Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (17)

Bab Dua Belas: Dengan Segera dan Akurat Mengidentifikasi Berbagai Orang, Peristiwa, dan Hal-hal yang Mengacaukan dan Mengganggu Pekerjaan Tuhan serta Tatanan Normal Gereja; Menghentikan dan Membatasi Hal-hal Tersebut, serta Membalikkan Keadaan; Selain Itu, Mempersekutukan Kebenaran Agar Umat Pilihan Tuhan Memiliki Kemampuan untuk Mengidentifikasi Melalui Hal-hal Semacam itu dan Belajar Darinya (Bagian Lima)

Berbagai Orang, Peristiwa, dan Hal-hal yang Mengacaukan dan Mengganggu Kehidupan Bergereja

IX. Melampiaskan Kenegatifan

Hari ini, kita lanjutkan persekutuan kita tentang tanggung jawab kedua belas dari para pemimpin dan pekerja: "Dengan segera dan akurat mengidentifikasi berbagai orang, peristiwa, dan hal-hal yang mengacaukan dan mengganggu pekerjaan Tuhan serta tatanan normal gereja; menghentikan dan membatasi hal-hal tersebut, serta membalikkan keadaan; selain itu, mempersekutukan kebenaran agar umat pilihan Tuhan memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi melalui hal-hal semacam itu dan belajar darinya." Mengenai berbagai kekacauan dan gangguan yang muncul dalam kehidupan bergereja, terakhir kali kita mempersekutukan masalah kedelapan—menyebarkan gagasan—dan hari ini kita akan mempersekutukan masalah kesembilan—melampiaskan kenegatifan. Melampiaskan kenegatifan juga merupakan sesuatu yang sering terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Sama halnya, tindakan atau pernyataan yang melampiaskan kenegatifan juga harus dibatasi dan dihentikan ketika itu muncul dalam kehidupan bergereja, karena melampiaskan kenegatifan tidak mendidik kerohanian siapa pun; sebaliknya, itu memengaruhi, mengganggu, dan menyebabkan orang mengalami kerugian. Oleh karena itu, melampiaskan kenegatifan adalah hal yang negatif, yang sama naturnya dengan perilaku, tindakan, dan pernyataan lain yang mengganggu kehidupan bergereja; ini juga dapat mengganggu orang-orang dan memiliki dampak yang merugikan. Tak seorang pun dapat mendidik kerohanian orang lain atau bermanfaat bagi mereka dengan melampiaskan kenegatifan; itu hanya membawa efek yang merugikan dan juga dapat memengaruhi pelaksanaan tugas mereka secara normal. Dengan demikian, ketika tindakan melampiaskan kenegatifan terjadi di gereja, itu juga harus dihentikan dan dibatasi, tidak boleh dibiarkan atau didorong.

A. Apa yang Dimaksud dengan Melampiaskan Kenegatifan

Pertama-tama, mari kita melihat bagaimana melampiaskan kenegatifan harus dipahami dan dikenali. Bagaimana cara kita mengidentifikasi tindakan melampiaskan kenegatifan? Perkataan dan perwujudan orang seperti apakah yang merupakan tindakan melampiaskan kenegatifan? Pertama, kenegatifan yang orang lampiaskan bukanlah hal yang positif, itu adalah hal buruk yang bertentangan dengan kebenaran, dan itu adalah sesuatu yang dihasilkan dari watak mereka yang rusak. Memiliki watak yang rusak menyebabkan orang sulit menerapkan kebenaran dan tunduk kepada Tuhan—dan karena kesulitan-kesulitan inilah, pemikiran negatif dan hal-hal negatif lainnya tersingkap dalam diri orang-orang. Hal-hal negatif ini dihasilkan justru pada saat mereka mereka berusaha menerapkan kebenaran; semua ini adalah pemikiran dan sudut pandang yang memengaruhi dan menghalangi orang-orang ketika mereka berusaha menerapkan kebenaran, dan sepenuhnya merupakan hal-hal yang negatif. Betapa pun sesuainya pemikiran negatif dan sudut pandang itu dengan gagasan manusia dan betapa pun terdengar masuk akalnya semua itu, itu bukan berasal dari pemahaman akan firman Tuhan, apalagi berasal dari pemahaman akan firman Tuhan dengan mengalaminya. Sebaliknya, semua itu dihasilkan oleh pikiran manusia, dan sama sekali tidak sesuai dengan kebenaran. Oleh karenanya, semua itu adalah hal-hal yang negatif, hal-hal yang buruk. Niat orang-orang yang melampiaskan kenegatifan adalah untuk menemukan banyak alasan objektif bagi kegagalan mereka menerapkan kebenaran, agar mendapatkan simpati dan pengertian orang lain. Hingga taraf berbeda, pernyataan negatif ini memengaruhi dan melemahkan inisiatif orang untuk menerapkan kebenaran, dan bahkan dapat menghentikan banyak orang sehingga tidak lagi menerapkan kebenaran. Konsekuensi dan dampak buruk ini membuat hal-hal negatif ini menjadi makin layak untuk digolongkan sebagai hal yang buruk, hal yang melawan Tuhan, dan sepenuhnya memusuhi kebenaran. Ada orang-orang yang tak mampu mengetahui yang sebenarnya mengenai esensi kenegatifan, dan mengira bahwa sering bersikap negatif adalah hal yang normal, dan bahwa itu tidak berpengaruh besar terhadap pengejaran orang akan kebenaran. Cara berpikir ini keliru; sebenarnya, dampak hal ini sangat besar, dan jika kenegatifan seseorang menjadi terlalu berat untuk ditanggungnya sendiri, ini dapat dengan mudah berubah menjadi pengkhianatan. Akibat yang mengerikan ini tak lain disebabkan oleh kenegatifan. Jadi, bagaimana seharusnya tindakan melampiaskan kenegatifan dikenali dan dipahami? Sederhananya, melampiaskan kenegatifan berarti menyesatkan orang dan membuat mereka tidak lagi menerapkan kebenaran; itu berarti menggunakan strategi lembut, metode yang tampaknya normal, untuk menyesatkan orang dan membuat mereka melakukan kesalahan. Apakah ini merugikan mereka? Ini sebenarnya sangat merugikan mereka. Oleh karena itu, melampiaskan kenegatifan adalah sesuatu yang buruk, itu dikutuk oleh Tuhan; inilah penjelasan paling sederhana mengenai apa arti melampiaskan kenegatifan. Jadi, apa sajakah komponen negatif dari melampiaskan kenegatifan? Hal-hal apa yang negatif, dan cenderung berdampak buruk pada orang-orang, dan menyebabkan gangguan dan kerugian terhadap kehidupan bergereja? Apa sajakah yang termasuk kenegatifan? Jika orang memiliki pemahaman yang murni akan firman Tuhan, akankah firman yang mereka persekutukan mengandung kenegatifan? Jika orang memiliki ketundukan sejati terhadap keadaan yang ditetapkan untuk mereka oleh Tuhan, akankah pengetahuan mereka tentang keadaan ini mengandung kenegatifan? Ketika mereka membagikan pengetahuan berdasarkan pengalaman mereka, akankah itu mengandung kenegatifan? Tentu saja tidak. Mengenai apa pun yang terjadi di gereja atau di sekitar mereka, jika orang mampu menerima bahwa hal itu adalah dari Tuhan, memiliki pendekatan yang benar, dan dapat memiliki sikap yang mencari serta tunduk, apakah pengetahuan, pemahaman, dan pengalaman mereka tentang apa yang terjadi akan mengandung kenegatifan? (Tidak.) Sama sekali tidak. Jadi, jika dilihat dari sudut pandang ini, apa sebenarnya kenegatifan itu? Bagaimana kenegatifan dapat dipahami? Bukankah kenegatifan mengandung hal-hal dengan natur ini—ketidaktaatan, ketidakpuasan, keluhan, dan kebencian manusia? Dalam kasus-kasus yang lebih serius, kenegatifan juga mencakup penentangan, perlawanan, dan bahkan teriakan yang menuntut. Menyuarakan pernyataan yang mengandung unsur-unsur ini dapat digolongkan sebagai melampiaskan kenegatifan. Jadi, dinilai dari perwujudan ini, ketika orang melampiaskan kenegatifan, apakah di dalam hatinya terdapat ketundukan kepada Tuhan? Tentu saja tidak. Adakah kerelaan untuk memberontak terhadap daging dan membereskan kenegatifan mereka? Tidak; tidak ada apa pun selain penentangan, pemberontakan, dan perlawanan. Jika hati orang dipenuhi dengan hal-hal ini—jika hati mereka telah dikuasai oleh hal-hal negatif ini—ini akan menghasilkan penentangan, pemberontakan, dan perlawanan terhadap Tuhan. Dan jika inilah yang terjadi, apakah mereka akan tetap mampu menerapkan kebenaran dan tunduk kepada Tuhan? Tidak; satu-satunya yang akan terjadi adalah mereka akan menjadi jauh dari Tuhan, menjadi makin negatif, dan bahkan mungkin meragukan, menyangkal, serta mengkhianati Tuhan. Bukankah ini berbahaya? Siapa pun yang sering bersikap negatif mampu melampiaskan kenegatifan, dan melampiaskan kenegatifan berarti melawan serta menyangkal Tuhan; dengan demikian, orang-orang yang sering melampiaskan kenegatifan cenderung mengkhianati Tuhan dan meninggalkan-Nya kapan pun atau di mana pun.

Dilihat dari arti kata "kenegatifan", ketika seseorang menjadi negatif, suasana hatinya terjerumus dalam keadaan yang sangat rendah dan dia memasuki kerangka berpikir yang buruk. Suasana hatinya dipenuhi dengan unsur-unsur negatif, dia tidak memiliki sikap yang secara aktif membuat kemajuan, tidak berjuang untuk maju, tidak memiliki kerja sama dan pencarian yang positif dan aktif; dan terlebih dari itu, dia tidak memperlihatkan sikap yang rela untuk tunduk, sebaliknya memperlihatkan suasana hati yang sangat berputus asa. Apa yang direpresentasikan oleh suasana hati yang berputus asa? Apakah itu merepresentasikan aspek-aspek positif kemanusiaan? Apakah itu merepresentasikan adanya hati nurani dan nalar? Apakah itu merepresentasikan hidup dengan bermartabat, hidup yang dijalani dalam martabat kemanusiaan? (Tidak.) Jika itu tidak merepresentasikan hal-hal positif ini, apa yang direpresentasikannya? Dapatkah itu merepresentasikan tidak adanya iman yang sejati kepada Tuhan, tidak adanya ketetapan hati dan tekad untuk mengejar kebenaran dan tidak adanya sikap yang secara proaktif membuat kemajuan? Dapatkah itu merepresentasikan ketidakpuasan yang kuat dan kesulitan orang dalam memahami situasi dan kesulitannya saat ini, serta keengganannya untuk menerima kenyataan yang dihadapinya saat ini? Dapatkah itu merepresentasikan situasi di mana hati orang itu dipenuhi dengan ketidaktaatan, keinginan untuk menentang, dan keinginan untuk melarikan diri dan mengubah situasi saat ini? (Ya.) Semua ini adalah keadaan yang orang perlihatkan ketika mereka menghadapi situasi saat ini dengan sikap yang negatif. Singkatnya, apa pun yang terjadi, ketika orang bersikap negatif, ketidakpuasan mereka dengan situasi saat ini dan dengan apa yang telah Tuhan atur, tidaklah setara dengan sesuatu sesederhana orang memiliki kesalahpahaman, tidak memahami, tidak mengerti, atau tidak mampu mengalami. Tidak mengerti mungkin adalah masalah kualitas atau waktu, yang merupakan perwujudan normal dari kemanusiaan. Tidak mampu mengalami mungkin juga karena beberapa alasan objektif, tetapi ini tidak dianggap sebagai hal yang negatif dan merugikan. Ada orang-orang yang juga tidak mampu mengalami, tetapi ketika dihadapkan dengan hal-hal yang tidak mereka pahami atau kenali, atau hal-hal yang tidak dapat mereka mengerti atau alami, mereka akan berdoa kepada Tuhan dan mencari keinginan-Nya, menantikan pencerahan dan penerangan Tuhan, serta secara aktif mencari dan bersekutu dengan orang lain. Namun, beberapa orang berbeda; mereka tidak memiliki jalan penerapan ini, mereka juga tidak memiliki sikap seperti itu. Bukannya menunggu, mencari, atau menemukan seseorang untuk bersekutu, mereka mengembangkan kesalahpahaman di dalam hati mereka, merasa bahwa peristiwa dan keadaan yang mereka hadapi tidak sesuai dengan keinginan, preferensi, atau imajinasi mereka, sehingga menimbulkan ketidaktaatan, ketidakpuasan, penentangan, keluhan, perlawanan, kegaduhan, dan hal-hal negatif lainnya. Setelah menimbulkan hal-hal negatif ini, mereka tidak terlalu memikirkannya, mereka juga tidak datang ke hadirat Tuhan untuk berdoa dan merenung untuk memperoleh pengetahuan tentang keadaan dan kerusakan mereka sendiri. Mereka tidak membaca firman Tuhan untuk mencari keinginan Tuhan atau tidak menggunakan firman Tuhan untuk menyelesaikan masalah, apalagi mencari dari orang lain dan bersekutu dengan mereka. Sebaliknya, mereka bersikeras bahwa apa yang mereka yakini itu adalah benar dan akurat, di dalam hatinya, menyimpan ketidaktaatan dan ketidakpuasan, serta tetap terperangkap dalam emosi yang negatif dan merugikan. Ketika terperangkap dalam emosi ini, mereka mungkin mampu menahannya dan menanggungnya selama satu atau dua hari, tetapi dalam jangka waktu yang lebih lama, banyak hal akan muncul di benak mereka, termasuk gagasan dan imajinasi manusia, etika dan moral manusia, budaya, tradisi, dan pengetahuan manusia, dan sebagainya. Mereka menggunakan hal-hal ini untuk mengukur, memperhitungkan, dan memahami masalah yang mereka hadapi, terjerat sepenuhnya dalam jerat Iblis, sehingga menimbulkan berbagai keadaan ketidakpuasan dan ketidaktaatan. Dari keadaan yang rusak ini, berbagai pemikiran dan sudut pandang yang keliru kemudian muncul, dan di dalam hati mereka, hal-hal negatif ini tidak dapat lagi dikendalikan. Mereka kemudian mencari kesempatan untuk mencurahkan dan melampiaskan hal-hal ini. Ketika hati mereka dipenuhi dengan kenegatifan, apakah mereka berkata, "Aku dipenuhi dengan hal-hal negatif di dalam diriku; aku tidak boleh berbicara sembarangan agar tidak menyakiti orang lain. Jika aku ingin berbicara dan tidak mampu menahannya, aku akan berbicara kepada tembok, atau berbicara kepada sesuatu yang tidak mengerti bahasa manusia"? Apakah mereka cukup baik untuk melakukan hal ini? (Tidak.) Jadi, apa yang mereka lakukan? Mereka mencari kesempatan untuk mendapatkan pendengar yang akan menerima pandangan, komentar, dan emosi negatif mereka, mencurahkan berbagai perasaan negatif mereka seperti ketidakpuasan, ketidaktaatan, dan kebencian dari hati mereka. Mereka yakin bahwa waktu selama kehidupan bergereja adalah waktu yang terbaik untuk melampiaskan, dan kesempatan yang baik untuk mencurahkan kenegatifan, ketidakpuasan, dan ketidaktaatan mereka karena ada banyak pendengar dan perkataan mereka dapat memengaruhi orang lain untuk menjadi negatif, dan membawa konsekuensi yang merugikan bagi pekerjaan gereja. Tentu saja, mereka yang melampiaskan kenegatifan tidak mampu menahan diri bahkan di balik layar; mereka selalu mencurahkan ucapan negatif mereka. Ketika tidak ada banyak orang yang mendengarkan pelampiasan mereka, mereka merasa itu tidak menarik, tetapi ketika semua orang berkumpul bersama, mereka menjadi lebih bersemangat. Dilihat dari emosi, keadaan, dan aspek lain dari mereka yang melampiaskan kenegatifan, tujuan mereka bukanlah untuk membantu orang memahami kebenaran, mengetahui hal yang sebenarnya, meluruskan kesalahpahaman atau keraguan tentang Tuhan, mengenal diri mereka dan esensi rusak mereka sendiri, atau membereskan masalah pemberontakan dan kerusakan mereka sehingga mereka tidak memberontak terhadap Tuhan atau melawan-Nya melainkan tunduk kepada-Nya. Tujuan mereka pada dasarnya ada dua: di satu sisi, mereka melampiaskan kenegatifan untuk mencurahkan emosi mereka sendiri; di sisi lain, mereka ingin menarik lebih banyak orang untuk turut terjerumus ke dalam kenegatifan dan ke dalam jebakan penentangan dan teriakan menuntut Tuhan bersama dengan mereka. Oleh karena itu, tindakan melampiaskan kenegatifan mutlak harus dihentikan dalam kehidupan bergereja.

B. Berbagai Keadaan dan Perwujudan Orang yang Melampiaskan Kenegatifan
1. Melampiaskan Kenegatifan Saat Merasa Tidak Puas karena Diberhentikan

Pada dasarnya, ini adalah emosi dan perwujudan dari kenegatifan. Setelah Aku menyampaikan persekutuan tentang hal-hal ini, orang harus membandingkan diri mereka terhadapnya dan melihat manakah dari perilaku, pernyataan, dan metode mereka dalam kehidupan nyata yang melampiaskan kenegatifan, dan situasi apakah yang menyebabkan mereka terjerumus dalam kenegatifan, sehingga membuat mereka melampiaskan kenegatifan. Katakan kepada-Ku, dalam keadaan umum, situasi apa yang menyebabkan orang menjadi negatif? Apa bentuk-bentuk umum kenegatifan? (Ketika orang diberhentikan atau ketika mereka dipangkas, mereka mungkin mengembangkan kenegatifan di dalam hatinya.) Diberhentikan adalah salah satu penyebabnya, dipangkas adalah penyebab lainnya. Mengapa diberhentikan menyebabkan orang menjadi negatif? (Setelah diberhentikan, ada orang-orang yang tidak mengenal diri mereka sendiri dan mengira bahwa status merekalah yang menyebabkan mereka jatuh. Kemudian, untuk menyuarakan sudut pandang yang negatif, mereka berkata, "Makin tinggi kau mendaki, makin sakit kau jatuh." Mereka tidak memiliki pemahaman yang murni tentang diberhentikan; di dalam hatinya, mereka tidak taat.) Di dalam hatinya, terdapat ketidaktaatan dan ketidakpuasan, yang merupakan emosi negatif. Apakah mereka mengeluh? (Ya. Mereka merasa bahwa mereka telah menanggung kesukaran dan membayar harga, selalu bekerja keras tanpa mendapatkan hal baik apa pun sebagai imbalannya, dan tetap saja mereka diberhentikan. Jadi mereka berkata, "Menjadi pemimpin itu sulit; siapa pun yang menjadi pemimpin, dia tidak beruntung. Pada akhirnya, semua orang diberhentikan.") Menyebarkan pernyataan seperti ini berarti melampiaskan kenegatifan. Jika mereka sekadar tidak taat dan tidak puas tetapi tidak menyebarkannya, itu belum termasuk melampiaskan kenegatifan. Jika dari ketidaktaatan dan ketidakpuasan, lambat laun muncul suasana hati yang mengeluh, dan mereka tidak mengakui fakta bahwa mereka memiliki kualitas yang buruk serta tidak mampu melaksanakan pekerjaan itu, dan mereka kemudian mulai mendebatkan logika mereka yang keliru, sehingga menghasilkan segala macam pernyataan, sudut pandang, dalih, alasan, penjelasan, pembenaran, dan sebagainya saat berdebat, maka melontarkan jenis pernyataan seperti ini sama saja dengan melampiaskan kenegatifan. Setelah diberhentikan karena tidak melakukan pekerjaan nyata, beberapa pemimpin palsu memendam ketidaktaatan dan ketidakpuasan di dalam hati mereka, tidak memiliki ketundukan sama sekali; mereka selalu berpikir, "Kita lihat saja siapa yang mampu menggantikan posisiku sebagai pemimpin. Orang lain tidak lebih baik daripadaku; jika aku tidak mampu melakukan pekerjaan itu, mereka juga tidak akan mampu!" Apa yang membuat mereka tidak taat? Mereka menganggap kualitas mereka tidak buruk dan mereka telah melakukan banyak pekerjaan, jadi mengapa mereka diberhentikan? Inilah pemikiran dalam hati pemimpin palsu. Mereka tidak merenung untuk mengenal diri mereka sendiri dan melihat apakah mereka sebenarnya telah melakukan pekerjaan nyata atau tidak, berapa banyak masalah nyata yang telah mereka selesaikan, atau apakah mereka sebenarnya telah melumpuhkan pekerjaan gereja atau tidak. Mereka jarang mempertimbangkan hal-hal ini. Menurut mereka, masalahnya bukan karena mereka tidak memiliki kenyataan kebenaran dan tidak dapat mengetahui yang sebenarnya tentang berbagai hal; sebaliknya, mereka yakin bahwa karena mereka telah melakukan banyak pekerjaan, mereka seharusnya tidak digolongkan sebagai pemimpin palsu. Inilah alasan utama ketidaktaatan dan ketidakpuasan mereka. Mereka selalu berpikir: "Aku telah melaksanakan tugasku selama bertahun-tahun, bangun pagi dan bergadang setiap hari, untuk siapa semua itu? Setelah percaya kepada Tuhan, aku meninggalkan keluargaku, melepaskan karierku, dan bahkan mengambil risiko ditangkap dan dipenjara demi melaksanakan tugasku. Betapa banyaknya kesukaran yang telah kutanggung! Dan kini mereka menganggapku belum melakukan pekerjaan nyata serta memberhentikanku begitu saja; ini sangat tidak adil! Sekalipun belum membuahkan hasil apa pun, aku sudah menanggung kesukaran; jika bukan kesukaran, kelelahanlah yang telah kutanggung! Dengan kualitas dan kemampuanku untuk membayar harga dalam pekerjaanku, jika aku bahkan masih dianggap tidak memenuhi standar dan diberhentikan, menurutku hampir tidak ada pemimpin yang memenuhi standar!" Apakah dengan mengucapkan perkataan ini mereka sedang melampiaskan kenegatifan? Adakah satu kalimat di antaranya yang menunjukkan ketundukan? Adakah satu tanda saja yang menunjukkan keinginan untuk mencari kebenaran? Adakah perenungan diri, seperti, "Mereka berkata bahwa pekerjaanku tidak memenuhi standar, jadi di mana tepatnya letak kekuranganku? Apa pekerjaan nyata yang belum kulakukan? Seperti apa perwujudan pemimpin palsu yang telah kuperlihatkan?" Sudahkah mereka merenungkan diri mereka dengan cara seperti ini? (Belum.) Jadi, apa natur dari perkataan yang mereka ucapkan ini? Apakah mereka mengeluh? Apakah mereka sedang membenarkan diri mereka sendiri? Apa tujuan mereka membenarkan diri mereka sendiri? Bukankah untuk memperoleh simpati dan pengertian dari orang-orang? Bukankah mereka ingin ada lebih banyak orang yang membela mereka, meratapi ketidakadilan yang telah mereka derita? (Ya.) Lalu, kepada siapa mereka berteriak? Bukankah mereka sedang berdebat dan berteriak menuntut Tuhan? (Ya.) Perkataan mereka adalah mengeluh tentang Tuhan, melawan Tuhan. Hati mereka dipenuhi keluhan, penentangan, dan pemberontakan. Tidak hanya itu, tetapi dengan melampiaskan kenegatifan, mereka bertujuan membuat lebih banyak orang memahami mereka, bersimpati terhadap mereka, dan membuat lebih banyak orang mengembangkan kenegatifan seperti mereka, membuat lebih banyak orang makin memiliki keluhan, penentangan, dan perlawanan terhadap Tuhan, atau berteriak menuntut-Nya, sama seperti mereka. Bukankah mereka melampiaskan kenegatifan untuk mencapai tujuan ini? Tujuan mereka sebenarnya adalah untuk membuat lebih banyak orang mengetahui apa yang disebut kebenaran masalahnya dan membuat orang lain yakin bahwa mereka sedang diperlakukan tidak adil, bahwa apa yang telah mereka lakukan itu benar, bahwa mereka tidak seharusnya diberhentikan, dan bahwa memberhentikan mereka adalah kesalahan; mereka ingin ada lebih banyak orang yang membela mereka. Dengan melakukannya, mereka berharap dapat memulihkan nama baik, status, dan reputasi mereka. Setelah diberhentikan, semua pemimpin palsu dan antikristus melampiaskan kenegatifan dengan cara seperti ini untuk memenangkan simpati orang. Tak seorang pun di antara mereka mampu merenungkan dan mulai mengenal diri mereka sendiri, mengakui kesalahan mereka, atau memperlihatkan penyesalan dan pertobatan yang sungguh-sungguh. Fakta ini membuktikan bahwa semua pemimpin palsu dan antikristus adalah orang-orang yang tidak mencintai kebenaran dan tidak menerimanya sama sekali. Jadi, setelah disingkapkan dan disingkirkan, mereka tidak mampu mulai mengenal diri mereka sendiri melalui kebenaran dan firman Tuhan. Tak seorang pun telah melihat mereka menunjukkan penyesalan atau benar-benar mengenal diri mereka sendiri, dan tak seorang pun telah melihat mereka menunjukkan pertobatan yang sejati. Mereka tampaknya tidak pernah memperoleh pengenalan akan diri mereka sendiri ataupun mengakui kesalahan mereka. Dinilai dari fakta ini, memberhentikan pemimpin palsu dan antikristus sepenuhnya tepat, dan itu sama sekali bukan tindakan yang tidak adil. Berdasarkan fakta bahwa mereka sama sekali tidak merenungkan dan tidak mengenal diri mereka sendiri, dan bahwa mereka tidak menyesal sedikit pun, jelaslah bahwa watak antikristus itu sangat parah, dan mereka tidak mencintai kebenaran sama sekali.

