Firman tentang Melaksanakan Tugas
Kutipan 30
Apa yang dimaksud dengan tugas? Amanat yang Tuhan percayakan kepada manusia adalah tugas yang harus dilaksanakan oleh manusia. Apa pun yang Dia percayakan kepadamu, itulah tugas yang harus kaulaksanakan. Untuk melaksanakan tugasmu, engkau harus belajar untuk tetap praktis dan realistis, dan tidak menjangkau apa yang berada di luar jangkauanmu. Jangan selalu berpikir bahwa rumput tetangga lebih hijau dan bersikeras untuk melakukan apa yang tidak sesuai untukmu. Ada orang-orang yang cocok untuk menjadi tuan rumah, tetapi mereka bersikeras untuk menjadi pemimpin; ada orang-orang yang cocok untuk menjadi aktor, tetapi mereka ingin menjadi sutradara. Tidaklah baik untuk selalu mengejar posisi yang lebih tinggi. Orang harus menemukan dan menentukan peran dan posisi mereka sendiri—itulah yang dilakukan oleh orang yang bernalar. Kemudian mereka harus melaksanakan tugas mereka dengan baik dengan sikap yang praktis dan realistis untuk membalas kasih Tuhan dan memuaskan-Nya. Jika orang memiliki sikap seperti ini saat melaksanakan tugas mereka, hati mereka akan menjadi tenang dan damai, mereka akan dapat menerima kebenaran dalam tugas mereka, dan mereka secara bertahap akan melaksanakan tugas mereka sesuai dengan tuntutan Tuhan. Mereka akan mampu menyingkirkan watak mereka yang rusak, tunduk pada semua pengaturan Tuhan, dan melaksanakan tugas mereka dengan cara yang memenuhi standar. Inilah cara untuk mendapatkan perkenanan Tuhan. Jika engkau benar-benar dapat mengorbankan dirimu untuk Tuhan dan melaksanakan tugasmu dengan pola pikir yang benar, pola pikir yang mengasihi dan memuaskan-Nya, engkau akan dipimpin dan dibimbing oleh pekerjaan Roh Kudus, engkau akan bersedia menerapkan kebenaran dan bertindak sesuai prinsip saat melaksanakan tugasmu, dan engkau akan menjadi orang yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Dengan cara ini, engkau akan sepenuhnya hidup dalam keserupaan dengan manusia sejati. Kehidupan orang berangsur-angsur bertumbuh saat mereka melaksanakan tugas. Mereka yang tidak melaksanakan tugas tidak dapat memperoleh kebenaran dan hidup, berapa tahun pun mereka telah percaya, karena mereka tidak memiliki berkat Tuhan. Tuhan hanya memberkati mereka yang dengan tulus mengorbankan diri mereka bagi-Nya dan mereka yang melaksanakan tugas mereka sesuai dengan kemampuan mereka. Tugas atau pekerjaan apa pun yang gereja atur untuk kaulakukan, engkau harus menerimanya sebagai tanggung jawab dan tugasmu, dan engkau harus melaksanakannya dengan baik. Bagaimana engkau bisa melaksanakannya dengan baik? Laksanakan itu tepat seperti yang Tuhan tuntut. Tuhan memintamu untuk melaksanakan tugasmu dengan baik dengan segenap hati, pikiran, dan kekuatanmu, jadi engkau harus merenungkan firman ini dan memikirkan bagaimana engkau dapat melaksanakan tugasmu dengan segenap hati. Sebagai contoh, jika engkau melihat seseorang melaksanakan tugasnya tidak sesuai dengan prinsip, melaksanakannya secara sembarangan dengan sekehendak hatinya, dan di dalam hatimu, engkau berpikir, "Bagaimanapun juga, ini bukan tanggung jawabku, jadi aku tidak akan ikut campur," apakah ini melaksanakan tugasmu dengan segenap hati? (Tidak.) Tidak, ini adalah sikap yang tidak bertanggung jawab. Jika engkau adalah orang yang bertanggung jawab, ketika engkau menghadapi situasi seperti itu, engkau akan berkata, "Ini bukan bagian dari peranku, tetapi aku dapat melaporkan masalah ini kepada pemimpin agar mereka dapat menanganinya berdasarkan prinsip." Setelah engkau melakukannya, semua orang melihat bahwa itu tepat, dan hatimu akan tenang, dan engkau telah memenuhi tanggung jawabmu. Dengan demikian, engkau telah melaksanakan tugasmu dengan segenap hati. Misalkan, tugas apa pun yang sedang kaulaksanakan, engkau selalu tidak penuh perhatian, dan engkau berkata, "Jika aku melakukan pekerjaan ini dengan cara yang sederhana dan sepintas lalu, sekadar bersikap asal-asalan, pekerjaan ini tetap akan selesai dengan lumayan. Bagaimanapun, aku telah melakukan yang terbaik yang aku bisa; kemampuanku terbatas, dan keterampilan profesionalku kurang memadai. Melaksanakannya dengan lumayan sudah cukup baik. Selain itu, tak seorang pun menanyakannya atau menyelidikinya, dan tak seorang pun bertindak tegas terhadapku. Tugas itu juga tidak terlalu penting; tidak apa-apa jika aku melaksanakannya dengan sikap asal-asalan." Jika engkau melaksanakan tugasmu dengan niat dan pola pikir seperti ini, apakah engkau melaksanakannya dengan segenap hati? Tidak, engkau sedang bersikap asal-asalan, dan itu adalah perwujudan dari watak rusak Iblismu. Dapatkah engkau melaksanakan tugasmu dengan segenap hati dengan mengandalkan watak Iblismu? Tidak, itu tidak mungkin. Jadi, apa artinya melaksanakan tugasmu dengan segenap hati? Engkau mungkin berkata, "Meskipun Yang di Atas tidak bertanya tentang tugas ini, dan tugas ini tampaknya tidak terlalu penting di antara semua pekerjaan rumah Tuhan, aku tetap harus melaksanakannya dengan baik—ini adalah tugasku." Sebenarnya, apakah itu penting atau tidak, itu adalah satu hal; apakah engkau mampu melaksanakannya dengan baik, itu adalah hal lain, dan itulah kuncinya. Hanya inilah yang paling penting. Kuncinya adalah apakah engkau mampu melaksanakannya dengan baik atau tidak, apakah engkau mampu mencurahkan segenap hatimu ke dalamnya, dan apakah engkau mampu mematuhi prinsip dan menerapkannya sesuai dengan kebenaran. Inilah yang penting. Jika engkau mampu menerapkan kebenaran dan melakukan segala sesuatu sesuai dengan prinsip, maka engkau benar-benar melaksanakan tugasmu dengan segenap hati. Jika engkau telah melaksanakan satu tugas dengan baik, tetapi engkau masih belum puas dan ingin melaksanakan tugas yang lebih penting, dan engkau mampu melaksanakannya dengan baik, maka engkau terlebih lagi sedang melaksanakan tugasmu dengan segenap hati. Jadi, jika engkau mampu melaksanakan tugasmu dengan segenap hati, apa artinya ini? Di satu sisi, ini berarti engkau sedang melaksanakan tugasmu sesuai dengan prinsip-prinsip firman Tuhan. Di sisi lain, ini berarti engkau menerima pemeriksaan Tuhan dan memiliki Tuhan di dalam hatimu; ini berarti engkau tidak melaksanakan tugasmu untuk pamer, tidak bertindak semaumu sendiri, dan tidak melaksanakannya sesuai dengan preferensimu sendiri, sebaliknya engkau menganggapnya sebagai amanat yang dipercayakan kepadamu oleh Tuhan, dan engkau melaksanakannya dengan tanggung jawab dan hati seperti itu, bukan sesuai dengan kehendakmu sendiri melainkan sepenuhnya sesuai dengan tuntutan Tuhan. Engkau mencurahkan segenap hatimu ke dalam tugasmu—ini artinya melaksanakan tugas dengan sepenuh hati. Ada orang-orang yang tidak memahami kebenaran tentang melaksanakan tugas. Ketika penderitaan tertentu menimpa mereka, mereka mengeluh, dan mereka selalu meributkan tentang kepentingan, keuntungan, dan kerugian pribadi mereka. Mereka berpikir, "Jika aku melaksanakan tugas yang diberikan kepadaku oleh pemimpin dengan baik, hal itu akan mendatangkan kehormatan dan kemuliaan bagi mereka, tetapi siapa yang akan mengingatku? Tak seorang pun akan tahu bahwa aku yang melakukan pekerjaan itu, dan pemimpin akan mendapatkan semua penghargaan untuk itu. Bukankah melaksanakan tugasku dengan cara ini berarti melayani orang lain?" Watak macam apa ini? Ini adalah pemberontakan—orang-orang ini adalah tipe orang yang tidak masuk akal. Mereka tidak memahami amanat Tuhan dengan cara yang benar. Mereka selalu ingin menjadi orang yang memegang kekuasaan, selalu ingin menerima pujian dan dihargai, dan membuat diri mereka terlihat baik. Mengapa mereka selalu berfokus pada ketenaran dan keuntungan? Ini menunjukkan bahwa keinginan mereka untuk mendapatkan ketenaran dan keuntungan sangat kuat, dan mereka tidak mengerti bahwa melaksanakan tugas adalah tentang memuaskan Tuhan, atau bahwa Tuhan memeriksa lubuk hati setiap orang. Orang-orang ini tidak memiliki iman yang benar kepada Tuhan, sehingga mereka menentukan berdasarkan fakta yang dapat mereka lihat dengan mata kepala sendiri, yang menyebabkan mereka memiliki pandangan yang salah. Akibatnya, mereka menjadi negatif dan bermalas-malasan dalam pekerjaan mereka dan tidak mampu melaksanakan tugas mereka dengan sepenuh hati dan segenap kekuatan mereka. Karena mereka tidak memiliki iman yang benar dan tidak tahu bahwa Tuhan memeriksa lubuk hati manusia, mereka berfokus pada pelaksanaan tugas mereka agar dilihat orang lain, membuat penderitaan dan kesukaran yang mereka tanggung diketahui orang lain, dan mencari pujian dan penerimaan dari para pemimpin dan para pekerja. Mereka menganggap melaksanakan tugas hanya layak jika mereka melakukannya dengan cara ini, dan hanya mulia jika semua orang melihat mereka melakukannya. Bukankah ini menyimpang? Mereka percaya kepada Tuhan, tetapi mereka bukan saja tidak memiliki iman, mereka juga sama sekali tidak menerima atau memahami kebenaran. Mungkinkah orang seperti ini mampu melaksanakan tugas dengan baik? Bukankah ada masalah dengan watak mereka? Jika engkau berusaha mempersekutukan kebenaran kepada mereka dan mereka tetap tidak menerimanya, itu berarti mereka memiliki watak yang jahat. Mereka gagal memenuhi tanggung jawab mereka yang semestinya dan tidak berpegang teguh dalam tugas mereka. Cepat atau lambat, mereka harus disingkirkan. Mereka yang melaksanakan tugas haruslah orang-orang yang memiliki kemanusiaan yang normal. Mereka harus memiliki nalar yang sehat dan harus mampu tunduk pada semua pengaturan dan penataan Tuhan. Tuhan menganugerahkan kualitas dan karunia yang berbeda kepada setiap orang, dan setiap orang cocok untuk melaksanakan tugas yang berbeda. Engkau tidak boleh pilih-pilih dan memilih tugas berdasarkan preferensimu, hanya memilih untuk melaksanakan tugas yang nyaman dan mudah yang sesuai dengan keinginanmu sendiri. Ini salah. Ini bukanlah melaksanakan tugasmu dengan segenap hati dan ini bukanlah melaksanakan tugas. Untuk dapat melaksanakan tugas, hal pertama yang harus kaulakukan adalah mencurahkan segenap hatimu ke dalamnya. Selanjutnya, apa pun yang kaulakukan, entah melaksanakan tugas besar atau kecil, tugas yang kotor atau melelahkan, tugas yang dilakukan di depan orang lain atau di belakang layar, tugas penting atau tugas yang tidak penting, engkau harus menganggap semua itu sebagai tugasmu dan mematuhi prinsip tentang cara melaksanakannya dengan segenap hati, segenap pikiran, dan segenap kekuatanmu. Jika, setelah melaksanakan tugasmu, engkau akhirnya tidak merasa bersalah ketika memeriksa dirimu sendiri mengenai beberapa pekerjaan yang telah kaulakukan, dan meskipun engkau telah mencurahkan segenap hatimu ke dalamnya, beberapa dari pekerjaanmu belum dilakukan dengan baik dan hasil usahamu tidak terlalu baik, apa yang harus kaulakukan? Ada orang-orang yang berpikir, "Aku sudah mencurahkan segenap hatiku ke dalam tugasku, tetapi hasilnya tidak terlalu bagus. Ini bukan masalahku. Ini sekarang terserah Tuhan." Pandangan macam apa ini? Apakah pandangan ini benar? Mereka tidak sungguh-sungguh mengorbankan diri mereka bagi Tuhan, karena mereka tidak mau mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah; mereka tidak mau memuaskan Tuhan dan mereka masih memiliki perspektif yang asal-asalan terhadap tugas mereka. Orang-orang semacam ini, tampaknya, tidak punya hati. Ketika kita membahas tentang melaksanakan tugas dengan segenap hatimu, itu berarti menggunakan segenap hatimu—engkau tidak boleh melaksanakan tugasmu dengan setengah hati, engkau harus benar-benar fokus, melaksanakan tugasmu dengan penuh perhatian, dan sepenuh hati, menerapkan sikap bertanggung jawab untuk memastikan bahwa tugas-tugas itu dilakukan dengan baik, mendapatkan hasil yang seharusnya kaudapatkan. Hanya dengan melakukannya seperti ini, barulah orang dapat disebut melaksanakan tugasnya dengan segenap hati. Jika engkau melihat bahwa hasil pekerjaanmu tidak begitu baik dan engkau berpikir, "Aku telah melakukan yang terbaik, aku telah mengorbankan waktu tidur, melewatkan makan, dan begadang, terkadang aku tidak ikut ketika orang lain pergi keluar untuk bersantai dan berjalan-jalan. Aku telah menanggung kesukaran dan tidak menikmati kenyamanan daging. Itu berarti aku telah melaksanakan tugasku dengan segenap hatiku." Apakah pandangan ini benar? Engkau telah menginvestasikan waktumu dan berusaha keras. Di luarnya, engkau terlihat telah melakukan semua formalitas ini, tetapi hasil yang kauperoleh tidak baik, dan engkau tidak mau bertanggung jawab atas hal ini dan tidak peduli. Apakah ini berarti engkau melaksanakan tugasmu dengan segenap hati? (Tidak.) Ini bukanlah melaksanakan tugasmu dengan segenap hatimu. Ketika Tuhan menentukan apakah seseorang melakukan sesuatu dengan segenap hati atau tidak, apa yang Dia lihat? Di satu sisi, Dia melihat apakah engkau memperlakukan hal itu dengan sikap yang teliti dan bertanggung jawab. Di sisi lain, Dia melihat apa yang kaupikirkan ketika engkau melakukannya, apakah engkau melaksanakan tugas yang seharusnya kaulaksanakan itu dengan penuh perhatian, dan apakah engkau secara konsisten melaksanakannya berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, dan apakah, ketika menghadapi kesukaran, engkau dengan sungguh-sungguh mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah sehingga engkau dapat melaksanakan tugasmu dengan baik. Ketika manusia melakukan sesuatu, Tuhan mengawasi dan memeriksa. Dia mengamati hati mereka sepanjang waktu. Meskipun orang tidak mengetahuinya, terkadang mereka dapat merasakan pemeriksaan-Nya. Ada orang-orang yang selalu bersikap asal-asalan dalam tugas mereka, dan pada akhirnya, Tuhan mengatur suatu lingkungan untuk menyingkapkan mereka. Pada saat itu, mereka bisa merasakan bahwa Dia telah meninggalkan mereka, dan semua orang melihat bahwa mereka tidak serupa dengan orang percaya—melainkan seperti orang tidak percaya, para setan, dan Iblis. Orang-orang semacam ini disingkirkan selama pelaksanaan tugas mereka. Ada orang-orang yang sering kali merenungkan diri mereka sendiri saat melaksanakan tugas. Terkadang, hasil yang mereka dapatkan tidak baik, atau masalah muncul, dan mereka dapat merasakannya di dalam hati mereka, dan berpikir, "Apakah aku kembali bersikap asal-asalan?" Mereka merasakan teguran dalam hati mereka. Bagaimana terjadinya teguran ini? Ini dilakukan oleh Tuhan, ini adalah pencerahan Roh Kudus. Jadi, mengapa Tuhan mencerahkanmu? Atas dasar apa Dia mencerahkanmu? Dalam konteks apa Dia menegurmu? Engkau harus memiliki pola pikir yang benar dan berkata, "Aku harus melaksanakan tugasku dengan segenap hatiku, dan itu berarti melaksanakannya berdasarkan kebenaran. Apakah aku sudah benar-benar melaksanakan tugasku dengan segenap hatiku?" Jika engkau selalu merenungkan hal ini, Tuhan akan mencerahkanmu dan membuatmu mengerti, "Aku tidak melaksanakan tugas itu dengan segenap hatiku. Kupikir aku telah melaksanakannya dengan cukup baik, kupikir aku mendapatkan nilai 99 dari 100. Namun ternyata tidak demikian—aku bahkan dapat dikatakan sekadar memadai." Baru pada saat itulah, kaudapati bahwa Tuhan merasa tidak puas. Ini berarti Tuhan sedang mencerahkanmu dan memungkinkanmu untuk memahami seberapa baik engkau sebenarnya dalam melaksanakan tugasmu dan betapa engkau masih jauh dari memenuhi tuntutan-Nya. Jika pelaksanaan tugas seseorang jauh di bawah standar minimum, apakah Tuhan masih akan mencerahkan mereka? Mungkin tidak. Siapakah yang akan Tuhan cerahkan? Pertama, mereka yang mencintai kebenaran; kedua, mereka yang memiliki sikap yang tunduk; ketiga, mereka yang merindukan kebenaran; dan keempat, mereka yang memeriksa dan merenungkan diri mereka sendiri dalam segala hal. Orang-orang seperti inilah yang dapat memperoleh pencerahan Tuhan. Jika engkau menerapkan dan mengalami dengan cara seperti ini, maka pengalaman pribadimu dalam melaksanakan tugasmu dengan segenap hati—aspek penerapan kebenaran dan aspek kenyataan ini—akan menjadi makin meningkat. Lambat laun, engkau akan tahu dengan jelas siapa yang melaksanakan tugas dengan segenap hatinya dan siapa yang tidak, dan seperti apa sikap serta perilaku berbagai orang dalam melaksanakan tugas mereka. Jika engkau mengenal dirimu sendiri, engkau akan mampu mengetahui yang sebenarnya tentang orang lain, dan engkau akan menjadi makin teliti dalam tugasmu. Sikap asal-asalan sekecil apa pun tidak akan luput dari perhatianmu, dan engkau akan mampu mencari kebenaran untuk menyelesaikannya. Engkau akan mampu menangani berbagai hal berdasarkan prinsip saat melaksanakan tugasmu, engkau akan makin menerapkan kebenaran, dan hatimu akan menjadi tenang dan damai. Jika suatu hari engkau tahu di dalam hatimu bahwa engkau belum melaksanakan suatu tugas dengan baik, apa yang harus kaulakukan? Engkau harus merenungkannya, mencari informasi, dan meminta nasihat dari orang lain, sehingga tanpa kausadari, engkau akan mendapatkan pemahaman tentang masalah tersebut. Bukankah ini akan membantumu dalam pelaksanaan tugasmu? (Ya.) Ini akan sangat membantu. Inilah yang akan terjadi, apa pun tugas yang sedang kaulaksanakan. Selama orang melaksanakan tugas mereka dengan segenap hati, mencari prinsip-prinsip kebenaran, dan bertekun dalam upaya mereka, mereka pada akhirnya akan memperoleh hasil.
Kutipan 31
Karena orang memiliki watak yang rusak, mereka sering bersikap asal-asalan dalam pelaksanaan tugas mereka. Ini adalah masalah yang paling serius. Jika orang ingin melaksanakan tugas mereka dengan baik, mereka pertama-tama harus menyelesaikan masalah sikap asal-asalan. Selama mereka memiliki pola pikir yang asal-asalan, mereka tidak akan mampu melaksanakan tugas mereka dengan baik, yang berarti bahwa menyelesaikan masalah sikap asal-asalan adalah yang paling penting. Jadi, bagaimana seharusnya mereka menerapkannya? Pertama, mereka harus menyelesaikan masalah pola pikir mereka—mereka harus memperlakukan tugas mereka dengan benar, melakukan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab, dan menghindari memiliki hati yang licik dan asal-asalan. Tugas dilaksanakan orang untuk Tuhan, bukan untuk manusia mana pun; jika orang mampu menerima pemeriksaan Tuhan, mereka akan memiliki pola pikir yang benar. Terlebih lagi, setelah melakukan sesuatu, orang harus meninjaunya dan merenungkannya. Jika mereka merasa sedikit gelisah di dalam hati mereka, dan dengan tinjauan yang saksama mereka menemukan bahwa benar-benar ada masalah, maka mereka harus memperbaikinya, dan setelah memperbaikinya, mereka akan merasa tenang di hati mereka. Merasa gelisah di dalam hati membuktikan bahwa ada masalah. Ini menuntut tinjauan yang saksama, dan tidak ada yang boleh diabaikan pada titik-titik kritis. Ini adalah sikap yang bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas. Jika seseorang dapat bersikap sungguh-sungguh, bertanggung jawab, dan mengerahkan segenap hati dan kekuatan mereka, pekerjaan akan dilakukan dengan baik. Terkadang engkau memiliki pola pikir yang salah, dan engkau selalu merasa diri benar, dan sekalipun ada kesalahan yang nyata, engkau tetap tidak dapat menemukan atau mendapatinya. Jika engkau memiliki pola pikir yang benar, dan engkau mencari kebenaran, maka melalui pencerahan dan bimbingan Roh Kudus, engkau akan menemukan masalahnya. Jika Roh Kudus membimbingmu dan memberimu kesadaran, sehingga hatimu menjadi terang dan engkau tahu di mana letak kesalahannya, engkau akan mampu memperbaiki penyimpangan tersebut dan berusaha mengejar prinsip-prinsip kebenaran. Jika engkau tidak memiliki pola pikir yang benar, dan engkau tidak fokus serta ceroboh, akankah engkau mampu menemukan kesalahannya? Engkau tidak akan mampu. Apa yang dapat dilihat dari hal ini? Untuk melaksanakan tugas mereka dengan baik, sangatlah penting bagi orang untuk melakukan bagian mereka; pola pikir mereka sangat penting; dan ke mana mereka memusatkan pikiran dan ide-ide mereka sangatlah penting. Tuhan memeriksa dan dapat melihat pola pikir apa yang orang miliki dan seberapa besar kesungguhan mereka saat mereka melaksanakan tugas mereka. Dalam pelaksanaan tugas, mencurahkan segenap hati dan kekuatan ke dalamnya sangatlah penting, dan melakukan bagiannya sangatlah krusial. Orang harus berjuang agar tidak memiliki penyesalan tentang tugas yang telah mereka selesaikan dan hal-hal yang telah mereka lakukan, dan agar tidak berutang kepada Tuhan. Inilah arti sebenarnya dari mencurahkan segenap hati dan kekuatan. Jika engkau tidak pernah mencurahkan segenap hati dan kekuatanmu ke dalam tugasmu dan engkau selalu bersikap asal-asalan, menyebabkan kerugian besar pada pekerjaan dan jauh dari hasil yang dituntut oleh Tuhan, maka engkau hanya bisa disingkirkan. Apakah masih ada waktu untuk merasa menyesal saat itu? Tidak akan ada. Ini akan menjadi penyesalan abadi, sebuah noda! Selalu bersikap asal-asalan adalah sebuah noda, pelanggaran yang serius, bukan? (Ya.) Engkau harus berusaha melakukan dengan baik apa yang menjadi bagianmu dan segala hal yang seharusnya kaulakukan, dengan segenap hati dan kekuatanmu, dan tidak bersikap asal-asalan atau membiarkan dirimu memiliki penyesalan apa pun. Dengan demikian, tugas yang kaulaksanakan akan diingat oleh Tuhan. Hal-hal yang diingat oleh Tuhan adalah perbuatan baik. Lalu, dianggap sebagai apakah hal-hal yang tidak diingat oleh Tuhan? (Itu menjadikannya pelanggaran dan perbuatan jahat.) Engkau mungkin tidak dapat menerima bahwa kita sekarang menyebutnya perbuatan jahat, tetapi ketika tiba harinya hal-hal ini menyebabkan konsekuensi yang parah, dan menimbulkan pengaruh negatif, engkau akan menyadari bahwa pelanggaran-pelanggaran ini bukan sekadar pelanggaran perilaku, melainkan perbuatan jahat. Ketika engkau menyadari hal ini, engkau akan merasa menyesal: "Seandainya saja aku tahu saat itu apa yang kuketahui sekarang! Seandainya saja aku sedikit lebih banyak berpikir dan berusaha saat itu, semua konsekuensi ini bisa dihindari." Tidak ada yang akan menghapus noda abadi ini dari hatimu, dan jika itu menyisakan rasa bersalah yang berkepanjangan di dalam dirimu, itu berarti masalah. Jadi, dalam melaksanakan tugasmu sekarang, engkau harus berfokus pada mencari kebenaran dan bertindak berdasarkan prinsip, berusaha mencurahkan segenap hati dan kekuatanmu ke dalam amanat yang Tuhan berikan kepadamu, dan segala sesuatu yang kaulakukan harus membuatmu memiliki hati nurani yang bersih dan tanpa penyesalan, serta diingat oleh Tuhan. Apa pun yang terjadi, jangan bersikap asal-asalan. Jika engkau melakukan kesalahan karena dorongan sesaat dan itu adalah pelanggaran yang serius, ini akan menjadi noda abadi. Begitu engkau memiliki penyesalan, engkau tidak akan mampu menebusnya; itu akan menjadi permanen. Engkau harus melihat kedua jalan ini dengan jelas. Manakah yang harus kaupilih agar dapat memperoleh perkenan Tuhan? Melaksanakan tugasmu dengan segenap hati dan kekuatan, mempersiapkan perbuatan baik yang cukup, dan berusaha memperoleh kebenaran—hanya dengan cara inilah engkau dapat menghindari penyesalan apa pun. Apa pun yang terjadi, jangan berbuat jahat dan mengganggu pelaksanaan tugas orang lain, jangan melakukan tindakan apa pun yang melanggar kebenaran dan menentang Tuhan, serta jangan biarkan dirimu memikul penyesalan seumur hidup. Apa konsekuensi dari melakukan terlalu banyak pelanggaran? Konsekuensinya adalah engkau akan menumpuk amarah Tuhan bagi dirimu sendiri di hadirat-Nya! Makin banyak pelanggaran yang kaulakukan, makin engkau menumpuk amarah Tuhan—pada akhirnya, engkau akan dihukum.
