Mereka yang Akan Disempurnakan Harus Mengalami Pemurnian

Dalam kepercayaanmu kepada Tuhan, engkau harus tunduk kepada Tuhan, menerapkan kebenaran, dan melaksanakan semua tugasmu dengan baik. Selain itu, engkau harus memahami hal-hal yang seharusnya kaualami. Jika yang kaualami hanya dipangkas, didisiplinkan, dan dihakimi, jika engkau hanya menikmati Tuhan, tetapi tidak mampu merasakan ketika Tuhan sedang mendisiplinkan atau memangkasmu—ini tidak bisa diterima. Mungkin dalam pemurnian ini, engkau tetap teguh, tetapi ini masih belum cukup; engkau masih harus terus maju. Pelajaran mengasihi Tuhan tidak ada habisnya; itu tidak akan pernah berakhir. Orang memandang percaya kepada Tuhan sebagai sesuatu yang sangat sederhana, tetapi begitu mereka benar-benar mengalaminya, mereka kemudian menyadari bahwa percaya kepada Tuhan tidaklah sesederhana yang orang bayangkan. Ketika Tuhan bekerja untuk memurnikan manusia, manusia menderita. Makin besar pemurnian yang orang alami, makin besar hatinya yang mengasihi Tuhan, dan makin banyak pula kuasa Tuhan yang sangat besar yang akan tersingkap dalam dirinya. Sebaliknya, makin sedikit pemurnian yang orang jalani, makin kecil hatinya yang mengasihi Tuhan dan makin sedikit pula kuasa Tuhan yang sangat besar yang akan tersingkap dalam dirinya. Makin besar pemurnian dan penderitaan yang orang alami dan makin banyak siksaan yang dialaminya, makin dalam kasihnya kepada Tuhan, makin sejati imannya kepada Tuhan, dan makin mendalam pengenalannya akan Tuhan. Dalam pengalamanmu, engkau akan melihat bahwa orang-orang yang menjalani pemurnian dan penderitaan yang besar, yang banyak dipangkas dan didisiplinkan, mereka memiliki kasih yang dalam kepada Tuhan serta pengenalan akan Tuhan yang lebih mendalam dan menyeluruh. Mereka yang belum mengalami pemangkasan hanya memiliki pengenalan yang dangkal. Mereka hanya bisa berkata, "Tuhan itu begitu baik, Dia memberikan kasih karunia kepada manusia agar mereka dapat menikmati-Nya." Jika mereka telah mengalami pemangkasan dan pendisiplinan, mereka akan mampu berbicara tentang pengenalan yang sejati akan Tuhan. Jadi, makin menakjubkan pekerjaan Tuhan atas manusia, makin berharga dan bermakna pekerjaan itu. Makin tak terselami pekerjaan Tuhan bagimu dan makin tidak sesuai dengan gagasanmu, makin mampu pekerjaan Tuhan menaklukkanmu, mendapatkanmu, dan menyempurnakanmu. Betapa besarnya makna penting pekerjaan Tuhan! Jika Tuhan tidak memurnikan manusia dengan cara ini, jika Dia tidak bekerja dengan metode ini, pekerjaan-Nya akan menjadi tidak efektif dan tanpa makna. Di sinilah letak makna yang luar biasa dari apa yang telah disebutkan sebelumnya—Tuhan memilih dan mendapatkan kelompok ini, dan melengkapi mereka pada akhir zaman. Makin besar pekerjaan yang Dia lakukan atas diri engkau semua, makin dalam dan makin murni pula kasih engkau semua kepada Tuhan. Semakin besar pekerjaan Tuhan, semakin manusia mampu memahami sesuatu dari hikmat-Nya dan semakin dalam pengenalan manusia akan Dia. Selama akhir zaman, 6.000 tahun rencana pengelolaan Tuhan akan berakhir. Mungkinkah itu benar-benar berakhir dengan sedemikian mudahnya? Begitu Dia menaklukkan umat manusia, akankah pekerjaan-Nya itu berakhir? Mungkinkah sesederhana itu? Orang-orang membayangkan bahwa itu sangat sederhana, tetapi apa yang Tuhan lakukan tidaklah sesederhana itu. Setiap bagian pekerjaan yang Tuhan lakukan tidak terselami oleh manusia. Jika engkau mampu menyelami pekerjaan Tuhan, pekerjaan Tuhan itu akan menjadi tak bermakna atau tak bernilai. Pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan tidak terselami; itu terlalu tidak sesuai dengan gagasanmu, dan makin tidak sesuai pekerjaan itu dengan gagasanmu, makin terbukti pekerjaan Tuhan itu bermakna; jika pekerjaan itu sesuai dengan gagasanmu, pekerjaan itu tidak akan bermakna. Hari ini, engkau merasa bahwa pekerjaan Tuhan sangatlah ajaib, dan semakin ajaib, semakin engkau merasa bahwa Tuhan tak terselami, dan engkau melihat betapa besar perbuatan Tuhan itu. Jika Dia hanya melakukan pekerjaan yang dangkal dan biasa-biasa saja untuk menaklukkan manusia dan tidak melakukan hal lain setelah itu, manusia tidak akan mampu melihat makna penting dari pekerjaan Tuhan. Meskipun engkau sedang menjalani sedikit pemurnian sekarang ini, itu adalah keuntungan besar bagi pertumbuhanmu dalam hidup; jadi sangat perlu bagimu untuk mengalami penderitaan seperti itu. Hari ini, engkau sedang menjalani sedikit pemurnian, tetapi setelahnya engkau akan benar-benar mampu melihat perbuatan Tuhan, dan pada akhirnya engkau akan berkata, "Perbuatan Tuhan begitu ajaib!" Perkataan inilah yang akan ada dalam hatimu. Setelah mengalami pemurnian Tuhan untuk jangka waktu tertentu (ujian bagi para pelaku pelayanan dan masa hajaran), ada orang-orang yang akhirnya berkata, "Percaya kepada Tuhan sangat sulit!" Perkataan "sangat sulit" yang mereka gunakan menunjukkan bahwa perbuatan Tuhan memang tak terselami, bahwa pekerjaan Tuhan sangatlah bermakna dan bernilai, dan sangat layak dihargai oleh manusia. Jika, setelah Aku melakukan begitu banyak pekerjaan, engkau tidak sedikit pun memiliki pengetahuan, apakah pekerjaan-Ku masih memiliki nilai? Itu akan membuatmu berkata, "Pelayanan kepada Tuhan itu benar-benar sulit, perbuatan Tuhan sangat ajaib, Tuhan benar-benar bijak! Tuhan itu begitu indah!" Jika setelah menjalani suatu masa pengalaman, engkau mampu mengucapkan perkataan seperti itu, ini membuktikan bahwa engkau telah mendapatkan pekerjaan Tuhan atas dirimu. Suatu hari, ketika engkau sedang berkhotbah di luar negeri dan seseorang bertanya kepadamu, "Bagaimana imanmu kepada Tuhan?" Engkau akan mampu berkata, "Perbuatan Tuhan sangat ajaib!" Mereka akan merasa bahwa kata-katamu berbicara tentang pengalaman nyata. Inilah kesaksian yang sejati. Engkau akan berkata bahwa pekerjaan Tuhan penuh dengan hikmat, pekerjaan-Nya atas dirimu telah benar-benar meyakinkanmu serta menaklukkan hatimu, dan engkau akan selalu mengasihi-Nya karena Dia lebih dari layak untuk menerima kasih umat manusia! Jika engkau bisa membicarakan hal-hal ini, engkau bisa menggerakkan hati orang. Semua ini adalah kesaksian. Jika engkau mampu memberikan kesaksian ini dengan berkumandang, menggerakkan orang hingga menitikkan air mata, itu menunjukkan bahwa engkau adalah orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan karena engkau mampu memberikan kesaksian tentang mengasihi Tuhan, dan melalui dirimu, perbuatan Tuhan dapat dinyatakan dalam kesaksian. Jika kesaksianmu membuat orang lain mampu untuk mencari pekerjaan Tuhan, mengalami pekerjaan Tuhan, dan tetap teguh di lingkungan apa pun yang mereka alami, hanya kesaksian seperti inilah yang merupakan kesaksian yang sejati, dan inilah tepatnya yang dituntut darimu sekarang. Engkau harus melihat bahwa pekerjaan Tuhan sangat berharga dan layak dihargai oleh manusia, bahwa Tuhan sangat berharga dan begitu berlimpah; Dia tidak hanya bisa berfirman, tetapi Dia juga menghakimi manusia, memurnikan hati mereka, memberi mereka kenikmatan, mendapatkan mereka, menaklukkan mereka, dan menyempurnakan mereka. Dari pengalamanmu, engkau akan melihat bahwa Tuhan sungguh indah. Jadi, seberapa dalamkah engkau mengasihi Tuhan saat ini? Apakah engkau benar-benar bisa mengatakannya dari hatimu? Ketika engkau mampu mengungkapkan kata-kata ini dari kedalaman hatimu, engkau akan memiliki kesaksian. Begitu pengalamanmu mencapai tingkat ini, engkau akan mampu bersaksi bagi Tuhan, dan engkau akan memenuhi syarat untuk melakukannya. Jika engkau tidak mencapai tingkat ini dalam pengalamanmu, berarti engkau masih terlalu jauh. Wajar jika orang mengalami kelemahan selama proses pemurnian, tetapi setelah pemurnian, engkau seharusnya mampu berkata, "Tuhan sangat berhikmat dalam pekerjaan-Nya!" Jika engkau sungguh-sungguh mampu mendapatkan pemahaman yang nyata dari perkataan ini, itu akan sangat berharga, dan pengalamanmu akan menjadi bernilai.