Setelah diberhentikan, beberapa pemimpin palsu tidak mengakui kesalahan mereka sama sekali, mereka juga tidak mencari kebenaran atau merenungkan dan mengenal diri mereka sendiri. Mereka tidak memiliki hati atau sikap yang tunduk sedikit pun. Sebaliknya, mereka salah paham terhadap Tuhan dan mengeluh bahwa Tuhan memperlakukan mereka dengan tidak adil, memutar otak untuk mencari berbagai dalih dan alasan untuk membenarkan serta membela diri mereka sendiri. Bahkan ada yang berkata, "Sebelumnya, aku tidak pernah ingin menjadi pemimpin karena aku tahu bahwa itu adalah pekerjaan yang sulit. Jika kau melakukannya dengan baik, kau tidak akan diberi upah, dan jika kau tidak melakukannya dengan baik, kau akan diberhentikan dan menjadi terkenal karenanya, ditolak oleh saudara-saudari, dan benar-benar kehilangan nama baik. Bagaimana orang dapat menunjukkan wajahnya setelah itu? Kini karena aku telah diberhentikan, aku makin yakin bahwa tidak mudah untuk menjadi pemimpin atau pekerja; itu adalah pekerjaan yang berat dan tidak dihargai!" Apa maksud pernyataan "menjadi pemimpin atau pekerja adalah pekerjaan yang berat dan tidak dihargai"? Apakah terdapat niat untuk mencari kebenaran dalam pernyataan ini? Bukankah yang terjadi adalah mereka sudah mulai membenci fakta bahwa rumah Tuhan mengatur mereka untuk menjadi pemimpin atau pekerja, dan sekarang mereka menggunakan pernyataan ini untuk menyesatkan orang lain? (Ya.) Apa akibat yang dapat ditimbulkan oleh pernyataan ini? Pikiran dan pemikiran kebanyakan orang, serta pengertian dan pemahaman mereka mengenai hal ini akan dipengaruhi dan diganggu oleh perkataan ini. Inilah akibat melampiaskan kenegatifan yang akan orang-orang alami. Sebagai contoh, jika engkau bukan seorang pemimpin dan engkau mendengar perkataan ini, engkau akan terkejut, berpikir, "Bukankah itu benar! Jangan sampai aku terpilih menjadi pemimpin. Jika terpilih, aku harus segera mencari segala macam dalih dan alasan untuk menolaknya. Aku akan mengatakan bahwa aku kurang berkualitas dan tidak mampu melaksanakan pekerjaan itu." Beberapa orang yang merupakan pemimpin juga terpengaruh oleh pernyataan ini, berpikir, "Mengerikan sekali! Apakah kelak aku juga akan dihadapkan dengan kesudahan yang sama seperti mereka? Jika itulah yang akan terjadi, aku benar-benar menolak untuk menjadi pemimpin." Apakah emosi dan pernyataan yang negatif serta merugikan ini mengganggu orang-orang? Semua itu jelas menyebabkan gangguan. Siapa pun orangnya, entah mereka memiliki kualitas yang baik atau buruk, ketika mendengar perkataan ini, mereka tanpa sadar akan menerimanya terlebih dahulu, dan perkataan ini akan menempati posisi dominan di benak mereka, serta memengaruhi mereka hingga taraf yang berbeda-beda. Apa akibatnya jika terpengaruh? Kebanyakan orang tidak akan mampu memperlakukan hal menjadi pemimpin dan hal diberhentikan dari kepemimpinan dengan benar, dan mereka tidak akan memiliki sikap yang tunduk. Sebaliknya, mereka akan memiliki hati yang selalu salah paham dan bersikap waspada terhadap Tuhan, mereka akan mengembangkan emosi negatif mengenai masalah ini, dan mereka akan sangat sensitif serta penuh ketakutan ketika masalah ini disebutkan. Ketika orang memperlihatkan perilaku ini, bukankah mereka telah terjerumus dalam pencobaan dan penyesatan Iblis? Jelaslah bahwa mereka telah disesatkan dan diganggu oleh orang-orang yang melampiaskan kenegatifan. Karena hal-hal yang dilampiaskan oleh orang-orang yang melampiaskan kenegatifan berasal dari watak rusak manusia dan dari Iblis, dan karena hal-hal itu bukanlah pemahaman akan kebenaran atau wawasan yang berasal dari pengalaman yang diperoleh dengan tunduk pada lingkungan yang Tuhan atur, mereka yang mendengarkan hal-hal tersebut akan terganggu hingga taraf yang berbeda-beda. Kenegatifan yang orang lampiaskan menyebabkan dampak yang mengganggu dan merugikan semua orang. Orang yang secara aktif mencari kebenaran akan lebih sedikit dirugikan. Orang yang sama sekali tidak memiliki penentangan terhadapnya mau tak mau akan sangat diganggu dan dirugikan, sekalipun mereka tahu bahwa perkataan itu salah. Apa pun yang Tuhan katakan, seperti apa pun cara-Nya mempersekutukan hal itu, atau tuntutan apa pun yang Dia miliki, mereka mengabaikan semua ini, dan malah terus mengingat perkataan orang yang melampiaskan kenegatifan, selalu memperingatkan diri mereka sendiri untuk tidak melonggarkan kewaspadaan mereka, seolah-olah pernyataan yang negatif ini adalah payung pelindung mereka, perisai mereka. Apa pun yang Tuhan katakan, mereka tidak dapat melepaskan kewaspadaan dan kesalahpahaman mereka. Orang-orang yang tidak memiliki jalan masuk ke dalam kebenaran atau firman Tuhan, dan yang tidak memahami kenyataan kebenaran ini, tidak memiliki kemampuan untuk membedakan pernyataan negatif ini, dan tidak memiliki penentangan terhadapnya. Mereka pada akhirnya menjadi dikekang serta diikat oleh pernyataan negatif ini, dan tidak dapat lagi menerima firman Tuhan. Bukankah mereka telah dirugikan olehnya? Sampai sejauh mana mereka telah dirugikan? Mereka tidak dapat menerima atau memahami firman Tuhan, tetapi malah menganggap perkataan negatif, perkataan ketidakpuasan, ketidaktaatan, dan keluhan yang orang-orang lontarkan sebagai hal positif, menganggapnya sebagai semboyan pribadi mereka untuk selalu mereka ingat dalam hati, dan menggunakannya untuk menuntun hidup mereka, untuk menentang Tuhan dan melawan firman-Nya. Bukankah mereka telah terjerumus ke dalam jaring Iblis? (Ya.) Orang-orang ini tanpa sengaja telah terperangkap dalam jaring Iblis, dan mereka telah ditawan oleh Iblis. Pernyataan negatif yang orang-orang ini lontarkan tentang masalah yang sedemikian sepele seperti diberhentikan dari suatu jabatan berdampak sangat besar pada orang-orang. Hal ini ada akar penyebabnya: Mereka yang menerima pernyataan negatif ini sudah dipenuhi dengan gagasan dan imajinasi—dan bahkan dengan beberapa kesalahpahaman serta sikap waspada—tentang menjadi pemimpin. Meskipun kesalahpahaman dan sikap waspada ini belum sepenuhnya terbentuk di benak mereka, setelah mendengar pernyataan negatif ini, mereka menjadi makin yakin bahwa sikap waspada dan kesalahpahaman mereka itu benar; mereka merasa memiliki jauh lebih banyak alasan untuk percaya bahwa menjadi pemimpin berarti mengalami banyak kemalangan dan bukan banyak hal yang baik, dan bahwa mereka sama sekali tidak boleh menjadi pemimpin atau pekerja demi menghindarkan diri agar mereka tidak diberhentikan dan ditolak karena melakukan kesalahan. Bukankah mereka telah sepenuhnya disesatkan dan dipengaruhi oleh orang-orang yang melampiaskan kenegatifan? Hanya pernyataan negatif yang dilontarkan oleh seseorang yang telah diberhentikan, serta perasaan ketidaktaatan dan ketidakpuasannya, yang dapat menyebabkan dampak dan kerugian yang begitu signifikan pada orang lain. Menurut engkau semua, apakah ini adalah masalah serius bahwa emosi negatif yang orang lampiaskan dapat menjadi begitu penuh dengan suasana kematian? (Ya, ini serius.) Apa yang membuatnya sangat serius? Karena ini sepenuhnya mendukung sikap waspada dan kesalahpahaman manusia yang mendalam terhadap Tuhan, juga mencerminkan keadaan manusia yang salah paham dan meragukan Tuhan, serta sikap batin mereka terhadap-Nya. Oleh karena itu, pernyataan yang disebarkan oleh mereka yang melampiaskan kenegatifan secara langsung memukul titik vital manusia, dan manusia menerimanya sepenuhnya, terjerumus sepenuhnya ke dalam jaring Iblis sehingga mereka tak mampu membebaskan diri. Apakah ini hal yang baik atau hal yang buruk? (Hal yang buruk.) Apa akibatnya? (Ini membuat orang mengkhianati Tuhan.) (Ini membuat orang bersikap waspada dan salah paham terhadap Tuhan, menjadi jauh dari Tuhan di dalam hati mereka, memperlakukan tugas mereka dengan cara negatif, dan takut untuk menerima amanat penting. Mereka menjadi puas dengan melakukan tugas-tugas biasa dan dengan demikian kehilangan banyak kesempatan untuk disempurnakan.) Dapatkah orang-orang seperti itu diselamatkan? (Tidak.)

Paulus mengemukakan banyak sudut pandang dan menulis banyak surat dua ribu tahun yang lalu. Dalam surat-surat itu, dia mengatakan banyak kekeliruan. Karena orang-orang tidak memiliki kemampuan untuk membedakan, sebagian besar dari mereka yang membaca Alkitab selama dua ribu tahun terakhir menerima pemikiran dan sudut pandang Paulus sembari mengesampingkan perkataan Tuhan Yesus, tidak menerima kebenaran dari Tuhan. Dapatkah mereka yang menerima pemikiran dan sudut pandang Paulus datang ke hadapan Tuhan? Dapatkah mereka menerima firman-Nya? (Tidak.) Jika mereka tidak dapat menerima firman Tuhan, dapatkah mereka memperlakukan Tuhan sebagai Tuhan? (Tidak.) Ketika Tuhan datang dan berdiri di hadapan mereka, dapatkah mereka mengenali Tuhan? Dapatkah mereka menerima-Nya sebagai Tuhan dan Penguasa mereka? (Tidak.) Mengapa tidak? Pemikiran dan sudut pandang Paulus yang keliru telah memenuhi hati orang-orang, membentuk segala macam teori dan pernyataan. Ketika orang menggunakan ini untuk menilai Tuhan, pekerjaan-Nya, firman-Nya, watak-Nya, dan sikap-Nya terhadap manusia, mereka bukan lagi jenis manusia rusak biasa dan sederhana, melainkan jenis yang menempatkan diri mereka melawan Tuhan, meneliti serta menganalisis Dia, dan yang memusuhi-Nya. Dapatkah Tuhan menyelamatkan orang-orang semacam itu? (Tidak.) Jika Tuhan tidak menyelamatkan mereka, apakah mereka akan tetap memiliki kesempatan untuk menerima keselamatan? Penetapan Tuhan sejak semula dan pemilihan-Nya telah memberi manusia suatu kesempatan, tetapi jika setelah penetapan sejak semula dan pemilihan oleh Tuhan, jalan yang manusia pilih adalah jalan mengikuti Paulus, apakah kesempatan untuk diselamatkan ini masih ada? Ada orang-orang yang berkata, "Aku telah ditetapkan sejak semula dan dipilih oleh Tuhan, jadi aku telah berada di zona aman. Aku pasti akan diselamatkan." Apakah perkataan ini dapat dibenarkan? Apa artinya ditetapkan sejak semula dan dipilih oleh Tuhan? Itu berarti engkau telah menjadi calon orang yang akan diselamatkan, tetapi tentang apakah engkau akan diselamatkan atau tidak, itu tergantung pada seberapa baik engkau mengejar dan apakah engkau telah memilih jalan yang benar. Apakah semua calon akan dipilih dan diselamatkan pada akhirnya? Tidak. Demikian pula, jika orang menerima perasaan, seperti ketidaktaatan, ketidakpuasan, dan keluhan, atau pernyataan, pemikiran, dan sudut pandang yang diungkapkan oleh orang-orang yang melampiaskan kenegatifan, dan hati mereka dipenuhi serta dikuasai oleh hal-hal yang merugikan ini, ini tidak menunjukkan bahwa mereka hanya sedikit setuju—ini berarti mereka telah sepenuhnya menerima hal-hal ini dan ingin hidup berdasarkan hal-hal tersebut. Ketika orang hidup berdasarkan hal-hal yang merugikan ini, menjadi seperti apa hubungan mereka dengan Tuhan? Itu menjadi hubungan yang bermusuhan. Ini bukan hubungan antara Sang Pencipta dan makhluk ciptaan, bukan hubungan antara Tuhan serta umat manusia yang rusak, dan tentu saja bukan hubungan antara Tuhan dan mereka yang menerima keselamatan. Sebaliknya, ini berubah menjadi hubungan antara Tuhan dan Iblis, antara Tuhan dan musuh-musuh-Nya. Jadi, apakah orang dapat menerima keselamatan atau tidak, itu menjadi tanda tanya, sesuatu yang tidak diketahui. Pernyataan negatif yang dibuat oleh mereka yang telah diberhentikan itu penuh dengan keluhan, kesalahpahaman, pembenaran, dan pembelaan diri; mereka bahkan mengatakan beberapa hal yang menyesatkan dan menarik orang kepada mereka. Setelah mendengar pernyataan ini, orang-orang menjadi salah paham dan bersikap waspada terhadap Tuhan, dan bahkan menjauhkan diri mereka dari-Nya serta menolak-Nya dalam hati mereka. Dengan demikian, ketika orang-orang semacam itu melampiaskan kenegatifan, mereka harus segera dibatasi dan dihentikan. Ketidakmampuan mereka untuk menerima bahwa situasi yang mereka alami adalah dari Tuhan, untuk mencari kebenaran, serta tunduk kepada Tuhan adalah masalah mereka sendiri, dan mereka tidak seharusnya dibiarkan memengaruhi orang lain. Jika mereka tidak dapat menerimanya, biarkan saja mereka mencerna dan menyelesaikannya secara bertahap. Namun, jika mereka melampiaskan kenegatifan dan memengaruhi serta mengganggu jalan masuk normal orang-orang, mereka harus dihentikan dan dibatasi tepat pada waktunya. Jika mereka tidak dapat dibatasi dan mereka terus melampiaskan kenegatifan untuk menyesatkan dan menarik orang ke pihak mereka, mereka harus segera dikeluarkan. Mereka tidak boleh dibiarkan terus mengganggu kehidupan bergereja.

2. Melampiaskan Kenegatifan Ketika Menolak untuk Menerima Pemangkasan

Ada situasi lain di mana orang cenderung melampiaskan kenegatifan: ketika menghadapi diri mereka dipangkas dan tidak bisa menerima beberapa perkataan dalam pemangkasan tersebut, mereka akan memendam ketidaktaatan, ketidakpuasan, serta keluhan dalam hati mereka, dan bahkan terkadang merasa diperlakukan tidak adil. Mereka yakin bahwa telah terjadi ketidakadilan: "Mengapa aku tidak dibiarkan menjelaskan atau mengklarifikasi diriku sendiri? Mengapa aku terus-menerus dipangkas?" Kenegatifan seperti apa yang biasanya dilampiaskan oleh orang-orang ini? Mereka juga mencari alasan untuk membenarkan dan membela diri mereka sendiri. Bukannya menelaah, mengoreksi, atau memperbaiki kesalahan mereka, mereka malah membela diri, mengatakan hal-hal seperti mengapa mereka tidak melakukan sesuatu dengan baik, penyebab di baliknya, apa faktor serta kondisi objektifnya, dan bahwa mereka tidak melakukannya dengan sengaja; mereka menggunakan dalih-dalih ini untuk membenarkan dan membela diri mereka sendiri demi mencapai tujuan mereka yaitu menolak pemangkasan tersebut. Orang-orang ini tidak mengakui bahwa pemangkasan itu benar, dan mereka menganalisis insiden pemangkasan tersebut dengan banyak orang lain, berusaha menjelaskan masalahnya dengan jelas di depan semua orang. Mereka bahkan menyebarkan ide-ide seperti: "Pemangkasan seperti ini akan membuat orang berkecil hati dalam melaksanakan tugas mereka. Tak seorang pun akan bersedia lagi melaksanakan tugas mereka. Orang-orang tidak akan tahu bagaimana cara melanjutkan dan tidak akan memiliki jalan penerapan." Bahkan ada orang-orang yang dari luarnya bersekutu tentang bagaimana mereka menerima diri mereka dipangkas, padahal sebenarnya, mereka sedang menggunakan persekutuan itu untuk membenarkan dan membela diri mereka sendiri, membuat lebih banyak orang yakin bahwa rumah Tuhan sama sekali tidak mempertimbangkan perasaan orang dalam caranya memperlakukan mereka dan bahkan kesalahan kecil pun dapat mengakibatkan mereka dipangkas. Mereka yang cenderung melampiaskan kenegatifan tidak pernah merenungkan diri mereka sendiri. Bahkan ketika menghadapi diri mereka dipangkas, mereka tidak merenungkan natur dari kesalahan mereka atau apa yang menyebabkannya. Mereka tidak menelaah masalah-masalah ini, tetapi malah terus berdebat, membenarkan dan membela diri. Bahkan ada orang-orang yang berkata, "Sebelum dipangkas, aku merasa bahwa ada jalan untuk kuikuti. Namun setelah dipangkas, aku menjadi bingung. Aku tidak tahu lagi bagaimana cara menerapkan atau bagaimana cara percaya kepada Tuhan, dan aku tidak dapat melihat jalan ke depan." Mereka juga memberi tahu orang lain, "Kalian harus sangat berhati-hati agar tidak dipangkas; itu sangat menyakitkan, rasanya seperti selapis kulitmu dikelupas. Jangan ikuti jalan lamaku. Lihatlah apa yang terjadi padaku setelah dipangkas. Aku menjadi terjebak, tak mampu bergerak maju atau mundur; semua yang kulakukan tidak ada yang benar!" Apakah perkataan ini benar? Adakah masalah dengan perkataan ini? (Ya. Mereka sedang membenarkan diri mereka sendiri dan berdebat, berkata bahwa mereka tidak melakukan kesalahan.) Pesan apa yang disampaikan melalui pembenaran dan argumen ini? (Mereka mengatakan bahwa adalah salah bagi rumah Tuhan untuk memangkas orang.) Ada orang-orang yang berkata, "Sebelum dipangkas, aku merasa bahwa sepertinya aku memiliki jalan untuk kuikuti, tetapi setelah dipangkas, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan." Mengapa mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah dipangkas? Apa alasan hal ini? (Ketika menghadapi pemangkasan, mereka tidak menerima kebenaran atau tidak berusaha untuk mengenal diri mereka sendiri. Mereka memendam beberapa gagasan dan tidak mencari kebenaran untuk meluruskannya. Ini membuat mereka tidak memiliki jalan. Bukannya mencari penyebabnya dalam diri mereka sendiri, mereka malah menyatakan yang sebaliknya, yakni bahwa pemangkasanlah yang menyebabkan mereka kehilangan jalan mereka.) Bukankah ini berarti menuduh? Ini seperti berkata, "Apa yang kulakukan sudah berdasarkan prinsip, tetapi pemangkasanmu terhadapku jelas berarti bahwa engkau tidak membiarkanku menangani segala sesuatu berdasarkan prinsip. Jadi, bagaimana kelak aku harus menerapkan?" Inilah maksud orang-orang yang mengatakan hal-hal seperti itu. Apakah mereka menerima diri mereka dipangkas? Apakah mereka menerima fakta bahwa mereka telah melakukan kesalahan? (Tidak.) Bukankah maksud sebenarnya dari perkataan ini adalah bahwa mereka tahu bagaimana melakukan kesalahan dengan sembarangan, tetapi ketika dipangkas dan diminta untuk bertindak berdasarkan prinsip, mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan dan menjadi bingung? (Ya.) Jadi, bagaimana cara mereka bertindak sebelumnya? Ketika seseorang menghadapi diri mereka dipangkas, bukankah itu karena mereka tidak bertindak berdasarkan prinsip? (Ya.) Mereka dengan gegabah melakukan kesalahan, tidak mencari kebenaran, dan tidak bertindak berdasarkan prinsip atau aturan rumah Tuhan, sehingga mereka menerima pemangkasan. Tujuan pemangkasan adalah memungkinkan orang untuk mencari kebenaran dan bertindak berdasarkan prinsip, untuk mencegah mereka agar tidak kembali melakukan kesalahan dengan gegabah. Namun, ketika menghadapi pemangkasan, orang-orang itu berkata bahwa mereka tidak tahu lagi bagaimana harus bertindak atau bagaimana harus menerapkan; apakah perkataan ini mengandung unsur pengenalan akan diri sendiri? (Tidak.) Mereka tidak berniat untuk mengenal diri mereka sendiri atau mencari kebenaran. Sebaliknya, mereka menyiratkan, "Dahulu, aku melaksanakan tugasku dengan sangat baik, tetapi sejak kau memangkasku, kau telah mengacaukan pikiranku dan membuatku bingung tentang bagaimana aku harus melaksanakan tugasku. Kini, pikiranku menjadi tidak normal, dan aku tidak setegas atau seberani sebelumnya, aku tidak seberani itu, dan semua ini karena aku dipangkas. Sejak aku dipangkas, hatiku menjadi sangat terluka. Jadi, aku harus memberi tahu orang lain agar mereka sangat berhati-hati ketika melaksanakan tugas mereka. Mereka tidak boleh memperlihatkan kekurangan mereka atau tanpa sengaja melakukan kesalahan; jika mereka tanpa sengaja melakukan kesalahan, mereka akan dipangkas, sehingga mereka akan menjadi takut dan kehilangan semangat yang sebelumnya mereka miliki. Semangat mereka yang penuh keberanian akan menjadi sangat berkurang, dan keberanian serta hasrat masa muda mereka untuk mencurahkan segenap diri mereka akan lenyap, membuat mereka menjadi pengecut yang penuh ketakutan, takut pada bayangan mereka sendiri, dan merasa bahwa semua yang mereka lakukan tidak ada yang benar. Mereka tidak akan lagi merasakan hadirat Tuhan dalam hati mereka, dan akan merasa makin jauh dari-Nya. Bahkan ketika berdoa dan berseru kepada Tuhan, mereka akan merasa bahwa sepertinya itu tidak akan dijawab. Mereka akan merasa tidak lagi memiliki vitalitas, semangat, dan kepantasan untuk dikasihi yang sama, dan bahkan akan mulai memandang rendah diri mereka sendiri." Apakah perkataan ini dipersekutukan dengan tulus oleh seseorang yang memiliki pengalaman? Apakah perkataan ini sungguh-sungguh? Apakah perkataan ini mendidik kerohanian orang atau bermanfaat bagi orang-orang? Bukankah ini hanya memutarbalikkan fakta? (Ya, perkataan ini sangat tidak masuk akal.) Mereka berkata, "Jangan ikuti jejak langkahku atau ulangi jalan lamaku! Kalian melihatku berperilaku cukup baik sekarang, padahal sebenarnya aku hanya takut setelah pemangkasan tersebut dan aku belum sebebas dan selepas sebelumnya." Dampak apa yang ditimbulkan perkataan ini pada pendengarnya? (Perkataan ini membuat orang makin bersikap waspada terhadap Tuhan, menyebabkan mereka bertindak hati-hati karena takut dipangkas.) Perkataan ini memiliki dampak negatif seperti ini. Setelah mendengarnya, orang akan berpikir, "Kupikir juga begitu! Jika kau melakukan satu kelalaian kecil dan kau pada akhirnya dipangkas, tidak ada yang dapat kaulakukan untuk mencegahnya! Mengapa melaksanakan tugas di rumah Tuhan harus sesulit itu? Selalu membahas prinsip-prinsip kebenaran; benar-benar penuh tuntutan! Bukankah tidak masalah jika sekadar menjalani kehidupan yang sederhana dan tenang? Itu bukan tuntutan yang tinggi atau harapan yang berlebihan, tetapi mengapa begitu sulit untuk mencapainya? Aku benar-benar berharap bahwa aku tidak dipangkas. Aku adalah orang yang sangat penakut; biasanya, ketika orang menatapku dengan tajam dan berbicara dengan suara keras, jantungku mulai berdebar-debar, Jika aku benar-benar menghadapi pemangkasan dan perkataannya sekeras itu, menelaah fakta dengan cara seperti itu, bagaimana aku mampu menanggungnya? Bukankah itu akan membuatku mendapat mimpi buruk? Semua orang menganggap pemangkasan sebagai hal yang baik, tetapi menurutku tidak demikian. Bukankah orang itu takut dipangkas? Jika aku dipangkas, aku juga akan takut." Bukankah ini adalah dampak yang disebabkan oleh perkataan orang-orang yang melampiaskan kenegatifan? Apakah dampak ini afirmatif dan positif ataukah negatif dan merugikan? (Negatif dan merugikan.) Pernyataan yang negatif ini dapat menyebabkan orang yang ingin mengejar kebenaran menjadi sangat dirugikan! Jadi katakan kepada-Ku, apakah mereka yang sering melampiaskan kenegatifan dan menyebarkan kematian adalah hamba Iblis? Apakah mereka orang-orang yang mengganggu pekerjaan gereja? (Ya.)

