37. Apa yang Menghalangiku Menerapkan Kebenaran
Aku bekerja sama dengan beberapa orang di gereja untuk melakukan pekerjaan desain grafis. Suatu hari, pemimpin memberitahuku bahwa dua saudari telah menyinggung masalah tentang Saudara Oliver, mereka berkata bahwa dia suka bicara muluk-muluk dan memperlambat laju pekerjaan. Pemimpin bertanya apakah aku menemukan masalah ini saat bekerja dengannya. Aku ingat saat bekerja dengan Oliver, aku bisa melihat bahwa dia bersikukuh pada pendapatnya sendiri. Setelah semua orang berdiskusi dan memutuskan beberapa desain berdasarkan prinsip, dia selalu punya pendapat yang berbeda, tetapi tak memiliki perspektif yang jelas. Semua orang harus berpikir bersama dengannya dan itu membuang banyak waktu. Ada juga masalah yang relatif kecil terkait gambar yang bisa diperbaiki nanti dan tak perlu menyita banyak waktu semua orang untuk mendiskusikannya, tetapi dia bersikeras untuk menyelesaikan masalah itu sebelum melanjutkan. Dia menunda sampai semua orang sepakat, yang membuat kemajuan relatif lambat. Jadi, aku memberi tahu pemimpin tentang masalah yang telah kulihat. Pemimpin menegurku saat tahu bahwa aku sudah lama menyadari masalah ini, dia berkata, "Kau tahu bahwa Oliver melakukan berbagai hal dengan caranya sendiri dan memperlambat pekerjaan, lalu mengapa kau tak membatasinya, justru menuruti dan mengikutinya? Bukankah ini menunda pekerjaan?" Kata-kata pemimpin itu sungguh menusuk hati.
Aku kembali teringat saat aku sedang mendiskusikan desain dengan Oliver. Aku melihat bahwa dia berpegang teguh pada pendapatnya sendiri, dan itu membuatku cemas. Aku ingin menunjukkan masalahnya, tetapi kemudian aku ingat bahwa aku sendiri sangat congkak. Pemimpin juga telah memangkasku sebelumnya, memintaku untuk meninggalkan diriku sendiri dan bekerja sama secara harmonis dengan orang lain karena aku selalu congkak, merasa diri benar, berpegang teguh pada pendapatku sendiri, dan berdebat dengan saudari-saudari yang bekerja sama denganku sehingga menunda pekerjaan. Jika aku menunjukkan masalah Oliver di depan semua orang atau menyangkal pendapatnya, orang-orang mungkin akan berpikir bahwa aku masih congkak dan tak memiliki nalar, serta tak bisa dengan tenang menerima saran atau bekerja sama dengan orang lain. Jadi, berapa pun lamanya pekerjaan tertunda, aku mendengarkan perkataan Oliver dengan sabar. Terkadang, saat mengevaluasi sarannya berdasarkan prinsip, kami merasa bahwa itu tak bisa dilakukan. Kami lalu menunjukkan di mana letak masalahnya, tetapi dia tak mau menerimanya dengan baik, dan tetap bersikeras pada pandangannya. Jika kami tak melakukan seperti yang dia sarankan, dia kesal dan tak mau bicara, membuat keadaan sangat canggung dan menghambat pekerjaan. Awalnya aku ingin memberi tahu pemimpin. Namun, kupikir karena pemimpin baru saja memangkasku akibat kecongkakanku dan ketidakmampuanku untuk bekerja sama dengan orang lain, jika aku melaporkan masalah orang lain, pemimpin mungkin akan berpikir bahwa aku fokus pada masalah orang lain dan mencari-cari kesalahan, bahwa aku tak berubah sama sekali setelah dipangkas olehnya. Kalau begitu, sampai kapan aku bisa melaksanakan tugasku? Setelah memikirkan hal itu, aku tak melaporkan atau menunjukkan masalah Oliver. Akibatnya, karena tak bisa sepakat dan selalu bernegosiasi serta berdiskusi tanpa henti, pada akhirnya, kami menghabiskan satu hari untuk sesuatu yang jelas-jelas bisa diselesaikan dalam setengah hari sehingga memperlambat kecepatan kerja. Memikirkan semua ini membuatku merasa bersalah dan menyalahkan diriku sendiri. Bukannya aku tak melihat masalah Oliver, tetapi aku menahan diri dan tak pernah menunjukkan itu kepadanya. Aku teringat akan suatu bagian dari firman Tuhan: "Setelah kebenaran