekerjaan nyata.

I. Bagaimana Pemimpin Palsu Memperlakukan Pengawas yang Tidak Melakukan Pekerjaan Nyata

Pemimpin palsu menutup mata terhadap berbagai keadaan para pengawas dari setiap jenis pekerjaan di gereja; mereka tidak memahami keadaan ini, tidak menyelidikinya, tidak menanganinya, atau tidak menyelesaikannya. Apa saja keadaan spesifik dari para pengawas? Yang pertama adalah ketika pengawas tidak memiliki beban, hanya makan, minum, dan mencari hiburan tanpa melakukan pekerjaannya yang seharusnya atau melakukan pekerjaan nyata. Bukankah ini masalah yang serius? (Ya.) Ada orang yang memiliki kemampuan kerja, mahir dalam bidangnya, dan mereka adalah yang terbaik; mereka fasih dalam berbicara dan cerdas, jika diminta untuk mengulang instruksi, mereka dapat melakukannya tanpa melewatkan satu kata pun, orang ini cukup pintar; mereka menerima penilaian yang cukup baik dari semua orang, dan sudah cukup lama menjadi orang percaya. Karena itu, mereka dipilih menjadi pengawas. Namun, tidak ada yang tahu apakah orang ini praktis, mampu membayar harga, atau mampu melakukan pekerjaan nyata. Karena orang-orang telah memilihnya, mereka pada awalnya dipromosikan untuk dibina dan digunakan dalam masa percobaan untuk menguji kemampuannya. Namun, setelah bekerja selama beberapa waktu, ditemukan bahwa meskipun mereka memiliki profesionalitas dan pengalaman, mereka rakus dan malas, serta tidak mau membayar harga. Begitu pekerjaannya terasa sedikit melelahkan, mereka berhenti bekerja, juga tidak mau memperhatikan siapa pun yang memiliki masalah atau kesulitan dan membutuhkan bimbingannya. Pada pagi hari, begitu membuka mata, mereka langsung berpikir, "Apa yang akan aku makan hari ini? Sudah berhari-hari dapur tidak memasak babi kecap." Biasanya, mereka selalu berkata kepada orang lain, "Camilan di kampung halamanku sangat enak. Setiap festival, kami selalu keluar untuk menikmatinya. Waktu masih sekolah, di akhir pekan aku biasa tidur sampai aku bangun dengan sendirinya. Setelah itu, aku pergi makan tanpa repot-repot mencuci muka atau menyisir rambut. Pada sore hari, aku selalu bermain gim di dalam rumah dengan mengenakan piama, terkadang aku bermain sampai pukul 5 pagi. Sekarang, pekerjaan di rumah Tuhan telah memaksaku sampai ke titik ini, dan sebagai seorang pengawas, aku harus melakukan hal-hal tertentu. Lihatlah betapa enaknya hidup engkau semua; engkau tidak perlu membayar harga ini. Sebagai seorang pengawas, aku harus mampu menanggung kesukaran." Mereka mengatakan hal ini, tetapi apakah mereka memberontak terhadap daging? Apakah mereka membayar harga? Mereka penuh dengan keluhan dan tidak mau melakukan pekerjaan nyata apa pun. Mereka hanya bergerak ketika didorong, dan tanpa pengawasan, mereka bersikap asal-asalan. Dalam melaksanakan tugasnya, mereka santai dan tidak disiplin, sering kali licik dan bermalas-malasan, serta sama sekali tidak bertanggung jawab. Bahkan, ketika melihat ada persoalan profesionalitas, mereka tidak mengoreksi kesalahan orang lain dan justru senang jika semua orang bersikap asal-asalan seperti dirinya. Mereka tidak ingin ada yang menanggapi pekerjaan dengan serius. Beberapa pengawas menyelesaikan sedikit tugas yang ada dengan santai dan asal-asalan, kemudian mereka mulai menonton drama TV tanpa henti. Apa alasan mereka menonton drama tanpa henti? Mereka berkata, "Aku telah menyelesaikan tugasku; aku tidak menumpang hidup di rumah Tuhan. Aku hanya bersantai untuk menyegarkan pikiranku. Kalau tidak, aku akan terlalu lelah dan efisiensi kerjaku akan buruk. Biarkan aku bersantai sebentar agar efisiensi kerjaku lebih baik." Mereka terus menonton drama hingga pukul 2 atau 3 dini hari. Keesokan harinya, ketika semua orang telah selesai sarapan pada pukul 8 pagi dan mulai mengerjakan tugas mereka, para pengawas ini masih terlelap dan tidak beranjak dari tempat tidur meskipun matahari sudah tinggi. Kemudian, mereka dengan enggan bangkit, menyeret tubuhnya yang malas, meregangkan badan dan menguap. Ketika melihat semua orang sudah mulai bekerja, mereka takut kemalasannya terlihat oleh orang lain, lalu mulai mencari alasan dengan berkata, "Tadi malam, aku tidur terlalu larut, ada banyak sekali hal yang harus kulakukan, beban kerjanya terlalu berat. Aku agak lelah. Tadi malam, aku bahkan bermimpi ada masalah dengan suatu pekerjaan. Ketika bangun pagi ini, tanganku masih dalam posisi mengetik di komputer. Kepalaku benar-benar pusing dan nanti aku perlu tidur siang." Mereka bangun kesiangan, tetapi masih ingin tidur siang—bukankah mereka sudah seperti babi? Mereka jelas sedang bermalas-malasan, tetapi justru mereka mencari-cari alasan untuk membenarkan dan membela diri, dengan menegaskan bahwa dirinya lelah karena melaksanakan tugas hingga larut malam. Padahal, mereka jelas-jelas menonton drama tanpa henti, menikmati kenyamanan daging, dan hidup dalam keadaan memanjakan diri, tetapi pada akhirnya mereka masih bisa menemukan alasan yang kedengarannya bagus untuk menipu orang lain. Bukankah ini artinya mereka tidak melakukan pekerjaan yang seharusnya? (Ya, benar.) Orang-orang seperti ini mungkin memiliki kemampuan kerja dan profesionalitas, tetapi apakah mereka memenuhi standar sebagai pengawas? Tentu saja tidak. Mereka tidak layak untuk menjadi pengawas karena mereka terlalu malas, menikmati kenyamanan daging, rakus akan makanan, suka tidur, dan suka bersenang-senang, serta tidak mampu melakukan pekerjaan atau memenuhi tanggung jawab sebagai seorang pengawas.

Sebagian wanita sering kali melihat-lihat pakaian, sepatu, kosmetik, dan makanan secara daring, dan setelah selesai, mereka mulai menonton drama tanpa henti. Orang-orang bertanya, "Mengapa kau menonton drama terus padahal pekerjaanmu belum selesai? Lagi pula, masih banyak orang yang menghadapi berbagai masalah. Sebagai seorang pengawas, seharusnya engkau membimbing mereka. Mengapa kau tidak memenuhi tanggung jawabmu?" Wanita ini menjawab, "Menonton drama terus-menerus juga bagian dari pekerjaanku. Video dan film rumah Tuhan perlu dikembangkan, dan aku harus mencari inspirasi dalam drama-drama ini!" Bukankah itu pernyataan yang menipu? Jika memang pekerjaanmu berkaitan dengan bidang ini, sesekali menonton drama untuk mencari inspirasi dapat diterima, tetapi menonton drama tanpa henti, siang dan malam, apakah itu sedang mencari inspirasi? Bukankah itu menipu? (Ya, benar.) Semua orang tahu apa yang sebenarnya terjadi, jadi mengatakan hal-hal seperti itu sama artinya dengan menjual martabat dan integritasmu sendiri. Ada orang-orang yang sudah terbiasa bermain gim, dan itu telah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Namun, setelah terpilih menjadi pengawas, bukankah mereka seharusnya mengubah kebiasaan dan sifat buruk ini? (Ya.) Jika engkau tidak bisa memberontak terhadap kebiasaan ini, ketika engkau dipilih sebagai seorang pengawas, engkau seharusnya berkata, "Aku tidak dapat menerima pekerjaan ini. Aku kecanduan bermain gim. Kalau sudah bermain, aku benar-benar sampai lupa diri, dan tidak ada yang bisa mengganggu atau memengaruhiku. Jika engkau semua memilihku, itu pasti akan menghambat pekerjaan. Jadi, segeralah bertindak dan jangan jadikan aku sebagai pengawas." Jika engkau tidak mengatakan hal tersebut sejak awal, dan justru merasa senang serta bangga ketika dipilih, menganggap status itu sangat berharga, tetap bermain gim sesuka hati seperti sebelumnya ketika engkau menjadi pengawas, ini tidak pantas dan pasti akan menghambat pekerjaan.

Beberapa pengawas memiliki kebiasaan buruk tertentu. Ketika saudara-saudari memilih mereka, ada yang tidak memahami situasi mereka, sedangkan saudara-saudari yang lain menganggap bahwa orang-orang ini dapat mengorbankan seluruh waktunya untuk Tuhan, dan menganggap bahwa kebiasaan dan sifat buruk anak muda mungkin secara berangsur akan berubah seiring bertambahnya usia dan pemahaman yang berkelanjutan akan kebenaran. Banyak orang yang memiliki sikap dan pandangan seperti ini ketika memilih orang-orang tersebut untuk menjadi pengawas. Setelah orang-orang ini dipilih, mereka memang melakukan sedikit pekerjaan, tetapi tidak butuh waktu lama sebelum mereka menjadi negatif dan berpikir, "Menjadi seorang pengawas tidaklah mudah. Aku harus bangun pagi-pagi dan tidur larut malam, serta harus melakukan dan mengamati lebih banyak dibandingkan orang lain dalam segala hal. Aku juga harus lebih khawatir dan menghabiskan lebih banyak waktu dan tenagaku. Pekerjaan ini sulit, terlalu melelahkan!" Akibatnya, mereka mulai berpikir untuk berhenti. Jika engkau tidak memiliki beban dalam hatimu, engkau tidak dapat melakukan pekerjaan seorang pengawas. Namun, jika engkau memiliki beban di hatimu, engkau akan rela mengkhawatirkan pekerjaan, dan sekalipun engkau sedikit lebih lelah daripada yang lain, engkau tidak akan merasa sedang menderita. Bahkan ketika tiba saatnya untuk beristirahat, engkau masih akan berpikir, "Bagaimana hasil pekerjaan hari ini?" Jika tiba-tiba teringat sebuah masalah yang masih belum terselesaikan, engkau tidak akan bisa tidur. Jika engkau memiliki beban dalam hatimu, engkau akan selalu memikirkan pekerjaan dan bahkan tidak peduli seberapa baik engkau makan atau beristirahat. Jika seorang pengawas memiliki terlalu sedikit beban, antusiasmenya yang kecil itu hanya dapat bertahan beberapa hari, dan seiring berjalannya waktu, beberapa dari mereka tidak sanggup lagi. Mereka berpikir, "Pekerjaan ini sangat melelahkan. Bagaimana caranya agar aku bisa bersantai dan menghibur diriku sebentar? Aku akan bermain gim." Mereka bekerja dengan baik untuk sementara waktu, tetapi tiba-tiba muncul keinginan untuk bermain gim. Begitu mulai bermain, mereka tidak bisa berhenti; sedikit beban yang pernah dimiliki pun akan terkikis ketika bermain gim, begitu pula semangatnya untuk mengorbankan diri, tekad, dan sikap positifnya ketika melaksanakan tugas. Ketika seseorang menanyakan sesuatu kepadanya, mereka menjadi tidak sabar. Mereka bisa memangkas orang, menceramahi, mengejek, atau melakukan sesuatu secara asal-asalan dan meninggalkan pekerjaannya. Bukankah ada masalah dengan para pengawas ini? (Ya.) Pada siang hari, mereka menjalani pekerjaan dengan linglung dan asal-asalan, lalu pada malam hari, ketika tidak ada yang melihat, mereka diam-diam bermain gim tanpa tidur semalaman. Pada awalnya, mereka merasa tenang tentang hal itu, berpikir, "Aku tidak menunda pekerjaan di siang hari. Aku telah melakukan semua pekerjaan yang seharusnya kulakukan. Aku telah menyelesaikan semua masalah yang telah ditanyakan orang lain kepadaku. Sekalipun aku tidak tidur di malam hari demi meluangkan waktu bermain gim, bukankah semua ini terhitung sebagai kesetiaanku?" Akibatnya, begitu mulai bermain gim, mereka tidak bisa berhenti dan tidak mau mendengarkan siapa pun. Meskipun itu tidak mengganggu istirahat orang lain atau lingkungan kerja, apakah pengawas semacam ini masih bisa melakukan pekerjaannya? Apakah mereka bisa melakukannya dengan baik? (Tidak.) Mengapa tidak? Mereka sering bermain gim sepanjang malam tanpa tidur dan harus bekerja di siang hari—seberapa banyak energi yang dapat dimiliki seseorang? Apakah efisiensi kerja mereka akan tinggi jika mereka terus bermain gim seperti ini? Tentu saja tidak. Oleh karena itu, pengawas semacam ini sama sekali tidak mampu memenuhi tugas atau melakukan pekerjaannya. Meskipun mereka memiliki profesionalitas dan kualitas tertentu, mereka terlalu suka bermain dan tidak melakukan pekerjaan yang seharusnya. Bukankah pengawas seperti ini seharusnya diberhentikan? Jika mereka tidak diberhentikan, pekerjaan akan terhambat. Ada orang-orang yang berkata, "Jika mereka diberhentikan, kami tidak akan dapat menemukan orang lain yang memiliki profesionalitas seperti yang dimilikinya. Kami harus membiarkannya tetap melakukan pekerjaan ini—mereka masih bisa melakukan pekerjaan meskipun bermain gim." Apakah pernyataan ini benar? (Tidak benar.) Seseorang tidak dapat berfokus pada dua hal sekaligus; manusia memiliki energi yang terbatas. Jika engkau menghabiskan sebagian besar energimu untuk bermain, pengabdianmu untuk melaksanakan tugasmu akan terpengaruh, dan efektivitasmu ketika melaksanakan tugas akan sangat berkurang. Ini adalah sikap yang tidak bertanggung jawab terhadap sebuah tugas. Sekalipun seseorang berusaha dengan sepenuh hati dan segenap tenaganya untuk melaksanakan tugasnya, hasilnya belum tentu seratus persen memenuhi standar. Akan jauh lebih buruk jika engkau memfokuskan hati dan sebagian besar energimu untuk bermain—engkau tidak akan memiliki banyak energi dan pikiran yang tersisa untuk digunakan dalam melaksanakan tugasmu, dan efektivitasmu dalam melaksanakan tugas akan terpengaruh. Mengatakan efektivitasmu akan terpengaruh adalah cara yang halus untuk mengungkapkannya; sebenarnya, efektivitasmu dalam melaksanakan tugas akan sangat rusak. Jika pengawas semacam itu ditemukan, mereka harus segera dipindahtugaskan dan diberhentikan karena mereka sudah dianggap tidak berguna. Masalahnya bukan hanya karena mereka tidak memenuhi standar dalam melaksanakan tugas, melainkan juga sudah tidak mampu lagi melakukan pekerjaannya dan tidak dapat memberikan dampak positif bagi pekerjaan. Oleh karena itu, mencari seseorang yang dapat melakukan pekerjaan tersebut dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab meskipun profesionalitasnya sedikit kurang, akan menjadi pilihan yang lebih baik daripada orang-orang ini.