Apa yang seharusnya kaukejar sekarang? Apakah engkau mampu memberi kesaksian tentang pekerjaan Tuhan, apakah engkau mampu atau tidak menjadi kesaksian tentang Tuhan dan perwujudan Tuhan, dan apakah engkau layak dipakai oleh-Nya—inilah hal-hal yang harus kaukejar. Berapa banyak pekerjaan yang benar-benar telah Tuhan lakukan atas dirimu? Berapa banyak yang telah kaulihat, berapa banyak yang telah kaupahami? Berapa banyak yang telah kaualami dan kaurasakan? Entah Tuhan telah mengujimu, memangkasmu, atau mendisiplinkanmu, perbuatan-Nya dan pekerjaan-Nya telah dilakukan atas dirimu. Namun, sebagai orang yang percaya kepada Tuhan dan orang yang bersedia mengejar demi disempurnakan oleh-Nya, apakah engkau mampu bersaksi tentang pekerjaan Tuhan berdasarkan pengalaman nyatamu sendiri? Bisakah engkau hidup dalam firman Tuhan melalui pengalaman nyatamu? Apakah engkau mampu membekali orang lain melalui pengalaman nyatamu sendiri, dan mengorbankan seluruh hidupmu untuk bersaksi tentang pekerjaan Tuhan? Untuk bersaksi tentang pekerjaan Tuhan, engkau harus mengandalkan pengalamanmu, pengetahuanmu, dan harga yang sudah kaubayar. Hanya dengan begitulah engkau dapat memenuhi maksud-Nya. Apakah engkau orang yang bersaksi tentang pekerjaan Tuhan? Apakah engkau memiliki tekad ini? Jika engkau mampu bersaksi tentang nama-Nya, dan terlebih lagi, tentang pekerjaan-Nya, dan jika engkau dapat hidup dalam gambar umat-Nya yang Dia tuntut, berarti engkau adalah saksi bagi Tuhan! Bagaimana tepatnya engkau bersaksi tentang Tuhan? Jika engkau mengejar dan merindukan untuk hidup dalam firman Tuhan, dan memberi kesaksian dengan mulutmu sendiri agar orang-orang dapat mengenal pekerjaan-Nya dan melihat perbuatan-Nya—jika engkau sungguh-sungguh mengejar hal ini, Tuhan akan menyempurnakanmu. Jika yang kaukejar hanyalah disempurnakan oleh Tuhan dan akhirnya diberkati, perspektifmu tentang kepercayaan kepada Tuhan tidaklah murni. Engkau seharusnya mengejar bagaimana melihat perbuatan Tuhan dalam kehidupan nyata, bagaimana memuaskan-Nya ketika Dia menyingkapkan maksud-Nya kepadamu, dan mengejar bagaimana engkau harus memberi kesaksian tentang keajaiban dan hikmat-Nya, serta bagaimana bersaksi tentang cara-Nya mendisiplinkan dan memangkasmu. Semua ini adalah hal-hal yang harus kaurenungkan. Jika hatimu yang mengasihi Tuhan semata-mata agar engkau dapat memperoleh kemuliaan bersama-Nya setelah Dia menyempurnakanmu, itu masih belum cukup dan tidak bisa memenuhi tuntutan Tuhan. Engkau harus mampu secara nyata memberi kesaksian tentang pekerjaan Tuhan, secara nyata memenuhi tuntutan-Nya, dan mengalami pekerjaan yang Dia lakukan atas diri manusia secara nyata. Baik itu penderitaan, air mata, atau kesedihan, engkau harus mengalami semua ini secara nyata. Semua itu dimaksudkan untuk menyempurnakanmu sebagai saksi bagi Tuhan. Sebenarnya, apa yang mendorongmu untuk menderita dan mengejar agar disempurnakan? Apakah penderitaanmu saat ini benar-benar demi mengasihi Tuhan dan bersaksi tentang-Nya? Ataukah demi mendapatkan berkat daging, bagi harapan masa depan dan nasibmu? Semua niat, motivasi, dan tujuan yang engkau kejar harus diluruskan dan tidak boleh dituntun oleh kehendakmu sendiri. Jika seseorang mengejar untuk disempurnakan demi menerima berkat dan memegang kuasa sebagai raja, sementara yang lain mengejar untuk disempurnakan demi memuaskan Tuhan, untuk memberikan kesaksian yang nyata tentang pekerjaan Tuhan, manakah dari kedua cara pengejaran ini yang akan engkau pilih? Andaikata engkau memilih yang pertama, engkau masih akan terlalu jauh dari standar Tuhan. Aku pernah berkata bahwa perbuatan-Ku akan dinyatakan secara terbuka di seluruh alam semesta dan Aku akan memegang kuasa sebagai Raja di alam semesta. Di sisi lain, apa yang telah dipercayakan kepada engkau semua adalah untuk bersaksi tentang pekerjaan Tuhan, bukan untuk menjadi raja dan menampakkan diri ke seluruh alam semesta. Biarlah perbuatan Tuhan memenuhi jagat raya dan cakrawala, biarlah semua orang melihatnya dan mengakuinya—kata-kata ini diucapkan berkenaan dengan Tuhan sendiri, dan apa yang seharusnya dilakukan manusia adalah bersaksi tentang Tuhan. Seberapa banyak yang kaupahami tentang Tuhan? Seberapa banyak engkau dapat bersaksi tentang Tuhan? Apa tujuan Tuhan menyempurnakan manusia? Begitu engkau mengerti maksud Tuhan, bagaimana engkau harus memperhatikan maksud-Nya? Jika engkau ingin disempurnakan dan ingin memberi kesaksian tentang pekerjaan Tuhan lewat apa yang engkau hidupi, jika engkau memiliki dorongan ini, tidak ada yang terlalu sulit. Yang orang butuhkan saat ini adalah iman. Jika engkau memiliki dorongan ini, dengan mudah engkau akan melepaskan semua kenegatifan, kepasifan, kemalasan, dan gagasan dari daging, falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain, watak pemberontakan, perasaan, dan sebagainya.