menjadi hidupmu, jika engkau melihat siapa pun menghujat Tuhan, tidak takut akan Tuhan, bersikap asal-asalan saat melaksanakan tugasnya, atau mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja, engkau akan mampu memperlakukan mereka berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran, membedakan orang yang harus dibedakan, dan menyingkapkan orang yang harus disingkapkan. Jika kebenaran belum menjadi hidupmu, dan engkau masih hidup dalam watak Iblismu, maka ketika engkau melihat orang jahat dan para setan menyebabkan kekacauan dan gangguan pada pekerjaan gereja, engkau akan berpura-pura tidak melihat dan tidak mendengar, serta mengabaikannya, tanpa merasa ditegur oleh hati nuranimu. Engkau bahkan akan berpikir bahwa siapa pun yang menyebabkan gangguan pada pekerjaan gereja, itu tidak ada hubungannya denganmu. Sebanyak apa pun pekerjaan gereja dan kepentingan rumah Tuhan dirugikan, engkau tidak akan peduli atau tidak akan menanyakannya, ataupun merasa ditegur oleh hati nuranimu. Dalam hal itu, engkau adalah orang yang tidak berhati nurani atau tidak bernalar, pengikut yang bukan orang percaya, orang yang berjerih payah. Engkau memakan dan meminum apa yang adalah milik Tuhan, serta menikmati semua yang berasal dari Tuhan, tetapi merasa bahwa kerugian apa pun yang menimpa kepentingan rumah Tuhan, itu tidak ada hubungannya denganmu—ini menjadikanmu pengkhianat yang memihak orang luar dengan mengorbankan orang sendiri, jenis orang yang menggigit tangan orang yang memberinya makan. Jika engkau tidak melindungi kepentingan rumah Tuhan, apakah engkau masih manusia? Engkau adalah setan yang telah menyusup ke dalam gereja. Engkau berpura-pura percaya kepada Tuhan, berpura-pura menjadi salah seorang umat pilihan Tuhan, dan ingin menumpang makan di rumah Tuhan—engkau tidak menyerupai manusia, dan engkau jelas-jelas adalah pengikut yang bukan orang percaya. Mereka yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, sekalipun mereka belum memperoleh kebenaran dan hidup, setidaknya akan memihak Tuhan dalam perkataan dan tindakan mereka; setidaknya, mereka tidak akan berpangku tangan ketika melihat kepentingan rumah Tuhan dirugikan. Jika mereka mencoba mengabaikannya, hati nurani mereka akan merasa ditegur dan tidak tenang, dan mereka akan berkata pada diri mereka sendiri, 'Aku tidak bisa hanya duduk diam dan tidak melakukan apa-apa. Aku harus bangkit dan mengatakan sesuatu, aku harus memenuhi tanggung jawabku. Aku harus maju untuk menyingkapkan dan menghentikan perbuatan jahat ini, melindungi kepentingan rumah Tuhan dari kerugian, dan memastikan kehidupan gereja tidak terganggu.' Jika di dalam hatimu, kebenaran telah menjadi hidupmu, engkau bukan saja akan memiliki keberanian dan tekad ini, tetapi engkau juga akan mampu mengetahui yang sebenarnya tentang hal ini. Terlebih lagi, engkau akan mampu memenuhi bagian tanggung jawabmu bagi pekerjaan Tuhan dan bagi kepentingan rumah-Nya, dan dengan cara ini, tugasmu akan terlaksana" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Dari firman Tuhan, aku tahu bahwa orang yang berhati nurani dan benar-benar percaya kepada Tuhan itu sehati dengan Tuhan dan memihak Dia saat menghadapi segala hal. Jika melihat seseorang mengganggu dan mengacaukan pekerjaan gereja, mereka dapat mengambil sikap untuk menyingkapkan dan menghentikan orang itu. Mereka melindungi pekerjaan gereja. Namun, aku? Aku jelas-jelas melihat Oliver berpegang teguh pada pendapatnya dan tak menerima pendapat orang lain. Dia terus memperlambat kecepatan kerja, tetapi agar orang-orang tidak berkata bahwa aku congkak dan mencari gara-gara, aku bukan hanya tak menghentikan dan menyelesaikannya atau menawarkan petunjuk serta bantuan, melainkan aku hanya