Ada orang-orang yang bertindak berdasarkan ide-ide mereka sendiri dan melanggar prinsip. Setelah dipangkas, mereka merasa bahwa meskipun telah bekerja begitu keras dan membayar harga, mereka tetap saja dipangkas, sehingga hati mereka menjadi penuh dengan ketidaktaatan, dan mereka tidak menerima diri mereka disingkapkan serta ditelaah. Mereka yakin bahwa Tuhan itu tidak adil dan bahwa rumah Tuhan tidak adil terhadap mereka, karena orang berbakat yang sangat berguna seperti mereka, yang telah menanggung begitu banyak penderitaan dan membayar harga yang sangat tinggi, ternyata tidak dipuji oleh rumah Tuhan dan bahkan dipangkas. Dari ketidaktaatan mereka, muncul keluhan, dan mereka akan melampiaskan kenegatifan mereka: "Menurutku, tidak ada yang lebih sulit dibandingkan percaya kepada tuhan; benar-benar sulit untuk menerima beberapa berkat dan menikmati sedikit kasih karunia. Aku telah membayar harga yang sangat tinggi, tetapi aku dipangkas karena melakukan satu hal dengan buruk. Jika seseorang sepertiku tidak memenuhi syarat untuk tugas itu, bagaimana mungkin ada seseorang yang memenuhi syarat? Bukankah tuhan itu adil? Mengapa aku tidak dapat mengenali keadilannya? Mengapa keadilan tuhan begitu tidak sejalan dengan gagasan manusia?" Mereka tidak menelaah apa yang telah mereka lakukan yang melanggar prinsip atau watak rusak apa yang telah mereka perlihatkan. Mereka bukan hanya tidak memiliki sedikit pun rasa penyesalan atau ketundukan, melainkan mereka bahkan menghakimi dan menentang secara terbuka. Setelah mendengar mereka membuat pernyataan seperti itu, kebanyakan orang mulai agak bersimpati terhadap mereka dan terpengaruh oleh mereka: "Itu benar, bukan? Mereka telah percaya kepada Tuhan selama dua puluh tahun dan masih menghadapi pemangkasan seperti itu. Jika seseorang yang telah percaya selama dua puluh tahun belum tentu diselamatkan, berarti jauh lebih kecil harapan bagi orang-orang seperti kita untuk diselamatkan." Bukankah mereka telah diracuni? Begitu kenegatifan dilampiaskan, racun pun ditabur, bagaikan benih yang ditanam dalam hati orang-orang, lalu berakar, bertunas, berbunga, dan berbuah di benak mereka. Sebelum orang menyadarinya, mereka telah diracuni, dan penentangan serta keluhan terhadap Tuhan muncul dalam diri mereka. Setelah orang-orang itu dipangkas, mereka menjadi tidak taat terhadap Tuhan dan tidak puas dengan cara rumah Tuhan menangani mereka. Bukannya memiliki sikap yang bertobat dan mengaku, mereka malah berdebat, membenarkan serta membela diri mereka sendiri. Mereka memberitahu orang-orang secara luas tentang berapa banyak kesukaran yang telah mereka tanggung, pekerjaan apa yang telah mereka lakukan, serta tugas apa saja yang telah mereka laksanakan selama bertahun-tahun mereka beriman, dan bahwa kini bukannya menerima upah, mereka malah menghadapi pemangkasan. Mereka tidak hanya gagal mengenali kerusakan mereka sendiri dan kesalahan yang telah mereka lakukan dari pemangkasan tersebut, tetapi mereka juga menyebarkan ide bahwa cara rumah Tuhan memperlakukan mereka itu tidak adil dan sama sekali tidak masuk akal, bahwa mereka tidak seharusnya diperlakukan seperti itu, dan jika mereka diperlakukan demikian, berarti Tuhan itu tidak adil. Alasan mereka melampiaskan kenegatifan ini adalah karena mereka tidak dapat menerima pemangkasan atau fakta bahwa mereka telah melakukan kesalahan, apalagi menerima atau mengakui fakta bahwa mereka telah merugikan jalan masuk kehidupan saudara-saudari dan pekerjaan gereja. Mereka yakin bahwa mereka telah bertindak dengan benar dan bahwa rumah Tuhan-lah yang salah karena memangkas mereka. Dengan melampiaskan kenegatifan, mereka bermaksud mengatakan kepada orang-orang bahwa rumah Tuhan tidak adil dalam caranya memperlakukan orang: Setelah seseorang melakukan kesalahan, rumah Tuhan akan menggunakan kesalahan itu sebagai amunisi untuk menyerang orang tersebut, memanfaatkan masalah ini terhadapnya dan memangkasnya dengan kejam, sampai-sampai orang itu menjadi patuh serta berpikir bahwa dia belum memberi kontribusi apa pun, di mana dia tidak lagi memiliki siapa pun yang mengidolakan dirinya, tidak lagi menghargai dirinya sendiri, dan tidak lagi berani meminta Tuhan untuk memberinya upah; baru setelah itulah rumah Tuhan mencapai tujuannya. Tujuan mereka melampiaskan kenegatifan ini adalah untuk membuat lebih banyak orang membela mereka, agar lebih banyak orang memahami "kebenaran masalahnya" dan melihat betapa banyaknya penderitaan yang telah mereka tanggung selama bertahun-tahun mereka beriman kepada Tuhan, betapa signifikannya kontribusi yang telah mereka berikan dan betapa memenuhi syaratnya mereka, dan betapa mereka adalah orang percaya yang sudah berpengalaman. Dengan ini, mereka ingin membuat orang lain berpihak pada mereka dan bersama dengan mereka menentang aturan rumah Tuhan dan pemangkasan rumah Tuhan terhadap mereka. Bukankah natur perbuatan ini adalah menarik orang-orang untuk berpihak pada mereka? (Ya.) Tujuan mereka melampiaskan kenegatifan dengan cara seperti ini adalah menarik orang untuk berpihak pada mereka serta menyesatkan mereka, dan mereka mengganggu pekerjaan gereja untuk melampiaskan kekesalan mereka. Apa pun dampak yang pada akhirnya ditimbulkannya pada orang-orang setelah mereka melampiaskan kenegatifan mereka, dampak dan akibatnya adalah orang-orang menjadi disesatkan serta diganggu, dan mereka dirugikan. Itu tidak mendidik kerohanian. Itu adalah dampak yang negatif.

Setelah orang menghadapi diri mereka dipangkas, kenegatifan seperti inilah yang pada dasarnya mereka lampiaskan. Mereka tidak dapat menerima pemangkasan dan di dalam hatinya, mereka tidak puas dan tidak taat, tidak mampu menerima bahwa hal itu adalah dari Tuhan. Yang pertama kali mereka lakukan bukanlah mencari kebenaran tentang pemangkasan tersebut dan mereka tidak merenungkan, mengenal, serta menelaah diri mereka sendiri untuk memahami apa sebenarnya kesalahan mereka, apakah tindakan mereka sesuai dengan prinsip atau tidak, mengapa rumah Tuhan memangkas mereka, dan apakah mereka diperlakukan dengan cara seperti ini karena kekesalan pribadi atau apakah itu adil dan masuk akal. Yang pertama kali mereka lakukan bukanlah mencari hal-hal ini; sebaliknya, yang pertama kali mereka lakukan adalah mengandalkan kualifikasi mereka, kesukaran yang telah mereka tanggung, dan pengorbanan diri mereka untuk menolak pemangkasan tersebut. Dengan melakukan hal itu, semua yang muncul dalam hati mereka pasti negatif dan merugikan, tanpa ada satu pun yang afirmatif atau positif. Dengan demikian, ketika mereka mempersekutukan perasaan dan pemahaman mereka setelah dipangkas, mereka pasti melampiaskan kenegatifan dan menyebarkan gagasan. Pelampiasan kenegatifan dan penyebaran gagasan harus segera dihentikan serta dibatasi, tidak dibiarkan dan diabaikan. Hal-hal negatif ini akan menghambat, mengganggu, dan merusak jalan masuk kehidupan setiap orang, dan semua itu tidak mungkin berperan afirmatif dan positif, apalagi menginspirasi orang untuk setia kepada Tuhan atau untuk melaksanakan tugas mereka dengan setia. Oleh karena itu, ketika orang-orang semacam itu melampiaskan kenegatifan, itu berarti mereka sedang mengganggu kehidupan bergereja dan harus dibatasi.

3. Orang Melampiaskan Kenegatifan Ketika Reputasi, Status, dan Kepentingannya Dirugikan

Selain melampiaskan kenegatifan setelah diberhentikan atau dipangkas, dalam situasi apa lagi orang melampiaskan kenegatifan? (Ketika kepentingan orang dirugikan dan mereka merasa telah menderita kerugian.) (Ada orang-orang yang telah melaksanakan tugas mereka selama bertahun-tahun, tetapi ketika mereka jatuh sakit atau bencana menimpa keluarga mereka, mereka berkata, "Apa yang telah kuperoleh dari kepercayaanku kepada Tuhan selama bertahun-tahun?") "Slogan" umum yang diucapkan orang yang selalu sangat negatif dan pesimis ini adalah "Apa yang telah kuperoleh?" Apa saja situasi lainnya? (Ada orang-orang yang bukan hanya gagal mencapai hasil dalam tugas mereka, melainkan mereka juga sering melakukan kesalahan, sehingga mereka berkata, "Mengapa Tuhan mencerahkan orang lain tetapi tidak mencerahkanku? Mengapa Tuhan memberi mereka kualitas yang sebaik itu sedangkan kualitasku begitu buruk?" Bukannya merenungkan masalah mereka sendiri, mereka mengalihkan tanggung jawab kepada Tuhan, berkata bahwa Tuhan tidak mencerahkan mereka atau tidak membimbing mereka, dan kemudian mereka terus mengeluh tentang Tuhan.) Mereka menyatakan bahwa Tuhan tidak adil, bertanya mengapa Dia mencerahkan dan menganugerahkan kasih karunia kepada orang lain tetapi tidak kepada mereka, mengomel tentang mengapa mereka tidak mencapai hasil dalam tugas mereka; mereka mengeluh. Contoh-contoh yang engkau semua berikan bagus. Apakah ada lagi? (Ada orang-orang yang menjadi sangat kesal ketika tugas mereka diganti, mempertanyakan mengapa mereka dipindahtugaskan, serta curiga bahwa para pemimpin dan pekerja sedang menargetkan mereka dan mempersulit mereka.) Apakah mereka merasa bahwa rumah Tuhan memandang rendah mereka? (Ya.) Ada orang-orang yang karena tidak melakukan pekerjaan nyata, diberhentikan dan disingkirkan, serta merasa bahwa reputasi dan status mereka telah dirusak. Untuk melampiaskan ketidakpuasan mereka, di dalam hatinya, mereka selalu menggerutu: "Aku belum lama percaya kepada tuhan, kemampuan pemahamanku belum baik, dan kualitasku buruk. Aku tidak sebanding dengan yang lain. Jika mereka menganggapku tidak mampu, aku memang tidak mampu!" Dari luarnya, mereka mengakui kekurangan mereka, tetapi sebenarnya, mereka sedang berusaha memperoleh kembali manfaat yang telah hilang dari mereka, tidak henti-hentinya menggerutu, serta mengatakan berbagai hal untuk memperoleh simpati orang, dan membuat mereka merasa bahwa rumah Tuhan tidak adil. Begitu kepentingan mereka dirugikan, mereka menjadi enggan, dan selalu berharap untuk meminta ganti rugi serta menerima kompensasi. Jika tidak, mereka tidak mau lagi percaya kepada Tuhan dan tidak tahu lagi bagaimana cara untuk percaya kepada-Nya, dengan mengatakan hal-hal seperti, "Dahulu kupikir percaya kepada tuhan itu hebat, dan bertindak sebagai pemimpin atau pekerja di gereja pasti akan mendatangkan berkat yang sangat besar. Aku tidak pernah menyangka akan diberhentikan dan disingkirkan, serta ditolak oleh orang lain. Bayangkan, sesuatu seperti ini dapat terjadi di rumah tuhan! Setiap orang yang percaya kepada tuhan belum tentu adalah orang yang baik, dan semua yang rumah tuhan lakukan belum tentu merepresentasikan tuhan atau keadilan." Apa natur pernyataan seperti ini? Perkataan mereka, baik secara eksplisit maupun implisit, menyatakan suatu serangan. Perkataan itu menyatakan penghakiman dan penentangan. Dari luarnya, mereka tampak menargetkan pemimpin tertentu atau gereja, tetapi sebenarnya yang mereka tuju dengan perkataan ini di dalam hati mereka adalah Tuhan, firman-Nya, serta ketetapan administratif dan aturan rumah-Nya. Mereka sepenuhnya melampiaskan kekesalan mereka. Mengapa mereka melampiaskan kekesalan mereka? Mereka merasa telah menderita kerugian; di dalam hatinya, mereka merasakan ketidakadilan serta ketidakpuasan, dan mereka ingin meminta sesuatu serta menerima kompensasi. Meskipun kenegatifan yang dilampiaskan oleh orang-orang semacam itu tidak menjadi ancaman yang signifikan bagi kebanyakan orang, perkataan kotor ini bagaikan lalat atau kutu busuk yang cukup mengganggu pikiran orang-orang. Kebanyakan orang merasa jijik dan muak setelah mendengar perkataan ini, tetapi tak dapat dihindari, akan ada orang-orang yang sejenis dengan orang-orang semacam ini, mereka yang memiliki watak, esensi, dan kecenderungan yang sama, yang merupakan jenis orang dengan cara pandang serta kecenderungan negatif yang sama dengan orang-orang itu, dan yang terpengaruh serta terganggu oleh perkataan tersebut. Itu tidak dapat dihindari. Selain itu, beberapa orang dengan tingkat pertumbuhan yang kecil yang tidak memiliki kemampuan untuk membedakan dapat terganggu oleh pernyataan negatif ini, dan iman mereka kepada Tuhan bisa saja terpengaruh. Orang-orang ini sudah tidak tahu untuk apa sebenarnya mereka percaya kepada Tuhan, dan mereka tidak jelas mengenai kebenaran tentang visi, dan kemampuan mereka untuk memahami kebenaran juga buruk. Setelah mereka mendengar pernyataan negatif ini, sangat besar kemungkinan bahwa mereka tanpa sadar akan menerimanya, sehingga mereka pun terpengaruh oleh pernyataan tersebut. Perkataan seperti ini adalah racun. Ini dapat dengan mudah tertanam dalam hati orang. Setelah orang menerima pernyataan negatif ini, ketika rumah Tuhan meminta mereka untuk melaksanakan suatu tugas, mereka menanggapinya dengan acuh tak acuh. Ketika rumah Tuhan meminta mereka untuk bekerja sama dalam tugas tertentu, mereka bersikap setengah hati. Mereka hanya akan melakukannya jika mereka merasa ingin melakukannya; jika tidak, mereka tidak akan melakukannya, selalu memberikan segala macam alasan dan dalih. Sebelum mendengar pernyataan negatif tersebut, ada sedikit ketulusan dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan, dan mereka memiliki sedikit sikap yang positif dan proaktif ketika melaksanakan tugas mereka. Namun setelah mendengar pernyataan negatif tersebut, mereka menjadi makin acuh tak acuh, dan mereka juga bersikap dingin terhadap saudara-saudari mereka. Mereka bersikap waspada terhadap saudara-saudari. Ketika gereja mengatur agar mereka melaksanakan suatu tugas, mereka terus menghindar dan berulang kali menolaknya, memperlihatkan sikap yang sangat pasif. Sebelumnya, mereka menghadiri pertemuan tepat pada waktunya, tetapi setelah mendengar pernyataan tersebut, kehadiran mereka menjadi tidak tentu; mereka datang ketika suasana hati mereka baik, tetapi tidak datang ketika suasana hati mereka sedang buruk. Jika sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi di rumah, mereka khawatir bahwa mungkin akan terjadi bencana, jadi mereka lebih sering menghadiri pertemuan dan membaca lebih banyak firman Tuhan. Jika mereka sangat senang, bahagia, dan terharu setelah membaca firman Tuhan, mereka bahkan akan mempersembahkan sejumlah uang. Namun, begitu keadaan di rumah tenang, mereka kembali berhenti datang ke pertemuan. Ketika saudara-saudari mencoba menyampaikan persekutuan kepada mereka dengan harapan dapat mendukung mereka, mereka mencari dalih untuk menolak; dan ketika saudara-saudari pergi ke rumah mereka, mereka tidak membukakan pintu, bahkan ketika mereka jelas-jelas ada di rumah. Apa yang terjadi di sini? Mereka telah dipengaruhi oleh pernyataan negatif tersebut; mereka telah diracuni dan yakin bahwa orang-orang yang percaya kepada Tuhan tidak bisa diandalkan. Awalnya, mereka sangat memercayai orang-orang ini, dan ketika membaca firman Tuhan, mereka berpikir, "Ini adalah firman Tuhan, orang-orang ini adalah saudara-saudariku, ini adalah rumah Tuhan; betapa indahnya!" Namun, setelah mereka mendengar pernyataan negatif yang disebarkan oleh orang-orang tertentu, mereka berubah. Bukankah mereka telah dipengaruhi? Bukankah jalan masuk kehidupan mereka telah dirusak? (Ya.) Siapa yang telah memengaruhi mereka? Orang-orang yang melampiaskan kenegatifan, orang-orang yang mengutarakan pernyataan tersebut. Jika seseorang belum memiliki landasan yang kuat di jalan yang benar atau belum makan dan minum firman Tuhan hingga mencapai taraf di mana mereka memahami kebenaran, mereka dapat dengan mudah dipengaruhi oleh hal-hal negatif. Dan terutama, mereka yang tidak memiliki kemampuan untuk memahami kebenaran, tetapi hanya mengamati tren, mengamati situasi, dan melihat fenomena yang di luarnya saja, mereka jauh lebih mudah terpengaruh oleh perkataan negatif. Terutama setelah mereka mendengar orang-orang mengucapkan kekeliruan, seperti, "Rumah tuhan belum tentu adil, dan tidak semua yang rumah tuhan lakukan itu positif," sikap waspada pada diri mereka akan menjadi makin meningkat. Pernyataan yang sesuai dengan kebenaran tidak selalu mereka terima dengan mudah, tetapi pernyataan negatif, pernyataan yang tidak masuk akal, pernyataan yang bertentangan dengan kebenaran, ini dapat dengan mudah berakar dalam hati orang-orang, dan menyingkirkannya tidaklah mudah. Sangat sulit bagi orang-orang untuk menerima kebenaran dan sangat mudah bagi mereka untuk menerima kekeliruan!

Sebagian orang dengan kemanusiaan yang buruk sangat mementingkan prestise, ketenaran, kesenangan daging, serta harta benda dan kepentingan mereka sendiri. Ketika reputasi, status, dan kepentingan langsung mereka dirugikan, mereka tidak menerima bahwa hal ini adalah dari Tuhan, atau tidak menerima lingkungan yang telah Tuhan atur bagi mereka, dan mereka tidak mampu melepaskan hal-hal ini serta tidak mampu mengabaikan keuntungan serta kerugian pribadi mereka. Sebaliknya, mereka menggunakan berbagai kesempatan untuk melampiaskan ketidakpuasan dan ketidaktaatan mereka, serta melampiaskan emosi negatif mereka, yang menyebabkan beberapa orang menjadi sangat menderita. Oleh karena itu, ketika orang-orang semacam itu melampiaskan kenegatifan, para pemimpin gereja harus segera memahami situasinya terlebih dahulu, serta menghentikan dan membatasi orang-orang itu tepat pada waktunya. Tentu saja, pemimpin gereja juga harus secara proaktif menyingkapkan orang-orang itu, dan bersekutu dengan saudara-saudari tentang cara mengidentifikasi mereka, dan mengapa mereka mengatakan hal-hal yang negatif serta tidak masuk akal ini, serta cara untuk memperlakukan dan mengenali perkataan ini agar mereka sendiri tidak disesatkan dan dirugikan secara serius olehnya. Penting untuk mampu mengidentifikasi dan menelaah orang-orang semacam itu, agar engkau mampu menghindari dan menolak mereka, serta tidak lagi disesatkan oleh mereka. Ini adalah pekerjaan yang harus dilakukan oleh para pemimpin gereja. Tentu saja, jika saudara-saudari biasa menemukan orang-orang semacam ini serta mengenali esensi kemanusiaan mereka, saudara-saudari biasa juga harus menjauhi orang-orang itu. Jika engkau tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk menentang mereka, atau tidak memiliki tingkat pertumbuhan yang cukup untuk mendukung, menolong, serta mengubah mereka, dan engkau merasa tidak mampu menyanggah pernyataan negatif mereka serta perkataan ketidakpuasan dan ketidaktaatan mereka, pendekatan yang terbaik adalah menjauh. Jika engkau merasa bahwa dirimu sangat kuat, memiliki tingkat pertumbuhan tertentu, serta memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi dan tetap tidak terpengaruh oleh apa pun yang orang katakan, bahwa separah apa pun kenegatifan yang mereka lampiaskan, itu tidak akan mengubah imanmu kepada Tuhan, bahwa engkau mampu mengidentifikasi orang-orang semacam itu, dan bahwa engkau juga mampu menyingkapkan serta menghentikan mereka ketika mereka melampiaskan kenegatifan, engkau tidak perlu menghindari atau bersikap waspada terhadap orang-orang semacam itu. Namun, jika engkau merasa tidak memiliki tingkat pertumbuhan seperti itu, cara dan prinsip untuk menangani orang-orang semacam itu adalah menjauhi mereka. Apakah ini mudah untuk dicapai? (Ya.) Ada orang-orang yang berkata, "Bolehkah aku menoleransi mereka, bersabar terhadap mereka, dan memaafkan mereka?" Itu juga boleh, dan itu tidak salah, tetapi itu bukanlah penerapan yang terpenting atau yang terbaik. Misalkan engkau bersabar, menoleransi, serta membiarkan mereka, dan pada akhirnya, engkau disesatkan oleh mereka dan ditarik untuk berpihak pada mereka. Dan seandainya seperti apa pun cara rumah Tuhan membekali dan mendukungmu, engkau tidak merasakannya; atau ketika engkau membaca firman Tuhan, engkau sering terombang-ambing oleh pemikiran serta pernyataan mereka, dan begitu engkau berpikir tentang sesuatu yang mereka katakan, pikiranmu terpengaruh, dan engkau tidak mampu terus membaca. Dan ketika saudara-saudari mempersekutukan pemahaman mereka tentang kebenaran—terutama ketika mereka bersekutu tentang cara mengenali pernyataan orang-orang semacam itu—engkau kembali terombang-ambing dan terpengaruh oleh perkataan mereka, yang menyebabkan pikiranmu menjadi kacau. Jika inilah yang terjadi, engkau harus menjauhi orang-orang semacam itu. Toleransi dan kesabaranmu tidak akan efektif, dan bukan cara terbaik untuk membela dirimu terhadap orang-orang semacam itu. Seandainya toleransi dan kesabaranmu bukanlah perilaku eksternal yang terselubung, melainkan engkau benar-benar memiliki tingkat pertumbuhan yang cukup untuk menghadapi orang-orang semacam itu. Apa pun yang mereka katakan, sekalipun engkau tidak berbicara, engkau tetap dapat mengenalinya di dalam hatimu; engkau mampu bersikap sabar terhadap mereka dan mengabaikan mereka, tetapi perkataan merugikan dan negatif apa pun, atau perkataan kesalahpahaman dan keluhan tentang Tuhan yang mereka katakan, itu tidak akan memengaruhi imanmu kepada Tuhan sedikit pun, dan juga tidak akan memengaruhi kesetiaanmu dalam melaksanakan tugasmu atau ketundukanmu kepada Tuhan. Jika inilah yang terjadi, engkau boleh menoleransi dan bersabar terhadap mereka. Apa prinsip menerapkan toleransi dan kesabaran? Tidak dirugikan. Abaikan mereka, biarkan mereka mengatakan apa pun yang mereka inginkan; bagaimanapun juga, orang-orang semacam itu hanyalah pembuat onar yang tidak masuk akal, dan mereka adalah orang-orang keras kepala yang tidak tahu malu. Seperti apa pun caramu mempersekutukan kebenaran kepada mereka, mereka tidak akan menerimanya; mereka termasuk kategori setan dan Iblis, dan tidak ada gunanya bersekutu dengan mereka. Oleh karena itu, sebelum rumah Tuhan mengeluarkan dan menangani mereka, jika engkau memiliki tingkat pertumbuhan untuk menoleransi dan bersabar terhadap mereka tanpa dirugikan, itulah yang terbaik. Apakah engkau semua biasanya menggunakan prinsip menoleransi dan bersabar ini? Engkau menoleransi semua jenis orang, tetapi terkadang engkau tidak berhati-hati dan sedikit disesatkan; setelah itu engkau menyadarinya, merasa berutang kepada Tuhan, berdoa selama beberapa hari, serta mengubah keadaanmu, dan engkau menjadi lebih dekat dengan Tuhan. Sering kali, engkau mampu melihat dengan jelas bahwa orang-orang semacam itu tidak baik, dan bahwa mereka termasuk kategori setan. Meskipun engkau dapat berinteraksi dengan mereka secara normal, di dalam hatimu, engkau menjauhi dan sangat tidak menyukai mereka. Apa pun yang mereka katakan atau pernyataan negatif dan pandangan apa pun yang mereka sampaikan, engkau menutup telingamu, mengabaikannya, dan berpikir, "Katakan apa pun yang kauinginkan. Aku mampu mengenali dirimu yang sebenarnya. Aku sama sekali tidak bergaul dengan orang-orang sepertimu." Apakah ini prinsip yang paling sering engkau semua ikuti ketika menangani masalah seperti ini? Mencapai hal ini juga tidak buruk; ini tidak mudah dan membutuhkan pemahaman akan beberapa kebenaran dan memiliki tingkat pertumbuhan tertentu. Jika engkau bahkan tidak memiliki tingkat pertumbuhan ini, engkau tidak akan mampu tetap teguh, dan engkau tidak akan melaksanakan tugasmu dengan baik.