Selama mengalami ujian, wajarlah jika orang menjadi lemah, menjadi negatif di dalam dirinya, tidak memahami maksud-maksud Tuhan, atau kurang memiliki kejelasan tentang jalan penerapan. Namun bagaimanapun juga, engkau harus memiliki iman pada pekerjaan Tuhan, dan seperti Ayub, tidak menyangkal Tuhan. Walaupun Ayub lemah dan mengutuki hari kelahirannya, dia tidak menyangkal bahwa segala sesuatu yang manusia miliki setelah mereka dilahirkan dikaruniakan oleh Yahweh, dan Yahweh jugalah yang mengambil semua itu. Apa pun ujian yang dihadapinya, dia tetap mempertahankan keyakinannya ini. Dalam pengalamanmu, pemurnian apa pun yang engkau alami melalui firman Tuhan, pada akhirnya, yang Tuhan kehendaki adalah imanmu dan hatimu yang mengasihi Tuhan. Yang Dia sempurnakan dengan bekerja melalui cara ini adalah iman, kasih dan tekad manusia. Tuhan melakukan pekerjaan penyempurnaan atas manusia, yang tidak dapat dilihat maupun disentuh oleh manusia; dalam keadaan seperti inilah iman dibutuhkan. Ketika sesuatu tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, iman diperlukan. Ketika engkau tidak mampu melepaskan gagasanmu sendiri, iman juga diperlukan. Ketika engkau tidak memiliki kejelasan tentang pekerjaan Tuhan, yang dibutuhkan darimu adalah memiliki iman dan mempertahankan pendirian serta tetap teguh dalam kesaksianmu. Ketika Ayub mencapai titik ini, Tuhan menampakkan diri kepadanya dan berbicara kepadanya. Artinya, hanya ketika engkau memiliki iman, barulah engkau akan bisa melihat Tuhan. Ketika engkau memiliki iman, Tuhan akan menyempurnakanmu, dan tanpa iman, Dia tidak bisa menyempurnakanmu. Tuhan akan mengaruniakan kepadamu apa pun yang engkau harapkan untuk dapatkan. Jika engkau tidak memiliki iman, engkau tidak bisa disempurnakan dan engkau tidak akan mampu melihat perbuatan Tuhan, apalagi kemahakuasaan-Nya. Dalam pengalaman nyatamu, saat engkau memiliki iman untuk melihat perbuatan-Nya, Tuhan akan menampakkan diri kepadamu dan Dia akan mencerahkan dan membimbingmu dari dalam batinmu. Tanpa iman itu, Tuhan tidak bisa melakukan hal itu. Jika engkau sudah kehilangan harapan kepada Tuhan, bagaimana engkau akan bisa mengalami pekerjaan-Nya? Karena itu, hanya jika engkau memiliki iman dan tidak memendam keraguan terhadap Tuhan, hanya jika engkau memiliki kepercayaan yang sejati kepada-Nya, apa pun yang Dia lakukan, Dia akan menerangi dan mencerahkanmu melalui pengalamanmu, dan hanya setelah itulah engkau akan bisa melihat perbuatan-Nya. Semua ini dicapai melalui iman. Iman hanya diperoleh melalui pemurnian, dan tanpa pemurnian, iman tidak dapat muncul. Apa yang dimaksud dengan iman? Iman adalah kepercayaan yang sejati dan hati yang tulus yang harus manusia miliki ketika mereka tidak bisa melihat atau menyentuh sesuatu, ketika pekerjaan Tuhan tidak sesuai dengan gagasan manusia dan itu berada di luar jangkauan manusia. Inilah iman yang Aku maksudkan. Orang perlu memiliki iman selama masa-masa penderitaan dan selama masa-masa pemurnian, dan ketika mereka memiliki iman, mereka kemudian menghadapi pemurnian—pemurnian dan iman tidak bisa terpisahkan. Jika, bagaimanapun cara Tuhan bekerja, dan apa pun lingkunganmu, engkau mampu mengejar kehidupan, mencari kebenaran, mengejar pengetahuan akan pekerjaan Tuhan, serta memahami perbuatan-Nya, dan mampu bertindak sesuai kebenaran, inilah yang disebut memiliki iman sejati, dan ini membuktikan bahwa engkau tidak kehilangan iman kepada Tuhan. Jika, selama masa pemurnian, engkau mampu bertahan dalam mengejar kebenaran, sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, tidak mengembangkan keraguan tentang-Nya, dan apa pun yang Dia lakukan, engkau tetap menerapkan kebenaran untuk memuaskan-Nya, serta mampu mencari maksud-Nya secara mendalam dan memperhatikan maksud-Nya, inilah yang dimaksud dengan iman yang sejati kepada Tuhan. Di masa lalu, ketika Tuhan mengatakan bahwa engkau akan memegang kuasa sebagai raja, engkau mengasihi Dia, dan ketika Dia secara terbuka menunjukkan diri-Nya kepadamu, engkau mengejar-Nya. Namun sekarang Tuhan tersembunyi, engkau tidak bisa melihat-Nya, dan penderitaan menimpamu—pada saat seperti ini, apakah engkau kehilangan harapan kepada Tuhan? Jadi, setiap saat engkau harus mengejar kehidupan dan berusaha memenuhi maksud Tuhan. Inilah yang disebut iman sejati, dan ini adalah kasih yang paling sejati dan paling indah.