Aku baru saja bersekutu tentang berbagai macam orang yang rakus akan makanan, suka tidur, dan suka bersenang-senang. Ada juga jenis lainnya. Awalnya, ketika pemilihan pengawas, orang seperti ini tampak pantas dalam segala hal untuk peran tersebut, dan saudara-saudari semuanya bersedia untuk memilihnya. Mereka menganggap orang ini memiliki kemanusiaan yang baik, penuh semangat, dan mahir dalam bidangnya, serta menjadi yang terbaik dan terkuat dalam tim pada setiap aspek, menjadikannya pilihan yang tepat untuk posisi pengawas. Namun, beberapa saat setelah dipilih, orang ini mulai sering mengantuk, bahkan dalam pertemuan. Ketika orang lain berbicara dengannya, mereka selalu bingung dan memberikan jawaban yang tidak relevan. Sebelumnya, mereka tidak seperti ini, jadi mengapa tiba-tiba terlihat seperti menjadi orang yang berbeda? Belakangan, seseorang secara tidak sengaja mendapati pengawas ini berbicara dengan seseorang dan sepertinya mereka berdua sedang berpacaran, dan muncul dugaan mereka memang sedang menjalin hubungan asmara. Seiring dengan makin jelasnya persoalan tersebut, pengawas ini menjadi makin bingung. Setiap kali ditanya atau diajak berbicara tentang sesuatu, responsnya tidak secepat sebelumnya, dan ucapannya tidak lagi sejelas dan mudah dipahami seperti dahulu. Orang ini mulai makin jarang melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh seorang pengawas dan makin tidak bersemangat dalam melaksanakan tugasnya. Sepertinya dia telah menjadi orang yang berbeda, lebih tertarik pada pakaian dan penampilan pribadi daripada sebelumnya. Ada masalah di sini. Dahulu, selama periode kerja yang sibuk, pengawas ini jarang mandi, tetapi sekarang dia mencuci muka dua kali sehari, dan menyisir rambut serta bercermin di setiap kesempatan, dan terus-menerus bertanya kepada orang lain, "Apakah menurutmu kulitku sekarang lebih cerah atau lebih gelap? Mengapa kulitku terlihat lebih gelap?" Orang-orang pun menjawab, "Sebagai seorang pengawas, membicarakan hal-hal seperti itu sangatlah tidak pantas—bagaimana menjadi lebih cerah atau lebih gelap, apa pengaruhnya?" Orang ini terus-menerus membicarakan hal-hal sepele seperti ini, dan tidak bersemangat dalam melakukan pekerjaannya. Setiap kali ada kesempatan, pengawas ini akan membahas tentang pakaian, wanita, pria, cinta, dan pasangan seperti apa yang akan dipilih seseorang, tetapi tidak pernah membahas masalah apa yang ada dalam pelaksanaan tugasnya atau bagaimana menyelesaikannya. Bukankah ada masalah di sini? Apakah orang ini masih bisa melakukan pekerjaan? (Tidak bisa.) Pola pikirnya telah berubah, dan urusan melaksanakan tugas tidak lagi ada dalam benaknya. Sebaliknya, pikirannya sepanjang hari dipenuhi dengan bagaimana menjalin hubungan asmara, cara berpakaian, dan bagaimana menarik perhatian lawan jenis. Ada sebuah frasa di antara orang-orang tidak percaya: jatuh cinta. Apakah ini cinta? Tidak, ini adalah lubang yang dalam! Begitu engkau masuk, engkau tidak bisa keluar lagi. Adakah orang-orang seperti ini di antara personel yang melaksanakan tugas mereka? (Ada.) Meskipun rumah Tuhan tidak menghalangi orang mencari pasangan, jika hal itu mengganggu kehidupan bergereja dan memengaruhi pekerjaan gereja, orang-orang itu harus dikeluarkan. Pasangan-pasangan itu sebaiknya pergi berkencan di luar dan tidak mengganggu yang lain. Jika engkau adalah seseorang yang telah mengabdikan diri untuk menghabiskan seluruh hidupmu berkorban untuk Tuhan, dan engkau telah memutuskan untuk tidak terlibat dalam hubungan asmara, fokuslah untuk mengorbankan dirimu untuk Tuhan. Jika engkau telah menjalin hubungan asmara dan tidak lagi merasa ingin melakukan pekerjaanmu, engkau seharusnya tidak melaksanakan tugas sebagai seorang pengawas, dan rumah Tuhan akan memilih orang lain untuk jabatan tersebut. Pekerjaan rumah Tuhan tidak boleh terhambat atau terganggu oleh hubungan asmaramu. Pekerjaan harus terus berlanjut. Bagaimana caranya? Dengan memilih pengawas lain yang tidak terlibat dalam hubungan asmara, yang memiliki profesionalitas yang kuat, dan dapat melakukan pekerjaan agar pekerjaanmu dapat dialihkan kepadanya. Rumah Tuhan selalu berjalan dengan cara seperti ini, dan prinsip ini tetap tidak berubah. Ada pengawas yang berkata, "Hubungan asmaraku tidak memengaruhi pekerjaanku, biarkan aku terus bertanggung jawab." Bisakah kita memercayai pernyataan ini? (Tidak bisa.) Mengapa kita tidak bisa memercayainya? Karena faktanya sudah jelas dan dapat dilihat oleh semua orang! Ketika seseorang menjalin hubungan asmara, yang dipikirkannya hanyalah kekasihnya, dan hatinya dipenuhi dengan semua ini sehingga orang tersebut sering mengantuk dalam pertemuan dan tidak dapat melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu, cara rumah Tuhan menangani orang-orang semacam itu adalah tepat dan sesuai dengan prinsip-prinsip. Rumah Tuhan tidak menghalangimu untuk berpacaran, juga tidak merampas kebebasanmu untuk berpacaran. Engkau boleh berpacaran sesuka hatimu, itu adalah keputusanmu sendiri selama engkau tidak menyesalinya dan tidak menangisinya di kemudian hari. Beberapa pengawas telah diberhentikan karena hubungan asmara. Ada yang bertanya, "Apakah seseorang tidak diperbolehkan percaya kepada Tuhan jika mereka menjalin hubungan asmara?" Rumah Tuhan tidak pernah mengatakan demikian. Apakah rumah Tuhan menolak atau mengusir semua orang yang terlibat dalam hubungan asmara? (Tidak.) Jika engkau sedang menjalin hubungan asmara, engkau tidak boleh menjadi pengawas, pemimpin, atau pekerja, dan jika engkau tidak mengabdikan diri untuk melaksanakan tugasmu, engkau harus meninggalkan gereja tugas penuh waktu. Apakah ada yang mengatakan bahwa engkau tidak boleh lagi percaya kepada Tuhan, atau bahwa engkau akan diusir? Apakah ada yang menetapkan bahwa engkau tidak dapat diselamatkan atau engkau akan dikutuk? (Tidak.) Rumah Tuhan tidak pernah mengatakan hal-hal seperti itu. Rumah Tuhan sama sekali tidak ikut campur dengan pilihan dan kebebasan pribadimu; juga tidak mencabut kebebasan apa pun darimu—rumah Tuhan memberimu kebebasan. Namun, jika menyangkut pengawas semacam ini, prinsip rumah Tuhan untuk menanganinya adalah memberhentikannya dan mencari orang yang tepat untuk menggantikannya. Jika mereka masih layak untuk terus melaksanakan tugas, mereka bisa dipertahankan. Jika tidak, mereka akan dipindahkan. Tidak akan ada pemukulan, makian, atau penghinaan. Ini bukanlah sesuatu yang memalukan; ini adalah hal yang sangat wajar. Jadi, ketika ada orang yang diberhentikan dari jabatannya atau dikirim ke gereja biasa karena hubungan asmaranya, apakah ini sesuatu yang memalukan? Itu hanya menunjukkan bahwa mereka tidak setia dalam melaksanakan tugas, tidak tertarik akan kebenaran, dan sama sekali tidak memiliki beban untuk jalan masuk kehidupannya sendiri. Pengawas seperti ini tidak melakukan pekerjaannya yang seharusnya—mereka hanya sibuk dengan hubungan asmara yang menghambat pekerjaan gereja dan telah memengaruhi perkembangan pekerjaan gereja—bukankah ini masalah yang serius? (Ya.) Oleh karena itu, pengawas semacam ini tidak layak untuk dipertahankan dan harus diberhentikan dari jabatannya. Ada yang berkata, "Bukankah terlalu terburu-buru untuk memberhentikannya?" Jika hanya satu atau dua hari berlalu dari awal hubungan asmara hingga waktu diberhentikan, itu mungkin memang terasa terburu-buru. Namun, jika tiga hingga lima bulan telah berlalu, apakah itu masih dianggap terburu-buru? (Tidak.) Tindakan ini telah diambil dengan cukup lambat, pekerjaan sudah tertunda sekian lama—bagaimana bisa engkau tidak merasa khawatir? Bukankah ini sebuah masalah? (Ya, benar.)