Ada orang-orang yang melaksanakan tugas mereka secara konsisten, dan tampaknya tidak memiliki masalah besar—mereka tidak melakukan perbuatan jahat yang nyata atau menyebabkan kekacauan atau gangguan, mereka tidak menempuh jalan antikristus, dan tidak ada kesalahan besar atau masalah prinsip dalam pelaksanaan tugas mereka. Namun, hanya dalam beberapa tahun, mereka tersingkap tanpa menyadarinya: Mereka sama sekali tidak menerima kebenaran, dan mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya. Apa yang sedang terjadi di sini? Orang tidak dapat melihat masalah dalam diri mereka, tetapi Tuhan memeriksa lubuk hati manusia, dan Dia dapat melihat masalahnya. Orang-orang ini selalu bersikap asal-asalan dan tidak bertobat dalam pelaksanaan tugas mereka. Seiring berjalannya waktu, mereka pasti akan tersingkap. Apa artinya selalu tidak bertobat? Itu berarti meskipun mereka melaksanakan tugas mereka secara konsisten, mereka selalu memiliki sikap yang keliru terhadap tugas-tugas ini, sikap yang asal-asalan, dan mereka tidak pernah melaksanakan tugas mereka dengan sungguh-sungguh, apalagi dengan sepenuh hati mereka. Sekalipun mereka mengerahkan sedikit upaya, mereka hanya melakukannya dengan sekadar formalitas, dan mereka jauh dari mengerahkan segenap kekuatan mereka dalam melaksanakan tugas mereka. Pelanggaran mereka tidak ada habisnya. Di mata Tuhan, orang-orang ini selalu tidak bertobat, dan mereka selalu bersikap asal-asalan dan tidak pernah berubah—yaitu, mereka tidak meninggalkan kejahatan di tangan mereka dan tidak bertobat kepada Tuhan, dan Tuhan tidak melihat sikap pertobatan dalam diri mereka, ataupun perubahan dalam sikap mereka. Mereka terus-menerus memperlakukan tugas mereka dan amanat Tuhan dengan sikap dan metode ini. Watak mereka yang keras kepala dan kaku ini tidak pernah berubah. Terlebih lagi, mereka tidak pernah merasa berutang kepada Tuhan, dan mereka tidak pernah merasa bahwa sikap mereka yang asal-asalan adalah sebuah pelanggaran dan perbuatan jahat. Di dalam hati mereka, tidak ada rasa berutang, tidak ada rasa bersalah, tidak ada penyesalan, apalagi tuduhan terhadap diri sendiri. Jika keadaan terus seperti ini, Tuhan akan memandang orang-orang ini sebagai orang yang tidak dapat diselamatkan. Apa pun yang Tuhan katakan, sebanyak apa pun khotbah yang didengar orang-orang ini atau sebanyak apa pun doktrin yang dapat mereka bicarakan, hati mereka tidak dapat menerima kebenaran dan tidak berubah atau berbalik, jadi Tuhan berfirman: "Tidak ada harapan bagi orang ini. Tidak ada yang Kukatakan yang dapat menggerakkan hatinya, dan tidak ada yang Kukatakan yang dapat membuatnya berbalik. Tidak ada metode yang Kucoba yang dapat menghasilkan perubahan dalam dirinya. Orang ini tidak lagi layak melaksanakan tugasnya, dan dia tidak lagi layak melakukan pelayanan di rumah-Ku." Mengapa Tuhan mengatakan ini? Itu karena mereka terus-menerus bersikap asal-asalan dalam pelaksanaan tugas mereka dan dalam pekerjaan mereka, dan dengan cara apa pun mereka dipangkas, dan seberapa besarnya pun toleransi dan kesabaran yang diberikan kepada mereka, itu sia-sia, dan tidak dapat membuat mereka benar-benar bertobat atau berubah, apalagi membuat mereka melaksanakan tugas mereka dengan baik, dan mereka sama sekali tidak dapat menempuh jalan mengejar kebenaran, jadi orang ini tidak dapat diselamatkan. Ketika Tuhan menetapkan bahwa seseorang tidak dapat diselamatkan, akankah Dia tetap memegang erat orang ini? Tidak. Tuhan akan melepaskan mereka. Beberapa orang selalu memohon, "Tuhan, biarkan aku menjalani hidupku sendiri! Jangan mendisiplinkanku atau membuatku menderita. Berikanku sedikit kebebasan! Biarkan aku bertindak dengan sedikit sikap asal-asalan! Biarkan aku hidup sedikit tidak bermoral! Biarkan aku menjadi tuan atas diriku sendiri!" Mereka tidak ingin dikekang. Tuhan berkata, "Karena engkau tidak ingin menempuh jalan yang benar, maka Aku akan melepaskanmu. Akan Kubiarkan kau berbuat sesuka hati. Pergilah dan lakukan apa yang kauinginkan. Aku tidak akan menyelamatkanmu, karena engkau tidak dapat diselamatkan." Apakah mereka yang tidak dapat diselamatkan memiliki kepekaan hati nurani? Apakah mereka memiliki perasaan berutang? Apakah mereka memiliki rasa tertuduh? Apakah mereka dapat merasakan teguran, pendisiplinan, pukulan, dan penghakiman Tuhan? Mereka tidak dapat merasakannya. Mereka tidak menyadari hal-hal ini; hal-hal ini samar di dalam hati mereka, atau bahkan tidak ada. Ketika seseorang telah sampai pada tahap ini, di mana Tuhan tidak lagi berada di dalam hati mereka, apakah mereka masih dapat memperoleh keselamatan? Sulit untuk dikatakan. Ketika iman seseorang telah mencapai titik seperti itu, mereka berada dalam bahaya. Tahukah engkau semua bagaimana engkau seharusnya mengejar, bagaimana seharusnya menerapkan, dan jalan apa yang seharusnya kaupilih untuk menghindari konsekuensi ini dan memastikan bahwa keadaan seperti itu tidak akan terjadi? Yang terpenting adalah engkau harus terlebih dahulu memilih jalan yang benar, dan kemudian berfokus untuk melaksanakan tugas yang harus kaulaksanakan saat ini dengan baik. Ini adalah standar minimumnya, standar yang paling dasar. Berlandaskan dasar inilah engkau harus mencari kebenaran dan berusaha mencapai tolok ukur dalam melaksanakan tugasmu dengan cara yang memenuhi standar. Ini karena hal yang paling jelas mencerminkan ikatan yang menghubungkanmu dengan Tuhan adalah caramu memperlakukan hal yang Tuhan percayakan kepadamu dan tugas yang Dia berikan kepadamu, serta sikap yang kaumiliki. Hal yang paling terlihat dan paling nyata adalah masalah ini. Tuhan sedang menunggu; Dia ingin melihat bagaimana sikapmu. Engkau harus memanfaatkan kesempatan ini dan bergegas menunjukkan sikapmu kepada Tuhan, menerima amanat-Nya, dan melaksanakan tugasmu dengan baik. Jika engkau dapat memenuhi amanat yang telah Tuhan berikan kepadamu, hubunganmu dengan Tuhan akan menjadi normal. Jika, ketika Tuhan memercayakan suatu tugas kepadamu, atau menyuruhmu untuk melaksanakan tugas tertentu, sikapmu sangat asal-asalan, dan engkau tidak menganggapnya serius atau menganggapnya penting, bukankah ini justru kebalikan dari memberikan segenap hati dan kekuatanmu? Dapatkah engkau melaksanakan tugasmu dengan baik dengan cara seperti ini? Tentu saja tidak. Pelaksanaan tugasmu pasti tidak akan memenuhi standar. Jadi, sikapmu saat melaksanakan tugasmu adalah hal yang sangat penting, sama seperti metode dan jalan yang kaupilih. Seberapa lamanya pun orang telah percaya kepada Tuhan, semua orang yang bahkan tak mampu melaksanakan tugas mereka dengan baik akan disingkirkan.
Kutipan 32
Banyak orang selalu melaksanakan tugas mereka dengan cara yang asal-asalan, tidak pernah teliti, seolah-olah mereka sedang bekerja untuk orang tidak percaya. Mereka melakukan segala sesuatu dengan cara yang kasar, dangkal, acuh tak acuh, dan lalai, seolah-olah mereka hanya sedang bermain-main. Mengapa demikian? Mereka adalah orang tidak percaya yang melakukan pelayanan. Beginilah cara pengikut yang bukan orang percaya melaksanakan tugas mereka. Orang-orang ini sangat berengsek; mereka tidak bermoral dan tidak terkendali, dan mereka tidak ada bedanya dengan orang tidak percaya. Mereka tentu saja tidak bersikap asal-asalan ketika mengurus urusan mereka sendiri, lalu mengapa mereka tidak sedikit pun bersungguh-sungguh atau teliti dalam hal melaksanakan tugas mereka? Tugas apa pun yang mereka laksanakan, terdapat unsur main-main dan kenakalan di dalamnya. Mereka selalu bersikap asal-asalan dan memiliki sifat penuh tipu daya di dalam diri mereka. Apakah orang-orang semacam ini memiliki kemanusiaan? Mereka tentu saja tidak memiliki kemanusiaan; mereka juga tidak memiliki sedikit pun hati nurani dan nalar. Mereka seperti keledai liar atau kuda liar; tanpa seseorang yang mengawasi atau mengatur mereka, mereka tidak dapat dikendalikan. Ketika mereka melaksanakan tugas, mereka selalu bersikap asal-asalan dan penuh tipu daya terhadap rumah Tuhan. Apakah ini berarti mereka memiliki kepercayaan yang tulus kepada-Nya? Apakah mereka mengorbankan diri untuk-Nya? Mereka tentu saja tidak memenuhi syarat, dan bahkan pelayanan yang mereka lakukan pun tidak memenuhi standar. Jika orang-orang semacam itu dipekerjakan oleh seseorang, mereka akan dipecat dan diberhentikan dalam beberapa hari. Sangatlah tepat untuk mengatakan bahwa di rumah Tuhan mereka adalah pelaku pelayanan dan pekerja bayaran, dan mereka hanya bisa disingkirkan. Banyak orang terlalu bersikap asal-asalan saat melaksanakan tugas mereka. Ketika dipangkas, mereka menolak untuk menerima kebenaran, terus berdebat, dan bahkan mengeluh bahwa rumah Tuhan tidak adil terhadap mereka, tidak memiliki belas kasihan dan kesabaran. Bukankah ini tidak bernalar? Secara lebih objektif, ini adalah watak yang congkak, dan mereka tidak memiliki sedikit pun hati nurani dan nalar. Mereka yang benar-benar percaya kepada Tuhan setidaknya harus mampu menerima kebenaran dan bertindak tanpa bertentangan dengan hati nurani dan nalar. Orang-orang yang bahkan tidak mampu menerima atau tunduk saat dipangkas terlalu congkak, merasa diri benar, dan sama sekali tidak bernalar! Menyebut mereka binatang bukanlah suatu hal yang berlebihan karena mereka sama sekali acuh tak acuh terhadap segala sesuatu yang mereka lakukan. Mereka melakukan segala sesuatu menurut kehendak mereka sendiri dan tanpa memedulikan konsekuensinya; jika masalah muncul, mereka tidak peduli. Bagi orang-orang semacam ini, bahkan pelayanan yang mereka lakukan tidak memenuhi standar. Karena mereka memperlakukan tugas mereka dengan cara seperti ini, orang lain tidak tahan melihat mereka dan tidak dapat memercayai mereka. Jadi, dapatkah Tuhan memercayai mereka? Dengan tidak memenuhi standar minimum ini pun, mereka tidak memenuhi standar bahkan dalam melakukan pelayanan dan hanya dapat disingkirkan. Seberapa jauhkah orang dapat menjadi congkak dan merasa dirinya benar? Mereka selalu merasa bahwa mereka mampu melakukan segalanya. Apa pun yang telah diatur untuk mereka, mereka berkata, "Ah, ini gampang; tidak menjadi masalah. Aku dapat melakukannya. Aku tidak memerlukan siapa pun untuk bersekutu bersamaku tentang prinsip-prinsip kebenaran; aku bisa memeriksanya sendiri." Mereka selalu memiliki sikap seperti ini, dan para pemimpin serta pekerja tidak tahan melihat mereka dan tidak dapat memercayai mereka ketika mereka melakukan sesuatu. Bukankah ini orang-orang yang congkak dan merasa diri benar? Jika orang terlalu congkak dan merasa diri benar, memang begitulah cara mereka berperilaku, dan jika tidak ada perubahan, mereka tidak akan pernah melaksanakan tugas mereka dengan cara yang memenuhi standar. Sikap seperti apa yang seharusnya orang miliki ketika melaksanakan tugasnya? Setidaknya, mereka harus memiliki sikap yang bertanggung jawab. Apa pun kesulitan dan masalah yang dihadapi orang, mereka harus mencari prinsip-prinsip kebenaran, memahami standar-standar yang dituntut oleh rumah Tuhan, dan mengetahui hasil-hasil yang harus dicapainya dengan melaksanakan tugas-tugas mereka. Jika orang dapat memahami hal itu, mereka dapat dengan mudah melaksanakan tugas mereka dengan cara yang memenuhi standar. Tugas apa pun yang orang laksanakan, jika mereka terlebih dahulu memahami prinsip-prinsipnya, memahami tuntutan rumah Tuhan, dan mengetahui hasil-hasil yang harus mereka capai, bukankah mereka memiliki jalan untuk melaksanakan tugasnya? (Ya.) Oleh karena itu, sikap orang terhadap tugas sangatlah penting. Mereka yang tidak mencintai kebenaran melaksanakan tugas mereka dengan bersikap asal-asalan. Mereka tidak memiliki sikap yang benar, mereka tidak pernah mencari prinsip-prinsip kebenaran, dan mereka tidak memedulikan tuntutan yang berlaku di rumah Tuhan serta hasil-hasil yang harus mereka capai. Bagaimana mereka dapat melaksanakan tugas mereka dengan cara yang memenuhi standar? Jika engkau adalah orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, ketika engkau menyadari bahwa keadaanmu adalah bersikap asal-asalan, engkau harus berdoa kepada-Nya serta merenungkan dan mengenal dirimu sendiri. Engkau harus memberontak terhadap segala watak rusakmu, berusaha keras pada prinsip-prinsip kebenaran, dan berjuang untuk memenuhi standar-standar yang dituntut-Nya. Dengan melaksanakan tugasmu dengan cara seperti ini, engkau akan secara bertahap memenuhi tuntutan rumah Tuhan. Sebenarnya, tidaklah terlalu sulit untuk melaksanakan tugasmu dengan baik. Itu hanya bergantung pada apakah orang memiliki hati nurani dan nalar, apakah hati mereka lurus, dan apakah mereka mengerjakannya dengan segenap hati mereka. Ada banyak orang tidak percaya yang bekerja dengan sungguh-sungguh dan menjadi sukses sebagai hasilnya. Mereka tidak mengetahui apa pun tentang prinsip-prinsip kebenaran, jadi bagaimana mereka bisa melakukannya dengan sangat baik? Karena mereka peduli dan mengerjakannya dengan segenap hati mereka, mereka dapat bekerja dengan sungguh-sungguh dan teliti, serta menyelesaikan segala sesuatunya dengan mudah. Tak satu pun tugas di rumah Tuhan yang sangat sulit. Selama engkau mengerjakannya dengan segenap hatimu dan berupaya sebaik mungkin, engkau dapat melakukan pekerjaan dengan baik. Jika hati orang tidak lurus, dan mereka tidak mengerjakan apa pun yang mereka lakukan dengan segenap hati, jika mereka selalu cenderung mengambil jalan pintas, dan jika mereka selalu ingin bersikap asal-asalan dan asal lolos saja, dan akibatnya, mereka tidak melaksanakan tugas mereka dengan baik, serta mengacaukan segala sesuatunya dan mendatangkan kerugian bagi rumah Tuhan, ini sama dengan melakukan pelanggaran, dan mengakibatkan mereka dibenci oleh Tuhan. Selama momen-momen penting dalam menyebarkan Injil, jika engkau bukan saja tidak mencapai hasil dalam tugasmu melainkan juga tidak memainkan peran positif, dan hanya menyebabkan kekacauan dan gangguan, tentu saja engkau akan dibenci dan disingkirkan oleh Tuhan serta kehilangan kesempatanmu untuk memperoleh keselamatan. Ini akan menjadi penyesalan abadimu! Tuhan meninggikanmu untuk melaksanakan tugasmu, dan ini adalah kesempatan yang telah Tuhan berikan kepadamu untuk mendapatkan kebenaran dan memperoleh keselamatan. Namun, engkau tidak bertanggung jawab, menganggapnya enteng, dan bersikap asal-asalan. Inilah sikap yang kautunjukkan dalam memperlakukan kebenaran dan Tuhan. Jika engkau tidak sedikit pun tulus atau tunduk, bagaimana engkau dapat memperoleh keselamatan dari Tuhan? Waktu sangatlah berharga saat ini; setiap hari, bahkan setiap menit, sangatlah penting. Jika engkau tidak mencari kebenaran, jika engkau tidak berfokus pada jalan masuk kehidupan, dan jika engkau bahkan bersikap asal-asalan dan berusaha menipu Tuhan dalam tugasmu, engkau benar-benar tidak bernalar dan berada dalam bahaya yang sangat besar! Begitu engkau dibenci dan disingkirkan oleh Tuhan, Roh Kudus tidak akan lagi bekerja di dalam dirimu, dan konsekuensi ini tidak dapat diubah. Terkadang, perbuatan seseorang selama satu menit saja dapat menghancurkan seluruh hidupnya. Terkadang, akibat satu kata saja yang menyinggung watak Tuhan, seseorang disingkapkan dan disingkirkan—bukankah ini dapat terjadi hanya dalam hitungan menit? Ini sama seperti orang-orang yang, meskipun melaksanakan tugasnya, selalu bertindak secara tidak bertanggung jawab, berperilaku ceroboh, dan bertindak tanpa menahan diri. Pada dasarnya, mereka adalah orang-orang tidak percaya dan pengikut yang bukan orang percaya, dan apa pun yang mereka lakukan selalu berakhir dengan kekacauan. Orang-orang semacam itu tidak hanya merugikan rumah Tuhan akibat perbuatannya, tetapi juga kehilangan kesempatan mereka sendiri untuk memperoleh keselamatan. Dengan cara ini, hak mereka untuk melaksanakan tugas mereka pun ditarik kembali. Itu berarti bahwa mereka telah disingkapkan dan disingkirkan dan itu sangat menyedihkan. Ada beberapa di antara mereka yang ingin bertobat, tetapi apakah menurutmu mereka akan diberi kesempatan? Sekali disingkirkan, mereka akan kehilangan kesempatannya. Dan sekali mereka ditinggalkan oleh Tuhan, nyaris tidak mungkin bagi mereka untuk menebus diri mereka sendiri.
Orang macam apa yang Tuhan selamatkan? Engkau bisa mengatakan mereka yang Tuhan selamatkan adalah semua orang yang memiliki hati nurani dan nalar serta mampu menerima kebenaran, karena hanya mereka yang memiliki hati nurani dan nalar yang mampu menerima dan menghargai kebenaran, dan selama mereka memahami kebenaran, mereka mampu menerapkannya. Mereka yang tidak memiliki hati nurani dan nalar adalah orang-orang yang tidak memiliki kemanusiaan; sederhananya, mereka tidak memiliki kebajikan. Apa natur dari tidak memiliki kebajikan? Itu artinya tidak memiliki kemanusiaan, tidak layak disebut manusia. Sebagaimana pepatah mengatakan, seseorang bisa kekurangan apa pun, tetapi mereka akan tamat jika mereka tidak memiliki kebajikan, karena itu membuat mereka bukan lagi manusia melainkan binatang berwujud manusia. Lihatlah setan-setan dan raja-raja setan itu. Mereka hanya melakukan hal-hal untuk menentang Tuhan dan mencelakakan umat pilihan-Nya. Bukankah mereka tidak memiliki kebajikan? Ya; mereka benar-benar tidak memilikinya! Orang yang melakukan terlalu banyak hal yang tidak mengandung kebajikan pasti akan menuai balasannya. Mereka yang tidak memiliki kebajikan tidak memiliki kemanusiaan; bagaimana mungkin mereka melaksanakan tugas mereka dengan baik? Mereka tidak layak melaksanakan tugas, dan mereka tidak mampu melaksanakan tugas apa pun dengan baik. Orang-orang semacam itu tidak layak disebut manusia. Mereka adalah binatang, binatang berwujud manusia. Hanya mereka yang memiliki hati nurani dan nalar yang mampu menangani urusan manusia, dapat dipegang perkataannya, dapat dipercaya, dan memenuhi syarat sebagai "orang yang lurus". Istilah "orang yang lurus" tidak digunakan di rumah Tuhan. Sebagai gantinya, rumah Tuhan menuntut orang untuk bersikap jujur—inilah kebenarannya. Hanya orang jujur yang dapat dipercaya, memiliki hati nurani dan nalar, serta layak disebut manusia. Jika orang mampu menerima kebenaran dan bertindak berdasarkan prinsip saat melaksanakan tugas mereka, dan akhirnya melaksanakan tugas mereka hingga memenuhi standar, itu berarti orang ini jujur dan dapat dipercaya. Mereka yang dapat memperoleh keselamatan dari Tuhan adalah orang-orang yang jujur. Menjadi orang jujur yang tepercaya bukanlah soal kemampuan atau penampilanmu, apalagi soal kualitas, kompetensi, ataupun karunia-karuniamu. Selama engkau menerima kebenaran, bertindak dengan penuh tanggung jawab, memiliki hati nurani dan nalar, serta mampu tunduk kepada Tuhan, itu sudah cukup. Sebesar apa pun kemampuan yang orang miliki, hal yang paling ditakutkan adalah bahwa mereka tidak memiliki kebajikan. Seseorang yang tidak memiliki kebajikan bukanlah manusia tetapi binatang. Mereka yang disingkirkan dari rumah Tuhan mengalami hal itu karena mereka tidak memiliki kemanusiaan dan sama sekali tidak memiliki kebajikan. Oleh karena itu, mereka yang percaya kepada Tuhan harus mampu menerima kebenaran, dan mereka harus menjadi orang yang jujur, setidaknya berhati nurani dan bernalar, mampu melaksanakan tugasnya dengan baik, serta mampu menuntaskan amanat Tuhan. Hanya orang semacam inilah yang dapat memperoleh keselamatan dari Tuhan; merekalah orang-orang yang secara tulus percaya kepada-Nya dan mengorbankan diri mereka untuk-Nya. Merekalah orang yang Tuhan selamatkan.
Apakah engkau semua sering memeriksa perilaku dan niatmu ketika melakukan sesuatu dan melaksanakan tugasmu? (Jarang.) Jika engkau jarang memeriksa dirimu sendiri, mampukah engkau mengenali watak-watak rusakmu? Mampukah engkau memahami keadaanmu yang sebenarnya? Jika engkau benar-benar memperlihatkan watak-watak rusakmu, akan seperti apakah akibatnya? Engkau harus memahami semua hal itu dengan sangat jelas. Jika orang tidak memeriksa dirinya sendiri serta terus melakukan sesuatu dengan cara bersikap asal-asalan dan tanpa memiliki sedikit pun prinsip, akibatnya orang itu akan melakukan banyak kejahatan, lalu disingkapkan dan disingkirkan. Bukankah itu akibat yang serius? Memeriksa diri sendiri adalah cara untuk menyelesaikan masalah itu. Katakan kepada-Ku, mengingat bahwa kerusakan manusia sangatlah dalam, apakah orang cukup merenungkan dirinya sendiri sekali-sekali saja? Dapatkah orang melaksanakan tugasnya dengan baik tanpa mencari kebenaran untuk membereskan watak rusaknya? Jika watak rusak tidak dibereskan, orang akan cenderung melakukan berbagai hal dengan cara yang salah, melanggar prinsip-prinsip, dan bahkan melakukan kejahatan. Jika engkau tidak pernah memeriksa dirimu sendiri, itu masalah besar—engkau tidak berbeda dari orang tidak percaya. Bukankah banyak orang telah disingkirkan hanya karena alasan itu? Ketika mengejar kebenaran, bagaimana seharusnya orang melakukan penerapan untuk memperolehnya? Yang penting adalah orang harus sering memeriksa dirinya sendiri ketika melaksanakan tugasnya, merenungkan apakah mereka telah melanggar prinsip-prinsip dan memperlihatkan kerusakan mereka, serta apakah mereka memiliki maksud yang salah. Jika engkau merenungkan dirimu sendiri berdasarkan firman Tuhan dan melihat kecocokannya dengan dirimu sendiri, engkau akan mampu mengenal dirimu secara lebih mudah. Jika engkau merenungkan dirimu sendiri dengan cara seperti itu, watak rusakmu perlahan-lahan akan teratasi, dan gagasan jahat, serta niat dan motivasi burukmu akan dengan mudah terselesaikan. Jika engkau baru memeriksa setelah ada masalah yang timbul, memeriksa setelah membuat kesalahan, atau memeriksa setelah melakukan kejahatan, itu sudah agak terlambat. Akibat-akibat buruk telah ditimbulkan, dan itu merupakan pelanggaran. Jika engkau hanya memeriksa diri sendiri setelah melakukan banyak kejahatan dan tersingkir, segalanya telah terlambat, dan yang dapat kaulakukan hanyalah meratap dan menggertakkan gigimu. Mereka yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan mampu melaksanakan tugas mereka. Itu adalah peninggian dan berkat dari Tuhan, dan itu adalah kesempatan yang harus kauhargai. Oleh karena itu, engkau harus lebih sering lagi merenungkan dirimu sendiri selagi engkau melaksanakan tugasmu. Engkau harus sering memeriksa, dan memeriksa dirimu sendiri dalam segala hal. Engkau harus memeriksa niat dan keadaanmu, melihat apakah engkau hidup di hadapan Tuhan, apakah niat di balik tindakanmu itu tepat, dan apakah baik motif maupun sumber tindakanmu dapat lulus dalam pemeriksaan Tuhan dan telah tunduk pada pemeriksaan Tuhan. Terkadang orang merasa bahwa mencari kebenaran ketika menghadapi berbagai kesulitan dalam pelaksanaan tugasnya adalah hal yang berat. Mereka berpikir, "Ini sudah cukup. Ini sudah baik." Hal itu menunjukkan sikap seseorang terhadap berbagai hal dan mentalitasnya terhadap tugasnya. Mentalitas itu adalah sejenis keadaan. Keadaan macam apakah itu? Bukankah itu adalah keadaan ketika seseorang memperlakukan tugasnya tanpa rasa tanggung jawab, sejenis sikap asal-asalan? (Ya.) Mengingat adanya masalah serius semacam itu, berbahaya sekali jika engkau tidak memeriksa dirimu sendiri. Ada orang-orang yang tidak peduli dengan keadaan itu. Mereka berpikir, "Normal saja bagi orang untuk sedikit bersikap asal-asalan. Manusia sudah kodratnya seperti itu. Apa masalahnya?" Bukankah mereka itu orang-orang yang bingung? Bukankah itu sangat berbahaya bila orang memandang sesuatu dengan cara demikian? Lihat saja mereka yang telah disingkirkan. Bukankah mereka selalu melaksanakan tugasnya dengan bersikap asal-asalan? Itulah yang terjadi ketika seseorang bersikap asal-asalan. Cepat atau lambat, orang yang suka bersikap asal-asalan akan menghancurkan dirinya sendiri, dan mereka sama sekali tidak menangis sebelum mereka melihat kuburan mereka sendiri. Melaksanakan tugas dengan bersikap asal-asalan adalah masalah serius. Jika engkau tidak dapat merenungkan dirimu sendiri dengan baik dan tidak mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah, itu sangat berbahaya—engkau dapat disingkirkan kapan saja. Jika masalah serius semacam itu timbul, tetapi engkau tetap tidak memeriksa dirimu sendiri dan mencari kebenaran untuk menyelesaikannya, engkau akan merugikan dan menghancurkan dirimu sendiri. Ketika tiba harinya engkau disingkirkan, engkau akan mulai meratap dan menggertakkan gigimu, dan semuanya telah terlambat.
Kutipan 33
Beberapa orang tidak tahu bagaimana mengalami pekerjaan Tuhan dan tidak tahu bagaimana membawa firman-Nya ke dalam pelaksanaan tugas mereka atau ke dalam kehidupan nyata. Mereka selalu berusaha mengandalkan menghadiri banyak pertemuan untuk memperoleh kebenaran dan bertumbuh dalam hidup. Ini tidak realistis dan merupakan argumen yang tidak masuk akal. Hidup diperoleh dengan mengalami firman Tuhan dan mengalami penghakiman dan hajaran. Apa pun tugas yang dilaksanakan, mereka yang tahu bagaimana mengalami pekerjaan Tuhan mampu memahami dan menerapkan kebenaran, menerima saat dipangkas, mampu memasuki kenyataan kebenaran, mencapai perubahan dalam watak mereka, dan disempurnakan oleh Tuhan saat melaksanakan tugas mereka. Mereka yang malas dan menikmati kenyamanan tidak mau melaksanakan tugas, dan tidak tahu bagaimana mengalami pekerjaan Tuhan saat melaksanakan tugas mereka, terus-menerus menuntut agar rumah Tuhan menyediakan pertemuan, khotbah, serta persekutuan tentang kebenaran bagi mereka. Akibatnya, setelah percaya selama sepuluh atau dua puluh tahun dan setelah mendengarkan tak terhitung banyaknya khotbah, mereka masih belum memahami kebenaran atau mendapatkan kebenaran. Mereka tidak tahu bagaimana mengalami pekerjaan Tuhan, tidak mengerti apa itu percaya kepada Tuhan, dan tidak tahu bagaimana mengalami firman Tuhan untuk mengenal diri mereka sendiri dan mendapatkan kebenaran serta kehidupan. Mereka semua adalah orang-orang yang mendambakan kenyamanan dan mengelak dari tugas mereka. Oleh karena itu, mereka disingkapkan dan disingkirkan dalam hal pelaksanaan tugas mereka. Sekarang, semua orang yang melaksanakan tugas mereka dengan hati yang tenang dan mementingkan pengejaran akan kebenaran memiliki beberapa jalan masuk kehidupan saat melaksanakan tugas mereka; ketika mereka memperlihatkan kerusakan, mereka merenungkan diri mereka sendiri dan mulai mengenal diri mereka sendiri, dan ketika mereka menghadapi kesulitan dalam pelaksanaan tugas mereka, mereka mencari kebenaran dan bersekutu tentang kebenaran untuk menyelesaikan masalah. Tanpa menyadarinya, setelah beberapa tahun melaksanakan tugas, mereka menuai hasil yang nyata, dapat membagikan beberapa kesaksian pengalaman, dan mulai memiliki sedikit pengetahuan tentang pekerjaan Tuhan dan tentang watak-Nya. Hal-hal ini menghasilkan perubahan dalam watak hidup mereka. Saat ini, gereja-gereja di mana-mana sedang membersihkan diri dari antikristus, orang-orang jahat, dan mereka yang menyebabkan kekacauan dan gangguan. Mereka yang bertahan umumnya adalah yang mampu melaksanakan tugasnya dengan gigih, memiliki sedikit pengabdian, dan mementingkan pencarian kebenaran untuk menyelesaikan masalah. Mereka adalah tipe orang yang dapat tetap teguh dalam kesaksiannya. Engkau semua harus belajar membawa firman Tuhan ke dalam kehidupan nyata dan tugas-tugas yang kaulaksanakan, menerapkan dan menggunakannya, dan kemudian saat ada masalah dan kesulitan, mencari kebenaran untuk menyelesaikannya. Selain itu, engkau harus belajar memperhatikan maksud Tuhan saat melaksanakan tugasmu, dan berlatih menerapkan kebenaran serta menangani segala sesuatu berdasarkan prinsip dalam setiap hal; engkau harus belajar menerapkan kasih akan Tuhan, dan dengan hati yang mengasihi Tuhan, memperhatikan beban-Nya, dan mencapai titik di mana engkau dapat memuaskan-Nya. Hanya orang seperti inilah yang tulus mengasihi Tuhan. Melalui menerapkan dengan cara ini, sekalipun engkau tidak sepenuhnya memahami kebenaran, engkau tetap mampu melaksanakan tugasmu dengan cara yang memenuhi standar; engkau bukan saja telah membereskan sikap asal-asalanmu, melainkan engkau juga telah belajar menerapkan kasih kepada Tuhan, tunduk kepada-Nya, dan memuaskan-Nya saat melaksanakan tugasmu. Inilah pelajaran tentang jalan masuk kehidupan. Jika engkau mampu menerapkan kebenaran dan bertindak berdasarkan prinsip-prinsip dengan cara ini untuk setiap masalah, maka ini berarti masuk ke dalam kenyataan kebenaran, dan ini berarti memiliki jalan masuk kehidupan. Sesibuk apa pun engkau melaksanakan tugasmu, saat engkau mendapatkan hasil dari jalan masuk kehidupan, pertumbuhan dalam hidup, dan dapat tunduk kepada pengaturan dan penataan Tuhan, engkau akan menikmati saat melaksanakan tugasmu. Engkau tidak akan merasa lelah meskipun sangat sibuk. Engkau akan selalu memiliki kedamaian dan sukacita di dalam hatimu dan merasa sangat diperkaya dan tenang. Kesulitan apa pun yang muncul, ketika engkau mencari kebenaran, Roh Kudus akan mencerahkan dan membimbingmu. Inilah yang dimaksud dengan menerima berkat Tuhan. Selain itu, entah engkau sibuk atau tidak saat melaksanakan tugasmu, engkau juga perlu sesekali melakukan olahraga yang sesuai dan aktivitas kebugaran yang masuk akal. Ini dapat melancarkan peredaran darah, membantu mempertahankan tingkat energi yang tinggi, dan efektif dalam mencegah penyakit akibat pekerjaan tertentu. Ini sangat bermanfaat untuk melaksanakan tugasmu dengan baik. Oleh karena itu, saat melaksanakan tugasmu, jika engkau mampu memetik banyak pelajaran, memperoleh pemahaman tentang banyak kebenaran, benar-benar mengenal Tuhan, serta pada akhirnya takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, maka engkau akan sepenuhnya selaras dengan maksud-maksud-Nya. Jika engkau dapat mencapai kasih kepada Tuhan, bersaksi tentang Dia, dan menjadi sehati sepikir dengan-Nya, maka engkau telah memulai jalan untuk disempurnakan oleh-Nya. Seperti inilah orang yang telah memperoleh berkat Tuhan, dan itu adalah hal yang sangat diberkati! Jika engkau dengan tulus mengorbankan dirimu bagi Tuhan, engkau pasti akan menerima berkat yang berlimpah dari-Nya. Dapatkah mereka yang tidak melaksanakan tugas mereka, dan tidak mengorbankan diri bagi Tuhan memperoleh kebenaran? Bisakah mereka mendapatkan keselamatan? Sulit untuk dijawab. Semua berkat hanya bisa diperoleh melalui melaksanakan tugas dan mengalami pekerjaan Tuhan. Dalam melaksanakan tugas, orang tahu bagaimana mengalami pekerjaan Tuhan, bagaimana mengalami penghakiman dan hajaran, ujian dan pemurnian, serta dipangkas. Inilah hal-hal yang paling diberkati oleh Tuhan. Selama orang mencintai kebenaran dan mengejarnya, mereka pada akhirnya akan mendapatkan kebenaran, mengubah watak hidup mereka, mendapatkan perkenanan Tuhan, dan menjadi orang yang diberkati oleh-Nya.