Di masa lalu, orang-orang semuanya akan datang ke hadapan Tuhan untuk menyatakan tekad mereka, dan mereka berkata, "Bahkan seandainya tidak ada orang lain yang mengasihi Tuhan, aku harus mengasihi-Nya." Namun sekarang, pemurnian datang atasmu, dan karena ini tidak sesuai dengan gagasanmu, engkau kehilangan iman kepada Tuhan. Inikah kasih yang sejati? Engkau sudah membaca berulang kali tentang perbuatan Ayub—apakah engkau sudah lupa? Kasih sejati hanya bisa terbentuk dari dalam iman. Mengembangkan kasih sejati kepada Tuhan melalui pemurnian yang engkau jalani, dan dalam pengalaman nyatamu, memperhatikan maksud Tuhan dengan iman, dan memberontak terhadap dagingmu sendiri serta mengejar hidup dengan iman—inilah yang seharusnya dilakukan manusia. Jika engkau melakukan ini, engkau akan mampu melihat perbuatan Tuhan, tetapi jika engkau tidak memiliki iman, engkau tidak akan mampu melihat perbuatan Tuhan atau mengalami pekerjaan-Nya. Jika engkau ingin dipakai dan disempurnakan oleh Tuhan, engkau harus memiliki setiap aspek kebenaran: tekad untuk menderita, iman, kesabaran, ketundukan, dan kemampuan untuk mencari kebenaran dan memahami maksud Tuhan, kemampuan untuk memperhatikan kesedihan dan maksud-Nya yang penuh kesungguhan, dan sebagainya. Menyempurnakan seseorang tidaklah mudah, dan setiap pemurnian yang engkau alami membutuhkan iman dan kasihmu. Jika engkau ingin disempurnakan oleh Tuhan, tidaklah cukup sekadar berlari ke sana kemari, juga tidak cukup sekadar mengorbankan diri bagi Tuhan. Engkau harus memiliki banyak hal supaya bisa menjadi seseorang yang disempurnakan oleh Tuhan. Ketika menghadapi penderitaan, engkau harus mampu mengesampingkan perhatianmu terhadap daging dan tidak mengeluh terhadap Tuhan. Ketika Tuhan menyembunyikan diri-Nya darimu, engkau harus mampu memiliki iman untuk mengikuti-Nya, mempertahankan kasihmu yang semula tanpa membiarkannya berubah atau memudar. Apa pun yang Tuhan lakukan, engkau harus membiarkan-Nya mengatur sekehendak hati-Nya dan lebih memilih mengutuk dagingmu sendiri daripada mengeluh terhadap-Nya. Ketika dihadapkan pada ujian, engkau harus lebih memilih menanggung penderitaan karena melepaskan apa yang kaukasihi dan menangis dengan getir daripada gagal memuaskan Tuhan. Hanya inilah kasih yang sejati dan iman yang sejati. Bagaimanapun tingkat pertumbuhanmu yang sebenarnya, engkau harus terlebih dahulu memiliki tekad untuk menderita sekaligus iman yang sejati. Engkau juga harus memiliki tekad untuk memberontak terhadap daging; engkau harus lebih memilih menderita dan mengalami kerugian pada kepentingan pribadimu, daripada gagal memenuhi maksud-maksud Tuhan. Engkau juga harus mampu merasa menyesal di dalam hatimu: Pada masa lalu, engkau tidak mampu memuaskan Tuhan, dan sekarang, engkau mampu merasa menyesal. Engkau tidak boleh kekurangan satu pun dari hal-hal ini—melalui hal-hal inilah Tuhan akan menyempurnakanmu. Jika engkau tidak memenuhi syarat-syarat ini, engkau tidak dapat disempurnakan.