Para pemimpin palsu tidak pernah bertanya tentang para pengawas yang tidak melakukan pekerjaan nyata, atau yang tidak melakukan pekerjaan mereka sebagaimana mestinya. Mereka menganggap bahwa mereka hanya perlu memilih seorang pengawas dan itu artinya sudah selesai, dan bahwa setelah itu, pengawas tersebut dapat menangani semua masalah pekerjaan seorang diri. Jadi, para pemimpin palsu hanya sesekali mengadakan pertemuan, dan tidak mengawasi pekerjaan atau bertanya bagaimana perkembangannya, serta bertindak seperti bos yang lepas tangan. Jika seseorang melaporkan sebuah masalah dengan seorang pengawas, seorang pemimpin palsu akan berkata, "Ini hanya masalah kecil, tidak menjadi masalah. Kalian bisa menanganinya sendiri. Jangan tanya aku." Orang yang melaporkan masalah itu berkata, "Pengawas itu adalah orang rakus yang pemalas. Dia hanya berfokus pada makanan dan bersenang-senang, dan dia sangat malas. Dia tak mau mengalami kesukaran sedikit pun dalam tugasnya, selalu bermalas-malasan dan licik, serta mencari-cari alasan untuk menghindari pekerjaan, dan mengabaikan tanggung jawabnya. Dia tidak sesuai untuk menjadi pengawas." Pemimpin palsu tersebut akan menjawab, "Mereka sangat bagus ketika dia dipilih sebagai pengawas. Yang kaukatakan itu tidak benar, atau sekalipun itu benar, itu hanyalah perwujudan sementara." Pemimpin palsu tersebut tidak akan berusaha mencari tahu tentang situasi pengawas itu, sebaliknya dia akan menghakimi dan menilai berdasarkan kesan masa lalunya terhadap pengawas tersebut. Siapa pun yang melaporkan masalah dengan pengawas itu, pemimpin palsu tersebut akan mengabaikannya. Pengawas itu tidak melakukan pekerjaan nyata, dan pekerjaan gereja hampir terhenti, tetapi pemimpin palsu tersebut tidak peduli, seolah-olah dia bahkan tidak terlibat. Sudah cukup memuakkan ketika ada seseorang yang melaporkan masalah pengawas, mereka berpura-pura tidak melihatnya. Namun, apa yang paling menjijikkan dari semuanya? Ketika orang-orang melaporkan masalah yang sangat serius dengan pengawas kepadanya, dia tidak mau berusaha menyelesaikannya, dan dia bahkan akan memunculkan berbagai alasan: "Aku kenal pengawas ini, dia benar-benar percaya kepada Tuhan, dia tidak akan pernah memiliki masalah apa pun. Meskipun dia ada masalah kecil, Tuhan akan melindunginya dan mendisiplinkannya. Jika dia melakukan kesalahan, itu antara dia dan Tuhan—kita tak perlu mengkhawatirkan hal itu." Para pemimpin palsu bekerja berdasarkan gagasan dan imajinasi seperti ini. Mereka berpura-pura memahami kebenaran dan memiliki iman, tetapi mereka hanya membuat kacau pekerjaan gereja—pekerjaan gereja bahkan mungkin akan terhenti dan mereka akan tetap berpura-pura tidak mengetahui hal itu. Bukankah para pemimpin palsu bertindak terlalu mirip dengan birokrat? Mereka sendiri tidak mampu melakukan pekerjaan nyata, dan mereka juga tidak teliti terhadap pekerjaan para ketua kelompok dan para pengawas—mereka tidak menindaklanjutinya atau menanyakannya. Pandangan mereka tentang orang-orang hanya didasarkan pada kesan dan imajinasi mereka sendiri. Saat mereka melihat seseorang bekerja dengan baik selama beberapa waktu, mereka menganggap bahwa orang itu akan selamanya bersikap baik, bahwa orang ini tidak akan berubah; mereka tidak memercayai siapa pun yang berkata bahwa ada masalah dengan orang ini, dan mereka mengabaikannya ketika ada seseorang yang memperingatkan mereka tentang orang tersebut. Apakah menurut engkau semua para pemimpin palsu itu bodoh? Mereka bodoh dan bebal. Apa yang membuat mereka bodoh? Mereka bodoh karena mereka dengan begitu saja menaruh kepercayaan mereka kepada seseorang, meyakini bahwa ketika orang ini dipilih, mereka bersumpah dan bertekad, serta berdoa dengan air mata yang mengalir di wajahnya, itu berarti mereka dapat diandalkan, dan tidak akan pernah ada masalah jika mereka yang bertanggung jawab atas pekerjaan. Para pemimpin palsu tidak memiliki pemahaman tentang natur orang; mereka tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya tentang umat manusia yang rusak. Mereka berkata, "Bagaimana mungkin seseorang bisa berubah menjadi lebih buruk ketika dirinya terpilih sebagai pengawas? Bagaimana mungkin seseorang yang tampak begitu serius dan dapat diandalkan mengabaikan pekerjaannya? Mereka tidak mungkin seperti itu, bukan? Mereka sangat berintegritas." Karena para pemimpin palsu telah menaruh keyakinan yang sangat besar pada imajinasi dan perasaan mereka, hal ini pada akhirnya membuat mereka tidak mampu menyelesaikan banyak masalah yang muncul dalam pekerjaan gereja tepat pada waktunya, dan mereka tidak dengan segera memberhentikan dan memindahtugaskan pengawas yang terlibat. Mereka adalah pemimpin palsu tulen. Apa sebenarnya masalahnya di sini? Apakah pendekatan pemimpin palsu terhadap pekerjaan mereka ada kaitannya dengan sikap asal-asalan? Di satu sisi, mereka melihat si naga merah yang sangat besar secara gila-gilaan melakukan penangkapan terhadap umat pilihan Tuhan, jadi untuk menjaga diri mereka tetap aman, mereka mengatur seseorang secara acak untuk bertanggung jawab atas pekerjaan, meyakini bahwa ini akan menyelesaikan masalah, dan bahwa mereka tidak perlu memperhatikannya lagi. Apa yang mereka pikirkan di dalam hati mereka? "Ini adalah keadaan yang tidak bersahabat, aku harus bersembunyi untuk sementara waktu." Ini artinya mendambakan kenyamanan daging, bukan? Di sisi lain, para pemimpin palsu memiliki kekurangan yang fatal: Mereka cepat memercayai orang berdasarkan imajinasi mereka sendiri. Ini disebabkan karena tidak memahami kebenaran, bukan? Bagaimana cara firman Tuhan menyingkapkan esensi umat manusia yang rusak? Mengapa mereka memercayai manusia padahal Tuhan tidak? Para pemimpin palsu sangat congkak dan merasa dirinya benar, bukan? Yang mereka pikirkan adalah, "Aku tidak mungkin salah menilai orang ini, seharusnya tidak ada masalah dengan orang yang telah kunilai cocok ini; dia pasti bukan orang yang suka makan, minum, dan bersenang-senang, atau yang menyukai kenyamanan dan membenci kerja keras. Dia benar-benar dapat diandalkan dan dapat dipercaya. Dia tidak akan berubah; jika dia berubah, itu pasti berarti aku keliru tentang dia, bukan?" Logika macam apa ini? Apakah engkau adalah orang yang ahli? Apakah engkau memiliki penglihatan sinar-x? Apakah engkau memiliki keahlian khusus itu? Engkau bisa saja hidup bersama seseorang selama satu atau dua tahun, tetapi akankah engkau mampu melihat siapa diri mereka yang sebenarnya tanpa lingkungan yang sesuai untuk menyingkapkan esensi natur mereka sepenuhnya? Jika dia tidak disingkapkan oleh Tuhan, engkau bisa saja hidup berdampingan dengannya selama tiga atau bahkan lima tahun dan pasti tetap bergumul untuk melihat esensi natur seperti apa yang dia miliki. Betapa lebih sulit lagi jika engkau jarang bertemu dengannya, jarang bersama dengannya? Para pemimpin palsu dengan begitu saja memercayai seseorang berdasarkan kesan yang sesaat atau penilaian positif orang lain tentang mereka, dan berani memercayakan pekerjaan gereja kepada orang semacam itu. Dalam hal ini, bukankah mereka terlalu buta? Bukankah mereka bertindak dengan ceroboh? Dan bukankah para pemimpin palsu bersikap sangat tidak bertanggung jawab ketika mereka bekerja seperti ini? Pemimpin dan pekerja tingkat atas bertanya kepada mereka, "Apakah kau sudah memeriksa pekerjaan pengawas itu? Seperti apa karakter dan kualitasnya? Apakah mereka bertanggung jawab dalam pekerjaannya? Apakah mereka mampu melakukan pekerjaan itu?" Para pemimpin palsu menjawab, "Tentu saja bisa! Ketika dipilih, mereka telah bersumpah dan bertekad. Aku masih menyimpan sumpah tertulisnya. Orang ini seharusnya mampu melakukan pekerjaan itu." Apa pendapatmu tentang perkataan pemimpin palsu itu? Mereka menganggap bahwa karena orang tersebut telah bersumpah untuk menyatakan komitmennya, maka orang itu pasti akan mampu menepatinya. Apakah pernyataan ini akurat? Saat ini, berapa banyak orang yang benar-benar dapat menepati sumpahnya? Berapa banyak orang jujur yang bertindak berdasarkan tekadnya? Hanya karena seseorang telah bersumpah, bukan berarti mereka benar-benar dapat menepatinya. Misalkan engkau bertanya kepadanya, "Apakah kau bisa menjamin bahwa pengawas itu tidak akan berubah? Apakah kau bisa menjamin kesetiaannya seumur hidup? Ketika Tuhan ingin menyingkapkan manusia, Dia harus mengatur berbagai lingkungan untuk mengujinya. Atas dasar apa kau berkata bahwa mereka dapat diandalkan? Sudahkah kau menyelidikinya?" Pemimpin palsu menjawab, "Tidak perlu. Semua saudara-saudari sudah melaporkan bahwa orang itu dapat diandalkan." Pernyataan ini juga tidak benar. Apakah seseorang benar-benar baik hanya karena saudara-saudari melaporkannya demikian? Apakah semua saudara-saudari memiliki kebenaran? Apakah mereka semua bisa memahami segala sesuatunya dengan jelas? Apakah semua saudara-saudari mengenal orang ini? Pernyataan tersebut bahkan lebih menjijikkan! Sebenarnya, orang itu telah lama tersingkap. Mereka telah kehilangan pekerjaan Roh Kudus. Sifat buruknya yang menyukai kenyamanan, membenci kerja keras, rakus, malas, dan tidak melakukan pekerjaannya yang seharusnya sudah tersingkap. Semua orang sudah lama mengetahui yang sebenarnya mengenai orang tersebut, kecuali pemimpin palsu yang masih sama sekali tidak menyadarinya—hanya pemimpin palsu yang masih sangat memercayai mereka. Apa gunanya pemimpin palsu semacam ini? Bukankah mereka tidak berguna? Bahkan, ada kasus di mana Yang di Atas mengetahui berbagai perwujudan dari pengawas tertentu dengan turun langsung ke lapangan untuk menyelidiki dan bertanya tentang mereka, tetapi pemimpin tetap sama sekali tidak tahu apa-apa. Bukankah ini masalah? Pemimpin seperti ini adalah pemimpin palsu yang sesungguhnya. Mereka tidak melakukan pekerjaan nyata, hanya tukang stempel. Seperti bos yang lepas tangan, mereka melakukan sedikit pekerjaan dan kemudian hidup dari itu, merasa dirinya berhak menikmati kenyamanan, bahkan untuk persoalan kecil pun, mereka tak mau turun tangan. Apa hakmu untuk menikmati manfaat dari status? Sungguh tidak tahu malu! Ketika pemimpin palsu bekerja, mereka tidak pernah memeriksa pekerjaan, tidak menanyakan perkembangan pekerjaan, dan bahkan tidak menyelidiki keadaan berbagai pengawas tim. Mereka hanya mendistribusikan pekerjaan dan mengatur pengawas, lalu merasa sudah selesai, seolah-olah pekerjaannya sudah beres dan tuntas untuk selamanya. Mereka berpikir, "Ada orang yang mengurus pekerjaan ini, jadi itu bukan urusanku lagi. Aku bisa bersantai." Apakah ini yang disebut bekerja? Tidak diragukan lagi, siapa pun yang bekerja seperti ini adalah pemimpin palsu—pemimpin palsu yang menunda pekerjaan gereja dan merugikan umat pilihan Tuhan.

Pemimpin palsu tidak pernah bertanya atau menindaklanjuti situasi pekerjaan berbagai pengawas tim. Mereka juga tidak bertanya, menindaklanjuti, atau memahami jalan masuk kehidupan para pengawas dari berbagai tim dan personel yang bertanggung jawab atas berbagai pekerjaan penting, serta bagaimana sikap mereka terhadap pekerjaan gereja dan tugas mereka, terhadap iman kepada Tuhan, kebenaran, dan Tuhan itu sendiri. Mereka tidak tahu apakah orang-orang ini telah mengalami perubahan atau pertumbuhan, dan mereka juga tidak tahu tentang berbagai masalah yang mungkin ada dalam pekerjaan orang-orang ini; khususnya, mereka tidak tahu tentang dampak dari kesalahan dan penyimpangan yang terjadi di berbagai tahap pekerjaan terhadap pekerjaan gereja dan jalan masuk kehidupan umat pilihan Tuhan, serta tidak tahu apakah kesalahan dan penyimpangan ini pernah diperbaiki atau tidak. Mereka sama sekali tidak tahu tentang semua hal ini. Jika mereka tidak tahu apa pun tentang kondisi-kondisi terperinci ini, mereka menjadi pasif setiap kali masalah muncul. Namun, para pemimpin palsu sama sekali tidak peduli dengan masalah terperinci ini saat melakukan pekerjaan mereka. Mereka yakin bahwa setelah mengatur berbagai pengawas tim dan memberikan tugas, pekerjaan mereka sudah selesai—itu dapat dianggap telah melakukan tugas dengan baik, dan jika masalah-masalah lain muncul, itu bukan urusan mereka. Karena para pemimpin palsu gagal mengawasi, mengarahkan, dan menindaklanjuti berbagai pengawas tim, dan mereka tidak memenuhi tanggung jawab mereka di area-area ini, hal ini mengakibatkan kekacauan dalam pekerjaan gereja. Ini artinya para pemimpin dan pekerja mengabaikan tanggung jawab mereka. Tuhan mampu memeriksa lubuk hati manusia; ini adalah kemampuan yang tidak dimiliki manusia. Oleh karena itu, ketika bekerja, orang-orang harus lebih tekun dan penuh perhatian, secara teratur pergi ke lokasi pekerjaan untuk menindaklanjuti, mengawasi, dan mengarahkan pekerjaan agar pekerjaan gereja dapat dipastikan mengalami kemajuan yang normal. Jelaslah bahwa para pemimpin palsu sama sekali tidak bertanggung jawab dalam pekerjaan mereka, dan mereka tidak pernah mengawasi, menindaklanjuti, atau mengarahkan berbagai tugas. Akibatnya, beberapa pengawas tidak tahu bagaimana cara menyelesaikan berbagai masalah yang muncul dalam pekerjaan, dan tetap menjalankan peran mereka sebagai pengawas meskipun tidak cukup kompeten untuk melakukan pekerjaan tersebut. Pada akhirnya, pekerjaan berulang kali tertunda dan mereka mengacaukannya. Inilah akibatnya jika para pemimpin palsu tidak menanyakan, mengawasi, atau menindaklanjuti situasi para pengawas, akibat yang sepenuhnya disebabkan oleh pemimpin palsu yang mengabaikan tanggung jawab mereka. Karena pemimpin palsu tidak memeriksa, menindaklanjuti, atau bertanya tentang pekerjaan, dan tidak dapat segera memahami situasinya, mereka tetap tidak menyadari tentang hal-hal seperti apakah para pengawas sedang melakukan pekerjaan nyata atau tidak, bagaimana kemajuan pekerjaan, dan apakah pekerjaan tersebut telah membuahkan hasil yang nyata atau tidak. Ketika ditanya kesibukan apa yang para pengawas lakukan atau tugas-tugas spesifik apa yang sedang mereka tangani, pemimpin palsu menjawab, "Aku tidak tahu, tetapi mereka menghadiri setiap pertemuan, dan setiap kali aku berkomunikasi dengan mereka tentang pekerjaan, mereka tidak pernah menyebutkan adanya masalah atau kesulitan apa pun." Pemimpin palsu mengira asalkan para pengawas tidak meninggalkan pekerjaan mereka dan selalu ada saat mereka mencarinya, tidak ada masalah apa pun dengan para pengawas. Dengan cara inilah pemimpin palsu bekerja. Bukankah ini merupakan perwujudan dari "kepalsuan"? Bukankah ini merupakan kegagalan untuk memenuhi tanggung jawab mereka? Ini adalah pengabaian tanggung jawab yang serius! Dalam pekerjaannya, pemimpin palsu hanya berfokus pada formalitas tanpa mencari hasil yang nyata. Mereka sering terlihat mengadakan pertemuan, tampak lebih sibuk daripada kebanyakan orang. Namun, masalah apa yang sebenarnya telah mereka selesaikan, tugas spesifik apa yang telah ditangani dengan baik, dan hasil apa yang telah dicapai, semua itu tidak ada yang tahu. Tak seorang pun dapat memberikan jawaban yang jelas mengenai hal ini, termasuk pemimpin palsu itu sendiri. Namun satu hal yang pasti: Masalah apa pun yang dihadapi orang-orang di tempat kerja, pemimpin palsu ini tidak pernah hadir; tak seorang pun pernah melihatnya menyelesaikan masalah orang-orang di tempat kerja. Jadi, apa sebenarnya pekerjaan yang dilakukan pemimpin palsu ini sepanjang hari? Masalah apa yang terselesaikan dalam pertemuannya? Tidak ada yang tahu dengan pasti. Ketika pekerjaan mereka diperiksa, barulah akhirnya terungkap bahwa banyak sekali persoalan yang menumpuk dan belum terselesaikan. Pemimpin palsu itu sekilas memang benar-benar tampak sangat sibuk—mereka sedang "menangani berbagai urusan". Namun, ketika hasil pekerjaannya diperiksa, yang tampak hanyalah kekacauan; semuanya berantakan, tidak ada sedikit pun nilai di dalamnya, dan jelas bahwa pemimpin palsu ini sama sekali tidak melakukan pekerjaan nyata. Meskipun banyak masalah nyata yang belum terselesaikan, pemimpin palsu ini tampaknya tidak memiliki kepekaan hati nurani dan tidak merasa bersalah. Sebaliknya, mereka justru sangat berpuas diri dan menganggap dirinya cukup baik; mereka benar-benar tidak bernalar. Orang-orang seperti ini tidak layak menjadi pemimpin atau pekerja di gereja.