Beberapa orang tidak mencari kebenaran saat mengalami masalah dalam melaksanakan tugasnya, selalu hidup menurut gagasan dan imajinasinya sendiri, melakukan berbagai hal berdasarkan preferensi pribadi, dan secara membabi buta bertindak sesuai dengan kehendaknya sendiri. Alhasil, mereka melakukan banyak kesalahan dan menunda pekerjaan gereja. Saat mengalami pemangkasan, mereka tetap tidak menerima kebenaran dan melanjutkan perilakunya yang degil dan ceroboh. Alhasil, mereka kehilangan pekerjaan Roh Kudus, dan kepercayaan mereka kepada Tuhan menjadi keliru dan terselimuti kegelapan. Beberapa orang menyukai ketenaran, keuntungan, serta mengejar status, menyibukkan diri dengan hal-hal ini tanpa memikirkan maksud Tuhan atau menerima persekutuan apa pun tentang kebenaran. Pada akhirnya, mereka disingkapkan dan disingkirkan, lalu jatuh ke dalam kegelapan. Beberapa orang percaya mengakui inkarnasi Tuhan, tetapi di dalam hati, mereka masih hanya percaya kepada Tuhan surgawi dan Roh Tuhan. Mereka terus-menerus memiliki gagasan tentang Tuhan yang nyata dan hati mereka mewaspadai-Nya, karena takut Dia akan mengetahui diri mereka yang sebenarnya. Mereka menghindari Tuhan di setiap kesempatan, dan saat melihat-Nya, mereka memandang-Nya seolah-olah Dia adalah orang asing. Alhasil, mereka tidak mendapatkan apa-apa dan sama sekali tidak beriman kepada-Nya meskipun telah percaya selama beberapa tahun. Mereka tidak ada bedanya dari pengikut yang bukan orang percaya. Ini sepenuhnya karena mereka tidak mengejar kebenaran. Beberapa orang selalu ingin melihat Tuhan yang nyata. Mereka berhasrat untuk menyenangkan Tuhan dan membuat-Nya meninggikan status mereka, sehingga mereka bisa bersikap semena-mena di gereja. Alhasil, karena mereka tidak jujur, tidak terbuka, terus-menerus mengamati wajah Tuhan, dan berspekulasi tentang maksud-Nya, mereka ditolak dan dibenci oleh-Nya. Tuhan tidak lagi ingin melihat orang-orang semacam ini. Apa tujuan kepercayaan orang-orang ini kepada Tuhan? Dengan Tuhan yang mengatakan begitu banyak kebenaran, mengapa mereka masih menyelidiki-Nya? Jika mereka percaya kepada Tuhan, mengapa mereka tidak mengejar kebenaran? Mengapa terus-menerus berambisi dan berhasrat, mengejar ketenaran, keuntungan, status, dan manfaat? Mereka menyembunyikan motif jahat dalam memercayai Tuhan, dan orang lain tidak bisa memahami mereka. Ini semua adalah perilaku pengikut yang bukan orang percaya. Sebenarnya, siapa pun yang percaya kepada Tuhan tetapi tidak bisa menerima kebenaran adalah pengikut yang bukan orang percaya. Hanya mereka yang mengejar kebenaran, berusaha melaksanakan tugas dengan baik, dan berupaya memuaskan-Nya yang percaya dengan tulus kepada Tuhan dan mampu mendapatkan perkenanan-Nya.
Setiap hari dan tahun yang telah engkau semua lalui dalam hidup memiliki nilai. Di manakah letak nilai ini? Saat seseorang menghadap ke hadirat Sang Pencipta, melaksanakan tugasnya sebagai makhluk ciptaan, dan memperoleh kebenaran dari Sang Pencipta, mereka menjadi berguna di mata Tuhan. Bukankah menyumbangkan upayamu yang rendah hati demi rencana pengelolaan Tuhan membuat setiap hari dalam hidupmu menjadi berharga? (Ya, tentu saja.) Inilah nilai yang ada di setiap hari dalam hidupmu, dan itu sangat berharga! Jika setiap hari dalam hidupmu memiliki nilai semacam itu, apalah artinya sedikit penderitaan atau penyakit saat melaksanakan tugasmu? Orang tidak boleh mengeluh. Orang telah memperoleh begitu banyak hal dengan berada di hadirat Tuhan; mereka menikmati kasih karunia, berkat, serta perlindungan yang tak terlihat yang melampaui apa pun yang bisa mereka bayangkan dan lihat. Orang telah menerima begitu banyak hal—apalah artinya beberapa penyakit kecil? Bukankah itu pelajaran yang harus dipelajari orang? Jika melalui penyakit orang bisa memahami kebenaran, mencapai ketundukan kepada Tuhan, dan memuaskan-Nya, bukankah itu berkat lain dari Tuhan? Di antara mereka yang mencari nafkah di dunia, siapa yang tidak mengalami penyakit fisik? Siapa yang peduli jika mereka menderita penyakit? Tidak ada yang peduli, tidak ada yang bertanya, dan tidak ada yang memberi mereka jaminan. Apakah engkau semua yang melaksanakan tugas di rumah Tuhan memiliki jaminan? (Ya.) Semua orang yang dengan tulus mengorbankan diri demi Tuhan memiliki jaminan dan menerima berkat-Nya. Jaminan seperti apa yang engkau semua amati dan kenali? (Aku tidak lagi dipengaruhi atau diracuni oleh tren jahat dunia; aku telah menjauhi penindasan dan bahaya orang-orang tidak percaya, dan dilindungi serta diberkati Tuhan dalam segala hal. Aku tidak akan lagi ditangkap atau dianiaya oleh naga merah yang sangat besar. Aku akan tinggal di rumah Tuhan, berinteraksi dengan saudara-saudari lainnya, dan hatiku akan damai, bersukacita, dan tenang. Setiap hari, aku akan makan dan minum firman Tuhan dan bersekutu tentang kebenaran, dan hatiku akan makin cerah. Setelah memahami kebenaran, hatiku sangat bersukacita, rohku memperoleh kebebasan dan pembebasan, dan aku tidak lagi ditipu atau dirugikan oleh orang jahat dan licik. Selain itu, setelah menyaksikan perlindungan dan berkat Tuhan, aku tidak lagi takut saat bencana menimpaku; hatiku merasa tenang dan damai. Aku telah mengesampingkan kekhawatiran tentang hal-hal seperti akankah kebutuhan pokokku terpenuhi di masa depan, dan akankah ada orang yang menafkahiku saat aku tua nanti. Hidup di hadirat Tuhan sungguh merupakan berkat dan sukacita!) Apa yang engkau semua rasakan saat ini terbatas, tetapi setelah malapetaka dahsyat, engkau semua akan memahami dan melihat banyak hal dengan jelas. Semua ini adalah perlindungan Tuhan dan berkat-Nya. Saat ini, meskipun engkau semua terkadang dipangkas, serta menjalani ujian dan pemurnian, dan terkadang mengalami penghakiman dan hajaran Tuhan, serta menderita karena firman-Nya, inilah penderitaan karena memperoleh keselamatan dan penyempurnaan—ini tidak sama dengan penderitaan orang-orang tidak percaya. Yang terpenting adalah dengan melaksanakan tugasmu di rumah Tuhan, engkau menjadi makhluk ciptaan yang berguna dan menjalani hidup yang bernilai dan bermakna—bukan hidup untuk daging dan Iblis, engkau hidup demi mengejar kebenaran dan memuaskan Tuhan. Dalam menjalankan tugasmu, engkau memperoleh pemahaman tentang banyak kebenaran dan maksud Tuhan. Ini adalah hal yang paling berharga. Setelah engkau memahami kebenaran, masuk ke dalam kenyataan kebenaran, dan memperoleh kebenaran sebagai hidupmu, engkau akan hidup di hadirat Tuhan dan hidup dalam terang. Sekarang, engkau melaksanakan tugasmu setiap hari, dan tiap hari yang kaujalani memiliki upah dan nilainya sendiri. Engkau juga telah memperoleh kebenaran, dan hidup di hadirat Tuhan. Bukankah ini memiliki jaminan? (Ya.) Apa jaminan ini? (Tidak ditangkap oleh Iblis.) Selain tidak ditangkap oleh Iblis, apa hal yang lebih penting lagi? Tuhan menciptakanmu sebagai manusia, dan sekarang engkau mampu melaksanakan tugasmu, memahami maksud-Nya, memiliki kenyataan kebenaran, mengikuti jalan-Nya, dan hidup menurut maksud-Nya. Tuhan memperkenan engkau, dan itulah jaminan serta kepastian bahwa engkau tidak akan dibinasakan oleh Tuhan. Bukankah ini modal hidupmu? Tanpa hal-hal ini, apakah engkau memenuhi syarat untuk melanjutkan hidup? (Tidak.) Bagaimana seseorang bisa memenuhi syaratnya? Bukankah dengan mampu melaksanakan tugas sebagai makhluk ciptaan, memenuhi maksud Tuhan, mengikuti jalan-Nya, serta memperoleh kenyataan kebenaran dan memperlakukan firman Tuhan sebagai kehidupan? (Ya.) Karena hal-hal ini, engkau mampu menyembah Tuhan, dan di mata-Nya, engkau adalah makhluk ciptaan yang memenuhi standar. Bagaimana mungkin Dia tidak bersukacita atas engkau? Siapa orang yang ingin dibinasakan oleh Tuhan? Makhluk ciptaan macam apakah mereka? (Para pelaku kejahatan.) Siapa pun yang melakukan kejahatan pasti menentang Tuhan, dan memusuhi-Nya—mereka adalah musuh Tuhan dan akan menjadi orang pertama yang dibinasakan. Antikristus yang bersaing dengan Tuhan demi memperoleh status, pengikut yang bukan orang percaya; mereka yang muak dengan kebenaran, yang memusuhi Tuhan, tidak mengejar kebenaran dan melawan-Nya hingga akhir, dan mereka yang tidak bisa melaksanakan tugasnya sebagai makhluk ciptaan di tingkat apa pun—inilah orang-orang yang ingin dibinasakan Tuhan. Beberapa orang yang tidak melaksanakan tugasnya adalah pengikut yang bukan orang percaya. Sebagian lainnya, meskipun melaksanakan tugas, mereka terus-menerus bersikap asal-asalan, mampu melakukan kejahatan dan menimbulkan kekacauan, serta menentang dan melawan Tuhan. Apakah orang-orang semacam itu bisa dianggap sebagai makhluk ciptaan yang memenuhi standar di mata Tuhan? (Tidak bisa.) Apa yang akan menjadi hasil akhir bagi makhluk ciptaan yang tidak dianggap memenuhi standar? (Tuhan akan menyingkirkan dan membinasakan mereka.) Adakah nilai dalam kehidupan makhluk ciptaan yang tidak dianggap memenuhi standar? (Tidak.) Mereka mungkin berpikir, "Hidupku bernilai. Aku ingin hidup. Aku bisa melakukan hal-hal baik dengan hidupku!" Namun, di mata Tuhan, mereka bahkan tidak bisa melaksanakan tugas dasar sebagai makhluk ciptaan. Jika mereka tidak bisa melaksanakan tugas dengan cara yang memenuhi standar, apakah hidup mereka layak untuk dijalani? Apakah ada nilai dalam keberadaan mereka? Jika tidak ada nilai dalam keberadaan mereka, lalu apakah Tuhan masih menginginkan mereka? (Tidak.) Apa yang akan dilakukan Tuhan? Dia akan menyingkirkan mereka. Orang-orang yang kasusnya lebih ringan, akan dikesampingkan dan diserahkan kepada setan najis dan roh-roh jahat, sedangkan yang kasusnya lebih berat, akan menerima hukuman, dan yang kasusnya lebih berat lagi, akan mengarah ke kebinasaan.
Kutipan 34
Dalam melaksanakan tugas mereka, ada orang-orang yang tidak mau menanggung penderitaan sama sekali, dan setiap kali menghadapi masalah, mereka mengeluh bahwa itu terlalu berat, dan tidak mau membayar harga. Sikap macam apa ini? Ini adalah sikap yang asal-asalan. Jika engkau melaksanakan tugasmu dengan asal-asalan, dan memperlakukannya dengan sikap yang tidak menghargai, akan seperti apa hasilnya? Engkau akan gagal melaksanakan tugas dengan baik, bahkan dalam tugas yang mampu kaulaksanakan dengan baik—pelaksanaan tugasmu tidak akan memenuhi standar, dan Tuhan akan sangat tidak puas dengan sikapmu terhadap tugasmu. Jika engkau bisa berdoa kepada Tuhan, mencari kebenaran, dan mencurahkan segenap hati dan pikiranmu ke dalamnya, jika engkau bisa bekerja sama dengan cara seperti ini, maka Tuhan akan mempersiapkan segala sesuatu untukmu sebelumnya, sehingga segala sesuatu berjalan lancar dan membuahkan hasil yang baik saat engkau menangani berbagai hal. Engkau tidak perlu mengerahkan tenaga yang sangat besar; saat engkau berusaha semaksimal mungkin untuk bekerja sama, Tuhan mengatur segala sesuatu untukmu. Jika engkau penuh tipu daya dan malas, jika engkau tidak melaksanakan tugasmu dengan baik, dan selalu menempuh jalan yang salah, Tuhan tidak akan bekerja di dalam dirimu; engkau akan kehilangan kesempatan ini, dan Tuhan akan berkata, "Tidak mungkin memakaimu. Menyingkirlah. Engkau suka bersikap licik dan bermalas-malasan, bukan? Engkau suka bermalas-malasan dan menikmati kenyamanan, bukan? Kalau begitu, nikmatilah kenyamanan untuk selamanya!" Tuhan akan memberikan anugerah dan kesempatan ini kepada orang lain. Bagaimana menurutmu: Apakah ini kerugian atau keuntungan? (Kerugian.) Ini adalah kerugian yang sangat besar!
Di berbagai lingkungan berbeda, Tuhan menyempurnakan mereka yang sungguh-sungguh mengasihi-Nya, dan semua orang yang mengejar kebenaran. Dia memungkinkan orang untuk mengalami firman-Nya melalui berbagai lingkungan atau ujian, sehingga dengan cara demikian mereka memperoleh pemahaman akan kebenaran, pengenalan yang benar akan Dia, dan pada akhirnya memperoleh kebenaran. Jika engkau mengalami pekerjaan Tuhan dengan cara ini, watak hidupmu akan berubah, dan engkau akan dapat memperoleh kebenaran dan hidup. Apakah engkau semua sudah mendapat begitu banyak melalui pengalamanmu selama bertahun-tahun ini? (Ya.) Jadi, bukankah menanggung sedikit penderitaan dan membayar sedikit harga ketika melaksanakan tugasmu layak untuk kaulakukan? Apa yang telah kauperoleh sebagai hasilnya? Engkau telah memahami begitu banyak kebenaran! Ini adalah harta yang tak ternilai harganya! Apa yang ingin orang peroleh melalui kepercayaan mereka kepada Tuhan? Bukankah untuk memperoleh kebenaran dan hidup? Apakah menurutmu engkau dapat memperoleh kebenaran tanpa mengalami lingkungan-lingkungan ini? Sama sekali tidak bisa. Misalnya, ketika kesulitan khusus menimpamu atau engkau menghadapi lingkungan khusus, engkau selalu memiliki sikap yang sama: berusaha menghindarinya atau melarikan diri darinya, berusaha mati-matian untuk menolak dan menyingkirkannya, tidak mau tunduk sepenuhnya pada pengaturan Tuhan, tidak mau tunduk pada pengaturan serta penataan-Nya, tidak mau membiarkan kebenaran menguasai dirimu, dan selalu ingin menjadi pengambil keputusan dan mengandalkan watak Iblismu untuk mengendalikan segala sesuatu tentang dirimu. Jika demikian, akibatnya adalah Tuhan pasti akan mengesampingkan atau menyerahkanmu kepada Iblis, dan hanya masalah waktu sebelum hal ini terjadi. Jika orang memahami masalah ini, mereka harus segera berbalik dan menempuh jalan hidup mereka berdasarkan jalan yang benar yang Tuhan kehendaki—jalan ini adalah jalan yang benar, dan karena jalan ini benar, berarti arahnya benar. Mereka mungkin mengalami kemunduran serta kesulitan, dan mungkin tersandung selama periode ini, atau terkadang mereka akan merasa sedikit murung dan bersikap negatif selama beberapa hari. Selama mereka dapat bertahan untuk terus melaksanakan tugas mereka dan tidak menunda-nunda, semua masalah ini tidak akan berarti. Namun, mereka harus segera merenungkan diri mereka sendiri, mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah-masalah ini, dan mereka sama sekali tidak boleh menunda-nunda, membuang pekerjaan mereka, atau meninggalkan tugas mereka; ini adalah hal paling penting. Jika engkau berpikir, "Bersikap negatif dan lemah bukanlah masalah besar; itu adalah masalah internal. Tuhan tidak mengetahuinya. Dan mengingat bagaimana aku telah menderita di masa lalu dan harga yang telah kubayar, Dia pasti akan memaafkanku," dan jika kelemahan dan kenegatifan ini terus berlanjut, dan engkau tidak mencari kebenaran atau memetik pelajaran di lingkungan yang telah Tuhan atur untukmu, engkau akan berulang kali kehilangan kesempatanmu, dan akibatnya, engkau akan melewatkan, menyabotase, dan menghancurkan semua kesempatan yang Tuhan maksudkan untuk menyempurnakanmu. Apa yang akan menjadi konsekuensi hal ini? Engkau akan merasakan kegelapan yang makin kuat di dalam hatimu, engkau tidak akan lagi merasakan Tuhan bahkan dalam doa-doamu, dan engkau akan menjadi negatif sampai pada titik di mana pikiranmu dipenuhi dengan kejahatan dan pengkhianatan. Kemudian engkau akan terjebak dalam kesengsaraan yang luar biasa, merasa sama sekali tidak berdaya dan sangat sedih. Engkau akan merasa bahwa engkau tidak memiliki jalan atau arah, dan bahwa engkau tidak dapat melihat cahaya atau menemukan harapan apa pun. Bukankah hidup melelahkan bagi orang seperti ini? (Ya.) Jika orang tidak menempuh jalan mengejar kebenaran yang terang itu, mereka akan selamanya hidup di bawah kuasa Iblis dan dalam dosa serta kegelapan, tanpa harapan. Dapatkah engkau semua memahami apa yang Kumaksud dengan hal ini? (Kami harus mengejar kebenaran dan melaksanakan tugas kami dengan segenap hati dan pikiran kami.) Ketika suatu tugas dibebankan kepadamu, dan tugas itu dipercayakan kepadamu, jangan berpikir tentang bagaimana menghindari kesulitan; jangan mengesampingkan dan mengabaikannya karena engkau merasa kesulitan untuk menanganinya. Engkau harus menghadapinya secara langsung. Engkau harus selalu ingat bahwa Tuhan menyertai manusia, bahwa apa pun kesulitanmu, engkau hanya perlu berdoa dan mencari dari-Nya, dan bahwa tidak ada yang sukar untuk diwujudkan bagi Tuhan. Engkau harus memiliki keyakinan ini. Karena engkau percaya bahwa Tuhan adalah Yang Berdaulat atas segala sesuatu, mengapa engkau masih merasa takut ketika sesuatu menimpamu, dan merasa tidak memiliki apa pun yang dapat kauandalkan? Ini membuktikan bahwa engkau tidak mengandalkan Tuhan. Jika engkau tidak menjadikan Dia sebagai penopangmu dan sebagai Tuhanmu, maka Dia bukanlah Tuhanmu. Dalam kehidupan nyata, apa pun situasi yang kauhadapi, engkau harus sering datang ke hadapan Tuhan untuk berdoa dan mencari kebenaran. Sekalipun engkau memahami kebenaran dan mendapatkan sesuatu melalui satu hal saja setiap harinya, hari itu tidak akan sia-sia! Berapa banyak waktu dalam sehari yang dapat engkau semua gunakan untuk datang ke hadapan Tuhan saat ini? Berapa kali engkau datang ke hadapan Tuhan dalam sehari? Sudahkah engkau memperoleh hasilnya? Jika seseorang jarang datang ke hadapan Tuhan, rohnya akan terasa kering dan sangat gelap. Ketika semuanya baik-baik saja, orang itu akan menjauh dari Tuhan dan mengabaikan-Nya, dan hanya mencari-Nya ketika ada kesulitan. Seperti inikah percaya kepada Tuhan? Seperti inikah mengalami pekerjaan Tuhan? Inilah perwujudan yang diperlihatkan pengikut yang bukan orang percaya. Dengan kepercayaan kepada Tuhan seperti ini, mustahil untuk mendapatkan kebenaran dan hidup.
Orang-orang tidak memahami atau menerapkan kebenaran, dan mereka sering hidup dalam watak rusak Iblis, dan mereka hidup dalam berbagai jerat Iblis, berpikir tentang masa depan, harga diri, status, dan kepentingan pribadi mereka sendiri, dan memeras otak untuk hal-hal ini. Namun, jika engkau menerapkan sikap ini ketika engkau melaksanakan tugasmu, ketika engkau mencari dan mengejar kebenaran, engkau akan mampu memperoleh kebenaran. Sebagai contoh, engkau memeras otak demi keuntungan pribadi yang sepele, engkau memikirkannya dengan saksama dan teliti, merencanakan segala sesuatunya dengan sempurna, mencurahkan banyak pikiran dan upaya ke dalamnya. Jika engkau mencurahkan energi yang sama untuk melaksanakan tugasmu dan mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah, lihatlah bagaimana sikap Tuhan terhadapmu. Sikap-Nya akan sangat berbeda. Orang-orang selalu mengeluh tentang Tuhan: "Mengapa Dia baik kepada orang lain tetapi tidak kepadaku? Mengapa Dia tidak pernah mencerahkanku? Mengapa aku selalu lemah? Mengapa aku tidak sebaik mereka?" Mengapa mereka seperti ini? Tuhan tidak pilih kasih. Jika engkau tidak datang ke hadapan Tuhan, dan selalu ingin menyelesaikan sendiri masalah yang menimpamu, Dia tidak akan mencerahkanmu. Dia akan menunggu sampai engkau datang untuk berdoa dan memohon kepada-Nya, kemudian Dia akan mengabulkan permohonanmu. Orang seperti apa yang Tuhan sukai? Apa yang Tuhan tunggu untuk orang minta dari-Nya? Apakah Dia ingin mereka meminta uang, kenyamanan, ketenaran, keuntungan, dan kesenangan, seperti yang dilakukan orang-orang yang tidak tahu malu itu? Tuhan tidak suka jika orang meminta hal-hal seperti itu kepada-Nya. Semua orang yang menuntut hal-hal ini dari Tuhan tidak tahu malu, mereka adalah orang-orang yang paling hina, dan Tuhan tidak menginginkan mereka. Dia menginginkan orang yang mampu menyadari dosa-dosanya, dan mencari kebenaran dari-Nya serta menerima kebenaran—orang semacam ini adalah orang yang menurut-Nya dapat diterima. Engkau harus berdoa seperti ini: "Ya Tuhan, aku telah sangat dirusak oleh Iblis, dan aku sering hidup di tengah watak rusakku. Aku tidak mampu mengatasi reputasi dan status serta berbagai pencobaan lainnya, dan aku tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Aku tidak memahami prinsip-prinsip kebenaran. Aku mohon kepada-Mu untuk mencerahkan dan membimbingku," dan "Aku bersedia melaksanakan tugasku, tetapi aku merasa aku tidak mampu—di satu sisi, tingkat pertumbuhanku terlalu rendah, dan di sisi lain, aku kurang memiliki pengetahuan profesional. Aku khawatir tidak akan melakukannya dengan baik. Aku memohon bimbingan dan pertolongan-Mu." Tuhan sedang menunggumu untuk datang dan mencari kebenaran. Ketika engkau datang ke hadapan Tuhan untuk mencari dengan hati yang jujur, Dia akan mencerahkan dan menerangimu, kemudian engkau akan memiliki jalan dan tahu bagaimana melaksanakan tugasmu. Jika engkau selalu berusaha keras untuk memahami kebenaran, dan membawa keadaanmu yang sebenarnya ke hadapan Tuhan dalam doa, dan memohon bimbingan dan kasih karunia Tuhan, dengan cara ini engkau akan secara bertahap memahami dan menerapkan kebenaran, dan apa yang kaujalani akan memiliki keserupaan dengan manusia, dan merupakan kemanusiaan yang normal, dan kenyataan kebenaran. Jika engkau tidak mempertimbangkan maksud-maksud Tuhan, dan tidak mengejar kebenaran, serta sering merencanakan, merenungkan, banyak berpikir dan bekerja keras, dan bahkan mengorbankan hidupmu untuk berbagai kepentinganmu, melakukan apa pun untuk itu, maka engkau mungkin akan mendapatkan rasa hormat dari orang, serta berbagai manfaat dan kebanggaan—tetapi mana yang lebih penting, hal-hal ini ataukah kebenaran? (Kebenaran.) Orang-orang memahami hal ini, tetapi mereka tidak mengejar kebenaran, mereka hanya menghargai kepentingan dan status mereka sendiri. Jadi, apakah mereka sebenarnya memahami hal ini, atau apakah ini adalah pemahaman yang keliru? (Ini adalah pemahaman yang keliru.) Sebenarnya, mereka bodoh. Mereka tidak memahami hal ini dengan jelas. Jika mereka mampu memahami hal ini dengan jelas, mereka akan memperoleh sedikit tingkat pertumbuhan. Ini mengharuskan mereka untuk mengejar kebenaran, mengerahkan upaya mereka untuk memahami firman Tuhan; mereka tidak boleh bingung dan bersikap ceroboh. Jika engkau tidak mengejar kebenaran, ketika tiba saatnya Tuhan berkata, "Tuhan telah selesai berfirman, Dia tidak ingin mengatakan apa pun lagi kepada umat manusia ini, dan tidak melakukan apa pun lagi, dan saatnya telah tiba untuk memeriksa pekerjaan manusia," engkau pasti akan disingkirkan. Sehebat apa pun pendukungmu, sebanyak apa pun karunia dan bakat yang kaumiliki, seberapa pun terpelajarnya dirimu, atau setinggi apa pun prestisemu, atau seberapa pun menonjolnya kedudukanmu di dunia ini, tidak satu pun dari hal-hal ini akan berguna. Pada saat itu, engkau akan menyadari betapa berharganya dan pentingnya kebenaran, engkau akan memahami bahwa jika engkau belum memperoleh kebenaran, engkau tidak ada kaitannya dengan Tuhan, dan engkau akan tahu betapa menyedihkan dan tragisnya percaya kepada Tuhan tanpa memperoleh kebenaran. Sekarang ini, banyak orang sudah memiliki perasaan yang samar-samar tentang hal ini di dalam hati mereka, tetapi perasaan ini belum membangkitkan tekad dalam diri mereka untuk mengejar kebenaran. Mereka belum merasakan betapa berharganya dan pentingnya kebenaran di dalam hati mereka. Sedikit kesadaran saja tidak cukup; engkau harus benar-benar memahami esensi masalah ini dengan jelas. Jika engkau memahaminya, engkau akan tahu aspek kebenaran mana yang harus digunakan untuk menyelesaikan masalah ini. Hanya kebenaran yang dapat menyelesaikan berbagai kesulitan yang manusia hadapi, dan meluruskan berbagai pemikiran mereka yang menyimpang, pandangan mereka yang sempit, watak mereka yang bejat, serta berbagai masalah kerusakan mereka. Engkau semua seharusnya hanya fokus mengejar kebenaran dan terus menggunakan kebenaran untuk menyelesaikan masalah, dan dengan demikian, engkau akan mampu menyingkirkan watak rusak dan mencapai ketundukan kepada Tuhan. Jika engkau hanya mengandalkan cara-cara manusia dan pengekangan diri manusia untuk menyelesaikan masalah apa pun yang menimpamu, engkau tidak akan pernah bisa membereskan berbagai kesulitan dan watak yang rusak ini. Ada orang-orang yang berkata, "Jika aku lebih banyak membaca firman Tuhan dan menghabiskan beberapa jam setiap hari untuk membacanya, apakah aku pasti mampu mencapai perubahan watak?" Itu tergantung pada bagaimana caramu membaca firman Tuhan dan apakah engkau dapat memahami kebenaran dan menerapkannya atau tidak. Jika engkau hanya asal-asalan ketika membaca firman-Nya dan tidak mengejar kebenaran, engkau tidak akan mendapatkan kebenaran, dan jika engkau tidak mendapatkan kebenaran, watak hidupmu sama sekali tidak akan berubah. Singkatnya, orang harus benar-benar mengejar kebenaran, dan orang harus mengejar kebenaran dan menerapkannya untuk mencapai perubahan watak. Sekadar membaca firman Tuhan tanpa menerapkan kebenaran tidak akan pernah berhasil. Mengkhususkan diri untuk mengkhotbahkan firman Tuhan kepada orang lain seperti orang Farisi dan memberitahu mereka cara untuk menerapkannya, tetapi dirinya sendiri tidak menerapkannya, adalah jalan yang salah. Tuhan menuntut orang agar lebih banyak membaca firman-Nya sehingga mereka mampu memahami kebenaran, menerapkan kebenaran, dan hidup dalam kenyataan kebenaran. Tuntutan Tuhan untuk orang masuk ke dalam kenyataan kebenaran, mengikuti jalan-Nya, dan menempuh jalan yang benar dalam kehidupan yang mengejar kebenaran, berkaitan langsung dengan tuntutan-Nya agar orang berlatih menyerahkan segenap hati dan kekuatan mereka saat melaksanakan tugas mereka. Dalam mengikut Tuhan, orang harus mengalami pekerjaan-Nya melalui pelaksanaan tugas mereka agar dapat memperoleh keselamatan dan disempurnakan.