Orang yang melayani Tuhan seharusnya tidak sekadar tahu menderita bagi-Nya; terlebih dari itu, mereka harus memahami bahwa tujuan percaya kepada Tuhan adalah untuk mengejar kasih kepada Tuhan. Tuhan memakaimu bukan sekadar untuk memurnikanmu dan membuatmu menderita, melainkan justru agar engkau dapat mengenal perbuatan-perbuatan-Nya, mengetahui makna sejati hidup manusia, dan terlebih lagi mengetahui bahwa melayani Tuhan bukanlah tugas yang mudah. Mengalami pekerjaan Tuhan bukanlah tentang menikmati kasih karunia; sebaliknya itu lebih tentang menderita demi mengasihi Tuhan. Karena engkau menikmati kasih karunia Tuhan, engkau juga harus menikmati hajaran-Nya; engkau harus mengalami semua ini. Jika engkau mampu mengalami pencerahan dari Tuhan, juga mampu mengalami pemangkasan dan penghakiman dari-Nya, pengalamanmu akan menyeluruh. Tuhan telah melakukan pekerjaan penghakiman-Nya terhadapmu, dan Dia juga telah melakukan pekerjaan hajaran-Nya terhadapmu. Firman Tuhan telah memangkasmu, tetapi juga telah mencerahkan dan menerangimu. Ketika engkau negatif dan lemah, Tuhan tetap memedulikanmu. Semua pekerjaan ini mengajarmu bahwa segala sesuatu tentang manusia berada dalam pengaturan Tuhan. Engkau mungkin berpikir bahwa percaya kepada Tuhan hanyalah tentang menderita, atau melakukan banyak hal bagi-Nya, atau dagingmu merasakan kedamaian, atau segala sesuatu berjalan lancar bagimu, dan engkau merasa nyaman dan tenang dalam segala hal. Tak satu pun dari hal-hal ini merupakan tujuan yang seharusnya orang miliki dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan. Jika engkau percaya demi tujuan-tujuan ini, berarti sudut pandangmu salah, dan sama sekali tidak mungkin bagimu untuk disempurnakan. Perbuatan Tuhan, watak benar Tuhan, hikmat-Nya, firman-Nya, keajaiban-Nya serta sifat-Nya yang tak terselami, semua itulah yang seharusnya orang pahami. Melalui pemahaman ini, engkau harus menyingkirkan tuntutan, harapan, dan gagasan pribadi di dalam hatimu. Hanya dengan menyingkirkan hal-hal ini, barulah engkau dapat memenuhi syarat yang dituntut oleh Tuhan. Hanya melalui ini, barulah engkau dapat memiliki hidup dan memuaskan Tuhan. Tujuan percaya kepada Tuhan adalah untuk memuaskan-Nya dan hidup dalam watak yang Dia tuntut, agar perbuatan dan kemuliaan-Nya dapat dinyatakan melalui sekelompok orang yang tidak layak ini. Inilah sudut pandang yang benar tentang percaya kepada Tuhan, dan ini juga merupakan tujuan yang seharusnya engkau kejar. Sudut pandangmu tentang percaya kepada Tuhan harus diluruskan, dan engkau harus berusaha untuk memperoleh firman Tuhan. Engkau perlu makan dan minum firman Tuhan dan harus bisa hidup dalam kebenaran, dan terutama engkau harus mampu melihat perbuatan-Nya yang nyata, perbuatan-Nya yang menakjubkan di seluruh alam semesta, serta pekerjaan nyata yang Dia lakukan di dalam daging. Melalui pengalaman nyatanya, manusia seharusnya mampu memahami bagaimana sebenarnya Tuhan bekerja atas dirinya dan apa maksud Tuhan terhadap dirinya. Tujuan dari semua ini adalah agar dia mampu membuang watak rusak Iblis dalam dirinya. Dengan membuang semua kecemaran dan ketidakbenaran di dalam dirimu, serta membuang niatmu yang salah, engkau akan mengembangkan kepercayaan sejati kepada Tuhan. Hanya dengan kepercayaan sejati, barulah engkau mampu sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Engkau hanya bisa benar-benar mengasihi Tuhan berdasarkan kepercayaanmu kepada-Nya. Dapatkah engkau mencapai kasih kepada Tuhan tanpa memercayai-Nya? Karena engkau percaya kepada Tuhan, engkau tidak bisa membiarkan dirimu bingung tentang hal ini. Ada orang-orang yang menjadi termotivasi begitu mereka melihat bahwa iman kepada Tuhan akan memberi mereka berkat, tetapi kemudian kehilangan semua motivasi begitu mereka melihat bahwa mereka harus mengalami pemurnian. Seperti itukah percaya kepada Tuhan? Pada akhirnya, engkau harus mencapai ketundukan yang sempurna dan mutlak di hadapan Tuhan dalam imanmu. Engkau percaya kepada Tuhan, tetapi jika engkau masih mengajukan tuntutan kepada-Nya, memiliki banyak gagasan agamawi yang tidak bisa engkau lepaskan, kepentingan pribadi yang tidak bisa engkau tinggalkan, dan engkau masih mencari berkat daging dan ingin Tuhan menyelamatkan dagingmu, menyelamatkan jiwamu, berarti engkau sedang memperlihatkan perilaku seseorang dengan perspektif yang salah. Meskipun orang dengan kepercayaan agamawi memiliki iman kepada Tuhan, mereka tidak berusaha mengubah watak mereka, tidak mengejar pengenalan akan Tuhan, tetapi sebaliknya mereka hanya mengejar kepentingan daging mereka. Banyak di antara engkau sekalian yang memiliki iman yang termasuk dalam kategori keyakinan agamawi; ini bukanlah iman yang sejati kepada Tuhan. Untuk percaya kepada Tuhan, manusia harus memiliki hati yang siap menderita demi Dia dan tekad untuk menyerahkan diri. Jika mereka tidak memenuhi kedua persyaratan ini, hal itu tidak dianggap sebagai iman kepada Tuhan dan mereka tidak akan mampu mengalami perubahan dalam wataknya. Hanya mereka yang dengan sungguh-sungguh mengejar kebenaran, pengenalan akan Tuhan, dan kehidupanlah yang benar-benar percaya kepada Tuhan.