4. Orang Melampiaskan Kenegatifan Ketika Keinginan Mereka untuk Memperoleh Berkat Hancur

Melampiaskan kenegatifan memiliki perwujudan lain. Ada orang-orang yang berkata, "Aku telah bertahun-tahun percaya kepada Tuhan, dan apa yang telah kuperoleh?" Ketika orang-orang seperti ini melampiaskan kenegatifan, hal utama yang mereka katakan adalah, "Apa yang telah kuperoleh?" —yang berarti mereka belum memperoleh apa pun. Mereka yakin bahwa sangatlah sulit untuk memperoleh beberapa keuntungan atau berkat dari rumah Tuhan atau dari Tuhan selama mereka percaya kepada-Nya, dan bahwa orang haruslah mempersembahkan kasih yang sangat besar dan memiliki kesabaran yang luar biasa, serta tidak terburu-buru ingin mendapatkan hasil yang cepat. Mengenai firman Tuhan yang menyingkapkan manusia, memangkas manusia, memurnikan manusia, dan mentahirkan kerusakan manusia, mereka yakin bahwa ini hanyalah retorika yang dangkal dan muluk-muluk yang tidak dapat dipercayai sepenuhnya; mereka berpikir jika mereka menerapkan berdasarkan firman Tuhan, mereka benar-benar akan menderita kerugian yang sangat besar. Mereka berpikir bahwa kapan pun itu, memperoleh keuntungan dan manfaat serta mewujudkan aspirasi dan keinginan mereka adalah hal yang terpenting, dan apakah mereka menerapkan kebenaran atau tidak, itu sama sekali tidak penting; mereka yakin bahwa asalkan mereka tidak melakukan kejahatan, itu sudah cukup, dan mereka tidak akan disingkirkan oleh gereja. Bagaimana perasaan kebanyakan orang setelah mendengar perkataan yang negatif ini? Apakah di dalam hatinya mereka setuju dan sependapat dengan perkataan ini, atau apakah mereka merasa sedikit jijik dengan perkataan ini, serta menganggap orang-orang ini egois, tercela, jahat, menjijikkan, dan mereka mampu mengidentifikasi, menyingkapkan, serta membatasi mereka, menghentikan mereka agar tidak terus menyebarkan kenegatifan serta kematian? Apakah kebanyakan orang merasa jijik dan mengutuk perkataan negatif semacam itu, atau apakah mereka dapat disesatkan olehnya dan menjadi negatif? Setelah mendengar perkataan ini dan melihat bahwa mereka belum mendapatkan apa pun, ada orang-orang yang berpikir, "Bukankah itu benar! Aku juga belum mendapatkan apa pun. Di rumah Tuhan, aku hanya makan tiga kali sehari, aku sibuk sepanjang waktu, dan aku benar-benar belum memperoleh hal lain apa pun." Apakah engkau semua memiliki pemikiran seperti itu? Apakah engkau merasakan hal yang sama? Mereka yang memahami kebenaran akan berkata, "Apa maksudmu engkau belum memperoleh apa pun? Kita telah memperoleh begitu banyak dari Tuhan! Kita telah mulai memahami begitu banyak kebenaran!" Namun, ada orang-orang yang mungkin tidak setuju dengan mereka dan berkata, "Sepertinya kurang realistis jika mengatakan bahwa kita telah memperoleh 'begitu banyak'. Kita hanya telah menerima sedikit kasih karunia, mendapat beberapa kesempatan untuk melaksanakan tugas kita, memahami beberapa doktrin tentang cara berperilaku, bertemu serta mengenal banyak saudara-saudari dari berbagai tempat, dan wawasan kita menjadi sangat diperluas. Ini hanya dapat dianggap telah memperoleh sedikit." Engkau semua termasuk kategori yang mana? Ada orang-orang yang termasuk dalam semua kategori ini, bukan? (Ya.) Kita akan membahas hal ini dari dua sudut. Pertama, mari kita bahas apa yang terjadi dengan mereka yang percaya kepada Tuhan selalu untuk memperoleh kasih karunia; apakah mereka percaya kepada Tuhan untuk mengejar kebenaran agar dapat memperoleh keselamatan? (Tidak, mereka percaya untuk memperoleh berkat.) Lalu, apakah Tuhan telah memberi mereka sedikit kasih karunia, perlindungan, kebaikan, pencerahan, dan penerangan? (Tuhan telah memberikan banyak hal-hal ini kepada mereka.) Dapat dikatakan bahwa setiap orang yang percaya kepada Tuhan telah menerima perlindungan Tuhan. Apakah perlindungan Tuhan ini nyata? Apakah ada beberapa contoh nyata tentang hal ini? Jenis perlindungan apa yang telah orang-orang terima? (Jenis yang relatif jelas adalah bahwa setelah percaya kepada Tuhan, kami tidak lagi dipengaruhi oleh tren-tren jahat dunia. Kami tidak terjerumus ke dalam kemerosotan moral atau tidak mengejar hal-hal jahat tersebut, seperti pergi ke kelab malam, merokok, minum minuman keras, dan sebagainya. Setidaknya, kami tidak terlibat hal-hal ini, dan aku yakin bahwa kami cukup terlindungi dalam hal ini.) Ini adalah aspek yang sangat nyata yang dapat orang lihat dan alami secara pribadi. Tidak dipengaruhi dan disesatkan oleh tren-tren jahat dunia, hidup seperti manusia, dan hidup dalam kemanusiaan yang normal dengan memiliki keserupaan dengan manusia; ini adalah contoh nyata dan bukti perlindungan Tuhan. Apakah ada lagi? (Tidak diganggu oleh roh-roh jahat dan mampu hidup di bawah perlindungan Tuhan.) Ini juga merupakan contoh nyata. Apakah kebanyakan orang pernah mengalami hal ini? Mampukah engkau semua memahami makna di dalam hal ini? Ada orang-orang yang berkata, "Orang-orang tidak percaya juga tidak diganggu oleh roh-roh jahat. Berapa banyak orang tidak percaya yang diganggu oleh roh-roh jahat?" Apakah pernyataan ini benar? Apakah engkau semua merasa bahwa pernyataan ini sesuai dengan fakta? (Cukup banyak teman-teman sekelasku yang diganggu oleh roh-roh jahat. Ada yang mengalami kelumpuhan sesaat ketika bangun tidur, dan ada yang mendengar suara-suara. Mereka tidak percaya kepada Tuhan dan tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mereka mencari pengobatan di mana-mana tetapi tidak dapat menyembuhkan hal ini, mereka hidup dalam ketakutan dan kengerian; ini sangat menyakitkan. Namun, karena aku telah percaya kepada Tuhan sejak kecil, aku tidak pernah diganggu atau menderita dalam hal ini. Sering kali, hatiku terasa relatif teguh dan damai.) Orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan tidak memiliki kekhawatiran ini. Kita tidak perlu khawatir menderita gangguan jiwa berupa tidak berfungsinya sistem saraf atau diganggu atau dirasuki oleh roh-roh jahat; kita tidak takut karena kita memiliki Tuhan. Selain itu, dalam kehidupan nyata, orang-orang tidak percaya terus-menerus membicarakan pembacaan wajah, feng shui, dan ramalan nasib; di Barat, bahkan ada horoskop. Ada orang-orang yang menyembah patung Buddha terkenal, roh-roh jahat, serta berhala, dan ada yang tidak, tetapi entah mereka menyembah atau tidak, mereka semua dipengaruhi dan dibatasi oleh hal-hal ini hingga taraf tertentu. Sebagai contoh, sebelum meninggalkan rumah, mereka harus sedikit meramal untuk melihat arah mana yang membawa keberuntungan dan arah mana yang membawa kesialan. Ketika membuka toko, mereka menentukan posisi meja layanan yang akan mendatangkan uang dan mana yang tidak, barang-barang apa yang harus diletakkan di toko serta berhala mana yang harus disembah untuk menarik kekayaan, dan di mana mereka harus meletakkan barang-barang tertentu agar tidak mengacaukan feng shui. Ketika pindah, mereka harus menentukan waktu yang membawa keberuntungan untuk pindah demi memastikan kemakmuran keluarga di masa mendatang serta mencegah kemalangan, dan menentukan waktu yang membawa kesialan. Bahkan para murid pun dipengaruhi oleh kepercayaan ini ketika mereka mengikuti ujian masuk. Pada hari ujian, mereka menghindarkan diri mengucapkan kata-kata yang menyiratkan kegagalan, serta harus mengucapkan kata-kata seperti "unggul" dan "berhasil". Setiap aspek kehidupan—mulai dari anak-anak masuk sekolah, hingga orang tua menjalani kehidupan mereka sehari-hari, menghasilkan uang, pindah rumah, mencari pekerjaan, serta pernikahan anak-anak, dan sebagainya—dipengaruhi oleh yang disebut feng shui dan peruntungan, serta ide-ide lainnya. Jadi, ketika orang dipengaruhi oleh hal-hal ini, mereka sedang dikekang oleh apa? Mereka sedang dikekang oleh roh-roh jahat; semua hal ini dikendalikan oleh roh-roh jahat. Lalu, mengapa orang menyembah roh-roh jahat itu? Mengapa mereka dipengaruhi oleh hal-hal ini? Untuk hal sesederhana pindah rumah, mengapa orang harus selalu merenungkan kapan waktu yang membawa keberuntungan dan membawa kesialan untuk pindah, barang apa yang membawa keberuntungan jika dipindahkan terlebih dahulu, dan barang apa yang membawa keberuntungan jika tidak dipindahkan? Mengapa mereka selalu harus mempertimbangkan hal-hal ini? Mereka harus mempertimbangkan hal-hal ini karena jika tidak, roh-roh jahat itu akan bertindak, menyiksa dan membuat mereka menderita. Apa yang engkau semua pahami dari hal-hal ini? Seluruh umat manusia hidup di bawah kendali si jahat. Siapa si jahat ini? Yang jauh lebih jahat adalah Iblis dan para setan, dan yang cukup jahat adalah roh-roh jahat di berbagai tempat, yang mengendalikan berbagai ras manusia. Setiap aspek kehidupan manusia dikekang dan dikendalikan oleh roh-roh jahat ini. Bahkan ketika mereka membangun rumah, selama pemasangan balok utama, orang menggantungkan kain merah serta menyalakan petasan untuk memperoleh sedikit keberuntungan, dan semua pekerja bangunan mengenakan pakaian merah untuk mendatangkan kemakmuran finansial, dan agar terhindar dari kecelakaan. Terdapat beberapa persyaratan dan pepatah khusus tentang semua hal ini, serta pantangan, dan mereka harus menghindari pantangan tersebut serta mengikuti pepatah-pepatah ini. Sebagai contoh, ada orang-orang yang sering menghadapi kesukaran, dan berbagai hal tidak berjalan lancar bagi mereka; mereka kehilangan pekerjaan, ditinggalkan istri mereka, dan tidak punya apa-apa lagi di rumah. Mereka bahkan tidak dapat membayar cicilan rumah, dan sepertinya tidak ada satu pun yang berjalan lancar. Mereka tidak melakukan hal buruk apa pun, jadi mengapa hal-hal ini terjadi pada mereka? Karena tak punya pilihan lain, mereka menyembah dewa-dewa palsu dan roh-roh jahat, atau bergegas mencari seseorang untuk memeriksa feng shui mereka agar dapat mengubah keberuntungan mereka, dan setelah melakukannya, lambat laun segala sesuatunya mulai berjalan dengan baik bagi mereka. Sebelumnya, mereka tidak memercayai hal-hal ini, tetapi kini ketika masalah muncul, mereka dengan sungguh-sungguh menyembah dewa-dewa palsu serta roh-roh jahat, dan sebelum melakukan apa pun, mereka harus berkonsultasi dengan peramal atau pembaca nasib. Apakah hidup dengan cara seperti ini melelahkan atau bagaimana? (Melelahkan.) Ini sangat melelahkan! Meskipun mereka ingin, mereka tidak dapat hidup dengan bebas dan tenang, atau tidak dapat melepaskan diri dari kekangan pepatah-pepatah dan aturan-aturan ini. Jika mereka melanggar aturan-aturan ini, roh-roh jahat akan bertindak, mengganggu, serta menundukkan mereka secara paksa, dan mereka harus menyembah roh-roh jahat itu setiap hari agar hidup mereka berjalan lancar. Namun, mereka yang percaya kepada Tuhan tidak dibatasi oleh takhayul feodal atau oleh pekerjaan roh-roh jahat ini. Mereka bisa pindah rumah atau pergi sekehendak hati mereka, tanpa harus menghindari pantangan apa pun. Di Tiongkok daratan, Partai Komunis selalu menindas dan menganiaya kepercayaan beragama. Jika orang percaya tidak dapat lagi tinggal di suatu tempat, mereka harus segera pindah; apakah mereka perlu memilih hari atau jam yang membawa keberuntungan untuk pindah atau harus menyembah sesuatu? Tidak. Mereka berdoa kepada Tuhan, dan Tuhan melindungi mereka. Segala sesuatu berada di tangan Tuhan; mereka tidak diikat oleh hal-hal ini. Setiap kali mereka ingin makan sesuatu atau meninggalkan rumah, apakah mereka perlu memeriksa penanggalan atau melihat apakah itu melanggar suatu pantangan? Tidak, mereka berdoa kepada Tuhan, dan segala sesuatu berada di tangan Tuhan. Ketika orang hidup di bawah kekuasaan dan kedaulatan Tuhan, dengan perlindungan serta bimbingan Tuhan, roh-roh jahat dan setan-setan najis, baik yang besar maupun yang kecil, akan menyingkir; mereka tidak berani bertindak terhadap orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Bukankah orang-orang ini dilindungi? Bukankah mereka sedang hidup dengan bebas dan mudah? (Ya.) Apakah ini kasih karunia yang besar? (Ya.) Entah engkau telah memperoleh kebenaran atau belum, selama engkau adalah orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan, engkau adalah orang yang telah ditetapkan sejak semula serta dipilih oleh Tuhan, dan ketika engkau datang ke hadirat Tuhan, Dia melindungimu seperti ini, memungkinkanmu untuk menikmati kasih karunia seperti ini. Betapa besarnya kasih karunia ini! Keselamatan pribadimu dan semua pergerakanmu aman dan dilindungi. Tuhan bertanggung jawab atas hal-hal ini dan melindungi mereka, jadi engkau tidak perlu khawatir. Sering kali, orang bahkan tidak berdoa atau secara sadar berpikir, "Aku akan berdoa kepada Tuhan, dan meminta Tuhan untuk melindungiku. Kuharap semuanya baik-baik saja dan tidak terjadi hal buruk apa pun." Engkau bahkan tidak perlu berdoa. Selama engkau memiliki keyakinan sederhana ini dalam hatimu bahwa, "Aku percaya kepada Tuhan; segala sesuatu berada di tangan Tuhan," Tuhan akan bertindak. Orang-orang menikmati kasih karunia yang sangat besar seperti ini dari Tuhan; apakah ini berarti memperoleh sedikit? (Itu berarti memperoleh sangat banyak.) Tuhan adalah satu-satunya Yang Berdaulat di dunia ini. Hidupmu dan semua yang kaumiliki berada di tangan Tuhan, di tangan Yang Berdaulat ini, hatimu merasa damai, teguh, serta tenang, dan engkau tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Sebanyak apa pun pengenalanmu akan Tuhan atau sebanyak apa pun kebenaran yang kaupahami, engkau dapat sepenuhnya yakin akan hal ini di dalam hatimu. Segala sesuatu berada di tangan Tuhan. Jika orang-orang yang percaya kepada Tuhan memiliki tempat bagi-Nya di dalam hati mereka dan memahami kebenaran, roh-roh jahat tidak berani mengganggu, merusak, atau mendekati mereka. Oleh karena itu, orang-orang percaya tidak perlu melakukan proses-proses yang tidak perlu tersebut. Ini adalah kasih karunia yang sangat besar; bagaimana mungkin engkau masih bisa berkata bahwa engkau belum memperoleh apa pun dari kepercayaanmu kepada Tuhan? Bukankah itu berarti engkau tak punya hati nurani? Tanpa melihat hal lainnya, jika orang menyatakan bahwa dirinya belum memperoleh apa pun, itu saja sudah membuktikan bahwa orang itu sama sekali tak punya hati nurani, dan itu membuktikan bahwa hati nuraninya sangat buruk, apalagi hal-hal lainnya.

Tuhan memberi kebenaran dan hidup kepada manusia secara cuma-cuma, memberikan firman-Nya kepada manusia tanpa meminta imbalan apa pun. Meskipun manusia mungkin merasa bahwa tingkat pertumbuhan mereka masih belum dewasa, mereka belum memahami banyak kebenaran, dan mereka tidak bisa mengungkapkan dengan jelas sedikit hal yang mereka pahami, tetapi hanya hal-hal yang telah Tuhan berikan kepada mereka ini, kasih sayang dan kasih ini—betapa besarnya kasih karunia ini! Tuhan telah memberikan hal-hal yang paling berharga kepada manusia; manusia telah menerima hal-hal yang paling bernilai di dunia ini dari Tuhan. Entah engkau merasakannya atau belum, Tuhan telah memberikan hal-hal ini kepada manusia. Apa lagi yang harus manusia keluhkan? Apakah mereka layak menerima hal-hal ini? Mereka yang dipilih oleh Tuhan adalah orang-orang yang paling bahagia di dunia ini. Engkau telah diseleksi dan dipilih oleh Tuhan; engkau adalah salah satu orang yang paling bahagia dan paling beruntung di dunia ini. Mengapa engkau masih bisa berkata bahwa engkau belum memperoleh apa pun? Engkau telah menjadi salah satu orang yang paling bahagia dan paling beruntung karena Tuhan telah menyeleksi serta memilihmu, dan dengan demikian, roh-roh jahat serta setan-setan najis tidak berani mendekatimu. Ada orang-orang yang bertanya, "Apakah itu berarti bahwa status dan identitasku telah menjadi terhormat?" Dapatkah dikatakan demikian? Tidak, sebab semua ini adalah karena kasih Tuhan dan tindakan Tuhan. Manusia telah memperoleh sangat banyak! Dalam kehidupan ini saja, manusia telah memperoleh sangat banyak; bagaimana mungkin manusia memenuhi syarat untuk menerima semua ini? Ada orang-orang yang percaya kepada Tuhan yang sama sekali tidak mengejar kebenaran tetapi tetap berkata, "Apa yang telah kuperoleh setelah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun?" Tidak bisakah engkau menghitungnya sendiri? Engkau tahu di dalam hatimu apakah engkau memahami kebenaran atau tidak, apakah engkau telah lebih sedikit melakukan kejahatan, dan terlebih dari itu, engkau tahu di dalam hatimu betapa banyaknya kasih karunia yang telah kaunikmati. Jika di dalam hatimu, engkau tahu jelas tentang hal-hal ini, engkau tidak akan mengatakan hal-hal yang begitu tidak berhati nurani. Ada juga orang-orang yang berkata, "Rumah Tuhan juga menyediakan makanan, pakaian, dan tempat berteduh bagiku." Bukankah ini sangat kecil jika dibandingkan dengan kasih karunia dan perlindungan Tuhan? Bukankah ini bahkan tidak layak untuk disebutkan? Namun, orang-orang yang berhati nurani merasa bahwa meskipun tidak layak untuk disebutkan, hal itu tetaplah bagian dari kasih karunia Tuhan. Kasih karunia Tuhan itu tidak terukur; Tuhan telah memberi begitu banyak hal kepada manusia! Mengenai hal-hal materi tersebut, dari perspektif Tuhan, Dia bahkan tidak menghitungnya.