Kutipan 35
Dapatkah hal-hal yang kauhadapi yang tidak sesuai dengan gagasanmu memengaruhi pelaksanaan tugasmu? Sebagai contoh, terkadang pekerjaan menjadi sibuk, dan orang dituntut untuk menanggung sedikit kesukaran dan sedikit membayar harga untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, sehingga ada orang-orang yang memiliki gagasan tertentu di pikiran mereka dan penentangan pun muncul dalam diri mereka, dan mereka mungkin menjadi negatif dan kendur dalam pekerjaan mereka. Terkadang, pekerjaan sedang tidak sibuk, dan tugas orang menjadi lebih mudah untuk dilaksanakan, sehingga ada orang-orang yang merasa senang akan hal ini dan berpikir, "Alangkah bagusnya jika melaksanakan tugas selalu semudah ini." Orang-orang macam apakah mereka? Mereka adalah orang-orang pemalas yang mendambakan kenyamanan daging. Apakah orang-orang seperti itu sepenuh hati dalam melaksanakan tugas mereka? (Tidak.) Orang-orang seperti itu mengaku bahwa mereka mau tunduk kepada Tuhan, tetapi ketundukan mereka disertai dengan syarat—segala sesuatu harus sesuai dengan gagasan mereka sendiri dan tidak membuat mereka harus menanggung kesukaran untuk tunduk. Jika mereka menghadapi kesengsaraan dan perlu menanggung kesukaran, mereka banyak mengeluh dan bahkan memberontak dan melawan Tuhan. Orang seperti apakah mereka? Mereka adalah orang yang tidak mencintai kebenaran. Jika perbuatan Tuhan sesuai dengan gagasan dan keinginan mereka sendiri, dan mereka tidak perlu menanggung kesukaran atau membayar harga, mereka mampu tunduk. Namun, jika pekerjaan Tuhan tidak sesuai dengan gagasan atau kesukaan mereka, dan menuntut mereka untuk menanggung kesukaran dan membayar harga, mereka tidak mampu tunduk. Sekalipun mereka tidak secara terang-terangan menentang, di dalam hatinya, mereka menentang dan merasa kesal. Mereka menganggap diri mereka sedang menanggung kesukaran berat dan hati mereka dipenuhi keluhan. Masalah apakah ini? Ini menunjukkan bahwa mereka tidak mencintai kebenaran. Dapatkah doa, sumpah, atau tekad mengatasi masalah ini? (Tidak.) Lalu, bagaimana cara mengatasi masalah ini? Engkau harus terlebih dahulu memahami maksud Tuhan dan tuntutan-Nya, serta memahami apa artinya benar-benar tunduk. Engkau harus tahu apa yang dimaksud dengan pemberontakan dan perlawanan, merenungkan watak rusak mana yang menghalangi ketundukanmu kepada Tuhan dan seharusnya memahami hal-hal ini dengan jelas. Jika engkau adalah orang yang mencintai kebenaran, engkau akan mampu memberontak terhadap daging, terutama kesukaan dagingmu, dan kemudian berlatih tunduk kepada Tuhan, serta bertindak sesuai dengan tuntutan-Nya. Dengan cara ini, engkau akan dapat membereskan kerusakan dan pemberontakanmu dan mencapai ketundukan kepada Tuhan. Jika engkau tidak memahami kebenaran, engkau tidak akan mampu memahami yang sebenarnya tentang hal-hal ini, tidak akan mampu mengenali keadaan dalam dirimu, dan tidak akan mampu mengenali hal-hal apa saja yang menghalangimu untuk tunduk kepada Tuhan. Akibatnya, tidak akan mungkin bagimu untuk memberontak terhadap daging dan berlatih tunduk kepada Tuhan. Jika bahkan untuk memberontak terhadap kesukaan daging pun orang tidak mampu, akan sangat sulit bagi mereka untuk melaksanakan tugas mereka dengan sepenuh hati. Apakah orang seperti itu bisa dikatakan tunduk kepada Tuhan? Jika tidak sepenuh hati, dapatkah orang melaksanakan tugas mereka dengan cara memenuhi standar? Dapatkah mereka memenuhi tuntutan Tuhan? Tentu saja tidak. Jika orang ingin melaksanakan tugas dengan cara yang memenuhi standar, mereka setidaknya harus mampu menerapkan kebenaran dan benar-benar tunduk kepada Tuhan. Jika orang tidak mampu memberontak terhadap kesukaan daging, mereka tidak dapat menerapkan kebenaran. Jika engkau selalu bertindak sesuai dengan keinginanmu sendiri, engkau bukanlah orang yang tunduk kepada Tuhan. Sekalipun engkau terkadang tunduk kepada-Nya, ketundukan itu bersyarat: engkau hanya tunduk jika segala sesuatunya sesuai dengan gagasanmu dan saat engkau berada dalam suasana hati yang baik. Jika perbuatan Tuhan tidak sesuai dengan gagasanmu, jika tugas dan lingkungan yang Tuhan atur untukmu membuatmu mengalami kesukaran yang sangat besar, membuatmu merasa malu, atau sangat tidak puas, akankah engkau mampu tetap tunduk? Akan sulit bagimu untuk tunduk; engkau akan menemukan berbagai alasan untuk memberontak terhadap Tuhan dan melawan-Nya. Bahkan setelah engkau kemudian merenungkan dirimu, tidak akan mudah bagimu untuk memberontak terhadap daging, karena memberontak terhadap daging bukanlah hal yang sederhana. Bagaimana cara memberontak terhadap daging? Tentu saja, orang harus mencari kebenaran. Orang juga harus mengenali esensi rusak mereka dan buruknya kerusakan mereka, hingga mencapai taraf membenci diri mereka sendiri, membenci kesukaan daging mereka dan membenci esensi dari daging. Baru setelah itulah, mereka akan rela memberontak terhadap daging. Jika orang tidak memahami kebenaran, mereka tidak akan mampu membenci hal-hal dari daging, dan tanpa kebencian, tidaklah mungkin untuk memberontak terhadap daging. Oleh karena itu, engkau perlu berdoa kepada Tuhan dan mengandalkan-Nya agar memiliki jalan untuk kauikuti. Tanpa kebenaran, orang tidak akan memiliki kekuatan, dan mereka tidak akan mampu menerapkan kebenaran, meskipun mereka menginginkannya. Orang harus benar-benar berdoa kepada Tuhan dan mengandalkan Dia.
Ada orang-orang yang tidak mengejar kebenaran; mereka hanya mendambakan kenyamanan daging, dan mereka tidak bersedia menanggung kesukaran demi memperoleh kebenaran. Setiap kali mereka menghadapi kesukaran, bahkan yang terkecil pun, mereka menggerutu dan mengeluh tentang Tuhan, dan mereka tidak mencari kebenaran untuk mengatasi hal ini. Mereka juga berdoa kepada Tuhan, berkata, "Ya Tuhan, identitas dan esensi-Mu sungguh mulia. Aku tidak layak mengasihi-Mu, tetapi aku mau tunduk kepada-Mu. Seperti apa pun situasinya, aku mau tunduk kepada-Mu. Kumohon Engkau membimbing, menerangi, dan mencerahkanku. Jika aku tak mampu sungguh-sungguh mengasihi-Mu dan tunduk pada-Mu, periksalah dan hukumlah aku. Biarkan penghakiman-Mu menimpaku." Setelah berdoa seperti ini, mereka merasa itu sudah cukup baik, padahal bukankah doa mereka hanyalah setumpuk kata-kata kosong? Apakah terus-menerus berdoa dengan kata-kata kosong dan mengulang beberapa kata-kata dan doktrin dapat menyelesaikan masalah? (Tidak.) Ketika orang berdoa dengan kata-kata kosong, masalah apa ini? Bukankah ada sedikit natur menipu dalam doa yang seperti itu? Apakah berdoa seperti ini di hadapan Tuhan berguna? Malas dan tidak mampu menanggung penderitaan, sembari mendambakan kenyamanan daging, tahu kebenaran tetapi tidak mampu tunduk padanya, tahu tugasnya tapi gagal memegang teguh, dan hanya mengatakan keinginan untuk mengasihi Tuhan padahal tahu bahwa dirinya belum mempersembahkan segenap hati dan kekuatannya—bukankah ini berarti sedang membohongi Tuhan? Tidak ada apa pun yang lebih dibenci Tuhan selain doa-doa ritual keagamaan. Tuhan hanya menerima doa jika doa-doa tersebut tulus. Jika tidak ada sesuatu pun yang tulus untuk kaukatakan, maka diamlah; jangan selalu datang ke hadirat Tuhan dengan mengucapkan kata-kata palsu atau bersumpah secara membabi buta untuk menipu-Nya. Jangan katakan betapa engkau sangat mengasihi-Nya, betapa engkau sangat ingin setia kepada-Nya. Jika engkau tidak mampu mencapai keinginanmu itu, jika engkau tidak memiliki tekad dan tingkat pertumbuhan seperti ini, engkau sama sekali tidak boleh datang ke hadirat Tuhan dan berdoa dengan cara seperti itu. Melakukannya berarti engkau mengolok-olok Tuhan. Apa artinya mengolok-olok? Mengolok-olok berarti menertawakan dan mempermainkan. Ketika orang datang ke hadirat Tuhan untuk berdoa dengan watak seperti ini, sekurang-kurangnya, ini merupakan tipu daya. Yang terburuk, jika engkau sering melakukan hal ini, berarti engkau memiliki karakter yang benar-benar hina. Jika Tuhan mengutukmu, Dia akan menyebut tindakanmu ini penghujatan! Orang-orang tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan, mereka tidak tahu bagaimana takut akan Tuhan, atau bagaimana mengasihi dan memuaskan Dia. Jika mereka tidak memahami kebenaran, atau jika mereka memiliki watak yang rusak, Tuhan akan mengabaikan hal itu. Namun, mereka datang ke hadirat Tuhan sembari hidup di tengah watak rusak mereka dan menggunakan cara-cara orang tidak percaya untuk menipu Tuhan, sama seperti mereka menipu orang lain, dan mereka "dengan penuh kesungguhan" berlutut di hadapan-Nya dalam doa, menggunakan kata-kata ini untuk mencoba menipu Tuhan. Setelah selesai berdoa, mereka bukan saja tidak menyalahkan diri sendiri, tetapi juga tidak menyadari betapa seriusnya perbuatan mereka tersebut. Dengan berdoa seperti itu, apakah Tuhan menyertai mereka? Tuhan tidak menyertai mereka. Dapatkah seseorang yang sama sekali tidak memiliki hadirat Tuhan memperoleh pencerahan dan penerangan-Nya? Dapatkah mereka memperoleh terang dalam hal kebenaran? (Tidak.) Kalau begitu mereka berada dalam masalah. Apakah engkau sering berdoa dengan cara seperti itu? Bukankah engkau sering melakukannya? (Ya.) Ketika orang menghabiskan terlalu banyak waktu di dunia sekuler, mereka menyerap bau busuk masyarakat, keberengsekan mereka menjadi sangat parah, dan mereka diliputi racun dan falsafah Iblis; yang keluar dari mulut mereka adalah perkataan yang penuh kepalsuan dan tipu daya, dan doa-doa mereka penuh dengan kata-kata kosong dan perkataan doktrin, tanpa ucapan yang berasal dari hati mereka atau tanpa pembicaraan tentang kesulitan nyata mereka. Mereka selalu memohon kepada Tuhan demi kesukaan pribadi mereka dan mencari berkat-berkat-Nya. Mereka jarang memiliki hati yang mencari kebenaran dan mereka tidak berdoa berdasarkan hati yang tunduk kepada Tuhan. Doa-doa semacam itu hanya menyingkapkan penipuan dan kepalsuan. Orang-orang ini memiliki watak yang sangat rusak, mereka benar-benar telah menjadi setan-setan hidup. Ketika menghadap Tuhan dalam doa, mereka tidak mengucapkan kata-kata manusia atau berbicara dari hati mereka. Sebaliknya, mereka membawa penipuan dan kepalsuan Iblis ke hadapan Tuhan. Bukankah ini menyinggung watak Tuhan? Mungkinkah Tuhan mendengarkan doa-doa seperti itu? Tuhan muak terhadap orang-orang seperti itu dan tentu saja tidak menyukai mereka. Dapat dikatakan, doa-doa itu adalah upaya untuk menipu dan mengelabui Tuhan. Orang-orang ini sama sekali tidak mencari kebenaran, dan mereka juga tidak berbicara dari hati mereka dan mencurahkan isi hati mereka kepada Tuhan. Doa-doa mereka tidak sesuai dengan maksud Tuhan dan tuntutan-Nya. Sumber penyebab manusia melakukan ini adalah karena natur mereka, bukan karena perwujudan kerusakan yang sesaat. Orang-orang ini berpikir, "Aku tidak bisa melihat atau merasakan Tuhan, dan aku tidak tahu di mana Tuhan berada. Aku hanya akan asal mengatakan sesuatu saja kepada Tuhan, tak ada yang tahu apakah Dia bahkan mendengarkannya." Mereka berdoa kepada Tuhan dengan pola pikir yang skeptis dan yang menguji-Nya—apa yang akan mereka rasakan setelah berdoa dengan cara ini? Bukankah perasaan yang masih hampa? Tidakkah menyusahkan jika mereka tidak memiliki perasaan sama sekali? Doa dibangun di atas landasan iman. Itu berarti orang berdoa kepada Tuhan di dalam hatinya, berbicara kepada Tuhan dari hati, mencurahkan isi hati kepada-Nya, dan mencari kebenaran dari-Nya. Jika orang berdoa dengan cara seperti ini, mereka akan merasa damai di dalam hati mereka dan merasakan kehadiran Tuhan. Ini berarti Tuhan secara diam-diam sedang mendengarkan doa mereka. Setiap kali orang berdoa kepada Tuhan dari hati mereka dengan cara seperti ini, mereka akan merasa seolah-olah mereka telah berjumpa secara pribadi dengan-Nya. Iman mereka akan dikuatkan, hubungan mereka dengan Tuhan akan menjadi makin akrab, dan mereka akan selangkah lebih dekat dengan-Nya. Mereka akan merasakan kepuasan dan hati mereka khususnya akan sangat diteguhkan. Ini adalah perasaan nyata yang muncul setelah berdoa. Dengan melantunkan doa-doa agamawi, orang hanya berdoa secara asal-asalan, mengulang beberapa kalimat yang sama setiap hari, sampai mereka sendiri tak mau lagi mengatakannya. Setelah doa seperti itu, mereka tidak merasakan apa pun dan tidak memperoleh hasil apa pun. Bisakah orang-orang seperti ini memiliki iman yang sejati? Tidak mungkin.
Ada orang-orang yang tidak sepenuh hati dalam melaksanakan tugas mereka. Mereka selalu bersikap asal-asalan, atau merasa bahwa tugas mereka terlalu sukar dan melelahkan. Mereka tidak mau tunduk, selalu ingin melarikan diri dan menolak tugas-tugas tersebut, dan selalu ingin melaksanakan tugas yang lebih mudah, yang tidak menghadapkan mereka pada panas terik dan terpaan angin, tugas yang tidak berisiko, dan yang memungkinkan mereka untuk menikmati kenyamanan daging. Di dalam hatinya, mereka tahu bahwa mereka malas, mendambakan kenyamanan daging, dan tidak mampu menanggung kesukaran. Namun, mereka tidak pernah mengungkapkan pemikiran mereka yang sebenarnya kepada siapa pun karena takut ditertawakan. Di mulut, mereka berkata, "Aku harus melaksanakan tugasku dengan baik dan sepenuh hati kepada Tuhan," dan ketika mereka gagal melakukan sesuatu dengan baik, mereka berkata kepada semua orang, "Aku tidak memiliki kemanusiaan dan tidak sepenuh hati dalam melaksanakan tugasku." Padahal sebenarnya, mereka sama sekali tidak berpikir seperti itu. Jika orang berada dalam keadaan seperti itu, bagaimana mereka dapat berdoa dengan cara yang masuk akal? Tuhan Yesus berkata bahwa orang menyembah Tuhan dengan hati mereka dan dengan jujur. Ketika engkau menghadap Tuhan, hatimu haruslah jujur dan tanpa kepura-puraan. Jangan berkata satu hal di depan orang lain sementara berpikir hal lain di dalam hatimu. Jika engkau menghadap Tuhan dengan menyamarkan dirimu, dengan terus mengatakan perkataan yang manis dan indah seolah-olah engkau sedang menulis esai, bukankah melakukannya berarti engkau sedang membohongi Tuhan? Akibatnya, Tuhan tidak akan menganggapmu orang yang menyembah Dia dengan hatimu dan dengan jujur. Dia akan melihat bahwa hatimu tidak jujur, sangat keji dan jahat, bahwa engkau memendam niat jahat, dan Dia akan meninggalkanmu. Jadi, bagaimana seharusnya orang berdoa tentang hal-hal yang sering mereka alami dan masalah yang sering mereka hadapi dalam kehidupan mereka sehari-hari? Mereka harus belajar untuk berbicara dari hati mereka kepada Tuhan. Engkau dapat berkata, "Ya Tuhan, aku merasa tugas ini sangat melelahkan. Aku adalah orang yang mendambakan kenyamanan daging, malas, dan enggan bekerja keras. Aku tidak bisa sepenuh hati dalam melaksanakan tugas yang telah Kaupercayakan kepadaku, dan bahkan tak mampu melaksanakannya dengan segenap kekuatanku. Aku selalu ingin melarikan diri dan menolak tugasku, dan aku selalu bersikap asal-asalan. Kumohon disiplinkan aku." Bukankah engkau sedang mengatakan yang sebenarnya? (Ya.) Beranikah engkau berbicara dengan cara seperti ini? Engkau takut akan apa yang mungkin terjadi jika Tuhan mendisiplinkanmu suatu hari nanti setelah mengucapkan doa yang seperti itu, dan engkau menjadi penuh ketakutan, selalu gelisah, dan paranoid. Ada orang-orang yang, ketika melaksanakan tugasnya, selalu ingin menghindari kesulitan. Mereka mendambakan kenyamanan daging dan ingin mundur ketika menghadapi sedikit kesulitan, ketika harus sedikit berusaha, atau ketika mereka merasa sedikit lelah. Mereka selalu saja memilih dan memilah, dan ketika mereka mengalami sedikit kesulitan, mereka berpikir, "Apakah Tuhan tahu? Akankah Dia ingat? Setelah menghadapi kesukaran sebesar ini, apakah kelak aku akan mendapatkan upah?" Mereka selalu mencari hasil. Semua masalah ini perlu diselesaikan. Dahulu, Aku pernah menugaskan seseorang untuk menyampaikan pesan dan ketika dia kembali untuk melaporkannya kepada-Ku, pertama-tama dia berbicara tentang pencapaiannya. Dia menjelaskan bagaimana dia menyelesaikan masalah tersebut, membahas tentang betapa khawatirnya dia akan hal itu dan betapa banyak yang harus dia katakan, betapa sulit menangani orang tersebut, dan betapa banyak kata-kata manis yang dia katakan kepadanya, sampai akhirnya dia menyelesaikan tugasnya. Dia terus-menerus mengambil pujian untuk itu dan terus membicarakan hal itu. Apa sebenarnya maksud perkataannya? "Engkau harus memujiku, berjanji kepadaku, dan memberitahuku upah apa yang kelak akan kudapatkan." Dia terang-terangan meminta upah. Katakan kepada-Ku, apakah melakukan tugas kecil seperti ini patut diberikan pujian? Jika orang selalu menginginkan pujian setelah melaksanakan sedikit dari tugasnya, watak apakah itu? Bukankah itu adalah natur Iblis? Dia mengharapkan pujian dan upah untuk tugas kecil ini—bukankah itu berarti jika dia melakukan tugas penting atau menyelesaikan pekerjaan besar, perilakunya akan jauh lebih buruk? Jika dia tidak bisa mendapatkan perkenanan dan berkat Tuhan, akankah dia memberontak? Akankah dia pergi ke tingkat ketiga dari surga dan berdebat dengan Tuhan? Itu berarti jalan apakah yang sedang dia tempuh dalam kepercayaannya kepada Tuhan? (Jalan antikristus.) Jalan antikristus, seperti Paulus. Paulus selalu meminta upah dan status dari Tuhan. Jika Tuhan tidak mengabulkannya, dia selalu menjadi negatif dan mengendur dalam pekerjaannya, melawan Tuhan, dan mengkhianati-Nya. Katakan kepada-Ku, orang macam apa yang menginginkan upah setelah menanggung sedikit kesukaran dalam tugas mereka? (Orang jahat.) Kemanusiaan orang seperti itu sangat jahat. Apakah orang biasa memiliki keadaan ini di dalam dirinya? Setiap orang memiliki keadaan ini. Esensi natur ini sama dalam diri setiap orang, hanya saja ada orang-orang tidak terlalu kentara menunjukkannya. Mereka memiliki rasionalitas dan tahu bahwa tindakan dan pemikiran seperti itu salah, dan tahu bahwa mereka tidak boleh menuntut upah dari Tuhan. Namun apa yang seharusnya orang lakukan jika berada dalam keadaan seperti ini? Orang harus mencari kebenaran untuk membereskannya. Aspek kebenaran apa yang dapat membereskan keadaan ini? Sangatlah penting untuk orang mengenal siapa diri mereka, mengetahui di posisi mana seharusnya mereka berdiri, jalan mana yang seharusnya mereka kejar, dan menjadi orang seperti apa mereka seharusnya. Ini adalah hal-hal minimal yang harus mereka ketahui. Jika seseorang bahkan tidak tahu tentang hal-hal ini, mereka masih jauh dari memahami kebenaran, menerapkan kebenaran, atau mengejar keselamatan.
Dalam hal melaksanakan tugas-tugas khusus tertentu atau tugas-tugas yang lebih berat dan melelahkan, di satu sisi, orang harus selalu merenungkan cara melaksanakan tugas tersebut, kesukaran apa yang harus mereka tanggung, dan bagaimana mereka harus memegang teguh tugas mereka dan tunduk. Di sisi lain, orang juga harus memeriksa ketidakmurnian apa yang ada dalam niat mereka dan bagaimana hal ini menghambat pelaksanaan tugas mereka. Manusia dilahirkan dengan keengganan untuk menanggung kesukaran—tak seorang pun menjadi makin bersemangat atau makin bersukacita ketika harus menanggung lebih banyak kesukaran. Orang yang seperti itu tidak ada. Sudah menjadi natur daging manusia untuk merasa khawatir dan cemas segera setelah daging mereka menanggung kesukaran. Namun, seberapa banyak kesukaran yang sekarang harus engkau semua tanggung dalam melaksanakan tugasmu? Yang harus kautanggung hanyalah tubuhmu merasa sedikit lelah dan sedikit bekerja keras. Jika engkau bahkan tak mampu menanggung kesukaran sekecil ini, dapatkah engkau dianggap orang yang memiliki tekad? Dapatkah engkau dianggap orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan? (Tidak.) Ini tidak baik. Ketika engkau melaksanakan tugasmu di rumah Tuhan, tidak ada orang yang mengawasimu. Tergantung padamu apakah engkau sendiri mau berinisiatif. Di rumah Tuhan, ada sistem dan pengaturan kerja, dan itu bergantung pada masing-masing orang apakah mereka mau mengandalkan iman, hati nurani, dan nalar mereka. Hanya Tuhan yang memeriksa apakah engkau melaksanakan tugasmu dengan baik atau tidak. Jika orang selalu tidak menyadari dan tidak merasa tertegur ketika mereka memperlihatkan kerusakan apa pun saat melaksanakan tugas, atau saat berurusan dengan orang lain, peristiwa, dan hal-hal di sekitar mereka, apakah ini hal yang baik atau hal yang buruk? (Hal yang buruk.) Mengapa itu dianggap sebagai hal yang buruk? Karena hati nurani dan nalar manusia memiliki standar minimum. Jika hati nuranimu tidak memiliki kesadaran dan tak mampu menahanmu agar tidak melakukan hal-hal buruk, atau tak mampu mengendalikan perilakumu, jika engkau bertindak dengan cara yang melanggar ketetapan administratif dan prinsip, dan tidak ada kemanusiaan dalam tindakanmu, tetapi engkau tidak merasa tertegur di dalam hatimu, bukankah ini berarti engkau tidak memiliki landasan moral? Bukankah ini berarti engkau tidak memiliki kesadaran terhadap hati nuranimu? (Ya.) Ketika engkau semua melakukan kesalahan, atau melanggar prinsip, atau ketika engkau tidak sepenuh hati dalam melaksanakan tugasmu untuk jangka waktu yang lama, apakah engkau semua biasanya menyadarinya? (Ya.) Lalu, dapatkah hati nuranimu itu menahanmu dan membuatmu bertindak berdasarkan hati nurani dan nalarmu, dan berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran? Jika engkau adalah orang yang memahami kebenaran, mampukah engkau meningkatkannya dari yang sebelumnya bertindak berdasarkan hati nuranimu menjadi bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran? Jika engkau mampu melakukannya, engkau dapat diselamatkan. Mampu menanggung kesukaran dalam melaksanakan tugas bukanlah hal yang mudah. Tidak mudah juga untuk melaksanakan suatu pekerjaan khusus dengan baik. Yang pasti, kebenaran firman Tuhan sedang bekerja dalam diri orang-orang yang mampu melakukan hal-hal ini. Bukan karena mereka dilahirkan tanpa rasa takut akan kesukaran dan kelelahan. Di manakah orang-orang semacam ini bisa ditemukan? Semua orang ini memiliki motivasi dan mereka telah menjadikan kebenaran firman Tuhan sebagai landasan mereka. Ketika mereka melaksanakan tugas, pandangan dan sudut pandang mereka berubah. Melaksanakan tugas menjadi lebih mudah dan menanggung sedikit kesukaran daging dan kelelahan mulai terasa bukan masalah besar bagi mereka. Mereka yang tidak memahami kebenaran dan yang pandangannya tentang segala sesuatu belum berubah hidup berdasarkan ide, gagasan, keinginan egois manusia, dan kesukaan mereka, jadi mereka enggan dan tidak ingin melaksanakan tugas mereka. Sebagai contoh, dalam melaksanakan tugas yang kotor dan melelahkan, ada orang-orang yang berkata, "Aku akan menaati pengaturan rumah Tuhan. Tugas apa pun yang gereja atur untukku, aku akan melaksanakannya, entah itu tugas yang kotor atau melelahkan, entah itu tugas yang mengesankan atau biasa-biasa saja. Aku tidak menuntut apa pun, dan aku akan menerimanya sebagai tugasku. Ini adalah amanat yang telah Tuhan percayakan kepadaku, dan sedikit kotor dan kelelahan adalah kesukaran yang harus kutanggung." Hasilnya, ketika melakukan pekerjaan mereka, mereka sama sekali tidak merasa sedang menanggung kesukaran apa pun. Orang lain mungkin menganggap tugas itu kotor dan melelahkan, tetapi mereka menanggapnya mudah, karena hati mereka tenang dan tidak terganggu. Mereka melakukannya untuk Tuhan, jadi mereka tidak merasa tugas itu sulit. Ada orang-orang yang menganggap melakukan pekerjaan yang kotor, melelahkan atau biasa-biasa saja adalah penghinaan terhadap status dan karakter mereka. Mereka beranggapan dengan melakukannya berarti orang lain tidak menghormati mereka, menindas mereka, atau memandang rendah mereka. Akibatnya, ketika dihadapkan dengan tugas dan beban kerja yang sama, mereka merasa tugas itu berat. Apa pun yang mereka lakukan, ada kemarahan di dalam hati mereka, dan merasa bahwa semua itu tidak sesuai dengan keinginan mereka atau tidak memuaskan. Hati mereka penuh kenegatifan dan penentangan. Mengapa mereka negatif dan menentang? Apa sumber masalahnya? Sering kali, karena mereka tidak mendapatkan gaji untuk tugas tersebut; rasanya seperti bekerja secara gratis. Jika ada upahnya, mungkin bagi mereka tugas itu masih dapat diterima, tetapi mereka tidak tahu apakah akan mendapatkan upah atau tidak. Oleh karena itu, orang merasa melaksanakan tugas itu percuma saja, sama saja dengan bekerja tanpa menghasilkan apa pun, jadi mereka sering menjadi negatif dan menentang dalam melaksanakan tugas. Bukankah benar demikian? Sebenarnya, orang-orang ini tidak ingin melaksanakan tugas. Karena tak seorang pun memaksa mereka, mengapa mereka tetap datang untuk melaksanakan tugas mereka? Itu karena mereka memaksakan diri, karena mereka berkeinginan untuk memperoleh berkat dan masuk ke dalam kerajaan surga, mereka tak punya pilihan selain melaksanakan tugas mereka. Ini adalah perwujudan dari betapa tak punya pilihannya mereka. Inilah pola pikir di balik upaya mereka untuk bertransaksi dengan Tuhan. Ada orang-orang yang bertanya bagaimana agar orang-orang seperti ini dapat menyelesaikan masalah kenegatifan dan penentangan yang ada dalam hati mereka. Masalah ini hanya dapat diselesaikan dengan mempersekutukan kebenaran. Jika mereka tidak mencintai kebenaran, tidak soal bagaimana kebenaran itu dipersekutukan kepada mereka, mereka tidak akan mampu menerimanya. Jika begitu, berarti mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya dan mereka telah tersingkap. Karena mereka ingin bertransaksi dan tidak mau melakukan apa pun kecuali itu menguntungkan mereka, jika Tuhan menjanjikan upah dan jalan masuk ke dalam kerajaan surga kepada mereka, dan menuliskan jaminan bagi mereka, mereka pasti akan melaksanakan tugas mereka dengan penuh semangat. Sebenarnya, janji Tuhan itu terbuka, dan mereka yang mengejar kebenaran mampu memperolehnya. Sedangkan mereka yang tidak mengejar kebenaran, tidak mampu memperolehnya. Bukan karena mereka tidak menyadari janji Tuhan, melainkan karena di dalam hati mereka, janji itu terasa tidak kasatmata dan tidak pasti. Bagi mereka, janji Tuhan itu bagaikan cek kosong—mereka tidak mampu memercayainya, dan mereka tidak benar-benar meyakininya, dan dalam hal ini, tidak ada lagi yang dapat dilakukan. Mereka menginginkan hal-hal yang berwujud, dan jika engkau memberi mereka gaji, mereka pasti akan bersemangat. Namun, mereka yang tidak punya hati nurani dan tidak bernalar belum tentu bersemangat sekalipun diberi upah; mereka sangat berengsek. Jika mereka dipekerjakan di dunia sekuler, mereka tidak akan bekerja dengan rajin, mereka pasti akan licin dan bermalas-malasan, dan mereka pasti akan dipecat. Ini semata masalah dengan natur mereka. Bagi mereka yang terus-menerus bersikap asal-asalan dalam pelaksanaan tugas mereka, satu-satunya solusi adalah mengeluarkan dan menyingkirkan mereka. Tidak ada jalan lain bagi mereka yang tidak menerima kebenaran. Semua alasan dan pembenaran mereka tidak masuk akal, dan tidak perlu membahas karakter mereka.