Ketika ujian menimpamu, bagaimana engkau akan menghadapi ujian tersebut berdasarkan pekerjaan Tuhan? Apakah engkau akan bersikap negatif, atau apakah engkau akan berusaha memahami ujian dan pemurnian Tuhan atas manusia dari aspek yang positif? Apa yang akan engkau peroleh melalui ujian dan pemurnian Tuhan? Apakah kasihmu kepada Tuhan akan bertumbuh? Ketika engkau mengalami pemurnian, mampukah engkau dengan sungguh-sungguh menghadapi pekerjaan yang Tuhan lakukan atas dirimu, berdasarkan ujian Ayub? Melalui ujian Ayub, dapatkah engkau melihat bagaimana Tuhan menguji manusia? Inspirasi apa yang engkau dapatkan dari ujian Ayub? Apakah engkau bersedia berdiri teguh dalam kesaksianmu bagi Tuhan di tengah-tengah pemurnianmu, atau apakah engkau ingin memuaskan daging dalam lingkungan yang nyaman? Apakah sudut pandangmu yang sesungguhnya tentang iman kepada Tuhan? Apakah itu sungguh-sungguh untuk-Nya, dan bukan untuk daging? Apakah engkau sebenarnya memiliki tujuan dalam pengejaranmu? Apakah engkau mau menjalani pemurnian sehingga engkau dapat disempurnakan oleh Tuhan, atau apakah engkau lebih suka dihajar dan dikutuk oleh Tuhan? Apa sebenarnya pandanganmu tentang menjadi kesaksian bagi Tuhan? Apa yang seharusnya orang lakukan dalam lingkungan tertentu supaya menjadi kesaksian yang sejati bagi Tuhan? Karena Tuhan yang nyata telah menyatakan begitu banyak pekerjaan-Nya yang nyata melalui dirimu, mengapa engkau selalu berpikir untuk pergi? Apakah kepercayaanmu kepada Tuhan adalah untuk Tuhan? Sebagian besar dari engkau semua memikirkan diri sendiri dan mengejar keuntungan pribadimu sendiri. Sangat sedikit orang yang percaya kepada Tuhan demi Tuhan; bukankah ini pemberontakan?

Tujuan pekerjaan pemurnian terutama adalah untuk menyempurnakan iman manusia. Pada akhirnya, apa yang dicapai adalah engkau ingin pergi, tetapi tidak bisa, ada orang-orang yang masih mampu memiliki iman, bahkan ketika mereka kehilangan secercah harapan terkecil sekalipun, dan manusia tidak lagi memiliki harapan sama sekali mengenai prospeknya sendiri. Baru pada saat inilah pemurnian Tuhan akan selesai. Jika manusia masih belum mencapai tahap berada di ambang hidup dan mati, dan belum merasakan kematian, berarti pemurniannya belum selesai. Bahkan mereka yang telah berada pada tahap pelaku pelayanan pun belum dimurnikan sampai tingkat yang paling tinggi. Ayub menjalani pemurnian sampai tingkat yang paling tinggi, dan dia tidak memiliki apa pun untuk diandalkan. Manusia harus dimurnikan sampai ke titik yang sama—sampai mereka tidak memiliki secercah harapan dan tidak memiliki satu hal pun untuk diandalkan. Hanya inilah pemurnian yang sejati. Selama masa para pelaku pelayanan, jika hatimu selalu tenang di hadapan Tuhan, dan jika apa pun yang dilakukan-Nya dan apa pun maksud-Nya bagimu, engkau selalu tunduk pada pengaturan-Nya, maka pada akhirnya, engkau akan mengerti semua yang telah Tuhan lakukan. Ketika engkau menjalani ujian Ayub, pada saat yang sama, engkau juga sedang menjalani ujian Petrus. Ketika Ayub diuji, dia tetap teguh dalam kesaksiannya, dan pada akhirnya, Yahweh menampakkan diri kepadanya. Hanya setelah dia tetap teguh dalam kesaksiannya, barulah dia layak melihat wajah Tuhan. Mengapa dikatakan, "Aku menyembunyikan diri-Ku dari tanah yang najis, tetapi menampakkan diri kepada kerajaan yang kudus"? Ini berarti bahwa hanya ketika engkau disucikan dan tetap teguh dalam kesaksianmu, barulah engkau layak melihat wajah Tuhan. Jika engkau tidak bisa tetap teguh dalam kesaksianmu, engkau tidak layak melihat wajah-Nya. Jika engkau mundur atau mengeluh terhadap Tuhan ketika menghadapi pemurnian sehingga gagal tetap teguh dalam kesaksianmu dan menjadi bahan tertawaan Iblis, engkau tidak akan memperoleh penampakan Tuhan. Jika engkau seperti Ayub, yang di tengah-tengah ujian mengutuk dagingnya sendiri, tetapi tidak mengeluh terhadap Tuhan, dan mampu membenci dagingnya sendiri tanpa mengeluh atau berbuat dosa melalui perkataannya, maka engkau akan tetap teguh dalam kesaksianmu. Ketika engkau menjalani pemurnian sampai tingkat tertentu dan bisa seperti Ayub, sepenuhnya tunduk di hadirat Tuhan dan tanpa tuntutan lain kepada-Nya atau tanpa gagasanmu sendiri, maka Tuhan akan menampakkan diri kepadamu. Sekarang ini Tuhan tidak menampakkan diri kepadamu karena engkau memiliki begitu banyak gagasanmu sendiri, prasangka pribadi, pikiran yang egois, tuntutan pribadi, dan kepentingan daging, sehingga engkau tidak layak melihat wajah-Nya. Kalaupun engkau melihat Tuhan, engkau akan mengukur-Nya berdasarkan gagasanmu sendiri dan dengan melakukannya, engkau akan memakukan-Nya ke kayu salib. Jika banyak hal menimpamu yang tidak sesuai dengan gagasanmu, tetapi engkau mampu mengesampingkannya dan memperoleh pengetahuan tentang perbuatan Tuhan dari hal-hal tersebut, dan di tengah-tengah pemurnian engkau memperlihatkan hati yang mengasihi Tuhan, maka inilah yang disebut tetap teguh dalam kesaksianmu. Jika rumahmu damai, engkau menikmati kenyamanan daging, tidak ada yang menganiayamu, dan saudara-saudari di gereja menaatimu, bisakah hatimu yang mengasihi Tuhan tersingkap? Dapatkah situasi ini memurnikanmu? Hanya melalui pemurnianlah hatimu yang mengasihi Tuhan bisa diperlihatkan, dan hanya melalui terjadinya hal-hal yang tidak sesuai dengan gagasanmu, engkau bisa disempurnakan. Dengan memanfaatkan banyak hal negatif untuk melakukan pelayanan, dan melalui segala macam perwujudan Iblis—tindakannya, tuduhannya, gangguannya dan penyesatannya—Tuhan memperlihatkan kepadamu wajah jahat Iblis dengan jelas, dan dengan demikian, memberimu kemampuan untuk mengenali Iblis sehingga engkau dapat membenci Iblis dan memberontak terhadapnya.