diam, menutup mata. Aku hanya ingin melindungi kepentinganku sendiri, tidak melindungi efektivitas pekerjaan kami. Akibatnya, pekerjaan pun tertunda. Dari luar, aku tampak sibuk melaksanakan tugasku setiap hari. Namun pada kenyataannya, aku tak benar-benar memikul beban dalam tugasku dan tak setia kepada Tuhan sama sekali. Bencana menjadi makin besar dan banyak orang mulai mencari serta menyelidiki jalan yang benar. Jika kami bisa mempercepat langkah dan membuat lebih banyak foto penginjilan, kami bisa memberikan kontribusi kecil pada pekerjaan penginjilan. Namun, aku tak memikirkan maksud Tuhan. Sudah begitu lama aku membiarkan kecepatan kerja terhambat, dan aku tak segera menghentikan atau menyelesaikannya. Aku benar-benar tak punya hati nurani dan kemanusiaan, sama seperti "Pengkhianat yang memihak orang luar dengan mengorbankan orang sendiri, jenis orang yang menggigit tangan orang yang memberinya makan", yang diungkapkan dalam firman Tuhan. Aku menggunakan gereja untuk mencari makan dan tak berguna di masa-masa kritis. Saat menyadari ini, aku merasa sangat menyesal dan berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, aku mengabaikan pekerjaan gereja untuk melindungi diriku sendiri. Aku bersedia bertobat kepada-Mu. Tolong tuntun aku agar bisa benar-benar mengenal diriku sendiri."
Kemudian, aku mulai merenungkan mengapa sangat sulit bagiku untuk menerapkan kebenaran dan apa yang menghalangiku. Aku makan dan minum dua bagian firman Tuhan yang berlaku untuk keadaanku: "Ada orang-orang yang mengikuti kehendak mereka sendiri ketika melakukan sesuatu dan akhirnya melanggar prinsip. Setelah dipangkas, mereka mengakuinya hanya dengan kata-kata bahwa mereka congkak, dan bahwa mereka melakukan kesalahan hanya karena mereka tidak memiliki kebenaran. Namun, di dalam hatinya, mereka mengeluh, 'Tidak ada orang lain yang berani mengambil risiko, hanya aku—dan pada akhirnya, ketika ada masalah, mereka mengalihkan tanggung jawab kepadaku. Bukankah ini adalah kebodohanku? Aku tidak akan melakukan hal yang sama lain kali, tidak akan lagi mengambil risiko seperti itu. Burung yang menjulurkan lehernya adalah burung yang tertembak!' Bagaimana menurutmu sikap seperti ini? Apakah ini sikap yang bertobat? (Tidak.) Sikap apakah itu? Bukankah mereka telah menjadi licin dan licik? Di dalam hatinya mereka berpikir, 'Kali ini aku beruntung hal itu tidak menjadi bencana. Jatuh ke dalam lubang, dan memperoleh keuntungan dalam kecerdasan. Aku harus berhati-hati di masa depan.' Mereka tidak mencari kebenaran, menggunakan tipuan kecil dan siasat licik mereka untuk mengatasi dan menangani masalah tersebut. Dapatkah mereka memperoleh kebenaran dengan cara ini? Mereka tidak dapat, karena mereka belum bertobat" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Mengejar Kebenaran Orang Bisa Meluruskan Gagasan dan Kesalahpahaman Mereka tentang Tuhan"). "Ketika orang tidak bertanggung jawab dalam tugas mereka, melaksanakannya dengan sikap asal-asalan, menjadi penyenang orang, dan tidak melindungi kepentingan rumah Tuhan, watak macam apakah ini? Ini adalah watak licik, ini adalah watak Iblis. Aspek paling menonjol dari falsafah manusia tentang cara berinteraksi dengan orang lain adalah watak licik. Orang mengira jika mereka tidak licik, mereka akan cenderung menyinggung perasaan orang lain dan tidak dapat melindungi diri mereka sendiri; mereka beranggapan bahwa mereka harus cukup licik—tidak menyakiti atau menyinggung siapa pun—sehingga mereka dapat menjaga diri mereka tetap aman, melindungi mata pencaharian mereka, dan mendapatkan kedudukan yang stabil di antara orang lain. Semua orang tidak percaya hidup berdasarkan falsafah Iblis. Mereka semua adalah para penyenang orang dan tidak menyinggung