Di satu sisi, tindakan Tuhan bertujuan untuk melindungi manusia, dan di sisi lain adalah untuk menuntun mereka ke jalan keselamatan agar mereka dapat diselamatkan. Manusia telah menikmati kasih sayang Tuhan ini serta kasih-Nya kepada mereka, dan Tuhan telah menganugerahkan kasih karunia yang berlimpah kepada mereka! Selain itu, ada sesuatu yang paling penting: kebenaran yang telah Tuhan anugerahkan kepada manusia, yakni firman yang belum pernah didengar atau diterima oleh siapa pun di sepanjang sejarah manusia, di zaman mana pun. Berapa kali pun Tuhan telah menciptakan manusia, Dia belum pernah melakukan pekerjaan ini atau mengucapkan firman ini. Semua misteri yang berkaitan dengan kemanusiaan, apa yang mampu manusia tanggung, mengerti dan pahami, Tuhan telah memberitahukan semua hal ini kepada engkau semua. Dapatkah misteri-misteri ini, kebenaran-kebenaran ini, diukur jumlahnya? Semua itu tidak dapat diukur; manusia tidak dapat menghabiskan kenikmatannya selama banyak masa kehidupan. Mengapa Kukatakan demikian? Karena firman dari Tuhan ini adalah landasan bagi keberadaan manusia, dan firman ini dapat tetap ada untuk selamanya. Jika engkau benar-benar cukup beruntung untuk bertahan hidup dan hidup untuk selamanya, berarti firman dan kebenaran dari Tuhan ini mampu membekalimu untuk selamanya. Apa arti selamanya? Itu berarti tidak dibatasi oleh waktu, itu berarti tidak terbatas. Jika kita menafsirkannya secara harfiah, itu berarti tidak ada akhirnya; hidup untuk selamanya, sama seperti Tuhan itu sendiri. Firman dan kebenaran dari Tuhan ini dapat tetap ada sampai waktu itu. "Waktu itu" adalah konsep dan definisi waktu yang diungkapkan dalam bahasa manusia, tetapi itu sebenarnya berarti tanpa batas waktu. Katakan kepada-Ku, apakah firman dari Tuhan ini berharga atau tidak? Ini sangat berharga! Jika engkau tidak mengejarnya, itu adalah kerugianmu; itu berarti engkau bodoh. Namun, jika engkau mengejarnya, bagimu, nilai firman ini jauh melampaui masa hidup ini saja; firman ini akan tetap ada hingga selamanya. Firman ini akan selalu efektif dan berguna bagimu, serta akan bernilai dan bermakna untuk selamanya, membekalimu untuk selamanya. Jika engkau memahami firman ini, memperolehnya, dan hidup berdasarkannya, engkau akan mampu hidup untuk selamanya. Dalam istilah yang lebih sederhana, engkau akan hidup selamanya tanpa merasakan kematian. Bukankah inilah yang orang-orang impikan? Zaman yang tak terhitung banyaknya telah berlalu, orang-orang yang tak terhitung banyaknya telah mati, tetapi engkau akan tetap hidup. Dengan cara apa engkau akan tetap hidup? Dengan melalui firman Tuhan, dengan melalui kebenaran, engkau akan memenuhi syarat untuk terus hidup seperti ini. Apa yang akan kaulakukan selama kehidupan yang berkelanjutan ini? Engkau memiliki amanat Tuhan, kepemimpinan Tuhan, dan juga memiliki suatu misi. Apa misimu? Dengan cara engkau hidup dalam firman-Nya, Tuhan ingin engkau memuliakan-Nya dan menjadi kesaksian-Nya. Inilah nilai firman Tuhan. Nilai dan makna penting kebenaran dan firman yang orang dengar, sentuh, dan alami pada zaman ini akan tetap ada untuk selamanya. Mengapa itu akan ada untuk selamanya? Firman Tuhan ini bukanlah teologi, teori, slogan, atau semacam pengetahuan, melainkan firman kehidupan. Selama engkau memperoleh firman ini, hidup berdasarkannya, dan bertahan hidup berdasarkannya, Tuhan akan mengizinkanmu untuk terus hidup dan tidak membiarkanmu mati. Artinya, Dia tidak akan menghancurkanmu atau mengambil nyawamu; Dia akan membiarkanmu terus hidup. Bukankah ini adalah berkat yang besar? (Ya, ini adalah berkat yang besar.) Melalui firman ini, Tuhan ingin agar engkau mencicipi berkat ini di kehidupan ini dan memperolehnya di dunia yang akan datang. Inilah janji Tuhan. Mengingat janji Tuhan yang besar yang telah Tuhan berikan kepada manusia, apakah manusia telah menerima banyak hal? (Ya.) Tuhan telah memberikan janji yang begitu besar kepada manusia, memberitahukannya kepada semua orang. Dia telah memberitahumu mengenainya, memperbolehkanmu untuk datang dan mengambilnya secara cuma-cuma. Engkau tidak perlu mengorbankan nyawamu atau menyerahkan seluruh harta milikmu; engkau hanya perlu mendengarkan firman Tuhan, dan bertindak sesuai dengan tuntutan Tuhan serta keinginan-Nya, dan engkau dapat menerima janji ini dari Tuhan. Bukankah Tuhan telah memberi banyak hal kepada manusia? Engkau saat ini sedang menempuh jalan untuk memperoleh janji ini: Meskipun engkau belum menerimanya sepenuhnya, sudahkah engkau menerimanya sedikit? Dilihat dari janji yang telah Tuhan anugerahkan kepada manusia, orang telah menerima sangat banyak hal. Mereka telah menerima keuntungan yang signifikan; mereka sama sekali tidak kehilangan apa pun atau menderita kerugian apa pun. Mereka hanya menginvestasikan sedikit waktu, dan daging mereka mungkin telah sedikit bekerja keras. Mereka mungkin telah mengorbankan sedikit kebahagiaan keluarga, kesukaan dan keinginan daging pribadi, melepaskan sebagian dari aspirasi, kepentingan, serta keinginan mereka sendiri, dan sebagainya. Namun, dibandingkan dengan memahami kebenaran, memperoleh keselamatan, dan menerima janji Tuhan, semua prospek, tujuan, dan aspirasi pribadi itu tidak layak untuk disebutkan, karena hal-hal tersebut hanya dapat membawamu neraka, dan Tuhan tidak akan memberimu janji-Nya untuk hal-hal tersebut. Sebaliknya, ketika orang menginvestasikan sejumlah waktu yang terbatas, harga yang bersedia dan mampu mereka bayarkan, pada akhirnya mereka akan mulai memahami kebenaran, dan memahami beberapa misteri, prinsip tentang cara berperilaku, esensi dan asal mula tertentu dari semua peristiwa, hal-hal, dll, yang belum pernah dipahami umat manusia sejak penciptaan oleh Tuhan. Yang jauh lebih penting, mereka akan memperoleh sedikit pengenalan akan Tuhan dan mampu takut akan Dia. Setelah memperoleh semua ini, bukankah layak untuk membayar harga seperti itu? Keluhan apa yang orang miliki? Mengapa mereka berkata bahwa mereka belum memperoleh apa pun dari kepercayaan mereka kepada Tuhan? Bukankah hati nurani mereka telah sepenuhnya busuk? Engkau telah memperoleh sangat banyak, dan masih merasa belum puas. Apa lagi yang kauinginkan? Apakah engkau akan puas jika engkau dijadikan presiden atau miliarder? Jika Tuhan memberikan hal-hal itu kepadamu, engkau tidak akan menjadi milik-Nya. Tuhan tidak ingin mendapatkan orang-orang seperti ini.

Orang-orang selalu berkata bahwa mereka belum memperoleh apa pun dari kepercayaan mereka kepada Tuhan, yang memperlihatkan bahwa mereka tidak memiliki hati nurani, tidak memiliki kemampuan untuk memahami kebenaran, tidak mengejar kebenaran, dan memiliki karakter yang sangat rendah. Orang-orang seperti itu tidak memiliki pemahaman yang murni tentang apa yang Tuhan lakukan, apa tuntutan Tuhan terhadap manusia, dan apa yang telah Tuhan karuniakan kepada manusia, serta hal-hal lainnya. Pada akhirnya, ketika terjadi sesuatu yang membuat mereka sedikit tidak senang, kemarahan berlimpah yang telah mereka pendam langsung meledak: "Apa yang telah kuperoleh dari kepercayaanku kepada Tuhan? Dagingku telah begitu banyak menderita. Aku telah melaksanakan tugas apa pun yang gereja tugaskan kepadaku. Betapa pun sulit atau melelahkannya itu, aku tidak pernah mengeluh; sebesar apa pun kesulitannya, aku tidak pernah mengatakan apa pun. Aku tidak pernah mengajukan tuntutan apa pun terhadap rumah Tuhan. Dengan kasihku yang besar dan kesetiaanku yang besar ini, apa yang telah kuperoleh? Jika bahkan aku tidak memperoleh apa pun, jangan harap orang lain akan memperoleh sesuatu!" Maksud mereka yang sebenarnya adalah: "Kalian belum mempersembahkan sebanyak yang telah kupersembahkan, kalian belum membayar harga sebanyak yang telah kubayarkan; jika bahkan aku tidak memperoleh apa pun, apa yang dapat kalian peroleh? Kalian semua perlu berhati-hati; jangan bodoh!" Bukankah orang-orang semacam itu tidak berhati nurani? Orang yang tidak berhati nurani selalu mengucapkan perkataan yang bodoh dan keras kepala. Mereka tidak mampu memahami satu pun dari sekian banyaknya kebenaran yang Tuhan ucapkan, atau dari sekian banyaknya hal dan pernyataan yang murni serta positif, mereka justru dengan keras kepala berpaut pada sudut pandang mereka sendiri: "Aku telah menanggung kesukaran serta membayar harga bagi Tuhan, jadi Tuhan harus memberkatiku, dan harus mengizinkanku untuk memperoleh lebih banyak daripada orang lain. Jika tidak, aku akan melampiaskan, aku akan meledak, aku akan mengumpat! Apa pun yang kuinginkan, Tuhan harus memberikannya kepadaku, dan jika aku tidak mendapatkannya, berarti Tuhan tidak adil, dan aku akan berkata bahwa aku belum memperoleh apa pun; ini berarti aku mengatakan yang sebenarnya!" Bukankah mereka tidak memiliki kemanusiaan? Perkataan seseorang yang tidak memiliki kemanusian tentu saja tidak dapat tetap teguh, apalagi sesuai dengan kebenaran; berbicara sesuai dengan kebenaran adalah hal yang agak terlalu berat untuk dituntut dari mereka. Perkataan yang orang ucapkan harus merupakan permintaan dan pernyataan yang masuk akal, bukan argumen yang diputarbalikkan; perkataan itu harus dapat tetap teguh, siapa pun yang mendengarkannya atau siapa pun yang menilainya. Namun, perkataan dan tindakan orang yang memiliki kemanusiaan yang buruk tidak dapat tetap teguh. Ketika mereka mengamuk dan melampiaskan keluhan mereka, ada orang-orang yang berpikir, "Mengapa mereka berkata bahwa mereka belum memperoleh apa pun? Mungkinkah rumah Tuhan telah berbuat tidak adil kepada mereka? Apakah ada beberapa tindakan rumah Tuhan yang tidak sesuai dengan prinsip dan tidak dapat dibeberkan secara terbuka? Orang itu biasanya terlihat cukup mampu untuk menanggung kesukaran dan membayar harga, tetapi hari ini dia meledak dengan begitu marahnya, berkata bahwa dia belum memperoleh apa pun; sepertinya dia benar-benar belum memperoleh apa pun. Bukankah ini berarti memancing kemarahan orang yang berperilaku baik? Kalau begitu, aku harus lebih berhati-hati; sebaiknya aku tidak menanggung kesukaran atau membayar harga seperti yang telah kulakukan sebelumnya ketika melaksanakan tugasku!" Dengan cara inilah beberapa orang bingung yang tidak memiliki kemampuan mengidentifikasi terpengaruh.

Terhadap orang-orang yang sering melampiaskan kenegatifan, jika memang mereka memiliki sudut pandang atau ide yang ingin mereka ungkapkan, biarkan mereka berbicara terlebih dahulu dan mengungkapkan pandangan mereka. Setelah mereka mengungkapkannya, semua orang akan memahami: "Mereka merasa bahwa harga yang telah mereka bayarkan tidak sesuai dengan apa yang mereka peroleh. Mereka merasa belum memperoleh keuntungan apa pun dan mereka telah mengalami kerugian, sehingga mereka merasa makin enggan. Mereka sedang mengeluh tentang Tuhan, berharap untuk bertransaksi dengan Tuhan, menuntut kasih karunia dan keuntungan!" Dapatkah orang biasa mengidentifikasi orang semacam itu setelah mendengarnya berbicara? Setelah semua orang mampu mengidentifikasi orang itu, katakan kepadanya, "Apa kau sudah selesai berbicara? Jika tidak ada lagi yang ingin kaukatakan, tutup mulutmu, atau kau akan mempermalukan dirimu sendiri. Jika natur jahatmu tersingkap di depan semua orang dan tidak segera dikendalikan, itu akan memicu kemarahan publik. Ketika semua orang menyingkapkan dan menolakmu, sudah terlambat bagimu untuk menyesalinya." Peringatkan dia dengan cara ini, dan dengan melakukannya, engkau telah membatasinya. Atau engkau juga bisa berkata: "Jika kau merasa telah rugi, kau tidak perlu percaya kepada Tuhan. Engkau merasa belum memperoleh apa pun, lalu apa sebenarnya yang ingin kauperoleh? Jika kau ingin memperoleh keuntungan dan menjadi kaya, atau menduduki jabatan tinggi, maaf saja, itu bukanlah hal-hal yang dapat orang peroleh hanya karena mereka menginginkannya; ini adalah hal-hal yang ditetapkan oleh Tuhan. Penampakan Tuhan dan pekerjaan-Nya untuk menyelamatkan manusia bukanlah tentang memberikan hal-hal ini kepada manusia. Pergilah ke mana pun engkau bisa mendapatkannya; rumah Tuhan bukanlah dunia, itu tidak dapat memuaskan para setan dan Iblis. Sebaiknya engkau tidak menuntut hal-hal semacam ini dari rumah Tuhan, ataupun dari saudara-saudari; jika engkau berani meminta hal-hal ini kepada Tuhan, engkau akan menyinggung watak-Nya dan memancing kemarahan-Nya. Ini karena Tuhan telah memberikan banyak kasih karunia kepada manusia, dan bahkan Dia telah menganugerahkan lebih banyak kebenaran kepada manusia untuk menjadi hidup mereka. Jika engkau tidak menganggap memperoleh kebenaran sebagai hal yang berharga, itu adalah kebodohan dan kedunguanmu sendiri." Semua orang menegur dan memangkasnya seperti ini. Bagaimana pendapatmu tentang penerapan ini? Atau, engkau bisa berkata: "Rumah Tuhan tidak berutang apa pun kepadamu. Semua pengorbanan dirimu bagi Tuhan dan pelaksanaan tugasmu bersifat sukarela. Tahukah kau berapa banyak kasih karunia yang telah kaunikmati dari Tuhan sejak kau mulai percaya kepada-Nya dan melaksanakan tugas? Jika kau benar-benar memiliki hati nurani, engkau tidak boleh mengatakan kepada Tuhan bahwa engkau belum memperoleh apa pun; engkau seharusnya datang ke hadapan Tuhan dan menyadari masalahmu sendiri. Jika kau benar-benar percaya bahwa Tuhan adalah kebenaran, bahwa segala sesuatu yang Tuhan lakukan adalah kebenaran dan firman-Nya adalah kebenaran, kau tidak boleh berkata seperti itu; kau tidak boleh mengeluh. Sikapmu saat ini bukanlah sikap yang seharusnya dimiliki oleh orang yang percaya kepada Tuhan, juga bukanlah sikap yang seharusnya dimiliki oleh orang yang mencari kebenaran. Kau sedang berusaha memberontak, mengungkit masalah lamamu dengan Tuhan! Kau sedang berusaha berpisah dengan Tuhan, membuat perhitungan terakhir! Padahal Tuhan tidak berutang apa pun kepadamu, begitu pula rumah Tuhan. Jika kau akan membuat perhitungan terakhir dengan rumah Tuhan, bergegaslah dan tinggalkan rumah-Nya. Jangan ganggu rumah Tuhan, jika tidak, kau akan memancing kemurkaan-Nya dan Dia akan membunuhmu. Itu bukanlah akibat yang baik. Jika kau masih memiliki hati nurani atau nalar, engkau harus menenangkan dirimu untuk berdoa dan mencari, untuk melihat apakah ada yang salah dengan perspektif di balik pengejaranmu dalam kepercayaanmu kepada Tuhan, dan apakah jalan yang sedang kautempuh adalah jalan yang Tuhan tuntut untuk kautempuh. Kau memiliki begitu banyak tuntutan yang tidak masuk akal terhadap Tuhan, kekesalan yang begitu besar; ini menunjukkan bahwa ada yang salah dengan pengejaranmu. Kau tidak membangun kekesalan yang begitu mendalam itu hanya dalam satu atau dua hari; itu telah terbangun untuk waktu yang lama. Atau mungkin kau telah datang ke hadapan Tuhan dengan sudut pandang yang salah di benakmu sejak kau mulai percaya kepada-Nya, dan apa pun yang Dia katakan, kau telah mati rasa, sehingga kau sama sekali tidak merasa menyesal atau berutang. Mungkin itulah yang membuatmu bersikap seperti ini sekarang. Sebaiknya kau segera mengakuinya dan bertobat; masih ada waktu untuk bertobat. Jika kau tidak bertobat, dan terus melakukan kejahatan serta melampiaskan kenegatifan, kau akan menjadi setan, menjadi antikristus. Ketika rumah Tuhan mengeluarkanmu, tidak akan ada lagi kesempatan bagimu untuk diselamatkan; apa yang dikutuk oleh rumah Tuhan juga dikutuk oleh Tuhan. Kami memberimu peringatan ini karena mempertimbangkan kemampuanmu untuk menanggung kesukaran dan membayar harga selama bertahun-tahun kau percaya kepada Tuhan. Kami sedang memberimu kesempatan. Jika kau bersikeras menempuh jalanmu sendiri serta tidak mau mendengarkan nasihat, dan rumah Tuhan memutuskan untuk mengeluarkanmu, kau tidak akan lagi menjadi saudara atau saudari. Tidak akan ada lagi harapan sedikit pun bagimu untuk diselamatkan. Ketika saat itu tiba, kau benar-benar tidak akan memperoleh apa pun. Jadi, jangan menyesal pada saat itu. Yang terpenting bagimu sekarang adalah mengubah pemikiran, sudut pandang, dan arah pengejaranmu. Jangan selalu berusaha memperoleh sesuatu lagi. Dengarkan firman Tuhan; lihatlah seberapa banyak dari apa yang Tuhan ungkapkan tentang watak rusak manusia yang dapat kaurenungkan dan ketahui dalam dirimu sendiri. Sudahkah kau menyelesaikan masalah yang mampu kauidentifikasi dalam dirimu, masalah yang mampu kaulihat dengan jelas? Sudahkah kau mengenali pemberontakanmu terhadap Tuhan? Sudahkah kau menyelesaikannya? Masalah terbesar yang kauhadapi sekarang adalah selalu ingin membuat perhitungan dengan Tuhan; masalah apa ini? Bukankah ini masalah yang perlu diselesaikan? Ketika percaya kepada Tuhan, kau selalu memiliki niat tertentu, dengan suatu transaksi di benakmu; kau selalu berhasrat untuk memperoleh berkat, berharap untuk mempertukarkan upaya, pengorbanan diri, dan penderitaan daging dengan berkat kerajaan surga; bukankah ini adalah cara berpikir penjahat? Mengapa kau tidak memperhatikan orang seperti apa yang dianugerahi berkat oleh Tuhan, apa tuntutan Tuhan terhadap manusia, apa yang telah Tuhan firmankan kepada manusia, dan apa yang perlu dicapai manusia untuk menerima janji-janji Tuhan? Jika kau benar-benar percaya kepada Tuhan dan benar-benar ingin diselamatkan, jangan selalu berusaha memperoleh sesuatu dari Tuhan. Kau harus memperhatikan berapa banyak firman Tuhan yang telah kauterapkan, apakah kau adalah orang yang mengikuti firman Tuhan atau tidak. Mengikuti firman Tuhan berarti menerapkan dan hidup berdasarkan tuntutan Tuhan serta prinsip-prinsip kebenaran, bukan sekadar sedikit menderita secara fisik dan sedikit membayar harga. Watak rusakmu belum dibereskan, dan ada niat dalam semua harga yang kaubayarkan serta semua kesukaran yang kaujalani. Tuhan tidak berkenan akan hal ini; Dia tidak menginginkan harga seperti itu. Jika kau bersikeras untuk membuat perhitungan dengan Tuhan, jika kau bersikeras untuk berdebat dan menentang Tuhan, berarti kau sedang menyinggung watak-Nya, dan Dia akan membiarkanmu menempuh jalanmu sendiri, menuju ke neraka untuk dihukum. Ini adalah hukuman yang setimpal karena melakukan kejahatan. Kau telah menikmati banyak berkat serta kasih karunia dari Tuhan, dan Dia telah memberimu perlakuan materi yang istimewa. Kau telah menerima apa yang semestinya kauterima; apa lagi yang kauinginkan dari Tuhan?" Jika engkau mempersekutukan perkataan ini, bukankah suasana hati mengeluh dari seseorang yang sedikit berhati nurani dan bernalar akan sedikit mereda setelah mendengarnya? Apakah perkataan ini adalah pemahaman murni yang sesuai dengan kebenaran? (Ya.) Jika seseorang memiliki kemanusiaan dan nalar, dia akan mampu memahami dan menerimanya. Hanya mereka yang tidak memiliki kemanusiaan, mereka yang tidak memiliki hati nurani dan nalar, yang akan menganggap perkataan ini berusaha menipu mereka, bahwa ini adalah retorika yang terdengar muluk-muluk, yang tidak layak dipercayai, dan bahwa perkataan ini tidak bermanfaat secara nyata seperti halnya kasih karunia yang kasatmata atau berkat-berkat materi. Jadi, sebelum mereka melihat manfaat yang nyata itu, apa pun yang kaukatakan tidak ada gunanya; mereka tidak akan menerimanya. Mereka mungkin tidak melawanmu di depanmu, tetapi di belakangmu, mereka masih akan terus menentang di dalam hatinya, melampiaskan kenegatifan dari waktu ke waktu, memamerkan kontribusi mereka sendiri, menghitung kesukaran yang telah mereka tanggung, serta bagaimana rumah Tuhan memperlakukan mereka, bagaimana mereka bertahan di rumah Tuhan; mereka selalu menyimpan hal-hal ini di dalam hatinya. Apa pun yang terjadi pada mereka, selama mereka tidak menerima apa yang mereka inginkan, sifat biadab mereka akan meledak, mereka meledak dalam kemarahan, memperlihatkan perilaku yang tercela, dan melampiaskan kenegatifan. Haruskah engkau tetap berusaha membujuk orang seperti itu? Jika, setelah sedikit dibujuk pun, mereka tetap memperlihatkan karakter yang sama, masalah lama mereka kembali lagi, dan sifat setan mereka kembali berkobar, apa yang harus dilakukan? Itu berarti tiba saatnya untuk memberlakukan pembatasan. Jangan beri mereka kesempatan untuk bertobat. Mereka sudah tidak dapat ditolong; mereka adalah orang-orang bodoh dan keras kepala. Mengapa mereka adalah "orang-orang bodoh dan keras kepala"? Karena mereka tidak menerima jalan yang murni dan tidak menerima hal-hal yang positif. Sebaliknya, mereka menerima argumen yang menyimpang, kesesatan, dan kekeliruan, berpaut pada sudut pandang mereka sendiri tentang memperoleh manfaat yang nyata, mengambil keuntungan, dan tidak mengalami kerugian. Seperti apa pun cara rumah Tuhan mempersekutukan kebenaran, mereka selalu berkata, "Semua itu adalah perkataan yang terdengar menyenangkan. Siapa yang tidak bisa mengatakan beberapa hal yang menyenangkan? Jika kau mengalami kerugian, kau tidak akan berkata seperti itu." Mereka dengan keras kepala berpaut pada pandangan semacam itu, dan ketika sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi atau mereka mengalami kerugian, mereka merasa belum memperoleh apa pun dari kepercayaan mereka kepada Tuhan, dan mereka akan melampiaskan kenegatifan lagi. Haruskah mereka masih diberi kesempatan? Tidak ada lagi kesempatan. Jika mereka tidak melaksanakan tugas mereka dengan baik, tetapi malah mengganggu orang lain, segera hentikan dan batasi mereka. Jangan izinkan mereka berbicara dengan bebas. Jika mereka terus menyebarkan kenegatifan dan mengganggu orang lain, tidak perlu lagi bersikap sopan kepada mereka. Segera keluarkanlah mereka. Ini bukan berarti tidak mengasihi, bukan? (Tidak.) Kebenaran telah disampaikan kepada mereka dalam persekutuan, tetapi mereka tidak dapat menerimanya, dengan cara apa pun itu dipersekutukan; ini menunjukkan hal apa? Dari luarnya, orang ini kelihatannya adalah pengikut yang bukan orang percaya, tetapi pada esensinya, mereka adalah setan. Mereka telah datang ke rumah Tuhan untuk meminta kasih karunia dan berkat dari Tuhan, untuk memperoleh keuntungan, dan mereka tidak akan beristirahat sampai mendapatkannya. Jika mereka belum memperoleh keuntungan apa pun setelah percaya selama beberapa waktu, watak Iblis dalam diri mereka akan meledak; mereka akan meluapkan ketidakpuasan mereka terhadap Tuhan, melakukan kejahatan, dan menyebabkan gangguan. Ini adalah setan. Sedikit penderitaan dan pengorbanan diri yang telah mereka lakukan pada dasarnya bukanlah penerapan firman Tuhan. Semua itu murni tentang bertransaksi, tentang memperoleh keuntungan dan berkat untuk diri mereka sendiri. Ketika sesuatu menimpa orang-orang yang selalu ingin memperoleh sesuatu dari kepercayaan mereka kepada Tuhan, dan mereka negatif serta lemah, mereka selalu berkata, "Aku belum memperoleh apa pun dari kepercayaanku kepada Tuhan." Kemudian, mereka menyerah dan mulai bertindak gegabah, berusaha membalas dendam, dan sering melampiaskan kenegatifan untuk meluapkan emosi ketidakpuasan mereka. Kita telah mempersekutukan cara untuk memperlakukan orang-orang semacam itu: Mereka harus ditangani berdasarkan prinsip. Jika mereka mampu menerima kebenaran dan menjamin bahwa kelak mereka tidak akan menyebabkan lebih banyak gangguan, mereka dapat diberi kesempatan lagi untuk tetap berada di gereja. Jika mereka selalu mengganggu dan merusak pekerjaan serta kehidupan bergereja, segera keluarkan mereka. Ini dilakukan untuk melindungi pekerjaan gereja dan memastikan bahwa umat pilihan Tuhan dapat menjalani kehidupan bergereja tanpa gangguan. Keputusan ini dibuat dan metode ini diambil berdasarkan prinsip ini. Ini adalah hal yang tepat.