Banyaknya pengalaman kegagalan, kelemahan, dan berbagai masa negatif yang engkau alami bisa dikatakan sebagai ujian Tuhan bagimu. Ini karena segala sesuatu berasal dari Tuhan, dan semua hal dan peristiwa ada di tangan-Nya. Entah engkau gagal atau lemah atau tersandung, semua tergantung pada Tuhan dan berada dalam genggaman tangan-Nya. Dari perspektif Tuhan, ini adalah ujian bagimu, dan jika engkau tidak bisa mengenalinya, itu akan menjadi pencobaan. Ada dua keadaan yang manusia harus kenali: satu datang dari Roh Kudus, kemungkinan sumber lainnya adalah Iblis. Yang satu adalah keadaan di mana Roh Kudus menerangimu dan memungkinkanmu untuk mengenal dirimu sendiri, membenci dan merasa menyesal terhadap diri sendiri, dan mampu memiliki kasih sejati kepada Tuhan, dan bertekad untuk memuaskan-Nya. Yang satu lagi adalah keadaan di mana engkau mengenal dirimu sendiri, tetapi engkau negatif dan lemah. Bisa dikatakan bahwa ini adalah pemurnian Tuhan, dan ini juga bisa dikatakan pencobaan Iblis. Jika engkau mengenali bahwa ini adalah penyelamatan Tuhan atas dirimu dan jika engkau merasa bahwa sekarang engkau sangat berutang kepada-Nya—dan mulai sekarang engkau seharusnya berusaha untuk memperbaiki kesalahan, berhenti hidup dalam kebejatan seperti itu, serta makan dan minum firman Tuhan dengan benar—dan jika engkau selalu menganggap dirimu tidak baik, dan memiliki hati yang merindu, itu adalah ujian dari Tuhan. Setelah penderitaan berakhir, dan engkau sekali lagi bergerak maju, Tuhan akan tetap memimpin, menerangi, mencerahkan, dan memeliharamu. Namun, jika engkau tidak bisa mengakuinya dan engkau menjadi negatif, semata-mata menelantarkan dirimu dalam keputusasaan, jika engkau berpikir demikian, maka itu artinya pencobaan Iblis telah menimpamu. Ketika Ayub menjalani ujian, Tuhan dan Iblis bertaruh, dan Tuhan mengizinkan Iblis menyiksa Ayub. Meskipun Tuhanlah yang sedang menguji Ayub, Iblislah yang datang kepada Ayub. Bagi Iblis, itu adalah pencobaan bagi Ayub, tetapi Ayub berdiri di pihak Tuhan. Jika tidak demikian, Ayub pasti telah jatuh ke dalam pencobaan. Begitu orang jatuh ke dalam pencobaan, mereka berada dalam bahaya. Menjalani pemurnian dapat dikatakan sebagai ujian dari Tuhan, tetapi jika engkau tidak berada dalam keadaan yang baik, dapat dikatakan itu adalah pencobaan dari Iblis. Jika engkau tidak jelas tentang visi, Iblis akan menuduhmu dan mengaburkan persepsimu tentang visi. Sebelum kausadari, engkau sudah jatuh ke dalam pencobaan.

Jika engkau tidak mengalami pekerjaan Tuhan, engkau tidak akan pernah bisa disempurnakan. Dalam pengalamanmu, engkau juga harus menyelami sampai ke rinciannya. Misalnya, hal-hal apa yang membuatmu mengembangkan gagasan serta berbagai motif, dan tindakan praktis apa yang kaumiliki untuk menyelesaikan masalah-masalah ini? Jika engkau bisa mengalami pekerjaan Tuhan, ini berarti engkau memiliki tingkat pertumbuhan. Jika engkau hanya memiliki semangat yang tampak dari luar, itu bukanlah tingkat pertumbuhan yang sebenarnya dan engkau pasti tidak akan sanggup berdiri teguh. Hanya jika engkau semua mampu mengalami pekerjaan Tuhan dan engkau mampu mengalami dan merenungkan pekerjaan Tuhan setiap saat dan di mana saja, jika engkau semua mampu meninggalkan gembala, hidup mandiri dengan bergantung kepada Tuhan, dan engkau mampu melihat perbuatan-perbuatan Tuhan yang nyata—hanya pada saat itulah maksud Tuhan terpenuhi. Saat ini, kebanyakan orang tidak tahu bagaimana mengalaminya, dan saat menghadapi masalah, mereka tidak tahu cara menanganinya; mereka tidak mampu mengalami pekerjaan Tuhan, dan mereka tidak dapat menjalani kehidupan rohani. Engkau harus menerima firman dan pekerjaan Tuhan dalam kehidupanmu yang nyata.