Sekarang ini, kebanyakan orang telah mulai melaksanakan tugas. Apakah engkau semua mengerti apa yang dimaksud dengan tugas, bagaimana tugas muncul, dan siapa yang memberikannya? (Tugas adalah amanat yang Tuhan percayakan kepada manusia.) Benar. Jika engkau percaya kepada Tuhan dan datang ke rumah-Nya, jika engkau mampu menerima amanat Tuhan, berarti engkau adalah anggota rumah-Nya. Tugas yang rumah Tuhan atur untukmu, jalan yang Tuhan beritahukan untuk kauikuti, dan amanat yang Tuhan percayakan kepadamu, semua itu adalah tugasmu dan diserahkan Tuhan untukmu. Ketika engkau makan dan minum firman Tuhan, memahami maksud-Nya, mendengarkan dan memahami pengaturan rumah Tuhan, jika di dalam hatimu engkau tahu tugas apa yang harus kaulaksanakan dan tanggung jawab apa yang mampu kaupenuhi, dan jika engkau menerima amanat Tuhan dan mulai melaksanakan tugasmu, engkau menjadi anggota rumah Tuhan dan bagian dari penyebaran Injil. Tuhan menganggapmu sebagai anggota rumah-Nya dan sebagai bagian dari penyebaran pekerjaan-Nya. Pada saat ini, engkau memiliki tugas yang harus kaulaksanakan. Apa pun yang mampu kaulakukan, apa pun yang mampu kaucapai, itu adalah tanggung jawabmu dan tugasmu. Dapat dikatakan bahwa itu adalah amanat Tuhan, misimu, dan kewajibanmu. Tugas berasal dari Tuhan; tugas adalah tanggung jawab dan amanat yang Tuhan percayakan kepada manusia. Lalu, bagaimana seharusnya orang memahami tugas? "Karena ini adalah tugasku dan amanat yang telah Tuhan percayakan kepadaku, ini adalah kewajiban dan tanggung jawabku. Sudah menjadi kewajibanku untuk menerimanya. Aku tak boleh menolak atau menampiknya; aku tak boleh memilah dan memilihnya. Apa yang ditugaskan kepadaku tentu saja adalah tugas yang harus kulaksanakan. Bukannya aku tidak berhak untuk memilih—itu karena aku tidak boleh memilih. Inilah nalar yang seharusnya dimiliki makhluk ciptaan." Ini adalah sikap ketundukan. Ada orang-orang yang selalu pilih-pilih ketika melaksanakan tugas, selalu ingin melakukan pekerjaan yang mudah dan yang mereka sukai, tak mampu tunduk pada pengaturan rumah Tuhan. Ini memperlihatkan bahwa tingkat pertumbuhan mereka sangat rendah, dan mereka tidak memiliki nalar manusia normal. Jika orang itu masih muda dan dia telah sangat dimanjakan di rumahnya tanpa pernah mengalami kesukaran, maka wajar jika dia sedikit keras kepala. Asalkan dia mampu menerima kebenaran, sikapnya akan berangsur berubah. Namun, jika orang dewasa yang berusia tiga puluhan atau empat puluhan berperilaku menjijikkan seperti ini, maka masalahnya adalah kemalasan. Penyakit malas bersifat bawaan dan sangat sulit untuk diobati. Itu adalah masalah natur orang tersebut, dan hanya dengan ditinggalkan dalam suatu lingkungan atau situasi tanpa pilihan, barulah orang-orang seperti ini mampu menanggung sedikit kesukaran dan kelelahan. Ini sama seperti para pengemis yang sadar betul bahwa menjadi pengemis berarti dihina dan didiskriminasi orang lain, tetapi karena kemalasan mereka dan keengganan mereka untuk bekerja, mereka tak punya pilihan selain menjadi pengemis. Jika tidak, mereka akan kelaparan. Singkatnya, jika orang tidak mampu melaksanakan tugas mereka dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab, cepat atau lambat mereka akan disingkirkan. Pelanggaran terbesar adalah percaya kepada Tuhan, tetapi tidak tunduk kepada-Nya. Jika engkau menolak melaksanakan tugasmu atau dengan konsisten enggan menghadapi kesukaran dan takut kelelahan, berarti engkau adalah orang yang tak punya hati nurani dan nalar. Engkau tidak sesuai untuk melaksanakan tugas, dan engkau boleh pergi. Suatu hari, jika engkau menyadari bahwa tidak melaksanakan tugasmu sama saja dengan menolak amanat yang dipercayakan kepadamu oleh Sang Pencipta, dan bahwa itu menjadikanmu orang yang memberontak terhadap Tuhan, yang tidak berhati nurani dan nalar, dan bahwa sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, engkau seharusnya melaksanakan tugasmu dengan baik dan bahwa itu adalah keharusan. Pada saat itu, engkau seharusnya melaksanakan tugasmu sebagaimana mestinya, dan kemudian engkau akan tunduk. Jika seseorang memberontak dan bersikap negatif dalam tugasnya, artinya jika dia sama sekali tidak tunduk kepada Tuhan, orang semacam itu tidak sungguh-sungguh mengorbankan dirinya bagi Tuhan. Rela melaksanakan tugas dengan baik adalah perwujudan ketundukan terkecil seseorang kepada Tuhan. Jadi, bagaimana tugas muncul? (Tugas berasal dari Tuhan; tugas adalah tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada manusia.) Tugas adalah tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada manusia, lalu apakah orang-orang tidak percaya memiliki tugas? (Tidak.) Mengapa menurutmu mereka tidak memiliki tugas? (Karena mereka bukan anggota rumah Tuhan.) Benar, orang-orang tidak percaya hanya menyibukkan diri mereka untuk kehidupan daging mereka, dan tindakan mereka tidak layak disebut tugas. Orang-orang tidak percaya adalah milik dunia dan milik Iblis. Tuhan hanya mengatur takdir hidup mereka—waktu kelahiran mereka, keluarga tempat mereka dilahirkan, pekerjaan yang mereka lakukan ketika mereka dewasa, dan waktu kematian mereka. Tuhan tidak memilih mereka, Dia juga tidak menyelamatkan mereka. Berbeda halnya dengan orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Dalam skala kecil, semua pekerjaan yang mereka lakukan di rumah Tuhan adalah tugas yang harus mereka laksanakan. Dalam skala besar, dalam seluruh rencana pengelolaan Tuhan, tugas yang dilaksanakan oleh setiap makhluk ciptaan adalah bekerja sama dengan pekerjaan Tuhan. Sederhananya, mereka melakukan pelayanan untuk rencana pengelolaan Tuhan. Entah engkau melakukan pelayanan dengan sepenuh hati atau tidak, engkau tidak dapat dikatakan sebagai orang yang mengikuti kehendak Tuhan. Sebenarnya, orang hanya dapat dianggap sebagai salah seorang dari umat Tuhan dan sebagai makhluk ciptaan yang memenuhi standar jika mereka benar-benar bisa melaksanakan tugas mereka, mencapai hasil dari kesaksian mereka bagi Tuhan, dan memperoleh perkenan-Nya. Jika engkau melaksanakan dengan baik setiap tugas yang Tuhan percayakan kepadamu dan melaksanakannya dengan cara yang memenuhi standar, maka engkau adalah anggota rumah Tuhan, dan seseorang yang Tuhan akui sebagai anggota rumah-Nya.
Kutipan 36
Semua kata dalam lagu "Betapa Senangnya Menjadi Orang yang Jujur" cukup dapat diterapkan, dan Aku telah memilih beberapa baris untuk dipersekutukan. Mari kita persekutukan terlebih dahulu kalimat, "Kujunjung tinggi tugasku dengan segenap hati dan pikiranku, dan aku tidak mengkhawatirkan dagingku." Keadaan seperti apakah ini? Orang seperti apa yang mampu menjunjung tinggi tugasnya dengan segenap hati dan pikirannya? Apakah orang yang berhati nurani? Apakah orang yang telah melaksanakan tanggung jawab mereka sebagai makhluk ciptaan? Apakah orang yang telah membalas kebaikan Tuhan dengan cara apa pun? (Ya.) Fakta bahwa mereka mampu menjunjung tinggi tugas dengan segenap hati dan pikiran mereka berarti mereka melaksanakan tugas dengan serius, bertanggung jawab, tanpa bersikap asal-asalan, tidak licik atau bermalas-malasan, dan tidak melalaikan tanggung jawab. Mereka memiliki sikap yang benar dan keadaan serta mentalitas mereka normal. Mereka memiliki nalar dan hati nurani, mereka memikirkan Tuhan, dan mereka setia dan penuh pengabdian terhadap tugas mereka. Apa yang dimaksud dengan "tidak mengkhawatirkan daging"? Terdapat juga beberapa keadaan dalam perkataan ini. Perkataan ini terutama berarti mereka tidak mengkhawatirkan kehidupan daging mereka kelak, dan tidak membuat rencana untuk masa depan mereka. Itu berarti mereka tidak memikirkan apa yang akan mereka lakukan kelak saat mereka sudah tua, siapa yang akan merawat mereka, atau bagaimana mereka akan hidup pada saat itu. Mereka tidak memikirkan hal-hal ini, melainkan tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan dalam segala hal. Melaksanakan tugas dengan baik adalah tugas yang terutama dan terpenting bagi mereka—menjunjung tinggi tugas mereka, dan menjunjung tinggi amanat Tuhan adalah hal yang terpenting. Saat orang mampu melaksanakan tugas mereka dengan baik sebagai makhluk ciptaan Tuhan, bukankah mereka memiliki keserupaan dengan manusia? Ini berarti memiliki keserupaan dengan manusia. Setidaknya, orang harus melaksanakan tugas mereka dengan baik, sepenuh hati, dan mencurahkan segenap hati dan pikiran untuk tugas mereka. Apakah yang dimaksud dengan "menjunjung tinggi tugas"? Itu berarti apa pun kesulitan yang orang hadapi, mereka tidak melepaskan pekerjaan mereka, tidak menjadi pembelot, ataupun menghindari tanggung jawab mereka. Mereka mengerahkan segenap kemampuan mereka. Itulah yang dimaksud dengan menjunjung tinggi tugas. Sebagai contoh, katakanlah engkau diberi tugas tertentu untuk kaulaksanakan, dan tak seorang pun melihat, mengawasi, atau mendesakmu. Seperti apakah wujud menjunjung tinggi tugasmu? (Menerima pemeriksaan Tuhan dan hidup di hadirat-Nya.) Menerima pemeriksaan Tuhan adalah langkah pertama; itu adalah satu aspeknya. Aspek lainnya adalah engkau juga harus melaksanakan tugasmu dengan segenap hati dan pikiranmu. Bagaimana engkau dapat mencapai hal ini? Engkau harus menerima kebenaran dan menerapkannya. Artinya, apa pun yang Tuhan tuntut, engkau harus menerima dan tunduk. Engkau harus memperlakukan tugasmu sebagai kewajibanmu sendiri, tanpa membutuhkan siapa pun untuk melihatmu, memperhatikanmu, memeriksa pekerjaanmu, mengawasimu, mendesakmu, memantaumu, atau bahkan memangkasmu. Di dalam hatimu, engkau harus berpikir, "Melaksanakan tugas ini adalah tanggung jawabku; ini adalah sesuatu yang sudah menjadi kewajibanku. Karena tugas ini telah diberikan kepadaku dan aku telah diberi tahu prinsip-prinsipnya serta telah memahaminya, aku akan mencurahkan segenap diriku ke dalamnya dan melakukan semua yang aku bisa untuk memastikannya terlaksana dengan baik." Engkau harus bertekun melaksanakannya dengan cara seperti ini, tanpa dikekang oleh orang, peristiwa, dan hal apa pun. Inilah yang dimaksud dengan menjunjung tinggi tugasmu dengan segenap hati dan pikiranmu; inilah keserupaan dengan manusia yang seharusnya orang miliki. Jadi, apa yang harus orang miliki agar dapat menjunjung tinggi tugas mereka dengan segenap hati dan pikiran mereka? Pertama, mereka harus memiliki hati nurani yang sudah seharusnya dimiliki oleh makhluk ciptaan—ini adalah standar minimum. Selain itu, mereka juga harus penuh pengabdian. Sebagai manusia, ketika engkau menerima amanat Tuhan, engkau harus penuh pengabdian; engkau harus benar-benar penuh pengabdian hanya kepada Tuhan, dan tidak boleh setengah hati, atau tidak bertanggung jawab. Bertindak berdasarkan minat atau suasana hatimu tidaklah cukup; ini bukanlah penuh pengabdian. Apa yang dimaksud dengan penuh pengabdian? Itu berarti melaksanakan tugasmu tanpa dipengaruhi atau dikekang oleh suasana hatimu, lingkungan, atau orang, peristiwa, dan hal-hal lainnya. Di dalam hatimu, engkau harus berpikir, "Aku menerima amanat ini dari Tuhan; Dia telah mengamanatkannya kepadaku, dan inilah yang seharusnya kulakukan. Jadi, aku akan menanganinya seolah-olah ini adalah urusanku sendiri, melakukannya dengan cara apa pun yang membuahkan hasil yang baik; yang terpenting adalah memuaskan Tuhan." Ketika engkau berada dalam keadaan ini, engkau tidak hanya dikendalikan oleh hati nuranimu; ada sikap penuh pengabdian juga di dalamnya. Jika engkau puas hanya dengan menyelesaikan tugas tersebut, tanpa mengupayakan efisiensi atau hasil, dan merasa cukup hanya dengan mengerahkan segenap kekuatanmu, maka ini hanyalah memenuhi standar hati nurani, dan tidak dapat dianggap penuh pengabdian. Penuh pengabdian terhadap Tuhan adalah standar yang dituntut yang lebih tinggi daripada standar hati nurani. Ini bukan hanya hal tentang mengerahkan segenap kekuatanmu; engkau juga harus mencurahkan segenap hatimu ke dalamnya. Di dalam hatimu, engkau harus selalu menganggap tugasmu sebagai pekerjaan yang harus kaulakukan, dan memikul beban untuk tugas ini. Jika engkau melakukan kesalahan sekecil apa pun atau berada dalam keadaan di mana engkau bersikap asal-asalan, engkau akan merasa ditegur dan berpikir bahwa engkau tidak bisa berperilaku dengan cara seperti ini karena itu membuatmu merasa sangat berutang kepada Tuhan. Orang yang benar-benar memiliki hati nurani dan nalar melaksanakan tugas mereka seolah-olah sedang melaksanakan pekerjaan pribadi mereka, entah ada seseorang yang melihat atau mengawasi mereka ataupun tidak. Entah Tuhan berkenan akan mereka atau tidak dan dengan cara apa pun Tuhan memperlakukan mereka, mereka akan selalu menuntut diri mereka dengan ketat untuk melaksanakan tugas mereka dengan baik dan menuntaskan amanat yang telah Tuhan percayakan kepada mereka. Inilah yang disebut sikap yang penuh pengabdian. Bukankah ini standar yang lebih tinggi daripada standar hati nurani? Mengikuti standar hati nurani sering kali membuatmu rentan terpengaruh oleh beberapa hal eksternal, atau sekadar mengerahkan segenap kekuatanmu, dan itu belum mencapai melaksanakan tugasmu dengan baik, dengan segenap hati dan pikiranmu. Namun, mencapai sikap penuh pengabdian tidaklah mudah. Itu menuntutmu untuk mengerahkan segenap hati dan kekuatanmu, mengabdikan segenap hatimu dan segenap kekuatanmu untuk pelaksanaan tugasmu. Dengan demikian, engkau akan memiliki sikap yang penuh pengabdian dalam melaksanakan tugasmu. Ini bukan hanya tentang mengerahkan upaya; ini menuntutmu untuk mencurahkan segenap hati, pikiran, dan tubuhmu ke dalam tugasmu. Untuk melaksanakan tugasmu dengan baik, terkadang engkau harus menanggung sedikit kesukaran jasmani dan membayar sedikit harga, dan engkau harus mengabdikan segenap pemikiranmu untuk melaksanakan tugasmu. Apa pun keadaan yang kauhadapi, engkau tidak boleh membiarkannya memengaruhi atau menunda tugasmu, dan engkau harus memuaskan Tuhan. Ini menuntutmu untuk mampu membayar harga; engkau harus meninggalkan keluarga jasmanimu, urusan pribadimu, dan kepentinganmu sendiri. Kesombongan, gengsi, perasaan, dan kesenangan dagingmu, dan bahkan hal-hal seperti tahun-tahun terbaik masa mudamu, pernikahanmu, masa depanmu, dan nasibmu, semuanya harus dilepaskan dan ditinggalkan, dan engkau harus bersedia melaksanakan tugasmu dengan baik. Dengan demikian, engkau akan mencapai sikap yang penuh pengabdian, dan akan memiliki keserupaan dengan manusia dengan hidup seperti ini. Orang-orang seperti ini tidak hanya memiliki hati nurani, tetapi, berdasarkan standar hati nurani, mereka menggunakan sikap penuh pengabdian yang Tuhan tuntut dari manusia untuk mengukur diri mereka sendiri dan menuntut diri mereka sendiri, dengan tekun berjuang untuk mencapai tujuan ini. Orang-orang seperti ini langka di antara manusia. Mungkin hanya ada satu dari setiap seribu atau sepuluh ribu umat pilihan Tuhan. Bukankah ada nilai dalam kehidupan orang-orang semacam itu? Bukankah mereka adalah orang-orang yang Tuhan hargai? Tentu saja ada nilai dalam kehidupan mereka; merekalah orang-orang yang Tuhan hargai.
Baris selanjutnya dari lirik lagu tersebut berbunyi, "Meskipun kualitasku buruk, aku memiliki hati yang jujur." Kata-kata ini terdengar cukup nyata dan mengandung tuntutan Tuhan terhadap manusia. Apakah tuntutan tersebut? Bahwa memiliki kualitas yang buruk bukan masalah besar, tetapi mereka harus memiliki hati yang jujur, dan jika memilikinya, mereka akan mampu menerima perkenanan Tuhan. Seperti apa pun situasi atau latar belakangmu, engkau harus menjadi orang yang jujur, berbicara jujur, bertindak dengan jujur, mampu melaksanakan tugasmu dengan segenap hati dan pikiranmu, penuh pengabdian terhadap tugasmu, tidak berlaku licin, tidak menjadi orang yang curang atau licik, tidak berbohong atau menipu, dan tidak berbicara dengan berbelat-belit. Engkau harus bertindak berdasarkan kebenaran dan menjadi orang yang mengejar kebenaran. Banyak orang berpikir bahwa mereka berkualitas buruk, dan bahwa mereka tidak pernah melaksanakan tugas mereka dengan baik atau memenuhi standar. Mereka mengerahkan hati dan kekuatan dalam apa yang mereka lakukan, tetapi mereka tidak pernah mampu memahami prinsip, dan tetap tidak dapat membuahkan hasil yang sangat baik. Pada akhirnya, yang bisa mereka lakukan hanyalah mengeluh bahwa kualitas mereka terlalu buruk, dan mereka pun menjadi negatif. Jadi, apakah tidak ada jalan ke depan ketika orang memiliki kualitas yang buruk? Memiliki kualitas yang buruk bukanlah penyakit yang mematikan, dan Tuhan tidak pernah berfirman bahwa Dia tidak menyelamatkan orang-orang yang kualitasnya buruk. Tuhan pernah berfirman sebelumnya bahwa Dia merasa sedih bagi mereka yang jujur tetapi tidak berpengertian. Apa artinya tidak berpengertian? Dalam banyak kasus, tidak berpengertian berasal dari kualitas yang buruk. Orang-orang semacam itu memiliki kualitas yang buruk, dan mereka memiliki pemahaman yang dangkal tentang kebenaran; pemahaman itu tidak cukup spesifik atau nyata, dan sering kali tetap menjadi pemahaman tingkat permukaan atau harfiah, pemahaman tentang doktrin dan peraturan. Itulah sebabnya mereka tidak dapat melihat banyak masalah dengan jelas, dan tidak pernah bisa memahami prinsip saat melaksanakan tugas mereka, atau tidak pernah dapat melaksanakan tugas mereka dengan baik. Apakah itu berarti Tuhan tidak menginginkan orang-orang yang berkualitas buruk? (Dia menginginkan mereka.) Jalan dan arah apa yang Tuhan tunjukkan kepada manusia? (Jalan untuk menjadi orang yang jujur.) Dapatkah engkau menjadi orang yang jujur hanya dengan mengatakannya? (Tidak, kami harus memiliki perwujudan orang yang jujur.) Apa sajakah perwujudan orang jujur itu? Pertama, mereka tidak meragukan firman Tuhan. Itu adalah salah satu perwujudan orang yang jujur. Selain ini, perwujudan yang terpenting dari orang jujur adalah mencari dan menerapkan kebenaran dalam segala hal—inilah hal yang paling krusial. Engkau berkata bahwa engkau orang yang jujur, tetapi engkau selalu mengesampingkan firman Tuhan dan hanya berbuat sekehendak hatimu. Seperti itukah perwujudan orang yang jujur? Engkau berkata, "Meskipun kualitasku buruk, aku memiliki hati yang jujur." Namun, ketika sebuah tugas diberikan kepadamu, engkau takut menderita dan memikul pertanggungjawaban jika tidak melaksanakannya dengan baik, sehingga engkau membuat alasan untuk menghindar dari tugasmu atau menyarankan agar orang lain saja yang melakukannya. Seperti inikah perwujudan orang yang jujur? Jelas bukan. Jadi, bagaimanakah seharusnya perilaku orang jujur? Mereka harus tunduk pada pengaturan Tuhan, sepenuh hati dalam melaksanakan tugas yang seharusnya mereka laksanakan, dan berusaha keras memenuhi maksud Tuhan. Ini terwujud dalam beberapa cara: Salah satunya, engkau menerima tugasmu dengan hati yang jujur, tidak memikirkan kepentingan dagingmu, tidak setengah hati dalam melakukannya, dan tidak berencana licik demi keuntunganmu sendiri. Tindakan-tindakan tersebut adalah perwujudan kejujuran. Yang lainnya adalah engkau mengerahkan segenap hati dan kekuatanmu agar dapat melaksanakan tugasmu dengan baik, melaksanakan tugas-tugas yang rumah Tuhan percayakan kepadamu dengan semestinya, dan mencurahkan hati dan kasihmu pada tugasmu agar dapat memuaskan Tuhan. Perwujudan inilah yang seharusnya ditunjukkan oleh orang jujur dalam melaksanakan tugas mereka. Jika engkau mengerti dan tahu apa yang harus kaulakukan, tetapi engkau tidak melakukannya, berarti engkau tidak sedang mengerahkan segenap hati dan kekuatanmu dalam tugasmu. Sebaliknya, engkau sedang bersikap licik dan malas. Apakah orang yang melaksanakan tugasnya dengan cara seperti ini jujur? Sama sekali tidak. Tuhan tidak memakai orang yang licin dan licik seperti itu; mereka harus disingkirkan. Tuhan hanya memakai orang yang jujur untuk melaksanakan tugas. Bahkan orang-orang yang berjerih payah yang setia pun harus jujur. Semua orang yang terus-menerus bersikap asal-asalan, curang dan bermalas-malasan adalah orang yang licik, dan mereka semua adalah setan. Tak seorang pun dari mereka benar-benar percaya kepada Tuhan, dan mereka semua akan disingkirkan. Ada orang-orang yang berpikir, "Sebenarnya, menjadi orang jujur itu mudah. Itu hanyalah tentang mengatakan yang sebenarnya dan tidak berbohong." Bagaimana pandanganmu tentang pernyataan ini? Apakah menjadi orang jujur sedemikian terbatas cakupannya? Sama sekali tidak. Engkau harus mengungkapkan isi hatimu dan menyerahkannya kepada Tuhan; inilah sikap yang harus dimiliki orang jujur. Itulah sebabnya hati yang jujur itu sangat berharga. Apa maksudnya ini? Hati yang jujur mampu mengendalikan perilakumu dan mengubah keadaanmu. Hati yang jujur mampu menuntunmu untuk membuat pilihan yang benar, untuk tunduk kepada Tuhan dan memperoleh perkenanan-Nya. Hati yang seperti ini sangat berharga. Jika engkau memiliki hati yang jujur seperti ini, maka dalam keadaan itulah engkau harus hidup, dengan cara itulah engkau harus berperilaku, dan dengan cara itulah engkau harus mendedikasikan dirimu. Engkau harus merenungkan lirik lagu ini secara mendalam. Setiap kalimat tidak sesederhana makna harfiahnya, dan engkau akan memperoleh sesuatu jika engkau benar-benar memahaminya setelah merenungkannya.