Jenis pengawas yang baru saja kita persekutukan memahami bidang pekerjaannya dan memiliki kemampuan kerja, tetapi tidak memiliki beban. Mereka hanya menghabiskan waktu untuk makan, minum, serta bersenang-senang sepanjang hari tanpa melakukan pekerjaannya yang seharusnya, atau melakukan pekerjaan nyata. Pemimpin palsu tidak dapat segera memindahtugaskan dan memberhentikan pengawas semacam ini sehingga menghambat, mengganggu, dan membuat pekerjaan tidak dapat berjalan dengan lancar. Bukankah ini disebabkan oleh pemimpin palsu? Meskipun mereka tidak bertanggung jawab secara langsung atas hal ini, kelalaiannya dalam menjalankan tanggung jawab serta kegagalannya dalam memenuhi peran pengawasan, menjadikan pemimpin palsu tersebut bertanggung jawab secara tidak langsung atas kerugian yang ditimbulkan pada pekerjaan. Pemimpin palsu ini tidak memenuhi tugasnya yang berperan dalam pengawasan, mereka lalai dalam tanggung jawabnya, yang pada akhirnya menyebabkan pekerjaan gereja mengalami kerugian. Beberapa pekerjaan bahkan akhirnya terhenti dan dibiarkan dalam keadaan kacau karena tidak adanya pengawas yang sesuai untuk bertanggung jawab, melakukan pemeriksaan, dan mengawasi serta mendorong kemajuan pekerjaan. Pemakaian personel yang tidak tepat akan menyebabkan kerugian semacam ini pada pekerjaan. Meskipun pengawas seperti ini memiliki sedikit kualitas dan sedikit memahami bidang pekerjaannya, mereka tidak melakukan pekerjaannya yang seharusnya, sering bertindak dengan caranya sendiri, dan tidak mengikuti jalan yang benar. Sekalipun pemimpin palsu mendengar bahwa seseorang telah melaporkan masalah terkait pengawas seperti ini, mereka tidak menyelidiki atau menanganinya dengan segera, yang pada akhirnya membuat pekerjaan gereja terhenti. Bukankah ini disebabkan oleh sikap pemimpin palsu yang tidak bertanggung jawab? Mereka bahkan berusaha menghindari tanggung jawab dengan berdalih bahwa mereka tidak memahami situasi pengawas tersebut, mereka sendiri bodoh dan tidak tahu apa-apa, menganggap bahwa dengan mengatakan ini, persoalan akan selesai dan dirinya tidak perlu bertanggung jawab. Dalam pekerjaannya, pemimpin palsu selalu bertindak dengan sikap asal-asalan. Bahkan ketika orang-orang melaporkan masalah, mereka tidak menanyakan atau menanganinya, dan ketika terjadi kesalahan, mereka berusaha untuk menghindari tanggung jawab. Inilah salah satu perwujudan dari pemimpin palsu.

II. Cara Pemimpin Palsu Memperlakukan Pengawas yang Berkualitas Rendah dan Tidak Memiliki Kemampuan Kerja

Ketika pemimpin palsu bekerja, masalah yang mereka hadapi tidak terbatas pada situasi ini saja—ada situasi lain di mana pengawas memiliki kualitas yang buruk dan tidak memiliki kemampuan kerja serta tidak mampu melakukan pekerjaan. Dalam kasus seperti ini, pemimpin palsu juga gagal untuk menanyakan dan menangani masalah tersebut dengan segera. Mengapa demikian? Karena pemimpin palsu tidak memiliki kemampuan kerja, kualitasnya buruk, dan tidak memiliki pemahaman rohani. Pemimpin palsu tidak pernah peduli atau berinisiatif untuk menanyakan kualitas pengawas di berbagai tim, kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan, atau keadaan pekerjaannya. Pemimpin palsu tidak dapat mengenali pengawas yang memiliki kualitas buruk dan tidak mampu melakukan pekerjaannya, juga tidak mengetahui semua hal ini. Dalam benaknya, begitu ada orang yang mengambil peran sebagai pengawas, orang itu akan tetap menduduki jabatannya untuk waktu yang lama, kecuali jika orang tersebut melakukan berbagai macam kejahatan, memicu kemarahan publik, dan diberhentikan oleh saudara-saudari, atau jika ada seseorang yang melaporkan masalahnya kepada Yang di Atas dan Yang di Atas langsung memberhentikan orang itu. Jika tidak, pemimpin palsu tidak akan pernah memberhentikan orang tersebut. Mereka menganggap bahwa karena saudara-saudari mengatakan orang itu baik dan memilihnya, maka orang tersebut pastilah pilihan yang terbaik. Pemimpin palsu selalu mengandalkan imajinasi dan penilaiannya sendiri untuk menentukan apakah seseorang dapat bekerja, dan apakah layak menjadi pengawas. Misalnya, ada seorang pengawas dari tim tari yang tidak tahu cara menari dan tidak memahami prinsip dalam memilih tarian. Ketika mengatur koreografi, dia tidak tahu apakah harus memilih gaya kontemporer atau klasik. Sebenarnya, dia tidak memiliki pengetahuan tentang tari. Namun, pemimpin palsu tersebut tidak dapat melihat hal ini. Dia memilih orang itu untuk menjadi pengawas karena dia bersemangat serta bersedia tampil dan menjadi pusat perhatian, menganggap bahwa itu berarti dia memahami segalanya, lalu membiarkannya membimbing saudara-saudari. Namun setelahnya, pemimpin palsu itu tidak menindaklanjuti, tidak mengamati pekerjaannya, atau tidak melihat seberapa baik dia membimbing saudara-saudari, apakah dia seorang ahli atau orang awam, apakah yang diajarkannya pantas, atau apakah itu sesuai dengan tuntutan rumah Tuhan. Pemimpin palsu itu tidak mengetahui semua hal ini dan juga tidak berusaha menanyakannya. Akibatnya, semua orang bekerja dalam waktu yang lama tanpa menghasilkan apa pun, hingga akhirnya ditemukan bahwa pengawas yang dipilih oleh pemimpin palsu itu sama sekali tidak bisa menari, tetapi dia sedang berpura-pura menjadi ahli dan mengarahkan orang lain. Bukankah ini menghambat pekerjaan? Namun, pemimpin palsu tersebut tidak dapat mengidentifikasi masalah ini dan tetap yakin bahwa pengawas itu sedang melakukan pekerjaannya dengan baik. Di benak pemimpin palsu, siapa pun orangnya, asalkan mereka punya nyali dan berani berbicara, berani bertindak, dan berani menerima pekerjaan, membuktikan bahwa orang tersebut memiliki kualitas dan dapat melakukan pekerjaan itu. Sebaliknya, jika seseorang tidak berani melakukan hal tersebut, itu membuktikan bahwa kualitasnya tidak cukup untuk melakukan pekerjaan itu. Ada orang-orang yang memang bodoh atau gegabah yang cukup berani untuk melakukan apa saja. Orang-orang ini tidak tahu apakah mereka memiliki kualitas yang cukup atau mampu melakukan pekerjaan itu, tetapi tetap berani menjadi pengawas. Ternyata, setelah mengambil peran itu, tidak ada pekerjaan yang mengalami perkembangan. Apa pun pekerjaan yang dilakukan, mereka tidak memiliki arah yang jelas, langkah-langkah yang tepat, atau ide-ide yang benar. Siapa pun bisa mengemukakan pendapat dan mereka tidak tahu apakah itu benar atau salah. Jika seseorang menyarankan untuk melakukan sesuatu dengan cara tertentu, mereka setuju, dan jika orang lain menyarankan cara yang berbeda, mereka juga setuju. Ketika tiba saatnya untuk mengambil keputusan tentang pendekatan yang harus digunakan, mereka membiarkan semua orang mengutarakan pendapatnya, dan siapa pun yang bicaranya paling lantang, ide orang itulah yang akan dijalankan. Orang-orang semacam ini sama sekali tidak memiliki kualitas, tidak dapat memahami persoalan dengan jelas, dan hanya membuat kekacauan dalam pekerjaannya. Namun, pemimpin palsu tetap tidak dapat mengenali pengawas seperti ini. Ada yang berkata, "Pengawas itu benar-benar memiliki kualitas yang buruk, orang ini harus segera diberhentikan!" Namun, pemimpin palsu menjawab, "Aku sudah berbicara dengannya, dan pengawas itu mengatakan bersedia melakukan pekerjaannya. Mari kita berikan kesempatan sekali lagi." Apa pendapatmu tentang pernyataan ini? Bukankah itu sesuatu yang hanya dikatakan oleh orang bodoh? Apa yang salah dengan pernyataan ini? (Masalahnya bukan apakah orang itu bersedia melakukan pekerjaannya atau tidak, melainkan orang itu tidak memiliki kualitas dan sama sekali tidak mampu melakukan pekerjaan tersebut.) Benar, masalahnya bukan apakah mereka bersedia melakukannya atau tidak, melainkan karena kualitasnya yang sangat buruk dan mereka tidak tahu cara melakukannya—inilah inti permasalahannya. Itulah sebabnya pemimpin mereka harus memiliki kecerdasan dan mampu menilai orang untuk melihat apakah para pengawas ini memiliki kualitas yang diperlukan. Para pemimpin ini harus melakukan evaluasi yang menyeluruh terhadap mereka berdasarkan perkataan dan persekutuannya, dengan mengamati apakah mereka biasanya bertindak dengan kerangka kerja yang tepat, serta dengan cara dan langkah yang terstruktur, dan berdasarkan umpan balik dari saudara-saudari. Jika kualitas mereka terlalu buruk, tidak memiliki kemampuan kerja yang diperlukan, dan hanya membuat kekacauan dalam segala hal yang dilakukan, dan jika mereka hanyalah orang-orang yang tidak berguna, para pengawas ini harus segera diberhentikan.