Kadang Tuhan memberimu perasaan tertentu, perasaan yang membuatmu kehilangan sukacita dalam batinmu, dan kehilangan hadirat Tuhan, sampai engkau merasa berada dalam kegelapan. Inilah salah satu jenis pemurnian. Setiap kali engkau melakukan sesuatu, selalu gagal atau seperti tidak berhasil. Inilah disiplin Tuhan. Terkadang, ketika engkau melakukan sesuatu yang memberontak dan menentang Tuhan, tidak seorang pun mengetahuinya—tetapi Tuhan tahu. Dia tidak akan melepaskanmu dan Dia akan mendisiplinkan dirimu. Pekerjaan Roh Kudus sangat mendetail. Dia memeriksa dengan sangat jelas setiap perkataan dan tindakan manusia, setiap tingkah laku dan gerak-geriknya, serta setiap pikiran dan idenya, memberi mereka kesadaran di dalam batin. Engkau pernah melakukan sesuatu dan itu gagal, engkau kembali melakukan sesuatu dan itu tetap gagal, dan pelan-pelan engkau akan mulai memahami pekerjaan Roh Kudus. Lewat banyak disiplin, engkau akan tahu apa yang harus dilakukan supaya sejalan dengan maksud Tuhan dan apa yang tidak sejalan dengan maksud-Nya. Pada akhirnya, engkau akan memiliki respons yang akurat terhadap bimbingan Roh Kudus dalam dirimu. Kadang engkau akan berontak dan engkau akan ditegur oleh Tuhan di dalam batinmu. Semua ini berasal dari pendisiplinan Tuhan. Jika engkau tidak menghargai firman Tuhan, jika engkau memandang rendah pekerjaan-Nya, Dia tidak akan memedulikan engkau. Semakin engkau serius menanggapi firman Tuhan, semakin Dia akan mencerahkanmu. Saat ini, ada orang-orang di gereja yang bingung dan kacau dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan, dan mereka melakukan banyak hal yang melampaui batas tanpa didisiplinkan sehingga pekerjaan Roh Kudus tidak dapat terlihat dengan jelas di dalam diri mereka. Demi mendapatkan uang, ada orang-orang yang mengabaikan amanatnya dan pergi menjalankan bisnis, dan mereka tidak didisiplinkan karena hal ini; orang semacam itulah yang justru berada dalam bahaya yang lebih besar. Mereka bukan hanya tidak memiliki pekerjaan Roh Kudus saat ini, tetapi di masa depan mereka akan sulit disempurnakan. Ada banyak orang yang di dalam dirinya pekerjaan Roh Kudus tidak bisa terlihat dan di dalam dirinya pendisiplinan Tuhan tidak bisa terlihat. Mereka adalah orang-orang yang tidak tahu dengan jelas maksud Tuhan dan yang tidak mengetahui pekerjaan-Nya. Jika di tengah-tengah pemurnian orang bisa berdiri teguh, mengikuti Tuhan apa pun yang Dia lakukan, setidaknya tidak meninggalkan-Nya, dan mencapai 0,1% dari apa yang dicapai Petrus, itu sudah cukup. Namun, orang-orang semacam itu tidak memiliki nilai dalam hal Tuhan memakai mereka. Banyak orang bisa mengerti sesuatu dengan cepat, memiliki kasih sejati kepada Tuhan, dan bisa melampaui tingkat yang dicapai Petrus, dan Tuhan melakukan pekerjaan penyempurnaan dalam diri mereka. Disiplin dan pencerahan datang kepada orang-orang seperti itu, dan jika ada sesuatu dalam diri mereka yang tidak sesuai dengan maksud Tuhan, mereka akan langsung membuangnya. Orang-orang semacam itu adalah emas, perak, dan batu-batu berharga—nilai mereka adalah yang tertinggi! Jika Tuhan sudah melakukan banyak pekerjaan, tetapi engkau masih seperti pasir atau batu, engkau tidak berharga!

Pekerjaan Tuhan di negeri si naga merah yang sangat besar sangatlah menakjubkan dan tak terselami. Dia akan menyempurnakan sekelompok orang dan menyingkirkan beberapa orang lainnya, karena ada semua jenis orang di dalam gereja—ada orang yang mencintai kebenaran dan yang tidak; ada orang yang mengalami pekerjaan Tuhan dan yang tidak; ada orang yang melakukan tugas mereka dan yang tidak; ada orang-orang yang bersaksi tentang Tuhan dan yang tidak—dan sebagian dari mereka adalah pengikut yang bukan orang percaya dan orang-orang jahat, dan mereka pasti akan disingkirkan. Jika engkau tidak mengetahui pekerjaan Tuhan dengan jelas, engkau akan menjadi negatif; ini adalah karena pekerjaan Tuhan hanya bisa dilihat dalam diri sebagian kecil orang. Pada saat ini, akan tersingkap siapa yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan siapa yang tidak. Mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan memiliki pekerjaan Roh Kudus, sedangkan mereka yang tidak dengan sungguh-sungguh mengasihi Dia akan tersingkap melalui setiap langkah dalam pekerjaan-Nya. Mereka akan menjadi orang-orang yang disingkirkan. Orang-orang ini akan disingkapkan dalam pekerjaan penaklukan, dan mereka adalah orang-orang yang tidak punya nilai untuk disempurnakan. Mereka yang telah disempurnakan telah didapatkan oleh Tuhan dalam keseluruhan diri mereka, dan mampu mengasihi Tuhan seperti Petrus. Mereka yang telah ditaklukkan tidak memiliki kasih yang spontan, tetapi hanya kasih yang pasif, dan mereka terpaksa untuk mengasihi Tuhan. Kasih yang spontan dikembangkan melalui pemahaman yang diperoleh lewat pengalaman praktis. Kasih ini memenuhi hati seseorang yang membuatnya mampu untuk secara sukarela setia kepada Tuhan, menjadikan firman Tuhan sebagai landasannya dan menderita demi Tuhan. Tentu saja, ini adalah hal-hal yang dimiliki orang yang sudah disempurnakan oleh Tuhan. Jika engkau hanya berusaha untuk ditaklukkan, engkau tidak bisa menjadi kesaksian bagi Tuhan; jika Tuhan hanya mencapai tujuan penyelamatan-Nya lewat menaklukkan orang, maka langkah para pelaku pelayanan akan menyelesaikan pekerjaan tersebut. Namun, menaklukkan manusia bukanlah tujuan akhir Tuhan, tujuan akhir-Nya adalah menyempurnakan manusia. Jadi, daripada mengatakan tahap ini adalah tahap pekerjaan penaklukan, lebih baik mengatakan bahwa ini adalah tahap pekerjaan penyempurnaan dan penyingkiran. Sebagian orang belum sepenuhnya ditaklukkan, dan dalam proses menaklukkan mereka, sekelompok orang akan disempurnakan. Kedua pekerjaan ini dilakukan serempak. Orang-orang belum pergi bahkan selama masa pekerjaan yang panjang, dan ini menunjukkan bahwa tujuan penaklukan sudah tercapai—inilah fakta mengenai ditaklukkan. Pemurnian bukanlah demi penaklukan, tetapi demi penyempurnaan. Tanpa pemurnian, manusia tidak bisa disempurnakan. Jadi, pemurnian begitu berharga! Hari ini sekelompok orang disempurnakan dan didapatkan. Kesepuluh berkat yang disebutkan sebelumnya semuanya ditujukan kepada mereka yang sudah disempurnakan. Masalah perubahan rupa di bumi ditujukan kepada mereka yang telah disempurnakan. Mereka yang belum disempurnakan, tidak memenuhi syarat untuk mewarisi janji-janji Tuhan.

Sebelumnya: Orang yang Mampu Tunduk Sepenuhnya pada Kenyataan Diri Tuhan adalah Orang yang Sungguh-Sungguh Mengasihi Tuhan

Selanjutnya: Hanya dengan Mengalami Ujian-Ujian yang Menyakitkan Engkau Bisa Mengenal Keindahan Tuhan

Pengaturan

  • Teks
  • Tema

Warna Solid

Tema

Jenis Huruf

Ukuran Huruf

Spasi Baris

Spasi Baris

Lebar laman

Isi

Cari

  • Cari Teks Ini
  • Cari Buku Ini

Hubungi kami via WhatsApp