siapa pun. Engkau telah datang ke rumah Tuhan, membaca firman Tuhan, dan mendengarkan khotbah di rumah Tuhan, lalu mengapa engkau tidak mampu menerapkan kebenaran, berbicara dari hati dan menjadi orang yang jujur? Mengapa engkau selalu menjadi penyenang orang? Penyenang orang hanya melindungi kepentingan mereka sendiri, dan bukan kepentingan gereja. Ketika mereka melihat seseorang berbuat jahat dan merugikan kepentingan gereja, mereka mengabaikannya. Mereka suka menjadi penyenang orang, dan tidak menyinggung siapa pun. Sikap seperti ini tidak bertanggung jawab, dan orang semacam ini terlalu licik dan tidak dapat dipercaya" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Bagian Tiga"). Firman Tuhan menyentuh hatiku dan akhirnya aku tahu bahwa alasanku tak bisa menerapkan kebenaran atau menjunjung prinsip kebenaran adalah karena naturku terlalu licik. Sejak pemimpin memangkasku karena kecongkakanku, aku tak pernah benar-benar merenungkan diri atau mencari jalan untuk memperbaiki watak congkakku. Aku justru bersiasat serta berpura-pura bersikap toleran dan mengalah untuk melindungi diriku sendiri, membuat orang lain secara keliru berpikir bahwa aku rendah hati dan watak congkakku telah berubah. Dengan cara itu, pemimpin tak memangkasku atau memberhentikanku lagi. Aku menyadari bahwa hidup berdasarkan ide dan pandangan Iblis seperti "Burung yang menjulurkan lehernya adalah burung yang tertembak", "Diam itu emas, perkataan adalah perak, dan dia yang terlalu banyak bicara pasti akan melakukan kesalahan", dan "Jangan mencari jasa, tetapi menghindarlah agar tidak disalahkan" telah membuatku sangat egois, hina, licin, dan licik. Aku jelas-jelas melihat bahwa masalah Oliver telah memengaruhi pekerjaan kami. Aku seharusnya menyingkapkan dan menghentikan itu. Namun, aku justru menjadi penyenang orang untuk menyelesaikan konflik. Saat menghadapi masalah atau perselisihan, aku bicara sesedikit mungkin. Aku tak pernah berdebat dengan orang lain dan tak menjunjung prinsip sama sekali. Aku melindungi kepentinganku sendiri dengan baik, tetapi membiarkan pekerjaan gereja mengalami kerugian. Aku sangat licik dan suka menipu. Aku benar-benar membuat Tuhan merasa jijik dan benci. Terutama saat aku membaca firman Tuhan: "Mereka tidak mencari kebenaran, menggunakan tipuan kecil dan siasat licik mereka untuk mengatasi dan menangani masalah tersebut. Dapatkah mereka memperoleh kebenaran dengan cara ini? Mereka tidak dapat, karena mereka belum bertobat" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya dengan Mengejar Kebenaran Orang Bisa Meluruskan Gagasan dan Kesalahpahaman Mereka tentang Tuhan"), aku merasa makin menyesal. Sebelumnya, aku melaksanakan tugasku dengan watak congkak. Aku selalu menjunjung pandanganku sendiri dan tak mendengarkan saran orang lain. Ini bukan hanya membatasi orang lain, tetapi juga memengaruhi pekerjaan gereja. Pemimpin memangkasku agar aku bisa merenungkan diri dan mengenal diriku sendiri sehingga aku bisa segera mengubah jalanku dan melaksanakan tugas dengan baik. Namun, aku tak bertobat. Aku justru membentengi diri dari Tuhan dan orang lain. Bukan hanya tak melaksanakan tugasku dengan baik, aku bahkan tak peduli saat pekerjaan gereja terganggu. Aku mengerti bahwa aku bukanlah orang yang menerima kebenaran. Jika ini berlanjut, watak rusakku hanya akan memburuk, lalu pada akhirnya, aku akan disingkapkan dan disingkirkan! Saat memikirkan ini, aku takut dan segera berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhan, aku tak mau lagi melindungi kepentinganku sendiri dengan falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain ini. Aku bersedia untuk mencari kebenaran dan memperbaiki watak rusakku. Tolong bantu aku menemukan jalan penerapan."