Ada seorang pengawas pertanian yang membuat kekacauan dalam pekerjaan pertanian. Dia tidak tahu tanaman apa yang harus ditanam di lahan tertentu, atau lahan mana yang cocok untuk menanam sayuran. Dia pun tidak mencari dan bersekutu dengan orang lain—dia tidak tahu bagaimana mempersekutukan hal-hal tersebut, jadi dia sama sekali tidak mempersekutukannya. Dia menanam tanaman sesuka hatinya, mengabaikan prinsip-prinsip rumah Tuhan. Akibatnya, dia melakukan penanaman di setiap lahan pertanian dengan berantakan, tanaman yang seharusnya ditanam dalam jumlah sedikit, justru ditanam banyak, sedangkan yang seharusnya ditanam dalam jumlah yang banyak, justru ditanam sedikit. Ketika Yang di Atas memangkasnya, dia masih bersikap menentang, dan merasa tidak ada yang salah dengan cara dia menanam. Katakan kepada-Ku, bukankah pengawas semacam ini sangat sulit dihadapi? Dia tidak tahu bagaimana menangani masalah berdasarkan prinsip-prinsip yang ditetapkan oleh rumah Tuhan, dan dia juga tidak menentukan jumlah lahan yang digunakan untuk menanam biji-bijian dan sayuran berdasarkan jumlah orang yang melaksanakan tugas di gereja tugas penuh waktu. Sebaliknya, dia memutuskan sendiri untuk menanam lebih banyak atau lebih sedikit tanaman tertentu berdasarkan preferensinya dan menganggap hal itu sepenuhnya tepat. Pada akhirnya, dia menanam tanaman dengan cara yang sembarangan. Kemudian, ketika bibit-bibit itu mulai tumbuh, beberapa menguning dan membutuhkan pupuk, tetapi dia tidak tahu berapa banyak pupuk yang harus diberikan atau kapan waktu yang tepat untuk mengaplikasikannya. Beberapa tanaman terserang hama, dan dia tidak tahu apakah harus menggunakan pestisida atau tidak. Ada yang menyarankan untuk menggunakannya, dan ada juga yang menentangnya. Dia pun menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan pestisida. Dengan demikian, dia terus bekerja secara asal-asalan hingga musim panen tiba. Dia juga tidak tahu berapa lama masa tanam setiap tanaman atau kapan waktu yang tepat untuk memanennya. Akibatnya, biji-bijian yang dipanen lebih awal masih agak hijau, sedangkan yang terlambat dipanen berjatuhan ke tanah. Pada akhirnya, terlepas dari semua itu, tanaman tetap dipanen, biji-bijian tersebut akhirnya disimpan, dan kegiatan pertanian untuk tahun itu pada dasarnya selesai. Bagaimana pengawas pertanian melakukan pekerjaannya? (Dia mengacaukan semuanya.) Mengapa menjadi kacau seperti itu? Temukan akar permasalahannya. (Kualitasnya sangat buruk.) Pengawas ini memiliki kualitas yang sangat buruk! Ketika dihadapkan dengan masalah, dia tidak membuat penilaian yang akurat, tidak mampu menemukan prinsip-prinsip, dan tidak memiliki cara atau metode dalam menangani sesuatu. Hal tersebut menyebabkan dia menangani tugas sederhana seperti menanam tanaman ini dengan cara yang sangat tidak terstruktur, dan membuat kacau pekerjaannya. Apa perwujudan utama dari kualitas yang buruk? (Tidak memiliki penilaian yang akurat dan tidak mampu menemukan prinsip-prinsip.) Bukankah ini kata-kata yang penting? Apakah engkau semua akan mengingatnya? Ketika seseorang dihadapkan dengan masalah, kurangnya penilaian yang akurat dan ketidakmampuan menemukan prinsip-prinsip menunjukkan bahwa orang itu memiliki kualitas yang sangat buruk. Makin banyak saran dan petunjuk yang orang lain berikan, makin bingung pengawas ini. Dia menganggap bahwa akan lebih baik jika hanya ada satu saran, jadi dia dapat memperlakukannya seperti sebuah aturan dan mematuhinya, yang akan membuat segala sesuatunya menjadi lebih sederhana, dan itu artinya dia tidak perlu berpikir atau melakukan penilaian. Dia justru takut jika terlalu banyak orang memberikan saran karena dia tidak tahu bagaimana menanganinya. Sebenarnya, orang yang cerdas dan memiliki kualitas yang baik tidak takut jika orang lain memberikan saran. Mereka justru menganggap dengan makin banyak masukan, penilaiannya menjadi lebih akurat dan margin kesalahan menjadi lebih kecil. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki kecerdasan atau tidak memiliki kualitas takut dengan adanya berbagai pendapat dan saran dari banyak orang; mereka menjadi bingung ketika dihadapkan dengan berbagai masukan dari banyak pihak. Bukankah pengawas pertanian yang baru saja Kusebutkan memiliki kualitas yang sangat buruk—bukankah dia memang tidak layak untuk melakukan pekerjaan ini? (Ya.) Ada yang berpendapat, "Mungkin dia belum pernah bertani sebelumnya. Engkau bersikeras menyuruhnya untuk bertani—bukankah itu seperti memaksa ikan untuk hidup di darat?" Apakah tidak memiliki pengalaman bertani sebelumnya berarti seseorang tidak dapat bertani? Siapa yang memiliki kemampuan bawaan untuk bertani? Apakah petani dilahirkan dengan kemampuan ini? (Tidak.) Apakah ada petani yang karena tidak punya pengalaman dan tidak tahu cara bertani, gagal menuai hasil panen pada saat pertama kali bercocok tanam sehingga mereka tidak memiliki biji-bijian untuk dimakan, dan mengalami kelaparan selama setahun? Apakah hal seperti ini pernah terjadi? (Tidak.) Jika itu benar-benar terjadi, pastilah karena bencana alam, bukan akibat tindakan manusia. Situasi semacam itu sangat jarang terjadi! Petani mencari nafkah dengan bertani, dan bahkan mereka yang telah bertani selama satu atau dua tahun pun belajar melakukannya. Orang-orang dengan kualitas yang baik akan mendapatkan hasil panen lebih banyak dari bertani, sedangkan mereka yang kualitasnya buruk mungkin akan mendapatkan hasil panen yang lebih sedikit. Selain itu, dengan kemajuan dan melimpahnya informasi saat ini, jika seseorang memiliki kualitas, informasi ini cukup untuk dijadikan acuan guna membuat penilaian dan keputusan yang akurat. Makin luas dan akurat informasinya, makin tepat penilaian dan keputusannya, dan makin sedikit kesalahan yang dibuatnya. Namun, orang-orang dengan kualitas yang buruk justru sebaliknya; makin banyak informasi yang ada, makin bingung mereka jadinya. Pada akhirnya, setiap langkah terasa sulit dan menjadi perjuangan berat bagi mereka. Bertani adalah berpacu dengan waktu; tidak akan berhasil jika engkau melakukannya terlalu awal atau terlalu lambat. Jika engkau terlambat dan melewatkan waktu yang tepat, hasil panen akhir akan terpengaruh. Selama proses bertani, pengawas ini kewalahan, dikejar-kejar oleh waktu, dan dipaksa mengikuti setiap langkahnya. Meskipun dia tetap berhasil menyelesaikan setiap langkah, semuanya terasa sangat sulit baginya, dan pada akhirnya, dia justru membuat kekacauan dalam pekerjaan tersebut. Orang-orang semacam ini memiliki kualitas yang sangat buruk!

Orang-orang dengan kualitas yang sangat buruk bahkan tidak dapat melakukan satu tugas pun dengan baik; apa pun pekerjaan yang dilakukan, mereka akan mengacaukannya. Jika pemimpin dari para pengawas ini memiliki kualitas yang baik dan mampu memenuhi tanggung jawabnya, mereka seharusnya dapat melihat hal tersebut. Mereka seharusnya membantu pengawas yang memiliki kualitas yang buruk dengan bimbingan, standardisasi, dan pemeriksaan. Namun, pemimpin palsu tidak dapat melakukannya; mereka juga tidak mampu melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh pengawas. Ketika pengawas merasa pekerjaannya sulit atau merasa tidak yakin dan ragu-ragu dalam pekerjaannya, pemimpin palsu pun ragu-ragu. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana pengawas melakukan pekerjaannya, sejauh mana pekerjaan itu telah berjalan, tantangan apa yang muncul, atau kebingungan apa yang sedang dihadapi. Ketika seseorang bertanya kepada pemimpin itu tentang pertanian, dia berkata, "Aku ini pemimpin, aku tidak bertanggung jawab atas pertanian." Orang itu menjawab, "Engkau seorang pemimpin, jadi apa salahnya bertanya kepadamu tentang pertanian? Pekerjaan ini termasuk dalam lingkup tanggung jawabmu." Dia berkata, "Biar kutanyakan untukmu." Setelah bertanya, dia pun menjawab, "Saat ini kami sedang menanam kentang." Orang itu bertanya, "Berapa banyak kentang yang sedang kautanam?" Pemimpin tersebut menjawab, "Itu belum kutanyakan, aku akan menanyakannya lagi." Setelah kembali menanyakannya, dia menjawab, "Kami menanam dua hektar kentang." Orang itu bertanya, "Jenis kentang apa yang sudah kautanam? Apakah lahan itu cocok untuk menanam kentang? Apakah kau menggunakan pupuk ketika menanamnya? Seberapa dalam benih-benih kentang itu ditanam?" Dia tidak tahu jawabannya. Engkau tidak tahu semua ini, tetapi engkau tidak menanyakannya atau mencari seseorang untuk bertanya—bukankah ini hanya menghambat segalanya? Apakah engkau benar-benar seorang pemimpin? Pekerjaan apa yang kaulakukan sebagai seorang pemimpin? Kalau memimpin orang lain untuk melakukan sedikit pekerjaan di luar ini saja engkau bahkan tidak bisa, lalu apa gunanya engkau menjadi pemimpin? Meskipun kualitas pengawas itu sangat buruk, pemimpin palsu ini tidak menyadarinya, dan ketika ditanya bagaimana kualitas pengawas itu, bagaimana kondisi tanamannya, dan apakah dijamin akan panen, dia akan berkata, "Kau tidak perlu menanyakan semua ini; bertani itu tugas yang sangat sederhana! Bukankah kami sudah menanam tanaman di ladang? Bagaimana mungkin tidak ada panen?" Dia tidak mempertimbangkan apa pun, tidak menanyakan apa pun, dan sama sekali tidak memiliki kecerdasan. Pemimpin macam apa ini? (Pemimpin palsu.) Setiap kali menghadapi sesuatu, pengawas itu tidak tahu apa-apa, seperti ayam tanpa kepala. Dia tidak tahu harus bertanya kepada siapa, bagaimana mencari informasi, atau pihak mana yang harus dipilih ketika berbagai sumber informasi memberikan banyak pendapat yang berbeda. Pemimpin ini pun tidak menyelidiki situasi ini. Dia berpikir bahwa pekerjaan sudah diserahkan kepada orang itu, jadi dia sama sekali tidak memedulikannya. Apakah menurut engkau semua seorang pengawas yang memiliki kualitas buruk seperti ini akan memengaruhi hasil dari pekerjaan? (Ya.) Lalu, apa yang seharusnya dilakukan pemimpin untuk menyelesaikan masalah ini? Dengan menyelidikinya dan menanyakan secara tidak langsung, melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya, serta melalui penanaman musim itu, dia seharusnya menyadari bahwa pengawas itu memiliki kualitas yang sangat buruk dan tidak mampu melakukan apa pun. Bahkan, setelah bertahun-tahun bertani, dia tidak bisa menyimpulkan pengalaman apa pun—pada saat itu, dia bahkan tidak yakin tentang cara menanam tanaman—seharusnya sudah jelas baginya bahwa pengawas tersebut memiliki kualitas yang buruk dan tidak layak untuk tugas itu, dan orang semacam ini seharusnya segera diberhentikan! Dia seharusnya mencari tahu siapa yang cocok untuk menjadi pengawas, siapa yang dapat mengambil pekerjaan ini dan melaksanakannya dengan baik agar pekerjaan rumah Tuhan tidak dirugikan. Apakah pemimpin palsu itu memiliki pola pikir seperti ini? Apakah dia bisa melihat permasalahannya? (Tidak.) Hati dan matanya buta, dia benar-benar buta. Inilah perwujudan dari pemimpin palsu. Ketika menyangkut orang-orang yang kualitasnya buruk, pemimpin palsu tidak tahu bagaimana membimbing mereka dalam pekerjaannya, tidak tahu bagaimana membantu mereka dengan melakukan pemeriksaan atau bagaimana menyelesaikan kesulitannya dengan segera, dan pemimpin palsu juga tidak tahu bahwa seseorang dengan kualitas yang buruk tidak dapat melakukan pekerjaan itu, dan harus segera diganti dengan orang yang tepat. Pemimpin palsu tidak melakukan pekerjaan ini; mereka tidak mampu melakukannya dan tidak dapat melihat semua ini. Bukankah mereka ini orang yang buta? Ada yang berkata, "Mungkin mereka sibuk dengan pekerjaan lain. Mengapa Engkau terus memintanya untuk mengurus pekerjaan-pekerjaan sepele yang tidak penting ini?" Namun, ini adalah pekerjaan yang harus dilakukan oleh pemimpin, bagaimana itu bisa dianggap sepele? Urusan ini termasuk dalam lingkup tanggung jawab pemimpin—apakah boleh jika mereka mengabaikannya? Kalau mengabaikannya, itu berarti mereka melalaikan tanggung jawab. Setiap hari, kesulitan dan masalah dalam pekerjaan muncul tepat di depan mata para pemimpin, dan setiap hari, orang-orang menyampaikan persoalan-persoalan tersebut kepada mereka. Namun, pemimpin palsu ini buta mata dan buta hati. Mereka tidak dapat melihat, merasakan, atau menyadari bahwa semua ini adalah masalah. Tentu saja, mereka juga tidak dapat menyelesaikannya. Pemimpin palsu itu tidak menyadari bahwa kualitas pengawas itu sangat buruk. Dia juga tidak dapat mengenali berbagai masalah yang muncul dalam pekerjaannya. Pengawas ini tidak mampu menangani masalah dan ketika sesuatu terjadi, dia bertindak serampangan seperti semut di atas wajan panas, tidak memiliki prinsip, dan membuat kekacauan dalam pekerjaan. Namun, pemimpin palsu itu tetap tidak dapat melihat atau menyadari semua ini. Ada satu prinsip dalam cara pemimpin palsu melakukan pekerjaannya: Selama mereka telah mengatur seseorang untuk bertanggung jawab atas suatu tugas, mereka menganggapnya sudah selesai, dan entah kualitas pengawas itu baik entah buruk, apakah mereka dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik, atau berapa banyak masalah yang muncul dalam pekerjaan, mereka merasa itu bukan urusannya. Apakah pemimpin semacam ini masih bisa menyelesaikan pekerjaan? Apakah mereka tahu cara bekerja? (Tidak.) Kalau engkau tidak tahu cara bekerja, lalu mengapa engkau menjadi pemimpin? Jika engkau tetap menjadi pemimpin dalam keadaan seperti ini, itu artinya engkau adalah pemimpin palsu. Pemimpin palsu tidak dapat melihat atau menyadari berbagai perwujudan dari orang-orang berkualitas buruk atau berbagai masalah yang muncul ketika melaksanakan tugasnya. Hatinya benar-benar mati rasa. Bukankah pemimpin palsu buta mata dan buta hati? Ada orang-orang yang mungkin berkata, "Mereka tidak buta. Engkau selalu memfitnah dan menjelek-jelekkannya." Permasalahan dengan pengawas pertanian ini sangat parah; pemimpin palsu itu tinggal bersamanya setiap hari, dan dia bisa mendengar dan melihat semua yang terjadi. Lalu mengapa dia tidak dapat menemukan atau menyadari bahwa ini adalah masalah? Mengapa dia tidak menangani atau menyelesaikan persoalan tersebut? Bukankah ini tanda bahwa mata dan hatinya buta? Apakah masalah itu serius? (Ya, serius.) Inilah salah satu perwujudan lain dari pemimpin palsu—buta hati dan buta mata.