Dalam kehidupan bergereja, siapa lagi yang cenderung melampiaskan kenegatifan? Ada orang-orang yang melaksanakan tugasnya tanpa memperoleh hasil, selalu melakukan kesalahan; mereka tidak merenungkan diri mereka tetapi selalu merasa bahwa Tuhan itu tidak benar atau tidak adil, bahwa Tuhan selalu memperlakukan orang lain dengan murah hati tetapi tidak demikian terhadap mereka, bahwa Tuhan memandang rendah mereka, serta tidak pernah mencerahkan mereka, dan itulah sebabnya mereka tidak pernah memperoleh hasil saat melaksanakan tugas, dan mereka tidak pernah mampu mencapai tujuan mereka untuk menjadi orang yang menonjol dan dihormati. Di dalam hatinya, mereka mulai memiliki keluhan tentang Tuhan, dan saat mereka melakukannya, kecemburuan, rasa jijik, dan kebencian muncul dalam diri mereka terhadap orang-orang yang melaksanakan tugasnya dengan setia. Kemanusiaan macam apa yang dimiliki orang-orang semacam itu? Bukankah mereka berpikiran picik? Dan selain itu, bukankah mereka gagal memahami cara untuk mengejar kebenaran dalam iman mereka kepada Tuhan? Mereka tidak memahami apa artinya percaya kepada Tuhan. Mereka mengira bahwa percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugas itu seperti siswa yang mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, selalu harus membandingkan nilai dan peringkat. Jadi, mereka sangat mementingkan hal-hal ini. Bukankah seperti itulah keadaan mereka? Pertama-tama, dari perspektif memahami kebenaran, apakah orang-orang semacam itu memiliki pemahaman rohani? Tidak, dan mereka tidak memahami apa artinya percaya kepada Tuhan dan mengejar kebenaran. Di satu sisi, mereka sangat mementingkan peringkat mereka di antara orang lain; di sisi lain, mereka selalu menggunakan metode penilaian untuk menilai seberapa baik orang lain dalam melaksanakan tugas dan seberapa baik mereka dalam melaksanakan tugasnya sendiri, seolah-olah mereka sedang menilai para siswa di sekolah, mengukur kepercayaan orang kepada Tuhan dan pelaksanaan tugas mereka dengan menggunakan metode ini. Bukankah ada sesuatu yang salah dengan hal ini? Selain itu, bukankah berusaha keras seperti itu dalam melaksanakan tugas adalah hal yang salah? Bukankah mereka melaksanakan tugas dengan upaya belajar dan mengikuti ujian? (Ya.) Mengapa kita menganggapnya demikian? Apakah orang-orang semacam itu memahami cara mencari prinsip ketika percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugas? Apakah mereka mampu mencari prinsip? Di satu sisi, mereka tidak tahu bagaimana mencari prinsip. Bagaimana seharusnya orang membaca firman Tuhan, bagaimana mempersekutukan kebenaran, dan bagaimana melaksanakan tugas dengan semestinya; mereka tidak memahami hal-hal ini, dan mereka juga tidak peduli akan hal-hal ini. Mereka hanya tahu bahwa mereka harus menemukan prinsip dan bertindak berdasarkannya, tetapi mereka tidak memahami apa yang prinsip-prinsip itu tetapkan, apa yang Tuhan tuntut, atau bagaimana orang lain bertindak berdasarkan prinsip. Mereka benar-benar tidak memahaminya. Dan di sisi lain, apakah mereka mampu mengevaluasi pelaksanaan tugas berdasarkan standar Tuhan untuk mengukur apakah pelaksanaan tugas orang-orang memenuhi standar atau tidak, dan prinsip yang dituntut-Nya terhadap orang-orang dalam pelaksanaan tugas mereka? Dapatkah mereka memahami hal-hal ini dari firman Tuhan dan dari persekutuan yang disampaikan saudara-saudari? Pertama-tama, mereka tidak memahami firman Tuhan, dan mereka juga tidak memahami hal-hal tentang melaksanakan tugas. Setelah mereka mulai percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugas, mereka merenung: "Ketika masih bersekolah, aku menemukan sebuah aturan: Selama kau bersedia bekerja keras dan belajar lebih giat, kau bisa mendapatkan nilai tinggi. Jadi, aku akan melakukan hal yang sama dalam imanku kepada tuhan. Aku akan lebih banyak membaca firman tuhan dan lebih banyak berdoa. Sementara orang lain mengobrol atau makan, aku akan mempelajari lagu pujian dan menghafalkan firman tuhan. Jika aku berupaya seperti itu, tuhan pasti akan memberkatiku karena melihat kerja keras, kerajinan, serta ketekunanku, dan pelaksanaan tugasku pasti akan membuahkan hasil. Aku yakin akan mendapat nilai tinggi di antara orang lain, dan aku akan dihargai serta dipromosikan." Namun, meskipun melakukan semua itu, mereka tetap tidak dapat mencapai keinginan mereka: "Mengapa aku tetap tidak seefektif orang lain dalam melaksanakan tugasku? Bagaimana mungkin aku akan dipromosikan atau dipakai untuk tugas-tugas penting? Bukankah ini berarti tidak ada harapan? Aku terlahir kompetitif, tidak mau ketinggalan dari orang lain. Seperti itulah aku di sekolah, dan sekarang aku masih seperti ini dalam kepercayaanku kepada tuhan. Siapa pun yang melampauiku, aku bertekad untuk melampauinya. Aku tidak akan beristirahat sampai aku melampauinya!" Mereka yakin bahwa dengan metode dan pendekatan yang benar—hanya dengan berusaha keras belajar untuk membaca lebih banyak firman Tuhan dan mempelajari lebih banyak lagu pujian; tidak mengobrol; tidak terlalu fokus berdandan; tidur lebih sedikit dan bersenang-senang lebih sedikit; menaklukkan tubuh mereka; dan tidak menikmati kenyamanan daging—mereka akan mampu menerima berkat Tuhan, dan mereka yakin akan mencapai hasil dalam pelaksanaan tugas mereka. Namun, hasilnya selalu berbeda dari yang mereka harapkan: "Mengapa aku masih selalu melakukan kesalahan dalam melaksanakan tugasku, dan mengapa aku masih belum bisa melakukannya sebaik orang lain? Orang lain melakukan segala sesuatu dengan cepat dan baik, dan pemimpin selalu memuji serta menghormati mereka. Aku telah menanggung begitu banyak penderitaan dan kesukaran. Mengapa aku masih belum memperoleh hasil?" Saat merenungkan hal ini, mereka akhirnya menemukan sesuatu yang penting: "Ternyata tuhan itu tidak adil. Aku sudah begitu lama percaya kepada tuhan, dan baru sekarang aku menyadari hal ini! Tuhan itu murah hati kepada siapa pun yang dikehendakinya. Lalu, mengapa dia tidak mau bermurah hati kepadaku? Apakah karena aku bodoh, karena aku tidak mampu menyanjung dan berbicara dengan fasih, karena aku tidak berpikir dengan cepat dan efektif? Atau karena penampilanku terlalu biasa dan aku kurang berpendidikan? Ini berarti tuhan sedang menyingkapkanku, bukan? Aku telah membaca begitu banyak firman tuhan─mengapa tuhan tidak bermurah hati kepadaku, tetapi malah menyingkapkanku?" Saat memikirkannya, mereka menjadi negatif: "Aku tidak mau lagi melaksanakan tugasku. Aku tidak diberkati oleh tuhan ketika melaksanakan tugasku, dan aku sudah membaca lebih banyak firman tuhan, tetapi dia belum mencerahkanku. Dikatakan dalam firman tuhan: tuhan itu murah hati kepada siapa pun yang dikehendakinya dan berbelas kasihan kepada siapa pun yang diinginkannya. Aku bukanlah orang yang diberi belas kasihan atau kemurahan hati oleh tuhan. Mengapa aku harus menderita siksaan ini?" Makin mereka memikirkannya, makin mereka menjadi negatif, dan makin mereka merasa tidak memiliki jalan ke depan. Mereka merasa sangat tertekan oleh keluhan mereka dan tidak mau lagi melaksanakan tugas; dan ketika melaksanakan tugas, mereka hanya bersikap asal-asalan. Dengan cara apa pun orang lain mempersekutukan prinsip, mereka tidak memahaminya. Tidak ada reaksi dalam diri mereka. Ketika berada dalam kondisi seperti itu, apakah mereka memiliki jalan masuk kehidupan? Apakah mereka memiliki kesetiaan dalam melaksanakan tugas mereka? Tidak lagi, dan sedikit upaya serta ketekunan yang sebelumnya mereka miliki juga telah hilang. Jadi apa yang masih tersisa dalam hati mereka? "Aku hanya akan membuat rencana seiring berjalannya waktu, dan menerima apa pun yang akan terjadi. Kapan pun, tuhan mungkin akan menyingkapkan dan menyingkirkanku, menyerah mengenaiku. Ketika tiba saatnya aku tidak diizinkan untuk melaksanakan tugasku, aku tidak akan melakukannya. Aku tahu bahwa aku tidak cukup baik. Tuhan mungkin belum menyingkirkanku, tetapi aku tahu bahwa dia tidak menyukaiku. Hanya masalah waktu sebelum aku akhirnya disingkirkan." Pemikiran dan pandangan ini muncul dalam hati mereka, dan ketika mereka berinteraksi dengan orang lain, pernyataan seperti ini sesekali terucap: "Teruslah percaya dengan sungguh-sungguh, kalian semua. Iman dan pelaksanaan tugas kalian pasti akan diberkati oleh tuhan. Aku sendiri sudah tidak ada harapan. Jalanku sudah berakhir. Setekun atau sekeras apa pun aku bekerja, itu tidak ada gunanya. Jika tuhan tidak menyukai seseorang, sebanyak apa pun upaya yang mereka kerahkan, itu tidak ada gunanya. Aku melaksanakan tugas dengan mengerahkan segenap kemampuanku; jika upayaku tidak membuahkan hasil, tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Dapatkah tuhan memaksa orang untuk melakukan apa yang berada di luar kemampuan mereka? Tuhan tidak bisa memaksa ikan untuk hidup di darat!" Apa yang dimaksud di sini? Maksud sebenarnya adalah: "Aku memang seperti ini. Seperti apa pun cara tuhan memperlakukanku, akan seperti inilah sikapku." Katakan kepada-Ku, mengapa seseorang yang memiliki sikap dan niat seperti ini masih ingin menerima berkat Tuhan? Dapatkah keadaan dan sikap yang telah mereka kembangkan ini memengaruhi orang lain? Itu dapat dengan mudah berpengaruh negatif dan merugikan, membuat orang lain terjerumus ke dalam kenegatifan dan kelemahan. Bukankah ini berarti menyesatkan dan merugikan orang lain? Orang-orang dengan tingkat kenegatifan seperti ini termasuk kategori setan, bukan? Setan tidak pernah mencintai kebenaran.

Ada orang-orang yang tidak melampiaskan kenegatifan mereka dengan panjang lebar; mereka hanya mengucapkan beberapa kalimat pendek: "Kalian semua lebih baik daripadaku. Kalian semua sangat diberkati. Aku sendiri tidak ada harapan. Sekeras apa pun aku berusaha, itu tidak ada gunanya. Tidak ada harapan bagiku untuk menerima berkat Tuhan." Meskipun perkataannya sederhana dan sepertinya tidak bermasalah, terdengar seolah-olah mereka sedang memeriksa diri sendiri, menelaah diri sendiri, dan menerima fakta-fakta seperti kualitas dirinya yang buruk dan kekurangannya sendiri, sebenarnya, mereka sedang melampiaskan semacam kenegatifan yang tidak terlihat. Perkataan ini mengandung sindiran dan ejekan, serta penentangan, dan tentu saja, terlebih dari itu, mengandung ketidakpuasan terhadap Tuhan, disertai dengan suasana hati yang negatif dan murung. Perkataan negatif ini mungkin hanya terdiri dari beberapa patah kata, tetapi, seperti halnya penyakit menular, suasana hati ini dapat memengaruhi orang lain. Meskipun mereka tidak secara eksplisit berkata, "Aku tidak mau lagi melaksanakan tugasku, tidak ada harapan bagiku untuk diselamatkan, dan kalian semua juga berada dalam bahaya," mereka mengirimkan sinyal yang membuat orang-orang merasa bahwa jika orang ini saja, meskipun sudah berusaha keras, tidak memiliki harapan untuk diselamatkan, apalagi orang-orang yang tidak berusaha keras. Dengan menyampaikan sinyal ini, mereka memberi tahu semua orang, "Harapan itu penting. Jika Tuhan tidak memberimu harapan, jika Tuhan tidak memberkatimu, sebanyak apa pun upaya yang kaukerahkan, semua itu sia-sia." Setelah sebagian besar orang menerima sinyal ini, di dalam hati mereka, iman mereka kepada Tuhan pun memudar, dan kesetiaan serta ketulusan yang seharusnya mereka tunjukkan saat melaksanakan tugas menjadi sangat berkurang. Meskipun mereka melampiaskan kenegatifan ini tanpa niat yang jelas untuk menyesatkan atau menarik orang agar berpihak pada mereka, suasana hati yang negatif ini segera memengaruhi orang lain, membuat orang lain merasakan suatu krisis, merasa bahwa upayanya dapat dengan mudahnya menjadi sia-sia; itu membuat orang menjadi hidup dalam perasaannya, menggunakan perasaan untuk berspekulasi tentang Tuhan, dan menganalisis serta meneliti sikap dan ketulusan Tuhan terhadap manusia berdasarkan penampilan yang dangkal. Ketika suasana negatif ini ditularkan kepada orang lain, mereka pun akan menjauhkan diri dari Tuhan dan salah paham serta meragukan apa yang telah Tuhan firmankan, tidak lagi memercayai firman-Nya. Pada saat yang sama, mereka tidak lagi memiliki ketulusan terhadap tugasnya; mereka tidak mau membayar harga, dan tidak mau memiliki kesetiaan sama sekali. Inilah dampak dari pernyataan negatif ini terhadap orang-orang. Apa akibat dari dampak ini? Setelah mendengar perkataan ini, orang tidak terdidik dalam kerohaniannya, dan terlebih dari itu, mereka tidak memperoleh pengenalan akan dirinya sendiri, tidak menyadari kekurangannya, atau menjadi tidak mampu menerapkan kebenaran, dan tidak melaksanakan tugasnya berdasarkan prinsip; mereka tidak memperoleh satu pun dari hal-hal positif ini. Sebaliknya, dampak ini membuat orang-orang menjadi makin negatif, berpikir untuk melepaskan pengejaran akan kebenaran, dan tidak lagi memiliki tekad untuk melaksanakan tugasnya. Mengapa mereka telah kehilangan iman? (Mereka merasa bahwa tidak ada harapan bagi mereka untuk diselamatkan.) Benar, engkau telah menerima pesan ini dan merasa bahwa tidak ada harapan bagimu untuk diselamatkan, sehingga engkau tidak mau berusaha untuk melaksanakan tugasmu. Perilaku ini memperlihatkan bahwa engkau tidak sungguh-sungguh mengejar kebenaran tetapi selalu menilai apakah Tuhan berkenan akan dirimu atau tidak, apakah ada harapan bagimu untuk diselamatkan, dan apakah Tuhan menyetujui pelaksanaan tugasmu, berdasarkan perasaan, suasana hati, dan dugaan. Ketika orang menilai hal-hal ini berdasarkan dugaan, mereka tidak memiliki motivasi yang kuat untuk menerapkan kebenaran. Mengapa demikian? Dapatkah manusia menilai Tuhan secara akurat jika mereka menilai-Nya berdasarkan dugaan? Dapatkah orang secara akurat membuat dugaan tentang setiap pemikiran dan ide yang Tuhan miliki? (Tidak.) Pikiran orang penuh dengan kelicikan, transaksi, falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain, logika Iblis, dan sebagainya. Apa akibatnya jika orang membuat dugaan tentang Tuhan berdasarkan hal-hal ini? Akibatnya, orang akan meragukan Tuhan, menjauhkan diri dari Tuhan, dan bahkan sepenuhnya kehilangan iman kepada Tuhan. Ketika seseorang sepenuhnya kehilangan iman kepada Tuhan, pasti akan muncul tanda tanya besar di dalam hatinya tentang apakah Tuhan itu ada atau tidak. Pada saat itu, waktu yang dimilikinya sebagai orang yang percaya kepada Tuhan akan berakhir; dia sudah sepenuhnya hancur. Selain itu, apakah hal yang benar bagi manusia untuk membuat dugaan tentang Tuhan? Apakah ini adalah sikap yang seharusnya dimiliki oleh makhluk ciptaan terhadap Sang Pencipta? Jelas, tidak. Orang tidak boleh membuat dugaan tentang Tuhan, dan mereka juga tidak boleh berspekulasi tentang pikiran Tuhan atau pemikiran-Nya tentang manusia. Hal ini sendiri salah; orang-orang telah memiliki perspektif dan posisi yang salah.

Orang tidak boleh memperlakukan Tuhan dengan menggunakan dugaan, spekulasi, keraguan, atau kecurigaan, dan mereka juga tidak boleh menilai-Nya berdasarkan pemikiran serta sudut pandang manusia, falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain, atau pengetahuan akademis. Jadi, bagaimana seharusnya orang memperlakukan Tuhan? Pertama, orang harus percaya bahwa Tuhan adalah kebenaran. Tuntutan Tuhan terhadap manusia, maksud-Nya terhadap mereka, kasih dan kebencian-Nya terhadap manusia, serta pengaturan, pemikiran, dan ide-Nya mengenai berbagai jenis orang, dan sebagainya, semua ini tidak membutuhkan spekulasimu; semua hal ini memiliki keterangan dan makna yang jelas di dalam firman Tuhan. Engkau hanya perlu percaya, mencari, dan kemudian menerapkan berdasarkan firman Tuhan; sesederhana itu. Tuhan tidak memintamu untuk menilai apa yang ingin dilakukan-Nya dengan dirimu atau bagaimana Dia memandangmu berdasarkan perasaan. Jadi, jika engkau berpikir bahwa tidak ada harapan bagimu untuk diselamatkan, apakah ini perasaan atau fakta? Apakah firman Tuhan mengatakan demikian? (Tidak.) Lalu, apa yang firman Tuhan katakan? Tuhan memberi tahu manusia cara untuk mencari kebenaran untuk mendapatkan solusi serta menemukan jalan untuk menerapkan kebenaran setiap kali mereka menghadapi masalah atau memperlihatkan watak yang rusak. Ini menegaskan satu hal: Adalah benar bahwa Tuhan ingin menyelamatkan manusia dan mengubah watak rusak mereka; Tuhan tidak sedang menipumu, dan ini bukanlah omong kosong. Engkau mengira tidak ada harapan bagimu untuk diselamatkan, tetapi itu hanyalah suasana hati yang sementara, perasaan yang muncul ketika berada di lingkungan tertentu. Perasaanmu tidak merepresentasikan keinginan atau maksud Tuhan, apalagi pemikiran-Nya, dan perasaanmu juga tidak merepresentasikan kebenaran. Oleh karena itu, jika engkau hidup berdasarkan perasaan ini, jika engkau membuat dugaan tentang Tuhan berdasarkan perasaan ini, menggunakan perasaanmu untuk menggantikan keinginan Tuhan, berarti engkau sangat keliru dan telah terjerumus ke dalam jebakan Iblis. Apa yang harus orang lakukan dalam situasi ini? Jangan mengandalkan perasaan. Ada orang-orang yang berkata, "Jika kami tidak boleh mengandalkan perasaan, apa yang harus kami andalkan?" Mengandalkan apa pun yang kaumiliki tidak ada gunanya; perasaan manusia tidak merepresentasikan kebenaran. Siapa yang tahu bagaimana munculnya perasaanmu itu, berasal dari mana sebenarnya perasaanmu itu; jika itu muncul karena engkau disesatkan oleh Iblis, itu berarti masalah. Bagaimanapun juga, dengan cara apa pun perasaan itu muncul, itu tidak merepresentasikan kebenaran. Makin kuat perasaan dan intuisi seseorang, makin mereka harus mencari kebenaran, datang ke hadapan Tuhan dan merenungkan diri mereka sendiri. Perasaan manusia, serta fakta dan kebenaran, adalah dua hal yang berbeda. Dapatkah perasaan membekalimu dengan kebenaran? Dapatkah perasaan memberimu jalan penerapan? Tidak. Hanya firman Tuhan, hanya kebenaran, yang dapat memberimu jalan penerapan, yang dapat memberimu titik balik, dan membuka jalan keluar. Oleh karena itu, yang harus kauterapkan bukanlah mencari perasaanmu sendiri; perasaanmu tidaklah penting. Yang harus kaulakukan adalah datang ke hadapan Tuhan untuk mencari kebenaran, memahami maksud Tuhan melalui firman-Nya. Makin engkau mengandalkan perasaan, makin engkau akan mendapati dirimu tanpa jalan ke depan, makin dalam engkau terjerumus ke dalam kenegatifan, dan makin engkau yakin bahwa Tuhan itu tidak adil, bahwa Tuhan tidak memberkatimu. Sebaliknya, jika engkau mengesampingkan perasaan ini untuk mencari prinsip-prinsip kebenaran, untuk melihat tindakan mana selama proses pelaksanaan tugasmu yang telah melanggar prinsip kebenaran, tindakan mana yang dilakukan berdasarkan kehendakmu sendiri dan yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan prinsip kebenaran, maka selama proses pencarian tersebut, engkau akan mendapati bahwa engkau memiliki terlalu banyak keinginanmu sendiri, terlalu banyak imajinasi. Hanya dengan menerapkan sedikit kesungguhan ini, engkau akan menemukan banyak masalah: "Aku ini terlalu memberontak, terlalu seenaknya sendiri, terlalu congkak! Aku ini bukannya tidak memiliki harapan untuk diselamatkan; perasaanku tidak akurat. Masalahnya, aku tidak menganggap serius firman Tuhan, dan aku tidak menerapkan berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Aku selalu mengeluh bahwa Tuhan tidak memberkatiku, tidak membimbingku, dan bahwa Dia pilih kasih, tetapi sebenarnya aku tidak menyadari bahwa aku bersikap asal-asalan, seenaknya, dan ceroboh dalam pelaksanaan tugasku; ini adalah kesalahanku. Kini aku telah menyadari bahwa Tuhan itu tidak pilih kasih. Ketika orang tidak mencari kebenaran atau tidak datang ke hadapan Tuhan, Tuhan sudah bersikap baik kepada mereka dengan tidak mengambil kembali kualifikasi mereka untuk melaksanakan tugas; Tuhan sudah bersikap sangat lunak dalam hal ini. Namun, aku masih merasa penuh dengan keluhan, bahkan menentang dan berdebat dengan Tuhan. Sebelumnya, kupikir aku cukup baik, tetapi kini aku sadar bahwa itu sama sekali tidak benar. Apa pun yang telah kulakukan, itu tidak berdasarkan prinsip; bahwa Tuhan tidak mendisiplinkanku, itu adalah kasih karunia-Nya; Dia menyadari tingkat pertumbuhanku yang kecil!" Melalui pencarian seperti ini, engkau akan memahami beberapa kebenaran dan dapat berinisiatif untuk secara aktif menerapkan berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Sedikit demi sedikit, engkau akan merasa bahwa engkau memiliki beberapa prinsip dalam caramu berperilaku dan dalam melaksanakan tugasmu. Pada saat seperti ini, bukankah engkau akan merasa jauh lebih damai dalam hati nuranimu? "Sebelumnya, aku merasa tidak ada harapan bagiku untuk diselamatkan, tetapi sekarang, mengapa perasaan ini, kesadaran ini, menjadi makin pudar? Bagaimana keadaan ini berubah? Sebelumnya, kupikir tidak ada harapan bagiku; bukankah itu hanyalah kenegatifan dan penentangan, serta perlawanan terhadap Tuhan? Aku benar-benar terlalu memberontak!" Setelah tunduk, tanpa disadari, selama proses pelaksanaan tugasmu, engkau akan mulai memahami beberapa prinsip, dan engkau tidak akan lagi membandingkan dirimu sendiri dengan orang lain; engkau hanya akan berfokus agar tidak bersikap asal-asalan dan melaksanakan tugasmu berdasarkan prinsip. Tanpa disadari, engkau tidak akan lagi merasa bahwa engkau tidak dapat diselamatkan, dan engkau tidak akan lagi terjebak dalam keadaan negatif; engkau akan melaksanakan tugasmu berdasarkan prinsip, dan merasa bahwa hubunganmu dengan Tuhan telah menjadi normal. Ketika engkau memiliki perasaan ini, engkau akan berpikir, "Tuhan tidak meninggalkanku; aku dapat merasakan kehadiran Tuhan, dan aku dapat merasakan bimbingan serta berkat Tuhan ketika aku mencari Tuhan saat melaksanakan tugasku. Aku akhirnya merasa bahwa Tuhan memberkati orang lain dan juga memberkatiku, dan Tuhan itu tidak pilih kasih; tampaknya masih ada harapan bagiku untuk diselamatkan. Ternyata jalan yang kutempuh sebelumnya itu salah; aku selalu bersikap asal-asalan dan melakukan kesalahan yang ceroboh dalam melaksanakan tugasku, dan aku bahkan mengira aku baik-baik saja, hidup dalam dunia kecilku sendiri dan mengagumi diriku sendiri. Kini aku mengerti bahwa melakukan hal itu adalah kesalahan besar! Hidup sepenuhnya dalam keadaan berteriak menuntut dan menentang Tuhan, tidak heran jika aku tidak menerima pencerahan Tuhan. Bagaimana aku dapat menerima pencerahan Tuhan jika aku tidak bertindak berdasarkan prinsip?" Engkau bisa melihat bahwa dua cara menerapkan yang sangat berbeda, dua cara yang sangat berbeda dalam menangani ide-ide yang orang miliki, pada akhirnya akan membuahkan hasil yang berbeda.