Mari kita lihat baris lain dari lirik tersebut: "Lakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati untuk memenuhi maksud Tuhan." Ada sebuah jalan penerapan dalam kalimat tersebut. Ada orang-orang yang menjadi negatif saat menghadapi kesulitan selama melaksanakan tugas mereka, dan itu membuat mereka enggan untuk melaksanakan tugas mereka. Ada yang salah dengan orang-orang ini. Apakah mereka sungguh-sungguh mengorbankan diri mereka untuk Tuhan? Mereka harus merenungkan penyebab mereka menjadi negatif saat menghadapi kesulitan dan penyebab mereka tak mampu mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah. Jika mereka mampu merenungkan diri mereka dan mencari kebenaran, mereka akan mampu mengenali masalah yang mereka miliki. Sebenarnya, kesulitan terbesar orang terutama adalah masalah watak yang rusak. Jika engkau dapat mencari kebenaran, watak rusakmu akan dapat diperbaiki dengan mudah. Setelah engkau memperbaiki watak rusakmu, engkau akan mampu melakukan segala hal dengan sepenuh hati untuk memenuhi maksud Tuhan. Yang dimaksud "segala hal" adalah bahwa dalam hal apa pun, baik dalam hal yang Tuhan berikan kepadamu, dalam hal yang pemimpin atau pekerja atur untukmu, atau dalam hal yang kauhadapi secara tak sengaja, selama hal itu perlu kaulakukan dan engkau mampu memenuhi tanggung jawabmu, lakukanlah dengan sepenuh hati, dan penuhilah tanggung jawab serta tugas yang harus kaulakukan, dan jadikan pemenuhan maksud Tuhan sebagai prinsipmu. Prinsip ini terdengar sedikit muluk dan sedikit sulit untuk ditaati. Secara lebih praktis, prinsip ini berarti engkau harus melaksanakan tugasmu dengan baik. Menjunjung tinggi dan melaksanakan tugasmu dengan baik bukanlah hal yang mudah. Baik melaksanakan tugas sebagai pemimpin atau pekerja, atau melaksanakan tugas lainnya, engkau harus memahami beberapa kebenaran. Dapatkah engkau melaksanakan tugasmu dengan baik jika engkau tidak memahami kebenaran? Dapatkah engkau melaksanakannya dengan baik jika engkau tidak menaati prinsip-prinsip kebenaran? Jika engkau memahami semua aspek kebenaran dan engkau mampu melakukan penerapan berdasarkan prinsip kebenaran, engkau akan mampu melaksanakan tugasmu dengan baik, menjunjung tinggi tugasmu, masuk ke dalam kenyataan kebenaran, dan mampu memenuhi maksud Tuhan. Ini adalah jalan penerapannya. Mudahkah untuk melakukan hal ini? Jika tugas yang kaulaksanakan adalah keahlian dan kesukaanmu, engkau akan merasa itu adalah tanggung jawab dan kewajibanmu, dan melaksanakannya adalah hal yang sepenuhnya wajar dan dapat dibenarkan. Engkau akan merasa bersukacita, bahagia, dan tenang. Itu adalah sesuatu yang bersedia kaulakukan, dan sesuatu yang dapat kaulakukan dengan penuh pengabdian, dan dengan melakukannya, engkau merasa sedang memuaskan Tuhan. Namun, jika suatu hari engkau menghadapi tugas yang tidak engkau sukai atau yang belum pernah kaulakukan, akankah engkau bisa melakukannya dengan sepenuh hati? Ini akan menguji apakah engkau menerapkan kebenaran atau tidak. Sebagai contoh, katakanlah engkau sedang melaksanakan tugasmu di tim lagu pujian. Engkau bisa menyanyi; ini adalah sesuatu yang kaunikmati, dan engkau bersedia melaksanakan tugas ini. Jika engkau diberi tugas lain, katakanlah untuk memberitakan Injil, dan pekerjaan itu agak sulit, akankah engkau mampu tunduk? Engkau tidak mau memberitakan Injil, jadi engkau terus berkata, "Aku suka menyanyi." Jika seorang pemimpin atau pekerja mendorongmu, dengan berkata, "Berlatihlah memberitakan Injil dan perlengkapilah dirimu dengan lebih banyak kebenaran, dan itu akan lebih bermanfaat bagi pertumbuhan hidupmu," engkau tetap bersikeras dan berkata, "Aku suka menyanyi, dan aku suka menari." Engkau tidak mau pergi memberitakan Injil apa pun yang mereka persekutukan. Mengapa engkau tidak mau? (Karena tidak tertarik.) Engkau tidak tertarik, jadi engkau tidak mau melakukannya—apa masalahnya? Masalahnya adalah engkau memilih tugas berdasarkan preferensi serta selera pribadimu, dan engkau tidak tunduk. Kurangnya ketundukan adalah masalahnya. Jika engkau tidak mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah ini, engkau tidak akan memiliki ketundukan yang sejati. Apa yang harus kaulakukan dalam situasi ini agar memiliki ketundukan yang sejati? Apa yang dapat kaulakukan untuk memenuhi maksud Tuhan? Inilah saatnya engkau perlu mencari dan merenungkan aspek kebenaran ini. Jika engkau ingin mengabdikan diri dalam segala hal dan memenuhi maksud-maksud Tuhan, engkau tidak dapat melakukannya hanya dengan melaksanakan satu tugas; engkau harus menerima amanat apa pun yang Tuhan berikan kepadamu. Entah itu sesuai dengan seleramu dan cocok dengan minatmu, atau merupakan sesuatu yang tidak kausukai, atau belum pernah kaulakukan sebelumnya dan engkau anggap sulit, engkau harus menerimanya dan tunduk. Engkau bukan saja harus menerimanya, melainkan engkau juga harus bekerja sama secara proaktif, mempelajari keterampilan profesional, dan memperoleh pengalaman serta jalan masuk. Sekalipun engkau menderita kesukaran atau kelelahan, penghinaan, atau pengucilan, engkau harus tetap melaksanakannya dengan penuh pengabdian. Hanya dengan menerapkan seperti ini, barulah engkau akan mampu mengabdikan diri dalam segala hal dan memenuhi maksud-maksud Tuhan. Engkau harus melaksanakannya sebagai tugasmu, bukan sebagai urusanmu sendiri. Bagaimana seharusnya engkau memahami tugas? Tugas adalah sesuatu yang Sang Pencipta—Tuhan—berikan kepada seseorang untuk dilakukan; dengan cara ini muncullah tugas yang harus manusia lakukan. Amanat yang Tuhan berikan kepadamu adalah tugasmu, maka sepenuhnya wajar dan dapat dibenarkan jika engkau melaksanakan tugasmu sesuai dengan tuntutan Tuhan. Jika engkau paham bahwa tugas ini adalah amanat dari Tuhan, dan ini adalah kasih dan berkat Tuhan yang datang kepadamu, engkau akan dapat menerima tugasmu dengan hati yang mengasihi Tuhan, dan engkau akan mampu memperhatikan maksud Tuhan saat melaksanakan tugasmu, dan engkau akan mampu mengatasi semua kesulitan untuk memuaskan Tuhan. Mereka yang benar-benar mengorbankan diri untuk Tuhan tidak boleh menolak amanat Tuhan; mereka tidak boleh menolak tugas apa pun. Tugas apa pun yang Tuhan percayakan kepadamu, kesulitan apa pun yang ada, engkau tidak boleh menolaknya, tetapi menerimanya. Ini adalah jalan penerapan, yaitu menerapkan kebenaran dan mengabdikan diri dalam segala hal agar dapat memuaskan Tuhan. Apa poin pentingnya di sini? Poin pentingnya adalah kata-kata "dalam segala hal". "Segala hal" tidak selalu sejalan dengan keinginanmu, dan itu tidak selalu merupakan hal-hal yang kausuka lakukan atau yang kauterima dengan senang hati. Ada beberapa tugas yang tidak kaukuasai dan harus kaupelajari cara melakukannya; ada beberapa yang sulit; yang lain mengharuskanmu menderita. Namun, apa pun itu, asalkan itu adalah sesuatu yang telah Tuhan percayakan kepadamu, engkau harus menerima bahwa hal itu adalah dari Tuhan; engkau harus mengemban tugas ini, dan melaksanakannya dengan segenap hati, supaya engkau dapat mempersembahkan pengabdianmu dan memenuhi maksud Tuhan. Inilah jalan penerapannya. Apa pun yang terjadi, engkau harus selalu mencari kebenaran, dan begitu engkau yakin penerapan seperti apa yang sesuai dengan maksud Tuhan, maka dengan cara itulah engkau harus menerapkannya. Hanya dengan melakukannya dengan cara ini, barulah engkau menerapkan kebenaran, dan hanya dengan cara inilah engkau dapat memasuki kenyataan kebenaran.
Ada satu baris lagi dari lagu ini yang berbunyi, "Aku terbuka dan berintegritas, tanpa kelicikan, hidup dalam terang." Siapa yang memberikan jalan ini kepada manusia? (Tuhan.) Jika orang terbuka dan berintegritas, mereka adalah orang yang jujur. Mereka telah sepenuhnya membuka hati dan jiwa mereka kepada Tuhan, tidak menyembunyikan apa pun, dan tidak ada yang perlu mereka sembunyikan. Mereka telah menyerahkan hati mereka kepada Tuhan, dan memperlihatkannya kepada-Nya. Itu berarti mereka telah menyerahkan segenap diri mereka kepada-Nya. Jadi, mungkinkah masih ada sesuatu di antara mereka dan Tuhan? Tidak, dan karena itu, mudah bagi mereka untuk tunduk kepada Tuhan. Jika Tuhan mengatakan bahwa mereka licik, mereka mengakuinya. Jika Tuhan mengatakan bahwa mereka congkak dan merasa diri benar, mereka juga akan mengakuinya. Mereka bukan saja mengakui hal-hal ini dan hanya itu saja—mereka juga mampu bertobat, berusaha memahami dan menerapkan prinsip-prinsip kebenaran, memperbaiki diri saat menyadari bahwa mereka salah, dan memperbaiki kesalahan mereka. Tanpa mereka sadari, mereka telah memperbaiki banyak cara mereka yang keliru, dan mereka akan makin jarang memperlihatkan perwujudan kelicikan, penipuan, dan sikap yang asal-asalan. Mereka hidup makin terbuka dan terang-terangan, makin dekat dengan tujuan mereka untuk menjadi orang yang jujur, dan makin jarang memperlihatkan kerusakan. Mereka pun hidup dalam terang. Ketika orang hidup dalam terang, itu adalah perbuatan Tuhan; segala kemuliaan bagi Tuhan. Tidak ada yang patut dipuji dari diri mereka dalam hal ini. Jika orang hidup dalam terang, mereka akan memahami setiap kebenaran, memiliki hati yang takut akan Tuhan, tahu cara mencari dan menerapkan kebenaran dalam setiap masalah yang mereka temui, dan mereka hidup dengan berhati nurani dan bernalar. Meskipun mereka tidak bisa disebut orang-orang benar, di mata Tuhan mereka memiliki sedikit keserupaan dengan manusia, dan setidaknya, dalam apa yang mereka katakan dan lakukan, mereka tidak lagi bertentangan dengan Tuhan, mereka mampu mencari kebenaran ketika sesuatu terjadi pada mereka, dan mereka memiliki hati yang tunduk kepada Tuhan. Oleh karena itu, mereka cukup aman dan terjamin, dan tidak mungkin mengkhianati Tuhan. Meskipun mereka tidak memahami kebenaran secara mendalam, mereka mampu untuk taat dan tunduk, mereka memiliki hati yang takut akan Tuhan, dan mampu menjauhi kejahatan. Saat diberi pekerjaan atau tugas, mereka mampu melaksanakannya dengan segenap hati dan pikiran mereka, dan dengan kemampuan terbaik mereka. Orang semacam ini layak mendapatkan kepercayaan, dan Tuhan dapat merasa tenang mengenai mereka—orang-orang seperti ini hidup dalam terang. Apakah orang-orang yang hidup dalam terang mampu menerima pemeriksaan Tuhan? Mungkinkah mereka masih menyembunyikan hati mereka dari Tuhan? Apakah mereka masih memiliki rahasia yang tak bisa diberitahukan kepada Tuhan? Apakah mereka masih memiliki siasat yang mencurigakan di balik layar? Tidak. Mereka telah sepenuhnya membuka hati kepada Tuhan, dan tidak ada lagi yang mereka tutupi atau sembunyikan. Mereka mampu berbicara dari hati kepada Tuhan, bersekutu dengan Tuhan tentang apa pun, dan memberi tahu Tuhan segalanya. Tak ada apa pun yang tidak mereka sampaikan kepada Tuhan dan yang mereka sembunyikan dari-Nya. Setelah orang mampu mencapai standar seperti ini, hidup mereka akan menjadi mudah, lepas dan bebas.
Kutipan 37
Apa saja prinsip utama yang mendasari orang dalam melaksanakan tugasnya? Orang harus bertindak berdasarkan standar, prinsip, dan tuntutan rumah Tuhan, serta menerapkan berdasarkan kebenaran; orang harus menjadikan firman Tuhan, kebenaran, dan perlindungan terhadap pekerjaan dan kepentingan rumah Tuhan sebagai prinsip mereka, serta melaksanakan tugas mereka sendiri dengan baik dengan segenap hati dan segenap kekuatan mereka. Lalu, bagaimana orang umumnya bertindak ketika mereka melakukan sesuatu bagi diri mereka sendiri? Mereka berbuat sesuka hati, mendahulukan kepentingan mereka dalam tindakan mereka dan menempatkan kepentingan mereka di atas segalanya. Mereka melakukan apa pun sesuai kepentingan mereka, bertindak sepenuhnya demi memuaskan keinginan daging mereka yang egois tanpa sedikit pun memikirkan keadilan, hati nurani, dan nalar; hal-hal tersebut tidak ada dalam hati mereka. Mereka bertindak hanya berdasarkan watak Iblis mereka dan preferensi mereka, bersiasat di sana-sini, dan hidup berdasarkan falsafah Iblis. Cara hidup macam apa ini? Ini adalah cara hidup Iblis. Ketika mengikuti Tuhan dan melaksanakan tugasnya, orang haruslah bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, dan mereka setidaknya harus memiliki hati nurani serta nalar—mereka harus memiliki standar minimal. Ada orang-orang yang berkata: "Suasana hatiku sedang buruk hari ini, jadi aku ingin bersikap asal-asalan dalam hal ini." Apakah ini cara bertindak dengan hati nurani? (Tidak.) Ketika engkau ingin bersikap asal-asalan, apakah engkau menyadarinya? (Ya.) Adakah saat-saat ketika engkau tidak menyadarinya? (Ya.) Lalu, apakah engkau mampu memeriksa dirimu sendiri dan menyadarinya setelah itu terjadi? (Sedikit.) Setelah engkau menyadari bahwa engkau bersikap asal-asalan, di lain waktu ketika engkau memiliki pemikiran serupa untuk bersikap asal-asalan, apakah engkau mampu memberontak terhadap pemikiran itu dan meluruskannya? (Ketika menyadari pemikiran ini, aku mampu sedikit memberontak terhadapnya.) Setiap kali engkau memberontak terhadap pemikiran dan keinginanmu, akan ada suatu pergumulan, dan jika keinginan egoismu menang di akhir pergumulan ini, berarti engkau sedang sengaja melawan Tuhan, dan itu sangat berbahaya. Misalkan engkau percaya kepada Tuhan selama 10 tahun, dan pada tiga tahun pertama, engkau sekadar menjalani dengan setengah hati dan agak bersemangat, tetapi tiga tahun kemudian, engkau menyadari bahwa dalam percaya kepada Tuhan, orang haruslah menerapkan kebenaran, masuk ke dalam kenyataan kebenaran, dan memberontak terhadap dagingnya. Kemudian, sedikit demi sedikit engkau mulai mengenali kerusakan dan niat jahatmu sendiri serta natur jahat dan natur congkakmu sendiri. Pada saat ini, engkau mulai memiliki pengenalan sejati akan dirimu sendiri—engkau mulai mengetahui esensi rusakmu sendiri, sehingga engkau merasa bahwa menerima kebenaran sangatlah perlu dan sangat penting untuk membereskan watak rusakmu. Hanya pada saat inilah engkau merasa bahwa tidak memiliki kenyataan kebenaran sangatlah menyedihkan. Meskipun setiap kali engkau memperlihatkan watak yang rusak, terjadi pergumulan di dalam hatimu, engkau masih tidak mampu mengatasi keinginan egoismu dan masih bertindak berdasarkan preferensimu sendiri. Sebenarnya, engkau tahu betul bahwa watak Iblis masih menguasai hatimu, dan karenanya sangat sulit bagimu untuk menerapkan kebenaran. Ini membuktikan bahwa engkau sama sekali tidak memiliki kenyataan kebenaran, dan sangat sulit untuk mengatakan apakah engkau dapat memperoleh keselamatan atau tidak. Jika engkau benar-benar memiliki tekad, engkau harus menerapkan kebenaran yang engkau pahami, dan apa pun watak rusak yang menghalangimu ketika engkau menerapkan kebenaran-kebenaran ini, engkau harus selalu berdoa dan mengandalkan Tuhan, mencari kebenaran untuk membereskan watak yang rusak, berani berperang melawannya, dan berani memberontak terhadap dagingmu. Jika engkau memiliki iman seperti ini, engkau akan mampu menerapkan kebenaran. Meskipun sesekali akan ada saat-saat engkau gagal, engkau tidak akan berkecil hati dan akan tetap mampu mengalahkan Iblis dengan berdoa kepada Tuhan dan memandang-Nya. Setelah berperang seperti ini selama beberapa tahun, saat-saat ketika engkau menang atas dagingmu dan menerapkan kebenaran akan bertambah, dan saat-saat ketika engkau gagal akan berkurang secara bertahap. Sekalipun engkau sesekali gagal, engkau tidak akan menjadi negatif dan akan terus berdoa dan memandang kepada Tuhan hingga engkau mampu menerapkan kebenaran. Ini akan berarti ada harapan bagimu, bahwa awan telah terbelah dan engkau dapat melihat langit biru. Selama ada saat-saat ketika engkau berhasil dalam menerapkan kebenaran, ini membuktikan bahwa engkau adalah orang yang memiliki tekad dan memiliki harapan untuk mencapai keselamatan. Orang yang mengejar kebenaran mengalami banyak kegagalan dalam menerapkan kebenaran sebelum mereka akhirnya masuk ke dalam kenyataan kebenaran. Berapa kali pun orang mengalami kegagalan dan betapa pun negatifnya mereka, selama mereka mampu mengandalkan dan memandang kepada Tuhan, mereka pada akhirnya akan mengalami saat-saat ketika mereka berhasil. Sekalipun mereka berulang kali gagal, akan tetap ada harapan bagi mereka asalkan mereka tidak menyerah. Ketika tiba saatnya mereka benar-benar mendapati bahwa mereka mampu menerapkan kebenaran, bertindak berdasarkan prinsip, dan bahwa dalam hal-hal penting—terutama dalam hal melaksanakan tugas—mereka tidak mau berkompromi dengan Iblis, tidak melepaskan tugas mereka, dan tetap teguh dalam kesaksian mereka, maka pasti ada harapan bagi mereka untuk diselamatkan.
Setiap kali orang menerapkan kebenaran, mereka akan mengalami pergumulan di dalam hatinya. Katakan kepada-Ku, adakah orang yang mampu menerapkan kebenaran tanpa mengalami pergumulan? Sama sekali tidak ada. Hanya jika orang telah masuk ke dalam kenyataan kebenaran dan hampir tidak memperlihatkan watak rusak apa pun, barulah mereka pada dasarnya tidak akan menghadapi pergumulan besar. Namun, dalam keadaan khusus dan konteks tertentu, mereka akan tetap mengalami sedikit pergumulan. Dengan kata lain, makin dalam seseorang memahami kebenaran, makin jarang dia mengalami pergumulan, dan makin dangkal seseorang memahami kebenaran, makin banyak pergumulan yang dialaminya. Terutama orang-orang yang baru percaya, pergumulan dalam hati mereka setiap kali menerapkan kebenaran pasti sangat sengit. Mengapa pergumulannya sengit? Pergumulannya sengit karena orang bukan saja memiliki preferensi dan pilihan daging sendiri, tetapi mereka juga memiliki kesulitan nyata, dan terdapat watak-watak rusak yang menghambat mereka. Untuk memahami satu aspek kebenaran, engkau harus bergumul melawan keempat penghalang ini, yang berarti engkau setidaknya harus melewati tiga atau empat penghalang sebelum engkau mampu menerapkan kebenaran. Apakah engkau semua memiliki pengalaman di mana engkau terus berperang melawan watak rusakmu? Ketika engkau perlu untuk menerapkan kebenaran dan melindungi kepentingan rumah Tuhan, mampukah engkau semua mengatasi kekangan dari watak rusakmu dan berpihak pada kebenaran? Contohnya, engkau bekerja sama dengan seseorang untuk melaksanakan pekerjaan pembersihan gereja, tetapi dia selalu mempersekutukan kepada saudara-saudari bahwa Tuhan menyelamatkan manusia semaksimal mungkin, dan bahwa kita harus memperlakukan orang dengan kasih dan memberi mereka kesempatan untuk bertobat. Melalui persekutuannya, engkau menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Meskipun perkataan yang diucapkannya terdengar benar, setelah menganalisisnya secara terperinci, engkau mendapati bahwa dia memiliki niat dan motif tersembunyi, tidak bersedia menyinggung siapa pun, dan tidak ingin melaksanakan pengaturan kerja. Ketika dia menyampaikan persekutuan seperti ini, orang-orang yang memiliki tingkat pertumbuhan yang kecil dan tidak memiliki kemampuan untuk membedakan akan diganggu olehnya. Dia akan secara membabi buta menunjukkan kasih dengan cara yang tidak berprinsip, tidak mengindahkan perlunya mengenali orang lain, dan dia tidak akan menyingkapkan ataupun melaporkan para antikristus, orang-orang jahat, dan pengikut yang bukan orang percaya. Ini adalah penghalang bagi pekerjaan pembersihan gereja. Jika antikristus, orang-orang jahat, dan pengikut yang bukan orang percaya tidak dapat dikeluarkan tepat pada waktunya, hal ini akan memengaruhi umat pilihan Tuhan dalam hal makan dan minum firman-Nya secara normal serta memengaruhi pelaksanaan tugas mereka secara normal, dan terlebih lagi, ini akan mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja, dan dengan demikian merugikan kepentingan rumah Tuhan. Pada saat seperti ini, bagaimana seharusnya engkau melakukan penerapan? Ketika mengetahui masalah ini, engkau harus bangkit untuk menyingkapkan dan menghentikan orang itu, serta melindungi pekerjaan gereja. Mungkin engkau berpikir: "Kami adalah rekan sekerja. Jika aku langsung menyingkapkannya dan dia tidak menerimanya, bukankah kami akan berselisih? Tidak, aku tak boleh angkat bicara begitu saja, aku harus sedikit lebih bijaksana." Jadi, engkau hanya mengingatkan dan menasihatinya dengan beberapa patah kata. Setelah mendengar perkataanmu, dia tidak menerimanya, dan juga menyampaikan sejumlah alasan untuk membantahmu. Ketika engkau melihat dia tidak menerimanya, dan pekerjaan rumah Tuhan akan mengalami kerugian, apa yang harus kaulakukan? Engkau berdoa kepada Tuhan dan berkata: "Tuhan, kumohon tata dan aturlah hal ini. Disiplinkanlah dia—tidak ada lagi yang dapat kulakukan." Engkau merasa bahwa engkau tidak mampu menghentikannya lalu membiarkannya begitu saja. Apakah ini perwujudan sikap yang bertanggung jawab? Sudahkah engkau menerapkan kebenaran? Jika tidak mampu menghentikannya, mengapa engkau tidak melaporkan hal ini kepada para pemimpin dan pekerja? Mengapa engkau tidak membawa masalah ini ke pertemuan dan membiarkan semua orang mempersekutukan dan membahasnya? Jika engkau tidak melakukan hal ini, apakah engkau benar-benar tidak merasa bersalah setelahnya? Jika engkau berkata, "Aku tidak mampu menanganinya, jadi aku akan mengabaikannya saja. Hati nuraniku tidak menuduhku," lalu hati seperti apa yang kaumiliki? Apakah hati yang penuh kasih atau hati yang merugikan orang lain? Hatimu adalah hati yang begitu berniat jahat, karena ketika sesuatu menimpamu, engkau takut menyinggung orang dan tidak menaati prinsip. Sebenarnya, engkau tahu betul bahwa orang ini memiliki motif tersembunyinya sendiri dalam bertindak seperti itu dan bahwa engkau tidak boleh mendengarkannya dalam hal ini. Namun, engkau gagal menaati prinsip dan gagal menghentikannya dari menyesatkan orang lain, dan ini pada akhirnya merugikan kepentingan rumah Tuhan. Akankah engkau merasa bersalah setelah ini? (Ya.) Apakah merasa bersalah memungkinkanmu untuk menebus kerugian itu? Engkau tidak dapat menebus kerugian itu. Setelahnya, engkau berpikir lagi: "Bagaimanapun juga, aku sudah memenuhi tanggung jawabku, dan Tuhan tahu itu. Tuhan memeriksa lubuk hati manusia." Perkataan macam apa ini? Ini adalah perkataan setan yang penuh tipu daya yang berusaha menipu baik manusia maupun Tuhan. Engkau belum memenuhi tanggung jawabmu, dan bahkan mencari alasan dan dalih untuk mengelak dari tanggung jawabmu. Ini adalah perilakumu yang licik dan keras kepala. Apakah orang seperti ini memiliki ketulusan terhadap Tuhan? Apakah mereka memiliki rasa keadilan? (Tidak.) Ini adalah orang yang tidak sedikit pun menerima kebenaran, orang sejenis Iblis. Ketika sesuatu terjadi padamu, engkau hidup berdasarkan falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain; engkau tidak menerapkan kebenaran, dan selalu takut menyinggung orang lain, tetapi tidak takut menyinggung Tuhan, dan bahkan mampu mengorbankan kepentingan rumah Tuhan untuk melindungi hubungan antarpribadimu. Apa akibatnya jika engkau bertindak dengan cara seperti ini? Engkau sudah melindungi hubungan antarpribadimu dengan cukup baik, tetapi engkau telah menyinggung Tuhan, dan Dia akan membenci dan menolakmu, dan akan marah terhadapmu. Manakah yang lebih serius? Jika engkau tidak dapat merasakannya, berarti engkau benar-benar bingung; itu membuktikan bahwa engkau tidak memahami kebenaran sama sekali. Jika engkau terus seperti itu tanpa pernah menyadarinya, bahayanya sangatlah besar. Pada akhirnya, engkau tidak akan mampu memperoleh kebenaran, dan engkaulah yang akan menderita kerugian. Ketika engkau melihat seseorang mengganggu pekerjaan rumah Tuhan, engkau bertindak sebagai penyenang orang dan tidak menjunjung tinggi prinsip-prinsip, dan akibatnya pekerjaan rumah Tuhan tertunda. Pada kesempatan ini engkau tidak mencari kebenaran dan bahkan bertindak sebagai penyenang orang, dan engkau gagal. Jadi, ketika situasi semacam ini terjadi lagi, akankah engkau mampu mencari kebenaran dan tidak bertindak sebagai penyenang orang? Jika engkau tidak pernah mampu mencari kebenaran dan terus hidup berdasarkan falsafah Iblis, itu bukan lagi masalah menderita kerugian—pada akhirnya engkau akan disingkirkan dan dihukum. Jika engkau memiliki niat dan perspektif penyenang orang, maka dalam segala hal, engkau tidak akan menerapkan kebenaran ataupun menjunjung tinggi prinsip, sehingga engkau akan selalu gagal dan jatuh. Jika engkau tidak sadar dan tidak pernah mencari kebenaran, berarti engkau adalah pengikut yang bukan orang percaya, dan engkau tidak akan pernah memperoleh kebenaran dan hidup. Lalu, apa yang harus kaulakukan? Ketika menghadapi hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan rumah Tuhan, engkau harus berdoa kepada Tuhan dan berseru kepada-Nya, memohon agar Dia memberimu iman dan kekuatan, sehingga engkau mampu menjunjung tinggi prinsip, melakukan apa yang seharusnya kaulakukan, menangani segala sesuatu berdasarkan prinsip, berpegang teguh pada pendirian yang seharusnya kaupegang, melindungi kepentingan rumah Tuhan, dan mencegah agar pekerjaan rumah Tuhan tidak mengalami kerugian apa pun. Jika engkau mampu memberontak terhadap kepentingan diri sendiri, gengsimu, dan sudut pandangmu sebagai penyenang orang, dan jika engkau melakukan apa yang harus kaulakukan dengan hati yang jujur dan seutuhnya, engkau akan mengalahkan Iblis dan memperoleh aspek kebenaran ini. Jika engkau selalu bersikeras untuk hidup berdasarkan falsafah Iblis, melindungi hubunganmu dengan orang lain, dan jika engkau tidak pernah dapat menerapkan kebenaran, dan tidak berani menjunjung tinggi prinsip, lalu, akan mampukah engkau menerapkan kebenaran dalam hal-hal lain? Engkau tetap tidak akan memiliki iman atau kekuatan. Jika engkau tidak pernah mencari atau menerima kebenaran, apakah beriman seperti itu kepada Tuhan akan memungkinkanmu untuk memperoleh kebenaran? (Tidak.) Jika engkau tidak mampu memperoleh kebenaran, dapatkah engkau diselamatkan? Tidak. Jika engkau selalu hidup berdasarkan falsafah Iblis, tidak memiliki kenyataan kebenaran sedikit pun, dan masih hidup di bawah kuasa Iblis, engkau pasti tidak akan pernah dapat diselamatkan. Seharusnya engkau mengerti dengan jelas bahwa memperoleh kebenaran adalah syarat yang diperlukan untuk diselamatkan. Jadi, bagaimana agar engkau dapat memperoleh kebenaran? Jika engkau mampu menerapkan kebenaran, jika engkau mampu hidup berdasarkan kebenaran, dan kebenaran menjadi landasan keberadaanmu, maka engkau akan memperoleh kebenaran dan akhirnya memiliki hidup, dan engkau akan menjadi salah seorang dari mereka yang diselamatkan.