Ketika engkau memberikan pekerjaan kepada seseorang yang memiliki kualitas yang buruk, hal itu akan terlihat dari caranya berbicara, sikap, sudut pandangnya dalam membahas pekerjaan, caranya menangani pekerjaan, dari kualitasnya yang sangat buruk, pemikirannya yang kacau, segala sesuatunya ditangani dengan sikap yang agak gegabah dan tanpa pertimbangan, serta tidak memiliki tujuan yang jelas. Hanya dengan melihat caranya bekerja, engkau sudah bisa menentukan bahwa orang ini memiliki kualitas yang sangat buruk, jadi apakah engkau masih perlu mengamatinya dalam waktu yang lama? Tidak perlu. Namun, pemimpin palsu memiliki satu masalah yang fatal, yaitu mereka meyakini bahwa selama seseorang sudah bekerja tanpa meninggalkan tanggung jawabnya dan mereka tidak mendengar laporan tentang orang itu melakukan sesuatu yang buruk, menyebabkan kekacauan atau gangguan, bersikap negatif atau malas, itu berarti orang tersebut masih bisa melakukan pekerjaan. Pemimpin palsu tidak tahu bagaimana menilai kualitas seseorang atau menilai kemampuannya untuk melakukan pekerjaan dengan baik berdasarkan perkataan, sikap dan sudut pandangnya terhadap masalah, atau caranya melakukan sesuatu. Pemimpin palsu tidak memiliki kesadaran akan hal ini; mereka mati rasa dan tidak memiliki kepekaan terhadap persoalan tersebut. Mereka hanya memiliki satu sudut pandang: Selama seseorang tidak bermalas-malasan, semuanya baik-baik saja dan pekerjaan bisa berjalan. Apakah menurut engkau semua seorang pemimpin yang memiliki sudut pandang seperti ini bisa melakukan pekerjaan dengan baik? Apakah mereka mampu melakukan tugasnya? (Tidak.) Jika orang semacam ini dibiarkan menjadi pemimpin, bukankah akan mengacaukan pekerjaan? Ketika ada seseorang yang hanya sibuk makan, minum, dan bersenang-senang, serta mengabaikan tugas-tugasnya, pemimpin palsu tidak berusaha menyelidiki atau tidak berusaha untuk menanganinya. Mereka juga tidak dapat melihat apakah kualitas atau karakter seseorang itu baik atau buruk sekalipun sudah lama berinteraksi dengan orang tersebut. Apakah pemimpin seperti ini memiliki kemampuan kerja seorang pemimpin? (Tidak.) Mereka adalah pemimpin palsu. Mereka tidak dapat mengenali apakah seseorang memiliki kualitas yang baik atau tidak, dan tidak mampu melaksanakan pekerjaan spesifik ini. Pemimpin palsu menganggap itu bukan bagian dari pekerjaannya. Bukankah ini melalaikan tanggung jawab? Menurut engkau semua, apakah pekerjaan bisa dilakukan oleh seseorang dengan kualitas yang buruk atau oleh seseorang yang memiliki sedikit kualitas? (Seseorang yang memiliki sedikit kualitas.) Oleh karena itu, menilai kualitas seseorang serta menilai kemampuannya dalam pekerjaan adalah hal yang harus diperhatikan dan dipahami oleh pemimpin dan pekerja. Ini juga merupakan tugas yang harus dilaksanakan oleh pemimpin dan pekerja. Namun, pemimpin palsu tidak memahami bahwa itu adalah bagian dari pekerjaannya. Mereka tidak memiliki kesadaran akan hal ini dan tidak dapat memenuhi bagian dari tanggung jawabnya tersebut. Di sinilah pemimpin palsu melalaikan tanggung jawabnya sekaligus perwujudan dari ketidakmampuannya dalam menjalankan tugas. Inilah situasi yang kedua: para pengawas memiliki kualitas yang buruk, tidak memiliki kemampuan kerja, dan tidak mampu melakukan pekerjaannya, yang merupakan masalah yang ada kaitannya dengan kualitas mereka. Dalam situasi seperti ini, pemimpin palsu juga gagal menjalankan peran sebagai seorang pemimpin dan tidak mampu segera memberhentikan pengawas yang memiliki kualitas yang buruk.

III. Cara Pemimpin Palsu Menghadapi Pengawas yang Menyiksa Orang Lain dan Mengganggu Pekerjaan Gereja

Situasi yang ketiga berkaitan dengan pengawas yang menyiksa dan mengekang orang lain, mengganggu pekerjaan gereja. Situasi pertama yang telah kita bahas sebelumnya adalah ketika beberapa pengawas, meskipun memiliki kualitas yang relatif baik dan mampu melakukan pekerjaannya, tidak menganggap serius pekerjaan tersebut, dan hanya bersikap asal-asalan, sementara pemimpin palsu tidak menyadari hal ini dan tidak segera memberhentikannya. Situasi kedua melibatkan beberapa pengawas yang memiliki kualitas yang buruk dan tidak mampu melakukan pekerjaan, tetapi pemimpin palsu tidak menyadarinya atau tidak segera mengganti mereka. Situasi ketiga ini adalah tentang pengawas, terlepas dari apakah kualitasnya baik atau buruk, tidak melakukan pekerjaan yang seharusnya, tetapi justru menyiksa serta mengekang orang lain, mengganggu pekerjaan gereja. Sejak dipilih sebagai pengawas, mereka tidak berusaha mempelajari atau mendalami bidangnya, tidak mencari prinsip-prinsip kebenaran, dan juga tidak membimbing orang lain untuk melaksanakan tugasnya dengan baik. Sebaliknya, setiap ada kesempatan, mereka mencari-cari kesalahan orang lain, mengejek, dan merendahkan orang lain; selama ada kesempatan, mereka akan memamerkan diri, dan apa pun yang dilakukan, mereka tidak pernah bersikap membumi. Hari ini mereka menyuruh orang melakukan sesuatu dengan satu cara, tetapi keesokan harinya, mereka menyuruhnya dengan cara lain. Pengawas ini selalu mencari cara baru, selalu ingin menonjol. Semua itu membuat orang lain hidup dalam keresahan. Setiap kali mereka berbicara, ada orang yang jantungnya berdebar. Ketika sudah menundukkan semua orang dan membuat mereka takut dan patuh kepadanya, barulah pengawas ini merasa sangat puas. Baik itu pemimpin palsu maupun antikristus, berkuasa ataupun tidak, orang-orang semacam ini merusak ketenangan gereja. Mereka bukan hanya tidak bisa melakukan pekerjaan nyata atau melaksanakan tugasnya secara normal, melainkan juga menabur perselisihan dan menyebabkan pertikaian antarorang, mengganggu kehidupan bergereja. Mereka bukan hanya tidak dapat membantu orang lain memahami kebenaran, melainkan juga sering menghakimi dan mengutuk orang lain, memaksa orang-orang mematuhinya dalam segala hal, mengekangnya hingga orang-orang tidak tahu bagaimana harus bersikap dengan benar. Terutama dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang bahkan tidak bisa tidur lebih awal atau lebih larut. Apa pun yang dilakukan, mereka harus memperhatikan ekspresi wajah pengawas ini, yang membuat hidup sangat melelahkan. Jika orang seperti ini menjadi pengawas, semua orang akan mengalami kesulitan. Jika engkau berbicara secara jujur kepadanya dan menyingkapkan masalah dalam dirinya, mereka akan mengatakan bahwa engkau sengaja menargetkan dan menyingkapkannya. Jika engkau tidak membicarakan masalahnya, mereka akan mengatakan bahwa engkau meremehkannya. Jika engkau serius dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan dan memberinya sedikit saran, mereka akan bersikap menentang dan mengatakan bahwa engkau menyerangnya, serta menyebutmu sebagai orang yang congkak. Apa pun yang kaulakukan, mereka tidak akan menyukainya. Mereka selalu berpikir tentang menyiksa orang lain, mengekangnya sampai pada titik di mana orang-orang merasa dibatasi dan merasa serba salah dalam segala hal yang dilakukan. Pengawas semacam ini mengganggu pekerjaan gereja.

Para pemimpin palsu ahli dalam pekerjaan dangkal, tetapi mereka tidak pernah melakukan pekerjaan nyata. Mereka tidak pergi dan memeriksa, mengawasi, atau mengarahkan berbagai pekerjaan profesional, atau mencari tahu apa yang sedang terjadi di berbagai tim secara tepat waktu, memeriksa bagaimana kemajuan pekerjaan, apa saja masalah yang ada, apakah para pengawas tim kompeten dalam pekerjaan mereka, dan bagaimana saudara-saudari melaporkan atau menilai para pengawas. Mereka tidak memeriksa untuk melihat apakah ada orang-orang yang dikekang oleh para pemimpin tim atau pengawas, apakah saran-saran tepat yang orang-orang ajukan diterima atau tidak, apakah ada orang-orang berbakat atau mengejar kebenaran yang sedang ditekan atau dikucilkan, apakah ada orang-orang jujur yang sedang ditindas, apakah orang-orang yang menyingkapkan dan melaporkan para pemimpin palsu diserang, dibalas, dikeluarkan, atau diusir, apakah para ketua tim atau pengawas adalah orang-orang jahat, dan apakah ada orang-orang yang sedang disiksa. Jika para pemimpin palsu sama sekali tidak melakukan pekerjaan spesifik ini, mereka harus diberhentikan. Sebagai contoh, katakanlah, seseorang melaporkan kepada seorang pemimpin palsu bahwa ada seorang pengawas yang sering mengekang dan menekan orang-orang. Pengawas tersebut telah melakukan beberapa kesalahan tetapi dia tidak mengizinkan saudara-saudari memberikan saran apa pun, dan dia bahkan mencari-cari alasan untuk membenarkan dan membela dirinya sendiri, tidak pernah mengakui kesalahannya. Bukankah pengawas semacam itu harus segera diberhentikan? Ini adalah masalah yang harus segera diselesaikan oleh pemimpin tersebut secara tepat waktu. Beberapa pemimpin palsu tidak mengizinkan para pengawas yang telah mereka tunjuk untuk disingkapkan, apa pun masalah yang telah muncul dalam pekerjaan mereka, dan mereka tentu saja tidak mengizinkan para pengawas tersebut dilaporkan kepada pemimpin tingkat atas—para pemimpin palsu tersebut bahkan memberi tahu orang-orang untuk belajar tunduk. Jika seseorang menyingkapkan seorang pengawas yang bermasalah, para pemimpin palsu ini berusaha untuk melindungi pengawas itu atau menutupi fakta yang sebenarnya, dengan berkata, "Ini adalah masalah dengan jalan masuk kehidupan pengawas tersebut. Wajar saja jika dia memiliki watak yang congkak—semua orang yang sedikit berkualitas biasanya congkak. Itu bukan masalah besar, aku hanya perlu sedikit bersekutu dengannya." Melalui persekutuan, pengawas tersebut mengungkapkan pendiriannya, dengan berkata, "Kuakui aku congkak. Kuakui ada kalanya aku peduli dengan kesombongan, harga diri, dan statusku sendiri, dan tidak menerima saran orang lain. Namun, orang lain tidak ahli dalam profesi ini, mereka sering kali memberikan saran yang tidak berguna, jadi ada alasan mengapa aku tidak mendengarkan mereka." Pemimpin palsu itu tidak berusaha memahami situasinya secara menyeluruh, dia tidak melihat hasil pekerjaan pengawas tersebut, apalagi seperti apa kemanusiaan, watak, dan pengejarannya. Yang dia lakukan hanyalah mengecilkan masalahnya, dengan berkata, "Ini dilaporkan kepadaku, jadi aku akan mengawasimu. Aku memberimu kesempatan sekali lagi." Setelah pembicaraan mereka, pengawas tersebut berkata bahwa dia bersedia untuk bertobat, tetapi mengenai apakah dia benar-benar bertobat setelahnya, atau hanya berbohong dan menipu, pemimpin palsu itu tidak mengindahkannya. Jika ada orang yang mengajukan pertanyaan tentang hal tersebut, pemimpin palsu itu berkata, "Aku sudah berbicara dengannya dan bahkan mempersekutukan banyak bagian firman Tuhan kepadanya. Orang ini bersedia untuk bertobat, dan masalahnya sudah terselesaikan." Ketika orang itu bertanya, "Bagaimana kemanusiaan pengawas itu? Apakah pengawas itu orang yang menerima kebenaran? Engkau telah memberinya kesempatan, tetapi apakah orang ini akan mampu sungguh-sungguh bertobat dan berubah?" Pemimpin palsu itu tidak mampu memahami persoalan tersebut, kemudian menjawab, "Aku masih mengamatinya." Orang itu pun bertanya lagi, "Sudah berapa lama engkau mengamatinya? Apa engkau sudah bisa menarik kesimpulan?" Pemimpin palsu itu berkata, "Sudah lebih dari enam bulan, dan aku masih belum bisa menyimpulkannya." Jika setelah lebih dari enam bulan pengamatan masih belum mendapatkan hasil, seberapa efisien pekerjaan mereka? Pemimpin palsu itu meyakini bahwa berbicara satu kali saja dengan pengawas tersebut, sudah cukup dan masalah terselesaikan. Apakah pemikiran ini benar? Mereka mengira setelah berbicara dengan seseorang, orang itu akan mampu berubah, dan jika seseorang menyatakan tekadnya untuk tidak mengulangi kesalahannya, mereka langsung sepenuhnya memercayainya tanpa menanyakan lebih lanjut atau menyelidiki kembali situasinya. Jika tidak ada yang mengejar persoalan ini, mereka pun mungkin tidak akan repot-repot menyelidiki atau menindaklanjuti pekerjaan tersebut selama setengah tahun. Pemimpin palsu itu tetap tidak menyadari bahkan ketika pengawas mengacaukan pekerjaan. Mereka tidak dapat mengenali bagaimana pun pengawas itu menipu dan mempermainkannya. Yang lebih menjengkelkan lagi adalah ketika seseorang melaporkan masalah pengawas tersebut, pemimpin palsu mengabaikannya dan tidak benar-benar menyelidiki apakah persoalan itu memang ada, atau apakah laporan itu benar. Mereka sama sekali tidak mempertimbangkan hal ini—mereka terlalu percaya diri! Apa pun situasi yang muncul dalam pekerjaan gereja, pemimpin palsu tersebut tidak segera mengatasinya; mereka merasa bahwa itu bukan urusannya. Respons pemimpin palsu tersebut terhadap permasalahan ini begitu lamban, mereka mengambil tindakan dan bergerak sangat lambat, selalu berkelit, dan terus memberi orang-orang kesempatan untuk bertobat, seolah-olah kesempatan yang mereka berikan itu sangat berharga dan penting, serta bisa mengubah nasib seseorang. Pemimpin palsu tidak tahu bagaimana melihat esensi natur seseorang melalui apa yang terwujud dalam dirinya, tidak bisa menilai jalan yang ditempuh seseorang berdasarkan esensi naturnya, tidak bisa melihat apakah seseorang layak menjadi pengawas atau melakukan pekerjaan kepemimpinan berdasarkan jalan yang ditempuh. Mereka tidak dapat melihat berbagai hal dengan cara seperti ini. Pemimpin palsu hanya mampu melakukan dua hal dalam pekerjaannya: pertama, mengajak orang untuk berbincang dan sekadar menjalankan formalitas; kedua, memberi orang lain kesempatan, menyenangkannya, dan tidak menyinggung siapa pun. Apakah mereka sedang melakukan pekerjaan nyata? Jelas tidak. Namun, pemimpin palsu meyakini bahwa mengajak seseorang untuk berbincang adalah pekerjaan nyata. Mereka menganggap percakapan semacam itu sangat berharga dan penting, serta menganggap kata-kata tak bermakna dan doktrin yang dilontarkannya sebagai sesuatu yang luar biasa. Mereka menganggap bahwa dirinya telah menyelesaikan masalah besar melalui percakapan tersebut dan telah melakukan pekerjaan nyata. Mereka tidak tahu mengapa Tuhan menghakimi dan menghajar, memangkas, atau menguji dan memurnikan manusia. Mereka tidak tahu bahwa hanya firman Tuhan dan kebenaran yang dapat menyelesaikan watak rusak manusia. Mereka terlalu menganggap sederhana pekerjaan Tuhan dan penyelamatan-Nya terhadap umat manusia! Pemimpin palsu meyakini bahwa dengan mengucapkan beberapa kata dan doktrin, itu bisa menggantikan pekerjaan Tuhan dan menyelesaikan masalah kerusakan manusia. Bukankah ini merupakan kebodohan dan ketidaktahuan pemimpin palsu? Mereka sama sekali tidak memiliki kenyataan kebenaran, lalu mengapa pemimpin palsu begitu percaya diri? Apakah dengan melontarkan beberapa doktrin seseorang bisa mengenal dirinya sendiri? Apakah itu bisa membuat seseorang membuang watak rusaknya? Bagaimana pemimpin palsu ini bisa sedemikian bodoh dan naifnya? Apakah menyelesaikan penerapan yang keliru dan perilaku rusak seseorang benar-benar sesederhana itu? Apakah masalah watak manusia yang rusak begitu mudah diselesaikan? Pemimpin palsu ini sangat bodoh dan dangkal! Tuhan tidak hanya menggunakan satu cara untuk menyelesaikan masalah kerusakan manusia. Dia menggunakan banyak cara dan mengatur berbagai lingkungan untuk menyingkapkan, mentahirkan, dan menyempurnakan manusia. Sebaliknya, para pemimpin palsu melakukan pekerjaan dengan cara yang sangat monoton dan dangkal: mereka mengajak orang-orang untuk mengobrol, melakukan sedikit pekerjaan untuk membimbing orang tentang cara mereka berpikir, sedikit menasihati orang-orang, dan percaya bahwa ini adalah melakukan pekerjaan nyata. Ini dangkal, bukan? Dan masalah apa yang tersembunyi di balik kedangkalan ini? Bukankah kenaifan? Para pemimpin palsu sangat naif, dan mereka juga memandang orang-orang dan segala sesuatu dengan cara yang sangat naif. Tidak ada yang lebih sulit diselesaikan selain watak manusia yang rusak—macan tutul tidak dapat mengubah bintik-bintiknya. Pemimpin palsu sama sekali tidak dapat mengetahui yang sebenarnya tentang masalah ini. Oleh karena itu, mengenai para pengawas di gereja yang selalu menyebabkan gangguan, yang selalu mengekang dan menyiksa orang-orang, para pemimpin palsu tidak melakukan apa pun selain berbicara kepada mereka, dan memangkas mereka dengan beberapa patah kata, dan itu saja. Mereka tidak segera memindahtugaskan dan memberhentikan mereka. Tindakan para pemimpin palsu ini menyebabkan kerugian yang luar biasa pada pekerjaan gereja, dan sering kali menyebabkan pekerjaan gereja terhambat, tertunda, dirusak, dan dihalangi sehingga tidak berkembang secara normal, lancar, dan efisien karena gangguan dari orang-orang yang jahat—dan semua ini adalah konsekuensi serius yang disebabkan oleh pemimpin palsu yang bertindak berdasarkan perasaan mereka, melanggar prinsip-prinsip kebenaran, dan menggunakan orang-orang yang salah. Di luarnya, para pemimpin palsu terlihat tidak dengan sengaja melakukan berbagai kejahatan, atau melakukan hal-hal dengan cara mereka sendiri dan mendirikan kerajaan mereka sendiri, seperti yang dilakukan para antikristus. Namun, para pemimpin palsu tidak mampu dengan segera menyelesaikan berbagai masalah yang muncul dalam pekerjaan gereja, dan ketika masalah terjadi dengan para pengawas dari berbagai tim, dan ketika para pengawas tersebut tidak mampu melakukan pekerjaan mereka, para pemimpin palsu tidak mampu dengan segera mengubah tugas mereka atau memberhentikan mereka, sehingga pekerjaan gereja menjadi sangat dirugikan. Semua ini disebabkan oleh kelalaian para pemimpin palsu dari tanggung jawab. Bukankah para pemimpin palsu sangat menjijikkan? (Ya.)