Orang tidak boleh hidup berdasarkan perasaan dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan. Perasaan manusia hanyalah suasana hati yang bersifat sementara; apakah itu ada hubungannya dengan kesudahan mereka? Dengan fakta? (Tidak.) Ketika orang menyimpang jauh dari Tuhan, ketika mereka hidup dalam keadaan pikiran di mana mereka salah paham terhadap Tuhan, atau menentang, melawan Tuhan, dan berteriak menuntut Tuhan, itu berarti mereka telah benar-benar meninggalkan pemeliharaan dan perlindungan Tuhan, dan tidak lagi memiliki tempat bagi Tuhan di dalam hati mereka. Ketika orang hidup dalam keadaan seperti ini, mereka hanya bisa hidup berdasarkan perasaan mereka sendiri. Hal kecil yang mereka pikirkan bisa sangat meresahkan mereka sehingga mereka tidak bisa makan atau tidur, komentar sembarangan dari seseorang bisa menjerumuskan mereka ke dalam keraguan dan kebingungan, bahkan sebuah mimpi buruk bisa membuat mereka menjadi negatif dan menyebabkan mereka salah paham terhadap Tuhan. Begitu lingkaran setan semacam ini terbentuk, orang meyakini bahwa hidup mereka sudah berakhir, bahwa sama sekali tidak ada harapan bagi mereka untuk diselamatkan, bahwa mereka telah ditinggalkan oleh Tuhan, dan bahwa Tuhan tidak akan menyelamatkan mereka. Makin mereka berpikir seperti ini, makin mereka memiliki perasaan-perasaan seperti ini, makin dalam mereka terjerumus ke dalam kenegatifan. Alasan sebenarnya mengapa orang memiliki perasaan-perasaan ini adalah karena mereka tidak mencari kebenaran atau tidak melakukan penerapan berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Ketika sesuatu terjadi pada diri mereka, mereka tidak mencari kebenaran, tidak menerapkan kebenaran, dan selalu menempuh jalan mereka sendiri, hidup di tengah kepintaran picik mereka sendiri. Mereka menghabiskan setiap hari membandingkan diri mereka dengan orang lain dan bersaing dengan mereka, merasa iri dan membenci siapa pun yang mereka anggap lebih baik daripada mereka, serta mencemooh dan mengejek siapa pun yang mereka anggap di bawah mereka, hidup berdasarkan watak Iblis dalam diri mereka, tidak melakukan segala sesuatu berdasarkan prinsip kebenaran, dan tidak mau menerima nasihat siapa pun. Hal ini pada akhirnya menyebabkan mereka mengembangkan segala macam delusi, spekulasi, dan penghakiman, dan mereka membuat diri mereka terus-menerus cemas. Dan bukankah mereka pantas menerimanya? Akibat yang sedemikian negatifnya hanya dapat ditanggung oleh mereka sendiri—dan mereka memang pantas menerimanya. Apa yang menyebabkan semua hal ini? Ini karena orang-orang yang tidak mencari kebenaran sangat congkak dan merasa diri benar, mereka selalu bertindak berdasarkan ide-ide mereka sendiri, mereka selalu pamer dan membandingkan diri mereka dengan orang lain, mereka selalu berusaha menonjolkan diri, mereka selalu mengajukan tuntutan yang tidak masuk akal kepada Tuhan, dan seterusnya—semua hal ini menyebabkan orang secara berangsur menyimpang dari Tuhan, menentang Tuhan dan melanggar kebenaran berulang kali. Pada akhirnya, mereka menjerumuskan diri mereka ke dalam kegelapan dan kenegatifan. Pada saat-saat seperti itu, orang tidak memiliki pemahaman yang benar tentang pemberontakan dan perlawanan mereka sendiri, dan terlebih dari itu, mustahil bagi mereka untuk memperlakukan hal-hal ini dengan sikap yang benar. Sebaliknya, mereka mengeluh tentang Tuhan, salah memahami Tuhan, dan berspekulasi tentang Dia. Ketika ini terjadi, orang akhirnya menyadari bahwa kerusakan mereka sangat dalam dan mereka sangat bermasalah, jadi mereka yakin bahwa mereka sedang sedikit melawan Tuhan, dan mereka hanya bisa terjerumus ke dalam kenegatifan, tidak mampu menarik diri mereka keluar darinya. Yang mereka yakini adalah, "Tuhan membenci dan menolakku, Tuhan tidak menginginkan diriku. Aku terlalu memberontak, aku pantas mendapatkannya, Tuhan pasti tidak akan lagi menyelamatkanku." Mereka yakin bahwa semua ini adalah faktanya. Mereka memutuskan bahwa hal-hal yang mereka duga di dalam hati mereka adalah faktanya. Siapa pun yang mempersekutukan kebenaran kepada mereka, itu tidak ada gunanya, mereka tidak menerimanya. Mereka berpikir, "Tuhan tidak akan memberkatiku, Dia tidak akan menyelamatkanku, jadi apa gunanya percaya kepada Tuhan?" Ketika jalan yang mereka tempuh dalam kepercayaan mereka telah mencapai titik ini, apakah orang masih mampu percaya? Tidak. Mengapa mereka tidak mampu lagi percaya? Ada sebuah fakta di sini. Ketika kenegatifan orang mencapai titik tertentu sehingga hati mereka penuh dengan penentangan dan keluhan, dan mereka ingin memutuskan hubungan dengan Tuhan untuk selamanya, maka ini tidak lagi sesederhana mereka tidak takut akan Tuhan, tidak tunduk kepada Tuhan, dan tidak mencintai kebenaran, dan tidak menerima kebenaran. Sebaliknya, ini berarti apa? Di dalam hatinya, mereka secara aktif memilih untuk melepaskan iman mereka kepada Tuhan. Mereka menganggap bahwa menunggu secara pasif untuk disingkirkan itu memalukan, dan bahwa memilih melepaskannya adalah lebih bermartabat, sehingga mereka berinisiatif untuk membuang kesempatan mereka, mengakhiri sendiri semuanya. Mereka memvonis bahwa percaya kepada Tuhan itu adalah hal yang buruk, mereka memvonis bahwa kebenaran itu tidak mampu mengubah orang, dan mereka memvonis bahwa Tuhan itu tidak adil, mengeluh tentang Dia karena tidak menyelamatkan mereka: "Aku ini sangat tekun, aku menderita lebih banyak kesukaran dibandingkan orang lain, dan membayar harga lebih banyak daripada orang lain, aku melaksanakan tugasku dengan sungguh-sungguh, tetapi Tuhan tetap saja tidak memberkatiku. Sekarang aku tahu dengan jelas bahwa Tuhan tidak menyukaiku, bahwa Tuhan memperlakukan orang secara tidak adil." Mereka punya keberanian untuk mengubah keraguan mereka tentang Tuhan menjadi kutukan terhadap Tuhan dan hujatan terhadap-Nya. Ketika fakta ini terbentuk, mampukah mereka terus menempuh jalan iman mereka kepada Tuhan? Karena mereka memberontak terhadap Tuhan dan menolak Tuhan, dan sama sekali tidak menerima kebenaran atau tidak merenungkan diri mereka, mereka telah hancur. Bukankah tidak masuk akal jika seseorang meninggalkan Tuhan atas inisiatifnya sendiri dan kemudian mengeluh bahwa Tuhan tidak memberkati dirinya atau tidak menunjukkan kasih karunia kepadanya? Setiap orang memilih jalannya sendiri dan menempuhnya sendiri; tak seorang pun dapat melakukannya untuk mereka. Jika engkau telah memilih jalan buntu, engkaulah yang telah meninggalkan Tuhan dan menolak-Nya. Dari awal hingga akhir, Tuhan tidak pernah berkata bahwa Dia tidak menginginkanmu, atau bahwa Dia telah menyerah mengenaimu, atau bahwa Dia tak mau menyelamatkanmu; engkaulah yang telah membatasi Tuhan berdasarkan dugaanmu. Jika engkau benar-benar percaya kepada Tuhan, dan akan tetap percaya kepada Tuhan sekalipun Dia tidak menginginkanmu, dan engkau akan tetap percaya kepada Tuhan, terus membaca firman-Nya, dan tetap menerima kebenaran serta melaksanakan tugasmu seperti biasa, sekalipun Dia membencimu, siapa yang dapat membatasi atau menghentikanmu? Bukankah semua itu adalah tentang pilihan dan pengejaranmu sendiri? Engkau sendiri yang tidak memiliki iman, tetapi engkau malah mengeluh tentang Tuhan; ini berarti tidak masuk akal. Engkau tidak menjaga hubunganmu dengan Tuhan dan bersikeras menghancurkannya; begitu ada keretakan, dapatkah itu dipulihkan? Cermin yang pecah sulit untuk disatukan kembali, dan sekalipun itu disatukan kembali, retakannya akan tetap ada. Kini setelah hubungan itu rusak, itu tidak pernah dapat dipulihkan ke keadaannya yang semula. Oleh karena itu, lingkungan seperti apa pun yang mereka hadapi selama perjalanan mereka percaya kepada Tuhan, orang-orang harus belajar untuk tunduk dan mereka harus mencari kebenaran. Hanya dengan cara itulah mereka dapat tetap teguh. Jika engkau ingin mengikuti Tuhan sampai akhir perjalanan, sangat penting untuk mengejar kebenaran; baik dalam melaksanakan tugasmu atau melakukan hal lain apa pun, memahami prinsip-prinsip kebenaran dan melakukan serta menerapkannya sangatlah penting, karena melalui proses memahami kebenaran dan menerapkan berdasarkan prinsip-prinsip kebenaranlah engkau akan dapat mengenal Tuhan, memahami Tuhan, mengerti Dia, memahami maksud Tuhan dan menjadi sesuai dengan-Nya, serta mampu memahami dan menerima esensi Tuhan. Jika engkau tidak menerapkan prinsip-prinsip kebenaran dan hanya bertindak atau melaksanakan tugasmu berdasarkan kehendakmu sendiri, engkau tidak akan pernah bersentuhan dengan kebenaran. Apa artinya tidak pernah bersentuhan dengan kebenaran? Artinya, engkau tidak akan pernah bersentuhan dengan sikap Tuhan terhadap segala sesuatu, tuntutan-Nya, atau pemikiran-Nya; dan bahkan lebih kecil kemungkinan bahwa engkau akan bersentuhan dengan watak dan esensi Tuhan yang diungkapkan dalam pekerjaan-Nya. Jika engkau tidak dapat bersentuhan dengan fakta-fakta pekerjaan Tuhan tersebut, pemahamanmu tentang Tuhan akan selamanya terbatas pada imajinasi dan gagasan manusia. Itu akan tetap berada dalam alam imajinasi dan gagasan serta tidak akan pernah sesuai dengan esensi dan watak Tuhan yang sebenarnya. Dengan demikian, engkau tidak akan pernah dapat memperoleh pemahaman yang sejati tentang Tuhan.

Selama proses melaksanakan tugasnya, orang-orang sering mengalami keadaan negatif dan memberontak. Jika mereka mampu mencari kebenaran dan menggunakan prinsip-prinsip kebenaran untuk menangani serta menyelesaikan masalah ini, emosi negatif mereka tidak akan berubah menjadi keluhan, penentangan, perlawanan, teriakan yang menuntut, atau bahkan penghujatan. Namun, jika orang menangani hal-hal ini dengan hanya mengandalkan kepintaran mereka sendiri yang picik itu, pengendalian diri manusia, upaya manusia, ketekunan, pendisiplinan tubuh mereka, dan pendekatan lain semacam itu, cepat atau lambat, imajinasi, penghakiman, dan dugaan manusia ini akan menjadi keluhan, perlawanan, penentangan, teriakan yang menuntut, dan bahkan penghujatan terhadap Tuhan. Ketika orang terjebak dalam emosi negatif semacam itu, mereka cenderung mengembangkan ketidaktaatan, ketidakpuasan, dan keluhan terhadap Tuhan, serta perasaan atau pemikiran lain semacam itu. Ketika pemikiran ini menumpuk dalam diri orang dari waktu ke waktu dan mereka tetap tidak mencari kebenaran atau tidak menggunakan kebenaran untuk menyelesaikannya, ketidaktaatan, ketidakpuasan, dan keluhan mereka akan berubah menjadi perlawanan; mereka akan berperilaku memberontak, seperti melaksanakan tugas dengan bersikap asal-asalan atau dengan sengaja mengganggu dan menyabotase pekerjaan gereja, serta menunjukkan perilaku negatif lainnya, untuk mengungkapkan ketidaktaatan serta ketidakpuasan mereka dan dengan demikian mencapai tujuan mereka untuk melawan Tuhan. Ada orang-orang yang merusak dan mengganggu pelaksanaan tugas orang lain. Maksud di balik tindakan mereka adalah: "Jika aku tidak dapat melaksanakan tugasku, atau jika tuhan tidak memberkatiku dalam tugasku, akan kupastikan bahwa tak ada seorang pun di antara kalian yang dapat melaksanakan tugas kalian dengan baik!" dan kemudian mereka mulai menimbulkan gangguan. Ada yang melakukannya dengan menggunakan perkataan, ada yang menggunakan tindakan tertentu. Hal-hal apa yang mungkin dilakukan oleh orang-orang yang mengganggu orang lain dengan tindakan mereka? Sebagai contoh, mereka mungkin dengan sengaja menghapus berkas dari komputer orang lain untuk memengaruhi hasil dari tugasnya, atau mungkin dengan sengaja mengganggu pertemuan daring. Dengan cara inilah para setan dan Iblis mengganggu manusia. Orang-orang tidak memahami: "Bagaimana mungkin seseorang seusia itu melakukan hal menjijikkan semacam itu? Bagaimanapun juga, mereka sudah bukan anak remaja; mengapa mereka masih melakukan kejahilan semacam itu?" Sebenarnya, orang-orang berusia tiga puluhan, empat puluhan, lima puluhan, atau enam puluhan juga dapat melakukan hal-hal ini. Berbagai perilaku ini tidak masuk akal; ini bukanlah tindakan orang yang memiliki hati nurani dan nalar, melainkan tindakan para setan dan Iblis. Melihat bahwa orang lain tidak terpengaruh dan tujuan mereka tidak tercapai, orang semacam itu kemudian akan melampiaskan kenegatifan dan menimbulkan gangguan ketika ada banyak orang yang hadir atau selama pertemuan. Ketika mereka mulai mencurahkan ketidakpuasan mereka melalui tindakan, situasinya sudah menjadi sulit untuk dikendalikan; sangat sulit untuk mengendalikan mereka, dan jika situasinya terus berkembang, itu hanya dapat meningkat, naturnya menjadi makin serius. Mereka tidak hanya menyebabkan gangguan dengan tindakan mereka tetapi juga menggunakan berbagai cara dan metode, menggunakan bahasa yang agresif dan menghakimi untuk mengganggu orang lain saat mereka melaksanakan tugas. Entah tujuan mereka tercapai atau tidak, di dalam hatinya, mereka kemudian menentang Tuhan; mereka tidak membaca firman Tuhan atau mempelajari lagu pujian, dan mereka tidak mau membaca buku apa pun yang ada kaitannya dengan firman Tuhan atau kebenaran. Apa yang mereka lakukan di rumah? Mereka membaca novel, menonton serial TV, mempelajari teknik memasak, belajar cara merias wajah dan menata rambut…. Selama pertemuan, mereka tidak mempersekutukan pemahaman mereka tentang firman Tuhan, juga tidak mempersekutukan cara untuk membereskan watak yang rusak dan perwujudan kerusakan. Ketika orang lain menyampaikan persekutuan, mereka dengan sengaja membajak pembicaraan, memotong perkataan siapa pun yang sedang berbicara, dengan sengaja mengalihkan topik, dan sebagainya, selalu mengatakan hal-hal yang merendahkan dan mengganggu. Mengapa mereka bertindak dengan cara seperti ini? Alasannya terletak pada keyakinan mereka bahwa tidak ada harapan bagi mereka untuk diselamatkan, yang menyebabkan mereka menyerah dan mulai bertindak gegabah; mereka berusaha mencari beberapa teman sebelum mereka dikeluarkan atau diusir dari gereja; jika mereka tidak dapat diberkati, mereka akan memastikan bahwa orang lain juga tidak dapat diberkati. Mengapa mereka berpikir dengan cara seperti ini? Mereka yakin bahwa Tuhan yang mereka percayai tidak seperti tuhan yang awalnya mereka bayangkan; Dia tidak mengasihi manusia sedalam yang mereka bayangkan serta juga tidak seadil yang mereka bayangkan, dan Dia tentu saja tidak menyayangi manusia dengan setulus yang mereka bayangkan. Tuhan mengasihi orang lain tetapi tidak mengasihi mereka; Tuhan menyelamatkan orang lain tetapi tidak menyelamatkan mereka. Kini setelah melihat bahwa tidak ada harapan bagi mereka dan merasa bahwa mereka tidak dapat diselamatkan, mereka menyerah dan mulai bertindak gegabah. Namun, itu belum semuanya; mereka juga ingin orang lain melihat bahwa karena tidak ada harapan bagi mereka, berarti tidak ada harapan pula bagi orang lain, dan mereka hanya akan puas setelah membuat semua orang melepaskan imannya kepada Tuhan dan mundur dari kepercayaannya. Tujuan mereka melakukan hal ini adalah: "Jika aku tidak dapat menerima berkat kerajaan surga, kalian juga sebaiknya jangan bermimpi untuk mendapatkannya!" Orang celaka macam apa orang-orang seperti itu? Bukankah mereka adalah setan? Mereka adalah setan, yang menuju ke neraka, yang juga melarang orang lain untuk percaya kepada Tuhan dan masuk ke dalam kerajaan surga; mereka sedang berbaris langsung menuju jalan buntu! Siapa pun yang memiliki sedikit hati nurani dan sedikit hati yang takut akan Tuhan seharusnya tidak bertindak seperti ini; jika mereka benar-benar melakukan kejahatan besar dan tersingkap, yang membuat mereka merasa tidak lagi memiliki harapan, mereka akan tetap berusaha untuk membantu orang lain agar berhasil, membiarkan orang lain percaya kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh dan tidak mengikuti teladan mereka. Mereka mungkin berkata, "Aku terlalu lemah, keinginan dagingku kuat, dan aku terlalu terpikat oleh dunia. Ini adalah kesalahanku sendiri; aku pantas mendapatkannya! Kalian tetaplah menjadi orang percaya yang sungguh-sungguh; jangan terpengaruh olehku. Selama pertemuan, aku akan berjaga-jaga, dan jika para polisi si naga merah yang sangat besar memasuki desa, aku akan memberi tahu kalian." Siapa pun yang memiliki sedikit kemanusiaan setidaknya harus melakukan sebanyak ini, dan mereka tidak boleh mengganggu pengejaran orang lain akan kebenaran. Namun, mereka yang tidak memiliki kemanusiaan, ketika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan keinginan mereka atau ketika melihat saudara-saudari memandang rendah dan menjauhi mereka, mereka merasa bahwa Tuhan telah menyingkapkan dan menyingkirkan mereka, bahwa tidak ada harapan bagi mereka untuk diselamatkan. Ketika memendam ide dan pemikiran semacam ini, mereka menyerah dan mulai bertindak gegabah, melampiaskan kenegatifan serta mengganggu kehidupan bergereja tanpa keraguan. Orang macam apa yang melakukan hal ini? Bukankah mereka setan? (Ya.) Haruskah orang bersikap sopan kepada orang-orang yang adalah setan? (Tidak.) Jadi, bagaimana hal ini harus ditangani? Engkau berkata, "Kau datang ke pertemuan tetapi tidak membaca firman Tuhan, juga tidak menerima kebenaran. Lalu, untuk apa kau berada di sini? Untuk menimbulkan gangguan, bukan? Kau pikir tidak ada harapan bagimu untuk diselamatkan; sebenarnya, kami juga merasa tidak punya banyak harapan, tetapi kami berusaha. Kami yakin bahwa Tuhan tidak pilih kasih, bahwa Dia dapat dipercaya, bahwa hati-Nya dalam menyelamatkan manusia itu tulus, dan bahwa hati-Nya tidak berubah. Selama masih ada secercah harapan, kami tidak akan menyerah. Kami tidak akan terus-menerus negatif dan salah paham terhadap Tuhan sepertimu. Jika kau berpikir bahwa kau dapat mengganggu atau menghalangi kami, berarti kau hanya bermimpi! Jika kau dengan keras kepala bersikeras, terus percaya dengan cara seperti ini, dan terus ingin mengganggu kami dengan kejam, jangan salahkan kami jika bersikap kasar terhadapmu. Mulai hari ini, kau dikeluarkan; tidak ada lagi tempat bagimu di gereja. Sekarang keluar kau!" Dengan cara ini, bukankah masalahnya tertangani? Caranya sederhana, hanya dengan beberapa patah kata, mereka dapat dikeluarkan. Ini adalah hal yang mudah untuk dilakukan! Mengapa menanganinya dengan cara ini? Karena esensi natur orang-orang semacam ini tidak berubah; mereka tidak akan menerima kebenaran. Mereka menganggap tidak ada harapan bagi mereka untuk diselamatkan; Tuhan tidak berkata demikian, saudara-saudari juga tidak berkata demikian, tetapi mereka melakukan kejahatan dan menyebabkan gangguan dengan cara seperti ini. Apa yang akan mereka lakukan jika suatu hari mereka benar-benar diusir karena melakukan kejahatan dan mengganggu pekerjaan gereja, atau jika Tuhan mendisiplinkan mereka karena tidak mengejar kebenaran? Mungkinkah mereka akan menjadi musuh Tuhan, mungkinkah mereka akan berusaha membalas dendam? Itu sangat mungkin! Hal yang baik bahwa orang-orang semacam itu tersingkap sebelum mereka dapat melakukan perbuatan buruk atau melakukan kejahatan besar apa pun. Ini adalah perbuatan Tuhan; Tuhan telah menyingkapkan mereka. Jadi, mengeluarkan mereka benar-benar tepat; orang lain belum menderita kerugian apa pun. Menanganinya dengan cara seperti ini adalah hal yang tepat dan dilakukan tepat waktu; semua orang memperoleh kemampuan untuk mengidentifikasi, dan orang-orang jahat ditangani. Peran mereka sebagai kontras telah terpenuhi dengan memadai.

Pada dasarnya, inilah berbagai keadaan dan perwujudan dari orang-orang yang melampiaskan kenegatifan. Ketika keinginan mereka untuk mengejar status, ketenaran dan keuntungan belum terpenuhi, ketika Tuhan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan gagasan dan imajinasi mereka, hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan mereka, mereka menjadi terjerat dalam perasaan ketidaktaatan dan ketidakpuasan. Dan saat mereka memiliki perasaan ini, pikiran mereka mulai menghasilkan alasan, dalih, pembenaran, pembelaan diri, dan pemikiran yang mengeluh lainnya. Pada saat ini, mereka tidak memuji Tuhan ataupun tunduk kepada-Nya, dan terlebih lagi, mereka tidak mencari kebenaran untuk mengenal diri mereka sendiri; sebaliknya, mereka melawan Tuhan dengan menggunakan gagasan, imajinasi, pemikiran dan sudut pandang, atau sikap mereka yang terburu nafsu. Dan bagaimana cara mereka melawan Tuhan? Mereka menyebarkan perasaan ketidaktaatan dan ketidakpuasan tersebut, menggunakannya untuk menjelaskan pemikiran dan sudut pandang mereka kepada Tuhan, berusaha membuat Tuhan bertindak sesuai dengan kehendak dan tuntutan mereka untuk memuaskan keinginan mereka; baru setelah itulah perasaan mereka mereda. Secara khusus, Tuhan mengungkapkan banyak kebenaran untuk menghakimi dan menghajar orang, menyucikan watak mereka yang rusak, menyelamatkan orang dari pengaruh Iblis, dan siapa yang tahu berapa banyak impian orang untuk diberkati telah diakhiri oleh kebenaran ini, menghancurkan khayalan diangkat ke dalam kerajaan surga yang mereka harapkan siang dan malam. Mereka berupaya sebaik mungkin untuk membalikkan hal-hal ini—tetapi mereka tidak berdaya, mereka hanya bisa jatuh ke dalam bencana dengan kenegatifan dan kebencian mereka. Mereka tidak taat terhadap semua hal yang telah Tuhan atur tersebut, karena apa yang Tuhan lakukan bertentangan dengan gagasan, kepentingan, dan pemikiran mereka. Khususnya, ketika gereja melakukan pekerjaan pembersihan dan menyingkirkan banyak orang, orang-orang ini berpikir bahwa Tuhan tidak menyelamatkan mereka, bahwa Dia telah membenci dan menolak mereka, bahwa mereka sedang diperlakukan tidak adil, dan karena itu mereka akan bersatu untuk melawan Tuhan, mereka akan menyangkal bahwa Tuhan adalah kebenaran, menyangkal identitas dan esensi Tuhan, dan menyangkal watak benar Tuhan. Tentu saja, mereka juga menyangkal fakta bahwa Tuhan-lah yang berdaulat atas segala sesuatu. Dan dengan cara apakah mereka menyangkal semua ini? Melalui perlawanan dan penentangan. Maksud mereka yang sebenarnya adalah, "Apa yang tuhan lakukan bertentangan dengan gagasanku, jadi aku tidak tunduk, aku tidak percaya bahwa engkau adalah kebenaran. Aku akan berteriak menentangmu, dan akan menyebarkan penentanganku ini kepada orang-orang di gereja dan di antara orang-orang! Aku akan mengatakan apa pun yang kuinginkan, dan aku tidak peduli apa pun konsekuensinya. Aku memiliki kebebasan berbicara; engkau tidak boleh membungkamku—aku akan mengatakan apa yang kuinginkan. Memangnya apa yang bisa kaulakukan?" Ketika orang-orang ini bersikeras untuk menyuarakan pemikiran dan sudut pandang mereka yang keliru ini, apakah mereka sedang membicarakan pemahaman mereka sendiri? Apakah mereka sedang mempersekutukan kebenaran? Sama sekali tidak. Mereka sedang menyebarkan kenegatifan; mereka sedang menyuarakan kebohongan dan kekeliruan. Mereka tidak sedang berusaha untuk mengetahui kerusakan mereka sendiri atau mengungkapkannya; mereka tidak sedang mengungkapkan hal-hal yang telah mereka lakukan yang bertentangan dengan kebenaran, mereka juga tidak mengungkapkan kesalahan yang telah mereka lakukan. Sebaliknya, mereka berusaha sekuat tenaga untuk merasionalisasi dan membela kesalahan mereka untuk membuktikan bahwa mereka benar, dan pada saat yang sama mereka juga menarik kesimpulan yang tidak masuk akal, dan menyuarakan sudut pandang yang menyimpang dan menyesatkan, serta argumen yang keliru serta kebohongan. Akibatnya terhadap umat pilihan Tuhan di gereja adalah menyesatkan dan mengganggu mereka; itu bahkan dapat menjerumuskan beberapa orang ke dalam keadaan yang negatif dan bingung. Semua ini adalah akibat dan gangguan merugikan yang disebabkan oleh orang-orang yang melampiaskan kenegatifan. Oleh karena itu, mereka yang melampiaskan kenegatifan haruslah dibatasi, juga ucapan dan perilaku mereka; mereka tidak boleh dibiarkan atau diizinkan. Gereja harus memiliki metode dan prinsip yang tepat untuk menangani orang-orang ini. Di satu sisi, saudara-saudari harus mengidentifikasi orang-orang ini serta pernyataan negatif yang mereka ucapkan. Di sisi lain, setelah umat pilihan Tuhan memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi, gereja harus segera mengeluarkan atau mengusir orang-orang ini berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, untuk mencegah lebih banyak orang terpengaruh dan terganggu. Ini mengakhiri persekutuan kita tentang berbagai aspek melampiaskan kenegatifan.