Setelah itu, aku membaca sebuah bagian firman Tuhan: "Apakah berkompromi benar-benar satu-satunya cara untuk menghindari perdebatan? Dalam situasi apa engkau bisa berkompromi? Jika itu melibatkan hal-hal kecil yang berkaitan dengan kepentinganmu sendiri atau harga dirimu, itu tidak perlu diperdebatkan—engkau dapat memilih untuk bersikap toleran dan berkompromi. Namun, untuk hal-hal yang dapat memengaruhi pekerjaan gereja dan merugikan kepentingan rumah Tuhan, engkau harus menaati prinsip. Jika engkau tidak berpegang teguh pada hal ini, berarti engkau tidak setia kepada Tuhan. Jika engkau memilih untuk berkompromi dan mengabaikan prinsip-prinsip kebenaran demi melindungi harga dirimu atau mempertahankan hubungan antarpribadimu, bukankah ini egois dan tercela? Bukankah ini merupakan perwujudan dari sikap tidak bertanggung jawab dalam tugasmu dan tidak setia kepada Tuhan? (Ya.) Jadi, jika tiba saatnya dalam pelaksanaan tugasmu semua orang memiliki perbedaan pendapat, bagaimana seharusnya penerapanmu? Apakah terus-menerus memperdebatkannya akan menyelesaikan masalah? (Tidak.) Lalu, bagaimana engkau harus menyelesaikan masalah tersebut? Dalam situasi ini, orang yang memahami kebenaran harus maju untuk menyelesaikan masalah, dengan terlebih dahulu mengemukakan masalahnya dengan jelas dan membiarkan kedua belah pihak mengutarakan pendapat mereka. Kemudian, semua orang harus mencari kebenaran bersama-sama, dan setelah berdoa kepada Tuhan, mempersekutukan kebenaran firman Tuhan yang relevan. Setelah mereka mempersekutukan prinsip-prinsip kebenaran dan memperoleh kejelasan, kedua belah pihak akan mampu tunduk. Semua orang harus belajar untuk tunduk pada kebenaran. ... Jika orang terlibat dalam konflik dan perdebatan dengan orang lain demi melindungi kepentingan rumah Tuhan dan memastikan pekerjaan gereja membuahkan hasil, dan sikap mereka sedikit tidak mau mengalah, apakah engkau semua akan mengatakan itu adalah sebuah masalah? (Tidak.) Ini karena niat mereka benar, yaitu untuk melindungi kepentingan rumah Tuhan. Selain itu, mereka berpihak kepada Tuhan. Mereka adalah orang yang menaati prinsip-prinsip kebenaran dan orang yang diperkenan Tuhan. Memiliki sikap yang tidak mau mengalah dan teguh saat melindungi kepentingan rumah Tuhan adalah perwujudan dari memiliki pendirian yang teguh dan berpegang teguh pada prinsip, dan Tuhan berkenan akan hal itu. Sekalipun orang lain merasa ada masalah dengan cara berbicara atau sikap orang semacam itu, sebenarnya, ini bukanlah masalah; ini adalah perwujudan dari memiliki kenyataan kebenaran. Beberapa orang yang tidak memiliki pemahaman rohani dan memiliki niat tersembunyi akan mencoba memanfaatkan hal ini, tetapi ini sama sekali tidak berkaitan dengan perwujudan watak yang rusak. Ingatlah, menaati prinsip-prinsip kebenaran adalah hal yang paling penting. Jika orang tidak menaati prinsip-prinsip kebenaran, maka betapa pun manisnya perkataan yang mereka ucapkan, mereka adalah orang munafik" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Menerapkan Kebenaran adalah Satu-satunya Cara untuk Memperoleh Jalan Masuk Kehidupan"). Setelah membaca firman Tuhan, aku memahami bahwa kapan pun itu, kemampuan untuk meninggalkan keuntungan pribadi, menjunjung prinsip-prinsip kebenaran, dan melindungi pekerjaan gereja adalah hal yang paling penting. Sekalipun terkadang kau terlibat konflik dengan orang lain karena hal ini, atau berbicara sedikit kasar, semua itu bukanlah masalah besar. Yang Tuhan lihat adalah sikap kita terhadap kebenaran. Dia melihat apakah kita bisa menjunjung