Kutipan 38
Ada orang-orang yang begitu kurang memiliki pengetahuan profesional untuk melaksanakan tugas mereka, dan begitu sulit bagi mereka untuk mempelajari apa pun, apakah penyebabnya? Itu karena kualitas mereka buruk. Kebenaran berada di luar jangkauan orang-orang yang kualitasnya sangat rendah, dan tidak mudah bagi mereka untuk belajar. Kebanyakan dari mereka memiliki kekurangan yang fatal; mereka bukan saja tidak berhati nurani atau tidak bernalar, tetapi mereka juga tidak memiliki tempat bagi Tuhan di hati mereka. Mata mereka tampak kosong dan suram, dan mereka dungu, sama seperti binatang. Mereka hanya tahu cara makan, minum, dan bersenang-senang, dan mereka tidak belajar atau memiliki keterampilan apa pun. Mereka belajar segala sesuatu hanya pada taraf yang dangkal, dan menganggap diri mereka telah memahami segala sesuatu padahal mereka hanya memahami permukaannya saja. Ketika orang lain berusaha menjelaskan lebih lanjut, mereka tidak mau mendengarkan, yakin bahwa hal itu tidak perlu. Mereka tidak mendengarkan atau menerima apa pun yang orang lain katakan, dan akibatnya, mereka tak mampu mencapai apa pun dan mereka pada dasarnya tidak berguna. Memiliki kualitas yang buruk pada dasarnya berakibat fatal. Jika orang juga memiliki watak yang buruk, sangat tidak bermoral, menolak untuk dinasihati, tidak dapat menerima hal-hal positif, serta tidak bersedia belajar dan menerima hal-hal baru, maka orang semacam itu tidak berguna! Mereka yang melaksanakan tugasnya harus memiliki hati nurani dan nalar, mengetahui kapasitas mereka sendiri dan apa saja kekurangan mereka, serta memahami apa yang kurang pada diri mereka dan apa yang perlu mereka perbaiki. Mereka harus selalu merasa bahwa mereka sangat banyak kekurangan, dan bahwa jika mereka tidak belajar dan menerima hal-hal baru, mereka akan disingkirkan. Dengan adanya rasa krisis yang mengancam di dalam hati mereka ini, mereka akan menemukan motivasi dan kesediaan untuk belajar. Pertama, orang harus memperlengkapi diri mereka dengan lebih banyak kebenaran, dan kedua, mereka harus memperoleh lebih banyak pengetahuan profesional yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas mereka. Dengan menerapkan seperti ini, mereka akan mengalami kemajuan, dan pelaksanaan tugas mereka akan membuahkan hasil yang baik. Hanya dengan melaksanakan tugas dengan baik dan hidup dalam keserupaan dengan manusia, barulah hidup orang memiliki nilai; dengan demikian, melaksanakan tugas adalah hal yang paling bermakna bagi manusia. Beberapa orang memiliki watak yang buruk; mereka bukan saja bodoh, melainkan juga sangat congkak. Mereka selalu berpikir bahwa mencari dalam segala hal dan selalu mendengarkan orang lain akan membuat orang lain memandang rendah mereka dan membuat mereka kehilangan muka, bahwa berperilaku seperti itu berarti mereka tidak memiliki martabat. Sebenarnya, justru sebaliknya. Bersikap congkak dan merasa diri benar, tidak mempelajari apa pun, tertinggal dan ketinggalan zaman di segala bidang, serta kurang memiliki pengetahuan langsung, ide, dan wawasan, itulah yang benar-benar membuat mereka kehilangan muka. Saat itulah seseorang benar-benar kehilangan integritas dan martabat. Ada orang-orang yang hanya memiliki pemahaman yang dangkal tentang segala sesuatu yang mereka pelajari, dan merasa puas setelah sekadar memahami beberapa doktrin, menganggap diri mereka kompeten. Namun pada akhirnya, mereka tetap tidak dapat mencapai apa pun; mereka sama sekali tidak membuahkan hasil. Jika engkau mengatakan bahwa mereka tidak memahami apa pun dan tidak mencapai apa pun, mereka menolak untuk menerimanya dan terus berdebat. Bukankah mereka orang bodoh? Tidak mampu menangani tugas apa pun dengan baik, bukankah mereka tidak berguna? Bukankah mereka itu orang yang sama sekali tidak ada gunanya? Orang-orang dengan kualitas yang sangat buruk tidak mampu menangani tugas yang paling sederhana sekalipun. Mereka adalah orang-orang yang tidak berguna dan hidup mereka sama sekali tidak memiliki nilai. Ada orang-orang yang berkata, "Aku dibesarkan di pedesaan. Aku tidak berpendidikan dan tidak berpengetahuan, dan kualitasku buruk, tidak seperti kalian penduduk kota; kalian berpendidikan dan berpengetahuan, jadi kalian dapat melakukan segala sesuatu dengan baik." Apakah pernyataan ini benar? (Tidak.) Apa yang salah dari pernyataan itu? (Apakah seseorang dapat mencapai sesuatu atau tidak, tidak ada hubungannya dengan lingkungan tempat tinggalnya; itu terutama bergantung pada apakah dia berupaya untuk belajar dan berjuang untuk maju.) Cara Tuhan memperlakukan manusia tidak didasarkan pada seberapa tinggi pendidikan mereka, atau di lingkungan seperti apa mereka dilahirkan, atau seberapa berbakatnya mereka. Sebaliknya, Dia memperlakukan orang berdasarkan sikap mereka terhadap kebenaran. Apa saja yang tercakup dalam sikap ini? Itu mencakup kemanusiaan orang, dan juga watak mereka. Dalam kepercayaan kepada Tuhan, engkau harus mampu memperlakukan kebenaran dengan benar. Jika engkau memiliki sikap kerendahhatian dan penerimaan terhadap kebenaran, maka sekalipun kualitasmu agak buruk, Tuhan akan tetap mencerahkanmu dan memungkinkanmu untuk memperoleh sesuatu. Jika kualitasmu baik tetapi engkau selalu congkak dan merasa diri benar, berpikir bahwa apa pun yang kaukatakan adalah benar dan apa pun yang orang lain katakan adalah salah, menolak saran apa pun yang diajukan orang lain, dan bahkan menolak untuk menerima kebenaran dengan cara apa pun kebenaran itu dipersekutukan, selalu menentangnya, maka dapatkah orang sepertimu memperoleh perkenan Tuhan? Akankah Roh Kudus bekerja dalam diri orang semacam itu? Tuhan tidak akan bekerja dalam diri mereka. Tuhan akan mengatakan bahwa engkau memiliki watak yang buruk serta tidak layak menerima pencerahan-Nya, dan jika engkau tidak bertobat, Dia bahkan akan mengambil apa yang pada mulanya adalah milikmu. Dengan cara ini, engkau akan disingkapkan. Orang-orang seperti ini menjalani kehidupan yang menyedihkan. Mereka jelas bukan siapa-siapa, dan tidak cakap di segala bidang, tetapi mereka tetap berpikir bahwa mereka cukup baik, dan lebih baik daripada orang lain dalam segala hal. Mereka tidak pernah membicarakan titik lemah atau kekurangan mereka di depan orang lain, ataupun kelemahan dan kenegatifan mereka. Mereka selalu berusaha untuk terlihat mengesankan dan memberi orang lain kesan yang salah, membuat orang lain berpikir bahwa mereka cakap dalam segala hal, tidak memiliki kelemahan, tidak membutuhkan bantuan apa pun, tidak perlu mempertimbangkan pendapat orang lain, dan tidak perlu meminjam dari kelebihan orang lain untuk melengkapi kekurangan mereka sendiri, dan bahwa mereka akan selalu lebih baik daripada semua orang lainnya. Watak macam apa ini? (Watak yang congkak.) Mereka terlalu congkak. Orang-orang seperti ini menjalani kehidupan yang menyedihkan! Sebenarnya, apakah mereka benar-benar mampu? Dapatkah mereka benar-benar mencapai sesuatu? Mereka mengacaukan banyak hal di masa lalu, tetapi orang-orang seperti ini tetap berpikir bahwa mereka cakap dalam segala hal. Bukankah mereka sama sekali tidak bernalar? Ketika orang tidak memiliki nalar hingga mencapai taraf seperti ini, mereka hanyalah orang yang bingung. Orang-orang semacam itu tidak mempelajari hal-hal baru atau menerima hal-hal baru. Di dalam hatinya, mereka sangat kering secara rohani, berpikiran sempit, dan miskin, serta seperti apa pun situasinya, mereka gagal memahami dan menangkap prinsip-prinsip atau memahami maksud Tuhan. Mereka hanya tahu berpegang pada aturan, dan mengucapkan kata-kata dan doktrin serta pamer di depan orang lain. Akibatnya, mereka tidak memahami kebenaran apa pun. Mereka tidak memiliki kenyataan kebenaran sedikit pun, tetapi mereka sebenarnya sangat congkak. Mereka hanyalah orang yang bingung, dan sama sekali tidak bernalar. Mereka hanya dapat disingkirkan.
Biasanya, ketika engkau semua bekerja sama dengan orang lain dalam tugasmu, apakah engkau mampu bersikap terbuka terhadap perbedaan pendapat? Apakah engkau semua bisa membiarkan orang lain berbicara? (Aku bisa melakukannya sedikit. Sebelumnya, aku sering tidak bersedia mendengarkan saran dari saudara-saudari, dan bersikeras melakukan segala sesuatu dengan caraku sendiri. Baru belakangan, ketika fakta membuktikan bahwa aku salah, aku melihat bahwa sebagian besar saran mereka benar, bahwa satu-satunya penyelesaian yang tepat adalah saran yang disetujui semua orang, dan bahwa pandanganku sendiri tidak akurat dan kurang. Setelah mengalami hal ini, aku menyadari betapa pentingnya kerja sama yang harmonis.) Apa yang kaulihat dari hal ini? Setelah mengalami hal ini, apakah engkau mendapat manfaat dan memahami kebenaran? Katakan kepada-Ku, adakah orang yang sempurna? Sekalipun seseorang sangat kuat, dan dia mampu serta berbakat, dia tetap tidak sempurna. Ini adalah fakta. Orang harus memiliki pemahaman ini, dan inilah sikap yang benar yang seharusnya orang miliki terhadap kelebihan dan keunggulan serta kelemahan mereka sendiri; ini adalah rasionalitas yang seharusnya orang miliki. Jika engkau memiliki rasionalitas ini, engkau akan dapat memperlakukan kelebihan dan kelemahanmu sendiri dengan benar, serta kelebihan dan kelemahan orang lain, dan dengan demikian, engkau akan mampu bekerja sama dengan orang lain secara harmonis. Jika engkau memahami aspek kebenaran ini dan dapat masuk ke dalam aspek kenyataan kebenaran ini, engkau akan dapat bergaul dengan rukun bersama saudara-saudari, dan belajar dari kelebihan mereka untuk mengimbangi kelemahanmu. Dengan cara ini, apa pun tugas yang sedang kaulaksanakan atau apa pun yang sedang kaulakukan, engkau akan menjadi lebih baik dalam hal itu dan engkau akan memperoleh berkat Tuhan. Jika engkau selalu berpikir bahwa engkau cukup hebat dan orang lain tidak sebaik dirimu, dan engkau selalu ingin menjadi penentu keputusan, ini akan menyusahkan. Ini adalah masalah watak. Bukankah orang-orang semacam itu congkak dan merasa diri benar? Misalkan seseorang mengatakan sesuatu yang benar, tetapi engkau berpikir bahwa jika engkau menerima saran mereka, mereka mungkin akan memandang rendah dirimu, menganggapmu tidak sebaik mereka. Jadi, engkau memutuskan untuk tidak mendengarkan mereka, dan memikirkan segala cara untuk mengungguli mereka dengan perkataan yang muluk-muluk dan terdengar hebat, sehingga mereka akan sangat menghormatimu. Jika engkau selalu bergaul dengan orang-orang lewat cara seperti ini, akankah engkau mampu mencapai kerja sama yang harmonis? Engkau bukan saja akan gagal mencapainya, melainkan juga akan ada dampak buruknya. Seiring berjalannya waktu, semua orang akan berpikir bahwa engkau terlalu licik dan curang, seseorang yang sulit dipahami. Engkau tidak menerapkan kebenaran, dan engkau bukanlah orang yang jujur, sehingga orang lain akan merasa muak terhadapmu. Jika semua orang merasa muak terhadapmu, bukankah ini berarti mereka menolakmu? Katakan kepada-Ku, jika ada seseorang yang bahkan ditolak oleh orang-orang, bagaimana Tuhan akan memperlakukan orang tersebut? Tuhan juga membencinya. Mengapa Dia membencinya? Meskipun dia tulus dalam melaksanakan tugasnya, caranya melakukan segala sesuatu itulah yang dibenci Tuhan. Watak yang dia perlihatkan dan setiap pemikiran, ide, dan niatnya adalah jahat di mata Tuhan; Dia menganggapnya menjijikkan dan memuakkan. Ketika orang selalu menggunakan taktik tercela dalam perkataan dan tindakan mereka dengan tujuan untuk membuat orang lain menghormati mereka, pendekatan seperti ini dibenci oleh Tuhan.
Ketika orang melaksanakan tugas mereka atau pekerjaan apa pun di hadapan Tuhan, hati mereka harus murni, seperti semangkuk air segar—sangat jernih, tanpa kotoran. Jadi, pola pikir seperti apakah yang benar? Yaitu, apa pun yang sedang kaulakukan, engkau mampu bersekutu dengan semua orang tentang apa pun yang sedang kaupikirkan dan ide apa pun yang kaumiliki. Jika seseorang mengatakan bahwa cara berpikirmu tidak dapat diterapkan, dan mereka menawarkan ide lain, yang kaurasa cukup bagus, maka engkau menyangkal dirimu sendiri, dan menerapkannya sesuai dengan apa yang mereka katakan. Dengan menerapkan seperti ini, semua orang melihat bahwa engkau adalah seseorang yang dapat menerima saran orang lain dan memilih jalan yang benar, dan bahwa tindakanmu berprinsip, transparan, serta sepenuhnya jelas dan tidak disembunyikan. Tidak ada kegelapan di dalam hatimu, dan dalam tindakan serta perkataanmu, engkau berpegang teguh pada ketulusan dan sikap yang jujur. Engkau mengatakan apa adanya—ya berarti ya, dan tidak berarti tidak. Engkau tidak menggunakan tipu muslihat dan engkau tidak menyembunyikan apa pun, engkau sepenuhnya transparan. Bukankah itu sikap yang jujur? Inilah sikap yang seharusnya orang miliki terhadap orang, peristiwa, dan hal-hal, dan ini merepresentasikan watak orang semacam itu. Di sisi lain, orang mungkin tidak pernah terbuka atau mengomunikasikan apa yang mereka pikirkan dengan orang lain. Mereka tidak mendiskusikan apa pun yang mereka lakukan dengan orang lain; hati mereka selalu tertutup terhadap orang lain, dan mereka tampaknya waspada terhadap orang lain di setiap kesempatan, menyembunyikan diri mereka rapat-rapat. Bukankah orang seperti ini sangat licik? Sebagai contoh, mereka memiliki ide yang mereka rasa cemerlang, dan berpikir, "Aku tidak boleh memberi tahu siapa pun tentang ide cemerlang ini. Jika aku membagikannya, orang lain dapat menggunakannya dan dengan demikian mencuri kesempatanku untuk menjadi pusat perhatian. Aku akan menahannya untuk saat ini." Atau jika ada sesuatu yang tidak dapat mereka pahami, mereka berpikir: "Aku tidak akan angkat bicara sekarang. Bagaimana jika aku angkat bicara, lalu orang lain mengatakan sesuatu yang lebih baik, bukankah aku akan terlihat seperti orang bodoh? Semua orang akan melihat orang seperti apa aku sebenarnya, dan melihat kekuranganku dalam hal ini. Jadi, aku tidak seharusnya mengatakan apa pun." Apa pun pertimbangan dan niat mereka, mereka takut orang lain akan mengetahui diri mereka yang sebenarnya. Mereka selalu memperlakukan tugas mereka serta orang, peristiwa, dan hal-hal dengan sudut pandang dan sikap seperti ini. Watak macam apa ini? Watak yang bengkok, licik, dan jahat. Di luarnya, mereka telah mengatakan kepada orang lain semua yang mereka pikir dapat mereka katakan, tetapi di dalam dirinya, mereka menahan beberapa hal. Apa yang mereka tahan? Hal-hal yang berkaitan dengan harga diri dan kepentingan mereka. Mereka menganggap hal-hal ini bersifat pribadi dan mereka tidak boleh membicarakannya, dengan siapa pun, bahkan dengan orang tua mereka. Mereka merasa bahwa mereka sama sekali tidak boleh mengatakan hal-hal ini. Ini menyusahkan! Menurutmu jika engkau tidak membicarakan hal-hal ini, Tuhan tidak akan mengetahuinya? Orang-orang mengatakan bahwa Tuhan tahu, tetapi dapatkah mereka yakin di dalam hati mereka bahwa memang demikian? Orang tidak pernah memiliki kesadaran ini: "Tuhan tahu tentang semua ini. Apa pun yang kupikirkan di dalam hati, sekalipun aku belum memperlihatkannya, Tuhan memeriksanya secara rahasia. Dia pasti mengetahuinya. Aku tidak dapat menyembunyikan segala sesuatu dari Tuhan. Oleh karena itu, aku harus membicarakan masalah ini, aku harus mempersekutukannya secara terbuka dengan saudara-saudari. Entah pemikiran dan ide-ideku baik atau buruk, aku harus mengatakannya dengan jujur. Aku tidak boleh menjadi orang yang bengkok, licik, egois, atau tercela—aku harus menjadi orang yang jujur." Jika orang mampu berpikir seperti ini, ini adalah pola pikir yang benar. Bukannya mencari kebenaran, kebanyakan orang malah menggunakan tipu muslihat kecil. Mereka sangat mementingkan kepentingan mereka sendiri, harga diri, dan tempat atau kedudukan mereka dalam pikiran orang lain. Hanya hal-hal inilah yang mereka hargai. Mereka berpaut pada hal-hal ini sekuat tenaga dan menganggapnya sebagai nyawa mereka sendiri—mengenai bagaimana Tuhan memandang dan memperlakukan hal-hal ini, mereka tidak memedulikannya; mereka pertama-tama mempertimbangkan apakah mereka adalah pemimpin dalam kelompok itu, apakah mereka bisa mengamankan posisi di mana mereka sangat dihormati oleh orang lain, dan apakah ada orang yang mendengarkan apa yang mereka katakan. Mereka pertama-tama berusaha menduduki posisi itu. Hampir semua orang, ketika mereka berada dalam sebuah kelompok, mencari posisi semacam ini, mencari kesempatan semacam ini. Jika mereka sangat cakap, tentu saja mereka berusaha menduduki posisi teratas. Jika mereka hanya rata-rata, mereka tetap berusaha memegang posisi yang menonjol dalam kelompok. Jika mereka adalah bagian dari kalangan bawah dalam kelompok, yang memiliki kualitas dan kemampuan rata-rata, mereka juga berusaha membuat orang lain menghormati mereka; mereka tidak bisa membiarkan orang lain memandang rendah mereka. Harga diri dan martabat orang-orang ini adalah pertahanan terakhir mereka; mereka berpikir mereka harus berpegang pada hal-hal ini. Sekalipun mereka kehilangan integritas mereka, atau Tuhan tidak berkenan kepada mereka dan tidak mengakui mereka, mereka tetap harus berjuang demi harga diri dan status mereka; mereka harus menghindarkan diri mereka dipermalukan dengan segala cara. Ini adalah watak Iblis. Namun, mereka tidak menyadari hal ini. Mereka berpikir mereka tidak boleh kehilangan sedikit harga diri yang tersisa. Mereka tidak tahu bahwa hanya ketika hal-hal yang dangkal ini sepenuhnya dilepaskan dan ditinggalkan, barulah mereka akan menjadi manusia sejati, dan bahwa jika mereka menjaga hal-hal yang seharusnya dibuang ini seperti hidup mereka sendiri, nyawa mereka akan hilang. Mereka sama sekali tidak tahu apa yang dipertaruhkan. Karena itu, dalam apa pun yang mereka lakukan, mereka selalu menahan sesuatu, mereka selalu bertindak demi melindungi harga diri dan status mereka sendiri, dan mereka memprioritaskan hal-hal ini. Mereka berbicara dan membuat argumen yang keliru hanya demi diri mereka sendiri—mereka akan melakukan apa pun untuk diri mereka sendiri. Mereka bergegas untuk berpartisipasi dalam apa pun yang akan membuat mereka terlihat baik, ingin orang lain tahu tentang keterlibatan mereka di dalamnya. Hal itu mungkin sebenarnya tidak ada hubungannya dengan mereka, tetapi mereka tidak pernah ingin tertinggal, mereka selalu takut orang lain akan memandang rendah mereka, mereka selalu takut orang lain akan mengatakan bahwa mereka bukan siapa-siapa, bahwa mereka tidak mampu melakukan apa pun, bahwa mereka tidak memiliki keterampilan. Bukankah ini semua didorong oleh watak Iblis? Ketika engkau mampu melepaskan hal-hal seperti harga diri dan status, engkau akan menjadi jauh lebih santai dan lebih bebas; engkau akan melangkah di jalan untuk menjadi orang yang jujur. Namun bagi banyak orang, ini tidak mudah untuk dicapai. Ketika orang menemukan sesuatu yang memungkinkan mereka untuk menjadi pusat perhatian, misalnya, mereka semua berebut ke depan; mereka suka menjadi pusat perhatian, makin sering mereka berada di dalamnya makin baik; mereka takut tidak cukup menjadi pusat perhatian, dan akan membayar harga berapa pun untuk kesempatan untuk menjadi pusat perhatian. Bukankah ini semua didorong oleh watak Iblis? Ini adalah watak Iblis. Jadi engkau menjadi pusat perhatian, lalu apa? Orang-orang mengagumimu, memangnya kenapa? Mereka mengidolakanmu, lalu? Dapatkah ini membuktikan bahwa engkau memiliki kenyataan kebenaran? Tidak ada nilai apa pun dalam hal ini. Ketika engkau dapat mengatasi harga diri, kesombongan, status, dan rasa hormat orang lain, ketika engkau menjadi acuh tak acuh terhadap hal-hal ini, dan tidak lagi menganggapnya begitu penting, dan hal-hal ini tidak lagi memengaruhi pemikiran dan perilakumu, apalagi caramu melaksanakan tugasmu, maka hasil yang kaudapatkan dalam tugasmu akan terus membaik, dan akan makin sedikit ketidakmurnian dalam pelaksanaan tugasmu.
Kutipan 39
Ada orang-orang yang tidak pernah melaksanakan tugas mereka dengan sikap membumi. Sebaliknya, mereka selalu mencari hal-hal baru untuk membuat diri mereka menonjol dan mengutarakan gagasan yang terdengar muluk-muluk. Apakah ini hal yang baik? Dapatkah mereka bekerja sama secara harmonis dengan orang lain? (Tidak.) Jika orang mengutarakan pandangan yang terdengar muluk-muluk, watak macam apakah ini? (Ini adalah watak yang congkak dan merasa diri benar.) Ini adalah watak yang congkak dan merasa diri benar. Apa natur dari tindakan mereka? (Mereka berusaha menjadi independen, ingin menonjol, ingin membuat kelompok mereka sendiri.) Membuat kelompok sendiri berarti mereka ingin membuat orang lain menaati mereka dan tidak bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Niat dan tujuan mereka adalah menjadi independen dan menonjol, jadi apa yang mereka lakukan mengandung sesuatu yang mengganggu ketertiban. Apa yang dimaksud dengan mengganggu ketertiban? Maksudnya adalah menimbulkan kehancuran, dan sifatnya mengganggu dan mengacaukan. Biasanya, sebagian besar masalah dapat diselesaikan melalui persekutuan dan diskusi kelompok, di mana sebagian besar keputusan diambil sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, serta benar dan tepat. Namun, ada orang-orang yang terus-menerus menolak kesepakatan ini. Bukan saja tidak mau mencari kebenaran, mereka juga mengabaikan kepentingan rumah Tuhan. Mereka mengutarakan secara terperinci teori-teori yang aneh untuk menonjolkan diri mereka sendiri dan membuat orang lain menghargai mereka. Mereka ingin menentang keputusan tepat yang telah diambil dan menyanggah pilihan yang telah disetujui semua orang. Inilah yang dimaksud dengan mengganggu ketertiban dan menyebabkan kehancuran, untuk menciptakan gangguan dan kekacauan. Inilah esensi dari mengutarakan gagasan yang terdengar muluk-muluk. Jadi, apa masalahnya dengan perilaku yang seperti ini? Pertama, mereka memperlihatkan watak yang rusak, dan sama sekali tidak ada ketundukan. Selain itu, orang-orang yang menuruti kehendaknya sendiri ini selalu ingin menonjol dan membuat semua orang menghargai mereka, dan akibatnya, mereka mengganggu dan mengacaukan pekerjaan gereja. Tanpa kebenaran, mereka tidak mampu memahami yang sebenarnya dari berbagai hal, tetapi mereka malah terus mengutarakan gagasan yang terdengar muluk-muluk untuk memamerkan diri, dan sama sekali tidak mencari kebenaran. Bukankah ini bertindak semaunya dan ceroboh? Agar dapat melaksanakan tugas dengan baik, belajar bekerja sama dengan orang lain sangatlah penting. Diskusi di antara dua orang selalu menghasilkan sudut pandang yang lebih menyeluruh dan akurat dibandingkan pandangan satu orang saja. Jika orang selalu ingin bertindak tanpa mengikuti aturan atau terbiasa mengutarakan gagasan yang terdengar muluk-muluk untuk membuat semua orang mengikuti mereka, ini berbahaya, ini berarti menempuh jalannya sendiri. Ketika mengerjakan sesuatu, kita harus selalu berdiskusi dengan orang lain dan mendengarkan pendapat orang lain terlebih dahulu. Jika pendapat sebagian besar orang sesuai dengan kebenaran, engkau harus menerima dan menaatinya. Apa pun yang kaulakukan, jangan mengutarakan gagasan yang terdengar muluk-muluk. Melakukan hal seperti itu di dalam kelompok apa pun bukanlah hal yang baik. Ketika engkau mengutarakan gagasan yang terdengar muluk-muluk, jika itu sesuai dengan prinsip kebenaran dan sebagian besar orang menyetujuinya, itu mungkin dianggap berterima. Namun, jika itu bertentangan dengan prinsip kebenaran dan merugikan pekerjaan gereja, engkau harus bertanggung jawab dan menanggung akibat perbuatanmu. Selain itu, mengutarakan gagasan yang terdengar muluk-muluk adalah masalah watak. Itu membuktikan bahwa engkau tidak memiliki kenyataan kebenaran, dan sebaliknya, engkau masih hidup berdasarkan watak rusakmu. Ketika engkau melontarkan pandangan yang terdengar muluk-muluk, engkau sedang berusaha memimpin orang lain, menjadi pemegang kendali, dan engkau juga sedang berusaha menonjolkan diri, dan membangun wilayah kekuasaanmu sendiri; engkau ingin membuat semua umat Tuhan mendengarkanmu, mengikutimu, dan menaatimu. Ini berarti engkau sedang menempuh jalan antikristus. Yakinkah engkau bahwa engkau mampu membimbing umat pilihan Tuhan untuk masuk ke dalam kenyataan kebenaran? Mampukah engkau menuntun mereka untuk masuk ke dalam kerajaan Tuhan? Engkau sendiri tidak memiliki kebenaran, dan mampu melakukan hal-hal yang menentang dan mengkhianati Tuhan—jika engkau masih ingin memimpin umat pilihan Tuhan ke jalan ini, bukankah engkau telah menjadi orang yang paling berdosa? Paulus menjadi orang yang paling berdosa, dan masih menanggung hukuman Tuhan. Jika engkau menempuh jalan antikristus, engkau sedang menempuh jalan Paulus, dan akibat serta kesudahan akhirmu tidak akan berbeda dari kesudahan Paulus. Oleh karena itu, mereka yang percaya dan mengikuti Tuhan tidak boleh melontarkan gagasan yang muluk-muluk. Sebaliknya, mereka harus belajar untuk mencari kebenaran, menerimanya, dan tunduk pada kebenaran dan kepada Tuhan. Hanya dengan melakukannya, barulah mereka dapat memastikan bahwa mereka tidak menempuh jalan mereka sendiri, dan mereka mampu mengikuti Tuhan tanpa menyimpang ke arah mana pun. Rumah Tuhan menuntut orang untuk bekerja sama secara harmonis dalam pelaksanaan tugas mereka. Hal ini bermakna, dan juga merupakan jalan penerapan yang benar. Di gereja, mungkin saja pencerahan dan bimbingan Roh Kudus diberikan kepada siapa pun yang memahami kebenaran dan yang memiliki kemampuan untuk memahami. Engkau harus memanfaatkan pencerahan dan penerangan Roh Kudus, mengikutinya dengan saksama dan bekerja sama secara erat dengannya. Dengan melakukannya, engkau akan menempuh jalan yang paling benar; ini adalah jalan yang dibimbing oleh Roh Kudus. Perhatikan dengan saksama bagaimana cara Roh Kudus bekerja dan membimbing orang dalam diri mereka. Engkau harus sering bersekutu dengan orang lain, memberi saran dan mengungkapkan pandanganmu sendiri—ini adalah tugasmu dan kebebasanmu. Namun, pada akhirnya, ketika keputusan harus dibuat, jika hanya engkau sendiri yang menjadi penentu keputusan, memaksa semua orang untuk menuruti perkataanmu dan mengikuti keinginanmu berarti engkau sedang melanggar prinsip. Engkau harus menentukan pilihan yang tepat berdasarkan pendapat kebanyakan orang, dan baru setelah itu mengambil keputusan. Jika saran mayoritas orang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, engkau harus berpaut pada kebenaran. Hanya ini yang sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Jika engkau selalu melontarkan pandangan yang terdengar muluk-muluk, berusaha menguraikan teori-teori yang rumit untuk membuat orang lain terkesan, sekalipun engkau sebenarnya merasa di dalam hatimu bahwa tindakan itu salah, maka jangan memaksa dirimu untuk menjadi pusat perhatian. Inikah tugas yang harus kaulaksanakan? Apa sebenarnya tugasmu? (Berusaha dengan segenap kemampuanku untuk melaksanakan tugas yang sudah seharusnya kulaksanakan, dan hanya membicarakan apa yang kupahami. Jika aku tidak memiliki pendapat sendiri, aku harus belajar untuk lebih banyak mendengarkan saran orang lain, membedakan dengan bijak, dan mencapai titik di mana aku mampu bekerja sama secara harmonis dengan semua orang.) Jika tidak ada yang kaupahami dan engkau tidak punya pendapat, belajarlah untuk mendengarkan, menaati, dan mencari kebenaran. Inilah tugas yang seharusnya kaulaksanakan; ini berarti berperilaku baik dalam bersikap. Jika engkau tidak punya pendapat sendiri dan selalu takut terlihat bodoh, takut tak dapat menonjolkan diri, dan takut dipermalukan—jika engkau takut diremehkan orang lain dan tidak memiliki tempat di hati mereka, sehingga engkau selalu berusaha memaksakan dirimu untuk menjadi pusat perhatian dan selalu ingin melontarkan gagasan yang terdengar muluk-muluk, mengemukakan pernyataan konyol yang tidak sesuai dengan kenyataan, yang kauingin diterima orang—apakah itu berarti engkau sedang melaksanakan tugasmu? (Tidak.) Apa yang sedang kaulakukan? Engkau sedang bersikap merusak. Saat engkau semua melihat ada orang yang terus-menerus bertindak dengan cara seperti ini, engkau harus menetapkan batasan terhadap mereka. Dan bagaimana caramu menetapkan batasan? Engkau tidak perlu membungkam mereka, atau sama sekali tidak memberi mereka kesempatan untuk berbicara. Biarkan mereka menyampaikan persekutuan, dan mereka tidak boleh dikucilkan. Namun, semua orang di sekitar orang itu harus memiliki kemampuan untuk membedakan. Inilah prinsipnya. Sebagai contoh, jika ada seseorang yang mengemukakan sudut pandang yang keliru, yang sepenuhnya sesuai dengan gagasan dan imajinasi manusia, dan mayoritas orang mendukung dan setuju dengan orang tersebut, tetapi ada beberapa orang, yang memiliki sedikit kemampuan untuk membedakan, yang mampu mendeteksi bahwa sudut pandang orang itu telah dicemari oleh kehendak, ambisi, serta keinginannya sendiri, maka orang-orang ini harus menyingkapkan orang tersebut, dan memintanya untuk merenungkan dan mengenal dirinya sendiri. Inilah cara yang benar untuk memperlakukan orang tersebut. Jika tak seorang pun memiliki kemampuan untuk membedakan atau menyuarakan pendapatnya, dan semua orang hanya ingin menjadi penyenang orang, maka pasti akan ada orang-orang yang akan menjilat, menyetujui, dan mendukung orang tersebut, sehingga memperkuat ambisi dan keinginan orang itu. Lalu, orang itu akan mulai benar-benar mendapatkan kekuasaan di dalam gereja. Ini akan menjadi hal yang berbahaya, karena orang itu akan bergabung dengan orang-orang yang mendukungnya, membangun kekuatan mereka sendiri, melakukan kejahatan, dan mengganggu pekerjaan gereja. Dengan cara demikian, mereka telah menempuh jalan antikristus. Setelah mereka menguasai gereja, mereka akan menjadi antikristus dan mulai mendirikan kerajaan mereka sendiri.