IV. Cara Pemimpin Palsu Menghadapi Pengawas yang Melanggar Pengaturan Kerja dan Bertindak dengan Caranya Sendiri

Pemimpin palsu tidak mampu dengan segera menangani perbuatan jahat yang terjadi di gereja, seperti pengawas yang menganiaya orang lain, mengekangnya, dan mengganggu pekerjaan gereja. Demikian pula, ketika beberapa pengawas melanggar pengaturan kerja rumah Tuhan dan bertindak dengan caranya sendiri, pemimpin palsu tidak dapat memberikan solusi yang tepat untuk segera menyelesaikan permasalahan ini. Akibatnya, pekerjaan gereja mengalami kerugian, begitu pula sumber daya materi dan keuangan rumah Tuhan. Pemimpin palsu itu polos dan dangkal, tidak mampu memahami prinsip kebenaran, dan khususnya, tidak mampu memahami esensi natur manusia. Karena itu, mereka sering melakukan pekerjaan secara dangkal, sekadar menjalani formalitas, mematuhi aturan, dan mengucapkan slogan-slogan tanpa benar-benar memeriksa pekerjaan, mengamati dan menanyakan setiap pengawas, atau menanyakan secara tepat waktu tentang apa yang telah dilakukan oleh para pengawas ini, seperti apa prinsip yang mendasari tindakannya, dan dampak yang ditimbulkan. Akibatnya, mereka sama sekali tidak tahu siapa sebenarnya orang-orang yang sedang mereka pakai dan apa yang telah dilakukan. Karena itu, ketika pengawas ini secara diam-diam melanggar pengaturan kerja rumah Tuhan dan bertindak dengan caranya sendiri, pemimpin palsu bukan hanya tidak mengetahuinya, melainkan justru berusaha membela pengawas tersebut. Sekalipun mereka mendengar tentang hal itu, mereka tidak menyelidikinya dan menanganinya dengan segera. Di satu sisi, pemimpin palsu ini tidak kompeten dalam pekerjaannya, dan di sisi lain, mereka lalai dalam tugasnya. Mari kita berikan sebuah contoh. Seorang pemimpin memilih seseorang yang telah disingkirkan dari tim lain untuk menjadi petugas penanaman. Dia tidak memeriksa apakah orang ini memiliki pengalaman dan keahlian yang relevan, mampu melakukan pekerjaan dengan baik, atau apakah orang ini memiliki sikap yang serius dan bertanggung jawab. Setelah menempatkan orang ini dalam peran tersebut, pemimpin itu membiarkannya bekerja tanpa pemeriksaan sama sekali, hanya berkata, "Silakan mulai menanam sayuran. Kau bisa memilih benihnya, dan aku akan menyetujui berapa pun biaya yang kaukeluarkan. Lakukan saja pekerjaan ini sesuai keinginanmu!" Setelah mendengar perkataan pemimpin ini, pengawas itu pun mulai bekerja sesuai sesuai keinginannya. Tugas pertamanya adalah memilih benih. Ketika mencari informasi di internet, dia mendapati ada begitu banyak jenis sayuran, dan berkata, "Dunia ini benar-benar penuh dengan hal-hal yang luar biasa! Memilih benih ternyata sangat menyenangkan. Aku belum pernah melakukan pekerjaan ini sebelumnya, dan tak kusangka aku begitu tertarik. Karena aku sangat tertarik, aku akan melakukannya semaksimal mungkin!" Dia pertama-tama membaca bagian tentang benih tomat dan langsung merasa takjub. Ada berbagai varietas dengan ukuran yang beragam, dan dari segi warna, ada yang merah, kuning, juga hijau. Bahkan, satu jenis ada yang berwarna-warni—sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya, yang benar-benar memperluas wawasannya! Namun, bagaimana dia harus memilih benih yang tepat? Dia memutuskan untuk menanam beberapa dari setiap varietas, terutama jenis yang berwarna-warni dan tampak sangat unik. Pengawas itu pun memilih lebih dari 10 varietas tomat dalam berbagai ukuran, warna, dan bentuk. Setelah memilih benih tomat, kini saatnya melakukan hal yang sama untuk terong. Biasanya, jenis terong yang dikonsumsi orang adalah terong ungu panjang atau terong putih, tetapi dia berpikir, "Terong tidak seharusnya terbatas pada dua jenis ini saja. Ada juga terong hijau, bermotif, panjang, bulat, dan lonjong. Aku akan memilih masing-masing sedikit agar semua orang dapat memperluas wawasannya dan menikmati berbagai jenis terong. Sebagai pengawas, lihatlah betapa mahir dan beraninya aku dalam memilih benih, betapa perhatiannya aku terhadap saudara-saudari, memuaskan selera semua orang." Kemudian, dia memilih benih bawang. Seluruhnya ada 14 varietas bawang di daerah itu, dan dia memilih semuanya. Setelah selesai, dia merasa sangat puas. Bukankah pengawas ini "nekat"? Siapa yang berani memilih begitu banyak varietas? Kemudian, Aku terus menelaah masalah ini, dan ada yang berkata, "Di daerah ini tidak hanya ada 14 varietas bawang; masih ada beberapa lagi yang tidak dipilihnya!" Maksud orang ini adalah memilih 14 varietas itu tidaklah banyak, dan masih ada varietas lain yang tidak dipilih oleh pengawas tersebut, jadi dia tidak melakukan kesalahan. Bukankah orang yang mengatakan ini bodoh? Itu artinya bersikap bodoh, tidak mengerti apa yang orang katakan, dan tidak memahami mengapa Aku menelaah masalah ini. Setelah memilih benih bawang, pengawas itu juga memilih setidaknya delapan varietas kentang. Apa tujuannya memilih begitu banyak varietas? Untuk memperluas wawasan semua orang dan memungkinkan mereka mencicipi berbagai rasa yang berbeda. Pengawas itu meyakini bahwa pemilihan benih harus didasarkan pada prinsip yang membawa manfaat bagi saudara-saudari. Apa pendapatmu tentang motivasinya? Apakah bertindak berdasarkan sikap memikirkan semua orang dan melayani semua orang adalah prinsip yang dituntut oleh rumah Tuhan? (Tidak.) Lalu, apa prinsip rumah Tuhan dalam pemilihan benih? Jangan menanam varietas yang aneh dan langka yang tidak biasa kita makan. Adapun varietas yang umum dikonsumsi, jika kita belum pernah menanamnya dan tidak tahu apakah cocok dengan tanah dan iklim setempat, pilihlah satu atau dua varietas, paling banyak tiga atau empat. Pertama, varietas yang dipilih harus cocok dengan tanah dan iklim setempat; kedua, harus mudah tumbuh dan tidak rentan terhadap penyakit dan hama; ketiga, harus menghasilkan benih untuk tahun berikutnya. Terakhir, harus memberikan hasil panen yang baik. Jika rasanya enak tetapi hasil panennya buruk, itu berarti varietasnya tidak cocok. Dilihat dari masalah pemilihan benih, apakah pengawas ini bertindak sesuai dengan prinsip? Apakah dia mencari? Apakah dia tunduk? Apakah dia memikirkan rumah Tuhan? Apakah dia bertindak dengan sikap yang seharusnya dimiliki dalam melaksanakan tugas? (Tidak.) Jelas sekali dia berbuat sembarangan, secara terang-terangan melanggar pengaturan kerja rumah Tuhan dan bertindak dengan caranya sendiri! Dia menghamburkan-hamburkan persembahan milik Tuhan hanya demi memuaskan rasa ingin tahu dan kesenangan pribadinya, serta menganggap tugas yang sangat penting ini sebagai permainan. Namun, pemimpin palsu itu tetap membiarkannya bertindak sesuka hati tanpa mempertanyakan atau campur tangan. Ketika pemimpin palsu itu ditanya, "Apakah pengawas yang kaupilih benar-benar melakukan pekerjaannya? Bagaimana hasilnya? Apakah engkau membantunya dengan melakukan pemeriksaan dalam pemilihan benih?" Pemimpin palsu itu tidak peduli dengan hal tersebut, dan hanya berkata, "Benihnya telah ditanam, kami mengunjungi lokasinya selama penanaman." Dia tidak peduli dengan urusan lainnya. Bagaimana masalah pengawas ini akhirnya tersingkap? Dia menanam beberapa stroberi, dan berdasarkan spesifikasi teknis yang relevan, tanaman stroberi tidak boleh ditutup atau dibiarkan berbuah pada tahun pertama, dan semua bunganya harus dipetik; jika tidak, tanaman tidak akan menghasilkan buah pada tahun kedua, dan sekalipun ada buah pada tahun pertama, buahnya akan sangat kecil. Meskipun para ahli telah memberi tahu pengawas ini, dia tidak mau mendengarkan. Alasannya didasarkan pada informasi di internet yang menyatakan bahwa tanaman stroberi boleh ditutup dengan plastik pada tahun pertama dan membiarkannya berbuah. Akibatnya, stroberi yang dihasilkan berbentuk aneh dan kecil, dipenuhi dengan biji—ada yang asam, ada yang manis, dan ada yang hambar—berbagai macam hasilnya. Masalahnya sudah seserius ini, tetapi pemimpin palsu di sana tidak memedulikannya sama sekali. Mengapa? Karena merasa dirinya toh tidak akan memakan stroberi itu, jadi pemimpin palsu itu memilih untuk tidak peduli. Apakah tidak memakannya berarti mereka tidak perlu peduli? Bagaimana dengan kentang dan bawang yang mereka konsumsi—apakah mereka peduli dengan semua itu? Tidak ada satu pun dari pemimpin palsu ini yang peduli; mereka hanya diam melihat pengawas tersebut bertindak sesuka hatinya. Suatu hari, Aku mengunjungi pengawas ini, dan seseorang melaporkan bahwa seladanya sudah tua, dan jika tidak segera dipanen, tidak akan bisa dikonsumsi dan akan terbuang sia-sia. Namun, pengawas itu bersikeras membiarkannya, dengan alasan bahwa jika mereka memanennya, mereka harus menanam sayuran lain, yang menurutnya itu merepotkan. Meskipun mengetahui hal ini, pemimpin palsu itu tidak berbuat apa-apa. Akhirnya, Yang di Atas memerintahkannya untuk segera memanen selada itu dan menangani situasi tersebut; jika tidak, selada akan terus memenuhi lahan dan menghalangi penanaman sayuran musim panas. Meskipun masalah yang sebesar ini muncul dalam pekerjaan, tidak satu pun dari pemimpin palsu itu bertindak, mereka terlalu takut menyinggung orang lain. Pengawas itu dipromosikan oleh seorang pemimpin palsu yang tidak pernah memeriksa pekerjaannya setelah mempromosikannya, memberinya kebebasan, dukungan, serta membelanya. Pemimpin lainnya tidak berani ikut campur, dan justru bersekongkol dengannya, yang pada akhirnya menyebabkan begitu banyak masalah muncul. Inilah pekerjaan yang dilakukan para pemimpin itu. Apakah mereka masih bisa disebut pemimpin? Meskipun persoalan yang demikian serius terjadi tepat di depan matanya, mereka tidak mengenalinya sebagai masalah, apalagi menyelesaikannya. Bukankah mereka ini pemimpin palsu? (Ya, benar.) Di satu sisi, mereka adalah penyenang orang dan takut menyinggung orang lain. Di sisi lain, mereka tidak tahu betapa seriusnya masalah tersebut, mereka tidak memiliki penilaian yang akurat, tidak menyadari bahwa itu adalah sebuah masalah, dan tidak menyadari bahwa pekerjaan ini termasuk dalam lingkup tanggung jawabnya. Bukankah mereka ini orang yang tidak berguna dan boros? Bukankah ini merupakan kelalaian dalam menjalankan tanggung jawab? (Ya.) Inilah situasi yang keempat: pengawas melanggar pengaturan kerja rumah Tuhan dan bertindak dengan caranya sendiri. Kita telah memberikan sebuah contoh, yang menyingkapkan perwujudan pemimpin palsu yang melalaikan tanggung jawabnya dalam persoalan ini dan juga menyingkapkan esensi natur pemimpin palsu.