C. Prinsip dan Jalan untuk Membereskan Kenegatifan

Manusia memiliki natur Iblis; hidup berdasarkan watak Iblis membuat orang sulit menghindarkan diri mereka berada dalam keadaan yang negatif. Khususnya ketika orang tidak memahami kebenaran, kenegatifan menjadi hal yang biasa terjadi. Semua orang mengalami saat-saat ketika mereka berada dalam keadaan negatif; ada yang sering mengalaminya, ada yang jarang, ada yang mengalaminya untuk jangka waktu yang lebih lama, dan ada yang mengalaminya untuk jangka waktu yang lebih pendek. Tingkat pertumbuhan setiap orang berbeda, demikian pula dengan keadaan negatif mereka. Mereka yang memiliki tingkat pertumbuhan yang lebih besar hanya menjadi agak negatif ketika dihadapkan dengan ujian, sedangkan mereka yang tingkat pertumbuhannya lebih kecil, masih belum memahami kebenaran, tidak mampu membedakan ketika orang lain menyebarkan beberapa gagasan atau mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal; mereka bisa diganggu, dipengaruhi, dan menjadi negatif. Masalah apa pun yang muncul dapat membuat mereka menjadi negatif, bahkan hal-hal sepele yang tidak layak disebutkan. Bagaimana cara membereskan masalah kenegatifan yang sering kali muncul ini? Jika orang tidak tahu cara mencari kebenaran, tidak tahu cara makan dan minum firman Tuhan, atau berdoa kepada Tuhan, maka ini akan menjadi sangat bermasalah; mereka hanya dapat mengandalkan sokongan dan bantuan dari saudara-saudari. Jika tak seorang pun mampu menolong, atau jika mereka tidak menerima pertolongan, mereka mungkin akan tetap berada dalam keadaan sangat negatif sehingga tidak dapat pulih lagi dan bahkan mungkin akan berhenti percaya. Lihatlah, betapa berbahayanya jika orang selalu memiliki gagasan dan mudah menjadi negatif. Seperti apa pun cara orang mempersekutukan kebenaran kepada orang-orang semacam itu, mereka tidak menerimanya, selalu bersikeras bahwa hanya gagasan dan imajinasi merekalah yang benar; mereka adalah orang-orang yang sangat menyusahkan. Betapapun negatifnya dirimu, di dalam hatimu, engkau harus memahami bahwa memiliki gagasan bukan berarti gagasan tersebut sesuai dengan kebenaran; itu berarti ada masalah dalam pemahamanmu. Jika engkau sedikit bernalar, engkau seharusnya tidak menyebarkan gagasan-gagasan ini; inilah yang setidaknya yang harus orang patuhi. Jika engkau memiliki sedikit hati yang takut akan Tuhan dan mampu mengakui bahwa engkau adalah pengikut Tuhan, engkau harus mencari kebenaran untuk meluruskan gagasanmu, tunduk pada kebenaran, dan menghindarkan dirimu menyebabkan kekacauan dan gangguan. Jika engkau tidak mampu melakukan hal ini dan bersikeras menyebarkan gagasan, berarti engkau telah kehilangan nalarmu; engkau memiliki kelainan mental, dirasuk oleh setan, dan tidak mampu mengendalikan dirimu sendiri. Karena dikuasai oleh setan-setan, engkau menyampaikan dan menyebarkan gagasan ini apa pun yang terjadi—tidak dapat menahan diri untuk tidak melakukannya, ini adalah pekerjaan roh jahat dalam dirimu. Jika engkau sedikit berhati nurani dan bernalar, engkau seharusnya mampu melakukan hal berikut: tidak menyebarkan gagasan, dan tidak mengganggu saudara-saudari. Sekalipun engkau menjadi negatif, engkau tidak boleh melakukan hal-hal yang merugikan saudara-saudari; engkau seharusnya hanya melaksanakan tugasmu dengan baik, melakukan apa yang seharusnya kaulakukan dengan semestinya, dan memastikan bahwa engkau tidak akan merasa tertuduh di dalam hatimu—inilah standar minimum mengenai cara berperilaku. Sekalipun engkau terkadang negatif tetapi tidak pernah melakukan apa pun yang melampaui batas, Tuhan tidak akan mempermasalahkan kenegatifanmu. Asalkan engkau memiliki hati nurani dan nalar, mampu berdoa dan mengandalkan Tuhan, serta mencari kebenaran, pada akhirnya engkau akan mulai memahami kebenaran dan mengubah dirimu. Jika engkau menghadapi peristiwa-peristiwa penting, seperti diberhentikan dan disingkirkan karena tidak melakukan pekerjaan nyata sebagai pemimpin, dan engkau merasa tidak ada harapan untuk diselamatkan, dan menjadi negatif—terlalu negatif sampai-sampai engkau tidak dapat pulih kembali, merasa sepertinya engkau telah dihukum dan dikutuk, dan engkau kemudian menjadi salah paham dan penuh keluhan terhadap Tuhan—apa yang harus kaulakukan? Ini sangat mudah untuk ditangani: carilah beberapa orang yang memahami kebenaran untuk bersekutu dan mencari, serta sampaikan isi hatimu kepada orang-orang ini. Yang lebih penting lagi, datanglah di hadirat Tuhan untuk berdoa dengan jujur tentang kenegatifan dan kelemahanmu, serta beberapa hal yang tidak kaupahami dan tidak mampu kauatasi, satu per satu—sampaikanlah kepada Tuhan, jangan menyembunyikan apa pun. Jika ada hal-hal yang tidak terucapkan yang tidak mampu kauungkapkan kepada orang lain, maka jauh lebih penting lagi bagimu untuk datang ke hadirat Tuhan untuk berdoa. Ada orang-orang yang bertanya, "Bukankah berbicara kepada Tuhan tentang itu hanya akan membuat-Nya mengutukku?" Bukankah engkau telah melakukan banyak hal yang melawan Tuhan dan layak mendapatkan kutukan-Nya? Mengapa khawatir tentang satu hal tambahan ini? Apakah menurutmu jika engkau tidak berbicara tentang hal itu, Tuhan tidak akan tahu? Tuhan mengetahui semua yang kaupikirkan. Engkau harus menyampaikannya kepada Tuhan secara terbuka, mengungkapkan isi hatimu, memaparkan masalah dan keadaanmu dengan jujur kepada-Nya. Kelemahan, pemberontakan, dan bahkan keluhanmu semuanya dapat disampaikan kepada Tuhan; sekalipun engkau ingin melampiaskannya, itu tidak masalah—Tuhan tidak akan mengutuk hal ini. Mengapa Tuhan tidak mengutuk hal ini? Tuhan mengetahui tingkat pertumbuhan manusia; sekalipun engkau tidak berbicara dengan-Nya, Dia tetap mengetahui tingkat pertumbuhanmu. Dengan berbicara kepada Tuhan, di satu sisi, ini adalah kesempatanmu untuk mengatakan yang sebenarnya tentang dirimu dan terbuka kepada Tuhan. Di sisi lain, ini juga menunjukkan sikap tundukmu kepada Tuhan; setidaknya, engkau membiarkan Tuhan melihat bahwa hatimu tidak tertutup bagi-Nya, engkau hanya lemah, tidak memiliki tingkat pertumbuhan yang cukup untuk mengatasi masalah ini, itu saja. Engkau tidak bermaksud untuk membangkang; sikapmu adalah tunduk, hanya saja tingkat pertumbuhanmu terlalu kecil, dan engkau tidak mampu menanggung hal ini. Ketika engkau membuka hatimu sepenuhnya kepada Tuhan dan mampu membagikan pemikiran terdalammu kepada-Nya, meskipun apa yang kaukatakan mungkin mengandung kelemahan dan keluhan—dan terutama mengandung banyak hal yang negatif dan merugikan—ada satu hal yang benar dalam hal ini: engkau mengakui bahwa engkau memiliki watak yang rusak, engkau mengakui bahwa engkau adalah makhluk ciptaan, engkau tidak menyangkal identitas Tuhan sebagai Sang Pencipta, juga tidak menyangkal bahwa hubungan di antara dirimu dan Tuhan adalah hubungan antara makhluk ciptaan dan Sang Pencipta. Engkau memercayakan kepada Tuhan hal-hal yang menurutmu paling sulit untuk diatasi, hal-hal yang membuatmu paling lemah, dan engkau menceritakan kepada Tuhan semua perasaan terdalammu—ini menunjukkan sikapmu. Ada orang-orang yang berkata, "Aku pernah berdoa kepada Tuhan, dan itu tidak membereskan kenegatifanku. Aku tetap tidak mampu mengatasinya." Tidak menjadi masalah, engkau hanya perlu sungguh-sungguh mencari kebenaran. Sebanyak apa pun pemahamanmu, Tuhan akan secara bertahap menguatkanmu, dan engkau tidak akan lagi menjadi lemah seperti pada awalnya. Seberapapun banyaknya kelemahan dan kenegatifan yang kaumiliki, atau seberapapun banyaknya keluhan dan emosi negatif yang kaumiliki, berbicaralah kepada Tuhan; jangan perlakukan Tuhan sebagai orang luar. Engkau mungkin menyembunyikan segala sesuatu dari orang lain, tetapi jangan sembunyikan apa pun dari Tuhan, karena Tuhan adalah satu-satunya andalanmu dan juga satu-satunya keselamatanmu. Hanya dengan datang di hadirat Tuhan, barulah masalah-masalah ini dapat diselesaikan; mengandalkan manusia tidak ada gunanya. Jadi, ketika menghadapi kenegatifan dan kelemahan, mereka yang datang ke hadirat Tuhan dan mengandalkan-Nya adalah orang-orang yang paling cerdas. Hanya orang-orang bodoh dan keras kepala yang, ketika menghadapi peristiwa-peristiwa penting dan kritis dan ketika perlu mencurahkan hati mereka kepada Tuhan, mereka malah makin menjauhi dan menghindari Tuhan, membuat rencana dalam pikiran mereka sendiri. Dan apa hasil dari semua rencana ini? Kenegatifan dan keluhan mereka berubah menjadi perlawanan, dan perlawanan berubah menjadi penentangan dan teriakan untuk menuntut Tuhan; orang-orang ini menjadi sama sekali tidak dapat didamaikan dengan Tuhan, dan hubungan mereka dengan Tuhan sepenuhnya putus. Namun, ketika engkau menghadapi kenegatifan dan kelemahan seperti itu, jika engkau dapat memilih untuk tetap datang ke hadirat Tuhan untuk mencari kebenaran, dan memilih untuk tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan, serta engkau mengambil sikap yang benar-benar tunduk, maka, melihat bahwa engkau tetap dengan tulus ingin tunduk kepada-Nya bahkan ketika engkau negatif dan lemah, Tuhan akan tahu bagaimana membimbingmu, menuntunmu keluar dari kenegatifan dan kelemahanmu. Setelah mengalami pengalaman-pengalaman ini, engkau akan memiliki iman yang sejati kepada Tuhan. Engkau akan merasa bahwa kesulitan apa pun yang kauhadapi, asalkan engkau mencari Tuhan dan menantikan-Nya, Dia akan mengatur jalan keluar bagimu tanpa kausadari, memungkinkanmu untuk melihat bahwa bahkan tanpa kausadari, situasinya telah berubah, membuatmu tidak lagi lemah tetapi kuat, dan membuat imanmu kepada Tuhan makin meningkat. Ketika engkau merenungkan peristiwa-peristiwa ini, engkau akan merasa betapa kelemahanmu pada waktu itu sangat kekanak-kanakan. Sebenarnya, manusia memang sedemikian kekanak-kanakan, dan tanpa sokongan Tuhan, mereka tidak akan pernah menjadi dewasa dari sikap kekanak-kanakan dan ketidaktahuan mereka. Hanya dengan secara bertahap menerima dan tunduk pada kedaulatan Tuhan selama proses mengalami hal-hal ini, secara positif dan aktif menghadapi fakta-fakta ini, mencari prinsip-prinsip, mencari maksud-maksud Tuhan, tidak lagi menghindari atau menjauhkan diri dari Tuhan, juga tidak lagi memberontak terhadap Tuhan, melainkan makin tunduk, makin tidak memberontak, makin dekat dengan Tuhan, dan makin mampu untuk tunduk kepada Tuhan—hanya dengan mengalami seperti ini, barulah kehidupan orang lambat laun akan bertumbuh dan menjadi dewasa, bertumbuh sepenuhnya sampai memiliki tingkat pertumbuhan orang dewasa.

Bagaimana seharusnya orang menangani dan membereskan keadaan negatif? Kenegatifan tidak perlu ditakuti; kuncinya adalah memiliki nalar. Bukankah orang akan mudah bertindak bodoh ketika mereka selalu bersikap negatif? Ketika orang bersikap negatif, mereka hanya mengeluh atau pasrah dengan keadaan dirinya, dan berbicara serta bertindak tanpa nalar sedikit pun—bukankah ini memengaruhi pelaksanaan tugas mereka? Jika orang hanya bisa pasrah dengan keadaan negatif dirinya yang berputus asa dan malas, bukankah ini merupakan pengkhianatan terhadap Tuhan? Kenegatifan yang parah adalah seperti menderita sakit jiwa, agak mirip dengan dirasuk oleh setan; itu berarti tidak memiliki nalar. Tidak mencari kebenaran untuk mendapatkan solusi benar-benar berbahaya. Ketika orang bersikap negatif, jika mereka sama sekali tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan, mereka akan dengan mudah kehilangan nalar; mereka akan berkeliling menyebarkan kenegatifan, ketidakpuasan, dan gagasan mereka. Ini berarti dengan sengaja melawan Tuhan, dan dapat dengan sangat mudah mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja, konsekuensi yang terlalu mengerikan untuk direnungkan, dan mereka mungkin akan dibenci dan ditolak oleh Tuhan. Namun, jika seseorang yang berada dalam kenegatifan mampu mencari kebenaran, mempertahankan hati yang takut akan Tuhan, tidak berbicara secara negatif, tidak menyebarkan kenegatifan dan gagasannya sendiri, dan mempertahankan imannya kepada Tuhan dan sikap tunduk kepada-Nya, orang semacam itu dapat dengan mudah keluar dari kenegatifan. Semua orang memiliki saat-saat negatif; hanya saja intensitasnya, lamanya, dan alasannya berbeda-beda. Ada orang yang pada umumnya tidak negatif tetapi menjadi negatif ketika mereka menghadapi kegagalan atau ketika mereka menghadapi kegagalan atau mengalami kesulitan dalam sesuatu; ada orang yang menjadi negatif karena hal-hal sepele, sekalipun itu hanyalah sesuatu yang dikatakan seseorang yang melukai harga diri mereka. Dan ada orang yang menjadi negatif karena keadaan yang sedikit tidak menguntungkan. Apakah orang-orang semacam itu mengerti bagaimana menjalani hidup? Apakah mereka memiliki wawasan? Apakah mereka memiliki keluasan pikiran dan kemurahan hati manusia normal? Tidak. Seperti apa pun keadaannya, selama orang hidup dalam watak rusak mereka, mereka akan sering terjerumus dalam beberapa keadaan negatif. Tentu saja, jika seseorang memahami kebenaran dan mampu mengetahui yang sebenarnya mengenai berbagai hal, keadaan negatif mereka akan menjadi makin jarang dan lambat laun kenegatifan mereka akan hilang seiring dengan meningkatnya tingkat pertumbuhan mereka, dan itu pada akhirnya akan lenyap sepenuhnya. Mereka yang tidak mencintai kebenaran, yang sama sekali tidak menerima kebenaran, akan memiliki makin banyak emosi negatif, keadaan negatif, dan pemikiran serta sikap yang negatif, yang akan menjadi makin serius jika itu makin menumpuk, dan begitu hal-hal ini menguasai mereka, mereka tidak akan mampu pulih kembali, dan ini akan sangat berbahaya. Oleh karena itu, membereskan kenegatifan dengan segera sangatlah penting. Untuk membereskan kenegatifan, orang harus secara proaktif mencari kebenaran; membaca dan merenungkan firman Tuhan sambil mempertahankan keadaan yang tenang di hadirat-Nya akan mengarahkan orang untuk memperoleh pencerahan dan penerangan, yang memungkinkan orang untuk memahami kebenaran dan memahami yang sebenarnya tentang esensi kenegatifan, dan dengan demikian membereskan masalah kenegatifan. Jika engkau masih berpaut pada gagasan dan nalarmu sendiri, engkau sangat bodoh, dan engkau akan mati karena kebodohan dan ketidaktahuanmu. Bagaimanapun juga, menyelesaikan kenegatifan haruslah dengan bersikap proaktif, bukan bersikap pasif. Ada orang-orang yang mengira ketika kenegatifan muncul, mereka harus mengabaikannya saja; ketika mereka kembali merasa bahagia, kenegatifan mereka dengan sendirinya telah berubah menjadi sukacita. Ini adalah khayalan; tanpa mencari atau menerima kebenaran, kenegatifan tidak akan hilang secara otomatis. Sekalipun engkau melupakannya dan tidak merasakan apa pun di dalam hatimu, itu bukan berarti bahwa sumber penyebab kenegatifanmu telah dibereskan. Begitu keadaan yang tepat muncul, itu akan kembali muncul, dan itulah yang biasanya terjadi. Jika seseorang itu cerdas dan bernalar, mereka harus segera mencari kebenaran ketika kenegatifan muncul dan menggunakan cara menerima kebenaran untuk membereskannya, dengan demikian membereskan masalah kenegatifan dari sumbernya. Semua orang yang sering bersikap negatif menjadi negatif karena mereka tidak mampu menerima kebenaran. Jika engkau tidak menerima kebenaran, kenegatifan akan melekat kepadamu seperti setan, membuatmu terus-menerus negatif, menyebabkanmu mengembangkan perasaan ketidaktaatan, ketidakpuasan, dan keluhan terhadap Tuhan, sampai engkau mendapati dirimu menentang, melawan dan berteriak menuntut Tuhan—pada saat inilah hidupmu telah berakhir, dan wajah burukmu akan tersingkap. Orang-orang mulai menyingkapkanmu, menelaah dirimu, dan menggolongkanmu, dan baru pada saat inilah, dihadapkan dengan kenyataan yang suram, air matamu mulai mengalir; inilah saatnya engkau roboh dan mulai memukuli dadamu dalam keputusasaan—hanya bisa menunggu hukuman dari Tuhan! Kenegatifan bukan saja melemahkan orang-orang, tetapi juga menyebabkan mereka mengeluh tentang Tuhan, menghakimi Tuhan, menyangkal Tuhan, dan bahkan secara langsung melawan dan berteriak menuntut Tuhan. Oleh karena itu, jika orang menunda untuk membereskan kenegatifannya, begitu dia menyuarakan perkataannya yang menghujat dan menyinggung watak Tuhan, konsekuensinya sangat berat. Jika engkau terjerumus dalam kenegatifan dan memendam keluhan karena satu peristiwa, satu kalimat, atau satu pemikiran atau sudut pandang, ini menunjukkan bahwa pemahamanmu tentang hal tersebut menyimpang, dan engkau memiliki gagasan dan imajinasi tentang hal itu; pandanganmu tentang hal ini tentu saja tidak sesuai dengan kebenaran. Pada saat ini, engkau perlu mencari kebenaran dan menghadapinya dengan benar, berjuang untuk segera mengoreksi gagasan dan pemikiran yang keliru ini sedini mungkin, tidak membiarkan dirimu diikat dan disesatkan oleh gagasan ini sehingga engkau berada dalam keadaan yang tidak taat, tidak puas, dan mengeluh terhadap Tuhan. Membereskan kenegatifan dengan segera sangatlah penting, dan membereskannya sepenuhnya juga sangat penting. Tentu saja, cara terbaik untuk membereskan kenegatifan adalah dengan mencari kebenaran, lebih banyak membaca firman Tuhan, dan datang ke hadirat Tuhan untuk mencari pencerahan dari-Nya. Terkadang, engkau mungkin untuk sementara waktu tidak mampu membalikkan pemikiran dan sudut pandangmu, tetapi setidaknya, engkau harus tahu bahwa engkau salah dan bahwa pemikiranmu ini menyimpang. Dengan cara ini, hasil minimalnya adalah bahwa pemikiran dan sudut pandang yang keliru ini tidak akan memengaruhi kesetiaanmu dalam melaksanakan tugasmu, tidak akan memengaruhi hubunganmu dengan Tuhan, dan tidak akan memengaruhimu untuk datang ke hadirat Tuhan untuk membuka hatimu dan berdoa—hasil inilah yang setidaknya harus kaucapai. Ketika engkau diliputi oleh kenegatifan dan engkau tidak taat dan tidak puas, dan engkau memendam keluhan terhadap Tuhan tetapi tidak ingin mencari kebenaran untuk membereskannya, menganggap hubunganmu dengan Tuhan normal padahal sebenarnya hatimu jauh dari Tuhan dan engkau tidak lagi ingin membaca firman-Nya atau berdoa, bukankah masalahnya telah menjadi parah? Engkau berkata, "Betapa pun negatifnya aku, pelaksanaan tugasku tidak terhalang dan aku tidak mengabaikan tanggung jawabku. Aku setia!" Apakah perkataan ini benar? Jika engkau sering bersikap negatif, itu bukan masalah watak yang rusak; ada masalah yang lebih serius: engkau memiliki gagasan tentang Tuhan, salah paham terhadap-Nya, dan engkau telah menciptakan penghalang di antara dirimu dan Tuhan. Jika engkau tidak mencari kebenaran untuk membereskannya, itu akan sangat berbahaya. Bagaimana seseorang dapat memastikan bahwa mereka melaksanakan tugas mereka dengan setia sampai akhir dan tanpa asal-asalan jika mereka sering bersikap negatif? Dapatkah kenegatifan hilang begitu saja atau lenyap dengan sendirinya jika tidak dibereskan? Jika orang tidak segera mencari kebenaran untuk mencari solusinya, kenegatifan akan terus berkembang dan menjadi makin memburuk. Konsekuensi yang ditimbulkannya hanya akan makin merugikan. Konsekuensi tersebut sama sekali tidak akan berkembang ke arah yang positif, melainkan hanya akan berkembang ke arah yang merugikan. Oleh karena itu, ketika kenegatifan muncul, engkau harus segera mencari kebenaran untuk membereskannya; hanya inilah yang memastikan bahwa engkau mampu melaksanakan tugasmu dengan baik. Membereskan kenegatifan sangatlah penting, dan tidak boleh ditunda!

26 Juni 2021

Sebelumnya: Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (16)

Selanjutnya: Tanggung Jawab Para Pemimpin dan Pekerja (18)

Penderitaan akan berakhir dan air mata akan berhenti. Percayalah kepada Tuhan bahwa Dia mendengar permohonan kita dalam penderitaan kita, dan Dia ingin menyelamatkan kita dari penderitaan. Hubungi kami untuk memahami kabar baik tentang keselamatan Tuhan.

Pengaturan

  • Teks
  • Tema

Warna Solid

Tema

Jenis Huruf

Ukuran Huruf

Spasi Baris

Spasi Baris

Lebar laman

Isi

Cari

  • Cari Teks Ini
  • Cari Buku Ini