Kutipan 40
Ketika sesuatu terjadi, semua orang harus lebih banyak berdoa bersama-sama dan memiliki hati yang takut akan Tuhan. Orang sama sekali tidak boleh mengandalkan ide-ide mereka sendiri untuk bertindak sembarangan. Asalkan orang sepikir dan sehati dalam berdoa kepada Tuhan dan mencari kebenaran, mereka akan mampu memperoleh pencerahan dan penerangan dari pekerjaan Roh Kudus, dan mereka akan dapat memperoleh berkat-berkat Tuhan. Apa yang Tuhan Yesus katakan? ("Jika dua orang di antara kalian di bumi sepakat mengenai apa pun yang hendak mereka minta, itu akan dikabulkan untuk mereka oleh Bapa-Ku yang ada di surga. Karena di mana dua atau tiga orang berkumpul bersama dalam nama-Ku, di situlah Aku ada di tengah-tengah mereka" (Matius 18:19-20).) Hal apa yang digambarkan oleh ayat ini? Ayat ini memperlihatkan bahwa manusia tidak dapat terpisah dari Tuhan, manusia harus mengandalkan Tuhan, manusia tidak dapat berjalan seorang diri, dan manusia tidak boleh menempuh jalannya sendiri. Apa yang dimaksud ketika kita berkata bahwa manusia tidak dapat berjalan seorang diri? Artinya, orang harus bekerja sama secara harmonis, melakukan segala sesuatu dengan sehati dan sepikir, dan memiliki tujuan yang sama. Dalam bahasa sehari-hari, dapat dikatakan bahwa "seikat lidi sulit untuk dipatahkan". Jadi, bagaimana engkau bisa menjadi seperti seikat lidi? Engkau harus bekerja sama secara harmonis, sehati dan sepikir, dan setelah itu Roh Kudus akan bekerja. Jika setiap orang menyembunyikan rahasianya sendiri, memikirkan kepentingannya sendiri, dan tak seorang pun bertanggung jawab atas pekerjaan gereja, setiap orang ingin cuci tangan dalam hal ini, tak ada yang mau memimpin, mengerahkan upaya, atau menderita dan membayar harga untuknya, akankah Roh Kudus melakukan pekerjaan-Nya? (Tidak.) Mengapa tidak? Ketika orang hidup dalam keadaan yang salah, dan tidak berdoa kepada Tuhan atau mencari kebenaran, Roh Kudus akan meninggalkan mereka dan mereka tidak akan merasakan hadirat Tuhan. Roh Kudus bekerja dalam diri mereka yang mendambakan kebenaran dan secara proaktif mencarinya—bagaimana mungkin mereka yang tidak mencari kebenaran memiliki pekerjaan Roh Kudus? Ketika Tuhan membenci seseorang, Dia menyembunyikan wajah-Nya dari orang tersebut, dan Roh Kudus tidak bekerja dalam dirinya. Begitu Tuhan telah mengesampingkanmu, bukankah engkau sudah tamat? Apa yang dapat kaucapai seorang diri? Engkau tidak akan mencapai apa pun. Mengapa orang tidak percaya mengalami begitu banyak kesulitan dalam melakukan segala sesuatu? Bukankah karena mereka masing-masing menyembunyikan niat mereka? Dalam segala hal yang mereka lakukan, mereka memiliki niat egois mereka sendiri dan selalu memikirkan kepentingan mereka sendiri terlebih dahulu. Mereka saling iri dan bersaing satu sama lain, dan bersiasat di belakang satu sama lain, sama sekali tidak mampu sehati sepikir atau saling membantu. Itulah sebabnya orang tidak percaya tidak dapat mencapai apa pun bersama-sama; bahkan tugas yang paling sederhana pun membutuhkan upaya yang sangat besar. Seperti inilah rasanya hidup di bawah kuasa Iblis. Jika engkau semua melakukan segala sesuatu seperti yang dilakukan orang tidak percaya, lalu apa bedanya engkau dengan mereka? Tidak ada bedanya sama sekali. Jika mereka yang tidak memiliki kebenaran memegang kekuasaan di gereja, yaitu, jika mereka yang dipenuhi dengan watak Iblis memegang kekuasaan, bukankah sebenarnya Iblis yang memegang kekuasaan? Jika semua tindakan orang-orang yang memegang kekuasaan di gereja bertentangan dengan kebenaran, Roh Kudus akan berhenti bekerja di dalam diri mereka, dan Tuhan akan menyerahkan mereka kepada Iblis. Begitu berada di tangan Iblis, segala bentuk keburukan—misalnya, kecemburuan dan perselisihan—akan muncul di antara orang-orang. Apa yang diperlihatkan oleh fenomena ini? Bahwa pekerjaan Roh Kudus telah berhenti, Dia telah meninggalkan mereka, dan Tuhan tidak lagi bekerja. Tanpa pekerjaan Tuhan, apa gunanya kata-kata dan doktrin belaka yang manusia pahami? Semua itu tidak ada gunanya. Ketika Roh Kudus tidak lagi bekerja di dalam diri seseorang, hatinya akan terasa hampa, dia tidak akan bisa lagi merasakan apa pun, dia akan seperti orang mati, dan pada saat inilah dia akan tercengang. Semua inspirasi, hikmat, kecerdasan, wawasan dan pencerahan dalam diri orang berasal dari Tuhan; semua itu adalah pekerjaan Tuhan. Ketika seseorang mencari kebenaran tentang suatu hal dan tiba-tiba memperoleh suatu pemahaman dan mendapat suatu jalan, dari manakah asal pencerahan ini? Semua ini berasal dari Tuhan. Sama halnya ketika orang mempersekutukan kebenaran, pada awalnya mereka tidak memahaminya, tetapi pada saat bersekutu, mereka dicerahkan dan setelah itu mereka mampu membahas tentang sejumlah pemahaman. Ini adalah pencerahan dan pekerjaan Roh Kudus. Kapan Roh Kudus paling sering bekerja? Yaitu saat umat pilihan Tuhan mempersekutukan kebenaran, saat orang berdoa kepada Tuhan, dan saat orang melaksanakan tugas mereka dengan sehati dan sepikir. Pada saat-saat inilah hati Tuhan paling dipuaskan. Jadi, entah banyak atau sedikit dari antara engkau semua yang melaksanakan tugas bersama-sama, seperti apa pun keadaannya, dan kapan pun itu, jangan lupakan satu hal ini—sehati dan sepikir. Jika engkau hidup dalam keadaan seperti ini, engkau akan memiliki pekerjaan Roh Kudus.
Kutipan 41
Di rumah Tuhan, semua orang yang mengejar kebenaran bersatu di hadapan Tuhan, tidak terpecah belah. Mereka semua bekerja untuk mencapai tujuan yang sama: melaksanakan tugas mereka dengan baik, melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab mereka dengan baik, bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, melakukan apa yang Tuhan tuntut, dan memenuhi maksud-Nya. Jika tujuanmu bukan demi hal ini, melainkan demi dirimu sendiri, demi memuaskan hasrat egoismu, maka itu adalah perwujudan watak rusak Iblis. Di rumah Tuhan, tugas dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, sedangkan tindakan orang tidak percaya dikendalikan oleh watak Iblis dalam diri mereka. Ini adalah dua jalan yang sangat berbeda. Orang-orang tidak percaya memendam rancangan mereka sendiri, setiap orang memiliki tujuan dan rencananya masing-masing, dan setiap orang hidup demi kepentingannya sendiri. Itulah sebabnya mereka semua berjuang untuk memperoleh setiap keuntungan yang diperoleh dan tidak mau menyerah bahkan sedikit pun. Mereka terpecah belah, tidak bersatu, karena mereka tidak memiliki tujuan yang sama. Niat dan natur di balik apa yang mereka lakukan adalah sama. Mereka semua bertindak demi diri sendiri. Kebenaran tidak berkuasa dalam hal ini; apa yang berkuasa dan memegang kendali dalam semua ini adalah watak rusak Iblis mereka. Mereka dikendalikan oleh watak rusak Iblis mereka dan tidak mampu mengendalikan diri mereka sendiri, sehingga mereka jatuh makin dalam ke dalam dosa. Di rumah Tuhan, jika dorongan, motivasi, prinsip, dan metode dari tindakan engkau semua tidak ada bedanya dengan tindakan orang tidak percaya, jika engkau juga dimanipulasi, dikendalikan, dan didominasi oleh watak rusak Iblismu, dan jika dorongan dari tindakanmu adalah kepentingan, reputasi, harga diri, dan statusmu sendiri, maka cara engkau semua melaksanakan tugas tidak akan ada bedanya dengan cara orang tidak percaya melakukan segala sesuatu. Jika engkau semua mengejar kebenaran, engkau semua harus mengubah caramu melaksanakan tugas. Engkau harus melepaskan kepentinganmu sendiri serta niat dan keinginan pribadimu. Engkau harus terlebih dahulu mempersekutukan kebenaran bersama-sama saat engkau melaksanakan tugas, dan memahami maksud serta tuntutan Tuhan sebelum engkau membagi pekerjaan di antaramu, dengan memperhatikan kelebihan atau kelemahan setiap orang. Engkau harus melakukan apa yang mampu kaulakukan dan berpegang teguh pada tugasmu. Jangan bersaing ataupun memperebutkan apa pun. Engkau harus belajar melatih kesabaran dan toleransi. Jika seseorang adalah pemula dalam tugas ini atau baru mulai mempelajari keterampilan yang relevan, dan dia belum mampu menangani tugas-tugas tertentu, engkau tidak boleh memaksanya untuk melaksanakan tugas tersebut. Engkau harus menugaskan kepadanya tugas-tugas yang sedikit lebih sederhana. Ini akan mempermudahnya untuk mencapai hasil saat melaksanakan tugasnya. Inilah yang dimaksud dengan bertoleransi, bersabar, dan berprinsip. Ini adalah sebagian dari kemanusiaan normal yang seharusnya orang miliki; ini adalah tuntutan Tuhan terhadap manusia, dan apa yang harus orang terapkan. Jika engkau cukup mahir di bidang tertentu dan telah bekerja di bidang tersebut lebih lama daripada kebanyakan orang, engkau harus ditugaskan untuk melakukan pekerjaan yang lebih sulit. Engkau harus menerima bahwa tugas ini adalah dari Tuhan dan tunduk. Jangan pilih-pilih dan mengeluh sembari berkata, "Mengapa aku yang dipermasalahkan? Mereka memberikan tugas-tugas yang mudah kepada orang lain dan memberiku tugas-tugas yang sulit. Apakah mereka sedang berusaha mempersulit hidupku?" Apa yang kaumaksud dengan "berusaha mempersulit hidupmu"? Pengaturan kerja disesuaikan untuk masing-masing orang; mereka yang lebih mampu mengerjakan lebih banyak. Jika engkau telah banyak belajar dan telah banyak diberi oleh Tuhan, sudah seharusnya engkau diberi beban yang lebih berat—bukan untuk menyulitkanmu, melainkan karena tugas itulah yang paling cocok untukmu. Itu adalah tugasmu, jadi jangan berusaha pilih-pilih, atau berkata tidak, atau berusaha untuk mengelak dari tugasmu. Mengapa menurutmu tugas itu sulit? Sebenarnya, jika engkau melaksanakannya dengan segenap hatimu, engkau akan sepenuhnya mampu melaksanakan tugas tersebut. Engkau menganggapnya sulit, menganggap dirimu diperlakukan dengan berat sebelah, menganggap dirimu disulitkan secara sengaja—itu adalah perwujudan watak rusakmu. Itu berarti engkau menolak tugasmu, tidak menerima bahwa tugas ini berasal dari Tuhan. Itu berarti engkau tidak menerapkan kebenaran. Ketika engkau pilih-pilih dalam pelaksanaan tugasmu, melakukan apa pun yang ringan dan mudah, hanya melakukan apa yang membuatmu terlihat baik, itu adalah watak rusak Iblis. Bahwa engkau tidak mampu menerima tugasmu atau tunduk, itu membuktikan bahwa engkau masih memberontak terhadap Tuhan, bahwa engkau sedang melawan Dia, dan menolak serta menghindari pengaturan dan tuntutan-Nya. Ini adalah watak yang rusak. Setelah engkau mulai mengetahui bahwa ini adalah watak yang rusak, apa yang harus kaulakukan? Jika engkau merasa bahwa tugas yang diberikan kepada orang lain dapat diselesaikan dengan mudah, sedangkan tugas yang diberikan kepadamu membuatmu sibuk untuk waktu yang lama dan mengharuskanmu untuk berupaya melakukan penelitian, dan ini membuatmu tidak senang, apakah pantas bagimu untuk merasa tidak senang? Tentu saja tidak. Jadi, apa yang harus kaulakukan ketika engkau merasa bahwa hal ini tidak benar? Jika engkau menentang dan berkata, "Setiap kali mereka membagikan tugas, mereka memberiku tugas yang sulit, kotor, dan menguras tenaga, dan memberi orang lain tugas yang ringan, sederhana, dan membuat mereka menonjol. Apakah mereka pikir aku ini orang yang mudah dipermainkan? Ini cara membagi tugas yang tidak adil!"—jika itulah yang kaupikirkan, engkau salah. Terlepas dari apakah terdapat penyimpangan dalam pembagian pekerjaan, atau apakah pembagiannya wajar atau tidak, hal apakah yang Tuhan periksa? Hal yang Dia periksa adalah hati manusia. Dia melihat apakah di dalam hatinya, orang memiliki ketundukan, apakah mereka mampu memikul beban bagi Tuhan, dan apakah mereka orang yang mengasihi Tuhan. Jika diukur berdasarkan tuntutan Tuhan, alasanmu itu tidak dapat dibenarkan, pelaksanaan tugasmu tidak memenuhi standar, dan engkau tidak memiliki kenyataan kebenaran. Engkau sama sekali tidak tunduk, dan engkau mengeluh ketika melakukan beberapa tugas yang kotor atau menguras tenaga. Apa masalahnya di sini? Pertama-tama, mentalitasmu salah. Apa artinya? Itu berarti sikapmu terhadap tugasmu salah. Jika engkau selalu memikirkan harga diri dan kepentinganmu sendiri, serta tidak memperhatikan maksud Tuhan, dan sama sekali tidak memiliki ketundukan, itu bukanlah sikap yang benar yang seharusnya kaumiliki terhadap tugasmu. Jika engkau dengan tulus mengorbankan dirimu bagi Tuhan dan memiliki hati yang mengasihi Tuhan, bagaimana engkau akan memperlakukan tugas yang menguras tenaga, atau tugas yang menuntut atau sulit? Mentalitasmu akan berbeda: Engkau akan memilih untuk melakukan tugas apa pun yang sulit dan secara khusus mencari beban yang berat untuk dipikul, melakukan apa yang tidak ingin dilakukan orang lain, dan engkau akan melakukannya semata-mata karena kasih kepada Tuhan dan untuk memuaskan-Nya. Engkau akan dipenuhi dengan sukacita, tanpa sedikit pun keluhan. Dihadapkan pada tugas yang menguras tenaga, menuntut, atau tugas yang sulit, menyingkapkan keadaan orang yang sebenarnya. Apa bedanya dirimu dengan orang-orang yang hanya mau melaksanakan tugas-tugas yang ringan dan yang membuat diri mereka menonjol? Engkau tidak lebih baik daripada mereka. Bukankah demikian? Dengan cara inilah engkau harus memandang hal-hal ini. Jadi, hal yang paling menyingkapkan diri orang yang sebenarnya adalah pelaksanaan tugas mereka. Ada orang-orang yang mengatakan hal-hal yang hebat dalam keadaan normal, mengaku betapa mereka rela mengasihi dan tunduk kepada Tuhan, tetapi ketika menghadapi kesulitan dalam pelaksanaan tugas mereka, mereka melontarkan segala macam keluhan dan kata-kata negatif. Mereka adalah orang-orang munafik. Jika seseorang adalah orang yang mencintai kebenaran, ketika dihadapkan pada kesulitan dalam melaksanakan tugasnya, dia akan berdoa kepada Tuhan, mencari kebenaran, dan memperlakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh sekalipun tugas itu tidak diatur dengan semestinya. Dia tidak akan mengeluh, sekalipun dihadapkan pada tugas yang menuntut, tugas yang menguras tenaga, atau tugas yang sulit, dan dia mampu mengerjakan pekerjaannya dengan baik dan melaksanakan tugasnya dengan baik dengan hati yang tunduk kepada Tuhan. Dia menemukan kenikmatan yang besar dalam melakukannya, dan Tuhan terhibur melihatnya. Orang seperti inilah yang memperoleh perkenan Tuhan. Jika seseorang menjadi penuh keluhan di dalam hatinya, serta menentang dan merasa tidak puas, ketika dia harus melaksanakan tugas yang menguras tenaga, menuntut, atau sulit, dan dia tidak membiarkan siapa pun mengkritik atau menentangnya, orang semacam itu bukanlah orang yang dengan tulus mengorbankan dirinya bagi Tuhan. Mereka hanya dapat disingkapkan dan disingkirkan. Biasanya, saat engkau berada dalam keadaan seperti ini, apakah engkau mampu memahami keseriusan masalah ini? (Sedikit.) Jika engkau mampu sedikit memahami hal ini, mampukah engkau mengubah keadaanmu dengan kekuatanmu sendiri, dengan imanmu sendiri, dan tingkat pertumbuhanmu sendiri? Engkau harus mengubah sikap ini. Pertama-tama, engkau harus berpikir, "Sikapku ini salah. Bukankah aku sedang bersikap pilih-pilih dalam pelaksanaan tugasku? Ini bukanlah ketundukan. Melaksanakan tugas seharusnya menjadi hal yang menyenangkan, dilakukan dengan rela dan gembira. Mengapa aku tidak merasa senang, dan mengapa aku kesal? Aku tahu betul apa tugasku dan bahwa itulah yang sudah seharusnya kulakukan—mengapa aku tidak mampu tunduk? Aku harus menghadap ke hadirat Tuhan dan berdoa, dan mengenali penyingkapan watak rusak yang ada di lubuk hatiku ini." Kemudian, saat engkau melakukannya, engkau harus berdoa: "Tuhan, selama ini aku terbiasa bersikap sekehendak hatiku—aku tidak mau mendengarkan siapa pun. Sikapku ini salah, dan aku tidak tunduk. Kumohon, disiplinkanlah aku dan buatlah aku tunduk. Aku tidak ingin menjadi kesal. Aku tidak mau lagi memberontak terhadap-Mu. Gerakkanlah aku dan buatlah aku mampu melaksanakan tugasku dengan baik. Aku tidak bersedia hidup bagi Iblis; aku bersedia hidup demi kebenaran dan menerapkannya." Ketika engkau berdoa seperti ini, keadaan dalam dirimu akan membaik, dan setelah keadaanmu membaik, engkau akan mampu tunduk. Engkau akan berpikir, "Sebenarnya ini tidak terlalu berat. Aku hanya melakukan lebih banyak sementara orang lain melakukan lebih sedikit, dan ketika mereka bersenang-senang, aku tidak ikut bersenang-senang; ketika mereka mengobrol santai, aku tidak ikut melakukannya. Tuhan telah memberiku beban tambahan, beban yang berat; itu adalah penghargaan-Nya terhadapku, kemurahan-Nya terhadapku, dan itu membuktikan bahwa aku sanggup memikul beban yang berat ini. Tuhan sangat baik kepadaku, dan aku harus tunduk." Dan sikapmu akan berubah, tanpa kausadari. Engkau bersikap buruk saat engkau pertama kali menerima tugasmu. Engkau tidak mampu tunduk, tetapi engkau telah mampu segera mengubah sikapmu dan segera menerima pemeriksaan dan disiplin Tuhan. Engkau telah mampu segera menghadap ke hadirat Tuhan dengan sikap yang taat, sikap yang menerima dan menerapkan kebenaran, hingga akhirnya engkau mampu sepenuhnya menerima tugasmu yang berasal dari Tuhan dan melaksanakannya dengan segenap hatimu. Ada proses pergumulan di sini. Proses pergumulan ini adalah proses perubahanmu, proses penerimaanmu akan kebenaran. Bagi manusia, tentu tidak mungkin untuk rela, senang, dan tunduk pada apa pun yang terjadi pada mereka tanpa sedikit pun memikirkannya. Jika manusia mampu melakukan hal itu, berarti mereka tidak memiliki watak yang rusak dan mereka tidak membutuhkan Tuhan untuk mengungkapkan kebenaran demi menyelamatkan mereka. Manusia memiliki pemikiran, mereka memiliki sikap yang salah, mereka memiliki keadaan yang salah dan negatif. Semua ini adalah masalah nyata—masalah-masalah ini memang ada. Namun, ketika keadaan yang negatif, serta emosi negatif dan watak yang rusak ini menguasai dan mengendalikan perilakumu, pemikiranmu, dan sikapmu, maka apa yang kaulakukan, caramu menerapkan, dan jalan yang kaupilih untuk kautempuh akan bergantung pada sikapmu terhadap kebenaran. Engkau mungkin memiliki emosi, atau berada dalam keadaan yang negatif dan memberontak. Tetapi ketika hal-hal ini muncul selama pelaksanaan tugasmu, semua itu akan dapat dengan mudah berbalik, karena engkau menghadap ke hadirat Tuhan, karena engkau memahami kebenaran, karena engkau mencari Tuhan, dan karena sikapmu adalah sikap yang tunduk dan menerima kebenaran. Setelah itu, engkau akan dapat melaksanakan tugasmu dengan baik dan tanpa hambatan, dan engkau akan mampu menang atas kekangan dan kendali watak rusak Iblis terhadapmu. Pada akhirnya, engkau akan berhasil dalam melaksanakan tugasmu dengan baik dan memenuhi amanat Tuhan, dan engkau akan memperoleh kebenaran dan hidup. Proses orang melaksanakan tugas dan memperoleh kebenaran juga merupakan proses perubahan watak. Justru selama melaksanakan tugaslah, orang memperoleh pencerahan dan penerangan Roh Kudus, dan memahami kebenaran, serta masuk ke dalam kenyataan. Selain itu, justru ketika ada kesulitan dalam pelaksanaan tugaslah, mereka sering menghadap ke hadirat Tuhan untuk berdoa, mencari, dan memahami maksud-Nya agar dapat mengatasinya, sehingga mereka mampu melaksanakan tugas mereka dengan normal. Justru selama melaksanakan tugaslah, orang didisiplinkan oleh Tuhan dan hidup di bawah bimbingan Roh Kudus, secara berangsur-angsur belajar melakukan segala sesuatu berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran dan akhirnya melaksanakan tugas mereka dengan cara yang memenuhi standar. Ini berarti kebenaranlah yang memegang kendali dan berkuasa di dalam hatimu.
Bagi beberapa orang, apa pun masalah yang mereka hadapi ketika melaksanakan tugas, mereka tidak mencari kebenaran, dan mereka selalu bertindak berdasarkan gagasan, imajinasi, pemikiran, dan keinginan mereka sendiri. Dari awal hingga akhir, mereka memuaskan keinginan mereka sendiri, dan bertindak di bawah kendali watak rusak mereka. Mereka mungkin terlihat selalu melaksanakan tugas mereka, tetapi karena mereka tidak pernah menerima kebenaran, dan mereka tidak mampu melakukan segala sesuatu berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, pada akhirnya mereka tidak memperoleh kebenaran dan hidup, dan mereka menjadi para pelaku pelayanan sesuai dengan sebutannya. Jadi, mengandalkan apa orang-orang semacam itu ketika melaksanakan tugas mereka? Mereka tidak mengandalkan kebenaran ataupun mengandalkan Tuhan. Sedikit kebenaran yang mereka pahami itu tidak berkuasa di hati mereka; mereka sedang mengandalkan karunia dan bakat mereka sendiri, mengandalkan pengetahuan apa pun yang telah mereka peroleh, serta tekad atau niat baik mereka sendiri, untuk melaksanakan tugas mereka. Dengan demikian, akankah mereka mampu melaksanakan tugas mereka dengan cara yang memenuhi standar? Ketika orang mengandalkan gagasan, imajinasi, pengetahuan, dan apa yang telah mereka pelajari untuk melaksanakan tugas mereka, meskipun di luarnya mereka sedang melaksanakan tugas mereka, dan tampaknya tidak melakukan kejahatan apa pun, mereka belum menerapkan kebenaran. Dalam hal itu, apakah semua yang telah mereka lakukan merupakan ketundukan yang sejati kepada Tuhan? Dapatkah itu memuaskan Tuhan? Ada juga masalah lain yang tidak dapat diabaikan: Selama proses pelaksanaan tugasmu, jika gagasan, imajinasi, dan kehendakmu sendiri tidak pernah berubah, ini membuktikan bahwa engkau tidak pernah menerima kebenaran, dan dalam hal itu, semua yang kaulakukan adalah bertindak berdasarkan kehendakmu sendiri, dan tidak bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Lalu, apa hasil akhirnya? Engkau tidak akan memiliki jalan masuk kehidupan, engkau akan menjadi pelaku pelayanan, dan dengan demikian genaplah firman Tuhan Yesus: "Banyak orang akan berkata kepada-Ku di hari itu kelak, Tuhan, Tuhan, bukankah kami telah bernubuat demi nama-Mu, telah mengusir setan-setan demi nama-Mu, dan melakukan banyak pekerjaan ajaib demi nama-Mu? Saat itu Aku akan menyatakan kepada mereka, Aku tidak pernah mengenalmu: pergilah daripada-Ku, engkau yang melakukan kejahatan" (Matius 7:22-23). Mengapa Tuhan menyebut orang-orang yang mengerahkan upaya dan yang melakukan pelayanan ini sebagai pelaku kejahatan? Ada satu hal yang dapat kita pastikan, yaitu apa pun tugas atau pekerjaan yang orang-orang ini lakukan, motivasi, dorongan, niat, dan pemikiran mereka sepenuhnya timbul dari keinginan mereka sendiri, dan semua itu sepenuhnya demi kepentingan dan prospek mereka sendiri, dan juga demi menjaga harga diri dan status mereka, serta memuaskan kesombongan mereka. Pertimbangan dan perhitungan mereka semuanya berpusat pada hal-hal ini, tidak ada kebenaran di dalam hati mereka, dan mereka tidak memiliki hati yang takut dan tunduk kepada Tuhan. Inilah akar masalahnya. Sekarang ini, dalam hal apa sangat penting bagimu untuk melakukan pengejaranmu? Dalam segala sesuatu, engkau harus mencari kebenaran, dan engkau harus melaksanakan tugasmu dengan baik sesuai dengan maksud dan tuntutan Tuhan. Jika engkau melakukannya, engkau akan menerima perkenan Tuhan. Jadi apa sajakah hal-hal rinci yang harus kaulakukan agar dapat melaksanakan tugasmu sesuai dengan tuntutan Tuhan? Dalam semua yang kaulakukan, engkau harus belajar berdoa kepada Tuhan, engkau harus merenungkan niat apa yang kaumiliki, pemikiran apa yang kaumiliki, dan apakah niat dan pemikiran ini sesuai dengan kebenaran atau tidak; jika tidak, hal-hal itu harus ditinggalkan, setelah itu engkau harus bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, dan menerima pemeriksaan Tuhan. Ini akan memastikan bahwa engkau menerapkan kebenaran. Jika engkau tahu betul bahwa niat dan tujuan di balik perkataan dan tindakanmu melanggar kebenaran dan tidak selaras dengan maksud Tuhan, tetapi engkau tetap tidak berdoa kepada Tuhan, merenungkan diri sendiri, dan mencari kebenaran untuk menyelesaikannya, maka ini berbahaya, dan akan mudah bagimu untuk melakukan kejahatan dan melakukan hal-hal yang menentang Tuhan. Jika engkau melakukan kejahatan satu atau dua kali lalu bertobat, engkau masih memiliki harapan untuk diselamatkan. Jika engkau terus melakukan kejahatan dan masih tidak tahu harus bertobat pada saat ini, engkau berada dalam masalah. Tuhan akan menyisihkanmu atau menganggapmu sudah tidak ada harapan, yang berarti engkau berisiko disingkirkan; orang yang melakukan segala macam perbuatan jahat pasti akan dihukum dan disingkirkan.