V. Cara Pemimpin Palsu Menghadapi Pengawas yang Seorang Antikristus dan Mendirikan Kerajaan Sendiri

Situasi lainnya adalah ketika para pengawas memberontak terhadap atasan mereka dan mendirikan kerajaan sendiri—para pengawas ini adalah antikristus. Pemimpin palsu tidak mampu menjalankan fungsi pengawasan jika menyangkut persoalan seperti pengawas yang berkualitas buruk, memiliki kemanusiaan yang buruk, atau bertindak sembarangan. Mereka juga tidak segera memeriksa dan menanyakan pekerjaan yang sedang dilakukan oleh para pengawas semacam ini dan permasalahannya agar dapat menentukan apakah mereka layak. Demikian pula, pemimpin palsu jauh lebih tidak mampu memahami esensi natur antikristus, yang merupakan orang-orang yang jahat dan kejam. Mereka bukan hanya tidak mampu memahami hal ini, melainkan pada saat yang sama, mereka juga agak takut kepada orang-orang ini, dan sedikit tidak berdaya, sampai-sampai mereka sering kali justru dikendalikan oleh antikristus. Seberapa seriuskah situasi ini? Antikristus membentuk kelompok-kelompok dalam area kerja pemimpin palsu, mengerahkan kekuatannya sendiri, mendirikan kerajaan sendiri, dan akhirnya, mereka bisa mengambil alih, mulai menjadi penentu keputusan, dan menjadikan pemimpin palsu sebagai boneka. Entah bagaimana, pemimpin palsu ini tetap tidak menyadari hal-hal yang diputuskan dan diketahui oleh antikristus, dan sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi. Pemimpin palsu ini baru menyadari setelah sesuatu terjadi, dan seseorang melaporkannya kepadanya, tetapi saat itu, semuanya sudah terlambat. Pemimpin palsu bahkan menanyakannya kepada antikristus mengapa mereka tidak diberi tahu, dan antikristus menjawab, "Apa gunanya memberitahumu? Engkau tidak bisa mengambil keputusan tentang apa pun, jadi tidak perlu membahasnya denganmu, kami sendiri yang memutuskannya. Bahkan, kalaupun kami memberitahumu, kau pasti akan setuju. Apa yang bisa kaukatakan mengenai hal ini?" Pemimpin palsu tidak berdaya dalam hal seperti itu. Jika engkau tidak mampu mengenali, menyelesaikan, atau menangani antikristus ini, engkau harus melaporkannya kepada Yang di Atas, tetapi engkau bahkan tidak berani melakukannya—bukankah engkau orang yang tidak berguna? (Ya.) Ketika dihadapkan dengan persoalan seperti ini, orang-orang besar yang tidak berguna ini hanya datang kepada-Ku untuk mengeluh sambil menangis, menggerutu, "Ini bukan salahku, bukan aku yang mengambil keputusan itu. Entah keputusan yang mereka ambil benar entah tidak, tak ada hubungannya denganku karena mereka tidak memberitahuku atau menginformasikannya kepadaku ketika melakukannya." Apa maksud perkataan mereka ini? (Mereka sedang menghindari tanggung jawab.) Sebagai seorang pemimpin, engkau seharusnya tahu dan memahami semua ini; jika antikristus tidak memberitahumu tentang sesuatu, mengapa engkau tidak berinisiatif menanyakannya sendiri? Sebagai seorang pemimpin, engkau seharusnya mengatur, memimpin, dan mengambil keputusan tentang setiap persoalan; jika mereka tidak memberitahumu tentang apa pun dan mengambil keputusan sendiri, mengirimkan tagihan kepadamu setelahnya untuk ditandatangani, bukankah mereka sedang merampas wewenangmu? Begitu pemimpin palsu menghadapi antikristus yang mengganggu pekerjaan gereja, mereka menjadi bingung, tidak berdaya seperti orang bodoh yang berhadapan dengan serigala, hanya berdiri tanpa daya sementara dirinya dijadikan boneka dan wewenangnya dirampas. Mereka sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa—betapa tidak bergunanya orang-orang ini! Mereka tidak dapat menyelesaikan masalah, tidak dapat mengenali atau menyingkapkan antikristus, dan tentu saja, tidak dapat membatasinya agar tidak melakukan perbuatan jahat. Pada saat yang sama, mereka tidak melaporkan masalah ini kepada Yang di Atas. Bukankah mereka ini orang-orang yang tidak berguna? Apa gunanya memilihmu sebagai pemimpin? Antikristus bertindak sembarangan, secara terang-terangan menghambur-hamburkan persembahan, dan mereka membentuk kekuatan yang mereka pimpin dan mendirikan kerajaan sendiri di dalam gereja; sementara itu, engkau sama sekali tidak mengawasi, menyingkapkan, mengekang, atau menanganinya, tetapi engkau justru datang kepada-Ku untuk mengeluh. Pemimpin macam apa engkau ini? Engkau benar-benar tidak berguna! Apa pun yang sedang mereka lakukan, gerombolan yang dipimpin oleh antikristus ini secara diam-diam mengadakan diskusi sendiri dan kemudian mengambil keputusan tanpa wewenang. Mereka bahkan tidak memberi para pemimpin hak untuk mengetahui apa yang sedang terjadi, apalagi hak untuk mengambil keputusan. Mereka secara langsung meniadakan para pemimpin, memegang semua kekuasaannya sendiri dan menjadi penentu keputusan. Lalu, apa yang dilakukan para pemimpin yang ditugaskan untuk mengatur mereka dalam situasi ini? Mereka sama sekali tidak memeriksa, mengawasi, mengatur, atau mengambil keputusan mengenai pekerjaan ini. Pada akhirnya, mereka membiarkan antikristus mengambil alih dan mengatur mereka dari atas. Bukankah masalah ini muncul dari pekerjaan pemimpin palsu? Apa esensi dari masalah ini? Apa sumber penyebabnya? Penyebabnya adalah pemimpin palsu memiliki kualitas yang buruk, tidak memiliki kemampuan kerja, dan antikristus sama sekali tidak memedulikannya. Antikristus berpikir, "Apa yang dapat kaulakukan sebagai pemimpin? Aku tetap tidak akan mendengarkanmu, dan aku akan terus melangkahimu untuk bertindak. Jika kau melaporkan hal ini kepada Yang di Atas, aku akan menganiayamu!" Pemimpin palsu tidak berani melaporkan hal-hal semacam ini. Mereka bukan hanya tidak memiliki kemampuan kerja, melainkan juga tidak memiliki keberanian untuk menegakkan prinsip, takut menyinggung orang lain, dan sama sekali tidak memiliki kesetiaan—bukankah ini masalah yang serius? Jika mereka benar-benar memiliki sedikit kualitas dan memahami kebenaran, ketika melihat orang-orang ini jahat, mereka pasti berkata, "Aku tidak berani menyingkapkan mereka sendirian, jadi aku akan bersekutu dengan beberapa saudara-saudari yang lebih mengejar dan memahami kebenaran untuk menyelesaikan masalah ini. Jika setelah bersekutu dengan mereka, kami tetap tidak mampu menangani antikristus tersebut, aku akan melaporkan masalah tersebut kepada Yang di Atas dan membiarkan Yang di Atas menyelesaikannya. Aku mungkin tidak bisa melakukan hal lain, tetapi aku harus terlebih dahulu menjaga kepentingan rumah Tuhan; persoalan yang telah kulihat jelas dan masalah yang telah kutemukan sama sekali tidak boleh dibiarkan terus berkembang." Bukankah ini sebuah cara untuk menyelesaikan permasalahan? Bukankah ini juga bisa dianggap sebagai pemenuhan tanggung jawab seseorang? Jika engkau dapat melakukan hal ini, Yang di Atas tidak akan mengatakan engkau memiliki kualitas yang buruk dan tidak memiliki kemampuan kerja. Namun, jika engkau bahkan tidak dapat melaporkan masalah kepada Yang di Atas, engkau digolongkan sebagai orang yang tidak berguna dan pemimpin palsu. Engkau bukan hanya memiliki kualitas yang buruk dan tidak memiliki kemampuan kerja, melainkan juga tidak memiliki iman dan keberanian untuk mengandalkan Tuhan untuk menyingkapkan dan melawan antikristus. Bukankah engkau orang yang tidak berguna? Apakah mereka yang wewenangnya telah dirampas oleh antikristus itu patut dikasihani? Sepintas, mereka mungkin tampak menyedihkan; mereka tidak melakukan sesuatu yang buruk, dan dalam pekerjaannya, mereka sangat berhati-hati, sangat takut melakukan kesalahan, takut dipangkas, dan takut diremehkan oleh saudara-saudari. Namun, wewenangnya akhirnya sepenuhnya dirampas oleh antikristus tepat di depan matanya, apa pun yang mereka katakan, tidak ada pengaruhnya, dan keberadaannya menjadi tidak berarti. Mereka mungkin sepintas tampak menyedihkan, tetapi sebenarnya mereka sangat menjijikkan. Katakan kepada-Ku, apakah rumah Tuhan dapat menyelesaikan masalah yang tidak dapat diselesaikan manusia? Haruskah orang-orang melaporkan semua persoalan kepada Yang di Atas? (Ya, harus.) Di rumah Tuhan, tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan, dan firman Tuhan dapat menyelesaikan segala persoalan. Apakah engkau memiliki iman yang sejati kepada Tuhan? Kalau sedikit iman seperti ini saja tidak kaumiliki, bagaimana engkau bisa memenuhi syarat untuk menjadi seorang pemimpin? Bukankah engkau hanyalah orang yang tidak berguna? Ini bukan hanya tentang menjadi pemimpin palsu; engkau bahkan tidak memiliki iman yang paling mendasar kepada Tuhan. Engkau adalah pengikut yang bukan orang percaya dan tidak layak menjadi pemimpin!

Terkait tanggung jawab pemimpin dan pekerja yang keempat, kita telah menyebutkan lima situasi untuk menyingkapkan cara pemimpin palsu menangani berbagai pekerjaan dan pengawas. Berdasarkan kelima situasi ini, kita telah menelaah berbagai perwujudan dari pemimpin palsu yang kualitasnya sangat buruk, tidak k0mpeten, dan tidak mampu melakukan pekerjaan nyata. Melalui persekutuan seperti ini, apakah engkau kini sudah lebih memahami bagaimana mengenali pemimpin palsu? (Ya.) Baiklah, kita akhiri persekutuan kita hari ini sampai di sini. Sampai jumpa!

23 Januari 2021

Sebelumnya: Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (2)

Selanjutnya: Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (4)

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Pengaturan

  • Teks
  • Tema

Warna Solid

Tema

Jenis Huruf

Ukuran Huruf

Spasi Baris

Spasi Baris

Lebar laman

Isi

Cari

  • Cari Teks Ini
  • Cari Buku Ini