prinsip-prinsip kebenaran dan apakah kita menerapkan kebenaran. Sebelumnya, aku selalu berpikir jika menjunjung prinsip menyebabkan konflik, aku pasti menunjukkan watak congkak dan tak bekerja sama secara harmonis dengan orang lain. Jadi, agar orang lain tak menyebutku congkak, aku berkompromi dalam segala hal dan tak melakukan apa pun untuk menjunjung prinsip. Kini aku akhirnya memahami bahwa cara terbaik untuk menghindari perdebatan dan konflik adalah bertindak berdasarkan prinsip, memungkinkan setiap orang mengutarakan sudut pandangnya, lalu mencari kebenaran bersama-sama. Jika setelah mencari kau yakin bahwa tindakanmu sejalan dengan prinsip-prinsip kebenaran, pertahankanlah itu. Ini adalah tindakan yang tepat. Jika pandanganmu jelas-jelas salah, tetapi kau bersikeras mempertahankannya, lalu membuat orang-orang mendengarkanmu dan menerimanya, ini adalah manifestasi kecongkakan dan sikap merasa diri benar. Pada titik ini, kau harus belajar meninggalkan dirimu sendiri. Setelah itu, saat bekerja sama dengan Oliver, aku mencoba menerapkan firman Tuhan.
Suatu hari, aku sedang memilih gambar serta mendiskusikan masalah dengan Elliana dan Oliver. Oliver mengemukakan sebuah saran. Kami merasa bahwa pesan yang disampaikan oleh keseluruhan desainnya tak sepenuhnya sesuai dengan tema, tetapi kami tak cukup yakin. Awalnya, aku ingin mengikutinya dan berkompromi. Aku berpikir, "Mari kita coba saranmu terlebih dahulu dan lihat apa yang akan terjadi agar tidak ada yang menyebutku congkak, merasa diri benar, dan berpegang teguh pada pendapatku sendiri." Namun, kemudian aku ingat beberapa prinsip dan persyaratan untuk desain, lalu aku merasa bahwa konsep Oliver benar-benar bermasalah. Jika kami membuat desain berdasarkan konsepnya, lalu harus membuat ulang, bukankah itu membuang-buang waktu dan menunda pekerjaan kami? Pada titik ini, aku menyadari bahwa aku harus menjunjung prinsip, jadi aku menjelaskan kepada Oliver masalah-masalah pada konsepnya dan mengingatkannya untuk mengikuti konsep aslinya, bukan berpegang teguh pada pandangannya sendiri. Elliana setuju dan Oliver tak mengatakan apa-apa lagi. Namun, situasi seperti ini terjadi beberapa kali sepanjang hari. Setiap kali kami berbeda pendapat, Oliver selalu berpegang pada pendapatnya sendiri sehingga menghambat pekerjaan kami. Selain itu, karena kami tak mengubah hal-hal sesuai sarannya, dia kesal lagi dan tak banyak bicara. Aku menyadari jika ini berlanjut, pekerjaan kami pasti akan tertunda, jadi aku memberi tahu pemimpin apa yang sedang terjadi. Pemimpin berencana untuk mendatangi Oliver bersama kami untuk menyingkapkan masalahnya, bersekutu tentang kebenaran, dan membantunya. Aku tahu bahwa ini adalah kesempatanku untuk menerapkan kebenaran, jadi aku membaca dua bagian firman Tuhan sebelum bicara dengan Oliver: "Semua pekerjaan gereja berkaitan langsung dengan pekerjaan penyebarluasan injil Kerajaan Tuhan. Secara khusus, pekerjaan pemberitaan injil dan segala pekerjaan yang berkaitan dengan profesi memiliki hubungan yang penting dan tak terpisahkan dengan pekerjaan penyebarluasan injil. Oleh karena itu, apa pun yang berkaitan dengan pekerjaan penyebarluasan injil berkaitan dengan kepentingan Tuhan dan kepentingan rumah Tuhan. Jika orang mampu memahami pekerjaan penyebarluasan Injil dengan benar, mereka seharusnya memperlakukan tugas yang mereka laksanakan dan tugas yang dilaksanakan oleh orang lain dengan benar. Bagaimana cara yang benar untuk menyikapinya? Kerahkan upayamu yang terbaik dan laksanakan sesuai dengan tuntutan Tuhan. Setidaknya, jangan berperilaku dan bertindak yang dengan sengaja menimbulkan kerusakan atau gangguan, dan jangan dengan sengaja melakukan hal-hal yang engkau tahu salah. Jika seseorang bersikeras melakukan sesuatu meskipun dia tahu itu mengacaukan dan mengganggu pekerjaan gereja, dan tak ada seorang pun yang dapat menghalanginya agar tidak melakukannya, itu berarti dia sedang melakukan kejahatan, cari mati, dan memperlihatkan dirinya yang sebenarnya sebagai setan. Segeralah bantu saudara-saudari mengetahui yang sebenarnya mengenai dirinya, lalu keluarkan orang jahat itu dari gereja. Jika pelaku kejahatan tersebut sedang dalam keadaan bodoh untuk sesaat dan secara tidak sengaja melakukan kejahatan, bagaimana seharusnya kita menangani hal seperti itu? Haruskah orang tersebut dibina dan dibantu? Bagaimana jika dia dibina tetapi tetap tidak mau mendengarkan? Saudara-saudari berkumpul bersama untuk mengkritiknya" (Firman, Jilid 4, Menyingkapkan Antikristus, Bab Sembilan (Bagian Satu)). "Engkau semua harus berfokus pada kebenaran—hanya dengan cara demikian, engkau dapat memiliki jalan masuk kehidupan, dan hanya ketika engkau memiliki jalan masuk kehidupan, barulah engkau dapat membekali orang lain dan memimpin mereka. Jika kita mendapati bahwa tindakan orang lain bertentangan dengan kebenaran, kita harus dengan penuh kasih membantu mereka berusaha untuk memperoleh kebenaran. Jika orang lain mampu menerapkan kebenaran, dan melakukan segala sesuatu berdasarkan prinsip, kita harus berusaha belajar dan meneladani mereka. Inilah yang dimaksud dengan saling mengasihi" (Firman, Jilid 3, Pembicaraan Kristus Akhir Zaman, "Hanya Orang yang Melaksanakan Tugasnya dengan Baik, dengan Segenap Hati, Pikiran, dan Jiwalah Orang yang Mengasihi Tuhan"). Firman Tuhan itu jelas. Saat melihat masalah orang lain, kita harus segera bersekutu dan menyingkapkan serta menegur mereka jika diperlukan. Ini semua untuk melindungi pekerjaan gereja, membantu orang-orang melihat masalahnya, cepat memperbaikinya, dan melaksanakan tugasnya dengan baik. Oliver memang memiliki bakat menggambar, tetapi watak rusaknya menyebabkan dia secara tak sengaja melakukan hal-hal yang mengganggu dan mengacaukan pekerjaan kami. Jika dia dapat mengenal dirinya sendiri, mengejar kebenaran, mengubah watak rusaknya, bekerja sama dengan semua orang secara harmonis, dan memanfaatkan bakatnya, ini akan bermanfaat bagi pekerjaan gereja dan jalan masuk kehidupannya sendiri. Jadi, aku mencari beberapa bagian firman Tuhan yang membahas masalah Oliver, mengaitkannya dengan pengalamanku sendiri, dan mempersekutukannya dengan Oliver. Setelah mendengarkan persekutuanku, Oliver mengenali watak rusaknya, bahkan berkata bahwa terkadang dia menyadari bahwa dia salah, tetapi tak bisa memberontak terhadap dirinya sendiri. Kini setelah aku menunjukkan masalahnya, dia akhirnya merasa tak enak dan bersedia mencari kebenaran serta mengandalkan Tuhan untuk mengubah watak rusaknya. Saat mendengar ini, aku ikut senang. Namun, aku juga menyesal telah hidup berdasarkan falsafah tentang cara berinteraksi dengan orang lain dan tak memberi tahunya lebih awal. Aku benar-benar telah merugikan Oliver dan pekerjaan gereja.
Setelah peristiwa itu, selama aku melaksanakan tugas, jika aku melihat seseorang melakukan sesuatu yang tak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran dan menunda pekerjaan, aku secara sadar menerapkan kebenaran dan menunjukkan masalah yang kulihat kepada mereka serta memenuhi tanggung jawabku. Menerapkan cara ini membuatku merasa damai dan lega. Syukur kepada Tuhan!